🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 53 | Al-Qur’an Adalah Kalamullah Bukan Makhluk

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhوأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة، ليس بمخلوقDan mereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk.Ini poin yang lain, poin pertama meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamullah, setelah kita sebutkan dalil²nya dari Al-Qur’an dari as-sunah itu adalah hakiki Kalamullah bukan majas, maka diantara keyakinan Ahlussunnah bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk tapi itu adalah sifat diantara sifat-sifat Allāh karena Al-Qur’an adalah Kalamullah dan Kalamullah itu adalah sifat Allāh & sifat Allāh bukan makhluk, Allāh dengan DzatNya , Nama dan juga sifatNya bukan makhluk.Diantara dalil yang menunjukkan bahwasanya Kalamullah ini adalah bukan makhluk, firman Allāh ﷻ ,..أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ[QS Al A’raf 54]Ketahuilah bahwasanya bagi Allāhالْخَلْقُ وَالْأَمْرُBagi Allāh penciptaan & perintah.Dan perintah Allāh subhanahu wa ta’ala adalah diucapkan oleh Allāh ﷻ, baik Al Amru Syar’i maupun Al Amru kauni,إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ.Seandainya ucapan Allāh diantaranya adalah berupa perintah, Seandainya ucapan Allah ini adalah makhluk tentunya nggak dibedakan disini dengan Al waw, kalau dia termasuk makhluk cukupۙاَلَا لَهُ الْخَلْقُHanya milik Allāh Al Kholq.masuk didalamnya ucapan² Allāh tapi karena ucapan Allāh ini bukan makhluk, sehingga di sana ada و, و athof yang asalnya adalah beda antara sebelum dan sesudah و .اَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗKetahuilah bagi Allāh subhanahu wa ta’ala penciptaan dan juga perintah.Seandainya perintah, dan perintah dalam berupa ucapan Allāh ini adalah termasuk dalam makhluk tentunya tidak disebutkan setelahnya, menunjukkan bahwa Al-Qur’an ini adalah Kalamullāh subhanahu wa ta’ala dan Kalamullāh bukan makhlukAdapun dalam hadits maka Nabi ﷺ, mengatakan (ini adalah petunjuk bagi orang yang bersinggah disebuah tempat).مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَBarangsiapa yang singgah disebuah tempat kemudian mengatakan,أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَAku berindung dengan kalimat-kalimat Allāh yang sempurna yaitu dengan ucapan Allāh yang sempurna kalimat maksudnya adalah kalam dari kejelekan apa yang Allāh subhanahu wa ta’ala ciptakan, maka tidak akan dimudharoti dengan sesuatu apapun sampai dia meninggalkan tempat tersebut.Di sini beliau ﷺ diantara petunjuk beliau adalah kita berlindung dengan Kalamullāh berlindungi dengan kalimat-kalimat Allāh, boleh tidak kita boleh dengan makhluk ?tidak boleh .قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِkita berlindung dengan kepada Allāhu rabbal alamin, tidak boleh kita berlindung dengan makhluk, berlindung yaitu kita meminta untuk dilindungi bagaimana kita meminta perlindungan kepada makhluk yang lemah, yang Allāh subhanahu wa ta’ala menguasai tidak boleh dan haram hukumnya meminta perlindungan kepada makhluk, didalam sesuatu yang tidak mampu melakukannya kecuali Allāh, menunjukkan bahwasanya kalamullāh disini/ kalimatullah disini adalah bukan makhluk itu adalah sifat Allāh, boleh beristiadzah dengan makhluk , menunjukkan bahwasanya kalimatullah/kalamullah disini bukan makhluk, sebab tidak boleh dan haram hukumnya bahkan bisa sampai kepada kesyirikan orang yang beristiadzah kepada makhluk, dan Al-Qur’an adalah Kalamullah sebagaimana yg sudah berlalu,حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِMenunjukkan Kalamullah itu bukan makhluk.Dan Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا[QS Al Kahfi 109]Seandainya Lautan itu menjadi tinta untuk kalimat-kalimat/ucapan² Allāh,Lautan ini adalah jumlah yang sangat banyak, tinta sebesar 1 tandon air seandainya untuk menulis berapa yang didapat apalagi ini adalah seluruh lautan yang ada di dunia ini menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allāh,لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّNiscaya lautan itu akan habis untuk menulis sebelum menulis seluruh kalimat-kalimat Allāh,وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًاMeskipun Kami mendatangkan tinta yang sebanyak itupula, datangkan lautan lagi dan itu sebagai tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allāh subhanahu wa ta’ala tidak akan ada habisnya, sebagaimana Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang kekal abadi Dialah Al Hayyu Al Akhir maka tidak ada habisnya kalimat-kalimat Allah, apakah makhluk juga demikian? Yang ada diatasnya maka dia akan sirna /binasa, itu sifat makhluk.Adapun Allāh subhanahu wa ta’ala dan juga sifat Allāh maka itu adalah tidak akan sirna,وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ۝Menunjukkan bahwasanya Al-Qur’an itu adalah laysa Bi makhluk .

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 53

Halaqah 53 | Al-Qur’an Adalah Kalamullah Bukan MakhlukKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhوأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة، ليس بمخلوقDan mereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk.Ini poin yang lain, poin pertama meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamullah, setelah kita sebutkan dalil²nya dari Al-Qur’an dari as-sunah itu adalah hakiki Kalamullah bukan majas, maka diantara keyakinan Ahlussunnah bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk tapi itu adalah sifat diantara sifat-sifat Allāh karena Al-Qur’an adalah Kalamullah dan Kalamullah itu adalah sifat Allāh & sifat Allāh bukan makhluk, Allāh dengan DzatNya , Nama dan juga sifatNya bukan makhluk.Diantara dalil yang menunjukkan bahwasanya Kalamullah ini adalah bukan makhluk, firman Allāh ﷻ ,..أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ[QS Al A’raf 54]Ketahuilah bahwasanya bagi Allāhالْخَلْقُ وَالْأَمْرُBagi Allāh penciptaan & perintah.Dan perintah Allāh subhanahu wa ta’ala adalah diucapkan oleh Allāh ﷻ, baik Al Amru Syar’i maupun Al Amru kauni,إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ.Seandainya ucapan Allāh diantaranya adalah berupa perintah, Seandainya ucapan Allah ini adalah makhluk tentunya nggak dibedakan disini dengan Al waw, kalau dia termasuk makhluk cukupۙاَلَا لَهُ الْخَلْقُHanya milik Allāh Al Kholq.masuk didalamnya ucapan² Allāh tapi karena ucapan Allāh ini bukan makhluk, sehingga di sana ada و, و athof yang asalnya adalah beda antara sebelum dan sesudah و .اَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُۗKetahuilah bagi Allāh subhanahu wa ta’ala penciptaan dan juga perintah.Seandainya perintah, dan perintah dalam berupa ucapan Allāh ini adalah termasuk dalam makhluk tentunya tidak disebutkan setelahnya, menunjukkan bahwa Al-Qur’an ini adalah Kalamullāh subhanahu wa ta’ala dan Kalamullāh bukan makhlukAdapun dalam hadits maka Nabi ﷺ, mengatakan (ini adalah petunjuk bagi orang yang bersinggah disebuah tempat).مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا ثُمَّ قَالَ أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَBarangsiapa yang singgah disebuah tempat kemudian mengatakan,أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَAku berindung dengan kalimat-kalimat Allāh yang sempurna yaitu dengan ucapan Allāh yang sempurna kalimat maksudnya adalah kalam dari kejelekan apa yang Allāh subhanahu wa ta’ala ciptakan, maka tidak akan dimudharoti dengan sesuatu apapun sampai dia meninggalkan tempat tersebut.Di sini beliau ﷺ diantara petunjuk beliau adalah kita berlindung dengan Kalamullāh berlindungi dengan kalimat-kalimat Allāh, boleh tidak kita boleh dengan makhluk ?tidak boleh .قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِkita berlindung dengan kepada Allāhu rabbal alamin, tidak boleh kita berlindung dengan makhluk, berlindung yaitu kita meminta untuk dilindungi bagaimana kita meminta perlindungan kepada makhluk yang lemah, yang Allāh subhanahu wa ta’ala menguasai tidak boleh dan haram hukumnya meminta perlindungan kepada makhluk, didalam sesuatu yang tidak mampu melakukannya kecuali Allāh, menunjukkan bahwasanya kalamullāh disini/ kalimatullah disini adalah bukan makhluk itu adalah sifat Allāh, boleh beristiadzah dengan makhluk , menunjukkan bahwasanya kalimatullah/kalamullah disini bukan makhluk, sebab tidak boleh dan haram hukumnya bahkan bisa sampai kepada kesyirikan orang yang beristiadzah kepada makhluk, dan Al-Qur’an adalah Kalamullah sebagaimana yg sudah berlalu,حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِMenunjukkan Kalamullah itu bukan makhluk.Dan Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا[QS Al Kahfi 109]Seandainya Lautan itu menjadi tinta untuk kalimat-kalimat/ucapan² Allāh,Lautan ini adalah jumlah yang sangat banyak, tinta sebesar 1 tandon air seandainya untuk menulis berapa yang didapat apalagi ini adalah seluruh lautan yang ada di dunia ini menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allāh,لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّNiscaya lautan itu akan habis untuk menulis sebelum menulis seluruh kalimat-kalimat Allāh,وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًاMeskipun Kami mendatangkan tinta yang sebanyak itupula, datangkan lautan lagi dan itu sebagai tinta untuk menulis kalimat-kalimat Allāh subhanahu wa ta’ala tidak akan ada habisnya, sebagaimana Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang kekal abadi Dialah Al Hayyu Al Akhir maka tidak ada habisnya kalimat-kalimat Allah, apakah makhluk juga demikian? Yang ada diatasnya maka dia akan sirna /binasa, itu sifat makhluk.Adapun Allāh subhanahu wa ta’ala dan juga sifat Allāh maka itu adalah tidak akan sirna,وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ۝Menunjukkan bahwasanya Al-Qur’an itu adalah laysa Bi makhluk .Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهTranskrip: Abu Mandala

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
D
Dwi Susanti

📍 Kabupaten Purbalingga

Halaqah 128 | Beriman Kepada Hari Akhir dengan Pembahasan 3 Macam Syafaat di Hari Kiamat~Syafaat Pertama

Halaqah yang ke-128 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Beliau mengatakanوَلَه صلى الله عليه وسلم فِي الْقِيَامَةِ ثَلاثُ شَفَاعَاتٍBeliau ﷺ (dhamirnya disini kembali kepada Rasulullāh ﷺ karena sebelumnya disebutkan nama Beliau  وَأَوَّلُ مَن يَسْتَفْتِحُ بَابَ الْجَنَّةِ مُحَمَّدٌ) di hari kiamat ada tiga (jenis) syafa’at.Dan syafa’at dari kata شَفْع yang artinya adalah genap, karena orang yang memberikan syafa’at itu menjadikan yang sebelumnya seseorang ganjil dan dia memiliki permintaan ketika kita memberikan syafa’at jadi ada dua sekarang yaitu menjadi genap, yang sebelumnya dia sendiri saja yang meminta karena ada yang memberikan syafa’at menjadi genap. Dan secara istilah yang dimaksud dengan syafa’at adalah thalabu al-khairi lil ghairihi (meminta kebaikan untuk orang lain), dan pembahasan tentang syafa’at sudah berlalu.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 03 - Pengantar Penjelasan Kitab Nawaqidul Islam Bagian 3

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke tiga dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Diantara kaidah yang disebutkan oleh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di dalam masalah pembatal keislaman adalah:• Terkadang seseorang mengucapkan ucapan yang kufur atau melakukan amalan yang kufur akan tetapi tidak dihukumi sebagai orang yang kafir, karena di sana ada syarat-syarat yang harus dipenuhi ketika seseorang dihukumi sebagai orang yang kafir. Diantaranya:1. BalighApabila dia belum baligh, anak kecil misalnya, dia mengatakan Aku adalah Tuhan. Ucapan dia ini adalah ucapan yang kufur dan tidak diragukan dia adalah ucapan yang kufur. Tapi karena yang mengucapkan adalah seorang anak kecil yang belum baligh, maka tidak dihukumi anak kecil tersebut sebagai orang yang keluar dari agama Islam.Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,رفع القلم عن ثلاثة : عن صبي حتى يبلغ، وعن نائم حتى يستيقظ ، وعن مجنون حتى يفيق“Diangkat pena dari tiga golongan: dari anak kecil sampai dia baligh, dan dari orang yang tidur sampai dia bangun, dan dari orang yang gila sampai dia sadar.” [HR. At Tirmidzi]2. BerakalApabila ada seorang muslim yang tidak berakal mengucapkan ucapan yang kufur, maka tidak dianggap kafir, karena dia mengucapkan ucapan tersebut dalam keadaan dia tidak berakal.Orang yang mabuk misalnya, dia mengucapkan ucapan yang kufur, maka tidak dianggap sebagai orang yang kafir.3. Diantara syaratnya seseorang mengucapkan atau melakukan kekufuran, dalam keadaan dia memiliki kehendak sendiri dan bukan sedang dipaksa oleh orang lain.Terkadang seseorang dipaksa untuk mengucapkan ucapan yang kufur atau melakukan perbuatan yang kufur, padahal hatinya mengingkari. Dia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dia yakin seyakin-yakinnya dengan Islam, tetapi apabila dia tidak mengucapkan kalimat kufur tersebut, dia akan dibunuh atau diancam akan disiksa. Kondisinya dipaksa untuk mengucapkan kalimat kufur. Kalau itu terjadi, maka hal ini tidak mengeluarkan dia dari Islam.Ucapan dia adalah ucapan yang kufur, akan tetapi tidak dihukumi sebagai orang yang kafir atau musyrik.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,(مَن كَفَرَ بِٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ إِیمَـٰنِهِۦۤ إِلَّا مَنۡ أُكۡرِهَ وَقَلۡبُهُۥ مُطۡمَىِٕنُّۢ بِٱلۡإِیمَـٰنِ وَلَـٰكِن مَّن شَرَحَ بِٱلۡكُفۡرِ صَدۡرࣰا فَعَلَیۡهِمۡ غَضَبࣱ مِّنَ ٱللَّهِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِیمࣱ)[Surat An-Nahl 106]“Barangsiapa yang kufur kepada Allah setelah keimanan dia, kecuali orang yang dipaksa, sedangkan hatinya dalam keadaan tenang dengan keimanan. Akan tetapi orang yang lapang dengan kekufuran, maka merekalah orang-orang yang mendapatkan kemarahan dari Allah dan merekalah orang-orang yang mendapatkan adzab yang besar.”Ayat ini turun ketika Ammar bin Yasir radhiyallahu Ta’ala ‘anhu dipaksa oleh orang-orang musyrikin untuk mengucapkan kalimat kufur, disuruh untuk mencela Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan saat itu beliau dalam keadaan disiksa, sehingga beliau pun terpaksa mengucapkan kalimat kufur padahal di dalam hati, beliau tenang dengan keimanan.Rasulullah shallallāhu’ alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ لِي عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكْرِهُوْا عَلَيْهِ“Sesungguhnya Allah telah memaafkan untukku dari ummatku, kesalahan, lupa, dan apa yang mereka dipaksa untuk melakukannya.” [HR. Ibnu Majah]Dari sini kita mengetahui kehati-hatian ahlussunnah di dalam masalah Nawaqidul Islam dan di dalam masalah pengkafiran. Apalagi di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,مَن قَال لِأَخِيْهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا“Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya, Wahai orang yang kafir, maka sungguh kekafiran ini kembali kepada salah satu diantara keduanya.” [HR. Bukhari dan Muslim]Menghukumi bahwasanya si fulan adalah kafir,si fulan adalah musyrik, ini dilakukan oleh para ulama yang ilmunya sudah mendalam, yang terpenuhi pada dirinya syarat-syarat sebagai seorang mujtahid (mufti) yang berfatwa di dalam hukum-hukum agama.Masuk kita pada pembahasan kitab ini.Berkata Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.Beliau memulai kitab ini dengan Basmalah, meniru Allah di dalam Al-Qur’an, karena ayat yang pertama di dalam mushaf adalah Basmalah. Dan yang ke dua meneladani Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam karena ketika Beliau menulis surat-surat dakwah kepada Islam, Beliau Shallallāhu ‘alaihi wa sallam memulai surat-surat tersebut dengan Basmalah. Dan inilah yang dilakukan oleh Nabi Sulaiman ‘alaihissalam ketika mengirim surat kepada Bilqis. Beliau memulai dengan Basmalah.Allah berfirman menceritakan ucapan Ratu Bilqis,(إِنَّهُۥ مِن سُلَیۡمَـٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ)[Surat An-Naml 30]“(berkata Ratu Bilqis), Ini adalah dari Sulaiman dan isinya Bismillahirrahmanirrahim.”Yaitu surat Nabi Sulaiman diawali dengan Basmalah.Memulai dengan Basmalah maksudnya adalah memohon pertolongan kepada Allah. Karena ب di dalam ucapan بسم الله adalah ب Al Isti’anah, yaitu huruf ب yang maknanya memohon pertolongan.بسم الله Dengan menyebut nama Allah, maksudnya adalah Aku memohon pertolongan kepada Allah dengan menyebut nama-Nya.Ismullah, yaitu nama Allah di sini mencakup seluruh nama Allah. Karena di dalam Bahasa Arab, apabila sebuah kata yang mufrod (tunggal) disandarkan, maka maknanya adalah umum.Ismu (nama) adalah tunggal. Disandarkan kepada lafdzul jalalah yaitu Allah, sehingga maknanya semua nama Allah. Ini seperti kata نعمة الله di dalam firman Allah,یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱذۡكُرُوا۟ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ عَلَیۡكُمۡ[Surat Al-Ahzab 9]“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah atas kalian.”Nikmat di sini adalah mufrod (tunggal), tapi maksudnya adalah sebutlah atau ingatlah nikmat-nikmat Allah atas kalian.Demikian pula dengan kalimat Basmalah. Dengan menyebut nama Allah, maksudnya adalah nama-nama Allah. Dan nama-nama Allah yang paling baik maksudnya adalah nama-nama Allah yang paling baik yang Allah sebutkan di dalam firman-Nya,وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَاۤءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ[Surat Al-A’raf 180]“Dan Allah, Dia-lah yang memiliki Asmaul Husna, maka hendaklah kalian berdo’a dengannya.”Allah adalah lafdzul jalalah dan Dia adalah nama Allah yang paling besar. Nama-nama Allah yang lain disandarkan pada lafdzul jalalah.Seseorang mengatakan Ar Rahman adalah diantara nama-nama Allah, Ar Rahim adalah diantara nama-nama Allah, Al ‘Aziz adalah diantara nama-nama Allah. Namun tidak bisa dia mengatakan bahwa Allah adalah diantara nama-nama Ar Rahman.Dan lafdzul jalalah berasal dari kata Al Ilaah, artinya adalah Al Ma’bud (yang disembah). Sehingga makna Allah adalah sesembahan yang berhak disembah.Ar Rahman adalah nama Allah yang maknanya Maha Penyayang. Nama ini mengandung sifat Rahmah (kasih sayang). Dan nama-nama Allah adalah nama-nama yang memiliki makna, sehingga dinamakan dengan Asmaul Husna karena dia mengandung makna yang paling baik. Berbeda dengan nama makhluk. Terkadang seseorang memiliki nama yang baik, namun dia memiliki perangai yang buruk. Namanya Sholeh tetapi dia bukan orang yang sholeh. Namanya Abdullah, tetapi dia menyekutukan Allah.Ar Rahim artinya juga Maha Penyayang. Nama ini mengandung sifat Ar Rahmah.Perbedaan antara Ar Rahman dan Ar Rahim bahwa Ar Rahman mengandung sifat kasih sayang Allah yang mencakup seluruh makhluk, baik yang beriman maupun yang tidak beriman. Orang yang kafir di dunia juga mendapatkan sebagian dari rahmat Allah, seperti nikmat hidup, nikmat waktu, nikmat sehat, nikmat rezeki, dll.Ar Rahim mengandung sifat kasih sayang Allah yang Allah khususkan bagi orang-orang yang beriman, seperti hidayah kepada Islam, kenikmatan di dalam alam kubur, kenikmatan di dalam surga, dll.Allah berfirman,وَكَانَ بِٱلۡمُؤۡمِنِینَ رَحِیمࣰا[Surat Al-Ahzab 43]“Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla sangat sayang kepada orang-orang yang beriman.”Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 53

Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua QS An Nisa 60 Bag 02Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-53 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Semakin tinggi keislaman seseorang, semakin pasrah dengan keputusan Allah dan rasul-Nya. Bahkan seandainya keputusan tersebut berbeda dan bertentangan dengan hawa nafsunya, dia siap untuk meninggalkan hawa nafsunya tadi dan menggunakan keputusan Allah dan rasul-Nya. Bahkan seandainya keputusan tersebut bertentangan dengan keinginan dari orang tuanya, keinginan dari orang yang dia cintai. Dia yakin bahwasanya apa yang diputuskan oleh Allah dan rasul-Nya itu lebih baik, bagi dirinya dan orang lain.Ini semakin kuat dan semakin besar kepasrahan seorang muslim.Oleh karena itu dalam beberapa ayat Al-Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukkan tentang kewajiban untuk bertahakum dan merasa ridho dengan keputusan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam.Sampai Allah Subhanahu Wa Ta’ala menafikan keimanan dari seseorang sampai dia berhukum dan menjadikan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, sebagai hakim.{فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} [النساء : 65]Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.فَلَا وَرَبِّكَTidak demi Rabbmu.Apa yang tidak?لَا يُؤْمِنُونَMereka tidak akan beriman.Tidak dinamakan beriman.حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْSampai menjadikan dirimu sebagai hakim di dalam perselisihan yang terjadi di antara mereka.Makanya seorang muslim, ketika dia terjadi perselisihan, baik dengan temannya, dengan keluarganya, dengan siapa saja, yang pertama kali dalam hatinya muncul keputusan Allah dan rasul-Nya. Karena itulah yang paling baik bagi saya. Saya siap, baik keputusan tersebut sesuai dengan pendapat saya sementara ini, atau sesuai dengan pendapat teman saya.Kalau memang itu adalah keputusan dari Allah dan rasul-Nya. Bukan justru mencari-cari bagaimana pendapat tadi sesuai dengan dicarikan dalilnya supaya kelihatan ilmiah dan seterusnya. Tidak.Buka hanya menjadikan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, sekadar sebagai hakim saja, tidak cukup berhenti sampai di situ, tapi ada perkara yang lain harus dia lakukan. Bagaimana seandainya Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam sudah mengeluarkan sebuah hukum. Bagaimana seandainya dia sudah menemukan hadits yang memberikan keputusan, menunjukkan yang benar terhadap apa ya dia perselisihkan.حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًاKemudian mereka tidak menemukan di dalam diri mereka haroj, berat hati terhadap keputusan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam.Kalau masih ada haroj, masih ada berat hati di dalam hatinya berarti masih لَا يُؤْمِنُونَ. Kapan menjadi sempurna? Ketika di dalam hatinya dia menemukan kelapangan atas keputusan dari Allah dan juga rasul-Nya.ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَTerhadap apa yang Engkau putuskan wahai Muhammad.وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًاDan mereka menyerahkan diri dengan sebenar-benar penyerahan.Ini adalah sikap seorang muslim.Dan dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan :{وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا} [الأحزاب : 36]Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًاTidak boleh bagi seorang yang beriman baik laki-laki maupun wanita apabila Allah dan rasul-Nya sudah memutuskan sesuatu untuk dia.أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًاMaka tidak boleh dia memiliki pilihan yang lain.Pilihan yang satu bagi orang yang beriman baik laki-laki maupun wanita adalah apa yang diputuskan oleh Allah dan rasul-Nya itu saja. Dan dia yakin seyakin-yakinnya disitulah kebaikan bagi dirinya, maslahat bagi dirinya. Meskipun secara dhohir mungkin di depannya dia melihat sepertinya merugikan dia, menghancurkan kehidupannya, dan seterusnya.Tapi orang yang beriman yakin bahwasanya dibalik keputusan Allah dan rasul-Nya tersebut ada hikmah, ada maslahat.Oleh karena itu, ayat ini jelas di antara kesempurnaan Islam seseorang adalah ketika dia bertahakum kepada Allah Azza wa Jalla dan rasul-Nya di dalam seluruh perkara yang dia hadapi. Ini adalah termasuk konsekuensi dari keislaman dia. Dan barangsiapa yang bertahakum kepada thaghut, maka ini adalah meninggalkan satu di antara konsekuensi Islam, karena dia berarti masih beriman dengan thaghut tersebut. Padahal dalam Islam, kalau sudah menyerahkan diri kepada Allah, maka dia harus meninggalkan thaghut tersebut, maka barangsiapa yang bertahakum kepada thaghut, menunjukkan bahwasanya dia masih meninggalkan sebagian dari konsekuensi Islam. Dan ini adalah tercela dan di sini Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga menisbahkan tahakum kepada thaghut ini sebagai bentuk penyesatan dari syaiton. Dan ini menunjukkan bahwasanya tahakum kepada thaghut, ini adalah perintah dari syaiton. Dan inilah yang diinginkan oleh syaiton. Dan ini adalah bentuk dari kesesatan dan itu semua menunjukkan bahwasanya ini adalah bertentangan dengan Islam itu sendiri.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-utsulu ats-tsalatsah

Halaqah 28 : Tingkatan Dalam⁸ Agama Islam Dan Dalil Rukun IslamHalaqah yang ke-28 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.Kemudian beliau mengatakan :وهو ثلاث مراتب: الإسلام، والإيمان، والإحسان، وكل مرتبة لها أركانDan Dīnul Islām yang khusus yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada 3 tingkatan.⑴ Islām (الإسلام)⑵ Imān (الإيمان)⑶ Ihsān (الإحسان)√ ISLĀM adalah amalan-amalan dhāhir.√ IMĀN amalan-amalan bathin.√ IHSĀN adalah puncak dari Imān dan Islām.Orang yang pertama kali masuk kedalam agama Islām kemudian dia bersyahadat, secara dhāhir dia melakukan amalan-amalan Islām, tapi jika keimanannya belum sampai kedalam hatinya hanya sekedar الإستسلم بعمل الظاهر (keimanan tersebut belum sampai kedalam relung hatinya) maka tingkatannya masih Islām.قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَاOrang-orang Arab (Badui) mereka mengatakan آمَنَّا padahal mereka baru masuk Islām. Tingkat kwalitas keislāmannya masih dasar, tapi mereka mengatakan آمَنَّا (Kami beriman).قُلْ لَمْ تُؤْمِنُواKalian belum beriman (maksudnya) adalah keimanan itu belum benar-benar masuk kedalam hati kalian, tapi dhāhir kalian sudah إستسل (sudah bersyahadat, shalāt).وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَاAkan tetapi ucapkanlah yang lebih tepat adalah أَسْلَمْنَا (Kami menyerahkan diri)وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْDan belum masuk keimanan ini kedalam hati-hati kalian (maksudnya) adalah keimanan yang sempurna. Adapun iman yang merupakan dasar dan juga pondasi seperti beriman kepada Allāh, beriman kepada rasūl, beriman kepada hari akhir telah mereka miliki.Misalnya :√ Meyakini bahwasanya Allāh yang memiliki rububiyyah, Dia-lah Allāh yang menciptakan.√ Meyakini bahwasanya Allāh-lah, satu-satunya Dzat yang berhak untuk disembah.√ Meyakini bahwasanya Allāh ada.√ Meyakini bahwasanya Allāh memiliki nama dan juga sifat.Rukun Imān yang enam yang menjadi pondasi seorang muslim ada di dalam hati mereka, hanya saya kadarnya baru kadar minimal.Kadar yang lebih dari kadar minimal belum mereka miliki karena belum masuk kedalam hati mereka.وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْKalau kadar minimal sudah membaik, kemudian sedikit demi sedikit ada tambahan di dalam diri mereka, barulah mereka naik tingkatannya menjadi seorang mukmin.Berarti setiap mukmin adalah muslim karena dia telah melewati tingkatan Islām. Karena amalan dhāhir terus dia jaga dan keimanan terus dia pupuk sehingga bertambah keiman di dalam hatinya.Tapi tidak semua muslim menyerahkan diri dengan dhāhirnya,Seseorang dinamakan orang yang beriman karena dalam hatinya dia memiliki (sekedar)kadar minimal keimanan dan belum masuk kadar iman yang menjadi kadar tambahan.كل مؤمن مسلم وليس كل مسلم مؤمناًKalau dia terus istiqāmah di dalam melakukan amalan dhāhir, melakukan amalan yang bathin, terus belajar dan belajar. Kemudian mengenal tentang muraqabatullāh (mengenal lebih dalam tentang Allāh) sehingga amalan-amalan dhāhir dan bathin tadi dikerjakan dengan baik karena dia merasa diawasi oleh Allāh.Semakin baik tawakalnya, semakin baik mahabbahnya semakin baik raja dan khaufnya sehingga mencapai puncak kebaikan, maka dia akan berpindah kepada tingkatan yang terakhir (tingkatan yang paling tinggi) yaitu Ihsān.كل محسن مؤمن و ليس كل مؤمن محسناMenunjukkan bahwasanya setiap orang yang muhsin pasti dia muslim dan pasti dia mukmin TAPI tidak setiap orang yang muslim muhsin, tidak setiap orang yang beriman muhsin.Kemudian beliau mengatakan:وكل مرتبة لها أركان“Dan masing-masing dari tingkatan ini memiliki rukun-rukun”Yang dimaksud dengan rukun adalah الجزء الأقوى من شئ (bagian yang paling kuat dari sesuatu).Misalnya :Rukun Islām ada 5, jadi bagian yang paling kuat dari rukun Islām ini jumlahnya ada 5.Rukun Imān ada 6, jadi bagian yang paling kuat dari rukun Imān ini jumlahnya ada 6Rukun Ihsān ada 1 (satu)Jadi masing-masing dari tingkatan ini memiliki أركان dan dia adalah juz yang paling kuat. Kalau sampai أركان ini tidak ada, maka batal keislāman, keimānannya atau Ihsānnya karena أركان ini harus ada didalam setiap martabat tadi.Kemudian beliau mengatakan:فأركان الإسلام خمسة:Arkānul Islām (rukun Islām) jumlahnya ada lima sebagaimana sabda Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari hadīts Ibnu Umar radhiyallāhu ‘anhu.Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ“Islām dibangun di atas lima perkara,Ucapan beliau dibangun diatas lima perkara menunjukkan bahwasanya perkara ini adalah perkara yang paling penting di dalam Islām.Sehingga Islām yang didalamnya banyak perkara, bisa tegak bisa terbangun menjadi sebuah bangunan di atas lima perkara ini.Lima perkara ini adalah perkara yang paling penting di dalam agama Islām tanpa-nya maka seseorang bisa batal keislāmannya.Islām dibangun di atas lima perkara; Syahadat ‘Lā ilāha illallāh dan (syahadat) Muhammad adalah hamba Allāh dan Rasūl-nya, menegakkan shalāt, membayar zakat, haji, dan puasa Ramadhān”.(Hadīts riwayat Al-Bukhāri dan Muslim dan dibawakan oleh Imam An-Nawawi didalam Al-arbain An-Nawawiyah hadīts ke-3)Kemudian beliau mengatakan:ودليل قوله تعالى : { إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَـٰمُ} وقوله تعالى : {وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَـٰمِ دِينًۭا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ}Sesungguhnya agama disisi Allāh maksudnya adalah agama yang benar disisi Allāh.Kalau disisi manusia, orang Nashrani (misalnya) mengatakan agama mereka yang benar. Orang Yahūdi mengatakan agama mereka yang benar .وَقَالَتِ ٱلْيَهُودُ لَيْسَتِ ٱلنَّصَـٰرَىٰ عَلَىٰ شَىْءٍۢ وَقَالَتِ ٱلنَّصَـٰرَىٰ لَيْسَتِ ٱلْيَهُودُ عَلَىٰ شَىْءٍۢDan orang-orang Yahūdi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahūdi tidak mempunyai sesuatu pegangan”.(QS. Al-Baqarah: 113)Allah berfirman :كُلُّ حِزْبٍۭ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَMasing-masing dari mereka ( kelompok orang-orang musyrikin) mereka bangga dengan sesembahannya dan menyalahkan orang yang menyembah selain sesembahannya. (QS. Ar-Rum 32)Tetapi kalau disisi Allāh maka yang benar adalah agama Islām.Jika ingin diterjemahkan : “Sesungguhnya agama yang benar” JANGAN menerjemahkan “Sesungguhnya agama yang paling benar ” Karena kalau “Yang paling benar” berarti agama yang lain juga benar, TAPI Islām yang paling benar.Sehingga terjemah yang shahīh mengatakan yang benar, agama yang benar disisi Allāh adalah ISLĀM adapun selainnya maka agama itu salah. Benar bukan disisi Allāh tapi benar disisi pengikut atau penganutnya.Kalau disisi Allāh رب السماوات والأرض yang semuanya akan kembali kepada Allāh. Orang yang beriman kepada Allāh dan hari akhir maka harusnya dia mencari agama yang benar disisi Allāh bukan benar disisi manusia.Kemudian beliau mengatakan:وقوله تعالى : {وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَـٰمِ دِينًۭا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ}“Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islām maka tidak akan diterima dari-nya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Āli-Imrān:85)Orang yang memang takut kepada Allāh dan dia percaya kepada hari akhir maka harusnya dia mencari agama agama Islām.Barangsiapa yang mencari selain agama Islām maka Allāh tidak akan menerima darinya dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.Datang di hari kiamat setelah dia capek didunia setelah dia menyangka itulah yang diterima itulah yang membawa keselamatan bagi dia, di akhirat ternyata dia datang di hari kiamat dalam keadaan amalan yang dia lakukan dia dunia tidak diterima disisi Allāh.Jadi dari dua dalīl ini, beliau ingin menegaskan makna Islām secara umum adalah agama para nabi dan rasūl, agaman yang benar disisi Allāh dan agama yang diterima disisi Allāh Azza wa Jalla.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 2 : PERBEDAN ANTARA NABI DAN RASUL

Halaqah 2 :PERBEDAN ANTARA NABI DAN RASULOleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.AØ  Dalil-Dalil Perbedaan antara Nabi & Rasul :Allah berfirman :وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi sebelum engkau (wahai Muhammad) melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan syaitan pun memasukkan godaan-godaan kedalam keinginannya tersebut” (QS. Al-Hajj : 52)Ayat diatas menunjukkan bahwa Rasul berbeda dengan Nabi.Ø  Pendapat LemahAda Ulama mengatakan bahwa Rasul diberi wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan, sedangkan Nabi diberi wahyu tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikan.Pendapat yang lemah karena dalil menunjukkan bahwa Nabi juga diutus dan diperintah menyampaikan wahyu.Sebagaimana dalam firman Allah:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi kecuali apabila dia berkeinginan maka syaitan memasukkan godaan-godaannya kedalam keinginannya tersebut” (QS. Al-Hajj : 52)Allah Mengatakan:“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi”ini menunjukkan bahwa Nabi Juga diutus berarti dia diperintah untuk menyampaikan.Demikian pula didalam hadits Rasulullah ﷺ bersabdaعُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ“Ditampakan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang dan aku melihat seorang Nabi bersama satu dan dua orang dan seorang Nabi dan tidak seorang pun yang bersama beliau” (HR. Al Bukhâri dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga diperintahkan untuk berdakwah dan menyampaikan risalah.Ø  Perbedaan Utama (Pendapat yang Kuat)Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah & Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, perbedaan mendasar keduanya terletak pada syariat dan kondisi kaum yang dihadapi:1.     NabiOrang yang Allah berikan wahyu diperintahkan untuk menyampaikan syariat sebelumnya dan diutus kepada kaum yang sudah mengetahui syariat tersebutDalilnya : Allah berfirman :…إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا…“…Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat didalamnya ada petunjuk dan cahaya yang para Nabi yang menyerahkan diri menghukumi dengan Taurat tersebut bagi orang-orang Yahudi…” (QS. Al-Ma’idah : 44)Para Nabi Bani Israil menyampaikan syariat menggunakan kitab Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa AS.2.     RasulOrang yang Allah beri Wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan syariat yang baru dan diutus kepada kaum yang menyelisihi perintah Allah.Ø  Kesimpulan: Nabi menguatkan syariat yang sudah ada untuk kaum yang sudah beriman, sedangkan Rasul membawa syariat baru untuk kaum yang menentang.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 2

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah Beriman Kepada Para RasulPerbedaan Antara Nabi Dan RasulDalil-dalil menunjukkan adanya perbedaan antara Nabi dan Rasul. Allah berfirmanوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah kami mengutus seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi sebelum engkau (wahai Muhammad) melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan syaitan pun memasukkan godaan-godaan kedalam keinginannya tersebut” (Al-Hajj : 52)Ayat diatas menunjukkan bahwa Rasul berbeda dengan Nabi.Ada ulama yang mengatakan bahwa Rasul diberi wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan, sedangkan Nabi diberi wahyu tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikan namun ini adalah pendapat yang lemah karena ternyata dalil menunjukkan bahwa Nabi juga diutus dan diperintah menyampaikan wahyu sebagaimana dalam Firman Allahوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi kecuali apabila dia berkeinginan maka syaitan memasukkan godaan-godaannya kedalam keinginannya tersebut” (Al-Hajj : 52)Allah Mengatakan“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi”ini menunjukkan bahwa Nabi Juga diutus berarti dia diperintah untuk menyampaikan.Demikian pula didalam hadits Rasulullah ﷺ bersabdaعُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ“Ditampakan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang dan aku melihat seorang Nabi bersama satu dan dua orang dan seorang Nabi dan tidak seorang pun yang bersama beliau” (HR Al Bukhâri dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga diperintahkan untuk berdakwah dan menyampaikan risalah.Dari sekian banyak pendapat tentang perbedaan antara Nabi dengan Rasul pendapat yang lebih dekat insyaa Allah adalah pendapat yang mengatakanBahwa Nabi adalah Orang yang Allah berikan wahyu diperintahkan untuk menyampaikan syariat sebelumnya dan diutus kepada kaum yang sudah mengetahui syariat tersebut.Dan inilah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Syaikh Muhammad Al Amin As-Sinqity semoga Allah merahmati keduanya. Diantara dalilnya adalah firman Allah…إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا…“…Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat didalamnya ada petunjuk dan cahaya yang para Nabi yang menyerahkan diri menghukumi dengan Taurat tersebut bagi orang-orang Yahudi…” (Al-Ma’idah : 44)Di dalam ayat ini Nabi-nabi Bani Israil mereka menyampaikan syariat Nabi Musa yang ada didalam Taurat, adapunPengertian Rasul secara syariat mereka adalah orang yang Allah beri Wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan syariat yang baru dan diutus kepada kaum yang menyelisihi perintah Allah

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 52

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 52Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua QS. An-Nisa: 60Firman Allah Ta'ala:{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا}(QS. An-Nisa: 60)"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya."Penjelasan Ayatأَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَAllah mengatakan:"Apakah engkau tidak melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwasanya mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam."Yaitu Al-Qur'an.وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَDan beriman kepada apa yang diturunkan sebelum mu.Yakni: Taurat, Injil dan seterusnyaيُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِMereka mengaku muslim.Mungkin sudah bersyahadat di hadapan Nabi  atau di hadapan para sahabat. Namun ketika terjadi masalah di antara mereka, mereka tidak mengembalikan keputusan kepada Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Bahkan:يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِMereka justru ingin bertahakum kepada thaghut. Padahal mereka menyangka bahwa:Mereka beriman kepada Al-Qur'an.Mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam.Tetapi ketika terjadi, permasalahan dan  persengketaan, mereka justru bertahakum kepada thaghut.Makna ThaghutDi antara makna thaghut adalah "Orang yang berhukum dengan selain apa yang Allah turunkan". Sebagaimana telah dibahas ketika mempelajari Tsalatsatul Ushul. Termasuk thaghut adalah setiap orang yang: "Orang yang mengaku mengetahui ilmu gaib". Contohnya dukun dan orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah.Sikap yang Seharusnya Dilakukan Seorang MuslimKalau memang dia muslim, maka wajib baginya untuk Islam secara kullihi. Bukan hanya dalam masalah ibadah dan dalam masalah aqidah. Namun ketika terjadi persengketaan dalam muamalah atau perkara lainnya, maka seorang muslim harus masuk ke dalam Islam seluruhnya. Yaitu menyerahkan keputusan perselisihan kepada Allah dan menyerahkan keputusan perselisihan kepada Rasul-Nya, bukan kepada thaghut.Ini menguatkan kewajiban masuk ke dalam Islam secara keseluruhan, termasuk ketika terjadi perselisihan.وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ"Dan sungguh mereka telah diperintahkan untuk mengkufuri thaghut tersebut."Mereka diperintahkan untuk; mengingkari thaghut, mengingkari dukun, mengingkari setiap orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dan kita diperintahkan untuk beriman kepada Allah.Firman Allah Ta'ala (2){فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا}(QS. Al-Baqarah: 256)"Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus."Mengingkari Thaghut adalah Bagian dari IslamMereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut dan ini adalah bagian dari Islam.Definisi Islamالإسلام الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهله"Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya."Itu adalah bagian dari Islam.ereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut. Karena mengingkari thaghut merupakan bagian dari Islam. Namun mereka masih bertahakum kepada thaghut. Berarti mereka belum masuk ke dalam Islam secara kullihi. Padahal wajib bagi mereka untuk masuk ke dalam Islam secara kullihi.وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا"Dan syaitan ingin menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh."Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan keadaan orang-orang munafik. Di antara sifat mereka adalah kesenangan mereka dan kemauan mereka. Yaitu bertahakum bukan kepada Allah dan Rasul-Nya, karena mereka memang tidak beriman. Tetapi tahakum mereka adalah kepada thaghut.Sisi Pendalilan AyatBagaimana ayat ini menunjukkan wajibnya masuk ke dalam Islam secara keseluruhan? Jawabannya terdapat pada firman Allah:وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ"Dan sungguh mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut."Karena mengingkari thaghut termasuk makna Islam. Ketika mereka berhukum kepada thaghut, berarti mereka telah meninggalkan salah satu konsekuensi keislaman mereka. Karena konsekuensi keislaman adalah Islam dalam seluruh perkara. Masuk ke dalam Islam secara keseluruhan. Termasuk di dalam masalah Tahakum (Berhukum). Seorang muslim harus yakin bahwa, apa yang diputuskan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah keputusan yang paling benar dan yang paling baik. Baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Itulah keyakinan seorang muslim.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 02 | Pengantar Penjelasan Kitab Nawaqidul Islam Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke dua dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Diantara pembatal keislaman, ada yang berupa keyakinan, seperti:• Meyakini bahwa ada illah (sesembahan) selain Allah• Meyakini bahwa hukum selain hukum Allah adalah lebih baik daripada hukum Allah• Meyakini bahwa shalat lima waktu tidak wajib• Meyakini kehalalan sesuatu yang jelas diharamkan di dalam agama Islam, seperti zina, homoseks, minuman keras, dan lain-lain.Ini adalah beberapa keyakinan yang bisa membatalkan keislaman seseorang.Orang-orang munafik meskipun mengucapkan kalimat – لا إله إلا الله – dan mengucapkan syahadat – محمداً رسول الله – akan tetapi mereka kafir karena tidak meyakini makna dua kalimat syahadat tersebut.Pembatal keislaman ada yang berupa perbuatan anggota badan, seperti:• Bersujud kepada selain Allah• Menyembah untuk selain Allah• Dan lain-lainMengetahui Nawaqidul Islam (pembatal-pembatal keislaman) merupakan perkara yang sangat penting, karena seseorang harus mengetahui kebaikan untuk diamalkan dan mengetahui kejelekan supaya bisa terhindar dari kejelekan tersebut.Orang yang hanya mengetahui kebaikan tetapi tidak mengetahui kejelekan, dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam kejelekan tersebut, disadari atau tidak disadari.Apalagi kejelekan tersebut adalah kekufuran yang barangsiapa meninggal di atas kekufuran, maka kesengsaraan selamanya yang akan dia rasakan.Hudzaifah Ibnu Yaman, seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,كان أصحابُ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يَسأَلُونَه عن الخَيرِ، وكُنتُ أسأَلُه عن الشَّرِمَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي“Dahulu, para sahabat Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya kepada Beliau tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada Beliau tentang kejelekan, karena aku takut terjerumus ke dalam kejelekan tersebut.” [Muttafaqun’ Alaihi]Hal ini dilakukan oleh para sahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhu. Mereka mengetahui kebenaran dan juga berusaha untuk mengetahui kesalahan. Mempelajari Al Haq dan juga mempelajari jenis-jenis kebathilan. Mengetahui kebenaran tersebut supaya bisa diamalkan dan mengetahui kebathilan (kesalahan) supaya bisa terhindar.Di dalam sebuah bait syair dikatakan,عَرَفْتُ الشّرَّ لا لِلشّرِّ لَكِنْ لِتَوَقّيهِفَمَن لا يعرِفُ الشّرَّمنَ الناسِ يقعْ فيهِ“Aku mengetahui kejelekan bukan untuk mengamalkan kejelekan tersebut, akan tetapi supaya terhindar dari kejelekan tersebut. Dan barangsiapa diantara manusia yang tidak mengetahui suatu kejelekan, maka dikhawatirkan dia akan terjerumus ke dalam kejelekan tersebut.”Salah satu penyebab utama seseorang terjatuh di dalam Nawaqidul Islam adalah karena tidak tahu, tidak belajar, dan tidak berusaha mempelajarinya.Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,والجهل داء قاتل وشفاؤه أمران في التركيب متفقان نص من القرآن أو من سنة وطبيب ذاك العالم الرباني“Kebodohan adalah penyakit yang mematikan dan obatnya adalah dua hal yang digabung menjadi satu, yaitu nash dari Al Qur’an atau dari As Sunnah dan dokternya ada seorang ‘alim robbani.”Oleh karena itu para ulama di dalam kitab-kitab mereka (kitab akidah atau kitab fiqih) menyebutkan tentang bab Ar Riddah (kemurtadan). Yang dibahas adalah perkara-perkara yang bisa menjadikan seseorang murtad (keluar dari agama Islam).Para ulama membuat bab ini tujuannya adalah supaya kita tahu pembatal-pembatal keislaman dan supaya kita waspada, jangan sampai kita dan orang-orang yang kita cintai, serta kaum muslimin terjatuh ke dalam apa yang dinamakan dengan Nawaqidul Islam. Yang apabila dia meninggal dalam keadaan demikian, maka batal seluruh amalannya dan dia kekal di dalam neraka bersama orang-orang yang kafir.Allah mengatakan,وَمَن یَرۡتَدِدۡ مِنكُمۡ عَن دِینِهِۦ فَیَمُتۡ وَهُوَ كَافِرࣱ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَـٰلُهُمۡ فِی ٱلدُّنۡیَا وَٱلۡـَٔاخِرَةِۖ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ أَصۡحَـٰبُ ٱلنَّارِۖ هُمۡ فِیهَا خَـٰلِدُونَ[Surat Al-Baqarah 217]“Dan barangsiapa diantara kalian yang murtad dari agamanya, kemudian dia meninggal dunia dan dia dalam keadaan kafir, maka merekalah orang-orang yang batal amalannya di dunia maupun di akhirat, dan merekalah penduduk neraka, mereka kekal di dalamnya.”Tentunya di dalam memahami Nawaqidul Islam, seseorang harus kembali kepada Al Qur’an, hadits-hadits Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman para sahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum dan melihat kembali ucapan-ucapan para ulama di dalam masalah Nawaqidul Islam. Karena menentukan sebuah ucapan, keyakinan, atau perbuatan, apakah dia mengeluarkan seseorang dari Islam atau tidak, ini adalah hukum syar’i, harus kembali kepada dalil.Tidak boleh seseorang menghukumi sebuah amalan atau sebuah ucapan atau sebuah keyakinan, bahwa ini adalah kekufuran, mengeluarkan pelakunya dari Islam, kecuali di sana ada dalil yang jelas di dalam Al Qur’an atau di dalam hadits. Jangan sampai seseorang berdusta atas nama Allah.Allah berkata,(وَلَا تَقُولُوا۟ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَـٰذَا حَلَـٰلࣱ وَهَـٰذَا حَرَامࣱ لِّتَفۡتَرُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِینَ یَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا یُفۡلِحُونَ)[Surat An-Nahl 116]“Janganlah kalian mengatakan dengan lisan-lisan kalian, ini adalah halal, ini adalah haram, untuk berdusta atas nama Allah. Orang-orang yang berdusta atas nama Allah, maka dia tidak akan beruntung.”Jangan sampai seseorang mengatakan, ini adalah kufur, padahal Allah dan Rasul-Nya tidak mengatakan demikian. Atau sebaliknya, mengatakan ini tidak kufur padahal Allah dan Rasul-Nya menghukumi itu sebagai sebuah kekufuran.Di sana ada dua kelompok yang tersesat di dalam masalah ini.1. Kelompok yang berlebih-lebihan, hingga mengatakan bahwasanya ini adalah sesuatu yang kufur, padahal Allah tidak mengatakan itu adalah sebuah kekufuran. Seperti orang-orang Khawarij yang berkeyakinan bahwa orang yang melakukan dosa besar, dia keluar dari Islam.2. Orang-orang yang berlebihan, sehingga mengatakan bahwa ini sesuatu yang tidak kufur, padahal Allah telah menjelaskan bahwa itu adalah kekufuran. Seperti orang-orang Murji’ah, yang mereka menganggap bahwasanya keimanan cukup dengan keyakinan di dalam hati. Seandainya seseorang mengucapkan ucapan yang kufur atau melakukan amalan yang kufur, yang penting hatinya mengenal dan meyakini Allah, maka dia tidak keluar dari agama Islam.Ahlussunnah wal Jama’ah bukan termasuk Khawarij dan juga bukan termasuk Murji’ah. Mereka berada di pertengahan. Mereka kembali kepada Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Apa yang dihukumi oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai bentuk kekufuran, maka mereka katakan ini adalah kufur. Dan apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya ini bukan kekufuran, maka mereka tidak mengatakan ini adalah kekufuran.Dan mereka di dalam masalah ini berpegang dengan kaidah-kaidah yang berdasarkan Al Qur’an dan Hadits. Dan Insya Allah akan kita bahas sebagian kaidah-kaidah tersebut di dalam pertemuan selanjutnya.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 2 - Mahzab Penulis Kitab

Halaqah yang ke-2 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah ini adalah seorang Hanbali, beliau tumbuh sebagai seorang Hanbali yaitu bermadzhab dengan madzhabnya imam Ahmad bin Hanbal, tapi apa yang dimaksud dengan Hanbali disini, apakah yang dimaksud beliau adalah orang yang fanatik sehingga tidak mengambil pendapat kecuali dari madzhab al-Imam Ahmad bin Hanbal, jawabannya tidak, dinamakan dengan Hanbali karena beliau mengawali menuntut ilmu fiqihnya dengan mazhab Hanbali dan inilah yang dimaksud oleh para ulama ketika mereka menambahkan atau menisbahkan diri mereka kepada Syafi’i, Hanafi, Maliki, bukan berarti mereka ta’asub dan fanatik terhadap madzhab tersebut. Awal mereka menuntut ilmu adalah dengan mempelajari kitab-kitab Hanbali atau Syafi’i atau yang lain, cuma setelahnya ketika mereka sudah sampai pada marhalah tertentu, sampai pada tingkatan tertentu di situ mereka tidak melihat lagi ini madzhab fulan atau madzhab fulan tapi mereka melihat dalil, kalau pendapat tersebut itulah yang sesuai dengan dalil itulah yang mereka ambil.Berkata adz-Dzahabi rahimahullāh “wa lahul āna ‘iddatussinīn lā yu’ti bimadzhabin mu’ayyan bal bima qāmaddalīlu alaihi ‘indah”, ini menceritakan tentang gurunya dan beliau yaitu Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah sekarang, ini Imam adz-Dzahabi berbicara tentang apa yang ada di masanya sudah beberapa tahun terakhir ini beliau tidak berfatwa dengan madzhab tertentu tapi dengan pendapat yang sesuai dengan dalil menurut beliau, jadi bukan berfatwa berdasarkan madzhab Hanbali atau madzhab Syafi’i tapi berfatwa menjawab sesuai dengan apa yang menurut beliau lebih dekat dengan dalil. Sungguh beliau telah menolong sunnah secara murni dan menolong tharīqah salafīyyah yaitu menyebarkan manhaj salaf dan berhujah untuk menolong sunnah ini dan menolong manhaj salaf ini dengan berbagai bukti, berbagai muqaddimah, dengan berbagai perkara yang bukti-bukti tersebut atau alasan-alasan tersebut mungkin sebelum beliau belum ada yang menyebutkan atau menampakkan.Ini menunjukkan tentang bagaimana manhaj Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, jadi memang beliau bertumbuh dan berkembang dan mungkin di sekitar beliau, lingkungan beliau rata-rata adalah bermazhab Hanbali cuma beliau bukan seorang yang ta’asub atau fanatik terhadap madzhab beliau, ta’asub dengan dalil. Adapun aqidah maka jelas aqidah beliau adalah aqidah para salafush sholeh dan ini kita lihat dari karangan-karangan beliau termasuk diantaranya adalah kitab yang insyaAllāh akan kita pelajari bersama yaitu Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, di situ kita akan melihat bagaimana aqidah Syaikhul Islām tentang Asma’ dan juga Sifat Allāh ﷻ, bagaimana aqidah Syaikhul Islām tentang sahaba dan InsyaAllāh nanti akan kita sebutkan dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya yaitu tentang muqaddimah yang berkaitan dengan kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah.Karangan-karangan beliau, disebutkan oleh Adz-Dzahabi bahwasanya beliau pernah mencoba untuk mengumpulkan karangan-karangan gurunya Syaikhul Islām Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh, kemudian beliau menyebutkan mendapatkan seribu mushonnaf yaitu seribu karangan, tulisan dan ternyata setelah beliau mengumpulkan tulisan-tulisan Syaikhul Islām beliau setelah itu melihat karangan-karangan yang lain, menunjukkan begitu banyaknya tulisan-tulisan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah, beliau rahimahullāh termasuk orang yang banyak dibukakan oleh Allāh ﷻ pintu-pintu, pintu menulis, beliau orang yang kuat didalam menulis, pintu berdakwah, berjihad dengan tangannya dengan lisannya maka ini adalah Fadlullāh, keutamaan yang Allāh ﷻ berikan kepada siapa yang Allāh ﷻ kehendaki dan tidak semua dari kita dibukakan oleh Allāh ﷻ untuk banyak menulis.Cuma yang perlu kita ingat kan disini menulis ini adalah perkara yang penting karena kalau kita menulis dan memiliki kitab, memiliki buku maka itu akan insyaAllāh lebih lama meskipun kita sudah meninggal dunia, namanya buku masih bisa di baca dan dibacakan dipelajari oleh orang lain. Adapun seseorang hanya berbicara saja apalagi tidak ada di sana rekaman maka ketika dia meninggal dunia hilang begitu saja, maka penting seseorang di sini menulis. Dan yang perlu diketahui di sini hendaklah seseorang menulis apa yang memang dibutuhkan oleh manusia artinya bukan hanya sekedar menulis dan punya buku tapi dia menulis sesuatu yang memang dibutuhkan.Dan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah banyak di dalam tulisan-tulisan termasuk di antaranya adalah aqidah wasithiyah ini, kenapa beliau menulis karena ada sebabnya dan nanti akan kita sebutkan sejarah bagaimana beliau menulis kitab Al-Aqidah Al-Wasithiyyah, permintaan dari seseorang yang dia tidak mau kecuali tulisan Syaikhul Islām Ibnu Taimmiyah padahal di sana banyak kitab-kitab aqidah sebelum masa Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah. Cuma orang yang tanya tadi tidak mau kecuali yang ditulis oleh Syaikhul Islam, akhirnya beliau pun mengabulkan permintaan tersebut.Dan tulisan-tulisan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dikenal dengan bagusnya dan ungkapan-ungkapan yang dipakai oleh syaikhul Islam adalah ungkapan-ungkapan yang baik dan susunannya juga sangat rapi kemudian juga dikenal beliau ini dengan taksimatnya yaitu dalam pembagian-pembagian ini luar biasa sehingga banyak para ulama para thulabul ‘ilm yang mereka bisa mengambil faedah dan banyak mengambil faedah dari pembagian pembagiannya. Dengan adanya pembagian sebuah masalah ternyata dia terbagi menjadi beberapa bagian, seseorang lebih jelas dan lebih praktis lebih paham sehingga dia tidak menyamakan sesuatu yang beda dan tidak membedakan sesuatu yang sama.Dan ada yang mengatakan bahwasanya beliau bisa berbahasa Abriah, bahasa abriah ini adalah bahasa orang-orang Yahud dan juga bisa bahasa Latiniyyah ini dipahami dari sebagian ungkapan beliau yang di mana beliau menyatakan bahwasanya bahasa Abria ini dekat dengan bahasa Arab, ini sebagian memahami bahwasanya beliau berarti paham tentang lughah tentang bahasa Abriah.Tentang sifat beliau syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dari sisi akhlak beliau adalah seorang ulama yang pemurah, karīm, dan itu semua kemurahan tadi bukan sesuatu yang dibuat-buat oleh beliau tapi sepertinya adalah sesuatu yang memang bawaan dari sejak kecil dan beliau adalah seorang pemberani bukan seorang pengecut, dan beliau adalah seorang yang zuhud di dalam dunia, tidak tergantung hatinya dengan sedikit pun dari dunia bahkan disebutkan bahwasanya beliau banyak meninggalkan perkara yang mubah, banyak meninggalkan perkara yang sebenarnya boleh karena takut terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan, dan tentunya ini semua menunjukkan tentang buah dari ilmu yaitu zuhud terhadap dunia dan keinginan terhadap akhirat dan bagaimana beliau meninggalkan perkara yang mubah karena takut terjerumus ke dalam perkara yang diharamkan oleh Allāh ﷻ.Beliau Rahimahullāh semasa hidupnya berjihad dijalan Allāh ﷻ baik dengan lisannya, yaitu dengan berdakwah dengan lisannya dan juga dengan tulisannya, banyak menulis bagaimana jumlah tulisan-tulisan beliau dan beliau memerangi tentara Tartar dan mendorong kaum muslimin untuk berjihad dan bahkan dalam peperangan-peperangan beliau senantiasa berada di shaf yang awwal. Ini menunjukkan bagaimana beliau sebagai seorang ulama bukan hanya sekedar bisa menulis, bisa memberikan pengarahan kepada manusia, tetapi beliau menjadi orang yang menjadi contoh bagi yang lain di dalam jihad fī sabīlillāh dan mendorong manusia untuk jihad memerangi orang-orang kuffar dan jihad yang dimaksud disini tentunya adalah jihad yang syar’i bukan jihad yang dipahami oleh sebagian orang-orang yang tersesat dari jalan Allāh ﷻ.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnya

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

TINGGALNYA ORANG-ORANG BERIMAN & ORANG-ORANG MUNAFIK

Setelah orang-orang kafir (musyrik dan ahlul kitab) digiring ke neraka, yang tersisa hanyalah orang-orang yang dahulu menyembah Allah, baik yang shalih maupun yang banyak maksiat.Mereka tetap menunggu Rabb mereka karena di dunia mereka bertauhid dan tidak menyembah sesembahan orang-orang kafir, meskipun memiliki hubungan dan kebutuhan dengan mereka dalam urusan dunia. Allah datang kepada mereka dalam bentuk yang berbeda dari yang pertama kali mereka lihat sebagai ujian bagi keimanan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang beriman akan melihat Allah di Padang Mahsyar. Ketika Allah berkata, "Aku adalah Rabb kalian", mereka berhati-hati dan berlindung kepada Allah agar tidak terfitnah. Mereka menegaskan bahwa mereka tidak pernah menyekutukan Allah sedikit pun. Ini menunjukkan keutamaan tauhid. Allah kemudian memberikan tanda yang membuat mereka mengenali-Nya. Dalam hadits disebutkan bahwa Allah menyingkap betis-Nya, dan kaum mukminin pun mengenali Rabb mereka. Kewajiban seorang muslim adalah beriman terhadap sifat-sifat Allah sebagaimana datang dalam dalil tanpa menyerupakan, menolak, menakwilkan, atau mempertanyakan bagaimana hakikatnya. Setiap mukmin yang dahulu ikhlas beribadah kepada Allah akan diberi kemampuan untuk bersujud. Adapun orang-orang munafik yang dahulu sujud karena riya' atau demi kepentingan dunia tidak mampu bersujud. Punggung mereka menjadi kaku dan rata sehingga setiap hendak sujud mereka justru terjatuh. Mereka dahulu menipu Allah dan kaum mukminin dengan menampakkan keislaman, namun pada hari itu tipu daya mereka tidak bermanfaat. Setelah itu Allah menampakkan diri kepada orang-orang beriman dalam bentuk yang mereka kenali. Mereka pun berkata, "Engkau adalah Rabb kami."

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyah : pembahasan kitab al-utsulu ats-tsalatsah bag. 2

Halaqah 27 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Muqaddimah #2Didalam sebuah hadīts yang shahīh, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ“Para nabi itu ibarat saudara sebapak. Ibu mereka berbeda-beda, agama mereka adalah satu.”(Hadīts riwayat Bukhāri 3443 dan Muslim 2365)Para nabi mereka bersaudara, ibu mereka berbeda tapi bapak mereka sama. Dan ini bukan maksud nasab secara hakiki. Tetapi disini (maksudnya) ingin mendekatkan kepada kita pemahaman tentang bagaimana aqidah dan tata cara ibadah mereka.⇒ Ibu-ibu mereka berbeda, maksudnya adalah syari’at mereka berbeda.Sebagaimana firman Allāh Azza wa Jalla:لِكُلٍّۢ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةًۭ وَمِنْهَاجًۭا ۚ“Bagi masing-masing dari kalian, kami jadikan syari’at dan juga jalan”.(QS. Al-Maidāh: 48)Syari’at yang ada di zaman nabi Mūsā berbeda dengan syari’at di zaman nabi Hūd (misalnya).Syari’at yang ada dikaumnya nabi Shālih berbeda dengan syari’at yang ada dikaumnya nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam (misalnya).Yang berbeda diantara mereka adalah syari’atnya (tatacara beribadahnya) karena kebijaksanaan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka Allāh bedakan.Mungkin sebuah syari’at pas bagi sebuah kaum dan tidak pas bagi kaum yang lain, sehingga bukan keadilan jika Allāh samakan satu dengan lain. Allāh Subhānahu wa Ta’āla Maha Bijaksana (sehingga Allāh bedakan syari’atnya).Terkadang sebuah syari’at disyari’atkan bagi sebuah kaum tetapi tidak disyari’atkan bagi kaum yang lain.Contoh (seperti):⑴ TayammumTayammum hanya disyari’atkan untuk umat Nabi muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam saja. Adapun umat-umat sebelumnya tidak disyari’atkan Tayammum.Didalam sebuah hadīts beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا“Dijadikan untukku tanah sebagai masjid (tempat shalāt) dan untuk bersuci.”(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 438)⇒ Jadi tanah yang kita pijak ini, bisa digunakan untuk sujud sekaligus bisa untuk bersuci (tayammum) artinya jika disana tidak ada air untuk berwudhu atau untuk mandi maka bisa digantikan dengan Tayammum.Syari’at Tayammum ini tidak ada bagi umat sebelumnya dan tidak boleh mereka melakukan sujud diatas tanah langsung tapi harus ada tempat ibadah didalam ruangan.Makanya beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mengatakan :فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّMaka siapa saja dikalangan umat-ku yang mendapatkan waktu shalāt (misalnya ketika dia safar dia mendapati waktu shalāt) maka dia tidak harus menunggu hingga mendapatkan tempat untuk shalāt (masjid atau mushala), seandainya dia berhenti lalu dia shalāt diatas gurun atau tanah (misalnya) maka ini tidak masalah.⇒ Jadi Tayammum hanya disyari’atkan bagi umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan tidak disyari’atkan bagi umat sebelumnya.⑵ Masalah Halal dan HaramMasalah Halal dan haram terkadang juga berbeda, terkadang Allāh haramkan bagi sebagian kaum dan dihalalkan bagi kaum yang lain.Contoh : GhanimahNabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :وَأُحِلَّتْ لِيَ الغَنَائِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِيDan dihalalkan untuk-ku ghanimah (maksudnya untuk beliau dan disyari’atkan untuk umat beliau). Seandainya berperang dan musuh kita (orang-orang kāfir) kalah maka halal bagi kita untuk mengambil rampasan perang (bukan sesuatu yang diharamkan) seperti senjata, emas yang tertinggal bahkan tawanan mereka bisa menjadi budak yang halal bagi kaum muslimin (tentunya dengan aturan yang ada didalamnya).Adapun diumat sebelumnya (umat nabi-nabi sebelumnya) jika terjadi peperangan antara mereka dengan kufar maka tidak halal bagi mereka untuk mengambil harta rampasan perang. Meskipun dihadapan mereka tumpukan emas,hewan dan yang lainnya maka tidak halal bagi mereka untuk mengambil rampasan perang tersebut.Kalau mereka mengambil maka haram hukumnya, ini berlaku bagi umat-umat sebelumnya.⇒ Ini adalah makna أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى (ibu-ibu mereka berbeda) maksudnya syari’atnya berbeda.وَدِينُهُمْ وَاحِدٌAdapun agama mereka satu yaitu Islām, maksudnya adalah semuanya dari awal hingga akhir agamanya satu yaitu menyembah hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.⇒ Islām menyerahkan diri hanya kepada Allāh.Bedanya :√ Satunya disyari’atkan Tayammum.√ Satunya TIDAK disyari’atkan Tayammum.Tapi semuanya sama hanya menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.√ Satunya dihalalkan ghanimah.√ Satunya TIDAK dihalalkan ghanimah.Semuanya sama, menyembah dan taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Maka hadīts yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhāri ini menunjukkan bahwa para nabi dan para rasūl agama mereka satu yaitu ISLĀM.⇒ Dan ini adalah makna Dīnul Islām secara umum.Kemudian disana ada makna agama Islām secara khusus yaitu Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan inilah yang dimaksud oleh beliau (pengarang) didalam ucapan beliau :معرفة دين الإسلام بالإدلةKita mengenal agama Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, karena kita mengaku sebagai pengikut beliau dan pemeluk agama Islām. Maka kewajiban kita adalah mengenal agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Kemudian kalau kita cermati (nanti) ternyata didalam agama Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam didalamnya juga ada istilah Islām.Jadi yang paling luas Islām adalah agama seluruh nabi dan rasūl, lebih khusus adalah agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Dan agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada 3 tingkatan;⑴ Islām (الإسلام)⑵ Imān (الإيمان)⑶ Ihsān (الإحسان)√ Islām mewakili amalan-amalan yang dhāhir.√ Imān mewakili amalan-amalan yang bathin.√ Ihsān adalah puncak didalam melakukan amalan yang dhāhir maupun yang bathin.Dīn (دِينَ) disini maksudnya adalah Dīnul Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Ucapan beliau (rahimahullāh) :بالإدلة“Dengan dalīl-dalīlnya”Kita ingin mengenal agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan dalīl-dalīlnya. Karena demikianlah aqidah dibangun. Seseorang boleh meyakini kalau memang ada hujjah (dalīlnya).Dalam agama Islām diajarkan kepada kita untuk meyakini sesuatu berdasarkan hujjah. Jika ada dalīl silahkan diyakini.Jadi aqidah tidak dibangun diatas khurāfat, takhayul, persangkaan semata yang tidak ada dalīlnya seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin.Mereka (orang-orang musyrikin) meyakini dan mengatakan sesuatu hanya dzān saja, semua itu muncul dari lisan mereka (tanpa dalīl) hanya berdasarkan persangkaan semata.Seperti ketika mereka mengatakan:هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ“Mereka itu pemberi syafa’at bagi kami disisi Allāh” (QS.Yūnus 18).مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ“Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allāh dengan sedekat-dekatnya” (QS. Az-Zummar :3).Malāikat adalah بنت الله ?Darimana mereka ucapkan itu semua? Dzān saja ( إِلَّا ٱلظَّنَّ) mereka tidak menyangka kecuali hanya persangkaan semata. Dan demikian yang dilakukan oleh pengikut-pengikut mereka sampai saat ini.Mereka mengatakan sesuatu yang tidak jelas dalīlnya, hanya dzān dan juga takhārus, takhabut, tidak ada disana sesuatu yang berdasarkan dalīl yang shahīh.Maka beliau rahimahullāh mengajak kita untuk mengenal agama Islām dengan dalīl-dalīl.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 52

Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua QS An Nisa 60Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-52 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Berkata Al-Mushannif rahimahullah, beliau mendatangkan Firman Allāh ﷻوقوله تعالى : {أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا} [النساء : 60](Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.)Allāh mengatakan,Apakah engkau tidak melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwasanya mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, yaitu Al-Qur’an.وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَDan beriman dengan apa yang diturunkan sebelummu. Yakni Taurat, Injil dan seterusnya.يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِMereka mengaku muslim, karena mungkin sudah bersyahadat di depan Nabi, atau depan para sahabat, tapi ketika terjadi masalah di antara mereka, bukan mengembalikan keputusan dari permasalahan tadi kepada Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, bahkanيُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِMereka justru ingin bertahakum kepada thaghut. Padahal sudah menyangka bahwasanya mereka adalah katanya beriman kepada Al-Qur’an, katanya beriman dengan apa yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallâhu Alaihi Wasallam. Tapi ketika terjadi permasalahan, persengketaan, justru malah bertahakum kepada thaghut.Dan di antara makna thaghut adalahمن حكم بغير ما أنزل اللهSudah berlalu ketika membahas tentang Tsalatsatul Ushul.Dan masuk di dalam thaghut adalah setiap orang yangمن ادّعى علم الغيبSetiap orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghoib.Ada di antara mereka justru ingin bertahakum kepada thaghut. Misalnya kepada dukun, atau bertahakum kepada orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah.Harusnya apa? Kalau memang dia muslim, maka wajib untuk Islam kullihi, bukan hanya sekedar dalam masalah ibadah, dalam masalah aqidah, tapi ketika terjadi persengketaan dalam masalah muamalah ataupun yang lain, maka seorang muslim, dia harus masuk ke dalam Islam semuanya. Yaitu menyerahkan keputusan dari persengketaan tadi kepada Allah dan juga rasul-Nya, bukan kepada thaghut. Ini menguatkan tentang kewajiban masuk ke dalam Islam semuanya. Ya, termasuk di antaranya ketika ada perselisihan.وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِDan sungguh mereka telah diperintahkan untuk mengkufuri thaghut tersebut.Mereka diperintahkan untuk mengingkari thaghut, mengingkari dukun, mengingkari setiap orang yang berhukum dengan selain hukum Allah, dan kita diperintahkan untuk beriman dengan Allah.{فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا} [البقرة : 256](Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.)Mereka sudah diperintahkan untuk mengingkari thaghut, dan ini adalah bagian dari Islam.الإسلام الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهلهItu bagian dari Islam.وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِMereka sudah diperintahkan untuk mengingkari thaghut. Karena mengingkari thaghut adalah bagian dari Islam. Tapi kok masih bertahakum kepada thaghut. Berarti di sini belum masuk ke dalam Islam kullihi. Padahal wajib bagi mereka untuk masuk ke dalam Islam kullihi.وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًاDan syaitan ingin untuk menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh.Dalam ayat ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang-orang munafik, yang di antara sifat mereka, kesenangan mereka, kemauan mereka, untuk bertahakum bukan kepada Allah dan rasul-Nya. Karena mereka memang tidak beriman. Tapi tahakumnya adalah kepada thaghut.Dari mana kita berdalil dengan ayat ini tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara keseluruhan?Tadi sudah disebutkan di dalam firman Allah Azza wa Jallaوَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِDan sungguh mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut.Dan mengingkari thaghut, ini adalah termasuk makna Islam.Karena Islam adalahالاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهلهIni mengingkari thaghut.Ketika mereka berhukum dengan thaghut, berarti mereka telah meninggalkan satu di antara konsekuensi keislaman mereka. Karena konsekuensi keislaman, adalah Islam di seluruh perkara. Termasuk di antaranya adalah di dalam masalah tahakum, yaitu berhukum. Maka harus yakin bahwasanya apa yang diputuskan oleh Allah dan rasul-Nya ini adalah keputusan yang paling benar, adalah keputusan yang paling baik, untuk dirinya dan orang lain. Itu keyakinan seorang muslim.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 2 Muqaddimah Kitab Ta’dzimul Ilmi

Halaqah yang ke dua dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.Masuklah sekarang beliau pada Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilmi. Tentunya dimulai dari muqaddimah yang ada di dalam Kitab Ta’dzhimul ‘Ilmi.Beliau mengatakan,بسم الله الرحمن الرحيمJadi kitab Ta’dzhimul ‘Ilm juga dimulai dengan basmalah.  الحمد لله، وأشهد ألَّ إله إلَّ الله، وأشهد أنَّ محمَّدًا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم، وعلىٰ آله وصحبه عدد من تعلَّم وعلَّمSetelah membaca basmalah sebagaimana tadi beliau memuji Allah subhanahu wa taala dan bersyahadat dengan dua kalimat Syahadat dan mengucapkan shalawat dan salam untuk keluarga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.أمَّا بعدُAdapun setelahnya,فإنَّ حظَّ العبد من العلم موقوفٌ علىٰ حظِّ قلبه من تعظيمه وإجلالهIni muqaddimah yang bagus yang hendaklah kita memahaminya.Sesungguhnya, kata beliau, bagian seorang hamba terhadap ilmu (besar kecilnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki, banyak sedikitnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki) itu tergantung pada pengagungan dia terhadap ilmu itu sendiri.فمن ٱمتأ قلبه بتعظيم العلم وإجلالهMaka barangsiapa yang penuh hatinya ini dengan pengagungan terhadap ilmu, semakin berisi hatinya dengan pengagungan terhadap ilmu, semakin mengagungkan ilmu,صلُح أن يكون محلا لهMaka hati tersebut pantas untuk menjadi tempat bagi ilmu itu sendiri.وبقدر نقصان هيبة العلم في القلب؛ ينقص حظُّ العبد منهDan sesuai dengan semakin berkurang pengagungan seseorang terhadap ilmu, maka akan semakin berkurang juga ilmu yang bermanfaat yang ada pada orang tersebut.حتىَّٰ يكونَ من القلوب قلبٌ ليس فيه شيءٌ من العلمSehingga di sana ada hati-hati manusia yang tidak ada di dalamnya sedikit pun ilmu.Karena pengagungan dia terhadap ilmu di dalam hatinya itu kosong, karena tidak ada pengagungan, maka tidak ada sama sekali ilmu di dalam hatinya.Ini bisa kita rasakan pada diri kita sendiri dan kita bisa melihat orang yang ada di sekitar kita. Semakin dia mengagungkan ilmu, maka ilmu semakin betah untuk tinggal di dalam hatinya. Tapi semakin berkurang pengagungan dia terhadap ilmu, maka akan semakin berkurang juga ilmu yang ada pada dirinya.فمن عظَّم العلم لاحت أنواره عليه، ووفَدَت رُسل فنونه إليهMaka barangsiapa yang mengagungkan ilmu (ilmu yang bermanfaat), maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu tersebut pada dirinya.Barangsiapa yang mengagungkan ilmu maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu pada diri orang tersebut. Al jaza min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan amalannya), dan kemudian akan berdatanganlah cabang-cabang dari ilmu tersebut kepadanya ketika dia mengagungkan ilmu tersebut di dalam hatinya. Maka akan dengan senang hati cabang-cabang dari ilmu itu mendatangi orang tersebut. Bukan hanya pokok-pokok dari ilmu tapi juga cabang-cabangnya akan mendatangi orang tersebut karena dia mengagungkan ilmu.ولم يكن لهمَّته غايةٌ إلا تلقِّيه، ولا لنفسه لذَّةٌ إلاَّ الفكرُ فيهKalau orang sudah mengagungkan ilmu, maka tidak ada keinginan yang puncak bagi dirinya kecuali ingin mendapatkan ilmu tersebut, keinginan dia yang paling besar adalah mendapatkan ilmu tersebut sebagaimana para ulama mereka mendapatkan ilmu tersebut. Dan tidak ada di dalam dirinya kelezatan kecuali ketika dia memikirkan ilmu tersebut.Kelezatan dia bukan pada tontonan, bukan apa yang dia dengar tapi kelezatan dia adalah ketika dia memikirkan ilmu tersebut. Dia merasakan kenikmatan tersebut tidak dirasakan oleh orang lain.وكأنَّ أبا محمَّدٍ الدَّارميَّ الحافظ رَحِمَهُ الله لَمَحَ هٰذا المعنىٰ فَخَتَمَ كتاب العلم من سننه المسمَّاة ب”المسند الجامع” ببابٍ في إعظام العلمSepertinya (kata Syaikh) Abu Muhammad Ad-Darimi Al-Hafidz beliau mengisyaratkan pada makna ini, yaitu makna bahwasanya orang yang mengagungkan ilmu maka dia akan mendapatkan ilmu. Kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka dia tidak akan mendapatkan ilmu.Di dalam kitab beliau Al-Musnad atau dikenal dengan Sunan Ad-Darimi maka beliau menutup kitabnya dengan sebuah bab yang isinya adalah tentang pengagungan ilmu dan ini beliau taruh di akhir. Sepertinya beliau ingin menunjukkan bahwasanya tidak mungkin mendapatkan ilmu kecuali orang yang mengagungkan ilmu. Kemudian beliau mengatakan,وأعونُ شيءٍ علىٰ الوصول إلىٰ إعظام العلم وإجلاله: معرفةُ معاقد تعظيمهDan perkara yang paling membantu kita, setelah kita mengetahui bahwasanya ternyata rumus untuk mendapatkan ilmu kita harus punya pengagungan terhadap ilmu, itu sudah menjadi rumus, kalau kita punya pengagungan kita akan mendapatkan ilmu kalau kita tidak mengagungkan ilmu, maka jangan berharap kita bisa mendapatkan ilmu tersebut.Kata Syaikh untuk mendapatkan di dalam hati kita pengagungan yang besar terhadap ilmu maka hal yang sangat membantu supaya kita sampai kepada sikap mengagungkan terhadap ilmu itu adalah kita harus mengenal simpul-simpul dari pengagungan terhadap ilmu. Karena dari mengenal itulah baru kita bisa mengamalkan, kalau kita tidak mengenal bagaimana kita bisa mengamalkan.وهي الأصول الجامعة، المحقِّقَةُ لِعَظَمَة العلم في القلبYang dimaksud dengan simpul tadi itu adalah pokok-pokok yang menyeluruh, prinsip-prinsip dasar yang menyeluruh, yang akan mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita.Syaikh ingin menyebutkan untuk kita supaya kita tahu, kemudian kita bisa mengamalkan, dan kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu tersebut di dalam diri kita.فمن أخذ بها كان معظِّمًا للعلم مجِلًّ لهMaka barangsiapa yang mengambil simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu tadi, dia ambil, dia pahami dan dia praktekkan, maka dia adalah orang yang mengagungkan ilmu.ومن ضيَّعها فلنفسه أضاعTapi barangsiapa yang menyia-nyiakan simpul-simpul tadi, mungkin dia belajar tapi dia tidak mengamalkan simpul-simpul tadi, dia dengarkan dan dia tinggalkan, berarti dia telah menyia-nyiakan simpul-simpul tadi.Dia tidak mengamalkan dia tidak mempraktikkan dalam kehidupan dia sehari-hari atau dalam kehidupan dia dalam menuntut ilmu, maka orang tersebut pada hakikatnya dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. Karena ketika dia menyia-nyiakan simpul-simpul tadi akhirnya dia tidak mengagungkan ilmu. Kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka akhirnya dia tidak mendapatkan ilmu. Dan orang yang tidak mendapatkan ilmu, dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, meridhoi dirinya dalam keadaan bodoh. Ridha kalau dirinya dalam keadaan tidak tahu tentang agama Allah ﷻ. Maka dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, karena rata-rata musibah itu sebabnya adalah karena kebodohan. Sebaliknya, dengan ilmu, seseorang berarti dia dikehendaki kebaikan oleh Allah.مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِBarangsiapa yang Allah ﷻ kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan dia paham tentang agamanya.Kalau kita membiarkan diri kita dalam keadaan bodoh berarti kita telah menyia-nyiakan diri kita sendiri. Kita dalam keadaan bodoh karena kita tidak mau mengagungkan ilmu sehingga ilmu pun tidak mau betah di dalam diri kita, kita pun dalam keadaan bodoh. Makanya kita belajar mempelajari simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu supaya kita mendapatkan ilmu.ولِهَواه أطاعDan dia telah mengikuti hawa nafsunya.Simpul-simpul yang akan beliau sebutkan itu kebanyakan atau semuanya bertentangan dengan hawa nafsu. Jadi kalau kita menyia-nyiakan simpul-simpul tadi berarti kita sebenarnya mengikuti hawa nafsu kita, karena apa yang beliau sebutkan berupa prinsip dan juga simpul dalam mengagungkan ilmu itu rata-rata bertentangan dengan hawa nafsu.فلا يلومنَّ – إن فتَر عنه – إلَّ نفسهMaka janganlah dia mencela kalau sampai dia terputus dari ilmu kecuali dirinya.Kalau terjadi musibah atau dia tidak mendapatkan ilmu, karena dia tidak mengikuti simpul-simpul tadi, tidak mempraktekkan simpul-simpul tadi. Seandainya dia suatu saat putus dari ilmu dan tidak istiqomah di atas ilmu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri. Nasihat sudah datang dari para ulama yang mereka sudah mendahului kita dalam sampainya mereka kepada ilmu.Kemudian beliau mendatangkan pemisalan.يداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَDua tanganmu itulah yang mengikat dan mulutmu yang meniup.Ini adalah sebuah permisalan ketika ada seseorang yang dia ingin menyeberang sungai kemudian dia ingin menggunakan kirbah, sebuah tempat yang digunakan untuk menaruh air, zaman dulu terbuat dari kulit yang dihilangkan isinya, yaitu dihilangkan airnya kemudian ditiup dan diikat sehingga isinya adalah udara berfungsi seperti ban kalau di zaman kita.Ditiup kemudian diikat dengan tangannya kemudian dia pun menyeberangi sungai tersebut tapi dia mengikatnya tidak benar, mengikatnya tidak sungguh-sungguh. Akhirnya ketika dia menyeberang dia pun terseret tidak bisa mengambil faedah dari kirbah tadi, kemudian dikatakan,يداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَKedua tanganmu yang mengikat dan mulutmu sendiri yang meniup.Bukan tanganku yang mengikat dan bukan mulutku yang meniup, tapi antum sendiri yang melakukan. Sehingga ini adalah permisalan bagi orang yang dia terkena bencana/musibah karena perbuatan dia sendiri.ومن لا يُكْرِمُ العلمَ لا يُكرِمُه العلمُDan barangsiapa yang tidak menghormati ilmu, tidak memuliakan ilmu, maka ilmu pun tidak akan memuliakan dia.Balasan itu sesuai dengan amal. Kalau kita mengagungkan ilmu, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengangkat derajat kita.يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚAllah ﷻ akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang berilmu, karena mereka mengagungkan ilmu sehingga Allah ﷻ pun mengangkat derajat mereka.إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَSesungguhnya Allah ﷻ mengangkat dengan Kitab ini (Al-Quran) beberapa kaum dan merendahkan kaum yang lain.Sehingga kembali kepada diri kita masing-masing. Kalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang kita mengetahui tentang keutamaannya, dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam surga.مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِKalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang di situ kita termasuk orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah ﷻ dan diangkat derajatnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka kita harus menempuh dan mempraktekkan prinsip-prinsip yang merupakan bentuk pengagungan kita terhadap ilmu agama ini.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 52 | Al-Qur’an Adalah Kalamullah Secara Hakikat

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ABeliau mengatakan rahimahullāh,وأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة،و ليس بمخلوق ككلام البريةDan mereka (Ahlussunnah wal jama’ah), karena disini Al Imam Abu Ja’far Ath thohawiy kita tahu sedang menceritakan kepada kita aqidah Ahlu Sunnah wal jama’ah.Dan mereka meyakini (keyakinan lawan dari keragu²an) meyakini dengan seyakin-yakinnya tidak ada keraguan didalamnya,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا ..[QS Al-Hujurat 15]Mereka beriman kepada Allāh dan RasulNya, dan kemudian mereka tidak ada keraguan.Tidak ada keraguan didalam keyakinan tersebut.وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَDan mereka adalah orang² yang yakin dengan ayat² Kami,أنه كلام الله تعالى بالحقيقةMereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah KalamullahبالحقيقةSecara hakiki,Ini adalah penekanan karena mungkin ada diantara Ahlu bida’ yang mereka mengatakan kita meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi ini adalah majas, bukan itu yang dimaksud, itu adalah keyakinan Ahlu bida’, adapun kita meyakini bahwasanya itu adalah Kalamullah, Allāh yang pertama kali berbicara disampaikan kepada Malaikat Jibril disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ, tapi yg pertama kali berbicara adalah Allāh subhanahu wa ta’ala, Allāh berbicara, Allāh memilih sifat Kalam hakiki, Allāh berbicara sebagaimana yang Allāh kabarkan banyak didalam Al-Qur’an, Allāh berbicara dana Allāh mewahyukan dan kalimat hakikoh bukan berarti menyerupakan Allāh dengan makhluk secara hakiki kemudian dibayangkan bahwasanya ucapan Allāh sama dengan makhluk (Tidak) hakikoh sesuai dengan keanggunganNya, Allāh berbicara secara hakiki tapi bicaranya Allāh tidak sama dengan bicaranya makhluk, makhluk memiliki hakikat dan Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki hakikat, makhluk ketika dia memiliki sifat dia memiliki hakikat, demikian Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat dan juga memiliki hakikat, masing² memiliki hakikat bukan berarti seseorang meyakini bahwasanya Allāh berbicara didalam Al-Qur’an bilhakikat/maksudnya sama dengan ucapan makhluk.Ini adalah bantahan bagi Jam’iyyah dan Mua’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi majas, disandarkan kepada Allāh secara majas, hakikatnya Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan ucapan (kata mereka) jadi mereka bukan Allāh berbicara tapi Allāh menciptakan ucapan disandarkan kepada Allāh/dikatakan kepada Allāh tapi itu adalah majas, hakikatnya bukan demikian, hakikatnya Allāh menciptakan ucapan diluar diriNya kemudian disandarkan itu kepada Allāh secara majas, dan kita tahu bahwasanya sesuatu yang disandarkan kepada Allāh ada dua jenis, terkadang disandarkan kepada Allāh berupa makna/berupa sifat, maka ini tentunya bukan makhluk seperti kalamullah ini adalah sifat Allāh, Al Kalam disini adalah sifat Allāh, disandarkan kepada Allāh subhanahu wa ta’ala, ini adalah idhofatu Asyifa Illa Mursi , kemudian disana ada idhofatu A’yan, disandarkan makhluk kepada Al Kholiq, seperti misalnya laqotallah, laqoh (unta) disandarkan kepada Allāh ini adalah bukan laqoh sifat bagi Allāh (bukan) tapi ini adalah penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, atau baitullah ini juga penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, Abdullāh, Masjidullah maka ini penyandaran makhluk kepada Al Kholiq.Yang dimaksud dengan firman Allāhحَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِفَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَامَ رَبِّي۞ أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ[QS Al Baqarah 75]Maka ini semua idhofatu Asyifa Illa Al Mau’su, penyandaran sifat kepada yang disifati.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 52

Halaqah 52 | Al-Qur’an Adalah Kalamullah Secara HakikatKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة،و ليس بمخلوق ككلام البريةDan mereka (Ahlussunnah wal jama’ah), karena disini Al Imam Abu Ja’far Ath thohawiy kita tahu sedang menceritakan kepada kita aqidah Ahlu Sunnah wal jama’ah.Dan mereka meyakini (keyakinan lawan dari keragu²an) meyakini dengan seyakin-yakinnya tidak ada keraguan didalamnya,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا ..[QS Al-Hujurat 15]Mereka beriman kepada Allāh dan RasulNya, dan kemudian mereka tidak ada keraguan.Tidak ada keraguan didalam keyakinan tersebut.وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَDan mereka adalah orang² yang yakin dengan ayat² Kami,أنه كلام الله تعالى بالحقيقةMereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah KalamullahبالحقيقةSecara hakiki,Ini adalah penekanan karena mungkin ada diantara Ahlu bida’ yang mereka mengatakan kita meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi ini adalah majas, bukan itu yang dimaksud, itu adalah keyakinan Ahlu bida’, adapun kita meyakini bahwasanya itu adalah Kalamullah, Allāh yang pertama kali berbicara disampaikan kepada Malaikat Jibril disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ, tapi yg pertama kali berbicara adalah Allāh subhanahu wa ta’ala, Allāh berbicara, Allāh memilih sifat Kalam hakiki, Allāh berbicara sebagaimana yang Allāh kabarkan banyak didalam Al-Qur’an, Allāh berbicara dana Allāh mewahyukan dan kalimat hakikoh bukan berarti menyerupakan Allāh dengan makhluk secara hakiki kemudian dibayangkan bahwasanya ucapan Allāh sama dengan makhluk (Tidak) hakikoh sesuai dengan keanggunganNya, Allāh berbicara secara hakiki tapi bicaranya Allāh tidak sama dengan bicaranya makhluk, makhluk memiliki hakikat dan Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki hakikat, makhluk ketika dia memiliki sifat dia memiliki hakikat, demikian Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat dan juga memiliki hakikat, masing² memiliki hakikat bukan berarti seseorang meyakini bahwasanya Allāh berbicara didalam Al-Qur’an bilhakikat/maksudnya sama dengan ucapan makhluk.Ini adalah bantahan bagi Jam’iyyah dan Mua’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi majas, disandarkan kepada Allāh secara majas, hakikatnya Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan ucapan (kata mereka) jadi mereka bukan Allāh berbicara tapi Allāh menciptakan ucapan disandarkan kepada Allāh/dikatakan kepada Allāh tapi itu adalah majas, hakikatnya bukan demikian, hakikatnya Allāh menciptakan ucapan diluar diriNya kemudian disandarkan itu kepada Allāh secara majas, dan kita tahu bahwasanya sesuatu yang disandarkan kepada Allāh ada dua jenis, terkadang disandarkan kepada Allāh berupa makna/berupa sifat, maka ini tentunya bukan makhluk seperti kalamullah ini adalah sifat Allāh, Al Kalam disini adalah sifat Allāh, disandarkan kepada Allāh subhanahu wa ta’ala, ini adalah idhofatu Asyifa Illa Mursi , kemudian disana ada idhofatu A’yan, disandarkan makhluk kepada Al Kholiq, seperti misalnya laqotallah, laqoh (unta) disandarkan kepada Allāh ini adalah bukan laqoh sifat bagi Allāh (bukan) tapi ini adalah penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, atau baitullah ini juga penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, Abdullāh, Masjidullah maka ini penyandaran makhluk kepada Al Kholiq.Yang dimaksud dengan firman Allāhحَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِفَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَامَ رَبِّي۞ أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ[QS Al Baqarah 75]Maka ini semua idhofatu Asyifa Illa Al Mau’su, penyandaran sifat kepada yang disifati.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهTranskrip: Abu Mandala

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 1 Al aqidah Al Wasithiyyah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Dan pada kesempatan kali ini yang akan kita sampaikan adalah tentang biografi dari Mu’allif yaitu Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah.Dan ini adalah apa yang sudah kita biasakan selama ini sebelum kita membahas sebuah kitab terlebih dahulu kita mengenal siapa pengarang kitab ini, supaya kita juga mengetahui tentang kedudukan kitab ini. Dan di antara faedah yang lain juga ketika kita mempelajari biografi para ulama, apalagi mereka adalah ulama-ulama yang sudah dikenal ketakwaannya, ilmunya, dan telah diambil faedahnya oleh banyak kaum muslimin, maka tentunya di dalam pembacaan biografi mereka ini akan banyak pelajaran yang bisa kita ambil, yang dengannya seseorang akan semakin semangat didalam menuntut ilmu, semakin bersabar apabila mereka membaca tentang kesabaran para ulama didalam menuntut ilmu, dalam mengajarkan ilmu, didalam berdakwah.Maka beliau rahimahullāh, nama beliau adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Al Khadr bin Muhammad bin Al Khadr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Harani. Ada yang mengatakan bahwasanya kenapa beliau dikenal dengan Ibnu Taimiyyah, siapakah Ibnu Taimiyyah, ada yang mengatakan bahwasanya laqab Taimiyyah bahwa kakek beliau yang kelima yaitu Muhammad Ibnu Khadr pernah beliau melakukan haji melalui sebuah daerah yang dinamakan dengan Taima’. Kemudian di sana beliau melihat seorang anak wanita dan ketika beliau pulang kembali mendapatkan bahwasanya istri beliau sudah melahirkan yaitu melahirkan seorang anak wanita. Kemudian beliau mengatakan “Ya Taimiyah! Ya Taimiyah!” menisbahkan anak tersebut kepada Taima’, dan Taima’ ini adalah sebuah daerah dekat Tabuk sehingga dilaqabi dengan Taimiyah.Kemudian beliau dilahirkan pada hari Senin, 10 bulan Rabi’ul Awal pada tahun 661 Hijriyah di Harran, dan Harran ini termasuk daerah Syam. Dan laqob beliau adalah Syaikhul Islām, Syaikhul Islām Taqiyuddin, sehingga terkadang dalam penyebutan beliau sebagian ulama mengatakan qāla Syaikhul Islām atau mengatakan qāla taqiyuddin dan semisalnya atau terkadang menyebutkan kunyah beliau yaitu Abul Abbas, lakoqnya Syaikhul Islām Taqiyuddin dan kunyahnya adalah Abul Abbas.Tentang makna Syaikhul Islām ada yang mengatakan bahwasanya dinamakan Syaikhul Islām, Syaikh itu artinya adalah orang yang sudah tua dan ada yang mengatakan seseorang dinamakan Syaikhul Islām karena dia adalah syaikhun fil islām qad syāba, dia adalah orang yang sudah memasuki waktu tua yaitu sebagai seorang yang sudah syaikh yaitu sudah tua dan beliau beda dengan yang lain yaitu beda dengan orang-orang yang sebaya dengan beliau yang biasanya mungkin yang namanya pemuda ini bergelimang dengan syahwatnya dengan nafsunya adapun beliau maka berbeda dengan pemuda-pemuda yang lain sehingga dinamakan dengan Syaikhul Islām, ada yang mengatakan demikian.Dan ada yang mengatakan bahwasanya seseorang dinamakan Syaikhul Islām karena dia adalah tempat kembalinya manusia yaitu dalam bertanya, dalam bertanya tentang hukum-hukum Islam, mereka kembalinya kepada orang tersebut tentunya setelah Allāh ﷻ. Kembali kepada Allāh ﷻ kemudian menjadikan beliau-beliau ini yang dilaqobi oleh manusia oleh para ulama dengan Syaikhul Islām karena ketika ada sesuatu mereka kembali kepada para ulama tadi, bertanya kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai sandaran di dalam bertanya. Ini di antara sebab kenapa dinamakan seseorang sebagai Syaikhul Islām, dan Al-Imam as Syafi’I, Al-imam Ahmad bin Hanbal dan selain keduanya sudah menggunakan istilah Syaikhul Islām ini sejak dahulu, ini bukan sesuatu yang baru yang ada di zaman Ibnu Tamiyah.Dan tentang keluarga beliau, ini adalah keluarga yang dikenal dengan keluarga ālu Taimiyyah, ālu artinya adalah keluarga, dan kakek dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah yaitu Abdus Salam beliau adalah seorang ulama, beliau adalah Abul Barakat Majduddin, termasuk ulama Hanabilah yang dikenal dan diantara karangan-karangan beliau adalah المنتقى من أخبار مصطفى yang di Syarah dan dijelaskan oleh Asy-Syaukani di dalam kitab beliau Nail al-Authar syarh Muntaqa al-Akhbar, yaitu kakek Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.Bapak beliau yaitu Abdul Halim, beliau adalah Syihabuddin dan ini laqob beliau, namanya Abdul Halim dan kunyah beliau adalah Abul Mahasin dan beliau menjadi seorang ulama juga setelah bapaknya dan mengajarkan kepada kedua anaknya, kedua anaknya adalah Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Abul Abbas kemudian saudara beliau yaitu Abu Muhammad. Saudara Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Abu Muhammad ini, beliau juga seorang ulama yang mempelajari mazhab Hanbali dan dikenal dengan kepandaiannya juga di dalam ilmu agama.Jadi kalau kita melihat bapaknya, kakeknya, saudaranya, maka keluarga ini adalah keluarga yang berbarokah yaitu keluarga yang memperhatikan tentang masalah agama, masalah ilmu, dan ini yang seharusnya dilakukan oleh seseorang, bagaimana dia menjadikan keluarga dan mendidik keluarganya ini untuk cinta dengan ilmu agama semenjak mereka masih kecil. Dan tentunya ini semuanya bisa dilakukan kalau kita bisa menjadi qudwah, bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita.Apabila anak-anak kita melihat kita sibuk dengan mendengarkan ceramah, sibuk menulis, sibuk menyampaikan ilmu, maka ini memiliki pengaruh yang besar terhadap anak-anak kita. Tapi kalau kita dilihat oleh anak-anak kita sibuk dengan perkara-perkara yang tidak bermanfaat, menonton sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan bersama-sama dengan mereka maka ini mereka akan mencontoh apa yang kita lakukan.Diantara guru-guru beliau disebutkan oleh murid beliau yaitu Ibnu Abdil Hadi, bahwasanya guru-guru Syaikhul Islām ini lebih dari 200, di antara guru beliau adalah Syamsuddin Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Qudamah al-Maqdisi yang meninggal pada tahun 682 Hijriyah. Kemudian di antara guru beliau adalah Abdus Shomad Ibnu Asyakir ad-Dimasyqi 686 Hijriyah dan disana ada Syamsudin Abu Abdillah Muhammad Ibnul Qawi al-Mardawi yang meninggal pada tahun 703 Hijriyah.Adapun murid-murid beliau maka telah berguru dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah banyak ulama yang kita insyaAllāh mengenal mereka dan nama-nama mereka tidak asing di telinga kita, ternyata mereka ini adalah murid-murid dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh. Diantaranya adalah Ibnu Abdil Hadi meninggal tahun 744 Hijriyah, disana ada Adz-Dzahabi 748 hijriyah, di sana ada Ibnul Qoyyim yang meninggal 751 Hijriyah, di sana ada Ibnu Muflih yang mengarang الآداب الشرعية yang meninggal pada tahun 763 Hijriyah, dan di sana ada Ibnu Katsir yang memiliki tafsir Ibnu Katsir, ternyata beliau adalah juga murid dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah meninggal pada tahun 774 Hijriyah.Ini menunjukkan tentang keberkahan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah bagaimana beliau bisa dengan izin Allāh ﷻ, karunia dari Allāh ﷻ mencetak para ulama-ulama yang mereka mutkin, mumpuni di dalam ilmunya dan dikenal dengan ketakwaannya dan kesungguhannya dalam menyebarkan ilmu, tentunya kita khususnya para du’ad dan juga para thulabul ilm ingin memiliki murid-murid yang demikian, murid-murid yang berbarokah yang menyampaikan ilmu setelahnya, maka kita tiru apa yang dilakukan oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah. Tentunya tidaklah keluar ulama-ulama seperti mereka ini kecuali ketika mereka memiliki qudwah yang baik, memiliki guru yang bisa ditiru dari sisi ilmunya, dari sisi ketakwaannya, dari sisi akhlaknya dan juga perlu seorang guru memperhatikan tentang keikhlasannya dalam mengajarkan ilmu kemudian juga memperhatikan kesungguhannya dalam mengajarkan ilmu.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnyaوالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 51 | Al-Qur’an Diucapkan Allāh Disampaikan Rasulullah dan Diimani oleh Mukmin

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,منه بدا بلا كيفية قولاً، وأنزله على رسوله وحياً،Yaitu Allāh subhanahu wa ta’ala setelah mengucapkan ucapan tadi kemudian didengar oleh Malaikat Jibril maka diturunkan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi kita Muhammad ﷺ,۞ إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ ۚ …[QS An Nisa 163]Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan Nabi² setelahnya,Dan Allāh mengatakan۞ …وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُن…[QS Al An’am 19]Dan telah diwahyukan kepadaku Al-Qur’an,Allāh ucapkan kemudian Allāh wahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan perantara Malaikat Jibril sebagaiالملك الموكل بالنفخMalaikat yang ditugaskan oleh Allāh ﷻ untuk menyampaikan wahyuوأنزله على رسوله وحياً، وصدقه المؤمنون على ذلك حقاً،Diturunkan kepada Nabi ﷺ dengan amanah disampaikan oleh Malaikat Jibril dan disampaikan dengan amanah oleh Nabi Muhammad ﷺ kemudian oleh orang-orang yang beriman dibenarkan.، وصدقه المؤمنون على ذلك حقاً،hu disini kembali kepada Nabi Muhammad ﷺ yaitu orang² yang beriman mereka membenarkan Nabi ﷺ karena Allāh subhanahu wa ta’ala menyuruh mereka dan mengatakanيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِWahai orang² yang beriman hendaklah kalian beriman kepada Allāh dan Rasulnya, percayalah kalian kepada Allāh dan juga RasulNya. Maka merekapun membenarkan tidaklah mereka dikatakan orang² beriman kecuali mereka membenarkan/mengimani/mempercayaiوصدقه المؤمنون على ذلك حقاً،Dan orang² yang beriman mereka mengimani dengan apa yang diturunkan kepada Nabi ﷺ,۞ آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ..[QS Al Baqarah 285]Rasul beriman apa yang diturunkan kepada beliau yaitu Al-Qur’an, diturunkan kepada beliau dari Allāh dan juga Orang² yang beriman mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi ﷺ.كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِMasing-masing dari mereka beriman kepada Allāh dan Malaikat²Nya, Kitab²Nya, beriman kepada Rasul² Allāh

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juni 2026
D
Dwi Susanti

📍 Kabupaten Purbalingga

Halaqah yang ke-127 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh

Halaqah yang ke-127 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Beliau mengatakanوَأَوَّلُ مَن يَسْتَفْتِحُ بَابَ الْجَنَّةِ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلمDan yang pertama kali akan meminta dibuka pintu surga adalah Nabi Muḥammad ﷺ.Allāh ﷻ ingin menampakkan kemuliaan Nabi-Nya ﷺ di hadapan orang-orang yang beriman, dibersihkan hati orang-orang yang beriman dan digiring mereka menuju surga dengan terhormat dan dimuliakan kemudian Allāh ﷻ akan menampakan kedudukan Nabi kita Muhammad ﷺ di hadapan orang-orang yang beriman, dihadapan para Nabi dihadapan umat-umat terdahulu di hadapan umatnya sehingga mereka mengetahui kembali tentang kedudukan Rasulullāh ﷺ di hadapan manusia.Allāh ﷻ akan memberikan kehormatan kepada Beliau ﷺ memberikan syafa’at dan syafa’at ini adalah khusus bagi Beliau ﷺ yaitu syafa’at supaya dibuka pintu surga, ini salah satu diantara syafa’at yang khusus yang dimiliki oleh Rasulullāh ﷺ. Di dalam sebuah hadits Beliau ﷺ mengatakanوَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِDan aku adalah yang pertama kali akan mengetuk pintu surga, menunjukkan bahwasanya surga memiliki pintu yang harus kita imani dan pintunya sangat besar dan pintu tersebut akan diketuk oleh Rasulullāh ﷺ dan Beliaulah pertama kali mengetuk pintu surga, hadits ini shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim.Di dalam hadits yang lain Beliau ﷺ mengatakanآتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُAku akan mendatangi pintu surga di hari kiamat kemudian aku akan meminta untuk dibukakanفَيَقُولُ الْخَازِنُmaka berkata al-khāzim (penjaga surga dari kalangan malaikat)مَنْ أَنْتَSiapakah engkauفَأَقُولُmaka aku mengatakanمُحَمَّدٌAku adalah Muhammadفَيَقُولُmaka berkatalah penjaga tadiبِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَdenganmulah aku diperintah (aku diperintahkan oleh Allāh ﷻ untuk membukakan pintu surga ini untukmu) aku tidak akan membukakan untuk seorang pun sebelummu.Menunjukkan bahwasanya pintu surga tersebut terbuka dan Nabi ﷺ Beliaulah yang pertama kali meminta untuk dibukakan, dan ini adalah kehormatan yang luar biasa yang Allāh ﷻ berikan kepada Nabi-Nya ﷺ dan Allāh ﷻ memuliakan umat Beliau ﷺ dan mereka adalah umat yang pertama kali akan memasuki surga, sehingga di sini Syaikhul Islam mengatakanوَأَوَّلُ مَن يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنَ الأُمَمِ أُمَّتُهُDan yang pertama kali akan masuk ke dalam surga di antara umat-umat, diantara umat umat para Nabi dari yang pertama sampai Rasulullāh ﷺ dan mereka adalah Ahlul Jannah orang-orang yang beriman maka yang pertama kali akan masuk ke dalam surga di antara umat-umat tadi adalah umatnya Rasulullāh ﷺ, Allāh ﷻ muliakan Nabi ﷺ dan Allāh ﷻ muliakan umat Beliau ﷺ.Di dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakanنَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِKita ini adalah orang-orang yang terakhir, karena kita adalah pengikut dari Nabi yang terakhir berarti kita ini umat yang terakhir, umat-umat yang lain itu ada sebelum kita, tapi kita ini adalah orang yang pertama di hari kiamat, selain pertama kali dihisab kita adalah yang pertama kali akan masuk kedalam surgaوَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَDan kita adalah yang akan pertama kali masuk ke dalam surga, hadits ini shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim dan lafadzhnya adalah lafadzh Imam Muslim. Maka ini adalah keutamaan yang Allāh ﷻ berikan kepada umat islam dimana mereka akan dimuliakan oleh Allāh ﷻ sehingga menjadi yang pertama masuk ke dalam surga padahal mereka adalah umat yang terakhir.Dan tentunya umat Rasulullāh ﷺ sendiri mereka bertingkat-tingkat, ada yang keimanannya tinggi dan ada diantara mereka yang lebih rendah daripada itu dan Allāh ﷻ Maha Adil, Allāh ﷻ tidak akan menyamakan tentunya diantara umat Rasulullāh ﷺ, Allāh ﷻ akan kedepankan siapa yang memang berhak di depan, sehingga disebutkan dalam hadits bahwasanya Nabi ﷺ mengatakanأوَّلُ زمرةٍ تَلِجُ الجنَّةَ صورَتُهم على صورةِ القمرِ ليلةَ البدرِRombongan yang pertama akan masuk ke dalam surga (diantara umat Nabi ﷺ) wajah mereka adalah seperti bulan di malam bulan purnama, dan di antara hadits yang menunjukkan demikian adalah sabda Nabi ﷺلَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفاً، أَوْ سَبْعُمِائَةِ أَلْفٍ مُتَمَاسِكُونَ. آخِذٌ بَعْضُهُمْ بَعْضاً. لاَ يَدْخُلُ أَوَّلُهُمْ حَتَّى يَدْخُلَ آخِرُهُمْ وَجُوهُهُمْ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِAkan masuk surga diantara umatku 70.000 atau 700.000 (ini ada keraguan dari rawi) mereka saling memegang satu dengan yang lain (menunjukkan bagaimana ukhuwah kekompakan mereka) sampai masuklah yang pertama dan terakhir di dalam surga dan wajah-wajah mereka itu seperti cahaya bulan di malam bulan purnama.Ucapan Beliau ﷺ sampai masuk awal dan akhir mereka ke dalam surga maksudnya adalah mereka masuk dalam satu shaf secara serentak, 70.000 tadi dalam satu shaf secara serentak menunjukkan tentang besarnya pintu surga, kalau itu adalah pintu surga lalu bagaimana dengan surga itu sendiri, pintunya saja demikian besarnya lalu bagaimana dengan surga itu sendiri.Disebutkan dalam hadits bahwasanya orang-orang faqir Muhajirin itu akan lebih dahulu masuk surga 40 tahun sebelum orang-orang kaya Muhajirin, orang-orang yang berhijrah ada yang kaya ada yang miskin, yang miskin diantara orang-orang Muhajirin itu lebih mendahului orang-orang kaya di antara mereka 40 tahun dan ini menunjukkan tentang bagaimana mereka terlebih dahulu karena mereka dihisabnya lebih sedikit tapi ini tidak menunjukkan bahwasanya setiap yang faqir di kalangan Muhajirin ini lebih afdhal daripada yang kaya di antara mereka.Allāh ﷻ lebihkan mereka lebih dahulu masuk surga tapi belum tentu lebih afdhal secara derajat daripada orang-orang kaya di kalangan Muhajirin, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq Utsman bin Affan Abdurrahman bin Auf rodhiyallohu’anhum mereka adalah orang-orang yang kaya di antara para sahabat Al-Muhajirin.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →