🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 15 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 03)

Silsilah Ilmiyyah Al-Ushul Ats-TsalatsahMengenal Allah ﷻ Melalui Makhluk-Makhluk-NyaTema UtamaMengenal Allah melalui Ciptaan-NyaSyaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan bahwa salah satu cara mengenal Allah adalah dengan memperhatikan makhluk-makhluk-Nya.Beliau berkata:ومن مخلوقاته السماوات السبع ومن فيهن والأرضون السبع ومن فيهن وما بينهما“Dan di antara makhluk-makhluk-Nya adalah tujuh langit dan apa yang ada di dalamnya, tujuh bumi dan apa yang ada di dalamnya, serta apa yang ada di antara keduanya.”1. Makhluk-Makhluk Besar yang Menunjukkan Kebesaran AllahA. Tujuh LangitAllah menciptakan:Tujuh lapis langit.Tanpa tiang yang terlihat.Dengan ukuran yang sangat besar.Di dalam langit terdapat:MalaikatBintang-bintangPlanet-planetBerbagai makhluk yang hanya diketahui AllahB. Tujuh BumiAllah juga menciptakan:Tujuh bumi.Apa saja yang ada di dalamnya.Berbagai makhluk dan kehidupan.C. Makhluk di Antara Langit dan BumiDi antaranya:AwanAnginHujanManusiaHewanTumbuhanBerbagai makhluk lainnyaSemuanya menunjukkan:Kekuasaan AllahKebesaran AllahKesempurnaan ilmu Allah2. Tafakur terhadap Alam SemestaSemakin seseorang merenungi ciptaan Allah, semakin ia mengenal Rabbnya.Yang dipelajari dari alam:Allah Maha Besar.Allah Maha Kuasa.Allah Maha Mengetahui.Allah Maha Mengatur.Karena tidak mungkin alam semesta yang sangat teratur ini tercipta tanpa Pencipta Yang Maha Sempurna.3. Besarnya Langit Menunjukkan Kebesaran AllahKetika manusia melihat:BumiMatahariPlanetBintangGalaksiMaka semua itu sebenarnya masih berada di bawah langit dunia (langit pertama).Padahal:Ada langit kedua.Ada langit ketiga.Hingga langit ketujuh.Setiap langit memiliki ukuran yang jauh lebih besar daripada langit sebelumnya.4. Kursi dan ’Arsy AllahDalam hadits disebutkan:Perbandingan Langit dan KursiTujuh langit dan tujuh bumi dibandingkan dengan Kursi Allah seperti:Sebuah cincin kecil yang dilemparkan di tengah padang pasir yang luas.Perbandingan Kursi dan ’ArsyKursi dibandingkan dengan ’Arsy juga seperti:Sebuah cincin kecil yang dilemparkan di tengah padang pasir.Hal ini menunjukkan:Sangat besarnya Kursi Allah.Sangat besarnya ’Arsy Allah.5. Makna “Allahu Akbar”Jika makhluk Allah saja begitu besar, maka:Allah jauh lebih besar daripada seluruh ciptaan-Nya.Karena itu kalimat yang pertama dikumandangkan dalam adzan adalah:الله أكبر“Allah Maha Besar.”Dan kalimat pertama dalam shalat adalah:Takbiratul Ihram“Allahu Akbar.”Hikmah TakbirKetika mengucapkan:Allahu AkbarSeorang muslim mengingat bahwa:Allah lebih besar dari dunia.Allah lebih besar dari pekerjaan.Allah lebih besar dari masalah hidup.Allah lebih besar dari segala yang ditakuti.Sehingga hatinya menjadi:KhusyukTundukBergantung kepada Allah6. Dalil dari Al-Qur’anQS. Fussilat: 37“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya.”Pelajaran AyatMalam, siang, matahari, dan bulan:Bukan sesembahan.Hanya makhluk Allah.Karena itu ibadah hanya boleh diberikan kepada:Allah Sang Pencipta.Bukan kepada makhluk.7. Dalil Kedua: QS. Al-A’raf Ayat 54Allah berfirman:“Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ’Arsy…”Kandungan AyatAllah PenciptaAllah menciptakan:LangitBumiMatahariBulanBintang-bintangAllah PengaturAllah mengatur:Pergantian siang dan malam.Peredaran matahari.Peredaran bulan.Peredaran bintang.Semuanya tunduk kepada perintah Allah.Allah Pemilik Seluruh UrusanAllah berfirman:أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ“Ingatlah! Menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.”Artinya:Allah yang menciptakan.Allah yang mengatur.Allah yang berhak ditaati.Allah yang berhak disembah.Hubungan Rububiyah dan UluhiyahKarena Allah adalah:PenciptaPengaturPemberi rezekiPemilik alam semestaMaka konsekuensinya:Hanya Allah yang berhak diibadahi.Sebagaimana ucapan penulis:وهو معبودي ليس لي معبود سواه“Dialah sesembahanku, tidak ada sesembahan bagiku selain Dia.”Poin-Poin Penting untuk DihafalMakhluk Allah yang DisebutkanTujuh langit.Tujuh bumi.Makhluk di antara keduanya.Yang Ada di LangitMalaikatBintangPlanetMakhluk lainnyaYang Ada di Antara Langit dan BumiAwanAnginHujanManusiaHewanTumbuhanPelajaran dari Alam SemestaAllah Maha Besar.Allah Maha Kuasa.Allah Maha Mengetahui.Allah Maha Mengatur.DalilQS. Fussilat: 37Jangan menyembah matahari dan bulan, tetapi sembahlah Allah yang menciptakannya.QS. Al-A’raf: 54Allah adalah Pencipta dan Pengatur seluruh alam.KesimpulanHalaqah ini mengajarkan bahwa salah satu jalan mengenal Allah adalah dengan memperhatikan makhluk-makhluk-Nya. Tujuh langit, tujuh bumi, serta seluruh makhluk di antara keduanya menunjukkan kebesaran, kekuasaan, ilmu, dan hikmah Allah. Semakin seseorang bertafakur terhadap ciptaan Allah, semakin kuat pengenalannya kepada Allah dan semakin yakin bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Karena Dia satu-satunya Pencipta, Pengatur, dan Pemilik seluruh alam semesta.

💬 0 komentar📅 11 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Malaikat – Beriman dengan Amalan-Amalan Malaikat (Bagian Ketiga)

RINGKASAN MATERI6. Orang yang Menjenguk Orang yang SakitOrang yang menjenguk saudaranya sesama muslim yang sakit mendapatkan doa dari para malaikat.• Jika menjenguk pada pagi hari, 70.000 malaikat berselawat untuknya hingga sore.• Jika menjenguk pada sore hari, 70.000 malaikat berselawat untuknya hingga pagi.• Ia juga mendapatkan buah-buahan di Surga.(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, sahih)7. Malaikat Mengaminkan Ucapan Baik di Samping Orang Sakit atau MeninggalKetika menghadiri orang yang sakit atau meninggal, hendaknya mengucapkan ucapan yang baik, karena malaikat akan mengaminkan apa yang diucapkan.(HR. Muslim)8. Malaikat Mengaminkan Doa untuk Saudara Se-IslamBarangsiapa mendoakan kebaikan untuk saudaranya sesama muslim secara diam-diam tanpa sepengetahuannya, maka malaikat yang ditugaskan akan berkata:“Aamiin, dan bagimu yang semisalnya.”(HR. Muslim)🌸 Pelajaran penting:Mendoakan saudara sesama muslim secara sembunyi-sembunyi merupakan amalan yang utama karena lebih dekat kepada keikhlasan. Doa tersebut juga menjadi sebab seseorang mendapatkan kebaikan yang semisal dengan apa yang ia doakan untuk saudaranya.🤲 Mari perbanyak mendoakan kebaikan untuk saudara-saudara sesama muslim, baik yang kita kenal maupun yang tidak kita kenal.

💬 0 komentar📅 10 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 89 | ‘Arsy dan Kursi Allāh ﷻ adalah Benar Adanya

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah Pemateri : Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A Penulis : Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāhالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-89 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالعَرْشُ وَالكُرْسِيُّ حَقٌّ‘Arsy dan juga Kursiy ini adalah benar adanya, dan keduanya adalah makhluk Allāh ﷻ yang disebutkan oleh Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’ān, dan juga disebutkan tentang sebagian sifatnya di dalam dalil. Maka kita katakan bahwa ‘Arsy dan Kursi itu adalah benar. Jangan kita ingkari meskipun mungkin kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya. Selama itu dikabarkan oleh Allāh ﷻ atau dikabarkan oleh Nabi ﷺ, maka harus kita imani.Al-‘Arsy ini adalah makhluk Allāh ﷻ yang paling besar, makhluk Allāh ﷻ yang paling tinggi, makhluk Allāh ﷻ yang pertama kali diciptakan oleh Allāh ﷻ. Allāh ﷻ beristiwa di atas ‘Arsy, dan Kursi Allāh ﷻ sebagaimana dinukil dari Abdullah bin ‘Abbās, ini adalah mawḍi’u qadamihi, yaitu tempat kedua kaki Allāh ﷻ. Tentunya Abdullah bin ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā tidak mengatakan yang demikian kecuali pernah mendengar itu dari Nabi ﷺ, karena hal yang seperti ini tidak mungkin dari ijtihad seorang sahabat. Pasti dia pernah mendengarnya dari Nabi ﷺ.Disebutkan bahwa Kursi ini adalah makhluk. Ada sebuah hadits di mana Nabi ﷺ mengatakan:إِنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ فِي النِّسْبَةِ إِلَى الْكُرْسِيِّ كَسَبْعِ دَرَاهِمَ أُلْقِيَتْ فِي تُرْسٍ“Sesungguhnya langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi Allāh itu seperti tujuh dirham (koin) yang dilemparkan ke tameng.”Tameng di sini adalah seperti perisai besar yang digunakan oleh seseorang yang berperang untuk melindungi dirinya. Tujuh koin dirham yang dilemparkan di tameng tersebut merupakan permisalan tujuh langit dibandingkan dengan Kursi Allāh ﷻ. Lihatlah bagaimana perbandingan antara tujuh koin dirham tadi dengan tameng, yang tentunya jauh lebih besar daripada koin tadi.Padahal, kalau kita melihat langit yang pertama saja, kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya. Ketika kita melihat cerita para ahli tentang bagaimana besarnya bumi, ternyata di sana ada planet yang lebih besar, dan matahari berlipat-lipat lebih besar daripada bumi. Kita membayangkan betapa besarnya matahari, ternyata di sana ada yang lebih besar daripada matahari dan jauh lebih besar daripada matahari, berjutaan kali lipat lebih besar dari matahari.Ternyata kita berada di satu galaksi, yaitu kumpulan bintang-bintang yang besar yang jumlahnya jutaan bintang, dan di sana banyak bintang yang lebih besar daripada matahari. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya galaksi Bima Sakti, di mana keberadaan kita berada, dan ternyata di alam semesta ini ada jutaan atau miliaran galaksi-galaksi yang merupakan kumpulan dari bintang-bintang. Galaksi Bima Sakti adalah salah satu di antara galaksi-galaksi tersebut. Itu semuanya berada di bawah langit yang pertama. Baru langit yang pertama, demikian besarnya.Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang ketebalan langit. Ternyata langit bukan sesuatu yang tipis, tetapi dia adalah sesuatu yang tebal. Dari bawah sampai atas, itu membutuhkan 500 tahun perjalanan untuk sampai dari bawah ke atas. Kemudian, untuk mencapai langit yang berikutnya juga membutuhkan 500 tahun perjalanan. Dari langit yang pertama sampai langit yang kedua, jika langit yang pertama kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya, lalu bagaimana dengan langit yang kedua, yang jauh lebih besar daripada langit yang pertama. Dan dia juga memiliki ketebalan yang sama. Antara langit yang kedua dengan lainnya juga demikian, lalu bagaimana dengan langit yang ketujuh? Allāhu Akbar. Maka tentunya ini adalah makhluk yang sangat besar.Tujuh langit ini dibandingkan dengan Kursi Allāh, maka ini seperti tujuh koin dirham yang dilemparkan di tameng tadi. Berarti, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kursi Allāh. Kursi Allāh jauh lebih besar. Bahkan disebutkan dalam hadits yang lain, itu seperti tujuh cincin yang dilemparkan di tengah padang pasir. Subḥānallāh, ini menunjukkan betapa besarnya Kursi Allāh. Sehingga Allāh ﷻ berfirman di dalam Al-Qur’ān:وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ(QS. Al-Baqarah: 255)Kursi Allāh ini meluas meliputi langit dan bumi, jauh lebih besar daripada langit dan bumi. Maka kita harus beriman dengan adanya Kursi ini. Diriwayatkan, dinukil dari Abdullah bin ‘Abbās bahwaمَوْضِعُ قَدَمَيْ الرَّحْمٰنِitu adalah tempat kedua kaki Allāh ﷻ. Kita tetapkan kaki Allāh ﷻ sesuai dengan keagungan-Nya, tidak sama dengan kaki makhluk. Dan kita tetapkan Kursi bahwasanya di sana ada makhluk Allāh yang dinamakan dengan Kursi.Al-‘Arsy juga demikian. Al-‘Arsy ini jauh lebih besar daripada Kursi Allāh. Kalau tadi kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya Kursi Allāh, maka bagaimana dengan ‘Arsy? Disebutkan dalam hadits, perbandingan antara Kursi dengan ‘Arsy Allāh itu seperti cincin yang dilemparkan di tengah padang pasir. Bagaimana seseorang bisa membayangkan tentang besarnya ‘Arsy Allāh? Dia adalahالْعَرْشِ الْمَجِيدِ‘Arsy yang sangat agung dan sangat besar. Dia adalah makhluk Allāh ﷻ yang paling besar, dan Allāh ﷻ beristiwa di atas ‘Arsy.Jika itu adalah benar ciptaan Allāh ﷻ, maka bagaimana dengan yang menciptakan? Allāh ﷻ lah yang Maha Besar. Bagaimana seseorang bisa sombong dan tidak mau beribadah kepada Allāh ﷻ? Dia adalah makhluk yang sangat kecil. Seseorang seharusnya bersyukur bahwa Allāh ﷻ yang Maha Besar, demikian Maha Besarnya Allāh, namun Allāh ﷻ memperhatikan kita yang sangat kecil. Allāh ﷻ memberikan kita rezeki dan kenikmatan oleh Allāh ﷻ yang Maha Besar, yang Maha Rahmān, yang sangat memperhatikan setiap hamba-Nya.وَالعَرْشُ وَالكُرْسِيُّ حَقٌّ، كَمَا بَيَّنَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ‘Arsy dan Kursiy ini adalah benar adanya sebagaimana Allāh ﷻ menerangkan di dalam Al-Qur’ān,وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَdan banyak di dalam Al-Qur’ān Allāh ﷻ menyebutkan tentang ‘Arsy. Allāh ﷻ berfirman:ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Allāh ﷻ beristiwa’ di atas ‘Arsy.”(QS. Al-A’rāf: 54)Dan Allāh ﷻ berfirman:وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء“Dan ‘Arsy Allāh ﷻ adalah berada di atas air.”(QS. Hūd: 7)Dan firman Allāh ﷻ:وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ“Dan Dia-lah Allāh ﷻ, Rabb bagi ‘Arsy yang sangat besar.”(QS. At-Tawbah: 129)Allāh ﷻ mensifati ‘Arsy dengan beberapa sifat, di antaranya adalah kebesaran. Bahwasanya ‘Arsy ini sangat besar, dan Allāh ﷻ beristiwa di atasnya, dan bahwasanya Allāh ﷻ adalah Rabb bagi ‘Arsy. Allāh ﷻ mensifati ‘Arsy ini dengan al-Karīm, sebagaimana firman Allāh:فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ“Maka Maha Tinggi Allāh, Raja yang sebenar-benarnya. Tidak ada ilah selain Dia, Rabb bagi ‘Arsy yang mulia.”(QS. Al-Mu’minūn: 116)Maka, apa yang datang di dalam Al-Qur’ān berupa kabar-kabar tentang ‘Arsy, harus kita imani.

💬 0 komentar📅 10 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 14 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 02)

Silsilah Ilmiyyah Al-Ushul Ats-TsalatsahMengenal Allah ﷻ Melalui Ayat-Ayat dan Makhluk-NyaTujuan PembahasanSetelah mengetahui bahwa Allah adalah Rabb seluruh alam, muncul pertanyaan:“Bagaimana engkau mengenal Rabbmu?”Jawaban yang diajarkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah:فقل بآياته ومخلوقاته“Aku mengenal Rabbku melalui ayat-ayat-Nya dan makhluk-makhluk-Nya.”1. Cara Mengenal Allah ﷻA. Melalui Ayat-Ayat AllahYang dimaksud ayat di sini adalah:Ayat KauniyahTanda-tanda kekuasaan Allah yang terdapat di alam semesta.Contohnya:Pergantian siang dan malamMatahariBulanLangitBumiGunungLautanTumbuhanHewanSemua itu menunjukkan:Kebesaran AllahIlmu AllahHikmah AllahKekuasaan AllahB. Melalui Makhluk-Makhluk AllahMakhluk adalah segala sesuatu selain Allah.Seluruh makhluk:Diciptakan dari tidak ada menjadi ada.Memerlukan Allah.Tidak mampu berdiri sendiri.Dengan memperhatikan makhluk, seseorang akan mengenal:Keagungan AllahKesempurnaan AllahKekuasaan AllahKebijaksanaan Allah2. Tafakur Menjadi Jalan Mengenal AllahSemakin seseorang:MerenungMemikirkan ciptaan AllahMengamati alam semestaMaka semakin bertambah:Ma’rifatullah(Pengenalan terhadap Allah)Iman(Keyakinan kepada Allah)Ketundukan(Kepatuhan terhadap perintah Allah)Karena ia melihat bukti-bukti kekuasaan Allah di sekelilingnya.3. Sebagian Tanda Kekuasaan AllahSyaikh menyebutkan:ومن آياته الليل والنهار والشمس والقمر“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari dan bulan.”4. Tanda Kekuasaan Allah pada Malam dan SiangA. Allah Menciptakan Malam dan Siang dengan HikmahAllah tidak menciptakannya secara sia-sia.Fungsi SiangWaktu bekerjaWaktu mencari rezekiWaktu beraktivitasWaktu memenuhi kebutuhan hidupFungsi MalamWaktu beristirahatWaktu menenangkan tubuhWaktu memulihkan tenagaWaktu tidurB. Hikmah Pergantian Siang dan MalamDengan adanya pergantian tersebut:Kehidupan berjalan normal.Tubuh manusia mendapatkan keseimbangan.Manusia dapat mengatur waktu.Manusia dapat menghitung hari.C. Jika Hanya Ada SiangAkan muncul banyak mudarat:Sulit beristirahat dengan sempurna.Kehidupan tidak seimbang.Sulit membedakan hari.D. Jika Hanya Ada MalamAkan muncul banyak kesulitan:Aktivitas manusia terganggu.Banyak pekerjaan tidak dapat dilakukan.Kebutuhan penerangan sangat besar.Kehidupan menjadi lebih sulit.PelajaranPergantian siang dan malam menunjukkan:Rahmat AllahHikmah AllahIlmu AllahKekuasaan AllahAllah mampu:Mengubah siang menjadi malamMengubah malam menjadi siang5. Tanda Kekuasaan Allah pada MatahariKeistimewaan MatahariAllah menciptakan matahari:Sangat besarMenghasilkan cahayaMenghasilkan panas yang bermanfaatManfaat MatahariBagi ManusiaSumber cahaya alamiMembantu kesehatan tubuhMembantu aktivitas manusiaBagi TumbuhanMembantu proses pertumbuhanMenjadi sumber kehidupanBagi KehidupanMengurangi kebutuhan penerangan pada siang hariMenunjang keseimbangan alamJarak Matahari yang Sangat TepatAllah meletakkan matahari pada jarak yang sempurna.Jika Terlalu DekatBumi akan rusak.Kehidupan tidak dapat berlangsung.Jika Terlalu JauhManusia tidak memperoleh manfaat yang cukup.Kehidupan terganggu.Pelajaran dari MatahariMatahari menunjukkan:Ilmu AllahAllah mengetahui apa yang paling baik bagi makhluk-Nya.Hikmah AllahSegala sesuatu diciptakan dengan ukuran yang tepat.Qudrah AllahAllah mampu menciptakan dan mengatur matahari setiap saat.Kehidupan AllahAllah Maha Hidup dan tidak pernah lalai mengurus makhluk-Nya.6. Allah Tidak Pernah LalaiAllah berfirman:لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ“Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.”(QS. Al-Baqarah: 255)Maknanya:Allah selalu mengatur alam semesta.Allah selalu menjaga langit dan bumi.Tidak ada satu pun urusan yang luput dari pengawasan-Nya.7. Tanda Kekuasaan Allah pada BulanBulan juga merupakan salah satu ayat Allah yang sangat besar.Perbedaan Bulan dan MatahariMatahariMemancarkan sinar yang kuat.Menghasilkan panas.BulanMemantulkan cahaya yang lembut.Tidak membakar seperti matahari.Hikmah Diciptakannya BulanAllah menjadikan bulan:Memiliki fase-fase tertentu.Memiliki kedudukan-kedudukan tertentu.Menjadi alat perhitungan waktu.Fungsi BulanMenentukan TanggalManusia dapat mengetahui:Awal bulanPertengahan bulanAkhir bulanMenentukan TahunManusia dapat menghitung:Bulan-bulan HijriahPergantian tahunDalilQS. Yunus: 5وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ“Dan Allah menetapkan bagi bulan manzilah-manzilah agar kalian mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.”Buah Tafakur terhadap Ciptaan AllahOrang yang merenungkan:MalamSiangMatahariBulanLangitBumiakan semakin:Mengenal Allah (Ma’rifatullah)Bertambah ImannyaYakin terhadap Kekuasaan AllahTunduk kepada Perintah AllahMengagungkan AllahPoin-Poin Penting untuk DihafalCara Mengenal AllahMelalui ayat-ayat-Nya.Melalui makhluk-makhluk-Nya.Ayat Kekuasaan Allah yang DisebutkanMalamSiangMatahariBulanHikmah MalamIstirahatKetenanganTidurHikmah SiangAktivitasBekerjaMencari rezekiManfaat MatahariCahayaPanasKehidupanManfaat BulanMenentukan tanggalMenentukan bulanMenghitung tahunKesimpulanAllah ﷻ dapat dikenal melalui ayat-ayat kekuasaan-Nya dan makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Pergantian malam dan siang, serta penciptaan matahari dan bulan, menunjukkan kesempurnaan ilmu, hikmah, rahmat, dan kekuasaan Allah. Semakin seseorang bertafakur terhadap ciptaan Allah, semakin bertambah pengenalannya kepada Allah, keimanannya kepada-Nya, dan ketundukannya terhadap syariat-Nya.

💬 0 komentar📅 10 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 14: Perbedaan Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah

Halaqah 14:Perbedaan Iradah Kauniyah Qadariah & Iradah Syar’iyyah Dinniyah🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Perbedaan antara Iradah Kauniyah Qadariyyah dan Iradah Syar’iyyah Diniyyah diantaranya:1. Iradah Kauniyah melazimkan terjadinya apa yang diinginkan oleh Allah.Misalnya Allah menginginkan menciptakan matahari maka terciptalah matahari.Sedangkan Iradah Syar’iyyah maka tidak melazimkan terjadinya apa yang Allah inginkan, seperti secara syari’at Allah menginginkan ke-Islam-an Abu Lahab tetapi hal tersebut tidak terjadi.2. Bahwa Iradah Kauniyah tidak melazimkan apa yang Allah inginkan tersebut dicintai oleh Allah, akan tetapi terkadang kejadiannya ada yg dicintai oleh Allah, misal keimanan orang yang beriman.Dan terkadang ada yang kejadiannya tidak dicintai oleh Allah, seperti kemaksiatan.Adapun Iradah Syar’iyyah maka kejadiannya pasti sesuatu yang dicintai oleh Allah, seperti keimanan orang yang beriman, ketaatan orang yang taat, dll.3. Iradah Kauniyah tidak melazimkan bahwa itu diperintah oleh Allah, sedangkan Iradah Syar’iyyah melazimkan bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah, artinya setiap yang diinginkan oleh Allah secara syari’at berarti dia diperintahkan.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 10 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI5 hari lalu
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 89

Halaqah 89 | ‘Arsy dan Kursi Allāh ﷻ adalah Benar AdanyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-89 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالعَرْشُ وَالكُرْسِيُّ حَقٌّ‘Arsy dan juga Kursiy ini adalah benar adanya, dan keduanya adalah makhluk Allāh ﷻ yang disebutkan oleh Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’ān, dan juga disebutkan tentang sebagian sifatnya di dalam dalil. Maka kita katakan bahwa ‘Arsy dan Kursi itu adalah benar. Jangan kita ingkari meskipun mungkin kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya. Selama itu dikabarkan oleh Allāh ﷻ atau dikabarkan oleh Nabi ﷺ, maka harus kita imani.Al-‘Arsy ini adalah makhluk Allāh ﷻ yang paling besar, makhluk Allāh ﷻ yang paling tinggi, makhluk Allāh ﷻ yang pertama kali diciptakan oleh Allāh ﷻ. Allāh ﷻ beristiwa di atas ‘Arsy, dan Kursi Allāh ﷻ sebagaimana dinukil dari Abdullah bin ‘Abbās, ini adalah mawḍi’u qadamihi, yaitu tempat kedua kaki Allāh ﷻ. Tentunya Abdullah bin ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā tidak mengatakan yang demikian kecuali pernah mendengar itu dari Nabi ﷺ, karena hal yang seperti ini tidak mungkin dari ijtihad seorang sahabat. Pasti dia pernah mendengarnya dari Nabi ﷺ.Disebutkan bahwa Kursi ini adalah makhluk. Ada sebuah hadits di mana Nabi ﷺ mengatakan:إِنَّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعَ فِي النِّسْبَةِ إِلَى الْكُرْسِيِّ كَسَبْعِ دَرَاهِمَ أُلْقِيَتْ فِي تُرْسٍ“Sesungguhnya langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi Allāh itu seperti tujuh dirham (koin) yang dilemparkan ke tameng.”Tameng di sini adalah seperti perisai besar yang digunakan oleh seseorang yang berperang untuk melindungi dirinya. Tujuh koin dirham yang dilemparkan di tameng tersebut merupakan permisalan tujuh langit dibandingkan dengan Kursi Allāh ﷻ. Lihatlah bagaimana perbandingan antara tujuh koin dirham tadi dengan tameng, yang tentunya jauh lebih besar daripada koin tadi.Padahal, kalau kita melihat langit yang pertama saja, kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya. Ketika kita melihat cerita para ahli tentang bagaimana besarnya bumi, ternyata di sana ada planet yang lebih besar, dan matahari berlipat-lipat lebih besar daripada bumi. Kita membayangkan betapa besarnya matahari, ternyata di sana ada yang lebih besar daripada matahari dan jauh lebih besar daripada matahari, berjutaan kali lipat lebih besar dari matahari.Ternyata kita berada di satu galaksi, yaitu kumpulan bintang-bintang yang besar yang jumlahnya jutaan bintang, dan di sana banyak bintang yang lebih besar daripada matahari. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya galaksi Bima Sakti, di mana keberadaan kita berada, dan ternyata di alam semesta ini ada jutaan atau miliaran galaksi-galaksi yang merupakan kumpulan dari bintang-bintang. Galaksi Bima Sakti adalah salah satu di antara galaksi-galaksi tersebut. Itu semuanya berada di bawah langit yang pertama. Baru langit yang pertama, demikian besarnya.Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang ketebalan langit. Ternyata langit bukan sesuatu yang tipis, tetapi dia adalah sesuatu yang tebal. Dari bawah sampai atas, itu membutuhkan 500 tahun perjalanan untuk sampai dari bawah ke atas. Kemudian, untuk mencapai langit yang berikutnya juga membutuhkan 500 tahun perjalanan. Dari langit yang pertama sampai langit yang kedua, jika langit yang pertama kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya, lalu bagaimana dengan langit yang kedua, yang jauh lebih besar daripada langit yang pertama. Dan dia juga memiliki ketebalan yang sama. Antara langit yang kedua dengan lainnya juga demikian, lalu bagaimana dengan langit yang ketujuh? Allāhu Akbar. Maka tentunya ini adalah makhluk yang sangat besar.Tujuh langit ini dibandingkan dengan Kursi Allāh, maka ini seperti tujuh koin dirham yang dilemparkan di tameng tadi. Berarti, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kursi Allāh. Kursi Allāh jauh lebih besar. Bahkan disebutkan dalam hadits yang lain, itu seperti tujuh cincin yang dilemparkan di tengah padang pasir. Subḥānallāh, ini menunjukkan betapa besarnya Kursi Allāh. Sehingga Allāh ﷻ berfirman di dalam Al-Qur’ān:وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ(QS. Al-Baqarah: 255)Kursi Allāh ini meluas meliputi langit dan bumi, jauh lebih besar daripada langit dan bumi. Maka kita harus beriman dengan adanya Kursi ini. Diriwayatkan, dinukil dari Abdullah bin ‘Abbās bahwaمَوْضِعُ قَدَمَيْ الرَّحْمٰنِitu adalah tempat kedua kaki Allāh ﷻ. Kita tetapkan kaki Allāh ﷻ sesuai dengan keagungan-Nya, tidak sama dengan kaki makhluk. Dan kita tetapkan Kursi bahwasanya di sana ada makhluk Allāh yang dinamakan dengan Kursi.Al-‘Arsy juga demikian. Al-‘Arsy ini jauh lebih besar daripada Kursi Allāh. Kalau tadi kita tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya Kursi Allāh, maka bagaimana dengan ‘Arsy? Disebutkan dalam hadits, perbandingan antara Kursi dengan ‘Arsy Allāh itu seperti cincin yang dilemparkan di tengah padang pasir. Bagaimana seseorang bisa membayangkan tentang besarnya ‘Arsy Allāh? Dia adalahالْعَرْشِ الْمَجِيدِ‘Arsy yang sangat agung dan sangat besar. Dia adalah makhluk Allāh ﷻ yang paling besar, dan Allāh ﷻ beristiwa di atas ‘Arsy.Jika itu adalah benar ciptaan Allāh ﷻ, maka bagaimana dengan yang menciptakan? Allāh ﷻ lah yang Maha Besar. Bagaimana seseorang bisa sombong dan tidak mau beribadah kepada Allāh ﷻ? Dia adalah makhluk yang sangat kecil. Seseorang seharusnya bersyukur bahwa Allāh ﷻ yang Maha Besar, demikian Maha Besarnya Allāh, namun Allāh ﷻ memperhatikan kita yang sangat kecil. Allāh ﷻ memberikan kita rezeki dan kenikmatan oleh Allāh ﷻ yang Maha Besar, yang Maha Rahmān, yang sangat memperhatikan setiap hamba-Nya.وَالعَرْشُ وَالكُرْسِيُّ حَقٌّ، كَمَا بَيَّنَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ‘Arsy dan Kursiy ini adalah benar adanya sebagaimana Allāh ﷻ menerangkan di dalam Al-Qur’ān,وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَdan banyak di dalam Al-Qur’ān Allāh ﷻ menyebutkan tentang ‘Arsy. Allāh ﷻ berfirman:ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ“Kemudian Allāh ﷻ beristiwa’ di atas ‘Arsy.”(QS. Al-A’rāf: 54)Dan Allāh ﷻ berfirman:وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء“Dan ‘Arsy Allāh ﷻ adalah berada di atas air.”(QS. Hūd: 7)Dan firman Allāh ﷻ:وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ“Dan Dia-lah Allāh ﷻ, Rabb bagi ‘Arsy yang sangat besar.”(QS. At-Tawbah: 129)Allāh ﷻ mensifati ‘Arsy dengan beberapa sifat, di antaranya adalah kebesaran. Bahwasanya ‘Arsy ini sangat besar, dan Allāh ﷻ beristiwa di atasnya, dan bahwasanya Allāh ﷻ adalah Rabb bagi ‘Arsy. Allāh ﷻ mensifati ‘Arsy ini dengan al-Karīm, sebagaimana firman Allāh:فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ“Maka Maha Tinggi Allāh, Raja yang sebenar-benarnya. Tidak ada ilah selain Dia, Rabb bagi ‘Arsy yang mulia.”(QS. Al-Mu’minūn: 116)Maka, apa yang datang di dalam Al-Qur’ān berupa kabar-kabar tentang ‘Arsy, harus kita imani.

💬 0 komentar📅 10 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 hari lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke tiga belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke tiga belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau mengatakan,ثُمَّ صَارَ هَذَا الْأَصْلُ لَا يُعْرَفُ عِنْدَ أَكْثَرِ مَنْ يَدَّعِيْ الْعِلْمَ فَكَيْفَ الْعَمَلُ بِهKemudian berlalulah masa, sehingga perkara ini tidak diketahui oleh sebagian besar orang yang mengaku berilmu, apalagi beramal dengan perkara ini.Dengan berlalunya waktu dan umat Islam tertimpa dengan kejahilan, dengan syubhat, dengan syahwat, sehingga perkara ini, yaitu pentingnya taat kepada pemerintah dan penguasa tidak diketahui oleh sebagian besar orang yang mengaku memiliki ilmu.Maka bagaimana dengan beramal dengannya? Kalau mengetahui saja tidak, apalagi mengamalkan perkara ini.Dan ini yang terjadi di zaman beliau rahimahullah, demikian pula di zaman kita, banyak orang yang mengaku berilmu, memiliki kecerdasan akan tetapi di dalam masalah ketaatan kepada waliyul amr (ketaatan kepada pemerintah, kepada penguasa) ternyata mereka jauh dari tuntunan agama, bahkan menganggap bahwasanya memberontak kepada pemerintah, membicarakan kejelekan pemerintah disebut sebagai sebuah keberanian atau dipolesi dengan amar ma’ruf nahi munkar.Dianggap ini adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.Dan mereka menganggap bahwasanya orang yang mendengar dan taat kepada pemerintah dianggap sebagai seorang yang pengecut, dianggap sebagai seorang yang mencari muka di hadapan penguasa. Maka ini adalah semuanya karena seseorang tidak mengetahui tentang pentingnya mendengar dan taat kepada pemerintah.Dan bukan berarti mendengar dan taat kepada pemerintah kemudian kita tidak memberikan nasihat. Di dalam Islam, nasihat diperuntukan bagi rakyat biasa, demikian pula kepada pemerintah kaum muslimin.Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ“Agama ini adalah nasihat. Para sahabat bertanya, Ya Rasulullah, untuk siapa?”للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْBeliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mengatakan,وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ“Nasehat bagi pemerintah kaum muslimin demikian pula orang-orang yang awam diantara mereka.”(Hadits shahih riwayat Muslim nomor 55)Dan bahwasanya menasihati pemerintah harus memiliki adab yang baik.Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan,مَن أرادَ أن يَنصَحَ لِذي سُلطانٍ فلا يُبْدِ لهُ عَلانيةً ولِيأخذُ بيدِهِ فإن قبلَ منهُ فذاكَ وإلَّا قد أدَّى ما عليهِ“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menasihati kepada pemerintah (penguasa) maka janganlah menampakkan nasihat tersebut.”Artinya jangan sampai menasihati seorang penguasa dan seorang pemerintah di depan khalayak ramai (di depan orang banyak).“Dan hendaklah mengambil tangannya (dan hendaklah berkhalwat dengannya).”Artinya bersendirian, tidak dilihat oleh rakyatnya, tidak didengar oleh rakyatnya, tetapi nasihat tersebut adalah nasihat secara pribadi antara dirinya dengan penguasa tersebut.Karena seorang penguasa dan pemerintah ini memiliki wibawa di depan rakyatnya, di depan bawahannya. Apabila seseorang menasehati pemerintah, menyebutkan kesalahannya diantara rakyatnya atau di depan rakyatnya tentunya ini akan menimbulkan perkara yang tidak baik. Wibawa seorang pemerintah menjadi turun, dan apabila turun maka rakyat akan enggan untuk mendengar dan taat kepada pemerintah tersebut.Dan kalau mereka tidak mau mendengar, tidak mau mentaati, maka yang terjadi adalah kerusakan di sebuah daerah.“Apabila diterima nasihatnya, maka itulah yang kita inginkan. Kalau tidak diterima maka dia telah melakukan kewajibannya.”Artinya apabila diterima nasihat kita maka itulah yang kita inginkan, kebaikan bagi penguasa adalah kebaikan bagi rakyatnya.Tapi kalau tidak diterima oleh pemerintah tersebut (oleh penguasa tersebut) maka kita sudah melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang muslim, sebagai seorang rakyat, yaitu memberikan nasihat kepada pemerintah dan penguasa kita. Adapun dia tidak menerima nasihat kita, maka ini urusan dia dengan Allah Subhānahu wa Ta’āla.Ini adalah petunjuk Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam menasihati pemerintah, bukan menunjukkan kesalahan pemerintah dan mengobralnya di depan umum ketika khutbah-khutbah, ketika ceramah-ceramah, maka ini semua melanggar petunjuk Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 88 | Celakalah Orang yang Membantah Allāh ﷻ dalam Masalah Takdir

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis : Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāhالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-88 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:فَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلَّهِ فِي القَدَرِ خَمِيصًاMaka celaka binasa orang yang di dalam masalah takdir dia menjadi orang yang membantah Allāh.Celaka orang yang membantah Allāh dalam masalah takdir seperti yang sudah berlalu. Dia mengatakan, “Lima fa’ala?” Kenapa Allāh ﷻ mengatakan demikian? Kenapa Allāh mentakdirkan seperti ini? Kenapa Allāh ﷻ seperti ini?لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ“Allāh tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, merekalah yang akan ditanya.”Kalau dia masih bertanya seperti itu dan dia membantah Allāh ﷻ dengan mengatakan, “Lima fa’ala?” Kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian? Kenapa Allāh menyesatkan si fulan? Kenapa Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada si Fulan. Orang yang demikian celaka, binasa, karena Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan.Kewajiban seorang hamba hanyalah meyakini bahwa Allāh ﷻ tidak melakukan semua ini kecuali dengan hikmah. Allāh ﷻ tidak mungkin bertindak zalim. Itu yang harus ada di dalam hati seseorang. Pasti dalam apa yang Allāh ﷻ lakukan, apapun itu, pasti ada hikmahnya. Allāh ﷻ tentunya tidak sama dengan makhluk. Allāh ﷻ melakukan segala sesuatu dengan hikmah. Di antara nama Allāh ﷻ adalah al-Ḥakīm.Seseorang mendapatkan hidayah karena memang dia berhak untuk mendapatkan hidayah. Seseorang sesat karena dia memang berhak untuk mendapatkan kesesatan tersebut. Mungkin kita yang belum memahami, tapi Allāh ﷻ tidak melakukan itu kecuali dengan hikmah. Tidak mungkin Allāh ﷻ berbuat zalim. Allāh ﷻ memberikan hidayah itu adalah karunia-Nya, dan Allāh ﷻ menyesatkan itu adalah keadilan dari Allāh ﷻ. Makaفَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلَّهِ فِي القَدَرِ خَمِيصًاcelaka orang yang membantah Allāh ﷻ dalam masalah takdir.Berimanlah dengan takdir, pasrahlah dengan apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan. Dan pasrah di sini bukan berarti seseorang tidak mengambil sebab, tapi seseorang menyadari bahwa semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Orang yang mengambil sebab itu bukan berarti dia membantah apa yang Allāh ﷻ takdirkan.Membantah itu seperti orang yang mengatakan tadi, “Kenapa Allāh?” Itu membantah. Namun, kalau seseorang meyakini bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ, dan dia menyadari bahwa Allāh ﷻ memerintahkan dia untuk mencari rezeki, memerintahkan dia untuk beramal shalih, kemudian dia beramal shalih, maka ini bukan berarti dia menentang takdir Allāh ﷻ. Sudah berlalu bahwa setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang dia ditakdirkan untuknya.وأَحْضَرَ لِلنَّظَرِ فِيِهِ قَلْبًا سَقِيمًاCelaka orang yang ketika memikirkan takdir, dia mendatangkan hati yang rusak, hati yang berpenyakit, hati yang berprasangka buruk kepada Allāh ﷻ, bahwasanya Allāh zalim, Allāh ﷻ tidak adil, dan seterusnya. Dia memahami takdir dengan hati yang rusak. Maka, celaka orang yang demikian, yaitu memikirkan dan beriman kepada takdir Allāh ﷻ, tetapi dengan hati yang rusak.لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِي فَحْصِ الغَيْبِ سِرًّا كَتِيمًاOrang yang memikirkan tentang masalah takdir dengan hati yang rusak, kalau hatinya bersih, maka dia akan memikirkan takdir Allāh ﷻ sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ gariskan. Itulah hati yang bersih. Husnudzhan, beriman bahwa semuanya sudah ditentukan, dan dia menyadari bahwasanya kita diperintahkan untuk mengambil sebab, kalau terjadi sesuatu maka tidak boleh kita menggerutu dan mengatakanقَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَIni hati yang bersih, tetapi kalau hati yang kotor tidak demikian. Di dalamnya penuh dengan su’udzon kepada Allāh.لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِي فَحْصِ الغَيْبِ سِرًّا كَتِيمًاSungguh, orang yang membantah apa yang Allāh ﷻ takdirkan, dia telah mencari-cari dengan persangkaannya dalam membongkar perkara yang ghaib rahasia Allāh yang tersembunyi.Bagaimana seseorang bisa membongkar apa yang Allāh ﷻ rahasiakan? Makhluk yang lemah, bagaimana dia bisa membongkar rahasia yang Allāh ﷻ sembunyikan? Karena sebagaimana telah berlalu, takdir ini adalahسِرُّ اللَّهِ فِي خَلْقِهِini adalah rahasia Allāh ﷻ yang ada pada diri makhluk-makhluk-Nya. Tidak mungkin kita bisa membongkar apa yang sudah Allāh ﷻ rahasiakan. Ini adalah rahasia Allāh ﷻ pada makhluk-makhluk-Nya. Yang kita bisa lakukan adalah berusaha mengambil sebab sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tunjukkan.وَعَادَ بِمَا قَالَ فِيهِ أَفَّاكًا أَثِيْمًاOrang yang berusaha memahami takdir Allāh ﷻ tapi bukan dengan cara yang dibenarkan, beriman dengan takdir Allāh ﷻ tapi bukan dengan cara yang dibenarkan, pasti dia akan kembali sebagai pendusta, dan dia adalah orang yang berdosa.Kalau seseorang memahami takdir Allāh ﷻ bukan dengan cara yang dibenarkan, maka dia adalah pendusta. Apa yang dia ucapkan itu adalah dusta, tidak sesuai dengan kenyataan.Demikian pula dia akan berdosa dengan sebab apa yang dia lakukan, karena dia berusaha untuk membongkar rahasia Allāh ﷻ, rahasia Allāh ﷻ yang tidak mungkin dibongkar. Itu bukan ranahnya, tapi dia berusaha untuk membongkarnya, membantah Allāh ﷻ dalam masalah takdir-Nya.Maka ini adalah paragraf penutup dari apa yang beliau sampaikan tentang masalah takdir. Beliau tutup dengan perkataan, “Celaka bagi orang yang menjadi pembantah terhadap Allāh ﷻ dalam takdir-Nya, dia memikirkan tentang takdir Allāh ﷻ dengan hati yang rusak, dengan hati yang berpenyakit.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman dengan Takdir Allah Halaqah 13

Halaqah yang ke tiga belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Dua Macam Iradah atau Keinginan Allah azza wajalla”.Diantara perkara yang penting dipahami oleh setiap muslim di dalam masalah beriman dengan takdir Allah bahwa Iradah atau keinginan Allah ada dua macam:1. Iradah Kauniyah QodariyyahYaitu keinginan Allah yang berkaitan dengan penciptaan dan kejadian-kejadian yang ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla, seperti:– Keinginan Allah menciptakan manusia dan hewan– Menciptakan orang yang taat dan orang yang berbuat maksiat– Menciptakan ketaatan dan kemaksiatan, dan lain-lain.Dalil Iradah Kauniyah Qadariyyah diantaranya adalah firman Allah azza wajalla,إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ[QS Ya-Sin 82]“Sesungguhnya perkara Allah apabila menginginkan sesuatu adalah mengatakan ‘Jadilah’, maka jadilah dia.”Dan Allah berfirman,… إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ[QS Al-Hajj 14]“Sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia inginkan.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ…[QS Al-An’am 125]“Barangsiapa yang Allah inginkan untuk diberi hidayah maka Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam dan barangsiapa yang Allah inginkan untuk disesatkan maka Allah akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seperti ketika dia berusaha naik ke atas.”Dan Masyiah Allah atau Kehendak Allah yang disebutkan di dalam halaqah yang ke-7 adalah nama lain dari Iradah Kauniah Qadariyyah.2. Iradah Syar’iyyah DiniyyahYaitu keinginan Allah yang berkaitan dengan syari’at agama yang Allah turunkan.Allah Subhānahu wa Ta’āla menginginkan manusia mengikuti syari’at-Nya dan agama-Nya, menginginkan mereka menjalankan perintah Allah, dan menginginkan mereka meninggalkan larangan Allah.Dalil Iradah Syar’iyyah Diniyyah diantaranya adalah firman Allah azza wa jalla,إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا[QS Al-Ahzab 33]“Sesungguhnya Allah hanya menginginkan untuk menghilangkan kotoran dari kalian wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian dari dosa dengan sebenar-benarnya.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ…[Surat An-Nisa’ 27]“Dan Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian.”Dan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ Beliau bersabda,يقول الله تعالى : لِأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ : لَوْ أَنَّ لَكَ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ أَكُنْتَ تَفْتَدِي بِهِ ” ، فَيَقُولُ : نَعَمْ ، فَيَقُولُ : ” أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ هَذَا ، وَأَنْتَ فِي صُلْبِ آدَمَ ، أَنْ لَا تُشْرِكَ بِي شَيْئًا ، فَأَبَيْتَ إِلَّا أَنْ تُشْرِكَ بِي ”“Allah Subhānahu wa Ta’āla berkata kepada penduduk neraka yang paling ringan adzabnya di hari kiamat, ‘Seandainya engkau memiliki seluruh apa yang ada di bumi apakah engkau akan menebus dengannya?’Maka dia berkata, ‘Iya’.Maka Allah berkata, ‘Aku menginginkan darimu yang lebih ringan daripada ini, sedangkan engkau saat itu berada di dalam sulbi Adam, yaitu supaya engkau tidak menyekutukan Aku sedikitpun, maka engkau pun enggan, kecuali menyekutukan diri-Ku’ ” [HR Al Bukhari dan Muslim]

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 hari lalu
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 13 | Landasan Pertama, Ma’rifatullah (Bagian 01)

Mengenal Allah ﷻ (Ma’rifatullah)1. Tiga Landasan Utama yang Wajib DiketahuiApabila ditanya:“Apa tiga landasan utama yang wajib diketahui manusia?”Jawabannya:Mengenal Allah (Ma’rifatullah)Mengenal agama Islam (Ma’rifatud Din)Mengenal Nabi Muhammad ﷺ (Ma’rifatur Rasul)Ketiga landasan ini sangat penting karena:Allah adalah Rabb yang disembah.Islam adalah jalan beribadah kepada Allah.Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan yang mengajarkan cara beribadah yang benar.2. Landasan Pertama: Mengenal Allah ﷻPertanyaan Penting“Siapakah Rabbmu?”Jawaban:“Rabbku adalah Allah yang telah memeliharaku dan memelihara seluruh alam dengan berbagai nikmat-Nya. Dia adalah sesembahanku, dan aku tidak memiliki sesembahan selain-Nya.”3. Metode Belajar dalam IslamSyaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menggunakan metode tanya jawab.Metode ini juga digunakan Rasulullah ﷺ.Contohnya ketika Malaikat Jibril datang dalam rupa manusia lalu bertanya tentang:IslamImanIhsanHari KiamatTanda-tanda KiamatTujuannya:Menarik perhatian pelajar.Memudahkan pemahaman.Membantu mengingat ilmu.4. Makna RabbRabb adalah salah satu nama Allah yang mengandung banyak makna.Di antaranya:a. Al-Malik (المالك)Pemilik dan Penguasa segala sesuatu.b. Al-Mudabbir (المدبر)Pengatur seluruh alam semesta.c. Al-Mushlih (المصلح)Yang memperbaiki dan mengurus makhluk-Nya.5. Makna Tarbiyah AllahKata Rabbani berasal dari tarbiyah (pemeliharaan).Bentuk pemeliharaan Allah meliputi:MenciptakanMemberi rezekiMengatur kehidupanMemberi nikmatMenghidupkanMematikanMenjaga seluruh makhlukAllah tidak hanya memelihara manusia, tetapi seluruh alam semesta.6. Allah Satu-Satunya yang Berhak DisembahKalimat:“Dia adalah sesembahanku dan aku tidak memiliki sesembahan selain-Nya.”Mengandung makna:Tauhid RububiyahMeyakini bahwa Allah satu-satunya:PenciptaPemberi rezekiPengatur alamTauhid UluhiyahMengikhlaskan seluruh ibadah hanya kepada Allah.Contohnya:Shalat hanya untuk Allah.Doa hanya kepada Allah.Tawakal hanya kepada Allah.Nadzar hanya untuk Allah.Penyembelihan hanya untuk Allah.Tidak boleh memberikan sedikit pun ibadah kepada selain Allah.7. Dalil dari Al-Qur’anSurat Al-Fatihah Ayat 2الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ“Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.”Ayat ini menunjukkan bahwa:Allah adalah Rabb seluruh makhluk.Semua nikmat berasal dari Allah.Semua pujian hanya pantas bagi Allah.8. Makna Alam (العالم)Segala sesuatu selain Allah disebut alam.Yang termasuk alam:Alam ManusiaSeluruh manusia dari Nabi Adam hingga manusia terakhir.Alam HewanSemua jenis hewan.Alam TumbuhanSemua tumbuh-tumbuhan.Alam MalaikatSeluruh malaikat.Alam JinSeluruh bangsa jin.Alam Langit dan BumiPlanet, bintang, gunung, lautan, dan lainnya.Semuanya adalah makhluk Allah.9. Siapa Kita?Syaikh mengatakan:“Segala sesuatu selain Allah adalah alam, dan aku termasuk salah satu dari alam tersebut.”Artinya:Kita adalah makhluk.Kita membutuhkan Allah.Kita tidak memiliki kekuasaan apa pun tanpa izin Allah.Allah adalah Rabb kita.Poin-Poin Penting untuk DihafalTiga Landasan UtamaMengenal Allah.Mengenal Islam.Mengenal Nabi Muhammad ﷺ.Siapa Rabbmu?Allah yang menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur seluruh alam.Makna RabbPemilik.Pengatur.Pemelihara.Tauhid yang WajibTauhid Rububiyah.Tauhid Uluhiyah.DalilQS. Al-Fatihah: 2الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَMakna AlamSegala sesuatu selain Allah adalah makhluk.Kesimpulan UtamaAllah adalah Rabb seluruh alam yang menciptakan, memelihara, memberi rezeki, dan mengatur seluruh makhluk. Karena itu, seluruh bentuk ibadah wajib ditujukan hanya kepada Allah semata.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 hari lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

HSI – Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Malaikat (Bagian 2)

HSI – Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Malaikat, Bagian 2:🌿 RANGKUMAN: AMALAN-AMALAN MALAIKATDi antara orang-orang yang didoakan secara khusus oleh para malaikat adalah:1. Orang yang berada di saf pertama ketika shalat berjamaahAllah dan para malaikat-Nya berselawat untuk orang-orang yang berada di saf-saf pertama.2. Orang yang menyambung saf dan menutup celah di antara safAllah dan para malaikat-Nya berselawat untuk orang yang menyambung saf. Orang yang menutup celah dalam saf akan diangkat derajatnya oleh Allah satu derajat.3. Orang yang berselawat kepada Nabi ﷺTidaklah seorang muslim berselawat kepada Nabi ﷺ, kecuali para malaikat juga berselawat untuknya selama ia terus berselawat kepada Nabi ﷺ. Karena itu, hendaknya kita memperbanyak selawat kepada beliau.4. Orang yang berinfak di jalan AllahSetiap pagi, dua malaikat turun. Salah satunya berdoa:"Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak."Sedangkan yang lain berdoa:"Ya Allah, berilah kehancuran bagi orang yang menahan (infak yang disyariatkan)."Infak yang dimaksud mencakup infak dalam ketaatan yang wajib maupun sunnah, nafkah keluarga, menjamu tamu, dan yang semisalnya.5. Orang yang sahurAllah dan para malaikat-Nya berselawat untuk orang-orang yang sahur.✨ Pelajaran penting:Mari memperbanyak amalan yang mendatangkan doa dan selawat dari para malaikat: menjaga saf, menyempurnakan saf, memperbanyak selawat kepada Nabi ﷺ, gemar berinfak, dan melaksanakan sahur.Sumber: HSI – Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Malaikat, Halaqah 13.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 hari lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 13: Dua Macam Iradah Atau Keinginan Allāh ﷻ

Halaqah 13:Dua Macam Iradah Atau Keinginan Allāh ﷻ🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Diantara perkara yang penting dipahami oleh setiap muslim di dalam masalah beriman dengan takdir Allah bahwa Iradah atau keinginan Allah ada dua macam:1. Iradah Kauniyah QodariyyahYaitu keinginan Allah yang berkaitan dengan penciptaan dan kejadian-kejadian yang ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla, seperti:• Keinginan Allah menciptakan manusia dan hewan• Menciptakan orang yang taat dan orang yang berbuat maksiat• Menciptakan ketaatan dan kemaksiatan, dan lain-lain.Dalil Iradah Kauniyah Qadariyyah diantaranya adalah firman Allah azza wajalla:إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya perkara Allah apabila menginginkan sesuatu adalah mengatakan ‘Jadilah’, maka jadilah dia.” (QS. Ya-Sin: 82)Dan Allah berfirman:… إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ“Sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia inginkan.”(QS. Al-Hajj: 14)Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ…“Barangsiapa yang Allah inginkan untuk diberi hidayah maka Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam dan barangsiapa yang Allah inginkan untuk disesatkan maka Allah akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seperti ketika dia berusaha naik ke atas.” (QS. Al-An’am: 125)Dan Masyiah Allah atau Kehendak Allah yang disebutkan di dalam halaqah yang ke-7 adalah nama lain dari Iradah Kauniah Qadariyyah.2. Iradah Syar’iyyah DiniyyahYaitu keinginan Allah yang berkaitan dengan syari’at agama yang Allah turunkan.Allah Subhānahu wa Ta’āla menginginkan manusia mengikuti syari’at-Nya dan agama-Nya, menginginkan mereka menjalankan perintah Allah, dan menginginkan mereka meninggalkan larangan Allah.Dalil Iradah Syar’iyyah Diniyyah diantaranya adalah firman Allah azza wa jalla,إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“Sesungguhnya Allah hanya menginginkan untuk menghilangkan kotoran dari kalian wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian dari dosa dengan sebenar-benarnya.”(QS. Al-Ahzab: 33)Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ…“Dan Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian.”(QS. An-Nisa’: 27)Dan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ Beliau bersabda,يقول الله تعالى : لِأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ : لَوْ أَنَّ لَكَ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ أَكُنْتَ تَفْتَدِي بِهِ ” ، فَيَقُولُ : نَعَمْ ، فَيَقُولُ : ” أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ هَذَا ، وَأَنْتَ فِي صُلْبِ آدَمَ ، أَنْ لَا تُشْرِكَ بِي شَيْئًا ، فَأَبَيْتَ إِلَّا أَنْ تُشْرِكَ بِي ”“Allah Subhānahu wa Ta’āla berkata kepada penduduk neraka yang paling ringan adzabnya di hari kiamat, ‘Seandainya engkau memiliki seluruh apa yang ada di bumi apakah engkau akan menebus dengannya?’Maka dia berkata, ‘Iya’.Maka Allah berkata, ‘Aku menginginkan darimu yang lebih ringan daripada ini, sedangkan engkau saat itu berada di dalam sulbi Adam, yaitu supaya engkau tidak menyekutukan Aku sedikitpun, maka engkau pun enggan, kecuali menyekutukan diri-Ku’ ” (HR. Al Bukhari dan Muslim)@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 September 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 88

Halaqah 88 | Celakalah Orang yang Membantah Allāh ﷻ dalam Masalah TakdirKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-88 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:فَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلَّهِ فِي القَدَرِ خَمِيصًاMaka celaka binasa orang yang di dalam masalah takdir dia menjadi orang yang membantah Allāh.Celaka orang yang membantah Allāh dalam masalah takdir seperti yang sudah berlalu. Dia mengatakan, “Lima fa’ala?” Kenapa Allāh ﷻ mengatakan demikian? Kenapa Allāh mentakdirkan seperti ini? Kenapa Allāh ﷻ seperti ini?لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ“Allāh tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, merekalah yang akan ditanya.”Kalau dia masih bertanya seperti itu dan dia membantah Allāh ﷻ dengan mengatakan, “Lima fa’ala?” Kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian? Kenapa Allāh menyesatkan si fulan? Kenapa Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada si Fulan. Orang yang demikian celaka, binasa, karena Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan.Kewajiban seorang hamba hanyalah meyakini bahwa Allāh ﷻ tidak melakukan semua ini kecuali dengan hikmah. Allāh ﷻ tidak mungkin bertindak zalim. Itu yang harus ada di dalam hati seseorang. Pasti dalam apa yang Allāh ﷻ lakukan, apapun itu, pasti ada hikmahnya. Allāh ﷻ tentunya tidak sama dengan makhluk. Allāh ﷻ melakukan segala sesuatu dengan hikmah. Di antara nama Allāh ﷻ adalah al-Ḥakīm.Seseorang mendapatkan hidayah karena memang dia berhak untuk mendapatkan hidayah. Seseorang sesat karena dia memang berhak untuk mendapatkan kesesatan tersebut. Mungkin kita yang belum memahami, tapi Allāh ﷻ tidak melakukan itu kecuali dengan hikmah. Tidak mungkin Allāh ﷻ berbuat zalim. Allāh ﷻ memberikan hidayah itu adalah karunia-Nya, dan Allāh ﷻ menyesatkan itu adalah keadilan dari Allāh ﷻ. Makaفَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلَّهِ فِي القَدَرِ خَمِيصًاcelaka orang yang membantah Allāh ﷻ dalam masalah takdir.Berimanlah dengan takdir, pasrahlah dengan apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan. Dan pasrah di sini bukan berarti seseorang tidak mengambil sebab, tapi seseorang menyadari bahwa semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Orang yang mengambil sebab itu bukan berarti dia membantah apa yang Allāh ﷻ takdirkan.Membantah itu seperti orang yang mengatakan tadi, “Kenapa Allāh?” Itu membantah. Namun, kalau seseorang meyakini bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ, dan dia menyadari bahwa Allāh ﷻ memerintahkan dia untuk mencari rezeki, memerintahkan dia untuk beramal shalih, kemudian dia beramal shalih, maka ini bukan berarti dia menentang takdir Allāh ﷻ. Sudah berlalu bahwa setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang dia ditakdirkan untuknya.وأَحْضَرَ لِلنَّظَرِ فِيِهِ قَلْبًا سَقِيمًاCelaka orang yang ketika memikirkan takdir, dia mendatangkan hati yang rusak, hati yang berpenyakit, hati yang berprasangka buruk kepada Allāh ﷻ, bahwasanya Allāh zalim, Allāh ﷻ tidak adil, dan seterusnya. Dia memahami takdir dengan hati yang rusak. Maka, celaka orang yang demikian, yaitu memikirkan dan beriman kepada takdir Allāh ﷻ, tetapi dengan hati yang rusak.لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِي فَحْصِ الغَيْبِ سِرًّا كَتِيمًاOrang yang memikirkan tentang masalah takdir dengan hati yang rusak, kalau hatinya bersih, maka dia akan memikirkan takdir Allāh ﷻ sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ gariskan. Itulah hati yang bersih. Husnudzhan, beriman bahwa semuanya sudah ditentukan, dan dia menyadari bahwasanya kita diperintahkan untuk mengambil sebab, kalau terjadi sesuatu maka tidak boleh kita menggerutu dan mengatakanقَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَIni hati yang bersih, tetapi kalau hati yang kotor tidak demikian. Di dalamnya penuh dengan su’udzon kepada Allāh.لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِي فَحْصِ الغَيْبِ سِرًّا كَتِيمًاSungguh, orang yang membantah apa yang Allāh ﷻ takdirkan, dia telah mencari-cari dengan persangkaannya dalam membongkar perkara yang ghaib rahasia Allāh yang tersembunyi.Bagaimana seseorang bisa membongkar apa yang Allāh ﷻ rahasiakan? Makhluk yang lemah, bagaimana dia bisa membongkar rahasia yang Allāh ﷻ sembunyikan? Karena sebagaimana telah berlalu, takdir ini adalahسِرُّ اللَّهِ فِي خَلْقِهِini adalah rahasia Allāh ﷻ yang ada pada diri makhluk-makhluk-Nya. Tidak mungkin kita bisa membongkar apa yang sudah Allāh ﷻ rahasiakan. Ini adalah rahasia Allāh ﷻ pada makhluk-makhluk-Nya. Yang kita bisa lakukan adalah berusaha mengambil sebab sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tunjukkan.وَعَادَ بِمَا قَالَ فِيهِ أَفَّاكًا أَثِيْمًاOrang yang berusaha memahami takdir Allāh ﷻ tapi bukan dengan cara yang dibenarkan, beriman dengan takdir Allāh ﷻ tapi bukan dengan cara yang dibenarkan, pasti dia akan kembali sebagai pendusta, dan dia adalah orang yang berdosa.Kalau seseorang memahami takdir Allāh ﷻ bukan dengan cara yang dibenarkan, maka dia adalah pendusta. Apa yang dia ucapkan itu adalah dusta, tidak sesuai dengan kenyataan.Demikian pula dia akan berdosa dengan sebab apa yang dia lakukan, karena dia berusaha untuk membongkar rahasia Allāh ﷻ, rahasia Allāh ﷻ yang tidak mungkin dibongkar. Itu bukan ranahnya, tapi dia berusaha untuk membongkarnya, membantah Allāh ﷻ dalam masalah takdir-Nya.Maka ini adalah paragraf penutup dari apa yang beliau sampaikan tentang masalah takdir. Beliau tutup dengan perkataan, “Celaka bagi orang yang menjadi pembantah terhadap Allāh ﷻ dalam takdir-Nya, dia memikirkan tentang takdir Allāh ﷻ dengan hati yang rusak, dengan hati yang berpenyakit.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Beriman kepada amalan-amalan malaikat

Ringkasan MateriBeriman kepada amalan-amalan malaikat merupakan bagian dari iman kepada malaikat. Amalan malaikat yang kita ketahui mencakup:Ibadah kepada Allah.Tugas yang berkaitan dengan alam semesta.Tugas yang berkaitan dengan manusia.Di antara bentuk ibadah malaikat:1. Bertasbih kepada AllahMalaikat senantiasa bertasbih, memuji dan menyucikan Allah. Mereka bertasbih siang dan malam tanpa merasa jemu.Tasbih berarti menyucikan Allah dari segala sifat kekurangan yang tidak pantas bagi-Nya serta menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah.Di antara ucapan yang paling baik adalah:“Subhanallahi wa bihamdih”2. Mendoakan orang-orang berimanSecara umum, para malaikat mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang beriman. Allah menyebutkan bahwa malaikat mendoakan kaum mukminin agar Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya serta memberikan rahmat kepada mereka.Malaikat juga secara khusus mendoakan orang-orang yang melakukan amal saleh tertentu, di antaranya orang yang mengajarkan kebaikan atau ilmu agama kepada manusia. Bahkan Allah, para malaikat, dan makhluk di langit serta bumi mendoakan orang yang mengajarkan kebaikan.Malaikat juga mendoakan orang yang menunggu didirikannya shalat dan orang yang berada di tempat shalat setelah menunaikan shalat.Mereka berkata:“Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.”Doa tersebut terus diberikan selama seseorang berada di tempat shalat, belum berhadas, dan belum pergi dari tempat tersebut.✨ Pelajaran pentingMalaikat adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Mereka senantiasa taat dan beribadah kepada Allah. Di antara amalan mereka adalah terus bertasbih serta mendoakan orang-orang beriman dan orang-orang yang melakukan amal saleh.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah Halaqah 12

Halaqah yang ke dua belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Aliran Sesat yang Menyimpang di Dalam Masalah Takdir”.Diantara aliran sesat yang menyimpang di dalam masalah takdir adalah aliran Al Majusiyah, yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Majusi.Mereka adalah orang-orang yang beriman dengan syari’at, akan tetapi mendustakan takdir Allah.Ada diantara mereka yang mengingkari ilmu Allah dan mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadinya.Dan ada diantara mereka yang mengingkari keumuman Masyiah Allah dan penciptaan-Nya. Mereka berkata,“Allah yang mencipta manusia dan manusialah yang menciptakan amalannya sendiri.”Dan mereka berkata,“Bahwa amalan manusia adalah dengan kehendak manusia semata dan tidak ada hubungan sama sekali dengan kehendak Allah.”Sehingga mereka dinamakan dengan Al-Majusiyah karena orang-orang Majusi meyakini bahwa pencipta ada dua:⑴ Pencipta kebaikan⑵ Pencipta keburukanDan diantara aliran yang sesat di dalam masalah takdir adalah aliran Al Musyrikiyah yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.Mereka mengakui takdir Allah tetapi mengingkari syari’at Allah dan tidak mengikutinya.Dinamakan Al Musyrikiyah karena orang-orang Musyrikin mengakui takdir Allah dan tidak mau mengikuti syari’at Allah yang intinya adalah Tauhid.Allah berfirman tentang mereka,سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ…[Surat Al-An’am 148]“Akan berkata (orang-orang Musyrikin) seandainya Allah menghendaki niscaya kita tidak akan berbuat syirik, demikian pula bapak-bapak kami, dan tentunya kami tidak akan mengharamkan sesuatu.”Demikianlah ucapan orang-orang Musyrikin ketika mereka diajak oleh Rasulullah ﷺ untuk bertauhid, mereka menolak tauhid dan beralasan bahwa kesyirikan mereka adalah dengan takdir Allah.Maka setiap orang yang berdalil dengan takdir dalam membolehkan kemaksiatan, pada hakikatnya dia telah mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.Adapun Ahlus Sunnah maka seperti yang sudah berlalu, mereka beriman dengan takdir dan beriman dengan syari’at.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 September 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 87

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 87 | Pengakuan Terhadap Takdir Merupakan Bentuk Pengesaan Allāh ﷻ dan Rububiyyah-NyaHalaqah 87 | Pengakuan Terhadap Takdir Merupakan Bentuk Pengesaan Allāh ﷻ dan Rububiyyah-NyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-87 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالِاعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ اللهِ تَعَالَىٰ وَرُبُوبِيَّتِهِDan beriman dengan takdir Allāh ﷻ ini adalah bentuk pengakuan kita terhadap keesaan Allāh ﷻ dan juga Rubūbiyyah-Nya.Ini termasuk pengakuan kita terhadap keesaan Allāh ﷻ dan pengakuan kita terhadap Rubūbiyyah Allāh ﷻ. Kenapa demikian? Karena meyakini bahwasanya Allāh ﷻ mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, dan meyakini bahwasanya Allāh ﷻ menulis segala sesuatu sebelum terjadinya, ini adalah termasuk bagian dari keimanan kita terhadap Qudratullāh (kekuasaan Allāh ﷻ).Allāh ﷻ berkuasa untuk mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, Allāh ﷻ berkuasa untuk menulis segala sesuatu sebelum terjadinya, dan Allāh ﷻ berkuasa untuk menjadikan segala sesuatu di permukaan bumi ini terjadi dengan Masīyyatullāh (kehendak Allāh ﷻ). Allāh ﷻ berkuasa untuk menciptakan segala sesuatu yang Dia inginkan.Kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ itu sama dengan beriman dengan Qudratullāh (kekuasaan Allāh ﷻ). Makanya sebagian salaf mengatakan, “Al-Qadru Qudratullāh” (Al-Qadr itu adalah kekuasaan Allāh ﷻ). Sehingga barangsiapa yang mengingkari Qadar, mengingkari takdir, maka dia telah mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ, dan orang yang mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ keluar dari agama Islam.Al-Qadr adalah Qudratullāh. Takdir adalah kekuasaan Allāh ﷻ. Barangsiapa yang mengingkari takdir Allāh ﷻ maka dia telah mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ, dan barangsiapa yang mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ maka dia telah keluar dari agama Islam. Sehingga beliau mengatakanوَالِاعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ اللهِ تَعَالَىٰ وَرُبُوبِيَّتِهِberiman dengan takdir ini adalah pengakuan seorang hamba tentang keesaan Allāh ﷻ, pengakuan seorang hamba terhadap Rubūbiyyah Allāh ﷻ. Karena di antara makna Rubūbiyyah adalah al-qudrah, yaitu Allāh ﷻ Maha Memiliki sifat al-qudrah, menguasai segala sesuatu. Itu di antara makna-makna Rubūbiyyah.كَمَا قَالَ تَعَالَىٰSebagaimana Firman Allāh:وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا [الفرقان: 2]“Allāh Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu dan Allāh mentakdirkan segala sesuatu dengan sebenar-benarnya.”Ini ada keimanan terhadap takdir Allāh ﷻ dan keimanan bahwasanya segala sesuatu diciptakan oleh Allāh ﷻ dengan takdir.وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا} [الأحزاب: 38]Dan Allāh ﷻ berfirman: “Dan urusan Allāh ﷻ itu adalah takdir yang sudah ditakdirkan.”Semuanya adalah dengan takdir Allāh ﷻ. Ini menunjukkan bahwasanya apa yang terjadi di permukaan bumi ini, itu bukan terjadi secara begitu saja, bukan terjadi tanpa aturan, bukan terjadi tanpa direncanakan, bukan terjadi tanpa diketahui oleh Allāh ﷻ. Itu semua sudah diketahui. Apa yang terjadi di permukaan bumi, apa saja, sekecil apapun itu, sudah diketahui oleh Allāh ﷻ dan sudah ditulis oleh Allāh ﷻ semuanya, dan akan terjadi sebagaimana yang Allāh ﷻ tulis.Dan ini bukan berarti bahwasanya seseorang kemudian dia tidak mengambil sebab. Ini sudah kita tekankan berkali-kali. Sebagaimana kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ, maka kita juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mentakdirkan dan Allāh ﷻ juga mensyariatkan. Kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ dan kita juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ. Dua-duanya kita imani. Allāh ﷻ mentakdirkan rezeki dan Allāh ﷻ juga mensyariatkan kita untuk memberi nafkah, untuk mencari rezeki, untuk bekerja.فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ Apabila sudah selesai shalat Jum’at, maka hendaklah kalian menyebar dipermukaan bumi; dan carilah karunia Allāh ﷻ, bekerjalah, berdaganglahوَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَDan banyak-banyaklah mengingat Allāh ﷻ semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Jumu’ah: 10)Dan Nabi ﷺ bersabda,لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً مِنْ حَطَبٍ، فَيَحْمِلُهَا عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا، فَيَسْتَغْنِيَ بِثَمَنِهَا، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُSungguh salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar (di kebun atau di hutan), kemudian dia bawa satu ikat dari kayu bakar tadi ke pasar, kemudian dia jual, dia mendapatkan uang, itu lebih baik daripada dia meminta-minta kepada manusia baik diberi ataupun tidak diberi.Apa yang kita pahami dari ucapan Nabi ﷺ ini? adalah dorongan kita untuk bekerja. Jangan kita meminta-minta kepada manusia, meskipun meminta itu mungkin dikasih, dan mungkin dikasihnya lebih banyak daripada kita mencari kayu bakar, kemudian kita jual. Tapi yang lebih dicintai oleh Allāh ﷻ adalah kita usaha sendiri, kita bekerja sendiri meskipun hanya sedikit yang kita dapatkan.Para anbiya, mereka bekerja. Para nabi mereka bekerja, padahal siapa yang lebih kuat keimanannya terhadap takdir, kita atau mereka? Tentunya mereka. Tapi lihat, ada di antara mereka yang jadi tukang kayu, ada di antara mereka yang jadi penggembala. Nabi Mūsā ‘alayhis-salām, berapa tahun beliau menggembalakan untuk Shahibul  Madyan? Padahal mereka adalah orang-orang yang sangat beriman dengan takdir Allāh ﷻ. Karena mereka tahu bahwasanya kita ini diperintahkan untuk melakukan dua perkara: beriman dengan takdir dan juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ.Semua ini sudah ditulis tentang penduduk Surga dan juga penduduk Neraka. Kita iman yang demikian. Dan di dalam syariat kita diperintahkan untuk shalat, kita diperintahkan untuk menjauhi kemaksiatan, kita diperintahkan untuk beriman, kita diperintahkan untuk menuntut ilmu. Kita lakukan apa yang Allāh ﷻ perintahkan. Kita beriman bahwasanya penyakit dan kesembuhan ini sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dan tidak mungkin dirubah, tapi di satu sisi kita disuruh untuk beriman dengan syariat Allāh ﷻ.Kita diperintahkan untuk berobat.يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا، …، وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ“Wahai hamba-hamba Allāh, berobatlah kalian, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang diharamkan oleh Allāh.”Allāh ﷻ mengabarkan di dalam Al-Qur’ān bahwa madu ini adalah obat. Al-Qur’ān di dalamnya ada obat. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa habbatus-sauda adalah obat. Tujuannya apa? Supaya kita berobat, supaya kita mengambil sebab. Masalah hasilnya, maka yang menentukan adalah Allāh ﷻ.Kita diperintahkan untuk mengambil sebab, dan kita yakin semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ tidak sembuh, ya bagaimanapun kita mencari dokter yang hebat, kita mencari obat yang manjur dan seterusnya, tidak akan sembuh. Tapi kita diperintahkan untuk mengambil sebab, kita diperintahkan untuk berdoa, kita diperintahkan untuk bersabar, dan seterusnya.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 12: Aliran Sesat Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Takdir

Halaqah 12:Aliran Sesat Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Takdir🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى▪️Aliran Al MajusiyahDiantara aliran sesat yang menyimpang di dalam masalah takdir adalah aliran Al Majusiyah, yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Majusi.Mereka adalah orang-orang yang beriman dengan syari’at, akan tetapi mendustakan takdir Allah.Ada diantara mereka yang mengingkari ilmu Allah dan mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadinya.Dan ada diantara mereka yang mengingkari keumuman Masyiah Allah dan penciptaan-Nya. Mereka berkata,“Allah yang mencipta manusia dan manusialah yang menciptakan amalannya sendiri.”Dan mereka berkata,“Bahwa amalan manusia adalah dengan kehendak manusia semata dan tidak ada hubungan sama sekali dengan kehendak Allah.”Sehingga mereka dinamakan dengan Al-Majusiyah karena orang-orang Majusi meyakini bahwa pencipta ada dua:⑴ Pencipta kebaikan⑵ Pencipta keburukan▪️Aliran Al MusyrikiyahDan diantara aliran yang sesat di dalam masalah takdir adalah aliran Al Musyrikiyah yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.Mereka mengakui takdir Allah tetapi mengingkari syari’at Allah dan tidak mengikutinya.Dinamakan Al Musyrikiyah karena orang-orang Musyrikin mengakui takdir Allah dan tidak mau mengikuti syari’at Allah yang intinya adalah Tauhid.Allah berfirman tentang mereka:سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ…“Akan berkata (orang-orang Musyrikin) seandainya Allah menghendaki niscaya kita tidak akan berbuat syirik, demikian pula bapak-bapak kami, dan tentunya kami tidak akan mengharamkan sesuatu.”(QS. Al-An’am: 148)Demikianlah ucapan orang-orang Musyrikin ketika mereka diajak oleh Rasulullah ﷺ untuk bertauhid, mereka menolak tauhid dan beralasan bahwa kesyirikan mereka adalah dengan takdir Allah.Maka setiap orang yang berdalil dengan takdir dalam membolehkan kemaksiatan, pada hakikatnya dia telah mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.Adapun Ahlus Sunnah maka seperti yang sudah berlalu, mereka beriman dengan takdir dan beriman dengan syari’at.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 12 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 12)

Tema: Perintah terbesar dari Allah adalah Tauhid1. Tauhid adalah Perintah Allah yang Paling BesarSyaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رحمه الله berkata:وأعظم ما أمر الله به التوحيد وهو إفراد الله بالعبادة“Perintah terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah.”Maknanya:Semua perintah syariat sangat penting, seperti shalat, zakat, puasa, sedekah, dan berbakti kepada orang tua.Namun, tauhid adalah perintah yang paling agung dan paling utama dibanding seluruh perintah lainnya.2. Amalan Paling Utama adalah Iman kepada Allah dan Rasul-NyaKetika Rasulullah ﷺ ditanya tentang amalan yang paling utama, beliau menjawab:“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”Ini menunjukkan bahwa:Dasar seluruh amal adalah tauhid dan iman.Amal sebanyak apa pun tidak akan diterima tanpa tauhid.3. Perintah Pertama dalam Al-Qur’an adalah TauhidAllah berfirman:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah: 21)Pelajaran penting:Ini adalah perintah pertama kepada seluruh manusia dalam Al-Qur’an.Allah tidak memulai dengan perintah shalat atau puasa, tetapi dengan perintah beribadah kepada-Nya.Yang berhak disembah hanyalah Allah karena Dialah yang menciptakan manusia dan seluruh makhluk.Catatan hafalan:Yang menciptakan → yang berhak disembah.Yang tidak menciptakan → tidak berhak disembah.4. Hak Pertama yang Wajib Ditunaikan adalah Hak AllahAllah berfirman:وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisa’: 36)Dalam ayat ini Allah menyebutkan berbagai hak:Hak Allah.Hak kedua orang tua.Hak kerabat.Hak anak yatim.Hak orang miskin.Hak tetangga dekat.Hak tetangga jauh.Hak teman sejawat.Hak ibnu sabil.Hak budak/hamba sahaya.Menariknya:Sebelum menyebut hak-hak manusia, Allah mendahulukan hak-Nya, yaitu tauhid dan larangan syirik.5. Wasiat Pertama Allah dalam Al-Qur’an adalah TauhidAllah berfirman:وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ“Rabbmu telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia.” (QS. Al-Isra’: 23)Pelajarannya:Sebelum memerintahkan berbakti kepada orang tua, Allah mendahulukan tauhid.Ini menunjukkan bahwa hak Allah lebih besar daripada hak siapa pun.Mengapa Tauhid Menjadi Perintah Terbesar?1. Tujuan Penciptaan ManusiaAllah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya.2. Dakwah Seluruh NabiSemua nabi mengajak umatnya kepada:“Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”3. Amal Tidak Diterima Tanpa TauhidOrang yang rajin beramal tetapi melakukan syirik, amalnya tidak diterima.4. Tauhid Adalah Hak AllahHak terbesar Allah atas hamba-hamba-Nya adalah:Beribadah hanya kepada-Nya.Tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.Ringkasan Super Singkat (Untuk Hafalan)Definisi Tauhidإفراد الله بالعبادة“Mengesakan Allah dalam ibadah.”4 Poin PentingTauhid adalah perintah terbesar Allah.Tauhid adalah amalan paling utama.Perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah tauhid (QS. Al-Baqarah: 21).Hak pertama yang wajib ditunaikan adalah hak Allah, yaitu bertauhid dan menjauhi syirik.Kata Kunci Halaqah 12Tauhid → Perintah Terbesar → Hak Allah yang Pertama → Dasar Seluruh AmalKesimpulanHalaqah ini menegaskan bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar seorang hamba. Semua ibadah, amal saleh, dan ketaatan harus dibangun di atas tauhid. Karena itu, seorang muslim harus mempelajari tauhid, mengamalkannya, serta menjauhi segala bentuk syirik agar amalnya diterima oleh Allah.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 87 | Pengakuan Terhadap Takdir Merupakan Bentuk Pengesaan Allāh ﷻ dan Rububiyyah-Nya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullahالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-87 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالِاعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ اللهِ تَعَالَىٰ وَرُبُوبِيَّتِهِDan beriman dengan takdir Allāh ﷻ ini adalah bentuk pengakuan kita terhadap keesaan Allāh ﷻ dan juga Rubūbiyyah-Nya.Ini termasuk pengakuan kita terhadap keesaan Allāh ﷻ dan pengakuan kita terhadap Rubūbiyyah Allāh ﷻ. Kenapa demikian? Karena meyakini bahwasanya Allāh ﷻ mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, dan meyakini bahwasanya Allāh ﷻ menulis segala sesuatu sebelum terjadinya, ini adalah termasuk bagian dari keimanan kita terhadap Qudratullāh (kekuasaan Allāh ﷻ).Allāh ﷻ berkuasa untuk mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, Allāh ﷻ berkuasa untuk menulis segala sesuatu sebelum terjadinya, dan Allāh ﷻ berkuasa untuk menjadikan segala sesuatu di permukaan bumi ini terjadi dengan Masīyyatullāh (kehendak Allāh ﷻ). Allāh ﷻ berkuasa untuk menciptakan segala sesuatu yang Dia inginkan.Kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ itu sama dengan beriman dengan Qudratullāh (kekuasaan Allāh ﷻ). Makanya sebagian salaf mengatakan, “Al-Qadru Qudratullāh” (Al-Qadr itu adalah kekuasaan Allāh ﷻ). Sehingga barangsiapa yang mengingkari Qadar, mengingkari takdir, maka dia telah mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ, dan orang yang mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ keluar dari agama Islam.Al-Qadr adalah Qudratullāh. Takdir adalah kekuasaan Allāh ﷻ. Barangsiapa yang mengingkari takdir Allāh ﷻ maka dia telah mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ, dan barangsiapa yang mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ maka dia telah keluar dari agama Islam. Sehingga beliau mengatakanوَالِاعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ اللهِ تَعَالَىٰ وَرُبُوبِيَّتِهِberiman dengan takdir ini adalah pengakuan seorang hamba tentang keesaan Allāh ﷻ, pengakuan seorang hamba terhadap Rubūbiyyah Allāh ﷻ. Karena di antara makna Rubūbiyyah adalah al-qudrah, yaitu Allāh ﷻ Maha Memiliki sifat al-qudrah, menguasai segala sesuatu. Itu di antara makna-makna Rubūbiyyah.كَمَا قَالَ تَعَالَىٰSebagaimana Firman Allāh:وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا [الفرقان: 2]“Allāh Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu dan Allāh mentakdirkan segala sesuatu dengan sebenar-benarnya.”Ini ada keimanan terhadap takdir Allāh ﷻ dan keimanan bahwasanya segala sesuatu diciptakan oleh Allāh ﷻ dengan takdir.وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا} [الأحزاب: 38]Dan Allāh ﷻ berfirman: “Dan urusan Allāh ﷻ itu adalah takdir yang sudah ditakdirkan.”Semuanya adalah dengan takdir Allāh ﷻ. Ini menunjukkan bahwasanya apa yang terjadi di permukaan bumi ini, itu bukan terjadi secara begitu saja, bukan terjadi tanpa aturan, bukan terjadi tanpa direncanakan, bukan terjadi tanpa diketahui oleh Allāh ﷻ. Itu semua sudah diketahui. Apa yang terjadi di permukaan bumi, apa saja, sekecil apapun itu, sudah diketahui oleh Allāh ﷻ dan sudah ditulis oleh Allāh ﷻ semuanya, dan akan terjadi sebagaimana yang Allāh ﷻ tulis.Dan ini bukan berarti bahwasanya seseorang kemudian dia tidak mengambil sebab. Ini sudah kita tekankan berkali-kali. Sebagaimana kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ, maka kita juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mentakdirkan dan Allāh ﷻ juga mensyariatkan. Kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ dan kita juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ. Dua-duanya kita imani. Allāh ﷻ mentakdirkan rezeki dan Allāh ﷻ juga mensyariatkan kita untuk memberi nafkah, untuk mencari rezeki, untuk bekerja.فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ Apabila sudah selesai shalat Jum’at, maka hendaklah kalian menyebar dipermukaan bumi; dan carilah karunia Allāh ﷻ, bekerjalah, berdaganglahوَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَDan banyak-banyaklah mengingat Allāh ﷻ semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Jumu’ah: 10)Dan Nabi ﷺ bersabda,لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً مِنْ حَطَبٍ، فَيَحْمِلُهَا عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا، فَيَسْتَغْنِيَ بِثَمَنِهَا، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُSungguh salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar (di kebun atau di hutan), kemudian dia bawa satu ikat dari kayu bakar tadi ke pasar, kemudian dia jual, dia mendapatkan uang, itu lebih baik daripada dia meminta-minta kepada manusia baik diberi ataupun tidak diberi.Apa yang kita pahami dari ucapan Nabi ﷺ ini? adalah dorongan kita untuk bekerja. Jangan kita meminta-minta kepada manusia, meskipun meminta itu mungkin dikasih, dan mungkin dikasihnya lebih banyak daripada kita mencari kayu bakar, kemudian kita jual. Tapi yang lebih dicintai oleh Allāh ﷻ adalah kita usaha sendiri, kita bekerja sendiri meskipun hanya sedikit yang kita dapatkan.Para anbiya, mereka bekerja. Para nabi mereka bekerja, padahal siapa yang lebih kuat keimanannya terhadap takdir, kita atau mereka? Tentunya mereka. Tapi lihat, ada di antara mereka yang jadi tukang kayu, ada di antara mereka yang jadi penggembala. Nabi Mūsā ‘alayhis-salām, berapa tahun beliau menggembalakan untuk Shahibul  Madyan? Padahal mereka adalah orang-orang yang sangat beriman dengan takdir Allāh ﷻ. Karena mereka tahu bahwasanya kita ini diperintahkan untuk melakukan dua perkara: beriman dengan takdir dan juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ.Semua ini sudah ditulis tentang penduduk Surga dan juga penduduk Neraka. Kita iman yang demikian. Dan di dalam syariat kita diperintahkan untuk shalat, kita diperintahkan untuk menjauhi kemaksiatan, kita diperintahkan untuk beriman, kita diperintahkan untuk menuntut ilmu. Kita lakukan apa yang Allāh ﷻ perintahkan. Kita beriman bahwasanya penyakit dan kesembuhan ini sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dan tidak mungkin dirubah, tapi di satu sisi kita disuruh untuk beriman dengan syariat Allāh ﷻ.Kita diperintahkan untuk berobat.يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا، …، وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ“Wahai hamba-hamba Allāh, berobatlah kalian, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang diharamkan oleh Allāh.”Allāh ﷻ mengabarkan di dalam Al-Qur’ān bahwa madu ini adalah obat. Al-Qur’ān di dalamnya ada obat. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa habbatus-sauda adalah obat. Tujuannya apa? Supaya kita berobat, supaya kita mengambil sebab. Masalah hasilnya, maka yang menentukan adalah Allāh ﷻ.Kita diperintahkan untuk mengambil sebab, dan kita yakin semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ tidak sembuh, ya bagaimanapun kita mencari dokter yang hebat, kita mencari obat yang manjur dan seterusnya, tidak akan sembuh. Tapi kita diperintahkan untuk mengambil sebab, kita diperintahkan untuk berdoa, kita diperintahkan untuk bersabar, dan seterusnya.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke dua belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke dua belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Para ulama menjelaskan apabila memang terjadi kekufuran yang sangat jelas dari seorang penguasa (dari seorang pemerintah), maka di sana ada syarat-syarat yang lain yang harus dipenuhi dan ini disebutkan oleh para ulama, (yaitu) (1) apabila tidak terjadi di sana kerusakan yang lebih besar.Apabila di sana justru terjadi kerusakan yang lebih besar, apabila seseorang memberontak karena pemerintahnya melakukan kekufuran, melakukan kekafiran yang jelas, apabila di sana justru terjadi kerusakan yang lebih besar, maka diharamkan seseorang untuk memberontak. Ini disebutkan oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya.Dan (2) kaum muslimin memiliki ganti yang lebih baik.Kalau misalnya bisa memberontak tetapi tidak memiliki ganti yang lebih baik, maka tidak diperbolehkan untuk melakukan pemberontakan.Dan juga syarat-syarat yang lain.Para ulama telah ketat di dalam masalah ini. Dan perkara seperti ini dikembalikan kepada para pembesar ulama, bukan hanya kepada seorang da’i, seorang ustadz, tetapi dikembalikan kepada ulama-ulama besar yang mereka mengetahui maslahat dan juga mudharat, mana yang baik dan mana yang buruk bagi kaum muslimin.Dalil yang lain yang menunjukkan tentang wajibnya mendengar dan taat kepada pemerintah, Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, ”Bahwanya kita diperintahkan untuk mendengar dan taat kecuali apabila dia diperintahkan untuk kemaksiatan.فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ“Apabila diperintahkan untuk berbuat maksiat maka tidak ada mendengar dan tidak ada ketaatan.” (HR Muslim 3423/1839)اسْمَعُوا وَأَطِيعُواMendengarlah kalian dan taatlah kalian,Namun apabila diperintahkan untuk berbuat maksiat, فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ maka tidak ada mendengar dan tidak ada ketaatan.Artinya di dalam perintah tersebut, penguasa dan juga pemerintah memiliki peraturan-peraturan. Di antara peraturan tersebut ada yang sesuai dengan syari’at Allah dan Rasul-Nya dan ada di antara peraturan tersebut yang tidak sesuai.Yang sesuai dengan syari’at Allah dan Rasul-Nya maka kita diwajibkan untuk mendengar dan juga taat.Disebutkan oleh para ulama, contohnya (misalnya) peraturan lalu lintas.Kita diharuskan memiliki SIM, kita diharuskan untuk mengikuti rambu-rambu lalu lintas, dilarang parkir di sebuah tempat, apabila lampu berwarna merah maka harus berhenti, maka ini adalah peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah untuk kemaslahatan bersama.Pada asalnya ini adalah kewajiban kita sebagai rakyat untuk mendengar dan taat kepada penguasa tersebut di dalam peraturan-peraturan ini, karena peraturan-peraturan ini tidak bertentangan dengan syari’at Allah dan juga Rasul-Nya.Namun ketika membuat peraturan yang di situ ada kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh seseorang untuk mendengar dan taat di dalam peraturan tersebut dan dia masih diwajibkan untuk mendengar dan taat pada peraturan-peraturan yang lain yang sesuai dengan Al Qur’an dan juga hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Kemudian Beliau mengatakan وَقَدَرًا, demikian pula dari segi takdir, Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menjelaskan baik dengan syari’at maupun dengan takdir.Maksudnya dengan takdir adalah dengan apa yang kita lihat di sekitar kita. Kita bisa bedakan antara sebuah negara yang rakyatnya di situ mendengar dan taat kepada penguasanya, dengan sebuah negara yang rakyatnya tidak mendengar dan juga tidak taat kepada pemerintahnya.Beda antara dua negara ini, negara yang rakyatnya melakukan ketaatan dan mendengar apa yang diperintahkan oleh pemerintah, maka kita dapatkan keamanan di dalam negara tersebut, ketenangan, nyaman rakyatnya di dalam melakukan berbagai kegiatan, baik kegiatan agama maupun kegiatan dunia, dengan leluasa mereka beribadah, melakukan haji setiap tahun, melakukan shalat lima waktu secara berjama’ah, mendirikan shalat hari raya, juga syari’at syari’at yang lain.Dan dengan leluasa mereka melakukan kegiatan dunia, berdagang, bepergian, karena rakyatnya mendengar dan taat kepada pemerintahnya.Lain dengan sebuah negara yang di situ rakyatnya tidak mendengar dan tidak taat kepada pemerintah. Keamanan tidak stabil, rakyatnya di dalam berbagai kegiatan mereka merasa tidak aman, baik ketika beribadah maupun dalam melakukan kegiatan-kegiatan dunia, banyak di antara mereka yang tidak bisa melaksanakan haji, takut untuk shalat berjama’ah, wanita yang muslimah takut untuk menggunakan jilbab dan juga perkara-perkara yang lain.Beda antara sebuah negara yang rakyatnya taat kepada penguasa dengan sebuah negara yang rakyatnya tidak taat kepada penguasa.Oleh karena itu beliau mengatakan: شَرْعًا وَقَدَرًا Baik secara syari’at maupun takdir, taat kepada pemerintah adalah sesuatu yang sangat penting bagi seorang muslim.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →