🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 77 | Amalan Seseorang Dinilai di Akhirnya Bagian 2

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi RahimahullahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-77 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ“Dan amalan-amalan adalah dengan akhir-akhirnya.”Amalan yang dianggap  di sisi Allāh ﷻ itu adalah sesuai dengan amalan terakhir yang dia lakukan.Disebutkan dalam sebuah riwayat:فِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِDia mengamalkan amalan penduduk Surga sesuai dengan apa yang terlihat oleh manusia.Dzhahirnya, dia melakukan amalan penduduk Surga. Bagaimana dengan batinnya? Batinnya, Allāh yang tahu. Jadi, dzhahirnya dia mungkin berpakaian Muslim, dzhahirnya dia pergi ke masjid, dzhahirnya dia berinfaq. Tapi Allāh mengetahui apa yang ada di dalam hati seseorang.Inilah yang menyebabkan dia tidak istiqāmah, mungkin ada riya’, mungkin ada kesombongan, dan Allāh ﷻ tidak bisa ditipu. Itulah yang menjadikan ketidakistiqāmahan, karena seseorang hanya memperhatikan amalan dzhahirnya saja, sementara di dalam hatinya menyimpan kebusukan, ketidakikhlasan. Ketika dia bersama orang lain, yang terlihat adalah kebaikan, amal shāliḥ, tapi ketika sendirian, dia melakukan kemaksiatan.فِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِSesuai dengan apa yang dilihat oleh manusia.Baik, tapi ketika sendirian, tanpa ada yang melihat, dia mengikuti hawa nafsunya. Ini yang menjadi sebab seseorang menyimpang. Sebelumnya berada di shaf terdepan dalam menuntut ilmu, tapi kemudian mulai menjauh, hingga akhirnya tidak terlihat sama sekali. Bahkan sudah terdengar dia berada di barisan lain, bukan lagi di barisan Ahlussunnah, melainkan mengikuti Ahlul Bid’ah.Berarti ucapan beliauفِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِSesuai dengan apa yang dilihat oleh manusia, ini menunjukkan pentingnya menjaga batin kita. Beramal shāliḥ, menuntut ilmu, shalat, tapi jangan hanya memperhatikan dzhahir saja. Kita juga harus memperhatikan batin dan keikhlasan, agar Allāh ﷻ menjaga kita. Jika seseorang menjaga amalan shāliḥ baik yang dzhahir maupun yang batin, maka insyā Allāh dia akan terus diberikan taufiq oleh Allāh ﷻ.Dengan syarat apa? Dengan syarat menjaga dzhahir dan batin. Dia berusaha sebagai seorang Salafi, mengikuti salaf baik dzhahiran maupun bāṭinan, dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain. Maka orang yang demikian, insyā Allāh, akan dijaga oleh Allāh ﷻ.Barang siapa yang hidup di atas sesuatu, maka dia akan meninggal di atas sesuatu tersebut.مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِBarang siapa yang hidup di atas sesuatu, maksudnya adalah dzhahiran wa bāṭinan (dzhahir dan batin) dia hidup di atas Sunnah, di atas ketaatan kepada Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ akan memuliakannya dengan mematikannya di atas Sunnah dan Islām. Ini bagi orang dzahir dan batinnya baik, makanya kita berusaha untuk memperbaiki batin kita.وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِBarang siapa yang meninggal di atas sesuatu, maka dia akan dibangkitkan di atas sesuatu tersebut.Ini bukan hadith, tapi ini adalah sesuatu yang sering kita dengar.Dalam sebuah hadith, misalnya, orang yang meninggal dalam keadaan bertalbiyah, maka Allāh ﷻ akan membangkitkannya dalam keadaan bertalbiyah.Jadi, jika seseorang ingin dibangkitkan oleh Allāh ﷻ dalam keadaan baik, maka dia harus menjaga dzhahir dan batinnya. Jangan hanya memperhatikan dzhahir. Yang menyebabkan seseorang menyimpang adalah karena rusaknya batin.Jika seseorang menjaga dzhahir dan batinnya, insyā Allāh, Allāh ﷻ akan menjaganya, sebagaimana dia hidup di atas ketaatan, maka dia juga akan meninggal di atas ketaatan.وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ…Salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk Neraka. Dia adalah seorang yang kafir, melakukan apa yang dia inginkan berupa perbuatan yang haramحَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌSehingga tidak ada antara dia dan Neraka kecuali satu jengkal saja, menunjukkan dekatnya dia dengan Neraka. Tinggal dia mati, maka dia akan masuk ke dalam Neraka karena dia berada di atas kekufuran.فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُNamun, telah ditulis oleh Allāh sebelumnya dalam Lauḥul Maḥfūẓ bahwa orang ini akan masuk ke dalam Surga, jika memang demikian, akan dimudahkan oleh Allāh.فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِAkhirnya dia pun mengamalkan amalan penduduk Surga. Entah bagaimana, dia masuk ke dalam agama Islām dan istiqāmah.فَيَدْخُلُهَاLalu dia pun masuk ke dalam Surga.Ada saja sebab kalau Allāh ﷻ menghendaki seseorang masuk ke dalam Surga, maka Allāh ﷻ akan menjadikan sebab-sebab sehingga dia pun masuk ke dalam agama Islām, istiqāmah, dan meninggal di atas agama Islām.Hal ini menunjukkan bahwa Al-A’māl bil-Khawātim—amalan itu sesuai dengan akhirnya. Karena itu, jangan sampai seseorang tertipu dengan keadaan dirinya saat ini. Dia tidak tahu apa yang akan menjadi akhir dari amalannya. Oleh karena itu, seseorang harus memperbanyak doa:يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal-Qulūb, ṯsabbit qalbī ʿalā dīnik!Ya Allāh, tetapkan hatiku di atas agama-Mu!Mengulang-ulang doa ini, khawatir kalau kemaksiatan yang kita lakukan bisa jadi akan membawa kita melakukan perkara yang lebih besar dari itu.Ini termasuk doa yang sering dibaca oleh Nabi ﷺ. Hati manusia berada di antara jari-jari Allāh ﷻ, yang Dia gerakkan dan goyangkan sebagaimana yang Dia kehendaki. Sekarang kita mencintai Tauhid, kita senang kepada Sunnah Nabi ﷺ, kita mencintai ilmu. Alḥamdulillāh, Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada kita.Namun, ingatlah, hati manusia berada di antara jari-jari Allāh ﷻ, yang Dia gerakkan sesuai dengan apa yang Dia inginkan. Karena itu, seseorang harus senantiasa berdoa kepada Allāh ﷻ agar diberikan ketetapan hati. Allāh ﷻ berfirman:رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُRabbana la tuzigh qulubana ba’da idh hadaitana wahab lana milladunka raḥmatan innaka Antal-Wahhāb.Ya Allāh , janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan hidayah kepada kami.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman Kepada Takdir Halaqah 2

Halaqah yang ke dua dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Dalil Wajibnya Beriman dengan Takdir Allah”.Beriman dengan takdir Allah yang baik dan yang buruk adalah termasuk salah satu diantara enam rukun iman yang harus diimani dan telah tetap kewajibannya di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma.Dari Al-Qur’an Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ[QS Al-Qamar 49] “Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan.”Dan Allah berfirman,… وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا[QS Al-Furqan 2] “Dan Dia menciptakan segala sesuatu maka Dia pun menentukan dengan sebenar-benar penentuan.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,… ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا[QS Al-Ahzab 38] “Dan perkara Allah adalah ketentuan yang sudah ditakdirkan.”Adapun dari As-Sunnah maka Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril alaihissalam tentang iman,أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” [HR Muslim] Dan beliau ﷺ bersabda,كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى العَجْزُ والكَيْسُ“Segala sesuatu dengan takdir sampai ketidak mampuan dan kecerdasan.” [HR Muslim]Adapun dari Ijma, maka kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya beriman dengan takdir Allah dan bahwasanya orang yang mengingkari takdir Allah maka dia telah keluar dari agama Islam.Berkata Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika mendengar tentang munculnya orang-orang yang mengingkari takdir dan bahwasanya kejadian terjadi dengan sendirinya tanpa takdir.فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ“Apabila kamu bertemu dengan mereka maka kabarkanlah kepada mereka bahwa aku (Abdullah Ibnu Umar) berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian menginfakkannya maka Allah tidak akan menerima darinya sampai dia beriman dengan takdir.” [Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya]Yang demikian karena Allah tidak menerima amalan orang yang kafir dan termasuk kekufuran apabila seseorang mengingkari takdir Allah azza wajalla.Berkata Al Imam An Nawawi rahimahullah,وَقَدْ تَظَاهَرَتِ الْأَدِلَّةُ الْقَطْعِيَّاتُ مِنَ الْكِتَابِ وِالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ وَأَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ عَلَى إِثْبَاتِ قَدَرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى“Telah banyak dalil-dalil yang jelas tetapnya yang saling menguatkan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma Shahabat dan para Ahlul Halli wal Aqdi, (yaitu orang-orang yang punya wewenang dari tokoh-tokoh kaum muslimin) dari kalangan salaf dan kholaf yang menunjukkan atas penetapan takdir Allah Subhānahu wa Ta’āla.” [Al Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj jilid I hal 155] Dan berkata Ibnu Hajar rahimahullah,و مذهب السلف قاطبة أن الأمورَ كلها بتقدير الله تعالى“Dan Manhaj seluruh salaf bahwa perkara-perkara semuanya dengan takdir Allah Ta’āla.” [Fathul Baari jilid 11 hal 478]

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 77

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 77 | Amalan Seseorang Dinilai di Akhirnya Bagian 2Halaqah 77 | Amalan Seseorang Dinilai di Akhirnya Bagian 2Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-77 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ“Dan amalan-amalan adalah dengan akhir-akhirnya.”Amalan yang dianggap  di sisi Allāh ﷻ itu adalah sesuai dengan amalan terakhir yang dia lakukan.Disebutkan dalam sebuah riwayat:فِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِDia mengamalkan amalan penduduk Surga sesuai dengan apa yang terlihat oleh manusia.Dzhahirnya, dia melakukan amalan penduduk Surga. Bagaimana dengan batinnya? Batinnya, Allāh yang tahu. Jadi, dzhahirnya dia mungkin berpakaian Muslim, dzhahirnya dia pergi ke masjid, dzhahirnya dia berinfaq. Tapi Allāh mengetahui apa yang ada di dalam hati seseorang.Inilah yang menyebabkan dia tidak istiqāmah, mungkin ada riya’, mungkin ada kesombongan, dan Allāh ﷻ tidak bisa ditipu. Itulah yang menjadikan ketidakistiqāmahan, karena seseorang hanya memperhatikan amalan dzhahirnya saja, sementara di dalam hatinya menyimpan kebusukan, ketidakikhlasan. Ketika dia bersama orang lain, yang terlihat adalah kebaikan, amal shāliḥ, tapi ketika sendirian, dia melakukan kemaksiatan.فِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِSesuai dengan apa yang dilihat oleh manusia.Baik, tapi ketika sendirian, tanpa ada yang melihat, dia mengikuti hawa nafsunya. Ini yang menjadi sebab seseorang menyimpang. Sebelumnya berada di shaf terdepan dalam menuntut ilmu, tapi kemudian mulai menjauh, hingga akhirnya tidak terlihat sama sekali. Bahkan sudah terdengar dia berada di barisan lain, bukan lagi di barisan Ahlussunnah, melainkan mengikuti Ahlul Bid’ah.Berarti ucapan beliauفِيْمَا يَظْهَرُ لِلنَّاسِSesuai dengan apa yang dilihat oleh manusia, ini menunjukkan pentingnya menjaga batin kita. Beramal shāliḥ, menuntut ilmu, shalat, tapi jangan hanya memperhatikan dzhahir saja. Kita juga harus memperhatikan batin dan keikhlasan, agar Allāh ﷻ menjaga kita. Jika seseorang menjaga amalan shāliḥ baik yang dzhahir maupun yang batin, maka insyā Allāh dia akan terus diberikan taufiq oleh Allāh ﷻ.Dengan syarat apa? Dengan syarat menjaga dzhahir dan batin. Dia berusaha sebagai seorang Salafi, mengikuti salaf baik dzhahiran maupun bāṭinan, dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain. Maka orang yang demikian, insyā Allāh, akan dijaga oleh Allāh ﷻ.Barang siapa yang hidup di atas sesuatu, maka dia akan meninggal di atas sesuatu tersebut.مَنْ عَاشَ عَلَى شَيْءٍ مَاتَ عَلَيْهِBarang siapa yang hidup di atas sesuatu, maksudnya adalah dzhahiran wa bāṭinan (dzhahir dan batin) dia hidup di atas Sunnah, di atas ketaatan kepada Allāh ﷻ, maka Allāh ﷻ akan memuliakannya dengan mematikannya di atas Sunnah dan Islām. Ini bagi orang dzahir dan batinnya baik, makanya kita berusaha untuk memperbaiki batin kita.وَمَنْ مَاتَ عَلَى شَيْءٍ بُعِثَ عَلَيْهِBarang siapa yang meninggal di atas sesuatu, maka dia akan dibangkitkan di atas sesuatu tersebut.Ini bukan hadith, tapi ini adalah sesuatu yang sering kita dengar.Dalam sebuah hadith, misalnya, orang yang meninggal dalam keadaan bertalbiyah, maka Allāh ﷻ akan membangkitkannya dalam keadaan bertalbiyah.Jadi, jika seseorang ingin dibangkitkan oleh Allāh ﷻ dalam keadaan baik, maka dia harus menjaga dzhahir dan batinnya. Jangan hanya memperhatikan dzhahir. Yang menyebabkan seseorang menyimpang adalah karena rusaknya batin.Jika seseorang menjaga dzhahir dan batinnya, insyā Allāh, Allāh ﷻ akan menjaganya, sebagaimana dia hidup di atas ketaatan, maka dia juga akan meninggal di atas ketaatan.وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ…Salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penduduk Neraka. Dia adalah seorang yang kafir, melakukan apa yang dia inginkan berupa perbuatan yang haramحَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌSehingga tidak ada antara dia dan Neraka kecuali satu jengkal saja, menunjukkan dekatnya dia dengan Neraka. Tinggal dia mati, maka dia akan masuk ke dalam Neraka karena dia berada di atas kekufuran.فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُNamun, telah ditulis oleh Allāh sebelumnya dalam Lauḥul Maḥfūẓ bahwa orang ini akan masuk ke dalam Surga, jika memang demikian, akan dimudahkan oleh Allāh.فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِAkhirnya dia pun mengamalkan amalan penduduk Surga. Entah bagaimana, dia masuk ke dalam agama Islām dan istiqāmah.فَيَدْخُلُهَاLalu dia pun masuk ke dalam Surga.Ada saja sebab kalau Allāh ﷻ menghendaki seseorang masuk ke dalam Surga, maka Allāh ﷻ akan menjadikan sebab-sebab sehingga dia pun masuk ke dalam agama Islām, istiqāmah, dan meninggal di atas agama Islām.Hal ini menunjukkan bahwa Al-A’māl bil-Khawātim—amalan itu sesuai dengan akhirnya. Karena itu, jangan sampai seseorang tertipu dengan keadaan dirinya saat ini. Dia tidak tahu apa yang akan menjadi akhir dari amalannya. Oleh karena itu, seseorang harus memperbanyak doa:يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَYā Muqallibal-Qulūb, ṯsabbit qalbī ʿalā dīnik!Ya Allāh, tetapkan hatiku di atas agama-Mu!Mengulang-ulang doa ini, khawatir kalau kemaksiatan yang kita lakukan bisa jadi akan membawa kita melakukan perkara yang lebih besar dari itu.Ini termasuk doa yang sering dibaca oleh Nabi ﷺ. Hati manusia berada di antara jari-jari Allāh ﷻ, yang Dia gerakkan dan goyangkan sebagaimana yang Dia kehendaki. Sekarang kita mencintai Tauhid, kita senang kepada Sunnah Nabi ﷺ, kita mencintai ilmu. Alḥamdulillāh, Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada kita.Namun, ingatlah, hati manusia berada di antara jari-jari Allāh ﷻ, yang Dia gerakkan sesuai dengan apa yang Dia inginkan. Karena itu, seseorang harus senantiasa berdoa kepada Allāh ﷻ agar diberikan ketetapan hati. Allāh ﷻ berfirman:رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُRabbana la tuzigh qulubana ba’da idh hadaitana wahab lana milladunka raḥmatan innaka Antal-Wahhāb.Ya Allāh , janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan hidayah kepada kami.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah #3

Halaqah 52 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Silsilah Nasab Nabi Muhammad ﷺBeliau mengatakanوهو محمد بن عبد الله بن عبد المطلب بن هاشمDia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyimوهاشم من قريشHasyim ini adalah dari Quraisy.Abdullah bapaknya Rosulullah ﷺ adalah orang yang sangat disayangi oleh Abdul Muthalib. Abdul Muthalib kalau tidak salah namanya Syaibah, dia dikenal dengan Abdul Muthalib. Al-Muthalib ini adalah saudaranya Hasyim. Karena saat itu dia berada di Madinah yang saat itu bernama dengan Yatsrib diantara keluarga ibunya. Karena Hasyim memiliki beberapa istri diantaranya ada yang di Makkah dan ada diantaranya yang berada di Madinah.Saat itu Hasyim meninggal di Madinah, akhirnya pamannya yaitu Mutholib mendengar bahwasanya Hasyim punya anak di Madinah. Akhirnya Al-Muthalib datang ke kota Madinah meminta kepada saudara saudara dari ibunya untuk membawa Syaibah.Setelah sebelumnya keluarganya berat untuk melepas Syaibah, dibawa lah oleh Al-Muthalib ke Makkah dan ketika sampai ke Makkah orang menyangka Syaibah ini adalah seorang budak, karena belum pernah melihat sebelumnya. Budaknya Al-Muthalib sehingga orang memanggilnya dengan Abdul Muthalib, ini adalah budaknya Al-Muthalib dan sampai besar pun dikenal dengan Abdul Muthalib. Abdul Muthalib ini juga seorang pemuka, kita tahu kisahnya bagaimana dia ketika datang Abrahah untuk menghancurkan Ka’bah kemudian Abrahah mengambil 200 onta milik Abdul Muthalib. Kemudian datanglah Abdul Muthalib, dan Abrahah ketika melihat Abdul Muthalib datang akhirnya dia turun dari singgasananya duduk bersama dengan Abdul Mutholib. Kemudian bertanya apa yang kau inginkan, dia mengatakan aku ingin engkau mengembalikan 200 unta yang kau ambil. Kemudian Abrahah menyebutkan Ana menyangka bahwasanya Antum akan meminta Ana lebih dari ini. Ana datang ke sini untuk menghancurkan rumah tersebut yang merupakan agamamu dan juga agama nenek moyangmu. Ana kira Antum akan datang dan mengatakan Tolong jangan engkau hancurkan rumah ini, tapi justru engkau datang ke sini hanya mengatakan saya pengen unta. Sebelumnya saya sangat menghormati dirimu setelah mendengar ucapan ini kedudukan engkau menjadi jatuh di mataku. Seharusnya engkau sebagai seorang pemuka bertanggung jawab terhadap agama, orang-orang yang ada di bawahmu yang Antum minta seharusnya kepada saya adalah tolong jangan engkau hancurkan rumah ini. Itu yang saya sangka sebelumnya tapi ternyata Abdul Muthalib lebih cerdas dari apa yang disangka oleh Abrahah.Dia mengatakan aku ini adalah pemilik dari onta onta tadi, 200 onta tadi adalah aku pemiliknya maka aku meminta sesuai dengan hakku karena aku adalah pemiliknya dan aku yang bertanggung jawab terhadap onta onta tadi. Adapun rumah yang akan kau hancurkan ini bukan milikku itu punya Robb dan dialah yang akan menjaga rumah tadi. Jadi tanggung jawab saya adalah onta onta tadi adapun rumah yang akan kalian hancurkan, itu memiliki Robb yang akan menjaga rumah tadi dari serangan kalian.Keyakinan Abdul Muthalib bahwasanya rumah Allah akan dijaga. Akhirnya dikembalikan ontanya dan dia terus melaksanakan apa yang menjadi rencananya ternyata tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Satu gajah dia bawa dari Yaman untuk menghancurkan Baitullah tadi Ka’bah ternyata dia tidak mau bergerak menuju ke Ka’bah. Setiap kali dia disuruh untuk berdiri ke arah Ka’bah dia tidak mau tapi kalau menghadap ke arah keluar berkebalikan dengan Ka’bah dia segera berlari.Ini kejadian yang luar biasa menunjukkan tentang bagaimana kakek Nabi Muhammad ﷺ memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan orang-orang Quraisy di zamannya, demikian pula Hasyim bapaknya Abdul Muthalib ini juga termasuk orang yang memiliki kedudukan yang tinggi dikenal oleh mereka. Hasyim inilah yang pertama kali mencanangkan programرِحۡلَةَ ٱلشِّتَآءِ وَٱلصَّيۡفِJikalau musim panas mereka datang ke Syam jikalau musim dingin mereka datang ke Yaman, karena kalau musim panas di Syam ini dalam keadaan dingin dan kalau musim dingin di Makkah maka di Yaman ini dalam keadaan tidak dingin, sambil mereka menghindari musim dingin yang keterlaluan di Makkah mereka Ke Yaman sambil berdagang disana.Demikian pula Abdullah bapaknya Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang sangat disayangi oleh Abdul Muthalib termasuk anak emasnya yang sangat disayangi, sehingga pernah Abdul Muthalib dia bernazar apabila sudah memiliki 10 anak laki-laki maka dia akan menyembelih salah satunya, kemudian pakai undian setiap kali diundi yang keluar adalah nama Abdullah padahal ini adalah anak yang sangat dia sayangi. Karena dia sangat sayang dengan Abdullah dan tidak ingin kehilangan dia, dia ganti dengan onta. Jadi diulang lagi sampai keluar yang lain atau selain Abdullah sesuai dengan jumlahnya tadi diulang lagi dan seterusnya sampai keluar yang dia inginkan berapa kalinya dilemparkan tadi dihitung. Jumlah yang keluar itu lah jumlah onta yang harus dia sembelih jadi dilempar lagi di lempar lagi yang penting bagaimana bukan Abdullah meskipun dia harus kehilangan mungkin ratusan onta demi menyelamatkan Abdullah.Jadi mereka adalah silsilah orang orang yang mulia, anaknya adalah Muhammad ﷺ, jadi nasab beliau adalah nasab yang mulia. Orang-orang yang terkemuka di kenal nasabnya oleh orang-orang Quraisy bukan orang yang bawahan atau orang yang tidak dikenal. Nasab beliau adalah nasab yang ma’ruf, nenek moyangnya adalah nenek moyang yang dikenal keutamaanya di antara orang-orang Quraisy. Dan Hasyim ini adalah termasuk Quraisy dan Quraisy adalah bangsa Arab yang paling mulia, sudah dikenal sejak zaman dahulu keutamaan orang-orang Quraisy di antara kabilah kabilah yang lainوقريش من العربdan Quraisy adalah termasuk bangsa Arabوالعرب من ذرية إسماعيل بن إبراهيم الخليلdan bangsa Arab adalah termasuk keturunan Ismail Bin Ibrahim Al Khalil.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Silsilah Ilmiyyah – Beriman Kepada Malaikat Tema: Beriman dengan Keberadaan Malaikat Allah

Silsilah Ilmiyyah – Beriman Kepada MalaikatTema: Beriman dengan Keberadaan Malaikat Allah🔹 1. Beriman kepada keberadaan malaikatBeriman kepada malaikat berarti meyakini bahwa mereka benar-benar ada.Pengetahuan tentang keberadaan malaikat termasuk ilmu yang wajib diketahui oleh seorang Muslim.Allah ﷻ menyebutkan tentang malaikat dalam Al-Qur’an, dan Rasulullah ﷺ menjelaskan dalam hadits-hadits sahih tentang nama, sifat, amalan, serta pertemuan mereka dengan para nabi dan orang-orang saleh.Semua itu menunjukkan kebenaran keberadaan malaikat.Kaum Muslimin telah bersepakat tentang keberadaan malaikat. Bahkan umat-umat yang mendustakan para rasul pun mengakui adanya malaikat.🔹 2. Dalil tentang keberadaan malaikat 📖 QS. Al-Mu’minun: 24 Kaum kafir dari kaum Nabi Nuh mengakui adanya malaikat, namun mereka mengingkari kerasulan Nabi Nuh.➡️ Ini menunjukkan bahwa keberadaan malaikat merupakan perkara yang dikenal dan diakui.📖 QS. Al-Baqarah: 3“Mereka beriman kepada yang gaib.”➡️ Malaikat termasuk perkara gaib yang wajib diimani oleh orang yang bertakwa.🔹 3. Sikap seorang Muslim terhadap malaikat ❌ Tidak boleh mengingkari keberadaan malaikat.❌ Tidak boleh meragukannya hanya karena tidak pernah melihat atau mendengar mereka.❌ Tidak boleh menakwil keberadaan malaikat dengan penakwilan yang tidak berdasar, seperti menganggap malaikat hanya simbol kekuatan baik dan bukan makhluk yang nyata.⚠️ Barang siapa mengingkari keberadaan malaikat setelah datang kepadanya ilmu dan hujjah yang jelas, maka ia telah kufur.✨ Kesimpulan:Malaikat adalah makhluk Allah yang benar-benar ada. Keberadaan mereka merupakan perkara gaib yang wajib diimani. Seorang Muslim wajib meyakini keberadaan mereka berdasarkan Al-Qur’an dan hadits yang sahih.

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 2: Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allāh ﷻ

Silsilah Ilmiyyah 9:Beriman Kepada Takdir AllahHalaqah 2:Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allāh ﷻUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىBeriman dengan takdir Allah yang baik dan yang buruk adalah termasuk salah satu diantara enam rukun iman yang harus diimani dan telah tetap kewajibannya di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma.• Dari Al-Qur’an Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ“Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan.”[QS. Al-Qamar: 49] Dan Allah berfirman:… وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا“Dan Dia menciptakan segala sesuatu maka Dia pun menentukan dengan sebenar-benar penentuan.”[QS. Al-Furqan:2]Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:… ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا“Dan perkara Allah adalah ketentuan yang sudah ditakdirkan.”[QS. Al-Ahzab:38]• Adapun dari As-Sunnah maka Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril alaihissalam tentang iman:أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, Hari Akhir, dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” [HR Muslim] Dan beliau ﷺ bersabda:كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى العَجْزُ والكَيْسُ“Segala sesuatu dengan takdir sampai ketidak mampuan dan kecerdasan.” [HR Muslim]• Adapun dari Ijma, maka kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya beriman dengan takdir Allah dan bahwasanya orang yang mengingkari takdir Allah maka dia telah keluar dari agama Islam.Berkata Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika mendengar tentang munculnya orang-orang yang mengingkari takdir dan bahwasanya kejadian terjadi dengan sendirinya tanpa takdir.فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ“Apabila kamu bertemu dengan mereka maka kabarkanlah kepada mereka bahwa aku (Abdullah Ibnu Umar) berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah Ibnu Umar bersumpah dengan-Nya seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian menginfakkannya maka Allah tidak akan menerima darinya sampai dia beriman dengan takdir.” [Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya]Yang demikian karena Allah tidak menerima amalan orang yang kafir dan termasuk kekufuran apabila seseorang mengingkari takdir Allah azza wajalla.Berkata Al Imam An Nawawi rahimahullah,hوَقَدْ تَظَاهَرَتِ الْأَدِلَّةُ الْقَطْعِيَّاتُ مِنَ الْكِتَابِ وِالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ وَأَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ عَلَى إِثْبَاتِ قَدَرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى“Telah banyak dalil-dalil yang jelas tetapnya yang saling menguatkan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma Shahabat dan para Ahlul Halli wal Aqdi, (yaitu orang-orang yang punya wewenang dari tokoh-tokoh kaum muslimin) dari kalangan salaf dan kholaf yang menunjukkan atas penetapan takdir Allah Subhānahu wa Ta’āla.” [Al Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj jilid I hal 155]Dan berkata Ibnu Hajar rahimahullah,و مذهب السلف قاطبة أن الأمورَ كلها بتقدير الله تعالى“Dan Manhaj seluruh salaf bahwa perkara-perkara semuanya dengan takdir Allah Ta’āla.” [Fathul Baari jilid 11 hal 478]@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 25 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI25 Agustus 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 76

Senin, 24 Agustus 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 76Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Keenam, Hadits Shahih Riwayat Jarir Bin Abdillah(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​وَعَنْ جَرِيرٍ: أَنَّ رَجُلًا تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ، ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ…"Dari Jarir bahwasanya seorang laki-laki bersedekah dengan sebuah sedekah, kemudian manusia mengikutinya..."Asbabul Wurud (Sebab Keluarnya Hadits) dalam Shahih Muslim​Kedatangan Arab Badui: Beberapa orang Arab Badui (Al-A'rab) mendatangi Rasulullah ﷺ memakai pakaian dari bulu domba (shuf), yang menunjukkan kondisi fakir miskin dan sangat membutuhkan bantuan (hajah).​Anjuran Rasulullah ﷺ: Rasulullah ﷺ mendorong (hatth) para sahabat untuk bersedekah menolong mereka.​Sikap Sahabat: Para sahabat sempat lambat (abtha'u) merespon karena ajakan masih bersifat anjuran, sehingga raut rasa memprihatinkan/tidak senang terlihat di wajah Rasulullah ﷺ.​Pelopor Kebaikan: Laki-laki dari kalangan Anshar datang membawa sekeranjang anggur/perak (shurrah min wariq) sampai ia merasa keberatan membawanya.​Inspirasi Kebaikan: Langkah sahabat Anshar tersebut menggerakkan hati para sahabat lainnya untuk ikut berbondong-bondong menyerahkan sedekah.​Kebahagiaan Rasulullah ﷺ: Wajah Rasulullah ﷺ menjadi gembira (surur) karena para sahabat mendapat pahala dan kaum fakir miskin terbantu mendapatkan makanan serta pakaian yang layak.Dalil Utama & Sabda Rasulullah ﷺ«فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ»"Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barang siapa yang menempuh/menghidupkan di dalam Islam jalan yang baik, maka dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi dari pahala mereka sedikit pun.'"Penjelasan Makna Hadits & Kandungannya​Makna Man Sanna fi Islām Sunnatan Hasanah: Mengamalkan dan menghidupkan kembali amalan yang sudah disyariatkan (masru') dalam agama Islam di tengah masyarakat yang sedang tidak/belum menjalankannya, bukan membuat-buat syariat baru.​Syarat Utama: Amalan tersebut wajib didasari rasa ikhlas.​Ketentuan Pahala Pelopor:​Mendapatkan pahala atas amalan pribadinya.​Mendapatkan pahala tambahan dari orang-orang yang mengikuti jejaknya.​Keadilan Pahala: Pahala orang yang mengikuti tidak dikurangi sedikitpun; Allah melipatgandakan pahala dan memberikan bagian dobel tersebut kepada si pelopor pertama.​Keutamaan Menjadi Qudwah: Menunjukkan tingginya derajat orang yang menjadi teladan dalam kebaikan, karena semangatnya dapat menjadi jalan hidayah bagi orang lain.​Makna "Sunnah Hasanah" dalam hadits ini adalah keberanian dan semangat untuk mengamalkan serta menghidupkan kembali syariat Islam yang sah (masru'—seperti sedekah) ketika orang lain sedang lalai atau ragu. Barang siapa yang menjadi pelopor (qudwah) dalam kebaikan dengan niat ikhlas, ia akan memperoleh pahala berlipat ganda dari orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 26 : Tiupan Sangkakala Pertama

HALAQAH 26-TIUPAN SANGKAKALA PERTAMA Termasuk beriman kepada hari akhir adalah beriman dengan akan ditiupnya Sangkakala.Rasulullah ﷺ pernah ditanya apa itu sangkakala, maka beliau mengatakan, Tanduk yang ditiup (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmizi dan Nasai).Beberapa ayat menyebutkan bahwa sangkakala akan ditiup sebanyak 2 kali. Diantaranya adalah firman Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَىوَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ إِلا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ“Dan ditiuplah sangkakala maka matilah siapa yang ada di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri, menunggu” (Az Zumar : 68)Tiupan sangkakala pertama, dengannya meninggal semua yang ada di langit dan di bumi, kecuali yang Allah kehendaki. Tiupan ini terjadi di hari jum’at sebagaimana dalam Shahih Muslim.Dan setiap hari jum’at, hewan-hewan, mereka senantiasa memasang telinga antara waktu subuh sampai terbit matahari, karena takut bila ditiup sangkakala pada hari tersebut (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai).Bila terdengar maka semua akan mencondongkan lehernya dan mengangkatnya. Dan yang pertama kali mendengar adalah seorang laki-laki yang sedang memperbaiki penampungan air untuk minum ontanya maka diapun mati dan matilah semua manusia (HR. Muslim).Waktu tersebut sangat singkat sehingga seseorang tidak akan sempat berwasiat dan tidak ada waktu kembali ke keluarganya. Mereka meninggal di tempatnya masing-masing. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَىمَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةً۬ وَٲحِدَةً۬ تَأۡخُذُهُمۡ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ (٤٩) فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ تَوۡصِيَةً۬ وَلَآ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمۡ يَرۡجِعُونَ (٥٠“Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja, yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Lalu mereka tidak kuasa membuat satu wasiat pun dan tidak pula dapat kembali kepada keluarganya.” (Yasiin: 49-50)Di dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa ada sebagian yang sudah mengangkat makanan ke mulutnya namun tidak sempat memakannya karena sudah ditiup sangkakala. Meninggallah seluruh manusia dan kerajaan hari itu adalah milik Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى semata. Ketahuilah bahwa malaikat yang akan meniup sangkakala, sekarang telah menuruh sangkakala di mulutnya, mengerutkan dahi, memasang telinganya menunggu sewaktu-waktu diperintah oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى (Hadits Shahih Riwayat Tirmizi).Rasulullah ﷺ ketika mengabarkan para sahabat dengan kabar ini, beliau menyuruh para sahabat mengatakan:حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَاCukuplah Allah bagi kita, dan Dialah sebaik-baik wakil, hanya kepada Allah kita bertawakal (HR.Ahmad).

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Qadha dan Qadhar halaqah 1

Halaqah yang pertama dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Pengertian Al Qadha dan Al Qadar”.Al Qadha dan Al Qadar adalah dua kata yang apabila berdampingan maka masing-masing memiliki makna tersendiri.Al QadhaSecara bahasa diantara maknanya adalah memutuskan, menyelesaikan, menyempurnakan, dan mewajibkan.Allah berfirman,وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ…[QS Al-Isra’ 23] “Dan Rabb-mu mewajibkan supaya kalian tidak menyembah kecuali kepada-Nya.”Dan Allah berfirman,وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ ۖ…[QS Ghafir 20] “Dan Allah memutuskan dengan benar.”Dan Allah berfirman,فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ…[QS Al-Baqarah 200] “Maka apabila kalian menyelesaikan manasik haji kalian hendaklah kalian mengingat Allah, seperti kalian mengingat bapak-bapak kalian atau lebih banyak.”Adapun secara syariat yang dimaksud dengan Al Qadha adalah apa yang Allah putuskan pada makhluk-Nya baik berupa pengadaan, peniadaan, atau perubahan sesuai dengan Qadar atau ketentuan Allah sebelumnya.Al QadarSecara bahasa adalah menentukan.Adapun secara syariat maka Al Qadar adalah apa yang sejak dahulu atau azali sudah Allah tentukan akan terjadi.Dengan demikian Al Qadar lebih dahulu daripada Al Qadha, karena Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak azali sedangkan Al Qadha adalah keputusan Allah setelah itu, berupa pengadaan atau peniadaan atau pengubahan. Dan keduanya saling melazimi tidak bisa dipisah satu dengan yang lain.Apa yang Allah tentukan akan Dia putuskan dan apa yang menjadi keputusan Allah maka itulah yang dia tentukan sebelumnya.Namun apabila kata Al Qadha atau Al Qadar datang sendiri dalam sebuah kalimat maka maknanya mencakup makna kata yang lain.Al Qadha adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya. Demikian pula Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 76

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 76 | Amalan Seseorang Dinilai di AkhirnyaHalaqah 76 | Amalan Seseorang Dinilai di AkhirnyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-76 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ“Dan amalan-amalan adalah dengan akhir-akhirnya.”Amalan yang dianggap  di sisi Allāh ﷻ itu adalah sesuai dengan amalan terakhir yang dia lakukan. Kalau misalnya selama di dunia dia dalam keadaan kufur, terakhir hidupnya dia masuk dalam agama Islam, maka al-a‘mal bil-khawātim, amalan itu sesuai dengan akhirnya, dia akan masuk ke dalam surga karena dia meninggal di atas Islam meskipun sebagian besar hidupnya adalah di atas kekufuran tapi kalau akhirnya diakhiri dengan keislaman maka dia masuk ke dalam Surga.Sebaliknya, kalau seseorang sebagian besar hidupnya hidup di dalam Islam kemudian terakhirnya dia meninggalkan Islam dan meninggal di atas kekufuran maka dia masuk ke dalam Neraka.Ini menunjukkan bahwasanya diantara jenis manusia ada diantara mereka yang dari awal sampai akhir Istiqomah, dari semenjak dia lahir, lahir di tengah-tengah orang Islam dan orangtuanya juga di atas sunnah, dia kenal sunnah semenjak kecil, menjadi seorang penuntut ilmu, akhirnya menjadi seorang mungkin ulama dan sampai dia meninggal dunia di atas Islam.Ada diantara mereka dari sejak awal kehidupannya itu di atas kekufuran artinya tinggal di tengah-tengah orang yang kafir dan tumbuh sebagai anak yang diajari tentang kekufuran, sehingga dia dewasa dalam keadaan dia kufur sampai dia tua dan sampai dia meninggal dunia dalam keadaan dia kufur.Dan ada di antara manusia yang berbeda keadaannya di awal dengan di akhir, ada yang di awalnya Islam akhirnya kufur, ada yang di awalnya dia kufur di akhirnya dia Islam. Kalau yang pertama tadi kalau dia meninggal di atas Islam maka akan masuk ke dalam surga, kalau seseorang meninggal di atas kekufuran maka akan masuk ke dalam neraka, bagaimana dengan orang yang berpindah tadi dari Islam ke kufur atau dari kufur ke Islam mana yang dipakai? al-a‘mal bil-khawātim, amalan itu sesuai dengan akhirnya.Dalam sebuah hadits, dari ʿAbdullāh bin Masʿūd raḍiyallāhu ʿanhu, Rasūlullāh ﷺ bersabda:إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكِتَابِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، فَوَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.Sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan dikumpulkan penciptaannya oleh Allāh ﷻ di dalam perut ibunya, 40 hari pertama itu sebagai Nutfah, 40 hari yang kedua sebagai ‘alaqah, kemudian 40 hari yang ketiga sebagai Mudhghah, genap 120 hari Allāh ﷻ akan mengirimkan malaikat kemudian dia meniupkan nyawa (ruh) sehingga hiduplah segumpal daging tersebut yang sudah sempurna anggota badannya.Kemudian diperintahkan malaikat tadi untuk menulis rezkinya, ajalnya, amalannya, apakah dia adalah termasuk orang yang bahagia atau orang yang celaka. Kemudian Beliau ﷺ menyebutkan, dan sungguh salah seorang di antara kalian mengamalkan amalan penduduk surga, sebagai seorang muslim yang taat, kemudian tidak ada jarak di antara dia dengan surga kecuali satu dzira’ saja, satu jengkal saja, menunjukkan bahwasanya dia mengamalkan amal sholeh, seorang muslim mengamalkan amal sholeh sampai jarak antara dia dengan surga adalah jarak yang dekat, akan tetapi sudah didahului dengan takdir Allāh ﷻ, takdir Allāh ﷻ disebutkan bahwasanya orang ini akan masuk ke dalam nerakaفَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِakhirnya karena memang sudah ditakdirkan sebelumnya pasti akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang akhirnya menjadi sebab dia masuk kedalam Neraka, sehingga akhirnya yang awalnya dia kelihatannya mengamalkan amalan penduduk Surga, akhirnya dengan satu sebab dia melenceng dan menyimpang kemudian melakukan amalan penduduk nerakaفَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَاsehingga akhirnya dia pun masuk ke dalam neraka, karenaكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُapa yang sudah ditulis oleh Allāh ﷻ pasti akan terjadi, orang akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang memang dia ditakdirkan untuknya.Buatkan gambarnya yang bagus, warna pastel ungu, mudah dibaca, tidak perlu ada gambar orang, ada gambar bunga lecil dan bintal kecil, pelangi kecil, tanaman kecil..buat semenarik mungkin yaa..biar orang lain senang bacanya

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 1: Pengertian Al Qadha & Al Qadar

Silsilah Ilmiyyah 9:Beriman Kepada Takdir AllahHalaqah 1:Pengertian Al Qadha & Al QadarUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىAl Qadha & Al Qadar adalah dua kata yang apabila berdampingan maka masing-masing memiliki makna tersendiri.■ Al QadhaSecara bahasa diantara maknanya adalah memutuskan, menyelesaikan, menyempurnakan, dan mewajibkan.Allah berfirman:وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ..."Dan Rabb-mu mewajibkan supaya kalian tidak menyembah kecuali kepada-Nya.” (QS. Al-Isra:)Dan Allah berfirman:وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ ۖ…“Dan Allah memutuskan dengan benar.” (QS.Ghafir: 20)Dan Allah berfirman:فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ…“Maka apabila kalian menyelesaikan manasik haji kalian hendaklah kalian mengingat Allah, seperti kalian mengingat bapak-bapak kalian atau lebih banyak.” (QS.Al-Baqarah: 200)Adapun secara syariat yang dimaksud dengan Al Qadha adalah apa yang Allah putuskan pada makhluk-Nya baik berupa pengadaan, peniadaan, atau perubahan sesuai dengan Qadar atau ketentuan Allah sebelumnya.■ Al-Qadar• Secara bahasa adalah Menentukan.• Adapun secara syariat maka Al Qadar adalah apa yang sejak dahulu atau azali sudah Allah tentukan akan terjadi.Dengan demikian Al Qadar lebih dahulu daripada Al Qadha, karena Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak azali sedangkan Al Qadha adalah keputusan Allah setelah itu, berupa pengadaan atau peniadaan atau pengubahan. Dan keduanya saling melazimi tidak bisa dipisah satu dengan yang lain.Apa yang Allah tentukan akan Dia putuskan dan apa yang menjadi keputusan Allah maka itulah yang dia tentukan sebelumnya.Namun apabila kata Al Qadha atau Al Qadar datang sendiri dalam sebuah kalimat maka maknanya mencakup makna kata yang lain.Al Qadha adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya. Demikian pula Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 76 ~ Amalan Seseorang Dinilai di Akhirnya Bag 01

Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah Penulis : Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ“Dan amalan-amalan adalah dengan akhir-akhirnya.”Amalan yang dianggap  di sisi Allāh ﷻ itu adalah sesuai dengan amalan terakhir yang dia lakukan. Kalau misalnya selama di dunia dia dalam keadaan kufur, terakhir hidupnya dia masuk dalam agama Islam, maka al-a‘mal bil-khawātim, amalan itu sesuai dengan akhirnya, dia akan masuk ke dalam surga karena dia meninggal di atas Islam meskipun sebagian besar hidupnya adalah di atas kekufuran tapi kalau akhirnya diakhiri dengan keislaman maka dia masuk ke dalam Surga.Sebaliknya, kalau seseorang sebagian besar hidupnya hidup di dalam Islam kemudian terakhirnya dia meninggalkan Islam dan meninggal di atas kekufuran maka dia masuk ke dalam Neraka.Ini menunjukkan bahwasanya diantara jenis manusia ada diantara mereka yang dari awal sampai akhir Istiqomah, dari semenjak dia lahir, lahir di tengah-tengah orang Islam dan orangtuanya juga di atas sunnah, dia kenal sunnah semenjak kecil, menjadi seorang penuntut ilmu, akhirnya menjadi seorang mungkin ulama dan sampai dia meninggal dunia di atas Islam.Ada diantara mereka dari sejak awal kehidupannya itu di atas kekufuran artinya tinggal di tengah-tengah orang yang kafir dan tumbuh sebagai anak yang diajari tentang kekufuran, sehingga dia dewasa dalam keadaan dia kufur sampai dia tua dan sampai dia meninggal dunia dalam keadaan dia kufur.Dan ada di antara manusia yang berbeda keadaannya di awal dengan di akhir, ada yang di awalnya Islam akhirnya kufur, ada yang di awalnya dia kufur di akhirnya dia Islam. Kalau yang pertama tadi kalau dia meninggal di atas Islam maka akan masuk ke dalam surga, kalau seseorang meninggal di atas kekufuran maka akan masuk ke dalam neraka, bagaimana dengan orang yang berpindah tadi dari Islam ke kufur atau dari kufur ke Islam mana yang dipakai? al-a‘mal bil-khawātim, amalan itu sesuai dengan akhirnya.Dalam sebuah hadits, dari ʿAbdullāh bin Masʿūd raḍiyallāhu ʿanhu, Rasūlullāh ﷺ bersabda:إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكِتَابِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، فَوَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.Sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan dikumpulkan penciptaannya oleh Allāh ﷻ di dalam perut ibunya, 40 hari pertama itu sebagai Nutfah, 40 hari yang kedua sebagai ‘alaqah, kemudian 40 hari yang ketiga sebagai Mudhghah, genap 120 hari Allāh ﷻ akan mengirimkan malaikat kemudian dia meniupkan nyawa (ruh) sehingga hiduplah segumpal daging tersebut yang sudah sempurna anggota badannya.Kemudian diperintahkan malaikat tadi untuk menulis rezkinya, ajalnya, amalannya, apakah dia adalah termasuk orang yang bahagia atau orang yang celaka. Kemudian Beliau ﷺ menyebutkan, dan sungguh salah seorang di antara kalian mengamalkan amalan penduduk surga, sebagai seorang muslim yang taat, kemudian tidak ada jarak di antara dia dengan surga kecuali satu dzira’ saja, satu jengkal saja, menunjukkan bahwasanya dia mengamalkan amal sholeh, seorang muslim mengamalkan amal sholeh sampai jarak antara dia dengan surga adalah jarak yang dekat, akan tetapi sudah didahului dengan takdir Allāh ﷻ, takdir Allāh ﷻ disebutkan bahwasanya orang ini akan masuk ke dalam nerakaفَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِakhirnya karena memang sudah ditakdirkan sebelumnya pasti akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang akhirnya menjadi sebab dia masuk kedalam Neraka, sehingga akhirnya yang awalnya dia kelihatannya mengamalkan amalan penduduk Surga, akhirnya dengan satu sebab dia melenceng dan menyimpang kemudian melakukan amalan penduduk nerakaفَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَاsehingga akhirnya dia pun masuk ke dalam neraka, karenaكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُapa yang sudah ditulis oleh Allāh ﷻ pasti akan terjadi, orang akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang memang dia ditakdirkan untuknya.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah pembahasan kitan al-ushulu ats-tsalatsah bagian 3

Halaqah 51 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Muqoddimah Kadar Minimal Mengenal Rasulullah ﷺSeluruh maklumat yang ada didalam agama islam maka kalau kita cermati dia akan kembali asalnya kepada ma’rifatullāh, ma’rifatul diinil Islam dan juga ma’rifatu an-nabi ﷺ.معرقه نبیكم محمد ﷺMengenal nabi kalian yaitu Muhammad ﷺ. Ini adalah bab mengenal orang yang telah diutus oleh Allah kepada kita untuk mengajarkan kepada kita ibadah, karena ketika beliau berbicara tentang ibadah sebelum menyebutkan ma’rifatullāh, ma’rifatul diinil Islam, ma’rifatunnabi ﷺ, beliau menyebutkan tentang ibadah dan keutamaan ibadah.Dan sudah kita sebutkan bahwasanya tiga perkara ini Al Ushūlu AtsTsalātsah ini langsung berkaitan dengan ibadah. Mengenal Allah adalah mengenal ma’bud mengenal siapa yang diibadahi, mengenal agama islam adalah mengenal bagaimana cara beribadahnya. Ibadah kepada Allah yaitu ada yang amalan dzohir dan ada amalan batin dan seterusnya, harus ada muroqobah, harus ada musyahadah. Itu kita kenal bagaimana cara beribadah kepada Allah macam macamnya dari ma’rifatul diinil Islam.Kemudian yang ketiga kita mengenal orang yang telah diutus oleh Allah untuk mengajar kita tata cara beribadah. Harus kita kenal, kalau kita tidak mengenal siapa yang menyampaikan tata cara beribadah tadi dikhawatirkan kita menganggap orang yang bukan utusan sebagai utusan. Menganggap itu adalah dari Allah padahal bukan dari Allah, karena dia bukan utusan Allah mengaku sebagai seorang utusan Allah. Makanya kita harus kenal siapa yang sudah Allah tunjuk diantara manusia ini untuk mengajarkan kita tata cara ibadah. Kita harus mengenalnya dan hukumnya wajib mengenal siapa orang yang telah diutus oleh Allah kepada kita.Mengenal Nabi Muhammad ﷺ inilah yang akan disampaikan oleh beliau disini, yang perlu kita pahami sebelum memasuki apa yang akan disampaikan oleh beliau, bahwasanya disana ada kadar yang wajib didalam mengenal Nabi Muhammad ﷺYang pertama adalah mengenal nama beliau mengetahui nama beliau, ini kadar minimal. Mengenal nama beliau yaitu nama beliau adalah Muhammad. Atau seandainya dia mengenal namanya Ahmad boleh, karena baik Muhammad maupun Ahmad ini adalah nama beliau. Muhammad artinya adalah orang yang sering dipuji, Ahmad ini adalah isim tafdhil yang artinya adalah orang yang paling terpuji. Kemudian yang kedua, mengenal bahwasanya beliau adalah hamba Allah dan juga Rosul-Nya. Beliau adalah seorang hamba artinya bukan Tuhan yang disembah tapi beliau adalah hambanya Allah. Hamba berarti dia yang menyembah, dan dia adalah seorang Rosul mengenal bahwasanya beliau adalah seorang Rosul yaitu seorang utusan Allah.Yang ketiga, mengenal bahwa apa yang beliau bawah adalah benar.Kemudian yang keempat, mengenal bahwa kebenaran beliau ditunjukkan oleh Al-Quran sebagaimana telah berlaluلَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡهُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗاKalau antum ingin mengenalkan orang apalagi dia adalah orang awam maka inilah minimal yang antum sampaikan pada beliau. Apakah ada keharusan dia mengenal atau menghapal nasab Nabi Muhammad ﷺ, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah sampai kepada Iismail bin Ibrahim nasabnya maka ini bukan termasuk kewajiban.Dan apa yang beliau sebutkan disini umur, beliau dari orang arab keturunannya Ismail, ini bukan termasuk yang kadar wajib. Kadar yang wajib yang sudah kita sampaikan tadi dan ini adalah kadar yang merupakan tambahan.Orang yang cinta dengan sesuatu dan kecintaan dia adalah kecintaan yang benar maka dia akan rindu dan ingin banyak tahu tentang sesuatu yang dia cintai tersebut. Semakin orang senang cinta terhadap sesuatu maka dia akan semakin ingin mengetahui tentang sesuatu tersebut, ini kalau mahabbah nya adalah mahabbah yang shadiqa. Antum cinta dengan seseorang ingin mengenal dia lebih banyak. Semakin antum mencintai maka antum berusaha untuk mengenalnya. Maka tentunya cinta kita kepada Rosulullah ﷺ kalau itu adalah kecintaan yang shadiqa akan membawa kita untuk berusaha mengenal Beliau ﷺ. Semakin dia mengetahui tentang maklumat dan info orang yang sangat dia cintai tadi maka akan semakin bertambah keimanannya didalam hatinya.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

RANGKUMAN – MUQADDIMAH BERIMAN KEPADA MALAIKAT

RANGKUMAN – MUQADDIMAH BERIMAN KEPADA MALAIKAT📌 1. Pokok-Pokok Keimanan • Beriman kepada malaikat adalah salah satu pokok/rukun iman yang wajib diyakini. • Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijmak kaum muslimin menunjukkan wajibnya beriman kepada malaikat. • Kufur kepada malaikat berarti kufur kepada Allah. • Semakin seseorang mengetahui tentang malaikat secara terperinci, semakin bertambah keimanannya dan semakin banyak manfaat yang diperoleh.📌 2. Pengertian Malaikat • Al-malāikah adalah bentuk jamak dari malak yang berarti utusan. • Malaikat adalah makhluk Allah yang mulia dan dimuliakan. • Allah memilih mereka sebagai utusan-Nya kepada makhluk. • Malaikat diciptakan dari cahaya. • Jumlah malaikat tidak diketahui kecuali oleh Allah. • Mereka diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan menaati perintah-Nya.📖 3. Dalil tentang Iman kepada Malaikat Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 285 bahwa Rasul dan orang-orang beriman beriman kepada: • Allah • Malaikat-malaikat-Nya • Kitab-kitab-Nya • Rasul-rasul-NyaAllah juga berfirman dalam QS. An-Nisa: 136 bahwa orang yang kufur kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.📌 4. Hadits Jibril Ketika ditanya tentang iman, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa iman adalah beriman kepada: • Allah • Malaikat-malaikat-Nya • Kitab-kitab-Nya • Rasul-rasul-Nya • Hari akhir • Takdir yang baik maupun yang buruk.(HR. Muslim)⭐ 5. Cara Beriman kepada Malaikat Ada 4 hal yang perlu diyakini: 1️⃣ Beriman dengan keberadaan malaikat. 2️⃣ Beriman dengan nama-nama malaikat. 3️⃣ Beriman dengan sifat-sifat malaikat. 4️⃣ Beriman dengan amalan-amalan mereka.💡 Inti pelajaran: Beriman kepada malaikat adalah bagian dari rukun iman dan tidak sah iman seseorang tanpa beriman kepada malaikat Allah.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi Rahimahullah.Kita akan bersama-sama mempelajari tentang sebuah kitab yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi Rahimahullah yaitu kitab yang berjudul Al-Ushulu As-Sittah yang artinya enam kaidah.Dan ini adalah termasuk karangan beliau yang sangat bermanfaat. Dan dia meskipun ringkas akan tetapi mengandung banyak faedah. Yang hendaknya seorang muslim mengetahui faedah-faedah ini.Beliau menyebutkan di dalam kitab ini, enam perkara yang sangat penting.Beliau adalah seorang ulama yang bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi. Beliau lahir pada tahun 1115 Hijriyyah dan menimba ilmu agama ini semenjak kecil. Dan diantara gurunya adalah bapak beliau sendiri, demikian pula ulama-ulama besar yang lain di zaman beliau, seperti Asy Syaikh Muhammad Al Hayah As Sindi, dan juga yang lain.Dan di dalam mencari ilmu, beliau telah pergi ke beberapa daerah, diantaranya adalah ke Basrah, demikian pula ke daerah-daerah di Hijaz seperti Mekkah dan juga Madinah dan menimba ilmu dari para ulama yang tinggal di sana.Dan hampir-hampir beliau menuju ke kota Syam (daerah Syam) untuk menimba ilmu di sana, hanya karena ada rintangan dan halangan tertentu akhirnya beliau mengurungkan niatnya.Dan beliau termasuk ulama yang gigih di dalam menghidupkan Al Qur’an, menghidupkan As Sunnah, mengajak manusia kembali kepada Allah, bertauhid kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Dan beliau meninggal pada tahun 1206 Hijriyyah. Dan telah meninggalkan karangan yang sangat banyak, yang sangat bermanfaat.Diantaranya adalah:– Al Ushul Ats-Tsalatsah– Al Qawa’idul Arba’– Ushulul Iman– Kasyfusy Syubuhat– Kitabut TauhidDan diantaranya adalah kitab yang Insya Allah akan kita pelajari yaitu Al-Ushulu As-Sittah.Beliau berkata,بسم الله الرحمن الرحيمMemulai kitabnya dengan basmalah.Meniru dan mengikuti apa yang Allah lakukan di dalam Al Qur’anul Karim, karena Allah Subhānahu wa Ta’āla memulai kitabnya dengan basmalah.Demikian pula mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ ketika Beliau menulis surat yang isinya adalah dakwah kepada raja-raja yang ada di zaman Beliau ﷺ. Beliau memulai kitabnya dengan basmalah.Oleh karena itu di sini pengarang memulai kitabnya dengan basmalah.بسم الله الرحمن الرحيمDan ب di sini adalah ب al-isti’anah yaitu ب yang fungsinya untuk memohon pertolongan.Orang yang mengatakan بسم الله pada hakikatnya dia telah memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Ismillah dengan nama Allah.Kalimat yang mufrad, yang tunggal, yaitu ism dan dia disandarkan kepada kalimat lafdzul jalalah dan ini maknanya adalah mencakup seluruh nama Allah Subhānahu wa Ta’āla.Orang yang mengatakan بسم الله berarti dia telah beristi’anah (memohon) pertolongan dengan seluruh nama Allah Subhānahu wa Ta’āla.Allah (lafdzul jalalah) adalah nama Allah yang paling a’dham (paling besar) yang disandarkan kepadanya nama-nama Allah yang lain.Oleh karena itu setelahnya disebutkan Ar-Rahman Ar-Rahim. Dan Ar-Rahman Ar-Rahim adalah nama diantara nama-nama Allah.Diambil dari Ar-Rahmah yang artinya kasih sayang.Dan perbedaan antara Ar-Rahman dengan Ar-Rahim disebutkan oleh para ulama diantaranya adalah:Ar-Rahman adalah kasih sayang Allah yang lebih umum mencakup orang yang beriman dan mencakup orang yang kafir kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Orang kafir juga mendapatkan bagian dari kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla.Allah memberikan rezeki kepada mereka, memberikan makan kepada mereka, memberikan minum kepada mereka, memberikan kesehatan kepada mereka, memberikan anak, memberikan istri, memberikan harta, dan ini semua adalah termasuk kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla.Adapun Ar-Rahim, maka mengandung rahmat, mengandung kasih sayang yang lebih khusus yaitu kasih sayang yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman.Berupa hidayah kepada jalan yang lurus, berupa keimanan, berupa rasa tenang ketika dzikrullah.Ini semua adalah termasuk kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla akan tetapi dikhususkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla kepada orang-orang yang beriman dengan Allah Subhānahu wa Ta’āla

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 24: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 22)

Halaqah 24:Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 22)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman kepada para rasul alayhimussalam adalah mengetahui beberapa persamaan antara Nabi dan Rasul. Mereka semua adalah manusia Laki-laki dan Merdeka.Mereka adalah manusia, maksudnya adalah bukan dari kalangan Jin dan bukan dari kalangan Malaikat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا"Dan tidaklah menghalangi manusia untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali ucapan mereka, apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai seorang Rasul” (Al-Isra : 94)Dan Allah mengatakan:وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ"Dan Kami telah memberikan Ishak dan juga Ya’qub kepada Ibrahim dan kami jadikan kenabian dan kitab didalam keturunannya… “ (Al-Ankabut : 27).Di dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengabarkan bahwasanya kenabian ada pada keturunan Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan keturunan Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ adalah keturunan dari kalangan manusia bukan dari jin dan bukan dari malaikat.Dan mereka (yaitu para Nabi dan Rasul) adalah dari kalangan laki-laki dan bukan dari kalangan wanita, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ"Dan tidaklah kami mengutus sebelummu para Rasul kecuali mereka adalah laki-laki yang Kami wahyukan kepada mereka diantara penduduk negeri… " (Yusuf : 109)Dan mereka adalah orang-orang yang merdeka dan bukan budak karena perbudakan adalah sifat yang tidak sesuai dengan kedudukan Nabi dan waktu seorang budak adalah sepenuhnya bagi tuannya, maka kapan dia berdakwah dan menghadapi lawan-lawannya. Adapun yang terjadi pada Nabi Yusuf عَلَيهِ السَّلَامُ ketika beliau menjadi budak bagi salah seorang bangsawan di Mesir, maka asalnya Yusuf adalah orang yang merdeka, kemudian saudara-saudaranya yang telah menipu daya beliau.Adapun sabda Rasulullah ﷺمَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ"Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali mengembala kambing" (HR Al-Bukhari)"Maka para Nabi tersebut bukan mengembala karena dia seorang budak akan tetapi mengembala kambingnya sendiri atau mengembala kambing milik orang lain dengan dibayar, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengembala untuk penduduk Makkah" (HR Al-Bukhari)Dan Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengembala untuk seorang laki-laki yang shaleh dari madyan, sebagaimana di dalam Al Qashas : 27.

💬 0 komentar📅 26 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juli 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 75

Jum'at, 10 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 75Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Kelima, Hadist Shahih Riwayat Ummu Salamah (Bagian 3)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Ketentuan Hukum Terhadap Pelaku Bid'ah secara Umum​Jangan kita kiaskan kemudian setiap orang yang melakukan kebid’ahan—karena bid'ah ini lebih dahsyat daripada kemaksiatan—kemudian dihalalkan darah orang yang melakukan kebidahan tersebut (Tidak). ​Di sini beliau ﷺ sedang berbicara secara khusus tentang aliran tertentu, yaitu al-Khawarij. Sabda beliau:​أينما لقيتموهم فاقتلوهم​Maksudnya adalah khusus untuk orang-orang Khawarij. Begitu pula sabda beliau:​لئن لقيتموهم لأقتلنهم قتل عاد​Ini juga khusus tentang orang-orang Khawarij.Kedahsyatan Ancaman Terhadap Kaum Khawarij​Para ulama menjelaskan bahwasanya Nabi ﷺ tidak menyebutkan ancaman-ancaman yang lebih dahsyat daripada ancaman-ancaman terhadap orang-orang Khawarij. Di antara ancaman dan sifat buruk mereka adalah:​Pemusnahan Total: Nabi ﷺ sampai meniatkan seandainya bertemu dengan mereka, beliau akan membunuh mereka secara keseluruhan (bukan hanya sekedar dibunuh sebagian), tetapi seperti terbunuhnya orang-orang ‘Ad (kaumnya Nabi Hud) yang dibinasakan oleh Allāh secara keseluruhan tanpa ada di antara mereka yang tersisa.​Sifat شرُّ قتلى تحتَ أديمِ السماءِ (Sejelek-jelek Orang yang Terbunuh):Nabi ﷺ bersabda bahwa mereka adalah sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah langit. Makna kalimat شرُّ قتلى di sini adalah min syarri qotla (di antara sejelek-jelek orang yang terbunuh).​Perbandingan Kata: Sama halnya dengan sabda Nabi ﷺ:​وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا​Makna syarral umur di sini maksudnya adalah min syarril umur (di antara sejelek-jelek perkara), karena sejelek-jelek perkara mutlak adalah syirik. Maka maksud kalimat tersebut adalah sebagian/di antara yang paling jelek adalah bid'ah. Demikian pula makna hadits tentang Khawarij, diucapkan oleh Nabi bahwa orang yang terbunuh yang paling syar (di antara yang paling jelek) adalah terbunuhnya orang-orang Khawarij.​Sifat خيرُ قتلى مَن قتَلوه (Sebaik-baik Orang yang Terbunuh):Nabi ﷺ bersabda bahwa sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang dibunuh oleh mereka (orang-orang Khawarij). Lengkapnya beliau bersabda:​شرُّ قtly تَحْتَ أديمِ السماءِ خيرُ قتلى مَن قتَلوه​Sifat كِلَابُ النَّارِ (Anjing-Anjing Neraka):Sebelumnya Nabi ﷺ juga mensifati orang-orang Khawarij bahwasanya mereka adalah Kilabunnar (Anjing-anjing Neraka). Wallāhualam, maksudnya mereka diancam dengan Neraka kelak, yang mana azab mereka sangat pedih sehingga mereka berteriak seperti teriakan anjing-anjing. Yang jelas ini adalah sifat yang jelek bagi orang-orang Khawarij.Atsar Abu Umamah radhiyallahu anhu di Damaskus​Disebutkan sebuah kisah mengenai sahabat Abu Umamah radhiyallahu anhu. Saat itu beliau melihat kepala-kepala yang dipajang di tangga masjid Damaskus (dan ini adalah kepala-kepala orang-orang Khawarij). Beliau kemudian mengatakan:​كِلَابُ النَّارِ شرُّ قتلى تحتَ أديمِ السماءِ خيرُ قتلى مَن قتَلوه​Kemudian beliau membaca firman Allāh ﷻ:​۞ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ​Artinya: “Pada hari yang di waktu itu ada wajah yang memutih, dan ada pula wajah yang hitam gelap.” (QS. Ali 'Imran: 106)​Penjelasan Ayat: Sudah kita sampaikan sebelumnya, yang dimaksud dengan wajah-wajah yang memutih adalah Ahlussunnah, sedangkan wajah yang hitam adalah Ahli Bid'ah. Abu Umamah (seorang sahabat Nabi ﷺ) membaca ayat ini ketika melihat mayat-mayat orang-orang Khawarij. Hal ini menguatkan apa yang disampaikan oleh Abdullah bin Abbas bahwasanya wajah-wajah yang menghitam tadi adalah Ahlu Bid'ah.Otentisitas Riwayat dari Abu Umamah​Kisah di atas berlanjut hingga akhir ayat (إلى akhirِ الآيةِ). Aku (yaitu Abu Ghalib) berkata kepada Abu Umamah:​أَنتَ سمعتَهُ من رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّلهُ علَيهِ وسلَّمَ ؟​Artinya: “Apakah engkau mendengar ini langsung dari Rasulullah ﷺ?”​Abu Umamah menjawab untuk menguatkan:​لَو لَم أسمَعهُ إلَّا مرَّةً أو مرَّتينِ أو ثلاثًا أو أربعًا- حتَّى عدَّ سَبعًا- ما حدَّثتُكُموهُ​Artinya: “Seandainya aku tidak mendengarnya dari Nabi ﷺ kecuali satu, dua, tiga, atau empat kali—sampai beliau menghitungnya sebanyak tujuh kali—niscaya aku tidak akan menyampaikan ini kepada kalian.”​Maksud Jawaban Abu Umamah: Seandainya beliau tidak mendengarnya secara langsung dan berulang kali dari Nabi ﷺ, tentunya beliau tidak akan berani menyampaikan hal seperti ini. Sebab, perkara-perkara yang disebutkan tadi (كلابُ النَّارِ شرُّ قتلى تحتَ أديمِ Сَّماءِ خيرُ قَتلى من قتلوهُ) merupakan bagian dari perkara gaib. Seandainya bukan karena mendengar dari Nabi ﷺ, niscaya beliau tidak akan menyampaikannya kepada manusia.Peringatan Terhadap Pemikiran Khawarij Masa Kini​Oleh karenanya, para ulama menjelaskan bahwa tidak ada di sana ancaman-ancaman yang mengerikan yang melebihi ancaman yang datang untuk aliran Khawarij ini. Aliran Khawarij sudah ada sejak zaman dahulu, dan dari masa ke masa masih terus ada orang-orang yang membawa pemikiran Khawarij ini sampai di zaman kita sekarang ini. ​Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dengan pemikiran mereka. Di antara caranya adalah dengan membentengi diri kita menggunakan aqidah yang benar. ​Jangan sampai kita tertipu dengan rajinnya ibadah mereka (seperti rajinnya mereka membaca Al-Qur'an), atau karena mereka memakai pakaian seperti pakaian kita, atau secara lahiriah (dhahirnya) tampak seperti seorang Salafi, padahal ternyata pemikiran mereka adalah pemikiran Khawarij.​Kesimpulan​Ancaman yang sedemikian keras dari Nabi ﷺ—seperti perintah pemusnahan total laksana kaum 'Ad, julukan seburuk-buruk orang yang terbunuh di bawah langit (syarru qatla), serta sebutan anjing-anjing neraka (kilabun nar)—merupakan kekhususan yang ditujukan kepada sekte Khawarij saja, dan tidak boleh dikiaskan untuk menghalalkan darah seluruh pelaku bid'ah secara umum. Atsar dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu anhu di Damaskus menegaskan otentisitas ancaman gaib ini (yang beliau dengar hingga tujuh kali dari Rasulullah ﷺ) sekaligus mengaitkan kaum Khawarij sebagai bagian dari ahli bid'ah yang berwajah hitam di hari kiamat berdasarkan QS. Ali 'Imran: 106. Karena pemikiran Khawarij ini terus lestari dari masa ke masa hingga zaman sekarang, umat Islam diperingatkan agar tidak tertipu oleh casing lahiriah mereka (seperti janggut/pakaian, klaim manhaj Salaf, maupun kencangnya ibadah dan bacaan Al-Qur'an), melainkan harus membentengi diri dengan pemahaman aqidah yang benar agar selamat dari syubhat pemikiran radikal tersebut.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 75

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 75 | Masing-Masing Manusia akan Dimudahkan untuk Melakukan Apa yang Mereka Dicipta UntuknyaHalaqah 75 | Masing-Masing Manusia akan Dimudahkan untuk Melakukan Apa yang Mereka Dicipta UntuknyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Maka masing² dari kita akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia dicipta untuknya.Melakukan apa yang sudah ditakdirkan untuk orang yang sudah Allāh tulis di dalam Lauhul Mahfudz, dia akan masuk ke dalam Surga maka ketika Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan dia di dunia Allāh akan memudahkan dia untuk melakukan amalan² yang memasukkan dia ke dalam Surga atau yang menjadi sebab dia masuk kedalam Surga, misalnya dijadikan dia lahir di tengah² orang Islam kemudian diajarkan oleh orang tuanya tentang Islam yang benar atas seandainya dia lahir di negeri kafir orang tuanya kafir tapi Allāh tulis dia termasuk penduduk Surga maka akan ada jalan dia masuk ke dalam agama Islam, mungkin akan ada di sana (dinegeri kafir) dakwah ada yayasan yang didirikan kemudian salah satu sebab akhirnya dia mungkin tidak sengaja masuk ke dalam Masjid dan mendengar orang mengajak kepada Islam dan seterusnya, akhirnya masuk Islam, orang yang sudah Allāh subhanahu wa taala putuskan dia termasuk penduduk Surga makaمُيَسَّرٌDia akan dimudahkan untuk melakukan apa yang memang dia ditakdirkan untuk makanya kita katakan kita khusnudzon kepada Allāh, lihat siapa kita lemahnya kita ada hinanya kita tapi Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan karunia dan juga anugerah dipilih kita di antara sekian banyak manusia untuk mengenal Allāh lebih dalam, kita belajar tentang Nama² Allāh kita belajar tentang sifat Allāh kita mengenal lebih dalam tentang agama Allāh khusnudzon kepada Allāh, Allāh ingin memasukkan kita ke dalam Surganya Allāh mudahkan kita untuk menuntut ilmu agama Allāh jaga kita dan jadikan kita Istiqomah sampai detik ini kita berharap sampai kita tentunya sampai meninggal dunia di tengah² gelombang fitnah yang semakin dahsyat, baik fitnah syahwat maupun syubhat, kalau Allāh subhanahu wa ta’ala tidak menjaga niscaya kita sudah terseret dengan arus, tenggelam bersama orang² yang tenggelam, tenggelam di dalam kebodohan, tenggelam didalam syahwat, tenggelam di dalam subhat, dan sudah banyak korban, kalau bukan Allāh subhanahu wa ta’ala yang menjaga niscaya kita tidak akan terjadi, maka kita khusnudzon kepada Allāh dan Allāh mengatakan,أَنَا عِنْدَ حسن ظَنِّ عَبْدِي بِيAku ini sesuai dengan persangkaan hambaKu kepadaKu.Kalau kita berprasangka baik kepada Allāh maka itulah yang akan kita dapat, kita berprasangka baik kepada Allāh, Allah ingin memasukkan kita ke dalam Surga-Nya.Maka hendaklah kita bersyukur kepada Allāh atas seluruh Taufik dan juga hidayah, diantara bentuk syukur kita kepada Allāh subhanahu wa taala adalah dengan menjaga kenikmatan ini menjaga ketaatan kita kepada Allāh menjaga Istiqomah kita di dalam menuntut ilmu agama.وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُSebaliknya orang yang sudah ditentukan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam Nerakanya Allāh baik selamanya maupun sementara maka akan dimudahkan juga kalau memang dia adalah orang yang akan masuk ke dalam Neraka selama-lamanya maka ada saja di sana jalan sehingga dia meninggal di atas kekufuran diatas kesyirikan, mungkin dia dahulunya adalah seorang muslim & Allāh subhanahu wa ta’ala lebih tahu siapa yang berhak untuk masuk ke dalam Surga-nya dan Allāh lebih tahu siapa yang berhak untuk mendapatkan azabNya, Allāh tidak akan menzalim apa yang Allāh lakukan pasti di sana ada hikmah, Allāh mudahkan yang ini dan Allāh mudahkan yang itu Allāh lakukan itu semuanya dengan hikmah tidak ada kezaliman di dalam.Ini yang harus terpatri didalam diri seorang muslim.إنّ الله لا يَظِلم مثقال ذرَّةAllāh tidak akan mendholimi meskipun hanya sebesar dzarrah.Sehingga Allāh mengatakan,..وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ ۝[QS Fushilat 46]Dan Rabbmu tidak akan menzalimi hamba²Nya. Masing² akan dimudahkan oleh Allāh, termasuk di antaranya pelaku maksiat dari orang Islam maka itu pun akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang sudah ditakdirkan dan Allāh lebih tahu siapa di antara mereka yang berhak untuk mendapatkan hidayah yang ada juga Istiqomah dan siapa yang tidak berhak dan Allāh subhanahu wa ta’ala sekali lagi tidak menzalimi hambaNya.اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُDan ini menjadikan seseorang ketika melihat saudara yang masih belum mendapatkan hidayah mungkin dia masih terkumpul dalam kebidahan dia atau di dalam firkah dia mengingat hadits iniوَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Melihat dengan kacamata kasih sayang, sayang kepada mereka, kasian kepada mereka yang masih belum mendapatkan hidayah sehingga nanti didalam dirinya untuk mengajak / di dalam dirinya untuk mendakwahi dengan maksud merahmati/ menyayangi bukan maksud mendzalimi atau menghinakan, kemudian ketika dia melihat keadaan mereka dan dia melihat pada dirinya sendiri semakin dia bertambah bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala yang tidak menjadikan dirinya seperti mereka yang masih terkungkung di dalam subhat hak mereka diantara bentuk syukurnya adalah dengan berusaha mengajak orang yang sesuai dengan kemampuan, dia menjelaskan mengajak dan ini adalah bentuk syukur dia atas nikmat hidayah yang telah Allāh subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, sebagaimana dia senang dan gembira bahagia mendapat hidayah maka dia senang juga seandainya orang lain juga mendapatkan hidayah tersebut sebagaimana dulu orang yang mendakwahi kita bersabar dalam mengajak kita, kitapun bersabar ketika mendakwahi orang lain mereka bersabar sehingga kita pun mendapatkan hidayah dan paham bahkan kita pun juga demikian,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِTidak beriman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai untuk orang lain sebagaimana atau apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.ثُمَّ قَرَأَkemudian beliau ﷺ membaca firman Allāh,فَاَمَّا مَنۡ اَعۡطٰى وَاتَّقٰىۙ ۝وَصَدَّقَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡيُسۡرٰىؕ ۝وَاَمَّا مَنۡۢ بَخِلَ وَاسۡتَغۡنٰىۙ ۝وَكَذَّبَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡعُسۡرٰىؕ ۝[QS Al Lail 5-10]Maka beliau rahimahullāh di sini mendatangkan ucapan,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،maka ini adalah Taufik dari Allāh subhanahu wa ta’ala setelah telah menjelaskan bahwasanya semuanya itu dengan takdir Allāh masuknya seseorang ke dalam Surga dengan takdir Allāh masuknya seseorang kedalam Neraka dengan takdir Allah maka beliau menjelaskan masing² akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia ditakdirkan untuknya, ini adalah dorongan bagi kita untuk beramal ingin masuk ke dalam Surga semua kita ingin masuk ke dalam Surga maka beramal lah karena masuk ke dalam Surga itu ada sebab,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ingin selamat dari Nerakanya Allāh ya jangan kita melakukan perkara yang menjadi sebab maksudnya seseorang ke dalam Neraka Allāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ini isyarat dari beliau beriman dengan takdir dan beriman dengan syariat sebagaimana yang kita ulang².Bikin gambar yang lengkapnisinya tanpa ada gambar manusia

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah 75 – Manfaat Beriman kepada Hari Akhir

Ringkasan Halaqah 75Manfaat Beriman kepada Hari Akhir1. Mengingatkan bahwa dunia hanya sementaraDunia sangat singkat.Hari kiamat dan hisab sudah dekat.Dalil: QS. Al-Anbiyā': 12. Tidak tertipu oleh kenikmatan duniaKenikmatan dunia hanya sementara.Jangan iri dengan kesenangan orang kafir.Dalil: QS. Āli 'Imrān: 196–1973. Kesuksesan sejati adalah di akhiratOrang yang dijauhkan dari neraka dan masuk surga adalah orang yang benar-benar beruntung.Dalil: QS. Āli 'Imrān: 1854. Kerugian terbesar adalah masuk nerakaMasuk neraka merupakan kehinaan yang sebenarnya.Dalil: QS. Āli 'Imrān: 1925. Menguatkan kesabaran saat mendapat musibahMeyakini bahwa semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.Membantu tetap sabar menghadapi ujian.6. Mendorong keikhlasan dalam beramalAmal yang ikhlas akan bermanfaat pada hari kiamat.7. Mendorong segera bertaubatDosa adalah penyebab bencana di akhirat.Perbanyak taubat dan istighfar.8. Mendorong istiqamah dalam ketaatanBersabar menjalankan perintah Allah.Bersabar meninggalkan maksiat.Semua itu lebih ringan daripada azab akhirat.9. Mengingat nikmat Islam dan imanIslam dan iman adalah nikmat terbesar yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.10. Mengingat bahaya kekafiran, kesyirikan, dan kemunafikanKetiganya menjadi sebab kekal di dalam neraka.11. Menumbuhkan semangat berdakwahMengajak kaum muslimin istiqamah.Mengajak orang kafir masuk Islam agar selamat dari azab.12. Memotivasi untuk memperbanyak doaBerdoa memohon:Kebaikan dunia.Kebaikan akhirat.Perlindungan dari neraka.Dalil: QS. Al-Baqarah: 201Doa Rasulullah ﷺ:"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan segala yang mendekatkan kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala yang mendekatkan kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan." (HR. Ibnu Majah)KesimpulanBeriman kepada hari akhir menjadikan seorang muslim:Lebih zuhud terhadap dunia.Semangat beramal saleh.Ikhlas dalam ibadah.Rajin bertaubat.Sabar menghadapi ujian.Istiqamah dalam ketaatan.Semangat berdakwah.Memperbanyak doa dan berharap surga serta dijauhkan dari neraka.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Kitab KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 25

Halaqah yang ke dua puluh lima dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد العشرونSimpul yang ke-20حفظ الوقت في العلمMenjaga waktu untuk ilmu.Yaitu kita berusaha menggunakan waktu kita ini untuk ilmu.Kalau kita memang menghormati ilmu dan itu adalah suatu yang besar di mata kita, suatu yang berharga dan bernilai di hati kita, maka kita berusaha setiap waktu yang kita gunakan ini ada hubungannya dengan ilmu.قال ابن الجوزيِّ في صيد خاطرهBerkata Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitab beliau Shaidul Khathir. (صيد الخاطر)ينبغي للإنسان أن يعرف شرف زمانه، وقدر وقته، فا يُضيِّع منه لحظةً في غير قُربةٍ، ويُقدِّم فيه الأفضل فالأفضل من القول والعملSepantasnya bagi seseorang untuk mengetahui tentang betapa berharganya usianya dan betapa bernilainya waktu yang Allah berikan kepadanya.Satu detik, satu menit, itu adalah sesuatu yang berharga. Mungkin seseorang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ kurang dari 1 menit tapi dia ucapkan itu di akhir hidupnya, selamat.مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَBarangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ maka dia masuk ke dalam surga. Padahal itu diucapkan kurang dari 1 menit.Maka janganlah dia menyia-nyiakan sekejap pun dari usianya tadi, dari umurnya tadi, di dalam selain qurbah (ketaatan) kepada Allāh ﷻ. Kalau bisa waktu semuanya ini detik-detik yang kita lalui ini semuanya adalah di dalam ketaatan kepada Allāh ﷻ. Jangan sampai ada sedikit pun yang selain qurbah.Dan dia mendahulukan mana yang lebih afdhal kemudian yang afdhal baik berupa ucapan maupun perbuatan. Kalau memang di sana ada ucapan semuanya baik, cari yang lebih baik dari ucapan-ucapan tadi. Ada beberapa amalan semuanya baik, kita cari yang paling baik. Ini termasuk memanfaatkan waktu.ومن هنا عظُمت رعاية العلماء للوقتDari sini kita mengetahui besarnya penjagaan ulama terhadap waktu.Karena mereka mengetahui tentang bagaimana berharganya waktu.حتىٰ قال محمَّد بن عبد الباقي البزَّازSehingga seorang ulama yaitu Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzās beliau mengatakan,ما ضيَّعتُ ساعةً من عمري في لهوٍ أو لعبٍAku tidak pernah menyia-nyiakan sedikit pun dari umurku di dalam perkara yang sia-sia atau dalam bermain-main.Sampai mengatakan demikian, tidak pernah menyia-nyiakan meskipun hanya sekedar dari umurnya dalam perkara yang sia-sia atau bermain-main.Lihat bandingkan antara beliau dengan keadaan kita. Berapa waktu yang kita gunakan untuk ibadah dalam sehari, berapa waktu yang kita gunakan untuk ilmu, sisanya masing-masing dari kita bisa menjawab sendiri, untuk permainan, untuk melihat sesuatu yang tidak bermanfaat.وقال أبو الوفاء ابن عقيلBerkata Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil,الذي صنَّف كتاب الفنون في ثمان مئة مجلَّدٍBerkata seorang ulama Ibnu ‘Aqil yang beliau adalah yang menulis Kitabul Funun setebal 800 jilid, beliau mengatakan,إنيِّ لا يحِلُّ لي أن أُضيِّعَ ساعةً من عمريSesungguhnya tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sekejap pun dari umurku.Jadi beliau sampai menulis sebanyak itu kitabnya karena beliau tidak menyia-nyiakan waktunya. Kalau kita bisa menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, sebenarnya banyak yang bisa kita kerjakan, kita bisa menghafal, kita bisa membaca kitab, kalau kita sudah sampai kita bisa menulis, banyak sebenarnya cuma banyak diantara kita yang menyia-nyiakan waktunya sehingga waktunya tidak berbarakah.وبَلَغَتْ بهمُ الحال أن يُقرأ عليهم حال الأكل؛ بل كان يُقرأ عليهم وهم في دار الخاءDan ada diantara mereka (saking mereka menjaga waktunya) yang dibacakan, artinya ada seorang guru muridnya disuruh membaca dan dia dalam keadaan makan, sambil dia makan dia minta seseorang untuk membacakan kitab, ingin mengambil faedah.Ini juga bisa kita lakukan. Kita sambil makan mungkin sambil nyetel sesuatu kita tidak ingin menyia-nyiakan waktu, apakah itu bisa? Bisa sebenarnya, sambil kita di mobil pulang atau berangkat kita mendengarkan sebuah ilmu supaya tidak sia-sia waktu kita.بل كان يُقرأ عليهم وهم في دار الخلاءBahkan terkadang ada diantara mereka dibacakan kepada beliau dan mereka berada di dalam darul khala (tempat untuk mandi atau untuk buang hajat).Ada seseorang yang disuruh membaca dengan suara keras di luar, dia bukan membaca di dalam kamar kecil tersebut tapi ada orang lain yang disuruh membaca dengan keras di luar karena beliau tidak ingin menyia-nyiakan waktunya.Karena biasanya orang di dalam kamar mandi itu tersia-sia waktunya, mungkin ngelamun, mungkin dia memikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat, dia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya sampai ketika berada di dalam kamar kecil tersebut dia ingin memanfaatkan waktunya. Ini termasuk pengagungan terhadap ilmu. Kita menggunakan waktu kita benar-benar untuk ilmu.فاحفظ أيُّها الطَّالبُ وقتَكMaka hendaklah engkau wahai seorang penuntut ilmu menjaga waktumu. Jaga waktumu dengan baik, jangan disia-siakan.فلقد أبلغ الوزيرُ الصَّالح ابنُ هُبيرة في نصحك بقولهMaka Al-Wazir Ash-Shalih Ibn Hubairah, beliau adalah seorang menteri kerajaan yang memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu, sungguh beliau bersungguh-sungguh dalam memberikan nasihat kepadamu dengan ucapan beliau.والوقت أنفسُ ما عُنيتَ بحفظهDan waktu sebenarnya adalah sesuatu yang paling berharga yang kamu harus menjaganya.Itu lebih berharga daripada harta yang kau miliki, daripada rumah yang engkau miliki. Waktu itu adalah suatu yang paling berharga yang harusnya engkau jaga dia.وأراه أسهلَ ما عليك يضيعُDan aku melihat bahwasanya itu adalah sesuatu yang paling mudah engkau sia-siakan.Padahal itu adalah sesuatu yang paling berharga yang harusnya kita jaga tapi justru paling mudah kita menyia-nyiakan waktu tersebut. Kadang kalau sudah nganggur yang dicari nonton apa, buka apa, mudah sekali seorang menyia-nyiakan waktu. Tapi jarang diantara kita sedang nganggur apa yang ana lakukan, ana murajaah surat apa, apa kitab yang ana baca sekarang. Makanya beliau mengatakan sangat mudah sekali  waktu tersebut engkau sia-siakan.تمت الخلاصةTelah sempurna kitab Al-Khulasah.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُDengan demikian kita telah menyelesaikan kitab yang sangat berharga ini yang ditulis oleh guru kami yang mulia, beliau adalah Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad hafidzahullāhu ta’ala, semoga Allāh subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa beliau dan mengampuni dosa kedua orang tua beliau dan memberikan kepada beliau pahala yang besar dan menjadikan apa yang kita baca dari kitab beliau ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita dan kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →