📝 Talbis Iblis #jejakcahaya

Laporan & catatan kegiatan Talbis Iblis #jejakcahaya

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
A
Amika Aspar

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis Iblis #11

Talbis Iblis #11: Talbis Iblis Terhadap Kaum Zuhud - Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.APoin-Poin Utama Talbis Iblis dalam Melalaikan Hak Keluarga * Sikap Diam yang Berlebihan Sebagian orang yang mengklaim zuhud terus-menerus memilih diam dan menyendiri hingga enggan bercengkerama atau bergaul dengan istrinya, sehingga memicu buruknya akhlak dalam keluarga. * Melanggar Hak Pasangan Sikap menutup diri dan enggan diajak berbicara ini menyalahi sabda Nabi Muhammad yang menegaskan bahwa istri memiliki hak yang wajib ditunaikan oleh suaminya. * Pembagian Porsi yang Adil dalam Islam Melalui kisah Salman Al-Farisi yang menegur Abu Darda karena terlalu sibuk salat malam dan puasa, Nabi membenarkan bahwa hak Allah, hak jasad, hak tamu, dan hak istri harus ditunaikan secara seimbang. * Meneladani Akhlak dan Hubungan Harmonis Nabi Nabi Muhammad tetap meluangkan waktu yang besar untuk keluarga, seperti mengobrol dengan istri sebelum tidur, mendengarkan cerita mereka, bahkan mengajak lomba lari untuk menyenangkan hati Aisyah. * Kesalahpahaman Ahli Zuhud yang Kurang Ilmu Mereka mengira bahwa mengobrol dengan istri atau bermain dengan anak dapat melalaikan akhirat, padahal mendidik keluarga, mencari nafkah, dan menjaga keharmonisan adalah ladang pahala yang mendekatkan diri ke akhirat. * Meninggalkan Kewajiban Demi Perkara Sunnah Sebagian orang menyiksa batin pasangannya dengan menolak memenuhi kebutuhan biologis dan nafkah karena alasan ingin fokus ibadah atau dakwah, yang berujung pada penelantaran keluarga secara keliru.Poin-Poin Utama Talbis Iblis berupa Penyakit Ujub dan Kagum pada Amal * Mengagumi Amalan Sendiri Iblis membisikkan rasa bangga di dalam hati ahli ibadah terhadap kuantitas bacaan Al-Quran, sedekah, dan perilaku zuhud yang telah mereka lakukan. * Terbuai oleh Pujian Manusia Saat orang lain memuji mereka sebagai wali atau pasak bumi, mereka menerimanya dengan senang hati tanpa ada upaya untuk mengkritik diri atau merasa takut. * Menanti Munculnya Karomah Sebagian orang berangan-angan agar amalan mereka membuahkan kemampuan luar biasa seperti berjalan di atas air, dan mereka merasa berhak mendapatkan hal tersebut. * Menggerutu Saat Doa Tidak Dikabulkan Mereka merasa sudah banyak beramal sehingga mengeluh saat doa belum dikabulkan, bersikap seolah-olah seorang pekerja yang menuntut upah atau gaji di hadapan Allah. * Hakikat Meneladani Istigfar para Nabi Nabi Muhammad selalu beristigfar setelah salat dan haji, serta menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang masuk surga murni karena amalnya, melainkan karena rahmat Allah.Poin-Poin Utama Mengenal Asal-usul Istilah Sufi * Istilah yang Baru Muncul Pada zaman Nabi Muhammad dan para sahabat hanya dikenal istilah muslim dan mukmin, yang kemudian disusul dengan sebutan zahid (ahli zuhud) serta abid (ahli ibadah). * Penyimpangan Metode Ibadah Seiring berjalannya waktu, sebagian kelompok mulai melonggarkan nilai zuhud dengan memasukkan unsur lantunan musik, qasidah, dan joget-joget yang diklaim sebagai bagian dari ibadah. * Penyerapan Pengikut dari Berbagai Sisi Kelompok ini diminati pencari akhirat karena penampilan luar yang tampak zuhud, sekaligus disukai pencari dunia karena adanya hiburan nyanyian dan tarian di dalamnya. * Pendapat Mengenai Akar Kata Sufi Sebagian ulama menyebut istilah ini dinisbatkan kepada tokoh bernama Sufah bin Mur pada zaman jahiliyah yang mengkhususkan diri berkhidmat di sekitar Ka'bah. * Kekeliruan Nisbah kepada Ahli Suffah Sebagian orang mengira Sufi berasal dari kata ahlus suffah (kaum miskin yang tinggal di belakang Masjid Nabawi), padahal secara tata bahasa Arab penisbatan tersebut kurang tepat. * Fakta Kehidupan Ahlus Suffah Kaum yang tinggal di area suffah tersebut berada di sana karena terpaksa oleh keadaan miskin dan tidak punya rumah, bukan karena sengaja memilih cara hidup seperti itu. Saat kondisi ekonomi membaik, mereka segera pindah dan hidup normal.KesimpulanIslam adalah agama yang profesional dan realistis yang mengatur setiap hak secara proporsional. Pelarian ekstrem dengan cara menelantarkan hak keluarga demi ritual pribadi, merasa ujub dengan amal, serta beribadah menggunakan tarian dan musik merupakan bentuk tipu daya iblis yang keluar dari tuntunan murni Nabi Muhammad dan para sahabat.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
D
Deni trisiananingrum

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Talbis iblis bagian 11

Kitab TALBIS IBLIS - “Tipuan Iblis”karangan Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Ibnul JauziBagian 11Oleh Ustadz Firanda AndirjaSumber: Youtube Firanda Andirja Talbis Iblis-11BAB KESEMBILAN: PENIPUAN IBLIS TERHADAP PARA ZAHID DAN AHLI IBADAHBagian 3 ◦ Di antara ahli zuhud ada yang menekuni diam terus-menerus dan menyendiri dari bergaul dengan keluarganya. Dia menyakiti mereka dengan buruknya akhlak dan bertambahnya ketertutupannya. Dia lupa sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: "Sesungguhnya keluargamu memiliki hak atasmu." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bercanda, bermain dengan anak-anak, berbincang dengan istri-istrinya, dan berlomba lari dengan Aisyah, dan akhlak-akhlak halus lainnya. Maka orang yang berzuhud ini menjadikan istrinya seperti janda dan anaknya seperti yatim karena menyendiri dari mereka dan buruknya akhlaknya, karena dia melihat bahwa itu menyibukkannya dari akhirat. Dia tidak tahu karena sedikitnya ilmunya bahwa bersikap lapang kepada keluarga termasuk pertolongan untuk akhirat. ◦ Di antara ahli zuhud ada yang melihat amalnya lalu dia kagum dengannya. Seandainya dikatakan kepadanya: "Kamu termasuk pasak bumi," dia melihat itu benar. Di antara mereka ada yang mengintai munculnya karamah-nya dan mengkhayalkan bahwa seandainya dia dekat dengan air, dia mampu berjalan di atasnya. Jika suatu perkara menimpanya lalu dia berdoa tetapi tidak dikabulkan, dia bersungut-sungut dalam batinnya seolah-olah dia buruh yang menuntut upah kerjanya. Seandainya dia diberi pemahaman, dia akan tahu bahwa dia adalah hamba yang dimiliki, dan yang dimiliki tidak berbuat baik dengan kerjanya. Seandainya dia melihat taufik-nya untuk beramal, dia akan melihat wajibnya syukur, maka dia takut dari kekurangan dalam itu. Seharusnya rasa takutnya atas amal dari kekurangan dalam itu menyibukkannya dari melihat kepada amalnya, sebagaimana Rabi'ah berkata: "Aku minta ampun kepada Allah dari sedikitnya kejujuran dalam ucapanku." Dikatakan kepadanya: "Apakah kamu telah mengerjakan amal yang kamu lihat akan diterima darimu?" Dia berkata: "Jika ada, maka rasa takutku bahwa itu akan ditolak atasku." ◦ Di antara tipu daya Iblis kepada segolongan ahli zuhud yang masuk kepada mereka dari sedikitnya ilmu adalah bahwa mereka beramal dengan kejadian-kejadian mereka dan tidak memperhatikan ucapan ahli fiqih. Ibnu 'Aqil berkata: "Abu Ishaq al-Kharraz adalah orang saleh dan dia orang pertama yang mengajariku kitab Allah. Kebiasaannya adalah menahan diri dari berbicara di bulan Ramadhan. Dia berbicara dengan ayat-ayat Al-Qur'an untuk keperluan yang terjadi padanya. Dia berkata di telinganya: 'Masuklah kepada mereka melalui pintu' (QS. Al-Baqarah: 58) dan berkata kepada anaknya di sore hari berpuasa: 'Dari sayur-mayur dan mentimunnya' (QS. Al-Baqarah: 61), memerintahkannya untuk membeli sayuran. Aku berkata kepadanya: 'Yang kamu yakini sebagai ibadah ini adalah kemaksiatan.' Hal itu berat baginya. Aku berkata: 'Sesungguhnya Al-Qur'an yang mulia ini diturunkan dalam menjelaskan hukum-hukum syariat, maka tidak boleh digunakan untuk tujuan- tujuan duniawi. Ini tidak lain seperti kamu menjadikan daun bidara dan sabun di dalam lembaran mushaf atau menjadikannya sebagai bantal.' Maka dia meninggalkanku dan tidak mendengarkan hujjah." ◦ Di antara tipu dayanya pada para zahid adalah membuat mereka meremehkan para ulama dan mencela mereka. Mereka berkata: "Yang dimaksud adalah amal." Mereka tidak memahami bahwa ilmu adalah cahaya hati. Seandainya mereka mengetahui kedudukan para ulama dalam menjaga syariat dan bahwa itu adalah kedudukan para nabi, niscaya mereka menganggap diri mereka seperti orang bisu di hadapan orang fasih dan seperti orang buta di hadapan orang yang melihat. Para ulama adalah petunjuk jalan, dan makhluk berada di belakang mereka. Sedangkan yang salah ini berjalan sendiri. Dalam Sahihain dari hadis Sahl bin Sa'd, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu: "Demi Allah, sungguh jika Allah memberikan petunjuk kepada seorang laki-laki melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah." ◦ Di antara yang mereka celakan pada para ulama adalah lapangnya para ulama dalam sebagian perkara mubah yang mereka gunakan untuk memperkuat diri dalam mempelajari ilmu. Demikian pula mereka mencela pengumpul harta. Seandainya mereka memahami makna mubah, niscaya mereka tahu bahwa pelakunya tidak tercela. Paling jauh, yang lain lebih utama darinya. Pantaskah bagi orang yang shalat malam mencela orang yang menunaikan fardhu lalu tidur?Penulis berkata: "Aku katakan: Celakalah para ulama dari zahid jahil yang merasa cukup dengan ilmunya sehingga dia melihat keutamaan sebagai kewajiban. Sesungguhnya yang dia ingkari itu mubah, dan yang mubah itudiizinkan. Syariat tidak mengizinkan sesuatu lalu mencela pelakunya. Betapa buruknya kebodohan! Seandainya dia berkata kepada mereka: 'Seandainya kalian membatasi diri pada apa yang kalian miliki agar orang-orang mencontoh kalian,' itu lebih mendekati kebenaran. Seandainya dia mendengar bahwa Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhum dan si fulan serta si fulan dari para sahabat meninggalkan harta yang banyak, kira-kira apa yang akan dia katakan? Padahal Tamim ad-Dari membeli pakaian seharga seribu dirham dan dia shalat malam mengenakannya. Maka diwajibkan atas zahid untuk belajar dari para ulama. Jika dia tidak mau belajar, hendaklah dia diam. Hadis dengan sanad dari Malik bin Dinarradhiyallahu 'anhu, dia berkata: "Sesungguhnya syaitan bermain-main dengan para qurra' sebagaimana anak-anak bermain dengan kacang." Dengan sanad dari Habib al-Farisi yang berkata: "Demi Allah, sesungguhnya syaitan bermain- main dengan para qurra' sebagaimana anak-anak bermain dengan kacang."Penulis berkata: "Yang dimaksud dengan qurra' adalah para zahid. Ini adalah nama lama yang dikenal untuk mereka. Allah-lah yang memberi taufik pada kebenaran, dan kepada-Nya tempat kembali dan tempat berakhirBAB KESEPULUH: TENTANG TIPU DAYA IBLIS PADA PARA SUFI DARI GOLONGAN AHLI ZUHUD ◦ Bagian 1Ibnul Jauzi berkata: "Para sufi termasuk dari golongan zahid. Kami telah menyebutkan tipu daya Iblis pada para zahid, namun para sufi menyendiri dari para zahid dengan sifat-sifat dan keadaan keadaan tertentu serta bercirikhas dengan ciri-ciri khas, maka kami perlu menyebutkan mereka secara terpisah. Tasawuf adalah jalan yang awalnya adalah zuhud total, kemudian orang-orang yang menisbatkan diri kepadanya memberi kelonggaran dalam mendengar (musik) dan menari. Maka condong kepada mereka para pencari akhirat dari kalangan awam karena apa yang mereka tampakkan berupa kezuhudan, dan condong kepada mereka para pencari dunia karena apa yang mereka lihat pada mereka berupa kenyamanan dan permainan. Maka harus dibuka tipu daya Iblis pada mereka dalam jalan kaum ini. Hal itu tidak tersingkap kecuali dengan membuka asal jalan ini beserta cabang cabangnya dan menjelaskan urusan-urusannya. Allah-lah yang memberi taufik pada kebenaran."Asal Usul Nama SufiIbnul Jauzi berkata: "Penyebutan pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah pada iman dan Islam, maka dikatakan muslim dan mukmin. Kemudian muncul nama zahid dan abid. Kemudian bangkit suatu kaum yang terpaut pada zuhud dan ibadah, maka mereka mengasingkan diri dari dunia dan memutuskan diri untuk beribadah. Mereka mengambil dalam hal itu suatu jalan yang mereka sendirikan dan akhlak yang mereka akhlaki. Mereka melihat bahwa orang pertama yang menyendiri dalam melayani Allah Subhanahu wa Ta'ala di Baitullah al-Haram adalah seorang laki-laki yang disebut Shufah, namanya al-Ghauth bin Murr. Maka mereka menisbatkan diri kepadanya karena kemiripan mereka dengannya dalam memutuskan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga mereka disebut Sufiyah Abdul Ghani berkata: "Mereka yang dikenal dengan Shufah ini adalah keturunan al-Ghauth bin Murr bin saudara Tamim bin Murr." Dengan sanad kepada Zubair bin Bakkar, dia berkata: "Pemberian izin haji untuk manusia dari Arafah adalah kepada al-Ghauth bin Murr bin Add bin Thabikhah, kemudian berada pada keturunannya. Mereka disebut Shufah. Jika tiba waktu berangkat, orang Arab berkata: 'Berangkatlah Shufah.'" Pendapat Lain tentang Asal Kata SufiIbnul Jauzi berkata: "Ada sekelompok orang yang berpendapat bahwa : ◦ tasawuf dinisbatkan kepada Ahli Shuffah (Ahli Serambi). Mereka berpendapat demikian karena mereka melihat Ahli Shuffah sebagaimana yang kami sebutkan dari sifat Shufah dalam memutuskan diri kepada Allah 'azza wa jalla dan melazimi kemiskinan. ◦ Sebab Ahli Shuffah adalah orang-orang fakir yang datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa keluarga dan harta. Maka dibuatkan untuk mereka serambi (shuffah) di masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan dikatakan Ahli Shuffah. Hadis dengan sanad dari Hasan, dia berkata: "Dibangun serambi untuk orang- orang lemah dari kaum muslimin. Kaum muslimin menyampaikan kepada mereka apa yang mereka mampu dari kebaikan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepada mereka dan berkata: 'Assalamu'alaikum wahai Ahli Shuffah.' Mereka berkata: 'Wa'alaika assalam ya Rasulallah.' Beliau berkata: 'Bagaimana kalian pagi ini?' Mereka berkata: 'Dengan baik ya Rasulallah.'" ◦ "Kaum ini hanya duduk di masjid karena terpaksa dan hanya memakan sedekah karena terpaksa. Ketika Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin, mereka tidak memerlukan keadaan itu lagi dan keluar. Menisbatkan sufi kepada Ahli Shuffah adalah keliru karena jika demikian, seharusnya dikatakan Shufo. ◦ Ada yang berpendapat bahwa itu dari ash-Shufanah yaitu sejenis tanaman liar yang pendek. Mereka dinisbatkan kepadanya karena mereka cukup dengan tumbuhan padang pasir. Ini juga keliru karena jika dinisbatkan kepadanya, seharusnya dikatakan Shufan

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
F
Fatimah Azzahrah

📍 Kabupaten Banggai

Talbis iblis terhadap ahli zuhud

Ustadz Dr. Firanda Andirja, lc. M. ATALBIS IBLIS#11Talbis iblis terhadap kaum zuhud‌perhatian terhadap hak² keluargaDiantara orang² zuhud, mereka senantiasa diam (kontinyu dalam diamnya) sehingga mereka bersendiri dan menjauhkan diri dari bercengkrama dengan istri, mereka hanya menyakiti istri dengan buruknya akhlaknya. Susah untuk di ajak berbicara dan bergaul. Lupa dengan hadits nabi صلى الله عليه وسلم "sesungguhnya istri mu jga punya hak atas mu".Salman Al Farisi menegur Abu Darda karena Abu Darda sangat senang beribadah kepada Allah, malam hari sholat malam, dan siang hari berpuasa. Sehingga kurang memberikan gak istrinya. Salman Al Farisi menegur dengan mengatakan "Sesungguhnya Rabb mu punya hak, jasad mu punya hak, tamu mu punya hak, dan istrimu punya hak untuk kau tunaikan, maka penuhilah masing² haknya". Rasulullah jga bercanda dang bermain dengan anak², ngobrol bersama istri²nya, dan lomba lari bersama Aisyah, dan banyak hal yang di lakukan nabi صلى الله عليه وسلم dengan akhlaknya yang mulia. Diantara sunnah nabi adalah ngobrol dengan istri sebelum tidur. Orang zuhud yang menjadikan istrinya seperti janda dan anaknya seperti anak yatim, karena dia tdk ngobrol sama mereka, bersendiri meninggalkan mereka, dan jga karena akhlaknya yang buruk. Menyangka bahwasanya apa yang dia lakukan ketika dia ngobrol bersma istrinya dan bermain sama anaknya, seakan-akan membuat dia lalai dari akhirat. Dan dia tdk tahu bahwa bersama keluarga membantu seseorang untuk dekat dengan akhirat. Diantara tujuan pernikahan adalah agar tentram dengan keluarga. Diantara keistimewaan Rasullulah adalah tdk melalaikan hak² istri²nya di tengah² kesibukannya. "Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia seutuhnya"."Agama islam adalah agama yang realistis".Diantara mereka meninggalkan yang wajib karena ingin melakukan sesuatu yang di anggap sunnah padahal tdk terpuji. Diantara mereka Kagum dengan amal sholehnya. Klw ada yang berkata kepadanya "engkau adalah termasuk pasak² bumi (wali hebat)" dia memandang itu perkataan yang benar. Membenarkan pujian terhadapnya. Nabi berkata "Tidak seorangpun dari kalian yang masuk surga dengan amalnya".Yang memasukkan kedalam surga adalah rahmat Allah.Diantara mereka menanti² karamahnya muncul. Dan dihayalkan kepadanya bisa berjalan diatas air. Menggerutu ketika do'anya tdk di ijaair, Seakan² dia adalah pekerja yang bekerja kepada Allah, dan meminta gajinya. "Amal kita tdk ada apa²nya jika dibandingkan dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita".Ibnuk Qoyyim berkata "Bisa jadi seseorang karena melakukan maksiat masuk surga, dan bisa jadi seseorang melakukan amal sholeh justru masuk neraka".Tipuan syaitan terhadap kaum sufiyyahKaum sufiyyah merupakan bagian daripada orang² zuhud. Tasawuf adalah suatu metode yang awalnya di mulai dengan zuhud secara totalitas. ‌Asal muasal sufiyyahDi zaman nabi tdk ada sufiyyah, yang ada hanya islam dan iman, di katakan seorang muslim atau mu'min. Kemudian muncul belakangan istilah zahid (zuhud terhadap dunia) dan abid (ahli ibadah). Kemudian muncul lagi suatu kaum yang mereka beramal terikat dengan zuhud dan ibadah, dan mereka meninggalkan dunia. Dan mereka membuat metode sendiri yang berbeda dengan yang lain, dan mereka punya akhlak khusus yang mereka sengaja untuk berakhlak dengan akhlak tersebut. Mereka memandang, menamakan diri mereka dengan sufiyyah karena yang dikenal pertama kali mengkhususkan dirinya untuk berkhidmat kepada Allah di masjidil Haram, dulu ada seorang lelaki di kenal dengan suffah namanya Algos bin murr. Maka mereka pun berafiliasi kepada orang ini. Karena merka menyangka dirinya mirip dengan orang tersebut. Mereka yang mengaku sebagai sufiyyah adalah pengikut algos bin mur dari kabilah Tamim bin mur. Nabi bersabda "Yang pertama kali melewati sirath (Agar masuk surga duluan) pada hari kiamat kelak adalah orang² fakir dari kaum muhajirin yang pakaian mereka kotor, dan kepala mereka tdk terurus rambutnya, mereka tdk menikahi para wanita² yang kaya".Penisbahan sufiyyah kepada kaum suffah (orang² yh ang tinggal di belakang masjid Nabawi karena tdk ada tempat tinggal) adalah penisbahan yang salah.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Materi 11

Talbis Iblis Terhadap Kaum Zuhud dan Sufiah​Pemateri: Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.Sumber: Talbis Iblis karya Imam Ibnu Jauzi rahimahullahu ta’ala.​I. Hak-Hak Keluarga dalam Islam​Banyak orang yang mengaku zuhud melakukan kesalahan fatal dengan menganggap zuhud berarti meninggalkan dunia secara mutlak. Hal ini berujung pada pengabaian hak-hak keluarga.​Kesalahan Konsep: Mereka cenderung menyendiri, diam, dan dingin terhadap istri karena menganggap interaksi keluarga akan melalaikan dari akhirat.​Peringatan Nabi: Islam adalah agama profesional dengan porsi yang seimbang. Sebagaimana nasihat Salman Al-Farisi kepada Abu Darda, seorang mukmin memiliki kewajiban terhadap Rabb, tubuh, tamu, dan keluarga.​Contoh Keteladanan:​Rasulullah ﷺ selalu bercanda dan bermain dengan istri serta anak-anak.​Sunnah mengobrol dengan istri sebelum tidur (sebagai sebab kebahagiaan keluarga).​Rasulullah ﷺ mendengarkan cerita Aisyah (hadis Ummu Zar’) dengan perhatian penuh hingga akhir.​Rasulullah ﷺ mengajak Aisyah berlomba lari sebagai bentuk kasih sayang dan hiburan yang halal.​Pesan Utama: Mengurus keluarga, menunaikan hak istri, dan mendidik anak adalah bentuk ibadah yang membantu seseorang dekat dengan akhirat, bukan penghalang.​II. Bahaya Ujub (Kekaguman Terhadap Diri Sendiri)​Orang yang sok zuhud sering terjebak dalam penyakit hati karena merasa amal salehnya sudah sangat hebat.​Sikap Terhadap Pujian: Orang yang tertipu Talbis Iblis akan merasa benar/bangga ketika dipuji sebagai "Wali" atau "Pasak Bumi". Sebaliknya, para ulama salaf sangat membenci pujian karena menyadari hakikat diri yang penuh kekurangan.​Keteladanan Nabi: Rasulullah ﷺ tetap beristigfar setelah melaksanakan amal besar (salat, haji, dakwah). Hal ini menunjukkan bahwa amal seorang hamba tidak ada apa-apanya dibandingkan keagungan Allah.​Kaidah Amal: Kita masuk surga bukan karena amal kita, melainkan karena rahmat Allah. Amal hanyalah sebab/perantara, bukan penentu mutlak.​Pentingnya Syukur: Merasa amal sudah "wow" akan menyeret seseorang kepada ujub dan kesombongan, sedangkan menyadari kekurangan amal akan menumbuhkan rasa takut dan syukur.​III. Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufiah​Imam Ibnu Jauzi mengkhususkan pembahasan mengenai kaum Sufiah karena mereka memiliki metode, keyakinan, dan karakteristik yang spesifik dibandingkan kaum zuhud secara umum.​Pergeseran Metode: Awalnya tasawuf berfokus pada zuhud totalitas. Namun, seiring waktu, muncul kelonggaran (penyimpangan) seperti memasukkan unsur musik, qasidah dengan alat musik, dan menari sebagai bentuk ibadah.​Asal-Usul Istilah:​Pendapat 1: Penisbahan kepada al-Ghauts bin Mur (seorang yang fokus beribadah di sekitar Ka'bah pada zaman jahiliyah).​Pendapat 2: Penisbahan kepada Ahlus Suffah (orang miskin yang tinggal di serambi belakang Masjid Nabawi).​Koreksi Sejarah: Imam Ibnu Jauzi menegaskan bahwa para penghuni Suffah hidup miskin bukan karena pilihan/gaya hidup, melainkan karena kondisi darurat. Ketika mereka mampu, mereka tidak lagi tinggal di sana. Oleh karena itu, menggunakan istilah Sufi dengan menyamakan diri secara sengaja dengan Ahlus Suffah adalah penisbahan yang keliru.​Kesimpulan Utama:​Zuhud yang Benar: Zuhud bukan berarti meninggalkan kewajiban duniawi (keluarga, nafkah, hak sosial), melainkan mengelola dunia sesuai porsinya tanpa berlebih-lebihan hingga melalaikan akhirat.​Kerendahan Hati: Seorang hamba wajib merasa bahwa amalnya selalu kurang dan selalu membutuhkan ampunan Allah (Ghufranaka).​Kritik terhadap Penyimpangan: Segala bentuk praktik ibadah yang tidak ada contohnya dari Rasulullah ﷺ (seperti musik/tarian sebagai ibadah) adalah bentuk kelonggaran yang menjauhkan dari esensi zuhud yang murni.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
E
Ellisa Septiana

📍 Kota Depok

Talbis iblis #11 : Talbis Iblis Terhadap Kaum Zuhud -Ustadz dr.Firanda-

Zuhud harus seimbang dengan hak keluarga: Banyak orang salah faham zuhud sebagai meninggalkan dunia total. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan memenuhi hak keluarga, terutama istri dan anak-anak. Kesejahteraan spiritual dan duniawi harus berjalan beriringan tanpa menzalimi keluarga.Hak-hak utama meliputi Allah, jasad, dan keluarga: Dalam Islam, tiga pilar hak yang harus dijaga adalah hak Allah, hak tubuh (jasad), dan hak keluarga (istri). Fokus berlebihan pada satu sisi (misalnya hanya ibadah) dapat menimbulkan kerusakan pada sisi lain seperti hubungan keluarga yang harmonis.Rasulullah sebagai teladan perhatian keluarga: Nabi Muhammad SAW adalah contoh sempurna bagaimana seorang yang sangat sibuk sekalipun tidak pernah mengabaikan hak istri dan anak-anak, bahkan menyediakan waktu untuk bercanda dan berinteraksi penuh kasih sayang, menegaskan bahwa ibadah dan keluarga berjalan paralel.Interaksi dan keakraban dalam rumah tangga adalah ibadah: Rasulullah menganjurkan untuk mencari pasangan yang bisa diajak bercanda, yang menguatkan hubungan batin. Hal ini menandakan bahwa persahabatan dan kehangatan emosional dalam pernikahan adalah bagian dari bagaimana syariat membangun ketenangan jiwa.Kesalahan zuhud ekstrem menimbulkan masalah sosial: Zuhud yang keliru seperti meninggalkan HP, menunda berkomunikasi dengan istri, dan mengabaikan keluarga justru menimbulkan luka batin, bukan spiritualitas yang benar. Zuhud sejati justru mengedepankan pemenuhan tanggung jawab dunia dan akhirat bersama-sama.Transformasi Sufiyah dari zuhud ke bentuk tasawuf baru: Keberadaan Sufiyah diawali dari semangat zuhud, tapi berubah dengan dimasukkannya elemen musik dan joget yang membuat sebagian masyarakat bingung dan mengidolakan mereka walaupun kurang sejati dalam zuhud. Ini merupakan babak penting dalam sejarah tasawuf yang perlu dikaji ulang.Kerendahan hati dan istighfar sebagai karakter utama: Nabi Muhammad SAW selalu beristighfar meskipun beliau memiliki amal shaleh yang luar biasa. Hal ini mengajarkan bahwa setiap manusia harus tetap rendah hati, menyadari bahwa amal hanyalah titipan dan pemberian dari Allah, dan tidak boleh merasa sombong atau ujub atas amalnya.Kesimpulan : pentingnya memahami zuhud secara benar dalam Islam dengan keseimbangan yang tepat antara ibadah dan tanggung jawab terhadap keluarga. Rasulullah SAW adalah contoh nyata bagaimana menjalankan peran sebagai hamba Allah sekaligus suami yang penuh kasih dan perhatian. sikap zuhud ekstrem yang memutus komunikasi dan kasih sayang dalam keluarga justru menyalahi ajaran. Selain itu, pembahasan tentang kaum Sufiyah juga mengingatkan akan pergeseran dan penipuan setan yang merubah makna zuhud. Yang terakhir, umat diajarkan agar selalu bersikap rendah hati, tidak sombong, dan selalu beristighfar karena amal yang kita kerjakan bukan sesuatu yang luar biasa dibanding kebesaran dan nikmat Allah SWT. Pemahaman holistik dan keseimbangan ini sekaligus menjadikan Islam agama yang realistis dan mudah diamalkan, bukan yang mengharuskan kita meninggalkan urusan dunia secara total sehingga merugikan diri dan keluarga. Ini adalah pelajaran penting untuk setiap Muslim dalam mengatur hidup dunia dan akhirat secara benar.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
E
Elsa Ulfah Hakim

📍 Luar Indonesia

Talbis Iblis 11: Talbis Iblis terhadap Ahli Zuhud bagian 2

Talbis Iblis 11: Talbis Iblis terhadap Ahli Zuhud bagian 2Ustadz Dr. Firanda AndirjaDi antara orang-orang zuhud mereka senantiasa diam sehingga mereka menjauhi diri bercengkrama dengan istrinya. Akhirnya mereka hanya menyakiti istri-istrinya dengan akhlaknya yang buruk. Dan mereka lupa dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu “sesungguhnya istrimu juga punya hak atasmu.”Islam itu adalah agama yang proporsional, masing-masing ada porsinya. Jika salah satu porsinya berlebihan maka akan melalaikan porsi yang lain.Salman Al Farisi pernah menegur Abu Darda karena Abu Darda sangat senang dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga ia kurang menunaikan hak-hak istrinya. Salman Al Farisi berkata “Sesungguhnya bagi Rabbmu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak. Maka penuhilah masing-masing hak tersebut.”Kemudian Abu Darda’ mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menceritakan apa yang baru saja terjadi. Beliau lantas bersabda, “Salman itu benar.” (HR. Bukhari no. 1968).Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berumah tangga yaitu:Rasulullah suka bercandaRasulullah bermain dengan anak-anakRasulullah senang ngobrol dengan istri-istrinya sebelumDan masih banyak hal lain yang Rasulullah kerjakan dengan akhlak yang mulia.Ibnu ‘Abbas berkata “Aku tidur di rumah bibiku Maemunah (istri Nabi), aku mendengar Rasulullah mengobrol dengan istrinya beberapa saat kemudian ia tidur.”Orang yang salah dalam melakukan zuhud, ia menjadikan istrinya seperti janda dan anaknya seperti anak yatim karena ia menyendiri dan tidak mengobrol dengan istri dan anaknya. Ia menyangka jika ia mengobrol dengan anak dan istrinya seakan-akan  ia lalai dengan akhirat. Hal ini disebabkan karena minimnya ilmu, ia tidak tahu bahwa nyaman dengan keluarga adalah salah satu bentuk membantu seseorang untuk dekat dengan akhirat.Segala kegiatan yang bisa menumbuhkan cinta kasih antara suami isteri maka disyariatkan. Tidak ada yang lebih sibuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mengurusi umat, banyak musuh-musuh yang ingin menyerang, mengurusi hukum-hukum yang terus turun, selalu menjadi tempat bertanya para sahabat, dll. Di tengah kesibukan itu semua beliau tidak pernah melalaikan hak-hak istrinya. Inilah di antara keistimewaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Zuhud bukan berarti kita meninggalkan dunia seluruhnya.Islam adalah agama yang realistis, kita diajarkan bagaimana menjadi pemimpin yang benar, rakyat yang benar, ulama yang benar, penuntut ilmu yang benar, kepala keluarga yang benar, istri yang benar, zuhud yang benar, semua jelas dan ada porsinya masing-masing tidak berlebihan. Agar seseorang tidak berijtihad salah dalam menjalankan syari’at ini. Syari’at ini sempurna karena diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala yang lebih tahu maslahat manusia.Ibnu Jauzi berkata terkadang seseorang ingin menjauhi dunia dengan tidak menggauli istrinya. Maka akhirnya ia melalaikan yang wajib hanya karena ingin melakukan sesuatu yang dianggap sunnah padahal tidak terpuji.Di antara orang yang zuhud adalah ia kagum dengan amal sholehnya. Jika ada seseorang yang berkata “Engkau adalah termasuk pasak-pasak bumi (wali hebat)” maka ia akan memandang bahwa itu adalah perkataan yang benar.Ibnu Jauzi berkata bahwa seseorang yang benar tidak boleh memandang amalnya. Menganggap amalnya hebat. Ia harus memandang amalnya selalu kurang dan tidak sempurna. Seperti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak pernah memandang amalnya, sehabis sholat ia selalu mengucapkan “astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.” Karena beliau tau Allah begitu agung, amalnya tidak ada apa-apanya dibandingkan keagungan Allah.Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” (HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816).Di antara orang yang zuhud ini adalah ia menanti-nanti kapan karomahnya muncul dan dikhayalkan kepadanya jika ia sudah sampai disuatu air ia akan menganggap bisa berjalan di atas air. Jika ada suatu perkara yang datang kepadanya kemudian berdo’a namun ternyata do’anya tidak dikabulkan maka ia menggerutu di dalam dirinya. Kata Ibnu Jauzi seakan-akan dia adalah pekerja yang bekerja kepada Allah dan ia seperti meminta gajinya. Jika ia dikasih pemahaman oleh Allah dan ia sadar bahwa ia adalah hamba yang seperti budak sahaya yang dimiliki oleh majikannya dan namanya budak tidak pernah menentang dengan apa yang ia kerjakan terhadap majikannya. Jika ia memandang tentang bagaimana Allah memberikan ia taufik untuk bisa belajar maka ia tahu bahwa ini wajib untuk disyukuri dan seharusnya ia takut tentang kurangnya ia dalam menjalankan syukur kepada Allah.Allah membantah sebagian Arab badui yang merasa berjasa kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mereka masuk islam. Maka Allah menyuruh Nabi bantah “jangan kalian merasa berjasa kepadaku karena masuk islam tapi Allah yang telah berjasa dan telah memberikan anugerah kepada kalian dengan memberikan hidayah kepada kalian terhadap islam.”Jangan pernah sekali-sekali memandang bahwa apa yang sudah kita lakukan ini sesuatu yang mengaggumkan, itulah ujub. Karena apa yang kita lakukan itu pasti kurang dari keagungan Allah. Kita tidak mampu mensyukuri nikmat-nikmat Allah sebagaimana selayaknya.Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika keluar dari kamar mandi beliau mengucapkan “ghufronaka (ampunanMu ya Allah)”. Sebagian ulama menjelaskan itu adalah isyarat bahwasannya buang hajat adalah nikmat yang luar biasa jadi wajib untuk disyukuri.Amal kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nikmat yang Allah berikan. Seharusnya kita tahu bahwa kita wajib bersyukur dan kita tahu bahwa kita tidak pandai untuk bersyukur.Dan seharusnya seseorang bukan merasa kagum dengan amalnya namun ia seharusnya sibuk bahwa amalnya itu masih kurang sehingga tidak memandang amalnya hebat.Jangan seseorang terpedaya dengan amalnya karena khawatir ia terkena penyakit ujub.Ibnul Qayyim mengatakan bisa jadi seseorang karena melakukan maksiat, ia masuk surga dan bisa jadi seseorang melakukan amal sholeh justru ia masuk neraka.Hal ini dikarenakan, orang yang melakukan maksiat, ia menyesal dan selalu bertaubat kepada Allah dan selalu merasa dirinya rendah karena dosa-dosanya maka karena hal itu ia masuk surga. Sementara seseorang yang melakukan amal sholeh, ia ujub dengan amalannya akhirnya ia masuk neraka karena ia ujub dengan amalan yang ia lakukan.Talbis iblis terhadap kaum sufiyyah dan mereka bagian dari orang-orang zuhud.Namun mereka lebih spesifik (memiliki sifat-sifat dan kondisi tertentu) dari kaum yang zuhud secara umum.Tassawuf adalah suatu metode yang awalnya dimulai dengan zuhud secara totalitas. Kemudian lama-lama, orang yang menisbahkan dirinya kepada sufiyyah mulai longgar dengan mendengar lantunan musik dan menari. Namun belakangan kata Ibnu Jauzi muncul orang-orang yang mengambil kelonggaran-kelonggaran dengan menggabungkan sufiyyah dengan mendengarkan musik dan menari. Mereka menganggap bahwa lantunan musik itu ibadah dan menari itu ibadah. Maka akhirnya sebagian orang-orang awam yang orientasinya kepada akhirat condong kepada kaum sufiyyah ini karena kaum sufiyyah ini walaupun mereka mendengarkan musik dan menari namun mereka tetap zuhud kehidupannya. Selain itu pencari dunia senang dengan zuhud  yang ada pada kaum sufiyyah karena merasa ada bersantai-santainya. Sehingga bergabunglah para pencari akhirat dan dunia. Ibnu Jauzi menceritakan kaum sufiyyah di zaman beliau dahulu.Di zaman Nabi tidak ada sufiyyah dan ini adalah istilah baru. Di zaman Nabi hanya ada islam dan iman. Kemudian muncul istilah zahid (orang yang zuhud terhadap dunia) dan abidh (ahli ibadah). Lalu muncullah suatu kaum yang benar-benar terikat dengan zuhud dan ibadah dan mereka pun meninggalkan dunia dan fokus terhadap ibadah. Pada akhirnya mereka membuat metode sendiri dan mereka memiliki akhlak-akhlak khusus. Mereka memandang bahwa mereka sufiyyah karena yang dikenal pertama kali mengkhususkan dirinya untuk berkhidmat kepada Allah di Masjidil Haram.Kata Abu Muhammad Abdul Al Ghoni bin Said Al Hafidz, aku bertanya kepada Walid bin Qasim “kepada siapakah kaum sufi bernisbah?”.“Dahulu di zaman jahiliyyah ada suatu kaum namanya shuffah, mereka fokus beribadah kepada Allah dan meninggalkan dunia dan mereka tinggal disekitar ka’bah. Siapa yang meniru-niru kaum tersebut yang dipimpin oleh Al-Ghauts bin Murr maka mereka pun menamakan diri mereka dengan sufiyyah”.Mereka yang mengaku sufiyyah tersebut adalah pengikut Al Ghauts bin Murr dari kabilah Tamim bin Murr.Ibnu Jauzi berkata bahwa ada pendapat bahwa sufiyyah itu bukan dari shuffah Al Ghauts bin Murr tetapi sufiyyah itu dinisbahkan kepada Shuffah (bangunan tambahan yang Nabi buat di belakang masjid Nabawi, sehingga orang-orang tidur di belakang Masjid Nabawi tersebut). Orang-orang miskin yang tidak memiliki rumah tinggal di sana karena mereka hidup dengan zuhud. Mereka tinggal di sana karena darurat dan mereka makan dari sedekah karena darurat. Ketika mereka sudah memiliki kemampuan mereka tidak lagi tinggal di shuffah.Ibnu Jauzi berkata mereka mengatakan demikian karena mereka tahu bahwa para penghuni shuffah mereka itu seperti shuffahnya pengikut Al Gahuts bin Murr yang mana mereka selalu fokus beribadah kepada Allah dan mereka selalu dalam kondisi miskin. ‘Kata Ibnu Jauzi penisbahan sufiyyah kepada shuffah adalah penisbahan yang salah.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
N
Nursafitri

📍 Kabupaten Berau

Talbis iblis 11 : Talbis iblis terhadap kaum Zuhud

TABLIS IBLIS#11 : Talbis iblis terhadap kaum zuhudUstadz Firanda andirja حفظه Imam Ibnul jauzi rahimahullah ta'ala menyebutkan Perhatian terhadap hak hak keluarga Diantara orang orang yang zuhud mereka senantiasa diam , sehingga mereka bersendiri dan menjauhkan diri dari bercengkrama dengan istri , akhirnya mereka hanya orang orang zuhud ini menyakiti istri dengan buruk akhlaknya , dan juga tambahan dia semakin menyendiri susah untuk diajak berbicara , diajak untuk bergaul, sehingga pada hakikatnya dia menyakiti istrinya , dan dia lupa sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa salam " sesungguhnya istrimu juga punya hak atasmu" .• orang zuhud menyangka bahwasanya apa yang dilakukan ini , kalau dia ngobrol sama istrinya , main² sama anaknya seakan akan dia lalai dari akhirat , dan orang zuhud ini dengan sedikit ilmumya dia tidak tau bahwasanya nyaman sama keluarga ngobrol sama keluarga adalah salah satu bentuk membantu orang untuk dekat dengan akhirat. • Diantara orang yang zuhud , ada orang yang selalu kagum amal Sholehnya , kalau ada yang berkata kepada dia "engkau adalah wali hebat/pasak bumi , maka dia memandang itu perkataan benar. Dan ini •di kriktik oleh imam Ibnul jauzi " bahwasanya seseorang yang benar tidak boleh memandang amalnya , kalau dikatakan kau adalah pasak bumi , maka dia memandang bahwasanya itu benar dan itu tentu kesalahan , diantara mereka yg zuhud ini menantikan kapan karomah nya muncul , dan dikhayalkan kepadanya kalau dia sudah sampai disuatu air misalnya sungai dia akan bisa berjalan diatas air (dibayangan kamu itu hebat) , kalau kau praktek atas air kau jalan diatas air kau akan bisa jalanBerkata Ibnul Jauzi rahimahullah ta'ala " shufiyah adalah termaksud daripada orang² yang zuhud , hanya saja kaum sufiyah itu mereka lebih spesifik berbeda daripada kaum zuhud secara umum, mereka berbeda dengan memiliki sifat² tertentu , dan mereka juga memiliki ciri² tertentu oleh karenanya kita perlu menyendirikan pembahasan kaum shufiyah. Tasawuf adalah suatu metode yang awalnya dimulia dengan zuhud secara totalitas , kemudian lama lama berjalannya waktu akhirnya orang orang yang menisbatkan berafiliasi pada kaum shufiyah mulai melonggarkan , tidak sekedar zuhud secara totalitas tapi mulai mengampangkan dengan mendengarkan lantunan² musik , joget² orang shufiyah dan mereka lantunan ibadah joget ibadah , maka akhirnya sebagian orang orang awan yang mencari akhirat , condong kepada kaum shufiyah , karena kaum shufiyah tersebut meskipun mereka joget² kemudian dengarkan musik mereka zuhud dipakaian , dari kehidupan, hidup zuhud , dan sebaliknya disamping pencari akhirat condong kepada mereka, pencari dunia juga senang dengan dengan shufiyah , karena ada santai² nya , ada joget² , musik²nya , nyanyi² nya sehingga bergabunglah pencari akhirat (dilihat dari sisi mereka zuhud )dan pencari dunia (dilihat dari sisi mereka suka nyanyi² dan joget² ). Ibnul Jauzi rahimahullah ta'ala mengatakan ' harus dijelaskan kita ungkapkan bagaimana penipuan iblis terhadap mereka dalam metode yang mereka jalani(kaum shufiyah) , dan hal ini tidak bisa terungkap kecuali harus dibahas tentang asal muasal terikot ini dan cabang² nya , dan harus dijelaskan tentang perkara² yang mereka jalani , dan Allah yang memberi Taufik kepada kebenaran. Kaum shufiyah Asal muasal shufiyah itu darimana? Di zaman nabi shalallahu alaihi wa salam tidak ada shufiyah/istilah shufiyah adalah istilah baru yang ada cuman Islam dan Iman , kemudian muncul belakangan istilah Zahid (orang yang zuhud terhadap hal dunia) , abid (ahli ibadah) , kemudian muncullah suatu kaum yang meraka benar² terikat dengan zuhud dan ibadah dan mereka pun meninggalkan dunia , dunia mereka tinggalkan mereka fokus kepada ibadah , dan mereka akhirnya dalam rangka meninggalkan dunia dan sibuk zuhud dan ibadah dan mereka membuat metode sendiri yang mereka berbeda dengan yang lain , dan mereka punya akhlak² khusus yang mereka sengaja berakhlak dengan akhlak tersebut, mereka memandang menamakan diri mereka shufiyah karena di kenal pertama kali mengkhususkan dirinya untuk berkhidmat kepada Allah dimasjidil haram dulu ada seorang lelaki namanya shufah (Al ghaust bin mur) maka mereka pun berafiliasi kepada orang ini karena mereka mengangka kita mirip dengan dia yang sibuk fokus untuk beribadah dan ngurusin Ka'bah maka kami bernisbah dengan nama dengan nama shufiyah.#jejakcahaya-Nursafitri

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Tabis Iblis #11

Talbis Iblis Terhadap Kaum ZuhudOleh. Ustad Firanda Andirja, MAZuhud bukan meninggalkan dunia secara mutlak.Perhatian terhadap hak² kepada keluarga. Diantara orang zuhud mereka continue dalam diamnya sehingga mereka membiarkan atau menjauhkan diri dari istrinya, sehingga mrk menyakiti istrinya dgn buruknya akhlaknya. Dia lupa dengan sabda nabi SAW "Sesungguhnya istrimu juga punya hak atasmu"Islam ini adalah agama profesional, masing² ada porsinya Salman Al farisi menegur Abu darda krn Abu darda sangat begitu senang beribadah kepada Allah SWT, dimalam hari sholat malam disiang hari berpuasa sehingga kurang memberikan hak kpd istrinya akhirnya salman menegur abu darda "Robbmu punya hak, Jasadmu punya hak utk kau tunaikan, tamumu punya hak utk kau tunaikan, dan istrimu punya hak utk dipenuhi, dicumbui, maka tunaikanlah masing² haknya" kemudian salman dan abu darda pergi ke nabi menceritakan yg terjadi kemudian nabi berkata "benar kata salman al farisi"Rasullullah mengajak istrinya ngobrol sebelum tidurRasullullah mengajak lomba lari AisahSetiap habis Ashar mendatangi istri²nya

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
N
Noorhayati

📍 Kabupaten Bogor

Ringkasan Talbis iblis-11 ustadz firanda adirja

Talbis iblis-11 Ustadz firanda adirja#Talbis iblis terhadap kaum zuhudPerhatian terhadap hak hak keluargaSeorang zuhud ini menyakiti istrinya dengan akhlak nya, menyendiri susah untuk diajak berbicara.dan berbincang, sedangkan . Dalam islam ini ada porsinya, orang orang yang beribadah namun, melalaikan istrinya. Sedangkan nabi bercanda, berbincang dengan para istri istri nya, berbicara dengan para Sahabat, bermain dengan anak anak. Diantara sunah nabi yaitu ngobrol sebelum tidur dengan istrinya. Orang yang zuhud ini menjadikan istri nya seperti janda, anaknya seperti yatim. Orang ini sedikit ilmunya dia tidak tahu bahwa dekat dengan keluarga itu adalah membantu kita dekat dengan akhirat. Dalil menganjurkan mencari istri yang bisa di ajak berbincang dan bermain main, bercanda dengan nya. Zuhud bukan berarti meninggal kan dunia Seluruhnya.Masyarakat terkecil yaitu keluarga, diantara orang zuhud ini yaitu dia bangga dengan amal ibadah nya,sedang seseorang yang benar tidak boleh memandang amal nya. Para ulama tidak senang di puji. Orang zuhud ini menanti menanti karomah itu muncul karena dia bangga dengan amal nya. Kalau dia tahu tentang taufik tentang ilmu dan ibadah harus nya ini yang patut disyukuri. amal kita tidak ada apa apanya dibanding kan dengan nikmat yang Allah kasih.#bab ke10 tentang penipuan setan terhadap kaum sufiyyah (orang zuhud) Kaum sufiyyah ini punya ciri ciri yang khas dan termasuk orang orang zuhud, dan kaum sufiyyah ini berbeda mempunyai ciri ciri tertentu., punya aliran khusus. Tasawuf yaitu zuhud dengan totalitas. Seperti joget joget, dengan musik kasidah kasidah membuat kelonggaran. Maka akhirnya orang orang mencari akhirat ini ikut dengan kaum sufiyyah ini dan pencari dunia ini juga senang karena santai. Ini kaum sufiyyah zaman dulu. Sufiyyah zaman sekarang zuhud nya mulai kurang lebih banyak dunia nya. Hal ini harus di bahas tentang cabang cabangnya dan tiriqot nya. Asal muasal sufiyyahDizaman nabi tidak ada kaum sufiyyah, abid ahli ibadah, zahid itu zuhud. Mereka itu membuat metode sendiri dan mereka punya akhlak khusus, dulu ada seorang lelaki suffah maka mereka pun alifiasi dengan orang itu maka orang itu disebut sufiyyah karena rajin ibadah sama dengan mereka. Kepada siapakah sufi bernisbah? Dulu ada kaum suffah mereka fokus ibadah di sekitar kabah(gaus bin mur?) dari kabilah tamim bin mur.sufyyah itu dulu disebut kelebihan dari masjid mereka orang orang yang tinggal tempat tersebut compang camping namun rajin ibadah. Mereka berkata demikian karena mereka beribadah kepada pada Allah sedangkan mereka dalam keadaan miskin makanya mereka di sebut ahli suffah. Jumlah mereka banyak kadang berkurang. Abu zar dulu termasuk ahlu suffah (miskin), tiap sore dia mendatangi pintu nabi meminta makanan sehingga mereka memakan nya. Mereka tinggal di mesjid karena darurat, mereka makan pun darurat. Ketika mereka mempunyai kemampuan mereka pun tidak tinggal disana lagi.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
M
Meutia Yunita

📍 Kota Bandung

Ringkasan Materi 11: Talbis Iblis #11

Talbis Iblis terhadap Kaum ZuhudKaum zuhud dan ahli ibadah adalah target utama Iblis. Mengapa? Karena mereka memiliki modal semangat yang besar untuk ke surga, tetapi sering kali lemah dalam modal ilmu (jahl).Strategi Iblis: Jika Iblis gagal menggoda manusia dengan kemaksiatan (pintu syahwat), maka Iblis akan masuk melalui pintu bid'ah dan ekstremisme agama (pintu syubhat), membuat mereka merasa sedang beribadah padahal sedang menyimpang.Zuhud Keliru vs Zuhud yang BenarTalbis Iblis (Kekeliruan): Iblis membisikkan bahwa zuhud berarti harus menyiksa diri, mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, memakai pakaian yang sangat kotor/kumal, atau menolak total harta benda.Zuhud yang Hakiki: zuhud yang benar (sesuai ajaran Rasulullah dan para sahabat) adalah mengosongkan hati dari ketergantungan dunia, bukan mengosongkan tangan dari harta. Seseorang bisa menjadi kaya raya tetapi tetap zuhud jika harta tersebut tidak mendikte hatinya dan ia gunakan di jalan Allah.Tipu Daya Iblis dalam Hal Pakaian, Makanan, dan PernikahanMerasa Lebih Suci dengan Baju Tampalan: Iblis menjebak sebagian kaum zuhud untuk sengaja memakai pakaian yang sangat lusuh, robek, atau penuh tambalan agar terlihat sebagai orang saleh.Bahaya Tersembunyi: Hal ini memicu dua penyakit hati:Riya dan Sum'ah: Ingin dipuji dan dipandang sebagai "wali" atau orang suci oleh masyarakat.Kesombongan: Memandang rendah orang lain yang berpakaian rapi dan bersih. Padahal, Allah itu Indah dan menyukai keindahan.Iblis membisikkan bahwa makan makanan yang enak atau memenuhi kebutuhan biologis yang murni (seperti menikah atau tidur yang cukup) akan merusak ketakwaan.Dampaknya: Sebagian orang sengaja kelaparan ekstrem atau menolak makan daging secara mutlak (mirip rahib).Bantahan: Kisah tiga orang yang mendatangi rumah Nabi SAW (satu ingin shalat malam terus tanpa tidur, satu ingin puasa terus tanpa berbuka, dan satu tidak mau menikah). Nabi SAW langsung menegur mereka dan menyatakan bahwa beliau adalah orang yang paling bertakwa namun beliau tetap tidur, berbuka puasa, dan menikahi wanita. Nabi menegur keras: "Siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan golonganku."Hakikat Sufiyah & Penyimpangan AkidahSejarah Singkat: Awalnya tasawuf adalah gerakan zuhud murni (fokus pembersihan hati). Namun, ketika disusupi filsafat Yunani dan persia, gerakannya berubah menjadi mistis.Penyimpangan Akidah - Wihdatul Wujud & Hulul:Iblis menipu tokoh sufi ekstrem hingga meyakini Tuhan menyatu dengan makhluk.Gugur Syariat: Iblis membisikkan konsep bahwa jika sudah mencapai maqam Hakikat atau Makrifat, maka shalat, puasa, dan syariat lainnya tidak lagi wajib. Padahal, manusia paling makrifat adalah Rasulullah SAW, dan beliau tetap shalat malam sampai kakinya bengkak-bengkak.Ritual Zikir dan Ibadah yang Mengada-ada (Bid'ah)Zikir Tanpa Tuntunan: Kaum sufi sangat ditekankan berzikir, tetapi metodenya diubah oleh Iblis.Zikir dengan memotong lafadz (hanya menyebut "Hu... Hu... Hu..." atau "Ah... Ah..."). Secara tata bahasa Arab, ini tidak memiliki makna sempurna dan tidak berpahala.Zikir sambil menari, berputar, atau melompat-lompat hingga histeris dan pingsan, dengan klaim "ekstase spiritual" atau mabuk kepayang kepada Allah. Islam adalah agama yang tenang dan khusyuk, bukan hura-hura spiritual.Taat kepada Mursyid Meremehkan IlmuDoktrin Mursyid: Murid harus tunduk 100% kepada gurunya/mursyid seperti "mayat di tangan orang yang memandikannya". Tidak boleh bertanya dalil, tidak boleh menyanggah. Ini adalah pintu pembodohan massal oleh Iblis.Meremehkan Ilmu Syar'iMeremehkan Penuntut Ilmu: Iblis membuat kaum sufi mengejek para ahli hadis dan ahli fikih dengan kalimat: "Kalian mengambil ilmu dari mayat ke mayat (maksudnya sanad buku), sedangkan kami mengambil ilmu langsung dari Yang Maha Hidup (langsung dari Allah lewat ilham)."Bantahan Nyata: Ilham tanpa timbangan Al-Qur'an dan Sunnah adalah bisikan setan. Kedudukan ilmu jauh lebih tinggi daripada ibadah tanpa dasar.Kesimpulan UtamaBenteng terbaik dari segala talbis (tipu daya) iblis adalah ILMU SYAR'I. Tanpa ilmu, niat baik dan keikhlasan yang menggebu-gebu justru bisa menjerumuskan seseorang ke dalam kesesatan yang fatal.Belajarlah menyucikan jiwa (Tazkiyatun Nafs) lewat jalur resmi yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabat, bukan lewat jalur mistis ciptaan manusia.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
S
Sylvia Eka Putri

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Talbis iblis terhadap ahli zuhud

Talbis iblis #11Talbis iblis terhadap ahli zuhudTalbis iblis terhadap perhatian keluargaMenyendiri dari keluarga seperti tidak mengajak bercanda istri,bermuamalah dengan istri dengan akhlak yang buruk sehingga dia lupa dengan sabda nabi“Sesungguhnya istrimu juga punya hak atasmu”Salman pernah menegur Abu Dardak karena beliau sangat senang sekali beribadah tapi kurang memberikan hak istrinya“Sesungguhnya Rabbmu punya hak,jasadmu punya hak untuk kau tunaikan,tamunya juga punya hak untuk ditunaikan dan istrimu juga punya hak untuk digauli maka penuhilah masing masing haknya”Maka Abu Dardak dan Salman menemui rasulullah dan nabi membenarkan ucapan perkataan SalmanPadahal rasululloh adalah orang yang paling bagus akhlak kepada istri seperti lomba lari,mengajak ngobrol isteri sebelum tidurAkhlak buruk ahli zuhud yang menjadikan istrinya seperti janda anak seperti tidak mempunyai ayah ini menyangka kalo mengajak ngobrol akan melalaikan dia dari urusan akhirat padahal nyaman dengan keluarga akan membantu kita mendekatkan dengan akhirat.Rasululloh berkata pada Jabir“Wahai Jabir kenapa engkau tidak menikahi seorang gadis sehingga kau bisa bermain denganya dan dia bisa bermain denganmu”Ini dalil mencari istri untuk diajak main main,lebih utama menikahi gadis daripada janda.Terkadang mereka menjauhi dunia dengan tidak menggauli istrinya,dia meninggalkan hal yang wajib untuk hal yang sunnahtalbis iblis terhadap orang zuhud kagum dengan amal solehnyaKetika dipuji “engkau adalah pasak pasak bumi”Maksudnya wali yang hebat dia  merasa itu benar padahal kita tidak boleh kagum dengan amal kita sendiriAllah menyuruh kita istighfar setiap selesai menyelesaikan ibadah.Hadist rasululloh“Tidak ada yang masuk syurga dengan amalnya termasuk diriku tapi rahmat Allah”Amal hanya sebab Allah merahmati kita.Diantara org yang zuhud ini menunggu kapan karomahnya datang,kalo ada permasalahan yang datang dan berdoa,dia akan marah kalo doanya tidak dikabulkan seakan2 dia pekerja yang meminta gaji kepada Allah,padahal hakikatnya kita adalah budaknya Allah yang tidak punya hak apa2.Amalan kita tidak ada apa2nya dibandingkan nikmatnya Allah.Talbis iblis terhadap kaum sufiyahBerkata Al Jauzy sufiyah termasuk orang yang zuhud hanya saja dia lebih spesifik dalam sifat sifat dan ciri ciri tertentuTasyawuf adalah sebuah metode yg awalnya dimulai dengan zuhud secara totalitas kemudian mereka mulai longgar dalam syariatnya dan mulai mendengar musik dan dianggap itu ibadahAkhirnya orang yang condong pada akhirat mulai mengikuti sufiyah ini karena sufiyah walaupun hidup zuhud tapi dia boleh menikmati musik dan sebaliknya pencari dunia juga menyukai ini karena lebih santai dengan tarian dan joget joget.Asal muasal sufiyahMuncula setelah zaman nabi golongan orang yang mengaku zuhud dan fokus ibadah dengan membuat metode sendiri dan akhlak akhlak khusus.Awalnya seorang lelaki yang bernama Sufah,orang zuhud berafiliasi denganya karena menganggap sevisi fokus pada akhirat dan diberi nama Sufiyah.Mereka bernisbah kepada kaum sufah yang fokus beribadah dan tinggal di sekitar kabah (sebelum zaman nabi)Ada pendapat lain mereka nisbah kepada ahli suffah (tambahan dibelakang mesjid nabawi) tapi bukan tempat ibadah.Yang pertama kali melewati shirat adalah kaum muhajirin yang fakirYang pakaiannya kotor,rambut sembrawut,tidak menikahi wanita yang kaya karena mereka tidak pernah merasakan kenikmatan,kemiskinan mereka karena keadaan tapi mereka bersabar.Suffah dibangun untuk muhajirin  yang miskin dan orang datang utk memberikan bantuan.Penisbatan sufiyah dari kaum suffah ini tidaklah benar

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
P
putri anggraini

📍 Kota Samarinda

TALBIS IBLIS 11 Talbis iblis terhadap Ahli Zuhud

Imam Ibnu jauzi rahimahullah berkata, perhatian terhadap keluarga di antara orang-orang yang zuhud mereka senantiasa diam continue dalam diam mereka senantiasa bersendiri dan menjauhkan diri dengan istri akhirnya mereka hanya menyakiti istrinya dengan buruknya akhlaknya. Dan tambahnya dia lebih suka bersendiri dan tidak suka diajak berbicara sehingga pada hakekatnya dia menyakiti istrinya. Dan mereka masuk ke dalam hadis rasulullah shallallahu alaihi wasallam sesungguhnya istrimu itu memiliki hak bagian darimu.Islam adalah agama yang profesional masing-masing ada porsinya.Bahkan Salman Al Farisi menegur Abu Darda Radiallahu anhu karena beliau sangat senang beribadah kepada Allah ta'ala. Abu Darda di siang hari berpuasa malam hari salat malam sehingga kurang dalam memberikan hak istrinya. Salman alfiresi menegur sesungguhnya Rabb punya, punya hak badan, punya hak, dan tamumu punya hak, sesungguhnya istrimu juga mempunyai hak untuk kau tunaikan. Salman Al Farisi pergi menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam di subuh hari menyampaikan hal ini dan menyampaikan permasalahan dewan Abu Darda dan Rasulullah menyetujuinya.Jika orang berlebih-lebihan dalam ibadah Padahal dia punya istri maka dia akan menumbalkan sebagian ibadah yang padahal Islam memiliki porsinya masing-masing.Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bercanda dengan anak-anak dan mengobrol dengan istri-istrinya. Dan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berlomba lari dengan Aisyah radhiyallahu anha dan banyak hal yang dilakukan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dengan akhlaknya yang mulia.Seperti yang dikatakan Ibnu Abbas radhiallahu Anhu ketika dia tidur di rumah bibinya Maimunah istri Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, " aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berbicara dengan istrinya sesaat sebelum dia tidur".Salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yaitu ngobrol dengan istri sebelum tidur.  Itulah salah satu sebab kebahagiaan. Tidak sebagian tidak seperti sebagian orang sekarang masing-masing memegang HP dan anaknya menangis pun diberi HP.HP banyak orang tersenyum di depan HP tapi tidak tersenyum di depan istri dan tidak di depan anak-anak mendapatkan kebahagiaan yang semu dan kehilangan kebahagiaan hakiki.Hadis ummu zaro'i, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengobrol dengan Aisyah menyampaikan cerita Ummu Zaro'i. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mendengarkan cerita Aisyah dan Aisyah menjelaskan ceritanya dengan kata-kata yang tinggi dan simbol-simbol lalu Rasulullah mengomentari cerita Aisyah radhiyallahu anha. Sesungguhnya engkau seperti umur jorok sedangkan aku sebagai Abu Zara'i tapi aku tidak menceraikan istriku.Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga disebutkan membawa mengajak Aisyah lomba lari sebagaimana disebutkan dalam hadis beberapa sahabat radhiallahu anhum. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyuruh para sahabatnya untuk berjalan duluan kemudian Rasulullah mengajak Aisyah lomba lari.  Tujuan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam adalah tidak lain untuk menyenangkan istrinya.Hal ini juga menunjukkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memberikan waktu untuk para istrinya.Disebutkan juga dalam suatu hadis bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam setiap habis ashar mendatangi para istrinya tanpa digauli satu persatu. Baru kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menginap di rumah istri yang memang mendapatkan jatah menginapnya.Rumah Shallallahu Alaihi Wasallam kita baca dalam sebuah hadis memiliki perhatian kepada istrinya itu sangat banyak berbeda dengan orang yang sok zuhud dia menjadikan istrinya seperti janda dan anaknya seperti anak-anak yatim karena saking tidak bisanya diajak berbicara. Orang-orang ini karena akhlaknya yang buruk dia menyangka bahwa ini adalah beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dan dia menyangka dia tidak pernah tahu bahwa nyaman dengan keluarga ngobrol dengan keluarga adalah juga ibadah kepada Allah ta'ala. Kita mengajari anak-anak mendapatkan pahala, menunaikan hak istri juga dapat pahala mencarikan nafkah untuk istri juga dapat pahala hal ini adalah hal yang dapat membuat orang mendekat kepada akhirat.Artinya mencumbui istri mencandai istri adalah itu bagian dari syariat, berpahala karena sebagian tujuan menikah adalah lintas kunu ilaiha. Tentram dengan wanita tersebut saling cinta. Segala bentuk cinta kasih diantara suami istri maka disyariatkan.Perhatikanlah Siapa yang lebih sibuk daripada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tapi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam bisa memperhatikan hak istrinya dan dia juga masih bisa memberikan hak-hak yang lain dengan sebaik-baiknya. Islam adalah agama yang realistis. Islam mengajarkan bagaimana cara menjadi pemimpin yang benar. Islam mengajarkan bagaimana cara menjadi rakyat yang benar Islam juga mengajarkan bagaimana cara menjadi ulama yang benarIslam juga mengajarkan bagaimana cara menjadi istri yang benarIslam juga mengajarkan bagaimana cara zuhud yang benarIslam sangat detail dan sangat jelas agar orang tidak berlebih-lebihan dalam agama ini. Porsinya jelas dan ini menunjukkan bagaimana sempurnanya Islam. Ini semua diatur oleh Allah subhanahu wa ta'ala yang sebagai rabbul alamin yang paling mengetahui maslahat terbaik untuk setiap hambany-Nya.Imam Ibnul jauzi rahimahullah berkata terkadang orang ini ingin berkering-kering atau menjauh dari manusia sehingga dia pun tidak menggauli istrinya, maka dia melalaikan yang wajib hanya untuk dikira melakukan yang sunnah padahal tidak terpuji.Sebagian orang zuhud hanya langsung comot dalil dan beribadah dengan syahwat. Menuntut ilmu terus terus-menerus serupa dengan istri dan anak itu namanya menuntut ilmu dengan syahwat. Sedangkan mengurus istri dan mengurus anak di sana ada ibadah. Jika seperti ini bagaimana Islam itu mau berkembang sedangkan Islam itu dibangun dari masyarakat dari muslimah yang baik. Komponen terkecilnya adalah keluarga. Jika keluarganya tidak diperhatikan maka bagaimana mau tumbuh keluarga Islami yang baik.Orang yang kagum dengan amal salehnyaOrang yang kagum dengan orang yang kagum dengan baca Qurannya, dengan sedekahnya, dengan zuhudnya. Imam Ibnu jauzi menyebutkan ada bahkan ada seseorang yang berkata Engkau adalah pasak-pasak bumi (wali yang hebat) dan dia mengakui itu benar. Imam Ibnu jauzi membantah hal ini orang yang benar dia akan merasa rendah dan merasa kurang amalnya di hadapan Allah Azza wa Jalla.Lihatlah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berdakwah selama 23 tahun dengan berbagai cobaan, sejak disuruh berikanlah peringatan Rasulullah tidak pernah beristirahat dan sampai di akhir hayatnya beliau disuruh oleh Allah  "istighfar lah dan bertasbihlah". Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam selalu membacanya dalam setiap ruku' dan sujud. Aisyah berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengamalkan perintah Allah dalam Alquran untuk beristighfar dan bertasbih.Bayangkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam terus merasa amalnya kurang dan terus beribadah kepada Allah dan tidak pernah memandang amalnya besar karena Rasulullah memandang keagungan Allah tidak ada apa-apanya dengan ibadah Rasulullah.Bahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda tidak ada seorangpun yang masuk surga dengan amalnya. Para sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga bertanya apakah engkau juga termasuk Ya Rasulullah? Termasuk aku kata Rasulullah kita masuk surga berkat rahmat Allah.Amal bisa mendatangkan rahmat Allah makanya kita disuruh beramal. Jangan pernah kita memandang amal ibadah kita ini sebagai wow. Amal kita penuh dengan kekurangan. Salat masih banyak pikiran berbakti kepada orang tua masih pelit, mengurus anak kadang masih melihat HP, sungguh banyak yang kurang.Contoh ulama mereka adalah orang yang paling takut dipuji.Di antara mereka yang disebut ini menanti kapan Karomah mereka muncul. Dan dihalalkan kepada mereka ketika mereka sampai di atas air mereka akan bisa berjalan di atas air. Kalau ada suatu perkara yang datang kepadanya atau suatu permasalahan datang kepadanya kemudian dia berdoa dan doanya tidak dikabulkan maka dia mengerutu dalam hatinya "kenapa do'a saya tidak dikabulkan". Imam Ibnul Jauzi seakan-akan dia adalah Pekerja yang bekerja kepada Allah dan tidak diberi gaji.  Tapi jika dia diberikan pemahaman dan taufik dari Allah maka dia akan menyadari bahwa dia hanyalah hamba Allah seperti budak sahaya yang dimiliki majikannya. Dan namanya budak tidak pernah mentang-mentang terhadap majikan yang memilikinya.Apa yang membuat kita mentang-mentang dihadapan Allah? Sedangkan yang memberikan kita Taufik dan kekuatan hanyalah Allah. Allahlah yang membuat kita cinta kepada kebaikan. Maka jangan pernah Pandang apa yang kita lakukan adalah perbuatan yang waw sehingga kita terjatuh ke dalam ujub.Kalau dia memandang tentang bagaimana dia diberi Taufik oleh Allah belajar menuntut ilmu maka dia tahu untuk mensyukuri dan harusnya dia takut. Dan hendaknya dia takut ketika dia kurang menjalankan syukur itu kepada Allah Azza wa Jalla.Seharusnya seseorang itu bukan bangga dengan amalnya, hendaklah dia selalu memandang amalnya selalu kurang. Begitulah yang dicontohkan para Nabi.Sebagaimana Nabi Ibrahim ketika membangun Ka'bah beliau terus berdoa "Rabbana taqabbal Minna artinya ya Allah terimalah amalku".Dari sinilah Imam Ibnu qayyim berkata bisa jadi pelaku maksiat itu masuk surga dan dan ahli ibadah masuk neraka. Karena pelaku maksiat senantiasa menyesal dan bertaubat kepada Allah, sedangkan orang yang ahli ibadah dia merasa ujub dengan amal ibadahnya dia merasa bangga, akhirnya dia termasuk dalam neraka karena ujungnya yang dia banggakan.Penipuan iblis terhadap kaum SufiyahKaum sufiyyah merupakan orang-orang yang zuhud.Imam Ibnu jauzi rahimahullah berusaha menjelaskan bagaimana orang-orang sufi yang beliau temui di zamannya. Dan beliau membuat bab tersendiri untuk membahas orang-orang Sufiyah ini meskipun orang Sufiyah ini termasuk orang yang zuhud.Orang Sufiyah memiliki ciri yang sangat spesifik yang berbeda dengan orang-orang yang zuhud, aliran yang khusus dan penampakan yang berbeda dengan orang yang zuhud.Tasawuf dimulai dengan orang-orang yang zuhud secara totalitas. Kemudian lama-lama berjalan dengan waktu, orang-orang yang berafiliasi dengan sufiyah mulai melonggarkan tidak sekedar zuhud secara totalitas tapi mulai menggampangkan dengan musik dan mulai berjoget-joget. Sebelumnya tidak ada aturan musik dan joget-joget. Namun belakangan mulailah muncul orang yang mengambil kelonggaran mendengar musik. Dapat mereka mendengarkan musik adalah ibadah, dan joget juga adalah ibadah.Maka akhirnya sebagian orang awam yang berorientasi mencari akhirat, condong pada kaum sufiyah ini.  Karena meskipun mereka ini mendengarkan musik tapi mereka zuhud secara pakaian dan kehidupan. Dan para pencari dunia juga senang dengan zuhud, karena ada santai-santainya dan joget-jogetnya. Dan tergabunglah dari antara pencari dunia dari sisi zuhud dan pencari akhirat dari joget-joget dan menyanyi menurut mereka ini adalah ibadah.Sedangkan Sufi pada zaman ini bukan lagi zuhud tapi mereka mewah-mewah dan joget-joget. Nilai zuhud yang sudah berkurang tapi joget-jogetnya masih. Suka mendengar kan kasidah.Maka Ibnu jauzi membantah ini harus jelaskan metode iblis menipu mereka. Dan ini harus dibahas dari mana asal muasal tarekat ini, cabang-cabangnya dan dan harus dijelaskan perkara yang mereka jalani. Dan Allah yang memberikan taufik pada kebenaran.Tentang asal muasal sufiyahDi zaman Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam tidak ada istilah sufiyah. Adanya Islam dan iman.  Dikatakan seorang mukmin atau muslim. Kemudian muncul istilah Zahid dan Abid zuhud atau ahli ibadah.Dan mereka sibuk dengan ibadah kemudian akhirnya mereka mempunyai metode sendiri. Mereka mempunyai akhlak-akhlak khusus. Mereka memandang, mereka mengkhususkan yang pertama kali berkhidmat kepada Allah di Masjidil Haram dahulu ada lelaki yang namanya shufah namanya adalah Algush Almur. Mereka berafiliasi kepada dia mereka beranggapan karena dia mengurusi Masjidil Haram dan itulah namanya sufiyah.Abu Muhammad Al Ghani Al Hafidz berkata aku bertanya kepada Apakah Kepada siapakah shopee berafiliasi atau bernisbah? Dahulu di zaman Jahiliyah sebelum adanya Islam,  pada suatu kaum namanya Shufah. Mereka fokus beribadah kepada Allah mereka meninggalkan dunia dan mereka fokus tinggal di sekitar Ka'bah.  Siapa yang meniru pekerjaan mereka tersebut maka Inilah yang disebut dengan sufiyah. Mereka yang mengaku sebagai pengikut Al-Ghuss Al-Ghur dari bani Tamim.Kemudian ada juga yang berpendapat bahwa mereka itu nisbat pada suffah yang mana suffah itu adalah tambahan yang Nabi buat, sehingga orang-orang itu tinggal di belakang Masjid Nabawi.  Dan yang tinggal di situ adalah orang-orang miskin. Bahkan sebagian dari mereka ada yang bajunya kotor dan tidak punya baju.  Hal tersebut bukan karena mereka ingin tapi karena keadaan.Ahli suffah merupakan sahabat rasulullah yang belajar Kepada beliau dan mereka hidup dalam keadaan miskin dan mereka sangat banyak orang membantu sebisanya untuk kehidupan mereka.Abu Dzar al-ghifari berkata bahwa beliau termasuk ahli suffah ketika sore hari mereka berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Dan Rasulullah membawakan makanan untuk mereka sampai mereka bisa makan dan ketika sisa 5 sampai 10 orang maka disuruhlah mereka untuk makan dan mereka makan.Imam Ibnu jauzi berkata mereka itu tinggal di masjid karena darurat terpaksa, tidak ada pilihan. Makan dari sedekah karena darurat.  Ketika kaum muslimin telah dibukakan harta oleh Allah Azza wa Jalla, mereka tidak butuh lagi dan tidak tinggal lagi di Suffah. Penisbahan Sufi terhadap Sufiah maka adalah jenis penisbahan yang salah.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
E
Ela septiana yusira

📍 Kota Tangerang

Talbis Iblis Terhadap Kaum Zuhud

pembahasan mengenai jeratan (talbis) iblis terhadap kaum zuhud, yaitu orang-orang yang salah memahami konsep zuhud dengan mengira bahwa zuhud berarti meninggalkan dunia secara mutlak. Membahas perhatian terhadap hak-hak keluarga. Di antara kaum zuhud, ada yang terus-menerus diam dan menyendiri, sehingga menjauhkan diri dari bercengkerama dengan istrinya. Hal ini tanpa sadar menyakiti perasaan istri karena buruknya akhlak dan sikap yang sulit diajak berkomunikasi.Padahal, Nabi SAW bersabda bahwa istri memiliki hak yang wajib ditunaikan. Islam adalah agama yang seimbang, di mana setiap hal memiliki porsinya masing-masingKisah ketika Salman Alfarisi menegur Abu Darda karena terlalu sibuk beribadah (salat malam dan puasa di siang hari) hingga melalaikan hak istrinya. Salman mengingatkan bahwa Tuhan, tubuh, tamu, dan istri masing-masing memiliki hak. Ketika Abu Darda mengadukan hal ini kepada Nabi SAW, Rasulullah membenarkan perkataan Salman.Jika seseorang berlebihan dalam satu porsi ibadah hingga menumbalkan porsi yang lain, hal tersebut tidak diperbolehkan dalam IslamRasulullah SAW pun tetap bercanda, bermain dengan anak-anak, serta meluangkan waktu untuk mengobrol dengan istri-istrinya.Berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah terbiasa mengobrol dengan istrinya (Maimunah) beberapa saat sebelum tidur. Ini adalah salah satu sunah yang membawa kebahagiaan.Dicontohkan pula dari kisah hadis Ummu Zara, ketika Aisyah menceritakan kisah panjang mengenai 11 wanita, Rasulullah menyimak dari awal hingga akhir serta memberikan komentar yang menyenangkan hati Aisyah.Rasulullah juga pernah mengajak Aisyah lomba lari untuk menyenangkannya. Di lomba pertama Aisyah menang karena masih kurus, dan di tahun berikutnya Rasulullah yang menang ketika fisik Aisyah sudah lebih berisi. Rasulullah selalu menyempatkan diri mendatangi istri-istrinya setelah ashar untuk sekadar mencumbui atau mengobrol.Kritikan terhadap orang yang merasa zuhud yang memperlakukan istrinya seperti janda dan anaknya seperti anak yatim karena tidak mau bergaul dengan mereka. Mereka keliru mengira bahwa mengobrol dengan keluarga akan melalaikan diri dari akhirat.Minimnya ilmu membuat mereka tidak tahu bahwa membahagiakan, mendidik, dan mencari nafkah untuk keluarga justru merupakan ladang pahala yang mendekatkan diri ke akhirat.Berdasarkan hadis riwayat Jabir, Rasulullah menganjurkan untuk mencari pasangan yang bisa diajak bercanda dan mencumbu (mula'abah). Hal ini selaras dengan tujuan syariat pernikahan, yaitu untuk menciptakan ketenteraman (sakinah) serta menumbuhkan cinta dan kasih sayang (mawaddah warahmah)Tidak ada orang yang lebih sibuk daripada Rasulullah SAW dalam mengurus umat, namun beliau tidak pernah melalaikan hak istri-istrinya.Ada sebuah cerita tentang seseorang yang saking ingin fokus ke akhirat, dia pergi berdakwah tanpa membawa gawai dan meninggalkan istrinya begitu saja hingga menyusahkan orang lain saat ada masalah.ada juga menceritakan pengalamannya mengobrol dengan seorang non-Muslim yang mengakui bahwa Islam adalah agama yang realistis karena memberikan porsi aturan yang jelas di segala lini kehidupan (pemimpin, rakyat, ulama, kepala keluarga). Semua diatur secara detail agar manusia tidak salah

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
S
SHILFI LATIFATHUL WANGSA

📍 Kabupaten Purwakarta

Talbis iblis 11

Talbis iblis#11 terhadap kaum zuhudMeninggalkan dunia secara mutlak padahal tidak demikian. Diantara orang orang yang zuhud, mereka senantiasa diam, kontinyu dalam diamnya, sehingga mereka bersendiri dan menjauhkan diri dari bercengkrama dengan istri, akhirnya mereka ini hanyalah orang orang yang menyakiti istri nya dengan buruk akhlaknya. Dan juga tambahan dia semakin menyendiri susah diajak berbicara, diajak bergaul,  sehingga dia menyakiti istrinya. Sesungguhnya istrimu juga punya hak atas mu. Islam ini agama yang profesional, masing masinh ada porsinya. Salman al farisi menegur abu darda karena abu darda sangat begitu senang untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata'ala, dimalam hari shalat malam, disiang hari puasa, sehingga kurang memberikan hak istrinya, akhirnya salman menegur abu darda dengan mengatakan sesungguhnya Rabbmu punya hak,  jasadmu punya hak untuk kau tunaikan, tamu mu juga punya hak, dan istrimu punya hak untuk di mesrai dicumbui di gauli. Maka penuhilah masing masing haknya. Salman dan abu darda menjumpai Rasulullah mengenai kejadian yang mereka alami barusan dan Rasulullah membenarkan perkataan salman. Zuhud ini yang menjadikan istrinya seperti janda, dan anaknya yatim karena dia tidak mengobrol sama mereka, dan meninggalkan mereka dan juga akhlaknya yang buruk. Diam prengat prengut. Dia merasa seakan akan kalau mengobrol sama istri dan anak seakan akan buat dia lalai di akhirat. Orang salah mengartikan zuhud  ini karena sedikitnya ilmu. Dia tidak tau padahal nyaman sama keluarga ngobrol sama keluarga itu membantu seorang untuk dekat dengan akhirat. Mengajarkan anak anak dapat pahala. Mendidik istri juga mendapatkan pahala. Menunaikan kebutuhan istri juga dapat pahala. Memberi waktu untuk anak dan istri juga pahala. Menggauli istri hukumnya wajib. Wanita juga wajib memenuhi ajakan suaminya. Karena yang berhasrat bukan hanya suami, istri juga punya hasrat. Istri juga butuh dipenuhi hasratnya. Diantara orang yang zuhud, dia kagum dengan amal sholehnya, dia kagum dengan sedekahnya, dia kagum dengan zuhud nya. Ini membuat dia ujub. Bab talbis iblis kepada kaum sufiyyahSufiyyah termasuk orang orang zuhud, hanya saja kaum sufi ini berbeda dari kaum zuhud yang biasanya.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
T
Tendri Novita

📍 Kota Palu

Talbis Iblis 11

📖 Ringkasan Kajian Talbis Iblis terhadap Kaum ZuhudPemateri: Firanda Andirja🌿 Pengertian Talbis IblisTalbis Iblis berarti tipu daya atau penyesatan setan yang membuat kebatilan tampak seperti kebenaran. Dalam pembahasan ini, Ibnul Jauzi menjelaskan bagaimana iblis menipu sebagian orang yang ingin hidup zuhud sehingga terjatuh dalam sikap yang menyimpang dari ajaran Islam.⸻1️⃣ Zuhud yang Benar Menurut IslamZuhud bukan berarti:* Membenci dunia secara mutlak.* Meninggalkan keluarga.* Menolak harta dan pekerjaan.* Menyiksa diri dengan alasan ibadah.Zuhud yang benar adalah:* Tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.* Tetap mencari nafkah yang halal.* Menjalankan kewajiban kepada Allah dan manusia.* Menggunakan dunia sebagai sarana menuju akhirat.Inti Zuhud: Hati tidak bergantung kepada dunia, meskipun dunia berada di tangan.⸻2️⃣ Hak Keluarga Tidak Boleh DiabaikanSalah satu talbis iblis terhadap kaum zuhud adalah membuat mereka merasa bahwa semakin jauh dari keluarga maka semakin dekat kepada Allah.Padahal:* Istri memiliki hak untuk diperhatikan.* Anak-anak memiliki hak pendidikan dan kasih sayang.* Suami wajib bergaul dengan baik kepada keluarganya.Rasulullah ﷺ:* Bercanda dengan keluarga.* Berbicara lembut kepada istri.* Memberikan perhatian kepada anak-anak.Karena itu, meninggalkan hak keluarga demi ibadah sunnah yang berlebihan adalah kekeliruan.Pelajaran✅ Keseimbangan antara ibadah dan keluarga adalah bagian dari syariat.⸻3️⃣ Bahaya Penyakit UjubIblis juga menipu sebagian ahli ibadah dengan penyakit ujub (kagum terhadap diri sendiri).Tandanya:* Merasa lebih baik daripada orang lain.* Bangga dengan ibadah yang dilakukan.* Menunggu karamah atau keistimewaan dari Allah.* Menganggap surga diperoleh karena amal semata.Padahal:* Amal hanyalah sebab.* Rahmat Allah-lah yang memasukkan seseorang ke dalam surga.Pelajaran✅ Semakin banyak ibadah, semakin besar kebutuhan seseorang untuk tawadhu’ dan merasa butuh kepada Allah.⸻4️⃣ Hakikat Sufiyah dan Kesalahpahaman tentang ZuhudUstadz Firanda menjelaskan asal-usul istilah “Sufi” yang sering dikaitkan dengan Ahlus Suffah.Ahlus SuffahMereka adalah:* Sahabat Nabi yang miskin.* Tinggal di serambi masjid karena keadaan ekonomi.* Bukan karena memilih meninggalkan dunia secara mutlak.Kesalahan yang muncul kemudian:* Menganggap kemiskinan sebagai tujuan hidup.* Meninggalkan usaha dan pekerjaan.* Membuat ritual yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ.Padahal Islam:* Memuji kerja keras yang halal.* Mendorong keseimbangan antara dunia dan akhirat.⸻✨ Hikmah dan Pelajaran Kajian✅ Setan tidak selalu menyesatkan melalui maksiat, tetapi juga melalui ibadah yang berlebihan dan tidak sesuai sunnah.✅ Zuhud bukan meninggalkan dunia, melainkan menempatkan dunia pada posisi yang benar.✅ Hak keluarga adalah amanah yang wajib ditunaikan.✅ Ujub dapat merusak amal dan menghilangkan keikhlasan.✅ Islam adalah agama yang seimbang, tidak berlebihan dan tidak meremehkan ibadah.✅ Semua bentuk ibadah harus mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.⸻📝 KesimpulanTalbis Iblis terhadap kaum zuhud terjadi ketika seseorang mengira dirinya semakin dekat kepada Allah dengan cara meninggalkan hak keluarga, berlebih-lebihan dalam ibadah, atau merasa bangga terhadap amalnya. Padahal, zuhud yang benar adalah menjalankan syariat secara seimbang, menjaga hak Allah dan hak manusia, serta senantiasa rendah hati di hadapan Allah.“Zuhud bukan meninggalkan dunia yang ada di tanganmu, tetapi meninggalkan ketergantungan hati kepada dunia dan lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah.” 🌿

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Talbis Iblis #11: Talbis Iblis Terhadap Kaum Zuhud

Catatan Kajian Kitab Talbis Iblis — Bab 9 (Lanjutan) & Bab 10 (Pembukaan)Pemateri: Ust. Dr. Firanda Andirja, M.A. Tema: Hak Keluarga bagi Ahli Zuhud (Bab 9) & Asal-usul Penyimpangan Kaum Sufiyah (Bab 10)BAGIAN I: Kelalaian Ahli Zuhud terhadap Hak-Hak Keluarga (Bab 9 - Lanjutan)Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala menjelaskan sebuah sub-bab penting yang berjudul Faslun fi Mura'ati Huquqil Ahli (Bab tentang Perhatian terhadap Hak-Hak Keluarga). Beliau membongkar tipu daya Iblis yang menimpa sebagian ahli zuhud yang mengorbankan kewajiban rumah tangga demi mengejar keutamaan ibadah pribadi.A. Fenomena Sikap Diam (Inqibadh) yang Merusak AkhlakIblis mengelabui sebagian ahli zuhud untuk mempraktikkan sikap diam secara ekstrem (inqibadh) dan mengisolasi diri dari interaksi sosial. Mereka mengira bahwa bersikap dingin, murung, dan enggan diajak berbicara oleh anak istri adalah bentuk kekhusyukan batin yang menjaga mereka dari kelalaian akhirat. Pada hakikatnya, tindakan ini justru menyakiti hati istri dan merusak tatanan akhlak mulia di dalam rumah tangga.B. Hadis Salman Al-Farisi: Prinsip Proporsional dalam IslamIslam adalah agama yang sangat profesional dan proporsional. Setiap lini kehidupan memiliki porsi haknya masing-masing yang tidak boleh saling menumbalkan. Prinsip ini ditegaskan dalam dialog legendaris antara Salman Al-Farisi dan Abu Darda' radhiallahu 'anhuma.Melihat Abu Darda' sangat gila beribadah hingga shalat sepanjang malam dan berpuasa sepanjang siang sampai melalaikan penampilan serta hak biologis istrinya (Ummu Darda'), Salman memberikan teguran keras yang kemudian dikukuhkan (taqrir) oleh Nabi ﷺ sebagai sebuah syariat:"Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, jasad (tubuhmu) memiliki hak atasmu, tamumu memiliki hak atasmu, dan isterimu juga memiliki hak atasmu. Maka penuhilah hak masing-masing pemilik hak tersebut." > Ketika Abu Darda' mengadukan hal ini kepada Nabi ﷺ di waktu subuh, Rasulullah ﷺ bersabda: "Shadaqa Salman" (Salman telah berkata benar). (HR. Bukhari)C. Sunnah Rasulullah ﷺ dalam Menyenangkan IstriRasulullah ﷺ adalah manusia yang paling sibuk di atas muka bumi dalam mengurus problematika umat, menerima wahyu, dan menghadapi musuh. Namun, beliau tidak pernah melalaikan hak-hak istri beliau yang berjumlah sembilan orang. Bentuk perhatian nyata Nabi ﷺ antara lain:Mengobrol Sebelum Tidur: Ibnu Abbas menceritakan pengalamannya saat menginap di rumah bibinya, Maimunah (istri Nabi ﷺ), bahwa beliau menyaksikan Nabi ﷺ menyempatkan diri untuk mengobrol santai dengan istrinya beberapa saat sebelum tidur. Ini adalah sunnah yang mulai ditinggalkan di era modern, di mana pasangan suami-istri cenderung sibuk dengan gawai masing-masing sebelum tidur, sehingga kehilangan kebahagiaan rumah tangga yang hakiki.Mendengarkan Kisah Istri (Hadis Ummu Zar'): Nabi ﷺ mendengarkan dengan penuh kesabaran cerita sangat panjang dari Aisyah mengenai sebelas wanita yang berkumpul untuk membedakan sifat suami mereka. Setelah Aisyah selesai bercerita, Nabi ﷺ merespons secara romantis: "Kedudukanku bagimu adalah seperti Abu Zar bagi Ummu Zar, hanya saja aku tidak menceraikanmu."Mengadakan Perlombaan Lari: Nabi ﷺ pernah mengajak Aisyah berlomba lari sebanyak dua kali di sela-sela safar bersama para sahabat. Perlombaan pertama dimenangkan oleh Aisyah karena fisiknya masih ramping. Beberapa tahun kemudian, saat fisik Aisyah mulai berisi, Nabi ﷺ mengajaknya lomba kembali dan beliau menang, lalu bersabda sambil bercanda: "Hadzihi bi-tilka" (Kemenangan ini untuk membayar kekalahanku yang dahulu).Menyapa Istri Setiap Hari: Setiap selesai mendirikan shalat Ashar, Nabi ﷺ memiliki rutinitas mendatangi kamar istri-istrinya satu per satu secara bergiliran tanpa menggaulinya, hanya untuk sekadar mencumbu, menyapa, dan menanyakan kondisi mereka sebelum menetap di rumah istri yang mendapat jatah bermalam.D. Kritik terhadap Dalil Penyimpangan DomestikNabi ﷺ menganjurkan umatnya untuk membangun kemesraan di dalam pernikahan. Beliau bersabda kepada Jabir bin Abdillah: "Hajjata bikran tula'ibuha wa tula'ibuka" (Mengapa engkau tidak menikahi seorang gadis, yang mana engkau bisa mencandainya/bermain dengannya dan ia pun bisa mencandaimu/bermain denganmu). Tujuan utama pernikahan di dalam Islam adalah li-taskunu ilaiha (agar engkau merasa tenteram kepadanya) melalui jalinan Mawaddah dan Rahmah. Oleh karena itu, segala aktivitas mubah yang dapat menumbuhkan cinta kasih antara suami istri dinilai sebagai ibadah yang berpahala.Pemateri mengkritik tajam sebagian ahli ibadah yang salah kaprah meninggalkan istri tanpa nafkah atau alat komunikasi selama berhari-hari demi urusan dakwah atau zuhud yang keliru, hingga membiarkan tetangga atau orang lain yang menyelesaikan urusan domestik istrinya.Begitu pula dengan oknum yang menolak memenuhi kebutuhan biologis istrinya berbulan-bulan dengan alasan menyontek kisah Nabi Ibrahim alaihis salam yang meninggalkan Hajar selama puluhan tahun di lembah Makkah. Ini adalah pencatutan dalil yang keliru; tindakan Nabi Ibrahim didasarkan pada wahyu mutlak dari Allah, bukan atas dasar keengganan biologis atau pemuasan syahwat spiritual pribadi yang mengorbankan hak orang lain.II. Penyakit Ujub terhadap Amal dan Ambisi KedudukanIblis juga meniupkan penyakit batin yang sangat merusak kepada ahli zuhud, yaitu memandang amal salehnya dengan penuh kekaguman (ujub).A. Bahaya Pujian "Pasak Bumi"Ketika seorang zahid dipuji oleh masyarakat dengan kalimat: "Engkau adalah bagian dari pasak-pasak bumi (Awtadul Ardh/Wali besar)", hatinya langsung mengiyakan dan merasa dirinya memang telah mencapai derajat tersebut.Pola pikir ini bertentangan dengan sunnah para nabi. Rasulullah ﷺ yang terjaga dari dosa (maksum) dan telah berjuang total selama 23 tahun, selalu mengucapkan istigfar tiga kali setiap selesai shalat fardhu. Bahkan di akhir hayatnya, Allah tetap memerintahkan beliau: Fa sabbih bihamdi Rabbika wastagfirhu (Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya). Nabi ﷺ bersabda:"Tidak ada seorang pun di antara kalian yang masuk surga murni karena amalnya." Para sahabat bertanya: "Apakah engkau juga tidak, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Aku pun tidak, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepadaku." (HR. Bukhari & Muslim)Amal saleh manusia tidak akan pernah sebanding dengan luasnya keagungan dan besarnya nikmat yang telah Allah limpahkan. Seseorang tidak boleh merasa bahwa amalnya sudah luar biasa. Pujian manusia hanyalah penilaian terhadap sisi lahiriah saja, sedangkan batin manusia penuh dengan kekurangan.B. Menanti Karamah dan Menggerutu kepada AllahAhli zuhud yang terjebak talbis Iblis sering kali beribadah demi menanti-nanti kapan karamah (kesaktian spiritual, seperti berjalan di atas air) muncul pada dirinya. Lebih dari itu, ketika mereka memanjatkan doa lalu Allah tidak kunjung mengabulkannya, muncul perasaan menggerutu dan menggugat di dalam hati mereka: "Mengapa doaku tidak dikabulkan, padahal aku sudah shalat dan zuhud sejauh ini?"Ibnul Jauzi mengkritik sikap ini: Mereka memposisikan diri seolah-olah seperti buruh harian yang sedang menuntut upah jerih payahnya kepada Allah. Seandainya mereka diberikan pemahaman yang lurus, mereka akan sadar bahwa status mereka mutlak hanyalah seorang hamba sahaya (abdun mamluk) di hadapan Sang Majikan. Seorang budak tidak memiliki hak untuk mendikte, menuntut, atau merasa mentang-mentang atas apa yang telah ia kerjakan untuk majikannya. Seluruh kekuatan untuk beramal dan rasa cinta kepada kebaikan pun merupakan taufik yang murni bersumber dari Allah.Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah merangkum bahaya ujub ini dalam sebuah kaidah emas:"Bisa jadi seseorang melakukan kemaksiatan namun hal itu menyebabkannya masuk surga (karena memicu rasa hina, hancurnya ego, dan memunculkan pertobatan yang terus-menerus di hadapan Allah). Sebaliknya, bisa jadi seseorang melakukan amal saleh namun hal itu justru menyebabkannya masuk neraka (karena memicu penyakit ujub, kesombongan, dan merasa diri lebih hebat dari orang lain)."BAGIAN III: Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufiyah (Bab 10 - Pembukaan)Al-Imam Ibnul Jauzi menyendirikan pembahasan mengenai kaum Sufiyah (Sufi) pada Bab 10, terpisah dari pembahasan kaum ahli zuhud (zuhad) secara umum pada bab sebelumnya. Hal ini dikarenakan kaum Sufi memiliki spesifikasi istilah, ciri khas penampilan, ritual ibadah, serta sekte kepercayaan yang bercabang-cabang yang tidak dimiliki oleh ahli zuhud biasa.A. Evolusi Sejarah Istilah SufiPada masa awal Islam (generasi Rasulullah ﷺ dan para sahabat), tidak ada istilah tasawuf atau sufi. Istilah kolektif yang digunakan Al-Qur'an hanyalah Muslim dan Mukmin.Seiring berjalannya waktu, muncul generasi berikutnya yang memberikan gelar khusus bagi orang yang menonjol dalam ibadah dengan sebutan Zahid (orang yang menjauhi dunia) dan 'Abid (ahli ibadah).Fase berikutnya melahirkan sekelompok komunitas yang merumuskan metode (thariqah) khusus dalam kehidupan batiniah mereka, yang awalnya didasarkan pada konsep zuhud total (az-zuhdu al-kulli) terhadap dunia. Fase inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya aliran tasawuf.B. Penyimpangan Kaum Sufi Generasi BelakangIbnul Jauzi menjelaskan bahwa seiring bergulirnya waktu, generasi penerus kaum Sufi mulai melonggarkan prinsip-prinsip kezuhudan asli mereka. Mereka mulai memasukkan unsur-unsur rukhshah (kelonggaran syariat) dan bid'ah ke dalam ritual ibadah mereka, seperti:Sama' (Mendengarkan lantunan senandung kasidah yang diiringi alat musik).Raqs (Gerakan tarian/joget ritual yang diklaim sebagai bentuk ekspresi ekstasi spiritual).Pergeseran ini menyebabkan kaum Sufi generasi belakangan menarik dua kutub manusia sekaligus:Pencari Akhirat: Tertarik bergabung karena melihat casing penampilan luar mereka yang tampak zuhud dan miskin.Pencari Dunia: Tertarik bergabung karena melihat adanya ruang hiburan berupa fasilitas musik, nyanyian santai, dan tarian massal di dalam ritual keagamaan mereka.C. Analisis Etimologi (Asal-usul) Nama SufiTerdapat silang pendapat di antara para ulama sejarah mengenai dari mana akar kata "Sufi" itu berasal. Ibnul Jauzi membedah dua teori utama:Teori 1: Penisbahan kepada Suffah bin Mur (Masa Jahiliyyah)Sebelum Islam datang, pada masa jahiliyyah terdapat seorang pria bernama Suffah (nama aslinya Al-Ghuth bin Mur) dari kabilah Tamim bin Mur. Tokoh ini bersama sekelompok komunitasnya sengaja mengisolasi diri secara total dari urusan dunia demi berkhidmat menjaga Ka'bah dan beribadah di sekelilingnya. Karena kaum Sufi memiliki kemiripan corak ibadah yang mengisolasi diri dan fokus di sekitar tempat ibadah, sebagian ulama berpendapat bahwa nama Sufi berafiliasi kepada pengikut Suffah bin Mur ini.Teori 2: Penisbahan kepada Ahlus Suffah (Masa Kenabian)Mayoritas kaum Sufi mengklaim bahwa nama mereka dinisbahkan kepada Ahlus Suffah, yaitu sekelompok sahabat nabi yang fakir dan tidak memiliki tempat tinggal maupun keluarga di Madinah, sehingga dibuatkan teras beratap di bagian belakang Masjid Nabawi sebagai tempat bernaung (seperti Abu Hurairah dan Abu Dzar Al-Ghifari).Pemateri memberikan dua catatan kritis yang sangat penting untuk meluruskan klaim ini:Faktor Kemiskinan Ahlus Suffah adalah Terpaksa, Bukan Pilihan: Para sahabat tinggal di suffah masjid mutlak karena kondisi darurat ekonomi pasca-hijrah. Mereka tidak pernah secara sengaja "memilih dan mencita-citakan kemiskinan". Terbukti ketika Allah membukakan pintu-pintu kemenangan (futuhat) dan rezeki pasca-perang, mereka segera keluar dari suffah, menikah, mencari nafkah, dan hidup secara normal di masyarakat. Nabi ﷺ pun sangat memperhatikan mereka; beliau bahkan mendahulukan penjualan budak demi memberi makan jemaah suffah daripada memberikan pembantu bagi putrinya sendiri, Fatimah, yang tangannya mengasar akibat menggiling gandum.2. Kritik Linguistik Tata Bahasa Arab dari Ibnul Jauzi: Secara kaidah ilmu tasyrif (tata bahasa Arab), jika sebuah kata benda dinisbahkan (isim nisbah) kepada kata Suffah (صُفَّة), maka bentuk kalimatnya secara baku wajib berbunyi Suffi (صُفِّيّ), bukan Sufi (صُوفِيّ). Kata Sufi secara bahasa Arab hanya bisa diturunkan dari akar kata Suf (صُوف) yang artinya kain wol (bulu domba). Oleh karena itu, klaim kaum Sufi yang menyatakan nama mereka diambil dari kesucian Ahlus Suffah runtuh secara kaidah linguistik bahasa Arab.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
D
Dewi Murthy Sari

📍 Kota Samarinda

Talbis Iblis Terhadap kaum Zuhud

Salah Memahami Hakikat ZuhudSebagian orang mengira zuhud berarti meninggalkan dunia secara mutlak, meninggalkan harta, pekerjaan, keluarga, dan seluruh kenikmatan dunia. Padahal Islam tidak mengajarkan demikian.Allah berfirman:"Carilah pada apa yang telah Allah karuniakan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash: 77)Rasulullah ﷺ juga hidup sederhana, tetapi tetap berdagang, menikah, memiliki rumah, dan memenuhi hak keluarga.Menelantarkan Hak Keluarga dengan Alasan ZuhudDi antara talbis iblis adalah membuat seseorang sibuk beribadah hingga melupakan hak istri, anak, dan keluarganya.Ada yang memilih banyak menyendiri, sedikit berbicara, dan menjauh dari keluarga sehingga akhlaknya menjadi buruk terhadap mereka. Padahal memberi nafkah, bergaul dengan baik, dan membahagiakan keluarga termasuk ibadah. Rasulullah ﷺ bersabda:"Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu." (HR. Bukhari)Mengharamkan Kenikmatan yang Allah HalalkanSebagian orang menganggap pakaian bagus, makanan enak, atau harta sebagai sesuatu yang harus dijauhi agar disebut zuhud.Padahal Allah berfirman:"Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik?" (QS. Al-A'raf: 32)Yang tercela bukan hartanya, tetapi jika hati bergantung kepada dunia.Berlebih-lebihan dalam Menyiksa DiriAda yang sengaja tidak makan cukup, tidak tidur, tidak menikah, atau menyiksa tubuh dengan alasan ingin lebih dekat kepada Allah.Padahal Nabi ﷺ bersabda:"Barang siapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk golonganku." (HR. Bukhari dan Muslim)Beliau melarang sikap ekstrem dalam ibadah.Meninggalkan Ilmu dan Dakwah karena MenyendiriSebagian orang memilih hidup di gunung atau mengasingkan diri terus-menerus sehingga meninggalkan shalat berjamaah, majelis ilmu, dan amar ma'ruf nahi mungkar.Padahal Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan antara ibadah pribadi dan kehidupan bermasyarakat. Zuhud Palsu yang Mengandung Riya'Iblis juga menipu sebagian ahli zuhud dengan menampilkan kesederhanaan agar dipuji manusia.Salah satu tipu daya iblis terhadap ahli ibadah dan orang yang zuhud adalah menumbuhkan rasa kagum terhadap amalan sendiri (ujub), padahal amalan kita tidak sebanding dengan nikmat Allah yang tidak terhitung.Padahal amalan yang tercampur riya' dapat menghilangkan keikhlasan. Mendahulukan akhirat tanpa melalaikan kewajiban dunia.Sebagaimana perkataan para ulama:"Zuhud bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, tetapi zuhud adalah ketika apa yang ada di sisi Allah lebih engkau percaya daripada apa yang ada di tanganmu."Zuhud adalah amalan hati, bukan sekadar penampilan lahiriah.Jangan sampai semangat beribadah membuat seseorang melalaikan hak keluarga dan kewajiban syariat.Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah, bekerja, mencari nafkah, dan bermuamalah dengan manusia.Tipu daya iblis terhadap ahli zuhud sering kali berupa sikap berlebihan sehingga meninggalkan sunnah Nabi ﷺ.Tipuan Iblis terhadap kaum sufiyah yang merupakan bagian dari kamu zuhudKaum sufiyah berbeda dengan kaum zuhud secara umum, mereka memiliki sifat dan ciri tertentu.Ahlis Suffah adalah orang2 fakir yang datang kepada nabi utk belajar dan hijrah. Mereka bukan sengaja membuat kemiskinan sebagai jalan hidup, melainkan mereka berada dalam kondisi yang serba kekurangan. Pada asalnya, tasawuf muncul dari semangat untuk memperbanyak ibadah, membersihkan hati, dan menjauhi kecintaan terhadap dunia. Namun, Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa iblis kemudian menyusupkan berbagai penyimpangan sehingga sebagian kaum sufi keluar dari tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
M
Mahargyani Yogyantari

📍 Kota Depok

Tablis Iblis #11

Talbil Iblis #11Tipu Daya Iblis pada Orang yang mengaku Zuhud‌Kesalahan dalam Berzuhud terkadang cenderung menarik diri dari keluarga dan mengabaikan hak-hak keluarga. Padahal Islam adalah agama yang profesional dimana ada porsi bagi setiap tanggung jawab, termasuk hak istri dan anak‌Meneladani Nabi dalam Keluarga, Rasulullah tetap memberikan waktu untuk keluarga di tengah kesibukan Beliau sebagai pemimpin umat. Mengurus dan membahagiakan keluarga adalah bagian dari ibadah‌Penyakit Ujub Seringkali orang yang Zuhud merasa bangga dengan amalannya,merasa dirinya hebat, atau menganggap doanya harus segera dikabulkan karena merasa sudah beramal banyak. ‌Hakikat Sufiyah, asal usul kaum Sufiyah, pergeseran tradisi mereka yang awalnya murni Zuhud menjadi cenderung pada nyanyian dan tarian. Kaum Sufi juga menisbahkan dirinya pada Ahli Sudah dimasa Nabi padahal mereka tinggal di serambi masjid bukan karena pilihan ideologi,melainkan karena kondisi fakir dan keterpaksaan

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
A
Aminatus Noer Sholichah

📍 Kota Surabaya

Materi 11: talbis iblis terhadap kaum zuhud

Kitab Talbis Iblis #11: Talbis Iblis Terhadap Kaum Zuhud oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja:1. Mengabaikan Hak Keluarga atas Nama ZuhudTerdapat segelintir golongan zuhud yang salah faham akan konsep sebenar zuhud. Mereka mengasingkan diri, tidak banyak bercakap, dan mengabaikan isteri serta anak-anak kerana menyangka bahawa bersosial dan meluangkan masa dengan keluarga akan melalaikan mereka daripada akhirat. Ini adalah satu tipu daya (talbis) iblis kerana dalam Islam, setiap pihak (Tuhan, badan, tetamu, isteri) mempunyai haknya yang tersendiri yang wajib ditunaikan.2. Sunnah Nabi dalam Melayani KeluargaUstadz Firanda menekankan bahawa Nabi Muhammad sangat menyantuni isteri-isteri baginda. Walaupun baginda sangat sibuk menguruskan umat, baginda tetap meluangkan masa untuk bergurau senda, bermain dengan kanak-kanak, berbual dengan isteri sebelum tidur, malah pernah berlumba lari bersama Aisyah. Melayani dan membahagiakan isteri serta mendidik anak-anak sebenarnya adalah ibadah yang mendekatkan diri kita kepada Allah.3. Bahaya Ujub (Takjub dengan Amal Sendiri)Satu lagi tipu daya iblis terhadap kaum zuhud adalah dengan menimbulkan rasa 'ujub' atau kagum dengan amal ibadah sendiri. Apabila dipuji oleh masyarakat kononnya mereka adalah "wali" atau orang yang hebat, mereka membenarkannya dan berasa bangga. Ini adalah sikap yang salah kerana menganggap diri seolah-olah sudah banyak berjasa kepada Allah, walhal semua amal itu terjadi kerana taufik dan hidayah daripada-Nya.4. Sentiasa Merendah Diri Walaupun Banyak BeramalNabi Muhammad sentiasa beristighfar dan mengakui bahawa tiada siapa yang akan masuk syurga semata-mata kerana amalnya, melainkan dengan rahmat Allah. Begitu juga dengan Nabi Ibrahim, walaupun sedang melakukan amalan yang sangat hebat yaitu membina Kaabah, baginda tetap berdoa dengan penuh rasa rendah diri, memohon agar Allah menerima amalannya. Segala amalan kita tidak ada nilainya jika hendak dibandingkan dengan keagungan dan nikmat Allah yang terlalu banyak (contohnya nikmat kesihatan dan dapat membuang hajat dengan lancar).5. Asal Usul Istilah dan Kemunculan "Sufiah"Di akhir kajian, beliau mula membincangkan bab baru mengenai kaum Sufi. Istilah "Sufiah" (Sufi) tidak pernah wujud pada zaman Nabi Muhammad. Terdapat beberapa pendapat tentang asal-usul perkataan ini:Ada yang mengatakan ia merujuk kepada kaum "Sufah" pada zaman Jahiliah yang meninggalkan urusan dunia dan fokus beribadah di sekitar Kaabah.Ada juga golongan sufi yang mendakwa istilah itu diambil daripada Ahlus Suffah, iaitu sahabat-sahabat Nabi yang fakir dan terpaksa tinggal di anjung Masjid Nabawi. Namun, Ibnu Jauzi membantah hal ini kerana Ahlus Suffah hidup miskin secara terpaksa, bukannya sengaja mencari kemiskinan. Apabila mereka sudah berkemampuan, mereka tidak lagi tinggal di situ. Selain itu, dari sudut bahasa Arab, penisbahan nama kepada Suffah sepatutnya berbunyi "Suffi", bukannya "Sufi".Secara keseluruhannya, video ini mengingatkan kita agar berhati-hati dalam beragama agar tidak bersikap ekstrem (berlebih-lebihan) sehingga mengabaikan tanggungjawab asasi atau berasa ujub dengan amalan sendiri.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
A
Alina Rostiana

📍 Kota Yogyakarta

Materi ke 11 Talbis Iblis Terhadap Kaum Zuhud bersama Ustadz Firanda Andirja M.A

materi ke 11Talbis Iblis terhadap Kaum ZuhudUstadz Dr. Firanda Andirja, M.A.بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 1. Hakikat Zuhud yang BenarZuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara mutlak.Zuhud yang benar adalah menempatkan dunia sesuai porsinya dan tidak menjadikannya tujuan utama.Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah, keluarga, dan kehidupan dunia.2. Memenuhi Hak Keluarga adalah IbadahSebagian orang yang mengaku zuhud terlalu banyak menyendiri dan diam sehingga mengabaikan istri dan anak.Sikap tersebut dapat menyebabkan buruknya akhlak dan menyakiti keluarga.Rasulullah ﷺ bersabda:    “Sesungguhnya istrimu mempunyai hak atasmu.”Memberikan perhatian kepada keluarga merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah.3. Teladan Salman Al-Farisi dan Abu Darda’Salman Al-Farisi menegur Abu Darda’ karena terlalu fokus beribadah hingga kurang memperhatikan istrinya.Ketika masalah itu disampaikan kepada Rasulullah ﷺ, beliau membenarkan nasihat Salman.Ini menunjukkan bahwa ibadah tidak boleh membuat seseorang melalaikan hak-hak yang wajib.4. Rasulullah ﷺ Mencontohkan Keseimbangan HidupRasulullah ﷺ bercanda dengan anak-anak dan istri-istri beliau.Beliau pernah berlomba lari dengan Aisyah radhiyallahu ’anha.Salah satu sunnah beliau adalah berbincang dengan istri sebelum tidur.Kesalehan tidak berarti meninggalkan interaksi dan kebahagiaan keluarga.5. Keluarga yang Harmonis Membantu Meraih AkhiratMengajari anak, memenuhi kebutuhan istri, dan mencari nafkah yang halal adalah amal berpahala.Kenyamanan dan kebahagiaan dalam keluarga dapat membantu seseorang semakin dekat kepada Allah.Suami yang mengabaikan keluarga dengan alasan ibadah telah salah memahami agama.6. Bercanda dan Bercumbu dengan Istri adalah SunnahRasulullah ﷺ menganjurkan terciptanya keakraban dan kebahagiaan dalam rumah tangga.Beliau pernah berkata kepada Jabir radhiyallahu ’anhu tentang keutamaan menikahi gadis agar dapat saling bercanda dan bermain.Segala hal yang menumbuhkan cinta dan keharmonisan suami-istri pada dasarnya disyariatkan selama tidak melanggar syariat.7. Jangan Melalaikan yang Wajib demi yang Dianggap SunnahSebagian orang meninggalkan hak istri karena ingin fokus beribadah.Ini merupakan kekeliruan karena hak keluarga adalah kewajiban.Melalaikan kewajiban demi amalan sunnah bukanlah sikap yang terpuji.8. Bahaya Beribadah Tanpa IlmuSebagian orang mengambil dalil secara serampangan dan menyesuaikannya dengan hawa nafsu.Ibadah harus dibangun di atas ilmu yang benar, bukan sekadar perasaan atau cocoklogi.9. Keluarga adalah Pondasi Masyarakat IslamMasyarakat yang baik dibangun dari keluarga yang baik.Jika suami tidak memperhatikan keluarganya, maka tujuan besar pembangunan umat akan terganggu.10. Bahaya Ujub (Kagum terhadap Diri Sendiri)Sebagian orang kagum terhadap amalnya sendiri:Kagum dengan shalatnya.Kagum dengan bacaan Al-Qur’annya.Kagum dengan sedekahnya.Ketika dipuji, mereka merasa bangga dan menganggap dirinya memang layak dipuji.Ini termasuk penyakit hati yang berbahaya.11. Teladan Tawadhu’ Rasulullah ﷺMeskipun beliau manusia terbaik dan paling banyak beribadah, Rasulullah ﷺ tidak merasa bangga dengan amalnya.Beliau banyak beristighfar dan bertaubat kepada Allah.Di antara dzikir yang beliau amalkan:    “Subhanallahi wa bihamdihi, astaghfirullaha wa atubu ilaih.”    (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.)12. Jangan Mengharap Karomah karena AmalSebagian orang zuhud menunggu-nunggu munculnya karamah dari dirinya.Mereka merasa doanya harus selalu dikabulkan karena banyak beramal.Sikap ini menunjukkan ketidakpahaman terhadap hakikat seorang hamba.13. Menyadari Kedudukan sebagai HambaSeorang mukmin harus menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba Allah.Semua amal yang dilakukan tidak sebanding dengan nikmat Allah yang telah diberikan.Karena itu, tidak pantas merasa berjasa di hadapan Allah.14. Pelajaran Utama KajianZuhud harus dibangun di atas ilmu, bukan perasaan.Menunaikan hak keluarga adalah bagian dari ibadah.Islam adalah agama yang seimbang dan proporsional.Jangan melalaikan kewajiban demi amalan yang dianggap lebih utama.Hindari ujub, bangga diri, dan merasa berhak atas karamah atau pengabulan doa.Senantiasa rendah hati dan menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →