📝 Talbis Iblis #jejakcahaya

Laporan & catatan kegiatan Talbis Iblis #jejakcahaya

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Talbis Iblis 12

Talbis Iblis 12Talbis Iblis Terhadap Kaum SufiKitab ‘Talbis Iblis’ oleh Imam Ibnu JauziDisyarahkan Oleh Ustadz DR. Firanda Andirja, M.AAsal-Usul Kata Sufi (5 Pendapat Etimologi)Nisbah kepada al-Ghuts bin Mur (bergelar Suffah)Seseorang pada zaman Jahiliyah yang memusatkan waktunya dan mengkhidmatkan dirinya secara total untuk melayani Masjidil Haram.Nisbah kepada Ahlus SuffahDikritik secara bahasa oleh Ibnu Jauzi. Jika dinisbahkan kepada Suffah, harusnya menjadi Suffi, bukan Sufi (ada huruf wawu).Nisbah kepada SufanahSemacam tumbuhan di padang pasir yang suka dicabut oleh kaum Sufi. Dikritik Ibnu Jauzi karena secara bahasa harusnya menjadi Sufani, bukan Sufi.Nisbah kepada Shaufatul KaofaRambut yang tumbuh di belakang leher. Filosofinya seperti rambut leher yang diikuti/digiring, menggambarkan kaum Sufi memalingkan manusia dari makhluk menuju Allah.Nisbah kepada Suf (Bulu Domba/Wool)Berasal dari kebiasaan awal mereka memakai pakaian dari bulu domba/wool.Hakikat Awal Kaum Sufi & PerubahannyaIbnu Jauzi menjelaskan bahwa pada awalnya tasawuf atau Sufiyah adalah gerakan melatih jiwa (riyadhatun nafs), bersungguh-sungguh melawan Perangai buruk (seperti hasad, dengki, ingin dipuji), dan menghias diri dengan akhlak mulia seperti zuhud, sabar (hilm), ikhlas, dan jujur. Seiring berjalannya waktu, iblis mulai menyusupkan tipuan (talbis). Semakin bertambah zaman, penyimpangan tersebut semakin parah hingga puncaknya pada kaum Sufi belakangan (di zaman Ibnu Jauzi abad ke-6/7 H hingga zaman sekarang).Model-Model Tipuan Iblis (Talbis Iblis) terhadap Kaum SufiIbnu Jauzi memaparkan 4 model utama bagaimana iblis menipu mereka:Meninggalkan Dunia secara Totalitas & EkstremMereka menolak hal-hal yang bermanfaat bagi jasad (pakaian dan makanan yang layak). Mereka menganggap harta seperti kalajengking, padahal harta diciptakan untuk kemaslahatan (bangun masjid, haji, dakwah, nafkah). Bahkan ada yang memaksakan diri secara ekstrem seperti tidak mau tidur berbaring karena dianggap bertentangan dengan zuhud. Mereka bertujuan baik, namun karena sedikitnya ilmu, akhirnya terjebak mengamalkan hadis-hadis palsu.Cakupan Hadits: Rasulullah ﷺ melarang keras menyebarkan hadits palsu: "Siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka siapkan tempat duduknya di neraka." Dan hadis: "Siapa yang meriwayatkan suatu hadis dariku dan dia tahu itu dusta/palsu, maka dia adalah salah satu dari para pendusta.".Menjadikan Lintasan Hati (Al-Wasawis wal-Khatarat) sebagai Bahan PembicaraanMereka mulai fokus berdiskusi, berdebat, dan menulis buku tentang bisikan-bisikan serta lintasan hati, rasa lapar, dan kemiskinan. Salah satu tokoh ilmu yang terjebak menulis tentang hal ini adalah Al-Harits Al-Muhasibi.​Membuat Aturan, Istilah Khusus, dan Ritual Buatan (Bid'ah)Mereka mengklaim tasawuf memiliki sifat dan tahapan khusus. Contohnya pakaian muraqqa'ah (baju bertambal-tambal warna-warni yang sengaja dibuat dan memakai ijazah dari syekhnya).Ustadz Firanda meluruskan bahwa Nabi ﷺ dan sahabat memakai pakaian bertambal atau berbahan wool hanya karena kondisi terpaksa/miskin, bukan sengaja beribadah dengan cara itu.Cakupan Hadist (Kondisi Pakaian Salaf):Hadits Abu Musa Al-Asy'ari kepada anaknya (Abu Burdah): "Kalau kami bersama Nabi terkena hujan, kamu akan mengira bau kami seperti bau kambing karena pakaian kami dari wool (suf).".​Hadits Aisyah yang membuatkan selendang hitam dari wool untuk Nabi. Ketika Nabi berkeringat dan mencium bau kurang sedap dari wool tersebut, Nabi langsung membuangnya karena beliau menyukai wewangian.​Hadits Ibnu Abbas mengenai alasan perintah Mandi Jumat: Dahulu para sahabat adalah pekerja yang memakai pakaian dari bulu domba/kulit, ruangan masjid sempit dan atapnya pendek dari pelepah kurma. Saat musim panas mereka berkeringat hingga mengeluarkan bau kurang sedap yang mengganggu sesama. Nabi lalu memerintahkan: "Jika datang hari Jumat, mandilah dan pakailah minyak wangi." Ketika ekonomi membaik, mereka tidak lagi memakai baju bulu domba dan masjid pun diperluas.​Hadits Aisyah saat ditanya apa yang dilakukan Nabi di rumah: "Rasulullah menambal bajunya sendiri." Nabi juga wafat meninggalkan kain yang bertambal-tambal.​Riwayat Abu Utsman An-Nahdi melihat Khalifah Umar Bin Khattab melakukan tawaf memakai sarung yang memiliki 12 tambalan, salah satunya ditambal dengan kulit berwarna merah.​Selain pakaian bertambal, iblis menipu mereka dengan mengenalkan ritual ritual lain seperti Sama' (bernyanyi nasyid/qasidah terus-menerus), Al-Wajad, Raqs (joget/menari yang dianggap ibadah), Tasfiq (tepuk tangan), serta menyepi di tempat gelap/gua (khalwat) tanpa makan-minum yang aturannya tidak pernah diajarkan Nabi ﷺ maupun Sahabat. Akhirnya mereka menjauh dari ulama syariat karena merasa memiliki "ilmu batin", sedangkan ulama hanya tahu "ilmu zahir".Kondisi Akal Tidak Stabil Akibat Sengaja Lapar & Klaim KasyfKarena melaparkan diri secara ekstrem, akal mereka menjadi tidak stabil sehingga memunculkan khayalan-khayalan aneh. Mereka mengklaim Isyq (merasa rindu/hasrat asmara) kepada Allah berdasarkan khayalan visual sosok tertentu. Ibnu Jauzi menekankan adanya peran jin/setan di sini. Mereka juga mengklaim Kasyf (terbukanya tabir gaib), bisa mengambil ilmu langsung dari Nabi secara sadar/mimpi, hingga khurafat bertemu Nabi Khidir (padahal Nabi Khidir sudah wafat dan tidak pernah ditemui para sahabat nabi terdahulu).Kritik Ulama: Imam Syafi'i berkata: "Siapa yang belajar Sufiyah di pagi hari, belum sampai tengah hari atau petang kecuali kau dapati dia sudah menjadi orang yang pandir/bahlul.". Segala bentuk klaim kasyf atau ilham wajib dicek silang menggunakan Al-Qur'an dan Sunnah karena Umar bin Khattab yang diakui Nabi sebagai Muhaddats (orang yang diberi ilham) pun tidak selalu benar dan bisa salah.Munculnya Akidah Menyimpang (Hululiah, Ittihadiah, Wahdatul Wujud)Dari model-model tipuan di atas, muncullah tarekat-tarekat dengan akidah khusus yang menyimpang mengenai hubungan zat Allah dengan makhluk:Al-Ittihadiah (Menyatu)Dua zat yang melebur menjadi satu kesatuan (diibaratkan seperti kopi dan susu yang diaduk).Al-Hululiyah (Menempati)Zat Allah menempati makhluk, namun secara zat masih bisa dibedakan (diibaratkan seperti air di dalam gelas).Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud)Hanya ada satu zat di alam semesta ini. Makhluk hanyalah penampakan lahiriah dari Tuhan (diibaratkan seperti ombak dengan lautan).Kitab-Kitab Pendukung Sufi yang Ditahdzir (Diperingatkan) oleh Ibnu JauziIbnu Jauzi memperingatkan umat dari buku-buku yang membela gerakan Sufi menyimpang karena memuat hadis batil dan akidah rusak:Abu Abdurrahman As-SulamiMenulis buku yang membela Sufiyah dengan membuat/memuat hadis-hadis palsu.​Abu Nasr As-Sarraj: Menulis kitab Luma' As-Sufiyah yang berisi akidah rusak dan perkataan yang hina.​Abu Thalib Al-Makki: Menulis kitab Quutul Qulub. Berisi hadis batil, tata cara shalat malam/siang serta zikir yang tidak ada asalnya, akidah menyimpang, dan nukilan klaim-klaim orang yang mendapat kasyf.​Al-QusyairiMenulis kitab Ar-Risalah yang memuat istilah-istilah buatan Sufi seperti Fana, Baqa, Qabad, Basad, Al-Waqt, Al-Hal, Al-Wajid, dan Al-Mukasyafah.​Muhammad bin Thahir Al-MaqdisiDikritik karena memiliki pemahaman Ibahah (membolehkan melihat wanita cantik atau lelaki tampan dengan dalih keindahan) bahkan menulis buku tentang itu. Juga mengkritik ringan Abu Nu'aim Al-Asbahani dalam kitab Hilyatul Aulia karena melabeli para sahabat (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali) sebagai kaum Sufi.​Abu Hamid Al-Ghazali: Menulis kitab Ihya Ulumuddin. Al-Ghazali adalah ulama besar ushul dan fikih, namun bukunya kontroversial karena dipenuhi hadis batil/palsu (karena beliau kurang ilmu hadis), membahas ilmu mukasyafah, keluar dari pakem fikih, serta melakukan takwil kebatinan (seperti menakwil kisah Nabi Ibrahim melihat bintang, bulan, matahari sebagai hijab Allah, bukan benda langit asli) [48:43]. Buku ini memicu perselisihan (ada yang berlebih-lebihan memuji, ada yang menyuruh membakar). Jalan tengahnya: buku ini bermanfaat namun banyak masalah akidah di dalamnya, sehingga tidak cocok dibaca oleh orang awam, melainkan hanya untuk para ulama yang paham. Solusi Ibnu Jauzi: Ibnu Jauzi meringkas kitab Ihya tersebut, membuang seluruh hadis palsu dan perkara menyimpang ke dalam kitab buatannya yang berjudul Minhajul Qasidin (yang kemudian diringkas lagi oleh Al-Maqdisi menjadi Mukhtasar Minhajil Qasidin) agar aman dibaca orang awam.Kesimpulan Penyebab Manusia Tertarik pada Kaum SufiIbnu Jauzi memberi udzur bahwa para penulis di atas terjebak karena sedikitnya ilmu mereka tentang hadist Nabi ﷺ dan riwayat para sahabat/tabiin, sementara mereka memiliki semangat zuhud yang tinggi. Manusia awam sangat condong kepada metode Sufi karena secara lahiriah terlihat bersih dan bernilai ibadah, namun di dalamnya menawarkan kenyamanan bagi jiwa (seperti bernyanyi dan berjoget) yang jauh lebih santai daripada metode para Salaf yang terkesan tegas (seperti belajar, menulis, berpikir, dan jihad). Kaum Sufi zaman dahulu selalu menjauh dari penguasa dan sultan, sedangkan kaum Sufi zaman sekarang justru menjadi teman dekat penguasa dan pencari kedudukan dunia.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Talbis Iblis #12: TALBIS IBLIS TERHADAP KAUM ZUHUD

Talbis Iblis #12:Talbis Iblis terhadap Kaum ZuhudOleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A حفظه لله تعالىAsal-Usul Kata SufiAda lima pendapat para ulama mengenai asal-usul kata Sufi beserta kritikan dari Ibnu Jauzi:1.     Nisbah kepada sesorang yang di kenal dengan "Sufah": Namanya adalah Al-Ghuts bin Mur, seorang yang mengkhidmatkan dirinya kepada Al Masjidil Haram di zaman jahiliyah.2.     Nisbah kepada "Ahlus Suffah": Pendapat ini dikritik secara bahasa; jika dinisbahkan ke Suffah harusnya menjadi Suffi (bukan Sufi).3.     Nisbah kepada "Sufanah": Sejenis tumbuhan di padang pasir. Dikritik karena secara bahasa harusnya menjadi Sufani.4.     Nisbah kepada "Shufatul Kafa": Rambut yang tumbuh di belakang leher, seakan-akan seorang menggiring kepada Allah dan memalingkan dari makhluk.5.     Nisbah kepada kain wol (Shuf): Pendapat yang paling kuat karena pada awalnya mereka gemar memakai pakaian yang terbuat dari bulu domba/wol kasar. Sejarah Muncul Sufiah§  Ibnu Jauzi menjelaskan intinya :Asal dari tasawwuf menurut para sufiah adalah melatihan jiwa untuk menolak akhlak yang buruk (seperti hasad dan dengki), serta melatih untuk akhlak yang mulia (seperti zuhud, sabar, ikhlas, dan jujur). Sifat-sifat yang mulia ini yang akan mendatangkan ujian di dunia dan pahala di akhirat.§  Seiring berjalannya waktu, iblis menggoda mereka dalam banyak perkara, semakin bertambah zaman semakin parah, hingga puncaknya pada kaum sufi belakangan. Model-model Talbis iblis1.     Menolak Dunia secara Totalitas yang KeliruMereka menolak hal-hal yang bermanfaat bagi jasad (pakaian dan makanan yang layak). Bahkan, ada yang memaksa diri tidur sambil duduk tanpa mau berbaring karena dianggap mencari kenyamanan dunia. Karena minimnya ilmu, mereka terjebak mengamalkan hadis-hadis palsu tentang celaan dunia.2.     Menyibukkan Diri dengan Lintasan Hati (Al-Wasawis)Mereka mulai terlalu fokus mendiskusikan rasa lapar, kefakiran, serta bisikan-bisikan hati (al-wasawis wal khatarat), hingga menulis buku tentang hal ini diantaranya Al-Harits Al-Muhasibi salah seorang ahli ilmu di zaman tersebut terjebak dalam beberapa kesalahan, diantaranya kesalahan sufiah dan juga dalam masalah sifat.3.     Membuat Aturan & Ciri Khas SendiriMereka membuat ciri khas buatan seperti kewajiban memakai baju bertambal-tambal (muraqqa'ah) yang berwarna-warni yang memiliki ijazah khusus. Nabi dan para sahabat dahulu memakai baju tambalan atau baju wol karena kondisi ekonomi yang sulit (terpaksa), bukan sengaja dijadikan ritual ibadah. Di fase ini pula mulai muncul ritual joget, menari (raqs), tepuk tangan, dan menyanyi kasidah semalam suntuk yang diklaim sebagai ibadah. Mereka juga menjauh dari ulama dan merasa lebih tinggi karena mengklaim memiliki "ilmu batin", sedangkan ulama hanya punya "ilmu Zahir.4.     Khayalan Melampaui BatasAkibat melaparkan diri secara ekstrem, akal mereka menjadi tidak stabil sehingga memunculkan khayalan-khayalan aneh, hingga merasa rindu kepada sosok fisik yang dianggap Tuhan. Puncaknya memunculkan paham kufur seperti Al-Hululiyah (Tuhan menempati makhluk), Al-Ittihadiyah (Tuhan menyatu dengan makhluk), dan Wahdatul Wujud (kesatuan zat). Penyimpangan Akidah yang FatalMasalah madzahb bersatunya Allah dengan makhluk ada 3 model :1)    Al-Ittihadiyah: Persatuan (menyatu) yaitu Dua zat yang melebur menjadi satu kesatuan (seperti kopi dicampur susu).2)    Al-Hululiyah: Menempati, (seperti air di dalam gelas).3)    Wahdatul Wujud: Kesatuan dzat (wujud), menurut mereka di mana makhluk dianggap sebagai penampakan dari Tuhan itu sendiri.Ini semua adalah kekufuranKritik Terhadap Kitab-Kitab SufiIbnul Jauzi mentahdzir/memperingati kitab-kitab yang mendukung sufiah, diantaranya:1.     Abu Abdurrahman As-SulamiMembuat hadits-hadits palsu yang mendukung sufiah2.     Abu Nasr As-SarrajKitabnya berjudul Luma' as-Sufiyah, menyebutkan akidah-akidah yang rusak dan perkataan-perkataan yang hina3.     Abu Thalib Al-MakkiKitabnya berjudul Qutul Qulub, menyebutkan hadits-hadits bathil, shalat malam yang tidak ada asalnya, dzikir-dzikir palsu dan akidah yang menyimpang.4.     Al-QusyairiKitabnya berjudul Ar-Risalah, menyebutkan keajaiban-keajaiban dan istilah-istilah sufiah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam5.     Abu Hamid Al-GhazaliKitabnya berjudul Ihya Ulumuddin, Kitab ini kontroversial karena dipenuhi hadis batil/palsu (karena Al-Ghazali kurang menguasai ilmu hadis) dan mengandung takwil batiniah. Namun, Ibnu Jauzi meringkas faedah baik dari kitab ini ke dalam kitabnya yang berjudul Minhajul Qasidin setelah membuang hadis-hadis palsunya.Ibnul Jauzi Memberi Uzur Kepada Para Penulis KitabPara penulis kitab tersebut memiliki keterbatasan pengetahuan tentang hadis Nabi, esensi ajaran Islam, serta riwayat dari para sahabat, dan mereka semangat dengan istilah-istilah sufiah dan terpatri dalam jiwa mereka zuhud itu bagus, berbeda dengan sirah salaf yang sarat akan ketegasan ilmu dan perjuangan/jihad. Selain itu, jika kaum sufi terdahulu dikenal sangat menjauhi penguasa, kaum sufi sekarang justru banyak yang mendekati penguasa demi mencari kedudukan.Kesimpulan :Niat yang ikhlas dan semangat ibadah yang tinggi tidak akan bernilai di hadapan Allah jika tidak mengikuti petunjuk (ittiba') Rasulullah ﷺ. Tolok ukur kebenaran suatu amalan hati maupun amalan fisik wajib dikembalikan kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman para sahabat, bukan berdasarkan perasaan, penampilan zuhud buatan, atau pengalaman mistis.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
B
Baby Nabilah Ulzanah

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Talbis Iblis #12: Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi - Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A

1. Awal Mula dan Tipu Daya IblisPada awalnya, kaum Sufi dikenal sebagai orang-orang zuhud yang menjauhi dunia, menjauhi para penguasa, orang-orang yang melatih jiwa untuk menolak perangai buruk dan menumbuhkan akhlak mulia (ikhlas, sabar, jujur). Namun, Iblis masuk dan menipu mereka hingga memunculkan kerancuan.Melupakan Hak Fisik dan Harta: Mereka secara ekstrem menolak kenyamanan dunia (seperti enggan tidur berbaring) dan melupakan pentingnya harta untuk ibadah yaitu untuk umroh, haji, juga untuk berdakwah, dan pentingnya harta untuk keluarga.Terpedaya Hadits Palsu: Akibat kurangnya ilmu, mereka mudah menerima dan menyebarkan hadits-hadits palsu untuk memotivasi amalan mereka.2. Bentuk-Bentuk PenyimpanganSeiring berjalannya waktu, mazhab ini dipenuhi dengan praktik dan akidah yang menyimpang, antara lain:Pakaian Tambal Sulam: Memakai baju yang ditambal dengan kain warna warni dan menganggap setiap tambalan memiliki "sertifikat/ijazah" dari syekh. Padahal, Rasulullah ﷺ dan Umar bin Khattab pernah memakai baju tambalan murni karena kondisi ekonomi yang sulit, bukan sebagai bentuk ibadah yang disengaja.Ibadah Berupa Nyanyian: Menjadikan tarian, nasheed dan qasidah sebagai ritual ibadah, yang mana tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.Merasa Lebih Mulia dari Ulama: Menganggap diri mereka lebih hebat karena merasa memiliki "ilmu hati atau batin".Kelaparan yang Disengaja: Menyiksa diri dengan kelaparan ekstrem hingga berhalusinasi, yang berujung pada rusaknya akidah.Klaim Bertemu Nabi: Sebagian meyakini bahwa Rasulullah ﷺ masih hidup secara fisik dan berjalan-jalan menemui orang-orang.3. Peringatan Ibnul Jauzi Terhadap Kitab-Kitab SufiIbnul Jauzi memperingatkan umat dari beberapa tokoh dan kitab yang mendukung penyimpangan Sufi:Abu Abdurrahman As-Sulami: Membuat hadits-hadits palsu untuk mendukung ajaran Sufi.Abu Nashr (Kitab Al-Luma'): Menyebutkan akidah dan perkataan yang menyimpang dan hina.Abu Thalib Al-Makki: Menulis hadits batil serta tata cara shalat dan zikir palsu yang tidak berasal dari Nabi ﷺ.Al-Ghazali (Kitab Ihya Ulumuddin): Beliau dikenal menafsirkan agama secara kebatinan. Kitab ini menyebutkan klaim bahwa kaum Sufi bisa melihat Nabi dan Malaikat dalam keadaan sadar hingga mencapai "persaksian" yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Meski kitab ini ada manfaatnya, banyak ulama melarang orang awam membacanya karena keburukannya. Ibnul Jauzi kemudian membuat ringkasan kitab ini dengan membuang hadits-hadits palsunya.4. Sebab Timbulnya PenyimpanganMinim Ilmu: Sedikitnya pemahaman agama dan kurangnya riwayat dari para Sahabat yang mereka pelajari.Hawa Nafsu: Jiwa manusia lebih menyukai kenyamanan (seperti ibadah dengan bernyanyi) dan kata-kata indah kaum Sufi, dibandingkan dengan sirah (perjalanan) Salaf (para Sahabat) yang tegas dalam syariat.5. Perbedaan Sufi Dahulu dan SekarangSufi Terdahulu: Sangat menjaga jarak dan menghindari penguasa (Sultan) serta jabatan.Sufi Zaman Sekarang: Bergeser menjadi kelompok yang justru mencari jabatan dan mendekati penguasa.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
D
Dinda fitrinita Runi setiawan

📍 Kabupaten Bondowoso

Talbis iblis #12

Talbis iblis#12Talbis iblis terhadap kaum sufi (bag.1)ustadz DR. Firanda Andirja MA hafidzhahullah Ada 5 pendapat dikalangan para ulama tentang asal usul sufiyah:1.nisbah kepada seseorang yang dikenal dengan sufah,nama aslinya Al ghouts bin murr.(Seseorang yang mengkhidmatkan dirinya kepada Masjidil haram di zaman jahiliyah)Nisbah kepada penghuni suffahseharusnya namanya menjadi suffiNisbah kepada sufana yaitu tumbuhan Karena mereka suka mencabut tumbuhan tersebut di Padang pasir.seharusnya menjadi suffani.Nisbah kepada soffatulkoffah yaitu rambut yang tumbuh di belakang leherseakan-akan orang sufi menggiring orang kepada Allah Subhanahu wata'ala.dan memalingkan dari makhluk.Nisbah kepada bulu domba suffkarena pakaian mereka dari wol.Sejarah munculnya sufiyahPada asalnya kaum sufiah ini adalah kaum yang Zuhud.Menurut imam Ibnu Jauzi:intinya sufiyah disini mereka ada latihan jiwa untuk menolak akhlak yang buruk dan melatih untuk akhlak yang mulia.Demikianlah awalnya mereka,kemudian iblis menggoda mereka dalam banyak hal.semakin bertambah zaman semakin parah sehingga puncaknya pada orang orang belakangan ini .sampai akhirnya banyak penyimpangan.Macam-macam talbis iblis terhadap kaum sufiyah:1.iblis menggambarkan kepada kaum sufiyah, hakikat nya yg dimaksud dgn sufi adalah meninggalkan dunia secara global atau totalitas.~akibatnya mereka menolak hal hal yg dapat bermanfaat untuk jasadnya.(Contoh: meninggalkan pakaian bagus,makanan,) Akhirnya mereka menyamakan harta seperti kalajengking.mereka lupa bahwa harta itu di ciptakan untuk kemaslahatan.Bahkan mereka memaksa jiwa untuk melakukan perkara perkara yang berat (sampai tidak mau berbaring).mungkin tujuan mereka baik Zuhud terhadap dunia (tidak ingin bersenang-senang,hidup prihatin)hanya saja mereka tidak menempuh jalan yang benar.diantara mereka Krn sedikitnya ilmu akhirnya mereka mengamalkan hadits hadits palsu.Talbis iblis terhadap persangkaan2kemudian datang kaum sufiah lain dan berbicara tentang lintasan hati.kelaparan,kemiskinan.Mereka mengatur madzhab sufiyah.mereka menulis sifat2 khusus kaum sufi yang tidak di miliki oleh orang lain.(Pakaian yg suka di tambal2)bahkan ada ijazah tambalan dari syaikhnya.Dahulu nabi shalallahu alaihi wasallam memang memakai baju yg demikian tetapi bukan sengaja di tambal tetapi karena tidak ada baju lagi.Ibnu Abbas berkata:dulu orang orang dalam kondisi sulit (miskin) sehingga mereka menggunakan baju dari kulit (wol) dan mereka bekerja menggunakan pakaian tersebut,dan dulu masjid mereka sempit dan pendek, hanyalah bangunan yang sederhana,dan suatu hari nabis shalallahu alaihi wasallam sholat di musim yg panas,dan orang orang berkeringat sehingga keluar dari mereka bau yang tidak enak, sehingga mengganggu satu dgn yang lainnya.saat mencium bau yang tidak enak , Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata: wahai kaum muslimin sekalian jika datang hari Jumat,maka mandilah,pakailah wewangian.maka setelah itu Allah datangkan kebaikan kebaikan.dan mereka tidak lagi pakai wol dan masjid semakin luas.sehingga yang tadinya bau sudah hilang.Abu Utsman berkata:aku melihat nabi,Umar bin khattab dia thawaf di Ka'bah dan dia Khalifah ketika itu dan dia pakai sarung bawahannya dan ada 12 tambalan.dan salah satunya dari kulit.=⟩jaman dulu menambal pakaian karena tidak ada pakaian lagi,beda dgn kaum sufi yang memang sengaja bajunya di model tambalanCiri-ciri sufi: memakai baju tambalan,dengerin nasyid pakai alat musik,berqasidah,menari nari,bertepuk tangan.kemudian berkembang semakin parah, mulai lah guru mereka berbicara tentang kondisi hati,kondisi kondisi tertentu,dan semakin parah semakin jauh dari para ulama.bahkan mereka menganggap diri mereka lebih hebat dari para ulama,Krn mereka memiliki ilmu bathin sedangkan ulama hanya memiliki ilmu dhohir.Diantara mereka ada yg saking laparnya,melaparkan diri sehingga akalnya tidak stabil sehingga menimbulkan khayalan yg aneh aneh.berkhayal bahwasanya Allah adalah seseorang yang indah bentuknya sehingga mereka rindu dgn sosok tersebut.akhirnya mereka berhasrat.Madzhab bersatunya Allah dengan makhluk:1 Al ibtidahiyah(persatuan atau menyatu)dzat yg bersatu (contoh seperti kopi di aduk dgn susu menjadi kopi susu)Al khululiyah (menempati)Seperti air yg di tempatkan ke gelas 3 wahdatul wujudSeperti ombak,.Imam Ibnu Jauzi berkata : dari perkara-perkara talbis iblis,maka muncullah akidah akidah yang menyimpang dan setelah itu muncullah torikot2 yg banyak.Dan akhirnya rusaklah aqidah dan bid'ah mereka dgn berbagai model.Ibnul Jauzi mentahdzir ( memperingatkan)kitab kitab yg mendukung sufiah,di antaranya1 abu Abdurrahman as sulami( membuat haditz palsu yg mendukung sufiah)2 abu Nasr assyarrajLuma' assufiyah (menyebutkan akidah2 yg rusak dan perkataan perkataan yg jelek)3 abu Thalib Al makki-kitab kutul qulubHadist2 bathil dan ada sholat2 malam yg tidak ada asalnya dan dzikir dzikir palsu dan aqidah yang menyimpang .Sebagian ada yang mengatakan bahwa nabi masih hidup dan suka jalan-jalan,ada yang datang lewat mimpi.Mengaku ada khasf lewat nabi Khidir.Merasa ada Ilham datang langsung dari AllahAda yang mengatakan ada habib yang juga isra' mi'raj.Abdul Karim al khusyairi dalam kitab Ar risalahkeajaiban keajaiban sufiyah dgn berbagai macam istilah istilah yang tidak di ajarkan oleh nabiMengatakan bahwa sahabat sahabat nabi adalah kaum sufi.5.muhammad Thahir Al maqdisi- kitab sofwatu tassawufMenyebutkan hal hal yang seseorang yang berakal malu untuk menyebutnya.Kitab ihya'ululmuddin karya abu Hamid Al ghazali= di tulis buku untuk kaum sufiyah, sebagaimana metode orang orang sufiyah dan dia penuhi bukunya tersebut dengan hadits hadits bathil.dan dia keluar dari aturan fiqih padahal dia ahli fiqih dan dia berkata: adapun yang Allah sebutkan dalam surat Al an'am yg Ibrahim mengatakan "aku melihat bintang,melihat rembulan,melihat matahari," (maksud beliau melihat bintang,rembulan ,matahari bukan benda benda langit melainkan cahaya yang merupakan hijab Allah.)Bantahan Ibnu Jauzi: tafsiran tersebut di sebut tafsir kebathilan.Namun imam Ibnul Jauzi memberikan udzur kepada beliau karena mungkin beliau tidak tau ilmunya hanya menukil nukil hadist palsuDan sebab mereka semua menulis bukunya g seperti ini Krn ilmu mereka sedikit tentang hadits hadits nabi,ilmu mereka tentang Islam juga kurang,dan riwayat dari para sahabat dan tabi'in juga kurang,dan mereka semangat menuju kepada istilah-istilah sufiyah yg ditulis mereka,karena mereka senang dgn tulisan orang orang sufiyah Krn sudah terpatri dalam jiwa bahwa Zuhud itu bagus.dan karena melihat perkataan mereka indah.adapun kalau baca sejarah para sahabat agak keras dan kecondongan manusia kepada kaum sufiyah sangat kencang karena metode kaum sufiyah dhohirnya bersih dan ibadah namun kenyataannya di dalamnya ada kenyamanan(nyanyi dan joget joget) dan namanya jiwa cenderung kepada yang menyenangkan tersebut."Dulu kaum sufiyah jaman awal,mereka menjauh dari para penguasa dari para Amir para sultan,sufiyah jaman sekarang temannya penguasa"#banyak yg ghulluw terhadap kitab tersebut dan ada yang mengatakan harus di bakar#

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
D
Dina Permata Sari

📍 Kota Tangerang Selatan

Talbis Iblis #12 - Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi

1. Asal-Usul Penamaan "Sufi"Para ulama berbeda pendapat mengenai asal muasal kata "Sufi". Terdapat lima pendapat utama yang sering disebutkan:Sufah: Dinukil dari nama seseorang di zaman Jahiliyah bernama Al-Ghut bin Mur (bergelar Sufah) yang mengabdikan seluruh waktunya untuk menjaga Masjidil Haram.Ahlu Suffah: Disandarkan pada para sahabat miskin yang tinggal di emperan masjid (Suffah). (Pendapat ini dikritik Ibnul Jauzi secara tata bahasa, karena seharusnya menjadi Suffiy, bukan Sufi).Sufanah: Diambil dari nama sejenis tumbuhan di padang pasir. (Juga dikritik karena seharusnya menjadi Sufani).Shafatul Kofa: Diambil dari arti rambut yang tumbuh di belakang leher/tengkuk.Suf (Bulu Domba/Wool): Disandarkan pada kebiasaan awal kaum ini yang gemar memakai pakaian kasar terbuat dari suf (bulu domba/wool) sebagai bentuk kebersahajaan. Ini merupakan pendapat yang paling masyhur dan kuat.2. Awal Mula Munculnya TasawufPada awalnya, tujuan gerakan kesufian sangatlah mulia. Mereka fokus pada Riyadhatun Nafs (melatih jiwa) untuk membersihkan diri dari perangai buruk seperti hasad, dengki, dan cinta dunia. Mereka berusaha menghiasi diri dengan akhlak mulia seperti zuhud (tidak rakus dunia), sabar, ikhlas, dan jujur.Namun seiring berjalannya waktu, kurangnya ilmu syar'i membuat iblis perlahan-lahan menyusupkan tipu dayanya hingga ajaran ini melenceng jauh dari tujuan awalnya.3. Empat Model Tipu Daya (Talbis) Iblis Terhadap Kaum SufiIbnul Jauzi merangkum kerusakan yang menimpa kaum Sufi dalam empat tahapan atau model tipu daya iblis:Model Pertama: Pemahaman Ekstrem Meninggalkan Dunia Mereka menganggap zuhud adalah membuang dunia secara total. Akibatnya, mereka menolak makanan lezat atau pakaian bagus yang sebenarnya mubah (boleh) dan bermanfaat bagi tubuh. Mereka memaksakan diri pada ibadah yang menyiksa (misal: menolak tidur berbaring). Hal ini sering terjadi karena mereka mengamalkan hadis-hadis palsu akibat minimnya ilmu agama.Model Kedua: Sibuk Mengulik Lintasan Hati (Al-Wasawis wal Khatarat) Muncul generasi sufi yang mulai terlalu fokus berbicara tentang keutamaan lapar, kemiskinan, serta mengulik halusinasi atau lintasan-lintasan pikiran di dalam hati. Hal ini dipelopori oleh buku-buku khusus yang membahas perkara ini (seperti karya Al-Harith Al-Muhasibi).Model Ketiga: Membuat Syariat, Istilah, dan Aturan Sendiri Kaum sufi mulai menciptakan aturan tarekat (jalan/metode) yang spesifik. Tipu daya iblis dalam fase ini meliputi:Pakaian Khas (Muraqqa'ah): Mewajibkan pakaian tambal-tambal bersimbol khusus. Padahal, Nabi ﷺ dan sahabat dahulu memakai pakaian bertambal karena kondisi ekonomi yang miskin dan terpaksa, bukan menjadikannya sebagai desain pakaian ibadah.Menjadikan Nyanyian dan Tarian sebagai Ibadah: Masuknya tradisi Sama' (mendengarkan qasidah/musik) dan Raqs (menari/joget) dengan alasan mengalami Wajd (ekstase spiritual).Merendahkan Ulama Syariat: Mereka merasa lebih mulia dengan mengklaim memiliki "ilmu batin", dan merendahkan para ulama ahli fikih yang dianggap hanya mengerti "ilmu zahir".Model Keempat: Akidah Sesat dan Klaim Kasyaf Puncak tipu daya iblis terjadi ketika kaum sufi menyiksa diri dengan rasa lapar ekstrem hingga akal mereka berhalusinasi. Dari sinilah muncul klaim Kasyaf (tersingkapnya tabir gaib), mengaku bisa bertemu langsung dengan Allah, rindu ('isyq) pada visualisasi yang mereka kira Tuhan (padahal bisa jadi jin), hingga mengaku rutin bertemu Nabi Khidir atau Nabi Muhammad ﷺ secara sadar di dunia nyata.Hal ini bermuara pada tiga kesesatan akidah terbesar:Al-Ittihadiyah: Meyakini bahwa Tuhan dan makhluk bisa menyatu menjadi satu entitas (ibarat kopi dan susu yang diaduk).Al-Hululiyah: Meyakini bahwa Tuhan menempati ruang pada makhluk-Nya (ibarat air yang dituang menempati gelas).Wahdatul Wujud: Meyakini bahwa alam semesta ini adalah penampakan/wujud dari Tuhan itu sendiri.4. Kritik Ibnul Jauzi Terhadap Buku-Buku SufiIbnul Jauzi secara khusus memberikan tahdzir (peringatan) terhadap berbagai kitab yang menjadi rujukan kaum sufi menyimpang karena memuat hadis palsu, akidah batil, serta ibadah karangan manusia. Kitab-kitab yang dikritik antara lain:Buku-buku karya Abu Abdurrahman As-Sulami yang terbukti memalsukan hadis untuk membela sufi.Qutul Qulub karya Abu Thalib Al-Makki yang berisi salat-salat fiktif, zikir palsu, serta klaim kasyaf.Hilyatul Auliya' karya Abu Nu'aim Al-Asbahani yang dikritik karena melabeli para sahabat mulia (seperti Abu Bakar dan Umar) sebagai Sufi, padahal ajaran sufi sudah berubah wujud.Ihya 'Ulumuddin karya Abu Hamid Al-Ghazali. Kitab ini banyak memuat hadis palsu dan cara penafsiran ayat Al-Qur'an secara "kebatinan" yang menyimpang. Oleh karena itu, Ibnul Jauzi turun tangan membuang hadis-hadis batil di dalamnya dan meringkas kitab tersebut menjadi kitab yang lebih aman dan bermanfaat, yaitu Minhajul Qashidin.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
A
Amika Aspar

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis Iblis #12

Talbis Iblis #12: Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi - Ustadz Dr. Firanda Andirja M.AAsal-usul Istilah Sufi menurut Para Ulama * Gelar Zaman Jahiliyah Nisbah kepada seseorang bernama Al-Ghuts bin Mur yang bergelar Sufah. Pada zaman Jahiliyah, ia mengkhususkan diri dan seluruh waktunya untuk berkhidmat di Masjidil Haram. * Kekeliruan Nisbah Ahlus Suffah Banyak yang mengira berasal dari kata ahlus suffah (kaum miskin di Masjid Nabawi). Secara kaidah bahasa Arab, penisbatan ini keliru karena seharusnya menjadi Suffi, bukan Sufi. * Sifat Tumbuhan Padang Pasir Nisbah kepada tumbuhan sufanah, karena kaum ini suka mencabut tumbuhan tersebut. Pendapat ini dikritik karena secara bahasa harusnya menjadi sufani. * Filosofi Rambut Leher Nisbah kepada saofatul kaofa (rambut belakang leher), yang bermakna seorang Sufi menuntun manusia berpaling dari makhluk hanya menuju Allah. * Penggunaan Kain Wol (Suf) Nisbah kepada pakaian wol kasar yang awalnya mereka pakai sebagai simbol kesederhanaan, meskipun jika berkeringat kain ini memicu aroma kurang sedap.Hakikat Awal Sufiah dan Fase Perubahannya * Tujuan Murni Generasi Awal Pada mulanya, gerakan ini murni bertujuan melatih jiwa (riyadhah), membuang Perangai buruk seperti hasad dan riya, serta menumbuhkan akhlak mulia seperti zuhud, sabar, dan ikhlas. * Masuknya Tipu Daya Iblis Seiring bergantinya zaman, iblis mulai menyusupkan penyimpangan secara perlahan hingga puncaknya menguasai kaum Sufi generasi belakangan dengan berbagai bidah.Empat Model Tipuan Iblis terhadap Kaum Sufi * Totalitas Meninggalkan Dunia secara Keliru Menganggap zuhud harus menolak total pakaian dan makanan yang bermanfaat bagi jasad, memandang harta seperti kalajengking, hingga menyiksa diri dengan tidak mau tidur berbaring. * Terjebak Hadis Palsu karena Minim Ilmu Memiliki niat yang baik untuk prihatin, namun karena tidak paham ilmu hadis, mereka menjadikan hadis-hadis palsu sebagai dasar utama dalam memotivasi ibadah. * Menyibukkan Diri dengan Lintasan Hati Mulai berfokus membahas secara berlebihan tentang rasa lapar, kemiskinan, serta was-was atau lintasan hati, bahkan hingga menulis buku khusus tentang hal tersebut. * Membuat Aturan dan Ciri Khas Sendiri Menciptakan standar khusus seperti kewajiban memakai baju tambal-tambal (muraqaah) yang diberikan ijazah, menjauh dari ulama syariat, serta mengklaim memiliki ilmu batin.Penyimpangan Akidah dan Istilah Baru * Ritual Musik dan Tarian (Sama dan Raqs) Memasukkan unsur lantunan qasidah, nasyid, tepuk tangan, hingga joget-joget yang diklaim sebagai bentuk ibadah khusus untuk membersihkan suci jiwa. * Ilusi Cinta dan Munculnya Pemahaman Sesat Akibat memaksakan lapar secara ekstrem, akal menjadi tidak stabil hingga memicu khayalan rindu berhasrat (isyq) kepada sosok rupawan yang dikira sebagai Allah. * Tiga Mazhab Penyatuan Zat yang Kufur Melahirkan pemahaman Ittihadiyah (dua zat melebur jadi satu), Hululiyah (Tuhan menempati makhluk), dan Wahdatul Wujud (kesatuan zat bahwa makhluk adalah penampakan Tuhan). * Klaim Terbukanya Tabir Gaib (Kasyf) Mengaku bisa mengambil ilmu langsung dari Nabi secara sadar atau mimpi, atau merasa ditemui Nabi Khidir untuk menerima wahyu, Ilham, serta klaim bisa Isra Mikraj.Kritik Imam Ibnul Jauzi terhadap Kitab-Kitab Sufi * Kitab Luma as-Sufiyah (Abu Nasr assarraj) Dikritik karena memuat akidah yang rusak serta perkataan-perkataan yang dinilai hina dan keluar dari koridor syariat. * Kitab Quutul Qulub (Abu Thalib Al-Makki) Memuat banyak hadis batil, zikir palsu, tata cara salat malam yang tidak ada asalnya, serta banyak menukil klaim kasyf yang tidak jelas sumbernya. * Kitab Ihya Ulumuddin (Abu Hamid al-Ghazali) Meskipun penulisnya ahli usul dan fikih, kitab ini kontroversial karena dipenuhi hadis batil, takwil batiniah (seperti menyebut bintang dan matahari adalah hijab Allah), serta indikasi wahdatul wujud.Penyebab Manusia Mudah Terpikat Kaum Sufi * Kurangnya Ilmu Riwayat Para penulis dan pengikutnya memiliki keterbatasan ilmu tentang hadis nabi serta atsar para sahabat, sehingga mudah terbuai oleh untaian kata-kata yang tampak indah. * Mencari Kenyamanan dalam Ibadah Jiwa manusia secara tabiat menyukai hal yang santai. Berbeda dengan sirah sahabat yang penuh jihad dan ketegasan, metode sufi menawarkan kenyamanan lewat nyanyian dan tarian semalam suntuk. * Pergeseran Sikap terhadap Penguasa Jika kaum Sufi zaman dahulu sangat menjaga jarak dari penguasa demi menjaga keikhlasan, kaum Sufi belakangan justru mendekat dan menjadi pencari kedudukan dunia.KesimpulanPenyimpangan kaum Sufi terjadi karena perpindahan dari zuhud yang berdasar ilmu menjadi ritual yang berdasar perasaan dan khurafat. Islam mengajarkan zuhud yang dicontohkan Nabi dan sahabat, yaitu tetap menunaikan hak jasad dan keluarga, bukan dengan cara membuat syariat baru seperti menyiksa diri, menambal baju demi pujian, atau beribadah lewat tarian dan musik yang merupakan bentuk talbis iblis.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
N
Nailah Nurul Hanifah

📍 Jakarta Selatan

Talbis Iblis #12: Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi

Asal-Usul Kata "Sufi"Terdapat lima pendapat ulama mengenai asal-usul kata "Sufi" secara etimologi:Nisbah kepada Al-Ghauts bin Mur (bergelar Sufah): Seseorang pada zaman Jahiliyah yang memusatkan seluruh waktunya untuk berkhidmat di Masjidil Haram.Nisbah kepada Ahlus Suffah: Kelompok sahabat miskin yang tinggal di emperan Masjid Nabawi. Namun, Ibnu al-Jauzi mengkritik ini karena secara kaidah bahasa Arab, nisbah dari kata suffah seharusnya menjadi Suffi (dengan harakat dammah), bukan Sufi.Nisbah kepada Sufanah: Sejenis tumbuhan di padang pasir yang sering dicabut oleh kaum tersebut. Ini juga dikritik karena nisbahnya seharusnya menjadi Sufani.Nisbah kepada Shofatul Qafa: Rambut yang tumbuh di belakang leher. Bermakna filosofis bahwa seorang Sufi memalingkan manusia dari makhluk menuju Allah (menggiring manusia kepada kebenaran).Nisbah kepada Shuf (Bulu Domba): Merujuk pada pakaian wall/bulu domba yang biasa mereka gunakan. Kain ini jika terkena keringat atau air akan mengeluarkan bau tidak sedap.Hakikat Sufi pada Masa AwalIbnu al-Jauzi menjelaskan bahwa pada awalnya, gerakan tasawuf atau Sufi adalah gerakan zuhud.Tujuan Awal: Melatih jiwa (riyadhatun nafs) untuk melawan perangai/akhlak buruk (hasad, dengki, ingin dipuji), dan menumbuhkan perangai/akhlak mulia seperti zuhud, sabar, ikhlas, jujur, dan bijaksana (hilm).Kaum Sufi generasi pertama ini murni bertujuan mencari pahala akhirat dan membersihkan hati dari keterikatan dunia.Perubahan dan Model Tipuan IblisSeiring berjalannya waktu, iblis mulai menyusupkan tipuan (talbis) kepada kaum Sufi. Semakin berganti zaman, penyimpangannya semakin parah, terutama pada generasi belakangan (abad ke-6 hingga ke-7 Hijriah pada masa Ibnu al-Jauzi).Ibnu al-Jauzi membagi tipuan iblis ini ke dalam beberapa model utama:Model 1: Tujuannya meninggalkan dunia secara totalitas & ekstremIblis membisikkan bahwa hakikat zuhud adalah menolak semua yang bermanfaat bagi jasad. Mereka menolak makanan bergizi dan pakaian yang layak, serta menganggap harta murni seperti kalajengking.Mereka melupakan bahwa harta diperlukan untuk kemaslahatan agama (bangun masjid, haji, nafkah, dakwah).Bahkan mereka memaksakan jiwa untuk melaksanakan sesuatu yang berat. Muncul perilaku ekstrem seperti sengaja tidak mau berbaring saat tidur (tidur sambil duduk) karena dianggap terlalu nyaman.Penyebab: Niatnya baik, tetapi karena sedikitnya ilmu, mereka akhirnya berdalil menggunakan hadis-hadis palsu (maudhu') yang memotivasi hal-hal ekstrem tersebut.Model 2: Menyibukkan Diri dengan Lintasan Hati (Wasawis & Khatarat)Generasi berikutnya mulai berlebihan membahas bisikan hati, rasa lapar, dan kemiskinan. Mereka bahkan menulis buku khusus mengenai lintasan-lintasan hati ini, salah satunya dilakukan oleh Al-Harith al-Muhasibi.Model 3: Membuat Istilah dan Aturan Baru yang Mengada-adaKaum Sufi mulai mengaturnya menjadi sebuah mazhab tersendiri dengan syarat, tahapan, dan ciri khas pakaian khusus.Baju Tambal-Tambal (Al-Muraqqa'ah): Mereka sengaja membuat baju yang dipenuhi tambalan warna-warni sebagai simbol kesucian, bahkan tambalan tersebut menggunakan ijazah dari syekhnya.Nabi ﷺ dan para sahabat (seperti khalifah Umar bin Khattab yang pakaiannya memiliki 12 tambalan) memakai baju wol atau bertambal karena kondisi ekonomi yang sulit saat itu (kebutuhan & terpaksa), bukan sengaja dibuat-buat sebagai ritual ibadah. Ketika ekonomi membaik, Nabi ﷺ dan para sahabat meninggalkan pakaian wol tersebut.Ritual Nyanyian dan Tarian (Sama', Wajad, Raqs): Mereka menciptakan ritual ibadah berupa nyanyian qasidah, tepuk tangan, hingga joget/tarian yang dianggap sebagai ekspresi spiritualitas tingkat tinggi.Merasa Lebih Hebat dari Ulama: Mereka menjauh dari ulama dan menganggap ilmu syariat para ulama hanyalah "ilmu zahir", sedangkan mereka memiliki "ilmu batin."Model 4: Khayalan Spiritual akibat Melaparkan DiriAkibat sengaja melaparkan diri secara ekstrem, akal mereka menjadi tidak stabil sehingga memunculkan khayalan-khayalan aneh.Mereka mengaku kasmaran/rindu berat (isyq) kepada Allah, karena mengkhayalkan Allah sebagai sosok bermanifestasi indah atau tampan.Contoh pengakuan dari kitab Al-Insanul Kamil karya Abdul Karim al-Jili yang menggambarkan sensasi "bersatu dengan Tuhan" yang puncaknya justru berakhir pada ejakulasi pasca-sadar, sebuah indikasi kuat adanya keterlibatan gangguan jin/setan akibat ritual yang menyimpang.Model 5: Pemahaman Penyimpangan Zat (Hululiyah, Ittihadiyah, Wahdatul Wujud) Iblis menjatuhkan mereka pada keyakinan keliru mengenai hubungan pencipta dan makhluk:Al-Ittihadiyah (persatuan/menyatu): Dua zat yang melebur jadi satu kesatuan (diibaratkan seperti susu dicampur kopi).Al-Hululiyah (menempati): Zat Tuhan menempati atau masuk ke dalam jasad makhluk (diibaratkan seperti air di dalam gelas).Wahdatul Wujud (kesatuan dzat): Kesatuan eksistensi, di mana makhluk dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu zat tunggal, dan makhluk hanyalah penampakan-Nya (diibaratkan seperti ombak dengan laut).Ustadz menegaskan bahwa semua paham ini adalah bentuk kekufuran yang juga terjadi pada khilafnya kaum Nasrani mengenai hakikat Isa dan Tuhan.Ibnu Jauzi menegaskan bahwa semua keyakinan ini adalah penyimpangan akidah. Fenomena Mengaku Kasyf dan Khurafat Zaman SekarangKasyf adalah klaim terbukanya tabir gaib. Banyak tokoh sufi mengklaim bisa mengambil ilmu langsung dari Nabi ﷺ baik lewat mimpi maupun secara sadar (yakazhah). Ada pula klaim nabi sering jalan-jalan (misal mitos Nabi sering jalan-jalan di Surabaya/Bekasi).Klaim Bertemu Nabi Khidir: Bantahan: Jika Khidir masih hidup dari zaman Nabi Musa, usianya sudah lebih dari 3.200 tahun. Pertanyaannya: Mengapa Khidir tidak pernah datang membantu jihad Nabi Muhammad ﷺ? Mengapa Abu Bakar, Umar, dan ribuan sahabat tidak pernah mengaku bertemu Khidir, tetapi orang zaman sekarang (bahkan lewat perantara broker/proposal wali) dengan mudahnya mengaku bertemu Khidir berbahasa Indonesia?Klaim Isra Mi’raj Berulang: Ada tokoh yang mengaku bisa Isra Mi'raj 70 kali dalam sehari. Padahal Nabi Muhammad ﷺ saja hanya mengalaminya sekali seumur hidup.Ada juga penghinaan kepada Nabi bahwa Nabi ﷺ keluar dari kubur untuk mencium lutut seorang guru. Ini adalah bentuk perendahan terhadap nabi terakhir yang paling mulia.Kritik Ibnu al-Jauzi terhadap Kitab-Kitab SufiIbnu al-Jauzi memperingatkan umat dari beberapa kitab yang mendukung ajaran Sufi menyimpang:Abu Abdurrahman as-Sulami: Banyak membuat/memasukkan hadis palsu yang mendukung sufiyah.Abu Nashr as-Sarraj (Luma' as-Sufiyah): Berisi akidah rusak dan perkataan yang hina.Abu Thalib al-Makki (Quutul Qulub): Berisi hadis batil, ritual shalat malam tanpa asal-usul, zikir palsu, dan klaim-klaim kasyf.Al-Qusyairi (Ar-Risalah): Memasukkan istilah-istilah spiritual yang tidak diajarkan nabi.Muhammad bin Thahir al-Maqdisi: Memiliki pemahaman ibahah (membolehkan melihat wanita cantik atau lelaki tampan dengan dalih spiritual/melihat keindahan Allah).Abu Hamid al-Ghazali (Ihya Ulumuddin):Al-Ghazali adalah ulama besar ahli ushul dan fiqih, namun kitab Ihya miliknya kontroversial karena dipenuhi hadis-hadis batil (Ibnu al-Jauzi memberi uzur bahwa Al-Ghazali kurang menguasai ilmu hadis).Berisi takwil kebatinan (seperti mengartikan bintang, bulan, matahari pada kisah Nabi Ibrahim sebagai cahaya hijab Allah, bukan benda langit asli).Karena banyaknya masalah akidah dan hadis palsu, kitab ini tidak cocok untuk konsumsi orang awam.Solusi: Ibnu al-Jauzi meringkas kitab tersebut dan membuang hadis palsunya menjadi kitab Minhajul Qasidin (yang kemudian diringkas lagi oleh Al-Maqdisi menjadi Mukhtasar Minhajul Qasidin).Mengapa Orang Tertarik pada SufismePara penulis sufiyah terjebak karena keterbatasan ilmu mereka tentang hadis shahih dan riwayat para sahabat (atsar).Manusia secara psikologis tertarik pada sufisme karena metode ibadahnya dikemas secara indah dan menawarkan kenyamanan (seperti bernyanyi, berjoget, qasidah semalam suntuk), berbeda dengan sirah para sahabat Nabi yang terkesan keras (penuh dengan narasi jihad, ketegasan hukum, dan disiplin ilmu). Jiwa manusia cenderung menyukai hal yang menyenangkan. Karena itu banyak orang tertarik tanpa memeriksa kebenarannya.Perubahan Akhir: Kaum Sufi zaman dahulu terkenal sangat menjauhi penguasa/sultan dan lari dari dunia, sedangkan kaum Sufi belakangan justru banyak yang mendekati sultan demi mencari kedudukan dan jabatan duniawi.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
E
Elsa Ulfah Hakim

📍 Luar Indonesia

Talbis Iblis 12: Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi

Talbis Iblis 12: Talbis Iblis Terhadap Kaum SufiUstadz Dr. Firanda AndirjaKhilaf di kalangan para ulama dan kaum sufiah tentang asal muasal kata sufiah ada 5 pendapat, yaitu:Nisbah kepada seseorang yang dikenal dengan suffah, namanya adalah Al Ghouts bin Murr, ia adalah seorang yang mengkhidmatkan dirinya kepada Al Masjid Al Haram di zaman jahiliyah.Nisbah kepada penghuni suffah namun Ibnu Jauzi mengkritik karena seharusnya jika dinisbahkan kepada penghuni suffah maka seharusnya namanya suffii.Nisbah kepada suffanah yaitu semacam tumbuhan  karena mereka suka mencabut tumbuhan tersebut di padang pasir. Namun hal ini juga dikritik oleh Ibnu Jauzi. Jika dinisbahkan kepada suffanah maka seharusnya namanya menjadi suufaanii bukan sufi.Nisbah kepada sofwatul qofa yaitu rambut yang tumbuh di belakang leher seakan-akan seorang sufi menggiring orang kepada Allah dan memalingkan dari makhluk.Nisbah kepada suuf (bulu domba) karena pakaian mereka dari wol.Sejarah muncul sufiah:Kaum sufiah ini pada asalnya adalah kaum yang zuhud. Intinya tasawwuf atau sufiyah di sisi mereka ada pelatihan jiwa untuk menolak akhlak yang buruk dan melatih untuk akhlak yang mulia, seperti zuhud, sikap sabar atau bijak, ikhlas, jujur. Sifat-sifat mulia ini yang akan mendatangkan pujian di dunia dan di pahala di akhirat. Demikianlah asalnya mereka. Kemudian mereka berubah karena iblis menggoda mereka dalam banyak perkara. Sehingga mereka rancu dalam berbagai hal. Semakin bertumbuh zaman semakin parah, hingga puncaknya pada orang-orang belakangan. Jika generasi sudah lewat maka iblis semakin menggoda generasi berikutnya sampai iblis benar-benar menguasai kaum sufiah belakangan.Model-model talbis iblis:Di antaranya ada iblis menggambarkan kepada kaum sufiah yang dimaksud dengan hakekat tasawwuf adalah meninggalkan dunia secara totalitas. Akhirnya mereka terjebak dan menganggap bahwa zuhud yang benar adalah dengan meninggalkan dunia. Akhirnya mereka meninggalkan hal-hal yang sebenarnya bermanfaat untuk jasad mereka. Mereka menyamakan harta dengan kalajengking. Mereka lupa bahwa harta itu diciptakan untuk kemaslahatan. Bahkan mereka memaksakan jiwa untuk melakukan perkara-perkara yang berat sampai-sampai di antara mereka ada yang tidak ingin berbaring. Tujuan mereka baik ingin zuhud tetapi jalan yang ditempuh tidak benar. Di antara mereka ada yang karena sedikitnya ilmu akhirnya ia mengamalkan hadits-hadits palsu dan ia tidak sadar.Hadits-hadits palsu itu tidak boleh diamalkan bahkan dilarang untuk disebarkan.Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ“Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.” (HR. Bukhari Muslim)Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:مَنْ حَدَّثَ عَنِّيْ بِحَدِيْثٍ يَرَيْ أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ“Siapa yang menyampaikan hadits dariku dengan suatu hadits yang masih diduga bahwa itu adalah dusta, maka ia termasuk salah satu dari dua pendusta.” (HR. Muslim)Pembahasan terkait dengan Al-Wasawis wal Khatarat  yaitu prasangka-prasangka, apa yang melewati lintasan-lintasan hati. Kemudian datanglah kaum-kaum sufiah yang lain dan mereka mulai membahas tentang lapar, kemiskinan, bisikan-bisikan dan lintasan-lintasan hati dan bahkan mereka menulis buku tentang Al-Wasawis wal Khatarat. Di antaranya Al Harits Al Muhasibi, ia adalah ahli ilmu di zaman tersebut yang terjebak dalam beberapa kesalahan.Mereka mulai mengatur dan merapihkan madzhab sufiah. Mereka ingin menjelaskan bahwa tasawwuf itu memiliki sifat-sifat khusus yang tidak dimiliki oleh yang lain, seperti Al Muroqo’ah (baju yang ditambal), mendengar nasyid-nasyid, menari-nari, tepuk tangan.Dahulu Rasulullah pernah menggunakan baju yang ditambal-tambal. Namun Rasulullah bukan sengaja menggunakannya tetapi terpaksa karena kondisinya saat itu.Aisyah Radhiallahu’anha pernah ditanya mengenai kegiatan Rasulullah di rumah.Aisyah Radhiallahu ‘anha menjawab:"Beliau adalah seorang manusia biasa; beliau menjahit sendiri bajunya (menambal-nambal bajunya) memerah sendiri kambingnya, dan melayani serta mengerjakan urusan-urusan rumah tangganya sendiri." (HR. Ahmad, dan dinilai shahih oleh para ulama).Kemudian perkara mereka semakin berkembang dan semakin parah. Mulailah guru-guru mereka berbicara tentang kondisi-kondisi hati. Mereka semakin parah sampai jauh dari para ulama. Bahkan mereka menganggap bahwa mereka lebih hebat dari pada ulama karena ulama hanya belajar ilmu dzohir sedangkan mereka memiliki ilmu batin.Di antara mereka sengaja melaparkan diri dan saking laparnya membuat akalnya tidak stabil dan muncul khayalan-khayalan aneh. Hingga mereka mengkhayal Allah adalah seseorang yang indah bentuknya sehingga mereka rindu untuk bertemu dengan sosok tersebut.Empat model talbis iblis ini memunculkan aqidah-aqidah yang menyimpang. Setelah itu muncullah tariqah-tariqah yang banyak. Maka rusaklah aqidah mereka.Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa madzhab bersatunya Allah dengan makhluk ada 3 model, yaitu:Al-Ittihadiyyah (persatuan): dua zat yang bersatu seperti susu+kopi = kopi susu.Al-Hululiyyah (menempati): contoh seperti air yang ditumpahkan ke dalam gelas.Wahdatul Wujud (kesatuan zat): satu zat yang dilihat seperti 2 atau tiga zat seperti ombak, lautan itu satu tapi memiliki ombak yang bermacam-macam dan ini semua ada penampakan dari lautan. Jadi menurut mereka makhluk dan Allah satu kesatuan. Makhluk itu adalah penampakan Tuhan. Dan hanya orang yang ahli yang bisa melihat kesatuan tersebut. Hal ini adalah kekufuran.Iblis terus menggoda mereka sehingga mereka terjatuh ke dalam berbagai macam bid’ah. Akhirnya mereka memiliki sunnah-sunnah tersendiri yang bukan sunnah Nabi.Ibnu Jauzi berkata bahwa senantiasa iblis membuat mereka kacau balau dengan berbagai macam bid’ah hingga mereka membuat sunnah-sunnah spesial untuk kaum mereka sendiri.Ibnu Jauzi membahas orang-orang yang menulis tentang sufiah dan Ibnu Jauzi memperingatkan kitab-kitab yang mendukung sufiah, di antaranya adalah:Abu Abdurrahman Assulami yang membuat hadits-hadits palsu yang mendukung sufiah (yang menyimpang).Abu Nasr Assaraj yang menulis buku berjudul Lama Asufiah yang berisi aqidah-aqidah yang rusak dan perkataan-perkataan yang hina.Abu Thalib Almakki yang menulis buku berjudul Qutul Qulub. Di dalam buku tersebut berisi hadits-hadits bathil dan aqidah yang menyimpang.Dalam buku tersebut juga menjelaskan tentang sebagian orang yang mengalami kasyf (membuka tabir) yaitu orang yang diberikaan anugerah oleh Allah sehingga terbuka tabir darinya.Sehingga terkadang mereka berbicara tentang ghaib. Mereka berbicara jika orang yang mengalami kasyf itu ada berbagai macam cara, diantaranya:mengambil ilmu langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendatangi mereka dalam keadaan sadar atau mimpi. Sebagian sufiah masih menyangka bahwa Nabi masih hidup dan suka jalan-jalan.ada yang menganggap bahwa kasyf melalui Nabi Khidir yang datang. Mereka mengatakan Nabi Khidir masih hidup. Padahal Nabi dan sahabat tidak pernah sekalipun berbicara bertemu Nabi Khidir.Ada yang menganggap bahwa mendapatkan ilham dari Allah, atau firasat, atau suara-suara.Abdul Karim bin Hawazin Al-Quusyairi dengan kitabnya yaitu Ar risalah yang berisi tentang istilah keajaiban-keajaiban sufiah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Muhammad bin Thahir Al Maqdisi yang menyebutkan dibukunya hal-hal yang apabila seorang berakal malu untuk menyebutnya seperti boleh melihat wanita cantik, lelaki tampan. Ia menyebutkan juga hikayat yang tidak benar, yaitu bahwa ada seorang ulama yang melihat gadis cantik di Mesir kemudian berkata “shallallahu ‘alaihaa” (bersalawat kepada gadis cantik tersebut).Abu Nuim Al Asbahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya, ia menyebutkan para sahabat sebagai kaum sufiah. Ibnu Jauzi pun membantah karena istilah sufiah sekarang bukan sekedar Zuhud dan mereka memiliki keyakinan-keyakinan tertentu.Abu Hamid Al Ghazali dengan kitabnya yang paling terkenal yaitu Ihya Ulumuddin. Ia mengisi bukunya dengan hadits-hadits bathil. Tetapi Ibnu Jauzi memberi udzur bahwa mungkin ia tidak tahu bahwa itu adalah hadits-hadits bathil. Ia juga menyebutkan ilmu tentang mukasyafah (ilmunya kaum sufiah), ia juga keluar dari aturan fiqih padahal ia ahli fiqih. Ia juga menafsirkan perkataan Nabi Ibrahim yang melihat bintang, rembulan, matahari yang ada di dalam surah Al An’am itu bukan benda-benda langit tetapi itu adalah cahaya yang merupakan hijab Allah. Ini hanyalah takwil padahal Nabi Ibrahim memang membicarakan tentang bintang, rembulan dan matahari karena pada saat itu banyak orang yang menyembah bintang, rembulan dan matahari. Ibnu Jauzi membatahnya bahwa penafsiran seperti itu seperti penafsir kebatinan yang keluar dan kontekstual tapi tidak memiliki kaidah. Dalam bukunya yang lain, Al Ghazali berkata bahwa kaum sufi dalam kondisi terjaga mereka dapat melihat malaikat, para Nabi dan mendengar suara-suara hingga mereka sampai pada persaksian sesuatu yang tidak bisa diungkapkan kata-kata.Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa kitab Ihya Ulumuddin itu memiliki faedah dan ada hal yang tidak benarnya juga.Ibnu Jauzi pun akhirnya menulis buku ringkasan Ihya Ulumuddin agar buku ini menjadi bermanfaat dengan diberi judul Minhajul Khasidin. Beliau hilangkan hadits-hadits palsu di dalamnya. Kemudian buku tersebut diringkas lagi oleh Al Maqdisi dengan judul Mukhtasar minhajil.Di akhir, Ibnu Jauzi memberikan uzur kepada para penulis ini sebab karena ilmu mereka yang sedikit tentang hadits-hadits Nabi dan ilmu mereka tentang islam dan riwayat sahabat nabi juga kurang. Mereka akhirnya semangat kepada istilah-istilah sufiah yang ditulis oleh mereka karena mereka senang dengan tulisan-tulisan kaum sufiah dan mereka sudah terpaut dihati mereka bahwa zuhud itu baik. Mereka juga melihat kondisi orang sufiah itu baik dan perkataannya indah. Sedangkan ketika membaca sejarah sahabat agak sulit. Kecondongan manusia terhadap kaum sufiah sangat kuat karena tariqah (metodenya kaum sufiah) dzohirnya bersih dan ibadah namun kenyataannya di dalamnya ada “kenyamanan” seperti menari, menyanyi, yang mereka menganggap itu semua ibadah dan jiwa manusia itu juga cenderung condong kepada hal yang menyenangkan.Ibnu Jauzi berkata dulu sufiah di zaman awal mereka menjauh dari para penguasa namun sufiah zaman sekarang, teman-temannya para penguasa (mencari kedudukan).

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
D
Deni trisiananingrum

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Talbis iblis bagian 12

Kitab TALBIS IBLIS - “Tipuan Iblis”karangan Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Ibnul JauziBagian 12Oleh Ustadz Firanda AndirjaSumber: Youtube Firanda Andirja Talbis Iblis-12BAB KESEPULUH: TENTANG TIPU DAYA IBLIS PADA PARA SUFI DARI GOLONGAN AHLI ZUHUDBagian 2Asal usul Sufi ◦ Nisbah kepada seseorang yang dikenal dengan Shufah. Namanya adalah Al ghouts bun murr, seorang yang mengkhidmadkan dirinya kepada al masjid al haram di zaman jahiliyyah. ◦ Nisbah kepada penghuni suffah (ahli serambi). Sebab Ahli Shuffah adalah orang-orang fakir yang datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa keluarga dan harta. Maka dibuatkan untuk mereka serambi (shuffah) di masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan dikatakan Ahli Shuffah. Menisbatkan sufi kepada Ahli Shuffah adalah keliru karena jika demikian,seharusnya dikatakan Shuffi ◦ Nisbah kepada ash shufanah yaitu tumbuhan, karena mereka suka mencabut tumbuhan tersebut dipadang pasir. Ini juga keliru karena jika dinisbatkan kepadanya, seharusnya dikatakan Shufani ◦ Nisbah kepada shufah al qafa yaitu rambut yang tumbuh dibelakang leher seakan akan seorang sufi menggiring kepada Allah dan memalingkan dari makhluk. ◦ Nisbah kepada ash-shuf (bulu domba ) karena pakaian mereka dari wolIbnul jauzi berkata: "Demikianlah para pendahulu kaum ini. Iblis menipu mereka dalam beberapa hal, kemudian menipu orang orang setelah mereka dari para pengikut mereka. Setiap kali berlalu satu generasi, dia menambah campur tangannya pada generasi kedua sehingga bertambah tipuannya pada mereka hingga dia menguasai orang-orang belakangan dengan penguasaan yang sempurna.Model2 talbis iblis bagi Sufi: ◦ tujuannya secara umum meninggalkan dunia namun berlebihan. maka mereka menolak apa yang memperbaiki badan mereka dan menyamakan harta dengan kalajengking. Mereka lupa bahwa harta diciptakan untuk maslahat. Mereka berlebihan dalam memberatkan jiwa hingga di antara mereka ada yang tidak berbaring. Mereka ini tujuannya baik, hanya saja tidak berada di jalan yang benar. Di antara mereka ada yang karena sedikitnya ilmu, mengamalkan hadis-hadis palsu yang sampai kepadanya tanpa dia sadari." ◦ Pembahasan terkait dengan tentang kelaparan, kemiskinan, bisikan-bisikan (waswas), dan pikiran- pikiran, ◦ Pembahasan yang memperhalus madzhab tasawuf dan mengkhususkannya dengan sifat-sifat yang membedakannya,yaitu dengan mengenakan jubah tambal sulam, mendengarkan musik spiritual (sama'), mengalami keadaan ekstase (wajd), menari, bertepuk tangan, dan mereka dibedakan dengan kebersihan dan kesucian yang berlebihan. ◦ para syaikh sibuk dengan meletakkan aturan- aturan untuk mereka, berbicara tentang pengalaman-pengalaman spiritual mereka, dan menjauhkan diri dari para ulama. Bahkan mereka melihat apa yang mereka alami atau ilmu-ilmu yang mereka miliki hingga mereka menamakannya "ilmu batin" dan menjadikan ilmu syariat sebagai "ilmu zahir" ◦ Menuju khayalan rusak rusak sehingga mengaku mencintai Yang Haq dan tergila-gila kepada-Nya, seolah-olah mereka membayangkan sosok yang indah rupanya lalu tergila-gila kepadanya. Orang-orang ini berada antara kekufuran dan bid'ah.Setelahnya munculah banyak thariqat2 dalam sufi: ◦ Di antara mereka ada yang mengatakan hulul (Allah bersemayam dalam makhluk), ◦ di antara mereka ada yang mengatakan ittihad (bersatunya Allah dengan makhluk) ◦ diantara mereka ada yang mengatakan wahdatul wujud (kesatuan zat). Iblis terus menggoncang mereka dengan berbagai macam bid'ah hingga mereka membuat sunnah-sunnah untuk diri mereka sendiri.Ibnul jauzi mentahzir/memperingatkan kitab2 yang mendukung sufiah, diantaranya: ◦ datang Abu Abdurrahman As-Sulami lalu menyusun untuk mereka kitab "As-Sunan" dan mengumpulkan untuk mereka "Haqa'iq At-Tafsir". Dia menyebutkan dari mereka hal-hal yang mengherankan dalam menafsirkan Al- Quran dengan apa yang terlintas dalam pikiran mereka tanpa menyandarkannya kepada dasar-dasar ilmu, tetapi mereka memaksakan tafsiran tersebut sesuai dengan madzhab mereka. Sungguh mengherankan kehati-hatian mereka dalam hal makanan tetapi bebas dalam menafsirkan Al- Quran. ◦ Dan Abu Nasr As-Sarraj menyusun untuk mereka sebuah kitab yang dinamainya "Luma' Ash-Shufiyyah" (Kilauan Para Sufi). Dia menyebutkan di dalamnya akidah yang buruk dan perkataan yang tercela ◦ Abu Thalib Al-Makki menyusun untuk mereka "Qut Al-Qulub" (Makanan Hati). Dia menyebutkan di dalamnya hadits-hadits palsu dan hal-hal yang tidak memiliki dasar berupa shalat-shalat hari dan malam serta hal-hal palsu lainnya. Dia menyebutkan di dalamnya akidah yang rusak dan mengulang- ulang perkataan "berkata sebagian ahli mukasyafah" - ini adalah perkataan yang kosong. Dia menyebutkan di dalamnya dari sebagian sufi bahwa Allah Azza wa Jalla menampakkan diri di dunia kepada para wali-Nya. ◦ Abu Nu'aim Al-Ashbahani lalu menyusun untuk mereka kitab "Al-Hilyah" dan menyebutkan dalam batasan-batasan tasawuf hal-hal yang mungkar dan buruk. Dia tidak malu menyebutkan dalam para sufi: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan para pemimpin sahabat radhiyallahu anhum. Dia menyebutkan hal-hal yang mengherankan dari mereka dan menyebutkan di antara mereka Syuraih Al-Qadhi, Al-Hasan Al- Bashri, Sufyan Ats-Tsauri, dan Ahmad bin Hanbal. ◦ Abdul Karim bin Hawzan Al-Qusyairi menyusun untuk mereka kitab "Ar- Risalah" lalu menyebutkan di dalamnya hal-hal mengherankan tentang fana', baqa', qabdh, basth, waqt, hal, wajd, wujud, jam', tafriqah, shahw, sukr, dzauq, syurb, mahw, itsbat, tajalli, muhadharah, mukasyafah, lawaaih, thawaali', lawaami', takwin, tamkin, syari'ah, haqiqah, dan lain-lain dari percampuradukan yang tidak berarti apa-apa. Dan penafsirannya lebih mengherankan lagi. ◦ Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi datang lalu menyusun untuk mereka "Shafwat At-Tashawwuf". Dia menyebutkan di dalamnya hal-hal yang membuat orang berakal malu menyebutkannya. Kami akan menyebutkan darinya apa yang pantas disebutkan di tempat-tempatnya jika Allah menghendaki. ◦ "Ibnu Thahir menganut madzhab ibahah (membolehkan yang haram)." Dia berkata: "Dia menyusun sebuah kitab tentang dibolehkannya memandang kepada yang dicintai. Dia mengemukakan di dalamnya hikayat dari Yahya bin Ma'in berkata: 'Aku melihat seorang budak perempuan di Mesir yang cantik, maka aku berdoa: shallallahu alaiha.' Dikatakan kepadanya: 'Apakah engkau berdoa untuknya?' Dia berkata: 'Shallallahu alaiha wa 'ala kulli malih (semoga Allah memberkahi dia dan setiap yang cantik).'" ◦ Abu Hamid Al-Ghazali lalu menyusun untuk mereka kitab "Al-Ihya'" (Ihya Ulumudin) dengan cara kaum tersebut dan memenuhinya dengan hadits-hadits palsu padahal dia tidak mengetahui kepalsuan-kepalsuan tersebut. Dia berbicara tentang ilmu mukasyafah dan keluar dari kaidah fikih. Dia berkata bahwa yang dimaksud dengan bintang, matahari, dan bulan yang dilihat Ibrahim shallallahu alaihi wasallam adalah cahaya-cahaya yang merupakan hijab Allah Azza wa Jalla, bukan benda-benda yang dikenal. Ini termasuk jenis perkataan kaum Bathiniyyah. ◦ Abu hamid al ghazali dalam kitabnya "Al-Mufshih bil Ahwal": "Sesungguhnya para sufi dalam keadaan terjaga mereka menyaksikan malaikat dan ruh para nabi, mendengar suara-suara dari mereka dan mengambil manfaat dari mereka. Kemudian keadaan naik dari menyaksikan bentuk kepada derajat-derajat yang sempit untuk diungkapkan oleh ucapan."Pendapat Ibnul jauzi tentang kitab2 tersebut: Sebab penyusunan karya-karya seperti ini oleh orang- orang tersebut adalah sedikitnya pengetahuan mereka tentang sunnah, Islam, dan atsar, serta perhatian mereka kepada apa yang mereka anggap baik dari jalan kaum tersebut. Mereka menganggapnya baik karena telah tertanam dalam jiwa-jiwa pujian terhadap zuhud, dan mereka tidak melihat keadaan yang lebih baik dari keadaan kaum ini dalam penampilan, dan tidak ada perkataan yang lebih halus dari perkataan mereka. Dalam perjalanan hidup salaf terdapat sejenis kekasaran.Kemudian kecenderungan orang-orang kepada kaum ini sangat kuat karena apa yang kami sebutkan bahwa ini adalah jalan yang zahirnya kebersihan dan ibadah, sedangkan di dalamnya terdapat kenyamanan dan sama' (musik spiritual), dan tabiat cenderung kepadanya. Para sufi awal menjauh dari sultan/pemimpin dan para penguasa, tetapi kemudian mereka menjadi teman-teman.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026

TALBIS IBLIS terhadap orang2 sufi

1. Asal-usul Istilah Sufi Ustadz menjelaskan beberapa pendapat mengenai etimologi kata "Sufi", termasuk nisbah kepada sufah (orang yang berkhidmat di Masjidil Haram), ahlus suffah, tumbuhan sufanah, hingga pakaian dari bulu domba (suf).2. Pergeseran Hakikat SufiAwalnya, tasawuf adalah upaya melatih jiwa untuk zuhud dan berakhlak mulia. Namun, seiring waktu, kaum Sufi menyimpang karena godaan iblis, yang puncaknya terlihat pada masa Ibnu Jauzi (abad ke-6/7 Hijriah).3. Model-Model Tipuan Iblis Globalitas Meninggalkan Dunia: Menganggap zuhud harus total meninggalkan manfaat jasad, bahkan sampai melakukan hal ekstrem (seperti tidak mau berbaring).Sibuk dengan Lintasan Hati (Khatarat): Mulai fokus pada hal-hal batiniah hingga menulis buku tentangnya.Ciri Khas Pakaian dan Ritual: Menciptakan simbol-simbol khusus seperti baju tambal (muraqqa'ah), musik, zikir, dan tarian (raqs) yang dianggap sebagai bagian dari ibadah.Khayalan dan Akidah Menyimpang: Munculnya pemahaman seperti hululiyah, ittihadiyah, dan wahdatul wujud (persatuan Tuhan dengan makhluk).4. Kritik terhadap Kitab-Kitab Sufi Ustadz menyebutkan beberapa karya yang dikritik Ibnu Jauzi karena dianggap mengandung hadis palsu, bidah, atau akidah yang menyimpang, seperti:Luma' al-Sufiyah karya Abu Nasr al-Sarraj.Quut al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki.Ar-Risalah karya al-Qusyairi.Ihya Ulumuddin karya al-Ghazali (yang dikritik karena memuat banyak hadis batil, meskipun Ibnu Jauzi memberi uzur kepada penulisnya).5. Kesimpulan Banyak orang cenderung mengikuti jalan Sufi karena zahirnya terlihat bersih dan ibadah yang dilakukan dirasa lebih 'nyaman' bagi jiwa daripada syariat yang tegas. Namun, Ustadz menekankan bahwa metode yang benar harus selalu berpijak pada al-Qur'an dan Sunnah, bukan sekadar perasaan atau khayalan.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
N
Nursafitri

📍 Kabupaten Berau

Talbis iblis #12 talbis iblis terhadap kaum sufi

Talbis iblis #12 : Talbis iblis terhadap kaum sufiUstadz Firanda andirja حفظهTipuan syaitan terhadap kaum shufiyah.menurut khilaf dikalangan para ulama dan juga para kaum sufiyyah tentang asal muasal kata sufiyyahPendapat pertama Nisbah kepada seseorang yang dikenal dengan (suffah) yaitu sekelompok orang yang dikenal dengan gelarnya adalah sufah dan namanya adalah Al ghaust bin murr yang dizaman jahiliyah orang ini berkhidmatkan dirinya kepada Al masjidil haramPendapat kedua nisbah kepada penghuni suffah        Yang dikritik oleh imam Ibnul Jauzi kalau nisbah kepada suffah harusnya suffi padahal yang dikenal adalah صوفيّ ada و Karana suffah itu bukan suffah tapi suwfah kalau nisbah kepadanya صوفيّ sehingga tidak tepat dinisbahkan kepada ahli assuffahNisbah kepada suffanah yaitu tumbuhan , Karena mereka suka mencabut tumbuhan tersebut di padang pasirKalau dinisbahkan kepada suwfana seharusnya menjadi suwfaniNisbah kepada sufa Al qofa yaitu rambut yang tumbuh di belakang leher , seakan akan seorang sufi menggiring orang kepada Allah subhanahu wa ta'ala (Al Haq) dan memalingkan orang dari makhluqNisbah kepada Ash shuf (bulu domba) karena pakaian mereka dari wolImam Ibnul JauziIntinya : 1 asal dari tasawuf menurut para sufiah adalah pelatihan jiwa untuk menolak akhlak yang buruk dan melatih untuk akhlak yang mulia seperti Zuhud ,sikap sabar , atau bijak , ikhlas, jujur , sifat2 mulia ini yang akan mendatangkan pujian didunia dan juga pahala di akhirat. Demikianlah awalnya mereka, Ini hakikat suffiah. 2 . Lalu iblis menggoda mereka dalam perkara > semakin bertambah parah hingga puncaknya pada orang2 belakangan .Kata Ibnul Jauzi dulunya seperti ini " maka iblis pun menipu mereka membuat mereka rancu dalam banyak hal , kemudian lebih parah lagi iblis menipu lagi orang orang yang datang setelah generasi tersebut , jika generasi sudah lewat maka iblis semakin menggoda generasi berikutnya , iblis semakin menipu mereka , sampai iblis benar2 menguasai pada kaum shufiyah.Model2 talbis iblisTujuannya secara umum meninggalkan dunia> namun berlebihanPembahasan terkait dengan persangkaan2 /lintasan hati , kemudian datanglah kaum2 yang lain , mulailah mereka berbicara tentang lapar , kemiskinan, lintasan2 hati , dan bahkan mereka menulis buku tentang lintasan2 hati .Tasawuf memiliki sifat2 khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain seperti Al muroqoah (pakaian yang ditambal2)  ciri kaum shufiyah memakai baju tambal2 ,Menuju pada khayalan yang aneh2Lalu rusaklah aqidah dan bi'dah mereka dengan berbagai modelMadzhab bersatu nya Allah dengan makhluk ada 3 modelAl ittihadiyah (persatuan) /menyatu > 2 dzat yang bersatu , contoh " susu dicampur dengan kopi diaduk menjadi kopi susu , sehingga tidak terlihat lagi mana kopi dan mana susu" .Al hululiyah (menempati) contoh " air yang ditumpahkan kedalam gelas , gelasnya ada dan juga airnya , tapi terbedakan satu dengan yang lain , ada air menempati tempat itu namanya hululiyahWahdatul wujud(kesatuan dzat) bukan  2 dzat satu dzat tapi dilihat dari sisi pandangan seperti 2 atau 3 , padahal dia satu kesatuan .

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
S
Sortha Nauli

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Ringkasan Bab 12 # Talbis Iblis terhadap kaum sufi

TALBIS IBLIS 12 # Talbis Iblis terhadap kaum sufiUstadz DR.Firanda Andirja M.AAda beberapa khilafiyah tentang asal muasal sufiah. Nisbah kepada seseorang yg di kenal dg suffah, nama nya Al ghouts bin mur (seseorang yg mengkhidmatkan diri nya kpd mesjdil haram) di zaman jahiliyah.Nisbah kepada penghuni suffahNisbah kpd suffanah (tumbuhan) krn bnyk suku mencabut tumbuhan tsb di padang pasir.Nisbah kpd suffi yaitu rambut yg tumbuh di belakang leher, seakan seorg sufi menggerakan kpd Allah.Nisbah kpd bulu domba krn pakaian suff dri wol.menurut Ibnu Jauzi intinya tasawuf atau sufiah, di sisi mereka ada pelatihan jiwa dan berusaha untuk menolak perangai dan akhlak2 yg buruk dan berusaha membawa perangai kpd akhlak yg indah, yg akan membawa kebaikan di akhirat.Ibnu Jauzi berkata, awalnya sufiah muncul tujuanya adl untuk zuhud thd dunia, kemudian berubah, semakin bertambah zaman semakin parah. Iblis menipu mereka membuat rancu dalam.segala hal. Semakin menyimpang. Diantara tipuan iblis kpd mereka ada 4 model Diantaranya ada yg meninggalkan dunia secara totalitas. Diantara mereka karena sedikit ilmu, mereka mengamalkan hadist hadist palsu. Terkait persangkaan2, Ibnu Jauzi mengatakan, mulailah mereka mengatakan ttg kelaparan, bisikan2 dan persangkaan2 hati. Kemudian dtg lagi model yg merapikan mahzab sufiah. Mereka ingin menjelaskan kl tasawuf itu memiliki sifat2 khusus. Mereka mempunyai ciri2 khusus seperti menari, menyanyi dan bertepuk. Mereka jauh dari para ulama. Bahkan mereka menganggap lbh utama dari para ulama.Diantara mereka ada yg sengaja melaparkan diri hingga timbul ilusi. Dan mereka berkata kl mereka berkhayal bertemu Allah. Diantara mereka ad yg berpendapat al hululiyah (menempati) ad yg berpendapat al ittihadiyah (2 zat yg menyatu) dan ad wahdatul wujud (diliat dari beberapa pandangan,pdhal cm 1 wujud). Setela itu berkembang lah mereka. Dari 4 ini muncullah akidah2 yg menyimpang. Maka rusaklah akidah mereka. Ibnu Jauzi mengingatkan tentang kitab2 yg mendukung sufiah.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
F
Fatimah Azzahrah

📍 Kabupaten Banggai

Talbis iblis terhadap kaum Sufi bagian 1

Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc. M. ATALBIS IBLIS#12Talbis iblis terhadap kaum Sufi bag - 15 pendapat asal muasal munculnya kata sufiyyah‌Nisbah kepada seorang yang di kenal dengan sufah (صوفة) namanya Al Ghouts bin murr, seseorang yang mengkhidmatkan dirinya ke masjidil Haram pada zaman Jahiliyyah. ‌Nisbah kepada penghuni suffah الصفّة. Harusnya menjadi الصّفّي. (tdk tepat) ‌Nisbah kepada sufanah الصوفانة yaitu tumbuhan, karena kaum sufiyyah suka mencabut tumbuhan di padang pasir. Harusnya menjadi الصوفاني (Tdk tepat) ‌Nisbah kepada صفوة القفا، Haiti rambut yang tumbuh di belakang leher, seakan-akan seorang Sufi menggiring orang kepada Allah itu adalah hak, dan memalingkan orang dari makhluk. ‌Nisbah kepada الصوف (buku domba) Karena awalnya mereka memakai pakaian dari wol. Sejarah munculnya sufiyyahasal dari tasawwuf para sufiyyah adalah latihan jiwa untuk menolak perangai dari akhlak yang buruk, dan membawa perangai kepada akhlak yang indah. Kemudian berubah, ibkis menggoda mereka dengan banyak hal, semakin bertambah nya zaman semakin para, hingga puncaknya pada orang² belakangan. Awal kaum Sufiyyah itu bagus, karena ingin berakhlak mulia, tetapi semakin lama semakin menyimpang, dan semakin para di zaman Ibnul JauziModel² talbis iblis‌tujuannya meninggalkan dunia secara umum, namun berlebihan. Mereka menyamakan harta seperti kalajengking, mereka lupa bahwasanya harta di ciptakan untuk kemaslahatan. Mereka memaksakan jiwa untuk melakukan perkara² yang berat. sampai² tdk mau tidur sambil berbaring. ‌pembahasan terkait dengan prasangkaan², lintasan² hati. ‌tasawwuf memiliki sifat² khusus yang tdk di milik yang lain. Harus ada aturan² yang mereka jalankan. Sebagian kaum Sufi di jazaair mereka memakai baju yang di tambal² sehinggakan berwarna-warni, sampai ada ijazah tambalan. Dulu Nabi juga memakainya baju yang di tambal² karena terpaksa. Ciri khas Sufi memakai baju tambal², mendengar nasyid². Berkumpul dan mendengarkan kasidah², joget² khusus, tepuk tangan, sebagian mereka semakin keren dengan semakin bersih dan semakin suci. Mereka semakin jauh dari para ulama, bahkan mereka menganggap diri mereka lebih hebat dari para ulama, karena ulama hanya belajar ilmu dzahir, adapun mereka punya ilmu batin.‌Sebagian mereka ada yang sengaja lapar, sehingga akalnya tdk stabil sehinggal muncul khayalan² yang aneh. Dari empat ini muncul aqidah² yang menyimpang, dan muncul berbagai macam tarikat. Dan iblis terus menggoda mereka sehinggal mereka terjatuh dalam berbagai macam bid'ah, sehingga mereka punya sunnah² tersendiri. Madzhab bersatunya Allah dengan makhluk ‌Al Ittihadiyyah (persatuan) maksudmu Dua dzat yang bersatu‌Al Hululiyyah (menempati) ‌Wihdatul wujud (kesatuan dzat (wujud)Ini semua kekufuran. Ibnul Jauzi memperingatkan kitab² yang mendukung sufiyyah (yang menyimpang) ‌Abu Abdurrahman As Sulamiy membuat hadits² palsu yang mendukung sufiyyah. ‌Abu Nasr As sarraj membuat buku yang judulnya luma' as sufiyyah, isi bukunya menyebutkan aqidah² yang rusak, membuat perkataan² yang hina. ‌Abu Thalib Al Makky membuat buku judulnya kutul qulub, isi bukunya hadits² batil, sholat² malam yang tdk ada asalnya, dzikir² palsu, dan aqidah yang rusak. Diantara bentuk kasf (terbuka tabir) - Kasf (terbuka tabir) karena mengambil ilmu langsung dari nabi, dng kondisi sadar atau dalam mimpi. "Sebagian sufiyyah menyangka nabi masih hidup dan suka jalan²".- Diantara mereka ada yang mengatakan kasf lewat nabi Khidir. Sedangkan Rasullulah td pernah bertemu dengan khidir- Merasa ada ilham datang langsung dari Allah- Mengatakan ada firasat, dan lain-lain. ‌Abdul Karim bin Al Kusyairiy menulis kitan Ar risalah, di sebutkan di dalamnya tentang keajaiban² istilah² sufiyyah (Yang tdk di ajarkan oleh nabi). ‌Muhammad thahir Al Maqdisi menulis buku sofwatu tasawwuf, orang ini menyebutkan hal² yang seseorang yang berakal malu untuk menyebutnya.Abu Hamid Al Ghazali menulis buku untuk kaum sufiyyah,kitab Al ihya' menulis buku sebagaimana metode kaum sufiyyah, dan dia penuhi buku nya dengan hadits² batil. Tetapi Ibnu Jauzi memberi udzur, mungkin dia tdk tahu bahwasanya yang dia tulis hadits² batil. Bahkan dia menyebutkan ilmu tentang mukasyafah (ilmu kaum sufiyyah), dan dia keluar dari aturan fiqih, dan dia mengatakan dalm bukunya "adapun yang Allah sebutkan dalam surat Al An'am yang Nabi Ibrahim mengatakan aku melihat bintang, rembulan, dan matahari", maksudnya itu bukan benda² langit, melainkan cahaya yang merupakan hijab Allah. Dalam bukunya yang lain dia berkata "Kaum Sufi itu dalam keadaan terjaga mereka melihat malaikat, para nabi, dan mendengar suara², dan mereka mengambil faedah dari nabi dan para malaikat". Sampai mereka sampai pada persaksian sesuatu yang tdk bisa di ungkapkan dengan kata². Ibnul Jauzi menulis buku ringkasan dari buku ihya' ulumuddin judulnya Minhajul qasidin. Di hilangkan yang tdk bermanfaat dan hadits² yang palsu. "Dulu kaum sufiyyah zaman awal mereka menjauh dari para penguasa, dari para Sultan, sufiyyah zaman sekarang teman² nya para penguasa".

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Materi 12

TALBIS IBLISMateri 12: Talbis Iblis Terhadap Kaum SufiyahUst. Dr. Firanda Andirja, Lc, MA​Pengantar: Asal-usul Istilah "Sufi"Terdapat lima pendapat ulama mengenai asal-usul istilah "Sufi":Nisbah kepada "Suffah": Merujuk pada sekelompok orang atau seseorang bernama Al-Ghauts bin Murr yang dikenal sebagai Suffah. Di zaman Jahiliyah, ia memusatkan waktunya untuk berkhidmat kepada Masjidil Haram.​Nisbah kepada "Ahlus Suffah": Namun, pendapat ini dikritik oleh Ibnu Jauzi karena secara kaidah bahasa Arab, nisbah dari Suffah seharusnya adalah Sufi, bukan Sufi (dengan wau).​Nisbah kepada "Sufanah": Sejenis tumbuhan yang sering dicabut oleh kaum Sufiyah di padang pasir. Ibnu Jauzi mengkritiknya karena seharusnya nisbahnya adalah Sufani, bukan Sufi.Nisbah kepada "Shafah": Rambut yang tumbuh di belakang leher, yang menyimbolkan bahwa kaum Sufi menggiring manusia dari makhluk menuju Allah SWT.Nisbah kepada "Suf" (Bulu Domba): Merujuk pada pakaian dari kain wol (bulu domba) yang lazim digunakan oleh kaum Sufi zaman dahulu.​Hakikat Tasawuf di Awal KemunculannyaPada dasarnya, tasawuf muncul sebagai usaha pelatihan jiwa (tazkiyatun nafs) untuk melawan perangai buruk dan membawa diri menuju akhlak yang mulia. Awalnya, kaum Sufiyah adalah orang-orang yang sangat zuhud, sabar, jujur, dan ikhlas, yang bertujuan mendapatkan pujian di dunia serta pahala di akhirat. Namun, seiring berjalannya waktu, iblis menipu mereka hingga terjadi penyimpangan.​Empat Model Tipuan Iblis (Talbis Iblis) Terhadap Kaum Sufiyah:​Salah Memahami Konsep Zuhud:Iblis menggoda mereka untuk meninggalkan dunia secara totalitas, termasuk mengabaikan hal-hal yang bermanfaat bagi jasad (makanan dan pakaian yang halal). Mereka menganggap meninggalkan kenyamanan adalah ibadah. Padahal, harta diciptakan untuk kemaslahatan, seperti untuk dakwah, haji, dan pembangunan masjid. Banyak dari mereka terjebak karena mengamalkan hadis-hadis palsu.​Sibuk dengan "Lintasan Hati" (Khatharat):Mereka mulai menjadikan bisikan-bisikan dan lintasan hati sebagai bahan pembicaraan utama, bahkan menyusun buku khusus mengenai hal tersebut, yang menjauhkan mereka dari pemahaman ilmu syariat yang benar.​Membuat Aturan/Sunah Khusus:Mereka menciptakan istilah-istilah, tahapan-tahapan, dan aturan-aturan khusus yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ. Contohnya adalah tradisi memakai pakaian tambal-tambal (muraqqa'ah) secara sengaja sebagai identitas, meskipun Nabi ﷺ dahulu hanya melakukannya karena keterbatasan ekonomi, bukan sebagai ibadah. Mereka juga membuat ritual seperti nyanyian, alat musik, dan joget sebagai ciri khas ibadah mereka.​Munculnya Khayalan dan Keinginan yang Menyimpang:Akibat memaksakan diri dalam kelaparan, akal mereka menjadi tidak stabil dan muncul khayalan-khayalan. Mereka mengklaim merasakan "rindu kepada Allah" karena membayangkan sosok tertentu, yang sering kali ditunggangi oleh jin untuk menyesatkan mereka hingga terjebak dalam paham Hululiyah (Tuhan menempati makhluk), Ittihadiyah (Tuhan dan makhluk menyatu), atau Wahdatul Wujud.​Kritik terhadap Buku-Buku Sufiyah yang MenyimpangIbnu Jauzi memperingatkan bahaya membaca kitab-kitab yang mendukung penyimpangan ini tanpa ilmu yang cukup, di antaranya:​Luma' as-Sufiyah karya Abu Nashr as-Sarraj: Mengandung akidah yang rusak dan perkataan yang hina.​Quutul Qulub karya Abu Thalib al-Makki: Memuat hadis batil, zikir palsu, dan akidah yang menyimpang.​Ar-Risalah karya al-Qusyairi: Memuat istilah-istilah sufi yang tidak pernah diajarkan Nabi ﷺ.​Karya Muhammad bin Thahir al-Maqdisi: Dikritik karena memuat narasi yang tidak masuk akal, bahkan cenderung mendukung paham ibahah (kebebasan melihat wanita/laki-laki cantik).​Ihya Ulumuddin karya Abu Hamid al-Ghazali: Ibnu Jauzi mengkritik kitab ini karena banyaknya hadis palsu dan tafsir kebatinan (seperti menafsirkan ayat tentang bintang dan matahari sebagai hijab Allah).​PenutupIbnu Jauzi menegaskan bahwa sebab utama penyimpangan ini adalah minimnya ilmu tentang hadis dan sejarah kehidupan sahabat (Salaf). Kaum Sufiyah zaman dahulu menjauh dari penguasa dan dunia, namun banyak kaum Sufiyah di zaman belakangan justru mendekati penguasa dan mengejar kedudukan.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Talbis Iblis #12

Tabis Iblis #12Talbis Iblis kepada Kaum SufiOleh. Ustad Firanda Andirja, MAKhilaf dikalangan ulama dan kaum sufiah tentang asal muasal sufiah ada 5 pendapat :1. Nisbah kepada seseorang yg dikenal sufah maknanya adalah (At thogut bin Murr) Seorang yg menghidmatkan dirinya kpd Masjidil Haram di zaman Jahiliyah.2. Nisbah kepada penghuni Suffah3. Nisbah kepada tumbuhan karena mereka suka kepada tumbuhan padang pasir (Sufani)4. Nisbah kepada Sufani yaitu kepada rambut yg tumbuh dibelakang leher, seakan² seorang sufi menggiring kpd Allah SWT dan memalingkan diri dari makhluk5. Nisbah kepada bulu domba karena pakaian mereka dari wolSejarah Muncul Sufiah. Intinya Ibnu Jauzi menjelaskan kaum sufi ini pada asalnya kaum yg zuhud. "Tasawuf disisi mereka ada pemutihan jiwa, dan berusaha utk menolak dari perangai² akhlak yg buruk dan berusaha membawa perangai kpd akhak² yg indah" seperti zuhud, sabar, ikhlas dll. Sifat² ini yg akan mendatangkan pujian di dunia dan mendapatkan ganjaran di akhirat.Asal dari tasawuf darinpara sufiah adalah latihan jiwa utk menolak akhlak yg buruk dan melatih akhlak yg mulia .Lalu Iblis menggida mereka dalam banyak perkara semakin bertumbuh zaman semakin penuh hingga puncaknya pada orang belakangan. Maka iblis membuat rancu dalam berbagai hal. Ibnu Jauzi menyebutkan berbagai model² tipuan iblis kpd mereka :1. Tujuannya secara umum meninggalkan dunia secara totalitas (namun berlebihan)2. Pembahasan terkait dgn persangkaan² apanyg melewati hati, mulai dijadikan bahan pembicaraan. Mulailah mereka berbicara ttg lapar dan miskin3. Mereka mulai mengatur mahzab sufiah, tasawuf itu memiliki aturan² yg harus mereka jalankan4. Diantara mereka saking laparnya sehingga muncullah khayalan² yg aneh, kemudian mereka mengaku rindu kpd sosok tsb yg merka anggap Allah krn ada khayalan, seakan² mrk rindu kpd Allah 5. Diantara mereka ada yg berpendapat masalah mahzab bersatunya Allah dgn makhluk ada 3 model ● Al Ihtidaiyah (persatuan) yg artinya 2 zat yg bersatu, contohnya seperti susu yg dicampur dgn kopi jadi satu sehingga tdk bisa membedakan yg satu dgnnyg lainnya Dll dll

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
E
Ellisa Septiana

📍 Kota Depok

Talbis iblis #12 : Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi -Ustadz dr.Firanda-

Talbis iblis #12 : Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi -Ustadz dr.Firanda-Etimologi kata Sufi paling benar adalah nisbah kepada sufah dengan perubahan bahasa yang alami, dan asal kaum Sufiyah sebenarnya adalah kaum zuhud.Hakikat Awal Kaum Sufiyah menurut Ibnu Jauzi• Kaum Sufiyah awal adalah kaum yang berusaha melatih jiwa dengan:1. Membuang perangai buruk seperti hasad, dengki, cari muka, marah, dan lain-lain.2. Memaksakan diri berakhlak mulia seperti zuhud (meninggalkan dunia), sabar (hilm), ikhlas, jujur, dan sifat mulia lainnya.• Tujuan mereka adalah memperoleh pujian di dunia dan pahala di akhirat.• Awal mereka adalah kaum yang melatih diri untuk hidup sederhana, jauh dari duniaPerubahan dan Tipuan Setan kepada Kaum Sufiyah• Lama-kelamaan Sufiyah mengalami perubahan karena godaan iblis.• Ibnu Jauzi menyebutkan bahwa iblis menipu kaum Sufiyah dengan berbagai cara sehingga akidah dan praktek mereka semakin menyimpang.• Ini semakin parah di zaman Ibnu Jauzi (abad ke-6/7 Hijriyah).Empat Model Tipuan Iblis Terhadap Kaum Sufiyah• Meyakini bahwa zuhud adalah meninggalkan dunia secara total1. Sampai menolak hal-hal yang bermanfaat bagi jasad seperti pakaian, makanan.2. Mereka menganggap meninggalkan semua yang bermanfaat itu ibadah.3. Ini salah karena harta dan kebutuhan dunia bahkan dipakai untuk kemaslahatan ibadah seperti berdakwah dan membangun masjid.• Menolak kesenangan sederhana, misalnya ada yang tidak mau berbaring karena dianggap bertentangan dengan zuhud1. Akibat kurang ilmu, mereka malah mengamalkan hadis-hadis palsu yang mendorong sikap ekstrem ini.2. Sebagaimana Rasulullah bersabda, menyebarkan hadis palsu adalah dosa besar.• Menggunakan pembahasan tentang lintasan hati, bisikan hati, dan kondisi batin sebagai tema utama• Contoh: Membahas keutamaan lapar, miskin, bisikan hati secara berlebihan.• Menulis buku-buku yang membahas tentang bentuk-bentuk bisikan hati (waswas, khatarat), misalnya oleh al-Harith al-Muhasibi yang juga terjerumus dalam kesalahan.• Merumuskan mazhab tasawuf yang berisi aturan dan tahapan khusus bagi seorang Sufi• Membuat ciri khas sangat ritualistik, misalnya pakaian tambalan-tambalan warna-warni dengan ijazah tambalan.• Hal ini menimbulkan riya dan kesan pamer, hal yang tidak diajarkan oleh Nabi.Pakaian dari Kulit Domba (Suf) dan Praktik Sufiyah Tradisional• Nabi Muhammad SAW dan para sahabat memang memakai pakaian dari kulit domba (suf) karena keterbatasan materi pada zamannya, sehingga menimbulkan bau tidak sedap saat keringat bercampur air.• Hadis meriwayatkan Abu Musa al-Asyari bahwa bau mereka kadang serupa bau kambing.• Dengan berkembangnya ekonomi dan kondisi, para sahabat kemudian meninggalkan pakaian jenis ini.• Nabi juga pernah memakai pakaian tambal-tambal karena keterbatasan kain yang dimiliki.• Umar bin Khattab pernah memakai sarung dengan 12 tambalan, ini bukan karena dinisbatkan kepada sufi melainkan karena keterbatasan bahan.• Namun, sebagian kaum Sufiyah zaman sekarang menjadikan pakaian tambalan tersebut sebagai ciri khusus dan ritual, bahkan disertai "ijazah tambalan" yang tidak diajarkan Nabi.• Praktik memakai pakaian tambalan secara sengaja untuk tujuan ritual semacam itu adalah bid’ah yang mendapat kritik tajam.Fenomena Penyimpangan Praktik Sufiyah Modern• Kaum Sufiyah modern tidak sebatas kehambaannya pada dunia bawah seperti awal, justru malah cenderung pada inovasi ritual seperti nyanyi-nyanyi, alat musik, qidah, kasidah, dan joget-joget.• Fenomena ini tidak pernah diajarkan Nabi; para ulama mengkritik keras hal ini, termasuk al-Qurtubi dan Al-Wajd (maksudnya keadaan mani seseorang yang mengalami ekstase rohani).• Kaum Sufiyah juga mengembangkan istilah dan konsep batin seperti fana, baqa, al-wujud, al-wajd, dan lain-lain yang menimbulkan kebingungan dan perbedaan interpretasi.Efek Ekstrem Lapar dan Pengakuan Mistis• Ada kaum Sufiyah yang sengaja melaparkan diri sampai tidak stabil akalnya, sehingga muncul khayalan dan delirium.• Mereka mengaku mengalami rindu kepada Allah dengan penglihatan sosok Tuhan yang indah sesuai khayalan mereka.• Kondisi ini dianggap sebagai akibat dari jin atau setan yang memanfaatkan keadaan mereka.Pembahasan tentang Wahdatul Wujud dan Mazhab yang Berkembang• Al-Ittihadiyah : Persatuan zat dua entitas menjadi satu (seperti kopi susu yang bercampur tidak terpisahkan).• Al-Hululiyah : Tuhan "menempati" makhluk seperti air dalam gelas (masih terpisah tapi menempati).• Wahdatul Wujud Zat tunggal dengan manifestasi berbeda, semua makhluk adalah penampakan Tuhan yang satu (seperti ombak dari lautan).• Semua pandangan ini dianggap kekufuran oleh Ibnu Jauzi.• Kaum Nasrani (Kristen) juga mengalami perbedaan pendapat mirip dalam soal hubungan Yesus dan Tuhan.Akidah Rusak dan Muncul Tarekat Beragam• Dari empat model tipuan iblis itu muncullah akidah-akidah yang menyimpang.• Tarekat-tarekat pun berkembang dan masing-masing memiliki akidah tersendiri yang berbeda dari syariat Nabi.• Ada berbagai "sunah" khusus tarekat yang sebenarnya tidak diajarkan oleh Nabi atau para sahabat.• Ibnu Jauzi menegaskan bahwa tariqat yang ada saat ini seringkali menyimpang dan membawa kesesatan.Buku-buku Pendukung dan Kritik terhadap Kaum Sufiyah• Abu Nasr al-Sarraj menulis buku Luma’ as-Sufiyah yang mendukung Sufiyah dalam bentuk yang menyimpang dan berisikan akidah rusak.• Abu Abdurrahman al-Sulami dikenal sebagai pembuat hadis palsu yang mendukung Sufiyah.• Buku seperti Qut al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki juga dikritik karena banyak hadis palsu dan zikir-zikir palsu yang tidak sahih.• Sufiyah memiliki cara sendiri dalam memahami syariat dan menyusun akidah, yang sering menyimpang dari Islam murni.Fenomena Kasf dan Mistikalisme Berlebihan• Kaum Sufiyah mengaku mengalami kasf (membuka tabir ghaib).• Mereka mengklaim mendapatkan ilmu langsung dari Nabi atau melalui mimpi, Khidr, atau makhluk lain yang tidak dapat dibuktikan secara rasional dan sesuai syariat.• Contoh nyata adalah klaim perjumpaan dengan Nabi Muhammad di tempat-tempat seperti Surabaya atau Bekasi, klaim kunjungan Khidr beratus-ratus atau ribuan tahun.• Ibnu Jauzi dan pengajar lain mengingatkan untuk menolak klaim-klaim tersebut karena mengandung unsur khurafat dan tidak berdasar.Kritik terhadap Klaim Mistis Modern dan Kisah Kasf• Contoh kasus klaim duta wali dan broker yang mengaku bertemu Khidr untuk urusan duniawi.• Hukum dan logika menolak klaim seperti ini karena tidak ada bukti syariat.• Klaim-klaim semacam ini merendahkan Nabi Muhammad SAW, misalnya cerita Nabi mencium lutut seseorang.• Ulama menegaskan bahwa klaim tersebut bertentangan dengan akidah dan sunnah.Istilah-istilah Sufiah dan Kritik terhadap Kitab-Kitab Sufiah• Banyak istilah Sufiah yang bermakna tinggi dan sulit dimengerti seperti al-fana, al-baqa, al-wujud, al-wajd, dan lain-lain.• Kitab Ar-Risalah karya Al-Qusyairi yang membahas istilah-istilah ini dikritik untuk beberapa bagian yang keluar dari aturan fikih dan syariat.• Muhammad bin Tahir al-Maqdisi dan Abu Naim al-Asbahani juga dikritik karena mendukung konsep Sufiah yang menyimpang.Kasus Kitab Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali• Kitab Ihya Ulumuddin adalah kontroversial karena berisi banyak hadis palsu dan konsep tasawuf yang problematik.• Al-Ghazali dianggap sebagian ulama tidak sadar mengutip hadis palsu dan menyebarkan ajaran yang tidak sesuai sunnah.• Ibnu Jauzi menulis Minhaj al-Qasidin, ringkasan Ihya yang menghilangkan hadis palsu supaya lebih bermanfaat.• Ulama seperti Ibnu Taimiyyah memperingatkan bacaan kitab ini hanya untuk yang berilmu agar tidak tersesat.Alasan Kesalahan Dalam Buku-buku Sufiah• Penulis kitab sufi banyak yang kurang ilmu dalam ilmu hadis dan sejarah Islam.• Mereka terpengaruh keindahan kata-kata sufiyah dan suasana hati yang tenteram, jadi tertarik kepada ajaran sufi meski banyak menyimpang.• Sisi positif zuhud tetap ada, tapi pemahaman mereka sudah melampaui batas akidah.Kecenderungan Jiwa dan Perbandingan dengan Cara Sahabat dan Salaf• Kaum Sufiyah zaman kini cenderung mencari cara-cara yang mudah dan menyenangkan seperti nyanyi-nyanyi, qidah, dan qasidah dibandingkan dengan mengaji dan beribadah sungguh-sungguh yang dianggap berat.• Kisah para sahabat dan salaf menunjukkan jihad dan ibadah yang keras dan tegas.Penutup dan Perubahan Sikap Kaum Sufiyah Dari Masa ke Masa• Awalnya, kaum Sufiyah menjauh dari penguasa dan jabatan dunia.• Sekarang, banyak dari mereka justru mendekat dan mencari kedudukan serta jabatan duniawi.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
S
Sylvia Eka Putri

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Talbis iblis terhadap kaum sufiyah

Talbis iblis #12Talbis iblis terhadap kaum sufiyahKhilaf tentang asal muasal kelompok sufiyahnisbah kepada seseorang nama Al ghouts bin Murr suffah yang menghidmatkan dirinya kepada mesjidil haromDinisbahkan kepada penghuni suffah namun dikritik oleh Ibnul Jauzy.Dinisbahkan kepada suffanah (tumbuhan) karena mereka suka mencabut tumbuhan dipadang pasir ini dikritik jugaDinisbahkan kepada rambut yang tumbuh dibelakang leher seolah2 sufi memalingkan orang kepada Allah dan memalingkan dari makhlukDinisbahkan kepada bulu karena mereka memakai pakaian dari wolkaum sufiyah dulunya adalah kaum yang zuhud yang berusaha melatih diri untuk berjuang dari perangai yang buruk dan berusaha ke perangai yang bagus seperti zuhud,al hilm (bijak),jujur yang akan mendapat pujian dunia dan akhirat lalu iblis menggoda mereka dan membuat mereka rancu dalam banyak hal disetiap generasi yang muncul sampai iblis benar benar menguasai mereka sekitar abad ke 6 atau 7Bentuk bentuk tablis iblis kepada merekaiblis menggoda mereka dengan meninggalkan dunia seluruhnya dan menolak hal yang menguntungkan jasad mereka seperti pakaian atau makanan akhirnya mereka menyamakan harta dengan kalajengking padahal harta diciptakan buat kemaslahatan.Akhirnya mereka mengamalkan hadist hadist palsuMulai pembahasan pemikiran2 yang terlintas dalam hati dan pikiran ditulis dalam buku oleh Al Haris Al masibi seorang ahli dizaman tsb yang terjebak dalam beberapa kesalahanDatang model yang lain yang mulai merapikan mazhab ini dengan memberikan nama bahwa tasawuf itu memiliki sifat sifat khusus baru disebut seorang sufi diantaranya tambalan pada pakaianDahulu nabi dan para sahabat menambal pakaian karena kesederhanaanya.Abu Utsman an-Nahdi tentang kesederhanaan Umar ibn al-Khattab.عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ قَالَ: رَأَيْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ وَعَلَيْهِ إِزَارٌ فِيهِ اثْنَتَا عَشْرَةَ رُقْعَةً، بَعْضُهَا مِنْ أَدَمٍAbu Utsman an-Nahdi berkata: Aku melihat Umar bin Khattab sedang thawaf di Ka’bah, sementara ia mengenakan kain yang memiliki dua belas tambalan, sebagian tambalan itu terbuat dari kulit”.Tapi itu bukan sesuatu yang disunnahkan oleh rasululloh bukan untuk sarana buat ibadah kalo kaum sufiyah sengaja menambalnya.Kaum sufiyah senang berkumpul dan bernyanyi dan mempunyai istilah2 dengan joget khusus atau bertepuk tangan.mulailah guru membicarakan kondisi hati tertentu sehingga membuat mereka menjauh dari ulama jadi susah utk dinasehatin.4) diantara ada yang melaparkan diri sampai  dalam keadaan muncul hayalan2 seolah dekat dengan Allah padahal ini adalah campur tangan syetan.diantara mereka ada yang berpendapat al hululiyah dan ada yang berpendapat al itihadiyahBedanya masalah mazhab bersatunya Allah dengan makhluk ada 3 (ini adalah kekafiran)Al-Hulūliyyah (الحلولية) – hulul (menempati)Keyakinan bahwa Allah berada atau “menempati” makhluk tertentu.Misalnya menganggap Allah masuk ke dalam diri seorang wali, nabi, atau manusia tertentu.Al-Ittihādiyyah (الاتحادية) – ittihad (penyatuan)Keyakinan bahwa Allah dan makhluk menyatu menjadi satu hakikat.Bukan sekadar Allah berada dalam makhluk, tetapi tidak ada lagi perbedaan antara keduanya setelah penyatuan itu.Wahdatul Wujūd (وحدة الوجود) – kesatuan wujudKeyakinan bahwa pada hakikatnya yang benar-benar ada hanyalah Allah, sedangkan makhluk merupakan manifestasi atau penampakan-Nya.Dalam bentuk yang ekstrem, perbedaan antara Pencipta dan ciptaan dianggap hilang.Dari 4 talbis iblis diatas maka munculah tariqot2 menyimpangKalo dulu sufiyah adalah kaum yang zuhud tapi kalo sekarang  macam2 tariqat mempunyai aqidah2 khusus.Diantaranya adalah yg berpendapat hululiyah,ittihadiyah dan wahdatul wujud.Dan iblis terus menggoda mereka sampai mereka punya sunnah sendiriSeperti kholwat yaitu menyendiri ke gunung atau kamar matiin lampu tidak makan padahal salafus soleh tidak ada mengajarkan demikianPerkataan Al Jauzy“Senantiasa iblis membuat mereka kacau balau dengan membuat berbagai macam bid’ah sampai mereka membuat sunnah utk mereka sendiri”Ada seorang yang menulis ttg sufiyah Abu Nashr as-Sarraj yang mendukung sufiyah berjudul Al luma assufiyahIbnu Jauzy memperingatkan kitab2 yang mendukung sufiyah yang menyimpang sepertiAbu abdurrahman Assulami membuat hadist2 palsu yang mendukun sufiyahABu Nashr As sarraj judulnya luma as sufiyah isi bukunya ttg aqidah yg rusak dan perkataan yg hina dan jelekAbu Thalib al maqqi judulnya Qutul Qulub yg menulis hadist bathil seperti dzikir palsu dan aqidah menyimpangAda diantara mereka meyakini pembukaan tabir (al-kashf ) sepertiTerbukanya tabir karena sedang mengambil pelajaran langsung kepada nabi.Buku abdul karim Al khusairi kitab risalah isinya ttg istilah istilah sufiyah yang tidak pernah diajarkan nabiKemudian datang Muhammad bin Thohir Al Maqdisi dan diingkari karena menyebutkan hal hal yg org berakal  malu menyebutnyaKemudian dikritik Abu Nu’aym al-Isfahani dalam kitabnya hilyatul auliya krn menyebut sahabat orang sufiyah karena sufiyah sekarang sudah menyimpang.Diantara paling terkenal adalah kitab  Ihya’ ’Ulum ad-Dinkarya Abu Hamid Al ghozali yang mengatakan banyak hadist bathil dan Al Jauzy memberi uzur mungkin ada ketidaktahuannya,namun dalam masalah fiqih ada beberapa yang takwil yang menyimpang dan menulis bahwa kaum sufi mengambil faedah dari malaikat sampai pada akhirnya persaksian yang tidak disampaikan dengan kata kataKitab ini banyak faedah dan hanya bisa dibaca oleh para ulamaDari situ Al Jauzy membuat ringkasan buku ini dan diberi judul Minhajul qosidin yang menghilangkan hadist palsu lalu ada yang meringkas lagi agar mudah dipahami.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Talbis Iblis #12: Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi

Catatan Kajian Kitab Talbis Iblis — Bab 10 (Bagian 1)Pemateri: Ust. Dr. Firanda Andirja, M.A. Tema: Penyesatan Iblis Terhadap Kaum Sufiyah (Sejarah, Etimologi, dan Kritik Kitab Tasawuf)1. Analisis Etimologi dan Lima Teori Asal-usul Kata "Sufi"Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala menjelaskan bahwa pada masa awal Islam, istilah yang dikenal di tengah para sahabat hanyalah Muslim dan Mukmin. Belakangan, muncul gelar khusus bagi individu yang menonjol dalam urusan akhirat dengan sebutan Zahid (ahli zuhud) dan 'Abid (ahli ibadah). Istilah Sufi atau Tasawuf merupakan istilah baru (muhdats) yang tidak ada pada masa kenabian.Terdapat silang pendapat yang sangat luas di kalangan ulama sejarah maupun internal kaum sufi sendiri mengenai asal-muasal akar kata "Sufi". Ibnul Jauzi merangkumnya ke dalam 5 pendapat/teori utama:A. Teori 1: Nisbah kepada Suffah bin Mur (Al-Ghuth bin Mur)Pendapat ini menyatakan bahwa nama Sufi diambil dari nama seorang tokoh pada masa Jahiliah bernama Suffah (nama aslinya Al-Ghuth bin Mur) dari kabilah Tamim bin Mur. Tokoh ini bersama komunitasnya sengaja mengisolasi diri dari urusan duniawi untuk memfokuskan seluruh waktu hidupnya berkhidmat mengurus Ka'bah dan beribadah di sekelilingnya. Karena kaum sufi generasi awal memiliki kemiripan corak ibadah yang fokus memisahkan diri di tempat ibadah, mereka dinisbahkan kepada pengikut Suffah bin Mur.B. Teori 2: Nisbah kepada Ahlus Suffah (Serambi Masjid Nabawi)Kaum sufi sering kali mengklaim bahwa nama mereka dinisbahkan kepada Ahlus Suffah (صُفَّة), yaitu para sahabat miskin yang tinggal di emperan belakang Masjid Nabawi pada masa Rasulullah ﷺ.Kritik Linguistik Ibnul Jauzi: Secara kaidah ilmu tasyrif (tata bahasa Arab), jika sebuah kata benda dinisbahkan (isim nisbah) kepada kata Suffah ($\text{صُفَّة}$), maka bentuk kalimatnya secara baku wajib berbunyi Suffi ($\text{صُفِّيّ}$), bukan Sufi ($\text{صُوفِيّ}$). Oleh karena itu, klaim ini cacat secara kaidah linguistik.C. Teori 3: Nisbah kepada Tumbuhan SufanahSebagian pendapat menyatakan kata Sufi dinisbahkan kepada tumbuhan padang pasir yang bernama Sufanah, karena kaum sufi awal gemar mencabut rumput ini untuk bertahan hidup di padang pasir.Kritik Linguistik Ibnul Jauzi: Jika dinisbahkan kepada Sufanah, maka bentuk kalimatnya harus berbunyi Sufani, bukan Sufi. Teori ini juga tertolak.D. Teori 4: Nisbah kepada Shufatul QafaPendapat ini menyatakan kata Sufi dinisbahkan kepada kata Shufatul Qafa (صُوفَةُ الْقَفَا), yaitu bulu atau rambut-rambut halus yang tumbuh di bagian belakang leher manusia. Makna filosofisnya adalah: seorang sufi digambarkan sebagai sosok yang memalingkan dan menggiring manusia dari ketergantungan makhluk menuju kepasrahan mutlak kepada Allah. Teori ini secara bahasa dinilai sah.E. Teori 5: Nisbah kepada Kain Wol/Bulu Domba (Shuf)Pendapat yang paling kuat dan disepakati secara luas secara bahasa adalah kata Sufi dinisbahkan kepada kata Shuf (صُوف) yang artinya kain wol atau bulu domba. Hal ini dikarenakan ciri khas utama para pencinta zuhud pada masa awal berdirinya gerakan ini adalah selalu memakai pakaian yang terbuat dari rajutan bulu domba kasar sebagai simbol kesederhanaan hidup.2. Hakikat Awal Gerakan Tasawuf dan Fase Evolusi PenyimpangannyaAl-Imam Ibnul Jauzi menyimpulkan bahwa pada masa awal kemunculannya, gerakan tasawuf memiliki esensi dan tujuan yang sangat mulia, yaitu: proses pelatihan jiwa (riyadhatun-nafs) dan perjuangan batin untuk mengikis habis perangai serta akhlak-akhlak tercela (seperti hasad, dengki, ujub, marah, dan gila pujian). Di saat yang sama, mereka berusaha memaksakan jiwa untuk menghidupkan karakter-karakter agung, seperti zuhud syar'i, sifat menyantun (al-hilm), kesabaran, keikhlasan, dan kejujuran (ash-shidiq). Karakter inilah yang mendatangkan pujian di dunia dan pahala di akhirat.Namun, Iblis tidak membiarkan gerakan ini berjalan di atas kemurniannya. Seiring bergulirnya waktu dan bertambahnya zaman, Iblis memasukkan berbagai jenis kelonggaran syariat (rukhshah) dan amalan bid'ah ke dalam manhaj mereka. Gerakan yang tadinya fokus pada pembersihan jiwa, bertransformasi menjadi sekte yang mengadopsi ritual:Sama' (Mendengarkan senandung kasidah yang diiringi alat musik secara kontinu).Raqs (Gerakan tarian/joget massal yang diklaim sebagai bentuk puncak ekstasi spiritual).Tasfiyq (Ritual tepuk tangan keagamaan).Penyimpangan ini melahirkan fenomena baru: kaum awam pencari akhirat bergabung karena melihat kemasan luar (casing) mereka yang tampak zuhud, sedangkan kaum pencari dunia juga ikut bergabung karena melihat adanya ruang hiburan musik dan tarian santai yang dikemas dalam bentuk ibadah di dalamnya. Puncaknya pada abad ke-6 dan ke-7 Hijriyah (zaman Ibnul Jauzi hidup), gerakan tasawuf telah menjelma menjadi sekte yang memiliki doktrin akidah tersendiri yang menyimpang jauh dari manhaj salaf.3. Empat Model Talbis Iblis Terhadap Kaum SufiIblis menguasai kaum sufi melalui empat pintu penyesatan utama:Model I: Pemahaman Ekstrem dalam Meninggalkan DuniaIblis menanamkan syubhat bahwa zuhud yang benar adalah membuang dan memusuhi dunia secara global/totalitas. Akibatnya, mereka menolak memakan makanan bergizi dan enggan memakai pakaian yang layak yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi kesehatan jasad mereka. Mereka memandang harta secara ekstrem bagaikan kalajengking yang mematikan, padahal harta yang berkah di tangan orang saleh sangat dibutuhkan untuk kemaslahatan dakwah, jihad, naik haji, menafkahi keluarga, dan membangun masjid.Mereka juga menyiksa fisik secara berlebihan; di antaranya ada yang menolak tidur berbaring dan memaksakan diri tidur dalam posisi duduk karena menganggap berbaring bertentangan dengan kezuhudan. Akibat minimnya ilmu agama, mereka nekat mengamalkan hadis-hadis palsu (maudhu') yang memotivasi penyiksaan diri tersebut, padahal menyebarkan dan mengamalkan hadis palsu diharamkan secara mutlak di dalam Islam.Model II: Menyibukkan Diri dengan Khatarat dan Wasawis (Lintasan Hati)Iblis membelokkan fokus ibadah mereka dari mengkaji ilmu syariat (Al-Qur'an dan Sunnah) menjadi sekadar sibuk mendiskusikan lintasan-lintasan pikiran, bisikan batin (wasawis), lapar, dan kefakiran. Mereka bahkan mulai membukukan teori-teori lintasan hati tersebut ke dalam kitab-kitab khusus. Salah satu tokoh awal ahli ilmu yang terjebak dalam perangkap ini adalah Al-Harits Al-Muhasibi, yang menulis buku khusus mengenai getaran-getaran batin dan memiliki beberapa kekeliruan dalam bab sifat Allah.Model III: Membuat Aturan dan Sunnah Khusus (Fikih Pakaian Tambalan)Iblis menggiring mereka untuk merumuskan nomenklatur thariqah dengan menetapkan simbol-simbol khusus yang wajib dipenuhi agar seseorang sah diakui sebagai seorang sufi. Salah satunya adalah kewajiban memakai Muraqqa'ah, yaitu pakaian atau jubah yang sengaja dibuat dari potongan kain yang ditambal-tambal secara bertumpuk hingga berwarna-warni (merah, kuning, hijau, ungu). Bahkan di beberapa negara Arab, pemberian jubah tambalan ini memiliki ritual ijazah khusus dari syekh tarekat mereka.Fakta Historis Baju Wol dan Tambalan di Masa Salaf:Kaum sufi menyontek penampilan ini dari riwayat para sahabat Nabi ﷺ, namun mereka salah dalam memahami konteks sejarahnya. Para sahabat dahulu memakai baju wol (shuf) atau baju tambalan murni karena faktor keterbatasan ekonomi (miskin) dan tidak memiliki pakaian alternatif, bukan karena sengaja memamerkan kesusahan hidup.Hadis Abu Musa Al-Asy'ari: Beliau berkata kepada putranya (Abu Burdah): "Wahai anakku, seandainya engkau melihat kondisi kami dahulu saat bersama Nabi ﷺ ketika diguyur hujan, niscaya engkau akan mencium aroma tubuh kami bagaikan aroma bulu domba/kambing. Hal itu dikarenakan pakaian kami murni terbuat dari bahan wol kasar (yang jika basah mengeluarkan bau tak sedap)."Hadis Aisyah radhiallahu 'anha: Beliau mengisahkan: "Aku pernah membuatkan selembar jubah (Burdah) berwarna hitam dari bahan wol untuk Rasulullah ﷺ. Beliau pun memakainya. Namun, ketika tubuh beliau berkeringat, beliau mencium aroma yang tidak sedap dari bulu domba jubah tersebut. Karena Rasulullah ﷺ adalah manusia yang sangat menyukai aroma wangi, beliau langsung melepaskan jubah tersebut dan tidak mau memakainya lagi." Ini membuktikan Nabi ﷺ memakai wol karena terpaksa, dan beliau meninggalkannya saat ada alternatif kain yang lebih baik dan wangi.Hadis Atap Masjid Nabawi: Ibnu Abbas menceritakan bahwa pada musim panas, para sahabat yang bekerja kasar datang ke masjid dengan memakai jubah wol dalam kondisi tubuh penuh keringat. Karena struktur bangunan Masjid Nabawi saat itu masih sangat sempit dan beratap pendek dari pelepah kurma, hawa panas membuat keringat mereka menguap dan menimbulkan bau yang menyengat hingga saling mengganggu jemaah lain. Melihat kondisi tersebut, Rasulullah ﷺ bersabda: "Wahai kaum muslimin, jika hari Jumat telah datang, mandilah kalian, dan pakailah minyak wangi terbaik yang kalian miliki (untuk mengikis aroma pakaian wol tersebut)." Ketika kondisi ekonomi umat Islam membaik pasca-futuhat, para sahabat segera meninggalkan pakaian wol kasar tersebut dan memperluas masjid.Sarung Tambalan Umar Bin Khattab: Abu 'Utsman Annahdi menyaksikan Khalifah Umar Bin Khattab radhiallahu 'anhu melakukan thawaf di Ka'bah dengan memakai kain sarung yang memiliki 12 tambalan, di mana salah satu tambalannya terbuat dari kulit samak berwarna merah. Umar melakukan hal tersebut karena beliau bersikap sangat hemat terhadap baitul mal dan mengutamakan kesejahteraan rakyatnya, bukan karena sengaja membuat tren mode pakaian tambal ijazah seperti kaum sufi modern.Model IV: Khayalan Spiritual Palsu (Al-'Isyq al-Ilahi) dan Akidah Penyatuan ZatPenyiksaan fisik berupa melaparkan diri secara ekstrem yang dipraktikkan kaum sufi berakibat pada melemahnya fungsi otak dan rusaknya stabilitas akal sehat mereka. Kondisi ini memicu lahirnya halusinasi spiritual dan khayalan batin yang aneh. Mereka mulai mengklaim telah mengalami rasa rindu dan asmara yang menggebu-gebu kepada Allah menggunakan istilah Al-'Isyq (istilah asmara romantis yang biasanya hanya digunakan antara suami kepada istri). Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa Iblis mengkhayalkan seolah-olah Allah adalah sosok berwujud tampan dan indah yang sedang mereka rindukan.Intervensi Jin dan Setan dalam Wahdatul Wujud:Khayalan spiritual ini membuka pintu bagi jin dan setan untuk bermain di dalam sensasi fisik mereka. Sebagai contoh, tokoh sufi ekstrem bernama Abdul Karim Al-Jili di dalam kitabnya Al-Insanul Kamil mengisahkan bahwa ketika ia melakukan tirakat tarekat tertentu hingga mengklaim jiwanya naik dan mengalami persatuan zat dengan Tuhan (Wahdatul Wujud), ia merasakan sensasi kelezatan puncak yang luar biasa. Namun, ia menulis secara jujur bahwa setelah ia tersadar dari kondisi mistis tersebut, ia mendapati organ biologisnya telah mengalami ejakulasi (keluar mani). Ini adalah bukti nyata adanya intervensi setan atau jin yang menyetubuhi sensasi batinnya saat akalnya sedang tidak stabil.Halusinasi ini bermuara pada tiga doktrin akidah kufur mengenai hubungan Pencipta (Khaliq) dan makhluk:Nama Doktrin AkidahDefinisi FilosofisAnalogi IlmiahStatus HukumAl-Ittihadiyah (الاتِّحَادِيَّة)Meyakini bahwa ada dua zat yang berbeda (Zat Tuhan dan zat makhluk) kemudian melebur dan menyatu total menjadi satu kesatuan zat yang baru.Seperti air susu yang dituangkan ke dalam secangkir kopi hitam, lalu diaduk hingga melebur menjadi entitas baru berupa "kopi susu" yang tidak bisa dipisahkan lagi komponen aslinya.Kufur AkbarAl-Hululiyah (الْحُلُولِيَّة)Meyakini bahwa Zat Tuhan memilih untuk turun, menempati, dan bersemayam di dalam jasad makhluk tertentu (seperti pada tubuh nabi atau wali).Seperti air jernih yang dituangkan ke dalam sebuah gelas kaca; gelasnya ada dan airnya ada, namun air menempati ruang di dalam gelas tersebut.Kufur Akbar (Diadopsi dari teologi sekte Nasrani terkait inkarnasi Tuhan pada jasad Nabi 'Isa).Wahdatul Wujud (وَحْدَةُ الْوُجُود)Meyakini kesatuan mutlak zat wujud; tidak ada pemisahan antara Pencipta dan makhluk. Segala sesuatu yang eksis di alam semesta ini adalah zat Tuhan itu sendiri (Monisme).Seperti fenomena ombak di lautan. Ada ombak besar, ombak kecil, dan riak air; penampakannya terlihat banyak dan berbeda-beda, namun hakikat sejatinya mereka semua adalah satu kesatuan zat air laut itu sendiri.Kufur Akbar tertinggi4. Daftar Kritik dan Peringatan Ibnul Jauzi Terhadap Kitab-Kitab Induk TasawufIblis memantapkan penyesatannya dengan cara menggerakkan tokoh-tokoh sufi yang memiliki keterbatasan ilmu hadis dan riwayat atsar para sahabat untuk menulis kitab-kitab panduan tasawuf yang dipenuhi hadis palsu dan takwil batiniah. Imam Ibnul Jauzi memberikan peringatan keras (tahdzir) terhadap kitab-kitab berikut:1. Kitab-kitab Karya Abu Abdurrahman As-SulamiUlama ini dikritik keras karena dengan sengaja memproduksi dan memalsukan hadis-hadis atas nama Nabi ﷺ demi mendukung doktrin-doktrin kaum sufi.2. Kitab Al-Luma' fit-Tasawwuf karya Abu Nasr As-SarrajKitab ini berisi pembelaan terhadap tasawuf yang di dalamnya dipenuhi dengan doktrin akidah yang rusak serta perkataan-perkataan yang menghinakan akal sehat syariat.3. Kitab Qut al-Qulub karya Abu Thalib Al-MakkiKitab ini dipenuhi dengan pencantuman hadis-hadis batil yang tidak memiliki sanad, tuntunan shalat malam fiktif yang tidak ada asalnya dalam Islam, zikir-zikir palsu, serta mempromosikan syubhat ilmu kasyaf (klaim dibukanya tabir gaib sehingga seseorang bisa mengambil ilmu langsung dari Allah atau Nabi ﷺ secara sadar).Bantahan Syar'i Mengenai Klaim Bertemu Nabi Khidir: Kaum sufi sering mengklaim mendapatkan restu ilmu kasyaf dari Nabi Khidir alaihis salam yang dianggap masih hidup berkelana di dunia. Secara rasional dan dalil syar'i, klaim ini adalah dusta. Jika Nabi Khidir masih hidup dari masa Nabi Musa, usianya saat ini sudah mencapai lebih dari 3.200 tahun. Jika beliau hidup pada masa Nabi Muhammad ﷺ, beliau wajib secara syariat untuk datang membela Nabi ﷺ di Perang Badar dan baiat kepada beliau. Fakta bahwa tidak ada satu pun riwayat sahih dari Khulafaur Rasyidin maupun ribuan sahabat yang pernah bertemu Khidir membuktikan beliau telah wafat. Realitas klaim Khidir di zaman sekarang hanyalah permainan "broker spiritual" (ustaz palsu) yang menipu para jenderal atau orang kaya demi meraup keuntungan finansial (seperti modus membawa proposal permohonan menjadi wali Allah kepada Khidir yang berbicara bahasa lokal).4. Kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah karya Al-QusyairiKitab ini dikritik karena memuat dan melegitimasi istilah-istilah aneh dalam tasawuf yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ, seperti konsep Al-Fana' (meleburnya eksistensi diri), Al-Baqa', Al-Qabdh, Al-Basth, dan Al-Mukasyafah.5. Kitab-kitab Karya Muhammad bin Thahir Al-MaqdisiTokoh ini dikritik sangat keras karena memiliki pemikiran Ibahah (kebal syariat/serba boleh). Ia melangkah jauh dengan menulis kitab khusus yang menghalalkan tindakan memandang lekuk tubuh wanita cantik serta membolehkan memandang pemuda-pemuda tampan yang belum tumbuh jenggotnya (Amrad) dengan syubhat "menikmati keindahan pantulan zat Pencipta pada makhluk". Pemikiran ini membuka pintu kerusakan moral dan homoseksualitas yang keji.6. Kitab Hilyatul Awliya' karya Abu Nu'aim Al-AsbahaniIbnul Jauzi memberikan kritik ringan terhadap kitab biografi ini. Penulisnya dikritik karena memasukkan para sahabat senior—seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali—ke dalam barisan tokoh kaum sufi. Padahal, karakteristik kehidupan para sahabat adalah kezuhudan syar'i yang aktif membangun peradaban dan berjihad, sangat kontras dengan karakter tasawuf sektarian yang pasif dan penuh bid'ah ritual.7. Kitab Ihya 'Ulumuddin karya Imam Abu Hamid Al-GhazaliImam Al-Ghazali adalah seorang ulama yang sangat pakar dalam ilmu ushul fikih (melalui kitabnya Al-Mustashfa) dan ahli ilmu filsafat. Namun, ketika beliau menulis kitab Ihya 'Ulumuddin dengan kecenderungan tasawufnya, beliau terjebak dalam beberapa kesalahan fatal:Beliau memenuhi kitab Ihya dengan ratusan hadis batil dan palsu karena keterbatasan ilmu beliau dalam spesialisasi kritik hadis (mushthalahul hadits) pada fase hidupnya saat itu.Beliau mempromosikan konsep ilmu mukasyafah kebatinan kaum sufi dan keluar dari jalur metodologi penafsiran ahli fikih yang objektif.Beliau melakukan takwil batiniah yang menyimpang terhadap ayat Al-Qur'an. Sebagai contoh, ketika menafsirkan Surah Al-An'am mengenai kisah Nabi Ibrahim alaihis salam yang melihat bintang, bulan, dan matahari, Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa yang dilihat Ibrahim bukanlah benda-benda langit fisik yang ada di angkasa, melainkan cahaya-cahaya spiritual yang merupakan hijab Zat Allah. Penafsiran mistis ini melanggar makna tekstual ayat dan serupa dengan metode tafsir kaum kebatinan (Bathiniyyah) yang sesat.Sikap Pertengahan Terhadap Kitab Ihya 'Ulumuddin:Kitab Ihya menuai kontroversi besar di panggung sejarah Islam; sebagian ulama ekstrem ada yang terlalu mengagungkannya hingga berkata "Siapa yang tidak membaca Ihya maka ia bukan termasuk orang yang hidup (al-ahya)", sementara ulama kutub ekstrem lainnya ada yang memerintahkan agar kitab Ihya dibakar habis karena bahaya akidahnya.Jalan tengah yang adil: Kitab Ihya 'Ulumuddin memiliki banyak manfaat dalam bab adab dan penyucian jiwa, namun tidak boleh dibaca oleh orang awam karena khawatirnya mereka tidak mampu menyaring hadis palsu dan syubhat wahdatul wujud di dalamnya. Kitab ini hanya boleh dikonsumsi oleh para ulama yang telah matang ilmu akidahnya.Demi menyelamatkan manfaat kitab ini, Al-Imam Ibnul Jauzi sendiri menulis kitab ringkasan resmi untuk menyaring Ihya yang diberi judul Minhajul Qashidin (مِنْهَاجُ الْقَاصِدِينَ), di mana beliau membuang seluruh hadis palsu dan menyimpang dari kitab Ihya. Kitab ini kemudian diringkas kembali secara lebih ringkas dan aplikatif oleh Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi menjadi kitab Mukhtashar Minhajil Qashidin (مُخْتَصَرُ مِنْهَاجِ الْقَاصِدِينَ) yang sangat berkah dibaca oleh umat Islam hari ini.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
F
Fiedningsih

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

Talbis iblis #12

TALBIS IBLIS #12TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI  KAUM SUFIUSTADZ DR.FIRANDA ANDIRJA, LC.MAKhilaf tentang para ulama asal muasal kata SufiyahAda 5 pendapat:‏1.Nisbah kepada seorang yg dikenal Sufah  Namanya : Al Ghouts bin Murr  Di zaman jahiliyah orang ini mengkhidmatkan dirinya kepada Masjidil Haram  Orang-orang Sufiyah menisbatkan dirinya kepada orang ini2.Nisbah kepada penghuni Suffah   Ini dikritik Imam Jawzi :   Secara bahasa, jika dinisbahkan kpd Suffah, maka bentuk nisbah yg benar adalah Suffi ,bukan sufi   Sehingga tidak tepat di nisbahkan sufi kepada ahlul Suffah3. Nisbah kepada Sufanah yaitu tumbuhan yg banyak tumbuh di padang pasir. Kaum Sufiyah suka        mencabut  tumbuhan ini.    Ini juga dikritik Imam Jawzi :    Jika dinisbahkan kepada Sufanah, maka seharusnya menjadi Sufani, bukan sufi4. Nisbah kepada Sufa Al Qafa yaitu rambut yg tumbuh di belakang leher, sehingga orang dinisbahkan           pada rambut  tersebut, seakan-akan orang sufi menggiring orang kepada Allah  ( memalingkan    manusia dari makhluk menuju Allah ﷻ )5. Nisbah kepada Ash -shuf yaitu bulu domba, kerana mereka memakai pakaian dari wol sehingga    dinisbahkan menjadi sufiSEJARAH MUNCUL SUFIAHMenurut Imam Jawzi intinya :Asal dari sufi /tasawuf menurut para sufiah adalah : latihan jiwa untuk menolak akhlak yg buruk serta menghiasi diri dg akhlak yg terpuji seperti zuhud, sikap sabar(bijak),ikhlas,jujur.Sifat-sifat yg mulia ini akan mendatangkan ujian di dunia dan pahala di akhirat.Kaum sufiyah pertama kali  : untuk melatih diri agar zuhud kepada dunia dan untuk berakhlak yg mulia dan membuang akhlak yg burukKemudian kaum sufiyah ini berubah lalu iblis menggoda mereka dalam banyak perkara, semakin bertambah zaman semakin parah, hingga puncaknya pada orang belakangan / generasi berikutnyaMODEL-MODEL TALBIS IBLISIblis menggambarkan kepada kaum sufiyah ,hakekatnya meninggalkan dunia secara total. Akhirnya   mereka menolak hal-hal yg bermanfaat untuk jasad mereka. Tujuan mereka baik, zuhud terhadap dunia, hanya saja mereka tidak menempuh jalan yg benar. Karena sedikitnya ilmu mereka, akhirnya mengamalkan Hadist-Hadist palsuPembahasan tentang lintasan hati. Yg dibicarakan tentang lapar, kemiskinan,dan bahkan mereka menulis buku tentang ini.Datang kaum sufiyah yg lain mulai mengatur mazhab Sufiyah. Mereka ingin menjelaskan, bahwa tasawuf itu memiliki sifat-sifat khusus yg tidak dimiliki oleh yg lainnya. Salah satunya memakai pakaian Al Muraqqa’ah yaitu pakaian yg ditambal-tambal. Nabi ﷺ pakai suf (pakaian dr bulu domba/wol) bukan sengaja tapi karena kebutuhan, karena dulu tidak semua orang punya kain. Dan Nabi ﷺ juga pernah pakai baju yg ditambal-tambal. Para sahabat juga pakai pakaian yg ditambal-tambal karena terpaksa       Jadi ada kelompok sufi yang : - harus pakai baju seperti ini - dengar nasyid-nasyid dan kadang pakai alat musik - joget/ menari-nari - tepuk tangan         Menuju khayalan yg rusak         Guru-guru mereka mulai membahas tentang Sufiyah, membahas kondisi-kondisi hati. Semakin           parah meraka jauh dari para ulama, bahkan mereka menganggap diri mereka lebih hebat                daripada  para ulama.        Imam Jawzi menyebutkan : tentang perkembangan Sufiyah tidak seperti zaman awal, yang intinya        zuhud kepada dunia dan berusaha berakhlak baik, sekarang berkembang dan aneh seperti joget,        dengar nasyid dan melakukan gerakan yg aneh-aneh4.   Diantara mereka ada yg saking lapar ya, dan melaparkan diri sampai tidak stabil, dan akhirnya          muncul khayalan-khayalan yg rusak     Dari 4 model ini maka muncul akidah-akidah yg menyimpang dan rusaklah akidah merekaIblis terus menggoda mereka dalam berbagai macam model bid’ah, akhirnya orang-orang Sufiyah ini punya sunah-sunnah tersendiri yg bukan sunnah Nabi ﷺAda orang-orang yg menulis tentang SufiyahAbu Nasr Al Sarraj menulis buku tentang Sufiyah, dia mendukung sufiyah, bukunya : Al -Luma’ fi Al Tasawwuf.Imam Jawzi Rahimahullah mentakdzir / memperingatkan kitab-kitab yg mendukung Sufiyah :Abu ‘Abdurrahman as-Sulami : bikin hadist-hadist palsu yang mendukung SufiyahAbu Nasr Al Sarraj : menyebutkan akidah-akidah yg rusak dan perkataan yg hinaAbu Talib Al Makki : judul bukunya Qut Al Qulub, disini dia tulis tentang hadist-hadits bathil, menyebutkan tentang shalat malam yg tidak ada asalnya,dzikir palsu yg bukan dari Nabi ﷺ dan menyebutkan akidah yg menyimpang Imam syafi’i berkata : ‘Siapa yg belajar Sufiyah di pagi hari,belum sampai tengah hari ,kamu dapati dia sudah menjadi orang yang dungu”  Abdul Karim Al Qusyairi : kitabnya Al Risalah, disebutkan tentang keajaiban Sufiyah,istilah-istilah     yg tidak pernah di ajarkan Nabi ﷺAbu Nu’aym Al Isfahani : kitabnya Hilyat Al Awliya, menyebutkan para sahabat kaum sufiyahImam Jawzi mengkritik buku-buku yg mendukung Sufiyah :📚Muhammad Tahir Al maqdisi dg kitab : Safwat Al Tasawwuf, beliau mengingkari bahwa orang ini menyebutkan hal-hal bahwa seorang yg berakal malu menyebutkan yaitu membolehkan melihat wanita-wanita cantik, laki-laki yang tampan📚Abu Hamid Al Ghazali dg kitabnya : ihya ulam al din, dia penuhi bukunya dengan hadist yg bathil, menyebutkan tentang ilmu kaum sufiyah, keluar dari aturan fikih. Dalam buku yg lain dia berkata : kaum sufi itu dalam kondisi terjaga mereka melihat para malaikat, para nabi, mendengar suara-suara, mereka sampai kepada persaksian yg tidak bisa diucapkan dengan kata-kataImam Jawzi memberi uzur kepada para penulis ini, sebab mereka semua menulis buku seperti ini karena , ilmu merek sedikit tentang hadist-hadist Nabi, ilmu mereka tentang Islam juga kurang, riwayat dari para tabi’in juga kurang dan Mereka semangat pada istilah orang Sufiyah, mereka senang dg tulisan orang Sufiyah karena sudah terpatri dalam jiwa bahwa zuhud itu bagusDulu kaum sufiyah zaman awal , mereka menjauh dari para penguasa, Sufiyah yg sekarang teman-temannya para penguasa

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →