📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat14 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Ayat 14 Agustus

Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-'A`rāf: 55Perintah Berdoa dengan Tadharru' dan Khufyah​Tujuan Ayat: Allah memberi petunjuk kepada hamba-Nya untuk berdoa memohon kebaikan urusan dunia dan akhirat.​Makna Tadharru': Berdoa dengan perasaan rendah diri, penuh harap, serta tenang dalam ketaatan kepada Allah.​Makna Khufyah: Berdoa dengan suara yang pelan/lemah lembut, hati yang khusyuk, serta penuh keyakinan atas Keesaan dan Kekuasaan Allah (bukan dengan suara keras untuk pamer).​Perbandingan Ayat:​QS. Al-A'raf: 205:"Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu..."​QS. Maryam: 3: "...yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut." (Pujian Allah kepada hamba yang saleh).​Dalil Larangan Menjerit/ Mengeraskan Suara:​Hadis Sahihain (HR. Bukhari & Muslim dari Abu Musa Al-Asy'ari): Ketika mendengar orang-orang mengeraskan suara saat berdoa, Rasulullah ﷺ bersabda: "Hai manusia, tenangkanlah diri kalian, karena sesungguhnya kalian bukanlah menyeru (Tuhan) yang tuli dan bukan pula (Tuhan) yang gaib, sesungguhnya Tuhan yang kalian seru itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat.”​Pendapat Ibnu Juraij: Makruh hukumnya mengeraskan suara, berseru, dan menjerit dalam berdoa; yang diperintahkan adalah dengan rasa rendah diri dan khusyuk.​Teladan Generasi Salaf (Keterangan Al-Hasan Al-Basri):​Kaum muslim masa lalu selalu berupaya keras berdoa secara tersembunyi (hanya berupa bisikan antara mereka dan Tuhannya).​Dahulu ada orang yang hafal Al-Qur'an, paham fiqih, atau shalat malam yang panjang di rumahnya tanpa ada tamu/orang lain yang mengetahuinya, berbeda dengan orang-orang belakangan yang beramal secara terang-terangan.Makna Larangan Melampaui Batas dalam Berdoa (Innahū Lā Yuhibbul-Mu'tadīn)​Pendapat Ibnu Abbas (via Ata Al-Khurasani): Melampaui batas berlaku dalam berdoa maupun dalam hal lainnya.​Pendapat Abu Mijlaz: Contoh melampaui batas dalam berdoa adalah seseorang yang meminta agar ditempatkan pada kedudukan para nabi.Riwayat dan Takhrij Hadits Larangan Melampaui Batas dalam Berdoa​Riwayat Sa'd Ibnu Abi Waqqas​Kejadian: Sa’d melihat anaknya berdoa secara mendetail ("Ya Allah, saya memohon surga, kenikmatannya, baju sutranya... dan berlindung dari neraka, rantai, serta belenggunya").​Nasihat Sa'd: Menegur anaknya dan mengajarinya doa yang lebih ringkas dan mencakup: "Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada Engkau surga dan semua ucapan atau perbuatan yang mendekatkan diriku kepadanya. Saya berlindung kepada Engkau dari neraka dan dari semua ucapan atau perbuatan yang mendekatkan diriku kepadanya."​Sabda Nabi ﷺ: "Sesungguhnya kelak akan ada suatu kaum yang melampaui batas dalam berdoa (dan bersuci)."​Takhrij Jalur Riwayat:​Diriwayatkan Imam Ahmad (dari Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Syu'bah, dari Ziad ibnu Mikhraq, dari Abu Nu'amah, dari maula Sa'd, dari Sa'd r.a.).​Diriwayatkan juga oleh Imam Abu Daud melalui jalur Syu'bah.Riwayat Abdullah Ibnu Mugaffal​Kejadian: Beliau mendengar anaknya berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada Engkau gedung putih yang ada di sebelah kanan surga, jika saya masuk surga."​Nasihat Abdullah: Menegur anaknya agar cukup meminta surga dan berlindung dari neraka.​Sabda Nabi ﷺ: "Kelak akan ada suatu kaum yang melampaui batas dalam doa dan bersucinya."​Takhrij Jalur Riwayat:​Diriwayatkan Imam Ahmad (dari Affan, dari Hammad ibnu Salamah, dari Al-Hariri, dari Abu Nu'amah [Qais ibnu Ubayah Al-Hanafi Al-Basri]).​Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Affan).​Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud (dari Musa ibnu Ismail, dari Hammad ibnu Salamah, dari Sa'id ibnu Iyas Al-Hariri, dari Abu Nu'amah). Sanad ini dinilai baik dan dapat dipakai.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat14 Agustus 2026
A

AYU AAN KHARY M

📍 Kota Makassar

Yasin 27

Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui; apa yang menyebab-kan Rabbku memberikan ampun kepadaku." Maksudnya, disebabkan apa Dia mengampuniku hingga Dia menjauhkan segala bentuk siksaan dariku, ﴾ وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ ﴿ "dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan" dengan berbagai macam pahala dan segala hal yang menyenangkan. Artinya, kalau sekiranya pengetahuan tentang hal ini sampai ke dalam hati mereka, tentu mereka tidak tetap berada dalam kesyirikan.

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat14 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

QS. Al Qalam : 48

Tafsir At-TaysirAl-Qalam (68:48)Keadaan sulit ini dialami oleh Nabi di awal-awal dakwahnya. Allah menyuruh Nabi, apa pun gangguan yang menimpanya agar Nabi ﷺ tetap bersabar dan tidak berdoa dalam keadaan marah kepada kaumnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Yunus. (94)Dikisahkan bahwa tatkala Nabi Yunus berdakwah kepada kaumnya, kaumnya menolak dengan penolakan yang sangat kuat. Karena penolakan tersebut maka Nabi Yunus ‘alaihissalam salam marah dan pergi meninggalkan kaumnya. Padahal, Allah ﷻ belum mengizinkannya untuk pergi. Artinya Nabi Yunus ‘alaihissalam tidak sabar dengan perlakuan kaumnya. Kita tidak tahu bagaimana gangguan kaum Nabi Yunus ‘alaihissalam kepada dirinya, akan tetapi kita tahu bahwa para Nabi adalah orang yang paling sabar. Akan tetapi mungkin karena saking beratnya gangguan yang dihadapi oleh Nabi Yunus ‘alaihissalam, akhirnya dia pergi meninggalkan kaumnya dalam kondisi marah sebelum diizinkan oleh Allah ﷻ. Akhirnya dia pun pergi dan naik sebuah kapal. Singkat cerita, terjadi ombak yang besar, dan para penumpang tersebut harus mengundi siapa di antara mereka yang harus dilempar keluar dari kapal untuk mengurangi beban dan agar kapal tetap bisa berlayar dengan aman. Keluarlah nama Nabi Yunus ‘alaihissalam, dan akhirnya beliau dilemparkan ke laut lalu ditelan oleh ikan paus sebagai teguran dari Allah ﷻ (95). Di tengah kegelapan tersebut, Nabi Yunus berdoa kepada Allah ﷻ sebagaimana diabadikan di dalam Alquran,وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim’.” (QS. Al-Anbiya’ : 87)Dan karena Nabi Yunus ‘alaihissalam telah berdoa demikian, maka Allah ﷻ berfirman,فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ، لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ“Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berdzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.” (QS. Ash-Shaffat: 143-144)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat14 Agustus 2026
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Surah Al Baqarah 8-10

Tafsir Al-MukhtasharSurah Al-Baqarah (2): 8–10Tema: Sifat-Sifat Orang Munafik yang Rusak Batinya tetapi Lahirnya Tampak Baik(1)Subtema: Dusta dalam Keimanan dan Penyakit HatiAyat 8 — Mengaku Beriman, Padahal Tidak Ada sebagian manusia yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir. Pengakuan tersebut hanya diucapkan dengan lisan.* Sebenarnya, di dalam batin mereka tersimpan kekafiran.* Mereka menampakkan sesuatu yang berbeda dari apa yang ada di dalam hati.Ayat 9 — Menipu, Padahal Menipu Diri Sendiri Mereka berusaha menipu Allah dan orang-orang beriman. Caranya dengan menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran.* Mereka mengira tipu daya tersebut akan menyelamatkan mereka.* Padahal sebenarnya, mereka hanya menipu diri sendiri.* Mereka tidak menyadari bahwa Allah mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati mereka.Ayat 10 — Penyakit Hati yang Semakin Parah Di dalam hati mereka terdapat penyakit, yaitu keraguan dan kemunafikan. Karena mereka terus berdusta dan mendustakan kebenaran, Allah menambah penyakit tersebut.* Penyakit hati yang dibiarkan dan terus dipelihara akan semakin parah.* Akibat kedustaan mereka, Allah menyiapkan bagi mereka azab yang sangat pedih.🌿 Intisari Kemunafikan adalah ketidaksesuaian antara apa yang tampak dan apa yang tersembunyi di dalam hati. Dusta dalam keimanan dan penyakit hati yang dibiarkan dapat semakin parah.* Allah mengetahui seluruh keadaan hati manusia, termasuk yang tersembunyi dari manusia lain.🤍 Muhasabah SingkatApakah yang tampak dari diriku di hadapan manusia sudah sesuai dengan keadaan hatiku di hadapan Allah?

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat14 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Al-Furqon: 31

Tafsir Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:31)Tema: AL-QUR'AN ADALAH PERINGATAN UNTUK SELURUH MANUSIA (Ayat 1-34)Subtema: Keadaan manusia yang tidak membenarkan Al-Qur'an pada hari kiamat (Ayat 21-34)Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan seperti itulah telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. (Al Furqaan:31)Seperti yang terjadi pada dirimu, hai Muhammad, dari kaummu, yaitu orang-orang yang tidak mengacuhkan Al-Qur'an. Hal yang sama telah terjadi pula di kalangan umat-umat terdahulu. Karena Allah menjadikan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari kalangan orang-orang yang berdosa yang menyeru manusia kepada kesesatan dan kekafiran mereka. Makna ayat ini sama dengan apa yang disebut dalam ayat lain melalui firman-Nya:Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. (Al An'am:112)Karena itulah dalam ayat berikut ini disebutkan oleh firman-Nya:Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al Furqaan:31)bagi orang yang mengikuti Rasul-Nya, beriman kepada Kitab-Nya, membenarkannya dan mengikuti petunjuknya. Sesungguhnya Allah akan memberinya petunjuk dan menolongnya di dunia dan di akhirat. Disebutkan oleh firman-Nya:menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong. (Al Furqaan:31)tiada lain karena orang-orang musyrik selalu menghalang-halangi manusia dari mengikuti ajaran Al-Qur'an, dengan tujuan agar tiada seorang pun yang memakai petunjuknya, dan agar jalan mereka (orang-orang musyrik) dapat mengalahkan petunjuk Al-Qur'an. Untuk itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. (Al Furqaan:31), hingga akhir ayat.

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat14 Agustus 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Tafsir Tafsir At-Taysir Ar-Rahman (55:60)

Tafsir Tafsir At-TaysirAr-Rahman (55:60)Ini merupakan balasan untuk orang-orang yang ihsan. Sebagaimana sabda Rasulullah ketika Jibril bertanya kepada beliau,مَا الإِحْسَانُ؟ قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ“Apa itu ihsan?” Rasulullah bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.”(126)Hadits tersebut menjelaskan tentang sifat orang-orang yang berhak mendapatkan surga, sebagaimana firman Allah,وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ“Dan bagi orang yang takut akan kedudukan Rabb nya akan mendapatkan dua surga.” (QS. Ar-Rahman: 46)Diantara sifat orang yang takut kepada Allah adalah dia selalu merasa diawasi, khusyu’ dalam beribadah kepadaNya, karena dia tahu bahwa Allah sedang menilai apa saja yang dia lakukan. Jika dia mendirikan shalat malam atau membaca Al-Qur’an, maka dia melaksanakannya dengan khusyu’; karena dia tahu bahwa Allah sedang menilai shalat malam atau melihatnya membaca Al-Qur’an. Jika seorang mukmin mampu mencapai pada tingkatan perbuatan tersebut, maka dia telah mencapai derajat ihsan. (127)فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kalian dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 61)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat14 Agustus 2026
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)

Tafsir Ibnu KatsirAn-Nur (24:26)Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah dalam pandangan Allah adalah orang-orang yang dusta (Ayat 14-26)Catatan kaki:210803. Ayat ini menunjukkan kesucian ‘Ᾱisyah Raḍiyallāhu ʻAnhā dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau.Ibnu Abbas mengatakan bahwa perkataan yang keji hanyalah pantas dilemparkan kepada lelaki yang berwatak keji, dan laki-laki yang keji hanyalah pantas menjadi bahan pembicaraan perkataan yang keji. Perkataan yang baik-baik hanyalah pantas ditujukan kepada lelaki yang baik-baik, dan lelaki yang baik-baik hanyalah pantas menjadi bahan pembicaraan perkataan yang baik-baik. Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Siti Aisyah dan para penyebar berita bohong. Hal yang sama telah diriwayatkan dari Mujahid, Ata, Sa'id ibnu Jubair, Asy-Syabi, Al-Hasan Al-Basri, Habib ibnu Abu Sabit, dan Ad-Dahhak. Ibnu Jarir memilih pendapat ini dan memberikan komentarnya, bahwa perkataan yang keji pantas bila ditujukan kepada orang yang berwatak keji, dan perkataan yang baik pantas bila ditujukan kepada orang yang baik. Dan apa yang dikatakan oleh para penyebar berita dusta terhadap diri Siti Aisyah, sebenarnya merekalah yang lebih utama menyandang predikat itu. Siti Aisyah lebih utama beroleh predikat bersih dan suci daripada diri mereka. Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh para penuduhnya. (An Nuur:26)Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan —sehubungan dengan makna ayat ini— bahwa orang-orang yang keji dari kalangan kaum wanita adalah untuk orang-orang yang keji dari kalangan kaum pria. Dan orang-orang yang keji dari kalangan kaum pria adalah untuk orang-orang yang keji dari kalangan kaum wanita. Orang-orang yang baik dari kalangan kaum wanita adalah untuk orang-orang yang baik dari kalangan kaum pria. Dan orang-orang yang baik dari kalangan kaum pria adalah untuk orang-orang yang baik dari kalangan kaum wanita.Takwil inipun senada dengan apa yang telah dikatakan oleh para ulama di atas sebagai suatu kepastian. Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa tidaklah Allah menjadikan Aisyah r.a. sebagai istri Nabi ﷺ. melainkan karena dia adalah wanita yang baik, sebab Rasulullah ﷺ. adalah manusia yang terbaik di antara yang baik. Seandainya Aisyah adalah seorang wanita yang keji tentulah tidak pantas, baik menurut penilaian syari'at maupun penilaian martabat, bila ia menjadi istri Rasulullah ﷺ. Karena itu Allah subhanahu wata'āla berfirman dalam penghujung ayat ini:mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka yang melancarkan tuduhan (An Nuur:26)Maksudnya, mereka jauh sekali dari apa yang dituduhkan oleh para penyiar berita bohong dan musuh-musuhnya.Bagi mereka ampunan. (An Nuur:26)Disebabkan kedustaan yang dilemparkan terhadap diri mereka (yang hal itu mencuci dosa mereka).dan rezeki yang mulia. (An-Nur, 26)Yakni di sisi Allah yaitu surga yang penuh dengan kenikmatan. Di dalam makna ayat ini terkandung suatu janji yang menyatakan bahwa istri Rasulullah ﷺ. pasti masuk surga.Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Muslim, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im, telah menceritakan kepada kami Abdus Salam ibnu Harb, dari Yazid ibnu Abdur Rahman, dari Al-Hakam berikut sanadnya sampai kepada Yahya ibnul Jazzar yang mengatakan bahwa Asir ibnu Jabir datang kepada Abdullah, lalu berkata, "Sesungguhnya saya telah mendengar Al-Walid ibnu Uqbah pada hari ini mengatakan suatu pembicaraan yang mengagum­kan saya." Maka Abdullah menjawab, "Sesungguhnya seorang lelaki mukmin di dalam kalbunya terbetik kalimat yang baik hingga meresap ke dalam hatinya sampai dalam, hingga manakala dia mengucapkannya dan memperdengarkannya kepada orang lain yang ada di hadapannya, maka lelaki itu akan mendengarkannya dan meresapkannya di dalam hatinya. Sesungguhnya seseorang yang durhaka yang di dalam hatinya terbetik perkataan yang kotor hingga meresap ke dalam relung hatinya, hingga manakala dia mengutarakannya dan memperdengarkannya kepada orang lain yang ada di hadapannya, maka orang itu akan mendengarkannya dan meresapinya di dalam hatinya." Kemudian Abdullah membaca firman-Nya: Perkataan-perkataan yang keji hanyalah untuk orang-orang yang keji, dan orang-orang yang keji hanyalah untuk perkataan-perkataan yang keji, dan perkataan-perkataan yang baik-baik hanyalah untuk orang-orang yang baik-baik, dan orang-orang yang baik-baik hanyalah untuk perkataan-perkataan yang baik-baik (pula). (An Nuur:26)(Terjemahan ini berdasarkan tafsir yang dimaksudkan oleh sahabat Ibnu Ma'sud r.a., pent.)Pengertian ini mirip dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya secara marfu', yaitu:Perumpamaan orang yang mendengar kalimat yang bijak, kemudian ia tidak menceritakannya melainkan kebalikan dari apa yang ia dengar, sama dengan seorang lelaki yang datang kepada pemilik ternak kambing, lalu ia berkata, "Sembelihkanlah seekor kambing untukku.” Lalu dijawab, "Pilihlah sendiri dan peganglah telinga kambing mana yang kamu sukai.” Kemudian ia memilih dan memegang telinga anjing (penjaga) ternak kambingnya.Di dalam hadis lain disebutkan:Hikmah adalah sesuatu yang dicari oleh orang mukmin, di mana pun ia menjumpainya, maka dia boleh mengambilnya.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat14 Agustus 2026
M
marni

📍 Kabupaten Bogor

BUKTI KEBESARAN ALLAH DALAM ALAM SEMESTA

Tafsir Al-MuyassarAn-Nahl (16:13)Tema: BUKTI KEBESARAN ALLAH DALAM ALAM SEMESTA (Ayat 1-128)Subtema: Alam merupakan suatu kesatuan yang membuktikan kekuasaan Allah (Ayat 3-21)Dia menundukkan apa yang diciptakan-Nya untuk kalian di bumi ini berupa binatang, buah-buahan, barang tambang, dan selainnya yang bermacam-macam warna dan manfaatnya. Sesungguhnya pada penciptaan, dan aneka macam warna dan kemanfaatan tersebut, benar-benar terdapat pelajaran bagi kaum yang mau mengambil pelajaran, dan mengetahui bahwa pada penundukkan semua ini terdapat tanda-tanda atas keesaan Allah dan keberkahan-Nya untuk disembah satu-satunya.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat14 Agustus 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Al-Mukhtasar Surat Al-A'raf

Tidakkah mereka mau memperhatikan kekuasaan Allah di langit dan di bumi dan melihat apa yang Allah ciptakan didalamnya, seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, dll, dan memikirkan ajal mereka yang boleh jadi waktunya sudah dekat, kemudian mereka bertobat sebelum terlambat? Jika mereka tidak mau beriman kepada Al-Quran dan isinya, baik berupa janji maupun ancaman, maka kitab apa lagi selain Al-Quran yang akan mereka yakini?

💬 0 komentar📅 14 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat14 Agustus 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

QS Al Araf: 204

Kejadian promo miras yang dikaitkan dengan hafalan Surat Ad-Dhuha kemarin memang bikin banyak orang geleng-geleng. Tapi di sisi lain, ini jadi pengingat buat kita juga soal adab terhadap Al-Qur’an. Kadang kita memang nggak sampai menjadikannya bahan bercandaan, tapi ketika Al-Qur’an dibacakan, kita malah tetap ngobrol, scroll HP, atau pikiran ke mana-mana. Padahal Allah mengajarkan kita untuk diam dan benar-benar mendengarkan. Jadi mungkin bukan cuma soal bagaimana orang lain memperlakukan Al-Qur’an, tapi juga bagaimana kita sendiri memperlakukannya ketika ayat-ayat Allah sedang dibacakan.

💬 0 komentar📅 13 Agu 2026Baca selengkapnya →