🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI2 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Iman kepada Takdir Allah Halaqah 8

Halaqah yang ke delapan dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Cara Beriman dengan Takdir Allah Bagian 5”.Diantara cara beriman dengan takdir Allah adalah dengan mengimani tingkatan takdir yang ke empat, yaitu:4. Penciptaan Allah terhadap segala sesuatu. Maksudnya Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah pencipta segala sesuatu yang ada di langit maupun yang ada di bumi (sifat-sifatnya dan amalannya).Menciptakan pelaku dan amalan yang dilakukan.Menciptakan orang yang beriman dan keimanannya.Menciptakan orang yang kafir dan kekafirannya.Menciptakan orang yang taat dan ketaatannya.Menciptakan pelaku maksiat dan kemaksiatannya.Menciptakan setiap yang bergerak dan gerakannya.Dan setiap yang diam dan diamnya.Tidak ada yang mencipta selain Allah azza wajalla. Dia-lah Al Kholiq dan selainnya adalah makhluk.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ[QS Ash-Shaffat 96]“Dan Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.”Dan Allah berfirman,اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ…[QS Az-Zumar 62]“Allah yang menciptakan segala sesuatu.”Dan Rasulullãh ﷺ bersabda,إن الله خالق كل صانع وصنعته“Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang menciptakan setiap pelaku dan apa yang dia lakukan.”[HR Al Hakim di dalam Al Mustadrak dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]Inilah 4 tingkatan takdir yang barangsiapa tidak beriman dengan salah satunya maka dia tidak beriman dengan Al Qadha dan Al Qadar.

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 8: Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 5

Halaqah 8:Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 5🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Diantara cara beriman dengan takdir Allah adalah dengan mengimani tingkatan takdir yang ke empat, yaitu:4. Penciptaan Allah terhadap segala sesuatuAllah Subhānahu wa Ta’āla adalah pencipta segala sesuatu yang ada di langit maupun yang ada di bumi (sifat-sifatnya dan amalannya).• Menciptakan pelaku dan amalan yang dilakukan.• Menciptakan orang yang beriman dan keimanannya.• Menciptakan orang yang kafir dan kekafirannya.• Menciptakan orang yang taat dan ketaatannya.• Menciptakan pelaku maksiat dan kemaksiatannya.• Menciptakan setiap yang bergerak dan gerakannya. Dan setiap yang diam dan diamnya.Tidak ada yang mencipta selain Allah azza wajalla. Dia-lah Al Kholiq dan selainnya adalah makhluk.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ“Dan Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.”(QS. Ash-Shaffat: 96)Dan Allah berfirman:اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ…“Allah yang menciptakan segala sesuatu.”(QS. Az-Zumar: 62)Dan Rasulullãh ﷺ bersabda:إن الله خالق كل صانع وصنعته“Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang menciptakan setiap pelaku dan apa yang dia lakukan.”(HR. Al Hakim di dalam Al Mustadrak dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah)Inilah 4 tingkatan takdir yang barangsiapa tidak beriman dengan salah satunya maka dia tidak beriman dengan Al Qadha dan Al Qadar.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 83 | Ahlus Sunnah Mengimani Adanya Lauh Mahfudz dan Qalam serta Apa yang Tertulis Di dalamnya Bag 02

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A Penulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi RahimahullahMasih melanjutkan tentang keimanan Ahlus Sunnah wal Jamāʿah terhadap al-Lawḥ wal-Qalam. Dalam sebuah hadits, Nabi ṣallallāhu ʿalayhi wa sallam mengatakan:إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْKetika Allāh Subḥānahu wa Taʿālā pertama kali menciptakan al-Qalam (ini menunjukkan bahwa al-Qalam adalah makhluk ciptaan Allāh), Allāh Subḥānahu wa Taʿālā mengatakan kepada al-Qalam: “Uktub” (tulislah).قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟Dia mengatakan: “Wahai Rabb-ku, apa yang aku tulis?”, dia mengatakan: “Wahai Rabb-ku,” menunjukkan bahwa ia adalah makhluk, Allāh menjadikan dia berbicara.قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُTulislah takdir-takdir segala sesuatu hingga datangnya Hari Kiamat (yaitu tiupan sangkakala yang pertama).Hadits shahih diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dan lainnya, menunjukkan tentang diciptakannya al-Qalam, dan pendapat yang lebih kuat adalah bahwa al-ʿArsy telah ada sebelum diciptakannya al-Qalam, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits ketika al-Qalam diperintahkan untuk menulis segala sesuatu,وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءArsy Allāh berada di atas air. Artinya, ʿArsy sudah ada sebelum diciptakannya al-Qalam. Sehingga beliaupun mengatakanوَنُؤْمِنُ بِاللَّوْحِ وَالقَلَمِKita beriman kepada al-Lawḥ dan al-Qalam. Setelahnyaوَجَمِيعُ مَا فِيهِ قَدْ رُقِمَDan seluruh apa yang ada di dalamnya, yaitu di dalam Lawḥul Maḥfūẓ, ini sudah ditulis, dan kita beriman dengan seluruh apa yang ada di dalamnya yang sudah ditulis.Al-Qalam menulis, dan tulisan tersebut ada di dalam Lawḥul Maḥfūẓ. Jadi, kita beriman dengan al-Lawḥ dan kita beriman dengan al-Qalam, dan kita beriman bahwasanya Allāh Subḥānahu wa Taʿālā telah menulis segala sesuatu di dalam Lawḥul Maḥfūẓ. Dan inilah martabah yang kedua di antara tingkatan-tingkatan iman dengan takdir, sebagaimana telah berlalu.Tingkatan yang pertama adalah beriman dengan al-ʿIlm, bahwasanya Allāh Subḥānahu wa Taʿālā mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Kemudian yang kedua adalah beriman bahwasanya Allāh telah menulis segala sesuatu di dalam Lawḥul Maḥfūẓ.Ini adalah martabah yang kedua yang harus kita imani, sebagaimana dalam haditsكَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍAllāh telah menulis takdir-takdir seluruh makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allāh menciptakan langit dan bumi. Apa yang Allāh tulis tadi itu sudah selesaiرُفِعَتِ الأقْلامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُtelah diangkat pena (selesai menulis) dan lembaran-lembaran telah kering, sudah selesai.Yang terjadi setelah itu adalah sesuai dengan apa yang sudah Allāh tulis. Tidak mungkin dia bisa menyimpang keluar dari apa yang sudah Allāh tulis. Rezeki tidak mungkin bertambah atau berkurang dari apa yang sudah Allāh tulis, sudah tertulis rezeki Fulan rezeki Fulanah, nikmat dan juga musibah, amalan, hidayah dan juga kesesatan tidak mungkin terlepas dan tidak mungkin berbeda dengan apa yang sudah Allah tulisقَدْ رُقِمَsudah ditulis oleh Allāh Subḥānahu wa Taʿālā di dalam Lawḥul Maḥfūẓ dan tidak mungkin terjadi di permukaan bumi kecuali sesuai dengan apa yang sudah Allāh tulis sebelumnya di dalam Lawḥul Maḥfūẓ.

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 September 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 83

Halaqah 83 | Ahlus Sunnah Mengimani Adanya Lauh Mahfudz dan Qalam serta Apa yang Tertulis Di dalamnya Bag 02Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-83 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Masih melanjutkan tentang keimanan Ahlus Sunnah wal Jamāʿah terhadap al-Lawḥ wal-Qalam. Dalam sebuah hadits, Nabi ṣallallāhu ʿalayhi wa sallam mengatakan:إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْKetika Allāh Subḥānahu wa Taʿālā pertama kali menciptakan al-Qalam (ini menunjukkan bahwa al-Qalam adalah makhluk ciptaan Allāh), Allāh Subḥānahu wa Taʿālā mengatakan kepada al-Qalam: “Uktub” (tulislah).قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟Dia mengatakan: “Wahai Rabb-ku, apa yang aku tulis?”, dia mengatakan: “Wahai Rabb-ku,” menunjukkan bahwa ia adalah makhluk, Allāh menjadikan dia berbicara.قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُTulislah takdir-takdir segala sesuatu hingga datangnya Hari Kiamat (yaitu tiupan sangkakala yang pertama).Hadits shahih diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dan lainnya, menunjukkan tentang diciptakannya al-Qalam, dan pendapat yang lebih kuat adalah bahwa al-ʿArsy telah ada sebelum diciptakannya al-Qalam, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits ketika al-Qalam diperintahkan untuk menulis segala sesuatu,وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءArsy Allāh berada di atas air. Artinya, ʿArsy sudah ada sebelum diciptakannya al-Qalam. Sehingga beliaupun mengatakanوَنُؤْمِنُ بِاللَّوْحِ وَالقَلَمِKita beriman kepada al-Lawḥ dan al-Qalam. Setelahnyaوَجَمِيعُ مَا فِيهِ قَدْ رُقِمَDan seluruh apa yang ada di dalamnya, yaitu di dalam Lawḥul Maḥfūẓ, ini sudah ditulis, dan kita beriman dengan seluruh apa yang ada di dalamnya yang sudah ditulis.Al-Qalam menulis, dan tulisan tersebut ada di dalam Lawḥul Maḥfūẓ. Jadi, kita beriman dengan al-Lawḥ dan kita beriman dengan al-Qalam, dan kita beriman bahwasanya Allāh Subḥānahu wa Taʿālā telah menulis segala sesuatu di dalam Lawḥul Maḥfūẓ. Dan inilah martabah yang kedua di antara tingkatan-tingkatan iman dengan takdir, sebagaimana telah berlalu.Tingkatan yang pertama adalah beriman dengan al-ʿIlm, bahwasanya Allāh Subḥānahu wa Taʿālā mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Kemudian yang kedua adalah beriman bahwasanya Allāh telah menulis segala sesuatu di dalam Lawḥul Maḥfūẓ.Ini adalah martabah yang kedua yang harus kita imani, sebagaimana dalam haditsكَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍAllāh telah menulis takdir-takdir seluruh makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allāh menciptakan langit dan bumi. Apa yang Allāh tulis tadi itu sudah selesaiرُفِعَتِ الأقْلامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُtelah diangkat pena (selesai menulis) dan lembaran-lembaran telah kering, sudah selesai.Yang terjadi setelah itu adalah sesuai dengan apa yang sudah Allāh tulis. Tidak mungkin dia bisa menyimpang keluar dari apa yang sudah Allāh tulis. Rezeki tidak mungkin bertambah atau berkurang dari apa yang sudah Allāh tulis, sudah tertulis rezeki Fulan rezeki Fulanah, nikmat dan juga musibah, amalan, hidayah dan juga kesesatan tidak mungkin terlepas dan tidak mungkin berbeda dengan apa yang sudah Allah tulisقَدْ رُقِمَsudah ditulis oleh Allāh Subḥānahu wa Taʿālā di dalam Lawḥul Maḥfūẓ dan tidak mungkin terjadi di permukaan bumi kecuali sesuai dengan apa yang sudah Allāh tulis sebelumnya di dalam Lawḥul Maḥfūẓ.

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 82 | Ahlus Sunnah Mengimani Adanya Lauh Mahfudz dan Qalam serta Apa yang Tertulis Di dalamnya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi RahimahullahBeliau mengatakan rahimahullāh:وَنُؤْمِنُ بِاللَّوْحِ وَالقَلَمِ، وَجَمِيعُ مَا فِيهِ قَدْ رُقِمَ،  فَلَوِ اجْتَمَعَ الخَلْقُ كُلُّهُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَىٰ أَنَّهُ كَائِنٌ، لِيَجْعَلُوهُ غَيْرَ كَائِنٍ؛ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِDan kami, yaitu Ahlusunnah wal-Jamā’ah, beriman dengan Al-Lawḥ dan Al-Qalam. Kami, Ahlusunnah wal-Jamā’ah, beriman dengan lawḥ, yaitu Lawḥul Maḥfūẓ yang ditulis di dalamnya segala sesuatu.بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ ۝ فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظٍ(QS: Al-Burūj (85:21-22))Bahkan itu adalah Al-Qur’ān Al-Majīd, Qur’ān yang agung di dalam Lawḥul Maḥfūẓ.Lawḥul Maḥfūẓ di sini, kalau diterjemahkan dalam bahasa kita, adalah lembaran yang terjaga. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ. Tidak mengetahui tentang isinya kecuali Allāh ﷻ, kecuali perkara yang memang sudah dikabarkan oleh Allāh ﷻ kepada sebagian rasul-Nya:عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًاKitab yang dikatakan oleh Allāh ﷻ, “Lā yamassuhu illal-muṭahharūn” (yang tidak menyentuhnya kecuali malaikat-malaikat yang disucikan).Yang dikatakan oleh Allāh ﷻ:مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَـٰبٍۢ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ(Tidaklah menimpa sebuah musibah yang terjadi di permukaan bumi atau menimpa diri kalian, kecuali dalam sebuah kitab sebelum Kami menciptakan musibah).Apa yang dimaksud dengan kitab di sini adalah Lawḥul Maḥfūẓ yang ditulis di dalamnya segala sesuatu.Nabi Shallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“Allāh telah menulis takdir para makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allāh menciptakan langit dan bumi”Kematian, rezeki, amalan, Surga, dan Neraka sudah ditulis oleh Allāh ﷻ di dalam Lawḥul Maḥfūẓ. Sehingga Ahlusunnah wal-Jamā’ah beriman dengan Lawḥul Maḥfūẓ, yang ditulis di dalamnya segala sesuatu, dan hal ini harus kita imani. Hal ini sangat mudah bagi Allāh ﷻ, menjadikan di sana kitab, menjadikan di sana lembaran-lembaran yang ditulis segala sesuatu di dalamnya:إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌYang demikian itu sangat mudah bagi Allāh ﷻ.Lawḥul Maḥfūẓ adalah makhluk, ditulis di dalamnya segala sesuatu, ini harus kita imani.Kemudian yang kedua adalah Al-Qalam. Kita beriman dengan Al-Qalam, yaitu pena yang digunakan untuk menulis takdir. Jadi, ada kitab yang berisi tentang takdir, dan di sana ada pena yang digunakan untuk menulis takdir. Keduanya adalah makhluk Allāh ﷻ, dan keduanya harus kita imani.

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke tujuh dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke tujuh dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,وَذَكَرَ أَنَّهُ أَمَرَ الْمُسْلِمِيْنَ بِالاجْتِمَاعِ فِي الدِّيْنِ وَنَهَاهُمْ عَنِ التَّفَرُّقِ فِيْهِDan Allah menyebutkan bahwasanya Allah memerintahkan orang-orang muslimin untuk bersatu di dalam agama dan melarang mereka untuk berpecah belah di dalamnya.وَيَزِيْدُهُ وُضُوْحًا مَا وَرَدَتْ بِهِ السُّنَّةُ مِنَ الْعَجَبِ الْعُجَابِ فِي ذَلِكَDan kejelasan ini menjadi lebih jelas dengan apa yang ada dan datang di dalam sunnah Rasulullah Shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang semakin menambah keheranan kita kepada orang-orang yang berpecah belah di dalam agamanya.Di dalam hadits-hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam juga menerangkan tentang perintah bersatu di dalam agama dan larangan untuk berpecah belah di dalam agama.Sebagaimana sabda Beliau Shallallāhu shallallāhu ‘alayhi wa sallam,إِنَّ الله يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَأَنْ تَنَاصِحُوا مَنْ وَلاَّهُمُ اللَّهُ أَمْرَكُمْ“Sesungguhnya Allah telah meridhai untuk kalian tiga perkara, Allah meridhai untuk kalian supaya kalian menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan Allah dengan apapun.Kemudian yang ke dua, hendaklah kalian berpegang teguh dengan tali Allah (dengan Al Qur’an) dan supaya kalian jangan berpecah belah.”Allah Subhānahu wa Ta’āla ridha apabila kita saling bersatu di atas hak (di atas Al Qur’an).Di dalam hadits qudsi disebutkan bahwasanya Allah mengatakan,لاَ تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا“Janganlah kalian saling berhasad, janganlah kalian saling memutus, janganlah kalian saling membelakangi, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.”Jelas, dijelaskan Beliau Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, perintah untuk menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara, tidak saling hasad, tidak saling memutus.Dan beliau mengatakan,المُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِم: لا يَظلِمُه، وَلا يَحْقِرُهُ، وَلا يَخْذُلُهُ“Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain, tidak mendholiminya, tidak menghinanya, tidak meninggalkanya ketika dia butuh pertolongan.”Ini adalah perintah-perintah dari Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam supaya kita saling bersatu dan tidak berpecah belah.Oleh karena itu di dalam Islam, Allah Subhānahu wa Ta’āla melarang perkara-perkara yang kira-kira menjadikan permusuhan diantara kita.Kita dilarang ghibah (membicarakan kejelekan orang lain), dilarang mengadu domba, bahkan dilarang minuman keras demikian pula perjudian, diantara hikmahnya adalah untuk ini.Karena dua perkara ini menjadi wasilah (perantara) bagi syaithan untuk memecah belah diantara kaum muslimin dengan sebab khamr dan juga dengan sebab perjudian.إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَـٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ فِى ٱلْخَمْرِ وَٱلْمَيْسِر“Sesungguhnya syaithan menginginkan untuk menimbulkan permusuhan diantara kalian di dalam minuman keras, demikian pula di dalam perjudian.”(QS. Al Maidah: 91)Ini adalah dalil-dalil dari As Sunnah yang semakin memperjelas bagi kita tentang pentingnya bersatu di dalam agama dan juga larangan di dalam berpecah belah.Dan yang dimaksud dengan bersatu di sini adalah bersatu di atas hak (bersatu di atas kebenaran) dan larangan berpecah belah, apabila seseorang sudah jelas datang baginya dalil yang benar dari Al Qur’an dan juga Sunnah Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Dan ini bukan berarti seseorang dilarang untuk beramar ma’ruf nahi mungkar (memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran).Bersatu bukan berarti kita tidak beramar ma’ruf nahi munkar.Kita diperintahkan untuk bersatu, satu di dalam akidah, satu di dalam ibadah, satu di dalam bermuamalah, dan dilarang kita saling berpecah belah, akan tetapi kita juga diperintahkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla untuk saling beramar ma’ruf nahi munkar.Jadi bersatu bukan berarti tidak boleh saling menasehati antara satu dengan yang lain, bukan berarti tidak boleh kita saling beramar ma’ruf nahi munkar.Bahkan persatuan umat Islam diantara wasilahnya adalah dengan ber’amar ma’ruf nahi munkar.Oleh karena itu ketika Allah Subhānahu wa Ta’āla di dalam ayat menyebutkan tentang perintah bersatu,وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ“Hendaklah kalian berpegang teguh dengan hablullah (Al Qur’an) dan jangan saling berpecah belah.”(QS. Ali Imran: 103)Di dalam ayat setelahnya, Allah Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kita untuk beramar ma’ruf nahi mungkar.Allah mengatakan,وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌۭ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ“Dan hendaklah ada diantara kalian golongan yang dia mengajak kepada kebaikan dan beramar ma’ruf nahi munkar, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali Imran: 104)

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Beriman dengan Sifat-Sifat Fisik Malaikat

Beriman dengan Sifat-Sifat Fisik MalaikatBagian Kedua5. Malaikat BerbicaraDalil dari Al-Qur’an dan hadits menunjukkan bahwa malaikat dapat berbicara.Malaikat berbicara dengan:Allah ﷻ — seperti dalam QS. Al-Baqarah: 30.Para Nabi — seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Luth.Nabi Muhammad ﷺ — Malaikat Jibril berbicara dalam Hadits Jibril tentang Islam, Iman, dan Ihsan. (HR. Muslim)Orang-orang saleh — seperti pembicaraan malaikat dengan Maryam dalam QS. Ali ‘Imran: 42.Penduduk Surga — QS. Ar-Ra’d: 23–24.Penduduk Neraka — QS. Ghafir: 49–50.6. Malaikat Dapat Menjelma Menjadi ManusiaMalaikat memiliki kemampuan menjelma dalam bentuk manusia dengan izin Allah ﷻ.Contohnya adalah Malaikat Jibril yang datang kepada Maryam dan menjelma dalam bentuk manusia yang sempurna.📖 QS. Maryam: 17.Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Luth bersama para malaikat serta Hadits Jibril juga menjadi dalil tentang kemampuan malaikat menjelma sebagai manusia.⚠️ Catatan:Kita wajib mengimani sifat-sifat malaikat berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak boleh menolaknya hanya karena akal atau hawa nafsu. Materi menyebut kelompok Mu’tazilah sebagai contoh yang mengingkari sifat ini.

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 September 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 82

Selasa, 1 September 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 82Penjelasan Umum dan Pembahasan Dalil Pertama QS. Ali-Imran: 65-67(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaPembahasan Bab Utama​بَابُ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿يَاأَهْلَ الكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ﴾ [آل عمران: 65] إِلَى قَوْلِهِ: ﴿وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَ﴾ [آل عمران: 67]"Bab Firman Allah Ta'ala: 'Wahai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim...' sampai firman-Nya: 'Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.'"Dalil Utama Bab​{يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لِمَ تُحَآجُّونَ فِيٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَمَآ أُنزِلَتِ ٱلتَّوۡرَىٰةُ وَٱلۡإِنجِيلُ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ هَٰٓأَنتُمۡ هَٰٓؤُلَآءِ حَٰجَجۡتُمۡ فِيمَا لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞ فَلِمَ تُحَآجُّونَ فِيمَا لَيۡسَ لَكُم بِهِۦ عِلۡمٞۚ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيّٗا وَلَا نَصۡرَانِيّٗا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفٗا مُّسۡلِمٗا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ}(65) Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? (66) Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (67) Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.Dalil Keterkaitan Bid'ah dengan Syirik Tasyri'​أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?"(QS. Asy-Syura: 21)Poin Garis Besar Pemahaman & Kandungan MateriBahaya Tahapan Bid’ah (Dari Bid'ah Menuju Kekufuran)Penyebab Utama: Seseorang yang terpedaya setan dengan menganggap bid'ah sebagai kebaikan lama-kelamaan merasa tidak memerlukan Islam/Sunnah yang dibawa Nabi ﷺ karena merasa hidupnya tetap tenteram dan mendapat faedah walau mengamalkan bidah.​Dampak Akhir: Muncul rasa benci terhadap Islam atau merasa tidak butuh Islam, yang pada akhirnya dapat membatalkan keislaman seseorang (mengeluarkan seseorang dari agama Islam).​Korelasi Kejadian Pada Kaum Nabi Nuh 'Alaihissalam:​Awal: Melakukan bid'ah berupa membuat patung orang saleh (Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr) untuk mengingat keshalehan mereka dan mendekatkan diri kepada Allah.​Akhir: Generasi berikutnya yang tidak menuntut ilmu disesatkan setan bahwa patung-patung tersebut dibuat untuk dicari syafaatnya, sehingga terjadilah kesyirikan.​Kesimpulan Hukum: Bid'ah adalah barīdu asy-syirk (perantara/pengantar menuju kesyirikan dan kekufuran).Bid'ah sebagai Bentuk Syirik Tasyri'Seseorang yang membuat amalan bid'ah seakan-akan merasa berhak membuat syariat agama. Padahal, hak menetapkan syariat (tasyri') hanya milik Allah ﷻ semata (sebagaimana QS. Asy-Syura: 21).Penjelasan Bantahan Ayat (QS. Ali 'Imran: 65–67) terhadap Ahli KitabBantahan Logika/Akal (Ayat 65):​Orang Yahudi mengklaim Nabi Ibrahim berada di atas agama Yahudi, sedangkan orang Nasrani mengklaim Nabi Ibrahim di atas agama Nasrani.​Allah membantah: Taurat (dasar Yahudi) dan Injil (dasar Nasrani) diturunkan jauh setelah masa Nabi Ibrahim 'Alaihissalam.​Secara akal, tidak mungkin Nabi Ibrahim mengikuti kitab/agama yang baru ada setelah beliau wafat. Maka Allah berfirman: أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ("Apakah kamu tidak berpikir?").​Bantahan Kebatilan Pengakuan Ahlul Ahwa (Ayat 66–67):​Ahli Kitab berbantah-bantahan tanpa dasar ilmu (hawa nafsu) dan sekadar pengakuan (da'awa) kosong.​Allah menegaskan bahwa Nabi Ibrahim bukanlah orang Yahudi dan bukan Nasrani, melainkan seorang yang hanīfan musliman (lurus lagi berserah diri) dan bukan termasuk orang musyrik.Kesimpulan Halaqah 82 menjelaskan bahaya bid'ah yang merupakan pintu gerbang (barīdu asy-syirk) menuju kekufuran dan kesyirikan—sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh 'alaihissalam—serta bentuk perampasan hak Allah dalam hal tasyri'. Melalui QS. Ali 'Imran: 65–67, Allah mematahkan klaim tanpa ilmu dari Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Hal ini memberikan kaidah bagi kaum muslimin agar tidak minder menghadapi syubhat ahlul bid'ah/ahlul ahwa, sebab klaim mereka jika diteliti secara ilmiah dan akal sehat pasti terbukti batil dan hanya berdasarkan hawa nafsu semata.

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 September 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 32: Al-Hasyr (Pengumpulan) Bagian 2

Halaqah 32 : Al Hasyr Bagian 2Halaqah yang ke-32 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Al-Hasyr (Pengumpulan) Bagian yang ke 2”Di padang Mahsyar akan didekatkan Matahari sejarak satu mil, sehingga manusia mendapatkan kesusahan yang sangat. Mereka berkeringat sesuai dengan kadar amalannya, yaitu kadar dosanya. Ada yang keringatnya sampai kedua mata kaki, dan ada sampai ke dua lututnya, pinggangnya. Bahkan ada yang sampai mulutnya (Hadits Shahih Riwayat Muslim).Salah seorang rawi Sulaim Ibnu ‘Amir mengatakan,Demi Allah saya tidak tahu apa yang Beliau ﷺ maksud dengan satu mil di sini. Apakah jarak atau mil yang berarti alat pencelak mata. Dan Allah ‘Azza Wa Jalla adalah Dzat Yang Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu.Di dalam waktu yang sangat lama, di Padang Mahsyar mereka menunggu hari keputusan. Satu hari di sana seperti 50.000 tahun di dunia. Namun Allah ‘Azza Wa Jalla akan meringankan hari tersebut bagi orang-orang yang beriman. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanتَعۡرُجُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيۡهِ فِى يَوۡمٍ۬ كَانَ مِقۡدَارُهُ ۥ خَمۡسِينَ أَلۡفَ سَنَةٍ۬Para Malaikat dan Jibril akan naik kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى pada waktu di mana satu hari di sana seperti 50.000 tahun di dunia.” (Al-Ma’arij : 4)Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan bahwasanya orang yang tidak membayar zakat hartanya, dia akan tersiksa dengan hartanya tersebut sampai hari keputusan. Disebutkan dalam hadits tersebut bahwasanya satu hari di situ seperti 50.000 tahun di dunia. Rasulullah ﷺ bersabda,يَوْمَ يَقُوْمُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ مِقْدَارَ نِصْفِ يَوْمٍ مِنْ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ فَيُهَوِّنُ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِ كَتَدَلِّي الشَّمْسِ لِلْغُرُوْبِ إِلىَ أَنْ تَغْرُبَManusia akan berdiri untuk Allah Rabbul ‘Alamin pada saat itu selama setengah hari dari 50.000 tahun di dunia. Dan akan diringankan bagi orang yang beriman. setengah hari tersebut seperti waktu antara menjelang tenggelamnya matahari sampai tenggelamnya matahari (Hadits Shahih Riwayat Ibnu Hibban).Di dalam hadits yang lain Beliau ﷺ mengatakan,يَجْمَعُ اللهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ قِيَامًا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً شَاخِصَةً أََبْصَارُهُمْ [إِلَى السَمَاءِ] يَنْتَظِرُوْنَ فَصْلَ الْقَضَاءِ رواه ابن أبي الدنيا والطبرانيAllah akan mengumpulkan orang-orang yang dahulu dan yang akhir pada waktu yang diketahui. dalam keadaan berdiri selama 40 tahun, dalam keadaan tajam pandangan mereka memandang ke langit menunggu waktu keputusan dari Allah ‘Azza Wa Jalla (Hadits Shahih Riwayat Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabiir).Ada yang mengatakan bahwa perbedaan waktu tersebut, tergantung amalan seseorang di dunia. Wallahu A’lamu Bisshawwab dan saat itulah manusia menyadari bahwa kehidupan di dunia hanyalah sesaat saja. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ كَأَن لَّمۡ يَلۡبَثُوٓاْ إِلَّا سَاعَةً۬ مِّنَ ٱلنَّہَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيۡنَہُمۡ‌ۚ قَدۡ خَسِرَ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَآءِ ٱللَّهِ وَمَا كَانُواْ مُهۡتَدِينَ“Dan pada hari di mana Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى akan mengumpulkan mereka. Mereka merasa seakan-akan mereka tidak tinggal di dunia kecuali sekejap saja di siang hari dan pada saat itu mereka saling mengenal di antara mereka.” (Yunus : 45)

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 7: Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 4

Halaqah 7:Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 4🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Diantara Cara Beriman dengan Takdir Allah adalah dengan mengimani tingkatan takdir yang ke-3 yaitu:3. Masyiiatullah atau Kehendak Allah.Dan yang dimaksud adalah beriman bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Allah kehendaki maka tidak akan terjadi. Dan apa yang ada di langit dan di bumi berupa bergeraknya sesuatu atau diamnya sesuatu maka dengan kehendak Allah dan tidak mungkin terjadi di kerajaan Allah Subhānahu wa Ta’āla apa yang tidak dikehendaki-Nya.Diantara dalilnya dari Al Qur’an adalah firman Allah:إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya perkara Allah apabila menginginkan sesuatu adalah mengatakan ‘Jadilah.’, maka jadilah dia.”(QS. Ya-Sin: 82)Dan Allah berfirman:وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا ۚ…“Dan seandainya Rabb-mu menghendaki niscaya akan beriman seluruh yang ada di bumi.”(QS. Yunus: 99)Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ…“Katakanlah, ‘Ya Allah yang memiliki kerajaan, Engkau memberi kekuasaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki dan menghinakan siapa yang Engkau kehendaki.”(QS. Ali ‘Imran: 26)Dan Allah berfirman:وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ“Dan tidaklah kalian menginginkan kecuali dengan kehendak Allah Rabb semesta alam.”(QS. At-Takwir: 29)Adapun dari As-Sunnah, maka Rasulullah ﷺ bersabda: لا يقل أحدُكم : اللهمَّ اغفر لي إن شئتَ ، ارحمني إن شئتَ ، ارزقني إن شئتَ ، وليَعزِمْ مسألتَه ، إنَّهُ يفعلُ ما يشاءُ ، لا مُكْرِهَ لهُ“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan ‘Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki, sayangilah aku jika engkau menghendaki, berilah aku rezeki apabila engkau menghendaki.’ Maka hendaklah dia menguatkan permintaannya karena Allah melakukan apa yang Dia kehendaki, tidak ada yang memaksanya”. (HR. Bukhori)Berkata Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah:مَا شِئْتَ كَانَ، وإنْ لم أشَأْ – وَمَا شِئْتُ إن لَمْ تَشأْ لَمْ يكنْ“Apa yang Engkau kehendaki ya Allah, terjadi, meskipun aku tidak menghendakinya dan apa yang aku kehendaki kalau Engkau tidak menghendakinya maka tidak akan terjadi.” (Atsar ini dikeluarkan oleh Al Lalika-i di dalam kitab beliau Syarhu Ushuli Itiqadi Ahli Sunnati wal Jamaah Minal Kitabi wa Sunnah Wa Ijmai Shahabah Jilid IV halaman 702)@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 September 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 82

Halaqah 82 | Ahlus Sunnah Mengimani Adanya Lauh Mahfudz dan Qalam serta Apa yang Tertulis Di dalamnyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-82 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَنُؤْمِنُ بِاللَّوْحِ وَالقَلَمِ، وَجَمِيعُ مَا فِيهِ قَدْ رُقِمَ،  فَلَوِ اجْتَمَعَ الخَلْقُ كُلُّهُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَىٰ أَنَّهُ كَائِنٌ، لِيَجْعَلُوهُ غَيْرَ كَائِنٍ؛ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِDan kami, yaitu Ahlusunnah wal-Jamā’ah, beriman dengan Al-Lawḥ dan Al-Qalam. Kami, Ahlusunnah wal-Jamā’ah, beriman dengan lawḥ, yaitu Lawḥul Maḥfūẓ yang ditulis di dalamnya segala sesuatu.بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ ۝ فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظٍ(QS: Al-Burūj (85:21-22))Bahkan itu adalah Al-Qur’ān Al-Majīd, Qur’ān yang agung di dalam Lawḥul Maḥfūẓ.Lawḥul Maḥfūẓ di sini, kalau diterjemahkan dalam bahasa kita, adalah lembaran yang terjaga. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allāh ﷻ. Tidak mengetahui tentang isinya kecuali Allāh ﷻ, kecuali perkara yang memang sudah dikabarkan oleh Allāh ﷻ kepada sebagian rasul-Nya:عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًاKitab yang dikatakan oleh Allāh ﷻ, “Lā yamassuhu illal-muṭahharūn” (yang tidak menyentuhnya kecuali malaikat-malaikat yang disucikan).Yang dikatakan oleh Allāh ﷻ:مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَـٰبٍۢ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ(Tidaklah menimpa sebuah musibah yang terjadi di permukaan bumi atau menimpa diri kalian, kecuali dalam sebuah kitab sebelum Kami menciptakan musibah).Apa yang dimaksud dengan kitab di sini adalah Lawḥul Maḥfūẓ yang ditulis di dalamnya segala sesuatu.Nabi Shallallāhu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ“Allāh telah menulis takdir para makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allāh menciptakan langit dan bumi”Kematian, rezeki, amalan, Surga, dan Neraka sudah ditulis oleh Allāh ﷻ di dalam Lawḥul Maḥfūẓ. Sehingga Ahlusunnah wal-Jamā’ah beriman dengan Lawḥul Maḥfūẓ, yang ditulis di dalamnya segala sesuatu, dan hal ini harus kita imani. Hal ini sangat mudah bagi Allāh ﷻ, menjadikan di sana kitab, menjadikan di sana lembaran-lembaran yang ditulis segala sesuatu di dalamnya:إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌYang demikian itu sangat mudah bagi Allāh ﷻ.Lawḥul Maḥfūẓ adalah makhluk, ditulis di dalamnya segala sesuatu, ini harus kita imani.Kemudian yang kedua adalah Al-Qalam. Kita beriman dengan Al-Qalam, yaitu pena yang digunakan untuk menulis takdir. Jadi, ada kitab yang berisi tentang takdir, dan di sana ada pena yang digunakan untuk menulis takdir. Keduanya adalah makhluk Allāh ﷻ, dan keduanya harus kita imani.

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 07 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 07)

بسم اللّه الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke-7 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.Kemudian beliau mengatakan:ولم يتركنا هملاً، بل أرسل إلينا رسولاً، فمن أطاعه دخل الجنة، ومن عصاه دخل النار.Dan Allāh tidak meninggalkan kita hidup didunia ini dengan sia-sia, akan tetapi Allāh mengutus kepada kita seorang rasūl.⇒ Kita diciptakan di dunia ini dan diberikan rejeki dan tidak dibiarkan oleh Allāh dalam keadaan sia-sia.Artinya sia-sia tidak diperintah, tidak dilarang, tidak dihisab tidak dikembalikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Allāh telah menciptakan kita dan memberikan rejeki kepada kita ada hikmahnya (ada tujuannya) diketahui oleh orang yang mengetahui dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahui.Allāh menciptakan kita untuk beribadah kepadanya, dan tidaklah Allāh memberikan rejeki kepada kita dengan berbagai jenisnya kecuali supaya kita jadikan rejeki tersebut sebagai wasīlah kita beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Diberikan kita nafas, diberikan kita makanan, diberikan kita minuman, tujuannya agar digunakan untuk beribadah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan bukan digunakan untuk berbuat maksiat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.ولم يتركنا هملاً بل أرسل إلينا رسولاًAllāh tidak membiarkan kita hidup didunia tanpa tujuan, tanpa diperintah, tanpa dilarang tanpa dihisab dihari kiamat tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah mengutus kepada kita seorang rasūl (Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam) yang datang utusan tersebut dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan membawa perintah Allāh supaya kita menjalankan perintah Allāh tersebut sesuai dengan kemampuan kita.Disana ada perintah untuk melakukan shalāt lima waktu, perintah untuk melakukan puasa Ramadhān, melakukan haji bila terpenuhi syarat wajibnya, disana ada perintah untuk membayar zakāt, itu semua pada hakikatnya adalah perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla yang dibawa oleh rasūl Nya, nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Dan beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) sebagai seorang rasūl diutus kepada kita dengan membawa larangan-larangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, yang kita diperintahkan untuk menjauhi dan meninggalkan larangan tersebut tanpa terkecuali yang kecil maupun yang besar.Dan diantara larangan-larangan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah larangan untuk berbuat syirik, larangan untuk berbuat bid’ah didalam agama, larangan untuk berbuat maksiat dengan berbagai jenisnya, ini semua pada hakikatnya adalah larangan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.بل أرسل إلينا رسولاً فمن أطاعه دخل الجنة، ومن عصاه دخل النار.Bahkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengutus kepada kita seorang rasūl (Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam)Dan barangsiapa yang mentaati beliau maka dia akan masuk kedalam Surga dan barangsiapa berbuat maksiat kepada beliau maka dia akan masuk kedalam neraka.Barangsiapa yang mentaati Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, mentaati perintah beliau, menjauhi larangan beliau, membenarkan kabar yang datang dari beliau dan beribadah sesuai dengan cara yang beliau ajarkan maka orang yang demikian akan masuk kedalam Surga.Tetapi barangsiapa yang berbuat maksiat kepada beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) ketika beliau memerintahkan tidak dikerjakan perintahnya, ketika beliau melarang di langgar larangannya, ketika beliau mengabarkan sesuatu didustakan kabarnya, atau seseorang beribadah tidak sesuai dengan apa yang beliau ajarkan (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).Maka akibatnya ancamannya adalah masuk kedalam neraka dan ini sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَۖ“Barangsiapa menaati Rasūl (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allāh.”(QS. An Nissā’: 80)Barangkali taat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam maka pada hakikatnya dia telah taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, karena beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) adalah seorang utusan, tugas beliau adalah hanya membawa dan menyampaikan apa yang datang dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Perintah beliau tidak lain adalah perintah dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, disampaikan oleh beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) larangan beliau pada hakikatnya adalah larangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Disampaikan oleh beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada umatnya.Didalam sebuah hadīts beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mengatakan:كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى“Setiap umatku akan masuk kedalam surga kecuali orang yang enggan.Para shahābat bertanya,”Siapa yang enggan masuk kedalam surga wahai Rasūlullāh?”Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Barangsiapa yang taat kepadaku maka dia masuk kedalam surga, dan barangsiapa yang tidak taat kepadaku (berbuat. maksiat kepadaku) maka dialah orang yang enggan masuk kedalam surga”Ini menunjukkan untuk masuk kedalam surga seseorang diharuskan seseorang taat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Kemudian beliau mengatakan:والدّليل قول تعالى: إِنَّآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ رَسُولٗا شَٰهِدًا عَلَيۡكُمۡ كَمَآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ رَسُولٗا۞ فَعَصَىٰ فِرۡعَوۡنُ ٱلرَّسُولَ فَأَخَذۡنَٰهُ أَخۡذٗا وَبِيلٗاDan dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:إِنَّآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ رَسُولٗا شَٰهِدًا عَلَيۡكُمۡ كَمَآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ رَسُولٗا۞ فَعَصَىٰ فِرۡعَوۡنُ ٱلرَّسُولَ فَأَخَذۡنَٰهُ أَخۡذٗا وَبِيلٗا“Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasūl (Muhammad) kepada kamu, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasūl kepada Fir‘aun. Namun Fir‘aun mendurhakai Rasūl itu, maka Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.”(QS. Al Muzzammil: 15-16)Allāh telah mengutus nabi Mūsā alayhissallām kepada Fir’aun, tetapi Fir’aun berbuat maksiat kepada nabi Mūsā alayhissallām dan mendustakan beliau.Maka akibatnya Allāh menyiksa Fir’aun dengan siksaan yang sangat pedih, ditenggelamkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dan dialam kubur dia disiksa oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, siksaan di akhirat lebih dahsyat dari itu semua.Akibat dari apa?Akibat dari memaksiati utusan seorang rasūl yang telah diutus oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Dan ini adalah peringatan bagi kaum muslimin jangan sampai menimpa mereka apa yang telah menimpa Fir’aun dan bala tentaranya.Diutus kepada mereka seorang rasūl (Mūsā alayhissallām) kemudian mereka memaksiati (mendustakan) dan tidak mengikuti beliau sehingga mendapatkan adzab yang pedih.Ini menunjukkan tentang wajibnya mentaati Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Ini adalah perkara pertama yang ingin beliau sampaikan.Perlu kita ketahui dan kita amalkan bahwasanya Allāh menciptakan kita, memberikan rejeki kepada kita dan tidak meninggalkan kita dalam keadaan sia-sia, tidak diperintahkan tidak dilarang dan tidak dikembalikan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Itulah yang bisa kita sampaikan.وبالله التوفيق و الهدايةوالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

💬 0 komentar📅 1 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI31 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 81

Senin, 31 Agustus 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 81Bab 9 - Allah ﷻ Menghalangi Taubat Pelaku Bid’ahPenjelasan Umum dan Pembahasan Dalil Atsar Ibnu Wadhah(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaDalil Atsar dan Hadist ​بَابُ مَا جَاءَ أَنَّ اللَّهَ احْتَجَزَ التَّوْبَةَ عَلَى صَاحِبِ البِدْعَةِ"Bab tentang apa-apa yang datang bahwasanya Allah ﷻ menghalangi taubat dari pelaku bidah."Atsar Ayyub As-Sikhtiyani & Muhammad Bin Sirin (Diriwayatkan oleh Ibnu Wadhah dalam kitab Al-Bida' wan-Nahyu 'Anha)​عَنْ أَيُّوبَ قَالَ: كَانَ عِنْدَنَا رَجُلٌ يَرَى رَأْيًا فَتَرَكَهُ، فأتيتُ مُحَمَّدَ بْنَ سِيرِينَ فَقُلْتُ: أَشَعَرْتَ أَنَّ فُلَانًا تَرَكَ رَأْيَهُ؟ قَالَ: انْظُرْ إِلَى مَاذَا يَتَحَوَّلُ؟ إِنَّ آخِرَ الْحَدِيثِ أَشَدُّ عَلَيْهِمْ مِنْ أَوَّلِهِ: «يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ ثُمَّ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ»"Dari Ayyub, ia berkata: Dahulu di tempat kami ada seseorang yang berpendapat dengan suatu pendapat (mengamalkan bid'ah Khawarij), lalu ia meninggalkannya. Maka aku mendatangi Muhammad bin Sirin dengan gembira dan berkata: 'Apakah engkau mengetahui bahwa si Fulan telah meninggalkan pendapatnya?' Muhammad bin Sirin berkata: 'Lihatlah kepada apa ia berpindah? Sesungguhnya akhir dari hadits ini lebih dahsyat bagi mereka daripada awalnya: (Mereka keluar dari Islam kemudian mereka tidak kembali kepadanya).'​Sifat/Kondisi Pengucap Atsar:​Ayyub As-Sikhtiyani: Mendatangi Muhammad bin Sirin dalam keadaan gembira karena menyangka pelaku bid'ah tersebut telah bertaubat dan kembali kepada Sunnah.​Muhammad bin Sirin: Tidak langsung membenarkan bahwa orang tersebut kembali kepada Sunnah, melainkan mengingat sabda Nabi ﷺ mengenai sifat ahlul bid'ah (khususnya Khawarij) yang sulit kembali kepada ajaran Islam yang benar.Hadits Sabda Nabi ﷺ tentang Khawarij (Syahid Kunci)​يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ ثُمَّ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ"Mereka keluar dari Islam kemudian mereka tidak kembali kepadanya."Penjelasan Potongan Hadits:​Bagian awal (Menjauh/keluar dari Islam) adalah perkara besar.​Bagian akhir (Tidak akan kembali kepadanya) jauh lebih dahsyat (asyaddu), sebab jika seseorang keluar lalu kembali maka itu lebih ringan, namun jika ia keluar dan tidak bisa kembali, maka itulah kebinasaan yang sangat berat.Atsar Pendukung LainnyaAtsar Ali Bin Abi Thalib radhiyallāhu 'anhu:​مَا كَانَ رَجُلٌ عَلَى رَأْيٍ مِنْ بِدْعَةٍ فَتَرَكَهُ إِلَّا إِلَى مَا هُوَ شَرٌّ مِنْهُ"Tidaklah seseorang berada di atas suatu pendapat dari bid'ah lalu ia meninggalkannya, melainkan ia meninggalkannya menuju kepada sesuatu yang lebih buruk darinya."​Atsar Abu Amr Asy-Syaibani rahimahullāh:​"Tidaklah seorang yang melakukan bid'ah berpindah melainkan kepada sesuatu yang lebih jelek daripada bidah itu sendiri."Penjelasan Iman Ahmad Bin Hanbal​Pertanyaan: Imam Ahmad ditanya mengenai makna hadits "Allah menghalangi taubat dari pelaku bid'ah".​Jawaban:​لَا يُوَفَّقُ لِلتَّوْبَةِ"Dia tidak diberikan taufik (kemudahan) untuk bertaubat."Garis Besar dan Pemahaman MateriMakna Terhalang dari Taubat​Maksudnya adalah sangat sulit / tidak diberi taufik untuk bertaubat kepada Allah ﷻ, bukan berarti mustahil secara mutlak secara dalil maupun realita.​Umumnya, pelaku bid'ah tidak kembali kepada Sunnah, melainkan berpindah dari satu bidah ke bid'ah lain yang lebih buruk.Perbandingan Keadaan Pelaku Bid'ah dan Ahlul Sunnah:​Meskipun secara realita ada orang yang dulunya pelaku bid'ah kemudian bertaubat menuju Sunnah, jumlah mereka jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah mayoritas pelaku bid'ah yang bertahan di atas kebid’ahannya sampai mati.Kewajiban Orang yang Diberi Hidayah Sunnah:​Terlepasnya seseorang dari "penjara/kungkungan bid'ah" menuju lapangnya Sunnah adalah keutamaan (fadhilāt) dan karunia yang sangat besar dari Allah ﷻ.​Bentuk Syukur atas Nikmat Hidayah Sunnah:​Ucapan pujian kepada Allah ﷻ (membaca QS. Al-A'raf: 43):​ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى هَدَىٰنَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلَآ أَنْ هَدَىٰنَا ٱللَّهُ"Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (kebaikan) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk."​Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu tentang Sunnah.​Bersungguh-sungguh dalam mengamalkan ajaran Islam dan Sunnah Nabi ﷺ.KesimpulanHalaqah 81 menegaskan pemahaman para Salaf (seperti Muhammad bin Sirin, Ali bin Abi Thalib, dan Imam Ahmad) terhadap hadits tentang terhalangnya taubat pelaku bid'ah. Makna terhalang di sini adalah ketidaklayakan mendapat taufik (kesulitan besar untuk bertaubat), karena mayoritas pelaku bid'ah yang meninggalkan suatu kebid’ahan hanya berpindah ke bid’ah lain yang lebih buruk dan tidak kembali ke Sunnah yang lurus. Oleh karena itu, siapa saja yang diselamatkan Allah dari bid'ah menuju Sunnah wajib bersyukur setinggi-tingginya dengan cara bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan mengamalkannya.

💬 0 komentar📅 31 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI31 Agustus 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke enam dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke enam dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,الأَصْلُ الثَّاني: أَمَرَ اللهُ بِالاجْتِماعِ في الدِّينِ، وَنَهَى عَن التَّفَرُّقِ فيهِ؛ فَبَيَّنَ اللهُ هَذا بَيانًا شافِيًا تَفْهَمُهُ الْعَوامُّPokok yang ke dua:Bahwasanya Allah Subhānahu wa Ta’āla telah memerintahkan kita untuk bersatu, berkumpul di dalam agama, dan melarang kita untuk saling berpecah belah.Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menjelaskan perkara ini, yaitu perintah untuk bersatu, berkumpul, dan larangan berpecah belah di dalam Al Qur’an dengan penjelasan yang sudah cukup, yang sangat jelas dipahami oleh orang awam sekalipun.Artinya apa yang Allah perintahkan tersebut bukanlah sesuatu yang sulit untuk dipahami.Ayat-ayat yang menjelaskan tentang perintah untuk bersatu adalah ayat-ayat yang jelas dipahami oleh seorang yang awam, seorang yang cerdas, semuanya memahami tentang perintah Allah Subhānahu wa Ta’āla ini.Diantaranya adalah firman Allah Subhānahu wa Ta’āla:1. Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kalian meninggal dunia kecuali kalian dalam keadaan sebagai seorang yang Muslim (menyerahkan dirinya kepada Allah).”(QS. Ali Imran: 102)2. Kemudian Allah berfirman,وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ……“Dan hendaklah kalian semua berpegang teguh dengan hablullah (dengan Al Qur’an, berpegang teguh dengan As Sunnah), kalian semuanya (baik laki-laki maupun wanita) dan janganlah kalian saling berpecah belah.”(QS. Ali Imran: 103)Jelas ayat ini menunjukkan kepada kita tentang perintah dari Allah Subhānahu wa Ta’āla supaya kita semuanya bersatu di dalam berpegang teguh dengan Al Qur’an, berpegang teguh dengan As Sunnah, berpegang teguh dengan agama ini.Dan jelas menunjukkan tentang larangan berpecah belah di dalam agama karena Allah berfirman,وَلَا تَفَرَّقُوا۟“Dan janganlah kalian saling berpecah belah.”Orang yang awam pun memahami tentang firman Allah Subhānahu wa Ta’āla ini.3. Dan di dalam ayat lain Allah mengatakan,وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُوا۟ وَٱخْتَلَفُوا۟ مِنۢ بَعْدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلْبَيِّنَـٰتُ ۚ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌۭ“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang saling berpecah belah, saling ber-ikhtilaf, setelah datang kepada mereka Al Bayyinat (keterangan yang jelas, dalil yang jelas). Dan merekalah orang-orang yang mendapatkan adzab yang pedih.(QS. Ali Imran: 105)Orang yang berpecah belah dan berselisih, padahal sudah mengetahui dalilnya maka ini mendapatkan ancaman adzab dari Allah Subhānahu wa Ta’āla.4. Di dalam ayat yang lain Allah mengatakan,شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحٗا وَٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِۚ“Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla telah mensyari’atkan bagi kalian dari agama ini, apa yang Allah wasiatkan kepada Nuh dan telah diwahyukan kepadamu wahai Muhammad dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, hendaklah kalian menegakkan agama ini dan janganlah kalian saling berpecah belah di dalam agama ini.”(QS. Asy Syura: 13)Perintah dari Allah Subhānahu wa Ta’āla dan ini yang diwahyukan oleh Allah kepada Nuh, kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam supaya kita menjalankan agama ini dan supaya kita tidak saling berselisih dan berpecah belah diantara kita.5. Di dalam ayat yang lain Allah mengatakan,إِنَّ ٱلَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمۡ وَكَانُواْ شِيَعٗا لَّسۡتَ مِنۡهُمۡ فِي شَيۡءٍۚ إِنَّمَآ أَمۡرُهُمۡ إِلَى ٱللَّهِ“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka saling berkelompok kelompok dalam golongan-golongan, Engkau wahai Muhammad tidak termasuk golongan mereka. Dan urusan mereka (perkara mereka) dikembalikan kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.”(QS. Al An’ām: 159)Ayat yang banyak, yang menunjukkan tentang perintah Allah Subhānahu wa Ta’āla kepada kita untuk bersatu di dalam agama Allah, bersatu di dalam hak, bersatu di dalam berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan larangan untuk berpecah belah di dalam agama ini.Orang yang awam sekalipun mereka memahami tentang perkara ini.Oleh karena itu beliau mengatakan,“Ayat-ayat ini dipahami oleh orang-orang awam sekalipun apalagi oleh para ulama dan para penuntut ilmu.”Kemudian beliau mengatakan,وَنَهَانَا أَنْ نَكُوْنَ كَالذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخْتَلَفُوْا قَبْلَنَا فَهَلَكُوْاDan Allah Subhānahu wa Ta’āla telah melarang kita menjadi orang-orang sebelum kita yang berselisih (berpecah belah) seperti orang-orang sebelum kita, yaitu orang-orang Yahudi dan Nashrani, yang mereka berpecah belah, berselisih di dalam agama mereka, maka akhirnya mereka hancur dan dihancurkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla karena sebab perselisihan mereka.Dan di dalam hadits Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam menerangkan bahwasanya, “Orang-orang Yahudi telah berselisih dan berpecah belah menjadi 70 golongan, dan orang-orang Nashrani telah berpecah belah menjadi 72 golongan, dan ummatku (kata beliau) akan berpecah belah menjadi 73 golongan.”Dan kita dilarang untuk mengikuti jalan-jalan orang-orang Yahudi dan Nashrani.Tidaklah beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menerangkan dan mengabarkan kepada kita tentang perpecahan orang-orang Yahudi dan Nashrani kecuali diantaranya adalah untuk mengingatkan kita, jangan sampai kita terperosok di dalam apa yang mereka sesat di dalamnya.Orang-orang Yahudi dan Nashrani berpecah belah di dalam agamanya dan kita dilarang untuk mengikuti kesesatan mereka di dalam berpecah belah ini

💬 0 komentar📅 31 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI31 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 81 | Dua Macam Ilmu

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullahالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-81 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:فَهَذَا جُمْلَةُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ مَنْ هُوَ مُنَوَّرٌ قَلْبُهُ مِنْ أَوْلِيَاءِ اللهِ تَعَالَىٰMaka ini adalah beberapa perkara yang dibutuhkan oleh seseorang yang diterangi hatinya di antara wali-wali Allāh.Jadi keyakinan-keyakinan tentang takdir tadi, pasrah dan menerima, mengimani tentang takdir, dan tidak berlebihan dalam memikirkan takdir. Tapi dia pikirkan dirinya sendiri, bagaimana dia beramal shalih, bagaimana dia selamat di Surga, dia beriman dengan takdir, beriman dengan syariat Allāh. Maka ini diyakini oleh orang yang diterangi hatinya oleh Allāh, bukan orang yang gelap hatinya dan tidak memiliki cahaya.Adapun orang-orang yang ta’ammuk tadi, itu orang-orang yang gelap hatinya. Adapun orang yang diberikan cahaya hatinya oleh Allāh, cahaya iman, cahaya Islam, percaya dan juga menyerahkan diri kepada Allāh, maka tidak akan dia melakukan yang demikian. Min auliyāʾillāh yang mereka adalah termasuk wali-wali Allāh, bukan wali-wali syaitān. Adapun wali-wali syaitān, maka mereka terjerumus dalam ucapan mereka, “Lima fa’ala? (Kenapa Allāh melakukan?)”.وَهِيَ دَرَجَةُ الرَّاسِخِينَ فِي العِلْمِDan ini adalah derajatnya, tingkatannya orang-orang yang dalam ilmunya.Kita dapatkan justru orang-orang yang dalam ilmunya mereka istiqāmah, iman dengan takdir, dan terus mereka beramal. Ini keadaan orang-orang yang dalam ilmunya, berbeda dengan orang yang dangkal ilmunya, yang dia merasa dirinya dalam, padahal itu adalah menunjukkan kedangkalan tentang ilmunya. Maka kita lihat dia mengutak-atik sesuatu yang merupakan rahasia Allāh tentang takdir ini. Orang-orang yang kuat di dalam ilmu, kokoh di dalam masalah ilmu.لِأَنَّ العِلْمَ عِلْمَانِKarena ilmu itu ada dua macamعِلْمٌ فِي الخَلْقِ مَوْجُودٌ، وَعِلْمٌ فِي الخَلْقِ مَفْقُودٌIlmu yang ada kita dapatkan pada makhluk (bisa kita dapatkan di sekitar kita), dan ilmu yang tidak ada hanya Allāh ﷻ yang mengetahui. Jadi ada ilmu yang diketahui oleh makhluk, ada ilmu yang tidak ada (tidak diketahui) oleh makhluk, yang mengetahui hanya Allāh ﷻ saja.Ilmu yang diketahui oleh makhluk, seperti kita mengetahui tentang nama dan juga sifat Allāh, ini Allāh ﷻ memberitahu kepada kita. Allāh ﷻ memberitahu kepada kita beriman dengan takdir. Ini adalah ilmu yang Allāh ﷻ beritahukan kepada kita tentang adanya hari kiamat, Allāh ﷻ memberitahukan itu kepada kita. Ilmu yang tidak ada pada diri kita, yaitu seperti rahasia Allāh ﷻ, apa yang ada di dalam Lauh al-Mahfūdh berupa takdir Allāh ﷻ.فَإِنْكَارُ العِلْمِ المَوْجُودِ كُفْرٌMengingkari ilmu yang ada pada makhluk, yaitu mengingkari nama dan juga sifat Allāh ﷻ, mengingkari tentang hari akhir, adalah kekufuran.وَادِّعَاءُ العِلْمِ المَفْقُودِ كُفْرٌSebaliknya, mengaku mengetahui ilmu yang mafqud, mengaku mengetahui ilmu yang sebenarnya tidak diketahui oleh makhluk tapi hanya Allāh ﷻ saja yang mengetahuinya, adalah kekufuran. Maka mengaku mengetahui ilmu yang ghaib, padahal itu adalah rahasia Allāh ﷻ, ini adalah kekufuran.وَلَا يَثْبُتُ الإِيمَانُ إِلَّا بِقَبُولِ العِلْمِ المَوْجُودِ، وَتَرْكِ طَلَبِ العِلْمِ المَفْقُودِBagaimana sempurna dan sahih keimanan seseorang tidak sah, tidak benar keimanan seseorang kecuali dengan menerima ilmu yang maujūd, ilmu yang sudah sampai kepada kita, ilmu tentang agama ini, ilmu tentang syariat ini, ilmu tentang keimanan terhadap hari akhir, ilmu tentang nama dan juga sifat Allāh ﷻ. Kita harus menerimanya.وَتَرْكِ طَلَبِ العِلْمِ المَفْقُودِDan kita harus meninggalkan mencari-cari ilmu yang tidak ada pada diri kita, yang hanya diketahui oleh Allāh ﷻ. Di antaranya adalah tentang masalah qadar, yang merupakan rahasia Allāh ﷻ. Jadi yang dimaksud dengan ilmu yang mafqud di sana adalah perkara-perkara yang ghaib.قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ “Katakanlah (Muhammad), ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allāh,’….” (QS. An-Naml: 65)عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا ٢٦ إِلَّا مَنِ ٱرْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ … ٢٧“(Dialah) Yang Mengetahui yang ghaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya….” (QS. Al-Jinn: 26-27)

💬 0 komentar📅 31 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI31 Agustus 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Ringkasan: Beriman dengan Sifat-Sifat Fisik Malaikat

Tentu. Berikut ringkasan yang dibuat singkat dan mudah di-copy paste berdasarkan materi tersebut.🌿 Ringkasan: Beriman dengan Sifat-Sifat Fisik MalaikatDi antara bentuk beriman kepada malaikat adalah mengimani sifat-sifat mereka yang telah dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Sifat malaikat terbagi menjadi:Sifat fisik (penciptaan)Sifat akhlak (perangai)Sifat-sifat fisik malaikat:✨ 1. Diciptakan dari cahayaRasulullah ﷺ bersabda bahwa malaikat diciptakan dari cahaya.(HR. Muslim)🪽 2. Memiliki sayapMalaikat memiliki jumlah sayap yang berbeda-beda: ada yang 2, 3, 4, bahkan lebih. Allah juga mampu menambah jumlah sayap sesuai kehendak-Nya.Dalam hadits disebutkan bahwa Jibril عليه السلام memiliki 600 sayap.(QS. Fāthir: 1; HR. Bukhari dan Muslim)⚪ 3. Bukan laki-laki dan bukan perempuanAllah menafikan bahwa malaikat adalah perempuan. Tidak ada dalil yang sahih bahwa malaikat adalah laki-laki.(QS. Ash-Shāffāt: 150)🍽️ 4. Tidak makan dan tidak minumDalam kisah Nabi Ibrahim عليه السلام, para malaikat datang sebagai tamu, tetapi mereka tidak memakan hidangan yang disuguhkan.(QS. Adz-Dzāriyāt: 24–28)📌 Inti MateriMalaikat diciptakan dari cahaya, memiliki sayap dengan jumlah yang beragam, bukan laki-laki maupun perempuan, serta tidak makan dan tidak minum.

💬 0 komentar📅 31 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI31 Agustus 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 06 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 06)

🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-Tsalasahبسم اللّه الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke-6 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.Kemudian beliau mengatakan:اعلم رحمك الله أنه يجب على كل مسلم ومسلمة، تعلم هذه الثلاث مسائل، والعمل بهن:Ketahuilah! Semoga Allāh merahmatimu.Dan ucapan اعلم menunjukkan bahwasanya apa yang akan beliau sampaikan setelah itu merupakan sesuatu yang penting untuk di dengar dan diperhatikan dan juga diketahui oleh seorang muslim.Beliau mengatakan :اعلم رحمك اللهKembali beliau mendo’akan kebaikan untuk kita setiap pembaca, setiap pendengar yang membaca kita beliau ini.Dido’akan dengan rahmat oleh beliau dan rahmat artinya kasih sayang dan ini mencakup kasih sayang baik dalam perkara dunia maupun dalam perkara agama.Apabila seseorang mendapatkan kasih sayang dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla baik dunia maupun agama tentunya ini adalah sebuah kebahagian yang luar biasa bagi seorang muslim.أنه يجب على كل مسلم ومسلمة، تعلم هذه الثلاث مسائلWajib bagi setiap muslim dan juga muslimah, baik laki-laki maupun wanita, dari berbagai daerah.Ucapan beliau:⇒ Yajibu يجب (wajib) artinya apabila dikerjakan, seseorang mendapat pahala dan apabila ditinggallan maka dia berdosa.⇒ Maksud dari muslim dan muslimah disini adalah yang mukallaf (sudah dibebani oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla dengan syar’iat)تعلم هذه الثلاث مسائلWajib bagi mereka untuk mempelajari tiga perkara berikut ini.Disebutkan oleh beliau, bahwa seorang muslim berusaha untuk berilmu, beramal, berdakwah dan bersabar.Dan disini beliau ingin menyampaikan kepada kita, diantara ilmu yang wajib untuk dipelajari yaitu 3 perkara yang akan beliau sebutkan.والعما بهن:Dan juga mengamalkan 3 perkara ini.Apa 3 perkara tersebut?الأولى: أن الله خلقنا ورزقنا ولم يتركنا هملاً، بل أرسل إلينا رسولاً، فمن أطاعه دخل الجنة، ومن عصاه دخل النار.• Pertama | Sesungguhnya Allāh telah menciptakan kita dan memberikan rejeki kepada kita dan tidak meninggalkan kita begitu saja.Beliau mengatakan: “Sesungguhnya Allāh telah menciptakan kita”, dan ini perkaranya jelas didalam Al Qurān banyak Allāh Subhānahu wa Ta’āla sebutkan bahwasanya Allāh adalah pencipta segala sesuatu.Allāh menciptakan segala sesuatu (ٱللَّهُ خَـٰلِقُ كُلِّ شَىْءٍۢ) menciptakan manusia, menciptakan jinn, hewan, tumbuhan dan selain Allāh adalah ciptaan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”(QS. Al Baqarah: 21)Ilmu yang pertama dan hendaknya kita amalkan adalah kita mengetahui bahwasanya Allāh yang telah menciptakan kita dan Allāh lah yang telah memberikan rejeki kepada kita.Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak menciptakan kita begitu saja kemudian tidak diberikan rejeki tapi Allāh menciptakan dan memberikan rejeki.وَمَا مِن دَآبَّةٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا‘Dan tidak ada makhluk hidup yang melata dipermukaan bumi kecuali Allāh memberikan rejeki kepada meraka”(QS. Hūd: 6)Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلْقُوَّةِ ٱلْمَتِينُ“Sesungguhnya Allāh Dialah Maha Pemberi rezeki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.”(QS. Adz Dzāriyāt: 58)Sesungguhnya Allāh menciptakan kita dan memberikan rejeki kepada kita.Itulah yang bisa kita sampaikan.وبالله التوفيق و الهدايةوالسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

💬 0 komentar📅 31 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI31 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah Halaqah 6

Halaqah yang ke enam dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Cara Beriman dengan Takdir Bagian 3”.Selain beriman dengan penulisan takdir azali yang mencakup seluruh perkara, maka para ulama menyebutkan bahwa termasuk beriman dengan penulisan takdir adalah beriman dengan beberapa jenis penulisan takdir yang lain, yang merupakan bagian dari penulisan takdir azali.⑴ Takdir UmriYaitu penulisan takdir seseorang di awal umurnya ketika di dalam rahim ibunya. Ditulis rezeki, ajal, amalan, kesengsaraan dia, dan kebahagiaannya.Dalilnya adalah hadits Abdullah Ibnu Mas’ud radiallahu ‘anhu.Rasulullah ﷺ bersabda,إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ في ذلك عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ في ذلك مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ،(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan penciptaanya di perut ibunya selama 40 hari, kemudian di dalamnya sebagai segumpal darah selama 40 hari, kemudian di dalamnya sebagai segumpal daging selama 40 hari, kemudian diutus seorang Malaikat kemudian meniup nyawa di dalamnya dan diperintahkan dengan 4 kalimat yaitu menulis rezekinya, ajalnya, amalannya, dan apakah dia sengsara atau orang yang bahagia.”[HR Al Bukhari dan Muslim]⑵ Takdir HauliYaitu takdir khusus kejadian selama satu tahun ditentukan di malam Lailatul Qadar.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَفِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ[QS Ad-Dukhan 3- 4]“Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Qur’an pada malam yang berbarakah. Sesungguhnya Kami memberikan peringatan, di dalamnya dipisahkan seluruh perkara yang kokoh.”⑶ Takdir YaumiYaitu pelaksanaan apa yang sudah ditulis pada waktu yang sudah ditentukan.Dalilnya adalah firman Allah,.. ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ[QS Ar-Rahman 29]“Setiap hari Dia (Allah) dalam sebuah urusan.”Diantara urusan Allah adalah mengampuni dosa, menciptakan, melenyapkan, menghidupkan, mematikan, memuliakan dan menghinakan, memberi dan menahan, dll.Dan perlu diketahui bahwa Takdir Yaumi, Hauli, dan Umri tidak keluar dari apa yang sudah tertulis di dalam takdir azali.

💬 0 komentar📅 31 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI31 Agustus 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 6: Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 3

Halaqah 6:Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 3🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىBeriman dengan penulisan takdir azali yang mencakup seluruh perkara, maka para ulama menyebutkan bahwa beriman dengan beberapa jenis penulisan takdir yang lain, merupakan bagian dari penulisan takdir azali.⑴ Takdir UmriYaitu penulisan takdir seseorang di awal umurnya ketika di dalam rahim ibunya. Ditulis rezeki, ajal, amalan, kesengsaraan dan kebahagiaannya.Dalilnya adalah hadits Abdullah Ibnu Mas’ud radiallahu ‘anhu.Rasulullah ﷺ bersabda:إنَّ أَحَدَكُم يُجْمَعُ خلقُهُ فِيْ بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُوْنُ في ذلك عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ في ذلك مُضْغَةً مِثلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ،(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)“Sesungguhnya salah seorang diantara kalian dikumpulkan penciptaanya di perut ibunya selama 40 hari, kemudian di dalamnya sebagai segumpal darah selama 40 hari, kemudian di dalamnya sebagai segumpal daging selama 40 hari, kemudian diutus seorang Malaikat kemudian meniup nyawa di dalamnya dan diperintahkan dengan 4 kalimat yaitu menulis rezekinya, ajalnya, amalannya, dan apakah dia sengsara atau orang yang bahagia.” (HR Al Bukhari dan Muslim)⑵ Takdir HauliYaitu takdir khusus kejadian selama satu tahun ditentukan di malam Lailatul Qadar.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَفِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ“Sesungguhnya Kami telah turunkan Al Qur’an pada malam yang berbarakah. Sesungguhnya Kami memberikan peringatan, di dalamnya dipisahkan seluruh perkara yang kokoh.”(QS. Ad-Dukhan: 3-4)⑶ Takdir YaumiYaitu pelaksanaan yang sudah ditulis pada waktu yang sudah ditentukan.Dalilnya adalah firman Allah,.. ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ“Setiap hari Dia (Allah) dalam sebuah urusan.”(QS. Ar-Rahman: 29)Diantara urusan Allah adalah mengampuni dosa, menciptakan, melenyapkan, menghidupkan, mematikan, memuliakan dan menghinakan, memberi dan menahan, dll.Dan perlu diketahui bahwa Takdir Yaumi, Hauli, dan Umri tidak keluar dari apa yang sudah tertulis di dalam takdir azali.

💬 0 komentar📅 31 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI31 Agustus 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah #3

Halaqah 56 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Misi Utama Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahSekarang beliau mengenalkan kepada kita tentang apa yang beliau bawa, apa misi beliau dan ini adalah bagian dari Ma’rifatun-nabiy mengenal tentang apa yang menjadi misi Nabi tersebut.Beliau mengatakanبعثه الله بالنذارة عن الشرك ويدعو إلى التوحيدAllah mengutus beliau dengan peringatan dari kesyirikan dan berdakwah kepada Tauhid. Allah ﷻ mengutus beliau dengan dua perkara ini.Yang pertama mengutus beliauبالنذارة عن الشركuntuk mengingatkan manusia dari kesyirikan, ini adalah tujuan utama diutusnya Nabi ﷺ sebagaimana ini adalah tujuan utama diutusnya para Nabi dan juga para Rosul sebelum beliau ﷺ, diutus untuk mengingatkan manusia dari kesyirikan. Karena asalnya manusia adalah berada di atas Tauhid.Allah ciptakan manusia asalnya berada di atas Tauhid, ini adalah Fithrahفِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاوَإِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَDan sesunguhnya aku telah menciptakan hamba hambaku dalam keadaan mereka ini hunafah, sudah berlalu tentang makna hunafah yaitu Hanif, muwahhid, muqbil ‘Alallah. Allah ciptakan para hambanya asalnya adalah mereka dalam keadaan bertauhid.Kemudian setelah itu mereka menjadi musyrik disebabkan oleh الشَّيَاطِينُوَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْKemudian setelah itu mereka didatangi oleh الشَّيَاطِينُ dan akhirnya memalingkan mereka dari agama mereka yaitu memalingkan mereka dari At-Tauhid, menunjukkan bahwa asal manusia adalah Tauhid. Karena ada sebagian orang dan mereka itulah orang-orang kafir tentunya, seorang peneliti atau professor menurut penelitian dia manusia ini dulu sebelumnya/asalnya manusia dulu itu adalah musyrikin atau sebelumnya kosong yaitu tidak mengenal pencipta, dalam keadaan mulhid yaitu keadaan tidak mengakui adanya pencipta.Akhirnya dia mulai membandingkan diantara sesembahan sesembahan tadi. Kemudian dia berkembang lagi sampai akhirnya dia menyembah kepada yang menciptakan perkara-perkara tadi atau benda benda tadi, kemudian akhirnya menurut penelitian dia jadilah manusia sekarang menyembah Tuhan.Jadi dianggapnya awalnya manusia itu mereka berada di atas illhat tidak mengenal Allah setelah terjadi kesyirikan barulah setelah itu terjadi Tauhid. Maka ini adalah menyelisihi dalil yang demikian bahkan Allah menciptakan manusia awalnya adalah sebagai Muwahhidin. Syirik ini adalah terjadi setelah itu karena ini terjadi setelah itu maka Nabi dan juga para Rosul diutus oleh Allah untuk mengembalikan mereka kepada Al-Hanifi. Diutus kepada mereka untuk mengembalikan manusia dari jalan yang menyimpang kepada jalan yang lurus.Yang kedua, ويدعو إلى التوحيدDan kemudian mendakwahkan mereka kepada TauhidMengingatkan mereka tentang kesyirikan dan mendakwahi mereka untuk kembali kepada Tauhid yang merupakan asal dan Fithrah dari manusia. Inilah inti dari dakwah Rosulullah ﷺ. Tahdzir dari kesyirikan dan itu adalah Nafiy dan dakwah kepada Tauhid dan ini adalah Isbat.النذارة عن الشركIni adalah makna Nafiy menafikan segala sesembahan selain Allahويدعو إلى التوحيد ini adalah Isbat yaitu menetapkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan. Dan inilah makna dari kalimat laa ilaaha illallah dengannyalah beliau diutus. Dan para Nabi dan juga para Rosul sebelumnya sama, diutus oleh Allah ﷻ untuk mendakwahkan manusia kepada Tauhid ini.Allah ﷻ mengatakanوَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَۖSebagaimana Allah بَعَثۡ Nabi-Nya ﷺ untuk mengingatkan kepada Tauhid maka demikianlah Allah ﷻ juga mengutus para Nabi dan Rosul sebelumnyaDalam ayat ini juga terdapat (misi Rasulullah) yang beliau sampaikan..النذارة عن الشرك ويدعو إلى التوحيد

💬 0 komentar📅 31 Agu 2026Baca selengkapnya →