📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI20 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 60

Halaqah 60 | Memahami Ayat tentang Rukyatullah sesuai dengan yang Allāh KehendakiKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهDan tafsirnya penjelasannya adalah sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan apa yang Allāh ketahui.Maksudnya adalah kita memahami ayat berdasarkan kehendak Allāh, jangan kita memahami hanya dengan akal kita sendiri, sudah kita sampaikan bahwasanya didalam bahasa Arab dan Al-Qur’an ini turun dengan bahasa Arabبِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍMaka kita memahami Al-Qur’anul Karim ini dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh, apa makna dari an النظر إلى, an nadhor ila maksudnya adalah melihat dengan mata dengan pandangan kita bukan melihat dengan hati karena melihat dengan hati itu bukan – النظر إلى – tapi – النظر فيه – jangan kita memahami dengan akal kita/hawa nafsu kita, kita memahami dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh di dalam Al-Qur’an kemudian kita juga melihat tafsir Nabi ﷺ ketika beliau membaca firman Allāhلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌsiapa yang paling mengetahui tentang makna dari firman Allāh daripada Nabi ﷺ, apakah kemudian kita menafsirkan dengan akal kita sendiri/hawa nafsu kitaوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهKita mentafsir sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki.Dinukil dari Al imam Syafi’i rahimahullāh bahwasanya beliau mengatakan,آمنت بالله، وبما جاء عن الله، وعلى مراد الله، وآمنت برسول الله، وبما جاء به رسول الله، وعلى مراد رسول اللهAl Imam Asy Syafi’i mengatakan demikian, Aku beriman dengan Allāh dan apa yang datang dari Allāh sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan aku beriman dengan Rasulullāh ﷺ dan apa yang datang dari Rasulullah berupa hadits sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Rasulullāh ﷺ.Di antara sebab kesesatan aliran yang sesat adalah sebab utamanya adalah karena mereka memahami Dengan pemahaman bukan dari yang dipahami oleh Allāh dan juga RasulNya bukan dengan apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga rasul RasulNya, benar berdalil dengan ayat berdalil dengan hadits tapi bukan dengan apa yang Allāh inginkan dia bawa makna ayat dan juga hadits tersebut sesuai dengan keinginannya sesuai dengan hawa nafsunya dibawa kesana dan orang yang demikian keadaannya maka pasti di sana akan ada kontradiksi di sana ada pertentangan antara apa yang sedang dia bawakan dengan dalil-dalil yang lain, dan itu adalah sesuatu yang pasti karena dia beragama sesuai dengan hawa nafsu dan ini adalah keadaan ahlul tidaklah mereka berdalil dengan sebuah dalil kecuali ada di sana yang membatalkan dalil tersebut mereka mengambil dalil yang sesuai dengan hawa nafsunya dan meninggalkan dalil yang lain.Ini yang ingin beliau tekankan di sini menafsirkan itu semuanya sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki bukan sesuai dengan kehendak kita atau sesuai dengan kehendak guru kita tapi yang Allāh kehendaki.وعلمهdan apa yang Allāh ketahui.Yaitu berdasarkan kaidah bahasa Arab, berdasarkan kaidah-kaidah tafsir berdasarkan atsar pada salaf yang mereka adalah orang-orang yang telah dipuji oleh Allāh subhanahu wa ta’ala tafsir para shahabat, para sahabat sudah dipuji oleh Allāh tentang agama mereka tentang pemahaman mereka tentang amal saleh mereka maka kita kembali kepada pemahaman para shahabat radhiyallahu ta’ala anhum.

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 60

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 60Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Kelima Hadist dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiallahu ‘Anhu(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mendatangkan ucapan dari diri beliau sendiri. Hal ini termasuk kejadian yang jarang, karena biasanya di dalam kitab ini beliau hanya mendatangkan ayat Al-Qur'an, Hadis, atau atsar-atsar saja.وليتأمل المؤمن الذي يرجو لقاء الله كلام الصادق الصدوق في هذا المقام،Artinya:"Maka hendaklah orang yang beriman, yang mengharapkan pertemuan dengan Allāh, memperhatikan/merenungkan ucapan Ash-Shadiqul Masduq (Rasulullah ﷺ) di dalam kedudukan/maqam ini."Orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah maksudnya adalah mereka yang ingin bertemu Allah dalam keadaan baik, diridhoi, dan akhirnya masuk surga. Mereka memiliki dorongan kuat untuk merenung karena tidak ingin masuk ke dalam ancaman neraka bagi 72 golongan.Makna dan Ketetapan IstilahAsh-Shadiqul Masduq berarti yang jujur (benar dalam ucapannya) dan dijujuri (dibenarkan oleh pihak lain/tidak dibohongi). Istilah ini paling tepat digunakan ketika seorang rawi/ulama ingin menyebutkan hadis yang berisi Al-Ikhbar bil ghoib (kabar tentang perkara ghaib/masa depan). Hubungan Komunikasi Wahyu (Jibril dan Nabi ﷺ): Ketika Malaikat Jibril (yang jujur dan ruhul amin) menyampaikan wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad, Jibril bertindak sebagai Shadiq (yang jujur), sedangkan Rasulullah menjadi Masduq (yang dijujuri).  ​Ketika Nabi Muhammad mengabarkan wahyu ghaib tersebut kepada para sahabat, maka Nabi bertindak sebagai Shadiq, sedangkan para sahabat menjadi Masduq.  Maka dari itu, Nabi ﷺ adalah seorang yang sekaligus Shadiq dan Masduq. Penggunaan kalimat ini oleh Syaikh sangat tepat karena hadist yang dibahas mengabarkan perkara ghaib berupa perpecahan umat.Kewajiban Mengikuti Islam yang MurniFokus penekanan syaikh pada perkataan Nabi ﷺ kepada sahabatnya:ما أنا عليه اليوم وأصحابيArtinya:"Apa yang aku berada di atasnya hari ini dan juga para sahabatku."Kalimat di atas diartikan sebagai "Islam". Islam itulah jalan yang dijalani Nabi ﷺ dan para sahabat, di mana mereka memegang teguh Islam yang murni secara kaffah (keseluruhan). Ucapan ini merupakan isyarat tentang kewajiban berislam secara totalitas, bukan dengan memisah-misahkan agama.Syaikh mengungkapkan tentang nilai nasihat ini: "Aduhai, sungguh ini merupakan nasihat/peringatan yang sangat besar, seandainya nasihat ini menemui kehidupan di dalam hati-hati.". Dampak bagi Hati yang Hidup: Jika nasihat besar dari Nabi ﷺ  ini jatuh ke dalam hati yang masih hidup—yaitu hati yang memiliki semangat untuk selamat di akhirat dan ingin bertemu Allah dalam kondisi baik—maka hati tersebut akan langsung tergerak dan terpengaruh.   ​Orang yang hatinya hidup akan menyadari kewajiban mengikuti Islam murni yang dibawa Nabi ﷺ dan para sahabat sebelum munculnya berbagai aliran seumpama Khawarij, Qadariyah, Jabariyah, dan aliran lainnya yang baru datang belakangan.   Hasilnya, ia akan meninggalkan seluruh aliran baru tersebut, lalu memilih masuk dan berpegang teguh pada Islam secara keseluruhan sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ.Catatan Tambahan Terkait Riwayat Hadits Abu HurairahSyaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyebutkan:{رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ. وَرَوَاهُ أَيْضًا مِنْ حَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ وَصَحَّحَهُ}Artinya:"Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dan dirawayatkan juga dari hadis Abu Hurairah dan beliau (At-Tirmidzi) menshahihkannya."Perbedaan Redaksi: Di dalam Sunan At-Tirmidzi, terdapat pula jalur hadis dari sahabat Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu. Namun, di dalam jalur hadis Abu Hurairah tersebut tidak terdapat tambahan lafadz:{مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي}Kesimpulan Berdasarkan penjelasan Halaqah 60 Kitab Fadhlul Islam, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memberikan komentar personal yang mendalam agar orang beriman merenungkan ucapan Rasulullah  {ﷺ} selaku Ash-Shadiqul Masduq—gelar yang sangat tepat digunakan untuk menguatkan kabar ghaib mengenai perpecahan umat. Nasihat mengenai keteguhan di atas jalan Nabi dan para sahabat {مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي} merupakan peringatan agung yang akan merasuk ke dalam hati yang hidup, mendorong pemiliknya untuk meninggalkan seluruh sekte baru seperti Khawarij, Qadariyah, dan Jabariyah demi memeluk Islam murni secara kaffah. Di akhir materi, ditegaskan pula status jalur hadis Abu Hurairah dalam riwayat At-Tirmidzi yang dinilai shahih, namun jalur tersebut tidak memuat klausul lafadz {مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي} sebagaimana jalur utama yang dibahas sebelumnya.

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 10

Halaqah yang Ke-10 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul adalah tentang “Cara Beriman kepada Para Rasul Bagian yang Ke Delapan”👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman kepada para adalah keyakinan yang mendalam bahwasanya Allah telah memberikan beberapa keistimewaan bagi para Nabi dan Rasul.Di antaranya① WahyuAllah berfirman:إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ…“Sesungguhnya Kami telah wahyukan kepada mu sebagaimana telah Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelah dia” (An-Nisa’ : 163)Dan diantara keistimewaan para Nabi apabila meninggal dunia tidak diwarisi dan keluarganya tidak berhak untuk mewarisi hartanya. Rasulullah ﷺ bersabda:لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌkami tidak diwarisi apa yang kami tinggal adalah shadaqah (HR Al Bukhori dan Muslim)Yang dimaksud dengan kami disini adalah seluruh para Nabi. Oleh karena itu ketika Rasulullah ﷺ meninggal dan datang kepada Abu Bakar As Siddiq untuk mengambil warisannya maka Abu Bakar mengatakan kepada Fatimah dengan hadits ini.Di antara kelebihan dan keistimewaan para Nabi, bahwa Nabi dikubur di tempat dia meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:سنن الترمذي (١٠١٨): ما قبض الله نبيا إلا في الموضع الذي يحب أن يدفن فيهTidaklah Allah mencabut nyawa seorang Nabi kecuali di tempat yang dia senang untuk dikuburkan di tempat tersebut. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)Di antara keistimewaan para Nabi bahwa tanah tidak akan memakan jasad para Nabi. Rasulullah ﷺ bersabdaإن الله عز وجل حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياءSesungguhnya Allah ajja wajalla mengharamkan atas bumi supaya dia tidak memakan jasad-jasad para Nabi (HR. Abu Dawud, An-Nasaii dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)Di antara keistimewaan mereka bahwa mereka terjaga dari dosa besar atau ma’sum dan telah berlalu pembahasan tentang hal ini pada Halaqah yang keenam.Dan diantara keistimewaan para Nabi bahwa para Nabi tidur matanya tetapi tidak tidur hatinya.Annas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkataوالنبي صلى الله عليه وسلم نائمة عيناه ولاينام قلبه وكذلك الأنبياء تنام أعينهم ولاتنام قلوبهمDan Nabi ﷺ tidur kedua matanya dan tidak tidur hatinya dan demikianlah para Nabi tidur mata mata mereka dan hati-hati mereka tidak tidur (HR. Al-Bukhari)Dan diantara keutamaan para Nabi bahwa para Nabi hidup didalam kuburan mereka dalam keadaan shalat. Rasulullah ﷺ bersabdaالانبياء احياء فى قبورهم يصلونPara Nabi mereka dalam keadaan hidup didalam kuburan-kuburan mereka dalam keadaan mereka melakukan shalat

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 10 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 8)

Halaqah 10 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (BAGIAN 8)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman kepada para adalah keyakinan yang mendalam bahwasanya Allah telah memberikan beberapa keistimewaan bagi para Nabi dan Rasul. Diantaranya, yaitu:​1. WahyuAllah berfirman:إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ…“Sesungguhnya Kami telah wahyukan kepada mu sebagaimana telah Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelah dia” (An-Nisa’ : 163)Dan diantara keistimewaan para Nabi apabila meninggal dunia tidak diwarisi dan keluarganya tidak berhak untuk mewarisi hartanya. Rasulullah ﷺ bersabda:لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ"Kami tidak diwarisi apa yang kami tinggal adalah shadaqah" (HR Al Bukhori dan Muslim)Yang dimaksud dengan kami disini adalah seluruh para Nabi. Oleh karena itu ketika Rasulullah ﷺ meninggal dan datang kepada Abu Bakar As Siddiq untuk mengambil warisannya maka Abu Bakar mengatakan kepada Fatimah dengan hadits ini.Di antara kelebihan dan keistimewaan para Nabi, bahwa Nabi dikubur di tempat dia meninggal dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:سنن الترمذي (١٠١٨): ما قبض الله نبيا إلا في الموضع الذي يحب أن يدفن فيه"Tidaklah Allah mencabut nyawa seorang Nabi kecuali di tempat yang dia senang untuk dikuburkan di tempat tersebut". (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)Di antara keistimewaan para Nabi bahwa tanah tidak akan memakan jasad para Nabi. Rasulullah ﷺ bersabda:إن الله عز وجل حرم على الأرض أن تأكل أجساد الأنبياءSesungguhnya Allah ajja wajalla mengharamkan atas bumi supaya dia tidak memakan jasad-jasad para Nabi (HR. Abu Dawud, An-Nasaii dan Ibn Majjah dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rahimahullah)Di antara keistimewaan mereka bahwa mereka terjaga dari dosa besar atau ma’sum.Dan diantara keistimewaan para Nabi bahwa para Nabi tidur matanya tetapi tidak tidur hatinya.Annas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:والنبي صلى الله عليه وسلم نائمة عيناه ولاينام قلبه وكذلك الأنبياء تنام أعينهم ولاتنام قلوبهم"Dan Nabi ﷺ tidur kedua matanya dan tidak tidur hatinya dan demikianlah para Nabi tidur mata mata mereka dan hati-hati mereka tidak tidur" (HR. Al-Bukhari)Dan diantara keutamaan para Nabi bahwa para Nabi hidup didalam kuburan mereka dalam keadaan shalat.Rasulullah ﷺ bersabda:الانبياء احياء فى قبورهم يصلون"Para Nabi mereka dalam keadaan hidup didalam kuburan-kuburan mereka dalam keadaan mereka melakukan shalat"

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitabal-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 35 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Makna Syahadat Muhammadan Rasūlullāh (bag 02)Kemudian diantara makna dan konsekuensi bahwa kita menyaksikan dan bersaksi bahwasanya beliau adalah Rasūlullāh.وتصديقه فيما أخبر2. Membawa أخبر (berita-berita)Allāh Subhānahu wa Ta’āla mewahyukan kepada beliau bahwasanya dulu pernah terjadi demikian dan demikian.Misalnya:√ Mengabarkan kisah nabi Ādam√ Mengabarkan kisah nabi MūsāKemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla memintanya untuk menyampaikan kabar-kabar tersebut kepada manusia.Kemudian beliau menyampaikan bahwasanya Allāh telah mewahyukan demikian dan demikian.√ Kalau kita membenarkan beliau di dalam kabar tadi, maka pada hakikatnya kita telah membenarkan Allāh√ Kalau kita mendustakan beliau di dalam kabar tadi, maka pada hakikatnya kita telah mendustakan Allāh.Karena beliau hanya sekedar menyampaikan, apa yang beliau terima dari Allāh itulah yang beliau sampaikan kepada kita. Tidak beliau tambah atau beliau kurang.Oleh karena itu hati-hati orang yang ketika mendengar kabar dari beliau kemudian mengukur kabar tersebut dengan akal.Jika kabar tersebut masuk akal, mereka terima jika kabar tersebut TIDAK masuk akal, maka mereka tolak.Rasūlullāh tidak berbicara dari hawa nafsunya, sebagaimana firman Allāh :وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’ān) menurut kemauan hawa nafsunya” (QS. An-Najm :3)Maka benarkanlah ucapan beliau, berita yang beliau sampaikan, kabar yang beliau sampaikan, baik itu masuk di dalam akal kita atau tidak.Jika dhāhirnya bertentangan dengan akal maka ketahuilah bahwasanya yang salah bukan apa yang beliau sampaikan TAPI yang salah adalah akal kita.Akal kita adalah makhluk yang lemah dan masing-masing dari kita mengetahui tentang kelemahan dan kekurangan akal kita. Banyak disana perkara-perkara yang dekat dengan kita tetapi kita tidak bisa memahaminya.Menunjukkan bahwa akal manusia adalah akal yang lemah (makhluk yang lemah/dhaif) bagaimana dia mendahulukan akal tersebut diatas dalīl. Sementara dalīl berasal dari Allāh dan akal kita adalah akal yang lemah.Seandainya disana ada pertentangan antara al-Aqlu wa Naqlu, maka kita dahulukan Naql diatas akal kita. Dan yakin bahwasanya kekurangan ada pada diri kita.Dan dalīl yang shahīh baik dari Al-Qur’ān dan Sunnah tidak mungkin bertentangan dengan akal yang sehat.3. Menjauhi apa yang dilarang oleh beliau dan diperingatkan oleh beliau.Diantara yang beliau bawa adalah berupa larangan. Allah mewahyukan kepada beliau sebuah larangan kemudian larangan tersebut beliau sampaikan kepada manusia.Kalau kita meninggalkan larangan yang keluar dari lisan beliau yang mulia, maka pada hakikatnya kita telah menjauhi larangan Allāh.Dan jika kita melanggarnya maka kita telah melanggar larangan Allāh.Larangan terbagi menjadi 2 :⑴ Larangan yang sifatnya Haram⑵ Larangan yang sifatnya MakhruhHaram jelas, jika dilakukan dia berdosa kalau tidak dilakukan karena mengharap pahala dari Allāh maka seseorang akan mendapatkan pahala.Makruh, kalau dilakukan tidak sampai berdosa kalau ditinggalkan karena mengharap pahala dari Allāh mendapatkan pahala.Contoh :Haram ; Berzina, Minum Khamr, Riba, Melihat sesuatu yang diharamkan, Musik, Lagu, Isbal dan Dosa besar yang lain.Makruh :√ Mengakhirkan shalāt.فَوَيْلٌۭ لِّلْمُصَلِّينَ“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalāt” (QS. Al-Maun : 4)⇒ Ada yang menafsirkan يأخير الصلاة عن وقتها√ Orang yang tidur antara waktu Maghrib dengan Isya.√ Berbicara yang tidak bermanfaat setelah Isya kecuali menyambut tamu, muraja’ah, mudzakarah atau musyawarah untuk kepentingan umat maka ini tidak masalah).√ Makan bawang merah dan bawang putih dalam keadaan mentah termasuk diantaranya jengkol misalnya karena ‘ilahnya sama menjadikan bau.Dan harus kita yakini bahwasanya di dalam larangan pasti ada hikmahnya. Allāh tidak melarang sesuatu kecuali disana ada hikmahnya.Kita harus yakin di dalam larangan pasti ada mudharat, diketahui atau tidak pasti disana ada mudharatnya.Sebagian ulama, mengumpamakan sikap seorang muslim ketika menghadapi perintah dan larangan yang datang dari Allāh dan juga Rasūl-nya seperti sikap seseorang ketika akan dicukur oleh tukang cukur.Bagaimana sikapnya?Ketika dia masuk ke dalam ruangan, lalu diperintahkan untuk duduk lalu dia pun akan duduk.Sekali lagi :وَلِلَّهِ ٱلْمَثَلُ ٱلْأَعْلَىٰ“Dan bagi Allah adalah permisalan yang lebih tinggi” (QS. An-Nahl : 60)4. Yakin bahwasanya Rasūlullāh membawa sesuatu dan diantara sesuatu tadi adalah tata cara ibadah.Allāh mengatakan :وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat : 56)Allāh berfirman :يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu…” (QS. Al Baqarah : 21)Bagaimana cara ibadahnya ?Allāh mengutus seorang Rasūl.Sampaikan kepada manusia aku telah memerintahkan mereka untuk beribadah dan tata cara ibadahnya adalah seperti ini.Seseorang yang mengakui Nabi Muhammad sebagai seorang Rasūlullāh, konsekuensinya tata cara ibadahnya harus sesuai dengan apa yang beliau ajarkan.Kalau tidak sesuai dengan tuntunan Rasūlullāh jangan harap ibadah kita diterima oleh Allāh Azza wa Jalla. Karena Allāh tidak menerima kecuali ibadah yang sudah diajarkan lewat Nabi -Nya (shallallāhu ‘alayhi wa sallam).Selain dari itu Allāh tidak akan menerima walaupun ibadah itu dihiasi atau dianggap baik oleh manusia.مَنْ عَمِلَ عَمَلاً ليسَ عليه أمرُنا هذا فهو رَدٌّ“Barangsiapa yang mengajak sebuah amalan yang tidak ada perintahnya dari Kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim)Kalau tidak diajarkan oleh Nabi baik berupa ‘aqidah atau ibadah maka ibadah tersebut tidak akan diterima oleh Allāh.Apa faedah dan hikmah kita mengakui beliau sebagai Rasūlullāh tapi ketika kita beribadah kita menggunakan cara lain yang tidak beliau ajarkan ?Kalau kita yakin beliau adalah Rasūl, maka kita ikuti cara ibadah yang beliau ajarkan, jangan kita mencari cara lain.وأن لا يعبد الله إلا بما شرع“Dan tidak disembah Allāh kecuali dengan apa yang dia syari’atkan”⇒ Kata شرع – failnya dhomirun mustatirun taqdiru هو kembali kepada الله⇒ Tidak disembah Allah kecuali dengan apa yang disyari’atkan oleh Allāh.⇒ Allāh, Dia-lah يشرع yang menyariatkan.Ini yang dikuatkan oleh sebagian ulamā bahwasanya شرع disini bukan kembali kepada Rasūlullāh tapi kembali kepada Allāh.Dia-lah أشارع – adalah Allāh.√ Allāh-lah yang menghalalkan.√ Allāh-lah yang mengharamkan.√ Allāh-lah yang menentukan tata cara ibadah.Maka Allāh, Dia-lah yang شارع – Jadi kalau dikata الشارع – maksudnya adalah Allāh.Adapun Rasūlullāh maka beliau hanyalah مبلغون رسولون Beliau hanya sekedar menyampaikan apa yang disampaikan oleh Allāh.⇒ Jangan kita meng-itlaq-kan شارع kepada Rasūlullāh.Dan yang disyari’atkan oleh Allāh itulah yang disampaikan oleh Rasūlullāh. Kalau kita mengakui beliau adalah seorang Rasūlullāh maka kita harus mengikuti cara ibadah beliau.Karena cara ibadah beliau itulah yang disyari’atkan oleh Allāh Azza wa Jalla.Ini menunjukkan tentang jeleknya bid’ah dan bid’ah sangat bertentangan dengan syahadat persaksian seseorang bahwasanya Muhamad adalah Rasūlullāh.Sehingga orang yang masih senang dengan bid’ah, bangga bid’ah dan menganggap bahwa bid’ah adalah hasanah hendaklah dia memuraja’ah kembali tentang makna syahadah Muhammad Rasūlullāh karena syahadat disini bukan kalimat yang sekedar dimutlaqkan dan diucapkan yang tidak memiliki makna.Syahadat adalah kalimat yang besar yang memiliki makna, memiliki konsekuensi.Ini adalah penjelasan beliau dari شهادة أن محمداً رسول الله.

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 60 | Memahami Ayat tentang Rukyatullah sesuai dengan yang Allāh Kehendaki

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāhوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهDan tafsirnya penjelasannya adalah sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan apa yang Allāh ketahui.Maksudnya adalah kita memahami ayat berdasarkan kehendak Allāh, jangan kita memahami hanya dengan akal kita sendiri, sudah kita sampaikan bahwasanya didalam bahasa Arab dan Al-Qur’an ini turun dengan bahasa Arabبِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍMaka kita memahami Al-Qur’anul Karim ini dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh, apa makna dari an النظر إلى, an nadhor ila maksudnya adalah melihat dengan mata dengan pandangan kita bukan melihat dengan hati karena melihat dengan hati itu bukan – النظر إلى – tapi – النظر فيه – jangan kita memahami dengan akal kita/hawa nafsu kita, kita memahami dengan bahasa yang digunakan oleh Allāh di dalam Al-Qur’an kemudian kita juga melihat tafsir Nabi ﷺ ketika beliau membaca firman Allāhلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌsiapa yang paling mengetahui tentang makna dari firman Allāh daripada Nabi ﷺ, apakah kemudian kita menafsirkan dengan akal kita sendiri/hawa nafsu kitaوتفسيره على ما أراده الرب وعلمهKita mentafsir sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki.Dinukil dari Al imam Syafi’i rahimahullāh bahwasanya beliau mengatakan,آمنت بالله، وبما جاء عن الله، وعلى مراد الله، وآمنت برسول الله، وبما جاء به رسول الله، وعلى مراد رسول اللهAl Imam Asy Syafi’i mengatakan demikian, Aku beriman dengan Allāh dan apa yang datang dari Allāh sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki dan aku beriman dengan Rasulullāh ﷺ dan apa yang datang dari Rasulullah berupa hadits sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Rasulullāh ﷺ.Di antara sebab kesesatan aliran yang sesat adalah sebab utamanya adalah karena mereka memahami Dengan pemahaman bukan dari yang dipahami oleh Allāh dan juga RasulNya bukan dengan apa yang diinginkan oleh Allāh dan juga rasul RasulNya, benar berdalil dengan ayat berdalil dengan hadits tapi bukan dengan apa yang Allāh inginkan dia bawa makna ayat dan juga hadits tersebut sesuai dengan keinginannya sesuai dengan hawa nafsunya dibawa kesana dan orang yang demikian keadaannya maka pasti di sana akan ada kontradiksi di sana ada pertentangan antara apa yang sedang dia bawakan dengan dalil-dalil yang lain, dan itu adalah sesuatu yang pasti karena dia beragama sesuai dengan hawa nafsu dan ini adalah keadaan ahlul tidaklah mereka berdalil dengan sebuah dalil kecuali ada di sana yang membatalkan dalil tersebut mereka mengambil dalil yang sesuai dengan hawa nafsunya dan meninggalkan dalil yang lain.Ini yang ingin beliau tekankan di sini menafsirkan itu semuanya sesuai dengan apa yang Allāh kehendaki bukan sesuai dengan kehendak kita atau sesuai dengan kehendak guru kita tapi yang Allāh kehendaki.وعلمهdan apa yang Allāh ketahui.Yaitu berdasarkan kaidah bahasa Arab, berdasarkan kaidah-kaidah tafsir berdasarkan atsar pada salaf yang mereka adalah orang-orang yang telah dipuji oleh Allāh subhanahu wa ta’ala tafsir para shahabat, para sahabat sudah dipuji oleh Allāh tentang agama mereka tentang pemahaman mereka tentang amal saleh mereka maka kita kembali kepada pemahaman para shahabat radhiyallahu ta’ala anhum.

💬 0 komentar📅 19 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI19 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 59

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 59Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Kelima Hadist dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiallahu ‘Anhu (Bagian 03)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Perpecahan Umatوَسَتْفَتِرقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةًArtinya:“Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.”.Makna Istilah Kata Firqoh dalam konteks ini memiliki arti yang sama dengan millah, jalan, atau aliran.Komparasi SejarahPerpecahan yang akan menimpa umat Islam ini dikondisikan sebagaimana orang-orang Bani Israil yang sebelumnya juga telah berpecah-belah.Bukti Kenabian Kabar tentang perpecahan ini menjadi bukti nyata kenabian Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam karena beliau mengabarkan sesuatu yang belum terjadi di masanya.Hakikat Ilmu Ghaib Mutlak:Sesuatu yang ghaib (khususnya ghaib mutlak yang terjadi di masa depan) pada hakikatnya hanya diketahui oleh Allah ﷻ (Aalimul ghoib). Dalilnya:عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًاArtinya:"(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu."(QS. Al-Jinn: 26)Pengecualian Utusan: Allah tidak menampakkan ilmu ghaib tersebut kepada siapapun, kecuali kepada sebagian makhluk-Nya yang diridhai, yaitu para rasul. Itu pun hanya diperlihatkan sebagian saja, bukan seluruhnya. Bahkan Nabi Muhammad shallallâhu 'alaihi wasallam sendiri menafikan (menolak) adanya ilmu ghaib pada dirinya sendiri.Konsekuensi Ancaman dan Status Hukum Golongan yang Menyimpangكُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةًArtinya:"Semuanya (73 golongan tersebut), semuanya masuk neraka kecuali satu.".Alasan mendasar mengapa mereka diancam masuk neraka adalah karena mereka melakukan iftiraq (berpecah-belah) yang dipicu oleh tindakan memisah-misahkan agamanya.Batasan Makna Ancaman NerakaIdentitas ObjekKalimat "Hadzihil umah" (umat ini) merujuk kepada Umat Ijabah, yaitu orang-orang yang telah menerima dakwah/masuk Islam, bukan umat dakwah secara umum.Bukan KekalMaksud masuk neraka bagi 72 golongan ini bukan masuk ke dalamnya selama-lamanya (bukan kholidina fiiha) seperti nasib orang-orang kafir.Di Bawah Kehendak Allah (Tahta Masyiatillah)Status mereka berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah menghendaki, mereka akan diazab terlebih dahulu karena dosa memisah-misahkan agama. Jika Allah menghendaki, Allah bisa langsung mengampuni mereka sehingga selamat dari azab perpecahan tersebut.Akhir yang SelamatBagi mereka yang tidak diampuni dan harus diazab di dalam neraka, hukumannya hanya bersifat sementara, dan kelak pada akhirnya mereka akan tetap dimasukkan ke dalam surga.Dalil Al-An'am Ayat 159 dan Kewajiban Berislam secara KaffahSatu Golongan yang Selamat (Illa Wahidah), golongan yang dikecualikan dari neraka adalah Ahlussunnah, yaitu orang-orang yang bersikap kaffah (totalitas) di dalam keislamannya. Dalil larangan memecah belah agama, QS. Al-An'am: 159):{إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَArtinya:“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.”.Ayat ini mempertegas bahwa memisah-misahkan agama dilarang keras karena memiliki ancaman nyata. Hal ini berbanding lurus dengan wajibnya tidak memisah-misahkan agama. Seseorang wajib masuk ke dalam Islam secara keseluruhan (tidak tebang pilih) dalam seluruh lini, yang meliputi: Akidah, Akhlak, Ibadah, Dakwah, hingga urusan Imamah. Semuanya harus menggunakan Islam yang murni dibawa oleh Nabi ﷺ.Karakteristik, Manhaj, dan Etika Sahabat dalam Bertanyaقَالُوا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيArtinya:“Para sahabat berkata: 'Ya Rasulullah, siapakah golongan yang satu ini (yang Illa Wahidah tadi)?' Nabi menjawab: 'Yang dimaksud dengan kelompok tadi adalah kelompok yang berpegangan dengan apa yang aku berada di atasnya hari ini dan para sahabatku.'"Pertanyaan ini diajukan secara kolektif (qooluu—mereka berkata), bukan cuma oleh satu orang, menunjukkan urgensi masalah tersebut.   ​Pertanyaan langsung diajukan tanpa diundur karena masing-masing sahabat sangat menginginkan keselamatan agar masuk ke golongan yang satu dan takut terancam neraka.  Tujuan mereka bertanya murni untuk mengamalkan petunjuk tersebut demi keselamatan diri, bukan sekadar untuk menambah wawasan, ilmu, atau pengetahuan kosmetik semata.Tafsir Kata Alyaum (Hari Ini)Merujuk secara spesifik pada kondisi Islam pada hari ketika Nabi mengucapkan kalimat tersebut.   ​Segala bentuk bid'ah (perkara baru dalam agama) yang terjadi setelah hari tersebut, secara otomatis dikeluarkan dan tidak termasuk ke dalam cakupan kalimat "Masa ana alaihil yaum".Kedudukan Para Sahabat (Wa Ash-habii)Apa yang dijalani oleh para sahabat adalah representasi dari Islam kaffah yang dibawa Nabi dalam segala bidang kehidupan. Sejarah mencatat tidak ada satu pun sahabat Nabi yang membuat bid'ah dalam agama; munculnya bid'ah baru terjadi pada masa setelah generasi mereka.Hakikat Identitas Golongan yang SelamatNabi ﷺ tidak menyebutkan identitas golongan ini dalam bentuk nama aliran, nama sekte, ataupun nama organisasi tertentu. Beliau justru menyebutkan sifat, manhaj, dan cara beragama. Barangsiapa yang memiliki sifat Islam kaffah ini dalam seluruh sendi kehidupannya, maka dialah Ahlussunnah Wal Jamaah. Berkat ke-kaffahan inilah, kelak di hari kiamat wajah-wajah mereka menjadi bersih dan bersinar.Hakikat Identitas Golongan yang SelamatBerpegang teguh pada Islamnya para sahabat secara utuh adalah satu-satunya sebab yang menyelamatkan seseorang dari iftiroq (perpecahan) dan menjaga mereka agar tetap bersatu di atas jalannya Nabi dan para sahabat.Takhrij dan Status Validitas Riwayat HadistHadits perpecahan umat dengan redaksi di atas diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi. Syaikh Al-Albani menghukumi hadist (dengan redaksi utama ini) berstatus Hasan. Walaupun di dalam kitab beliau yang lain, beliau pernah menghukumnya dhoif (lemah). Di dalam kitab Al-Jami’ Ash-Shoghir Wa Ziyadatuhu, terdapat lafadz spesifik yang berada di antara dua tanda kurung (qousain) yang berbunyi:حتَّى إن كانَ مِنهم من أتى أُمَّهُ علانيَةً لَكانَ في أمَّتي من يصنعُ ذلِكَLafadz khusus di dalam kurung inilah yang secara tegas didhoifkan oleh Syaikh Al-Albani. Di luar lafadz dalam kurung yang lemah tersebut, sisa lafadz hadis lainnya tetap dihukumi sebagai lafadz yang Hasan.Kesimpulan Berdasarkan pemaparan Halaqah 59 Kitab Fadhlul Islam oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A, dapat disimpulkan bahwa perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan merupakan bukti kenabian yang nyata, di mana 72 golongan di antaranya diancam masuk neraka secara tidak kekal akibat dosa iftiroq atau memisah-misahkan urusan agama. Keselamatan dari ancaman tersebut hanya diberikan kepada satu golongan yang selamat (Al-Firqotun Najiyah), yaitu Ahlussunnah Wal Jamaah, yang didefinisikan oleh Nabi \text{shallallâhu 'alaihi wasallam} melalui sifat, manhaj, dan cara beragama yang bersandar penuh pada Islam yang murni (kaffah) di atas jalannya Rasulullah dan para sahabat (mā ana 'alaihi al-yaum wa ash-hābī) tanpa tercampur bid'ah. Secara validitas riwayat, hadis riwayat At-Tirmidzi ini dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani, kecuali untuk redaksi tambahan spesifik di dalam kurung mengenai perbuatan keji terang-terangan yang dihukumi dhoif.

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 9

.Halaqah yang Ke-9 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan para Rasul adalah tentang “Cara Beriman dengan Para Rasul Bagian yang Ketujuh”👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعاDiantara cara beriman dengan para Rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa seluruh Nabi dan Rasul alaihimussalam telah bersepakat dalam berdakwah kepada Tauhid dan mengingatkan umat mereka dari kesyirikan.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanوَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya kalian hanya menyembah kepada Allah dan jauhilah Thagut” (An-Nahl : 36)yang dimaksud dengan Thagut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, didalam ayat yang lain Allah mengatakanوَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang Rasul kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku maka hendaklah kalian menyembah hanya kepadaKu” (Al-Anbiya : 25)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengatakanوَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ…“Dan ingatlah saudara kaum ‘Ad ketika dia memberikan peringatan kepada kaumnya yang tinggal di bukit-bukit pasir dan telah berlalu para Rasul yang memberikan peringatan sebelum dia dan setelah dia supaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah” (Al-Ahqaf : 21)Tiga ayat diatas menunjukkan bahwasanya setiap Rasul dan setiap Nabi inti dakwah mereka satu yaitu “Tauhid”Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah menceritakan didalam Al-Quran beberapa kisah Nabi alaihimussalam dan dakwah mereka diantara kaumnya. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menceritakan tentang Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ…“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya maka dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 59)Dan Allah menceritakan tentang Nabi Hud عَلَيهِ السَّلَامُ Allah mengatakanوَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ”Dan kami telah mengutus kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud عَلَيهِ السَّلَامُ, dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian kecuali Dia, mengapa kalian tidak bertakwa” (Al-A’raf : 65)Dan Allah mengatakanوَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…“Dan Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh dia berkata _wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 73)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman tentang Nabi Syu’aib عَلَيهِ السَّلَامُوَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…“Dan Kami telah mengutus kepada Madyan saudara mereka Syu’aib, dia berkata wahai kaumku sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia… ” (Al-A’raf 85)Ayat-ayat diatas menunjukkan bahwasanya masing-masing dari para Nabi dan Rasul berdakwah kepada Tauhid, dia merupakan inti dari ajaran mereka.Adapun hukum hukum seperti tata cara ibadah atau halal dan haram maka kadang-kadang terjadi perbedaan. Allah berfirman…لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ …“Masing-masing Kami telah jadikan syariat dan juga cara” (Al-Ma’idah : 48)Rasulullah ﷺ bersabda:وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌوَPara Nabi adalah saudara sebapak ibu-ibu mereka berbeda tetapi Agama mereka satu (HR Al-Bukhari dan Muslim)Di dalam hadits ini para Nabi diumpamakan seperti saudara saudara dari satu bapak berlainan ibu maksudnya sama-sama berdakwah kepada Tauhid meskipun dengan cara ibadah yang berbeda.Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullahفالمراد به أصل التوحيد و أصل الطاعة لله تعالى و إن اختلفت صفاتهاmaka yang dimaksud dengannya adalah pokok pokok dari Tauhid dan pokok ketaatan kepada Allah تَعَالَى meskipun berbeda caranya

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 59

Halaqah 59 | Dalil lain Bahwa Orang-Orang Beriman Akan Melihat Allāh di AkhiratKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهDisana ada beberapa ayat yang lain yang menunjukkan tentang aqidah Ahlussunnah bahwasanya orang-orang yang beriman akan melihat Allāh sebagaimana dalam sebuah ayat yang ada dalam surat Yunus۞ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ ..[QS Yunus 26]Bagi orang-orang yang beriman (orang² yang ahsan) yaitu orang² yang Ihsan di dunia, Ihsan itu merasa dilihat oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia beriman akhirnya dia bertakwa beramal shalehلِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟Bagi mereka ini Al Husna,apa yang dimaksud dengan Al Husna? Al Jannah /Surga, ini adalah muannats dari al-ahsan yang artinya adalah yang paling baik dan Al Jannah ini adalah negeri yang paling baik, negeri yang paling indah negeri yang paling nikmat , maka orang-orang yang Ihsan di dunia merasa diawasi oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia berbuat baik beramal shaleh beriman maka dia akan mendapatkan Surga وَزِيَادَةٌ dan dia akan mendapatkan tambahan, Surga dan juga tambahan, nah apa yang dimaksud dengan وَزِيَادَةٌ apa yang dimaksud dengan tambahan tafsirkan oleh Nabi ﷺ dan beliau ﷺ adalah tentunya yang paling mengetahui tentang makna yang ada di dalam Al-Qur’an di dalam sebuah hadis Nabi ﷺ mengatakan,إذا دخل أهل الجنة الجنةApabila penduduk Surga masuk ke dalam Surga,يقول الله -تبارك وتعالى-: تريدون شيئا أزيدكم؟Maka Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan apakah kalian menginginkan sesuatu sebagai tambahan?Ahlul Jannah disini berarti semuanya baik umatnya Nabi ﷺ maupun umat² Nabi sebelumnya, apakah kalian menginginkan suatu tambahan lagi? tambahan nikmat lagi padahal mereka sudah merasakan berbagai kenikmatan,فيقولون:Mereka mengatakan,ألم تبُيِّضْ وُجُوهنا؟ ألم تُدْخِلْنَا الجنة وتُنَجِّنَا من النار؟Bukankah engkau Ya Allāh telah menjadikan wajah² kami berseri Engkau telah memasukkan kami kedalam Surga yang dengannya kami merasakan berbagai kenikmatan bukan hanya itu bukankah Engkau telah menyelamatkan kami dari Neraka , maksudnya adalah sudah merasakan keberuntungan yang luar biasa selamat dari Neraka dan bisa merasakan kenikmatan seperti iniKami merasakan keberuntungan yang luar biasa selamat dari azab terakhir Alhamdulillahفيكشف الحِجَاب، فما أُعْطُوا شيئا أحَبَّ إليهم من النظر إلى ربهمMaka Allāh subhanahu wa ta’ala menyingkap hijabNya, Allāh subhanahu wa ta’ala menyingkap hijabNya, sehingga mereka pun melihat Allāh, disebutkan oleh Nabi ﷺ maka penduduk Surga tidak diberikan sebuah kenikmatan yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada Allāh azza wa jalla ketika mereka melihat Allāh maka kenikmatan yang sebelumnya mereka rasakan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan yang mereka rasakan ketika melihat Allāh Rabbul’alamin.Ini menunjukkan betapa nikmatnya melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’alamKemudian beliau mengatakanوَزِيَادَةٌMaka melihat wajah Allāh inilah yang dimaksud dengan ziyadah/tambahan didalam ayat tadi.ثم هذه الأيةkemudian Nabi ﷺ membaca Ayat iniلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌBagi orang-orang yang berbuat baik maka dia akan mendapatkan Surga dan juga tambahan. hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, berarti di sini Nabi ﷺ menafsirkan ayat dan menafsirkan ayat terkadang dengan ayat yang lain, terkadang menafsirkan ayat dengan hadis ini adalah termasuk tingkatan yang tinggi dalam masalah tafsir ketika menafsirkan ayat dengan ayat yang lain dengan hadist Nabi ﷺلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌDalam sebuah ayat yaitu dalam Surat Qof Allāh mengatakan,اۨدۡخُلُوۡهَا بِسَلٰمٍ‌ؕ ذٰلِكَ يَوۡمُ الۡخُلُوۡدِلَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌMasuklah kalian ke dalam Surga dalam keadaan selamat hari tersebut adalah hari kekekalan tidak ada kebinasaan setelah itu. Bagi mereka apa yang mereka kehendaki apa yang antum kehendaki akan diberikan oleh Allāh di dunia antum banyak keinginan-keinginan antum yang tidak tercapai itu di dunia, tapi nanti kalau sudah masuk ke Surganya Allāh subhanahu wa ta’alaلَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَاBagi mereka apa yang mereka kehendaki,Kita mau apa saja diberikan oleh Allāh subhanahu wa ta’alaوَلَدَيْنَا مَزِيْدٌDan di sisi Kami ada tambahan.Tambahan di sini yang dimaksud adalah melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’ala.Dalam Ayat yang lain didalam surat Al mutafifin Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ[QS Al-Muthaffifin:15]Sekali² tidak sesungguhnya mereka (orang² kafir) yang mereka mendustakan sesungguhnya mereka dari Rabb mereka di hari tersebut mereka akan dihalangi, mahjun dihalangi yaitu mereka tidak akan melihat Allāh.Al imam Syafi’i rahimahullah & beliau adalah seorang muhadits seorang faqih seorang mufassir beliau memahami dari ayat ini beliau mengatakan bahwasanya ketika ketika Allāh subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwasanya orang-orang kafir dihalangi dari Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan bahwasanya orang-orang yang beriman sebaliknya itu mereka akan dibiarkan dan diberikan karunia oleh Allāh untuk melihat Allah subhanahu wa ta’ala, orang² yang kufar ditutup sehingga mereka tidak bisa melihat wajah Allāh, melihat wajah Allah adalah sebuah kenikmatan adapun orang-orang yang beriman maka oleh Allāh subhanahu wa ta’ala diberikan karunia untuk melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’ala ini disebutkan oleh Al imam Syafi’i, bisa dilihat didalam tafsir Ibnu Katsir nukilan dari Ibnu Katsir terhadap ucapan Al Imam Asy Syafi’i rahimahullāh

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 34 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Makna Syahadat Muhammadan Rasūlullāh (bag 01)Kemudian setelah mendatangkan dalīl, beliau rahimahullāh menyebutkan tentang makna شهادة أن محمداً رسول اللهBeliau rahimahullāh mengatakan:ومعنى شهادة أن محمدا رسول الله: طاعته فيما أمر، وتصديقه فيما أخبر، واجتناب ما عنه نهى وزجر، وأن لا يعبد الله إلا بما شرعKarena kedudukan syahadah di dalam agama Islām berkaitan langsung dengan judul kitāb ini yaitu tentang معرفة نبيكم عليه الصلاة والسلامMaka beliau perjelas disini, beliau terangkan disini tentang makna شهادة أن محمداً رسول الله.Orang yang sudah bersaksi bahwasanya beliau adalah “Seorang Rasūl” dan masing-masing kita adalah orang yang telah bersaksi, yang menyatakan bahwasanya beliau adalah Rasūlullāh.Maka ini memiliki makna dan ada konsekuensinya, syahadat ini adalah kalimat yang mengandung konsekuensi sebagaimana telah berlalu penjelasannya.Syahadat adalah kalimat yang mengandung sumpah, jika kita sudah bersaksi bahwasanya beliau adalah Rasūlullāh orang yang telah diutus Allāh kepada kita, maka kita harus yakin bahwa beliau membawa sesuatu atau misi.Beliau diutus oleh Allāh kepada kita pasti beliau membawa sesuatu dari Allāh. Sebagai mana telah kita contohkan kemarin bahwa seorang utusan presiden diutus kepada kita pasti utusan tersebut membawa sesuatu atau pesan⇒ Maka apa yang dibawa oleh utusan Allāh adalah amanat dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Apa amanatnya?√ Terkadang berupa perintah√ Terkadang berupa berita√ Terkadang berupa larangan√ Terkadang berupa cara ibadah.Ini lah yang dibawa oleh Rasūlullāh.Allāh telah membebankan kepada beliau untuk membawa amanat-amanat ini agar disampaikan kepada manusia.1. PERINTAHAllāh mewahyukan kepada beliau sebuah perintah untuk disampaikan kepada manusia, maka Rasūlullāh menyampaikan kepada manusia, memerintahkan kepada manusia demikian dan demikian.Ucapan beliau yang isinya adalah perintah-perintah bagi manusia asalnya adalah wahyu. Jibrīl yang membawa perintah tadi kepada Rasūlullāh.√ Orang yang mentaati perintah beliau (Rasūlullāh) pada hakikatnya dia telah mentaati perintah Allāh Azza wa Jalla.√ Orang yang mentaati perintah utusan pada hakikatnya dia telah mentaati perintah yang mengutusnya.Dan perintah Allāh ada dua macam :√ Perintah yang sifatnya Wajib.√ Perintah yang sifatnya Mustahab (Sunnah).⑴ Perintah yang wajibJika TIDAK dilaksanakan perintah tersebut maka kita berdosa dan jika kita melaksanakan perintah tersebut maka kita mendapatkan pahala.Contoh : Shalāt 5 waktu, Puasa di bulan Ramadhan, Zakat bagi orang yang memiliki kewajiban, Berbakti kepada kedua orang tua, dan seterusnya.⑵ Perintah yang mustahabJika tidak dilaksanakan perintah tersebut maka seseorang tidak berdosa.Contoh : Puasa Sunnah, Shalāt Sunnah, Dzikir Sunnah.Seorang muslim harus yakin bahwasanya apa yang diperintahkan oleh Allāh pasti didalamnya ada maslahat. Ini kaidah dan prinsip yang harus kita pegang.

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 9 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (Bagian 7)

Halaqah 9 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL (Bagian 7)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman dengan para Rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa seluruh Nabi dan Rasul alaihimussalam telah bersepakat dalam berdakwah kepada Tauhid dan mengingatkan umat mereka dari kesyirikan.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ…“Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul supaya kalian hanya menyembah kepada Allah dan jauhilah Thagut” (An-Nahl : 36)Yang dimaksud dengan Thagut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah, didalam ayat yang lain Allah mengatakan:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ“Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang Rasul kecuali kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku maka hendaklah kalian menyembah hanya kepadaKu” (Al-Anbiya : 25)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengatakan:وَاذْكُرْ أَخَا عَادٍ إِذْ أَنْذَرَ قَوْمَهُ بِالْأَحْقَافِ وَقَدْ خَلَتِ النُّذُرُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ…“Dan ingatlah saudara kaum ‘Ad ketika dia memberikan peringatan kepada kaumnya yang tinggal di bukit-bukit pasir dan telah berlalu para Rasul yang memberikan peringatan sebelum dia dan setelah dia supaya kalian tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah” (Al-Ahqaf : 21)Tiga ayat diatas menunjukkan bahwasanya setiap Rasul dan setiap Nabi inti dakwah mereka satu yaitu “Tauhid”Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى telah menceritakan didalam Al-Quran beberapa kisah Nabi alaihimussalam dan dakwah mereka diantara kaumnya. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menceritakan tentang Nabi Nuh عَلَيهِ السَّلَامُلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ…“Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya maka dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 59)Dan Allah menceritakan tentang Nabi Hud عَلَيهِ السَّلَامُ Allah mengatakan:وَإِلَىٰ عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۚ أَفَلَا تَتَّقُونَ”Dan kami telah mengutus kepada kaum ‘Ad saudara mereka Hud عَلَيهِ السَّلَامُ, dia berkata wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah tidak ada sesembahan yang berhak disembah oleh kalian kecuali Dia, mengapa kalian tidak bertakwa” (Al-A’raf : 65)Dan Allah mengatakan:وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…“Dan Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh dia berkata _wahai kaumku hendaklah kalian menyembah kepada Allah kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia” (Al-A’raf : 73)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman tentang Nabi Syu’aib عَلَيهِ السَّلَامُوَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ…“Dan Kami telah mengutus kepada Madyan saudara mereka Syu’aib, dia berkata wahai kaumku sembahlah Allah, kalian tidak memiliki sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia… ” (Al-A’raf 85)Ayat-ayat diatas menunjukkan bahwasanya masing-masing dari para Nabi dan Rasul berdakwah kepada Tauhid, dia merupakan inti dari ajaran mereka.Adapun hukum hukum seperti tata cara ibadah atau halal dan haram maka kadang-kadang terjadi perbedaan.Allah berfirman:…لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ …“Masing-masing Kami telah jadikan syariat dan juga cara” (Al-Ma’idah : 48)Rasulullah ﷺ bersabda:وَالْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌوَ"Para Nabi adalah saudara sebapak ibu-ibu mereka berbeda tetapi Agama mereka satu" (HR Al-Bukhari dan Muslim)Di dalam hadits ini para Nabi diumpamakan seperti saudara-saudara dari satu bapak berlainan ibu maksudnya sama-sama berdakwah kepada Tauhid meskipun dengan cara ibadah yang berbeda.Berkata Al-Imam An-Nawawi rahimahullahفالمراد به أصل التوحيد و أصل الطاعة لله تعالى و إن اختلفت صفاتها"Maka yang dimaksud dengannya adalah pokok pokok dari Tauhid dan pokok ketaatan kepada Allah تَعَالَى meskipun berbeda caranya".@komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 59

Pembahasan Dalil Kelima Hadits Dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiyallohu ‘Anhu Bag 03Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-59 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.وَسَتْفَتِرقُ هَذِهِ الْأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةًUmatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.Dan sungguh umat Islam ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan.Firqoh sama dengan millah, jalan, aliran. Sebagaimana orang-orang Bani Israil juga berpecah-belah, maka umat ini akan berpecah belah. Dan ini menunjukkan tentang kenabian Shallallâhu Alaihi Wasallam, mengabarkan sesuatu yang belum terjadi. Karena sesuatu yang ghoib, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dialah saja yang mengetahuinya. Aalimul ghoib. Dialah yang mengetahui perkara yang ghoib, maksudnya adalah ghoib yang mutlak yang terjadi di masa yang akan datang. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menampakkan ilmu yang ghoib tadi kecuali kepada sebagian makhluk-Nya dan mereka adalah para rasul.{عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا} [الجن : 26](Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.Allah tidak menampakkan ilmu yang ghoib tadi kepada siapapun kecuali orang yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala ridhoi di antara para rasul.Jadi di antara manusia, di antara makhluk yang dikabarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang ilmu ghoib adalah para rasul saja. Itupun hanya sebagian saja, bukan semuanya. Sampai Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam menafikan dari dirinya ilmu ghoib ini. Lalu bagaimana dengan yang lain?كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةًSemuanya 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu.Kenapa mereka masuk ke dalam neraka?Sebabnya adalah karena mereka iftiroq, berpecah-belah. Kenapa mereka berpecah belah? Karena mereka memisah-misahkan agamanya. Ancamannya adalah masuk ke dalam neraka, dan maksud dari masuk ke dalam neraka ini bukan masuk ke dalam neraka selamanya sebagaimana orang-orang kafir, tidak. Karena beliau berbicara di sini tentang umatnya. Hadzihil umah, maksudnya adalah umat ijabah. Yaitu umat beliau Shallallâhu Alaihi Wasallam. Sehingga masuk kulliha finnnar bukan kholidina fiiha, bukan kekal di dalamnya. Tapi maksudnya di sini adalah tahta masyiatillah, mereka di bawah kehendak Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kalau Allah menghendaki diazab dengan sebab mereka memisah-misahkan agamanya tadi. Dan kalau Allah menghendaki Allah ampuni yang demikian.Sehingga tidak diazab dengan sebab iftiroq, yaitu memisah-misahkan agama tadi. Dan kalau ada di antara mereka yang tidak diampuni karena memisah-misahkan agama tadi, kemudian diazab di dalam neraka, maka itu hanya sementara dan kelak dia akan masuk ke dalam surga.إِلاَّ وَاحِدَةًKecuali satu golongan saja.Siapa satu golongan tadi? Mereka adalah Ahlussunnah, yang mereka kaffah di dalam Islamnya. Maka merekalah yang selamat dari ancaman neraka tadi.Hadits ini menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara keseluruhan. Di sini disebutkan, di antara hal yang menjadikan sebab seseorang masuk ke dalam neraka adalah karena berpecah-belah. Mengapa? Karena mereka berkelompok-kelompok, beraliran-aliran, karena mereka memisah-misahkan agamanya.Sebagaimana dalam ayat :{إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ} [الأنعام : 159]Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.Ini menunjukkan bahwasanya memisah-misah agama dilarang. Karena ada ancaman dan menunjukkan tentang wajibnya tidak memisah-misahkan. Yaitu masuk Islam secara keseluruhan, sebagaimana Ahlussunnah Wal jamaah.Islam secara keseluruhan, tidak memisah-misahkan agama. Dalam masalah akidah, akhlak, ibadah, dakwah, imamah, semuanya kita menggunakan Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam.Kemudian para sahabat mengatakan :قَالُوا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيYa Rasulullah, siapakah golongan yang satu ini?Yaitu Illa Wahidah tadi Ya Rasulullah?Maka para sahabat yang mereka menginginkan keselamatan, bertanya kepada Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam dan tidak diundur. Karena ini pertanyaan yang penting, masing-masing dari mereka ingin masuk ke dalam yang wahidah tadi. Dan tidak ingin masuk di dalam yang terancam dengan neraka tadi.Sehingga qooluu, bukan hanya 1 orang, mereka bertanya man hiya ya Rasulullah?Siapa kelompok ini ya Rasulullah?Para sahabat bertanya untuk mengamalkan apa yang mereka tanyakan, bukan sekedar bertanya dan menambah ilmu, menambah pengetahuan, tidak. Tapi ingin mengamalkan. Semangat hatinya untuk bertanya, sehingga timbul dari mereka pertanyaan-pertanyaan yang memang bermanfaat.قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم وَأَصْحَابِيYang dimaksud dengan kelompok tadi adalah kelompok yang berpegangan dengan apa yang aku berada di atasnya hari ini.Alyaum yang diucapkan oleh Nabi yaitu hari tersebut, ketika Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mengucapkan ucapan ini.Maksudnya adalah Islam yang beliau bawa saat itu. Adapun yang terjadi setelah hari tersebut, berupa bid’ah, maka ini bukan termasuk maka ana alaihil yaum.مَا أَنَا عَلَيْهِ اليومMaksudnya adalah Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, baik dalam masalah akidah, ibadah, dan seterusnya. Itu masuk di dalam kalimat مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم.وَأَصْحَابِيDan apa-apa yang para sahabatku ada di atasnya hari ini.Apa yang dilakukan oleh para sahabat, termasuk ke dalam Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam secara keseluruhan.Para sahabat tidak ada di antara mereka yang membuat bid’ah di dalam agama. Islam mereka dan Islam yang kaffah, di dalam seluruh bidang kehidupannya, mereka Islam secara kaffah. Bid’ah ini terjadi setelah mereka.Ini adalah golongan yang selamat tadi. Beliau menyebutkan di sini sifat, manhaj, cara, yang dilakukan oleh firqoh yang wahidah tadi. Beliau tidak menyebutkan tentang nama aliran, nama organisasi, atau yang lain, tapi beliau menyebutkan di sini tentang sifat dari golongan tersebut. Barangsiapa yang memiliki sifat ini yang intinya adalah Islam secara kaffah, Islam secara sempurna dalam seluruh kehidupan dia, maka dia adalah golongan yang satu ini, Ahlussunnah Wal jamaah. Makanya kita katakan bahwa Ahlussunnah Wal jamaah merekalah yang masuk Islam secara kaffah dalam seluruh bidang kehidupan. Dan inilah yang menjadikan kelak di hari kiamat wajah menjadi bersih, bersinar, karena mereka masuk Islam secara kaffah.Dari sini juga kita mengetahui dari ucapan beliau :مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم وَأَصْحَابِيMenunjukkan tentang wajibnya Islam secara keseluruhan, karena Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mensifati golongan yang wahidah tadi dengan مَا أَنَا عَلَيْهِ اليوم وَأَصْحَابِي. Dan ini adalah sebab selamatnya mereka dari iftiroq. Karena mereka berpegang dengan Islamnya para sahabat secara keseluruhan, akhirnya mereka menjadi selamat dari perpecahan. Dan mereka tetap bersatu bersama Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Syaikh Al Albani, beliau menghukumi hadits ini dengan hadits yang hasan.Di dalam kitab yang lain beliau menghukumi hadits ini dengan dhoif.Kemudian di dalam Al jami’ ash shoghir Wa ziyadatuhu disebutkan bahwasanya yang ada di dalam lafadz ini di antara dua qousain (tanda kurung) ini didhoifkan oleh Syaikh Al Albani.حتَّى إن كانَ مِنهم من أتى أُمَّهُ علانيَةً لَكانَ في أمَّتي من يصنعُ ذلِكَIni didhoifkan oleh Syaikh Al Albani.Adapun lafadz yang lain, maka ini adalah lafadz yang hasan

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 59 | Dalil lain Bahwa Orang-Orang Beriman Akan Melihat Allāh di Akhirat

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A Penulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullahالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهDisana ada beberapa ayat yang lain yang menunjukkan tentang aqidah Ahlussunnah bahwasanya orang-orang yang beriman akan melihat Allāh sebagaimana dalam sebuah ayat yang ada dalam surat Yunus۞ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ ..[QS Yunus 26]Bagi orang-orang yang beriman (orang² yang ahsan) yaitu orang² yang Ihsan di dunia, Ihsan itu merasa dilihat oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia beriman akhirnya dia bertakwa beramal shalehلِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟Bagi mereka ini Al Husna,apa yang dimaksud dengan Al Husna? Al Jannah /Surga, ini adalah muannats dari al-ahsan yang artinya adalah yang paling baik dan Al Jannah ini adalah negeri yang paling baik, negeri yang paling indah negeri yang paling nikmat , maka orang-orang yang Ihsan di dunia merasa diawasi oleh Allāh subhanahu wa ta’ala akhirnya dia berbuat baik beramal shaleh beriman maka dia akan mendapatkan Surga وَزِيَادَةٌ dan dia akan mendapatkan tambahan, Surga dan juga tambahan, nah apa yang dimaksud dengan وَزِيَادَةٌ apa yang dimaksud dengan tambahan tafsirkan oleh Nabi ﷺ dan beliau ﷺ adalah tentunya yang paling mengetahui tentang makna yang ada di dalam Al-Qur’an di dalam sebuah hadis Nabi ﷺ mengatakan,إذا دخل أهل الجنة الجنةApabila penduduk Surga masuk ke dalam Surga,يقول الله -تبارك وتعالى-: تريدون شيئا أزيدكم؟Maka Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan apakah kalian menginginkan sesuatu sebagai tambahan?Ahlul Jannah disini berarti semuanya baik umatnya Nabi ﷺ maupun umat² Nabi sebelumnya, apakah kalian menginginkan suatu tambahan lagi? tambahan nikmat lagi padahal mereka sudah merasakan berbagai kenikmatan,فيقولون:Mereka mengatakan,ألم تبُيِّضْ وُجُوهنا؟ ألم تُدْخِلْنَا الجنة وتُنَجِّنَا من النار؟Bukankah engkau Ya Allāh telah menjadikan wajah² kami berseri Engkau telah memasukkan kami kedalam Surga yang dengannya kami merasakan berbagai kenikmatan bukan hanya itu bukankah Engkau telah menyelamatkan kami dari Neraka , maksudnya adalah sudah merasakan keberuntungan yang luar biasa selamat dari Neraka dan bisa merasakan kenikmatan seperti iniKami merasakan keberuntungan yang luar biasa selamat dari azab terakhir Alhamdulillahفيكشف الحِجَاب، فما أُعْطُوا شيئا أحَبَّ إليهم من النظر إلى ربهمMaka Allāh subhanahu wa ta’ala menyingkap hijabNya, Allāh subhanahu wa ta’ala menyingkap hijabNya, sehingga mereka pun melihat Allāh, disebutkan oleh Nabi ﷺ maka penduduk Surga tidak diberikan sebuah kenikmatan yang lebih mereka cintai daripada melihat kepada Allāh azza wa jalla ketika mereka melihat Allāh maka kenikmatan yang sebelumnya mereka rasakan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenikmatan yang mereka rasakan ketika melihat Allāh Rabbul’alamin.Ini menunjukkan betapa nikmatnya melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’alamKemudian beliau mengatakanوَزِيَادَةٌMaka melihat wajah Allāh inilah yang dimaksud dengan ziyadah/tambahan didalam ayat tadi.ثم هذه الأيةkemudian Nabi ﷺ membaca Ayat iniلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌBagi orang-orang yang berbuat baik maka dia akan mendapatkan Surga dan juga tambahan. hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, berarti di sini Nabi ﷺ menafsirkan ayat dan menafsirkan ayat terkadang dengan ayat yang lain, terkadang menafsirkan ayat dengan hadis ini adalah termasuk tingkatan yang tinggi dalam masalah tafsir ketika menafsirkan ayat dengan ayat yang lain dengan hadist Nabi ﷺلِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌDalam sebuah ayat yaitu dalam Surat Qof Allāh mengatakan,اۨدۡخُلُوۡهَا بِسَلٰمٍ‌ؕ ذٰلِكَ يَوۡمُ الۡخُلُوۡدِلَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌMasuklah kalian ke dalam Surga dalam keadaan selamat hari tersebut adalah hari kekekalan tidak ada kebinasaan setelah itu. Bagi mereka apa yang mereka kehendaki apa yang antum kehendaki akan diberikan oleh Allāh di dunia antum banyak keinginan-keinginan antum yang tidak tercapai itu di dunia, tapi nanti kalau sudah masuk ke Surganya Allāh subhanahu wa ta’alaلَهُمْ مَّا يَشَاۤءُوْنَ فِيْهَاBagi mereka apa yang mereka kehendaki,Kita mau apa saja diberikan oleh Allāh subhanahu wa ta’alaوَلَدَيْنَا مَزِيْدٌDan di sisi Kami ada tambahan.Tambahan di sini yang dimaksud adalah melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’ala.Dalam Ayat yang lain didalam surat Al mutafifin Allāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ[QS Al-Muthaffifin:15]Sekali² tidak sesungguhnya mereka (orang² kafir) yang mereka mendustakan sesungguhnya mereka dari Rabb mereka di hari tersebut mereka akan dihalangi, mahjun dihalangi yaitu mereka tidak akan melihat Allāh.Al imam Syafi’i rahimahullah & beliau adalah seorang muhadits seorang faqih seorang mufassir beliau memahami dari ayat ini beliau mengatakan bahwasanya ketika ketika Allāh subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwasanya orang-orang kafir dihalangi dari Allah subhanahu wa ta’ala menunjukkan bahwasanya orang-orang yang beriman sebaliknya itu mereka akan dibiarkan dan diberikan karunia oleh Allāh untuk melihat Allah subhanahu wa ta’ala, orang² yang kufar ditutup sehingga mereka tidak bisa melihat wajah Allāh, melihat wajah Allah adalah sebuah kenikmatan adapun orang-orang yang beriman maka oleh Allāh subhanahu wa ta’ala diberikan karunia untuk melihat wajah Allāh subhanahu wa ta’ala ini disebutkan oleh Al imam Syafi’i, bisa dilihat didalam tafsir Ibnu Katsir nukilan dari Ibnu Katsir terhadap ucapan Al Imam Asy Syafi’i rahimahullāh.

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI18 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah yang ke-59 dari Silsilah ‘Ilmiyah Beriman kepada hari akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Pertama”

Halaqah yang ke-59 dari Silsilah ‘Ilmiyah Beriman kepada hari akhir adalah tentang “Syafa’at Bagi Para Pelaku Dosa Besar Bagian Pertama”Setelah sebagian orang-orang yang beriman selamat melewati neraka, maka Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan memberikan izin kepada mereka, untuk memberikan syafaat kepada saudara-saudara mereka, orang-orang yang beriman yang terjatuh ke dalam neraka.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda didalam hadīts Abū Said Al-Khudri Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhāri dan Muslim,◆Ketika orang-orang yang beriman selamat dari neraka, maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya tidak ada yang lebih gigih di dalam memohon kepada Allāh , hak saudara-saudara mereka yang jatuh ke dalam neraka dari pada orang-orang yang beriman di hari kiamat.Mereka berkata, Wahai Rabb kami, saudara-saudara kami dahulu mereka shalāt bersama kami, berpuasa bersama kami dan haji bersama kami.◆ Ini menunjukkan tentang keutamaan berteman dengan orang-orang shālih dan melakukan ibadah-ibadah tersebut bersama mereka.Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,Maka Allāh berkata, “Keluarkanlah oleh kalian orang-orang yang kalian kenal. Maka diharamkanlah wajah-wajah mereka atas neraka (Maksudnya orang-orang yang beriman yang melakukan dosa besar dan disiksa di dalam neraka akan dilindungi wajah-wajah mereka dari api neraka, sehingga bisa dikenal)Mereka pun mengeluarkan banyak orang. Ada di antaranya yang api neraka sudah membakar sampai pertengahan kedua betisnya. Dan ada yang sampai kedua lututnya. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan?Allāh berkata,Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat satu dinar, maka keluarkanlah.Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan”Maka Allāh berkata,Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat setengah dinar, maka keluarkanlah.Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang. Kemudian mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan seorangpun yang Engkau perintahkan untuk kami keluarkan.Maka Allāh berkata,Kembalilah kalian, Barang siapa yang kalian dapatkan di dalam hatinya ada kebaikan, seberat satu dzarrah, maka keluarkanlah.Mereka pun kembali mengeluarkan banyak orang.Dzarrah artinya adalah semut, itu yang dikenal oleh orang Arab. Mereka mengatakan semut kecil itu dengan dzarrah, jangan diartikan dengan biji sawi atau yang semisalnya, dzarrah menurut orang Arab adalah semut.Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda,Mereka berkata, “Wahai Rabb kami tidak sisakan di dalam neraka seorangpun yang memiliki kebaikan”Allāh berkata,Para malāikat telah memberikan syafā’at, para nabi telah memberikan syafā’at dan orang-orang yang beriman telah memberikan syafā’at . Dan tidak tersisa, kecuali Dzat Yang Maha Penyayang.Kemudian Allāh menggenggam satu genggaman dari neraka, dan mengeluarkan kaum yang tidak pernah beramal sedikitpun.Keadaan mereka telah menjadi arang.Kemudian mereka dilempar ke dalam sungai yang berada di mulut-mulut surga (yang dinamakan dengan sungai kehidupan).Mereka pun tumbuh seperti tumbuhnya benih di dalam lumpur sisa banjir (Maksudnya akan dengan cepat tumbuh, karena benih yang berada di dalam lumpur sisa banjir akan lebih cepat tumbuh disebabkan banyaknya faktor yang mendukung, seperti tanah yang lembut, air yang memadai dan adanya unsur-unsur yang bermanfaat. Sebagaimana hal ini diketahui oleh para ahli)Kemudian Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:Apakah kalian pernah melihat benih yang tumbuh, ketika dekat dengan batu atau pohon? bagian yang dekat dengan matahari akan berwarna kuning dan hijau. Dan yang lebih dekat dengan bayangan maka akan berwarna putih.Maksudnya ada yang mengatakan bahwasanya bagian badan yang terbakar yang lebih dekat dengan surga akan lebih cepat sempurna dari pada bagian badan yang lebih dekat dengan neraka.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:“Kemudian mereka akan keluar seperti mutiara. Dan di leher-leher mereka ada khawatim, yang dikenal oleh para penduduk surga.”Sebagian mengatakan bahwasanya yang dimaksud dengankhawatim (beberapa barang yang terbuat dari emas yang dikalungkan di leher mereka)Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:Maka berkatalah para penduduk surga, “Mereka adalah orang-orang yang Allāh bebaskan”Allāh telah memasukkan mereka ke dalam surga tanpa sebab amalan yang mereka amalkan dan tanpa sebab kebaikan yang mereka lakukan.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 18 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya18 Juni 2026
N
Nurmaida

📍 Kota Palu

‎Materi #13: Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi

‎Materi #13: Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi‎(Ringkasan Kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A. berdasarkan kitab Talbis Iblis karya Ibnu al-Jauzi)‎Masih ini membahas berbagai bentuk tipu daya Iblis yang menimpa sebagian kelompok sufi, baik dalam metode pendidikan, aqidah, maupun praktik ibadah. Berikut poin-poin utamanya:‎1. Kritik terhadap Metode Pendidikan Sufi‎Ustadz Firanda menjelaskan bantahan Imam Ibnu al-Jauzi terhadap sebagian metode pendidikan sufi yang menggunakan tawahhum (khayalan atau imajinasi) sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Metode semacam ini dinilai tidak memiliki landasan dari Salafush Shalih dan berpotensi menjerumuskan pelakunya ke dalam bid'ah.‎2. Aqidah yang Menyimpang‎Dibahas beberapa keyakinan yang dianggap menyimpang dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, di antaranya:‎Hululiyah, yaitu keyakinan bahwa Allah menempati makhluk-Nya.‎Wahdatul Wujud, yaitu keyakinan bahwa seluruh wujud pada hakikatnya adalah satu.‎Ittihadiyah, yaitu keyakinan bersatunya Tuhan dengan makhluk.‎Menurut penjelasan beliau, keyakinan-keyakinan tersebut bertentangan dengan aqidah Islam yang benar.‎3. Kisah Al-Hallaj‎Kajian ini juga mengulas tentang Al-Husain bin Manshur Al-Hallaj, seorang tokoh yang terkenal dengan ucapan dan ajaran yang dianggap mengandung unsur kekufuran. Para ulama menilai pemikirannya menyimpang dan menetapkan hukuman terhadapnya karena dianggap telah keluar dari ajaran Islam.‎4. Bid'ah dalam Ibadah dan Tempat Tinggal‎a. Waswas dalam Bersuci‎Sebagian orang terjerumus ke dalam sikap berlebihan ketika bersuci, seperti menggunakan air secara berlebihan dan mengulang-ulang wudhu karena waswas. Sikap ini dianggap sebagai salah satu bentuk tipu daya setan yang menjauhkan seseorang dari tuntunan syariat yang mudah dan sederhana.‎b. Sunnah Khusus yang Dibuat-buat‎Dikritik pula adanya amalan-amalan khusus yang tidak memiliki dalil dari Nabi ﷺ, seperti zikir atau salat tertentu yang dikaitkan dengan pakaian atau keadaan tertentu tanpa dasar syariat yang sahih.‎c. Pembangunan Ribat‎Ibnu al-Jauzi juga mengkritik tradisi membangun ribat (tempat ibadah atau tempat berkumpul khusus) yang dijadikan alternatif selain masjid. Menurut beliau, praktik ini berpotensi memecah persatuan kaum muslimin, mengurangi peran masjid sebagai pusat ibadah, dan menyerupai tradisi kependetaan Nasrani.‎Pelajaran yang Dapat Diambil‎Ibadah harus dibangun di atas dalil dari Al-Qur'an dan Sunnah.‎Menjaga kemurnian aqidah merupakan kewajiban setiap muslim.‎Waswas dan sikap berlebihan dalam beragama dapat menjadi pintu masuk tipu daya setan.‎Semangat beribadah harus diiringi dengan ilmu agar tidak terjatuh ke dalam bid'ah dan penyimpangan.‎"Setiap amalan yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah ﷺ maka amalan tersebut tertolak." (HR. Muslim)‎

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya17 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Talbis Iblis 13

Talbis Iblis 13Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi (Bagian 2)Kitab ‘Talbis Iblis’ oleh Imam Ibnu JauziDisyarahkan Oleh Ustadz DR. Firanda Andirja, M.AKritik Terhadap Kitab Al-Wasawis wal Khatarat (Buku Khayalan)​Sebagian ulama yang condong pada tasawuf menulis buku yang mengandalkan metode dramatisasi khayalan (tawahum), salah satu contohnya adalah Al-Harits Al-Muhasibi.​Metode Buku: Pembaca dipaksa membayangkan skenario yang tidak ada dalil rincinya, seperti: "Bayangkan jika malaikat maut datang, lalu dia berkata begini kepadamu... bayangkan malam pertamamu di kubur...".​Kritik Ulama Salaf: Buku model ini sangat ditentang oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Abu Zur’ah Ar-Razi.​Sebab Penolakan: ​Ini adalah metode bid'ah dalam mendidik jiwa. Salaf mendidik dengan rasa takut (khauf) yang bersumber langsung dari teks Al-Qur'an dan Hadis, bukan lewat karangan skenario buatan manusia.​Abu Zur’ah menyatakan: "Siapa yang tidak bisa mengambil pelajaran (ibrah) dari Al-Qur'an dan Sunnah, maka dia tidak akan bisa mengambil pelajaran dari buku-buku khayalan seperti itu.".Efek Samping: Al-Harits Al-Muhasibi akhirnya diboikot (dihajr) oleh Imam Ahmad karena dua hal: menulis metode khayalan ini dan tergelincir masuk ke dalam pemikiran Kullabiyah (ilmu kalam terkait sifat-sifat Allah).Etika Akademis Ibnu Jauzi dalam Membantah​​Sebelum masuk ke inti bantahan yang tajam, Imam Ibnu Jauzi menunjukkan teladan bagaimana membantah tokoh yang dihormati masyarakat (seperti Abu Hamid Al-Ghazali atau Al-Muhasibi) dengan adab yang tinggi:​Prinsip Tanziihus Syariah: Syariat harus dibersihkan dari noda keliru, siapapun yang mengucapkannya. Beliau berkata: "Jika tokoh mereka salah karena jauh dari ilmu hadis, kita harus bantah. Tidak boleh ada rasa pekewuh (sungkan) dalam membela kebenaran.".Bukan Kebencian Personal: Tujuan bantahan murni demi menjaga umat agar tidak meniru kesalahan tersebut, bukan untuk menjatuhkan kehormatan sang ulama.Bantahan Terhadap Orang Bodoh (Jahil): Ibnu Jauzi mengingatkan agar kita tidak tertipu dengan ucapan orang bodoh yang berkata: "Mengapa kau membantah tokoh itu? Dia kan orang zuhud, alim, dan orang-orang mencari berkah darinya!" Ibnu Jauzi menegaskan, ketundukan itu hanya kepada dalil syariat, karena tidak ada manusia yang maksum dari kesalahan kecuali Rasulullah.Detail Penyimpangan Akidah: Hulul, Ittihad, dan Wahdatul Wujud​Tiga sekte aqidah ekstrem yang lahir dari rahim tasawuf radikal:​Wahdatul Wujud (Kesatuan Keberadaan)​Ditokohi secara masif oleh Ibnu Arabi. Akidah ini menganggap alam semesta dan pencipta adalah satu kesatuan utuh (diibaratkan seperti laut dan ombaknya).​Konsekuensi ekstrem akidah ini: Ibnu Arabi mengklaim Firaun masuk surga karena saat Firaun berkata "Akulah Tuhanmu yang paling tinggi", Firaun sadar bahwa dirinya adalah bagian dari penampakan Tuhan. Dia juga menyalahkan kaum Nabi Nuh karena dianggap membatasi Tuhan hanya pada berhala tertentu, padahal menurutnya, menyembah apa pun di dunia ini pada hakikatnya menyembah Allah.Al-Hululiyah (Tuhan Menempati Makhluk)​Keyakinan bahwa Tuhan memilih jasad tertentu untuk ditempati.​Kisah Abu Hamzah: Ketika sedang berkhotbah di masjid, ada burung gagak berbunyi di atap. Abu Hamzah berteriak, "Labbaik! (Aku penuhi panggilan-Mu)". Dia merasa Tuhan sedang berbicara atau memperingatkannya lewat perantara suara gagak, angin, atau air mengalir. Akibatnya, masyarakat berteriak bahwa dia adalah seorang zindik hululi, lalu kudanya disita dan dijual di depan masjid sebagai hukuman sosial.Al-Ittihadiyah (Peleburan)​Dua zat yang berbeda (Tuhan dan makhluk) melebur menjadi satu zat baru (diibaratkan seperti kopi dan susu yang diaduk).Kasus Ekstrem: Fitnah dan Eksekusi Al-HallajKisah Al-Husain bin Mansur Al-Hallaj (hidup abad ke-3 s.d. awal abad ke-4 Hijriah di Baghdad), yang menjadi simbol sufi ekstrem yang dihukum mati.​Klaim Ketuhanan: Al-Hallaj secara terang-terangan mengaku dirinya sebagai Tuhan. Di dalam tas salah seorang muridnya, ditemukan surat yang ditulis langsung oleh Al-Hallaj yang berbunyi: "Dari Arrahman Arrahim (Allah) kepada Fulan bin Fulan".​Penghinaan Terhadap Al-Qur'an: Amr bin Usman Al-Makki bercerita bahwa saat dia membaca Al-Qur'an di samping Al-Hallaj, Al-Hallaj dengan sombongnya berkata: "Aku juga bisa mengarang kalimat seperti yang kamu baca itu.".​Tipuan Sihir/Kesaktian: Al-Hallaj memiliki banyak pengikut karena bisa menampilkan "karamah" palsu (sihir dibantu jin). Contohnya, dia bisa mengeluarkan buah segar di musim kering dan mengklaimnya diambil langsung dari surga. Ketika muridnya jeli melihat ada ulat di dalam buah tersebut, Al-Hallaj berkilah: "Di surga memang tidak ada ulat, tapi ini karena proses kargonya terkontaminasi udara dunia saat saya bawa ke sini.".​Ijma Ulama: Seluruh ulama dan hakim di Baghdad pada masanya (kecuali Abu Abbas bin Suraij yang memilih diam karena mengaku tidak paham maksud ucapan Al-Hallaj) bersepakat bahwa darah Al-Hallaj halal karena telah murtad secara nyata. Dia dieksekusi dengan dipotong tangan dan kakinya, dipenggal, lalu jasadnya dibakar agar abunya tidak dijadikan pemujaan oleh pengikutnya yang fanatik buta.Tipu Daya Setan dalam Wudhu dan Shalat​Was Was Wudhu yang Ekstrem: Karena mengabaikan ilmu fiqih, sebagian sufi terkena penyakit was was ekstrem. Mereka tidak mau wudhu dari air keran atau wadah biasa, melainkan harus pergi ke sungai dan menghabiskan air dalam jumlah sangat besar karena takut wudhunya tidak sah. Padahal secara syariat, Rasulullah hanya membutuhkan air yang sangat sedikit (sekitar setengah liter/satu mud) untuk wudhu.Syariat dan Wirid Rahasia: Ustadz Firanda mengkritik kebiasaan tarekat sufi yang mengklaim memiliki amalan khusus yang "rahasia" (misalnya shalat dua rakaat khusus setelah memakai baju bertambal tanda tobat, atau wirid yang tidak boleh dibocorkan kepada orang lain).​Bantahan Logika Ibnu Jauzi:​Islam adalah agama universal (Rahmatan lil 'Alamin). Tidak ada ajaran, zikir, atau jalan ke surga yang sifatnya eksklusif tersembunyi bagi kelompok tertentu.​Jika amalan tersebut memang bersumber dari Islam, seharusnya para ulama ahli fiqih (fuqaha) adalah orang pertama yang paling mengetahuinya, bukan justru para sufi yang jauh dari ilmu hadis.Kritik Terhadap Pembangunan Ribat (Padepokan Sufi)​Ibnu Jauzi membedah fenomena di mana kaum sufi memisahkan diri dari masyarakat umum dengan membangun Ribat (semacam pondok/padepokan khusus untuk menyendiri dan beribadah). Walaupun niatnya terkesan baik, Ibnu Jauzi menyebut tindakan ini salah dari 6 sisi:​Bangunan Bid'ah: Tempat ibadah resmi di dalam Islam yang diakui syariat untuk kumpul beribadah hanyalah masjid, bukan padepokan khusus golongan.​Menyaingi Masjid: Keberadaan Ribat membuat saf-saf di masjid jami' menjadi sepi dan berkurang karena anggotanya lebih memilih beriktikaf di padepokannya sendiri.​Kehilangan Pahala Masjid: Mereka kehilangan keutamaan melangkahkan kaki ke masjid Allah.​Tasyabbuh (Menyerupai) Nasrani: Cara menyendiri di padepokan ini meniru (tasyabbuh) perilaku para rahib dan pendeta Kristen yang membangun biara/kuil di atas gunung atau tempat terpencil untuk menjauh dari dunia.​Menyiksa Diri (Menolak Menikah): Banyak pemuda sufi di dalam Ribat memilih menahan syahwat dan tidak menikah demi fokus ibadah, yang mana hal ini menyalahi sunnah nabi dan menyiksa psikologis mereka sendiri.​Ketergantungan Sosial & Merasa Suci: Lambat laun, Ribat memunculkan label di masyarakat bahwa penghuninya adalah "orang-orang suci/zuhud". Hal ini memancing masyarakat awam berbondong-bondong datang memberikan donasi uang (yang kadang tidak jelas halal-haramnya). Penghuni padepokan akhirnya malas bekerja, tidak produktif, dan hidup dari belas kasihan/donasi orang yang datang mencari berkah kepada mereka.

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI17 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 58

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 57Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Kelima Hadist dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiallahu ‘Anhu (Bagian 02)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا : وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي​Arti Hadits:​"Dan sesungguhnya Bani Israil telah berpecah belah menjadi 72 golongan, dan umatku akan berpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan." Para sahabat bertanya: "Siapa mereka wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Siapa saja yang mengikuti apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya hari ini.".​Akar Penyimpangan Umat Islam Akibat Tasyabbuh​Apa yang diamalkan oleh ahlul bid'ah saat ini, hampir selalu memiliki asal-usul atau akar dari agama Bani Israil (Yahudi dan Nasrani). ​Berikut adalah detail manifestasi tasyabbuh (penyerupaan) yang dibahas dalam kajian:Dua Akar Karakter Buruk Ahli Kitab​Secara umum, penyimpangan beragama di dunia ini tidak lepas dari dua karakter buruk berikut:Karakter Yahudi (Berilmu tapi Tidak Beramal):Memiliki pengetahuan tentang kebenaran tetapi menyembunyikannya atau tidak mempraktikkannya. Di dalam umat Islam, ini diwakili oleh ulama-ulama yang buruk (ulama su').​Karakter Nasrani (Beramal tanpa Ilmu):Memiliki semangat, ambisi, dan perasaan yang tinggi dalam beribadah, tetapi tidak bersandar pada dalil yang shahih. Di dalam umat Islam, ini adalah karakter utama para pelaku bid'ah (ahlul bid'ah).Menjadikan Kuburan Sebagai Tempat Ibadah​Praktik Bani Israil:Nabi menyatakan (HR. Muslim) bahwa kaum terdahulu (Yahudi & Nasrani) memiliki kebiasaan membangun tempat ibadah (masjid) di atas kuburan para nabi dan orang shalih mereka akibat pengagungan yang berlebihan.​Tasyabbuh Umat Islam:Sebagian kaum muslimin meniru persis perbuatan ini dengan mengagungkan kuburan, membangun masjid di atasnya, atau sengaja beribadah di sana, padahal Nabi sudah memberikan larangan tegas: "Janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, sesungguhnya aku melarang kalian dari hal tersebut.".Peringatan Hari Lahir Nabi (Maulid)​Praktik Nasrani: Menjadikan hari kelahiran Nabi Isa 'alaihissalam sebagai hari raya keagamaan yang besar (dikenal sebagai Hari Natal).​Tasyabbuh Umat Islam:Mengadopsi konsep yang sama dengan membuat perayaan tahunan untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.Komersialisasi Pengampunan Dosa & Ritual Musik​Praktik Nasrani Zaman Pertengahan: Ketika para pemuka agama Kristen memiliki kekuasaan, mereka memeras jemaatnya dengan menjual surat penebusan dosa (Suququl Ghufron atau Kaffarotu adz-Dzunub)—artinya, ampunan Tuhan bisa dibeli dengan uang. Selain itu, mereka beribadah dengan nyanyian/musik dan memasang gambar/patung Yesus di tempat ibadah.​Tasyabbuh Umat Islam:Praktik menjadikan musik/nyanyian sebagai bagian dari ritual ibadah, serta penggunaan foto/gambar tokoh agama secara berlebihan, merembes ke sebagian kelompok muslim. Ini bersumber dari jalur Thariqatun-Nashoro (semangat beramal tapi minus ilmu).Mengada-adakan Syariat Baru (Konsep Rahbaniyyah)​Sebab Turunnya Dalil (QS. Al-Hadid: 27):Allah menjelaskan bahwa kaum Nasrani menciptakan sendiri konsep Rahbaniyah (kerahiban/memutus diri dari dunia secara ekstrem). Allah tidak pernah mewajibkannya, tetapi mereka membuatnya sendiri dengan alasan "mencari ridha Allah". Pada akhirnya, mereka sendiri tidak mampu menjaganya.Tasyabbuh Umat Islam:Kaum ahlul bid'ah meniru perilaku ini dengan membuat-buat ritual ibadah baru atau metode beragama yang ekstrem dengan klaim niat baik untuk mendekatkan diri kepada Allah, padahal hal itu tidak disyariatkan.Tabarruk pada Pohon/Benda (Kasus Dzat Anwath)​Kisah Sahabat (HR. Tirmidzi): Saat menuju Perang Hunain, beberapa sahabat yang baru masuk Islam melihat orang musyrik memiliki pohon bidara tempat menggantungkan senjata agar sakti, yang disebut Dzat Anwath. Spontan mereka meminta kepada Nabi: "Ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzat Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzat Anwath.".Respons Tegas Nabi:Nabi bertakbir "Allahu Akbar!" dan menyatakan bahwa ucapan itu persis seperti ucapan Bani Israil kepada Nabi Musa: "Buatkanlah untuk kami tuhan (berhala) sebagaimana mereka memiliki tuhan-tuhan." Nabi menutupnya dengan peringatan: "Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian."​Tasyabbuh Umat Islam:Mencari berkah (ngalap berkah/tabarruk) secara serampangan pada benda mati, pohon, atau tempat-tempat tertentu yang tidak ada dalilnya dari syariat.Sihir, Dukun, dan Fitnah Wanita​Sihir & Dukun: Meniru tabiat orang Yahudi yang sangat menyukai hal-hal gaib yang menyimpang, perdukunan, dan praktik sihir.​Fitnah Wanita: Mengulang sejarah kehancuran Bani Israil. Rasulullah pernah mengingatkan bahwa fitnah (ujian) pertama yang menghancurkan Bani Israil adalah masalah wanita, dan kini banyak umat Islam yang jatuh pada lubang yang sama.Membuka Pintu Perayaan Khusus (Tauqifiyah)​Atsar Umar bin Khattab:Seorang Yahudi berkata kepada Umar bahwa ada satu ayat di Al-Qur'an (QS. Al-Maidah: 3 tentang kesempurnaan Islam) yang andai turun di kalangan Yahudi, pasti hari itu akan dijadikan hari raya ('Ied). Umar menjawab bahwa umat Islam telah mengetahui hari dan tempat turunnya (hari Jumat di padang Arafah), namun umat Islam tidak serta merta membuat hari raya baru dari akal sendiri.​Tasyabbuh Umat Islam:Menganggap bahwa jika ada momentum sejarah Islam yang besar (seperti Hijrah Nabi, Nuzulul Qur'an, atau Isra Mi'raj), maka otomatis boleh dibuatkan perayaan khusus. Padahal urusan hari raya bersifat tauqifiyah (harus saklek berdasarkan perintah Allah dan Rasul, bukan hasil kreasi manusia).Mengapa Terjadi Perpecahan (Tafarruq)Korelasi penting antara bab Tasyabbuh (penyerupaan) dengan Tafarruq (perpecahan umat):​Kaidah Mutlak: Perpecahan adalah sunnatullah yang pasti terjadi pada umat Islam karena mereka meniru perpecahan yang terjadi pada Bani Israil (Bani Israil pecah jadi 72, Islam pecah jadi 73).Akar Masalah Berdasarkan Al-Qur'an (QS. Al-An'am: 159): Allah berfirman bahwa orang-orang terdahulu menjadi terpecah belah dan berkelompok-kelompok (syiya'an) disebabkan karena mereka memecah-belah agama mereka (farroqū dīnahum).​Mengapa Agama Terpecah? Karena mereka tidak berislam secara kaffah (totalitas).​Mereka hanya mau tunduk pada syariat yang sesuai dengan hawa nafsu, selera, atau logika mereka saja.​Di satu sisi mereka berislam, di sisi lain mereka mengikuti hawa nafsu.Kesimpulan Seandainya Bani Israil dahulu, dan umat Islam saat ini, mau tunduk dan memasrahkan diri secara total (Kaffah) kepada seluruh syariat yang dibawa oleh nabi mereka tanpa pilih-pilih, niscaya perpecahan dan ancaman neraka ini tidak akan pernah terjadi.

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya17 Juni 2026

Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi (Bagian 2)

Kritik terhadap Metode Pendidikan Sufi: Penulis mengkritik model penulisan seperti karya Al-Harits Al-Muhasibi (kitab Tawahum) yang mendorong pembacanya untuk terus berkhayal tentang kematian dan alam barzakh, yang menurut para ulama seperti Imam Ahmad bin Hambal dan Abu Zur'ah Ar-Razi, bukanlah metode pendidikan yang diajarkan oleh Salaf Penyimpangan Akidah (Hululiyah & Wahdatul Wujud): Bahaya akidah yang meyakini bahwa Tuhan menempati makhluk (hulul), bersatu dengan makhluk (ittihad), atau bahwa seluruh alam adalah manifestasi Tuhan (wahdatul wujud). Tokoh yang disorot secara khusus adalah Al-Hallaj yang mengaku dirinya Tuhan dan akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh para ulama karena dianggap murtad Waswas dalam Ibadah: Ibnul Jauzi mengkritik sikap berlebihan kaum Sufi dalam bersuci yang berujung pada waswas (keraguan terus-menerus), yang justru menjadi pintu masuk tipu daya Iblis Sunah Khusus yang Menyimpang: Kritik terhadap adanya "sunah-sunah" atau amalan khusus yang hanya diketahui oleh kelompok tarekat tertentu. Menurut Ibnul Jauzi, Islam bersifat terbuka dan tidak memiliki rahasia atau amalan khusus yang disembunyikan dari umat Islam lainnya Tempat Ibadah (Ribat): Kritik terhadap pembangunan ribat (tempat ibadah khusus bagi kaum Sufi) yang dianggap menyalahi syariat karena seharusnya ibadah dilakukan di masjid, serta dapat memecah belah persatuan umat dan menyerupai praktik rahib-rahib Nasrani .

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya17 Juni 2026
N
Nailah Nurul Hanifah

📍 Jakarta Selatan

Talbis Iblis #13: Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi (Bagian 2)

Pembahasan Kitab Al-Wasawis wal KhataratBantahan Al-Imam Ibnu al-Jauzi terhadap kitab-kitab yang mendukung sufisme, seperti Ihya Ulumuddin (Al-Ghazali), Quutul Qulub (Abu Thalib al-Makki), dan Luma' as-Sufiyah (Abu Nashr as-Sarraj).Tulisan kaum Sufi yang disebut Al-Wasawis wal Khatarat (buku tentang khayalan-khayalan/lintasan pikiran), yang salah satu pelopornya adalah Al-Harits al-Muhasibi melalui kitabnya yang berjudul Tawahum.Isi buku tersebut mengajak pembaca berandai-andai dan membayangkan secara detail (misalnya: "Bayangkan jika kamu sakaratul maut, bayangkan malam pertama di alam barzakh, dll."). Meskipun gaya penulisan ini membuat pembaca terenyuh atau takut, para ulama Salaf justru memberikan peringatan keras (tahdzir) terhadap metode ini.Peringatan Ulama Salaf terhadap Al-Harits al-MuhasibiImam Ahmad bin Hanbal memperingatkan muridnya agar tidak duduk berkumpul dengan pengikut Al-Harits al-Muhasibi.Abu Zur'ah ar-Razi (seorang imam ahli hadis) ketika ditanya mengenai kitab-kitab Al-Muhasibi yang menyentuh hati tersebut, beliau menegaskan bahwa buku-buku itu mengandung bidah dan kesesatan. Beliau memerintahkan untuk mencukupkan diri dengan atsar (hadis dan perkataan para sahabat).Ketika seseorang menyanggah bahwa buku tersebut bisa mendatangkan pelajaran (ibrah) bagi pembacanya, Abu Zur'ah menjawab: "Siapa yang tidak bisa mengambil ibrah dari Al-Qur'an, Sunah, dan atsar Salaf, maka tidak ada pelajaran baginya dari buku-buku (khayalan) seperti itu." Beliau juga menyatakan bahwa para imam terdahulu seperti Imam Malik dan Sufyan ats-Tsauri tidak pernah mendidik umat dengan cara berandai-andai (wasawis).Alasan Imam Ahmad memboikot (hajr) Al-Muhasibi:Karena menulis buku yang mendukung sufisme bermetode al-wasawis wal khatarat bukan dengan metode ahlussunnah wal jama’ah.Karena masuk ke dalam pemikiran Kullabiyah (pemikiran teologis di antara paham Jahmiyah/Mu'tazilah dan Ahlussunnah) terkait sifat-sifat Allah. Karena pemboikotan ini, Al-Muhasibi hidup bersembunyi hingga wafatnya.Etika Ibnu al-Jauzi dalam Membantah TokohIbnu al-Jauzi menuliskan pasal berjudul Tanziihus Syariah (Mensucikan Syariat). Beliau menekankan bahwa jika ada kesalahan nyata dari tokoh yang dicintai masyarakat, syariat harus tetap dibersihkan dari kesalahan tersebut tanpa rasa sungkan.Beliau menegaskan bahwa tujuan membantah bukanlah untuk mencari-cari kesalahan individu (mencela person), melainkan bentuk amanah ilmiah dan rasa cemburu untuk menjaga kemurnian syariat Islam.Prinsip penting: Jangan tertipu oleh ucapan orang jahil yang berkata, "Mengapa kamu membantah orang yang zuhud, alim, dan dicari berkahnya?" Ketundukan mutlak hanya milik dalil syariat. Seseorang bisa jadi merupakan wali Allah, namun posisi tingginya tidak menghalangi ulama lain untuk meluruskan kesalahannya karena tidak ada manusia yang maksum selain Rasulullah ﷺ.“Tidak ada sungkan-sungkan dalam membela kebenaran.”Penyimpangan Akidah: Paham Hulul dan Wahdatul WujudTiga keyakinan menyimpang yang ada di sebagian kalangan Sufi ekstrem:Wahdatul Wujud: Keyakinan bahwa makhluk dan Tuhan adalah satu kesatuan (alam adalah penampakan Allah). Tokoh utamanya adalah Ibnu Arabi, yang memiliki pemikiran kontroversial seperti menganggap Firaun masuk surga karena mengklaim dirinya Tuhan, serta membenarkan semua bentuk penyembahan berhala.Al-Hulul (Hululiyah): Keyakinan bahwa Allah menempati jasad makhluk-Nya (seperti air menempati gelas).Al-Ittihad (Ittihadiyah): Keyakinan bahwa Allah dan makhluk melebur menjadi satu (seperti kopi dicampur susu).Seorang sufi yang ketika mendengar burung gagak berbunyi langsung berteriak "Labbaik, Labbaik" (Aku penuhi panggilanmu). Dia menganggap semua suara alam (angin, air, burung) adalah perwakilan suara Allah yang memanggilnya berzikir. Akibatnya, masyarakat di zamannya mencapnya sebagai zindiq penganut paham hulul.Tokoh sufi Abul Hasan an-Nuri mengklaim bahwa dirinya kangen/hasrat (isyq) kepada Allah dan Allah kangen kepadaku. Ibnu al-Jauzi membantahnya dari 3 sisi: istilah isyq dalam bahasa Arab hanya dipakai untuk hubungan asmara/nikah, dalil al-Qur'an hanya memakai istilah yuhibbuhum (cinta/suka), dan dari mana orang tersebut bisa tahu secara pasti bahwa Allah mencintainya tanpa dalil wahyu.Fitnah dan Eksekusi Al-Hallaj (Al-Husain bin Mansur)Al-Hallaj adalah tokoh penganut hululiyah ekstrem yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Dia memiliki "kesaktian" yang dibantu oleh jin (seperti memunculkan buah musim panas di musim dingin, namun buahnya berulat). Ulama di zamannya sepakat bahwa darahnya halal karena telah murtad dan zindiq.Kisah Amr bin Makki: Ketika Amr bin Utsman membaca Al-Qur'an di dekat Al-Hallaj, Al-Hallaj berkomentar bahwa dia pun bisa mengarang dan mengucapkan kalimat seperti Al-Qur'an tersebut. Amr langsung meninggalkan dan melaknatnya.Kisah Surat dari "Ar-Rahman Ar-Rahim": Ditemukan surat tulisan Al-Hallaj dalam tas pengikutnya yang diawali dengan kalimat "Dari Ar-Rahman Ar-Rahim kepada Fulan bin Fulan". Saat diinterogasi di depan penguasa Baghdad, pengikutnya ketakutan dan mengklaim itu tulisannya sendiri, yang justru menjebak dirinya sendiri karena berarti dia mengaku sebagai Tuhan.Tiga tokoh di Baghdad yang diperiksa terkait pemikiran ini: Al-Jariri dan Asy-Syibli berlepas diri dan menyatakan paham tersebut kafir, sedangkan Ibnu Atha' yang membenarkan akidah Al-Hallaj akhirnya ikut dieksekusi mati. Al-Hallaj sendiri dihukum mati dengan dipotong tangan-kakinya lalu jasadnya dibakar. Meskipun ulama telah sepakat atas kesesatannya, sebagian kaum Sufi karena kebodohannya tetap fanatik kepada Al-Hallaj.Tipu Daya Iblis terhadap Kaum Sufiah dalam Hal Bersuci dan ShalatDalam Bersuci (Thaharah): Kaum Sufi awam sering terkena penyakit waswas yang ekstrem. Mereka berwudhu menggunakan air dalam jumlah yang sangat banyak (berlebihan), bertentangan dengan sunnah Nabi yang mencukupkan air sedikit. Ada yang menolak berwudhu menggunakan air di rumah dan memaksakan diri harus berwudhu langsung di sungai karena ketakutan waswas yang tidak berdasar.Dalam Shalat dan Amalan Khusus: Setiap tarekat sufi sering membuat "sunnah" atau ritual baru tersendiri (seperti shalat dua rakaat khusus setelah mengenakan baju khas Sufi yang penuh tambalan).Beliau mengkritik adanya amalan atau wirid khusus dari guru tarekat yang bersifat rahasia (misalnya: istri boleh tahu, suami tidak boleh tahu). Ajaran Islam itu bersifat terbuka untuk seluruh umat manusia. Jika ada kelompok yang mengklaim suatu zikir atau wirid hanya khusus untuk kelompok mereka dan tidak boleh diketahui orang lain, maka dipastikan itu adalah jalan yang sesat. Semua kaum muslimin memiliki hak yang sama terhadap sunah, dan para ahli fikih (fuqaha) adalah orang yang paling tahu tentang sunnah Nabi.Tipu Daya Iblis Terkait Tempat Tinggal (Ribat)Kaum Sufi gemar membangun tempat tinggal bersama yang disebut Ribat untuk menyendiri dan fokus beribadah secara eksklusif. Ibnu al-Jauzi menjelaskan meskipun niat mereka baik, tindakan mengkhususkan bangunan di luar masjid ini salah dari 6 sisi:Membangun tempat ibadah khusus di luar masjid adalah perkara bidah (tempat ibadah resmi umat Islam adalah masjid).Menjadikan bangunan tersebut sebagai saingan masjid, sehingga meramaikan ribat namun membuat masjid sekitar menjadi sepi.Menghalangi diri mereka sendiri dari pahala sunah melangkahkan kaki menuju masjid.Menyerupai (tasyabbuh) tradisi para pendeta Nasrani (rahib) yang membangun kuil-kuil khusus untuk menyendiri daripada pergi beribadah ke gereja umum.Membuat diri mereka tersiksa menahan syahwat karena banyak pemuda di ribat tersebut yang memilih untuk tidak menikah demi fokus ibadah.Menjadikan diri mereka sebagai simbol atau tanda sebagai "orang zuhud" di mata masyarakat. Hal ini memicu masyarakat datang meminta berkah dan memberi mereka uang (yang kadang tidak jelas status halal/haram/syubhatnya), sehingga membuat penghuni ribat malas bekerja dan hanya bergantung pada belas kasihan orang lain.

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya17 Juni 2026
E
Ela septiana yusira

📍 Kota Tangerang

Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi (Bag-2)

bantahan Imam Ibnu Al-Jauzi terhadap kitab-kitab yang mendukung pemikiran Sufi, salah satunya karya Al-Harits Al-Muhasibi yang berjudul Tawahum.Buku ini mengajarkan metode mendidik hati dengan cara meminta pembaca membayangkan kematian, sakaratul maut, dan malam pertama di alam barzakh secara berlebihan (andai-andai/khayalan).Metode ini di-tahdzir (diperingatkan bahayanya) oleh para ulama Salaf seperti Imam Ahmad bin Hambal dan Abu Zur'ah Ar-Razi. Mereka menegaskan bahwa jika seseorang tidak bisa mengambil pelajaran dari Al-Qur'an dan Sunnah, maka tidak ada pelajaran dari buku-buku khayalan seperti itu. Cara mendidik yang benar adalah dengan berpegang teguh pada hadis dan atsar para sahabat.Al-Harits Al-Muhasibi di-boikot (hajar) oleh Imam Ahmad karena dua kesalahan fatal:1 Menulis buku yang mendukung Sufi dengan metode khayalan (al-wasawis wal khatarat).2 Terjerumus dalam pemikiran Kullabiyah (ilmu kalam terkait sifat-sifat Allah) yang berada di antara pemikiran Jahmiyah, Mu'tazilah, dan Ahlussunnah.Kaum Sufi sering kali terkena penyakit waswas yang parah dalam bersuci, seperti harus berwudu menggunakan air sungai karena menganggap air di rumah tidak sah atau haram, padahal Nabi ﷺ mengajarkan berwudu dengan air yang sedikit. tarekat Sufi cenderung membuat "sunah" atau ritual internal tersendiri (seperti zikir/wirid rahasia yang tidak boleh diketahui orang luar atau shalat dua rakaat khusus setelah memakai baju tambal-tambalan).

💬 0 komentar📅 17 Jun 2026Baca selengkapnya →