📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat6 Agustus 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Tafsir Az-Zumar ayat 2

Tafsir Az-Zumar ayat 2Allah taala berfirman:إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَSesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur`ān) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.Tafsir : Tafsir Al-MuyassarSesungguhnya Kami menurunkan kepadamu wahai Rasul Al Qur’an yang mengajak kepada kebenaran dan keadilan. Maka sembahlah Allah semata dan ikhlaskanlah segala ketaatan kepada-Nya.Tema: BERIBADAH KEPADA ALLAH DENGAN HATI PENUH KEIKHLASAN (Ayat 1-9)QS. Az-Zumar: 2Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 6 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat6 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Qs. Al Qalam: 33

Tafsir Tafsir At-TaysirAl-Qalam (68:33)Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā menerangkan bahwa Dia mencobai penduduk Mekah dengan menganugrahi mereka nikmat­nikmat yang banyak untuk mengetahui apakah mereka bersyukur atau tidak, sebagaimana Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā telah mencobai pemilik-pemilik kebun, seperti yang diterangkan pada ayat 17-33. Akhirnya pemilik kebun itu insaf dan bertobat kepada Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Demikian pula penduduk Mekah yang kemudian menjadi insaf dan masuk Islam berbondong-bondong setelah penaklukan Mekah.Ayat ini merupakan peringatan bagi orang-orang kafir Quraisy, bahwasanya azab di akhirat itu lebih besar daripada azab di dunia. (68)Apa kaitan kisah Ashabul Jannah dan orang-orang kafir Quraisy? pada firman Allah ﷻ,إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ“Sungguh, Kami telah menguji mereka (orang musyrik Mekkah) sebagaimana Kami telah menguji pemilik-pemilik kebun (Ashabul Jannah).” (QS. Al-Qalam : 17)Para ulama menjelaskan bahwa sisi kemiripan Ashabul Jannah dengan orang-orang kafir Quraisy adalah Ashabul Jannah diberi kenikmatan oleh Allah ﷻ namun tidak mensyukurinya, adapun orang-orang kafir Quraisy juga diberi kenikmatan dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ namun mereka juga tidak mensyukurinya. Di antara kenikmatan yang diberikan kepada orang-orang kafir Quraisy adalah mereka diberi kenikmatan keamanan di kota Mekkah; mereka dimudahkan dalam perdagangan; mereka diberi kenikmatan sebagai pengurus Ka’bah; dan kenikmatan terakhir adalah Allah ﷻ sempurnakan dengan diutusnya seorang Nabi dari kalangan mereka. Akan tetapi dengan semua ini mereka tidak bersyukur. Maka sebagaimana Ashabul Jannah yang tidak bersyukur dikirimkan teguran oleh Allah ﷻ, demikian pula orang-orang Quraisy dikirimkan teguran karena tidak bersyukur. (69)Oleh karenanya hal ini merupakan dalil bahwasanya ujian bukan hanya kekurangan dan kesulitan. Akan tetapi Allah ﷻ juga menamakan kenikmatan yang diperoleh Ashabul Jannah dan orang-orang kafir Quraisy sebagai ujian. Oleh karena itu kesehatan, kenikmatan, keamanan, dan yang lainnya juga termasuk ujian(70).Akan tetapi antara Ashabul Jannah dan orang-orang kafir Quraisy terdapat perbedaan. Bedanya adalah orang-orang kafir Quraisy tetap berada dalam kekufuran mereka meskipun telah datang teguran Allah ﷻ terhadap mereka. Adapun Ashabul Jannah sadar tatkala ditegur oleh Allah ﷻ, maka mereka langsung bertaubat kepada Allah ﷻ(71). Bahkan sebagian Ahli Tafsir seperti As-Sa’di dan yang lainnya mengatakan bahwa zahirnya Allah ﷻ memberi ganti kepada Ashabul Jannah(72). Bahkan ada yang mengatakan bahwa hari itu juga Allah ﷻ tumbuhkan kebun yang lebih baik daripada kebun yang Allah ﷻ hancurkan karena mereka kembali kepada Allah ﷻ(73). Hal ini merupakan dalil bahwasanya ketika seseorang berbuat dosa dan sadar, kemudian dia kembali kepada Allah ﷻ, maka bisa jadi Allah ﷻ memberikan ganti dengan yang lebih baik sebagaimana yang dialami oleh Ashabul Jannah.

💬 0 komentar📅 6 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat6 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Tafsir Ibnu katsir

Tafsir Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:23)Tema: AL-QUR'AN ADALAH PERINGATAN UNTUK SELURUH MANUSIA (Ayat 1-34)Subtema: Keadaan manusia yang tidak membenarkan Al-Qur'an pada hari kiamat (Ayat 21-34)Catatan kaki:210831. Maksud amal mereka di sini ialah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia. Amal-amal itu tidak dibalasi oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā karena mereka tidak beriman.Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan (Al Furqaan:23).Ini terjadi pada hari kiamat di saat Allah menghisab amal perbuatan yang telah dilakukan oleh semua hamba, amal yang baik dan amal yang buruk. Maka Allah memberitahukan bahwa orang-orang musyrik itu tidak akan memperoleh sesuatu imbalan pun dari amal-amal perbuatan yang telah mereka lakukan, padahal mereka menduga bahwa amal perbuatannya itu dapat menyelamatkan diri mereka. Demikian itu karena amal perbuatannya tidak memenuhi syarat yang diakui oleh syariat, yaitu ikhlas dalam beramal karena Allah atau mengikuti syariat Allah. Setiap amal perbuatan yang dilakukan tidak secara ikhlas dan tidak sesuai dengan tuntunan syariat yang diridai adalah batil. Amal perbuatan orang-orang kafir itu tidak memenuhi salah satu dari kedua syarat tersebut, dan adakalanya kedua syarat tersebut tidak terpenuhi sehingga lebih jauh dari diterima. Untuk itu.Allah subhanahu wata'āla berfirman: Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kamijadi­kan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23)Mujahid dan As'-Sauri mengatakan bahwa makna qadimna ialah Kami hadapi. Hal yang sama dikatakan oleh As-Saddi, sedangkan sebagian lain ada yang mengatakannya 'Kami datangi'.Firman Allah subhanahu wata'āla:lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23)Sufyan As-Sauri mengatakan dari Abu Ishaq, dari Al-Haris, dari Ali r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23) Yaitu sinar matahari apabila memasuki sebuah lubang dinding.Hal yang sama diriwayatkan dari perawi lainnya yang bukan hanya seorang, dari Ali r.a. Hal yang semisal diriwayatkan-pula dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Sa'id Ibnu Jubair, As-Saddi, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya.Hal yang sama dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, yaitu sinar matahari yang memasuki lubang dinding rumah seseorang di antara kalian, seandainya dia meraupkan tangannya pada sinar itu, ia tidak dapat menangkapnya.Ali ibnu AbuTalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23) Yang dimaksud ialah air yang ditumpahkan.Abul Ahwas meriwayatkan dari Abu Ishaq. dari Al-Haris, dari Ali, “haba 'amansuran" bahwa makna al-haba ialah laratnya hewan. Hal yang semisal diriwayatkan pula oleh Ibnu Abbas dan Ad-Dahhak, juga dikatakan oleh Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23) Tidakkah engkau melihat pohon yang kering bila tertiup angin? Makna yang dimaksud adalah seperti dedaunannya yang berguguran itu.Abdullah Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Asim ibnu Hakim, dari Abu Sari' At-Ta-i,dari Ubaid ibnu Ya'la yang mengatakan bahwa sesungguhnya al-haba itu adalah debu yang diterbangkan oleh angin.Kesimpulan dari semua pendapat di atas mengisyaratkan kepada makna yang dikandung oleh ayat. Demikian itu karena mereka telah melakukan banyak amal perbuatan yang menurut dugaan mereka benar. Tetapi ketika ditampilkan di hadapan Raja, Hakim Yang Mahaadil, yang tidak pernah kelewat batas dan tidak pernah menganiaya seseorang (Dialah Allah), ternyata kosong belaka, tiada artinya sama sekali. Kemudian hal itu diumpamakan dengan sesuatu yang tiada artinya lagi berserakan, yang oleh pemiliknya tidak ada artinya sama sekali. Hal yang sama telah diungkapkan oleh Allah subhanahu wata'āla melalui firman-Nya:Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras. (Ibrahim:18), hingga akhir ayat.Dan firman Allah subhanahu wata'āla:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan. (Al Baqarah: 264)Juga firman Allah subhanahu wata'āla:Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang- orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. (An Nuur:39)untuk prompt AI jika mau boleh menggunakan prompt ini:"Tolong buatkan teks di atas dalam bentuk foto dalam format story Instagram. Dengan menggunakan simbol siluet tanpa wajah yang sesuai. Menggunakan stabilo warna kuning dan garis warna merah untuk membuat penekanan pada kata atau kalimat yang menjadi poin. Menggunakan latar belakang warna kertas yang sesuai. Tertata rapi dan mudah dipahami. Dimuat dalam 1 halaman"

💬 0 komentar📅 6 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat6 Agustus 2026
S

Siti Nadiroh

📍 Kabupaten Brebes

Qs At takwir ayat 4

​وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ ﴿٤﴾​Terjemahan"Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak diperdulikan)"​Adalah jamak (kata plural) dari نَاقَةٌ عُشَرَاءُ yaitu unta betina yang hamil besar dimana usia kehamilannya sudah 10 bulan ke atas dan sebentar lagi akan melahirkan. Jadi ketika usia kandungan unta telah mencapai 10 bulan unta tersebut dinamakan عُشَرَاءُ , dan demikian terus namanya hingga melahirkan. Karena biasanya usia kandungan unta adalah 12 bulan dan terkadang bisa sampai 13 bulan. Unta yang sudah kandungannya sudah berusia 10 bulan lebih adalah harta yang berharga bagi orang-orang arab di zaman dahulu, karenanya Allah menggunakannya sebagai permisalan. Kalau unta ingin melahirkan, biasanya sang pemilik unta sudah mengetahuinya, maka sang pemilik unta akan mengawasi kapan untanya akan melahirkan. Bahkan terkadang perkara-perkara yang lain tidak dia perdulikan demi memperhatikan proses melahirkan unta tersebut.​Pada hari kiamat kelak, jika ada orang yang mengurus unta maka dia akan meninggalkan untanya (Lihat Tafsri Al-Qurthubi 19/229). Ini adalah gambaran bahwa pada hari kiamat kelak apabila ada harta yang paling dia cintai maka dia akan ketakutan dan tidak akan memperdulikan harta tersebut. Harta apapun yang sangat dia cintai akan dia tinggalkan pada hari kiamat karena dahsyatnya hari tersebut.

💬 0 komentar📅 6 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat6 Agustus 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al Mukhtasar surah Al anfal ayat 27-28

Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya! Janganlah kalian berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan mengabaikan perintah-perintah-Nya dan melanggar larangan-larangan-Nya dan janganlah kalian mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada kalian, seperti hutang dan lain-lain, sedangkan kalian tahu bahwa apa yang kalian lakukan adalah pengkhianatan, sehingga kalian termasuk ke dalam golongan para pengkhianat. Ketika kecintaan kepada harta dan anak mendorong seseorang untuk berlaku khianat maka Allah mengabarkan bahwa keduanya merupakan fitnah. Dia berfirman,Ketahuilah-wahai orang-orang mukmin- bahwa harta dan anak-anak kalian sejatinya merupakan cobaan dan ujian dari Allah untuk kalian karena harta dan anak-anak kalian dapat menghalangi-halangi kalian beramal untuk akhirat dan mendorong kalian untuk berkhianat. Ketahuilah bahwa di sisi Allah terdapat pahala yang sangat besar, maka janganlah kalian kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pahala itu karena terlalu sibuk mengurus harta dan anak-anak kalian, serta berlaku khianat demi kepentingan mereka.

💬 0 komentar📅 6 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat6 Agustus 2026
U

Ummu Salamah Pasaribu

📍 Kota Padangsidimpuan

Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk taat

Sesungguhnya kamu wahai Rasul tidak akan mampu memberi hidayah taufik kepada siapa yang kamu inginkan hidayahnya, karena hal itu ada di tangan Allah. Dia memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki kepada iman dan memberi taufik kepadanya, dan Dia lebih mengetahui siapa yan patut mendapatkan hidayah sehingga Dia pun memberinya hidayah.

💬 0 komentar📅 6 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat6 Agustus 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Ringkasan Tafsir QS. Yusuf: 68

Tema BesarKisah Nabi Yusuf – Pertemuan Yusuf dengan saudara-saudaranya (ayat 58–93)Isi AyatNabi Ya’qub berkata:“Keputusan menetapkan sesuatu hanyalah hak Allah. Kepada-Nya aku bertawakal, dan hendaklah hanya kepada-Nya orang-orang yang bertawakal berserah diri.”Ketika anak-anaknya memasuki Mesir melalui pintu-pintu yang berbeda sebagaimana perintah beliau, cara itu tidak dapat menghindarkan mereka dari takdir Allah. Tindakan tersebut hanyalah bentuk ikhtiar dan kehati-hatian seorang ayah.Penjelasan Tafsir Ibnu Katsir1. Semua keputusan berada di tangan AllahNabi Ya’qub menegaskan bahwa:Penentuan segala sesuatu adalah hak Allah semata.Tidak ada makhluk yang mampu menolak ketetapan-Nya.Hasil akhir setiap usaha tetap berada dalam kekuasaan Allah.Karena itu beliau berkata bahwa dirinya bertawakal hanya kepada Allah dan mengajak semua orang untuk berserah diri kepada-Nya.2. Masuk dari pintu yang berbeda adalah bentuk ikhtiarPara mufassir menjelaskan bahwa Ya’qub memerintahkan anak-anaknya masuk dari pintu gerbang yang berbeda untuk menghindari:‘Ain (pandangan hasad atau kesialan menurut pemahaman syariat),perhatian berlebihan karena mereka tampan dan berwibawa,serta kemungkinan kecurigaan politik di negeri asing.Namun Ya’qub memahami bahwa langkah tersebut tidak menjamin keselamatan. Ikhtiar dilakukan, tetapi perlindungan hakiki tetap dari Allah.3. Ya’qub memiliki ilmu yang diamalkanAllah berfirman bahwa Ya’qub memiliki pengetahuan karena Allah telah mengajarkannya. Para ulama menjelaskan bahwa keistimewaan beliau bukan hanya mengetahui kebenaran, tetapi mengamalkan ilmunya.Bentuk pengamalan ilmu beliau antara lain:mengingatkan anak-anaknya atas kesalahan masa lalu terhadap Yusuf,meminta sumpah dengan nama Allah untuk menjaga Bunyamin,memberi nasihat kehati-hatian dalam perjalanan,dan tetap menggantungkan hati kepada Allah.Keseimbangan antara Ikhtiar dan TawakalAyat ini mengajarkan keseimbangan yang sangat penting.Sikap yang benarBerusaha semaksimal mungkin.Mengambil sebab yang dibenarkan syariat dan akal.Berdoa dan memohon pertolongan Allah.Menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.Dua kesalahan yang sering terjadi1. Hanya mengandalkan usahaSeseorang merasa keberhasilan murni hasil kecerdikan dan usahanya sehingga melupakan Allah.2. Hanya pasrah tanpa usahaSeseorang mengaku tawakal tetapi tidak melakukan ikhtiar yang semestinya.Nabi Ya’qub tidak melakukan keduanya. Beliau berusaha dengan bijak dan bertawakal dengan penuh keyakinan.Hikmah dan PelajaranTentang tauhid dan tawakalHati hanya bergantung kepada Allah.Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha.Tentang ikhtiarKehati-hatian adalah bagian dari syariat.Mengambil langkah pencegahan tidak bertentangan dengan tawakal.Tentang ilmuIlmu yang benar melahirkan tindakan yang benar.Orang berilmu mampu menempatkan usaha dan tawakal secara seimbang.Tentang orang tuaKasih sayang orang tua mendorong mereka menjaga anak-anaknya.Nasihat, pengawasan, dan doa adalah bentuk tanggung jawab orang tua.Inti Pesan Ayat 68“Lakukan ikhtiar terbaik dengan ilmu dan kehati-hatian, tetapi jangan pernah menggantungkan hati kepada usaha tersebut. Hasil akhirnya tetap berada di tangan Allah. Inilah hakikat tawakal yang diajarkan Nabi Ya’qub.”

💬 0 komentar📅 6 Agu 2026Baca selengkapnya →