🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 8 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 6

Halaqah 8 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 6Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman dengan para Rasul ‘alaihimussalam adalah keyakinan bahwa Allah melebihkan sebagian Nabi dan Rasul diatas sebagian yang lain tanpa merendahkan dan melecehkan harga diri dan kedudukan yang lain.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ“Itu adalah para Rasul, Kami telah muliakan sebagian mereka diatas sebagian yang lain” (Al-Baqarah : 253)Dan Allah berfirman:وَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ…“Dan sungguh Kami telah memuliakan sebagian Nabi diatas sebagian yang lain” (Al-Isra : 55)Adapun ayat yang berbunyi… لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ…“Kami tidak membedakan diantara seorang pun dari Rasul-RasulNya” (Al-Baqarah : 285)Maka yang dimaksud dengan yang membeda-bedakan disini adalah beriman dengan sebagian Rasul dan mengingkari sebagian yang lain, seperti orang yang beriman dengan Nabi ‘Isa عَلَيهِ السَّلَامُ dan kufur dengan Nabi Muhammad ﷺ. Dan sebaik-baik Nabi adalah Ulul ‘Azmi (orang-orang yang memiliki kesabaran yang kuat)Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ…“Maka bersabarlah engkau sebagaimana Ulul ‘Azmi diantara para Rasul telah bersabar” (Al-Ahqaf : 35)Menurut sebagian ulama yang dimaksudkan dengan Ulul ‘Azmi adalah 5 Orang, mereka adalah:① Nabi Nuh② Nabi Ibrahim③ Nabi Musa④ Nabi Isa⑤ Nabi Muhammad ‘AlayhimussalamNama-nama mereka telah terkumpul didalam dua ayat dari surat Al-Ahzab dan surat Asy-Syura.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا“Dan ketika Kami mengambil perjanjian dari para Nabi darimu, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa Ibnu Maryam dan kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kuat” (Al-Ahzab : 7)Dan Allah mengatakan:شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ…“Allah telah mensyariatkan bagi kalian dari agama apa yang Allah wasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah apa yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa” (Asy-Syura : 13)Ke-lima Nabi inilah dan juga Nabi Adam yang tersebut didalam hadits Tentang Asyafa’atul ‘Uzma yang kita sudah sebutkan didalam Silsilah Beriman dengan Hari Akhir.Dan sebaik-baik Ulul ‘Azmi adalah dua orang Nabi, yang keduanya adalah khalilullah (kekasih Allah) beliau berdua adalah Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan Nabi Muhammad ﷺDalilnya adalah firman Allahوَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا“Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasihNya” (An-Nisa’ : 125)Rasulullah ﷺ bersabdaفَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا"Maka sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai kekasih sebagaimana Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih" (HR Muslim)Dan sebaik-baik kekasih Allah adalah Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabdaأنا سيد ولد آدم يوم القيامة"Aku adalah pemuka anak-anak Adam pada hari Kiamat"(HR Muslim)

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Materi 8

Halaqah yang Ke-8 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan para Rasul adalah tentang “Cara Beriman dengan Para Rasul Bagian yang Ke Enam”👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman dengan para Rasul ‘alaihimussalam adalah keyakinan bahwa Allah melebihkan sebagian Nabi dan Rasul diatas sebagian yang lain tanpa merendahkan dan melecehkan harga diri dan kedudukan yang lain.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanتِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ“Itu adalah para Rasul, Kami telah muliakan sebagian mereka diatas sebagian yang lain” (Al-Baqarah : 253)Dan Allah berfirmanوَلَقَدْ فَضَّلْنَا بَعْضَ النَّبِيِّينَ عَلَىٰ بَعْضٍ ۖ…“Dan sungguh Kami telah memuliakan sebagian Nabi diatas sebagian yang lain” (Al-Isra : 55)Adapun ayat yang berbunyi… لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ…“Kami tidak membedakan diantara seorang pun dari Rasul-RasulNya” (Al-Baqarah : 285)Maka yang dimaksud dengan yang membeda-bedakan disini adalah beriman dengan sebagian Rasul dan mengingkari sebagian yang lain, seperti orang yang beriman dengan Nabi ‘Isa عَلَيهِ السَّلَامُ dan kufur dengan Nabi Muhammad ﷺ. Dan sebaik-baik Nabi adalah Ulul ‘Azmi (orang-orang yang memiliki kesabaran yang kuat)Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanفَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ…“Maka bersabarlah engkau sebagaimana Ulul ‘Azmi diantara para Rasul telah bersabar” (Al-Ahqaf : 35)Menurut sebagian ulama yang dimaksudkan dengan Ulul ‘Azmi adalah 5 Orang, mereka adalah:① Nabi Nuh② Nabi Ibrahim③ Nabi Musa④ Nabi Isa⑤ Nabi Muhammad ‘AlayhimussalamNama-nama mereka telah terkumpul didalam dua ayat dari surat Al-Ahzab dan surat Asy-Syura.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا“Dan ketika Kami mengambil perjanjian dari para Nabi darimu, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa Ibnu Maryam dan kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kuat” (Al-Ahzab : 7)Dan Allah mengatakanشَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ…“Allah telah mensyariatkan bagi kalian dari agama apa yang Allah wasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah apa yang Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa ” (Asy-Syura : 13)Ke-lima Nabi inilah dan juga Nabi Adam yang tersebut didalam hadits Tentang Asyafa’atul ‘Uzma yang kita sudah sebutkan didalam Silsilah Beriman dengan Hari Akhir.Dan sebaik-baik Ulul ‘Azmi adalah dua orang Nabi, yang keduanya adalah khalilullah (kekasih Allah) beliau berdua adalah Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan Nabi Muhammad ﷺDalilnya adalah firman Allahوَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا“Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasihNya” (An-Nisa’ : 125)Rasulullah ﷺ bersabdaفَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًاMaka sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai kekasih sebagaimana Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (HR Muslim)Dan sebaik-baik kekasih Allah adalah Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah ﷺ bersabdaأنا سيد ولد آدم يوم القيامةaku adalah pemuka anak-anak Adam pada hari Kiamat (HR Muslim)

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah yang ke-58 dari Silsilah ‘IlmiyahBerimān Kepada hari Akhir adalah tentang “Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian yang keempat”

Halaqah yang ke-58 dari Silsilah ‘IlmiyahBerimān Kepada hari Akhir adalah tentang “Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian yang keempat”Di antara dosa yang bisa menyebabkan seseorang terjatuh ke dalam neraka adalah dosa wanita yang tidak bersyukur kepada suaminya.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:Diperlihatkan kepadaku bahwa sebagian besar penduduk neraka adalah wanita. Mereka telah ingkar.Dikatakan kepada beliau:Apakah mereka ingkar kepada Allāh ?Beliau bersabda: “Mereka ingkar kepada suami-suami mereka, Mengingkari kebaikan-kebaikan mereka, Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sekian lama, kemudian dia melihat darimu sesuatu yang tidak membuat dia senang, maka wanita tersebut akan berkata, “Aku tidak melihat kebaikan sedikitpun darimu”.(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)Seorang wanita yang shālihah hendaklah bersyukur kepada Allāh , kemudian bersyukur kepada suaminya, karena dengan sebabnya Allāh Subhānahu wa Ta’āla√ Menjaga dia sebagai seorang istri.√ Menutupi kekurangannya.√ Menunaikan hajatnya dan lain-lain.Dan secara umum, bersyukur kepada orang lain yang pernah berbuat baik kepada kita diperintahkan dalam agama Islām.Apabila seseorang tidak bisa membalas maka hendaknya dia mendo’akan dengan kebaikan, baik di hadapan orang tersebut maupun tidak di hadapannya.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Barang siapa yang berbuat baik kepada kalian, maka balaslah. Kalau kalian tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, maka do’akanlah dengan kebaikan sampai kalian merasa bahwasanya kalian telah membalas kebaikannya”(Hadīts Shahīh Riwayat Abū Dāwūd dan An-Nasā’i)Dan di antara dosa yang membahayakan kehidupan seorang hamba di akhirat adalah tiga dosa yang tercantum didalam sabda Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.◆ Tiga orang yang Allāh harāmkan masuk surga:⑴ Pecandu khamr (minuman keras)⑵ Anak yang durhaka⑶ Dayyuts (laki-laki yang membiarkan kejelekan di dalam keluarganya)(Hadīts Hasan Riwayat Imām Ahmad di dalam Musnadnya)Seorang kepala keluarga yang membiarkan kemaksiatan di dalam keluarganya dan memfasilitasi, dikhawatirkan terkena ancaman ini.Seorang kepala keluarga dituntut untuk tegas dan lembut dengan keluarganya.Rasa sayang bukan berarti harus memberi semua yang diminta, Dan mendidik mereka untuk taat tidak identik denga kekerasan, Istri dan anak adalah ujian dan titipan Allāh.Kewajiban kita adalah mengerahkan tenaga semaksimal mungkin untuk menjaga diri dan keluarga kita dari neraka, dan hidayah di tangan Allāh Subhānahu wa Ta’āla⇒Dan di antara dosa yang membahayakan adalah durhaka terhadap kedua orang tua.Dan di antara bentuk durhaka adalah menyakiti orang tua dengan lisan, dengan sikap ataupun dengan tangan.Seorang muslim dan muslimah diperintah untuk berlemah-lembut kepada orang tua. Merendahkan diri di hadapan mereka, dan menaati perintah mereka selama tidak bertentangan dengan syariat.Dan di antara bentuk bakti yang paling berharga kepada orang tua kita adalah mengeluarkan mereka dari kegelapan, kesyirikan, kebid’ahan dan kemaksiatan menuju cahaya Tauhīd, Sunnah dan ketaatan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’ālaDan di antara dosa yang membahayakan adalah dosa seorang pejabat yang menipu bawahan atau rakyatnya.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Tidaklah seorang hamba, Allāh berikan jabatan kemudian dia mati dalam keadaan menipu bawahan atau rakyatnya kecuali Allāh akan mengharamkan dia masuk ke dalam surga”(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)Di antara bentuk menipu kepada rakyat adalah tidak menasehati mereka demi keselamatan dunia dan akhirat mereka, tidak memenuhi hak-hak mereka, tidak berbuat adil di antara mereka dan lain-lain(diharamkan masuk surga di sini bahwasanya pelakunya tidak bisa masuk surga secara langsung, namun dia berhak untuk diadzab di dalam neraka terlebih dahulu apabila Allāh menghendaki)Ini adalah beberapa contoh dosa-dosa besar dan para ulama telah mengarang buku khusus tentang dosa-dosa besar, kita pelajari supaya kita bisa menjauhi.Keyakinan ahlusunnah bahwasanya pelaku dosa besar di bawah kehendak Allāh, Kalau Allāh menghendaki, maka Allāh akan mengampuni, dan kalau Allāh menghendaki, maka Allāh akan mengadzabnya terlebih dahulu, sebelum dimasukkan ke dalam surga.Dan adzab neraka bagi pelaku dosa besar, meski tidak selamanya namun bukan sesuatu yang ringan.Satu menit dibakar dengan api dunia adalah perkara yang berat. Maka bagaimana dibakar dalam waktu yang lama dengan api akhirat yang jauh lebih panas.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Api kalian adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari neraka jahanam”(Hadīts Riwayat Bukhāri dan Muslim)Kesabaran di dalam menahan hawa nafsu di dunia, bagi seorang muslim jauh lebih ringan dan lebih mudah dari pada kesabaran di dalam menghadapi adzab neraka di akhirat.Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla melindungi kita dan keluarga kita dari api neraka.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 58

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 58 | Dalil Bahwa Orang-orang Beriman Akan Melihat Allāh di AkhiratHalaqah 58 | Dalil Bahwa Orang-orang Beriman Akan Melihat Allāh di AkhiratKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhكما نطق به كتاب ربناSebagaimana yang telah ada didalam Al-Qur’an (kitab Rabb kita),Sebagaimana telah diucapkan oleh kitab Rabb kita atau yang disebutkan dalam kitab Rabb kita yaitu Al-Qur’an, beliau menyebutkan di sini satu diantara dalil-dalil yang menunjukkan tentang bahwasanya orang-orang yang beriman akan melihat Allāh di Surgaوُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ[QS Al Qiyamah 22-23]Wajah² dihari tersebut dalam keadaan berseri²/ dalam keadaan bergembira terlihat di dalam wajah mereka kegembiraan yang luar biasa, gembira dengan nikmat-nikmat yang mereka dapatkan ketika mereka masuk ke dalam Surga, selamatkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dari Jahanam dimasukkan ke dalam Surga dan seluruhnya adalah kenikmatan dan di situ mereka selama-lamanya di dalam Surga, terlihat kegembiraan yang ada di dalam hati-hati mereka itu terpancar pada wajah-wajah mereka kegembiraan yang luar biasa, tentunya lebih dari kegembiraan penduduk dunia dengan dunianya kegembiraan orang-orang yang fasiq dengan kefasikannya itu adalah laasayy sesuatu yang tidak ada apa-apanya dibanding dengan kegembiraan penduduk Surga saat itu dengan balasan yang Allāh subhanahu wa ta’ala berikan kepada mereka di dalam Surga,وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏ ٢٢Wajah-wajah di hari tersebut dalam keadaan berser²اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏ ٢٣Dalam keadaan mereka memandang kepada Rabb mereka,Kata نَاظِرَ dalam bahasa Arab ada beberapa penggunaan terkadang disebutkan نَاظِرَ tanpa ada setelahnya (Illa, atau fii) tapi langsung dengan objeknya kalau demikian penggunaannya maka maksudnya adalah menunggu, نَاظِرَ setelahnya langsung objek maka ini artinya adalah menunggu seperti misalnya firman Allāh subhanahu wa ta’ala ketika Allāh menyebutkan tentang ucapan orang-orang munafik laki² & wanita yang mereka meminta kepada orang-orang yang beriman untuk menunggu , Allāh mengatakan,يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا…[QS Al Hadid 19]Hari dimana orang2 munafik baik laki-laki maupun wanita mereka berkata kepada orang² yang beriman انظُرُونَا /tunggu kalian yaitu ketika sebelum orang-orang yang beriman mereka menyeberangi Shirat dan sebelumnya berkumpul antara orang² yang beriman dengan orang² munafik kemudian Allāh subhanahu wa ta’ala berkehendak untuk memisahkan antara orang² yang beriman dengan orang² munafik diberikan orang² yang beriman cahaya sehingga dengannya mereka bisa berjalan tentunya sesuai dengan iman dan juga amal saleh mereka semakin besar iman dan juga amal saleh mereka maka akan semakin besar cahaya yang mereka akan dapatkan saat itu sehingga kalau semakin besar cahayanya semakin mudah dan semakin cepat dia berjalan ada orang yang beriman yang lebih kecil keimanannya lebih lemah keimanannya maka dia akan mendapatkan cahaya sesuai dengan kadar amal saleh, orang² yang munafikun maka Allah subhanahu wa ta’ala awalnya memberikan kepada mereka cahaya setelah mereka merasa bergembira merasa bisa menipu Allāh dan juga RasulNya ternyata Allāh subhanahu wa ta’ala menghendaki untuk memadamkan cahaya orang² munafikun, akhirnya mereka tidak memiliki cahaya mereka tertipu sebagaimana mereka dahulu menipu Allāh dan juga RasulNya sekarang mereka ditipu, dalam keadaan mereka tidak memiliki cahaya dan orang-orang yang beriman terus maju dengan cahaya yang mereka bahkan mereka mengatakan,انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ قِيلَTunggu, kami ingin mendapatkan cahaya kalianقِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْDikatakan kepada mereka mundur kalian, karena mereka adalah orang² munafik menampakkan keislaman tapi mereka menyembunyikan kekufuran yang berhak untuk mendapatkan cahaya yang sebenarnya adalah orang² yang beriman luar dan dalamnya adapun orang yang hanya menampakkan dhahirnya Islam di dalamnya adalah kekufuran maka irji’u mundur kalianفَالْتَمِسُوا نُورًاCari kalian cahaya sendiriIni penggunaan انظُرُو tanpa ada di sana illa tanpa ada di sana fii maknanya adalah menunggu .Terkadang انظُرُو setelahnya adalah fii maka maknanya adalah memikirkan contoh misalnya firman Allāh ﷻ,أَوَلَمْ يَنظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِن شَيْءٍ..Apakah mereka tidak melihat (فِي) didalam kerajaan langit dan juga bumi,Maksudnya adalah memikirkan tentang kebesaran kerajaan Allāh subhanahu wa ta’ala yang ada di atas maupun yang ada di bumi ini ketika seseorang memikirkan tentang kerajaan Allāh dan kebesaran Allāh maka dia akan merasakan ketenangan dan juga ketentraman di dalam hidupnya,Inilah kerajaan Rabbku yang kusembah segala sesuatu adalah milik Allāh, kenapa kita takut dengan makhluk, kenapa kita takut dengan kemiskinan, kenapa kita takut dengan masa depan? Allāh subhanahu wa ta’ala yang Maha kaya lihat kerajaanNya yang ada di langit maupun yang ada di bawah itu adalah semuanya milik Allāh dan engkau adalah hamba Allāh jadikan kita takut kepada Allāh subhanahu wa ta’ala menjadikan kita merasa rendah dan jauh dari ketakaburan, makhluk selain kita banyak yang mereka tunduk kepada Allāh .Berarti انظُرُو disini adalah memikirkan.Disana ada انظُرُو illa, kalau setelahnya adalah illa maka maknanya adalah melihat dengan mata, kalau tadi melihat dengan pikiran seperti misalnya firman Allāh subhanahu wa ta’ala,أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْApakah mereka tidak melihat kepada unta bagaimana unta diciptakan oleh Allāh,seseorang mengatakanانظُرُو إِلَىAku melihat kepada dinding maka maknanya dalam melihat dengan matanya ini penggunaan yang harus kita perhatikan dalam bahasa Arab namanya huruf jar ini ada pengaruhnya, pengaruh dalam istidlal, pengaruhnya ini memiliki makna dalam kehidupan kita sehari-hari juga kita hendaklah teliti dalam menggunakan ini dalam kita berbicara dengan orang lain Nahdhortu jidal (salah) tapi kalau Nahdhortu illal jidal (shahih ) Nahdhortu jidal berarti antum menunggu dinding , tapi kalau mengatakan Nahdhortu ilaljidal (kita melihat Dinding) kalau kita mengatakan Nahdhortu fil jidal (aku melihat didalam dinding/ maksudnya memikirkan).Sekarang yg ada didalam Ayat iniوُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏ ٢٢اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏ ٢٣Wajah-wajah dari tersebut dalam keadaan berseri-seri kepada Rabb mereka, mereka memandang.Apa yang dipakai di sini, huruf ila berarti maknanya adalah memandang dengan mata-mata mereka makanya kita katakan hak melihat Allāh subhanahu wa taala itu adalah hak,إيانا بالابصر، dalam keadaan langsung dengan wajah² mereka dengan pandangan² mereka.Kemudian yang kedua di sini pemandang di sini نَّاضِرَةٌ disandarkan kepada Al wujuh karena sebelumnyaوُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏Berarti نَّاضِرَةٌ disini wujuh dan wujuh (wajah²) ini tempat adanya mata kita mata kita ini berada di wajah ini juga semakin menguatkan bahwasanya yang dimaksud dengan melihat di sini adalah melihat dengan mata mereka, kita harus yakini bagaimana caranya wallahu taala alam , yang menjelaskan kita meyakini bahwasanya kita akan melihat Allāh dalam Surga, kita berdoa semoga Allāh subhanahu wa taala memudahkan kita untuk masuk ke dalam Surganya Allāh dan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala bersama orang² yang beriman yg lain, orang yang cinta kepada sesuatu maka kalau kecintaannya itu adalah benar dan sebelumnya dia belum pernah melihat dia akan rindu untuk benar-benar melihat sesuatu tersebut, ketika di dalam hati seseorang ada kecintaan misalnya terhadap Rasulullah ﷺ kecintaan yang sebenarnya yang luar biasa maka seorang umat dia akan berkeinginan rindu seandainya dia bisa melihat meskipun hanya sebentar orang yang dia cintai itu Rasulullah ﷺ dengan sebagian mereka mungkin di berikan keutamaan oleh Allāh subhanahu wa taala melihat Nabi ﷺ di dalam mimpinya jika Allāh subhanahu wa taala mengetahui tentang kebenaran seseorang kejujuran seseorang yang ingin melihat Nabi ﷺ, seseorang hamba yang setiap hari yang dia sujud kepada Allāh, setiap hari dia berdzikir kepada Allāh, setiap hari dia merasakan kenikmatan dari Allāh subhanahu wa ta’ala dan seluruh nikmat adalah dari Allāh dari awal sampai akhir, selama ini dia hanya mendengar apa yang Kalamullah didalam Al-Qur’an mendengar nama²Nya mendengar sifat²Nya, mendengar tentang keagunganNya kalau memang sampai & meningkat keimanannya semakin tinggi keimanannya maka dia akan rindu untuk bertemu dengan Allāh subhanahu wa ta’ala, rindu melihat Allāh senang dan cinta untuk bertemu dengan Allāh subhanahu wa ta’ala yang selama ini diagungkan yang selama ini dia rela bersabar untuk Allāh bersabar untuk menjaga shalat lima waktunya bersabar, ketika dia berdakwah ketika dia dicela orang dirintangi dia bersabar untuk Allāh maka dia ingin segera bertemu dengan Allāh banyak kerinduan yang membara di dalam hatinya untuk bertemu dengan Allāh barangsiapa yang demikian keadaannya maka Allāh juga senang bertemu dengan orang tersebut,مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُBarangsiapa yang senang untuk bertemu dengan Allāh, maka Allāh subhanahu wa ta’ala senang bertemu dengan orang tersebut.Sebagian orang² yang beriman ketika mereka melihat fitnah yang besar didunia dan dia mengingat Allāh dia punya keinginan di dalam hatinya untuk segera bertemu dengan Allāh dan meninggalkan dunia yang dan seisinya kematian itu adalah gembiraan tersendiri bagi seorang al-muhib yang mencintai Allāh subhanahu wa ta’ala, karena dengannya dia akan bertemu dengan Allāh subhanahu wa ta’ala, orang yang mencintai sesuatu paling di sesuatu tersebut adalah sesuatu yang sangat berharga di dalam kehidupannya Allāh subhanahu wa ta’ala yang menciptakan dia yang memberikan nikmat kepadanya telah memberikan dia hidayah maka harusnya ada di dalam diri kita masing-masing keinginan untuk bertemu dengan Allāh dan untuk melihat Allāh subhanahu wa ta’ala.Silahkan masing-masing melihat pada dirinya sudahkah perasaan tersebut ada ya sudahkah kita memiliki mahabbah kecintaan untuk bertemu dengan Allāh Nabi ﷺ mengatakan,Barangsiapa yang senang bertemu dengan Allāh maka Allāh senang untuk bertemu dengannya,وُجُوۡهٌ يَّوۡمَٮِٕذٍ نَّاضِرَةٌ ۙ‏٢٢اِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ ۚ‏ ٢٣dan di sini didahulukanاِلٰى رَبِّهَاSebelum نَاظِرَةٌ dan asalnya adalahنَاظِرَةٌ اِلٰى رَبِّهَاketika dia dibalik dan dimajukan kedepan menunjukkan bahwasanya disini ada penekanan/ penguatan sungguh-sungguh mereka akan melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’alaاِلٰى رَبِّهَا نَاظِرَةٌmereka akan melihat Rabb-nya

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 58

Pembahasan Dalil Kelima Hadits Dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu Bag 02Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-58 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Kalau kita teliti banyak sekali apa yang diamalkan oleh ahlul bid’ah dan lain-lain ternyata memang ada asalnya di dalam agama orang-orang Bani Israil. Contoh, misalnya menjadikan kuburan sebagai masjid. Ini ada asalnya di dalam apa yang dilakukan oleh Bani Israil.Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mengatakan :ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم وصالحيهم مساجد، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد؛ فإنيي أنهاكم عن ذلك (رواه مسلم)Man Kana qoblakum di sini adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani.Kemudian ulama yang mereka tidak mengamalkan ilmunya, maka ini ada di dalam diri orang-orang Yahudi. Orang yang semangat beramal tapi tidak berdasarkan ilmu, sebagaimana ini adalah ahlul bid’ah, maka ini dilakukan oleh Nasrani. Tidak lepas dari dua ini,1. Mungkin dia berilmu tapi tidak mengamalkan ilmunya.2. Atau dia semangat beramal tapi dia tidak kembali kepada ilmu.Contoh yang lain maulud nabi, mereka juga menjadikan hari lahirnya Isa sebagai hari raya mereka, ada di dalam Bani Israil. Contoh yang lain, kalau kita melihat sejarah di abad pertengahan dan ketika orang-orang Kristen, mereka punya kedudukan, mereka memeras orang-orang yang ada di bawah dengan kaffarotu adz-dzunub, suququl ghufron, yakni ada surat-surat yang di situ ada permintaan untuk bertobat, ingin mendapatkan ampunan, maka harus membayar. Itu ada di dalam perilaku orang-orang Nasrani. Nyanyi-nyanyi dan menjadikan itu sebagai ibadah, menjadikan patung, menjadikan gambar, ini juga dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Mereka memiliki gambar Yesus atau patung Yesus, dilakukan oleh sebagian kaum muslimin, secara umum tadi. Kembali kepada thiriqotun-nashoro, semangat dalam beramal, tapi kurang berilmu.{وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۖ فَآتَيْنَا الَّذِينَ آمَنُوا مِنْهُمْ أَجْرَهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ} [الحديد : 27]Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.Dan mereka membuat rohbaniyyah yang mereka buat-buat sendiri.Membuat bid’ah dalam agama, itu seperti orang-orang Nasrani. Atau seperti yang ada dalam hadits Abu Waqid Al-Laitsy Radhiyallahu Anhu, ada di antara umat Islam yang mengatakan seperti yang diucapkan oleh Bani Israil kepada Musa.عن أبي واقد الليثي قال: “خرجنا مع رسول الله ﷺ إلى حنين ونحن حدثاء عهد بكفر، وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط. فمررنا بسدرة، فقلنا: يا رسول الله، اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط، فقال رسول الله ﷺ: الله أكبر، إنها السنن. قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو إسرائيل لموسى: اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ [الأعراف:138]، لتركبن سنن من كان قبلكم” رواه الترمذي وصححهOrang-orang Yahudi, mereka menyukai sihir, menyukai dukun, demikian pula di dalam umat Islam ada yang demikian. Melakukan sihir, menyukai sihir, menyukai dukun.Fitnah Bani Israil yang pertama adalah perempuan, demikian pula banyak di antara umat Islam yang terfitnah dengan wanita, dan seterusnya.Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengarang sebuah kitab, Iqtidho ash-shirothil mustaqim mukholafatu ashabil jahim. Termasuk konsekuensi dari jalan yang lurus adalah kita harus menyelisihi jalan orang-orang yang mereka adalah ashabul jahim. Di situ disebutkan oleh beliau tentang di antara bentuk tasyabbuh umat Islam terhadap orang-orang Yahudi dan Nasrani. Termasuk di antaranya adalah membuat peringatan-peringatan yang tidak ada dasarnya. Dan orang-orang Yahudi sebagaimana dalam atsar, ketika mereka mengucapkan kepada Umar bin Khattab sebuah ayat.أنَّ رَجُلًا، مِنَ اليَهُودِ قالَ له: يا أمِيرَ المُؤْمِنِينَ، آيَةٌ في كِتَابِكُمْ تَقْرَؤُونَهَا، لو عَلَيْنَا مَعْشَرَ اليَهُودِ نَزَلَتْ، لَاتَّخَذْنَا ذلكَ اليومَ عِيدًا. قالَ: أيُّ آيَةٍ؟ قالَ: {اليومَ أكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وأَتْمَمْتُ علَيْكُم نِعْمَتي ورَضِيتُ لَكُمُ الإسْلَامَ دِينًا} [المائدة: 3] قالَ عُمَرُ: قدْ عَرَفْنَا ذلكَ اليَومَ، والمَكانَ الذي نَزَلَتْ فيه علَى النبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، وهو قَائِمٌ بعَرَفَةَ يَومَ جُمُعَةٍ.Bermudah-mudahan membuat sebuah perayaan, padahal ini adalah tauqifiyah. Demikian pula ada sebagian kaum muslimin ada yang mentang-mentang ini adalah kejadian yang besar, hijrahnya Nabi, turunnya Al-Qur’an, isra dan mi’raj, mereka jadikan ini sebagai peringatan. Maka ini adalah termasuk bentuk tasyabbuh dengan orang-orang Yahudi dan juga Nasrani. Dan di sini juga beliau sebutkan tentang masalah pakaian juga demikian. Masalah hari raya.Termasuk di antaranya tawassul bis sholihin, ini dilakukan oleh orang-orang Nasrani. Apa yang mereka yakini tentang Isa? Mereka bertawasul dengan Isa alaihimassalam. Nah, di sini beliau, apa hubungannya dengan ucapan beliau ini dengan ucapan setelahnya, tentang masalah tafarruqul ummah? Ini adalah contoh dari sebelumnya, akan menimpa umat ini apa yang menimpa Bani Israil. Termasuk di antaranya adalah tafarruq. Tafarruq umat ini akan terjadi sebagaimana ini terjadi pada Bani Israil. Itu sudah kaidah, apa yang menimpa Bani Israil akan menimpa kepada umat ini. Kalau Bani Israil ada perpecahan di antara mereka, maka di dalam umat ini juga akan ada perpecahan.ليأتينَّ على أمَّتي ما أتى على بني إسرائيل حَذوَ النَّعلِ بالنَّعلِ ، حتَّى إن كانَ مِنهم من أتى أُمَّهُ علانيَةً لَكانَ في أمَّتي من يصنعُ ذلِكَ ، وإنَّ بَني إسرائيل تفرَّقت على ثِنتينِ وسبعينَ ملَّةً ، وتفترقُ أمَّتي على ثلاثٍ وسبعينَ ملَّةً ، كلُّهم في النَّارِ إلَّا ملَّةً واحِدةً ، قالوا : مَن هيَ يا رسولَ اللَّهِ ؟ قالَ : ما أَنا علَيهِ وأَصحابيDan sesungguhnya Bani Israil telah berpecah belah, mereka menjadi 72 golongan.Kenapa mereka berpecah belah?Ini sudah disebutkan dalam ayat.(إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ) (الأنعام: من الآية159)Kenapa mereka menjadi syiya’an?Karena mereka farroqu diinahum. Sebabnya adalah karena mereka memisah-misah agama Islam yang dibawa oleh Nabi Musa, agama Islam yang dibawa oleh Nabi Isa. Tidak sempurna di dalam keislamannya, tidak kaffah di dalam keislamannya.Yang ini benar-benar manut, taat, tapi dalam hal ini dia masih mengikuti hawa nafsunya. Dalam masalah ini dia Islam, namun dalam hal yang lain dia masih mengikuti hawa nafsunya, belum menyerahkan diri secara total kepada Allah. Sehingga terjadi perpecahan di antara mereka. Seandainya mereka semuanya, sama-sama Islam secara kaffah yang dibawa oleh Nabi mereka, niscaya tidak akan terjadi perpecahan di antara mereka.Sebagaimana hal ini menimpa orang-orang Bani Israil, maka dia akan menimpa umat ini.

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 57

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 57Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Kelima Hadist dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiallahu ‘Anhu(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً» قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي​Dari Abdullah bin 'Amr ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh akan datang kepada umatku apa yang telah datang kepada Bani Israil, serupa seperti sepasang sandal dengan sandal lainnya. Sampai seandainya ada di antara mereka orang yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, niscaya akan ada di antara umatku yang melakukan demikian..."Poin-poin Utama Makna HadistKepastian Terjadinya Penyerupaan (Tasyabbuh)Penggunaan kata Lam di awal dan Nun Taukid di akhir kalimat (Layatiyanna) memberikan penegasan yang sangat kuat bahwa peristiwa ini pasti akan menimpa umat Islam.Cakupan Istilah Bani IsrailYang dimaksud Bani Israil dalam hadits ini mencakup kedua kaum Ahli Kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.Perumpamaan Sepasang Sandal (Hadzwal Na'li bin Na'li)Nabi menggambarkan kemiripan umat Islam yang meniru Bani Israil seperti sepasang sandal (kanan dan kiri) yang sama persis ukuran, warna, bentuk, dan keberadaannya. ​Hal ini menunjukkan betapa parah dan detailnya sebagian umat Islam dalam membebek atau meniru cara hidup mereka.Peniruan dalam Kemaksiatan EkstremUmat Islam tidak hanya meniru hal yang mubah atau baik, melainkan sampai ikut meniru dosa dan kemaksiatan yang sangat keji. Digambarkan dengan perumpamaan ekstrem: seandainya ada Bani Israil yang meniduri ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan tanpa rasa malu, maka akan ada pula dari umat Nabi Muhammad yang tega berbuat demikian.Tujuan Peringatan​Hadits ini ditujukan agar umat Islam memberikan perhatian besar, waspada, dan menjauhkan diri dari sikap mengekor (taklid dan tasyabbuh) terhadap kelakuan buruk Bani Israil.Perpecahan Umat (Tafriqah)Jumlah Perpecahan yang Lebih BanyakNabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) telah terpecah belah menjadi 72 golongan/milah. Umat Islam dikabarkan akan mengalami nasib yang sama, bahkan jumlah perpecahannya lebih banyak, yaitu menjadi 73 golongan. Ini menunjukkan bahwa bahaya perpecahan di dalam tubuh umat Islam jauh lebih kompleks.Ancaman Neraka bagi Mayoritas GolonganRasulullah menegaskan bahwa dari 73 golongan tersebut, "Kulluhum fin-naar" (semuanya masuk neraka). Ancaman ini menunjukkan betapa besarnya dosa keluar dari jalan Islam yang murni dan betapa berbahayanya membuat bid'ah atau sekte-sekte baru dalam agama.Golongan yang Selamat (Al-Firqatun Najiyah)Hanya Satu yang SelamatDi tengah 73 golongan tersebut, Nabi menegaskan hanya ada 1 golongan saja (illa millatan waahidah) yang selamat dari ancaman neraka dan masuk ke dalam surga.Kriteria Mutlak Golongan yang Selamat:Ketika para sahabat bertanya siapa golongan yang satu itu, Nabi menjawab: "Maa ana 'alaihi wa ash-haabi" (Siapa saja yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku tempuh hari ini). ​Definisi Masuk Islam Secara Kaffah (Menyeluruh): Poin inilah yang mengikat hadits ini dengan judul bab. Masuk Islam yang benar dan menyeluruh adalah dengan berislam seperti Islamnya Rasulullah dan para Sahabat (Generasi Awal/Salaf), baik dalam hal aqidah, ibadah, maupun manhaj.Kesimpulan Peringatan (Tahdzir): Hadits ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam agar tidak mengekor kelakuan Ahli Kitab, baik dalam hal moral (kemaksiatan) maupun dalam hal agama (perpecahan dan membuat aliran baru).​Solusi Tunggal: Solusi agar selamat dari perpecahan akhir zaman bukanlah membuat persatuan semu, melainkan kembali kepada Manhaj Sahabat. Berpegang teguh pada apa yang diamalkan oleh Nabi dan para sahabat adalah jalan mutlak untuk mendapatkan keutamaan Islam yang hakiki.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 57 | Orang² Beriman Akan Melihat Allāh di Akhirat

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهMasuk kita dalam pembahasan yg baru yaitu tentang keyakinan Ahlussunnah wal jamaah didalam melihat Allāh dihari Kiamat.Beliau mengatakan rahimahullāh setelah berbicara tentang masalah Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk, berpindah kepada poin yang lain di antara aqidah² Ahlu Sunnah wal jama’ah yang telah menyelisihi mereka sebagian ahlu bid’ah yaitu tentang masalah Ar Rukyat yang dimaksud adalah rukyatullah atau rukyatulmu’mininali rabbihim liyaumil qiyamah/ melihatnya orang-orang yang beriman kepada Rabb mereka dihari kiamat, bagaimana keyakinan Ahlussunnah wal jamaah yang berdasarkan Al-Qur’an dan juga Sunnah dengan pemahaman para shahabat radhiyallahu ta’ala anhum, beliau mengatakan,والرُّؤْيةُ حقٌّ لأهلِ الجَنَّةِ، بِغَيْرِ إحَاطَةٍ ولا كَيْفيَّةٍ،Dan melihat maksudnya adalah melihatnya orang-orang yang beriman kepada Allāh subhanahu wa ta’ala adalah حقٌّ sesuatu yang benar itu akan terjadi bukan sesuatu yang batil bukan sesuatu yang meragukan itu adalah sebuah keyakinan kebenaran yang akan terjadi,لأهلِ الجَنَّةِ،untuk para penduduk surga dan tidak masuk ke dalam surga kecuali orang-orang yang beriman dan penduduk surga mereka adalah orang-orang yang beriman disini bukan hanya umatnya Rasulullah ﷺ tapi mereka adalah untuk seluruh penduduk surga termasuk penduduk surga yang mereka adalah umat-umat terdahulu, umat para Nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ jadi melihat Allāh subhanahu wa ta’ala bukan hanya umatnya Rasulullah ﷺ tapi juga orang-orang yang beriman sebelum kita sebelum umat Nabi ﷺ maka mereka juga akan masuk dalam hal ini yaitu mereka akan melihat Allāh subhanahu wa ta’alaلأهلِ الجَنَّةِ،untuk penduduk surga.Dan diantara dalilnya adalah Firman Allāh subhanahu wa taalaوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌDan wajah² dihari tersebut dalam keadaan berseri kepada Rabb mereka, mereka memandang.Yang dimaksud disini adalah wajah para penduduk Surga, mereka dalam keadaan berseri-seri memandang kepada Allāh subhanahu wa ta’alaحقٌّ لأهلِ الجَنَّةِ،Ini adalah sebuah kebenaran untuk para penduduk Surga.Beliau mengatakan,بِغَيْرِ إحَاطَةٍ ولا كَيْفيَّةٍ،Tanpa إحَاطَةٍ memandang tanpa meliputi karena Allāh subhanahu wa ta’ala adalah Yang maha besar, sementara kita adalah makhluk yang sangat lemah yang sangat kecil di hadapan Allāh, kita beriman bahwasanya kita akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala tapi bukan berarti kita meliputi, karena ini sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh makhlukوَلَا يُحِيْطُوْنَ بِهٖ عِلْمًاDan mereka tidak mungkin meliputi Allāh subhanahu wa ta’ala secara keilmuan secara ilmu dan Allāh mengatakanلَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚPandangan² tidak mungkin men-idrak/ meliputi Allāh subhanahu wa ta’ala.Kita akan memandang kita akan melihat tapi tidak mungkin kita meliputi semuanya, kita terlalu kecil untuk yang demikian, terlalu lemah untuk melakukan yang demikiaلَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُAllāh subhanahu wa ta’ala tidak mungkin di-idrak oleh pandangan², sehingga beliau mengatakanبغير إحاطةMelihat penduduk surga kepada Allāh subhanahu wa ta’ala tanpa meliputi semuanya, jadi Tidak semua orang yang memandang itu bisa meliputi semuanya, kita bisa memandang rumah dari depan kita memandang rumah tapi memandang bukan berarti kita bisa bisa melihat secara keseluruhan yang ada di belakang sana, bagaimana kita melihat yang ada disebelah kanan & kiri bagaimana kita bisa melihatnya.Jadi disana ada ruqyah dan di sana ada indroq, rukyat memandang dan disana ada indraq yaitu meliputi, didalam sebuah ayat ketika Allāh subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang Musa dan juga kaumnya ketika dikejar oleh Firaun dan juga bala tentaranya kemudian mereka sudah sampai di Pantai ketika mereka melihat ke belakang ternyata mereka sudah melihat Fir’aun dan juga bala tentaranya,Allah mengatakanفَلَمَّا تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰٓى اِنَّا لَمُدۡرَكُوۡنَۚ‏[QS Asy syu’ara 61]Ketika dua kelompok ini sudah saling melihat satu dengan yang berarti ini bukan jarak yang jauh lagi sudah saling melihat satu dengan yang lainقَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰٓى اِنَّا لَمُدۡرَكُوۡنَBerkata para pengikut Musa sesungguhnya kita sudah mau disusul.Mereka sudah akan sampai kepada kita. ini menunjukkan bahwasanya Ar Rukyat bukan berarti men-idrak, bisa melihat bukan berarti bisa disusun di sana ada ruqyah di sana ada idraq , sekedar hanya melihat belum tentu bisa meliputi sebagian ahlu bid’ah ada yang mengingkari rukyatullah ﷻ dengan mendatangkan firman Allāh subhanahu wa ta’alaلَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُAllāh subhanahu wa ta’ala tidak di-idrak oleh pandangan².Mereka memahami tidak di idraq berarti tidak bisa dilihat ini istidlal yang khoto beda idraq dengan Rukyat , idraq artinya adalah meliputi /melihat secara keseluruhan, maka benar kita tidak akan mungkin meliputi dan melihat secara keseluruhan tapi kita bisa melihat bagaimana yang Allāh kabarkan sebagaimana dikabarkan oleh Nabi ﷺ jadi yang dinafikan disini adalah idraq bukan rukyat dan yang mengingkari rukyatullah ﷻ diantaranya adalah Mua’tazilah Jahmiyyah, mereka mengingkari rukyatullah,بغير إحاطةTanpa adanya ihtho,Itu yg pertama berdasarkan firman Allāh tadi, kemudian,ولا كيفيةDan juga tanpa kaifiyah,Itu maksudnya tanpa kita mengetahui bagaimana kaifiyahnya sebagainya ucapan sebelumnya ketika pembahasan kalamullah, Kalamullah itu dimulai dari Allah tanpa kaifiyah maksudnya kita tidak mengetahui kaifiyah demikian pula melihat Allāh,kita harus meyakini itu adalah Haq sebagaimana dalam ayat dan haditsdan jangan kita mengatakan bagaimana, kemudian masukkan akal dalam masalah ini dan mengatakan kalau kita melihat oh berarti Allāh berada di arah Allāh memiliki arah sementara Allāh kan tidak di atas tidak dibawah dikiri, Allāh tidak memiliki arah, kalau kita mengatakan kita melihat Allāh berarti Allāh memiliki arah, oleh karena itu mereka berdasarkan dalil akal ini juga akhirnya mengingkari rukyatullah, karena kalau kita menetapkan rukyatullah berarti kita menetapkan arah bagi Allāh dan ini adalah menyerupakan Allah’ dengan makhluk.Darimana penafian ini karena di sini sudah mulai dia memberikan kaifiyah, kita akan melihat Allāh tentang kaifiyah Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Lebih tau karena Allāh subhanahu wa ta’ala Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu, Allāh mampu untuk menjadikan kita bisa melihat Allāh di Yaumal Qiyamah bagaimana datangnya maka kita yakini kita akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala meskipun kita belum mengetahui tentang kaifiyyahnya tapi kita yakin akan ada disana kaifiyahnya.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 7

Halaqah yang ke-7 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan para Rasul adalah tentang “Cara Beriman dengan Para Rasul Bagian yang Kelima”.Diantara cara beriman dengan para Rasul adalah waspada dari ghuluw (berlebihan) terhadap para Rasul alaihimussalam, seperti menganggap beliau mengetahui yang ghaib atau mensifati beliau dengan sifat-sifat ketuhanan dan Allah ‘azza wa jalla melarang Ahlu kitab dari sikap ghuluw dengan firman-Nyaيَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ“Wahai Ahlu kitab janganlah kalian berlebih-lebihan didalam agama kalian dan janganlah kalian berkata atas nama Allah kecuali kebenaran, sesungguhnya Isa Ibn Maryam adalah Rasulullah dan kalimatnya yang dia lemparkan kepada Maryam dan dia adalah Ruh dariNya maka berimanlah kalian kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kalian katakan Tuhan itu tiga… ”(An-Nisa’ : 171)Dan Rasulullah ﷺ telah melarang kita untuk mengikuti langkah-langkah mereka, beliau ﷺ bersabdaلاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُJanganlah kalian memujiku dengan berlebihan, sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan didalam memuji Ibn Maryam, sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan RasulNya (Hadits Shahih Riwayat Al-Imam Al-Bukhari)Dan diantara bentuk ghuluw orang-orang Nashrani adalah mengatakan ‘Isa anak Allah, orang Yahudi mengatakan ‘Uzair adalah anak Allah, Allah berfirmanوَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ“Telah berkat orang-orang Yahudi bahwa ‘Uzair adalah anak Allah dan berkata orang-orang Nashrani bahwa Al-Masih adalah anak Allah, demikianlah ucapan-ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka, mereka menyamai ucapan orang-orang yang kafir sebelum mereka, Allah melaknat mereka, lalu bagaimana mereka berpaling” (At-Tawbah : 30)Padahal para Rasul alaihimussalam tidak memiliki sedikitpun sifat Rububiyah dan Uluhiyah yaitu sifat-sifat ketuhanan mereka tidak mengetahui yang ghaib kecuali setelah diberi tahu oleh Allah ‘azza wa jalla. Allah berfirmanعَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦۤ أَحَدًا (٢٦) إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ۬ فَإِنَّهُ ۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدً۬ا (٢٧“Dia lah Allah yang mengetahui perkara yang ghaib maka tidaklah Dia menampakkan perkara yang ghaib kepada siapa pun, kecuali orang yang Allah ridhai dari kalangan para Rasul” (Al-Jin : 26 – 27)Dan mereka juga tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat kecuali dengan kehendak Allah. Allah berfirmanقُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ“Katakanlah aku tidak memiliki untuk diriku sendiri manfaat dan mudharat kecuali apabila Allah menghendaki dan seandainya aku mengetahui perkara yang ghaib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan tentunya aku tidak akan ditimpa kejelekan, tidaklah aku kecuali sebagai pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman” (Al-A’raf : 188)

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 7 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 5

Halaqah 7 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 5Oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى·       Diantara cara beriman dengan para Rasul adalah waspada dari ghuluw (berlebihan) terhadap para Rasul alaihimussalam, seperti menganggap beliau mengetahui yang ghaib atau mensifati beliau dengan sifat-sifat ketuhanan dan Allah ‘azza wa jalla melarang Ahlu kitab dari sikap ghuluw dengan firman-Nya: يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ“Wahai Ahlu kitab janganlah kalian berlebih-lebihan didalam agama kalian dan janganlah kalian berkata atas nama Allah kecuali kebenaran, sesungguhnya Isa Ibn Maryam adalah Rasulullah dan kalimatnya yang dia lemparkan kepada Maryam dan dia adalah Ruh dariNya maka berimanlah kalian kepada Allah dan RasulNya dan janganlah kalian katakan Tuhan itu tiga… ”(An-Nisa’ : 171)Dan Rasulullah ﷺ telah melarang kita untuk mengikuti langkah-langkah mereka, beliau ﷺ bersabda:لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian memujiku dengan berlebihan, sebagaimana orang-orang Nashrani berlebih-lebihan didalam memuji Ibn Maryam, sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan RasulNya” (Hadits Shahih Riwayat Al-Imam Al-Bukhari)§  Contoh Ghuluw : Orang-orang Nashrani adalah mengatakan ‘Isa anak Allah, orang Yahudi mengatakan ‘Uzair adalah anak Allah,Allah berfirman:وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ“Telah berkat orang-orang Yahudi bahwa ‘Uzair adalah anak Allah dan berkata orang-orang Nasrani bahwa Al-Masih adalah anak Allah, demikianlah ucapan-ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka, mereka menyamai ucapan orang-orang yang kafir sebelum mereka, Allah melaknat mereka, lalu bagaimana mereka berpaling” (At-Taubah : 30)·       Para Rasul alaihimussalam tidak memiliki sedikitpun sifat Rububiyah dan Uluhiyah yaitu sifat-sifat ketuhanan mereka tidak mengetahui yang ghaib kecuali setelah diberi tahu oleh Allah ‘azza wa jalla.Allah berfirman:عَـٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦۤ أَحَدًا (٢٦) إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ۬ فَإِنَّهُ ۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدً۬ا (٢٧“Dia lah Allah yang mengetahui perkara yang ghaib maka tidaklah Dia menampakkan perkara yang ghaib kepada siapa pun, kecuali orang yang Allah ridhai dari kalangan para Rasul” (Al-Jin : 26 – 27)·       Dan Para Rasul juga tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat kecuali dengan kehendak Allah.Allah berfirman:قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ“Katakanlah aku tidak memiliki untuk diriku sendiri manfaat dan mudharat kecuali apabila Allah menghendaki dan seandainya aku mengetahui perkara yang ghaib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan tentunya aku tidak akan ditimpa kejelekan, tidaklah aku kecuali sebagai pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira bagi orang-orang yang beriman” (Al-A’raf : 188)

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 32 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Dalil Rukun Islam Syahadat Muhammadan Rasūlullāh (01)🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahBeliau rahimahullāh mengatakan ودليل شهادة أن محمداً رسول الله قوله تعالى: لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحيم(QS. At-Taubah: 128)Dan dalīl tentang wajibnya bersaksi bahwa Muhamad adalah Rasūlullāh adalah firman Allāh Ta’āla di dalam surat At-Tawbah 128.“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasūl (seorang utusan) yang berasal dari kalian”Beliau rahimahullāh menyebutkan disini tentang dalīl wajibnya masing-masing bersaksi bahwasanya Muhammad ibnu Abdillāh ibnu Abdil Muthālib Al-Hasyimi beliau adalah seorang Rasūlullāh (seorang utusan Allāh).⇒ Sebuah kewajiban meyakini bahwasanya beliau adalah Rasūlullāh, dan kita harus bersaksi.Apa dalīlnya bahwa beliau adalah Rasūlullāh, orang yang telah diutus Allāh, dipilih oleh Allāh dari sekian banyak manusia untuk menjadi seorang utusan Allāh, diberi amanat risalah oleh Allāh, kemudian disuruh menyampaikan risalah ini kepada manusia?Amanah yang Allāh berikan dipundak beliau merupakan risalah, yang didalamnya ada perintah dan larangan Allah, ada ahbar, ada tata cara beribadah yang harus disampaikan kepada hamba-hamba Allāh.Diberikan beban ini kepada beliau dan beliau diperintahkan untuk menyampaikan kepada manusia.يَـٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغْ مَآ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ…..“Wahai Rasūl, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…”(QS. Al-Maidāh:67)⇒ Kita harus meyakini bahwa beliau adalah Rasūlullāh yang Allāh pilih untuk menjadi wasithah (perantara) antara Allāh dengan kita.Allāh tidak memerintahkan dan melarang kita secara langsung dan tidak mengabarkan berita-berita kepada kita secara langsung, TAPI Allāh menyampaikan itu semua melalui seorang perantara yaitu beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam.⇒ Kewajiban kita adalah meyakini bahwa beliau adalah benar-benar utusan Allāh.Beliau rahimahullāh mendatangkan dalīl tentang kewajiban bahwa Muhammad adalah Rasūlullāh.Dalīlnya adalah firman Allāh di dalam surat At-Tawbah 128 :لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasūl dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”.Sungguh (ini adalah lil ta’kid) untuk menunjukkan penguatan penekanan لَقَدْ جَاءكُمْ –Huruf ل sendiri sudah menunjukkan penekanan di tambah قَدْ – Ini juga menunjukkan penguatan dan juga penekanan.Kabar dari Allāh bahwasanya ditengah-tengah manusia ada orang yang dipilih sebagai utusan dan dia telah datang ditengah-tengah manusia, beliau adalah Muhammad ibnu Abdillāh.Telah datang kepada kalian, di sini Allāh sedang mensifati Nabi-Nya (shallallahu ‘alayhi wa sallam).Sifat yang pertama bahwasanya dia adalah seorang rasūl berarti Allāh sendiri telah bersaksi bahwasanya Muhammad ibnu Abdillah adalah utusan Allāh.Dari kalangan kalian atau dari diri kalian, maksudnya adalah dari kalangan manusia Allāh tidak jadikan utusan bagi manusia dari kalangan malāikat TAPI Allāh jadikan utusan bagi manusia dari kalangan manusia sendiri.مِنْ أَنفُسِكُمْMaksud مِّنْ أَنفُسِكُمْ adalah من البَشَر – dari kalangan manusia.√ Kalau disebut di dalam Al-Qur’an رسول منكم – maka yang dimaksud dengan منكم adalah من العرب.√ Kalau مِّنْ أَنفُسِكُمْ maka yang dimaksud adalah dari kalangan manusia.Demikian pula لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌۭ مِّنْ أَنفُسِكُمْ – berarti dari kalangan manusia (QS. At-Tawbah:128)Dalam surat Al-Jumu’ah: 2.هُوَ ٱلَّذِى بَعَثَ فِى ٱلْأُمِّيِّـۧنَ رَسُولًۭا مِّنْهُمْKembali kepada ٱلْأُمِّيِّـۧنَ adalah العرب.Jadi kalau رَسُولٌۭ مِّنْ أَنفُسِكُمْ – maksudnya adalah رسول من بشر – tapi kalau tanpa انفس tapi langsung منكم atau منهم maka yang di maksud adalah الأمين.Disini لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌۭ مِّنْ أَنفُسِكُمْ yaitu dari kalangan بشر – maka Allāh menjadikan rasūl-rasūl ini dikalangan manusia.قَالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِن نَّحْنُ إِلَّا بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْBerkata para rasūl kepada umat-umatnya إِن نَّحْنُ إِلَّا بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْ – Tidaklah kami ini kecuali بشر seperti kalian. (QS. Ibrāhīm : 11)رَسُولٌۭ مِّنْ أَنفُسِكُمْRasūl dari kalangan manusia, ini adalah persaksian dari Allāh Azza wa Jalla bahwasanya Muhammad ibnu Abdillāh adalah seorang Rasūlullāh فَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًۢا – meskipunsebagian manusia (orang-orang kāfir Quraisy) mereka tidak percaya bahwasanya beliau adalah Rasūlullāh.Tetapi kalau Allāh sudah bersaksi bahwasanya dia (Muhammad) adalah Rasūlullāh maka itu sudah cukup!هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرْسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلْهُدَىٰ وَدِينِ ٱلْحَقِّ لِيُظْهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًۭا“Dialah yang mengutus Rasūl-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allāh sebagai saksi”(QS. Fath:28)Allāh yang mengutus beliau (shallallahu ‘alayhi wa sallam) sudah menyatakan bahwa beliau adalah Rasūlullāh. Maka ini sudah cukup.ولله المثل الاعلى“Bagi Allāh itu permisalan yang lebih tinggi”Allāh sendiri yang mengutus beliau, sudah menyatakan bahwa dia (Muhammad) adalah Rasūlullāh. Dan Allāh mengatakan وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًۭا (cukuplah Allāh sebagai saksi) meskipun manusia mendustakan.لَّـٰكِنِ ٱللَّهُ يَشْهَدُ بِمَآ أَنزَلَ إِلَيْكَ ۖ أَنزَلَهُۥ بِعِلْمِهِۦ ۖ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ يَشْهَدُونَ ۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدًا“Tetapi Allāh, Dia telah bersaksi dengan apa yang telah diturunkan-Nya (Al-Qur’an) kepada-mu (Muhammad). Dia menurunkan dengan ilmu-Nya. Para malāikat pun menyaksikan. Dan cukuplah Allāh yang menjadi saksi.” (QS. An-Nissa’ :166)⇒ Maka tidak ada alasan bagi seseorang untuk tidak bersyahadat bahwasanya beliau adalah seorang Rasūlullāh.Jadi ayat ini jelas menunjukkan tentang kewajiban bersaksi bahwasanya Muhammad adalah Rasūlullāh.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 56

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 56Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Keempat (Tafsiran Ibnu Abbas dari QS. Ali 'Imran: 106)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab membawakan dalil keempat yang bersumber dari penjelasan sahabat, yaitu atsar Abdullah bin Abbas radhiyallāhu 'anhuma saat menafsirkan QS. Ali 'Imran ayat 106:​(يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ)“Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram.”​Hakikat Hari Kiamat: Apa yang terjadi pada wajah manusia di akhirat (putih bersinar atau hitam legam) merupakan cerminan, hasil panen, dan balasan (jaza') dari apa yang mereka amalkan selama di dunia.​Mulai bab ini dan seterusnya, penulis akan menekankan konsekuensi syahadat Anna Muhammadan Rasulullah, khususnya kewajiban mengikuti sunnah dan meninggalkan bid'ah. Penulis menegaskan bahwa bid'ah sangat bertentangan dengan esensi Islam, karena Islam menuntut kepasrahan total tidak hanya dalam masalah iktikad (akidah) tetapi juga dalam masalah amaliah.​Atsar Penjelas dan Sumber Validitas Dalil​Tafsiran Abdullah bin Abbas radhiyallāhu 'anhuma:​تَبْيَضُّ وُجُوهُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، وَتَسْوَدُّ وُجُوهُ أَهْلِ الْبِدَعِ وَالضَّلَالَةِ“Akan putih wajah-wajah Ahlussunnah wal Jamaah, dan akan hitam wajah-wajah ahli bidah dan kesesatan.”​Sumber Periwayatan:​Dikeluarkan oleh Imam Ibnu Abi Hatim dalam kitab Tafsirnya dengan sanad dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhuma.​Disebutkan pula oleh Abu Bakar Ahmad bin Ali bin Tsabit (Al-Khathib Al-Baghdadi).​Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya secara ringkas tanpa menyebutkan sanad lengkapnya. (Terdapat variasi redaksi lain yang menyebutkan Ahlussunnah wal I'tilaf [persatuan] dan Ahlul Bida' wal Ikhtilaf/Furqah [perpecahan]).​Poin Penting Sejarah Istilah:Penggunaan nama "Ahlussunnah wal Jamaah" (serta lawannya: Ahlul Bida' wad Dholalah) bukanlah istilah baru (muta'akhirin), melainkan sudah digunakan langsung oleh sahabat Nabi, yaitu Ibnu Abbas yang bergelar Turjumanul Qur'an.Ayat Penyerta dan Dalil Pendukung ​Ayat Penyerta dan Dalil Pendukung Lain​Dalam teks halaqah, disebutkan pula penguat dari riwayat sahabat lain, yaitu atsar Abu Umamah yang mengaitkan kelanjutan ayat tersebut:​“فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ...”“Adapun orang-orang yang hitam kemerahan mukanya (kepada mereka dikatakan): ‘Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman?’...”​Abu Umamah radhiyallāhu 'anhu mengatakan: “Mereka adalah Khawarij.”Kesimpulan dan Sisi Pendalilan (Wajhul Dilalah)​Alasan Wajah Ahlussunnah Memutih: Karena mereka masuk Islam secara keseluruhan (kaffah), tidak setengah-setengah, dan memiliki sifat pasrah secara total terhadap tata cara ibadah sesuai Al-Qur'an dan As-Sunnah (prinsip sami'na wa atha'na).​Alasan Wajah Ahlul Bidah Menghitam: Karena mereka tidak kaffah dalam berislam. Mereka memiliki sifat membangkang dan ingin membuat hal-hal baru yang tidak memiliki dalil sahih. Perbuatan bidah mencerminkan ketidaksempurnaan Islam pada diri seseorang.​Sisi Pendalilan (Syahid): Adanya ancaman berupa dihitamkannya wajah di hari kiamat bagi pelaku bid'ah menunjukkan hukum haramnya memisah-misahkan agama (tidak kaffah), sekaligus menjadi dalil yang kuat tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhan (kaffah) baik secara akidah maupun amaliah.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 6

Halaqah-06 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 4👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Beriman Kepada Para Rasul Allah ﷻDiantara cara beriman kepada para rasul adalah meyakini bahwa mereka ma’sum yaitu terjaga dari dosa besar seperti: zina, mencuri, menipu, sihir, membuat berhala, dan lain lain.Ini adalah kesepakatan umat, adapun orang Yahudi dan Nashrani maka mereka menganggap para Nabi dan Rasul melakukan Dosa besar, seperti keyakinan bahwa Nabi Harun dialah yang membuat berhala dan keyakinan bahwa Nabi Ibrahim mengorbankan Istrinya (Sarah) kepada Firaun dan seperti keyakinan bahwa Nabi Luth عَلَيهِ السَّلَامُ mabuk dan lain lain.Adapun dosa kecil maka menurut sebagian besar ulama terkadang seorang nabi melakukan dosa kecil namun tidak sampai berhubungan dengan wahyu dan dengan cepat sekali mereka bertaubat kepada Allah ‘azza wa jalla.Nabi Adam alaihi salam beliau dilarang untuk memakan buah tertentu didalam surga, akan tetapi beliau melanggarnya kemudian beliau mengatakanرَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Wahai Rabb kami, kami telah mendholimi diri kami sendiri dan seandainya Engkau tidak mengampuni dosa kami dan menyayangi kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi” (Al-A’raf : 23)Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُ meminta kepada Allah supaya menyelamatkan anaknya yang kafir, maka Allah ajja wajalla menegur beliau dan menasihati beliau kemudian beliau langsung meminta kepada Allah seraya berkataقَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ“Beliau berkata wahai Tuhanku sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari meminta kepadaMu sesuatu yang tidak aku memiliki ilmu tentangnya dan seandainya Engkau tidak mengampuni aku dan menyayangi aku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi” ( Hud : 47)Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ pernah memukul orang kifti (orang Mesir) yang berakibat terbunuhnya orang tersebut ini adalah dosa kecil karena pukulan Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ sebenarnya tidak mematikan dan beliau عَلَيهِ السَّلَامُ juga tidak bermaksud untuk membunuh, Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengiringi kesalahan ini dengan taubat kepada Allah.Allah berfirman:قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ“Beliau berkata wahai Rabbku sesungguhnya aku mendzhalimi diriku sendiri maka ampunilah aku, maka Allah pun mengampuni beliau sesungguhnya Allāh adalah Dzat Yang Maha Pemgampun lagi Maha Penyayang” (Al-Qashas : 16)Nabi Yunus عَلَيهِ السَّلَامُ pernah marah meninggalkan kaumnya karena mereka tidak menerima dakwah beliau dan setelah ditelan ikan yang besar, Beliau pun segera meminta ampun kepada Allah. Allah berfirmanوَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ“Dan ingatlah kisah dzunnun yaitu Yunus ketika dia pergi dalam keadaan marah lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Maha Suci Engkau sungguh aku termasuk orang-orang yang dzhalim” (Al-Anbiya’ : 87)Nabi Muhammad ﷺ ketika sedang mendakwahi pembesar Quraisy datang kepada beliau Ibnu Ummi Maktum ingin bertanya tentang sesuatu, maka beliau bermuka masam dan berpaling, Allah pun menurunkan firman-Nya:عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ (١) أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ (٢) وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُ ۥ يَزَّكَّىٰٓ (٣)أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ (٤“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling karena seorang buta telah datang kepadanya. dan tahukah engkau (wahai Muhammad) barangkali dia ingin menyucikan dirinya atau dia ingin mendapatkan pengajaran yang memberi manfaat kepadanya” (‘Abasa : 1-4)Setelah itu Rasulullah ﷺ pun memuliakannya sebagaimana yang dikabarkan oleh Annas bin Malik radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la didalam Musnadnya.Buatlah flyer portrair ukuran story ig dengan desain watercolor aesthetic dengan sedikit ilustrasi tidak bernyawa sesuai topik

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 56

Pembahasan Dalil Keempat Tafsiran Ibnu Abbas Dari QS Aali Imran 106Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-56 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Beliau mendatangkan atsar dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma, menafsirkan tentang firman Allah :(يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ)(آل عمران: من الآية106)Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram.قال ابن عباس – رضي الله عنهما –Berkata Abdullah bin Abbas Radhiyallahu Anhuma,في قوله تعالى: يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌBerkata Abdullah bin Abbas semoga Allah meridhai keduanya, yaitu Abdullah dan Abbas, ketika menafsirkan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌPada hari di mana sebagian wajah itu akan terlihat, akan bersinar putih, dan pada waktu yang sama di hari tersebut, maka ada wajah-wajah yang hitam.Dan tentunya hari jaza’ tersebut ada sebabnya di dunia. Apa yang terjadi saat itu adalah cerminan, dan panen, atau hasil dari apa yang dilakukan oleh seseorang di dunia.يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌPada hari di mana wajah ada yang putih bersih dan ada di antara wajah-wajah tersebut yang hitam legam. Bisa dia menjadi dalil yang lain. Dalil di dalam Al-Qur’an yang menunjukkan tentang wajibnya yang masuk ke dalam Islam secara keseluruhan.Dan nanti akan kita lihat seperti yang sudah kita sampaikan bahwasanya di dalam kitab ini, yaitu Fadhlul Islam, yang ingin beliau tekankan adalah tentang syahadat anna muhammadan Rasulullah. Lebih khusus lagi tentang kewajiban untuk mengikuti sunnah dan meninggalkan bid’ah.Dan bahwasanya bid’ah ini bertentangan sekali dengan Islam. Keharusan kita adalah, bukan hanya di dalam masalah i’tiqod saja kita Islam, tapi juga di dalam masalah amaliyah, kita harus Islam juga. Dan di antara bentuknya adalah dengan mengikuti sunnah dan meninggalkan bid’ah.Di sini akan mulai dan setelah bab ini akan kita lihat bagaimana beliau secara khusus membahas tentang masalah bid’ah.Dan bahwasanya bid’ah ini adalah bertentangan dengan Islam itu sendiri.Di sini beliau mendatangkan tafsirnya Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma.Beliau mengatakan :تبيض وجوه أهل السنة والائتلاف، وتسود وجوه أهل البدع والاختلاف.Akan putih wajah-wajah Ahlussunnah dan ahli al-i’tilaf.Apa yang dimaksud dengan i’tilaf? Al-ijtima’.يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌDisebutkan atsar dari Abu Umamah.فأما الذين اسودت وجوههم أكفرتم بعد إيمانكم”، قال: هم الخوارج.تبيض وجوه أهل السنة والائتلاف، وتسود وجوه أهل البدع والاختلاف.Di sini dinukil oleh Ibnu Katsir :وقوله تعالى : ( يوم تبيض وجوه وتسود وجوه ) يعني : يوم القيامة ، حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة ، وتسود وجوه أهل البدعة والفرقة ، قاله ابن عباس ، رضي الله عنهما .Tapi, tentunya dalam tafsir Ibnu Katsir, beliau meringkas, tidak disebutkan sanadnya.Di sini disebutkan,ذكره أبو بكر أحمد بن علي بن ثابت الخطيب البغداديAda dalam tafsir Ibnu Abi Hatim dengan sanad beliau.عن سعيد بن جبير عن ابن عباس في قوله يوم تبيض وجوه وتسود وجوه قال تبيض وجوه أهل السنة والجماعةKemudianقول تعالى وتسود وجوه وبه عن ابن عباس وتسود وجوه قال تسود أهل البدع والضلالةBerarti bisa ditulis, dikeluarkan oleh Imam Abu Hatim di dalam tafsirnya.Dengan lafadz bukan Ahlussunnah Wal i’tilaf tapi Ahlussunnah Wal jamaah.تبيض وجوه أهل السنة والجماعةتسود أهل البدع والضلالةBerarti penamaan Ahlussunnah Wal jamaah, ini bukan penamaan yang muta’akhir, bahkan seorang sahabat, yaitu seperti Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, sudah menggunakan lafadz ini.Dan lawan dari Ahlussunnah Wal jamaah adalah ahlul bid’ah wa adh-dholalah. Ini tafsir dari turjumanul Qur’an, Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, yang kita tahu tentang keutamaan beliau dan ilmu beliau di dalam masalah tafsir Al-Qur’an.Beliau menafsirkan wajah-wajah yang memutih tadi adalah wajah-wajah siapa? Ahlussunnah Wal jamaah. Karena mereka masuk Islam secara keseluruhan, tidak setengah-setengah, seperempat-seperempat, tapi masuk Islam secara keseluruhan.Adapun Ahlul bida’, maka wajah mereka akan menjadi hitam, karena mereka tidak kaffah di dalam Islam mereka. Tapi mereka melakukan bid’ah. Mereka melakukan bid’ah-bid’ah. Dan ini seseorang melakukan bid’ah, ini menunjukkan ketidaksempurnaan Islam yang dia miliki.Sudah kita jelaskan berulangkali, bahwasanya termasuk konsekuensi dari keislaman seseorang adalah pasrah di dalam masalah tata cara ibadah. Tidak perlu dia membuat sesuatu yang baru, pokoknya ana manut dengan apa yang tersebut di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Kalau ada dalilnya ana amalkan. Kalau tidak ada dalilnya maka saya tidak amalkan. Ini yang namanya pasrah.Adapun Ahlul bida’, masih ada Nau, membangkang, ingin menentang, ingin membuat sesuatu yang baru yang tidak ada di dalam dalil yang shahih. Karena sebab inilah, akhirnya mereka di akhirat akan menjadi gelap wajah mereka.Bagaimana segi pendalilannnya?Jelas di sini menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara keseluruhan, karena di sini ada ancaman dengan hitamnya wajah bagi orang yang tidak Islam secara kaffah. Di antaranya adalah Ahlul bida’. Di antaranya adalah ancaman tentang hitamnya wajah di hari kiamat bagi Ahlul bida’ yang mereka adalah bagian dari orang-orang yang tidak Islam secara kaffah, menunjukkan tentang haramnya tidak Islam secara kaffah, dan menunjukkan tentang wajibnya masuknya ke dalam Islam secara kaffah. Karena di sini ada ancaman sampai hitam wajahnya, menunjukkan tentang haramnya perbuatan mereka, yaitu memisah-misahkan agama ini. Dan menunjukkan tentang wajibnya menerima Islam secara kaffah dan masuk ke dalam Islam secara kaffah, seluruhnya.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 56 | Status Orang yang Menyifati Allāh dengan Makna Sifat Makhluk

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,ومن وصف الله بمعنى من معاني البشر ،Barangsiapa yang mensifati Allāh dengan satu makna di antara makna-makna manusia,Yang dimaksud adalah mensifati Allāh dengan sifat-sifat manusia yaitu menyerupakan Allāh dengan makhluk atau dengan manusia seperti mengatakan bahwasanya Kalamullah sama dengan kalamulbashar berarti Kalamullah adalah dengan makhluk atau secara umum mensifati Allāh dengan sifat-sifat makhluk menyerukan karena Allah dengan makhluk maka,فقد كفرSungguh dia telah keluar dari agama Islam.Tasbih ini adalah termasuk kekufuran karena ini merendahkan Allāh menyerupakan Allāh Dzat yang Maha sempurna dengan makhluk yang penuh dengan kekurangan ini adalah merendahkan/penghinaan penghinaan terhadap Allāh dan menghinakan Allāh ini adalah sebuah kekufuran.Oleh karena itu guru dari Imam Bukhari rahimahullah beliau mengatakan,مَن شَبَّه اللهَ بخَلْقِه فقد كَفَرBarang siapa yang menyerupakan Allāh dengan makhluk maka dia telah keluar dari agama Islam.Oleh karenanya dikatakan barangsiapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah keluar dari agama Islam karena dia menyerupakan Kalamullah dengan kalamumakhluk, kalamumakhluk itu makhluk, kalamullah itu dikatakan makhluk berarti dia menyerupakan kalau kalamullāh dengan kalamumakhluk maka barangsiapa yang mensifati Allāh dengan makna di antara makna manusia dengan sifat di antara sifat-sifat manusia maka semua dia telah keluar dari agama Islam sehingga ada sebagian yang mengatakan Al jahmiyyah itu kuffar, orang-orang jahmiyyah itu adalah orang-orang yang keluar dari agama Islamقال القرآن مخلوقBarangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka sungguh dia telah keluar dari agama lain,من أبصر هذا اعتبرMaka barangsiapa yang memahami ini mentadaburi apa yang ada dalam firman Allāhإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِorang yang mengatakan Al-Qur’an adalah ucapan manusia dia telah keluar dari agama Islam, diancam oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dan orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk berarti dia telah meniru ucapan orang tersebut, karena yangإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِMeyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk diucapkan oleh manusia dan orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk juga sama dan yang shahih adalah bahwasanya Al-Qur’an adalah dalam Kalamu Al Khaliq walaisa bi makhluk, dia adalah sifat diantara sifat-sifat Allāh maka orang yang saya ingin orang yang abshoro/fahim memahami maka dia akan mengambil pelajaran oh berarti Al-Qur’an adalah kalamullāh bukan makhluk, Al muwasaq muwashakallah orang yang muwashaq adalah orang yang memberikan Taufiq oleh Allāh subhanahu wa taalaوعن مثل قول الكفار انزجرDan dia akan segera انزجر yaitu dia meninggalkan sesuatu yang semisal dengan ucapan orang-orang kafirالزجر عن مثله قول كفارApa ucapan orang² kafir mengatakan bahwasanyaإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِApa yang semisal itu, dia mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk itu yang semisal dengan ucapan orang-orang kafir, apa yang shahih dia mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullāh laisa bibmakhlukInilah yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim meninggalkan ucapanإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِdan yang semisalnya yaitu yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk,وعلم أن الله بصفاته ليس كالبشرDan dia mengetahui bahwasanya Allāh ta’ala dengan sifat-sifatNyaليس كالبشرAllāh tidak sama dengan manusia,Dzat Allāh tidak sama dengan manusia, sifat Allāh tidak sama dengan sifat manusia termasuk di antaranya adalah Kalamullah , Kalamullah bukan makhluk adapun kalammanusia maka itu adalah makhlukوعلم أن الله بصفاته ليس كالبشرDan dia tahu bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala dengan sifat-sifatnya bukanlah makhluk yang bukanlah seperti manusia.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 56

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 56 | Status Orang yang Menyifati Allāh dengan Makna Sifat MakhlukHalaqah 56 | Status Orang yang Menyifati Allāh dengan Makna Sifat MakhlukKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,ومن وصف الله بمعنى من معاني البشر ،Barangsiapa yang mensifati Allāh dengan satu makna di antara makna-makna manusia,Yang dimaksud adalah mensifati Allāh dengan sifat-sifat manusia yaitu menyerupakan Allāh dengan makhluk atau dengan manusia seperti mengatakan bahwasanya Kalamullah sama dengan kalamulbashar berarti Kalamullah adalah dengan makhluk atau secara umum mensifati Allāh dengan sifat-sifat makhluk menyerukan karena Allah dengan makhluk maka,فقد كفرSungguh dia telah keluar dari agama Islam.Tasbih ini adalah termasuk kekufuran karena ini merendahkan Allāh menyerupakan Allāh Dzat yang Maha sempurna dengan makhluk yang penuh dengan kekurangan ini adalah merendahkan/penghinaan penghinaan terhadap Allāh dan menghinakan Allāh ini adalah sebuah kekufuran.Oleh karena itu guru dari Imam Bukhari rahimahullah beliau mengatakan,مَن شَبَّه اللهَ بخَلْقِه فقد كَفَرBarang siapa yang menyerupakan Allāh dengan makhluk maka dia telah keluar dari agama Islam.Oleh karenanya dikatakan barangsiapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah keluar dari agama Islam karena dia menyerupakan Kalamullah dengan kalamumakhluk, kalamumakhluk itu makhluk, kalamullah itu dikatakan makhluk berarti dia menyerupakan kalau kalamullāh dengan kalamumakhluk maka barangsiapa yang mensifati Allāh dengan makna di antara makna manusia dengan sifat di antara sifat-sifat manusia maka semua dia telah keluar dari agama Islam sehingga ada sebagian yang mengatakan Al jahmiyyah itu kuffar, orang-orang jahmiyyah itu adalah orang-orang yang keluar dari agama Islamقال القرآن مخلوقBarangsiapa yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk maka sungguh dia telah keluar dari agama lain,من أبصر هذا اعتبرMaka barangsiapa yang memahami ini mentadaburi apa yang ada dalam firman Allāhإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِorang yang mengatakan Al-Qur’an adalah ucapan manusia dia telah keluar dari agama Islam, diancam oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dan orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk berarti dia telah meniru ucapan orang tersebut, karena yangإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِMeyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk diucapkan oleh manusia dan orang yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk juga sama dan yang shahih adalah bahwasanya Al-Qur’an adalah dalam Kalamu Al Khaliq walaisa bi makhluk, dia adalah sifat diantara sifat-sifat Allāh maka orang yang saya ingin orang yang abshoro/fahim memahami maka dia akan mengambil pelajaran oh berarti Al-Qur’an adalah kalamullāh bukan makhluk, Al muwasaq muwashakallah orang yang muwashaq adalah orang yang memberikan Taufiq oleh Allāh subhanahu wa taalaوعن مثل قول الكفار انزجرDan dia akan segera انزجر yaitu dia meninggalkan sesuatu yang semisal dengan ucapan orang-orang kafirالزجر عن مثله قول كفارApa ucapan orang² kafir mengatakan bahwasanyaإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِApa yang semisal itu, dia mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk itu yang semisal dengan ucapan orang-orang kafir, apa yang shahih dia mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullāh laisa bibmakhlukInilah yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim meninggalkan ucapanإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِdan yang semisalnya yaitu yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk,وعلم أن الله بصفاته ليس كالبشرDan dia mengetahui bahwasanya Allāh ta’ala dengan sifat-sifatNyaليس كالبشرAllāh tidak sama dengan manusia,Dzat Allāh tidak sama dengan manusia, sifat Allāh tidak sama dengan sifat manusia termasuk di antaranya adalah Kalamullah , Kalamullah bukan makhluk adapun kalammanusia maka itu adalah makhlukوعلم أن الله بصفاته ليس كالبشرDan dia tahu bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala dengan sifat-sifatnya bukanlah makhluk yang bukanlah seperti manusia.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI15 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 31 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Tafsir Syahadat Lāilāha IllallāhUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahKemudian beliau mendatangkan firman Allāh Azza wa Jalla, yang menjelaskan tentang makna kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ.Beliau rahimahullāh mengatakan:وتفسيرها الذي يوضحهاDan tafsir (penjelasan) dari kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – yang menjelaskan tentang kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ adalah firman Allāh Ta’āla (QS. Az-Zukhruf 26-27)وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ ۞ إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي فَإِنَّهُ سَيَهْدِينِ ۞Dan ketika Ibrāhīm berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah kecuali yang telah menciptakan aku….”⇒ Ini adalah menafsirkan ayat dengan ayat.Karena kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – yang pertama dikandung di dalam firman Allāh QS. Āli-Imrān :18 شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ ternyata makna ini juga ditafsirkan (dijelaskan) oleh ayat yang lain.⇒ Berarti ini termasuk menafsirkan ayat dengan ayat.Ucapan beliau : إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ – disini ada nāfi’ sebagaimana Allāh menāfī’kan di ayat yang pertama nāfīyyan. Maka disini Ibrāhīm juga menāfī’kan جميع ما يعبد مِن دُونِ ٱللَّه.إِنَّنِي بَرَاء مِّمَّا تَعْبُدُونَ“Aku berlepas diri, aku menāfī’kan, aku tidak percaya, aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah” (ini menāfī’kan sebagaimana Allāh juga menāfī’kan).إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي“Kecuali Dzat yang telah menciptakan aku”إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِيBerarti ini apa? Itsbat (menetapkan) sebagaimana Allāh menetapkan di dalam kalimat إلا هو إلا الله – maka Ibrāhīm juga menetapkan.Ibrāhīm mengatakan إِلَّا الَّذِي فَطَرَنِي – disebutkan فَطَرَنِي – ini syarat bahwasanya tauhīd Rububiyyah melazimkan tauhīd Uluhiyyah.Yang aku sembah, yang aku tidak berlepas diri adalah yang menciptakan aku, itulah yang berhak aku sembah. Berarti yang berhak untuk disembah adalah Dzat yang telah menciptakan.Sehingga beliau (rahimahullāh) kembali menyinggung tentang,لا شكر له في العبدته كما أنه لا شرك في الملكهMengingatkan tentang hubungan tauhīd Rububiyyah dengan tauhīd Uluhiyyah, karena disinipun dalīl yang akan beliau sampaikan menyinggung kembali tentang hubungan antara tauhīd Uluhiyyah dengan tauhīd Rububiyyah.⇒ Ini adalah tafsir dari kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ yang diucapkan oleh Ibrāhīm (khalilullāh).Kemudian beliau rahimahullāh mengatakan (QS. Āli-Imrān :64) :قوله : قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِKatakan wahai Muhammad, bagaimana beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mendakwahkan kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ini, kepada sebagian manusia yang mereka adalah Ahlul Kitāb.Inilah yang beliau dakwahkan:قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِKatakanlah wahai Ahlul Kitāb yaitu orang-orang Nashara Najran :قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْKemarilah kalian, mari kita bersepakat kepada sebuah kalimat yang sama antara kami (orang Islām) dan kalian (Ahlul Kitāb)Apa kalimat yang sama itu?أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَSupaya kita tidak menyembah KECUALI hanya menyembah Allāh saja (didalam pernyataan ini ada nāfi’ dan Itsbat) لَّا نَعْبُدَ adalah nāfīyyun dan إِلَّا اللَّهَ adalah Itsbat.√ Dakwahnya nabi Ibrāhīm mengandung nāfi’ dan juga Itsbat.√ Dakwah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam kalimat yang beliau sampaikan juga ada kalimat yang mengandung makna nāfi’ dan juga Itsbat.وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًاDan kita tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun. Ada yang mengartikan وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا – maksudnya adalah mengingatkan mereka supaya kita tidak menyekutukan Allāh dengan siapapun.Kalau di dalam kalimat لا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّه (umum) beliau ingin mengingatkan bahwasanya baik kami orang Islām maupun kalian Ahlul Kitāb jangan kita menyekutukan Allāh dengan siapapun.Kemudian beliau juga ingin mengajak mereka, karena kesyirikan orang-orang Ahlul Kitāb yang pertama adalah mereka menyekutukan Allāh dengan nabi Isa, maka beliau mengatakan وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا.Kemudian:وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِJangan sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai sesembahan selain Allāh. Karena orang-orang Nashrani, mereka menjadikan pendeta mereka sebagai sesembahan selain Allāh.ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَـٰنَهُمْ أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ“Mereka menjadikan orang-orang ahli ibadah, orang-orang yang pintar, orang-orang yang ahli ilmu diantara mereka sebagai sesembahan selain Allāh” (QS. At-Tawbah:31)Pendeta mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allāh, kemudian mereka (para pengikutnya) ikut menghalalkan. Dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allāh, kemudian mereka (para pengikutnya) ikut mengharamkan.Itulah ibadah mereka yaitu mengikuti apa yang dikatakan oleh pendeta mereka dalam perkara halal dan juga haram, padahal itu bertentangan dengan hukum Allāh.Maka beliau rahimahullāh, didalam ucapan beliau :وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًاJangan sampai sesama kita (bukan nabi) pengikut mereka menjadikan pendeta mereka sesembahan selain Allāh.Kami tidak akan menjadikan ulama kami sebagai sesembahan selain Allāh kalian juga demikian jangan kalian menjadikan ulama sebagai أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ (sesembahan selain Allāh) Cukup Allāh saja!Maka diperinci yang demikian, dan intinya adalah pada kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – intinya disana ada nāfīyyun dan juga Itsbat.وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًۭا مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا۟ فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَApabila mereka tidak mau menerima (mereka berpaling) tidak mau menerima tawaran ini, maka katakanlah kalau mereka tetap ingin menyembah Isa, tetap menjadikan pendeta mereka sebagai Tuhan selain Allāh (maksudnya) adalah mengikuti halal dan juga haramnya mereka padahal itu bertentangan dengan syariat Allāh.فَقُولُوا۟ ٱشْهَدُوا۟ بِأَنَّا مُسْلِمُونَMaka katakanlah, ucapkanlah kepada mereka, saksikanlah oleh kalian kalau memang kalian tidak mau menerima kalimat ini bahwasanya kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allāh.Kami sudah pasrah kepada Allāh tidak mau mengikuti ajaran nenek moyang kami atau ajaran kalian, yang disitu ada penyembahan kepada selain Allāh.

💬 0 komentar📅 15 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 55

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 55Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Ketiga QS Al-An'am 159 (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab melanjutkan pendalilan dari QS. Al-An’am ayat 159:Makna Lafadz Wa Kānū Syiya’ā​…وَكَانُوا شِيَعاً...“...dan mereka menjadi bergolongan...”​Sebab Perpecahan: Kelompok-kelompok atau aliran-aliran (shiya'an adalah jamak dari syi'ah yang berarti kelompok) muncul karena perbuatan farroqu diinahum (memisah-misahkan agama). Mereka hanya mengambil sebagian ajaran Islam dan membuang sebagian lainnya sesuai hawa nafsu.​Sebab Persatuan: Seandainya mereka seperti Ahlussunnah yang kaffah (totalitas) dalam berislam—mulai dari pakaian yang syar'i, cara makan, cara ibadah, manhaj, hingga cara berdakwah yang kembali kepada Islam—niscaya hal tersebut akan menyatukan mereka.Makna Lafadz Lasta Minhum Fī Syai’​...لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ…“...tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu (wahai Muhammad) kepada mereka.”​Pernyataan Tabrii' (Lepas Diri): Allah ﷻ menegaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sama sekali bukan bagian dari golongan orang-orang yang memecah belah agama.​Perbedaan Jalan: Jalan Nabi ﷺ adalah mengamalkan Islam secara kaffah di seluruh bidang kehidupan (tidak hanya akidah saja atau ibadah saja). Sementara jalan aliran-aliran sesat tersebut bertentangan secara total dengan jalan Nabi ﷺ karena ketidak-kaffah-an mereka.​Ayat Penyerta dan Sumber Dalil PendukungUntuk menguatkan bahwa menyelisihi jalan Nabi ﷺ adalah kebinasaan, pemateri membawakan dalil hadits Nabi ﷺ:​تَرَكْتُكُمْ عَلَى المَحجّةِ الْبَيْضَاءِ ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لا يَزِيغُ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌ“Aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang terang benderang, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang melenceng darinya kecuali dia akan binasa.”​Korelasi Dalil: Berpaling atau memisahkan diri dari jalan Islam yang terang dan utuh yang dibawa oleh Nabi ﷺ dipastikan akan membawa seseorang pada kebinasaan.Kesimpulan dan Korelasi PendalilanSisi Pendalilan (Wajhul Dilalah): Ayat ini menjadi dalil yang jelas tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhan (kaffah).​Argumen Hukum: Allah ﷻ mencela perbuatan tafriiquddin (memecah belah agama) dan membebaskan Nabi-Nya dari golongan tersebut. Karena segala sesuatu yang bertentangan dengan jalan Nabi ﷺ adalah kesesatan dan perkara tercela, maka mengambil Islam secara parsial (sebagian-sebagian) hukumnya terlarang, dan masuk Islam secara utuh hukumnya adalah wajib mutlak.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 5

Halaqah yang ke-5 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Kitab Aqidah Wasithiyyah memiliki kedudukan yang tinggi di antara kitab-kitab yang lain, dia memiliki beberapa kelebihan dan juga keistimewaan. Diantara yang menjadi keutamaan kitab aqidah Wasithiyyah, pertama bahwasanya aqidah yang disebutkan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di dalam kitab ini adalah aqidah yang berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Nabi ﷺ dan juga ijma’ para salaf, ijma’ imam-imam para salaf. Diantara keutamaan kitab ini juga beliau sangat teliti didalam masalah penggunaan lafadz, jadi sebisa mungkin lafadz yang digunakan adalah lafadz yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadits atau yang diucapkan oleh para salaf.Beliau berusaha untuk menjaga lafadz dan juga makna, beliau mengatakan, aku berusaha, berusaha di dalam menulis aqidah ini, yaitu Aqidah Wasithiyyah, mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah baik lafadz maupun maknanya. Didalam ucapan beliau, beliau mengatakan, dan setiap lafadz yang aku sebutkan di dalam kitab ini maka aku berusaha untuk menulis ayat atau hadits atau ijma para salaf, artinya lafadz yang beliau sebutkan di dalam kitab ini berusaha semaksimal mungkin adalah lafadz-lafadz yang syar’i tidak keluar dari lafadz-lafadz yang syar’i.Ini menunjukkan tentang ilmu beliau dan bagaimana luasnya ilmu beliau dan kehati-hatian beliau dalam menulis kitab ini, karena ini akan dibaca oleh banyak orang sehingga beliau berusaha untuk benar-benar baik lafadz maupun maknanya itu sesuai dengan Al-Qur’an dan juga hadits, tidak mendatangkan makna atau lafadz yang baru, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh ahlul kalam mereka mendatangkan lafadz-lafadz yang baru, istilah-istilah yang baru yang tidak disebutkan oleh Allāh ﷻ dan juga Rasul-Nya dan mereka menginginkan untuk mentalbis yaitu mencampur adukkan antara kebenaran dengan kebatilan, mempermainkan manusia dengan lafadz-lafadz tadi.Kemudian juga diantara kelebihan kitab ini selain dia adalah berdasarkan Al-Quran dan Hadits, dan nanti akan kita lihat bagaimana beliau rahimahullāh ketika berbicara tentang masalah nama dan juga sifat hanya menyebutkan ayat, tentang masalah Allāh ﷻ berbicara disebutkan oleh beliau ayat-ayat bahwasanya Allāh ﷻ berbicara, ketika beliau menyebutkan bahwasanya Allāh ﷻ beristiwa beliau sebutkan ayat tentang istiwa, demikian pula menyebutkan tentang hadits Nabi ﷺ. Ini adalah cara syaikhul Islam di dalam menulis kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah.Dan kemudian yang kedua adalah apa yang beliau tulis dalam Aqidah Wasithiyyah ini adalah hasil dan juga buah dari tatabbu dan juga istikra’, hasil penelitian beliau dan hasil membaca beliau terhadap ucapan-ucapan para salaf baik didalam masalah nama dan juga sifat Allāh ﷻ atau tentang hari akhir atau tentang iman dengan takdir atau tentang sikap kita terhadap para sahabat dan permasalahan-permasalahan akhirnya yang lain.Beliau mengatakan, tidaklah aku menulis dalam kitab ini kecuali aqidah para Salafus Sholih semuanya. Orang semisal beliau banyak membaca kitab-kitab para ulama yang isinya adalah nukilan-nukilan dari para ulama salaf tentang masalah aqidah, beliau baca dan beliau simpulkan dan kemudian beliau tuangkan di dalam kitab Al Aqidah Al Wasithiyyah ini. Diantara keutamaan kitab ini bahwasanya beliau rahimahullāh berusaha dengan seluruh tenaga yang beliau miliki untuk mentaḥrir, untuk benar-benar teliti dalam menyebutkan masalah aqidah ini, beliau memberikan khulashoh, memberikan ringkasan.Diantara ketelitian beliau, beliau mengatakan, diantara kehati-hatian beliau, dan ini menunjukkan tentang tawadhu beliau, aku telah memberikan kesempatan kepada setiap orang yang menyelisihi aku dalam perkara-perkara ini, tiga tahun beliau memberikan kesempatan. Artinya beliau membuka pintu siapa yang ingin menunjukkan kesalahan dari kitab ini, selama tiga tahun beliau menunggu dan beliau mengatakan kalau memang ada yang menyelisihi, artinya ini bukan keyakinan para salaf, maka beliau siap untuk kembali artinya siap untuk menghilangkan sesuatu yang bertentangan dengan aqidah para salaf tadi kemudian kembali kepada jalan yang benar.Ini menunjukkan tentang tawadhu beliau dan bagaimana kehati-hatian beliau, beliau tidak ingin tersebar kitab tadi dalam keadaan salah, beliau bahkan menawarkan kepada para ulama khususnya bahkan yang menjadi orang-orang yang berseberangan dengan beliau, kalau muridnya saja atau orang yang sepaham dengan beliau mungkin biasa-biasa saja suruh meneliti mereka sudah percaya begitu saja, tapi kalau musuh, ini maka ketika mereka meneliti kitab musuhnya maka dia berusaha tapi ternyata selama 3 tahun diberikan kesempatan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak ada diantara mereka yang memberikan bantahan atau bisa menunjukkan mana aqidah beliau yang tidak sesuai dengan aqidah pada salaf.Ini menunjukkan tentang tentunya keyakinan beliau, tentang ilmu beliau yang dalam dan tawadhu beliau, beliau mengatakan yang demikian bukan karena sombong atau menentang atau hanya sekedar ingin berdebat, tidak, beliau ingin kebenaran, kalau memang ada yang tidak sesuai dengan pemahaman para salaf untuk apa kita mempertahankan sebuah kebathilan, maka beliau siap untuk ruju’, dan ketika ditunggu sedemikian lamanya tiga tahun, bukan satu bulan dua bulan, ternyata tidak ada. Ini menunjukkan bahwasanya kitab ini memiliki kelebihan, sudah dibaca oleh musuh-musuh beliau dan dibaca oleh orang yang sependapat dengan beliau dan ternyata para ulama menerima kitab ini dengan qabulan hasanah, yaitu menerima dengan baik.Kemudian diantara keutamaannya, kitab ini adalah kitab yang ringkas, subhanallāh, menyebutkan dalil, menyebutkan ringkasan aqidah ahlussunnah wal jama’ah, meskipun dia ringkas ternyata isi dari kitab Al-Aqidah Wasithiya ini sebagian besar permasalahan-permasalahan aqidah yang merupakan ushul, pondasi aqidah ahlussunnah wal jamaah, disebutkan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab ini. Jadi dia adalah kitab aqidah yang ringkas dan dia lengkap meskipun tidak semua tapi sebagian besar permasalahan aqidah yang membedakan antara ahlussunnah dengan ahlul bid’ah disebutkan oleh beliau rahimahullāh, tentunya ini adalah sebuah kelebihan, kita cari kitab-kitab yang seperti ini.Kemudian juga ditambah oleh beliau di akhir kitabnya tentang pentingnya seorang ahlussunnah, dan ini adalah ciri ahlussunnah wal jama’ah firqatun najiyah, bahwasanya mereka ya’muruna bil ma’ruf, mereka menyuruh kepada yang baik, melarang dari yang mungkar, mereka ini berakhlak yang baik. Beliau sebutkan tentang masalah akhlak karena tidak cukup seseorang menjadi ahlussunnah wal jama’ah hanya memperhatikan masalah aqidah, bahkan kalau aqidah yang dia pelajari ini benar dan dia adalah orang yang mengamalkan aqidah tadi, ini akan memunculkan, akan mewariskan rasa takut kepada Allāh ﷻ yang akan terlihat pada baiknya akhlak dia kepada orang lain.Inilah beberapa keutamaan kitab Al Aqidah Al Wasithiya sehingga tidak heran kalau Adz-Dzahabi rahimahullāh ketika beliau berkomentar tentang kitab Al Aqidah Al Wasithiya beliau mengatakan, telah sepakat baik musuh maupun kawan maupun lawan bahwasanya ini adalah aqidah salafi yang jayyid yaitu aqidah para salaf yang bagus. Dan Ibnu Rajab Rahimahullāh beliau mengatakan (ini juga muridnya syaikhul Islam), telah sepakat semuanya bahwasanya aqidah wasithiyyah ini adalah aqidah yang sunniyyah yang salafiyyah, yang sesuai dengan sunnah dan adalah aqidah para salaf kita.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 55 | Status Orang yang Menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah Ucapan Manusia

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهMasih tentang keyakinan ahlussunnah di dalam masalah Alquran,Beliau mengatakan rahimahullāh,فَمَنْ سَمِعَهُ فَزَعَمَ أَنَّهُ كَلامُ الْبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَBarangsiapa yang mendengarnya yaitu mendengar Al-Qur’an dibacakan oleh orang lain, atau dia membacanya,فَزَعَمَ أَنَّهُ كَلامُ الْبَشَرِKemudian dia meyakini bahwasanya ini adalah ucapan manusia/ini adalah makhluk,فَقَدْ كَفَرَMaka sungguh dia telah kufur,Orang yang mengatakan bahwasanya atau mendengar Al-Qur’an dan meyakini bahwasanya itu adalah ucapan manusia, apa hukumnya?Sungguh dia telah kufur mengatakan ini adalah ucapan Nabi Muhammad atau ini ucapan Jibril bukan ucapan Allāh maka dia telah kufur, barangsiapa yang mendengar Al-Qur’an kemudian meyakini itu adalah ucapan manusia maka dia telah keluar dari agama Islam.Demikian pula orang yang meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, dia mungkin tidak mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah ucapan manusia, Mua’tazilah tidak mengatakan Al-Qur’an adalah ucapan manusia tapi dia mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk Allāh subhanahu wa ta’ala yang menciptakan, sama hukumnya, dia telah keluar dari agama Islam dan ini ada ucapan² yang shorih dari para salaf yang mengatakan barangsiapa yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah keluar dari agama Islam, ini takfir secara mutlak barangsiapa yang mengatakan demikian maka dia telah keluar dari agama Islam adapun takfir secara muayyan maka ini babnya lain harus ada sempurnanya syarat dan juga hilangnya penghalang.Al Imam Ahmad bin Hambal meskipun beliau mungkin dipaksa di penjara untuk mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk tapi beliau tidak mengkafirkan tidak serta merta mengkafirkan para penguasa atau orang lain yang saat itu mereka diliputi oleh subhat orang² Mua’tazilah, karena beliau tau bahwasanya belum tentu orang yang mengucapkan ucapan demikian kemudian dia memahami, mungkin dia dalam keadaan bodoh, mungkin terpaksa/takutفمن سمعه فزعم أنه كلام البشر فقد كفرIni menunjukkan bahayanya ucapanوَقَدْ ذَمَّهُ اللهُ تعالى وَعَابَهُ وَأَوْعَدَهُ بِسَقَرَ حَيْثُ قَالَ تَعَالىَ:وَعَابَهُوَأَوْعَدَهُ بِسَقَرَAllāh subhanahu wa ta’ala telah mencela orang yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamubasyar hu disini kembali kepadaفمن سمعهKembali kepada orang yang mendengar kemudian mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamu albasyar, Allāh mencelanya,وَعَابَهُKemudian Allāh mencelanya, hampir sama maknanya,وَأَوْعَدَهُBahkan Allāh subhanahu wa ta’ala mengancamnya dengan azab bukan Allāh cela saja tapi tapi Allāh ancam dengan azab, dan ancaman menunjukan bahwasanya ucapan itu ucapan yang dibenci oleh Allāh atau ucapan yang keliru fatal kekeliruannya dia mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamu Al Basyar,حَيْثُ قَالَ تَعَالىَ: سَأُصْلِيهِ سَقَرَAllāh subhanahu wa ta’ala mengatakan Aku akan memasukkan dia ke dalam jahanam.Ini disebutkan oleh Allāh dalam Surat Al Mudatsir Kisah dari Al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi termasuk Orang Quraisy ketika dia mendengar Al-Qur’an (dia orang yang faham) Al Walid mengatakan bahwasanya ini bukan syair (dia sudah banyak mendengar syair) dan ini bukan sihir juga / ini bukan mantra dari para dukun, apa yang dia sebutkan adalah pujian terhadap apa yang dibawakan oleh Nabi ﷺ, dia justru malah memuji apa yang dibaca oleh Nabi ﷺ maka dicela oleh kaumnya, sampai akhirnya dia dengan lisannya mengatakanإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ[QS Al Mudatsir 25]Sebelumnya Allah mengatakan,إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (١٨)Sesungguhnya dia memikirkan,فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (١٩)Maka terlaknat dia,Bagaimana dia memikirkan/setelah dicela oleh kaumnya sendiri,ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (٢٠)ثُمَّ نَظَرَ (٢١)ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (٢٢)ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (٢٣)فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (٢٤)إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥)Sampai akhirnya dia mengatakan bahwasanya ini adalah sihir & ini adalah ucapan manusia, ini adalah ucapan Muhammad, padahal hatinya berbeda dengan apa yang dia ucapkanوَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ …[QS An Naml 14]Apa kata Allāh ﷻ setelahnya, ketika menyebutkan tentang ucapan Walidاِنۡ هٰذَاۤ اِلَّا قَوۡلُ الۡبَشَرِؕTidaklah ini adalah ucapan manusia,Allāh mengatakan,سَأُصۡلِيهِ سَقَرَAku akan memasukan dia (Walid) kedalam Saqor/kedalam Nerakaوَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ مَا سَقَرُؕلَا تُبۡقِىۡ وَ لَا تَذَرُ‌ۚTahukah kamu apa itu Saqor?Ini adalah sesuatu azab yang tidak akan menyisakan dan tidak akan meninggalkan, akan dihabisi/dihancurkan oleh Naar.Berarti disini ada ancaman bagi orang yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah ucapan manusia. Ancaman menunjukkan bahwasanya ucapan itu adalah ucapan yang batil itu bukan Qoulubasyar, keyakinan bahwasanya itu ucapan Muhammad adalah ucapan yang batil orang yang mengatakannya berhak mendapatkan azab tersebutعلمنا فلما أوعد الله سقر لمن قال {إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشرKetika Allāh subhanahu wa ta’ala mengancam orang yang mengatakan ucapan tadi yaitu mengatakanاِنۡ هٰذَاۤ اِلَّا قَوۡلُ الۡبَشَرِؕDiancam dengan Saqor maka kita mengetahuiBahwasanya Al-Qur’an ini ucapan yang menciptakan manusia.Kalau itu bukan ucapan manusia berarti itu adalah ucapan yang menciptakan manusia yaitu Allāh Kalamullah,ولا يشبه قول البشرDan bahwasanya berarti Kalamullah ini tidak serupa dengan ucapan manusia,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُOrang yang memahami bahasa Arab tahu ini bukan ucapan manusia, meraka sudah tahu ribuan syair, syair dari berbagai Qobilah mereka ketika mereka mendengar Al-Qur’an mereka mengetahui bahwa ini bukan ucapan manusia, Al-Qur’an dengan bahasa mereka dengan huruf² mereka tahu tapi mereka tahu ini bukan ucapan syair/ini bukan ucapan manusia, bahkan orang² yang belum mengenal bahasa Arab sekalipun (orang² kufur ketika mereka disuruh mendengarkan Al-Qur’an) mereka merasa ini bukan sembarang ucapan.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 5 Kitab KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI

Simpul yang ketiga di antara 20 simpul yang disebutkan di dalam kitab ini adalahجمع همة النفس عليهMengumpulkan keinginan jiwa.Jiwa kita ini punya banyak keinginan. Ingin itu, ingin ini, ingin mobil, ingin berkeluarga, ingin anak, dan seterusnya. Kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus mengagungkan ilmu.Diantara bentuk pengagungan ilmu kita harus kumpulkan keinginan-keinginan / himmah-himmah tadi, kita kumpulkan pada ilmu tadi. Ini bentuk bahwasanya kita benar-benar mengagungkan terhadap ilmu tadi, sampai keinginan-keinginan tadi kita kesampingkan, kita kumpulkan semuanya kepada ilmu.تُجمع الهِمَّة علىٰ المطلوب بتَفقُّد ثلاثة أمورٍDikumpulkan keinginan untuk mendapatkan ilmu tadi dengan kita memperhatikan tiga perkara:أوَّلِها: الحرص علىٰ ما ينفع، فمتىٰ وُفِّق العبد إلىٰ ما ينفعه حَرَص عليهBagaimana kita bisa mendatangkan keinginan yang besar tadi, bagaimana kita bisa mengumpulkan keinginan tadi untuk semuanya dikerahkan mendapatkan ilmu?Caranya adalah kita harus bersemangat untuk mendapatkan yang bermanfaat. Kita harus tahu bahwasanya ilmu itu adalah bermanfaat bagi kita di dunia dan juga di akhirat, kalau kita mengetahui itu adalah sesuatu yang bermanfaat maka kita akan bersemangat untuk mendapatkannya, sebagaimana dalam ayat dan juga hadits yang menunjukkan tentang keutamaan ilmu.Maka seorang hamba yang diberikan Taufik untuk mengetahui apa yang bermanfaat baginya dia harus bersemangat untuk mendapatkannya. Kalau antum tahu bahwasanya ilmu ini adalah yang membawa kebaikan kita di dunia dan juga di akhirat maka kita harus semangat untuk mendapatkan ilmu tersebut.Ini yang pertama caranya adalah dengan mengetahui itu adalah sesuatu yang bermanfaat dan tidak ada yang lebih bermanfaat daripada ilmu agama. Kemudian yang ke dua,ثانيها: الاستعانة بالله ﷻ في تحصيلهKita harus meminta kepada Allāh ﷻ pertolongan untuk mendapatkannya, jangan hanya sekedar semangat untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat tapi kita harus memohon pertolongan kepada Allāh ﷻ.Tunjukkan bahwasanya antum benar-benar ingin mendapatkan ilmu dengan cara meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ, Ya Allāh ﷻ tolonglah saya untuk mendapatkan ilmu agama yang bermanfaat. Ketika antum berdoa dan mengatakan Ya Allāh ﷻ mudahkanlah saya dalam menuntut ilmu itu menunjukkan bahwanya antum punya keinginan yang besar untuk mendapatkan ilmu.Tapi kalau antum jarang meminta kepada Allāh ﷻ jarang mengatakan,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًاAtau seandainya dia mengucapkan begitu saja tanpa dia memahami maknanya berarti mana hal yang menunjukkan bahwasanya antum menginginkan ilmu tersebut.Seorang penuntut ilmu harusnya sering dia Isti’anah dan meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ dalam menuntut ilmu agama.ثالثِهاYang ke tiga,عدم العجز عن بلوغ البُغية منهJangan kita lemah sebelum kita sampai kepada ujungnya, sebelum kita mendapatkan ilmu jangan kita lemah dan merasa tidak bisa mendapatkan ilmu tersebut.Seseorang harus memiliki husnudzon kepada Allāh ﷻ dan jangan dia merasa lemah, mungkin karena sakit kemudian dia lemah tidak mau menuntut ilmu padahal cuma sakit ringan saja atau dia kesulitan dalam masalah ekonomi kemudian dia mundur ke belakang, sudah ana mau berkebun saja atau karena jauh tempatnya kemudian dia beralasan karena jauh kemudian akhirnya dia mundur tidak jadi menuntut ilmu, ini namanya lemah, jangan kita lemah sebelum kita sampai kepada ujungnya.وقد جُمِعت هٰذه الأمورُ الثَّلاثة في الحديث الَّذي رواه مسلم عن أبي هريرة أن الني صلى الله عليه وسلم قال: احرِص علىٰ ما ينفعك، واستعنْ بالله ، ولا تَعْجِزْDan telah dikumpulkan tiga perkara ini di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam mengatakan, Hendaklah engkau semangat di dalam perkara yang bermanfaat untukmu dan memohonlah pertolongan kepada Allāh ﷻ dan janganlah engkau lemah.Ini dikumpulkan dalam satu hadits, punya semangat terhadap perkara yang bermanfaat bagimu kemudian kita iringi dengan meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ kemudian jangan kita lemah, lemah karena ekonomi lemah karena kejauhan lemah karena mungkin sakit dan seterusnya, kita harus punya semangat untuk sampai kepada ilmu tersebut.وقال ابن القيِّمBerkata Ibnul Qoyyim,إذا طلع نجم الهِمَّة في ظلام ليل البَطالة، ورَدِفه قمرُ العزيمة؛ أشرقت الأرض بنور ربِهّاApabila muncul bintang al-himmah (keinginan yang kuat), kalau sudah muncul keinginan yang kuat untuk mendapatkan ilmu di dalam kegelapan, kerusakan, dan juga kesibukan dengan suatu yang tidak bermanfaat, muncul tiba-tiba keinginan yang kuat, sebelumnya kita berada di dalam kegelapan kebodohan, kalau sudah muncul keinginan yang kuat ditambah lagi di sana ada ‘azimah, ada himmah dan juga ada ‘azimah, ada keinginan yang besar untuk mendapatkan sesuatu yang mulia tadi,أشرقت الأرض بنور ربِهّاMaka akan bercahaya bumi ini dengan cahaya Rabbnya, yaitu dengan ilmu.Maksud beliau di sini adalah kalau kita memang punya keinginan yang kuat maka kita akan mendapatkan InsyaAllāh apa yang kita inginkan.وإنَّ ممَّا يعلي الهِمَّة ويسمو بالنَّفس: ٱعتبارَ حال مَن سبق، وتعرُّفَ هِمم القوم الماضينKemudian beliau menyebutkan di sini bagaimana cara kita untuk mendapatkan semangat yang kuat, bagaimana supaya kita bisa mengumpulkan keinginan kita untuk mendapatkan ilmu sehingga tidak bercabang keinginan, caranya diantaranya adalah dengan kita mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum kita, kisah-kisah mereka, bagaimana mereka menuntut ilmu agama, kita mengetahui tentang himmah-himmah mereka orang-orang yang sudah berlalu.Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh,فأبو عبد الله أحمد ابن حنبلٍ كان – وهو في الصِّبا – ربَّما أراد الخروج قبل الفجر إلىٰ حِلَق الشيوخ، فتأخذ أُمُّه بثيابه وتقول – رحمة به: حتىٰ يُؤَذِّنَ النَّاس أو يُصبحواDahulu Imam Ahmad ibn Hanbal Abu Abdillah dan beliau saat itu masih kecil terkadang beliau ingin keluar dari rumahnya sebelum subuh, sebelum subuh itu sudah ingin keluar dari rumahnya, untuk menuju ke majelis-majelis Syaikh, mungkin saat itu masih kecil tapi sudah memiliki keinginan yang kuat ingin tahu ingin menghafal hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam.Maka ibu beliau memegang pakaian beliau dan mengatakan dengan kasih sayang, maksudnya adalah ingin karena perasaan beliau sebagai seorang ibu menyayangi anaknya, beliau mengatakan sampai adzan atau sudah masuk waktu pagi baru engkau keluar. Beliau tidak melarang anaknya untuk menuntut ilmu tapi kasihan sebelum subuh sudah pergi, beliau bilang sampai adzan kalau sudah adzan silakan pergi atau masuk waktu pagi silahkan mendatangi majelis-majelis ilmu tersebut.Itu Al Imamu Ahmad ibn Hanbal bagaimana beliau bisa sampai menjadi seorang imam besar, demikian semangat beliau datang majelis ilmu. Sebelum datang gurunya dia sudah semangat untuk mendatangi majelis tersebut. Jangan kita berlambat-lambat dalam menghadiri majelis ilmu.وقرأ الخطيب البغداديُّ صحيح البخاري كلَّه علىٰ إسماعيل الحِيريِّ في ثلاثة مجالسَAl-Khatib Al Baghdadi (ini menunjukkan bagaimana semangat mereka untuk mendapatkan ilmu) membaca Shahih Al-Bukhari semuanya kepada Ismail Al-Hiyriy dalam tiga majelis saja.ٱثنان منها في ليلتن من وقت صاة المغرب إلىٰ صاة الفجرTiga majelis, dua diantaranya ada di dua malam dari semenjak shalat magrib sampai shalat fajar, baca terus baca Shahih Al-Bukhari. Ini yang dinamakan dengan qira’ah yaitu membaca kitab tersebut kepada gurunya, mungkin jarang disyarah tapi membaca saja sekedar membaca hadist-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam meskipun tidak disyarah oleh gurunya itu sudah besar pengaruhnya terhadap keimanan seseorang. Kemudian di hari yang ke tigaواليوم الثَّالث من ضحوة النَّهار إلىٰ صاة المغربDari siang hari sampai shalat magrib.ومن المغرب إلىٰ طلوع الفجرDitambah lagi majelisnya dari maghrib sampai subuh.Jadi hari yang ke tiga lebih panjang lagi, dari dzuhur sampai maghrib dilanjutkan lagi dari maghrib sampai terbit fajar.Ini kalau sudah semangat dalam hati mereka membara maka tidak ada yang menghalangi mereka, mereka berusaha untuk mengkhatamkan membaca hadist-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam tadi dalam waktu yang sangat singkat yang mungkin tidak dibayangkan oleh sebagian dari kita.وكان أبو محمَّدٍ ابنُ التَّبَّانِ أوَّلَ ٱبتدائه يدرس اللَّيل كلَّهSeorang ulama yang bernama Abu Muhammad Ibnu Tabban di awal beliau belajar, beliau belajar agama di seluruh malam.فكانت أُمُّه ترحمهIbunya sayang kepada beliau.وتنهاه عن القراءة باللَّيلKemudian melarang dia untuk membaca di malam hari, karena zaman dahulu sangat terbatas sekali cahaya di malam hari, bisa merusak matanya.فكان يأخذ المصباح ويجعله تحت الجَفنةKarena beliau semangat untuk mendapatkan ilmu, tidak tenang dia untuk tidur begitu saja tanpa membaca, maka apa yang beliau lakukan supaya bisa membaca padahal Ibunya sudah melarang, beliau mengambil lampu kemudian beliau taruh itu di bawah al-jafnah (bejana yang besar) sehingga tidak kelihatan.ويتظاهر بالنَّومKemudian dia pura-pura tidur.فإذا رقدتKalau Ibunya sudah tidur,أخرج المصباح وأقبل علىٰ الدَّرسMaka beliau pun mengeluarkan lampu tadi kemudian beliau pun belajar.Sehingga ibunya tidak melihat dia dalam keadaan belajar. Ini tidak mungkin bisa terjadi kecuali bagi orang yang memiliki semangat yang kuat di dalam menuntut ilmu. Dia merasa tenang dan merasa lezat di malam tersebut ketika dia membaca dan ketika dia menghafal ilmu tersebut.فكن رجاً رِجْلُه على الثَّرىٰ ثابتةMaka hendaklah engkau menjadi seorang laki-laki yang kakinya berada di atas bumi dalam keadaan kokoh.وهامةُ همته فوق الثُّرياDan dia memiliki keinginan yang tinggi, yang lebih tinggi daripada tsurayya (nama bintang), menjadi orang yang kokoh di atas bumi dan keinginan dia lebih tinggi daripada bintang.سامقةdalam keadaan tinggi.ولا تكن شابَّ البدن أشيبَ الهِمَّةJangan engkau menjadi seorang yang badannya saja yang muda tetapi keinginannya adalah keinginan seorang yang sudah tua.Jangan engkau menjadi seseorang yang punya badan yang muda tetapi keinginannya sudah tua yaitu sudah lemah padahal dia memiliki badan yang kekar.فإنَّ هِمَّة الصَّادق لا تشيبKarena himmah dan juga keinginan yang tinggi dari orang yang jujur, orang yang jujur keinginannya tadi yang mengumpulkan keinginan-keinginan dia tadi, maka itu tidak akan menjadi tua.Jadi orang yang jujur dalam keinginannya meskipun rambutnya ini beruban dan kulitnya sudah mulai berubah tapi kalau dia adalah orang yang jujur maka itu tidak akan merubah himmahnya, sampai tua pun dia akan menuntut ilmu.كان أبو الوفاء ابن عَقيل – أحدُ أذكياءِ العالم من فقهاء الحنابلة – يُنشِد وهو في الثمانينDahulu Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil beliau adalah salah seorang di antara orang-orang yang cerdas di antara ahli fiqih mazhab Hanbali, beliau pernah membuat syair dan umur beliau adalah 80 tahun, kata beliau,ما شاب عزمي ولا حزمي ولاخُلُقيولا ولائي ولا ديني ولا كرميKeinginanku tidak menjadi tua, aku memang sudah tua umurku sudah 80 tahun tapi keingananku tidak menjadi tua.ولا حزميDan juga ketegasanku (keinginanku yang kuat tekadku yang kuat) tidak menjadi tua karena tubuhku yang sudah tua.ولاخُلُقيDan juga akhlakku tidak berubah.ولا ولائيDemikian pula loyalitasku, terhadap agama ini.ولا دينيDan juga agamaku, ibadahku.ولا كرميDemikian pula kemurahanku, infaqku tidak berubah karena beliau sudah tua.وإنمَّا ٱعتاض شعري غيرَ صِبغتهYang terjadi adalah rambutku saja itu berubah warnanya, yang sebelumnya hitam menjadi putih.والشَّيبُ في الشَّعر غيرُ الشَّيب في الهِممِDan menjadi putihnya rambut itu lain dengan menjadi tuanya tekad yang kuat.Artinya beliau di sini mengingatkan bahwasanya meskipun ana sudah tua rambutku sudah beruban dan kulitku sudah berubah tapi itu hanya dzahirnya saja. Adapun semangatku masih seperti dahulu. Ibadahku, agamaku, loyalitasku terhadap agama ini, akhlakku, tekadku yang kuat, itu masih seperti ketika dahulu aku masih muda.Ini menunjukkan kepada kita keharusan kita untuk mengumpulkan keinginan kita untuk ilmu ini supaya kita bisa mewujudkan pengagungan kita terhadap ilmu ini.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →