📝 Talbis Iblis #jejakcahaya

Laporan & catatan kegiatan Talbis Iblis #jejakcahaya

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
E
Ellisa Septiana

📍 Kota Depok

Talbis iblis #10 : Talbis Iblis Dari Ahli Zuhud -Ustadz dr.Firanda-

Pengertian Zuhud Hakiki dan Talbis Iblis• Iblis membatasi makna zuhud hanya pada hal-hal lahiriah seperti makan dan pakaian.• Sebagian ahli zuhud menolak hal-hal duniawi sederhana tapi hatinya tetap merindukan kedudukan, kekuasaan, dan penghormatan manusia.• Mereka menunggu kunjungan pejabat dan bangga jika diziarahi orang kaya, namun mengabaikan fakir miskin.• Ada sikap pura-pura khusyuk saat bertemu masyarakat supaya terlihat seperti orang yang mendapat petunjuk, tapi tujuannya memamerkan diri.Pentingnya Ikhlas dalam Beramal dan Bahaya Riya• Ikhlas adalah satu-satunya yang menjadikan amal diterima; tanpa ikhlas, amal tidak bermanfaat.• Malik bin Dinar berkata: “Liman lam yakun shadiqan la tat'ab” – tidak perlu susah-susah beribadah jika tidak tulus.• Sulitnya beramal dengan benar (ikhlas) perlu perjuangan panjang seperti yang dialami oleh Ibnu Jauzi selama 22 tahun belajar amal yang benar.• Riya tersembunyi membuat seseorang tidak sadar bahwa amalnya sia-sia.1. Talbis Iblis dalam Zuhud : Iblis menipu ahli zuhud agar puas hanya pada hal lahiriah, tapi hatinya cari pengakuan dan kedudukan.2. Riya Tersembunyi (Syahwat Khafiyah) : Penginginan tersembunyi untuk dihormati dan dipuji manusia, lebih berbahaya daripada riya jelas.3. Ikhlas adalah Kunci Amalan Diterima : Tanpa ikhlas amal jadi sia-sia; sulit dicapai dan perlu perjuangan panjang.4. Kisah Pendeta Sam’an Contoh keikhlasan yang palsu beribadah demi pujian manusia, bukan Allah.5. Sikap Salaf dalam Beramal : Menyembunyikan amal untuk menghindari riya dan menjaga hati tetap ikhlas.6. Teladan Rasul dan Sahabat : Rasul dan sahabat berinteraksi sederhana, menolak kesombongan dan riya.7. Bahaya Mencari Penghormatan Manusia : Amal yang tertuju pada pengakuan manusia akan gugur di akhirat.8. Zuhud Bukan Berpenampilan Lusuh : Sunah nabi menjaga kebersihan dan kerapihan bukan tampak miskin agar riya gagal.Sikap Hati-Hati dalam Menjaga Keikhlasan dan Zuhud• Ada orang yang sengaja menjaga jarak dari masyarakat supaya tetap dihormati dan terpuji karena tidak banyak berinteraksi.• Bahkan ada yang takut kedudukannya turun jika berinteraksi banyak dengan orang lain.• Rasulullah dan para sahabat justru teladan dalam berinteraksi: Nabi Muhammad membeli sendiri kebutuhan di pasar, Abu Bakar berjualan memikul kain, Abdullah bin Salam memikul kayu bakar, untuk menolak kesombongan dan riya.• Nabi Muhammad bersabda bahwa tidak akan masuk surga orang yang punya kesombongan walau sebesar zarah.Sunah Nabi dan Sikap Zuhud Sejati• Orang zuhud sejati tidak berarti berpenampilan lusuh dan sembarangan dalam berbusana.• Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya memperhatikan kebersihan dan penampilan; beliau sering menyisir rambut dan bercermin agar rapi.• Abu Bakar dan Umar juga mencampur pewarna alami pada jenggot mereka meskipun mereka adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling zuhud.• Zuhud bukan berarti memperlihatkan kemiskinan atau ketidakteraturan secara sengaja untuk mendapatkan pujian.Pandangan Akhir dan Penegasan Tentang Riya• Jika seseorang dihormati atau dikagumi orang lain, itu adalah anugerah dari Allah, bukan sesuatu yang harus dicari.• Seseorang yang mencari penghormatan dan pengakuan manusia dalam beramal akan kehilangan keikhlasannya.• Allah menegaskan bahwa surga bukan untuk orang yang mencari ketinggian di muka bumi tetapi bagi orang yang rendah hati.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
N
Nadya Nandadita Islamina

📍 Kota Bandung

Kajian Tablis Iblis #10

BAB: MAKNA HAKIKI ZUHUD & TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI ZUHUD1. Definisi Zuhud yang Keliru Akibat Tipuan IblisTipuan pada Aspek Fisik: Iblis membisikkan dan menggambarkan kepada manusia bahwa hakikat zuhud itu hanyalah terletak pada perkara-perkara lahiriah yang tampak rendah dan serba kekurangan. Contohnya adalah hanya fokus pada makanan yang sangat sederhana dan pakaian yang compang-camping atau kotor.Penyimpangan Hati: Di saat penampilan luar mereka tampak sangat meyakinkan sebagai orang yang tidak butuh dunia, hati mereka justru bergejolak dan rakus terhadap perkara dunia yang jauh lebih berbahaya, yaitu kedudukan, jabatan, kekuasaan, kepemimpinan, dan ingin dinomor satukan di tengah masyarakat.Ciri-Ciri Ahli Zuhud yang Terjebak Tipuan Ini:Sikap kepada Penguasa: Mereka diam-diam menanti-nanti dan merasa sangat bangga serta terhormat apabila rumah mereka dikunjungi atau diziarahi oleh para pejabat dan pembesar negeri (Umara).Diskriminasi Sosial: Mereka bersikap sangat memuliakan orang-orang kaya, namun di sisi lain tidak menaruh rasa hormat atau mengabaikan orang-orang miskin.Kekhusyukan Palsu: Ketika bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat, mereka sengaja memasang wajah dan gelagat yang pura-pura khusyuk, seolah-olah mereka baru saja keluar dari proses spiritual yang sakral (musyahadah atau menyaksikan petunjuk Allah).Menolak Harta Demi Casing: Sebagian dari mereka sengaja menolak pemberian harta secara terang-terangan di depan publik semata-mata agar tidak dicap sebagai "orang yang baru belajar zuhud". Sebab dalam pandangan awam, seorang zahid sejati tidak boleh menerima harta sama sekali. Namun, di balik penolakan harta itu, mereka membiarkan pintu rumah mereka terbuka lebar bagi orang-orang yang ingin datang mengagungkan mereka, memuji mereka, dan mencium tangan mereka.2. Hakikat Riya yang Tersembunyi (Khofiyur Riya)Dua Jenis Riya:1. Riya yang Jelas (Zahir): Seperti sengaja membuat tubuh kurus agar disangka rajin puasa, membiarkan rambut semrawut, membuat wajah pucat kekuning-kuningan, atau berbicara dengan suara yang pelan agar disangka sedang khusyuk. Riya jenis ini tidak dibahas panjang lebar oleh Ibnu Jauzi karena sifatnya yang norak dan semua orang awam pun bisa mengetahuinya.2. Riya yang Samar (Khofi): Inilah yang menjadi fokus utama bahasan. Seseorang secara zahir (makanan dan pakaian) memang sangat zuhud, tetapi hatinya sangat haus akan pengakuan, sanjungan, dan penghormatan.Syahwat Tersembunyi (Syahwatun Khofiah): Ibnu Taimiyah rahimahullah mengategorikan keinginan untuk diakui, dihormati, dicium tangan, dan diagungkan ini sebagai bentuk syahwat tersembunyi. Syahwat ini mirip dengan syahwat orang lapar terhadap makanan, tetapi objeknya adalah kedudukan (Jah). Diakui dan dihormati oleh manusia justru merupakan puncak dari kenikmatan duniawi yang paling dicari.Peringatan Malik bin Dinar: Beliau berkata kepada orang-orang yang beramal tetapi tidak tulus (tidak ikhlas): "Janganlah engkau meletihkan dirimu." Amal tanpa keikhlasan hanya akan berujung pada kesia-siaan dan kelelahan fisik semata.KISAH-KISAH PELAJARAN TENTANG IKHLAS & TIPUAN SYAHWAT KEDUKAN1. Perjuangan Yusuf bin AswadYusuf bin Aswad menyatakan bahwa dirinya harus menghabiskan waktu selama 22 tahun hanya untuk belajar membedakan mana amal yang benar-benar tulus (ikhlas) dan mana amal yang salah. Hal ini menunjukkan bahwa mendalami keikhlasan yang mendetail (daqa-iqul ikhlas) dan mendeteksi riya yang sangat samar (daqa-iqur riya) membutuhkan perjuangan batin yang luar biasa dan tidak mudah.2. Kisah Ibrahim bin Adham dan Pendeta Sam'anIbrahim bin Adham menceritakan pengalamannya mengambil pelajaran berharga dari seorang pendeta Nasrani bernama Sam'an yang tinggal menyendiri di kuil ibadahnya yang tinggi.Ketika Ibrahim bertanya sudah berapa lama ia tinggal di sana, pendeta itu menjawab sudah 70 tahun. Ibrahim bertanya lagi mengenai makanannya, dan sang pendeta menjawab bahwa setiap malam ia hanya memakan satu butir biji humus (semacam kacang Arab).Ibrahim keheranan dan bertanya kekuatan apa di dalam hatinya yang bisa membuat ia bertahan hidup hanya dengan satu butir kacang setiap malam. Pendeta itu dengan jujur menjawab bahwa ia bisa sabar hidup menderita selama setahun penuh karena ia menikmati kemuliaan dan pengagungan dari manusia yang datang mengunjunginya setahun sekali. Orang-orang akan berkumpul di luar kuilnya, menanti dirinya, dan melakukan tawaf di kuilnya karena kagum dengan ritual ekstremnya.Pendeta itu memberikan nasihat kepada Ibrahim bin Adham (yang dipanggilnya dengan sebutan Hanifi atau Muslim): "Wahai sang Muslim, sabarlah engkau untuk bersungguh-sungguh (menderita) dalam sesaat di dunia ini, demi mendapatkan kemuliaan yang abadi (di akhirat nanti). Jangan seperti aku yang menukar amal untuk dunia."Pendeta itu juga membuktikan betapa manusia mengaguminya dengan menurunkan timba kecil berisi 20 butir biji humus ke bawah kuil. Pengikutnya di bawah langsung berebut membeli biji kacang tersebut dari tangan Ibrahim bin Adham dengan harga total 20 Dinar emas (jumlah yang sangat besar, setara puluhan gram emas). Pendeta itu bahkan berkata, jika Ibrahim menjualnya seharga 20.000 Dinar pun, orang-orang akan tetap membayarnya karena mereka mengagungkan status kesucian sang pendeta.METODE ULAMA SALAF DALAM MENYEMBUNYIKAN KESALEHANKarena para ulama terdahulu sangat takut terjerumus ke dalam riya yang samar, mereka memiliki berbagai strategi unik untuk menyembunyikan amal saleh mereka, bahkan kadang sengaja membungkus diri dengan perilaku awam agar tidak dianggap sebagai orang suci:Ibnu Sirin: Di siang hari, beliau sengaja berjalan di tengah manusia sambil tertawa-tawa dan bercanda ke sana kemari seolah-olah ia adalah orang biasa yang tidak memiliki beban spiritual. Namun, ketika malam hari tiba dan tidak ada seorang pun yang melihat, beliau menangis sejadi-jadinya dalam ibadah kepada Allah.Menyamarkan Status Ibadah: Ada sebagian ulama yang sengaja memanjangkan sedikit ekor sorbannya (meskipun sebagian menganggapnya kurang baik) atau melakukan hal-hal yang membuat masyarakat memandangnya sebagai orang yang biasa saja, bukan sebagai tokoh agama yang agung.Ibrahim bin Adham saat Sakit: Ketika beliau sedang sakit, beliau sengaja memaksakan diri memakan makanan yang biasa dimakan oleh orang-orang sehat. Tujuannya agar orang-orang di sekitarnya tidak memberikan perhatian khusus, tidak mengasihani, atau memperlakukannya secara istimewa.Puasa Sunah 20 Tahun Daud bin Abi Hind: Beliau berhasil menyembunyikan puasa sunahnya selama 20 tahun dari istrinya sendiri. Strateginya adalah setiap pagi beliau membawa bekal sarapan dari rumah dengan alasan ingin makan di pasar tempat beliau bekerja. Di tengah jalan, makanan tersebut beliau sedekahkan kepada orang miskin. Akibatnya, orang rumah mengira beliau sudah sarapan di pasar, sedangkan orang-orang di pasar mengira beliau sudah sarapan di rumah.KISAH SEORANG SALEH DAN RAJA (MEMALINGKAN KEKAGUMAN MANUSIA)Wahab bin Munabbih menceritakan tentang seorang lelaki yang paling saleh dan mulia di zamannya. Lelaki ini memberikan nasihat yang mendalam kepada teman-temannya: "Kita ini telah meninggalkan harta dunia karena takut melampaui batas. Namun, aku khawatir kita justru terjatuh ke dalam kondisi yang lebih parah dan lebih berbahaya daripada para pemilik harta."Ketika ditanya apa bahaya tersebut, beliau menjelaskan bahwa ahli zuhud sering kali senang jika keperluannya dipenuhi dengan mudah gara-gara kesalehannya, senang jika membeli barang di pasar lalu diberi harga murah karena pedagang tahu dia orang saleh, serta senang jika berpapasan dengan orang lalu disambut dengan pengagungan demi agamanya.Nasihat berharga ini akhirnya terdengar dan sampai ke telinga raja penguasa zaman itu. Sang raja yang takjub langsung membawa pasukan dan menunggangi kuda mewahnya menuju rumah orang saleh tersebut untuk memberikan salam penghormatan.Ketika lelaki saleh itu melihat kedatangan rombongan raja, ia tidak merasa bangga atau senang. Ia justru langsung memanggil budaknya dan meminta semua persediaan buah-buahan yang ada di rumahnya diletakkan di depannya.Pada hari itu, lelaki tersebut sebenarnya sedang melakukan puasa sunah. Namun, demi mematahkan kekaguman raja dan agar dirinya tidak dianggap sebagai orang suci, ia sengaja membatalkan puasanya. Ketika raja masuk ke dalam rumah, sang raja melihat lelaki saleh itu sedang mengunyah makanan (kacang-kacangan yang dituangi minyak zaitun) dengan cara memakan yang sangat lahap dan kasar (aklan 'anifan), seperti layaknya orang biasa yang rakus makanan.Raja yang melihat pemandangan tersebut merasa kecewa dan bertanya, "Bagaimana keadaanmu wahai Fulan?" Lelaki itu menjawab dengan santai, "Aku seperti orang-orang lain pada umumnya."Melihat perangai tersebut, raja langsung memalingkan tunggangannya dan pulang sambil bergumam, "Tidak ada kebaikan pada orang seperti ini." Setelah raja pergi, lelaki saleh itu langsung mengucap, "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memalingkanmu dariku dalam kondisi engkau mencelaku." Beliau sengaja mengorbankan reputasinya di mata raja demi menyelamatkan keikhlasan hatinya.CONTOH REKAYASA SOSIAL DEMI MENGHINDARI JABATAN & PUJIANKisah Yazid bin Marsad: Ketika Raja Al-Walid bin Abdul Malik berniat mengangkat Yazid bin Marsad (seorang yang sangat saleh) menjadi wali atau pejabat negara, Yazid tidak menginginkan jabatan tersebut. Untuk menggagalkan rencana raja tanpa harus membangkang secara vulgar, beliau sengaja memakai jaket kulit (farwah) secara terbalik (bagian bulu/wolnya di luar, bagian kulitnya di dalam), berjalan ke pasar tanpa menggunakan penutup kepala (qalansuwah atau songkok), tidak memakai alas kaki, sambil berjalan memegang roti dan makan-minum di tengah pasar layaknya orang yang kurang waras. Orang-orang pun melapor kepada raja bahwa Yazid bin Marsad otaknya sedang terganggu. Akhirnya raja membatalkan niatnya, dan Yazid pun selamat dari fitnah jabatan.Keteladanan Ulama Kontemporer (Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin): Ketika beliau menghadiri sebuah acara di Universitas Islam Madinah, Syekh Abdul Razak bin Abdul Muhsin Al-Badr yang bertindak sebagai moderator memperkenalkannya dengan sebutan "Al-Allamah" (orang yang sangat alim). Mendengar pujian itu, Syekh Utsaimin langsung menegurnya dengan tegas di depan publik, "Uskut! (Diam kamu!), tidak usah bilang begitu." Beliau sangat membenci Sanjungan dan tidak ingin dikultuskan.PENYAKIT UZLAH (MENYENDIRI) YANG DISELUSUPI IBILISIblis juga bisa masuk menipu orang yang suka melakukan uzlah (menyendiri di pondok, masjid, atau gunung). Mereka merasa nyaman bersendirian karena didorong oleh motif-motif tersembunyi yang buruk:Menikmati Opini Publik: Mereka senang karena masyarakat memandang mereka sebagai "orang suci yang menjauhi fitnah dunia". Ketika keluar masjid, mereka sengaja menundukkan kepala demi menjaga citra tersebut, padahal jika sedang sendirian, kelakuan mereka tidak sekhasut itu.Menjaga Jarak agar Tetap Disegani: Mereka sengaja membatasi interaksi dengan manusia karena tahu jika terlalu sering mengobrol dengan orang awam, maka rasa segan dan hormat orang lain kepadanya akan luntur.Menutupi Kebodohan: Sebagian orang sengaja memilih diam dan tidak mau banyak bicara bukan karena wara', melainkan untuk menutupi fakta bahwa dirinya sebenarnya bodoh dan tidak tahu apa-apa, sehingga orang-orang tetap mengiranya sebagai orang alim yang penuh karamah.Menghindari Kegiatan Sosial Syar'i: Akibat terlalu menjaga ego kedudukannya, mereka sampai enggan keluar rumah untuk menjenguk tetangga yang sakit atau menghadiri pengurusan jenazah orang awam. Ibnu Jauzi mengecam keras perilaku ini dan menyebutnya sebagai adat/kebiasaan yang salah yang menyelisihi syariat.Ketakutan Menurunkan Gengsi: Bahkan ada sebagian dari mereka yang rela menahan lapar di dalam rumah ketika pembantunya tidak ada, hanya karena mereka gengsi dan takut wibawanya jatuh jika terlihat oleh masyarakat sedang berjalan kaki membeli makanan sendiri di pasar.TELADAN UTAMA: RASULULLAH ﷺ DAN PARA SAHABATUstadz Firanda menegaskan bahwa zuhud yang benar bukanlah hidup dengan cara menyiksa diri atau berpenampilan sekotor mungkin. Pandangan yang benar adalah kembali kepada sunah Nabi dan para sahabatnya:Nabi Muhammad ﷺ: Beliau adalah manusia yang paling sibuk memikirkan akhirat, memimpin umat, dan berdakwah. Namun, beliau tetap menjaga penampilan dengan sangat rapi: beliau memakai minyak wangi, menyisir janggut dan rambutnya, serta bercermin. Bahkan saat beri'tikaf di masjid, beliau mengeluarkan kepalanya lewat jendela kamar agar rambutnya bisa disisir oleh istrinya, Aisyah. Beliau juga tidak gengsi pergi ke pasar dan mengangkat barang belanjaannya sendiri tanpa menyuruh orang lain.Abu Bakar dan Umar: Kedua sahabat yang paling takut kepada Allah dan paling zuhud ini tetap merawat penampilan mereka, salah satunya dengan cara mewarnai janggut mereka menggunakan hinnah (pacar kuku/daun katilayu) dan katam.Pelajaran dari Kisah Nabi Yusuf Alaihissalam: Syekh Abdul Razak Al-Badr menjelaskan bahwa Nabi Yusuf adalah manusia yang hatinya sangat stabil dan luar biasa. Ketika berada di dalam penjara (dalam kondisi paling rendah dan hina), teman-teman penjaranya memujinya dengan kalimat "Inna naroka minal muhsinin" (Kami melihatmu termasuk orang yang suka berbuat baik). Luar biasanya, setelah berlalu belasan tahun dan Nabi Yusuf telah berubah status menjadi pejabat tinggi, menteri bendahara negara yang sangat kaya raya, kakak-kakaknya yang datang meminta bantuan juga mengucapkan kalimat yang sama persis: "Inna naroka minal muhsinin". Hal ini membuktikan bahwa hati Nabi Yusuf tidak berubah sama sekali; saat miskin beliau tawadu, dan saat menjadi pejabat kaya raya beliau tetap tawadu dan tidak sombong.KESIMPULAN AKHIRHati manusia sangat mudah berubah dan berbolak-balik, terutama ketika seseorang mulai terkenal, memiliki banyak pengikut, atau dihormati. Ulama Salaf seperti Yusuf bin Aswad bahkan memilih kabur dari suatu kota ketika tahu orang-orang di pasar mulai mengenali dan menyalaminya satu per satu karena takut hatinya rusak.Siapa saja yang beribadah, berdakwah, atau menampakkan kezuhudan dengan niat agar posisinya ditinggikan di dunia, dicium tangannya, atau dihormati, maka amalnya terancam gugur di hadapan Allah sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Qashash ayat 83 bahwa negeri akhirat (surga) itu hanya disediakan bagi orang-orang yang tidak menginginkan menyombongkan diri atau mencari ketinggian (ketinggian kedudukan) di muka bumi.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
S
Sylvia Eka Putri

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Talbis iblis dari ahli zuhud

Talbis iblis #10Talbis iblis dari ahli zuhudUstadz Dr Firanda Andirja M.ATalbis iblis terhadap perkara qona’ahnamun hanya berupa makanan,pakaian sementara mereka tidak zuhud terhadap jabatan dan kekuasaan,hati mereka cendrung kepada kekuasaan dan ingin mendapatkanya.mereka memuliakan orang kaya dan tidak pada orang miskin karena tujuan dunia mereka adalah kedudukan.Ada sebagian orang secara dzohir dia zuhud seperti pakaian sederhana,kurus namun zuhud yang dalam hatinya dia suka diakui oleh dunia ini adalah riya yang tersembunyi (syahwat yang tersembunyi)Hadist yang sampai kepada Yasar ,Yusuf bin Asbad beliau berkata“Hendaknya kalian belajar dengan amal yang benar dari amal yang salah sesungguhnya aku sudah belajar amal yang benar selama 20 tahun”atsar dari Ibrahim bin Adham rahimahullah tentang keikhlasan. Dalam sebagian kitab zuhud dan hilyah disebutkan bahwa beliau belajar tentang ikhlas dari seorang rahib Nasrani bernama Sam’ān (سمعان). Kisah ini adalah atsar hikmah, bukan hadis Nabi ﷺ.Disebutkan bahwa Ibrahim bin Adham bertanya kepada Sam’an tentang sebab ia mampu beribadah dengan tekun dalam waktu yang lama. Sam’an menjelaskan bahwa dirinya memiliki tujuan yang besar, dan ketika manusia datang mengagungkannya serta menghormatinya, hal itu justru membuatnya semakin sabar dalam menjalani ibadahnya demi mencapai tujuan yang ia yakini.Lalu Sam’an berkata kepada Ibrahim bin Adham:اصبر على مؤونة ما ترجو، فإنك لا تنال ما تطلب إلا بالصبر“Bersabarlah menanggung beratnya jalan menuju apa yang engkau harapkan, karena engkau tidak akan meraih apa yang engkau cari kecuali dengan kesabaran.”Dalam sebagian redaksi disebutkan maknanya:من طلب معالي الأمور صبر على مكارهها“Barang siapa menginginkan perkara-perkara yang tinggi, maka ia harus bersabar menghadapi kesulitannya.”Kisah ini sering dibawakan oleh para ulama untuk menjelaskan bahwa seseorang yang mengejar tujuan besar akan mampu menanggung kelelahan, kesulitan, dan gangguan di jalan tersebut. Jika seorang rahib Nasrani saja bersabar demi tujuan yang ia yakini, maka seorang muslim lebih layak untuk bersabar dalam mencari ridha Allah dan ikhlas dalam ibadah.Karena takut riya orang soleh dahulu menyembunyikan ama solehnyaKadang kita senang terpenuhi karena kesolehannya  misal belanja dimurahkan karena terkenal soleh, dan kita sengaja melakukannya ini lebih bahaya dari orang yang punya harta.jangan mencari harta karena kesolehan kitaYazid bin Martsad (يزيد بن مرثد), seorang ahli ibadah dari kalangan tabi’in, bukan Yazid bin Walid.Diriwayatkan bahwa seorang penguasa atau pejabat ingin mengangkat Yazid bin Martsad menjadi pejabat atau memegang suatu jabatan, namun beliau menolaknya karena takut tidak mampu menunaikan amanah dan khawatir terhadap fitnah kekuasaan. Beliau dikenal sebagai ahli ibadah yang banyak menangis karena takut kepada Allah.Ada yang zuhud secara dzohir dan bathin karena berharap orang akan menghormatinya maka akan mudah baginya akan mudah bersabar utk zuhud bukan karena Allah tapi penghormatanTalbis iblis terhadap orang zuhud yang suka menyendiri dan dia bilang menghindar dari kemungkaran padahal dia mempunyai niat agar dipuji orang dan ditunggu orang kedatangannyaPadahal rasululloh pergi kepasar membeli kebutuhan dan mengangkat barang2nya sendiriAbu Bakar ketika berdagang membawa barangnya sendiriAbdullah Bin Salam berjalan dan memikul seikat kayu sehingga orang bertanya kenapa dia melakukan itu padahal dia berkecukupan dia berkata da takut kena kesombongan karena mendengar sabda rasululloh bahwa tidak akan masuk syurga org yg sombong- Penyakit yang samar (ad da’al khafii)@ mereka tidak mau disuruh memakai pakaian yang lembut agar kedudukannya dilihat tidak zuhud dan dia berusaha menjaga wibawa didepan orang lain dan iblis membisikan ini agar dipandang bagus oleh orang Maka ini adalah riyaDahulu para salaf menolak segala sebab yang menjadikan mereka diperhatikan dan mereka prgi ditempat orang akan mengerumuni merekaYusuf bin asbath saat keluar dari negri syam sampai ke kota Misisah sambil mengangkat air minum diatas kepalanya sampai dilihat seseorang dan datang menyalaminya sampai dia pergi kemesjid utk sholat 2 rakaat dan dia dilihat semua orang dan berkata berapa lama hatiku bisa bertahan seperti ini dan diapun kembali kekota mambijArtinya hati bisa berubah karena penghomatan orang terhadap kita@ Diantara samarnya riya yaitu ada ahli zuhud yang memakai baju robek dan tidak dijahit kemudian sengaja berpenampilan sederhana supaya dia diketahui dia nyaman dengan keadaan iniKalo seandainya dia tulus dia akan merapikan penampilannya sebagai hal utk mencontoh sikap rasululloh untuk merapikan penampilan dan sangat wangi.Begitu juga dengan Abu Bakar dan Umar yang mewarnai jenggotnya padahal mereka adalah yang paling takut pada Allah.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
S
SHILFI LATIFATHUL WANGSA

📍 Kabupaten Purwakarta

Talbis iblis 10

Talbis iblis 10 terhadap ahli zuhudUstadz firanda andirjaDiantara talbis iblis yang dilancarkan oleh iblis kepada ahli zuhud, iblis menggambarkan qona'ah pada yang rendah: makanan, pakaian, maka mereka menerima tipuan iblis tersebut. Sementara mereka tidak zuhud terhadap kekuasaan, kepemimpinan, jabatan. Hati mereka cenderung ingin kekuasaan, kepemimpinan, dan mereka ingin mendapatkan kedudukan. Zuhudnya benar, pakaian nya zuhud, tapi hati nya pengen diakui, dihormati, diagungkan, ingin meraih kekuasaan, maka mereka menanti nanti dikunjungi oleh para pejabat, mereka seneng bangga kalau di ziarahi para pembesar oleh pejabat. Dan mereka memuliakan orang orang kaya, dan mereka tidak memuliakan orang orang miskin. Dan ahli zuhud ini pura pura khusyuk ketika bertemu dengan masyarakat. Dan kebanyakan yang iblis timpakan ahli ibadah dan ahli zuhud iblis timpakan adalah riya yang tersembunyi. Aku belajar beramal selama 22 tahun. Dia beramal bukan karena Allah subhanahu wa ta'ala tapi hanya untuk dihormati. Ada yang zuhud secara dhohir dan batil. Menyiksa diri karena dipuji, dia sabar. Kalau dia ingin ikhlas sebaiknya dia makan jangan dia zuhud di hadapan istrimu. Dia makan secukupnya, supaya kedudukan nya tidak tersebar oleh istrinya. Dia berpuasa selama 20 tahun, istrinya tidak tau dia berpuasa selama 20 tahun. Bagaimana istrinya tidak tau kalau dia berpuasa ? Dia mengambil sarapan paginya kemudian dia pergi ke pasar kemudian dia bersedekah dengan sarapan paginya kemudian dia ketemu orang dia kasih sarapan tersebut. Maka orang orang yang dipasar menyangka dia udah makan dirumah padahal dia sedang berpuasa. Istrinya menyangka bawa makanan untuk makan di pasar. Dan akhirnya dia bisa menyembunyikan puasa dari istrinya selama 20 tahun. Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan walau se ringan dzarrah.Waspada kalau memiliki keshalehan, dia bangga kalau didatangi jabatan, itulah riya. Ingin terkenal ingin dihormati tidak pantas ke surga. Penyakit yang samar riya. Hati itu bisa berubah. Diantara ahli zuhud ada yang pakai baju robek robek, lalu ada yang pakai sorban nya sengaja, tidak di sisir jenggotnya, dia merasa nyaman, diantara pintu pintu riya. Harusnya dia rapihkan jenggotnya. Ini bukan petunjuk Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan bukan petunjuknpara sahabat. Sunnah ibu ibu nyisir rambut suami. Jangan biarkan suami nyisir rambut sendiri. Biar gak ngantuk.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
A
Alina Rostiana

📍 Kota Yogyakarta

Materi ke 10 Talbis Iblis dari Ahli Zuhud bersama UstadZ DR.Firanda Andirja M.A

Materi ke 10Talbis Iblis dari Ahli Zuhud Bersama Ustadz DR.Firanda Andirja M.Aبِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 1. Dunia Tidak Tercela Secara MutlakDunia bukan sesuatu yang tercela pada zatnya.Yang tercela adalah:Cara memperoleh dunia yang haram.Berlebihan dalam mencintai dunia.Menggunakan dunia untuk maksiat dan mengikuti hawa nafsu.Dunia merupakan nikmat dan sarana dari Allah untuk:Beribadah.Menuntut ilmu.Menafkahi keluarga.Melakukan amal saleh.2. Tipuan Iblis: Menganggap Keselamatan Hanya dengan Meninggalkan DuniaSebagian orang mengira harus meninggalkan dunia sepenuhnya agar selamat di akhirat.Mereka:Mengasingkan diri ke gunung atau hutan.Meninggalkan keluarga.Meninggalkan kewajiban sosial.Tidak menuntut ilmu.Padahal ini bukan ajaran Rasulullah ﷺ.3. Zuhud yang BenarZuhud bukan meninggalkan semua kenikmatan dunia.Zuhud adalah:Tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.Mengambil dunia secukupnya untuk ketaatan kepada Allah.Tidak bergantung hati kepada dunia.Meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhirat lebih utama daripada meninggalkan perkara mubah yang bermanfaat.4. Bahaya Zuhud Tanpa IlmuIblis menipu sebagian ahli zuhud dengan membuat mereka:Sibuk beribadah tetapi meninggalkan ilmu.Merasa cukup dengan ilmu yang sedikit.Menjauhi ulama.Akibatnya:Kebodohan semakin kuat.Mudah terjatuh dalam kesalahan dan bid’ah.5. Kesalahan-Kesalahan yang Dianggap ZuhudContohnya:Makan terlalu sedikit hingga merusak tubuh.Tidak mau makan buah atau makanan enak.Tidak mau minum air dingin.Memakai pakaian yang sengaja dibuat tidak nyaman.Menelantarkan kebutuhan tubuh.Padahal:Rasulullah ﷺ menyukai makanan yang baik.Rasulullah ﷺ makan daging.Rasulullah ﷺ menyukai makanan manis.Islam tidak mengajarkan menyiksa diri.6. Zuhud yang PalsuIbnu Al-Jauzi menjelaskan bahwa sebagian orang:Zuhud dalam makanan dan pakaian.Namun sangat mencintai:Jabatan.Kekuasaan.Kepemimpinan.Kedudukan di hati manusia.Mereka meninggalkan dunia yang kecil, tetapi mengejar dunia yang lebih besar yaitu popularitas dan kedudukan.7. Riya’ sebagai Tipuan Besar bagi Ahli ZuhudBentuk riya’ yang tampak:Menampilkan badan kurus.Rambut berantakan.Berbicara dengan suara dibuat-buat pelan.Menampakkan kesedihan dan kekhusyukan palsu.Pamer shalat.Pamer sedekah.Bentuk riya’ yang tersembunyi:Senang dipuji karena kesalehan.Senang dihormati karena agama.Senang banyak orang datang ke rumahnya.Senang dicium tangannya.Senang kebutuhan pribadinya dipenuhi karena dianggap saleh.8. Puncak Dunia adalah Mencari KedudukanDunia bukan hanya harta.Kedudukan dan pengakuan manusia termasuk dunia yang paling berbahaya.Banyak orang meninggalkan harta tetapi masih mengejar popularitas dan penghormatan.9. Orang Saleh Terdahulu Menyembunyikan AmalKarena takut riya’, mereka:Menyembunyikan ibadah.Menyembunyikan puasa.Menyembunyikan amal-amal saleh semampunya.Contohnya:Ada yang berpuasa bertahun-tahun tanpa diketahui istrinya.10. Ketenaran adalah UjianDihormati manusia bisa menjadi nikmat sekaligus ujian.Seorang mukmin harus takut jika penghormatan manusia membuatnya bangga.Semakin terkenal seseorang, semakin besar ujian hatinya.11. Penampilan Lusuh Bukan Tanda KesalehanSebagian orang sengaja:Memakai pakaian robek.Membiarkan sorban berantakan.Tidak menyisir jenggot.Tidak merapikan diri.Agar dianggap zuhud.Padahal:Rasulullah ﷺ merapikan rambut.Rasulullah ﷺ bercermin.Rasulullah ﷺ memakai wewangian.Rasulullah ﷺ menjaga penampilan yang baik.12. Sunnah dalam PenampilanBerpakaian rapi dan bersih.Menyisir rambut.Memakai wewangian.Menjaga kebersihan diri.Seorang istri membantu merapikan dan menyisir rambut suaminya termasuk sunnah yang dicontohkan dari Rasulullah ﷺ.13. Pelajaran Besar KajianIblis menipu ahli zuhud melalui:Meninggalkan ilmu demi ibadah.Menganggap menyiksa diri sebagai zuhud.Mencari pujian dengan tampilan zuhud.Mencari kedudukan atas nama agama.Riya’ yang sangat samar.Obatnya:Menuntut ilmu syar’i.Mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.Ikhlas dalam beramal.Menyembunyikan amal semampunya.Tidak mencari penghormatan manusia.Memanfaatkan dunia sebagai sarana menuju akhirat.Kesimpulan utama:Zuhud yang benar bukan meninggalkan dunia, tetapi menjadikan dunia di tangan dan tidak di hati. Seorang muslim tetap bekerja, belajar, berkeluarga, dan memanfaatkan nikmat Allah, namun hatinya bergantung kepada Allah dan akhirat, bukan kepada pujian, kedudukan, dan kenikmatan dunia.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
A
Aminatus Noer Sholichah

📍 Kota Surabaya

Materi 10: talbis iblis dari ahli zuhud

Rangkuman Kajian: Talbis Iblis #10 (Tipu Daya Iblis Terhadap Ahli Zuhud)Zuhud yang sejati (mengosongkan hati dari keterikatan pada dunia) adalah sifat yang sangat mulia dan dicontohkan oleh Rasulullah. Namun, iblis sering kali menipu orang-orang yang ingin menempuh jalan zuhud ini dengan cara yang sangat halus, sehingga mereka keluar dari koridor syariat tanpa menyadarinya.Berikut adalah poin-poin utama tipu daya iblis terhadap para Ahli Zuhud:1. Salah Memahami Esensi Zuhud (Mengharamkan yang Halal)Menyiksa Diri: Iblis membisikkan bahwa untuk menjadi zuhud, seseorang harus hidup melarat, menahan lapar secara ekstrem, atau menghindari makanan bergizi. Padahal, Allah menyukai hamba-Nya yang mensyukuri nikmat.Menolak Pemberian Halal: Sebagian ahli zuhud menolak harta atau makanan yang jelas kehalalannya karena mengira hal itu akan menodai kesuciannya, padahal Rasulullah tidak pernah menolak rezeki yang baik. Zuhud bukanlah menolak dunia yang ada di genggaman tangan, melainkan tidak memasukkan dunia tersebut ke dalam hati.2. Riya' dan Sum'ah Melalui Penampilan FisikPamer Kesederhanaan: Iblis menipu mereka untuk sengaja memakai pakaian yang sangat lusuh, robek, atau bertambal-tambal agar orang lain melihat dan memujinya sebagai orang yang sangat zuhud (wali Allah).Sikap Dibuat-buat: Sengaja berjalan menunduk berlebihan, memelankan suara, atau menampakkan wajah lemas seolah-olah sangat takut kepada Allah, yang tujuannya murni untuk mendapatkan penghormatan dari manusia.3. Penyakit 'Ujub (Merasa Paling Suci) & Merendahkan Orang LainKetika seorang ahli zuhud berhasil meninggalkan kemewahan dunia, iblis meniupkan penyakit hati berupa rasa ujub. Ia mulai memandang dirinya sebagai hamba pilihan (kasta tertinggi).Ia meremehkan orang-orang kaya atau orang awam yang menikmati kenikmatan duniawi, meskipun orang-orang kaya tersebut mendapatkan hartanya dari jalan yang halal dan rajin bersedekah.4. Uzlah (Mengasingkan Diri) yang Melanggar SyariatMelalaikan Kewajiban: Iblis mendorong mereka untuk berdiam diri di masjid, gunung, atau tempat sepi demi fokus beribadah sunnah (seperti dzikir dan puasa), namun akibatnya mereka melalaikan kewajiban fardhu seperti mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya.Meninggalkan Syiar Agama: Uzlah yang berlebihan membuat sebagian dari mereka enggan mendatangi shalat Jumat, shalat berjamaah, atau majelis ilmu dengan alasan "ingin menjaga hati dari fitnah interaksi dengan manusia".5. Semangat Beribadah Tanpa Panduan IlmuBanyak ahli zuhud yang lebih mengutamakan perasaan (dzauq) dan semangat ibadah daripada menuntut ilmu syar'i. Akibatnya, iblis dengan mudah memasukkan amalan-amalan bid'ah, doa-doa yang tidak ada tuntunannya, hingga keyakinan yang menyimpang ke dalam ibadah mereka.💡 Kesimpulan & Solusi Keselamatan (Benteng bagi Ahli Zuhud)Cara teraman untuk selamat dari talbis ini adalah dengan mencontoh zuhudnya Rasulullah dan para Sahabat, yaitu:Berilmu Sebelum Beramal: Ilmu agama (fiqih dan akidah) harus menjadi panglima. Ibadah yang dilandasi ilmu jauh lebih ditakuti iblis daripada ribuan ibadah orang yang bodoh.Zuhud Hati, Bukan Menggembel: Memakai pakaian yang layak, bersih, dan pantas adalah bentuk tahadduts bin ni'mah (menyebut nikmat Allah), selama tidak berlebih-lebihan.Seimbang (Tawazun): Menunaikan hak Allah, namun tetap menunaikan hak keluarga, tubuh, dan masyarakat tanpa berlebih-lebihan.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
F
Fiedningsih

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

Talbis iblis #9

TALBIS IBLIS #9TALBIS IBLIS TERHADAP ORANG YANG BERAMAR MA’RUF NAHI MUNKARUSTADZ DR.FIRANDA ANDIRJA, LC.MADiantara ibadah yg agung adalah amar Ma’ruf nahi mungkar, dengan ibadah inilah umat ini menjadi mulia.Seruan para Anbiya dan para Rasul:‘Kalian adalah manusia terbaik yg dikeluarkan kepada manusia,sifat kalian yaitu menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah ‘Umat yang meninggalkan amar Ma’ruf nahi mungkar adalah umat yg terlaknat.Jika seseorang bernani mungkar ada beberapa kemungkinan:Kemungkaran tersebut hilang,wajib baginya bernahi mungkarKemungkaran tersebut berkurang, wajib baginya bernahi mungkarTernyata jika dia bernahi mungkar, kemungkaran nya semakin besar, maka tidak boleh bernahi mungkarDilarang kemungkaran, ternyata berganti kemungkaran yang sejenis, maka ini butuh ijtihadRasulullah bersabda :“Siapa diantara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lisannya, jika tidak mampu dengan hatinya, dan itu adalah  selemah-lemahnya iman”Orang-orang yang beramar nahi mungkar ada 2 model :Orang yang berilmuOrang yang jahil1️⃣Orang yang berilmuAdapun iblis menggoda orang yg alim yang bernahi mungkar,lewat 2 jalan :Bergaya dengan perbuatannya bernahi mungkar, dengan dakwahnya, ingin disebut- sebut orang, (intinya riya), dan ujung dengan amal perbuatannyaMarah tapi bukan karena Allah,tapi karena membela dirinya,berarti ketika ini terjadi sedang tidak beramal solehPara salaf dahulu benar-benar memperhatikan diri mereka, mereka bernahi mungkar karena Allah atau bukan.Apa sekedar bergaya untuk dilihat orang, supaya diakui bahwa dia bernahi mungkar.Hati-hati bagi para penggiat dakwah untuk waspada jangan sampai melakukan kegiatan berdakwah, beramar nahi mungkar bukan karena Allah tapi untuk dirinya sendiri.2️⃣Orang jahilJika yg beramar nahi mungkar karang yg bodoh, maka setan akan mempermainkan dia.Sesungguhnya ketika dia beramar Ma’ruf kerusakan yang timbul lebih banyak daripada perbaikan yang dia lakukan.Ini bisa terjadi karena :bisa jadi dia melarang sesuatu yg boleh secara ijma’ karena tidak faham secara fikihnyaBisa jadi dia mengingkari seseorang yg melakukan sesuatu, tapi org ini punya sesuatu tafsiran tersendiri, hal ini tidak seperti yg dia sangkakanBisa jadi orang tersebut mengikuti pendapat lainTerkadang dia masuk rumah orang dan menghancurkan pintunya karena di dalam ada  yang sedang minum khamr, ini tidak boleh dilakukan .Terkadang pelaku kemungkaran dipukulTerkadang marah dan menuduh yang tidak-tidak (seperti mengatakan pelacur)Terkadang membongkar suatu perkara yang harusnya dia sembunyikanDiantara talbil iblis kepada orang yg mengingkari kemungkaran adalah : jika dia sedang mengingkari kemungkaran maka diapun duduk di hadapan banyak orang dan menjelaskan berbagai macam, dan memberi tahu kalau dia sudah bernahi mungkar kemudian dia mencaci maki kemungkaran tersebut dan melaknat nya Kata Imam Jawzi : ‘ jangan-jangan orang yg dia ingkari, yg diumbar maksiat nya telah bertaubat, dan bisa jadi yang melakukan maksiat lebih baik dari pada dia’.Menutup aib kaum muslimin adalah wajib sebisa mungkinAda sebagian orang bodoh tentang masalah kemungkaran: Dia menyerang orang-orang yang belum pasti melakukan kemungkaran,dan memukulnyaPara salaf dahulu lembut dalam mengingkariAda seorang salaf melihat seorang lelaki bicara dg seorang wanita, tentu bukan mahramnya.maka dia tegur dengan kata-kata:‘sesungguhnya Allah melihat kalian berdua, semoga Allah menutup aibku dan aib kalian’, kemudian dia pergiTerkadang dia lagi melewati orang-orang yang sedang bermain- main (menghabis-habiskan waktu) ‘wahai saudar-saudaraku, bagaimana pendapat kalian tentang seorang yg ingin bersabar tapi tidur semalaman,tidak jalan-jalan. Malamnya tidur melulu, siangnya main melulu, kapan dia akan bersabar. Dari orang-orang ini ada yg sadar, kalo mereka sedang dinasehati. Dan akhirnya mereka taubat dan mengikuti orang alim itu.Orang yang paling utama untuk kita lembut adalah penguasaAllah sudah contohkan dalam Al Qur’an tentang Musa dan Harun.Kata Allah ﷻ :“Pergilah kalian berdua kepada Firaun,sesungguhnya dia telah melampaui batas. Ucapkanlah kepada Firaun dengan kata-kata yang lembut. Siapa tahu dia sadar dan mengambil pelajaran dan tahu-tahu kepada Allah”.Ketika Musa berbicara dg Firaun sangat lembut:‘Maukah aku tunjukkan jalan supaya kamu bisa mensucikan dirimu. Dan aku menjadi petunjuk jalan bagimu menuju Tuhanmu’.Ibnu Jawzi kasih contoh seperti seorang berkata kepada penguasa:‘Ketahuilah para penguasa, sesungguhnya Allah telah mengangkat kalian dan dijadikan penguasa maka ingatlah ini adalah nikmat dari Allah,ini ada tanggung jawabnya. Sesungguhnya nikmat itu akan langgeng dengan bersyukur kepada Allah. Jangan sampai nikmat itu ditanggapi dengan kemaksiatan ‘.Fitnah seorang tidak bernahi mungkarSetan telah menipu sebagian ahli ibadah, dia melihat kemungkaran namun tidak mengingkarinyaDia berkata: ‘yg bisa bernahi mungkar adalah orang soleh, sementara saya bukan orang soleh. Bagaimana saya menyuruh orang lain sementara saya sendiri bukan orang soleh’.Ini kesalahan, karena wajib bagi dia untuk bernahi mungkar meskipun dia sering melakukan maksiat tersebut.Ketika melihat maksiat, 2 kewajiban yg dilakukan:Meninggalkan maksiatUntuk bernahi mungkarSeorang yang bernahi mungkar dengan menegur kemaksiatan, sebenarnya menasehati dirinya sendiri.semoga dia termotivasi meninggalkan maksiat tersebutNamun jika ketika  bernahi mungkar dan meninggalkan kemaksiatan tersebut, tentu pengingkaran lebih berdampak.Adapun jika dia bermaksiat dan mengingkari kemaksiatan yang dia lakukan, hampir-hampir dampaknya tidak ada tapi tetapi harus diingkariMaka wajib bagi orang yang bernahi mungkar untuk meninggalkan maksiat tersebut agar ketika bernahi mungkar pengaruhnya kelihatan.Ibnu Aqil berkata :‘Kami telah melihat di zaman kami, ada seorang yg soleh bernama Abu bakar Al a’fali. Jika hendak bernahi mungkar,maka dia panggil orang-orang soleh untuk berjalan bersama dia. Orang-orang soleh tersebut makan makanan yg halal, sekeloorang yg tidak pernah mengambil sedekah kemudia mereka tidak mengotori diri mereka dg menerima pemberian dari penguasa, mereka sering puasa di siang hari dan sering shalat malam di malam hari dan sering menangis. Tujuan agar nahi mungkar tersebut berpengaruh ‘TALBIS IBLIS KEPADA ORANG-ORANG AHLI ZUHUD DAN AHLI IBADAHTerkadang seorang awam mendengar Al Quran dan hadist tentang celaan tentang dunia.Maka dia merasa, jika mau selamat maka tinggalkan dunia. Dia tidak tahu bahwasanya dunia itu, tidak tercela secara zatnya tapi tercela  karena orang yang melakukan dunia tersebut. Yang dicela sifat manusia pada dunia tersebut.💧Iblis menipu dengan berkata :’kamu tidak akan selamat dari akhirat kecuali  kamu meninggalkan dunia, maka dia segera pergi menuju gunung-gunung, kemudian dia menjauhkan diri dari shalat Jumat dan menjauhkan diri dari shalat jamaah dan tidak menuntut ilmu dan jadilah seperti hewan yang liar dan dikhayalkan kepadanya inilah zuhud yang hakiki.💧Terlebih lagi dia mendengar ada orang soleh yang berkelana entah kemana meninggalkan dunia💧mendengarkan ada orang soleh yg beribadah di gunungIblis menggoda nya dengan cara seperti ini karena ilmunya yg sedikit dan karena kebodohannyaSeandainya dia diberi taufik oleh Allah untuk belajar kepada orang yg faqih maka dia akan faham dengan hakekat.Orang yg faqih tersebut akan menjelaskan kepada dia bahwa dunia itu tidak dicela karena zatnya .Yang tercela itu, kalau ambil dunia dengan  ara yg tidak halal atau mengambil dunia dg berlebih -  lebihan, mengambil dunia tidak sesuai dg kebutuhan, inilah yang tercelaOrang yang menjauh dari ilmu dan menjauh dari ulama semakin memperkuat kekuasaan kebodohan dalam diri seseorangDiantara tipuan setan terhadap ahli zuhud❄️Mereka tidak menuntut ilmu karena sebuah dengan kezuhudan❄️setan mengesankan bahwa zuhud adalah perkara-perkara yang mubah❄️diantara mereka ada yg makan cuma sedikit, badannya kurus sekali❄️Diantara mereka ada yg menyiksa diri mereka dengan menggunakan Kain de bulu domba❄️Diantara mereka tidak mau minum air dingin❄️Diantara mereka tidak mau makan makanan yang enakIni bukan jalan Rasulullah ﷺ , bukan jalan para sahabatnya dan bukan jalan para pengikutnyaImam Jawzi berkata :‘Tubuhmu itu adalah tungganganmu, maka kamu harus lembutkan tubuhmu agar bisa sampai pada tujuanmu. Maka ambillah yg bermanfaat bagi jiwamu dan tinggalkan lah yg tidak bermanfaat seperti kekenyangan, mengikuti hawa nafsu karena itu merusak badan dan merusak agama’.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
N
Nurmaida

📍 Kota Palu

Materi#9 "Talbis Iblis terhadap Pelaku Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan Ahli Zuhud"

Materi#9 "Talbis Iblis terhadap Pelaku Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan Ahli Zuhud"‎(Ringkasan kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.)‎‎Talbis Iblis (tipu daya setan) terhadap orang-orang yang melakukan ibadah amar ma'ruf nahi munkar dan orang yang menempuh jalan zuhud.‎1. Tipuan Setan terhadap Pelaku Amar Ma'ruf Nahi Munkar ‎A. Tipuan terhadap Orang Berilmu (Alim)‎1. Bergaya atau "Tazayyun" dalam Berdakwah ‎Iblis menggoda orang alim agar ingin dipuji, pamer, dan bergaya (takalluf) saat menasihati agar terlihat hebat di mata manusia. Hal ini muncul dari sifat riya dan ujub terhadap amalnya sendiri.‎2. Marah karena Membela Diri, Bukan karena Allah ‎Kegiatan amar ma'ruf tercampur dengan emosi pribadi karena pelaku tidak terima dihina, disinggung, atau dikasari oleh orang yang dinasihati. Jika ia membantah atau menegur demi memuaskan amarah pribadinya agar tidak terlihat kalah, maka itu bukan lagi karena Allah.‎3. Berbangga Diri setelah Melakukan Amar Ma'ruf ‎Seseorang terjebak tipuan setan ketika setelah melakukan pengingkaran, ia justru membanggakan tindakannya di hadapan orang banyak, mencaci-maki, melaknat, atau mengumbar aib pelaku kemaksiatan dengan kesombongan.‎B. Tipuan terhadap Orang Bodoh (Jahil)‎1. Nahi Munkar yang Menimbulkan Kemungkaran Lebih Besar ‎Tidak diperbolehkan melakukan nahi munkar jika tindakan tersebut justru memunculkan kemungkaran yang lebih besar.‎2. Mengingkari Perkara Khilafiyah ‎Tidak boleh mengingkari suatu perkara seolah-olah itu kemungkaran yang disepakati, padahal masih termasuk masalah yang diperselisihkan para ulama.‎3. Tajassus (Mencari-cari Kesalahan) ‎Orang yang tidak berilmu sering melakukan nahi munkar dengan cara memata-matai, mencari-cari kesalahan, atau membongkar aib yang tersembunyi. Padahal cara ini tidak dibenarkan dalam syariat.‎4. Bertindak Gegabah tanpa Pemahaman Fikih ‎Kurangnya ilmu dapat menyebabkan seseorang mengambil tindakan yang justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kemaslahatan.‎‎Kesimpulan‎Dalam beribadah, seorang Muslim harus selalu berlandaskan ilmu, syariat, dan keikhlasan. Setan dapat menipu pelaku amar ma'ruf nahi munkar dengan riya, ujub, kemarahan karena ego, serta tindakan tanpa ilmu. Setan juga dapat menipu ahli ibadah dengan pemahaman zuhud yang keliru sehingga meninggalkan dunia secara ekstrem (rahbaniyah).‎Karena itu, setiap amal harus dilakukan dengan:‎Ilmu yang benar.‎Niat yang ikhlas karena Allah.‎Sikap lembut dan bijaksana.‎Menjaga kehormatan sesama Muslim.‎Mengikuti teladan Rasulullah ﷺ dan para sahabat.‎

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
U
Ulfa Puspitasari

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis iblis #9 Talbis Iblis Terhadap Orang yang ber-Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Poin Penting yang Dirangkum dalam Gambar:Jebakan Dakwah bagi Si Alim & Si Jahil: Peringatan terhadap sifat riya’ (ingin dipuji) bagi yang berilmu, serta bahaya merusak tanpa bukti bagi yang awam. Penegasan bahwa menegur harus dengan kelembutan, bukan karena emosi pribadi.Alasan Palsu Wara': Meluruskan kesalahpahaman bagi orang yang enggan menegur kemungkaran hanya karena merasa dirinya belum sempurna atau belum shalih.Salah Kaprah Memaknai Zuhud: Meluruskan bahwa zuhud bukanlah menyiksa diri (menolak makanan enak atau pakaian bagus), melainkan meninggalkan apa saja yang tidak memberi manfaat untuk akhirat.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
S
Syfa Adinna Shabra

📍 Kabupaten Karanganyar

#9 - TALBIS IBLIS TERHADAP ORANG YANG BERAMAR MA'RUF NAHI MUNKAR

Bahwa iblis kerap menipu orang-orang yang sedang melakukan amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran). Tipu daya ini sering kali membuat pelakunya tergelincir dari niat ibadah menjadi perbuatan maksiat.Berikut adalah poin-poin utama penjelasan terkait jebakan iblis tersebut :1). Merasa Paling Bersih dan SombongIblis sering membisikkan rasa 'ujub (kagum pada diri sendiri) dan kesombongan kepada orang yang melakukan nahi munkar. Pelaku merasa dirinya jauh lebih suci, lebih baik, dan memandang rendah orang yang berbuat maksiat. Padahal, hakikat orang yang mencegah kemungkaran adalah sedang menasihati dirinya sendiri agar terhindar dari dosa tersebut. 2. Berdakwah atau Mencegah Kemungkaran Tanpa IlmuIni adalah pintu terbesar tipu daya iblis. Seseorang yang berdakwah tanpa landasan ilmu agama yang shahih (benar) sering kali terjebak dalam melarang sesuatu yang sebenarnya bukan kemungkaran. Hal ini berbahaya karena dapat menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. 3. Emosi dan Kekerasan yang BerlebihanSaat melihat kemungkaran, setan sering membisikkan amarah yang tidak terkontrol. Akibatnya, pelaku nahi munkar melakukan cara-cara yang kasar, mencaci maki, atau bahkan menggunakan kekerasan yang melanggar syariat, sehingga kemungkaran yang dicegah justru menimbulkan kerusakan (mafsadah) yang lebih besar. 4. Lalai Terhadap Kewajiban SendiriIblis menipu sebagian orang hingga mereka sangat sibuk mengurusi kesalahan orang lain sampai melalaikan kewajiban, aib, dan ibadah mereka sendiri. 5. Lupa pada Prinsip dan Akhlakdiingatkan bahwa amar ma'ruf nahi munkar memiliki tata krama. Syarat utamanya adalah: • Ilmu: Mengetahui bahwa itu benar-benar makruf atau mungkar sebelum melarangnya.• Rifq (Lemah Lembut): Menggunakan cara yang santun saat menasihati agar hati penerima dakwah lebih mudah menerima kebenaran.• Sabar: Siap menghadapi respons atau penolakan dari orang yang dinasihati. _____________________________________》 Mereka terbagi menjadi dua kelompok yaitu orang yang tahu dan orang yang tidak tahu. Adapun masuknya iblis kepada orang yang tahu melalui dua jalan:1. Jalan pertama: Menghiasi diri dengan itu, mencari nama baik dan membanggakan perbuatannya.》 Telah diriwayatkan kepada kami dari Ahmad bin Abu al-Hawari berkata, bahwa aku mendengar Abu Salman berkata: “Aku mendengar Abu Bakar Ja’far al-Manshur menangis dalam khutbah Jum’atnya, aku marah, aku berniat untuk berdiri dan menasihatinya sesuai dengan apa yang aku ketahui bila dia turun. Maka aku tidak ingin berdiri kepada seorang khalifah lalu menasihatinya sementara orang-orang duduk menyaksikan, lalu menyusup keinginan menghiasi diri dengannya, maka dia memerintahkanku agar dibunuh, sehingga aku mati bukan di atas niat yang shahih, maka aku pun duduk dan diam.2. Jalan kedua: Marah karena diri sendiri (bukan karena Allah).Bisa jadi ia sudah marah dadi awal karena dirinya, bisa jadi terjadi secara tiba-tiba saat mengajak kepada kebaikan, karena orang-orang yang mengingkari menyambutnya dengan penghinaan, hingga dia menjadi orang yang membela diri.Sebagaimana yang diucapkan oleh Umar bin Abdul Aziz kepada seorang laki-laki, “Kalau aku tidak dalam keadaan marah, niscaya aku menghukummu. Kamu ingin memancing amarahku, aku khawatir hukumanku bercampur antara marah karena Allah dan marah karena diri sendiri.”》 Bila pelaku amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah orang bodoh, maka setan mempermainkannya. Dia lebih banyak merusak daripada memperbaiki, karena tidak tertutup kemungkinan dia melarang sesuatu yang boleh dengan kesepakatan ijma’, bisa jadi dia mengingkari takwil rekannya dan mengikuti sebagian madzhab,’” bisa jadi dia mendobrak pintu, memanjat pagar, memukul pelaku kemungkaran dan menuduhnya, bila pelaku kemungkaran mengucapkan kata-kata yang membuatnya marah, maka dia marah karena dirinya.》 Di antara talbis Iblis atas pengingkar kemungkaran bahwa bila dia mengaingkari, dia duduk di perkumpulan, lalu menjelaskan apa yang dilakukannya dan membanggakannya, mencaci maki pelaku kemungkaran dengan cacian penuh kebencian, melaknat mereka. Padahal bisa jadi orang-orang itu sudah bertaubat, bisa jadi mereka lebih baik darinya karena penyesalan mereka dan kesombongannya, pembicaraan melebar hingga dia membuka aurat kaum muslimin, karena dia memberitahu siapa orang tidak tahu, padahal menutupi aib seorang muslim adalah wajib sebisa mungkin.Ibnul jauzi berkata : sebagian orang bodoh yang mengingkari kemungkaran, namun dia menyerang suatu kaum tanpa memastikan apa yang sedang mereka lakukan. Dia memukul mereka dengan pukulan yang menyakitkan dan memecahkan bejana-bejana, padahal semua itu hanyalah ajakan kepada kebodohan. Adapun orang yang berilmu, bila dia mengingkari suatu kemungkaran, maka kamu akan aman darinya.》 Shilah bin Usyaim melihat seorang laki-laki berbicara kepada seorang wanita. Maka dia berkata:“Sesungguhnya Allah melihat kalian berdua. Semoga Allah menutupi kalian sebagaimana Dia menutupi kami.”Beliau juga pernah melewati orang-orang yang sedang bermain-main, lalu berkata kepada mereka:“Saudara-saudaraku, bagaimana pendapat kalian tentang seseorang yang hendak melakukan perjalanan, namun dia tidur sepanjang malam dan bermain-main di siang hari? Kapan dia akan menyelesaikan safarnya?”Salah seorang dari mereka memahami maksudnya, lalu berkata kepada teman-temannya:“Orang ini sedang mengajari kita.”Maka dia dan teman-temannya pun bertaubat.》 Orang yang paling patut diingkari dengan kelembutan adalah para sultan. Kepada mereka dapat dikatakan:“Allah telah memuliakan kalian, maka kenalilah nikmat-Nya. Karena nikmat Allah dijaga dengan mensyukurinya, dan tidak pantas bagi kalian membalas nikmat dengan kemaksiatan.”Iblis telah mengacaukan sebagian ahli ibadah. Dia melihat kemungkaran, namun tidak mengingkarinya. Dia berkata:“Yang berhak memerintah dan melarang hanyalah orang yang pantas. Aku belum pantas. Bagaimana mungkin aku memerintah orang lain?”⬆️ Ini adalah kekeliruan. Karena semestinya dia tetap memerintah kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, sekalipun kemaksiatan itu masih ada pada dirinya.Hanya saja, bila dia mengingkari kemungkaran dalam keadaan dirinya bersih darinya, maka pengingkarannya akan lebih memberi pengaruh yang baik. Adapun bila dirinya belum bersih darinya, maka pengingkarannya hampir tidak berpengaruh.‼️ Karena itu, patut bagi orang yang mengingkari kemungkaran untuk terlebih dahulu membersihkan dirinya, agar nasihat dan usahanya memberi pengaruh yang baik.Ibnu Adil berkata:"Kami melihat pada zaman kami Abu Bakar al-Aafali di masa al-Qaim. Bila dia bangkit untuk mengingkari kemungkaran, maka dia diikuti oleh para syaikh yang tidak makan kecuali dari hasil usaha tangan mereka sendiri, seperti Abu Bakar al-Khabbaz dan beberapa orang lainnya.Tak seorang pun dari mereka memakan sedekah, dan mereka tidak ternoda dengan menerima pemberian. Mereka adalah ahli puasa di siang hari, ahli shalat di malam hari, serta sering menangis karena takut kepada Allah.Apabila ada seseorang yang mencampuradukkan kebaikan dengan keburukan, maka dia menolaknya. Dia berkata:'Bila kita menghadapi musuh dengan pasukan yang masih mencampuradukkan kebaikan dengan keburukan, maka kita akan kalah.’” 》 Orang awam mungkin mendengar celaan terhadap dunia di dalam al-Qur’an dan sunnah, maka dia melihat bahwa keselamatan adalah dengan meninggalkannya, dan dia tidak tahu dunia apa yang tercela, maka Iblis mengacaukannya bahwa kamu tidak akan selamat di akhiyat kecuali dengan meninggalkan dunia. Maka dia keluar menyingkir ke gunung-gunung, menjauh dari shalat Jum’at, shalat jamaah dan ilmu, dia menjadi seperti hewan liar. Iblis mengelabuhinya bahwa inilah zuhud hakiki, bagaimana tidak sementara dia telah mendengar tentang fulan bahwa dia luntang-lantung dan fulan lainnya bahwa dia beribadah di gunung, bisa jadi dia masih mempunyai keluarga, mereka terlantar, atau ibu yang menangisi kepergiannya, bisa jadi dia tidak mengetahui rukun-rukun shalat sebagaimana mestinya, dan bisa jadi dia masih memikul tanggungan yang belum ditunaikannya.》 Iblis berhasil menguasai orang ini karena minimnya ilmu, di antara bukti kebodohannya adalah bahwa dia rela terhadap dirinya untuk tidak berilmu, padahal seandainya dia diberi taufik untuk berguru kepada fakih yang memahami hakikat perkara, niscaya si fakih tersebut akan menunjukkan kepadanya bahwa dunia tidak tercela dari sisi dirinya, bagaimana nikmat Allah dicela, padahal ia merupakan nikmat nikmat yang menjadi hajat pokok bagi kelangsungan hidup manusia, menjadi sebab yang bisa membantunya mendapatkan ilmu dan ibadah berupa makanan, minuman, pakaian dan masjid untuk shalat. Sebaliknya yang tercela darinya adalah mengambil sesuatu bukan dari sumber yang halal atau memakannya secara boros bukan sekedar hajat kebutuhan atau jiwa bertindak padanya sejalan dengan kebodohannya tidak sejalan dengan syariat. Bahwa keluar pergi ke gunung menyendiri dilarang, karena nabi melarang seseorang bermalam sendirian, resiko meninggalkan shalat Jum’at dan jamaah adalah kerugian tanpa keuntungan, menjauh dari ilmy dan ulama menguatkan kekuasaan kebodohan, berpisah dari bapak dan ibu dalam keadaan ini adalah kedurhakaan dan ia termasuk dosa besar.》 Adapun orang-orang yang dia dengar bahwa dia menyendiri ke gunung-gunung maka ada kemungkinan mereka tidak memiliki keluarga, bapak dan ibu, maka mereka keluar ke sebuah tempat untuk beribadah di sama secara bersama. Barangsiapa yang perbuatannya tidak mengandung sisi yang shahih maka dia di atas kesalahan, siapa pun dia.Sebagian salaf berkata, “Kami keluar ke gunung untuk beribadah, maka Sufyan ats-Tsauri datang kepada kami dan menyuruh kami pulang.” • Di antara talbis Iblis atas para ahli zuhud adalah bahwa mereka berpaling dari ilmu dengan alasan sibuk zuhud, mereka telah menukar apa yang lebih baik dengan apa yang lebih rendah. Penjelasannya begini, manfaat orang zuhud tidak melampaui teras rumahnya, sementara manfaat orang yang berilmu menyebar, berapa banyak ahli ibadah yang dipulangkan kepada kebenaran oleh seorang yang berilmu.• Di antara talbis Iblis atas mereka adalah dia mengelabuhi mereka bahwa zuhud adalah meninggalkan hal-hal mubah. Di antara mereka tidak makan kecuali roti gandum. Di antara mereka ada yang tidak makan buah-buahan. Di antara mereka ada yang makan sedikit hingga badannya kering dan menyiksa dirinya dengan memakai wol serta menolak minum air dingin.⚠️ Semua ini bukan jalan hidup Rasulullah, tidak pula para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka. Mereka memang lapar, namun itu karena mereka memang tidak punya makanan, bila makanan ada maka mereka makan.- Rasulullah makan daging dan menyukainya, makan ayam, menyukai manisan dan menikmati air yang dingin.- Seseorang berkata, “Aku tidak makan kue puding, aku takut tidak bisa mensyukurinya.” Maka al-Hasan al-Bashri berkata, “Dasar bodoh. Apakah dia bisa mensyukuri air yang dingin?!”- Bila Sufyan ats-Tsauri safar, dia membawa bekal dalam kantongnya berupa daging panggang dan puding. 'Seseorang sepantasnya mengetahui bahwa badannya adalah kendaraannya, dia harus memperlakukannya dengan kelembutan agar bisa menyampaikannya ke tujuan, mengambil apa yang menguatkannya dan membuang apa yang membahayakannya berupa kenyang berlebihan dalam menunaikan hajat jiwa karena hal itu bisa membahayakan badan dan agama.' (Ibnul Jauzi rahimahullah) Manusia memiliki tabiat yang berbeda-beda, bila orang-orang pedalaman memakai bahan wol dan hanya minum susu maka kita tidak mencela mereka, karena tubuh mereka sanggup memikul hal itu. Bila penduduk desa memakai bahan wol, dan makan kawamikh (makanan semacam acar), maka kita tidak mencela mereka. Kita tidak berkata, “Di antara mereka ada orang yang terlalu memaksakan diri.” Karena memang demikian adat mereka.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
H
Haniva Eka Kusuma

📍 Kabupaten Bogor

Ringkasan talbis iblis bagian 9

Talbis iblis - 9 Talbis Iblis Terhadap Orang  yang Melakukan Amar Ma'ruf Nahi Munkar Manusia terbaik yang dikeluarkan untuk manusia adalah yang beramal baik dan mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allaah.Manusia yg meninggalkan amar ma'ruf nahi munkar adalah orang2 yang di laknat. Seseorang yang bernahi munkar maka ada beberapa kemungkinan:1. Kemunkaran itu hilang 2. Kemunkaran tersebut berkurang.3. Kemunkaran lebih besar.4. Kita larang kemunkaran tapi diganti dengan yg sejenis Nahi munkar ini tidak semudah yg kita bayangkan.Munkar ini tidak selalu di anggap munkar. Apalagi ada khilafiyyah. Apalagi sampai tajjassus. Orang2 yang bernahi munkar itu ada 2 model:1. Orang yg berlimu2. Orang yg jahil Dan iblis menggoda orang alim. Iblis bisa masuk dengan 2 jalan,1. Bergaya dengan perbuatannya (Riya, ujub)2. Dia marah tapi bukan karna Allaah. Tapi kara dirinya. Contohnya: bisa jadi sejak awal dia marah karna membela dirinya. Orang jahil yang bernahi munkar, setan akan mempermainkan dia. Ketika dia ber-amar mar'uf nahi munkar kerusakan yang dia lakukan lebih banyak daripada kebaikannya. Karna bisa jadi dia melarang sesuatu yg ternyata secara ijma boleh.Bisa jadi dia mengingkari sesuatu padhaal orang tersebut punya ta'wil. Dan mereka biasanya tajassus. Terkadang pelaku kemunkaran dia pukul. Bernahi munkar itu butuh Fiqih.Tidak boleh bernahi munkar dengan kebodohan..Berbangga bangga dengan mengingkari kemunkaran dan membuka aib seorang manusia. Bagaimana mengingkari para penguasa?Orang yg paling pertama kita lembuti (saat mengingkari penguasa) adalah para penguasa.Seperti kisah nabi musa dan nabi harun.. Wajib bagi orang yg bernahi munkar, untuk dia meninggalkan maksiat agar bisa diliat (saat melakukan nahi munkar) Terkadang seorang awwam mendengar hadits tentang celaan terhadap dunia.. maka dia merasa "kalau mau selamat, maka tinggalkan dunia"Pada asalnya, dunia itu tidak tercela (secara dzatnya). Yg tercela itu sifat manusia terhadap dunia.Mengambil dunia tidak sesuai dengan kebutuhan (ini yg tercela)

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Rangkuman Materi Talbis Iblis 9

Talbis Iblis 9 "Talbis Iblis Terhadap Orang Yang Beramar Ma'aruf Nahi Mungkar)🎙️ Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., M.ADiantara ibadah yang agung adalah amar ma'aruf nahi mungkar dan dengan ibadah inilah maka umat ini mulia. Meskipun ini ibadah yang agung tentu ada fikihnya, tidak sembarang. Dan fikihnya cukup luas bagi orang ingin beramar ma'ruf nahi mungkar, bukan sekedar menyampaikan kebaikan dan bukan hanya sekedar mencegah kemungkaran dimana ada aturan-aturannya. Kalau seseorang bernahi mungkar maka ada beberapa kemungkinan-kemungkinan :✓ Kemungkaran tersebut hilang. Maka wajib bagi dia benahi kemungkaran. ✓ Kemungkaran tersebut berkurang. Ini juga wajib benahi kemungkaran. Dari besar menjadi berkurang.✓ Membenahi Kemungkaran, kemungkaran semakin besar. Maka tidak boleh benahi kemungkaran.✓ Melarang kemungkaran ternyata terganti dengan Kemungkaran sejenis. Maka ini butuh ijtihad. Ini saja sudah menggambarkan bahwasanya benahi mungkar tidak semudah yang dibayangkan. Demikian juga kata Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam "Siapa diantara kalian melihat kemungkaran maka rubah dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lisannya, jika tidak mampu dengan hatinya itu iman paling rendah". Orang-orang yang beramar ma'ruf nahi mungkar itu ada 2 model :◾ Orang yang berilmu. Iblis menggoda orang alim yang bernahi mungkar dia terpenuhi persyaratan, mengerti tentang fikih dan memang pantas bagi dia untuk beramar ma'ruf nahi mungkar. Teryata Iblis bisa masuk melalui :✓ Bergaya dengan perbuatannya. Intinya dia riya dan ujub dengan amal perbuatannya. Maka iblis masuk dari sisi ini. ✓ Dia marah tapi bukan karena Allah. Namun karena membela dirinya, itu berat dia tidak beramal shaleh.◾Orang yang jahil atau bodoh.Adapun jika yang beramar ma'ruf nahi mungkar orang bodoh, maka setan akan mempermainkan dia dan sesungguhnya ketika dia beramar ma'ruf kerusakan yang dia timbulkan lebih banyak daripada perbaikan yang dia lakukan. Kemungkaran itu harus ada diijmakan oleh para ulama atau yang dikhilafkan tapi khilafanya lemah maka boleh kita ingkari. Lain halnya jika khilafnya kuat dikalangan para fukaha sejak dahulu. Maka tidak boleh kita ingkar dengan bentuk bernahi mungkar. Oleh karenanya banyak terjadi perpicahan dikalangan kaum muslimin karena orang-orang bodoh yang bernahi mungkar. Maka kerusakan yang timbul lebih parah. 👉 Berbangga-bangga dengan mengingkari kemungkaran dan berbangga-bangga mengumbar aib pelaku maksiat.Diantara talbis iblis kepada orang yang mengingkari kemungkaran adalah jika dia sudah mengingkari kemungkaran maka dia pun duduk di hadapan banyak orang kemudian dia jelaskan. Dia banggakan bahwasanya bernahi mungkar. 👉 Fitnah yang seorang tidak bernahi mungkar.Dia bisa bernahi mungkar tapi dia tidak mau karena wara. Setan telah menipu sebagian ahli ibadah, dia melihat kemungkaran namun dia tidak mengingkarinya. Kemudian dia berkata ''Yang bisa bernahi mungkar hanyalah orang shaleh sementara saya bukan orang shaleh. Bagaimana saya menyuruh orang lain sementara saya sendiri buka orang shaleh". Ini kesalahan karena wajib bagi dia untuk bernahi mungkar meskipun dia sering melakukan maksiat tersebut. Karena wajib bagi dia dua kewajiban yaitu meninggalkan maksiat dan kewajiban dia untuk bernahi mungkar. Jika dia tidak melakukan keduanya maka dia mendapatkan dua dosa. 👉 Tipuan iblis kepada orang-orang yang ahli Zuhur dan ahli ibadah.Dunia itu tidak tercela secara zatnya tapi tercela karena sifat orang terhadap dunia tersebut. Iblispun menipunya dengan berkata "Kamu tidak akan selamat di akhirat kecuali meninggalkan dunia". Hanyalah iblis bisa menggodanya dengan cara seperti itu karena dia sedikit ilmunya dan karena kebodohannya dan dia ridho dengan ilmu yang dia miliki. Diantara tipuan setan terhadap ahli zuhud :✓ Mereka tidak menuntut ilmu karena sibuk dengan kezuhudan, mereka telah Menganti yang baik dengan yang buruk. Karena orang yang zuhud manfaatnya hanya untuknya tidak keluar dari pintunya✓ Setan menghayalkan dan mengesankan bahwasanya zuhud itu adalah meninggalkan perkara-perkara mubah. Zuhud itu ada wara. Wara yaitu meninggalkan sesuatu perkara yang mungkin mudharat di akhirat. Konsekuensi dari wara adalah meninggalkan yang haram. Karena haram itu adalah mudharat di akhirat dan meninggalkan syuhbat. Karena terkadang syuhbat ini bisa jadi memberi mudharat di akhirat. Zuhud yaitu meninggalkan yang tidak bermanfaat di akhirat. Bukan meninggalkan perkara-perkara mubah. Karena perkara mubah ada yang bermanfaat di akhirat.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
D
Dina Permata Sari

📍 Kota Tangerang Selatan

Talbis Iblis #9 - Talbis Iblis Terhadap Orang Yg Beramar Ma'ruf Nahi Munkar

Keutamaan Amar Ma'ruf Nahi MunkarAmar ma'ruf nahi mungkar adalah ibadah yang sangat agung. Dengan ibadah inilah umat Islam disebut sebagai "Khairu Ummah" (sebaik-baik umat). Sebaliknya, Allah melaknat Bani Israil melalui lisan Nabi Daud dan Isa bin Maryam karena mereka meninggalkan kewajiban saling mencegah kemungkaran.Meskipun agung, ibadah ini memiliki Fikih yang luas dan tidak boleh dilakukan sembarangan.Sebelum mencegah kemungkaran, seseorang harus melihat dampaknya:Kemungkaran hilang: Wajib dilakukan.Kemungkaran berkurang: Wajib dilakukan.Kemungkaran menjadi lebih besar: Haram/Tidak boleh dilakukan. Mencegah kemungkaran tidak boleh melahirkan kemungkaran yang lebih dahsyat.Kemungkaran terganti dengan kemungkaran sejenis: Membutuhkan ijtihad ulama.Selain itu, masalah yang bersifat khilafiyah (perbedaan pendapat ulama yang kuat) tidak boleh diingkari dengan keras. Kecuali jika pendapat khilaf tersebut sangat lemah (seperti keharaman musik atau riba uang), maka tetap wajib dibantah.Talbis Iblis (Tipu Daya Setan) dalam Nahi MunkarMenurut Ibnul Jauzi, orang yang beramar ma'ruf nahi mungkar terbagi menjadi dua, dan Iblis memiliki cara berbeda untuk menipu keduanya:1. Tipu Daya kepada Orang yang Berilmu (Alim)Orang alim tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Namun, setan masuk melalui dua celah:Riya' dan Ujub: Setan membuatnya bergaya saat menasihati, ingin dipuji, mencari ketenaran, dan merasa bangga (ujub) jika orang berhenti maksiat karena tegurannya.Marah karena Ego (Bukan karena Allah): Awalnya ia ikhlas menasihati, namun ketika dibantah atau dihina oleh pelaku maksiat, ia terpancing emosi. Akhirnya, ia berdebat dan marah bukan lagi untuk membela agama Allah, melainkan untuk membela harga dirinya sendiri agar tidak kalah.2. Tipu Daya kepada Orang yang Bodoh (Jahil)Jika orang bodoh yang beramar ma'ruf, kerusakan yang ditimbulkan akan jauh lebih besar daripada perbaikannya. Kesalahan yang sering terjadi:Melarang hal yang sebenarnya mubah (boleh) secara agama atau masalah khilafiyah.Melakukan Tajasus (mata-mata/mencari-cari kesalahan yang tersembunyi), seperti mendobrak pintu rumah orang, memanjat pagar, dsb.Main hakim sendiri seperti memukul atau membakar pelaku maksiat.Menuduh tanpa bukti (Qadzaf), misalnya melihat wanita berjalan dengan laki-laki lalu langsung dituduh sebagai pelacur.Membongkar aib sesama muslim yang seharusnya ditutupi.Adab Menasihati PenguasaNahi mungkar harus mengedepankan kelembutan, terutama kepada penguasa/pemimpin. Allah mencontohkan hal ini saat menyuruh Nabi Musa dan Nabi Harun menghadapi Firaun (manusia paling tiran yang mengaku Tuhan). Allah menyuruh mereka menggunakan perkataan yang lemah lembut. Jika Firaun saja harus dinasihati dengan lembut oleh Nabi Musa, maka pemimpin saat ini jauh lebih berhak untuk dinasihati dengan cara yang baik, santun, dan tidak dipermalukan.Kesalahpahaman Tentang Zuhud (Talbis Iblis pada Ahli Ibadah)Di paruh kedua kajian, Ustadz Firanda membahas tipu daya iblis kepada orang-orang yang gemar beribadah terkait konsep Zuhud.Setan sering membisikkan bahwa dunia itu tercela secara dzatnya, sehingga untuk selamat, seseorang harus mengasingkan diri. Kesalahpahaman yang sering terjadi:Pergi ke gunung/hutan dan meninggalkan kewajiban sosial (seperti Shalat Jumat, jamaah, menuntut ilmu, menafkahi istri, atau berbakti pada orang tua).Menyiksa diri sendiri: Menolak makan makanan enak, tidak mau minum air dingin, memakai pakaian kasar yang tidak nyaman, hingga sengaja membuat badan kurus kering.Zuhud yang Benar:Dunia tidak tercela secara dzatnya. Yang tercela adalah jika kita mencari dunia dengan cara haram, berlebih-lebihan, atau menuruti hawa nafsu semata.Zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat.Makan makanan enak, minum air dingin, dan memakai pakaian yang nyaman bukanlah pelanggaran zuhud, asalkan membantu menguatkan fisik untuk beribadah dan tidak berlebih-lebihan.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
R
RATIH HANDAYANI

📍 Kabupaten Bogor

Day-9 TALBIS IBLIS TERHADAP ORANG YANG BERAMAR MA'RUF NAHI MUNKAR

Talbis iblis terhadap orang yang beramar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf nahi munkar merupakan ibadah yang agung. Dengan ibadah amar ma’ruf nahi munkar menjadi mulia. Dan umat yang meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar terlaknat, sebab mereka tidak membenahi kemungkaran. Fiqih aturan dalam beramar ma’ruf nahi munkar. Jika ada orang yang membenahi kemungkaran, ada beberapa kemungkinan:Kemungkaran tersebut hilang, maka wajib baginya membenahi munkar.Kemungkaran tersebut berkurang, maka wajib baginya membenahi munkar (kemunkaran yang besar jadi berkurang).Ternyata jika ada seseorang yang membenahi kemungkaran, dan berakibat kemunkaraannya semakin besar, maka tidak boleh membenahi kemungkaran itu. Membenahi kemungkaran dan ternyata kemungkaran itu tergantikan dengan kemunkaran yang sejenis, maka butuh ijtihad. Membenahi kemungkaran tidak semudah yang dibayangkan. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, “Siapa diantara kalian yang melihat kemunkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu dengan tangannya maka rubahlah dengan lisannya. Dan jika tidak mampu dengan lisannya maka rubahlah dengan hatinya. Dan inilah iman yang paling rendah.Tidak semua munkar dianggap kemungkaran, misalnya khilafiyah tidak dianggap munkar. Terlebih jika khilafiyah tersebut kuat. Kemunkaran juga tidak boleh tajjasus. Sebagaimana penjelasan Al Imam Ibnu Jauzi tentang orang-orang yang salah dalam praktik kemungkaran. Beliau berkata, bahwa orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar itu ada 2 model, yaitu: pertama, Aalimun, yaitu orang yang berilmu. Kedua, Jaahilun, yaitu orang bodoh. Adapun iblis yang menggoda orang alim yang membenahi kemungkaran, dimana orang alim ini sudah terpenuhi persyaratan bahwa dirinya mengerti fiqih, pantas bagi dirinya untuk berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar. Maka iblis masuk dengan tipu dayanya, pertama, bergaya dengan perbuatannya, dengan berdakwah benahi munkar dan banyak berdzikir ingin disebut-sebut orang (riya’), ujub dengan amal perbuatannya.Diriwayatkan kepada kami kami dengan sanad dari Ahmad bin Abil Hawari dia berkata, “Aku mendengar Abu Sulaiman berkata bahwa Abu Ja’far Al Mansyur (seorang khalifah) menangis dalam khutbahnya ketika hari Jum’at. Maka ketika itu Abu Sulaiman marah karena melihat suatu kemungkaran dalam khutbah tersebut. Maka hadir dalam diri Abu Sulaiman niat untuk menegur Abu Ja’far jika dia turun dari khutbah. Abu Sulaiman ingin menasehati Abu Ja’far tentang apa yang telah dilakukan dalam khutbahnya. Ternyata Abu Sulaiman tidak jadi mensehati Abi Ja’far, sebab Abu Sulaiman tidak suka berjalan menuju khalifah Abu Ja’far untuk menasehatinya di depan umum sehingga nantinya orang-orang melihat Abu Sulaiman menasehati khalifah. Abu Sulaiman khawatir disaat menasehati Abu Ja’far dirinya bergaya/takaluf/akting tidak apa adanya. Dan Abu Sulaiman pun khawatir Abu Ja’far memerintahkan anak buahnya untuk melakukan keburukan padanya. Yang akhirnya Abu Sulaiman bisa dibunuh oleh khalifah tanpa niat yang benar. Maka Abu Sulaiman pun tetap duduk diam”.Maknanya, Abu Sulaiman bukan takut pada khalifah Abu Ja’far, tapi beliau takut tidak ikhlas karena semua orangn melihat padanya. Dan jika khalifah marah padanya lalu membunuhnya, yang terjadi Abu Sulaiman mati sia-sia. Tidak ikhlas lalu mati sia-sia.Kedua, seseorang yang marah bukan karena Allah tapi marah karena membela diri sendiri. Itu bukanlah beramal sholih. Karena ketika seseorang bernahi munkar terkadang marah. Contohnya, Bisa jadi sejak awal seseorang itu marah karena dirinya bukan bernahi munkar karena Allah. Atau bisa jadi seseorang itu awalnya ikhlas bernahi munkar, tiba-tiba orang itu diganggu oleh orang yang diingkarainya dan uncullah kemarahannya tapi ternyata bukan karena Allah melainkan karena ingin membela dirinya. Sebagaimana Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah berkata kepada seorang laki-laki, “Kalau bukan saya sedang marah, tentu saya sudah menghukummu!” Maksudnya, kata Umar bin Abdul Aziz, “Kau membuat saya marah, dan aku khawatir ketika aku marah dan menghukummu ternyata aku menghukkummu bukan karena Allah tapi Allah dan bercampur dengan emosiku. Maka aku tidak jadi menghukummu”.Adapun jika yang beramar ma’ruf nahi munkar adalah orang-orang bodoh, maka syaithan akan mempermainkan orang itu. Dan sesungguhnya ketika orang bodoh beramar ma’ruf nahi munkar, kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar. Karena bisa jadi orang itu melarang mencegah sesuatu yang diperbolehkan secara ijma. Atau bisa jadi sesuatu yang dilarangkan itu ada khilafiyah. Terkadang orang bodoh menuduh tanpa bukti. Talbis iblis kepada orang yang mengikari kemungkaran. Jika seseorang telah mengingkari kemungkaran, maka orang itu akan duduk di hadapan banyak orang kemudian orang tersebut bercerita pernah membenahi kemungkaran lalu mencaci pelaku munkar seakan-akan seperti mencekik leher, dan melaknatnya. Padahal bisa jadi orang yang dicaci , dihina dijelek-jelekkan tersebut suda bertobat. Dan bisa jadi orang telah tobat dari kemunkaran tersebut lebih baik dari yang yang mencacinya tadi karena orang yang pernah membenahi kemungkaran itu masih terjerumus dalam kesombongan dan tanpa sadar membongkar aib kaum muslimin.Al Imam Ibnu Jauzi berkata, “Dan aku pernah mendengar sebagian orang bodoh tentang masalah kemungkaran dengan menyerang orang-orang yang belum tentu melakukan kemungkaran tersebut seperti memukulnya, merusak barang. Padahal bukan seperti itu aturan main dalam membenahi suatu kemungkaran. Adapun orang alim ketika mengingkari tujuannya untuk menasehati”.Para salaf dalam menasehati kemungkaran selalu dalam kelemah lembutan.Cara mengingkari para umara’/penguasa. Orang yang paling utama untuk kita lembuti ketika mengingakari adalah para penguasa. Lihatlah perintah Allah kepada Musa alaihissalam saat Musa bertemu dengan Fir’aun. Allah memerintahkan Musa untuk berkata-kata lembut kepada Fir’aun yang jelas-jelas mengingkari Allah sebagai tuhan. Al Imam Ibnu Jauzi memberikan contoh jika berkata pada penguasa, “Ketahuilah para penguasa, para pejabat, sesungguhnya Allah telah mengangkat kalian dengan dijadikan penguasa. Maka ingatlah bahwa ini adalah nikmat dari Allah (artinya ada tanggung jawabnya). Dan sesungguhnya nikmat itu akan langgeng dengan bersyukur kepada Allah. jangan sampai nikmat itu ditanggapi dengan kemaksiatan”>Fitnah seseorang yang tidak membenahi kemungkaran, dinama orang tersebut mampu dan bisa membenahi munkar tapi tidak mau membenahi munkar dengan alasan wara’. Padahal syaithan telah menipu para ahli ibadah, dia melihat kemungkaran namun dia tidak mengingkarinya seraya berkata, “Yang bisa mengingkarinya adalah orang sholih, sedangkan aku bukanlah orang sholih. Bagaimana aku menyuruh orang lain sementara aku sendiri bukan orang sholih”.Al Imam Ibnu Jauzi menyanggah perkataan orang tersebut dengan berkata, “Karena wajib baginya untuk beramar ma’ruf nahi munkar meskipun dia masih melakukan maksiat tersebut!” para ulama mengatakan bahwa kewajiban orang tersebut beramar ma’ruf nahi munkar ada 2 yaitu, pertama, kewajiban dirinya untuk meninggalkan maksiat tersebut. Kedua, kewajiban baginya untuk membenahi munkar. Jika tidak melakukan keduanya maka orang itu akan mendapat dosa dari keduanya.Sesungguhnya jika orang menegur kemaksiatan, sama halnya menasehati dirinya sendiri. Agar termotivasi untuk benar-benar meninggalkan maksiat tersebut karena Allah. Dan jika dia meninggalkan maksiat tersebut, tentu pengingkarannya lebih berdampak. Adapun jika orang tersebut mengingkari kemaksiat yang sama seperti dilakukannya, hampir-hampir dampaknya tidak ada. WAJIB bagi orang yang benahi munkar untuknya meninggalkan maksiat tersebut agar ketika membenahi munkar pengaruhnya terlihat. Talbis iblis kepada ahli zuhud dan ahli ibadah. Mereka menyangka dengan meninggalkan dunia sepenuhnya adalah suatu kezuhudan. Padahal dunia itu tidaklah tercela, yang tersela adalah sifat manusia terhadap dunia. Iblis menipunya dengan berkata, “Kau tidak akan selamat di akhirat kecuali engkau meninggalkan dunia”. Maka orang yang tertipu rayuan iblis itu segera pergi ke gunung-gunung, kemudian menjauhkan diri dari sholat Jum’at dan sholat berjama’ah dan tidak menuntut ilmu, sehingga diibaratkan seperti hewan yang liar. Karena orang itu dikhayalkan inilah zuhud yang hakiki. Terlebih lagi orang itu mendengar, ada diantara orang sholih yang berkelana pergi kesana kemari. Atau orang itu ikut-ikutan orang sholih pergi ke gunung padahal memiliki keluarga dan ibu, maka durhakalah orang seperti ini kepada ibu dan dzolim kepada keluarganya.Iblis bisa menggoda orang seperti ini karena seedikit ilmunya dan kebodohannya. Bukankah dunia adalah sebab seseorang bisa menuntut ilmu dan beribadah. Ibnu Jauzi berkata bahwa yang tercela dari dunia itu jika ambil dunia dengan cara yang tidak halal atau mengambil dunia dengan berlebih-lebihan/mengambil dunia tidak sesuai kebutuhan hanya sesuai keinginan hawa nafsu. Sibuk zuhud meninggalkan menuntut ilmu. Definisi wara’: meninggalkan sesuatu yang mungkin bermasalah di akhirat nanti atau lebih banyak mudhorot yakni meninggalkan yang haram dan syubhat.Defini zuhud: meninggalkan yang tidak bermanfaat di akhirat.Jadi bukan meninggalkan semua perkara yang mubah. Karena ada perkara mubah yang bermanfaat di akhirat.Salah kaprah dalam memaknai zuhud yang terjadi pada sebagian orang:diantara mereka ada yang tidak mau makan roti dari sa’ir (roti yang halus terksturnya).diantara mereka ada yang tidak mau makan buah.diantara mereka hanya makan sedikit hingga badannya kurus kering.diantara mereka ada yang menyiksa dirinya dengan memakai pakaian dari kain bulu domba (kainnya kasar dan bau).diantara mereka tidak mau minum air dingin karena dianggap terlalu nikmat.diantara mereka ada yang tidak mau makan khobis (makanan yang mewah).Padahal ini bukan jalan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dan para sahabat.Para sahabat dulu tidak makan karena memang tidak ada makanan. Mereka bersabar menahan lapar. Bukan berniat untuk melaparkan diri. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam juga makan daging, suka makanan yang manis-manis, suka minuman yang segar-segar.Catatan pribadi kajian kitab Talbis Ibliskarya Al Imam Ibnu Jauzi Pemateri: Ust. Firanda Andirja, M.AChallenge: @komunitas.beekindPencatat: @umlinote

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
N
Nailah Nurul Hanifah

📍 Jakarta Selatan

Talbis Iblis #9: Talbis Iblis Terhadap Orang Yang Beramar Ma'ruf Nahi Munkar

Keutamaan Amar Ma'ruf Nahi MunkarSifat utama yang menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik (khairu ummah) adalah aktivitas menyeru kepada kebaikan (amar ma'ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar) dengan landasan iman kepada Allah. Ini adalah tugas utama para nabi dan rasul.Ancaman Meninggalkannya: Kaum Bani Israil dilaknat melalui lisan Nabi Daud dan Nabi Isa karena mereka cenderung membiarkan dan tidak saling mencegah kemungkaran yang terjadi di lingkungan mereka.Fikih Dasar Nahi MunkarBernahi munkar tidak boleh dilakukan sembarangan, melainkan harus menggunakan ilmu dan memahami fikihnya. Berdasarkan dampaknya, tindakan mencegah kemungkaran dibagi menjadi 4 kondisi:Wajib: Jika kemungkaran tersebut diyakini akan hilang total.Wajib: Jika kemungkaran tersebut minimal bisa berkurang tingkatannya.Haram/Tidak Boleh: Jika pencegahan tersebut justru memicu timbulnya kemungkaran lain yang jauh lebih besar dan dahsyat.Butuh Ijtihad: Jika kemungkaran tersebut hilang, namun langsung tergantikan oleh kemungkaran lain yang sejenis.Poin Penting Lainnya:Mengubah kemungkaran disesuaikan dengan kemampuan: dengan tangan (kekuasaan), lisan, atau paling minimal dengan hatinya dan itulah iman yang paling rendah.Tidak semua hal yang dianggap buruk oleh seseorang otomatis berstatus "munkar". Contohnya adalah masalah khilafiyah (perbedaan pendapat ulama) yang kuat, maka hal itu tidak boleh diingkari secara frontal. Tidak boleh melakukan nahi mungkar dengan tajassus (memata-matai).Dua Golongan Pelaku Amar Ma'ruf Nahi MunkarA. Golongan Orang Berilmu (Alim)Orang alim paham fikih dan tahu kapan harus berbicara atau diam. Namun, iblis tetap bisa menjebak mereka melalui 2 jalan:Jalan Pertama: Riya dan Ujub. Mereka bernahi munkar atau berdakwah demi mengejar popularitas, pujian, atau merasa bangga diri (ujub) karena merasa mampu membuat orang lain bertobat.Kisah Salaf: Abu Sulaiman menceritakan kisah seseorang yang berniat menegur khalifah Abu Jafar Al-Mansur saat khutbah Jumat. Namun, ia membatalkan niatnya karena takut hatinya menjadi tidak ikhlas (ingin bergaya/terlihat hebat di depan orang banyak). Ia menyadari bahwa jika ia dihukum mati oleh khalifah dalam kondisi tidak ikhlas, kematiannya akan sia-sia (mati konyol).Sebaik-baik jihad adalah perkataan haq di hadapan penguasa yang zhalim. Maka jika ia datang kepada penguasa tersebut lalu mati terbunuh, maka ia syahid. Namun syaratnya adalah ikhlas karena Allah. Jalan Kedua: Marah karena Membela Diri. Ketika menegur orang lalu dibalas dengan makian (dituduh sesat, Wahabi, dsb.), niat awal yang ikhlas karena Allah sering kali bergeser menjadi emosi pribadi karena tidak mau kalah berdebat.Kisah Salaf: Umar bin Abdul Aziz menolak menghukum seseorang saat beliau sedang marah, karena khawatir hukuman tersebut didasari oleh pelampiasan emosi pribadinya, bukan murni karena menegakkan hukum Allah.B. Golongan Orang Bodoh (Jahil)Iblis sangat mudah mempermainkan orang bodoh yang nekat bernahi munkar tanpa bekal ilmu, sehingga kerusakan yang mereka perbuat sering kali jauh lebih besar daripada perbaikannya. Kesalahan-kesalahan mereka meliputi:Melarang sesuatu yang sebenarnya disepakati (ijma’) boleh dilakukan.Menyerang pendapat fiqih orang lain tanpa tahu adanya ruang khilafiyah yang kuat di antara mazhab-mazhab besar (misal: masalah Qunut Subuh).Melakukan Tajassus (Mata-mata): Menghancurkan pintu rumah orang atau memanjat pagar demi mencari-cari kesalahan orang lain yang bermaksiat secara sembunyi-sembunyi. Secara syariat, kemaksiatan privat yang ditutup rapat di dalam rumah tidak boleh dibongkar paksa.Main Hakim Sendiri: Melakukan kekerasan fisik secara berlebihan (seperti memukul pencuri hingga tewas).Menuduh Tanpa Bukti (Qadzaf): Berlebihan dalam berucap (misal: mencaci perempuan yang jalan dengan lelaki sebagai pelacur), padahal dalam Islam menuduh berzina tanpa 4 saksi hidup bisa berbalik membuat penuduhnya dihukum cambuk.Gampang Emosi: Tidak bisa mengontrol diri saat dakwahnya ditolak atau disinggung sedikit saja.Membongkar Suatu Perkara Yang Seharusnya Disembunyikan: Alih-alih menutupi aib sesama muslim, mereka malah mengumbarnya.Aturan Mengenai Kemungkaran yang TersembunyiIbnu Jauzi menukil jawaban Imam Ahmad bin Hanbal mengenai orang yang membawa barang munkar (seperti alat musik atau khamar) tetapi dalam kondisi terbungkus atau tertutup.Imam Ahmad menegaskan, jika barang tersebut benar-benar ditutup rapat dan tidak terlihat bentuknya dari luar, maka tidak boleh dirampas atau dihancurkan karena kita dilarang mencari-cari kesalahan (tajassus). Kita baru boleh bertindak jika kemungkaran tersebut tampak jelas di depan mata.Jika mendengar suara alat musik tetapi tidak diketahui pasti dari mana sumber atau rumah asalnya, Imam Ahmad berkata: "Itu bukan urusanmu, jangan cari-cari tahu."Mengenai melaporkan maksiat ke pemerintah: Jika penguasanya adil dan mengerti hukum, silakan lapor. Namun jika penguasanya zalim dan justru akan memeras atau menganiaya pelaku maksiat tersebut melebihi batas hukum syariat, maka lebih baik tidak dilaporkan.Talbis Iblis: Berbangga Setelah Mengingkari MaksiatIblis menipu sebagian orang sehingga setelah mereka berhasil menegur atau membongkar maksiat, mereka justru duduk di majelis-majelis (atau di era sekarang: membuat konten/podcast) untuk menceritakan kehebatan aksinya tersebut sambil mencaci maki pelakunya secara berlebihan.Padahal, bisa jadi orang yang dituduh tersebut sudah bertaubat nasuha kepada Allah, atau justru mereka jauh lebih baik karena merasa menyesal, sementara si penegur terjebak dalam kesombongan (ujub).Sikap Salaf: Kaum Salaf terdahulu menegur dengan sangat lembut. Contohnya, saat mendapati seorang pria dan wanita bukan mahram berduaan, seorang salaf hanya lewat dan berkata lirik: "Sesungguhnya Allah melihat kalian berdua, semoga Allah menutup aibku dan aib kalian," lalu ia pergi.Adab Menasihati Penguasa / PemerintahPihak yang paling utama untuk dihadapi dengan kelembutan saat bernahi munkar adalah para penguasa.Allah Ta’ala telah mencontohkan perintah ini ketika mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menemui Firaun—manusia paling melampaui batas yang mengaku sebagai tuhan—dengan instruksi: "Ucapkanlah kepadanya perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut."Kisah Khalifah: Seseorang berniat menasihati khalifah dengan berkata kasar: "Saya mau kasih nasihat keras ke kamu, sabar ya!" Khalifah menjawab: "Tunggu dulu. Kamu tidak lebih baik dari Musa, dan aku tidak lebih buruk dari Firaun. Musa saja disuruh bicara lembut ke Firaun, kalau kamu mau bicara kasar padaku, aku tidak mau dengar."Nasihat kepada penguasa sebaiknya disampaikan secara tertutup, mengambil hatinya, diangkat martabatnya, baru kemudian diingatkan akan tanggung jawabnya di hadapan Allah secara halus.Talbis Iblis: Meninggalkan Nahi Munkar karena Merasa Tidak Pantas MenasihatiAda tipuan setan yang berbalik arah: membuat orang enggan bernahi munkar dengan dalih, "Saya sendiri masih banyak dosa/maksiat, jadi saya tidak pantas menegur orang lain."Ibnu Jauzi meluruskan bahwa amar ma'ruf nahi munkar tetap wajib dijalankan meskipun seseorang masih sering terperosok dalam dosa.Jika ia bermaksiat sekaligus enggan menegur orang, ia mendapat dua dosa. Namun, jika ia tetap bernahi munkar dengan niat ikhlas karena Allah, ucapan tersebut sejatinya menjadi tamparan dan nasihat bagi dirinya sendiri agar segera bertobat.Talbis Iblis Terhadap Ahli Zuhud dan Ahli IbadahBanyak orang awam salah paham saat membaca ayat atau hadis yang mencela dunia. Mereka mengira esensi selamat di akhirat adalah memusuhi dunia secara mutlak.Hakikat Dunia: Dunia tidak tercela pada zatnya, melainkan yang tercela adalah sifat, cara mengambil (tidak halal), atau sikap berlebih-lebihan manusia terhadap dunia tersebut. Dunia adalah sarana penting untuk menuntut ilmu, beribadah, makan agar tubuh kuat, membeli pakaian penutup aurat, hingga membangun masjid.Zuhud yang Ngawur: Tertipu oleh iblis, sebagian ahli ibadah melarikan diri ke gunung atau hutan terpencil demi beribadah sendiri. Dampak buruknya: mereka meninggalkan kewajiban salat Jumat, salat berjamaah, menelantarkan nafkah anak-istri, membuat ibu mereka menangis karena ditinggal, serta membiarkan diri mereka bodoh tanpa mau mendatangi majelis ilmu ulama.Zuhud yang Hakiki: Definisi zuhud menurut para ulama (seperti Ibnu Taimiyah) adalah meninggalkan apa saja yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Jadi, bukan berarti mengharamkan perkara mubah. Setiap ingin berbuat, membeli sesuatu, atau berkegiatan, timbang dahulu: "Apakah ada manfaatnya untuk akhiratku?" Jika tidak ada, barulah ditinggalkan. Definisi Wara’: meninggalkan yang berbahaya untuk akhirat, konsekuensinya adalah meninggalkan yang haram dan syubhat.Menyiksa Diri Bukan Ajaran Nabi: Iblis menipu sebagian orang hingga sengaja tidak mau makan makanan enak (roti halus, buah), sengaja membuat badan kurus kering, memakai baju dari bulu domba yang kasar/bau (suf), atau menolak minum air dingin dengan alasan takut tidak bisa mensyukurinya.Hasan Al-Basri membantah keras pemikiran ini: "Apakah mereka sanggup mensyukuri nikmat air putih biasa yang mereka minum? Kalau alasannya takut tidak bisa bersyukur, sekalian saja jangan makan dan minum!"Rasulullah ﷺ—imamnya para zahid—nyatanya sangat suka makan daging kambing, makan ayam, suka hidangan yang manis-manis, suka meminum air segar yang dingin. Para sahabat menahan lapar hanya jika makanan memang sedang tidak ada, namun saat makanan tersedia, mereka akan makan hingga kenyang.Menjaga Keseimbangan Tubuh, Akal, dan SyariatSufyan Ats-Tsauri ketika melakukan perjalanan jauh tetap membawa bekal daging panggang dan manisan yang enak.Tubuh manusia adalah tunggangan bagi ruh untuk beribadah. Oleh karena itu, kita harus memperlakukannya secara proporsional. Karakteristik tubuh manusia berbeda-beda tergantung kebiasaan geografi dan tradisinya (seperti orang Badui yang sudah terbiasa dengan pakaian kasar dan susu saja). Bagi orang perkotaan yang tubuhnya terbiasa nyaman, menyiksa diri secara ekstrem justru akan merusak kesehatannya.Tubuh secara medis membutuhkan variasi gizi (manis, asam, panas, dingin) agar tetap seimbang dan kuat beraktivitas. Yang dilarang hanyalah sikap rakus, kekenyangan, dan mengikuti hawa nafsu secara berlebihan.Kesimpulan Akhir (Ibnu Aqil): Beliau merasa heran dengan sebagian manusia yang beragama secara ekstrem; terkadang mereka terlalu memanjakan hawa nafsu, tetapi di saat lain mereka bersikap ala Rohbaniyyah (kerahiban/meninggalkan dunia total) dengan berdiam di pojok masjid tanpa mempedulikan hak-hak orang tua, anak, dan istri. Beribadah yang benar harus menyelaraskan antara tuntunan akal sehat dan batasan syariat.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Talbis Iblis Terhadap Orang Yang BerAmar Ma'ruf Nahi Munkar

Talbis iblis #9penulis: Imam Ibnu Jauzi ustadz Dr Firanda Adirja MAPentingnya Amar Ma'ruf Nahi Munkar: Kegiatan ini adalah ibadah yang agung dan ciri umat terbaik, namun pelaksanaannya memerlukan fikih atau pemahaman yang mendalam, tidak bisa dilakukan sembarangan.Kategori Pelaku: Dijelaskan ada dua tipe orang dalam hal ini: orang yang berilmu dan orang yang jahil (bodoh). Iblis menggoda kedua kelompok ini dengan cara yang berbeda.Tipu Daya Iblis:Terhadap orang berilmu: Iblis masuk melalui celah kesombongan, seperti ingin dipuji (riya), ujub dengan amalannya, atau marah karena membela diri sendiri, bukan karena Allah.Terhadap orang bodoh: Iblis memanfaatkan kurangnya ilmu mereka, yang sering kali justru menimbulkan kerusakan lebih besar saat mencoba melakukan nahi mungkar, seperti melakukan tajasus (mencari-cari kesalahan) atau bertindak melampaui aturan syariat .Etika Menegur: Video ini menekankan pentingnya cara yang santun, terutama saat menegur penguasa, dengan meneladani kisah Nabi Musa dan Harun saat menghadapi Fir'aun

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
E
Ela septiana yusira

📍 Kota Tangerang

Talbis Iblis Terhadap Orang Yg Beramar Ma'ruf Nahi Munkar

Amar ma'ruf nahi munkar merupakan salah satu ibadah yang sangat agung. Melalui ibadah inilah umat Islam bisa menjadi umat yang terbaik. Sebaliknya, kaum terdahulu seperti Bani Israil dilaknat karena mereka saling membiarkan dan tidak melakukan nahi munkarFikih nahi munkar ada 4 kemungkinan:Kemungkaran itu menjadi hilang (wajib dilakukan)Kemungkaran tersebut berkurang ( wajib dilakukan)Mencegahnya justru memicu kemungkaran lebih besar ( tidak boleh dilakukan)Kemungkaran itu berganti dengan kemungkaran sejenis (perlu ijtihad)Ada hadist tentang mengubah kemungkaran dengan tangan, lisan atau hatiIbnu Jauzi membagi 2 golongan yang melakukan amar maruf nahi mungkar: orang yang alim (berilmu) dan orang yang jahil (bodoh)Talbis iblis kepada orang alim:Riya dan ujub: merasa ingin dipuji, bergaya dengan dakwahnya dan merasa ujub karena nasehatnyalah orang berhenti buat maksiatMarah karena membela diri: awalnya berniat ikhlas membela Allah namun setelah dicaci maki ia berubah membela diri bukan lagi membela agama AllahTalbis iblis kepada orang jahil (bodoh):Jika orang bodoh yang melakukan maka kerusakan yang ditimbulkan jauh lebuh besar dibandingkan perbaikan. Mereka bisa saja melarang hal yang sebeanrnya diperbolehkan oleh ijmak ulamaatau karena dia tidak memahami oerbedaan mahzabKemungkaran yang harus dilarang adalah yang sudah disepakati ijmak ulama keharamannya atau yang khilaf sangat lemah seperti riba dan musik. Sedangkan khilfiah yang kuat seperti fuqaha tidak boleh menuduh orang mengikuti nafsu. Berbahaya bila orang bodoh memaksakan diri melakukan mahi munkar tanpa filih sehingga bisa meributkan hal yang khilafiah kuat seperti qunut subuh

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
S
Salma laela fitri

📍 Kabupaten Karawang

Ringkasan pertemuan ke 9

Talbis Iblis terhadap Pelaku Amar Makruf Nahi Mungkar dan Ahli ZuhudPemateri: Ustadz Firanda Andirja حفظه اللهPendahuluanDi antara ibadah yang paling agung dalam Islam adalah amar makruf nahi mungkar. Dengan ibadah inilah Allah memuji umat Islam sebagai umat terbaik:"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kalian menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."Sebaliknya, Bani Israil dilaknat melalui lisan Nabi Daud dan Nabi Isa `alaihimassalam karena mereka tidak saling mencegah kemungkaran.Namun, amar makruf nahi mungkar bukanlah perkara yang dilakukan secara sembarangan. Ia memiliki fikih dan aturan yang luas sehingga seseorang harus memahami kapan mengingkari kemungkaran diperintahkan dan kapan tidak. Kaidah dalam Mengingkari KemungkaranKetika seseorang hendak mencegah kemungkaran, ada beberapa kemungkinan:1. Kemungkaran hilang sepenuhnya Wajib diingkari.2. Kemungkaran berkurang Tetap wajib diingkari.3. Kemungkaran justru semakin besarTidak boleh diingkari dengan cara tersebut, karena berarti menimbulkan kerusakan yang lebih besar.4. Kemungkaran berganti dengan kemungkaran lain yang sejenis Membutuhkan ijtihad dan pertimbangan para ulama.Hal ini menunjukkan bahwa nahi mungkar memerlukan ilmu dan hikmah.Tipuan Iblis terhadap Orang Alim yang BerdakwahMenurut Imam Ibnu al-Jauzi رحمه الله, pelaku amar makruf nahi mungkar terbagi menjadi dua:1. Orang berilmu.2. Orang bodoh.1. Riya dan UjubSetan menggoda orang berilmu dengan:* Ingin dipuji manusia.* Menampilkan diri agar dianggap pemberani.* Bangga terhadap keberhasilan dakwahnya.* Merasa dirinya lebih baik dari orang lain.Padahal amal yang benar harus ikhlas karena Allah semata.2. Marah karena Membela DiriTerkadang seseorang awalnya mengingkari karena Allah, namun ketika dihina atau dicela, ia berubah menjadi marah demi membela dirinya sendiri.Akhirnya perselisihan yang terjadi bukan lagi karena agama, tetapi demi mempertahankan harga diri. Kisah Abu SulaimanAbu Sulaiman pernah berniat menasihati khalifah setelah khutbah Jumat. Namun ia mengurungkan niatnya karena khawatir dirinya hanya ingin terlihat hebat di hadapan manusia.Beliau takut apabila terbunuh dalam keadaan niatnya tidak ikhlas.Hal ini menunjukkan betapa para salaf sangat menjaga keikhlasan mereka.Orang Bodoh yang Bernahi MungkarMenurut Ibnu al-Jauzi, kerusakan yang ditimbulkan orang bodoh dalam nahi mungkar terkadang lebih besar daripada perbaikannya.Di antaranya:Mengingkari perkara yang sebenarnya bolehKarena tidak memahami ilmu, ia bisa:* Mengharamkan perkara yang disepakati kebolehannya.* Mengingkari masalah khilafiyah yang kuat.Padahal tidak semua perbedaan pendapat boleh dijadikan bahan permusuhan.Tidak Memahami Perbedaan PendapatContoh masalah khilafiyah yang kuat:* Qunut Subuh.* Sebagian persoalan fikih yang diperselisihkan para ulama.Dalam masalah seperti ini, seseorang boleh menjelaskan pendapat yang dianggap lebih kuat, tetapi tidak boleh mencela dan merendahkan orang lain. Melakukan TajassusSebagian orang mencari-cari kesalahan orang lain:* Memata-matai.* Memanjat rumah orang.* Membongkar pintu rumah.* Memasang pengawasan demi mencari maksiat tersembunyi.Padahal Islam melarang tajassus.Main Hakim SendiriDi antara kesalahan yang sering terjadi:* Memukul pelaku maksiat.* Menganiaya pencuri hingga mati.* Menghina dengan kata-kata yang melampaui batas.Semua ini bertentangan dengan syariat.Membongkar AibIslam menganjurkan menutupi aib kaum muslimin.Tidak setiap maksiat harus diumbar kepada masyarakat. Bahkan terkadang orang yang kita cela bisa jadi telah bertobat dan lebih baik daripada kita. Sikap Imam Ahmad رحمه اللهImam Ahmad berpendapat:* Jika alat musik atau khamar telah disembunyikan dan tidak tampak, maka tidak boleh melakukan tajassus.* Jika hanya terdengar suara seruling tetapi tidak diketahui dari mana asalnya, maka tidak perlu dicari-cari.Beliau mengatakan: "Itu bukan urusanmu."Menasihati Penguasa dengan Lemah LembutOrang yang paling layak dinasihati dengan kelembutan adalah para penguasa.Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun: "Maka berbicaralah kepada Fir'aun dengan kata-kata yang lemah lembut."Padahal Fir'aun adalah manusia yang paling durhaka.Karena itu para salaf sangat menjaga adab ketika menasihati para pemimpin.Tujuannya adalah perbaikan, bukan pelampiasan emosi.Tipuan Setan: Tidak Mau Menegur karena Merasa Banyak DosaSebagian orang berkata: "Saya sendiri masih banyak dosa, bagaimana mungkin saya menasihati orang lain?"Ini adalah tipu daya setan.Seseorang memiliki dua kewajiban:1. Meninggalkan maksiat.2. Mengingkari kemungkaran.Jika ia meninggalkan keduanya, berarti ia mendapatkan dua dosa.Walaupun nasihatnya mungkin kurang berpengaruh, ia tetap wajib menyampaikan kebenaran. Tipuan Iblis terhadap Ahli Zuhud dan Ahli IbadahSebagian orang memahami celaan terhadap dunia secara keliru.Mereka mengira bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh dengan:* Meninggalkan dunia seluruhnya.* Menyendiri di gunung.* Tidak menghadiri salat Jumat dan jamaah.* Meninggalkan ilmu.Padahal dunia pada zatnya tidak tercela.Yang tercela adalah:* Memperolehnya dengan cara haram.* Menggunakannya untuk maksiat.* Berlebih-lebihan dalam memanfaatkannya. Dunia Merupakan Sarana Menuju AkhiratDengan dunia seseorang dapat:* Menuntut ilmu.* Beribadah.* Menafkahi keluarga.* Membangun masjid.* Bersedekah.Karena itu dunia bukan musuh, tetapi sarana yang dapat digunakan untuk mendekat kepada Allah. Zuhud Bukan Meninggalkan Semua KenikmatanSebagian orang mengira zuhud berarti:* Tidak makan makanan yang enak.* Tidak makan buah.* Tidak minum air dingin.* Memakai pakaian yang kasar.* Menyiksa tubuh.Padahal Rasulullah ﷺ:* Menyukai daging kambing.* Memakan ayam.* Menyukai makanan manis.* Menyukai air yang dingin dan segar.Ini menunjukkan bahwa menikmati perkara halal tidak bertentangan dengan zuhud. Hakikat ZuhudIbnu Rajab رحمه الله menjelaskan: Wara'Meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan membahayakan akhirat.Konsekuensinya:* Meninggalkan yang haram.* Meninggalkan yang syubhat. ZuhudMeninggalkan perkara yang tidak bermanfaat bagi akhirat.Karena itu seorang mukmin hendaknya selalu bertanya: "Apakah perkara ini bermanfaat bagi akhiratku?"Jika tidak ada manfaatnya, maka meninggalkannya termasuk bentuk zuhud. Tubuh adalah Kendaraan Menuju AkhiratIbnu al-Jauzi mengibaratkan tubuh sebagai kendaraan.Karena itu tubuh tidak boleh:* Disiksa.* Dipaksa berlebihan.* Dibiarkan rusak.Seorang hamba hendaknya mengambil perkara yang bermanfaat bagi tubuhnya dan meninggalkan sikap berlebih-lebihan.Kritikan terhadap Sikap RahbaniyyahSebagian orang:* Sibuk dengan dunia dan hawa nafsu.Sebagian lainnya:* Tenggelam dalam ibadah sampai melalaikan hak keluarga, orang tua, dan masyarakat.Padahal Islam berada di tengah-tengah.Ibadah harus berjalan sesuai dengan syariat dan akal yang sehat, bukan mengikuti hawa nafsu dan bukan pula sikap rahbaniyyah yang berlebihan.Pelajaran Penting* Amar makruf nahi mungkar membutuhkan ilmu dan hikmah.* Keikhlasan adalah perkara yang sangat penting dalam dakwah.* Tidak semua perbedaan pendapat boleh dijadikan bahan permusuhan.* Tajassus dan membuka aib kaum muslimin dilarang.* Menasihati penguasa dilakukan dengan kelembutan.* Banyak dosa bukan alasan meninggalkan dakwah.* Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia seluruhnya.* Dunia adalah sarana menuju akhirat.* Menikmati perkara halal yang tidak berlebihan tidak bertentangan dengan sifat zuhud.* Islam adalah agama pertengahan, jauh dari sikap berlebih-lebihan maupun sikap mengikuti hawa nafsu.**والله تعالى أعلم بالصواب**

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026

Talbis Iblis Terhadap Orang yang Beramar Ma'ruf Nahi Munkar

Setan menggoda dengan memunculkan sifat riya' dan ujub atas perbuatannya. Setan juga memancing kemarahan pribadi hingga seseorang membela diri sendiri, bukan membela agama.Setan menyesatkan dengan mendorong mereka melakukan nahi mungkar tanpa ilmu yang dapat menimbulkan kerusakan lebih besar.Pengingkaran harus dilakukan dengan fikih yang benar dan tidak boleh membongkar aib.Setan membisikkan bahwa zuhud berarti meninggalkan dunia sepenuhnya dan pergi mengasingkan diri ke gunung/hutan, yang mengakibatkan seseorang lalai dari kewajiban seperti shalat berjamaah, menuntut ilmu dan berbakti pada keluarga. Zuhud adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat untuk akhirat, bukan meninggalkan perkara mubah yang memberi manfaat.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →