Catatan Kajian Kitab Talbis Iblis — Bab 10 (Bagian 2)Pemateri: Ust. Dr. Firanda Andirja, M.A. Tema: Penyesatan Iblis Terhadap Kaum Sufiyah dalam Akidah, Tokoh, dan Fikih Praktis1. Kritik Metode Imajinasi Kematian (Al-Khatarat) & Boikot Terhadap Al-Harits Al-MuhasibiAl-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah melanjutkan pembahasan mengenai penyimpangan literasi di dalam tubuh kaum sufi. Salah satu corak penulisan yang dikritik keras oleh para ulama salaf adalah buku-buku yang berfokus pada pembahasan Al-Wasawis wal-Khatarat (bisikan batin dan lintasan pikiran) menggunakan metode imajinasi/pengandaian. Tokoh utama yang memopulerkan corak tulisan ini adalah Al-Harits Al-Muhasibi rahimahullah melalui kitabnya yang berjudul At-Tawahum (Kitab Imajinasi).A. Metode Kitab At-TawahumDi dalam kitab tersebut, Al-Muhasibi mendidik pembacanya dengan untaian kalimat pengandaian secara psikologis:"Bayangkanlah seandainya saat ini maut sedang menjemputmu, bayangkanlah apa yang diucapkan malaikat maut kepadamu... Bayangkanlah malam pertamamu di alam barzakh, bayangkanlah saat engkau didudukkan oleh Munkar dan Nakir..."Metode ini secara lahiriah sangat menarik dan mampu membuat hati pembacanya terenyuh, menangis, bahkan memicu pertobatan seketika. Namun, metode mendidik jiwa (tarbiyah) yang berbasis khayalan dan pengandaian ini ditolak dan ditahdzir keras oleh para imam ahlusunah.B. Tahdzir Para Imam Salaf Terhadap Al-MuhasibiSikap Al-Imam Ahmad bin Hanbal: Ketika murid beliau bertanya mengenai majelis Al-Harits Al-Muhasibi, Imam Ahmad memberikan peringatan yang sangat tegas: "Laa araka an-tajlisahum" (Aku melarangmu duduk di majelis mereka). Imam Ahmad memboikot (hajr) Al-Muhasibi karena dua kesalahan fatal:Membawa metode tarbiyah baru berbasis khatarat/imajinasi yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat.Tergelincir ke dalam ilmu kalam dengan mengadopsi pemikiran teologi Mazhab Kullabiyah (pemikiran Abdullah bin Kullab yang berdiri di antara pemikiran Mu'tazilah dan Ahlusunah dalam bab Sifat Allah). Akibat boikot keras dari Imam Ahmad ini, Al-Muhasibi terpaksa hidup bersembunyi hingga akhir hayatnya di Baghdad.Sikap Al-Imam Abu Zur'ah Al-Razi: Berdasarkan catatan Sa'id bin 'Amr Al-Bardha'i, ketika Abu Zur'ah ditanya mengenai kitab-kitab Al-Muhasibi yang melembutkan hati pembacanya, beliau menjawab dengan tegas: "Jauhilah kitab-kitab tersebut! Itu adalah kitab-kitab bid'ah dan kesesatan. Hendaknya engkau mutlak berpegang teguh pada atsar (hadis Nabi dan riwayat para sahabat)." Ketika ada seseorang yang membela Al-Muhasibi dengan berkata: "Bukankah di dalam kitab-kitab tersebut terdapat pelajaran (ibrah) yang berharga bagi jiwa?", Abu Zur'ah menyapu bersih syubhat tersebut dengan kalimat emas:"Barang siapa yang tidak mampu mengambil pelajaran dari Al-Qur'an dan Sunnah, niscaya ia tidak akan pernah bisa mengambil pelajaran dari buku-buku khayalan seperti ini."Apakah pernah dinukil riwayat bahwa Al-Imam Malik, Sufyan Ats-Tauri, atau Al-Auza'i menulis kitab bertema pengandaian psikologis seperti itu? Tidak pernah. Mengajar umat dengan metode yang tidak