📚 Jejak Pustaka

Laporan & catatan kegiatan Jejak Pustaka

✏️ Buat Laporan
📚 Jejak Pustaka6 hari lalu
E

Exa Betti Aldila

📍 Kabupaten Magelang

Mengelola Keuangan Rumah Tangga Islami - Dr. Labib Najib Abdullah

Wanita Bekerja1. Hukum wanita bekerjaPada dasarnya, wanita boleh bekerja di luar rumah, selama memenuhi batasan-batasan syariat.Hukumnya dapat berubah menjadi sunnah atau wajib apabila ada kebutuhan tertentu, dan dapat menjadi haram jika melanggar ketentuan syariat.Peran utama wanita tetap mencakup mendidik anak, mengatur rumah, dan melayani suami.2. Ketika wanita perlu bekerja Wanita dapat bekerja apabila terdapat kebutuhan, misalnya:Tidak ada pihak yang menafkahi dirinya.Menjadi janda atau berpisah dengan suami dan perlu memenuhi kebutuhan hidup.Membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.Membantu biaya pendidikan anak/adik.Merawat atau membantu orang tua yang sudah lanjut usia.3. Pekerjaan yang sesuaiPekerjaan wanita harus tetap memperhatikan aturan dan batasan syariat.Pekerjaan yang membutuhkan keahlian wanita seperti dokter, perawat, guru, atau profesi lainnya dapat menjadi pekerjaan yang bermanfaat bagi masyarakat.Tetap perlu menjaga kehormatan, aurat, interaksi dengan lawan jenis, dan kewajiban terhadap keluarga.4. Izin suamiJika wanita telah menikah, pekerjaan dan aktivitas di luar rumah perlu memperhatikan izin serta kesepakatan dengan suami.Suami juga tidak semestinya melarang tanpa alasan yang benar apabila pekerjaan tersebut dibutuhkan dan sesuai syariat.Dalam kehidupan rumah tangga, keputusan sebaiknya dilakukan dengan musyawarah dan mempertimbangkan kepentingan keluarga.5. Menjaga adab ketika keluar rumah Wanita muslimah dianjurkan menjaga:Pakaian dan auratCara berbicara dan berinteraksiTidak berduaan dengan laki-laki yang bukan mahramTidak menimbulkan fitnahTetap menjaga kehormatan dan keamanan diri.Intinya:Wanita bekerja bukan sesuatu yang otomatis haram. Hukumnya bergantung pada kebutuhan, jenis pekerjaan, kondisi keluarga, izin/kesepakatan suami, serta terpenuhi atau tidaknya batasan syariat. Pekerjaan tidak boleh sampai mengabaikan kewajiban dan keharmonisan rumah tangga

💬 0 komentar📅 10 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka3 hari lalu
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

The Barakah Effect - Barakah Culture

Makin baca The Barakah Effect, makin merasa bahwa solusi dari hustle culture ternyata bukan sekadar “slow down”. Kita bisa mengurangi kesibukan, hidup minimalis, ambil waktu untuk retreat, atau belajar lebih mindful dan itu semua memang baik. Tapi kalau cara pandang kita terhadap kesuksesan masih sama, akar masalahnya belum benar-benar berubah.Yang ditawarkan adalah Barakah Culture: sebuah cara pandang yang berakar pada iman. Jadi kita nggak hanya bertanya, “Berapa banyak yang bisa aku capai?” tapi juga, “Apakah yang aku kejar ini membawa keberkahan?” Karena mungkin yang kita butuhkan bukan hidup yang semakin penuh, melainkan hidup yang lebih bermakna dengan apa yang Allah sudah titipkan.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka6 hari lalu
D

Dewi Hajar Novanda

📍 Kota Depok

Bab 14 - Strategi Riil Orang Tua untuk Menangani Kemarahan

Strategi Riil Orang Tua untuk Menangani KemarahanSetiap orang tua memiliki cara yang berbeda untuk mengelola emosi saat menghadapi perilaku anak. Tidak ada satu cara yang cocok untuk semua orang. Dari berbagai pengalaman para orang tua, ada beberapa pola yang bisa dipelajari dan dicoba sesuai kebutuhan masing-masing.1. Mengambil Jeda Sebelum BereaksiKetika emosi mulai memuncak, banyak orang tua memilih untuk menjauh sejenak agar tidak bereaksi secara impulsif.Contohnya:Berjalan ke dapur atau kebun.Mengambil napas dalam-dalam.Keluar dari ruangan untuk menenangkan diri.Menutup pintu kamar beberapa saat hingga emosi lebih terkendali.Tujuannya: memberi ruang bagi diri sendiri untuk kembali tenang sebelum merespons anak.---2. Mengubah Suasana agar Ketegangan MencairTerkadang cara tercepat meredakan emosi adalah mengubah suasana hati seluruh keluarga.Contohnya:Mengajak anak tertawa.Menggelitik anak.Mengajak anak keluar rumah untuk melihat ayam atau menikmati suasana luar.Manfaatnya: tawa dan aktivitas ringan sering kali membantu mengurangi ketegangan yang sedang meningkat.---3. Mengingat Bahwa Selalu Ada Alasan di Balik Perilaku AnakBanyak orang tua merasa lebih tenang ketika berusaha memahami kebutuhan di balik perilaku anak.Mereka mengingatkan diri bahwa anak mungkin:Terlalu lelah.Terlalu banyak menerima stimulasi.Bosan.Membutuhkan perhatian.Sedang kesulitan menghadapi emosinya sendiri.Salah satu pemikiran yang sangat membantu adalah:> "Dia tidak sedang membuat saya mengalami waktu yang sulit. Dia sedang mengalami waktu yang sulit."Fokusnya: mencari penyebab perilaku, bukan hanya bereaksi terhadap perilaku itu sendiri.---4. Menggunakan Momen Sulit untuk Mengenal Diri SendiriSebagian orang tua menyadari bahwa perilaku anak kadang memunculkan luka atau perasaan yang belum selesai dalam diri mereka.Yang mereka lakukan:Mengamati emosi yang muncul.Bertanya kepada diri sendiri mengapa mereka bereaksi seperti itu.Menggunakan pengalaman mengasuh sebagai kesempatan untuk bertumbuh.Mereka menyadari bahwa:> Pengasuhan sering kali menjadi pengalaman yang membuat seseorang lebih rendah hati dan lebih mengenal dirinya sendiri.---5. Mengingatkan Diri tentang Cinta kepada AnakSaat stres mulai meningkat, beberapa orang tua sengaja mengucapkan:> "Aku mencintaimu."Kalimat ini bukan hanya ditujukan kepada anak, tetapi juga sebagai pengingat bagi diri sendiri untuk:Tetap hadir secara emosional.Tidak sekadar bereaksi.Mengingat hubungan yang lebih besar daripada masalah yang sedang terjadi.---6. Bertanya "Mengapa?"Ketika frustrasi muncul, beberapa orang tua memilih berhenti sejenak lalu bertanya:Mengapa saya bereaksi seperti ini?Mengapa anak saya bertindak seperti ini?Pertanyaan sederhana ini membantu mereka berpindah dari mode marah menjadi mode memahami.---7. Memenuhi Kebutuhan Diri SendiriBeberapa orang tua menyadari bahwa kemarahan sering meningkat ketika kebutuhan mereka sendiri tidak terpenuhi.Yang mereka lakukan:Memastikan mendapat waktu untuk diri sendiri.Mencari kesempatan beristirahat.Memprioritaskan tidur yang cukup.Pesannya: orang tua yang kelelahan lebih sulit mengelola emosi.---8. Mengingat Siapa yang Masih Belajar Mengelola EmosiKetika menghadapi ledakan emosi anak, salah satu orang tua mengingatkan dirinya:> "Siapa di antara kami yang sebenarnya belum memiliki keterampilan mengelola emosi yang kuat?"Jawabannya tentu anak.Kesadaran ini membantu orang tua:Menjadi lebih sabar.Menjadi tempat yang aman bagi anak.Menjadi "jangkar emosi" ketika anak sedang kesulitan.---9. Memberikan Koneksi Sebelum KoreksiKetika anak menjadi sangat sensitif atau merengek, sebagian orang tua memilih mendekat terlebih dahulu.Contohnya:Berlutut agar sejajar dengan anak.Mengatakan bahwa mereka mencintainya.Memberikan pelukan erat.Mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang dirasakan anak.Sering kali mereka menemukan bahwa:Ada alasan yang valid di balik perilaku anak.Anak sebenarnya sedang membutuhkan hubungan dan rasa aman.---10. Mencari Dukungan dari PasanganMengasuh anak tidak harus dilakukan sendirian.Beberapa orang tua:Menelepon pasangan untuk curhat ketika frustrasi.Meminta pasangan mengambil alih sementara saat emosi sedang tinggi.Memanfaatkan beberapa menit waktu tenang untuk memulihkan diri.Terkadang, beberapa menit istirahat dapat membuat perbedaan yang besar.---11. Menerima Bahwa Kita Tidak Akan SempurnaTidak ada orang tua yang selalu berhasil mengendalikan emosi.Salah satu orang tua mengaku:> "Sepuluh persen waktunya saya kehilangan kesabaran dan menjadi Ibu Pembentak. Sembilan puluh persen lainnya saya berhenti, menjauh, dan mencoba memahami masalahnya."Yang terpenting bukanlah menjadi sempurna, melainkan:Menyadari ketika kita salah.Mengakui kesalahan kepada anak.Meminta maaf.Memperbaiki hubungan setelahnya.Dengan begitu, anak belajar bahwa:Semua orang bisa melakukan kesalahan.Kesalahan dapat diperbaiki.Hubungan bisa dipulihkan setelah konflik.---Inti dari Semua Strategi Ini✨ Berhenti sejenak sebelum bereaksi.✨ Cari kebutuhan di balik perilaku anak.✨ Bangun koneksi sebelum memberi koreksi.✨ Rawat kebutuhan diri sendiri.✨ Minta bantuan ketika diperlukan.✨ Terima bahwa orang tua tidak harus sempurna.Karena tujuan pengasuhan bukan menjadi orang tua yang tidak pernah marah, melainkan menjadi orang tua yang mampu kembali tenang, memperbaiki kesalahan, dan terus belajar bersama anak. 💛

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka6 hari lalu
H

Halida Achmad Bagraff

📍 Kota Surabaya

Ringkasan sub bab Godan Setan menjelang kematian

“Amal perbuatan itu bergantung pada penutup (akhir)nya.” (Majmu’ Fatawa, 4/256)Diantara manusia ada yang diajak setan untuk pindah agama menjelang kematiannya, dan ada pula yang tidak digoda untuk pindah agama. Dan semua itu termasuk dalam ujian hidup dan mati (fitnatul mahya wal mamat) dimana kita diajarkan untuk berlindung kepada Allah darinya.Buku: Bila Kumati. Catatan Tentang Peristiwa Kematian.Karya: Ammi Nur Baits

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka6 hari lalu
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Root & wings 1 - pengenalan terhadap berbagai bidang kreatif kepada anak

Kreativitas tidak bisa muncul begitu saja. Menurut sebuah penelitian (Weisberg, 1992), "Pemikiran kreatif yang luar biasa tidak muncul dengan sendirinya. Sebaliknya, itu merupakan hasil pembelajaran, pemikiran, dan persiapan selama bertahun-tahun." Anak-anak sangat dipengaruhi pancingan dan dukungan sosial dari lingkungan mereka.Mereka butuh lingkungan yang dipahat dengan hati-hati lewat pengenalan terhadap berbagai bidang kreatif yang luas secara konsisten. Secara puitis Einstein menyebutnya kenikmatan melihat dan mencari.Perkenalkan anak terhadap minat kreatif yang beragam.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka6 hari lalu
P
Puji

📍 Purwakarta

Berhentilah membesar-besarkan beban kerja anda

Berhentilah membesar-besarkan beban kerja andaSumber : Don't sweat the small stuff with your family Meskipun beban kerja di rumah yang mesti diselesaikan dalam tenggang waktu yang teratur memang sangat banyak terdapat dipungkiri lagi ada kecenderungan yang sifatnya hampir universal yaitu terlalu membesar-besarkan jumlah beban kerja dan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Sebelum anda melompat ke hadapan saya dan berkata "ngomong memang gampang beban kerja saya tidak lebih-lebihkan." Saya akui saya sama buruknya dengan orang lain dalam masyarakat bendungan ini. Sering Saya menyadari bahwa berkali-kali saya berkata, "Aku seharian bersih-bersih terus" atau "aku perlu 4 jam untuk membersihkan loteng". Pernyataannya saya bersih-bersih baling-baling cuma beberapa jam atau membersihkan loteng pun hanya satu dua jam. Seorang teman biasa berkata "bisa seharian memberi makan buat kalian" kepada anak-anaknya. Dan meskipun memang benar ia mengurusi anak-anaknya hampir sepanjang hari, dalam meskipun memberi makan merupakan proses yang signifikan ia kini mengakui bahwa untuk menyiapkan memberi makan dan beres-beres setelah makan ternyata hanya memakan waktu selama satu setengah jam. Ini tampak sangat berat karena jika anda membesar-besarkan jumlah energi yang dihabiskan untuk melakukan banyak kegiatan akan mudah menjadi tampak melelahkan seakan-akan seluruh hidup Anda tak bisa dimanfaatkan untuk apa-apa lagi selain tugas-tugas. Sayangnya pola semacam ini terjadi semacam simbol status, baik itu berupa kelihatan lebih sibuk daripada orang lain mengeluh ke teman-teman ke pasangan dan ke anak-anak mengenai semua yang kita kerjakan. Anda praktis tidak pernah mendengar seseorang mengaku telah menghabiskan waktu setengah jam untuk bersantai atau membaca majalah di sofa atau bahwa ia telah mengingat bahwa seorang teman baik selama beberapa waktu meskipun kenyataannya kegiatan ini mungkin merupakan bagian kecil hari anda. Sepintas selalu tampaknya bukan masalah besar bila kita agak melebih-lebihkan pekerjaan yang kita lakukan di rumah. Tetapi bila Anda mencermatinya Anda akan menemukan fakta yang mengejutkan. Bila anda melebih-lebihkan pekerjaan daripada yang sesungguhnya anda lakukan ini membutuhkan banyak energi mental menjadikannya tidak proporsional dan membuat hidup anda tampak lebih suka daripada yang sebenarnya. Ini juga akan membuat Anda menyesali diri dan menciptakan perasaan tak berdaya. Mau dibelikan juga ikut andil terhadap kelelahan mental dan fisik karena selalu mengingatkan anda seberapa banyak yang harus dilakukan sudah berapa tugas yang telah dikerjakan dan betapa sedikitnya waktu yang ada untuk mengerjakannya semua. Akhirnya ini akan membuat Anda jauh dari perasaan bersyukur karena anda jadi kehilangan perspektif dan kesabaran. Dengan kata lain bukannya membuat anda menerima semua tanggung jawab merawat rumah sebagai sebagian dari paket keseluruhan artinya kalau punya rumah memang harus bertanggung jawab perawatnya pola ini justru mendorong Anda memfokuskan diri pada jumlah pekerjaan yang harus dilakukan. Anda kehilangan pandangan akan gambaran yang lebih besar dan akhirnya membenci apa yang kenyataannya justru merupakan keistimewaan. Sekali lagi saya ingin menekankan bahwa saya tidak bermaksud mengatakan bahwa pekerjaan rumah tangga itu bukannya tidak banyak. Percayalah Saya juga setuju dengan anda mengenai ini dan saya bukannya tidak menghargai pria atau wanita yang mau mengerjakan bagian tugas yang sulit ini yang kebanyakan kurang dihargai. Namun fakta yang ada jika anda menghindari kecenderungan melebih-lebihkan tugas daripada yang sebenarnya maka tingkat stres yang anda alami berkaitan dengan kehidupan rumah tangga akan jauh menurun .Anda akan mampu menghargai waktu santai dan saat-saat anda menikmati sendirian dan tidak lagi memfokuskan diri pada bahwa hidup anda cuma berupa rentetan tugas-tugas rumah tangga. Mulailah dari hal ini cobalah untuk menghilangkan kecenderungan membesar-besarkan beban kerja sehingga Anda dapat terfokus pada kegembiraan hidup.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka6 hari lalu
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Sedekahkan 1 dapatkan 700 kali lipat

Umar bin Khaththâb رضي الله عنه pada saat itu memiliki harta kekayaan untuk disedekahkan. Dalam hatinya, ia merenung, “Setiap kali Abu Bakar selalu membelanjakan hartanya lebih banyak dari apa yang telah aku belanjakan di jalan Allah.” Karena tidak mau kalah dengan Abu Bakar, Umar bertekad untuk membelanjakan setengah hartanya di jalan Allah ﷻ. Kemudian ia pulang untuk mengambil harta yang akan disedekahkannya. Ia pulang dengan perasaan gembira sambil membayangkan bahwa pada hari itu ia akan bersedekah melebihi Abu Bakar. Lantas Umar membawa harta itu kepada Rasulullah ﷺ. Pada saat itu beliau ﷺ bertanya kepada Umar, yang artinya: “Apa ada yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, hai Umar?” Umar pun menjawab, “Ya, ada yang aku tinggalkan, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bertanya lagi, “Seberapa banyak yang telah kamu tinggalkan untuk keluargamu?” Ia menjawab, “Aku tinggalkan setengahnya.” Tidak berapa lama kemudian Abu Bakar datang dengan membawa seluruh harta bendanya ke hadapan Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ bertanya kepada Abu Bakar, “Apakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, hai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Aku meninggalkan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka (saya tinggalkan dengan keberkahan nama Allah ﷻ dan Rasul-Nya serta keridhaan-Nya).” Mendengar hal itu, Umar bin Khaththâb berkata, “Sejak saat itu, aku mengetahui bahwa aku tidak akan pernah bisa melebihi Abu Bakar.” (HR Tirmidzi. Diriwayatkan oleh Tirmidzi, Kitab al-Manâqib; Bab fi Manâqib Abi Bakr, no.3675. Tirmidzi berkata, “Hadis ini hasan shahih.”)

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka6 hari lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Kisah Nabi dan Rasul

Nabi Musa bertekad untuk berjalan dalam waktu yang lama. Ada khilaf di antara para ulama tentang makna kata tersebut: ada yang mengatakan setahun; ada yang mengatakan bertahun-tahun. Artinya, Nabi Musa berkeinginan kuat untuk mendatangi orang alim tersebut, Nabi Khadhir, meskipun harus berjalan puluhan tahun.Ini menunjukkan keagungan ilmu, di mana Nabi Musa tawaduk merendahkan dirinya, meninggalkan kaumnya yang begitu banyak hanya untuk menuntut ilmu. Padahal ilmu tersebut bukanlah ilmu yang berkaitan dengan pengaturan kaum Bani Israil.Ilmu yang dimiliki Musa tentu sudah lebih cukup untuk beriman kepada Allah جل جلاله dan untuk mengatur Bani Israil, akan tetapi Musa tetap semangat untuk menambah ilmu. Padahal Nabi Musa lebih mulia daripada Nabi Khadhir dengan kesepakatan para ulama.Ini menunjukkan bahwa Nabi Musa memiliki sifat tawaduk yang luar biasa. Hal ini juga mengajarkan bahwa tidak masalah bagi seseorang yang lebih mulia untuk menuntut ilmu dari orang yang mungkin berada di bawahnya, selama ada ilmu yang belum ia ketahui.Jangan sampai kemuliaannya menjadikannya angkuh sehingga enggan belajar.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka6 hari lalu
E

Exa Betti Aldila

📍 Kabupaten Magelang

Mengelola Keuangan Rumah Tangga Islami - Dr. Labib Najib Abdullah

Peran Wanita dalam Ekonomi Rumah Tangga1. Wanita sebagai pengelola ekonomi rumah tanggaTugas wanita bukan hanya merawat dan membahagiakan keluarga, tetapi juga mengelola urusan rumah tangga, termasuk ekonomi.Dalam Islam, setiap orang memiliki tanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Wanita memiliki tanggung jawab terhadap rumah dan keluarganya.Pengelolaan ekonomi rumah tangga oleh wanita turut memengaruhi perilaku ekonomi keluarga dan masyarakat.2. Hak kepemilikan wanitaIslam memberikan wanita hak memiliki harta secara mandiri, sebagaimana laki-laki, selama sesuai dengan syariat.Harta wanita dapat berasal dari mahar, warisan, pemberian, pekerjaan, maupun sumber lain yang halal.Wanita tidak boleh memperoleh harta dari cara yang haram atau pekerjaan yang dilarang.3. Hak warisWanita memiliki hak mendapatkan warisan dari orang tua dan kerabatnya.Besarnya bagian warisan ditentukan oleh ketentuan syariat, dan hak tersebut tidak boleh diambil atau diabaikan.4. Kebebasan mengelola hartaPada dasarnya wanita yang baligh, berakal, dan cakap mengelola harta memiliki kewenangan melakukan transaksi atas hartanya.Termasuk jual beli, sewa, kerja sama usaha, dan bentuk transaksi halal lainnya.Namun, dalam kehidupan rumah tangga, penggunaan harta sebaiknya tetap memperhatikan etika, komunikasi, dan kondisi keluarga.5. Hak terhadap maharMahar adalah hak milik wanita dan diberikan kepadanya dengan penuh kerelaan.Wanita berhak menentukan penggunaannya.Jika wanita memberikan sebagian maharnya kepada suami, hal itu harus dilakukan atas kerelaannya sendiri, bukan karena paksaan.6. Sedekah dan penggunaan hartaWanita juga memiliki kewenangan untuk menggunakan hartanya untuk bersedekah dan kebaikan.Dalam hadis, Nabi ﷺ menganjurkan para wanita untuk banyak bersedekah.Inti pembahasanIslam mengakui wanita sebagai pribadi yang memiliki hak ekonomi dan kepemilikan harta. Wanita berperan penting dalam mengelola ekonomi rumah tangga, memiliki hak atas mahar dan warisan, serta dapat mengelola hartanya sendiri selama dilakukan dengan cara yang halal dan bertanggung jawab

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka6 hari lalu
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Bab 8 tentang tamimah dan ruqyah

Bab 8 Tentang Ruqyah Dan TamimahDiriwiyatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Abu Basyir al-Anshari bahwa dia penah Bersama Rasulullah shallallahu alaihi’ wasallam dalam satu perjalana beliau, lalu beliau engutus seorang utusan (untuk memaklumkan), “Supaya tidak terdapat lagi di leher unta kalung dari tali busur panah atau kalung apapun, kecuali harus di putuskan.’’ Ibnu Mas’ud menuturkan, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik’.” (Hadits Riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud).Tamimah: Sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak untuk menangkal atau menolak ain’. Tetapi, apabila yang di kalungkan itu berasal dari ayat-ayat al-Qur’an, sebagian salaf memberikan keringanan dalam hal ini, dan Sebagian yang lain tidak memperbolehkan dan memandangnya termasuk hal yang di larang, diantara nya Ibnu Mas’ud.Ruqyah: Yaitu yang disebut pula ‘azimah. Dalil di atas mengkhususkan bahwa ruqyah yang boleh adalah yang bebas dai hal-hal syirik, sebab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memberikan keringanan dalam hal ruqyah untuk mengobati ‘ain atau sengatan kalajengking.Tiwalah: Sesuatu yang dibuat dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat embuat seorang istri mencintai suaminya, atau seorang suami mencintai istrinya.Hadits marfu’ diriwayatkan dari Abdullah bin Ukaim, “Barangsiapa menggantungkan sesuatu barang (dengan anggapan bahwa barang itu bermanfaat atau dapat melindungi dirinya), niscaya Allah menjadikan dia selalu bergantung kepada barang terssebut.” (H.R Imam Ahmad dan at-TIrmidzi).Imam Ahmad meriwayatkan dari Ruwaifi’, dia berkata, “Rasulullah telah bersabda kepadaku, ‘Hai Ruwaifi’, semoga engkau berumur Panjang, untuk itu, sampaikan kepada orang-orang bahwa siapa saja yang menggelung jenggotnya atau memakai kalung dari tali busur panah atau beristinja’ dengan kotoran binatang atapun dengan tulang, maka sesungguhnya Muhammad berlepas diri darinya’.”Waki’ meriwayatkan bahwa Sa’id bin Jubair berkata, “Barangsiapa memutuskan suatu tamimah dari seseorang, maka tindakannya itu sama dengan memerdekakan seorang budak.”Dan Waki’ meriwayatkan pula bahwa Ibrahim (an-Nakha’i) berkata, “Mereka (para sahabat Abdullah bin Mas’ud) membenci segala jenis tamimah, baik dari ayat-ayat al-Qur’an atau bukan dari ayat-ayat al-Qur’an.”

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka9 September 2026
N

Naella ulia

📍 -

Syariat ada 2 macam

Kalau ada yang mempertentangkan dalil wanita sebaiknya banyak di rumah dan sarana-sarana zaman sekarang yang harus menghabiskan waktu banyak di alam dan tempat terbuka baik untuk kesehatan atau pun pendidikan anak gimana yah? Hmmm.Pertanyaannya seru!!!Jadi syariat itu ada 2 macam. Ma’qulatul ma’na dan ghairu ma’qulatil ma’na.Yang ghairu ma’qulatil ma’na itu syariat yg turun tanpa alasan yg bisa kita logikakan. Misal wudhu, shalat, puasa. Kita terima tanpa mempertanyakan apa alasan kita melakukan itu.Yang ma’qulatul ma’na itu syariat yang bisa kita logikakan alasannya. Nah, anjuran menetap di rumah bagi muslimah itu masuk yg ma’qulatul ma’na.Jadi poinnya bukan menetap atau tidak menetap di rumah. Tetapi alasan di baliknya apa. Syariat tersebut ada karena berdampaknya kita di rumah akan menghindarkan kita dari fitnah. Aurat dan kehormatan kita juga akan terjaga. Kalau misal keluarnya kita dari rumah tidak membuat kita terjatuh pada keburukan-keburukan yang syariat juga untuk kita, ya nggak masalah.Malah akan lebih baik kalau misal kita mengajarkan kalamullah ke anak mengenai penciptaan dan alam, sembari kita mengajaknya keluar untuk memahami lebih dalam ciptaan-Nya. Dibanding kita di dalam rumah aja, ngga melihat realita di sekitar kita.Kesehatan pun demikian. Allah menyukai hamba yang kuat. Keluar ke alam membuat kita mendapat sebab kesehatan yang membuat kita kuat, ini juga lebih baik daripada di dalam rumah, terus qadarullah kena Autoimun perkara kurang Vitamin D, misalnya. Jangan sampai ya...Syariat berdiam di rumah itu bisa kita jadikan reminder. Berarti kalau keluar rumah harus nutup aurat dengan baik. Menghindari kerumunan laki-laki dan bercampur baur dengannya, memelankan suara di keramaian, dll.Allahu a’lam.THE WORLD OF MARRIAGECandra Prahastiwi, Saviera Yonita, Dr. Victa Ryza

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka9 September 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

TAKUT BERPISAH

📖 1. Berakar pada keterikatanBerpisah itu berat. Anak menangis, menempel, atau menunda pergi karena kehadiran orang tua diasosiasikan dengan rasa aman: “Selama orang tua ada di dekatku, aku terlindung.”2. Menemukan rasa aman di lingkungan baruSaat berpisah, anak perlu belajar merasa aman bersama pengasuh, guru, atau di tempat baru. Mereka perlu percaya bahwa mereka tetap aman meskipun orang tua tidak berada di samping mereka. Karena itu, air mata dan perasaan sulit adalah hal yang wajar.3. Bola cahaya rasa amanRasa aman seperti bola cahaya. Saat dekat dengan orang tua, cahaya itu membantu anak merasa aman untuk bermain dan bereksplorasi. Seiring tumbuh, cahaya tersebut diharapkan tetap menyinari anak meskipun orang tua tidak ada, karena rasa aman itu telah menjadi bagian dari dirinya.4. Internalisasi hubunganAnak perlu membawa perasaan aman dari hubungan dengan orang tua di dalam dirinya. Mereka dapat menciptakan “kehadiran” orang tua dalam pikiran, sehingga tetap merasa terhubung meskipun orang tua tidak ada.5. Benda-benda transisiSelimut, boneka, atau benda dari rumah dapat menjadi simbol ikatan dengan orang tua. Benda tersebut membantu anak merasa tetap terhubung dan membuat proses perpisahan lebih mudah.6. Setiap anak berbedaRespons terhadap perpisahan dipengaruhi temperamen. Ada anak yang mudah berpisah, ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi. Tidak ada yang salah—mereka hanya menjalani pengalaman yang berbeda.7. Kita tidak melihat seluruh prosesOrang tua biasanya hanya melihat saat berpamitan. Kita tidak selalu melihat bagaimana anak kemudian pulih, bermain, dan merasa senang. Tangisan saat berpisah tidak selalu berarti anak tidak baik-baik saja sepanjang hari.8. Perasaan orang tua sangat berpengaruhAnak sangat peka terhadap kecemasan orang tua. Jika kita terlihat takut, ragu, atau gugup, ketakutan anak bisa semakin besar. Pada dasarnya anak bertanya, “Apakah menurut Ayah/Ibu, aku akan baik-baik saja?”🌿 Berpisah mungkin sulit bagi semua orang, tetapi rasa percaya diri dari kita membantu anak merasa lebih aman.Good InsideMeletakkan Kepercayaan Penuh bahwa Semua Anak Berhati Baik(Dr. Becky Kennedy)

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →