🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 11 KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI

Halaqah yang ke sebelas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد الثامنSimpul yang ke delapan adalahلزوم التأني في طلبه، وترك العجلةSimpul yang ke delapan adalah hendaklah kita terus-menerus pelan-pelan di dalam menuntut ilmu. لزوم berarti melazimi, التأني artinya adalah pelan-pelan di dalam menuntut, artinya sedikit demi sedikit, ini termasuk pengagungan kita terhadap ilmu.Jadi jangan dikira mengagungkan ilmu kemudian Antum mempelajari ilmu dalam satu waktu dalam jumlah yang banyak, ingin misalnya dalam satu hari selesai menghafal kitabut Tauhid atau dalam satu hari ingin menghafal Tsalatsatul ushul, ini tergesa-gesa.Harusnya termasuk penghormatan dia terhadap ilmu kalau memang dia ingin mendapatkan dan ingin bertemu dengan ilmu tadi ingin meraih ilmu tadi maka dia harus mencarinya dengan sedikit demi sedikit, itu justru menunjukkan pengagungan kita terhadap ilmu, karena dengan sedikit demi sedikit kita akan sampai kepada ilmu tapi kalau kita menimba ilmu secara langsung dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang sebentar maka ini sebenarnya adalah menghinakan ilmu karena dia tidak akan mendapatkan ilmu.وترك العجلةDan meninggalkan tergesa-gesa.Tergesa-gesa ini adalah dari setan dia tahu bahwasanya orang yang tergesa-gesa di dalam menuntut ilmu maka dia tidak akan mendapatkan, semuanya ingin dia baca dalam waktu satu hari, dia ingin segera menguasai ilmu Fiqh dalam dua hari, ini tergesa-gesa.إنَّ تحصيل العلم لا يكون جملةً واحدةً؛Menuntut ilmu itu bukan dengan satu waktu, satu waktu dengan jumlah yang banyak bukan dengan cara itu menuntut ilmu.إذ القلب يضعف عن ذلكKarena hati kita ini adalah lemah dan tidak mampu untuk melakukan yang demikian.Hati sebagaimana kita tahu ini adalah tempat ilmu tersebut dan kalau kita langsung memasukkan ilmu ke dalam hati yang lemah ini dalam satu waktu maka dia tidak akan mampu, dia adalah lemah untuk melakukan yang demikian kalau dia lemah maka akan dia segera letakkan ilmu tadi dan tidak bisa dia bawa.و إنَّ للعلم فيه ثِقَاً كثِقَل الحَجَر في يد حاملهMaka sesungguhnya ilmu itu adalah memiliki berat sebagaimana beratnya sebuah batu di tangan orang yang membawanya.Orang yang membawa batu besar berat dia, kalau dia tidak mampu maka akan segera dia lemparkan batu tadi tidak akan lama-lama dia pegang karena dia tidak bisa atau tidak mampu untuk membawa batu tadi.Sebagaimana batu itu memiliki berat demikian pula ilmu itu adalah memiliki berat sehingga kalau hati kita tidak mampu untuk membawa ilmu tadi, karena dalam satu waktu kita masukkan ilmu tadi ke dalam hati kita maka dia akan segera meletakkan dan tidak mampu untuk membawanya.Ini yang menjadikan banyak orang yang awalnya dia semangat untuk menuntut ilmu akhirnya dia putus akhirnya dia futur karena dia tergesa-gesa melihat orang lain ternyata dia bisa bicara ternyata dia memiliki pengetahuan yang luas tentang ilmu kemudian dia menganggap bahwasanya ilmu itu bisa didapatkan dalam waktu 1 hari dalam waktu 2 hari, dia tergesa-gesa.Padahal dia bisa mendapatkan ilmu tadi selama puluhan tahun dia belajar, dari 1 jam tiap hari 2 jam setiap hari dan dia selama bertahun-tahun mendengarkan selama bertahun-tahun mengikuti akhirnya dia mendapatkan ilmu tadi, sebagian orang tergesa-gesa sehingga justru ini menjadi sebab dia tidak istiqomah di atas ilmu.قال تعالىٰAllāh ﷻ mengatakan,إِنَّ سَنلْقِي عَلَيْكَ قَوْلً ثَقِيْلً﴾ المزمل: 5Sesungguhnya Kami akan melemparkan kepadamu ucapan yang berat, maksudnya adalah Al-Qur’an, akan mewahyukan kepadamu ucapan yang berat.أي القرآنyaitu Al-Qur’an, Allāh ﷻ mensifati Kalam-Nya ini adalah ucapan yang berat.وإذا كان هٰذا وصف القرآن الميسرKalau ini adalah sifat dari Al-Qur’an yang sudah dimudahkan oleh Allāh ﷻكما قال تعالىٰAllāh ﷻ mengatakan,وَلَقَدْ يَسَّرْنَ ٱلْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ﴾ القمر: 17Dan sungguh Kami telah mudahkan Al-Qur’an untuk dijadikan sebagai peringatan, berarti Allāh ﷻ mensifati Al-Qur’an dengan sesuatu yang sudah dimudahkan oleh Allāh ﷻ. Dia mudah tapi disifati oleh Allāh ﷻ dia adalah ucapan yang berat.فما الظنُّ بغيره من العلوم؟Kalau Qur’an saja yang disifati sesuatu yang dimudahkan oleh Allāh ﷻ, dikatakan oleh Allāh ﷻ itu adalah ucapan yang berat lalu bagaimana dengan ilmu-ilmu yang lain.وقد وقع تنزيل القرآن رعايةً لهٰذا الأمر مُنَجَّمًا مفرَّقًاDan turunnya Al-Qur’an adalah dengan berangsur-angsur, مُنَجَّمًا bukan dalam satu waktu tapi dalam beberapa lama beberapa waktu, مفرَّقًا dan terpisah-pisah, turun satu ayat turun dua ayat turun satu Surah dan seterusnya, tidak diturunkan oleh Allāh Azza Wajalla dalam satu waktu.رعايةً لهٰذا الأمرUntuk menjaga perkara ini, yaitu karena yang namanya ilmu itu didapatkan dengan pelan-pelan bukan didapatkan secara langsung dalam satu waktu, Allāh ﷻ ingin mengajarkan kepada kita bahwasanya ilmu itu didapatkan dengan sedikit demi sedikit.باعتبار الحوادث والنَّوازلTurun ayat-ayat yang ada dalam Al-Qur’an sesuai dengan kejadian dan juga peristiwa.قال تعالىٰAllāh ﷻ mengatakan,وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْلَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةًDan orang-orang kafir mengatakan seandainya diturunkan Al-Qur’an kepadanya (kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam) dalam satu kali saja, itu ucapan orang-orang kafir, ini menunjukkan bahwasanya Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam dalam waktu yang berbeda-beda secara bertahap.كَذَلِكَ لِنثبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَDemikianlah supaya kami menguatkan dengan cara seperti itu hatimu, karena Al-Qur’an ini adalah sesuatu yang berat tapi ketika diturunkan satu ayat dipahami oleh Nabi ﷺ diamalkan, dua ayat dipahami oleh Nabi ﷺ dan diamalkan maka akan menegakkan hatinya.Demikian pula kalau ilmu kita pelajari sedikit demi sedikit maka kita InsyaAllāh akan istiqamah di dalam menuntutnya, kalau kita tergesa-gesa dan mengikuti hawa nafsu dan mengikuti syaithan maka tidak lama seseorang akan terputus dari menuntut ilmu agama.وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيْلاً﴾ الفرقان: 32Dan Kami mentartil Al-Qur’an dengan sebenar-benarnya.وهٰذه الآية حجَّةٌ في لزوم التَّأنِّي في طلب العلمMaka ayat ini adalah dalil tentang keharusan untuk pelan-pelan di dalam menuntut ilmu, yaitu ayat yang berisi tentang turunnya Al-Qur’an secara bertahap.والتَّدرُّج فيهDan keharusan untuk bertingkat-tingkat di dalam menuntut ilmu, artinya sedikit demi sedikit dimulai dari yang paling penting, dari yang paling penting pun kita mempelajari sedikit demi sedikit.Tadi yang kita sampaikan ilmu tauhid itu adalah ilmu yang paling penting, dalam mempelajari ilmu tauhid juga kita mempelajarinya sedikit demi sedikit, sehari 1 jam sehari 2 jam kalau dikumpulkan kita akan selesai satu Kitab.وترك العَجَلةDan meninggalkan tergesa-gesa.كما ذكره الخطيب البغداديُّ في الفقيه والمتفقه، والرَّاغب الأسفهانيُّ في مقدِّمة جامع التفسرSeperti disebutkan oleh Khatib Al-Baghdadiy di dalam kitab beliau Al-Faqih wal Mutafaqqih dan juga disebutkan oleh Ar-Raghib Al-Asfahaniy dalam Muqaddimah Jami’ At-Tafsir, menyebutkan bahwasanya ayat ini merupakan dalil keharusan kita untuk pelan-pelan di dalam menuntut ilmu agama.ومن شعر ابن النَّحَّاس الحلبيِّ قولُهُDi antara sya’ir Ibn Nahas Al-Halabiy rahimahullah adalah ucapan beliau.اليومَ شيءٌ وغدًا مثلُهُمن نُخَب العلم الَّتي تُلْتَقطْHari ini adalah sesuatu, maksudnya hari ini kita mempelajari sesuatu yang sedikit saja, satu permasalahan.وغدًا مثلُهُDan besok kita mempelajari satu permasalahan lagi.من نُخَب العلم الَّتي تُلْتَقطْيُحصِّل المرء بها حكمةًDari pilihan-pilihan ilmu tadi yang diambil sedikit demi sedikit, hari ini dia ambil satu besok ambil satu, maka seseorang akan mendapatkan hikmah maka dia akan mendapatkan ilmu.Para ulama mereka mendapatkan ilmu karena mereka sedikit demi sedikit mereka menuntut ilmu tadi, satu ayat dipelajari besok satu lagi besok satu lagi sehingga muncullah seperti Ibnu Taimiyah Ibnul Qayyim An-Nawawi Ibnu Hajar, mereka dulu belajarnya sedikit demi sedikit bukan langsung menjadi seorang ulama atau sehari dua hari mereka menghafal tapi dari sedikit demi sedikit dan mereka bersabar akhirnya mereka menjadi seorang yang berilmu.وإنَّما السَّبيل ٱجتماع النُّقَطْSesungguhnya yang namanya banjir, banjir hakikatnya adalah berkumpulnya titik-titik air, banjir air yang banyak itu adalah kumpulan dari titik-titik air, dia dikumpulkan atau mereka berkumpul akhirnya menjadi sebuah banjir, demikian pula ilmu yang dimiliki oleh para ulama mereka dapatkan sedikit demi sedikit dengan cara yang tadi sudah kita sebutkan.Jadi kita harus punya pokoknya dulu,kita mempelajari Matan dulu dan ini kita jadikan sebagai pokoknya pondasinya Matan dari ilmu tersebut, kemudian kita mempelajari lagi kemudian kita tempelkan lagi dan kita tempelkan sampai akhirnya terbentuk sebuah bangunan ilmu yang kokoh. Jadi masing-masing cabang ilmu tadi kita harus memiliki pondasinya memiliki Matan yang kita jadikan rujukan yang kita hafal dan kita pelajari maknanya.ومقتضىٰ لزومِ التَّأنِّي والتَّدرُّجِ: البداءةُ بالمتون القصار المصنَّفةِ في فنون العلمDiantara konsekuensi dari keharusan pelan-pelan dan juga bertahap adalah kita memulai dengan matan-matan yang pendek yang ditulis di dalam cabang-cabang ilmu tadi, kita memulai dengan mempelajari matan-matan tadi.حفظًاDengan cara menghafalnya.واستشراحًاDan kita berusaha untuk mencari syarahnya, penjelasan dari dari Matan tadi, karena terkadang dia ucapannya sedikit dia memiliki makna yang dalam tapi kalau kita tidak belajar dari seorang guru kita tidak memahami.والميلُ عن مطالعة المطوَّلات الَّتي لم يرتفعِ الطَّالب بعد إليهاDan hendaklah seseorang berpaling dari membaca buku-buku yang panjang buku-buku yang berjilid-jilid yang belum sampai seseorang kepada tingkatannya.Antum baru di awal maka termasuk pengagungan terhadap ilmu Antum mulai dari matan-matan yang pendek jangan Antum langsung belajar misalnya langsung buka Fathul Bari, memang di situ ada ilmunya tapi Antum belum sampai ke sana, banyak nanti habis waktunya Antum mempelajari mungkin 10 halaman Antum tidak paham semuanya habis waktunya, tapi kalau antum mempelajari dari yang ringkas Antum langsung paham dan bisa Antum amalkan dan nanti InsyaAllāh antum paham bisa membaca Fathul Bari.ومن تعرَّض للنَّظر في المطوَّلات فقد يجني علىٰ دينهBarangsiapa yang memaksakan dirinya membaca buku-buku yang berjilid-jilid maka dia telah merusak agamanya, dia merusak ilmunya, merusak agamanya.وتجاوزُ الاعتدال في العلم ربَّما أدَّىٰ إلىٰ تضييعهDan melanggar keseimbangan di dalam ilmu, harusnya Antum mempelajari yang ringkas-ringkas dulu tapi Antum memaksakan diri Antum untuk mempelajari buku-buku yang berjilid-jilid yang Antum belum sampai ke sana sebenarnya maka ini akan membawa kepada penyia-nyiaan terhadap ilmu tadi, karena Antum banyak perkara yang Antum tidak paham dan mungkin Antum salah paham sehingga justru malah sesat di dalam pemikiran kita karena kita tidak mendasari dengan mempelajari matan-matan yang singkat yang ringkas yang ditulis dalam cabang ilmu tadi.ومن بدائع الحِكَم قول عبد الكريم الرِّفاعيِّ – أحد شيوخ العلم بدمشقَ الشَّام في القرن الماضي -: طعام الكبار سمُّ الصِّغارDan di antara hikmah-hikmah yang luar biasa adalah ucapan Abdul Karim Ar-Rifa’i salah seorang ulama yang ada di Damaskus Syam di abad yang lalu, beliau mengatakan,طعام الكبار سمُّ الصِّغارMakanan bagi orang yang sudah besar itu menjadi racun bagi anak yang masih kecil.Yang kita makan enak tapi kalau kita berikan kepada anak yang masih umur 1 bulan 2 bulan maka ini bisa meninggal dia karena dia belum waktunya untuk memakan makanan tadi, dia minum susu dari ibunya itu yang cocok dengan dia tapi kalau kita paksa dia memakan makanan kita meskipun menurut kita adalah enak maka ini akan menjadikan dia termudharati.Tentunya ini adalah permisalan yang sangat bagus sekali, ini permisalan bagi orang yang mempelajari ilmu membaca buku-buku yang berjilid-jilid yang panjang sementara dia belum mempelajari yang ringkas dari cabang ilmu tersebut, maka ini bukan pengagungan terhadap ilmu tapi justru ini adalah penghinaan terhadap ilmu itu sendiri.Orang yang ingin mengagungkan ilmu maka dia menempuh caranya, menempuh cara untuk mendapatkan ilmu tadi yaitu dengan cara bertahap, pelan-pelan

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah yang ke-61 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Yang Ketiga”

Halaqah yang ke-61 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān Kepada Hari Akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Yang Ketiga”Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwasanya ada di antara umat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan memberikan syafa’at bagi dua dan tiga orang.Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ الرَّجُلَ لَيَشْفَعُ لِلرَّجُلَيْنِ وَالثَّلَاثَةِ“Sesungguhnya seseorang sungguh akan memberikan syafa’at bagi dua orang dan tiga orang”(Hadīts Shahīh Riwayat Al-Bazzar)⇒Para syuhada akan Allāh berikan kesempatan untuk memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:يَشْفَعُ الشَّهِيدُ فِي سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ“Orang yang mati syahīd akan memberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.”(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd)Sebuah kebahagiaan yang luar biasa, seseorang memberi syafa’at untuk orang tua, anak-anak, istri dan saudara-saudaranya di saat mereka sangat membutuhkan.Ada di antara umat beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang akan memberi syafa’at untuk orang banyak.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Akan masuk surga lebih dari jumlah Bani Taamim dengan sebab syafa’at satu orang dari umatku,Dikatakan kepada beliau,“Yā Rasūlullāh, apakah orang itu adalah selain dirimu?”Beliau menjawab:“Iya, dia adalah orang lain selain diriku.”(Hadīts Riwayat At-Tirmidzi)⇒Bani Taamim adalah kabilah yang terkenal besar di zaman Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallamSemakin besar imān seseorang, maka akan semakin besar harapan untuk bisa memberi syafa’at kepada orang lain.Orang yang banyak melaknat orang lain di dunia tidak bisa memberikan syafa’at di hari kiamat.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:إِنَّ الّلَعَانِيْنَ لَا يَكُوْنُوْنَ شُهَدَاءَ وَلَا شُفَعَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ“Orang-orang yang banyak melaknat tidak akan menjadi saksi dan tidak akan memberi syafa’at di hari kiamat.”(Hadīts Riwayat Muslim)Anak-anak orang yang berimān yang meninggal sebelum dewasa akan memberikan syafa’at bagi kedua orang tuanya.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Anak-anak kecil dari orang-orang yang berimān akan menjadi daanish surga”⇒Arti daanish adalah jentik-jentik nyamuk yang senantiasa ada di kolam.Maksud beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya anak-anak kecil tersebut pasti akan masuk surga dan tidak akan pernah meninggalkannya.Kemudian beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:“Salah seorang di antara mereka menemui ayahnya atau kedua orang tuanya kemudian memegang pakaian atau memegang tangannya seperti aku mengambil ujung pakaianmu ini, Maka dia tidak akan melepaskan pegangannya sampai Allāh memasukkan dia dan kedua orangtuanya ke dalam surga.”(Hadīts Riwayat Muslim)Ini adalah kabar gembira bagi setiap orang tua yang bersabar ketika diuji oleh Allāh dengan meninggalnya anak yang belum dewasa.Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafa’at.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafa’at pada hari kiamat untuk seorang hamba” Puasa berkata,Wahai Rabb-ku aku telah menahannya dari makan dan syahwatnya di siang hari. Maka terimalah syafa’atku untuknya.Al Qurān berkata:Wahai Rabb-ku sesungguhnya aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, Maka terimalah syafa’atku untuknya.Maka diterimalah syafa’at keduanya.”(Hadīts Shahīh Riwayat Ahmad di dalam Musnad beliau).Ini adalah dorongan bagi seseorang untuk berpuasa karena Allāh dan menjaga adab-adabnya. Dan dorongan untuk membaca Al Qurān karena Allāh dan menunaikan hak-haknya. Demikianlah mereka akan memberikan syafa’at setelah diizinkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla, sebagai bentuk pemuliaan Allāh kepada mereka.Orang-orang yang bertauhīd sajalah yang akan mendapatkan syafa’at.Adapun orang-orang musyrik, orang-orang kāfir dan orang-orang munāfiq, maka mereka tidak akan mendapatkan syafa’at.Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَـٰعَةُ ٱلشَّـٰفِعِينَ“Maka tidak akan bermanfaat bagi mereka syafa’at orang-orang yang memberikan syafa’at.”(QS Al-Mudatsir : 48)Orang-orang yang berdo’a kepada nabi atau malāikat atau Orang-orang yang shālih dengan alasan ingin mendapatkan syafa’at mereka, justru tidak mendapatkan syafa’at, karena mereka telah membatalkan imān mereka dengan menyekutukan Allāh Subhānahu wa Ta’āla di dalam beribadah.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI22 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 61

Pembahasan Dalil Keenam dan KetujuhUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-61 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Beliau menyebutkan hadits yang merupakan dalil atas kewajiban masuk kedalam Islām secara kaafah,وهو في حديث معاوية (عند) أحمد وأبي داودDan dia adalah didalam hadits Muawiyyah, ada didalam Musnad Imam Ahmad & Abu Daudوفيه:Didalamnya ada tambahan,أنه سيخرج من أمتي قوم تتجارى بهم الأهواءAkan keluar diantara umatku,Didalamnya mereka ini masih umat Islām yang iftiroq, apa sifatnya?قوم تتجارى بهم الأهواءTernyata masih mengalir – تتجارى – hawa nafsu, sehingga dengan hawa nafsu tadi akhirnya mereka melaksanakan Islām dengan memisah² tadi, yang sesuai dengan hawa nafsunya diambil, dia tinggalkan Islām, adapun yang sesuai dengan hawa nafsunya dia amalkan, yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya maka dia tinggalkan, inilah memisah² agama.Adapun Ahlu sunnah tidak, mereka tidak mengikuti hawa nafsunya, justru hawa nafsunya mereka ditundukan kepada Islām yang mereka pasrahkan semuanya kepada Allāh & mereka tidak mengikuti hawa nafsunya,كما يتجارى الكَلَب بصاحبه،Sebagaimana penyakit Rabies itu menjalar kepada orangnya,Kalau sudah masuk kedalam jasad seseorang maka penyakit tadi maka itu akan segera menjalar kepada dirinyaفلا يبقى منه عرق ولا مفصل إلا دخلهMaka tidak akan tersisa dari jasadnya baik berupa urat ataupun sendi²nya yang ada didalam dirinya kecuali disitu ada virusnya.Sehingga dia mudah mengikuti hawa nafsunya, yang sesuai dengan hawa nafsunya dia laksanakan, yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya maka dia tinggalkan.Ini menunjukan faedah tentang kenapa sebab mereka memisah²kan agama tadi karena disini ada perang hawa nafsu & hawa nafsu bertentangan dengan Islām, Islām menyerahkan diri adapun hawa nafsu berarti masih mengikuti hawa nafsunya bukan lagi Islām menyerahkan diri kepada Allāhوتقدم قوله: ومبتغ في الإسلام سنة جاهلية.Sudah berlalu didalam bab ketika beliau menyebutkanDiantaranya adalah orang yang mencari didalam Islām sunnah jahiliyyah, sudah kita sebutkan maknanya, sudah masuk Islām sudah diberi hidayah kepada Islām kepada cahaya ini kepada sesuatu yang terang benderang ini tetapi dia masih mencari sunnah jahiliyyah masih mengikuti hawa nafsunya.Berarti disini dia – مبتغ إلإسلام – orang Islām ada sebagian yang dia amalkan sebagai seorang Muslim, tetapi ternyata masih mubtaghin, masih mencari² sunnah jahiliyyah berarti tidak sempurna / tidak kaafah didalam Islāmnya – مبتغ إلإسلام – berarti dia seorang Muslim tapi dia masih mencari sunnah jahiliyyah, sunnah yang bertentangan dengan Islām, sudah kita sebutkan bahwa makna Jahiliyyah adalah sesuatu yang bertentangan dengan Islām, berarti ada sebagian Islām yang diamalkan ada sebagian yang tidak dia amalkan, berarti disini memisah² agamanya.Beliau datangkan kembali dalil ini karena dia juga mengusyaratkan bab ini yaitu wajibnya masuk Islām secara keseluruhan.Bagaimana cara berdalil dengan hadits ini, jangan sampai memisah² agama sudah diberikan hidayah kepada Islām tapi mencari selain Islām & selain Islām dinamakan Jahiliyyah.Maka ketika Nabi ﷺ mengabarkan ini adalah bentuk sesuatu yang dimurkai oleh Allāh menunjukan bahwasana memisah²kan agama adalah sesuatu yang dibenci oleh Allāh, menunjukan tentang wajibnya masuk Islām secara kaafah.

💬 0 komentar📅 22 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI20 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 60

Halaqah 60 | Memahami Ayat tentang Rukyatullah sesuai dengan yang Allāh KehendakiKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهDan tafsirnya penjelasannya adalah sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan apa yang Allāh ketahui.Maksudnya adalah kita memahami ayat berdasarkan kehendak Allāh, jangan kita memahami hanya dengan akal kita sendiri, sudah kita sampaikan bahwasanya didalam bahasa Arab dan Al-Qur’an ini turun dengan bahasa Arabبِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍMaka kita memahami Al-Qur’anul Karim ini dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh, apa makna dari an النظر إلى, an nadhor ila maksudnya adalah melihat dengan mata dengan pandangan kita bukan melihat dengan hati karena melihat dengan hati itu bukan – النظر إلى – tapi – النظر فيه – jangan kita memahami dengan akal kita/hawa nafsu kita, kita memahami dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh di dalam Al-Qur’an kemudian kita juga melihat tafsir Nabi ﷺ ketika beliau membaca firman Allāhلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌsiapa yang paling mengetahui tentang makna dari firman Allāh daripada Nabi ﷺ, apakah kemudian kita menafsirkan dengan akal kita sendiri/hawa nafsu kitaوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهKita mentafsir sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki.Dinukil dari Al imam Syafi’i rahimahullāh bahwasanya beliau mengatakan,آمنت بالله، وبما جاء عن الله، وعلى مراد الله، وآمنت برسول الله، وبما جاء به رسول الله، وعلى مراد رسول اللهAl Imam Asy Syafi’i mengatakan demikian, Aku beriman dengan Allāh dan apa yang datang dari Allāh sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan aku beriman dengan Rasulullāh ﷺ dan apa yang datang dari Rasulullah berupa hadits sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Rasulullāh ﷺ.Di antara sebab kesesatan aliran yang sesat adalah sebab utamanya adalah karena mereka memahami Dengan pemahaman bukan dari yang dipahami oleh Allāh dan juga RasulNya bukan dengan apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga rasul RasulNya, benar berdalil dengan ayat berdalil dengan hadits tapi bukan dengan apa yang Allāh inginkan dia bawa makna ayat dan juga hadits tersebut sesuai dengan keinginannya sesuai dengan hawa nafsunya dibawa kesana dan orang yang demikian keadaannya maka pasti di sana akan ada kontradiksi di sana ada pertentangan antara apa yang sedang dia bawakan dengan dalil-dalil yang lain, dan itu adalah sesuatu yang pasti karena dia beragama sesuai dengan hawa nafsu dan ini adalah keadaan ahlul tidaklah mereka berdalil dengan sebuah dalil kecuali ada di sana yang membatalkan dalil tersebut mereka mengambil dalil yang sesuai dengan hawa nafsunya dan meninggalkan dalil yang lain.Ini yang ingin beliau tekankan di sini menafsirkan itu semuanya sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki bukan sesuai dengan kehendak kita atau sesuai dengan kehendak guru kita tapi yang Allāh kehendaki.وعلمهdan apa yang Allāh ketahui.Yaitu berdasarkan kaidah bahasa Arab, berdasarkan kaidah-kaidah tafsir berdasarkan atsar pada salaf yang mereka adalah orang-orang yang telah dipuji oleh Allāh subhanahu wa ta’ala tafsir para shahabat, para sahabat sudah dipuji oleh Allāh tentang agama mereka tentang pemahaman mereka tentang amal saleh mereka maka kita kembali kepada pemahaman para shahabat radhiyallahu ta’ala anhum.

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 60

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 60Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Kelima Hadist dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiallahu ‘Anhu(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mendatangkan ucapan dari diri beliau sendiri. Hal ini termasuk kejadian yang jarang, karena biasanya di dalam kitab ini beliau hanya mendatangkan ayat Al-Qur'an, Hadis, atau atsar-atsar saja.وليتأمل المؤمن الذي يرجو لقاء الله كلام الصادق الصدوق في هذا المقام،Artinya:"Maka hendaklah orang yang beriman, yang mengharapkan pertemuan dengan Allāh, memperhatikan/merenungkan ucapan Ash-Shadiqul Masduq (Rasulullah ﷺ) di dalam kedudukan/maqam ini."Orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah maksudnya adalah mereka yang ingin bertemu Allah dalam keadaan baik, diridhoi, dan akhirnya masuk surga. Mereka memiliki dorongan kuat untuk merenung karena tidak ingin masuk ke dalam ancaman neraka bagi 72 golongan.Makna dan Ketetapan IstilahAsh-Shadiqul Masduq berarti yang jujur (benar dalam ucapannya) dan dijujuri (dibenarkan oleh pihak lain/tidak dibohongi). Istilah ini paling tepat digunakan ketika seorang rawi/ulama ingin menyebutkan hadis yang berisi Al-Ikhbar bil ghoib (kabar tentang perkara ghaib/masa depan). Hubungan Komunikasi Wahyu (Jibril dan Nabi ﷺ): Ketika Malaikat Jibril (yang jujur dan ruhul amin) menyampaikan wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad, Jibril bertindak sebagai Shadiq (yang jujur), sedangkan Rasulullah menjadi Masduq (yang dijujuri).  ​Ketika Nabi Muhammad mengabarkan wahyu ghaib tersebut kepada para sahabat, maka Nabi bertindak sebagai Shadiq, sedangkan para sahabat menjadi Masduq.  Maka dari itu, Nabi ﷺ adalah seorang yang sekaligus Shadiq dan Masduq. Penggunaan kalimat ini oleh Syaikh sangat tepat karena hadist yang dibahas mengabarkan perkara ghaib berupa perpecahan umat.Kewajiban Mengikuti Islam yang MurniFokus penekanan syaikh pada perkataan Nabi ﷺ kepada sahabatnya:ما أنا عليه اليوم وأصحابيArtinya:"Apa yang aku berada di atasnya hari ini dan juga para sahabatku."Kalimat di atas diartikan sebagai "Islam". Islam itulah jalan yang dijalani Nabi ﷺ dan para sahabat, di mana mereka memegang teguh Islam yang murni secara kaffah (keseluruhan). Ucapan ini merupakan isyarat tentang kewajiban berislam secara totalitas, bukan dengan memisah-misahkan agama.Syaikh mengungkapkan tentang nilai nasihat ini: "Aduhai, sungguh ini merupakan nasihat/peringatan yang sangat besar, seandainya nasihat ini menemui kehidupan di dalam hati-hati.". Dampak bagi Hati yang Hidup: Jika nasihat besar dari Nabi ﷺ  ini jatuh ke dalam hati yang masih hidup—yaitu hati yang memiliki semangat untuk selamat di akhirat dan ingin bertemu Allah dalam kondisi baik—maka hati tersebut akan langsung tergerak dan terpengaruh.   ​Orang yang hatinya hidup akan menyadari kewajiban mengikuti Islam murni yang dibawa Nabi ﷺ dan para sahabat sebelum munculnya berbagai aliran seumpama Khawarij, Qadariyah, Jabariyah, dan aliran lainnya yang baru datang belakangan.   Hasilnya, ia akan meninggalkan seluruh aliran baru tersebut, lalu memilih masuk dan berpegang teguh pada Islam secara keseluruhan sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ.Catatan Tambahan Terkait Riwayat Hadits Abu HurairahSyaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyebutkan:{رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ. وَرَوَاهُ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَصَحَّحَهُ}Artinya:"Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dan dirawayatkan juga dari hadis Abu Hurairah dan beliau (At-Tirmidzi) menshahihkannya."Perbedaan Redaksi: Di dalam Sunan At-Tirmidzi, terdapat pula jalur hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu. Namun, di dalam jalur hadis Abu Hurairah tersebut tidak terdapat tambahan lafadz:{مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي}Kesimpulan Berdasarkan penjelasan Halaqah 60 Kitab Fadhlul Islam, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberikan komentar personal yang mendalam agar orang beriman merenungkan ucapan Rasulullah  {ﷺ} selaku Ash-Shadiqul Masduq—gelar yang sangat tepat digunakan untuk menguatkan kabar ghaib mengenai perpecahan umat. Nasihat mengenai keteguhan di atas jalan Nabi dan para sahabat {مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي} merupakan peringatan agung yang akan merasuk ke dalam hati yang hidup, mendorong pemiliknya untuk meninggalkan seluruh sekte baru seperti Khawarij, Qadariyah, dan Jabariyah demi memeluk Islam murni secara kaffah. Di akhir materi, ditegaskan pula status jalur hadis Abu Hurairah dalam riwayat At-Tirmidzi yang dinilai shahih, namun jalur tersebut tidak memuat klausul lafadz {مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي} sebagaimana jalur utama yang dibahas sebelumnya.

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 10

Halaqah yang Ke-10 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul adalah tentang “Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian yang Ke Delapan”👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman kepada para adalah keyakinan yang mendalam bahwasanya Allah telah memberikan beberapa keistimewaan bagi para Nabi dan Rasul.Di antaranya① WahyuAllah berfirman:إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ…“Sesungguhnya Kami telah wahyukan kepada mu sebagaimana telah Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelah dia” (An-Nisa’ : 163)Dan diantara keistimewaan para Nabi apabila meninggal dunia tidak diwarisi dan keluarganya tidak berhak untuk mewarisi hartanya. Rasulullah ﷺ bersabda:لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌkami tidak diwarisi apa yang kami tinggal adalah shadaqah (HR Al Bukhori dan Muslim)Yang dimaksud dengan kami disini adalah seluruh para Nabi. Oleh karena itu ketika Rasulullah ﷺ meninggal dan datang kepada Abu Bakar As Siddiq untuk mengambil warisannya maka Abu Bakar mengatakan kepada Fatimah dengan hadits ini.Di antara kelebihan dan keistimewaan para Nabi, bahwa Nabi dikubur di tempat dia meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:سنن الترمذي (١٠١٨): ما قبض الله نبيا إلا في الموضع الذي يحب أن يدفن فيهTidaklah Allah mencabut nyawa seorang Nabi kecuali di tempat yang dia senang untuk dikuburkan di tempat tersebut. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)Di antara keistimewaan para Nabi bahwa tanah tidak akan memakan jasad para Nabi. Rasulullah ﷺ bersabdaإن الله عز وجل حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياءSesungguhnya Allah ajja wajalla mengharamkan atas bumi supaya dia tidak memakan jasad-jasad para Nabi (HR. Abu Dawud, An-Nasaii dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)Di antara keistimewaan mereka bahwa mereka terjaga dari dosa besar atau ma’sum dan telah berlalu pembahasan tentang hal ini pada Halaqah yang keenam.Dan diantara keistimewaan para Nabi bahwa para Nabi tidur matanya tetapi tidak tidur hatinya.Annas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkataوالنبي صلى الله عليه وسلم نائمة عيناه ولاينام قلبه وكذلك الأنبياء تنام أعينهم ولاتنام قلوبهمDan Nabi ﷺ tidur kedua matanya dan tidak tidur hatinya dan demikianlah para Nabi tidur mata mata mereka dan hati-hati mereka tidak tidur (HR. Al-Bukhari)Dan diantara keutamaan para Nabi bahwa para Nabi hidup didalam kuburan mereka dalam keadaan shalat. Rasulullah ﷺ bersabdaالانبياء احياء فى قبورهم يصلونPara Nabi mereka dalam keadaan hidup didalam kuburan-kuburan mereka dalam keadaan mereka melakukan shalat

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 10 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 8)

Halaqah 10 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 8)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman kepada para adalah keyakinan yang mendalam bahwasanya Allah telah memberikan beberapa keistimewaan bagi para Nabi dan Rasul. Diantaranya, yaitu:​1. WahyuAllah berfirman:إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ…“Sesungguhnya Kami telah wahyukan kepada mu sebagaimana telah Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelah dia” (An-Nisa’ : 163)Dan diantara keistimewaan para Nabi apabila meninggal dunia tidak diwarisi dan keluarganya tidak berhak untuk mewarisi hartanya. Rasulullah ﷺ bersabda:لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ"Kami tidak diwarisi apa yang kami tinggal adalah shadaqah" (HR Al Bukhori dan Muslim)Yang dimaksud dengan kami disini adalah seluruh para Nabi. Oleh karena itu ketika Rasulullah ﷺ meninggal dan datang kepada Abu Bakar As Siddiq untuk mengambil warisannya maka Abu Bakar mengatakan kepada Fatimah dengan hadits ini.Di antara kelebihan dan keistimewaan para Nabi, bahwa Nabi dikubur di tempat dia meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:سنن الترمذي (١٠١٨): ما قبض الله نبيا إلا في الموضع الذي يحب أن يدفن فيه"Tidaklah Allah mencabut nyawa seorang Nabi kecuali di tempat yang dia senang untuk dikuburkan di tempat tersebut". (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)Di antara keistimewaan para Nabi bahwa tanah tidak akan memakan jasad para Nabi. Rasulullah ﷺ bersabda:إن الله عز وجل حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياءSesungguhnya Allah ajja wajalla mengharamkan atas bumi supaya dia tidak memakan jasad-jasad para Nabi (HR. Abu Dawud, An-Nasaii dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)Di antara keistimewaan mereka bahwa mereka terjaga dari dosa besar atau ma’sum.Dan diantara keistimewaan para Nabi bahwa para Nabi tidur matanya tetapi tidak tidur hatinya.Annas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:والنبي صلى الله عليه وسلم نائمة عيناه ولاينام قلبه وكذلك الأنبياء تنام أعينهم ولاتنام قلوبهم"Dan Nabi ﷺ tidur kedua matanya dan tidak tidur hatinya dan demikianlah para Nabi tidur mata mata mereka dan hati-hati mereka tidak tidur" (HR. Al-Bukhari)Dan diantara keutamaan para Nabi bahwa para Nabi hidup didalam kuburan mereka dalam keadaan shalat.Rasulullah ﷺ bersabda:الانبياء احياء فى قبورهم يصلون"Para Nabi mereka dalam keadaan hidup didalam kuburan-kuburan mereka dalam keadaan mereka melakukan shalat"

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitabal-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 35 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Makna Syahadat Muhammadan Rasūlullāh (bag 02)Kemudian diantara makna dan konsekuensi bahwa kita menyaksikan dan bersaksi bahwasanya beliau adalah Rasūlullāh.وتصديقه فيما أخبر2. Membawa أخبر (berita-berita)Allāh Subhānahu wa Ta’āla mewahyukan kepada beliau bahwasanya dulu pernah terjadi demikian dan demikian.Misalnya:√ Mengabarkan kisah nabi Ādam√ Mengabarkan kisah nabi MūsāKemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla memintanya untuk menyampaikan kabar-kabar tersebut kepada manusia.Kemudian beliau menyampaikan bahwasanya Allāh telah mewahyukan demikian dan demikian.√ Kalau kita membenarkan beliau di dalam kabar tadi, maka pada hakikatnya kita telah membenarkan Allāh√ Kalau kita mendustakan beliau di dalam kabar tadi, maka pada hakikatnya kita telah mendustakan Allāh.Karena beliau hanya sekedar menyampaikan, apa yang beliau terima dari Allāh itulah yang beliau sampaikan kepada kita. Tidak beliau tambah atau beliau kurang.Oleh karena itu hati-hati orang yang ketika mendengar kabar dari beliau kemudian mengukur kabar tersebut dengan akal.Jika kabar tersebut masuk akal, mereka terima jika kabar tersebut TIDAK masuk akal, maka mereka tolak.Rasūlullāh tidak berbicara dari hawa nafsunya, sebagaimana firman Allāh :وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’ān) menurut kemauan hawa nafsunya” (QS. An-Najm :3)Maka benarkanlah ucapan beliau, berita yang beliau sampaikan, kabar yang beliau sampaikan, baik itu masuk di dalam akal kita atau tidak.Jika dhāhirnya bertentangan dengan akal maka ketahuilah bahwasanya yang salah bukan apa yang beliau sampaikan TAPI yang salah adalah akal kita.Akal kita adalah makhluk yang lemah dan masing-masing dari kita mengetahui tentang kelemahan dan kekurangan akal kita. Banyak disana perkara-perkara yang dekat dengan kita tetapi kita tidak bisa memahaminya.Menunjukkan bahwa akal manusia adalah akal yang lemah (makhluk yang lemah/dhaif) bagaimana dia mendahulukan akal tersebut diatas dalīl. Sementara dalīl berasal dari Allāh dan akal kita adalah akal yang lemah.Seandainya disana ada pertentangan antara al-Aqlu wa Naqlu, maka kita dahulukan Naql diatas akal kita. Dan yakin bahwasanya kekurangan ada pada diri kita.Dan dalīl yang shahīh baik dari Al-Qur’ān dan Sunnah tidak mungkin bertentangan dengan akal yang sehat.3. Menjauhi apa yang dilarang oleh beliau dan diperingatkan oleh beliau.Diantara yang beliau bawa adalah berupa larangan. Allah mewahyukan kepada beliau sebuah larangan kemudian larangan tersebut beliau sampaikan kepada manusia.Kalau kita meninggalkan larangan yang keluar dari lisan beliau yang mulia, maka pada hakikatnya kita telah menjauhi larangan Allāh.Dan jika kita melanggarnya maka kita telah melanggar larangan Allāh.Larangan terbagi menjadi 2 :⑴ Larangan yang sifatnya Haram⑵ Larangan yang sifatnya MakhruhHaram jelas, jika dilakukan dia berdosa kalau tidak dilakukan karena mengharap pahala dari Allāh maka seseorang akan mendapatkan pahala.Makruh, kalau dilakukan tidak sampai berdosa kalau ditinggalkan karena mengharap pahala dari Allāh mendapatkan pahala.Contoh :Haram ; Berzina, Minum Khamr, Riba, Melihat sesuatu yang diharamkan, Musik, Lagu, Isbal dan Dosa besar yang lain.Makruh :√ Mengakhirkan shalāt.فَوَيْلٌۭ لِّلْمُصَلِّينَ“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalāt” (QS. Al-Maun : 4)⇒ Ada yang menafsirkan يأخير الصلاة عن وقتها√ Orang yang tidur antara waktu Maghrib dengan Isya.√ Berbicara yang tidak bermanfaat setelah Isya kecuali menyambut tamu, muraja’ah, mudzakarah atau musyawarah untuk kepentingan umat maka ini tidak masalah).√ Makan bawang merah dan bawang putih dalam keadaan mentah termasuk diantaranya jengkol misalnya karena ‘ilahnya sama menjadikan bau.Dan harus kita yakini bahwasanya di dalam larangan pasti ada hikmahnya. Allāh tidak melarang sesuatu kecuali disana ada hikmahnya.Kita harus yakin di dalam larangan pasti ada mudharat, diketahui atau tidak pasti disana ada mudharatnya.Sebagian ulama, mengumpamakan sikap seorang muslim ketika menghadapi perintah dan larangan yang datang dari Allāh dan juga Rasūl-nya seperti sikap seseorang ketika akan dicukur oleh tukang cukur.Bagaimana sikapnya?Ketika dia masuk ke dalam ruangan, lalu diperintahkan untuk duduk lalu dia pun akan duduk.Sekali lagi :وَلِلَّهِ ٱلْمَثَلُ ٱلْأَعْلَىٰ“Dan bagi Allah adalah permisalan yang lebih tinggi” (QS. An-Nahl : 60)4. Yakin bahwasanya Rasūlullāh membawa sesuatu dan diantara sesuatu tadi adalah tata cara ibadah.Allāh mengatakan :وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat : 56)Allāh berfirman :يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu…” (QS. Al Baqarah : 21)Bagaimana cara ibadahnya ?Allāh mengutus seorang Rasūl.Sampaikan kepada manusia aku telah memerintahkan mereka untuk beribadah dan tata cara ibadahnya adalah seperti ini.Seseorang yang mengakui Nabi Muhammad sebagai seorang Rasūlullāh, konsekuensinya tata cara ibadahnya harus sesuai dengan apa yang beliau ajarkan.Kalau tidak sesuai dengan tuntunan Rasūlullāh jangan harap ibadah kita diterima oleh Allāh Azza wa Jalla. Karena Allāh tidak menerima kecuali ibadah yang sudah diajarkan lewat Nabi -Nya (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).Selain dari itu Allāh tidak akan menerima walaupun ibadah itu dihiasi atau dianggap baik oleh manusia.مَنْ عَمِلَ عَمَلاً ليسَ عليه أمرُنا هذا فهو رَدٌّ“Barangsiapa yang mengajak sebuah amalan yang tidak ada perintahnya dari Kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)Kalau tidak diajarkan oleh Nabi baik berupa ‘aqidah atau ibadah maka ibadah tersebut tidak akan diterima oleh Allāh.Apa faedah dan hikmah kita mengakui beliau sebagai Rasūlullāh tapi ketika kita beribadah kita menggunakan cara lain yang tidak beliau ajarkan ?Kalau kita yakin beliau adalah Rasūl, maka kita ikuti cara ibadah yang beliau ajarkan, jangan kita mencari cara lain.وأن لا يعبد الله إلا بما شرع“Dan tidak disembah Allāh kecuali dengan apa yang dia syari’atkan”⇒ Kata شرع – failnya dhomirun mustatirun taqdiru هو kembali kepada الله⇒ Tidak disembah Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan oleh Allāh.⇒ Allāh, Dia-lah يشرع yang menyariatkan.Ini yang dikuatkan oleh sebagian ulamā bahwasanya شرع disini bukan kembali kepada Rasūlullāh tapi kembali kepada Allāh.Dia-lah أشارع – adalah Allāh.√ Allāh-lah yang menghalalkan.√ Allāh-lah yang mengharamkan.√ Allāh-lah yang menentukan tata cara ibadah.Maka Allāh, Dia-lah yang شارع – Jadi kalau dikata الشارع – maksudnya adalah Allāh.Adapun Rasūlullāh maka beliau hanyalah مبلغون رسولون Beliau hanya sekedar menyampaikan apa yang disampaikan oleh Allāh.⇒ Jangan kita meng-itlaq-kan شارع kepada Rasūlullāh.Dan yang disyari’atkan oleh Allāh itulah yang disampaikan oleh Rasūlullāh. Kalau kita mengakui beliau adalah seorang Rasūlullāh maka kita harus mengikuti cara ibadah beliau.Karena cara ibadah beliau itulah yang disyari’atkan oleh Allāh Azza wa Jalla.Ini menunjukkan tentang jeleknya bid’ah dan bid’ah sangat bertentangan dengan syahadat persaksian seseorang bahwasanya Muhamad adalah Rasūlullāh.Sehingga orang yang masih senang dengan bid’ah, bangga bid’ah dan menganggap bahwa bid’ah adalah hasanah hendaklah dia memuraja’ah kembali tentang makna syahadah Muhammad Rasūlullāh karena syahadat disini bukan kalimat yang sekedar dimutlaqkan dan diucapkan yang tidak memiliki makna.Syahadat adalah kalimat yang besar yang memiliki makna, memiliki konsekuensi.Ini adalah penjelasan beliau dari شهادة أن محمداً رسول الله.

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 60 | Memahami Ayat tentang Rukyatullah sesuai dengan yang Allāh Kehendaki

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهDan tafsirnya penjelasannya adalah sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan apa yang Allāh ketahui.Maksudnya adalah kita memahami ayat berdasarkan kehendak Allāh, jangan kita memahami hanya dengan akal kita sendiri, sudah kita sampaikan bahwasanya didalam bahasa Arab dan Al-Qur’an ini turun dengan bahasa Arabبِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍMaka kita memahami Al-Qur’anul Karim ini dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh, apa makna dari an النظر إلى, an nadhor ila maksudnya adalah melihat dengan mata dengan pandangan kita bukan melihat dengan hati karena melihat dengan hati itu bukan – النظر إلى – tapi – النظر فيه – jangan kita memahami dengan akal kita/hawa nafsu kita, kita memahami dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh di dalam Al-Qur’an kemudian kita juga melihat tafsir Nabi ﷺ ketika beliau membaca firman Allāhلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌsiapa yang paling mengetahui tentang makna dari firman Allāh daripada Nabi ﷺ, apakah kemudian kita menafsirkan dengan akal kita sendiri/hawa nafsu kitaوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهKita mentafsir sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki.Dinukil dari Al imam Syafi’i rahimahullāh bahwasanya beliau mengatakan,آمنت بالله، وبما جاء عن الله، وعلى مراد الله، وآمنت برسول الله، وبما جاء به رسول الله، وعلى مراد رسول اللهAl Imam Asy Syafi’i mengatakan demikian, Aku beriman dengan Allāh dan apa yang datang dari Allāh sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan aku beriman dengan Rasulullāh ﷺ dan apa yang datang dari Rasulullah berupa hadits sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Rasulullāh ﷺ.Di antara sebab kesesatan aliran yang sesat adalah sebab utamanya adalah karena mereka memahami Dengan pemahaman bukan dari yang dipahami oleh Allāh dan juga RasulNya bukan dengan apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga rasul RasulNya, benar berdalil dengan ayat berdalil dengan hadits tapi bukan dengan apa yang Allāh inginkan dia bawa makna ayat dan juga hadits tersebut sesuai dengan keinginannya sesuai dengan hawa nafsunya dibawa kesana dan orang yang demikian keadaannya maka pasti di sana akan ada kontradiksi di sana ada pertentangan antara apa yang sedang dia bawakan dengan dalil-dalil yang lain, dan itu adalah sesuatu yang pasti karena dia beragama sesuai dengan hawa nafsu dan ini adalah keadaan ahlul tidaklah mereka berdalil dengan sebuah dalil kecuali ada di sana yang membatalkan dalil tersebut mereka mengambil dalil yang sesuai dengan hawa nafsunya dan meninggalkan dalil yang lain.Ini yang ingin beliau tekankan di sini menafsirkan itu semuanya sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki bukan sesuai dengan kehendak kita atau sesuai dengan kehendak guru kita tapi yang Allāh kehendaki.وعلمهdan apa yang Allāh ketahui.Yaitu berdasarkan kaidah bahasa Arab, berdasarkan kaidah-kaidah tafsir berdasarkan atsar pada salaf yang mereka adalah orang-orang yang telah dipuji oleh Allāh subhanahu wa ta’ala tafsir para shahabat, para sahabat sudah dipuji oleh Allāh tentang agama mereka tentang pemahaman mereka tentang amal saleh mereka maka kita kembali kepada pemahaman para shahabat radhiyallahu ta’ala anhum.

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 59

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 59Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Kelima Hadist dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiallahu ‘Anhu (Bagian 03)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Perpecahan Umatوَسَتْفَتِرقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةًArtinya:“Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.”.Makna Istilah Kata Firqoh dalam konteks ini memiliki arti yang sama dengan millah, jalan, atau aliran.Komparasi SejarahPerpecahan yang akan menimpa umat Islam ini dikondisikan sebagaimana orang-orang Bani Israil yang sebelumnya juga telah berpecah-belah.Bukti Kenabian Kabar tentang perpecahan ini menjadi bukti nyata kenabian Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam karena beliau mengabarkan sesuatu yang belum terjadi di masanya.Hakikat Ilmu Ghaib Mutlak:Sesuatu yang ghaib (khususnya ghaib mutlak yang terjadi di masa depan) pada hakikatnya hanya diketahui oleh Allah ﷻ (Aalimul ghoib). Dalilnya:عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًاArtinya:"(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu."(QS. Al-Jinn: 26)Pengecualian Utusan: Allah tidak menampakkan ilmu ghaib tersebut kepada siapapun, kecuali kepada sebagian makhluk-Nya yang diridhai, yaitu para rasul. Itu pun hanya diperlihatkan sebagian saja, bukan seluruhnya. Bahkan Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam sendiri menafikan (menolak) adanya ilmu ghaib pada dirinya sendiri.Konsekuensi Ancaman dan Status Hukum Golongan yang Menyimpangكُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةًArtinya:"Semuanya (73 golongan tersebut), semuanya masuk neraka kecuali satu.".Alasan mendasar mengapa mereka diancam masuk neraka adalah karena mereka melakukan iftiraq (berpecah-belah) yang dipicu oleh tindakan memisah-misahkan agamanya.Batasan Makna Ancaman NerakaIdentitas ObjekKalimat "Hadzihil umah" (umat ini) merujuk kepada Umat Ijabah, yaitu orang-orang yang telah menerima dakwah/masuk Islam, bukan umat dakwah secara umum.Bukan KekalMaksud masuk neraka bagi 72 golongan ini bukan masuk ke dalamnya selama-lamanya (bukan kholidina fiiha) seperti nasib orang-orang kafir.Di Bawah Kehendak Allah (Tahta Masyiatillah)Status mereka berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, mereka akan diazab terlebih dahulu karena dosa memisah-misahkan agama. Jika Allah menghendaki, Allah bisa langsung mengampuni mereka sehingga selamat dari azab perpecahan tersebut.Akhir yang SelamatBagi mereka yang tidak diampuni dan harus diazab di dalam neraka, hukumannya hanya bersifat sementara, dan kelak pada akhirnya mereka akan tetap dimasukkan ke dalam surga.Dalil Al-An'am Ayat 159 dan Kewajiban Berislam secara KaffahSatu Golongan yang Selamat (Illa Wahidah), golongan yang dikecualikan dari neraka adalah Ahlussunnah, yaitu orang-orang yang bersikap kaffah (totalitas) di dalam keislamannya. Dalil larangan memecah belah agama, QS. Al-An'am: 159):{إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَArtinya:“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”.Ayat ini mempertegas bahwa memisah-misahkan agama dilarang keras karena memiliki ancaman nyata. Hal ini berbanding lurus dengan wajibnya tidak memisah-misahkan agama. Seseorang wajib masuk ke dalam Islam secara keseluruhan (tidak tebang pilih) dalam seluruh lini, yang meliputi: Akidah, Akhlak, Ibadah, Dakwah, hingga urusan Imamah. Semuanya harus menggunakan Islam yang murni dibawa oleh Nabi ﷺ.Karakteristik, Manhaj, dan Etika Sahabat dalam Bertanyaقَالُوا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيArtinya:“Para sahabat berkata: 'Ya Rasulullah, siapakah golongan yang satu ini (yang Illa Wahidah tadi)?' Nabi menjawab: 'Yang dimaksud dengan kelompok tadi adalah kelompok yang berpegangan dengan apa yang aku berada di atasnya hari ini dan para sahabatku.'"Pertanyaan ini diajukan secara kolektif (qooluu—mereka berkata), bukan cuma oleh satu orang, menunjukkan urgensi masalah tersebut.   ​Pertanyaan langsung diajukan tanpa diundur karena masing-masing sahabat sangat menginginkan keselamatan agar masuk ke golongan yang satu dan takut terancam neraka.  Tujuan mereka bertanya murni untuk mengamalkan petunjuk tersebut demi keselamatan diri, bukan sekadar untuk menambah wawasan, ilmu, atau pengetahuan kosmetik semata.Tafsir Kata Alyaum (Hari Ini)Merujuk secara spesifik pada kondisi Islam pada hari ketika Nabi mengucapkan kalimat tersebut.   ​Segala bentuk bid'ah (perkara baru dalam agama) yang terjadi setelah hari tersebut, secara otomatis dikeluarkan dan tidak termasuk ke dalam cakupan kalimat "Masa ana alaihil yaum".Kedudukan Para Sahabat (Wa Ash-habii)Apa yang dijalani oleh para sahabat adalah representasi dari Islam kaffah yang dibawa Nabi dalam segala bidang kehidupan. Sejarah mencatat tidak ada satu pun sahabat Nabi yang membuat bid'ah dalam agama; munculnya bid'ah baru terjadi pada masa setelah generasi mereka.Hakikat Identitas Golongan yang SelamatNabi ﷺ tidak menyebutkan identitas golongan ini dalam bentuk nama aliran, nama sekte, ataupun nama organisasi tertentu. Beliau justru menyebutkan sifat, manhaj, dan cara beragama. Barangsiapa yang memiliki sifat Islam kaffah ini dalam seluruh sendi kehidupannya, maka dialah Ahlussunnah Wal Jamaah. Berkat ke-kaffahan inilah, kelak di hari kiamat wajah-wajah mereka menjadi bersih dan bersinar.Hakikat Identitas Golongan yang SelamatBerpegang teguh pada Islamnya para sahabat secara utuh adalah satu-satunya sebab yang menyelamatkan seseorang dari iftiroq (perpecahan) dan menjaga mereka agar tetap bersatu di atas jalannya Nabi dan para sahabat.Takhrij dan Status Validitas Riwayat HadistHadits perpecahan umat dengan redaksi di atas diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi. Syaikh Al-Albani menghukumi hadist (dengan redaksi utama ini) berstatus Hasan. Walaupun di dalam kitab beliau yang lain, beliau pernah menghukumnya dhoif (lemah). Di dalam kitab Al-Jami’ Ash-Shoghir Wa Ziyadatuhu, terdapat lafadz spesifik yang berada di antara dua tanda kurung (qousain) yang berbunyi:حتَّى إن كانَ مِنهم من أتى أُمَّهُ علانيَةً لَكانَ في أمَّتي من يصنعُ ذلِكَLafadz khusus di dalam kurung inilah yang secara tegas didhoifkan oleh Syaikh Al-Albani. Di luar lafadz dalam kurung yang lemah tersebut, sisa lafadz hadis lainnya tetap dihukumi sebagai lafadz yang Hasan.Kesimpulan Berdasarkan pemaparan Halaqah 59 Kitab Fadhlul Islam oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A, dapat disimpulkan bahwa perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan merupakan bukti kenabian yang nyata, di mana 72 golongan di antaranya diancam masuk neraka secara tidak kekal akibat dosa iftiroq atau memisah-misahkan urusan agama. Keselamatan dari ancaman tersebut hanya diberikan kepada satu golongan yang selamat (Al-Firqotun Najiyah), yaitu Ahlussunnah Wal Jamaah, yang didefinisikan oleh Nabi \text{shallallâhu 'alaihi wasallam} melalui sifat, manhaj, dan cara beragama yang bersandar penuh pada Islam yang murni (kaffah) di atas jalannya Rasulullah dan para sahabat (mā ana 'alaihi al-yaum wa ash-hābī) tanpa tercampur bid'ah. Secara validitas riwayat, hadis riwayat At-Tirmidzi ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani, kecuali untuk redaksi tambahan spesifik di dalam kurung mengenai perbuatan keji terang-terangan yang dihukumi dhoif.

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 9

.Halaqah yang Ke-9 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan para Rasul adalah tentang “Cara Beriman dengan Para Rasul Bagian yang Ketujuh”👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعاDiantara cara beriman dengan para Rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa seluruh Nabi dan Rasul alaihimussalam telah bersepakat dalam berdakwah kepada Tauhid dan mengingatkan umat mereka dari kesyirikan.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya kalian hanya menyembah kepada Allah dan jauhilah Thagut” (An-Nahl : 36)yang dimaksud dengan Thagut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, didalam ayat yang lain Allah mengatakanوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang Rasul kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku maka hendaklah kalian menyembah hanya kepadaKu” (Al-Anbiya : 25)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengatakanوَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ…“Dan ingatlah saudara kaum ‘Ad ketika dia memberikan peringatan kepada kaumnya yang tinggal di bukit-bukit pasir dan telah berlalu para Rasul yang memberikan peringatan sebelum dia dan setelah dia supaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah” (Al-Ahqaf : 21)Tiga ayat diatas menunjukkan bahwasanya setiap Rasul dan setiap Nabi inti dakwah mereka satu yaitu “Tauhid”Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah menceritakan didalam Al-Quran beberapa kisah Nabi alaihimussalam dan dakwah mereka diantara kaumnya. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menceritakan tentang Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ…“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya maka dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 59)Dan Allah menceritakan tentang Nabi Hud عَلَيهِ السَّلَامُ Allah mengatakanوَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ”Dan kami telah mengutus kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud عَلَيهِ السَّلَامُ, dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian kecuali Dia, mengapa kalian tidak bertakwa” (Al-A’raf : 65)Dan Allah mengatakanوَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…“Dan Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh dia berkata _wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 73)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman tentang Nabi Syu’aib عَلَيهِ السَّلَامُوَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…“Dan Kami telah mengutus kepada Madyan saudara mereka Syu’aib, dia berkata wahai kaumku sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia… ” (Al-A’raf 85)Ayat-ayat diatas menunjukkan bahwasanya masing-masing dari para Nabi dan Rasul berdakwah kepada Tauhid, dia merupakan inti dari ajaran mereka.Adapun hukum hukum seperti tata cara ibadah atau halal dan haram maka kadang-kadang terjadi perbedaan. Allah berfirman…لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ …“Masing-masing Kami telah jadikan syariat dan juga cara” (Al-Ma’idah : 48)Rasulullah ﷺ bersabda:وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌوَPara Nabi adalah saudara sebapak ibu-ibu mereka berbeda tetapi Agama mereka satu (HR Al-Bukhari dan Muslim)Di dalam hadits ini para Nabi diumpamakan seperti saudara saudara dari satu bapak berlainan ibu maksudnya sama-sama berdakwah kepada Tauhid meskipun dengan cara ibadah yang berbeda.Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullahفالمراد به أصل التوحيد و أصل الطاعة لله تعالى و إن اختلفت صفاتهاmaka yang dimaksud dengannya adalah pokok pokok dari Tauhid dan pokok ketaatan kepada Allah تَعَالَى meskipun berbeda caranya

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 59

Halaqah 59 | Dalil lain Bahwa Orang-Orang Beriman Akan Melihat Allāh di AkhiratKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهDisana ada beberapa ayat yang lain yang menunjukkan tentang aqidah Ahlussunnah bahwasanya orang-orang yang beriman akan melihat Allāh sebagaimana dalam sebuah ayat yang ada dalam surat Yunus۞ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ ..[QS Yunus 26]Bagi orang-orang yang beriman (orang² yang ahsan) yaitu orang² yang Ihsan di dunia, Ihsan itu merasa dilihat oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia beriman akhirnya dia bertakwa beramal shalehلِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟Bagi mereka ini Al Husna,apa yang dimaksud dengan Al Husna? Al Jannah /Surga, ini adalah muannats dari al-ahsan yang artinya adalah yang paling baik dan Al Jannah ini adalah negeri yang paling baik, negeri yang paling indah negeri yang paling nikmat , maka orang-orang yang Ihsan di dunia merasa diawasi oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia berbuat baik beramal shaleh beriman maka dia akan mendapatkan Surga وَزِيَادَةٌ dan dia akan mendapatkan tambahan, Surga dan juga tambahan, nah apa yang dimaksud dengan وَزِيَادَةٌ apa yang dimaksud dengan tambahan tafsirkan oleh Nabi ﷺ dan beliau ﷺ adalah tentunya yang paling mengetahui tentang makna yang ada di dalam Al-Qur’an di dalam sebuah hadis Nabi ﷺ mengatakan,إذا دخل أهل الجنة الجنةApabila penduduk Surga masuk ke dalam Surga,يقول الله -تبارك وتعالى-: تريدون شيئا أزيدكم؟Maka Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan apakah kalian menginginkan sesuatu sebagai tambahan?Ahlul Jannah disini berarti semuanya baik umatnya Nabi ﷺ maupun umat² Nabi sebelumnya, apakah kalian menginginkan suatu tambahan lagi? tambahan nikmat lagi padahal mereka sudah merasakan berbagai kenikmatan,فيقولون:Mereka mengatakan,ألم تبُيِّضْ وُجُوهنا؟ ألم تُدْخِلْنَا الجنة وتُنَجِّنَا من النار؟Bukankah engkau Ya Allāh telah menjadikan wajah² kami berseri Engkau telah memasukkan kami kedalam Surga yang dengannya kami merasakan berbagai kenikmatan bukan hanya itu bukankah Engkau telah menyelamatkan kami dari Neraka , maksudnya adalah sudah merasakan keberuntungan yang luar biasa selamat dari Neraka dan bisa merasakan kenikmatan seperti iniKami merasakan keberuntungan yang luar biasa selamat dari azab terakhir Alhamdulillahفيكشف الحِجَاب، فما أُعْطُوا شيئا أحَبَّ إليهم من النظر إلى ربهمMaka Allāh subhanahu wa ta’ala menyingkap hijabNya, Allāh subhanahu wa ta’ala menyingkap hijabNya, sehingga mereka pun melihat Allāh, disebutkan oleh Nabi ﷺ maka penduduk Surga tidak diberikan sebuah kenikmatan yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada Allāh azza wa jalla ketika mereka melihat Allāh maka kenikmatan yang sebelumnya mereka rasakan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan yang mereka rasakan ketika melihat Allāh Rabbul’alamin.Ini menunjukkan betapa nikmatnya melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’alamKemudian beliau mengatakanوَزِيَادَةٌMaka melihat wajah Allāh inilah yang dimaksud dengan ziyadah/tambahan didalam ayat tadi.ثم هذه الأيةkemudian Nabi ﷺ membaca Ayat iniلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌBagi orang-orang yang berbuat baik maka dia akan mendapatkan Surga dan juga tambahan. hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, berarti di sini Nabi ﷺ menafsirkan ayat dan menafsirkan ayat terkadang dengan ayat yang lain, terkadang menafsirkan ayat dengan hadis ini adalah termasuk tingkatan yang tinggi dalam masalah tafsir ketika menafsirkan ayat dengan ayat yang lain dengan hadist Nabi ﷺلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌDalam sebuah ayat yaitu dalam Surat Qof Allāh mengatakan,اۨدۡخُلُوۡهَا بِسَلٰمٍ‌ؕ ذٰلِكَ يَوۡمُ الۡخُلُوۡدِلَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌMasuklah kalian ke dalam Surga dalam keadaan selamat hari tersebut adalah hari kekekalan tidak ada kebinasaan setelah itu. Bagi mereka apa yang mereka kehendaki apa yang antum kehendaki akan diberikan oleh Allāh di dunia antum banyak keinginan-keinginan antum yang tidak tercapai itu di dunia, tapi nanti kalau sudah masuk ke Surganya Allāh subhanahu wa ta’alaلَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَاBagi mereka apa yang mereka kehendaki,Kita mau apa saja diberikan oleh Allāh subhanahu wa ta’alaوَلَدَيْنَا مَزِيْدٌDan di sisi Kami ada tambahan.Tambahan di sini yang dimaksud adalah melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’ala.Dalam Ayat yang lain didalam surat Al mutafifin Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ[QS Al-Muthaffifin:15]Sekali² tidak sesungguhnya mereka (orang² kafir) yang mereka mendustakan sesungguhnya mereka dari Rabb mereka di hari tersebut mereka akan dihalangi, mahjun dihalangi yaitu mereka tidak akan melihat Allāh.Al imam Syafi’i rahimahullah & beliau adalah seorang muhadits seorang faqih seorang mufassir beliau memahami dari ayat ini beliau mengatakan bahwasanya ketika ketika Allāh subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwasanya orang-orang kafir dihalangi dari Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan bahwasanya orang-orang yang beriman sebaliknya itu mereka akan dibiarkan dan diberikan karunia oleh Allāh untuk melihat Allah subhanahu wa ta’ala, orang² yang kufar ditutup sehingga mereka tidak bisa melihat wajah Allāh, melihat wajah Allah adalah sebuah kenikmatan adapun orang-orang yang beriman maka oleh Allāh subhanahu wa ta’ala diberikan karunia untuk melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’ala ini disebutkan oleh Al imam Syafi’i, bisa dilihat didalam tafsir Ibnu Katsir nukilan dari Ibnu Katsir terhadap ucapan Al Imam Asy Syafi’i rahimahullāh

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 34 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Makna Syahadat Muhammadan Rasūlullāh (bag 01)Kemudian setelah mendatangkan dalīl, beliau rahimahullāh menyebutkan tentang makna شهادة أن محمداً رسول اللهBeliau rahimahullāh mengatakan:ومعنى شهادة أن محمدا رسول الله: طاعته فيما أمر، وتصديقه فيما أخبر، واجتناب ما عنه نهى وزجر، وأن لا يعبد الله إلا بما شرعKarena kedudukan syahadah di dalam agama Islām berkaitan langsung dengan judul kitāb ini yaitu tentang معرفة نبيكم عليه الصلاة والسلامMaka beliau perjelas disini, beliau terangkan disini tentang makna شهادة أن محمداً رسول الله.Orang yang sudah bersaksi bahwasanya beliau adalah “Seorang Rasūl” dan masing-masing kita adalah orang yang telah bersaksi, yang menyatakan bahwasanya beliau adalah Rasūlullāh.Maka ini memiliki makna dan ada konsekuensinya, syahadat ini adalah kalimat yang mengandung konsekuensi sebagaimana telah berlalu penjelasannya.Syahadat adalah kalimat yang mengandung sumpah, jika kita sudah bersaksi bahwasanya beliau adalah Rasūlullāh orang yang telah diutus Allāh kepada kita, maka kita harus yakin bahwa beliau membawa sesuatu atau misi.Beliau diutus oleh Allāh kepada kita pasti beliau membawa sesuatu dari Allāh. Sebagai mana telah kita contohkan kemarin bahwa seorang utusan presiden diutus kepada kita pasti utusan tersebut membawa sesuatu atau pesan⇒ Maka apa yang dibawa oleh utusan Allāh adalah amanat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Apa amanatnya?√ Terkadang berupa perintah√ Terkadang berupa berita√ Terkadang berupa larangan√ Terkadang berupa cara ibadah.Ini lah yang dibawa oleh Rasūlullāh.Allāh telah membebankan kepada beliau untuk membawa amanat-amanat ini agar disampaikan kepada manusia.1. PERINTAHAllāh mewahyukan kepada beliau sebuah perintah untuk disampaikan kepada manusia, maka Rasūlullāh menyampaikan kepada manusia, memerintahkan kepada manusia demikian dan demikian.Ucapan beliau yang isinya adalah perintah-perintah bagi manusia asalnya adalah wahyu. Jibrīl yang membawa perintah tadi kepada Rasūlullāh.√ Orang yang mentaati perintah beliau (Rasūlullāh) pada hakikatnya dia telah mentaati perintah Allāh Azza wa Jalla.√ Orang yang mentaati perintah utusan pada hakikatnya dia telah mentaati perintah yang mengutusnya.Dan perintah Allāh ada dua macam :√ Perintah yang sifatnya Wajib.√ Perintah yang sifatnya Mustahab (Sunnah).⑴ Perintah yang wajibJika TIDAK dilaksanakan perintah tersebut maka kita berdosa dan jika kita melaksanakan perintah tersebut maka kita mendapatkan pahala.Contoh : Shalāt 5 waktu, Puasa di bulan Ramadhan, Zakat bagi orang yang memiliki kewajiban, Berbakti kepada kedua orang tua, dan seterusnya.⑵ Perintah yang mustahabJika tidak dilaksanakan perintah tersebut maka seseorang tidak berdosa.Contoh : Puasa Sunnah, Shalāt Sunnah, Dzikir Sunnah.Seorang muslim harus yakin bahwasanya apa yang diperintahkan oleh Allāh pasti didalamnya ada maslahat. Ini kaidah dan prinsip yang harus kita pegang.

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 9 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (Bagian 7)

Halaqah 9 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (Bagian 7)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman dengan para Rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa seluruh Nabi dan Rasul alaihimussalam telah bersepakat dalam berdakwah kepada Tauhid dan mengingatkan umat mereka dari kesyirikan.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya kalian hanya menyembah kepada Allah dan jauhilah Thagut” (An-Nahl : 36)Yang dimaksud dengan Thagut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, didalam ayat yang lain Allah mengatakan:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang Rasul kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku maka hendaklah kalian menyembah hanya kepadaKu” (Al-Anbiya : 25)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengatakan:وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ…“Dan ingatlah saudara kaum ‘Ad ketika dia memberikan peringatan kepada kaumnya yang tinggal di bukit-bukit pasir dan telah berlalu para Rasul yang memberikan peringatan sebelum dia dan setelah dia supaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah” (Al-Ahqaf : 21)Tiga ayat diatas menunjukkan bahwasanya setiap Rasul dan setiap Nabi inti dakwah mereka satu yaitu “Tauhid”Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah menceritakan didalam Al-Quran beberapa kisah Nabi alaihimussalam dan dakwah mereka diantara kaumnya. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menceritakan tentang Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ…“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya maka dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 59)Dan Allah menceritakan tentang Nabi Hud عَلَيهِ السَّلَامُ Allah mengatakan:وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ”Dan kami telah mengutus kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud عَلَيهِ السَّلَامُ, dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian kecuali Dia, mengapa kalian tidak bertakwa” (Al-A’raf : 65)Dan Allah mengatakan:وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…“Dan Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh dia berkata _wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 73)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman tentang Nabi Syu’aib عَلَيهِ السَّلَامُوَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…“Dan Kami telah mengutus kepada Madyan saudara mereka Syu’aib, dia berkata wahai kaumku sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia… ” (Al-A’raf 85)Ayat-ayat diatas menunjukkan bahwasanya masing-masing dari para Nabi dan Rasul berdakwah kepada Tauhid, dia merupakan inti dari ajaran mereka.Adapun hukum hukum seperti tata cara ibadah atau halal dan haram maka kadang-kadang terjadi perbedaan.Allah berfirman:…لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ …“Masing-masing Kami telah jadikan syariat dan juga cara” (Al-Ma’idah : 48)Rasulullah ﷺ bersabda:وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌوَ"Para Nabi adalah saudara sebapak ibu-ibu mereka berbeda tetapi Agama mereka satu" (HR Al-Bukhari dan Muslim)Di dalam hadits ini para Nabi diumpamakan seperti saudara-saudara dari satu bapak berlainan ibu maksudnya sama-sama berdakwah kepada Tauhid meskipun dengan cara ibadah yang berbeda.Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullahفالمراد به أصل التوحيد و أصل الطاعة لله تعالى و إن اختلفت صفاتها"Maka yang dimaksud dengannya adalah pokok pokok dari Tauhid dan pokok ketaatan kepada Allah تَعَالَى meskipun berbeda caranya".@komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 59

Pembahasan Dalil Kelima Hadits Dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu Bag 03Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-59 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.وَسَتْفَتِرقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةًUmatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.Dan sungguh umat Islam ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan.Firqoh sama dengan millah, jalan, aliran. Sebagaimana orang-orang Bani Israil juga berpecah-belah, maka umat ini akan berpecah belah. Dan ini menunjukkan tentang kenabian Shallallâhu Alaihi Wasallam, mengabarkan sesuatu yang belum terjadi. Karena sesuatu yang ghoib, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dialah saja yang mengetahuinya. Aalimul ghoib. Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib, maksudnya adalah ghoib yang mutlak yang terjadi di masa yang akan datang. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menampakkan ilmu yang ghoib tadi kecuali kepada sebagian makhluk-Nya dan mereka adalah para rasul.{عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا} [الجن : 26](Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.Allah tidak menampakkan ilmu yang ghoib tadi kepada siapapun kecuali orang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridhoi di antara para rasul.Jadi di antara manusia, di antara makhluk yang dikabarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang ilmu ghoib adalah para rasul saja. Itupun hanya sebagian saja, bukan semuanya. Sampai Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam menafikan dari dirinya ilmu ghoib ini. Lalu bagaimana dengan yang lain?كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةًSemuanya 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu.Kenapa mereka masuk ke dalam neraka?Sebabnya adalah karena mereka iftiroq, berpecah-belah. Kenapa mereka berpecah belah? Karena mereka memisah-misahkan agamanya. Ancamannya adalah masuk ke dalam neraka, dan maksud dari masuk ke dalam neraka ini bukan masuk ke dalam neraka selamanya sebagaimana orang-orang kafir, tidak. Karena beliau berbicara di sini tentang umatnya. Hadzihil umah, maksudnya adalah umat ijabah. Yaitu umat beliau Shallallâhu Alaihi Wasallam. Sehingga masuk kulliha finnnar bukan kholidina fiiha, bukan kekal di dalamnya. Tapi maksudnya di sini adalah tahta masyiatillah, mereka di bawah kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kalau Allah menghendaki diazab dengan sebab mereka memisah-misahkan agamanya tadi. Dan kalau Allah menghendaki Allah ampuni yang demikian.Sehingga tidak diazab dengan sebab iftiroq, yaitu memisah-misahkan agama tadi. Dan kalau ada di antara mereka yang tidak diampuni karena memisah-misahkan agama tadi, kemudian diazab di dalam neraka, maka itu hanya sementara dan kelak dia akan masuk ke dalam surga.إِلاَّ وَاحِدَةًKecuali satu golongan saja.Siapa satu golongan tadi? Mereka adalah Ahlussunnah, yang mereka kaffah di dalam Islamnya. Maka merekalah yang selamat dari ancaman neraka tadi.Hadits ini menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara keseluruhan. Di sini disebutkan, di antara hal yang menjadikan sebab seseorang masuk ke dalam neraka adalah karena berpecah-belah. Mengapa? Karena mereka berkelompok-kelompok, beraliran-aliran, karena mereka memisah-misahkan agamanya.Sebagaimana dalam ayat :{إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ} [الأنعام : 159]Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.Ini menunjukkan bahwasanya memisah-misah agama dilarang. Karena ada ancaman dan menunjukkan tentang wajibnya tidak memisah-misahkan. Yaitu masuk Islam secara keseluruhan, sebagaimana Ahlussunnah Wal jamaah.Islam secara keseluruhan, tidak memisah-misahkan agama. Dalam masalah akidah, akhlak, ibadah, dakwah, imamah, semuanya kita menggunakan Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam.Kemudian para sahabat mengatakan :قَالُوا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيYa Rasulullah, siapakah golongan yang satu ini?Yaitu Illa Wahidah tadi Ya Rasulullah?Maka para sahabat yang mereka menginginkan keselamatan, bertanya kepada Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam dan tidak diundur. Karena ini pertanyaan yang penting, masing-masing dari mereka ingin masuk ke dalam yang wahidah tadi. Dan tidak ingin masuk di dalam yang terancam dengan neraka tadi.Sehingga qooluu, bukan hanya 1 orang, mereka bertanya man hiya ya Rasulullah?Siapa kelompok ini ya Rasulullah?Para sahabat bertanya untuk mengamalkan apa yang mereka tanyakan, bukan sekedar bertanya dan menambah ilmu, menambah pengetahuan, tidak. Tapi ingin mengamalkan. Semangat hatinya untuk bertanya, sehingga timbul dari mereka pertanyaan-pertanyaan yang memang bermanfaat.قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم وَأَصْحَابِيYang dimaksud dengan kelompok tadi adalah kelompok yang berpegangan dengan apa yang aku berada di atasnya hari ini.Alyaum yang diucapkan oleh Nabi yaitu hari tersebut, ketika Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mengucapkan ucapan ini.Maksudnya adalah Islam yang beliau bawa saat itu. Adapun yang terjadi setelah hari tersebut, berupa bid’ah, maka ini bukan termasuk maka ana alaihil yaum.مَا أَنَا عَلَيْهِ اليومMaksudnya adalah Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, baik dalam masalah akidah, ibadah, dan seterusnya. Itu masuk di dalam kalimat مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم.وَأَصْحَابِيDan apa-apa yang para sahabatku ada di atasnya hari ini.Apa yang dilakukan oleh para sahabat, termasuk ke dalam Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam secara keseluruhan.Para sahabat tidak ada di antara mereka yang membuat bid’ah di dalam agama. Islam mereka dan Islam yang kaffah, di dalam seluruh bidang kehidupannya, mereka Islam secara kaffah. Bid’ah ini terjadi setelah mereka.Ini adalah golongan yang selamat tadi. Beliau menyebutkan di sini sifat, manhaj, cara, yang dilakukan oleh firqoh yang wahidah tadi. Beliau tidak menyebutkan tentang nama aliran, nama organisasi, atau yang lain, tapi beliau menyebutkan di sini tentang sifat dari golongan tersebut. Barangsiapa yang memiliki sifat ini yang intinya adalah Islam secara kaffah, Islam secara sempurna dalam seluruh kehidupan dia, maka dia adalah golongan yang satu ini, Ahlussunnah Wal jamaah. Makanya kita katakan bahwa Ahlussunnah Wal jamaah merekalah yang masuk Islam secara kaffah dalam seluruh bidang kehidupan. Dan inilah yang menjadikan kelak di hari kiamat wajah menjadi bersih, bersinar, karena mereka masuk Islam secara kaffah.Dari sini juga kita mengetahui dari ucapan beliau :مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم وَأَصْحَابِيMenunjukkan tentang wajibnya Islam secara keseluruhan, karena Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mensifati golongan yang wahidah tadi dengan مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم وَأَصْحَابِي. Dan ini adalah sebab selamatnya mereka dari iftiroq. Karena mereka berpegang dengan Islamnya para sahabat secara keseluruhan, akhirnya mereka menjadi selamat dari perpecahan. Dan mereka tetap bersatu bersama Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Syaikh Al Albani, beliau menghukumi hadits ini dengan hadits yang hasan.Di dalam kitab yang lain beliau menghukumi hadits ini dengan dhoif.Kemudian di dalam Al jami’ ash shoghir Wa ziyadatuhu disebutkan bahwasanya yang ada di dalam lafadz ini di antara dua qousain (tanda kurung) ini didhoifkan oleh Syaikh Al Albani.حتَّى إن كانَ مِنهم من أتى أُمَّهُ علانيَةً لَكانَ في أمَّتي من يصنعُ ذلِكَIni didhoifkan oleh Syaikh Al Albani.Adapun lafadz yang lain, maka ini adalah lafadz yang hasan

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 59 | Dalil lain Bahwa Orang-Orang Beriman Akan Melihat Allāh di Akhirat

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A Penulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullahالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهDisana ada beberapa ayat yang lain yang menunjukkan tentang aqidah Ahlussunnah bahwasanya orang-orang yang beriman akan melihat Allāh sebagaimana dalam sebuah ayat yang ada dalam surat Yunus۞ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ ..[QS Yunus 26]Bagi orang-orang yang beriman (orang² yang ahsan) yaitu orang² yang Ihsan di dunia, Ihsan itu merasa dilihat oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia beriman akhirnya dia bertakwa beramal shalehلِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟Bagi mereka ini Al Husna,apa yang dimaksud dengan Al Husna? Al Jannah /Surga, ini adalah muannats dari al-ahsan yang artinya adalah yang paling baik dan Al Jannah ini adalah negeri yang paling baik, negeri yang paling indah negeri yang paling nikmat , maka orang-orang yang Ihsan di dunia merasa diawasi oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia berbuat baik beramal shaleh beriman maka dia akan mendapatkan Surga وَزِيَادَةٌ dan dia akan mendapatkan tambahan, Surga dan juga tambahan, nah apa yang dimaksud dengan وَزِيَادَةٌ apa yang dimaksud dengan tambahan tafsirkan oleh Nabi ﷺ dan beliau ﷺ adalah tentunya yang paling mengetahui tentang makna yang ada di dalam Al-Qur’an di dalam sebuah hadis Nabi ﷺ mengatakan,إذا دخل أهل الجنة الجنةApabila penduduk Surga masuk ke dalam Surga,يقول الله -تبارك وتعالى-: تريدون شيئا أزيدكم؟Maka Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan apakah kalian menginginkan sesuatu sebagai tambahan?Ahlul Jannah disini berarti semuanya baik umatnya Nabi ﷺ maupun umat² Nabi sebelumnya, apakah kalian menginginkan suatu tambahan lagi? tambahan nikmat lagi padahal mereka sudah merasakan berbagai kenikmatan,فيقولون:Mereka mengatakan,ألم تبُيِّضْ وُجُوهنا؟ ألم تُدْخِلْنَا الجنة وتُنَجِّنَا من النار؟Bukankah engkau Ya Allāh telah menjadikan wajah² kami berseri Engkau telah memasukkan kami kedalam Surga yang dengannya kami merasakan berbagai kenikmatan bukan hanya itu bukankah Engkau telah menyelamatkan kami dari Neraka , maksudnya adalah sudah merasakan keberuntungan yang luar biasa selamat dari Neraka dan bisa merasakan kenikmatan seperti iniKami merasakan keberuntungan yang luar biasa selamat dari azab terakhir Alhamdulillahفيكشف الحِجَاب، فما أُعْطُوا شيئا أحَبَّ إليهم من النظر إلى ربهمMaka Allāh subhanahu wa ta’ala menyingkap hijabNya, Allāh subhanahu wa ta’ala menyingkap hijabNya, sehingga mereka pun melihat Allāh, disebutkan oleh Nabi ﷺ maka penduduk Surga tidak diberikan sebuah kenikmatan yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada Allāh azza wa jalla ketika mereka melihat Allāh maka kenikmatan yang sebelumnya mereka rasakan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan yang mereka rasakan ketika melihat Allāh Rabbul’alamin.Ini menunjukkan betapa nikmatnya melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’alamKemudian beliau mengatakanوَزِيَادَةٌMaka melihat wajah Allāh inilah yang dimaksud dengan ziyadah/tambahan didalam ayat tadi.ثم هذه الأيةkemudian Nabi ﷺ membaca Ayat iniلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌBagi orang-orang yang berbuat baik maka dia akan mendapatkan Surga dan juga tambahan. hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, berarti di sini Nabi ﷺ menafsirkan ayat dan menafsirkan ayat terkadang dengan ayat yang lain, terkadang menafsirkan ayat dengan hadis ini adalah termasuk tingkatan yang tinggi dalam masalah tafsir ketika menafsirkan ayat dengan ayat yang lain dengan hadist Nabi ﷺلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌDalam sebuah ayat yaitu dalam Surat Qof Allāh mengatakan,اۨدۡخُلُوۡهَا بِسَلٰمٍ‌ؕ ذٰلِكَ يَوۡمُ الۡخُلُوۡدِلَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌMasuklah kalian ke dalam Surga dalam keadaan selamat hari tersebut adalah hari kekekalan tidak ada kebinasaan setelah itu. Bagi mereka apa yang mereka kehendaki apa yang antum kehendaki akan diberikan oleh Allāh di dunia antum banyak keinginan-keinginan antum yang tidak tercapai itu di dunia, tapi nanti kalau sudah masuk ke Surganya Allāh subhanahu wa ta’alaلَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَاBagi mereka apa yang mereka kehendaki,Kita mau apa saja diberikan oleh Allāh subhanahu wa ta’alaوَلَدَيْنَا مَزِيْدٌDan di sisi Kami ada tambahan.Tambahan di sini yang dimaksud adalah melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’ala.Dalam Ayat yang lain didalam surat Al mutafifin Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ[QS Al-Muthaffifin:15]Sekali² tidak sesungguhnya mereka (orang² kafir) yang mereka mendustakan sesungguhnya mereka dari Rabb mereka di hari tersebut mereka akan dihalangi, mahjun dihalangi yaitu mereka tidak akan melihat Allāh.Al imam Syafi’i rahimahullah & beliau adalah seorang muhadits seorang faqih seorang mufassir beliau memahami dari ayat ini beliau mengatakan bahwasanya ketika ketika Allāh subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwasanya orang-orang kafir dihalangi dari Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan bahwasanya orang-orang yang beriman sebaliknya itu mereka akan dibiarkan dan diberikan karunia oleh Allāh untuk melihat Allah subhanahu wa ta’ala, orang² yang kufar ditutup sehingga mereka tidak bisa melihat wajah Allāh, melihat wajah Allah adalah sebuah kenikmatan adapun orang-orang yang beriman maka oleh Allāh subhanahu wa ta’ala diberikan karunia untuk melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’ala ini disebutkan oleh Al imam Syafi’i, bisa dilihat didalam tafsir Ibnu Katsir nukilan dari Ibnu Katsir terhadap ucapan Al Imam Asy Syafi’i rahimahullāh.

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah yang ke-59 dari Silsilah ‘Ilmiyah Beriman kepada hari akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Pertama”

Halaqah yang ke-59 dari Silsilah ‘Ilmiyah Beriman kepada hari akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Pertama”Setelah sebagian orang-orang yang beriman selamat melewati neraka, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan izin kepada mereka, untuk memberikan syafaat kepada saudara-saudara mereka, orang-orang yang beriman yang terjatuh ke dalam neraka.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda didalam hadīts Abū Said Al-Khudri Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim,◆Ketika orang-orang yang beriman selamat dari neraka, maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya tidak ada yang lebih gigih di dalam memohon kepada Allāh , hak saudara-saudara mereka yang jatuh ke dalam neraka dari pada orang-orang yang beriman di hari kiamat.Mereka berkata, Wahai Rabb kami, saudara-saudara kami dahulu mereka shalāt bersama kami, berpuasa bersama kami dan haji bersama kami.◆ Ini menunjukkan tentang keutamaan berteman dengan orang-orang shālih dan melakukan ibadah-ibadah tersebut bersama mereka.Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,Maka Allāh berkata, “Keluarkanlah oleh kalian orang-orang yang kalian kenal. Maka diharamkanlah wajah-wajah mereka atas neraka (Maksudnya orang-orang yang beriman yang melakukan dosa besar dan disiksa di dalam neraka akan dilindungi wajah-wajah mereka dari api neraka, sehingga bisa dikenal)Mereka pun mengeluarkan banyak orang. Ada di antaranya yang api neraka sudah membakar sampai pertengahan kedua betisnya. Dan ada yang sampai kedua lututnya. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan?Allāh berkata,Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat satu dinar, maka keluarkanlah.Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan”Maka Allāh berkata,Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat setengah dinar, maka keluarkanlah.Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan.Maka Allāh berkata,Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat satu dzarrah, maka keluarkanlah.Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang.Dzarrah artinya adalah semut, itu yang dikenal oleh orang Arab. Mereka mengatakan semut kecil itu dengan dzarrah, jangan diartikan dengan biji sawi atau yang semisalnya, dzarrah menurut orang Arab adalah semut.Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,Mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan di dalam neraka seorangpun yang memiliki kebaikan”Allāh berkata,Para malāikat telah memberikan syafā’at, para nabi telah memberikan syafā’at dan orang-orang yang beriman telah memberikan syafā’at . Dan tidak tersisa, kecuali Dzat Yang Maha Penyayang.Kemudian Allāh menggenggam satu genggaman dari neraka, dan mengeluarkan kaum yang tidak pernah beramal sedikitpun.Keadaan mereka telah menjadi arang.Kemudian mereka dilempar ke dalam sungai yang berada di mulut-mulut surga (yang dinamakan dengan sungai kehidupan).Mereka pun tumbuh seperti tumbuhnya benih di dalam lumpur sisa banjir (Maksudnya akan dengan cepat tumbuh, karena benih yang berada di dalam lumpur sisa banjir akan lebih cepat tumbuh disebabkan banyaknya faktor yang mendukung, seperti tanah yang lembut, air yang memadai dan adanya unsur-unsur yang bermanfaat. Sebagaimana hal ini diketahui oleh para ahli)Kemudian Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:Apakah kalian pernah melihat benih yang tumbuh, ketika dekat dengan batu atau pohon? bagian yang dekat dengan matahari akan berwarna kuning dan hijau. Dan yang lebih dekat dengan bayangan maka akan berwarna putih.Maksudnya ada yang mengatakan bahwasanya bagian badan yang terbakar yang lebih dekat dengan surga akan lebih cepat sempurna dari pada bagian badan yang lebih dekat dengan neraka.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Kemudian mereka akan keluar seperti mutiara. Dan di leher-leher mereka ada khawatim, yang dikenal oleh para penduduk surga.”Sebagian mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengankhawatim (beberapa barang yang terbuat dari emas yang dikalungkan di leher mereka)Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:Maka berkatalah para penduduk surga, “Mereka adalah orang-orang yang Allāh bebaskan”Allāh telah memasukkan mereka ke dalam surga tanpa sebab amalan yang mereka amalkan dan tanpa sebab kebaikan yang mereka lakukan.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 58

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 57Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Kelima Hadist dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiallahu ‘Anhu (Bagian 02)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي​Arti Hadits:​"Dan sesungguhnya Bani Israil telah berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan." Para sahabat bertanya: "Siapa mereka wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Siapa saja yang mengikuti apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya hari ini.".​Akar Penyimpangan Umat Islam Akibat Tasyabbuh​Apa yang diamalkan oleh ahlul bid'ah saat ini, hampir selalu memiliki asal-usul atau akar dari agama Bani Israil (Yahudi dan Nasrani). ​Berikut adalah detail manifestasi tasyabbuh (penyerupaan) yang dibahas dalam kajian:Dua Akar Karakter Buruk Ahli Kitab​Secara umum, penyimpangan beragama di dunia ini tidak lepas dari dua karakter buruk berikut:Karakter Yahudi (Berilmu tapi Tidak Beramal):Memiliki pengetahuan tentang kebenaran tetapi menyembunyikannya atau tidak mempraktikkannya. Di dalam umat Islam, ini diwakili oleh ulama-ulama yang buruk (ulama su').​Karakter Nasrani (Beramal tanpa Ilmu):Memiliki semangat, ambisi, dan perasaan yang tinggi dalam beribadah, tetapi tidak bersandar pada dalil yang shahih. Di dalam umat Islam, ini adalah karakter utama para pelaku bid'ah (ahlul bid'ah).Menjadikan Kuburan Sebagai Tempat Ibadah​Praktik Bani Israil:Nabi menyatakan (HR. Muslim) bahwa kaum terdahulu (Yahudi & Nasrani) memiliki kebiasaan membangun tempat ibadah (masjid) di atas kuburan para nabi dan orang shalih mereka akibat pengagungan yang berlebihan.​Tasyabbuh Umat Islam:Sebagian kaum muslimin meniru persis perbuatan ini dengan mengagungkan kuburan, membangun masjid di atasnya, atau sengaja beribadah di sana, padahal Nabi sudah memberikan larangan tegas: "Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian dari hal tersebut.".Peringatan Hari Lahir Nabi (Maulid)​Praktik Nasrani: Menjadikan hari kelahiran Nabi Isa 'alaihissalam sebagai hari raya keagamaan yang besar (dikenal sebagai Hari Natal).​Tasyabbuh Umat Islam:Mengadopsi konsep yang sama dengan membuat perayaan tahunan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.Komersialisasi Pengampunan Dosa & Ritual Musik​Praktik Nasrani Zaman Pertengahan: Ketika para pemuka agama Kristen memiliki kekuasaan, mereka memeras jemaatnya dengan menjual surat penebusan dosa (Suququl Ghufron atau Kaffarotu adz-Dzunub)—artinya, ampunan Tuhan bisa dibeli dengan uang. Selain itu, mereka beribadah dengan nyanyian/musik dan memasang gambar/patung Yesus di tempat ibadah.​Tasyabbuh Umat Islam:Praktik menjadikan musik/nyanyian sebagai bagian dari ritual ibadah, serta penggunaan foto/gambar tokoh agama secara berlebihan, merembes ke sebagian kelompok muslim. Ini bersumber dari jalur Thariqatun-Nashoro (semangat beramal tapi minus ilmu).Mengada-adakan Syariat Baru (Konsep Rahbaniyyah)​Sebab Turunnya Dalil (QS. Al-Hadid: 27):Allah menjelaskan bahwa kaum Nasrani menciptakan sendiri konsep Rahbaniyah (kerahiban/memutus diri dari dunia secara ekstrem). Allah tidak pernah mewajibkannya, tetapi mereka membuatnya sendiri dengan alasan "mencari ridha Allah". Pada akhirnya, mereka sendiri tidak mampu menjaganya.Tasyabbuh Umat Islam:Kaum ahlul bid'ah meniru perilaku ini dengan membuat-buat ritual ibadah baru atau metode beragama yang ekstrem dengan klaim niat baik untuk mendekatkan diri kepada Allah, padahal hal itu tidak disyariatkan.Tabarruk pada Pohon/Benda (Kasus Dzat Anwath)​Kisah Sahabat (HR. Tirmidzi): Saat menuju Perang Hunain, beberapa sahabat yang baru masuk Islam melihat orang musyrik memiliki pohon bidara tempat menggantungkan senjata agar sakti, yang disebut Dzat Anwath. Spontan mereka meminta kepada Nabi: "Ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwath.".Respons Tegas Nabi:Nabi bertakbir "Allahu Akbar!" dan menyatakan bahwa ucapan itu persis seperti ucapan Bani Israil kepada Nabi Musa: "Buatkanlah untuk kami tuhan (berhala) sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan." Nabi menutupnya dengan peringatan: "Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian."​Tasyabbuh Umat Islam:Mencari berkah (ngalap berkah/tabarruk) secara serampangan pada benda mati, pohon, atau tempat-tempat tertentu yang tidak ada dalilnya dari syariat.Sihir, Dukun, dan Fitnah Wanita​Sihir & Dukun: Meniru tabiat orang Yahudi yang sangat menyukai hal-hal gaib yang menyimpang, perdukunan, dan praktik sihir.​Fitnah Wanita: Mengulang sejarah kehancuran Bani Israil. Rasulullah pernah mengingatkan bahwa fitnah (ujian) pertama yang menghancurkan Bani Israil adalah masalah wanita, dan kini banyak umat Islam yang jatuh pada lubang yang sama.Membuka Pintu Perayaan Khusus (Tauqifiyah)​Atsar Umar bin Khattab:Seorang Yahudi berkata kepada Umar bahwa ada satu ayat di Al-Qur'an (QS. Al-Maidah: 3 tentang kesempurnaan Islam) yang andai turun di kalangan Yahudi, pasti hari itu akan dijadikan hari raya ('Ied). Umar menjawab bahwa umat Islam telah mengetahui hari dan tempat turunnya (hari Jumat di padang Arafah), namun umat Islam tidak serta merta membuat hari raya baru dari akal sendiri.​Tasyabbuh Umat Islam:Menganggap bahwa jika ada momentum sejarah Islam yang besar (seperti Hijrah Nabi, Nuzulul Qur'an, atau Isra Mi'raj), maka otomatis boleh dibuatkan perayaan khusus. Padahal urusan hari raya bersifat tauqifiyah (harus saklek berdasarkan perintah Allah dan Rasul, bukan hasil kreasi manusia).Mengapa Terjadi Perpecahan (Tafarruq)Korelasi penting antara bab Tasyabbuh (penyerupaan) dengan Tafarruq (perpecahan umat):​Kaidah Mutlak: Perpecahan adalah sunnatullah yang pasti terjadi pada umat Islam karena mereka meniru perpecahan yang terjadi pada Bani Israil (Bani Israil pecah jadi 72, Islam pecah jadi 73).Akar Masalah Berdasarkan Al-Qur'an (QS. Al-An'am: 159): Allah berfirman bahwa orang-orang terdahulu menjadi terpecah belah dan berkelompok-kelompok (syiya'an) disebabkan karena mereka memecah-belah agama mereka (farroqū dīnahum).​Mengapa Agama Terpecah? Karena mereka tidak berislam secara kaffah (totalitas).​Mereka hanya mau tunduk pada syariat yang sesuai dengan hawa nafsu, selera, atau logika mereka saja.​Di satu sisi mereka berislam, di sisi lain mereka mengikuti hawa nafsu.Kesimpulan Seandainya Bani Israil dahulu, dan umat Islam saat ini, mau tunduk dan memasrahkan diri secara total (Kaffah) kepada seluruh syariat yang dibawa oleh nabi mereka tanpa pilih-pilih, niscaya perpecahan dan ancaman neraka ini tidak akan pernah terjadi.

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 58 | Dalil Bahwa Orang-orang Beriman Akan Melihat Allāh di Akhirat

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhكما نطق به كتاب ربناSebagaimana yang telah ada didalam Al-Qur’an (kitab Rabb kita),Sebagaimana telah diucapkan oleh kitab Rabb kita atau yang disebutkan dalam kitab Rabb kita yaitu Al-Qur’an, beliau menyebutkan di sini satu diantara dalil-dalil yang menunjukkan tentang bahwasanya orang-orang yang beriman akan melihat Allāh di Surgaوُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ[QS Al Qiyamah 22-23]Wajah² dihari tersebut dalam keadaan berseri²/ dalam keadaan bergembira terlihat di dalam wajah mereka kegembiraan yang luar biasa, gembira dengan nikmat-nikmat yang mereka dapatkan ketika mereka masuk ke dalam Surga, selamatkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dari Jahanam dimasukkan ke dalam Surga dan seluruhnya adalah kenikmatan dan di situ mereka selama-lamanya di dalam Surga, terlihat kegembiraan yang ada di dalam hati-hati mereka itu terpancar pada wajah-wajah mereka kegembiraan yang luar biasa, tentunya lebih dari kegembiraan penduduk dunia dengan dunianya kegembiraan orang-orang yang fasiq dengan kefasikannya itu adalah laasayy sesuatu yang tidak ada apa-apanya dibanding dengan kegembiraan penduduk Surga saat itu dengan balasan yang Allāh subhanahu wa ta’ala berikan kepada mereka di dalam Surga,وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏ ٢٢Wajah-wajah di hari tersebut dalam keadaan berser²اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏ ٢٣Dalam keadaan mereka memandang kepada Rabb mereka,Kata نَاظِرَ dalam bahasa Arab ada beberapa penggunaan terkadang disebutkan نَاظِرَ tanpa ada setelahnya (Illa, atau fii) tapi langsung dengan objeknya kalau demikian penggunaannya maka maksudnya adalah menunggu, نَاظِرَ setelahnya langsung objek maka ini artinya adalah menunggu seperti misalnya firman Allāh subhanahu wa ta’ala ketika Allāh menyebutkan tentang ucapan orang-orang munafik laki² & wanita yang mereka meminta kepada orang-orang yang beriman untuk menunggu , Allāh mengatakan,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا…[QS Al Hadid 19]Hari dimana orang2 munafik baik laki-laki maupun wanita mereka berkata kepada orang² yang beriman انظُرُونَا /tunggu kalian yaitu ketika sebelum orang-orang yang beriman mereka menyeberangi Shirat dan sebelumnya berkumpul antara orang² yang beriman dengan orang² munafik kemudian Allāh subhanahu wa ta’ala berkehendak untuk memisahkan antara orang² yang beriman dengan orang² munafik diberikan orang² yang beriman cahaya sehingga dengannya mereka bisa berjalan tentunya sesuai dengan iman dan juga amal saleh mereka semakin besar iman dan juga amal saleh mereka maka akan semakin besar cahaya yang mereka akan dapatkan saat itu sehingga kalau semakin besar cahayanya semakin mudah dan semakin cepat dia berjalan ada orang yang beriman yang lebih kecil keimanannya lebih lemah keimanannya maka dia akan mendapatkan cahaya sesuai dengan kadar amal saleh, orang² yang munafikun maka Allah subhanahu wa ta’ala awalnya memberikan kepada mereka cahaya setelah mereka merasa bergembira merasa bisa menipu Allāh dan juga RasulNya ternyata Allāh subhanahu wa ta’ala menghendaki untuk memadamkan cahaya orang² munafikun, akhirnya mereka tidak memiliki cahaya mereka tertipu sebagaimana mereka dahulu menipu Allāh dan juga RasulNya sekarang mereka ditipu, dalam keadaan mereka tidak memiliki cahaya dan orang-orang yang beriman terus maju dengan cahaya yang mereka bahkan mereka mengatakan,انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَTunggu, kami ingin mendapatkan cahaya kalianقِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْDikatakan kepada mereka mundur kalian, karena mereka adalah orang² munafik menampakkan keislaman tapi mereka menyembunyikan kekufuran yang berhak untuk mendapatkan cahaya yang sebenarnya adalah orang² yang beriman luar dan dalamnya adapun orang yang hanya menampakkan dhahirnya Islam di dalamnya adalah kekufuran maka irji’u mundur kalianفَالْتَمِسُوا نُورًاCari kalian cahaya sendiriIni penggunaan انظُرُو tanpa ada di sana illa tanpa ada di sana fii maknanya adalah menunggu .Terkadang انظُرُو setelahnya adalah fii maka maknanya adalah memikirkan contoh misalnya firman Allāh ﷻ,أَوَلَمْ يَنظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ..Apakah mereka tidak melihat (فِي) didalam kerajaan langit dan juga bumi,Maksudnya adalah memikirkan tentang kebesaran kerajaan Allāh subhanahu wa ta’ala yang ada di atas maupun yang ada di bumi ini ketika seseorang memikirkan tentang kerajaan Allāh dan kebesaran Allāh maka dia akan merasakan ketenangan dan juga ketentraman di dalam hidupnya,Inilah kerajaan Rabbku yang kusembah segala sesuatu adalah milik Allāh, kenapa kita takut dengan makhluk, kenapa kita takut dengan kemiskinan, kenapa kita takut dengan masa depan? Allāh subhanahu wa ta’ala yang Maha kaya lihat kerajaanNya yang ada di langit maupun yang ada di bawah itu adalah semuanya milik Allāh dan engkau adalah hamba Allāh jadikan kita takut kepada Allāh subhanahu wa ta’ala menjadikan kita merasa rendah dan jauh dari ketakaburan, makhluk selain kita banyak yang mereka tunduk kepada Allāh .Berarti انظُرُو disini adalah memikirkan.Disana ada انظُرُو illa, kalau setelahnya adalah illa maka maknanya adalah melihat dengan mata, kalau tadi melihat dengan pikiran seperti misalnya firman Allāh subhanahu wa ta’ala,أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْApakah mereka tidak melihat kepada unta bagaimana unta diciptakan oleh Allāh,seseorang mengatakanانظُرُو إِلَىAku melihat kepada dinding maka maknanya dalam melihat dengan matanya ini penggunaan yang harus kita perhatikan dalam bahasa Arab namanya huruf jar ini ada pengaruhnya, pengaruh dalam istidlal, pengaruhnya ini memiliki makna dalam kehidupan kita sehari-hari juga kita hendaklah teliti dalam menggunakan ini dalam kita berbicara dengan orang lain Nahdhortu jidal (salah) tapi kalau Nahdhortu illal jidal (shahih ) Nahdhortu jidal berarti antum menunggu dinding , tapi kalau mengatakan Nahdhortu ilaljidal (kita melihat Dinding) kalau kita mengatakan Nahdhortu fil jidal (aku melihat didalam dinding/ maksudnya memikirkan).Sekarang yg ada didalam Ayat iniوُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏ ٢٢اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏ ٢٣Wajah-wajah dari tersebut dalam keadaan berseri-seri kepada Rabb mereka, mereka memandang.Apa yang dipakai di sini, huruf ila berarti maknanya adalah memandang dengan mata-mata mereka makanya kita katakan hak melihat Allāh subhanahu wa taala itu adalah hak,إيانا بالابصر، dalam keadaan langsung dengan wajah² mereka dengan pandangan² mereka.Kemudian yang kedua di sini pemandang di sini نَّاضِرَةٌ disandarkan kepada Al wujuh karena sebelumnyaوُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏Berarti نَّاضِرَةٌ disini wujuh dan wujuh (wajah²) ini tempat adanya mata kita mata kita ini berada di wajah ini juga semakin menguatkan bahwasanya yang dimaksud dengan melihat di sini adalah melihat dengan mata mereka, kita harus yakini bagaimana caranya wallahu taala alam , yang menjelaskan kita meyakini bahwasanya kita akan melihat Allāh dalam Surga, kita berdoa semoga Allāh subhanahu wa taala memudahkan kita untuk masuk ke dalam Surganya Allāh dan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala bersama orang² yang beriman yg lain, orang yang cinta kepada sesuatu maka kalau kecintaannya itu adalah benar dan sebelumnya dia belum pernah melihat dia akan rindu untuk benar-benar melihat sesuatu tersebut, ketika di dalam hati seseorang ada kecintaan misalnya terhadap Rasulullah ﷺ kecintaan yang sebenarnya yang luar biasa maka seorang umat dia akan berkeinginan rindu seandainya dia bisa melihat meskipun hanya sebentar orang yang dia cintai itu Rasulullah ﷺ dengan sebagian mereka mungkin di berikan keutamaan oleh Allāh subhanahu wa taala melihat Nabi ﷺ di dalam mimpinya jika Allāh subhanahu wa taala mengetahui tentang kebenaran seseorang kejujuran seseorang yang ingin melihat Nabi ﷺ, seseorang hamba yang setiap hari yang dia sujud kepada Allāh, setiap hari dia berdzikir kepada Allāh, setiap hari dia merasakan kenikmatan dari Allāh subhanahu wa ta’ala dan seluruh nikmat adalah dari Allāh dari awal sampai akhir, selama ini dia hanya mendengar apa yang Kalamullah didalam Al-Qur’an mendengar nama²Nya mendengar sifat²Nya, mendengar tentang keagunganNya kalau memang sampai & meningkat keimanannya semakin tinggi keimanannya maka dia akan rindu untuk bertemu dengan Allāh subhanahu wa ta’ala, rindu melihat Allāh senang dan cinta untuk bertemu dengan Allāh subhanahu wa ta’ala yang selama ini diagungkan yang selama ini dia rela bersabar untuk Allāh bersabar untuk menjaga shalat lima waktunya bersabar, ketika dia berdakwah ketika dia dicela orang dirintangi dia bersabar untuk Allāh maka dia ingin segera bertemu dengan Allāh banyak kerinduan yang membara di dalam hatinya untuk bertemu dengan Allāh barangsiapa yang demikian keadaannya maka Allāh juga senang bertemu dengan orang tersebut,مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُBarangsiapa yang senang untuk bertemu dengan Allāh, maka Allāh subhanahu wa ta’ala senang bertemu dengan orang tersebut.Sebagian orang² yang beriman ketika mereka melihat fitnah yang besar didunia dan dia mengingat Allāh dia punya keinginan di dalam hatinya untuk segera bertemu dengan Allāh dan meninggalkan dunia yang dan seisinya kematian itu adalah gembiraan tersendiri bagi seorang al-muhib yang mencintai Allāh subhanahu wa ta’ala, karena dengannya dia akan bertemu dengan Allāh subhanahu wa ta’ala, orang yang mencintai sesuatu paling di sesuatu tersebut adalah sesuatu yang sangat berharga di dalam kehidupannya Allāh subhanahu wa ta’ala yang menciptakan dia yang memberikan nikmat kepadanya telah memberikan dia hidayah maka harusnya ada di dalam diri kita masing-masing keinginan untuk bertemu dengan Allāh dan untuk melihat Allāh subhanahu wa ta’ala.Silahkan masing-masing melihat pada dirinya sudahkah perasaan tersebut ada ya sudahkah kita memiliki mahabbah kecintaan untuk bertemu dengan Allāh Nabi ﷺ mengatakan,Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allāh maka Allāh senang untuk bertemu dengannya,وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏٢٢اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏ ٢٣dan di sini didahulukanاِلٰى رَبِّهَاSebelum نَاظِرَةٌ dan asalnya adalahنَاظِرَةٌ اِلٰى رَبِّهَاketika dia dibalik dan dimajukan kedepan menunjukkan bahwasanya disini ada penekanan/ penguatan sungguh-sungguh mereka akan melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’alaاِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌmereka akan melihat Rabb-nya

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 08 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Dua Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke delapan dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Diantara keyakinan orang-orang musyrikin Quraisy, bahwa dengan menyembah orang-orang shalih tersebut mereka bisa semakin dekat dengan Allah.Allah berfirman,(وَٱلَّذِینَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِیَاۤءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِیُقَرِّبُونَاۤ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰۤ إِنَّ ٱللَّهَ یَحۡكُمُ بَیۡنَهُمۡ فِی مَا هُمۡ فِیهِ یَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَهۡدِی مَنۡ هُوَ كَـٰذِبࣱ كَفَّارࣱ)[Surat Az-Zumar 3]“Dan orang-orang yang menjadikan sekutu bagi Allah, mereka mengatakan, ‘Tidaklah kami menyembah mereka kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah.’”Mereka mengatakan, “Kami adalah orang-orang yang jauh dari Allah, banyak berbuat maksiat, banyak melakukan dosa, banyak lalai kepada Allah. Sedangkan orang-orang shalih tersebut, mereka adalah orang-orang yang memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. Sehingga kalau kami beribadah kepada orang-orang tersebut, mereka akan mendekatkan diri kami kepada Allah, sehingga kami pun memiliki kemuliaan di dunia.”Kemudian Allah membantah dan mengatakan,إِنَّ ٱللَّهَ یَحۡكُمُ بَیۡنَهُمۡ فِی مَا هُمۡ فِیهِ یَخۡتَلِفُونَ“Sesungguhnya Allah menghukumi diantara mereka di dalam apa yang mereka perselisihkan.”Yaitu antara Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang musyrikin tersebut, siapa yang benar diantara mereka, apakah Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam yang mengajak kepada tauhid dan memperingatkan mereka dari kesyirikan ataukah yang benar adalah orang-orang musyrikin tersebut yang mereka berdo’a dan beribadah kepada orang-orang shalih tersebut dengan maksud supaya dekat dengan Allah.Allah mengatakan,إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَهۡدِی مَنۡ هُوَ كَـٰذِبࣱ كَفَّارࣱ“Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang berdusta dan sangat kufur.”Allah mensifati ucapan mereka tadi dengan dua sifat:1. DustaMenunjukkan bahwa ucapan mereka مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِیُقَرِّبُونَاۤ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰۤ yang artinya “Tidaklah kami menyembah mereka kecuali supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah” ini adalah ucapan yang tidak benar. Allah katakan, ini adalah kedustaan. Dan Allah lebih tahu tentang hakikatnya.2. Sangat kufurMenunjukkan bahwa cara seperti ini tidak dibenarkan secara syari’at.Diantara alasan mereka meminta do’a orang-orang shalih tersebut dan meminta syafa’at kepada mereka adalah bahwa orang-orang shalih tersebut dalam keadaan hidup. Dan apabila hidup maka dia mendengar. Dan apabila dia mendengar maka kita boleh meminta do’a kepada mereka, sebagaimana ketika orang-orang shalih tersebut hidup kita boleh meminta do’a dari mereka.Jawabannya:1. Kita meyakini bahwa mereka, di alam kubur mereka hidup dengan kehidupan alam barzakh, yang berbeda dengan alam kita di dunia. Para Nabi, para syuhada, hidup dengan kehidupan yang lebih baik dan lebih sempurna daripada kehidupan kita.Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,الأَنْبِيَاءُ أَحْيَاءٌ فِي قُبُورِهِمْ يُصَلُّونَ“Para Nabi, mereka hidup di dalam kuburan mereka, dalam keadaan sholat.” [HR. Al Bazzaar, dan dihasankan oleh Syeikh Al Albani Rahimahullah]Dan Allah berfirman,(وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِینَ قُتِلُوا۟ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ أَمۡوا⁠تَۢاۚ بَلۡ أَحۡیَاۤءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ یُرۡزَقُونَ ۝ فَرِحِینَ بِمَاۤ ءَاتَىٰهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ وَیَسۡتَبۡشِرُونَ بِٱلَّذِینَ لَمۡ یَلۡحَقُوا۟ بِهِم مِّنۡ خَلۡفِهِمۡ أَلَّا خَوۡفٌ عَلَیۡهِمۡ وَلَا هُمۡ یَحۡزَنُونَ)[Surat Aali-Imran 169 – 170]“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan oleh Allah kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang, yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan kepada mereka dan mereka pun memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang masih tinggal di belakang mereka, yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih.2. Hidupnya seseorang tidak berarti dia mendengar, karena ada orang yang hidup dan dia tidak mendengar.3. Seandainya dia mendengar di alam barzakh, maka belum tentu dia mendengar do’a orang yang ada di alam dunia ini.Allah berfirman,(إِن تَدۡعُوهُمۡ لَا یَسۡمَعُوا۟ دُعَاۤءَكُمۡ وَلَوۡ سَمِعُوا۟ مَا ٱسۡتَجَابُوا۟ لَكُمۡۖ وَیَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِ یَكۡفُرُونَ بِشِرۡكِكُمۡۚ وَلَا یُنَبِّئُكَ مِثۡلُ خَبِیرࣲ)[Surat Fatir 14]“Kalau kalian berdo’a kepada mereka, mereka tidak mendengar do’a kalian. Dan seandainya mereka mendengar, mereka tidak mengabulkan do’a kalian. Dan di hari kiamat mereka mengingkari kesyirikan kalian dan tidak ada yang mengabarkan kepadamu seperti Allah Yang Maha Mengetahui.”4. Tidak semua suara di dunia ini bisa kita dengar, meskipun kita berada di alam yang sama. Lalu bagaimana dengan suara yang ada di alam yang lain?Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →