📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat28 Agustus 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-Baqarah ayat 10

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 10فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَFī qulūbihim maraḍun fazādahumullāhu maraḍā, wa lahum ‘adhābun alīmun bimā kānū yakdhibūn.Artinya:"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta."Penyakit hati ada dua.Pertama, syubhat, seperti kekufuran, kemunafikan, keraguan, berburuk sangka kepada Allah, dan lain-lain.Kedua, syahwat, seperti suka dengan maksiat, rindu untuk berzina, dan lain-lain.Ini semua menyerang hati.Orang munafik ini baru muncul di Islam setelah Perang Badar. Jadi, ketika Nabi datang ke kota Madinah, Nabi mendapati tiga komunitas.Komunitas kaum muslimin.Komunitas kaum musyrikin.Komunitas Yahudi.Untuk komunitas kaum Yahudi terdapat Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah.Sedangkan komunitas kaum musyrikin terdiri dari penduduk asli kota Madinah, di antaranya suku Aus dan Khazraj yang belum masuk Islam. Kalau mereka masuk Islam, mereka kemudian disebut sebagai kaum Anshar.Di antara mereka ada yang belum masuk Islam dan dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.Nabi terus mendakwahi orang-orang musyrikin, tetapi mereka tidak mau beriman.Kemudian setelah terjadi Perang Badar pada tahun kedua Hijriyah, ternyata orang-orang kafir Quraisy kalah. Akhirnya, orang-orang musyrikin yang ada di kota Madinah merasa takut. Mereka dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.Karena ingin menyelamatkan diri, akhirnya mereka masuk Islam, tetapi hati mereka masih munafik dan masih kafir. Sehingga dalam diri mereka terdapat keraguan dan kegelisahan, serta mereka memiliki syahwat dalam dada-dada mereka.فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا"Lalu Allah menambah penyakit hati mereka."Kenapa?Kata para ulama, karena mereka sudah memiliki penyakit sebelumnya. Ini menjadi dalil bahwa jika seseorang sudah memiliki penyakit hati, maka penyakit tersebut bisa bertambah.Orang yang sudah melakukan maksiat bisa bertambah kemaksiatannya.Oleh karenanya disebutkan bahwa sesungguhnya maksiat memanggil temannya. Begitu juga dengan kebaikan yang mendatangkan kebaikan lainnya.Makanya Allah mengatakan bahwa bagi orang yang melakukan kemaksiatan, tatkala mereka menyimpang, Allah semakin menyimpangkan hati mereka.Seperti pada ayat ini:فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا"Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit mereka."Jadi, maksiat menyebabkan maksiat selanjutnya. Dan itu sering terjadi. Terus terbawa pada masa berikutnya dan semakin parah tanpa mereka sadari.Seakan-akan sesuatu yang biasa. Padahal kalau mereka langsung melakukan maksiat tingkat atas, mereka tidak berani.Tetapi setan memilih cara sedikit demi sedikit, sampai akhirnya maksiat tersebut menjadi sesuatu yang biasa. Penyakit hati pun semakin bertambah.Allah juga mengatakan:"Kami membalikkan hati mereka, mengendalikan dada mereka dan pandangan mereka menuju keburukan."Kenapa?Karena sebelumnya mereka tidak beriman.Jadi, maksiat menyebabkan musibah berikutnya atau maksiat yang selanjutnya.Seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwa sesungguhnya orang-orang yang lari dari medan pertempuran, setan telah menggelincirkan mereka akibat dosa-dosa mereka sebelumnya.Oleh karenanya, hati-hati kalau seseorang melakukan dosa. Segera beristighfar.Kalau dia tidak beristighfar, dosa tersebut dapat mengantarkan atau menggiring dia menuju dosa-dosa berikutnya, sehingga hatinya semakin berpenyakit.وَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ"Dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka berdusta."Alīm berarti pedih, menyakitkan, dan menyiksa akibat kedustaan mereka.Azab yang pedih maksudnya apa?Azab orang munafik lebih parah daripada azab orang kafir.Kenapa bisa?Karena orang kafir asli tidak berbohong. Mereka mengakui bahwa mereka adalah orang kafir.Sedangkan orang-orang munafik menggabungkan dua penyakit, yakni nifaq i‘tiqadi.Sehingga Allah berfirman:"Sesungguhnya orang-orang munafik berada di tingkatan paling dasar di neraka Jahannam."Kenapa?Karena mereka kafir plus. Selain kafir, mereka juga berdusta.

💬 0 komentar📅 28 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Agustus 2026
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Tafsir Qs. Al Baqarah 155-157 atas Ujian dan Kesabaran

Pelajaran untuk Kehidupan Kita Saat Ini 1. Jangan kaget ketika diujiUjian adalah bagian dari kehidupan. Ketakutan, kehilangan, masalah rezeki, sakit, maupun kehilangan orang yang dicintai termasuk bentuk ujian yang disebutkan dalam ayat. 2. Sabar bukan berarti tidak merasa sedihSabar adalah tetap menjaga sikap dan ketaatan kepada Allah ketika menghadapi musibah. Kita boleh merasa sedih, tetapi tidak menjadikan kesedihan sebagai alasan untuk berputus asa dari Allah. 3. Biasakan istirja’ ketika mendapat musibah“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” bukan sekadar ucapan ketika ada kematian. Maknanya mengingatkan kita bahwa kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. 4. Musibah dapat mengembalikan hati kepada AllahKetika sesuatu yang kita miliki hilang, ayat ini mengajarkan kita untuk kembali menyadari bahwa semuanya pada hakikatnya adalah milik Allah. 5. Bersabar bukan berarti tidak mendapatkan apa-apaAllah menjanjikan rahmat, keberkahan, dan petunjuk bagi orang-orang yang sabar.

💬 0 komentar📅 28 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Agustus 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

TAFSIR AS-SA’DI Al-Ahzab (33:35)

KESETARAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM KETAATANAllah menjelaskan bahwa ketika hukum yang berkaitan dengan laki-laki dan perempuan sama, maka Allah menyebutkan keduanya secara berdampingan.﴾ إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang Muslim→ Berkaitan dengan pelaksanaan syariat secara lahir.﴾ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang Mukmin→ Berkaitan dengan keyakinan hati dan amal-amal batin.﴾ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang patuh→ Taat kepada Allah dan Rasul-Nya.﴾ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang jujur→ Jujur dalam perkataan dan perbuatan.﴾ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang sabar→ Sabar menghadapi berbagai kesulitan dan musibah.﴾ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang khusyuk→ Khusyuk dalam seluruh keadaan, terutama dalam ibadah dan shalat.﴾ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang bersedekah→ Bersedekah dengan sedekah yang wajib maupun sunnah.﴾ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang berpuasa→ Mencakup puasa wajib maupun sunnah.﴾ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatan→ Menjaga diri dari zina dan segala perkara yang mengantarkan kepadanya.﴾ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ ﴿Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir kepada Allah→ Banyak mengingat Allah, terutama dengan dzikir-dzikir yang disyariatkan seperti dzikir pagi dan petang serta dzikir setelah shalat lima waktu.BALASAN BAGI MEREKAAllah menyediakan bagi orang-orang yang memiliki sifat-sifat terpuji tersebut:1. Ampunan atas dosa-dosa merekaKarena amal-amal kebajikan dapat menghapus dosa-dosa.2. Pahala yang besarPahala yang tidak mampu diukur nilainya kecuali oleh Allah.Pahala tersebut berupa kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.PESAN TAFSIRSifat-sifat yang disebutkan dalam ayat ini mencakup seluruh ajaran agama:• Keyakinan dan iman dalam hati• Amal-amal hati• Amal anggota badan• Perkataan lisan• Berbuat berbagai kebaikan• Meninggalkan berbagai keburukan• Memberikan manfaat kepada orang lainBarang siapa mampu mengamalkan sifat-sifat tersebut, maka ia telah melaksanakan ajaran agama secara lahir dan batin dengan Islam, Iman, dan Ihsan.Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan mereka.────────────────────📚 Sumber: Tafsir As-Sa’diDisalin dari Quran Tadabbur — Ustadz Firanda Andirja Hafizhahullah

💬 0 komentar📅 28 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat28 Agustus 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Ibnu Katsir - Surat Al-Anfal : 32

32. Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, "Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih " (Al Anfaal:32)Hal ini menunjukkan kebodohan mereka yang terlalu parah dan kerasnya mereka dalam mendustakan Al-Qur'an, mereka sombong dan ingkar kepada Al-Qur'an. Ungkapan tersebut justru berbalik membuat keaiban bagi diri mereka sendiri. Seharusnya hal yang lebih utama bagi mereka ialah hendaknya mereka mengatakan, "Ya Allah, jika Al-Qur'an ini benar dari sisi Engkau, maka berilah kami petunjuk kepadanya dan berilah kami kekuatan untuk mengikuti ajaran-ajarannya." Akan tetapi, mereka meminta keputusan yang berakibat membinasakan diri mereka sendiri, dan mereka meminta untuk segera diturunkan azab dan siksaan. Hal ini dikisahkan oleh Allah dalam ayat yang lain melalui firman-Nya:Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedangkan mereka tidak menyadarinya. (Al 'Ankabut:53)Dan mereka berkata.”Ya Tuhan kami. Cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan pada kami sebelum hari berhisab." (Shaad:16)Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (Yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik. (Al Ma'aarij:1-3)Hal yang sama dikatakan pula oleh orang-orang yang bodoh dari kalangan umat terdahulu, seperti kaum Nabi Syu'aib yang mengatakan kepadanya, disitir oleh firman Allah subhanahu wata'āla:Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar. (Asy Syu'ara:187)Sedangkan dalam ayat ini disebutkan:Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (Al Anfaal:32)Syu'bah telah meriwayatkan dari Abdul Hamid (murid Az-Ziyadi), dari Anas ibnu Malik, bahwa Abu Jahal ibnu Hisyamlah yang mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya:Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (Al Anfaal:32)Kemudian Allah subhanahu wata'āla menurunkan firman-Nya:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka sedangkan kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.Demikianlah menurut riwayat Imam Bukhari, dari Ahmad dan Muhammad ibnun Nadr, keduanya dari Ubaid illah ibnu Mu'az, dari ayahnya, dari Syu'bah dengan sanad yang sama. Ahmad yang disebutkan dalam sanad ini adalah Ahmad ibnun Nadr ibnu Abdul Wahhab. Demikianlah menurut Al-Hakim Abu Ahmad dan Al-Hakim Abu Ubaidillah An-Naisaburi.Al-Ahmasy telah meriwayatkan dari seorang lelaki, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, "Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih."Menurutnya orang yang mengatakan demikian adalah An-Nadr ibnul Haris ibnu Kaidah. Selanjutnya Ibnu Abbas mengatakan, sehubungan dengan hal ini Allah subhanahu wata'āla menurunkan firman-Nya: Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya. (Al Ma'aarij:1-2)Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ata, Sa'id ibnu Jubair, dan As-Saddi, bahwa sesungguhnya dia adalah An-Nadr ibnul Haris. Menurut riwayat Ata ditambahkan firman Allah subhanahu wata'āla:Dan mereka berkata, "Ya Tuhan kami, cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan pada kami sebelum hari berhisab.”(Shaad:16)Dan sesungguhnya kalian datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kalian Kami ciptakan pada mulanya (Al An'am:94)Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir. (Al Ma'aarij:1-2)Ata mengatakan, sesungguhnya Allah subhanahu wata'āla telah menurunkan belasan ayat sehubungan dengan hal ini.Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ahmad ibnul Lais, telah menceritakan kepada kami Abu Gassan, telah menceritakan kepada kami Abu Namilah, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya yang mengata­kan bahwa dalam Perang Uhud ia melihat Amr ibnul As berdiri di atas kuda kendaraannya seraya berkata, "Ya Allah, jika Al-Qur'an yang dikatakan oleh Muhammad adalah benar, maka benamkanlah diriku dan kudaku ini ke tanah."Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, "Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau.”, hingga akhir ayat. Bahwa yang mengatakan demikian adalah orang-orang yang bodoh dan yang kurang akalnya dari kalangan umat ini.33. Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku telah menceritakan kepada kami Abu Huzaifah Musa ibnu Mas'ud, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ammar, dari Abu Zamil Sammak Al-Hanafi, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang musyrik bertawaf di Baitullah seraya mengatakan, "Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Kami penuhi panggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu." Maka Nabi ﷺ bersabda, "Ya, ya." Mereka mengatakan pula, "Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Kami penuhi panggilan-Mu, kami penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu. Engkau memilikinya, sedangkan dia tidak memiliki." Lalu mengatakan pula, "Ampunan-Mu, ampunan-Mu." Maka Alah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan firman-Nya:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan engkau berada di antara mereka hingga akhir ayat.Ibnu Abbas mengatakan bahwa di kalangan mereka (orang-orang musyrik Mekah) terdapat dua keamanan yang menyelamatkan mereka dari azab Allah, yaitu diri Nabi ﷺ dan permohonan ampun. Setelah Nabi ﷺ tiada, maka yang tertinggal hanyalah permohonan ampun (istigfar).Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Abu Ma'syar-dari Yazid ibnu Ruman dan Muhammad ibnu Qais, keduanya mengatakan bahwa sebagian orang-orang Quraisy berkata kepada sebagian lainnya, "Muhammad telah dimuliakan oleh Allah di antara kita." "Ya Allah, jika betul (Al-Qur'an) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau .. hingga akhir ayat. Ketika sore hari mereka menyesali apa yang telah mereka katakan seraya mengatakan, "Ampunan-Mu ya Allah." Maka Allah subhanahu wata'āla menurunkan firman-Nya, Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka. sampai dengan firman-Nya: ...tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.Ibnu Jarir mengatakan pula bahwa Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayat­kan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka.Allah tidak akan menurunkan azabnya kepada suatu kaum, sedangkan nabi-nabi mereka berada di antara mereka, hingga Allah mengeluarkan nabi-nabi itu dari kalangan mereka. Kemudian Ibnu Abbas membacakan firman-Nya:Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampunMaksudnya, di kalangan mereka terdapat orang-orang yang telah ditakdirkan oleh Allah termasuk golongan orang-orang yang beriman, lalu mereka meminta ampun. Yang dimaksud dengan istigfar ialah salat, dan yang dimaksudkan dengan mereka adalah penduduk Mekah. Hal yang semisal telah diriwayatkan pula dari Mujahid, Ikrimah, Atiyyah Al-Aufi, Sa'id ibnu Jubair, dan As-Saddi.Ad-Dahhak dan Abu Malik mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun. Yakni kaum mukmin yang masih berada di Mekah.Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdul Gaffar ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami An-Nadr ibnu Addi, bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan, "Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi umat ini dua keamanan, karenanya mereka terus-menerus dalam keadaan terpelihara dan terlindungi dari azab selagi dua keamanan itu ada di kalangan mereka. Salah satu di antaranya telah dicabut oleh Allah subhanahu wata'āla, sedangkan yang lainnya masih tetap ada di antara mereka." Allah subhanahu wata'āla telah berfirman:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.Abu Saleh Abdul Gaffar mengatakan, telah menceritakan kepadaku salah seorang teman kami, bahwa An-Nadr ibnu Addi pernah menceritakan hadis ini kepadanya, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas. Hal yang semisal telah diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih dan Ibnu Jarir melalui Abu Musa Al-Asy'ari. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Qatadah dan Abul Ala An-Nahwi Al-Muqri.Imam Turmuzi mengatakan:telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Waki’, tefah menceritakan kepada kami Ibnu Numair, dari Ismail ibnu Ibrahim ibnu Muhajir, dari Abbad ibnu Yusuf, dari Abu Burdah ibnu Abu Musa, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, "Allah menurunkan dua keamanan bagi umatku," yaitu disebutkan dalam firman-Nya:Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedangkan kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.Selanjutnya Nabi ﷺ bersabda, "Apabila aku telah tiada, maka aku tinggalkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah) di kalangan mereka sampai hari kiamat."Hal ini diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab Musnad-nya dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya melalui hadis Abdullah ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Amr ibnul Haris, dari Darij, dari Abul Haisam. dari Abu Sa'id, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:Sesungguhnya setan berkata, "Demi keagungan-Mu, wahai Tuhanku, aku senantiasa akan menyesatkan hamba-hamba-Mu selagi roh masih berada di kandung badan mereka.” Maka Tuhan berfirman “Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku Aku Senantiasa memberikan ampun kepada mereka selama mereka memohon ampun kepada-Ku."Kemudian Imam Hakim berkata bahwa hadis ini sanadnya sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.Imam Ahmad mengatakan:Telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah ibnu Umar, telah menceritakan pula kepada kami Rasyid (yaitu Ibnu Sa'd), telah menceritakan kepadaku Mu'awiyah ibnu Sa'd At-Tajibi, dari seseorang yang menceritakannya kepada dia, dari Fudalah ibnu Ubaid, dari Nabi ﷺ bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: Seorang hamba dalam keadaan aman dari azab Allah selagi ia masih memohon ampun kepada Allah subhanahu wata'āla.​

💬 0 komentar📅 28 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat31 Agustus 2026
M

Mega P

📍 -

Tafsir Al-Mu'minun:51

Wahai para Rasul! Makanlah dari rizki yang baik dan halal. Kerjakanlah amalan shalih karena sesungguhnya Aku Maha Mengetahui perbuatan yang kalian kerjakan. Dan tiada sedikitpun amalan kalian yang tersembunyi dari diri-Ku.Ayat ini ditujukan kepada para Rasul dan umatnya secara keseluruhan. Ayat ini juga menjadi dalil bahwasanya memakan makanan yang halal bisa membantunya dalam beramal shalih. Dan sesungguhnya akibat makan makanan yang haram sangat berbahaya di antaranya adalah tertolaknya doa

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat30 Agustus 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS Al-Araf:182

Tafsir Al-MuyassarQS Al-Araf:182Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mengingkarinya, dan tidak mengambil pelajaran darinya, Kami bukakan bagi mereka pintu-pintu rizki dan sumber-sumber kehidupan di dunia, sebagai cobaan bagi mereka sehingga apabila mereka telah tenggelam (dalam kenikmatan dunia itu) dan mereka yakin bahwa mereka telah mendapat kemuliaan, maka Kami siksa mereka atas kelalaian itu, sedangkan mereka tidak mengetahui. Inilah siksa Allah atas pendustaan mereka terhadap bukti-bukti dan ayat-ayat Allah.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat30 Agustus 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

QS Ibrahim: 7 — Keutamaan Bersyukur

Tafsir Ibnu Katsir pada QS. Ibrahim ayat 7 menjelaskan bahwa Allah menjanjikan tambahan nikmat bagi orang yang bersyukur, yaitu dengan mengakui nikmat tersebut berasal dari Allah, menggunakannya sesuai dengan yang Allah ridhai, dan tidak mengingkari atau menyembunyikannya. Sebaliknya, kufur terhadap nikmat dapat menjadi sebab dicabutnya nikmat tersebut dan mendatangkan azab yang pedih. Ibnu Katsir juga membawakan kisah seorang pengemis yang menerima sebiji kurma dari Rasulullah ﷺ dengan penuh penghargaan karena menyadari nilainya, berbeda dengan pengemis lain yang menolaknya; meskipun riwayat ini memiliki pembahasan tentang kualitas salah satu perawinya, kisah tersebut menunjukkan pentingnya menghargai nikmat sekecil apa pun. Maka, tambahan nikmat dari Allah tidak selalu berarti bertambah secara jumlah, tetapi dapat berupa keberkahan, manfaat, kecukupan, kemudahan, atau terjaganya nikmat yang telah diberikan.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 9

Tafsir QS. Baqarah Ayat 9يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَArtinya:“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak sadar.”Mereka menipu Allah Subhanahu wa Ta’ala, padahal Allah mengetahui semuanya. Dan ini adalah sesuatu yang percuma. Mereka juga menipu orang-orang beriman dengan menampakkan keislaman mereka atau berpura-pura sebagai orang Islam.Namun Allah mengatakan:وَمَا يَخْدَعُونَ — sesungguhnya mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri.Kenapa bisa demikian?Di sini ada beberapa sisi yang menjelaskan bagaimana mereka sebenarnya menipu diri mereka sendiri dalam keadaan tidak sadar.1. Kaum mukminin tidak tertipuDi antara buktinya, kaum mukminin tidak tertipu karena Allah telah menjelaskan sifat-sifat orang munafik. Bahkan Allah menurunkan Surah Al-Munafiqun yang menjelaskan sifat-sifat mereka.Bagaimanapun mereka pandai menyembunyikan kemunafikan, akan tetapi terkadang kemunafikan itu terlepas melalui kata-kata mereka, celetukan-celetukan mereka, maupun sifat-sifat yang mereka tampakkan.Sebenarnya kaum mukminin tidak tertipu. Justru mereka menipu diri mereka sendiri.2. Mereka selalu takut ketahuanAllah berfirman dalam Al-Qur’an, Surah At-Taubah, yang maknanya bahwa orang-orang munafik selalu khawatir jika sampai turun kepada mereka ayat-ayat yang menjelaskan tentang kemunafikan mereka.Mereka selalu merasa was-was dan ketakutan. Mereka berusaha bersikap munafik supaya merasa aman. Ternyata kenyataannya, mereka hanya menipu diri sendiri.Allah juga berfirman tentang orang-orang munafik yang datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata:“Sesungguhnya kami bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasul Allah.”Kenapa orang-orang munafik datang kepada Nabi ﷺ dan mengatakan hal tersebut? Karena mereka merasa seakan-akan dicurigai.Sampai ada istilah dalam pepatah Arab yang mengatakan, “Hampir-hampir seorang pencuri mengatakan, ‘Tangkap aku!’”Maksudnya, seseorang berusaha menyembunyikan kesalahannya, tetapi perilakunya justru menunjukkan seakan-akan dirinya tertuduh. Akhirnya ia merasa perlu mengatakan, “Saya tidak mencuri.”3. Mereka sedih melihat kebaikan yang dialami kaum musliminMereka selalu merasa sedih dengan kebaikan-kebaikan yang dialami kaum muslimin.Pada zaman Nabi ﷺ, kaum munafik merasa sedih melihat kejayaan Islam. Ketika Rasulullah ﷺ memenangkan peperangan, mengalahkan kaum musyrikin, dan dakwah semakin tersebar, mereka semakin menderita.Mereka semakin hasad dan semakin dongkol melihat bagaimana Islam mengalami kejayaan.Itulah di antara bentuk bagaimana mereka menipu diri mereka sendiri ketika di dunia.Adapun di akhirat, keadaannya lebih parah lagiHal ini akan dijelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an.Dalam salah satu ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa orang-orang munafik berusaha menipu Allah, tetapi justru Allah membalas tipu daya mereka.Hal ini terjadi, di antaranya, sebelum melewati shirath.Ketika berada dalam kondisi kegelapan sebelum melewati shirath, Allah memberikan cahaya kepada orang-orang beriman. Pada saat itu, orang-orang non-Muslim telah masuk ke dalam neraka Jahannam. Yang tersisa adalah orang-orang Islam: orang-orang beriman dan orang-orang munafik.Kemudian Allah memberikan cahaya kepada mereka untuk melewati jembatan shirath.Ketika orang-orang munafik merasa gembira karena mendapatkan cahaya untuk melewati shirath, tiba-tiba Allah mematikan cahaya mereka.Sementara itu, cahaya orang-orang beriman semakin bertambah. Mereka kemudian berdoa kepada Allah setelah melihat cahaya orang-orang munafik tersebut mati.Itulah salah satu bentuk Allah membalas tipu daya mereka di akhirat, karena dahulu di dunia mereka mempermainkan ayat-ayat Allah.Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh As-Sa’di, ini merupakan perkara yang sangat menegaskan betapa mengenaskannya keadaan mereka.Namanya orang menipu, hanya ada dua kemungkinan:Ia menipu orang lain dan berhasil.Ia menipu orang lain tetapi tidak berhasil.Namun masalah orang-orang munafik lebih parah. Mereka berusaha menipu, tetapi tipu daya mereka justru kembali kepada diri mereka sendiri.Inilah di antara sifat-sifat orang munafik yang Allah jelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 9.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Tafsir Al Mukhtasar QS Al Kahfi ayat 5

Tafsir Al Mukhtasar QS Al Kahfi ayat 5 Orang-orang yang menebar fitnah itu sama sekali tidak memiliki pengetahuan dan bukti atas klaim mereka bahwa Allah memiliki anak, begitu pula nenek moyang yang mereka ikuti tidak memiliki pengetahuan tentang itu. Sungguh betapa besar kejelekan kata-kata yang terlontar tanpa ilmu dari mulut mereka mereka tidaklah menyatakannya kecuali sebagai kedustaan yang tidak berdasar dan tidak boleh memiliki bukti.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Mukhtasar QS Ali Imran Ayat 54-55

Orang-orang kafir dari Bani Israil membuat tipu daya, yaitu mereka berusaha membunuh Isa -'alaihissalām-. Tetapi Allah membalas tipu daya mereka itu dengan membiarkan mereka di dalam kesesatan, serta merubah rupa laki-laki lain agar mirip dengan Isa -'alaihissalām-. Sungguh, Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya karena tidak ada tipu daya yang lebih hebat dari tipu daya Allah terhadap musuh-musuh-Nya.Allah juga membalas tipu daya mereka ketika Dia berfirman kepada Isa -'alaihissalām-, “Wahai Isa! Sesungguhnya Aku menggenggam nyawamu tanpa kematian, mengangkat tubuh dan ruhmu kepada-Ku, menyucikanmu dari kekejian orang-orang yang kafir kepadamu dan menjauhkanmu dari mereka, serta menjadikan orang-orang yang mengikutimu berada dalam agama yang benar -salah satunya ialah beriman kepada Muhammad -ṣallāhu 'alaihi wa sallam-, mengungguli orang-orang yang kafir kepadamu dengan bukti kebenaran dan kemuliaan sampai hari Kiamat. Hanya kepada-Ku kalian akan kembali di hari Kiamat, kemudian Aku berikan keputusan kepada kalian atas perselisihan yang terjadi di antara kalian.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Al Baqarah : 30

Allah -Subhänahu wa Ta'ală- memberitahukanbahwa Dia telah berfirman kepada para malaikat, bahwasanya Dia akan menciptakan manusia untuk ditempatkan di muka bumi secara silih berganti. Tugas utama mereka adalah melestarikan bumi atas dasar ketaatan kepada Allah. Lalu para malaikat bertanya kepada Tuhan mereka -dengan maksud meminta bimbingan dan penjelasan- tentang hikmah di balik penempatan anak cucu Adam -'alaihissalam- sebagai khalifah di muka bumi, sedangkan mereka akan membuat kerusakan di sana dan menumpahkan darah secara semena-mena. Para malaikat itu mengatakan,"Sementara kami ini senantiasa patuh kepada-Mu, mensucikan dan memuji-Mu, serta menghormati keagungan dan kesempurnaan-Mu. Kami tidakpernah letih dalam melakukan hal itu." Allah menjawab pertanyaan mereka dengan firman-Nya,"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui tentang adanya hikmah-hikmah besar di balik penciptaan mereka dan tujuan-tujuan besar di balik penetapan mereka sebagai khalifah di muka bumi."

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
S
Siti Rusmiati

📍 Kabupaten Bogor

Surat Ibrahim

Firman Allah subhanahu wata'āla:Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah.Maksudnya, apakah yang mencegah kami untuk bertawakal kepada Allah, padahal Dia telah menunjuki kami jalan yang paling lurus, paling jelas, dan paling gamblang....dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kalian lakukan kepada kami.seperti perkataan yang buruk dan perbuatan-perbuatan yang rendah.Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakal itu berserah diri.

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat27 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Ayat 27 Agustus

Tafsir Ibnu Katsir QS. Ar-Ra’d: 35​ مَّثَلُ ٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَ ​"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa."​Penjelasan: Yakni gambaran dan ciri khasnya.​ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ ​"ialah (seperti taman), yang mengalir sungai-sungai di dalamnya,"​Penjelasan: Sungai-sungai mengalir di sekitar daerah dan sisi-sisinya menuruti kehendak penduduknya. Sungai tersebut mengalirkan air surgawi yang berlimpah. Semakna dengan firman Allah:​ مَّثَلُ ٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَ فِيهَآ أَنۡهَٰرٌ مِّن مَّآءٍ غَيۡرِ ءَاسِنٍ وَأَنۡهَٰرٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمۡ يَتَغَيَّرۡ طَعۡمُهُۥ وَأَنۡهَٰرٌ مِّنۡ خَمۡرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّٰرِبِينَ وَأَنۡهَٰرٌ مِّنۡ عَسَلٍ مُّصَفًّى وَلَهُمۡ فِيهَا مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ وَمَغۡفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمۡ ​"(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring, dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka." (QS. Muhammad: 15)​ أُكُلُهَا دَآئِمٌ وَظِلُّهَا ​"buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula)."​Penjelasan: Makanan, minuman, buah-buahan, dan naungannya tiada henti, tidak pernah habis, serta tidak pernah hilang/surut.​Dalil Hadits tentang Keberkahan & Kenikmatan Surga​Niat Memetik Anggur Surga saat Shalat Gerhana​Riwayat Ibnu Abbas r.a. (Sahihain):Rasulullah ﷺ bersabda saat shalat gerhana: ​“Sesungguhnya aku melihat surga —atau aku melihat surga— lalu aku berniat memetik setangkai anggur darinya. Seandainya aku benar-benar memetiknya, niscaya kalian akan makan sebagian darinya selama dunia ini masih ada."​(​Riwayat Jabir r.a. (H.R. Abu Ya'la & Muslim):Rasulullah ﷺ bersabda:​"Sesungguhnya surga ditampilkan kepadaku dan semua bunga serta pohonnya yang hijau, maka aku bermaksud hendak memetik setangkai buah anggur darinya untuk diberikan kepada kalian... Seandainya aku dapat mendatangkannya buat kalian, tentulah semua makhluk yang ada di antara langit dan bumi dapat memakannya tanpa menguranginya."​Besarnya Tangkai Buah Anggur Surga​Hadis Atabah ibnu Abdus Salma (H.R. Ahmad): Seorang Badui bertanya seberapa besar tangkai anggur surga. Rasulullah ﷺ menjawab:​"Besarnya sama dengan perjalanan satu bulan bagi burung gagak yang hitam legam (bila terbang) tanpa berhenti."​Buah yang Selalu Tumbuh Kembali​Hadits Tsauban r.a. (H.R. Thabrani): Rasulullah ﷺ bersabda:​"Sesungguhnya seseorang apabila memetik sebiji buah dari surga, maka tumbuh lagi buah lain yang menggantikan kedudukannya."Kondisi Fisik & Pencernaan Penduduk Surga​Hadits Jabir ibnu Abdullah r.a. (H.R. Muslim): Rasulullah ﷺ bersabda:​"Penduduk surga makan dan minum tanpa mengeluarkan ingus, tanpa buang air besar dan tanpa buang air kecil, makanan mereka (dikeluarkan melalui) bersendawa yang baunya wangi seperti minyak kasturi, dan mereka diilhami untuk bertasbih dan bertaqdis (menyucikan Allah) sebagaimana mereka diilhami untuk bernapas."​Hadits Zaid Ibnu Arqam r.a. (H.R. Ahmad & An-Nasa'i):Menjawab pertanyaan ahli kitab, Nabi ﷺ bersabda bahwa seseorang di surga diberi kekuatan 100 lelaki dalam makan, minum, bersetubuh, dan syahwat. Pembuangan hajatnya berupa keringat berbau wangi minyak kasturi lalu perut mereka mengempis.​Burung Panggang Surga​Hadis Abdullah ibnu Mas'ud r.a. (Riwayat Khalaf ibnu Khalifah):Rasulullah ﷺ bersabda:​"Sesungguhnya kamu benar-benar memandang seekor burung di surga, maka burung itu jatuh terjungkal di hadapanmu dalam keadaan telah terpanggang (siap untuk dimakan)."​(Disebutkan pula setelah dimakan, burung tersebut kembali berwujud burung dan terbang atas izin Allah).​Ayat & Hadis Penguat Kelimpahan & Naungan Surga​ وَفَٰكِهَةٍ كَثِيرَةٍ ۝ لَّا مَقۡطُوعَةٍ وَلَا مَمۡنُوعَةٍ  "dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya." (QS. Al-Waqi'ah: 32–33)​ وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلَٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوفُهَا تَذۡلِيلًا  "Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya." (QS. Al-Insan: 14)​ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٍ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۖ لَّهُمۡ فِيهَآ أَزۡوَٰجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَنُدۡخِلُهُمۡ ظِلًّا ظَلِيلًا  (QS. An-Nisa: 57)​Hadits Naungan Pohon (Sahihain): Rasulullah ﷺ bersabda:​"Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pohon, seorang pengendara yang tangguh memacu kuda balapnya dengan cepat di bawah naungannya selama seratus tahun (tanpa berhenti) masih belum melampauinya." Lalu membaca ﴿ وَظِلٍّ مَّمۡدُودٍ ) - (Al-Waqi'ah: 30).​Penutup Ayat & Nasihat Bilal ibnu Sa'd​ تِلۡكَ عُقۡبَى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّعُقۡبَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٱلنَّارُ ​"Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka."​Penjelasan: Allah sering menyebutkan surga dan neraka secara beriringan agar surga diingini dan neraka dihindari. Semakna dengan firman-Nya:​ لَا يَسۡتَوِيٓ أَصۡحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِۚ أَصۡحَٰبُ ٱلۡجَنَّةِ هُمُ ٱلۡفَآئِزُونَ ​"Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga, penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 20)​Khotbah Bilal ibnu Sa'd (Khatib Kota Dimasyq):​"Hai hamba-hamba Allah, bukankah telah datang kepada kalian juru pewarta yang mewartakan kepada kalian bahwa sesuatu dari ibadah kalian diterima dari kalian atau sesuatu dari kesalahan kalian diampuni bagi kalian? Maka apakah kalian mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Al-Mu'minun: 115). Demi Allah, seandainya disegerakan bagi kalian pahala di dunia, niscaya kalian semua akan malas mengerjakan hal-hal yang difardukan kepada kalian, atau kalian menjadi orang yang cinta taat kepada Allah demi pahala duniawi kalian dan kalian tidak akan bersaing (berlomba) dalam meraih surga. Buahnya tak henti-henti." - (HR. Ibnu Abu Hatim)​ Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 27 Agu 2026Baca selengkapnya →