The Book You Wish Your Parents Had Read - Philippa Perry
Perilaku: Semua adalah KomunikasiTopik: Lebih Jauh Tentang TantrumTantrum bukan sekadar perilaku buruk atau taktik anak untuk mendapatkan sesuatu. Tantrum merupakan cara anak mengungkapkan perasaan seperti frustrasi, marah, sedih, kecewa, atau merasa kehilangan kendali.Saat anak tantrum, orang tua perlu melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik perilaku tersebut, bukan hanya berusaha menghentikan tantrumnya.Validasi perasaan sangat penting. Kita bisa mengatakan, misalnya: “Kamu marah karena aku tidak membiarkanmu melakukan itu.” Anak tetap boleh merasakan marah, meskipun perilakunya tetap perlu dibatasi.Tantrum dapat dipengaruhi oleh kelelahan, lapar, terlalu banyak stimulasi, perubahan situasi, keterbatasan kemampuan anak, atau rasa tidak berdaya.Orang tua perlu membedakan antara perasaan dan perilaku: perasaan anak diterima, tetapi perilaku yang menyakiti diri sendiri/orang lain tetap diberi batas.Hindari mempermalukan, mengancam, atau membuat anak merasa bahwa emosinya salah. Sebaliknya, dampingi anak sampai ia kembali tenang.Ketika anak sudah tenang, orang tua dapat membantu anak memahami apa yang terjadi, mengenali perasaannya, dan mencari solusi.Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa anak “keras kepala”. Perilaku anak sering kali merupakan petunjuk tentang kebutuhan atau kesulitan yang sedang mereka alami.Dalam menghadapi anak, penting untuk melihat peran kita sendiri dalam situasi tersebut. Kadang perilaku anak muncul atau semakin kuat karena pola interaksi antara anak dan orang tua.Orang tua juga perlu mengenali pemicu tantrum, misalnya tuntutan yang terlalu tinggi, terlalu banyak aktivitas, atau kurangnya waktu istirahat, lalu melakukan penyesuaian.Memberikan pilihan dan kesempatan untuk mandiri dapat membantu anak merasa memiliki kendali dan kompetensi, sehingga frustrasi berkurang.Tujuannya bukan membuat anak tidak pernah tantrum, tetapi membantu anak belajar mengelola emosi, memahami kebutuhannya, menyelesaikan masalah, serta berkembang menjadi lebih mandiri.Inti pesannyaTantrum adalah komunikasi. Daripada hanya bertanya “Bagaimana menghentikan tantrumnya?”, lebih membantu jika kita bertanya: “Apa yang sedang anak coba komunikasikan melalui perilakunya?”Dan yang paling penting: lepaskan keharusan untuk selalu menjadi pihak yang benar atau menang-kalah. Dengan melihat situasi sebagai sesuatu yang dibangun bersama, kita lebih mudah memahami peran kita dan mengajarkan kerja sama serta kolaborasi kepada anak.

















