🎓 Jejak Ilmu HSI

Laporan & catatan kegiatan Jejak Ilmu HSI

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI3 Juli 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 20 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Delapan Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke dua puluh dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Allah Ta’ala di dalam Al Qur’an mengabarkan bahwa diantara sifat orang-orang Yahudi, mereka dahulu menolong dan mencintai orang-orang kafir, yaitu orang-orang musyrikin yang menyembah berhala. Padahal orang-orang Yahudi adalah ahlul kitab yang menisbahkan diri mereka kepada wahyu.Allah berfirman,(تَرَىٰ كَثِیرࣰا مِّنۡهُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ۚ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَهُمۡ أَنفُسُهُمۡ أَن سَخِطَ ٱللَّهُ عَلَیۡهِمۡ وَفِی ٱلۡعَذَابِ هُمۡ خَـٰلِدُونَ)[Surat Al-Ma’idah 80]“Kamu akan melihat sebagian besar mereka (orang-orang Yahudi) mencintai dan menolong orang-orang kafir (orang-orang musyrikin). Sungguh jelek perbuatan tangan mereka. Allah marah kepada mereka. Dan di dalam neraka, mereka akan kekal.”Kemudian Allah mengatakan,(وَلَوۡ كَانُوا۟ یُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلنَّبِیِّ وَمَاۤ أُنزِلَ إِلَیۡهِ مَا ٱتَّخَذُوهُمۡ أَوۡلِیَاۤءَ وَلَـٰكِنَّ كَثِیرࣰا مِّنۡهُمۡ فَـٰسِقُونَ)[Surat Al-Ma’idah 81]“Seandainya mereka benar-benar beriman kepada Allah, Nabi, dan apa yang diturunkan kepada Nabi berupa wahyu, tentunya mereka tidak akan menjadikan orang-orang kafir tersebut sebagai penolong. Tetapi banyak diantara mereka yang fasik.”Mencintai dan menolong orang-orang kafir ternyata juga termasuk sifat orang-orang munafik.Allah berfirman,(بَشِّرِ ٱلۡمُنَـٰفِقِینَ بِأَنَّ لَهُمۡ عَذَابًا أَلِیمًا)[Surat An-Nisa’ 138]“Kabarkanlah (berikan kabar gembira) kepada orang-orang munafik, bahwa mereka mendapatkan adzab yang pedih.”Kemudian Allah berfirman,(ٱلَّذِینَ یَتَّخِذُونَ ٱلۡكَـٰفِرِینَ أَوۡلِیَاۤءَ مِن دُونِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَۚ أَیَبۡتَغُونَ عِندَهُمُ ٱلۡعِزَّةَ فَإِنَّ ٱلۡعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِیعࣰا)[Surat An-Nisa’ 139]“Mereka adalah orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, bukan orang-orang yang beriman. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang-orang kafir tersebut? Padahal kemuliaan semuanya hanyalah milik Allah.”Seorang muslim loyalnya hanyalah kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman.Allah berfirman,(إِنَّمَا وَلِیُّكُمُ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱلَّذِینَ یُقِیمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَهُم رَاكِعُونَ )[Surat Al-Ma’idah 55]“Sesungguhnya wali kalian (penolong kalian) adalah Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman yang mereka mendirikan sholat, membayar zakat, dan mereka dalam keadaan rukuk.”Dan Allah berfirman,(وَمَن یَتَوَلَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ فَإِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡغَـٰلِبُونَ)[Surat Al-Ma’idah 56]“Dan barangsiapa yang loyal kepada Allah, dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, maka sesungguhnya golongan Allah, merekalah orang-orang yang menang.”Dalil bahwasanya menolong kaum musyrikin di dalam memerangi kaum muslimin dengan maksud ingin menampakkan agama orang-orang musyrikin, ini adalah termasuk kekufuran, adalah firman Allah dalam surat Al Maidah 51,وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين“Barangsiapa diantara kalian yang menjadikan mereka sebagai penolong, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.”Firman Allah, فَإِنَّهُ مِنْهُمْ, maka dia adalah termasuk mereka, yaitu termasuk orang-orang kafir.Ibnu ‘Athiyah menjelaskan di dalam tafsirnya, bahwa orang yang loyal dengan keyakinan dan agamanya maka dia termasuk mereka di dalam kekufuran dan sama-sama berhak mendapatkan bencana dan kekal di neraka.Adapun orang-orang yang loyal dengan perbuatannya, yaitu menolong mereka dan semisalnya tanpa keyakinan dan kerusakan iman, maka dia termasuk mereka dalam hal ikut mendapatkan celaan dan kebencian yang menimpa mereka. [Al Muharrar Al Wajiz jilid 2 halaman 204].Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 3 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 Juli 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 70

Halaqah 70 | Mereka yang Terusir dari Haudh RasulullahKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهDidalam hadits yang lain Nabi ﷺ mengabarkan tentang adanya sebagian orang yang mereka sudah dilihat oleh Nabi ﷺ, akan mendekati Telaga beliau, sebagai orang yang sudah dilihat oleh Nabi ﷺ mendekati telaga beliau ﷺ tapi ternyata dihalangi, kemudian belum bertanya?Mereka adalah para shahabatku, maka dikatakan kepada beliau ﷺإنك لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَengkau tidak tahu apa yang mereka lakukan setelahmu.Ada yang menafsirkan di sini orang-orang yang murtad setelah meninggalnya Nabi ﷺ, beliau ﷺ tahu dhohirnya saja mereka adalah shahabat beliau yang menemani beliau, maksudnya yg bertemu dengan beliau, karena setiap yang melihat Nabi ﷺ maka dinamakan shahabat tahunya mereka datang beriman bersyahadat adapun setelah itu mereka murtad setelah meninggalnya Nabi ﷺ maka ini bukan kemampuan Nabi ﷺ, beliau meninggal dan tidak mengerti apa yang terjadi maka beliau mengucapkan sesuai dengan yang belum lihat sebelum meninggal – أُصَيْحَابِيأُصَيْحَابِي – tapi ternyata mereka murtad dan kalau murtad berarti bukan lagi shahabat Nabi ﷺ, karena shahabat didefinisikan oleh para ulama orang yang melihat/bertemu Nabi ﷺ beriman dengan beliau dan meninggal di atas Islam, namun sudah murtad dan meninggal di atas kekufuran berarti bukan termasuk shahabat Nabi ﷺ. Bahkan sebagian ulama ada yang menjelaskan bahwasanya ucapanإِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَIhdats sini umum termasuk ihdats yang memiliki makna membuat bidah di dalam agama, ihdats dengan makna yang membuat bidah di dalam agama sebagaimana ucapan Nabi«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»Barangsiapa yang membuat sesuatu yang baru didalam urusan agama kami yang dia bukan termasuk agama Islam maka amalan tersebut tertolak.Nabi mengatakan dalam hadits yang lain beliau mengatakan,وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ..Perkara yang paling jelek itu adalah yang muhdats/diada²kan, makanya ada yang memasukkan ihdats membuat bidah di dalam agama ini masuk di dalam ancaman hadits ini, terancam orangnya tidak akan bisa meminum telaganya Rasulullāh ﷺ.Bahkan para ulama menyebutkan kelompok² yang muhditsun khawarij disebutkan oleh mereka karena mereka membuat ihdats didalam agama Islam mereka menyebutkan kelompok-kelompok tadi sehingga ini peringatan bagi setiap orang yang mengadakan ihdats didalam agama.Hati² bisa-bisa mereka masuk dalam ancaman hadits ini tidak bisa meminum dari telaganya Rasulullāh ﷺ.Disaat yang lain mereka bisa meminum dengan puas dan tidak merasakan kehausan mereka terus mendapatkan kehausan mereka tidak bisa menghilangkan dahaga mereka, merasakan kehausan dan dihinakan sebagai seorang muslim karena ditolak oleh Nabi ﷺ disebutkan dalam hadis yang lain,سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِىMenjauhlah² diusir oleh Nabi ﷺ.Ini tidak beradab seorang umat yang tidak beradab diutus kepada mereka Rasulullāh ﷺ diajarkan kepada mereka kebenaran dan Nabi ﷺ mengajarkan itu dengan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa kemudian setelah itu dengan mudahnya dia membuat akidah yang baru, membuat amalan-amalan yang baru, seakan-akan Nabi ﷺ tidak diutus kepada mereka, dikemanakan sunah Nabi ﷺ tidak beradab orang yang demikian, maka orang yang demikian pantas kelak diusir oleh Nabi – سُحْقًا سُحْقًا – pergi kalian, maka hati² dengan perbuatan bid’ah, semoga Allāh subhanahu wa ta’ala semoga Allah subhanahu wa ta’ala menguatkan kita dan menetapkan hati kita di atas agamanya dan mati dalam keadaan menetapi sunnah Nabi ﷺ .Ini adalah tentang Al Haudhالَّذِي أَكْرَمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِهِAllāh memuliakan Nabi ﷺ dengan banyak pemuliaan, diantaranya adalah diberikan kepada beliau Telaga ini,غِيَاثًا لِأُمَّتِهِTelaga tersebut diantara hikmahnya adalah selain itu adalah ikram maka itu adalah untuk memberikan pertolongan kepada umatnya yang mereka membutuhkan air yang membutuhkan pertolongan,غِيَاثًا لِأُمَّتِهِUntuk memberikan pertolongan yaitu memberikan air kepada umat beliau ﷺ– حَقٌّBahwasanya semua itu adalah Haq,Dan hadits² tentang masalah telaga Nabi ﷺ adalah hadits² yang mutawatir diriwayatkan oleh banyak shahabat, seandainya itu adalah hadits yang tidak mutawatir kalau itu Hadits yang shahih wajib bagi kita untuk membenarkan, lalu bagaimana dengan hadits yang mutawatir yang seharusnya tidak ada keraguan sedikitpun di dalam diri kita banyak shahabat yang meriwayatkan hadis tentang tenaga Nabi ﷺ.

💬 0 komentar📅 3 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 Juli 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 69

Kamis, 2 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 69Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Keempat Hadist Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib (Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh mendatangkan sabda Nabi ﷺ di dalam sebuah hadits yang shahih, yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan juga Muslim:​وفي الصحيح أنه ﷺ قال في الخوارج: “أينما لقيتموهم فاقتلوهم...”​Artinya:“Dan di dalam kitab shahih, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda tentang orang-orang Khawarij: 'Dimana saja kalian bertemu dengan orang-orang Khawarij tadi maka hendaklah kalian bunuh mereka...'”​Hadits ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, yang mana Nabi ﷺ sedang mensifati orang-orang Khawarij:​يأتي في آخِر الزمان قوم حُدثاء الأسنان، سُفهاء الأحلام، يقولون من خير قول البرية، يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرَّميَّة​Artinya:“Akan datang di akhir zaman sebuah kaum yang mereka masih muda tetapi akalnya adalah akal yang sangat kurang, mereka mengucapkan ucapan sebaik-baik manusia, mereka Yamruq (keluar menjauh) dari agama Islām sebagaimana keluarnya anak panah dari sasaran (ar-ramiyah).”Penjelasan Karakteristik Orang Khawarij​Mereka adalah kaum yang masih muda (حُدثاء الأسنان), tetapi akalnya adalah akal yang sangat kurang (سُفهاء الأحلام). Disebutkan mereka mengucapkan ucapan sebaik-baik manusia (يقولون من خير قول البرية). Ada yang mengatakan bahwa ucapan sebaik-baik manusia di sini adalah ucapan Rasulullāh ﷺ, dan ada yang mengatakan Al-Quran. Disebutkan didalam sejarah bahwasanya orang-orang Khawarij mereka ini adalah orang-orang yang sangat kencang ibadahnya; malam mereka shalat malam, dan siang mereka membaca Al-Quran.Makna Kalimat "يمرقون من الإسلام" (Yamruqūn Mina Al-Islām)​Nabi ﷺ menyebutkan kabar yang sangat mencengangkan/mengagetkan bahwa ternyata orang-orang tadi keluar menjauh dari agama Islām sebagaimana melesatnya anak panah dari sasarannya (الرَّميَّة yang dimaksud adalah sasaran).​Terdapat perbedaan pendapat ulama mengenai status keislaman mereka berdasarkan kalimat ini:Sebagian ulama menghukumi orang-orang Khawarij ini kafir/keluar dari agama Islām, dengan berdalil pada kalimat hadits يمرقون من الإسلام.Pendapat yang Lebih Shahih, mereka ini tidak keluar dari agama Islām; orang-orang Khawarij adalah muslimun (tidak keluar dari agama Islām).Kedudukan dan Hujjah dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu​Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu adalah sahabat yang meriwayatkan hadits tentang perintah membunuh mereka (لقيتموهم فاقتلوهم), beliau juga yang memerangi orang-orang Khawarij sendiri bersama orang-orang beliau, dan beliau pula yang dikafirkan, dihalalkan darahnya, hingga akhirnya dibunuh oleh orang-orang Khawarij. ​Meskipun demikian, beliau tidak mengkafirkan mereka. Ketika beliau ditanya apakah mereka orang kafir, beliau menjawab:​من الكفر فروا​Artinya:“Mereka ini adalah orang yang sedang lari dari kekafiran.”​(Keterangan ini disebutkan di dalam Mushannaf Abdul Razzaq dan juga di dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah).​Konteks Peperangan Nahrawan:Jawaban di atas disampaikan ketika Ali bin Abi Thalib memerangi dan membunuh orang-orang Haruriyyah (Haruriyyah adalah nama lain dari Khawarij; dinamakan Haruriyyah karena mereka berkumpul di sebuah daerah bernama Harura). Dalam peperangan besar Nahrawan tersebut, terbunuh orang-orang Khawarij dalam jumlah yang banyak. Beliau kemudian ditanya, "Siapakah orang-orang ini wahai amirul mukminin, apakah mereka adalah orang-orang yang Kafir?" Beliau menjawab: من الكفر فروا.​Makna Jawaban Ali:Mereka bukan orang kafir, tetapi justru orang yang takut dengan kekafiran sehingga lari kencang meninggalkannya, namun perbuatannya kebablasan. Mereka menganggap sesuatu yang tidak mengkafirkan sebagai bentuk kekafiran, yaitu mereka berucap bahwa orang yang melakukan dosa besar berarti keluar dari agama Islām.Niat Mereka:Secara niat mereka ingin keluar dan ingin menjauh dari kekufuran. Melalui jawaban ini, Ali bin Abi Thalib ingin memberikan penjelasan bahwa beliau tidak menghukumi orang-orang Khawarij sebagai orang kafir. Beliau membunuh/memerangi mereka bukan karena mereka kafir, melainkan karena menjalankan sabda Nabi ﷺ.Bantahan Status bahwa Mereka Orang Munafik​Ketika ada yang bertanya, "Apakah mereka adalah orang Munafik jika bukan orang yang kafir?", ​Ali bin Abi Thalib mengatakan: Sesungguhnya orang-orang munafik tidak mengingat Allāh kecuali sedikit. Sedangkan mereka ini (orang-orang Khawarij) yang dibunuh/diperangi banyak mengingat Allāh, membaca tasbih, tahlil, tahmid, membaca Al-Quran, dan seterusnya. Maka, dinamakan munafik juga bukan, dinamakan kafir juga bukan; berarti mereka adalah muslimun (orang-orang Islām). ​Lalu kenapa mereka bisa demikian? Mereka ini adalah sebuah kaum yang tertimpa fitnah syubhat yang menjadikan mereka buta dan tuli.​Kesimpulan​Berdasarkan hadits shahih riwayat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, orang-orang Khawarij memiliki karakteristik fisik yang berusia muda dan kurang akal, namun sangat kencang dalam beribadah (shalat malam, membaca Al-Quran) serta mengucapkan ucapan yang baik. Nabi ﷺ memerintahkan untuk memerangi/membunuh mereka di mana pun bertemu karena mereka melesat menjauh dari ajaran agama Islām (yamruquna mina al-Islām). Kendati demikian, menurut pendapat yang lebih shahih dari Ali bin Abi Thalib, mereka tidak dihukumi sebagai orang kafir maupun orang munafik. Mereka tetaplah muslim yang berniat lari dari kekafiran, namun mengalami keterlanjuran (kebablasan) dalam beragama akibat tertimpa fitnah syubhat yang membuat mereka buta dan tuli, sehingga menghukumi pelaku dosa besar telah keluar dari Islām.

💬 0 komentar📅 2 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 Juli 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 19 - Turunnya Nabi Isa 'Alaihissalam Bagian 2

Halaqah 19 - Turunnya Nabi Isa 'Alaihissalam Bagian 2Silsilah Beriman kepada Hari Akhir ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah – 19 Turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam Bagian 2Halaqah – 19 Turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam Bagian 2Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Beriman Kepada Hari Akhirالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعينHalaqah yang ke-19 dari Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir adalah tentang “Turunnya Nabi Isa ‘Alaihissalam Bagian 2”Setelah Ya’juj dan Ma’juj binasa, jadilah Nabi ‘Isa ‘alaihissalam seorang pemimpin yang adil yang menegakkan syariat islam. Rasulullah ﷺ bersabda :وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً ، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ ، حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَاDemi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hampir-hampir turun ‘Isa Ibnu Maryam di antara kalian sebagai seorang penguasa yang adil. Maka dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menggugurkan atau membatalkan hukum jizyah, harta benda melimpah ruah sehingga tidak ada seorangpun yang menerima shadaqah. Sehingga sujud sekali saat itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya (HR. Bukhari dan Muslim)Beliau turun ‘alaihissalam, beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ mengikuti syari’at beliau dan bukan untuk menghapus syariat Nabi Muhammad ﷺ Manusia saat itu dalam keadaan aman, tentram dan damai. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwasanya kehidupan saat itu adalah kehidupan yang sangat indah. Langit di ijinkan untuk menurunkan hujan, Bumi di ijinkan untuk mengeluarkan tanaman, bahkan seandainya ada sebuah biji yang jatuh di atas batu yang keras niscaya dia akan tumbuh. Tidak ada saling bakhil, tidak ada saling hasad dan tidak ada saling benci.Sampai seandainya ada seseorang melewati seekor singa, niscaya singa tersebut tidak akan mengganggunya. Dan seandainya ada orang yang menginjak seekor ular niscaya ular tersebut tidak akan mengganggunya (Hadits Shahih Riwayat Ad-Dailami).Di dalam Shahih Muslim disebutkanbahwasanya beliau akan melakukan haji dan umrah.Dan di dalam hadits yang lain disebutkanbahwasanya beliau akan tinggal di Bumi selama 40 tahun. Kemudian meninggal dan dishalatkan oleh orang islam (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud).

💬 0 komentar📅 2 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 Juli 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 19

Halaqah yang Ke-19 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke ujuh belas 17👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ASetelah kita mengetahui tentang Al-Karamah yang Allāh berikan kepada wali-Nya, maka hendaklah kita mengenal tentang Al Ahwal Asy-syaithaniyyah (keadaan-syaithan-syaitan).Al-Ahwal Asy-syaithoniyyah/keadaan-keadaan syaitan adalah perkara-perkara yang di luar kebiasaan yang terjadi pada seorang wali syaitan sebagai IstidrajWali syaitan adalah pengikut syaitan dan penolong syaitan. yang dimaksud dengan Istidraj adalah dibiarkan supaya bertambah kekufurannya kemudian di azabDan di antara dalil yang menunjukkan adanya wali-wali syaithan adalah firman Allah :وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“Dan orang-orang yang kafir, maka wali-walinya adalah thagut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan, mereka adalah penduduk Neraka, mereka kekal di dalamnya” (Al-Baqarah : 257)Dan Allah berfirman:… وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ…“Dan sesungguhnya syaithan-syaithan mewahyukan kepada wali-walinya untuk mendebat kalian” (Al-An’am : 121)Dan diantara contoh Al-Ahwal Asy-syaithaniyyah, apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah didalam kitab beliau Al-Furqan ( بين أولياء الرحمن و أولياء الشيطان )Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan didalam kitab ini diantara contoh Al-Ahwal syaitoniyyah① Apa yang terjadi pada Musaiylamah Al-Kadzab ketika dia mengaku sebagai seorang Nabi dia mengabarkan beberapa perkara yang ghaib wahyu dengan dari syaitan② Apa yang terjadi pada Al-Aswad Al-Amsiy yang mengaku sebagai Nabi mengabarkan tentang perkara yang ghaib dengan wahyu dari syaitan sehingga tentara kaum muslimin takut syaithan akan mengabarkan kepadanya tentang mereka, sampai tentara kaum muslimin takut apabila syaithan akan mengabarkan kepada Aswad Al-Amsiy tentang mereka③ Kisah Al-Haris Al-Dimasykiy yang mengaku sebagai Nabi di zaman Abdul Malik bin Marwan setiap kali di tangkap dan di penjara datang syaitan dan melepaskan ikatan di kaki nya dan melindungi dia dari senjata.Manusia saat itu melihat rombongannya berjalan diudara ketika dia ditangkap ada orang yang menikam nya dengan tombak namun tidak mempanMaka berkata Abdul Malik :“Engkau tidak menyebut nama Allah”Kemudian ketika dia menyebut nama Allah dan menikamnya mempanlah tombaknya dan meninggallah Al-Harits

💬 0 komentar📅 2 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 19: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 17)

Halaqah 19:Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 17)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىSetelah mengetahui tentang Al-Karamah yang Allāh berikan kepada wali-Nya, maka hendaklah mengenal tentang Al Ahwal Asy-syaithaniyyah (keadaan-syaithan-syaitan).Al-Ahwal Asy-syaithoniyyah (keadaan-keadaan syaitan) adalah perkara-perkara yang di luar kebiasaan yang terjadi pada seorang wali syaitan sebagai Istidraj.Wali syaitan adalah pengikut syaitan dan penolong syaitan. Yang dimaksud dengan Istidraj adalah dibiarkan supaya bertambah kekufurannya kemudian di azab.Dan di antara dalil yang menunjukkan adanya wali-wali syaithan adalah firman Allah :وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ“Dan orang-orang yang kafir, maka wali-walinya adalah thagut yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan, mereka adalah penduduk Neraka, mereka kekal di dalamnya” (Al-Baqarah : 257)Dan Allah berfirman:… وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ…“Dan sesungguhnya syaithan-syaithan mewahyukan kepada wali-walinya untuk mendebat kalian” (Al-An’am : 121).Dan diantara contoh Al-Ahwal Asy-syaithaniyyah, apa yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah didalam kitab beliau Al-Furqan ( بين أولياء الرحمن و أولياء الشيطان )Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyebutkan didalam kitab ini diantara contoh Al-Ahwal syaitoniyyah:1. Apa yang terjadi pada Musaiylamah Al-Kadzab ketika dia mengaku sebagai seorang Nabi dia mengabarkan beberapa perkara yang ghaib wahyu dengan dari syaitan.2. Apa yang terjadi pada Al-Aswad Al-Amsiy yang mengaku sebagai Nabi mengabarkan tentang perkara yang ghaib dengan wahyu dari syaitan sehingga tentara kaum muslimin takut syaithan akan mengabarkan kepadanya tentang mereka, sampai tentara kaum muslimin takut apabila syaithan akan mengabarkan kepada Aswad Al-Amsiy tentang mereka.3. Kisah Al-Haris Al-Dimasykiy yang mengaku sebagai Nabi di zaman Abdul Malik bin Marwan setiap kali di tangkap dan di penjara datang syaitan dan melepaskan ikatan di kaki nya dan melindungi dia dari senjata. Manusia saat itu melihat rombongannya berjalan diudara ketika dia ditangkap ada orang yang menikam nya dengan tombak namun tidak mempan.Maka berkata Abdul Malik :“Engkau tidak menyebut nama Allah”Kemudian ketika dia menyebut nama Allah dan menikamnya mempanlah tombaknya dan meninggal lah Al-Harits

💬 0 komentar📅 2 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 Juli 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Ringkasan Halaqah 69 – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali bin Abi ThalibNabi ﷺ bersabda tentang Khawarij: "Di mana saja kalian menemui mereka, maka bunuhlah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim).Khawarij digambarkan sebagai kaum yang masih muda, semangat beribadah, banyak membaca Al-Qur'an, tetapi pemahamannya menyimpang.Sabda Nabi ﷺ: "Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat dari sasarannya." Maksud yang lebih kuat menurut mayoritas ulama adalah mereka keluar dari ajaran Islam (menyimpang), bukan keluar dari agama Islam menjadi kafir.Sebagian ulama berpendapat Khawarij kafir, namun pendapat yang lebih kuat adalah mereka tetap muslim, meskipun termasuk ahli bid'ah yang sangat sesat.Hal ini dikuatkan oleh perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu ketika ditanya apakah Khawarij kafir. Beliau menjawab: "Mereka lari dari kekufuran." Artinya, mereka ingin menjauhi kekafiran, tetapi berlebihan hingga mengkafirkan kaum muslimin yang melakukan dosa besar.Ketika ditanya apakah mereka munafik, Ali menjawab bahwa orang munafik hanya sedikit mengingat Allah, sedangkan Khawarij sangat banyak beribadah dan berdzikir. Maka mereka bukan munafik.Ali memerangi Khawarij bukan karena mereka kafir, tetapi karena menjalankan perintah Nabi ﷺ dan karena mereka menimbulkan kerusakan besar di tengah kaum muslimin.Penyebab kesesatan Khawarij adalah fitnah syubhat (pemahaman yang rusak) yang membuat mereka buta terhadap kebenaran meskipun semangat ibadah mereka sangat tinggi.

💬 0 komentar📅 2 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 Juli 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 69 | Haudh Rasulullāh yang Dijadikan Allāh Kemuliaan Rasulullāh sebagai Minuman Umatnya adalah Benar Adanya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَالْحَوْضُ – الَّذِي أَكْرَمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ غِيَاثًا لِأُمَّتِهِ – حَقٌّDan diantara keyakinan Ahlussunnah wal jamaah adalah meyakini tentang telaga Rasulullāh ﷺوَالْحَوْضُ – الَّذِي أَكْرَمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِهِTenaga yang ini adalah di antara bentuk pemuliaan Allāh terhadap NabiNya ﷺ.Al Haud telaganya Rasulullāh ﷺ & masing-masing Nabi disebutkan di dalam hadist mereka diberikan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala telaga masing-masing dari Nabi itu diberikan telaga oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dan disebutkan dalam hadis bahwasanya kelak mereka akan berbangga-banggaan siapa di antara mereka yang akan menjadi yang paling banyak didatangi & Nabi ﷺ berharap bahwasanya beliaulah yang paling banyak di datangi dan yang mendatangi tenaga Nabi-Nabi tersebut adalah umatnya sendiri ketika beliau ﷺ berharap bahwasanya beliau adalah yang paling banyak didatang telaganya menunjukkan bahwasanya umat beliau adalah umat yang paling besar, umat yang paling banyak masing-masing Nabi akan diberikan akan diberikan Haud/ telaga oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dan ini adalah ikrar pemuliaan Allāh subhanahu wa Ta’Ala kepada para Nabi tersebut, karena disaat manusia setelah mereka dihisab oleh Allāh subhanahu wa ta’ala di padang mahsyar dan kita tahu betapa lamanya mereka di padang mahsyar dalam keadaan mereka tidak minum dalam keadaan mereka tidak makan dalam keadaan matahari didekatkan kepada mereka sampai mereka berkeringat dan keringat mereka sesuai dengan kadar dosa mereka, kita lihat bagaimana manusia dalam keadaan kehausan, kehausan yang luar biasa maka Allāh subhanahu wa taala berkenan untuk memuliakan para Nabi, masing-masing dari Nabi masing-masing mereka memiliki pengikut yang beriman kepada mereka masing-masing dari Nabi Allāh subhanahu wa ta’ala memuliakan dengan diberikan telaga tersebut, termasuk diantaranya adalah Nabi ﷺ dan di situlah pengikut masing-masing dari Nabi tersebut mereka akan menghilangkan dahaga mereka akan menghilangkan hausnya mereka dan disebutkan dalam hadits bahwasanya Nabi ﷺ mengatakan,أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِAku akan mendahului kalian di Telagaku,Jadi sebelum datang umat beliau ﷺ maka beliau ﷺ akan mendahului kita, lebih cepat daripada kita menuju ke tenaga beliau ﷺ, apa tujuannya ingin menanti umatnya menunggu umatnya ingin melayani umat beliau ﷺ yang mereka dalam keadaan kehausan yang luar biasa melayani mereka mengambilkan air dari tenaga beliau ﷺ untuk diminum oleh umat beliau yang sangat sayangi ﷺ.Dengan semangatnya beliau ﷺ mendahului kita menunggu kita, mengharap supaya umatnya datang kepada beliau ﷺ untuk diberikan oleh beliau air dari Telaga beliau ﷺ , dalam hadits yang lain beliau mendorong kita untuk bersabar beliau ingin bertemu mendorong kita untuk bersabar di dunia ya supaya dengan sebab kesabaran kita ini kesabaran kita di atas Sunnah Nabi ﷺ kesabaran kita dalam berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullāh ﷺ ini menjadi sebab kita dimudahkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala untuk meminum dari telaganya beliau ﷺ.Dalam beberapa hadist yang disebutkan tentang bagaimana sifat-sifat dari telaga Rasulullāh ﷺ yang menunjukkan tentang besarnya beliau mengatakan,حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ، وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌTelagaku ini adalah sepanjang perjalanan satu bulan,Telaga kalau di dunia itu kecil saja itu perjalanan mungkin sehari selesai kita mengitari sebuah Telaga tapi Telaga Nabi ﷺ itu sepanjang perjalanan satu bulanDan sisi-sisinya sama, artinya Allāh ta’ala alam, bujur sangkar dan setiap sisi itu perjalanan satu bulan dan ini menunjukkan betapa besarnya Telaga Nabi ﷺ dan ini adalah sebuah kenikmatan, kita mendatangi telaga yang besar dalam keadaan kehausan dan yang datang ke sana orang banyak tidak takut kita dengan berdesak-desakan, kalau telaga yang kecil ya Telaga di sini sangat besar meskipun umat Nabi ﷺ dari dahulu sampai yang akan datang itu adalah umat yang banyak tapi besarnya Telaga Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwasanya mereka tidak berdasar-desakan di dalam meminumnya,مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ الورقAir dari Telaga tersebut lebih putih daripada perak dan disebutkan dalam lafadz yang lain lebih putih daripada alaban/ susu, susu yang paling putih yang kita tahu di dunia maka Telaga Nabi ﷺ itu sangat dan lebih putih daripada susu yang kita lihat,وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ المِسْكِDan bau nya itu lebih harum daripada minyak kasturi.Minyak yang paling wangi di dunia maka haudnya Nabi ﷺ itu lebih lebih wangi lagi.وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِDan teko2nya itu seperti bintang yang ada di langit.Seperti bintang yang ada di langit dari dua sisi, sisi yang pertama dari sisi keindahan, jadi tekonya adalah teko-teko yang sangat indah, sesi yang kedua adalah dari sisi banyaknya teko²nya banyak sekali sebanyak bintang yang ada di langit , kalau itu adalah jumlah dari tekonya lalu bagaimana dengan gelas-gelasnya karena gelas ini lebih banyak daripada teko, ini juga kenikmatan tersendiri banyak yang manusia yang mengetahui Telaga Nabi ﷺ besarnya itu juga diimbangi dengan banyaknya gelasnya dan juga banyaknya teko sehingga tidak saling menunggu satu dengan yang lain semuanya akan segera meminum dari telaganya Rasulullāh ﷺفمَن شَرِبَ منه فلا يَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا.Barang siapa yang meminum dari telaganya Nabi ﷺ maka dia tidak akan haus selama-lamanya.Sekali teguhkan maka dia tidak akan merasakan kehausan selama-lama, ini kelebihannya luar biasa tidak akan dia merasakan kehausan nanti akan tetap ada proses setelah itu,akan Anda proses setelah itu, mereka melewatir mereka tidak akan merasakan kehausan bahkan seandainya ada di antara mereka yang masuk ke dalam Neraka karena dosanya maka di dalam Neraka dia tidak akan merasakan kehausan, benar dia disiksa tapi karena dia sudah meminum Telaga Nabi ﷺ maka dia tidak akan tersiksa dengan kehausan tapi dia disiksa dari sisi yang lain.مَن شَرِبَ منه فلا يَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا.

💬 0 komentar📅 2 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 Juli 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 69

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 69 | Haudh Rasulullāh yang Dijadikan Allāh Kemuliaan Rasulullāh sebagai Minuman Umatnya adalah Benar AdanyaHalaqah 69 | Haudh Rasulullāh yang Dijadikan Allāh Kemuliaan Rasulullāh sebagai Minuman Umatnya adalah Benar AdanyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَالْحَوْضُ – الَّذِي أَكْرَمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ غِيَاثًا لِأُمَّتِهِ – حَقٌّDan diantara keyakinan Ahlussunnah wal jamaah adalah meyakini tentang telaga Rasulullāh ﷺوَالْحَوْضُ – الَّذِي أَكْرَمَهُ اللَّهُ تَعَالَى بِهِTenaga yang ini adalah di antara bentuk pemuliaan Allāh terhadap NabiNya ﷺ.Al Haud telaganya Rasulullāh ﷺ & masing-masing Nabi disebutkan di dalam hadist mereka diberikan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala telaga masing-masing dari Nabi itu diberikan telaga oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dan disebutkan dalam hadis bahwasanya kelak mereka akan berbangga-banggaan siapa di antara mereka yang akan menjadi yang paling banyak didatangi & Nabi ﷺ berharap bahwasanya beliaulah yang paling banyak di datangi dan yang mendatangi tenaga Nabi-Nabi tersebut adalah umatnya sendiri ketika beliau ﷺ berharap bahwasanya beliau adalah yang paling banyak didatang telaganya menunjukkan bahwasanya umat beliau adalah umat yang paling besar, umat yang paling banyak masing-masing Nabi akan diberikan akan diberikan Haud/ telaga oleh Allāh subhanahu wa ta’ala dan ini adalah ikrar pemuliaan Allāh subhanahu wa Ta’Ala kepada para Nabi tersebut, karena disaat manusia setelah mereka dihisab oleh Allāh subhanahu wa ta’ala di padang mahsyar dan kita tahu betapa lamanya mereka di padang mahsyar dalam keadaan mereka tidak minum dalam keadaan mereka tidak makan dalam keadaan matahari didekatkan kepada mereka sampai mereka berkeringat dan keringat mereka sesuai dengan kadar dosa mereka, kita lihat bagaimana manusia dalam keadaan kehausan, kehausan yang luar biasa maka Allāh subhanahu wa taala berkenan untuk memuliakan para Nabi, masing-masing dari Nabi masing-masing mereka memiliki pengikut yang beriman kepada mereka masing-masing dari Nabi Allāh subhanahu wa ta’ala memuliakan dengan diberikan telaga tersebut, termasuk diantaranya adalah Nabi ﷺ dan di situlah pengikut masing-masing dari Nabi tersebut mereka akan menghilangkan dahaga mereka akan menghilangkan hausnya mereka dan disebutkan dalam hadits bahwasanya Nabi ﷺ mengatakan,أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِAku akan mendahului kalian di Telagaku,Jadi sebelum datang umat beliau ﷺ maka beliau ﷺ akan mendahului kita, lebih cepat daripada kita menuju ke tenaga beliau ﷺ, apa tujuannya ingin menanti umatnya menunggu umatnya ingin melayani umat beliau ﷺ yang mereka dalam keadaan kehausan yang luar biasa melayani mereka mengambilkan air dari tenaga beliau ﷺ untuk diminum oleh umat beliau yang sangat sayangi ﷺ.Dengan semangatnya beliau ﷺ mendahului kita menunggu kita, mengharap supaya umatnya datang kepada beliau ﷺ untuk diberikan oleh beliau air dari Telaga beliau ﷺ , dalam hadits yang lain beliau mendorong kita untuk bersabar beliau ingin bertemu mendorong kita untuk bersabar di dunia ya supaya dengan sebab kesabaran kita ini kesabaran kita di atas Sunnah Nabi ﷺ kesabaran kita dalam berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullāh ﷺ ini menjadi sebab kita dimudahkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala untuk meminum dari telaganya beliau ﷺ.Dalam beberapa hadist yang disebutkan tentang bagaimana sifat-sifat dari telaga Rasulullāh ﷺ yang menunjukkan tentang besarnya beliau mengatakan,حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ، وَزَوَايَاهُ سَوَاءٌTelagaku ini adalah sepanjang perjalanan satu bulan,Telaga kalau di dunia itu kecil saja itu perjalanan mungkin sehari selesai kita mengitari sebuah Telaga tapi Telaga Nabi ﷺ itu sepanjang perjalanan satu bulanDan sisi-sisinya sama, artinya Allāh ta’ala alam, bujur sangkar dan setiap sisi itu perjalanan satu bulan dan ini menunjukkan betapa besarnya Telaga Nabi ﷺ dan ini adalah sebuah kenikmatan, kita mendatangi telaga yang besar dalam keadaan kehausan dan yang datang ke sana orang banyak tidak takut kita dengan berdesak-desakan, kalau telaga yang kecil ya Telaga di sini sangat besar meskipun umat Nabi ﷺ dari dahulu sampai yang akan datang itu adalah umat yang banyak tapi besarnya Telaga Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwasanya mereka tidak berdasar-desakan di dalam meminumnya,مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ الورقAir dari Telaga tersebut lebih putih daripada perak dan disebutkan dalam lafadz yang lain lebih putih daripada alaban/ susu, susu yang paling putih yang kita tahu di dunia maka Telaga Nabi ﷺ itu sangat dan lebih putih daripada susu yang kita lihat,وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ المِسْكِDan bau nya itu lebih harum daripada minyak kasturi.Minyak yang paling wangi di dunia maka haudnya Nabi ﷺ itu lebih lebih wangi lagi.وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِDan teko2nya itu seperti bintang yang ada di langit.Seperti bintang yang ada di langit dari dua sisi, sisi yang pertama dari sisi keindahan, jadi tekonya adalah teko-teko yang sangat indah, sesi yang kedua adalah dari sisi banyaknya teko²nya banyak sekali sebanyak bintang yang ada di langit , kalau itu adalah jumlah dari tekonya lalu bagaimana dengan gelas-gelasnya karena gelas ini lebih banyak daripada teko, ini juga kenikmatan tersendiri banyak yang manusia yang mengetahui Telaga Nabi ﷺ besarnya itu juga diimbangi dengan banyaknya gelasnya dan juga banyaknya teko sehingga tidak saling menunggu satu dengan yang lain semuanya akan segera meminum dari telaganya Rasulullāh ﷺفمَن شَرِبَ منه فلا يَظْمَأُ بَعْدَهُ أَبَدًا.Barang siapa yang meminum dari telaganya Nabi ﷺ maka dia tidak akan haus selama-lamanya.Sekali teguhkan maka dia tidak akan merasakan kehausan selama-lama, ini kelebihannya luar biasa tidak akan dia merasakan kehausan nanti akan tetap ada proses setelah itu,akan Anda proses setelah itu, mereka melewatir mereka tidak akan merasakan kehausan bahkan seandainya ada di antara mereka yang masuk ke dalam Neraka karena dosanya maka di dalam Neraka dia tidak akan merasakan kehausan, benar dia disiksa tapi karena dia sudah meminum Telaga Nabi ﷺ maka dia tidak akan tersiksa dengan kehausan tapi dia disiksa dari sisi yang lain.

💬 0 komentar📅 2 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 Juli 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 19 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Delapan Bagian 1

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke sembilan belas dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Berkata Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah,الثَّامِنُ:مُظَاهَرَةُ المُشْرِكِينَ وَمُعَاوَنَتُهُمْ عَلَى المُسْلِمِينَوَالدَّلِيلُ قَوْلُهُ تَعَالَى وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِين“Yang ke delapan: menolong orang-orang musyrikin dan membantu mereka di dalam memerangi kaum muslimin. Dalilnya adalah firman Allah yang artinya ‘Dan barangsiapa yang menolong mereka maka sesungguhnya dia termasuk mereka. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.’ [Al Maidah : 51]”Yang dimaksud dengan menolong orang-orang musyrikin atau orang-orang kafir dan membantu mereka di dalam memerangi orang-orang Islam adalah menolong orang-orang kafir ketika terjadi peperangan antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir, dengan maksud supaya mereka menang dan mengalahkan kaum muslimin sehingga agama orang-orang kafir lebih nampak daripada agama kaum muslimin.Seorang muslim yang sejati adalah seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, senang ketika Allah dan Rasul-Nya ditaati, gembira melihat agama Allah nampak di bumi, melihat tauhid dan sunnah tersebar. Sebaliknya, dia bersedih ketika melihat kekufuran, kebid’ahan, dan kemaksiatan.Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ:أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سَوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ“Tiga perkara apabila ada pada diri seseorang, maka dia menemukan kelezatan iman.1. Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya.2. Mencintai orang lain, tidak mencintainya kecuali karena Allah. Yaitu mencintainya karena dia taat kepada Allah.3. Dia benci untuk kembali kepada kekufuran, sebagaimana dia benci apabila dilempar ke dalam api.”[Hadits shahih riwayat Bukhari dan Muslim]Kalau demikian, maka menolong orang-orang kafir dan mencintai kekufuran mereka dan senang apabila orang-orang musyrikin tersebut agamanya lebih nampak daripada agama kaum muslimin, maka ini adalah sebuah kekufuran.Adapun orang yang membantu orang-orang musyrikin dan orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin tetapi bukan karena cinta dengan agama orang-orang kafir tersebut dan bukan karena senang apabila agama orang-orang kafir lebih nampak dari agama kaum muslimin, contohnya dia menolong karena keinginan duniawi seperti jabatan, harta, wanita, dll, maka orang yang demikian telah melakukan dosa besar tetapi tidak sampai keluar dari agama Islam. Ini termasuk kefasikan. Kalau dia meninggal dalam keadaan seperti ini, maka dia telah meninggal dunia dalam keadaan membawa dosa besar. Keadaannya di akhirat adalah seperti pelaku dosa besar yang lain. Dia di bawah kehendak Allah. Kalau Allah menghendaki maka Allah mengampuni, dan kalau Allah menghendaki maka Allah akan mengadzab dia terlebih dahulu di dalam neraka.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 2 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 Juli 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 69: Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bag. 4)

Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 69: Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bag. 4) 🌿 Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bag. 4)✨ Penduduk surgaMasuk surga dalam keadaan sempurna.Berusia sekitar 33 tahun (riwayat lain menyebut 30 atau 33 tahun).Tidak berjenggot, tubuh tanpa rambut, bercelak, kulit putih, dan tinggi 60 hasta. (HR. Tirmidzi & Ahmad)💜 Bidadari surgaAllah menikahkan laki-laki penghuni surga dengan bidadari.Bermata indah (ḥūr 'īn), sangat cantik, sebaya umurnya.Diciptakan langsung oleh Allah sebagai perawan yang penuh cinta kepada suaminya.Cantiknya seperti mutiara, yakut, dan marjan.Suci, tidak haid, serta menjaga pandangan hanya untuk suaminya.Kerudung seorang bidadari lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya. (HR. Bukhari)🌸 Istri yang berimanIstri di dunia yang beriman akan menjadi istri suaminya di surga.Keluarga yang beriman akan dipertemukan kembali di surga dengan izin Allah. (QS. Ar-Ra'd: 23)🍇 Kenikmatan lainnyaPenghuni surga memperoleh kekuatan yang sempurna dalam makan, minum, dan kenikmatan lainnya.Dilayani oleh pelayan-pelayan muda yang indah laksana mutiara bertebaran. (QS. Al-Waqi'ah: 17, QS. Al-Insan: 19)📖 Dalil utamaQS. At-Thur: 20QS. An-Naba': 33QS. Al-Waqi'ah: 23, 35–37QS. Ar-Rahman: 56–58QS. Al-Baqarah: 25QS. Ar-Ra'd: 23QS. Al-Waqi'ah: 17QS. Al-Insan: 19Sumber: Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Hari Akhir – Halaqah 69: Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bag. 4).

💬 0 komentar📅 2 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 Juli 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 68

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 68 | Rasulullah Di-Isra’-kan di Malam Hari dan Dinaikkan ke Langit dengan Jasmaninya dalam Keadaan SadarHalaqah 68 | Rasulullah Di-Isra’-kan di Malam Hari dan Dinaikkan ke Langit dengan Jasmaninya dalam Keadaan SadarKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَقَدْ أُسْرِيَ بِالنَّبِيِّ ﷺ وَعُرِجَ بِشَخْصِهِ فِي الْيَقَظَةِ، إِلَى السَّمَاءِDan telah di isra kan Nabi ﷺ.Yang dimaksud dengan Isra adalah perjalanan dimalam hariسُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ..۝[QS Al Isro 1]Maha Suci Allāh yang menjalankan hambanya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, supaya kami menampakkan kepadanya di antara tanda² kekuasaan.Dengan burok dan ditemani oleh Malaikat Jibril dan di sana beliau mengimami para Nabi ini adalah tanda² kekuasaan Allāh subhanahu wa ta’ala. dari Makkah ke Masjidil Aqsa ini biasanya kalau ditempuh dengan unta ini memerlukan perjalanan 1 bulan kalau bulak balik berarti 2 bulan, Nabi ﷺ meninggalkan Mekkah ke Masjidil Aqsa dan kembali ke Mekah sebelum datang waktu pagi hari, ada yang mengatakan bahwasanya Isra dan juga Mi’raj saat itu terjadi dalam satu malam dan di pagi hari Nabi ﷺ sudah berada di kota Mekah sehingga orang-orang musyrikin Quraisy saat itu mereka menertawakan Nabi ﷺ kemudian mengajak Abu Bakar untuk mendustakan Nabi, karenanya adalah kabar yang tidak masuk tapi Ash Sidik dan dinamakan Ash Sidik karena beliau sangat membenarkan Nabi ﷺ di saat manusia mereka mendustakan Nabi dan meragukan kabar Nabi maka beliau membenarkan apa yang datang dari Nabi ﷺ beliau membenarkan Nabi ﷺ dan bahwasanya datang kepada beliau Wahyu di waktu pagi maupun sore, kalau hanya kabar tentang beliau pergi dari Makkah ke Masjidil Aqsa kemudian ke sidratumuntaha dan kembali ke Mekah dalam satu malam maka ini bukan sesuatu yang aneh-aneh karena Abu Bakar membenarkan yang lebih dahsyat daripada itu bagaimana hanya sekedar dijalankan, itulah Allāh yang عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ , Ahlussunnah membenarkan, membenarkan bahwasanya Nabi ﷺ di isra mi’raj, isra di dalam surat Al-isra sebagaimana dalam ayat yang sebutkan, dan Mi’raj ini ada dalam surat An-Najm.وَعُرِجَ بِشَخْصِهِ فِي الْيَقَظَةِ، إِلَى السَّمَاءِDan di angkat dengan diri beliau.Kenapa di sini disebutkan oleh Abu Ja’far Ath thohawiy karena adanya sebagian orang yang mengatakan iya kami beriman bahwasanya Nabi ﷺ beliau di Isra – Mi’raj kan namun katanya ini adalah dalam mimpi atau ini adalah hanya rohnya saja jadi nyawanya saja yang di isra kan dan nyawanya saja yang di Mi’raj kan bukan dengan badannya, maka beliau mengatakanوَعُرِجَ بِشَخْصِهِBeliau di Mi’raj kan dengan badannya dengan diri beliau semua yaitu dengan nyawa dan juga raganya & inilah yang hak bukan dengan nyawanya karena Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakanسُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِMaha suci Allāh subhanahu wa ta’ala yang telah menjalankan hambanya.Dan hamba dinamakan hamba dengan badannya dan juga nyawanya, dinamakan hamba/abdu dengan badannya dan juga nyawa itulah hamba bukan nyawanya saja, tapi jasad dan juga nyawanya itulah hamba.Hamba terdiri dari dua perkara. Dalam surat An-Najm Allāh mengatakan,فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى ۝[QS An-Najm 10]Allah mau wahyukan kepada hambaNya apa yang dia wahyukan.Dan hamba ini terdiri dari badan dan juga nya, ini maksud ucapan beliauوَعُرِجَ بِشَخْصِهِفِي الْيَقَظَةِKetika beliau dalam keadaan bangun.Artinya bukan dalam keadaan tidur, sebagian orang ada yang meyakini isra dan juga Miraj Nabi ﷺ tapi dia meyakini bahwasanya itu semua terjadi ketika Nabi ﷺ dalam keadaan tidur, yaitu dalam keadaan bermimpi, padahal beliau di Mekkah tapi beliau bermimpi pergi dari Makkah menuju Masjidil Aqsa kemudian diangkat oleh Allāh ﷻ ke sidratumuntaha kemudian kembali ke Mekkah, itu terjadi dalam keadaan mimpi. Ini adalah bathil yang benar yang shahih bahwasanya beliau ﷺ di Isra dan di Mi’raj kan oleh Allāh ﷻ dalam bangun, dalam keadaan beliau bangun dan tidak dalam keadaan mimpi,apa dalilnya?Dalilnya orang² musyrikin mengingkari, orang² musyrikin Quraisy mereka mengingkari.Mungkinkah mereka mengingkari Nabi bermimpi kalau hanya sekedar mimpi, kalau sekedar mimpi maka siapa di antara kita yang mengingkari? ada orang yang cerita anak bermimpi ke Mekah bersama bapak ibu bersama keluarga anda dan seterusnya, sementara keadaannya bukan orang yang berkemampuan tapi dia bermimpi apakah kita mendustakan? Bohong masa kamu mimpi ke Mekah, kalau hanya sekedar mimpi semua orang juga bisa bermimpi , ada orang bermimpi saya bermimpi saya punya istana yang demikian dan demikian dia ceritakan kepada orang, maka kita katakan mungkin saja bermimpi, itu namanya mimpi, orang dalam mimpinya melihat apa saja anak kecil mungkin dia menjadi Superman, memang benar itu hanya mimpi, yang kita dustakan kalau dia mengatakan saya benar-benar menjadi Superman bisa terbang itu yang kita dustakan tapi kalau hanya sekedar mimpi siapa saja bisa bermimpi.Sekarang yang terjadi Nabi ﷺ seluruh didustakan oleh orang² musyrikin kalau hanya sekedar mimpi tentunya tidak didustakan oleh mereka ketika mereka mendustakan berarti ini adalah hak Nabi ﷺ di Isra kan di Mi’raj kan oleh Allāh ﷻ dalam keadaan الْيَقَظَةِ (bangun)إِلَى السَّمَاءِ.Diangkat ke atas,ثُمَّ إِلَى حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الْعُلَاKemudian Allāh subhanahu wa ta’ala mengangkat beliau yaitu keatas kemudian ke tempat yang Allāh kehendaki, tempat yang tinggi yang Allāh kehendaki yaitu ke Sidratumuntaha, ini adalah batas nya tidak melebihi dari itu, kemudianوَأَكْرَمَهُ اللَّهُ بِمَا شَاءَ، وَأَوْحَى إِلَيْهِ مَا أَوْحَى،Dan Allah subhanahu wa ta’ala memuliakan beliau dengan apa yang Dia kehendaki.Dipertemukan dengan para Anbiya diwajibkan kepada beliau shalat lima waktu secara langsung Allāh subhanahu wa ta’ala mengajak berbicara kepada beliau, memperlihatkan kepada beliau Surga dan Neraka ini semuanya adalah iqrar Allāh memuliakan beliau siapa selain beliau yang didemikiankan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala, dimuliakan oleh Allāh sedemikian rupa, ini adalah ikrar termasuk mukjizat Nabi ﷺ Isra dan juga Mi’raj, Allāh subhanahu wa ta’ala banyak memuliakan mengistimewakan Nabi ﷺ dibandingkan dengan yang lain,وَأَكْرَمَهُ اللَّهُ بِمَا شَاءَ،Allāh subhanahu wa ta’ala memuliakan beliau dengan apa yang Allāh kehendaki.Ketika di Isra kan dan juga di Mi’raj kan,وَأَوْحَى إِلَيْهِ مَا أَوْحَى،Dan Allāh subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepada beliau apa yang Allāh Wahyukan,sebagaimana dalam ayatفَأَوْحَىٰٓ إِلَىٰ عَبْدِهِۦ مَآ أَوْحَىٰ[QS An Najm 10]Maka Allāh subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepada hambaNya apa yang Dia Wahyukan.Termasuk diantaranya adalah kewajiban shalat lima waktu, Allāh subhanahu wa ta’ala langsung wajibkan kepada Rasulullāh ﷺ di atas sana, bukan di bumi menunjukkan keutamaan shalat lima waktu.Ini adalah keyakinan dan aqidah Ahlussunnah wal jamaah di dalam masalah isra dan juga Mi’raj nya Rasulullāh ﷺ. Harus kita yakini jangan kita seperti orang² yang mengedepankan akalnya kemudian dia menolak kabar yang berkaitan dengan Nabi ﷺ yang dianggap ini tidak sesuai dengan akal mereka.

💬 0 komentar📅 1 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 Juli 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 68 | Rasulullah Di-Isra’-kan di Malam Hari dan Dinaikkan ke Langit dengan Jasmaninya dalam Keadaan Sadar

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَقَدْ أُسْرِيَ بِالنَّبِيِّ ﷺ وَعُرِجَ بِشَخْصِهِ فِي الْيَقَظَةِ، إِلَى السَّمَاءِDan telah di isra kan Nabi ﷺ.Yang dimaksud dengan Isra adalah perjalanan dimalam hariسُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ..۝[QS Al Isro 1]Maha Suci Allāh yang menjalankan hambanya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, supaya kami menampakkan kepadanya di antara tanda² kekuasaan.Dengan burok dan ditemani oleh Malaikat Jibril dan di sana beliau mengimami para Nabi ini adalah tanda² kekuasaan Allāh subhanahu wa ta’ala. dari Makkah ke Masjidil Aqsa ini biasanya kalau ditempuh dengan unta ini memerlukan perjalanan 1 bulan kalau bulak balik berarti 2 bulan, Nabi ﷺ meninggalkan Mekkah ke Masjidil Aqsa dan kembali ke Mekah sebelum datang waktu pagi hari, ada yang mengatakan bahwasanya Isra dan juga Mi’raj saat itu terjadi dalam satu malam dan di pagi hari Nabi ﷺ sudah berada di kota Mekah sehingga orang-orang musyrikin Quraisy saat itu mereka menertawakan Nabi ﷺ kemudian mengajak Abu Bakar untuk mendustakan Nabi, karenanya adalah kabar yang tidak masuk tapi Ash Sidik dan dinamakan Ash Sidik karena beliau sangat membenarkan Nabi ﷺ di saat manusia mereka mendustakan Nabi dan meragukan kabar Nabi maka beliau membenarkan apa yang datang dari Nabi ﷺ beliau membenarkan Nabi ﷺ dan bahwasanya datang kepada beliau Wahyu di waktu pagi maupun sore, kalau hanya kabar tentang beliau pergi dari Makkah ke Masjidil Aqsa kemudian ke sidratumuntaha dan kembali ke Mekah dalam satu malam maka ini bukan sesuatu yang aneh-aneh karena Abu Bakar membenarkan yang lebih dahsyat daripada itu bagaimana hanya sekedar dijalankan, itulah Allāh yang عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ , Ahlussunnah membenarkan, membenarkan bahwasanya Nabi ﷺ di isra mi’raj, isra di dalam surat Al-isra sebagaimana dalam ayat yang sebutkan, dan Mi’raj ini ada dalam surat An-Najm.وَعُرِجَ بِشَخْصِهِ فِي الْيَقَظَةِ، إِلَى السَّمَاءِDan di angkat dengan diri beliau.Kenapa di sini disebutkan oleh Abu Ja’far Ath thohawiy karena adanya sebagian orang yang mengatakan iya kami beriman bahwasanya Nabi ﷺ beliau di Isra – Mi’raj kan namun katanya ini adalah dalam mimpi atau ini adalah hanya rohnya saja jadi nyawanya saja yang di isra kan dan nyawanya saja yang di Mi’raj kan bukan dengan badannya, maka beliau mengatakanوَعُرِجَ بِشَخْصِهِBeliau di Mi’raj kan dengan badannya dengan diri beliau semua yaitu dengan nyawa dan juga raganya & inilah yang hak bukan dengan nyawanya karena Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakanسُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِMaha suci Allāh subhanahu wa ta’ala yang telah menjalankan hambanya.Dan hamba dinamakan hamba dengan badannya dan juga nyawanya, dinamakan hamba/abdu dengan badannya dan juga nyawa itulah hamba bukan nyawanya saja, tapi jasad dan juga nyawanya itulah hamba.Hamba terdiri dari dua perkara. Dalam surat An-Najm Allāh mengatakan,فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى ۝[QS An-Najm 10]Allah mau wahyukan kepada hambaNya apa yang dia wahyukan.Dan hamba ini terdiri dari badan dan juga nya, ini maksud ucapan beliauوَعُرِجَ بِشَخْصِهِفِي الْيَقَظَةِKetika beliau dalam keadaan bangun.Artinya bukan dalam keadaan tidur, sebagian orang ada yang meyakini isra dan juga Miraj Nabi ﷺ tapi dia meyakini bahwasanya itu semua terjadi ketika Nabi ﷺ dalam keadaan tidur, yaitu dalam keadaan bermimpi, padahal beliau di Mekkah tapi beliau bermimpi pergi dari Makkah menuju Masjidil Aqsa kemudian diangkat oleh Allāh ﷻ ke sidratumuntaha kemudian kembali ke Mekkah, itu terjadi dalam keadaan mimpi. Ini adalah bathil yang benar yang shahih bahwasanya beliau ﷺ di Isra dan di Mi’raj kan oleh Allāh ﷻ dalam bangun, dalam keadaan beliau bangun dan tidak dalam keadaan mimpi,apa dalilnya?Dalilnya orang² musyrikin mengingkari, orang² musyrikin Quraisy mereka mengingkari.Mungkinkah mereka mengingkari Nabi bermimpi kalau hanya sekedar mimpi, kalau sekedar mimpi maka siapa di antara kita yang mengingkari? ada orang yang cerita anak bermimpi ke Mekah bersama bapak ibu bersama keluarga anda dan seterusnya, sementara keadaannya bukan orang yang berkemampuan tapi dia bermimpi apakah kita mendustakan? Bohong masa kamu mimpi ke Mekah, kalau hanya sekedar mimpi semua orang juga bisa bermimpi , ada orang bermimpi saya bermimpi saya punya istana yang demikian dan demikian dia ceritakan kepada orang, maka kita katakan mungkin saja bermimpi, itu namanya mimpi, orang dalam mimpinya melihat apa saja anak kecil mungkin dia menjadi Superman, memang benar itu hanya mimpi, yang kita dustakan kalau dia mengatakan saya benar-benar menjadi Superman bisa terbang itu yang kita dustakan tapi kalau hanya sekedar mimpi siapa saja bisa bermimpi.Sekarang yang terjadi Nabi ﷺ seluruh didustakan oleh orang² musyrikin kalau hanya sekedar mimpi tentunya tidak didustakan oleh mereka ketika mereka mendustakan berarti ini adalah hak Nabi ﷺ di Isra kan di Mi’raj kan oleh Allāh ﷻ dalam keadaan الْيَقَظَةِ (bangun)إِلَى السَّمَاءِ.Diangkat ke atas,ثُمَّ إِلَى حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الْعُلَاKemudian Allāh subhanahu wa ta’ala mengangkat beliau yaitu keatas kemudian ke tempat yang Allāh kehendaki, tempat yang tinggi yang Allāh kehendaki yaitu ke Sidratumuntaha, ini adalah batas nya tidak melebihi dari itu, kemudianوَأَكْرَمَهُ اللَّهُ بِمَا شَاءَ، وَأَوْحَى إِلَيْهِ مَا أَوْحَى،Dan Allah subhanahu wa ta’ala memuliakan beliau dengan apa yang Dia kehendaki.Dipertemukan dengan para Anbiya diwajibkan kepada beliau shalat lima waktu secara langsung Allāh subhanahu wa ta’ala mengajak berbicara kepada beliau, memperlihatkan kepada beliau Surga dan Neraka ini semuanya adalah iqrar Allāh memuliakan beliau siapa selain beliau yang didemikiankan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala, dimuliakan oleh Allāh sedemikian rupa, ini adalah ikrar termasuk mukjizat Nabi ﷺ Isra dan juga Mi’raj, Allāh subhanahu wa ta’ala banyak memuliakan mengistimewakan Nabi ﷺ dibandingkan dengan yang lain,وَأَكْرَمَهُ اللَّهُ بِمَا شَاءَ،Allāh subhanahu wa ta’ala memuliakan beliau dengan apa yang Allāh kehendaki.Ketika di Isra kan dan juga di Mi’raj kan,وَأَوْحَى إِلَيْهِ مَا أَوْحَى،Dan Allāh subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepada beliau apa yang Allāh Wahyukan,sebagaimana dalam ayatفَأَوْحَىٰٓ إِلَىٰ عَبْدِهِۦ مَآ أَوْحَىٰ[QS An Najm 10]Maka Allāh subhanahu wa ta’ala mewahyukan kepada hambaNya apa yang Dia Wahyukan.Termasuk diantaranya adalah kewajiban shalat lima waktu, Allāh subhanahu wa ta’ala langsung wajibkan kepada Rasulullāh ﷺ di atas sana, bukan di bumi menunjukkan keutamaan shalat lima waktu.Ini adalah keyakinan dan aqidah Ahlussunnah wal jamaah di dalam masalah isra dan juga Mi’raj nya Rasulullāh ﷺ. Harus kita yakini jangan kita seperti orang² yang mengedepankan akalnya kemudian dia menolak kabar yang berkaitan dengan Nabi ﷺ yang dianggap ini tidak sesuai dengan akal mereka.

💬 0 komentar📅 1 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 Juli 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 18

Halaqah yang Ke -18 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke enam belas.👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADiantara dalil dari As-Sunnah atas adanya Al-Karamah① Kisah Abu bakar Asy Sidik radhiyallahu ‘anhu ketika memberi makan sebagian ahlu suffah yang datang kepada beliau, setiap kali mereka mengambil satu suapan maka makanannya bertambah banyak di riwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim② Kisah dua orang shahabat Nabi ﷺ, yaitu ‘Usaid bin Hudhair dan Abbad bin Bisr semoga Allah meridhai keduanya, ketika keduanya keluar dari sisi Nabi ﷺ, di suatu malam yang gelap gulita dan di depan mereka ada cahaya, kemudian ketika mereka berpisah terbagilah cahaya tersebut menjadi dua. diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhâri③ Kisah Juraij seorang laki-laki yang shaleh dari kalangan bani israil yang dituduh berzina dengan seorang wanita ia mengaku hamil karena Juraij, kemudian ketika wanita tersebut melahirkan maka Juraij mengusap kepala bayi tersebut, sehingga bayi tersebut sehingga bayi tersebut bisa menyebutkan siapa bapaknya. di riwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam MuslimKemudian di sana ada beberapa keterangan yang berkaitan dengan Al-Karamah① Al-Karamah yang paling agung bagi seorang hamba adalah istiqamahnya dia diatas jalan yang lurus② Al-Karamah bagi para wali Allah adalah ayat (Mu’jizah) bagi para Nabi,karena wali Allah tidak mendapatkannya kecuali karena keimanan dia kepada rasul tersebut③ Al-Karamah akan tetap ada sampai akhir zaman④ Al-Karamah tidak dijadikan ukuran seseorang lebih afdhal daripada orang yang tidak mendapatkan Al KaromahYang demikian karena Al-Karamah terjadi di antaranya untuk menguatkan keimanan orang tersebut, oleh karena itu Al-Karamah di zaman shahabat radhiyallahu ‘anhum lebih sedikit daripada Al-Karamah di zaman Tabi’in, karena iman dan keyakinan para sahabat lebih kuat dari pada keimanan dan juga keyakinan para Tabi’in⑤ Jangan sampai seseorang terjerumus kedalam pengingkaran terhadap Al-Karamahseperti orang-orang falasifah dan juga Mu’tazilah dan jangan sampai seseorang berlebih-lebihan didalam masalah Al-Karamah seperti orang-yang yang menjadikan Al-Karamah sebagai ukuran kewalian

💬 0 komentar📅 1 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 18: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 16)

Halaqah 18:Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 16)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara dalil dari As-Sunnah atas adanya Al-Karamah1. Kisah Abu bakar Asy Sidik radhiyallahu ‘anhu Ketika memberi makan sebagian ahlu suffah yang datang kepada beliau, setiap kali mereka mengambil satu suapan maka makanannya bertambah banyak di riwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.2. Kisah dua orang sahabat Nabi ﷺ‘Usaid bin Hudhair dan Abbad bin Bisr semoga Allah meridhai keduanya, ketika keduanya keluar dari sisi Nabi ﷺ, di suatu malam yang gelap gulita dan di depan mereka ada cahaya, kemudian ketika mereka berpisah terbagilah cahaya tersebut menjadi dua. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhâri3. Kisah Juraij seorang laki-laki yang Shaleh dari Kalangan Bani IsrailDituduh berzina dengan seorang wanita ia mengaku hamil karena Juraij, kemudian ketika wanita tersebut melahirkan maka Juraij mengusap kepala bayi tersebut, sehingga bayi tersebut sehingga bayi tersebut bisa menyebutkan siapa bapaknya. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.Beberapa keterangan yang berkaitan dengan Al-Karamah:① Al-Karamah yang paling agung bagi seorang hamba adalah istiqamahnya dia diatas jalan yang lurus.② Al-Karamah bagi para wali Allah adalah ayat (Mu’jizah) bagi para Nabi, karena wali Allah tidak mendapatkannya kecuali karena keimanan dia kepada rasul tersebut.③ Al-Karamah akan tetap ada sampai akhir zaman.④ Al-Karamah tidak dijadikan ukuran seseorang lebih afdhal daripada orang yang tidak mendapatkan Al Karomah.Yang demikian karena Al-Karamah terjadi di antaranya untuk menguatkan keimanan orang tersebut, oleh karena itu Al-Karamah di zaman shahabat radhiyallahu ‘anhum lebih sedikit daripada Al-Karamah di zaman Tabi’in, karena iman dan keyakinan para sahabat lebih kuat dari pada keimanan dan juga keyakinan para Tabi’in.⑤ Jangan sampai seseorang terjerumus kedalam pengingkaran terhadap Al-Karamah,seperti orang-orang falasifah dan juga Mu’tazilah dan jangan sampai seseorang berlebih-lebihan didalam masalah Al-Karamah seperti orang-yang yang menjadikan Al-Karamah sebagai ukuran kewalian.

💬 0 komentar📅 1 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 Juli 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 68

Rabu, 1 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 68Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Ketiga QS. Al-An-Nahl 25 (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Syaikh mendatangkan firman Allāh ﷻ:۞ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ(Mengenai orang-orang yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu). Serta kelanjutan ayatnya:أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَArtinya:“Sungguh jelas apa yang mereka tanggung (dosa yang harus mereka tanggung).”  ​Beban Pertanggungjawaban Dosa Pelaku Bid'ah (Mubtadi)​Menanggung Dosa Dua Arah:Dosa yang harus dipertanggungjawabkan oleh muntadi (pelaku/pembuat bid'ah) adalah dosa bid'ah dirinya sendiri serta dosa bid'ah yang dilakukan oleh orang lain yang telah dia sesatkan tanpa ilmu.​Beratnya Beban Dosa:Mempertanggungjawabkan dosa sendiri saja sudah terasa berat, terlebih lagi jika harus ditambah dengan dosa bid'ah orang lain yang ikut mengamalkannya karena didakwahkan, diajak, atau disesatkan olehnya. Hal ini menunjukkan besarnya bahaya bid'ah dan bahaya mengajak orang lain untuk melakukan kebid’ahan.Karakteristik Pelaku Bid'ah (Ahlul Bid'ah)​Niat Beribadah:Ketika melakukan kebid’ahan, ahlul bid'ah menyangka dan meniatkan perbuatannya sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) serta beribadah kepada Allāh ﷻ.​Menganggap sebagai Kebaikan:Karena menganggap kebid’ahan tersebut merupakan suatu kebaikan dan bentuk ibadah kepada Allāh, mereka tidak ragu-ragu untuk mengajak orang lain.  ​Dakwah secara Terang-terangan:Berbeda dengan pelaku maksiat, pelaku bid'ah mengajak orang lain bahkan secara terang-terangan karena menyangka itu adalah ibadah, dengan tujuan memasukkan orang lain ke dalam ibadah tersebut.Dampak Menyesatkan:Tindakan tersebut akhirnya membuat dia menyesatkan dirinya sendiri sekaligus menyesatkan orang lain. Dia melakukan dosa bid'ah dan menyebabkan orang lain ikut melakukan dosa bid'ah tersebut. Jika ajakan atau dakwahnya diterima, maka dosanya akan menjadi semakin besar.Karakteristik Pelaku Maksiat atau Dosa Besar (Ahlul Maksiat)​Keadaan pelaku maksiat sangat berbeda dengan pelaku bid'ah karena hal-hal berikut:​Menyadari Kesalahan:Setiap pelaku dosa besar merasa dan menyadari sepenuhnya bahwasanya perbuatan yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan dan dosa besar. Walaupun mereka terkadang tidak bisa mengendalikan dirinya, rata-rata mereka tahu itu adalah kemaksiatan.​Memiliki Rasa Malu:Pelaku maksiat merasa malu untuk melakukan dosanya, apalagi jika sampai mengajak orang lain. Mereka akan menyembunyikan perbuatannya dari anaknya, tetangganya, serta orang lain karena tidak ingin orang lain mengetahui apa yang mereka perbuat. Mereka juga tidak ingin orang lain ikut terkena dosa seperti mereka.​Contoh Kasus Pelaku Maksiat:​Pelaku Zina:Seseorang yang melakukan dosa zina akan merasa menyesal setelahnya (mempertanyakan mengapa hal itu bisa terjadi) dan merasa malu jika perbuatannya dilihat orang lain, sehingga dia tidak akan mengajak orang lain untuk berzina.  ​Pekerja di Tempat Ribawi:Seseorang yang bekerja di tempat ribawi tahu bahwa dirinya salah, bertentangan dengan syariat, dan tempat kerjanya bermasalah. Ketika ditanya orang mengenai tempat kerjanya, dia merasa malu dan tidak mau menyebutkannya, sehingga tidak mungkin dia mengajak orang lain untuk melakukan maksiat tersebut.  ​Mencukupkan Dosa pada Diri Sendiri:Pelaku maksiat berada dalam keadaan malu dan mengetahui dirinya keliru, sehingga dia mencukupkan dosa kabirah (dosa besar) itu hanya pada dirinya sendiri dan tidak sampai mendakwahkannya kepada orang lain.KesimpulanTujuan Pendalilan Syaikh rahimahullāh mendatangkan ayat tersebut dalam bab ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa dosa bidah itu lebih dahsyat, lebih berbahaya, dan lebih besar dosanya daripada dosa besar atau kemaksiatan biasa. Kebidahan lebih berbahaya daripada kemaksiatan karena kebanyakan pelaku bid'ah menganggap perbuatannya sebagai bentuk taqarrub dan ibadah, sehingga mereka tidak segan-segan untuk mendakwahkan serta mengajak orang lain melakukannya secara terang-terangan. Ketika dakwah bid'ah tersebut diterima, dosanya akan terus bertambah karena menanggung dosa orang yang mengikutinya. Sementara itu, pelaku kemaksiatan tetap berada dalam rasa malu, tahu dirinya bersalah, dan tidak mendakwahkan maksiatnya kepada orang lain. 

💬 0 komentar📅 1 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 Juli 2026
N
Nahda L M

📍 Kabupaten Bandung

Halaqah 17-Dajjal Bagian III Silsilah beriman pada hari akhir

•Halaqah 17 : Dajjal Bagian 3• [Silsilah Beriman Kepada Hari Akhir]Seorang muslim hendaknya mencari jalan keselamatan dari fitnah Dajjal di antaranya,Yang pertamaberusaha mengenal Allah ﷻ dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, karena orang-orang yang mengikuti Dajjal adalah orang-orang yang tidak mengenal Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَىYang keduamenaati Rasulullah ﷺ Karena Dajjal ketika dikabarkan oleh Thamim Addaari radhiallahu ‘anhu dan juga kawan-kawannya, bahwasanya Muhammad ﷺ telah muncul dan menang serta menjadi orang yang ditaati, maka Dajjal mengatakan yang artinya,Ketahuilah, bahwasanya menaati dia (yaitu Muhammad ﷺ) adalah lebih baik bagi mereka (HR. Muslim)Yang ketigaadalah memperbanyak doa ketetapan hati.ﻳَﺎ ﻣُﻘَﻠِّﺐَ ﺍﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ ﺛَﺒِّﺖْ ﻗَﻟْﺒِﻲ ﻋَﻠَﻰ ﺩِﻳﻨِﻚَKemudian,Yang keempatadalah membaca doa yang diajarkan oleh Nabi ﷺ sebelum salam.ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲْ ﺃَﻋُﻮْﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﻭَﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺟَﻬَﻨَّﻢَ ﻭَﻣِﻦْ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺤْﻴَﺎ ﻭَﺍﻟْﻤَﻤَﺎﺕِ، ﻭَﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ ﻓِﺘْﻨَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺴِﻴْﺢِ ﺍﻟﺪَّﺟَّﺎﻝِSebagian pendahulu kita, dahulu menyuruh anaknya untuk mengulang sholat lagi apabila tidak membaca doa ini ketika sholat.Yang kelimaadalah berusaha menjauh dari Dajjal apabila mendengar tentang kedatangannya. Karena Dajjal memiliki syubhat kerancuan yang bisa menggoyahkan iman seseorang. Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya :Barang siapa yang mendengar tentang Dajjal maka hendaklah menjauh darinya karena demi Allah sesungguhnya seseorang mendatangi dajjal dan dia menyangka bahwasannya dia adalah beriman ternyata kemudian dia mengikuti dajjal tersebut karena melihat syubhat yang dimiliki oleh Dajjal tersebut (Hadits Shahih Riwayat Abu Dawud)Di dalam shahih muslim disebutkan bahwasannya manusia akan pergi ke gunung-gunung untuk menghindari dajjal.Kemudian yang keenamapabila mampu maka hendaklah dia pergi ke dua tanah haram Makkah dan juga Madinah. Karena keduanya tidak bisa dimasuki oleh Dajjal (HR. Bukhari dan Muslim)Kemudian yang ketujuhapabila terpaksa bertemu dengan Dajjal maka hendaklah dia bersabar, tetap diatas kebenaran dan tidak menaati Dajjal tersebut dan hendaknya dia membaca 10 ayat yang pertama dari Surat Al-Kahfi. Rasulullah ﷺ bersabda yang artinya :Barang siapa di antara kalian yang menemui dajjal maka hendaklah dia membaca awal dari surat Al Kahfi (HR. Muslim)Dalam hadits yang lain Beliau mengatakan :Barang siapa yang menghafal 10 ayat yang pertama dari Surat Al-Kahfi maka dia akan terjaga dari Dajjal (HR.Muslim)Yang kedelapanapabila melihat Dajjal membawa dua sungai, sungai dari api dan sungai dari air maka petunjuk Nabi ﷺ hendaknya kita memejamkan mata, menundukkan kepala kemudian meminum dari sungai api karena sebenarnya itu adalah air yang dingin (HR. Muslim)Dajjal muncul di masa Imam Mahdi sebelum turunnya Nabi Isa ‘alaihissalam dan akan dibunuh oleh Nabi ‘Isa. Kewajiban seorang muslim adalah beriman dengan munculnya Dajjal sebagaimana dikabarkan oleh Nabi ﷺ dalam hadits-hadits yang shahih. Dajjal bukanlah khayalan atau simbol kerusakan semata.Semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى melindungi kita dan keluarga kita dari fitnah Dajjal.

💬 0 komentar📅 1 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 Juli 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

AL-JANNAH DAN KENIKMATANNYA (Bag. 3)

Berikut rangkuman lengkap beserta dalil yang mudah di-copy paste berdasarkan Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Hari Akhir – Halaqah 68: Al-Jannah dan Kenikmatannya (Bag. 3).🌸 AL-JANNAH DAN KENIKMATANNYA (Bag. 3)🍇 1. Makanan dan Minuman Penduduk SurgaAllah menyediakan berbagai makanan dan minuman terbaik bagi penghuni surga.Buah-buahan dan daging burung sesuai keinginan.Minuman dari mata air surga yang tidak memabukkan dan tidak membuat pening.Dalil:"Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan piala berisi minuman dari mata air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, serta daging burung dari apa yang mereka inginkan." (QS. Al-Waqi'ah: 17–21)Rasulullah ﷺ bersabda:"Di dalam surga ada burung yang lehernya seperti leher unta." (HR. Tirmidzi)Beliau juga bersabda:"Makanan pertama penduduk surga adalah tambahan hati ikan paus." (HR. Bukhari)Dalam hadits Tsauban radhiyallahu 'anhu:Setelah itu mereka memakan sapi jantan dari surga.Minuman mereka berasal dari mata air Salsabil. (HR. Muslim)✨ 2. Keadaan Penduduk SurgaPenduduk surga makan bukan karena lapar dan minum bukan karena haus.Mereka:Tidak buang air kecil.Tidak buang air besar.Tidak meludah.Tidak membuang ingus.Makanan berubah menjadi sendawa dan keringat yang harum seperti minyak kasturi.Dalil:Rasulullah ﷺ bersabda:"Sesungguhnya penduduk surga makan dan minum. Mereka tidak meludah, tidak buang air kecil, tidak buang air besar dan tidak membuang ingus."Ketika para sahabat bertanya, "Lalu ke mana makanan itu?"Beliau menjawab:"Menjadi sendawa dan keringat seperti harum minyak kasturi." (HR. Muslim)👑 3. Bejana Penduduk SurgaPeralatan makan dan minum mereka terbuat dari emas dan perak.Dalil:Rasulullah ﷺ bersabda:"Dua surga terbuat dari perak beserta bejana-bejananya dan segala isinya. Dan dua surga terbuat dari emas beserta bejana-bejananya dan segala isinya." (HR. Bukhari dan Muslim)👗 4. Pakaian dan Perhiasan Penduduk SurgaPenduduk surga mengenakan pakaian dari sutra serta dihiasi emas, perak, dan mutiara.Dalil:"Mereka diberi perhiasan gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka di dalamnya adalah sutra." (QS. Al-Hajj: 23)"Mereka memakai pakaian hijau dari sutra halus dan sutra tebal, serta dihiasi gelang dari perak. Rabb mereka memberi minuman yang suci." (QS. Al-Insan: 21)🛋️ 5. Tempat Istirahat Penduduk SurgaMereka bersandar di atas permadani dan dipan yang indah.Dalil:"Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutra." (QS. Ar-Rahman: 54)"Mereka bertelekan di atas dipan-dipan yang berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari yang bermata jeli." (QS. At-Thur: 20)🌷 6. Kebahagiaan Penduduk SurgaPenduduk surga saling bertemu, berbincang, dan mengenang bagaimana Allah menyelamatkan mereka dari neraka.Dalil:"Dan mereka saling berhadapan dan saling bertanya. Mereka berkata, 'Sesungguhnya dahulu ketika berada di tengah keluarga kami, kami merasa takut (akan azab Allah). Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sungguh Dia Maha Melimpahkan Kebaikan lagi Maha Penyayang.'" (QS. At-Thur: 25–28)🌺 FaedahKenikmatan surga adalah kenikmatan yang sempurna, tanpa rasa lapar, haus, letih, sakit, atau kekurangan sedikit pun. Semua itu merupakan balasan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa.

💬 0 komentar📅 1 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI1 Juli 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kita al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 43 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Rukun Iman Ada EnamHalaqah yang ke-43 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al-Ushūlu Ats-Tsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.Beliau menyebutkan bahwasanya cabang-cabang keimanan yang jumlahnya 73 itu memiliki rukun atau bagian yang paling penting di dalam Iman.Jumlah rukunnya ada 6 dan dia berada ditingkat yang paling tinggi diantara cabang-cabang keimanan.Urutan ke-1 sampai ke-6 adalah 6 rangking pertama yang ditempati oleh Arkānul Iman dan merupakan perkara yang paling penting dan paling besar pahalanya di dalam cabang-cabang keimanan.Yang paling tinggi adalah ucapan “Lā ilāha illallāh”. Qaulu “Lā ilāha illallāh” masuk di dalam الإيمان بالله (Al-Imānubillāh) yang merupakan rukun iman yang paling tinggi (Iman kepada Allāh).⇒ Urutan ke-1 sampai ke-6 adalah rukun Iman yang enam⑴ Beriman kepada Allāh.⑵ Beriman kepada Malāikat.⑶ Beriman kepada Kitāb.⑷ Beriman kepada Rasūl.⑸ Beriman kepada Hari akhir⑹ Beriman kepada Takdir.Rukun Iman yang 6 ini menempati 6 rangking yang pertama dari cabang-cabang keimanan dan dia adalah arkān atau rukunnya. Kalau satu di antara rukun iman ini tidak ada maka seseorang bisa keluar dari keimanan.Adapun yang lain, urutan setelahnya (nomor 7,8,9 dan seterusnya) maka ini terbagi-bagi.Ada di antaranya yang merupakan ;⑴ Ushulu Iman atau arkānul iman pondasi keimanan.⑵ Kamalul Iman Al Wajib.⑶ Kamalul Iman Al Mustahab.Ushulul Iman pondasi keimanan jumlahnya ada 6 (Rukun Iman), sedangkan urutan ke-7 hingga yang paling rendah terbagi menjadi 2, yaitu :⑴ Kamalul Iman al Wajib (Kesempurnaan Iman yang wajib)⑵ Kamalul Iman al Mustahab (Kesempurnaan Iman yang dianjurkan)Jangan kita tertipu dengan ucapan kesempurnaan, kemudian kita anggap itu tidak harus misalnya. Tidak !Kesempurnaan itu ada 2 :⑴ Kesempurnaan yang Wajib⑵ Kesempurnaan yang Sunnah▪︎Kesempurnaan yang WajibMisalnya:Berbakti kepada Orang tua, Menafkahi Anak dan Istri, Silaturahim, Shalāt, Puasa.▪︎Kesempurnaan yang SunnahMisalnya :Shalāt Rawatib, Puasa Senin Kamis, Shadaqah.Ini tadi ada di dalam cabang-cabang keimanan dari urutan ke-7 sampai yang akhir.√ Kesempurnaan Iman yang wajib kalau sampai ditinggalkan dia berdosa.√ Kesempurnaan Iman yang mustahab kalau dia tinggal maka dia tidak berdosa.Yang beliau sebutkan di sini adalah yang rukun-rukun dahulu, di antara 70 cabang lebih tadi beliau isyaratkan sebagaimana Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengisyaratkan ada yang tinggi ada yang rendah.Ini menunjukkan bahwasanya Iman ada yang berupa amalan bathin dan amalan dhāhir. Maka beliau mulai dengan menyebutkan yang rukun di antara cabang-cabang keimanan tadi.Beliau rahimahullāh mengatakan:وأركانه ستة: أن تؤمن بالله، وملائكته، وكتبه، ورسله، واليوم الآخر، وبالقدر خيره شره كله من الله.Rukunnya ada 6 : Beriman kepada Allāh, Beriman kepada Malāikat, Beriman kepada Kitāb, Beriman kepada Rasūl, Beriman kepada Hari akhir dan beriman dengan Takdir yang baik dan buruk semuanya adalah dari Allāh.Ini menunjukkan keharusan kita memperhatikan perkara-perkara yang dimasukan di dalam agama kita sebagai rukun.Kalau kita tahu bahwasanya Iman kepada Allāh, Malāikat, Kitāb, Rasūl, Hari akhir, Takdir. Allāh jadikan sebagai rukun keimanan yang kalau sampai satu diantara rukun iman tadi tidak ada, maka batal keimanannya. Maka kita harus memperhatikan dan mempelajari rukun Iman yang 6 ini.Sebagaimana ketika kita membahas tentang Islām, kita harus punya perhatian besar terhadap rukun Islām yang 5 (lima).√ Ketika datang waktu subuh, zhuhur, ashar, rasakanlah bahwasanya kita sedang melakukan perkara yang besar di antara ibadah-ibadah yang diwajibkan oleh Allāh.√ Ketika Ramadhān kita berpuasa selama 30 hari kita sedang melakukan perkara yang besar dalam agama ini. (Allāh masukan ini di dalam rukun)√ Kalau kita termasuk orang yang mempunyai harta maka ingat kewajiban zakat yang ada di dalam harta tersebut, dan ini termasuk siar bahkan dia termasuk rukun di dalam agama Islām.√ Kalau kita mempunyai kemampuan untuk melakukan haji ke Baitullāh maka jangan ditunda, kalau kita memiliki harta, kemampuan fisik dan mempunyai mahram bagi wanita maka jangan kita tunda, tapi harus kita laksanakan dan segera kita laksanakan. (karena ini Allāh masukan dalam rukun Islām dan merupakan perkara yang besar di dalam agama ini)Masalah rukun Iman ini, kita harus dipelajari dengan baik, dan tentunya mempelajari rukun Iman yang 6 ini memerlukan ilmu dan penjabaran yang luas.Dan tidak semua yang ada di dalam rukun Iman wajib kita ketahui semua.Misalnya :Beriman kepada Malāikat.⇒ Tidak wajib bagi kita mengenal semua nama-nama malāikat, mengenal amalan-amalan malāikat yang disebutkan dalam Al-Qur’ān dan Hadīts.Apakah dinamakan beriman kepada malāikat atau beriman kepada rasūl, seorang wajib mengenal dan menghapal nama malāikat atau rasūl tersebut ?Jawabannya BUKAN sebuah keharusan.√ Disana ada kadar tambahan.√ Disana ada kadar yang wajib,Disana ada:√ Kadar yang wajib.√ Kadar yang cukup.√ Kadar wajib yang mencukupi.Mencukupi dinamakan orang yang beriman kepada Allāh, beriman kepada Kitāb, beriman kepada Rasūl dan seterusnya.Ada kadar yang tambahan (Kesempurnaan) maka hendaklah kita mengetahui apa itu kadar yang wajibJangan sampai kita hanya memiliki sesuatu yang tidak mencukupi wajibnya.⇒ Maka kita harus mengetahui apa yang wajib.⇒ Kita harus tahu apa kadar yang mencukupi dari beriman kepada Allāh, sehingga kita bisa menimbang dan melihat keadaan kita.Ini sudah atau belum?Dalam mendakwahi orang lain, kita harus bijaksana kalau kita mengetahui mana kadar yang wajib, mana kadar yang harus minimal dimiliki oleh seseorang, maka In syā Allāh kita lebih bijaksana dalam mendakwahkan kepada orang lain.Karena kalau kita tahu mana kadar yang wajib, maka kita tidak membebani orang lain diluar kemampuannya.Seseorang harus mempunyai target yang penting dia sudah paham dan yakin bahwasanya malāikat itu makhluk Allāh dan di antara malāikat ada malāikat yang bernama Jibrīl atau malāikat yang ditugaskan untuk menyampaikan wahyu kepada seorang Rasūl, maka itu sudah cukup dinamakan dia sebagai orang yang beriman kepada malāikat.Ini menjadikan kita bijaksana dalam berdakwah.

💬 0 komentar📅 1 Jul 2026Baca selengkapnya →