📍 Kota Bandung
Insecure
Bukan kita yang hebat, tapi Allah yang memudahkan urusan kita
Laporan & catatan kegiatan Jejak Pustaka
📍 Kota Bandung
Bukan kita yang hebat, tapi Allah yang memudahkan urusan kita
Prinsip dasar yang harus kita pahami tentang karakter laki-pada perempuan, kita akan bersemangat ketika merasa bersemangat ketika mereka merasa dibutuhkan sedangkan dicintai. Dengan memahami bagaimana cara kedua sosok termotivasi, kita akan tahu cara menyampaikan uneg-uneg laki dan perempuan adalah kaum laki-laki akan dengan baik dan jelas.Prinsip selanjutnya, jauh dalam diri laki-laki, mereka kekurangannya dibeberkan, mereka akan merasa kalah lalu mempunyai falsafah menang atau kalah. Ketika berkuranglah motivasinya. Apalagi jika kekurangan itu disampaikan oleh orang yang ia cintai.Di zaman yang penuh gempuran pemikiran feminisme, kita zaman giring tidak mengindahkan prinsip dasar di atas. Perlahan hal-hal yang harusnya hanya ada dalam diri laki-laki dimasukkan juga dalam diri juga dalam diri perempuan. Akhirnya, prinsip menang dan kalah sekarang dimiliki oleh kedua pihak. Bisa dibayangkan nggak gimana kacaunya kehidupan rumah tangga jika suami dan istri berkompetisi siapa yang menang dalam rumah tangga?Dengan berusaha memahami prinsip tersebut, itu bukan berarti menjerumuskan para istri pada kekalahan tak berkesudahan. Tetapi kita sedang berusaha mengambil jalan tengah terbaik untuk kelangsungan rumah tangga yang nyaman. Toh, pada asalnya, kita bukan makhluk yang menilai kerendahan hati dan mengalah sebagai kekalahan. Itulah kemenangan bagi kita.Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,أَيُّمَا امْرَأَةِ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ"Wanita mana saja yang meninggal dunia lantas suaminya ridha padanya, maka ia akan masuk surga." (HR. Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854. Abu Isa Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).Ini kemenangan kita! Suami ridha pada apa yang kita lakukan.THE WORLD OF MARRIAGE Candra Prahastiwi, Saviera Yonita, Dr.Victa Ryza
Biografi Ibnu Qayyim Al-JauziyyahF. Guru-Guru Beliau Yang TerkenalIbnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah menuntut ilmu kepada banyak guru, diantaranya:Qayyimul Jauziyah rahimahullah, ayahanda beliau sendiri.Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah. Kepada gurunya ini, beliau ber-mulazamah (menemani dengan lekat) dan memperdalam ilmu agama. Beliau juga membaca berbagai kitab di hadapan gurunya.Mulazamah beliau kepada Syaikhul Islam dimulai tahun 712 H hingga gurunya ini wafat dalam penjara Damaskus tahun 728 H.Guru beliau lainnya, yaitu Al-Mizzi rahimahullah.G. Murid-Murid BeliauIbnu Rajab al-Hanbali rahimahullah; ia dengan tegas menyatakan bahwa Ibnul Qayyim rahimahullah adalah gurunya. “Selama lebih dari satu tahun aku ber-mulazamah dengan mengikuti majelis-majelis ilmunya sebelum beliau wafat. Dan, aku memperdengarkan kepada beliau karya beliau al-Qasidatun Nuniyyah ath-Thawilah fis-Sunnah, serta beberapa karya tulis beliau lainnya.” Terang Ibnu Rajab.¹⁸Ibnu Katsir; ia berkata : “Aku termasuk muridnya yang paling sering mengikuti kajian keilmuannya dan termasuk yang paling ia cintai.”¹⁹Adz-Dzahabi; dalam kitabnya, al-Mu’jamul Mukhtash, menyatakan, Ibnul Qayyim adalah gurunya.²⁰Ibnu Abdil Hadi rahimahullah; sebagaimana yg dikatakan oleh Ibnu Rajab; “Kalangan orang-orang terhormat senantiasa memuliakan beliau (Ibnul Qayyim) dan mereka berguru kepadanya, seperti Ibnu Abdil Hadi dan yang lainnya.”²¹Al-Fairuz Abadi; penulis al-Qamus al-Muhith, sebagaimana yg dituturkan oleh asy-Syaukani, berkata: “Kemudian, al-Fairuz Abadi melakukan perjalanan ke Damaskus dan sampai disana pada tahun 755 H.²² Ia memperoleh ilmu dari Taqyuddin as-Subki dan sejumlah alim ulama disana yg jumlahnya lebih dari seratus orang, termasuk diantaranya Ibnul Qayyim.”²³¹⁸ Dzail Thabaqatil Hanabilah (II/418-447 dan 450)¹⁹ Al-Bidayah wan Nihayah (XIV/234-235)²⁰ Biografi no. 347²¹ Dzail Thabaqatil Hanabilah (II/449)²² Demikianlah redaksi yg terdapat dlm naskah aslinya. Ini merupakan suatu kesalahan yg fatal, karena Ibnul Qayyim wafat pd tahun 751 H.²³ Al-Badrut Thali’ (XII/270-271)
Orang tua harus memberi pemahaman kepada anak mengenai alasan mengapa ia dihukum. Dengan begitu anak akan mengetahui dan memahami bahwa hukuman memiliki makna yang berkaitan dengan perkara yang tidak baik. Hal ini sangat penting karena tujuan utama menghukum anak adalah untuk pembelajaran dan membiasakannya melakukan kebenaran. Penjelasan dan pemberitahuan ini sering diabaikan oleh para orang tua dan guru.
Tidak dibenarkan meminta Allah sebagai perantara kepada makhluknya
Bab 5 Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ1. Nasab Mulia Orang Tua Nabi: Nabi Muhammad ﷺ lahir dari pernikahan Abdullah bin Abdul Mutthalib dan Aminah binti Wahb, di mana garis keturunan (nasab) kedua orang tua beliau bertemu pada leluhur yang sama, yaitu Kilab.2. Bantahan Riwayat Palsu Abdullah: Kisah-kisah tentang Abdullah yang memiliki istri lain, ditawarkan wanita pezina, atau memiliki cahaya fisik yang berpindah saat mendatangi Aminah adalah riwayat lemah, palsu, dan bentuk sikap ekstrem (ghuluw) yang mengada-ada.3. Hakikat Cahaya Nabi ﷺ Bukan Fisik: Nabi Muhammad ﷺ disebut sebagai "lampu yang bercahaya" (sirajan munira) dalam QS. Al-Ahzab: 45-46. Maknanya adalah cahaya maknawi (sumber kebenaran/petunjuk) yang menyinari manusia dari kegelapan syirik, serta lambang ketampanan dan kecerahan wajah beliau—bukan berupa sinar fisik yang memancar, sehingga klaim Nabi tidak memiliki bayangan adalah dusta.4. Bukti Hadis Aisyah tentang Rumah yang Gelap: Dalam dua riwayat berbeda, Aisyah رضي الله عنها menceritakan bahwa ia harus melipat kaki saat Nabi hendak sujud dan pernah meraba-raba dalam kegelapan untuk mencari Nabi di tempat tidur. Hal ini membuktikan tubuh Nabi tidak mengeluarkan cahaya fisik yang menerangi ruangan.5. Kemanusiaan Nabi vs Ekspektasi Keliru: Anggapan bahwa Nabi harus memiliki ciri fisik super (seperti tubuh bercahaya) mirip dengan pola pikir keliru kaum musyrikin dahulu yang heran mengapa Rasul makan dan ke pasar (QS. Al-Furqan: 7 & 20). Padahal, para Rasul adalah manusia biasa.6. Bukti Sahabat Menaungi Nabi: Saat Haji Wada', para sahabat menaungi Nabi ﷺ dengan kain baju dari sengatan matahari. Jika fisik beliau memancarkan cahaya yang mengalahkan matahari, tindakan sahabat tersebut tentu akan sia-sia.7. Keyatiman Tertinggi Nabi ﷺ: Nabi Muhammad ﷺ lahir dalam keadaan yatim karena ayahnya wafat saat beliau masih di dalam kandungan. Menurut Ibnu Katsir, ini merupakan tingkat keyatiman tertinggi/paling utama (QS. Ad-Dhuha: 6).8. Pentingnya Menjaga Sahihnya Riwayat: Umat Muslim diimbau untuk berhati-hati dalam menukil kisah tentang Nabi ﷺ dan wajib mempelajari sirah nabawiyyah dari sumber serta guru yang terpercaya agar terhindar dari kedustaan.9. Hikmah keyatiman Nabi dan peran penting seorang ibu: Menutup Celah Tuduhan Penentang Islam: Nabi Muhammad ﷺ lahir sebagai anak yatim agar tidak ada celah bagi musuh-musuh Islam untuk menuduh bahwa ajaran Islam berasal dari didikan atau pemikiran ayah beliau. Allah ﷺ berkehendak untuk mendidik Rasulullah ﷺ secara langsung. Motivasi Bagi Anak Yatim: Kisah hidup Nabi Muhammad ﷺ menjadi bukti nyata bahwa status keyatiman bukanlah penghalang untuk mencapai kesuksesan dan kemuliaan tertinggi di dunia. Membentuk Pribadi yang Kuat dan Mandiri: Status yatim sejak lahir menjauhkan Nabi ﷺ dari kemewahan serta kesenangan duniawi sejak dini. Hal ini menjadi bentuk persiapan fisik dan mental dari Allah agar beliau menjadi pribadi yang tangguh untuk mengemban tanggung jawab berat sebagai pembawa risalah seluruh umat manusia. Pentingnya Peran Ibu dalam Mendidik Anak: Rasulullah ﷺ dirawat dan dididik oleh ibunya, Aminah. Pola ini serupa dengan kisah para nabi besar lainnya (seperti Nabi Ismail, Nabi Musa, dan Nabi Isa) yang mayoritas tumbuh di bawah asuhan ibu mereka. Hal ini menegaskan urgensi luar biasa dari peran seorang ibu dalam mendidik anak. Urgensi Memilih Calon Ibu yang Saleh: Pentingnya peran ibu memunculkan kewajiban untuk memilih wanita yang salehah sebagai calon ibu. Hal ini digambarkan lewat pepatah Arab kuno: "Ibu itu bagai madrasah (sekolah). Jika engkau mempersiapkannya dengan baik, maka akan terlahir darinya bangsa yang mulia."
Waktu ujian itu lamanya sesuai dengan usia kita, bila kita telah mati maka selesai pula ujian hidup yang diberikan Allah kepada kita. Tinggal menunggu hasil ujiannya, jika hasilnya bagus kita akan mendapatkan hadiah seperti yang dijanjikan oleh Allah, yaitu kehidupan yang abadi di surga. Tetapi jika hasil ujiannya buruk, neraka yang akan jadi tempat kembalinya. Naudzubillah min dzalik
Dalam al Quran, Allah menyebutkan malaikat yang mencabut nyawa hamba dalam beberapa ayat.Disebagian ayat disebutkan bahwa yang mewafatkan hamba ada banyak malaikat, seperti di surat Al An’am: 61 dan Al A’raf: 37Di sebagian ayat ditegaskan bahwa yang mencabut nyawa adalah seorang malaikat yaitu malaikat maut seperti di surat As Sajdah: 11.Siapakah pencabut nyawa itu?Dalam Al Quran Allah menyebut Malaikat pencabut nyawa dengan sebutan malakul mauf (malaikat kematian) seperti di surat As Sajdah: 11Adakah malaikat Izrail?Nama Izrail tidak ada dalam Al Quran dan juga tidak dijumpai hadis shahih. Bahkan sebagian ulama menilai bahwa nama Izrail bersumber dari berita Israiliyat. Seperti keterangan Syaikh Al Albani yang mengatakan:“Malaikat maut itulah nama yang disebutkan dalam Al Quran, adapun penyebutannya dengan nama Izrail sebagaimana yang populer di kalangan manusia, tidak memiliki dasar (dalil) yang shahih, melainkan berasal dari kisah-kisar Israiliyat (riwayat dari Bani Israil)”[Hamisy al Aqidah at Thahawiyah, hlm 71]Oleh karena itu, sebaiknya kita menyebut nama Malaikat pencabut nyawa dengan Malakul Maut atau malaikat mautkarena inilah nama resmi yang ada dalm al Quran bukan menyebutnya dengan nama Izrail.Buku: Bila Kumati. Catatan Tentang Peristiwa Kea Ty matian.Karya: Ammi Nur Baits
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At-Taubah: 111)
"Jika suaminya berkata maka dia tidak pernah membantahnya."Salah satu sifat wanita shalihah adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan keinginan suami. Ia senantiasa berusaha menyelaraskan langkah dan sikapnya agar sejalan dengan arah yang ditunjukkan sang pemimpin rumah tangga. Dengan penuh cinta dan kerendahan hatinya dalam bertutur dalam melayani suaminya.Perkataan sederhana dalam bentuk melayani suaminya itu bukan bentuk kelemahan, melainkan kekuatan--karena lahir dari keihklasan dan kesadaran bahwa taat kepada suami adalah bagian dari taat kepada Allah ﷻ
Beberapa hal yang anak ingat sampai dewasa bukanlah hadiah, liburan, atau mainan yang pernah dibelikan.Tapi siapa yang hadir saat mereka bercerita.Siapa yang mendengar dengan penuh perhatian.Siapa yang meluangkan waktu ketika dunia terasa begitu sibuk.Anak-anak tidak menghitung berapa banyak yang kita miliki.Mereka merasakan berapa banyak waktu yang kita berikan.Karena bagi anak, waktu adalah bahasa cinta yang paling mudah mereka pahami.Dan sering kali, bukan kualitas yang kurang.Tapi kuantitas yang tidak pernah sempat diberikan.“Mereka butuh waktu bersama ayah mereka setiap hari.”Mungkin tidak harus berjam-jam.Kadang cukup menemani makan, mengantar sekolah, mendengar cerita sebelum tidur, atau sekadar hadir tanpa terganggu layar.Sebab sejak kecil, anak mampu membaca apa yang benar-benar penting bagi orang tuanya.❤️ Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna.Mereka membutuhkan orang tua yang hadir.
10. Menuduh ZinaPerbuatan ini mengandung unsur pelanggaran terhadap harga diri orang lain dan menyebarluaskan kedengkian.Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Al-Qur'an Surah An-Nur ayat 23–24 yang artinya:«“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman, berbuat zina, mereka mendapat laknat di dunia dan di akhirat dan bagi mereka azab yang besar. Pada hari ketika lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”»Kemudian Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surah An-Nur ayat 4 yang artinya:«“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik berbuat zina dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka yang menuduh itu delapan puluh kali dera dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya dan mereka itulah orang-orang yang fasik.”»Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:«“Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.”»Para sahabat bertanya, “Apa saja itu, wahai Rasulullah?”Beliau menjawab:«“Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah tanpa alasan yang dibenarkan, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri saat berkecamuk perang, dan menuduh zina wanita yang baik-baik, beriman dan lalai dari kemaksiatan.”»Hadis riwayat Bukhari dan Muslim.Maka, berhentilah dari kebiasaan mencederai harga diri orang lain dengan lisan.
Hak Ekonomi Anak-anakAnak adalah amanah dan perhiasan dunia. Islam sangat memperhatikan hak anak, termasuk hak atas harta.Sejak masih dalam kandungan, anak memiliki hak untuk mendapatkan warisan, menerima wakaf, dan wasiat.Islam melarang tindakan zalim terhadap anak karena dianggap sebagai beban ekonomi keluarga. Membunuh anak karena takut miskin merupakan dosa besar.Ayah wajib memenuhi kebutuhan anak sesuai kemampuannya, meliputi makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, dan pendidikan.Nafkah keluarga merupakan amal yang besar di sisi Allah. Jika orang tua/wali tidak mampu menafkahi, negara bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anak.Kebutuhan anak dapat mengambil porsi cukup besar dari anggaran rumah tangga, sehingga perlu dikelola dengan baik.Pendidikan Ekonomi untuk AnakTujuan pendidikan ekonomi dalam Islam bukan sekadar membuat anak mendapatkan pekerjaan bergaji tinggi, tetapi agar mereka mandiri secara finansial dan mampu mengelola harta sesuai syariat.Prinsip yang perlu ditanamkan sejak kecil:Harta adalah milik Allah, sehingga harus digunakan sesuai perintah-Nya.Tidak berlebihan dan boros, meskipun memiliki banyak harta.Membiasakan jujur, amanah, bersyukur, dan dermawan.Menjauhi sifat egois, kikir, dan tamak.Mengenalkan pekerjaan atau cara memperoleh harta yang halal, serta menjauhi pencurian dan penipuan.Intinya: Anak bukan hanya memiliki hak untuk dinafkahi, tetapi juga perlu dididik agar memiliki sikap yang benar terhadap harta—menggunakannya secara halal, tidak berlebihan, dan ber tanggung jawab.
Tidak ada hadist shahih ttg mengusap muka setelah berdo’aKarna tidak ad contohbdari nabi jd bid’ah
Kandungan Bab 9 (Bag-2)14. Segala pintu menuju perbuatan syirik harus di tutup.15. Dilarang meniru atau melakukan sesuatu perbuatan orang-orang Jahiliyah.16. Boleh marah Ketika menyampaikan pelajaran.17. Kaidah umum, bahwa di antara umat ini ada yang melakukan perbuatan syirik dan mengikuti tradisi-tradisi umat sebelumnya; berdasarkan sabda beliau, “Itulah orang-orang sebelum kamu…” dst.18. Ini adalah salah satu dari tanda kenabian , karena terjadi sebagaimana yang beliau beritakan.19. Celaan yang ditunjukkan Allah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang terdapat dalam al-Qur`an, berlaku pula untuk kita.20. Menurut mereka (para sahaba) sudah menjadi ketentuan bahwa amalan-amalan ibadah harus berdasarkan pada perintah Allah, [bukan mengikuti keinginan, pikiran atau hawa nafsu sendiri]. Dengan demikian, hadits tersebut diatas mengandung suatu isyarat tentang hal-hal yang akan ditanyakan kepada manusia di alam kubur. Adapun “Siapakah Tuhanmu?” sudah jelas; sedangkan “Siapakah Nabimu?” Berdasarkan keterangan ghaib yang beliau beritakan akan terjadi; dan “Apa Agamamu?” Berdasarkan pada ucapan mereka, “Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka itu mempunyai sesembahan…” dst.21. Tradisi Ahli Kitab itu tercela, seperti halnya tradisi kaum musyrikin.22. Bahwa orang yang baru saja pindah dari tradisi batil yang sudah menjadi kebiasaan dirinya, tidak bisa di pastikan secara mutlak bahwa dirinya terbebas dari sisa-sisa tradisi tersebut, sebagai buktinya mereka mengatakan, “… sedang kami dalam keaadan baru terlepas dari kekafiran (masuk islam).” Dan mereka pun belum terlepas dari tradisi kafir, karena kenyataanya mereka meminta dibuatkan Dzatu Anwath sebagaimana yang dimiliki kaum musyrikin.
Nabi صلى الله عليه وسلم menjelaskan bahwa Nabi Musa lupa terhadap janjinya ketika ia mengingkari perbuatan Nabi Khadhir. Nabi Musa lupa bahwa seharusnya ia bersabar dan tidak bertanya sampai Nabi Khadhir menjelaskan tindakan yang dilakukannya.Sebagian ulama berpendapat bahwa sifat Nabi Musa yang sangat mengingkari kemungkaran membuatnya lupa bahwa ia dan Nabi Khadhir juga merupakan penumpang kapal tersebut. Ia terlupa bahwa tidak mungkin ia dan para penumpang tenggelam, karena Nabi Khadhir tidak mungkin melubangi kapal tersebut dengan tujuan agar mereka semua tenggelam.Mengapa Nabi Musa bisa lupa? Karena kejadian tersebut dianggap sebagai suatu kemungkaran yang membuatnya kehilangan fokus dan lupa bahwa ia seharusnya tidak bertanya-tanya.Maksud dari ungkapan “janganlah kamu membebani” adalah “janganlah kamu merepotkan aku”, karena Nabi Khadhir memahami bahwa Nabi Musa benar-benar lupa. Akhirnya, Nabi Khadhir memaafkan Nabi Musa karena ia lupa dan tidak melakukannya dengan sengaja. Kemudian, mereka berdua melanjutkan perjalanan.
Lingkungan bisa membentuk cara kita merasa.Lingkungan yg sehat melahirkan pikiran yg tenang
Menjadi Ayah Adalah Sebuah ProsesMenjadi ayah bukan sesuatu yang terjadi begitu saja ketika seorang laki-laki memiliki anak.Menjadi ayah juga bukan sekadar karena seseorang mendapat sebutan atau panggilan “Ayah”.Menjadi ayah adalah sebuah proses hubungan yang berlangsung seumur hidup antara seorang ayah dan anaknya.Hubungan itu perlu terus dipupuk dan dipelihara, hingga tumbuh sebuah hubungan yang dilandasi kepercayaan (trusting relationship) dari seorang anak kepada ayahnya.Dalam berbagai seminar dan konseling yang saya lakukan, saya menemukan banyak kasus tentang hubungan anak dengan ayahnya, baik pada usia remaja maupun ketika mereka telah dewasa.Ada pengalaman-pengalaman buruk bersama ayah yang ternyata masih membekas begitu dalam. Luka tersebut bahkan dapat terbawa hingga mereka dewasa dan berakhir menjadi kepahitan.Yang cukup menyedihkan, dalam beberapa kasus saya menemukan pola pada anak laki-laki yang membenci ayahnya. Tanpa disadari, terjadi proses “penjiplakan”: semakin ia membenci ayahnya, semakin ada bagian dari dirinya yang justru menyerupai sang ayah.Jika tidak disadari dan tidak terjadi rekonsiliasi, pola tersebut tentu dapat membawa dampak besar dalam kehidupan anak di kemudian hari.Dari berbagai pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa anak-anak tidak membutuhkan ayah yang sekadar hadir karena statusnya sebagai ayah.Anak-anak tidak membutuhkan ayah yang:- hanya mampu bersuara keras, tetapi tidak mampu memimpin;- mudah berjanji, tetapi lupa menepati;- berkomunikasi hanya satu arah dan tidak mau membuka telinga untuk mendengarkan kata hati anaknya;- begitu sibuk dengan karier dan sangat peduli kepada rekan-rekannya di luar rumah, tetapi begitu mahal memberikan waktu untuk anak-anaknya.Lalu, ayah seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan anak?Anak-anak membutuhkan ayah yang sederhana dan bersahaja dalam menjalani hidup, tetapi penuh tanggung jawab dalam menjalankan perannya.Ayah yang memberikan keteladanan, keteduhan, dan rasa aman, sehingga anak merasa memiliki ruang untuk berekspresi dan menjadi dirinya sendiri.Anak juga membutuhkan seorang ayah yang mencintai dan menghormati istrinya dengan setia.Sebab, dari hubungan kedua orang tuanya, anak belajar banyak hal tentang bagaimana sebuah pernikahan seharusnya dijalani.Ketika seorang anak melihat ayahnya menjaga kesetiaan, menghormati ibunya, dan memperlakukan pernikahan dengan penuh tanggung jawab, ia mendapatkan sebuah teladan yang kelak dapat ia bawa ketika membangun rumah tangganya sendiri.Pada akhirnya, menjadi ayah bukan tentang sebutan.Bukan pula sekadar tentang memenuhi kebutuhan anak secara materi.Menjadi ayah adalah tentang membangun hubungan, menjaga kepercayaan, memberikan teladan, dan terus hadir dalam perjalanan hidup anak.Karena hubungan seorang ayah dengan anaknya bukan hubungan yang selesai ketika anak tumbuh dewasa.Ia adalah hubungan yang perlu dirawat seumur hidup.
Allah memuliakan wanita, menyamakan hak dan kewajibannya dalam beribadah seperti laki-laki. Seperti amalan shalat, zakat atau berpuasa.
Biografi Ibnu Qayyim Al-JauziyyahE. Perpustakaan Beliau.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah sangat gemar mengoleksi kitab. Ini sebagai bukti kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, baik untuk penelitian maupun membuat tulisan, sebagai bacaan maupun untuk bahan ajaran.Murid-murid beliau telah mendeskripsikan perpustakaan beliau dengan begitu baik. “Beliau sangat mencintai ilmu pengetahuan dan menuliskannya, mengkaji dan membuatnya dalam sebuah karya tulis. Koleksi kitab cukup banyak, diantaranya ada beberapa kitab yang tidak dimiliki oleh orang lain.” Tutur Ibnu Rajab⁴Ibnu Katsir berkata : “Beliau mendapatkan kitab-kitab, baik karya para ulama salaf maupun karya ulama khalaf, yang sepersepuluhnya tidak didapatkan oleh orang lain.”¹⁵Aku berkata: “Kendati demikian, dengan segala kerendahan hati, Ibnul Qayyim menuturkan : ‘Kitab-kitab yang kami miliki hanya cukup sebagai bekal ilmiah semata.’”¹⁶¹⁴ Dzail Thabaqatil Hanabilah (II/449)¹⁵ Al-Bidayah wan Nihayah (XIV/235)¹⁶ Ighatsatul Lahfan (I/329)