🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI7 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke sebelas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke sebelas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,فَبَيَّنَ الله له هَذا بَيانًا شائِعًا كافِيًا بِوُجُوهٍ مِنْ أَنْواعِ الْبَيَانِ شَرْعًا وَقَدَرًاAllah Subhānahu wa Ta’āla telah menjelaskan perkara ini dengan penjelasan yang cukup, dengan berbagai uslub (cara) baik secara syar’iat maupun dengan takdir.Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menjelaskan pentingnya mendengar dan taat kepada penguasa dengan penjelasan yang sangat jelas di dalam Al Qur’an dan dijelaskan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam hadits-hadits yang shahih, baik dengan tinjauan syari’at maupun dari segi takdir.Di dalam Al Qur’an diantaranya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla,يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul, dan ulil amri diantara kalian.”(QS. An-Nisa: 59)Dan yang dimaksud dengan ulil amri di sini adalah para ulama dan para pemerintah (para penguasa).Allah mengatakan kepada orang-orang yang beriman,“Wahai orang-orang yang beriman (yang merasa bahhwasanya dia beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat, beriman kepada kitab-kitab, beriman kepada para Rasul, beriman kepada hari akhir, beriman kepada takdir) hendaklah kalian taat kepada Allah dan taat lah kalian kepada Rasul dan orang yang memerintah diantara kalian.”Ulil amri sebagaimana disebutkan oleh para mufassirin adalah para ulama dan juga para umara. Kita diperintah untuk mentaati mereka dan ini menunjukkan tentang wajibnya mentaati pemerintah dan juga penguasa, karena Allah mengatakan, أَطِيعُوا۟ (hendaklah kalian mentaati).Namun ketaatan kepada seorang penguasa dan pemerintah bukanlah ketaatan yang mutlak, berbeda dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Oleh karena itu ketika menyebutkan Allah dan juga Rasul-Nya, didahului dengan kalimat أَطِيعُوا۟.يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَKarena ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan yang mutlak.Adapun ketika menyebutkan ulil amri, maka Allah mengatakan وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ (dan pemerintah diantara kalian) karena ketaatan kepada pemerintah dan penguasa bukanlah ketaatan yang mutlak, akan tetapi ketaatan yang berada di dalam ketaatan. Ketaatan di dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.Apabila seorang pemerintah dan penguasa, memerintah dengan perkara yang sesuai dengan syari’at, sesuai dengan kehendak Allah dan Rasul-Nya, maka perintah tersebut harus ditaati.Namun apabila dia memerintah dengan kemaksiatan dengan sebuah dosa dengan sebuah perkara yang bertentangan dengan syari’at Allah Subhānahu wa Ta’āla maka perintah tersebut tidak boleh ditaati.Adapun di dalam hadits, maka diantara dalil yang menunjukkan pentingnya dan wajibnya kita mendengar dan taat kepada pemerintah adalah ketika Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berwasiat kepada para sahabat.1. Wasiat dengan ketakwaan2. Wasiat mendengar dan taat kepada penguasa meskipun yang berkuasa adalah seorang budak dari Habasyah.Dan diantara dalilnya dari sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah ucapan Ubadah Ibnu Shamit ketika beliau mengatakan,بَايَعَنَا رسول الله صلى الله عليه وسلم عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وعَسرِنَا، وَيُسْرِنَا، وَعلى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا“Kami dahulu membai’at Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk mendengar dan taat baik ketika kami dalam keadaan semangat maupun dalam keadaan malas, baik dalam kesusahan maupun dalam kemudahan.”Mendengar dan taat meskipun harus diambil sebagian dari hak kami, baik hak harta maupun yang lain.Meskipun diambil sebagian hak kita, baik harta maupun yang lain, maka tidak boleh ini menjadikan kita keluar dari ketaatan kepada pemerintah.Kemudian beliau mengatakan,وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ“Dan kami telah membai’at Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk tidak memberontak, untuk tidak mengambil kekuasaan dari yang memiliki.”Ini adalah isi dari bai’at para sahabat radhiyallāhu ‘anhum kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam, diantaranya adalah supaya kita tidak mengambil kekuasaan dari pemiliknya.Yaitu memberontak kepada pemerintah, memberontak kepada penguasa yang sah, maka ini diharamkan di dalam agama kita.Kemudian Beliau mengatakan,وقال إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ‏“Kecuali apabila engkau melihat kekufuran yang jelas, kekafiran yang jelas, dari pemerintah tersebut dan engkau memiliki dalil (memiliki burhan) yang sangat jelas yang tidak ada kesamaran di dalamnya (maka dalam keadaan seperti itu boleh seseorang memberontak).”Yaitu apabila melihat kekufuran, dan di sini Beliau mengatakan كُفْرًا بَوَاحًا (kekufuran yang jelas) artinya, bukan hanya sekedar keragu-raguan atau kekufuran yang samar, kekufuran yang jelas maksudnya adalah kekufuran yang semua umat Islam bersepakat atas kekufuran tersebut.Dan di sana ada dalil yang jelas di dalam Al Qur’an maupun hadits yang mengatakan bahwasanya ini adalah sebuah kekufuran dan bukan hanya sekedar keraguan, bukan hanya sekedar kemaksiatan. Engkau memiliki dalil dari Allah Subhānahu wa Ta’āla atas masalah tersebut.Dan para ulama menyebutkan ini adalah perkecualian, dan ini menunjukkan kepada kita hanya sekedar melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh seorang penguasa, maka ini tidak menjadikan dan tidak membolehkan seseorang untuk keluar dan memberontak kepada pemerintah, karena Beliau mengatakan كُفْرًا بَوَاحًا, sebuah kekafiran yang sangat jelas.Adapun hanya melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh pemerintah, maka ini tidak boleh menjadikan seseorang keluar dan memberontak kepada pemerintah tersebut.Yang dinamakan dengan korupsi, maka ini adalah sebuah kemaksiatan dan bukan kekufuran. Tidak boleh menjadikan seseorang memberontak dan keluar kepada pemerintah.Berbuat dholim adalah kemaksiatan. Kemaksiatan tersebut akan ditanyakan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla kepada penguasa di hari kiamat, kemaksiatan dia adalah untuk dia sendiri dan kewajiban kita adalah mendengar dan taat kepada pemerintah tersebut, selama perintah tersebut sesuai dengan syari’at Allah Subhānahu wa Ta’āla.Ucapan Beliau,إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًاMenunjukkan kepada kita bahwasanya kemaksiatan tidak menjadikan seseorang keluar dari ketaatan kepada pemerintah kita.Dan di sini Beliau memberikan syarat-syarat yang ketat sebuah kekafiran dan kekafiran tersebut adalah kekafiran yang sangat jelas dan memiliki dalil yang sangat kuat.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 86 | Ilmu Allāh ﷻ Telah Mendahului Segala Sesuatu yang Akan Terjadi pada Makhluk-Nya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-86 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَعَلَىٰ العَبْدِDan wajib bagi seorang hamba, setelah itu semuanyaأَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ سَبَقَ عِلْمُهُ فِي كُلِّ كَائِنٍ مِنْ خَلْقِهِkewajiban seorang hamba adalah meyakini bahwasanya Allāh ﷻ telah mendahului ilmu-Nya di dalam segala sesuatu yang terjadi di antara apa yang Allāh ciptakan.Berkaitan dengan ‘ilmullāh, berarti ini martabah yang pertama, hendaklah dia mengetahui bahasanya ilmu Allāh itu mendahului segala sesuatu yang terjadi di dunia. Tidak mungkin terjadi sesuatu kemudian baru di situ dibarengi dengan ilmu Allāh, atau terjadi sesuatu setelahnya baru Allāh ﷻ mengetahui. Ini keyakinan yang bathil.Yang benar, bahwasanya sebelum terjadi segala sesuatu Allāh ﷻ telah mengetahui sesuatu tersebut. Tidak mungkin Allāh ﷻ dalam keadaan tidak tahu apa yang akan terjadi, berdasarkan Firman Allāh ﷻإِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ(QS. Al-Baqarah: 282)Sesungguhnya Allāh ﷻ Dialah yang mengetahui segala sesuatu, segala sesuatu mencakup yang belum terjadi, maupun yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.فَقَدَّرَ ذَلِكَ بِمَشِيئَتِهِ تَقْدِيرًا مُحْكَمًا مُبْرَمًاMaka Allāh ﷻ mentakdirkan itu semuanya dengan kehendak Allāh ﷻ, dengan takdir yang kokoh, mubraman ini maknanya hampir sama dengan kokoh, dan ini menunjukkan martabah yang ketiga yaitu bahwasanya segala sesuatu terjadi dengan masyīʾatullāh.Jadi Allāh ﷻ mengetahui, Allāh ﷻ menulis, dan Allāh ﷻ menjadikan sesuatu tadi dengan kehendak-Nya, dan itu semuanya ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dengan takdir yang kokoh, yang muhkam, yang mubram, dengan sedetail-detailnya dan terjadi di waktu sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tulis.Tidak ada yang meleset meskipun hanya setitik pun. Ini namanya takdiran muhkanan mubraman, dia adalah takdir yang kokoh yang tidak meleset sedikitpun. Semuanya persis dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis, seperti yang Allāh ﷻ ketahui, seperti yang Allāh ﷻ tulis dan terjadi dengan masyīʾatullāh.إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ(QS. Yā-Sīn: 82)Semuanya dengan masyīʾatullāh, Sesungguhnya urusan Allāh ﷻ apabila menghendaki sesuatu maka tinggal mengatakan ‘كُنْ’ terjadilah apa yang diinginkan oleh Allāh ﷻ.لَيْسَ فِيهِ نَاقِضٌTidak ada di dalam apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan sebelumnya, nāqidun yang membatalkan, tidak ada yang bisa membatalkan.وَلَا مُعَقِّبٌtidak ada yang bisa menentang, tidak ada yang bisa membatalkan, tidak ada yang bisa menentangnyaوَلَا مُزِيلٌtidak ada yang bisa menghilangkannya,وَلَا مُغَيِّرٌtidak ada yang bisa merubahnyaوَلَامُحَوِّلٌtidak ada yang bisa memindahnyaوَلَا زَائِدٌ وَلَا نَاقِصٌtidak ada yang bisa menambahnya dan tidak ada yang bisa menguranginya.Semuanya sudah ditulis oleh Allāh ﷻ, semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dengan takdir yang kokoh, tidak ada yang bisa merubahnyaمِنْ خَلْقِهِ فِي سَمَاوَاتِهِ وَأَرْضِهِtidak ada yang bisa melakukan itu semuanya—membatalkan, menghilangkan, merubah, memindahkan, menambah, mengurangi—di antara hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang bisa melakukannya baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, sampai malaikat sekalipun tidak ada yang bisa merubahnya. Sampai Nabi yang diutus tidak ada yang bisa merubahnya. Itu semuanya sudah ditetapkan oleh Allāh ﷻ. La tabdīl, tidak ada perubahan di dalam apa yang sudah Allāh ﷻ tulis.وَذَلِكَ مِنْ عَقْدِ الإِيمَانِ وَأُصُولِ المَعْرِفَةِDan yang demikian adalah termasuk aqdil (ikatan) iman dan ini adalah termasuk pondasi mengenal, ini adalah termasuk pondasi keimanan, yaitu tentang masalah beriman dengan takdir. Ini termasuk aqidah iman, ini termasuk pondasi, harus ada di dalam diri kita keimanan dengan takdir dengan cara yang sudah kita sebutkan: beriman dengan ilmu Allāh, beriman dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis, beriman dengan masyīʾatullāh.Karena ini semua adalah termasuk pondasi keimanan, makanya beriman dengan takdir adalah termasuk arkanul iman, yang dimaksud dengan arkan adalah bagian yang paling penting dari sesuatu. Di antara sekian puluh cabang keimanan, maka iman dengan takdir Allāh ﷻ ini adalah termasuk cabang yang paling tinggi karena dia masuk arkanul iman. Makanya disifati di sini denganعَقْدِ الإِيمَانِ وَأُصُولِ المَعْرِفَةِini adalah termasuk pondasi-pondasi dalam mengenal, yaitu dalam beriman.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 11 – Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 11)

1. Tujuan penciptaan manusiaAllah ﷻ berfirman:وَمَا خَلَقتُ الجِنَّ وَالإِنسَ إِلّا لِيَعْبُدُوِن“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzāriyāt: 56)Ayat ini menjelaskan hikmah dan tujuan utama penciptaan jin dan manusia, yaitu:Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah ﷻ.Jadi, tujuan hidup manusia bukan sekadar mencari kesenangan dunia, harta, kedudukan, atau memenuhi keinginan pribadi, tetapi tujuan yang paling utama adalah beribadah kepada Allah.2. Apa makna “beribadah kepada-Ku”?Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menjelaskan:ومعنى يَعْبُدُونَ يُوَحِّدُونَMakna “beribadah kepada-Ku” adalah “mentauhidkan Aku.”Artinya, ibadah kepada Allah harus dilakukan dengan mengesakan Allah dalam seluruh ibadah.Bukan hanya beribadah kepada Allah, tetapi juga harus tidak memberikan ibadah kepada selain Allah.3. Ibadah harus disertai tauhidSeseorang tidak disebut sebagai orang yang benar-benar mentauhidkan Allah apabila ia:Beribadah kepada Allah dalam sebagian keadaan.Tetapi memberikan sebagian bentuk ibadah kepada selain Allah.Contohnya, seseorang berdoa kepada Allah, tetapi dalam keadaan tertentu juga berdoa atau meminta pertolongan dalam perkara ibadah kepada selain Allah.Maka masalahnya bukan sekadar “apakah dia pernah menyembah Allah?”Namun pertanyaan yang lebih penting adalah:“Apakah dia mengesakan Allah dalam ibadahnya?”4. Contoh kaum musyrikin QuraisyKaum musyrikin Quraisy sebenarnya mengakui keberadaan Allah dan melakukan sebagian ibadah kepada Allah.Di antara buktinya:Ada orang yang bernama Abdullah, yang berarti “hamba Allah”.Mereka melaksanakan ibadah haji.Dalam keadaan tertentu mereka berdoa kepada Allah.Namun mereka tetap disebut musyrikin, karena mereka tidak mengesakan Allah dalam ibadah.Mereka memberikan sebagian ibadah kepada selain Allah.Jadi, kesalahan mereka bukan semata-mata karena mereka tidak mengenal Allah, tetapi karena mereka menyekutukan Allah dalam ibadah.5. Mereka meminta perlindungan kepada selain AllahDi antara bentuk kesyirikan yang dilakukan sebagian kaum musyrikin adalah ketika mereka mengalami keadaan tertentu, mereka meminta perlindungan kepada selain Allah.Misalnya:Ketika mengalami musibah, mereka meminta perlindungan kepada jin.Ketika melewati suatu lembah, mereka meminta perlindungan kepada penguasa atau jin yang dianggap menguasai lembah tersebut.Hal ini menunjukkan bahwa sebagian bentuk ibadah mereka diberikan kepada selain Allah.6. Ketika berada dalam keadaan gentingAllah ﷻ menggambarkan keadaan kaum musyrikin ketika berada di tengah laut:فَإِذَا رَكِبُوا۟ فِى ٱلْفُلْكِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ“Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Allah.”(QS. Al-‘Ankabūt: 65)Dalam keadaan sangat genting, mereka berdoa hanya kepada Allah.Tetapi setelah Allah menyelamatkan mereka, mereka kembali melakukan kesyirikan.Ini menunjukkan bahwa seseorang bisa saja mengakui Allah dan berdoa kepada Allah, tetapi tetap menjadi musyrik apabila ia tidak mengesakan Allah dalam seluruh ibadahnya.7. Janji mereka ketika tertimpa bahayaAllah juga menyebutkan ucapan mereka:لَئِنْ أَنجَيْتَنَا مِنْ هَـٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّـٰكِرِينَ“Sungguh, jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pasti kami akan menjadi orang-orang yang bersyukur.”(QS. Yūnus: 22)Ketika berada dalam bahaya, mereka memohon kepada Allah.Namun setelah diselamatkan:فَلَمَّا نَجَّىٰهُمْ إِلَى ٱلْبَرِّAllah menyelamatkan mereka ke daratan, tetapi mereka kembali mempersekutukan Allah.8. Mengapa kaum musyrikin disebut tidak menyembah Allah?Dalam Surah Al-Kāfirūn Allah ﷻ berfirman:لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ“Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah.”Kemudian:وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ“Dan kalian bukan penyembah apa yang aku sembah.”(QS. Al-Kāfirūn: 1–3)Padahal kaum musyrikin Quraisy juga menyembah Allah dalam beberapa keadaan.Lalu mengapa Allah mengatakan bahwa mereka tidak menyembah apa yang Nabi ﷺ sembah?Karena ibadah yang benar harus disertai tauhid.Mereka memang melakukan sebagian ibadah kepada Allah, tetapi karena mereka juga memberikan ibadah kepada selain Allah, maka mereka tidak dianggap sebagai orang yang mentauhidkan Allah dalam ibadah.Inti PelajaranTujuan penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah.Dan makna beribadah kepada Allah bukan hanya sekadar melakukan ibadah kepada-Nya, tetapi:Beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.Dengan kata lain:Ibadah → harus tauhid.Tauhid → mengesakan Allah dalam ibadah.Syirik → memberikan sebagian ibadah kepada selain Allah.Kalimat kunci untuk diingat“Makna يَعْبُدُونَ adalah يُوَحِّدُونَ — menyembah Allah berarti mentauhidkan Allah.”Jadi, pelajaran utama halaqah ini adalah pentingnya tauhid dalam ibadah, karena seseorang belum dianggap benar-benar beribadah kepada Allah apabila ia tidak mengesakan Allah dalam ibadahnya.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Silsilah Ilmiyyah: Beriman Kepada Malaikat Beriman dengan Sifat-Sifat Akhlak Malaikat (Bagian Kedua)

Silsilah Ilmiyyah: Beriman Kepada MalaikatBeriman dengan Sifat-Sifat Akhlak Malaikat (Bagian Kedua)🌿 2. MALUMalu adalah sifat yang mulia. Sifat ini mendorong seseorang untuk: • Meninggalkan perkara yang buruk.• Memiliki dan menjaga akhlak yang mulia.• Malu juga termasuk cabang keimanan.Rasulullah ﷺ bersabda tentang Utsman bin Affan رضي الله عنه:“Apakah aku tidak malu dari seorang laki-laki yang malaikat malu kepadanya?”(HR. Muslim)✨ Pelajaran:Malu merupakan sifat yang indah di antara sifat-sifat malaikat. Hadits tersebut juga menunjukkan keutamaan dan kemuliaan Utsman bin Affan رضي الله عنه di sisi para malaikat.🌿 3. TIDAK SOMBONG UNTUK BERIBADAH KEPADA ALLAHMalaikat memiliki sifat: • Merendahkan diri kepada Allah.• Tidak sombong dalam beribadah kepada-Nya.• Taat dan tunduk kepada Allah.Allah berfirman dalam QS. An-Nisa: 172 bahwa Isa Al-Masih tidak enggan menjadi hamba Allah, demikian pula malaikat-malaikat yang didekatkan. Barangsiapa yang enggan beribadah kepada Allah dan menyombongkan diri, maka Allah akan mengumpulkan mereka semuanya.🌸 INTI PELAJARAN✅ Malu adalah akhlak yang mulia dan termasuk cabang keimanan.✅ Malaikat memiliki sifat malu.✅ Utsman bin Affan رضي الله عنه memiliki keutamaan dan kemuliaan di sisi para malaikat.✅ Seorang mukmin hendaknya merendahkan diri kepada Allah dan tidak sombong dalam beribadah.✅ Kesombongan dan enggan beribadah kepada Allah adalah perkara yang tercela.Sumber:Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Malaikat – Beriman dengan Sifat-Sifat Akhlak Malaikat (Bagian Kedua).

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 September 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 86

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 86 | Ilmu Allāh ﷻ Telah Mendahului Segala Sesuatu yang Akan Terjadi pada Makhluk-NyaHalaqah 86 | Ilmu Allāh ﷻ Telah Mendahului Segala Sesuatu yang Akan Terjadi pada Makhluk-NyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-86 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَعَلَىٰ العَبْدِDan wajib bagi seorang hamba, setelah itu semuanyaأَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ سَبَقَ عِلْمُهُ فِي كُلِّ كَائِنٍ مِنْ خَلْقِهِkewajiban seorang hamba adalah meyakini bahwasanya Allāh ﷻ telah mendahului ilmu-Nya di dalam segala sesuatu yang terjadi di antara apa yang Allāh ciptakan.Berkaitan dengan ‘ilmullāh, berarti ini martabah yang pertama, hendaklah dia mengetahui bahasanya ilmu Allāh itu mendahului segala sesuatu yang terjadi di dunia. Tidak mungkin terjadi sesuatu kemudian baru di situ dibarengi dengan ilmu Allāh, atau terjadi sesuatu setelahnya baru Allāh ﷻ mengetahui. Ini keyakinan yang bathil.Yang benar, bahwasanya sebelum terjadi segala sesuatu Allāh ﷻ telah mengetahui sesuatu tersebut. Tidak mungkin Allāh ﷻ dalam keadaan tidak tahu apa yang akan terjadi, berdasarkan Firman Allāh ﷻإِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ(QS. Al-Baqarah: 282)Sesungguhnya Allāh ﷻ Dialah yang mengetahui segala sesuatu, segala sesuatu mencakup yang belum terjadi, maupun yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi.فَقَدَّرَ ذَلِكَ بِمَشِيئَتِهِ تَقْدِيرًا مُحْكَمًا مُبْرَمًاMaka Allāh ﷻ mentakdirkan itu semuanya dengan kehendak Allāh ﷻ, dengan takdir yang kokoh, mubraman ini maknanya hampir sama dengan kokoh, dan ini menunjukkan martabah yang ketiga yaitu bahwasanya segala sesuatu terjadi dengan masyīʾatullāh.Jadi Allāh ﷻ mengetahui, Allāh ﷻ menulis, dan Allāh ﷻ menjadikan sesuatu tadi dengan kehendak-Nya, dan itu semuanya ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dengan takdir yang kokoh, yang muhkam, yang mubram, dengan sedetail-detailnya dan terjadi di waktu sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tulis.Tidak ada yang meleset meskipun hanya setitik pun. Ini namanya takdiran muhkanan mubraman, dia adalah takdir yang kokoh yang tidak meleset sedikitpun. Semuanya persis dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis, seperti yang Allāh ﷻ ketahui, seperti yang Allāh ﷻ tulis dan terjadi dengan masyīʾatullāh.إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ(QS. Yā-Sīn: 82)Semuanya dengan masyīʾatullāh, Sesungguhnya urusan Allāh ﷻ apabila menghendaki sesuatu maka tinggal mengatakan ‘كُنْ’ terjadilah apa yang diinginkan oleh Allāh ﷻ.لَيْسَ فِيهِ نَاقِضٌTidak ada di dalam apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan sebelumnya, nāqidun yang membatalkan, tidak ada yang bisa membatalkan.وَلَا مُعَقِّبٌtidak ada yang bisa menentang, tidak ada yang bisa membatalkan, tidak ada yang bisa menentangnyaوَلَا مُزِيلٌtidak ada yang bisa menghilangkannya,وَلَا مُغَيِّرٌtidak ada yang bisa merubahnyaوَلَامُحَوِّلٌtidak ada yang bisa memindahnyaوَلَا زَائِدٌ وَلَا نَاقِصٌtidak ada yang bisa menambahnya dan tidak ada yang bisa menguranginya.Semuanya sudah ditulis oleh Allāh ﷻ, semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dengan takdir yang kokoh, tidak ada yang bisa merubahnyaمِنْ خَلْقِهِ فِي سَمَاوَاتِهِ وَأَرْضِهِtidak ada yang bisa melakukan itu semuanya—membatalkan, menghilangkan, merubah, memindahkan, menambah, mengurangi—di antara hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang bisa melakukannya baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi, sampai malaikat sekalipun tidak ada yang bisa merubahnya. Sampai Nabi yang diutus tidak ada yang bisa merubahnya. Itu semuanya sudah ditetapkan oleh Allāh ﷻ. La tabdīl, tidak ada perubahan di dalam apa yang sudah Allāh ﷻ tulis.وَذَلِكَ مِنْ عَقْدِ الإِيمَانِ وَأُصُولِ المَعْرِفَةِDan yang demikian adalah termasuk aqdil (ikatan) iman dan ini adalah termasuk pondasi mengenal, ini adalah termasuk pondasi keimanan, yaitu tentang masalah beriman dengan takdir. Ini termasuk aqidah iman, ini termasuk pondasi, harus ada di dalam diri kita keimanan dengan takdir dengan cara yang sudah kita sebutkan: beriman dengan ilmu Allāh, beriman dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis, beriman dengan masyīʾatullāh.Karena ini semua adalah termasuk pondasi keimanan, makanya beriman dengan takdir adalah termasuk arkanul iman, yang dimaksud dengan arkan adalah bagian yang paling penting dari sesuatu. Di antara sekian puluh cabang keimanan, maka iman dengan takdir Allāh ﷻ ini adalah termasuk cabang yang paling tinggi karena dia masuk arkanul iman. Makanya disifati di sini denganعَقْدِ الإِيمَانِ وَأُصُولِ المَعْرِفَةِini adalah termasuk pondasi-pondasi dalam mengenal, yaitu dalam beriman.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Iman kepada Takdir Allah Halaqah 10

Halaqah yang ke sepuluh dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Beriman dengan Takdir Allah dan Mengambil Sebab Bagian 2”.Banyak dan sedikitnya keturunan sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla tetapi bukan berarti seorang muslim menunggu tanpa usaha untuk mendapatkan keturunan. Bahkan dia diperintahkan untuk menikah sebagai sebab dan upaya mendapatkan keturunan.Rasulullah ﷺ bersabda,▪️تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ بكم الأممَ..“Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur karena sesungguhnya aku membanggakan banyaknya kalian di depan umat yang lain.” [HR Abu Daud dan An Nasai dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]Sakit dan kesembuhan dari penyakit sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla namun kita diperintahkan untuk menjauhi sebab terkena penyakit dan diperintahkan pula untuk berobat apabila seseorang ditimpa sakit.Rasulullah ﷺ bersabda,▪️ إنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ حيثُ خلق الداءَ خلق الدواءَ فتداووا“Sesungguhnya Allah azza wajalla ketika menciptakan penyakit Dia juga menciptakan obatnya, maka berobatlah kalian.” [HR Ahmad dari Annas bin Malik radhiyallahu anhu dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]Dan Beliau ﷺ bersabda tentang sikap seorang muslim terhadap tho’un yaitu wabah penyakit yang merata yang terjadi di sebuah daerah,إذا سمعتُم بِه بأرضٍ فلا تقدُموا علَيهِ وإذا وقعَ بأرضٍ وأنتُم بِها فلا تخرُجوا فرارًا منهُ َ“Apabila kalian mendengar tho’un di sebuah daerah, maka janganlah kalian datang ke sana dan apabila terjadi di sebuah daerah sedangkan kalian berada di sana maka jangan kalian keluar dari daerah tersebut karena lari darinya.” [HR Al Bukhari dan Muslim]Kematian dan juga musibah, sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla dan kita diperintahkan untuk mengambil sebab keselamatan.Dahulu Rasulullah ﷺ bersama keimanan beliau yang dalam tentang masalah takdir.Beliau berperang memakai baju perang, menggunakan senjata, mengatur siasat perang, mengatur pasukan, dll.Dan ini semua menunjukkan bahwa selain kita diperintah beriman dengan takdir Allah, kita juga diperintah untuk mengambil sebab yang diperbolehkan.

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 10: Beriman Dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 2

Halaqah 10:Beriman Dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 2🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى ▪️Takdir KeturunanBanyak dan sedikitnya keturunan sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla tetapi bukan berarti seorang muslim menunggu tanpa usaha untuk mendapatkan keturunan. Bahkan dia diperintahkan untuk menikah sebagai sebab dan upaya mendapatkan keturunan.Rasulullah ﷺ bersabda:تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ بكم الأممَ..“Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur karena sesungguhnya aku membanggakan banyaknya kalian di depan umat yang lain.” (HR. Abu Daud dan An Nasai dan hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah)▪️Takdir Sakit & KesembuhanSakit dan kesembuhan dari penyakit sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla namun kita diperintahkan untuk menjauhi sebab terkena penyakit dan diperintahkan pula untuk berobat apabila seseorang ditimpa sakit.Rasulullah ﷺ bersabda: إنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ حيثُ خلق الداءَ خلق الدواءَ فتداووا“Sesungguhnya Allah azza wajalla ketika menciptakan penyakit Dia juga menciptakan obatnya, maka berobatlah kalian.” (HR. Ahmad dari Annas bin Malik radhiyallahu anhu dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah)Dan Beliau ﷺ bersabda tentang sikap seorang muslim terhadap tho’un yaitu wabah penyakit yang merata yang terjadi di sebuah daerah:إذا سمعتُم بِه بأرضٍ فلا تقدُموا علَيهِ وإذا وقعَ بأرضٍ وأنتُم بِها فلا تخرُجوا فرارًا منهُ َ“Apabila kalian mendengar tho’un di sebuah daerah, maka janganlah kalian datang ke sana dan apabila terjadi di sebuah daerah sedangkan kalian berada di sana maka jangan kalian keluar dari daerah tersebut karena lari darinya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)▪️Takdir Kematian & Musibah Kematian dan juga musibah, sudah ditakdirkan oleh Allah azza wajalla dan kita diperintahkan untuk mengambil sebab keselamatan.Dahulu Rasulullah ﷺ bersama keimanan beliau yang dalam tentang masalah takdir.Beliau berperang memakai baju perang, menggunakan senjata, mengatur siasat perang, mengatur pasukan, dll.Dan ini semua menunjukkan bahwa selain kita diperintah beriman dengan takdir Allah, kita juga diperintah untuk mengambil sebab yang diperbolehkan.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 85 | Pena Sudah Kering dan Takdir Tidak Akan Pernah Meleset

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A Penulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullah Beliau mengatakan rahimahullāh:جَفَّ القَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِAl-Qalam telah kering dengan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat.Dalam hadits, Allāh ﷻ menyuruh al-Qalam untuk menulis segala sesuatu ilā an taquma as-sā’ah (sampai datang hari kiamat), sudah kering al-Qalam dengan apa yang akan terjadi hingga hari kiamat. Sudah tidak bisa dirubah lagi, itu maksudnya. Tidak bisa dirubah lagi, semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Antum mau merubah bagaimanapun, tidak bisa. Antum mengatakan, “Saya akan menggerakkan tangan saya ke kanan,” yaitu memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ di dalam Lauḥul Maḥfūẓ ke kanan. Antum punya keinginan sebenarnya untuk menggerakkan tangan ke kiri, tapi antum gerakkan ke kanan. Memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dalam Lauḥul Maḥfūẓ. Demikian, antum punya keinginan, keinginan antum juga sudah ditulis. Menggerakkan tangan ke kanan juga sudah ditulis oleh Allāh ﷻ.وَمَا أَخْطَأَ العَبْدَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُDan apa yang mengenai seorang hamba atau yang luput dari seorang hamba, maka itu tidak mungkin akan mengenainya. Apa yang sudah ditulis Allāh ﷻ di dalam Lauḥul Maḥfūẓ tidak akan mengenai seseorang maka tidak akan mengenai orang tersebut. Sudah ditulis oleh Allāh ﷻ, dia tidak akan meninggal di perang ini, maka meskipun dikepung oleh ratusan musuh, kalau memang Allāh ﷻ tidak menulis bahwa dia meninggal di perang tersebut, dia akan selamat. Ada saja di sana cara, jalan, sebab, sehingga menjadikan dia selamat. Tidak terkena pedang, tidak terkena tombak, tidak terbunuh, mungkin karena dia sakit atau sebab yang lain sehingga saat itu dia tidak bisa mengikuti perang, misalnya. Itu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ atau karena sebab yang lain.Sebaliknyaوَمَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُapa yang sudah ditulis oleh Allāh ﷻ di dalam Lauḥul Maḥfūẓ akan menimpa seseorang, maka itu tidak akan mungkin luput dari dirinya. Misalnya, rugi dalam perdagangan, sakit, terkena penyakit yang parah, atau mobilnya tertabrak, dan seterusnya. Apa yang sudah ditulis oleh Allāh ﷻ menimpa seseorang, maka tidak mungkin luput dan terlepas dari apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan tersebut.Di dalam hadits yang disebutkan tentangإِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْDisebutkan sebelumnya, Ubadah Ibn aṣ-Ṣāmit, seorang sahabat Nabi ﷺ, berkata kepada putranya, sebagaimana Nabi ﷺ memberikan wejangan, memberikan nasehat kepada Abdullah bin ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā yang saat itu masih kecil, untuk beriman kepada takdir. Di sini, Ubadah Ibn aṣ-Ṣāmit sedang memberikan nasehat kepada putranya.يَا بُنَيَّ، إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَWahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan merasakan hakekat dari keimanan, rasa dari keimanan, kelezatan iman. Engkau tidak akan merasakan kelezatan iman sampai engkau menyadari, mengimani, bahwa apa yang ditulis akan menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang ditulis luput darimu maka tidak akan menimpamu. Yaitu seseorang memiliki keyakinan yang kuat terhadap apa yang ditulis oleh Allāh. Segala sesuatu sudah ditulis oleh Allāh, barulah dia akan merasakan nikmatnya iman, kelezatan iman.Coba antum praktekkan pada diri antum sendiri, menyadari bahwasanya segala sesuatu sudah ditulis oleh Allāh. Apa yang ditulis akan menimpaku, maka tidak akan luput dariku, dan apa yang ditulis luput dariku, maka tidak akan mungkin menimpaku. Maka akan memiliki pengaruh yang besar pada hati seseorang terhadap keimanan seseorang. Bagaimana dia akan berubah dalam memandang kehidupan, kerja dalam keadaan semangat, berdakwah dalam keadaan dia semangat, belajar dalam keadaan dia semangat, dengan dia menyadari bahwa semua sudah ditulis oleh Allāh. Tidak ada kekhawatiran, tidak ada rasa takut, yang ada adalah optimisme. Senantiasa ḥusnuzh zhann kepada Allāh ketika dia mendapatkan musibah, dalam keadaan dia menghadapi musibah tersebut dengan kesabaran, dengan hati yang besar.Ketika dia mendapatkan kenikmatan juga demikian, tidak ada rasa sombong dan juga memamerkan apa yang dia punya. Semuanya sudah ditulis oleh Allāh. Ketika dia mendapatkan hidayah, dia bersyukur. Ketika dia melihat orang lain sesat, maka dia memiliki rahmat dan kasih sayang kepada orang tersebut. Ini ditanamkan oleh Ubadah dan aṣ-Ṣāmit kepada anaknya. Coba kita berusaha untuk menanamkan ini kepada anak-anak kita. Mereka akan memiliki bekal yang sangat kuat untuk menghadapi kehidupan mereka di masa yang akan datang yang penuh dengan fitnah.Sebaliknya, jangan kita ajarkan mereka, kita contohkan mereka ketidak-ridhaan, ketidak-ridhaan dengan takdir Allāh. Terkadang anak kita melakukan sesuatu yang menjadikan kita marah, kemudian akhirnya kita menumpahkan amarah kita, seakan-akan kita tidak pernah belajar tentang masalah keimanan dengan takdir Allāh. Ini kalau dia melihat yang demikian setiap hari, bagaimana dia bisa memahami dengan baik tentang masalah takdir Allāh?Jadi, kalau kita sudah mengajarkan kepada mereka, dan mencontohkan, mempraktekkan langsung bagaimana keimanan kita terhadap takdir Allāh, ketika kita mendapatkan rezeki, ketika kita mendapatkan musibah, atau melihat anak kita mendapatkan rezeki, dan melihat anak kita melakukan sebuah kesalahan yang mendatangkan musibah, lalu kita bisa mempraktekkan dengan baik bagaimana menyikapi itu semua, bagaimana beriman dengan takdir Allāh dalam itu semua. Tentunya ini memiliki pengaruh yang besar kepada anak-anak kita.

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 September 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 85

Halaqah 85 | Pena Sudah Kering dan Takdir Tidak Akan Pernah MelesetKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-85 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:جَفَّ القَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِAl-Qalam telah kering dengan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat.Dalam hadits, Allāh ﷻ menyuruh al-Qalam untuk menulis segala sesuatu ilā an taquma as-sā’ah (sampai datang hari kiamat), sudah kering al-Qalam dengan apa yang akan terjadi hingga hari kiamat. Sudah tidak bisa dirubah lagi, itu maksudnya. Tidak bisa dirubah lagi, semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Antum mau merubah bagaimanapun, tidak bisa. Antum mengatakan, “Saya akan menggerakkan tangan saya ke kanan,” yaitu memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ di dalam Lauḥul Maḥfūẓ ke kanan. Antum punya keinginan sebenarnya untuk menggerakkan tangan ke kiri, tapi antum gerakkan ke kanan. Memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dalam Lauḥul Maḥfūẓ. Demikian, antum punya keinginan, keinginan antum juga sudah ditulis. Menggerakkan tangan ke kanan juga sudah ditulis oleh Allāh ﷻ.وَمَا أَخْطَأَ العَبْدَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُDan apa yang mengenai seorang hamba atau yang luput dari seorang hamba, maka itu tidak mungkin akan mengenainya. Apa yang sudah ditulis Allāh ﷻ di dalam Lauḥul Maḥfūẓ tidak akan mengenai seseorang maka tidak akan mengenai orang tersebut. Sudah ditulis oleh Allāh ﷻ, dia tidak akan meninggal di perang ini, maka meskipun dikepung oleh ratusan musuh, kalau memang Allāh ﷻ tidak menulis bahwa dia meninggal di perang tersebut, dia akan selamat. Ada saja di sana cara, jalan, sebab, sehingga menjadikan dia selamat. Tidak terkena pedang, tidak terkena tombak, tidak terbunuh, mungkin karena dia sakit atau sebab yang lain sehingga saat itu dia tidak bisa mengikuti perang, misalnya. Itu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ atau karena sebab yang lain.Sebaliknyaوَمَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُapa yang sudah ditulis oleh Allāh ﷻ di dalam Lauḥul Maḥfūẓ akan menimpa seseorang, maka itu tidak akan mungkin luput dari dirinya. Misalnya, rugi dalam perdagangan, sakit, terkena penyakit yang parah, atau mobilnya tertabrak, dan seterusnya. Apa yang sudah ditulis oleh Allāh ﷻ menimpa seseorang, maka tidak mungkin luput dan terlepas dari apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan tersebut.Di dalam hadits yang disebutkan tentangإِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْDisebutkan sebelumnya, Ubadah Ibn aṣ-Ṣāmit, seorang sahabat Nabi ﷺ, berkata kepada putranya, sebagaimana Nabi ﷺ memberikan wejangan, memberikan nasehat kepada Abdullah bin ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā yang saat itu masih kecil, untuk beriman kepada takdir. Di sini, Ubadah Ibn aṣ-Ṣāmit sedang memberikan nasehat kepada putranya.يَا بُنَيَّ، إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَWahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan merasakan hakekat dari keimanan, rasa dari keimanan, kelezatan iman. Engkau tidak akan merasakan kelezatan iman sampai engkau menyadari, mengimani, bahwa apa yang ditulis akan menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang ditulis luput darimu maka tidak akan menimpamu. Yaitu seseorang memiliki keyakinan yang kuat terhadap apa yang ditulis oleh Allāh. Segala sesuatu sudah ditulis oleh Allāh, barulah dia akan merasakan nikmatnya iman, kelezatan iman.Coba antum praktekkan pada diri antum sendiri, menyadari bahwasanya segala sesuatu sudah ditulis oleh Allāh. Apa yang ditulis akan menimpaku, maka tidak akan luput dariku, dan apa yang ditulis luput dariku, maka tidak akan mungkin menimpaku. Maka akan memiliki pengaruh yang besar pada hati seseorang terhadap keimanan seseorang. Bagaimana dia akan berubah dalam memandang kehidupan, kerja dalam keadaan semangat, berdakwah dalam keadaan dia semangat, belajar dalam keadaan dia semangat, dengan dia menyadari bahwa semua sudah ditulis oleh Allāh. Tidak ada kekhawatiran, tidak ada rasa takut, yang ada adalah optimisme. Senantiasa ḥusnuzh zhann kepada Allāh ketika dia mendapatkan musibah, dalam keadaan dia menghadapi musibah tersebut dengan kesabaran, dengan hati yang besar.Ketika dia mendapatkan kenikmatan juga demikian, tidak ada rasa sombong dan juga memamerkan apa yang dia punya. Semuanya sudah ditulis oleh Allāh. Ketika dia mendapatkan hidayah, dia bersyukur. Ketika dia melihat orang lain sesat, maka dia memiliki rahmat dan kasih sayang kepada orang tersebut. Ini ditanamkan oleh Ubadah dan aṣ-Ṣāmit kepada anaknya. Coba kita berusaha untuk menanamkan ini kepada anak-anak kita. Mereka akan memiliki bekal yang sangat kuat untuk menghadapi kehidupan mereka di masa yang akan datang yang penuh dengan fitnah.Sebaliknya, jangan kita ajarkan mereka, kita contohkan mereka ketidak-ridhaan, ketidak-ridhaan dengan takdir Allāh. Terkadang anak kita melakukan sesuatu yang menjadikan kita marah, kemudian akhirnya kita menumpahkan amarah kita, seakan-akan kita tidak pernah belajar tentang masalah keimanan dengan takdir Allāh. Ini kalau dia melihat yang demikian setiap hari, bagaimana dia bisa memahami dengan baik tentang masalah takdir Allāh?Jadi, kalau kita sudah mengajarkan kepada mereka, dan mencontohkan, mempraktekkan langsung bagaimana keimanan kita terhadap takdir Allāh, ketika kita mendapatkan rezeki, ketika kita mendapatkan musibah, atau melihat anak kita mendapatkan rezeki, dan melihat anak kita melakukan sebuah kesalahan yang mendatangkan musibah, lalu kita bisa mempraktekkan dengan baik bagaimana menyikapi itu semua, bagaimana beriman dengan takdir Allāh dalam itu semua. Tentunya ini memiliki pengaruh yang besar kepada anak-anak kita.

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke sepuluh dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke sepuluh dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,اَلْأَصْلُ الثَّالِثُ :أَنَّ مِنْ تَمَامِ الاجْتِمَاعِ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ لِمَنْ تَأَمَّرَ عَلَيْنَا وَلَوْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّاPerkara pokok yang ke tiga:Sesungguhnya termasuk diantara kesempurnaan bersatu adalah mendengar dan taat kepada orang yang telah berkuasa atas kita (pemerintah atau para penguasa kita).Beliau mengatakan ini adalah termasuk kesempurnaan persatuan, setelah beliau membahas tentang masalah bersatu di atas hak (diatas Al Qur’an, di atas hadits ) dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, maka beliau menyebutkan pada perkara yang ke tiga ini bahwasanya diantara yang menyempurnakan persatuan diantara kaum muslimin adalah apabila mereka mau mendengar dan taat kepada penguasanya.Dan ucapan ini adalah ucapan yang hak.Beliau mengatakan,“Ini adalah kesempurnaan dari makna persatuan.”Tidak mungkin kaum muslimin bisa bersatu, kecuali apabila di sana ada penguasa, ada pemerintah yang dia akan memberikan hak kepada yang berhak, melindungi orang yang terdholimi, ber-amar ma’ruf nahi munkar, menegakkan syar’iat dan melakukan perkara-perkara yang lain, baik yang berhubungan dengan dunia maupun yang berhubungan dengan ibadah yang tidak mungkin dilakukan kecuali apabila di sana ada penguasa.Dan tidak bermanfaat adanya seorang penguasa dan pemerintah kecuali apabila rakyatnya, mereka mau mendengar dan taat kepada penguasa.Seandainya di sana ada seorang penguasa, pemerintah di sebuah negara, akan tetapi rakyatnya tidak mau mendengar dan tidak mau mentaati apa yang datang darinya, baik berupa perintah maupun larangan, maka keberadaan penguasa tersebut sama dengan tidak adanya.Oleh karena itu, ini pentingnya kita mendengar dan taat kepada pemerintah, tidak akan bersatu umat Islam kecuali dengan adanya penguasa, baik penguasa tersebut adalah penguasa yang shalih maupun penguasa yang tidak shalih.Dan tidak bermanfaat yang dinamakan dengan penguasa atau pemerintah kecuali kita mau mendengar dan taat kepada pemerintah tersebut.Oleh karena itu Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu (diriwayatkan dari beliau).Bahwasanya beliau mengatakan,لا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ“Tidak ada Islam kecuali dengan berjam’ah, kecuali dengan bersatu. Dan tidak ada persatuan kecuali apabila di sana ada penguasa. Dan tidak ada kekuasaan kecuali dengan ketaatan.”Islam tidak akan tegak kecuali dengan adanya persatuan diantara kaum muslimin. Karena banyak ibadah atau syar’iat di dalam agama Islam yang tidak mungkin ditegakkan kecuali dengan persatuan diantara kaum muslimin (persatuan antara rakyat dengan pemerintah dan diantara kaum muslimin).Tidak mungkin kaum muslimin bersatu kecuali apabila di sana ada pemimpinnya.Karena apabila sebuah kelompok, sekecil apapun, seandainya tidak ada pemimpin maka masing-masing merasa tidak dikuasai oleh orang lain, sehingga melakukan apa yang dia inginkan.Tidak ada yang berhak untuk memerintah dia, tidak ada yang berhak untuk melarang dia, membuat peraturan sendiri, tidak mungkin sebuah kelompok sekecil apapun bisa bersatu kecuali apabila di sana ada pemimpinnya.Oleh karena itu di dalam Islam, ketika seseorang safar bersama yang lain, ketika dalam bepergian, maka diperintahkan untuk mengangkat seorang pemimpin. Apalagi di dalam keadaan seseorang dalam keadaan muqim.Tidak mungkin kelompok apapun, sekecil apapun bisa bersatu kecuali apabila memiliki pemimpin.Oleh karena itu beliau mengatakan (radhiyallahu ‘anhu),“Tidak ada persatuan kecuali apabila di sana ada imarah, ada kekuasaan. Dan tidak ada kekuasaan kecuali dengan ketaatan.”Tidak bermanfaat (tidak berfaedah) yang dinamakan dengan kekuasaan kecuali apabila anggotanya, rakyatnya mentaati penguasa tersebut.Di sini kita memahami hubungan yang erat antara Islam dan ketaatan kepada pemerintah.Hubungan antara Islam dengan ketaatan kepada pemerintah adalah sangat erat, dan ini diucapkan oleh seorang khulafa’ur rasyidin yang kita diperintahkan untuk mengikuti sunnahnya.عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَMenunjukkan tentang pentingnya di dalam Islam, taat kepada penguasa dan juga pemerintah kita.Oleh karena itu beliau mengatakan,أَنَّ مِنْ تَمَامِ الاجْتِمَاعِ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ لِمَنْ تَأَمَّرَ عَلَيْنَاBagi orang yang telah Allah takdirkan untuk menjadi penguasa bagi kita, baik dia adalah orang yang shalih, baik dia adalah seorang yang fajir (yang bermaksiat) apabila Allah telah menjadikan dia sebagai seorang penguasa, maka kewajiban kita adalah mendengar dan taat.Kemudian beliau mengatakan,وَلَوْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا“Meskipun yang berkuasa tersebut adalah seorang budak dari Habasyah.”Seorang budak, seandainya dia menjadi seorang penguasa maka kewajiban kita adalah mendengar dan taat.Padahal yang namanya penguasa kebanyakan adalah orang yang merdeka, dan seandainya qadarullah yang terjadi penguasa tersebut adalah seorang budak (bukan seorang yang merdeka) maka kita tetap diwajibkan mendengar dan taat kepada pemerintah tersebut.Habasyian (budak dari Habasyah) dan budak dari Habasyah, ini dikenal oleh orang-orang Arab sebagai budak yang di mata manusia adalah seorang yang rendah (kedudukannya hina), akan tetapi apabila dia menjadi seorang penguasa maka kewajiban kita, meskipun kita adalah seorang yang merdeka, bukan seorang budak, maka kita harus mendengar dan taat penguasa tersebut.Dan ucapan beliau ini diambil dari hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ketika Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan nasehat kepada para sahabat di akhir hayat Beliau.Suatu hari setelah shubuh Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) memberikan nasehat kepada para sahabat dengan nasehat yang sangat dalam.Kemudian salah seorang sahabat berkata kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam,يَا رَسُولَ اللَّهِ! كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ“Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat orang yang akan berpisah.(Nasehat yang sangat dalam yang penuh dengan makna yang membuat gemetar hati para sahabat dan membuat mata mereka menangis).Maka hendaklah engkau memberikan wasiat kepada kami.”Nasehat orang yang berpisah, tentunya orang yang berpisah tersebut akan memilih nasehat yang luas maknanya, yang sangat penting bagi orang yang akan ditinggalkan.Apa yang Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) katakan?أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah.”Nasehat pertama yang Beliau ucapkan kepada para sahabat adalah nasehat untuk bertaqwa kepada Allah.Kemudian apa yang Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) katakan?والسَّمْعِ وَالطَّاعَةَ لِمَنْ تَأَمَّرَ عَلَيكم ولو كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا“Dan hendaklah kalian mendengar dan taat kepada orang yang telah menjadi amir (menjadi penguasa) bagi kalian meskipun dia adalah seorang budak dari Habasyah.”Ini adalah nasehat Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada para sahabat.Setelah beliau berwasiat untuk bertaqwa kepada Allah, maka wasiat beliau yang ke dua adalah mendengar dan taat kepada pemerintah kita (kepada penguasa kita) meskipun dia adalah seorang budak dari Habasyah.Dan ini menunjukkan pentingnya mendengar dan taat. Bahkan Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menjadikan mendengar dan taat kepada pemerintah nomor dua setelah Beliau berwasiat dengan ketaqwaan kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Malaikat Beriman dengan Sifat-Sifat Akhlak Para Malaikat – Bagian 1

Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada MalaikatBeriman dengan Sifat-Sifat Akhlak Para Malaikat – Bagian 1Di antara bentuk beriman kepada malaikat Allah adalah beriman dengan sifat-sifat akhlak mereka.1. Al-Karām dan Al-BirrMalaikat memiliki sifat:• Al-Karām → memiliki akhlak yang mulia dan terpuji.• Al-Birr → banyak berbuat baik kepada orang lain.Dalil:Allah menyebutkan bahwa Al-Qur’an ditulis oleh tangan-tangan para malaikat yang mulia dan banyak berbuat baik.(QS. ‘Abasa: 15–16)Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama malaikat yang mulia akhlaknya dan banyak berbuat baik.(HR. Bukhari dan Muslim)2. Malaikat Mendoakan Kebaikan bagi Orang BerimanDi antara kebaikan malaikat adalah mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang beriman.Allah dan para malaikat-Nya memberikan doa dan rahmat kepada orang-orang beriman agar Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.(QS. Al-Ahzab: 43)3. Malaikat Memohonkan Ampun bagi Orang BerimanMalaikat yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekitarnya:• Bertasbih memuji Allah.• Beriman kepada Allah.• Memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman.• Mendoakan orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Allah.• Memohon agar Allah menjaga mereka dari azab Neraka.• Memohon agar mereka dimasukkan ke dalam Surga ‘Adn bersama keluarga mereka yang saleh.(QS. Ghāfir: 7–9)4. Malaikat Memberikan SyafaatDi antara kebaikan malaikat adalah memberikan syafaat bagi orang-orang yang bertauhid dan diridai Allah.Malaikat tidak memberikan syafaat kecuali kepada orang yang Allah ridhai, dan mereka selalu takut kepada Allah.(QS. Al-Anbiya: 28)🌷 Inti MateriMalaikat adalah makhluk Allah yang memiliki akhlak mulia dan banyak berbuat baik. Di antara kebaikan mereka adalah:✅ Mendoakan orang-orang yang beriman.✅ Memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman.✅ Mendoakan orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Allah.✅ Memohon perlindungan bagi orang beriman dari kejelekan dan azab Neraka.✅ Memberikan syafaat bagi orang yang bertauhid dan diridai Allah.Kesimpulan:Beriman kepada malaikat tidak hanya meyakini keberadaan mereka, tetapi juga meyakini sifat-sifat akhlak mereka yang mulia, banyak berbuat baik, taat kepada Allah, serta mendoakan dan memohonkan kebaikan bagi hamba-hamba Allah yang beriman.

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 84 | Takdir Allāh ﷻ Tidak Bisa Diubah oleh Makhluk Meskipun Mereka Semua Bersepakat

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi RahimahullahBeliau mengatakan rahimahullāh: فَلَوِ اجْتَمَعَ الخَلْقُ كُلُّهُمْSeandainya seluruh makhluk berkumpul, jangan satu atau dua, tetapi semuanya berkumpulعَلَىٰ شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَىٰ أَنَّهُ كَائِنٌSeandainya semua makhluk berkumpul, baik jin maupun manusia, hewan, dan seluruh makhluk yang ada berkumpul atas sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allāh tetapkan sesuatu tadi di dalam Lauh al-Maḥfūẓ, sudah Allāh tulis di dalam Lauh al-Maḥfūẓ itu terjadiلِيَجْعَلُوهُ غَيْرَ كَائِنٍkemudian mereka semuanya berkumpul untuk menjadikan itu tidak terjadi, Allah sudah tulis dalam Lauh al-Maḥfūẓ itu akan terjadi, meninggalnya seseorang atau mendapatkan nikmatnya seseorang, hidayahnya seseorang, tersesatnya seseorang sudah Allah tulis, kemudian semua makhluk berkumpul untuk menjadikan itu tidak terjadi, sudah ditulis oleh Allah fulan ini mendapatkan hidayah semuanya berkumpul untuk menghalangi dia dari hidayah, di doktrin disurati didatangi diberikan syubhat diasingkan dan seterusnya tapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menentukan menuliskan bahwasanya orang ini akan mendapatkan hidayah makaلَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِmereka tidak akan mampu untuk melakukannya.Sebaliknya apa yang sudah Allāh ﷻ tulis tidak akan terjadi kemudian semuanya berkumpul untuk menjadikan itu terjadi maka mereka juga tidak akan mampu. Semuanya sudah ditulis mereka tidak bisa menghalangi rezeki kita yang sudah Allāh ﷻ tulis, mereka tidak bisa memberikan atau menghalangi hidayah yang sudah Allāh ﷻ tetapkan untuk kita.Demikian pula sebaliknya kita tidak bisa menyampaikan hidayah kepada seseorang yang sudah Allāh ﷻ tetapkan dia sesat, tidak bisa kita memberikan hidayah kepada orang yang sudah Allāh ﷻ tetapkan dan dijauhkan dari agama ini, yang bisa kita lakukan memenuhi perintah Allāh ﷻ yaitu berdakwah, memberikan nasihat, memberikan contoh. Semuanya sudah ditulis oleh Allāh ﷻ hidayah maupun kesesatan.Ini makna ucapan beliauوَلَوِ اجْتَمَعُوا كُلُّهُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَىٰ فِيهِ أَنَّهُ غَيْرُ كَائِنٍ، لِيَجْعَلُوهُ كَائِنًا؛ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِtidak akan mungkin mereka bisa melakukannya.Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan kepada ʿAbdullāh bin ʿAbbāsوَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُNabi ﷺ memberikan nasehat kepada ʿAbdullāh bin ʿAbbās dan saat itu masih kecil tapi sudah diajari tentang keimanan dengan takdir, menunjukkan bahwa diantara hal yang perlu kita tekankan kepada anak-anak kita adalah keimanan dengan takdir Allāh ﷻ, penting.Ketahuilah bahwasanya semua makhluk, semua umat seandainya mereka semuanya bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, ingin menolongmu, ingin memberikan hidayah kepadamu, ingin memberikan kamu rezekiلَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَtidak mungkin mereka itu bisa memberikan kepada kamu manfaat kecuali dengan sesuatu yang sudah Allāh ﷻ tulis.Kalau Allāh ﷻ sudah menulis antum dapat sekian atau diberi sekian maka tidak mungkin mereka bisa memberi lebih dari itu. Oleh karena itu ketika seseorang diberikan manfaat oleh orang lain ketahuilah bahwasanya itu sudah di takdirkan oleh Allāh ﷻ. Maka bersyukurlah dan memujilah Allāh ﷻ dan bukan berarti kita tidak mengucapkan syukur kepada manusia karena kita diperintahkan untuk mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada manusiaلَا يَشْكُر اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُر النَّاسَTidak bersyukur kepada Allāh ﷻ orang yang tidak bersyukur kepada manusia.Kita tahu bahwasanya ini sudah di takdirkan, dia memberi kita sudah di takdirkan oleh Allāh ﷻ tidak keluar dari apa yang Allāh ﷻ sudah tulis, dan kita diperintahkan untuk bersyukur kepada manusia mengucapkan terima kasih kepada manusia dan ini adalah bentuk syukur kita kepada Allāh ﷻ. Ini bagus ditanamkan pada anak-anak kita, tidak mungkin mereka itu bisa memberikan bantuan kepadamu kecuali itu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ, maka pujilah Allāh ﷻ. Kemudianوَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَSeandainya mereka semuanya berkumpul untuk memudharati kamu, mereka ingin menyihirmu, ingin membegalmu, ingin membunuhmu, ingin mengganggumu, itu juga perlu ditanamkan, tidak mungkin mereka bisa memudharati dirimu kecuali dengan sesuatu yang sudah Allāh ﷻ tulis.Kalau memang Allāh ﷻ menulis di dalam Lauh al-Maḥfūẓ engkau akan tergores engkau akan tersayat bagian punggungmu misalnya, itu yang akan tersayat, tidak mungkin mereka bisa melakukan lebih daripada itu, tidak mungkin mereka bisa memudharati kecuali dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis. Kalau ditanamkan berulang-ulang di dalam diri seseorang seorang anak dan diri seorang muslim secara umum maka menjadikan dia bertawakkal kepada Allāh ﷻ, hanya takut kepada Allāh ﷻ.Dan itulah yang dialami oleh para sahabat radhiyallāhu ta’ala ‘anhum, Nabi ﷺ sudah menanamkan kepada diri mereka keimanan dengan takdir sehingga diantara pasukan-pasukan perang, para sahabat Nabi ﷺ dikenal sebagai pasukan perang yang paling berani, tidak diketahui dalam sejarah pasukan perang yang lebih berani daripada para sahabat Nabi ﷺ.Karena mereka yakin, tidak mungkin mengenai saya kecuali apa yang sudah Allāh ﷻ tetapkan. Seseorang mau berada di dalam rumahnya di dalam gedung yang kuat yang tinggi yang dijaga oleh banyak pengawal dan berbagai pengamanan, kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dia termudharati dia terkena sesuatu pasti akan terjadi, tidak mungkin dia akan bisa menghindar.Dia sudah berusaha menjaga pola makannya, menjaga makanannya, menjaga pola hidupnya, kalau memang sudah Allāh ﷻ tulis dia terkena penyakit tersebut ya dia akan terkena, tidak mungkin dia bisa menghindar dari apa yang sudah Allāh ﷻرُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُPena-pena telah diangkat oleh Allāh ﷻ dan juga lembaran-lembaran telah kering, ini sudah selesai tidak mungkin bisa dirubah.Termasuk diantaranya penduduk surga dan juga penduduk neraka sebagaimana telah berlalu itu juga diantara yang sudah diketahui oleh Allāh ﷻ dan sudah ditulis oleh Allāh ﷻ tidak mungkin bisa dirubah. Kita berdoa kepada Allāh, semoga Allāh Subḥānahu wa Taʿālā menjadikan kita termasuk Ahlul Jannah dan memudahkan kita untuk mengamalkan amalan Ahlul Jannah.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke sembilan dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke sembilan dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau mengatakan,ثُمَّ صَارَ الْأَمْرُ إِلَى أَنَّ الافْتِرَاقَ فِي أُصُوْلِ الدِّيْنِ وَفُرُوْعِهِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْفِقْهُ فِي الدِّيْنِKemudian setelah itu di zaman beliau di zaman sekarang jadilah bahwasanya berpecah belah di dalam agama, baik di dalam ushul agama (pokok-pokok) agama maupun di dalam cabang-cabangnya dinamakan dengan ilmu dan fiqih di dalam agama.Di zaman sekarang kata beliau,Sebagian mengatakan bahwasanya berpecah belah di dalam agama adalah termasuk pemahaman (fiqih).Artinya orang yang mengatakan, “Boleh kita berpecah belah, kita memiliki kebebasan untuk berakidah, kebebasan untuk beribadah, kebebasan untuk menganut kepercayaannya masing-masing.” Dianggap ucapan ini sebagai bentuk pemahaman terhadap agama.Orang yang paham terhadap agama, maka dia akan membebaskan manusia untuk berakidah, untuk memiliki kepercayaan masing-masing.Kemudian beliau mengatakan,وَصَارَ الْأَمْرُ بِالاجْتِمَاعِ فٍي دين لَا يَقُوْلُهُ إِلَّا زِنْدِيْقٌ أَوْ مَجْنُوْنٌPerintah untuk berkumpul dan bersatu di dalam agama, sebagian mengatakan bahwasanya ini adalah tidak diucapkan kecuali oleh seorang yang zindiq, seorang pendusta, atau orang yang gila.Jadi dianggapnya, orang yang mengajak manusia untuk bersatu padu di dalam hak, di dalam kebenaran, dianggap orang yang zindiq atau orang yang gila.Tidak mungkin kita semua bersatu, tidak boleh kita mengajak orang lain untuk mengikuti kebenaran.Mereka berkata, “Biarkan masing-masing memiliki kepercayaan masing-masing, tidak boleh saling menganggu satu dengan yang lain.”Apabila ada sebagian yang mengajak untuk bersatu di dalam kebenaran, meninggalkan akidah yang bathil, meninggalkan kepercayaan yang tidak benar, dianggapnya orang yang seperti ini adalah orang gila atau orang zindiq.Dan ini yang terjadi di zaman beliau, demikian pula di zaman kita.Orang yang ber-amar ma’ruf nahi munkar, mengajak orang lain untuk memiliki akidah yang benar, memiliki tauhid yang benar, melarang mereka untuk memiliki akidah yang salah, kepercayaan yang salah, dianggapnya ini adalah orang yang majnun (orang gila) atau orang yang zindiq.Adapun orang yang membiarkan kepercayaan-kepercayaan tersebut, membiarkan akidah-aqidah tersebut tersebar diantara masyarakat, maka ini dianggap sebagai orang yang paham tentang agamanya.Dan ini tentunya kebalikan dari apa yang sudah Allah jelaskan di dalam Al Qur’an dan telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam hadits-hadits yang shahih.Ini adalah pokok yang ke dua yang ingin dijelaskan oleh pengarang di dalam kitab ini, yaitu kesimpulannya:• Perintah dari Allah Subhānahu wa Ta’āla pada kita semua kaum muslimin untuk saling bersatu di dalam al haq (kebenaran)• Larangan bagi kita untuk saling berpecah belah di dalam agama kita.Dan apabila terjadi perselisihan diantara kita, diantara kaum muslimin baik dalam masalah akidah, baik dalam masalah ibadah, baik masalah halal dan juga haram, maka Allah dan Rasul-Nya telah memberikan jalan keluar.Di dalam Al Qur’an, Allah Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian taat kepada Allah, dan hendaklah kalian taat kepada Rasul, dan juga pemerintah kalian (penguasa kalian). Maka apabila kalian saling berselisih di dalam satu perkara, baik dalam masalah akidah, masalah ibadah, masalah yang lain, maka hendaklah kalian kembalikan kepada Allah, dan juga kepada Rasul-Nya.”(QS. An-Nisa: 59)Dikembalikan kepada Allah, dikembalikan kepada Al Qur’an, dilihat apakah sesuai dengan Al Qur’an atau tidak pendapat kita.Kembalikanlah kepada Rasul, kembalikan kepada hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, apakah pendapat kita sesuai dengan hadits Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam atau tidak.Kalau sesuai, maka kita amalkan dan kalau tidak sesuai maka harus kita tinggalkan.Dan ini kata Allah,“Apabila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir hendaklah kalian mengembalikan perselisihan kita kepada Allah dan juga Rasul-Nya.”Apabila diantara dua orang saling berselisih, satunya mengatakan sunnah, satunya mengatakan tidak disunnahkan, maka masing-masing harus mengembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.Kalau Allah dan Rasul-Nya mengatakan Sunnah, maka semuanya harus sami’na wa atha’na (mendengar dan taat) tidak boleh ada diantara kita yang memiliki pilihan yang lain di dalam perpecahan ini.Apabila Allah mengatakan A, dan Rasul-Nya mengatakan A, maka semuanya harus mengatakan A tersebut.Di dalam hadits Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَ فًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ“Sesungguhnya barangsiapa yang hidup diantara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan Sunnah-ku dan Sunnah para khulafaur rasyidin.”(Hadits riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi)Ketika melihat perselisihan yang banyak, perpecahan yang banyak diantara umat, maka petunjuk Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam supaya kita kembali kepada sunnah beliau dan juga kepada sunnah para khulafaur rasyidin.Ini adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya ketika terjadi perselisihan

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Iman kepada Takdir Allah Halaqah 9

Halaqah yang ke sembilan dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Beriman dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 1”.Seorang yang beriman selain diperintah untuk beriman dengan takdir Allah juga diperintah untuk mengambil sebab dan bertawakal kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla dan tidak bertawakal kepada sebab tersebut.Rezeki sudah ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla dan kita diperintahkan untuk mencari rezeki yang halal.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ[QS Al-Jumu’ah 10]“Kemudian apabila sudah selesai shalat Jum’at maka hendaklah kalian menyebar di permukaan bumi dan carilah dari karunia Allah dan perbanyaklah di dalam mengingat Allah, semoga kalian beruntung.”Dan Allah berfirman,…ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ…[QS Al-Baqarah 275]“Dan Allah telah menghalalkan jual beli.”Dan di dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda,لَأَنْ يَحْتَزِمَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةَ مِنْ حَطَبٍ فَيَحْمِلَهَا عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا يُعْطِيهِ أَوْ يَمْنَعُهُ“Sungguh salah seorang di antara kalian mencari satu ikat kayu bakar kemudian mengangkatnya di atas punggungnya lebih baik daripada dia meminta orang lain, baik diberi atau tidak diberi.”[HR Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]Dan beliau ﷺ bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah niscaya kalian akan diberi rezeki, sebagaimana burung diberi rezeki. Pagi-pagi mereka pergi dalam keadaan lapar dan datang di sore hari dalam keadaan kenyang.”[HR At Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]Dan burung di dalam mencari rezeki tidak hanya berdiam diri dan berpangku tangan di sarangnya tetapi dia pergi mencari sebab di dalam mendapatkan rezeki tersebut.Dan dahulu para Nabi alaihimussalam bekerja dan mereka adalah orang-orang yang beriman dengan takdir Allah.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ…[QS Al-Furqan 20]“Dan Kami tidaklah mengutus sebelummu seorang Rasul pun kecuali mereka memakan makanan dan pergi ke pasar”Dan di dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda,كَانَ زَكَرِيَّا نَجَّاراً .“Dahulu Nabi Zakaria adalah seorang tukang kayu.” [HR Muslim]Dan Nabi Musa alaihissalam pernah bekerja sebagai seorang penggembala untuk orang yang shaleh dari Madyan selama beberapa tahun, sebagaimana Allah Subhānahu wa Ta’āla sebutkan di dalam surat Al Qashash ayat 27.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 9: Beriman Dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 1

Halaqah 9:Beriman Dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 1🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Seorang yang beriman selain diperintah untuk beriman dengan takdir Allah juga diperintah untuk mengambil sebab dan bertawakal kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla dan tidak bertawakal kepada sebab tersebut.Rezeki sudah ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla dan kita diperintahkan untuk mencari rezeki yang halal.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Kemudian apabila sudah selesai shalat Jum’at maka hendaklah kalian menyebar di permukaan bumi dan carilah dari karunia Allah dan perbanyaklah di dalam mengingat Allah, semoga kalian beruntung.”(QS. Al-Jumu’ah: 10)Dan Allah berfirman:…ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ…“Dan Allah telah menghalalkan jual beli.” (QS. Al-Baqarah: 275)Dan di dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda:لَأَنْ يَحْتَزِمَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةَ مِنْ حَطَبٍ فَيَحْمِلَهَا عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا يُعْطِيهِ أَوْ يَمْنَعُهُ“Sungguh salah seorang di antara kalian mencari satu ikat kayu bakar kemudian mengangkatnya di atas punggungnya lebih baik daripada dia meminta orang lain, baik diberi atau tidak diberi.”(HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Dan beliau ﷺ bersabda:لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah niscaya kalian akan diberi rezeki, sebagaimana burung diberi rezeki. Pagi-pagi mereka pergi dalam keadaan lapar dan datang di sore hari dalam keadaan kenyang.”(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah)Dan burung di dalam mencari rezeki tidak hanya berdiam diri dan berpangku tangan di sarangnya tetapi dia pergi mencari sebab di dalam mendapatkan rezeki tersebut.Dan dahulu para Nabi alaihimussalam bekerja dan mereka adalah orang-orang yang beriman dengan takdir Allah.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ…“Dan Kami tidaklah mengutus sebelummu seorang Rasul pun kecuali mereka memakan makanan dan pergi ke pasar”(QS. Al-Furqan: 20)Dan di dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda,كَانَ زَكَرِيَّا نَجَّاراً .“Dahulu Nabi Zakaria adalah seorang tukang kayu.” (HR. Muslim)Dan Nabi Musa alaihissalam pernah bekerja sebagai seorang penggembala untuk orang yang shaleh dari Madyan selama beberapa tahun, sebagaimana Allah Subhānahu wa Ta’āla sebutkan di dalam surat Al Qashash ayat 27.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 09 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 09)

Halaqah yang ke-9 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.Kemudian beliau mengatakan:الثالثه: أن من أطاع الرسول ووحّد الله لا يجوز له موالاة من حاد الله ورسوله، ولو كان أقرب قريب.• Ketiga | Bahwasanya orang yang taat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan mentauhīdkan Allāh, maka tidak boleh baginya bermuwalāh (mencintai) orang-orang yang memusuhi Allāh dan juga rasūlnya, meskipun dia adalah orang-orang yang paling dekat dengan dia.Apabila seseorang taat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, mengEsakan Allāh didalam beribadah secara dhahir dan bathin maka tidak boleh baginya untuk mermuwalāh (berloyalitas) mencintai dan menolong didalam agama orang yang memusuhi Allāh dan rasūlnya.Seperti:Orang kāfir yang jelas memerangi Allāh dan rasūlnya, tidak boleh menolong mereka dan menyintai mereka karena agama mereka, meskipun dia adalah kerabat yang paling dekat dengan seseorang (bapaknya, anaknya atau saudaranya, ibunya, misalnya.Apabila dia termasuk musuh Allāh, mereka memerangi Allāh dan juga rasūlnya, membantu orang-orang kāfir untuk memerangi kaum muslimin maka tidak boleh bermuwalāh (berloyalitas) kepada orang tersebut.Kemudian beliau mengatakan dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allāh dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allāh dan Rasūl-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allāh ridhā terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allāh. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullāh itu adalah golongan yang beruntung.”(QS. Al Mujadilah: 22)Ini adalah dalīl tentang kewajiban berloyalitas kepada Allāh dan Rasūl Nya, dan larangan untuk berloyalitas kepada musuh-musuh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Orang yang taat kepada Rasūl dan mengEsakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka harus berloyalitas kepada Allāh dan Rasūlnya, dan ini bukan berarti seorang muslim dan muslimah kemudian dia tidak berbuat adil kepada orang yang kāfir, atau tidak berbuat baik kepada mereka atau tidak sama sekali mendakwahi mereka, bukan berarti orang yang tidak berloyalitas kepada orang-orang yang memusuhi Allāh kemudian kita tidak boleh berbuat baik kepada orang-orang kāfir.Didalam Al Qurān Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَـٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ“Allāh tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allāh menyukai orang-orang yang berlaku adil.”(QS. Al Mumtahanah: 8)Apabila mereka tidak memerangi kaum muslimin, dan tidak mengeluarkan kita dari kampung-kampung kita (daerah kita) maka kata Allāh, “Tidak ada larangan kalian berbuat baik kepada mereka”.Mungkin seseorang memiliki tetangga yang non muslim (kāfir) maka boleh kita berbuat baik kepada mereka, (misalnya) mengirim makanan, mengirim hadiah, sebagaimana dahulu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berbuat baik kepada tetangganya (Yahūdi).Boleh seorang muslim bermuamalah dengan seorang non muslim (jual beli atau hutang piutang) demikian pula dulu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika beliau meninggal dunia, beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) pernah mengadaikan sebagian barang beliau kepada seorang Yahūdi.Bukan berarti seseorang ketika diperintahkan untuk membenci seorang yang kāfir yang memusuhi Allāh dan Rasūl Nya, bukan berarti diperbolehkan untuk berbuat zhālim kepada mereka, bahkan kita diperintahkan untuk berbuat adil.وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا۟ ۘ“Jangan sampai kebencian kalian kepada sebuah kaum yang telah menghalangi kalian dari Al Masjidil Haram menjadikan kalian berbuat zhālim kepada meraka.”(QS. Al Mā’idah: 2)Orang-orang Quraisy, dahulu menghalangi kaum muslimin dari masjidil Haram, melarang mereka untuk memasuki kota Mekkah sebagaimana yang terjadi pada tahun ke-6 Hijriyyah, tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla melarang kaum muslimin karena kebencian mereka terhadap orang-orang yang melarang mereka dari rumah Allāh jangan sampai menjadikan mereka menzhālimi orang-orang tersebut.Demikian pula didalam Al Qurān, Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan tentang perintah untuk berbakti kepada orang tua baik yang muslim maupun yang kāfir.Namun apabila orang tua memerintahkan kepada kesyirikan maka kita dilarang oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk mentaati orang tua didalam perintah yang isinya kesyirikan tersebut.Adapun didalam perintah-perintah yang lain selama itu tidak berupa kemaksiatan kepada Allāh dan Rasūl Nya maka kita diperintahkan untuk mentaati.Mentaati orang tua meskipun dia adalah seorang yang kāfir.وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌۭ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًۭا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”(QS. Luqman: 15)Artinya kita tetap diperintahkan untuk bermuamalah, berakhlaq kepada orang tua kita meskipun mereka adalah seorang musyrik atau kāfir, namun jika sudah waktunya orang tua kita memerintahkan kita untuk kufur atau berbuat syirik maka tidak halal bagi kita untuk. mentaati orang tua kita didalam kesyirikan dan kekufuran.Menunjukkan kepada kita tentang makna dari loyalitas tersebut, yang dilarang adalah kita menyintai orang kāfir karena agama yang dia anut adapun hanya menyintai karena tabiat (misalnya) seseorang mencintai orang tuanya ini adalah tabiat manusia maka ini tidak mengapa, tetapi apabila mencintai orang kāfir karena kekāfirannya maka ini yang tidak dibolehkan dalam agama.Demikian pula berlepas diri dari orang-orang musyrikin bukan berarti tidak boleh kita mendakwahi orang-orang musyrikin.Nabi Ibrāhīm alayhissallām, bapak beliau adalah orang kāfir dan beliau adalah orang yang paling berlepas diri dari orang-orang yang memusuhi Allāh dan Rasūl Nya, namun beliau (alayhissallām) mendakwahi bapaknya dengan baik.Beliau memanggil bapaknya dengan, “Yā abatiy (wahai bapakku)”, dan dengan sabar beliau mendakwahi bapaknya.وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَومَكَ فِى ضَلَـٰلٍۢ مُّبِين“Dan (ingatlah) di waktu Ibrāhīm berkata kepada bapaknya (Aazar), “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.. ”(QS. Al An’ām: 74)Nabi Ibrāhīm alayhissallām sangat mencintai Allāh, mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla tetapi tidak mencegah beliau untuk mendakwahi bapaknya.Demikian pula Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, bagaimana usaha beliau untuk mendakwahi Abū Thālib, dan Abū Thālib meninggal dalam keadaan syirik (kufur) kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Ketika Abū Thālib akan meninggal dunia dalam keadaan sakaratul maut masih di dakwahi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan: “Wahai pamanku, ucapkanlah kalimat ‘Lā ilāha illallāh, sebuah kalimat yang aku akan berhujjah membelamu dihadapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla”Namun Abū Thālib meninggal dalam kesyirikan dan enggan untuk mengucapkan, ‘Lā ilāha illallāh.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah orang yang sangat mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan tetapi ini tidak mencegah beliau (melarang) beliau untuk mendakwahi orang-orang musyrikin.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 September 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 84

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 84 | Takdir Allāh ﷻ Tidak Bisa Diubah oleh Makhluk Meskipun Mereka Semua BersepakatHalaqah 84 | Takdir Allāh ﷻ Tidak Bisa Diubah oleh Makhluk Meskipun Mereka Semua BersepakatKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-84 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh: فَلَوِ اجْتَمَعَ الخَلْقُ كُلُّهُمْSeandainya seluruh makhluk berkumpul, jangan satu atau dua, tetapi semuanya berkumpulعَلَىٰ شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَىٰ أَنَّهُ كَائِنٌSeandainya semua makhluk berkumpul, baik jin maupun manusia, hewan, dan seluruh makhluk yang ada berkumpul atas sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allāh tetapkan sesuatu tadi di dalam Lauh al-Maḥfūẓ, sudah Allāh tulis di dalam Lauh al-Maḥfūẓ itu terjadiلِيَجْعَلُوهُ غَيْرَ كَائِنٍkemudian mereka semuanya berkumpul untuk menjadikan itu tidak terjadi, Allah sudah tulis dalam Lauh al-Maḥfūẓ itu akan terjadi, meninggalnya seseorang atau mendapatkan nikmatnya seseorang, hidayahnya seseorang, tersesatnya seseorang sudah Allah tulis, kemudian semua makhluk berkumpul untuk menjadikan itu tidak terjadi, sudah ditulis oleh Allah fulan ini mendapatkan hidayah semuanya berkumpul untuk menghalangi dia dari hidayah, di doktrin disurati didatangi diberikan syubhat diasingkan dan seterusnya tapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menentukan menuliskan bahwasanya orang ini akan mendapatkan hidayah makaلَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِmereka tidak akan mampu untuk melakukannya.Sebaliknya apa yang sudah Allāh ﷻ tulis tidak akan terjadi kemudian semuanya berkumpul untuk menjadikan itu terjadi maka mereka juga tidak akan mampu. Semuanya sudah ditulis mereka tidak bisa menghalangi rezeki kita yang sudah Allāh ﷻ tulis, mereka tidak bisa memberikan atau menghalangi hidayah yang sudah Allāh ﷻ tetapkan untuk kita.Demikian pula sebaliknya kita tidak bisa menyampaikan hidayah kepada seseorang yang sudah Allāh ﷻ tetapkan dia sesat, tidak bisa kita memberikan hidayah kepada orang yang sudah Allāh ﷻ tetapkan dan dijauhkan dari agama ini, yang bisa kita lakukan memenuhi perintah Allāh ﷻ yaitu berdakwah, memberikan nasihat, memberikan contoh. Semuanya sudah ditulis oleh Allāh ﷻ hidayah maupun kesesatan.Ini makna ucapan beliauوَلَوِ اجْتَمَعُوا كُلُّهُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَىٰ فِيهِ أَنَّهُ غَيْرُ كَائِنٍ، لِيَجْعَلُوهُ كَائِنًا؛ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِtidak akan mungkin mereka bisa melakukannya.Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan kepada ʿAbdullāh bin ʿAbbāsوَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُNabi ﷺ memberikan nasehat kepada ʿAbdullāh bin ʿAbbās dan saat itu masih kecil tapi sudah diajari tentang keimanan dengan takdir, menunjukkan bahwa diantara hal yang perlu kita tekankan kepada anak-anak kita adalah keimanan dengan takdir Allāh ﷻ, penting.Ketahuilah bahwasanya semua makhluk, semua umat seandainya mereka semuanya bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, ingin menolongmu, ingin memberikan hidayah kepadamu, ingin memberikan kamu rezekiلَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَtidak mungkin mereka itu bisa memberikan kepada kamu manfaat kecuali dengan sesuatu yang sudah Allāh ﷻ tulis.Kalau Allāh ﷻ sudah menulis antum dapat sekian atau diberi sekian maka tidak mungkin mereka bisa memberi lebih dari itu. Oleh karena itu ketika seseorang diberikan manfaat oleh orang lain ketahuilah bahwasanya itu sudah di takdirkan oleh Allāh ﷻ. Maka bersyukurlah dan memujilah Allāh ﷻ dan bukan berarti kita tidak mengucapkan syukur kepada manusia karena kita diperintahkan untuk mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada manusiaلَا يَشْكُر اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُر النَّاسَTidak bersyukur kepada Allāh ﷻ orang yang tidak bersyukur kepada manusia.Kita tahu bahwasanya ini sudah di takdirkan, dia memberi kita sudah di takdirkan oleh Allāh ﷻ tidak keluar dari apa yang Allāh ﷻ sudah tulis, dan kita diperintahkan untuk bersyukur kepada manusia mengucapkan terima kasih kepada manusia dan ini adalah bentuk syukur kita kepada Allāh ﷻ. Ini bagus ditanamkan pada anak-anak kita, tidak mungkin mereka itu bisa memberikan bantuan kepadamu kecuali itu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ, maka pujilah Allāh ﷻ. Kemudianوَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَSeandainya mereka semuanya berkumpul untuk memudharati kamu, mereka ingin menyihirmu, ingin membegalmu, ingin membunuhmu, ingin mengganggumu, itu juga perlu ditanamkan, tidak mungkin mereka bisa memudharati dirimu kecuali dengan sesuatu yang sudah Allāh ﷻ tulis.Kalau memang Allāh ﷻ menulis di dalam Lauh al-Maḥfūẓ engkau akan tergores engkau akan tersayat bagian punggungmu misalnya, itu yang akan tersayat, tidak mungkin mereka bisa melakukan lebih daripada itu, tidak mungkin mereka bisa memudharati kecuali dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis. Kalau ditanamkan berulang-ulang di dalam diri seseorang seorang anak dan diri seorang muslim secara umum maka menjadikan dia bertawakkal kepada Allāh ﷻ, hanya takut kepada Allāh ﷻ.Dan itulah yang dialami oleh para sahabat radhiyallāhu ta’ala ‘anhum, Nabi ﷺ sudah menanamkan kepada diri mereka keimanan dengan takdir sehingga diantara pasukan-pasukan perang, para sahabat Nabi ﷺ dikenal sebagai pasukan perang yang paling berani, tidak diketahui dalam sejarah pasukan perang yang lebih berani daripada para sahabat Nabi ﷺ.Karena mereka yakin, tidak mungkin mengenai saya kecuali apa yang sudah Allāh ﷻ tetapkan. Seseorang mau berada di dalam rumahnya di dalam gedung yang kuat yang tinggi yang dijaga oleh banyak pengawal dan berbagai pengamanan, kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dia termudharati dia terkena sesuatu pasti akan terjadi, tidak mungkin dia akan bisa menghindar.Dia sudah berusaha menjaga pola makannya, menjaga makanannya, menjaga pola hidupnya, kalau memang sudah Allāh ﷻ tulis dia terkena penyakit tersebut ya dia akan terkena, tidak mungkin dia bisa menghindar dari apa yang sudah Allāh ﷻرُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُPena-pena telah diangkat oleh Allāh ﷻ dan juga lembaran-lembaran telah kering, ini sudah selesai tidak mungkin bisa dirubah.Termasuk diantaranya penduduk surga dan juga penduduk neraka sebagaimana telah berlalu itu juga diantara yang sudah diketahui oleh Allāh ﷻ dan sudah ditulis oleh Allāh ﷻ tidak mungkin bisa dirubah. Kita berdoa kepada Allāh, semoga Allāh Subḥānahu wa Taʿālā menjadikan kita termasuk Ahlul Jannah dan memudahkan kita untuk mengamalkan amalan Ahlul Jannah.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 September 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ts-tsalatsah #3

Halaqah 59 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Dalil Misi Utama Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ Bag 02 Makna Qum Fa Andhir👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahKemudian beliau mengatakanقُمۡ فَأَنذِرۡmakna dari firman Allah قُمۡ bangunlah dirimu, karena orang yang berselimut dalam keadaan dia tertidur atau berbaring, قُمۡ bangunlah فَأَنذِرۡ maka berilah peringatan. Apa maksud فَأَنذِرۡ di siniينذر عن الشرك ويدعو إلى التوحيدأَنذِرۡ maksudnya adalah peringatkanlah mereka dari kesyirikan. Wahai manusia jangan kalian berbuat syirik, jangan kalian menyekutukan Allah. Menakut-nakuti mereka itu namanya indzar, antum mengingatkan orang jangan dekat dekat dengan kabel ini itu namanya ينذر, mengingatkan dia menakut-nakuti mereka melarang mereka, melarang mereka dari kesyirikan bukan hanya disitu saja tapi juga ويدعو إلى التوحيد, dan mengajak mereka kepada Tauhid, jadi saling melazimkan satu dengan yang lain.Orang yang mengingatkan manusia dari kesyirikan, melazimkan dia mengajak mereka kepada Tauhid, melarang dari kesyirikan berarti otomatis mengajak manusia untuk tidak menyekutukan Allah yaitu intinya adalah mentauhidkan Allah. Tidak menyekutukan berarti memisahkan, mengingatkan mereka dari kesyirikan berarti mengajak mereka untuk bertauhid. Orang yang mengajak kepada Tauhid melazimkan dia untuk mengingatkan manusia dari kesyirikanينذر عن الشرك ويدعو إلى التوحيدdisebutkan oleh beliau dua-duanya supaya lebih jelas maknanya, bahwasanya di sana ada Nafyun dan di sana ada Isbat, di sana ada Targhib dan di sana ada Tarhif ada dorongan dan juga ada peringatan.Ini ayat yang kedua, dari kalimat فَأَنذِرۡ diketahui bahwasanya maksud dari indzar di sini adalah mengingatkan mereka dari ke syirikan. Tentunya ketika beliau pertama kali disuruh untuk indzar ini tidak langsung kepada kaumnya secara terang-terangan. Kita tahu bahwa di sana ada marhalah jahriyyah, jadi أَنذِرۡdi sini jangan dibayangkan beliau langsung dakwah jahriyyah tapi beliau dakwah indzar dengan sirriyyah terlebih dahulu selama kurang lebih 3 tahun yaitu setelah turunnya surat Al-Muddatsir ini beliau menjadi seorang Rosul, berdakwah dengan sembunyi-sembunyi dengan perintah dari Allah ﷻ. Jadi indzar tidak identik dengan terang-terangan di dalam dakwah, mengingatkan bisa juga dalam keadaan dia sirr.Beliau mulai terang-terangan didalam dakwah ketika turun firman Allah ﷻوَأَنذِرۡ عَشِيرَتَكَ ٱلۡأَقۡرَبِينَ ٢١٤[Ash Shu’ara”:214]Berikanlah peringatan kepada keluargamu yang dekat.Kemudian beliau naik ke atas bukit Shofa kemudian mendakwahi mereka. Mulailah di sini ada Jahr di dalam dakwah, berarti indzar terkadang dengan sirr terkadang dengan jahr, tidak harus indzar itu dengan jahrsampaikan saja, dan ini adalah kewajiban seorang Rosul hanya indzar sajaفَهَلۡ عَلَى ٱلرُّسُلِ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ…..[An Nahl:35]Tidaklah menjadi kewajiban seorang rasul kecuali hanya menyampaikan saja. Mengingatkan tentang adanya azabقُمۡ فَأَنذِرۡAllah tidak mengatakan berikanlah mereka hidayah, tidak, karena ini bukan kemampuan seorang Rosul kemampuan mereka yang bisa mereka lakukan hanyalah Indzar saja, mengingatkan mereka.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke delapan dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke delapan dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Bersatu bukan berarti kita meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar.Ber-amar ma’ruf nahi munkar adalah sifat orang yang beriman.وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ يَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ“Dan orang-orang yang beriman, yang laki-laki dan juga yang wanita, sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Mereka saling ber-amar ma’ruf nahi munkar.”(QS. At Tawbah: 71)Menunjukkan bahwasanya diantara sifat orang yang beriman adalah ber-amar ma’ruf nahi munkar.Dan bahwasanya amar ma’ruf nahi munkar bukan berarti kita berpecah belah di dalam agama.Tentunya yang dimaksud dengan amar ma’ruf nahi munkar di sini adalah amar ma’ruf nahi munkar yang mengikuti batasan-batasan syar’iat, adab-adab yang telah ditentukan oleh syar’iat.Bukan hanya sekedar amar ma’ruf nahi munkar yang didasari oleh semangat, akan tetapi tidak beraturan.Jadi amar ma’ruf nahi munkar adalah perintah Allah Subhānahu wa Ta’āla dan Rasul-Nya. Dan caranya, adab-adabnya, dan hukum-hukumnya telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya.Diantaranya adalah tidak ada pengingkaran di dalam masalah ijtihadiyah (yaitu) masalah yang masih menerima ijtihad di dalamnya karena tidak ada naskh di dalam perkara tersebut.Sebagian ulama (sebagian imam yang empat) mengatakan demikian, sebagian imam yang lain mengatakan demikian, maka di dalam perkara ini tidak ada pengingkaran.Seperti misalnya, sebagian menganggap bahwasanya menyentuh lawan jenis adalah membatalkan wudhu, sebagian yang lain mengatakan tidak membatalkan wudhu.Atau dalam masalah yang lain, makan daging unta membatalkan wudhu, sebagian yang lain mengatakan tidak membatalkan wudhu.Maka ini adalah termasuk masalah-masalah ijtihadiyah yang menerima ijtihad di dalamnya, karena tidak ada naskh yang sharih.Dalam masalah seperti ini tidak ada pengingkaran.Namun di dalam perkara yang jelas di sana ada naskh yang sharih, dan perkara ini tidak ada diantara sahabat yang berselisih di dalamnya, maka tidak sepantasnya seorang muslim dan juga muslimah berselisih di dalam perkara tersebut.Seperti misalnya, ada sebagian yang meyakini adanya nabi setelah nabi Muhammad. Dan ada sebagian yang mengatakan tidak ada nabi setelah nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Di dalam perkara seperti ini, tidak boleh diantara kita saling berselisih karena jelas di dalam Al Qur’an, Allah mengabarkan bahwasanya nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah penutup para nabi (خاتم النبين)Demikian pula di dalam hadits,وأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ ، لَا نَبِيَّ بَعْدِي“Dan aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelahku.”Dan tidak ada diantara sahabat Radhiyallahu ‘anhum, para tabi’in, para tabiut tabi’in yang mereka meyakini ada nabi setelah nabi Muhammad Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Bahkan setiap orang yang mengaku menjadi nabi setelah itu, maka dia adalah seorang pendusta yang harus diperangi. Tidak boleh ada diantara orang Islam yang meyakini bahwasanya ada nabi setelah nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Perkara yang seperti ini harus diingkari dan ini bukan termasuk perkara ijtihadiyah.Demikian pula orang yang meyakini bahwasanya Al Qur’an ini telah ditambah atau telah dikurang, atau orang-orang yang mencela para sahbat Rasulullah Shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka ini adalah perpecahan yang tercela.Tidak boleh seorang muslim mengatakan bahwasanya Al Qur’an telah dirubah, telah ditambah, telah dikurangi, dan tidak boleh mengatakan bahwsanyaa para sahabat, mereka adalah orang-orang yang tercela atau orang-orang yang murtad.Karena Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwasanya Allah telah menjaga Al Qur’an.إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُونَ“Sesungguhnya kami telah menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya kami akan menjaganya.”(QS. Al Hijr: 9)Menjaga Al Qur’an baik dari lafadznya maupun dari maknanya.لَّا يَأْتِيهِ ٱلْبَـٰطِلُ مِنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ“Tidak akan datang ke dalam Al Qur’an sebuah kebathilan, baik dari depannya maupun dari belakangnya.”(QS. Fussillat: 42)Allah Subhānahu wa Ta’āla telah berjanji untuk menjaga Al Qur’an. Tidak boleh ada seorang yang mengaku dirinya muslim mengatakan bahwasanya Al Qur’an telah ditambah atau dikurangi.Seandainya ada seseorang di atas gunung dan dia di dalam gua berusaha untuk menambah satu huruf pun di dalam Al Qur’an, niscaya Allah Subhānahu wa Ta’āla akan menampakkan itu di tengah-tengah manusia.Tidak boleh ada seorang yang mengaku dirinya muslim mencela para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, mencela mereka, atau bahkan mengkafirkan mereka, karena di dalam Al Qur’an Allah Subhānahu wa Ta’āla jelas-jelas memuji para sahabat Radhiyallahu ‘anhum dalam ayat yang banyak.مُّحَمَّدٌۭ رَّسُولُ ٱللَّهِ ۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَىٰهُمْ رُكَّعًۭا سُجَّدًۭا“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya”(QS. Al Fath: 29)Di dalam ayat yang lain, Allah mengatakan,وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah.”(QS. At Tawbah: 100)Allah meridhai para sahabat Radhiyallahu ta’ala ‘anhu. Bagaimana seseorang mengatakan bahwasanya para sahabat kafir padahal Allah Subhānahu wa Ta’āla telah meridhai mereka dan mereka pun ridha kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Perbedaan pendapat seperti ini adalah perbedaan pendapat yang tercela, harus diingkari dan dijelaskan kepada umat.Adapun perselisihan pendapat yang berdasarkan dalil, sebagian Imam mengatakan pendapat A dan Imam yang lain mengatakan pendapat B, dan masing-masing memiliki dalil dan berusaha untuk mengikuti Al Qur’an, berusaha untuk mengikuti sunnah, berusaha untuk mengikuti ijma’, akan tetapi akhirnya memiliki pendapat yang berbeda padahal sudah berusaha untuk mengikuti Al Qur’an dan Sunnah, maka perselisihan pendapat yang seperti ini diperbolehkan.Dan sikap seorang muslim, masing-masing berusaha untuk mencari kebenaran dengan melihat dalil. Dan apabila dia sudah menguatkan sebuah pendapat maka hendaklah dia bertoleransi di dalam masalah ini dan tidak memaksakan kehendaknya kepada yang lain.Dan ini yang dilakukan oleh para Imam yang empat (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal) mereka adalah imam-imam Ahlus Sunnah wal Jamaah.Saling berguru antara satu dengan yang lain.• Imam Syafi’i adalah murid dari Imam Malik bin Anas• Imam Ahmad bin Hambal adalah murid dari Imam Syafi’i rahimahullah(atau dengan kata lain)• Imam Ahmad berguru kepada Imam Syafi’i• Imam Syafi’i berguru kepada Imam Malik bin Anas.Akan tetapi tidak pernah terdengar bahwasanya mereka saling mencela satu dengan yang lain, bahkan sebagian berimam kepada imam yang lain, menjadi makmum kepada yang lain.Karena mereka memiliki manhaj yang satu, jalan yang satu, yaitu berusaha di dalam ibadahnya sesuai dengan Al Qur’an, sesuai dengan Sunnah Rasulullah Shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan pemahaman para sahabat Radhiyallahu ‘anhu.Apabila setelah itu terjadi perselisihan, maka sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alayhi wa sallam,إذا اجتهد الحاكم فأصاب فله أجران، وإذا اجتهد فاخطأ فله أجر واحد“Apabila seorang hakim, seorang ulama, berijtihad kemudian dia benar maka dia mendapatkan dua pahala.”Dua pahala, yaitu:1. Pahala berijtihad, bersungguh-sungguh dengan melihat dalil.2. Pahala ishabatul Haq, yaitu bisa mendapatkan kebenaran tersebut.Akan tetapi apabila dia berijtihad kemudian dia salah di dalam ijtihadnya, maka dia mendapatkan satu pahala, yaitu pahala berijtihad, pahala bersungguh-sungguh di dalam mencari kebenaran. Ini di dalam masailu al ijtihadiyah

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

SILSILAH ILMIYYAH BERIMAN KEPADA MALAIKAT Beriman dengan Sifat-Sifat Fisik Malaikat – Bagian 3

SILSILAH ILMIYYAH BERIMAN KEPADA MALAIKATBeriman dengan Sifat-Sifat Fisik Malaikat – Bagian 37. MALAIKAT BISA DILIHAT• Pada asalnya, malaikat tidak menampakkan diri kepada manusia. Namun, dengan izin Allah, malaikat terkadang dapat menampakkan diri.• Beberapa dalil menunjukkan bahwa malaikat pernah dilihat dalam bentuk manusia:Nabi Ibrahim dan Nabi Luth ‘alaihimas salam melihat malaikat dalam bentuk manusia.Maryam ‘alaihassalam melihat malaikat dalam bentuk manusia.Rasulullah ﷺ pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya dan juga dalam bentuk manusia.Sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum pernah melihat Jibril dalam bentuk manusia.• Dalam hadits disebutkan bahwa:Ayam yang berkokok melihat malaikat. Ketika mendengar ayam berkokok, dianjurkan meminta karunia kepada Allah.Keledai yang meringkik melihat setan. Ketika mendengar ringkikan keledai, dianjurkan berlindung kepada Allah dari setan.(HR. Bukhari dan Muslim)⚠️ PERHATIAN:Seseorang harus berhati-hati. Jangan sampai mengira telah melihat malaikat atau bermimpi melihat malaikat, padahal yang datang adalah iblis yang ingin menyesatkan manusia.8. JUMLAH MALAIKAT SANGAT BANYAK• Jumlah malaikat sangat banyak dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah.• Allah berfirman dalam QS. Al-Muddatstsir: 31:“... Tidak mengetahui jumlah tentara-tentara Rabb-mu (malaikat) kecuali Dia.”• Ketika Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah ﷺ diperlihatkan Al-Baitul Ma’mur.• Setiap hari, 70.000 malaikat melaksanakan shalat di Al-Baitul Ma’mur.• Setelah keluar dari Al-Baitul Ma’mur, mereka tidak kembali lagi ke tempat tersebut.(HR. Bukhari)• Rasulullah ﷺ juga mendengar suara deritan langit karena banyaknya malaikat yang berada di sana.• Beliau ﷺ bersabda bahwa tidak ada tempat seluas empat jari di langit kecuali di sana terdapat malaikat yang sedang meletakkan dahinya untuk bersujud kepada Allah.(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah – hadits hasan)KESIMPULAN7️⃣ Malaikat bisa dilihat dengan izin Allah, dan terdapat dalil yang menunjukkan hal tersebut.8️⃣ Jumlah malaikat sangat banyak dan tidak diketahui kecuali oleh Allah.➡️ Sebagai seorang mukmin, kita beriman kepada malaikat sebagaimana yang Allah dan Rasul-Nya kabarkan, tanpa membatasi atau menolaknya dengan akal.

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →