Al An'am 1
Allah berhak atas ibadah dan pengikhlasan agama untukNya.
Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind
Allah berhak atas ibadah dan pengikhlasan agama untukNya.
📍 Kota Depok
Mengenal Allah melalui ibadah doa, khauf (takut), dan raja’ (harap).🌱 1. Doa adalah IbadahDalilNabi ﷺ bersabda:الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ“Doa adalah ibadah.”(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)Kemudian beliau membaca firman Allah:وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan bagimu.”(QS. Ghafir: 60)Pelajaran PentingDoa merupakan salah satu bentuk ibadah.Karena ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah, maka doa juga hanya boleh ditujukan kepada Allah.Allah memerintahkan manusia untuk berdoa kepada-Nya, dan setiap perkara yang diperintahkan serta dicintai Allah termasuk ibadah.Pada akhir ayat Allah berfirman:إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِيPadahal awal ayat berbicara tentang doa. Ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah.Bahaya Berdoa kepada Selain AllahBerdoa kepada selain Allah termasuk:Syirik akbar (syirik besar).Kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari Islam.Kezaliman yang sangat besar.Contohnya:Meminta keselamatan kepada orang yang telah meninggal.Meminta rezeki kepada wali atau orang saleh yang sudah wafat.Memohon agar terhindar dari musibah kepada selain Allah.Dalil TambahanAllah berfirman:وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ“Janganlah engkau berdoa kepada selain Allah yang tidak dapat memberi manfaat dan mudarat kepadamu.”(QS. Yunus: 106)Dan:وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ“Jika Allah menimpakan mudarat kepadamu, tidak ada yang dapat menghilangkannya selain Dia.”(QS. Yunus: 107)KesimpulanSeorang muslim:Meminta rezeki hanya kepada Allah.Meminta kesehatan hanya kepada Allah.Meminta kesuksesan hanya kepada Allah.Meminta perlindungan dari musibah hanya kepada Allah.Karena hanya Allah yang mampu memberi manfaat dan menolak mudarat.🌱 2. Khauf (Takut) adalah IbadahDalilAllah berfirman:فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ“Janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman.”(QS. Ali Imran: 175)Pelajaran PentingTakut kepada Allah adalah ibadah.Semakin seseorang takut kepada Allah dengan benar, semakin dicintai Allah.Takut yang terpuji adalah takut yang mendorong seseorang:Taat kepada Allah.Meninggalkan maksiat.Menjaga diri dari dosa.Takut yang TercelaYaitu rasa takut yang berlebihan hingga:Putus asa dari rahmat Allah.Merasa dosanya tidak mungkin diampuni.Hilang harapan terhadap pertolongan Allah.Allah berfirman:وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ“Janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”(QS. Yusuf: 87)Seorang mukmin harus menggabungkan rasa takut dengan harapan kepada Allah.Khauf Thabi’i (Takut yang Bersifat Alami)Ini bukan ibadah dan tidak tercela.Contohnya:Takut kepada api.Takut tenggelam.Takut terhadap bahaya yang nyata.Takut karena merasa bersalah.Nabi Musa ‘alaihis salam pernah mengalami rasa takut seperti ini.Allah berfirman:أَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ“Maka jadilah Musa di kota itu dalam keadaan takut dan waspada.”(QS. Al-Qashash: 18)KesimpulanAda dua jenis takut:Khauf ibadah → hanya untuk Allah.Khauf thabi’i (alami) → bagian dari tabiat manusia dan tidak tercela.🌱 3. Raja’ (Harapan) adalah IbadahDalilAllah berfirman:فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya…”(QS. Al-Kahfi: 110)Pelajaran PentingMengharap rahmat Allah adalah ibadah.Mengharap ampunan Allah adalah ibadah.Mengharap surga Allah adalah ibadah.Semakin besar harapan seorang hamba kepada Allah, semakin dicintai Allah.Namun harapan yang benar harus disertai amal saleh.Karena Allah melanjutkan ayat tersebut:فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا“Maka hendaklah ia beramal saleh.”Dan:وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا“Dan jangan mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”KesimpulanHarapan yang benar adalah:Mengharap rahmat Allah.Mengharap ampunan Allah.Mengharap surga Allah.Disertai amal saleh dan tauhid.Bukan sekadar berharap tanpa berusaha.🌿 Inti HalaqahTiga amalan hati yang termasuk ibadah dan wajib ditujukan hanya kepada Allah:Doa → hanya kepada Allah.Khauf (takut) → takut yang melahirkan ketaatan hanya kepada Allah.Raja’ (harap) → berharap rahmat dan pahala hanya kepada Allah.Seorang mukmin berjalan menuju Allah dengan doa, rasa takut, dan harapan secara seimbang:Takut kepada azab-Nya sehingga menjauhi maksiat.Berharap rahmat-Nya sehingga tidak berputus asa.Berdoa hanya kepada-Nya karena hanya Dia yang mampu memberi manfaat dan menolak mudarat.Semakin sempurna tauhid seseorang, semakin kuat pula doanya, rasa takutnya kepada Allah, dan harapannya kepada Allah semata. 🌿
Orang tua harus memberi pemahaman kepada anak mengenai alasan mengapa ia dihukum. Dengan begitu anak akan mengetahui dan memahami bahwa hukuman memiliki makna yang berkaitan dengan perkara yang tidak baik. Hal ini sangat penting karena tujuan utama menghukum anak adalah untuk pembelajaran dan membiasakannya melakukan kebenaran. Penjelasan dan pemberitahuan ini sering diabaikan oleh para orang tua dan guru.
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kami-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”🌱 Pokok-Pokok Pelajaran1. Allah Lebih Sayang kepada Hamba-NyaAyat ini menunjukkan besarnya kasih sayang Allah kepada manusia. Allah melarang orang tua membunuh anak-anak mereka, sebagaimana Allah juga memerintahkan agar anak-anak mendapat hak warisan.Kasih sayang Allah melampaui kasih sayang orang tua kepada anaknya.2. Tradisi Jahiliah yang KejamPada masa Jahiliah:Anak perempuan sering dianggap sebagai beban.Sebagian orang tidak memberikan hak warisan kepada anak perempuan.Bahkan ada yang mengubur atau membunuh anak perempuan karena malu atau takut menanggung biaya hidupnya.Islam datang menghapus seluruh praktik kezaliman tersebut.3. Larangan Membunuh Anak Karena Takut MiskinAllah melarang membunuh anak karena khawatir ekonomi akan memburuk di masa depan.Rasa takut miskin tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan nyawa yang Allah amanahkan.4. Allah Menjamin Rezeki Anak dan Orang TuanyaAllah berfirman:“Kami-lah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian.”Dalam ayat ini, Allah menyebut rezeki anak terlebih dahulu karena yang dikhawatirkan oleh orang tua adalah masa depan anak tersebut.Maknanya:Setiap anak lahir dengan jatah rezekinya.Orang tua tidak perlu takut bahwa kehadiran anak akan menghalangi rezeki.Allah adalah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki).5. Perbedaan dengan Surat Al-An’am Ayat 151Ibnu Katsir menjelaskan perbedaan susunan ayat:Al-Isrā’ 31“Kami memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian.”Ditujukan kepada orang yang sudah mampu tetapi takut miskin di masa depan karena memiliki anak.Al-An’am 151“Kami memberi rezeki kepada kalian dan kepada mereka.”Ditujukan kepada orang yang memang sedang miskin.Karena itu dalam Al-An’am, rezeki orang tua disebut lebih dahulu.6. Membunuh Anak Adalah Dosa BesarAllah menegaskan:“Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.”Artinya:Termasuk dosa besar yang sangat berat.Merupakan bentuk kezaliman terhadap amanah yang Allah titipkan.7. Termasuk Dosa Terbesar Setelah SyirikIbnu Katsir membawakan hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ’anhu.Ketika beliau bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang dosa terbesar, Nabi menjawab:Menyekutukan Allah (syirik).Membunuh anak karena takut berbagi makanan dengannya.Berzina dengan istri tetangga.Hadits ini menunjukkan bahwa membunuh anak termasuk dosa yang paling besar setelah syirik.✨ TadabburAnak bukan penyebab kemiskinan, tetapi amanah dari Allah.Rezeki setiap manusia telah Allah tetapkan.Kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan tidak boleh membuat seseorang melanggar syariat.Islam sangat memuliakan anak, baik laki-laki maupun perempuan.Seorang mukmin hendaknya bertawakal kepada Allah dalam urusan rezeki sambil tetap berikhtiar.📝 Kesimpulan SingkatAllah melarang keras membunuh anak karena takut miskin. Praktik Jahiliah yang menganggap anak sebagai beban telah dihapus oleh Islam. Allah menjamin rezeki setiap hamba-Nya, sehingga orang tua wajib bertawakal kepada-Nya. Membunuh anak termasuk dosa besar, bahkan disebut oleh Rasulullah ﷺ sebagai salah satu dosa terbesar setelah syirik.
Halaqah yang ke-18 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 7”.Diantara amalan malaikat yang kita diperintahkan untuk beriman dengannya adalah amalan mereka yang berkaitan dengan alam semesta.Allāh adalah Dzat yang tidak butuh kepada makhluq namun Allāh ingin menunjukkan kebesarannya kepada kita. Allāh telah menugaskan para malaikat untuk mengatur alam semesta dengan perintah Allāh, izin Allāh dan kehendak Allāh.Allāh berfirman,فَالْمُدَبِّرَات أَمْرًا“Maka demi malaikat yang mengatur perkara.” (An-Nāzi’āt 5)Diantara amalan malaikat dan tugas mereka yang berkaitan dengan alam semesta,⑴ MEMIKUL ‘ARSYMalaikat yang memikul ‘arsy di hari kiamat ada 8. Sedangkan di dunia maka tidak ada yang menerangkan jumlah mereka.Allāh berfirman,وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَائِهَا وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ“Dan para malaikat di pinggir-pinggir langit dan pada hari itu 8 malaikat memikul ‘arsy Rabbmu.” (Al-Hāqqah 17)Dan Allāh berfirman,الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا“Dan malaikat-malaikat yang memikul ‘arsy dan malaikat-malaikat yang di sekitar ‘arsy bertasbih dengan memuji Rabb mereka dan beriman dengan Allāh dan memohonkan ampun untuk orang-orang yang beriman.” (Ghāfir 7)Yang ke-2 diantara tugas mereka yang berkaitan dengan alam semesta adalah,⑵ MENJAGA SURGAAllāh berfirman,وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ“Dan digiring orang-orang yang bertaqwa ke dalam surga secara berkelompok-berkelompok sehingga ketika mereka mendatangi surga dan dibuka pintu-pintunya dan berkata para panjaganya, ‘Keselamatan atas kalian, kalian telah baik maka masuklah ke dalam surga selama-lamanya’.” (Az-Zumār 73)Dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,آتي باب الجنة يوم القيامة فأستفتح فيقول الخازن : من أنت ؟ فاقول : محمد . فيقول : بك أمرت لا أفتح لأحد قبلك“Aku mendatangi pintu surga pada hari kiamat kemudian aku meminta dibukakan. Maka berkatalah penjaga surga, ‘Siapakah kamu?’ Kemudian Aku menjawab, ‘Muhammad.’ Kemudian dia berkata, ‘Denganmulah aku diperintah, aku tidak membukanya untuk seorangpun sebelummu’.” (HR Muslim I/188 no. 197)Dan diantara tugas malaikat yang berkaitan dengan alam semesta adalah,⑶ MENJAGA NERAKAJumlah penjaga neraka ada 19 sebagaimana firman Allāh,عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ“Di dalam neraka ada 19 (yaitu malaikat penjaga).” (Al-Muddatstsir 30)◆ Para ulama berselisih tentang makna 19.√ Ada yang mengatakan 19 malaikat tersebut adalah para pembesar penjaga neraka dan bersama mereka malaikat-malaikat lain yang jumlahnya sangat banyak.√ Dan ada diantara ulama yang mengatakan bahwa mereka 19 malaikat saja. Dan ini yang difahami dari keterangan Ibnu Katsīr dan juga Syaikh ‘Abdurrahmān As-Sa’diy di dalam tafsirnya.Diantara mereka adalah malaikat Mālik. Dalam hadīts ketika Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam isrā dan juga mi’rāj dikatakan kepada Beliau,وأما الرجل الكريه المرآة الذي عند النار يحشها ويسعى حولها فإنه مالك خازن جهنم“Dan adapun yang sangat buruk rupanya yang berada di neraka yang menghidupkan api dan berjalan di sekitarnya, maka dia adalah Mālik Penjaga Neraka.” (HR Bukhāri no.7047)Penyebutan jumlah penjaga neraka ini adalah ujian, kita harus beriman dengan jumlah 19 tersebut, harus yakin dan tidak boleh ragu-ragu.Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَما جَعَلنا أَصحٰبَ النّارِ إِلّا مَلٰئِكَةً ۙ وَما جَعَلنا عِدَّتَهُم إِلّا فِتنَةً لِلَّذينَ كَفَروا لِيَستَيقِنَ الَّذينَ أوتُوا الكِتٰبَ وَيَزدادَ الَّذينَ ءامَنوا إيمٰنًا ۙ وَلا يَرتابَ الَّذينَ أوتُوا الكِتٰبَ وَالمُؤمِنونَ ۙ وَلِيَقولَ الَّذينَ فى قُلوبِهِم مَرَضٌ وَالكٰفِرونَ ماذا أَرادَ اللَّهُ بِهٰذا مَثَلًا كَذٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَن يَشاءُ وَيَهدى مَن يَشاءُ وَما يَعلَمُ جُنودَ رَبِّكَ إِلّا هُوَ وَما هِىَ إِلّا ذِكرىٰ لِلبَشَرِ“Dan tidaklah Kami jadikan para penjaga nereka kecuali para malaikat-malaikat. Dan tidaklah Kami jadikan jumlah tersebut kecuali sebagai ujian bagi orang-orang yang kāfir. Dan supaya yakin orang-orang Ahlul kitab dan bertambah keimanan orang-orang yang beriman dan tidak ragu orang-orang Ahlul Kitab & orang-orang yang beriman dan supaya orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit. Dan orang-orang kāfir berkata, ‘Apa yang Allāh inginkan dari permisalan ini?’. Demikianlah Allāh menyesatkan siapa yang dikehendaki dan memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki. Dan tidak mengetahui jumlah pasukan Rabbmu kecuali Dia. Dan tidaklah ini kecuali peringatan bagi manusia.” (Al-Muddatstsir 31)Merekalah yang kelak akan menyambut penduduk neraka dan mencela mereka.Allāh berfirman,وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ (٧١) قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَافَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ (٧٢)“Dan akan digiring orang-orang kāfir dalam Jahannam berkelompok-berkelompok sehingga apabila mereka mendatanginya dibukalah pintu-pintu Jahannam. Dan berkatalah para penjaga neraka kepada mereka, ‘Bukankah telah datang kepada kalian Rasul-rasul dari kalangan kalian yang membacakan atas kalian ayat-ayat Rabb kalian dan memperingatkan kalian dengan pertemuan hari kalian ini?’ Mereka menjawab, ‘Iya, akan tetapi telah tetap kalimat adzab bagi orang-orang yang kāfir’. Dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian ke dalam pintu-pintu Jahannam dalam keadaan kekal di dalamnya.’ Maka Jahannam adalah sejelek-jelek tempat kembali bagi orang-orang yang sombong.” (Az-Zumār 71-72)Merekalah yang kelak akan mengadzab penduduk neraka, Allāh berfirman kepada mereka,خُذُوهُ فَغُلُّوهُ (٣٠) ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ (٣١) ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ (٣٢)“Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala kemudian ikatlah dia dengan rantai yang panjangnya 70 hasta.” (Al-Hāqqah 30-32)Telah berlalu bahwa malaikat penjaga neraka adalah malaikat yang keras hati dan kuat badannya. Kelak, para penduduk neraka akan meminta kepada penjaga neraka supaya penjaga neraka memohon kepada Allāh meringankan adzab bagi mereka.Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَقَالَ الَّذِينَ فِي النَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ادْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِنَ الْعَذَابِ (٤٩) قَالُوا أَوَلَمْ تَكُ تَأْتِيكُمْ رُسُلُكُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا بَلَى قَالُوا فَادْعُوا وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ (٥٠)“Dan berkata para penduduk neraka kepada para penjaga Jahannam, ‘Hendaklah kalian meminta kepada Rabb kalian supaya meringankan bagi kami satu hari dari adzab ini’. Para penjaga mengatakan, ‘Bukankah telah datang kepada kalian Rasul-rasul kalian dengan bukti-bukti yang nyata?’ Mereka mengatakan, ‘Iya.’ Maka berkata para penjaga, ‘Maka hendaklah kalian berdo’a sendiri.’ Dan tidaklah do’a orang-orang kāfir kecuali dalam kesia-kesia-siaan.” (Ghāfir 49-50)Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.
Teman setan yaitu orang-orang jahat dan orang-orang kafir. Dan dibantu oleh setan untuk terus berada di dalam kesesatan.Apabila al qur'an dibaca maka dengarkanlah bacaannya dengan seksama, jangan berbicara atau menyibukkan diri dengan hal lain agar mendapatkan rahmat Allah.Sebutlah Nama Allah dengan khusyuk, rendah hati dan disertai rasa takutMalaikat yang ada disisi TuhanMu tidak segan untuk beribadah kepada Allah. Mereka tunduk dan patuh kepadaNya tanpa henti. Mereka terus menyucikan Nya dari segala sesuatu yang tidak pantas bagiNya siang dan malam dan hanya kepadaNya mereka bersujud.
Tidak dibenarkan meminta Allah sebagai perantara kepada makhluknya
Faedah dari qs.Al-a'raf ayat 231-137
📖 Tafsir Al-Muyassar — QS. An-Nūr: 46Sesungguhnya Kami telah menurunkan di dalam Al-Qur’an tanda-tanda yang jelas, yang menunjukkan kepada kebenaran. Allah memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada siapa pun dari hamba-Nya yang Dia kehendaki untuk meniti jalan yang lurus, yakni agama Islam.🌸 Pesan yang dapat kita amalkan♥️ Meyakini bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk yang jelas menuju kebenaran.♥️ Membiasakan diri membaca, memahami, dan mentadabburi ayat-ayat Allah, bukan sekadar membacanya.♥️ Memohon hidayah kepada Allah, karena hidayah dan taufik berada di tangan-Nya.♥️ Bersyukur ketika Allah memberikan hati kita kemampuan untuk menerima kebenaran dan meniti jalan yang lurus.♥️ Tidak merasa aman dari kesesatan, tetapi senantiasa memohon agar Allah meneguhkan hati kita di atas Islam.🌱 KesimpulanAllah telah menurunkan ayat-ayat yang jelas sebagai petunjuk menuju kebenaran. Namun, untuk dapat meniti jalan yang lurus, kita membutuhkan hidayah dan taufik dari Allah.Maka, jangan pernah lelah memohon:“Yaa Allaah, tunjukilah kami jalan yang lurus dan teguhkanlah kami di atasnya.”🤍 Untuk Kita Renungkan“Al-Qur’an telah menunjukkan jalannya. Tinggal hati kita: maukah menerima petunjuk dan berjalan menuju-Nya?”
Allah taala berfirman:وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًاDan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.Tafsir Al-Muyassar — QS. Al-Ahzab: 42Tema: Keharusan Mengingat AllahSubtema: Berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknyaInti tafsir:Gunakan waktu untuk banyak berzikir kepada Allah, baik pada waktu pagi maupun petang.Zikir juga dilakukan setelah shalat fardhu dan dalam berbagai keadaan, karena zikir merupakan ibadah yang disyariatkan.Memperbanyak zikir mengundang kecintaan Allah kepada hamba-Nya.Zikir membantu menjaga lisan dari perkataan dan dosa serta mendorong seseorang untuk melakukan berbagai kebaikan.🌱 Pelajaran:Jangan biarkan waktu berlalu tanpa mengingat Allah. Perbanyak zikir, karena ia mendekatkan kita kepada Allah, menjaga lisan, dan membantu kita dalam kebaikan.Sumber: Disalin dari Quran Tadabbur — https://quran.firanda.com�
Bab 5 Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ1. Nasab Mulia Orang Tua Nabi: Nabi Muhammad ﷺ lahir dari pernikahan Abdullah bin Abdul Mutthalib dan Aminah binti Wahb, di mana garis keturunan (nasab) kedua orang tua beliau bertemu pada leluhur yang sama, yaitu Kilab.2. Bantahan Riwayat Palsu Abdullah: Kisah-kisah tentang Abdullah yang memiliki istri lain, ditawarkan wanita pezina, atau memiliki cahaya fisik yang berpindah saat mendatangi Aminah adalah riwayat lemah, palsu, dan bentuk sikap ekstrem (ghuluw) yang mengada-ada.3. Hakikat Cahaya Nabi ﷺ Bukan Fisik: Nabi Muhammad ﷺ disebut sebagai "lampu yang bercahaya" (sirajan munira) dalam QS. Al-Ahzab: 45-46. Maknanya adalah cahaya maknawi (sumber kebenaran/petunjuk) yang menyinari manusia dari kegelapan syirik, serta lambang ketampanan dan kecerahan wajah beliau—bukan berupa sinar fisik yang memancar, sehingga klaim Nabi tidak memiliki bayangan adalah dusta.4. Bukti Hadis Aisyah tentang Rumah yang Gelap: Dalam dua riwayat berbeda, Aisyah رضي الله عنها menceritakan bahwa ia harus melipat kaki saat Nabi hendak sujud dan pernah meraba-raba dalam kegelapan untuk mencari Nabi di tempat tidur. Hal ini membuktikan tubuh Nabi tidak mengeluarkan cahaya fisik yang menerangi ruangan.5. Kemanusiaan Nabi vs Ekspektasi Keliru: Anggapan bahwa Nabi harus memiliki ciri fisik super (seperti tubuh bercahaya) mirip dengan pola pikir keliru kaum musyrikin dahulu yang heran mengapa Rasul makan dan ke pasar (QS. Al-Furqan: 7 & 20). Padahal, para Rasul adalah manusia biasa.6. Bukti Sahabat Menaungi Nabi: Saat Haji Wada', para sahabat menaungi Nabi ﷺ dengan kain baju dari sengatan matahari. Jika fisik beliau memancarkan cahaya yang mengalahkan matahari, tindakan sahabat tersebut tentu akan sia-sia.7. Keyatiman Tertinggi Nabi ﷺ: Nabi Muhammad ﷺ lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya wafat saat beliau masih di dalam kandungan. Menurut Ibnu Katsir, ini merupakan tingkat keyatiman tertinggi/paling utama (QS. Ad-Dhuha: 6).8. Pentingnya Menjaga Sahihnya Riwayat: Umat Muslim diimbau untuk berhati-hati dalam menukil kisah tentang Nabi ﷺ dan wajib mempelajari sirah nabawiyyah dari sumber serta guru yang terpercaya agar terhindar dari kedustaan.9. Hikmah keyatiman Nabi dan peran penting seorang ibu: Menutup Celah Tuduhan Penentang Islam: Nabi Muhammad ﷺ lahir sebagai anak yatim agar tidak ada celah bagi musuh-musuh Islam untuk menuduh bahwa ajaran Islam berasal dari didikan atau pemikiran ayah beliau. Allah ﷺ berkehendak untuk mendidik Rasulullah ﷺ secara langsung. Motivasi Bagi Anak Yatim: Kisah hidup Nabi Muhammad ﷺ menjadi bukti nyata bahwa status keyatiman bukanlah penghalang untuk mencapai kesuksesan dan kemuliaan tertinggi di dunia. Membentuk Pribadi yang Kuat dan Mandiri: Status yatim sejak lahir menjauhkan Nabi ﷺ dari kemewahan serta kesenangan duniawi sejak dini. Hal ini menjadi bentuk persiapan fisik dan mental dari Allah agar beliau menjadi pribadi yang tangguh untuk mengemban tanggung jawab berat sebagai pembawa risalah seluruh umat manusia. Pentingnya Peran Ibu dalam Mendidik Anak: Rasulullah ﷺ dirawat dan dididik oleh ibunya, Aminah. Pola ini serupa dengan kisah para nabi besar lainnya (seperti Nabi Ismail, Nabi Musa, dan Nabi Isa) yang mayoritas tumbuh di bawah asuhan ibu mereka. Hal ini menegaskan urgensi luar biasa dari peran seorang ibu dalam mendidik anak. Urgensi Memilih Calon Ibu yang Saleh: Pentingnya peran ibu memunculkan kewajiban untuk memilih wanita yang salehah sebagai calon ibu. Hal ini digambarkan lewat pepatah Arab kuno: "Ibu itu bagai madrasah (sekolah). Jika engkau mempersiapkannya dengan baik, maka akan terlahir darinya bangsa yang mulia."
Waktu ujian itu lamanya sesuai dengan usia kita, bila kita telah mati maka selesai pula ujian hidup yang diberikan Allah kepada kita. Tinggal menunggu hasil ujiannya, jika hasilnya bagus kita akan mendapatkan hadiah seperti yang dijanjikan oleh Allah, yaitu kehidupan yang abadi di surga. Tetapi jika hasil ujiannya buruk, neraka yang akan jadi tempat kembalinya. Naudzubillah min dzalik
Dalam al Quran, Allah menyebutkan malaikat yang mencabut nyawa hamba dalam beberapa ayat.Disebagian ayat disebutkan bahwa yang mewafatkan hamba ada banyak malaikat, seperti di surat Al An’am: 61 dan Al A’raf: 37Di sebagian ayat ditegaskan bahwa yang mencabut nyawa adalah seorang malaikat yaitu malaikat maut seperti di surat As Sajdah: 11.Siapakah pencabut nyawa itu?Dalam Al Quran Allah menyebut Malaikat pencabut nyawa dengan sebutan malakul mauf (malaikat kematian) seperti di surat As Sajdah: 11Adakah malaikat Izrail?Nama Izrail tidak ada dalam Al Quran dan juga tidak dijumpai hadis shahih. Bahkan sebagian ulama menilai bahwa nama Izrail bersumber dari berita Israiliyat. Seperti keterangan Syaikh Al Albani yang mengatakan:“Malaikat maut itulah nama yang disebutkan dalam Al Quran, adapun penyebutannya dengan nama Izrail sebagaimana yang populer di kalangan manusia, tidak memiliki dasar (dalil) yang shahih, melainkan berasal dari kisah-kisar Israiliyat (riwayat dari Bani Israil)”[Hamisy al Aqidah at Thahawiyah, hlm 71]Oleh karena itu, sebaiknya kita menyebut nama Malaikat pencabut nyawa dengan Malakul Maut atau malaikat mautkarena inilah nama resmi yang ada dalm al Quran bukan menyebutnya dengan nama Izrail.Buku: Bila Kumati. Catatan Tentang Peristiwa Kea Ty matian.Karya: Ammi Nur Baits
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah: 111)
Bagaimana mungkin Allah menunjukkan jalan iman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya bagi orang-orang yang ingkar setelah mereka beriman kepada Allah dan bersaksi bahwa apa yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- adalah kebenaran, dan telah datang kepada mereka bukti-bukti nyata yang menunjukkan kebenaran hal itu?! Allah tidak akan menunjukkan jalan iman kepada-Nya bagi orang-orang zalim yang sengaja memilih jalan yang sesat daripada jalan yang benar.Sesungguhnya balasan bagi orang-orang zalim yang memilih kebatilan itu ialah mereka akan dilaknat oleh Allah, para malaikat dan seluruh manusia sehingga mereka semua dijauhkan dari rahmat Allah dan terusir darinya.
Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-92 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakanوَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًاDan bahwasanya Allāh ﷻ berbicara kepada Nabi Mūsā ‘alayhissalām taklīman (dengan sebenar-benarnya pembicaraan), sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’ān. Di antaranya adalah firman Allāh ﷻ:وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًاDan Allāh berbicara kepada Mūsā dengan pembicaraan yang sebenarnya.Kata taklīman di sini adalah maf’ūl muṭlaq yang diantara manfaatnya adalah untuk menguatkan, seperti ketika seseorang mengatakan,ضَرَبْتُهُ ضَرْبًاaku memukulnya dengan sebenar-benar pukulan, menunjukkan bahwa Allāh benar-benar berbicara kepada Nabi Mūsā ‘alayhissalām. Ini bukanlah majas, seperti yang disangka oleh sebagian orang. Terlebih lagi, Allāh ﷻ berfirman:وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ“Dan Rabb-nya berbicara kepadanya.”هُ (hu) ini adalah dhamir yang kembali kepada Nabi Mūsā ‘alayhissalāmوَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُdan Allāh berbicara kepada Nabi Mūsā ‘alayhissalām.Ini adalah keutamaan yang Allāh ﷻ berikan kepada Nabi Mūsā ʿalayhis-salām, dan Allāh ﷻ berbicara kepada manusia ini adalah sebuah iḥrām sebuah tashrīf (pemuliaan). Allāh ﷻ berfirman:تِلْكَ ٱلرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍۢ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ ٱللَّهُ(QS. Al-Baqarah: 253)Itu adalah para Rasul yang kami utamakan sebagian di atas sebagian yang lain, di antara mereka ada yang Allāh ﷻ ajak bicara.Menunjukkan ini adalah sebuah keutamaan. Allāh ﷻ utamakan sebagian Rasul di atas sebagian yang lain. Tidak semua Rasul diajak bicara oleh Allāh ﷻ, mereka adalah manusia yang terbaik, manusia pilihan.اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ(QS. Al-Ḥajj: 75)Allāh ﷻ pilih Rasul-Rasul tersebut di antara manusia, namun tidak semua mereka diajak bicara oleh Allāh ﷻ. Ada di antara mereka yang Allāh ﷻ utamakan, Allāh ﷻ muliakan, dengan Allāh ﷻ berbicara langsung kepada mereka. Di antara mereka adalah Nabi Mūsā ʿalayhis-salām.Sehingga, beliau adalah kalīmullāh, orang yang pernah diajak bicara oleh Allāh ﷻ. Kalīm ini maknanya adalah mukallam, yaitu yang pernah diajak bicara, bukan mukallim, bukan yang berbicara kepada Allāh ﷻ. Kalau yang berbicara kepada Allāh ﷻ banyak; kita masing-masing, ketika berdoa di dalam shalat kita, di luar shalat kita berdoa dan memuji, kita berbicara kepada Allāh ﷻ. Ketika kita mengatakanأستغفرك يا اللهاللهم اغفر ليرَبِّ اغفر ليسُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَاkita berbicara kepada Allāh ﷻ. Itu adalah sesuatu yang umum; semuanya juga berbicara kepada Allāh ﷻ. Tapi yang tidak umum, yang khusus adalah ketika Allāh ﷻ berbicara kepada seseorang. Inilah makna kalīmullāh, yaitu orang yang pernah diajak bicara oleh Allāh ﷻ.Nabi ﷺ juga pernah diajak bicara oleh Allāh ﷻ. Ketika di-miʿrajkan, maka Allāh ﷻ berbicara langsung kepada Nabi kita, Muhammad ﷺ. Berbicara langsung bukan berarti melihat Allāh ﷻ, sebagaimana telah berlalu, tapi disana ada hijab.مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِن وَرَاءِ حِجَابٍ، أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِمَا يَشَاءُ بِإِذْنِهِAllāh ﷻ berbicara kepada Nabi Muhammad ﷺ tetapi di balik hijab. Nabi ﷺ tidak pernah melihat Allāh ﷻ di dunia.Di antara Nabi yang pernah diajak bicara oleh Allāh ﷻ adalah Nabi Ādam ʿalayhis-salām, sebagaimana dalam hadits, beliau ʿalayhis-salām adalah Nabiyun mukallamun, beliau adalah seorang Nabi yang pernah diajak bicara oleh Allāh ﷻ.Kenapa di sini juga disebutkan oleh al-Imām Abu Jaʿfar aṭ-Ṭaḥāwī? Karena orang-orang Jahmiyyah juga mengingkari sifatul kalām, sebagaimana mereka mengingkari sifat mahabbah mereka juga mengingkari sifat al-kalām. Allāh ﷻ tidak berbicara karena menurut mereka, jika kita mensifati Allāh ﷻ dengan kalām, berarti Allāh ﷻ memiliki bibir, lidah, dan seterusnya, berarti menyamakan Allāh ﷻ dengan makhluk. Sehingga mereka mengingkari sifat kalām bagi Allāh ﷻ.Mereka mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ menciptakan kalām, bukan Allāh ﷻ berbicara, tapi Allāh ﷻ menciptakan ucapannya; diciptakan di luar, di pohon atau di tempat lain. Yang jelas, Allāh ﷻ tidak memiliki sifat kalām, sehingga mereka pun mengingkari bahwa Allāh ﷻ berbicara kepada Nabi Mūsā ʿalayhis-salām. Seperti yang dikatakan oleh Khālid ibn ʿAbdillāh al-Qasrī sebelum beliau menyembelih Jaʿd ibn Dirham, bahwasanya di antara aqidah Jaʿd ibn Dirham adalah mengingkari Allāh ﷻ berbicara kepada Nabi Mūsā ʿalayhis-salām.إِيمَانًا وَتَصْدِيقًا وَتَسْلِيمًاKita mengatakan itu dengan lisan kita, dan kita dasari dengan keimanan, percaya, dan kepercayaan kita disertai dengan ketenangan, tanpa ada keraguan sedikit pun bahwa Allāh ﷻ menjadikan Ibrāhīm sebagai kekasih-Nya dan berbicara kepada Mūsā sesuai dengan keagungan-Nya.Kecintaan-Nya sesuai dengan keagungan-Nya, ucapan dan kalām-Nya sesuai dengan keagungan-Nya, dan kita membenarkan serta mengimani apa yang Allāh ﷻ sebutkan dalam Al-Qur’ān. Kita membenarkan apa yang disebutkan oleh Allāh ﷻ dalam Al-Qur’ān. Bagaimana kita mendustakan firman Allāh ﷻ:وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا(QS. An-Nisā’: 164)وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا(QS. An-Nisā’: 125)Semuanya kita imani, dan kita berserah diri kepada Allāh ﷻ. Allāh ﷻ yang mengabarkan, maka termasuk sikap taslīm kita adalah menyerahkan diri terhadap apa yang Allāh ﷻ kabarkan dan kita imani sebagaimana datangnya.فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا(QS. An-Nisā’: 65)Tidak beriman mereka sampai menjadikan engkau sebagai hakim di dalam perselisihan mereka kemudian mereka tidak menemukan di dalam hati mereka rasa berat dan mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benarnya penyerahan.وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ(QS. Al-Aḥzāb: 36)Jika Allāh ﷻ dan Rasūl-Nya sudah menentukan, tidak ada pilihan lain bagi kita. Inilah keadaan Ahlussunnah wal Jamāʿah.
Tafsir Al-MuyassarAt-Takatsur (102:8)Tema: ANCAMAN ALLAH TERHADAP ORANG YANG LALAI DAN BERMEGAH-MEGAHAN (Ayat 1-8)Tidaklah semestinya kalian saling berbangga dengan banyaknya harta kekayaan. Seandainya kalian mengetahui dengan pengetahuan yang benar, niscaya kalian tidak akan melakukannya. Pasti kalian akan bersegera menyelamatkan diri dari kebinasaan. Kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim. Kalian akan benar-benar melihatnya dengan tanpa keraguan. Kemudian pada hari Kiamat kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban tentang semua kenikmatan itu.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
Takdir Allah telah ditetapkan dan tertulis, namun hal tersebut tidak berarti seorang muslim meninggalkan doa. Doa merupakan ibadah sekaligus sebab yang Allah perintahkan untuk memperoleh kebaikan dunia dan akhirat.Allah berfirman:وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ“Dan Rabb kalian berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian.’”(QS. Ghafir: 60)Allah juga berfirman:وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”(QS. Al-Baqarah: 186)Rasulullah ﷺ bersabda:الدعاء هو العبادة“Doa adalah ibadah.”(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah)Beliau ﷺ juga bersabda:وﻻ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻻ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ“Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa.”(HR. Ibnu Majah, hasan)Hadis tersebut bukan berarti doa dapat melawan takdir Allah yang telah ditetapkan. Doa justru termasuk bagian dari takdir Allah. Misalnya, seseorang ditakdirkan sakit, kemudian ia berdoa memohon kesembuhan, lalu Allah mengabulkan doanya dan menakdirkan kesembuhan baginya.Dengan demikian, doa dan iman kepada takdir tidaklah bertentangan. Seorang mukmin tetap berdoa dan mengambil sebab, karena doa itu sendiri merupakan sebab yang telah Allah tetapkan dalam takdir-Nya.
Al-Qur'an sebagai petunjuk yang tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya.
🌿 QS. Saba’ 12–13 — Nikmat, Kekuasaan, dan Syukur1. Inti Tafsir Ayat 12Allah memberikan kepada Nabi Sulaiman عليه السلام berbagai keistimewaan:Angin ditundukkan untuknya, sehingga perjalanan pagi dan sore dapat menempuh jarak yang sangat jauh.Allah mengalirkan cairan tembaga untuknya.Allah menundukkan sebagian jin agar bekerja untuknya dengan izin Allah.Jin tersebut mengerjakan berbagai pekerjaan dan pembangunan sesuai yang dikehendaki Sulaiman.Namun mereka tetap berada di bawah perintah Allah. Jika menyimpang dari perintah-Nya, mereka mendapat ancaman azab.Inti pesannya:Kekuasaan Sulaiman bukan berasal dari dirinya sendiri.Semua kemampuan luar biasa itu adalah pemberian dan izin Allah.Jadi semakin besar nikmat dan kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk tunduk kepada Allah.2. Inti Tafsir Ayat 13Allah menjelaskan berbagai pekerjaan yang dilakukan oleh jin untuk Sulaiman:membangun bangunan,tempat-tempat yang megah,masjid atau tempat ibadah,membuat berbagai benda,membuat wadah makanan yang sangat besar seperti kolam,serta periuk-periuk besar yang tetap berada di tempatnya karena berat.Tetapi setelah menyebutkan semua nikmat tersebut, Allah tidak mengatakan:“Nikmatilah semuanya.”Melainkan:اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا“Bekerjalah, wahai keluarga Daud, untuk bersyukur.”Inilah inti besar ayat 13:Nikmat harus menghasilkan syukur, dan syukur harus diwujudkan dalam amal.Tafsir menjelaskan bahwa syukur dapat dilakukan melalui:hati — menyadari bahwa nikmat berasal dari Allah,lisan — memuji Allah,perbuatan — menggunakan nikmat untuk ketaatan dan amal saleh.Bahkan salat, puasa, dan seluruh amal kebaikan yang dilakukan karena Allah merupakan bentuk syukur.Kandungan Utama TafsirKandunganPenjelasanSemua nikmat berasal dari AllahKemampuan, harta, ilmu, kekuasaan, dan fasilitas adalah pemberian Allah. Nikmat adalah amanah Semakin besar nikmat, semakin besar tanggung jawab. Kekuasaan harus tunduk kepada AllahSulaiman memiliki kekuasaan besar, tetapi semuanya dengan izin Allah. Syukur bukan hanya ucapanSyukur harus terlihat dalam hati, lisan, dan perbuatan. Nikmat seharusnya menghasilkan amalFasilitas dunia digunakan untuk agama dan kebaikan. Sedikit manusia yang benar-benar bersyukur. Banyak orang menikmati nikmat, tetapi tidak mengubah nikmat itu menjadi ketaatan.