📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat23 Agustus 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

QS At Taubah: 59

Inti tafsir Ibnu Katsir pada QS At-Taubah ayat 59 adalah tentang adab terhadap pemberian dan ketetapan Allah. Sikap yang seharusnya dimiliki bukan hanya menerima ketika mendapat sesuai keinginan, tetapi ridha terhadap apa yang Allah berikan, bertawakal kepada-Nya, dan tetap berharap pada karunia-Nya. Kalimat “Cukuplah Allah bagi kami” menunjukkan bahwa tempat bergantung adalah Allah, sementara Rasul diikuti dalam menjalankan perintah, meninggalkan larangan, membenarkan berita, dan mengikuti petunjuknya. Jadi, ayat ini mengajarkan bahwa ridha, tawakal, dan berharap kepada Allah harus berjalan bersama, bukan menjadikan pemberian materi sebagai ukuran kasih sayang atau ketetapan Allah kepada kita.

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat22 Agustus 2026
N
Nailah

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

Qs Ar-Rahman : 13

Tafsir Ibnu KatsirAr-Raĥmān (55:13)Firman Allah subhanahu wata'āla:Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 13)Yakni nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan, hai dua jenis makhluk, jin dan manusia yang kalian dustakan? Demikianlah menurut pendapat Mujahid dan ulama lainnya, yang hal ini ditunjukkan oleh pengertian yang terkandung pada konteks sesudahnya. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa nikmat-nikmat Tuhanmu tampak jelas pada kalian dan kalian diliputi olehnya hingga kalian tidak dapat mengingkarinya atau tidak mengakuinya. Dan kami hanya dapat mengatakan seperti apa yang dikatakan oleh jin yang beriman kepada-Nya, "Ya Allah, tiada sesuatu pun dari nikmat-nikmat-Mu yang kami ingkari, maka bagi-Mulah segala puji."Disebutkan bahwa Ibnu Abbas selalu menjawabnya dengan ucapan berikut, "Tidak, lalu yang manakah, wahai Tuhanku?" Dengan kata lain. dapat disebutkan bahwa kami tidak mendustakan sesuatu pun darinya.Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Abul Aswad, dari Urwah, dari Asma binti Abu Bakar yang telah menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ. pernah ia dengar dalam salatnya membaca satu rukun Al-Qur'an sebelum diperintahkan untuk menyerukan dakwahnya secara terang-terangan, sedangkan orang-orang musyrik mendengarkan­nya, yaitu firman Allah subhanahu wata'āla: Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar-Rahman: 13)

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Agustus 2026
M
marni

📍 Kabupaten Bogor

KISAH NABI IBRAHIM DENGAN AYAHNYA

Tafsir Al-MuyassarMaryam (19:47)Tema: KISAH NABI IBRAHIM DENGAN AYAHNYA (Ayat 41-50)Ibrahim berkata kepada ayahnya: Semoga keselamatan dilimpahkan kepada-mu dariku, sehingga engkau tidak mendapat apa yang tidak engkau sukai dariku, dan aku akan berdoa kepada Allah memohonkan hidayah dan ampunan untukmu. Sesungguhnya Rabku Maha Penyayang lagi Mahabelas kasih terhadap keadaanku, Dia akan mengabulkanku bila aku berdoa kepada-Nya.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Agustus 2026
R

Rahaf Fathullah

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Pengamalan dari juz 8

1️⃣ Diantara perangai orang fasik adalah gemar memutarbalikkan kenyataan, seperti dengan mencela orang saleh dan memuji orang yang berbuat kerusakan2️⃣ Dalam agama Allah, tidak ada pilih kasih, sebagaimana maksiat istri Nabi Lut 'alayhissalaam menyebabkan dirinya menjadi termasuk yang mendapat azab3️⃣ Merenungi hukuman orang-orang yang berbuat kerusakan akan mencegah kita berbuat maksiat agar tidak mendapatkan akibat yang sama

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Agustus 2026
H
Haniva Eka Kusuma

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir surah al ankabut ayat 41

Allah taala berfirman:مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلۡعَنكَبُوتِ ٱتَّخَذَتۡ بَيۡتٗا ۖ وَإِنَّ أَوۡهَنَ ٱلۡبُيُوتِ لَبَيۡتُ ٱلۡعَنكَبُوتِ ۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَPerumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.Tema: COBAAN ADALAH BAROMETER BAGI SEMPURNA ATAU TIDAKNYA IMAN SESEORANG (Ayat 1-44)Subtema: Perlawanan terhadap kebenaran pasti hancur (Ayat 40-44)QS. Al-`Ankabūt: 41Tafsir Ibnu KatsirAl-'Ankabut (29:41)Tema: COBAAN ADALAH BAROMETER BAGI SEMPURNA ATAU TIDAKNYA IMAN SESEORANG (Ayat 1-44)Subtema: Perlawanan terhadap kebenaran pasti hancur (Ayat 40-44)Ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah untuk menggambarkan perihal kaum musyrik karena mereka mengambil tuhan-tuhan selain Allah yang mereka harapkan pertolongan dan rezekinya serta mereka pegang di saat mereka tertimpa kesengsaraan.Keadaan mereka dalam hal tersebut sama dengan rumah laba-laba dalam hal kelemahan dan kerapuhannya. Orang yang menyembah tuhan-tuhan seperti mereka tiada lain seperti orang yang berpegangan pada rumah laba-laba, maka sesungguhnya hal itu tidak dapat memberikan suatu manfaat pun kepadanya. Sekiranya mereka mengetahui keadaan tersebut, tentulah mereka tidak akan menjadikan penolong-penolong mereka selain dari Allah.Berbeda halnya dengan orang muslim lagi beriman hatinya kepada Allah, selain dari itu dia beramal dengan baik sesuai dengan hukum syariat. Maka sesungguhnya dia berpegang teguh kepada tali yang kuat yang tidak akan terputus karena kekuatan dan kekokohannya.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Mukhtasar QS. Ali Imran ayat 39-40

39 Kemudian para malaikat berbicara kepada Zakaria ketika dia sedang berdiri untuk menunaikan salat di tempat ibadahnya seraya berkata, “Sesungguhnya Allah memberikan kabar gembira kepadamu bahwa kamu akan mempunyai seorang anak laki-laki bernama Yahya. Di antara sifatnya adalah dia membenarkan kalimat yang datang dari Allah, yaitu Isa putra Maryam, karena Isa diciptakan secara khusus melalui kalimat Allah. Anak laki-laki ini (Yahya) akan menjadi pemuka kaumnya dalam bidang keilmuan dan ketekunan beribadah. Dia selalu menahan dirinya dari segala macam kesenangan, termasuk kesenangan dengan wanita. Dia berkonsentrasi penuh dalam beribadah kepada Tuhannya dan dia adalah seorang nabi yang menjadi bagian dari orang-orang yang saleh.”40 Tatkala para malaikat memberikan kabar gembira tentang Yahya, Zakaria berkata, “Ya Rabb-ku! Bagaimana aku bisa punya anak? Padahal aku menjadi tua renta, sedangkan istriku mandul tidak bisa beranak?” Allah menjawab ucapan Zakaria, “Perumpamaan penciptaan Yahya pada saat usiamu sudah tua dan istrimu mandul sama seperti Dia menciptakan apa saja yang dikehendaki-Nya yang terkadang berlawanan (mustahil) dan tidak seperti biasanya karena Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya berdasarkan kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya.”

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Agustus 2026
S

Siti Nadiroh

📍 Kabupaten Brebes

Qs At Takwir: 11

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa lembaran-lembaran catatan amal yang berada di tangan para malaikat ditutup tatkala seseorang meninggal dunia, dan tatkala hari kiamat dibuka kembali untuk dilihat olehnya hasil catatan amalnya selama hidupnya (lihat Tafsir Al-Qurthubi 19/234)Hal ini sebagaimana firman Allahبَلْ يُرِيدُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُؤْتَى صُحُفًا مُنَشَّرَةًBahkan tiap-tiap orang dari mereka berkehendak supaya diberikan kepadanya lembaran-lembaran yang terbuka (QS Al-Muddatstsir : 52)Al-Baghowi berkata :صَحَائِفَ الْأَعْمَالِ تُنْتَشَرُ لِلْحِسَابِ‘’Lembaran-lembaran catatan amal terbuka untuk dihisab (Tafsir Al-Baghowi 8/348)Pada hari kiamat kelak seluruh catatan amal yang pernah kita lakukan selama di dunia semua akan terbuka. Seluruh isi catatan amal tersebut berdasarkan amalan kita selama di dunia, kemudian dituliskan oleh malaikat. Sehingga hakekatnya yang mencatat catatan amal kita adalah kita sendiri. Oleh karena itu, jangan sampai kita mengisi buku catatan-catatan amal kita dengan catatan buruk yang mana catatan-catatan tersebut akan dibuka oleh Allah pada hari kiamat kelak. Allah berfirman:وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَنُخْرِجُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كِتَابًا يَلْقَاهُ مَنْشُورًا“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka.” (QS Al-Isra’: 13)Bahkan kata para ulama, orang yang tidak bisa membaca akan bisa membaca dengan sendirinya pada hari tersebut. Di samping itu tidak perlu repot, catatan amal tersebut akan terbuka dengan sendirinya. Oleh karena itu, orang-orang kafir dan orang-orang yang melakukan kemaksiatan akan ketakutan ketika mereka melihat catatan amal mereka.وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ (52) وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُّسْتَطَرٌ (53)“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan (yang ada di tangan Malaikat). Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis.” (QS. Al-Qamar: 52-53)

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Agustus 2026
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Ibnu Katsir QS. An Nahl : 119

Allah taala berfirman:ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُواْ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٖ ثُمَّ تَابُواْ مِنۢ بَعۡدِ ذَٰلِكَ وَأَصۡلَحُوٓاْ إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعۡدِهَا لَغَفُورٞ رَّحِيمٌKemudian, sesungguhnya Tuhan-mu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertobat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya); sesungguhnya Tuhan-mu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.📝 Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir1. Dosa karena kebodohanSetiap maksiat yang dilakukan merupakan bentuk kebodohan, karena seseorang tidak memahami atau mengabaikan akibat buruk dari perbuatannya.2. Pintu Taubat Selalu TerbukaAllah memberi kesempatan kepada orang yang terjatuh dalam dosa untuk bertaubat dan kembali kepada-Nya.3. Taubat Dibuktikan dengan PerbaikanTaubat bukan sekadar penyesalan. Orang yang benar-benar bertaubat akan meninggalkan maksiat dan memperbaiki dirinya dengan amal ketaatan.✨ PelajaranJangan berputus asa ketika terjatuh dalam dosa. Segeralah kembali kepada Allah, tinggalkan maksiat, dan perbaiki diri. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada hamba yang bertaubat.Disalin dari Quran Tadabbur — quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Agustus 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Tafsir QS Asy Syams

Tafsir Al Mukhtasar QS Asy Syams ayat 1-9Tujuan pokok: penyebutan sumpah terbanyak dalam Alquran untuk menegaskan pentingnya menyucikan jiwa dan kerugian mengotorinya lewat berbagai maksiat. Allah bersumpah dengan matahari dan bersumpah dengan waktu naik matahari setelah terbitnya dari tempat munculnya Dia bersumpah dengan bulan apabila mengiringi jejak matahari telah 4 hari tenggelam Dia bersumpah dengan siang hari apabila telah menyingkap apa yang berada di atas permukaan bumi dengan cahayanya Dia bersumpah dengan malam hari apabila telah menutupi permukaan bumi sehingga menjadi gelap Video bersumpah dengan langit dan bersumpah dengan pembangunannya yang teliti Dia bersumpah dengan bumi dan bersumpah dengan hamparannya agar manusia bisa menghuninya Dia bersumpah dengan setiap jiwa dan bersumpah dengan penciptaan jiwa tersebut secara sempurna Lalu dia memahamkan kepada Nya tanpa belajar segala yang buruk agar ia menghindarinya dan segala yang baik agar ia melakukannya Sungguh orang yang menyucikan jiwanya serta menghiasinya dengan sifat-sifat kebaikan dan mengosongkannya dari sifat-sifat buruk telah menang dengan mendapatkan apa yang diinginkannya.

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Agustus 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS Al-'Araf:169

Tafsir Ibnu KatsirQS Al-'Araf : 169Firman Allah subhanahu wata'āla:Maka datanglah sesudah mereka generasi yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini..., hingga akhir ayat.Allah subhanahu wata'āla menceritakan bahwa sesudah itu —yakni sesudah generasi yang di dalamnya terdapat orang-orang yang saleh dan lainnya—datanglah generasi lain yang tiada kebaikan sama sekali pada mereka, padahal mereka mewarisi hak mempelajari Al-Kitab, yakni kitab Taurat. Menurut Mujahid, mereka adalah orang-orang Nasrani. Tetapi barangkali pengertiannya lebih umum daripada itu....mereka mengambil harta dunia yang rendah ini.Dengan kata lain, mereka menukar perkara hak —yang harus disampai­kan dan disiarkan— dengan harta benda duniawi. Lalu mereka menjanji­kan terhadap dirinya sendiri bahwa kelak akan melakukan tobat atas perbuatannya itu. Tetapi kenyataannya manakala datang hal yang semisal kepada mereka, maka mereka kembali terjerumus ke dalamnya. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya jugaSeperti yang dikatakan oleh Sa'id ibnu Jubair, "Mereka mengerjakan dosa, lalu meminta ampun kepada Allah dari dosa itu dan mengakui kesalahannya kepada Allah. Tetapi apabila datang kesempatan yang lain bagi mereka dari harta duniawi itu, maka mereka akan mengambil­nya juga."Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firrnan-Nya: mereka mengambil harta dunia yang rendah ini. (Al A'raf:169) Tiada sesuatu pun dari perkara keduniawian yang muncul melainkan pasti mereka merebutnya, baik yang halal ataupun yang haram, lalu mereka berharap mendapat ampunan....dan mereka berkata, Kami akan diberi ampun." Dan kelak jika datang kepada mereka harta dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga).Sehubungan dengan makna ayat ini Qatadah mengatakan, "Generasi tersebut memang generasi yang jahat, demi Allah."mereka mewarisi Kitab sesudah nabi-nabi dan rasul-rasul mereka, Allah mewariskannya kepada mereka dan mengambil janji dari mereka. Allah subhanahu wata'āla telah berfirman di dalam ayat yang lain , yaitu:Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat. (Maryam:59)Firman Allah subhanahu wata'āla:...mereka mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata, "Kami akan diberi ampun."Mereka berangan-angan terhadap Allah dan teperdaya oleh angan-angan kosong mereka sendiri.Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga)Tidak ada sesuatu pun yang menyibukkan mereka dari itu, dan tidak ada sesuatu pun yang menghalang-halangi mereka dari hal tersebut. Manakala ada kesempatan bagi mereka mengangkut perkara duniawi, maka mereka langsung menyantapnya, tanpa memikirkan lagi halal ataukah haram.As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat). (Al A'raf:169) sampai dengan firman-Nya: padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya (Al A'raf:169) Bahwa dahulu orang-orang Bani Israil tidak sekali-kali meminta peradilan dari seorang hakim melainkan main suap dalam keputusan hukumnya. Dan sesungguhnya orang-orang terkemuka mereka meng­adakan pertemuan, lalu mengadakan kesepakatan di antara sesama mereka yang mereka tuangkan ke dalam suatu perjanjian, bahwa mereka tidak akan melakukan hal itu lagi dan tidak akan melakukan penyuapan. Kemudian ada seorang lelaki dari kalangan mereka yang tetap melakukan suap dalam perkaranya. Ketika ditanyakan kepadanya, "Mengapa engkau masih tetap memakai suap dalam hukum?" Ia menjawab bahwa Allah akan memberikan ampunan kepadanya. Maka semua orang dari kalangan Bani Israil mencela perbuatan yang telah dilakukannya itu. Tetapi apabila dia mati atau dipecat, maka kedudukan­nya diganti oleh orang yang tadinya termasuk orang-orang yang mencelanya. Tetapi pada akhirnya si pengganti ini pun melakukan suap pula. Karena itulah dalam ayat ini disebutkan, "Apabila datang kepada yang lainnya harta benda duniawi, maka mereka mengambilnya juga."Firman Allah subhanahu wata'āla:Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. hingga akhir ayat.Allah subhanahu wata'āla berfirman mengingkari perbuatan mereka, mengingat mereka telah diambil sumpahnya oleh Allah, yaitu diharuskan menerangkan perkara yang hak kepada manusia dan tidak boleh menyembunyikannya. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam firman-Nya yang lain:Dan (ingatlah) ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), "Hendaklah kalian menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kalian menyembunyikannya," lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima (Ali Imran:187)Ibnu Juraij mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecualiyang benar.Yakni terhadap apa yang mereka angan-angankan dari Allah, yaitu pengampunan dosa-dosa mereka, padahal mereka masih tetap meng-ulangi perbuatan dosa-dosanya dan tidak pernah bertobat.Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?Allah subhanahu wata'āla menganjurkan kepada mereka untuk menyukai pahala-Nya yang berlimpah dan ini memperingatkan mereka akan siksaan-Nya yang keras. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa pahala-Ku dan pambalasan yang ada di sisi-Ku lebih baik bagi orang-orang yang takut kepada hal-hal yang diharamkan dan meninggalkan kemauan hawa nafsunya serta berbuat amal ketaatan kepada Tuhannya.Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Ayat 19 Agustus

Tafsir As-Sa’diQS. At-Taubah: 79​Ini merupakan keburukan orang-orang munafik yang senantiasa membicarakan dan mencela Islam serta kaum Muslimin atas dasar kedzaliman dan kedengkian. Ketika Allah dan Rasul-Nya mengajak bersedekah, kaum Muslimin bersegera memberikan hartanya sesuai kemampuan.​Sikap Orang Munafik Terhadap Sedekah:​Mencela yang bersedekah banyak dengan menuduh pamer, riya, sum'ah, dan kesombongan.​Mencela yang bersedekah sedikit dengan dalih Allah tidak memerlukan sedekah tersebut.Penjelasan Potongan Ayat​ ٱلَّذِينَ يَلۡمِزُونَ ٱلۡمُطَّوِّعِينَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ فِي ٱلصَّدَقَٰتِ ​"(orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela."​Penjelasan: Mereka menuduh mukmin yang bersedekah banyak sebagai pamer, riya, dan sombong.​ وَٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهۡدَهُمۡ ​"Dan orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya"​Penjelasan: Kepada mukmin yang bersedekah sedikit sesuai kemampuannya, orang munafik berkata: "Allah tidak membutuhkan sedekahnya."​ فَيَسۡخَرُونَ مِنۡهُمۡ ​"Maka orang-orang munafik itu menghina mereka."​Penjelasan: Maka Allah membalas dengan menghina mereka pula.​ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ​"Dan untuk mereka azab yang pedih."Keburukan & Dosa yang Terkumpul dalam Ucapan Orang Munafik​Memata-matai kaum Muslimin untuk mencari peluang memperolok-olok. Allah berfirman:​ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُحِبُّونَ أَن تَشِيعَ ٱلۡفَٰحِشَةُ فِي ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ ​"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih." (QS An-Nur: 19)​Mencela orang beriman semata-mata karena keimanan mereka, yang dilandasi oleh kekufuran kepada Allah dan kebencian kepada Islam.​Mencela/memperolok adalah haram, bahkan dalam perkara dunia termasuk dosa besar, apalagi dalam perkara ketaatan.​Menggembosi kebaikan: Orang yang menaati Allah dan berbuat baik secara sukarela seharusnya dibantu dan disemangati, tetapi orang munafik justru berusaha menggembosinya dengan celaan.​Vonis tanpa dasar: Tuduhan riya kepada orang yang infaq banyak adalah kesalahan fatal yang berdasar pada ketidaktahuan dan prasangka semata.​Perkataan batil terkait kebutuhan Allah: Ucapan bahwa Allah tidak memerlukan sedekah sedikit adalah batil. Hakikatnya Allah memang tidak memerlukan sedekah dan tidak memerlukan penduduk langit serta bumi, namun Dialah yang memerintahkan hamba-Nya untuk kebaikan hamba itu sendiri:​ فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ ​"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (Q.S. Az-Zalzalah: 7)​Ucapan tersebut mengandung upaya menggembosi perbuatan baik, sehingga balasan bagi mereka adalah Allah menghinakan mereka dan ( وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ) "untuk mereka azab yang pedih."Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

QS. Al Haqqah: 3

Tafsir At-TaysirAl-Ĥāqqah (69:3)Tema: KEPASTIAN HARI KIAMAT (Ayat 1-37)Subtema: Orang yang mendustakan kebenaran pasti binasa (Ayat 1-12)Surah Al-Haqqah adalah surah Makkiyah(1), yaitu surah yang turun sebelum Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah. Al-Haqqah adalah salah satu dari nama-nama hari kiamat. Hari kiamat memiliki banyak nama, dimana masing-masing nama tersebut mengandung makna tertentu. Di antaranya adalah السَّاعَةُ yang bermakna hari kiamat yang datang secara tiba-tiba. Kemudian juga يَوْمُ الْقِيَامَةِ yang bermakna hari dimana manusia berdiri lama di padang mahsyar menanti kedatangan Allah ﷻ untuk memulai persidangan. Hari kiamat disebut juga dengan يَوْمُ الْحِسَابِ yang bermakna hari dimana semua amalan manusia akan ditimbang. Demikian juga يَوْمُ الدِّينِ yang bermakna hari pembalasan. Di antaranya juga الطَّامَّةُ yang bermakna hari dimana malapetaka menimpa seluruh umat manusia. Disebut pula dengan الصَّاخَّةُ yang bermakna hari ditiupkan sangkakala yang sangat memekakkan telinga karena suara yang begitu keras. Dan di antara nama-nama hari kiamat adalah الحَاقَّةُ. (2)Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai Al-Haqqah. Sebagian ulama memaknai Al-Haqqah dengan mutahaqqiqatul wuqu’ (pasti terjadi) (3). Sebagaimana firman Allah ﷻ,وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِي الْقُبُورِ“Dan sungguh, (hari) Kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.” (QS. Al-Hajj : 7)Sebagian ulama yang lain memaknai Al-Haqqah dengan hari dimana Allah ﷻ akan mentahqiq al-wa’d wal wa’id yaitu hari dimana Allah ﷻ akan merealisasikan janji dan ancaman-Nya. Pada hari itu penghuni surga akan mendapatkan janji yang Allah janjikan, dan penghuni neraka akan mendapatkan ancaman yang Allah janjikan kepada mereka (4). Oleh karena itu, di dalam surah ini disebutkan bagaimana azab yang dijanjikan kepada kaum yang mendustakan risalah yang turun kepada mereka seperti kaum ‘Ad dan kaum Tsamud.Sebagian ulama yang lain juga memaknai Al-Haqqah dengan hakikat-hakikat (Al-Haqaiq) dan rahasia-rahasia semuanya akan terbongkar pada hari tersebut, akan terlihat mana yang kafir dan mana yang mukmin. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah. (5)Itulah beberapa pemaknaan dari para ulama tentang makna Al-Haqqah. Dan semua makna tersebut benar.Allah ﷻ berfirman,الْحَاقَّةُ، مَا الْحَاقَّةُ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحَاقَّةُ“Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” (QS. Al-Haqqah : 1-3)Allah mengulangi kalimat Al-Haqqah dengan bentuk pertanyaan menunjukkan betapa agungnya hari tersebut. (6)Lalu pada ayat-ayat setelahnya, Allah ﷻ menyebutkan tentang beberapa keadaan kaum-kaum sebelumnya yang pernah ditimpa azab. Sebagaimana salah satu tafsir makna kata Al-Haqqah yaitu hari dimana Allah akan mentahqiq (mewujudkan) ancaman-ancamannya. Maka apabila di dunia Allah telah mentahqiqnya, terlebih lagi di akhirat.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Agustus 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 5

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 5Ulaika ‘ala hudam mirrabbihim.Artinya, “Mereka itulah yang telah mendapat petunjuk dari Tuhan mereka.”Ini dalil bahwasannya hidayah ada di tangan Allah.Hidayah ada dua:1. Hidayah irsyad (menjelaskan)yaitu para ulama, para nabi, dan para da’i bisa menjelaskan kepada orang-orang beriman dan kafir.2. Hidayah taufik (untuk mengamalkan) yaitu yang bisa memberi hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang bisa membuka hati untuk mengamalkan hanya Allah Ta’ala.Di sini, “huda mirrabbihim”, petunjuknya adalah hidayah taufik.Wa ulaika humul muflihun.Artinya "Dan merekalah orang-orang yang beruntung."Apa itu al-falah?Yaitu meraih apa yang dicita-citakan dan selamat dari apa yang dikhawatirkan.Maksudnya adalah masuk surga. Inilah keberuntungan yang sesungguhnya.Barang siapa yang diselamatkan dari neraka Jahannam dan masuk surga, maka dia sungguh telah beruntung.

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat19 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Al furqon: 34

Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:34)Tema: AL-QUR'AN ADALAH PERINGATAN UNTUK SELURUH MANUSIA (Ayat 1-34)Subtema: Keadaan manusia yang tidak membenarkan Al-Qur'an pada hari kiamat (Ayat 21-34)Kemudian Allah subhanahu wata'āla menceritakan tentang buruknya keadaan orang-orang kafir di hari mereka dikembalikan kepada Allah, yaitu hari kiamat. Mereka digiring masuk ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan yang paling buruk dan rupa yang paling jelek. Untuk itu Allah subhanahu wata'āla berfirman:Orang-orang yang dihimpun ke neraka Jahanam dengan diseret atas muka-muka mereka, mereka itulah orang yang paling buruk tempatnya dan paling sesat jalannya. (Al Furqaan:34)Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan melalui sahabat Anas yang telah mengatakan bahwa ada seorang lelaki bertanya (kepada Rasul Saw.), "Wahai Rasulullah, bagaimanakah orang kafir digiring masuk ke neraka Jahanam di atas mukanya?" Rasulullah ﷺ. menjawab:Sesungguhnya Tuhan yang membuatnya berjalan di atas kedua kakinya mampu membuatnya berjalan di atas mukanya kelak di hari kiamat.Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan mufassirin.

💬 0 komentar📅 19 Agu 2026Baca selengkapnya →