📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 23

Halaqah yang Ke-23 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke-21👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADiantara tata cara beriman dengan para rasul ‘alayhimussalam adalah beriman dengan nama-nama para nabi dan rasul yang Allah telah sebutkan namanya didalam Alquran mereka berjumlah 25 orang, 18 Diantaranya disebutkan berturut-turut didalam surat Al An’am dan 7 orang berpisah-pisah didalam surat -surat yang lain.18 nama didalam surat Al An’am adalahIbrahimIshaqYa’qubNuhDaudSulaimanAyyubYusufMusaHarunZakariyaYahya‘IsaIlyasIsmailAl Yasa’YunusLuth ‘Alayhimussalam lihat surat Al An’am : 83-86Adapun 7 orang yang lain maka mereka adalaاNabi Adam,dua puluh lima kali disebutkan nama Nabi Adam di dalam Al-Quran, yang pertama di dalam surat Al-Baqarah : 31Nabi Idris,Disebutkan dua kali didalam Al-Quran dalam surat Maryam : 56 dan Al-Anbiya’: 85Nabi Dzulkifli,Dua kali disebutkan didalam surat Al-Anbiya’: 85 dan surat Shod : 48Nabi Hud,Tujuh kali disebutkan, yang pertama di dalam surat Al-A’raf : 65Nabi Shaleh,Sembilan kali disebutkan yang pertama di dalam surat Al A’raf : 73Nabi Syuaib,Sepuluh Kali disebutkan, yang pertama didalam surat Al A’raf : 857 Nabi Muhammad ﷺ,Empat kali disebutkan, yang pertama di dalam surat Ali Imran : 144Kemudian diantara beriman dengan para Rasul ‘alayhimussalam adalah meyakini adanya kekhususan Nabi Muhammad ﷺ dibandingkan dengan Nabi-nabi yang lain dan diantaranya① Beliau diutus untuk segenap Manusia dan Jin. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanقُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا“Katakanlah wahai Muhammad, wahai manusia sesungguhnya aku adalah Rasulullãh untuk kalian semuanya” (Al-A’raf : 158)Dan Nabi ﷺ bersabdaوكان النبي يبعث إلى قومه خاصة وبعثت إلى الناس كافةDan dahulu para Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus dan diutus aku untuk manusia semuanya (HR Bukhari)Dan beliau ﷺ diutus kepada Jin sebagaimana kisah yang Allah sebutkan di dalam surat Al-Jin② Allah telah menjadikan beliau sebagai Nabi yang terakhir.Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanمَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ…“Tidaklah Muhammad bapak salah seorang diantara laki-laki kalian akan tetapi dia adalah Rasulullãh dan penutup para Nabi” (Al-Ahzab: 40)Dan Rasulullah ﷺ bersabdaكانتْ بنو إسرائيلَ تسوسُهمُ الأنبياءُ ، كلَّما هلَكَ نبيٌّ خلَفَهُ نَبِيٌّ ، وإِنَّه لا نَبِي بعدِي ،…“Dahulu Bani Israel dipimpin oleh para Nabi, setiap kali meninggal seorang Nabi akan digantikan Nabi yang lain dan sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku” (HR Al Bukhari dan Muslim)

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Ringkasan Halaqah 72 – Pembahasan Dalil Kelima Hadits Shahih Riwayat Ali bin Abi Thalib (Bagian 4)Rasulullah ﷺ bersabda bahwa memerangi Khawarij secara syar'i di bawah pemerintah yang sah terdapat pahala, karena mereka membawa kerusakan besar bagi agama dan kehidupan kaum muslimin.Poin-poin penting:Khawarij menimbulkan kekacauan, sehingga dakwah, ibadah, keamanan, pendidikan, dan aktivitas masyarakat menjadi terhambat.Pada masa Ali bin Abi Thalib, banyak tenaga tercurah untuk menghadapi Khawarij sehingga perluasan dakwah Islam terganggu.Rasulullah ﷺ bersabda: "Seandainya aku bertemu mereka, niscaya akan aku bunuh mereka sebagaimana kaum 'Ad dibinasakan." Ini menunjukkan kerasnya ancaman terhadap Khawarij.Ancaman seperti ini tidak pernah diucapkan Nabi ﷺ kepada pelaku dosa besar, sehingga menunjukkan betapa besarnya bahaya bid'ah Khawarij.Halaqah ini menegaskan bahwa bid'ah Khawarij termasuk dosa yang sangat besar karena dampaknya merusak agama dan kehidupan kaum muslimin.

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 23

Halaqah yang ke dua puluh tiga dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد الثامن عشر التحفظ في مسألة العالمSimpul yang ke-18 adalah hendaklah kita berhati-hati (menjaga) ketika kita bertanya kepada seorang guru atau seorang yang berilmu.التحفظ artinya kita berusaha untuk menjaga.  Menjaga lisan, menjaga adab kita ketika kita bertanya kepada seorang guru, seorang yang berilmu, yang dia akan menularkan dan menyampaikan ilmunya kepada kita supaya benar-benar yang sampai kepada kita ini adalah ilmu. Kalau kita mengagungkan ilmu, maka kita berhati-hati dalam bertanya dan ketika kita ingin mengeluarkan ilmu tersebut dari guru kita.فرارًا من مسائل الشَّغْب، وحفظًا لهيبة العالم؛ فإنَّ من السُّؤال ما يرُاد به التَّشغببُ وإيقاظ الفتنة وإشاعة السُّوءUsaha untuk lari dari permasalahan-permasalahan yang menimbulkan fitnah (pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan keonaran) dan juga untuk menjaga kewibawaan dari seorang ‘alim.Maka perlu diketahui bahwasanya ada diantara pertanyaan yang diinginkan di balik itu adalah untuk mengobarkan api fitnah, untuk membangunkan fitnah, untuk menyebarkan kejelekan. Maka hati-hati dengan pertanyaan seperti ini.Sedang banyak peristiwa, banyak kejadian viral, kemudian ada sengaja seseorang karena ingin menyulut api fitnah akhirnya dia bertanya kepada gurunya dengan pertanyaan yang bisa mengobarkan fitnah tersebut. Ini harus kita pahami dan seorang guru harus memahami yang demikian.ومن آنس منه العلماء هٰذه المسائل لقي منهم ما لا يُعجبهPara ulama mendapatkan bahwasanya pertanyaan-pertanyaan ini adalah sumber dari fitnah, dan para ulama mereka sadar yang demikian, maka seseorang akan melihat dari para ulama tersebut sesuatu yang tidak menakjubkan dia.Karena para ulama ini sadar sebelum datang fitnah dia sudah tahu ini bisa mengobarkan api fitnah. Makanya kalau kita sampai salah dalam bertanya, jangan menyalahkan orang lain kalau melihat ulama yang kita tanya dia bersikap kepada kita atau mengucapkan kepada kita sesuatu yang kita tidak senang.كما مرَّ معك في زجر المتعلِّمSebagaimana telah berlalu tentang memberikan pelajaran kepada seorang murid.فا بدَّ من التَّحفُّظ في مسألة العالمMaka hendaklah kita menjaga dan benar-benar menjaga ketika kita bertanya kepada seorang yang ‘alim.ولا يُفلح في تَحَفُّظه فيها إلَّ من أعمل أربعة أصولٍSeseorang tidak mungkin sukses dalam menjaga pertanyaannya kecuali apabila dia melaksanakan empat pondasi.Ini kita harus punya pemahaman, punya cara yang benar dalam bertanya kepada seorang guru supaya kita mendapatkan manfaat. Kalau kita tidak punya fiqh, tidak punya pemahaman, tidak paham cara bertanya kepada seorang guru, maka akan hilang keberkahan ilmu tadi. Bukan manfaat yang kita dapatkan, justru malah sesuatu yang tidak kita senangi yang kita dapatkan karena kita tidak belajar tentang bagaimana bertanya.أوَّلهاYang pertama,الفكر في سؤاله لماذا يسأل؟Dia pikirkan dulu tentang pertanyaan yang akan dia tanyakan, kenapa dia bertanya.فيكون قصده من السُّؤال التَّفقُّه والتَّعلُّم، لا التَّعنُّت والتَّهكُّم؛Hendaklah dia perhatikan bahwasanya maksud dia ketika bertanya kepada guru tadi adalah ingin paham, ingin belajar.Jadi dia tanyakan kepada dirinya kenapa ana bertanya tentang pertanyaan ini. Kalau jawabannya adalah ana ingin lebih paham, ana ingin mendapatkan ilmu, maka itu sudah poin yang pertama yang bagus. Berarti maksud antum adalah ingin memahami agama ini.لا التَّعنُّت والتَّهكُّمBukan ta’annut (ingin membantah) dan bukan ingin tahakkum (menyempitkan gurunya).Sengaja dia bertanya kepada gurunya supaya syaikhnya bingung, supaya dia kelihatan sempit. Kalau sudah niatnya seperti itu kita harus menahan diri dari pertanyaan tadi. Tapi kalau niatnya adalah ingin paham tentang agamanya dan sungguh-sungguh dia ingin memahami agamanya, silahkan.فإنَّ من ساء قصده في سؤاله يُحرم بركةَ العلم، ويُمنع منفعتهKarena barangsiapa yang buruk maksud dia dan niat dia dalam bertanya, maka dia tidak akan mendapatkan berkah ilmu.Kalau maksud dia bukan belajar tapi ingin membantah, mungkin sama Syaikh dibantah, bisa dijawab pertanyaan tadi. Mungkin maksud dia ingin menyempitkan gurunya dan bisa ditangani oleh guru tadi. Tapi karena niatnya dia dari awal memang ingin sekedar membantah, ingin sekedar menunjukkan dia pernah belajar di sana dan di sini, meskipun dijawab oleh gurunya, dia tidak akan mendapatkan berkah ilmu tadi.Mungkin ketika gurunya menyampaikan dia tidak konsen lagi karena tujuan dia bukan ingin paham tapi hanya sekedar ingin membantah. Dia sudah anggap gurunya ini tidak bisa jawab. Bagaimana orang orang yang demikian dia mendapatkan ilmu?ويُمنع منفعتهDan dia tidak mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut, tidak bisa mengamalkan ilmu tadi.الأصل الثَّانيYang ke dua yang harus kita perhatikan ketika kita ingin bertanya kepada guru,التَّفطُّنُ إلىٰ ما يَسأل عنهHendaklah dia memikirkan apa pertanyaan yang dia tanyakan.Kalau tadi memperhatikan kenapa dia bertanya niatnya apa, kalau yang ke dua kita harus meperhatikan pertanyaan apa yang kita tanyakan kepada guru kita. Mungkin kita ikhlas ingin paham, tapi bagaimana pertanyaan tersebut, apakah ada manfaatnya atau tidak.فا تسأل عمَّا لا نفع فيه؛Jangan engkau bertanya tentang suatu yang tidak bermanfaat.Syaikh menyebutkan contohnya, misalnya apakah air banjir yang ada di zaman Nabi Nuh itu air asin atau air tawar, karena seluruh bumi tergenang air itu airnya asin atau air tawar, ini pertanyaan yang tidak ada manfaatnya.إمَّا بالنَّظر إلىٰ حالكMungkin dilihat dari keadaan dirimu.Artinya antum bertanya tentang sesuatu yang itu seandainya dijawab manfaatnya tidak akan kembali ke antum. Suatu yang terjadi di belahan Afrika sana misalnya, seandainya dijawab tidak ada manfaatnya bagi antum. Politik yang ada di sana misalnya, peperangan yang ada di sana,أو بالنَّظر إلىٰ المسألة نفسهاAtau dilihat dari pertanyaan itu sendiri tidak ada manfaatnya.Seperti yang tadi kita sebutkan contohnya, tidak ada manfaatnya, jangan bertanya.Antum menghabiskan waktu antum dan menghabiskan waktu Syaikh. Kalau beliau tidak menjawab atau berpaling dari pertanyaan antum jangan salahkan kecuali diri antum sendiri karena yang antum tanyakan memang tidak ada manfaatnya bagi antum atau memang asalnya tidak ada manfaatnya.ومثله السُّؤال عمَّا لم يقعYang seperti itu juga adalah bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi.Syaikh seandainya misalnya di sana itu begini dan begini bagaimana Syaikh yang kita lakukan? Ini bertanya tentang sesuatu yang belum terjadi dan belum tentu terjadi.أو ما لا يُحدَّث به كلُّ أحدٍ، وإنَّما يُخصُّ به قومٌ دون قومٍAtau pertanyaan tersebut ini tidak boleh jawabannya didengar kecuali orang-orang khusus saja.Antum bertanya tentang sebuah pertanyaan yang jawabannya tidak boleh didengar kecuali orang-orang tertentu saja. Ini antum jangan bertanya kepada beliau di hadapan orang banyak tentang pertanyaan tersebut. Kalau kita tidak memahami pertanyaan yang bermanfaat dan tidak mengetahui pertanyaan yang bermanfaat, maka jangan salahkan kalau nanti kita lihat Syaikh berpaling dari ucapan kita atau mengusir kita dari majelis.Kalau kelihatan antum dari kemarin pertanyaannya seperti ini, yang dibawa adalah syubhat-syubhat padahal di situ ada fulan, ada orang yang baru ngaji, ada orang yang baru kenal sunnah tapi yang antum bawa syubhat-syubhat tentang masalah-masalah takfir, masalah ini dan itu, bisa diusir dari majelis. Daripada satu orang di sini tapi merusak orang-orang yang ada di majelis, maka lebih baik diusir satu orang dan yang lain mengambil ilmu.الأصل الثَّالثYang ke tiga,الانتباه إلىٰ صلاحية حال الشَّيخ للإجابة عن سؤالهHendaklah kita memperhatikan keadaan Syaikh bagaimana keadaan beliau ketika beliau akan menjawab pertanyaan tadi.فا يَسألُه في حالٍ تمْنَعُهُJangan sampai seseorang bertanya kepada gurunya di dalam keadaan yang mencegah beliau untuk bisa menjawab pertanyaan.Jadi kita lihat situasi dan kondisi Syaikh, jangan sampai kita bertanya kepada beliau dan beliau dalam keadaan yang menghalangi beliau untuk menjawab pertanyaan kita. Cari waktu kondisi yang kira-kira beliau dengan leluasa bisa menjawab pertanyaan kita dengan baik. Contoh misalnya keadaan yang tidak pas kita bertanya kepada beliauككونه مهمومًاMungkin beliau dalam keadaan mahmum, sedang ada beban yang ada di dalam hati beliau.Kalau kita bertanya kepada beliau dalam keadaan seperti itu mungkin beliau akan menjawab pertanyaan kita tapi jawabannya tidak seperti yang kita inginkan, karena di dalam hati beliau ada beban, ada suatu yang sangat beliau pikirkan.Mungkin anaknya sedang dalam keadaan panas yang luar biasa, dia memikirkan bagimana dia membawa anaknya rumah sakit, antum bertanya tentang sebuah perkara. Ini bukan pas bukan waktunya antum bertanya. Jangan antum menyangka bahwasanya itu adalah menunjukkan semangat antum dalam menuntut ilmu.Atau melihat beliau misalnya tidak konsen dalam menjawab pertanyaan kita karena sedang ada beban tadi, kemudian kita mengatakan ini bukan seorang ulama seorang ahlul ilmu karena ditanya beliau tidak memperhatikan pertanyaan. Antum yang salah dalam memilih kondisi dan juga situasi.أو متفكِّرًاAtau beliau dalam keadaan memikirkan sesuatu.Tentang sebuah permasalahan agama, masalah fiqih, karena itu memang amalan mereka, pekerjaan mereka, memikirkan ilmu. Terkadang mereka sampai beberapa hari memikirkan sebuah permasalahan mana yang lebih kuat. Ketika beliau dalam keadaan seperti itu maka tidak pas antum bertanya kepada beliau.أو ماشيًا في طريقٍAtau beliau dalam keadaan berjalan di jalan.Mungkin beliau ada maksud, ketika beliau berjalan itu ada tujuan, mungkin mau menjenguk orang atau ada janjian dengan orang lain di sana.أو راكبًا سيَّارَتهAtau beliau dalam keadaan menyupir.Karena orang yang sedang menyupir maka dia sedang konsentrasi dengan apa yang ada di depannya.بل يتحيَّنُ طيب نفسهTetapi dia berusaha mencari kapan ketika beliau ini siap dan baik jiwanya untuk ditanya.Misalnya memang beliau memberikan waktu khusus, beliau menyempatkan waktu, memang ini untuk interaktif misalnya untuk pertanyaan, silahkan berarti beliau memang siap untuk ditanya dan siap konsentrasi untuk menjawab pertanyaan.الأصل الرَّابعYang ke empat yang perlu kita perhatikan,تيقُّظ السَّائل إلىٰ كيفيَّة سؤالهKalau niat kita sudah bagus, pertanyaannya bermanfaat, dan waktunya, situasi dan kondisinya pas, yang ke empat jangan lupa kita harus menyampaikan pertanyaan tadi dengan baik, harus dipikirkan bagaimana supaya pertanyaan tadi bisa disampaikan dengan baik, misalnyaبإخراجه في صورةٍ حسنةٍ متأدِّبةٍYaitu dengan memberikan pertanyaan tadi dalam bentuk yang baik dan penuh dengan adab, contohفيُقدِّم الدُّعاء للشَّيخDia mendahulukan dengan mendoakan,Syaikhuna ahsanallāhu ilaik, Syaikhuna bārakallāhu fīk, itu didahulukan dengan doa, ghafarallāhu lakum wa liwālidaykum, mendoakan kedua orang tuanya, mendoakan untuk beliau, ini termasuk adab.ويبجِّله في خطابهKemudian di dalam pertanyaan kita ada sesuatu yang menunjukkan kita ini menghormati beliau.Syaikhuna, Ustadzuna, Ya Mu’allim, Wahai Guru, ada ucapan yang menunjukkan kita menghormati beliau.ولا تكون مخاطبته له كمخاطبته أهلَ السُّوق وأخلاطَ العوامJangan sampai ketika dia berbicara kepada guru tersebut, kepada seorang ulama tersebut, sama ketika dia berbicara dengan orang yang ada di pasar.Tidak ada doa, tidak ada penghormatan, ini berapa, ini sekilo berapa, jangan sampai kita menyamakan ketika kita berbicara kepada guru kita sama ketika kita berbicara dengan orang-orang yang ada di pasar dengan suara yang keras, tidak ada adabnya.وأخلاطَ العوامDan orang-orang awam.Kita harus hormati beliau dan menggunakan kalimat-kalimat yang baik yang menunjukkan penghormatan kita terhadap beliau.

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juli 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Ringkasan Halaqah 73 – Al-Nār (Neraka) dan Adzabnya (Bagian 3)

Ringkasan Halaqah 73 – Al-Nār (Neraka) dan Adzabnya (Bagian 3)1. Makanan Penghuni Nerakaa. Dhari'Makanan penghuni neraka berupa dhari', yaitu tumbuhan berduri.Tidak mengenyangkan dan tidak menghilangkan rasa lapar.Dalil: QS. Al-Ghāsyiyah: 6–7.b. Pohon ZaqqumTumbuh dari dasar neraka.Mayangnya seperti kepala-kepala setan.Dimakan hingga memenuhi perut penghuni neraka.Setelah itu mereka minum air yang sangat panas.Dalil: QS. Ad-Dukhān: 43–46; QS. Ash-Ṣāffāt: 62–66; QS. Al-Wāqi'ah: 51–55.c. Air Minum Penghuni NerakaKetika meminta minum, mereka diberi air seperti logam yang mendidih.Air itu menghanguskan wajah dan memotong-motong usus mereka.Dalil: QS. Al-Kahfi: 29; QS. Muhammad: 15.d. GhislīnMakanan berupa nanah penghuni neraka yang sangat busuk dan menjijikkan.Hanya dimakan oleh orang-orang yang berdosa.Dalil: QS. Al-Ḥāqqah: 35–37.2. Pakaian Penghuni NerakaPakaian mereka terbuat dari api.Pakaian mereka juga dari tembaga panas yang menutupi wajah.Dalil: QS. Al-Ḥajj: 19; QS. Ibrāhīm: 50.3. Bentuk Adzab Penghuni NerakaKulit mereka matang, lalu dikembalikan lagi agar terus merasakan adzab.Isi perut meleleh dan kulit hancur karena siraman air panas.Dipukul dengan palu-palu besi ketika mencoba keluar.Diseret di atas wajah-wajah mereka.Wajah mereka menjadi hitam.Leher dibelenggu, kaki dirantai, diseret ke air mendidih lalu dibakar dalam api.Dalil: QS. An-Nisā': 56; QS. Al-Ḥajj: 19–22; QS. Al-Qamar: 48; QS. Āli 'Imrān: 106; QS. Ghāfir: 71–72.4. Permintaan Penghuni NerakaMemohon agar dikeluarkan supaya bisa beramal saleh.Meminta penjaga neraka berdoa agar adzab diringankan walau hanya sehari.Meminta Malaikat Malik agar Allah mematikan mereka.Semua permintaan tersebut ditolak.Dalil: QS. Fāṭir: 37; QS. Ghāfir: 49; QS. Az-Zukhruf: 77.PelajaranAdzab neraka sangat dahsyat dan tidak ada keringanan bagi orang-orang kafir.Penghuni neraka tidak akan keluar, adzab mereka tidak diringankan, dan mereka tidak dimatikan.Hendaknya kita berlindung kepada Allah, memperbanyak amal saleh, serta mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.

💬 0 komentar📅 8 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 72

Selasa, 7 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 72Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Keempat Hadist Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib (Bagian 4)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Pahala Membunuh Kaum Khawarij secara Syar'i​Nabi ﷺ bersabda mengenai kaum Khawarij:​فإنَّ قتلَهم أجرٌ لمن قَتَلَهم​Artinya:“Karena sesungguhnya membunuh mereka ini ada pahala bagi orang-orang yang membunuh mereka di hari Kiamat.”Orang-orang yang memerangi orang-orang Khawarij dengan cara yang benar harus dibimbing oleh pemerintah, sebagaimana yang dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib dan juga pasukannya. Ketika mereka membunuh orang-orang Khawarij, mereka mendapatkan pahala.Dampak Buruk dan Kerusakan Akibat Kaum Khawarij​Alasan mengapa memerangi kaum Khawarij mendatangkan pahala yang besar adalah karena mereka membawa mudharat yang sangat besar bagi kaum muslimin:​Salah Sasaran dalam Berjihad:Mereka meninggalkan penyembah-penyembah kuburan, tetapi mereka justru memerangi orang-orang Islām (yang dianggap melakukan dosa besar lalu dibunuh).​Mengacaukan Stabilitas Negara:Mereka ingin mengacaukan keadaan negara. Padahal, di dalam negara yang kacau, tidak mungkin bisa berdakwah dengan baik, serta tidak mungkin bisa mengembangkan lagi dan berjihad mengajak orang lain untuk masuk ke dalam agama Islām.​Contoh Sejarah Perbandingan Zaman Umar dan Zaman Ali:​Di zaman Umar bin Khattab, banyak negeri-negeri yang sebelumnya negeri kufur masuk ke dalam agama Islām.​Di zaman Ali bin Abi Thalib, meskipun berlangsung 4-5 tahun, sangat sedikit sekali tambahan negeri yang masuk ke dalam agama Islām. Hal ini dikarenakan beliau sibuk mengurusi orang-orang Khawarij.​Terabaikannya Maslahat Dunia dan Agama:Akibat kekacauan yang ditimbulkan oleh orang-orang Khawarij, banyak maslahat dunia dan maslahat agama menjadi terabaikan, tersingkirkan, atau hilang. Jika situasi negara kacau karena pemerintah sibuk berperang melawan Khawarij di dalam negeri, kegiatan sehari-hari masyarakat tidak dapat berputar:​Tidak mungkin ada pasar yang berjalan dengan baik.​Tidak ada orang yang berani membuka warungnya.​Tidak ada anak-anak yang berani melakukan perjalanan sekolah.​Tidak ada dai yang berani untuk ceramah.​Tidak ada orang yang berani datang ke masjid untuk shalat.​Akhirnya, semua urusan dunia maupun urusan agama menjadi kacau dan terhambat gara-gara orang-orang Khawarij ini.Sumber Hadits dan Penggabungan Riwayat​Hadits pertama (فإنَّ قتلَهم أجرٌ لمن قَتَلَهم) adalah hadits dari Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan juga Muslim.​Kemudian muallif menyebutkan potongan hadits berikutnya:​لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عادPotongan di atas merupakan bagian dari hadits Abu Said Al-Khudri, yang lengkapnya berbunyi:​يمرقون من الإسلام كما يme السهم من الرمية لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد​Hadits Abu Said Al-Khudri ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Wallāhualam, teks di sini merupakan penggabungan antara dua hadits, yaitu hadits Ali bin Abi Thalib dan hadits Abu Said Al-Khudri.Makna Ancaman Pembunuhan Seperti "Kaum 'Ad"q​Di dalam hadits Abu Said Al-Khudri, Nabi ﷺ bersabda:​لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد​Artinya:“Seandainya aku bertemu dengan mereka niscaya aku akan membunuh mereka sebagaimana terbunuhnya kaum ‘Ad.”​Maksud dari "Pembunuhan Kaum 'Ad" adalah Kaum 'Ad dahulu dihancurkan dan terbunuh secara keseluruhan tanpa ada yang disisakan oleh Allāh. Artinya, Nabi ﷺ berniat seandainya bertemu dengan kaum Khawarij, beliau akan menghabisi semuanya secara keseluruhan dan tidak akan menyisakan mereka.Syahid (Sisi Pendalilan) Bahwa Bid'ah Lebih Besar daripada Dosa Besar​Ini menunjukkan betapa kerasnya ancaman Nabi ﷺ terhadap orang-orang Khawarij sampai beliau berniat untuk membunuh mereka secara keseluruhan tanpa ada yang disisakan. Apakah ucapan atau ancaman seperti ini (لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد) pernah beliau ucapkan kepada orang yang melakukan dosa besar biasa? Tidak pernah. Karena beliau tidak pernah mengucapkan ancaman ini kepada pelaku dosa besar, maka hal ini menjadi dalil yang menunjukkan dahsyatnya dan besarnya dosa bid'ah, khususnya dosa bid'ah Khawarij di sini, sampai-sampai Nabi ﷺ mengancam mereka dengan ancaman yang sedemikian rupa.Kesimpulan​Berdasarkan hadits shahih riwayat Ali bin Abi Thalib dan Abu Said Al-Khudri, memerangi kaum Khawarij di bawah bimbingan pemerintah yang sah merupakan amalan yang berpahala besar di hari kiamat. Hal ini dikarenakan bid'ah Khawarij menimbulkan mudharat global yang menghancurkan maslahat dunia maupun agama; mereka justru memerangi umat Islam dan melumpuhkan stabilitas negara (seperti pasar, sekolah, dakwah, dan shalat berjamaah), sebagaimana yang terjadi di masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Kekerasan ancaman Nabi ﷺ yang berniat menghabisi mereka secara total tanpa sisa seperti pemusnahan kaum 'Ad—suatu ancaman yang tidak pernah beliau sampaikan kepada para pelaku dosa besar biasa—menjadi bukti kuat tentang betapa dahsyat dan besarnya bahaya dosa bid'ah dibandingkan dengan dosa-dosa besar lainnya.

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 22

Halaqah yang ke dua puluh dua dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد السابع عشرSimpul yang ke-17 diantara simpul-simpul (prinsip-prinsip) yang dengannya kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam diri kita,الذب عن العلم، والذود عن حياضهAdalah membela ilmu.Kita harus punya rasa pembelaan terhadap ilmu karena ilmu qalallahu waqala rasul dengan pemahaman para salaf ini harus kita bela, jangan sampai ada yang berusaha untuk merusak ilmu dan merusak pemahaman yang benar terhadap ilmu. Kalau ada yang merusaknya kita berusaha untuk membelanya.والذود عن حياضهDan kita berusaha untuk mengusir setiap orang yang ingin mendekati (merusak) telaga-telaga ilmu tersebut.Ini bentuk pengagungan kita terhadap ilmu.Orang yang cinta dengan ilmu dan mengagungkan ilmu, dia tidak akan rela kalau di sana ada orang-orang yang berbicara dan merusak ilmu.Allāh ﷻ mengatakan demikian, Rasul ﷺ mengatakan demikian, pemahaman demikian, tapi dia berbicara di hadapan orang dan mengobrak abrik ilmu dan merusak pemahaman yang benar tentang ilmu, maka harus ada di dalam hatinya ghirah (kecemburuan). Tidak rela kalau sampai ada orang yang merusak ilmu. Ini bentuk penganggungan kita terhadap ilmu. إنَّ للعلم حُرمةً وافرةً، توجب الانتصارَ له إذا تُعرِّض لجنَابه بما لا يصلحُSesungguhnya ilmu ini memiliki kehormatan yang tinggi, kehormatan yang besar, yang mengharuskan kita untuk membela ilmu tersebut. Apabila ada yang berusaha untuk merusaknya, apabila ada yang berusaha memasukkan ke dalam ilmu tadi sesuatu yang tidak benar.وقد ظهر هٰذا الانتضار عند أهل العلم في مظاهرَDan telah muncul terwujud pembelaan tersebut (pembelaan yang dilakukan oleh para ulama) pada keadaan-keadaan berikut.Jadi terlihat di sana peristiwa atau keadaan yang menunjukkan bahwasanya para ulama, mereka berkeinginan untuk membela mati-matian ilmu tersebut. Ilmu yang mereka rela untuk meninggalkan negaranya sampai ke negara lain, mengeluarkan harta yang dia miliki, dia berpisah dengan keluarganya, bukti kecintaan mereka terhadap ilmu.منهاDiantaranya adalahالرَّدُّ علىٰ المخالفMembantah orang yang menyimpang.Para ulama membantah. Imam Ahmad membantah, Ibnu Taimiyah membantah, karena ini adalah bentuk pengagungan mereka terhadap ilmu. Mereka tidak rela ilmu itu dirusak. Dia harus bangkit, dia habiskan malamnya mungkin untuk menulis bantahan, dihabiskan waktu selama beberapa bulan untuk menulis bantahan. Itu dilakukan ingin membela mati-matian ilmu yang dia agungkan, tidak ingin ilmu dirusak oleh sebagian orang.فمن ٱستبانت مخالته للشَّريعة رُدَّ عليه كائنًا من كانMaka barangsiapa yang jelas penyimpangan dia terhadap syari’at, maka dia harus dibantah. Siapapun dia.Terkadang temannya sendiri, Al Imam Ahmad Bin Hanbal berkata kepada Ishaq Ibn Rahawaih, teman beliau sendiri dan sama-sama ulama, tapi ilmu lebih dia cintai kalau tidak benar sikapnya terhadap ilmu yang dia sampaikan, bukan demikian cara memperlakukan ucapan orang-orang yang baik. Siapapun dia, maka ditolak meskipun itu adalah temannya sendiri, meskipun adalah keluarganya sendiri.حَيَّةً للدِّين، ونصيحةً للمسلمينItu dilakukan yang pertama adalah untuk menjaga agama. Dia sampaikan bantahannya untuk menjaga agama ini supaya tetap murni, suci, tidak dirusak oleh pemikiran yang menyimpang.ونصيحةً للمسلمينDan ini adalah bentuk nasehat untuk kaum muslimin.Tidak ingin sampai pemahaman yang tidak benar itu kepada saudara-saudaranya diantara kaum muslimin, makanya beliau membantah karena tidak ingin kaum muslimin teracuni dan masuk di dalam pemikiran mereka, ajaran-ajaran yang menyimpang. Ini bagian dari menasihati kaum muslimin.ومنهاDiantara bentuk pembelaan para ulama terhadap ilmu adalahهجرُ المبتدعِBukan hanya membantah saja tapi juga menghajr (memboikot) seorang Ahlul Bid’ah.Ahlul Bid’ah ini perusak agama, menambah-nambah di dalam agama, menyuruh manusia untuk meyakini bid’ah tadi atau mengamalkan bid’ah tadi. Maka termasuk bentuk pembelaan kita adalah memboikot mubtadi’.ذكره أبو يعلىٰ الفرَّاء إجماعًاAbu Ya’la Al-Farra’ menyebutkan bahwasanya adalah ijma’, menghajr mubtadi Itu adalah sebuah ijma.فا يُؤخذ العلم عن أهل البدعTidak boleh diambil ilmu dari seorang Ahlul Bid’ah, seorang jahmi, atau seorang mu’tazili, atau seorang murjiah, atau seorang khawarij. Jangan mengambil ilmu dari Ahlul Bid’ah, mereka merusak.Dan kalau kita mengambil ilmu darinya, manusia akan tertipu. Si fulan saja mendatangi, berarti tidak masalah kita mendatangi majelisnya, tidak masalah kita mendengarkan ceramahnya, akhirnya ajaran yang menyimpang tadi sampai kepada orang-orang orang awam, kepada orang-orang yang jahil sehingga bisa merusak agama. Maka pembelaan kita adalah dengan menghajr seorang mubtadi’.لٰكن إذا ٱضْطرَّ إليه فلا بأسAkan tetapi kalau dalam keadaan terpaksa maka tidak masalah.Seperti misalnya di lingkungan sekolah, kita belajar macam-macam perkara, di situ ada satu pelajaran harus yang mengajar adalah si fulan mubtadi’. Mau tidak mau kita harus menghadiri kelasnya, kalau tidak maka kita tidak akan lulus misalnya, maka dalam keadaan terpaksa tidak masalah, tapi kita harus berhati-hati dengan pemikirannya.كما في الرِّواية عنهم لدىٰ المحدِّثينSebagaimana (ini sebuah contoh) hukum meriwayatkan dari mereka menurut para muhadditsin.Para Ahlul Hadits asalnya mereka tidak mengambil ilmu dari Ahlul Bid’ah. Kalau mereka mau mencari hadits mereka lihat dulu ini Ahlul Bid’ah atau Ahlus Sunnah. Kalau Ahlus Sunnah mereka ambil ilmunya, kalau Ahlul Bid’ah maka mereka tidak mengambil ilmunya.Tapi di sana ada sebagian Ahlul Bid’ah, mereka lihat ini adalah Ahlul Bid’ah yang tidak bohong karena Ahlul Bid’ah ini ada yang suka bohong dan ada yang takut bohong.Orang-orang khawarij dahulu mereka adalah orang-orang yang takut bohong karena mereka mengatakan pelaku dosa besar keluar dari Islam. Jadi mereka kalau bohong atas nama Nabi takut mereka, sehingga kadang kalau dia menghafal hadits, memiliki riwayat hadits diambil darinya karena dia adalah punya keyakinan tidak boleh bohong sehingga tidak mungkin dia bohong di dalam menyampaikan hadits, ini sebuah pengecualian.ومنها: زجر المتعلِّم إذا تعدَّىٰ في بحثهDiantara bentuk pembelaan terhadap ilmu, selain membantah kemudian memboikot Ahlul Bid’ah, juga terkadang kita menggertak seorang penuntut ilmu yang ada di hadapan kita. Kita bentak misalnya apabila dia berlebihan dalam menuntut ilmu.أو ظهر منه لَدَدٌAtau terlihat bahwasanya orang ini suka membantah.Dia mungkin baru belajar dan ingin menampakkan tentang semangatnya atau menampakkan ilmunya, sudah disampaikan oleh gurunya demikian dan demikian tapi begini, diulang lagi tapi begini, dan seterusnya. Maka dalam keadaan demikian boleh bagi seorang guru untuk menggertak kalau kelihatan di dalam dirinya sifat seperti ini.أو سوءُ أدبٍAtau terlihat dia tidak beradab.Karena ini semua adalah menunjukkan penghinaan terhadap ilmu dan kita sebagai seorang yang menisbahkan kepada ilmu harus membela. Ini tidak beradab dalam majelis padahal seharusnya seorang penuntut ilmu dan setiap orang yang cinta ilmu harus beradab di dalam majelis. Kalau ini tidak beradab maka boleh bagi seorang guru untuk memberikan pelajaran bagi murid tersebut.وإن ٱحتاج المعلِّم إلىٰ إخراج المتعلم من مجلسه؛ زجرًا له فليفعلKalau misalnya seorang guru perlu untuk mengeluarkan seorang murid dari majelisnya karena ingin memberikan pelajaran kepada murid tersebut, maka hendaklah dia lakukan.Karena keinginan guru tadi supaya anak ini sadar bahwasanya sikap dia itu salah, sikap dia ini tidak mencerminkan pengagungan terhadap ilmu, sehingga terkadang diusir oleh gurunya.كما كان يفعله شعبة مع عفَّانَ بن مسلمٍ في درسهSebagaimana ini pernah dilakukan oleh Syu’bah rahimahullah (Amirul Mu’minin Fil Hadits), beliau pernah mengusir seorang muridnya dan dia adalah seorang imam juga sebenarnya, seorang Ahlul Hadits, ‘Affan Ibn Muslim, di dalam dars-nya.Ini dilakukan oleh Syu’bah untuk memberikan pelajaran kepada muridnya supaya dia mengetahui adab-adab dalam menuntut ilmu. Apakah ‘Affan ketika diusir oleh gurunya kemudian dia mutung dan putus asa kemudian malu tidak mau mengadiri majelis Syu’bah? Tidak, beliau tetap tegar dan beliau bersabar.Dan beliau tahu bahwasanya gurunya tidak melakukan yang demikian kecuali untuk kebaikannya dan karena gurunya mencintai ilmu dan mengagungkan ilmu dan ingin melihat muridnya juga mengagungkan ilmu tersebut. Sehingga jadilah Affan seorang ulama, juga jadilah Affan seorang Imam juga, karena dia bersabar dalam menuntut ilmu, bersabar dalam bermajelis, bersabar atas perilaku gurunya.Kalau dia tidak bersabar, maka mungkin dia akan jadi seorang tukang kayu saja atau tukang bersih-bersih saja. Tapi beliau bersabar dan akhirnya beliau juga mendapatkan ilmu dari Syu’bah.Syu’bah melihat muridnya bersabar dan ternyata dia menghadiri majelis ilmunya Syu’bah lagi. Maka dia tahu bahwasanya ini murid benar-benar dia ingin mencari ilmu, maka akan diberikan kepadanya ilmu karena dia bersungguh-sungguh. Ini ilmunya, ini haditsnya, karena dia melihat murid tersebut memang benar-benar ingin belajar. Kemudian,وقد يُزجر المتعلِّم بعدمِ الإقبال عليهTerkadang seorang penuntut ilmu (murid) diberikan pelajaran dengan cara gurunya tidak menghadap kepada murid tadi. Ketika ditanya oleh murid tadi dia tidak menghadapkan dirinya kepada murid tadi, dicuekin.وتركِ إجابتهDan meninggalkan untuk menjawab pertanyaan dia. Kalau memang murid tadi di dalam dirinya ada kebaikan, maka InsyaAllāh dia akan bisa mengambil pelajaran. Ini ada sesuatu pada diri ana, sehingga Syaikh beliau demikian dan demikian. Apa yang salah, kalau memang dalam dirinya ada kebaikan, maka dia akan memperbaiki dirinya.فالسُّكوت جوابٌ؛ قاله الأعمشMaka diamnya seseorang itu adalah sebuah jawaban.Jawaban tidak harus diucapkan. Apalagi seorang ulama, maka diamnya dia itu adalah sebuah jawaban. Itu sebuah pelajaran bagi kita. Kalau beliau berbicara, maka kita berbicara di dalam permasalahan tadi, sebagaimana beliau berbicara. Kalau beliau diam, ketahuilah bahwasanya para ulama itu diam di atas ilmu juga, bukan karena mereka tidak tahu.فالسُّكوت جوابٌMaka diamnya itu adalah sebuah jawaban.Kita harus sadar, kita harus mudah mengerti kenapa guru kita diam. Kenapa beliau tidak mau menjawab, kita harus sadar maksud beliau mungkin seperti ini, mungkin ini kalau sampai dijawab akan terjadi fitnah bagi saudara-saudara ana. Ini di sekitar ana masih banyak orang awam sementara pertanyaan ana tadi sudah terlalu jauh. Kalau sampai disampaikan dan dijawab oleh Syaikh, ini fitnah bagi orang-orang yang ada di sekitar ana, dia mengambil pelajaran. Berarti nanti ana kalau jadi seorang guru harus melihat suasana. Maka diamnya guru kita itu adalah jawaban.قاله الأعمشIni diucapkan oleh Al-A’masy. Ini adalah seorang muhaddits, Sulaiman Ibn Mihran Al-Kufiy.ورأينا هٰذا كثيرٍا من جماعةٍ من الشُّيوخSyaikh mengatakan dan kami melihat yang demikian banyak dilakukan oleh guru-guru kami atau para ulama.منهم العلَّمة ابن بازDiantaranya adalah Al-‘Allamah Ibn Baz rahimahullah (Syaikh Bin Baz).فربَّما سأله سائلٌ عمَّا لا ينفعه، فترك الشيخ إجابَتَه، وأمر القارئ أن يواصل قراءته، أو أجابه بخلاف قصدهTerkadang ada yang tanya kepada Syaikh tentang sesuatu yang tidak bermanfaat, sampai perkara yang tidak bermanfaat ditanyakan. Maka Syaikh tidak menjawab pertanyaan tadi, kemudian menyuruh sang pembaca yaitu yang membaca kitab di hadapan beliau untuk meneruskan qira’ahnya.Jadi ada yang bertanya, Syaikh apa hukumnya demikian dan demikian. Saya mengatakan, Iqra (baca). Tidak dijawab pertanyaan orang tadi karena melihat itu tidak bermanfaat.Ini pelajaran bagi kita kalau kita duduk di situ kalau ada orang yang bertanya dan kurang bermanfaat, untuk sebagai pembelaan kita terhadap ilmu, maka jangan kita menjawab pertanyaan tadi. Ini pelajaran, makanya ini penting seseorang melazimi seorang guru. Dia bukan hanya belajar mengambil ilmu darinya tapi juga mengambil adab dari beliau.أو أجابه بخلاف قصدهAtau menjawabnya tetapi bertentangan dengan maksud orang yang bertanya tadi.Terlihat dia maksudnya mau demikian kemudian oleh Syaikh dijawab bertentangan dengan apa yang dia maksudkan sebagai pelajaran bagi orang tersebut.Ini adalah ma’qid (simpul) yang ke-17. Kita harus memiliki pembelaan terhadap ilmu kalau ada orang yang akan menghinakan ilmu tersebut atau merusak ilmu tersebut

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 72

Halaqah 72 | Perjanjian yang Allāh Ambil atas Nabi Adam dan KeturunannyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَالْمِيثَاقُ الَّذِي أَخَذَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ آدَمَ وَذُرِّيَّتِهِ حَقٌّDan perjanjian yang Allāh subhanahu wa ta’ala ambil dari Adam dan juga keturunannya maka ini adalah Haq.Diantara akidah Ahlussunnah wal jamaah bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala dahulu telah mengambil sebuah perjanjian dari Nabi Adam alaihissalam sebagai bapak manusia dan juga anak keturunan beliau ini adalah hak ini adalah benar adanya karena yang demikian berdasarkan dalil yang shahih bahkan dalilnya adalah dalil yang mutawatir secara makna sebagaimana ini dijelaskan oleh syekh Albani rahimahullah di dalam silsilah Al Hadits shahihah berdasarkan semua hadits yaitu hadits Abdullāh bin Abbas yang diangkat sampai Nabi ﷺ di mana beliau ﷺ mengatakan,إنَّ اللَّهَ تعالى أخذَ الميثاقَ من ظَهرِ آدمَ عليهِ السَّلامُ بنعمانَ يومِ عرفةَ فأخرج من صلبِه كلَّ ذرِّيَّةٍ ذراها فنثرها بين يدَيه كالذر ثم كلَّمهم قُبُلًا قال أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَىNabi ﷺ mengatakan, sesungguhnya Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengambil perjanjian dari punggung Adam di hari Arafah kemudian Allāh subhanahu wa ta’ala mengeluarkan dari tulang sulbinya, Nabi Adam alaihissalam semua keturunan beliau Allāh subhanahu wa ta’ala mengeluarkan dari tulang Sulbinya langsung dunia Nabi Adam alaihissalam semua keturunan beliau.Ini sesuatu yang harus kita yakini berdasarkan hadits yang shahih Allāh semata mengeluarkan seluruh keturunan Nabi Adam alaihissalam saat ini termasuk di antaranya kita meskipun kita tidak mengingatnya tapi inilah yang digambarkan oleh Nabi ﷺ,فنثرها بين يدَيهKemudian Allāh subhanahu wa ta’ala meletakkan mereka di depan Nabi Adam alaihissalam,كالذرSeperti semut-semut yang kecil meletakkan keturunan Nabi Adam alaihissalam di depan Nabi Adam alaihissalam seperti كالذر itu seperti semut kecil yang banyak dan semuanya adalah keturunan nabi Adam alaihissalam manusia kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berbicara kepada mereka semuanya dan mengatakan,أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْBukankah Aku adalah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian.Sehingga wajib bagi kalian untuk menyembah Allāh saja dan tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun di sini Allāh subhanahu wa ta’ala mengambil Misaq Allāh mengambil perjanjian dengan Nabi Adam alaihissalam dan juga seluruh keturunannya,أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْBukankah Aku adalah Rabb kalian ?Apa jawab mereka?بَلَىMereka mengatakan iya, ya Allah semuanya mengakui bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala adalah Rabb mereka, pengakuan yang merupakan janji dari mereka untuk menyembah kepada Allāh saja tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun.Ini adalah Misaq, ini perjanjian yang berat berarti di sana sudah ada janji yang Allāh subhanahu wa ta’ala dari Nabi Adam alaihissalam dan juga keturunannya dan janji yang harus kita tepati maka muwahidun / orang-orang yang bertauhid orang-orang Islam dari semenjak umat nabi-nabi terdahulu dan yang mengikuti Nabi ﷺ merekalah orang-orang yang menempati janji mereka adalah orang-orang yang menempati janji karena kita sudah mengakui di hadapan Allāh subhanahu wa ta’ala adalah Rabb kita yang kita harus mengesakannya mentauhidkan tidak boleh menyekutukannya Dia dengan sesuatu apa ketika diperintahkan untuk menyempurnakan janji kepada Allāh subhanahu wa ta’ala.Setelah perjanjian tersebut Allāh subhanahu wa taala bukan hanya mencukupkan diri dengan perjanjian yang sudah Allāh ambil kepada mereka dahulu, tapi Allāh subhanahu wa taala mengutus para rasul mengingatkan manusia atas perjanjian tersebut۝ وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…[QS An Nahl 36]Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya menyembah kalian kepada Allāh dan menjauhi Thagut. Ini adalah isi perjanjian yang Allāh ambil dari mereka, Allāh utus para utusan dan jumlah mereka luar biasa banyak disebutkan dalam hadits jumlah mereka ada 124.000, 300 lebih diantaranya adalah sebagai Rasul dan Allāh subhanahu wa ta’ala tidaklah menurunkan kitab kecuali untuk mengingatkan manusia juga tentang Tauhid,كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ ۝ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ[QS Hud 1,2]Kitab yang diqaskan ayat-ayatnya dan diperinci dari Allāh subhanahu wa ta’ala apa tujuannya?أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَSupaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allāh subhanahu wa ta’ala semata.Tauhid, Islam ini adalah janji yang sudah Allāh ambil dari kita semuanya ini adalah hikmah diciptakannya Jin dan juga manusia hikmah diutusnya para Rasul hikmah diturunkan kitab-kitab Allāh subhanahu wa ta’ala, maka kita sebagai seorang muslim membenarkan Misaq tersebut jangan kita seperti orang-orang yang mendahulukan akalnya bagaimana dan bagaimana dikeluarkan semuanya dari tulang sulbi adab, berupa semut atau berupa dzar kecil-kecil seperti semut, ini ucapan orang-orang yang kurang akal bukan orang yang cerdas akalnya adaupun orang yang shahih akalnya maka dia menyadari, akalnya menyadari bahwasanya akal dia itu penuh dengan kekurangan itu orang yang benar akalnya, kalau memang itu kabar yang Shahih dari Nabi ﷺ maka akal yang shahih akan mendengarkannya, akal yang shahih menyadari bahwasanya dirinya adalah penuh dengan kekurangan.

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 22: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 22)

Halaqah 22:Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 20)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah: 4. Al Karamah menambah keimanan, ketakwaan dan kerendahan hati pada pemiliknya, sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah menambah kekufuran dan kejauhan dari Allah ‘Azza wa jalla.Di dalam kitab Hilyatul Auliya Abu Nu’aim rahimahullah membawakan dengan sanadnya kisah Abu Muslim Al-Khaulani seorang yang shaleh, dengan Al-Aswad Al-Amsyi orang yang mengaku menjadi Nabi berkata Syarah bil Al-Khaulani ketika Al-Aswad bin qais bin dil himar Al-Amsyi di Yaman muncul dipanggilah Abu Muslim maka Al-Amsyi berkata “apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah? ”berkata Abu muslim “Iya”kembali Al-Amsyi bertanya“apakah engkau bahwa aku adalah Rasulullah? ”berkata Abu muslim “aku tidak mendengar”.Maka di nyalakanlah api yang besar kemudian di lemparkan Abu Muslim kedalam api tersebut, tetapi beliau tidak termudharati, maka penduduk kerajaan Al-Aswad Al-Amsyi berkata kepadanya apabila engkau biarkan Abu Muslim berada di negerimu maka dia akan merusak urusanmu, usirlah dia maka Abu Muslim pun datang ke kota Madinah dan saat itu Rasulullah ﷺ sudah wafat dan digantikan Abu Bakar, kemudian Abu Muslim menambatkan untanya dipintu masjid Nabawi kemudian shalat menuju salah satu tiang diantara tiang-tiang Masjid.Maka Umar bin khaththab melihatnya dan mendatanginya dan berkata “Dari mana asal mu?”Abu Muslim mengatakan : "Dari Yaman”Berkata Umar “apa yang dilakukan musuh-musuh Allah terhadap saudara kita yang dibakar dan tidak mempan”Abu Muslim berkata: “itu adalah Abdullah Ibn tsaub”Berkata Umar: “aku meminta dengan Nama Allah apakah dia adalah dirimu? ”berkata Abu muslim: “Iya”Berkata syarah bil maka Umar antara kedua mata Abu Muslim kemudian membawanya dan mendudukannya antara Abu Bakar dan Umar.Berkata Umar Ibn Khattab ”segala puji bagi Allah yang belum mematikanku dari dunia sehingga memperlihatkan kepada diriku diantara umat Muhammad orang yang dibakar seperti dibakarnya Nabi Ibrahim kekasih Allah”.Lihatlah bagaimana ucapan Abu Muslim ketika ditanya oleh Umar Ibn khattab beliau berusaha untuk menutupi identitas beliau dan mengatakan “itu adalah Abdullah bin tsaub” seakan-akan orang tersebut bukan dirinya.5. Al-Karamah digunakan untuk sesuatu kebaikan atau perkara yang diperbolehkan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah digunakan untuk perkara yang diharamkan seperti menyakiti orang lain atau menyombongkan diri dan lain-lain.

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 22

Halaqah yang Ke-22 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke-20diantara perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah④ Al Karamah menambah keimanan, ketakwaan dan kerendahan hati pada pemiliknya, sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah menambah kekufuran dan kejauhan dari Allah ‘Azza wa jallaDi dalam kitab Hilyatul Auliya Abu Nu’aim rahimahullah membawakan dengan sanadnya kisah Abu Muslim Al-Khaulani seorang yang shaleh, dengan Al-Aswad Al-Amsyi orang yang mengaku menjadi Nabi berkata Syarah bil Al-Khaulani ketika Al-Aswad bin qais bin dil himar Al-Amsyi di Yaman muncul dipanggilah Abu Muslim maka Al-Amsyi berkata “apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah? ”berkata Abu muslim “Iya”kembali Al-Amsyi bertanya“apakah engkau bahwa aku adalah Rasulullah? ”berkata Abu muslim “aku tidak mendengar”Maka di nyalakanlah api yang besar kemudian di lemparkan Abu Muslim kedalam api tersebut, tetapi beliau tidak termudharati, maka penduduk kerajaan Al-Aswad Al-Amsyi berkata kepadanya apabila engkau biarkan Abu Muslim berada di negerimu maka dia akan merusak urusanmu, usirlah dia maka Abu Muslim pun datang ke kota Madinah dan saat itu Rasulullah ﷺ sudah wafat dan digantikan Abu Bakar, kemudian Abu Muslim menambatkan untanya dipintu masjid Nabawi kemudian shalat menuju salah satu tiang diantara tiang-tiang MasjidMaka Umar bin khaththab melihatnya dan mendatanginya dan berkata “dari mana asal mu”Abu Muslim mengatakan : ” dari Yaman ”Berkata Umar “apa yang dilakukan musuh-musuh Allah terhadap saudara kita yang dibakar dan tidak mempan”Abu Muslim berkata: “itu adalah Abdullah Ibn tsaub”Berkata Umar: “aku meminta dengan Nama Allah apakah dia adalah dirimu? ”berkata Abu muslim: “Iya”Berkata syarah bil maka Umar antara kedua mata Abu Muslim kemudian membawanya dan mendudukannya antara Abu Bakar dan UmarBerkata Umar Ibn Khaththab ”segala puji bagi Allah yang belum mematikanku dari dunia sehingga memperlihatkan kepada diriku diantara umat Muhammad orang yang dibakar seperti dibakarnya Nabi Ibrahim kekasih Allah”Lihatlah bagaimana ucapan Abu Muslim ketika ditanya oleh Umar Ibn khaththab beliau berusaha untuk menutupi identitas beliau dan mengatakan “itu adalah Abdullah bin tsaub” seakan-akan orang tersebut bukan dirinya.⑤ Al-Karamah digunakan untuk sesuatu kebaikan atau perkara yang diperbolehkan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah digunakan untuk perkara yang diharamkan seperti menyakiti orang lain atau menyombongkan diri dan lain-lain

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

HALAQAH 72 | AL-NĀR (NERAKA) DAN ADZABNYA (BAG. 2)

HALAQAH 72 | AL-NĀR (NERAKA) DAN ADZABNYA (BAG. 2)(Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Hari Akhir)1. Neraka Dimulai & AbadiDinyalakan pada hari kiamat.Tidak akan pernah padam; apinya akan terus ditambah kekuatannya oleh Allah (QS At-Takwir: 12, QS Al-Isrā': 97).2. Karakteristik NerakaNeraka bisa melihat, mendengar, dan berbicara.Di hari kiamat, akan keluar potongan berbentuk leher yang memiliki mata, telinga, dan lisan.Mengemban tugas khusus untuk mengadzab 3 golongan: orang sombong/keras kepala menentang kebenaran, orang yang syirik (berdoa kepada selain Allah), dan orang yang menggambar makhluk bernyawa (HR Tirmidzi).3. Pintu-Pintu NerakaMemiliki 7 pintu yang akan dimasuki sesuai porsi amalan masing-masing (QS Al-Hijr: 44).Pintu dibuka langsung tanpa syafaat saat penghuninya tiba di depan neraka (QS Az-Zumar: 71).Seluruh pintu ditutup rapat selama bulan Ramadhan (HR Bukhari & Muslim).Setelah orang kafir masuk, pintu akan ditutup rapat secara permanen (QS Al-Balad: 20).4. Tingkatan AdzabMemiliki tingkatan berdasarkan kedahsyatan siksanya.Tingkat paling bawah diisi oleh orang-orang munafik (QS An-Nisā': 145).Adzab paling ringan: memakai dua sandal dari api yang membuat otaknya mendidih layaknya periuk (HR Bukhari & Muslim).5. Bahan Bakar & Suasana SiksaanBahan bakarnya adalah manusia (orang kafir), batu, serta apa saja yang disembah selain Allah secara ridha (QS Al-Baqarah: 24, QS Al-Anbiyā': 98).Sangat panas (api dunia hanya $1/70$ bagian dari api neraka).Tidak ada kesejukan sama sekali; angin yang bertiup sangat panas (samum), airnya mendidih (hamim), dan naungannya berupa asap hitam yang pekat (yahmum) (QS Al-Waqi'ah: 41-44).6. Penduduk/Penghuni NerakaOrang-orang kafir: kaum musyrik, Ahlul Kitab (Yahudi & Nasrani), dan orang munafik (QS Al-Bayyinah: 6, QS An-Nisā': 140).Tokoh-tokoh spesifik yang disebutkan: Fir'aun, Istri Nabi Nuh, Istri Nabi Luth, serta Abu Lahab beserta istrinya.

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 72 | Perjanjian yang Allāh Ambil atas Nabi Adam dan Keturunannya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَالْمِيثَاقُ الَّذِي أَخَذَهُ اللَّهُ تَعَالَى مِنْ آدَمَ وَذُرِّيَّتِهِ حَقٌّDan perjanjian yang Allāh subhanahu wa ta’ala ambil dari Adam dan juga keturunannya maka ini adalah Haq.Diantara akidah Ahlussunnah wal jamaah bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala dahulu telah mengambil sebuah perjanjian dari Nabi Adam alaihissalam sebagai bapak manusia dan juga anak keturunan beliau ini adalah hak ini adalah benar adanya karena yang demikian berdasarkan dalil yang shahih bahkan dalilnya adalah dalil yang mutawatir secara makna sebagaimana ini dijelaskan oleh syekh Albani rahimahullah di dalam silsilah Al Hadits shahihah berdasarkan semua hadits yaitu hadits Abdullāh bin Abbas yang diangkat sampai Nabi ﷺ di mana beliau ﷺ mengatakan,إنَّ اللَّهَ تعالى أخذَ الميثاقَ من ظَهرِ آدمَ عليهِ السَّلامُ بنعمانَ يومِ عرفةَ فأخرج من صلبِه كلَّ ذرِّيَّةٍ ذراها فنثرها بين يدَيه كالذر ثم كلَّمهم قُبُلًا قال أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَىNabi ﷺ mengatakan, sesungguhnya Allāh subhanahu wa ta’ala telah mengambil perjanjian dari punggung Adam di hari Arafah kemudian Allāh subhanahu wa ta’ala mengeluarkan dari tulang sulbinya, Nabi Adam alaihissalam semua keturunan beliau Allāh subhanahu wa ta’ala mengeluarkan dari tulang Sulbinya langsung dunia Nabi Adam alaihissalam semua keturunan beliau.Ini sesuatu yang harus kita yakini berdasarkan hadits yang shahih Allāh semata mengeluarkan seluruh keturunan Nabi Adam alaihissalam saat ini termasuk di antaranya kita meskipun kita tidak mengingatnya tapi inilah yang digambarkan oleh Nabi ﷺ,فنثرها بين يدَيهKemudian Allāh subhanahu wa ta’ala meletakkan mereka di depan Nabi Adam alaihissalam,كالذرSeperti semut-semut yang kecil meletakkan keturunan Nabi Adam alaihissalam di depan Nabi Adam alaihissalam seperti كالذر itu seperti semut kecil yang banyak dan semuanya adalah keturunan nabi Adam alaihissalam manusia kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berbicara kepada mereka semuanya dan mengatakan,أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْBukankah Aku adalah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian.Sehingga wajib bagi kalian untuk menyembah Allāh saja dan tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun di sini Allāh subhanahu wa ta’ala mengambil Misaq Allāh mengambil perjanjian dengan Nabi Adam alaihissalam dan juga seluruh keturunannya,أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْBukankah Aku adalah Rabb kalian ?Apa jawab mereka?بَلَىMereka mengatakan iya, ya Allah semuanya mengakui bahwasanya Allāh subhanahu wa ta’ala adalah Rabb mereka, pengakuan yang merupakan janji dari mereka untuk menyembah kepada Allāh saja tidak menyekutukan Allāh dengan sesuatu apapun.Ini adalah Misaq, ini perjanjian yang berat berarti di sana sudah ada janji yang Allāh subhanahu wa ta’ala dari Nabi Adam alaihissalam dan juga keturunannya dan janji yang harus kita tepati maka muwahidun / orang-orang yang bertauhid orang-orang Islam dari semenjak umat nabi-nabi terdahulu dan yang mengikuti Nabi ﷺ merekalah orang-orang yang menempati janji mereka adalah orang-orang yang menempati janji karena kita sudah mengakui di hadapan Allāh subhanahu wa ta’ala adalah Rabb kita yang kita harus mengesakannya mentauhidkan tidak boleh menyekutukannya Dia dengan sesuatu apa ketika diperintahkan untuk menyempurnakan janji kepada Allāh subhanahu wa ta’ala.Setelah perjanjian tersebut Allāh subhanahu wa taala bukan hanya mencukupkan diri dengan perjanjian yang sudah Allāh ambil kepada mereka dahulu, tapi Allāh subhanahu wa taala mengutus para rasul mengingatkan manusia atas perjanjian tersebut۝ وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…[QS An Nahl 36]Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya menyembah kalian kepada Allāh dan menjauhi Thagut. Ini adalah isi perjanjian yang Allāh ambil dari mereka, Allāh utus para utusan dan jumlah mereka luar biasa banyak disebutkan dalam hadits jumlah mereka ada 124.000, 300 lebih diantaranya adalah sebagai Rasul dan Allāh subhanahu wa ta’ala tidaklah menurunkan kitab kecuali untuk mengingatkan manusia juga tentang Tauhid,كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ ۝ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ[QS Hud 1,2]Kitab yang diqaskan ayat-ayatnya dan diperinci dari Allāh subhanahu wa ta’ala apa tujuannya?أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَSupaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allāh subhanahu wa ta’ala semata.Tauhid, Islam ini adalah janji yang sudah Allāh ambil dari kita semuanya ini adalah hikmah diciptakannya Jin dan juga manusia hikmah diutusnya para Rasul hikmah diturunkan kitab-kitab Allāh subhanahu wa ta’ala, maka kita sebagai seorang muslim membenarkan Misaq tersebut jangan kita seperti orang-orang yang mendahulukan akalnya bagaimana dan bagaimana dikeluarkan semuanya dari tulang sulbi adab, berupa semut atau berupa dzar kecil-kecil seperti semut, ini ucapan orang-orang yang kurang akal bukan orang yang cerdas akalnya adaupun orang yang shahih akalnya maka dia menyadari, akalnya menyadari bahwasanya akal dia itu penuh dengan kekurangan itu orang yang benar akalnya, kalau memang itu kabar yang Shahih dari Nabi ﷺ maka akal yang shahih akan mendengarkannya, akal yang shahih menyadari bahwasanya dirinya adalah penuh dengan kekurangan.

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 22 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Sembilan Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke dua puluh dua dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Risalah Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah umum untuk seluruh manusia dan jin. Apabila ada jin yang mendengar kedatangan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka mereka wajib untuk mengikuti Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak mengikuti Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Allah menceritakan di dalam Al Qur’an bahwa ada sebagian jin yang datang kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan mendengar Al Qur’an dari Beliau.Allah berfirman,(وَإِذۡ صَرَفۡنَاۤ إِلَیۡكَ نَفَرࣰا مِّنَ ٱلۡجِنِّ یَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوۤا۟ أَنصِتُوا۟ۖ فَلَمَّا قُضِیَ وَلَّوۡا۟ إِلَىٰ قَوۡمِهِم مُّنذِرِینَ)[Surat Al-Ahqaf 29]“Dan ketika kami palingkan kepadamu serombongan dari jin yang mereka mendengar Al Qur’an yang engkau baca. Ketika mereka menghadirinya, mereka mengatakan ‘Hendaklah kalian diam.’ Ketika Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam selesai membaca Al Qur’an tersebut, maka jin-jin tersebut pergi kepada kaum mereka dalam keadaan memberikan peringatan.”(قَالُوا۟ یَـٰقَوۡمَنَاۤ إِنَّا سَمِعۡنَا كِتَـٰبًا أُنزِلَ مِنۢ بَعۡدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقࣰا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡهِ یَهۡدِیۤ إِلَى ٱلۡحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِیقࣲ مُّسۡتَقِیمࣲ)[Surat Al-Ahqaf 30]“Mereka berkata, ‘Wahai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa yang membenarkan apa yang sebelumnya, yang memberikan petunjuk kepada kebenaran, dan memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus.”Para jin tersebut, mereka mengetahui bahwa Al Qur’an apabila dipelajari dan diamalkan, akan membimbing seseorang kepada jalan yang lurus.Kemudian mereka mengatakan,(یَـٰقَوۡمَنَاۤ أَجِیبُوا۟ دَاعِیَ ٱللَّهِ وَءَامِنُوا۟ بِهِۦ یَغۡفِرۡ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمۡ وَیُجِرۡكُم مِّنۡ عَذَابٍ أَلِیمࣲ)[Surat Al-Ahqaf 31]“Wahai kaum kami, hendaklah kalian menjawab penyeru dari Allah (Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam) dan hendaklah kalian beriman dengan Beliau, niscaya Allah mengampuni dosa kalian dan akan menyelamatkan kalian dari adzab yang pedih.”Ini menunjukkan kepada kita tentang kewajiban jin untuk beriman dengan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan beribadah kepada Allah dengan syari’at Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Setelah ini semua, apabila ada seseorang di zaman sekarang meyakini bahwa sebagian manusia boleh untuk tidak mengikuti Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, boleh untuk tidak beriman dengan Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, boleh untuk keluar dari syari’at Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka dia telah keluar dari agama Islam.Kenapa demikian?Karena dia telah mendustakan kabar Allah dan karena dia telah mendustakan kabar Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam.Masuk di dalam golongan ini sebagian manusia yang mengaku telah mencapai derajat tertentu di dalam agama, maka dia sudah tidak terikat dengan perintah dan larangan, boleh baginya tidak sholat lima waktu, tidak puasa Ramadhan, meminum minuman keras, berzina, dll. Dan mereka mengatakan bahwasanya syari’at hanyalah untuk orang-orang yang memiliki derajat yang rendah di dalam agama.Barangsiapa yang meyakini keyakinan ini, maka dia telah keluar dari agama Islam.Seharusnya seorang muslim semakin mengenal Allah, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya, maka semakin rajin beribadah kepada Allah.Orang yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling takut kepada Allah.Allah Subhānahu wa Ta’āla memuji para ulama karena mereka mengenal Allah dan mengenal agamanya.إِنَّمَا یَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰۤؤُا۟ۗ[Surat Fatir 28]“Sesungguhnya orang yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”Di dalam hadits, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa Beliau adalah orang yang paling mengenal Allah. [HR Al Bukhari]Dan Beliau juga mengabarkan bahwa Beliau adalah orang yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah. [HR Muslim]Disebutkan di dalam hadits bahwa Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam sholat malam sampai kaki Beliau pecah-pecah. Kemudian Beliau ditanya tentang perkara ini, maka Beliau mengatakan,أَفَلاَ أكُونَ عبْداً شكُوراً؟“Bukankah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” [HR Bukhari dan Muslim]Seseorang semakin mengenal Allah, semakin mengenal agamanya, harusnya semakin takut kepada Allah dan semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah kepada-Nya, bukan semakin jauh dari Allah.Kemudian Syeikh mengatakan,كَمَا وَسِعَ الخَضِرُ الخُرُوجَ عَنْ شَرِيعَةِ مُوسَى عَلَيهِ السَّلَامُفَهُوَ كَافِرٌ“Sebagaimana Nabi Khadhir boleh keluar dari syari’at Nabi Musa, maka dia telah kafir.”Maksudnya adalah kisah yang Allah sebutkan di dalam surat Al Kahfi, yang ringkasnya bahwa Nabi Khadhir tidak mengikuti syar’iat Nabi Musa ‘alaihissalam. Nabi Khadhir merusak sebagian kapal orang-orang miskin, membunuh seorang anak kecil yang tidak berdosa, kemudian ketika keduanya (Nabi Musa dan Nabi Khadhir) mampir ke sebuah desa dan penduduknya tidak menghormati beliau berdua, tidak menjamu beliau berdua, maka Nabi Khadhir ‘alaihissalam justru memperbaiki sebuah dinding yang sudah hampir roboh.Maka kita katakan ini adalah sebuah alasan yang tidak benar dan alasan yang bathil, karena Nabi Khadhir ‘alaihissalam bukan termasuk Bani Israil. Sedangkan Nabi Musa ‘alaihissalam hanya diutus kepada Bani Israil.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 7 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 hari lalu
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 71

Senin, 6 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 71Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Keempat Hadist Shahih Riwayat Ali Bin Abi Thalib (Bagian 3)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)​Sifat dan Karakteristik Kaum Khawarij​Nabi ﷺ telah mensifati orang-orang Khawarij ini di dalam hadits beliau, di antaranya:​Berusia Pemuda:Kebanyakan orang-orang Khawarij rata-rata adalah pemuda (berusia 20, 18, 25 tahun), adapun yang sudah tua jarang.Dangkal Akalnya (سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ):Mereka adalah orang-orang yang sangat dangkal akal mereka, kurang ilmu, dan kurang akal. Kondisi inilah yang akhirnya membuat mereka mudah sekali terkena syubhat.Ancaman Nabi ﷺ terhadap Khawarij​Meskipun kondisi mereka demikian, lihat bagaimana Nabi ﷺ mengancam orang-orang tersebut dengan sabdanya:​فأينما لقيتموهم فاقتلوهم​Artinya:“Dimana saja kalian bertemu dengan mereka maka hendaklah kalian bunuh mereka.”Ketentuan Hukum dan Otoritas Pelaksanaan Perintah Pembunuhan​Maksud Perintah فاقتلوهم (Hendaklah Kalian Bunuh Mereka):Perintah ini ditujukan kepada imam kaum muslimin (pemimpin/pemerintah kaum muslimin) bersama pasukannya dan kaum muslimin yang lainnya (di bawah komando penguasa).​Larangan Eksekusi secara Individu:Peperangan dan eksekusi ini bukan dilakukan secara sendiri-sendiri atau individu. Seandainya di dekat rumah kita ada orang Khawarij, kita tidak boleh membunuhnya secara pribadi dengan alasan dia adalah orang Khawarij dan ada hadits tersebut.​Alasan Larangan Membunuh secara Pribadi:Jika tidak diserahkan kepada pemerintah, maka akan terjadi kekacauan. Bisa saja seseorang membunuh orang lain karena urusan pribadi, kemudian membuat alasan/dalih bahwa orang yang dibunuhnya adalah seorang Khawarij (yang ingin memberontak kepada penguasa). Oleh karenanya, yang berhak membunuh adalah pemerintah dan penguasa, atau jika kita diperintahkan oleh penguasa dalam peperangan untuk memerangi dan membunuh mereka, maka hal demikian tidak mengapa.Fitnah Khawarij pada Masa Ali bin Abi Thalib​Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu melaksanakan hadits Nabi ﷺ ini karena kaum Khawarij keluar di zaman beliau.​Alasan Khawarij Mengkafirkan Sahabat:Kaum Khawarij mengkafirkan Ali bin Abi Thalib dan juga mengkafirkan Muawiyah bin Abi Sufyan dengan alasan bahwasanya mereka berdua tidak berhukum dengan hukum Allāh, melainkan berhukum dengan hukum manusia. Hal ini karena mereka mewakilkan orang lain di dalam musyawarah (pihak ini mewakilkan A dan yang lain mewakilkan B).​Dalil yang Digunakan Khawarij:Orang-orang Khawarij menganggap musyawarah/perwakilan ini sebagai bagian dari berhukum dengan selain hukum Allāh, kemudian mereka membacakan ayat:​۞ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ​Artinya:“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allāh, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.”(QS. Al-Maidah: 44)​Berdasarkan ayat ini, menurut orang-orang Khawarij, mereka tidak ragu untuk mengkafirkan Ali, Muawiyah, serta setiap orang yang setuju dengan musyawarah tersebut, dan menghukumi bahwa mereka telah keluar dari agama Islām. Oleh karena itu, Nabi ﷺ memerintahkan kepada pemerintah kaum muslimin, "Maka kalian wahai imam kaum muslimin/pemerintah kaum muslimin kalau mendapatkan unsur golongan ini ditengah-tengah kalian maka bunuhlah mereka."Syahid (Sisi Pendalilan) Bahwa Bid'ah Lebih Dahsyat daripada Dosa Besar​Perbandingan dengan Dosa Besar Lain:Adakah perintah seperti ini pada orang yang melakukan riba? Jika bertemu orang yang melakukan riba apakah ada hadits untuk membunuhnya? Tidak ada haditsnya. Atau jika bertemu dengan orang yang berdusta, apakah diperintah untuk membunuhnya? Tidak.​Letak Kesimpulan Pendalilan:Namun, ketika Nabi ﷺ berbicara tentang orang-orang Khawarij, beliau sampai menyuruh kita (bersama pemerintah dan penguasa kaum muslimin) untuk membunuh mereka. Padahal, pada kemaksiatan biasa dan dosa-dosa besar yang biasa, kita tidak sampai diperintahkan untuk membunuh mereka. Hal ini menunjukkan bahwasanya bid'ah (khususnya bid'ah Khawarij di sini) bahayanya lebih dahsyat daripada dosa-dosa besar, karena Nabi ﷺ sampai memerintahkan untuk membunuh pelakunya.Kesimpulan​Perintah tegas Nabi ﷺ untuk memerangi dan membunuh kaum Khawarij di mana pun mereka berada—yang pelaksanaannya wajib berada di bawah otoritas pemerintah/penguasa yang sah agar tidak timbul kekacauan—menjadi bukti kuat bahwa bahaya bid'ah jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan dosa-dosa besar biasa (seperti riba atau dusta). Pelaku dosa besar biasa tidak dikenakan perintah hukuman mati/bunuh yang sedemikian rupa, sedangkan kaum Khawarij, yang didominasi oleh pemuda dangkal akal dan mudah terkena syubhat hingga berani mengkafirkan para sahabat (seperti Ali dan Muawiyah) serta memberontak menggunakan dalil Al-Qur'an yang dipahami secara keliru, diperintahkan untuk dibunuh demi menjaga stabilitas dan kesucian agama.

💬 0 komentar📅 6 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI7 Juli 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 21 | Penjelasan Pembatal Keislaman Ke Sembilan Bagian 1

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke dua puluh satu dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Berkata Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah,التَّاسِعُ:مَنِ اعْتَقَدَ أَنَّ بَعْضَ النَّاسِ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ اتِّبَاعُ النَّبِيِّ ﷺ،وَأَنَّهُ يَسَعُهُ الخُرُوجُ عَنْ شَرِيعَةِ مُحَمَّدٍ ﷺكَمَا وَسِعَ الخَضِرُ الخُرُوجَ عَنْ شَرِيعَةِ مُوسَى عَلَيهِ السَّلَامُفَهُوَ كَافِرٌ“Yang ke sembilan, barangsiapa yang meyakini bahwa sebagian manusia tidak wajib mengikuti Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan bahwa dia boleh keluar dari syari’at Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Nabi Khadhir keluar dari syari’at Nabi Musa ‘alaihissalam, maka dia kafir.”Wajib bagi seluruh manusia semenjak diutusnya Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam untuk beriman kepada Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti risalah Beliau, karena Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah untuk seluruh manusia, baik orang Arab maupun selain orang Arab, baik ahlul kitab, orang-orang musyrikin, maupun pengikut Nabi sebelumnya.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,(وَمَاۤ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا رَحۡمَةࣰ لِّلۡعَـٰلَمِینَ)[Surat Al-Anbiya’ 107]“Dan tidaklah kami mengutusmu Wahai Muhammad, kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,قُلۡ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّی رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَیۡكُمۡ جَمِیعًا[Surat Al-A’raf 158]“Katakanlah wahai manusia, sesungguhnya aku adalah Rasulullah untuk kalian semuanya.”Dan ini adalah keistimewaan Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Adapun para Nabi sebelumnya, maka mereka diutus untuk kaumnya saja.Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً“Dahulu seorang Nabi diutus kepada kaumnya secara khusus dan aku diutus ke seluruh manusia.” [Muttafaqun ‘Alaihi]Nabi Musa ‘alaihissalam diutus kepada Bani Israil. Nabi Isa ‘alaihissalam diutus kepada Bani Israil. Nabi Shalih ‘alaihissalam diutus kepada Tsamud. Nabi Hud kepada ‘Aad. Nabi Syu’aib diutus kepada Madyan. Nabi Nuh diutus kepada kaumnya.Apabila ada seorang Yahudi yang mengaku beriman dengan Nabi Musa atau seorang Nasrani yang mengaku beriman kepada Nabi Isa, mendengar tentang kedatangan Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, maka dia wajib mengikuti Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Apabila dia meninggal dan tidak beriman dengan Beliau, maka dia meninggal dalam keadaan kufur.Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ“Tidaklah mendengar kedatanganku, seseorang diantara umat ini, baik seorang Yahudi maupun Nasrani, kemudian dia meninggal dunia dan tidak beriman dengan apa yang aku bawa, kecuali dia adalah termasuk penghuni neraka.” [Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim]Bahkan bukan hanya itu. Seandainya sekarang ada seorang Nabi yang masih hidup, maka diwajibkan bagi Nabi tersebut untuk mengikuti Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh Nabi tersebut melaksanakan syari’atnya sendiri.Allah Subhānahu wa Ta’āla telah mengambil perjanjian dari para Nabi dan mewajibkan mereka untuk mengikuti, beriman, dan menolong Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam apabila menemui Beliau.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,(وَإِذۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِیثَـٰقَ ٱلنَّبِیِّـۧنَ لَمَاۤ ءَاتَیۡتُكُم مِّن كِتَـٰبࣲ وَحِكۡمَةࣲ ثُمَّ جَاۤءَكُمۡ رَسُولࣱ مُّصَدِّقࣱ لِّمَا مَعَكُمۡ لَتُؤۡمِنُنَّ بِهِۦ وَلَتَنصُرُنَّهُۥۚ قَالَ ءَأَقۡرَرۡتُمۡ وَأَخَذۡتُمۡ عَلَىٰ ذَالِكُم إِصۡرِیۖ قَالُوۤا۟ أَقۡرَرۡنَاۚ قَالَ فَٱشۡهَدُوا۟ وَأَنَا۠ مَعَكُم مِّنَ ٱلشَّـٰهِدِینَ)(فَمَن تَوَلَّىٰ بَعۡدَ ذَ ا⁠لِكَ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡفَـٰسِقُونَ)[Surat Ali Imran 81-82]“Ketika Allah Subhānahu wa Ta’āla mengambil perjanjian dari para Nabi, ‘Seandainya Aku memberikan kepada kalian kitab dan hikmah, kemudian datang kepada kalian seorang Rasul yang membenarkan apa yang kalian bawa, maka kalian harus beriman dengan Rasul tersebut dan kalian harus menolongnya.’Kemudian Allah berkata, ‘Apakah kalian mengakui perjanjian ini dan mengambil perjanjian ini?’ Mereka mengatakan, ‘Kami berikrar.’Allah berkata, ‘Maka saksikanlah, dan Aku bersama kalian, termasuk yang bersaksi.’ Maka barangsiapa yang berpaling dari perjanjian ini, maka mereka adalah orang-orang yang fasik.”Di dalam sebuah hadits, suatu saat Umar bin Khatab radhiyallāhu Ta’āla ‘anhu membaca sebuah kitab yang beliau dapatkan dari ahlul kitab. Maka Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam marah dan berkata, “Apakah engkau bingung wahai anak Al Khatab?”Kemudian Beliau berkata,وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam sekarang ini hidup, niscaya dia tidak boleh kecuali harus mengikuti diriku.” [HR Imam Ahmad dan dihasankan oleh Syeikh Al Albani Rahimahullah]Oleh karena itu, di akhir zaman ketika Nabi Isa ‘alaihissalam turun ke dunia, maka beliau akan turun sebagai salah satu diantara umat Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam, mengikuti syar’iat Beliau shallallāhu ‘alaihi wa sallam, dan tidak berhukum dengan Injil.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 6 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 Juli 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Ringkasan Halaqah 71 – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali bin Abi Thalib (Bagian 3)Rasulullah ﷺ bersabda:"Di mana saja kalian menemui mereka (Khawarij), maka bunuhlah mereka."Poin-poin penting:Khawarij umumnya adalah pemuda yang dangkal ilmu dan akalnya, sehingga mudah terpengaruh syubhat.Perintah memerangi Khawarij ditujukan kepada imam/pemerintah kaum muslimin beserta pasukannya, bukan kepada setiap individu.Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu melaksanakan perintah ini ketika memerangi Khawarij yang memberontak.Khawarij mengkafirkan Ali dan Muawiyah karena salah memahami QS. Al-Ma'idah: 44, sehingga menganggap tahkim sebagai berhukum dengan selain hukum Allah.Salah satu ciri Khawarij adalah mudah mengkafirkan kaum muslimin tanpa ilmu dan pemahaman yang benar.Tidak boleh bertindak sendiri terhadap orang yang dianggap Khawarij. Penindakan adalah wewenang pemerintah agar tidak terjadi fitnah dan kekacauan.Nabi ﷺ tidak memerintahkan membunuh pelaku dosa besar seperti riba atau dusta, namun memerintahkan memerangi Khawarij melalui pemerintah. Hal ini menunjukkan besarnya bahaya bid'ah Khawarij.Dalil ini menjadi bukti bahwa bid'ah Khawarij lebih berbahaya daripada banyak dosa besar, karena merusak agama dan keselamatan kaum muslimin.

💬 0 komentar📅 6 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 Juli 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 21

Halaqah yang Ke-21 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Cara Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalam Bagian yang Ke-19Diantara hal yang perlu diketahui seorang muslim adalah perbedaan Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah, karena sering terjadi seseorang menganggap Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah sebagai Al-Karamah, menganggap seorang wali syaithan sebagai wali Allah.Berikut adalah perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah (semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan taufiq kepada kita semua dan menerangi diri kita dengan ilmu agama, diantara perbedaan antara Al-Karamah dan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah① Melihat perjalanan hidup orang tersebut, kalau dia adalah seorang mukmin yang bertakwa maka ini adalah Al-Karamah dan kalau sebaliknya dia bukan seorang yang mu’min dan bukan orang yang bertakwa maka itu adalah Al Ahwal Asy-Syaithaniyyah.Berkata syaikh Abdul Aziz ibnu Baz rahimahullahوشرط كونها كرامةً أن يكون من جرت على يده هذه الكرامةُ مستقيمًا على الإيمان ومتابعة الشريعة فإن كان خلاف ذلك فالجاري على يده من الخوارق يكون من الأحوال الشيطانية 1:49“Dan sesuatu yang luar biasa menjadi karamah di syaratkan orang yang mendapatkan karamah tersebut adalah orang yang istiqamah diatas iman dan mengikuti syariat, adapun apabila sebaliknya maka sesuatu yang luar biasa yang terjadi pada dirinya adalah termasuk Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah② Al-Karamah adalah anugerah dari Allah tidak bisa dipelajari dan diusahakan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah adalah bantuan dari syaithan bisa dipelajari dan diusahakan yaitu dengan berbuat sesuatu yang membuat ridha syaithan, seperti berbuat kufur kepada Allah (meninggalkan shalat dan kewajiban-kewajiban yang lain) menghalalkan sesuatu yang yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan lain-lain. Oleh karena itu Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah memiliki sekolah-sekolah perguruan-perguruan untuk mempelajari perkara-perkara yang luar biasa tersebut dan disana ada buku-buku yang dijual bebas yang mengajarkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah yang dikenal dengan Al-Mujarrabat③ Al-Karamah tidak bisa di lawan sedangkan Al-Ahwal Asy-Syaithaniyyah bisa di lawan dengan beberapa dzikir dan doa didalam Al-Quran dan As-SunnahBerkata Syaikhul Islam rahimahullahوهكذا أهل الأحوال الشيطانية تنصرف عنهم شياطينهم إذا ذكر عندهم ما يطردها مثل آية الكرسي 4.11Dan demikianlah orang-orang yang memiliki Ahwal Asy-Syaithaniyyah (syaithan-syaithan) mereka akan meninggalkan mereka apabila disebutkan disamping mereka apa yang mengusir syaithan-syaithan tersebut seperti ayat kursi

💬 0 komentar📅 6 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 Juli 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 71 | Syafa’at Rasulullāh

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhوَالشَّفَاعَةُ الَّتِي ادَّخَرَهَا لَهُمْ حَقٌّDiantara yang harus kita imani Dan inilah yang diyakini oleh ahlussunnah wal jamaah adalah Syafaat.وَالشَّفَاعَةُ الَّتِي ادَّخَرَهَا لَهُمْ حَقٌّSyafaat yang Allāh subhanahu wa ta’ala simpankan untuk mereka ini adalah benar adanya.Ahlussunnah mereka menetapkan Telaga Nabi ﷺ mereka juga membenarkan adanya Syafaat di hari Kiamat.Perhatikan kita tidak mengingkari Syafaat kita menetapkan dan mengimani adanya Syafaat, karena ayat dan juga hadits yang berkaitan dengan syafaat ini banyak dan sikap kita sebagai Ahlussunnah membenarkan apa yang tetap di dalam Al-Qur’an dan hadits bagaimana kita mengingkari Syafaat sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang bahwasanya Ahlusunnah mereka tidak beriman dengan Syafaat , siapa yang mengatakan demikian.. kita beriman dengan Syafaat sebagaimana yang ditetapkan oleh Allah,قُلْ لِّلّٰهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا ..۝[QS Az Zumar 44]Katakanlah bahwasanya milik Allāh seluruh Syafaatمَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚTidak ada yang memberikan syafaat disisi Allāh kecuali dengan izinnya.وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ[QS Al Anbiya 28]Dan tidaklah mereka memberikan syafaat kecuali bagi orang yang Allah ridhoi.من أسعد الناس بشفاعتك؟siapa orang yang paling gembira dengan syafaatmu wahai Rasulullāh,لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِDalil² yang banyak yang menunjukkan adanya Syafaat yang musbatah/ yang ditetapkan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala.Maka sebagaimana ucapan beliauوَالشَّفَاعَةُ الَّتِي ادَّخَرَهَا لَهُمْ حَقٌّSyafaat yang Allāh simpan untuk mereka adalah benar adanya.Kita harus meyakini demikian sebagaimana dikabarkan oleh Allāh dan juga rasulnya tidak boleh kita menolaknyaكَمَا رُوِيَ فِي الْأَخْبَارِSebagaimana yang demikian diriwayatkan didalam kabar-kabar.Yaitu kabar-kabar yang shahih yang ada di dalam Al-Qur’an dan juga hadits Nabi ﷺ.Didalam masalah syafaat ada sebagian orang yang mengikat mengingkari syafaat dan ada sebagian orang yang menetapkan Syafaat tetapi berlebihan.Orang yang mengingkari seperti Mua’tazilah, khawarij dengan akalnya mereka mengingkari adanya Syafaat di hari kiamat yaitu syafaat keluarnya pelaku dosa besar dari Neraka dimasukkan ke dalam Surga karena mereka meyakini bahwasanya pelaku dosa besar ini kekal selamanya di dalam Neraka kalau di sana ada syafaat berarti pelaku dosa besar tidak kekal di dalam Neraka sehingga mereka pun mengingkari adanya Syafaat mereka ekstrem mengingkari adanya Syafaat.Ada sebagian kelompok yang menetapkan adanya Syafaat tapi berlebihan berlebihan didalam meyakini Syafaat dan menetapkan Syafaat tersebut sehingga di antara bentuk berlebihannya mereka sampai mereka meminta Syafaat dari yang tidak berhak, meminta syafaat dari Nabi Muhammad ﷺ, berziarah ke kota Madinah mendatangi makam Nabi ﷺ, ya Rasulullah berikan syafaat untukku disisi Allāh , atau bukan di kuburan Nabi ﷺ meminta Syafaat dari para wali orang² yang sholeh mendatangi kuburan mereka mengatakan Ya Wali.., sampai untuk mendapatkan syafaat yang khayalan tadi selain mereka berdoa mereka juga mengorbankan ibadah mereka artinya sampai menyembah-nyembah kepada makhluk tersebut, mungkin menyembelih di sisi kuburan wali tersebut atau bernazar untuk wali tersebut semuanya tujuannya adalah ingin kalau ditanya kenapa engkau melakukannya demikian (Syafaat) kan mereka nanti yang memberikan Syafaat untuk kita di hari kiamat aku takut nanti masuk neraka aku banyak dosanya sehingga kalau aku melakukan yang demikian maka insya Allāh aku akan diberikan syafaat oleh wali-wali tersebut. Ini beriman dengan syafaat tapi berlebihan, ahlussunnah berada di pertengahan mereka menetapkan syafaat tapi mereka juga meyakini tentang syarat-syarat untuk mendapatkan Syafaat mereka meyakini Syafaat berdasarkan dalil mereka menyebutkan tentang jenis-jenis Syafaat berdasarkan ada Syafaat yang khusus bagi Nabi ﷺ ya ada Syafaat yang umum dimiliki oleh Nabi atau dilakukan oleh Nabi dan selain Nabi ﷺ, mereka mengatakan itu semua berdasarkan dalil termasuk bagaimana cara mendapatkan syafaat mereka juga meyakini dengan dalil, bahwasanya untuk mendapatkan Syafaat,Yang pertama harus ada izin dari Allāh, izin dari Allāh bagi orang yang akan memberikan syafaat Nabi, Malaikat, orang yang orang yang beriman mereka tidak mungkin memberikan syafaat kecuali setelah diizinkan oleh Allāh jadi bukan seperti yang diyakini oleh sebagian orang bahwasanya Nabi kelak ya secara langsung dia akan berbicara di hadapan Allah ya Allah ampuni si fulan dan masukkan ke dalam Surga, enggak dia tidak mungkin memberikan Syafaat kepada seseorang kecuali setelah diizinkan oleh Allāh mengizinkan dia untuk memberikan syafaat barunya memberikan syafaat bukan secara langsung tidak diizinkan kemudian dia langsung memberikan syafaat ini berbeda dengan keadaan kita di dunia kalau kita ingin memberikan syafaat kepada orang lain tanpa kita meminta izin terlebih dahulu kepada ya sang ketua atau pemimpin kita langsung mendatangi kantornya kita bilang tolong fulan dipermudah tidak diizinkan terlebih dahulu di dunia tapi kalau di akhirat,مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚTidak ada yang memberikan syafaat di sisi Allāh kecuali dengan izin Allāh, Allāh mengizinkan baru ya seseorang bisa memberikan syafaat makanya Rasulullāh ﷺ ketika akan memberikan Syafaatul uzma apa yang terjadi? Beliau bersujud dihadapan Allāh, memuji Allāh bukan langsung meminta Syafaat bersujud dihadapan Allāh dan setelah Allah mengatakan,يَا مُحَمَّدُ ارْفَعْ رَأْسَكَ وَقُلْ يُسْمَعْ لَكَ وَسَلْ تُعْطَWahai ya Muhammad angkat kepalamu katakanlah engkau akan didengar dan mintalah maka engkau akan diberikanlah Syafaat untuk memberikan syafaat.Barulah setelah itu Nabi ﷺ berani untuk memohonkan bagi orang lain.مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚmakanya kalau ingin mendapatkan syafaatnya kita meminta langsung kepada Allāh, karena Allāh subhanahu wa taala Dialah yang mengizinkan Nabi, Allāh subhanahu wa ta’ala mengizinkan malaikat meminta langsung kepada Allāh bukan meminta kepada Nabi atau meminta kepada Malaikat, ini salah alamatnya mereka tidak mungkin memberikan Syafaat kecuali setelah diizinkan oleh Allāh.Kemudian yang kedua syarat untuk mendapatkan syafaat dari kiamat adalah kita harus dalam keadaan sebagai orang yang bertauhid.Inilah yang kelak berhak untuk mendapatkan syafaat dari Nabi atau dari Malaikat mereka tidak akan memberikan Syafaat kecuali bagi orang yang terpenuhi syaratnya yaitu orang yang mentauhidkan Allāh.وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰDan mereka tidak memberikan Syafaat kecuali bagi orang yang Allāh ridhai.siapa yang Allāh ridhai ?orang-orang yang bertauhid , adapun orang yang musyrik orang yang kafir maka mereka mendapatkan murka bukan mendapatkan ridho Allāh,وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖAllāh tidak Ridha kekufuran, yang Allāh ridhai adalah ketauhidan, sehingga didalam hadis Nabi ﷺ mengatakan ketika ditanya siapa yang berhak untuk mendapatkan syafaat beliau,مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِOrang yang mengatakan – لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ – ikhlas dari hatinya.Inilah orang yang berhak untuk mendapatkan Syafaat di hari kiamat maka ahlusunah wal jamaah mereka mengajak kepada Tauhid berusaha untuk mewujudkan Tauhid kepada dirinya karena mereka tahu bahwasanya Tauhid ini adalah syarat untuk mendapatkan syafaat.Sebagian orang salah alamat/ salah cara di dalam mendapatkan syafaat meminta dari makhluk yang tidak memiliki padahal Allāh mengatakan,قُل لِّلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًاMeminta kepada makhluk yang justru ini menjadikan dia terjerumus ke dalam kesyirikan, melakukan sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allāh padahal yang berhak untuk mendapatkan syafaatnya hari kiamat hanyalah yang diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.Jadi ahlussunnah mereka tidak menafikan seperti yang dilakukan oleh orang-orang Khawarij dan Mu’tazilah mereka juga tidak berlebihan dalam menetapkan sehingga sampai meminta Syafaat dari yang tidak berhak, tapi mereka menetapkan dengan kaidah menetapkan adanya Syafaat dan mengikuti kabar-kabar dari Allāh dan juga RasulNya tentang masalah Syafaat bukan hanya sekedar menetapkan kemudian menentukan cara sendiri dalam mendapatkan syafaat tersebut.

💬 0 komentar📅 6 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI6 Juli 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

AN-NĀR (NERAKA) & ADZABNYA (Bag. 1)

Berikut ringkasan materi Silsilah Ilmiyyah Halaqah 71 – An-Nār (Neraka) dan Adzabnya (Bag. 1) yang disusun dengan gaya natural, singkat, dan mudah dijadikan desain catatan tangan. Berdasarkan isi PDF.🔥 AN-NĀR (NERAKA) & ADZABNYA (Bag. 1)📖 Apa itu Neraka?An-Nār secara bahasa berarti api.Secara syariat, neraka adalah tempat di akhirat yang Allah siapkan untuk orang-orang kafir sebagai tempat azab yang sangat pedih dan menghinakan.✨ Dahsyatnya Azab Neraka"Maka pada hari itu tidak ada yang mengazab seperti azab Allah."QS. Al-Fajr: 25Sekali dicelupkan ke dalam neraka, seluruh kenikmatan dunia akan terlupakan.Penghuni neraka sampai berkata bahwa ia tidak pernah merasakan kenikmatan sedikit pun. (HR. Muslim)💔 Penyesalan Orang KafirQS. Al-Ma'ārij: 11–14Mereka ingin menebus azab dengan:anak-anaknya,istrinya,saudaranya,keluarganya,bahkan seluruh manusia di bumi,asal dirinya selamat. Namun semuanya tidak berguna.🔥 Nama-nama NerakaHāwiyah → jurang yang dalam.Al-Huthamah → yang menghancurkan.Jahīm → api yang menyala-nyala.Saqar → yang menghanguskan.👼 Penjaga NerakaDijaga oleh 19 malaikat yang keras dan tidak pernah mendurhakai Allah.Dalil:QS. At-Tahrīm: 6QS. Al-Muddatstsir: 30📊 Banyaknya Penghuni NerakaDari setiap 1.000 manusia, hanya 1 orang yang masuk surga, sedangkan 999 masuk neraka (mayoritas dari Ya'juj dan Ma'juj). (HR. Bukhari)📏 Besarnya Tubuh Penghuni NerakaJarak antara kedua pundaknya sejauh perjalanan 3 hari.Tebal kulit sekitar 42 hasta (±19 m).Satu gigi geraham sebesar Gunung Uhud.Tempat duduknya seperti jarak Makkah–Madinah.🌋 Besarnya NerakaNeraka tetap berkata:"Apakah masih ada tambahan?"QS. Qāf: 30Neraka baru merasa cukup setelah Allah meletakkan telapak kaki-Nya sesuai dengan keagungan-Nya. (HR. Bukhari)🪨 Dalamnya NerakaSebuah batu yang dilempar ke neraka membutuhkan 70 tahun hingga mencapai das

💬 0 komentar📅 6 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 Juli 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Bab 08

Ringkasan Halaqah 70 – Pembahasan Dalil Keempat Hadits Shahih Riwayat Ali bin Abi Thalib (Bagian 2)Ali bin Abi Thalib tidak mengkafirkan kaum Khawarij, meskipun mereka mengkafirkan dan memerangi beliau. Ini menunjukkan sikap adil dan hati-hatinya Ahlus Sunnah dalam masalah takfir.Takfir (mengkafirkan) adalah hukum syariat, bukan balas dendam. Seseorang tidak boleh mengkafirkan orang lain hanya karena dirinya dikafirkan.Sabda Nabi ﷺ: "Mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah menembus buruannya" maksudnya mereka sangat jauh menyimpang dari ajaran Islam, bukan menjadi dalil pasti bahwa seluruh Khawarij kafir.Penyimpangan utama Khawarij:Mengkafirkan pelaku dosa besar.Memberontak kepada penguasa yang sah.Kedua pokok ini saling berkaitan. Karena menganggap pelaku dosa besar kafir, mereka juga menganggap penguasa yang melakukan dosa besar telah kafir sehingga menurut mereka boleh diperangi dan digulingkan.Tidak setiap orang yang mengkafirkan orang lain disebut Khawarij. Harus dilihat alasan pengkafirannya.Tidak setiap orang yang memberontak kepada penguasa disebut Khawarij. Jika pemberontakan dilakukan karena ambisi kekuasaan atau harta, itu tetap dosa, tetapi bukan ciri Khawarij.Seseorang dikhawatirkan termasuk pemikiran Khawarij apabila terkumpul dua keyakinan:Mengkafirkan pelaku dosa besar.Memberontak kepada penguasa karena meyakini penguasa tersebut kafir akibat dosa besarnya.Pelajaran penting:Berhati-hati dalam menghukumi orang lain sebagai kafir atau Khawarij.Penamaan Khawarij tidak boleh dilakukan sembarangan, tetapi harus sesuai dengan kriteria yang dijelaskan oleh para ulama berdasarkan dalil.

💬 0 komentar📅 3 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 20: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 18)

Halaqah 20:Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 18)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Perbedaan antara Al-Mu’jizah dengan Al-Karamah: 1. Al-Mu’jizah disertai dengan pengakuan sebagai seorang Nabi, sedangkan Al-Karamah tidak disertai dengan pengakuan sebagai seorang Nabi, tetapi terjadi Al-Karamah dengan sebab dia mengikuti dan beriman dengan Nabi dan istiqamah diatasnya.2. Al-Mu’jizah terjadi pada seorang Nabi dan Nabi adalah manusia laki-laki yang merdeka sedangkan Al-Karamah bisa terjadi bisa terjadi pada seorang jin atau manusia, hamba sahaya atau orang yang merdeka, seorang laki-laki atau pun perempuan. Kalau mereka adalah orang-orang yang shaleh seperti yang terjadi pada Maryam dan juga Safinah maula Rasulullah ﷺ.3. Al Mu’jizah sesuatu yang luar biasa disemua tempat dan masa, sedangkan Al-Karamah adalah sesuatu yang luar biasa di tempat dan juga masa tertentu saja, sedangkan Al-Karamah adalah sesuatu yang luar biasa menurut tempat dan masa tertentu saja. Oleh karena itu apa yang terjadi Maryam ‘alayhassalam berupa ditemukannya makanan musim panas dimusim dingin dan sebaliknya adalah sesuatu yang biasa di zaman sekarang.4. Didalam Al-Mu’jizah seorang Nabi diperintahkan untuk menampakkan nya sedangkan Al-Karamah maka seorang wali diperintahkan untuk menyembunyikannya.5. Manfaat Al Mu’jizah adalah untuk umum sedangkan manfaat Al-Karamah biasanya untuk khusus orang tersebut.

💬 0 komentar📅 3 Jul 2026Baca selengkapnya →