pernah diajarkan oleh salafus saleh hanya akan membentuk kepribadian komunitas menyimpang yang keluar dari rel Al-Qur'an dan Sunnah. Abu Zur'ah menutup fatwanya dengan ucapan pilu: "Betapa cepatnya jemaah manusia terjerumus ke dalam urusan bid'ah."2. Kaidah Emas Tanziihus Syariah (Etika Kritik Ilmiah Antar-Ulama)Sebelum melangkah jauh membongkar kesesatan kaum sufi, Al-Imam Ibnul Jauzi menulis sebuah pasal khusus yang sangat menyentuh yang diberi judul Pasal Tanziihus Syariah (Mensucikan Syariat).Beliau memberikan uzur dan etika tertinggi ketika terpaksa harus membantah tokoh-tokoh besar yang dicintai dan dihormati oleh jemaah masyarakat, seperti Al-Harits Al-Muhasibi dan Imam Abu Hamid Al-Ghazali.Beliau merumuskan kaidah ilmiah dalam mengkritik tokoh:Syariat di Atas Segalanya: Jika kesalahan dari pemikiran tokoh sufi tersebut sudah nyata dan sanad perkataannya valid, maka wajib hukumnya bagi ahlul ilmi untuk membantahnya demi menjaga kemurnian syariat Allah. Tidak boleh ada rasa segan (ewuh pakewuh) yang menahan kebenaran hanya karena sosok yang salah adalah tokoh besar atau figur publik.Bukan untuk Menjatuhkan Personal: Tujuan membantah murni didasarkan atas rasa cemburu (ghirah) untuk membela agama dari kotoran bid'ah, bukan untuk mencari-cari kesalahan, menjatuhkan harga diri, atau menghina personal ulama yang bersangkutan.Ketundukan Hanya pada Dalil: Kaum awam yang kurang akal sering kali menggugat: "Mengapa kalian berani membantah Fulan, padahal ia adalah seorang alim yang zahid, yang jemaahnya ribuan dan dicari berkahnya?" Ibnul Jauzi menegaskan bahwa ketundukan mutlak seorang muslim hanya diberikan kepada dalil syariat, bukan kepada personal figur manusia. Seorang tokoh bisa jadi merupakan penghuni surga atau wali Allah, namun kedudukan tingginya tidak boleh menghalangi para ulama untuk meluruskan kekeliruannya. Di atas muka bumi ini, tidak ada satu pun manusia yang maksum dari dosa dan khilaf kecuali Rasulullah ﷺ.3. Kesesatan Akidah Kaum Sufi (Hululiyah, Ittihadiyah, Wahdatul Wujud)Iblis menggeser pemikiran kaum sufi dari masalah kezuhudan praktis menuju kesesatan akidah yang membinasakan. Puncak kesesatan tersebut berakar pada filosofi penyatuan antara Zat Pencipta (Khaliq) dan makhluk melalui tiga doktrin teologi:A. Wahdatul Wujud (Pantheisme Monisme)Doktrin ini meyakini kesatuan zat alam semesta; alam semesta beserta seluruh isinya adalah perwujudan lahiriah dari Zat Allah itu sendiri. Tidak ada pemisahan antara Tuhan dan makhluk. Tokoh utama yang menggaungkan akidah kufur ini adalah Ibnu 'Arabi melalui kitabnya Fushushul Hikam dan Al-Futuhat Al-Makkiyyah.Implikasi Kesesatan Akidah Ibnu 'Arabi:Beliau memfatwakan bahwa Firaun mati dalam keadaan beriman dan masuk surga karena ucapan Firaun: "Akulah tuhanmu yang paling tinggi" dinilai sebagai kesadaran spiritual tertinggi bahwa dirinya adalah bagian dari zat Tuhan.Beliau menyalahkan kaum Nabi Nuh karena membatasi penyembahan Tuhan hanya pada lima berhala (Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, Nasr), dan menyalahkan kaum Nasrani karena membatasi tuhan hanya pada jasad 'Isa bin Maryam. Menurut