At taubah
Allha akan menginci mati hati orabg sebab kekafirannya
Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat
Allha akan menginci mati hati orabg sebab kekafirannya
Tafsiir surat yunus
Tujuan setan menganjurkan minuman keras, dan perjudian ialah memunculkan rasa permusuhan dan kebencian dalam hati antar sesama
Wahai orang-orang yang percaya kepada Allah dan mengikuti RasulNya! Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya dengan patuh pada apa yang keduanya perintahkan dan menjauhi apa yang keduanya larang, apabila keduanya menyerukan kepada kalian untuk mengikuti kebenaran yang didalamnya ada kehidupan bagi kalian, serta yakinlah bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia sanggup membuat kalian terhalang dari kepatuhan pada kebenaran setelah kalian menolaknya. Oleh karena itu, bersegeralah menerima kebenaran itu dan yakinlah bahwa kalian akan dikumpulkan di hadapan Allah saja pada hari Kiamat kelak, kemudian Dia akan memberikan balasan yang setimpal kepada kalian menurut amal perbuatan yang kalian kerjakan di dunia.Faedah : Setiap hamba harus banyak membaca do’a berikut : “Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati! Teguhkanlah ahtiku diatas agama-Mu. Wahai Tuhan yang memalingkan hati, palingkanlah hatiku menuju ketaatan kepadaMu.”
Allah taala berfirman:قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡ ۚ ذَٰلِكَ أَزۡكَىٰ لَهُمۡ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا يَصۡنَعُونَKatakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandanganya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Pedoman memasuki rumah orang lain (Ayat 27-31)QS. An-Nūr: 30Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.comTafsir Al-MuyassarAn-Nur (24:30)Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Pedoman memasuki rumah orang lain (Ayat 27-31)Katakanlah (wahai Nabi) kepada para lelaki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dari wanita dan aurat wanita yang tidak halal bagi mereka. Dan hendaknya mereka menjaga kemaluannya dari perbuatan zina, liwath, membuka aurat dan perbuatan lainnya yang diharamkan oleh Allah. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka . sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat dalam perkara yang diperintahkan dan perkara yang dilarang untuk mereka.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
Tema: Kebenaran Al-Qur’anSubtema: Tanda-Tanda Keesaan Allah1. QS. Ar-Ra’d: 14 — Hanya Allah yang Berhak DiseruAllah menegaskan bahwa doa dan ibadah yang benar hanya ditujukan kepada Allah. Seruan kepada tauhid adalah jalan yang benar karena tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.Orang yang menyembah selain Allah diibaratkan seperti orang yang mengulurkan tangannya kepada air, tetapi air itu tidak pernah sampai ke mulutnya. Artinya, sesembahan selain Allah tidak mampu memberikan manfaat maupun menolak mudarat.Hikmah:Jangan menggantungkan hati kepada selain Allah.Doa adalah bentuk ibadah yang harus ditujukan kepada Allah.Sesuatu yang tidak memiliki kekuasaan tidak layak dijadikan tempat bergantung.Ibadah kepada selain Allah pada akhirnya tidak memberikan manfaat.Inti ayat:Hanya kepada Allah doa dan penghambaan yang benar ditujukan.2. QS. Ar-Ra’d: 15 — Semua Makhluk Tunduk kepada AllahAllah menunjukkan kebesaran-Nya dengan menjelaskan bahwa segala sesuatu tunduk kepada-Nya.Orang-orang beriman bersujud kepada Allah dengan kerelaan, sedangkan orang-orang kafir pada akhirnya tetap berada di bawah kekuasaan dan ketetapan Allah, meskipun mereka tidak mau tunduk secara sadar.Bahkan bayangan makhluk pun bergerak sesuai ketetapan Allah pada pagi dan sore hari.Hikmah:Kekuasaan Allah meliputi seluruh ciptaan.Manusia tidak pernah berada di luar kekuasaan Allah.Seorang mukmin hendaknya tunduk kepada Allah dengan kesadaran dan kerelaan.Ketundukan yang paling indah adalah ketika hati mengikuti apa yang Allah perintahkan.Inti ayat:Seluruh alam berada dalam kekuasaan Allah; maka manusia seharusnya tunduk kepada-Nya dengan sukarela.3. QS. Ar-Ra’d: 16 — Tidak Ada yang Menyamai AllahAllah menegaskan bahwa Dia satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam semesta.Orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi, tetapi mereka masih menjadikan selain Allah sebagai sembahan dan penolong.Allah kemudian memberikan perumpamaan:“Adakah sama orang yang buta dengan orang yang dapat melihat? Atau gelap gulita dengan cahaya?”Tentu tidak sama.Begitu pula:Tauhid dan kesyirikan tidak sama.Petunjuk dan kesesatan tidak sama.Menyembah Allah dan menyembah selain-Nya tidak sama.Tidak ada satu pun makhluk yang dapat menyamai Allah dalam menciptakan, mengatur, memberi manfaat, atau menolak mudarat.Hikmah:Akal yang sehat akan membedakan antara Pencipta dan ciptaan.Jangan menyamakan makhluk dengan Allah.Semua makhluk hanyalah hamba Allah.Syafaat pun tidak terjadi kecuali dengan izin Allah.Tauhid adalah jalan terang, sedangkan kesyirikan adalah kegelapan.Inti ayat:Jika Allah satu-satunya Pencipta, maka hanya Dia yang berhak disembah.🌸 Kesimpulan Ayat 14–16Ketiga ayat ini memiliki satu pesan besar:Kenali siapa yang benar-benar memiliki kekuasaan, lalu arahkan hati hanya kepada-Nya.Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pengatur, dan Pemilik seluruh alam. Karena itu, doa, ibadah, ketundukan, harapan, dan ketergantungan hati harus diarahkan kepada Allah semata.🌱 Hikmah untuk kehidupanJangan hanya bertanya, “Apa yang bisa menolongku?”Tetapi tanyakan, “Siapa yang benar-benar memiliki kekuasaan atas segala sesuatu?”Ketika kita memahami tauhid, hati belajar untuk tidak menggantungkan keselamatan kepada makhluk, tidak berlebihan berharap kepada manusia, dan kembali menjadikan Allah sebagai tempat bergantung yang utama
Tilawah juz 8 dan Tafsir surah Al An 'am ayat 50 - 54
Rachmatika
📍 Kota Administrasi Jakarta Barat
Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah Ṣallallāhu ʻAlaihi wa Sallam ‘Ᾱisyah Raḍiyallāhu ʻAnhā Ummul-Mu`minīn sehabis perang dengan Bani Muṣṭaliq bulan Syakban 5 H. Peperangan itu diikuti oleh kaum munafik dan turut pula ‘Ᾱisyah Raḍiyallāhu ʻAnhā dengan nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Ᾱisyah Raḍiyallāhu ʻAnhā ke luar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. Tiba-tiba, dia merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Ᾱisyah Raḍiyallāhu ʻAnhā masih ada dalam sekedup. Setelah ‘Ᾱisyah Raḍiyallāhu ʻAnhā mengetahui sekedupnya sudah berangkat, dia duduk di tempatnya dan mengharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan lewat di tempat itu seorang sahabat nabi, Ṣafwān ibnu Muʻaṭṭal, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan dia terkejut seraya mengucapkan,"Innā lillāhi wa innā ilayhi rājiʻūn, istri Rasul!" ‘Ᾱisyah Raḍiyallāhu ʻAnhā terbangun. Lalu, dia dipersilakan oleh Ṣafwān mengendari untanya. Ṣafwān berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing. Mulailah timbul desas-desus. Kemudian, kaum munafik membesar-besarkannya, maka fitnahan atas ‘Ᾱisyah Raḍiyallāhu ʻAnhā itu pun bertambah luas sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita terbohong, yakni tuduhan terhadap Ummul Mukminin Aisyah dengan perbuatan zina, mereka adalah dari golongan yang dinisbatkan kepada kalian (wahai kaum muslimin). Janganlah kalian mengira bahwa perkataan mereka itu buruk bagi kalian, bahkan ia adalah baik bagi kalian. Karena dalam peristiwa itu terdapat penetapan tentang bebasnya Ummul Mukminin dari tuduhan tersebut, kesuciannya, diagungkan penyebutannya, mengangkat derajatnya, dan menghapus keburukannya. Setiap orang dari mereka yang mengabarkan kabar dusta tersebut akan mendapat balasan dari dosa yang mereka kerjakan. Yang paling besar tanggungannya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, mudah-mudahan Allah melaknatnya. Ia merupakan pembesar kaum munafik. Dia akan mendapatkan azab yang sangat pedih nanti di akhirat. Yaitu berada di kerak neraka yang paling dalam selama-lamanya.Catatan tafsir:Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dll, yang bersumber dari Aisyah. Diriwayatkan pula oleh Ath Thabrani yang bersumber dari Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Abul Yasar. Bahwa apabila Rasulullah hendak bepergian, beliau mengundi dulu siapa di antara istrinya yang akan ikut serta dalam perjalanan itu. Demikian pula beliau akan mengundi istri-istrinya siapa yang akan diajak berperang. Pada suatu hari –kejadiannya setelah turun ayat hijab- kebetulan Aisyah terundi untuk dibawa. Aisyah digotong di atas tandu, dan tandu itu ditaruh di atas unta untuk kemudian berangkat. Setelah peperangan selesai, waktu pulang hampir mendekati Madinah, Rasulullah memberi izin untuk berhenti sebentar pada waktu malam. Aisyah turun dan pergi buang air. Ketika kembali ke tempatnya, Aisyah meraba dadanya, ternyata kalungnya hilang, sehingga ia kembali ke tempat tadi untuk mencari kalung itu. Lama ia mencarinya. Orang-orang yang memikul tandunya mengangkat kembali tandu itu ke atas unta yang dinaikinya. Mereka mengira bahwa Aisyah ada di dalamnya, karena wanita-wanita pada waktu itu badannya enteng dan langsing-langsing, sehingga tidak begitu terasa bedannya tandu kosong dengan yang berisi.Kalung itu ditemukannya kembali setelah pasukan Rasulullah berangkat, dan tak seorangpun yang masih ada di situ. Aisyah duduk kembali di tempat berhenti tadi, dengan harapan orang-orang akan menjemputnya atau mencarinya. Ketika duduk di tempat istirahat tadi, Aisyah mengantuk dan tertidur. Kebetulah Shafwan bin Mu'aththal, yang tertinggal oleh pasukan karena suatu halangan, pada pagi itu sampai di tempat pemberhentian Aisyah. Shafwan melihat ada baying-bayang hitam manusia. Ia dapat mengenali Aisyah karena pernah melihatnya sebelum turun ayat hijab. Aisyah terbangun karena mendengan Shafwan mengucapkan "innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun (sesungguhnya kita semua milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali) ketika ia mendapatkannya. Aisyah segera menutup muka dengan kerudungnya. Tidak sepatah katapun yang diucapkan oleh Aisyah. Iapun tidak mendengar ucapan dari Shafwan selain ucapan "innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun" tadi. Ketika itu untanya disuruh berlutut agar Aisyah dapat naik ke atasnya. Kemudian Shafwan menuntun unta tersebut sehingga sampai ke tempat pasukan yang sedang berteduh di siang hari. Hal itulah yang terjadi pada diri Aisyah. Maka celakalah orang yang menuduhnya dengan fitnah yang dilancarkan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.Ketika sampai ke Madinah, Aisyah menderita sakit selam satu bulan. Sementara orang-orang menyebarkan fitnah yang dibuat oleh Abdullah bin Ubay bin Salul, tetapi Aisyah sendiri tidak mengetahuinya. Setelah Aisyah merasa sudah agak sembuh, ia memaksakan diri pergi buang air dibimbing Ummu Misthah. Ummu Misthah tergelincir dan dengan latah mengucapkan: "Celaka anakku si Misthah!" Aisyah bertanya: "Mengapa engkau berkata demikian? Mencaci maki orang yang ikut dalam perang Badr?" Ummu Misthah berkata: "Wahai junjunganku. Tidakkah engkau mendengar apa yang ia katakan?" Aisyah berkata: “Apa yang ia katakan?” Lalu Ummu Misthah menceritakan fitnah yang sudah tersebar luas itu, sehingga bertambahlah penyakit Aisyah.Pada suatu hari Rasulullah datang kepadanya (beliau tidak seperti biasanya memperlakukan Aisyah), dan karenannya Aisyah meminta izin untuk pergi kepada ibu-bapaknya untuk meyakinkan kabar yang tersebar itu. Rasulullah mengizinkannya. Dan ketika sampai di rumah orang tuanya, Aisyah berkata kepada ibunya: "Wahai ibuku, apa yang mereka katakan tentang diriku?” Ibunya menjawab: "Wahai anakku, tabahkanlah dirimu. Demi Allah, sangat sedikit wanita cantik yang dicintai suaminya serta dimadu, melainkan akan banyak yang menghasutnya." Aisyah berkata: "Subhaanallaah (Maha Suci Allah), apakah sampai sejauh itu orang-orang menggunjingkan aku. Dan apakah hal ini juga sudah sampai kepada Rasulullah?" Ibunya mengiyakannya. Aisyahpun menangis pada malam itu, sehingga pada pagi harinya air matanya tak henti-hentinya mengalir.Pada suatu hari Rasulullah memanggil Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk membicarakan perceraian dengan istrinya, karena wahyu tidak kunjung turun. Usamah mengemukakan pendapatnya bahwa sepanjang pengetahuannya, keluarga Rasul itu adalah orang baik-baik. Ia berkata: "Ya Rasulullah, mereka itu adalah keluarga tuan dan kami mengetahui bahwa mereka itu baik." Sedangkan Ali berkata: "Allah tidak akan menyempitkan tuan. Di samping itu masih banyak wanita selainnya. Untuk itu sebaiknya tuan bertanya kepada Barirah (pembantu rumah tangga Aisyah), pasti ia akan menerangkan yang benar."Kemudian Rasulullah memanggil Barirah, dan bertanya: "Hai Barirah, apakah engkau melihat hal-hal yang meragukan dirimu tentang Aisyah?" Ia menjawab: "Demi Allah yang telah mengutus tuan dengan hak, jika aku melihat darinya suatu hal, tentu tak akan aku sembunyikan. Aisyah itu hanyalah seorang yang masih sangat muda, masih suka tertidur di samping tepung yang sedang diadoni, dan membiarkan ternaknya memakan tepung itu karena tertidur."Maka berdirilah Rasulullah di atas mimbar meminta bukti dari Abdullah bin Ubay bin Salul dengan berkata: "Wahai kaum Muslimin, siapakah yang dapat menunjukkan orang yang telah menyakiti keluargaku. Demi Allah aku tidak mengetahui tentang istriku kecuali kebaikan." Pada waktu itu Aisyah sedang menangis seharian tidak henti-hentinya. Demikian pula pada malam harinya, air matanya mengalir dan tidak sekejappun dapat tidur, sampai-sampai ibu bapaknya mengira bahwa tangisnya akan membelah jantungnya.Ketika kedua orang tuanya menunggui Aisyah menangis, datanglah seorang wanita Anshar meminta izin masuk. Aisyah mengizinkannya. Wanita itupun duduk seraya menangis bersamanya. Ketika itu datanglah Rasulullah memberi salam, lalu duduk serta bersyahadat dan berkata: "Ammaa ba'du (apapun sesudah itu), hai Aisyah. Sesungguhnya sudah sampai ke telingaku hal-hal mengenai dirimu. Sekiranya engkau bersih, maka Allah akan membersihkan dirimu, dan jika engkau melakukan dosa, maka mintalah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya seseorang yang mengakui dosanya kemudian bertobat, Allah akan menerima tobatnya." Setelah beliau selesai bicara, berkatalah Aisyah kepada ayahnya: "Coba jawabkan untukku wahai ayahku." Ayahnya berkata: "Apa yang mesti aku katakan?" Lalu Aisyah berkata kepada ibunya: "Coba jawab perkataan Rasulullah untukku, wahai ibuku." Ibunya pun menjawab: "Demi Allah apa yang harus aku katakan?" Akhirnya Aisyah menjawab: "Aku ini seorang wanita yang masih sangat muda. Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui bahwa tuan telah mendengar persoalan ini sehingga mempengaruhi hati tuan, bahkan tuan mempercayainya. Sekiranya aku berkata bahwa aku bersih-dan Allah mengetahuinya bahwa aku bersih- , tuan tidak akan mempercayainya." Hal ini terjadi setelah sebulan lamanya tidak turun wahyu berkenaan dengan peristiwa Aisyah.Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Aisyah berkata: "Sekiranya aku mengakui bahwa aku melakukan suatu perbuatan, padahal Allah mengetahui bahwa aku suci dari perbuatan itu, pasti tuan akan mempercayai aku. Demi Allah, aku tidak mendapatkan sesuatu perumpamaan yang sejalan dengan peristiwa kita ini, kecuali yang diucapkan oleh ayah Nabi Yusuf: fa shabrun jamiiluw wallaahu musta'aanu ‘alaa tshifuun. (..maka kesabaran yang baik itulah [kesabaranku]. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang yang kamu ceritakan)" (Yusuf: 18). Setelah itu iapun pindah dan berbaring di tempat tidurnya.Belum juga Rasulullah meninggalkan tempat duduknya dan tak seorangpun penghuni rumah yang keluar, Allah menurunkan wahyu kepada beliau. Tampak sekali Rasulullah kepayahan, sebagaimana biasa apabila beliau menerima wahyu. Setelah selesai menerima wahyu, kalimat pertama kali yang beliau ucapkan adalah: "Bergembiralah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkanmu." Maka berkatalah ibunya kepada Aisyah: "Bangunlah dan menghadap beliau. Aisyah berkata: "Demi Allah, aku tidak akan bangun menghadap kepadanya, dan tidak akan memuji syukur kecuali kepada Allah yang telah menurunkan ayat yang menyatakan kesucianku." yaitu ayat innal ladziina jaa-uu bil ifki ‘ushbatum mingkum..(sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga..) hingga sepuluh ayat (An Nur: 11-20).Setelah kejadian ini, Abu Bakr yang biasanya memberi nafkah kepada Misthah karena kekerabatan dan kefakirannya, berkata: "Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah lagi kepada Misthah karena ucapannya tentang Aisyah." Maka turunlah ayat selanjutnya (An Nur: 22) sebagai teguran kepada orang-orang yang bersumpah tidak akan memberi nafkah kepada kerabat, fakir, dan lain-lain, karena merasa disakiti hatinya oleh mereka. Berkatalah Abu Bakr: "Demi Allah, sesungguhnya aku mengharapkan ampunan dari Allah." Iapun terus menafkahi Misthah sebagaimana biasa.
Tafsir surat yunus
📍 Kota Surabaya
Tafsir Ibnu Katsir pada QS. At-Taubah ayat 18 ini menarik karena ukuran “memakmurkan masjid” ternyata tidak berhenti pada ramainya bangunan atau aktivitas fisik masjid, tetapi berkaitan erat dengan kualitas iman orang yang datang dan memakmurkannya.Allah menyebut beberapa ciri orang yang layak disebut sebagai orang yang memakmurkan masjid:Beriman kepada Allah dan hari akhirIni menjadi fondasi pertama. Memakmurkan masjid bukan sekadar aktivitas sosial atau kebiasaan, tetapi lahir dari tauhid dan keyakinan terhadap akhirat.Mendirikan salatIbnu Katsir menukil bahwa salat merupakan ibadah badaniah yang paling besar. Jadi, kedekatan seseorang dengan masjid seharusnya terlihat dalam penjagaan salatnya.Menunaikan zakatIni menarik karena setelah ibadah yang manfaatnya terutama kembali kepada diri sendiri, disebutkan zakat yang manfaatnya mengalir kepada orang lain. Seolah-olah orang yang benar-benar memakmurkan masjid bukan hanya rajin beribadah secara personal, tetapi juga memiliki kepedulian sosial.Tidak takut kecuali kepada AllahIbnu Abbas menjelaskan maknanya dengan tidak menyembah kecuali Allah. Jadi keberanian yang dimaksud bukan sekadar keberanian fisik, tetapi kemurnian tauhid: tidak tunduk kepada selain Allah dalam perkara ibadah.Mereka adalah orang yang diharapkan mendapat petunjukKata ‘asa (“mudah-mudahan”) jika berasal dari Allah, menurut penjelasan yang dinukil Ibnu Katsir, mengandung makna kepastian. Jadi ini bukan sekadar harapan yang samar; mereka adalah orang-orang yang berada di jalan kebahagiaan dan petunjuk
Tafsir As-Sa'di(12) ﴾ وَٱلۡحَبُّ ذُو ٱلۡعَصۡفِ ﴿ "Dan biji-bijian yang berkulit," yakni me-miliki tangkai yang ditebah sehingga bermanfaat untuk binatang ternak dan selainnya. Termasuk di dalamnya, biji gandum, beras gandum, jagung, padi, jewawut dan selainnya. ﴾ وَٱلرَّيۡحَانُ ﴿ "Dan bunga-bunga yang harum baunya," ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan Firman Allah سبحانه وتعالى ini adalah segala macam rizki yang dikonsumsi oleh manusia, sehingga kalimat ini merupakan pengindukan yang umum kepada yang khusus, yang artinya Allah سبحانه وتعالى telah mengaruniakan kepada para hambaNya berupa makanan dan segala macam rizki, baik secara umum maupun secara khusus. Dan dimungkinkan juga bahwa yang dimaksud dengan ar-Raihan di sini adalah tumbuh-tumbuhan berbau harum yang telah diketa-hui. Artinya bahwa Allah سبحانه وتعالى telah menganugerahkan kepada para hambaNya apa-apa yang menyenangkan di bumi, berupa segala macam yang berbau wangi yang dapat menyegarkan jiwa dan menyenangkan hati.
Tafsir Ibnu KatsirQS Al-A'raf : 164Allah subhanahu wata'āla menceritakan perihal penduduk kota tersebut. Mereka terpecah belah menjadi tiga kelompok: Satu kelompok melanggar larangan dan memakai tipu muslihat dalam berburu ikan di hari Sabtu, seperti yang telah diterangkan penjelasannya dalam tafsir surat Al-Baqarah, satu kelompok lagi melarang perbuatan itu dan memisahkan diri dari mereka yang melanggar, dan yang terakhir ialah kelompok yang bersikap diam, tidak mengerjakan, tidak pula melarang, tetapi mereka mengatakan kepada kelompok yang memprotes perbuatan tersebut, seperti yang dituturkan oleh firman-Nya:Mengampa kalian menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?Artinya, mengapa kalian melarang mereka, padahal kalian telah mengetahui bahwa mereka akan binasa dan berhak mendapat hukuman dari Allah. Maka tiada faedahnya bagi larangan kalian terhadap mereka. Maka kelompok yang memprotes perbuatan itu menjawab perkataan mereka, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhan kalian.Sebagian ulama membacanya rafa’, seakan-akan makna yang dimaksud ialah "sikap ini merupakan pelepas tanggung jawab kepada Tuhan kalian." Sedangkan ulama lainnya membacanya nasab yang artinya "Kami sengaja melakukan ini untuk pelepas tanggung jawab kepada Tuhan kalian." Dengan kata lain, janji yang telah ditetapkan Allah atas diri kami untuk menjalankan amar ma 'ruf dan nahi munkar....dan supaya mereka bertakwa.Mereka mengatakan, "Mudah-mudahan dengan adanya protes ini mereka menjadi takut terhadap perbuatan mereka dan mau menghentikannya, serta mau kembali bertobat kepada Allah. Apabila mereka bertobat kepada Allah, niscaya Allah menerima tobat mereka dan merahmati mereka."
Tafsir Al-MuyassarMaryam (19:46)Tema: KISAH NABI IBRAHIM DENGAN AYAHNYA (Ayat 41-50)Ayah Ibrahim berkata kepada putranya: Apakah kamu akan berpaling dari beribadah kepada sembahan-sembahan-ku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak mau berhenti dari mencaci makinya, sungguh aku akan membunuhmu dengan cara dirajam dengan batu. Pergilah dariku! Jangan menemuiku lagi dan jangan berbicara denganku lagi dalam masa yang sangat lama.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
Tilawah 1/2 juz 7-8 dan Tafsir surah Al An-Nam ayat 99 yang menjelaskan bukti kekuasaan Allah melalui proses penciptaan tumbuhan.
Allah -Ta’ālā- membuat dua perumpamaan untuk orang-orang munafik itu. Yaitu perumpamaan api dan perumpamaan air. Adapun perumpamaan mereka dengan api ialah mereka itu seperti orang yang menyalakan api untuk menerangi sekelilingnya. Setelah api menyala dan ia mengira bahwa ia akan mendapatkan manfaat dari sinarnya, tiba-tiba api itu padam. Maka seluruh cahaya terangnya pun musnah dan yang tersisa hanyalah sisa-sisa pembakarannya. Sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya berada di dalam kegelapan, tidak bisa melihat apa-apa dan tidak mengetahui jalan yang benar.Mereka itu tuli tidak bisa mendengarkan (baca, menerima) kebenaran, bisu tidak bisa berbicara, dan buta tidak bisa melihat. Sehingga mereka tidak bisa meninggalkan kesesatan mereka.
Allah taala berfirman:مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوۡلِيَآءَ كَمَثَلِ ٱلۡعَنكَبُوتِ ٱتَّخَذَتۡ بَيۡتٗا ۖ وَإِنَّ أَوۡهَنَ ٱلۡبُيُوتِ لَبَيۡتُ ٱلۡعَنكَبُوتِ ۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَPerumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.Tema: COBAAN ADALAH BAROMETER BAGI SEMPURNA ATAU TIDAKNYA IMAN SESEORANG (Ayat 1-44)Subtema: Perlawanan terhadap kebenaran pasti hancur (Ayat 40-44)QS. Al-`Ankabūt: 41Tafsir Al-MuyassarAl-'Ankabut (29:41)Tema: COBAAN ADALAH BAROMETER BAGI SEMPURNA ATAU TIDAKNYA IMAN SESEORANG (Ayat 1-44)Subtema: Perlawanan terhadap kebenaran pasti hancur (Ayat 40-44)Perumpamaan orang-orang yang menjadikan berhala-berhala sebagai penolong selain Allah di mana mereka mengharapkan pertolongannya, adalah seperti laba-laba yang membangun rumah untuk melindungi dirinya, tetapi rumah tersebut malah tidak berguna apapun baginya saat dia membutuhkannya. Demikian halnya dengan orang-orang musyrikin, para penolong yang mereka angkat selain Allah tidak membantu mereka sedikit pun. Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba. Sekiranya mereka mengetahui hal itu, niscaya mereka tidak akan menjadikan berhala-berhala itu sebagai penolong. Sebab mereka tidak menghadirkan manfaat dan tidak pula mudarat.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
Siti Nadiroh
📍 Kabupaten Brebes
بِاَيِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْۚ "karena dosa apa dia dibunuh" Tafsir:Salah satu kebiasaan jahiliyah pada sebagian kabilah Arab (bukan semua orang arab), jika ada anak perempuan yang lahir maka mereka akan dikubur hidup-hidup, sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam Al Qur'an.وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (58) يَتَوَارَىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (59)“Padahal, apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah. Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.” (QS An-Nahl : 58-59)Para ulama mengatakan bahwa ada dua sebab mengapa orang-orang arab jahiliyah dulu membunuh putri-putri mereka.Pertama, adalah karena mereka malu dengan kehinaan. Disebutkan bahwasanya pada zaman jahiliyyah telah terjadi peperangan antara dua kabilah. Kemudian putri sang pemimpin kabilah ditawan oleh kabilah yang lain. Akhirnya kabilah tersebut ingin menebus putrinya yang ditawan, namun ternyata putrinya yang ditawan itu lebih memilih tinggal dengan kabilah yang menawannya karena dia jatuh cinta dengan lelaki dari kabilah tersebut. Hal ini menjadikan orang tuanya malu dan marah karena merasa terhina. Dari peristiwa dia bersumpah apabila dia mempunyai anak perempuan lagi akan dia bunuh. Sehingga perbuatan tersebut menjadi adat kebiasaan, setiap ada anak perempuan yang dilahirkan akan dibunuh. Mereka tidak mau setiap kalah perang mereka ditawan oleh kabilah lain karena ini adalah penghinaan bagi mereka, apakah yang ditawan itu adalah putri mereka atau istri mereka. Perbuatan membunuh tersebut mereka lakukan boleh jadi tatkala anak perempuannya baru lahir atau sudah besar, apabila sudah besar anaknya tersebut dirias kemudian dibawa jalan-jalan lalu dibunuh dengan dimasukkan ke dalam sumur. Ini sebab pertama, yaitu malu karena merasa terhinakan.Kedua, sebagaimana yang disebutkan di dalam Al Qur'an. Allah berfirman :وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ“Dan jangan kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin, Kamilah yang memberi rizki kepada dan kepada kalian.” (QS Al-Isra’ : 31)Sesungguhnya ini adalah kebiasaan yang sangat buruk, bagaimana seorang anak dibunuh tanpa dosa. Kalau membunuh orang lain adalah perbuatan yang sangat tercela maka bagaimana lagi dengan membunuh anak sendiri?. Anak perempuan yang biasanya lebih membutuhkan kelembutan dan kasih sayang daripada anak lelaki?Allah mengatakan bahwasanya yang ditanya kelak adalah bayi-bayi tersebut. Pada asalnya yang seharusnya bertanggung jawab adalah yang membunuh, dia lah seharusnya yang ditanya kenapa dia tega membunuh. Tetapi dalam ayat ini Allah mengatkan bahwasanya yang dibunuh lah yang ditanyai oleh Allah. Ini merupakan ungkapan dalam bahasa arab untuk mengejek atau menghinakan pelakunya sehingga bertanya kepada korban. Ini adalah penghinaan untuk orangtua yang telah membunuh putrinya tersebut.Ironisnya, zaman sekarang dijumpai adanya praktek pembunuhan anak-anak secara modern yaitu melakukan praktek aborsi (pengguguran), dan ini adalah bentuk pembunuhan terhadap anak. Perbuatan ini banyak dilakukan di negara-negara barat bahkan dijadikan muktamar-muktamar untuk menekan agama islam agar menerapkan aturan ini, bahwasanya seorang wanita bebas melakukan pengguguran. Mereka ingin wanita muslimah ikut rusak sebagaimana rusaknya wanita mereka karena bebas berhubungan dengan para wanitanya, jika hamil tinggal digugurkan saja. Perbuatan ini adalah bentuk jahiliyah yang sangat parah yaitu melakukan penggguguran terhadap anak-anak.
QS Al An'am ayat 1Tafsir Al Muyasaar Aplikasi Qur'an Tadabbur By Ustad Firanda Adirja Pujian kepada Allah dengan sifat-sifat-Nya yang seluruhnya adalah sifat-sifat kesempurnaan dan dengan nikmat-nikmat-Nya lahir dan batin, agama dan dunia, yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada padanya, yang menciptakan kegelapan dan cahaya dan hal itu dengan bergantinya malam dengan siang. Hal ini merupakan bukti atas keagungan Allah dan bahwa hanya Dia yang memang berhak di sembah, maka tidak seorang pun boleh mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Namun demikian orang-orang kafir itu tetap menyamakan dan menyekutukan Allah dengan sesuatu.
Diah ayu puspita
📍 Kabupaten Serang
Tanda bahwa Nabi Zakariya akan diberikan anak oleh Allah.. Bahwa istrinya mengandung..
Sudah sepatutnya kita:1️⃣ Waspada akan jatuhnya hukuman Allah kepada yang tidak beriman dan tidak taat pada-Nya2️⃣ Yakin dengan janji Allah dan kemenangan-Nya3️⃣ Mengimani qadha dan qadar