📝 Talbis Iblis #jejakcahaya

Laporan & catatan kegiatan Talbis Iblis #jejakcahaya

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
H
Haniva Eka Kusuma

📍 Kabupaten Bogor

Talbis Iblis - Ringkasan bagian 8

Talbis Iblis - 8Talbis Iblis terhadap ahli ilmu (bagian 4) Imam ibnu jauzi menyebutkan: Talbis Iblis terkait ibadah HajiBeliau berkata, terkadang orang sudah melaksanakan ibadah haji dan kewajiban haji sudah selesai. Karena kewajiban haji itu hanya sekali seumur hidup. Kemudian ada seseorang yang ingin haji sunnah. Tapi kadang haji sunnah tersebut tidak sesuai aturan.Contoh: • ternyata dia berhaji tapi tidak di ridhoi oleh orangtuanya.Jika dia haji sunnah tetapi orangtuanya lebih butuh bantuan, maka tidak usah dia kerjakan. Karna membantu orangtua lebih utama. Lain halnya dengan haji wajib, tetap harus jalan (walau orangtua marah)Dan ini adalah kesalahan. • terkadang orang berhaji (meskipun haji pertama) tetapi dia punya hutang. Atau kedzoliman2 yang belum dia selesaikan. Ini tidak boleh. Haji itu bagi orang yg mampu..Yg tidak mampu maka tidak wajib berhaji.Diantaranya seorang berhaji itu memiliki uang lebih, hutangnya sudah dia lunasi, dan dia memiliki bekal yg cukup selama perjalanan haji. Dan untuk keluarga yg ditinggal haji. Kemudian keselamatan di jalan. Dan banyak syarat2 (ititho'ah) yg harus dia penuhi. • terkadang dia berhaji dengan harta yg syubhat (bahkan ada yang dengan harta yg haram) maka seorang yg berhaji dengan harta yg haram (disebutkan dalam atsar) dia mengatakan: "labbaik Allaahumma labbaik" maka dikatakan kepadanya "laa labbaikalak wala sa'daik" Tidak ada labbaik bagimu. "Maalu kamaalul haroom" Hartamu adalah harta yg haram. • ada diantara mereka yang ibadah haji karena ingin bertemu orang-orang (riya) itu niat yg tidak benar • sebagian  jama'ah haji berkumpul di sekeliling ka'bah dengan hati yg kotor dan bathin yg tidak bersih. Iblis menampakkan kepada mereka, yg penging kalian haji.Haji itu pendekatan dari hati, bukan hanya fisik saja namun hati bermusuh2an. Dan itu hanya bisa terjadi diatas taqwa. • diantaranya ada yg berhaji untuk memperbanyak jumlah hajinya.Jika haji berulang2 tapi dia tidak membersihkan hatinya, lantas bagaimana? • diantara mereka ada yg ditipu oleh iblis, mereka semangat haji tetapi sholatnya tidak diperhatikan.Ada pula yg berjualan, tetapi curang Berhaji dengan taqwa. Berbekal lah ketika haji dan sebaik-baik bekal adalah TAQWA.Bagaimana kau mau haji, sementara sering maksiat? • iblis juga menipu mereka dengan diantara mereka melakukan bid'ah saat manasik haji. Yang bukan dari manasik haji. • iblis menipu mereka dengan mengaku bertawakkal, maka merekapun berhaji tanpa bekal. Dan mereka meyakini haji tanpa bekal itu tawakkal yg sesungguhnya. Dan mereka ada di puncak kesalahan. • Iblis menipu banyak orang dalam masalah jihad. Mereka keluar untuknberjihad, sementara diantara mereka ada  niatnya untuk berbangga2an (riya), kadang dia ingij dikatakan sang jagoan, dan terkadang mereka jihad hanya untuk mencari ghonimah, sementara nabi bersabda, "innamal a'maalu binniatPengaruh iman dan ilmu untuk menjaga diri dari fitnah harta. Agar tidak mengambil harta yg haram.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
P
putri anggraini

📍 Kota Samarinda

Talbis Iblis 8 Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu Bagian 4

Talbis Iblis pada ibadah hajiImam Ibnul Jauzi rahimahullah terkadang orang sudah berhaji dan kewajiban haji sudah selesai. Kewajiban haji itu sekali seumur hidup. Tapi orang ini ingin berhaji lagi, haji sunnah. Namun haji sunnah tidak sesuai aturan. Contoh ternyata dia berhaji lagi, tapi tidak diridhoi orang tuanya. Maka seharusnya bukan lagi haji wajib maka lebih utama berbakti kepada orang tuanya. Terkadang orang berhaji meskipun haji pertama, tapi dia punya hutang atau kedzaliman yang belum dia selesai kan, maka ini tidak diperbolehkan. Haji itu diwajibkan hanya bagi yang mampu. Haji itu :Bagi yang punya uang lebihUtangnya lunasBekal untuk perjalananBekal untuk keluarga yang ditinggalkanKeamanan jalan dan banyak syarat yang harus dipenuhi.Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata ada orang yang berhaji hanya sekedar jalan-jalan, bukan untuk diampuni dosa-dosanya. Ada juga yang berhaji dengan harta syubhat bahkan berhaji dengan harta yang haram.Sebagian Fuqaha, berkata kalau ada seorang yang berhaji dengan harta yang haram. Tanggal 8 naik ontanya dan mabbit di Mina, tanggal 9 wukuf di padang Arofah, kemudian dia mabit dimusdzalifah dia mengatakan "Labai kallahuma Labaik", maka haji nya orang ini tidak diterima.Karena Allah itu baik dan hanya menerima yang baik pula. Seseorang yang berhaji dengan harta yang haram, disebutkan dalam sebuah atsar ketika dia mengucap kan " Labai kallahuma Labaik". Dikatakan kepadanya "tidak ada Labaik bagimu karena hartamu dengan harta yang haram".Ibnul Jauzi rahimahullah berkata juga terkadang seorang berhaji ingin bertemu dengan orang agar dikatakan " Pak Haji sedang berhaji".Terkadang mereka jama'ah berkumpul disekitar Ka'bah dengan hati yang kotor. Iblis menipu hati mereka "yang penting kamu haji". Ketahuilah bahwa yang dimaksud haji adalah agar hati bersih, hati dekat bukan cuman dekat secara jasad, semua itu hanya bisa di bangun diatas ketakwaan. Betapa banyak orang yang berhaji dia saling bersenggolan,  marah-marahan. Allah mensyariatkan "agar mereka menyaksikan ketika mereka melaksanakan ibadah haji melihat manfaat-manfaat ibadah haji". Dalam haji dilarang berjidal (berdebat kusir), terkadang dalam ibadah haji ada yang berkelahi. Berhaji harus hati bersih. Faidah haji kita bisa saling mencintai antara kaum muslimin, sebab dari seluruh dunia kaum muslimin bertemu Saling mencintai di antara kaum muslimin.Kesalahan-kesalahan dalam berhaji :1. Tujuan nya memperbanyak hajinya (dia berkata saya sudah 20 kali wukuf di Arofah). 2. Ibnul Jauzi rahimahullah betapa banyak orang yang tinggal di Mekkah dan Madinah tapi dia tidak berniat membersihkan hatinya. 3. Betapa banyak aku melihat orang yang berhaji memukuli teman hajinya yang lain, dimana sebagian dahulu berangkat haji susah. Baik di suruh untuk mencari air, berjalan diperintah-petintah. 4.Sebagian mereka juga ada ditipu iblis, mereka bsrhaji tapi sholat tidak diperhatikan. Ada mereka yang berhaji sambil berjualan, ternyata jualannya dikurangi.Allah azza wa jalla berfirman berhaji sebaik-baiknya berbekal takwa. Mabrur itu ada aturannya, tidak boleh berbuat dzalim, tidak boleh ada kebohongan,tidak punya surat izin haji, menyerobot ke tenda-tenda orang. Maka ini tidak boleh.5.Ibnul Jauzi rahimahullah berkata banyak orang-orang menyangka yang penting dia sudah berhaji. Iblis membuat dan menipu mereka untuk berbuat bid'ah dalam manasik haji, tidak dibuat sesuai contoh Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wa sallam. Contoh orang yang selalu membuka pundaknya terus menerus. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bersabda ada seseorang yang selalu membawa Ka'bah membawa tali, dia menarik temannya ditaroh tali di hidungnya. Maka Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam memotong talinya, kalaupun harus dituntun dalam ketaan maka tuntunlah dengan tangan.Imam Ibnul Jauzi rahimahullahKita berusaha untuk mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bersabda ambilah contoh manasik dari Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam ibadahnya sempurna. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wa sallam.6. Terkadang orang berhaji  mengaku bertawakal, maka mereka pun pergi haji tanpa bekal. Dan mereka menyangka berhaji tanpa bekal itulah tawakal. Padahal itu adalah tipuan iblis, haji diperintahkan Allah harus dengan bekal. Agar tidak merepotkan orang. Seseorang pernah ada bertanya pada Imam Ahmad, "wahai imam Ahmad, aku ingin bertawakal dengan tawakal yang sempurna tanpa membawa bekal". Imam Ahmad menjawab " Engkau harus berhaji sendirian tidak ikut rombongan, dan jangan berhaji hanya numpang makan".Allah berfirman siapkan bekal untk berhaji, bekal untuk diri sendri, bekal untuk keluarga yang ditinggalkan. Allah bahkan menegur orang-orang Yaman yang ingin berhaji tanpa bekal dalam QS. Al-Baqarah. Tawakal itu harus ikhtiar, tawakal tanpa ikhtiar.Talbis iblis dalam perkara jihad fi sabilillahIbnul Jauzi rahimahullah berkata iblis telah menipu banyak orang. Maka mereka yang keluar untuk jihad, sementara ada diantar mereka niatnya untuk bangga-banggan, dengan riya'. Ada yang ingin dikatakan sang jagoan, ada yang berangkat jihad untuk mencari harta ghonimah. Sedangkan Nabi Muhammad bersabda inna a'malu bin niat.Dari Abu Musa Al-Asari radhiyallahu anhu, ada seseorang lelaki yang datang pada Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam "wahai Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bagaimana pendapat anda tentang seseorang yang berperang karena menunjukkan keberanian nya, kadang orang berperang untuk membela suku. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam menjawab siapa yang berperang karena menegakkan kalimat Allah maka ini jihad fi sabilillah.Ibnul Masu'ud berkata, hati-hati jangan kalian berkata fulan mati syahid. Karena ada orang berjihad untuk mencari ghonimah, ada orang yang berperang ingin dia disebut-sebut.Cukup kita mengatakan "semoga Allah mencatat saudara kita sebagai mati syahid" Untuk memastikan satu satu fulan mati syahid maka ini tidak boleh.3 orang yang pertama di sidang yaitu orang yang pertama kali dia berjihad, kedua orang yang suka membaca Al-Qur'an, yang ketiga orang yang dermawan. Ini 3 orang yang ternyata dilemparkan Allah ke dalam neraka.Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan seorang ulama ahli hadist yang menjaga keikhlasan. Dari Abu Hatim Ar-Rozi aku berkata mendengar Abdah bin Sulaiman berkata,  suatu hari kami berada dalam suatu pasukan kecil bersama Abdullah bin Mubarok di Rum. Tiba-tiba kami berhadapan dengan musuh, ketika berhadapan dua shaf, shaf kaum muslimin dan kaum kafir. Maka ada seseorang pun yang maju dan dia keluar bertempur dan mati dengan orang kufar, sampai 3 orang mati dibunuh oleh orang kafir. Dan datanglah orang ke 4 dia menikam orang kafir itu. Orang nomor 4 menutup mukanya  agar orang tidak diketahui siapa dia, ternyata itu adalah Abdullah bin Mubarok. Abdullah bin Mubarok sangat takut dan berusaha menjaga keikhlasannya. sedangkan kita sangat berusaha riya' dan berusaha pamer kepada semua orang.Adalah ibrahim bin Adham ketika menang jihad dia tidak mau mengambil ghonimah agar pahalanya sempurna. Tipuan iblis terhadap orang yang berjihad, ibnul Jauzi rahimahullah iblis menipu seorang Mujahid ketika dia memang dan mendapat ghonimah, dia menyangka semua ghonimah miliknya padahal itu bukan haknya. Harta ghonimah sebelum dikumpulkan oleh amir maka tidak boleh.Dalam hadist yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, suatu hari kami berangkat berperang di Khaibar dan kami menang pada Khaibar. Dan kami tidak mendapat kan ghonimah berupa harta, kami hanya mendapatkan ghonimah berupa makanan. Lalu kami pergi ke suatu lembah dan disana ada Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam dan budaknya, ketika kami disana dan dia melepaskan pelana onta dia terkena panah. Dan kami memberikan selamat karena dia mati syahid. Ternyata Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bersabda Demi jiwaku yang berada di tangannya, sesungguhnya dia telah mengambil kain diam-diam pada ghonimah dalam perang Khaibar, dia telah menyalakan api untuk membakar. Maka sebagian orang sangat ketakutan, ini masalah sepele ternyata ini hal yang sangat mengerikan. Dan pada saat itu ada seseorang yang mengambil tali sendal, maka dia kembalikan Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam berkata ini dineraka. Dia mengambil api neraka.Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bersabda dia mengambil potongan api neraka, dia mengambil harta saudara nya meskipun sepotong kayu siwak.Pengaruh iman dan ilmu untuk menjaga fitnah hartaBisa jadi seorang Mujahid mengetahui mengambil harta sebelum pembagian, hukumnya haram tapi dia tidak sabar melihat ghonimah maka hatinya berubah. Dia menyangka itu semua akan termaafkan dengan jihad. Maka ini sangat dibutuhkan berkumpul nya antara iman dan ilmu. Jangan remehkan dan makan barang sedikit pun milik orang lainImam Ibnu Jauzi rahimahullah berkata kami dari Abu Ubadiah Al-Anbali kami menaklukkan kota Mada'in, mereka mengumpulkan harta ghonimah. Maka tiba-tiba ada seorang membawa harta ghonimah dan mengembalikan ghonimah padahal itu hak dia. Apa yang dia dapatnya itu banyak sekali, kata dia "saya tidak mau ambil sama sekali, kecuali karena Allah". Orang-orang bertanya " siapa engkau? " Dia menjawab "kalian tidak perlu tau, tapi saya memuji Allah". Ada yang mengikutinya saat di pergi, dan diketahui dia adalah Amir bin Abdi Qois, ulama Tabi'in ahli ibadah yang mengumpulkan antara iman dan ilmu.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
U
Ulfa Puspitasari

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis iblis terhadap ahli ilmu (bag 4)

Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2) - Ust Dr. Firanda Andirja Kajian dimulai dengan pembahasan dari kitab Talbis Iblis, yang membahas berbagai tipu daya dan muslihat iblis dalam menggangu ibadah manusia. Iblis berniat merusak ibadah kita, sehingga kita merasa melakukan ibadah, namun pada kenyataannya ibadah tersebut terganggu atau bahkan tidak sah. Salah satu tipu daya iblis adalah mencampuri niat dalam shalat. Ada orang yang berniat shalat namun karena waswas atau keraguan, ia mengulangi niatnya berkali-kali, padahal niat tidak batal hanya karena ucapan salah atau repetisi lafal. Niat sebenarnya hanya perlu hadir dalam hati sekali saja. Contoh kasus lain, orang ragu saat takbiratul ihram lalu mengulanginya terus-menerus, padahal jika imam sudah rukuk, biasanya niat langsung hadir sempurna karena takut tertinggal rakaat.Banyak yang sampai bersumpah agar hanya takbir sekali karena waswas berulang-ulang, bahkan ada yang bersumpah dengan sesuatu yang berat untuk menguatkan niat takbir sekali, padahal ini termasuk tipu daya iblis yang menyulitkan diri sendiri.Disebutkan juga kisah Abu Hazim yang mendapatkan bisikan waswas dari iblis: "Shalatmu tanpa wudhu". Ia menepis bisikan tersebut dengan tegas karena tahu itu hanya tipu daya iblis. Implikasi utamanya adalah bahwa niat hadir di hati saat hendak melaksanakan shalat, dan tidak perlu diulang-ulang untuk memperbaiki lafaz niat karena bukan kewajiban melafalkannya.Penjelasan lebih lanjut:Niat adalah dalam hati, bukan pada lafaz.Pengulangan niat untuk memperbaiki lafaz hanya akan menimbulkan keraguan yang tidak perlu.Lafal niat tidak wajib, yang wajib adalah kehadiran niat di hati.Jika seseorang merasa belum mengucapkan niat padahal sudah, ini merupakan penyakit waswas.Kisah dan pendapat dari Imam Ibnu Aqil dipaparkan: seseorang yang terus merasa belum selesai wudhu atau takbirannya, padahal sudah, disebut sebagai orang gila dan tidak wajib shalat. Ini mempertegas bahwa keraguan yang berlebihan adalah penyakit.Sebab utama waswas niat adalah kebodohan terhadap syariat. Contoh analogi: ketika bertemu ulama dan berdiri untuk menyambutnya, niat sudah langsung hadir di hati tanpa perlu dilafalkan. Begitu juga niat shalat sudah hadir saat seseorang berdiri untuk shalat tanpa harus dirinci dan dilafalkan.Niat shalat sudah mencakup:Jenis shalat (fardu, sunnah) Waktu pelaksanaan Jumlah rakaat, arah kiblat, status sebagai makmum atau imamSemua ini sudah tersusun dalam satu saat tanpa perlu perincian panjang atau pelafalan formal.Inti penting yang ditekankan Ibnu Jauzi:Niat itu mudah dan tidak sesulit yang dibayangkan.Tidak perlu membebani diri dengan lafaz dan perincian kompleks.Niat boleh didahulukan sebelum takbiratul ihram.Bahasan fikih terkait niat pada rukun pertama ibadah:Dalam wudhu, niat harus hadir saat melakukan rukun pertama (mencuci wajah).Dalam shalat, rukun pertama adalah takbiratul ihram.Akan tetapi, menggabungkan niat yang panjang dan takbiratul ihram secara bersamaan secara sempurna sangat sulit.Rasulullah tidak membebankan yang terlalu rumit ini.Banyak orang waswas karena sulitnya menyelaraskan niat dengan takbir (yang berarti menghayati makna "Allah Maha Besar" sambil menghadirkan niat terperinci). Oleh karena itu, jangan terlalu berlebihan dalam mengulang-ulang takbir dan niat.Dalam hadis dan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud dan sahabat lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad dan para sahabat tidak melakukan pelafalan niat secara panjang dan berulang-ulang. Menyulitkan diri dalam ibadah adalah sesuatu yang diwaspadai dan tidak dicontohkan oleh Nabi dan sahabat.Dikatakan juga muslihat iblis ada pada orang yang terlalu sibuk mengatur niat dan takbir sementara shalatnya sendiri kurang diperhatikan. Contoh lain: setelah takbir, makmum yang masbuk terkadang terlalu lama membaca doa-doa sunnah sehingga tertinggal rukuk imam.Prioritas ibadah harus diperhatikan:Tidak boleh mengutamakan sunnah sekaligus meninggalkan kewajiban. Misalnya, jika tertinggal rukuk, sebaiknya langsung baca Al-Fatihah, tanpa doa istiftah atau ta’awudz agar tidak tertinggal imam.Ibnu Jauzi mencontohkan bahwa para ulama berbeda pendapat soal kewajiban membaca Al-Fatihah bagi makmum, tetapi sunnah-sunnah seperti doa istiftah dan ta’awudz tidak boleh sampai mengganggu kewajiban. Jangan sampai yang sunnah malah dilaksanakan, tapi yang wajib terabaikan.Tipu daya iblis lainnya adalah menyebabkan orang meninggalkan sunnah karena masalah pribadi atau ketakutan riya, seperti memilih untuk tidak isi saf terdepan demi agar hatinya fokus, atau takut dianggap khusyuk. Ini tetap termasuk kesalahan dan kekurangan ilmu.Hadis shahih menegaskan keutamaan saf pertama dalam shalat berjamaah. Jangan takut salah paham orang, yang penting adalah memperbaiki hati dan mengikuti sunnah.Contoh lain sunnah yang sering dilalaikan adalah posisi tangan saat shalat yang diajarkan Nabi yaitu tangan kiri di atas kanan. Sebagian orang meninggalkan ini karena alasan pribadi, padahal ini termasuk sunnah penting dalam shalat.Kesimpulan penting oleh Ibnu Jauzi:Jangan meninggalkan syariat hanya karena mengikuti kebiasaan atau pendapat seseorang, walaupun orang tersebut saleh.Ulama bukan maksum, dan pendapat mereka bisa salah.Yang dijadikan pegangan adalah dalil dari Al-Quran dan hadis.Ditekankan bahwa keluar dari kaidah ibadah lalu berlebih-lebihan adalah kesalahan:Contohnya pada bacaan Al-Quran dalam shalat: mentahqiq (pelafalan huruf) yang terlalu berlebihan bisa membuat keluar dari aturan yang benar.Iblis membuat orang terlalu fokus pada tajwid sampai lupa makna, sementara tujuan membaca Al-Quran adalah memahami makna.Tipu daya lain: sebagian orang ahli ibadah hanya fokus pada gerakan berdiri dan duduk, tanpa memperhatikan hal-hal wajib lainnya sehingga ibadahnya kurang sempurna.Praktik lain yang tertangkap adalah beberapa makmum sudah ikut salam ketika imam salam padahal tasyahhud belum selesai. Ini tidak ditanggung oleh imam dan haram ditinggalkan tasyahhud sampai selesai.Ada juga yang memanjangkan salat dengan bacaan berjamaah, tapi melalaikan sunnah dan mengerjakan yang makruh.Contoh kasus salat siang (dhuha) dengan suara keras untuk menghilangkan ngantuk adalah kesalahan karena melanggar adab sunnah.Perhatian soal prioritas ibadah:Jangan sampai terlalu fokus pada salat malam sehingga salat fardu tertinggal.Salat fardu berjamaah lebih utama daripada salat malam.Jika seorang berlebihan dalam persiapan salat fardu (misal kesiapan untuk berjamaah), bisa membuatnya tertinggal salat berjamaah dan ini salah.Contoh nyata kebodohan menurut syariat: berjalan di siang hari supaya tidak mengantuk untuk shalat malam. Nabi mengajarkan agar badan juga diperhatikan, jika mengantuk hendaknya tidur.Rasulullah melarang memaksakan berdiri salat jika capek; boleh duduk salat sunah.Jika ngantuk saat shalat, lebih baik tidur dahulu agar shalat dengan semangat dan khusyuk.Salat Nabi Daud yang jadi contoh adalah dengan bertahap menjalankan salat malam tanpa berlebihan.Tidak ada riwayat Nabi Muhammad pernah begadang semalaman tanpa tidur. Sunnah lebih menekankan keseimbangan ibadah dan istirahat.Iblis juga menipu dengan riya’, memprovokasi orang agar suka mempublikasikan amal saleh mereka.Contoh negatif: seseorang sengaja mengabarkan azan tepat waktu untuk menunjukkan bahwa dia tidak tidur semalaman, yang pada hakikatnya adalah riya’ terselubung.Dalil penting: Allah memuji orang yang berinfak secara terang-terangan jika niatnya ikhlas, tapi amal tersembunyi lebih utama.Iblis memancing riya juga dalam urusan menangis dalam ibadah. Bila seseorang bisa menahan tangis, sebaiknya menahan, karena menampilkan tangis bisa menjadi riya.Orang yang gemar beribadah di masjid supaya terlihat dan menjadi pusat perhatian juga bagian dari tipu daya iblis.Rasulullah menegaskan shalat sunnah terbaik adalah di rumah kecuali salat fardu yang disunnahkan di masjid agar tidak dikenal riya.Beberapa sahabat salat malam sambil menyembunyikan ibadahnya agar tidak diketahui orang lain, menghindari riya.Manusia memiliki nafsul lawwamah yaitu jiwa yang suka mencela dirinya ketika melakukan kesalahan atau maksiat, sebagai kontrol internal agar jangan melakukan riya’.Penting untuk menghentikan diri saat ada tanda riya’, jangan lanjutkan cerita atau pamer amal saleh.Iblis terus menggoda manusia dan ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, menutup pintu riya’ dan kesombongan.Kajian akan dilanjutkan pada pembahasan talbis iblis dalam ibadah lainnya seperti baca Qur’an, puasa, dan haji.Kesimpulan Utama: Ibadah harus dilaksanakan dengan niat yang ikhlas dan sederhana, tidak rumit dan tidak berlebihan.Waswas dan kebingungan dalam niat serta pelaksanaan adalah tipu daya iblis untuk mengganggu keikhlasan dan kekhusyukan.Prioritaskan kewajiban dalam ibadah, jangan sampai tertukar dengan pelaksanaan sunnah yang menyebabkan kelalaian.Hindari riya’ dengan menjaga amal tetap tersembunyi, tidak diumumkan kecuali untuk maslahat syar’i dan ikhlas.Pelajari dan pahami dalil sebagai pedoman utama dalam beribadah, jangan semata mengikuti kebiasaan atau pendapat individu.Istirahat dan menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari ibadah yang diperintahkan oleh Nabi

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
A
Amika Aspar

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis Iblis #8

Talbis Iblis #8: Talbis Iblis Kepada Ahli Ilmu (Bag-4) - Ust Dr. Firanda Andirja MATipu Daya Iblis dalam Ibadah Haji 1. Mengutamakan Haji Sunnah dan Melalaikan Bakti kepada Orang Tua Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan bahwa terkadang seseorang telah menyelesaikan kewajiban haji pertamanya (karena haji wajib hanya sekali seumur hidup). Kemudian, ia ingin melaksanakan haji sunnah yang berulang-ulang, namun pelaksanaannya tidak sesuai dengan aturan syariat. Contohnya, ia pergi berhaji sunnah tanpa mendapatkan rida dari orang tuanya, padahal orang tuanya saat itu sedang memiliki keperluan yang membutuhkan kehadirannya. Dalam kondisi ini, berbakti dan membantu orang tua jauh lebih utama daripada mengejar ibadah sunnah. Mengutamakan haji sunnah hingga membuat orang tua marah atau telantar merupakan salah satu bentuk tipu daya iblis. Lain halnya jika yang dilaksanakan adalah haji wajib yang pertama kali, maka ia tetap harus ditunaikan meskipun orang tua tidak meridai. 2. Berhaji dalam Kondisi Memiliki Utang dan Kezaliman Banyak orang memaksakan diri pergi berhaji padahal mereka masih memiliki tanggungan utang atau kezaliman yang belum diselesaikan dengan sesama manusia. Kewajiban haji hanya berlaku bagi mereka yang mampu secara finansial, fisik, dan keamanan jalur perjalanan. Syarat kemampuan (istitha'ah) ini mencakup memiliki dana yang sudah melebihi pelunasan utang serta tersedianya nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkan selama masa safar. Orang yang memprioritaskan haji sementara utangnya menumpuk adalah bentuk kekeliruan, karena melunasi utang hukumnya wajib sedangkan haji bagi yang tidak mampu tidaklah dipaksakan. Selain itu, ada pula sebagian orang yang pergi berhaji dengan tujuan murni untuk pesiar atau sekadar jalan-jalan di kota Makkah dan Madinah, bukan untuk mencari ampunan Allah. 3. Berhaji dengan Harta Syubhat dan Haram Sebagian orang berhaji menggunakan harta yang tidak jelas asal-usulnya (syubhat) atau bahkan bersumber dari jalan yang haram. Para ahli fikih menjelaskan bahwa orang yang pergi melaksanakan rangkaian manasik haji dari Mina, Wukuf di Arafah, hingga mabit di Muzdalifah dengan harta haram, maka ibadahnya tidak akan diterima di sisi Allah. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah atsar, ketika orang tersebut mengumandangkan Labaik Allahumma Labaik, maka malaikat akan menjawab bahwa tidak ada sambutan kebaikan baginya karena bekal dan hartanya adalah haram. Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali dari sesuatu yang baik-baik pula (Innallaha thayyibun la yaqbalu illa thayyiba). 4. Niat Riya dan Hilangnya Esensi Kesatuan Hati Iblis menipu sebagian jemaah dengan menanamkan pemikiran bahwa yang terpenting adalah jasad mereka telah sampai di tempat-tempat suci dan menyelesaikan rukun haji, meskipun hati mereka kotor dan penuh batin yang tidak bersih. Esensi utama ibadah haji adalah mendekatkan hati kepada Allah (alqurbu bil qulub), bukan sekadar kedekatan fisik semata. Banyak jemaah haji yang terjebak dalam pertengkaran, saling menyenggol, dan marah-marahan saat berdesak-desakan. Padahal Allah melarang perbuatan jidal (debat kusir/bertengkar) selama haji. Salah satu hikmah dikumpulkannya umat Islam dari seluruh penjuru dunia (Afrika, Cina, Eropa, hingga Indonesia) adalah agar mereka saling mengenal, menyayangi, dan menguatkan persaudaraan, bukan saling menjatuhkan atau bertengkar dengan sesama jemaah, apalagi dengan istri sendiri selama perjalanan. 5. Bangga dengan Kuantitas Haji dan Melakukan Kemaksiatan saat Safar Sebagian orang mengejar kuantitas dengan berhaji berulang kali hanya untuk tujuan kesombongan, lalu memamerkannya kepada orang lain dengan berkata bahwa dirinya telah puluhan kali wukuf di Arafah. Ibnul Jauzi juga mengkritik fenomena sebagian orang yang tinggal lama di Makkah atau Madinah tetapi tidak memanfaatkan waktu untuk membersihkan hati mereka. Pada masa dahulu, perjalanan haji sangat berat dan melelahkan. Beliau menceritakan melihat sebagian jemaah yang berbuat zalim dengan memukuli atau merepotkan pembantunya di jalan hanya untuk mencarikan air. Ada pula yang sibuk berdagang selama safar haji namun tega mengurangi timbangan (tatfif). Mereka tertipu oleh bisikan iblis bahwa segala kemaksiatan tersebut otomatis akan terhapus setelah haji selesai. Padahal, haji yang diampuni dosanya hingga bersih seperti bayi yang baru lahir adalah haji yang mabrur, yaitu haji yang dikerjakan sesuai aturan sunnah, ikhlas, serta bersih dari perkataan kotor (rafats), kefasikan (fusuq), dan pertengkaran (jidal). 6. Kebohongan Prosedural dan Penyerobotan Fasilitas Pada masa sekarang, banyak orang melakukan berbagai kebohongan administratif dan pemalsuan demi bisa berangkat haji, dengan dalih bahwa Allah Maha Pengampun. Memulai ibadah suci dengan kebohongan adalah cara yang salah, karena jika seseorang memang tidak mampu menempuh jalur resmi yang prosedural, maka Allah tidak membebankan kewajiban haji kepadanya. Bentuk kezaliman lain yang sering terjadi adalah jemaah yang menyusup tanpa izin resmi lalu menyerobot masuk ke tenda-tenda jemaah lain dan menggunakan fasilitas mereka tanpa hak. Tindakan egois ini menyulitkan jemaah lain yang sah dan merusak esensi haji mabrur. 7. Berbuat Bidah dalam Manasik Haji Iblis memalingkan jemaah haji dengan membisikkan amalan-amalan baru (bidah) yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Ibnul Jauzi mencontohkan sebagian jemaah yang sengaja terus-menerus membuka pundak kanannya (idhthiba') selama berhari-hari di bawah terik matahari hingga kulitnya rusak. Padahal, aturan membuka pundak kanan hanya disyariatkan saat pelaksanaan Tawaf Kudum atau Tawaf Umrah saja, bukan pada tawaf sunnah, Tawaf Ifadah, Tawaf Wada, ataupun dalam aktivitas harian ihram lainnya. Beliau juga membawakan hadits Ibnu Abbas dalam Shahih Bukhari tentang Nabi yang memotong tali penuntun seorang pria yang bertawaf sambil ditarik hidungnya seperti hewan. Meskipun niat orang tersebut adalah bentuk kepasrahan dan tawadu di hadapan Allah, Nabi tetap melarangnya karena hal tersebut merupakan bidah. Ibadah yang terbaik adalah yang mengikuti petunjuk Rasulullah secara murni tanpa ditambah-tambah, seperti kekeliruan sebagian orang yang mengkhususkan shalat sunnah dua rakaat setelah melaksanakan Sa'i, padahal tidak ada tuntunannya. 8. Salah Memahami Konsep Tawakal (Haji Tanpa Bekal) Sebagian kaum pergi berhaji tanpa membawa bekal finansial sama sekali dengan alasan mereka telah bertawakal penuh kepada Allah. Imam Ahmad bin Hambal pernah menegur orang yang berniat seperti ini dengan mengatakan bahwa jika ia pergi dalam rombongan tanpa bekal, maka pada hakikatnya ia tidak bertawakal kepada Allah, melainkan bertawakal pada isi kantong dan perbekalan anggota rombongan lainnya sehingga menyusahkan orang lain. Tawakal yang benar adalah melakukan ikhtiar dan mempersiapkan bekal secara maksimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Seseorang wajib mencukupi kebutuhan dirinya sendiri serta memastikan nafkah keluarga yang ditinggalkan di rumah terpenuhi dengan baik selama masa kepergiannya, bukan malah menelantarkan mereka demi mengejar ibadah sunnah.Tipu Daya Iblis dalam Ibadah Jihad Fisabilillah 1. Riya dan Sifat Pamer dalam Berjihad Iblis menipu banyak orang yang keluar ke medan perang dengan merusak niat mereka. Ada yang berperang demi kesombongan, ingin disebut sebagai pahlawan yang gagah berani, ingin membela suku/golongan (ashabiyah), atau murni demi mencari harta rampasan perang (ghanimah). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan dalam hadits Abu Musa Al-Asy'ari bahwa seseorang baru dikatakan berada di jalan Allah (fisabilillah) apabila ia berperang dengan niat yang ikhlas murni untuk menegakkan kalimat Allah agar menjadi yang paling tinggi. Ibnu Mas'ud juga mengingatkan agar tidak terburu-buru memastikan secara mutlak bahwa si Fulan mati syahid, melainkan berdoalah dengan kalimat "Semoga si Fulan dicatat sebagai syahid," karena tidak ada yang mengetahui isi hati dan niat seseorang yang sebenarnya kecuali Allah. 2. Ancaman bagi Orang yang Salah Niat Hadits sahih mengenai tiga golongan manusia yang pertama kali dilemparkan ke dalam neraka Jahanam pada hari kiamat. Salah satunya adalah seorang pria yang mati di medan perang. Di hadapan Allah, ia mengaku telah berperang di jalan-Nya hingga syahid. Namun Allah membantahnya dan menyatakan bahwa ia berdusta; ia berperang hanya agar dipuji sebagai orang yang berani, dan pujian dunia itu telah ia dapatkan. Akhirnya, ia diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka. Hal ini membuktikan bahwa ibadah yang agung seperti jihad sekalipun akan menjadi sia-sia dan mendatangkan siksa apabila dicampuri oleh penyakit riya. Berbeda dengan para salaf terdahulu, seperti kisah Abdullah bin Mubarak yang menyembunyikan identitasnya dengan memakai penutup wajah setelah berhasil memenangkan duel melawan musuh kuat di medan perang Romawi, karena beliau sangat takut terjebak dalam pujian manusia. 3. Mengambil Harta Ghanimah Sebelum Dibagikan (Gulul) Bentuk talbis iblis berikutnya adalah membisikkan kepada para pejuang bahwa semua harta orang kafir di medan perang berstatus halal untuk langsung diambil secara pribadi. Ketidaktahuan akan ilmu agama ini menjerumuskan mereka ke dalam dosa Gulul, yaitu mengambil harta rampasan perang secara sembunyi-sembunyi sebelum dikumpulkan dan dibagikan secara resmi oleh pemimpin pasukan (Amir). Hadits Abu Hurairah tentang seorang budak Nabi yang tewas terkena anak panah misterius di lembah Khaibar. Ketika para sahabat memberikan ucapan selamat karena mengira budak tersebut mati syahid, Nabi langsung menyangkalnya dan mengabarkan bahwa selembar kain yang diambil secara diam-diam oleh budak tersebut sebelum pembagian ghanimah kini telah berubah menjadi kobaran api neraka yang membakarnya. Mendengar hal itu, para sahabat yang lain ketakutan dan langsung mengembalikan barang-barang kecil, bahkan termasuk tali sandal yang sempat mereka ambil tanpa izin.Pentingnya Perpaduan antara Ilmu dan ImanPembahasan diakhiri dengan sebuah pasal mengenai pengaruh iman dan ilmu sebagai benteng utama untuk menjaga diri dari fitnah harta. Seseorang tidak cukup hanya mengandalkan ilmu semata; sebab bisa jadi seorang Mujahid tahu bahwa hukum mengambil harta secara tidak sah adalah haram, namun karena imannya lemah dan tidak sabar saat melihat emas atau harta di depan mata, ia tetap mengambilnya. Sebaliknya, orang yang memiliki iman tinggi tetapi tidak dibekali dengan ilmu agama yang benar, sering kali melakukan pelanggaran syariat karena menyangka tindakan salah yang dilakukannya adalah sebuah kebaikan. Oleh karena itu, ilmu dan iman harus berjalan beriringan agar seseorang selamat dari fitnah dunia dan tidak memakan hak milik sesama manusia meskipun dalam jumlah yang sangat kecil.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

Talbis Iblis #8

Talbis Iblis #8Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag. 4)Talbis Iblis terkait Ibadah Haji1. Terkadang seorang sudah melaksanakan haji, kewajiban haji selesai. Karena kewajiban haji itu hanya sekali seumur hidup. Kemudian orang tersebut ingin haji lagi (haji sunnah), tetapi terkadang haji sunnah tersebut tidak sesuai aturan. Contoh : Berhaji tapi tidak diridhai orang tuanya2. Berhaji namun masih memiliki hutang3. Berhaji hanya niat jalan-jalan 4. Berhaji dengan harta yang syubhat bahkan haram5. Berhaji ingin dipanggil dengan sebutan "pak Haji"6. Sebagian jamaah haji di sekeliling ka'bah dengan hati yang kotor dan batin yang tidak bersih, iblis menampakan pada mereka "yang penting kamu haji". Ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan haji adalah agar mereka dekat, bukan hanya dekat jasad tapi hati bermusuhan, dan itu hanya bisa diraih dengan ketakwaan. 7. Berhaji dengan tujuan jumlah hajinya dan berbangga dengan itu8. Semangat berhaji namun shalat tidak diperhatikan9. Ada yang berhaji sambil berjualan bahkan melakukan kecurangan ("celakalah orang-orang yang mengurangi timbangan ")10. Sebagian orang menyangka "Sudah haji, selesai urusan" Atau "Yang penting haji"Nabi mengatakan : " Barang siapa haji karena Allah, tidak berkata kotor/menimbulkan syahwat (rafats) dan tidak berijimak ketika ihram, tidak bermaksiat, maka dia bersih dari dosa-dosanya seperti dia dilahirkan dari perut ibunya"Mabrur itu ada aturannya, bukan dengan berbuat dzolim, melakukan kebohongan seperti misalnya berhaji tidak punya surat izin haji, masuk (nyerobot) ke tenda orang.11. Diantara mereka ada yang berbuat bid'ah ketika manasik haji. Sebagian orang ada yang selalu buka pundak kanan. Ihram itu harus tertutup kecuali pada saat tawaf qudum boleh buka pundak kanan, sedangkan untuk tawaf2 yang lain pundak tertutup. Rasulullah bersabda :"Sebaik-baik petunjuk, petunjuk Muhammad"13. Bid'ah shalat dua raka'at setelah Sa'i14. Sebagian kaum ditipu iblis mengaku bertawakal mereka berhaji tanpa bekal mereka berada di puncak kesalahan.Tawakal : ikhtiar + menyerahkan hati kepada AllahItu kenapa Allah menyuruh haji bagi yang mampu, supaya kamu punya bekal. Bukan hanya bekal untuk dirimu tapi bekal untuk keluarga yang ditinggalkan. Maka dari itu berbekalah, jika tidak hanya akan merepotkan orang lain.Talbis Iblis terkait Jihad 1. Iblis telah menipu banyak orang dalam masalah jihad, sehingga banyak orang berjihad sementara diantara mereka :- Niat untuk berbangga-bangga dan riya- Niat untuk mencari ghanimah- Niat untuk menunjukkan keberanian- Niat membela sukuItu semua bukan fiisabilillah. Rasulullah bersabda : "Barang siapa yang berjihad untuk menegakkan kalimat Allah maka Fiisabilillah" (HR Bukhari Muslim)Kemudian beliau membawakan hadits tentang 3 orang yang diazab di neraka Jahannam. Yang pertama kali di sidang di hari kiamat ada 3 orang, yang pertama seorang mati syahid kemudian dihadirkan, Allah ingatkan orang tersebut tentang nikmat2 Allah kepadanya keberanian, jago main pedang, jago panah, lalu Allah bertanya "apa yang kau lakukan dengan nikmat2 itu?" Kata dia "aku berperang karena Engkau", Allah berkata "engkau berdusta, tetapi engkau berperang supaya dikatakan pemberani, niatmu supaya dikatakan engkau pemberani terkabulkan tapi engkau tidak dapat apa-apa" Kemudian malaikat diperintahkan untuk melemparkan orang tersebut ke neraka Jahannam. Yang kedua orang (ustadz) yang belajar agama dengan tujuan supaya dikatakan alim (ahli Qur'an, ahli hadits) dan dia jadi terkenal dan akhirnya masuk neraka.  Yang ketiga orang yang dermawan, Allah kasih dia harta, kata Allah "apa yang kau lakukan" Kata dia "semua jalan yang Engkau suka, aku infaq ya Allah, karena  Engkau ya Allah" Kata Allah "Engkau dusta, engkau beramal supaya dikatakan dermawan" akhirnya dia dilemparkan ke neraka Jahannam. Ini menunjukkan bahwa tidak semua jihad niatnya  tulus, tapi niat bisa bermacam-macam.2. Diantara talbis Iblis kepada mujahid adalah mengambil harta ghanimah yang bukan haknyaDalam aturan jihad tidak boleh mengambil harta ghanimah sebelum dikumpulkan oleh Amir. Setelah dikumpulkan maka Amir yang bagi. Mengambil harta ghanimah sebelum dikumpulkan Amir dinamakan Ghulul.Hadis Abu Hurairah tentang Ghulul :"Kami berangkat pada perang Khaibar, akhirnya kami menaklukkan Khaibar, saat itu kami tidak mendapatkan ghanimah berupa emas dan perak tapi kami mendapatkan berupa perabot, makanan, pakaian. Lalu kami pergi ke suatu lembah dan bersama Nabi ada budaknya. Ketika kami singgah di lembah tersebut maka budak tersebut melepas pelana onta Nabi, tiba-tiba ada panah mengenainya, lalu dia meninggal. Kami memberi selamat "selamat bagi dia ya Rasulullah beliau mati syahid" Rasulullah berkata "tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sesungguhnya kain yang dia ambil dari harta rampasan perang Khaibar sebelum dibagikan kini menyala menajdi api membakar dirinya". Orang-orang pun takut mendengarnya. Lalu ada orang yang mengembalikan tali sandal yang dia ambil dari harta rampasan perang "ya Rasulullah saya mengambil ini waktu di Khaibar"Rasulullah berkata "ini tali sandal dari api neraka"Pengaruh Iman dan Ilmu untuk Menjaga Diri dan Fitnah HartaBisa jadi seorang mujahid tahu bahwa Ghulul hukumnya haram tetapi dia tidak sabar melihat harta, mungkin dia menyangka karena dia sudah berjihad akan termaafkan. Dari sini maka nampaklah dampak iman dan ilmu. Kalau tidak punya iman meskipun punya ilmu akan tetap ambil. Tapi kalau tidak punya ilmu meskipun punya iman akan tetap ambil. Maka perlu berkumpul antara iman dan ilmu. Sehingga seorang tidak berani ambil yang haram.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
D
Dina Permata Sari

📍 Kota Tangerang Selatan

Talbis Iblis #8 - Talbis Iblis Kepada Ahli Ilmu (Bag-4)

1. Talbis Iblis dalam Ibadah HajiIblis sering menipu orang-orang yang berhaji sehingga ibadah mereka rusak atau tidak mendatangkan pahala yang sempurna. Beberapa bentuk tipu dayanya antara lain:Mengutamakan Haji Sunnah di atas Berbakti pada Orang Tua: Seseorang memaksakan diri berangkat haji untuk kedua/ketiga kalinya (Haji Sunnah) padahal orang tuanya tidak meridhai atau sangat membutuhkan kehadirannya. Padahal, berbakti kepada orang tua lebih utama daripada haji sunnah.Berhaji Padahal Memiliki Hutang: Berhaji di saat masih memiliki banyak hutang atau belum menyelesaikan kezaliman terhadap orang lain. Syarat haji adalah "mampu", yang berarti hutang sudah dilunasi dan bekal untuk keluarga yang ditinggalkan sudah tercukupi.Niat yang Keliru dan Harta Haram: Berhaji hanya untuk niat jalan-jalan (pesiar) di Makkah/Madinah, berhaji menggunakan harta haram atau syubhat (yang membuat hajinya tidak diterima Allah), hingga haji karena riya' agar dipanggil "Pak Haji" atau untuk pamer jumlah keberangkatan haji.Raga Berkumpul Namun Hati Bermusuhan: Berkumpul di Makkah namun hati penuh kotoran, bertengkar (jidal), dan bermusuhan dengan sesama jamaah atau bahkan dengan pasangan sendiri. Inti dari haji adalah mendekatkan hati dan meningkatkan takwa, bukan sekadar kedekatan fisik.Meremehkan Ibadah Lain dan Zalim: Semangat wukuf di Arafah namun mengabaikan salat fardhu, atau berhaji sambil berbuat zalim seperti menyerobot fasilitas/tenda orang lain tanpa izin resmi, serta menipu dan mengurangi timbangan bagi mereka yang haji sambil berdagang.Membuat Bid'ah dalam Manasik: Menambahkan tata cara yang tidak dicontohkan Rasulullah SAW. Contohnya: sengaja terus-menerus membuka pundak kanan (padahal aturannya hanya saat tawaf qudum), menyiksa diri berjemur di bawah matahari, tawaf dengan cara diikat seperti hewan dengan alasan agar "tawadhu", hingga membuat-buat salat khusus dua rakaat setelah sa'i.Salah Kaprah Mengenai Tawakal: Pergi berhaji nekat tanpa membawa bekal dengan dalih "tawakal". Hal ini sangat dilarang karena pada akhirnya justru akan merepotkan jamaah lain. Tawakal yang benar harus senantiasa didahului dengan ikhtiar dan persiapan bekal.2. Talbis Iblis dalam Ibadah JihadSelain haji, iblis juga memberikan tipu daya besar kepada orang-orang yang berjihad di jalan Allah:Niat yang Melenceng: Seseorang turun ke medan perang bukan fi sabilillah (untuk menegakkan kalimat Allah), melainkan murni karena ingin dipuji sebagai pahlawan pemberani, karena fanatisme suku, atau hanya demi meraup harta rampasan (ghanimah).Bermudah-mudah Melabeli "Mati Syahid": Sahabat Ibnu Mas'ud memperingatkan untuk tidak gampang memastikan seseorang masuk surga dengan label "Fulan pasti mati syahid". Kita hanya boleh mendoakan "Semoga ia mati syahid", karena niat asli di dalam hati (apakah murni karena Allah atau karena riya') hanya Allah yang tahu. Kisah menyebutkan bahwa ada orang yang mati di medan perang namun kelak pertama kali dimasukkan ke neraka karena niat awalnya hanya agar diakui sebagai jagoan.Melakukan Gulul (Mencuri Harta Rampasan): Mengambil harta rampasan perang milik musuh secara diam-diam sebelum dikumpulkan dan dibagikan secara resmi oleh pemimpin (Amir). Mengambil harta sebelum dibagi, meskipun hanya sekecil tali sendal atau selembar kain, merupakan dosa besar yang dapat menjerumuskan ke api neraka.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
N
Nailah Nurul Hanifah

📍 Jakarta Selatan

Talbis Iblis #8: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah (Bagian 4)

Talbis Iblis dalam Ibadah HajiHaji Sunnah yang Mengabaikan Ridho Orang Tua: Seseorang telah menunaikan haji wajib, kemudian ingin berhaji lagi untuk kedua kalinya atau lebih. Masalahnya, haji berikutnya hanyalah sunnah, sementara orang tuanya tidak meridhai karena membutuhkan bantuannya. Dalam kondisi ini:Berbakti kepada orang tua lebih utama.Tidak sepantasnya mengejar haji sunnah dengan mengorbankan hak orang tua.Ini termasuk tipuan iblis:"Aku ingin menambah ibadah," padahal justru melalaikan kewajiban yang lebih besar.Berhaji dalam Kondisi Memiliki Utang: Seseorang tidak diperbolehkan pergi haji jika masih memiliki utang atau kezaliman yang belum diselesaikan kepada orang lain. Syarat utama haji adalah istitha'ah (mampu), yang artinya memiliki uang lebih setelah melunasi utang, serta tersedianya bekal yang cukup untuk perjalanan dan untuk keluarga yang ditinggalkan. Kewajiban utama yang harus didahulukan adalah melunasi utang.Niat Haji yang Keliru (Jalan-jalan & Riya): Ada orang yang pergi haji hanya berniat untuk wisata/jalan-jalan di Mekkah atau Madinah, bukan untuk mencari ampunan Allah. Ini termasuk penyimpangan niat dalam ibadah haji. Ada juga yang berhaji agar dipanggil dengan gelar "Pak Haji" oleh masyarakat, atau sekadar untuk bangga-banggaan memperbanyak jumlah hajinya. Ini termasuk riya' dan merusak keikhlasan.Berhaji dengan Harta Haram: Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali dari yang baik-baik (Innallaha thoyyibun laa yaqbalu illa thoyyiba). Jika seseorang berhaji dengan harta haram dan mengucap Labaik Allahumma Labaik, maka dikatakan kepadanya bahwa tidak ada Labaik baginya dan hajinya tidak diterima (bagaikan hanya untanya saja yang pergi haji).Menjaga Kesucian Hati dan Larangan Berjidal: Inti dari ibadah haji adalah mendekatkan hati kepada Allah (alqurbu bil qulub), bukan sekadar kedekatan fisik. Jamaah haji dilarang keras untuk melakukan jidal (berdebat kusir) atau saling bermusuhan, senggol-senggolan, dan marah-marahan. Menahan emosi sangat penting agar hati tetap bersih, termasuk larangan bertengkar dengan pasangan/istri selama haji. Pertengkaran merusak ketenangan hati dan menghilangkan manfaat haji. Padahal salah satu hikmah haji adalah persatuan umat Islam, saling mencintai sesama muslim, merasakan ukhuwah Islamiyah sedunia.Kezaliman Menyerobot Fasilitas Haji: Realitas di zaman sekarang di mana ada orang yang berhaji ilegal (tanpa tasrih/surat izin resmi), lalu menyerobot masuk ke tenda jamaah resmi dan mengambil hak fasilitas orang lain. Jangan memulai ibadah haji dengan kebohongan atau kezaliman, karena Allah tidak mewajibkan haji bagi yang tidak mampu secara prosedural resmi.Berbuat Bid'ah dalam Manasik Haji: Ibnu Jauzi mengkritik orang-orang yang menambah-nambah tata cara ibadah yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ. Contohnya:Membuka bahu kanan (idhthiba') terus-menerus selama ihram/selama berhari-hari di bawah terik matahari, padahal idhthiba' hanya disyariatkan saat tawaf qudum/tawaf umrah saja.Kisah di zaman Nabi ﷺ tentang orang yang tawaf dengan menuntun temannya memakai tali di hidung (seperti hewan) agar terlihat sangat tawadhu, lalu dipotong dan dilarang oleh Rasulullah ﷺ. Hal tersebut menyiksa diri dengan amalan yang tidak disyariatkan. Menambah ritual salat dua rakaat khusus setelah selesai melakukan Sa’i. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad ﷺ, sehingga ibadah tidak boleh dikreasikan sendiri. Ukuran benar atau tidaknya ibadah adalah: "Apakah Rasulullah ﷺ melakukannya?"Salah Kaprah tentang Tawakal Tanpa Bekal: Ada sebagian jamaah (seperti sebagian orang Yaman zaman dahulu) yang pergi haji tanpa membawa bekal sama sekali dengan alasan "tawakal". Tindakan ini keliru karena pada akhirnya mereka hanya akan merepotkan orang lain di rombongannya, menjadi beban bagi rombongan. Imam Ahmad bin Hambal pernah menegur orang yang berniat seperti ini dan melarangnya bergabung dengan rombongan jika tidak membawa bekal, karena itu artinya dia bukan tawakal kepada Allah melainkan bertumpu pada perbekalan orang lain.Talbis Iblis dalam Jihad FisabilillahNiat yang Rusak saat Berjihad: Iblis menipu sebagian orang yang keluar berperang agar berniat mencari ghanimah (harta rampasan perang), menunjukkan keberanian (ingin disebut pahlawan/jagoan), atau sekadar membela suku (hamiyah). Nabi ﷺ berkata, "Barangsiapa berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka itulah fii sabilillah." Jadi ukuran jihad bukan penampilan lahiriah. Ukurannya adalah niat.Kisah Tiga Golongan Pertama yang Masuk Neraka: Hadits tentang tiga orang yang pertama kali disidang dan dilemparkan ke neraka Jahanam karena salah niat:Orang yang mati di medan perang, niatnya agar dipuji sebagai pemberani.Orang yang menuntut ilmu agama/qari, niatnya agar dipuji sebagai orang alim.Orang yang dermawan bersedekah, niatnya agar dipuji sebagai orang yang dermawan/luhur budinya.Teladan Keikhlasan Abdullah bin Mubarak: Dikisahkan saat kaum muslimin bertempur melawan pasukan Romawi, ada seorang ksatria kafir yang menantang duel satu lawan satu dan berhasil membunuh tiga prajurit muslim berturut-turut. Lalu, majulah prajurit keempat dari saf muslim yang wajahnya tertutup kain, berhasil membunuh musuh tersebut, dan langsung pergi menyelinap agar tidak dikenali. Saksi mata (Abdah bin Sulaiman) mengejarnya dan menyingkap penutup wajahnya, yang ternyata adalah ulama besar Abdullah bin Mubarak. Beliau marah karena identitasnya ketahuan, demi menjaga keikhlasan hatinya dari pujian manusia. Hal tersebut menunjukkan besar keikhlasannya, takut riya’ sehingga menyembunyikan amal sholihnya.Larangan Mengambil Ghanimah Secara Sembunyi-Sembunyi (Ghulul): Di medan jihad, haram hukumnya mengambil harta rampasan sebelum dikumpulkan dan dibagikan secara resmi oleh Amir (pemimpin). Mengambilnya secara diam-diam sebelum pembagian disebut ghulul.Kisah Budak Nabi di Perang Khaibar: Seorang budak Nabi tewas terkena anak panah misterius. Para sahabat memujinya sebagai syahid, namun Nabi ﷺ membantahnya dan bersabda bahwa selembar kain yang ia ambil secara ilegal dari harta ghanimah sebelum dibagikan, kini sedang menyalakan api neraka untuk membakarnya. Mendengar hal itu, sahabat lain ketakutan dan langsung mengembalikan tali sandal yang sempat mereka ambil secara tidak sah.Pelajaran: Jangan meremehkan dosa kecil yang berkaitan dengan hak orang lain.Pengaruh Iman dan Ilmu Menghadapi Fitnah HartaKombinasi Iman dan Ilmu: Seseorang yang memiliki ilmu tahu bahwa mengambil hak orang lain itu haram, namun tanpa iman ia tidak akan sabar saat melihat godaan harta (seperti emas). Sebaliknya, orang yang punya iman tetapi tidak punya ilmu bisa terjerumus karena ketidaktahuannya. Maka, iman dan ilmu harus berjalan beriringan agar selamat.Pesan tentang Menjaga Hak Harta Orang Lain: Kisah kontemporer tentang seseorang yang berkonsultasi mengenai mimpi buruk diserang macan berturut-turut setelah menggugat tanah yang bukan sepenuhnya hak syar'inya. Nasihatnya agar tidak sekadar bersandar pada celah hukum undang-undang atau pengacara yang menjanjikan kemenangan, melainkan harus bertanya kepada ulama/Syekh demi memastikan kebersihan hartanya agar tidak memakan hak orang lain, sekecil apa pun itu.Hati-hati, dunia ini hanya sebentar, jangan sampai kita ‘makan’ harta yang merupakan hak orang lain. Kalau kau benar, tuntut, kalau kau salah, jangan.Kisah Amir bin Abdi Qais: Saat penaklukan kota Madain, seorang prajurit membawa harta rampasan yang sangat berharga dan mengembalikannya secara utuh tanpa mengambil sedikit pun. Ia tidak mau mengambilnya sama sekali. Ketika ditanya siapa namanya, ia menolak memberi tahu karena tidak butuh pujian manusia dan hanya mengharapkan pahala Allah. Setelah diselidiki secara diam-diam, orang yang sangat ikhlas tersebut ternyata adalah ulama tabi'in terkemuka, Amir bin Abdi Qais.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Tablis Iblis 8

Talbis Iblis 8Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bagian 4)Ustadz DR. Firanda Andirja, M.ATipu Daya Setan dalam Ibadah HajiMelalaikan Bakti Orang Tua demi Haji Sunnah:​Setan menggoda seseorang untuk berulang kali melaksanakan ibadah haji sunnah (setelah haji wajib selesai), padahal orang tuanya tidak ridha atau sedang membutuhkannya. Berbakti kepada kedua orang tua jauh lebih utama daripada mengejar haji sunnah. Namun, untuk haji pertama (wajib), tetap harus dilaksanakan meskipun orang tua tidak ridha.​Berhaji dalam Kondisi Memiliki Tanggungan Hutang:Seseorang nekat pergi haji padahal masih memiliki banyak hutang atau kezaliman yang belum diselesaikan. Kewajiban utama sebelum haji adalah melunasi hutang. ​Dalil Al-Qur'an (Surah Ali 'Imran: 97):​وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup/mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah". Syarat kemampuan (istitha'ah) mencakup memiliki bekal yang cukup, keamanan di jalan, serta telah melunasi hutang dan menjamin nafkah keluarga yang ditinggalkan.​Berhaji dengan Harta Haram atau Syubhat:​Setan menipu manusia bahwa yang terpenting adalah fisiknya sampai di Arafah, meskipun biayanya bersumber dari hasil haram atau kebohongan. ​Dalil Hadits Nabi ﷺ:​إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبً"Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik pula".​Dalil Atsar (Kisah Qiyas Unta): Disebutkan dalam suatu atsar bahwa orang yang berhaji dengan harta haram, ketika dia mengucap "Labbaik Allahumma labbaik", maka dikatakan kepadanya: "Tidak ada Labaik bagimu, karena hartamu haram." Secara hakiki, yang mendapatkan pahala perjalanan haji itu hanyalah untanya, sementara orang tersebut tidak diterima hajinya.​Merusak Keikhlasan dan Pahala Haji (Riya, Sombong & Maksiat):​Berhaji demi gelar "Pak Haji", menyombongkan diri telah wukuf puluhan kali, atau melakukan maksiat seperti mengurangi timbangan dagangan (tatfif) saat di jalan haji.​Dalil Al-Qur'an (Surah Al-Baqarah: 197):​فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ"...maka tidak boleh rafats (mendekati zina/kata syahwat), berbuat fasik (maksiat), dan berbantah-bantahan (berdebat kusir) di dalam masa mengerjakan haji."​Dalil Hadits Nabi ﷺ (Syarat Haji Mabrur):​مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ"Siapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berbuat rafats dan tidak berbuat maksiat, maka dia kembali bersih dari dosa-dosanya seperti hari di mana ibunya melahirkannya."​Tawakal yang Salah (Haji Tanpa Bekal):​Sebagian orang Yaman zaman dahulu (dan ditiru sebagian orang sekarang) nekat berhaji tanpa membawa bekal dengan alasan "bertawakal". Hal ini dilarang karena pada akhirnya hanya akan merepotkan dan membebani logistik orang lain/rombongan.​Dalil Al-Qur'an (Surah Al-Baqarah: 197):​وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ"Berbekallah kamu, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."​Dalil Perkataan Ulama (Imam Ahmad bin Hambal): Ketika seseorang bertanya kepada Imam Ahmad ingin haji tanpa bekal atas nama tawakal, Imam Ahmad menjawab dengan tegas: "Kalau begitu, pergilah sendiri di padang pasir, jangan ikut rombongan orang lain!" Karena jika ikut rombongan tanpa bekal, dia sejatinya bukan bertawakal kepada Allah, melainkan bertawakal (bergantung) pada bekal orang lain.Bidah-Bidah dalam Manasik Haji & Umrah​Kasus Membuka Pundak (Idhtiba') Sepanjang Waktu: Imam Ibnu Jauzi mengkritik jamaah yang membuka pundak kanan mereka terus-menerus selama berhari-hari di bawah terik matahari hingga kulitnya rusak demi terlihat heroik. Padahal sunnahnya idhtiba' hanyalah dilakukan pada saat Tawaf Qudum/Tawaf Umrah saja, bukan saat tawaf lainnya, bukan pula saat sai atau setelahnya.Kasus Menyeret Teman dengan Tali seperti Hewan:​Dalil Hadits Riwayat Bukhari (dari Ibnu Abbas): Nabi ﷺ melihat seorang pria yang sedang bertawaf di Ka'bah sembari menuntun temannya menggunakan tali (zimam) yang diikat di hidung (dengan maksud menampakkan ketundukan/tawadhu ekstrem di hadapan Allah). Nabi ﷺ langsung memotong tali tersebut dengan tangan beliau dan memerintahkan agar menuntunnya menggunakan tangan saja, bukan diperlakukan seperti hewan. Hadits ini merupakan larangan keras berbuat bid'ah (kreasi ibadah baru) di dalam agama, meskipun niat awalnya adalah bentuk ketaatan.Kasus Shalat Dua Rakaat Setelah Sai: Dianggap bid'ah jika dijadikan sebagai rangkaian manasik yang baku, karena Nabi ﷺ tidak pernah mencontohkan shalat dua rakaat setelah selesai sai.​Dalil Prinsip Utama Ibadah:​Kaidah Umum Nabi ﷺ: "Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ" (Wa khairal huda huda Muhammadin ﷺ).​Perintah Manasik Nabi ﷺ: "Ambillah dariku tata cara manasik hajimu" (Khudzu 'anni manasikakum).Tipu Daya Setan dalam Ibadah Jihad Fisabilillah​Niat yang Rusak (Mencari Ketenaran & Ghanimah): Setan membelokkan niat para pejuang agar bertempur demi kesombongan, fanatisme kesukuan (hamiah), atau semata-mata mencari harta rampasan perang (ganimah).Dalil Hadits Riwayat Bukhari & Muslim (dari Abu Musa Al-Asy'ari): Seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang orang yang berperang demi menunjukkan keberaniannya, membela sukunya, atau karena riya, mana yang disebut fisabilillah? Nabi ﷺ menjawab:​مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ"Siapa yang berperang demi menegakkan kalimat Allah agar menjadi yang paling tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah (fisabilillah)."​Bahaya Neraka Bagi Mujahid yang Riya:​Dalil Hadits Shahih tentang 3 Golongan Pertama yang Membakar Neraka: Golongan pertama yang disidang adalah seorang yang mati di medan perang. Dia mengaku berperang demi Allah, namun Allah berfirman: "Kamu dusta! Kamu berperang hanya agar dikatakan sebagai seorang pemberani, dan gelar itu telah kamu dapatkan di dunia." Akhirnya, dia ditarik dengan wajah tersungkur lalu dilemparkan ke neraka jahanam.Dosa Ghulul (Mengambil Ghanimah Sebelum Dibagikan)Setan membisikkan bahwa karena yang dilawan adalah orang kafir, maka hartanya halal diambil kapan saja secara langsung. Padahal dalam aturan syariat, seluruh hasil perang harus dikumpulkan terlebih dahulu kepada pemimpin (Amir) baru kemudian dibagikan secara resmi. Mengambilnya secara sepihak sebelum dibagikan disebut Gulul.​Dalil Hadits Riwayat Abu Hurairah ؓ (Kisah Perang Khaibar):​Seorang budak Nabi ﷺ tewas terkena anak panah misterius saat melepas pelana unta Nabi ﷺ. Para sahabat menyangka dia mati syahid dan berucap: "Selamat baginya, dia mati syahid!". Namun Nabi ﷺ membantahnya dengan tegas: "Sama sekali tidak! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya sepotong kain (syamlah) yang dia ambil secara sembunyi-sembunyi dari ghanimah Khaibar sebelum pembagian resmi, kini sedang menyalakan api neraka untuk membakar dirinya!".​Mendengar hal itu, seorang sahabat lain ketakutan dan langsung mengembalikan satu atau dua tali sandal (sirak) yang sempat diambilnya sebelum pembagian. Nabi ﷺ bersabda: "Itu adalah tali sandal dari api neraka".​Dalil Hadits tentang Mengambil Hak Orang Lain Secara Batil:Nabi ﷺ memperingatkan bahwa siapa saja yang bersumpah palsu demi merampas harta saudaranya, maka dia sedang mengambil potongan api neraka. Sahabat bertanya: "Meskipun hanya sebatang kayu siwak, ya Rasulullah?" Nabi ﷺ menjawab: "Meskipun hanya sebatang kayu siwak.".Kekuatan Iman dan Ilmu sebagai Benteng​Tanpa ilmu, orang yang punya iman akan tersesat karena menganggap perbuatan salahnya sebagai bentuk ibadah (seperti haji tanpa bekal atau mencuri harta orang kafir nonton-kombatan). Sebaliknya, tanpa iman, orang yang berilmu tetap akan melanggar larangan karena tidak kuat menahan godaan harta materi.​Kisah Teladan Keikhlasan Salaf (Kisah Abdullah bin Mubarak & Amir bin Abdi Qais):​Dalam sebuah pertempuran melawan Romawi, muncul jagoan musuh yang berhasil membunuh 3 pejuang muslim dalam duel satu lawan satu. Lalu majulah pejuang keempat dengan wajah tertutup cadar yang berhasil menikam dan membunuh jagoan Romawi tersebut.​Ketika orang-orang berkerumun ingin melihat siapa pahlawan tersebut, sang perawi (Abdah bin Sulaiman) mendesak membuka cadarnya yang ternyata adalah ulama besar Abdullah bin Mubarak. Abdullah bin Mubarak marah karena identitasnya terbongkar dan berkata: "Apakah engkau sengaja ingin mempermalukan kami (merusak keikhlasan kami)?". Begitu pula kisah Amir bin Abdi Qais yang menyerahkan harta ghanimah melimpah yang menjadi haknya kepada baitul mal setelah penaklukan Kota Madain. Ketika ditanya namanya agar bisa dipuji, dia menolak keras dan berkata: "Saya tidak butuh pujian kalian, saya hanya memuji Allah dan ridha dengan pahala-Nya.".​Kesimpulan​Seluruh ibadah agung (Haji, Umrah, Jihad) berpotensi dirusak oleh setan melalui penyakit syubhat (bidah/salah paham ilmu) dan syahwat (riya, ujub, ketamakan harta). Seseorang harus memastikan ibadahnya memenuhi dua syarat mutlak: Ikhlas karena Allah (bersih dari riya) dan Ittiba' (sesuai tuntunan contoh Nabi ﷺ).

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
N
Nur Fathiyyah

📍 Kota Depok

Materi 8

Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah (Bag. 4)Talbis Iblis dalam Ibadah HajiMelakukan haji sunnah (setelah gugur kewajiban hajinya) dalam keadaan tidak sesuai dengan tuntunan syariat. Misalnya seseorang ingin berhaji lagi, padahal kedua orang tuanya tidak meridhainya karena mereka membutuhkan keberadaannya. Dalam keadaan seperti ini, berbakti kepada kedua orang tua lebih utama daripada melaksanakan haji sunnah.Karena itu Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa ini termasuk talbis iblis. Seseorang ingin melaksanakan haji sunnah, tetapi justru membuat kedua orang tuanya marah dan tersakiti.Haji, bahkan untuk haji yang pertama, tetapi masih memiliki hutang atau kezaliman yang belum diselesaikan.Hal ini tidak dibenarkan.Allah Ta'ala berfirman bahwa haji diwajibkan bagi orang yang mampu:"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah."Syarat dikatakan mampu berhaji:seseorang telah melunasi hutang-hutangnyamemiliki bekal yang cukup untuk perjalananmemiliki nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkanserta terpenuhinya keamanan perjalanan dan syarat-syarat kemampuan lainnya.Adapun seseorang yang masih memiliki banyak hutang lalu memaksakan diri berhaji, maka ia telah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Yang wajib baginya adalah menyelesaikan hutang-hutangnya terlebih dahulu.Haji hanya untuk jalan-jalanTujuannya bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengharapkan ampunan-Nya, tetapi sekadar ingin berwisata ke Makkah dan Madinah.Ada pula yang berhaji dengan harta syubhat.Bahkan lebih buruk lagi, ada yang berhaji dengan harta yang haram.Sebagian fuqaha menyebutkan bahwa apabila seseorang berhaji dengan harta haram, lalu ia melaksanakan seluruh manasik haji sambil mengucapkan:"Labbaikallahumma labbaik."Maka dikatakan kepadanya:"La labbaika wa la sa'daik.""Tidak ada labbaik bagimu dan tidak ada kebahagiaan bagimu."Karena hartanya berasal dari sesuatu yang haram.Allah adalah Dzat Yang Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.Haji untuk mendapat gelaryaitu agar dikenal oleh manusia. Ia ingin disebut sebagai "Pak Haji", ingin dihormati, atau ingin mendapatkan kedudukan tertentu di tengah masyarakat.Niat seperti ini jelas merupakan niat yang rusak.Berkumpul di sekitar Ka'bah, namun hati mereka penuh dengan kebencian, permusuhan, dan penyakit hati.Setan membisikkan kepada mereka bahwa yang penting adalah sampai ke Makkah dan melaksanakan manasik. Padahal tujuan haji bukan sekadar mendekatkan badan ke Ka'bah. Yang dimaksud adalah mendekatkan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kedekatan tersebut hanya dapat dicapai dengan ketakwaan.Allah mensyariatkan haji agar kaum muslimin dapat menyaksikan berbagai manfaat yang besar, diantaranuya bertemunya kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia. Hal ini seharusnya menumbuhkan rasa cinta dan persaudaraan di antara kaum muslimin.Bukan justru memunculkan pertengkaran dan permusuhan.Karena itu Allah berfirman:"Tidak boleh rafats, tidak boleh berbuat maksiat, dan tidak boleh berbantah-bantahan dalam haji."Karena itu seorang jamaah haji diperintahkan untuk menahan emosi dan menjaga hubungan baik dengan sesama.Bangga dengan banyaknya hajiIbnul Jauzi juga menyebutkan kesalahan sebagian orang yang tujuan utamanya adalah memperbanyak jumlah hajinya.Ia berkata:"Saya sudah dua puluh kali wukuf di Arafah."Ucapan seperti ini terkadang hanya untuk berbangga diri di hadapan manusia.Padahal betapa banyak orang yang tinggal bertahun-tahun di Makkah atau Madinah tetapi tidak pernah berusaha membersihkan hatinya.Yang terpenting bukan banyaknya jumlah haji, tetapi sejauh mana haji tersebut memperbaiki keimanan dan ketakwaan seseorang.Berhaji tapi menzalimi orang lainIbnul Jauzi menceritakan bahwa beliau sering melihat orang-orang yang sedang menuju Makkah justru memukul, memerintah, dan menyusahkan teman-teman seperjalanannya.Ada yang menyuruh orang lain mencari air untuknya dengan kasar.Ada yang memperlakukan teman-temannya dengan buruk selama perjalanan.Padahal tujuan haji adalah mendekatkan diri kepada Allah.Bagaimana mungkin seseorang melakukan ibadah yang agung sementara ia masih menzalimi sesama manusia?Beliau juga menyebutkan bahwa ada orang yang sangat semangat berhaji, tetapi salatnya sendiri tidak diperhatikan.Ada pula yang berdagang selama perjalanan haji namun melakukan kecurangan dalam timbangan dan takaran.Mereka mengurangi hak pembeli, padahal Allah telah mengancam:"Celakalah orang-orang yang curang dalam timbangan."Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Barang siapa berhaji karena Allah, tidak melakukan rafats dan tidak berbuat maksiat, maka ia kembali seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya."Hadits ini menunjukkan bahwa meninggalkan maksiat merupakan bagian penting dari haji yang mabrur.Karena itu seseorang tidak boleh berbohong, menipu, berbuat zalim, atau mengambil hak orang lain dengan alasan bahwa nanti semua dosanya akan diampuni ketika haji.Haji mabrur tidak dibangun di atas kemaksiatan.Justru untuk meraih haji mabrur seseorang harus berusaha semaksimal mungkin menjalankan syariat Allah dengan benar.Iblis menjerumuskan mereka ke dalam berbagai bentuk bid'ah ketika melaksanakan manasik.Di antaranya:orang yang terus-menerus membuka pundak kanannya selama ihram. Padahal membuka pundak kanan (idhthiba') hanya disyariatkan ketika thawaf qudum atau thawaf umrah pada sebagian keadaan tertentu. Adapun di luar itu, tidak disyariatkan untuk terus-menerus membuka pundak kanan selama hari-hari haji. Namun sebagian orang sengaja melakukannya sepanjang waktu, bahkan berhari-hari di bawah terik matahari hingga tubuh mereka kepanasan dan kulit mereka rusak. Mereka menyangka bahwa semakin berat dan menyiksa diri, maka semakin besar pula pahala yang diperoleh. Padahal hal tersebut tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.Hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Suatu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat seseorang sedang thawaf sambil dituntun menggunakan tali yang diikatkan. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memutus tali tersebut dengan tangan beliau. Orang itu sengaja melakukan hal tersebut sebagai bentuk ketundukan dan perendahan diri di hadapan Allah, seakan-akan dirinya seperti hewan yang dituntun. Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menyetujui perbuatan tersebut dan memerintahkan agar orang itu dituntun dengan tangan biasa.Hadits ini menunjukkan bahwa membuat bentuk-bentuk ibadah baru yang tidak dicontohkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak dibenarkan, meskipun niat pelakunya baik.Niat baik saja tidak cukup.Suatu ibadah harus dilakukan dengan cara yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam."Karena itu, apabila ada seseorang membuat tata cara baru dalam ibadah umrah atau haji, maka cukup ditanyakan:"Manakah yang lebih baik, tata caramu atau tata cara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam?"Tentu jawabannya adalah tata cara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.Sebagian orang menjadikan salat dua rakaat setelah sa'i sebagai rangkaian khusus dalam umrah. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah melakukannya. Salat secara umum memang ibadah yang dianjurkan. Namun menjadikannya sebagai rangkaian khusus setelah sa'i tanpa dalil merupakan bentuk penambahan dalam agama.Karena itu seorang muslim hendaknya mencukupkan diri dengan tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.Beliau bersabda:"Ambillah dariku tata cara manasik kalian."Haji tanpa membawa bekal apa pun.Mereka mengaku bahwa hal tersebut adalah bentuk tawakal kepada Allah. Padahal anggapan seperti ini adalah kekeliruan.Allah Ta'ala berfirman:"Berbekallah kalian, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang diperintahkan untuk mempersiapkan bekal ketika berhaji.Bukan justru meninggalkannya.Sebab jika seseorang berangkat tanpa bekal, maka biasanya ia akan merepotkan orang lain. Ia akan bergantung kepada rombongannya dan membebani mereka selama perjalanan.Diceritakan bahwa ada seseorang yang datang kepada Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah.Ia berkata:"Aku ingin pergi haji dengan tawakal dan tanpa membawa bekal."Imam Ahmad bertanya:"Apakah engkau akan pergi sendirian atau bersama rombongan?"Orang itu menjawab:"Bersama rombongan."Imam Ahmad pun menjawab:"Kalau begitu engkau bertawakal kepada bekal mereka."Jawaban singkat ini menunjukkan bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan sebab.Tawakal adalah melakukan sebab yang diperbolehkan syariat sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah. Bukan nekat tanpa persiapan lalu membebani orang lain.Sebagian orang mengira bahwa tawakal berarti membiarkan segala sesuatu berjalan tanpa usaha. Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling bertawakal kepada Allah, namun beliau tetap melakukan berbagai sebab yang diperbolehkan.Beliau mempersiapkan bekal ketika safar, memakai perlengkapan perang ketika berjihad, dan melakukan berbagai bentuk ikhtiar lainnya.Karena itu meninggalkan sebab bukanlah tawakal. Yang benar adalah menggabungkan antara usaha yang benar dengan ketergantungan hati kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.Talbis Iblis dalam Jihad fi Sabilillahberjihad bukan karena ingin meninggikan kalimat Allah, tetapi karena tujuan-tujuan duniawi yang tersembunyi.Ada yang ingin dikenal sebagai pemberani, mendapatkan pujian manusia, memperoleh harta rampasan perang (ghanimah) dan berperang karena fanatisme golongan, suku, atau kelompok. Padahal jihad yang diterima di sisi Allah hanyalah jihad yang dilakukan dengan ikhlas karena-Nya.Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bertanya:"Wahai Rasulullah, ada orang yang berperang karena ingin disebut pemberani. Ada yang berperang karena fanatisme golongan. Ada pula yang berperang karena ingin mendapatkan kedudukan. Siapakah yang berada di jalan Allah?"Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Barang siapa berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah."Ibnul Jauzi mengingatkan bahwa tidak setiap orang yang terbunuh di medan perang otomatis dapat dipastikan sebagai syahid.Karena niat manusia berbeda-beda.Sebagaimana dinukil dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, beliau mengingatkan agar tidak tergesa-gesa memastikan seseorang sebagai syahid.Karena itu kita mengatakan:"Semoga Allah menjadikannya syahid."Atau:"Semoga Allah menerima perjuangannya."Adapun memastikan seseorang sebagai syahid secara mutlak, maka perkara tersebut kembali kepada Allah yang mengetahui isi hati manusia.Ibnul Jauzi kemudian membawakan hadits yang sangat masyhur tentang tiga golongan pertama yang diadili pada Hari Kiamat.Golongan pertama adalah seorang yang mati dalam peperangan.Allah mengingatkan berbagai nikmat yang telah diberikan kepadanya.Allah telah memberinya kekuatan, keberanian, kemampuan bertempur, dan berbagai kelebihan lainnya.Kemudian Allah bertanya:"Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?"Ia menjawab:"Aku berperang karena-Mu hingga aku terbunuh."Namun Allah berfirman:"Engkau berdusta."Allah menjelaskan bahwa ia berperang agar disebut sebagai orang yang pemberani.Dan tujuan tersebut telah tercapai.Orang-orang memang telah memujinya sebagai pemberani.Kemudian ia diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya lalu dilemparkan ke dalam Neraka.Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya keikhlasan.Amal yang tampak besar di mata manusia bisa menjadi tidak bernilai apabila niatnya rusak.Kisah Abdullah bin Mubarak dan Mujahid yang IkhlasAbu Hatim Ar-Razi meriwayatkan dari Abdah bin Sulaiman bahwa mereka pernah berada dalam suatu peperangan bersama Abdullah bin Mubarak rahimahullah di wilayah Romawi.Ketika dua pasukan telah berhadapan, muncullah seorang jagoan dari pihak musuh.Ia menantang kaum muslimin untuk berduel.Seorang muslim maju dan bertarung dengannya.Namun ia terbunuh.Kemudian maju orang kedua.Ia juga terbunuh.Lalu maju orang ketiga.Ia pun terbunuh.Setelah itu muncul seorang lelaki dari kaum muslimin.Ia maju menghadapi jagoan tersebut.Pertarungan berlangsung cukup lama.Akhirnya lelaki muslim itu berhasil membunuh lawannya.Orang-orang segera berkerumun ingin melihat siapakah pahlawan tersebut.Abdah bin Sulaiman juga ikut mendekat.Namun ketika ia berhasil melihat wajah lelaki itu, ternyata orang tersebut segera menutupi wajahnya.Ia tidak ingin dikenal.Ia tidak ingin dipuji.Ia tidak ingin namanya disebut-sebut.Ternyata lelaki tersebut adalah Abdullah bin Mubarak rahimahullah.Keikhlasan Para SalafPerhatikan bagaimana para salaf menjaga keikhlasan mereka.Mereka khawatir jika manusia mengetahui amal-amal mereka.Mereka takut dipuji.Mereka takut amal mereka tercampuri riya'.Sementara sebagian manusia justru sangat bersemangat menampilkan amal-amalnya kepada orang lain.Padahal para salaf yang jauh lebih saleh daripada kita masih merasa khawatir terhadap riya'.Maka sudah sepantasnya seorang muslim selalu waspada terhadap penyakit hati tersebut.Disebutkan pula bahwa Ibrahim bin Adham rahimahullah apabila ikut berjihad dan memperoleh bagian ghanimah, terkadang beliau memilih untuk tidak mengambilnya.Beliau menginginkan pahala yang lebih sempurna di sisi Allah.Hal ini menunjukkan betapa besar perhatian para ulama salaf terhadap keikhlasan dan kemurnian niat dalam beramal.Mereka tidak hanya memikirkan sah atau tidaknya suatu amal, tetapi juga memikirkan bagaimana amal tersebut menjadi yang paling dicintai dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.Terkadang seorang mujahid berhasil memperoleh kemenangan. Lalu ia melihat harta rampasan perang. Karena kurang ilmu, ia menyangka bahwa seluruh harta musuh boleh langsung diambil sesuka hati. Padahal dalam syariat, harta ghanimah harus terlebih dahulu dikumpulkan oleh pemimpin pasukan. Setelah itu baru dibagikan sesuai aturan yang telah ditetapkan.Adapun mengambilnya secara diam-diam sebelum pembagian disebut dengan gulul. Perbuatan ini termasuk dosa besar. Sebagian orang terjatuh dalam kesalahan ini karena kebodohan. Sebagian lagi karena dorongan hawa nafsu. Padahal ancamannya sangat berat.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
E
Ela septiana yusira

📍 Kota Tangerang

Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bagian 4)

Seseorang yang sudah menunaikan haji wajib (sekali seumur hidup) terkadang ingin melaksanakan haji sunah, namun terperosok dalam aturan yang salah.Haji Tanpa Ridha Orang Tua: Contoh kesalahan jika haji sunah tersebut tidak diridhai oleh orang tuanya. Padahal berbakti kepada orang tua kedudukannya lebih utama daripada haji sunah. Lain halnya jika itu adalah haji wajib yang hukumnya tetap harus dilaksanakan.Berhaji dalam Kondisi Memiliki Hutang: Kesalahan lain adalah seseorang yang memaksakan berhaji padahal ia masih memiliki hutang atau kezaliman yang belum diselesaikan. Padahal syarat haji adalah istitha'ah (mampu), termasuk melunasi hutang dan memiliki bekal yang cukup untuk perjalanan serta keluarga yang ditinggalkanNiat Haji untuk Jalan-Jalan: Sebagian orang berhaji hanya sekadar untuk pesiar atau jalan-jalan ke Makkah dan Madinah, bukan berniat agar dosa-dosanya diampuni.Haji dengan Harta Syubhat/Haram: Larangan keras berhaji menggunakan harta haram. Karena Allah itu Maha Baik (Thayyib) dan tidak menerima kecuali yang baik-baik pula. Disebutkan dalam sebuah atsar bahwa orang yang berhaji dengan harta haram, talbiahnya tidak akan diterimaRiya dalam Haji: Ada juga orang yang berhaji karena ingin ditemui orang lain dan dipanggil dengan sebutan "Pak Haji"Hati yang Kotor Saat Haji: Penjelasan bahwa hakikat haji adalah mendekatkan hati kepada Allah (alqurbu bil qulub), bukan sekadar kedekatan fisik (jasad), sementara sesama jemaah saling bermusuhan atau bertengkar.Bangga dengan Jumlah Haji: Kritikan terhadap orang yang berhaji berkali-kali hanya untuk membanggakan jumlahnya (misalnya bangga sudah 20 kali wukuf di Arafah), tetapi tidak berniat membersihkan hatinya.Iblis menipu jemaah dengan membisikkan bahwa yang penting haji selesai dan wukuf di Arafah terlaksana, maka Allah akan mengampuni. Padahal, haji yang diampuni adalah haji mabrur yang harus mengikuti aturan: tidak berbuat rafats (kata-kata syahwat), tidak berbuat maksiat (fusuq), dan tidak jidal (bertengkar).Talbis dalam Manasik (Bid'ah): Tipu daya iblis yang membuat manusia berbuat bid'ah (hal baru) dalam manasik yang tidak dicontohkan oleh Nabi.Contoh salah kaprah jemaah yang membuka bahu kanan pakaian ihramnya (idhthiba') terus-menerus selama berhari-hari di bawah terik matahari, padahal aturan aslinya hal itu hanya disunahkan saat melakukan tawaf qudum saja.Penegasan bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad ﷺ. Ustadz memberikan contoh kekeliruan jemaah zaman sekarang yang sengaja membuat ritual sendiri seperti salat dua rakaat setelah melaksanakan sai, padahal hal tersebut tidak dicontohkan.Tawakal Tanpa Bekal: Tipu daya iblis kepada sebagian orang yang nekat pergi haji tanpa membawa perbekalan dengan dalih "bertawakal". Ini adalah kesalahan besar.Kisah seseorang yang bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal mengenai keinginannya pergi ke Makkah untuk haji tanpa bekal atas nama tawakal. Imam Ahmad melarangnya jika dia pergi bersama rombongan, karena tindakan tersebut sejatinya bukan bertawakal kepada Allah, melainkan "bertawakal" (merepotkan dan mengandalkan) perbekalan orang lain dalam rombongannya.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Rangkuman Materi Talbis Iblis 8

Talbis Iblis 8 "Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu Bagian 4"🎙️ Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., M.A.◾Talbis Iblis Terkait Ibadah HajiOrang yang sudah melaksanakan ibadah haji dan kewajiban haji sudah selesai. Karena kewajiban haji itu hanya sekali seumur hidup. Ibadah haji adalah ibadah yang dilakukan bagi orang yang mampu. Dan saat mau melakukan ibadah ini butuh persiapan dan perbekalan yang matang. Dan sebaik-baiknya bekal adalah takwa. Allah mengampuni haji yang mabrur, untuk menuju haji yang mabrur tentu ada aturannya dimana berhaji dengan cara yang baik sesuai sunnah, tidak melakukan maksiat. Ingin haji, hajilah seperti Rasullullah Shalallahu 'alaihi wassallam. Dan seluruh ibadah kita berusaha seperti nabi shalallahu 'alaihi wassallam. Karena sebaik-baiknya ibadah adalah ibadah nabi dan sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam. Termasuk Talbis Iblis dalam berhaji diantara :✓ Melaksanakan haji sunnah namun tidak sesuai aturannya membuat orang tidak ridho dan marah kepadanya. ✓ Berhaji hanya ingin jalan-jalan buka agar diampuni dosanya. ✓ Berhaji dengan harta yang syuhbat bahkan ada yang berhaji dengan harta yang haram. ✓ Berhaji karena ingin diketahui orang.✓ Berhaji dengan hati yang kotor dan batin yang tidak bersih. ✓ Berhaji hanya untuk memperbanyak jumlah hajinya.✓ Berhaji namun merepotkan orang-orang atau rombongan dalam perjalanannya.✓ Semangat berhaji namun shalat tidak diperhatikan.✓ Berjualan ketika menuju haji dan jualannya melakukan tatfif. ✓ Berbuat bid'ah ketika sedang melakukan ibadah haji✓ Berhaji tanpa bekal dan persiapan hanya akan merepotkan orang. ◾Talbis Iblis Tentang Masalah Jihad Fisabilillah Iblis telah menipu banyak orang dalam masalah jihad. Maka merekapun keluar untuk berjihad sementara diantara mereka ada yang niatnya untuk bangga-banggaan dan riya. Terkadang dia ingin dikatakan jagoan dan terkadang dia ingin berjihad mencari harta ghanimah. Bahwasanya dalam jihadpun niatnya macam-macam. Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam bersabda "Siapa yang berjihad untuk menegakkan kalimat Allah maka fisabilillah" (HR. Bukhari dan Muslim). Para salaf berusaha menyembunyikan amal shaleh mereka karena takut riya. Sementara sebagian kita percaya diri memamerkan amal shaleh. Diantar talbis Iblis dalam jihad :✓ Mujahid mengambil bagian ghanimah padahal itu bukan hak dia. Mungkin dia belum punya ilmu sehingga dia menyangka bahwasanya harta orang kafir semuanya halal.Yang halal dari orang kafir yaitu darah dan hartanya yang berperang melawan kita. Karena kalau bukan dia yang mati maka kita yang mati. Itupun kalau berjihad tidak boleh langsung mengambil hartanya. ✓ Mujahid itu tau bahwasannya mengambil harta sebelum pembagian hukumnya haram. Tetapi karena dia tidak sabar untuk tidak mengambilnya sebab hati bisa berubah ketika itu. Mungkin dia menyangka yang penting sudah berjihad maka akan termaafkan. Dari sini maka nampaklah dampak iman dan ilmu. Maka perlu berkumpul antara iman dan ilmu, sehingga seseorang tidak berani mengambil yang haram.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
R
Regita Dwi Ananda

📍 Kota Bandung

Talbis iblis -7

Talbis iblis-7 • Talbis iblis pada bacaan Qur’an.Yaitu godaan untuk baca Al Qur’an dengan cepat namun tidak tartil.Sahabat ada yang khatam Al Qur’an dalam satu rakaat (HR Ahmad dan Nasai) namun sangat jarang.Orang yang baca Al Qur’an kurang dari tiga maka dia bukan orang yang fakih (mendakwakan dan bukan di bulan Ramadhan).Imam Syafi’i walaupun baca cepat namun beliau baca dengan faham dan tahu tafsir nya. Ada Tadabur dalam bacaan nya. Harus perhatikan kualitas dalam bacaannya. Niat baca Al Qur’an
1. Tilawah, setiap huruf ada pahalanya.
2. Tadabur Al Qur’an.
3. Mendapat berkah, untuk kesembuhan.Dulu orang-orang baca Al Qur’an baca Al Qur’an pada malam hari di menara-menara masjid. (keras).Kata Imam Jauzi ada dua kesalahan.
- Mengganggu orang istirahat
- Jatuh pada riya.Diantara kesalahan adalah baca Al Qur’an saat Adzan.
Kita sering menyaksikan orang-orang yang setelah adzan bersenandung yang bisa orang-orang yang melakukan sholat sunnah, berdoa, baca Al Qur’an dst.Ibnu Mas’ud – cukupkan dengan sunnah, jangan buat hal-hal yang baruSyaikh – melihat seseorang jadi imam sholat subuh – baca surat 3 Qul dan baca doa khatam sholat.
Ini bisa jatuh pada riya dan tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan para shahabat radhiyallahu anhum.
Para sahabat sering sembunyikan bacaan Al Qur’an mereka.Riya adalah senjata syetan untuk merusak amalan. • Talbis iblis pada ahli ibadah puasa.Syetan menggoda manusia untuk puasa terus.Puasa ada tingkat.1. Puasa dhahr – puasa terus Setiap hari selain hari yang terlarang. Ada dua pendapat.
A. Tidak dianjurkan (makruh dan atau haram)
B. Boleh (mustahak dan jaiz)Kekurangan puasa dhahr. (meskipun ambil pendapat boleh). ⁃ Bisa jadi menjadikan lemah dan ganggu mencari rezeki bagi keluarga. ⁃ Terhalang mencukupi kebutuhan batin istrinya. ⁃ Terluput dari keutamaan, karena Rasul ﷺ bersabda – sebaik-baik puasa adalah puasa Daud.2. Puasa Daud3. Puasa 1 hari buka 2 hari.Tidak sedikit ulama yang dahulu puasa terus menerus. Namun mereka bisa gabungkan dengan kemampuan mencari nafkah.Pasal tentang samarnya riya.Dulu ada orang yang terkenal karena puasa tiap hari, namun karena ingin menjaga kepopuleran, dia sembunyi-sembunyi saat tidak puasa.Syaikh mengatakan harusnya dia buka puasa dihadapan orang banyak, dan selanjutnya puasa beberapa hari (untuk melawan riya)Syetan membisikkan seseorang untuk menjadi contoh orang-orang dalam ibadah dengan menyebarkan ibadahnya, ini riya.Kalau Ikhlas, tetap ada kekurangan karena pahala berkurang. Pahala tersembunyi lebih utama.Zubair bin Awwam Radhiyallahu anhu, dia mengatakan, “Siapa diantara kalian yang bisa memiliki amal shaleh yang dikerjakan secara sembunyi-sembunyi, maka hendaklah dia lakukan.”Ketika hari kamis puasa dan diajak makan, lebih baik menjawab dengan mengatakan saya puasa daripada mengatakan ini hari kamis (ada riya).Ada yang puasa senin kamis tapi meremehkan orang yang tidak puasa.Ada puasa namun ghibah jalan terus, maksiat jalan terus.Jadi waspada atas riya dalam ibadah kita. Pentingkan ibadah kita supaya diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
S
Salma laela fitri

📍 Kabupaten Karawang

Ringkasan pertemuan ke 8

Ringkasan Talbis Iblis dalam HajiBeberapa bentuk talbis (tipuan) yang disebutkan:Mendahulukan haji sunnah daripada kewajiban yang lebih utamaSudah berhaji wajib, lalu ingin haji lagi.Padahal orang tua membutuhkan pelayanan dan tidak meridhainya.Dalam kondisi seperti ini, berbakti kepada orang tua bisa lebih utama daripada haji sunnah.Berhaji sementara masih memiliki utang atau tanggunganHaji hanya wajib bagi yang mampu.Orang yang masih memiliki utang yang harus dilunasi atau hak-hak manusia yang belum ditunaikan tidak seharusnya memaksakan diri berhaji.Tujuan haji hanya wisata atau kebanggaanIngin jalan-jalan ke Makkah dan Madinah.Ingin disebut "Pak Haji".Bangga karena sudah berkali-kali berhaji.Semua ini merusak keikhlasan.Berhaji dengan harta syubhat atau haramIbadah yang agung tidak layak dibangun di atas harta yang haram.Disebutkan atsar bahwa orang yang bertalbiyah dengan harta haram tidak mendapatkan penerimaan dari Allah.Mengabaikan tujuan utama hajiHaji bukan sekadar mendekatkan badan ke Ka'bah.Tujuan utamanya adalah mendekatkan hati kepada Allah.Karena itu Allah melarang rafats, maksiat, dan perdebatan saat haji.Melakukan bid'ah dalam manasikMenambah-nambah tata cara yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ.Menganggap tambahan tersebut sebagai bagian dari ibadah haji atau umrah.Mengaku bertawakal tetapi meninggalkan sebab yang disyariatkanBerangkat tanpa bekal lalu merepotkan orang lain.Padahal Allah memerintahkan:"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."Tawakal bukan meninggalkan sebab, tetapi melakukan sebab yang benar sambil menggantungkan hati kepada Allah.Ringkasan Talbis Iblis dalam JihadKemudian Ibnu al-Jauzi berpindah kepada pembahasan jihad.Beliau menjelaskan bahwa iblis sering merusak jihad melalui:Niat yang rusakIngin disebut pemberani.Membela fanatisme golongan atau suku.Mengincar harta rampasan perang.Padahal Nabi ﷺ menjelaskan bahwa yang benar-benar fi sabilillah adalah orang yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi.Tidak menjaga keikhlasanDibawakan kisah para salaf yang sangat takut terhadap riya.Contohnya Abdullah bin al-Mubarak yang menyembunyikan amalnya agar tidak dipuji manusia.Mengambil harta ghanimah secara tidak sah (ghulul)Mengambil barang sebelum pembagian resmi.Walaupun nilainya kecil.Nabi ﷺ memperingatkan keras pelaku ghulul.Menyangka amal besar menghapus kezaliman yang dilakukanSudah berjihad lalu merasa boleh mengambil yang bukan haknya.Ini termasuk tipuan iblis.Pelajaran Besar dari Pembahasan IniAda satu benang merah yang sangat kuat dalam seluruh pembahasan:Iblis sering tidak menyuruh seseorang meninggalkan ibadah, tetapi menyuruhnya beribadah dengan cara yang salah.Karena itu ukuran keberhasilan bukan:sudah haji atau belum,sudah berjihad atau belum,sudah banyak amal atau belum,melainkan:apakah ikhlas,apakah sesuai sunnah,apakah hak manusia sudah ditunaikan,apakah terhindar dari maksiat dan kezaliman.Sebagaimana kaidah yang sering diulang para ulama:Diterimanya amal membutuhkan dua syarat: ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.Inilah inti yang terus ditekankan oleh Ibnu al-Jauzi dalam pembahasan talbis iblis pada berbagai jenis ibadah. Ibadah yang besar sekalipun dapat kehilangan nilainya jika dicampuri riya, kezaliman, harta haram, bid'ah, atau pelanggaran hak sesama manusia.Wallahu a'lam.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Talbis Iblis Kepada Ahli Agama (Bag-4)

#8 Talbis Iblis Kepada Ahli Agama (Bag-4)🥞TALBIS IBLIS DALAM IBADAH HAJIIblis tidak hanya menggoda manusia untuk berbuat maksiat, tetapi juga menyusup ke dalam amalan ketaatan seperti haji agar pahalanya rusak atau berubah menjadi dosa.1️⃣Haji Sunah yang Merusak Hubungan dengan Orang TuaPenjelasan: Kewajiban ibadah haji hanya berlaku sekali seumur hidup bagi yang mampu. Ketika seseorang yang sudah berhaji ingin melaksanakannya kembali (haji sunah), iblis menipunya hingga dia mengabaikan keperluan orang tuanya atau bahkan membuat mereka marah/tidak reda.Hukum Syariat: Berbakti kepada orang tua (birrul walidain) hukumnya fardu ain, sedangkan mengulang haji adalah sunnah. Perkara wajib harus didahulukan daripada perkara sunah.Pengecualian: Jika haji tersebut adalah Haji Wajib (yang pertama kali), maka perintah Allah harus tetap dilaksanakan meskipun orang tua melarang atau marah.2️⃣Berhaji Namun Masih Memiliki Hutang dan KezalimanPenjelasan: Sebagian orang memaksakan diri pergi haji padahal masih menanggung hutang yang belum dilunasi atau belum menyelesaikan urusan kezaliman dengan sesama manusia. Urusan yang wajib bagi dirinya saat itu adalah melunasi hutangnya terlebih dahulu.Syarat Kemampuan (Istitha'ah): Seseorang dianggap mampu berhaji jika memiliki harta lebih setelah hutangnya lunas, memiliki bekal yang cukup untuk perjalanan, serta meninggalkan nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkan selama masa haji.Dalil Al-Qur'an:{وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا}"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah." (QS. Ali 'Imran: 97)3️⃣ Niat Berhaji Hanya untuk Melancong (Jalan-Jalan)Penjelasan: Iblis membelokkan niat sebagian orang sehingga mereka pergi ke Makkah dan Madinah bukan untuk mencari pengampunan dosa, melainkan murni untuk tujuan pesiar, rekreasi, atau sekadar jalan-jalan.4️⃣Berhaji dengan Harta yang Syubhat atau HaramPenjelasan: Para fuqaha (ahli fikih) memberikan perumpamaan: Jika seseorang pergi haji dengan harta haram, membawa untanya mabit di Mina (8 Dzulhijjah), wukuf di Arafah (9 Dzulhijjah), mabit di Muzdalifah, lalu berteriak "Labaik allahumma labaik", maka hajinya tidak diterima oleh Allah; yang berhaji hanyalah untanya.Dalil Hadis Shahih:"Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik pula." (HR. Muslim)Keterangan Atsar: Disebutkan dalam astar bahwa orang yang berhaji dengan harta haram ketika mengucap talbiyah, maka akan dikatakan kepadanya: "La labbaika wala sa'daika" (Tidak ada sambutan dan kebahagiaan untukmu), karena bekalmu haram dan hartamu haram.5️⃣Riya, Mengejar Gelar, dan SombongPenjelasan: Banyak orang yang hatinya kotor berhaji agar dipuji dan dipanggil "Pak Haji" oleh masyarakat. Ada pula yang mengoleksi jumlah haji demi kesombongan dan pamer dengan berkata, "Alhamdulillah, saya sudah 20 kali wukuf di Arafah.".Hakikat Haji: Inti haji adalah kedekatan hati kepada Allah (alqurbu bil qulub), bukan sekadar kedekatan fisik semata-mata.Tujuan Berkumpul: Allah mensyariatkan haji salah satunya agar kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia (Afrika, Cina, Eropa, hingga Bekasi) dapat saling bertemu dan menumbuhkan rasa kasih sayang (liyasyhadu manafi'ahum). Namun iblis menipu mereka sehingga jemaah justru saling bermusuhan, bersenggolan, dan bertengkar di lapangan.Larangan Jidal (Bertengkar): Di tanah suci dilarang keras berdebat kusir, apalagi bertengkar dengan pasangan/istri sendiri selama safar haji.Dalil Al-Qur'an:{فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ}"...maka tidak boleh rafats (mendekati zina/kata-kata syahwat), berbuat maksiat dan bertengkar dalam masa mengerjakan haji." (QS. Al-Baqarah: 197)Dalil Hadis Shahih:"Siapa yang berhaji karena Allah, lalu dia tidak berbuat rafats dan tidak berbuat fasik (maksiat), maka dia kembali dalam keadaan bersih dari dosa-dosanya seperti hari dilahirkan oleh ibunya."(HR. Bukhari & Muslim)6️⃣Menyalahgunakan Aturan: Berhaji Tanpa Izin (Ilegal)Penjelasan (Kontemporer dari Ustadz Firanda): Banyak orang memulai ibadah haji dengan kebohongan demi kebohongan demi mengakali sistem. Mereka masuk ke tenda jemaah lain secara ilegal, menyerobot hak fasilitas orang lain, dan menyusahkan jemaah resmi. Mereka merasa yang penting sudah sampai di Arafah, padahal cara yang ditempuh penuh dengan kezaliman. Jika tidak mampu secara prosedural, Allah tidak mewajibkan kita untuk berhaji.7️⃣Berhaji Sambil Berbuat Curang dalam DaganganPenjelasan: Ibnu Jauzi menceritakan bahwa di zamannya, ada orang yang berjalan menuju Makkah untuk haji sambil berdagang, namun mereka mengurangi timbangan (tatfif). Mereka mengira dosa kecurangan itu otomatis terhapus hanya dengan ikut wukuf.Dalil Al-Qur'an:{وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ}"Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menimbang dan menakar)." (QS. Al-Muthaffifin: 1)8️⃣Membawa Kekerasan ke Dalam Safar HajiPenjelasan: Perjalanan haji zaman dahulu (khususnya zaman Ibnu Jauzi) sangat berat, harus melewati gurun terik berbulan-bulan. Ibnu Jauzi menyaksikan ada orang berhaji yang memukuli dan membentak anak buah atau teman serombongannya hanya untuk menyuruh mereka mencarikan air. Mereka mengabaikan akhlak demi ego pribadi.9️⃣Bidah dalam Manasik Haji & UmrahIblis membisikkan bahwa semakin berat rekayasa ibadah yang dibuat sendiri, semakin besar pahalanya. Contohnya:Membuka Pundak Terus-menerus: Menampakkan pundak kanan (idhthiba') berhari-hari di bawah sengatan matahari sampai kulit rusak. Padahal, sunahnya idhthiba' hanya dilakukan saat Tawaf Kudum atau Tawaf Umrah saja. Tawaf lainnya (Tawaf Ifadah, Tawaf Wada, Tawaf Sunah) tidak ada syariat membuka pundak.Tawaf Menggunakan Tali Hidung: Ibnu Jauzi membawakan hadis dari Ibnu Abbas (HR. Bukhari)bahwa Nabi ﷺ melihat seseorang tawaf di Ka'bah dengan menuntun temannya menggunakan tali yang diikat di hidung (seolah-olah menyamakan diri seperti hewan yang pasrah dan tawaduk di hadapan Allah). Nabi ﷺ langsung memutuskan tali tersebut dengan tangan beliau dan memerintahkan agar menuntunnya menggunakan tangan manusia biasa.Solat Dua Rakaat Setelah Sai: Sebagian jemaah membuat kreasi ibadah baru dengan melakukan solat dua rakaat secara khusus setelah rangkaian Sai selesai dilakukan. Ini tidak ada contohnya dari Nabi ﷺ dan dihukum sebagai bidah.Prinsip Utama Mengikuti Sunnah:"Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ (Wa khairul huda huda Muhammadin ﷺ)."(HR. Muslim)"Ambillah dariku tata cara manasik haji kalian." (HR. Muslim)Analogi Pengkhususan Amalan Umum: Membaca Al-Fatihah atau berselawat adalah ibadah yang agung. Namun, jika seseorang mengkhususkannya menjadi rangkaian zikir setelah bersin (misal membaca Al-Fatihah penuh setelah bersin, atau berselawat sesaat setelah mengucapkan alhamdulillah pasca-bersin), maka hal itu dilarang oleh para sahabat (seperti ketegasan Ibnu Umar) karena mengkhususkan amalan yang umum tanpa dalil. Begitu pula dengan solat di Masjidil Haram; solat itu boleh kapan saja, tetapi jangan menjadikannya ritual khusus pasca-Sai.1️⃣0️⃣Salah Kaprah dalam Konsep Tawakal (Berhaji Tanpa Bekal)Penjelasan: Sebagian kaum (seperti orang-orang dari Yaman pada masa silam) nekat pergi haji tanpa membawa perbekalan makanan dan uang sama sekali, lalu mengklaim bahwa itulah "tawakal yang sejati". Akibatnya, di sepanjang jalan mereka mengemis dan merepotkan perbekalan rombongan lain.Kisah Imam Ahmad bin Hambal: Seseorang mendatangi Imam Ahmad dan berkata, "Aku ingin pergi ke Makkah dengan modal tawakal tanpa membawa bekal." Imam Ahmad membalas, "Kalau begitu, keluarlah sendirian (jangan gabung rombongan)!" Lelaki itu menjawab, "Tidak bisa, saya harus ikut rombongan." Imam Ahmad menegaskan, "Kalau begitu, namanya kamu bukan bertawakal kepada Allah, melainkan bertawakal kepada perbekalan jemaah lain!".Dalil Al-QUR'AN:{وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ}"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa." (QS. Al-Baqarah: 197)Analogi Kontemporer Jemaah "Pede": Ustadz menceritakan pengalamannya bertemu jemaah haji modern yang terlalu percaya diri mengatasnamakan kemudahan dari Allah, padahal kelakuannya menyusahkan orang lain.Kasus 1: Seorang suami kehilangan koper di bandara, lalu kopernya ditemukan dan diantarkan oleh teman-temannya. Sang suami dengan bangga bercerita, "Lihat, tas saya kembali sendiri di kamar karena ditolong Allah." Padahal yang sibuk mencari dan keringatan adalah teman-temannya.Kasus 2: Sepasang suami-istri sedang iktikaf sampai syuruk. Selesai solat, ada jadwal city tour menggunakan bus rombongan. Sang istri mengajak suaminya segera ke bus, namun suaminya menolak dan berkata, "Kamu duluan saja, saya masih mau zikir." Akhirnya sang istri terpaksa pergi sendirian tanpa mahram (dan terpaksa ditemani rombongan lain). Sang suami tertinggal bus, lalu menumpang bus travel orang lain yang kebetulan lewat karena kasihan. Sang suami berkata, "Lihat, Allah mudahkan saya dapat bus lain." Cara pandang ini salah total karena dia menelantarkan kewajiban menjaga istrinya demi mengejar amalan sunah egoisnya sendiri.🥞TALBIS IBLIS DALAM JIHAD FI SABILILLAHJihad adalah puncak amalan Islam (dzirwatu sanamil islam), tetapi iblis mengintai niat pelakunya agar amalan besar ini berubah menjadi bahan bakar neraka.1️⃣Berperang Demi Kebanggaan, Suku, dan GhanimahPenjelasan: Iblis merusak niat para pejuang agar mereka keluar ke medan perang demi popularitas (riya), pamer keberanian agar dicap sebagai pahlawan, atau murni demi fanatisme golongan/suku (hamiyah), serta semata-mata mengincar harta rampasan (ghanimah).Dalil Hadis Shahih:Dari Abu Musa Al-Asy'ari, ada seorang lelaki mendatangi Nabi ﷺ dan bertanya tentang status orang yang berperang karena ingin menunjukkan keberaniannya, karena fanatik suku, atau karena riya. Nabi ﷺ bersabda:"Siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka dialah yang berada di jalan Allah (fi sabilillah)." (HR. Bukhari & Muslim)Peringatan Ibnu Mas'ud: Beliau memperingatkan agar kaum muslimin tidak bermudah-mudah memastikan atau memberi label si Fulan mati syahid. Sebab, bisa jadi di dalam hatinya dia berperang demi harta rampasan, agar namanya disebut-sebut, atau demi kedudukan. Kalimat yang tepat adalah mendoakan: "Semoga Allah mencatat si Fulan sebagai syahid," seperti doa kita untuk saudara-saudara di Palestina.2️⃣Hadis Golongan Pertama yang Membakar Neraka JahanamPenjelasan: Di antara tiga orang pertama yang disidang pada hari kiamat dan dilemparkan ke neraka adalah seorang yang mati di medan perang. Allah memperlihatkan segala nikmat kekuatan dan keberanian yang pernah diberikan kepadanya di dunia, lalu bertanya, "Apa yang kau lakukan dengan nikmat-nikmat ini?" * Lelaki itu menjawab, "Aku berperang di jalan-Mu ya Allah, sampai aku mati syahid." Allah berfirman, "Kau dusta! Kau berperang hanya supaya dinamakan sebagai sang pemberani, dan gelar itu telah kau dapatkan di dunia." Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya di atas wajahnya dan melemparkannya ke dalam neraka jahanam.(Catatan tambahan: Dua golongan lainnya adalah seorang alim/qari yang menuntut ilmu agar disebut ulama/hebat, serta seorang dermawan yang berinfak ke masjid, pondok, dan anak yatim hanya demi gelar dermawan).🥞BAHAYA AL-GHULUL DALAM JIHAD1️⃣Mengambil Harta Sebelum Pembahagian ResmiPenjelasan: Iblis memanfaatkan kebodohan (kurangnya ilmu) sebagian mujahid sehingga mereka langsung mengambil harta musuh yang mereka temukan di lapangan. Mereka menyangka karena itu harta orang kafir, maka halal diambil kapan saja secara sepihak. Padahal, syariat mengatur bahwa semua ghanimah wajib dikumpulkan terlebih dahulu kepada pimpinan (Amir), baru kemudian dibagikan secara resmi. Mengambilnya secara sembunyi-sembunyi sebelum dibagikan disebut Ghulul.Analogi Kelompok Ekstremis Kontemporer: Ustadz Firanda menceritakan kisah nyata seorang temannya yang dulu bergabung dengan kelompok takfiri (suka mengkafirkan orang di luar kelompoknya). Teman tersebut bercerita bahwa dulu dia menghalalkan semua harta masyarakat luar karena dianggap kafir sebab tidak berbaiat pada imam mereka. Ketika membeli kue onde-onde, dia memakan 5 biji tetapi hanya mengaku dan membayar 2 biji saja, karena merasa sisanya adalah harta rampasan yang halal. Ustadz Firanda menyebut tindakan ini sebagai perpaduan antara kesesatan dan kebodohan (ngawur plus goblok plus bahlul). Harta orang kafir yang halal diambil hanyalah kafir Harbi (yang sedang berperang dengan muslim), itu pun harus melalui prosedur pembagian ghanimah resmi, bukan dicuri perorangan. Bahkan Nabi ﷺ pun dulu bermuamalah secara jujur, berdagang, bahkan menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi hingga beliau wafat.2️⃣Dalil Hadis Shahih Perang Khaibar (Tragedi Sehelai Kain)Penjelasan: Abu Hurairah menceritakan bahwa pasca-kemenangan di perang Khaibar, kaum muslimin pulang membawa ghanimah berupa pakaian dan makanan menuju sebuah lembah. Bersama Nabi ﷺ, ada seorang budak miliknya yang bertugas membantu melepaskan pelana unta Nabi ﷺ. Tiba-tiba, sebuah anak panah nyasar dari musuh mengenai budak tersebut hingga tewas di tempat.Para sahabat memberi selamat dengan berkata, "Selamat untuknya, dia mati syahid, ya Rasulullah." Namun Nabi ﷺ mengejutkan mereka dengan bersabda:"Sama sekali tidak! Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya sehelai kain (selendang) yang dia ambil secara sembunyi-sembunyi (ghulul) pada hari Khaibar sebelum pembahagian resmi ghanimah, kini sedang menyalakan api neraka untuk membakarnya!" (HR. Bukhari & Muslim)Mendengar ancaman yang mengerikan itu, para sahabat gemetar ketakutan. Sesaat kemudian, ada seorang sahabat datang membawa satu atau dua utas tali kasut yang sempat dia ambil diam-diam, lalu mengembalikannya kepada Nabi ﷺ sambil berkata, "Saya mengambil ini saat di Khaibar, ya Rasulullah." Nabi ﷺ bersabda, "Itu adalah seutas/dua utas tali kasut dari api neraka."3️⃣Hadis Potongan Kayu SiwakNabi ﷺ juga menegaskan bahwa seseorang yang bersumpah palsu demi mengambil hak atau harta saudaranya (meskipun nilainya remeh), maka dia telah mengambil potongan api neraka. Sahabat bertanya, "Meskipun hanya sebatang kayu siwak, ya Rasulullah?" Nabi ﷺ menjawab, "Meskipun hanya sebatang kayu siwak.".🥞BENTENG IMAN DAN ILMU TERHADAP FITNAH HARTAIbnu Jauzi menutup bab ini dengan menjelaskan betapa pentingnya menyatukan ilmu dan iman agar selamat dari fitnah duniawi.Dilema Ilmu tanpa Iman & Iman tanpa Ilmu: Boleh jadi seorang mujahid tahu secara hukum (ilmu) bahwa mencuri ghanimah itu haram, tetapi karena imannya lemah dan tidak sabar melihat kilauan emas di depannya, dia tetap mengambilnya sambil menghibur diri, "Ah, dosa ini pasti terhapus oleh pahala jihad saya.". Sebaliknya, jika ada orang punya iman/semangat ibadah tetapi tidak punya ilmu, dia akan mengambil harta haram karena mengira hal itu diperbolehkan. Maka, iman dan ilmu wajib berjalan beriringan.1️⃣Kisah Nyata Kontemporer: Sengketa Tanah NamirPenjelasan (Kisah dari Ustadz): Seorang kawan dari Arab Saudi menelepon Ustadz untuk berkonsultasi mengenai mimpi buruknya yang diserang macan (namir) selama dua hari berturut-turut; hari pertama menyerang dirinya, hari kedua menyerang anak-anaknya.Setelah ditelusuri latar belakangnya, kawan tersebut sedang menggugat tanah peninggalan ayahnya yang telah dikuasai dan dibangun apartemen oleh seseorang secara tidak syari. Pengacara hukum publik di sana menjamin dia pasti menang mutlak secara undang-undang negara. Namun, yang mengejutkan adalah orang yang digugat oleh kawan tersebut bernama Namir (artinya macan dalam bahasa Arab).Ustadz Firanda menasihatinya agar tidak sekadar bersandar pada keputusan pengacara atau hukum undang-undang formal, melainkan wajib datang menemui Syekh (ulama alim) untuk membedah kasus tersebut secara fikih syariat. Jangan sampai dia mengambil hak orang lain meskipun hanya sedikit, karena urusan harta di akhirat sangatlah panjang dan berat. (Orang Arab sering menamai anak dengan nama hewan, seperti Himar/Keledai untuk filosofi sabar, Kilab/Anjing untuk filosofi amanah/setia, serta Fahad/Asad/Namir/Macan untuk filosofi pemberani).2️⃣Teladan Keikhlasan Tingkat Tinggi Generasi SalafSebagai penutup, video ini menyajikan dua potret manusia yang bersih dari talbis iblis karena memiliki kematangan ilmu dan kekuatan iman:Kisah Abdullah bin Mubarak di Medan Perang Romawi:Saat berkecamuk perang melawan Romawi, seorang kesatria musuh menantang duel satu lawan satu (mubarazah). Tiga pejuang muslim maju secara bergantian dan ketiganya gugur di tangan musuh tersebut. Kemudian maju pejuang keempat dengan wajah tertutup rapat oleh kain, bertempur sengit, dan akhirnya berhasil menewaskan kesatria Romawi tersebut. Ketika jemaah berkumpul untuk melihat pahlawan misteri ini, dia sengaja menutupi mukanya dan bergegas pergi. Seorang perawi bernama Abdah bin Sulaiman mengejarnya lalu membuka paksa kain penutup wajahnya; ternyata dia adalah ulama besar ahli hadis, Abdullah bin Mubarak. Abdullah bin Mubarak langsung menegur Abdah dengan kalimat bergetar, "Wahai Abdah, apakah kau sengaja ingin mendedahkan dan mempamerkan amalku kepada manusia?" Beliau begitu ketakutan apabila pujian manusia merusak nilai keikhlasannya.Kisah Amir bin Abdi Qais Pasca-Penaklukan Kota Madain:Setelah pasukan muslim berhasil menaklukkan kota Madain, seluruh harta rampasan dikumpulkan. Tiba-tiba seorang lelaki biasa datang membawa sebuah barang berharga yang sangat mahal nilainya untuk diserahkan kepada bendahara ghanimah. Petugas terkesima karena barang sekaya itu tidak ada tandingannya di dalam pos ghanimah saat itu. Petugas bertanya, "Apakah kau tidak mengambil sedikit pun dari barang ini?" Lelaki itu menjawab, "Demi Allah, kalau bukan karena takut kepada Allah, tentu sudah aku bawa pulang barang ini.". Ketika petugas mendesak, "Siapa namamu?", dia menjawab, "Aku tidak akan memberi tahu namaku agar kalian tidak memujiku dan memuliakanku. Aku hanya memuji Allah dan merasa cukup dengan pahala dari-Nya.". Setelah dia berjalan pergi, seseorang mengintip dan mengikutinya dari belakang hingga dia kembali ke rombongannya, dan barulah diketahui bahwa lelaki ikhlas tersebut adalah Amir bin Abdi Qais, seorang ulama tabiin dan ahli ibadah yang sangat zuhud.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
N
Nurhasanah nurhasanah

📍 Kota Depok

Talbis iblis bagian4 terhadap ahli ilmu

📚 Ringkasan Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bagian 4)Karya Al-Imam Ibnul JauziDisampaikan oleh: Firanda AndirjaTema: Talbis Iblis dalam Haji, Ghanimah, dan Jihad FisabilillahIblis tidak selalu mengajak manusia kepada kemaksiatan secara terang-terangan. Terkadang ia menghiasi amal saleh dengan niat yang rusak, sehingga seseorang merasa berada di atas kebaikan padahal sedang tertipu.🕋 Talbis Iblis dalam HajiIblis mendorong seseorang berhaji bukan karena ikhlas kepada Allah, tetapi untuk mendapatkan gelar "haji", pujian, atau kedudukan di tengah masyarakat.Ada yang lebih sibuk memikirkan penampilan, oleh-oleh, dan cerita perjalanan daripada memperbaiki ibadah dan ketakwaannya.Sebagian orang berulang kali melaksanakan haji sunnah, sementara di sekitarnya masih banyak kewajiban yang lebih mendesak seperti membantu keluarga, fakir miskin, atau menuntut ilmu yang wajib.💰 Talbis Iblis dalam Ghanimah (Harta Rampasan Perang)Iblis menanamkan kecintaan kepada dunia sehingga seseorang ikut berjihad bukan demi meninggikan kalimat Allah, tetapi demi mendapatkan harta dan keuntungan.Ia menghiasi sifat tamak sehingga manusia melupakan tujuan utama jihad.Amal yang tampak mulia menjadi berkurang nilainya bahkan bisa batal apabila niatnya tercampur dengan kepentingan dunia.⚔️ Talbis Iblis dalam Jihad FisabilillahIblis membisikkan riya' dan ujub kepada para mujahid agar mereka mencari popularitas, keberanian yang dipuji, atau kedudukan di mata manusia.Ada yang berjuang karena fanatisme golongan, suku, atau kepentingan duniawi, bukan karena Allah.Sebagian orang bertindak tanpa ilmu dan bimbingan syariat, lalu mengira dirinya sedang berjihad padahal justru menimbulkan kerusakan.🌿 Pelajaran PentingAmal sebesar apa pun harus dibangun di atas keikhlasan dan ittiba' (mengikuti sunnah).Seorang muslim hendaknya selalu memeriksa niatnya sebelum, ketika, dan setelah beramal.Jangan tertipu dengan banyaknya amal jika hati tidak ikhlas kepada Allah.Keselamatan dari talbis iblis adalah dengan ilmu yang benar, keikhlasan, dan senantiasa bermuhasabah."Betapa banyak amal besar yang menjadi kecil karena niat yang rusak, dan betapa banyak amal kecil yang menjadi besar karena keikhlasan."

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
M
Marni

📍 Kota Bogor

Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu bag. 4

Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu bag. 4Ustadz firanda Andirja * Terhadap ibadah HajiSeseorang ingin haji sunah tetapi orang tua tidak ridho, patuh kepada orang tua lebih utamaTerkadang orang berhaji meskipun haji pertama tetapi mereka punya hutang Berhaji dengan harta shubhatIngin berhaji karna ingin dipandangBerdebat saat haji Banyak orang yang tinggal di Makkah Madina tidak membersihkan hatinyaSemangat berhaji tetapi shalat tidak diperhatikanBerhaji tetapi berdagang tidak jujurIblis membuat mereka membuat bid'ah pada manasik hajiWahai imam Ahmad sayang ingin berhaji dengan iman yang sempurna tetapi tidak berbekal, imam Ahmad berkata engkau ingin numpang makan dan berhaji? Haji itu mampu untuk dirimu dan untuk keluarga yang engkau tinggal kan (kebutuhan makan dan lain lain selama di tinggal kan) * Ibnu Jauzi menyebutkan talbis Iblis dalam jihat fisabilillah : - untuk berbangga bangga dan riya, terkadang untuk mencari ghonimah, terkadang untuk dikatakan kuat. Rasulullah bersabda"Siapa yang berjihad untuk menegakkan kalimat Allah maka itu fisabilillah"Lihat lah kalian para pembaca, para salaf sebagian menyembunyikan amal mereka tetapi kita malah menampakan. Iblis terkadang menipu mujahid dalam ghonimah, menggambil ghonimah sebelum dikumpulkan oleh Amir. Pengaruh iman dan ilmu untuk menjaga diri dari harta, kalau tidak ada iman dan ilmu mereka akan dengan mudahnya mengambil ghonimah, kalau ada mereka akan taat kepada aturan. Hati hati jangan sedikit pun kita memakan hak orang lain.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
N
Nurmaida

📍 Kota Palu

‎Materi#8  Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah part 4

‎Materi#8  Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah part 4‎(Ringkasan kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.)‎‎Talbis Iblis dalam Ibadah Haji‎1. Niat yang Keliru ‎Iblis menipu sebagian orang untuk melakukan haji sunnah padahal belum mendapatkan ridha orang tua, atau memaksakan diri berhaji sementara masih memiliki hutang maupun kezaliman yang belum diselesaikan.‎2. Haji dengan Harta Haram ‎Al-Imam Ibnu Al-Jauzi menjelaskan bahwa berhaji dengan harta haram menyebabkan ibadah tersebut tidak diterima oleh Allah SWT.‎Allah berfirman melalui hadits:‎"Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik."‎(Innallaha thayyibun la yaqbalu illa thayyiban)‎Beliau juga mengutip atsar bahwa ketika seseorang mengucapkan:‎"Labaik Allahumma Labaik"‎dengan biaya dari harta haram, maka akan dijawab:‎"Tidak ada labaik bagimu dan tidak ada keberuntungan bagimu, karena hartamu adalah harta yang haram."‎3. Riya' dan Mencari Pujian dalam Haji ‎Ibadah haji harus dilakukan semata-mata karena Allah.‎Berhaji agar dikenal manusia, dipuji, atau mendapatkan pengakuan termasuk niat yang rusak dan merupakan salah satu bentuk tipu daya iblis.‎4. Pelanggaran Etika dan Kedzaliman ‎Iblis menipu sebagian jemaah agar melupakan kebersihan hati sehingga mudah terjadi:‎Perselisihan‎Pertengkaran dengan pasangan‎Perilaku kasar kepada teman seperjalanan‎Kedzaliman terhadap sesama‎5. Motivasi Duniawi dalam Haji ‎Sebagian orang berhaji karena tujuan duniawi, seperti:‎Jalan-jalan‎Ingin dipanggil "Pak Haji"‎Membanggakan jumlah haji yang pernah dilakukan‎Mencari kedudukan dan penghormatan manusia‎6. Bekal Terbaik adalah Takwa ‎Penceramah mengingatkan firman Allah bahwa:‎"Sebaik-baik bekal adalah takwa."‎Ibadah tidak boleh sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi harus dibangun di atas ketakwaan.‎7. Tujuan Haji adalah Meraih Haji Mabrur ‎Tujuan utama haji bukan sekadar menunaikan kewajiban, melainkan meraih haji yang mabrur.‎Haji mabrur menuntut:‎Keikhlasan‎Ketaatan‎Ketakwaan‎Mengikuti tuntunan syariat‎8. Mengikuti Tuntunan Nabi ﷺ‎Penceramah menegaskan bahwa:‎"Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad ﷺ."‎(Khairul huda huda Muhammadin)‎Karena itu ibadah harus sesuai tuntunan Nabi ﷺ dan tidak boleh membuat tata cara ibadah baru (bid'ah).‎Beliau juga mengingatkan sabda Nabi ﷺ:‎"Ambillah manasik kalian dariku."‎(Khudzu 'anni manasikakum)‎9. Bahaya Haji Tanpa Bekal ‎a. Merepotkan Orang Lain ‎Pergi haji tanpa bekal dengan alasan tawakal adalah kesalahan karena dapat menyusahkan orang lain.‎b. Menjadi Beban bagi Rombongan ‎Orang yang tidak memiliki bekal akan bergantung kepada orang lain sehingga menjadi beban bagi rombongan.‎c. Menelantarkan Nafkah Keluarga ‎Keberangkatan haji tidak boleh menyebabkan keluarga yang ditinggalkan kehilangan nafkah yang menjadi hak mereka.‎10. Menyembunyikan Amal Saleh ‎Para Salaf sangat menjaga keikhlasan dengan menyembunyikan amal saleh mereka.‎Abdullah bin Mubarak disebut sebagai contoh orang yang berusaha menutupi amalnya agar tidak diketahui manusia.‎11. Bahaya Memamerkan Amal ‎Penceramah mengkritik sebagian orang yang dengan mudah membagikan dan memamerkan amal ibadahnya kepada publik.‎Orang yang berilmu dan bertakwa justru lebih takut terjatuh ke dalam riya'.‎12. Pentingnya Ilmu Sebelum Beramal ‎Iman harus disertai ilmu.‎Tanpa ilmu, seseorang dapat terjebak dalam tipu daya iblis, seperti:‎Menganggap ibadah yang salah sebagai benar‎Melakukan amalan yang tidak memiliki landasan syariat‎Terjatuh ke dalam bid'ah dan kesesatan tanpa disadari.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Talbis Iblis #8 : Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag-4)

Talbis Iblis #8 :Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag-4)Oleh Ustadz Firanda Andirja Hafidzahullah Ta’alaTalbis Iblis dalam Ibadah HajiIblis melancarkan tipu daya agar ibadah haji seseorang rusak nilainya atau justru membuahkan dosa, di antaranya:Mengejar Haji Sunah dengan Mengorbankan Ridha Orang Tua: Haji wajib hanya sekali seumur hidup. Seseorang yang ingin melakukan haji sunah (berulang kali) namun mengabaikan kebutuhan atau larangan orang tuanya adalah kekeliruan, karena berbakti (birrul walidain) hukumnya jauh lebih utama.Berhaji dalam Kondisi Memiliki Tanggungan Hutang: Orang yang memaksakan diri pergi haji padahal masih memiliki hutang menumpuk atau kezaliman yang belum diselesaikan dianggap melanggar syarat kemampuan (istitha'ah). Kewajiban utama yang harus didahulukan adalah melunasi hutang.Niat Haji Melenceng : Pergi haji bukan untuk beribadah atau memohon ampunan dosa. Hanya sekadar untuk jalan-jalan, wisata, atau pasiar di Makkah dan Madinah.Menggunakan Harta Syubhat atau Haram: Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali dari yang baik-baik. Orang yang berhaji dengan harta haram tidak akan diterima amalan hajinya.Niat yang Rusak (Riya dan Sombong): Banyak yang berhaji hanya agar dipanggil "Pak Haji" atau sekadar pamer dan membanggakan diri karena sudah puluhan kali Wukuf di Arafah. Padahal esensi haji adalah mendekatkan hati kepada Allah, bukan kedekatan jasad semata.Bertengkar dan Melanggar Aturan dalam Haji: Iblis membisiki jemaah bahwa yang penting sudah sampai Arafah, lalu mereka meremehkan maksiat seperti berdebat kusir (jidal), berbohong demi lolos prosedur, hingga menyerobot tenda atau fasilitas orang lain.Berbuat Bidah dalam Manasik: Menambah-nambah tata cara ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ, seperti sengaja membuka satu pundak (idhthiba') terus-menerus di bawah terik matahari secara berlebihan atau mengkhususkan salat dua rakaat setelah melakukan Sai.Salah Kaprah dalam Bertawakal (Berhaji Tanpa Bekal): Sebagian orang yang nekat pergi haji tanpa membawa bekal dengan dalih "tawakal". Imam Ahmad bin Hambal mengkritik keras hal ini, karena tindakan tersebut pada hakikatnya bukan tawakal kepada Allah, melainkan "bersandar dan merepotkan perbekalan orang lain dalam rombongan".Talbis Iblis dalam Jihad FisabilillahNiat yang Melenceng (Mencari Pujian atau Ganimah): Iblis menipu sebagian orang agar berjihad demi kesukuan (hamiyah), mencari harta rampasan perang (ganimah) semata, atau sekadar ingin dianggap sebagai pemberani dan pahlawan. Padahal yang diakui di jalan Allah hanyalah yang bertempur demi menegakkan kalimat Allah.Hadist 3 Orang yang Pertama Kali di Azab di Neraka Jahanam:Mati Syahid yang Dusta: Orang yang berperang bukan karena Allah, melainkan demi mendapatkan gelar sebagai pahlawan atau pemberani.Ulama/Ahli Al-Qur'an yang Riya: Orang yang menuntut dan mengajarkan ilmu agama serta membaca Al-Qur'an hanya demi dipuji sebagai orang alim atau qari.Dermawan yang Sombong: Orang yang menyumbangkan hartanya di berbagaiKisah Teladan Keikhlasan Salaf (Abdullah bin Mubarak): Ditampilkan kisah dalam perang melawan Romawi, di mana ada seorang penunggang kuda muslim yang berhasil mengalahkan jagoan musuh secara sembunyi-sembunyi. Ketika identitasnya berusaha disingkap, ternyata ia sengaja menutupi wajahnya agar tidak dikenali orang. Orang tersebut adalah Abdullah bin Mubarak, yang sangat takut amalnya dirusak oleh pujian manusia.jalan kebaikan hanya agar disanjung sebagai orang yang dermawan.Talbis Iblis dalam JihadBahaya Gulul (Mengambil Ganimah Sebelum Dibagi): Iblis menipu para pejuang agar meremehkan pengambilan harta rampasan perang secara diam-diam sebelum dikumpulkan dan dibagi oleh pemimpin (Amir). Kisah asar dari masa Nabi ﷺ tentang seorang budak yang teranah musuh dan dianggap mati syahid oleh para sahabat, namun Nabi ﷺ menegaskan bahwa ia justru dibakar api neraka di kuburnya karena telah mengambil sehelai kain ganimah secara diam-diam (gulul) sebelum pembagian resmi.Pentingnya Memadukan Ilmu dan ImanKeselamatan seorang hamba dari jerat fitnah harta dan tipu daya iblis hanya bisa dicapai dengan perpaduan antara Iman dan Ilmu. Jika seseorang hanya memiliki ilmu tanpa iman, ia akan mudah melanggar hukum demi harta; sebaliknya, jika ia hanya memiliki iman tanpa ilmu, ia akan berbuat salah dalam ibadah karena mengira tindakannya diperbolehkan.Kisah Keteladanan Ulama Tabiin : Amir bin Abdi Qais, yang menyerahkan harta berharga yang ia temukan saat penaklukan kota Madain. Ketika ditanya siapa namanya karena kekaguman orang-orang akan keikhlasannya, ia menolak menyebutkan identitasnya demi menjaga hatinya dari penyakit riya dan pujian manusia.@dnfnunu| @komunitas.beekind| #JejakCahaya

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Talbis Iblis #8

Tipu Daya Iblis dalam Persoalan Ibadah HajiIblis menipu sebagian orang yang berhaji sehingga mengabaikan esensi ibadah dan kewajiban lainnya:Mengabaikan Ridha Orang Tua: Mengulang ibadah haji (haji sunnah) namun tanpa restu atau keridhaan dari kedua orang tua.Melalaikan Hak Manusia & Finansial: Pergi haji padahal masih memiliki tanggungan utang, melakukan kezaliman, menggunakan harta syubhat, atau sekadar untuk bersenang-senang (pelesir).Mengejar Pujian (Riya): Berhaji demi mendapatkan sambutan terbuka dan ingin dipanggil dengan gelar "Haji".Melalaikan Kewajiban Utama: Mengabaikan shalat dan syariat bersuci (thaharah) selama perjalanan haji.Fokus pada Angka, Bukan Hati: Membanggakan kuantitas (seperti merasa bangga sudah puluhan kali wukuf atau puluhan tahun tinggal dekat Ka'bah), tetapi batinnya kotor dan tidak membersihkan diri. Beberapa bahkan menggantungkan nasib pada peramal.Membuat Bid'ah dalam Manasik: Membuat-buat tata cara ibadah baru yang tidak ada tuntunannya (seperti sengaja menjemur diri atau bertawaf dengan mengikatkan tali/zimam).2. Tipu Daya Iblis dalam Persoalan TawakalTawakal yang Keliru: Iblis menipu sekelompok orang yang mengaku bertawakal dengan cara bepergian (misalnya ke Makkah) tanpa membawa bekal sama sekali.Teguran Imam Ahmad: Ketika seseorang berkata ingin pergi tanpa bekal demi tawakal, Imam Ahmad bin Hanbal mengujinya dengan melarangnya ikut rombongan. Ketika orang itu menolak (tetap ingin ikut rombongan), Imam Ahmad menegaskan bahwa dia sebenarnya tidak bertawakal kepada Allah, melainkan mengandalkan kantong makanan orang lain di dalam rombongan tersebut.3. Tipu Daya Iblis terhadap Para MujahidIblis merusak pahala jihad dengan memalingkan niat asli pelakunya:Niat untuk Riya dan Gengsi: Berperang bukan karena Allah, melainkan agar dipanggil sebagai orang yang berani, pahlawan (si fulan ahli perang), demi fanatisme kesukuan, atau semata-mata mencari harta rampasan perang (ghanimah).Peringatan Hadits : > "Barangsiapa berperang untuk menegakkan kalimat Allah, maka dia berperang di jalan Allah." (HR. Bukhari & Muslim).Tiga Golongan Pertama yang Diadili pada Hari Kiamat: Berdasarkan hadits Abu Hurairah, tiga orang yang pertama dilemparkan ke neraka karena berbohong dalam niatnya adalah:Orang yang mati berperang agar disebut pemberani.Orang yang menuntut/mengajarkan ilmu dan membaca Al-Qur'an agar disebut orang pandai/alim/qari.Orang kaya yang bersedekah agar disebut dermawan.4. Tipu Daya Iblis dalam Persoalan Harta Rampasan Perang (Ghulul)Mengambil yang Bukan Haknya: Iblis menipu sebagian tentara karena minimnya ilmu fiqih, sehingga mereka berani mengambil harta rampasan perang sebelum dibagikan secara resmi (ghulul), dengan asumsi harta musuh halal diambil begitu saja.Kisah Syamlah (Ikat Kepala) & Tali Sepatu: Rasulullah menegaskan bahwa seorang budak yang terbunuh dan dianggap syahid oleh orang-orang, sebenarnya masuk neraka karena menyembunyikan sebuah ikat kepala (syamlah) yang diambilnya di perang Khaibar sebelum pembagian. Mendengar hal itu, sahabat lain yang mengambil tali sepatu langsung mengembalikannya karena takut akan ancaman api neraka.Penyebab Kekeliruan: Prajurit sering kali tergiur melihat harta yang banyak dan keliru mengira bahwa pahala jihadnya yang besar dapat menghapus dosa pencurian (ghulul) yang mereka lakukan.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →