juz 12 - 13 dan Tafsir surah Hud Ayat 11
Tilawah juz 12 sampai awal juz 13 dan Tafsir surah Hud Ayat 11
Laporan & catatan kegiatan Jejak Ayat
Tilawah juz 12 sampai awal juz 13 dan Tafsir surah Hud Ayat 11
1️⃣ Sesungguhnya pada hari kiamat kerugian seseorang yang zalim besar sekali2️⃣ Tugas seorang rasul ialah menyampaikan risalahnya dan mengajak orang-orang kepadanya3️⃣ Karunia berupa anak yang Allah beri kepada manusia diliputi hikmah dan ilmu-Nya
Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 17مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَArtinya:“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api. Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya yang menerangi mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan. Mereka tidak dapat melihat.”Pada ayat sebelumnya, yaitu ayat kedua sampai ke-16, Allah membagi manusia menjadi tiga, yaitu orang-orang beriman, orang-orang kafir, dan orang-orang munafik.Kemudian Allah menyebutkan perumpamaan dalam ayat ke-17 sampai ayat ke-20. Ada dua perumpamaan tersebut:1. Perumpamaan dengan api untuk orang-orang kafir.2. Perumpamaan dengan hujan untuk orang-orang munafik.Adapun yang pertama, ketika Allah mengatakan “mereka”, siapa yang dimaksud dengan “mereka” ini?Ada khilaf di kalangan para ahli tafsir. Ada dua pendapat.Pendapat pertama, yang dimaksud dengan “mereka” adalah orang-orang kafir.Pendapat kedua, yang dimaksud dengan “mereka” adalah orang-orang munafik.Keduanya memiliki dalil yang kuat.Pendapat pertama, di sini Allah mengatakan:ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ “Allah menghilangkan cahaya mereka.”Ayat ini memiliki kemiripan dengan ayat sebelumnya tentang orang-orang kafir, yaitu pada ayat ketujuh. Mereka berada dalam kondisi hati yang tertutup dan benar-benar tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Kata Allah dalam ayat ini:وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ “Allah meninggalkan mereka dalam kegelapan.”Kegelapan yang membuat mereka tidak dapat melihat. Ini menunjukkan bahwa mereka benar-benar berada dalam kegelapan dan tidak ada cahaya sedikit pun. Ini merupakan ciri-ciri orang kafir.Lain halnya dengan orang munafik. Orang munafik masih memiliki cahaya, namun disertai keraguan. Terkadang mereka maju dan terkadang mereka mundur. Namun orang kafir terus tidak beriman. Mereka berada dalam kegelapan dan tidak memiliki keraguan sedikit pun dalam kekafiran mereka. Mereka teguh dalam kekafiran tersebut.Sehingga, berdasarkan pendapat pertama, permisalan yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 17 ini adalah permisalan tentang orang-orang kafir.Pendapat Kedua: Yang Dimaksud Adalah Orang-Orang MunafikPendapat kedua, seperti Syaikh As-Sa’di rahimahullahu ta’ala, guru Syaikh Utsaimin rahimahullahu ta’ala, bahwasanya ayat ini berbicara tentang orang-orang munafik.Di mana sisi perumpamaannya?Kata Syaikh As-Sa’di rahimahullahu ta’ala, dari sisi adanya cahaya. Jadi, sempat mereka menyalakan cahaya atau menampakkan cahaya. Artinya, mereka melihat kebaikan-kebaikan iman, melihat kebaikan iman, dan mengambil sedikit keimanan tersebut. Misalnya, seseorang yang secara lahiriah berstatus sebagai seorang Muslim, tetapi hatinya masih kafir. Orang munafik demikian. Dengan status Islamnya, maka terjaga harta, jiwa, darah, dan hak-haknya. Jadi, dia sempat mendapatkan cahaya dan mendapatkan manfaat dari cahaya tersebut.Tetapi, apakah manfaat tersebut berlangsung lama?Kata Allah:ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ “Allah mengambil cahaya mereka.”Tiba-tiba Allah mengambil cahaya tersebut ketika dia meninggal. Maka hilanglah manfaat yang ada. Hilang pula manfaat yang dia dapatkan selama di dunia.Lalu, kegelapan yang dimaksud dengan kegelapan itu apa? Yaitu kufur, nifaq, kemunafikan, kekafiran, kemaksiatan, dan kegelapan di alam kubur. Sejak berada di alam barzakh, mereka tidak dapat melihat.Yang dimaksud di sini adalah orang-orang kafir Yahudi.
Melalui ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dialah yg menciptakan segala seusatu , dan Maha Mengetahuibsegala seshatu. Maka mana mungkin Fia memiliki istri dr kalangan mahlukNya sbg oendamping Nya. Fia tidak ada bandingannya. Allah tdk beranak. Maha Tinggi Allah dengan ketinggian yg setinggi tingginya
Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui,
Allah taala berfirman:يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَيُحۡيِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَا ۚ وَكَذَٰلِكَ تُخۡرَجُونَDia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).Tema: Bukti Kebenaran Hari Kebangkitan dan Penggolongan ManusiaInti Tafsir:Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan menciptakan sesuatu dari lawannya: yang hidup dari yang mati dan yang mati dari yang hidup.Contoh kekuasaan Allah: tumbuhan dari biji, biji dari tumbuhan, ayam dari telur, telur dari ayam, manusia dari nutfah, dan berbagai perubahan yang terjadi pada makhluk.Allah menghidupkan bumi yang mati. Tanah yang kering menjadi subur setelah turun hujan, lalu menghasilkan berbagai tumbuhan.Kehidupan kembali bumi menjadi bukti kebangkitan manusia. Sebagaimana Allah mampu menghidupkan bumi setelah matinya, Dia juga Mahakuasa mengeluarkan manusia dari kuburnya dan menghidupkannya kembali.Pelajaran: Perhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah di sekitar kita. Penciptaan dan pergantian keadaan makhluk merupakan bukti bahwa kebangkitan setelah kematian adalah sesuatu yang mudah bagi Allah.
📍 Kabupaten Banggai
Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:48)Tema: TANDA-TANDA KEKUASAAN ALLAH DALAM ALAM (Ayat 45-62)Ayat ini menggambarkan kemampuan Allah Yang Mahasempurna dan kekuasaan-Nya Yang Mahabesar, yaitu bahwa Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira akan datangnya awan sesudahnya. Angin itu bermacam-macam sifat dan karakteristiknya, di antaranya ada angin yang membuyarkan awan, ada yang membawanya, ada yang menggiringnya, ada angin yang bertiup sebelum kedatangan awan yang membawa kabar gembira, ada angin yang kencang yang menyapu bumi, ada pula angin yang membuahi awan agar menurunkan hujannya. Karena itulah Allah subhanahu wata'āla berfirman:dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (Al Furqaan:48)Yakni sebagai sarana untuk bersuci. Lafaz tahur sama wazan-nya dengan lafaz sahur dan wajur serta lafaz lainnya yang semisal. Demikianlah menurut pendapat yang paling sahih mengenainya. Adapun mengenai pendapat orang yang mengatakan bahwa lafaz tahur merupakan wazan fa'ul yang bermakna fa'il atau ia sebagai isim yang di-mabni-kan untuk mubalagah dan ta'addi, maka masing-masing dari dua pendapat ini mengandung kemusykilan bila ditinjau dari segi lugah (bahasa). Pembahasan mengenai masalah ini secara rinci tidak akan diuraikan di sini.Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku berikut sanadnya sampai kepada Humaid At-Tawil, dari Sabit Al-Bannani yang mengatakan bahwa ia bersama Abul Aliyah di suatu hari yang hujan masuk ke dalam kota Basrah, jalan-jalan di kota Basrah kotor karenanya. Tetapi Abul Aliyah salat, maka aku (perawi) bertanya kepadanya mengenai perbuatannya itu. Lalu ia membaca firman Allah subhanahu wata'āla yang mengatakan: dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (Al Furqaan:48) Dan ia berkata bahwa kekotoran tempat salatnya itu telah disucikan oleh air hujan.Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, dari Daud, dari Sa'id ibnul Musayyab sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa Allah menurunkannya dalam keadaan amat bersih (suci lagi menyucikan), tiada sesuatu pun yang membuatnya najis.Diriwayatkan dari Abu Sa'id yang telah mengatakan bahwa pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ.”Wahai Rasulullah, bolehkah kami berwudu dari air sumur Buda'ah, sedangkan ke dalam sumur itu sering dilemparkan sampah dan bangkai anjing?" Rasulullah ﷺ. menjawab:Sesungguhnya air itu suci lagi menyucikan, tiada sesuatu pun yang menajiskannya.Imam Syafii telah meriwayatkan hadis ini dan juga Imam Ahmad yang menilainya sahih, Imam Abu Daud dan Imam Turmuzi telah meriwayatkannya pula, yang dinilai oleh Imam Turmuzi sebagai hadis hasan, dan Imam Nasai telah meriwayatkannya pula.Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan berikut sanadnya, bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abul Asy'as, telah menceritakan kepada kami Mu'tamir, bahwa ia pernah mendengar ayahnya menceritakan hadis berikut dari Yasar, dari Khalid ibnu Yazid yang mengatakan, "Ketika kami berada di majelis Abdul Malik ibnu Marwan, lalu mereka (orang-orang yang hadir) membicarakan masalah air, maka Khalid ibnu Yazid mengatakan, 'Air itu ada yang berasal dari langit (air hujan) dan ada yang berasal dari laut yang menguap, lalu menjadi awan dan menimbulkan guruh dan kilat. Adapun air yang berasal dari laut, maka ia tidak dapat menimbulkan tetumbuhan. Yang dapat menumbuhkan tetumbuhan adalah air yang berasal dari langit."Telah diriwayatkan dari Ikrimah yang pernah mengatakan bahwa tiada setetes air pun yang diturunkan Allah dari langit, melainkan dapat menumbuhkan suatu tumbuhan di muka bumi, atau suatu mutiara di laut. Selain Ikrimah mengatakan bahwa kalau jatuh ke bumi menumbuhkan jewawut, dan kalau jatuh ke laut menumbuhkan mutiara.
Allah taala berfirman:وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَDan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.Tema: KEESAAN TUHANLAH YANG AKHIRNYA MENANG (Ayat 142-214)Subtema: Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur (Ayat 186-187)QS. Al-Baqarah: 186Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
Tafsir At-TaysirAl-Ĥāqqah (69:18)Kata تُعْرَضُونَ (dihadapkan) dalam ayat ini ditafsirkan oleh Ahli Tafsir dengan تُحَاسَبُوْنَ (dihisab) (39). Yaitu mereka akan dihadapkan kepada Allah untuk dihisab amalan-amalan mereka. Karena setelah bumi dihancurkan, maka bumi akan diratakan dan diubah menjadi padang mahsyar sebagaimana firman Allah ﷻ,يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka (manusia) berkumpul (di Padang Mahsyar) menghadap Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa.” (QS. Ibrahim: 48)Setelah itu, manusia akan dikumpulkan di padang mahsyar. Dan disitulah mereka berdiri dan tidak duduk menunggu kedatangan Allah ﷻ, yang pada waktu itu satu hari seperti lima puluh ribu tahun. Tatkala Allah ﷻ telah datang, maka malaikat menjadi bersaf-saf mengiringi kedatangan Allah ﷻ, maka saat itulah yang dimaksud dalam ayat ini, yaitu manusia dihadapkan kepada Allah ﷻ untuk untuk dihisab.Adapun tentang firman Allah ﷻ,لَا تَخْفَىٰ مِنكُمْ خَافِيَةٌ“Tidak ada sesuatu pun dari kamu yang tersembunyi (bagi Allah).”Sebagian Ahli Tafsir menafsirkan bahwa maksud tidak ada amalan yang tersembunyi adalah seluruh amalan yang selama ini disembunyikan oleh manusia selama hidupnya baik dari kebaikan atau keburukan, maka akan tampak pada hari tersebut (40). Sebagian Ahli Tafsir yang lain menafsirkan bahwa maksud tidak ada yang tersembunyi adalah semua manusia akan dipaparkan di padang mahsyar dan tidak ada yang bisa bersembunyi, karena tanah di padang mahsyar semuanya rata, tidak ada gunung, tidak ada lembah, dan tidak ada pohon. Sebagaimana sabda Nabi ﷺtentang padang mahsyar,لَيْسَ فِيهَا مَعْلَمٌ لِأَحَدٍ“Disana tidak ada tanda satu pun.”(41)Artinya tidak ada tempat bersembunyi dan tidak ada yang bisa disembunyikan di padang mahsyar. Sebagian Ahli Tafsir yang lain menafsirkan bahwa maksud tidak ada yang tersembunyi adalah semua aurat manusia akan terbuka (42), tidak ada yang bisa disembunyikan pada hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا"Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian dan belum dikhitan.”(43)Dalam riwayat yang lain disebutkan oleh Abdullah bin Unais bahwa Nabi ﷺberkata,يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا، قَالَ: قُلْنَا: وَمَا بُهْمًا؟ قَالَ: لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak berpakaian, tidak berkhitan, dan tidak pula buhman”. Lalu kami bertanya, ‘Apakah buhman itu?’ Beliau bersabda, ‘Tidak ada sesuatupun yang kalian bawa’.”(44) (HR. Ahmad 3/459 no. 16085)Sebagian Ahli Tafsir yang lain menafsirkan bahwa tidak ada yang tersembunyi yaitu akan tampak mana orang yang beriman dan mana orang yang kafir, semuanya akan tersingkap pada hari tersebut. (45)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
Allah-lah yang menciptakan langit-langit terangkat tinggi tanpa pilar-pilar seperti yang kalian saksikan, kemudian bersemayam di atas Arasy dengan kaifiat semayam yang laik dengan keagungan-Nya, tanpa menanyakan bagaimana Allah bersemayam dan tanpa menyamakannya dengan semayam makhluk-Nya.Allah juga menundukkan matahari dan bulan untuk berbagai kepentingan makhluk-Nya. Masing-masing dari matahari dan bulan berjalan untuk waktu yang ditentukan dalam ilmu Allah.Dia mengatur urusan di langit dan di bumi sekehendak-Nya dan menjelaskan ayat-ayat yang menunjukkan kekuasaan-Nya dengan harapan kalian akan meyakini perjumpaan dengan Tuhan kalian pada hari Kiamat kelak, sehingga kalian menyiapkan diri dengan berbagai amal saleh.
At-Taubah : 51
73 Mereka juga mengatakan, “Janganlah kalian percaya kecuali kepada orang Yahudi yang memeluk agama kalian.” Katakanlah -wahai Rasul-, “Sesungguhnya petunjuk kepada kebenaran itu adalah petunjuk Allah, bukan pendustaan dan pengingkaran yang kalian lakukan karena khawatir akan ada seseorang yang diberikan anugerah seperti yang pernah diberikan kepada kalian, atau karena khawatir mereka akan mengalahkan hujah kalian di sisi Tuhan kalian jika kalian mengakui apa yang diturunkan kepada mereka.”Katakanlah -wahai Rasul-, “Sesungguhnya karunia itu ada di tangan Allah. Dia berhak memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Anugerah-Nya tidak hanya diberikan kepada umat tertentu saja, sedangkan umat yang lain tidak diberi, dan Allah Mahaluas anugerah-Nya lagi Maha Mengetahui siapa yang berhak menerimanya.”74 Allah mengkhususkan rahmat-Nya kepada orang yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya. Kemudian Allah menganugerahi orang tersebut dengan hidayah, kenabian dan beragam pemberian lainnya, dan Allah adalah pemilik anugerah yang sangat besar dan tidak terbatas.
Anjuran untuk berdoa kepada Allah meskipun bagi kita hal tsb sulit terealisasi
Sesungguhnya nabi Ibrahim suka menunda hukuman, banyak berdoa, gemar bertaubat kepadaNya
📍 Kota Depok
Ayat 35“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa: di dalamnya ada sungai-sungai yang mengalir, buahnya tidak henti-henti, dan naungannya demikian pula. Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa. Sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.”(QS. Ar-Ra’d: 35)1. Gambaran Surga yang Allah JanjikanAllah memberikan gambaran tentang surga agar manusia dapat membayangkan kemuliaan dan kenikmatan tempat yang telah Allah persiapkan bagi orang-orang bertakwa.Allah tidak sekadar mengatakan bahwa surga itu indah, tetapi menjelaskan sebagian karakteristiknya:terdapat sungai-sungai yang mengalir,buah-buahannya tidak pernah habis,naungannya tidak pernah hilang,kenikmatannya tidak terputus,dan penghuninya mendapatkan kehidupan yang sempurna.Semua itu merupakan gambaran yang dapat dipahami manusia di dunia, sementara hakikat kenikmatan surga jauh lebih besar daripada apa yang mampu dibayangkan manusia.2. Sungai-Sungai yang Mengalir di Dalam SurgaAllah berfirman:“Di dalamnya ada sungai-sungai yang mengalir.”Menurut penjelasan Ibnu Katsir, sungai-sungai tersebut mengalir di sekitar wilayah dan sisi-sisi surga sesuai dengan kehendak penghuninya.Kenikmatan air di surga berbeda dengan air di dunia.Allah menjelaskan dalam QS. Muhammad ayat 15 bahwa di surga terdapat:sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya,sungai susu yang tidak berubah rasanya,sungai khamr yang lezat bagi peminumnya,sungai madu yang telah disaring.Artinya, kenikmatan surga bukan sekadar lebih banyak, tetapi juga sempurna dan tidak mengalami kerusakan.Di dunia, sesuatu yang nikmat dapat berubah:makanan basi,minuman berubah rasa,buah membusuk,sesuatu yang indah menjadi rusak.Namun di surga, kenikmatan tersebut tidak mengalami perubahan yang merusak.3. Buah-Buahan yang Tidak Pernah HabisAllah berfirman:“Buahnya tak henti-henti.”Ini merupakan salah satu perbedaan terbesar antara kenikmatan dunia dan kenikmatan surga.Di dunia:makan → kenyang → habis.Di surga:makan → menikmati → kenikmatan tetap tersedia.Tidak ada kekhawatiran:“Nanti habis.”Tidak ada rasa takut:“Besok sudah tidak ada.”Tidak ada kelangkaan.Allah berfirman:“Buah-buahannya tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya.”(QS. Al-Waqi’ah: 32–33)Dan Allah berfirman:“Naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.”(QS. Al-Insan: 14)Pelajaran pentingKenikmatan surga tidak membuat seseorang harus bersusah payah mendapatkannya.Apa yang diinginkan tersedia dan mudah diperoleh.4. Buah di Surga Tidak Seperti Buah di DuniaIbnu Katsir membawakan beberapa hadis yang menggambarkan luas dan luar biasanya kenikmatan makanan di surga.Di antaranya hadis tentang Rasulullah ﷺ yang diperlihatkan surga dalam salat gerhana.Beliau melihat surga dan berniat mengambil setangkai anggur.Beliau menjelaskan bahwa seandainya beliau benar-benar mengambilnya, manusia akan dapat menikmati buah tersebut selama dunia masih ada.Ini menunjukkan bahwa ukuran dan keberkahan kenikmatan surga tidak dapat disamakan dengan apa yang ada di dunia.5. Buah Surga Tidak Pernah BerkurangDalam riwayat yang disebutkan Ibnu Katsir dari Tsauban r.a., Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ketika seseorang memetik sebuah buah dari surga, akan tumbuh buah lain yang menggantikannya.Ini menggambarkan prinsip:Kenikmatan surga tidak mengalami pengurangan.Berbeda dengan dunia.Jika kita mengambil satu buah dari sebuah pohon:jumlah buah berkurang.Tetapi kenikmatan surga:diambil → digantikan kembali.Tidak ada kekhawatiran akan kehabisan.6. Kenikmatan Makan dan Minum di SurgaSalah satu hal menarik yang dijelaskan dalam hadis adalah bahwa penghuni surga makan dan minum, tetapi tidak mengalami berbagai proses biologis yang tidak menyenangkan sebagaimana manusia di dunia.Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa penghuni surga:makan,minum,tetapi tidak buang air besar,tidak buang air kecil,dan tidak mengeluarkan kotoran seperti manusia di dunia.Makanan mereka keluar melalui keringat yang harum seperti minyak kesturi.Mereka juga tidak mengalami gangguan tubuh sebagaimana kehidupan dunia.7. Makan di Surga Bukan Sekadar untuk Bertahan HidupDi dunia, manusia membutuhkan makanan karena tubuh membutuhkan energi.Di surga, makan merupakan bagian dari kenikmatan.Demikian pula minum dan berbagai kenikmatan lainnya.Dalam riwayat yang disebutkan Ibnu Katsir, seseorang dari penghuni surga diberikan kekuatan yang sangat besar dalam menikmati makanan, minuman, dan kenikmatan lainnya.Artinya, kehidupan di surga bukan kehidupan yang dipenuhi:kelelahan,sakit,keterbatasan,kelemahan,atau rasa tidak nyaman.8. Kenikmatan Surga Tidak Membawa Dampak BurukIni adalah konsep penting.Di dunia, banyak kenikmatan memiliki konsekuensi.Makanan lezat bisa menyebabkan sakit.Makan terlalu banyak menyebabkan tidak nyaman.Minuman tertentu memiliki dampak buruk.Tidur terlalu lama membuat tubuh lemas.Tetapi kenikmatan surga tidak disertai dampak buruk.Penghuninya memperoleh kenikmatan tanpa mengalami sisi negatif sebagaimana kenikmatan dunia.9. Bahkan Burung di Surga Menjadi KenikmatanIbnu Katsir juga membawakan riwayat tentang burung di surga.Disebutkan bahwa seseorang dapat melihat burung di surga, kemudian burung tersebut jatuh di hadapannya dalam keadaan telah siap untuk dimakan.Dalam sebagian riwayat, setelah dimakan, burung tersebut kembali seperti semula dan terbang dengan izin Allah.Gambaran ini kembali menunjukkan:Tidak ada kekurangan dalam kenikmatan surga.Kenikmatan diberikan tanpa menyebabkan kerusakan atau kehilangan.10. Naungan Surga Tidak Pernah HilangAllah berfirman:“Sedang naungannya demikian pula.”Maksudnya, sebagaimana buah-buahannya tidak pernah habis, naungan surga juga tidak pernah hilang atau berkurang.Allah berfirman:“Dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.”(QS. An-Nisa: 57)Naungan di surga bukan seperti naungan di dunia yang:berpindah karena matahari,menghilang ketika kondisi berubah,atau membuat seseorang kepanasan setelah beberapa waktu.Naungan surga adalah naungan yang sempurna.11. Betapa Luasnya Naungan di SurgaRasulullah ﷺ menggambarkan sebuah pohon di surga:Seorang pengendara yang memacu kudanya dengan cepat dapat berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun, tetapi belum berhasil melewati seluruhnya.Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan:“Dan naungan yang terbentang luas.”(QS. Al-Waqi’ah: 30)Bayangkan luasnya sebuah naungan yang bahkan perjalanan selama seratus tahun belum cukup untuk melewatinya.Ini bukan sekadar menggambarkan ukuran.Tetapi menggambarkan bahwa kemampuan manusia untuk membayangkan luas dan megahnya surga sangat terbatas.12. Mengapa Allah Sering Menyebut Surga dan Neraka Bersamaan?Ini salah satu poin penting dalam penjelasan Ibnu Katsir.Allah sering menyebut:surga ↔ nerakasecara beriringan.Mengapa?Agar manusia:menginginkan surgadantakut terhadap neraka.Jika hanya berbicara tentang surga, seseorang mungkin merasa cukup dengan berharap.Jika hanya berbicara tentang neraka, seseorang mungkin merasa putus asa.Maka Al-Qur’an mendidik manusia dengan dua hal:Raja’ — berharap kepada AllahdanKhauf — takut kepada Allah.Keduanya harus berjalan bersama.13. Dua Tempat KesudahanAllah menutup gambaran tersebut dengan firman-Nya:“Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.”Ada dua jalan.Orang-orang bertakwa➡️ SurgaOrang-orang kafir➡️ NerakaAllah juga berfirman:“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga. Penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. Al-Hasyr: 20)Jadi, kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir.Ada tempat kembali.14. Dunia Bukan Tempat Pembalasan SempurnaInilah salah satu pesan besar ayat ini.Di dunia, kita sering melihat:orang baik mengalami kesulitan,orang jujur menghadapi ujian,orang zalim terkadang terlihat hidup nyaman,orang yang taat terkadang harus bersabar dalam kesulitan.Apakah itu akhir cerita?Tidak.Allah mengingatkan bahwa ada tempat kesudahan.Dunia adalah tempat ujian.Akhirat adalah tempat pembalasan.Karena itu, ukuran keberhasilan seorang mukmin bukan sekadar:“Seberapa nyaman hidupku sekarang?”Tetapi:“Ke mana aku akan berakhir?”15. Nasihat Bilal bin Sa’dIbnu Katsir menukil nasihat Bilal bin Sa’d, seorang khatib di Dimasyq.Ia mengingatkan manusia agar tidak mengira bahwa mereka diciptakan tanpa tujuan dan tidak akan dikembalikan kepada Allah.Ia juga mengingatkan:Jika pahala ketaatan seluruhnya disegerakan di dunia, manusia mungkin hanya akan beramal karena menginginkan keuntungan dunia.Padahal Allah mengajarkan kita untuk berlomba mendapatkan surga.Allah berfirman:“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”(QS. Al-Muthaffifin: 26)16. Apa yang Seharusnya Membuat Kita Semangat Beramal?Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin memiliki orientasi yang jauh lebih panjang daripada kehidupan dunia.Bukan hanya:sekolah → kerja → rumah → harta → kenyamanan → selesai.Tetapi:dunia → kematian → kebangkitan → hisab → tempat kesudahan.Karena itu, setiap amal menjadi berarti.Salat yang kita jaga.Sedekah yang kita keluarkan.Orang tua yang kita hormati.Anak yang kita didik.Lisan yang kita jaga.Dosa yang kita tinggalkan.Semua itu memiliki konsekuensi di akhirat.17. Tadabbur: Surga Membuat Kita BertanyaKetika membaca tentang sungai-sungai surga, buah yang tidak pernah habis, dan naungan yang tidak pernah hilang, jangan berhenti pada kekaguman.Tanyakan kepada diri sendiri:“Apa yang sedang aku lakukan hari ini untuk menjadi penghuni tempat itu?”Karena Allah tidak mengatakan bahwa surga adalah tempat kesudahan semua manusia.Allah mengatakan:“Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa.”Maka yang harus kita kejar bukan hanya kehidupan yang nyaman di dunia, tetapi akhir kehidupan yang baik.18. Pelajaran Utama QS. Ar-Ra’d: 351. Surga benar-benar adaSurga bukan sekadar simbol atau gambaran abstrak.2. Surga adalah janji AllahAllah menjanjikannya kepada orang-orang yang bertakwa.3. Kenikmatan surga sempurnaTidak seperti kenikmatan dunia yang selalu memiliki keterbatasan.4. Sungai-sungainya mengalirKenikmatan air dan minuman di surga jauh melampaui apa yang ada di dunia.5. Buah-buahannya tidak pernah habisSetiap kali dinikmati, kenikmatan itu tidak berkurang.6. Naungannya tidak pernah hilangTidak ada panas, kelelahan, atau ketidaknyamanan.7. Penghuni surga makan dan minumNamun tanpa kotoran dan gangguan tubuh sebagaimana kehidupan dunia.8. Surga sangat luasGambaran-gambaran dalam hadis menunjukkan keluasan yang melampaui imajinasi manusia.9. Allah menyandingkan surga dan nerakaAgar manusia memiliki harapan sekaligus rasa takut.10. Dunia bukan akhir perjalananSetiap manusia akan menuju tempat kesudahan.19. Pertanyaan untuk MuhasabahCoba tanyakan kepada diri sendiri:Jika surga benar-benar menjadi tempat kesudahan yang Allah janjikan, seberapa serius aku mempersiapkan diri untuk mencapainya?Apakah selama ini kita lebih sibuk mengejar:rumah yang lebih bagus,kendaraan yang lebih nyaman,pekerjaan yang lebih tinggi,tabungan yang lebih banyak,daripada mengejar amal yang menjadi bekal menuju akhirat?Karena semua yang kita kumpulkan di dunia akan kita tinggalkan.Tetapi amal akan kita bawa.20. KesimpulanQS. Ar-Ra’d ayat 35 menggambarkan surga sebagai tempat kesudahan orang-orang yang bertakwa.Di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir, buah-buahan yang tidak pernah habis, dan naungan yang tidak pernah hilang.Kenikmatannya tidak mengalami kerusakan, tidak berkurang, dan tidak disertai berbagai penderitaan sebagaimana kehidupan dunia.Namun inti ayat ini bukan sekadar membuat kita membayangkan indahnya surga.Lebih dari itu, ayat ini mengajak kita menentukan arah hidup.Karena pada akhirnya setiap manusia akan sampai pada sebuah tempat kesudahan.Pertanyaannya bukan hanya: “Seberapa indah hidup yang ingin kita miliki di dunia?”Tetapi:“Di mana kita ingin hidup untuk selama-lamanya?”Dan untuk tempat itu, sudahkah kita mempersiapkan bekalnya?
Katakanlah -wahai Rasul-, “Jika bapak-bapak kalian -wahai orang-orang mukmin-, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, karib kerabat kalian, harta benda yang kalian dapatkan, perniagaan yang kalian harapkan keuntungannya dan kalian takutkan kerugiannya, serta rumah-rumah yang menjadi tempat tinggal kesukaan kalian, jika semua itu lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan lebih kalian utamakan daripada berjihad di jalan Allah, maka tunggulah hukuman yang akan Allah turunkan kepada kalian. Allah tidak akan membimbing orang-orang yang tidak taat kepada-Nya untuk mengerjakan sesuatu yang diridhai oleh-Nya.”
Mengamalkan Al-Qur'an adalah sarana diampuni dosanya, jalan menuju syurga dan dibukakan rezeki
Tafsir Al-MuyassarAn-Nur (24:40)Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Orang yang tidak mendapat pancaran nur Ilahi (Ayat 39-40)Atau semua amalan mereka adalah seperti kegelapan yang gulita di lautan yang paling dalam dan diliputi oleh ombak yang di atasnya ada ombak lagi, dan di atasnya ada awan yang tebal, sungguh gelap gulita yang bertumpuk-tumpuk. Apabila ada seseorang yang mengeluarkan tangannya, maka dia tidak dapat melihatnya karena gelap gulita. Orang-orang kafir itu tertutupi oleh tumpukan kegelapan: kegelapan syirik, kesesatan, dan rusaknya perbuatan. Maka barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah yang berasal dari kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya yang akan memberikan petunjuk, niscaya dia tidak memiliki pemberi hidayah sedikit pun.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
Surat al a'raf
Rachmatika
📍 Kota Administrasi Jakarta Barat
Setelah Musa mendengar permintaan maaf saudaranya dan mengetahui bahwa dia tidak mengabaikan perintah Allah, dia (Musa) berdoa: "Wahai Rabb-ku, ampunilah kemarahanku dan ampunilah dosa-dosa saudaraku karena dia tidak kuasa melarang perbuatan Bani Israil itu, dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu yang luas. Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang kepada kami di antara para penyayang."