🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI1 Juli 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 68

Rabu, 1 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 68Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Ketiga QS. Al-An-Nahl 25 (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Syaikh mendatangkan firman Allāh ﷻ:۞ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ(Mengenai orang-orang yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu). Serta kelanjutan ayatnya:أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَArtinya:“Sungguh jelas apa yang mereka tanggung (dosa yang harus mereka tanggung).”  ​Beban Pertanggungjawaban Dosa Pelaku Bid'ah (Mubtadi)​Menanggung Dosa Dua Arah:Dosa yang harus dipertanggungjawabkan oleh muntadi (pelaku/pembuat bid'ah) adalah dosa bid'ah dirinya sendiri serta dosa bid'ah yang dilakukan oleh orang lain yang telah dia sesatkan tanpa ilmu.​Beratnya Beban Dosa:Mempertanggungjawabkan dosa sendiri saja sudah terasa berat, terlebih lagi jika harus ditambah dengan dosa bid'ah orang lain yang ikut mengamalkannya karena didakwahkan, diajak, atau disesatkan olehnya. Hal ini menunjukkan besarnya bahaya bid'ah dan bahaya mengajak orang lain untuk melakukan kebid’ahan.Karakteristik Pelaku Bid'ah (Ahlul Bid'ah)​Niat Beribadah:Ketika melakukan kebid’ahan, ahlul bid'ah menyangka dan meniatkan perbuatannya sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) serta beribadah kepada Allāh ﷻ.​Menganggap sebagai Kebaikan:Karena menganggap kebid’ahan tersebut merupakan suatu kebaikan dan bentuk ibadah kepada Allāh, mereka tidak ragu-ragu untuk mengajak orang lain.  ​Dakwah secara Terang-terangan:Berbeda dengan pelaku maksiat, pelaku bid'ah mengajak orang lain bahkan secara terang-terangan karena menyangka itu adalah ibadah, dengan tujuan memasukkan orang lain ke dalam ibadah tersebut.Dampak Menyesatkan:Tindakan tersebut akhirnya membuat dia menyesatkan dirinya sendiri sekaligus menyesatkan orang lain. Dia melakukan dosa bid'ah dan menyebabkan orang lain ikut melakukan dosa bid'ah tersebut. Jika ajakan atau dakwahnya diterima, maka dosanya akan menjadi semakin besar.Karakteristik Pelaku Maksiat atau Dosa Besar (Ahlul Maksiat)​Keadaan pelaku maksiat sangat berbeda dengan pelaku bid'ah karena hal-hal berikut:​Menyadari Kesalahan:Setiap pelaku dosa besar merasa dan menyadari sepenuhnya bahwasanya perbuatan yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan dan dosa besar. Walaupun mereka terkadang tidak bisa mengendalikan dirinya, rata-rata mereka tahu itu adalah kemaksiatan.​Memiliki Rasa Malu:Pelaku maksiat merasa malu untuk melakukan dosanya, apalagi jika sampai mengajak orang lain. Mereka akan menyembunyikan perbuatannya dari anaknya, tetangganya, serta orang lain karena tidak ingin orang lain mengetahui apa yang mereka perbuat. Mereka juga tidak ingin orang lain ikut terkena dosa seperti mereka.​Contoh Kasus Pelaku Maksiat:​Pelaku Zina:Seseorang yang melakukan dosa zina akan merasa menyesal setelahnya (mempertanyakan mengapa hal itu bisa terjadi) dan merasa malu jika perbuatannya dilihat orang lain, sehingga dia tidak akan mengajak orang lain untuk berzina.  ​Pekerja di Tempat Ribawi:Seseorang yang bekerja di tempat ribawi tahu bahwa dirinya salah, bertentangan dengan syariat, dan tempat kerjanya bermasalah. Ketika ditanya orang mengenai tempat kerjanya, dia merasa malu dan tidak mau menyebutkannya, sehingga tidak mungkin dia mengajak orang lain untuk melakukan maksiat tersebut.  ​Mencukupkan Dosa pada Diri Sendiri:Pelaku maksiat berada dalam keadaan malu dan mengetahui dirinya keliru, sehingga dia mencukupkan dosa kabirah (dosa besar) itu hanya pada dirinya sendiri dan tidak sampai mendakwahkannya kepada orang lain.KesimpulanTujuan Pendalilan Syaikh rahimahullāh mendatangkan ayat tersebut dalam bab ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa dosa bidah itu lebih dahsyat, lebih berbahaya, dan lebih besar dosanya daripada dosa besar atau kemaksiatan biasa. Kebidahan lebih berbahaya daripada kemaksiatan karena kebanyakan pelaku bid'ah menganggap perbuatannya sebagai bentuk taqarrub dan ibadah, sehingga mereka tidak segan-segan untuk mendakwahkan serta mengajak orang lain melakukannya secara terang-terangan. Ketika dakwah bid'ah tersebut diterima, dosanya akan terus bertambah karena menanggung dosa orang yang mengikutinya. Sementara itu, pelaku kemaksiatan tetap berada dalam rasa malu, tahu dirinya bersalah, dan tidak mendakwahkan maksiatnya kepada orang lain. 

💬 0 komentar📅 1 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 Juli 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 17-Dajjal Bagian III Silsilah beriman pada hari akhir

•Halaqah 17 : Dajjal Bagian 3• [Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir]Seorang muslim hendaknya mencari jalan keselamatan dari fitnah Dajjal di antaranya,Yang pertamaberusaha mengenal Allah ﷻ dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena orang-orang yang mengikuti Dajjal adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَىYang keduamenaati Rasulullah ﷺ Karena Dajjal ketika dikabarkan oleh Thamim Addaari radhiallahu ‘anhu dan juga kawan-kawannya, bahwasanya Muhammad ﷺ telah muncul dan menang serta menjadi orang yang ditaati, maka Dajjal mengatakan yang artinya,Ketahuilah, bahwasanya menaati dia (yaitu Muhammad ﷺ) adalah lebih baik bagi mereka (HR. Muslim)Yang ketigaadalah memperbanyak doa ketetapan hati.ﻳَﺎ ﻣُﻘَﻠِّﺐَ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ ﺛَﺒِّﺖْ ﻗَﻟْﺒِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻨِﻚَKemudian,Yang keempatadalah membaca doa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ sebelum salam.ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲْ ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﻭَﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻭَﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺤْﻴَﺎ ﻭَﺍﻟْﻤَﻤَﺎﺕِ، ﻭَﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺴِﻴْﺢِ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝِSebagian pendahulu kita, dahulu menyuruh anaknya untuk mengulang sholat lagi apabila tidak membaca doa ini ketika sholat.Yang kelimaadalah berusaha menjauh dari Dajjal apabila mendengar tentang kedatangannya. Karena Dajjal memiliki syubhat kerancuan yang bisa menggoyahkan iman seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya :Barang siapa yang mendengar tentang Dajjal maka hendaklah menjauh darinya karena demi Allah sesungguhnya seseorang mendatangi dajjal dan dia menyangka bahwasannya dia adalah beriman ternyata kemudian dia mengikuti dajjal tersebut karena melihat syubhat yang dimiliki oleh Dajjal tersebut (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud)Di dalam shahih muslim disebutkan bahwasannya manusia akan pergi ke gunung-gunung untuk menghindari dajjal.Kemudian yang keenamapabila mampu maka hendaklah dia pergi ke dua tanah haram Makkah dan juga Madinah. Karena keduanya tidak bisa dimasuki oleh Dajjal (HR. Bukhari dan Muslim)Kemudian yang ketujuhapabila terpaksa bertemu dengan Dajjal maka hendaklah dia bersabar, tetap diatas kebenaran dan tidak menaati Dajjal tersebut dan hendaknya dia membaca 10 ayat yang pertama dari Surat Al-Kahfi. Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya :Barang siapa di antara kalian yang menemui dajjal maka hendaklah dia membaca awal dari surat Al Kahfi (HR. Muslim)Dalam hadits yang lain Beliau mengatakan :Barang siapa yang menghafal 10 ayat yang pertama dari Surat Al-Kahfi maka dia akan terjaga dari Dajjal (HR.Muslim)Yang kedelapanapabila melihat Dajjal membawa dua sungai, sungai dari api dan sungai dari air maka petunjuk Nabi ﷺ hendaknya kita memejamkan mata, menundukkan kepala kemudian meminum dari sungai api karena sebenarnya itu adalah air yang dingin (HR. Muslim)Dajjal muncul di masa Imam Mahdi sebelum turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam dan akan dibunuh oleh Nabi ‘Isa. Kewajiban seorang muslim adalah beriman dengan munculnya Dajjal sebagaimana dikabarkan oleh Nabi ﷺ dalam hadits-hadits yang shahih. Dajjal bukanlah khayalan atau simbol kerusakan semata.Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى melindungi kita dan keluarga kita dari fitnah Dajjal.

💬 0 komentar📅 1 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 Juli 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

AL-JANNAH DAN KENIKMATANNYA (Bag. 3)

Berikut rangkuman lengkap beserta dalil yang mudah di-copy paste berdasarkan Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Hari Akhir – Halaqah 68: Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bag. 3).🌸 AL-JANNAH DAN KENIKMATANNYA (Bag. 3)🍇 1. Makanan dan Minuman Penduduk SurgaAllah menyediakan berbagai makanan dan minuman terbaik bagi penghuni surga.Buah-buahan dan daging burung sesuai keinginan.Minuman dari mata air surga yang tidak memabukkan dan tidak membuat pening.Dalil:"Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan piala berisi minuman dari mata air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, serta daging burung dari apa yang mereka inginkan." (QS. Al-Waqi'ah: 17–21)Rasulullah ﷺ bersabda:"Di dalam surga ada burung yang lehernya seperti leher unta." (HR. Tirmidzi)Beliau juga bersabda:"Makanan pertama penduduk surga adalah tambahan hati ikan paus." (HR. Bukhari)Dalam hadits Tsauban radhiyallahu 'anhu:Setelah itu mereka memakan sapi jantan dari surga.Minuman mereka berasal dari mata air Salsabil. (HR. Muslim)✨ 2. Keadaan Penduduk SurgaPenduduk surga makan bukan karena lapar dan minum bukan karena haus.Mereka:Tidak buang air kecil.Tidak buang air besar.Tidak meludah.Tidak membuang ingus.Makanan berubah menjadi sendawa dan keringat yang harum seperti minyak kasturi.Dalil:Rasulullah ﷺ bersabda:"Sesungguhnya penduduk surga makan dan minum. Mereka tidak meludah, tidak buang air kecil, tidak buang air besar dan tidak membuang ingus."Ketika para sahabat bertanya, "Lalu ke mana makanan itu?"Beliau menjawab:"Menjadi sendawa dan keringat seperti harum minyak kasturi." (HR. Muslim)👑 3. Bejana Penduduk SurgaPeralatan makan dan minum mereka terbuat dari emas dan perak.Dalil:Rasulullah ﷺ bersabda:"Dua surga terbuat dari perak beserta bejana-bejananya dan segala isinya. Dan dua surga terbuat dari emas beserta bejana-bejananya dan segala isinya." (HR. Bukhari dan Muslim)👗 4. Pakaian dan Perhiasan Penduduk SurgaPenduduk surga mengenakan pakaian dari sutra serta dihiasi emas, perak, dan mutiara.Dalil:"Mereka diberi perhiasan gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra." (QS. Al-Hajj: 23)"Mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, serta dihiasi gelang dari perak. Rabb mereka memberi minuman yang suci." (QS. Al-Insan: 21)🛋️ 5. Tempat Istirahat Penduduk SurgaMereka bersandar di atas permadani dan dipan yang indah.Dalil:"Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra." (QS. Ar-Rahman: 54)"Mereka bertelekan di atas dipan-dipan yang berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari yang bermata jeli." (QS. At-Thur: 20)🌷 6. Kebahagiaan Penduduk SurgaPenduduk surga saling bertemu, berbincang, dan mengenang bagaimana Allah menyelamatkan mereka dari neraka.Dalil:"Dan mereka saling berhadapan dan saling bertanya. Mereka berkata, 'Sesungguhnya dahulu ketika berada di tengah keluarga kami, kami merasa takut (akan azab Allah). Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sungguh Dia Maha Melimpahkan Kebaikan lagi Maha Penyayang.'" (QS. At-Thur: 25–28)🌺 FaedahKenikmatan surga adalah kenikmatan yang sempurna, tanpa rasa lapar, haus, letih, sakit, atau kekurangan sedikit pun. Semua itu merupakan balasan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.

💬 0 komentar📅 1 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 Juli 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kita al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 43 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Rukun Iman Ada EnamHalaqah yang ke-43 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlu Ats-Tsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.Beliau menyebutkan bahwasanya cabang-cabang keimanan yang jumlahnya 73 itu memiliki rukun atau bagian yang paling penting di dalam Iman.Jumlah rukunnya ada 6 dan dia berada ditingkat yang paling tinggi diantara cabang-cabang keimanan.Urutan ke-1 sampai ke-6 adalah 6 rangking pertama yang ditempati oleh Arkānul Iman dan merupakan perkara yang paling penting dan paling besar pahalanya di dalam cabang-cabang keimanan.Yang paling tinggi adalah ucapan “Lā ilāha illallāh”. Qaulu “Lā ilāha illallāh” masuk di dalam الإيمان بالله (Al-Imānubillāh) yang merupakan rukun iman yang paling tinggi (Iman kepada Allāh).⇒ Urutan ke-1 sampai ke-6 adalah rukun Iman yang enam⑴ Beriman kepada Allāh.⑵ Beriman kepada Malāikat.⑶ Beriman kepada Kitāb.⑷ Beriman kepada Rasūl.⑸ Beriman kepada Hari akhir⑹ Beriman kepada Takdir.Rukun Iman yang 6 ini menempati 6 rangking yang pertama dari cabang-cabang keimanan dan dia adalah arkān atau rukunnya. Kalau satu di antara rukun iman ini tidak ada maka seseorang bisa keluar dari keimanan.Adapun yang lain, urutan setelahnya (nomor 7,8,9 dan seterusnya) maka ini terbagi-bagi.Ada di antaranya yang merupakan ;⑴ Ushulu Iman atau arkānul iman pondasi keimanan.⑵ Kamalul Iman Al Wajib.⑶ Kamalul Iman Al Mustahab.Ushulul Iman pondasi keimanan jumlahnya ada 6 (Rukun Iman), sedangkan urutan ke-7 hingga yang paling rendah terbagi menjadi 2, yaitu :⑴ Kamalul Iman al Wajib (Kesempurnaan Iman yang wajib)⑵ Kamalul Iman al Mustahab (Kesempurnaan Iman yang dianjurkan)Jangan kita tertipu dengan ucapan kesempurnaan, kemudian kita anggap itu tidak harus misalnya. Tidak !Kesempurnaan itu ada 2 :⑴ Kesempurnaan yang Wajib⑵ Kesempurnaan yang Sunnah▪︎Kesempurnaan yang WajibMisalnya:Berbakti kepada Orang tua, Menafkahi Anak dan Istri, Silaturahim, Shalāt, Puasa.▪︎Kesempurnaan yang SunnahMisalnya :Shalāt Rawatib, Puasa Senin Kamis, Shadaqah.Ini tadi ada di dalam cabang-cabang keimanan dari urutan ke-7 sampai yang akhir.√ Kesempurnaan Iman yang wajib kalau sampai ditinggalkan dia berdosa.√ Kesempurnaan Iman yang mustahab kalau dia tinggal maka dia tidak berdosa.Yang beliau sebutkan di sini adalah yang rukun-rukun dahulu, di antara 70 cabang lebih tadi beliau isyaratkan sebagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengisyaratkan ada yang tinggi ada yang rendah.Ini menunjukkan bahwasanya Iman ada yang berupa amalan bathin dan amalan dhāhir. Maka beliau mulai dengan menyebutkan yang rukun di antara cabang-cabang keimanan tadi.Beliau rahimahullāh mengatakan:وأركانه ستة: أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، وبالقدر خيره شره كله من الله.Rukunnya ada 6 : Beriman kepada Allāh, Beriman kepada Malāikat, Beriman kepada Kitāb, Beriman kepada Rasūl, Beriman kepada Hari akhir dan beriman dengan Takdir yang baik dan buruk semuanya adalah dari Allāh.Ini menunjukkan keharusan kita memperhatikan perkara-perkara yang dimasukan di dalam agama kita sebagai rukun.Kalau kita tahu bahwasanya Iman kepada Allāh, Malāikat, Kitāb, Rasūl, Hari akhir, Takdir. Allāh jadikan sebagai rukun keimanan yang kalau sampai satu diantara rukun iman tadi tidak ada, maka batal keimanannya. Maka kita harus memperhatikan dan mempelajari rukun Iman yang 6 ini.Sebagaimana ketika kita membahas tentang Islām, kita harus punya perhatian besar terhadap rukun Islām yang 5 (lima).√ Ketika datang waktu subuh, zhuhur, ashar, rasakanlah bahwasanya kita sedang melakukan perkara yang besar di antara ibadah-ibadah yang diwajibkan oleh Allāh.√ Ketika Ramadhān kita berpuasa selama 30 hari kita sedang melakukan perkara yang besar dalam agama ini. (Allāh masukan ini di dalam rukun)√ Kalau kita termasuk orang yang mempunyai harta maka ingat kewajiban zakat yang ada di dalam harta tersebut, dan ini termasuk siar bahkan dia termasuk rukun di dalam agama Islām.√ Kalau kita mempunyai kemampuan untuk melakukan haji ke Baitullāh maka jangan ditunda, kalau kita memiliki harta, kemampuan fisik dan mempunyai mahram bagi wanita maka jangan kita tunda, tapi harus kita laksanakan dan segera kita laksanakan. (karena ini Allāh masukan dalam rukun Islām dan merupakan perkara yang besar di dalam agama ini)Masalah rukun Iman ini, kita harus dipelajari dengan baik, dan tentunya mempelajari rukun Iman yang 6 ini memerlukan ilmu dan penjabaran yang luas.Dan tidak semua yang ada di dalam rukun Iman wajib kita ketahui semua.Misalnya :Beriman kepada Malāikat.⇒ Tidak wajib bagi kita mengenal semua nama-nama malāikat, mengenal amalan-amalan malāikat yang disebutkan dalam Al-Qur’ān dan Hadīts.Apakah dinamakan beriman kepada malāikat atau beriman kepada rasūl, seorang wajib mengenal dan menghapal nama malāikat atau rasūl tersebut ?Jawabannya BUKAN sebuah keharusan.√ Disana ada kadar tambahan.√ Disana ada kadar yang wajib,Disana ada:√ Kadar yang wajib.√ Kadar yang cukup.√ Kadar wajib yang mencukupi.Mencukupi dinamakan orang yang beriman kepada Allāh, beriman kepada Kitāb, beriman kepada Rasūl dan seterusnya.Ada kadar yang tambahan (Kesempurnaan) maka hendaklah kita mengetahui apa itu kadar yang wajibJangan sampai kita hanya memiliki sesuatu yang tidak mencukupi wajibnya.⇒ Maka kita harus mengetahui apa yang wajib.⇒ Kita harus tahu apa kadar yang mencukupi dari beriman kepada Allāh, sehingga kita bisa menimbang dan melihat keadaan kita.Ini sudah atau belum?Dalam mendakwahi orang lain, kita harus bijaksana kalau kita mengetahui mana kadar yang wajib, mana kadar yang harus minimal dimiliki oleh seseorang, maka In syā Allāh kita lebih bijaksana dalam mendakwahkan kepada orang lain.Karena kalau kita tahu mana kadar yang wajib, maka kita tidak membebani orang lain diluar kemampuannya.Seseorang harus mempunyai target yang penting dia sudah paham dan yakin bahwasanya malāikat itu makhluk Allāh dan di antara malāikat ada malāikat yang bernama Jibrīl atau malāikat yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu kepada seorang Rasūl, maka itu sudah cukup dinamakan dia sebagai orang yang beriman kepada malāikat.Ini menjadikan kita bijaksana dalam berdakwah.

💬 0 komentar📅 1 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 Juli 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 18 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Tujuh Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke delapan belas dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Allah berfirman,وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ“Dan tidaklah keduanya (Harut dan Marut) mengajarkan kepada orang lain sihir, sampai keduanya berkata sesungguhnya kami adalah ujian, maka janganlah engkau kufur.”Ayat ke-102 dari surat Al Baqarah ini menceritakan tentang orang-orang Yahudi dan kebiasaan mereka melakukan sihir.Allah berfirman,(وَٱتَّبَعُوا۟ مَا تَتۡلُوا۟ ٱلشَّیَـٰطِینُ عَلَىٰ مُلۡكِ سُلَیۡمَـٰنَۖ)[Surat Al-Baqarah 102]“Dan mereka (orang-orang Yahudi mengikuti apa yang dibaca oleh syaithan-syaithan kepada tukang sihir-tukang sihir di zaman kerajaan Sulaiman.”Maksudnya orang-orang Yahudi meyakini bahwa Sulaiman bisa menundukkan jin dengan sihir sebagaimana tukang sihir-tukang sihir. Padahal tidak demikian. Allah telah menjadikan jin dan syaithan tunduk kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, sehingga mereka pun menurut ketika diperintah oleh Nabi Sulaiman.Allah berfirman,(وَٱلشَّیَـٰطِینَ كُلَّ بَنَّاۤءࣲ وَغَوَّاصࣲ)(وَءَاخَرِینَ مُقَرَّنِینَ فِی ٱلۡأَصۡفَادِ)[Surat Sad 37 – 38]“Dan syaithan-syaithan, ada diantara mereka yang membangun, dan ada diantara mereka yang menyelam, dan ada diantara mereka yang dibelenggu.”Dan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam pernah berdo’a kepada Allah,وَهَبۡ لِی مُلۡكࣰا لَّا یَنۢبَغِی لِأَحَدࣲ مِّنۢ بَعۡدِیۤ[Surat Sad 35]“Ya Allah, berikanlah aku kekuasaan yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun setelahku.”Adapun tukang sihir-tukang sihir, maka mereka menundukkan jin dengan mantra-mantra yang isinya adalah kekufuran kepada Allah. Apabila diucapkan oleh seorang tukang sihir, maka syaithan akan ridho karena syaithan sangat senang dengan kekufuran. Apabila dia ridho, maka dengan senang hati dia dan pasukannya membantu apa yang diinginkan oleh tukang sihir, berupa santet dll.Kemudian Allah mengatakan,وَمَا كَفَرَ سُلَیۡمَـٰنُ وَلَـٰكِنَّ ٱلشَّیَـٰطِینَ كَفَرُوا۟ یُعَلِّمُونَ ٱلنَّاسَ ٱلسِّحۡرَ[Surat Al-Baqarah 102]“Dan Sulaiman tidaklah kufur. Akan tetapi syaithan-syaithan itulah yang kufur. Dimana mereka mengajarkan kepada manusia sihir.”Syaithan-syaithan itu adalah makhluk-makhluk yang kufur. Diantara sebabnya adalah mereka mengajarkan manusia sihir. Bukan hanya mengamalkan sihir, bahkan mengajarkan sihir tersebut kepada orang lain. Ini adalah termasuk kekufuran.Allah berfirman,وَمَاۤ أُنزِلَ عَلَى ٱلۡمَلَكَیۡنِ بِبَابِلَ هَـٰرُوتَ وَمَـٰرُوتَۚ[Surat Al-Baqarah 102]“Dan apa yang Allah turunkan kepada keduanya, yaitu malaikat Harut dan Marut (berupa sihir).”Allah mengatakan setelahnya,وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ“Dan tidaklah keduanya mengajarkan kepada orang lain sihir tersebut, kecuali setelah berkata, kami hanyalah ujian, janganlah engkau kufur.”Kemudian Allah berfirman,فَیَتَعَلَّمُونَ مِنۡهُمَا مَا یُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَیۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَزَوۡجِهِۦۚ[Surat Al-Baqarah 102]“Maka mereka pun belajar dari keduanya (Harut dan Marut), apa yang bisa memisahkan antara seseorang dengan istrinya.”Kemudian Allah berfirman,وَمَا هُم بِضَاۤرِّینَ بِهِۦ مِنۡ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ[Surat Al-Baqarah 102]“Dan mereka tidak bisa memudhoroti seorang pun dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah.Dan Allah berfirman,وَیَتَعَلَّمُونَ مَا یَضُرُّهُمۡ وَلَا یَنفَعُهُمۡۚ[Surat Al-Baqarah 102]“Dan mereka mempelajari apa yang memudhoroti mereka dan apa yang tidak memberikan manfaat kepada mereka.”Kemudian selanjutnya Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَلَقَدۡ عَلِمُوا۟ لَمَنِ ٱشۡتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِی ٱلۡـَٔاخِرَةِ مِنۡ خَلَـٰقࣲۚ[Surat Al-Baqarah 102]“Padahal mereka sudah tahu bahwa orang yang membeli sihir, maka di akhirat dia tidak memiliki bagian.”Menunjukkan kepada kita bahwa orang yang melakukan sihir, nanti di akhirat tidak memiliki bagian sedikitpun. Artinya dia tidak memiliki kenikmatan sedikitpun.Kemudian juga menunjukkan bahwa orang yang melakukan sihir adalah kufur.Allah berfirman,وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا۟ بِهِۦۤ أَنفُسَهُمۡۚ لَوۡ كَانُوا۟ یَعۡلَمُون[Surat Al-Baqarah 102]“Dan sungguh jelek apa yang mereka beli seandainya mereka mengetahui.”Ayat ini menunjukkan kepada kita bahwasanya sihir adalah sebuah kekufuran kepada Allah yang bisa mengeluarkan seseorang dari Islam.Oleh karena itu seorang muslim menjauhi sihir dan menasihati orang lain yang masih melakukan sihir. Dan hendaklah berusaha membersihkan masyarakat dari para tukang sihir.Hukuman berat di dalam Islam bagi orang yang menjadi tukang sihir. Jundub, beliau mengatakan,حَدُّ السَّاحِرِ ضَرْبَةٌ بِالسَّيْفِ“Hukuman bagi tukang sihir adalah dipenggal kepalanya dengan pedang.” [Atsar riwayat Tirmidzi]Yang demikian karena mereka telah melakukan kemurtadan dengan sebab sihir yang merupakan syirik akbar kepada Allah.Riwayat membunuh tukang sihir dengan pedang telah datang dari beberapa sahabat, diantaranya Umar bin Khatab radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu.Di zaman beliau, beliau memerintahkan untuk membunuh setiap tukang sihir, baik laki-laki maupun wanita, dan ini disetujui oleh para sahabat yang lain radhiyallāhu ‘anhum.Demikian pula telah shahih dari Hafshoh, putri Umar bin Khatab, bahwasanya pernah ada salah seorang budak Hafshoh yang menyihir Hafshoh. Kemudian dia mengaku, maka setelah itu tukang sihir tersebut dibunuh.Telah datang dari Jundub bin Ka’ab, salah seorang sahabat Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, suatu saat beliau berada di depan salah seorang khalifah Bani Umayyah yang saat itu ada seorang laki-laki yang melakukan sihir takhyili (sihir berupa hayalan) seakan-akan dilihat oleh manusia ia sedang membunuh seseorang, kemudian dia bisa menghidupkan kembali orang tersebut. Ini dilakukan di depan Jundub bin Ka’ab dan salah seorang khalifah di zaman Bani Umayyah. Maka Jundub bin Ka’ab mendekati orang tersebut kemudian membunuhnya.Menunjukkan bahwa hukuman bagi tukang sihir adalah dibunuh, dan yang menegakkan hukuman adalah hak pemerintah yang sah, bukan dilakukan secara individu.Misalnya seseorang menemukan tetangganya, ada yang menjadi tukang sihir. Akhirnya dia pun datang dan membunuhnya, maka ini tidak diperbolehkan.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 1 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 67

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 67 | Mi’raj adalah Benar AdanyaHalaqah 67 | Mi’raj adalah Benar AdanyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَالْمِعْرَاجُ حَقٌّDan Mi’raj ini adalah sesuatu yang haq.Berarti pembicaraan tentang masalah rukyatullāh kemudian beliau berbicara tentang masalah keimanan terhadap sifat² Allāh yang Allāh kabarkan kepada kita tanpa kita menta’til tanpa kita mentasbih, kemudian setelah itu beliau berbicara tentang poin aqidah yang lain yang ini merupakan satu diantara keyakinan dan aqidah ahlussunnah wal jamaah yaitu tentang masalah Al Mi’raj.Apa itu yang dimaksud dengan Al-Mi’raj?Al Mi’raj adalah tangga alat yang digunakan untuk naik, itu dinamakan dengan Al Mi’raj (secara bahasa). Allāh mengatakan,تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ…۝٤[QS Al Ma’arij 4]Malaikat naik kepadanya dan juga Malaikat Jibril.Jadi makna Al ‘uruj maksudnya adalah ashoun yaitu naik. Adapun Mi’raj maka ini adalah alatnya, alat yang digunakan untuk naik, dan yang dimaksud di sini adalah naiknya Nabi ﷺ ke atas, yaitu ke sidratumuntaha diangkat oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dari tempat beliau di bumi ini sampai ke sindrotumuntaha, yang di sana dalam perjalanan beliau ﷺ melihat tanda² kebesaran Allāh subhanahu wa taala, melihat bagaimana luasnya alam semesta betapa besarnya kekuasaan Allāhu rabbul alamin sebelumnya beliau berada di bumi melihat sebagian kecil di antara kekuasaan Allāh, maka Allāh subhanahu wa taala mengangkat beliau dan beliau melihat berbagai kekuasaan Allāh subhanahu wa ta’ala bertemu dengan para Nabi yang selama ini hanya dibaca didalam kitabullah, bertemu dengan mereka bahkan berbicara dengan mereka melihat mereka dan memasuki langit yang pertama langit yang kedua dan seterusnya yang sebelumnya hanya dibaca di dalam Al-Qur’an tentang tujuh langit melihat Surga, melihat Neraka Allāh bahkan di sana Allāh subhanahu wa ta’ala berbicara dengan Beliau ﷺ,الْمِعْرَاجُ حَقٌّMi’raj ini adalah sesuatu yang haq/benar adanya, sebagian kisah Mi’raj disebutkan oleh Allāh subhanahu wa taala dalam Al-Qur’an yaitu surat An-Najm,وَالنَّجۡمِ اِذَا هَوٰىۙ ۝مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمۡ وَمَا غَوٰى‌ۚ۝وَمَا يَنۡطِقُ عَنِ الۡهَوٰىؕ۝اِنۡ هُوَ اِلَّا وَحۡىٌ يُّوۡحٰىۙ‏۝عَلَّمَهٗ شَدِيۡدُ الۡقُوٰىۙ۝ذُوۡ مِرَّةٍؕ فَاسۡتَوٰىۙ۝وَهُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰى۝ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ۝فَكَانَ قَابَ قَوۡسَيۡنِ اَوۡ اَدۡنٰى‌ۚ۝فَاَوۡحٰۤى الٰى عَبۡدِهٖ مَاۤ اَوۡحٰىؕ۝مَا كَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا رَاٰى۝اَفَتُمٰرُوۡنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى۝وَلَقَدۡ رَاٰهُ نَزۡلَةً اُخۡرٰىۙ۝عِنۡدَ سِدۡرَةِ الۡمُنۡتَهٰى۝Nabi ﷺ melihat Jibrilعِنۡدَ سِدۡرَةِ الۡمُنۡتَهٰىDalam wujudnya yang asli.Sidratumuntaha ini adalah tempatnya paling atas, dimana yang dari bawah tidak akan melebihi sidratumuntaha yang paling atas, yang berasal dari bawah maka tidak melebihi sidratumuntaha,عِنۡدَهَا جَنَّةُ الۡمَاۡوٰىؕ‏ ۝اِذۡ يَغۡشَى السِّدۡرَةَ مَا يَغۡشٰ ۝مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَمَا طَغٰى ۝لَقَدۡ رَاٰى مِنۡ اٰيٰتِ رَبِّهِ الۡكُبۡرٰى ۝Beliau melihat tanda-tanda kekuasaan yang besar disana, ini adalah perjalanan yang luar biasa, orang di zaman sekarang berapa kilometer dia mengukur dari bumi ke Matahari dan berapa juta kilo antara bumi dengan langit yang pertama, berapa perjalanan yang harus ditempuh kalau harus menggunakan alat transportasi yang paling cepat di dunia ini mungkin sampai seorang mungkin berumur 1000-2000 tahun belum sampai lalu bagaimana dengan perjalanan antara langit yang pertama dengan langit yang kedua, yang ini langit yang kedua ini jauh lebih besar dan jauh lebih jauh, bagaimana dengan langit yang ke-7 dan sidratumuntaha tapi itu semuanya ditempuh dalam waktu yang sangat singkat dengan qudratullah, maka kita meyakini bahwasanyaالْمِعْرَاجُ حَقٌّAl-Mi’raj ini adalah sesuatu yang haq/ yang benar adanya. Apa yang mustahil bagi Allāh subhanahu wa ta’ala, Malaikat setiap hari mereka ada yang ke atas ada yang ke bawah, Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan kemampuan kepada mereka, apalagi kalau hanya sekedar memberikan kemampuan kepada Nabi Muhammad ﷺ sesuatu – يَسِيرٌ -mudah bagi Allāh subhanahu wa ta’alaإِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌYang demikian adalah sangat mudah bagi Allāh subhanahu wa ta’ala, maka kita harus meyakini jangan kita seperti orang yang mengedepankan akal, Mua’tazilah misalnya atau mengingkari sebagaimana orang-orang musyrikin mereka mengingkari mendusatakan Rasulullāh ﷺ, jangankan Mi’raj yang didustakan, kejadian yang kedua adalah Isra’ ada Isra’ ada Mi’raj, kalau Mi’raj perjalanan Nabi ﷺ dari bumi ke Sidratumuntaha tapi kalau Isra’ ini perjalanan Nabi ﷺ dari Makkah menuju Masjidil Aqsa.

💬 0 komentar📅 30 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Juni 2026
N
Nur Fathiyyah

📍 Kota Depok

H17: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bag. 15)

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alaihimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Kelima Belas.Meyakini adanya Al-Karamah adalah termasuk pokok aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.Berkata Syaikhul Islam rahimahullah didalam kitab beliau Al Aqidah Al Washithiyahوَمِنْ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ: التَّصْدِيقُ بِكَرَامَاتِ الْأَوْلِيَاءِ, وَمَا يُجْرِي اللهُ عَلَى أَيْدِيهِمْ مِنْ خَوَارِقِ الْعَادَاتِ”Termasuk pokok-pokok Ahlus Sunnah adalah membenarkan Karamah para wali dan perkara – perkara diluar kebiasaan yang Allah jalankan pada diri mereka”Keyakinan dengan adanya Al-Karamah berdasarkan dalil-dalil dari Al-Quran, As-Sunnah dan juga Ijma’Adapun dari Al-Quran① Kisah Maryam dengan Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُDimana Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُ adalah orang yang menanggung makanan bagi Maryam, yang telah mengkhususkan dirinya untuk beribadah kepada Allah, namun sesuatu yang luar biasa setiap kali Zakaria memasuki mihrab Maryam dia mendapatkan makananAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanكُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Setiap kali Zakaria memasuki Mihrab Maryam beliau mendapatkan di sisi Maryam rezeki, Zakaria berkata “Wahai Maryam dari mana engkau mendapatkan makanan ini?” Maryam menjawab “ini adalah dari sisi Allah, sesungguhnya Allah memberikan rejeki kepada siapa yang di kehendaki tanpa perhitungan” (Ali ‘Imran : 37)Ibnu Katsir menyebutkan di dalam tafsirnya, bahwa Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُ menemukan didalam mihrab Maryam buah-buahan musim dingin ketika musim panas dan buah-buahan musim panas ketika musim dingin② Kisah Ashabul Kahfi yang Allah sebutkan di awal-awal surat Al-Kahfi ketika mereka tidur dalam waktu yang lama tanpa memakan makanan dan tidak rusak badan mereka.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا”Dan mereka tinggal di gua mereka selama 300 tahun dan tambah 9 tahun” (Al-Kahfi : 25)Ada yang mengatakan 300 tahun bila dihitung dengan tahun syamsiah dan 309 tahun bila dihitung dengan tahun Qamariah③ Istri Fir’aun yang bernama Asiyah Allah memperlihatkan rumah Asiyah di dalam surga ketika sedang di adzab oleh Fir’aunAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ“Dan Allah telah membuat permisalan bagi orang-orang yang beriman dengan istri fir’aun ketika dia berkata “Wahai Rabbku bangunkanlah aku di sisiMu rumah di dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan amalannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzhalim” (At-Tahrim : 11)

💬 0 komentar📅 30 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 67 | Mi’raj adalah Benar Adanya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَالْمِعْرَاجُ حَقٌّDan Mi’raj ini adalah sesuatu yang haq.Berarti pembicaraan tentang masalah rukyatullāh kemudian beliau berbicara tentang masalah keimanan terhadap sifat² Allāh yang Allāh kabarkan kepada kita tanpa kita menta’til tanpa kita mentasbih, kemudian setelah itu beliau berbicara tentang poin aqidah yang lain yang ini merupakan satu diantara keyakinan dan aqidah ahlussunnah wal jamaah yaitu tentang masalah Al Mi’raj.Apa itu yang dimaksud dengan Al-Mi’raj?Al Mi’raj adalah tangga alat yang digunakan untuk naik, itu dinamakan dengan Al Mi’raj (secara bahasa). Allāh mengatakan,تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِ…۝٤[QS Al Ma’arij 4]Malaikat naik kepadanya dan juga Malaikat Jibril.Jadi makna Al ‘uruj maksudnya adalah ashoun yaitu naik. Adapun Mi’raj maka ini adalah alatnya, alat yang digunakan untuk naik, dan yang dimaksud di sini adalah naiknya Nabi ﷺ ke atas, yaitu ke sidratumuntaha diangkat oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dari tempat beliau di bumi ini sampai ke sindrotumuntaha, yang di sana dalam perjalanan beliau ﷺ melihat tanda² kebesaran Allāh subhanahu wa taala, melihat bagaimana luasnya alam semesta betapa besarnya kekuasaan Allāhu rabbul alamin sebelumnya beliau berada di bumi melihat sebagian kecil di antara kekuasaan Allāh, maka Allāh subhanahu wa taala mengangkat beliau dan beliau melihat berbagai kekuasaan Allāh subhanahu wa ta’ala bertemu dengan para Nabi yang selama ini hanya dibaca didalam kitabullah, bertemu dengan mereka bahkan berbicara dengan mereka melihat mereka dan memasuki langit yang pertama langit yang kedua dan seterusnya yang sebelumnya hanya dibaca di dalam Al-Qur’an tentang tujuh langit melihat Surga, melihat Neraka Allāh bahkan di sana Allāh subhanahu wa ta’ala berbicara dengan Beliau ﷺ,الْمِعْرَاجُ حَقٌّMi’raj ini adalah sesuatu yang haq/benar adanya, sebagian kisah Mi’raj disebutkan oleh Allāh subhanahu wa taala dalam Al-Qur’an yaitu surat An-Najm,وَالنَّجۡمِ اِذَا هَوٰىۙ ۝مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمۡ وَمَا غَوٰى‌ۚ۝وَمَا يَنۡطِقُ عَنِ الۡهَوٰىؕ۝اِنۡ هُوَ اِلَّا وَحۡىٌ يُّوۡحٰىۙ‏۝عَلَّمَهٗ شَدِيۡدُ الۡقُوٰىۙ۝ذُوۡ مِرَّةٍؕ فَاسۡتَوٰىۙ۝وَهُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰى۝ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰىۙ۝فَكَانَ قَابَ قَوۡسَيۡنِ اَوۡ اَدۡنٰى‌ۚ۝فَاَوۡحٰۤى الٰى عَبۡدِهٖ مَاۤ اَوۡحٰىؕ۝مَا كَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا رَاٰى۝اَفَتُمٰرُوۡنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى۝وَلَقَدۡ رَاٰهُ نَزۡلَةً اُخۡرٰىۙ۝عِنۡدَ سِدۡرَةِ الۡمُنۡتَهٰى۝Nabi ﷺ melihat Jibrilعِنۡدَ سِدۡرَةِ الۡمُنۡتَهٰىDalam wujudnya yang asli.Sidratumuntaha ini adalah tempatnya paling atas, dimana yang dari bawah tidak akan melebihi sidratumuntaha yang paling atas, yang berasal dari bawah maka tidak melebihi sidratumuntaha,عِنۡدَهَا جَنَّةُ الۡمَاۡوٰىؕ‏ ۝اِذۡ يَغۡشَى السِّدۡرَةَ مَا يَغۡشٰ ۝مَا زَاغَ الۡبَصَرُ وَمَا طَغٰى ۝لَقَدۡ رَاٰى مِنۡ اٰيٰتِ رَبِّهِ الۡكُبۡرٰى ۝Beliau melihat tanda-tanda kekuasaan yang besar disana, ini adalah perjalanan yang luar biasa, orang di zaman sekarang berapa kilometer dia mengukur dari bumi ke Matahari dan berapa juta kilo antara bumi dengan langit yang pertama, berapa perjalanan yang harus ditempuh kalau harus menggunakan alat transportasi yang paling cepat di dunia ini mungkin sampai seorang mungkin berumur 1000-2000 tahun belum sampai lalu bagaimana dengan perjalanan antara langit yang pertama dengan langit yang kedua, yang ini langit yang kedua ini jauh lebih besar dan jauh lebih jauh, bagaimana dengan langit yang ke-7 dan sidratumuntaha tapi itu semuanya ditempuh dalam waktu yang sangat singkat dengan qudratullah, maka kita meyakini bahwasanyaالْمِعْرَاجُ حَقٌّAl-Mi’raj ini adalah sesuatu yang haq/ yang benar adanya. Apa yang mustahil bagi Allāh subhanahu wa ta’ala, Malaikat setiap hari mereka ada yang ke atas ada yang ke bawah, Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan kemampuan kepada mereka, apalagi kalau hanya sekedar memberikan kemampuan kepada Nabi Muhammad ﷺ sesuatu – يَسِيرٌ -mudah bagi Allāh subhanahu wa ta’alaإِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌYang demikian adalah sangat mudah bagi Allāh subhanahu wa ta’ala, maka kita harus meyakini jangan kita seperti orang yang mengedepankan akal, Mua’tazilah misalnya atau mengingkari sebagaimana orang-orang musyrikin mereka mengingkari mendusatakan Rasulullāh ﷺ, jangankan Mi’raj yang didustakan, kejadian yang kedua adalah Isra’ ada Isra’ ada Mi’raj, kalau Mi’raj perjalanan Nabi ﷺ dari bumi ke Sidratumuntaha tapi kalau Isra’ ini perjalanan Nabi ﷺ dari Makkah menuju Masjidil Aqsa.

💬 0 komentar📅 30 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 17: Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 15)

Halaqah 17:Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 15)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىMeyakini adanya Al-Karamah adalah termasuk pokok aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.Berkata Syaikhul Islam rahimahullah didalam kitab beliau Al Aqidah Al Washithiyah:وَمِنْ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ: التَّصْدِيقُ بِكَرَامَاتِ الْأَوْلِيَاءِ, وَمَا يُجْرِي اللهُ عَلَى أَيْدِيهِمْ مِنْ خَوَارِقِ الْعَادَاتِ”Termasuk pokok-pokok Ahlus Sunnah adalah membenarkan Karamah para wali dan perkara-perkara diluar kebiasaan yang Allah jalankan pada diri mereka”Keyakinan dengan adanya Al-Karamah berdasarkan dalil-dalil dari Al-Quran, As-Sunnah dan juga Ijma’.​Adapun dari Al-Quran1. Kisah Maryam dengan Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُDimana Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُ adalah orang yang menanggung makanan bagi Maryam, yang telah mengkhususkan dirinya untuk beribadah kepada Allah, namun sesuatu yang luar biasa setiap kali Zakaria memasuki mihrab Maryam dia mendapatkan makanan.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ"Setiap kali Zakaria memasuki Mihrab Maryam beliau mendapatkan di sisi Maryam rezeki, Zakaria berkata "Wahai Maryam dari mana engkau mendapatkan makanan ini?" Maryam menjawab "ini adalah dari sisi Allah, sesungguhnya Allah memberikan rejeki kepada siapa yang di kehendaki tanpa perhitungan" (Ali ‘Imran : 37)Ibnu Katsir menyebutkan di dalam tafsirnya, bahwa Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُ menemukan didalam mihrab Maryam buah-buahan musim dingin ketika musim panas dan buah-buahan musim panas ketika musim dingin.2. Kisah Ashabul Kahfi yang Allah sebutkan di awal-awal surat Al-Kahfi Ketika mereka tidur dalam waktu yang lama tanpa memakan makanan dan tidak rusak badan mereka.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا"Dan mereka tinggal di gua mereka selama 300 tahun dan tambah 9 tahun" (Al-Kahfi : 25)Ada yang mengatakan 300 tahun bila dihitung dengan tahun syamsiah dan 309 tahun bila dihitung dengan tahun Qamariah.3. Istri Fir’aun yang bernama AsiyahAllah memperlihatkan rumah Asiyah di dalam surga ketika sedang di adzab oleh Fir’aun.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ"Dan Allah telah membuat permisalan bagi orang-orang yang beriman dengan istri fir’aun ketika dia berkata "Wahai Rabbku bangunkanlah aku di sisiMu rumah di dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan amalannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzhalim" (At-Tahrim : 11).

💬 0 komentar📅 30 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 17

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alaihimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Kelima Belas.Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.AMeyakini adanya Al-Karamah adalah termasuk pokok aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah.Berkata Syaikhul Islam rahimahullah didalam kitab beliau Al Aqidah Al Washithiyahوَمِنْ أُصُولِ أَهْلِ السُّنَّةِ: التَّصْدِيقُ بِكَرَامَاتِ الْأَوْلِيَاءِ, وَمَا يُجْرِي اللهُ عَلَى أَيْدِيهِمْ مِنْ خَوَارِقِ الْعَادَاتِ”Termasuk pokok-pokok Ahlus Sunnah adalah membenarkan Karamah para wali dan perkara – perkara diluar kebiasaan yang Allah jalankan pada diri mereka”Keyakinan dengan adanya Al-Karamah berdasarkan dalil-dalil dari Al-Quran, As-Sunnah dan juga Ijma’Adapun dari Al-Quran① Kisah Maryam dengan Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُDimana Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُ adalah orang yang menanggung makanan bagi Maryam, yang telah mengkhususkan dirinya untuk beribadah kepada Allah, namun sesuatu yang luar biasa setiap kali Zakaria memasuki mihrab Maryam dia mendapatkan makananAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanكُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا ۖ قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّىٰ لَكِ هَٰذَا ۖ قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۖ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ“Setiap kali Zakaria memasuki Mihrab Maryam beliau mendapatkan di sisi Maryam rezeki, Zakaria berkata “Wahai Maryam dari mana engkau mendapatkan makanan ini?” Maryam menjawab “ini adalah dari sisi Allah, sesungguhnya Allah memberikan rejeki kepada siapa yang di kehendaki tanpa perhitungan” (Ali ‘Imran : 37)Ibnu Katsir menyebutkan di dalam tafsirnya, bahwa Nabi Zakaria علَيهِ السَّلَامُ menemukan didalam mihrab Maryam buah-buahan musim dingin ketika musim panas dan buah-buahan musim panas ketika musim dingin② Kisah Ashabul Kahfi yang Allah sebutkan di awal-awal surat Al-Kahfi ketika mereka tidur dalam waktu yang lama tanpa memakan makanan dan tidak rusak badan mereka.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا”Dan mereka tinggal di gua mereka selama 300 tahun dan tambah 9 tahun” (Al-Kahfi : 25)Ada yang mengatakan 300 tahun bila dihitung dengan tahun syamsiah dan 309 tahun bila dihitung dengan tahun Qamariah③ Istri Fir’aun yang bernama Asiyah Allah memperlihatkan rumah Asiyah di dalam surga ketika sedang di adzab oleh Fir’aunAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ“Dan Allah telah membuat permisalan bagi orang-orang yang beriman dengan istri fir’aun ketika dia berkata “Wahai Rabbku bangunkanlah aku di sisiMu rumah di dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan amalannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzhalim” (At-Tahrim : 11)

💬 0 komentar📅 30 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 67

Selasa, 30 Juni 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 67Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Ketiga QS. Al-An-Nahl 25(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Firman Allāh ﷻ di dalam Surat An-Nahl:​۞ لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ​Artinya:“Supaya mereka membawa dosa-dosa mereka secara sempurna di hari kiamat dan di antara dosa-dosa orang-orang yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu. Ingatlah, alangkah buruknya apa yang mereka pikul itu.” (QS. An-Nahl)​Di dalam ayat tersebut terdapat potongan firman Allāh ﷻ:​۞ لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ​Artinya:“Supaya mereka membawa dosa-dosa mereka secara sempurna di hari kiamat.”​Pendalilan Bahwa Bid'ah Lebih Besar daripada Dosa Besar​Di antara yang menunjukkan bahwasanya bid'ah ini lebih besar daripada dosa-dosa besar adalah apa yang ditunjukkan oleh ayat yang mulia ini.​Dosa-dosa yang mereka (para pelaku) lakukan akan mereka pertanggungjawabkan di hari kiamat.​Berdasarkan firman Allāh ﷻ:​۞ وَمَن یَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةࣲ شَرࣰّا یَرَهُۥ​Artinya: “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”(QS. Az-Zalzalah: 8)​Ternyata pertanggungjawaban tidak sebatas disitu saja. Bukannya dosanya sendiri saja yang akan dia pikul, tetapi di sana ada tambahan yang lain yang juga dia pikul, yaitu:​وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ​Artinya:“Dan di antara dosa-dosa orang-orang yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu.”Penjelasan Makna Kata "وَمِنْ" (Dan di Antara/Sebagian)​Kata وَمِنْ أَوْزَارِ bermakna "Dan di antara". ​Arti dari kalimat ini adalah tidak semua dosa orang yang telah mengikuti dia dalam kesesatan tadi kemudian ditumpahkan dosanya kepada mubtadi (pelaku/pembuat bid'ah) tersebut. Kata "min" di sini digunakan untuk menunjukkan sebagian.​Hal ini berbeda jika redaksi ayatnya berbunyi:​و أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ​(Jika ayatnya tanpa kata "min", melainkan langsung di-athof-kan/disambungkan kepada kata أَوْزَارِ sebelumnya).Contoh Kasus Penanggungan Dosa​Ilustrasinya adalah seorang mubtadi mengajak orang lain (misalkan 3 orang) untuk melakukan suatu bid'ah. ​Orang Pertama: Ikut melakukan bid'ah tersebut, dan di samping itu dia juga melakukan dosa zina. ​Orang Kedua: Ikut melakukan bid'ah tersebut, dan di samping itu dia juga melakukan dosa mencuri. Orang Ketiga: Ikut melakukan bid'ah tersebut, dan di samping itu dia juga melakukan dosa riba.​Pembagian Dosa yang Ditanggung:​Mubtadi (yang mengajak):Dia mempertanggungjawabkan dosanya sendiri (dosa bid'ah yang dipikulnya sendiri). Kemudian, dia juga akan terkena dan menanggung dosa bid'ah dari orang pertama, kedua, dan ketiga yang mengikutinya. Adapun dosa zina, mencuri, dan riba yang dilakukan oleh para pengikutnya, mubtadi tersebut tidak ikut merasakan akibatnya.Pengikut (orang pertama, kedua, ketiga):Jangan dipahami bahwa dosa mereka akan ditanggung sepenuhnya oleh mubtadinya sehingga mereka bebas. Tidak demikian. Orang yang mengikuti dakwah mubtadi tadi juga akan mempertanggungjawabkan dosa bid'ahnya sendiri, serta merasakan dosanya jika Allāh menghendaki.Kelipatan Dosa bagi Mubtadi (Da’i Kesesatan)​Orang yang mengikutinya (orang pertama, kedua, dan ketiga) akan diazab dengan sebab bid'ah yang dilakukannya. ​Namun, mubtadi yang pertama (yang mengajak) azabnya lebih berat lagi, lebih besar, dan lebih berlipat. ​Dia menanggung dosa bid'ahnya sendiri ditambah dosa bid'ah orang yang mengikutinya:​Jika ada 1 orang yang diajak dan mengikuti, maka dosa mubtadi tersebut menjadi dua kali lipat.​Jika ada 3 orang yang diajak, maka dosanya menjadi lebih besar lagi.​Apalagi jika pengikutnya mencapai puluhan atau ratusan orang, maka mubtadi tersebut akan mempertanggungjawabkan urusannya sendiri, dan oleh Allāh akan ditambahi dengan dosa bid'ah yang dilakukan oleh orang-orang yang dia dakwahi (karena sebab dia, mereka menjadi melakukan bid'ah).Kesimpulan​Ayat dari Surat An-Nahl ini membuktikan bahwa dosa bid'ah lebih besar daripada dosa besar karena seorang mubtadi (yang mengajak kepada bid'ah/kesesatan) tidak hanya memikul dosa pribadinya secara sempurna pada hari kiamat, melainkan juga harus memikul sebagian dosa dari orang-orang yang telah disesatkannya tanpa ilmu. Dosa yang ikut ditanggung oleh mubtadi tersebut adalah khusus dosa bid'ah yang diamalkan oleh para pengikut akibat dakwahnya, sedangkan dosa-dosa pribadi lain dari pengikutnya (seperti zina, mencuri, atau riba) tetap ditanggung masing-masing. Di sisi lain, para pengikut pun tetap memikul dosa bid'ah mereka sendiri. Akibatnya, dosa seorang mubtadi akan berlipat ganda secara luar biasa bergantung pada banyaknya jumlah orang yang mengikutinya, yang menjadikan kedudukan dosa bid'ah ini jauh lebih berat.

💬 0 komentar📅 30 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 17 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Tujuh Bagian 1

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke tujuh belas dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Beliau berkata,السَّابِعُ:السِّحْرُ وَمِنْهُ الصَّرْفُ وَالعَطْفُ فَمَنْ فَعَلَهُ أَوْ رَضِيَ بِهِ كَفَرَوَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ“Yang ke tujuh adalah sihir. Dan diantara macamnya, Ash Shorfu dan Al ‘Athfu. Barangsiapa yang mengerjakannya atau ridho dengan sihir, maka dia telah kufur, keluar dari Islam. Dalilnya adalah firman Allah yang artinya ‘Dan tidaklah keduanya mengajarkan sihir kepada seseorang sampai keduanya berkata sesungguhnya kami adalah ujian, maka janganlah engkau kufur.’ [Al Baqarah 102]”السِّحْرُ di dalam Bahasa Arab adalah segala hal yang samar sebabnya.السَّحَرُ artinya di akhir malam. Dinamakan demikian karena waktu tersebut adalah waktu yang samar.Sihir yang dilarang ada dua jenis:1. Sihir hakikiYaitu sihir yang benar-benar, maksudnya sihir yang memudhoroti orang lain, membuat sakit, membunuh, sihir yang menjadikan kecintaan menjadi sebuah kebencian, dan sebaliknya.2. Sihir takhyili, yaitu sihir yang hanya sekedar hayalan, menjadikan penglihatan orang lain melihat sesuatu yang tidak sebenarnya, seperti yang terjadi di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam ketika Fir’aun mengumpulkan tukang sihir-tukang sihir di Mesir untuk melawan Nabi Musa ‘alaihissalam. Mereka menggunakan sihir takhyili, menyihir mata-mata manusia sehingga melihat tali-tali yang mereka lempar seakan-akan itu adalah ular.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,(قَالُوا۟ یَـٰمُوسَىٰۤ إِمَّاۤ أَن تُلۡقِیَ وَإِمَّاۤ أَن نَّكُونَ نَحۡنُ ٱلۡمُلۡقِینَ ۝ قَالَ أَلۡقُوا۟ۖ فَلَمَّاۤ أَلۡقَوۡا۟ سَحَرُوۤا۟ أَعۡیُنَ ٱلنَّاسِ وَٱسۡتَرۡهَبُوهُمۡ وَجَاۤءُو بِسِحۡرٍ عَظِیمࣲ)[Surat Al-A’raf 115 – 116]“Mereka berkata, wahai Musa silakan engkau yang melempar tongkatmu dahulu atau kami yang melempar? Beliau berkata, silakan kalian melempar tali-tali kalian. Ketika mereka melempar tali-tali tersebut, mereka menyihir mata-mata manusia dan manusia menjadi takut, yaitu ketika mereka melihat dengan mata mereka, bahwa tali-tali tersebut seakan-akan berubah menjadi ular. Dan mereka pun datang dengan sihir yang besar.”Ini berbeda dengan mukjizat Nabi Musa ‘alaihissalam dimana Allah benar-benar menjadikan tongkat Nabi Musa, ular yang hidup yang bergerak yang memakan tali-tali yang dilempar.Kedua jenis sihir ini diharamkan di dalam agama Islam dan sihir memiliki macam-macam yang banyak, diantaranya kata beliau adalah As Shorfu dan Al ‘Athfu.Ash Shorfu artinya adalah memalingkan. Maksudnya memalingkan rasa cinta menjadi rasa benci. Misalnya seorang suami yang mencintai istrinya berubah menjadi kebencian dengan sebab sihir ini.Al ‘Athfu artinya adalah cinta. Sihir ini menjadikan seseorang yang awalnya membenci akhirnya menjadi mencintai.Beliau mengatakan,فَمَنْ فَعَلَهُ أَوْ رَضِيَ بِهِ كَفَرَ“Barangsiapa yang mengamalkan sihir ini atau ridho dengan sihir ini, maka dia telah kufur.”Jika seseorang bekerjasama dengan syaithan untuk menyihir orang lain atau dia ridho dengan sihir tersebut meskipun dia tidak melakukannya, maka dia telah kufur. Karena ridho dengan sihir adalah ridho dengan kekufuran. Dalil yang menunjukkan bahwa sihir adalah kufur dan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam adalah firman Allah,وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ“Dan tidaklah keduanya (Harut dan Marut) mengajarkan kepada orang lain sihir, sampai keduanya berkata sesungguhnya kami adalah fitnah, maka janganlah engkau kufur.” [Al Baqarah 102]Dan maksud janganlah engkau kufur yaitu janganlah engkau mempelajari sihir.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 30 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI30 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah 67: Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bagian 2)

Berikut ringkasan Halaqah 67 – Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bagian 2) yang mudah di-copy paste:🌿 Faedah Halaqah 67: Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bagian 2)1. Surga sangat luas.Luasnya seluas langit dan bumi.Ini menunjukkan betapa besarnya karunia Allah bagi orang-orang yang bertakwa.(QS. Ali 'Imran: 133)2. Rumah-rumah di surga sangat megah.Bertingkat-tingkat dengan sungai mengalir di bawahnya.Bangunannya dari emas dan perak.Lumpurnya berbau kasturi, kerikilnya mutiara dan batu mulia, tanahnya seperti za'faran.(QS. Az-Zumar: 20, HR. Tirmidzi)3. Menjaga shalat rawatib menjadi sebab dibangunkan rumah di surga.12 rakaat setiap hari:4 sebelum Zuhur2 setelah Zuhur2 setelah Maghrib2 setelah Isya2 sebelum Subuh(HR. Muslim)4. Di surga terdapat kemah yang sangat indah.Terbuat dari mutiara berongga.Tingginya 30 mil.(HR. Bukhari)5. Surga memiliki sungai-sungai yang penuh kenikmatan.Sungai air yang tidak berubah.Sungai susu yang tidak berubah rasa.Sungai khamr yang lezat.Sungai madu yang murni.Di antaranya adalah Sungai Al-Kautsar.(QS. Muhammad: 15, QS. Al-Kautsar: 1)6. Surga memiliki mata air dan pohon-pohon yang agung.Di antaranya mata air Salsabil.Ada pohon yang naungannya ditempuh selama 100 tahun.Di antaranya Sidratul Muntaha.(QS. Adz-Dzariyat: 15, QS. Al-Insan: 18, HR. Bukhari)7. Bau wangi surga sangat harum.Dapat tercium dari perjalanan 70 tahun.(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)🌸 Sumber: Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 67: Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bagian 2).

💬 0 komentar📅 30 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 66

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 66 | Allāh Ta’ala Terbebas Dari Batasan-BatasanHalaqah 66 | Allāh Ta’ala Terbebas Dari Batasan-BatasanKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَتَعَالَى عَنِ الْحُدُودِ وَالْغَايَاتِ، وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِMaha Tinggi Allāh dari batasan²,Allāh subhanahu wa ta’ala adalah yang maha sempurna tidak dibatasiوَالْغَايَاتِDan Allāh subhanahu wa ta’ala Maha Suci dari tujuan²,ada yang menafsirkan disini dari hajah/ kebutuhan Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Maha Kaya tidak membutuhkan kita, makhluk dari yang paling kecil sampai yang paling besar (Arsy) yaitu semuanya merekalah yang membutuhkan kepada Allāh subhanahu wa ta’ala,اَللّٰهُ الصَّمَدُ‌Dialah yang Ashomad/ seluruh makhluk itu bergantung kepada Allāh dan Dialah Al-Ghani yang maha kaya yang tidak butuh dengan makhluk,يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ[QS Fatir 15]Allāh menciptakan kita bukan karena butuh kepada kita tapi kitalah yang butuh kepada Allāh,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِمَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ[QS adz dzariat 56,57]Aku tidak menginginkan diri mereka rezeki dan Aku menciptakan mereka bukan karena Aku menginginkan mereka memberikan makan kepadaKu. Sesungguhnya Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Maha memberikan rezeki.وَالْأَرْكَانِDan Maha Tinggi Allah subhanahu wa ta’ala dari Al-Arkan,وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِIni maknanya hampir sama yaitu anggota badan yang tersusun dari darah daging tulang, Maha Suci Allāh dari yang demikian, Allah Subhana wa ta’ala tidak sama dengan makhluk dan bukan berarti di sini beliau mengingkari sifat tangan bagi Allāh sifat kaki bagi Allāh sifat jari bagi Allāh sifat wajah bagi Allāh bukan demikian maknanya, tapi yang beliau ingkari di sini adalah kalau yang dimaksud Arkan A’dho disini adalah anggota badan seperti anggota badan manusia yang terdiri dari daging tulang darah maka Maha Suci Allah dari yang demikian, adapun Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki wajah dan kita menetapkan yang demikian, Allāh subhanahu wa ta’ala tangan, memiliki kaki, memiliki jari, maka ketika kita menetapkan bukan berarti kita menyerupakan Allāh subhanahu wa ta’ala dengan makhluk bukan berarti kita meyakini Allāh memiliki Arkan, ardho dan juga adhawat, karena kita tetapkan itu semua dan kita meyakini bahwasanya tangan, kaki, wajah, Allāh tidak sama dengan wajah makhluk,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُJadi yang maksud dari Al imam Abu Jafar ath Thohawiy di sini yang diingkari oleh beliau adalahوَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِYang maknanya adalah anggota badan yang dimiliki oleh manusia yang terdiri dari darah daging dan juga tulang, dan istilah-istilah ini ini mungkin banyak di zaman beliau ini istilah-istilah yang dipakai oleh orang-orang Ahlu Kalam, maka kita ahlussunnah mengingkari tentunyaالْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِDengan makna seperti ini, kita tidak meyakini yang demikian, kita mengingkari kalau yang mereka maksud denganالْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِIni adalah anggota badan seperti yang dimiliki oleh manusia maka jelas kalau yang dimaksud kita mengingkari yang demikian – الْغَايَاتِ – kalau yang dimaksud adalah hajat maka kita mengingkari.Oleh di sini beliau sampaikan oleh Abu Ja’far Ath thohawiy Maha Suci dari yang demikian, kita tidak meyakini bahwasanya Allah punyaالْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِTapi kita sebagai ahlussunnah menetapkan Allāh punya wajah yang tidak sama dengan makhluk itu yang kita tetapkan kita sebagai ahlussunnah menetapkan Allāh memiliki kaki yang tidak sama dengan makhluk, sesuai dengan keagungan Allah itu yang dimiliki oleh Ahlussunnah. Jadi beliau mendatangkan istilah-istilah ahlul Kalam di sini karena mungkin saat itu memang tersebar ilmu kalam ini dan beliau menggunakan istilah mereka untuk mengingkari mereka bukan berarti beliau termasuk ahlu Kalam menggunakan istilah mereka untuk mengingkari mereka ya karena terkadang kalau tidak menggunakan istilah mereka tidak sampai maklumat ini kepada mereka sehingga terpaksa sekarang seseorang menggunakan istilah-istilah mereka supaya mereka memahami ucapan kita bukan berarti Al Imam Abu Ja’far tawawi beliau mendukung Ahlu Kalam karena kita tahu beliau termasuk ahlussunnah wal jamaahلَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِAllāh subhanahu wa ta’ala tidak diliputi oleh arah yang enam (depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah) karena enam arah ini makhluqah ini adalah makhluk maka Allāh subhanahu wa taala tidak nih diliputi oleh makhluk,وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚDialah Allāh subhanahu wa taala yang Akbar Dialah yang Maha Besar, tidak diliputi tidak dikuasai dan tidak dikelilingi oleh enam arah. Karena enam arahnya adalah jihad yang makhluqohكَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِSeperti makhluk² yang diciptakan – الْمُبْتَدَعَاتِ – Al mujada artinya sesuatu yang baru dan yang dimaksud adalah makhluk yang diciptakan oleh Allāh, maka Allāh subhanahu wa taala tidak seperti makhluk.Dan ini juga istilah yang sering dipakai oleh ahlul Kalam dan ini bukan berarti beliau menafikan Ulu’ullah, bukan berarti beliau menafikan ketinggian Allāh, karena yang menafsirkan di sini adalah al-jihat al-makhluqah, adapun Ulu’ullāh ketinggian Allāh subhanahu wa ta’ala maka ini bukan termasuk jihat Al makhluqllāh, bukan termasuk arah-arah yang makhluk, ketinggian Allāh subhanahu wa taala telah tetap dengan dalil² yang banyak,أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِApakah kalian merasa aman dengan yang ada di langit,إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍإِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِتَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِوَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖوَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُIni semua menunjukkan bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah yang memiliki sifat Al Uluw, Allāh subhanahu wa ta’ala berada diatas, jadi yang beliau nafikan di sini adalah Al jihat yang makhluqah, makanya beliau mengatakan,كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِSeperti makhluk-makhluk atau seperti seluruh makhluk.Jadi beliau tidak mengingkari Jihatululw bagi Allāh subhanahu wa ta’ala.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 66 | Allāh Ta’ala Terbebas Dari Batasan-Batasan

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَتَعَالَى عَنِ الْحُدُودِ وَالْغَايَاتِ، وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِ، لَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِMaha Tinggi Allāh dari batasan²,Allāh subhanahu wa ta’ala adalah yang maha sempurna tidak dibatasiوَالْغَايَاتِDan Allāh subhanahu wa ta’ala Maha Suci dari tujuan²,ada yang menafsirkan disini dari hajah/ kebutuhan Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Maha Kaya tidak membutuhkan kita, makhluk dari yang paling kecil sampai yang paling besar (Arsy) yaitu semuanya merekalah yang membutuhkan kepada Allāh subhanahu wa ta’ala,اَللّٰهُ الصَّمَدُ‌Dialah yang Ashomad/ seluruh makhluk itu bergantung kepada Allāh dan Dialah Al-Ghani yang maha kaya yang tidak butuh dengan makhluk,يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ[QS Fatir 15]Allāh menciptakan kita bukan karena butuh kepada kita tapi kitalah yang butuh kepada Allāh,وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِمَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ[QS adz dzariat 56,57]Aku tidak menginginkan diri mereka rezeki dan Aku menciptakan mereka bukan karena Aku menginginkan mereka memberikan makan kepadaKu. Sesungguhnya Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Maha memberikan rezeki.وَالْأَرْكَانِDan Maha Tinggi Allah subhanahu wa ta’ala dari Al-Arkan,وَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِIni maknanya hampir sama yaitu anggota badan yang tersusun dari darah daging tulang, Maha Suci Allāh dari yang demikian, Allah Subhana wa ta’ala tidak sama dengan makhluk dan bukan berarti di sini beliau mengingkari sifat tangan bagi Allāh sifat kaki bagi Allāh sifat jari bagi Allāh sifat wajah bagi Allāh bukan demikian maknanya, tapi yang beliau ingkari di sini adalah kalau yang dimaksud Arkan A’dho disini adalah anggota badan seperti anggota badan manusia yang terdiri dari daging tulang darah maka Maha Suci Allah dari yang demikian, adapun Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki wajah dan kita menetapkan yang demikian, Allāh subhanahu wa ta’ala tangan, memiliki kaki, memiliki jari, maka ketika kita menetapkan bukan berarti kita menyerupakan Allāh subhanahu wa ta’ala dengan makhluk bukan berarti kita meyakini Allāh memiliki Arkan, ardho dan juga adhawat, karena kita tetapkan itu semua dan kita meyakini bahwasanya tangan, kaki, wajah, Allāh tidak sama dengan wajah makhluk,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُJadi yang maksud dari Al imam Abu Jafar ath Thohawiy di sini yang diingkari oleh beliau adalahوَالْأَرْكَانِ وَالْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِYang maknanya adalah anggota badan yang dimiliki oleh manusia yang terdiri dari darah daging dan juga tulang, dan istilah-istilah ini ini mungkin banyak di zaman beliau ini istilah-istilah yang dipakai oleh orang-orang Ahlu Kalam, maka kita ahlussunnah mengingkari tentunyaالْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِDengan makna seperti ini, kita tidak meyakini yang demikian, kita mengingkari kalau yang mereka maksud denganالْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِIni adalah anggota badan seperti yang dimiliki oleh manusia maka jelas kalau yang dimaksud kita mengingkari yang demikian – الْغَايَاتِ – kalau yang dimaksud adalah hajat maka kita mengingkari.Oleh di sini beliau sampaikan oleh Abu Ja’far Ath thohawiy Maha Suci dari yang demikian, kita tidak meyakini bahwasanya Allah punyaالْأَرْكَانِ ، الْأَعْضَاءِ وَالْأَدَوَاتِTapi kita sebagai ahlussunnah menetapkan Allāh punya wajah yang tidak sama dengan makhluk itu yang kita tetapkan kita sebagai ahlussunnah menetapkan Allāh memiliki kaki yang tidak sama dengan makhluk, sesuai dengan keagungan Allah itu yang dimiliki oleh Ahlussunnah. Jadi beliau mendatangkan istilah-istilah ahlul Kalam di sini karena mungkin saat itu memang tersebar ilmu kalam ini dan beliau menggunakan istilah mereka untuk mengingkari mereka bukan berarti beliau termasuk ahlu Kalam menggunakan istilah mereka untuk mengingkari mereka ya karena terkadang kalau tidak menggunakan istilah mereka tidak sampai maklumat ini kepada mereka sehingga terpaksa sekarang seseorang menggunakan istilah-istilah mereka supaya mereka memahami ucapan kita bukan berarti Al Imam Abu Ja’far tawawi beliau mendukung Ahlu Kalam karena kita tahu beliau termasuk ahlussunnah wal jamaahلَا تَحْوِيهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِAllāh subhanahu wa ta’ala tidak diliputi oleh arah yang enam (depan, belakang, kanan, kiri, atas, bawah) karena enam arah ini makhluqah ini adalah makhluk maka Allāh subhanahu wa taala tidak nih diliputi oleh makhluk,وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚDialah Allāh subhanahu wa taala yang Akbar Dialah yang Maha Besar, tidak diliputi tidak dikuasai dan tidak dikelilingi oleh enam arah. Karena enam arahnya adalah jihad yang makhluqohكَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِSeperti makhluk² yang diciptakan – الْمُبْتَدَعَاتِ – Al mujada artinya sesuatu yang baru dan yang dimaksud adalah makhluk yang diciptakan oleh Allāh, maka Allāh subhanahu wa taala tidak seperti makhluk.Dan ini juga istilah yang sering dipakai oleh ahlul Kalam dan ini bukan berarti beliau menafikan Ulu’ullah, bukan berarti beliau menafikan ketinggian Allāh, karena yang menafsirkan di sini adalah al-jihat al-makhluqah, adapun Ulu’ullāh ketinggian Allāh subhanahu wa ta’ala maka ini bukan termasuk jihat Al makhluqllāh, bukan termasuk arah-arah yang makhluk, ketinggian Allāh subhanahu wa taala telah tetap dengan dalil² yang banyak,أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِApakah kalian merasa aman dengan yang ada di langit,إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍإِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ فِي لَيۡلَةِ ٱلۡقَدۡرِتَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ إِلَيْهِوَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۖوَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُIni semua menunjukkan bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah yang memiliki sifat Al Uluw, Allāh subhanahu wa ta’ala berada diatas, jadi yang beliau nafikan di sini adalah Al jihat yang makhluqah, makanya beliau mengatakan,كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِSeperti makhluk-makhluk atau seperti seluruh makhluk.Jadi beliau tidak mengingkari Jihatululw bagi Allāh subhanahu wa ta’ala.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 16

Halaqah yang ke enam belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد الثالث عشرSimpul yang ke-13 di antara bentuk pengagungan kita terhadap ilmu adalahبذل الجهد في تحفظ العلم، والمذاكرة به، والسؤال عنهKita mengeluarkan seluruh upaya mengerahkan seluruh tenaga untuk menjaga ilmu yaitu dengan cara menghafalnya.Harus ada upaya untuk menghafal mungkin diulang-ulang di waktu pagi di waktu sore dimurajaah lagi, ada usaha kita untuk menjaganya.Ini adalah termasuk pengagungan kita terhadap ilmu, kalau ada ilmu datang kemudian kita biarkan begitu saja berarti ini tidak menghormati tidak mengagungkan.Kalau ada ilmu kita berusaha untuk menghafalnya, kita mendengar kemudian kita berusaha untuk menghafalnya, kita tangkap dan kita berusaha untuk menghafalnya, diulang ,dan dimurajaah, maka ini bentuk pengagungan kita terhadap ilmu tersebut.Tapi kalau datang, dibiarkan begitu saja, datang lagi, dibiarkan begitu saja, maka ini menunjukkan semakin sedikit pengagungan dia terhadap ilmu tersebut.والمذاكرة بهDan juga mudzakarah (saling mengingatkan).Saling murajaah antum dengan teman antum sesama satu Syaikh, sama-sama berguru kepada guru Fulan misalnya, antum mudzakarah, oh tadi Syaikh menyebutkan demikian, oh iya tadi kan beliau juga menyebutkan demikian, maknanya apa itu? Oh beliau menyebutkan maknanya ini, oh tadi syaikh mengingatkan kita dalam permasalahan, antum ingat tidak?Ini namanya mudzakarah, teman antum menyebutkan sesuatu, antum menyebutkan sesuatu, dia menambah atau antum mengingatkan, dan seterusnya.والسؤال عنهDan mengeluarkan upaya juga dan usaha dan juga tenaga untuk bertanya.Penganggungan kita terhadap ilmu ditunjukkan ketika kita tidak memahami sebuah perkara kemudian kita ingin tahu, ingin mengetahui sesuatu yang masih samar bagi kita tadi, maka ini menunjukkan pengagungan kita terhadap ilmu.Tapi kalau kita tidak tahu kemudian kita biarkan diri kita dalam keadaan tidak tahu dan tidak mau bertanya, ini menunjukkan pengagungan terhadap ilmu yang ada dalam diri kita kurang. Tapi kalau dia mengagungkan ilmu maka dia berusaha untuk bertanya.إذ تلقِّيه عن الشُّيوخ لا ينفع بلا حفظٍ لهKarena ketika dia mencari ilmu dari gurunya, menuntut ilmu dari guru-gurunya, itu tidak akan bermanfaat kalau dia tidak menghafal.Kalau dia tidak berusaha untuk menghafal, maka apa yang dia dapatkan itu tidak akan bermanfaat, akan hilang begitu saja. Maka harus kita keluarkan tenaga kita untuk menghafal. Dulu kita belajar ilmu umum saja kita semangat untuk menghafal, kenapa ketika kita belajar agama kemudian kita bermalas-malasan dalam menghafal.ومذاكرةٍ بهTidak akan bermanfaat kecuali kalau kita mudzākarah.Selain menghafal kita juga mudzākarah, yaitu kita bersama orang lain, dengannya kadang kita saling mengingatkan dan mengetahui kekurangan diri kita. Ketika kita bersama-sama mudzākarah dengan teman, oh iya ini faedah ini Ana Hampir lupa tidak Ana catat, misalnya, Alhamdulillah Antum mengingatkan.Ini yang disebutkan oleh guru kita tadi dan ini dilakukan oleh para ulama sejak zaman dahulu. Kadang ketika mereka berkumpul seperti ketika musim Haji misalnya, mereka sama-sama berkumpul di Makkah, sama-sama berkumpul di Arafah di hari yang sama, di situ mereka bertemu Imam Fulan, ketemu Imam Fulan yang mereka lakukan mudzākarah misalnya, menyebutkan antum hafal tidak hadits tentang masalah ini? Oh iya ana juga punya hadits ini dengan sanad ini, mereka saling mudzākarah.Mudzākarah ini ketika masing-masing menghafal. Kalau misalnya satunya hafal satunya tidak menghafal, bagaimana bisa mudzākarah? Mudzākarah itu kalau masing-masing punya perhatian. Yang A menghafal, yang B juga menghafal, maka di sana ada mudzākarah.وسؤالٍ عنهDemikian pula tidak bermanfaat kita belajar sama seorang guru kalau kita tidak mau bertanya ketika kita tidak tahu.Kita duduk untuk menuntut ilmu, kita ingin mencari, kalau memang kita tidak tahu kita cari ilmunya. Kalau pas kita tidak tahu kok kita tidak mau bertanya, berarti ada kekurangan dalam usaha dia menuntut ilmu.تحقِّق في قلب طالب العلم تعظيمَهMaka ini semuanya akan mewujudkan di dalam hati seorang penuntut ilmu, pengagungan dia terhadap ilmu itu sendiri.Jadi antum menghafal itu bagian dari pengagungan terhadap ilmu. Antum mudzākarah termasuk bagian pengagungan terhadap ilmu. Antum bertanya kepada guru antum tentang perkara yang antum tidak tahu, itu termasuk bentuk pengagungan antum terhadap ilmu.بكمال الالتفات إليه والاشتغال بهKarena ini menunjukkan antum benar-benar menoleh kepada ilmu tadi.Ketika antum menghafal, mudzākarah, kemudian bertanya, menunjukkan antum punya perhatian yang besar terhadap ilmu tadi.والاشتغال بهDan benar-benar antum menyibukkan diri dengan ilmu, konsen. Berarti ini termasuk pengagungan terhadap ilmu.فالحفظ خَلوةٌ بالنَّفس، والمذاكرة جلوسٌ إلىٰ القرين، والسُّؤال إقبالٌ علىٰ العالمKetika kita menghafal berarti kita sedang berkhalwah (menyendiri). Kita menghafal, kita ulang lagi, kita dalam keadaan bersama ilmu tapi kita dalam keadaan sendiri.Kemudian yang namanya mudzākarah bersama teman ini adalah duduk bersama teman, sesama penuntut ilmu kepada guru tadi, yang kita lakukan bersama teman tersebut yang kita sebutkan juga ilmu.Ketika kita sendiri kita sibuk dengan ilmu, ketika kita bersama teman kita mudzākarah dan menyibukkan diri dengan ilmu.Dan bertanya, ini kita menghadap kepada guru kita. Jadi ketika dalam keadaan sendiri sibuk dengan ilmu, ketika bersama teman sibuk dengan ilmu, ketika ada guru di depan kita maka kita bertanya kepadanya. Dalam berbagai keadaan dia menyibukkan dirinya dengan ilmu maka ini menunjukkan dia mengagungkan ilmu.ولم يزلِ العلماء الأعلام يحضُّون علىٰ الحفظ ويأمرون بهPara ulama senantiasa dari zaman dulu sampai sekarang mereka menganjurkan dan memerintahkan untuk menghafal. Kita disuruh untuk menghafal oleh guru-guru kita.احفظ فكل حافظ إمامHendaklah engkau menghafal karena setiap orang yang hafal itu dia akan menjadi pemimpin (imam).Ini adalah nasihat para ulama kepada murid-muridnya untuk menghafal.سمعت شيخنا ابن عثيمين يقولAku mendengar guru kami Ibnu Utsaimin Rahimahullāh berkata,حفظنا قليا وقرأنا كثيرا، فانتفعنا بما حفظنا أكثر من انتفاعنا بما قرأناSyaikh Muhammad ibn Shalih Al-Utsaimin beliau mengatakan, kami menghafal sedikit dan banyak membaca. Jadi kalau dibandingkan apa yang kami hafal dengan apa yang kami baca itu banyak yang kami baca.Itu maksudnya, maka kami pun mengambil manfaat, apa yang kami ambil manfaatnya dari hafalan kami itu lebih banyak daripada apa yang kami baca.Beliau mengatakan, manfaat yang kami dapatkan dari menghafal (padahal itu sedikit) itu lebih banyak daripada manfaat yang kami dapatkan dari apa yang kami baca. Karena ketika seseorang menghafal, maka itu akan lebih melekat di dalam hatinya. Kalau dia mendapatkan ilmu dengan cara menghafal itu akan lebih melekat pada hatinya.Tapi kalau sekedar membaca, dia mengambil manfaat tapi banyak lupa. Dia membaca satu jilid misalnya, sudah sampai halaman yang terakhir dia sudah lupa apa yang dia baca di awal. Beberapa hari setelah itu dia sudah lupa mungkin sebagian besar apa yang ada di dalam kitab tersebut. Tapi ketika dia menghafal maka hari ini dia ingat, dan seminggu lagi dia masih ingat, sebulan lagi dia masih ingat.Ini menunjukkan tentang keutamaan menghafal. Dan sudah berlalu disampaikan, kita mulai menghafal kitab-kitab yang mukhtasar, kitab-kitab matan yang ringkas yang di situ dikumpulkan pendapat-pendapat yang rajih di dalam satu cabang ilmu.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 16

Halaqah yang Ke-16 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang “Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke empat belas”Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADiantara perkara Aqidah yang berkaitan dengan Al-Mu’jizat adalah beriman dengan Al-KaramahAl Karamah secara bahasa adalah pemberian, ada pun secara syariat: sebuah perkara diluar kebiasaan yang terjadi pada seorang wali Allah.Sebuah perkara dil uar kebiasaan maksudnya karamah bukan pemberian kenikmatan biasa, yang di maksud dengan kebiasaan adalah kebiasaan manusia di zaman tersebut yang terjadi pada seorang wali Allah, berarti Karamah tidak terjadi pada seorang nabi dan tidak pula pada wali syaitan.Yang dimaksud dengan wali Allah adalah setiap orang yang beriman dan bertakwa. sebagaimana firman Allahأَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَالَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ“Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada takut atas mereka dan mereka tidak bersedih, mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa” (Yunus : 62-63)Iman dan takwa tidak akan terwujud kecuali dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Dan perintah yang paling besar adalah tauhid kepada Allah dan larangan yang paling besar ada syirik kepada AllahApabila seseorang menyekutukan Allah atau mengajak manusia menyekutukan Allah maka dia bukan wali Allah. Apabila seseorang mengajak kepada Bid’ah maka dia bukan wali Allah, apabila seseorang meninggalkan shalat 5 waktu maka dia bukan wali AllahSeorang wali Allah diukur dari keimanan dan ketakwaan bukan hanya sekedar dari kesaksian atau dari kemampuan yang luar biasa. Seandainya dia beriman dan bertakwa maka dia adalah wali Allah meskipun tidak memiliki kesaktian yang luar biasaNamun sebaliknya orang yang memiliki kesaktian tetapi tidak bertakwa dan beriman maka dia bukan wali AllahSeorang wali Allah bukan berarti dia tidak pernah berdosa, dia berdosa sebagaimana manusia yang lain namun dia bukan orang yang terus menerus melakukan dosa dan apabila dia berdosa maka dia bersegera di dalam bertaubat kepada Allah

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah 66 – Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bagian 1)

Ringkasan Halaqah 66 – Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bagian 1)🌸 Pengertian Al-JannahSecara bahasa: kebun.Secara syariat: negeri di akhirat yang penuh kenikmatan yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa.🌸 Kenikmatan SurgaKenikmatannya tidak pernah terlintas dalam hati manusia.Nikmat dunia tidak ada yang dapat menyamai kenikmatan surga.Sebesar apa pun kita membayangkannya, tetap tidak akan setara dengan kenikmatan surga.Dalil: QS. As-Sajdah: 17 dan hadis riwayat Bukhari-Muslim.🌸 Kenikmatan Surga Berbeda dengan DuniaNama kenikmatannya sama, tetapi hakikat dan kelezatannya jauh lebih sempurna.Rumah surga berbeda dengan rumah dunia.Buah-buahan surga jauh lebih nikmat meskipun namanya sama.Dalil: QS. Al-Baqarah: 25.🌸 Hilangnya Semua KesusahanOrang yang pernah paling sengsara di dunia, setelah merasakan surga sekali saja, akan merasa seolah tidak pernah mengalami kesusahan.Dalil: Hadis riwayat Muslim.🌸 Semua Keinginan DikabulkanSemua yang diinginkan penghuni surga akan diberikan oleh Allah.Mereka kekal di dalamnya.Dalil: QS. Al-Furqan: 16.🌸 Nama-Nama SurgaJannātun Na'īm → Surga yang penuh kenikmatan. (QS. Luqman: 8)Dārussalām → Negeri yang selamat dari segala kekurangan dan kejelekan. (QS. Al-An'am: 127)Maqām Amīn → Tempat tinggal yang aman dari segala musibah dan kejelekan. (QS. Ad-Dukhan: 51)Dārul Muqāmah → Tempat tinggal yang kekal, tanpa rasa lelah dan lesu. (QS. Fathir: 35)🌸 Inti Pelajaran✨ Surga adalah negeri yang:Penuh kenikmatan.Tidak memiliki kekurangan sedikit pun.Aman dari segala musibah.Semua keinginan penghuninya dipenuhi.Kekal selama-lamanya.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI29 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 16: Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 14)

Halaqah 16:Cara Beriman kepada Para Rasul (Bagian 14)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara perkara Aqidah yang berkaitan dengan Al-Mu’jizat adalah beriman dengan Al-Karamah​Al Karamah Secara bahasa adalah pemberianSecara syariat adalah sebuah perkara diluar kebiasaan yang terjadi pada seorang wali Allah.Sebuah perkara diluar kebiasaan maksudnya karamah bukan pemberian kenikmatan biasa, yang di maksud dengan kebiasaan adalah kebiasaan manusia di zaman tersebut yang terjadi pada seorang wali Allah, berarti Karamah tidak terjadi pada seorang nabi dan tidak pula pada wali syaitan.Yang dimaksud dengan wali Allah adalah setiap orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana firman Allah:أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَالَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ"Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada takut atas mereka dan mereka tidak bersedih, mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa" (Yunus : 62-63)Iman dan takwa tidak akan terwujud kecuali dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Dan perintah yang paling besar adalah tauhid kepada Allah dan larangan yang paling besar ada syirik kepada Allah.Apabila seseorang menyekutukan Allah atau mengajak manusia menyekutukan Allah maka dia bukan wali Allah. Apabila seseorang mengajak kepada Bid’ah maka dia bukan wali Allah, apabila seseorang meninggalkan shalat 5 waktu maka dia bukan wali Allah.Seorang wali Allah diukur dari keimanan dan ketakwaan bukan hanya sekedar dari kesaksian atau dari kemampuan yang luar biasa. Seandainya dia beriman dan bertakwa maka dia adalah wali Allah meskipun tidak memiliki kesaktian yang luar biasa.Namun sebaliknya orang yang memiliki kesaktian tetapi tidak bertakwa dan beriman maka dia bukan wali Allah.Seorang wali Allah bukan berarti dia tidak pernah berdosa, dia berdosa sebagaimana manusia yang lain namun dia bukan orang yang terus menerus melakukan dosa dan apabila dia berdosa maka dia bersegera di dalam bertaubat kepada Allah.

💬 0 komentar📅 29 Jun 2026Baca selengkapnya →