Semua milik Allah
Semua milik Allah dan akan kembali pada Allah. Bersabar itu paham dengan konsep istirja.
Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat
Semua milik Allah dan akan kembali pada Allah. Bersabar itu paham dengan konsep istirja.
Tafsir Al-MuyassarAl-Isra (17:15)Tema: ISYARAT BAHWA UMAT ISLAM AKAN MENJADI UMAT YANG BESAR (Ayat 1-111)Subtema: Setiap orang memikul dosanya sendiri (Ayat 13-22)Barangsiapa yang mendapat petunjuk, dan mengikuti jalan kebenaran, maka pahalanya akan kembali kepada dirinya sendiri. Sebaliknya, barangsiapa yang menentang dan mengikuti jalan kebatilan, maka siksanya akan kembali kepada dirinya sendiri. Jiwa yang berdosa tidak memikul dosa jiwa lainnya yang berdosa. Allah tidak akan mengazab seorang pun kecuali setelah tegak hujjah atasnya, dengan diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab.Catatan tafsir:Ibnu abdul Barr meriwayatkan dalam At Tamhid dengan sanad yang lemah dari Aisyah. Khadijah pernah bertanya kepda Rasulullah tentang anak-anak musyrikin. Beliau menjawab, "Mereka bersama-sama dengan orang tua mereka." Kemudian aku bertanya setelah itu dan beliau menjawab, "Allah lebih mengetahui apa yang dahulu mereka perbuat." Aku kembali bertanya setelah islam sempurna. Maka turunlah ayat ini. Beliau bersabda, "Mereka berada di atas fitrah" aau bersabda, "..... di surga".Sumber: Ashabun Nuzul - Jalaluddin As-Suyuthi.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
Tafsir QS . Al-Baqarah Ayat 8وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَArtinya: “Di antara manusia ada yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,’ padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.”Pada ayat kedelapan ini, di awal Surah Al-Baqarah, Allah menyebutkan tiga model manusia.Yang pertama, orang-orang beriman, ayat 2 sampai 5. Berarti terdiri dari empat ayat.Yang kedua, orang-orang kafir, ayat 6 sampai 7, terdiri dari dua ayat.Yang ketiga, orang-orang munafik, ayat 8 sampai 20, terdiri dari 13 ayat.Orang-orang munafik terdiri dari 13 ayat. Ini menunjukkan pentingnya kita mengetahui sifat-sifat orang munafik.Apa itu an-nifaq atau munafik?An-nifaq yaitu perbuatannya, sedangkan munafik adalah pelakunya. Munafik adalah menampakkan sesuatu yang berbeda dengan isi hati.Nah, di sini ada dua.Pertama, nifaq al-amaliyah, yaitu nifaq amal atau nifaq as-shaghir.Yang kedua, nifaq al-i‘tiqaadi atau nifaq akbar, yaitu kemunafikan yang besar.Nifaq al-amaliyah atau nifaq amal adalah dosa besar, tetapi tidak kafir. Ciri-cirinya di antaranya: jika berbicara ia berdusta, jika ia berjanji ia mengingkari, jika dipercaya ia berkhianat, jika membuat kesepakatan ia membatalkannya, dan jika berselisih ia licik atau curang.Nah, orang-orang munafik melakukan ini semua dosa besar.Pertanyaannya, bagaimana dengan orang beriman? Terkadang mereka melakukan sifat-sifat ini, sifat munafik. Misalnya berdusta. Tetapi bukan ciri khusus mereka melakukannya, melainkan hanya sesekali atau jarang.Kalau orang yang memiliki nifaq amaliyah, mereka selalu atau sering berdusta, menyelisihi, curang, dan lain-lain.Nifaq al-i‘tiqaadi maksudnya hatinya tidak beriman dengan Islam, tetapi secara KTP mereka Islam. Maksudnya, secara zahir menampakkan Islam.Oleh karenanya, kita harus hati-hati tatkala kita mengatakan seorang munafik.Apa maksudnya?Kalau mengatakan munafik itu al-i‘tiqaadi, ini bahaya. Nifaq al-i‘tiqaadi itu kafir, bahkan lebih parah daripada kafir. Oleh karenanya, orang munafik lebih parah daripada orang kafir asli.Makanya Allah menyebutkan orang munafik ada 13 ayat, karena mereka ada di setiap masa atau di setiap zaman.Kata Imam Malik, di zaman sekarang istilah para ulama adalah zindiq. Maksudnya orang yang benci dengan Islam dan dia menampakkannya.Kalau orang munafik pada zaman dulu, mereka menyembunyikannya atau tidak menampakkan kebencian mereka. Kalau orang zaman sekarang terang-terangan, mereka menampakkan kebenciannya.
Al Anfal : 62
Seorang rasul yang kerasulannya telah di-ketahui dengan jelas melebihi terangnya matahari di siang hari dianggap sebagai seorang penyihir yang nyata sihirnya. Apakah ada kehinaan yang lebih besar dari ini? Dan apakah ada kedustaan yang lebih besar dari ini yang menafikan berita kerasulan dan me-negaskan sesuatu yang amat mustahil bagi Nabi Muhammad?
Tema: BUKTI-BUKTI KEESAAN DAN KEKUASAAN (Ayat 1-83)(6) Maksudnya, semua yang merayap di muka bumi berupa manusia, binatang darat atau laut maka Allah telah menjamin rizki dan makanan mereka, rizki mereka menjadi kewajiban Allah. ﴾ وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ ﴿ "Dan Dia mengetahui tempat berdiamnya binatang itu dan tempat penyimpanannya." Maksudnya, Dia mengetahui tempat ber-diam diri binatang-binatang ini yaitu rumah tempat tinggalnya dan perlindungannya, dan mengetahui tempat penyimpanannya yaitu tempat di mana ia berpindah kepadanya pada waktu pulang per-ginya dan kondisi-kondisi tertentunya. ﴾ كُلّٞ ﴿ "Semuanya" seluruh perincian tentang keadaannya ﴾ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ ﴿ "tertulis dalam Kitab yang nyata." Yakni Lauh Mahfuzh yang meliputi seluruh peristiwa yang terjadi di langit dan bumi. Semuanya diliputi oleh ilmu Allah, dicatat oleh penaNya, berlaku padanya kehendakNya dan dicukupi olehNya rizkinya. Hendaknya manusia tetap tenang kepada jami-nan Allah yang menjamin rizkinya dan yang ilmuNya meliputi Dzat dan sifat-sifatNya.Catatan kaki:210478. Maksud "binatang melata" di sini ialah segenap makhluk Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang bernyawa.210479. Menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan "tempat berdiam" di sini ialah dunia dan "tempat penyimpanan" ialah akhirat. Menurut sebagian ahli tafsir yang lain, maksud "tempat berdiam" ialah tulang sulbi dan "tempat penyimpanan" ialah rahim.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
Sesungguhnya dahulu di zaman jahiliah ada beberapa laki-laki dari golongan manusia meminta perlindungan kepada sekelompok laki-laki dari golongan jin saat mereka singgah ke suatu tempat yang angker. Salah seorang mereka berkata, "Aku berlindung kepada penguasa lembah ini dari kejahatan kaumnya yang bodoh. " Maka, hal ini menambah rasa takut segolongan dari manusia terhadap segolongan jin
Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:39)Tema: PELAJARAN DARI KISAH UMAT TERDAHULU (Ayat 35-44)Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan Kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan. (Al Furqaan:39)Kami jelaskan kepada mereka hujah-hujah (alasan-alasan) dan Kami terangkan bukti-bukti kepada mereka. Seperti yang dikatakan oleh Qatadah, bahwa Kami lenyapkan semua alasan dari mereka.dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya. (Al Furqaan:39)Yaitu Kami hancurkan mereka dengan sehancur-hancurnya, seperti yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:Dan berapa banyaknya kaum sesudah Nuh telah Kami binasakan. (Al Israa':17)Al-qarn artinya umat, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain. (Al-Mu-minun: 42)Sebagian di antara mereka mendefinisikannya bahwa satu kurun sama dengan seratus dua puluh tahun. Menurut pendapat yang lain seratus tahun, menurut pendapat yang lainnya lagi delapan puluh tahun, ada pula yang mengatakan empat puluh tahun, dan banyak lagi pendapat lainnya yang berbeda-beda. Tetapi menurut pendapat yang kuat, yang dimaksud dengan qarn adalah umat yang ada di suatu kurun waktu (suatu zaman). Apabila mereka semuanya telah tiada, lalu diganti oleh generasi yang baru, maka generasi itu dinamakan qarn yang lain (generasi yang lain). Seperti pengertian yang disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui salah satu sabda Nabi ﷺ. yang mengatakan:Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian orang-orang (generasi) yang sesudahnya, kemudian orang-orang (generasi)yang sesudahnya lagi.
Aku juga datang kepada kalian seraya membenarkan Kitab Taurat yang turun sebelumku. Aku datang kepada kalian untuk menghalalkan sebagian dari apa yang tadinya diharamkan, dalam rangka memberikan kemudahan dan keringanan kepada kalian. Aku juga datang dengan membawa hujah yang nyata terkait kebenaran ajaran yang kusampaikan kepada kalian. Oleh sebab itu, bertakwalah kalian kepada Allah dengan cara menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, dan taatlah kalian kepadaku terkait ajaran yang kusampaikan kepada kalian.Hal itu karena Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian. Dialah satu-satu-Nya tuhan yang berhak ditaati dan ditakuti maka sembahlah Dia semata. Perintah yang kuberikan kepada kalian ini, yaitu menyembah dan bertakwa kepada Allah semata adalah jalan lurus yang tidak bengkok sama sekali.”Kemudian tatkala Isa ‘alaihissalām- mengetahui kekerasan hati mereka untuk mempertahankan kekafiran, dia berkata kepada Bani Israil, “Siapa yang mau menolongku dalam berdakwah kepada Allah?” Lalu para pengikutnya yang setia menjawab, “Kami adalah penolong-penolong agama Allah. Kami beriman kepada Allah dan mengikuti jejakmu, dan saksikanlah -wahai Isa- bahwa kami tunduk kepada Allah dengan cara mengesakan-Nya dan menaati-Nya.”
Tafsir Surat Ibrahim (1-3) menekankan peran Al-Qur'an sebagai petunjuk untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang benar.• Allah menurunkan wahyu ini agar Muhammad dapat menjadi penerang bagi umat, menunjukkan jalan menuju kebangkitan iman dan kebenaran.• Pentingnya petunjuk Ilahi: Setiap orang yang ditakdirkan akan mendapat hidayah Allah dan diarahkan menuju jalan-Nya yang lurus.• Pesan untuk umat: Kecelakaan akan menimpa orang-orang yang lebih menyukai kehidupan duniawi daripada akhirat, yang menghalangi jalan Allah dan berupaya menjadikan agama bengkok.• Kesadaran akan Akhirat: Ayat ini mengajarkan untuk tidak mengabaikan kehidupan setelah kematian dan berfokus pada amal perbuatan yang akan membawa ke surga.• Pelajaran dalam kehidupan saat ini: Mengedepankan nilai-nilai spiritual dan memperhatikan keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat adalah penting untuk mencapai kebenaran dan keselamatan.
Tafsir Ibnu Katsir QS. Hūd: 122 وَٱنتَظِرُوٓاْ إِنَّا مُنتَظِرُونَ "Dan tunggulah (akibat perbuatan kalian), sesungguhnya kami pun menunggu (pula)."Penjelasan: Maksudnya sama seperti apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata'āla dalam ayat lainnya, yaitu: فَسَوۡفَ تَعۡلَمُونَ مَن تَكُونُ لَهُۥ عَٰقِبَةُ ٱلدَّارِ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلظَّٰلِمُونَ "Kelak kalian akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapat keberuntungan." (Q.S. Al-An'am: 135)Janji Allah kepada Rasul-NyaAllah menunaikan janji yang telah diutarakan-Nya kepada Rasul-Nya, mendukungnya, serta menjadikan kalimat-Nya tinggi dan menjadikan kalimat orang-orang yang kafir rendah dan hina. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
29. Ibnu Abbas, As-Saddi, Mujahid, Ikrimah, Ad-Dahhak, Qatadah, dan Muqatil ibnu Hayyan serta ulama lainnya yang bukan hanya seorang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:. Furqan. (Al Anfaal:29) Bahwa yang dimaksud ialah jalan keluar.Menurut Mujahid di tambahkan di dunia dan akhirat.Menurut suatu riwayat dari Ibnu Abbas, yang dimaksiat dengan Furqan ialah keselamatan. Sedangkan menurut riwayat yang lain —Juga dari Ibnu Abbas— yang dimaksud dengan furqan ialah pertolongan Allah.Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa makna furqan ialah pemisah antara perkara yang hak dan yang batil.Tafsir yang dikemukakan oleh Ibnu Ishaq ini pengertiannya lebih mencakup daripada pendapat lainnya, dan memang apa yang dikemukakannya itu mencakup kesemuanya. Karena sesungguhnya orang yang bertakwa kepada Allah dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya berarti dia mendapat taufik untuk mengetahui perbedaan antara perkara yang hak dan yang batil. Maka yang demikian itu merupakan penyebab datangnya pertolongan Allah, jalan keselamatan, dan jalan keluar dari semua urusan dunia serta kebahagiaan di hari kiamat, penghapus segala dosa, beroleh ampunan dan disembunyikan dari semua orang serta menjadi penyebab beroleh pahala Allah yang berlimpah. Pengertiannya sama dengan apa yang disebutkan di dalam firman-Nya:Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepada kalian dua bagian, dan menjadikan untuk kalian cahaya yang dengan cahaya itu kalian dapat berjalan dan Dia mengampuni kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al Hadiid:28)
Dan Kami telah menciptakan untuk neraka (yang didalamnya Allah akan mengazab orang-orang yang berhak mendapat azab di akhirat) banyak dari golongan jin dan manusia yang mempunyai hati, tapi tidak pernah dipakai untuk berfikir, sehingga tidak pernah mengharap pahala dan tidak pernah takut akan siksa. Mereka mempunyai mata, tapi tidak pernah dipakai untuk melihat ayat-ayat dan dalil-dalil Allah. Mereka mempunyai telinga, tapi tidak pernah dipakai untuk mendengar ayat-ayat dan dalil-dalil Allah sehingga mereka dapat merenunginya. Mereka itu seperti binatang yang tidak paham akan kalimat yang diucapkan kepadanya dan tidak paham apa yang dilihatnya, tidak berpikir dengan hatinya tentang kebaikan dan keburukan sehingga dia bisa membedakan antara keduanya. Bahkan mereka (manusia dan jin) itu lebih sesat dari binatang-binatang itu. Karena binatang masih dapat melihat apa yang bermanfaat dan berbahaya baginya dan mau mengikuti tuannya, sedangkan mereka tidak demikian. Mereka itulah orang-orang yang lalai dari iman kepada Allah dan taat kepada-Nya.
📍 Kota Surabaya
Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ucapan Nabi Ya‘qub عليه السلام, “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku,” menunjukkan bahwa beliau mengadukan seluruh kesusahan dan penderitaannya hanya kepada Allah.Sedangkan kalimat “dan aku mengetahui dari Allah apa yang kalian tidak mengetahuinya” dipahami sebagai bentuk harapan Ya‘qub terhadap kebaikan dari Allah. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa Ya‘qub mengetahui mimpi Yusuf adalah benar dan Allah pasti akan mewujudkannya. Karena itu, meskipun secara lahiriah keadaan semakin berat, Ya‘qub tetap memiliki keyakinan bahwa apa yang Allah janjikan akan terjadi.Jadi, dalam penjelasan Ibnu Katsir, kesedihan Ya‘qub tidak menghilangkan harapannya kepada Allah. Beliau bersedih, tetapi tetap yakin bahwa Allah mengetahui dan akan mewujudkan sesuatu yang belum diketahui oleh orang-orang di sekitarnya.
Rachmatika
📍 Kota Administrasi Jakarta Barat
Alangkah buruk keadaan kalian dan keadaan alim ulama kalian saat kalian memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan, sementara kalian membiarkan diri kalian sendiri. Kalian tidak mengajak diri kalian kepada kebaikan yang besar, yaitu Islam. Kalian membaca Taurat yang menjelaskan sifat-sifat Muhammad dan kewajiban beriman kepadanya. Apakah kalian tidak menggunakan akal pikiran kalian secara benar?
Kita harus menyembah Allah yang sudah menciptakan kita
1 Rahmat Allah kpd hambah-hambahnya sangat luas.Dia menyukai mereka dan suja meringankan beban mereka.2 Syariat Islam melindungj hak-hak manusia3 Menjauhi dosa-dosa besar adalah penyebab masuk surga dan terampuninya dosa-dosa kecil4 Relah menerimah oemberian Allah dan tidak menginginkan apa yg ad ditangan orang lain akan menghindarkan seseorang dari perasaan iri hati maupun benci atas takdir Allah Ta’ala
48 Allah lalu mengajarkan kepada-Nya tata cara menulis, ketepatan dan kebenaran dalam berbicara dan bertindak. Dia juga mengajarkan kepada-Nya Kitab Taurat yang diturunkan kepada Musa -‘alaihissalām- dan mengajarkan kepada-Nya Kitab Injil yang akan diturunkan kepadanya.49 Allah juga menjadikannya rasul bagi Bani Israil. Dia mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kalian. Aku datang kepada kalian dengan membawa tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran kenabianku, yaitu aku bisa membuat sesuatu dari tanah liat dengan bentuk seperti burung kemudian aku tiup benda itu dan langsung berubah menjadi burung hidup dengan izin Allah, aku bisa menyembuhkan orang yang lahir dalam keadaan buta hingga dia bisa melihat dengan jelas, aku bisa menyembuhkan orang yang sakit lepra sehingga kulitnya bisa sembuh seperti sedia kala, dan aku bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Semua itu terjadi dengan izin Allah. Aku juga mampu memberitahukan kepada kalian tentang apa yang kalian makan dan apa yang kalian sembunyikan di rumah kalian. Sesungguhnya hal-hal ajaib yang aku sebutkan pada kalian ini, yang tidak mampu dilakukan oleh manusia; benar-benar menunjukkan tanda-tanda yang nyata bahwa aku adalah utusan Allah untuk kalian, jika kalian ingin beriman dan percaya kepada bukti kebenaran.---
pada ayat 26 : Allah Swt. memerintahkan untuk berbuat adil dalam qisas (pembalasan) dan seimbang dalam menunaikan hak, seperti yang disebutkan dalam riwayat Abdur Razzaq, dari As-Sauri, dari Khalid, dari Ibnu Sirin yang telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:{فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ}maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.Rasulullah Saw. bersabda: Kami akan bersabar dan tidak akan membalas.Ayat ini mempunyai persamaan dengan ayat-ayat lain, yang intinya mengandung perintah untuk bersikap adil dan dianjurkan bersikap pemurah (memaaf), seperti yang disebutkan dalam firman-Nya:{وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا}Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. (Asy-Syura: 40)Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan:{فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ}maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. (Asy-Syura: 40), hingga akhir ayat.Adapun firman Allah Swt.:{وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلا بِاللَّهِ}Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah. (An-Nahl: 127)Hal ini mengukuhkan perintah bersabar, sekaligus sebagai pemberitaan bahwa kesabaran itu tidak dapat diraih melainkan berkat kehendak Allah dan pertolongan-Nya, serta berkat upaya dan kekuatan-Nya. Selanjutnya Allah Swt. berfirman:{وَلا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ}dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka. (An-Nahl: 127)Yakni terhadap orang-orang yang menentangmu, karena sesungguhnya Allah telah menakdirkan hal tersebut.{وَلا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ}Adapun firman Allah Swt.:{الَّذِينَ اتَّقَوْا}orang-orang yang bertakwa. (An-Nahl: 128) Maksudnya, orang-orang yang meninggalkan hal-hal yang diharamkan.{وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ}dan orang-orang yang berbuat kebaikan.Yakni orang-orang yang mengerjakan ketaatan. Mereka adalah orang-orang yang dijaga oleh Allah, dipelihara-Nya, ditolong-Nya, didukungNya, dan dimenangkan-Nya atas musuh-musuh mereka dan orang-orang yang menentang mereka.
📍 Kota Depok
1. Dua golongan manusia dan tempat kembali merekaAyat ini menjelaskan bahwa manusia pada akhirnya terbagi menjadi dua golongan:Orang-orang yang memenuhi seruan AllahOrang-orang yang tidak memenuhi seruan AllahPerbedaan pilihan mereka di dunia akan menentukan balasan dan tempat kembali mereka di akhirat.2. Orang yang memenuhi seruan AllahAllah berfirman tentang orang-orang yang memenuhi seruan-Nya.Menurut Tafsir Ibnu Katsir, memenuhi seruan Allah berarti:Taat kepada Allah dan Rasul-NyaTunduk terhadap perintah AllahMembenarkan berita yang Allah sampaikanMeyakini perkara yang telah terjadi maupun yang akan datang sebagaimana diberitakan AllahMenjalankan iman dengan ketaatan dan amal salehJadi, memenuhi seruan Allah bukan hanya sekadar mengetahui atau mengakui kebenaran, tetapi menerimanya dengan ketundukan dan ketaatan.3. Balasan mereka adalah pahala yang baikBagi orang-orang yang memenuhi seruan Allah, Allah menyediakan:“Pembalasan yang baik.”Artinya, mereka akan mendapatkan pahala yang baik, yaitu kenikmatan dan keselamatan di akhirat.Ibnu Katsir mengaitkan makna ini dengan beberapa ayat lain, di antaranya kisah Zulqarnain dalam QS. Al-Kahfi ayat 87–88.Orang yang beriman dan beramal saleh akan mendapatkan pahala terbaik sebagai balasan.Hal yang sama juga terdapat dalam QS. Yunus ayat 26:Orang yang berbuat baik mendapatkan pahala terbaik dan tambahan.Dengan demikian, ketaatan kepada Allah tidak akan sia-sia. Setiap kebaikan akan mendapatkan balasan yang baik dari Allah.4. Orang yang menolak seruan AllahSebaliknya, Allah menyebutkan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhan mereka.Menurut Ibnu Katsir, maksudnya adalah mereka yang:Tidak taat kepada AllahMenolak perintah-NyaTidak tunduk kepada-NyaMemilih jalan yang bertentangan dengan petunjuk AllahMereka akan menghadapi keadaan yang sangat berbeda dengan orang-orang yang taat.5. Harta tidak dapat menjadi tebusan di akhiratAllah menggambarkan keadaan mereka:Seandainya mereka memiliki seluruh kekayaan yang ada di bumi, bahkan ditambah sebanyak itu lagi, mereka akan rela memberikan semuanya untuk menebus diri dari azab Allah.Bayangkan seseorang memiliki seluruh harta dunia, tetapi pada saat itu harta tersebut tidak lagi dapat menyelamatkannya.Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pada hari kiamat, Allah tidak menerima harta sebagai tebusan bagi mereka.Artinya:Harta yang sangat banyak tidak dapat menggantikan iman dan ketaatan.Apa yang mungkin sangat bernilai di dunia menjadi tidak berarti ketika seseorang sudah berada di hadapan pengadilan Allah.6. Mereka mendapatkan “hisab yang buruk”Allah kemudian berfirman bahwa bagi mereka disediakan:“Hisab yang buruk.”Maksudnya, mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatan mereka.Tidak hanya perkara besar, tetapi juga perkara kecil maupun besar yang mereka lakukan.Ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia tidak berlalu begitu saja.Setiap perbuatan memiliki konsekuensi dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.7. Hisab yang buruk berujung pada azabIbnu Katsir menjelaskan bahwa orang yang benar-benar dimintai pertanggungjawaban dalam bentuk hisab yang buruk akan mendapatkan azab.Karena itu, ayat tersebut dilanjutkan dengan:“Tempat kediaman mereka ialah Jahannam.”Jahannam menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang menolak seruan Allah.Allah menutup ayat dengan penegasan:“Dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman.”Pesan tadabburAllah memberikan pilihan kepada manusia, tetapi setiap pilihan memiliki balasan.Kekayaan, harta, dan apa pun yang dimiliki manusia di dunia tidak dapat menjadi jaminan keselamatan di akhirat. Yang akan menentukan adalah iman, ketaatan, dan amal yang dilakukan selama hidup.Maka ayat ini mengingatkan kita agar jangan hanya mengejar sesuatu yang bernilai di dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk hari ketika semua harta tidak lagi dapat menjadi tebusan.Pertanyaan refleksi:Ketika Allah memanggil kita melalui perintah dan larangan-Nya, apakah kita termasuk orang yang memenuhi seruan-Nya atau justru berpaling darinya?Kesimpulan singkat:Penuhi seruan Allah → taat dan beriman → memperoleh pahala yang baik.Menolak seruan Allah → hisab yang buruk → azab Jahannam.