Kitab TALBIS IBLIS - “Tipuan Iblis”karangan Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Ibnul JauziBagian 13Oleh Ustadz Firanda AndirjaSumber: Youtube Firanda Andirja Talbis Iblis-13BAB KESEPULUH: TENTANG TIPU DAYA IBLIS PADA PARA SUFI DARI GOLONGAN AHLI ZUHUDBagian 3 1. Mayoritas karya-karya yang disusun untuk mereka tidak memiliki dasar dan hanyalah kejadian-kejadian yang diambil sebagian mereka dari sebagian yang lain dan mereka tulis. Mereka telah menamakannya "ilmu batin" (khayalan-khayalan). ◦ Dengan sanad kepada Abu Ya'qub Ishaq bin Hayyah berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal ditanya tentang waswas dan khatharot (pikiran-pikiran), maka dia berkata: "Hal itu tidak dibicarakan oleh para sahabat dan tabi'in." ◦ Dari Sa'id bin Amr Al-Barda'i berkata: Aku menyaksikan Abu Zur'ah ditanya tentang Al-Harits Al-Muhasibi dan kitab-kitabnya, maka dia berkata kepada penanya: "Hati-hatilah terhadap kitab-kitab ini. Kitab-kitab ini adalah kitab- kitab bid'ah dan kesesatan. Berpeganglah kepada atsar karena engkau akan mendapatkan di dalamnya apa yang membuatmu tidak memerlukan kitab- kitab ini." . "Dalam kitab-kitab ini terdapat pelajaran." Dia berkata: "Barangsiapa yang tidak mendapat pelajaran dari Kitab Allah Azza wa Jalla, maka dia tidak akan mendapat pelajaran dari kitab-kitab ini. Apakah sampai kepada kalian bahwa Malik bin Anas, Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza'i, dan para imam terdahulu menyusun kitab-kitab ini tentang khatharot, waswas, dan hal- hal ini? Mereka adalah kaum yang menyelisihi ahli ilmu. ◦ Mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abdul Baqi, menceritakan kepada kami Abu Muhammad Rizqullah bin Abdul Wahhab At-Tamimi dari Abu Abdurrahman As-Sulami berkata: "Orang pertama yang berbicara di negerinya tentang penyusunan keadaan-keadaan dan maqam-maqam ahli wilayah adalah Dzun Nun Al-Mishri. Abdullah bin Abdul Hakam mengingkarinya - dia adalah pemimpin Mesir dan menganut madzhab Malik - dan para ulama Mesir menjauhinya ketika tersebar kabar bahwa dia menciptakan ilmu yang tidak dibicarakan oleh salaf, hingga mereka menuduhnya zindiq." ◦ Ibnul jauzi berkata Berkata penyusun: Abu Bakar Al-Khallal telah menyebutkan dalam kitab "As- Sunnah" dari Ahmad bin Hanbal bahwa dia berkata: "Berhati-hatilah dari Al-Harits dengan sangat hati-hati. Al-Harits adalah asal bencana" - maksudnya dalam peristiwa-peristiwa perkataan Jahm. Dia bergaul dengan si fulan dan si fulan dan mengeluarkan mereka kepada pendapat Jahm. Al-Harits senantiasa menjadi tempat kembali para ahli kalam, seperti singa yang mengintai, lihat hari mana dia akan menerkam manusia." 2. Para sufi awal mengakui bahwa sandaran adalah kepada Kitab dan Sunnah. Sesungguhnya setan hanya memperdaya mereka karena sedikitnya ilmu mereka. ◦ Berkata Al-Husain An-Nuri kepada sebagian sahabatnya: "Barangsiapa yang kamu lihat mengaku bersama Allah Azza wa Jalla suatu keadaan yang mengeluarkannya dari batas ilmu syariat, maka janganlah mendekatinya. Dan barangsiapa yang kamu lihat mengaku suatu keadaan yang tidak ditunjukkan oleh dalil dan tidak disaksikan oleh penjagaan zahir, maka tuduh dia dalam agamanya." ◦ Dari Abu Ja'far berkata: "Barangsiapa tidak menimbang perkataan, perbuatan, dan keadaannya dengan Kitab dan Sunnah serta tidak menuduh pikirannya, maka jangan masukkan dia dalam daftar laki-laki." 1. Ketika telah terbukti ini dari perkataan para syaikh mereka, terjadi dari sebagian syaikh mereka kesalahan-kesalahan karena jauhnya mereka dari ilmu. Jika hal itu benar dari mereka, maka pantas untuk menolak mereka karena tidak ada bela-membela dalam kebenaran. Dan jika tidak benar dari mereka, kami memperingatkan dari perkataan seperti itu dan madzhab itu dari siapa pun yang mengeluarkannya. ◦ Adapun orang-orang yang menyerupai kaum (sufi) tetapi bukan dari mereka,maka kesalahan-kesalahan mereka banyak. ◦ Para ulama senantiasa menjelaskan setiap orang di antara mereka kesalahan temannya dengan maksud menjelaskan kebenaran, bukan untuk menampakkan aib orang yang salah. Tidak ada pertimbangan terhadap ◦ perkataan orang jahil yang berkata: "Bagaimana menolak si fulan yang zahid yang diberkahi?" Karena ketundukan hanyalah kepada apa yang dibawa oleh syariat, bukan kepada pribadi-pribadi. Boleh jadi seseorang dari kalangan wali dan ahli surga tetapi memiliki kesalahan-kesalahan, maka kedudukannya tidak menghalangi penjelasan kekeliruannya. ◦ Ketahuilah bahwa barangsiapa melihat kepada pengagungan seseorang dan tidak melihat dengan dalil kepada apa yang keluar darinya, dia seperti orang yang melihat kepada apa yang terjadi di tangan Al-Masih shallallahu alaihi wasallam dari perkara-perkara luar biasa dan tidak melihat kepadanya lalu mengaku ketuhanan padanya. Seandainya dia melihat kepadanya dan bahwa dia tidak bisa berdiri kecuali dengan makanan, dia tidak akan memberikan kepadanya kecuali apa yang pantas diterimanya.Penyebutan Tipu Daya Iblis dalam penganut hulul ◦ Dari Abu Abdullah ar-Ramli yang berkata: Abu Hamzah berbicara di Masjid Tarsus dan mereka menerimanya. Suatu hari ketika dia sedang berbicara, tiba-tiba seekor burung gagak berteriak di atas atap masjid. Abu Hamzah pun berteriak dan berkata "Labbaik, labbaik" (aku datang memenuhi panggilan) Mereka kemudian menuduhnya sebagai zindiq dan berkata dia adalah hululi (penganut paham hulul) yang zindiq. Kudanya dijual dengan diumumkan di depan pintu masjid "Ini kuda si zindiq". ◦ Dengan sanad hingga Abu Bakar al-Farghani bahwa dia berkata: Abu Hamzah apabila mendengar sesuatu selalu berkata "Labbaik, labbaik". Mereka kemudian menyebutnya sebagai hululi. Kemudian Abu Ali berkata: "Sesungguhnya yang membuatnya menjadi penyeru dari Yang Haq telah membangunkannya untuk berdzikir." ◦ Dari Abu Ali ar-Ruzabari yang berkata: Abu Hamzah disebut sebagai hululi karena dia apabila mendengar suara seperti hembusan angin, gemericik air, dan teriakan burung-burung, dia berteriak dan berkata "Labbaik, labbaik". Maka mereka menuduhnya dengan paham hulul. ◦ As-Sarraj berkata: "Telah sampai kepadaku bahwa sekelompok penganut hulul mengklaim bahwa Yang Haq Azza wa Jalla telah memilih tubuh-tubuh yang Dia masuki dengan makna-makna ketuhanan dan menghilangkan dari tubuh-tubuh itu makna-makna kemanusiaan. Di antara mereka ada yang berkata dengan memandang kepada hal-hal indah yang dikagumi, dan di antara mereka ada yang berkata Dia masuk ke dalam hal-hal yang dikagumi." ◦ Dia berkata: "Telah sampai kepadaku dari sekelompok ahli Syam bahwa mereka mengklaim penglihatan dengan hati di dunia seperti penglihatan dengan mata di akhirat." ◦ As-Sarraj berkata: "Telah sampai kepadaku bahwa Abu al-Husain an-Nuri disaksikan atasnya oleh Ghulam al-Khalil bahwa dia mendengarnya berkata: 'Aku mencintai Allah Azza wa Jalla dan Dia mencintaiku.' An-Nuri berkata: 'Aku mendengar Allah berfirman: "Allah mencintai mereka dan mereka mencintai- Nya" (Surat al-Maidah ayat 54), dan cinta bukanlah lebih dari mahabbah m(kecintaan).'" ◦ Qadhi Abu Ya'la berkata: "Kaum Hululi telah berpendapat bahwa Allah Azza wa Jalla mencinta dengan syahwat."Ibnul jauzi berkata: "Ini adalah kebodohan dari tiga segi. ◦ Pertama, dari segi nama, karena cinta syahwat menurut ahli bahasa tidak ada kecuali untuk yang dapat dinikahi. ◦ Kedua, bahwa sifat-sifat Allah Azza wa Jalla adalah tauqifi (berdasarkan nash), maka Dia mencintai dan tidak dikatakan Dia mencinta dengan syahwat, sebagaimana dikatakan Dia mengetahui dan tidak dikatakan Dia mengenal. ◦ Ketiga, dari mana dia tahu bahwa Allah Ta'ala mencintainya?Ini adalah klaim tanpa dalil. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: 'Barangsiapa berkata aku di surga maka dia di neraka.'"Diantara tokoh hulluliyyah yang paling berbahaya adalah Al hallaj yang mengaku diirnya Tuhan dan memiliki kesaktian. Beberapa riwayat tentang kesombongannya : ◦ Dari Abu Abdurrahman as-Sulami yang menceritakan dari Amr al-Makki bahwa dia berkata: "Aku berjalan bersama al Husain bin Manshur di beberapa gang Makkah dan aku membaca al-Quran. Dia mendengar bacaanku lalu berkata: 'Aku bisa mengatakan seperti ini.' Maka aku meninggalkannya." ◦ Dengan sanad dari Abu al-Qasim ar-Razi yang berkata: Abu Bakar bin Mimsyad berkata: "Datang kepada kami di Dainur seorang laki-laki dengan membawa tas, dan dia tidak pernah berpisah darinya baik siang maupun malam. Mereka menggeledah tas tersebut dan menemukan di dalamnya sebuah buku dari al-Hallaj yang judulnya 'Dari ar-Rahman ar-Rahim kepada fulan bin fulan.' Dia dikirim ke Baghdad lalu dihadapkan kepadanya. Dia berkata: 'Ini tulisanku dan aku yang menulisnya.' Mereka berkata: 'Dulu kamu mengklaim kenabian, sekarang kamu mengklaim ketuhanan?' Dia berkata: 'Aku tidak mengklaim ketuhanan, tetapi ini adalah hakikat penyatuan menurut kami. Apakah yang menulis kepada Allah Ta'ala? Dan tangan di dalamnya adalah alat.' Dikatakan kepadanya: 'Apakah ada yang bersamamu?' Dia berkata: 'Ya, Ibnu Atha, Abu Muhammad al-Jurairi, dan Abu Bakar asy-Syibli. Abu Muhammad al-Jurairi menyembunyikan diri dan asy-Syibli menyembunyikan diri, maka jika demikian maka Ibnu Atha.' Al-Jurairi dihadapkan dan ditanya, dia berkata: 'Yang mengatakan ini adalah kafir, harus dibunuh siapa yang mengatakan ini.' Asy-Syibli ditanya, dia berkata: 'Yang mengatakan ini harus dicegah.' Ibnu Atha ditanya tentang perkataan al-Hallaj, dia berkata sesuai dengan perkataannya, dan itu menjadi sebab pembunuhannya." ◦ Dengan sanad dari Ali bin al-Muhsin al-Qadhi dari Abu al-Qasim Ismail bin Muhammad bin Zanji dari ayahnya bahwa putri as-Sumari dimasukkan kepada Hamid al-Wazir. Dia menanyakannya tentang al-Hallaj. Dia berkata: "Ayahku membawaku kepadanya, lalu dia berkata: 'Aku telah menikahkanmu dengan anakku Sulaiman dan dia tinggal di Naisabur. Apabila terjadi sesuatu yang kamu ingkari darinya, maka berpuasalah pada harimu dan naiklah di penghujung siang ke atap rumah, berdirilah di atas abu dan jadikan berbukamu di atasnya dan dengan garam yang kasar, hadapkan wajahmu kepadaku dan sebutkan kepadaku apa yang kamu ingkari darinya, karena aku mendengar dan melihat.' Dia berkata: 'Suatu malam aku tidur di atap rumah, lalu aku merasakan dia mendatangiku. Aku terbangun dengan ketakutan karena apa yang dia lakukan. Dia berkata: Sesungguhnya aku datang kepadamu untuk membangunkanmu untuk shalat.' Ketika kami turun, putrinya berkata: 'Sujudlah kepadanya.' Aku berkata: 'Apakah ada yang sujud kepada selain Allah?' Dia mendengar perkataanku lalu berkata: 'Ya, ada Tuhan di langit dan Tuhan di bumi.'"Ibnul jauzi berkata: "Para ulama pada masanya sepakat tentang dibolehkannya menumpahkan darah al-Hallaj. Yang pertama mengatakan bahwa darahnya halal adalah Abu Amr al-Qadhi dan para ulama setuju dengannya. Hanya Abu al-Abbas Suraij yang diam tentangnya. Dia berkata: 'Aku tidak tahu apa yang dia katakan.' Ijma' adalah dalil yang terjaga dari kesalahan."Ibnul jauzi berkata: "Sekelompok sufi membela al-Hallaj karena kebodohan mereka dan kurang peduli terhadap ijma' para fuqaha." ◦ Dengan sanad dari Muhammad bin al-Husain an-Naisaburi yang berkata: "Aku mendengar Ibrahim bin Muhammad an-Nashr Abadi berkata: 'Jika setelah para nabi dan shiddiqin ada orang yang bertauhid, maka dialah al-Hallaj.'"Ibnul jauzi berkata: "Begitulah kebanyakan pendongeng zaman kita dan sufi masa kita, semuanya bodoh tentang syariat dan jauh dari pengetahuan tentang riwayat. Penyebutan Tipu Daya Iblis kepada Para Sufi dalam BersuciPenulis berkata: "Telah kami sebutkan tipu dayanya kepada para hamba dalam bersuci, namun dia telah menambah dalam hal para sufi melampaui batas. ◦ Dia menguatkan was-was mereka dalam menggunakan air yang banyak hingga sampai kepadaku bahwa Ibnu Aqil masuk ke ribath lalu berwudhu, mereka tertawa karena sedikitnya dia menggunakan air. Mereka tidak tahu bahwa barangsiapa menyempurnakan wudhu dengan satu rithl air sudah cukup baginya. ◦ Sampai kepada kami dari Abu Hamid asy-Syirazi bahwa dia berkata kepada seorang fakir: 'Dari mana kamu berwudhu?' Dia berkata: 'Dari sungai, aku punya was-was dalam bersuci.' Dia berkata: 'Dulu aku kenal para sufi mengolok-olok setan, sekarang setan yang mengolok-olok mereka.' ◦ Di antara mereka ada yang berjalan dengan sandal di atas tikar, ini tidak mengapa kecuali mungkin pemula melihat orang yang dia ikuti lalu menyangka itu syariat. Para salaf terbaik tidak seperti ini. Aneh bagi orang yang berlebihan dalam berhati-hati sampai l batas ini yang memiliki sifat membersihkan zahirnya sedangkan batinnya penuh dengan kotoran dan keruhnya. Allah yang memberi taufiqPenyebutan Tipu Daya Iblis kepada Mereka dalam Shalat"Telah kami sebutkan tipu dayanya kepada para hamba dalam shalat, dan dengan itu dia menipu para sufi dan menambahnya. ◦ Muhammad bin Tahir al-Maqdisi telah menyebutkan bahwa di antara sunnah mereka yang mereka praktikkan tersendiri dan mereka nisbatkan kepada diri mereka adalah shalat dua rakaat setelah memakai kain tambal dan bertobat. Dia berdalil dengan hadits Tsamah bin Atsal bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkannya ketika masuk Islam untuk mandi."Ibnul Jauzi berkata: "Alangkah buruknya orang bodoh apabila dia melakukan yang bukan urusannya! Sesungguhnya Tsamah adalah orang kafir lalu masuk Islam. Apabila orang kafir masuk Islam wajib baginya mandi menurut madzhab sekelompok fuqaha di antaranya Ahmad bin Hanbal. Adapun shalat dua rakaat, tidak ada seorang ulama pun yang memerintahkannya bagi orang yang masuk Islam. Tidak ada dalam hadits Tsamah penyebutan shalat yang bisa diqiyaskan kepadanya. Bukankah ini bid'ah dalam kenyataannya yang mereka namakan sunnah? Kemudian yang paling buruk adalah perkataannya bahwa para sufi menyendiri dengan sunnah-sunnah, karena jika itu dinisbatkan kepada syariat maka semua muslim sama di dalamnya dan para fuqaha lebih mengerti tentangnya. Apa alasan para sufi menyendiri dengannya? Jika itu berdasarkan pendapat mereka maka mereka menyendiri dengannya karena mereka yang menciptakannya."Penyebutan Tipu Daya Iblis Terhadap Para Sufi dalam Hal Tempat Tinggal Adapun mengenai pembangunan ribath (tempat tinggal para sufi), sesungguhnya sekelompok orang yang beribadah pada masa lalu membangunnya untuk menyendiri dalam beribadah. Mereka ini, jika niat mereka benar, maka mereka tetap dalam kesalahan dari enam segi: 1. mereka telah mengada-adakan bangunan ini, padahal bangunan umat Islam yang seharusnya adalah masjid masjid. 2. mereka menjadikan sesuatu yang setara dengan masjid yang mengurangi jamaah masjid. 3. mereka melewatkan kesempatan untuk memindahkan kesalahan ke masjid-masjid. 4. mereka menyerupai orang-orang Nasrani dengan menyendiri di biara-biara. 5. mereka menyiksa diri padahal mereka masih muda dan kebanyakan dari mereka membutuhkan pernikahan. 6. mereka menjadikan untuk diri mereka tanda yang menunjukkan bahwa mereka adalah para zahid (orang yang zuhud), sehingga hal itu mengharuskan orang mengunjungi mereka dan mencari berkah dari mereka.Jika niat mereka tidak benar, maka sesungguhnya mereka telah membangun toko toko untuk kemegahan dan tempat persinggahan untuk kebatilan serta tanda-tanda untuk menampakkan kezuhudan. Kami telah melihat kebanyakan generasi belakangan dari mereka bersantai santai di ribath-ribath, terhindar dari jerih payah pencarian nafkah, sibuk dengan makan, minum, menyanyi, dan menari. Mereka mencari dunia dari setiap orang zalim dan tidak takut-takut menerima pemberian orang yang memungut pajak. Kebanyakan ribath mereka telah dibangun oleh para penguasa zalim dan mereka mewakafkan harta-harta haram untuk ribath tersebut.