Ibnu 'Arabi, benda apa pun yang disembah oleh manusia di muka bumi ini, pada hakikatnya mereka sedang menyembah Allah, karena Allah adalah zat alam itu sendiri.Beliau menulis syair kufur: "Hamba adalah Tuhan, dan Tuhan adalah hamba. Duhai sekiranya aku tahu, siapakah yang sebenarnya sedang dibebani kewajiban syariat (jika hamba adalah Tuhan itu sendiri)?"B. Al-Hululiyah (Inkarnasi/Imanensi)Meyakini bahwa Zat Allah turun dan menempati jasad makhluk-makhluk pilihan-Nya yang telah suci. Analogi sederhananya seperti air jernih yang dituangkan ke dalam sebuah gelas kaca; gelasnya ada dan airnya ada sebagai dua entitas berbeda, namun air menempati ruang di dalam gelas tersebut. Pemikiran ini merendahkan martabat ketuhanan karena memaksa Zat Allah untuk turun level menyesuaikan diri dengan ruang makhluk yang ditempati-Nya.C. Al-Ittihadiyah (Amalgamasi Zat)Meyakini meleburnya dua zat yang berbeda (Zat Tuhan dan zat makhluk) menjadi satu kesatuan entitas baru yang tidak dapat dipisahkan lagi komponen aslinya. Analogi sederhananya seperti kopi hitam yang diaduk bersama susu cair menjadi minuman kopi susu.D. Kasus Kesesatan Tokoh Sufi Mengenai Akidah HululIbnul Jauzi membawakan beberapa riwayat nyata dari penyimpangan tokoh sufi abad ketiga akibat meyakini akidah Hulul:Kasus Burung Gagak Abu Hamzah As-Sufi: Suatu hari ketika Abu Hamzah sedang berceramah di atas mimbar Masjid Tarsus, tiba-tiba seekor burung gagak di atas atap masjid bersuara dengan nyaring. Mendengar suara tersebut, Abu Hamzah langsung berteriak histeris secara demonstratif: "Labbaik! Labbaik! Labbaik!" (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah). Kaum muslimin yang berakal sehat di masjid tersebut tersentak lalu mengutuknya sebagai seorang zindiq hululi. Mereka mengerti bahwa Abu Hamzah meyakini suara burung gagak tersebut adalah personifikasi dari suara Allah yang sedang mewujud pada makhluk-Nya. Akibat peristiwa itu, masyarakat menyita kuda miliknya dan menjualnya di depan pintu masjid sambil berteriak: "Ini adalah kuda milik si zindiq!" Diketahui, setiap kali Abu Hamzah mendengar desiran angin, gemercik air mengalir, atau kicauan burung, ia selalu berteriak Labbaik karena menganggap Allah bersemayam di dalam suara alam tersebut.Klaim Penyimpangan Jemaah Syam: Abu Nasr As-Sarraj mencatat ada sebagian sekte sufi yang meyakini bahwa Allah sengaja memilih jasad-jasad manusia pilihan untuk ditempati sifat-sifat ketuhanan (Ma'anir-Rububiyyah) setelah sifat kemanusiaannya (Ma'anils-Basyariyyah) dicabut. Di antaranya ada sekelompok sufi di negeri Syam yang mengaku bisa melihat Allah secara langsung menggunakan mata batin mereka di dunia, persis seperti orang-orang beriman melihat Allah di surga kelak.Doktrin Cinta Asmara (Al-'Isyq) Abul Hasan An-Nuri: Tokoh sufi ini pernah mengklaim: "Aku mengalami asmara yang menggebu-gebu (isyq) kepada Allah, dan Allah pun merindukan diriku." Doktrin ini dibantah keras oleh Al-Qadhi Abu Ya'la dan Imam Ibnul Jauzi dari 3 sisi syar'i:Secara bahasa Arab, kata Isyq hanya boleh digunakan untuk hasrat asmara romantis yang disertai nafsu biologis (seperti cinta suami kepada istri), sehingga sangat tabu dan kufur disematkan kepada Allah.Syariat hanya menggunakan istilah Yuhibb (Mencintai/Menyukai), tidak boleh membuat istilah sendiri di luar Al-Qur'an.Merupakan bentuk kelancangan batin; dari mana ia mengklaim tahu bahwa Allah sedang merindukan dan mencintai dirinya tanpa adanya wahyu?4. Fragmen Sejarah Kontroversial dan Eksekusi Mati Al-HallajSalah satu gembong penganut akidah Hululiyah dan Ittihadiyah yang paling fenomenal di dalam sejarah Islam adalah Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj (eksekusi mati pada awal abad ke-4 Hijriyah di Baghdad).A. Tipu Daya Sihir dan Kesaktian Palsu Al-HallajAl-Hallaj mengelabui pengikutnya menggunakan bantuan jin dan sihir. Di dalam kitab Siyar A'lam An-Nubala', Al-Imam Adz-Dzahabi mencatat beberapa kesaktian palsu Al-Hallaj:Ia mengklaim mampu mengeluarkan buah-buahan segar musim panas di tengah musim dingin yang kering, lalu mengklaimnya sebagai buah yang ia petik langsung dari surga. Suatu hari, pengikutnya memprotes karena mendapati buah "surga" tersebut ternyata berisi ulat. Al-Hallaj berkilah dengan santai: "Di surga memang tidak ada ulat, namun buah ini mengalami gangguan proses kargo saat melintasi atmosfer dunia, sehingga dihinggapi ulat."Ketika ia menantang seorang ulama ahlusunah dengan berkata: "Mintalah apa saja, niscaya jasad Nabi 'Isa di dalam diriku akan mengabulkannya." Sang ulama melihat kepala dirinya yang botak lalu berkata: "Aku ingin engkau mengembalikan rambut kepalaku menjadi muda dan lebat kembali agar aku bisa menikah lagi." Al-Hallaj seketika terdiam dan menolak karena jin tidak memiliki kemampuan biologis untuk mengubah struktur usia manusia.B. Klaim Mengarang Tandingan Al-Qur'an'Amr bin 'Utsman Al-Makki (seorang ulama yang awalnya merupakan guru Al-Hallaj) mengisahkan: "Suatu hari aku sedang berjalan di lorong kota Makkah bersama Al-Hallaj sambil aku membaca ayat Al-Qur'an. Tiba-Bray al-Hallaj berkomentar dengan sombong: 'Aku juga mampu mengarang dan mengucapkan kalimat tandingan yang serupa dengan Al-Qur'an yang engkau baca itu!' Seketika itu juga aku mengutuknya dan mengusirnya dari hidupku."C. Kasus Surat "Ar-Rahman Ar-Rahim" & Sidang Tiga Ulama BaghdadPihak keamanan Khilafah Abbasiyah di Baghdad menangkap seorang sufi bernama Abu Bakar bin Hams yang kedapatan selalu membawa kantong tas siang dan malam tanpa pernah dilepas. Setelah digeledah, di dalam tas tersebut ditemukan lembaran kitab tulisan tangan Al-Hallaj yang berbunyi:"Minar-Rahmanir-Rahim ila Fulan bin Fulan..." (Surat dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada Si Fulan bin Fulan).Al-Hallaj menggunakan asma'ul husna Allah untuk melabeli dirinya sendiri selaku penulis surat. Doktrin ini disidangkan di hadapan Mahkamah Penguasa Baghdad. Hakim mengajukan pertanyaan jebakan teologis: Jika penerima surat mengakui surat itu dari Allah, berarti ia mengaku sebagai Nabi. Pengikut tersebut ketakutan lalu membela diri: "Bukan, surat ini bukan ditulis oleh Al-Hallaj, ini adalah tulisan tanganku sendiri." Hakim membalas: "Jika engkau yang menulisnya sendiri dengan label Ar-Rahman Ar-Rahim, berarti engkau yang sedang mengklaim dirimu sebagai Tuhan!"Pengikut tersebut akhirnya membela diri menggunakan tameng filsafat Hulul: "Kami tidak mengklaim diri sebagai tuhan secara mandiri, namun jasad kami hanyalah alat tulis, sedangkan Zat yang menggerakkan tangan kami untuk menulis surat ini sesungguhnya adalah Allah."Untuk memutus syubhat ini, Mahkamah Baghdad memanggil tiga tokoh sufi terkemuka di zaman tersebut untuk dimintai kesaksiannya mengenai doktrin Al-Hallaj:Nama Tokoh SufiFatwa dan Sikap Teologis di Depan MahkamahNasib Akhir Keputusan HukumAbu Muhammad Al-Jariri"Orang yang mengucapkan doktrin ini hukumnya adalah kafir murtad, dan aku berlepas diri dari pemikirannya."Selamat (Dibebaskan)Abu Bakar As-Sibli"Orang yang berbicara dengan kalimat seperti ini harus dimasukkan ke dalam rumah tahanan/penjara."Selamat (Dibebaskan)Ibnu 'Atha'"Aku secara penuh menyetujui, mendukung, dan membenarkan seluruh isi akidah Al-Hallaj."Dijatuhi Hukuman Mati (Dieksekusi bersama Al-Hallaj)D. Eksekusi Akhir Al-HallajBerdasarkan fatwa resmi dari mayoritas fuqaha lintas mazhab (dipelopori oleh Hakim Abu Umar bin Hammad), Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj resmi dijatuhi hukuman mati sebagai orang murtad yang melakukan kerusakan akidah (zindiq).Ia diikat di tiang kayu, dipertontonkan di hadapan publik kota Baghdad, lalu dieksekusi dengan cara dipotong kedua tangan dan kakinya, dipenggal kepalanya, dan jasadnya wajib dibakar hingga menjadi abu demi memutus syubhat kesaktian palsunya.Hanya ada satu ulama yang memilih bersikap netral (tawaqquf), yaitu Abul Abbas bin Suraij (ulama besar madzhab Syafi'i), yang berkata: "Aku tidak mengerti apa maksud esensi dari kalimat yang diucapkan Al-Hallaj, maka aku tidak berkomentar." Namun, ijma' para ulama lainnya tetap bulat mengeksekusi Al-Hallaj. Ibnul Jauzi menyayangkan hingga hari ini masih banyak oknum kaum sufi yang membela mati-matian sosok Al-Hallaj murni karena fanatisme buta (ta'ashub) dan kebodohan mereka terhadap keputusan ijma' para fuqaha sejarah.5. Talbis Iblis dalam Fikih Praktis Kaum Sufi (Thaharah dan Salat Jubah Ijazah)Iblis tidak hanya merusak ranah teologi kaum sufi, namun juga mengacaukan praktik ibadah praktis sehari-hari mereka melalui dua pintu fikih:A. Penyakit Waswas dalam Thaharah (Bersuci)Iblis menanamkan penyakit waswas yang sangat parah di dalam hati kaum sufi saat berwudu. Mereka mengira kesucian batin wajib ditunjang dengan mengguyur air wudu dalam jumlah ratusan liter secara berlebihan (israf).Kritik Ibnu 'Aqil: Ulama besar madzhab Hambali, Ibnu 'Aqil, pernah sengaja masuk ke markas pengasingan sufi (Ribat). Beliau sengaja mempraktikkan wudu sunnah yang sesuai dengan petunjuk Nabi ﷺ, yaitu hanya menghabiskan air sebanyak satu mud (sekitar setengah liter air). Menyaksikan hal tersebut, kaum sufi di markas tersebut tertawa merendahkan dan mengejek wudu Ibnu 'Aqil tidak sah. Bahkan, sebagian dari mereka menderita waswas akut sehingga menolak berwudu menggunakan air sumur rumah dan memaksakan diri harus berjalan jauh menuju sungai besar karena menganggap air selain sungai dihantui syubhat najis.B. Memproduksi "Sunnah Tandingan" (Salat Dua Rakaat Jubah Tambalan)Kaum sufi mengklaim memiliki paket "Sunnah Spesial" yang hanya eksklusif diketahui dan diamalkan oleh internal tarekat mereka sendiri, sedangkan kaum muslimin dan para ahli fikih tidak mengetahuinya. Salah satunya adalah kewajiban mendirikan Salat Dua Rakaat Khusus Pasca-Memakai Jubah Tambalan (Muraqqa'ah) selaku simbol baiat pertobatan sufi.Mereka memaksakan dalil sejarah masuk Islamnya sahabat Thumamah bin Utsal yang disuruh mandi oleh Nabi ﷺ.Bantahan Fikih Ibnul Jauzi: Tindakan Thumamah bin Utsal adalah mandi murni karena baru masuk Islam, dan tidak pernah ada syariat dari Nabi ﷺ yang memerintahkan Thumamah untuk mendirikan shalat dua rakaat khusus pasca-memakai baju tertentu. Ibnul Jauzi menegaskan kaidah yang sangat logis: Jika amalan tersebut benar-benar bersumber dari sunnah Nabi ﷺ, niscaya para ahli fikih (fuqaha) adalah manusia pertama yang paling tahu dan paling dahulu mengamalkannya, karena keseharian fuqaha dihabiskan untuk membedah teks dalil. Klaim adanya "wirid rahasia" atau "amalan khusus yang tidak boleh diketahui orang lain (bahkan oleh pasangan sendiri)" adalah ciri mutlak dari gerakan kebatinan yang sesat. Islam diturunkan secara transparan untuk seluruh alam (Rahmatan lil 'Alamin).6. Enam Kerusakan Sistematis Pembangunan Ribat (Biara Sufi)Kaum sufi sengaja mendirikan bangunan-bangunan khusus di luar masjid yang mereka beri nama Ribat (pondok pengasingan khusus) sebagai tempat memusatkan ibadah dan mengisolasi diri bersama syekh mereka. Al-Imam Ibnul Jauzi membongkar 6 kerusakan sistematis dari pembangunan Ribat ini:Mendirikan Bangunan Bid'ah: Pusat peribadahan jamaah yang disyariatkan secara resmi di dalam Islam hanyalah Masjid. Tidak ada syariat untuk mendirikan bangunan tandingan dengan label spiritual khusus.Menyaingi Fungsi Masjid Jami': Keberadaan Ribat memicu pecahnya konsentrasi umat dan mengurangi jumlah jemaah yang memakmurkan masjid jami', karena kaum sufi lebih memilih mengurung diri di pondok internal mereka sendiri.Gugurnya Pahala Melangkah ke Masjid: Dengan mengisolasi diri di dalam Ribat, mereka secara otomatis menghalangi diri dari keutamaan hadis Nabi ﷺ mengenai pahala berlipat ganda dari setiap ayunan langkah kaki menuju rumah Allah (masjid).Meniru Tradisi Rahib Nasrani (Tasyabbuh): Konsep mengurung diri di dalam bangunan khusus (Ribat) adalah jiplakan mutlak dari tradisi para pendeta Nasrani yang mengisolasi diri di dalam kuil/biara batiniah mereka, bukan mendatangi gereja jamaah.Penyiksaan Biologis Menolak Menikah: Ribat diisi oleh pemuda-pemuda usia produktif yang dipaksa menahan syahwat biologisnya dan menolak menikah demi mengejar target wirid batin, sehingga menyiksa fitrah jasad mereka.Menjadi Badge Pengemis Sosial: Keberadaan Ribat dijadikan simbol pamer kemiskinan agar masyarakat menaruh belas kasihan. Mereka mengabaikan kewajiban bekerja mencari nafkah, lalu duduk manis menunggu datangnya donasi uang (yang sering kali bercampur antara harta halal, haram, dan syubhat) dari para pengunjung yang datang untuk "mencari berkah" kepada mereka.