🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah – 55 Contoh Dosa Penyebab Seseorang Masuk Neraka Bagian 1

Halaqah yang ke-55 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian Pertama”Dosa yang dilakukan oleh seorang muslim, apabila Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mengampuninya akan menjadi sebab seseorang terjatuh ke dalam neraka.⇒Di antara dosa tersebut adalah dosa bid’ah.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ“Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan. Dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan di dalam neraka. ”(Hadīts Shahīh Riwayat Nasā’i)Bid’ah inilah yang sebenarnya telah memecah-belah umat Islām.Umat yang dahulunya bersatu, satu di atas Al-Qur’an dan Al-Hadīts dengan satu pemahaman, yaitu pemahaman para shahābat Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam generasi terbaik umat Islām, menjadi berbagai aliran yang banyak.Golongan yang selamat adalah golongan yang tetap berpegang kepada Islām yang murni yang dipahami oleh para shahābat Radhiyallāhu ‘anhum.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى“Dan akan berpecah-belah umatku menjadi 73 golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Mereka berkata, “Siapakah golongan tersebut ya Rasūlullāh ?” Beliau menjawab, “Golongan yang berada di atas jalanku dan jalan para sahabatku”.(Hadīts Hasan Riwayat Tirmidzi)Ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam umati yaitu umatku, menunjukkan bahwasanya aliran-aliran tersebut tidaklah kafir dengan bid’ah yang mereka lakukan.Dan ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam semuanya masuk neraka, menunjukkan bahwasanya bid’ah yang mereka lakukan adalah dosa besar yang menyebabkan masuk neraka.Kalau Allāh menghendaki, maka Allāh mengampuni tanpa diadzab dan kalau Allāh menghendaki maka Allāh akan mengadzab di neraka sampai waktu yang Allāh kehendaki.Seorang muslim hendaknya menjauhi aliran-aliran sesat tersebut yang di antara ciri-cirinya:⑴ Tidak kembali kepada pemahaman para shahābat di dalam memahami Al Qurān dan Al-Hadīts.⑵ Tidak memiliki perhatian yang besar terhadap aqidah dan tauhīd⑶ Mendahulukan akal di atas dalīl⑷ Bersembunyi-sembunyi di dalam beragama⑸ Dan ada di antara mereka yang memiliki bai’at khusus kepada pemimpin aliran.Dantara cirinya:√ Mencela dan membicarakan kejelekan penguasa.√ Tidak berhati-hati di dalam berdalil dengan hadīts-hadīts Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.√ Mencukupkan diri dengan Al Qurān tanpa hadīts di dalam berdalīl.√ Dan di antara cirinya mereka mudah mengkāfirkan orang yang tidak sependapat dengan mereka.Hendaknya seorang muslim meninggalkan bid’ah meskipun dianggap baik atau hasanah oleh sebagian manusia.Meninggalkan aliran-aliran sesat tersebut dan jangan tertipu dengan pakaian atau banyaknya jumlah mereka. Karena kebenaran tidak diukur dengan perkara-perkara tersebut, tapi diukur dengan kesesuaiannya dengan Al Qurān dan Al-Hadīts.Menasehati para pengikut aliran sesuai dengan kemampuan supaya kembali kepada kebenaran dengan cara yang hikmah merupakan bentuk rasa cinta kita kepada saudara seislām.Dan upaya menyatukan umat di atas kebenaran serta menyelamatkan mereka dari ancaman neraka.Dan perlu diketahui bahwasanya meninggalkan aliran-aliran tersebut juga bukan berarti seseorang hidup jauh dari agama, menjauhi ilmu dan para ulamā.Kemudian mengikuti syahwat dan hawa nafsunya. Karena seorang muslim di dunia ini dituntut untuk menjauhi fitnah syubhat (kerancuan berpikir) dan menjauhi fitnah syahwat.Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah kepada kita semua.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 05 | Penjelasan Pembatal Keislaman Pertama Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke lima dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Setelah kita mengetahui bahwa menyekutukan Allah di dalam ibadah membatalkan keislaman, maka wajib bagi kita mengetahui apa itu ibadah. Orang yang tidak mengetahui makna ibadah, dikhawatirkan dia akan menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allah.Ibadah adalah:اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَفعَالِ الظَّاهِرَةِ وَالبَاطِنَةِ“Seluruh perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan yang dhohir maupun yang batin.”Kita mengetahui sesuatu ucapan atau perbuatan dicintai dan diridhoi oleh Allah dari kabar yang Allah sebutkan di dalam Al Qur’an atau kabar Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya.Terkadang kita mengetahui sesuatu ucapan atau amalan dicintai oleh Allah ketika Allah mengabarkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut, misalnya Allah berfirman,وَٱللَّهُ یُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِینَ[Surat Ali Imran 146]“Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar.”Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwasanya Allah mencintai orang-orang yang bersabar, mencintai sifat sabar. Kalau sabar dicintai oleh Allah, berarti sabar adalah ibadah. Dan kalau ibadah, maka tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.Dalam ayat yang lain Allah mengabarkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (Al Baqarah 195). Mencintai orang-orang yang bertaubat dan membersihkan diri dari dosa (Al Baqarah 222). Dan terkadang kita mengetahui Allah mencintai sebuah amalan atau ucapan karena Allah memerintahkan dengan amalan tersebut. Dan setiap yang Allah perintahkan berarti dicintai Allah. Dan kalau amalan tersebut dicintai maka amalan tersebut adalah ibadah. Dan kalau amalan tersebut adalah ibadah, maka tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.Contoh amalan yang diperintahkan adalah sholat dan zakat.Allah Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,وَأَقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ“Dan hendaklah kalian mendirikan sholat dan membayar zakat.” [Al Baqarah 43]Di sini Allah memerintahkan untuk mendirikan sholat dan membayar zakat. Berarti keduanya dicintai oleh Allah, karena Allah tidak memerintahkan kecuali sesuatu yang dicintai dan diridhoi. Berarti sholat dan zakat adalah ibadah, hanya untuk Allah dan tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.Dan terkadang kita mengetahui Allah mencintai sebuah amalan ketika Allah memuji orang-orang yang mengamalkannya. Karena Allah tidak memuji kecuali orang-orang yang Dia cintai. Yang mereka mengamalkan apa yang dicintai oleh Allah. Misalnya Allah berkata memuji orang-orang yang menunaikan nadzarnya.(یُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ وَیَخَافُونَ یَوۡمࣰا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِیرࣰا)[Surat Al-Insan 7]Pujian Allah Subhānahu wa Ta’āla, mereka adalah orang-orang yang menyempurnakan nadzarnya dan takut dengan suatu hari yang kejelekannya menyelimuti.Pujian Allah Subhānahu wa Ta’āla menunjukkan bahwasanya Allah mencintai orang-orang yang menyempurnakan nadzar dan perbuatan tersebut.Ibadah ada yang berupa ucapan dan ada yang berupa perbuatan. Berupa ucapan seperti mengucapkan tasbih, tahlil, tahmid, bersholawat atas Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, membaca Al Qur’an, berdo’a, dll.Berupa amalan seperti melakukan sholat, membayar zakat, berjihad, berhaji, dll.Ibadah ada yang dhohir dan ada yang batin. Ibadah yang dhohir artinya adalah ibadah yang bisa terlihat oleh orang lain, seperti sholat, jihad, dll.Ibadah yang batin adalah ibadah yang ada di dalam hati manusia, seperti tawakal kepada Allah, cinta kepada Allah, takut kepada Allah, kembali atau inabah kepada Allah, dll. Semua ini adalah ibadah. Dan semua ibadah harus diserahkan hanya kepada Allah. Tidak boleh sedikitpun diserahkan kepada selain Allah. Barangsiapa yang menyerahkan sebagian ibadah dari ibadah-ibadah tadi kepada selain Allah, maka dia telah menyekutukan Allah di dalam ibadah, dan ini merupakan pembatal keislaman yang paling besar.Kemudian Syeikh menyebutkan dalil bahwa kesyirikan adalah pembatal keislaman, yaitu firman Allah,إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَغۡفِرُ أَن یُشۡرَكَ بِهِۦ وَیَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن یَشَاۤءُۚ ⁠[Surat An-Nisa’ 48 dan 116]“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki.”Allah tidak mengampuni dosa syirik padahal Allah adalah Al Ghofur (Yang Maha Pengampun). Dan ini menunjukkan tentang betapa besarnya dosa syirik.Dan yang dimaksud dosa syirik yang tidak diampuni di sini adalah ketika seseorang bertemu dengan Allah dalam keadaan membawa dosa syirik tersebut dan belum bertaubat di masa hidupnya. Dan maksud tidak diampuni adalah dia harus diadzab.Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,مَن مَاتَ وهْوَ يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ“Barangsiapa yang mati dalam keadaan dia menyekutukan Allah, maka dia masuk ke dalam neraka.” [HR. Bukhari dan Muslim]Seorang yang meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan Allah, inilah orang yang masuk ke dalam neraka dan dialah yang tidak akan diampuni.Dalam hadits yang lain, Beliau mengatakan,مَن لَقِيَ اللهَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ“Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan dia menyekutukan Allah, maka dia masuk ke dalam neraka.” [HR. Bukhari dan Muslim]Tapi kalau dia bertaubat dari perbuatan syirik tersebut di masa hidupnya, maka Allah Maha Pengampun dan Maha Pemberi Taubat. Sebesar apapun dosanya, baik berupa syirik, kekufuran, kenifakan, kalau dia bertaubat dengan taubat yang nasuha sebelum dia meninggal dunia, maka akan diampuni oleh Allah.Allah berfirman,(۞ قُلۡ یَـٰعِبَادِیَ ٱلَّذِینَ أَسۡرَفُوا۟ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوا۟ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِیعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِیمُ)[Surat Az-Zumar 53]“Katakanlah, Wahai hamba-hambaku yang telah berlebih-lebihan terhadap dirinya sendiri (melakukan kemaksiatan), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 30 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Makna Syahadat Lailah Illallah👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahKemudian beliau rahimahullāh menjelaskan tentang لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ.ketika beliau membahas tentang syahādat beliau menjelaskan dengan panjang lebar.Kenapa demikian?Karena beliau rahimahullāh mengetahui bahwasanya syahādat adalah pokok di dalam agama Islām, karena ini berkenaan dengan masalah tauhīd.Didalam Islām ada syahādat dan di dalam Imān ada rukun Imān, rukun Imān yang pertama adalah beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Ketika membahas beriman kepada Allāh juga akan membahas tentang tauhīd, ketika membahas شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ الله – juga membahas tentang Tauhīd.√ Ma’rifatullāh berkaitan dengan Tauhīd.√ Ma’rifaru Dīnul Islām berkaitan juga dengan Tauhīd.√ Ma’rifatun Nabi juga akan dibahas tentang Tauhīd.Beliau rahimahullāh mengatakan makna لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ :ومعناها: لا معبود بحق إلا الله وحده (لا إله) نافياً ما يعبد من دون الل)Makna شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – Tidak Ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh. Ini adalah makna yang paling sempurna dan paling sesuai dengan kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ .⇒ Tidak Ada sesembahan yang berhak (yang benar) kecuali Allāh.Yang berhak (bi-haqqi) maksudnya adalah yang memang berhak untuk disembah, karena hak bisa diartikan yang benar atau yang berhak.Kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّه – terdiri dari dua bagian (dua rukun لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ).⑴ Rukun pertama pada kalimat لَا إلَهَ⑵ Rukun kedua pada kalimat إلَّا اللَّهُNafīyyan maksudnya adalah Allāh menafī’kan segala sesuatu yang disembah selain Allāh. Itu ada di dalam kalimat لَا إلَهَ – Allāh menafī’kan segala sesuatu yang disembah selain Allāh (seluruhnya) kalau itu adalah دون الله – dan dia disembah maka dinafī’kan, baik itu seorang nabi atau malāikat (siapapun dia).Itu adalah rukun pertama yang dinamakan dengan rukun An-Nafī (harus mengingkari) mengingkari seluruh sesembahan selain Allāh.Rukun yang kedua إلَّا اللَّهُ :مثبتاً العبادة لله وحده لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكهAllāh menetapkan bahwasanya ibadah itu hanyalah untuk لله وحده saja.Makna لاَ إِلَـهَ إِلاَّ الله terdiri dari dua rukun yang pertama adalah Al-Nafyu dan Al-Itsbat keduanya harus ada, kalau keduanya tidak ada maka tidak benar maknanya.Seandainya hanya لاَ إِلَـهَ saja, maka ini pengingkaran adanya sesembahan, dia mengingkari wujud Allāh, dia tidak percaya adanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla (atheis).Tetapi jika menetapkan saja dengan mengatakan الله معبود atau الله اله – Allāh adalah sesembahan.Jika hanya itsbat saja, Allāh adalah اله maka ini tidak cukup , karena ini belum sempurna, agar sempurna kita harus menggabungkan antara Nafyu dan Itsbat, itulah keadilan (قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ).Bagaimana caranya agar sempurna?Maka kita katakan لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – Tidak ada sesembahan (kita ingkari semuanya) kemudian kita kecualikan إلَّا اللَّهُ (kecuali Allāh saja).Oleh karena itu makna yang benar adalah لا معبود بحق إلا الله وحده – itulah makna لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ karena intinya kita mengingkari seluruh sesembahan selain Allāh, yang itu adalah sesembahan yang bathil. Dan kita ingin menetapkan Allāh sebagai satu-satunya sesembahan.Sehingga sempurnanya adalah لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – itulah makna apa yang diucapkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan yang beliau dakwahkan.Dan itu pula yang dipahami oleh orang-orang Arab ketika mereka mendengar dakwah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Yang mereka pahami dari beliau adalah لا معبود بحق إلا الله وحده – tidak ada makna yang lain.Karena sebagian ada yang mengatakan لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ maknanya adalah لا خالق إلا الله (Tidak ada yang mencipta selain Allāh).Makna لا خالق إلا الله – benar atau tidak?Makna ini benar, tetapi apakah dia makna dari kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ? TIDAK !إِنَّهُمْ كَانُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ“Sungguh, apabila dikatakan kepada mereka, Lā ilāha illallāh (Tidak ada tuhan selain Allāh) mereka menyombongkan diri.وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭDan mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?”(QS. Ash-Shāffāt : 35-36)Disana ada makna yang lain yang juga salah لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – diartikan لا معبود موجود إلا الله (Tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allāh) ini bisa disalah-pahami oleh sebagian orang.Jika diartikan demikian (Tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allāh) maka seluruh sesembahan yang ada adalah Allāh. Dan ini adalah pemahaman yang jelas salah.Berarti orang yang menyembah matahari dia menyembah Allāh, orang yang menyembah bulan dia menyembah Allāh, لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ (Tidak ada sesembahan kecuali Allāh) Ini nanti jadi pemahaman Wihdatul Wujud.Orang menyembah apa saja itu tauhīd karena dia menyembah Allāh juga ini kembali kepada pemahaman Wihdatul Wujud (menyatunya wujud antara Allāh dengan makhluk) Jadi yang menyembah apapun dia adalah bertauhīd.Kemudian ucapan beliau :لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس لهشريك في ملكهKembali beliau mengingatkan tentang hubungan antara tauhīd Rububiyyah dengan tauhīd Uluhiyyah karena intinya beliau ingin membahas tentang tauhīd Al-Uluhiyyah (berhak nya Allāh untuk diibadahi) maka sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla hanya Dia yang memiliki langit dan bumi maka Dia-lah yang berhak untuk diibadahi.لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكهHubungan antara tauhīd Uluhiyyah dan tauhīd Rububiyyah.و رب هو المعبدRabb itulah yang disembah, disini beliau rahimahullāh mengingatkan dan beliau ingin menjelaskan hubungan antara tauhīd Rububiyyah dengan tauhīd Uluhiyyah.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 55

Pembahasan Dalil Ketiga QS Al An’am 159 Bag 02Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-55 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Beliau mendatangkan firman Allah Azza wa Jalla di dalam Surat Al An’am 159 :وَكَانُوا شِيَعاًDan mereka yaitu orang-orang yang memisah-misahkan apa yang ada di dalam agama mereka, akhirnya menjadikan mereka berkelompok-kelompok, beraliran-aliran. Sebabnya adalah karena mereka farroqu diinahum. Seandainya mereka seperti Ahlussunnah, kaffah dalam melaksanakan Islam, pakaiannya berusaha untuk syar’i, cara makannya juga demikian, cara ibadahnya, cara manhajnya, cara berdakwahnya, kembali kepada Islam, niscaya ini akan menjadi sebab mereka bersatu. Tapi karena masing-masing dari mereka mengambil sebagian yang ada dalam agama Islam, meninggalkan sebagian yang lain, akhirnya yang terjadi adalah perpecahan, menjadi berkelompok-kelompok, jadi beraliran-aliran.وَكَانُوا شِيَعاًDan mereka menjadi syiya’an.Syiya’an adalah jamak dari syi’ah, yang artinya adalah kelompok-kelompok.لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍEngkau wahai Muhammad, bukan termasuk golongan mereka sedikitpun.Menunjukkan bahwasanya jalannya Nabi Muhammad Shallallâhu Alaihi Wasallam, tidak seperti jalan mereka. Kalau jalan mereka adalah memisah-misah apa yang ada dalam agama ini, adapun Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, maka beliau melaksanakan Islam secara kaffah, secara keseluruhan.Karena Islam bukan dalam masalah aqidah saja, Islam bukan dalam masalah ibadah saja, tapi Islam dalam seluruh bidang yang ada di dalam agama Islam. Itu Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam. Islam secara keseluruhan, Adapun mereka, yaitu aliran-aliran tadi, kelompok-kelompok tadi, maka mereka tidak kaffah di dalam melaksanakan agama Islam.Ayat ini jelas menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam. Di antara seginya adalah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala mentabrii’, yaitu membebaskan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam dari orang-orang yang mereka memecah dan memisah-misahkan agama mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala membebaskan Nabi dari mereka ini. Mengatakan bahwasanya Nabi adalah bukan termasuk golongan tadi. Dan segala sesuatu yang dia bertentangan dengan jalan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, tentunya ini adalah suatu yang tercela. Jalan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam adalah melaksanakan Islam secara kaffah, maka segala sesuatu yang bertentangan dengan zaman Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, ini adalah sesuatu yang tercela. Dan di sini Allah Subhanahu Wa Ta’ala membebaskan Nabi-Nya, menyatakan bahwa Nabi-Nya ini berlepas diri dari orang-orang yang memisah-misahkan agamanya. Berarti memisah-misahkan agama ini bukan jalan Nabi. Dan segala sesuatu yang bukan menjadi jalan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, maka ini adalah tentunya jalan yang sesat.Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mengatakan :تَرَكْتُكُمْ عَلَى المَحجّةِ الْبَيْضَاءِ ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لا يَزِيغُ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌTidak memisahkan diri dari sesuatu yang jelas tadi kecuali dia adalah binasa.Bertentangan dengan jalan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, maka ini adalah kebinasaan. Menunjukkan tentang tercelanya tafriiquddin dan menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhan.Ini adalah ayat yang ketiga, menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhan.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 55

Buatkan gambarilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 55 | Status Orang yang Menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah Ucapan ManusiaHalaqah 55 | Status Orang yang Menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah Ucapan ManusiaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهMasih tentang keyakinan ahlussunnah di dalam masalah Alquran,Beliau mengatakan rahimahullāh,فَمَنْ سَمِعَهُ فَزَعَمَ أَنَّهُ كَلامُ الْبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَBarangsiapa yang mendengarnya yaitu mendengar Al-Qur’an dibacakan oleh orang lain, atau dia membacanya,فَزَعَمَ أَنَّهُ كَلامُ الْبَشَرِKemudian dia meyakini bahwasanya ini adalah ucapan manusia/ini adalah makhluk,فَقَدْ كَفَرَMaka sungguh dia telah kufur,Orang yang mengatakan bahwasanya atau mendengar Al-Qur’an dan meyakini bahwasanya itu adalah ucapan manusia, apa hukumnya?Sungguh dia telah kufur mengatakan ini adalah ucapan Nabi Muhammad atau ini ucapan Jibril bukan ucapan Allāh maka dia telah kufur, barangsiapa yang mendengar Al-Qur’an kemudian meyakini itu adalah ucapan manusia maka dia telah keluar dari agama Islam.Demikian pula orang yang meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, dia mungkin tidak mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah ucapan manusia, Mua’tazilah tidak mengatakan Al-Qur’an adalah ucapan manusia tapi dia mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk Allāh subhanahu wa ta’ala yang menciptakan, sama hukumnya, dia telah keluar dari agama Islam dan ini ada ucapan² yang shorih dari para salaf yang mengatakan barangsiapa yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah keluar dari agama Islam, ini takfir secara mutlak barangsiapa yang mengatakan demikian maka dia telah keluar dari agama Islam adapun takfir secara muayyan maka ini babnya lain harus ada sempurnanya syarat dan juga hilangnya penghalang.Al Imam Ahmad bin Hambal meskipun beliau mungkin dipaksa di penjara untuk mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk tapi beliau tidak mengkafirkan tidak serta merta mengkafirkan para penguasa atau orang lain yang saat itu mereka diliputi oleh subhat orang² Mua’tazilah, karena beliau tau bahwasanya belum tentu orang yang mengucapkan ucapan demikian kemudian dia memahami, mungkin dia dalam keadaan bodoh, mungkin terpaksa/takutفمن سمعه فزعم أنه كلام البشر فقد كفرIni menunjukkan bahayanya ucapanوَقَدْ ذَمَّهُ اللهُ تعالى وَعَابَهُ وَأَوْعَدَهُ بِسَقَرَ حَيْثُ قَالَ تَعَالىَ:وَعَابَهُوَأَوْعَدَهُ بِسَقَرَAllāh subhanahu wa ta’ala telah mencela orang yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamubasyar hu disini kembali kepadaفمن سمعهKembali kepada orang yang mendengar kemudian mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamu albasyar, Allāh mencelanya,وَعَابَهُKemudian Allāh mencelanya, hampir sama maknanya,وَأَوْعَدَهُBahkan Allāh subhanahu wa ta’ala mengancamnya dengan azab bukan Allāh cela saja tapi tapi Allāh ancam dengan azab, dan ancaman menunjukan bahwasanya ucapan itu ucapan yang dibenci oleh Allāh atau ucapan yang keliru fatal kekeliruannya dia mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamu Al Basyar,حَيْثُ قَالَ تَعَالىَ: سَأُصْلِيهِ سَقَرَAllāh subhanahu wa ta’ala mengatakan Aku akan memasukkan dia ke dalam jahanam.Ini disebutkan oleh Allāh dalam Surat Al Mudatsir Kisah dari Al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi termasuk Orang Quraisy ketika dia mendengar Al-Qur’an (dia orang yang faham) Al Walid mengatakan bahwasanya ini bukan syair (dia sudah banyak mendengar syair) dan ini bukan sihir juga / ini bukan mantra dari para dukun, apa yang dia sebutkan adalah pujian terhadap apa yang dibawakan oleh Nabi ﷺ, dia justru malah memuji apa yang dibaca oleh Nabi ﷺ maka dicela oleh kaumnya, sampai akhirnya dia dengan lisannya mengatakanإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ[QS Al Mudatsir 25]Sebelumnya Allah mengatakan,إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (١٨)Sesungguhnya dia memikirkan,فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (١٩)Maka terlaknat dia,Bagaimana dia memikirkan/setelah dicela oleh kaumnya sendiri,ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (٢٠)ثُمَّ نَظَرَ (٢١)ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (٢٢)ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (٢٣)فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (٢٤)إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥)Sampai akhirnya dia mengatakan bahwasanya ini adalah sihir & ini adalah ucapan manusia, ini adalah ucapan Muhammad, padahal hatinya berbeda dengan apa yang dia ucapkanوَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ …[QS An Naml 14]Apa kata Allāh ﷻ setelahnya, ketika menyebutkan tentang ucapan Walidاِنۡ هٰذَاۤ اِلَّا قَوۡلُ الۡبَشَرِؕTidaklah ini adalah ucapan manusia,Allāh mengatakan,سَأُصۡلِيهِ سَقَرَAku akan memasukan dia (Walid) kedalam Saqor/kedalam Nerakaوَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ مَا سَقَرُؕلَا تُبۡقِىۡ وَ لَا تَذَرُ‌ۚTahukah kamu apa itu Saqor?Ini adalah sesuatu azab yang tidak akan menyisakan dan tidak akan meninggalkan, akan dihabisi/dihancurkan oleh Naar.Berarti disini ada ancaman bagi orang yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah ucapan manusia. Ancaman menunjukkan bahwasanya ucapan itu adalah ucapan yang batil itu bukan Qoulubasyar, keyakinan bahwasanya itu ucapan Muhammad adalah ucapan yang batil orang yang mengatakannya berhak mendapatkan azab tersebutعلمنا فلما أوعد الله سقر لمن قال {إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشرKetika Allāh subhanahu wa ta’ala mengancam orang yang mengatakan ucapan tadi yaitu mengatakanاِنۡ هٰذَاۤ اِلَّا قَوۡلُ الۡبَشَرِؕDiancam dengan Saqor maka kita mengetahuiBahwasanya Al-Qur’an ini ucapan yang menciptakan manusia.Kalau itu bukan ucapan manusia berarti itu adalah ucapan yang menciptakan manusia yaitu Allāh Kalamullah,ولا يشبه قول البشرDan bahwasanya berarti Kalamullah ini tidak serupa dengan ucapan manusia,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُOrang yang memahami bahasa Arab tahu ini bukan ucapan manusia, meraka sudah tahu ribuan syair, syair dari berbagai Qobilah mereka ketika mereka mendengar Al-Qur’an mereka mengetahui bahwa ini bukan ucapan manusia, Al-Qur’an dengan bahasa mereka dengan huruf² mereka tahu tapi mereka tahu ini bukan ucapan syair/ini bukan ucapan manusia, bahkan orang² yang belum mengenal bahasa Arab sekalipun (orang² kufur ketika mereka disuruh mendengarkan Al-Qur’an) mereka merasa ini bukan sembarang ucapan.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهTranskrip: Abu Mandala

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 4

Halaqah yang ke-4 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Pujian para ulama kepada beliau rahimahullāh, di sana ada as-Subki Muhammad bin Abdul Barr asy-Syafi’i yang meninggal pada tahun 777 Hijriyah, beliau mengatakan tidak membenci Ibnu Taimiyyah kecuali orang yang bodoh atau orang yang mengikuti hawa nafsu, ini semuanya menunjukkan tentang bagaimana pujian para ulama terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan ini menunjukkan tentang keutamaan beliau.Saya nukilkan juga di sini ucapan dari Ibnu Hajar al-Asqalani yang mengarang kitab Fathul Bari. Ibnu Hajar memuji Syaikhul Islam dan mengatakan bahwasanya laki-laki ini adalah orang yang paling kuat di dalam memerangi ahlul bid’ah dari kalangan orang-orang Rafidhah dan orang-orang Hululiyah dan Ittihadiyah (yaitu orang-orang yang mengaku Allāh ﷻ bersatu dengan makhluk-Nya atau Allāh ﷻ di mana-mana), dan karangan-karangan beliau didalam masalah ini adalah banyak syahirah dan dikenal dan fatwa-fatwa beliau tentang aliran-aliran tadi tidak bisa dibatasi, karena saking banyaknya yaitu dengan ilmu kita kita tidak bisa menentukan batasnya karena keterbatasan ilmu yang kita miliki.Didalam ucapan beliau yang lain Ibnu Hajar mengatakan seandainya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak memiliki keutamaan kecuali keutamaan yang satu yaitu dia memiliki seorang murid yang bernama Ibnu Qayyim, yang memiliki karangan-karangan yang banyak yang telah mengambil manfaat dari karangan beliau orang yang setuju dengan beliau maupun orang yang memusuhi beliau, niscaya ini menunjukkan tentang keutamaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.Kemudian setelahnya beliau rahimahullāh, ini adalah sunnatullah bagi setiap orang yang berdakwah kepada apa yang didakwakan oleh para Nabi dan juga para rasul banyak menerima ujian dan juga cobaan, banyak musuh musuh beliau yang ada di zaman beliau yang berdusta atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, mereka adalah orang-orang Sufi, orang-orang ahlul kalam, ahlul bid’ah dan ini bukan hanya di zaman beliau saja bahkan sampai hari ini.Ini menunjukkan tentang bagaimana ujian yang beliau terima dan sebagian berdusta atas nama beliau, seperti misalnya dusta yang diucapkan oleh sebagian bahwasanya dia melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sedang menjelaskan tentang turunnya Allāh ﷻ ke langit dunia kemudian dia menceritakan, dan ini adalah dusta, mengatakan bahwasanya Ibnu Taimiyyah saat itu berada di atas mimbarnya kemudian dia turun dari atas mimbarnya pelan-pelan, yaitu satu tingkat kemudian tingkat berikutnya dan seterusnya kemudian mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ itu turun seperti turunku ini, maka ini adalah dusta atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan yang menceritakan tadi dia mengatakan bahwasanya dia melihat itu pada tahun 726 Hijriyah, artinya dua tahun sebelum beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah meninggal dunia.Dan kalau diteliti yang menunjukkan tentang kedustaannya, ternyata saat itu karena saat itu yang menceritakan ini dia melihatnya di bulan Ramadan tahun 726 Hijriyah, dan kalau kita melihat sejarah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dari murid-murid beliau bahwasanya beliau pada tahun 726 Hijriyah di bulan Sya’ban ini beliau sudah dipenjara, tidak bebas lagi dalam berdakwah dan ini menunjukkan bahwasanya ini adalah ucapan yang dusta. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bukan seorang musyabbih (orang yang menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk atau menyerupakan sifat Allāh ﷻ dengan sifat makhluk) dan insyaAllāh nanti akan kita melihat sendiri bagaimana beliau rahimahullāh berlepas diri dari tasybih, dari takyif, dari tamsil.Beliau rahimahullāh diuji oleh Allāh ﷻ dengan berbagai ujian dan diantara orang-orang yang banyak memusuhi beliau saat itu adalah qurra yaitu para qadhi dan juga para fuqoha karena mereka merasa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini banyak menyelisihi mereka di dalam fatwa mereka dan juga dapat pendapat-pendapat mereka, karena beliau bukan orang yang fanatik terhadap madzhab tertentu tetapi beliau ta’asubnya adalah kepada dalil. Demikian pula di antara musuh-musuh beliau adalah orang-orang Sufiyyah dan juga ahlul kalam sehingga dengan sebab ini beliau beberapa kali di penjara di antaranya adalah pada tahun 705 Hijriyah kemudian pernah beliau juga dikeluarkan kemudian masuk dan dikeluarkan lagi kemudian masuk kembali dan sebabnya adalah bermacam-macam terkadang sebabnya adalah dari tuduhan-tuduhan orang-orang Sufiyyah pernah beliau di penjara karena tuduhan-tuduhan orang-orang Sufiyyah atau terkadang mereka adalah dari para qurro tadi dari para qodhi tadi yang merasa bahwasanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini banyak menyelisihi mereka dalam masalah fatwa dan juga pendapat-pendapat.Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah beliau meninggal dunia pada malam Senin tanggal 20 Dzulqo’dah tahun 728 Hijriyah dan yang menghadiri jenazah beliau saat itu adalah cukup banyak dan ini adalah seperti yang diucapkan oleh Al-Imam Ahmad bin HanbalKatakan kepada ahlul bid’ah bahwasanya yang akan menentukan antara kami dan juga kalian adalah ketika disaksikannya jenazah-jenazah itu, maksud beliau adalah diantara hal yang menunjukkan bahwa seseorang diatas haq adalah ketika manusia memiliki qobul, memiliki rasa cinta Allāh ﷻ menanamkan rasa cinta tadi kepada para hamba-Nya, ketika Allāh ﷻ mencintai seorang hamba maka Allāh ﷻ akan menjadikan di dalam hati para hamba-Nya yang lain ini rasa cinta terhadap hamba tadi, sehingga ketika dia meninggal dunia banyak orang yang berkeinginan untuk menghadiri jenazahnya, mendoakan beliau.Berbeda dengan ahlu bid’ah yang mereka adalah orang yang melakukan perkara-perkara yang menyimpang yang menjadikan murka Allāh ﷻ dan terkadang mereka melakukan itu diantaranya adalah untuk mencari pujian manusia atau pengikut yang banyak tapi justru yang mereka dapatkan adalah kebencian dari manusia, meskipun secara dhohir mungkin mereka mengikuti di belakang ahlul bid’ah tapi didalam hatinya tidak ada kecintaan sebagaimana mereka mencintai ulama ahlussunnah, sehingga ketika meninggal dunia para ahlul bid’ah tadi yang mungkin dalam kehidupan sehari-hari sebelumnya dia punya banyak pengikut tapi ketika meninggal dunia ternyata tidak menghadiri jenasahnya kecuali sangat sedikit, karena manusia benci dan ditancapkan didalam hati mereka oleh Allāh ﷻ perasaan tidak senang dengan ahlul bid’ah tadi.Maka itu adalah sejarah singkat, biografi singkat tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

HALAQAH 4 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 2

HALAQAH 4 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 2Oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADiantara cara beriman dengan para Rasul:3.     Meyakini bahwa para rasul benar-benar terlepas dari sifat dusta, penyembunyian ilmu dan pengkhianatan.Dalil Al Qur’an :Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanقَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ “Mereka berkata “celaka kita, siapakah yang telah membangkitkan kita dari tempat istirahat kita, inilah yang dijanjikan oleh Ar-Rahman dan benarlah para Rasul” (QS. Yasin : 52) Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ (٤٤)لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ (٤٥) ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ (٤٦) فَمَا مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ عَنۡهُ حَـٰجِزِينَ (٤٧) “Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, pasti kami pegang dia pada tangan kanannya kemudian kami potong pembuluh jantungnya maka tidak seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi Kami untuk menghukumnya” (QS. Al-Haqqah : 44-47) 4.     Keyakinan yang dalam bahwasanya mereka telah melaksanakan tugas mereka dengan sempurna dan sebaik-baiknya dan Allah tidak mewafatkan mereka kecuali setelah mereka menyampaikan secara sempurna risalah Allah kepada kaumnya.Dalil Al Qur’an : Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanرُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Rasul-Rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah Rasul-Rasul itu diutus Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Nisa : 165)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ “Dan tidaklah Kami utus seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya supaya dia menerangkan kepada mereka” (QS. Ibrahim : 4) @dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 4

Halaqah yang ke empat dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.الثانيSimpul yang ke dua diantara simpul-simpul yang dengannya Insya Allah kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita, yaitu dengan,إخلاص النية فيهMengikhlaskan niat di dalam ilmu.فيه di sini kembali kepada ilmu. Mengikhlaskan niat untuk Allāh ﷻ. Ilmu ini adalah sesuatu yang mulia maka diantara bentuk pemuliaan kita terhadap ilmu hendaklah niat kita di dalam mencari ilmu tersebut adalah karena Allāh ﷻ bukan karena makhluk. Karena kalau kita niatnya adalah karena dunia berarti kita menghinakan ilmu. Ilmu ini Mulia, kalau kita niatnya mencari ilmu tersebut untuk mencari sesuatu yang hina berarti kita menghinakan ilmu. Tapi kalau niat kita di dalam menuntut ilmu adalah ingin surganya Allāh ﷻ, ingin dimuliakan oleh Allāh ﷻ, ingin diberi ganjaran oleh Allāh ﷻ, berarti kita telah ikhlas di dalam menuntut ilmu tersebut. Ini termasuk pengangungan kita terhadap ilmu.إنَّ إخلاصَ الأعمال أساسُ قَبولها، وسُلَّمُ وصولهاSesungguhnya keikhlasan di dalam beramal itu adalah pondasi untuk diterima.Kalau tidak ikhlas maka amalannya tidak diterima oleh Allāh ﷻ. Beliau menyebutkan di sini keutamaan-keutamaan ikhlas, dan dia adalah tangga supaya sampai kepada diterimanya amal, jadi pondasinya ikhlas, tangganya juga keikhlasan. Dia harus ada dari awal maupun ketika berjalan. Amalan tersebut harus ada.قال تعالىٰAllāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ﴾ البينة: الآية 5Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allāh ﷻ, yaitu menyembah Allāh ﷻ dalam keadaan ikhlas, dalam keadaan mentauhidkan Allah.وفي الصَّحيحينDi dalam Shahih Bukhari dan juga Muslim,عن عمر رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الأعمال بالنِّيَّة ، ولكل ٱمرئٍ ما نوىٰBeliau Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, amalan itu adalah dengan niat dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan.Amalan itu harus dengan niat. Kalau niatnya adalah karena Allāh ﷻ maka dia mendapatkan pahala dan kalau niatnya bukan karena Allāh ﷻ maka dia tidak mendapatkan pahala.Dan bagi masing-masing apa yang dia niatkan. Kalau niatnya adalah menginginkan pahala dari Allāh subhanahu wa ta’ala maka dia akan mendapatkan pahala tersebut, tapi kalau yang dia niatkan adalah dunia maka baginya apa yang dia niatkan, dia tidak mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ tapi hanya mendapatkan dunia, kalau Allāh subhanahu wa ta’ala menghendaki. Ini menunjukkan tentang kedudukan niat di dalam Islam.وما سبَق مَن سبَق، ولا وصَل من وصَل من السَّلف الصَّالحين، إلَّ بالإخلاص لله ربِّ العالمينTidaklah mendahului orang-orang yang terdahulu dan tidaklah sampai orang-orang yang sampai dari kalangan para Salafush shālihin kecuali karena keikhlasan mereka untuk Allāh ﷻ.Ini beliau masih menyebutkan tentang pentingnya ikhlas. Ternyata orang-orang dahulu mereka sampai menjadi seorang ahli ibadah, sampai menjadi seorang ahli fiqh, ada yang ahlul hadits, ada yang mereka dikenal dengan aqidahnya, tidaklah mereka sampai kepada keutamaan- keutamaan tersebut kecuali karena ikhlas. Jadi jangan kita menyangka mereka sampai pada kedudukan-kedudukan tadi hanya sekedar dengan melakukan perjalanan, hanya sekedar menghafal. Tidaklah mereka sampai seperti itu kecuali karena diantaranya yang utama adalah karena mereka ikhlas di dalam beramal. Mereka ikhlas di dalam menuntut ilmu karena mereka menganggungkan ilmu, karena niat mereka adalah karena Allāh ﷻ sehingga mereka akhirnya menjadi seorang ahli fiqh, menjadi seorang ahlul hadits.قال أبو بكرٍ المرُّوذيُّ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :سمعت رجلاً يقول لأبي عبد الله يعني أحمدَ ابن حنبلٍ – وذكر له الصِّدق الإخلاص، فقال أبو عبد الله: بهٰذا ٱرتفع القومBerkata Abu Bakar Al-Marrudziy, Aku mendengar seseorang berkata kepada Imam Ahmad ibn Hanbal kemudian disebutkan kepada beliau tentang masalah kejujuran dan juga keikhlasan.Yang dimaksud dengan kejujuran di sini adalah kejujuran dalam keinginan. Orang yang keinginannya jujur maka dia akan kumpulkan keinginan tadi. Dia akan kumpulkan segenap keinginan dia itu. Namanya sidq, berarti dia jujur di dalam keinginannya.Al-ikhlas maksudnya adalah karena Allāh ﷻ, yaitu dia kumpulkan seluruh keinginan tadi untuk Allāh ﷻ.Berarti ada shidq, dia kumpulkan keinginan dia kemudian dia satukan semuanya untuk Allāh ﷻ dia ikhlaskan semuanya untuk Allāh ﷻ. Maka berkata Al Imam Ahmad ibn Hanbal,بهٰذا ٱرتفع القومDengan sebab ini maka orang-orang tersebut ditinggikan oleh Allāh ﷻ.Mengapa ditinggikan Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’I, Abdullah bin Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, Asy-Syafi’I, Al-Imamu Mālik?Kita harus tahu bahwasanya mereka bisa tinggi sedemikian tingginya itu karena Ash-Shidq wal Ikhlas, karena mereka dahulu mengumpulkan keinginan mereka, dikuatkan keinginan mereka, dan mereka satukan itu dan mereka tujukan itu semuanya adalah lillāhi Rabbil ‘alamin sehingga Allāh ﷻ pun mengangkat derajat mereka.وإنَّما ينال المرءُ العلم علىٰ قدر إخلاصهSesungguhnya seseorang mendapatkan ilmu sesuai dengan kadar keikhlasan dia.Semakin dia ikhlas maka semakin dia mendapatkan ilmu dan semakin dia berkurang keikhlasannya maka akan semakin berkurang juga ilmu yang dia dapatkan. Sehingga seseorang harus berusaha dan ini adalah bentuk pengagungan dia terhadap ilmu supaya ketika dia mencari ilmu yang mulia ini yang berharga ini niatnya adalah untuk mendapatkan surga, mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ, bukan mendapatkan dunia.Kalau kita niatnya mendapatkan dunia maka berarti kita menghinakan ilmu dan kalau kita sudah menghinakan ilmu maka ilmu tidak akan mau tinggal bersama kita, tidak mau tinggal bersama orang yang menghinakan dia.Kita tidak bisa mempermainkan, ini sudah qaidah, ini sudah prinsip yang demikian, orang yang mengagungkan ilmu maka ilmu akan mengagungkannya. Kalau kita menghinakan ilmu dengan cara niat kita adalah untuk dunia, supaya dikenal, supaya populer, supaya mendapatkan harta dunia dengan ilmu tersebut, maka ketahuilah dia tidak akan mendapatkan ilmu selama-lamanya meskipun dia duduk di majelis selama puluhan tahun, kalau memang niatnya dia adalah untuk dunia karena dia telah menghinakan ilmu itu sendiri.والإخلاص في العلم يقوم علىٰ أربعة أُصولIkhlas di dalam ilmu itu dibangun di atas empat pondasi.بها تتحقَّق نيَّة العلم للمتعلِّم إذا قصدهاDengan empat perkara ini maka akan tercipta niat yang benar.Kalau kita bisa mengatur sehingga niat kita adalah beberapa perkara ini berarti kita sudah mewujudkan keikhlasan di dalam menuntut ilmu.Yang pertama adalah:الأوَّل: رفعُ الجهل عن نفسهNiat kita adalah ingin mengangkat kebodohan dari diri kita sendiri.بتعريفها ما عليها من العبوديَّت، وإيقافها علىٰ مقاصد الأمر والنهيKita ingin mengangkat kebodohan dari kita sendiri, ana tidak ingin bodoh, ana ingin punya ilmu. Kalau memang niat dia adalah demikian, ingin menyelamatkan dia dari jurang kebodohan maka dia telah ikhlas dalam menuntut yaitu dengan mengenalkan diri kita ini apa yang menjadi kewajiban dia berupa ibadah-ibadah.Karena dia diciptakan oleh Allāh ﷻ untuk beribadah maka dia kenalkan dirinya, dia sayangi dirinya, dia kenalkan dirinya dengan ibadah-ibadah tersebut dengan cara menuntut ilmu.Kemudian juga dia ingin menuntut ilmu dan juga ingin supaya jiwanya dan juga dirinya ini mengetahui tentang maksud-maksud dari perintah dan juga larangan, dia lebih ingin mendalami apa maksud dari perintah-perintah Allāh ﷻ dan juga larangan-larangan Allāh ﷻ, itu yang pertama.Kemudian yang ke dua di antara niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah:الثاني: رفع الجهل عن الخلق؛ بتعليمهم وإرشادهم لما فيه صاح دنياهم وآخرتهمAdalah dengan tujuannya ingin mengangkat kebodohan dari orang lain dengan cara mengajarkan mereka, memberikan petunjuk kepada mereka kepada sesuatu yang di situ ada maslahat bagi mereka baik di dunia mereka maupun di akhirat mereka.Kalau tujuan kita adalah ana ingin nanti setelah ana belajar ana ingin memberitahu dan mengajarkan kepada anak, ana ingin memberitahukan ilmu ini kepada orang tua ana, kepada tetangga ana, maka ini adalah termasuk ikhlas, itu bukan termasuk riya, itu termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.Yang ke tiga:الثَّالث: إحياء العلم، وحفظه من الضياعNiat kita adalah ingin menghidupkan ilmu.Yang sebelumnya mati di sebuah masyarakat, mereka tidak punya perhatian terhadap ilmu agama, kemudian kita ingin menghidupkan ilmu tersebut dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita, inginnya adalah menghidupkan ilmu supaya dia tidak hilang dan tidak luntur maka ini juga termasuk niat yang ikhlas.Yang ke empat:الرَّابع: العمل بالعلمNiat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah ingin mengamalkan ilmu.Kalau niatnya adalah ingin mengamalkan ilmu, ana duduk di majelis ini supaya ana pulang dalam keadaan ana bisa mengamalkan apa yang ana dengar, maka ini juga termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.ولقد كان السَّلف رحمهم ﺍﻟﻠﻪ يخافون فوات الإخلاص في طلبهم العلم، فيتورَّعون عن ٱدعائه، لا أنَّهم لا يحقِّقوه في قلوبهمDahulu para Salaf rahimahumullah mereka takut kalau sampai mereka tidak ikhlas di dalam menuntut ilmu, karena kalau sampai tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka sudah capek-capek misalnya datang dari Baghdad menuju Yaman, kalau tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka tidak mendapatkan ilmu tersebut, dan mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya sudah ikhlas, bukan berarti mereka tidak ikhlas tapi mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya mukhlis.Biasanya orang yang ikhlas demikian orang yang ikhlas takut dia untuk mengatakan dirinya adalah orang yang ikhlas bukan berarti dia tidak ikhlas.Mereka para Salaf kita jelas mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan kita mengetahui dari keilmuan mereka dan bagaimana umat ini mencintai mereka dan mengenal keshalehan mereka, kita berharap semoga mereka adalah orang-orang yang diberikan oleh Allāh ﷻ karunia yang besar yaitu dengan keikhlasan.Beliau memberikan contoh di sini ucapan dari Imam Ahmad ketika beliau ditanya,سئل الإمامُ أحمدُDitanya Al Imamu Ahmad,هل طلبت العلم لله؟Apakah engkau mencari ilmu dulunya adalah karena Allāh ﷻ?فقال: لله عزيزBeliau mengatakan untuk Allāh ﷻ ini adalah perkara yang berat, yaitu untuk ikhlas karena Allāh ﷻ ini bukan perkara yang mudah.ولكنَّه شيءٌ حُبِّبَ إليَّ فطلبتُهAkan tetapi ini adalah sesuatu yang aku senangi, yaitu mereka senang untuk menghafal, mereka senang untuk berpikir tentang ilmu.فطلبتُهMaka aku pun mencarinya.Bukan berarti ucapan Al Imamu Ahmad bin Hanbal di sini berarti beliau tidak ikhlas, tapi beliau dan juga para imam seperti beliau mereka wara’ sehingga mereka tidak berani untuk mentazkiyah diri mereka dan mengatakan kami adalah orang-orang yang ikhlas di dalam menuntut ilmu agama.ومن ضيَّع الإخلاص فاته علمٌ كثيرٌ ، وخيرٌ وفيرٌBarangsiapa yang menyia-nyiakan keikhlasan maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak dan kebaikan yang banyak.Barangsiapa yang menyia-nyiakan keikhlasan, dia tidak memperhatikan dirinya, tidak memperhatikan niatnya di dalam menuntut ilmu, dia biarkan begitu saja hadir ke majelis ilmu, mendatangi majelis ilmu, keluar dari majelis ilmu tapi dia tidak pernah memperhatikan apakah dia ikhlas atau tidak niatnya apa ini, maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak, dia tidak akan mendapatkan apa-apa.وينبغي لقاصد السَّامة أن يتفقَّد هٰذا الأصلMaka hendaklah orang-orang yang menginginkan keselamatan dia melihat pondasi ini hendaklah dia memperhatikan simpul ini, senantiasa memperhatikan bukan sekali dua kali tapi senantiasa dia memperhatikan dia tujuannya apa dalam menuntut ilmu agama ini karena Allāh ﷻ atau karena dunia.وهو الإخلاصYaitu keikhlasan.في أموره كلِّها، دقيقِها وجليلِها، سرِّها و عَلَنِهاDi dalam seluruh perkaranya baik perkara yang kecil maupun perkara yang besar baik yang tersembunyi maupun yang dilihat oleh orang lain, apakah dia memperhatikan tentang masalah keikhlasan ini atau dia termasuk orang yang cuek dengan apa yang ada di dalam hati, kalau dia ingin mendapatkan ilmu maka hendaklah dia punya perhatian yang besar tentang masalah niat ini.ويَحمِلُ علىٰ هٰذا التَّفقُّدِ شدَّةُ معالجة النِّيَّةAkan membawa seseorang kepada perhatian yang besar yang secara terus-menerus terhadap masalah niat ini adalah susahnya mengobati niat.Kalau dia merasa susah dalam mengobati niat dia maka itu akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut, kalau dia merasa susah dalam menetapkan niat dia menjadikan niat dia itu ikhlas terus maka inilah yang akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut. Tapi kalau dia cuek dengan niatnya dan dia merasa ini adalah mudah sekali untuk mendatangkan niat yang ikhlas maka dia tidak akan memiliki perhatian yang besar terhadap niat tersebut.Beliau mendatangkan ucapan Sufyan Ats-Tsauri,قال سفيان الثوريُّ رحمه ﺍﻟﻠﻪ ما عالجتُ شيئًا أشدَّ عليَّ من نيِّتي، لأنَّها تتقلَّب عليَّLihat bagaimana para salaf, Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih susah bagiku daripada niatku.Berarti beliau memiliki syiddatu mu’alajah beliau merasa berat untuk mengobati niatnya untuk menetapkan niatnya.لأنَّها تتقلَّب عليَّKarena niatku tersebut senantiasa bolak-balik.Karena beliau merasa niatnya sering berganti-ganti maka akhirnya beliau sering memperhatikan, terus dikoreksi terus diawasi oleh beliau bagaimana supaya hati tersebut tetap karena Allāh subhanahu wa ta’ala.Bagaimana supaya menuntut ilmunya bagaimana supaya ketika beliau mengajar menyampaikan hadits itu dalam keadaan posisinya hati tersebut adalah karena Allāh ﷻ niatnya adalah karena Allāh ﷻDemikian para ulama ternyata mereka punya perhatian besar terhadap keikhlasan. Al Imam Ahmad ibn Hanbal tadi dikatakan ketika disebutkan tentang sidq wal ikhlas dengannya kaum tersebut diangkat oleh Allāh ﷻ, Sufyan Ats-Tsauriy beliau juga menyebutkan dan beliau adalah Amirul Mukminin dalam masalah hadits ternyata beliau juga sangat perhatian tentang masalah ikhlas, beliau perhatikan terus hatinya.بل قال سليمان الهاشميُّ ربَّما أُحدِّث بحديثٍ واحدٍ ولي نيَّةٌ، فإذا أتيتُ علىٰ بعضه تغيَّرت نيَّتي، فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍBahkan berkata Sulaiman Al-Hasyimi, kadang-kadang aku menyebutkan hadits satu saja dan aku punya niat, yaitu memiliki niat yang baik, tapi ketika aku mendatangi sebagian.تغيَّرت نيَّتيAku baru di awal aku mau menyampaikan hadits tadi lurus niatnya tapi ketika aku sudah memulai menyebutkan hadits tadi ternyata sudah berubah niatnya.Belum selesai hadistnya disebutkan tapi sudah berubah niatnya. Mungkin ketika beliau menyebutkan mungkin sanad yang tinggi kemudian masuklah setan di situ dan mengatakan sanadmu lebih tinggi daripada yang lain kemudian berubah niatnya. Ini perlu diawasi lagi, perlu dikembalikan lagi kepada niat yang benar, ketika dia mulai melenceng niatnya maka harus dikembalikan lagi melenceng lagi dikembalikan lagi itu namanya perhatian, ketika dia mulai goyah niatnya bukan karena Allāh ﷻ dikembalikan lagi harus karena Allāh ﷻ.فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍTernyata satu hadits saja itu butuh beberapa niat, artinya setiap kali dia berubah harus dikembalikan niatnya lagi padahal itu cuma satu hadits saja yang beliau sebutkan.Demikian para Ahlul Hadits, Ahlul Fiqh, para ulama mereka perhatian sekali tentang keikhlasan ini sehingga mereka pun ditinggikan oleh Allāh ﷻ derajatnya. Maka orang yang ingin mendapatkan ilmu agama dia harus memiliki perhatian terhadap niat yang ikhlas di dalam hatinya

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 04 | Penjelasan Pembatal Keislaman Pertama Bagian 1ku

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke empat dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Beliau mengatakan,اعْلَمْ أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ نَوَاقِضِ الإِسْلَامِ عَشَرَة:ًالأَوَّلُ: الشِّرْكُ فِي عِبَادَةِ اللهِ تعالى، قَالَ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء﴾ وَمِنْهُ الذَّبْحُ لِغَيْرِ اللهِ، كَمَنْ يَذْبَحُ لِلْجِنِّ أَوْ لِلْقَبْرِ.Beliau mengatakan,“Ketahuilah, sesungguhnya termasuk Nawaqidul Islam atau pembatal-pembatal keislaman yang paling besar adalah 10 perkara.1. Menyekutukan di dalam beribadah kepada Allah.Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain, yang di bawahnya, bagi siapa yang dikehendaki.” Dan diantaranya adalah menyembelih untuk selain Allah, seperti orang yang menyembelih untuk jin atau untuk kuburan.Ucapan beliau اعْلَمْ yang artinya adalah ‘pelajarilah’, kalimat ini digunakan oleh orang Arab untuk memberitahu sesuatu yang penting.Beliau mengatakan,أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ نَوَاقِضِ الإِسْلَامِ عَشَرَة“Sesungguhnya diantara pembatal-pembatal keislaman yang paling besar adalah 10 perkara.”Ucapan beliau مِنْ أَعْظَمِ atau diantara yang paling besar, menunjukkan bahwa di sana sebenarnya banyak pembatal-pembatal keislaman, akan tetapi yang paling besar dan yang sering terjadi adalah 10 pembatal keislaman yang akan beliau sebutkan.1. Syirik di dalam beribadah kepada AllahBeliau menjadikan syirik sebagai pembatal keislaman yang pertama karena syirik adalah dosa yang paling besar. Tidak ada dosa yang lebih besar daripada syirik kepada Allah.Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟“Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan dosa-dosa besar yang paling besar?”Mereka berkata, Iya wahai Rasulullah.Maka Beliau menyebutkan yang pertama adalah الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ (menyekutukan Allah). [HR. Bukhari dan Muslim]Di dalam hadits yang lain, beliau ditanya oleh sebagian sahabat,أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ؟“Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?”Beliau mengatakan,أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ“Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia-lah yang telah menciptakan dirimu.” [Hadits shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim].Orang yang beriman dengan Rububiyyah Allah, beriman bahwasanya Allah yang telah menciptakan dia dan orang-orang sebelumnya, menciptakan langit dan bumi, menciptakan seluruh alam semesta, seharusnya hanya menyerahkan ibadahnya kepada Allah Azza wa Jalla.Allah berfirman,(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ)[Surat Al-Baqarah 21]“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa.”Dan Allah berfirman,⁠ذلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَۖ خَـٰلِقُ كُلِّ شَیۡءࣲ فَٱعۡبُدُوهُۚ[Surat Al-An’am 102]“Itulah Rabb kalian, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu, maka hendaklah kalian hanya menyembah-Nya.”Di dalam Al-Qur’an, ketika Allah menyebutkan perkara-perkara yang diharamkan, yang pertama kali Allah sebutkan ada syirik.Allah berfirman,قُلۡ تَعَالَوۡا۟ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمۡ عَلَیۡكُمۡۖ أَلَّا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ[Surat Al-An’am 151]“Katakanlah (Wahai Muhammad), kemarilah kalian, aku bacakan kepada kalian perkara-perkara yang diharamkan oleh Rabb kalian, yaitu supaya kalian tidak menyekutukan Allah sedikit pun.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla ketika menyebutkan tentang 10 hak di dalam surat An Nisa, hak yang pertama yang disebutkan adalah hak Allah sebelum hak yang lain.Allah berfirman,وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ وَبِٱلۡوا⁠لِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنࣰا وَبِذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡیَتَـٰمَىٰ وَٱلۡمَسَـٰكِینِ وَٱلۡجَارِ ذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِیلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُكُمۡۗ[Surat An-Nisa’ 36]“Dan sembahlah Allah, dan janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kalian miliki.”Oleh karena itu, Syeikh menjadikan pembatal keislaman yang pertama adalah syirik di dalam beribadah kepada Allah.Syirik membatalkan keislaman karena syirik bertentangan dengan persaksian seorang muslim bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.Persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah konsekuensinya tidak boleh dia serahkan ibadah sekecil apapun kepada selain Allah, baik jin, pohon, batu, Nabi, malaikat, dll.Kalau seseorang menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allah, berarti dia telah membatalkan keislamannya.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 54

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 54Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Ketiga QS Al-An'am 159Memecah Belah Agama (Tafriquddin)Tafriquddin yang dimaksud memecah belah atau memisah-misahkan agama (farroqu diinahum) pada QS. Al-An'am: 159 adalah sikap tidak berpegang kepada Islam secara utuh (kullihi).  Sikap Aliran Sesat: Aliran-aliran sesat (seperti Khawarij, Murji'ah, dan Mu'tazilah) tidak sepenuhnya meninggalkan Islam; mereka mengamalkan sebagian syariat atau ayat, tetapi meninggalkan dan mengingkari sebagian yang lain demi mengikuti hawa nafsu.  ​Contoh Kasus:​Seseorang yang rajin shalat, tetapi metode dakwahnya menyimpang dari jalan para nabi (manhajul anbiya).  ​Seseorang yang bersemangat berdakwah, tetapi lalai dan kurang perhatian terhadap dakwah tauhid.  Ancaman bagi yang Memisah-misahkan AgamaBeriman Sebagian dan Kufur Sebagian Kitab (QS. Al-Baqarah: 85)Bentuk Pelanggaran: Mengambil dan mengamalkan sebagian isi Al-Qur'an dan As-Sunnah yang disukai, lalu mencampakkan sebagian lainnya.  ​Hukuman Dunya & Akhirat: Allah mengancam pelaku sikap ini dengan kehinaan (khizyun) dalam kehidupan dunia serta akan dikembalikan kepada azab yang sangat berat pada hari kiamat.Beriman Sebagian dan Kufur Sebagian Rasul (QS. An-Nisa: 150-151)​Bentuk Pelanggaran: Memisahkan keimanan kepada Allah dan para rasul-Nya, seperti beriman kepada Nabi Musa atau Nabi Isa tetapi mendustakan kenabian Nabi Muhammad ﷺ.  Mencari "Jalan Tengah" Palsu: Sebagian golongan merasa cara memilah-milah ajaran ini (misal: hanya fokus pada keutamaan amal/politik saja) sebagai jalan paling bijaksana.  ​Status Hukum: Allah menegaskan bahwa mereka adalah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya (al-kafiruna haqqo) yang diancam dengan siksaan yang menghinakan, karena bentuk tafriq ini telah mengeluarkan mereka dari koridor Islam.  Sisi Pendalilan (Syahid) & Sikap Ahlussunnah​Kewajiban Mutlak: Inti atau syahid dari ayat farroqu diinahum (QS. Al-An'am: 159) adalah larangan keras memilah-milah ajaran agama dan kewajiban untuk tunduk pada Islam di seluruh bidang kehidupan.  ​Prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah: Berbeda dari kelompok menyimpang, Ahlussunnah memandang Islam sebagai satu kesatuan utuh. Mereka menerapkan Islam secara menyeluruh tanpa diskriminasi, baik dalam aspek akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlak. 

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 4

Halaqah-04 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 2Diantara cara beriman dengan para Rasul3. Meyakini bahwa para rasul benar-benar terlepas dari sifat dusta, penyembunyian ilmu dan pengkhianatanAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanقَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ“Mereka berkata “celaka kita, siapakah yang telah membangkitkan kita dari tempat istirahat kita, inilah yang dijanjikan oleh Ar-Rahman dan benarlah para Rasul” (Yasin : 52)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ (٤٤)لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ (٤٥) ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ (٤٦) فَمَا مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ عَنۡهُ حَـٰجِزِينَ (٤٧)“Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, pasti kami pegang dia pada tangan kanannya kemudian kami potong pembuluh jantungnya maka tidak seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi Kami untuk menghukumnya” (Al-Haqqah : 44-47)4. Keyakinan yang dalam bahwasanya mereka telah melaksanakan tugas mereka dengan sempurna dan sebaik-baiknya dan Allah tidak mewafatkan mereka kecuali setelah mereka menyampaikan secara sempurna risalah Allah kepada kaumnyaAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanرُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا“Rasul-Rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah Rasul-Rasul itu diutus Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (An-Nisa : 165)Dan Allah berfirmanوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ“Dan tidaklah Kami utus seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya supaya dia menerangkan kepada mereka” (Ibrahim : 4)

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah – 54 Ash-Shirat

Halaqah yang ke- 54 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang”As Shirath”Termasuk berimān kepada hari akhir adalah berimān dengan adanya As Shirath(Jembatan yang dipasang di atas neraka jahanam untuk lewat orang-orang yang berimān menuju surga)Setelah berpisah dengan orang-orang munāfiq, maka tinggallah orang-orang yang berimān dengan berbagai tingkatan keimānan mereka.⇒Mulai dari para Nabi ‘alayhimussalām sampai para pelaku dosa besar.Mereka semua akan menuju surga dengan melewati sebuah jembatan yang berada di atas neraka.Allāh Subhānahu wa Ta’āla ta’ala berfirman:وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا“Dan tidak ada seorangpun dari kalian kecuali akan melewati Neraka,yang demikian adalah ketentuan Allāh yang sudah ditetapkan,ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا“Kemudian kami akan selamatkan orang-orang yang bertaqwa dan kami akan biarkan orang-orang yang zhālim masuk kedalam Neraka dalam keadaan berlutut.”(QS Maryam: 71-72)Di dalam hadīts Abū Said Al Khudri Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengabarkan bahwa jembatan tersebut sangat menggelincirkan.⇒Di atasnya ada besi-besi pengait dan duri yang keras yang bentuknya seperti duri Sa’dan.Berkata Abū Said Al Khudri, shahābat yang meriwayatkannya, di sini di dalam riwayat Muslim.“Telah sampai kepadaku bahwasanya jembatan ini lebih lembut dari pada rambut dan lebih tajam dari pada pedang.”Di dalam hadīts ini disebutkan bahwasanya:√ Ada orang yang berimān yang melewati jembatan tersebut dengan sangat cepat seperti kedipan mata,√ Ada yang seperti kilat,√ Ada yang secepat angin,√ Ada yang secepat burung,√ Ada yang secepat larinya kuda,√ Ada yang secepat larinya unta,√ Ada yang sangat lambat sehingga dia lewat jembatan tersebut dalam keadaan menyeret dirinya, dialah orang yang terakhir melewati jembatan.”Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga menyebutkan di dalam hadīts ini bahwasanya manusia akan terbagi menjadi 3 (tiga)⑴ Orang yang benar-benar selamat melewati neraka yaitu tanpa terkena sambaran.⑵ Orang yang selamat melewati neraka akan tetapi terkoyak tubuhnya.⑶ Orang yang tersambar dan akhirnya terjatuh ke dalam neraka.Di dalam hadīts Abū Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Maka aku dan umatku lah yang pertama kali akan melewati dan tidak berbicara saat itu kecuali para Rasūl.”Do’a mereka saat itu, “Yā Allāh , selamatkan, selamatkan.”Di atas jembatan tersebut ada besi besi pengait seperti duri Sa’dan, mereka menjawab, tahukah kalian duri Sa’dan? Mereka menjawab “Iya….. Yā Rasūlullāh,Beliau berkata:“Besi pengait tersebut seperti duri Sa’dan. Namun tidak mengetahui besarnya kecuali Allāh, Dia akan menyambar manusia sesuai dengan amalan mereka, yaitu dosanya.”⇒Ada diantara mereka yang binasa karena amalannya dan ada diantara mereka yang terkoyak dari belakang kemudian selamat.⇒Di antara yang selamat adalah 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisāb , Wajah-wajah mereka seperti bulan di malam bulan purnama.⇒Menyusul setelah mereka rombongan yang wajah mereka seperti bintang yang paling terang.(Hadīts riwayat Muslim)Dari Jābir ibnu Abdillāh al Anshari Radhiyallāhu ‘anhummā:“Dan akan dikirim amanah dan rahim atau kekerabatan.”Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Dan akan dikirim amanah dan rahim atau kekerabatan, maka keduanya berdiri di samping kanan dan kiri jembatan. ”(Hadīts Riwayat Muslim)Ini menunjukkan bahwasanya melaksanakan amanah dan menyambung silaturrahim atau hubungan kekerabatan perkaranya besar di dalam agama Islām, keduanya akan menuntut orang-orang yang tidak memenuhi hak keduanya.Sebagian orang yang berimān akan jatuh ke dalam neraka karena sebab ucapan yang dia ucapkan di dunia.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Sungguh seorang hamba mengucapkan sebuah kalimat yang membuat marah Allāh dan hamba tersebut tidak menganggap penting kalimat itu, dia jatuh dengan sebab ucapan tadi ke dalam jahanam.”(Hadīts Riwayat Bukhāri)Sebuah batu yang dilempar ke dalam neraka akan sampai ke dasar neraka 70 tahun kemudian.Sebagaimana di dalam hadits riwayat Muslim.Sebuah peristiwa yang pasti akan kita alami dan sangat mendebarkan, berjalan di atas jembatan yang sangat kecil, sangat panjang di bawahnya ada neraka yang sangat dalam dan berisi azab yang sangat pedih dan di samping kanan dan kiri ada besi-besi pengait yang siap mengenai orang yang berhak.Ketegaran kita di atas jembatan saat itu sesuai dengan ketegaran kita di dunia di dalam berpegang teguh dengan agama Islām.Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla merahmati kita dan menyelamatkan kita semua. ĀmīnItulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 54 | Sekte yang Berkeyakinan bahwa Al-Qur’an Adalah Makhluk

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهAdakah disana aliran yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, jahmiyyah, Mua’tazilah.Mereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk. Allāh menciptakan Al-Qur’an diluar Allāh menciptakan ucapannya disandarkan kepada Allāh karena majas, ini adalah keyakinan Mua’tazilah dan terjadi di zaman Al Imam Ahmad dan terjadi sebelumnya tapi di zaman Imam Ahmad fitnahnya lebih besar karena ulama² Mua’tazilah mereka berhasil menguasai dan memberikan pengaruh kepada penguasa sampai akhirnya oleh penguasa saat itu seluruhnya diharuskan untuk mengucapkan ucapan Mua’tazilah yang diantaranya adalah mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, sampai di sekolah sekecil apapun harus yang diajarkan adalah Al-Qur’an adalah makhluk.Para ulama dipaksakan untuk memfatwakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, kalau tidak maka akan disiksa, siksanya cukup besar/berat , ada di antara ulama ahlussunnah yang mereka terpaksa mengucapkan (ini termasuk keterpaksaan) sementara di dalam hatinya mereka mengingkariإِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِKecuali orang yang dipaksa dan hatinya dalam keadaan dia tenang dengan keimanan.Ada diantara mereka yang melakukan tauriyah (mengucapkan sesuatu dipahami oleh orang yang didepannya bahwasanya dia meyakini Al-Qur’an adalah makhluk, padahal dia memaksudkan yang lain) seperti ucapan sebagian mereka Al-Qur’an , Al Injil, at Taurat, kita bersaksi bahwasanya mereka adalah makhluk, dia menunjukkan lima jarinya, artinya yg dia maksud lima jarinya adalah makhluk bukan maksudnya Al-Qur’an, taurat, Injil adalah makhluk tidak ini namanya tauriyah dan dia bukan bohong dia benar namun dipahami oleh orang lain ucapan yang lain, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash Sidik radhiyallahu Anhu ketika beliau berhijrah bersama nabi Muhammad ﷺ dan dijalan dia ditanya siapa yang bersama mu? Maka Abu Bakar berkataوهذا دليلIni adalah petunjuk jalanku,Dipahami oleh beliau bahwasanya ini adalah yang menunjukkan jalan beliau yaitu jalan didalam perjalanan tapi maksud Abu Bakar dia adalah yang menunjukkan jalan kepada Allāh, menunjukkan صراط مستقيم،وإن كل تحد إلى صراط مستقيمDan sesungguhnya engkau wahai Muhammad sungguh menunjukkan jalan yang lurus,Dan ada ulama Ahlu Sunnah yang mereka memilih bersabar apapun resikonya diantaranya adalah Al Imam Ahmad bin Hambal, beliau memilih untuk bersabar meskipun disiksa dipenjara, kalau memang dipaksa untuk berdebat maka beliau terpaksa meladeni ini adalah istihad beliau seandainya seseorang dalam keadaan terpaksa dia mengucapkan ucapan maka dia ma’dhur mendapatkan udzur dia tidak berdosa tapi yg lebih afdhol adalah seseorang tetap berada di atas kebenaran , itu adalah derajat yang tinggi makanya diakui oleh ulama ulama yang lain bagaimana ketinggian derajat Al Imam Ahmad bin Hambal sementara yang lain mungkin memilih tauriyah atau terpaksa mengucapkan tapi beliau Rahimahullāh tetap mengucapkan ucapan tersebut dengan lantang di hadapan orang-orang Mua’tazilah dan ini diakui oleh para ulama² yang lain semasa itu dan yang datang derajatnya lain, lebih tinggi daripada yang lain sampai akhirnya Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan jalan keluar tiga khalifah yang secara berurutan mereka memegang kekuasaan sampai akhirnya datang khalifah yang ketiga dan dia mendapatkan hidayah kepada Sunnah tersebar Sunnahوَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا[QS at Thalaq 2]Barangsiapa yang bertakwa kepada Allāh, maka Allāh subhanahu wa taala akan memberikan jalan keluarليس بمخلوقBukan makhluk,Bantahan kepada Mua’tazilah yang mereka mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, kalau itu makhluk sebagaimana makhluk² yang lainnya tidak ada kelebihannya seorang yang meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk cenderung dia pemulian dan penghormatan terhadap Al-Qur’an dan sangat kurang karena dia adalah makhluk seperti makhluk yang lain.ليس بمخلوق ككلام البرية،Sebagaimana ucapan manusia,Jadi Ahlussunnah meyakini bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk, artinya makhluk apa yang dimaksud makhluk adalah meyakini Al-Qur’an itu sama dengan ucapan manusia, karena yang ada adalah Al Kholiq dengan makhluk, Ahlu Sunnah mengatakan ini adalah Kalamullah kholaq adapun Mua’tazilah mengatakan itu adalah Kalamul makhluk berarti sama kedudukannya dengan Kalamul bariyyah (ucapan manusia) /ucapan makhluk.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 54

Halaqah 54 | Sekte yang Berkeyakinan bahwa Al-Qur’an Adalah MakhlukKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهAdakah disana aliran yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, jahmiyyah, Mua’tazilah.Mereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk. Allāh menciptakan Al-Qur’an diluar Allāh menciptakan ucapannya disandarkan kepada Allāh karena majas, ini adalah keyakinan Mua’tazilah dan terjadi di zaman Al Imam Ahmad dan terjadi sebelumnya tapi di zaman Imam Ahmad fitnahnya lebih besar karena ulama² Mua’tazilah mereka berhasil menguasai dan memberikan pengaruh kepada penguasa sampai akhirnya oleh penguasa saat itu seluruhnya diharuskan untuk mengucapkan ucapan Mua’tazilah yang diantaranya adalah mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, sampai di sekolah sekecil apapun harus yang diajarkan adalah Al-Qur’an adalah makhluk.Para ulama dipaksakan untuk memfatwakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, kalau tidak maka akan disiksa, siksanya cukup besar/berat , ada di antara ulama ahlussunnah yang mereka terpaksa mengucapkan (ini termasuk keterpaksaan) sementara di dalam hatinya mereka mengingkariإِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِKecuali orang yang dipaksa dan hatinya dalam keadaan dia tenang dengan keimanan.Ada diantara mereka yang melakukan tauriyah (mengucapkan sesuatu dipahami oleh orang yang didepannya bahwasanya dia meyakini Al-Qur’an adalah makhluk, padahal dia memaksudkan yang lain) seperti ucapan sebagian mereka Al-Qur’an , Al Injil, at Taurat, kita bersaksi bahwasanya mereka adalah makhluk, dia menunjukkan lima jarinya, artinya yg dia maksud lima jarinya adalah makhluk bukan maksudnya Al-Qur’an, taurat, Injil adalah makhluk tidak ini namanya tauriyah dan dia bukan bohong dia benar namun dipahami oleh orang lain ucapan yang lain, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash Sidik radhiyallahu Anhu ketika beliau berhijrah bersama nabi Muhammad ﷺ dan dijalan dia ditanya siapa yang bersama mu? Maka Abu Bakar berkataوهذا دليلIni adalah petunjuk jalanku,Dipahami oleh beliau bahwasanya ini adalah yang menunjukkan jalan beliau yaitu jalan didalam perjalanan tapi maksud Abu Bakar dia adalah yang menunjukkan jalan kepada Allāh, menunjukkan صراط مستقيم،وإن كل تحد إلى صراط مستقيمDan sesungguhnya engkau wahai Muhammad sungguh menunjukkan jalan yang lurus,Dan ada ulama Ahlu Sunnah yang mereka memilih bersabar apapun resikonya diantaranya adalah Al Imam Ahmad bin Hambal, beliau memilih untuk bersabar meskipun disiksa dipenjara, kalau memang dipaksa untuk berdebat maka beliau terpaksa meladeni ini adalah istihad beliau seandainya seseorang dalam keadaan terpaksa dia mengucapkan ucapan maka dia ma’dhur mendapatkan udzur dia tidak berdosa tapi yg lebih afdhol adalah seseorang tetap berada di atas kebenaran , itu adalah derajat yang tinggi makanya diakui oleh ulama ulama yang lain bagaimana ketinggian derajat Al Imam Ahmad bin Hambal sementara yang lain mungkin memilih tauriyah atau terpaksa mengucapkan tapi beliau Rahimahullāh tetap mengucapkan ucapan tersebut dengan lantang di hadapan orang-orang Mua’tazilah dan ini diakui oleh para ulama² yang lain semasa itu dan yang datang derajatnya lain, lebih tinggi daripada yang lain sampai akhirnya Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan jalan keluar tiga khalifah yang secara berurutan mereka memegang kekuasaan sampai akhirnya datang khalifah yang ketiga dan dia mendapatkan hidayah kepada Sunnah tersebar Sunnahوَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا[QS at Thalaq 2]Barangsiapa yang bertakwa kepada Allāh, maka Allāh subhanahu wa taala akan memberikan jalan keluarليس بمخلوقBukan makhluk,Bantahan kepada Mua’tazilah yang mereka mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, kalau itu makhluk sebagaimana makhluk² yang lainnya tidak ada kelebihannya seorang yang meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk cenderung dia pemulian dan penghormatan terhadap Al-Qur’an dan sangat kurang karena dia adalah makhluk seperti makhluk yang lain.ليس بمخلوق ككلام البرية،Sebagaimana ucapan manusia,Jadi Ahlussunnah meyakini bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk, artinya makhluk apa yang dimaksud makhluk adalah meyakini Al-Qur’an itu sama dengan ucapan manusia, karena yang ada adalah Al Kholiq dengan makhluk, Ahlu Sunnah mengatakan ini adalah Kalamullah kholaq adapun Mua’tazilah mengatakan itu adalah Kalamul makhluk berarti sama kedudukannya dengan Kalamul bariyyah (ucapan manusia) /ucapan makhluk

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah :pembahasan kitab al-utsulu ats-tsalatsah

Halaqah 29 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Dalil Rukun Islam Syahadat Lāilāha Illallāh🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahKemudian setelah beliau (rahimahullāh) menyebutkan rukun Islām yang jumlahnya 5 yang dikumpulkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam satu dalīl yaitu dari hadīts Abdullāh ibnu Umar.Kemudian beliau memberi dalīl dari masing-masing rukun Islām tadi, karena kita berbicara tentang rukun Islām yang merupakan perkara yang paling penting didalam Islām.Kalau seorang muslim di dalam keislāman dia banyak perkara, maka minimal dia mendalami lima perkara ini, sehingga disini beliau rahimahullāh lebih mendalami rukun Islām yang lima.Masing-masing dari rukun Islām beliau sebutkan dalīlnya (bukan hanya dalīl dari Abdullāh ibnu Umar yang menjamak dan mengumpulkan lima rukun ini) tetapi beliau rahimahullāh sebutkan dalīl dari masing rukun Islām untuk menunjukkan penekanan.Beliau rahimahullāh mengatakan :ودليل الشهادة قوله تعالى: شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُDalīl tentang syahādah maksudnya adalah شهادة أن لا إله إلا الله – Al disini maksudnya Lil- ahdiyyah yaitu menunjukkan perjanjian karena disebutkan sebelumnya di dalam hadīts شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – itulah kalimat syahādat pertama yang disebutkan di dalam hadīts.Maka ketika beliau mengatakan ودليل الشهادة – maksudnya adalah syahādati أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ.Dalīl tentang syahādat adalah firman Allāh Azza wa Jalla :شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.“Allāh menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malāikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Maha-bijaksana.” (QS. Āli-Imrān :18)Ini adalah rukun Islām yang pertama yaitu seorang muslim harus bersyahādah “Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah KECUALI Allāh”Ucapan bersaksi di dalam bahasa Arab mengandung beberapa makna:⑴ Orang yang bersaksi dia mengetahui (orang yang memiliki ilmu) Jadi orang yang bersaksi tentunya mengandung ilmu berarti dia harus علم harus mengetahui.⑵ Didalamnya ada makna sumpah, orang yang bersaksi “Aku bersaksi”, berarti dia bersumpah dan ini adalah penekanan.⑶ Orang yang bersaksi berarti ada makna إخبر (ikhbar) mengabarkan kepada orang lain. Jika hanya diam saja berarti dia tidak bersaksi.Jadi bersaksi dalam bahasa Arab dia harus إخبر (ikhbar) dia harus عالم و حالف (‘ālima wa hālafa) berarti dia اعلم غيره (a’lama ghairahu) berarti dia أكبر غيره (akbaru ghairahu), berarti disitu ada makna إخبر (ikhbar) yaitu harus mengabarkan kepada yang lain.Demikian pula didalam شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ kita bersaksi berarti kita harus paham, mengetahui menyadari, mengetahui alasannya kenapa kita mengatakan أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – sebagaimana orang yang bersaksi dia mengabarkan, menceritakan karena dia mengetahui.Ketika kita mengatakan, “Saya bersaksi Tidak Ada Sesembahan Yang Berhak Disembah Kecuali Allāh”, maka kita harus punya hujjah harus mempunyai ilmu dan disitu ada sumpah لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – (Tidak Ada Sesembahan Yang Berhak Disembah Kecuali Allāh).Darimana dalīl tentang persaksian ini?Beliau rahimahullāh mendatangkan firman Allāh di dalam surat Āli-Imrān ayat 18.Didalam ayat ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengabarkan bahwasanya Allāh bersaksi.Apa isi persaksian dari Allāh ?Dan Dia-lah (Allāh) yang memiliki langit dan bumi, mengetahui apa yang ada yang di langit dan di bumi dengan luasnya alam semesta, besarnya alam semesta dari ujung ke ujung Allāh Maha Mengetahuinya.Dan Allāh bersaksi dalam ayat ini bahwasanya, ”Diseluruh alam semesta ini tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Dia-saja”. Maka ini adalah persaksian yang berasal dari Dzat yang paling tahu.Saksi semakin dia berilmu maka semakin berkualitas kesaksiannya. Jadi semakin tinggi keilmuannya maka semakin berkualitas kesaksiannya. Dan siapa yang lebih mengetahui tentang apa yang ada di langit dan di bumi kecuali Allāh.قُلْ ءَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ ٱللَّهُ …“Apakah kalian lebih tahu atau Allāh Subhānahu wa Ta’āla…” (QS. Al-Baqarah:140)Dan ternyata Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan persaksian, “Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Dia”.Didalam surat lain Allāh berfirman:قُلْ أَىُّ شَىْءٍ أَكْبَرُ شَهَـٰدَةًۭ قُلِ ٱللَّهُ ۖ شَهِيدٌۢ بَيْنِى وَبَيْنَكُمْ“Apakah sesuatu yang paling besar persaksiannya. Katakanlah bahwasanya Dia-lah Allāh yang menjadi saksi antara diriku dengan kalian…..” (QS. Al-An’ām : 19)Jika Allāh saja bersaksi maka kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah bersaksi juga bersyahādah dan mengatakan أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُIni adalah dalīl yang jelas menunjukkan tentang kewajiban bersaksi ,”Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allāh”.Ditambah lagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan وَالْمَلاَئِكَةُ – dan para malāikat, seluruh malāikat yang mereka adalah makhluk Allāh yang tidak pernah berbuat maksiat tidak pernah berdusta. Mereka adalah makhluk-makhluk Allāh yang shālih yang beribadah kepada Allāh, mereka tidak pernah bosan untuk beribadah kepada Allāh ternyata semuanya bersaksi,”Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allāh”Allāh bersaksi digandengkan dengan malāikat-malāikat bersaksi, digandengkan dengan semua ulamā juga bersaksi. Maka tidak ada udzur bagi kita untuk tidak bersaksi bahwasanya لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ – “Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allāh”.Pas sekali beliau rahimahullāh mendatangkan dalīl ayat ini yaitu kewajiban untuk bersyahādah disamping dalīl hadīts dari Abdullāh ibnu Umar, dimana di dalam hadīts tersebut dikumpulkan lima rukun Islām. Menunjukkan bahwa rukun Islām yang lima hukumnya adalah wajib.Beliau rahimahullāh tekankan disini dengan mendatangkan dalīl yang lain.قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ“Tegak dengan keadilan”لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُKemudian ditekankan oleh Allāh dan dikuatkan dengan mengatakan لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ – Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Dia (Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 3

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Adapun pujian para ulama kepada beliau rahimahullāh, maka ini telah banyak pujian kepada beliau baik dari orang yang merupakan teman-teman beliau atau murid-murid beliau bahkan juga termasuk pujian dari musuh-musuh beliau, maka ini sesuatu yang luar biasa tentunya seseorang dipuji oleh musuhnya sendiri, mereka melihat tentang bagaimana sidq (kejujuran) Syaikhul Islam dalam menyampaikan hujjah, bukan orang yang curang dalam bermunadzaroh dan mereka mengetahui tentang akhlak beliau, tidak menjadikan permusuhan yang terjadi antara beliau dengan ulama yang lain kemudian beliau menjadi orang yang dzholim ini diakui oleh para ulama.Saya sebutkan di sini di antara ucapan para ulama tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ibnu Sayyidinnas ulama yang mengarang kitāb ‘Uyunul Atsar beliau mengatakanAku mendapatkan beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) ini adalah orang yang mendapatkan bagian yang banyak dari ilmu. Ketika beliau memperhatikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah maka beliau hampir-hampir menguasai hadits-hadits dan juga atsar-atsar para salaf dengan hafalan beliau, hampir-hampir beliau itu menguasai hadits-hadits Nabi ﷺ dan juga atsar – atsar para salaf bukan hanya dengan maknanya sajaKalau beliau berbicara di dalam masalah tafsir maka beliau adalah orang yang membawa benderanya, membawa benderanya maksudnya adalah orang yang jago di dalam masalah ilmu tafsir, kalau bicara tentang ayat, bicara tentang surat, berbicara tentang tafsir Al-Quran seakan-akan tidak ada yang lebih halim tentang tafsir dan perkara-perkara yang detail dan faidah-faidah yang bisa diambil dari sebuah ayat dari beliau rahimahullāh, maka beliau adalah orang yang membawa benderaKalau beliau berfatwa tentang masalah fiqih maka beliau sampai kepada tujuan, sampai kepada puncaknya, artinya ketika berbicara tentang hukum, bicara tentang fiqih ternyata beliau juga orang yang luas ilmunya tentang masalah madzahib al-arba’a juga madzhab yang lain dan apa dalil mereka, apa alasan mereka dan mana yang rojih, kenapa yang rojih adalah demikian, ternyata beliau adalah seorang yang faqihDan kalau sedang bermudzakarah tentang masalah hadits maka ternyata beliau adalah orang yang punya ilmunya dan belia punya riwayatnyaAtau ketika beliau memberikan ceramah, memberikan pengetahuan tentang masalah aliran-aliran, tentang agama-agama, tidak dilihat orang yang lebih luas pengetahuannya tentang aliran dan juga agama tadi daripada beliau rahimahullāh. Jadi kalau berbicara tentang aliran, tahu siapa yang mendirikan, apa isinya, apa syubhat mereka, apa alasan mereka sehingga sebagian atau banyak diantara aliran-aliran tadi ataupun pembesar-pembesar aliran tadi yang mengakui bahwasanya Syaikhul Islam itu lebih tahu tentang alirannya dari pada mereka sendiri dan ini menunjukkan tentang luasnya ilmu beliau, dan beliau tahu bagaimana kok bisa sampai mereka kepada kesesatan-kesesatan tadiDan tidak ada yang lebih tinggi daripada beliau dalam masalah pemahaman tentang aliran-aliran tadiBeliau muncul didalam setiap ilmu, di atas orang-orang yang sebaya dengan beliau, artinya nampak dan terlihat ilmunya daripada yang lain, maka orang yang melihatnya tidak pernah melihat yang semisal dengan beliau, dan mata beliau, yaitu Syaikhul Islam, tidak melihat orang yang semisal dengan dirinya sendiri. Ibarat seperti ini menunjukkan tentang pujian dan menunjukkan tentang bagaimana kelebihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang Allāh ﷻ berikan kepada beliau rahimahullāh.Adz-Dzahabi rahimahullāh, murid beliau, mengatakan beliau Syaikhul Islam yaitu guru Adz-Dzahabi beliau mengatakan bahwasanya orang yang semisal sepertiku ini tidak pantas untuk mensifati beliau, artinya beliau lebih tinggi daripada sifat yang aku berikan kepada beliau, seandainya, kurang lebih demikian makna ucapan Adz-Dzahabi, seandainya saya mensifatkan sesuatu tentang Syaikhul Islam ketahuilah bahwasanya kenyataannya lebih daripada ituMaka seandainya aku ini disuruh untuk bersumpah antara rukun dengan maqam, maksudnya adalah rukun Hajar Aswad dengan maqam Ibrahim, seandainya aku disuruh untuk bersumpah niscaya aku akan bersumpah aku tidak melihat orang yang semisal dengan beliau, dan tentunya sumpah atas nama Allāh ﷻ ini adalah sumpah yang harus jujur, seandainya aku disuruh untuk bersumpah dengan nama Allāh ﷻ antara rukun Hajar Aswad dengan makam Ibrahim niscaya aku akan mengatakan aku tidak pernah melihat dengan mataku orang yang semisal dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.Adz-Dzahabi, shahibus siyr, memiliki kitab Siyar A’lamin Nubala’ yang dikenal tentang keahliannya dalam masalah hadits dalam masalah tarikh dalam masalah geografi dan ilmu-ilmu yang lain mengatakan ucapan ini, saya tidak pernah melihat dengan mataku orang yang semisal dengan Syaikhul Islam dan demi Allāh ﷻ beliau tidak pernah melihat orang yang semisal dengan beliau di dalam masalah ilmu. Maka ini juga termasuk keutamaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.Kemudian saya sebutkan disini ucapan dari Taqiyuddin as-Subki beliau adalah bapak dari Tajuddin shabibut thabaqat al-syafi’iyah al-kubra, beliau mengatakanTelah besar keutamaan beliau dan juga luasnya ilmu beliau dan bagaimana luasnya ilmu beliau dalam ilmu syar’i maupun dari bukti-bukti yang berkaitan dengan akal, jadi beliau dalam berdalil selain berdalil dengan dalil-dalil yang syar’i dari Al-Quran dan as-sunnah dengan dalil-dalil yang kuat dan istidlal yang kuat maka beliau juga banyak menyampaikan dalil dari akalDan bagaimana cerdasnya beliau dan kesungguhan beliau, dan bagaimana sampainya beliau di dalam setiap perkara-perkara tadi sampai pada derajat yang tidak bisa disifatkan. Ini ucapan dari Taqiyuddin as-Subki.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 53

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 53Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua QS. An-Nisa: 60 (Bagian 2)Hubungan Tingkat Keislaman dengan Kepasrahan​Korelasi Positif: Semakin tinggi tingkat keislaman seorang muslim, maka akan semakin besar pula tingkat kepasrahan dan keridhaannya terhadap keputusan Allah dan Rasul-Nya.  Mengalahkan Hawa Nafsu: Seorang muslim yang sejati siap meninggalkan hawa nafsu pribadi, opini pribadi, serta keinginan orang tua atau orang yang dicintainya demi mendahulukan keputusan syariat.  ​Keyakinan Mutlak: Harus ada keyakinan kuat bahwa apa yang diputuskan oleh Allah dan Rasul-Nya pasti mengandung hikmah dan maslahat terbaik, meskipun secara lahiriah tampak merugikan.Tingkatan Syarat Kelayakan Iman (QS. An-Nisa: 65)​Allah Subhanahu wa Ta'ala menafikan (menolak) keimanan seseorang sampai ia memenuhi tiga tahapan sikap terhadap Nabi Muhammad ﷺ saat terjadi perselisihan:  Tahakam (حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ): Menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai hakim utama dalam menyelesaikan segala perkara yang diperselisihkan. Lapang Dada (ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا): Sama sekali tidak ada rasa berat hati, ganjalan, atau keberatan di dalam dada terhadap keputusan yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ.​Pasrah Total (وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا): Menerima dan menyerahkan diri sepenuhnya dengan sebenar-benar penyerahan. Larangan Memiliki Pilihan Lain (QS. Al-Ahzab: 36)​Satu-satunya Pilihan: Bagi mukmin laki-laki maupun perempuan, tidak boleh ada alternatif atau pilihan lain di luar apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.  ​Konsekuensi Membangkang: Barangsiapa yang mendurhakai hukum Allah dan Rasul-Nya dengan mencari pilihan lain, maka ia telah jatuh ke dalam kesesatan yang nyata.Kesimpulan Hubungan Tahakum dengan Konsekuensi Islam​Ciri Kesempurnaan Islam: Bertahakum (berhukum) kepada Allah dan Rasul-Nya dalam seluruh perkara adalah bagian mutlak dari konsekuensi berislam.  ​Tahakum kepada Thaghut: Merupakan bentuk pembangkangan terhadap konsekuensi Islam karena menunjukkan orang tersebut masih menyimpan keimanan kepada thaghut.​Tipu Daya Setan: Praktik berhukum kepada thaghut merupakan perintah, keinginan, dan bentuk penyesatan dari setan yang sangat bertentangan dengan esensi Islam itu sendiri. 

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah – 53 Perpisahan Orang-orang Beriman dan Orang Munafik

Halaqah yang ke-53 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān dengan tentang ” Perpisahan Orang-orang Berimān Dan Orang Munāfiq”Setelah bangkit dari sujud, maka orang-orang yang berimān akan mengikuti Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Dan akan dibentangkan As-Sirath (jembatan di atas neraka) Sebagaimana di dalam hadīts Abū Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim.Keadaan saat itu gelap gulita, Seorang Yahūdi pernah bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam:“Di manakah manusia di hari di mana bumi dan langit diganti?”Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:“Di tempat yang gelap sebelum jembatan. ”(Hadīts Riwayat Muslim)⇒Kemudian orang-orang yang berimān akan diberikan cahaya.Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, di dalam Al-Mu’jamul Kabir, dari ‘Abdullāh Ibnu Mas’ud Radhiyallāhu ‘anhu, bahwasanya Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Maka Allāh memberikan kepada mereka cahaya sesuai dengan amalan mereka.”√ Ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar gunung yang besar yang berjalan di depannya.√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.√ Dan ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar pohon kurma di sebelah kanannya.√ Dan ada yang diberi lebih kecil dari itu.Sehingga ada orang yang diberi cahaya di jempol kakinya, kadang menyala dan kadang padam. Apabila menyala, maka dia melangkahkan kakinya dan berjalan.Dan apabila padam, dia berdiri.⇒Ini menunjukkan kepada kita tentang pentingnya mengamalkan ilmu bagi seorang muslim.Semakin banyak cahaya ilmu yang dia amalkan di dunia, maka akan semakin banyak cahaya yang akan dia dapatkan di hari kiamat.Di dalam hadīts yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, disebutkan bahwasanya orang-orang munāfiq juga akan diberikan cahaya dan akan mengikuti Allāh .⇒Namun cahaya mereka padam sebelum sampai jembatan.Allāh Subhānahu wa Ta’āla menceritakan didalam Qs. Al-Hadīd : 12-15 yang artinya:“Pada hari ketika kamu melihat orang-orang yang berimān, laki-laki dan wanita, cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. Dikatakan kepada mereka, “Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian. Yaitu surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kalian akan kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar.”Pada hari ketika orang-orang munāfiq, laki-laki dan wanita, berkata kepada orang-orang yang berimān, “Tunggulah kami, supaya kami dapat mengambil sebagian cahaya dari kalian.” Dikatakan kepada orang-orang munāfiq, “Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya untuk kalian.” Lalu dibuatlah di antara orang-orang yang berimān dengan orang-orang munāfiq sebuah dinding yang memiliki pintu.Di sebelah dalamnya, yaitu di sisi orang-orang yang berimān ada rahmat. Dan di sebelah luarnya, yaitu sisi orang-orang munāfiq ada siksa.Orang-orang munāfiq memanggil orang-orang yang beriman dan berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kalian di dunia?” (Maksudnya bersama-sama dengan orang-orang yang berimān secara zhahir).Orang-orang berimān menjawab: “Benar ” Akan tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri, yaitu dengan kenifāqan kalian.Dan kalian dahulu menunggu-nunggu kehancuran kami. Dan kalian ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong. Sehingga datanglah ketetapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Dan penipu yaitu syaithān, telah memperdaya kalian tentang Allāh .Maka pada hari ini tidak akan diterima tebusan dari kalian maupun dari orang-orang kāfir.Tempat kalian adalah neraka, itulah tempat berlindung kalian, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.Demikianlah orang-orang munāfiq kembali tertipu. Mereka mendapat cahaya di awal dan menyangka bahwasanya mereka akan selamat bersama dengan orang-orang yang berimān.Namun ternyata persangkaan mereka salah. Orang-orang yang berimān ketika melihat cahaya orang-orang munāfiq padam mereka berdo’a kepada Allāh.رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآ‌ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ ڪُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ۬“Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa untuk melakukan segala sesuatu.”( QS At-Tahrim : 8)Di dalam hadīts yang shahīh yang diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dan juga Tirmidzi, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda bahwasanya orang yang berjalan ke masjid di dalam kegelapan malam, yaitu untuk melakukan shalāt berjama’ah, maka dia akan mendapatkan cahaya yang sempurna di hari kiamat.Di antara usaha seorang muslim untuk menghilangkan kenifāqan adalah dengan menjaga shalāt lima waktu secara berjama’ah.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Barang siapa yang shalāt karena Allāh selama 40 hari secara berjama’ah mendapatkan takbiratul ula (takbiratul ihram), maka dia akan terlepas dari dua perkara. Terlepas dari neraka dan terlepas dari kenifāqan. (Hadīts hasan riwayat Tirmidzi).

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

HALAQAH 3 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 1

HALAQAH 3 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 1Oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ACara Beriman kepada para rasul Allah mengandung beberapa perkara:1.     Meyakini Kerasulan adalah Pilihan AllahKenabian dan kerasulan adalah pilihan mutlak dari Allah Allah memberikannya kepada siapa yang memang berhak dan yang paling afdhal dan sempurna.Dalil Al-Qur'an:·       QS. Al-An’am:124Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanاللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ“Allah lebih tau dimana Allah meletakkan risalahNya” (Al-An’am : 124)·       QS. Al-Hajj: 75Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ”Allah memilih Rasul-rasul dari kalangan malaikat dan dari kalangan manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat ” (Al-Hajj : 75)2.     Meyakini Kesempurnaan Para RasulPara rasul adalah makhluk yang paling sempurna dalam hal ilmu, amal, keyakinan (i'tiqad), akhlak, maupun fisik mereka.·       Dalil Karakter Mulia Para Rasul:o   Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُ :Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا“Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba yang banyak bersyukur” (QS. Al-Isra’: 3)o   Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ :Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang penyantun lembut hati dan suka kembali (kembali kepada Allah)” ( QS. Hud : 75)o   Nabi Ishaq عَلَيهِ السَّلَامُ :Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :قَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ“Mereka berkata “Janganlah engkau (wahai Ibrahim) takut sesungguhnya kami memberikan kabar gembira kepada dirimu dengan seorang anak yang ‘alim” (QS. Al-Hijr : 53)o   Nabi Yahya عَلَيهِ السَّلَامُ:Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :يَـٰيَحۡيَىٰ خُذِ ٱلۡڪِتَـٰبَ بِقُوَّةٍ۬‌ۖ وَءَاتَيۡنَـٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِيًّ۬ا (١٢) وَحَنَانً۬ا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَوٰةً۬‌ۖ وَكَانَ تَقِيًّ۬ا (١٣) وَبَرَّۢا بِوَٲلِدَيۡهِ وَلَمۡ يَكُن جَبَّارًا عَصِيًّ۬ا (١٤“Wahai Yahya ambillah kitab Taurat dengan sungguh-sungguh dan kami berikan hikmah kepadanya selagi dia masih kanak kanak dan kami jadikan rasa kasih sayang kepada sesama dari kami dan bersih dari dosa dan dia pun orang yang bertakwa dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya dan dia bukan orang yang sombong dan bukan pula orang yang durhaka” (QS. Maryam : 12-14)o   Nabi Muhammad صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ“Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) berada diatas akhlak yang agung” (QS. Al-Qalam : 4).Kesimpulan :·       Jabatan nabi dan rasul murni merupakan ketetapan dan pilihan langsung dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى·       Para rasul adalah makhluk yang telah dibersihkan dan disempurnakan oleh Allah dalam segala aspek mulai dari ilmu, amal, keyakinan (i'tiqad), akhlak, hingga fisik mereka untuk mengemban amanah wahyu.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 3

Halaqah-03 Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian 1Cara Beriman kepada para rasul Allah mengandung beberapa perkara1. Keyakinan yang dalam bahwa kenabian dan kerasulan adalah pilihan dari Allah, Allah memberikannya kepada siapa yang memang berhak dan yang paling afdhal dan sempurnaAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanاللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ ۗ“Allah lebih tau dimana Allah meletakkan risalahNya” (Al-An’am : 124)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman :اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ”Allah memilih Rasul-rasul dari kalangan malaikat dan dari kalangan manusia, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat ” (Al-Hajj : 75)2. Keyakinan yang dalam bahwa mereka (Para Rasul Allah) adalah makhluk Allah yang paling sempurna baik ilmu, amalan, i’tiqad maupun penciptaan atau fisik merekaAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman menceritakan tentang Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُإِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا”Sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba yang banyak bersyukur” ( Al-Isra’ : 3)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanإِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ”Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang penyantun lembut hati dan suka kembali (kembali kepada Allah)” ( Hud : 75)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanقَالُوا لَا تَوْجَلْ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ“Mereka berkata “Janganlah engkau (wahai Ibrahim) takut sesungguhnya kami memberikan kabar gembira kepada dirimu dengan seorang anak yang ‘alim” (Al-Hijr : 53)Yang dimaksud dengan anak tersebut adalah Nabi Ishaq عَلَيهِ السَّلَامُ dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanيَـٰيَحۡيَىٰ خُذِ ٱلۡڪِتَـٰبَ بِقُوَّةٍ۬‌ۖ وَءَاتَيۡنَـٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِيًّ۬ا (١٢) وَحَنَانً۬ا مِّن لَّدُنَّا وَزَكَوٰةً۬‌ۖ وَكَانَ تَقِيًّ۬ا (١٣) وَبَرَّۢا بِوَٲلِدَيۡهِ وَلَمۡ يَكُن جَبَّارًا عَصِيًّ۬ا (١٤“Wahai Yahya ambillah kitab Taurat dengan sungguh-sungguh dan kami berikan hikmah kepadanya selagi dia masih kanak kanak dan kami jadikan rasa kasih sayang kepada sesama dari kami dan bersih dari dosa dan dia pun orang yang bertakwa dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya dan dia bukan orang yang sombong dan bukan pula orang yang durhaka” (Maryam : 12-14]Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ”Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) berada diatas akhlak yang agung” (Al-Qalam : 4)Dan juga ayat-ayat yang lain yang menunjukkan tentang kesempurnaan para nabi dan para rasul Allah di dalam ilmu, amalan i’tiqad dan juga fisik mereka,

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →