📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI4 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 75

Jum'at, 10 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 75Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Kelima, Hadist Shahih Riwayat Ummu Salamah (Bagian 3)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Ketentuan Hukum Terhadap Pelaku Bid'ah secara Umum​Jangan kita kiaskan kemudian setiap orang yang melakukan kebid’ahan—karena bid'ah ini lebih dahsyat daripada kemaksiatan—kemudian dihalalkan darah orang yang melakukan kebidahan tersebut (Tidak). ​Di sini beliau ﷺ sedang berbicara secara khusus tentang aliran tertentu, yaitu al-Khawarij. Sabda beliau:​أينما لقيتموهم فاقتلوهم​Maksudnya adalah khusus untuk orang-orang Khawarij. Begitu pula sabda beliau:​لئن لقيتموهم لأقتلنهم قتل عاد​Ini juga khusus tentang orang-orang Khawarij.Kedahsyatan Ancaman Terhadap Kaum Khawarij​Para ulama menjelaskan bahwasanya Nabi ﷺ tidak menyebutkan ancaman-ancaman yang lebih dahsyat daripada ancaman-ancaman terhadap orang-orang Khawarij. Di antara ancaman dan sifat buruk mereka adalah:​Pemusnahan Total: Nabi ﷺ sampai meniatkan seandainya bertemu dengan mereka, beliau akan membunuh mereka secara keseluruhan (bukan hanya sekedar dibunuh sebagian), tetapi seperti terbunuhnya orang-orang ‘Ad (kaumnya Nabi Hud) yang dibinasakan oleh Allāh secara keseluruhan tanpa ada di antara mereka yang tersisa.​Sifat شرُّ قتلى تحتَ أديمِ السماءِ (Sejelek-jelek Orang yang Terbunuh):Nabi ﷺ bersabda bahwa mereka adalah sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah langit. Makna kalimat شرُّ قتلى di sini adalah min syarri qotla (di antara sejelek-jelek orang yang terbunuh).​Perbandingan Kata: Sama halnya dengan sabda Nabi ﷺ:​وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا​Makna syarral umur di sini maksudnya adalah min syarril umur (di antara sejelek-jelek perkara), karena sejelek-jelek perkara mutlak adalah syirik. Maka maksud kalimat tersebut adalah sebagian/di antara yang paling jelek adalah bid'ah. Demikian pula makna hadits tentang Khawarij, diucapkan oleh Nabi bahwa orang yang terbunuh yang paling syar (di antara yang paling jelek) adalah terbunuhnya orang-orang Khawarij.​Sifat خيرُ قتلى مَن قتَلوه (Sebaik-baik Orang yang Terbunuh):Nabi ﷺ bersabda bahwa sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang dibunuh oleh mereka (orang-orang Khawarij). Lengkapnya beliau bersabda:​شرُّ قtly تَحْتَ أديمِ السماءِ خيرُ قتلى مَن قتَلوه​Sifat كِلَابُ النَّارِ (Anjing-Anjing Neraka):Sebelumnya Nabi ﷺ juga mensifati orang-orang Khawarij bahwasanya mereka adalah Kilabunnar (Anjing-anjing Neraka). Wallāhualam, maksudnya mereka diancam dengan Neraka kelak, yang mana azab mereka sangat pedih sehingga mereka berteriak seperti teriakan anjing-anjing. Yang jelas ini adalah sifat yang jelek bagi orang-orang Khawarij.Atsar Abu Umamah radhiyallahu anhu di Damaskus​Disebutkan sebuah kisah mengenai sahabat Abu Umamah radhiyallahu anhu. Saat itu beliau melihat kepala-kepala yang dipajang di tangga masjid Damaskus (dan ini adalah kepala-kepala orang-orang Khawarij). Beliau kemudian mengatakan:​كِلَابُ النَّارِ شرُّ قتلى تحتَ أديمِ السماءِ خيرُ قتلى مَن قتَلوه​Kemudian beliau membaca firman Allāh ﷻ:​۞ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ​Artinya: “Pada hari yang di waktu itu ada wajah yang memutih, dan ada pula wajah yang hitam gelap.” (QS. Ali 'Imran: 106)​Penjelasan Ayat: Sudah kita sampaikan sebelumnya, yang dimaksud dengan wajah-wajah yang memutih adalah Ahlussunnah, sedangkan wajah yang hitam adalah Ahli Bid'ah. Abu Umamah (seorang sahabat Nabi ﷺ) membaca ayat ini ketika melihat mayat-mayat orang-orang Khawarij. Hal ini menguatkan apa yang disampaikan oleh Abdullah bin Abbas bahwasanya wajah-wajah yang menghitam tadi adalah Ahlu Bid'ah.Otentisitas Riwayat dari Abu Umamah​Kisah di atas berlanjut hingga akhir ayat (إلى akhirِ الآيةِ). Aku (yaitu Abu Ghalib) berkata kepada Abu Umamah:​أَنتَ سمعتَهُ من رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّلهُ علَيهِ وسلَّمَ ؟​Artinya: “Apakah engkau mendengar ini langsung dari Rasulullah ﷺ?”​Abu Umamah menjawab untuk menguatkan:​لَو لَم أسمَعهُ إلَّا مرَّةً أو مرَّتينِ أو ثلاثًا أو أربعًا- حتَّى عدَّ سَبعًا- ما حدَّثتُكُموهُ​Artinya: “Seandainya aku tidak mendengarnya dari Nabi ﷺ kecuali satu, dua, tiga, atau empat kali—sampai beliau menghitungnya sebanyak tujuh kali—niscaya aku tidak akan menyampaikan ini kepada kalian.”​Maksud Jawaban Abu Umamah: Seandainya beliau tidak mendengarnya secara langsung dan berulang kali dari Nabi ﷺ, tentunya beliau tidak akan berani menyampaikan hal seperti ini. Sebab, perkara-perkara yang disebutkan tadi (كلابُ النَّارِ شرُّ قتلى تحتَ أديمِ Сَّماءِ خيرُ قَتلى من قتلوهُ) merupakan bagian dari perkara gaib. Seandainya bukan karena mendengar dari Nabi ﷺ, niscaya beliau tidak akan menyampaikannya kepada manusia.Peringatan Terhadap Pemikiran Khawarij Masa Kini​Oleh karenanya, para ulama menjelaskan bahwa tidak ada di sana ancaman-ancaman yang mengerikan yang melebihi ancaman yang datang untuk aliran Khawarij ini. Aliran Khawarij sudah ada sejak zaman dahulu, dan dari masa ke masa masih terus ada orang-orang yang membawa pemikiran Khawarij ini sampai di zaman kita sekarang ini. ​Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dengan pemikiran mereka. Di antara caranya adalah dengan membentengi diri kita menggunakan aqidah yang benar. ​Jangan sampai kita tertipu dengan rajinnya ibadah mereka (seperti rajinnya mereka membaca Al-Qur'an), atau karena mereka memakai pakaian seperti pakaian kita, atau secara lahiriah (dhahirnya) tampak seperti seorang Salafi, padahal ternyata pemikiran mereka adalah pemikiran Khawarij.​Kesimpulan​Ancaman yang sedemikian keras dari Nabi ﷺ—seperti perintah pemusnahan total laksana kaum 'Ad, julukan seburuk-buruk orang yang terbunuh di bawah langit (syarru qatla), serta sebutan anjing-anjing neraka (kilabun nar)—merupakan kekhususan yang ditujukan kepada sekte Khawarij saja, dan tidak boleh dikiaskan untuk menghalalkan darah seluruh pelaku bid'ah secara umum. Atsar dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu anhu di Damaskus menegaskan otentisitas ancaman gaib ini (yang beliau dengar hingga tujuh kali dari Rasulullah ﷺ) sekaligus mengaitkan kaum Khawarij sebagai bagian dari ahli bid'ah yang berwajah hitam di hari kiamat berdasarkan QS. Ali 'Imran: 106. Karena pemikiran Khawarij ini terus lestari dari masa ke masa hingga zaman sekarang, umat Islam diperingatkan agar tidak tertipu oleh casing lahiriah mereka (seperti janggut/pakaian, klaim manhaj Salaf, maupun kencangnya ibadah dan bacaan Al-Qur'an), melainkan harus membentengi diri dengan pemahaman aqidah yang benar agar selamat dari syubhat pemikiran radikal tersebut.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 75

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 75 | Masing-Masing Manusia akan Dimudahkan untuk Melakukan Apa yang Mereka Dicipta UntuknyaHalaqah 75 | Masing-Masing Manusia akan Dimudahkan untuk Melakukan Apa yang Mereka Dicipta UntuknyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Maka masing² dari kita akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia dicipta untuknya.Melakukan apa yang sudah ditakdirkan untuk orang yang sudah Allāh tulis di dalam Lauhul Mahfudz, dia akan masuk ke dalam Surga maka ketika Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan dia di dunia Allāh akan memudahkan dia untuk melakukan amalan² yang memasukkan dia ke dalam Surga atau yang menjadi sebab dia masuk kedalam Surga, misalnya dijadikan dia lahir di tengah² orang Islam kemudian diajarkan oleh orang tuanya tentang Islam yang benar atas seandainya dia lahir di negeri kafir orang tuanya kafir tapi Allāh tulis dia termasuk penduduk Surga maka akan ada jalan dia masuk ke dalam agama Islam, mungkin akan ada di sana (dinegeri kafir) dakwah ada yayasan yang didirikan kemudian salah satu sebab akhirnya dia mungkin tidak sengaja masuk ke dalam Masjid dan mendengar orang mengajak kepada Islam dan seterusnya, akhirnya masuk Islam, orang yang sudah Allāh subhanahu wa taala putuskan dia termasuk penduduk Surga makaمُيَسَّرٌDia akan dimudahkan untuk melakukan apa yang memang dia ditakdirkan untuk makanya kita katakan kita khusnudzon kepada Allāh, lihat siapa kita lemahnya kita ada hinanya kita tapi Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan karunia dan juga anugerah dipilih kita di antara sekian banyak manusia untuk mengenal Allāh lebih dalam, kita belajar tentang Nama² Allāh kita belajar tentang sifat Allāh kita mengenal lebih dalam tentang agama Allāh khusnudzon kepada Allāh, Allāh ingin memasukkan kita ke dalam Surganya Allāh mudahkan kita untuk menuntut ilmu agama Allāh jaga kita dan jadikan kita Istiqomah sampai detik ini kita berharap sampai kita tentunya sampai meninggal dunia di tengah² gelombang fitnah yang semakin dahsyat, baik fitnah syahwat maupun syubhat, kalau Allāh subhanahu wa ta’ala tidak menjaga niscaya kita sudah terseret dengan arus, tenggelam bersama orang² yang tenggelam, tenggelam di dalam kebodohan, tenggelam didalam syahwat, tenggelam di dalam subhat, dan sudah banyak korban, kalau bukan Allāh subhanahu wa ta’ala yang menjaga niscaya kita tidak akan terjadi, maka kita khusnudzon kepada Allāh dan Allāh mengatakan,أَنَا عِنْدَ حسن ظَنِّ عَبْدِي بِيAku ini sesuai dengan persangkaan hambaKu kepadaKu.Kalau kita berprasangka baik kepada Allāh maka itulah yang akan kita dapat, kita berprasangka baik kepada Allāh, Allah ingin memasukkan kita ke dalam Surga-Nya.Maka hendaklah kita bersyukur kepada Allāh atas seluruh Taufik dan juga hidayah, diantara bentuk syukur kita kepada Allāh subhanahu wa taala adalah dengan menjaga kenikmatan ini menjaga ketaatan kita kepada Allāh menjaga Istiqomah kita di dalam menuntut ilmu agama.وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُSebaliknya orang yang sudah ditentukan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam Nerakanya Allāh baik selamanya maupun sementara maka akan dimudahkan juga kalau memang dia adalah orang yang akan masuk ke dalam Neraka selama-lamanya maka ada saja di sana jalan sehingga dia meninggal di atas kekufuran diatas kesyirikan, mungkin dia dahulunya adalah seorang muslim & Allāh subhanahu wa ta’ala lebih tahu siapa yang berhak untuk masuk ke dalam Surga-nya dan Allāh lebih tahu siapa yang berhak untuk mendapatkan azabNya, Allāh tidak akan menzalim apa yang Allāh lakukan pasti di sana ada hikmah, Allāh mudahkan yang ini dan Allāh mudahkan yang itu Allāh lakukan itu semuanya dengan hikmah tidak ada kezaliman di dalam.Ini yang harus terpatri didalam diri seorang muslim.إنّ الله لا يَظِلم مثقال ذرَّةAllāh tidak akan mendholimi meskipun hanya sebesar dzarrah.Sehingga Allāh mengatakan,..وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ ۝[QS Fushilat 46]Dan Rabbmu tidak akan menzalimi hamba²Nya. Masing² akan dimudahkan oleh Allāh, termasuk di antaranya pelaku maksiat dari orang Islam maka itu pun akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang sudah ditakdirkan dan Allāh lebih tahu siapa di antara mereka yang berhak untuk mendapatkan hidayah yang ada juga Istiqomah dan siapa yang tidak berhak dan Allāh subhanahu wa ta’ala sekali lagi tidak menzalimi hambaNya.اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُDan ini menjadikan seseorang ketika melihat saudara yang masih belum mendapatkan hidayah mungkin dia masih terkumpul dalam kebidahan dia atau di dalam firkah dia mengingat hadits iniوَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Melihat dengan kacamata kasih sayang, sayang kepada mereka, kasian kepada mereka yang masih belum mendapatkan hidayah sehingga nanti didalam dirinya untuk mengajak / di dalam dirinya untuk mendakwahi dengan maksud merahmati/ menyayangi bukan maksud mendzalimi atau menghinakan, kemudian ketika dia melihat keadaan mereka dan dia melihat pada dirinya sendiri semakin dia bertambah bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala yang tidak menjadikan dirinya seperti mereka yang masih terkungkung di dalam subhat hak mereka diantara bentuk syukurnya adalah dengan berusaha mengajak orang yang sesuai dengan kemampuan, dia menjelaskan mengajak dan ini adalah bentuk syukur dia atas nikmat hidayah yang telah Allāh subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, sebagaimana dia senang dan gembira bahagia mendapat hidayah maka dia senang juga seandainya orang lain juga mendapatkan hidayah tersebut sebagaimana dulu orang yang mendakwahi kita bersabar dalam mengajak kita, kitapun bersabar ketika mendakwahi orang lain mereka bersabar sehingga kita pun mendapatkan hidayah dan paham bahkan kita pun juga demikian,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِTidak beriman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai untuk orang lain sebagaimana atau apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.ثُمَّ قَرَأَkemudian beliau ﷺ membaca firman Allāh,فَاَمَّا مَنۡ اَعۡطٰى وَاتَّقٰىۙ ۝وَصَدَّقَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡيُسۡرٰىؕ ۝وَاَمَّا مَنۡۢ بَخِلَ وَاسۡتَغۡنٰىۙ ۝وَكَذَّبَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡعُسۡرٰىؕ ۝[QS Al Lail 5-10]Maka beliau rahimahullāh di sini mendatangkan ucapan,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،maka ini adalah Taufik dari Allāh subhanahu wa ta’ala setelah telah menjelaskan bahwasanya semuanya itu dengan takdir Allāh masuknya seseorang ke dalam Surga dengan takdir Allāh masuknya seseorang kedalam Neraka dengan takdir Allah maka beliau menjelaskan masing² akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia ditakdirkan untuknya, ini adalah dorongan bagi kita untuk beramal ingin masuk ke dalam Surga semua kita ingin masuk ke dalam Surga maka beramal lah karena masuk ke dalam Surga itu ada sebab,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ingin selamat dari Nerakanya Allāh ya jangan kita melakukan perkara yang menjadi sebab maksudnya seseorang ke dalam Neraka Allāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ini isyarat dari beliau beriman dengan takdir dan beriman dengan syariat sebagaimana yang kita ulang².Bikin gambar yang lengkapnisinya tanpa ada gambar manusia

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah 75 – Manfaat Beriman kepada Hari Akhir

Ringkasan Halaqah 75Manfaat Beriman kepada Hari Akhir1. Mengingatkan bahwa dunia hanya sementaraDunia sangat singkat.Hari kiamat dan hisab sudah dekat.Dalil: QS. Al-Anbiyā': 12. Tidak tertipu oleh kenikmatan duniaKenikmatan dunia hanya sementara.Jangan iri dengan kesenangan orang kafir.Dalil: QS. Āli 'Imrān: 196–1973. Kesuksesan sejati adalah di akhiratOrang yang dijauhkan dari neraka dan masuk surga adalah orang yang benar-benar beruntung.Dalil: QS. Āli 'Imrān: 1854. Kerugian terbesar adalah masuk nerakaMasuk neraka merupakan kehinaan yang sebenarnya.Dalil: QS. Āli 'Imrān: 1925. Menguatkan kesabaran saat mendapat musibahMeyakini bahwa semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.Membantu tetap sabar menghadapi ujian.6. Mendorong keikhlasan dalam beramalAmal yang ikhlas akan bermanfaat pada hari kiamat.7. Mendorong segera bertaubatDosa adalah penyebab bencana di akhirat.Perbanyak taubat dan istighfar.8. Mendorong istiqamah dalam ketaatanBersabar menjalankan perintah Allah.Bersabar meninggalkan maksiat.Semua itu lebih ringan daripada azab akhirat.9. Mengingat nikmat Islam dan imanIslam dan iman adalah nikmat terbesar yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.10. Mengingat bahaya kekafiran, kesyirikan, dan kemunafikanKetiganya menjadi sebab kekal di dalam neraka.11. Menumbuhkan semangat berdakwahMengajak kaum muslimin istiqamah.Mengajak orang kafir masuk Islam agar selamat dari azab.12. Memotivasi untuk memperbanyak doaBerdoa memohon:Kebaikan dunia.Kebaikan akhirat.Perlindungan dari neraka.Dalil: QS. Al-Baqarah: 201Doa Rasulullah ﷺ:"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan segala yang mendekatkan kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala yang mendekatkan kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan." (HR. Ibnu Majah)KesimpulanBeriman kepada hari akhir menjadikan seorang muslim:Lebih zuhud terhadap dunia.Semangat beramal saleh.Ikhlas dalam ibadah.Rajin bertaubat.Sabar menghadapi ujian.Istiqamah dalam ketaatan.Semangat berdakwah.Memperbanyak doa dan berharap surga serta dijauhkan dari neraka.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Kitab KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 25

Halaqah yang ke dua puluh lima dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد العشرونSimpul yang ke-20حفظ الوقت في العلمMenjaga waktu untuk ilmu.Yaitu kita berusaha menggunakan waktu kita ini untuk ilmu.Kalau kita memang menghormati ilmu dan itu adalah suatu yang besar di mata kita, suatu yang berharga dan bernilai di hati kita, maka kita berusaha setiap waktu yang kita gunakan ini ada hubungannya dengan ilmu.قال ابن الجوزيِّ في صيد خاطرهBerkata Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitab beliau Shaidul Khathir. (صيد الخاطر)ينبغي للإنسان أن يعرف شرف زمانه، وقدر وقته، فا يُضيِّع منه لحظةً في غير قُربةٍ، ويُقدِّم فيه الأفضل فالأفضل من القول والعملSepantasnya bagi seseorang untuk mengetahui tentang betapa berharganya usianya dan betapa bernilainya waktu yang Allah berikan kepadanya.Satu detik, satu menit, itu adalah sesuatu yang berharga. Mungkin seseorang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ kurang dari 1 menit tapi dia ucapkan itu di akhir hidupnya, selamat.مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَBarangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ maka dia masuk ke dalam surga. Padahal itu diucapkan kurang dari 1 menit.Maka janganlah dia menyia-nyiakan sekejap pun dari usianya tadi, dari umurnya tadi, di dalam selain qurbah (ketaatan) kepada Allāh ﷻ. Kalau bisa waktu semuanya ini detik-detik yang kita lalui ini semuanya adalah di dalam ketaatan kepada Allāh ﷻ. Jangan sampai ada sedikit pun yang selain qurbah.Dan dia mendahulukan mana yang lebih afdhal kemudian yang afdhal baik berupa ucapan maupun perbuatan. Kalau memang di sana ada ucapan semuanya baik, cari yang lebih baik dari ucapan-ucapan tadi. Ada beberapa amalan semuanya baik, kita cari yang paling baik. Ini termasuk memanfaatkan waktu.ومن هنا عظُمت رعاية العلماء للوقتDari sini kita mengetahui besarnya penjagaan ulama terhadap waktu.Karena mereka mengetahui tentang bagaimana berharganya waktu.حتىٰ قال محمَّد بن عبد الباقي البزَّازSehingga seorang ulama yaitu Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzās beliau mengatakan,ما ضيَّعتُ ساعةً من عمري في لهوٍ أو لعبٍAku tidak pernah menyia-nyiakan sedikit pun dari umurku di dalam perkara yang sia-sia atau dalam bermain-main.Sampai mengatakan demikian, tidak pernah menyia-nyiakan meskipun hanya sekedar dari umurnya dalam perkara yang sia-sia atau bermain-main.Lihat bandingkan antara beliau dengan keadaan kita. Berapa waktu yang kita gunakan untuk ibadah dalam sehari, berapa waktu yang kita gunakan untuk ilmu, sisanya masing-masing dari kita bisa menjawab sendiri, untuk permainan, untuk melihat sesuatu yang tidak bermanfaat.وقال أبو الوفاء ابن عقيلBerkata Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil,الذي صنَّف كتاب الفنون في ثمان مئة مجلَّدٍBerkata seorang ulama Ibnu ‘Aqil yang beliau adalah yang menulis Kitabul Funun setebal 800 jilid, beliau mengatakan,إنيِّ لا يحِلُّ لي أن أُضيِّعَ ساعةً من عمريSesungguhnya tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sekejap pun dari umurku.Jadi beliau sampai menulis sebanyak itu kitabnya karena beliau tidak menyia-nyiakan waktunya. Kalau kita bisa menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, sebenarnya banyak yang bisa kita kerjakan, kita bisa menghafal, kita bisa membaca kitab, kalau kita sudah sampai kita bisa menulis, banyak sebenarnya cuma banyak diantara kita yang menyia-nyiakan waktunya sehingga waktunya tidak berbarakah.وبَلَغَتْ بهمُ الحال أن يُقرأ عليهم حال الأكل؛ بل كان يُقرأ عليهم وهم في دار الخاءDan ada diantara mereka (saking mereka menjaga waktunya) yang dibacakan, artinya ada seorang guru muridnya disuruh membaca dan dia dalam keadaan makan, sambil dia makan dia minta seseorang untuk membacakan kitab, ingin mengambil faedah.Ini juga bisa kita lakukan. Kita sambil makan mungkin sambil nyetel sesuatu kita tidak ingin menyia-nyiakan waktu, apakah itu bisa? Bisa sebenarnya, sambil kita di mobil pulang atau berangkat kita mendengarkan sebuah ilmu supaya tidak sia-sia waktu kita.بل كان يُقرأ عليهم وهم في دار الخلاءBahkan terkadang ada diantara mereka dibacakan kepada beliau dan mereka berada di dalam darul khala (tempat untuk mandi atau untuk buang hajat).Ada seseorang yang disuruh membaca dengan suara keras di luar, dia bukan membaca di dalam kamar kecil tersebut tapi ada orang lain yang disuruh membaca dengan keras di luar karena beliau tidak ingin menyia-nyiakan waktunya.Karena biasanya orang di dalam kamar mandi itu tersia-sia waktunya, mungkin ngelamun, mungkin dia memikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat, dia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya sampai ketika berada di dalam kamar kecil tersebut dia ingin memanfaatkan waktunya. Ini termasuk pengagungan terhadap ilmu. Kita menggunakan waktu kita benar-benar untuk ilmu.فاحفظ أيُّها الطَّالبُ وقتَكMaka hendaklah engkau wahai seorang penuntut ilmu menjaga waktumu. Jaga waktumu dengan baik, jangan disia-siakan.فلقد أبلغ الوزيرُ الصَّالح ابنُ هُبيرة في نصحك بقولهMaka Al-Wazir Ash-Shalih Ibn Hubairah, beliau adalah seorang menteri kerajaan yang memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu, sungguh beliau bersungguh-sungguh dalam memberikan nasihat kepadamu dengan ucapan beliau.والوقت أنفسُ ما عُنيتَ بحفظهDan waktu sebenarnya adalah sesuatu yang paling berharga yang kamu harus menjaganya.Itu lebih berharga daripada harta yang kau miliki, daripada rumah yang engkau miliki. Waktu itu adalah suatu yang paling berharga yang harusnya engkau jaga dia.وأراه أسهلَ ما عليك يضيعُDan aku melihat bahwasanya itu adalah sesuatu yang paling mudah engkau sia-siakan.Padahal itu adalah sesuatu yang paling berharga yang harusnya kita jaga tapi justru paling mudah kita menyia-nyiakan waktu tersebut. Kadang kalau sudah nganggur yang dicari nonton apa, buka apa, mudah sekali seorang menyia-nyiakan waktu. Tapi jarang diantara kita sedang nganggur apa yang ana lakukan, ana murajaah surat apa, apa kitab yang ana baca sekarang. Makanya beliau mengatakan sangat mudah sekali  waktu tersebut engkau sia-siakan.تمت الخلاصةTelah sempurna kitab Al-Khulasah.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُDengan demikian kita telah menyelesaikan kitab yang sangat berharga ini yang ditulis oleh guru kami yang mulia, beliau adalah Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad hafidzahullāhu ta’ala, semoga Allāh subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa beliau dan mengampuni dosa kedua orang tua beliau dan memberikan kepada beliau pahala yang besar dan menjadikan apa yang kita baca dari kitab beliau ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita dan kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 25

Halaqah yang Ke-25 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalamDiantara Buah Beriman kepada Para Rasul ‘alayhimussalam① Seseorang jadi mengetahui rahmat Allah dan perhatian Allah yang besar terhadap hamba-hambaNya dengan cara mengutus para Rasul kepada mereka supaya memberikan petunjuk kepada mereka dan menjelaskan kepada mereka tentang beribadah kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada Allah, karena akal manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa wahyu dari Allah ‘Azza wa jallaAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanلَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan atas mereka ayat-ayatNya dan membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah dan sungguh mereka sebelumnya berada di dalam kesesatan yang nyata” (Ali ‘Imran : 164)② Bersyukur kepada Allah atas nikmat diutusnya para Rasul ‘alayhimussalam③ Mencintai para Rasul ‘alayhimussalam menghormati mereka, memuji mereka sesuai dengan kedudukan mereka karena mereka adalah para utusan Allah, para hamba-hamba Allah yang beribadah kepada Allah sekaligus menyampaikan risalah Allah dan menasihati para hamba Allah, Allah berfirmanإِنَّآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ شَـٰهِدً۬ا وَمُبَشِّرً۬ا وَنَذِيرً۬ا (٨) لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُڪۡرَةً۬ وَأَصِيلاً (٩“Sesungguhnya kami telah mengutusmu sebagai seorang saksi memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan, supaya kalian beriman kepada Allah dan juga RasulNya dan supaya kalian menolong dia dan menghormati dia” (Al-Fath : 8-9)④ Mengetahui kekuasaan Allah dan bagaimana Allah memilih para Nabi danRasul.⑤ Mengetahui bahwa beriman dengan mereka adalah sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.⑥ Mengetahui bahwa berpegang teguh dengan apa yang di bawa oleh para Rasul عَلَيهِ السَّلَامُ adalah sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah dan sebab di ampuni dosanya.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 25: Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘Alaihimussalam

Halaqah 25:Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘AlaihimussalamUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara Buah Beriman kepada Para Rasul ‘alayhimussalamSeseorang jadi mengetahui rahmat Allah dan perhatian Allah yang besar terhadap hamba-hambaNya dengan cara mengutus para Rasul kepada mereka supaya memberikan petunjuk kepada mereka dan menjelaskan kepada mereka tentang beribadah kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada Allah, karena akal manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa wahyu dari Allah ‘Azza wa jalla.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan atas mereka ayat-ayatNya dan membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah dan sungguh mereka sebelumnya berada di dalam kesesatan yang nyata” (Ali ‘Imran : 164).Bersyukur kepada Allah atas nikmat diutusnya para Rasul ‘alayhimussalam.Mencintai para Rasul ‘alayhimussalam menghormati mereka, memuji mereka sesuai dengan kedudukan mereka karena mereka adalah para utusan Allah, para hamba-hamba Allah yang beribadah kepada Allah sekaligus menyampaikan risalah Allah dan menasihati para hamba Allah.Allah berfirman:إِنَّآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ شَـٰهِدً۬ا وَمُبَشِّرً۬ا وَنَذِيرً۬ا (٨) لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُڪۡرَةً۬ وَأَصِيلاً (٩“Sesungguhnya kami telah mengutusmu sebagai seorang saksi memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan, supaya kalian beriman kepada Allah dan juga RasulNya dan supaya kalian menolong dia dan menghormati dia” (Al-Fath : 8-9).Mengetahui kekuasaan Allah dan bagaimana Allah memilih para Nabi danRasul.Mengetahui bahwa beriman dengan mereka adalah sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.Mengetahui bahwa berpegang teguh dengan apa yang di bawa oleh para Rasul عَلَيهِ السَّلَامُ adalah sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah dan sebab di ampuni dosanya.Kita berdoa kepada Allah ‘Azza wa jalla semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman dan meninggal dunia diatas keimanan.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 25 | Penjelasan Penutup Kitab Pembatal Keislaman Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke dua puluh lima dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Beliau berkata,وَكُلُّهَا مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ خَطَرًا، وَأَكْثَرِ مَا يَكُونُ وُقُوعًا،فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْذَرَهَا وَيَخَافَ مِنْهَا عَلَى نَفْسِهِنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ مُوجِبَاتِ غَضَبِهِ، وَأَلِيمِ عِقَابِهِ“Dan semuanya ini termasuk yang paling berbahaya dan paling banyak terjadi. Maka sepantasnya seorang muslim waspada dan takut terjadi atas dirinya sendiri. Kita berlindung kepada Allah dari perkara-perkara yang menyebabkan kemarahan-Nya dan kita berlindung kepada Allah dari pedihnya siksaan-Nya.”Ini menunjukkan bahwa di sana masih ada perkara-perkara yang lain yang tidak beliau sebutkan di sini.Ucapan beliau,فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْذَرَهَا وَيَخَافَ مِنْهَا عَلَى نَفْسِهِ“Maka wajib bagi seorang muslim untuk waspada dan takut dia terjatuh di dalam perkara-perkara tersebut.Diantara bentuk kewaspadaan kita dan ketakutan kita adalah:1. Berdo’a dan berlindung kepada Allah dari seluruh pembatal keislaman.2. Mempelajari agama Allah, dimulai dari masalah akidah.3. Mengamalkan apa yang sudah dipelajari.Beliau rahimahullah mengatakan,نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ مُوجِبَاتِ غَضَبِهِ، وَأَلِيمِ عِقَابِهِ“Kami berlindung kepada Allah dari segala hal yang menjadikan kemarahan Allah dan kami berlindung dari pedihnya siksaan Allah.”Ini adalah do’a terbaik dari pengarang rahimahullah. Beliau mendo’akan untuk beliau sendiri dan mendo’akan setiap orang yang membaca buku beliau ini. Berlindung kepada Allah dari segala hal yang menjadikan amarah Allah.Kemudian beliau mengatakan,وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ“Dan shalawat Allah serta salam-Nya atas Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.”Menggabungkan di dalam kalimat terakhir ini, antara shalawat dan salam, karena Allah Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kita untuk melakukan shalawat dan salam seperti dalam firman Allah,(إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا)[Surat Al-Ahzab 56]“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bersholawat atas Beliau dan ucapkanlah salam dengan sebenarnya.”Dengan demikian kita sudah menyelesaikan kitab yang mulia ini, kitab yang sangat bermanfaat, yaitu Nawaqidul Islam, yang berisi tentang 10 perkara yang paling besar yang bisa membatalkan keislaman seseorang.Semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan menjadikan ilmu yang kita dapatkan adalah ilmu yang diamalkan.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Ringkasan Halaqah 73 – Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ummu SalamahRasulullah ﷺ mengabarkan bahwa akan ada pemimpin yang mencampur antara amalan yang ma'ruf dan yang mungkar.Poin-poin penting:Pemimpin bisa memiliki kebaikan sekaligus melakukan kemungkaran, seperti kefasikan atau kezaliman.Seorang mukmin wajib mengingkari kemungkaran sesuai kemampuannya.Mengingkari dengan hati berarti berlepas diri dari kemungkaran.Mengingkari dengan lisan tidak harus dilakukan secara terbuka, demonstrasi, atau mempermalukan penguasa di depan umum. Nasihat secara langsung juga termasuk mengingkari dengan lisan.Yang tercela adalah orang yang ridha terhadap kemungkaran dan ikut mengikutinya.Ketika para sahabat bertanya apakah pemimpin yang berbuat mungkar boleh diperangi, Nabi ﷺ menjawab: "Tidak, selama mereka masih menegakkan shalat."Larangan memberontak kepada penguasa bertujuan mencegah kerusakan yang lebih besar, karena pemberontakan biasanya menimbulkan korban jiwa, kehancuran, dan kekacauan yang jauh lebih besar daripada kezaliman yang ingin dihilangkan.Syariat Islam bertujuan menghilangkan atau meminimalkan mudarat. Oleh karena itu, kaum muslimin diperintahkan untuk mendengar dan taat kepada penguasa dalam perkara yang ma'ruf serta bersabar atas kezaliman mereka demi menjaga kemaslahatan umat.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 25 | Meninggalnya Orang-orang yang beriman sebelum hari kiamat terbenamnya tanah secara besar-besaran ketiga tempat dan keluarnya api dari yaman

Halaqah 25 Meninggalnya Orang-orang yang beriman sebelum hari kiamat terbenamnya tanah secara besar-besaran ketiga tempat dan keluarnya api dari yamanSilsilah Beriman Kepada Hari Akhir Sebelum terjadinya hari kiamat, Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan mengirim angin yang mencabut nyawa semua orang yang beriman. Sehingga tidak tersisa di dunia, kecuali sejelek-jelek manusia. Rasulullah ﷺ bersabda,Kemudian Allah akan mengutus angin yang dingin dari arah Syam, maka tidak ada seorang pun di Bumi yang di dalam hatinya ada kebaikan atau iman meski sebesar biji sawi, kecuali akan dicabut nyawanya oleh angin tersebut. Sampai seandainya salah seorang dari mereka masuk ke dalam gunung, niscaya angin tersebut akan masuk bersamanya dan mencabut nyawanya. Maka tersisalah sejelek-jelek manusia yang ringan berbuat kerusakan, seperti ringannya burung dan mereka ganas dalam berbuat kedzaliman satu dengan yang lain, seperti ganasnya hewan buas. Mereka tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran (HR. Muslim).Di dalam sebuah hadits yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, disebutkan bahwasanya Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengutus angin tersebut dari Yaman. Sebagian ulama mengatakan bahwasanya angin tersebut, berasal dari dua arah, yaitu Yaman dan juga Syam.Dan di antara tanda-tanda besar hari kiamat adalah akan terbenamnya tanah secara besar-besaran di tiga daerah timur, barat dan jazirah arab, sebagaimana datang didalam hadits.Dan termasuk dalam tanda-tanda besar hari kiamat adalah munculnya api dari Yaman yang akan menggiring manusia ke tempat pengumpulan. Dan tempat dikumpulkannya manusia saat itu adalah Syam. Sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Baihaqi di dalam Sha’abul Iman dan hadits ini shahih. Dan syam adalah daerah-daerah di sekitar Masjidil Aqsa. Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya,Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan berjalan kaki, sebagian naik kendaraan dan sebagian akan diseret di atas wajah-wajah mereka (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi)Api ini akan senantiasa bersama mereka siang dan malam sehingga mereka sampai ditempat pengumpulan.Sebagaimana bisa disimpulkan di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.Dan yang terakhir kali akan dikumpulkan adalah dua orang penggembala dari Qobilah Muzailah (HR. Bukhari dan Muslim).Pengumpulan di sini berbeda dengan pengumpulan manusia setelah dibangkitkan dari kuburnya. Pengumpulan di sini adalah di dunia untuk sebagian manusia. Sedangkan pengumpulan setelah dibangkitkannya manusia adalah di akhirat untuk semua manusia. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan keselamatan kepada kita semua di dunia dan di akhirat.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 75 | Masing-Masing Manusia akan Dimudahkan untuk Melakukan Apa yang Mereka Dicipta Untuknya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Maka masing² dari kita akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia dicipta untuknya.Melakukan apa yang sudah ditakdirkan untuk orang yang sudah Allāh tulis di dalam Lauhul Mahfudz, dia akan masuk ke dalam Surga maka ketika Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan dia di dunia Allāh akan memudahkan dia untuk melakukan amalan² yang memasukkan dia ke dalam Surga atau yang menjadi sebab dia masuk kedalam Surga, misalnya dijadikan dia lahir di tengah² orang Islam kemudian diajarkan oleh orang tuanya tentang Islam yang benar atas seandainya dia lahir di negeri kafir orang tuanya kafir tapi Allāh tulis dia termasuk penduduk Surga maka akan ada jalan dia masuk ke dalam agama Islam, mungkin akan ada di sana (dinegeri kafir) dakwah ada yayasan yang didirikan kemudian salah satu sebab akhirnya dia mungkin tidak sengaja masuk ke dalam Masjid dan mendengar orang mengajak kepada Islam dan seterusnya, akhirnya masuk Islam, orang yang sudah Allāh subhanahu wa taala putuskan dia termasuk penduduk Surga makaمُيَسَّرٌDia akan dimudahkan untuk melakukan apa yang memang dia ditakdirkan untuk makanya kita katakan kita khusnudzon kepada Allāh, lihat siapa kita lemahnya kita ada hinanya kita tapi Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan karunia dan juga anugerah dipilih kita di antara sekian banyak manusia untuk mengenal Allāh lebih dalam, kita belajar tentang Nama² Allāh kita belajar tentang sifat Allāh kita mengenal lebih dalam tentang agama Allāh khusnudzon kepada Allāh, Allāh ingin memasukkan kita ke dalam Surganya Allāh mudahkan kita untuk menuntut ilmu agama Allāh jaga kita dan jadikan kita Istiqomah sampai detik ini kita berharap sampai kita tentunya sampai meninggal dunia di tengah² gelombang fitnah yang semakin dahsyat, baik fitnah syahwat maupun syubhat, kalau Allāh subhanahu wa ta’ala tidak menjaga niscaya kita sudah terseret dengan arus, tenggelam bersama orang² yang tenggelam, tenggelam di dalam kebodohan, tenggelam didalam syahwat, tenggelam di dalam subhat, dan sudah banyak korban, kalau bukan Allāh subhanahu wa ta’ala yang menjaga niscaya kita tidak akan terjadi, maka kita khusnudzon kepada Allāh dan Allāh mengatakan,أَنَا عِنْدَ حسن ظَنِّ عَبْدِي بِيAku ini sesuai dengan persangkaan hambaKu kepadaKu.Kalau kita berprasangka baik kepada Allāh maka itulah yang akan kita dapat, kita berprasangka baik kepada Allāh, Allah ingin memasukkan kita ke dalam Surga-Nya.Maka hendaklah kita bersyukur kepada Allāh atas seluruh Taufik dan juga hidayah, diantara bentuk syukur kita kepada Allāh subhanahu wa taala adalah dengan menjaga kenikmatan ini menjaga ketaatan kita kepada Allāh menjaga Istiqomah kita di dalam menuntut ilmu agama.وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُSebaliknya orang yang sudah ditentukan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam Nerakanya Allāh baik selamanya maupun sementara maka akan dimudahkan juga kalau memang dia adalah orang yang akan masuk ke dalam Neraka selama-lamanya maka ada saja di sana jalan sehingga dia meninggal di atas kekufuran diatas kesyirikan, mungkin dia dahulunya adalah seorang muslim & Allāh subhanahu wa ta’ala lebih tahu siapa yang berhak untuk masuk ke dalam Surga-nya dan Allāh lebih tahu siapa yang berhak untuk mendapatkan azabNya, Allāh tidak akan menzalim apa yang Allāh lakukan pasti di sana ada hikmah, Allāh mudahkan yang ini dan Allāh mudahkan yang itu Allāh lakukan itu semuanya dengan hikmah tidak ada kezaliman di dalam.Ini yang harus terpatri didalam diri seorang muslim.إنّ الله لا يَظِلم مثقال ذرَّةAllāh tidak akan mendholimi meskipun hanya sebesar dzarrah.Sehingga Allāh mengatakan,..وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ ۝[QS Fushilat 46]Dan Rabbmu tidak akan menzalimi hamba²Nya. Masing² akan dimudahkan oleh Allāh, termasuk di antaranya pelaku maksiat dari orang Islam maka itu pun akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang sudah ditakdirkan dan Allāh lebih tahu siapa di antara mereka yang berhak untuk mendapatkan hidayah yang ada juga Istiqomah dan siapa yang tidak berhak dan Allāh subhanahu wa ta’ala sekali lagi tidak menzalimi hambaNya.اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُDan ini menjadikan seseorang ketika melihat saudara yang masih belum mendapatkan hidayah mungkin dia masih terkumpul dalam kebidahan dia atau di dalam firkah dia mengingat hadits iniوَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Melihat dengan kacamata kasih sayang, sayang kepada mereka, kasian kepada mereka yang masih belum mendapatkan hidayah sehingga nanti didalam dirinya untuk mengajak / di dalam dirinya untuk mendakwahi dengan maksud merahmati/ menyayangi bukan maksud mendzalimi atau menghinakan, kemudian ketika dia melihat keadaan mereka dan dia melihat pada dirinya sendiri semakin dia bertambah bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala yang tidak menjadikan dirinya seperti mereka yang masih terkungkung di dalam subhat hak mereka diantara bentuk syukurnya adalah dengan berusaha mengajak orang yang sesuai dengan kemampuan, dia menjelaskan mengajak dan ini adalah bentuk syukur dia atas nikmat hidayah yang telah Allāh subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, sebagaimana dia senang dan gembira bahagia mendapat hidayah maka dia senang juga seandainya orang lain juga mendapatkan hidayah tersebut sebagaimana dulu orang yang mendakwahi kita bersabar dalam mengajak kita, kitapun bersabar ketika mendakwahi orang lain mereka bersabar sehingga kita pun mendapatkan hidayah dan paham bahkan kita pun juga demikian,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِTidak beriman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai untuk orang lain sebagaimana atau apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.ثُمَّ قَرَأَkemudian beliau ﷺ membaca firman Allāh,فَاَمَّا مَنۡ اَعۡطٰى وَاتَّقٰىۙ ۝وَصَدَّقَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡيُسۡرٰىؕ ۝وَاَمَّا مَنۡۢ بَخِلَ وَاسۡتَغۡنٰىۙ ۝وَكَذَّبَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡعُسۡرٰىؕ ۝[QS Al Lail 5-10]Maka beliau rahimahullāh di sini mendatangkan ucapan,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،maka ini adalah Taufik dari Allāh subhanahu wa ta’ala setelah telah menjelaskan bahwasanya semuanya itu dengan takdir Allāh masuknya seseorang ke dalam Surga dengan takdir Allāh masuknya seseorang kedalam Neraka dengan takdir Allah maka beliau menjelaskan masing² akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia ditakdirkan untuknya, ini adalah dorongan bagi kita untuk beramal ingin masuk ke dalam Surga semua kita ingin masuk ke dalam Surga maka beramal lah karena masuk ke dalam Surga itu ada sebab,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ingin selamat dari Nerakanya Allāh ya jangan kita melakukan perkara yang menjadi sebab maksudnya seseorang ke dalam Neraka Allāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ini isyarat dari beliau beriman dengan takdir dan beriman dengan syariat sebagaimana yang kita ulang².

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 74

Kamis, 9 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 74Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Kelima, Hadist Shahih Riwayat Ummu Salamah (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Makna Kalimat "لا ماصلوا" (Jangan Kalian Memerangi Mereka Selama Masih Shalat)​Nabi ﷺ, beliau mengatakan jangan kalian memerangi mereka:​لا ماصلوا​Maksudnya adalah selama mereka masih muslim. Selama mereka ini masih muslim, tidak keluar dari agama Islām, karena kezaliman yang mereka lakukan tidak mengeluarkan mereka dari Islām. Demikian pula kefasikan dan dosa besar yang mereka lakukan, tidak mengeluarkan mereka dari Islām. Selama mereka ini masih muslim, maka لاتقاتلهم (jangan memerangi mereka).​Kriteria Ulul Amri: Ulul amri yang kita diperintahkan untuk mentaati mereka adalah yang muslimun, berdasarkan firman Allāh:​۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ​(Minkum: muslimin).Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.”(QS. An-Nisa: 59)Syarat Pemimpin dalam Kondisi Normal vs Kondisi Tidak Normal​Kondisi Normal (Ikhtiar/Tenang):Disyaratkan yang menjadi pemimpin adalah:​Laki-laki yang sehat.​Mengetahui tentang bagaimana cara mengatur negara dan mengurus urusan perang.Seorang yang merdeka.​Dari Quraisy (termasuk keturunan Quraisy).​Kondisi Tidak Normal: Mungkin salah satu dari syarat-syarat di atas kurang. Namun seandainya muncul dan diangkat seorang yang masih kurang di antara syarat-syarat tadi, maka ini tidak membatalkan kepemimpinan beliau. Dalilnya banyak, di antaranya:​Sabda Nabi ﷺ:​…وإن تأمَّرَ عليكم عبدٌ حبشِيٌّ​(Meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyah). Dalam keadaan normal disyaratkan merdeka, tapi seandainya ada seorang budak yang menjadi seorang pemimpin, wajib bagi kita mendengar dan taat.​Di dalam sebuah hadits:​وإن كان عبداً مجدع الأطراف​(Meskipun dia adalah seorang budak yang terpotong ujung-ujung jarinya). (HR. Muslim)​Penjelasan: Kita tahu bahwasanya orang yang terpotong ujung jarinya tidak bisa melakukan banyak perkara. Tangan memiliki banyak perkara yang bisa kita gunakan diantaranya dengan sebab jari-jari yang Allāh ciptakan pada tangan tersebut. Seandainya hanya ada tangan saja tanpa ada jari, maka banyak perkara yang tidak bisa kita kerjakan. Budak tadi مجدع الأطراف (putus jari jemarinya); kalau dia berperang tidak bisa berperang, bagaimana dia membawa tombak, membawa anak panah, membawa senjata atau pedang. Jika dia berperang dengan orang lain pasti kalah karena dia tidak punya kekuatan. Padahal jika dalam keadaan normal, disyaratkan seorang pemimpin yang sehat badannya dan sempurna.​Kepemimpinan Wanita dalam Kondisi Tertentu:Disyaratkan untuk seorang laki-laki, karena Nabi ﷺ mengatakan:​ما أفلح قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً​Artinya:“Tidak akan beruntung sebuah kaum yang mereka menjadikan urusan mereka ini diserahkan kepada seorang wanita.”​Ketentuan Syar'i: Ini jika dalam keadaan normal. Tapi dalam keadaan tertentu seorang wanita menjadi pemimpin, selama dia adalah seorang muslim maka sah kepemimpinannya. Bukan berarti boleh memberontak kepada pemimpin wanita (tidak boleh), selama dia Islām, karena muslimin mencakup laki-laki maupun perempuan. Seandainya disana Qadarullah ada seorang pemimpin/penguasa wanita dan dia adalah seorang muslimah, maka dia adalah termasuk ulul amr yang kita diwajibkan untuk taat kepadanya dan mendengar kepadanya, karena ukurannya di sini adalah Islām.Dalil Kafirnya Orang yang Meninggalkan Shalat​Nabi ﷺ di sini mengatakan ما صلوا (selama mereka ini masih shalat), dan ini juga menjadi dalil yang digunakan sebagian ulama tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat.​Karena Nabi ﷺ di sini menjadikan ukuran Islām dan tidaknya seseorang dari shalatnya. Selama mereka masih shalat (Muslim), jika sudah tidak shalat (Bukan Muslim).​Sebagaimana hadits:​الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ​Artinya:“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkan shalat maka sungguh dia telah kafir [keluar dari agama Islām].”(HR. Muslim)Syahid (Sisi Pendalilan) Bab: "البدعة أشد من الكبائر"​Kenapa muallif (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) mendatangkan hadits ini? (Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam Muslim).​Kita lihat perbandingannya:​Ketika Nabi ﷺ berbicara tentang Khawarij (Ahlu Bid'ah):Beliau ﷺ memerintahkan untuk memerangi mereka dan membunuh mereka.​Ketika beliau mengabarkan tentang adanya pemimpin-pemimpin yang zalim (Pelaku Dosa Besar): Ternyata ketika ditanya, “Ya Rasulullah apakah kita memerangi mereka?” Beliau mengatakan لا تقاتلهم (jangan kalian memerangi mereka).​Alasan Perbedaan Hukum:​Khawarij disuruh diperangi karena mereka adalah ahlu bid'ah yang mudharat mereka—atau yang mereka hasilkan—ini banyak dan besar sekali.​Adapun yang dilakukan oleh umara (para pemimpin), maka itu sebatas kemaksiatan tidak sampai kepada kebidahan; jauh kezaliman yang mereka lakukan ini dari kebidahan.​Hal ini menunjukkan bahwasanya:​البدعة أشد من الكبائر​(Bid'ah itu lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar).Karena ketika beliau ﷺ menyebutkan tentang para pemimpin yang zalim, beliau melarang kita untuk memerangi mereka. Berarti sesuatu yang disuruh untuk diperangi (bid'ah Khawarij) itu lebih dahsyat daripada sesuatu yang tidak disuruh diperangi (kezaliman dosa besar).​Di sini ada hubungan yang erat antara hadits yang kemarin (أينما لقيتموهم فاقتلوهم) dengan hadits yang sekarang (لا ماصلوا). Oleh karenanya digandengkan oleh beliau, supaya kita memahami dan supaya kita bisa langsung membandingkan antara yang pertama (bid'ahnya orang-orang Khawarij) dengan kezaliman yang dilakukan oleh umara-umara yang zalim.Kesimpulan​Hadits dari Ummu Salamah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini menegaskan bahwa kepemimpinan seorang muslim tetap sah dan wajib ditaati dalam hal yang ma'ruf—meskipun pemimpin tersebut seorang budak yang cacat, seorang wanita dalam kondisi tertentu, atau penguasa yang melakukan dosa besar dan kezaliman—selama mereka masih mendirikan shalat (ما صلوا). Hadits ini sekaligus menjadi dalil bahwa pembatas keislaman seseorang adalah shalat, di mana orang yang meninggalkannya dihukumi kafir keluar dari Islām (فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ).​Sisi pendalilan utama (syahid) dari bab ini adalah perbandingan hukum yang kontras dari Nabi ﷺ: beliau memerintahkan untuk memburu dan membunuh kaum Khawarij karena bahaya kebid'ahannya yang sangat besar, namun sebaliknya, beliau melarang keras memerangi pemimpin yang dzalim dan fasiq selama mereka muslim. Kontras hukum ini membuktikan secara nyata bahwa kedudukan dosa bid'ah (seperti bid'ah Khawarij) jauh lebih dahsyat, berbahaya, dan lebih berat dampaknya bagi umat dibandingkan dengan dosa-dosa besar biasa (seperti kezaliman atau kefasikan para penguasa).

💬 0 komentar📅 9 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 hari lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 24

Halaqah yang ke dua puluh empat dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد التاسع عشرSimpul yang ke-19 di antara simpul-simpul (prinsip-prinsip) yang dengannya kita bisa mengagungkan ilmu.شَغَفُ القلب بالعلمKecintaan yang besar, yang dahsyat terhadap ilmu.وَغَلَبَتُه عليهDan berusaha untuk memenangkan (membesarkan) kecintaan tersebut.Menjadikan kecintaan dia terhadap ilmu berkuasa menguasai hatinya. Ini adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu. Kita berusaha untuk membesarkan kecintaan kita terhadap ilmu.فصدق الطَّلب له يوجب محبَّته، وتعلُّقَ القلب به، ولا ينال العبدُ درجةَ العلم حتَّىٰ تكون لذَّته الكبرىٰ فيهMaka kesungguhan (shidq) di dalam mencari ilmu,Shidq di sini adalah kejujuran. Dan sudah berlalu yang dimaksud dengan kejujuran dalam menuntut ilmu itu adalah mengumpulkan seluruh keinginan untuk ilmu.Sudah kita terangkan, kita ini banyak keinginan, ingin mobil, ingin harta, ingin itu, dan ini, maka termasuk kejujuran kita dalam menuntut ilmu adalah kita kumpulkan keinginan-keinginan tadi untuk mendapatkan ilmu.Akibat dari kita mengumpulkan keinginan tadi untuk ilmu adalah akhirnya kita akan mencintai ilmu tersebut, itu akan membawa kita mencintai ilmu tersebut.Jadi kalau kita ingin memiliki syaghaf (kecintaan yang sangat terhadap ilmu), maka kita harus mengumpulkan keinginan-keinginan tadi untuk mendapatkan ilmu tadi, dan ini akan menyebabkan hati kita memiliki hubungan yang sangat erat dengan ilmu.Dan seorang hamba tidak akan mendapatkan derajat (ketinggian) di dalam ilmu sampai kelezatan (kenikmatan) dia yang paling besar di dalam ilmu tadi. Kita tidak akan mendapatkan ketinggian ilmu, sampai kita merasakan bahwasanya kita ini merasa nikmat dan merasa lezat ketika kita berkecimpung dengan ilmu.Kalau kita sudah sampai derajatnya nikmat bersama ilmu, menghadiri majelis ilmu nikmat, menulis nikmat, memikirkan ilmu nikmat, kalau sudah sampai di situ, ini kita sudah sampai derajat yang tinggi dalam masalah ilmu.Kalau kita sudah merasakan kenikmatan kita bukan ketika kita bertamasya, bukan ketika kita di mall, bukan ketika kita berjalan-jalan, tapi kita mendapatkan kelezatan ketika kita memikirkan ilmu, ini sudah sampai derajat yang tinggi. Bagaimana seseorang bisa mendapatkan kelezatan tadi?وإنمَّا تُنال لذَّة العلم بثلاثة أمورٍKelezatan ilmu tadi itu bisa didapatkan dengan tiga perkara. Kalau seseorang sudah merasakan lezatnya, nikmatnya di dalam ilmu ini mengalahkan yang lain, mengalahkan orang-orang kaya, mengalahkan para penguasa, dan raja-raja di dunia, mengalahkan kelezatan yang mereka rasakan. Kalau seseorang sudah sampai nikmat di dalam ilmu, maka dia akan merasakan nikmat yang luar biasa yang tidak dirasakan oleh raja-raja di dunia.ذكرها أبو عبد الله ابن القيِّمDisebutkan oleh Ibnul Qayyim Abu Abdillah (kunyahnya) rahimahullāh,أحدِهاYang pertama adalahبذل الوُسْع والجَهْدKalau kita ingin mendapatkan lezatnya ilmu, maka kita harus mengeluarkan/mengerahkan kekuatan kita dan kemampuan kita, kesungguhan kita dalam menuntutnya.Hadir di majelis ilmu, menghafal, bangun di malam hari untuk murajaah, bertanya, kita kerahkan tenaga kita. Kalau kita malas-malasan dan setengah-setengah, tidak mengerahkan seluruh kemampuan kita untuk mendapatkan ilmu, maka kita tidak akan mendapatkan kelezatan ilmu.وثانيهاDan yang ke dua adalahصدق الطَّلبJujur dalam mencari.Kejujuran dalam mencari, yaitu dengan cara kita mengumpulkan seluruh keinginan kita, kita tumpahkan semuanya untuk menuntut ilmu.وثالثِهاDan yang ke tiga adalahصحَّة النِّيَّة والإخلاصKebenaran niat dan juga keikhlasan.Dan sudah berlalu niat dalam menuntut ilmu. Ana ingin menghilangkan kebodohan yang ada pada diri ana, ana ingin menghilangkan kebodohan pada diri orang lain, ana ingin menjelaskan nanti ke keluarga ana, ingin menjelaskan ke teman-teman ana yang benar adalah seperti ini.Atau niatnya adalah ingin menghidupkan ilmu yang sebelumnya mati di dalam dirinya, dia hidupkan dengan cara menuntut ilmu. Yang sebelumnya mati di hati orang lain, maka dia hidupkan dengan cara dia menuntut ilmu terlebih dahulu dan ingin menghidupkan ilmu tersebut di hati-hati orang lain.Kemudian yang ke empat adalah ingin mengamalkan ilmu tadi. Kalau niat kita ikhlas dan kita dengan fisik kita, kita keluarkan, dan kita kerahkan kemampuan kita dan hati kita atau keinginan kita, kita satukan untuk mendapatkan ilmu tadi, maka ini dengan tiga hal seperti ini kita insyaAllāh akan merasakan lezatnya ilmu.ولا تَتِمُّ هٰذه الأمور الثَّلاثة، إلَّ مع دفع كلِّ ما يُشْغِلُ عن القلبDan tidak akan sempurna tiga perkara ini kecuali apabila kita menolak segala sesuatu yang menyibukkan dari hati kita. Segala sesuatu yang menyibukkan, yang memalingkan dari hati kita, maka hendaklah kita tolak. Kalau kita menolak maka akan sempurna tiga perkara ini.Adapun seseorang dia bersungguh-sungguh dan dia kumpulkan seluruh keinginannya dan dia punya niat yang ikhlas tapi dia senang melakukan perkara-perkara yang menyibukkan hatinya, yang melalaikan hatinya, tidak dia hindarkan dan tidak dia jauhi, maka ini juga sulit bagi seseorang untuk mendapatkan lezatnya ilmu.Ini yang mengucapkan Ibnul Qayyim, seorang ulama dan dia sudah merasakan lezatnya ilmu tersebut. Dia sampaikan cara ini kepada kita supaya kita juga ikut merasakan apa yang dirasakan oleh para ulama.إنَّ لذَّة العلم فوق لذَّة السُّلطان والحكم الَّتي تتطلَّع إليه ونفوسٌ كثيرةٌ، وتُبذَل لأجلها أموالٌ وفيرةٌ، وتُسفَك دماءٌ غزيرةٌBeliau menyebutkan tentang bagaimana nikmatnya ilmu.Sesungguhnya lezatnya ilmu itu di atas lezatnya seorang penguasa atau lezatnya kekuasaan.Jabatan kekuasaan lezat, antum jadi seorang penguasa, petinggi, antum memerintahkan, menyuruh, melarang, mengeluarkan peraturan, nikmat, tapi ternyata kelezatan ilmu itu lebih tinggi.Antum menjadi seorang penguasa, dilayani oleh orang lain, ketika antum ke sana disambut, dilayani, dihidangkan makanan yang paling lezat, ditawari, dihormati, sebuah kelezatan. Tapi ternyata kelezatan ilmu ini lebih tinggi daripada kelezatan jabatan tadi, kedudukan tadi. Kelezatan yang di mana banyak orang yang mencari-cari kelezatan tersebut.Orang berebutan ingin menduduki kedudukan tertentu di sebuah instansi. Ana ingin jadi seorang direktur, ana ingin menjabat jabatan tersebut, berebutan mungkin sampai mengeluarkan uang.وتُبذَل لأجلها أموالٌ وفيرةٌSampai mereka berani untuk nyogok demi untuk mendapatkan kelezatan kedudukan dan jabatan tadi.وتُسفَك دماءٌ غزيرةٌBahkan ditumpahkan darah demi untuk mendapatkan kedudukan tadi, kalau perlu saingannya tadi mati demi untuk mendapatkan kedudukan tadi, tapi ternyata kelezatan ilmu itu jauh lebih tinggi, lebih lezat daripada kelezatan kekuasaan.ولهذاOleh karena itu,كانت الملوك تتوقُ إلىٰ لذَّة العلم، وتُحِسُّ فقدَها، وتطلُب تحصيلَهاBuktinya kelezatan ilmu itu jauh lebih tinggi dan lebih lezat daripada kelezatan kekuasaan, dahulu para raja mereka tatūq (rindu) untuk mendapatkan kelezatan ilmu. Berarti mereka belum merasakan kelezatan tadi. Mereka rindu untuk merasakan kelezatan ilmu dan mereka merasakan kehilangan kelezatan tadi dan mereka berusaha untuk mendapatkannya.Ada sebuah kisah,قيل لأبي جعفرٍ المنصورDikatakan kepada Abu Ja’far Al-Manshur,الخليفةِ العباسيِّ المشهورSeorang khalifah dari Bani ‘Abbas yang terkenalالَّذي كانت ممالكه تملأ الشَّرق والغربDi mana kekuasaan beliau saat itu meliputi dari timur ke barat, apa yang beliau ucapkan didengar beliau dihormati dan disegani oleh orang banyak.هل بقي من لذَّاتِ الدُّنيا شيءٌ لم تنله؟Pernah ditanyakan kepada beliau, karena beliau tentunya sudah merasakan berbagai kenikmatan dunia, mungkin kenikmatan harta, kenikmatan wanita, kenikmatan jabatan, dan seterusnya. Apakah ada dari kelezatan dunia yang belum kamu rasakan?فقالMaka beliau menjawab,وهو مستوٍ علىٰ كرسيِّه وسرير ملكهBeliau menjawab dan saat itu beliau berada di atas kursinya dan di atas singgasana kerajaannya, jadi ditanya dan beliau dalam keadaan berada di atas singgasana kursi kebesaran.بقيت خَصلةٌKata beliau, ada satu kenikmatan yang belum pernah ana rasakan.أن أقعُدَ علىٰ مِصْطَبَةٍKenikmatan tersebut adalah aku duduk di atas mishthabah (sesuatu yang agak tinggi).Zaman dulu ketika ada majelis ilmu maka gurunya duduknya di tempat yang agak tinggi daripada murid-muridnya supaya murid-muridnya melihat beliau. Aku ingin duduk, yaitu aku duduk di atas mishthabah, di atas sesuatu yang agak tinggi.وحولي أصحاب الحديث – أي طاَّبُ العلمDan aku berkeinginan di sekitarku ini adalah para penuntut hadits, orang-orang yang mencari hadits Nabi ﷺ yang dia melakukan rihlah, perjalanan yang panjang untuk mencari hadits. Aku ingin duduk sebagai seorang guru di atas tempat yang agak tinggi kemudian mereka berada di sekitarku, yaitu para penuntut ilmu.فيقول المستمليKemudian berkata mustamliy (orang yang ada di depan seorang Syaikh dan dia nanti yang berkata kepada Syaikh, hadits apa yang engkau ingin sampaikan).من ذكرت رحمك الله؟Mustamliy tadi mengatakan, Siapa yang engkau sebutkan semoga Allāh ﷻ merahmati dirimu?Mustamliy sekaligus murid, sekaligus dia yang perannya di majelis tersebut sebagai mustamliy, yaitu berkata kepada gurunya, dari siapa hadits-mu, siapa yang engkau sebutkan, barulah setelah itu nanti syaikhnya mengatakan haddatsana fulan.يعني فيقولMaksud beliau adalah setelah itu beliau akan mengatakan,حدَّثنا فلانٌ، قال: حدَّثنا فلانٌBeliau mengatakan telah memberikan atau menyampaikan kepadaku hadits si fulan.ويسوق الأحاديث المسندةKemudian dia menyebutkan hadits tersebut secara bersanad.Dia berkeinginan untuk menjadi seperti itu. Mungkin beliau pernah melihat di masjid mereka berkumpul mungkin ribuan atau lima ribuan orang seperti di majelisnya Imam Ahmad, murid-muridnya mendengar kemudian satu orang mengatakan hadits apa, Syaikh kemudian beliau mengatakan haddatsana fulan, qāla haddatsana fulan, qāla akhbarana dan seterusnya, qāla Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, demikian dan demikian.Beliau berkeinginan seandainya beliau menjadi seperti itu, menjadi seorang Ahlul Hadits. Ini menunjukkan bahwasanya mereka ingin merasakan nikmat yang dirasakan oleh para ulama para Ahlul Hadits.ومتىٰ عُمِر القلب بلذَّة العلم سقطت لذَّاتُ العاداتDan kapan saja hati seseorang itu dipenuhi dengan kelezatan ilmu (kalau kita sudah merasakan kelezatan ilmu), maka akan berjatuhan kelezatan-kelezatan perkara-perkara yang merupakan adat dan kebiasaan kita.Ketika seorang sudah merasakan lezatnya ilmu, maka dia akan melihat kelezatan makanan itu tidak ada apa-apanya. Ketika dia merasakan lezatnya ilmu maka dia sudah tidak memandang makanan yang favorit itu sebagai suatu yang wah, atau minuman yang enak sesuatu yang wah, atau tempat tidur yang empuk itu suatu yang sangat menghibur dia. Ini terjadi ketika dia merasakan lezatnya ilmu.وذهَلَتِ النَّفسُ عنهاMaka jiwa ini akan lupa dan lalai terhadap kelezatan-kelezatan perkara-perkara kebiasaan tadi, seperti makan, minum, tidur, dan seterusnya.بل تستحيل الآلامُ لذَّةً بهٰذه اللَّذَّةBahkan kata beliau, sesuatu yang sakit menurut orang biasa, itu bisa menjadi kelezatan tersendiri dengan adanya kelezatan ilmu.Mungkin orang menyangka kok bisa duduk dari habis Ashar sampai Isya’ misalnya, orang menyangka capek sekali jadi orang menuntut ilmu. Tapi orang yang menuntut ilmu tidak merasakan. Orang yang merasakan kelezatan ilmu, justru semakin lama dia semakin senang. Itu kok bisa tidur sehari semalam cuma 1 jam, ana saja tidur 6 jam inginnya tidur lagi, padahal ketika dia bermalam bersama ilmu murajaah atau membaca ilmu tadi kepada gurunya misalnya, dia merasakan di situ nikmat yang luar biasa.Ada sebagian ulama sampai mereka lupa makan, lupa minum, karena sedang sibuk dengan ilmu tadi. Jangan kita menyangka tersiksa sekali orang tersebut tidak makan, sayang tidak minum ini, tidak makan ini, tidak, dia dalam keadaan nikmat yang luar biasa dengan ilmu tadi.Maka ini adalah bentuk pengagungan kita terhadap ilmu, kita berusaha untuk mencintai ilmu tersebut dan menjadikan kecintaan kita terhadap ilmu ini menguasai hati kita dengan cara yang tadi disebutkan.

💬 0 komentar📅 9 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 24

Halaqah yang Ke-24 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang ke 22Diantara cara beriman kepada para rasul alayhimussalam adalah mengetahui beberapa persamaan antara Nabi dan Rasul. Mereka semua adalah manusia Laki-laki dan MerdekaMereka adalah manusia maksudnya adalah bukan dari kalangan Jin dan bukan dari kalangan Malaikat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا”Dan tidaklah menghalangi manusia untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali ucapan mereka, apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai seorang Rasul” (Al-Isra : 94)Dan Allah mengatakanوَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ”Dan Kami telah memberikan Ishak dan juga Ya’qub kepada Ibrahim dan kami jadikan kenabian dan kitab didalam keturunannya… “ (Al-Ankabut : 27)Di dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengabarkan bahwasanya kenabian ada pada keturunan Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan keturunan Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ adalah keturunan dari kalangan manusia bukan dari jin dan bukan dari malaikatDan mereka (yaitu para Nabi dan Rasul) adalah dari kalangan laki-laki dan bukan dari kalangan wanita, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ”Dan tidaklah kami mengutus sebelummu para Rasul kecuali mereka adalah laki-laki yang Kami wahyukan kepada mereka diantara penduduk negeri… “ (Yusuf : 109)Dan mereka adalah orang-orang yang merdeka dan bukan budak karena perbudakan adalah sifat yang tidak sesuai dengan kedudukan Nabi dan waktu seorang budak adalah sepenuhnya bagi tuannya, maka kapan dia berdakwah dan menghadapi lawan-lawannya. Adapun yang terjadi pada Nabi Yusuf عَلَيهِ السَّلَامُ ketika beliau menjadi budak bagi salah seorang bangsawan di Mesir, maka asalnya Yusuf adalah orang yang merdeka, kemudian saudara-saudaranya yang telah menipu daya beliau adapun sabda Rasulullah ﷺمَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَTidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali mengembala kambing (HR Al-Bukhari)Maka para Nabi tersebut bukan mengembala karena dia seorang budak akan tetapi mengembala kambingnya sendiri atau mengembala kambing milik orang lain dengan dibayar, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengembala untuk penduduk Makkah (HR Al-Bukhari)Dan Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengembala untuk seorang laki-laki yang shaleh dari madyan., sebagaimana di dalam Al Qashas : 27

💬 0 komentar📅 9 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 24: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 22)

Halaqah 24:Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 22)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman kepada para rasul alayhimussalam adalah mengetahui beberapa persamaan antara Nabi dan Rasul. Mereka semua adalah manusia Laki-laki dan Merdeka.Mereka adalah manusia, maksudnya adalah bukan dari kalangan Jin dan bukan dari kalangan Malaikat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا"Dan tidaklah menghalangi manusia untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali ucapan mereka, apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai seorang Rasul” (Al-Isra : 94)Dan Allah mengatakan:وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ"Dan Kami telah memberikan Ishak dan juga Ya’qub kepada Ibrahim dan kami jadikan kenabian dan kitab didalam keturunannya… “ (Al-Ankabut : 27).Di dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengabarkan bahwasanya kenabian ada pada keturunan Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan keturunan Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ adalah keturunan dari kalangan manusia bukan dari jin dan bukan dari malaikat.Dan mereka (yaitu para Nabi dan Rasul) adalah dari kalangan laki-laki dan bukan dari kalangan wanita, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ"Dan tidaklah kami mengutus sebelummu para Rasul kecuali mereka adalah laki-laki yang Kami wahyukan kepada mereka diantara penduduk negeri… " (Yusuf : 109)Dan mereka adalah orang-orang yang merdeka dan bukan budak karena perbudakan adalah sifat yang tidak sesuai dengan kedudukan Nabi dan waktu seorang budak adalah sepenuhnya bagi tuannya, maka kapan dia berdakwah dan menghadapi lawan-lawannya. Adapun yang terjadi pada Nabi Yusuf عَلَيهِ السَّلَامُ ketika beliau menjadi budak bagi salah seorang bangsawan di Mesir, maka asalnya Yusuf adalah orang yang merdeka, kemudian saudara-saudaranya yang telah menipu daya beliau.Adapun sabda Rasulullah ﷺمَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ"Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali mengembala kambing" (HR Al-Bukhari)"Maka para Nabi tersebut bukan mengembala karena dia seorang budak akan tetapi mengembala kambingnya sendiri atau mengembala kambing milik orang lain dengan dibayar, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengembala untuk penduduk Makkah" (HR Al-Bukhari)Dan Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengembala untuk seorang laki-laki yang shaleh dari madyan, sebagaimana di dalam Al Qashas : 27.

💬 0 komentar📅 9 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 74 | Allāh Mengetahui Amalan-Amalan Orang yang Ditakdirkan Masuk Surga atau Neraka

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَكَذَلِكَ أَفْعَالُهُمْ فِيمَا عَلِمَ مِنْهُمْ أَنْ يَفْعَلُوهُDemikian pula Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahui tentang amalan² mereka pekerjaan² mereka,أَفْعَالُIni manshub karena di athobkan ‘adada yaitu Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahui juga tentang apa yang mereka lakukan,فِيمَا عَلِمَ مِنْهُمْ أَنْ يَفْعَلُوهُMengetahui tentang apa yang akan mereka lakukan,Itu terjemahan bebas, Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahui siapa yang akan masuk Surga dan Allāh mengetahui amalan² yang mereka lakukan di dunia sehingga itu menjadi sebab masuknya dia ke dalam Surga dan itu menjadi sebab maksudnya yang dia ke dalam Neraka karena masuknya surga ada sebab, masuknya seseorang ke dalam Neraka juga memiliki sebab, Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahui siapa penduduk Surga dan siapa penduduk Neraka dan mengetahui amalan apa yang menyebabkan dia masuk ke dalam Surga dan amalan apa yang dilakukan oleh seseorang sehingga dia termasuk penduduk Nerakaجَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَوَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ[QS Az Zukhruf 72]Itulah Surga yang diwariskan kepada kalian dengan sebab amalan yang kalian kerjakan.Masing² Anda sebab sehingga kalau masing² anda sebabnya kita melakukan amalan² yang menyebabkan kita masuk ke dalam Surga dan menjauhi amalan² yang menyebabkan kita masuk ke dalam Neraka,اللَّهمَّ إنِّي أسألُكَ الجنَّةَ وما قرَّبَ إليها من قولٍ وعملٍ وأعوذُ بكَ منَ النَّارِ وما قرَّبَ إليها من قولٍ أو عملٍYa Allāh, aku memohon kepadaMu Surga dan apa yang mendekatkan kepada Surga berupa ucapan maupun perbuatan.Jadi meminta kepada Allāh dan meminta kepada Allāh supaya dimudahkan untuk berucap dan beramal yang menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam Surga dan berlindung kepada Allāh dari Neraka dan berlindung kepada Allāh dari ucapan dan juga perbuatan yang menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam nerakanya Allāh subhanahu wa ta’ala,وَكَذَلِكَ أَفْعَالُهُمْ فِيمَا عَلِمَ مِنْهُمْ أَنْ يَفْعَلُوهُTermasuk diantaranya perbuatan² manusia Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahui perbuatan² tersebut sebelum mereka melakukan perbuatan tersebut, Dan Allāh telah menulis apa yang akan mereka lakukan di dunia semuanya ditulis oleh Allāh si Fulan akan melakukan ini si Fulan akan melakukan amal shaleh atau melakukan kemaksiatan sudah ditulis oleh Allāh dalam Lauhul Mahfudz, semuanya sudah ditulis oleh Allāhمَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ ۝[QS Al Hadid 22]إِنَّ اللَّهُ كَتَبَ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍSesungguhnya Allāh subhanahu wa ta’ala telah menulis takdir² makhlukNya 50.000 tahun sebelum Allāh menciptakan langit dan bumi, di antara takdir² tersebut adalah apa yang diamalkan oleh seseorang, sebagaimana dalam haditsويرسل إليه الملك ؛ فينفخ فيه الروح ؛ ويؤمر بأربع كلمات: يكتب رزقه، وأجله، وعملهDisuruh menulis tentang amal yaitu amalan yang sudah Allāh subhanahu wa taala tulis di dalam Lauhul Mahfudz diperintahkan untuk di tulis oleh para Malaikat.Maka ini termasuk akidah Ahlussunnah wal jamaah bahasanya Allāh subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui termasuk diantaranya adalah siapa yang akan masuk ke dalam Surga dan siapa yang akan masuk ke dalam Neraka dan apa amalan² yang mereka lakukan di dunia sehingga menyebabkan mereka masuk ke dalam Surga & masuk ke dalam Neraka.Kemudian beliau mengatakan rahimahullāh ,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،kemudian di antara hal yang penting yang harus kita pahami adalah bahwasanya masing² dari kita yang sudah diketahui apakah dia penduduk Surga atau penduduk Neraka ya sudah diketahui amalan mereka yang akan mereka kerjakan maka masing³ dari kitaمُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang dia dicipta untuknya dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang memang sudah ditakdirkan untuk kalau dia ditakdirkan sebagai penduduk Surga maka akan dimudahkan dia untuk melakukan amalan2 yang mendekatkan dia kepada surganya Allāh di sana ada akibat dan di sana Allāh subhanahu wa ta’ala juga menyebutkan sebabnya, sebaliknya orang yang sudah ditetapkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam NerakaNya Allāh subhanahu wa ta’ala maka akan dimudahkan untuk melakukan perkara yang menyebabkannya masuk ke dalam Neraka, ini berdasarkan sebuah hadits yang tadi kita sebutkan awalnya,مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلَّا وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِTidak ada diantara kalian kecuali sudah diketahui kedudukannya dari Surga maupun dari Neraka.Para Shahabat radhiyallahu taala anhum ketika mereka mendengar kabar dari Nabi ﷺ mereka mengatakan,يا رسول الله فلم نعمل؟Wahai Rasulullah kalau begitu untuk apa kita beramal,Berarti semuanya sudah ditentukan oleh Allāh ﷻ, si fulan penduduk Surga untuk apa beramal kalau memang saya sudah ditentukan sebagai penduduk Surga, toh nanti juga akan masuk Surga seandainya dia termasuk penduduk Neraka untuk apa dia beramal toh nanti akhirnya juga masuk Neraka berarti nggak usah beramalيا رسول الله فلم نعمل؟Oleh karena itu kenapa kita beramal wahai Rasulullahأفلا نتكل؟Apakah kita tidak boleh pasrah begitu saja enggak usah kita beramal enggak usah kita beramal haaleh karena semuanya sudah ditentukan oleh Allāh sebagai penduduk Surga atau penduduk Neraka.Ini ucapan sebagian shahabat radhiyallahu ta’ala Anhum saat itu, dan mungkin itu ada di dalam benak sebagian kita & Alhamdulillah Nabi ﷺ telah memberikan jawaban kepada para shahabat saat itu dan ini adalah jawaban untuk kita yang menghilangkan wasawis Syaitan yang mengajak kita senantiasa untuk malas dalam beramal yang mengajak kita untuk meninggalkan amal shaleh & lalai dengan dunia kita kesibukan kita, Nabi ﷺ shallallahu alaihi wasallam mengatakan dan petunjuk beliau adalah sebaik-baik petunjuk dan inilah yang harus kita pegang.قال: لا،Beliau mengatakan Tidak,Yaitu jangan kalian pasrah kemudian kalian tidak beramal shaleh ucapan Nabi ﷺ la, ini sudah cukup memecut kita & menyadarkan kita dari was was syaitan yang mengajak manusia untuk tidak beramal Nabi mengatakan La, kemudian beliau mengatakan,اعملواHendaklah kalian beramal,Beriman, beramal, shalatlah, berpuasalah berbuat baiklah kepada manusia,tunaikan kewajiban hindarkanlah dari kemaksiatanاعملواBeramal lah amal di sini masuk di dalamnya menjalankan atau melaksanakan perintah dan juga menjauhi larangan, semuanya dinamakan dengan amal jadi amal itu bisa menjalankan perintah dan juga bisa menjauhi larangan semuanya termasuk amal shalehاعملواHendaklah kalian beramal, ini petunjuk Nabi ﷺ yang kita imani ucapan beliau,وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰىۙItu adalah wahyu dari Allāh subhanahu wa ta’ala itu bukan dari beliau sendiri, Wahyu dari Allāh yang disampaikan kepadanyaوَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚApa yang diberikan oleh Nabi ﷺ maka ambillah dan apa yang beliau larang maka tinggalkanlah, beliau mengatakan LA itu kan larangan jangan kita iktikal dan ucapan beliau اعملوا perintah yang harus kita kerjakanوَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚDisini beliau melarang dan memerintah, melarang kita untuk iktikal melarang kita untuk pasrah tidak beramal meninggalkan perintah Allāh atau termasuk makna tidak beramal adalah seseorang melanggar apa yang Allāh larang dan di sini ada perintah itu dalam ucapan beliauاعملواada larangan La dan ada perintah perintah untuk beramal, maka ini yang harus kita pegang kuat-kuat.

💬 0 komentar📅 9 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 73

Rabu, 8 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 73Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Kelima, Hadist Shahih Riwayat Ummu Salamah(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Dalil yang Dibahas dan Sumber Riwayat​Muallif mengatakan:​وفيه أيضا​Maksudnya adalah di dalam hadits yang shahih. ​Sumber yang meriwayatkan hadits ini bukan Al-Bukhari dan Muslim, tetapi diriwayatkan oleh Imam Muslim saja, dari Ummu Salamah, yang mana beliau menyatakan bahwa Nabi ﷺ bersabda:​«سَتَكُونُ أُمَرَاءُ فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ»​Artinya:“Akan ada pemimpin-pemimpin (amir-amir) maka engkau mengenal dan kalian mengingkari.”Penjelasan Makna Potongan Hadits​Makna تَعْرِفُونَ (Kalian Mengenal/Tahu): Maksudnya adalah kalian tahu bahwasanya mereka melakukan sesuatu yang ma'ruf, yang dikenal di dalam syariat (sesuatu yang ma'ruf) bukan sesuatu yang mungkar.​Makna وَتُنْكِرُونَ (Dan Kalian Mengingkari): Maksudnya adalah ada di antaranya yang merupakan amalan yang mungkar.Kondisi Pemimpin:Hal ini menunjukkan bahwasanya umara (pemimpin) tadi adalah makhluk yang masih tercampur amalannya antara yang baik dan juga yang jelek.​Selanjutnya Nabi ﷺ bersabda:​فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ​Makna: Barangsiapa yang mengenal, sungguh dia telah berlepas diri. Ini adalah kondisi di mana seseorang mengenal dan dia mengingkari dengan hatinya, maka sungguh dia telah berlepas diri.​Nabi ﷺ bersabda:​وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ​Makna: Barangsiapa yang mengingkari maka dia selamat. Artinya bukan hanya sekedar mengingkari dengan hati (seperti kondisi pertama), tetapi dia mengingkari dengan lisannya (misalnya), maka dia telah selamat.​Catatan Mengenai Pengingkaran dengan Lisan:​Pengingkaran dengan lisan ini tidak mengharuskan dilakukan secara jahr (terang-terangan), demo, atau dengan cara membeberkan kesalahan-kesalahan di depan orang banyak (seperti yang dipahami oleh sebagian orang).​Tidak ada kelaziman antara mengingkari dengan lisan dengan demo atau membeberkan aib di depan orang lain.​Memahami hadits:​كلمة باطل عند سلطان جائر​(Kalimat yang benar yang disampaikan di depan pemimpin yang dzalim), kemudian membayangkannya dengan cara demo adalah pemahaman yang salah.​Seandainya seseorang berduaan dengan pemimpin tersebut kemudian dia mengingkari dengan lisannya dan mengatakan, "Wahai Amir, bertaqwalah kepada Allah," maka ini pun sudah termasuk mengingkari dengan lisannya, tidak harus dilakukan di hadapan orang banyak, dan ini pun dinamakan dengan inkarul munkar.​Nabi ﷺ bersabda:​وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ​Makna: Akan tetapi yang celaka adalah orang yang ridha dan mengikuti.​Kondisi Orang yang Celaka: Orang ini berbeda dengan kondisi yang pertama (yang tahu dan mengingkari). Orang yang celaka ini tidak ada pengingkaran di dalam hatinya, melainkan dia ridha dengan kemungkaran tersebut (وَمَنْ رَضِيَ), ditambah lagi dia mengikuti kemungkaran tersebut (وَتَابَعَ). Maka inilah orang yang celaka.Pertanyaan Para Sahabat dan Jawaban Nabi ﷺ​Mendengar kabar tentang akan datangnya pemimpin-pemimpin yang memiliki sifat tersebut—yaitu melakukan yang ma'ruf dan juga melakukan yang mungkar (menunjukkan mereka mungkin melakukan kefasikan karena kefasikan adalah perkara mungkar, atau melakukan kezaliman yang juga masuk kemungkaran)—para sahabat bertanya:​قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟​Artinya:“Mereka (para sahabat) mengatakan: 'Apakah kita memerangi mereka?'”​Catatan: Pemimpin-pemimpin ini dijadikan amanah namun melakukan kemungkaran, baik menzalimi rakyatnya atau melakukan kefasikan. Kefasikan ini efeknya untuk dirinya sendiri (tidak sampai menzalimi orang lain), sedangkan kezaliman efek/pengaruhnya juga kepada orang lain.​Mendengar pertanyaan itu, Nabi ﷺ menjawab:​قَالَ لَا مَا صَلَّوْا​Artinya:“Maka Nabi ﷺ mengatakan: 'Tidak, [jangan memerangi mereka] selama mereka masih mendirikan shalat.'”Larangan Memberontak dan Kaidah Maslahat-Mudharat​Maksud Kata لَا (Tidak):Maksudnya adalah janganlah kalian memerangi mereka (نُقَاتِلُهُمْ).​Alasan Larangan Memerangi: Karena kalau memerangi mereka, akan terjadi mudharat yang lebih besar. Memang benar bahwasanya kedhaliman dan kefasikan pemimpin itu adalah mudharat, tetapi memerangi mereka dan keluar kemudian memberontak kepada mereka, mudharatnya jauh lebih besar.​Kaidah di Dalam Syariat:Syariat kita adalah syariat yang tujuannya:​Menghilangkan kemudharatan.​Meringankan kemudharatan.​Jika tidak bisa menghilangkan kemudharatan secara keseluruhan, maka syariat berfungsi untuk mengurangi kemudharatan tersebut. Ini adalah kaidah di dalam syariat.​Realita di Lapangan (Waqi'):Jika seseorang melakukan khuruj (keluar/memberontak) atau memerangi pemimpin yang zalim, justru biasanya (ghalibnya) akan terjadi kemungkaran yang lebih besar. Oleh karena itu, memberontak bukan sesuatu yang disyariatkan. Tidak ada sebuah pemberontakan di sebuah negara atau sebuah daerah kepada pemimpin yang syar'i, kecuali setelahnya adalah kehancuran dan juga kebinasaan. Sebuah kota yang sebelumnya hidup dengan manusianya, tidak lama (setengah atau satu bulan) setelah pemberontakan bisa menjadi kota yang mati dan tidak dihuni lagi oleh manusia.​Pentingnya Bersabar:Seandainya mereka mau bersabar ketika kehilangan 1 rumah (misalnya), niscaya ribuan rumah akan terselamatkan. Tapi kalau gara-gara 1 rumah kemudian dibesar-besarkan dengan mengatakan ini adalah kezaliman-kezaliman lalu memberontak kepada penguasa, yang terjadi adalah ribuan atau puluhan ribu rumah akan hancur dan binasa. Jika mereka mau bersabar saat ada satu orang tokoh mereka yang mungkin dibunuh atau dipenjara secara zalim tanpa hak, niscaya akan selamat ribuan manusia. Namun ketika mereka tidak mau bersabar karena 1 orang terbunuh/terluka lalu melakukan pemberontakan dan peperangan, akibatnya menjadi ribuan atau puluhan ribu manusia yang ikut terbunuh. Bukan demikian tujuan syariat Islām.Ketentuan (Dhowabit) Inkarul Mungkar terhadap Pemimpin​Inkarul munkar di dalam Islām memiliki dhowabit (ketentuan-ketentuan/batasan).​Allāh Subhanahu wa Ta'ala mensyariatkan bagi kita semuanya untuk mendengar dan taat kepada penguasa serta bersabar atas kezaliman mereka.​Kefasikan dan kezaliman pemimpin tidak menghalalkan seseorang untuk memberontak kepada penguasa.​Semua ini Allāh syariatkan adalah untuk maslahat bagi diri kita sendiri. Jangan kita menyangka atau mengira bahwa syariat ini dibuat agar enaknya penguasa/pemimpin atau supaya mereka merasakan enaknya nikmat kekuasaan saja (Tidak).​Syariat mendengar dan taat ini—berdasarkan prinsip السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ آمَرَ (mendengar dan taat walaupun yang memerintah adalah seorang budak)—adalah untuk kepentingan dan maslahat diri kita sendiri.Kesimpulan​Berdasarkan hadits shahih riwayat Imam Muslim dari Ummu Salamah, Nabi ﷺ mengabarkan akan datangnya para pemimpin yang mencampuradukkan amalan ma'ruf dan munkar (fasiq/dhalim). Sikap seorang muslim dalam inkarul munkar dihadapkan pada ketentuan syariat: berlepas diri dengan pengingkaran hati, atau selamat dengan pengingkaran lisan (yang dilakukan secara rahasia/berduaan tanpa harus demo atau jahr), serta diharamkan bersikap ridha dan mengikuti kemungkaran tersebut.​Ketika para sahabat bertanya apakah boleh memerangi pemimpin yang dhalim/fasiq tersebut, Nabi ﷺ melarangnya secara tegas (قَالَ لَا) selama mereka masih shalat. Larangan memberontak (khuruj) ini didasarkan pada kaidah syariat untuk menolak atau meringankan mudharat. Sebab, realita menunjukkan bahwa pemberontakan selalu melahirkan kehancuran, pertumpahan darah, dan kemudharatan massal yang jauh lebih besar daripada bersabar atas kezaliman satu-dua orang. Kewajiban mendengar, taat, dan bersabar kepada penguasa disyariatkan murni demi melindungi kemaslahatan, keamanan, dan urusan agama maupun dunia kaum muslimin sendiri, bukan demi kenyamanan penguasa.

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 73 | Allāh Sudah Mengetahui Jumlah Hamba-Nya yang Masuk Surga dan Neraka Sejak Zaman Azali

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَقَدْ عَلِمَ اللَّهُ فِيمَا لَمْ يَزَلْ عَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ، جُمْلَةً وَاحِدَةً،Dan sungguh Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengetahuiفِيمَا لَمْ يَزَلْsejak dahulu, maksudnya adalah Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengetahui sejak dahulu dan terus-menerus Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahuinya.Disini setelah berbicara tentang masalah Mi’raj kemudian Telaga kemudian Syafaat kemudian masalah Misaq dan sebelumnya berbicara tentang masalah sifat-sifat Allāh ini semua harus berdasarkan dalil tidak boleh kita mendahulukan akal di atas dalil maka kembali beliau berbicara tentang masalah takdir Allāh dan di poin sebelumnya sebenarnya sudah menyinggung tentang masalah takdir Allāh seperti misalnya ucapan beliau,خَلَقَ الخَلْقَ بعِلْمِهِ وَقَدَّرَ لَهُمْ أَقْدَارًاوقدر لهم أقدارا وضرب لهم آجالاوكل شيء يجري بتقديره الله ومشيئتهوكلهم يتقلبون في مشيئته، بين فضله وعدلهini sebenarnya beliau sudah menyinggung juga tentang masalah takdir dan setelah itu berbicara tentang risalah Nabi Muhammad ﷺ berbicara tentang ruqyah berbicara tentang Telaga berbicara tentang Syafaat sekarang kembali lagi kepada Takdir maka akan kita lihat beliau rahimahullāh terkadang mengulang-ulang sebuah pembahasan dan ini Allāh ta’ala alam maksudnya adalah untuk menguatkan mungkin di zaman beliau terlalu banyak penyimpangan di dalam masalah ini sehingga termasuk hirus dan selamat para ulama dalam menyampaikan dan melakukan perbaikan adalah dengan mengulang-ulang dan Nabi ﷺ terkadang beliau mengulang sebuah ucapan untuk menguatkan seperti ucapan beliau misalnyaالطيرة شرك الطيرة شركألا وقول الزور، ألا وقول الزور، ألا وقول الزورTerkadang mengulang² ucapan maksudnya untuk menguatkan, menekankan permasalahan tersebut ini juga mungkin diantara perbedaan antara aqidah ath thawiyah dengan Al aqidah Al Wasitiyyah dan Lu’matul I’tiqad, karena kalau di aqidah Al Wasitiyyah dan Lu’matul I’tiqad (Ibnu Qudamah) biasanya disebutkan pembahasan yang disebutkan sekali saja karena memang itu adalah kitab yang ringkas di dalam masalah akidah adapun Abu Ja’far Ath thohawiy rahimahullāh disini didalam aqidah ath thohawiyyah maka kita lihat bagaimana beliau terkadang mengulang dan tidak seperti di dalam Aqidah Wasitiyyah dan Lu’matul I’tiqad tertibnya / di dalam urutan sehingga ada di antara tulabul ilm atau seorang penuntut ilmu yang mutaakhirin yang memiliki ide untuk mengumpulkan pembahasan-pembahasan yang satu bab, yang sama dalam akidah Thawiyah dalam masalah takdir yang dikumpulkan jadi satu diganti urutannya kemudian diurutkan dari saya dari iman kepada Allah dan sebetulnya secara berurutan kemudian dipindah juga sarahnya karena matanya dipindah dan disesuaikan diurutkan maka syarahnya juga di sesuaikan ini dilakukan kalau ngga salah judulnya Minha ilahiyyah atau yang semisalnya Tartib aqidah ath thohawiyyah, jadi diurutkan kembali oleh beliau kemudian di rubah juga sarahnya ini mungkin dari satu sisi ini lebih memudahkan karena dikumpulkan materi yang sama dalam satu tempat karena al imam Ath thohawiy di sini tidak berurutan dari terkena sudah disebutkan membahas masalah yang lain dan kembali lagi ke permasalahan tersebut termasuk di sini adalah tentang masalah takdirوَقَدْ عَلِمَ اللَّهُ فِيمَا لَمْ يَزَلْ عَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ، جُمْلَةً وَاحِدَةً،Dan Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengetahui sejak dahulu.Ini bantahan bagi orang-orang Qadariyah yang meyakini bahwasanya Allāh mengetahui setelah terjadinya, diantara iman terhadap takdir adalah meyakini bahwasanya Allāh mengetahui segala sesuatu baik yang sudah terjadi yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi Allāh mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi karena Allāh mengatakanإِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌSesungguhnya Allah dialah yang mengetahui segala sesuatuوَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُDan Dialah yang mengetahui dan bijaksanaوَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ[QS Al An’am 59]Tidak ada yang samat bagi Allāh subhanahu wa ta’ala semuanya diketahui oleh Allāh.Ini termasuk beriman dengan takdir Allāh dan ini adalah martabat yang pertama tingkatan yang pertama di dalam beriman dengan takdir Allāh yaitu meyakini bahwasanya Allāh mengetahui segala sesuatu, termasuk diantaranya adalahعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ،Jumlah orang yang masuk ke dalam Surga, berapa jumlahnya.وَعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ،Dan jumlah orang yang akan masuk ke dalam Neraka.Baik yang masuk selama-lamanya di dalam Neraka yang mereka meninggal di atas kekufuran, maupun orang yang masuk ke dalam Neraka sementara di antara orang Islam kemudian dia dikeluarkan dan masuk ke dalam Surganya Allāh subhanahu wa ta’ala, maka Allāh subhanahu wa ta’ala, Allah mengetahui jumlah mereka dan mengetahui satu persatu dari penduduk Surga dan juga penduduk. Si fulan dia adalah termasuk ahlu Jannah & meninggal dalam keadaan Islam, sif Fulan adalah termasuk penduduk Neraka dan akan meninggal di atas kekufuran, itu di bawah ilmu Allāhجُمْلَةً وَاحِدَةً،Secara berurutan, dan juga secara terperinci Allāh subhanahu wa ta’ala Maha mengetahui,فَلَا يُزَادُ فِي ذَلِكَ الْعَدَدِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُMaka tidak akan ditambah dari jumlah tersebut, kalau misalnya jumlah penduduk surga adalah 10 miliar sudah ditentukan oleh Allāh dan sudah diketahui oleh Allāh sebelumnya maka tidak akan bertambah ya yang sudah ditentukan oleh Allāh sebelumnya itulah yang akan masuk ke dalam Surga.apakah saya dikurangi? juga tidak akan dikurangi oleh Allāh yang sudah ditentukan oleh Allāh sebagai penduduk Surga atau surganya penduduk Neraka maka tidak akan bertambah dan tidak akan dikurangi, sudah diputuskan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala sebelumnya sudah ditakdirkan oleh Allāh sebelumnya.Didalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakanمَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلَّا وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِTidak ada diantara kalian kecuali sudah diketahui kedudukannya dari Surga dan juga Neraka,مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍTidak ada diantara kalian.Kita dan juga mereka sudah diketahui oleh Allāh subhanahu wa ta’ala apakah dia ini penduduk Surga yang kelak akan mendapatkan kebahagiaan di dalam Surga atau seseorang ini termasuk penduduk Neraka, apakah dia termasuk yang selamanya masuk kedalam Neraka atau dia termasuk yang akan dikeluarkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dari Neraka dan masuk ke dalam Surga dengan sebab keimanan yang dia miliki tidak akan ditambah oleh Allāh dan tidak akan dikurangi ,رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ.Qolam² / pena² elah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering maka seseorang ketika dia memikirkan dirinya berharap kepada Allāh subhanahu wa ta’ala dan khusnudzon kepada Allāh subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan Taufik untuk tunduk dan menyerahkan diri kepada Allāh sebagai seorang muslim di ilhamkan di dalam dirinya untuk mengesahkan Allāh menjadikan di dalam dirinya rasa takut untuk menyekutukan Allāh diilhamkan di dalam dirinya untuk beriman dengan hari Akhir, keinginan untuk mengikuti sunnah keinginan untuk menuntut dan mendalami ilmu agama nanti akan disebutkan bahwasanya masing-masing akan dimudahkan.

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 23 | Terbitnya Matahari Dari Barat

Halaqah 23 - Terbitnya Matahari dari BaratMatahari setiap harinya meminta izin kepada Allah ﷻ untuk terbit dari timur, sampai ketika sudah waktunya maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tidak mengizinkan matahari untuk terbit dari timur. Dan menyuruhnya kembali dari tempat dia datang, yaitu arah barat. Akhirnya terbitlah matahari dari barat (HR. Bukhari)Terbitnya matahari dari barat adalah termasuk tanda-tanda besar dekatnya hari kiamat. Apabila manusia melihatnya, maka mereka akan beriman semuanya dan akan yakin bahwa kiamat memang sudah dekat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :هَلۡ يَنظُرُونَ إِلَّآ أَن تَأۡتِيَهُمُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕكَةُ أَوۡ يَأۡتِىَ رَبُّكَ أَوۡ يَأۡتِىَ بَعۡضُ ءَايَـٰتِ رَبِّكَ‌ۗ يَوۡمَ يَأۡتِى بَعۡضُ ءَايَـٰتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفۡسًا إِيمَـٰنُہَا لَمۡ تَكُنۡ ءَامَنَتۡ مِن قَبۡلُ أَوۡ كَسَبَتۡ فِىٓ إِيمَـٰنِہَا خَيۡرً۬ا‌ۗ قُلِ ٱنتَظِرُوٓاْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ“Tidaklah mereka menunggu kecuali kedatangan para malaikat yaitu malaikat maut atau kedatangan Allah atau kedatangan sebagian tanda-tanda kebesaran Allah. Hari ketika datang sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhanmu, tidak akan bermanfaat iman seseorang yang tidak beriman sebelumnya atau belum beramal kebaikan di dalam imannya. Katakanlah, “Tunggulah, sesungguhnya kita juga menunggu.” (Al-An’am :158)Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ menafsirkan bahwa tanda kebesaran Allah ﷻ di dalam ayat ini adalah terbitnya matahari dari barat. Saat itu orang kafir bertaubat dari kekafirannya, orang yang beriman yang sebelumnya menyia-nyiakan amal shaleh maka dia akan bertaubat dan beramal shaleh, namun pintu taubat di kala itu sudah tertutup dan amal tidak akan diterima karena dilakukan di saat terpaksa.Kecuali orang mukmin yang sebelum munculnya matahari dari barat sudah beriman dan beramal shaleh, maka amalannya akan diterima. Oleh karena itu maka seorang muslim hendaknya segera bertaubat kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى dari segala dosa, bagaimanapun besar dosa yang dia miliki dan jangan menundanya.Rasulullah ﷺ bersabdaمَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِBarang siapa yang bertaubat sebelum terbitnya matahari dari barat, maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan menerima taubatnya (HR. Muslim)

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 73

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 73 | Allāh Sudah Mengetahui Jumlah Hamba-Nya yang Masuk Surga dan Neraka Sejak Zaman AzaliHalaqah 73 | Allāh Sudah Mengetahui Jumlah Hamba-Nya yang Masuk Surga dan Neraka Sejak Zaman AzaliKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَقَدْ عَلِمَ اللَّهُ فِيمَا لَمْ يَزَلْ عَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ، جُمْلَةً وَاحِدَةً،Dan sungguh Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengetahuiفِيمَا لَمْ يَزَلْsejak dahulu, maksudnya adalah Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengetahui sejak dahulu dan terus-menerus Allāh subhanahu wa ta’ala mengetahuinya.Disini setelah berbicara tentang masalah Mi’raj kemudian Telaga kemudian Syafaat kemudian masalah Misaq dan sebelumnya berbicara tentang masalah sifat-sifat Allāh ini semua harus berdasarkan dalil tidak boleh kita mendahulukan akal di atas dalil maka kembali beliau berbicara tentang masalah takdir Allāh dan di poin sebelumnya sebenarnya sudah menyinggung tentang masalah takdir Allāh seperti misalnya ucapan beliau,خَلَقَ الخَلْقَ بعِلْمِهِ وَقَدَّرَ لَهُمْ أَقْدَارًاوقدر لهم أقدارا وضرب لهم آجالاوكل شيء يجري بتقديره الله ومشيئتهوكلهم يتقلبون في مشيئته، بين فضله وعدلهini sebenarnya beliau sudah menyinggung juga tentang masalah takdir dan setelah itu berbicara tentang risalah Nabi Muhammad ﷺ berbicara tentang ruqyah berbicara tentang Telaga berbicara tentang Syafaat sekarang kembali lagi kepada Takdir maka akan kita lihat beliau rahimahullāh terkadang mengulang-ulang sebuah pembahasan dan ini Allāh ta’ala alam maksudnya adalah untuk menguatkan mungkin di zaman beliau terlalu banyak penyimpangan di dalam masalah ini sehingga termasuk hirus dan selamat para ulama dalam menyampaikan dan melakukan perbaikan adalah dengan mengulang-ulang dan Nabi ﷺ terkadang beliau mengulang sebuah ucapan untuk menguatkan seperti ucapan beliau misalnyaالطيرة شرك الطيرة شركألا وقول الزور، ألا وقول الزور، ألا وقول الزورTerkadang mengulang² ucapan maksudnya untuk menguatkan, menekankan permasalahan tersebut ini juga mungkin diantara perbedaan antara aqidah ath thawiyah dengan Al aqidah Al Wasitiyyah dan Lu’matul I’tiqad, karena kalau di aqidah Al Wasitiyyah dan Lu’matul I’tiqad (Ibnu Qudamah) biasanya disebutkan pembahasan yang disebutkan sekali saja karena memang itu adalah kitab yang ringkas di dalam masalah akidah adapun Abu Ja’far Ath thohawiy rahimahullāh disini didalam aqidah ath thohawiyyah maka kita lihat bagaimana beliau terkadang mengulang dan tidak seperti di dalam Aqidah Wasitiyyah dan Lu’matul I’tiqad tertibnya / di dalam urutan sehingga ada di antara tulabul ilm atau seorang penuntut ilmu yang mutaakhirin yang memiliki ide untuk mengumpulkan pembahasan-pembahasan yang satu bab, yang sama dalam akidah Thawiyah dalam masalah takdir yang dikumpulkan jadi satu diganti urutannya kemudian diurutkan dari saya dari iman kepada Allah dan sebetulnya secara berurutan kemudian dipindah juga sarahnya karena matanya dipindah dan disesuaikan diurutkan maka syarahnya juga di sesuaikan ini dilakukan kalau ngga salah judulnya Minha ilahiyyah atau yang semisalnya Tartib aqidah ath thohawiyyah, jadi diurutkan kembali oleh beliau kemudian di rubah juga sarahnya ini mungkin dari satu sisi ini lebih memudahkan karena dikumpulkan materi yang sama dalam satu tempat karena al imam Ath thohawiy di sini tidak berurutan dari terkena sudah disebutkan membahas masalah yang lain dan kembali lagi ke permasalahan tersebut termasuk di sini adalah tentang masalah takdirوَقَدْ عَلِمَ اللَّهُ فِيمَا لَمْ يَزَلْ عَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ، وَعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ، جُمْلَةً وَاحِدَةً،Dan Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengetahui sejak dahulu.Ini bantahan bagi orang-orang Qadariyah yang meyakini bahwasanya Allāh mengetahui setelah terjadinya, diantara iman terhadap takdir adalah meyakini bahwasanya Allāh mengetahui segala sesuatu baik yang sudah terjadi yang sedang terjadi maupun yang akan terjadi Allāh mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi karena Allāh mengatakanإِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌSesungguhnya Allah dialah yang mengetahui segala sesuatuوَهُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُDan Dialah yang mengetahui dan bijaksanaوَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ[QS Al An’am 59]Tidak ada yang samat bagi Allāh subhanahu wa ta’ala semuanya diketahui oleh Allāh.Ini termasuk beriman dengan takdir Allāh dan ini adalah martabat yang pertama tingkatan yang pertama di dalam beriman dengan takdir Allāh yaitu meyakini bahwasanya Allāh mengetahui segala sesuatu, termasuk diantaranya adalahعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ،Jumlah orang yang masuk ke dalam Surga, berapa jumlahnya.وَعَدَدَ مَنْ يَدْخُلُ النَّارَ،Dan jumlah orang yang akan masuk ke dalam Neraka.Baik yang masuk selama-lamanya di dalam Neraka yang mereka meninggal di atas kekufuran, maupun orang yang masuk ke dalam Neraka sementara di antara orang Islam kemudian dia dikeluarkan dan masuk ke dalam Surganya Allāh subhanahu wa ta’ala, maka Allāh subhanahu wa ta’ala, Allah mengetahui jumlah mereka dan mengetahui satu persatu dari penduduk Surga dan juga penduduk. Si fulan dia adalah termasuk ahlu Jannah & meninggal dalam keadaan Islam, sif Fulan adalah termasuk penduduk Neraka dan akan meninggal di atas kekufuran, itu di bawah ilmu Allāhجُمْلَةً وَاحِدَةً،Secara berurutan, dan juga secara terperinci Allāh subhanahu wa ta’ala Maha mengetahui,فَلَا يُزَادُ فِي ذَلِكَ الْعَدَدِ وَلَا يُنْقَصُ مِنْهُMaka tidak akan ditambah dari jumlah tersebut, kalau misalnya jumlah penduduk surga adalah 10 miliar sudah ditentukan oleh Allāh dan sudah diketahui oleh Allāh sebelumnya maka tidak akan bertambah ya yang sudah ditentukan oleh Allāh sebelumnya itulah yang akan masuk ke dalam Surga.apakah saya dikurangi? juga tidak akan dikurangi oleh Allāh yang sudah ditentukan oleh Allāh sebagai penduduk Surga atau surganya penduduk Neraka maka tidak akan bertambah dan tidak akan dikurangi, sudah diputuskan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala sebelumnya sudah ditakdirkan oleh Allāh sebelumnya.Didalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakanمَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلَّا وَقَدْ عُلِمَ مَنْزِلُهَا مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِTidak ada diantara kalian kecuali sudah diketahui kedudukannya dari Surga dan juga Neraka,مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍTidak ada diantara kalian.Kita dan juga mereka sudah diketahui oleh Allāh subhanahu wa ta’ala apakah dia ini penduduk Surga yang kelak akan mendapatkan kebahagiaan di dalam Surga atau seseorang ini termasuk penduduk Neraka, apakah dia termasuk yang selamanya masuk kedalam Neraka atau dia termasuk yang akan dikeluarkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dari Neraka dan masuk ke dalam Surga dengan sebab keimanan yang dia miliki tidak akan ditambah oleh Allāh dan tidak akan dikurangi ,رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ.Qolam² / pena² elah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering maka seseorang ketika dia memikirkan dirinya berharap kepada Allāh subhanahu wa ta’ala dan khusnudzon kepada Allāh subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan Taufik untuk tunduk dan menyerahkan diri kepada Allāh sebagai seorang muslim di ilhamkan di dalam dirinya untuk mengesahkan Allāh menjadikan di dalam dirinya rasa takut untuk menyekutukan Allāh diilhamkan di dalam dirinya untuk beriman dengan hari Akhir, keinginan untuk mengikuti sunnah keinginan untuk menuntut dan mendalami ilmu agama nanti akan disebutkan bahwasanya masing-masing akan dimudahkan.Bikin gambar tanpa orang

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 23: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 21)

Halaqah 23:Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 21)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Setelah memahami mukjizat, Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah dan hal-hal yang berkaitan dengannya maka di lanjutkan poin-poin tentang tata cara beriman kepada para rasul. Diantara tata cara beriman dengan para rasul ‘alayhimussalam adalah beriman dengan nama-nama para nabi dan rasul yang Allah telah sebutkan namanya didalam Alquran mereka berjumlah 25 orang, 18 Diantaranya disebutkan berturut-turut didalam surat Al An’am dan 7 orang berpisah-pisah didalam surat -surat yang lain. 18 nama didalam surat Al An’am adalah:1. Ibrahim2. Ishaq3. Ya’qub4. Nuh5. Daud6. Sulaiman7. Ayyub8. Yusuf9. Musa10. Harun11. Zakariya12. Yahya13. ‘Isa14. Ilyas15. Ismail16. Al Yasa’17. Yunus18. Luth ‘Alayhimussalam lihat surat Al An’am : 83-86 Adapun 7 orang yang lain maka mereka adalah :1. Nabi AdamDua puluh lima kali disebutkan nama Nabi Adam di dalam Al-Quran, yang pertama di dalam surat Al-Baqarah : 31.2. Nabi IdrisDisebutkan dua kali didalam Al-Quran dalam surat Maryam : 56 dan Al-Anbiya’: 85.3. Nabi DzulkifliDua kali disebutkan didalam surat Al-Anbiya’: 85 dan surat Shod : 48.4. Nabi HudTujuh kali disebutkan, yang pertama di dalam surat Al-A’raf : 65.5. Nabi ShalehSembilan kali disebutkan yang pertama di dalam surat Al A’raf : 73.6. Nabi SyuaibSepuluh Kali disebutkan, yang pertama didalam surat Al A’raf : 85.7 Nabi Muhammad ﷺEmpat kali disebutkan, yang pertama di dalam surat Ali Imran : 144. Kemudian diantara beriman dengan para Rasul ‘alayhimussalam adalah meyakini adanya kekhususan Nabi Muhammad ﷺ dibandingkan dengan Nabi-nabi yang lain dan diantaranya:1. Beliau diutus untuk segenap Manusia dan Jin. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah wahai Muhammad, wahai manusia sesungguhnya aku adalah Rasulullãh untuk kalian semuanya” (Al-A’raf : 158). Dan Nabi ﷺ bersabda:وكان النبي يبعث إلى قومه خاصة وبعثت إلى الناس كافة"Dan dahulu para Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus dan diutus aku untuk manusia semuanya" (HR Bukhari).Dan beliau ﷺ diutus kepada Jin sebagaimana kisah yang Allah sebutkan di dalam surat Al-Jin.2. Allah telah menjadikan beliau sebagai Nabi yang terakhir.Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ…“Tidaklah Muhammad bapak salah seorang diantara laki-laki kalian akan tetapi dia adalah Rasulullãh dan penutup para Nabi” (Al-Ahzab: 40). Dan Rasulullah ﷺ bersabda:كانتْ بنو إسرائيلَ تسوسُهمُ الأنبياءُ ، كلَّما هلَكَ نبيٌّ خلَفَهُ نَبِيٌّ ، وإِنَّه لا نَبِي بعدِي ،…“Dahulu Bani Israel dipimpin oleh para Nabi, setiap kali meninggal seorang Nabi akan digantikan Nabi yang lain dan sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku” (HR. Al Bukhari dan Muslim).

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →