📝 Talbis Iblis #jejakcahaya

Laporan & catatan kegiatan Talbis Iblis #jejakcahaya

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
N
Nailah Nurul Hanifah

📍 Jakarta Selatan

Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah (Bagian 2)

Talbis Iblis dalam Masalah Niat SalatRagu-ragu dalam Mengucapkan Niat: Ada orang yang ingin salat lalu melafalkan "Usholli...", kemudian dia batalkan dan ulangi lagi karena menyangka niatnya batal. Padahal niat di dalam hati tidak akan batal hanya karena lafalnya keliru atau tidak pas. Harusnya dia tidak perlu ragu-ragu karena salatnya sudah sah dengan niat yang benar.Waswas Saat Takbiratul Ihram: Sebagian orang mengulang-ulang kalimat "Allahu Akbar." Uniknya, ketika imam mulai rukuk, orang yang waswas tersebut tiba-tiba bisa langsung fokus dan ikut rukuk karena takut ketinggalan rakaat. Ini membuktikan bahwa niat sebenarnya mudah dihadirkan, namun iblis sengaja membuatnya waswas agar ia kehilangan keutamaan takbiratul ihram, keutamaan di awal salat.Karena saking seringnya mengulang takbir, ada orang yang sampai bersumpah: "Demi Allah saya tidak akan mengulang takbir," atau "Jika saya ulangi takbir, semua harta saya tinggalkan," bahkan ada yang bersumpah "Saya ceraikan istri saya jika mengulang takbir." Itu semua adalah talbis iblis, kenapa menyusahkan diri. Syariat Islam itu mudah, ringan, dan selamat dari hal-hal ekstrem seperti ini, yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi ﷺ maupun para sahabat.Cara Menepis Waswas dalam NiatKisah Abu Hazim: Ketika masuk masjid, iblis membisikinya: "Wahai Abu Hazim, sesungguhnya kamu salat tanpa wudhu." Abu Hazim langsung menepis: "Sejak kapan kau mau berbaik hati memberikan nasihat kepadaku, wahai iblis?"Hakikat Niat: Niat itu sudah ada sejak seseorang berdiri dan berniat menuju salat fardu. Tempat niat adalah di hati, bukan pada lafal. Melafalkan niat tidaklah wajib; bila lafal sudah benar, mengulang tanpa sebab hanyalah penyakit waswas. Orang yang sudah mengucapkan sesuatu tetapi merasa belum mengucapkannya digambarkan sebagai gangguan waswas.Kisah Ibnu Aqil dan Orang Waswas: Seseorang mengadu kepada ulama Ibnu Aqil bahwa ia merasa belum membasuh anggota wudhu atau belum bertakbir padahal ia sudah melakukannya. Ibnu Aqil menjawab: "Kalau begitu kamu tidak usah salat, karena salat tidak wajib bagimu." Ketika ditanya alasannya, beliau menjelaskan bahwa Nabi ﷺ bersabda pena diangkat dari orang gila sampai dia sadar. Orang yang sudah takbir tapi merasa belum bertakbir, akalnya sedang tidak beres (terkena penyakit waswas).Imam Ibnul Jauzi menegaskan bahwa waswas dalam niat bersumber dari kekacauan akal dan kebodohan terhadap syariat. Dicontohkan, jika kita berdiri untuk menyambut orang alim, kita tidak perlu melafalkan: "Saya berniat berdiri untuk menyambut orang alim ini karena ilmunya..." Demikian pula dalam salat, begitu kita menuju masjid untuk salat Magrib, dalam satu detik di hati sudah tergambar salat Magrib 3 rakaat, menghadap kiblat, dan menjadi makmum. Niat terjadi seketika; yang panjang itu penguraiannya.“Saya ingin salat magrib” dalam sekejap sudah mencakup: magrib, 3 rakaat, menghadap kiblat, makmum/munfarid, ada/qadha, dll. sesuai konteks.Yang membutuhkan waktu adalah merangkai lafal: ushalli fardha zhuhri arba'a raka'atin… dst.Waswas muncul ketika orang berusaha menghadirkan seluruh rincian itu secara simultan dalam bentuk lafal yang terurai.Ibnu Jauzi menekankan: niat itu mudah, tidak sesulit yang dibayangkan.Batasan Waktu Niat dan Celaan terhadap Sikap BerlebihanDalam ilmu fikih, boleh mendahului takbir dengan niat dalam waktu yang singkat selama niat tersebut tidak dibatalkan.Di sebagian kalangan, ada pendapat bahwa niat harus persis berbarengan dengan rukun pertama (saat mengucapkan takbir). Praktiknya menjadi berat bila orang mengharuskan sinkronisasi rentetan lafal niat yang panjang dengan “Allahu akbar” sambil merenungi makna takbir dalam satu waktu. Kesulitan ini memicu pengulangan takbir dan waswas. Ditekankan: Nabi ﷺ dan para sahabat tidak melafalkan niat panjang seperti itu.Riwayat Abdullah bin Mas'ud: Ia bersumpah bahwa tidak ada orang yang lebih tegas dan keras terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan (mutanatthi'un / menyulitkan diri dalam beragama) selain Rasulullah ﷺ, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab. Pesan: jangan menyusahkan diri dengan tambahan-tambahan yang tidak dituntunkan.Jangan jadikan “niat pas & takbir pas” sebagai tujuan utama. Orang waswas sering santai setelah merasa takbirnya pas, lalu lalai terhadap sisa salat. Takbir hanyalah pintu masuk ke salat; ibadah utamanya ada setelah masuk. Analogi: jangan hanya sibuk masuk rumah lalu melupakan aktivitas di dalam rumah.Salah Prioritas: Terlalu Fokus Yang Sunnah, Melalaikan yang WajibOrang yang masbuk sering kali sibuk membaca doa istiftah yang hukumnya sunnah, padahal imam sudah mau rukuk. Seharusnya, ia langsung membaca surah Al-Fatihah (yang hukumnya wajib bagi makmum menurut sebagian ulama) tanpa perlu istiftah atau ta’awuz agar tidak ketinggalan rakaat.Nasihat Guru Ibnul Jauzi (Abu Bakar Ad-Dinavari): Ketika Ibnul Jauzi masih kecil dan melakukan hal serupa (masbuk tapi membaca istiftah), gurunya menasihati: "Para ulama berselisih tentang wajibnya membaca Al-Fatihah di belakang imam, tapi mereka sepakat doa istiftah itu sunah. Maka sibukkanlah dirimu dengan yang wajib dan tinggalkan yang sunnah."Meninggalkan Sunnah demi Alasan PribadiIblis juga menipu sebagian orang saleh untuk meninggalkan amalan sunnah karena mengikuti kondisi psikologis atau perasaan pribadi mereka.Contoh 1 (Sengaja Mundur dari Saf Pertama): Ada orang yang sengaja tidak mau di saf pertama karena takut riya atau agar hatinya lebih fokus di belakang. Ini keliru; seharusnya tetap ke saf pertama dan lawan perasaan riya tersebut. Nabi ﷺ bersabda bahwa andai manusia tahu keutamaan saf pertama, mereka akan rela melakukan undian (qur'ah) untuk mendapatkannya.Contoh 2 (Sengaja Salat Tidak Sedekap): Ada orang salat yang tidak meletakkan tangan kanan di atas kiri  karena khawatir khusyuk padahal hatinya tidak khusyuk. Ini menyelisihi sunnah nabi.Patokannya Adalah Dalil (Syariat), Bukan Figur Orang Saleh: Ibnul Jauzi menegaskan bahwa walau ada orang saleh/ulama melakukan sesuatu yang tidak sesuai sunnah, yang diikuti tetap dalil. Ulama bukan ma'shum; bisa salah, bisa belum sampai hadis kepadanya. Jangan berhenti pada “ada di buku fikih” atau “fulan berpendapat demikian”; timbang dengan dalil yang lebih kuat. Ia menukil perkataan Imam Ahmad bin Hambal ketika disodori pendapat Ibnu Mubarak: "Ibnu Mubarak tidak turun dari langit (bisa salah)."Berlebih-lebihan dalam Makhraj Huruf dan TajwidIblis menggoda sebagian orang salat agar terlalu ekstrem dalam melafalkan makharijul huruf hingga mengulang-ulang bacaan (misal: "Alhamdu, Alhamdu...").Ibnul Jauzi bercerita pernah melihat orang yang melafalkan huruf Dhad ("waladh-dhoolliin") dengan sangat kencang dan berlebihan sampai air liurnya keluar.Berlebihan menekan huruf hingga ludah/liur keluar disebut contoh penyimpangan dari adab salat dan terlalu sibuk memikirkan kesempurnaan makhraj dan tajwid membuat seseorang lupa mentadaburi makna-makna ayat yang sedang ia baca.Talbis Iblis dalam Memaknai Ibadah & Mengatur FisikIbadah hanya formalitas gerak; meninggalkan kewajiban karena tidak paham. Ada makmum yang langsung salam mengikuti imam padahal tasyahud wajibnya belum selesai dibaca. Tasyahud yang wajib tidak ditanggung imam; selesaikan dulu, lalu salam.Ada yang memanjangkan salat sunah siang dengan bacaan keras agar tidak mengantuk. Ditegur: salat siang asalnya sirr; jika mengantuk, tidur karena tubuh punya hak.Menyaringkan Suara di Siang Hari: Ibnul Jauzi pernah menegur orang yang salat sunnah di siang hari secara jahr (bersuara keras). Orang itu beralasan untuk menghilangkan kantuk. Ibnul Jauzi menasihati: "Jika ngantuk, tidurlah, karena tubuhmu punya hak untuk istirahat."Mengorbankan yang Wajib Demi Salat Malam: Ada orang yang begadang semalam suntuk untuk salat malam atau salat Dhuha dengan perasaan yang lebih bahagia daripada saat melakukan salat fardhu. Akibatnya, menjelang Subuh ia kelelahan, tertidur, dan melewatkan salat Subuh berjamaah atau salat dalam keadaan malas. Seseorang harusnya lebih bahagia bisa salat Subuh berjamaah karena pahala amalan fardu jauh lebih besar daripada amalan sunnah.Kisah Husain Al-Qazwini: Orang saleh yang sengaja berjalan-jalan terus di siang hari di masjid agar tidak tertidur. Ini dianggap kebodohan karena menyelisihi syariat dan akal. Syariat mengatakan badan kita punya hak, maka tidurlah, salat malamlah dan tidurlah. Secara akal juga demikian, dengan tidur tubuh kita setelahnya akan bersemangat lagi. Nabi ﷺ berkata, “Hendaknya kalian mengikuti petunjuk Nabi yang tengah, siapa yang berlebihan dalam agama, dia akan terdominasi.”Hadis Tali Zainab & Larangan Memaksa Diri: Nabi ﷺ memerintahkan untuk melepas tali yang dipasang Zainab untuk berpegangan saat lelah salat. Salatlah sesuai kemampuan, jika lelah silakan duduk. Jika mengantuk saat salat, tidurlah terlebih dahulu, sebab dikhawatirkan orang yang mengantuk niatnya membaca istigfar malah mencaci dirinya sendiri tanpa sadar.Sebaik-baik salat malam adalah seperti Nabi Daud; tidur setengah malam pertama, salat sepertiga malam, dan tidur lagi seperenam malam terakhir sehingga bangun Subuh dalam keadaan segar. Para ulama Salaf yang bisa salat semalam suntuk melakukannya secara bertahap, dibantu dengan tidur siang (qailulah) serta porsi makan yang sedikit; bukan standar umum, dan Nabi ﷺ sendiri tidak dikenal begadang tanpa tidur sama sekali setiap malam.Fitnah Menceritakan Amal Saleh (Riya Terselubung)Iblis menipu ahli salat malam untuk menceritakan amalan mereka secara halus di siang hari agar orang lain tahu mereka habis salat malam.Contoh Riya Halus: Mengatakan "MasyaAllah, si fulan tadi malam azannya tepat waktu." Maksud terselubungnya adalah memberi tahu orang-orang bahwa dia tidak tidur semalam sehingga tahu jam azan muazin. Atau mengghibah orang lain: "Si Fulan kalau salat Subuh selalu terlambat Takbiratul Ihram," secara tidak langsung memuji diri sendiri bahwa dirinya tidak pernah terlambat.Kerugian Amalan Tercerita: Meskipun pelakunya tidak berniat riya, menceritakan amalan akan memindahkan status pahalanya dari "amalan rahasia/tersembunyi" (yang pahalanya jauh lebih besar) menjadi "amalan yang terlihat/terceritakan." Jika diniatkan untuk riya, maka pahalanya akan hangus total. Di zaman sekarang, harus sangat hati-hati terhadap budaya upload/publish amal (salat, umrah, haji, sedekah) jika tidak ada maslahat syar'i yang jelas dan aman dari riya.Riya dalam Beribadah di Masjid & MenangisSengaja Beribadah Agar Terkenal: Setan menggoda orang untuk sengaja berlama-lama salat sendirian di masjid agar orang datang bersimpati, memujinya, lalu menjadikannya viral. Hal ini membuat ia makin semangat ibadah karena pujian orang, bukan karena ikhlas. Padahal Nabi ﷺ bersabda sebaik-baik salat (sunnah) bagi laki-laki adalah di rumahnya, kecuali salat fardu.Kisah Salaf Menyembunyikan Amalan:Amir bin Qais tidak suka orang lain melihatnya salat sunnah di masjid.Ibnu Abi Laila langsung pura-pura tidur/berbaring jika sedang salat lalu ada orang masuk ke ruangannya.Ada yang salat semalam suntuk, lalu menjelang subuh pura-pura tidur agar paginya bisa berkata "Wah tidur semalam nyenyak sekali" agar dikira orang tidak salat malam.Allah membekali manusia dengan jiwa yang suka mencela (nafsul lawwamah). Sinyal ini akan mengingatkan hati kita saat kita mulai terdeteksi ingin pamer atau riya. Jika sinyal itu muncul, segera berhenti dan jangan diteruskan karena riya terasa manis/lezat bagi nafsu.Menangis di depan orang banyak bisa terjadi tanpa sengaja; jika tak mampu menahan, tidak dipaksa. Tetapi orang yang mampu menyembunyikan tangis lalu sengaja menampakkannya sedang membuka pintu riya.Kisah Salaf Menahan Tangis:Ayub As-Sikhtiyani jika sudah tidak kuat menahan tangis saat menyampaikan ilmu, ia akan segera berdiri dan pergi.Ada juga yang mengambil tisu saat menangis lalu berbohong dengan berkata "Flu itu berat," demi menutupi bahwa ia sedang menangis karena takut riya.Jangan membuat-buat tangisan, suara sedu, atau gestur tisu tanpa air mata demi kesan khusyuk.Hidup ini singkat, maka beribadahlah dengan khusyuk dan ikhlas, dan tutuplah rapat-rapat segala pintu riya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
E
Ela septiana yusira

📍 Kota Tangerang

Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (bagian 2)

Godaan iblis agar terluput dari keutamaan takbiratul ikhram dengan membuat hati was-was apakah sudah benar mengucapkan niat padahalNiat lisan salah tapi tetap dihitung shalat karena sudah ada niat di hati untuk shalat. Ini disebabkan oleh kurangnya ilmu saat beribadahAkhirnya ia pun melakukan takbir berulang-ulang. Perkara ini tidak pernah ditemukan di kisah nabi dna para sahabatYang bikin berniatnya itu was-was adalah ia ingin menghadirkan seluruh kata-kata niat itu secara utuh diucapkan “aku berniat shalat magrib 3 rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah taala” padahal kalau niat dalam hati “aku berniat shalat magrib” itu dah otomatis magrib pasti 3 rakaatKalau orang yang sudah merasa niat yang dia ucapkan pas dan takbirnya sudah dilakukan ia menjadi orang yang santai tidak memperhatikan shalatnya, tidak memperhatikan rukunnya yang lain hal ini keliruSaat shalat jamaah bila imam sudah tinggal sedikit selesai langsung saja baca al fatihah tidak perlu doa iftitah dan taawuz karena itu hukumnya sunnahJangan sampai kita mendahulukan sunnah dan melalaikan yang wajibSibukkan yang wajib tinggalkan yang sunnah apabila kondisi tidak memungkinkanJadi para ulama sepakat doa iftitah adalah sunnah sedangkan al fatihan sebagai makmum ada yang bilang sunnah  maka cukup imam  dan ada yang bilang wajib tetap dibacaAda orang yang banyak meninggalkan banyak sunnah karena kondisi dirinyaYaitu sengaja ingin di saf belakang alasannya “aku ingin lebih fokus agar hatiku tidak riya” artinya masalah pribadinya menghalangi dari berbuat sunnah yang benar adalah perbaiki hatimu dan lakukanlah sunnahSeharusnya jalani sunnah lawan riyaUlama bukan maksum. Jadi bukan ulama bilang sesuatu pasti benar tapi harus kembali ke dalil jadi ulama bisa salah karena hadist bisa belum sampai kepadanya

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Talbis Iblis #6 : Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag-2)

Talbis Iblis #6 : Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag-2)Oleh Ustadz Firanda Andirja Hafidzahullah 1.     Talbis Iblis dalam masalah Niat ShalatIblis berusaha merusak ibadah dengan membuat seseorang merasa sudah beribadah padahal sebenarnya belum, atau sebaliknya.·    Mengulang-ulang Lafal Niat: Seseorang terus-menerus mengulang ucapan niatnya (seperti usholli) karena mengira niat sebelumnya batal atau tidak pas. Padahal, niat itu letaknya di dalam hati dan sudah ada sejak ia berdiri untuk salat.·    Ragu saat Takbiratul Ihram: Mengulang-ulang Allahu Akbar karena berusaha menyinkronkan lafal niat yang panjang di dalam hati bersamaan dengan takbir. Menariknya, ketika imam ruku, orang tersebut tiba-tiba bisa langsung takbir dan ikut ruku karena takut kehilangan rakaat. Ini bukti bahwa waswas sebelumnya hanyalah permainan iblis agar ia kehilangan keutamaan awal salat.·    Hakikat Niat Menurut Ulama: Tempat niat adalah di dalam hati, bukan pada lafal. Niat akan muncul secara otomatis/seketika saat seseorang hendak salat (seperti analogi ketika berdiri menyambut orang alim, kita tidak perlu melafalkan niat). Oleh karena itu, melafalkan niat bukanlah sebuah kewajiban.·    Kata Ibnu Jauzi & Ibnu Aqil: Waswas dalam niat bersumber dari gangguan akal akibat kurangnya pemahaman terhadap syariat (kebodohan terhadap syariat).2.     Skala Prioritas (Mendahulukan Sunah, Merusak Wajib)Iblis menipu ahli ilmu atau ahli ibadah dengan membuat mereka terlalu fokus pada perkara sunah, namun melalaikan perkara yang wajib.·       Masbuk yang keliru: Terlalu sibuk membaca doa istiftah dan taawudz (hukumnya sunah) hingga melupakan atau kehabisan waktu untuk membaca Al-Fatihah (hukumnya wajib).·       Memilih saf belakang: Sengaja memilih saf belakang dengan alasan takut riya, padahal saf depan memiliki keutamaan yang jauh lebih besar (sesuai dalil bahwa sebaik-baik saf laki-laki adalah yang pertama).3. Berlebihan dalam Tajwid dan Makhraj HurufIblis menggoda orang yang salat agar terlalu ekstrem dalam melafalkan huruf-huruf Al-Qur'an (tajwid) sampai menekan makhraj secara tidak wajar atau mengulang-ulang satu kata (misal: alhamdu, alhamdu).Dampaknya: Orang tersebut keluar dari ketenangan aturan salat dan fokusnya habis hanya untuk memikirkan teknis tajwid, sehingga ia melalaikan esensi utama salat, yaitu mentadaburi (merenungkan) makna ayat yang dibaca. Tajwid sejatinya hanyalah sarana untuk membaca dengan benar, bukan tujuan akhir yang mengorbankan pemahaman makna4.  Semangat Amalan Sunah tapi Merusak Amalan WajibIblis menghiasi amalan sunah hingga seseorang merasa jauh lebih bahagia melakukannya dibanding amalan wajib.·       Contohnya: seseorang begadang semalam suntuk untuk salat malam, namun di penghujung malam ia kelelahan lalu ketiduran sehingga melewatkan salat subuh berjamaah atau salat subuh di awal waktu. Padahal, pahala amalan fardu jauh lebih besar di sisi Allah daripada amalan sunah.5. Fitnah Menceritakan Amal Saleh·       Iblis menggoda orang yang rajin beribadah untuk mempublikasikan atau menceritakan amalan mereka di siang hari, baik secara langsung maupun dengan isyarat yang halus.·       Contohnya : "Si Fulan muadzin tadi malam azannya tepat waktu ya.". Maksud terselubungnya adalah agar orang lain tahu bahwa dia terjaga dan sedang salat malam pada jam tersebut. Perbuatan ini sama ada menghapuskan pahala (jika riyak) atau memindahkan amalan tersebut daripada amalan tersembunyi yang tinggi pahalanya kepada amalan yang terang-terangan.Kesimpulan : Kunci utama agar selamat dari segala bentuk tipu muslihat Iblis dalam beribadah adalah dengan menyeimbangkan ilmu syariat yang benar dan menjaga keikhlasan hati. serta senantiasa mengamalkan ilmu yang didapat agar ilmu tersebut menjadi penolong, di akhirat kelak.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
U
Ulfa Puspitasari

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (bag 2)

Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2) - Ust Dr. Firanda Andirja Kajian dimulai dengan pembahasan dari kitab Talbis Iblis, yang membahas berbagai tipu daya dan muslihat iblis dalam menggangu ibadah manusia. Iblis berniat merusak ibadah kita, sehingga kita merasa melakukan ibadah, namun pada kenyataannya ibadah tersebut terganggu atau bahkan tidak sah. Salah satu tipu daya iblis adalah mencampuri niat dalam shalat. Ada orang yang berniat shalat namun karena waswas atau keraguan, ia mengulangi niatnya berkali-kali, padahal niat tidak batal hanya karena ucapan salah atau repetisi lafal. Niat sebenarnya hanya perlu hadir dalam hati sekali saja. Contoh kasus lain, orang ragu saat takbiratul ihram lalu mengulanginya terus-menerus, padahal jika imam sudah rukuk, biasanya niat langsung hadir sempurna karena takut tertinggal rakaat.Banyak yang sampai bersumpah agar hanya takbir sekali karena waswas berulang-ulang, bahkan ada yang bersumpah dengan sesuatu yang berat untuk menguatkan niat takbir sekali, padahal ini termasuk tipu daya iblis yang menyulitkan diri sendiri.Disebutkan juga kisah Abu Hazim yang mendapatkan bisikan waswas dari iblis: "Shalatmu tanpa wudhu". Ia menepis bisikan tersebut dengan tegas karena tahu itu hanya tipu daya iblis. Implikasi utamanya adalah bahwa niat hadir di hati saat hendak melaksanakan shalat, dan tidak perlu diulang-ulang untuk memperbaiki lafaz niat karena bukan kewajiban melafalkannya.Penjelasan lebih lanjut:Niat adalah dalam hati, bukan pada lafaz.Pengulangan niat untuk memperbaiki lafaz hanya akan menimbulkan keraguan yang tidak perlu.Lafal niat tidak wajib, yang wajib adalah kehadiran niat di hati.Jika seseorang merasa belum mengucapkan niat padahal sudah, ini merupakan penyakit waswas.Kisah dan pendapat dari Imam Ibnu Aqil dipaparkan: seseorang yang terus merasa belum selesai wudhu atau takbirannya, padahal sudah, disebut sebagai orang gila dan tidak wajib shalat. Ini mempertegas bahwa keraguan yang berlebihan adalah penyakit.Sebab utama waswas niat adalah kebodohan terhadap syariat. Contoh analogi: ketika bertemu ulama dan berdiri untuk menyambutnya, niat sudah langsung hadir di hati tanpa perlu dilafalkan. Begitu juga niat shalat sudah hadir saat seseorang berdiri untuk shalat tanpa harus dirinci dan dilafalkan.Niat shalat sudah mencakup:Jenis shalat (fardu, sunnah) Waktu pelaksanaan Jumlah rakaat, arah kiblat, status sebagai makmum atau imamSemua ini sudah tersusun dalam satu saat tanpa perlu perincian panjang atau pelafalan formal.Inti penting yang ditekankan Ibnu Jauzi:Niat itu mudah dan tidak sesulit yang dibayangkan.Tidak perlu membebani diri dengan lafaz dan perincian kompleks.Niat boleh didahulukan sebelum takbiratul ihram.Bahasan fikih terkait niat pada rukun pertama ibadah:Dalam wudhu, niat harus hadir saat melakukan rukun pertama (mencuci wajah).Dalam shalat, rukun pertama adalah takbiratul ihram.Akan tetapi, menggabungkan niat yang panjang dan takbiratul ihram secara bersamaan secara sempurna sangat sulit.Rasulullah tidak membebankan yang terlalu rumit ini.Banyak orang waswas karena sulitnya menyelaraskan niat dengan takbir (yang berarti menghayati makna "Allah Maha Besar" sambil menghadirkan niat terperinci). Oleh karena itu, jangan terlalu berlebihan dalam mengulang-ulang takbir dan niat.Dalam hadis dan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud dan sahabat lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad dan para sahabat tidak melakukan pelafalan niat secara panjang dan berulang-ulang. Menyulitkan diri dalam ibadah adalah sesuatu yang diwaspadai dan tidak dicontohkan oleh Nabi dan sahabat.Dikatakan juga muslihat iblis ada pada orang yang terlalu sibuk mengatur niat dan takbir sementara shalatnya sendiri kurang diperhatikan. Contoh lain: setelah takbir, makmum yang masbuk terkadang terlalu lama membaca doa-doa sunnah sehingga tertinggal rukuk imam.Prioritas ibadah harus diperhatikan:Tidak boleh mengutamakan sunnah sekaligus meninggalkan kewajiban. Misalnya, jika tertinggal rukuk, sebaiknya langsung baca Al-Fatihah, tanpa doa istiftah atau ta’awudz agar tidak tertinggal imam.Ibnu Jauzi mencontohkan bahwa para ulama berbeda pendapat soal kewajiban membaca Al-Fatihah bagi makmum, tetapi sunnah-sunnah seperti doa istiftah dan ta’awudz tidak boleh sampai mengganggu kewajiban. Jangan sampai yang sunnah malah dilaksanakan, tapi yang wajib terabaikan.Tipu daya iblis lainnya adalah menyebabkan orang meninggalkan sunnah karena masalah pribadi atau ketakutan riya, seperti memilih untuk tidak isi saf terdepan demi agar hatinya fokus, atau takut dianggap khusyuk. Ini tetap termasuk kesalahan dan kekurangan ilmu.Hadis shahih menegaskan keutamaan saf pertama dalam shalat berjamaah. Jangan takut salah paham orang, yang penting adalah memperbaiki hati dan mengikuti sunnah.Contoh lain sunnah yang sering dilalaikan adalah posisi tangan saat shalat yang diajarkan Nabi yaitu tangan kiri di atas kanan. Sebagian orang meninggalkan ini karena alasan pribadi, padahal ini termasuk sunnah penting dalam shalat.Kesimpulan penting oleh Ibnu Jauzi:Jangan meninggalkan syariat hanya karena mengikuti kebiasaan atau pendapat seseorang, walaupun orang tersebut saleh.Ulama bukan maksum, dan pendapat mereka bisa salah.Yang dijadikan pegangan adalah dalil dari Al-Quran dan hadis.Ditekankan bahwa keluar dari kaidah ibadah lalu berlebih-lebihan adalah kesalahan:Contohnya pada bacaan Al-Quran dalam shalat: mentahqiq (pelafalan huruf) yang terlalu berlebihan bisa membuat keluar dari aturan yang benar.Iblis membuat orang terlalu fokus pada tajwid sampai lupa makna, sementara tujuan membaca Al-Quran adalah memahami makna.Tipu daya lain: sebagian orang ahli ibadah hanya fokus pada gerakan berdiri dan duduk, tanpa memperhatikan hal-hal wajib lainnya sehingga ibadahnya kurang sempurna.Praktik lain yang tertangkap adalah beberapa makmum sudah ikut salam ketika imam salam padahal tasyahhud belum selesai. Ini tidak ditanggung oleh imam dan haram ditinggalkan tasyahhud sampai selesai.Ada juga yang memanjangkan salat dengan bacaan berjamaah, tapi melalaikan sunnah dan mengerjakan yang makruh.Contoh kasus salat siang (dhuha) dengan suara keras untuk menghilangkan ngantuk adalah kesalahan karena melanggar adab sunnah.Perhatian soal prioritas ibadah:Jangan sampai terlalu fokus pada salat malam sehingga salat fardu tertinggal.Salat fardu berjamaah lebih utama daripada salat malam.Jika seorang berlebihan dalam persiapan salat fardu (misal kesiapan untuk berjamaah), bisa membuatnya tertinggal salat berjamaah dan ini salah.Contoh nyata kebodohan menurut syariat: berjalan di siang hari supaya tidak mengantuk untuk shalat malam. Nabi mengajarkan agar badan juga diperhatikan, jika mengantuk hendaknya tidur.Rasulullah melarang memaksakan berdiri salat jika capek; boleh duduk salat sunah.Jika ngantuk saat shalat, lebih baik tidur dahulu agar shalat dengan semangat dan khusyuk.Salat Nabi Daud yang jadi contoh adalah dengan bertahap menjalankan salat malam tanpa berlebihan.Tidak ada riwayat Nabi Muhammad pernah begadang semalaman tanpa tidur. Sunnah lebih menekankan keseimbangan ibadah dan istirahat.Iblis juga menipu dengan riya’, memprovokasi orang agar suka mempublikasikan amal saleh mereka.Contoh negatif: seseorang sengaja mengabarkan azan tepat waktu untuk menunjukkan bahwa dia tidak tidur semalaman, yang pada hakikatnya adalah riya’ terselubung.Dalil penting: Allah memuji orang yang berinfak secara terang-terangan jika niatnya ikhlas, tapi amal tersembunyi lebih utama.Iblis memancing riya juga dalam urusan menangis dalam ibadah. Bila seseorang bisa menahan tangis, sebaiknya menahan, karena menampilkan tangis bisa menjadi riya.Orang yang gemar beribadah di masjid supaya terlihat dan menjadi pusat perhatian juga bagian dari tipu daya iblis.Rasulullah menegaskan shalat sunnah terbaik adalah di rumah kecuali salat fardu yang disunnahkan di masjid agar tidak dikenal riya.Beberapa sahabat salat malam sambil menyembunyikan ibadahnya agar tidak diketahui orang lain, menghindari riya.Manusia memiliki nafsul lawwamah yaitu jiwa yang suka mencela dirinya ketika melakukan kesalahan atau maksiat, sebagai kontrol internal agar jangan melakukan riya’.Penting untuk menghentikan diri saat ada tanda riya’, jangan lanjutkan cerita atau pamer amal saleh.Iblis terus menggoda manusia dan ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, menutup pintu riya’ dan kesombongan.Kajian akan dilanjutkan pada pembahasan talbis iblis dalam ibadah lainnya seperti baca Qur’an, puasa, dan haji.Kesimpulan Utama: Ibadah harus dilaksanakan dengan niat yang ikhlas dan sederhana, tidak rumit dan tidak berlebihan.Waswas dan kebingungan dalam niat serta pelaksanaan adalah tipu daya iblis untuk mengganggu keikhlasan dan kekhusyukan.Prioritaskan kewajiban dalam ibadah, jangan sampai tertukar dengan pelaksanaan sunnah yang menyebabkan kelalaian.Hindari riya’ dengan menjaga amal tetap tersembunyi, tidak diumumkan kecuali untuk maslahat syar’i dan ikhlas.Pelajari dan pahami dalil sebagai pedoman utama dalam beribadah, jangan semata mengikuti kebiasaan atau pendapat individu.Istirahat dan menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari ibadah yang diperintahkan oleh Rasulullah.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2)

Catatan Kajian Kitab Talbis Iblis — Bab 8Pemateri: Ust. Dr. Firanda Andirja, M.A. Tema: Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah (Dzikru Talbisi Iblisa 'ala al-'Ubbad) Bag 2I. Mukaddimah: Kebodohan sebagai Akar Segala WaswasAl-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala menegaskan sebuah kaidah utama dalam bab ini:"Pintu terbesar yang dimasuki Iblis untuk mengelabui manusia adalah kebodohan (al-jahl). Iblis dapat mendatangi orang-orang bodoh dengan sangat mudah dan aman. Sebaliknya, jika Iblis ingin menggoda seorang alim (orang yang berilmu), ia harus melakukannya secara sembunyi-sembunyi dan mencuri-curi kesempatan."Iblis sukses menyesatkan banyak ahli ibadah justru karena minimnya ilmu agama yang mereka miliki. Mayoritas ahli ibadah menghabiskan waktu untuk melakukan ritual fisik tanpa bimbingan ilmu syar'i. Oleh karena itu, seorang tabi'in senior, Rabi' bin Khutsaim, memberikan nasihat: "Tafaqqah taziil (Belajarlah ilmu fikih terlebih dahulu, baru setelah itu engkau silakan menyendiri untuk fokus beribadah)." Jika seseorang mengisolasi diri untuk beribadah tanpa ilmu, ia berada dalam bahaya besar karena Iblis tidak akan membiarkannya beribadah dengan benar.II. Keutamaan Ilmu di Atas Ibadah SunnahKerancuan pertama (talbis) yang dibisikkan Iblis kepada ahli ibadah adalah membuat mereka mendahulukan amalan sunnah (nawafil) daripada menuntut ilmu, padahal kedudukan ilmu jauh lebih utama. Iblis menipu mereka dengan logika: "Tujuan ilmu adalah amal, jadi langsung saja lakukan amalnya tanpa perlu membuang waktu menuntut ilmu."Ibnul Jauzi membantah hal ini dengan menjelaskan bahwa kaum ahli ibadah yang bodoh mengira amalan itu hanyalah sebatas gerakan anggota tubuh lahiriah (amalan jawarih). Mereka tidak menyadari bahwa amalan yang paling agung adalah amalan hati (amalul qalb), seperti meluruskan akidah, mengenal sifat-sifat Allah, serta memupuk keimanan. Amalan hati ini kedudukannya jauh lebih tinggi daripada amalan fisik dan hanya bisa diraih melalui jalur menuntut ilmu. Semangat beribadah tanpa ilmu adalah karakteristik kaum Nasrani yang tersesat (Ad-Dhallin).Atsar Para Salaf tentang Ilmu:Mutarrif bin 'Abdillah bin Asy-Syiikhir berkata: "Keutamaan ilmu itu jauh lebih baik daripada keutamaan ibadah." * Yusuf bin Asbath berkata: "Satu bab ilmu yang engkau pelajari dengan benar, itu lebih baik daripada engkau mengikuti 70 kali peperangan (jihad)."Al-Mu'afa bin 'Imran berkata: "Menulis satu hadis Nabi lebih aku sukai daripada melakukan shalat malam semalam suntuk."III. Talbis Iblis dalam Urusan Thaharah (Bersuci) & WuduKetika ahli ibadah mencampakkan ilmu, Iblis dengan sangat mudah merancukkan pemikiran mereka dalam berbagai praktik thaharah harian melalui penyakit waswas:A. Waswas Saat Buang HajatIblis membisikkan rasa waswas saat buang air kecil. Ada orang yang melakukan gerakan berlebihan seperti berdiri, berjalan, berdeham dengan keras, hingga menghentakkan kaki secara bergantian dengan asumsi agar sisa air kencingnya keluar semua. Tindakan melampaui batas ini justru memicu penyakit waswas. Secara syariat, seseorang cukup membersihkan kemaluannya dengan mengurutnya secara lembut, lalu menyiramnya dengan air tanpa perlu melompat-lompat.B. Waswas dalam Penggunaan Air & Istinja'Iblis menghiasi pikiran sebagian orang bahwa menggunakan air dalam jumlah banyak secara berlebihan itu lebih bagus. Padahal, jika najis sudah hilang, pembasuhan sudah dihukum suci. Begitu pula dalam urusan istinja' menggunakan batu (istijmar). Jika kotoran keluar secara normal di area lubang dubur, cukup dibersihkan dengan 3 buah batu. Menggunakan batu secara berlebihan hingga 21 batu adalah tindakan tidak mengikuti sunnah Nabi ﷺ.C. Keraguan Terhadap Kesucian Air & TempatBanyak orang terjebak dalam asumsi tanpa bukti: "Jangan-jangan tempat ini najis, jangan-jangan air ini kemasukan tikus." Di dalam ilmu kaidah fikih, berlaku aturan baku: Hukum asal dari air dan segala tempat adalah suci. Keyakinan yang telah pasti tidak boleh digugurkan hanya karena adanya keraguan (Al-Yaqinu la Yazulu bis-Syakk). Jika Anda bertamu ke rumah orang lain, shalatlah di atas lantainya tanpa perlu ragu, kecuali jika mata Anda melihat langsung atau hidung Anda mencium bau najis di tempat tersebut.D. Empat Perkara yang Dibenci Akibat Waswas Air:Seseorang yang berwudu secara berlebihan hingga menghabiskan air dalam jumlah besar telah mengumpulkan 4 perkara yang dibenci syariat:Tabzir: Boros dalam penggunaan air (makruh meskipun berwudu di sungai yang mengalir).Menghabiskan Umur: Menyia-nyiakan waktu yang berharga untuk perkara yang tidak wajib dan tidak pula disunnahkan di dalam kamar mandi.Melampaui Batas Syariat: Merasa tidak nyaman dengan batas minimal yang ditetapkan oleh syariat.Menyelisihi Sunnah: Melanggar batasan mencuci anggota wudu lebih dari tiga kali. Akibat wudu yang terlalu lama ini, mereka sering kali luput dari Takbiratul Ihram bersama imam atau kehilangan jamaah shalat.Nabi ﷺ pernah memperingatkan bahwa akan datang suatu kaum dari umatnya yang melampaui batas dalam dua hal: dalam berdoa dan dalam bersuci. Iblis juga menugaskan setan khusus yang bernama Walhan untuk meniupkan rasa waswas pada manusia dalam urusan wudu.IV. Talbis Iblis dalam Niat Shalat & Takbiratul IhramA. Fenomena Waswas Lafal NiatIblis menggoda orang shalat melalui pelafalan niat (ushalli). Orang yang terkena waswas akan terus mengulang-ulang kalimat niatnya karena merasa niat sebelumnya telah batal atau lafalnya salah. Mereka bersusah payah merangkai kata secara detail di lisan (Ushalli fardhal zuhri arba'a raka'atin...).Ibnul Jauzi menegaskan bahwa niat itu tempatnya di hati, bukan di lisan. Keinginan dan kesadaran Anda berdiri untuk menjalankan shalat fardu menghadap kiblat itulah yang dinamakan niat, dan itu terkumpul dalam hati dalam satu waktu (lahzah) tanpa perlu diuraikan secara mekanis lewat lisan. Seluruh fuqaha sepakat bahwa melafalkan niat bukanlah sunnah Nabi ﷺ dan tidak pula wajib.B. Mengulang-ulang Takbiratul IhramAda orang yang bertakbir "Allahu Akbar", lalu membatalkannya, dan mengulangnya kembali berkali-kali. Anehnya, ketika imam sudah hendak rukuk, orang yang waswas ini tiba-tiba bisa takbir dengan lancar tanpa ragu karena takut kehilangan rakaat. Ini adalah bukti nyata bahwa waswas tersebut hanyalah permainan Iblis untuk menggugurkan pahala keutamaan Takbiratul Ihram di awal shalat. Saking parahnya penyakit ini, sebagian orang sampai bersumpah dengan nama Allah, menjanjikan seluruh hartanya, bahkan mengancam mencerai-ceraikan istrinya jika mereka mengulang takbir lagi.C. Kisah Ketegasan Para Ulama Terhadap WaswasKisah Abu Hazim: Ketika masuk ke dalam masjid, Iblis membisikkan rasa waswas ke dalam hatinya: "Sesungguhnya engkau shalat tanpa wudu." Abu Hazim langsung menepisnya dengan cerdas: "Sejak kapan engkau mulai peduli dan memberikan nasihat kebaikan kepadaku, wahai Iblis?"Kisah Ibnu 'Aqil: Seseorang mengadu kepada Ibnu 'Aqil: "Aku telah membasuh anggota wuduku dan bertakbir, namun perasaanku mengatakan aku belum membasuh dan belum bertakbir." Ibnu 'Aqil menjawab tegas: "Kalau begitu, engkau tidak wajib shalat." Orang-orang heran dengan jawaban itu, maka Ibnu 'Aqil menjelaskan: "Nabi ﷺ bersabda bahwa pena syariat diangkat dari orang gila sampai ia sadar. Barangsiapa yang sudah bertakbir secara nyata lalu akalnya mengatakan ia belum bertakbir, maka ia adalah orang yang kehilangan akal (gila), dan orang gila tidak wajib shalat."Ibnul Jauzi menyimpulkan: "Al-waswasatu sababuha khalalun fil-'aqli wa jahlun bis-syar'i" (Sesungguhnya penyakit waswas itu disebabkan oleh adanya gangguan pada akal dan kebodohan terhadap syariat).V. Atsar Para Sahabat terhadap Sikap Berlebihan (Mutanatti'un)Mis'ar meriwayatkan dari Man bin 'Abdurrahman, dari catatan tangan ayahnya, bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu bersabda:"Demi Dzat yang tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain Dia, aku tidak melihat seorang pun yang lebih tegas dan keras terhadap orang-orang yang mempersulit diri (mutanatti'un) melebihi Rasulullah ﷺ. Dan aku tahu Abu Bakar adalah orang yang sangat khawatir terhadap mereka, serta Umar bin Khattab adalah manusia yang paling keras di atas muka bumi terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan dalam beragama."Sebagian orang yang waswas, apabila mereka berhasil meluruskan takbir dan niatnya sesuai standar waswas mereka, mereka akan mendadak santai dan mengabaikan kekhusyukan sisa shalatnya. Seolah-olah inti dari shalat hanyalah mempaskan takbir. Padahal, takbir hanyalah pintu masuk. Shalat ibarat sebuah rumah; jangan sampai Anda menghabiskan seluruh energi hanya untuk berdiri di depan pintu lalu melalaikan keindahan di dalam rumah tersebut.VI. Salah Skala Prioritas saat MasbukIblis mengelabui orang yang tertinggal shalat jamaah (masbuk). Ketika ia mendapati imam sudah hampir selesai membaca surat dan bersiap rukuk, ia takbir lalu sibuk membaca doa istifttah dan ta'awwudz yang panjang. Akibatnya, imam keburu rukuk dan ia kehilangan kesempatan membaca Al-Fatihah.Ini adalah bentuk kesalahan skala prioritas akibat kebodohan fikih. Doa istifttah dan ta'awwudz hukumnya adalah sunnah, sedangkan membaca Al-Fatihah adalah kewajiban (wajib/rukun) bagi makmum menurut mayoritas ulama. Maka, mendahulukan amalan sunnah hingga melalaikan amalan wajib adalah bagian dari tipuan Iblis.Ibnul Jauzi mengisahkan pengalamannya saat masih kecil ketika shalat di belakang gurunya, seorang ahli fikih bernama Abu Bakar Ad-Dinari. Sang guru melihat Ibnul Jauzi kecil melakukan hal tersebut saat masbuk, lalu menegurnya:"Wahai anakku, sesungguhnya para ahli fikih berselisih tentang wajibnya membaca Al-Fatihah bagi makmum di belakang imam, namun mereka semua sepakat bahwa doa istifttah itu hukumnya hanyalah sunnah. Oleh karena itu, sibukkan dirimu dengan perkara yang wajib dan tinggalkan perkara yang sunnah jika waktunya sempit."VII. Meninggalkan Sunnah karena Alasan Psikologis PribadiIblis juga menipu sebagian ahli ibadah untuk meninggalkan sunnah Nabi ﷺ demi menuruti perasaan atau kondisi psikologis pribadi mereka sendiri:Sengaja Mundur dari Saf Pertama: Ada orang yang sengaja memilih shalat di saf belakang meskipun saf pertama masih kosong. Alasan mereka: "Aku ingin hatiku lebih fokus dan aku takut tertimpa penyakit riya jika shalat di depan." Ini adalah logika yang keliru. Kewajiban seorang muslim adalah menjalankan sunnah di saf pertama, lalu melawan penyakit riya di dalam hatinya, bukan justru menyerah kalah dengan cara mundur ke saf belakang.Sengaja Tidak Bersedekap: Ada orang yang shalat tanpa meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri (bersedekap) dengan alasan: "Aku khawatir jika aku bersedekap, aku akan terlihat seperti orang yang khusyuk, padahal hatiku tidak khusyuk." Niatnya mungkin terdengar jujur, namun tindakan ini menyelisihi sunnah. Nabi ﷺ pernah melihat Ibnu Mas'ud keliru meletakkan tangan kiri di atas tangan kanan, lalu Nabi ﷺ langsung memegang dan memperbaiki posisi tangan Ibnu Mas'ud agar bersedekap dengan benar.Ketika Ahmad bin Hanbal diberitahu bahwa Abdullah ibnul Mubarak memiliki pendapat atau perilaku tertentu yang menyelisihi sunnah karena alasan pribadi, Imam Ahmad menegaskan: "Ibnu Mubarak tidak turun dari langit (ia bisa keliru). Yang menjadi hujah bagi kita adalah dalil syariat, bukan figur individu saleh." Ibrahim bin Adham juga mengingatkan umat agar selalu berpegang teguh pada jalan asal (al-asl), yaitu dalil syar'i, bukan mengikuti jalan-jalan tikus (ijtihad pribadi yang keliru).VIII. Talbis Iblis dalam Urusan Tajweed & Formalisme RitualA. Berlebihan dalam Makharijul HurufIblis menggelincirkan sebagian orang dalam urusan membaca Al-Qur'an saat shalat. Mereka terlalu terobsesi pada keabsahan makhraj dan penekanan tasydid secara berlebihan. Ibnul Jauzi menceritakan: "Sungguh aku pernah melihat ada orang yang mengucapkan lafal 'Waladh-Dhallin' dengan penekanan huruf Dhad yang begitu ekstrem hingga air liurnya keluar berhamburan." Sikap berlebihan ini membuat fokus pikiran mereka tersita habis hanya untuk memikirkan teknis makhraj huruf, sehingga hati mereka benar-benar kosong dari mentadabburi makna agung ayat yang sedang mereka baca. Tajweed adalah sarana untuk memperindah bacaan, bukan tujuan utama yang merusak kekhusyukan shalat.B. Salam Tanpa Menyelesaikan TasyahudIblis menipu sebagian orang untuk melakukan formalisme ritual tanpa pemahaman. Ketika imam mengucapkan salam, mereka langsung terburu-buru ikut mengucapkan salam, padahal bacaan tasyahud akhir dan selawat wajib mereka belum selesai dibaca. Bacaan wajib shalat tidak ditanggung oleh imam jika makmum sengaja meninggalkannya. Selesaikan bacaan tasyahud akhir Anda terlebih dahulu, baru kemudian menyusul salam di belakang imam.IX. Ketimpangan Ibadah Malam (Tahajjud) vs Shalat Fardhu (Subuh)Iblis menipu sebagian ahli ibadah untuk menghabiskan seluruh malamnya dengan begadang melakukan shalat tahajjud dan zikir. Akibatnya, menjelang waktu subuh, tubuh mereka kelelahan dan mereka ketiduran hingga luput dari shalat subuh berjamaah di masjid, atau shalat subuh dalam kondisi mengantuk berat dan malas.Pahala shalat fardu berjamaah jauh lebih besar dan lebih dicintai oleh Allah daripada shalat malam semalaman suntuk. Menghidupkan sunnah dengan cara menghancurkan kewajiban adalah bentuk nyata dari talbis Iblis.Ibnul Jauzi mengisahkan seorang ahli ibadah bernama Husain Al-Qazwini yang berjalan terus di siang hari di dalam Masjid Al-Mansur. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab: "Aku sengaja berjalan terus agar tubuhku tidak tertidur." Ibnul Jauzi menyebut ini sebagai kebodohan yang menyelisihi syariat dan akal. Tubuh manusia memiliki hak untuk beristirahat. Rasulullah ﷺ bersabda:"Hendaknya kalian menempuh jalan yang tengah (moderat). Karena sesungguhnya barangsiapa yang memaksakan diri berlebih-lebihan dalam urusan agama, maka agama ini pasti akan mengalahkannya."Dalil-Dalil Larangan Memaksakan Diri dalam Ibadah:Hadis Tali Zainab: Rasulullah ﷺ melihat ada tali yang membentang di antara dua tiang masjid milik Zainab untuk dijadikan pegangan saat tubuhnya kelelahan shalat malam. Nabi ﷺ memerintahkan: "Lepas tali itu! Hendaknya salah seorang dari kalian shalat di waktu semangatnya. Jika ia lelah atau malas, hendaknya ia shalat dalam posisi duduk."Hadis Larangan Shalat Saat Mengantuk: Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika salah seorang dari kalian mengantuk saat shalat, hendaknya ia pergi tidur sampai hilang rasa kantuknya. Karena jika ia memaksa shalat saat mengantuk, bisa jadi ia berniat meminta ampunan namun lisannya justru mencaci-maki dirinya sendiri tanpa sadar."Metode Tidur Nabi Daud: Sebaik-baik metode ibadah malam adalah metode Nabi Daud alaihis salam, yaitu tidur pada setengah malam pertama, bangun menghidupkan sepertiga malam, dan tidur kembali pada seperenam malam terakhir, sehingga saat subuh tiba fisik berada dalam kondisi segar.Jika ada riwayat yang menyatakan sebagian ulama salaf shalat semalam suntuk, hal itu dilakukan melalui proses latihan bertahap selama bertahun-tahun (tadarruj), dan mereka dibantu oleh kebiasaan tidur siang (qailulah) serta porsi makan yang sangat sedikit, sehingga mereka dijamin tidak akan melalaikan shalat subuh berjamaah. Namun secara mutlak, petunjuk dan sunnah Rasulullah ﷺ yang tetap membagi waktu malamnya untuk tidur adalah mutiara terbaik yang wajib diikuti.X. Fitnah Menceritakan Amal (Tahadduts bil-'Amal) & Riya dalam TangisanA. Riya yang Terselubung (Smug Riya)Iblis melancarkan tipuan yang sangat halus kepada orang-orang yang rajin shalat malam. Pada siang harinya, Iblis menggoda mereka untuk membocorkan amalan malamnya kepada orang lain melalui lisan mereka secara terselubung.Misalnya, seseorang berkata di dalam sebuah majelis: "Masya Allah, muadzin subuh di masjid itu tadi malam mengumandangkan azan tepat pada waktunya." Niat batinnya mengucapkan kalimat itu adalah agar orang-orang di majelis tahu bahwa dia tidak tidur dan ikut terjaga di sepertiga malam untuk tahajjud.Ada pula yang berkata: "Si Fulan itu kalau shalat subuh tidak pernah bisa mendapatkan Takbiratul Ihram pertama bersama imam, selalu saja terlambat." Kalimat ini mengandung dua dosa sekaligus: Riya terselubung (agar dirinya dipuji selalu shalat subuh di saf terdepan) ditambah dosa Ghibah (menceritakan aib orang lain). Perbuatan menceritakan amal ini akan memindahkan catatan pahala amalan yang semula rahasia di sisi Allah menjadi amalan terang-terangan yang berkurang atau bahkan sirna pahalanya akibat riya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa di antara kalian yang mampu memiliki amalan sholeh yang tersembunyi, maka lakukanlah."B. Talbis dalam Tangisan IbadahIblis juga menyusup melalui air mata. Seseorang yang menangis di dalam shalat di depan banyak orang, jika ia sebenarnya mampu menahan tangisnya namun sengaja melepaskannya agar terlihat khusyuk, maka ia telah menjatuhkan dirinya ke dalam jurang riya. Lebih parah lagi adalah fenomena tangisan yang dibuat-buat (gimmick) untuk memancing suasana haru jemaah.Para ulama salaf dahulu adalah orang-orang yang paling ketat menyembunyikan tangisannya:Abu Wa'il apabila shalat sendirian di rumahnya akan menangis tersedu-sedu. Namun, jika ia ditawarkan seluruh dunia ini agar ia mau menangis di depan mata orang lain, ia tidak akan pernah mau melakukannya.Ayyub As-Sikhtiyani apabila sedang menyampaikan ilmu lalu hatinya tersentuh dan air matanya hendak mengalir, ia akan segera berdiri atau mengambil kain untuk mengusap wajahnya sambil berkata kepada jemaah: "Aduh, penyakit pilek/flu saya sedang parah sekali hari ini." Beliau berpura-pura sakit flu demi menutupi air mata ikhlasnya agar tidak diketahui oleh manusia dan selamat dari penyakit riya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
L
Lathifah Aulia Dewi

📍 Kabupaten Boyolali

Talbis Iblis 006 Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah (Bagian 2)

Masalah Niat ShalatNiat “ushalli shalata kadza..” (saya berniat shalat ini). Kemudian dia mengulangi lagi niatnya karena dia menyangka niatnya batal. Seharusnya tidak perlu ragu-ragu.Bertakbir, batalin lagi. Ulangi takbir, batal lagi. Ini godaan iblis.Untuk menghilangkan was-was: kalau tujuanmu menghadirkan niat, niatmu sudah ada, buat apa mengulang-ulang? Karena keinginanmu untuk shalat itu sudah niat, dan tempat niat adalah di hati. Kalau maksudmu mengulangi niat untuk memperbaiki lafalnya, ingatlah bahwa melafalkan niat itu tidak wajib, dan engkau sudah benar, mengapa diulangi lagi?Yang membuat was-wasadalah ketika dia ingin menghadirkan lafal niat secara terperinci (diuraikan) dalam satu waktu: shalat zhuhur, fardhu, ada’, menghadap kiblat, sebagai makmum. Itu susah. Yang mudah itu menghadirkan niat tanpa menguraikan lafal.Boleh niat didahulukan sebelum takbir.Sebagian ulama fikih berpendapat niat adalah rukun shalat, dan harus dihadirkan pada rukun pertama dalam shalat. Misalnya berwudhu, rukun pertama membasuh wajah. Ketika membasuh wajah harus dihadirkan niat wudhunya. Kalau shalat, rukun pertamanya “ALLAHU AKBAR”, sulit untuk menggabungkan Allahu Akbar dengan ushalli…. sementara harus merenungkan juga makna allahu akbar. Sulit untuk menerapkan kedua hal tsb di saat yang bersamaan. Ini menimbulkan was-was, akhirnya takbirnya diulang-ulang.Di antara was-was: sibuk dengan yang sunnah dan meninggalkan yang wajib. Contoh: sudah sah takbir di belakang imam (masbuk), kemudian dia masih baca doa istiftah (panjang). Kalau tahu imam sudah tinggal sedikit waktu berdirinya maka langsung saja baca Al-Fatihah. Kalau disibukkan dengan istiftah, imam keburu rukuk. Khawatir tidak mendapat al-Fatihah. Baca taawudz dan istiftah itu sunnah. Al-Fatihah itu wajib. Meski ada khilaf, ada yang mengatakan makmum tetap wajib baca, ada yang mengatakan makmum tidak harus baca cukup mengikuti imam. Jangan mendahulukan yang sunnah dan melalaikan yang wajib.Ada seseorang yang meninggalkan sunnah-sunnah Nabi karena mengikuti kondisi dirinya sendiri. Contoh: SENGAJA tidak di shaf pertama. Alasannya dia ingin fokus. Dia khawatir dirinya riya’. Ini masalah pribadi dia sehingga dia meninggalkan sunnah. HARUSNYA jalani sunnah, lawan riya’ (perbaiki hatimu). Contoh lain: orang shalat berdiri tidak bersedekap (meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri). Tangan di samping. Dia khawatir kalau bersedekap seakan-akan dia khusyu’ padahal hatinya tidak khusyu’. Niatnya “baik” supaya tidak disangka khusyu’, tapi ini menyelisihi sunnah.Seandainya manusia tahu keutamaan menjawab adzan, dan keutamaan di shaf pertama, kemudian mereka tidak bisa melakukannya kecuali dengan undian, tentu mereka akan melakukan undian.Yang jadi patokan adalah dalil. Jangan berpatokan pada seseorang. Ulama bukan ma’shum. Jika ulama berselisih maka kita cari dalil mana yang lebih dekat dengan kebenaran. Bukan kalau ada ulama yang bilang pasti benar. “Di buku fikih ini ada,” nanti semuanya ada. Yang bilang boleh minta kepada mayat juga ada di buku-buku. Yang bilang boleh melakukan hal-hal aneh juga banyak di buku-buku. BUKAN BERARTI KALAU ADA DI BUKU JADI BOLEH. Ulama juga bisa salah, ulama juga bisa tidak sampai ilmu/hadits kepadanya, sehingga fikihnya mungkin kurang pas.Iblis terkadang menggoda sebagian orang yang shalat dalam masalah makhorijul huruf. Dengan mengulang-ulang bacaannya karena merasa bacaannya kurang fasih. Tasydidnya kurang kencang. Kadang berlebihan demi memastikan bacaannya benar. Yang penting hurufnya sudah jelas maka sudah cukup. Iblis membuat mereka keluar dari aturan shalat yang benar dengan berlebihan dalam mewujudkan huruf tsb. Dan jadi sibuk memikirkan makhroj daripada memikirkan makna ayat. Padahal tajwid adalah sarana untuk memikirkan makna ayat.Imam Salam, tapi Bacaan Tasyahud Belum SelesaiTidak apa imam salam duluan, selesaikan bacaan tasyahud. Sebab bacaan tasyahud itu wajib, tidak ditanggung imam.Salat Sunnah di Siang Hari dengan Mengeraskan Bacaan Al-Qur’anMengeraskan bacaan saat salat di siang hari itu makruh, kecuali salat Jum’at, salat ‘Id. Ada yang berkata ingin menghilangkan kantuknya dengan bacaan jahr. Lalu dijawab, sesungguhnya sunnah-sunnah Nabi jangan ditinggalkan gara-gara begadangmu, kalau mengantuk ya tidur, sebab tubuhmu juga butuh istirahat. Seseorang karena kebodohannya akhirnya meninggalkan sunnah.Sibuk dengan yang Sunnah dan Lalai dengan yang WajibSibuk dengan salat malam, salat dhuha, senang dengan salat sunnah melebihi salat fardhu. Begadang demi salat malam. Sebelum subuh sudah capek, sampai salat fajarnya ketinggalan. Ini salah. Yang lebih utama adalah yang wajib. Seseorang harus lebih bahagia salat subuh berjamaah daripada salat malam. Salat fardhu berjamaah pahalanya lebih besar. Jangan salah prioritas. Salat malam itu indah, dianjurkan, tapi jangan sampai shalat fardhunya kelewatan.Seseorang jangan shalat jika dalam kondisi mengantuk.Bukankah telah diriwayatkan sekelompok ulama salaf shalat semalam suntuk?Mereka itu bertahap sampai di kebiasaan tersebut. Tidak tiba-tiba shalat semalaman. Mereka yakin bisa salat subuh berjamaah. Mereka kuat karena mereka tidur siang dan makan mereka sedikit.Tidak sampai bahwa Rasul begadang semalam suntuk tanpa tidur sama sekali. Sunnah Nabi lebih utama untuk diikuti daripada perbuatan para salaf.Fitnah Menceritakan Amal ShalihMereka menceritakan bahwa mereka shalat malam, tetapi terkadang tidak secara langsung. “Si Fulan semalam adzannya pas waktu.” Dia berkata demikian agar orang-orang mengira semalam tidak tidur. Ini riya’ secara halus.Atau berkata, “Si Fulan kalau shalat tidak pernah takbiratul ikram, pasti terlambat terus.” Ini ghibah plus riya’. Sehingga orang-orang tahu dia tidak pernah terlambat.Orang yang seperti itu, kalau dia tidak riya’ minimal dia telah memindahkan catatan amalnya dari amal tersembunyi menuju amal yang terlihat/terceritakan. Beda pahala antara amal tersembunyi dan amal yang diceritakan.Orang yang Bersendirian Beribadah dalam MasjidDia beribadah karena orang lain semangat melihatnya ibadah. Lebih baik salat sunnah itu di rumah.Menangis di Keramaian OrangMisalnya ketika kajian, merasa tersentuh, kalau bisa menahannya maka itu lebih baik.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
R
Regita Dwi Ananda

📍 Kota Bandung

Talbis iblis -8

Talbis iblis-8Talbis iblis karya Al Imam Ibnul Jauzi.Talbis iblis – terkait Ibadah Haji.Terkadang seseorang sudah selesai melaksanakan haji, wajib 1x namun ingin pergi haji lagi, haji sunnah. Namun membuat orang tua yang sedang punya keperluan marah.Terkadang orang pergi haji wajib namun dengan berhutang. Padahal itu belum wajib untuknya, wajibnya adalah melunasi hutangnya.Kadang ada yang haji ingin jalan-jalan.Kadang-kadang ada yang pergi haji dengan uang syubhat bahkan haram.Kadang pergi haji hanya ingin disebut pak Haji. Kadang haji malah bertengkar di sana.Diantara manfaat haji adalah berkumpul dengan manusia seluruh dunia, bukan untuk bertengkar.Kadang ada yang pergi haji hanya untuk menambah jumlah banyak wukuf di Arafah. Untuk berbangga-bangga an.Terkadang ada yang pergi haji namun tidak memperhatikan sholatnya.Iblis berkata – yang penting kamu sudah selesai haji dan Allah akan ampuni.Tidak – haji harus sesuai dengan sunnah haji. Tidak boleh jidal, rofats, dan beberapa larangan lainnya.Ada yang berhaji tapi menyerobot hal haji orang lain. Ada yang serobot jatah tenda dst.Ada yang pergi haji tapi berbohong dalam muamalah.Iblis membisikkan manusia yang berhaji dengan amalan bid’ah. Tidak sesuai manasik haji yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.Karena ada yang melakukan Sai dirangkai dengan sholat dua rakaat setelah Sai.Allah menyuruh berbekal saat pergi haji namun banyak orang yang pegi haji tanpa bekal.Talbis iblis dalam jihadJihad untuk berbangga diriJihad untuk dapatkan ghanimahMaka harus kita perbaiki niat dalam berjihad.Lihatlah tiga orang yang pertama masuk neraka. Yaitu orang yang ikut jihad, ahli Al Qur’an dan Ahli ilmu. Yang semua tidak ikhlas..Ada yang ikut jihad dan terkena Talbis iblis dengan mengambil harta ghanimah nya yang bahkan bukan haknya.Pengaruh iman dan ilmu untuk jaga harta.Jangan sampai makan harta dengan cara haram.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
A
Aniza

📍 Kota Depok

Talbis iblis kepada ahli ilmu (bag.2)

KAJIAN KITABTALBIS IBLIS #6TALBIS IBLIS KEPADA AHLI ILMU (bagian - 2)Karya Ibnul Jauzi RahimahullaahSenin, 8 Juni 20026Ustdz DR. Firanda Andirja============ Tipuan iblis yang menjadikan ibadah kita terganggu.Diantaranya dalam masalah niat sholat.Ada org yg sholat berniat : usholli, usholli berkali². Disangkanya niatnya batal, padahal niatnya sudah hadir.Diantara org yg was² : ada org yang bersumpah takbir mau sekali aja. Contoh : demi Allaah kalau saya ulang takbir lagi, saya akan tinggalkan harta saya. Ini krna demi kokohnya takbirnya.Syari'at islam itu mudah.Untuk menghilangkan talbis iblis :Jika tujuanmu untuk menghadirkan niat, maka melafalkan niat tdk wajib. Kenapa kamu mengulang2 niat? Kenapa engkau mengira belum mengucapkan niat?Padahal niat adanya di hati.Jika ada org yg mengatakan " aku belum wudhu, aku belum bertakbir. Padahal sudah dilakukan. Ini adalah was² syetan.Ibnul jauzi mengatakan :Ketahuilah was² dlm niat sholat karena adanya masalah di akalnya. Karena kebodohan pada syariat.Niat sudah terkumpul dalam satu waktu "pingin sholat zuhur, 4 rokaat, sebagai makmum" (ini sudah ada di dalam hati)Jadi ga perlu di lafalkan yg butuh waktu banyak karna harus di uraikan."Niat itu mudah"Ada sebagian org berpendapat : niat dilafalkan bareng dengan rukun sholat yg pertama.takburatul ihram (ini sulit menggabungkan niat dengan takbiratul ihram)Sulit meresapi niat barengan dengan lafal Allaahu Akbar.Islam itu mudah.Talbis yg lain :Membaca doa istiftah yang sunnah saat sholat jamaah saat sudah masbuq. Seharusnya dahulukan baca al fatihah yg wajib. Yang lain :Sholat jamaah lebih milih di shaf belakang karna takut tdk fokus / riya.Padahal sunnahnya shaf pertama lbh utama. "Sebaik² shaf lelaki adalah paling depan."Kata ibnul jauzi, Hal² ini terjadi karena kurangnya ilmu. "Jangan meninggalkan syariat karena mengikuti perkataan seseorang yg engkau agungkan. Mungkin hadits belum sampai kepadanya."Yang jadi patokan adalah dalil. Ulama bukan ma'shum. Bila ada perdebatan antar ulama, kembali ke dalil.======Keluar dari Undang-Undang Ibadah.Iblis telah menggoda sebagian org yg sholat dalam hal makhorijul huruf. Ada org yg baca al qurannya harus fasih, harus benar makhorijul huruf, jadi kalau salah diulang² bacaan al fatihahnya saat sholat..ini adalah talbis iblis.Sibuk memikirkan makhorijul huruf dan tajwidny saat sholat. Sementara makna ayat gak dipikirkan. Ini adalah talbis iblis.==Iblis menggoda ahli ibadah dengan mengurangi perkara² wajib dlm ibadah.Contoh : orang langsung ikut salam ketika imam salam, tapi tdk menyelesaikan tasyahud akhirnya.Iblis mengganggu dalam memanjang²kan sholat. Melakukan perkara2 makruh dlm sholat. Ada org melakukan sholat sunnah di siang hari dan mengeraskan bacaan sholatnya. Alasannya agar tdk ngantuk, makanya bacaannya dkeraskan.Kalau ngantuk lebih baik tidur. Badan harus diistirahatkan.Karena sunnahnya org ngantuk itu tidur.===Talbis iblis yg lain : sibuk dengan perkara sunnah namun lalai dengan yg wajib. Mereka memperbanyak sholat malam. Ada yg sholat malam semalam suntuk. Sebelum subuh dia capek. Akhirnya subuhnya kesiangan.Orang harus lebih bahagia sholat subuh berjamaah dibandingkan bisa sholat malam.Jangan terbalik.Ada org yg berjalan terus di siang hari di mesjid. Alasannya agar tidak ngantuk.Badan harus diberikan hak. Istirahatlah. Makan. Tdk boleh berlebihan dalam agama.Sebaiknya orang sholat sesuai semangatnya. Kalau capek gak kuat, boleh duduk.Kalau ngantuk, tidur dulu., perbaharui dulu tenaganya, baru sholat lagi.Jangan sampai salah prioritas. Sholat subuh jangan sampai ngantuk² gara² sholat malam.Para salaf dahulu kuat sholat malam, sholat subuh berjamaah. Karena mereka tidur siang dan makan sedikit.====Fitnah menceritakan amal sholeh.Sholat di publishUmroh di publishSedekah di publish.Sungguh iblis telah menipu orang yg sholat malam, siang hari diceritakan ke org lain.Riya tipis (Si fulan tadi malam azannya pas)Orang ini minimal telah memindahkan amal tersembunyi menjadi amal yg terceritakan (pahala bisa berkurang).Amal sholeh yg disembunyikan lebih baik.====Orang-orang yg sering sholat di mesjid.Membuat viral banyak org yg jadi senang mengikuti orang ini.Sebaik² sholat di rumah kecuali sholat fardhu (di mesjid).=====Iblis menggoda ahli ibadah. Mereka menangis di depan banyak orang. Jangan pura² nangis. Kalau dia bisa menahan nangis, maka tahanlah. Kecuali memang ga bisa nahan. ====

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
D
Dinda Anisya Rahma

📍 Kota Tegal

Ringkasan Talbis Iblis #6

Talbis Iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu dalam ShalatUstadz Dr. Firanda AndirjaImam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa salah satu tipu daya Iblis adalah menjerumuskan seseorang ke dalam was-was dalam ibadah, terutama shalat, hingga kehilangan tujuan utama ibadah itu sendiri.1. Was-was dalam Niat dan Takbiratul IhramSebagian orang terus mengulang niat dan takbir karena merasa niatnya belum sempurna atau lafaznya salah. Padahal niat tempatnya di hati, dan seseorang yang berdiri untuk shalat pada hakikatnya sudah berniat. Sikap berlebihan ini tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ maupun para sahabat.2. Sibuk pada Pintu, Lalai dari Isi RumahAda orang yang sangat fokus pada niat dan takbir, tetapi setelah masuk shalat justru lalai dari kekhusyukan dan isi shalatnya. Takbir hanyalah pintu masuk ibadah, sedangkan tujuan utamanya adalah pelaksanaan shalat itu sendiri.3. Mendahulukan Sunnah daripada KewajibanSebagian orang membaca doa iftitah dan ta’awwudz ketika waktu sangat sempit hingga kehilangan kesempatan membaca Al-Fatihah bersama imam. Imam Ibnul Jauzi menegaskan bahwa kewajiban harus didahulukan daripada sunnah.4. Meninggalkan Sunnah Karena Takut RiyaAda yang sengaja tidak berada di shaf pertama atau tidak bersedekap dalam shalat dengan alasan takut riya dan ingin menjaga keikhlasan hati. Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa yang benar adalah tetap menjalankan sunnah sambil melawan riya, bukan meninggalkan sunnah karena khawatir dipuji manusia.5. Mengagungkan Perkataan Tokoh Melebihi DalilSebagian orang meninggalkan sunnah karena mengikuti pendapat tokoh yang mereka kagumi. Padahal ukuran kebenaran adalah dalil syariat, bukan kedudukan seseorang. Sebesar apa pun seorang ulama atau ahli ibadah, pendapatnya tetap harus ditimbang dengan Al-Qur’an dan Sunnah.6. Berlebihan dalam Makharijul HurufAda yang terlalu sibuk memperbaiki pengucapan huruf hingga mengulang-ulang bacaan, mengeluarkan suara berlebihan, bahkan kehilangan pemahaman terhadap ayat yang dibaca. Tujuan membaca Al-Qur’an adalah membaca dengan benar tanpa berlebih-lebihan.7. Semangat Ibadah tetapi Lalai dari KewajibanSebagian ahli ibadah begitu fokus pada shalat sunnah dan qiyamul lail hingga melalaikan kewajiban yang lebih besar, seperti menyempurnakan rukun shalat, menjaga shalat berjamaah, atau memenuhi hak keluarga dan mencari nafkah.8. Memaksakan Diri dalam Qiyamul LailAda yang sengaja menahan tidur demi ibadah malam hingga mengganggu kesehatan, akal, atau bahkan menyebabkan tertinggal shalat Subuh. Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan: tubuh memiliki hak yang harus dipenuhi, dan ibadah dilakukan sesuai kemampuan.9. Menampakkan Amal Agar Diketahui OrangSebagian orang menceritakan ibadah malamnya secara tidak langsung agar diketahui orang lain. Sebagian lagi memilih tempat ibadah yang membuat mereka dikenal sebagai ahli ibadah. Ini termasuk talbis Iblis yang menumbuhkan kecintaan terhadap pujian manusia.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
D
Dinda fitrinita Runi setiawan

📍 Kabupaten Bondowoso

Talbis iblis #6 " talbis iblis terhadap ahli ilmu bag.2

‎Talbis iblis#6 "talbis iblis terhadap ahli ilmu (bag.2)"‎-ustadz DR. Firanda Andirja MA hafidzhahullah -‎‎tipu daya iblis dalam niat sholat ‎Diantara mereka ada yg berkata :saya niat sholat ini..kemudian dia mengulangi lagi Krn dia menyangka niatnya sudah terbatalkan padahal jika sudah niat maka niatnya tidak akan terbatalkan.‎‎Diantara mereka ada yg bertakbir kemudian di batalin lagi kemudian mengulang bertakbir lagi. Itu semua adalah godaan iblis Krn iblis menginginkan Dy luput dari keutamaan takbiratul ihram.‎‎✓ingatlah bahwa syariat kita itu mudah,ringan dan selamat dari kekurangan kekurangan ini.‎✓Tidak pernah terjadi pada zaman nabi,tidak pernah dilakukan nabi,tidak pernah dilakukan para sahabat hal hal tersebut.‎‎=«Riwayat abu hazim rahimahullahu ta'ala:ketika dia masuk masjid tiba2 iblis kasih was2 (bisikan) "wahai abu hazim sesungguhnya engkau sholat tanpa wudhu" dan dia pun berkata: "sejak kapan nasehatmu sampai seperti ini wahai iblis"‎‎Dan untuk menghilangkan talbis ini(kerancuan ini) terhadap org yg terkena was2 :kalau tujuan mu menghadirkan niat hingga mengulangi takbiratul ihram,niatmu sudah ada,karena engkau tadi berdiri untuk menjalankan sholat fardhu. (Keinginan mu untuk sholat itu adalah niat) Dan tempatnya adalah di hati bukan di lafal.‎Tetapi jika lafal yg kau ulang-ulangi untuk memperbaiki lafalmu maka ingatlah bahwa melafalkan niat tidaklah wajib.‎‎=«Imam Ibnu Jauzi dalam riwayat Ibnu Aqil yg menakjubkan:ada seseorang yg bertemu dg dia kemudian org ini bertanya : wahai Ibnu Aqil, sesungguhnya aku telah membasuh anggota wudhu kemudian aku berkata aku belum basuh.aku sudah bertakbir tapi aku bilang belum bertakbir.maka Ibnu Aqil berkata: (kalau begitu kau tidak usah sholat)Krn sholat tidak wajib bagimu.‎‎Maka sebagian orang bertanya kepada nya: bagaimna engkau bilang sholat tidak wajib bagi dia? Lalu ia pun menjawab: nabi shalallahu alahi wasallam berkata: "bahwasanya orang gila di angkat pena darinya sampai dia sadar.siaoa yg bilang bertakbir tetapi sy bilang belum bertakbir maka dia tidak berakal"‎‎✓Ibnu Jauzi berkata:ketahuilah bahwasanya waswasah dalam niat sholat ini adalah adanya konslet di akal Krn kebodohan syariat.‎‎=<< Karena niat dg menguraikan pelafalan yg panjang membutuhkan waktu sedang kan niat yg sudah ada dari awal ketika hendak melakukan sholat sudah langsung terbentuk tidak perlu diuraikan.‎Perkataan Ibnu jauzi: dan boleh niat itu di dahulukan sebelum takbir dg waktu yg sebentar selama dia tidak membatalkan niatnya.‎‎Krn ada sebagian ulama fiqih yg mengatakan bahwa niat adalah rukun sholat dan niat itu harus di hadirkan bersama pada rukun pertama sholat.‎Dan itu sangat sulit jika harus menerapkan menggabungkan antara niat dg takbiratul ihram secara bersamaan.‎‎∆Talbis iblis dalam sholat: orang terlalu sibuk dalam perkara niat dan takbir tetapi tidak memperhatikan  kekhusukan di dalamnya.seolah2 tujuan niat itu mengepaskan antara niat dan takbirnya‎‎✓Ibaratnya:sholat itu seperti rumah,jgnlah kamu sibuk masuk pintu tapi tidak sibuk dalam rumahnya.‎‎∆Makmum masbuk sibuk untuk membaca ta'awudz dan doa iftitah sedangkan imam sudah hampir rukuk sehingga tertinggal bacaan Al Fatihah.‎‎✓Doa iftitah Sunnah sedangkan Al Fatihah wajib.jadi jgn sampai salah prioritas.‎‎∆Banyak dari mereka yg meninggalkan perkara2 Sunnah demi kepentingan pribadi.‎Contoh : diantara mereka sengaja tidak di shaf pertama,Krn Aq ingin hatiku fokus Krn kalau di depan takut Riya.‎Ada sholat tidak bersedekap Krn AQ khawatir klo bersedekap seakan-akan hati khusu'.‎‎✓Abu Hurairah Radhiyallahu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: seandainya manusia pada tahu keutamaan menjawab adzan dan keutamaan di shaf pertama dan mereka tidak bisa melakukannya kecuali dg Qur'an (undian) niscaya mereka melakukan dg undian. Supaya dapat shaf awal.‎✓HR.muslim : sebaik-baik shaf lelaki adalah yg pertama dan yg paling buruk adalah yg paling akhir.‎‎∆mereka sholat tetapi tidak bersedekap‎adapun meletakkan tangan di atas tangan lainnya adalah sunnah.dan jangan merasa besar dalam hatimu Krn kami mengingkari yg demikian.sekalipun yg melakukannya org Sholih.‎(Ibnu Jauzi)‎✓Ingatlah kita terikat dg dalil (sesuai syariat bukan mengikuti orang Sholih)‎‎Point :Jgn sampai meninggalkan syariat Krn perkataan orang yg engkau agungkan.krn syariat lebih agung daripada perkataan nya.‎Dan org bisa saja salah dalam menafsirkan dan bisa jadi dia memiliki pendapat yg tidak sesuai syari'at Krn hadist2 belum sampai pada dia.‎Point. : yg menjadikan patokan adalah dalil,kalaupun ada yg menyelisihi Sunnah jgn di ikuti sekalipun Dy org Sholeh(ulama)‎‎∆ iblis terkadang menggoda dg makharijul huruf dan tajwid(berlebih2an dalam pengucapan hurufnya Krn ingin menyempurnakan makharijul hurufnya.‎Dan sampai sibuk memikirkan makharijul huruf sampai keluar dari makna2 ayatnya.‎‎∆Iblis menggoda banyak orang dg tidak menyelesaikan tasyahud Krn imam sudah salam ‎Sibuk dg perkara yg Sunnah dan melupakan yg wajib.‎‎∆Mereka memperbanyak sholat malam sampai semalam suntuk dan senang melakukannya sampai rasa senangnya melebihi ketika mereka mampu menjalankan sholat fardhu.‎terdapat orang yg semangat sholat malam sampai akhirnya ngantuk dan tertinggal sholat subuh berjamaah.‎‎∆Fitnah menceritakan amal Sholih:‎Sholat di publish,haji di publish, sedekah di shooting ‎Sungguh iblis telah menipu memperdaya sekelompok orang yang ahli sholat malam.‎‎✓Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:siapa yang mampu diantara kalian menyembunyikan amal Sholeh maka lakukanlah.‎‎Krn jika setan mampu menjerumuskan seseorang kedalam riya' maka di jerumuskan, kalaupun selamat dari riya' tetapi gara2 dia cerita maka pahalanya berkurang. (Setan caranya halus dalam menjerumuskan seseorang)‎‎✓Dari Zaid bin tsabit, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: sebaik-baik orang sholat adalah di rumahnya,kecuali sholat fardhu.‎∆Setan menggoda orang yg ahli ibadah,mereka menangis saat sholat.(Karena dalam tangisanpun ada riya')‎ Ingatlah: seseorang harus hati-hati karena setan boleh menggoda dalam banyak hal.‎Kita ibadah hanya sebentar,maka lakukan dengan tulus ikhlas kepada Allah,tutup segala pintu-pintu riya'.‎‎‎

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
A
Anna setyaningsih

📍 Kota Bekasi

Ringkasan bab 6

TALBIS IBLIS #6TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI ILMU (Bag2)Iblis berusaha mengganggu semua ibadah kita dengan segala cara, al imam ibnu jauzi rahimahulloh berkata ,Diantara tipu muslihat iblis dalam mengganggu ibadah kita ialah was-was dalam hal niat Membuat seseorang mengulang-ulang niatnya ,seolah niatnya batal , padahal sebenarnya niatnya ibadah sudah ada.Bagaimana cara menghilangkan was2 iblis ketika kita mengalaminya, maka,katakanlah kalau tujuan mu mengulang-ulangi niat karena untuk memperbaiki niat ,maka tidak perlu . Karena niatmu sudah ada. Tetapi jika niatmu mengulangi nya karena mau membenarkan lafadznya/pelafalannya maka tidak perlu , karena niat itu ada didalam hati.Tidak perlu engkau merangkai niat dan menguraikannya lalu akan menjadi was2, Sejatinya was2 maka itu kebodohan .Dan boleh niat itu didahulukan sebelum takbir dengan waktu yang sebentar, dan selama dia belum membatalkan niatnya.Dari mis'ar dia mengatakan abdulloh bin mas'ud berkata Aku tidak melihat seorang pun yang lebih tegas kepada orang yang berlebih-lebihan seperti rasululloh,aku tidak melihat seorangpun yang lebih khawatir pada orang yg berlebih-lebihan selain abu bakar. Dan menurutku umar bin khatab orang yg paling keras dari penghuni bumi yang keras,terhadap orang yang berlebihan dalam beragama.Diantara talbis iblis seorang sibuk dalam urusan niat dan takbir harus pas, sementara selanjutnya tidak dia perhatikan, diantara orang yang terkena was2, yang merasa niat dan takbirnya sudah pas,maka dia sudah merasa santai dan tidak memperhatikan yang selanjutnya, seakan-akan tujuan sholat adalah ngepassin niat dan takbir saja.Dan ini adalah tablis iblis,lalu bagaimana cara menghilangkannya. ketahuilah bahwasannya tujuan takbir adalah masuk kedalam sholat,jangan sampai kamu sudah masuk sholat tapi kamu melalaikan semua yang ada dalam sholat.Diantara was-wasah adalah sibuk dengan yang amalan sunnah lalu meninggalkan yang wajibBeliau menyebutkan contoh seseorang yang sudah sah takbir di belakang imam kemudian misalkan dia masbuk, setelah ini dia masih doa istiftah yang panjang, jika dia sudah tau imam sudah tinggal sedikit maka harusnya dia langsung baca al fatihah, karena jika dia disibukkan dengan itu khawatir tidak terkejar baca al-fatihah. Karena berta'awud dan istiftah itu adalah sunnah dan yang dia tinggalkan (al-fatihah)itu wajib.Meninggalkan perkaran-perkara sunnah karena alasan pribadi.Banyak orang sengaja meninggalkan sunnah (seperti tidak menempati shaf pertama, atau tidak bersedekap) karena alasan pribadi seperti takut riya',maka harusnya tetap ikuti tuntunan syariat dan dalil,memperbaiki niat hati bukan meninggalkan sunnah.Berlebihan dalam ibadahBanyak orang yang terlalu kaku dalam makhroj huruf saat sholat, talbis iblis membuat berlebih-lebihan dalam mentahqiq dalam mewujudkan huruf2, sibuk dalam memikirkan tajwid lalu lupa makna ayat yang dibacakan,dan menciptakan was-was didalamnya.Ada yang sengaja memanjang manjangkan sholat, ada juga yang menjahrkan bacaan sholat dzuhur padahal sholat dzuhur disunnahkan membaca dengan shirMenjaga ibadah agar tetap ikhlasBahayanya menceritakan amalan shaleh secara tidak langsung (pamer terselubung) atau mencari perhatian orang lain saat beribadah, yang akan dapat mengurangi atau menghilangkan pahala. Menahan diri dari pamer Pentingnya kita menyembunyikan ibadah,termasuk tangisan saat kita sholat atau berdoa, ini talbis iblis yang akan membuat kita terjebak dalam riya' .

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

Talbis Iblis #6

Talbis Iblis #6Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag. 2)Talbis Iblis dalam Shalat1. Tipu daya iblis dalam masalah niatMengulang-mengulang (lafal) niat, padahal melafalkan niat tidak wajib dan bukan sunnah. Niat tempatnya di hati. Keinginan shalat sudah termasuk niat. 2. Mengulang-ngulang takbir karena was-was (melafalkan niat) Meresapi takbir dan meresapi niat (melafalkan) niat dalam satu waktu itu sangat sulit (mustahil). Padahal syari'at itu mudah. 3. Mendahulukan yang sunnah dari yang wajib. Bagi yang masbuq tidak perlu baca doa istiftah tapi langsung saja baca surat Al-Fatihah. 4. Meninggalkan sunnah shaf pertama karena urusan pribadi (ingin khusyuk, takut riya dll) 5. Keluar dari aturan ibadah Diantaranya ada orang yang mengulang bacaan surat karena kurang makhrajnya. Dan ada orang yang sibuk memikirkan makhraj huruf tapi lupa akan makna ayat6. Melakukan kekurangan dalam shalat. Ketika imam salam dia ikut salam padahal dia belum menyelesaikan bacaan tasyadud7. Melakukan hal makruh dalam shalat misalnya mengeraskan suara di waktu shalat yang seharusnya dibaca sir 8. Begadang shalat malam tapi malah melalaikan shalat shubuh9. Menceritakan amal sholeh10. Syaitan memberikan tipu daya bagi sebagian orang yang bersendirian shalat di masjid. Maka di kenalah si fulan yang sering ibadah di masjid. Maka orang-orang pun datang mengikutinya. Sehingga dia pun semakin semangat beribadah karena dikenal/dipuji banyak orang. Dari Zaid bin Tsabit, nabi bersabda : "Sebaik-baik orang adalah shalat dirumahnya lecuali shalat fardhu"Kita memiliki nafsu lawammah (jiwa yang suka mencela maksiat), dia yang mengontrol kita, dia memberi sinyal ketika kita melakukan maksiat. Misalnya saat orang berbuat riya sebenernya dia tau bahwa dia riya, hanya saja dia kadang cuek karena riya itu nikmat/lezat.11. Diantaranya ada yang menangis di depan orang, jika mampu tahanlah khawatir terkena riya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Talbis Iblis #6

Talbis Iblis Terhadap Ahli IlmuOleh Ustad Dr. Firanda Andirja, M.AIblis ingin merusak ibadah kita sebisa mungkin semaksimal mungkin yg dia bisa. Al Imam Al Zauji Rahimahullah : Diantaranya tipu daya muslihat Iblis dalam masalah niat sholat. Diantara mereka berkata "aku niat sholat" kemudian mengulangi lagi dia menyangka bahwa niatnya telah dia batalkan lali dia ulangi lagi "aku niat sholat" pdhl dia salah.. harusnya dia tidak usah ragu² sebenarnya niat dia sudah sah dgn sah. Sesungguhnya syariat kita mudah. Tidak pernah dilakukan oleh nabi, tidak pernah dilakukakan oleh sahabat hal² seperti ini. Riwayat Abu Hasim rahimahuta'ala : maka ketika dia masuk mesjid iblis memberikan dia was² atau bisikan "wahai abu hasim sesungguhnya engkau sholat tanpa wudhu" maka dia menjawab iblis "wahai iblis sejak kapan nasihatmu sampai seperti ini wahai iblis" abu hasim menepis itu semua dgn mengatakan kata² tadi. Dan utk menghilangkan kerancuan ini, orang yg terkena was² maka dikatakan "kalau tujuanmu utk menghadirkan niat sehingga kau ulang²i "Allahhu akbar" niatmu sudah ada, krn kau tadi ingin mengerjakan sholat fardu, keinginanmu mengerjakan sholat itulah "niat". Dan tempatnya dihati bukan dimulut. Yg susah menguraikan dalam lafal (niat) padahal jika sudah terbetik dalam hatipun itu sudah termasuk niat. Sulit melafalkan niat sekaligus takbir, islam tidak sesulit itu. Maka banyak yg mengulang². Kemudian Talbis Iblis itu ketika sibuk melakukan yg sunah dari yg wajib. Ta'awud dan do'a istiftah adalah sunah, sedangkan alfatihah itu wajib bagi makmum sebagian para ulama. Jgn salah mendahulukan prioritas, jika sudah masbuk langsung saja baca alfatihah dari pd ta'awudz dan do'a istiftah. Talbis iblis pada Makhorijul huruf dalam bacaan sholat. Lupa sama makna lebih sibuk ke tajwid.Iblis sungguh banyak menggoda pada ahli ibadah yg bodoh. Jika imam sudah salam tapi kalian belum selesai baca tasyahud, lanjutkan baca tasyahud krn tasyahud tidak ditanggung oleh iman.Jgn seseorang gara² melakukan sholat sunah kemudian lalai terhadap sholat fardu. Contohnya dia memperbanyak sholat malam, tapi sholat fajr (diwaktu subuh) di K.OFitnah menceritakan amal sholeh. Termasuk salah satu Talbis Iblis. Amal sholeh yg disembunyikan itu lebih baik. Talbis iblis kepada orang yg membaca Al qur'an

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2) - Ust Dr. Firanda Andirja M.A

🥞Pengantar & Waswas dalam Niat SalatHakikat Waswas Niat: Talbis iblis (tipu daya iblis) bertujuan mengganggu dan merusak ibadah, membuat manusia merasa sedang beribadah padahal kenyataannya tidak. Iblis menggoda manusia dalam masalah niat salat hingga sebagian orang mengulang-ulang lafal niat (seperti mengucapkan usholli) karena menyangka niatnya batal jika lafalnya keliru. Padahal, niat di dalam hati tidak terbatalkan hanya karena salah melafalkannya.Fenomena Mengulang Takbir: Ada orang yang terus membatalkan dan mengulang Takbiratul Ihram. Anehnya, saat imam ruku', orang tersebut tiba-tiba bisa langsung konsentrasi dan ikut ruku' karena takut tertinggal rakaat. Ini bukti bahwa keraguan sebelumnya adalah murni godaan iblis agar ia kehilangan keutamaan awal salat. Saking parahnya waswas, sebagian orang sampai bersumpah dengan nama Allah, mengancam akan menyedekahkan seluruh hartanya, bahkan mengancam akan menceraikan istrinya jika mereka mengulang takbir lagi, demi memaksa diri berhenti dari waswas.Kisah Salaf: Kisah Abu Hazim yang ditipu iblis saat masuk masjid dengan bisikan bahwa ia belum berwudu. Abu Hazim menepisnya dengan berkata, "Sejak kapan kau mau menasihatiku, wahai iblis?"🥞Hakikat Niat dan Letaknya di Dalam HatiNiat adalah Keinginan Hati: Niat seseorang sebenarnya sudah ada sejak ia berdiri untuk mendirikan salat. Tempat niat adalah di dalam hati, bukan pada lafal. Melafalkan niat tidaklah wajib. Menganggap diri belum berniat setelah bertakbir adalah bentuk penyakit (waswas).Kisah Ibnu Aqil: Kisah Ibnu Aqil yang didatangi seseorang yang terkena penyakit waswas (merasa belum berwudu dan belum bertakbir padahal sudah melakukannya). Ibnu Aqil berkata, "Kamu tidak wajib salat." Ketika orang lain heran dengan jawaban tersebut, Ibnu Aqil membawakan dalil bahwa orang yang tidak berakal/gila dibebaskan dari kewajiban syariat.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يُفِيقَ..."Pena diangkat dari tiga golongan: dari orang gila yang mengidap gangguan akal sampai ia sadar..." (Ustadz menyebutkan hadis ini untuk menjelaskan bahwa orang yang sudah takbir lalu merasa belum takbir berarti sedang mengalami gangguan akal/waswas parah).Penyebab Waswas: Ibnu Jauzi menegaskan bahwa waswas dalam niat disebabkan oleh adanya gangguan pada akal (khalalun fil 'aql) akibat kebodohan terhadap syariat.Analogi Menyambut Orang Alim: Seseorang yang berdiri untuk menyambut orang alim tidak perlu melafalkan niatnya. Keinginan dalam hati untuk berdiri saat melihat orang alim tersebut sudah merupakan niat. Begitu pula dengan salat, gambaran bahwa seseorang ingin salat zuhur empat rakaat menghadap kiblat langsung terkumpul dalam hati secara otomatis dalam satu detik saat ia melangkah untuk salat.🥞Kerumitan Sinkronisasi Lafal NiatLafal Niat Membutuhkan Waktu: Menghadirkan niat di dalam hati itu instan, sedangkan yang membutuhkan waktu lama dan rumit adalah menguraikan lafal-lafal niat (usholli fardhal zuhri arba'a raka'atin...). Waswas adalah murni kebodohan (jahlun mahdun). Orang yang waswas menjadi bimbang karena membebani dirinya untuk merinci lafal-lafal niat tersebut di dalam hatinya dalam satu waktu yang sama secara bersamaan.Waktu Menghadirkan Niat: Ibnu Jauzi menjelaskan bahwa niat boleh didahului sebelum takbir dalam waktu yang singkat, selama orang tersebut tidak membatalkan niatnya.Akar Masalah Fikih: Sebagian ulama fikih menyebutkan niat harus dibersamakan dengan rukun pertama ibadah (seperti membasuh wajah saat wudu atau takbir saat salat). Hal inilah yang memicu waswas pada sebagian orang karena mereka kesulitan mensinkronkan perenungan makna Allahu Akbar sekaligus mengingat rincian niat salat secara bersamaan.🥞Sikap Tegas Salaf Terhadap Sikap Berlebih-lebihanIslam itu Mudah: Agama Islam itu mudah. Rasulullah ﷺ mengajari Arab Badui salat dengan sederhana tanpa kerumitan niat yang berlebihan seperti itu.Ketegasan Sahabat Nabi: Riwayat dari Mis'ar, dari Ma'an bin Abdurrahman, dari catatan bapaknya bahwa Abdullah bin Mas'ud bersabda:Dalil: Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata:"Demi Dzat yang tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Dia, aku tidak melihat seorang pun yang lebih tegas terhadap orang yang berlebih-lebihan/menyulitkan diri (mutanatti'un) melebihi Rasulullah ﷺ. Dan aku paling khawatir terhadap sikap berlebih-lebihan tersebut pada Abu Bakar, serta menurutku Umar bin Khattab adalah orang yang paling keras di muka bumi terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan dalam beragama."Melalaikan Inti Salat: Talbis iblis lainnya adalah membuat orang terlalu sibuk dengan urusan takbir dan niat, sehingga melalaikan rukun salat setelahnya. Begitu takbirnya dirasa pas, ia langsung santai seolah-olah tujuan utama salat hanyalah mengepaskan takbir. Salat dianalogikan seperti sebuah rumah; jangan sampai kita hanya sibuk di pintu masuk (takbir) tetapi justru lalai ketika sudah berada di dalam rumah (gerakan dan bacaan salat selanjutnya).🥞Skala Prioritas antara Wajib dan SunahSalah Prioritas saat Masbuk: Terlalu sibuk dengan perkara sunnah yang keliru porsinya saat masbuk. Ketika makmum masbuk mendapati imam sebentar lagi akan ruku', ia seharusnya langsung membaca Al-Fatihah, bukan malah menyibukkan diri membaca doa istiftah atau taawudz yang panjang. Membaca doa istiftah dan taawudz hukumnya sunah, sedangkan membaca Al-Fatihah adalah wajib bagi sebagian besar pendapat ulama. Jangan sampai mengejar sunah tetapi melalaikan yang wajib.Nasihat Guru Ibnu Jauzi: Kisah masa kecil Ibnu Jauzi saat ditegur oleh gurunya, Abu Bakar Ad-Dinawari, karena membaca istiftah saat masbuk. Gurunya menasihati, "Para ulama berselisih tentang wajibnya membaca Al-Fatihah di belakang imam, namun mereka sepakat doa istiftah hukumnya sunah. Maka sibukkan dirimu dengan yang wajib dan tinggalkan yang sunah."Meninggalkan Sunah karena Alasan Pribadi: Talbis iblis juga menimpa orang-orang saleh yang meninggalkan sunah-sunah Nabi karena alasan kondisi pribadi mereka yang kurang ilmu. Contohnya sengaja memilih salat di saf belakang (bukan saf pertama) dengan alasan agar hatinya lebih fokus atau takut riya. Harusnya ia tetap maju ke saf pertama demi mengejar sunah, lalu melawan penyakit riya tersebut.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا"Seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang ada pada azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan melakukan undian, niscaya mereka akan melakukan undian." (Sumber: Shahih Bukhari & Shahih Muslim, dari hadis Abu Hurairah radhiallahu 'anhu).Menjadikan Dalil Sebagai Patokan, Bukan TokohKeutamaan Saf Depan: Iblis membalikkan logika manusia untuk menjauhi saf depan dengan dalih menjaga hati.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا"Sebaik-baik saf bagi laki-laki adalah yang paling pertama, dan yang paling buruk adalah yang paling akhir." (Sumber: Shahih Muslim).Menjalankan Sunnah Gerakan Salat: Sunah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri saat bersedekap. Jangan meninggalkan sunah bersedekap atau berpura-pura tidak khusyuk hanya karena takut dinilai sok khusyuk oleh orang lain. Lawan isi hatimu dan tetap kerjakan sunah.Dalil: Riwayat bahwa Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu pernah salat dengan meletakkan tangan kiri di atas tangan kanan (terbalik), lalu Rasulullah ﷺ melihatnya dan langsung membetulkan posisi tangannya (meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri). Hal ini menunjukkan meletakkan tangan bersedekap adalah sunah yang diperintahkan untuk dijaga.Ulama Tidak Maksum: Ibnu Jauzi mengingatkan agar kita tidak mengikuti perbuatan tokoh atau orang saleh jika perbuatan mereka menyelisihi sunah, karena patokan utama dalam beragama adalah dalil syariat. Ulama tidaklah maksum dan bisa saja belum mendapati hadis tertentu.Perkataan Ulama: Kisah Imam Ahmad bin Hambal ketika diberi tahu bahwa Ibnu Mubarak berpendapat demikian (yang menyelisihi sunah), beliau menjawab: "Ibnu Mubarak tidak turun dari langit (artinya perkataannya bukan dalil dan bisa salah)." Kisah Ibrahim bin Adham yang berkata kepada orang-orang yang membawakan pendapat-pendapat cabang: "Kalian mendatangkan kepadaku jalan-jalan tikus (cabang), hendaknya kalian berpegang pada jalan utama (dalil asal)."Berlebihan dalam Tajwid & Salah Paham Hakikat IbadahBerlebihan dalam Makhraj: Bab tentang keluar dari aturan baku adab ibadah (Al-Khuruj 'an Qanuni Adabil Ibadah). Iblis menggoda orang yang salat melalui masalah makharijul huruf (tempat keluarnya huruf) dan tajwid secara berlebihan. Ada orang yang terus mengulang-ulang bacaan Alhamdulillah karena merasa makhraj hurufnya kurang fasih atau kurang menekan tasydidnya secara ekstrem.Membaca hingga Keluar Liur: Ibnu Jauzi menceritakan pernah melihat orang yang membaca Ghairil maghdlubi waladldlallin dengan penekanan huruf Dhad (ض) yang sangat ekstrem hingga air liurnya keluar. Padahal yang penting hurufnya jelas dibedakan dan tidak perlu berlebihan. Dampak buruk terlalu sibuk memikirkan makhraj huruf adalah hilangnya fokus untuk merenungkan makna dari ayat-ayat Al-Qur'an yang sedang dibaca. Tajwid seharusnya menjadi sarana untuk tadabbur, bukan tujuan akhir yang mengalihkan pikiran.Ibadah Bukan Sekadar Ritual Fisik: Iblis menipu ahli ibadah yang bodoh sehingga mereka mengira ibadah hanyalah sekadar ritual berdiri dan duduk saja, sementara mereka lalai dan kurang dalam memenuhi perkara-perkara wajib di dalamnya. Ibnu Jauzi melihat orang yang langsung ikut salam begitu imam bergerak salam, padahal bacaan tasyahud akhir dan selawatnya sendiri belum selesai dibaca. Perkara wajib ini tidak ditanggung oleh imam, jadi ia harus menyelesaikannya dulu baru ikut salam.Mengeraskan Suara di Siang Hari: Kisah Ibnu Jauzi menegur ahli ibadah yang melakukan salat sunah di siang hari tetapi mengeraskan suaranya (jahr). Orang tersebut beralasan sengaja mengeraskannya untuk mengusir rasa ngantuk. Ibnu Jauzi menasihatinya bahwa jika mengantuk, sebaiknya tidur karena tubuh memiliki hak untuk beristirahat.🥞Kekeliruan Skala Prioritas Malam vs SubuhMengorbankan yang Wajib demi yang Sunah: Iblis menipu sebagian orang agar bersemangat begadang untuk salat malam atau salat duha, bahkan kebahagiaannya melebihi saat melaksanakan salat fardu. Akibat terlalu memaksakan salat malam semalam suntuk, orang tersebut justru kelelahan dan tertidur menjelang subuh, sehingga salat subuhnya tertunda atau terlewat dari jemaah utama di masjid. Ini adalah kesalahan besar karena pahala salat fardu berjamaah jauh lebih besar daripada salat sunah malam.Siksaan Fisik yang Salah: Kisah Husain Al-Qazwini yang terus berjalan mondar-mandir di masjid pada siang hari agar tidak tertidur akibat kelelahan begadang. Perbuatan ini dikritik sebagai kebodohan yang tidak sesuai syariat dan akal karena syariat memerintahkan untuk memberikan hak istirahat bagi tubuh.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:عَلَيْكُمْ هَدْيًا قَاصِدًا ، فَإِنَّهُ مَنْ يُشَادَّ هَذَا الدِّينَ يَغْلِبْهُ"Hendaknya kalian mengikuti petunjuk yang pertengahan (sesuai sunah), karena barangsiapa yang berlebihan/memaksakan diri dalam agama ini, ia pasti akan terkalahkan (lelah sendiri)."Larangan Memaksakan Diri saat Lelah: Iblis mengelabui manusia agar mengira menyiksa diri dalam ibadah adalah bentuk ketaatan yang tinggi.Dalil: Kisah saat Rasulullah ﷺ masuk ke masjid dan melihat seutas tali milik Zainab yang dibentangkan di antara dua tiang masjid untuk berpegangan saat ia lelah salat malam. Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk melepasnya dan bersabda:لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَقْعُدْ"Hendaknya salah seorang dari kalian salat di waktu semangatnya. Jika ia lelah/malas, hendaknya ia duduk." (Sumber: Shahih Bukhari & Shahih Muslim, dari hadis Anas bin Malik radhiallahu 'anhu).Bahaya Salat saat Mengantuk: Memaksakan diri beribadah dalam kondisi mengantuk berat dapat merusak esensi doa itu sendiri.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ"Jika salah seorang dari kalian mengantuk saat salat, hendaknya ia tidur terlebih dahulu sampai hilang rasa kantuknya. Karena jika salah seorang dari kalian salat dalam kondisi mengantuk, bisa jadi ia berniat memohon ampunan (istighfar) tetapi malah mencaci maki dirinya sendiri." (Sumber:Shahih Bukhari & Shahih Muslim).🥞Pola Salat Malam Salaf & Bahaya Riya HalusPola Tidur dan Salat Nabi Daud: Secara akal dan syariat, tidur berfungsi memperbarui kekuatan tubuh.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ... كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ"Salat yang paling dicintai Allah adalah salatnya Nabi Daud... Beliau tidur setengah malam pertama, bangun (salat) sepertiga malamnya, dan tidur lagi seperenam malam terakhir (sehingga bangun subuh dalam kondisi segar)." (Sumber: Shahih Bukhari & Shahih Muslim).Meluruskan Riwayat Tokoh Salaf: Mengenai riwayat para ulama Salaf yang kuat salat semalam suntuk, Ibnu Jauzi menjelaskan bahwa mereka melakukannya secara bertahap (tadarruj), sanggup menjaga salat subuh berjamaah, makan sedikit, dan memanfaatkan tidur siang (qailulah) untuk memperkuat fisik mereka. Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah tercatat begadang semalam suntuk tanpa tidur sama sekali.Fitnah Menceritakan Amal (Riya Samar): Fenomena zaman sekarang yang gemar mengunggah atau mempublikasikan amal ibadah (seperti umrah, haji, sedekah, salat malam) di media sosial. Iblis menipu orang yang rajin salat malam agar menceritakan amalnya di siang hari melalui cara-cara yang halus.Contoh Riya Halus: Seseorang berkata, "Subhanallah, muadzin tadi malam azannya tepat waktu ya." Tujuan sebenarnya mengucapkan itu adalah agar pendengar tahu bahwa dia terjaga dan tidak tidur pada waktu malam (sedang salat malam). Atau mencela orang lain secara tidak langsung, "Si Fulan itu kalau salat subuh selalu terlambat Takbiratul Ihram." Kalimat ini mengandung riya (menunjukkan dirinya selalu tepat waktu) sekaligus dosa ghibah.Penurunan Nilai Pahala: Meskipun orang tersebut merasa tidak riya, ia minimal telah memindahkan catatan amalnya dari tingkat tertinggi (amalan rahasia yang tersembunyi) menjadi amalan yang terlihat, yang mana nilai pahalanya tentu berkurang di sisi Allah.Dalil: Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu..." (QS. Al-Baqarah: 271).🥞Menjaga Keikhlasan & Mengontrol Isyarat AmalKeutamaan Amal Tersembunyi: Menjaga kerahasiaan ibadah adalah benteng utama dari tipu daya setan yang ingin menghapus pahala.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ خَبْءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ"Barangsiapa di antara kalian yang mampu memiliki amalan saleh yang tersembunyi, maka lakukanlah." (Ustadz mengingatkan agar berhati-hati saat diundang ke podcast atau obrolan santai yang memicu kita menceritakan amalan masa lalu).Taktik Setan Melalui Ketenaran: Iblis menipu sebagian orang yang sengaja memilih beribadah sendirian di masjid agar dilihat orang, sehingga orang-orang kagum, memujinya, dan ikut salat di belakangnya. Pujian dan ketenaran yang viral ini akhirnya menjadi bahan bakar utama yang membuatnya semangat beribadah, bukan lagi karena keikhlasan murni.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:اجْعَلُوا مِنْ صَلَاتِكُمْ فِي بُيُوتِكُمْ وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا"Jadikanlah sebagian salat (sunah) kalian di rumah-rumah kalian, dan jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan." / Sebaik-baik salat seseorang adalah di rumahnya kecuali salat fardu (Al-Maktubah). (Sumber: Shahih Bukhari & Shahih Muslim, dari hadis Zaid bin Tsabit radhiallahu 'anhu).Kegigihan Salaf Menyembunyikan Amal: Kisah Amir bin Abd Qais yang tidak suka salat sunahnya dilihat orang dan tidak mau melakukannya di masjid umum. Kisah Ibnu Abi Laila yang langsung pura-pura tidur berbaring jika ada orang masuk ke ruangannya saat ia sedang salat, demi menyembunyikan amalnya. Ada pula Salaf yang setelah salat semalam suntuk sengaja tidur sebentar menjelang subuh, lalu saat bangun subuh berkata, "Wah, tidur saya malam ini nyenyak sekali," agar orang mengira mereka tidur semalaman dan tidak tahu mereka habis salat malam.Memanfaatkan Sinyal Hati (Nafsul Lawwamah): Allah membekali manusia dengan nafsul lawwamah (jiwa yang suka mencela/mengontrol). Sifat ini akan memberikan sinyal atau alarm dalam diri saat seseorang mulai condong melakukan maksiat atau berniat pamer (riya). Riya itu terasa lezat bagi ego, namun jika sinyal hati sudah menegur, kita harus segera berhenti dan tidak melanjutkan cerita amalan tersebut.Tangisan Buatan: Iblis menggoda orang agar sengaja menangis di depan publik saat ibadah atau kajian. Menangis karena tidak bisa tertahan adalah hal yang wajar, namun sengaja menampakkan tangisan atau bahkan menyewa orang untuk memicu tangisan buatan di sebuah majelis (seperti yang terjadi pada beberapa kasus masa kini) adalah hal yang dilarang.Sikap Salaf Saat Menangis: Abu Wail jika salat di rumah sendiri akan menangis tersedu-sedu, namun ia tidak akan sudi melakukannya jika ada orang yang melihat meskipun diberi dunia dan isinya. Ayyub As-Sikhtiyani langsung berdiri meninggalkan majelis ilmu jika sudah tidak kuat menahan tangisnya agar tidak jadi perhatian orang lain. Ada pula ulama Salaf yang pura-pura mengusap air mata dengan tisu sambil berkata, "Aduh, flu saya berat sekali," demi menyembunyikan tangisan ikhlasnya agar tidak dikira pamer khusyuk.🥞KesimpulanHidup ini singkat, maka beribadahlah dengan serius dan ikhlas, serta tutup rapat-rapat segala pintu riya. Jika ada sinyal riya muncul di hati, jangan pernah melanggar sinyal tersebut. Materi mengenai talbis iblis lainnya seperti dalam membaca Al-Qur'an, puasa, riya samar, dan haji akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.(5) Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2) - Ust Dr. Firanda Andirja M.A - YouTube

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
S
SULUNG SURYO DARMAWATI

📍 Kota Bekasi

Talbis Iblis-6

Kajian Kitab Talbis Iblis-6Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu Bagian 2Pemateri : Ustadz Firanda Andirja Hafizhahullahu Ta'ala Diawali dengan talbis iblis dalam masalah niat shalat. Di antara manusia ada yang ketika hendak shalat terus-menerus mengulangi niat atau takbiratul ihram karena merasa niatnya belum benar atau telah batal. Ada yang mengucapkan niat berulang kali, ada yang mengulang takbir berkali-kali, bahkan ada yang sampai bersumpah atas nama Allah atau mengaitkannya dengan talak agar tidak mengulangi takbir lagi. Semua ini merupakan tipu daya setan. Niat pada hakikatnya sudah ada di dalam hati ketika seseorang berdiri untuk melaksanakan shalat. Tempat niat adalah hati, bukan lisan. Seseorang yang datang ke masjid untuk salat Zuhur, misalnya, sudah pasti memiliki niat shalat Zuhur. Karena itu tidak perlu mengulang-ulang niat ataupun takbir.Ibnu Jauzi menjelaskan bahwa waswas dalam niat muncul karena kebodohan terhadap syariat. Beliau menukil kisah seseorang yang berkata bahwa ia telah berwudu tetapi merasa belum berwudu, atau sudah bertakbir namun merasa belum bertakbir. Maka dijawab oleh Ibnu Aqil bahwa orang seperti itu tidak wajib shalat, karena jika seseorang sudah melakukan sesuatu lalu meyakini dirinya belum melakukannya, maka akalnya bermasalah. Waswas semacam ini menunjukkan adanya gangguan dalam cara berpikir seseorang.Beliau kemudian menerangkan bahwa niat adalah perkara yang sangat mudah. Ketika seseorang ingin shalat Magrib, dalam satu saat seluruh gambaran shalat tersebut sudah hadir dalam hatinya, shalat Magrib, tiga rakaat, menghadap kiblat, menjadi makmum atau imam. Semua itu tidak membutuhkan lafal panjang. Yang panjang hanyalah ketika niat tersebut diuraikan menjadi kalimat-kalimat seperti “ushalli fardhal maghribi tsalatsa raka’atin mustaqbilal qiblati…” dan seterusnya. Padahal syariat tidak mewajibkan pelafalan niat tersebut.Di antara dampak buruk waswas adalah seseorang terlalu fokus pada niat dan takbir sehingga melupakan shalat itu sendiri. Setelah merasa niat dan takbirnya sudah pas, ia menjadi lalai dalam kekhusyukan dan perhatian terhadap rukun-rukun salat berikutnya. Padahal takbiratul ihram hanyalah pintu masuk menuju shalat. Tujuannya adalah masuk ke dalam ibadah, bukan berhenti pada pintunya saja.Talbis berikutnya adalah mendahulukan amalan sunnah hingga mengorbankan amalan wajib. Contohnya seseorang yang datang terlambat ke shalat berjamaah lalu masih sibuk membaca doa iftitah dan ta’awudz, padahal imam hampir rukuk. Akibatnya ia terancam tidak sempat membaca Al Fatihah. Padahal iftitah dan ta’awudz hukumnya sunnah, sedangkan Al Fatihah menurut banyak ulama hukumnya wajib. Karena itu seorang muslim harus memahami skala prioritas dalam ibadah.Setan juga menipu sebagian orang dengan membuat mereka meninggalkan sunnah karena alasan-alasan pribadi. Ada yang sengaja tidak berada di shaf pertama karena takut riya atau merasa lebih khusyuk di belakang. Ada pula yang tidak bersedekap ketika salat karena khawatir dianggap khusyuk padahal hatinya belum khusyuk. Ibnu Jauzi menegaskan bahwa sikap seperti ini tidak benar. Yang seharusnya dilakukan adalah menjalankan sunnah dan memperbaiki hati, bukan meninggalkan sunnah demi mengikuti perasaan diri sendiri. Ukuran kebenaran adalah dalil, bukan perasaan ataupun kebiasaan sebagian orang saleh.Beliau juga mengingatkan bahwa ulama bukanlah orang yang maksum. Jika ada pendapat seorang ulama yang bertentangan dengan dalil yang lebih kuat, maka yang diikuti adalah dalil. Kemuliaan seseorang tidak menjadikan seluruh pendapatnya pasti benar. Oleh karena itu seorang muslim harus selalu mengembalikan segala perkara kepada Al Qur’an dan Sunnah.Talbis lain yang sering terjadi adalah berlebihan dalam memperhatikan makharijul huruf ketika membaca Al Qur’an di dalam shalat. Ada yang mengulang-ulang bacaan karena merasa hurufnya kurang tepat, ada yang mengeluarkan suara secara berlebihan sampai keluar ludahnya. Akibatnya ia keluar dari tuntunan shalat yang benar dan justru sibuk memikirkan tajwid hingga melupakan makna ayat yang sedang dibaca. Padahal tujuan tajwid adalah membantu memahami dan membaca Al Qur’an dengan baik, bukan membuat seseorang terjebak dalam waswas.Ibnu Jauzi juga menjelaskan bahwa sebagian ahli ibadah yang kurang ilmu mengira ibadah hanya sebatas memperbanyak gerakan shalat, berdiri dan rukuk. Akibatnya mereka sering mengabaikan kewajiban-kewajiban dalam shalat. Ada yang langsung salam mengikuti imam padahal tasyahudnya sendiri belum selesai. Ada pula yang memanjangkan salat sunnah tetapi melakukan hal-hal yang makruh atau meninggalkan tuntunan Nabi.Termasuk talbis iblis adalah memperbanyak ibadah sunnah hingga mengorbankan ibadah wajib. Ada orang yang sangat bersemangat shalat malam, shalat duha, dan amalan-amalan sunnah lainnya, tetapi akhirnya terlambat atau kehilangan kekhusyukan dalam shalat Subuh. Padahal shalat fardu jauh lebih utama daripada salat sunnah. Karena itu seseorang harus lebih bergembira ketika mampu menjaga shalat wajib daripada ketika berhasil memperbanyak amalan sunnah.Beliau juga menegaskan bahwa tubuh memiliki hak untuk beristirahat. Syariat tidak mengajarkan seseorang memaksakan diri hingga merusak fisiknya. Nabi melarang orang yang mengantuk untuk terus memaksakan shalat, bahkan memerintahkan agar ia tidur terlebih dahulu sampai segar kembali. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi, yaitu ibadah yang seimbang, tidak berlebihan dan tidak meremehkan.Setan menggoda sebagian orang untuk memberitahukan ibadahnya kepada orang lain secara langsung maupun tidak langsung. Ada yang memberi isyarat bahwa dirinya bangun malam, selalu mendapatkan takbiratul ihram, atau rutin beribadah di masjid agar diketahui manusia. Jika tidak sampai kepada riya, minimal amalan yang tadinya tersembunyi berubah menjadi amalan yang diketahui orang banyak sehingga berkurang nilainya. Karena itu para salaf sangat menjaga kerahasiaan ibadah mereka. Mereka berusaha menyembunyikan shalat malam, tangisan, dan berbagai amal shalih lainnya dari pandangan iblis. Iblis memiliki banyak jalan untuk merusak ibadah manusia, baik melalui waswas, sikap berlebihan, salah prioritas, meninggalkan sunnah karena mengikuti perasaan, maupun melalui penyakit riya. Seorang muslim harus selalu menimbang amalnya dengan ilmu, mengikuti tuntunan Nabi, menjaga keikhlasan, serta mendahulukan amalan wajib daripada amalan sunnah agar selamat dari berbagai tipu daya setan dalam beribadah.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026

TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI ILMU

Waswas dalam Niat dan Takbir: Ust Firanda menjelaskan bagaimana Iblis sering membisikkan keraguan saat seseorang berniat salat atau melakukan takbir, membuat mereka merasa perlu mengulang-ulang niat atau takbir padahal salat mereka sudah sah. Iblis ingin membuat orang tersebut melewatkan keutamaan Takbiratul Ihram.​Penyakit Waswas: Dijelaskan bahwa waswas seringkali berakar dari kebodohan terhadap syariat atau adanya gangguan pada akal. Niat sebenarnya hanyalah lintasan di hati, tidak perlu diurai secara rumit dengan lafal yang panjang.​Prioritas dalam Ibadah: Ustadz mengingatkan pentingnya menempatkan yang wajib di atas yang sunnah. Contohnya, jika sudah masbuk, langsung baca Al-Fatihah (yang wajib) daripada sibuk dengan doa istiftah atau taawudz (yang sunnah) hingga tertinggal rukuk imam.​Sunnah Nabi vs. Perasaan Pribadi: Jangan meninggalkan sunnah (seperti saf pertama atau cara bersedekap) hanya karena alasan perasaan pribadi seperti takut riya. Seharusnya, kita memperbaiki hati (keikhlasan) bukan meninggalkan sunnah.​Kekeliruan dalam Menghilangkan Ngantuk: Beberapa orang mencoba melawan kantuk dengan cara yang tidak syar'i, seperti mengeraskan bacaan saat salat siang atau berjalan-jalan di masjid. Seharusnya, jika mengantuk, sebaiknya tidur terlebih dahulu agar saat salat badan sudah segar.​Fitnah Menampilkan Amal (Riya): Ustadz mengingatkan bahaya menceritakan amal saleh secara halus untuk mendapatkan pujian, yang bisa menghilangkan atau mengurangi pahala keikhlasan. Amal yang disembunyikan jauh lebih baik.​Tanda-Tanda Riya: Orang memiliki nafsul lawamah (jiwa yang mencela) yang bisa memberi sinyal saat kita akan melakukan riya. Jangan abaikan sinyal tersebut.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
B
Baby Nabilah Ulzanah

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2) - Ust Dr. Firanda Andirja M.A

Tipu Daya (Talbis) Iblis Terhadap Ahli IbadahIblis memiliki berbagai cara halus untuk merusak ibadah seseorang, bahkan bagi mereka yang rajin beribadah sekalipun. Berikut adalah bentuk-bentuk tipu dayanya:1. Penyakit Waswas dan Berlebih-lebihan (Ghuluw)Waswas dalam Niat: Iblis membuat seseorang ragu apakah niat salatnya sudah benar, sehingga ia melafalkannya berulang kali. Padahal, niat yang terbesit di dalam hati sudah sah.Waswas Batal Wudhu: Menanamkan keraguan bahwa wudhu telah batal. Hal ini bisa ditepis dengan cerdas seperti kisah Abu Hasyim. Saat Iblis membisikkan bahwa wudhunya batal dan sholatnya tidak sah, ia menjawab, "Sejak kapan Iblis peduli pada kesempurnaan ibadahku?"Berlebihan dalam Tajwid: Mengulang-ulang bacaan sholat karena terlalu fokus dan kaku pada tajwid. Hal ini justru membuat seseorang kehilangan kekhusyukan dan lupa pada makna ayat yang dibaca.2. Kesalahan Prioritas dalam IbadahMakmum Masbuk yang Salah Fokus: Ketika terlambat mengikuti sholat jemaah (masbuk), seseorang malah sibuk membaca doa Istiftah (yang hukumnya sunah) hingga kehilangan waktu untuk membaca surah Al-Fatihah (yang hukumnya wajib).Sholat Malam Mengorbankan Subuh: Menghidupkan malam dengan sholat Tahajud (sunnah), namun akibatnya tertidur lelap dan tertinggal sholat Subuh berjemaah (wajib).Mengabaikan Hak Tubuh: Memaksakan diri untuk terus salat dalam keadaan sangat mengantuk. Padahal, tubuh memiliki hak untuk beristirahat agar ibadah selanjutnya dapat dilakukan dengan optimal dan sadar.3. Jebakan Riya' (Ingin Dipuji) dan Fitnah AmalMenghindari Saf Depan karena Takut Riya': Seseorang mundur dari saf terdepan (saf terbaik bagi laki-laki) semata-mata karena takut timbul perasaan riya'. Sikap yang tepat adalah tetap mengambil saf terdepan dan berjuang melawan perasaan riya' tersebut.Menceritakan Amal Saleh: Terjebak untuk memamerkan ibadahnya kepada orang lain. Padahal, amal saleh yang disembunyikan jauh lebih utama dan aman dari fitnah.Menghindari Ibadah Sunnah di Rumah: Iblis membuat seseorang lebih suka sholat sunnah di masjid agar dilihat orang. Padahal, sholat sunnah terbaik dilakukan di rumah untuk menghindari riya'. Hati manusia memiliki insting untuk mendeteksi datangnya riya', maka tugas kita adalah melawannya, bukan membatalkan amalan.Memamerkan Tangisan: Menangis saat beribadah memang baik, namun para ulama Salaf selalu berusaha menyembunyikan tangisannya dari hadapan manusia, kecuali jika memang sudah tidak bisa ditahan.4. Taklid Buta (Ikut-ikutan Tanpa Ilmu)Mengikuti Tokoh Tanpa Dalil: Menjadikan perkataan orang saleh atau satu buku fikih sebagai kebenaran mutlak. Padahal, ulama bisa saja keliru dan di dalam ilmu fikih sering terdapat perbedaan pendapat (khilaf). Beragama yang benar adalah dengan mengikuti dalil, bukan sekadar ikut-ikutan figur tertentu.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
U
Ulfah nur latifah

📍 Kota Tasikmalaya

Talbis iblis terhadap ahli ilmu#3

Iblis menjadikan tipu daya dalm kebaikan sehingga ia pun menjadi berlebihan, mereka menganggap dengan berlebihan itu baik , pada hakikatnya Allah tidak menyuruh seperti itu, Ibnu Mas'ud berkata sholatlah sebagaimana nabi daud sholat, dia melakukan 1/3 untuk tahajjud dan 1/6 untuk tidur kembali seusai sholat malam, karna ada hal dalam tubuhmu

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
F
Fitri Febriyanti

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Catatan Talbis Iblis terhadap ahli ilmu bag 2

Talbis Iblis terhadap ahli ilmu bag 2 • Terhadap niat sholat Niat itu tidak terbatalkan jika sudah diniatkan dalam hati meskipun yg filafalkan kurang pas. Harusnya dia tidak perlu ragu ragu karena niatnya sudah benar. Itu semua karena was was. Sampai saat bertakbir pun bersumpah agar tidak mengulangi takbir semua inilah adalah Untuk menghilangkan talbis ini maka dikatakan jika bacaan niat ini untuk menghadirkan niat itu sudah ada ketika kamu berdiri itu sudah ada niat karena niat letaknya di hati. Tapi jika untuk mengokohkan maka cukup sekali. Jika kau terus mengulang ngulangnya mungkin karena kau sakit. Wahai ibnu akil sesungguhnya aku telah membasuh anggota wudhu, tapi saya bilang saya blm basuh. Maka ibnu akil berkata kalau gitu kamu tidak usah sholat, karena sholat tidak wajib bagi mu. Kenapa kamu bicara demikian? Ibnu akit berkata "Rosulullah bersabda terangkatnya kewajiban sholat bagi orang yang gila hingga terangkatny penyakit gila tsb." Karena org gila tidak wajib sholat. Ibnu jauzi berkata ketahuilah was was niat dalam sholat tandanya ada konslet diakal. Niat itu sudah ada dalam hatinya, maka tidak perlu diucapkan niatnya Iblis telah banyak menggoda orang dengan membisikkan bahwa ibadah cukup hanya dengan gerakannya saja. Ibnu jauzi berkata kalau tasyahud kita blm selesai maka selesaikan bagian yg tasyahud wajib selesaikan dulu barh salam karena tidak ditanggung oleh imam.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →