📖 Jejak Ayat

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
P
Putri Nadhira Saraswati

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Tafsir Al Baqarah 164

Tafsir Tafsir Al-MuyassarAl-Baqarah (2:164)Tema: KEESAAN TUHANLAH YANG AKHIRNYA MENANG (Ayat 142-214)Subtema: Allah Yang Berkuasa dan Yang menentukan (Ayat 163-171)Sesungguhnya pada penciptaan langit dengan ketinggian dan keluasannya, bumi dengan gunung-gunung, lembah-lembah dan lautan-lautannya, perbedaan malam dan siang, panjang dan pendeknya, gelap dan terangnya, dan pergantiannya di mana yang satu hadir menggantikan yang lain, perahu-perahu yang berjalan diatas air yang membawa manfaat bagi manusia, air hujan yang Allah turunkan dari langit, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi sehingga ia menjadi hijau dan indah setelah sebelumnya kering dan gersang tanpa tanaman, hewan-hewan yang melata di muka bumi yang Allah sebarkan, bertiupnya angin yang Dia karuniakan kepada kalian, awan yang tunduk di antara langit dan bumi, sesungguhnya pada semua bukti-bukti diatas terdapat tanda-tanda bagi keesaan Allah dan keagungan nikmat-Nya bagi kaum yang memahami titik-titik dalil, mengerti bukti-bukti-Nya atas keesaan-Nya dan bahwa hanya Dia yang berhak disembah.Catatan tafsir:Diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur di dalam Sunannya, Al Faryabi di dalam Tafsirnya, dan Al Baihaqi di dalam kitab Syu'abul iimaan, yang bersumber dari Abudh Dhuha. As Suyuthi berpendapat bahwa hadits ini mu'dhal, tetapi mempunyai syaahid (penguat). Bahwa ketika turun ayat 163 surah Al Baqarah, kaum musyrikin kaget dan bertanya-tanya: "Apakah benar Tuhan itu tunggal? Jika benar demikian, berikanlah kepada kami bukti-buktinya." Maka turunlah ayat berikutnya (Al Baqarah: 164) yang menegaskan adanya bukti-bukti Kemahaesaan Tuhan.Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abusy Syaikh di dalam kitab Al Azhamah, yang bersumber dari Atha'. Bahwa setelah turun ayat ini kepada Nabi sallallahu alaihi wa sallam di Madinah, orang-orang kafir Quraisy di Mekah bertanya: "Bagaimana Tuhan yang tunggal bisa mendengar manusia yang banyak?" Maka turunlah ayat berikutnya (Al Baqarah: 164) sebagai jawabannya.Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu Abbas. Sanadnya baik dan mushul. Bahwa kaum Quraisy berkata kepada Nabi Muhammad: "Berdoalah kepada Allah agar Ia menjadikan bukit Shafa ini emas, sehingga kita dapat memperkuat diri melawan musuh." Maka Allah menurunkan wahyu kepada beliau (Al-Ma-idah: 115) untuk menyanggupi permintaan mereka dengan syarat apabila mereka kufur setelah dipenuhi permintaan mereka, Allah akan memberi siksaan yang belum pernah diberikan kepada yang lain di alam ini. Maka Rasullullah bersabda: "Wahai Rabb-ku, biarkanlah aku dengan kaumku. Aku akan mendakwahi mereka sehari demi sehari." Maka turunlah ayat ini. Dengan turunnya ayat tersebut, Allah menjelaskan mengapa mereka meminta Bukit Shafa dijadikan emas, padahal mereka mengetahui banyak ayat-ayat (tanda-tanda) yang luar biasa.Sumber: Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A. Dahlan dkk.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
N
Nailah

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

Qs Ar-Rahman : 3

Dalam ayat ini Allah menyebutkan nikmatNya yang lain, yaitu Allah menciptakan manusia. Ada beberapa pendapat yang dimaksud dengan manusia dalam ayat ini. Sebagian ulama menyebutkan yang dimaksud adalah Nabi Adam. Dan sebagian lagi mengatakan yang dimaksud adalah seluruh manusia. (ال) di dalam ayat menunjukkan ‘istighraq’ maksudnya adalah seluruh manusia. Pendapat kedua adalah pendapat yang lebih kuat. Jadi, bukan hanya Nabi Adam saja, karena Allah sedang menyebutkan nikmatNya kepada manusia seluruhnya.

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
U

Ummu Salamah Pasaribu

📍 Kota Padangsidimpuan

Menghindari Hal Unfaedah

"... dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya," (QS. Al-Furqan 25: Ayat 72)Yakni mereka tidak mau menghadiri perbuatan yang tidak berfaedah itu, dan apabila secara kebetulan mereka bersua dengan orang-orang yang sedang melakukannya, maka mereka lewati saja dan tidak mau mengotori dirinya dengan sesuatu pun dari perbuatan yang berdosa itu.

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Jejak Ayat 5 Agustus 2026

Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-An’am: 76-79Makna Potongan Ayat (Al-An'am: 77–79)​Terbitnya Rembulan dan Matahari:​Ketika melihat bulan dan matahari terbit/muncul bersinar terang, Nabi Ibrahim berkata, "Inilah Tuhanku... ini yang lebih besar" (bentuknya lebih besar dan sinarnya lebih terang).​Namun setelah keduanya terbenam di ufuk barat, beliau menyadari jika Tuhannya tidak memberi petunjuk, pastilah beliau termasuk orang sesat.​Berlepas Diri dari Kemusyrikan:​Ketika semua benda langit itu tenggelam, beliau berseru: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan" (meninggalkan penyembahan benda-benda langit).​Memurnikan Ibadah Hanya kepada Allah:​Beliau mengikhlaskan agama dan ibadahnya hanya kepada Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya.​Beliau menghadapkan diri secara hanif (cenderung kepada agama yang benar dan berpaling dari kemusyrikan menuju ketauhidan) serta menegaskan bukan dari golongan musyrik.Perbedaan Pendapat Ulama: Renungan (Nazhar) vs Perdebatan (Munazharah)​Pendapat Pertama (Fase Renungan/Pencarian):​Ibnu Jarir (melalui jalur Ali ibnu Abu Talhah dari Ibnu Abbas) memilih pendapat bahwa saat itu Nabi Ibrahim sedang dalam fase renungan/pencarian, berdalil dengan kalimat "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk..." (Al-An'am: 77).​Muhammad ibnu Ishaq serta ulama Salaf/Khalaf menceritakan riwayat bahwa peristiwa ini terjadi setelah beliau keluar dari gua tempat persembunyiannya (ibunya melahirkannya di gua karena takut ancaman Raja Namrud yang hendak membunuh bayi laki-laki). Namun, riwayat ini berisi hal-hal aneh yang bertentangan dengan hukum alam.​Pendapat Kedua (Fase Perdebatan/Mendebat Kaumnya - Pendapat yang Benar):​Status Sebenarnya: Pendapat yang kuat dan benar adalah Nabi Ibrahim dalam kedudukan mendebat (munazharah) kaumnya untuk membongkar kebatilan penyembahan berhala dan benda langit.​Tahapan Perdebatan:​Mendebat Ayahnya: Menjelaskan kesalahan menyembah berhala bumi yang dibentuk menyerupai malaikat.Mendebat Kaumnya (Penyembah Bintang): Menjelaskan kesesatan menyembah 7 bintang beredar (Bulan, Merkurius, Venus, Matahari, Mars, Jupiter, Saturnus).Sanggahan Bertahap:​Bintang Venus/Bintang: Tidak layak jadi Tuhan karena ditundukkan dan beredar pada garis edar tertentu lalu tenggelam.​Bulan & Matahari: Memiliki karakter yang sama, hanya sekadar cahaya yang terlihat dan ciptaan yang ditundukkan.​Kesimpulan Perdebatan: Setelah membuktikan kebatilannya, beliau berlepas diri dari penyembahan bintang dan menantang tipu daya mereka. Beliau menegaskan hanya menyembah Pencipta dan Pengatur benda langit tersebut (sebagaimana dipaparkan dalam QS. Al-A'raf: 54).Dalil Kesucian Fitrah Nabi Ibrahim a.s.​Mustahil bagi seorang Nabi dan kekasih Allah (Khalilullah) berada dalam keraguan/pencarian Tuhan, berdasarkan dalil-dalil berikut:​Pujian Allah atas Ketauhidan Ibrahim a.s.:​QS. Al-Anbiyaa: 51–52: Allah telah menganugerahkan hidayah kebenaran kepada Ibrahim sebelum Musa dan Harun.​QS. An-Nahl: 120–123: Ibrahim adalah teladan yang patuh, hanif, tidak pernah musyrik, dan Nabi Muhammad ﷺ diperintahkan mengikuti agamanya.​QS. Al-An'am: 161: Agama Ibrahim adalah agama yang lurus dan bukan tergolong orang musyrik.​Dalil Fitrah Kesucian:​Hadis Sahihain: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah." (HR. Bukhari & Muslim dari Abu Hurairah).​Hadis Sahih Muslim: "Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif..." (HR. Muslim dari Iyad ibnu Hammad).​QS. Ar-Ruum: 30 & QS. Al-A'raf: 172: Manusia diciptakan di atas fitrah tauhid.KesimpulanJika manusia biasa saja diciptakan di atas fitrah tauhid, maka Nabi Ibrahim a.s. adalah orang yang paling utama memiliki fitrah yang sehat dan lurus (setelah Rasulullah ﷺ). Oleh karena itu, beliau sedang mendebat kaumnya yang musyrik, bukan sedang meragukan Tuhan.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

QS. Al Qalam: 32

Tafsir Tafsir At-TaysirAl-Qalam (68:32)Setelah itu, mereka berharap ampunan Allah ﷻ. (60)Kisah Ashabul Jannah (pemilik kebun) ini menjadi dalil bahwa orang yang telah bertekad untuk melakukan keburukan maka Allah sudah mencatatnya sebagai dosa, tanpa dilihat apakah dia berhasil melakukannya atau tidak. Sebagaimana para pemilik kebun tersebut, mereka baru bertekad untuk menghalangi orang miskin di malam hari dan belum melakukannya. Akan tetapi Allah ﷻ telah mengirimkan azab sebelum mereka berhasil mewujudkan niatnya(61). Oleh karenanya, ini juga menunjukkan bahwa pelit adalah akhlak yang buruk. Oleh karenanya Allah ﷻ menamakan pelit dengan فَاحِشَة (perbuatan keji) (62). Sebagaimana dalam firman Allah ﷻ,الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ“Syaithan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 268)Intinya, meskipun sikap pelit mereka belum dikerjakan dan baru sekadar azam, ternyata Allah ﷻ telah turunkan azab(63). Kaidah ini juga ditunjukkan oleh dalil-dalil yang lain, di antaranya sabda Nabi ﷺ,إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا، فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ، فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ؟ قَالَ: إِنَّهُ أَرَادَ قَتْلَ صَاحِبِهِ“Jika dua orang muslim berperang dengan pedang mereka, yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka.” para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, yang membunuh tentu saja (masuk neraka), tetapi bagaimana dengan yang terbunuh?’. Beliau menjawab, ‘Yang terbunuh juga ingin membunuh kawannya’.”(64)Oleh karenanya, kita harus ketahui bahwa jika seseorang telah berniat buruk dan telah berazam, atau bahkan telah melakukan usaha, maka berhasil atau tidak dia telah mendapatkan dosa(65). Contoh zaman sekarang ini adalah seseorang yang masuk ke dunia internet dan hendak membuka situs-situs pornografi. Akan tetapi ternyata situs yang dia kunjungi tersebut terblokir. Berkali-kali dia mengulangi usaha tersebut untuk mencari situs yang lain, namun ternyata tetap terblokir. Ketahuilah bahwa usahanya tersebut telah dinilai dosa.Sebagian ulama dalam buku-buku tafsir juga menjadikan kisah ini sebagai dalil bahwasanya jika ada seseorang yang memiliki harta yang telah mencapai nishab dan sebentar lagi tiba haulnya, namun dia kemudian mengeluarkan sebagiannya agar berkurang dari nishab dan agar tidak berzakat, maka dia telah berdosa. Dan Allah ﷻ Maha Mengetahui niat seseorang sengaja atau tidak. Karena yang demikian pula dia telah melakukan keburukan berupa mencegah hak orang miskin sebagaimana kisah Ashabul Jannah. Akan tetapi jika ditemukan ada orang yang seperti ini, maka sebagian ulama berpendapat bahwa dari orang tersebut tetap ditarik sebagian dari hartanya sebagai zakat(66). Kisah ini juga merupakan dalil bahwa siapa yang tidak mensyukuri nikmat maka akan dicabut oleh Allah. Seorang ulama berkata :مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا، وَمَنْ شَكَرَهَا فَقَدْ قَيَّدَهَا بِعِقَالِهَا“Barangsiapa tidak mensyukuri nikmat berarti dia telah menjadikan nikmat tersebut terancam untuk hilang, dan barangsiapa mensyukurinya berarti dia mengikatnya dengan ikatannya”. (67)

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Tafsir qur'an

Tafsir Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:23)Tema: AL-QUR'AN ADALAH PERINGATAN UNTUK SELURUH MANUSIA (Ayat 1-34)Subtema: Keadaan manusia yang tidak membenarkan Al-Qur'an pada hari kiamat (Ayat 21-34)Catatan kaki:210831. Maksud amal mereka di sini ialah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia. Amal-amal itu tidak dibalasi oleh Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā karena mereka tidak beriman.Firman Allah subhanahu wata'āla:Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan (Al Furqaan:23).Ini terjadi pada hari kiamat di saat Allah menghisab amal perbuatan yang telah dilakukan oleh semua hamba, amal yang baik dan amal yang buruk. Maka Allah memberitahukan bahwa orang-orang musyrik itu tidak akan memperoleh sesuatu imbalan pun dari amal-amal perbuatan yang telah mereka lakukan, padahal mereka menduga bahwa amal perbuatannya itu dapat menyelamatkan diri mereka. Demikian itu karena amal perbuatannya tidak memenuhi syarat yang diakui oleh syariat, yaitu ikhlas dalam beramal karena Allah atau mengikuti syariat Allah. Setiap amal perbuatan yang dilakukan tidak secara ikhlas dan tidak sesuai dengan tuntunan syariat yang diridai adalah batil. Amal perbuatan orang-orang kafir itu tidak memenuhi salah satu dari kedua syarat tersebut, dan adakalanya kedua syarat tersebut tidak terpenuhi sehingga lebih jauh dari diterima. Untuk itu.Allah subhanahu wata'āla berfirman: Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kamijadi­kan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23)Mujahid dan As'-Sauri mengatakan bahwa makna qadimna ialah Kami hadapi. Hal yang sama dikatakan oleh As-Saddi, sedangkan sebagian lain ada yang mengatakannya 'Kami datangi'.Firman Allah subhanahu wata'āla:lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23)Sufyan As-Sauri mengatakan dari Abu Ishaq, dari Al-Haris, dari Ali r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23) Yaitu sinar matahari apabila memasuki sebuah lubang dinding.Hal yang sama diriwayatkan dari perawi lainnya yang bukan hanya seorang, dari Ali r.a. Hal yang semisal diriwayatkan-pula dari Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Sa'id Ibnu Jubair, As-Saddi, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya.Hal yang sama dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri, yaitu sinar matahari yang memasuki lubang dinding rumah seseorang di antara kalian, seandainya dia meraupkan tangannya pada sinar itu, ia tidak dapat menangkapnya.Ali ibnu AbuTalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23) Yang dimaksud ialah air yang ditumpahkan.Abul Ahwas meriwayatkan dari Abu Ishaq. dari Al-Haris, dari Ali, “haba 'amansuran" bahwa makna al-haba ialah laratnya hewan. Hal yang semisal diriwayatkan pula oleh Ibnu Abbas dan Ad-Dahhak, juga dikatakan oleh Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam.Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: debu yang beterbangan. (Al Furqaan:23) Tidakkah engkau melihat pohon yang kering bila tertiup angin? Makna yang dimaksud adalah seperti dedaunannya yang berguguran itu.Abdullah Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepadaku Asim ibnu Hakim, dari Abu Sari' At-Ta-i,dari Ubaid ibnu Ya'la yang mengatakan bahwa sesungguhnya al-haba itu adalah debu yang diterbangkan oleh angin.Kesimpulan dari semua pendapat di atas mengisyaratkan kepada makna yang dikandung oleh ayat. Demikian itu karena mereka telah melakukan banyak amal perbuatan yang menurut dugaan mereka benar. Tetapi ketika ditampilkan di hadapan Raja, Hakim Yang Mahaadil, yang tidak pernah kelewat batas dan tidak pernah menganiaya seseorang (Dialah Allah), ternyata kosong belaka, tiada artinya sama sekali. Kemudian hal itu diumpamakan dengan sesuatu yang tiada artinya lagi berserakan, yang oleh pemiliknya tidak ada artinya sama sekali. Hal yang sama telah diungkapkan oleh Allah subhanahu wata'āla melalui firman-Nya:Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras. (Ibrahim:18), hingga akhir ayat.Dan firman Allah subhanahu wata'āla:Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan. (Al Baqarah: 264)Juga firman Allah subhanahu wata'āla:Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang- orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. (An Nuur:39)

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 Agustus 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al Mukhtasar

Surah Al Anfal ayat 24Wahai orang-orang yang percaya kepada Allah dan mengikuti Rasul-Nya! Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya dengan patuh pada apa yang keduanya perintahkan dan menjauhi apa yang keduanya larang, apabila kehidupan bagi kalian, serta yakinlah bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Dia sanggup membuat kalian terhalang dari kepatuhan pada kebenaran setelah kalian menolaknya. Oleh karena itu, bersegeralah menerima kebenaran itu dan yakinlah bahwa kalian akan dikumpulkan di hadapan Allah saja pada hari kiamat kelak, kemudian Dia akan memberikan balasan yang setimpal kepada kalian menurut amal perbuatan yang kalian kerjakan di dunia.

💬 0 komentar📅 5 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 Agustus 2026
P

puti nilam suri

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Tilawah 1/2 Juz 1 - selesai Juz 1. Tafsir Ayat ke 2 Surah Al-Baqarah

Membaca Al - Quran 1/2 Juz 1 sampai selesai. Tadabur Tafsir Al - Quran Surah Al- Baqarah ayat ke 2. Berisik tentang penjelasan Alquran yg agung , Bahwa tidak ada keraguan didalamnya dari segi proses turunnya maupun lafal dan maknanya. Al Quran adalah firman Allah yang membimbing orang-orang orang bertakwa ke jalan yg menghantarkan mereka kepada Allah SWT.

💬 0 komentar📅 4 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 Agustus 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Tafsir QS. Al-fatihah ayat 1

Tafsir Al-Qur'an Surah Al-Fatihah Ayat 1ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ1. Alhamdu Pada kata "Alhamdu", huruf alif lam (ال) berfungsi lil istighrāq, yaitu mencakup seluruh bentuk pujian.Alhamdu adalah pujian yang disertai dengan rasa cinta. Hal ini berbeda dengan al-madh (المدح), karena al-madh bisa saja berupa pujian tanpa disertai kecintaan.Oleh karena itu, ketika kita mengucapkan "Alhamdulillāh", hendaknya kita memuji Allah sambil menumbuhkan rasa cinta kepada-Nya.Allah adalah satu-satunya yang benar-benar berhak dipuji secara hakiki, karena Dia memiliki segala kesempurnaan. Sisi Pujian kepada AllahPujian kepada Allah mencakup tiga sisi:Nama-nama-Nya (Asmāul Husnā).Sifat-sifat-Nya.Perbuatan-perbuatan-Nya.Perbuatan Allah terbagi menjadi dua:Al-Fadhl (الفضل), yaitu Allah memberikan nikmat karena karunia dan kemurahan-Nya.Al-'Adl (العدل), yaitu Allah menghukum karena keadilan-Nya.Karena itu, janganlah kita memuji Allah hanya ketika memperoleh kenikmatan. Pujian kepada Allah mencakup nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan seluruh perbuatan-Nya. Namun, sering kali manusia hanya memuji Allah karena nikmat yang diterimanya.2. Lillāh"Lillāh" menunjukkan bahwa hanya Allah semata yang berhak dipuji.3. Rabbil 'ĀlamīnPada kata "Al-'Ālamīn", yang dimaksud adalah seluruh makhluk, yaitu semua selain Allah.Makhluk tersebut mencakup manusia, malaikat, jin, hewan, serta seluruh ciptaan Allah lainnya.Adapun Rabb berarti:Pencipta.Pemilik.Pengatur.Secara umum, makna Rabb berasal dari makna tarbiyah, yaitu Dzat yang mengurus, memelihara, dan mengatur seluruh makhluk.Semua yang ada di alam semesta ini, baik makhluk hidup maupun benda mati, seluruhnya berada dalam pengaturan Allah Subḥānahu wa Ta'ālā.

💬 0 komentar📅 4 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 Agustus 2026
H
Haniva Eka Kusuma

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir surah an naml ayat 75

Allah taala berfirman:وَمَا مِنۡ غَآئِبَةٖ فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٍTiada sesuatu pun yang gaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lawḥ Maḥfūẓ).— QS. An-Naml: 75Tafsir Tafsir Ibnu KatsirAn-Naml (27:75)Tidak ada sesuatu pun yang gaib. (An-Naml: 75) Tafsir Ibnu Katsir:Menurut Ibnu Abbas, makna yang dimaksud ialah tiada sesuatu pun.di langit dan di bumi, melainkan (terdapat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz). (An-Naml: 75)Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah. (Al-Hajj: 70)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 4 Agu 2026Baca selengkapnya →