Halaqah 30-Keadaan Manusia Ketika Melihat Kedahsyatan Kiamat
Keadaan Manusia Ketika melihat Kedahsyatan Hari Kiamat
Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI
Keadaan Manusia Ketika melihat Kedahsyatan Hari Kiamat
Halaqah yang ke lima dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau mengatakan,وَأَظْهَرَ لَهُمُ الشِّرْكَ بِاللهِ فِي صُوْرَةِ مَحَبَّةِ الصَّالِحِيْنَ وَاتِّبَاعِهِمْDan mereka (syaithan) menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan kepada Allah.Dengan dipoles seakan-akan itu adalah termasuk mencintai orang-orang yang shalih dan mengikuti mereka.Dan ini adalah termasuk makar dan juga tipu daya syaithan.Tidak langsung mengatakan asyrikbillah (hendaklah engkau menyekutukan Allah), tidak!Tapi menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan dan dipoles dengan mengatakan, “Ini adalah termasuk mencintai orang yang shalih.”Semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla memudahkan kita memahami agama ini, dan menampakkan kebenaran itu kebenaran dan menampakkan bahwasanya yang bathil adalah sesuatu yang bathil.Di dalam agama Islam tidak ada pertentangan antara tauhid dan mencintai orang-orang yang shalih, ikhlas kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla, yang sesuai amalannya dengan Al Qur’an dan juga hadits-hadits Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam, yang shalih baik dhahirnya maupun bathinnya.Mereka adalah orang-orang yang memiliki kedudukan di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla, dengan ketaqwaan mereka.إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla diantara kalian adalah orang-orang yang paling bertaqwa diantara kalian.”(QS. Al Hujurat: 13)Orang-orang yang shalih dan mereka bertingkat-tingkat ketaqwaannya. Kita diperintahkan untuk menghormati mereka.إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَـٰٓؤُا۟“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”(QS. Fathir: 28)Dan Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ“Para ulama adalah pewaris para nabi.”Mewarisi ilmu mereka, mengajak manusia untuk berpegang teguh dengan warisan para nabi, para ulama jelas memiliki keutamaan yang tinggi di sisi Allah Subhānahu wa Ta’āla.Dan kita diperintahkan untuk mencintai, mengikuti, meneladani mereka di dalam keshalihan ini.Ini adalah cara untuk mencintai orang-orang yang shalih, yaitu dengan mencintai mereka dengan hati kita sesuai dengan kadar keimanan mereka, demikian pula mengikuti mereka dan meneladani mereka di dalam ibadah mereka kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Menghormati orang yang shalih dan mencintai mereka adalah diperintahkan, namun penghormatan ini memiliki batasan-batasan yang telah ditentukan oleh syar’iat.Ada batasan-batasan yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak boleh penghormatan kita kepada orang-orang yang shalih melebihi dari batasan-batasan ini.Kalau sampai melebihi maka berarti masuk di dalam apa yang dinamakan dengan Al Ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang yang shalih.Dan ghuluw terhadap orang-orang yang shalih adalah sebab terjadinya kesyirikan pertama kali di permukaan bumi ini seperti yang terjadi pada kaumnya nabi Nuh alayhissallām.Oleh karena itu Allah Subhānahu wa Ta’āla mencela ahlul kitab karena mereka berlebih-lebihan terhadap nabi Isa alayhissallam.Beliau adalah seorang Rasul, seorang hamba, tetapi mereka saking ghuluw-nya (berlebih-lebihan), mengatakan bahwasanya Nabi Isa adalah anak Allah Subhānahu wa Ta’āla.يَـٰٓأَهْلَ ٱلْكِتَـٰبِ لَا تَغْلُوا۟ فِى دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا۟ عَلَى ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْحَقَّ إِنَّمَا ٱلْمَسِيحُ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ ٱللَّهِ وَكَلِمَتُهُۥٓ أَلْقَىٰهَآ إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌۭ مِّنْه فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِ(QS. An Nisa: 171)Wahai Ahlul Kitab, janganlah kalian ghuluw di dalam agama kalian dan janganlah kalian mengatakan atas nama Allah kecuali yang Haq (kecuali yang memang ada dalilnya). Sementara ucapan mereka, Isa adalah anak Allah, ini adalah suatu yang tanpa ada dalil dari Allah. Sesungguhnya Isa bin Maryam adalah seorang Rasulullah, bukan seorang anak Allah dan kalimat Allah yang Allah tiupkan pada Maryam, yaitu dengan ucapan Allah kun fayakun.Allah Subhānahu wa Ta’āla mencela orang-orang ahlul kitab, orang-orang Nashrani karena mereka ghuluw terhadap orang yang shalih, para nabi adalah pemukanya orang-orang shalih.Demikian pula Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan beliau adalah sebaik-baik Rasul namun beliau mencela umatnya untuk ghuluw terhadap beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan melarang mereka untuk ghuluw terhadap beliau.Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan,لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَىِ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ“Janganlah kalian berlebih-lebihan terhadapku sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan terhadap Isa ibnu Maryam.”Larangan dari beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada kita semua meskipun kita mencintai beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَDan tidak akan dinamakan seseorang beriman sampai mencintai beliau lebih dari anaknya, lebih dari orang tuanya, lebih dari semua manusia.Akan tetapi beliau melarang kita berlebih-lebihan terhadap beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.إنما أنا عبد فقولوا عبدالله ورسوله“Sesungguhnya aku adalah seorang hamba, bukan sesembahan, bukan seorang Tuhan, tapi aku adalah seorang hamba yang menyembah kepada Allah.Maka katakanlah oleh kalian bahwasanya aku adalah seorang hamba Allah dan juga seorang Rasul.”Maka di dalam syahadat واشهد ان محمدا عبده ورسوله dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan juga Rasul-Nya.Pertama kita bersaksi bahwasanya beliau adalah seorang hamba, artinya tidak disembah.Dan ke dua kita bersaksi bahwasanya beliau adalah seorang Rasul, artinya harus dibenarkan dan diikuti syar’iatnya.Kalau kita dilarang untuk berlebih-lebihan kepada beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tentunya kepada yang lain lebih dilarang.Tidak ada yang lebih mulia kedudukannya di sisi Allah daripada beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Dan diantara bentuk ghuluw terhadap orang-orang yang shalih di zaman sekarang adalah diantaranya:• Berdo’a kepada orang-orang yang shalih yang sudah meninggal atau dinamakan dengan tawasul.• Demikian pula membangun kuburan mereka, menghias-hiasi kuburan mereka.• Demikian pula ber’itikaf berdiam diri di kuburan mereka.Ini semua adalah termasuk bentuk diantara ghuluw terhadap orang-orang shalih.Berdo’a adalah termasuk ibadah yang tidak boleh diserahkan kecuali kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.
Halaqah 5:Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 2🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman dengan takdir Allah adalah dengan mengimani tingkatan takdir yang ke dua, yaitu:2. Penulisan Allah terhadap seluruh takdir makhluk-Nya di dalam Al Lauhul Mahfudz. Maka tidaklah terjadi sesuatu di alam ini kecuali Allah telah menulisnya di dalam kitab tersebut. Tidak mungkin apa yang terjadi di alam ini keluar dari apa yang sudah Allah tuliskan.Dalil-dalil tentang beriman dengan penulisan Allah terhadap takdir di dalam Al Lauhul Mahfudz dari Al-Qur’an diantaranya:Firman Allah azza wajalla:وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ“Dan Kami telah menulis di dalam kitab-kitab yang Kami turunkan setelah sebelumnya ditulis di dalam Adz-Dzikr, bahwa bumi ini diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.”[QS. Al-Anbiya’ :105]Adz-Dzikr adalah nama lain dari Al Lauhul Mahfudz.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ“Sesungguhnya Kami-lah yang menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami-lah yang menulis apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas mereka dan segala sesuatu Kami ihso’ di dalam kitab yang jelas.”[QS. Ya-Sin: 12]Makna “ihso’” diantaranya: Allah mengetahuinya, menjaganya, menetapkannya di dalam kitab tersebut.Dan yang dimaksud dengan Kitab yang jelas adalah Al Lauhul Mahfudz.Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ۗ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ“Bukankah kamu mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Sesungguhnya yang demikian ada di dalam Kitab, sesungguhnya yang demikian sangat mudah bagi Allah.”[QS. Al-Hajj: 70]Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,… ۚ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ..“Kami tidak lupakan sesuatu pun di dalam Al Lauhul Mahfudz.”[QS. Al-An’am: 38]Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,… ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ“Dan tidak terlepas dari pengetahuan Allah. Sesuatu sebesar semut kecil pun baik di bumi maupun di langit baik yang lebih kecil daripada itu atau lebih besar kecuali di dalam Kitab yang jelas.”[QS. Yunus: 61]Adapun dari Sunnah maka Rasulullah ﷺ bersabda,كتب الله مقادير الخلائق قَبْلَ أَنْ يَخُلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بِخَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ“Allah menulis takdir-takdir bagi para makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” [HR Muslim]Dan Rasulullah ﷺ bersabda,وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ“Dan Allah menulis di dalam Adz-Dzikr (Al Lauhul Mahfudz) segala sesuatu.” [HR Bukhari dan Muslim]Dan Beliau ﷺ bersabda,مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ“Tidak ada diantara kalian kecuali sudah ditulis tempatnya di dalam neraka dan tempatnya di dalam surga.” [HR Al Bukhari dan Muslim]
ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 80 | Waspadalah dari Berlebih-lebihan Mendalami Takdir Allāh ﷻHalaqah 80 | Waspadalah dari Berlebih-lebihan Mendalami Takdir Allāh ﷻKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-80 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:فَالحَذَرَ كُلَّ الحَذَرِ مِنْ ذَلِكَ نَظَرًا وَفِكْرًا وَوَسْوَسَةًMaka hendaklah berhati-hati / waspada sebenar-benarnya dari berlebih-lebihan dalam mendalami takdir, yaitu seseorang memikirkan mendalami, berhati-hati terhadap was-was dari syaithan yang membisikkan siapa yang menciptakan Allāh ﷻ, berarti kalau demikian Allāh ﷻ dzhalim, kalau demikian Allāh ﷻ demikian dan demikian. Hati-hati dengan yang demikian, segera berlindung kepada Allāh ﷻ dari godaan syaithan dan kembali kepada agama Allāh ﷻ, beriman dengan syari’at Allāh ﷻ, beriman dengan seluruh takdir Allāh ﷻفَإِنَّ اللهَ تَعَالَىٰ طَوَى عِلْمَ القَدَرِ عَنْ أَنَامِهِ، وَنَهَاهُمْ عَنْ مَرَامِهِkarena Allāh ﷻ telah melipat ilmu tentang takdir ini dari makhluk-Nya, artinya ini adalah rahasia Allāh ﷻ, dan Allāh ﷻ melarang mereka untuk berusaha membuka rahasia tadi. Allāh ﷻ melarang mereka yang demikian.كَمَا قَالَ تَعَالَىٰSebagaimana Firman Allāh ﷻ{لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ} [الأنبياء: 23]Ini larangannya, Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang dia lakukan, Allāh ﷻ menyesatkan, Allāh ﷻ memberikan hidayah, Allāh ﷻ memasukkan ke dalam surga, Allāh ﷻ memasukkan ke dalam neraka, ini semua adalah takdir Allāh ﷻ, Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang Dia kerjakan, tapi yakin bahwasanya apa yang Allāh ﷻ kerjakan itu tidak ada kedzhaliman, apa yang Allāh ﷻ kerjakan pasti disana ada hikmah, Allāh ﷻ lebih tahu siapa yang berhak untuk mendapatkan hidayah dan siapa yang tidak berhak untuk mendapatkan hidayah.Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang dia kerjakan dan merekalah yang akan ditanya, kita yang akan ditanya tentang apa yang sudah kita lakukan di duniaوَلَنَسْـَٔلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْـَٔلَنَّ الْمُرْسَلِينَWa lanas’alan-nallażīna ur’sila ilaihim wa lanas’alan-nal-mursalīn. (QS. Al-A’raf [7]: 6)Maka sungguh Kami akan bertanya kepada mereka (yaitu orang-orang yang telah diutus kepada mereka para Rasul) dan Kami akan bertanya juga kepada orang-orang yang Kami utus (yaitu para Rasul).Kalau demikian maka harusnya kita memikirkan bagaimana kita bisa menjawab pertanyaan tadi dengan baik, jangan kita mengatakan kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian, itu justru akan memudharati kita. Tidaklah Allāh ﷻ melakukan sesuatu kecuali dengan hikmah, Dia adalah Al-Hakim, kita habiskan waktu mengatakan kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian kemudian kita lupa bahwasanya kita akan ditanya oleh Allāh ﷻ.Kalau kita ditanya oleh Allāh ﷻ dan tidak bisa menjawab pertanyaan dengan baik, celaka, maka ini yang harus kita pikirkan bukan seseorang justru malah التَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ dalam masalah takdir Allāh ﷻ ini, tidak bisa mengerem justru malah mengikuti was-was tersebutفَمَنْ سَأَلَ: لِمَ فَعَلَ؟ فَقَدْ رَدَّ حُكْمَ الكِتَابِBarangsiapa yang bertanya kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian, maka orang yang mengatakan demikian dia sungguh telah menolak hukum yang ada di dalam Al-Qur’an, karena Allāh ﷻ mengatakanلَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُTidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, kok dia malah bertanya kenapa Allāh ﷻ melakukan, berarti di sini dia menolak hukum yang ada di dalam Al-Qur’anوَمَنْ رَدَّ حُكْمَ الكِتَابِ؛ كَانَ مِنَ الكَافِرِينَMaka barang siapa yang menolak hukum yang ada di dalam Al-Qur’an sungguh dia termasuk orang yang kufur.Hati-hati dikhawatirkan orang yang justru malah dia berlebihan di dalam memikirkan takdir Allāh ﷻ sampai membawa dia kepada kekufuran, dia terus akan bertanya kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian.
Halaqah 55 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Negeri Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahBeliau mengatakanوبلده مكةdan negeri beliau adalah Makkah.Ini tambahan yang lain, makrifah yang lain tentang Nabi ﷺ yang seharusnya memang lumrah kalau ini muncul pada diri orang yang muhibb dan cinta kepada Rosulullah ﷺ, akan bertanya beliau itu sebenarnya dari mana, dimana beliau dilahirkan, maka beliau lahir di kota Makkah di tahun yang dinamakan dengan Al-Fiil.Mereka mengenal tahun tersebut karena terjadi kejadian yang besar, maka orang-orang Arab mereka mengenal Al-Fiil yaitu tahun terjadinya penyerangan yang dilakukan oleh Abrahah membawa seekor gajah yang besar untuk menghancurkan Al Ka’bah karena dia merasa ini adalah saingan dia yang paling berat. Dia membangun tempat ibadah yang lain di Yaman dan menghiasi, memewahkan, membesarkan tempat ibadah tersebut, tapi ternyata orang-orang Musyrikin tidak ada di antara mereka yang mau mendatangi tempat ibadah tersebut.Datanglah dia bersama pasukannya dengan membawa seekor gajah. Adapun yang ada di gambar di buku-buku sekolah banyak gajahnya itu salah, gajahnya hanya seekor. Kemudian Allah ﷻ menghendaki lain dari apa yang diinginkan oleh Abrahah, bahkan dialah dan juga bala tentaranya, merekalah yang hancur dan di tahun itulah dilahirkan Rosulullah ﷺ .Maka berarti Mekkah ini adalah بلد, ini adalah negeri beliau, ini adalah tempat kelahiran beliau ﷺ. Dan beliau hidup dan tumbuh besar, lama di kota Makkah meskipun setelah beliau dilahirkan maka oleh ibunya Aminah, dikirimlah Rosulullah ﷺ ke negeri Thaif, sebuah negeri yang masih dekat dengan Kota Makkah kurang lebih di sebelah timur selatan Kota Makkah, dan letaknya agak di pegunungan dan masih bersih udara di sana.Adapun di kota Makkah ini banyak dikunjungi oleh orang dari berbagai daerah sehingga udaranya tidak sebersih yang ada di kota Thaif. Dan kebiasaan orang-orang Quraisy dahulu mereka mengirimkan anak-anak kecil mereka, bayi-bayi mereka, pada tahun-tahun yang pertama ke tempat-tempat tersebut. Pertama dari sisi kesehatan kemudian yang kedua untuk mendapatkan kefasihan di dalam bahasa Arab, karena mereka masih bersih dan masih memegang masih kuat bahasa mereka sehingga diharapkan bisa mendapatkan faedah dari sisi tersebut yaitu dari sisi bahasa. Sampai akhirnya dikembalikan kepada ibunya ketika beliau ﷺ berumur 4 tahun. Tapi yang jelas negerinya adalah Makkah karena beliau dilahirkan di kota Makkah dan sebagian besar hidupnya adalah berada di kota Makkah.
Halaqah yang ke empat dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau mengatakan,ثمَّ لَـمَّا صارَ عَلى أَكْثَرِ الأُمَّةِ مَا صارَ؛ أَظْهَرَ لَـهُمُ الشَّيْطانُ الإخْلاصَ في صُورَةِ تَنَقُّصِ الصَّالِحينَ وَالتَّقْصيرِ في حُقوقِهِمْ، وَأَظْهَرَ لَهُمُ الشِّرْكَ بِاللهِ في صُورَةِ مَحبَّةِ الصَّالِحينَ وَاتِّباعِهِمْKemudian ketika menimpa umat ini apa yang menimpanya berupa kejahilan dan lain-lain, maka syaithan menampakkan kepada mereka, bahwasanya keikhlasan dan tauhid ini adalah sebagai bentuk penghinaan dan peremehan terhadap orang-orang yang shalih.Ketika menimpa umat ini kebodohan, danmereka jauh dari ilmu agama, jauh dari bimbingan para ulama, jauh dari petunjuk Al Qur’an dan juga hadits, maka syaithan menampakkan kepada mereka, bahwasanya tauhid (meng-Esa-kan Allah Subhānahu wa Ta’āla) itu artinya adalah meremehkan orang-orang yang shalih dan meremehkan hak-hak meraka. Dan ini adalah salah satu bentuk talbis dari syaithan dalam usaha menyesatkan manusia.Syaithan menampakkan di mata manusia bahwasanya orang yang bertauhid berarti dia adalah orang yang tidak menghormati orang yang shalih, tidak menghormati Nabi, tidak menghormati wali.Dan untuk memperjelas perkara ini kita terangkan kembali bagaimana kisah nabi Nuh alayhissallam bersama kaumnya dan bagaimana awal terjadinya kesyirikan di permukaan bumi ini.Di zaman nabi Nuh alayhissallam, ada lima orang yang shalih yang dikenal oleh kaumnya dengan ibadahnya, dengan amalannya, dengan keshalihannya.Ketika mereka berlima ini meninggal dunia, datanglah syaithan dan mewahyukan kepada mereka (kaum nabi Nuh) supaya mereka membuat patung-patung, kemudian dinamakan dengan nama orang-orang yang shalih tersebut.Tujuannya adalah supaya ketika mereka merasa malas di dalam beribadah, ketika mereka melihat orang-orang shalih tersebut berada di hadapan mereka di majelis mereka, meskipun sebagai patung, diharapkan mereka bisa bersemangat kembali, mengingat tentang keshalihan mereka dan semangat di dalam beribadah kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Ketika generasi ini meninggal dunia, datang kembali syaithan dan mengatakan kepada orang-orang tersebut, bahwasanya bapak-bapak kalian dahulu membuat patung-patung ini, tujuannya adalah untuk diibadahi, disembah.Dan telah dilupakan ilmu, maka akhirnya mereka menyembah orang-orang shalih tersebut yang dibuat simbolnya berupa patung. Ini adalah awal terjadinya kesyirikan di permukaan bumi.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَقَالُوا۟ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّۭا وَلَا سُوَاعًۭا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًۭاDan mereka berkata, “Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian, dan janganlah kalian tinggalkan Waddan, Suwa’an, Yaghuts dan Ya’uq dan juga Nasr.”(QS. Nuh: 23)Mereka ini adalah lima nama orang yang shalih. Ini adalah nama orang-orang shalih yang meninggal yang kemudian disembah oleh kaumnya nabi Nuh alayhissallam.Ketika terjadi kesyirikan pertama kali di permukaan bumi yang dilakukan oleh kaumnya nabi Nuh alayhissallam, akhirnya Allah Subhānahu wa Ta’āla mengutus nabi Nuh yang merupakan rasul yang pertama.Allah mengutus nabi Nuh alayhissallam kepada mereka untuk mengajak mereka kembali kepada tauhid dan menjauhi kesyirikan ini.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوۡمِهِۦ فَقَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُDan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka beliau berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian selain Dia.”(QS. Al Mu’minun: 23)Beliau mengingatkan umatnya siang dan malam dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan selama 950 tahun, mengajak mereka untuk kembali kepada Allah. Mengingatkan mereka bahwasanya ini adalah termasuk perbuatan syirik yang tidak diridhai oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla. Meskipun yang disembah adalah orang-orang shalih. Mengajak mereka untuk bertauhid dan meng-Esa-kan ibadah ini hanya untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla.Namun ternyata yang mengikuti dakwah beliau dan ajakan beliau adalah orang yang sangat sedikit dan menganggap bahwasanya apabila kita hanya menyembah Allah Subhānahu wa Ta’āla, seakan-akan kita ini telah meremehkan orang-orang yang shalih. Ini adalah termasuk talbis dari iblis laknatullah).Menganggap (menunjukkan) di mata manusia bahwasanya ikhlas kepada Allah berarti kita harus meremehkan dan merendahkan kedudukan orang-orang yang shalih.Oleh karena itu banyak diantara mereka yang menolak dakwahnya nabi Nuh alayhissallam.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَقَالُواْ لَا تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمۡ……..(QS. Nuh: 23)Mereka saling berwasiat diantara mereka, “Janganlah kalian tinggalkan sesembahan-sesembahan kalian.”√ Kita harus menghormati orang yang shalih√ Kita harus menjunjung tinggi kedudukan merekaApabila diminta dan diseru hanya menyembah kepada Allah, hati mereka resah, hati mereka gelisah.وَإِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُ ٱشۡمَأَزَّتۡ قُلُوبُ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِۖ وَإِذَا ذُكِرَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ(QS. Az-Zumar: 45)Apabila hanya disebutkan Allah saja, ketika diminta hanya bertauhid kepada Allah, hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat menjadi resah, gelisah, tidak tenang hatinya ketika disebutkan hanya Allah Subhānahu wa Ta’āla saja.Tapi ketika disebutkan bersama Allah yang lain, maka tiba-tiba hati mereka menjadi sangat gembira, bahagia.Oleh karena itu di sini beliau mengatakan,“Syaithan menampakkan kepada mereka, bahwasanya ikhlas dan tauhid berarti kita harus meremehkan orang-orang yang shalih.”Dan ini sekali lagi adalah termasuk talbis syaithan yang sudah berjanji dari awal di hadapan Allah Subhānahu wa Ta’āla untuk menyesatkan manusia dan menghias-hiasi diantara mereka yang bathil menjadi benar, yang benar menjadi bathil dengan berbagai cara. Bagaimana supaya mereka menyimpang dari shirathal mustaqim, dari jalan yang lurus. Entah menyimpangnya ke kanan, atau ke kiri, atau ke atas, atau ke bawah, yang jelas mereka menyimpang dari jalan yang lurus. Dari mana bisa digoda, maka mereka akan menggodanya.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ۞ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ۞(QS. Al A’raf: 16-17)(Iblis) berjanji untuk menyesatkan mereka dari shirathal mustaqim, dan akan didatangi baik dari kanannya, dari kirinya, dari atasnya, dari bawahnya, sehingga mereka menjadi orang-orang yang tidak bersyukur kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Diantaranya adalah seperti yang disebutkan oleh Syaikh di sini, menghias-hiasi di mata manusia bahwasanya orang yang bertauhid berarti dia meremehkan orang-orang yang shalih.
Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A Penulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullah @komunitas.beekind #jejakilmuHSI السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan:وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ فِي خَلْقِهِ“Asal dari takdir, hakikat dari takdir itu adalah rahasia Allāh yang ada pada makhluk-Nya.Qadar, takdir, ini adalah rahasia Allāh, tidak diketahui oleh seorang Nabi seperti Nabi Muḥammad ﷺ atau Malaikat Jibrīl sekalipun. Mereka tidak mengetahui apa yang terjadi. Qadar, takdir ini adalah سِرُّ اللهِ فِي خَلْقِهِ ini adalah rahasia Allāh di dalam makhluk-makhluk-Nya. Nabi ﷺ tidak diberitahu apa yang akan terjadi, ini adalah termasuk ilmu ghaib yang dikatakan oleh Allāh ﷻ:قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ“Katakanlah, tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allāh.” (QS. An-Naml: 65)Hanya Allāh yang mengetahui ilmu ghaib. Ini adalah rahasia Allāh.عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍDialah Allāh ﷻ yang mengetahui yang ghaib, maka Allāh ﷻ tidak memperlihatkan ilmu ghaib itu kepada seorang pun kecuali kepada orang yang Dia ridhai dari kalangan para Rasul …” (QS. Al-Jinn: 26-27).Sebagian Allāh ﷻ kabarkan kepada mereka apa yang terjadi dimasa yang akan datang, sebagian dikabarkan kepada Nabi ﷺ bahwasanya Abu Bakar di dalam Surga, ‘Umar di dalam Surga, ‘Utṡmān di dalam Surga, ‘Alī di dalam Surga, Abu Lahab di Neraka, Fir’aun di Neraka.Dari mana kita mengetahui ini? Allāh ﷻ yang mengabarkan sebagian rahasia tersebut sehingga kita mengetahui, namun asalnya itu adalah rahasia Allāh ﷻ dalam makhluk-Nya.وَأَصْلُ القَدَرِ سِرُّ اللهِ فِي خَلْقِهِ، لَمْ يَطَّلِعْ عَلَىٰ ذَلِكَ مَلَكٌ مُقَرَّبٌ، وَلَا نَبِيٌّ مُرْسَلٌTidak mengetahuiyang demikian, sampai seorang malaikat yang didekatkan kepada Allāh ﷻ atau seorang nabi yang diutus, tidak ada yang mengetahui rahasia tersebut, kecuali yang dikecualikan. Ada beberapa perkara yang memang Allāh ﷻ beritahukan, kejadian-kejadian yang akan terjadi dimasa yang akan datang, seperti tanda-tanda dekatnya hari kiamat dan apa yang terjadi di akhirat kelak, maka sebagian itu dikabarkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala kepada utusan-Nya, kepada malaikat atau kepada seorang rasul yang diutus.Sehingga kalau seorang nabi yang diutus saja dan malaikat yang didekatkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala mereka tidak mengetahui lalu bagaimana dengan kita yang tentunya derajatnya di bawah mereka. Kewajiban kita adalah beriman sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tunjukkan dalam Al-Qur’an atau yang diajarkan oleh Nabi Shallallāhu ʿalaihi wa sallam dalam sunnah mengenai masalah takdir.Kita ikuti rambu-rambu yang Allāh ﷻ berikan dalam masalah takdir. Ini adalah rahasia Allāh ﷻ, dan Allāh ﷻ telah memberikan kita petunjuk bagaimana cara kita mengarungi kehidupan ini bagaimana cara kita menghadapi dan cara kita untuk beriman dengan takdir Allah maka kita ikuti rambu-rambunya jangan kita keluar dari apa yang sudah Allah tunjukkan.Kemudian beliau mengingatkanوَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيعَةُ الخِذْلَانِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِkalau itu adalah rahasia Allah maka orang yang berusaha menyingkap rahasia Allah bagaimana keadaannya? Ini yang disampaikan pada paragraf selanjutnya ada di antara sebagian orang dia terlalu berlebihan dalam memikirkan takdir, berlebihan di dalam memikirkan apa yang sudah ditakdirkan oleh Allah, tentang takdir Allahوَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَdan dia berlebihan di dalam memikirkannya, misalnya kalau ini sudah ditakdirkan oleh Allah berarti ini Allah berbuat dzalim, kenapa Allah mentakdirkan seseorang yang melakukan amal maksiat atau masuk ke dalam kekufuran kemudian Allah mengadzab dia di dalam neraka dan seterusnya. Dia pikirkan dan dia pikirkan sampai sebagian orang tidak mau beramal shalih, sebagian orang menuduh Allah dengan tuduhan-tuduhan yang keji maka inilah yang dikhawatirkanوَالتَّعَمُّقُ وَالنَّظَرُ فِي ذَلِكَ ذَرِيعَةُ الخِذْلَانِIni adalah menjadi sebab seseorang mendapatkan khidzlan yaitu ditinggalkan oleh Allah, Allah tidak akan lagi menolongnya, karena dia berusaha untuk menyingkap sesuatu yang dia tidak punya kekuatan disana, ini adalah rahasia Allah dan dia berusaha untuk mengutak-atik mendalami memikirkan sesuatu yang merupakan rahasia Allah, ingin sampai ke sana maka ini justru akan menjadi sebab Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan meninggalkan dia, Allah tidak memberikan hidayah kepada orang tersebut.وسُلَّمُ الحِرْمَانِdan dia adalah menjadi tangga sehingga dia menjadi orang yang mahrum, orang yang diharamkan dari hidayahوَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِDan ini adalah menjadi sebab akhirnya dia menyimpang, akhirnya dia berlebihan. Sebagian orang menyangka bahwasanya dengan dia memikirkan lebih dalam tentang takdir Allah kemudian akhirnya dia membuat permisalan-permisalan, menganggap ini adalah sebuah kebaikan yang akan menjadikan dia semakin dekat dengan Allah Subhanahu wa ta’ala tapi justru sebaliknya ini yang menjadikan dia jauh dari hidayah.Dia merasa bahwa dengan memiliki pemikiran-pemikiran tersebut, dia adalah orang yang Masya Allāh semangat dalam menuntut ilmu. Namun, dia berusaha untuk mengutak-atik dan mendalami sesuatu yang sebenarnya tidak boleh dilakukannya, karena itu sudah melebihi apa yang telah ditentukan oleh Allāh ﷻ. Dia menganggap bahwa semua itu menjadikannya mendapatkan keutamaan, padahal justru itu menjadiذَرِيعَةُ الخِذْلَانِ، وسُلَّمُ الحِرْمَانِ، وَدَرَجَةُ الطُّغْيَانِitu adalah waswas dari syaithan, jadi hati-hati.Dan sebenarnya mudah dalam memahami takdir Allāh ﷻ. Kita beriman bahwa Allāh ﷻ mengetahui segala sesuatu dan menulis segalanya, semua yang terjadi adalah dengan kehendak Allāh ﷻ dan merupakan ciptaan-Nya. Di sisi lain, kita diperintahkan untuk beramal shalih, menjalankan perintah-Nya, dan meninggalkan larangan hingga kita meninggal dunia. Allāh ﷻ tidak suka dengan kekufuran, tidak menyenangi kebid’ahan, dan membenci kemaksiatan, sehingga kita tinggalkan dan Allah mencintai amal shalih dan juga keimanan.Jika datang waswas dari syaitan bahwa Allāh ﷻ dzhalim , kita katakan:وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ(QS. Fuṣṣilat: 46)Allah tidak melakukan kebaikan sedikitpun, Allah Subhanahu wa ta’ala apa yang dia lakukan mungkin adalah karunia atau mungkin itu adalah sebuah keadilan, tidak ada kedzhaliman, Dan Allah lebih tahu siapa yang berhak untuk mendapatkan hidayah. Kalau disana ada orang yang disesatkan oleh Allah itu adalah kesalahan orang tersebut dan dia memang orang yang berhak untuk disesatkan oleh Allah dan Allah lebih tahu tentang keadaan dia daripada kita.Demikian yang ada dalam diri seorang muslim sampai dia bertemu dengan Allah, sederhana sebenarnya cuma sebagian orang yang dia menyusahkan dirinya sendiri yang akhirnya bukan kebaikan justru malah kesesatan dan semakin jauh dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Halaqah yang ke empat dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang Cara Beriman dengan Takdir Allah Bagian 1.Cara Beriman dengan Takdir Allah adalah dengan mengimani Marotibul Qadar (tingkatkan-tingkatan takdir) yang jumlahnya ada empat:1. Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, yang ada dan yang tidak ada, yang mungkin terjadi dan yang tidak mungkin terjadi.Allah Subhānahu wa Ta’āla mengetahui yang ada di langit maupun yang ada di bumi, yang kelihatan maupun yg tidak kelihatan.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,… ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ[QS Al-Baqarah 282]“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”Dan Allah berfirman,وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ[QS Al-An’am 59]“Dan di sisi-Nya kunci-kunci ilmu ghaib, tidak mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan lautan dan tidaklah jatuh sebuah daun kecuali Allah mengetahuinya dan tidak ada satu biji di kegelapan-kegelapan bumi dan tidak ada sesuatu yang basah maupun kering kecuali semuanya tertulis di dalam kitab yang nyata (Al Lauhul Mahfudz).”Allah mengetahui yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi, bahkan Allah mengetahui apa yang tidak terjadi, seandainya terjadi bagaimana kejadiannya.Allah berfirman,… ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ[QS Al-An’am 28]“Dan seandainya mereka (yaitu orang-orang kafir) dikembalikan ke dunia niscaya mereka akan kembali melakukan apa yang mereka sudah dilarang darinya dan sesungguhnya mereka adalah berdusta.”Yaitu seandainya orang-orang kafir yang diadzab di dalam neraka yang meminta supaya dikembalikan ke dunia untuk beriman dan beramal dikabulkan permintaan mereka untuk kembali ke dunia, niscaya mereka akan kafir kembali.Dan Allah mengetahui apa yang dilakukan oleh makhluk sebelum Allah menciptakan mereka, mengetahui rezeki, ajal, dan amalan mereka, bergerak dan diamnya mereka, kesengsaraan dan kebahagiaan mereka, bahkan Allah mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk ke dalam surga dan siapa yang akan masuk ke dalam neraka sebelum Allah menciptakan mereka. Bahkan sebelum mereka diciptakan, Allah mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk surga dan siapa diantara mereka yang kelak akan masuk neraka.Rasulullah ﷺ bersabda di dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang-orang musyrikin beliau mengatakan,الله أعلم بـما كـانوا عامليـن“Allah lebih tau tentang apa yang akan mereka amalkan.” [HR Bukhari dan Muslim]Dan beliau ﷺ bersabda,ما منـكم من نفس إلا وقد علم منزلها من الجنة والنـار“Tidak ada sebuah jiwa kecuali telah diketahui tempatnya di dalam surga dan neraka.” [HR Bukhari dan Muslim]Kewajiban seorang muslim adalah berbaik sangka kepada Allah yang telah memberikan hidayah kepada agama Islam ini dan Sunnah Rasulullah ﷺ kemudian istiqamah dalam beriman dan beramal shaleh sampai dia meninggal dunia.
Kamis, 27 Agustus 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 79Pembahasan Dalil Ketujuh, Hadits Shahih Riwayat Abu Hurairah(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaSabda Rasulullah ﷺ (Lafaz Syahid):وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا"Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun."Dalil Kategori Bid'ah sebagai Kesesatan (Sabda Nabi ﷺ):وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ"Dan setiap bid'ah adalah sesat."Ayat Penyerta (Tafsiran QS. Al-Fatihah: 7):غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ"bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."Al-Maghdhubi 'alaihim merujuk pada kaum Yahudi (berilmu tapi tidak beramal). Adh-Dhāllīn merujuk pada kaum Nasrani (semangat beramal tanpa dasar ilmu).Poin-Poin Garis Besar Kandungan Pemikiran & MaknaKorelasi Makna Dhalaalah (Kesesatan) dan Bid'ah:Nabi ﷺ menyifati bid'ah sebagai dhalaalah (kesesatan) karena pelaku bid'ah beramal tanpa landasan ilmu/dalil.Karakter pelaku bid'ah serupa dengan kaum Nasrani (adh-dhāllīn): bersemangat tinggi dalam beribadah tetapi tidak didasari ilmu. Contohnya adalah tradisi rahbaniyyah (membujang demi mubalaghah ibadah) dan membangun tempat ibadah di atas kuburan orang saleh.Bahaya Menyeru kepada Bid’ah:Seseorang yang mengajak/menyeru kepada kebid’ahan akan menanggung dosa seluruh orang yang mengikutinya, meskipun ia sendiri mungkin tidak mempraktikkan amalan tersebut.Semakin banyak pengikut yang terpengaruh, semakin besar kran dosa yang mengalir kepada si penyeru tanpa mengurangi dosa para pengikutnya.Perbandingan Dosa Bid'ah dengan Dosa Besar (Kabairu Dzunub):Status Pengakuan: Pelaku maksiat/dosa besar (seperti zina atau riba) tidak meyakini perbuatannya sebagai ibadah. Sebaliknya, pelaku bid'ah menganggap kebidahannya sebagai bentuk ibadah (qurbah) untuk mendekatkan diri kepada Allah ﷻ, bahkan kerap menganggap orang yang tidak beribadah sebagai orang malas/tidak berilmu.Kadar Bobot Dosa: Walaupun ada dosa besar yang diiklankan secara terbuka (seperti ajaran maksiat, bioskop, zina, atau riba), dosa kebid’ahan dari 1 orang yang terkena dakwah bid'ah tetap jauh lebih besar bobot dosanya dibandingkan dosa maksiat dari 10 orang yang tergoda melakukan zina.KesimpulanHalaqah 79 menegaskan bahwa kebid’ahan merupakan inti dari dhalaalah (kesesatan) karena berlandaskan semangat ibadah tanpa ilmu—sebagaimana sifat kaum Nasrani (adh-dhāllīn). Penulis kitab menekankan bahwa bid'ah memiliki bahaya dan bobot dosa yang jauh lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar (kabair). Penyeru bid'ah memikul dosa berantai dari seluruh pengikutnya, sebab bid'ah dihiasi sebagai bentuk ketaatan yang mudah diikuti masyarakat, padahal kadar kejelekan satu dosa bid'ah melampaui dosa-dosa kemaksiatan seperti zina dan riba.
Halaqah 4:Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 1🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىCara Beriman dengan Takdir Allah adalah dengan mengimani Marotibul Qadar (tingkatkan-tingkatan takdir) yang jumlahnya ada empat:1. Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, yang ada dan yang tidak ada, yang mungkin terjadi dan yang tidak mungkin terjadi.Allah Subhānahu wa Ta’āla mengetahui yang ada di langit maupun yang ada di bumi, yang kelihatan maupun yg tidak kelihatan.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:… ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”[QS. Al-Baqarah: 282]Dan Allah berfirman:وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ“Dan di sisi-Nya kunci-kunci ilmu ghaib, tidak mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan lautan dan tidaklah jatuh sebuah daun kecuali Allah mengetahuinya dan tidak ada satu biji di kegelapan-kegelapan bumi dan tidak ada sesuatu yang basah maupun kering kecuali semuanya tertulis di dalam kitab yang nyata (Al Lauhul Mahfudz).” [QS. Al-An’am: 59]Allah mengetahui yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi, bahkan Allah mengetahui apa yang tidak terjadi, seandainya terjadi bagaimana kejadiannya.Allah berfirman:… ۖ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ“Dan seandainya mereka (yaitu orang-orang kafir) dikembalikan ke dunia niscaya mereka akan kembali melakukan apa yang mereka sudah dilarang darinya dan sesungguhnya mereka adalah berdusta.”[QS. Al-An’am: 28]Yaitu seandainya orang-orang kafir yang diadzab di dalam neraka yang meminta supaya dikembalikan ke dunia untuk beriman dan beramal dikabulkan permintaan mereka untuk kembali ke dunia, niscaya mereka akan kafir kembali.Dan Allah mengetahui apa yang dilakukan oleh makhluk sebelum Allah menciptakan mereka, mengetahui rezeki, ajal, dan amalan mereka, bergerak dan diamnya mereka, kesengsaraan dan kebahagiaan mereka, bahkan Allah mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk ke dalam surga dan siapa yang akan masuk ke dalam neraka sebelum Allah menciptakan mereka. Bahkan sebelum mereka diciptakan, Allah mengetahui siapa diantara mereka yang kelak akan masuk surga dan siapa diantara mereka yang kelak akan masuk neraka.Rasulullah ﷺ bersabda di dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, ketika Nabi ﷺ ditanya tentang anak-anak orang-orang musyrikin beliau mengatakan,الله أعلم بـما كـانوا عامليـن“Allah lebih tau tentang apa yang akan mereka amalkan.” [HR Bukhari dan Muslim]Dan beliau ﷺ bersabda,ما منـكم من نفس إلا وقد علم منزلها من الجنة والنـار“Tidak ada sebuah jiwa kecuali telah diketahui tempatnya di dalam surga dan neraka.” [HR Bukhari dan Muslim]Kewajiban seorang muslim adalah berbaik sangka kepada Allah yang telah memberikan hidayah kepada agama Islam ini dan Sunnah Rasulullah ﷺ kemudian istiqamah dalam beriman dan beramal shaleh sampai dia meninggal dunia.
Dan todaklah RabbMu berbuat dzalim kepada hamba²Nya
Halaqah 54 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Kerasulan Nabi Muhammad ﷺ👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahBeliau mengatakanوأرسل بالمدثرdan beliau menjadi seorang Rosul, أرسل maksudnya adalah resmi menjadi seorang Rasul dengan المدثر yaitu turunnya ayat yang pertama sampai ayat yang ketujuh dari surat Al Mudatsir. Dengannya beliau resmi menjadi seorang Rasul setelah sebelumnya ketika turun ٱقۡرَأۡ beliau menjadi seorang Nabi, yaitu orang yang diwahyukan orang yang dikabarkan.Adapun Rosul, baru beliau resmi menjadi seorang Rosul ketika diturunkan surat Al-Muddatsir aya 1 sampai ayat yang ke-7. Dinamakan Rosul karena ia diutus kepada kaum yang menyelisihi. Kepada kaum yang menyelisihi Rosul tersebut di dalam masalah tauhid. Sorang Rasul diutus kepada kaum yang menyelisihi didalam tauhid, sehingga Nabi Adam ‘Alaihissalam Nabi karena beliau diutus kepada kaum yang mereka Muwahhidin. Adapun Nuh ‘Alaihissalam maka ketika beliau diutus kepada orang-orang yang menyelisihi di dalam masalah tauhid sehingga beliau adalah Rasul. Nabi yang pertama adalah Nabi Adam, Rasul yang pertama adalah Nuh ‘Alaihissalam karena beliau diutus kepada kaum yang menyelisihi di dalam masalah tauhid. Kaumnya itulah yang pertama kali menyimpang dari Tauhid, terjerumus dalam kesyirikan. Ini adalah pendapat yang lebih dekat tentang perbedaan antara Nabi dan juga Rasul.Adapun yang mengatakan dan ini banyak di kalangan para ulama Ahlussunnah bahwasanya Nabi diwahyukan tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikan, adapun Rasul maka dia diwahyukan dan diperintahkan untuk menyampaikan wallahu ta’ala a’lam Namun bahwasanya baik Nabi maupun Rosul ini dua duanya diutus dan diperintahkan untuk berdakwah. Dalil yang menunjukkan bahwasanya Nabi juga diutus dan diperintahkan untuk berdakwah yaitu firman Allah Azza wa Jallaوَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٖ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّآ إِذَا تَمَنَّىٰٓ أَلۡقَى ٱلشَّيۡطَٰنُ فِيٓ أُمۡنِيَّتِهِۦ فَيَنسَخُ ٱللَّهُ مَا يُلۡقِي ٱلشَّيۡطَٰنُ ثُمَّ يُحۡكِمُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ ٥٢ الحج:52Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula Nabi.Menunjukkan bahwasanya baik Rosul maupun Nabi dua duanya adalah diutus oleh Allah diutus kepada manusia.وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٖ وَلَا نَبِيٍّKeduanya diutus oleh Allah kepada manusja. berarti kedua-duanya Mursal kedua-duanya diutus dan yang namanya utusan tentunya dia akan menyampaikan bukan hanya sekedar datang kemudian kembali. Ketika dia menyampaikan itulah, dakwah kedua-duanya diperintahkan untuk tabligh untuk menyampaikan.Menunjukkan bahwasanya pertama ayat ini menunjukkan perbedaan antara Rasul dan Nabi, kemudian menunjukkan bahwasanya Rosul dan Nabi kedua-duanya diperintahkan untuk menyampaikan.Didalam sebuah hadits beliau ﷺ pernah dinampakkan ketika Mi’raj umat-umat dan juga para NabinyaDinampakkan kepadaku ummat beserta Nabinya yaitu ketika Mi’raj, aku melihat seorang Nabi dan bersamanya beberapa orang dan mereka ini adalah umatnya. Dan aku melihat seorang Nabi bersamanya seorang laki-laki dan dua orang. Jadi ada seorang Nabi yang hanya memiliki satu pengikut dan ada seorang Nabi yang memiliki dua pengikut. Dan ada seorang Nabi yang tidak memiliki pengikut sama sekali.Beliau mengatakan Annabiya dan ternyata disana ada pengikutnya meskipun hanya satu atau dua atau beberapa orang, ini menunjukkan bahwasanya Nabi tersebut mereka berdakwah mereka menyampaikan. Buktinya ada pengikutnya meskipun satu atau dua tapi yang jelas mereka menyampaikan, maka ini juga dalil bahwasanya para Nabi mereka juga diperintahkan untuk tabligh menyampaikan wahyu.Diantara yang menguatkan bahwasanya Nabi diutus untuk kaum yang sama di dalam masalah tauhid, ketika Allah ﷻ menyebutkan tentang Bani Israil atau Anbiya Bani Israilإِنَّآ أَنزَلۡنَا ٱلتَّوۡرَىٰةَ فِيهَا هُدٗى وَنُورٞۚ يَحۡكُمُ بِهَا ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسۡلَمُواْ لِلَّذِينَ هَادُواْ[Al Ma”idah:44]Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat didalamnya ada petunjuk dan cahaya.Mereka berhukum dengan Taurat, Taurat diturunkan kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam, Anbiya’u Bani Israil mereka berhukum dengan taurat tersebut untuk orang-orang Yahudi. Dari sisi tauhid mereka sama dengan para Nabi tersebut akan tetapi mereka memiliki penyimpangan-penyimpangan yang lain. Kalau kita lihat di dalam Al-Mudatsir disitu mulai ada perintah untuk berdakwah kepada kaum yang menyelisihi didalam masalah tauhidيَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١ قُمۡ فَأَنذِرۡTegaklah, ingatkanlah mereka dari kesyirikan, dakwahkanlah kepada Tauhid. di dalamnya ada dakwah kepada tauhid di dalamnya ada mendakwahi orang-orang yang menyelisihi Nabi tersebut didalam masalah tauhid. dan juga didalamوَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣ وَثِيَابَكَ فطَهِّرۡ ٤semuanya adalah dakwah kepada Tauhid, karena diutus kepada kaum yang menyelisihi di dalam masalah Tauhid maka resmilah beliau menjadi seorang Rasul.
Halaqah 28- KebangkitanHalaqah yang ke-28 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Kebangkitan ”Yang dimaksud dengan kebangkitan adalah dikembalikannya arwah kepada jasad, sehingga manusia kembali hidup. Akan digoncangkan Bumi dengan segoncang-goncangnya dan terbuka kuburan manusia. Kemudian keluarlah semua manusia dari kuburnya dalam keadaan hidup. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanإِذَا زُلۡزِلَتِ ٱلۡأَرۡضُ زِلۡزَالَهَا (١) وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا (٢) وَقَالَ ٱلۡإِنسَـٰنُ مَا لَهَا“Apabila Bumi digoncang dengan segoncang-goncangnya. Dan Bumi mengeluarkan beban-bebannya. Dan berkatalah manusia, “Mengapa Bumi menjadi begini?” (Az-Zalzalah : 1-3)Dan orang yang pertama kali terbuka kuburannya adalah Rasulullah ﷺ (HR. Bukhari dan Muslim).Manusia akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan dia ketika meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda,يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِAkan dibangkitkan setiap hamba sesuai keadaan dia ketika meninggal dunia (HR. Muslim)Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwasanya orang yang meninggal dalam keadaan ihram, haji atau umroh, maka akan dibangkitkan dalam keadaan membaca talbiyah (HR. Bukhari dan juga Muslim).Orang yang memakan riba akan bangkit seperti bangkitnya orang-orang yang kesurupan yaitu dalam keadaan sempoyongan. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanٱلَّذِينَ يَأۡڪُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّۚ“Orang-orang yang memakan riba, tidak bangkit dari kuburnya, kecuali seperti bangkitnya orang-orang yang kerasukan setan.” (Al-Baqarah : 275)Inilah hari kebangkitan yang diingkari oleh orang-orang kafir dan dilalaikan oleh kebanyakan manusia. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanزَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَن لَّن يُبۡعَثُواْۚ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّى لَتُبۡعَثُنَّ“Orang-orang kafir menyangka bahwasanya mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, “Bahkan demi Rabb-ku, kalian akan dibangkitkan”. (At-Taghabun : 7)Hari yang sangat sulit dan sangat berat. Pada hari itu, manusia akan menyesal. Orang kafir akan menyesal karena tidak beriman. Dan orang beriman menyesal karena tidak maksimal di dalam beramal di Dunia. Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan kita dan orang-orang yang kita cintai, kemudahan dalam menghadapi hari yang sangat besar ini.
Halaqah 3:Kedudukan Iman Dengan Takdir Di Dalam Agama Islām🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىIman dengan takdir Allah memiliki kedudukan yang tinggi di dalam agama Islam.Diantara yg menunjukkan ketinggian kedudukannya:1. Beriman dengan takdir termasuk diantara enam Rukun Iman yang harus diimani dan pokok aqidah yang harus diyakini yang tidak sah iman seorang hamba tanpanya.2. Beriman yang benar dengan takdir Allah yang mencakup: beriman dengan Ilmu Allah, penulisan-Nya, kehendak-Nya, dan Penciptaan-Nya termasuk bagian dari Mentauhidkan Allah di dalam Rububiyah dan sifat-sifat-Nya, karena Al Qadha (memutuskan) dan Al Qadar (menentukan) adalah termasuk pekerjaan Allah dan pekerjaan Allah adalah termasuk sifat-sifat-Nya. Barangsiapa yang tidak beriman dengan takdir maka bukan seseorang yang meng-Esa-kan Allah di dalam Rububiyah-Nya dan ini membawa pengaruh buruk pada Tauhid Uluhiyahnya.Adapun orang yang beriman dengan Al Qadha dan Al Qadar maka akan terjaga Tauhid Rububiyah-Nya dan Uluhiyahnya.Berkata Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma,” الْقَدَرُ نِظَامُ التَّوْحِيدِ ، فَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَآمَنَ بِالْقَدَرِ فَهِيَ الْعُرْوَةُ الْوُثْقَى الَّتِي لا انْفِصَامَ لَهَا ، وَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ تَعَالَى وَكَذَّبَ بِالْقَدَرِ نَقْضَ التَّوْحِيدَ ” .“Takdir adalah aturan Tauhid, barangsiapa mengesakan Allah dan beriman dengan takdir maka inilah tali yang kuat yang tidak akan terlepas. Dan barangsiapa mentauhidkan Allah dan mendustakan takdir maka dia telah melepaskan tauhidnya.” [Atsar ini dikeluarkan oleh Al Firyabi di dalam Kitab Beliau Al Qadar hal 143]Yang dimaksud dengan takdir adalah aturan Tauhid yaitu beriman dengan takdir menjadikan teratur dan lurus tauhid seseorang.3. Beriman dengan takdir Allah adalah beriman dengan Qudratullah (kemampuan Allah). Barangsiapa yang tidak beriman dengan takdir berarti dia tidak beriman dengan Qudratullah.Berkata Zaid Ibnu Aslam:القدر قدرة الله عز وجل ، فمن كذب بالقدر؛ فقد جحد قدرة الله عز وجل“Takdir adalah kemampuan Allah azza wajalla, barangsiapa yang mendustakan takdir maka dia telah mengingkari kemampuan Allah azza wajalla.” [Atsar ini diriwayatkan oleh Al Firyabi di dalam Kitab Beliau Al Qadar hal 144].4. Beriman dengan takdir berkaitan dengan hikmah Allah, Ilmu-Nya, Kehendak-Nya, dan Penciptaan-Nya.Maka barangsiapa yang mengingkari takdir berarti dia telah mengingkari Ilmu Allah, Kehendak-Nya, dan Penciptaan-Nya.5. Beriman yang benar dengan takdir Allah akan membuahkan kebaikan yang banyak dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.Sebagaimana akan datang penyebutannya di halaqah-halaqah yang terakhir dari silsilah ini. Dan kebodohan tentang beriman dengan takdir ataupun kesalahpahaman menyebabkan berbagai penyimpangan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.6. Beriman dengan takdir adalah aqidah seluruh para Nabi dan para pengikut mereka.Allah berfirman tentang Nabi Nuh alaihissalam:قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ…“Nuh berkata sesungguhnya Allah-lah yang akan mendatangkan tanda kekuasaan-Nya apabila Dia menghendaki.”[QS. Hud: 33]Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman tentang Nabi Ismail alaihissalam,… ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ“Ismail berkata, wahai bapakku kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan mendapatkan diriku termasuk orang-orang yang sabar apabila Allah menghendaki.”[QS. Ash-Shaffat :102]Dan Allah berfirman tentang Nabi Musa alaihissalam,… قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ ۖ…“Musa berkata, wahai Rabb-ku seandainya Engkau menghendaki niscaya Engkau telah menghancurkan mereka dan diriku sebelum ini.”[QS.Al-A’raf :155]Tiga ayat di atas menunjukkan keimanan para Nabi alaihimussallam terhadap takdir Allah azza wajalla.7. Diantara yg menunjukkan ketinggian kedudukan beriman dengan takdir di dalam agama Islam bahwa takdir berkaitan langsung dengan kehidupan manusia setiap harinya, seperti: sehat, sakit, kaya, miskin, kuat, lemah, bahagia, sengsara, nikmat, adzab, hidayah, kesesatan dll.
Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi RahimahullahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-78 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan raḥimahullāhu taʿālāمَنْ سَعِدَ بِقَضَاءِ اللهِ، والشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ بِقَضَاءِ اللهِDan orang yang bahagia adalah orang yang bahagia dengan takdir Allāh. Maksudnya bagaimana? Orang yang bahagia di dunia adalah orang yang memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ menjadi orang yang bahagia. Kebahagiaan dia adalah dengan takdir Allāh ﷻ yang telah ditentukan dan ditulis oleh Allāh ﷻ. Demikian pula sebaliknyaوالشَّقِيُّ مَنْ شَقِيَ بِقَضَاءِ اللهِDan orang yang celaka adalah orang yang celaka dengan takdir Allāh.Artinya, kecelakaan dan musibah yang menimpanya adalah dengan takdir Allāh. Kebahagiaan seseorang adalah dengan takdir Allāh, dan begitu pula kecelakaan atau kebinasaan seseorang juga dengan takdir Allāh.وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكِتَابِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌBerarti seorang menjadi bahagia dengan takdir Allāh, dan seorang menjadi celaka juga dengan takdir Allāh. Kebahagiaan dan kecelakaan itu sudah ditulis oleh Allāh ﷻ.Ini semua adalah ajakan dari beliau untuk beriman kepada takdir, dan merupakan bagian dari aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jamāʿah. Bahkan, beriman kepada takdir adalah rukun iman yang keenam, dan termasuk pondasi aqidah.Oleh karena itu, seseorang harus bergantung kepada Allāh ﷻ dan bertawakkal kepada-Nya, karena kebahagiaan dengan takdir Allāh ﷻ, begitu pula kecelakaan dengan takdir Allāh ﷻ, berarti dia bergantung hanya kepada Allāh ﷻ saja. Tidak mungkin seseorang bisa bahagia kecuali dengan kemudahan dari Allāh ﷻ, dan kecelakaan yang terjadi pun dengan takdir-Nya. Maka, seseorang harus senantiasa meminta kepada Allāh ﷻ dan tidak bergantung kepada makhluk.Ini menunjukkan hubungan yang erat antara keimanan kepada takdir dengan Tauhid ulūhiyyah. Orang yang beriman kepada takdir Allāh ﷻ, maka dia akan bergantung dan bertawakkal hanya kepada Allāh ﷻ, bukan kepada makhluk. Karena beriman kepada takdir Allāh ﷻ adalah bagian dari keimanan kepada rubūbiyyah Allāh ﷻ. Beriman kepada takdir Allāh ﷻ, berarti kita beriman kepada Qudratullah (kekuasaan Allāh ﷻ). Orang yang mengingkari takdir Allāh ﷻ berarti dia mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ.
Halaqah 53 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Umur dan Kenabian Nabi Muhammad ﷺ👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahDiantara yang ingin beliau kenalkan disini adalah tentang umur beliau, ini bukan termasuk kadar yang minimal tapi dia adalah tambahan yang tentunya apabila seseorang semakin banyak mengenal tentang beliau ﷺ. Bahwasanya seseorang apabila cinta kepada sesuatu dan kecintaan dia adalah kecintaan yang sebenarnya maka dia akan senang untuk mengenal sesuatu tersebut. وله من العمر ثلاث وستون سنةBeliau memiliki umur 63 tahun. Allah ﷻ memberikan umur kepada beliau 63 tahun.منها أربعون63 tahun tadi terbagi menjadi dua, 40 tahun adalahقبل النبوةmaksudnya 40 tahun semenjak beliau dilahirkan maka itu adalah sebelum beliau diangkat oleh Allah ﷻ menjadi seorang Nabi menjadi seorang Rosul. وثلاث وعشرون نبيا رسولاAdapun 23 tahun yang selanjutnya menunjukkan bahwasanya beliau diangkat dan pertama kali turun kepada beliau wahyu adalah ketika beliau berumur 40 tahun dan demikian para nabi dan juga para rasul dan umur tersebut yaitu umur 40 tahun, adalah umur yang istimewa bagi manusia. Disitulah seseorang matang di dalam berpikir, matang didalam akalnya, maka hikmah dari Allah ﷻ, para Nabi dan para Rosul semuanya atau sebagian besarnya diangkat menjadi Nabi dan juga Rosul itu adalah ketika mereka berumur 40 tahun termasuk diantaranya adalah Rosulullah ﷺ.نبئ بإقرأyaitu diangkat menjadi seorang Nabi dan resmi menjadi seorang Nabi, adalah dengan ٱقۡرَأۡ maksudnya adalah dengan diturunkannya :ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَSekedar turun kalimat yang pertama ٱقۡرَأۡ maka beliau sudah menjadi seorang Nabi, karena ini adalah kalimat yang pertama dan ini bagian dari wahyu, sekedar itu turun kepada beliau maka beliau resmi menjadi seorang Nabi. Karena seorang Nabi adalah orang yang diberikan Wahyu kepadanya. نبئ berasal dari kata Naba’ artinya adalah kabar.ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١ خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِنۡ عَلَقٍ ٢ ٱقۡرَأۡ وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ ٣ ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ ٤ عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ مَا لَمۡ يَعۡلَمۡ ٥QS. Al-Alaq : 1-5Ketika beliau ﷺ berada di atas Gua Hira yang saat itu dijadikan beliau senang untuk menyendiri beribadah kepada Allah ﷻ, memikirkan tentang khalqullah, beribadah dengan Al-Hanifiyyah agamanya Nabi Ibrahim bapak beliau, di atas gunung di dalam gua jauh dari hiruk pikuk orang-orang jahiliyah dengan kejahiliyahan mereka dengan kesyirikan mereka dengan kerusakan mereka.Maka beliau ﷺ saat itu dijadikan senang oleh Allah ﷻ untuk yatahannath. Beliau menyendiri dan beliau ﷺ saat itu sudah memiliki Khadijah, beliau terkadang beberapa hari di sana setelah diberikan bekal oleh Khadijah dan sesuai dengan bekal itulah beliau tinggal di atas gunung didalam gua tersebut sampai suatu malam datang dan turun kepada beliau malaikat Jibril ‘Alaihissalam kemudian mewahyukan kepada beliau wahyu yang pertama yang dengannya beliau resmi menjadi seorang Nabi.نبئ بإقرأadalah isyarat kepada Al-Alaq ayat 1 sampai ayat yang ke-5
Halaqah yang ke tiga dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau menyebutkan perkara yang pertama yang dipahami oleh orang-orang awam di kalangan kaum muslimin akan tetapi banyak orang-orang cerdas yang tidak memahami perkara ini.Beliau mengatakan,اَلْأَصْلُ الْأَوَّلُ : إِخْلَاصُ الدِّيْنِ لِلهِ تَعَالَى وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لهُ ، وَبَيَانُ ضِدِّهِ الذِيْ هُوَ الشِّرْكُ بِاللهِPerkara yang pertama adalah:Mengikhlaskan agama untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla, tidak ada sekutu baginya, dan menjelaskan lawan dari keikhlasan ini yaitu syirik kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Diantara perkara yang sudah Allah jelaskan di dalam Al Qur’an dengan penjelasan yang gamblang (penjelasan sangat jelas) adalah masalah mengikhlaskan agama ini hanya untuk Allah dan bahwasanya tidak ada sekutu bagi Allah Subhānahu wa Ta’āla, juga menjelaskan tentang bahaya syirik kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Ini semua Allah sebutkan dengan jelas di dalam Al Qur’an.وَكَوْنُ أَكْثَرِ الْقُرْآنِ فِي بَيَانِ هَذَا الْأَصْلِ مِنْ وُجُوْهٍ شَتَّى بِكَلَامٍ يَفْهَمُهُ أَبْلَدُ الْعَامَّةِDan bahwasanya sebagian besar ayat-ayat Al Qur’an adalah untuk menjelaskan tentang:1. Ikhlas kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla di dalam ibadah.2. Menjelaskan tentang bahayanya kesyirikan di dalam beribadah kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.مِنْ وُجُوْهٍ شَتَّى“Dalam bentuk-bentuk yang sangat berbeda, dengan cara yang berbeda.”Artinya Allah Subhānahu wa Ta’āla di dalam Al Qur’an menjelaskan tentang perkara ini dalam berbagai cara (penjelasan).بِكَلَامٍ يَفْهَمُهُ أَبْلَدُ الْعَامَّةِ“Dengan ucapan yang dipahami oleh bahkan orang yang paling bodoh diantara orang-orang awam.”Oleh karena itu sebagian ulama mengatakan Al Qur’an ini sebenarnya semuanya adalah tauhid dari awal sampai akhir.Dan diantara buktinya, surat yang pertama, demikian pula surat yang terakhir isinya adalah tentang masalah tauhid.Al Fatihah penuh dengan makna tauhid.ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ۞ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ ۞ مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ ۞ إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُDi dalamnya ada:• Tauhid Asma’ wa Shifat• Tauhid rububiyah• Tauhid al uluhiyyahإِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ“Hanya kepada-Mu lah Ya Allah, kami menyembah dan hanya kepada-Mulah Ya Allah, kami memohon pertolongan.”Demikian pula surat An Naas,( قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ مَلِكِ ٱلنَّاسِ إِلَـٰهِ ٱلنَّاسِ)Ini semua adalah tauhid kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla (meminta perlindungan kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla) Raja manusia, sesembahan manusia.Semua surat di dalam Al Qur’an isinya adalah tentang tauhid.Penjelasan tentang bagaimana keutamaan tauhid, bagaimana cara bertauhid, penjelasan tentang bahaya kesyirikan, apa bentuk kesyirikan, penjelasan tentang pahala bagi orang yang bertauhid dan adzab bagi orang yang berbuat syirik.Bahkan kisah-kisah yang ada di dalam Al Qur’an banyak diantaranya yang berkaitan dengan masalah tauhid.Bagaimana kisah nabi Nuh alayhissallam?Kisahnya adalah bagaimana beliau berdakwah dan mendakwahi umatnya kepada tauhid.Demikian pula kisah nabi Shalih, nabi Hud, nabi Syu’aib dan juga nabi-nabi yang lain.Kalau kita tadabburi ternyata Al Qur’an semuanya adalah masalah tauhid. Masalah (mengikhlaskan ibadah untuk Allah Subhānahu wa Ta’āla) dan tentang bahaya kesyirikan.Namun ternyata banyak diantara manusia yang tidak memahami tentang perkara ini.Bahkan termasuk orang yang cerdas diantara mereka.Kenapa demikian?Diantara sebabnya adalah:1. Al I’rodh (seseorang berpaling dari agama Allah Subhānahu wa Ta’āla).Tidak mau mempelajari agama Allah, sibuk dengan yang lain (sibuk dengan dunianya, sibuk dengan hobinya).Dan dia berpaling tidak mau menekuni dan tidak mau mempelajari agama Allah Subhānahu wa Ta’āla.2. Al Kibr (sombong).Dia mengetahui kebenaran akan tetapi dia tidak mau mengamalkan dan menerima kebenaran tersebut.Sebagaimana dilakukan oleh iblis ketika diperintahkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla melakukan sujud penghormatan kepada nabi Adam alayhissallam akan tetapi enggan dan sombong, dan dia adalah termasuk orang-orang yang kafir.Al Qur’an diturunkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla tujuan utamanya adalah untuk diamalkan, ditadabburi, dipahami dan bukan hanya sekedar dibaca atau diperbaiki tajwidnya atau diambil berkahnya ketika membaca.Semua itu adalah termasuk kebaikan, akan tetapi bukan tujuan utama diturunkannya Al Qur’an.Tujuan utama diturunkannya Al Qur’an adalah untuk ditadabburi kemudian setelah itu diamalkan di dalam kehidupan kita sehari-hari.كِتَـٰبٌ أَنزَلْنَـٰهُ إِلَيْكَ مُبَـٰرَكٌۭ لِّيَدَّبَّرُوٓا۟ ءَايَـٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَـٰبِ(QS. Sad: 29)Sebuah Kitab (Al Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu yang berbarokah supaya mereka manusia mentadabburi ayat-ayat Allah Subhānahu wa Ta’āla, memikirkan, membaca, kemudian memahami maknanya dan memikirkan makna tersebut. Dan supaya orang-orang yang cerdas dan berakal mengingat Allah Subhānahu wa Ta’āla dengan membaca ayat-ayat tersebut.
Rabu, 26 Agustus 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 78Pembahasan Dalil Ketujuh, Hadits Shahih Riwayat Abu Hurairah(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A hafizhahullāhu ta'ālaMatan Ringkas Penulis Kitab & Sumber Periwayatanوَلَهُ: مِثْلُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَلَفْظُهُ: «مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى» ثُمَّ قَالَ: «وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ...»"Dan di dalam Shahih Muslim juga terdapat hadits semisalnya dari riwayat Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, dengan lafaz: 'Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk...', kemudian beliau bersabda: 'Dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan...'"Dalil Utama & Sabda RasulullahSyahid Bagian Pertama (Kebaikan):مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِك مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا"Barang siapa yang mengajak kepada petunjuk, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun."Syahid Bagian Kedua (Kesesatan):وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ"Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya."Garis Besar Kandungan Pemikiran & MaknaBatasan Penerimaan Pahala (Man Tabi'ahu):Pahala mengajak (da'a) tidak dihitung dari jumlah seluruh orang yang didakwahi, melainkan dari jumlah orang yang mengikutinya/mendapat hidayah dari sebab dakwah tersebut.Pahala pengikut tidak dikurangi sedikitpun oleh Allah ﷻ.Perbedaan Hadits Jarir bin Abdillah (Man Sanna) dan Hadits Abu Hurairah (Man Da'a):Hadits Jarir (Man Sanna): Mengajak melalui teladan perbuatan/tindakan langsung (qudwah), kemudian diamalkan oleh orang lain.Hadits Abu Hurairah (Man Da'a): Mengajak melalui lisan/dakwah terbuka (berbicara/menyampaikan), menyeru orang lain untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu.Rincian Perbedaan Lafaz Redaksi Pahala:Pada hadits Man Sanna, terdapat lafaz falahu ajruha wa ajru man 'amila biha (ia mendapat pahala amalnya sendiri + pahala pengikutnya) karena ia mempraktikkan langsung amalan tersebut.Pada hadits Man Da'a, tidak disebutkan falahu ajruha, melainkan lahu min al-ajri mithlu ujuri man tabi'ahu. Hal ini karena seorang da'i bisa saja mengajak kepada amalan yang belum/tidak bisa ia kerjakan karena ada sebab syar'i (contoh: seorang da menjelaskan/mengajak orang kaya untuk bersedekah, padahal sang da'i sendiri orang fakir). Ia tetap berhak menerima pahala orang yang mengikuti ajakannya.KesimpulanHadits riwayat Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu melengkapi hadits sebelumnya dengan menegaskan bahwa ajakan dakwah melalui lisan (man da'a) memiliki kedudukan hukum dan ganjaran berantai yang sama dengan teladan perbuatan (man sanna). Seseorang yang menyeru kepada petunjuk akan memperoleh pahala sebanyak orang yang mengikutinya—meskipun sang penyeru belum/tidak dapat mempraktikkan amalan tersebut karena alasan syar'i—tanpa mengikis pahala para pengikutnya. Sebaliknya, siapa pun yang menyeru kepada kesesatan akan memikul dosa berantai sebanyak dosa orang-orang yang mengikuti seruan sesatnya.
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah memulai kitab Al-Ushulu Ats-Tsalasah dengan Basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) sebagai bentuk mengikuti Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ.Poin-Poin Penting1. Mengapa memulai dengan Basmalah?Mengikuti Allah yang memulai Al-Qur’an dengan Basmalah.Mengikuti Rasulullah ﷺ yang memulai surat-surat dakwahnya dengan Basmalah.2. Makna huruf “Ba” (ب) dalam BismillahBermakna memohon pertolongan (isti’anah) kepada Allah.Setiap amal dilakukan dengan meminta bantuan dan keberkahan dari Allah.3. Makna “Ismullah” (Nama Allah)Mencakup seluruh nama Allah yang indah (Al-Asmaul Husna).Saat mengucapkan “Bismillah”, seorang hamba memohon pertolongan dengan seluruh nama Allah.4. Keutamaan Nama Allah (Lafzhul Jalalah)Nama “Allah” adalah nama yang paling agung.Seluruh nama Allah lainnya disandarkan kepada nama Allah, seperti:Ar-RahmanAr-RahimAl-MalikAl-QuddusAs-SalamAl-Aziz5. Makna Nama AllahBerasal dari kata Al-Ilah yang berarti sesembahan.Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah.Disembah oleh:Malaikat di langit.Orang-orang beriman di bumi.6. Perbedaan Ar-Rahman dan Ar-RahimAr-RahmanKasih sayang Allah yang umum untuk seluruh makhluk:Orang beriman maupun kafir.Berupa rezeki, kesehatan, makanan, keluarga, dan berbagai nikmat dunia.Ar-RahimKasih sayang Allah yang khusus untuk orang beriman:Hidayah.Iman.Taufik beramal saleh.Rahmat khusus di dunia dan akhirat.Dalil:“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”(QS. Al-Ahzab: 43)Hikmah dan Pelajaran🌿 Setiap aktivitas hendaknya diawali dengan Bismillah.🌿 Seorang muslim harus menyadari bahwa seluruh keberhasilan hanya terjadi dengan pertolongan Allah.🌿 Nama Allah adalah nama yang paling agung dan mencakup seluruh sifat kesempurnaan.🌿 Rahmat Allah sangat luas, meliputi seluruh makhluk-Nya.🌿 Orang beriman mendapatkan rahmat yang lebih istimewa berupa hidayah, iman, dan taufik untuk beramal saleh.Kalimat Inti“Bismillah” bukan sekadar ucapan pembuka, tetapi pengakuan bahwa seluruh amal hanya bisa terlaksana dengan pertolongan Allah, Rabb yang Maha Pengasih kepada seluruh makhluk dan Maha Penyayang khusus kepada orang-orang beriman. 🤍
Selasa, 25 Agustus 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 77Pembahasan Dalil Keenam, Hadits Shahih Riwayat Jarir Bin Abdillah (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ"Dan barang siapa yang menempuh/mengamalkan di dalam Islam sunnah yang buruk (sayyi'ah), lalu diamalkan oleh orang setelahnya, maka ditulis baginya dosa seperti dosa orang yang mengamalkannya tanpa dikurangi dari dosa-dosa mereka sedikit pun."(Catatan: Lafaz yang terdapat dalam Shahih Muslim adalah sunnah sayyi'ah, bukan sunnah jahiliyyah, walau secara makna mencakup hal yang sama).Dalil-Dalil Penyerta:Dalil Bahwa Bid'ah Bertentangan dengan Islam:مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ"Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak."Dalil Kesesatan Bidah (Pendapat Sahabat/Atsar):كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً"Setiap bid'ah adalah sesat, meskipun manusia melihatnya sebagai sesuatu yang baik (hasanah)."Poin-Poin Garis Besar KandunganHakikat Sunnah Sayyi'ah:Segala amalan yang bertentangan dengan ajaran Islam atau amalan jahiliyyah yang tidak ada tuntunannya di dalam Islam, di mana salah satu bentuk utamanya adalah perbuatan bid’ah.Ancaman Dosa Berantai:Pelopor bid'ah atau amalan buruk akan menanggung dosa pribadinya sekaligus menanggung dosa orang-orang yang mengikutinya sampai hari kiamat tanpa mengurangi dosa para pengikutnya sedikit pun.Alasan Bid'ah Lebih Bahaya daripada Dosa Besar (Kaba'ir):Status Keadaan Pelaku: Pelaku dosa besar (seperti zina, khamar, merokok, atau riba) menyadari dan mengakui bahwa perbuatannya adalah kemaksiatan/kejelekan. Mereka umumnya malu, menyembunyikannya dari keluarga, dan tidak mendakwahkannya.Jeratan Penyesatan Bid’ah:Perbuatan bid'ah dihiasi oleh setan sehingga pelakunya menganggapnya sebagai kebaikan, bentuk qurbah (mendekatkan diri kepada Allah), dan media ibadah.Daya Sebar: Karena dianggap sebagai kebaikan, pelaku bid'ah tidak ragu untuk bangga, menyebarkan, dan mendakwahkannya kepada orang lain atau keluarganya. Akibatnya, bid'ah lebih cepat dicontoh dan diikuti oleh orang lain, yang menjadikan dosanya kian berlipat ganda bagi si pelopor.KesimpulanHadits riwayat Jarir bin Abdillah radhiyallāhu 'anhu dalam Shahih Muslim menegaskan bahaya sunnah sayyi'ah (khususnya bidah). Bidah tergolong lebih berbahaya daripada dosa besar (kaba'ir) karena bid'ah terselubung dalam bentuk kebaikan yang dihiasi setan, sehingga pelakunya merasa sedang beribadah dan aktif menyebarkannya. Hal ini menyebabkan perbuatan bid'ah sangat mudah dicontoh orang lain, yang pada akhirnya memberikan beban dosa berantai dan berlipat ganda kepada orang yang pertama kali memeloporinya tanpa mengurangi dosa pengikutnya sedikit pun.