📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 54 | Sekte yang Berkeyakinan bahwa Al-Qur’an Adalah Makhluk

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهAdakah disana aliran yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, jahmiyyah, Mua’tazilah.Mereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk. Allāh menciptakan Al-Qur’an diluar Allāh menciptakan ucapannya disandarkan kepada Allāh karena majas, ini adalah keyakinan Mua’tazilah dan terjadi di zaman Al Imam Ahmad dan terjadi sebelumnya tapi di zaman Imam Ahmad fitnahnya lebih besar karena ulama² Mua’tazilah mereka berhasil menguasai dan memberikan pengaruh kepada penguasa sampai akhirnya oleh penguasa saat itu seluruhnya diharuskan untuk mengucapkan ucapan Mua’tazilah yang diantaranya adalah mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, sampai di sekolah sekecil apapun harus yang diajarkan adalah Al-Qur’an adalah makhluk.Para ulama dipaksakan untuk memfatwakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, kalau tidak maka akan disiksa, siksanya cukup besar/berat , ada di antara ulama ahlussunnah yang mereka terpaksa mengucapkan (ini termasuk keterpaksaan) sementara di dalam hatinya mereka mengingkariإِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِKecuali orang yang dipaksa dan hatinya dalam keadaan dia tenang dengan keimanan.Ada diantara mereka yang melakukan tauriyah (mengucapkan sesuatu dipahami oleh orang yang didepannya bahwasanya dia meyakini Al-Qur’an adalah makhluk, padahal dia memaksudkan yang lain) seperti ucapan sebagian mereka Al-Qur’an , Al Injil, at Taurat, kita bersaksi bahwasanya mereka adalah makhluk, dia menunjukkan lima jarinya, artinya yg dia maksud lima jarinya adalah makhluk bukan maksudnya Al-Qur’an, taurat, Injil adalah makhluk tidak ini namanya tauriyah dan dia bukan bohong dia benar namun dipahami oleh orang lain ucapan yang lain, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash Sidik radhiyallahu Anhu ketika beliau berhijrah bersama nabi Muhammad ﷺ dan dijalan dia ditanya siapa yang bersama mu? Maka Abu Bakar berkataوهذا دليلIni adalah petunjuk jalanku,Dipahami oleh beliau bahwasanya ini adalah yang menunjukkan jalan beliau yaitu jalan didalam perjalanan tapi maksud Abu Bakar dia adalah yang menunjukkan jalan kepada Allāh, menunjukkan صراط مستقيم،وإن كل تحد إلى صراط مستقيمDan sesungguhnya engkau wahai Muhammad sungguh menunjukkan jalan yang lurus,Dan ada ulama Ahlu Sunnah yang mereka memilih bersabar apapun resikonya diantaranya adalah Al Imam Ahmad bin Hambal, beliau memilih untuk bersabar meskipun disiksa dipenjara, kalau memang dipaksa untuk berdebat maka beliau terpaksa meladeni ini adalah istihad beliau seandainya seseorang dalam keadaan terpaksa dia mengucapkan ucapan maka dia ma’dhur mendapatkan udzur dia tidak berdosa tapi yg lebih afdhol adalah seseorang tetap berada di atas kebenaran , itu adalah derajat yang tinggi makanya diakui oleh ulama ulama yang lain bagaimana ketinggian derajat Al Imam Ahmad bin Hambal sementara yang lain mungkin memilih tauriyah atau terpaksa mengucapkan tapi beliau Rahimahullāh tetap mengucapkan ucapan tersebut dengan lantang di hadapan orang-orang Mua’tazilah dan ini diakui oleh para ulama² yang lain semasa itu dan yang datang derajatnya lain, lebih tinggi daripada yang lain sampai akhirnya Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan jalan keluar tiga khalifah yang secara berurutan mereka memegang kekuasaan sampai akhirnya datang khalifah yang ketiga dan dia mendapatkan hidayah kepada Sunnah tersebar Sunnahوَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا[QS at Thalaq 2]Barangsiapa yang bertakwa kepada Allāh, maka Allāh subhanahu wa taala akan memberikan jalan keluarليس بمخلوقBukan makhluk,Bantahan kepada Mua’tazilah yang mereka mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, kalau itu makhluk sebagaimana makhluk² yang lainnya tidak ada kelebihannya seorang yang meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk cenderung dia pemulian dan penghormatan terhadap Al-Qur’an dan sangat kurang karena dia adalah makhluk seperti makhluk yang lain.ليس بمخلوق ككلام البرية،Sebagaimana ucapan manusia,Jadi Ahlussunnah meyakini bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk, artinya makhluk apa yang dimaksud makhluk adalah meyakini Al-Qur’an itu sama dengan ucapan manusia, karena yang ada adalah Al Kholiq dengan makhluk, Ahlu Sunnah mengatakan ini adalah Kalamullah kholaq adapun Mua’tazilah mengatakan itu adalah Kalamul makhluk berarti sama kedudukannya dengan Kalamul bariyyah (ucapan manusia) /ucapan makhluk.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 54

Halaqah 54 | Sekte yang Berkeyakinan bahwa Al-Qur’an Adalah MakhlukKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهAdakah disana aliran yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, jahmiyyah, Mua’tazilah.Mereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk. Allāh menciptakan Al-Qur’an diluar Allāh menciptakan ucapannya disandarkan kepada Allāh karena majas, ini adalah keyakinan Mua’tazilah dan terjadi di zaman Al Imam Ahmad dan terjadi sebelumnya tapi di zaman Imam Ahmad fitnahnya lebih besar karena ulama² Mua’tazilah mereka berhasil menguasai dan memberikan pengaruh kepada penguasa sampai akhirnya oleh penguasa saat itu seluruhnya diharuskan untuk mengucapkan ucapan Mua’tazilah yang diantaranya adalah mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, sampai di sekolah sekecil apapun harus yang diajarkan adalah Al-Qur’an adalah makhluk.Para ulama dipaksakan untuk memfatwakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, kalau tidak maka akan disiksa, siksanya cukup besar/berat , ada di antara ulama ahlussunnah yang mereka terpaksa mengucapkan (ini termasuk keterpaksaan) sementara di dalam hatinya mereka mengingkariإِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِKecuali orang yang dipaksa dan hatinya dalam keadaan dia tenang dengan keimanan.Ada diantara mereka yang melakukan tauriyah (mengucapkan sesuatu dipahami oleh orang yang didepannya bahwasanya dia meyakini Al-Qur’an adalah makhluk, padahal dia memaksudkan yang lain) seperti ucapan sebagian mereka Al-Qur’an , Al Injil, at Taurat, kita bersaksi bahwasanya mereka adalah makhluk, dia menunjukkan lima jarinya, artinya yg dia maksud lima jarinya adalah makhluk bukan maksudnya Al-Qur’an, taurat, Injil adalah makhluk tidak ini namanya tauriyah dan dia bukan bohong dia benar namun dipahami oleh orang lain ucapan yang lain, seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar Ash Sidik radhiyallahu Anhu ketika beliau berhijrah bersama nabi Muhammad ﷺ dan dijalan dia ditanya siapa yang bersama mu? Maka Abu Bakar berkataوهذا دليلIni adalah petunjuk jalanku,Dipahami oleh beliau bahwasanya ini adalah yang menunjukkan jalan beliau yaitu jalan didalam perjalanan tapi maksud Abu Bakar dia adalah yang menunjukkan jalan kepada Allāh, menunjukkan صراط مستقيم،وإن كل تحد إلى صراط مستقيمDan sesungguhnya engkau wahai Muhammad sungguh menunjukkan jalan yang lurus,Dan ada ulama Ahlu Sunnah yang mereka memilih bersabar apapun resikonya diantaranya adalah Al Imam Ahmad bin Hambal, beliau memilih untuk bersabar meskipun disiksa dipenjara, kalau memang dipaksa untuk berdebat maka beliau terpaksa meladeni ini adalah istihad beliau seandainya seseorang dalam keadaan terpaksa dia mengucapkan ucapan maka dia ma’dhur mendapatkan udzur dia tidak berdosa tapi yg lebih afdhol adalah seseorang tetap berada di atas kebenaran , itu adalah derajat yang tinggi makanya diakui oleh ulama ulama yang lain bagaimana ketinggian derajat Al Imam Ahmad bin Hambal sementara yang lain mungkin memilih tauriyah atau terpaksa mengucapkan tapi beliau Rahimahullāh tetap mengucapkan ucapan tersebut dengan lantang di hadapan orang-orang Mua’tazilah dan ini diakui oleh para ulama² yang lain semasa itu dan yang datang derajatnya lain, lebih tinggi daripada yang lain sampai akhirnya Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan jalan keluar tiga khalifah yang secara berurutan mereka memegang kekuasaan sampai akhirnya datang khalifah yang ketiga dan dia mendapatkan hidayah kepada Sunnah tersebar Sunnahوَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا[QS at Thalaq 2]Barangsiapa yang bertakwa kepada Allāh, maka Allāh subhanahu wa taala akan memberikan jalan keluarليس بمخلوقBukan makhluk,Bantahan kepada Mua’tazilah yang mereka mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, kalau itu makhluk sebagaimana makhluk² yang lainnya tidak ada kelebihannya seorang yang meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk cenderung dia pemulian dan penghormatan terhadap Al-Qur’an dan sangat kurang karena dia adalah makhluk seperti makhluk yang lain.ليس بمخلوق ككلام البرية،Sebagaimana ucapan manusia,Jadi Ahlussunnah meyakini bahwasanya Al-Qur’an itu bukan makhluk, artinya makhluk apa yang dimaksud makhluk adalah meyakini Al-Qur’an itu sama dengan ucapan manusia, karena yang ada adalah Al Kholiq dengan makhluk, Ahlu Sunnah mengatakan ini adalah Kalamullah kholaq adapun Mua’tazilah mengatakan itu adalah Kalamul makhluk berarti sama kedudukannya dengan Kalamul bariyyah (ucapan manusia) /ucapan makhluk

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

Talbis Iblis #9

Talbis Iblis #9Talbis Iblis Terhadap Orang Yang Beramar Ma'ruf Nahi MunkarSalah satu ibadah yang agung adalah amar ma'ruf nahi munkar. Dengan ibadah ini umat Islam menjadi mulia (terbaik). Sebaliknya umat yang tidak beramar ma'ruf nahi munkar menjadi umat yang terlaknat sebagaimana yang terjadi pada kaum Bani Israil. Meskipun amar ma'ruf nahi munkar adalah ibadah yang agung, tentu ada fiqihnya. Bukan sekedar menyampaikan kebaikan dan mencegah kemunkaran. Rasulullah bersabda :"Barang siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lisannya, jika tidak mampu dengan hatinya, itulah iman yang paling rendah."Orang-orang yang Beramar ma'ruf nahi munkar ada 2 model :1. ​Orang-orang Alim (berilmu) Adapun iblis menggoda orang alim lewat 2 jalan :    a. Riya     b. Ujub2. ​Orang-orang JahilTalbis iblis pada orang-orang jahil :   a. Marah bukan karena Allah (marah karena dirinya)    b. Mungkin awalnya dia ikhlas, namun karena dia diganggu/diserang oleh orang yang dia tegur akhirnya dia marah untuk membela dirinya.   c. TajassusMendobrak pintu untuk masuk rumah orang. Misalnya ada orang yang minum khamr dirumahnya sendiri.   d. Main hakim sendiriMisalnya ada yang mencuri lalu dibakar/dibunuh.  e. Menuduh sembarangan tanpa bukti  f. Terkadang orang yang melihat kemunkaran lalu melaporkan kepada Penguasa namun ternyata Penguasa tersebut tidak punya ilmu sehingga pelaku kemunkaran malah dihukum melebihi yang seharusnya sehingga orang tersebut terzalimi.   g. Berbangga-bangga mengingkari kemunkaran dan mengumbar aib maksiat. Terkadang dia mencaci pelaku kemunkaran, bisa jadi pelaku maksiat tersebut sudah bertaubat dan lebih baik dari dia.  Bagaimana mengingkari para pemimpin (umaro) :Allah sudah contohkan dalam Alquran tentang Musa dan Harun, Allah berkata :"pergilah kalian kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, ucapkanlah kalian kepada Fir'aun dengan kata-kata yang lembut, siapa tahu dia sadar dan mengambil pelajaran ". Lalu Musa pun berkata kepada Fir'aun "Maukah engkau aku tunjukkan jalan supaya engkau bisa mensucikan dirimu? Aku menjadi petunjuk jalan bagimu menuju Tuhanmu".Fitnah Seorang Tidak Bernahi MunkarSyaitan telah menipu sebagian ahli ibadah, dia melihat kemunkaran namun dia tidak mengingkarinya, dia berkata "yang bisa bernahi munkar hanyalah orang sholeh sementara saya bukan orang sholeh"Ini sebuah kesalahan, karena wajib bagi dia untuk beramar ma'ruf nahi munkar meskipun dia sendiri melakukan maksiat tersebut.Talbis Iblis terhadap orang-orang ahli zuhud dan ahli ibadahSeorang awam mendengar dalam Alquran dan hadits tentang celaan dunia maka dia merasa kalau mau selamat harus tinggal dunia, dia tidak tahu bahwasanya dunia tidak tercela tapi tercela karena orang yang melakukan dunia tersebut. Dunia tidak tercela secara zatnya yang tercela sifat manusia terhadap dunia tersebut. Iblis menipunya dengan berkata "kau tidak selamat di akhirat kecuali dengan meniggalkan dunia." Maka dia pergi ke gunung, dia meninggalkan shalat Jum'at, meninggalkan shalat berjamaah, dia tidak menuntut ilmu, dia dikhayalkan bahwa inilah zuhud. Ini talbis iblis.Diantara tipuan syaitan terhadap ahli zuhudMereka tidak menuntut ilmu dan sibuk dengan kezuhudan. Mereka telah mengganti yang baik dengan yang buruk. Mengapa demikian? Kata Ibnu Jauzi karena orang yang zuhud manfaatnya hanya untuk dirinya, adapun orang alim manfaatnya banyak kepada masyarakat. Betapa banyak orang berilmu memperbaiki ahli ibadah kepada jalan kebenaran.Diantara tipuan iblis kepada ahli zuhudSyaitan mengesankan bahwa zuhud itu meninggalkan perkara2 mubah. Wara : meninggalkan suatu perkara yang mungkin mudharat di akhiratKonsekuensi dari Wara : meninggalkan yang haram dan meninggalkan yang syubhat Zuhud : meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat di akhirat. Bukan meninggalkan perkara-perkara mubah, perkara mubah ada yang bermanfaat di akhirat. Maka ini mengajarkan kepada kita apapun yang akan kita lakukan, pikirkan dulu ada manfaatnya di akhirat atau tidak. Jika tidak kita tinggalkan itulah zuhud.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
A
Anna setyaningsih

📍 Kota Bekasi

Ringkasan bab 9

📖 TALBIS IBLIS #9Talbis Iblis terhadap Orang yang Beramar Ma'ruf Nahi Mungkar(Pemateri: Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.)🌿Amar ma'ruf nahi mungkar adalah ibadah yang sangat mulia. Dengannya agama terjaga dan kemaksiatan dapat dicegah. Karena pentingnya amalan ini, iblis juga memiliki banyak tipu daya untuk menyesatkan para pelakunya. 1️⃣ Bersemangat Berdakwah Tanpa IlmuTalbis Iblis:Seseorang ingin mengingkari kemungkaran namun tidak memiliki ilmu yang cukup.Akibat:Menghalalkan yang haram.Mengharamkan yang halal.Menimbulkan kerusakan lebih besar daripada kemungkaran yang ingin dihilangkan.Dakwah menjadi tidak tepat sasaran.📌 Pelajaran: Ilmu harus mendahului dakwah dan amar ma'ruf nahi mungkar.2️⃣ Bersikap Terlalu Keras dan KasarTalbis Iblis:Iblis membuat seseorang merasa bahwa semakin keras maka semakin tegas.Akibat:Orang menjauh dari kebenaran.Menimbulkan kebencian kepada agama.Dakwah kehilangan hikmah.📌 Pelajaran: Kelembutan sering kali lebih efektif daripada kemarahan.3️⃣ Mengingkari Kemungkaran Dengan Cara yang Menimbulkan Kemungkaran Lebih BesarTalbis Iblis:Seseorang hanya melihat kemungkaran yang ada di depan mata tanpa mempertimbangkan akibat setelahnya.Contoh:Menegur dengan cara yang memancing keributan.Bertindak sehingga muncul fitnah yang lebih besar.📌 Pelajaran: Menghilangkan kemungkaran tidak boleh menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.4️⃣ Riya dalam BerdakwahTalbis Iblis:Merasa dirinya pembela agama lalu senang dipuji.Tanda-tanda:Senang jika dipuji keberaniannya.Sedih jika tidak dihargai.Dakwah dilakukan demi popularitas.📌 Pelajaran: Tujuan amar ma'ruf nahi mungkar adalah mencari ridha Allah, bukan pujian manusia.5️⃣ Merasa Paling BenarTalbis Iblis:Karena sering menasihati orang lain, seseorang merasa dirinya lebih baik.Akibat:Muncul ujub.Muncul kesombongan.Sulit menerima nasihat.📌 Pelajaran: Orang yang menasihati juga membutuhkan nasihat.6️⃣ Sibuk Mengoreksi Orang Lain, Lupa Memperbaiki DiriTalbis Iblis:Fokus mencari kesalahan orang lain namun melupakan kekurangan diri sendiri.📌 Pelajaran: Perbaikan diri dan perbaikan masyarakat harus berjalan bersamaan.7️⃣ Putus Asa Saat Melihat KemaksiatanTalbis Iblis:Merasa dakwah tidak ada hasilnya lalu berhenti berdakwah.Padahal:Hidayah milik Allah.Tugas seorang dai adalah menyampaikan.Hasil bukan ukuran keberhasilan utama.📌 Pelajaran: Terus berdakwah dengan sabar dan ikhlas.⭐ Kesimpulan Bab 9Tipu daya iblis terhadap pelaku amar ma'ruf nahi mungkar umumnya berputar pada:✅ Kebodohan✅ Sikap berlebihan✅ Kekerasan tanpa hikmah✅ Riya dan ujub✅ Merasa paling benar✅ Melupakan perbaikan diri✅ Putus asa dalam berdakwah"Amar ma'ruf nahi mungkar harus dibangun di atas ilmu, hikmah, kesabaran, dan keikhlasan.""Jangan sampai menghilangkan kemungkaran dengan cara yang melahirkan kemungkaran yang lebih besar.""Tugas kita adalah menyampaikan, sedangkan hidayah berada di tangan Allah."

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah :pembahasan kitab al-utsulu ats-tsalatsah

Halaqah 29 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Dalil Rukun Islam Syahadat Lāilāha Illallāh🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahKemudian setelah beliau (rahimahullāh) menyebutkan rukun Islām yang jumlahnya 5 yang dikumpulkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam satu dalīl yaitu dari hadīts Abdullāh ibnu Umar.Kemudian beliau memberi dalīl dari masing-masing rukun Islām tadi, karena kita berbicara tentang rukun Islām yang merupakan perkara yang paling penting didalam Islām.Kalau seorang muslim di dalam keislāman dia banyak perkara, maka minimal dia mendalami lima perkara ini, sehingga disini beliau rahimahullāh lebih mendalami rukun Islām yang lima.Masing-masing dari rukun Islām beliau sebutkan dalīlnya (bukan hanya dalīl dari Abdullāh ibnu Umar yang menjamak dan mengumpulkan lima rukun ini) tetapi beliau rahimahullāh sebutkan dalīl dari masing rukun Islām untuk menunjukkan penekanan.Beliau rahimahullāh mengatakan :ودليل الشهادة قوله تعالى: شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُDalīl tentang syahādah maksudnya adalah شهادة أن لا إله إلا الله – Al disini maksudnya Lil- ahdiyyah yaitu menunjukkan perjanjian karena disebutkan sebelumnya di dalam hadīts شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – itulah kalimat syahādat pertama yang disebutkan di dalam hadīts.Maka ketika beliau mengatakan ودليل الشهادة – maksudnya adalah syahādati أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ.Dalīl tentang syahādat adalah firman Allāh Azza wa Jalla :شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.“Allāh menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malāikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Maha-bijaksana.” (QS. Āli-Imrān :18)Ini adalah rukun Islām yang pertama yaitu seorang muslim harus bersyahādah “Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah KECUALI Allāh”Ucapan bersaksi di dalam bahasa Arab mengandung beberapa makna:⑴ Orang yang bersaksi dia mengetahui (orang yang memiliki ilmu) Jadi orang yang bersaksi tentunya mengandung ilmu berarti dia harus علم harus mengetahui.⑵ Didalamnya ada makna sumpah, orang yang bersaksi “Aku bersaksi”, berarti dia bersumpah dan ini adalah penekanan.⑶ Orang yang bersaksi berarti ada makna إخبر (ikhbar) mengabarkan kepada orang lain. Jika hanya diam saja berarti dia tidak bersaksi.Jadi bersaksi dalam bahasa Arab dia harus إخبر (ikhbar) dia harus عالم و حالف (‘ālima wa hālafa) berarti dia اعلم غيره (a’lama ghairahu) berarti dia أكبر غيره (akbaru ghairahu), berarti disitu ada makna إخبر (ikhbar) yaitu harus mengabarkan kepada yang lain.Demikian pula didalam شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ kita bersaksi berarti kita harus paham, mengetahui menyadari, mengetahui alasannya kenapa kita mengatakan أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – sebagaimana orang yang bersaksi dia mengabarkan, menceritakan karena dia mengetahui.Ketika kita mengatakan, “Saya bersaksi Tidak Ada Sesembahan Yang Berhak Disembah Kecuali Allāh”, maka kita harus punya hujjah harus mempunyai ilmu dan disitu ada sumpah لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – (Tidak Ada Sesembahan Yang Berhak Disembah Kecuali Allāh).Darimana dalīl tentang persaksian ini?Beliau rahimahullāh mendatangkan firman Allāh di dalam surat Āli-Imrān ayat 18.Didalam ayat ini Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengabarkan bahwasanya Allāh bersaksi.Apa isi persaksian dari Allāh ?Dan Dia-lah (Allāh) yang memiliki langit dan bumi, mengetahui apa yang ada yang di langit dan di bumi dengan luasnya alam semesta, besarnya alam semesta dari ujung ke ujung Allāh Maha Mengetahuinya.Dan Allāh bersaksi dalam ayat ini bahwasanya, ”Diseluruh alam semesta ini tidak ada yang berhak untuk disembah kecuali Dia-saja”. Maka ini adalah persaksian yang berasal dari Dzat yang paling tahu.Saksi semakin dia berilmu maka semakin berkualitas kesaksiannya. Jadi semakin tinggi keilmuannya maka semakin berkualitas kesaksiannya. Dan siapa yang lebih mengetahui tentang apa yang ada di langit dan di bumi kecuali Allāh.قُلْ ءَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ ٱللَّهُ …“Apakah kalian lebih tahu atau Allāh Subhānahu wa Ta’āla…” (QS. Al-Baqarah:140)Dan ternyata Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan persaksian, “Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Dia”.Didalam surat lain Allāh berfirman:قُلْ أَىُّ شَىْءٍ أَكْبَرُ شَهَـٰدَةًۭ قُلِ ٱللَّهُ ۖ شَهِيدٌۢ بَيْنِى وَبَيْنَكُمْ“Apakah sesuatu yang paling besar persaksiannya. Katakanlah bahwasanya Dia-lah Allāh yang menjadi saksi antara diriku dengan kalian…..” (QS. Al-An’ām : 19)Jika Allāh saja bersaksi maka kewajiban kita sebagai seorang muslim adalah bersaksi juga bersyahādah dan mengatakan أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُIni adalah dalīl yang jelas menunjukkan tentang kewajiban bersaksi ,”Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allāh”.Ditambah lagi Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan وَالْمَلاَئِكَةُ – dan para malāikat, seluruh malāikat yang mereka adalah makhluk Allāh yang tidak pernah berbuat maksiat tidak pernah berdusta. Mereka adalah makhluk-makhluk Allāh yang shālih yang beribadah kepada Allāh, mereka tidak pernah bosan untuk beribadah kepada Allāh ternyata semuanya bersaksi,”Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allāh”Allāh bersaksi digandengkan dengan malāikat-malāikat bersaksi, digandengkan dengan semua ulamā juga bersaksi. Maka tidak ada udzur bagi kita untuk tidak bersaksi bahwasanya لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ – “Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Allāh”.Pas sekali beliau rahimahullāh mendatangkan dalīl ayat ini yaitu kewajiban untuk bersyahādah disamping dalīl hadīts dari Abdullāh ibnu Umar, dimana di dalam hadīts tersebut dikumpulkan lima rukun Islām. Menunjukkan bahwa rukun Islām yang lima hukumnya adalah wajib.Beliau rahimahullāh tekankan disini dengan mendatangkan dalīl yang lain.قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ“Tegak dengan keadilan”لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُKemudian ditekankan oleh Allāh dan dikuatkan dengan mengatakan لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ – Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah kecuali Dia (Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Talbis Iblis #9: Talbis Iblis Terhadap Orang Yg Beramar Ma'ruf Nahi Munkar

Catatan Kajian Kitab Talbis Iblis — Bab 8 & Bab 9Pemateri: Ust. Dr. Firanda Andirja, M.A. Tema: Talbis Iblis dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar serta Paham ZuhudBAGIAN I: Talbis Iblis dalam Urusan Amar Ma'ruf Nahi Munkar (Bab 8 - Lanjutan)Amar ma'ruf nahi munkar adalah salah satu ibadah yang paling agung di dalam Islam. Melalui ibadah inilah Allah Subhanahu wa Ta'ala melabeli umat Islam sebagai umat yang terbaik (Khaira Ummah), sebagaimana firman-Nya:"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena) kamu menyuruh (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..." (QS. Ali 'Imran: 110)Sebaliknya, Allah melaknat kaum Bani Israil melalui lisan Nabi Dawud dan Nabi 'Isa bin Maryam disebabkan karena mereka meninggalkan ibadah ini dan membiarkan kemungkaran merajalela di lingkungan mereka (QS. Al-Ma'idah: 78-79). Namun, ibadah yang agung ini memiliki fikih dan aturan yang sangat ketat, tidak boleh dilakukan hanya bermodalkan semangat tanpa ilmu.A. Empat Kaidah Hasil Akhir Nahi MunkarSebelum seseorang memutuskan untuk mencegah sebuah kemungkaran, ia harus menimbang 4 kemungkinan dampak yang akan terjadi:Kemungkaran hilang total: Hukum mencegahnya adalah Wajib.Kemungkaran berkurang (dari besar menjadi kecil): Hukum mencegahnya adalah Wajib.Memicu kemungkaran yang jauh lebih besar/dahsyat: Hukum mencegahnya adalah Haram (dilarang), karena tindakan tersebut bukan lagi mencegah kemungkaran melainkan memproduksi kemungkaran baru.Kemungkaran digantikan oleh kemungkaran lain yang sejenis: Kondisi ini berada dalam ranah Ijtihad para ulama.Selain itu, jika kemungkaran tersebut berada pada ranah khilafiyah (perbedaan pendapat) yang kuat di antara para fuqaha (seperti masalah Qunut Shalat Subuh), maka tidak boleh diingkari dengan metode nahi munkar. Nahi munkar hanya berlaku pada perkara yang telah disepakati keharamannya secara ijma' (konsensus) atau pada masalah khilafiyah yang landasan dalilnya sangat lemah (seperti keharaman musik dan praktik riba uang kertas).Al-Imam Ibnul Jauzi membagi pelaku amar ma'ruf nahi munkar menjadi 2 kelompok: Orang yang Berilmu (Alim) dan Orang Bodoh (Jahil).B. Talbis Iblis terhadap Orang Berilmu (Alim) dalam Nahi MunkarMeskipun seorang alim memahami fikih dan waktu yang tepat untuk berbicara atau diam, Iblis tetap bisa menyusupinya melalui dua jalan tersembunyi:1. Penyakit Riya, Ujub, dan Tazayun (Mencari Popularitas)Iblis menggoda mereka agar menampakkan kegiatan dakwah dan nahi mungkarnya demi mendapatkan pujian khalayak ramai, serta merasa ujub bahwa setiap kali dirinya menegur, orang-orang pasti patuh.Keteladanan Abu Sulaiman Al-Darani: Ahmad bin Abil Hawari mengisahkan bahwa ia mendengar gurunya, Abu Sulaiman, bercerita tentang momen ketika Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur menangis di atas mimbar saat menyampaikan khutbah Jumat. Abu Sulaiman berkata: "Saat melihatnya menangis, muncul kemarahan di hatiku karena aku melihat adanya kemungkaran. Terbetik niat di hatiku untuk berdiri dan menegurnya langsung saat ia turun mimbar. Namun, aku membatalkan niat tersebut karena aku khawatir diriku terjebak dalam sikap tazayun (menghias diri/berlagak berani di depan umum agar dikagumi jemaah). Aku khawatir jika aku menegurnya tanpa keikhlasan yang murni, lalu khalifah marah dan memerintahkan pengawalnya untuk membunuhku, maka kematianku menjadi kematian yang konyol (karena mati membawa dosa riya)." Meskipun Nabi ﷺ bersabda bahwa seutama-utama jihad adalah menyampaikan kalimat yang hak di hadapan penguasa yang zalim, hal itu hanya berlaku jika didasari keikhlasan murni, bukan demi konten pamer keberanian.2. Marah untuk Membela Ego Diri Sendiri (Al-Ghadabu lin-Nafsi)Awalnya seorang dai berniat ikhlas karena Allah saat menegur kemungkaran. Namun, ketika pelaku maksiat tersebut berbalik menyerang, mencaci, atau merendahkan martabat sang dai, seketika itu juga niatnya bergeser. Sang dai menjadi emosional dan mendebat pelaku maksiat tersebut bukan lagi demi membela syariat Allah, melainkan demi memuaskan amarah dan membela harga diri egonya yang terluka.Keteladanan Umar bin Abdul Aziz: Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah mendapati seorang pria yang memicu kemarahannya. Namun, beliau menahan diri dan berkata kepada pria tersebut: "Seandainya aku saat ini tidak sedang berada dalam kondisi marah, niscaya aku sudah menghukummu. Namun karena engkau telah membuatku emosional, aku khawatir jika aku menghukummu sekarang, hukumanku tidak murni karena Allah, melainkan bercampur dengan dorongan emosi untuk memuaskan egoku. Maka, aku tidak jadi menghukummu."C. Talbis Iblis terhadap Orang Bodoh (Jahil) dalam Nahi MunkarJika orang bodoh memaksakan diri melakukan nahi munkar tanpa bimbingan ilmu fikih, maka tingkat kerusakan yang mereka timbulkan pasti jauh lebih besar daripada perbaikan yang mereka inginkan. Bentuk-bentuk kesalahannya antara lain:Menolak Perkara yang Diperbolehkan: Melarang sesuatu yang sebenarnya dihalalkan secara ijma' karena ketidaktahuannya terhadap mazhab fikih ulama lain.Melakukan Tajasus (Mata-mata) dan Merusak Hak Privasi: Iblis menipu mereka untuk mendobrak pintu rumah orang lain, memanjat pagar secara ilegal, atau memasang kamera pengawas rahasia demi membongkar maksiat privat seseorang. Islam melarang keras tindakan tajasus. Selama maksiat itu disembunyikan di dalam rumah dan pintunya dikunci, tidak boleh ada yang melanggar privasi tersebut, kecuali jika maksiat itu sudah dibawa ke ruang publik atau melibatkan eksploitasi anak-anak.Kaidah Imam Ahmad tentang Maksiat Tersembunyi: Al-Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya mengenai sekelompok orang yang berjalan di ruang publik dengan membawa bungkusan kain tertutup yang diduga berisi alat musik (tunbur) atau minuman keras (muskir). Imam Ahmad menjawab: "Jika barang tersebut ditutup rapat dan tidak dinampakkan bentuknya, kalian dilarang membongkar atau menghancurkannya." Dalam riwayat lain, seseorang melapor: "Wahai Imam, saat aku berjalan melewati sebuah rumah, aku mendengar sayup-sayup suara seruling di dalamnya." Imam Ahmad menegaskan: "Itu bukan urusanmu (jangan engkau cari-cari tahu asal suaranya)."Tindakan Main Hakim Sendiri: Melakukan kekerasan fisik, memukuli, atau membakar pelaku kriminal (seperti pencuri) hingga tewas. Tindakan ini haram karena wewenang eksekusi hukuman fisik mutlak berada di tangan pemerintah, bukan individu masyarakat.Terjerumus Dosa Qadzaf (Menuduh Zina tanpa Bukti): Orang bodoh sering kali berlebihan saat menegur sepasang kekasih yang berjalan bersama dengan meneriakkan kalimat tuduhan keji (seperti kata pelacur/pezina). Di dalam Islam, menuduh seseorang berzina tanpa mampu mendatangkan 4 orang saksi pria yang melihat langsung proses perzinaan tersebut secara detail (diibaratkan seperti melihat ember masuk ke dalam sumur), maka si penuduh wajib dijatuhi hukuman cambuk 80 kali karena telah melakukan dosa besar Qadzaf.Melaporkan kepada Penguasa yang Zalim: Melaporkan pelaku maksiat kecil kepada oknum aparat yang korup, yang berujung pada diperasnya harta pelaku maksiat tersebut atau dihukum secara tidak manusiawi melebihi batas syariat. Imam Ahmad berkata: "Jika penguasa tersebut adalah orang saleh yang menegakkan hukum Allah secara adil, laporkan. Namun jika dilaporkannya orang tersebut justru memicu kezaliman dan pemerasan yang lebih parah, maka jangan dilaporkan."D. Fitnah Membanggakan Aktivitas Nahi Munkar (Tabahi bil-Inkar)Termasuk tipuan Iblis yang marak di era modern adalah fenomena seseorang yang setelah selesai melakukan nahi munkar atau membantah pemikiran sesat, ia sengaja duduk di dalam sebuah majelis (atau melalui konten podcast dan media sosial) untuk menceritakan kehebatannya: "Tadi saya pergi ke sana, saya labrak pelaku maksiat itu, saya maki-maki mereka hingga tak berkutik." Tindakan ini merusak keikhlasan dan mengumbar aib sesama muslim yang wajib ditutupi (satrul muslim). Ibnul Jauzi mengingatkan: "Bisa jadi orang yang engkau maki-maki dan engkau umbar aibnya itu saat ini telah menangis bertobat kepada Allah, sedangkan engkau sedang ditertawakan Iblis karena tertimpa penyakit kesombongan atas amalanmu."Keteladanan Salaf dalam Kelembutan Nahi Munkar:Bilal bin Sa'ad ketika melihat seorang pria sedang berdua-duaan berbicara dengan wanita yang bukan mahramnya, beliau tidak menghardiknya di depan umum. Beliau mendekat dan berbisik lembut: "Sesungguhnya Allah sedang melihat kalian berdua. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku dan dosa-dosa kalian berdua." Setelah itu beliau langsung berjalan pergi. Kalimat pendek yang menyentuh hati ini jauh lebih efektif memicu pertobatan daripada makian.BAGIAN II: Talbis Iblis dalam Urusan Paham Zuhud (Bab 9)Al-Imam Ibnul Jauzi membuka Bab 9 dengan menyoroti kekeliruan kaum awam atau ahli ibadah yang salah paham ketika membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis yang berisi celaan terhadap dunia. Karena keterbatasan ilmu, mereka menyimpulkan bahwa jalan keselamatan satu-satunya adalah dengan memusuhi dan membuang dunia secara totalitas.A. Hakikat Dunia: Zat vs Sifat ManusiaIbnul Jauzi menegaskan sebuah kaidah penting:Dunia tidak pernah tercela pada zatnya. Dunia adalah makhluk Allah yang diciptakan dengan penuh manfaat. Yang dicela oleh Allah di dalam dalil adalah sifat dan cara pandang manusia yang keliru terhadap dunia tersebut, yaitu ketika dunia diambil dengan cara yang haram atau digunakan secara berlebihan demi memuaskan hawa nafsu.Dunia adalah ladang penunjang utama bagi tegaknya urusan akhirat. Tanpa dunia, seorang anak Adam tidak akan bisa hidup untuk menuntut ilmu dan beribadah. Makanan dan minuman yang kita beli dengan uang dunia adalah bahan bakar fisik agar kuat sujud. Pakaian yang kita beli digunakan untuk menutup aurat shalat. Bahkan, mendirikan masjid dan pondok pesantren di era sekarang membutuhkan dana dunia yang sangat besar.B. Penyimpangan Praktik Zuhud Ekstrem (Rahbaniyyah)Akibat bisikan Iblis bahwa zuhud berarti membuang dunia, banyak ahli ibadah yang nekat melakukan tindakan ekstrem:Mengisolasi Diri ke Gunung dan Hutan: Mereka melarikan diri dari masyarakat, tinggal di gua atau gunung, sehingga berakibat fatal: mereka meninggalkan shalat Jumat, meninggalkan shalat jamaah, dan berhenti dari menuntut ilmu. Mereka mengira itu adalah puncak kesalehan, padahal mereka sedang menurunkan derajat diri mereka menjadi seperti hewan liar yang terputus dari syariat.Menelantarkan Hak Keluarga: Mereka pergi mengisolasi diri dengan meninggalkan anak dan istri dalam kondisi kelaparan tanpa nafkah, atau mengabaikan tangisan ibunya yang membutuhkan perawatan di rumah, sehingga mereka jatuh ke dalam dosa durhaka (uququl walidain).Melanggar Hak Manusia: Pergi menjauh dari dunia dengan membawa beban hutang yang belum dilunasi kepada manusia.Al-Imam Sufyan Ats-Tauri pernah mendatangi sekelompok pemuda ahli ibadah yang sengaja pergi mengisolasi diri di sebuah gunung demi beribadah. Beliau menghardik mereka dan memerintahkan: "Turunlah kalian semua dari gunung ini! Jangan melakukan perbuatan baru ini. Kembalilah ke masyarakat untuk menghidupkan shalat Jumat dan jamaah!"Manfaat dari ilmu seorang ulama mengalir luas memperbaiki peradaban masyarakat, sedangkan manfaat dari ritual seorang zahid (ahli zuhud) yang bodoh hanya berhenti pada dirinya sendiri. Satu orang alim yang membimbing umat jauh lebih dicintai Allah daripada seribu ahli ibadah yang mengisolasi diri karena kebodohan.C. Meluruskan Definisi Wara' dan ZuhudIblis membelokkan definisi zuhud seolah-olah maknanya adalah mengharamkan perkara-perkara mubah yang dihalalkan Allah. Para ulama mendefinisikan perbedaan keduanya dengan sangat indah:Wara' (Kehati-hatian): Meninggalkan segala sesuatu yang dikhawatirkan mendatangkan mudarat di akhirat (konsekuensinya mutlak wajib meninggalkan perkara haram dan menjauhi perkara syubhat).Zuhud (Asketisme Islam): Meninggalkan segala sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat untuk urusan akhirat.Jadi, zuhud bukan berarti mengharamkan makanan enak, baju bagus, atau kendaraan nyaman. Parameter zuhud adalah kegunaan akhirat. Syaikh Sa'ad Asy-Syatsri setiap kali diajak oleh muridnya untuk mendatangi suatu tempat atau membeli suatu barang, beliau selalu melempar pertanyaan filosofis: "Wahai Fulan, apakah aktivitas yang engkau tawarkan ini memiliki nilai manfaat untuk akhirat kita nanti?" Jika jawabannya ada, beliau berangkat; jika tidak ada, beliau meninggalkannya. Inilah hakikat zuhud yang sesungguhnya.D. Kekeliruan Menolak Makanan Enak dan Fasilitas MubahIblis mengelabui sebagian ahli zuhud sehingga mereka menyiksa diri dengan menolak makan roti halus dari gandum, menolak makan buah-buahan, sengaja memakai pakaian dari bulu domba (suf) yang kasar, gatal, dan berbau, serta menolak minum air dingin di siang hari yang terik. Mereka mengira menyiksa fisik adalah inti dari zuhud.Sifat Zuhud Rasulullah ﷺ dan Para Sahabat:Para sahabat Nabi ﷺ dahulu pernah mengalami kelaparan ekstrem hingga mengikatkan batu di perut mereka (seperti saat Perang Khandaq). Namun, mereka lapar bukan karena sengaja melaparkan diri, melainkan karena kondisi geografis dan ekonomi saat itu memang sedang tidak ada makanan. Ketika makanan yang lezat tersedia, mereka memakannya hingga kenyang.Kisah Abu Hurairah: Nabi ﷺ menyuruh Abu Hurairah meminum susu berulang-ulang hingga Abu Hurairah berkata: "Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, wahai Rasulullah, lambungku sudah penuh dan tidak ada lagi ruang tersisa untuk menampung air susu ini." Nabi ﷺ tidak melarangnya kenyang selama tidak menjadi kebiasaan yang memicu kemalasan.Kebiasaan Kuliner Nabi ﷺ: Rasulullah ﷺ adalah pemimpin para zahid di dunia, namun riwayat sahih mencatat beliau sangat menggemari makan daging (khususnya paha kambing), beliau memakan daging ayam, sangat menyukai makanan yang manis-manis (al-halwa), dan sangat gemar meminum air putih yang dingin dan segar (al-ma' al-barid al-hulu) yang telah diendapkan semalaman di dalam kendi kulit atau tanah liat agar terasa lebih nikmat.Kritik Hasan Al-Basri: Seseorang menolak makan makanan mewah (khabis — campuran gandum, minyak, dan madu) dengan alasan: "Aku takut tidak mampu menunaikan hak syukur atas kelezatan makanan ini." Hasan Al-Basri menegurnya dengan telak: "Sungguh engkau adalah orang yang bodoh! Apakah engkau mengira engkau sudah mampu menunaikan hak syukur atas segelas air putih dingin yang engkau minum setiap hari? Jika alasanmu adalah tidak mampu bersyukur, sekalian saja engkau berhenti makan dan minum seumur hidup!"Kebiasaan Sufyan Ats-Tauri: Ketika melakukan safar jauh, Imam Sufyan Ats-Tauri sengaja membawa bekal terbaik berupa daging panggang (lahmul maswi) dan kue manis mewah (faludaj) agar fisiknya tetap prima dalam perjalanan ibadah.E. Filosofi Tubuh: Tubuhmu adalah TungganganmuAl-Imam Ibnul Jauzi memberikan sebuah nasihat medis dan spiritual yang sangat mendalam:"Sesungguhnya jasad dan tubuhmu itu adalah tungganganmu (tunggangan untuk menuju Allah). Maka, engkau wajib berlaku lembut dan menyayangi tungganganmu agar ia mampu membawamu sampai ke tempat tujuan dengan selamat."Jika seseorang memaksa tubuhnya hanya memakan roti kering tanpa lauk dan menolak nutrisi mubah, maka organ tubuhnya akan mengalami kerusakan fisik (seperti kisah sebagian ahli ibadah kuno yang otaknya mengering dan matanya mengalami kebutaan akibat malnutrisi). Secara medis syariat, tubuh manusia membutuhkan keseimbangan rasa dan zat: ada kalanya membutuhkan zat asam, zat manis, suhu hangat, dan dingin untuk menjaga stabilitas metabolisme tubuh.Menjaga tubuh agar tetap sehat demi menunjang kualitas ibadah adalah kewajiban syariat. Yang dilarang dan dicela oleh agama adalah sifat rakus, gila belanja (consumerism), dan berlebih-lebihan (israf) dalam menuruti hawa nafsu keduniawian yang tidak memiliki nilai tambah untuk akhirat.F. Peringatan Ibnu 'Aqil terhadap Dua Kutub EkstremDiktat kajian ini ditutup dengan untaian mutiara yang sangat indah dari seorang ulama besar mazhab Hambali, Ibnu 'Aqil rahimahullah:"Sungguh sangat mengherankan urusan beragama kalian! Kalian sering kali terjebak di antara dua kutub ekstrem yang sama-sama keliru: kutub pertama adalah orang-orang yang mempertuhankan hawa nafsu dan menghabiskan umur untuk bermain-main, sedangkan kutub kedua adalah orang-orang yang menciptakan paham pendetaisme/monastisisme (rahbanyyah mubtada'ah) dengan cara mengurung diri di pojok masjid dan menelantarkan hak-hak kemanusiaan (hak orang tua, hak nafkah anak, dan hak biologis istri). Ketahuilah, ibadah yang benar di sisi Allah adalah ibadah yang dibangun dengan menyinergikan antara kelurusan akal sehat dan bimbingan wahyu syariat!"

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
S
SHILFI LATIFATHUL WANGSA

📍 Kabupaten Purwakarta

Talbis iblis 9

Talbis iblis#9Talbis iblis terhadap orang yang beramar ma'ruf nahi mungkarTipuan syaithan terhadap orang yang beramar ma'ruf nahi mungkar Ibadah yang agung yang amar ma'ruf nahi mungkarUmat yang meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar adalah umat yang terlaknatMereka tidak saling meng nahi mungkar Adapun iblis menggoda orang yang beramar ma'ruf nahi mungkarTipuan syaithan terhadap orang yang beramar ma'ruf nahi mungkarMeninggalkan amar ma'ruf nahi mungkarSetan membuat kita merasa bukan tanggung jawab, takut kehilangan, atau berdalih "fokus memperbaiki diri"Beramar ma'ruf tanpa ilmu, beramar ma'ruf orang yang bodohKita tidak boleh tajassus, tidak boleh pukul sendiri/main hakim sendiriKita tidak boleh bernahi mungkar dengan kebodohan, tidak boleh menuduh tanpa bukti, kalau tidak ada saksi 4 orang maka kamu dicambuk, orang yang nahi mungkar tidak boleh emosian, harus menahan diriKalau dai sedikit sedikit emosi jangan jadi dai, kalau dai sedikit sedikit ngamuk jangan jadi dai, dai harus sabar, dia bela diri bukan bela AllahYang ma'sum aja Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam sabar apalagi kita yang bukan ma'sum Siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan tutup aib dia pada hari kiamat kelakTidak semua kemungkaran harus kita umbar, karena nahi mungkar ada aturannyaKita dilarang tajassus, tidak usah mencari cari tauBerbangga bangga berbuat maksiat dan berbangga bangga ngumbar aib itu gak bolehDiantara tipuan iblis dia duduk dihadapan semua orang lalu dia cerita dia begini dia begitu saya pernah begini saya pernah begitu dia cerita terus Menutupi aib kaum muslimin wajib sebisa mungkinNahi mungkar menimbulkan kerusakan lebih besarTujuan nahi mungkar adalah mengurangi kerusakan, bukan menciptakan kerusakan yang lebih besar.Tipuan iblis kepada ahli ibadah kamu aja begini sementara saya aja bukan orang shaleh, kamu aja begitu ngapain tegur tegur orang, ini kesalahan Meskipun dia sering berbuat maksiat tersebut dia harus ber nahi mungkar/tegur, kalau dia tidak tegur, dia dapat dosa nya, dan seorang yang ber nahi mungkar dengan menegur kemasiatan nya, itu dia menasehati dirinya sendiri, semoga dia termotivasi untuk meninggalkan maksiat tersebutTipuan iblis kepada ahli zuhud dan ahli ibadahOrang awam mendengar celaan terhadap duniaMaka dia merasa kalau mau selamat harus tinggalkan dunia, dia pergi ke gunung, keluarga/istri/anak dia tinggalkan, jadi terlantar, dia tinggalkan ibu, ibunya nangis, jadilah dia durhaka kepada ibunya, dia tinggalkan utang utang orang jadi dia tidak bayar utangnya, dia menjauhkan diri dari shalat jum'at, dari shalat berjamaah, gimana mau shalat jum'at dia tinggal di gunung, dunia itu tidak tercela, dunia itu bisa bermanfaat, yang tercela sifat dia terhadap dunia tersebutDunia adalah sebab untuk menuntut ilmu, bisa beribadah, dia bisa makan minum, dia bisa bangun masjid bisa beribadahYang tercela itu kalau ambil dunia dengan tidak halalAtau ambil dunia dengan berlebih lebihan, rumah berlebih lebihan, baju berlebih lebihan, mobil berlebih lebihan, mengambil dunia tidak sesuai dengan kebutuhan, ini yang tercelaDiantara tipuan iblis kepada ahli zuhud mereka tidak menuntut ilmu karena ke zuhudan merekaMereka telah mengganti yang baik dengan yang buruk, syaithan mengkhayalkan perkara perkara mubahAda manfaatnya ga di akhirat? Kalau gak ada tinggalkan, itu zuhudDiantara mereka zuhud itu meninggalkan yang mubah seperti tidak mau makan, ada yang makan nya sedikit sampai tubuhnya kerempeng, ini bukan jalan Rasulullah shallallahu'alahi wasallam dan juga bukan jalan para sahabat dan juga bukan jalan tabi'in, para sahabat dulu mereka lapar karena tidak ada makanan, mereka sabar bukan melaparkan diri, kalau ada makanan mereka makan, bukan makan sedikit sampai tubuh kering, tinggalkan yang tidak bermanfaat, seperti kekenyangan, berlebih lebihan, mengikuti hawa nafsu, karena itu merusak badan dan agamaHendaknya mereka beribadah kepada Allah ikut akal dan syariat, bukan sibuk beribadah tapi hak istri hak ibu hak orang lain ditinggalkan bukan ikut keinginan atau rohbaniyyah, ke masjid melulu tidak peduliin istri dan anak

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
A
Alina Rostiana

📍 Kota Yogyakarta

Materi ke 9 TALBIS IBLIS TERHADAP ORANG ORANG YANG BERAMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR Bersama Ustadz DR. FIRANDA ANDIRJA M.A

Materi ke 9TALBIS IBLIS TERHADAP ORANG ORANG YANG BERAMAR MA’RUF NAHI MUNGKARBersama Ustadz DR. FIRANDA ANDIRJA M.A- Diantara ibadah yang agung adalah Amar ma’ruf Nahí mungkar dan dengan ıbadah ınilah umat ıni mulia.Sifat-sifat mulia manusia adalah:menyeru kpd kebaikan, mencegah dari kemungkaran, dan beriman kpd Allah..  Umat yang meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar adalah umat yang terlaknat  Ada fiqih dım beramar må'rıf nahi mungkar, apabila seseorang beramar ma'ruf nahi mungkar ada beberapa kemungkinan:  Kemungkaran tersebut  hilang, maka wajıb bagi dia bernahi mungkar  Kemungkaran tsb berkurang, Maka wajib bernahi mungkarKalau bernahi mungkar kemungkarannya Semakin besar, maka tidak boleh bernahi mungkarKita larang kemunakaran tapi tenganti dgn kemungka ran sejenis, maka ini butuh ijtihadBernahi mungkar itu tidak semudah  yg kita bayangkan.  Tidak semua kemungkaran itu dianggap MungkarMisalnya masalah  khilafiah (terutama kalo Kuat)  Kemungkaran tidak bisa dgntajassus  Orang orang yang salah dlm praktek kemungkaranIbnu Jauzı berkata: para orang orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar itu ada z model :  Alimun → orang yang berilmu  Jahilun → orano yang jahil.- Adapun ıblis menggoda orang yang alim bernahi mungkar=terpenuhi persyaratan dan iblis bisa masuk lewat 2 jalan:  Bergaya dengan dakwahnya, berdzikir untuk disebut2 orang. → riya’ dan ujub dgn amal perbuatannya untuk bernahı mungkar.  Dia marah tapi bukan karena Allah, dia marah karena membela dirinya , ketika ıtu brarti dia tidek beramal sholeh- Ketıka orang bodoh bernahi mungkar, maka setan akan mempermainkan orang tersebut dan kerusakan2 yang ditimbullan akan lebin banyak darıpada perbaikan yg dilakukan( bişa jadi dia melarang sesuatu yg boleh secara ijma’,bisa jadı dia mengingkari seseorang tp org tsb punya takwil/tafsıran sendiri, atau orang tsb mengikuti pendapat lain , merusak properti untuk beramar ma’rif nahi mungkar ( misal Mendobrak rumah yg sedang minum mıras di rumahnya),bernahi mugkar itu butuh ilmu fiqih → Kalau Orang sedang maksiat diam2 kita tdk baleh tajassus; tak boleh memukul pelaku kemungkaran, kita  baleh Jengkel tetapi tak boleh bernahi mungkar dgn Kebodohan.Orang bernahí mungkar tdk boleh emosi  Terkadang orang bernahi mungkar dan membongkar sesuatu yang harus disembunyikan.  Melapor ke penguara ltu sebaiknya kita hanır benar2 tahu apakah si penguasa paham ilmu dan hukumnya.  Berbangga2 dengan mengakui pelaku kemungkaran(pelaku maksiat) itu tidak diperbolehkan.  Menutupi aib kaum muslimin adalah wajib şebisa mungkin  Orang yong paling kita lembuti untuk kita ingkari Kemungkarannya adalah para penguasa  Setan telah menipu sebagian ahli ibadah, dia telah melihat kemungkaran tetepi tidak mengingkarınya., katanya hanya org sholeh yang bisa bernahi mungkar  Orang pelaku kemaksiatan wajib beramar ma’ru nahu mungkar, karena mempunyai 2 kewajıban:  Kewajiban meninggalkan maksiat  Kewajiban untuk bernahi mungkar.- Seseseoramg yang menegur pelaku kemaksiatan sebenarnya dia sedang menegur dırinya sendiri-Ketika dia bernahi mungkar dan dia meninggalkan maksiatnya maka itulah yg lebih utama

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
N
Nadya Nandadita Islamina

📍 Kota Bandung

Tablis Iblis #9

Talbis Iblis terhadap Orang yang Beramar Ma'ruf Nahi MunkarAmar ma'ruf nahi munkar adalah ibadah yang sangat agung. Melalui ibadah inilah umat Islam menjadi umat terbaik, sebagaimana yang dicontohkan oleh para nabi dan rasul. Sebaliknya, umat terdahulu seperti Bani Israil dilaknat karena mereka meninggalkan ibadah ini dan saling membiarkan kemungkaran terjadi.Namun, penerapan nahi munkar memerlukan pemahaman fikih yang luas dan tidak boleh dilakukan sembarangan. Secara sederhana, ada empat kemungkinan dampak saat seseorang mencegah kemungkaran:1 Kemungkaran tersebut hilang (Wajib hukumnya).2 Kemungkaran tersebut berkurang (Wajib hukumnya).3 Mencegahnya justru menimbulkan kemungkaran yang lebih besar (Haram/tidak boleh dilakukan karena justru menyebabkan kemungkaran baru).4 Kemungkaran yang dilarang terganti dengan kemungkaran sejenis (Memerlukan ijtihad ulama).Ibnu Jauzi membagi orang yang melakukan amar ma'ruf nahi munkar menjadi dua kelompok:A. Kelompok Alim (Orang yang Berilmu)Orang alim memahami fikih dakwah, kapan harus berbicara, dan kapan harus diam. Namun, iblis tetap bisa menggelincirkan mereka melalui dua jalan: Jalan Pertama: Riya dan UjubSetan menggoda orang alim agar bergaya (berdrama/takaluf) dengan aktivitas dakwahnya agar dipuji orang lain (tholabuz zikr). Mereka juga digoda agar ujub (bangga diri) terhadap amalnya, misalnya merasa hebat karena perkataannya mampu membuat orang lain berhenti bermaksiat.Contoh dari ulama Salaf (Abu Sulaiman): Beliau menceritakan seseorang yang awalnya berniat menasihati khalifah yang menangis saat khotbah Jumat. Namun, ia mengurungkan niatnya karena khawatir ketika maju di depan orang banyak, muncul sifat ingin dilihat orang (tazayun). Jika ia dihukum mati oleh khalifah dalam kondisi tidak ikhlas, maka kematiannya menjadi konyol. Menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim adalah jihad terbaik, dengan syarat niatnya harus murni karena Allah. Jalan Kedua: Marah karena Membela Diri (Bukan karena Allah)Sering kali seseorang memulai nahi munkar dengan ikhlas. Namun, ketika orang yang ditegur membalas dengan cercaan atau hinaan, orang alim tersebut menjadi emosi. Pada titik ini, motivasinya bergeser dari membela agama Allah menjadi membela harga diri sendiri agar tidak terlihat kalah di depan publik. Hal ini sangat sering terjadi dalam perdebatan di dunia maya.Contoh dari Umar bin Abdul Aziz: Beliau pernah batal menghukum seseorang yang membuatnya marah. Beliau berkata bahwa jika bukan karena sedang marah, beliau pasti sudah menghukumnya. Beliau khawatir hukumannya tidak murni karena Allah, melainkan bercampur dengan dorongan untuk memuaskan emosi pribadinya.B. Kelompok Jahil (Orang yang Bodoh/Tanpa Ilmu)Jika orang bodoh melakukan amar ma'ruf nahi munkar, setan akan mempermainkannya dengan sangat mudah. Kerusakan yang mereka timbulkan jauh lebih besar daripada perbaikannya. Sifat buruk kelompok ini di antaranya: Melarang sesuatu yang sebenarnya diperbolehkan menurut ijmak ulama karena ketidaktahuannya. Mengingkari masalah-masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) yang kuat di antara para mazhab besar seolah-olah itu adalah kemungkaran mutlak. Hal inilah yang memicu banyak perpecahan di kalangan kaum muslimin. Melakukan Tajasus (Mata-mata): Mereka mencari-cari kesalahan orang lain, mendobrak pintu rumah, atau memanjat pagar untuk membongkar maksiat tersembunyi. Dalam Islam, jika seseorang bermaksiat secara diam-diam di dalam rumahnya dan mengunci pintu, kita dilarang membongkarnya karena Islam memerintahkan untuk menutup aib sesama muslim. Pandangan Imam Ahmad: Ketika ditanya mengenai kaum yang membawa alat musik atau khamar secara tertutup, Imam Ahmad melarang untuk merusak atau menghancurkannya jika barang tersebut benar-benar tidak terlihat, demi menghindari tajasus. Begitu pula jika mendengar suara alat musik namun tidak diketahui persis sumber asalnya, maka tidak perlu dicari-cari. Main Hakim Sendiri: Melakukan tindakan kekerasan fisik secara berlebihan kepada pelaku maksiat (seperti memukuli pencuri hingga tewas). Menuduh Tanpa Bukti (Qadzaf): Berlebihan dalam mencaci, misalnya menuduh wanita yang jalan bersama lelaki sebagai pezina tanpa adanya 4 orang saksi sah yang melihat langsung. Melaporkan ke Penguasa yang Zalim: Melaporkan kemungkaran kepada aparat yang tidak paham hukum, sehingga pelaku maksiat justru dizalimi atau diperas melebihi batas hukuman syariat yang semestinya.Bagian 2: Talbis Iblis terhadap Ahli Zuhud dan Ahli IbadahBanyak orang awam yang mendengar ayat atau hadis tentang celaan terhadap dunia, lalu menyimpulkan bahwa cara untuk selamat adalah dengan membuang dunia secara total. Ibnu Jauzi menjelaskan bahwa dunia tidak tercela pada zatnya, melainkan tercela karena cara manusia menyikapi dan menggunakannya.Setan menipu para ahli ibadah yang minim ilmu melalui beberapa cara:1. Mengisolasi Diri ke Gunung atau HutanBanyak yang mengira zuhud yang hakiki adalah pergi ke gunung atau tengah hutan untuk fokus beribadah. Akibatnya, mereka tertipu hingga meninggalkan kewajiban-kewajiban yang lebih besar seperti salat Jumat, salat berjamaah, dan menuntut ilmu. Menjauh dari ilmu dan ulama hanya akan memperkuat kebodohan di dalam diri.Bahkan, sebagian orang nekat pergi ke gunung hingga menelantarkan anak, istri, atau membuat ibunya menangis (durhaka), serta meninggalkan utang yang belum lunas. Jika ada ulama Salaf terdahulu yang beribadah di gunung, kondisi mereka berbeda (misalnya tidak memiliki tanggungan keluarga). Ulama besar seperti Sufyan Ats-Tsauri bahkan pernah menyuruh sekelompok orang yang beribadah di gunung untuk pulang ke masyarakat.2. Meninggalkan Perkara Mubah yang BermanfaatSetan mengkhayalkan bahwa zuhud berarti menyiksa diri dengan meninggalkan hal-hal yang mubah. Ibnu Jauzi dan Ibnu Qayyim meluruskan definisi yang benar: Wara’: Meninggalkan sesuatu yang ditakutkan membawa mudarat di akhirat (meninggalkan yang haram dan syubhat). Zuhud: Meninggalkan sesuatu yang tidak memberikan manfaat di akhirat. Artinya, jika suatu perkara mubah bisa mendukung ibadah, maka tidak perlu ditinggalkan.Bentuk salah kaprah ahli zuhud yang keliru: Sengaja tidak mau makan roti yang halus, enggan makan buah-buahan, atau sengaja membiarkan tubuh kurus kerempeng karena menahan lapar. Menyiksa badan dengan mengenakan pakaian kasar dari bulu domba (suf) yang panas dan bau, atau menolak minum air dingin karena menganggapnya terlalu nikmat.Ulama menegaskan bahwa ini bukanlah jalan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Para sahabat dahulu menahan lapar hanya jika makanan memang sedang tidak ada. Namun, jika makanan tersedia, mereka akan makan hingga kenyang.Rasulullah ﷺ sendiri menyukai daging kambing, ayam, makanan manis, serta menyukai air minum yang segar dan dingin yang disimpan di dalam kendi atau wadah kulit.Ketika ada seseorang yang enggan makan makanan lezat karena takut tidak bisa mensyukurinya, Hasan Al-Basri membantahnya dengan berkata bahwa orang tersebut bahkan tidak akan mampu mensyukuri segelas air putih biasa yang ia minum. Sementara itu, ulama besar yang zuhud seperti Sufyan Ats-Tsauri tetap membawa bekal daging panggang dan manisan yang enak saat melakukan perjalanan.3. Mengabaikan Kesehatan dan Tabiat TubuhTubuh adalah tunggangan manusia untuk beribadah, sehingga manusia harus memperlakukannya secara lembut dan proporsional agar bisa sampai ke tujuan (akhirat). Tubuh manusia memiliki kebutuhan medis yang dinamis terhadap rasa kecut, manis, panas, atau dingin. Menahan kebutuhan alami tubuh secara berlebihan justru merusak kesehatan dan menghambat aktivitas ibadah. Perkara dunia baru tercela jika diambil dengan cara yang tidak halal, dikonsumsi secara berlebih-lebihan, atau dibelanjakan hanya untuk menuruti hawa nafsu belaka.Kesimpulan (Nasihat Ibnu Aqil)Ibnu Aqil (ulama mazhab Hambali) menyatakan keheranannya terhadap umat yang beragama tetapi ekstrem: di satu sisi ada yang sibuk mengikuti hawa nafsu dan bermain-main, sementara di sisi lain ada yang menganut paham rahbaniyatur (kerahiban/meninggalkan dunia secara total) hingga berdiam di pojok masjid dan mengabaikan hak-hak keluarga. Jalan yang benar adalah beribadah kepada Allah dengan menyeimbangkan antara akal dan syariat, bukan mengikuti perasaan atau kebodohan.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
K
khaira azwa putri ranaji

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

catatan TALBIS IBLIS #8: talbis iblis terhadap ahli ilmu (bagian 4)

TALBIS IBLIS #8: talbis iblis terhadap ahli ilmu (bagian 4)1. Talbis Iblis dalam Ibadah HajiSalah Prioritas: Iblis menggoda orang yang sudah haji wajib berangkat lagi (haji sunnah) namun tanpa rida orang tua.Melalaikan Hutang dan Kezaliman: Seseorang tetap haji padahal masih punya hutang/kezaliman sm orang lain yang belum diselesaikan. Syarat utama haji adalah kemampuan (istitha'ah).Dalil (QS. Ali 'Imran: 97):وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah".Haji dengan Harta Haram: Allah tidak menerima ibadah yang dibangun dari harta yang kotor.Dalil (Hadis):إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا"Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan Allah tidak menerima kecuali yang baik-baik pula".Ancaman bagi pelaku haji dengan harta haram: لَا لَبَّيْكَ لَكَ وَلَا سَعْدَيْكَ (Tidak ada Labaik bagimu dan hartamu haram).Hati yang Kotor dan Jidal: Iblis menipu jemaah sehingga mereka hanya fokus pada kedekatan jasad ke Ka'bah, sementara hati mereka kotor, penuh kesombongan, pamer (riya), atau saling bermusuhan dan bertengkar (jidal).Dalil (QS. Al-Baqarah: 197):وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ"...dan tidak boleh berbantah-bantahan (debat kusir) di dalam masa mengerjakan haji".Membanggakan Kuantitas Haji: Merasa bangga dan mengumumkan jumlah haji yang sudah dilakukan (misal: "Saya sudah 20 kali wukuf") demi mendapatkan pujian manusia.Lalai Kewajiban demi Haji: Semangat haji tapi mengabaikan shalat fardu, berbuat zalim (memukul/merepotkan) teman perjalanan, atau curang dalam berdagang saat safar.Dalil (QS. Al-Baqarah: 197):وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa".Bid'ah dalam Manasik: Melakukan hal-hal yang tidak dicontohkan Nabi, seperti:Membuka satu pundak ihram sepanjang hari (padahal hanya disyariatkan saat Tawaf Kudum).Berlebihan dalam merendahkan diri seperti hewan (misal: memberi tali di hidung saat tawaf).Prinsip ibadah:خَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ(Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ).Salah Memahami Tawakal: Berhaji tanpa membawa bekal dengan alasan tawakal.2. Talbis Iblis dalam JihadNiat yang Melenceng: Berperang demi popularitas, agar dikatakan pemberani, atau karena fanatisme suku (hamiyyah).Definisi Jihad Fisabilillah:Dalil (Hadis):مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِيسَبِيلِ اللهِ"Siapa yang berjihad untuk menegakkan kalimat Allah, maka dialah yang berada di jalan Allah".Mengejar Ganimah: Niat utama berperang hanya untuk mengincar harta rampasan perang.Bahaya Riya (Pamer): Peringatan tentang mujahid yang pertama kali dilemparkan ke neraka karena berjihad hanya agar disebut "sang pemberani" (faqad qila).3. Talbis Iblis dalam Urusan Harta (Ghanimah)Gulul (Pencurian Harta Rampasan): Mengambil harta ghanimah secara ilegal sebelum dibagikan secara resmi oleh pemimpin.Salah Paham Harta Orang Kafir: Iblis membuat orang merasa halal mengambil harta orang kafir mana saja tanpa aturan syariat, padahal hanya harta kafir harbi (yang memerangi Islam) yang bisa diambil lewat jihad.Ancaman Sekecil Apapun: Mengambil ghanimah tanpa izin, meski hanya sepotong kain atau tali sandal, bisa menjadi api yang membakar di neraka.Dalil (Hadis):شِرَاكٌ مِنْ نَارٍ"(Ini adalah) tali sandal dari api neraka".4. Keteladanan dalam Melawan Talbis (Keikhlasan)Menyembunyikan Amal:Abdullah bin Mubarak: Setelah mengalahkan musuh dalam duel, ia menutup wajahnya agar tidak dikenali dan tidak dipuji oleh orang-orang.Amir bin Abd Qais: Mengembalikan harta rampasan tanpa mau menyebutkan namanya. Ia berkata: waardha bitsawabih (Aku rida dengan pahala-Nya), menunjukkan ia tidak butuh pujian manusia.Ilmu diperlukan untuk mengetahui hukum, dan iman diperlukan untuk memberikan kekuatan agar tidak mengambil yang haram meskipun ada kesempatan.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 3

Halaqah yang ke-3 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Adapun pujian para ulama kepada beliau rahimahullāh, maka ini telah banyak pujian kepada beliau baik dari orang yang merupakan teman-teman beliau atau murid-murid beliau bahkan juga termasuk pujian dari musuh-musuh beliau, maka ini sesuatu yang luar biasa tentunya seseorang dipuji oleh musuhnya sendiri, mereka melihat tentang bagaimana sidq (kejujuran) Syaikhul Islam dalam menyampaikan hujjah, bukan orang yang curang dalam bermunadzaroh dan mereka mengetahui tentang akhlak beliau, tidak menjadikan permusuhan yang terjadi antara beliau dengan ulama yang lain kemudian beliau menjadi orang yang dzholim ini diakui oleh para ulama.Saya sebutkan di sini di antara ucapan para ulama tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ibnu Sayyidinnas ulama yang mengarang kitāb ‘Uyunul Atsar beliau mengatakanAku mendapatkan beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) ini adalah orang yang mendapatkan bagian yang banyak dari ilmu. Ketika beliau memperhatikan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah maka beliau hampir-hampir menguasai hadits-hadits dan juga atsar-atsar para salaf dengan hafalan beliau, hampir-hampir beliau itu menguasai hadits-hadits Nabi ﷺ dan juga atsar – atsar para salaf bukan hanya dengan maknanya sajaKalau beliau berbicara di dalam masalah tafsir maka beliau adalah orang yang membawa benderanya, membawa benderanya maksudnya adalah orang yang jago di dalam masalah ilmu tafsir, kalau bicara tentang ayat, bicara tentang surat, berbicara tentang tafsir Al-Quran seakan-akan tidak ada yang lebih halim tentang tafsir dan perkara-perkara yang detail dan faidah-faidah yang bisa diambil dari sebuah ayat dari beliau rahimahullāh, maka beliau adalah orang yang membawa benderaKalau beliau berfatwa tentang masalah fiqih maka beliau sampai kepada tujuan, sampai kepada puncaknya, artinya ketika berbicara tentang hukum, bicara tentang fiqih ternyata beliau juga orang yang luas ilmunya tentang masalah madzahib al-arba’a juga madzhab yang lain dan apa dalil mereka, apa alasan mereka dan mana yang rojih, kenapa yang rojih adalah demikian, ternyata beliau adalah seorang yang faqihDan kalau sedang bermudzakarah tentang masalah hadits maka ternyata beliau adalah orang yang punya ilmunya dan belia punya riwayatnyaAtau ketika beliau memberikan ceramah, memberikan pengetahuan tentang masalah aliran-aliran, tentang agama-agama, tidak dilihat orang yang lebih luas pengetahuannya tentang aliran dan juga agama tadi daripada beliau rahimahullāh. Jadi kalau berbicara tentang aliran, tahu siapa yang mendirikan, apa isinya, apa syubhat mereka, apa alasan mereka sehingga sebagian atau banyak diantara aliran-aliran tadi ataupun pembesar-pembesar aliran tadi yang mengakui bahwasanya Syaikhul Islam itu lebih tahu tentang alirannya dari pada mereka sendiri dan ini menunjukkan tentang luasnya ilmu beliau, dan beliau tahu bagaimana kok bisa sampai mereka kepada kesesatan-kesesatan tadiDan tidak ada yang lebih tinggi daripada beliau dalam masalah pemahaman tentang aliran-aliran tadiBeliau muncul didalam setiap ilmu, di atas orang-orang yang sebaya dengan beliau, artinya nampak dan terlihat ilmunya daripada yang lain, maka orang yang melihatnya tidak pernah melihat yang semisal dengan beliau, dan mata beliau, yaitu Syaikhul Islam, tidak melihat orang yang semisal dengan dirinya sendiri. Ibarat seperti ini menunjukkan tentang pujian dan menunjukkan tentang bagaimana kelebihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang Allāh ﷻ berikan kepada beliau rahimahullāh.Adz-Dzahabi rahimahullāh, murid beliau, mengatakan beliau Syaikhul Islam yaitu guru Adz-Dzahabi beliau mengatakan bahwasanya orang yang semisal sepertiku ini tidak pantas untuk mensifati beliau, artinya beliau lebih tinggi daripada sifat yang aku berikan kepada beliau, seandainya, kurang lebih demikian makna ucapan Adz-Dzahabi, seandainya saya mensifatkan sesuatu tentang Syaikhul Islam ketahuilah bahwasanya kenyataannya lebih daripada ituMaka seandainya aku ini disuruh untuk bersumpah antara rukun dengan maqam, maksudnya adalah rukun Hajar Aswad dengan maqam Ibrahim, seandainya aku disuruh untuk bersumpah niscaya aku akan bersumpah aku tidak melihat orang yang semisal dengan beliau, dan tentunya sumpah atas nama Allāh ﷻ ini adalah sumpah yang harus jujur, seandainya aku disuruh untuk bersumpah dengan nama Allāh ﷻ antara rukun Hajar Aswad dengan makam Ibrahim niscaya aku akan mengatakan aku tidak pernah melihat dengan mataku orang yang semisal dengan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.Adz-Dzahabi, shahibus siyr, memiliki kitab Siyar A’lamin Nubala’ yang dikenal tentang keahliannya dalam masalah hadits dalam masalah tarikh dalam masalah geografi dan ilmu-ilmu yang lain mengatakan ucapan ini, saya tidak pernah melihat dengan mataku orang yang semisal dengan Syaikhul Islam dan demi Allāh ﷻ beliau tidak pernah melihat orang yang semisal dengan beliau di dalam masalah ilmu. Maka ini juga termasuk keutamaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.Kemudian saya sebutkan disini ucapan dari Taqiyuddin as-Subki beliau adalah bapak dari Tajuddin shabibut thabaqat al-syafi’iyah al-kubra, beliau mengatakanTelah besar keutamaan beliau dan juga luasnya ilmu beliau dan bagaimana luasnya ilmu beliau dalam ilmu syar’i maupun dari bukti-bukti yang berkaitan dengan akal, jadi beliau dalam berdalil selain berdalil dengan dalil-dalil yang syar’i dari Al-Quran dan as-sunnah dengan dalil-dalil yang kuat dan istidlal yang kuat maka beliau juga banyak menyampaikan dalil dari akalDan bagaimana cerdasnya beliau dan kesungguhan beliau, dan bagaimana sampainya beliau di dalam setiap perkara-perkara tadi sampai pada derajat yang tidak bisa disifatkan. Ini ucapan dari Taqiyuddin as-Subki.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis iblis materi 8

Talbis iblis materi 8Kepada ahli ilmu (bagian 3)https://youtu.be/vtgIIgyIW3A?si=sdbqie--gM3LmfTCTipu tablis iblis terhadap ibadah haji1. Pamer dan sengaja untuk mencari gelar2. Mendahulukan ibadah sunnah (cium hajar aswad)3. Meninggalkan kewajiban (bayar haji tp tidak melunasi utang)4. Berbuat maksimat (menipu berkata kotor di sana)5. Mempersulit diri sendiri (bid’ah)Tablis iblis terhadap orang berjihad1. Niat bukan karena Allah2. Tergesa gesa terhadap3. Ghuluw4. Merusak ketakwaan5. Menyalahi pemimpin

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
F
Fatimah Azzahrah

📍 Kabupaten Banggai

Talbis iblis terhadap ahli ilmu bagian 4

Ustadz Dr. Firanda Andirja, lc. M.A TALBIS IBLIS#8 Talbis iblis terhadapa ahli ilmu bagian 4‌Talbis iblis terhadap jama'ah hajiTerkadang seseorang sudah melakukan ibadah haji dan kewajiban haji sudah selesai (kewajiban haji hanya sekali seumur hidup). Kemudian ingin haji lagi (haji sunnah) tetapi haji sunnah tersebut terkadang tdk sesuai dengan aturan, contohnya - Tidak di ridhoi orangtuanya. dan ini adalah kesalahan.- Mempunyai hutang - Hanya untuk jalan-jalan- Menggunakan harta yang syubhat / haram “Sesungguhnya Allah itu maha baik dan tdk menerima kecuali yang baik² pula”- Hanya karena supaya di puji oleh orang lain- Hatinya kotor dan batin yang tdk bersih - Hanya untuk memperbanyak haji nya- Berhaji tapi membully saudaranya- Semangat haji tapi sholat tdk di perhatikan- Berdagang sambil menuju haji tapi tdk jujur dalam berdagang- Berbuat bid'ah ketika sedang melakukan manasik haji, yang mana bukan dari bagian dari manasik haji. - Mengaku bertawakkal. Pergi haji tanpa bekal, mereka menyangka berhaji tanpa bekal itulah tawakkal yang sesungguhnya. Itulah puncak kesalahan. Tdk boleh berhaji sedangkan tdk ada bekal nya dan tdk menyiapkan bekal untuk keluarga yang di tinggalkan. Haji itu hanya bagi yang mampu, tdk perlu memaksakan untuk berhaji sedangkan tdk ada bekal. ‌Talbis iblis masalah jihad fii Sabilillah"Setiap ibadah ada talbisnya"Banyak yang terkena godaan syaitan pergi berjihad niat hanya untuk riya', untuk di katakan sang pemberani, dan jga ada yang berjihad hanya untuk mendapatkan ghanimah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم berkata "Sesungguhnya amal tergantung pada niatnya".Rasulullah bersabda "Siapa yang berjihat untuk menegakkan kalima Allah maka itulah fi sabilillah".Ibnu Mas'ud berkata "Berhati² lah, jangan kalian berkata fulan mati syahid, atau si fulan terbunuh mati syahid, karena ada orang berperang murni hanya untuk mencari ghanimah, dan benar ada orang berjihad karena riya', dan ada yang berperang supaya di ketahui kedudukannya. Tiga orang yang pertama kali di sidang oleh Allah pada hari kiamat1. Seseorang mati syahid tetapi masuk neraka karena niatnya berjihad karena riya'2. Seorang ustadz yang belajar ilmu agama supaya di puji oleh orang lain (masuk neraka) 3. Orang dermawan, tetapi niatnya karena riya' (masuk neraka) - Iblis menipu mujahid dengan mengambil ghanimah gak orang lain. Mengambil harta ghanimah sebelum di kumpulkan oleh Amir dan di bagikan. pengaruh iman dan ilmu untuk menjaga diri dari fitnah hartaBisa jadi seorang mujahid tahu bahwasanya ghulul (mengambil ghanimah sebelum pembagian) hukumnya haram, tetapi karena tdk sabar untuk tdk mengambilnya, dan menyangka akan termaafkan karena amal jihadnya. Ini lah dampak nya dari iman dan ilmu. "Perlu berkumpul antara iman dan ilmu agar terhindar dari fitnah harta".

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
S
Syfa Adinna Shabra

📍 Kabupaten Karanganyar

#8 - TALBIS ILBIS KEPADA AHLI ILMU⁴

•┈┈┈┈••❁🌸﷽🌸❁••┈┈┈┈•12- Talbis Iblis dalam Ibadah Haji.》 Terkadang seseorang sudah menggugurkan kewajiban dengan melaksanakan ibadah haji sekali kemudian dia mengulanginya (haji sunnah) tanpa ridha kedua orangnya, ini sebuah kesalahan. Karena berbakti kepada orang tua lebih utama. 》 Terkadang seseorang berangkat haji padahal dia masih memikul hutang atau kezhaliman (yang wajib adalah melunasi hutangnya terlebih dahulu), terkadang berangkat hanya untuk tamasya, dan terkadang berhaji dengan biaya uang syubhat ataupun harta haram. ⬆️ Haji seperti ini tidak akan diterima. "Sesungguhnya Allah itu maha baik dan Allah tidak menerima kecuali yang baik-baik pula". Maka orang yang berhaji dengan harta yang haram, disebutkan di dalam atsar apabila dia mengatakan "labbaik Allahumma labbaik", maka dikatakan kepadanya "laa.. labbaik kalak, tidak ada labbaik bagimu, hartamu adalah harta yang haram".》 Di antara mereka ada yang ingin dipanggil haji bila bertemu seseorang. Kebanyakan dari mereka menyia-nyiakan kewajiban. di jalan, menyiakan-nyiakan thaharah dan shalat, berkumpul di Ka’bah dengan hati berdosa dan batin yang kotor. ⚠️ Iblis memperlihatkan kepada mereka bentuk haji (yang penting kamu haji), iblis telah menipu mereka.Ketahuilah! bahwa maksud haji adalah mendekatkan hati bukan badan semata, hal itu terwujud bila ketakwaan dilakukan.Kata para ulama, diantara faedah Allah mensyariatkan haji adalah : لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ Artinya:"Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka Hindari berjidal (debat kusir) dengan sesama jama'ah terlebih dengan keluarga kita sendiri ataupun 1 rombongan dengan kita, karena bisa mengganggu kenyamanan hati. Tahan emosi kita, supaya hati kita bisa dekat. 》 Berapa banyak orang di jalan Makkah bermaksud menunaikan haji, mereka memukul rekan-rekannya karena berebut air dan mempersempit jalan mereka. Atau para senior menyuruh orang-orang yang dibawahnya mencari air (pada zaman ibnul jauzi) ⚠️ Iblis telah mengacaukan sebagian orang yang berangkat ke Makkah, mereka menyia-nyiakan shalat, mengurangi timbangan dan takaran saat mereka menjual, mereka menyangka bahwa haji menolak adzab dari mereka. Iblis mengacaukan sebagian orang dari mereka, mereka mengadaadakan manasik yang bukan termasuk darinya (diluar thawaf khudum). Aku melihat sekelompok orang berdandan saat ihram, membuka satu pundak, menjemurnya di bawah matahari berhari-hari, maka kulit mereka berubah gelap dan kepala mereka kusut, mereka menjadikannya sebagai perhiasaan di depan orang-orang.🔗 Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi melihat seorang laki-laki thawaf di Ka’bah dengan tali tambang atau lainnya, maka nabi memotongnya. Maksudnya, ia membawa tali yang diikatkan dihidung temannya (layak nya hewan) dan ditarik tarik supaya mungkin tunduk di hadapan Allah (tawadhu). Rasulullah shallallahu alaihiwasallam menyuruh untuk memotong tali tersebut 'kalaupun ingin menggiring, pakai tangan!'. (HR. Imam Bukhori) Ibnul Jauzi berkata : "Hadits ini melarang perbuatan bid’ah dalam agama sekalipun maksudnya adalah ibadah.”Karena, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. 13- Talbis Iblis atas mereka dalam Tawakal.》 Iblis mengacaukan sebagian orang yang mengaku bertawakal, maka mereka berangkat haji tanpa bekal, mereka beranggapan bahwa itulah tawakal, padahal mereka benar-benar keliru.》 Seorang laki-laki berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Saya ingin berangkat ke Makkah dengan tawakal tanpa bekal.” Maka Imam Ahmad Ahmad menjawab, “Berangkatlah tanpa rombongan.” Dia berkata, “Tidak, tetapi bersama rombongan.” Maka Imam Ahmad berkata, “Kamu bertawakal kepada kantong makanan orang.” Kami memohon kepada Allah agar membimbing kami.⚠️ Hadits ini menegaskan bahwa jika kita tidak membawa bekal itu akan menyusahkan rombongan yang lain dan ini bukan bagian dari tawakal. Karena tawakal itu adalah ikhtiar dengan menyerahkan hati kepada Allah bukan nekat tanpa ikhtiar. Allah mengatakan bahwa berhaji itu wajib bagi yang mampu agar kita memiliki bekal untuk diri sendiri ketika berhaji dan bekal untuk keluarga yang sedang ditinggalkan.14- Talbis Iblis atas Orang Berjihad. 》 Iblis telah mengacaukan banyak orang, mereka berangkat berjihad sementara niat mereka adalah membanggakan diri dan riya’, agar dikatakan, ‘Fulan berperang'. Bisa jadi tujuannya adalah agar dikatakan, ‘Fulan pemberani', atau mencari harta rampasan perang (ghanimah). Dari Abu Musa Al-Asy'ari berkata : “Ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi , dia berkata, “Ya Rasulullah, apa pendapatmu tentang seorang laki-laki yang berperang demi keberanian, berperang karena fanatisme dan berperang karena riya’, siapakah dari mereka yang berperang di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa berperang untuk meninggikan kalimat Allah maka dia di jalan Allah.” (Diriwayatkan dalam ash-shahihain.)Dari Ibnu Mas’ud berkata,“Jangan berkata, ‘Fulan syahid.’ Atau, ‘Fulan gugur sebagai syahid.’ Karena terkadang seseorang berperang agar mendapatkan harta rampasan perang, berperang mencari nama dan berperang agar kedudukannya diketahui!".Dari Abu Hurairah berkata, “Manusia pertama yang diputuskan di Hari Kiamat ada 3 : ¹Seorang laki-laki gugur di medan perang, dia dihadirkan, dikenalkan kepada nikmat-nikmatnya maka dia mengenalnya. Allah bertanya, Apa yang kamu lakukan padanya?’ Dia menjawab, ‘Aku berperang di jalanMu hingga aku terbunuh.’ Allah berfirman, ‘Kamu dusta, karena kamu berperang agar dikatakan bahwa kamu pemberani dan itu sudah dikatakan.’ Kemudian Allah memerintahkannya agar diseret di atas wajahnya hingga dicampakkan ke dalam api neraka.²Seorang laki-laki belajar ilmu, mengajarkannya dan membaca alQuran, dia dihadapkan kepada Allah, Dia mengenalkan nikmat-nikmatNya maka dia mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, Apa yang kamu lakukan padanya?’ Dia menjawab, ‘Aku belajar ilmu karenaMu, mengajarkannya dan aku membaca al-Qur’an.’ Allah berfirman, ‘Kamu dusta, sebaliknya kamu belajar agar dikatakan bahwa kamu alim dan itu sudah dikatakan. Kamu membaca al-Qur ‘an agar dikatakan bahwa kamu qari’ dan itu sudah dikatakan.’ Kemudian Allah memerintahkannya agar diseret di atas wajahnya hingga dicampakkan ke dalam api neraka.³Seorang laki-laki yang dilapangkan hidupnya, memberinya berbagai macam harta, dia dihadapkan, maka Allah mengenalkan nikmat-nikmatNya dan dia mengenalinya. Allah bertanya, Apa yang kamu lakukan padanya?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak membiarkan satu jalan di mana Engkau menganjurkan berinfak padanya kecuali aku berinfak padanya karenaMu.’ Allah berfirman, ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu berinfak agar dikatakan bahwa kamu dermawan dan itu sudah dikatakan.’ Kemudian Allah memerintahkannya agar diseret di atas wajahnya hingga dicampakkan ke dalam api neraka.” (Diriwayatkan sendiri oleh Muslim).⬆️ Hadis Abu Hurairah mengenai tiga orang yang pertama kali diputuskan perkaranya di Hari Kiamat diriwayatkan oleh Imam Muslim.Mereka adalah ahli jihad yang gugur, ahli ilmu yang membaca Al-Qur'an, dan orang yang berlimpah harta. Ketiganya divonis masuk neraka karena beramal bukan karena Allah, melainkan karena riya (mencari pujian).15- Talbis Iblis atas mereka Dalam Urusan Harta Rampasan.》 Iblis mengacaukan seorang mujahid tatkala harta rampasan perang diraih, terkadang dia mengambil harta rampasan perang padahal dia tidak boleh mengambilnya. Ada kemungkinan dia berilmu minim, sehingga dia melihat bahwa harta orang-orang kafir mubah bagi siapa yang mengambilnya dan dia tidak tahu bahwa menggelapkan harta rampasan perang adalah dosa.Dalam ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah, ia berkata,“Kami berangkat bersama Rasulullah menuju Khaibar, dan Allah memberikan kemenangan kepada kami dan kami tidak mendapatkan harta rampasan perang berupa emas maupun perak, akan tetapi peralatan, makanan dan pakaian. Kemudian kami pergi ke lembah, sedangkan Rasulullah bersama seorang budaknya. Tatkala kami singgah, budak Rasulullah ini bangkit seraya membuka, namun sebuah anak panah mengenainya dan mematikannya. Kami berkata, ‘Selamat baginya, syahadah wahai Rasulullah.” Maka Nabi menjawab, ‘Tidak demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, sesungguhnya syal (yang digelapkannya) membakarnya, dia mengambilnya di perang Khaibar dan belum dibagi.’ Maka orang-orang ketakutan, seorang laki-laki datang membawa satu buah tali sandal atau dua, dia berkata, ‘Saya mengambilnya di perang Khaibar.’ Rasulullah bersabda, “Satu buah tali sandal dari neraka atau dua buah tali sandal dari neraka".》 Terkadang seorang prajurit mengetahui larangan, hanya saja dia melihat harta melimpah sehingga tak kuasa menahan diri darinya, bisa jadi dia menyangka bahwa jihadnya melindunginya dari apa yang dilakukannya. Di sinilah diketahui dampak iman dan ilmu.⚠️ Berhati-hatilah! Jangan sampai kita memakan harta orang lain walaupun sedikit.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
R
RATIH HANDAYANI

📍 Kabupaten Bogor

Day-8 TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI IBADAH BAGIAN 4

Talbis iblis terkait ibadah haji. Menuruut Al Imam Ibnu Jauzi, terkadang seseorang sudah melaksanakan haji dan kewajiban haji sudah selesai (kewajiban haji hanya sekali). Lalu orang tersebut ingin melakkukan ibadah haji sunnah. Contoh: Seorang anak hendak berhaji sunnah, namun kedua orang tuanya tidak ridho karena ada keperluan. Maka hendaknya ia meninggalkan ibadah haji sunnah dan memenuhi panggilan orangtuanya. karena berbakti kepada orangtua lebih utama. Kemudian ada lagi orang yang berhaji, dan ini merupakan haji pertamanya. Namun orang ini memiliki hutang atau kedzoliman-kedzoliman yang belum ia selesaikan. Maka ini tidak boleh. Sebab haji berlaku hanya bagi yang mampu. Lebih utama melunasi hutang dahulu.Terkadang orang yang berhaji berniat untuk jalan-jalan. Terkadang ada orang berhaji dengan uang syubhat bahkan uang haram. Dan berhaji dengan uang yang haram maka hajinya tertolak. Karena Allah hanya menerima dari yang halal. Terkadang ada orang yang berniat haji hanya ingin agar dipanggil haji oleh orang-orang. Ada sebagian jama’ah haji yang berkumpul di suatu tempat namun hati mereka kotor (marah-marah saat ibadah haji karena tersenggol). Padahal seharusnya bukan hanya jasad saja yang bersatu tapi hati saling berjauhan. Dalam berhaji pun dilarang untuk berdebat kusir.Banyaknya orang yang berbangga-bangga karena saking seringnya berhaji. Diantara mereka ditipu iblis, berhaji namun sholatnya tidak dijaga. Terkadang juga ada yang berhaji tapi berniat untuk berjualan.Larangan-larangan dalam berhaji agar mabrur:Tidak berdebat kusirTidak mengeluarkan kata-kata yang menimbulkan syahwatTidak berjima’ ketika ihramTidak mendzolimi orangAl Imam Ibnu Jauzi mengatakan bahwa iblis menipu mereka agar berbuat bid’ah saat berihram. Seperti saat melakukan thowaf membuka bahu kanannya. Hadits Riwayat Imam Bukhari tanpa di riwayatkan Imam Muslim, dari Ibnu Abbas, “Ada seorang thowaf di Ka’bah sambil membawa zimah ( semacam tali), dan tali tersebut diikat di hidung temannya dan ditariknya, seakan-akan temannya itu seperti hewan. Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wasalam menyuruh untukmemotong tali tersebut.” Makna hadits ini adalah larangan untuk berbuat bid’ah ketika thowaf. Karena sebaik-baiknya haji adalah hajiny Rasulullah.Ada sebagian orang yang ditipu iblis ketika berhaji mengaku bertawakal dengan tidak membawa bekal sama sekali. orang itu mengira bahwa itulah tawakal yang sesungguhnya. Mereka berada di puncak kesalahan. Karena Allah menyuruh untuk berbekal agar tidak merepotkan orang lain saat berhaji. Imam Ahmad pernah ditanya seseorang, “Bolehkah saya berhaji dengan tawakal yang sesungguhnya tanpa membawa bekal?” Imam Ahmad menjawab, “Pergilah berhaji sendirian, jangan bersama rombongan! Karena nanti akan merepotkan orang.”Talbis iblis terkait jihad. Mereka keluar berjihad tapi niat dihatinya ingin berbangga-bangga, ingin dikatakan jagoan, ingin mencari ghonimah (harta rampasan perang). Sementara Nabi shalallahu alaihi wasalam bersabda, “sesungguhnya semua amal berdasarkan dari niatnya”. Berbagai macam tipuan iblis dari Abu Musa radiallahu anhu, ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dan berkata, “Ya Rasulullah bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang berperang menunjukkan keberaniannya, ada yang berperang karena murni membela suku, dan ada orang berperang fii sabilillah, mana diantara ini yang utama?” Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasalam menjawab, “Siapa yang berjihad untuk menegakkan kalimat Allah maka fii sabilillah”. (HR. Bukhari & Muslim). Fii sabilillah itu berperang menegakkan kalimat-kalimat Allah. Oleh karenanya Ibnu Mas’ud mengingatkan, “hati-hati! Jangan kalian berkata si fulan mati syahid. Atau seorang terbunuh mati syahid. Karena ada orang yang berperang karena murni untuk mencari ghonimah. Dan benar ada orang yang berjihad untuk disebut-sebut (riya’)”. Dalam masalah jihad, orang berniat macam-macam dan hanya Allah yang mengetahui niat mereka.Hadits tentang orang yang pertama kali di hisab di neraka jahanam pada hari kiamat, pertama, seorang mati syahid kemudian dihadirkan lalu Allah ingatkan orang tersebut dengan nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepadanya dan Allah bertanya, “Apa yang kau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?” Dijawabnya, “Aku berperang karena engkau, yaa Allah! Sampai aku mati syahid”. Allah berkata, “Kau dusta, engkau berperang supaya dikatakan pemberani. Niatmu supaya dikatakan pemberani terkabulkan”. Kedua, seorang ustdz belajar ilmu agama supaya dikatakan alim, supaya dikatakan ahli qur’an, ahli hadits dan terkenal tapi Allah memasukkannya ke neraka. Ketiga, orang yang dermawan. Allam memberinya harta, lalu Allah bertanya, “Apa yang kau lakukan dengan hartamu?” Dijawabnya, “Semua jalan yang ENGKAU suka untuk aku infaq, maka aku infaqkan, yaa Allah”. Allah membalas, “Kau dusta, kau berinfaq supaya dikatakan dermawan! Maka lemparkanlah ia ke neraka jahanam!” Maknanya, bahwa tidak semua jihad niatnya karena Allah.Dari Abu Hatim Ar-Rozi, dia berkata, “Aku mendengar Abdah bin Sulaiman berkata, Suatu hari kami dalam sebuah pasukan kecil bersama Abdullah bin Ibnu Mubarak di negeri Romawi, tiba-tiba bertemu dengan musuh. Ketika bertemu 2 shaf, ada shaf kaum muslimin dan shaf romawi. Ada jagoan dari shaf Romawi mengatan, Ayo siapa yang mau duel melawan saya? Maka ada seorang yang maju dari kaum muslimin. Mereka bertempur berdua dan ternyata kaum muslimin kalah, kejadian berulang hingga ada orang ke-4 yang menerima tantangan orang Romawi itu, dan menang dengan menikamnya.Lalu semua orang dari kaum muslimin datang mengerumini orang ke-4 karena ingin tahu siapa yang yang menaklukkan jagoan Romawi ini. Ternyata orang ke-4 ini menutup wajahnya karena tidak ingin diketahui orang. Tapi saya tarik penutup wajahnya, ternyata orangke-4 itu adalah Ibnu Mubarak”.Komentar Ibnu Jauzi akan peristiwa ini, “Lihatlah kalian para pembaca semoga Allah merahmati kalian. Lihatlah orang yang mulia, yang ikhlas ini, bagaimana ia takut ikhlaslah terganggu maka ia menutup wajahnya.” Para salaf takut akan amal sholehnya rusak karena takut riya’. Ibrahim bin Adham, ketika beliau berjihad kemudian menang, beliau tidak mengambil ghonimah karena ingin jihadnya sempurna. Talbis iblis terkait seorang mujahid. Terkadang iblis menipu seorang mujahid ketika dia menang dan dia mendapat ghonimah, kemudian ia mengambil bagian ghonimah padahal itu bukan bagian dari haknya. Mungkin ia tidak punya ilmu sehingga ia menyangka bahwasanya seluruh harta orang kafir halal untuk diambil. Padahal ia tahu dalam aturan jihad, tidak boleh mengambil harta sebelum dikumpulkan oleh amir. Setelahnya amir yang membagikan. Mengambil ghonimah sendiri sebelum dikumpulkan dan dibagikan amir disebut harta ghulul.Dalam hadits shahih dari Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata, “Suatu hari kami berangkat dalam perang Khaibar dan akhirnya kami menakhlukkan Khaibar dan ada ghonimah. Ketika itu kami hanya mendapatkan ghonimah berupa perabot, makanan. Kemudian kami pergi ke suatu lembah. Dan bersama Nabi shalallahu alaihi wasalam ada budaknya. Saat kami singgah di lembah tersebut, budak Rasulullah ini melepas pelana onta tiba-tiba ada panah asing ke arahnya, dan dia meninggal karena panah tersebut. tatkala kami melihat budak itu meninggal karena anak panah itu, kami pun memberinya selamat baginya karena mati syahid. Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wasalam berkata, Tidak, demi Dzat yang Muhammad ada di tangannya, seseungguhnya kain telah menyalakannya untuk membakarnya, dia telah mengambil kain dari harta ghonimah perang Khaibar padahal belum ada pembagian dan balasannya seperti mengambil api neraka”. Pengaruh iman dan ilmu untuk menjaga diri dari fitnah harta, bisa jadi seorang mujahid tahu bahwasanya mengambil harta ghulul hukumnya haram, tetapi karena hatinya tidak sabar dan merasa mempunyai kontribusi telah ikut berperang dan menganggap boleh.Catatan pribadi kajian kitab Talbis Ibliskarya Al Imam Ibnu Jauzi Pemateri: Ust. Firanda Andirja, M.AChallenge: @komunitas.beekindPencatat: @umlinote

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026

Talbis Iblis kepada Ahli Ilmu

Kebanyakan orang berhaji bukan karena ketakwaan, melainkan karena ingin jalan-jalan, ingin dipuji atau terlihat berapa kali haji.Ada yang memaksakan haji, sementara ia masih memiliki utang yang belum dilunasi atau melanggar hak orang tua, padahal berbakti kepada orang tua lebih utama dari pada haji.Iblis menipu orang untuk berhaji dengan harta yang haram atau subhat.Allah tidak menerima ibadah kecuali yang brsumber dari harta yang baik.Sebagian haji melakukan bid'ah dalam manasik atau nekat membawa bekal dengan alsan "tawakal" yang keliru. Iblis mendorong seseorang berjihad agar disebut pemberani atau karena fanatisme kesukuan, bukan untuk menegakkan kalimat Allah.Kesalahan dalam jihad adalah mengambil harta rampasan perang (ghonimah) sebelum dibagikan secara resmi oleh pemimpin. Ibnu Jauzi menekankan bahwa perbuatan ini disebut ghulul dan sangat berbahaya, bisa menghalangi seseorang mendapatkan pahala syahid.PPentingnya seseorang mujahid membekalli diri dengan ilmu syar'i agar tidak terjebak dalam ketamakan terhadap harta.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
H
Haniva Eka Kusuma

📍 Kabupaten Bogor

Talbis Iblis - Ringkasan bagian 8

Talbis Iblis - 8Talbis Iblis terhadap ahli ilmu (bagian 4) Imam ibnu jauzi menyebutkan: Talbis Iblis terkait ibadah HajiBeliau berkata, terkadang orang sudah melaksanakan ibadah haji dan kewajiban haji sudah selesai. Karena kewajiban haji itu hanya sekali seumur hidup. Kemudian ada seseorang yang ingin haji sunnah. Tapi kadang haji sunnah tersebut tidak sesuai aturan.Contoh: • ternyata dia berhaji tapi tidak di ridhoi oleh orangtuanya.Jika dia haji sunnah tetapi orangtuanya lebih butuh bantuan, maka tidak usah dia kerjakan. Karna membantu orangtua lebih utama. Lain halnya dengan haji wajib, tetap harus jalan (walau orangtua marah)Dan ini adalah kesalahan. • terkadang orang berhaji (meskipun haji pertama) tetapi dia punya hutang. Atau kedzoliman2 yang belum dia selesaikan. Ini tidak boleh. Haji itu bagi orang yg mampu..Yg tidak mampu maka tidak wajib berhaji.Diantaranya seorang berhaji itu memiliki uang lebih, hutangnya sudah dia lunasi, dan dia memiliki bekal yg cukup selama perjalanan haji. Dan untuk keluarga yg ditinggal haji. Kemudian keselamatan di jalan. Dan banyak syarat2 (ititho'ah) yg harus dia penuhi. • terkadang dia berhaji dengan harta yg syubhat (bahkan ada yang dengan harta yg haram) maka seorang yg berhaji dengan harta yg haram (disebutkan dalam atsar) dia mengatakan: "labbaik Allaahumma labbaik" maka dikatakan kepadanya "laa labbaikalak wala sa'daik" Tidak ada labbaik bagimu. "Maalu kamaalul haroom" Hartamu adalah harta yg haram. • ada diantara mereka yang ibadah haji karena ingin bertemu orang-orang (riya) itu niat yg tidak benar • sebagian  jama'ah haji berkumpul di sekeliling ka'bah dengan hati yg kotor dan bathin yg tidak bersih. Iblis menampakkan kepada mereka, yg penging kalian haji.Haji itu pendekatan dari hati, bukan hanya fisik saja namun hati bermusuh2an. Dan itu hanya bisa terjadi diatas taqwa. • diantaranya ada yg berhaji untuk memperbanyak jumlah hajinya.Jika haji berulang2 tapi dia tidak membersihkan hatinya, lantas bagaimana? • diantara mereka ada yg ditipu oleh iblis, mereka semangat haji tetapi sholatnya tidak diperhatikan.Ada pula yg berjualan, tetapi curang Berhaji dengan taqwa. Berbekal lah ketika haji dan sebaik-baik bekal adalah TAQWA.Bagaimana kau mau haji, sementara sering maksiat? • iblis juga menipu mereka dengan diantara mereka melakukan bid'ah saat manasik haji. Yang bukan dari manasik haji. • iblis menipu mereka dengan mengaku bertawakkal, maka merekapun berhaji tanpa bekal. Dan mereka meyakini haji tanpa bekal itu tawakkal yg sesungguhnya. Dan mereka ada di puncak kesalahan. • Iblis menipu banyak orang dalam masalah jihad. Mereka keluar untuknberjihad, sementara diantara mereka ada  niatnya untuk berbangga2an (riya), kadang dia ingij dikatakan sang jagoan, dan terkadang mereka jihad hanya untuk mencari ghonimah, sementara nabi bersabda, "innamal a'maalu binniatPengaruh iman dan ilmu untuk menjaga diri dari fitnah harta. Agar tidak mengambil harta yg haram.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
P
putri anggraini

📍 Kota Samarinda

Talbis Iblis 8 Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu Bagian 4

Talbis Iblis pada ibadah hajiImam Ibnul Jauzi rahimahullah terkadang orang sudah berhaji dan kewajiban haji sudah selesai. Kewajiban haji itu sekali seumur hidup. Tapi orang ini ingin berhaji lagi, haji sunnah. Namun haji sunnah tidak sesuai aturan. Contoh ternyata dia berhaji lagi, tapi tidak diridhoi orang tuanya. Maka seharusnya bukan lagi haji wajib maka lebih utama berbakti kepada orang tuanya. Terkadang orang berhaji meskipun haji pertama, tapi dia punya hutang atau kedzaliman yang belum dia selesai kan, maka ini tidak diperbolehkan. Haji itu diwajibkan hanya bagi yang mampu. Haji itu :Bagi yang punya uang lebihUtangnya lunasBekal untuk perjalananBekal untuk keluarga yang ditinggalkanKeamanan jalan dan banyak syarat yang harus dipenuhi.Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata ada orang yang berhaji hanya sekedar jalan-jalan, bukan untuk diampuni dosa-dosanya. Ada juga yang berhaji dengan harta syubhat bahkan berhaji dengan harta yang haram.Sebagian Fuqaha, berkata kalau ada seorang yang berhaji dengan harta yang haram. Tanggal 8 naik ontanya dan mabbit di Mina, tanggal 9 wukuf di padang Arofah, kemudian dia mabit dimusdzalifah dia mengatakan "Labai kallahuma Labaik", maka haji nya orang ini tidak diterima.Karena Allah itu baik dan hanya menerima yang baik pula. Seseorang yang berhaji dengan harta yang haram, disebutkan dalam sebuah atsar ketika dia mengucap kan " Labai kallahuma Labaik". Dikatakan kepadanya "tidak ada Labaik bagimu karena hartamu dengan harta yang haram".Ibnul Jauzi rahimahullah berkata juga terkadang seorang berhaji ingin bertemu dengan orang agar dikatakan " Pak Haji sedang berhaji".Terkadang mereka jama'ah berkumpul disekitar Ka'bah dengan hati yang kotor. Iblis menipu hati mereka "yang penting kamu haji". Ketahuilah bahwa yang dimaksud haji adalah agar hati bersih, hati dekat bukan cuman dekat secara jasad, semua itu hanya bisa di bangun diatas ketakwaan. Betapa banyak orang yang berhaji dia saling bersenggolan,  marah-marahan. Allah mensyariatkan "agar mereka menyaksikan ketika mereka melaksanakan ibadah haji melihat manfaat-manfaat ibadah haji". Dalam haji dilarang berjidal (berdebat kusir), terkadang dalam ibadah haji ada yang berkelahi. Berhaji harus hati bersih. Faidah haji kita bisa saling mencintai antara kaum muslimin, sebab dari seluruh dunia kaum muslimin bertemu Saling mencintai di antara kaum muslimin.Kesalahan-kesalahan dalam berhaji :1. Tujuan nya memperbanyak hajinya (dia berkata saya sudah 20 kali wukuf di Arofah). 2. Ibnul Jauzi rahimahullah betapa banyak orang yang tinggal di Mekkah dan Madinah tapi dia tidak berniat membersihkan hatinya. 3. Betapa banyak aku melihat orang yang berhaji memukuli teman hajinya yang lain, dimana sebagian dahulu berangkat haji susah. Baik di suruh untuk mencari air, berjalan diperintah-petintah. 4.Sebagian mereka juga ada ditipu iblis, mereka bsrhaji tapi sholat tidak diperhatikan. Ada mereka yang berhaji sambil berjualan, ternyata jualannya dikurangi.Allah azza wa jalla berfirman berhaji sebaik-baiknya berbekal takwa. Mabrur itu ada aturannya, tidak boleh berbuat dzalim, tidak boleh ada kebohongan,tidak punya surat izin haji, menyerobot ke tenda-tenda orang. Maka ini tidak boleh.5.Ibnul Jauzi rahimahullah berkata banyak orang-orang menyangka yang penting dia sudah berhaji. Iblis membuat dan menipu mereka untuk berbuat bid'ah dalam manasik haji, tidak dibuat sesuai contoh Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wa sallam. Contoh orang yang selalu membuka pundaknya terus menerus. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bersabda ada seseorang yang selalu membawa Ka'bah membawa tali, dia menarik temannya ditaroh tali di hidungnya. Maka Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam memotong talinya, kalaupun harus dituntun dalam ketaan maka tuntunlah dengan tangan.Imam Ibnul Jauzi rahimahullahKita berusaha untuk mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bersabda ambilah contoh manasik dari Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam ibadahnya sempurna. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wa sallam.6. Terkadang orang berhaji  mengaku bertawakal, maka mereka pun pergi haji tanpa bekal. Dan mereka menyangka berhaji tanpa bekal itulah tawakal. Padahal itu adalah tipuan iblis, haji diperintahkan Allah harus dengan bekal. Agar tidak merepotkan orang. Seseorang pernah ada bertanya pada Imam Ahmad, "wahai imam Ahmad, aku ingin bertawakal dengan tawakal yang sempurna tanpa membawa bekal". Imam Ahmad menjawab " Engkau harus berhaji sendirian tidak ikut rombongan, dan jangan berhaji hanya numpang makan".Allah berfirman siapkan bekal untk berhaji, bekal untuk diri sendri, bekal untuk keluarga yang ditinggalkan. Allah bahkan menegur orang-orang Yaman yang ingin berhaji tanpa bekal dalam QS. Al-Baqarah. Tawakal itu harus ikhtiar, tawakal tanpa ikhtiar.Talbis iblis dalam perkara jihad fi sabilillahIbnul Jauzi rahimahullah berkata iblis telah menipu banyak orang. Maka mereka yang keluar untuk jihad, sementara ada diantar mereka niatnya untuk bangga-banggan, dengan riya'. Ada yang ingin dikatakan sang jagoan, ada yang berangkat jihad untuk mencari harta ghonimah. Sedangkan Nabi Muhammad bersabda inna a'malu bin niat.Dari Abu Musa Al-Asari radhiyallahu anhu, ada seseorang lelaki yang datang pada Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam "wahai Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bagaimana pendapat anda tentang seseorang yang berperang karena menunjukkan keberanian nya, kadang orang berperang untuk membela suku. Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam menjawab siapa yang berperang karena menegakkan kalimat Allah maka ini jihad fi sabilillah.Ibnul Masu'ud berkata, hati-hati jangan kalian berkata fulan mati syahid. Karena ada orang berjihad untuk mencari ghonimah, ada orang yang berperang ingin dia disebut-sebut.Cukup kita mengatakan "semoga Allah mencatat saudara kita sebagai mati syahid" Untuk memastikan satu satu fulan mati syahid maka ini tidak boleh.3 orang yang pertama di sidang yaitu orang yang pertama kali dia berjihad, kedua orang yang suka membaca Al-Qur'an, yang ketiga orang yang dermawan. Ini 3 orang yang ternyata dilemparkan Allah ke dalam neraka.Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan seorang ulama ahli hadist yang menjaga keikhlasan. Dari Abu Hatim Ar-Rozi aku berkata mendengar Abdah bin Sulaiman berkata,  suatu hari kami berada dalam suatu pasukan kecil bersama Abdullah bin Mubarok di Rum. Tiba-tiba kami berhadapan dengan musuh, ketika berhadapan dua shaf, shaf kaum muslimin dan kaum kafir. Maka ada seseorang pun yang maju dan dia keluar bertempur dan mati dengan orang kufar, sampai 3 orang mati dibunuh oleh orang kafir. Dan datanglah orang ke 4 dia menikam orang kafir itu. Orang nomor 4 menutup mukanya  agar orang tidak diketahui siapa dia, ternyata itu adalah Abdullah bin Mubarok. Abdullah bin Mubarok sangat takut dan berusaha menjaga keikhlasannya. sedangkan kita sangat berusaha riya' dan berusaha pamer kepada semua orang.Adalah ibrahim bin Adham ketika menang jihad dia tidak mau mengambil ghonimah agar pahalanya sempurna. Tipuan iblis terhadap orang yang berjihad, ibnul Jauzi rahimahullah iblis menipu seorang Mujahid ketika dia memang dan mendapat ghonimah, dia menyangka semua ghonimah miliknya padahal itu bukan haknya. Harta ghonimah sebelum dikumpulkan oleh amir maka tidak boleh.Dalam hadist yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu, suatu hari kami berangkat berperang di Khaibar dan kami menang pada Khaibar. Dan kami tidak mendapat kan ghonimah berupa harta, kami hanya mendapatkan ghonimah berupa makanan. Lalu kami pergi ke suatu lembah dan disana ada Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam dan budaknya, ketika kami disana dan dia melepaskan pelana onta dia terkena panah. Dan kami memberikan selamat karena dia mati syahid. Ternyata Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bersabda Demi jiwaku yang berada di tangannya, sesungguhnya dia telah mengambil kain diam-diam pada ghonimah dalam perang Khaibar, dia telah menyalakan api untuk membakar. Maka sebagian orang sangat ketakutan, ini masalah sepele ternyata ini hal yang sangat mengerikan. Dan pada saat itu ada seseorang yang mengambil tali sendal, maka dia kembalikan Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam berkata ini dineraka. Dia mengambil api neraka.Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam bersabda dia mengambil potongan api neraka, dia mengambil harta saudara nya meskipun sepotong kayu siwak.Pengaruh iman dan ilmu untuk menjaga fitnah hartaBisa jadi seorang Mujahid mengetahui mengambil harta sebelum pembagian, hukumnya haram tapi dia tidak sabar melihat ghonimah maka hatinya berubah. Dia menyangka itu semua akan termaafkan dengan jihad. Maka ini sangat dibutuhkan berkumpul nya antara iman dan ilmu. Jangan remehkan dan makan barang sedikit pun milik orang lainImam Ibnu Jauzi rahimahullah berkata kami dari Abu Ubadiah Al-Anbali kami menaklukkan kota Mada'in, mereka mengumpulkan harta ghonimah. Maka tiba-tiba ada seorang membawa harta ghonimah dan mengembalikan ghonimah padahal itu hak dia. Apa yang dia dapatnya itu banyak sekali, kata dia "saya tidak mau ambil sama sekali, kecuali karena Allah". Orang-orang bertanya " siapa engkau? " Dia menjawab "kalian tidak perlu tau, tapi saya memuji Allah". Ada yang mengikutinya saat di pergi, dan diketahui dia adalah Amir bin Abdi Qois, ulama Tabi'in ahli ibadah yang mengumpulkan antara iman dan ilmu.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
U
Ulfa Puspitasari

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis iblis terhadap ahli ilmu (bag 4)

Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2) - Ust Dr. Firanda Andirja Kajian dimulai dengan pembahasan dari kitab Talbis Iblis, yang membahas berbagai tipu daya dan muslihat iblis dalam menggangu ibadah manusia. Iblis berniat merusak ibadah kita, sehingga kita merasa melakukan ibadah, namun pada kenyataannya ibadah tersebut terganggu atau bahkan tidak sah. Salah satu tipu daya iblis adalah mencampuri niat dalam shalat. Ada orang yang berniat shalat namun karena waswas atau keraguan, ia mengulangi niatnya berkali-kali, padahal niat tidak batal hanya karena ucapan salah atau repetisi lafal. Niat sebenarnya hanya perlu hadir dalam hati sekali saja. Contoh kasus lain, orang ragu saat takbiratul ihram lalu mengulanginya terus-menerus, padahal jika imam sudah rukuk, biasanya niat langsung hadir sempurna karena takut tertinggal rakaat.Banyak yang sampai bersumpah agar hanya takbir sekali karena waswas berulang-ulang, bahkan ada yang bersumpah dengan sesuatu yang berat untuk menguatkan niat takbir sekali, padahal ini termasuk tipu daya iblis yang menyulitkan diri sendiri.Disebutkan juga kisah Abu Hazim yang mendapatkan bisikan waswas dari iblis: "Shalatmu tanpa wudhu". Ia menepis bisikan tersebut dengan tegas karena tahu itu hanya tipu daya iblis. Implikasi utamanya adalah bahwa niat hadir di hati saat hendak melaksanakan shalat, dan tidak perlu diulang-ulang untuk memperbaiki lafaz niat karena bukan kewajiban melafalkannya.Penjelasan lebih lanjut:Niat adalah dalam hati, bukan pada lafaz.Pengulangan niat untuk memperbaiki lafaz hanya akan menimbulkan keraguan yang tidak perlu.Lafal niat tidak wajib, yang wajib adalah kehadiran niat di hati.Jika seseorang merasa belum mengucapkan niat padahal sudah, ini merupakan penyakit waswas.Kisah dan pendapat dari Imam Ibnu Aqil dipaparkan: seseorang yang terus merasa belum selesai wudhu atau takbirannya, padahal sudah, disebut sebagai orang gila dan tidak wajib shalat. Ini mempertegas bahwa keraguan yang berlebihan adalah penyakit.Sebab utama waswas niat adalah kebodohan terhadap syariat. Contoh analogi: ketika bertemu ulama dan berdiri untuk menyambutnya, niat sudah langsung hadir di hati tanpa perlu dilafalkan. Begitu juga niat shalat sudah hadir saat seseorang berdiri untuk shalat tanpa harus dirinci dan dilafalkan.Niat shalat sudah mencakup:Jenis shalat (fardu, sunnah) Waktu pelaksanaan Jumlah rakaat, arah kiblat, status sebagai makmum atau imamSemua ini sudah tersusun dalam satu saat tanpa perlu perincian panjang atau pelafalan formal.Inti penting yang ditekankan Ibnu Jauzi:Niat itu mudah dan tidak sesulit yang dibayangkan.Tidak perlu membebani diri dengan lafaz dan perincian kompleks.Niat boleh didahulukan sebelum takbiratul ihram.Bahasan fikih terkait niat pada rukun pertama ibadah:Dalam wudhu, niat harus hadir saat melakukan rukun pertama (mencuci wajah).Dalam shalat, rukun pertama adalah takbiratul ihram.Akan tetapi, menggabungkan niat yang panjang dan takbiratul ihram secara bersamaan secara sempurna sangat sulit.Rasulullah tidak membebankan yang terlalu rumit ini.Banyak orang waswas karena sulitnya menyelaraskan niat dengan takbir (yang berarti menghayati makna "Allah Maha Besar" sambil menghadirkan niat terperinci). Oleh karena itu, jangan terlalu berlebihan dalam mengulang-ulang takbir dan niat.Dalam hadis dan riwayat dari Abdullah bin Mas’ud dan sahabat lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad dan para sahabat tidak melakukan pelafalan niat secara panjang dan berulang-ulang. Menyulitkan diri dalam ibadah adalah sesuatu yang diwaspadai dan tidak dicontohkan oleh Nabi dan sahabat.Dikatakan juga muslihat iblis ada pada orang yang terlalu sibuk mengatur niat dan takbir sementara shalatnya sendiri kurang diperhatikan. Contoh lain: setelah takbir, makmum yang masbuk terkadang terlalu lama membaca doa-doa sunnah sehingga tertinggal rukuk imam.Prioritas ibadah harus diperhatikan:Tidak boleh mengutamakan sunnah sekaligus meninggalkan kewajiban. Misalnya, jika tertinggal rukuk, sebaiknya langsung baca Al-Fatihah, tanpa doa istiftah atau ta’awudz agar tidak tertinggal imam.Ibnu Jauzi mencontohkan bahwa para ulama berbeda pendapat soal kewajiban membaca Al-Fatihah bagi makmum, tetapi sunnah-sunnah seperti doa istiftah dan ta’awudz tidak boleh sampai mengganggu kewajiban. Jangan sampai yang sunnah malah dilaksanakan, tapi yang wajib terabaikan.Tipu daya iblis lainnya adalah menyebabkan orang meninggalkan sunnah karena masalah pribadi atau ketakutan riya, seperti memilih untuk tidak isi saf terdepan demi agar hatinya fokus, atau takut dianggap khusyuk. Ini tetap termasuk kesalahan dan kekurangan ilmu.Hadis shahih menegaskan keutamaan saf pertama dalam shalat berjamaah. Jangan takut salah paham orang, yang penting adalah memperbaiki hati dan mengikuti sunnah.Contoh lain sunnah yang sering dilalaikan adalah posisi tangan saat shalat yang diajarkan Nabi yaitu tangan kiri di atas kanan. Sebagian orang meninggalkan ini karena alasan pribadi, padahal ini termasuk sunnah penting dalam shalat.Kesimpulan penting oleh Ibnu Jauzi:Jangan meninggalkan syariat hanya karena mengikuti kebiasaan atau pendapat seseorang, walaupun orang tersebut saleh.Ulama bukan maksum, dan pendapat mereka bisa salah.Yang dijadikan pegangan adalah dalil dari Al-Quran dan hadis.Ditekankan bahwa keluar dari kaidah ibadah lalu berlebih-lebihan adalah kesalahan:Contohnya pada bacaan Al-Quran dalam shalat: mentahqiq (pelafalan huruf) yang terlalu berlebihan bisa membuat keluar dari aturan yang benar.Iblis membuat orang terlalu fokus pada tajwid sampai lupa makna, sementara tujuan membaca Al-Quran adalah memahami makna.Tipu daya lain: sebagian orang ahli ibadah hanya fokus pada gerakan berdiri dan duduk, tanpa memperhatikan hal-hal wajib lainnya sehingga ibadahnya kurang sempurna.Praktik lain yang tertangkap adalah beberapa makmum sudah ikut salam ketika imam salam padahal tasyahhud belum selesai. Ini tidak ditanggung oleh imam dan haram ditinggalkan tasyahhud sampai selesai.Ada juga yang memanjangkan salat dengan bacaan berjamaah, tapi melalaikan sunnah dan mengerjakan yang makruh.Contoh kasus salat siang (dhuha) dengan suara keras untuk menghilangkan ngantuk adalah kesalahan karena melanggar adab sunnah.Perhatian soal prioritas ibadah:Jangan sampai terlalu fokus pada salat malam sehingga salat fardu tertinggal.Salat fardu berjamaah lebih utama daripada salat malam.Jika seorang berlebihan dalam persiapan salat fardu (misal kesiapan untuk berjamaah), bisa membuatnya tertinggal salat berjamaah dan ini salah.Contoh nyata kebodohan menurut syariat: berjalan di siang hari supaya tidak mengantuk untuk shalat malam. Nabi mengajarkan agar badan juga diperhatikan, jika mengantuk hendaknya tidur.Rasulullah melarang memaksakan berdiri salat jika capek; boleh duduk salat sunah.Jika ngantuk saat shalat, lebih baik tidur dahulu agar shalat dengan semangat dan khusyuk.Salat Nabi Daud yang jadi contoh adalah dengan bertahap menjalankan salat malam tanpa berlebihan.Tidak ada riwayat Nabi Muhammad pernah begadang semalaman tanpa tidur. Sunnah lebih menekankan keseimbangan ibadah dan istirahat.Iblis juga menipu dengan riya’, memprovokasi orang agar suka mempublikasikan amal saleh mereka.Contoh negatif: seseorang sengaja mengabarkan azan tepat waktu untuk menunjukkan bahwa dia tidak tidur semalaman, yang pada hakikatnya adalah riya’ terselubung.Dalil penting: Allah memuji orang yang berinfak secara terang-terangan jika niatnya ikhlas, tapi amal tersembunyi lebih utama.Iblis memancing riya juga dalam urusan menangis dalam ibadah. Bila seseorang bisa menahan tangis, sebaiknya menahan, karena menampilkan tangis bisa menjadi riya.Orang yang gemar beribadah di masjid supaya terlihat dan menjadi pusat perhatian juga bagian dari tipu daya iblis.Rasulullah menegaskan shalat sunnah terbaik adalah di rumah kecuali salat fardu yang disunnahkan di masjid agar tidak dikenal riya.Beberapa sahabat salat malam sambil menyembunyikan ibadahnya agar tidak diketahui orang lain, menghindari riya.Manusia memiliki nafsul lawwamah yaitu jiwa yang suka mencela dirinya ketika melakukan kesalahan atau maksiat, sebagai kontrol internal agar jangan melakukan riya’.Penting untuk menghentikan diri saat ada tanda riya’, jangan lanjutkan cerita atau pamer amal saleh.Iblis terus menggoda manusia dan ibadah harus dilakukan dengan ikhlas, menutup pintu riya’ dan kesombongan.Kajian akan dilanjutkan pada pembahasan talbis iblis dalam ibadah lainnya seperti baca Qur’an, puasa, dan haji.Kesimpulan Utama: Ibadah harus dilaksanakan dengan niat yang ikhlas dan sederhana, tidak rumit dan tidak berlebihan.Waswas dan kebingungan dalam niat serta pelaksanaan adalah tipu daya iblis untuk mengganggu keikhlasan dan kekhusyukan.Prioritaskan kewajiban dalam ibadah, jangan sampai tertukar dengan pelaksanaan sunnah yang menyebabkan kelalaian.Hindari riya’ dengan menjaga amal tetap tersembunyi, tidak diumumkan kecuali untuk maslahat syar’i dan ikhlas.Pelajari dan pahami dalil sebagai pedoman utama dalam beribadah, jangan semata mengikuti kebiasaan atau pendapat individu.Istirahat dan menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari ibadah yang diperintahkan oleh Nabi

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya10 Juni 2026
A
Amika Aspar

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis Iblis #8

Talbis Iblis #8: Talbis Iblis Kepada Ahli Ilmu (Bag-4) - Ust Dr. Firanda Andirja MATipu Daya Iblis dalam Ibadah Haji 1. Mengutamakan Haji Sunnah dan Melalaikan Bakti kepada Orang Tua Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan bahwa terkadang seseorang telah menyelesaikan kewajiban haji pertamanya (karena haji wajib hanya sekali seumur hidup). Kemudian, ia ingin melaksanakan haji sunnah yang berulang-ulang, namun pelaksanaannya tidak sesuai dengan aturan syariat. Contohnya, ia pergi berhaji sunnah tanpa mendapatkan rida dari orang tuanya, padahal orang tuanya saat itu sedang memiliki keperluan yang membutuhkan kehadirannya. Dalam kondisi ini, berbakti dan membantu orang tua jauh lebih utama daripada mengejar ibadah sunnah. Mengutamakan haji sunnah hingga membuat orang tua marah atau telantar merupakan salah satu bentuk tipu daya iblis. Lain halnya jika yang dilaksanakan adalah haji wajib yang pertama kali, maka ia tetap harus ditunaikan meskipun orang tua tidak meridai. 2. Berhaji dalam Kondisi Memiliki Utang dan Kezaliman Banyak orang memaksakan diri pergi berhaji padahal mereka masih memiliki tanggungan utang atau kezaliman yang belum diselesaikan dengan sesama manusia. Kewajiban haji hanya berlaku bagi mereka yang mampu secara finansial, fisik, dan keamanan jalur perjalanan. Syarat kemampuan (istitha'ah) ini mencakup memiliki dana yang sudah melebihi pelunasan utang serta tersedianya nafkah yang cukup bagi keluarga yang ditinggalkan selama masa safar. Orang yang memprioritaskan haji sementara utangnya menumpuk adalah bentuk kekeliruan, karena melunasi utang hukumnya wajib sedangkan haji bagi yang tidak mampu tidaklah dipaksakan. Selain itu, ada pula sebagian orang yang pergi berhaji dengan tujuan murni untuk pesiar atau sekadar jalan-jalan di kota Makkah dan Madinah, bukan untuk mencari ampunan Allah. 3. Berhaji dengan Harta Syubhat dan Haram Sebagian orang berhaji menggunakan harta yang tidak jelas asal-usulnya (syubhat) atau bahkan bersumber dari jalan yang haram. Para ahli fikih menjelaskan bahwa orang yang pergi melaksanakan rangkaian manasik haji dari Mina, Wukuf di Arafah, hingga mabit di Muzdalifah dengan harta haram, maka ibadahnya tidak akan diterima di sisi Allah. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah atsar, ketika orang tersebut mengumandangkan Labaik Allahumma Labaik, maka malaikat akan menjawab bahwa tidak ada sambutan kebaikan baginya karena bekal dan hartanya adalah haram. Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali dari sesuatu yang baik-baik pula (Innallaha thayyibun la yaqbalu illa thayyiba). 4. Niat Riya dan Hilangnya Esensi Kesatuan Hati Iblis menipu sebagian jemaah dengan menanamkan pemikiran bahwa yang terpenting adalah jasad mereka telah sampai di tempat-tempat suci dan menyelesaikan rukun haji, meskipun hati mereka kotor dan penuh batin yang tidak bersih. Esensi utama ibadah haji adalah mendekatkan hati kepada Allah (alqurbu bil qulub), bukan sekadar kedekatan fisik semata. Banyak jemaah haji yang terjebak dalam pertengkaran, saling menyenggol, dan marah-marahan saat berdesak-desakan. Padahal Allah melarang perbuatan jidal (debat kusir/bertengkar) selama haji. Salah satu hikmah dikumpulkannya umat Islam dari seluruh penjuru dunia (Afrika, Cina, Eropa, hingga Indonesia) adalah agar mereka saling mengenal, menyayangi, dan menguatkan persaudaraan, bukan saling menjatuhkan atau bertengkar dengan sesama jemaah, apalagi dengan istri sendiri selama perjalanan. 5. Bangga dengan Kuantitas Haji dan Melakukan Kemaksiatan saat Safar Sebagian orang mengejar kuantitas dengan berhaji berulang kali hanya untuk tujuan kesombongan, lalu memamerkannya kepada orang lain dengan berkata bahwa dirinya telah puluhan kali wukuf di Arafah. Ibnul Jauzi juga mengkritik fenomena sebagian orang yang tinggal lama di Makkah atau Madinah tetapi tidak memanfaatkan waktu untuk membersihkan hati mereka. Pada masa dahulu, perjalanan haji sangat berat dan melelahkan. Beliau menceritakan melihat sebagian jemaah yang berbuat zalim dengan memukuli atau merepotkan pembantunya di jalan hanya untuk mencarikan air. Ada pula yang sibuk berdagang selama safar haji namun tega mengurangi timbangan (tatfif). Mereka tertipu oleh bisikan iblis bahwa segala kemaksiatan tersebut otomatis akan terhapus setelah haji selesai. Padahal, haji yang diampuni dosanya hingga bersih seperti bayi yang baru lahir adalah haji yang mabrur, yaitu haji yang dikerjakan sesuai aturan sunnah, ikhlas, serta bersih dari perkataan kotor (rafats), kefasikan (fusuq), dan pertengkaran (jidal). 6. Kebohongan Prosedural dan Penyerobotan Fasilitas Pada masa sekarang, banyak orang melakukan berbagai kebohongan administratif dan pemalsuan demi bisa berangkat haji, dengan dalih bahwa Allah Maha Pengampun. Memulai ibadah suci dengan kebohongan adalah cara yang salah, karena jika seseorang memang tidak mampu menempuh jalur resmi yang prosedural, maka Allah tidak membebankan kewajiban haji kepadanya. Bentuk kezaliman lain yang sering terjadi adalah jemaah yang menyusup tanpa izin resmi lalu menyerobot masuk ke tenda-tenda jemaah lain dan menggunakan fasilitas mereka tanpa hak. Tindakan egois ini menyulitkan jemaah lain yang sah dan merusak esensi haji mabrur. 7. Berbuat Bidah dalam Manasik Haji Iblis memalingkan jemaah haji dengan membisikkan amalan-amalan baru (bidah) yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Ibnul Jauzi mencontohkan sebagian jemaah yang sengaja terus-menerus membuka pundak kanannya (idhthiba') selama berhari-hari di bawah terik matahari hingga kulitnya rusak. Padahal, aturan membuka pundak kanan hanya disyariatkan saat pelaksanaan Tawaf Kudum atau Tawaf Umrah saja, bukan pada tawaf sunnah, Tawaf Ifadah, Tawaf Wada, ataupun dalam aktivitas harian ihram lainnya. Beliau juga membawakan hadits Ibnu Abbas dalam Shahih Bukhari tentang Nabi yang memotong tali penuntun seorang pria yang bertawaf sambil ditarik hidungnya seperti hewan. Meskipun niat orang tersebut adalah bentuk kepasrahan dan tawadu di hadapan Allah, Nabi tetap melarangnya karena hal tersebut merupakan bidah. Ibadah yang terbaik adalah yang mengikuti petunjuk Rasulullah secara murni tanpa ditambah-tambah, seperti kekeliruan sebagian orang yang mengkhususkan shalat sunnah dua rakaat setelah melaksanakan Sa'i, padahal tidak ada tuntunannya. 8. Salah Memahami Konsep Tawakal (Haji Tanpa Bekal) Sebagian kaum pergi berhaji tanpa membawa bekal finansial sama sekali dengan alasan mereka telah bertawakal penuh kepada Allah. Imam Ahmad bin Hambal pernah menegur orang yang berniat seperti ini dengan mengatakan bahwa jika ia pergi dalam rombongan tanpa bekal, maka pada hakikatnya ia tidak bertawakal kepada Allah, melainkan bertawakal pada isi kantong dan perbekalan anggota rombongan lainnya sehingga menyusahkan orang lain. Tawakal yang benar adalah melakukan ikhtiar dan mempersiapkan bekal secara maksimal, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Seseorang wajib mencukupi kebutuhan dirinya sendiri serta memastikan nafkah keluarga yang ditinggalkan di rumah terpenuhi dengan baik selama masa kepergiannya, bukan malah menelantarkan mereka demi mengejar ibadah sunnah.Tipu Daya Iblis dalam Ibadah Jihad Fisabilillah 1. Riya dan Sifat Pamer dalam Berjihad Iblis menipu banyak orang yang keluar ke medan perang dengan merusak niat mereka. Ada yang berperang demi kesombongan, ingin disebut sebagai pahlawan yang gagah berani, ingin membela suku/golongan (ashabiyah), atau murni demi mencari harta rampasan perang (ghanimah). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan dalam hadits Abu Musa Al-Asy'ari bahwa seseorang baru dikatakan berada di jalan Allah (fisabilillah) apabila ia berperang dengan niat yang ikhlas murni untuk menegakkan kalimat Allah agar menjadi yang paling tinggi. Ibnu Mas'ud juga mengingatkan agar tidak terburu-buru memastikan secara mutlak bahwa si Fulan mati syahid, melainkan berdoalah dengan kalimat "Semoga si Fulan dicatat sebagai syahid," karena tidak ada yang mengetahui isi hati dan niat seseorang yang sebenarnya kecuali Allah. 2. Ancaman bagi Orang yang Salah Niat Hadits sahih mengenai tiga golongan manusia yang pertama kali dilemparkan ke dalam neraka Jahanam pada hari kiamat. Salah satunya adalah seorang pria yang mati di medan perang. Di hadapan Allah, ia mengaku telah berperang di jalan-Nya hingga syahid. Namun Allah membantahnya dan menyatakan bahwa ia berdusta; ia berperang hanya agar dipuji sebagai orang yang berani, dan pujian dunia itu telah ia dapatkan. Akhirnya, ia diseret di atas wajahnya dan dilemparkan ke dalam neraka. Hal ini membuktikan bahwa ibadah yang agung seperti jihad sekalipun akan menjadi sia-sia dan mendatangkan siksa apabila dicampuri oleh penyakit riya. Berbeda dengan para salaf terdahulu, seperti kisah Abdullah bin Mubarak yang menyembunyikan identitasnya dengan memakai penutup wajah setelah berhasil memenangkan duel melawan musuh kuat di medan perang Romawi, karena beliau sangat takut terjebak dalam pujian manusia. 3. Mengambil Harta Ghanimah Sebelum Dibagikan (Gulul) Bentuk talbis iblis berikutnya adalah membisikkan kepada para pejuang bahwa semua harta orang kafir di medan perang berstatus halal untuk langsung diambil secara pribadi. Ketidaktahuan akan ilmu agama ini menjerumuskan mereka ke dalam dosa Gulul, yaitu mengambil harta rampasan perang secara sembunyi-sembunyi sebelum dikumpulkan dan dibagikan secara resmi oleh pemimpin pasukan (Amir). Hadits Abu Hurairah tentang seorang budak Nabi yang tewas terkena anak panah misterius di lembah Khaibar. Ketika para sahabat memberikan ucapan selamat karena mengira budak tersebut mati syahid, Nabi langsung menyangkalnya dan mengabarkan bahwa selembar kain yang diambil secara diam-diam oleh budak tersebut sebelum pembagian ghanimah kini telah berubah menjadi kobaran api neraka yang membakarnya. Mendengar hal itu, para sahabat yang lain ketakutan dan langsung mengembalikan barang-barang kecil, bahkan termasuk tali sandal yang sempat mereka ambil tanpa izin.Pentingnya Perpaduan antara Ilmu dan ImanPembahasan diakhiri dengan sebuah pasal mengenai pengaruh iman dan ilmu sebagai benteng utama untuk menjaga diri dari fitnah harta. Seseorang tidak cukup hanya mengandalkan ilmu semata; sebab bisa jadi seorang Mujahid tahu bahwa hukum mengambil harta secara tidak sah adalah haram, namun karena imannya lemah dan tidak sabar saat melihat emas atau harta di depan mata, ia tetap mengambilnya. Sebaliknya, orang yang memiliki iman tinggi tetapi tidak dibekali dengan ilmu agama yang benar, sering kali melakukan pelanggaran syariat karena menyangka tindakan salah yang dilakukannya adalah sebuah kebaikan. Oleh karena itu, ilmu dan iman harus berjalan beriringan agar seseorang selamat dari fitnah dunia dan tidak memakan hak milik sesama manusia meskipun dalam jumlah yang sangat kecil.

💬 0 komentar📅 10 Jun 2026Baca selengkapnya →