📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
A
Anna setyaningsih

📍 Kota Bekasi

Ringkasan bab 6

TALBIS IBLIS #6TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI ILMU (Bag2)Iblis berusaha mengganggu semua ibadah kita dengan segala cara, al imam ibnu jauzi rahimahulloh berkata ,Diantara tipu muslihat iblis dalam mengganggu ibadah kita ialah was-was dalam hal niat Membuat seseorang mengulang-ulang niatnya ,seolah niatnya batal , padahal sebenarnya niatnya ibadah sudah ada.Bagaimana cara menghilangkan was2 iblis ketika kita mengalaminya, maka,katakanlah kalau tujuan mu mengulang-ulangi niat karena untuk memperbaiki niat ,maka tidak perlu . Karena niatmu sudah ada. Tetapi jika niatmu mengulangi nya karena mau membenarkan lafadznya/pelafalannya maka tidak perlu , karena niat itu ada didalam hati.Tidak perlu engkau merangkai niat dan menguraikannya lalu akan menjadi was2, Sejatinya was2 maka itu kebodohan .Dan boleh niat itu didahulukan sebelum takbir dengan waktu yang sebentar, dan selama dia belum membatalkan niatnya.Dari mis'ar dia mengatakan abdulloh bin mas'ud berkata Aku tidak melihat seorang pun yang lebih tegas kepada orang yang berlebih-lebihan seperti rasululloh,aku tidak melihat seorangpun yang lebih khawatir pada orang yg berlebih-lebihan selain abu bakar. Dan menurutku umar bin khatab orang yg paling keras dari penghuni bumi yang keras,terhadap orang yang berlebihan dalam beragama.Diantara talbis iblis seorang sibuk dalam urusan niat dan takbir harus pas, sementara selanjutnya tidak dia perhatikan, diantara orang yang terkena was2, yang merasa niat dan takbirnya sudah pas,maka dia sudah merasa santai dan tidak memperhatikan yang selanjutnya, seakan-akan tujuan sholat adalah ngepassin niat dan takbir saja.Dan ini adalah tablis iblis,lalu bagaimana cara menghilangkannya. ketahuilah bahwasannya tujuan takbir adalah masuk kedalam sholat,jangan sampai kamu sudah masuk sholat tapi kamu melalaikan semua yang ada dalam sholat.Diantara was-wasah adalah sibuk dengan yang amalan sunnah lalu meninggalkan yang wajibBeliau menyebutkan contoh seseorang yang sudah sah takbir di belakang imam kemudian misalkan dia masbuk, setelah ini dia masih doa istiftah yang panjang, jika dia sudah tau imam sudah tinggal sedikit maka harusnya dia langsung baca al fatihah, karena jika dia disibukkan dengan itu khawatir tidak terkejar baca al-fatihah. Karena berta'awud dan istiftah itu adalah sunnah dan yang dia tinggalkan (al-fatihah)itu wajib.Meninggalkan perkaran-perkara sunnah karena alasan pribadi.Banyak orang sengaja meninggalkan sunnah (seperti tidak menempati shaf pertama, atau tidak bersedekap) karena alasan pribadi seperti takut riya',maka harusnya tetap ikuti tuntunan syariat dan dalil,memperbaiki niat hati bukan meninggalkan sunnah.Berlebihan dalam ibadahBanyak orang yang terlalu kaku dalam makhroj huruf saat sholat, talbis iblis membuat berlebih-lebihan dalam mentahqiq dalam mewujudkan huruf2, sibuk dalam memikirkan tajwid lalu lupa makna ayat yang dibacakan,dan menciptakan was-was didalamnya.Ada yang sengaja memanjang manjangkan sholat, ada juga yang menjahrkan bacaan sholat dzuhur padahal sholat dzuhur disunnahkan membaca dengan shirMenjaga ibadah agar tetap ikhlasBahayanya menceritakan amalan shaleh secara tidak langsung (pamer terselubung) atau mencari perhatian orang lain saat beribadah, yang akan dapat mengurangi atau menghilangkan pahala. Menahan diri dari pamer Pentingnya kita menyembunyikan ibadah,termasuk tangisan saat kita sholat atau berdoa, ini talbis iblis yang akan membuat kita terjebak dalam riya' .

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

Talbis Iblis #6

Talbis Iblis #6Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag. 2)Talbis Iblis dalam Shalat1. Tipu daya iblis dalam masalah niatMengulang-mengulang (lafal) niat, padahal melafalkan niat tidak wajib dan bukan sunnah. Niat tempatnya di hati. Keinginan shalat sudah termasuk niat. 2. Mengulang-ngulang takbir karena was-was (melafalkan niat) Meresapi takbir dan meresapi niat (melafalkan) niat dalam satu waktu itu sangat sulit (mustahil). Padahal syari'at itu mudah. 3. Mendahulukan yang sunnah dari yang wajib. Bagi yang masbuq tidak perlu baca doa istiftah tapi langsung saja baca surat Al-Fatihah. 4. Meninggalkan sunnah shaf pertama karena urusan pribadi (ingin khusyuk, takut riya dll) 5. Keluar dari aturan ibadah Diantaranya ada orang yang mengulang bacaan surat karena kurang makhrajnya. Dan ada orang yang sibuk memikirkan makhraj huruf tapi lupa akan makna ayat6. Melakukan kekurangan dalam shalat. Ketika imam salam dia ikut salam padahal dia belum menyelesaikan bacaan tasyadud7. Melakukan hal makruh dalam shalat misalnya mengeraskan suara di waktu shalat yang seharusnya dibaca sir 8. Begadang shalat malam tapi malah melalaikan shalat shubuh9. Menceritakan amal sholeh10. Syaitan memberikan tipu daya bagi sebagian orang yang bersendirian shalat di masjid. Maka di kenalah si fulan yang sering ibadah di masjid. Maka orang-orang pun datang mengikutinya. Sehingga dia pun semakin semangat beribadah karena dikenal/dipuji banyak orang. Dari Zaid bin Tsabit, nabi bersabda : "Sebaik-baik orang adalah shalat dirumahnya lecuali shalat fardhu"Kita memiliki nafsu lawammah (jiwa yang suka mencela maksiat), dia yang mengontrol kita, dia memberi sinyal ketika kita melakukan maksiat. Misalnya saat orang berbuat riya sebenernya dia tau bahwa dia riya, hanya saja dia kadang cuek karena riya itu nikmat/lezat.11. Diantaranya ada yang menangis di depan orang, jika mampu tahanlah khawatir terkena riya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Talbis Iblis #6

Talbis Iblis Terhadap Ahli IlmuOleh Ustad Dr. Firanda Andirja, M.AIblis ingin merusak ibadah kita sebisa mungkin semaksimal mungkin yg dia bisa. Al Imam Al Zauji Rahimahullah : Diantaranya tipu daya muslihat Iblis dalam masalah niat sholat. Diantara mereka berkata "aku niat sholat" kemudian mengulangi lagi dia menyangka bahwa niatnya telah dia batalkan lali dia ulangi lagi "aku niat sholat" pdhl dia salah.. harusnya dia tidak usah ragu² sebenarnya niat dia sudah sah dgn sah. Sesungguhnya syariat kita mudah. Tidak pernah dilakukan oleh nabi, tidak pernah dilakukakan oleh sahabat hal² seperti ini. Riwayat Abu Hasim rahimahuta'ala : maka ketika dia masuk mesjid iblis memberikan dia was² atau bisikan "wahai abu hasim sesungguhnya engkau sholat tanpa wudhu" maka dia menjawab iblis "wahai iblis sejak kapan nasihatmu sampai seperti ini wahai iblis" abu hasim menepis itu semua dgn mengatakan kata² tadi. Dan utk menghilangkan kerancuan ini, orang yg terkena was² maka dikatakan "kalau tujuanmu utk menghadirkan niat sehingga kau ulang²i "Allahhu akbar" niatmu sudah ada, krn kau tadi ingin mengerjakan sholat fardu, keinginanmu mengerjakan sholat itulah "niat". Dan tempatnya dihati bukan dimulut. Yg susah menguraikan dalam lafal (niat) padahal jika sudah terbetik dalam hatipun itu sudah termasuk niat. Sulit melafalkan niat sekaligus takbir, islam tidak sesulit itu. Maka banyak yg mengulang². Kemudian Talbis Iblis itu ketika sibuk melakukan yg sunah dari yg wajib. Ta'awud dan do'a istiftah adalah sunah, sedangkan alfatihah itu wajib bagi makmum sebagian para ulama. Jgn salah mendahulukan prioritas, jika sudah masbuk langsung saja baca alfatihah dari pd ta'awudz dan do'a istiftah. Talbis iblis pada Makhorijul huruf dalam bacaan sholat. Lupa sama makna lebih sibuk ke tajwid.Iblis sungguh banyak menggoda pada ahli ibadah yg bodoh. Jika imam sudah salam tapi kalian belum selesai baca tasyahud, lanjutkan baca tasyahud krn tasyahud tidak ditanggung oleh iman.Jgn seseorang gara² melakukan sholat sunah kemudian lalai terhadap sholat fardu. Contohnya dia memperbanyak sholat malam, tapi sholat fajr (diwaktu subuh) di K.OFitnah menceritakan amal sholeh. Termasuk salah satu Talbis Iblis. Amal sholeh yg disembunyikan itu lebih baik. Talbis iblis kepada orang yg membaca Al qur'an

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 1️⃣ Pengantar Penjelasan Kitab Nawaqidul Islam Bag-1

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang pertama dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Insya Allah kita akan mempelajari bersama kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab.❣️Penulis kitab ini adalah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi yang lahir pada tahun 1115 H di Uyainah, sebuah daerah di Jazirah Arab.Beliau lahir di tengah-tengah keluarga yang sangat memperhatikan ilmu agama. Beliau memulai menghafal Al Qur’an sejak kecil, sehingga beliau pun menyelesaikan hafalannya sebelum berumur 10 tahun. Kemudian mulailah beliau menuntut berbagai cabang ilmu agama, seperti tafsir, fiqih, akidah, dan lain-lain.Diantara guru pertama beliau adalah Syeikh Abdul Wahab bin Sulaiman, bapak beliau sendiri. Kemudian setelah itu, beliau rahimahullah melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu, pergi ke kota Mekkah, Madinah, Baghdad, dan kota lainnya.Ketika beliau pergi ke kota Madinah, beliau mengambil ilmu dari Syeikh Muhammad Hayah bin Ibrahim As Sindi. Dan hampir beliau melakukan perjalanan ke Syam. Tetapi karena suatu sebab, beliau tidak bisa pergi ke sana.Beliau menghabiskan waktunya untuk mempelajari ilmu agama dan mengajarkannya kepada orang lain.Selain kitab Nawaqidul Islam ini, beliau juga memiliki kitab-kitab yang lain yang sangat bermanfaat bagi kaum muslimin, diantaranya:• Kitabut Tauhid• Kasyfu Syubuhat• Al Ushulu Sittah• Al Ushulu Tsalatsah• Mukhtashar Zadil Ma’ad• Dan kitab-kitab yang lainSyeikh meninggal dunia pada tahun 1206 H di usia sekitar 91 tahun, setelah menghabiskan waktu dan hidupnya dengan mempelajari ilmu agama, mengajar, dan berdakwah.Kitab Nawaqidul Islam yang akan kita pelajari adalah kitab yang sangat ringkas, hanya terdiri dari beberapa halaman saja. Meskipun demikian, kitab ini mengandung perkara-perkara yang penting, yang seharusnya diketahui oleh seorang muslim.Nawaqid artinya adalah pembatal-pembatal. Jamak dari Naqidun yang artinya pembatal atau perusak.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِی نَقَضَتۡ غَزۡلَهَا مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ أَنكَـٰثࣰا[Surat An-Nahl 92]“Janganlah kalian seperti seorang wanita yang merusak (mencerai beraikan) pintalannya, setelah dia kuat.”Kata نَقَضَتۡ artinya merusak atau mencerai beraikan.Lalu Allah mengatakan,ٱلَّذِینَ یَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِیثَـٰقِهِۦ[Surat Al-Baqarah 27]“Yaitu orang-orang yang merusak/membatalkan perjanjian mereka dengan Allah setelah mereka berjanji kepada Allah.”Ayat ini menceritakan tentang sifat orang yang merusak perjanjian mereka kepada Allah. Mereka berjanji kepada Allah dengan sebuah janji, kemudian membatalkannya dan merusaknya.Di dalam kitab fiqih ada istilah Nawaqidul Wudhu (perusak-perusak wudhu). Artinya amalan-amalan atau perkara-perkara yang membatalkan wudhu seseorang.Adapun Islam di sini, maka maksudnya adalah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, yang memiliki lima rukun.Dan Islam, secara bahasa adalah mashdar dari kata اَسلَمَ – يُسلِمُ (aslama – yuslimu) artinya di dalam Bahasa Arab adalah menyerahkan.Agama Islam dinamakan sebagai agama penyerahan, karena orang yang masuk dalam agama Islam berarti dia telah siap dan bersedia menyerahkan ibadahnya hanya kepada Allah, siap untuk taat kepada Allah, dan berlepas diri dari kesyirikan dan pelakunya.Seorang Nasrani yang dahulunya dia menyembah Allah, Nabi Isa, dan Maryam, maka ketika dia masuk Islam, dia harus menyerahkan ibadahnya hanya kepada Allah dan meninggalkan peribadatan kepada Nabi Isa dan Maryam.Seseorang ketika masuk ke dalam agama Islam dengan dua kalimat syahadat, maka dengannya dia dianggap sebagai seorang muslim, dijaga darahnya, kehormatannya, sebagaimana sabda Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam,‏ ‏ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ و أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى الله“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengatakan dan bersyahadat laailaha illallaah dan bersyahadat Muhammad Rasulullah, kemudian mendirikan sholat, membayar zakat. Maka apabila mereka melakukan itu semua, sungguh mereka telah menjaga dariku darah mereka dan harta mereka, kecuali dengan hak Islam. Dan hisab mereka adalah atasAllah.” (Muttafaqun ‘Alaih)Keislaman tersebut bisa batal apabila melakukan satu diantara Nawaqidul Islam. Dan pembatal-pembatal keislaman ada yang berupa ucapan, keyakinan di dalam hati, dan perbuatan anggota badan.Pembatal berupa ucapan, seperti orang yang mencela Allah dan Rasul-Nya, berdo’a kepada selain Allah, dan lain-lain, yang nanti akan datang penjelasannya, Insya Allah.Diantara dalil yang menunjukkan bahwa di sana ada ucapan yang bisa menjadikan seseorang kufur adalah firman Allah,وَلَقَدۡ قَالُوا۟ كَلِمَةَ ٱلۡكُفۡرِ وَكَفَرُوا۟ بَعۡدَ إِسۡلَـٰمِهِمۡ[Surat At-Tawbah 74]“Dan sungguh mereka (yaitu orang-orang munafik) telah mengucapkan ucapan yang kufur. Dan mereka telah kufur setelah keislaman mereka.”Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2) - Ust Dr. Firanda Andirja M.A

🥞Pengantar & Waswas dalam Niat SalatHakikat Waswas Niat: Talbis iblis (tipu daya iblis) bertujuan mengganggu dan merusak ibadah, membuat manusia merasa sedang beribadah padahal kenyataannya tidak. Iblis menggoda manusia dalam masalah niat salat hingga sebagian orang mengulang-ulang lafal niat (seperti mengucapkan usholli) karena menyangka niatnya batal jika lafalnya keliru. Padahal, niat di dalam hati tidak terbatalkan hanya karena salah melafalkannya.Fenomena Mengulang Takbir: Ada orang yang terus membatalkan dan mengulang Takbiratul Ihram. Anehnya, saat imam ruku', orang tersebut tiba-tiba bisa langsung konsentrasi dan ikut ruku' karena takut tertinggal rakaat. Ini bukti bahwa keraguan sebelumnya adalah murni godaan iblis agar ia kehilangan keutamaan awal salat. Saking parahnya waswas, sebagian orang sampai bersumpah dengan nama Allah, mengancam akan menyedekahkan seluruh hartanya, bahkan mengancam akan menceraikan istrinya jika mereka mengulang takbir lagi, demi memaksa diri berhenti dari waswas.Kisah Salaf: Kisah Abu Hazim yang ditipu iblis saat masuk masjid dengan bisikan bahwa ia belum berwudu. Abu Hazim menepisnya dengan berkata, "Sejak kapan kau mau menasihatiku, wahai iblis?"🥞Hakikat Niat dan Letaknya di Dalam HatiNiat adalah Keinginan Hati: Niat seseorang sebenarnya sudah ada sejak ia berdiri untuk mendirikan salat. Tempat niat adalah di dalam hati, bukan pada lafal. Melafalkan niat tidaklah wajib. Menganggap diri belum berniat setelah bertakbir adalah bentuk penyakit (waswas).Kisah Ibnu Aqil: Kisah Ibnu Aqil yang didatangi seseorang yang terkena penyakit waswas (merasa belum berwudu dan belum bertakbir padahal sudah melakukannya). Ibnu Aqil berkata, "Kamu tidak wajib salat." Ketika orang lain heran dengan jawaban tersebut, Ibnu Aqil membawakan dalil bahwa orang yang tidak berakal/gila dibebaskan dari kewajiban syariat.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يُفِيقَ..."Pena diangkat dari tiga golongan: dari orang gila yang mengidap gangguan akal sampai ia sadar..." (Ustadz menyebutkan hadis ini untuk menjelaskan bahwa orang yang sudah takbir lalu merasa belum takbir berarti sedang mengalami gangguan akal/waswas parah).Penyebab Waswas: Ibnu Jauzi menegaskan bahwa waswas dalam niat disebabkan oleh adanya gangguan pada akal (khalalun fil 'aql) akibat kebodohan terhadap syariat.Analogi Menyambut Orang Alim: Seseorang yang berdiri untuk menyambut orang alim tidak perlu melafalkan niatnya. Keinginan dalam hati untuk berdiri saat melihat orang alim tersebut sudah merupakan niat. Begitu pula dengan salat, gambaran bahwa seseorang ingin salat zuhur empat rakaat menghadap kiblat langsung terkumpul dalam hati secara otomatis dalam satu detik saat ia melangkah untuk salat.🥞Kerumitan Sinkronisasi Lafal NiatLafal Niat Membutuhkan Waktu: Menghadirkan niat di dalam hati itu instan, sedangkan yang membutuhkan waktu lama dan rumit adalah menguraikan lafal-lafal niat (usholli fardhal zuhri arba'a raka'atin...). Waswas adalah murni kebodohan (jahlun mahdun). Orang yang waswas menjadi bimbang karena membebani dirinya untuk merinci lafal-lafal niat tersebut di dalam hatinya dalam satu waktu yang sama secara bersamaan.Waktu Menghadirkan Niat: Ibnu Jauzi menjelaskan bahwa niat boleh didahului sebelum takbir dalam waktu yang singkat, selama orang tersebut tidak membatalkan niatnya.Akar Masalah Fikih: Sebagian ulama fikih menyebutkan niat harus dibersamakan dengan rukun pertama ibadah (seperti membasuh wajah saat wudu atau takbir saat salat). Hal inilah yang memicu waswas pada sebagian orang karena mereka kesulitan mensinkronkan perenungan makna Allahu Akbar sekaligus mengingat rincian niat salat secara bersamaan.🥞Sikap Tegas Salaf Terhadap Sikap Berlebih-lebihanIslam itu Mudah: Agama Islam itu mudah. Rasulullah ﷺ mengajari Arab Badui salat dengan sederhana tanpa kerumitan niat yang berlebihan seperti itu.Ketegasan Sahabat Nabi: Riwayat dari Mis'ar, dari Ma'an bin Abdurrahman, dari catatan bapaknya bahwa Abdullah bin Mas'ud bersabda:Dalil: Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu berkata:"Demi Dzat yang tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Dia, aku tidak melihat seorang pun yang lebih tegas terhadap orang yang berlebih-lebihan/menyulitkan diri (mutanatti'un) melebihi Rasulullah ﷺ. Dan aku paling khawatir terhadap sikap berlebih-lebihan tersebut pada Abu Bakar, serta menurutku Umar bin Khattab adalah orang yang paling keras di muka bumi terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan dalam beragama."Melalaikan Inti Salat: Talbis iblis lainnya adalah membuat orang terlalu sibuk dengan urusan takbir dan niat, sehingga melalaikan rukun salat setelahnya. Begitu takbirnya dirasa pas, ia langsung santai seolah-olah tujuan utama salat hanyalah mengepaskan takbir. Salat dianalogikan seperti sebuah rumah; jangan sampai kita hanya sibuk di pintu masuk (takbir) tetapi justru lalai ketika sudah berada di dalam rumah (gerakan dan bacaan salat selanjutnya).🥞Skala Prioritas antara Wajib dan SunahSalah Prioritas saat Masbuk: Terlalu sibuk dengan perkara sunnah yang keliru porsinya saat masbuk. Ketika makmum masbuk mendapati imam sebentar lagi akan ruku', ia seharusnya langsung membaca Al-Fatihah, bukan malah menyibukkan diri membaca doa istiftah atau taawudz yang panjang. Membaca doa istiftah dan taawudz hukumnya sunah, sedangkan membaca Al-Fatihah adalah wajib bagi sebagian besar pendapat ulama. Jangan sampai mengejar sunah tetapi melalaikan yang wajib.Nasihat Guru Ibnu Jauzi: Kisah masa kecil Ibnu Jauzi saat ditegur oleh gurunya, Abu Bakar Ad-Dinawari, karena membaca istiftah saat masbuk. Gurunya menasihati, "Para ulama berselisih tentang wajibnya membaca Al-Fatihah di belakang imam, namun mereka sepakat doa istiftah hukumnya sunah. Maka sibukkan dirimu dengan yang wajib dan tinggalkan yang sunah."Meninggalkan Sunah karena Alasan Pribadi: Talbis iblis juga menimpa orang-orang saleh yang meninggalkan sunah-sunah Nabi karena alasan kondisi pribadi mereka yang kurang ilmu. Contohnya sengaja memilih salat di saf belakang (bukan saf pertama) dengan alasan agar hatinya lebih fokus atau takut riya. Harusnya ia tetap maju ke saf pertama demi mengejar sunah, lalu melawan penyakit riya tersebut.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا"Seandainya manusia mengetahui besarnya pahala yang ada pada azan dan saf pertama, kemudian mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan melakukan undian, niscaya mereka akan melakukan undian." (Sumber: Shahih Bukhari & Shahih Muslim, dari hadis Abu Hurairah radhiallahu 'anhu).Menjadikan Dalil Sebagai Patokan, Bukan TokohKeutamaan Saf Depan: Iblis membalikkan logika manusia untuk menjauhi saf depan dengan dalih menjaga hati.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا"Sebaik-baik saf bagi laki-laki adalah yang paling pertama, dan yang paling buruk adalah yang paling akhir." (Sumber: Shahih Muslim).Menjalankan Sunnah Gerakan Salat: Sunah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri saat bersedekap. Jangan meninggalkan sunah bersedekap atau berpura-pura tidak khusyuk hanya karena takut dinilai sok khusyuk oleh orang lain. Lawan isi hatimu dan tetap kerjakan sunah.Dalil: Riwayat bahwa Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu pernah salat dengan meletakkan tangan kiri di atas tangan kanan (terbalik), lalu Rasulullah ﷺ melihatnya dan langsung membetulkan posisi tangannya (meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri). Hal ini menunjukkan meletakkan tangan bersedekap adalah sunah yang diperintahkan untuk dijaga.Ulama Tidak Maksum: Ibnu Jauzi mengingatkan agar kita tidak mengikuti perbuatan tokoh atau orang saleh jika perbuatan mereka menyelisihi sunah, karena patokan utama dalam beragama adalah dalil syariat. Ulama tidaklah maksum dan bisa saja belum mendapati hadis tertentu.Perkataan Ulama: Kisah Imam Ahmad bin Hambal ketika diberi tahu bahwa Ibnu Mubarak berpendapat demikian (yang menyelisihi sunah), beliau menjawab: "Ibnu Mubarak tidak turun dari langit (artinya perkataannya bukan dalil dan bisa salah)." Kisah Ibrahim bin Adham yang berkata kepada orang-orang yang membawakan pendapat-pendapat cabang: "Kalian mendatangkan kepadaku jalan-jalan tikus (cabang), hendaknya kalian berpegang pada jalan utama (dalil asal)."Berlebihan dalam Tajwid & Salah Paham Hakikat IbadahBerlebihan dalam Makhraj: Bab tentang keluar dari aturan baku adab ibadah (Al-Khuruj 'an Qanuni Adabil Ibadah). Iblis menggoda orang yang salat melalui masalah makharijul huruf (tempat keluarnya huruf) dan tajwid secara berlebihan. Ada orang yang terus mengulang-ulang bacaan Alhamdulillah karena merasa makhraj hurufnya kurang fasih atau kurang menekan tasydidnya secara ekstrem.Membaca hingga Keluar Liur: Ibnu Jauzi menceritakan pernah melihat orang yang membaca Ghairil maghdlubi waladldlallin dengan penekanan huruf Dhad (ض) yang sangat ekstrem hingga air liurnya keluar. Padahal yang penting hurufnya jelas dibedakan dan tidak perlu berlebihan. Dampak buruk terlalu sibuk memikirkan makhraj huruf adalah hilangnya fokus untuk merenungkan makna dari ayat-ayat Al-Qur'an yang sedang dibaca. Tajwid seharusnya menjadi sarana untuk tadabbur, bukan tujuan akhir yang mengalihkan pikiran.Ibadah Bukan Sekadar Ritual Fisik: Iblis menipu ahli ibadah yang bodoh sehingga mereka mengira ibadah hanyalah sekadar ritual berdiri dan duduk saja, sementara mereka lalai dan kurang dalam memenuhi perkara-perkara wajib di dalamnya. Ibnu Jauzi melihat orang yang langsung ikut salam begitu imam bergerak salam, padahal bacaan tasyahud akhir dan selawatnya sendiri belum selesai dibaca. Perkara wajib ini tidak ditanggung oleh imam, jadi ia harus menyelesaikannya dulu baru ikut salam.Mengeraskan Suara di Siang Hari: Kisah Ibnu Jauzi menegur ahli ibadah yang melakukan salat sunah di siang hari tetapi mengeraskan suaranya (jahr). Orang tersebut beralasan sengaja mengeraskannya untuk mengusir rasa ngantuk. Ibnu Jauzi menasihatinya bahwa jika mengantuk, sebaiknya tidur karena tubuh memiliki hak untuk beristirahat.🥞Kekeliruan Skala Prioritas Malam vs SubuhMengorbankan yang Wajib demi yang Sunah: Iblis menipu sebagian orang agar bersemangat begadang untuk salat malam atau salat duha, bahkan kebahagiaannya melebihi saat melaksanakan salat fardu. Akibat terlalu memaksakan salat malam semalam suntuk, orang tersebut justru kelelahan dan tertidur menjelang subuh, sehingga salat subuhnya tertunda atau terlewat dari jemaah utama di masjid. Ini adalah kesalahan besar karena pahala salat fardu berjamaah jauh lebih besar daripada salat sunah malam.Siksaan Fisik yang Salah: Kisah Husain Al-Qazwini yang terus berjalan mondar-mandir di masjid pada siang hari agar tidak tertidur akibat kelelahan begadang. Perbuatan ini dikritik sebagai kebodohan yang tidak sesuai syariat dan akal karena syariat memerintahkan untuk memberikan hak istirahat bagi tubuh.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:عَلَيْكُمْ هَدْيًا قَاصِدًا ، فَإِنَّهُ مَنْ يُشَادَّ هَذَا الدِّينَ يَغْلِبْهُ"Hendaknya kalian mengikuti petunjuk yang pertengahan (sesuai sunah), karena barangsiapa yang berlebihan/memaksakan diri dalam agama ini, ia pasti akan terkalahkan (lelah sendiri)."Larangan Memaksakan Diri saat Lelah: Iblis mengelabui manusia agar mengira menyiksa diri dalam ibadah adalah bentuk ketaatan yang tinggi.Dalil: Kisah saat Rasulullah ﷺ masuk ke masjid dan melihat seutas tali milik Zainab yang dibentangkan di antara dua tiang masjid untuk berpegangan saat ia lelah salat malam. Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk melepasnya dan bersabda:لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَقْعُدْ"Hendaknya salah seorang dari kalian salat di waktu semangatnya. Jika ia lelah/malas, hendaknya ia duduk." (Sumber: Shahih Bukhari & Shahih Muslim, dari hadis Anas bin Malik radhiallahu 'anhu).Bahaya Salat saat Mengantuk: Memaksakan diri beribadah dalam kondisi mengantuk berat dapat merusak esensi doa itu sendiri.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ يُصَلِّي فَلْيَرْقُدْ حَتَّى يَذْهَبَ عَنْهُ النَّوْمُ، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا صَلَّى وَهُوَ نَاعِسٌ لَعَلَّهُ يَذْهَبُ يَسْتَغْفِرُ فَيَسُبَّ نَفْسَهُ"Jika salah seorang dari kalian mengantuk saat salat, hendaknya ia tidur terlebih dahulu sampai hilang rasa kantuknya. Karena jika salah seorang dari kalian salat dalam kondisi mengantuk, bisa jadi ia berniat memohon ampunan (istighfar) tetapi malah mencaci maki dirinya sendiri." (Sumber:Shahih Bukhari & Shahih Muslim).🥞Pola Salat Malam Salaf & Bahaya Riya HalusPola Tidur dan Salat Nabi Daud: Secara akal dan syariat, tidur berfungsi memperbarui kekuatan tubuh.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:أَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ... كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ"Salat yang paling dicintai Allah adalah salatnya Nabi Daud... Beliau tidur setengah malam pertama, bangun (salat) sepertiga malamnya, dan tidur lagi seperenam malam terakhir (sehingga bangun subuh dalam kondisi segar)." (Sumber: Shahih Bukhari & Shahih Muslim).Meluruskan Riwayat Tokoh Salaf: Mengenai riwayat para ulama Salaf yang kuat salat semalam suntuk, Ibnu Jauzi menjelaskan bahwa mereka melakukannya secara bertahap (tadarruj), sanggup menjaga salat subuh berjamaah, makan sedikit, dan memanfaatkan tidur siang (qailulah) untuk memperkuat fisik mereka. Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah tercatat begadang semalam suntuk tanpa tidur sama sekali.Fitnah Menceritakan Amal (Riya Samar): Fenomena zaman sekarang yang gemar mengunggah atau mempublikasikan amal ibadah (seperti umrah, haji, sedekah, salat malam) di media sosial. Iblis menipu orang yang rajin salat malam agar menceritakan amalnya di siang hari melalui cara-cara yang halus.Contoh Riya Halus: Seseorang berkata, "Subhanallah, muadzin tadi malam azannya tepat waktu ya." Tujuan sebenarnya mengucapkan itu adalah agar pendengar tahu bahwa dia terjaga dan tidak tidur pada waktu malam (sedang salat malam). Atau mencela orang lain secara tidak langsung, "Si Fulan itu kalau salat subuh selalu terlambat Takbiratul Ihram." Kalimat ini mengandung riya (menunjukkan dirinya selalu tepat waktu) sekaligus dosa ghibah.Penurunan Nilai Pahala: Meskipun orang tersebut merasa tidak riya, ia minimal telah memindahkan catatan amalnya dari tingkat tertinggi (amalan rahasia yang tersembunyi) menjadi amalan yang terlihat, yang mana nilai pahalanya tentu berkurang di sisi Allah.Dalil: Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:إِن تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِن تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu..." (QS. Al-Baqarah: 271).🥞Menjaga Keikhlasan & Mengontrol Isyarat AmalKeutamaan Amal Tersembunyi: Menjaga kerahasiaan ibadah adalah benteng utama dari tipu daya setan yang ingin menghapus pahala.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَكُونَ لَهُ خَبْءٌ مِنْ عَمَلٍ صَالِحٍ فَلْيَفْعَلْ"Barangsiapa di antara kalian yang mampu memiliki amalan saleh yang tersembunyi, maka lakukanlah." (Ustadz mengingatkan agar berhati-hati saat diundang ke podcast atau obrolan santai yang memicu kita menceritakan amalan masa lalu).Taktik Setan Melalui Ketenaran: Iblis menipu sebagian orang yang sengaja memilih beribadah sendirian di masjid agar dilihat orang, sehingga orang-orang kagum, memujinya, dan ikut salat di belakangnya. Pujian dan ketenaran yang viral ini akhirnya menjadi bahan bakar utama yang membuatnya semangat beribadah, bukan lagi karena keikhlasan murni.Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:اجْعَلُوا مِنْ صَلَاتِكُمْ فِي بُيُوتِكُمْ وَلَا تَتَّخِذُوهَا قُبُورًا"Jadikanlah sebagian salat (sunah) kalian di rumah-rumah kalian, dan jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan." / Sebaik-baik salat seseorang adalah di rumahnya kecuali salat fardu (Al-Maktubah). (Sumber: Shahih Bukhari & Shahih Muslim, dari hadis Zaid bin Tsabit radhiallahu 'anhu).Kegigihan Salaf Menyembunyikan Amal: Kisah Amir bin Abd Qais yang tidak suka salat sunahnya dilihat orang dan tidak mau melakukannya di masjid umum. Kisah Ibnu Abi Laila yang langsung pura-pura tidur berbaring jika ada orang masuk ke ruangannya saat ia sedang salat, demi menyembunyikan amalnya. Ada pula Salaf yang setelah salat semalam suntuk sengaja tidur sebentar menjelang subuh, lalu saat bangun subuh berkata, "Wah, tidur saya malam ini nyenyak sekali," agar orang mengira mereka tidur semalaman dan tidak tahu mereka habis salat malam.Memanfaatkan Sinyal Hati (Nafsul Lawwamah): Allah membekali manusia dengan nafsul lawwamah (jiwa yang suka mencela/mengontrol). Sifat ini akan memberikan sinyal atau alarm dalam diri saat seseorang mulai condong melakukan maksiat atau berniat pamer (riya). Riya itu terasa lezat bagi ego, namun jika sinyal hati sudah menegur, kita harus segera berhenti dan tidak melanjutkan cerita amalan tersebut.Tangisan Buatan: Iblis menggoda orang agar sengaja menangis di depan publik saat ibadah atau kajian. Menangis karena tidak bisa tertahan adalah hal yang wajar, namun sengaja menampakkan tangisan atau bahkan menyewa orang untuk memicu tangisan buatan di sebuah majelis (seperti yang terjadi pada beberapa kasus masa kini) adalah hal yang dilarang.Sikap Salaf Saat Menangis: Abu Wail jika salat di rumah sendiri akan menangis tersedu-sedu, namun ia tidak akan sudi melakukannya jika ada orang yang melihat meskipun diberi dunia dan isinya. Ayyub As-Sikhtiyani langsung berdiri meninggalkan majelis ilmu jika sudah tidak kuat menahan tangisnya agar tidak jadi perhatian orang lain. Ada pula ulama Salaf yang pura-pura mengusap air mata dengan tisu sambil berkata, "Aduh, flu saya berat sekali," demi menyembunyikan tangisan ikhlasnya agar tidak dikira pamer khusyuk.🥞KesimpulanHidup ini singkat, maka beribadahlah dengan serius dan ikhlas, serta tutup rapat-rapat segala pintu riya. Jika ada sinyal riya muncul di hati, jangan pernah melanggar sinyal tersebut. Materi mengenai talbis iblis lainnya seperti dalam membaca Al-Qur'an, puasa, riya samar, dan haji akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya.(5) Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2) - Ust Dr. Firanda Andirja M.A - YouTube

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
S
SULUNG SURYO DARMAWATI

📍 Kota Bekasi

Talbis Iblis-6

Kajian Kitab Talbis Iblis-6Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu Bagian 2Pemateri : Ustadz Firanda Andirja Hafizhahullahu Ta'ala Diawali dengan talbis iblis dalam masalah niat shalat. Di antara manusia ada yang ketika hendak shalat terus-menerus mengulangi niat atau takbiratul ihram karena merasa niatnya belum benar atau telah batal. Ada yang mengucapkan niat berulang kali, ada yang mengulang takbir berkali-kali, bahkan ada yang sampai bersumpah atas nama Allah atau mengaitkannya dengan talak agar tidak mengulangi takbir lagi. Semua ini merupakan tipu daya setan. Niat pada hakikatnya sudah ada di dalam hati ketika seseorang berdiri untuk melaksanakan shalat. Tempat niat adalah hati, bukan lisan. Seseorang yang datang ke masjid untuk salat Zuhur, misalnya, sudah pasti memiliki niat shalat Zuhur. Karena itu tidak perlu mengulang-ulang niat ataupun takbir.Ibnu Jauzi menjelaskan bahwa waswas dalam niat muncul karena kebodohan terhadap syariat. Beliau menukil kisah seseorang yang berkata bahwa ia telah berwudu tetapi merasa belum berwudu, atau sudah bertakbir namun merasa belum bertakbir. Maka dijawab oleh Ibnu Aqil bahwa orang seperti itu tidak wajib shalat, karena jika seseorang sudah melakukan sesuatu lalu meyakini dirinya belum melakukannya, maka akalnya bermasalah. Waswas semacam ini menunjukkan adanya gangguan dalam cara berpikir seseorang.Beliau kemudian menerangkan bahwa niat adalah perkara yang sangat mudah. Ketika seseorang ingin shalat Magrib, dalam satu saat seluruh gambaran shalat tersebut sudah hadir dalam hatinya, shalat Magrib, tiga rakaat, menghadap kiblat, menjadi makmum atau imam. Semua itu tidak membutuhkan lafal panjang. Yang panjang hanyalah ketika niat tersebut diuraikan menjadi kalimat-kalimat seperti “ushalli fardhal maghribi tsalatsa raka’atin mustaqbilal qiblati…” dan seterusnya. Padahal syariat tidak mewajibkan pelafalan niat tersebut.Di antara dampak buruk waswas adalah seseorang terlalu fokus pada niat dan takbir sehingga melupakan shalat itu sendiri. Setelah merasa niat dan takbirnya sudah pas, ia menjadi lalai dalam kekhusyukan dan perhatian terhadap rukun-rukun salat berikutnya. Padahal takbiratul ihram hanyalah pintu masuk menuju shalat. Tujuannya adalah masuk ke dalam ibadah, bukan berhenti pada pintunya saja.Talbis berikutnya adalah mendahulukan amalan sunnah hingga mengorbankan amalan wajib. Contohnya seseorang yang datang terlambat ke shalat berjamaah lalu masih sibuk membaca doa iftitah dan ta’awudz, padahal imam hampir rukuk. Akibatnya ia terancam tidak sempat membaca Al Fatihah. Padahal iftitah dan ta’awudz hukumnya sunnah, sedangkan Al Fatihah menurut banyak ulama hukumnya wajib. Karena itu seorang muslim harus memahami skala prioritas dalam ibadah.Setan juga menipu sebagian orang dengan membuat mereka meninggalkan sunnah karena alasan-alasan pribadi. Ada yang sengaja tidak berada di shaf pertama karena takut riya atau merasa lebih khusyuk di belakang. Ada pula yang tidak bersedekap ketika salat karena khawatir dianggap khusyuk padahal hatinya belum khusyuk. Ibnu Jauzi menegaskan bahwa sikap seperti ini tidak benar. Yang seharusnya dilakukan adalah menjalankan sunnah dan memperbaiki hati, bukan meninggalkan sunnah demi mengikuti perasaan diri sendiri. Ukuran kebenaran adalah dalil, bukan perasaan ataupun kebiasaan sebagian orang saleh.Beliau juga mengingatkan bahwa ulama bukanlah orang yang maksum. Jika ada pendapat seorang ulama yang bertentangan dengan dalil yang lebih kuat, maka yang diikuti adalah dalil. Kemuliaan seseorang tidak menjadikan seluruh pendapatnya pasti benar. Oleh karena itu seorang muslim harus selalu mengembalikan segala perkara kepada Al Qur’an dan Sunnah.Talbis lain yang sering terjadi adalah berlebihan dalam memperhatikan makharijul huruf ketika membaca Al Qur’an di dalam shalat. Ada yang mengulang-ulang bacaan karena merasa hurufnya kurang tepat, ada yang mengeluarkan suara secara berlebihan sampai keluar ludahnya. Akibatnya ia keluar dari tuntunan shalat yang benar dan justru sibuk memikirkan tajwid hingga melupakan makna ayat yang sedang dibaca. Padahal tujuan tajwid adalah membantu memahami dan membaca Al Qur’an dengan baik, bukan membuat seseorang terjebak dalam waswas.Ibnu Jauzi juga menjelaskan bahwa sebagian ahli ibadah yang kurang ilmu mengira ibadah hanya sebatas memperbanyak gerakan shalat, berdiri dan rukuk. Akibatnya mereka sering mengabaikan kewajiban-kewajiban dalam shalat. Ada yang langsung salam mengikuti imam padahal tasyahudnya sendiri belum selesai. Ada pula yang memanjangkan salat sunnah tetapi melakukan hal-hal yang makruh atau meninggalkan tuntunan Nabi.Termasuk talbis iblis adalah memperbanyak ibadah sunnah hingga mengorbankan ibadah wajib. Ada orang yang sangat bersemangat shalat malam, shalat duha, dan amalan-amalan sunnah lainnya, tetapi akhirnya terlambat atau kehilangan kekhusyukan dalam shalat Subuh. Padahal shalat fardu jauh lebih utama daripada salat sunnah. Karena itu seseorang harus lebih bergembira ketika mampu menjaga shalat wajib daripada ketika berhasil memperbanyak amalan sunnah.Beliau juga menegaskan bahwa tubuh memiliki hak untuk beristirahat. Syariat tidak mengajarkan seseorang memaksakan diri hingga merusak fisiknya. Nabi melarang orang yang mengantuk untuk terus memaksakan shalat, bahkan memerintahkan agar ia tidur terlebih dahulu sampai segar kembali. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi, yaitu ibadah yang seimbang, tidak berlebihan dan tidak meremehkan.Setan menggoda sebagian orang untuk memberitahukan ibadahnya kepada orang lain secara langsung maupun tidak langsung. Ada yang memberi isyarat bahwa dirinya bangun malam, selalu mendapatkan takbiratul ihram, atau rutin beribadah di masjid agar diketahui manusia. Jika tidak sampai kepada riya, minimal amalan yang tadinya tersembunyi berubah menjadi amalan yang diketahui orang banyak sehingga berkurang nilainya. Karena itu para salaf sangat menjaga kerahasiaan ibadah mereka. Mereka berusaha menyembunyikan shalat malam, tangisan, dan berbagai amal shalih lainnya dari pandangan iblis. Iblis memiliki banyak jalan untuk merusak ibadah manusia, baik melalui waswas, sikap berlebihan, salah prioritas, meninggalkan sunnah karena mengikuti perasaan, maupun melalui penyakit riya. Seorang muslim harus selalu menimbang amalnya dengan ilmu, mengikuti tuntunan Nabi, menjaga keikhlasan, serta mendahulukan amalan wajib daripada amalan sunnah agar selamat dari berbagai tipu daya setan dalam beribadah.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026

TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI ILMU

Waswas dalam Niat dan Takbir: Ust Firanda menjelaskan bagaimana Iblis sering membisikkan keraguan saat seseorang berniat salat atau melakukan takbir, membuat mereka merasa perlu mengulang-ulang niat atau takbir padahal salat mereka sudah sah. Iblis ingin membuat orang tersebut melewatkan keutamaan Takbiratul Ihram.​Penyakit Waswas: Dijelaskan bahwa waswas seringkali berakar dari kebodohan terhadap syariat atau adanya gangguan pada akal. Niat sebenarnya hanyalah lintasan di hati, tidak perlu diurai secara rumit dengan lafal yang panjang.​Prioritas dalam Ibadah: Ustadz mengingatkan pentingnya menempatkan yang wajib di atas yang sunnah. Contohnya, jika sudah masbuk, langsung baca Al-Fatihah (yang wajib) daripada sibuk dengan doa istiftah atau taawudz (yang sunnah) hingga tertinggal rukuk imam.​Sunnah Nabi vs. Perasaan Pribadi: Jangan meninggalkan sunnah (seperti saf pertama atau cara bersedekap) hanya karena alasan perasaan pribadi seperti takut riya. Seharusnya, kita memperbaiki hati (keikhlasan) bukan meninggalkan sunnah.​Kekeliruan dalam Menghilangkan Ngantuk: Beberapa orang mencoba melawan kantuk dengan cara yang tidak syar'i, seperti mengeraskan bacaan saat salat siang atau berjalan-jalan di masjid. Seharusnya, jika mengantuk, sebaiknya tidur terlebih dahulu agar saat salat badan sudah segar.​Fitnah Menampilkan Amal (Riya): Ustadz mengingatkan bahaya menceritakan amal saleh secara halus untuk mendapatkan pujian, yang bisa menghilangkan atau mengurangi pahala keikhlasan. Amal yang disembunyikan jauh lebih baik.​Tanda-Tanda Riya: Orang memiliki nafsul lawamah (jiwa yang mencela) yang bisa memberi sinyal saat kita akan melakukan riya. Jangan abaikan sinyal tersebut.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
B
Baby Nabilah Ulzanah

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Talbis iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2) - Ust Dr. Firanda Andirja M.A

Tipu Daya (Talbis) Iblis Terhadap Ahli IbadahIblis memiliki berbagai cara halus untuk merusak ibadah seseorang, bahkan bagi mereka yang rajin beribadah sekalipun. Berikut adalah bentuk-bentuk tipu dayanya:1. Penyakit Waswas dan Berlebih-lebihan (Ghuluw)Waswas dalam Niat: Iblis membuat seseorang ragu apakah niat salatnya sudah benar, sehingga ia melafalkannya berulang kali. Padahal, niat yang terbesit di dalam hati sudah sah.Waswas Batal Wudhu: Menanamkan keraguan bahwa wudhu telah batal. Hal ini bisa ditepis dengan cerdas seperti kisah Abu Hasyim. Saat Iblis membisikkan bahwa wudhunya batal dan sholatnya tidak sah, ia menjawab, "Sejak kapan Iblis peduli pada kesempurnaan ibadahku?"Berlebihan dalam Tajwid: Mengulang-ulang bacaan sholat karena terlalu fokus dan kaku pada tajwid. Hal ini justru membuat seseorang kehilangan kekhusyukan dan lupa pada makna ayat yang dibaca.2. Kesalahan Prioritas dalam IbadahMakmum Masbuk yang Salah Fokus: Ketika terlambat mengikuti sholat jemaah (masbuk), seseorang malah sibuk membaca doa Istiftah (yang hukumnya sunah) hingga kehilangan waktu untuk membaca surah Al-Fatihah (yang hukumnya wajib).Sholat Malam Mengorbankan Subuh: Menghidupkan malam dengan sholat Tahajud (sunnah), namun akibatnya tertidur lelap dan tertinggal sholat Subuh berjemaah (wajib).Mengabaikan Hak Tubuh: Memaksakan diri untuk terus salat dalam keadaan sangat mengantuk. Padahal, tubuh memiliki hak untuk beristirahat agar ibadah selanjutnya dapat dilakukan dengan optimal dan sadar.3. Jebakan Riya' (Ingin Dipuji) dan Fitnah AmalMenghindari Saf Depan karena Takut Riya': Seseorang mundur dari saf terdepan (saf terbaik bagi laki-laki) semata-mata karena takut timbul perasaan riya'. Sikap yang tepat adalah tetap mengambil saf terdepan dan berjuang melawan perasaan riya' tersebut.Menceritakan Amal Saleh: Terjebak untuk memamerkan ibadahnya kepada orang lain. Padahal, amal saleh yang disembunyikan jauh lebih utama dan aman dari fitnah.Menghindari Ibadah Sunnah di Rumah: Iblis membuat seseorang lebih suka sholat sunnah di masjid agar dilihat orang. Padahal, sholat sunnah terbaik dilakukan di rumah untuk menghindari riya'. Hati manusia memiliki insting untuk mendeteksi datangnya riya', maka tugas kita adalah melawannya, bukan membatalkan amalan.Memamerkan Tangisan: Menangis saat beribadah memang baik, namun para ulama Salaf selalu berusaha menyembunyikan tangisannya dari hadapan manusia, kecuali jika memang sudah tidak bisa ditahan.4. Taklid Buta (Ikut-ikutan Tanpa Ilmu)Mengikuti Tokoh Tanpa Dalil: Menjadikan perkataan orang saleh atau satu buku fikih sebagai kebenaran mutlak. Padahal, ulama bisa saja keliru dan di dalam ilmu fikih sering terdapat perbedaan pendapat (khilaf). Beragama yang benar adalah dengan mengikuti dalil, bukan sekadar ikut-ikutan figur tertentu.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
U
Ulfah nur latifah

📍 Kota Bekasi

Talbis iblis terhadap ahli ilmu#3

Iblis menjadikan tipu daya dalm kebaikan sehingga ia pun menjadi berlebihan, mereka menganggap dengan berlebihan itu baik , pada hakikatnya Allah tidak menyuruh seperti itu, Ibnu Mas'ud berkata sholatlah sebagaimana nabi daud sholat, dia melakukan 1/3 untuk tahajjud dan 1/6 untuk tidur kembali seusai sholat malam, karna ada hal dalam tubuhmu

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
F
Fitri Febriyanti

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Catatan Talbis Iblis terhadap ahli ilmu bag 2

Talbis Iblis terhadap ahli ilmu bag 2 • Terhadap niat sholat Niat itu tidak terbatalkan jika sudah diniatkan dalam hati meskipun yg filafalkan kurang pas. Harusnya dia tidak perlu ragu ragu karena niatnya sudah benar. Itu semua karena was was. Sampai saat bertakbir pun bersumpah agar tidak mengulangi takbir semua inilah adalah Untuk menghilangkan talbis ini maka dikatakan jika bacaan niat ini untuk menghadirkan niat itu sudah ada ketika kamu berdiri itu sudah ada niat karena niat letaknya di hati. Tapi jika untuk mengokohkan maka cukup sekali. Jika kau terus mengulang ngulangnya mungkin karena kau sakit. Wahai ibnu akil sesungguhnya aku telah membasuh anggota wudhu, tapi saya bilang saya blm basuh. Maka ibnu akil berkata kalau gitu kamu tidak usah sholat, karena sholat tidak wajib bagi mu. Kenapa kamu bicara demikian? Ibnu akit berkata "Rosulullah bersabda terangkatnya kewajiban sholat bagi orang yang gila hingga terangkatny penyakit gila tsb." Karena org gila tidak wajib sholat. Ibnu jauzi berkata ketahuilah was was niat dalam sholat tandanya ada konslet diakal. Niat itu sudah ada dalam hatinya, maka tidak perlu diucapkan niatnya Iblis telah banyak menggoda orang dengan membisikkan bahwa ibadah cukup hanya dengan gerakannya saja. Ibnu jauzi berkata kalau tasyahud kita blm selesai maka selesaikan bagian yg tasyahud wajib selesaikan dulu barh salam karena tidak ditanggung oleh imam.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Materi 6

Talbis Iblis #6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2) Ust Dr. Firanda Andirja M.A":​Kata Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala, di antara tipu daya iblis adalah :🌷Masalah niat salat. Ada orang yang berkata "usholli" (saya berniat salat) kemudian dia mengulangi lagi karena menyangka niatnya batal. Padahal niat itu tidak batal, mungkin hanya lafalnya yang tidak pas, tapi niat aslinya sudah ada. Harusnya dia tidak perlu ragu karena salatnya sudah sah.🌷Ada juga orang yang bertakbir "Allahu Akbar", lalu membatalkan, kemudian mengulangi lagi terus-menerus. Namun, ketika imam sudah ruku, tiba-tiba dia bisa konsentrasi dan takbir. Mengapa tiba-tiba niatnya hadir? Itu adalah godaan iblis agar dia terluput dari keutamaan Takbiratul Ihram. 🌷Bahkan ada yang bersumpah dengan nama Allah atau bersumpah akan menceraikan istrinya jika dia mengulangi takbir lagi. Ini semua adalah talbis dari iblis untuk menyusahkan diri. Padahal, syariat kita mudah dan ringan.​🖊Telah sampai riwayat dari Abu Hazim. Ketika dia masuk masjid, iblis membisikkan bahwa dia salat tanpa wudu. Abu Hazim menjawab, "Sejak kapan kau menasihatiku, wahai iblis?" Dia menepis bisikan itu. Untuk menghilangkan kerancuan (waswas) ini, ingatlah bahwa tempat niat adalah di hati, bukan di lafal. Jika tujuanmu adalah menghadirkan niat, niat itu sudah ada di hatimu sejak kau hendak menjalankan salat fardu.🖊​Sebagian guru kami meriwayatkan hikayat dari Ibnu Aqil. Ada seseorang bertanya kepadanya, "Wahai Ibnu Aqil, aku telah membasuh anggota wudu, tapi perasaanku bilang aku belum membasuh. Aku sudah bertakbir, tapi bilang aku belum bertakbir." Ibnu Aqil menjawab, "Kalau begitu, kau tidak usah salat, karena pena diangkat dari orang gila sampai dia sadar." Ini menunjukkan bahwa waswas adalah penyakit dan sebabnya adalah konslet di akal karena kebodohan terhadap syariat.🌷​Niat itu tidak butuh waktu panjang untuk merenungkannya. Begitu kita hendak salat, niat itu sudah terbetik dalam hati. Adapun yang butuh waktu lama adalah jika kita menguraikan lafal niat. Jika kita ingin membebani diri dengan menguraikan lafal niat yang panjang, itu memang sulit. Maka, niatlah dengan mudah. Boleh juga niat didahulukan sebelum takbir selama tidak membatalkannya.​Islam tidak sesusah itu. Rasulullah dulu mengajarkan salat kepada orang Badwi dengan mudah, tanpa perlu mempersulit diri. Abdullah bin Mas'ud berkata bahwa dia tidak melihat orang yang lebih keras terhadap orang yang berlebih-lebihan dalam beragama selain Umar bin Khattab. Janganlah berlebih-lebihan, karena itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabat.🌷​Di antara talbis iblis lainnya adalah orang yang sibuk dengan urusan niat dan takbir sehingga sisa salatnya tidak diperhatikan. Seakan-akan tujuan salat hanya pada takbir. Ingat, takbir hanyalah pintu masuk; setelah masuk, sibuklah dengan ibadah di dalam salat itu sendiri.🌷​Ada pula orang yang sibuk dengan hal sunah tetapi meninggalkan yang wajib. Contohnya, saat masbuk, seseorang sibuk membaca doa istiftah dan taawuz yang hukumnya sunah, sehingga dia tidak sempat membaca Al-Fatihah yang hukumnya wajib bagi makmum menurut sebagian ulama. Jika waktu sedikit, langsung saja baca Al-Fatihah.🌷​Iblis juga menggoda orang untuk meninggalkan banyak sunah karena alasan pribadi. Contohnya, ada yang sengaja tidak di saf pertama karena takut riya. Padahal, seharusnya dia melawan perasaan riya tersebut dengan tetap mengambil saf pertama, bukan malah meninggalkannya. Rasulullah bersabda bahwa seandainya manusia tahu keutamaan saf pertama, mereka akan melakukan undian untuk mendapatkannya. Jika kita takut riya, perbaiki hatimu, bukan dengan meninggalkan sunah.🖊​Ibnu Jauzi menegaskan bahwa kita terikat dengan dalil, bukan mengikuti orang saleh yang melakukan perbuatan menyelisihi sunah. Ulama tidak maksum; mereka bisa saja salah atau belum sampai hadis kepadanya.🌷​Iblis juga menggoda dalam masalah makharijul huruf (tajwid) hingga berlebihan dan membuat orang lupa pada makna ayat yang dibaca. Cukuplah membaca dengan benar tanpa perlu berlebihan hingga keluar ludah atau menekan huruf terlalu keras.🌷​Setan juga menggoda orang yang salat fardu berjamaah agar ikut salam bersama imam, padahal dia belum menyelesaikan tasyahud yang wajib. Jika belum selesai, selesaikanlah tasyahudmu, tidak perlu terburu-buru mengikuti salam imam.​Ada pula yang begadang untuk salat malam, tetapi justru melalaikan salat fardu subuh atau salat dalam kondisi ngantuk dan malas. Ini salah, karena salat fardu lebih utama. Jika mengantuk, tidurlah agar bisa segar saat salat fardu. Tubuh memiliki hak untuk istirahat. Rasulullah memerintahkan untuk mengikuti petunjuk tengah, karena siapa yang berlebih-lebihan dalam beragama, dia akan kalah.🌷​Fitnah menceritakan amal saleh juga merupakan talbis iblis. Jika kita melakukan amal saleh, sembunyikanlah. Jika kita menceritakannya, meskipun dengan cara halus atau tersirat, pahalanya akan berkurang atau hilang. Hati-hati juga terhadap riya dalam tangisan saat salat atau saat mendengarkan kajian. Jika memang menangis karena takut kepada Allah, biarkanlah. Tapi jika mampu menahan dan berpura-pura, itu berbahaya.​Iblis akan terus menggoda dalam banyak hal. Hidup hanya sebentar, maka beribadahlah dengan serius, ikhlas kepada Allah, dan tutup segala pintu riya. Jika ada sinyal dalam hati bahwa kita sedang melakukan riya atau pamer, berhentilah segera.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
E
Ellisa Septiana

📍 Kota Depok

Talbis iblis #6 : Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2)-Ustadz dr.Firanda-

Talbis iblis #6 : Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2)-Ustadz dr.Firanda-Satu tipu daya iblis dalam niat salat adalah munculnya rasa waswas yang berlebihan dalam melafalkan niat salat, seperti mengulangi niat dan takbir berulang kali karena merasa telah membatalkan niat sebelumnya. Contohnya seseorang yang sudah berniat salat Zuhur tetapi karena salah lafaz atau ragu, ia ulang lagi niatnya berkali-kali, padahal sebenarnya niat itu sudah tetap dan tidak batal hanya karena kesalahan lafaz.Kisah Abu Hazim yang mendapat bisikan iblis tentang salat tanpa wudu dijadikan contoh bagaimana seorang muslim yang berilmu menepis bisikan tersebut dengan mempertegas bahwa iblis tidak pernah memberi nasihat baik. Ini mengilustrasikan bahwa waswas datang sebagai gangguan dan tipuan untuk merusak ibadah.Cara menghilangkan waswas dalam niat adalah dengan menyadari bahwa niat dalam salat sudah ada sejak hati berkeinginan untuk salat dan tidak perlu dilafalkan atau diulangi terus-menerus. Niat itu berada di hati dan sekali hadir sudah cukup.Al Imam Ibnu Jauzi menjelaskan bahwa ada orang yang sangat waswas sampai menganggap yang telah dilakukan belum dilakukan, padahal sudah. Dari sebuah riwayat dari Ibnu Aqil, orang seperti ini dianjurkan untuk tidak salat, karena menunjukkan ketidakwarasan (gila) yang membuatnya tidak wajib salat sebagaimana ada hadis bahwa orang gila diangkat kewajiban salatnya sampai sadar.Sebab utama waswas adalah kebodohan terhadap syariat dan terlalu memperinci niat dengan lafaz yang berlebihan. Contohnya, tidak perlu mengucapkan panjang lebar niat seperti “Usoli fardhal zuhrir arba rakaatin…” secara rinci dalam hati, karena niat itu sudah hadir spontan saat hendak memulai salat.Penegasan bahwa niat adalah dalam hati dan muncul secara spontan. Seorang yang hendak salat Zuhur atau Magrib sudah terpikirkan secara otomatis detailnya seperti rakaat dan menghadap kiblat tanpa harus dilafalkan secara verbal atau mental satu per satu.Disebutkan juga bahwa boleh mendahulukan niat sebelum takbiratul ihram, asalkan niat tidak batal. Meski secara fikih niat harus berada bersamaan atau tepat dengan rukun pertama salat (yakni takbir), dalam praktiknya Islam tidak membebani dengan hal yang terlalu sulit.Perbandingan dengan wudu: niat wudu diserukan bersamaan dengan melakukan rukun wudu pertama yaitu mencuci wajah. Dalam salat, rukun pertama adalah takbiratul ihram; walau demikian, sebagian orang sulit menyinkronkan niat panjang dengan takbir sehingga muncul waswas.Penegasan bahwa Islam tidak sesulit yang dibayangkan dalam masalah niat dan takbir. Rasulullah mengajarkan salat yang sederhana tanpa menyulitkan, berbeda dengan keinginan terlalu sempurna sehingga malah menjadi beban dan sumber waswas.Dari kitab tulisan Abdullah bin Mas’ud disebutkan bahwa beliau sangat keras menolak orang yang berlebih-lebihan dan menyulitkan diri dalam agama. Abu Bakar dan Umar juga sangat khawatir terhadap ekstremisme ini. Ini menegaskan bahwa berlebihan dalam beragama bukan sunah dan bernilai negatif.Satu tipu daya iblis adalah membuat seseorang terlalu sibuk pada urusan niat atau takbir yang “pas”, sehingga lupa memperhatikan keseluruhan salat. Contohnya, seseorang sudah merasa niat dan takbir sudah benar, lalu santai dan lalai dari rukun atau sunnah salat selanjutnya.Contoh lain adalah orang yang sudah terlambat mengikuti imam dan membacakan doa istiftah (sunah) yang panjang sehingga Imam rukuk duluan dan makmum kesulitan mengikutinya. Sebaiknya jika sudah masbuk dan waktu sempit, langsung membaca al-Fatihah tanpa doa tambahan agar tidak tertinggal imam.Penekanan bahwa al-Fatihah wajib dibaca oleh makmum, sementara doa istiftah dan ta’awwudz hukumnya sunnah, sehingga jangan sampai prioritas terganggu. Lebih baik meninggalkan yang sunnah daripada meninggalkan yang wajib.Contoh lain adalah orang yang meninggalkan sunnah salat karena kondisi pribadinya, misalnya takut riak, sehingga shaf tidak di depan atau salat dengan cara yang tidak biasa. Ibnu Jauzi mengatakan ini akibat kurang ilmu walaupun orang tersebut shalih.Hadis Abu Hurairah mengajarkan keutamaan saf pertama dalam salat berjamaah. Oleh karena itu, jangan takut mengambil saf terbaik karena riak; sebenarnya riak itu harus dilawan dengan istiqamah mengerjakan sunnah, bukan meninggalkannya.Cara meletakkan tangan saat salat pun termasuk sunnah. Ibnu Mas’ud pernah diperbaiki Nabi ketika letakkan tangan dengan cara yang salah. Jangan meninggalkan sunnah karena alasan pribadi seperti takut riak, sebab sunnah harus dilakukan dengan niat yang lurus dan hati yang benar.Ibnu Jauzi menegaskan bahwa patokan utama adalah dalil syariat, bukan mengikuti pendapat ulama secara membabi buta, karena ulama juga manusia biasa yang bisa salah. Oleh karena itu, dalam perselisihan harus mencari dalil mana yang paling kuat.Iblis juga menggoda dengan cara membuat orang terlena memperbaiki makharij huruf dan tajwid yang berlebihan saat membaca Al-Qur’an, hingga mereka menjadi sibuk dengan bacaan sampai keluar air ludah dan mengabaikan makna bacaan.Berikutnya, iblis menggoda orang ahli ibadah yang bodoh karena mengira ibadah hanyalah berdiri duduk tanpa memperhatikan ketepatan rukun wajib dan sunnah. Contohnya orang yang ikut salam imam sebelum selesai tasyahhud dan mengabaikan syarat-syarat salat dengan benar.Ada juga yang terlalu memanjangkan membaca Al-Qur`an dalam salat atau menggunakan suara keras saat salat siang demi menghilangkan kantuk, padahal sunnah orang ngantuk sebaiknya beristirahat, bukan memaksakan diri dan mengganggu ibadahIblis menipu juga dengan membuat orang sibuk dengan shalat malam dan lupa shalat fardhu, sehingga terlambat atau tidak fokus mengerjakan shalat wajib berjamaah yang pahalanya lebih besar.Dijelaskan pula bahwa tubuh punya hak untuk beristirahat dan sunnah Nabi adalah tidur cukup agar ibadah dilakukan dengan penuh semangat, contohnya salat Nabi Daud yang tidurnya teratur dibagi menjadi tiga bagian.Mengenai salat malam yang ekstrem, para salaf melakukannya secara bertahap dan bukan tiba-tiba. Nabi SAW sendiri tidak pernah begadang semalam suntuk tanpa tidur sama sekali. Maka tidak dianjurkan meniru yang ekstrem tanpa kemampuan fisik.Selanjutnya, bahaya riya’ dan pamer dalam beribadah ditegaskan. Iblis menipu orang-orang yang suka mempublikasikan amal salihnya dengan riak halus, misalnya menceritakan salat malam, umrah, atau sedekah agar dipuji orang lain.Nabi SAW menyatakan bahwa amal baik yang disembunyikan lebih utama daripada yang dipublikasikan. Jika riya mengotori amal salih, pahala bisa hilang bahkan menjadi dosa, sehingga harus berhati-hati dalam menceritakan amal ibadah.Ada juga godaan iblis kepada orang yang rajin membaca Qur’an di masjid, sampai ketenaran mereka menjadi tujuan beribadah bukan keikhlasan. Rasulullah menganjurkan agar salat sunnah sebaiknya dilakukan di rumah agar terjaga keikhlasan.Kisah para salaf yang menyembunyikan ibadahnya agar tidak dikenal menegaskan pentingnya menutup amal baik dari publik agar terhindar dari riya’. Contohnya datang orang ke masjid, seseorang pura-pura tidur agar orang tidak tahu sedang salat malam.Jiwa manusia memiliki nafsul lawamah, yakni jiwa yang selalu mencela bila berbuat maksiat atau riya, sebagai kontrol diri agar tidak terjerumus ke dalam dosa. Bila muncul sinyal ini, disarankan untuk segera berhenti dari perilaku tersebut.Walau ada godaan untuk menunjukkan kesedihan atau tangisan dalam ibadah agar dilihat orang, disarankan untuk tahan dan sembunyikan agar ibadah tetap ikhlas dan tidak hilang pahala karena riya’.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

KITAB KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 1

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.Beliau adalah Dr. Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala, seorang ulama di kerajaan Saudi Arabia dan beliau adalah pengajar di Masjid Nabawi dan juga di Masjidil Haram.Dan karangan beliau yang akan kita bahas ini adalah termasuk tulisan yang sangat bermanfaat berkaitan dengan adab-adab seorang penuntut ilmu.Dan seorang yang ingin mendapatkan ilmu agama maka seharusnyalah dia mempelajari adab-adab di dalam menuntut ilmu. Ilmu bukan hanya didapatkan dengan semangat tapi harus disertai dengan adab-adab. Kalau dia tidak memperhatikan adab-adab ini, maka dikhawatirkan dia tidak bisa mendapatkan ilmu yang dia inginkan atau dengan susah payah dia mendapatkan ilmu tersebut.Dan kitab yang akan kita pelajari bersama, dia tidak terlalu panjang sehingga perlu pembahasan yang berbulan-bulan, demikian pula tidak terlalu pendek, namun sedang. Dan kita berharap semoga Allāh ﷻ memberkahi waktu kita, sehingga kita bisa menyelesaikan kitab ini dan tentunya kita berharap kita bisa mengambil manfaat dan bisa mengamalkan apa yang kita pelajari bersama ini.Beliau mengatakan, hafidzahullahu ta’ala,بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِMemulai kitabnya dengan basmalah karena mengikuti Allāh ﷻ di dalam Al-Qur’an, karena Allāh ﷻ memulai kitabnya dengan بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ dan juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullāh ﷺ karena Beliau ketika mengirim surat-surat yang isinya adalah dakwah, maka Beliau ﷺ memulai surat-surat tersebut dengan basmalah, dan kitab ini isinya adalah dakwah dan juga peringatan.Kemudian beliau mengatakan,الحمدُ لله الْمعظَّمِ بالتَّوحيد، وصلَّى الله وسلَّم على عبدِهِ ورسولِهِ محمَّدٍ الْمخصوصِ بأجلِّ المزيد، وعلى آله وصحبه أُولي الفضل والرَّأي السَّديدSetelah Basmalah maka beliau memuji Allāh ﷻ kemudian mengucapkan shalawat dan salam untuk Rasulullāh ﷺ dan tidak lupa beliau juga mengucapkan shalawat dan salam untuk keluarga Beliau ﷺ para sahabat Beliau ﷺ radhiallāhu ta’ala ‘anhum jami’an.Kemudian beliau mengatakan,أمَّا بعدُAdapun setelah itu,فهذه من كتابي “تعظيمِ العلمِ” خُلاصةُ اللَّفظ، أُعِدَّت بالتقاطها لمقصَد الحفظ، فاستُخرِج منه للمنفعة المذكورة اللُّباب، وجُعِل فيه الأُنموذج من كلِّ بابٍMaka ini adalah ringkasan atau inti lafadz dari kitabku yang bernama Ta’dzhimul ‘Ilm.Makanya judulnya adalah Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm. Khulashah artinya adalah inti. Kitab beliau ini adalah inti dari kitab beliau yang lain, yaitu Ta’dzhimul ‘Ilm. Berarti Ta’dzhimul ‘Ilm tentunya itu lebih luas karena ini adalah intinya.Beliau melakukan hal ini, yaitu menjadikan di sana kitab yang lain selain Ta’dzhimul ‘Ilm dan itu merupakan inti dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm. Beliau mengatakan maksud beliau adalah untuk dihafalkan. Maka ini diperlukan lafadz yang sedikit. Dan semakin dalam maknanya maka tentunya ini lebih bagus untuk dijadikan hafalan.فاستُخرِج منه للمنفعة المذكورة اللُّبابSehingga karena tujuannya adalah untuk dihafal maka diambillah dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm intinya. Jadi terkadang dirubah lafadznya.Ini perbedaan wallāhu a’lam antara ikhtishar dengan khulashah. Kalau ikhtishar ini dihilangkan seperti misalnya Mukhtashar Shahih Al-Bukhari maka dihilangkan sanadnya misalnya.Tapi kalau khulashah, maka ini mungkin saja di situ ada perubahan lafadz karena yang dimaksud dengan khulashah adalah naqawah, yaitu intinya.وجُعِل فيه الأُنموذج من كلِّ بابٍKemudian dijadikan di sana contoh dari setiap bab.Beliau berusaha mendatangkan intinya kemudian mendatangkan pemisalannya.ليكونَ في نفوس الطَّلبة شمسَ النَّهار، ويتَرشَّحوا بعدَه إلى العمل والادِّكارDibuat tidak sepanjang Ta’dzhimul ‘Ilm tapi dijadikan di sana intinya saja kemudian dibuat di sana permisalan adalah supaya:Menjadi seperti matahari di siang hari bagi para penuntut ilmu.Maksudnya di sini adalah supaya menjadi lebih jelas perkaranya, sebagaimana terangnya matahari di siang hari, sehingga mudah dipahami oleh para penuntut ilmu agama.Kemudian bukan hanya dari sisi keilmuan dan kejelasan dan juga kepahaman, tapi supaya mereka mempersiapkan dirinya setelah itu, yaitu setelah memahami untuk mengamalkan dan juga mengingat-ingat atau mengambil pelajaran, dia bisa mengamalkan kalau dia bisa memahami.Dia bisa memahami kalau dibuat bukunya tadi, dicarikan intinya, dan dibuat permisalan. Karena terkadang kalau terlalu panjang kitabnya, mungkin sebagian penuntut ilmu malah tidak paham. Kalau tidak paham, bagaimana dia bisa mengamalkan dan bagaimana dia bisa mengambil pelajaran. Tapi ketika dibuat intinya, maka dia bisa memahami, kemudian setelah itu dia bisa mengamalkan, dan itu yang kita harapkan.Tujuan kita menuntut ilmu adalah untuk mengamalkan, bukan hanya sekedar dihafal.Maka tentunya ini adalah maksud yang sangat baik dan muafaq dari Syaikh, beliau menjadikan di sana inti dari kitab Ta’dzhimul ‘Ilm Kemudian beliau beri nama dengan Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm tujuannya adalah supaya bisa dipahami oleh kita semuanya dan dari situ bisa kita amalkan dan kita bisa mengambil pelajaran.Kemudian beliau berdo’a,فأسألُ اللهَ لي ولهم لزومَ معاقدِ التَّعظيم، والفوزَ بجوامعِ فضلِهِ العظيمMaka aku meminta kepada Allāh ﷻ untukku dan untuk mereka (para penuntut ilmu).Beliau mendoakan untuk beliau sendiri karena asalnya memang kita mendo’akan untuk diri kita sendiri, kemudian tidak lupa beliau mendo’akan untuk para penuntut ilmu, mendo’akan dengan kebaikan, yaitu supaya mereka melazimi dan berpegang teguh dengan simpul-simpul (prinsip-prinsip) pengagungan terhadap ilmu, bukan hanya sekedar memahami kitab beliau tapi juga berpegang teguh dan istiqamah di atas simpul pengagungan tadi, kemudian dan juga keberuntungan mendapatkan karunia yang besar dari Allāh ﷻ.Dan yang pertama tadi yang kita baca adalah mukadimah dari kitab Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilm.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
E
Elsa Ulfah Hakim

📍 Luar Indonesia

Talbis Iblis 6: Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu bagian 2

Talbis 6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu 2Ustadz Dr. Firanda AndirjaTalbis Iblis dalam niat sholat.Iblis menggoda seseorang untuk mengulang pelafalan niatnya karena menurutnya niatnya batal padahal jika sudah niat dari hatinya itu sudah cukup, sholatnya sah.Iblis menggoda seseorang dengan rasa was-was ketika takbiratul ihram sehingga ia mengulang takbirnya berkali-kali namun saat imam rukuk, ia tiba-tiba yakin takbir dan langsung ikut rukuk karena tidak ingin ketinggalan rakaat sholat. Hal ini dikarenakan godaan iblis yang menginginkan seseorang untuk tidak mendapatkan keutamaan takbiratul ihrom.Diantara orang yang terkena was-was sampai ada yang bersumpah hanya ingin takbir sekali saja karena rasa was-was yang berlebihannya itu.Ini semua adalah talbis iblis, karena sebenarnya syariat islam itu mudah dan selamat dari kekurangan-kekurangan. Hal-hal seperti ini juga tidak pernah dialami oleh Nabi dan sahabat-sahabat Nabi.Riwayat dari Abu Hazim rahimahullah ta’ala ketika ia masuk masjid lalu iblis menggodanya dengan membisikkan “wahai Hazim sesungguhnya engkau sholat tanpa wudhu”. Lalu Hazim berkata “sejak kapan nasihatmu sampai seperti ini wahai iblis”. Inilah cara Abu Hazim menepis bisikan dari iblis agar terhindar dari was-was.Cara menghilangkan talbis ini dari orang yang terkena was-was terhadap niat adalah:Jika mengulang takbiratul ihrom untuk menghadirkan niat maka dengan ia berdiri untuk menjalankan sholat fardhu itu sudah temasuk niat dan itu cukup karena niat itu letaknya di hati bukan di lafadz.Tetapi jika mengulang takbiratul ihrom untuk memperbaiki pelafalan bacaan niat maka cukup mengingat bahwa melafalkan niat itu tidak wajib.Ibnul Jauzi berkata ketahuilah bahwasannya was-was dalam niat sholat menandakan adanya masalah pada akalnya karena kebodohannya dalam syari’at.Seseorang yang was-was menjadi bimbang karena disebabkan keinginannya untuk memperinci niatnya melalui lafal dan hatinya dalam satu waktu.Ibnu Jauzi juga berkata bahwa niat itu boleh didahulukan sebelum takbir dengan waktu yang sebentar selama ia tidak membatalkan niatnya. Hal ini dikarenakan ada sebagian orang yang menggabungkan melafalkan dan meresapi  niat dengan rukun pertama pada sholat (takbirotul ihrom) secara bersamaan. Hal ini jelas akan menyulitkan dan akan mudah menimbulkan was-was. Hal ini juga tidak dicontohkan oleh nabi dan juga para sahabat.Abdullah bin Mas’ud berkata “Demi zat yang tidak ada sesembahan selainNya, aku tidak melihat seorang pun yang lebih tegas terhadap  orang yang berlebih-lebihan seperti Rasulullah. Aku tidak pernah melihat seorang pun yang paling khawatir dengan orang yang berlebih-lebihan seperti Abu Bakar dan menurutku Umar bin Khattab adalah orang yang paling keras terhadap orang yang berlebih-lebihan dalam beragama”.Di antara talbis iblis ada seseorang yang sibuk dengan niatnya tapi kurang memperhatikan sholatnya. Seakan-akan sholat hanya untuk mengepaskan takbir dengan niatnya saja dan ini adalah talbis iblis. Cara untuk menghilangkannya adalah dengan memahami bahwasannya tujuan takbir adalah masuk dalam sholat. Jadi jangan hanya fokus terhadap niat dan takbirnya namun lalai dalam sholatnya.Di antara rasa was-was yaitu sibuk dengan yang sunnah kemudian melalaikan yang wajib. Contohnya ketika seseorang masbuk dalam sholatnya kemudian ia sudah sah dalam bertakbiratul ihrom dan mendapati imam sudah mendekati rukuk, namun ia tetap sibuk dengan bacaan iftitahnya padahal seharusnya ia langsung membaca Al Fatihah. Hal ini  dikhawatirkan jika ia sibuk dengan bacaan yang sunnah ia akan ketinggalan bacaan Al Fatihahnya. Karena bacaan iftitah dan ta’awudz adalah sunnah sedangkan membaca Al Fatihah adalah wajib bahkan sebagian ulama berkata bahwa makmum wajib membaca Al Fatihah.Ibnul jauzi berkata iblis telah memberikan tipu daya kepada suatu kaum sehingga ia meninggalkan banyak sunah-sunah Nabi karena perkara-perkara yang menimpanya. Contohnya di antara mereka ada yang sengaja memilih shaf belakang ketika sholat karena ia ingin lebih fokus dalam sholat karena jika di depan ia khawatir riya. Seharusnya tetap jalani sunnah dan lawan riya. Diantara mereka ada yang sholatnya tidak melipat tangannya di depan, hal itu dikarenakan mereka khawatir apabila melipat tangan di depan seakan-akan mereka akan terlihat khusyu padahal hatinya biasa saja. Hal ini menyelisihi sunnah dan hal ini disebabkan karena kurangnya ilmu meskipun sholeh.Dalam riwayat shahih Bukhari dan Muslim dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu,Rasulullah bersabda “Seandainya manusia mengetahui tentang keutamaan menjawab azan dan keutamaan di shaf pertama, kemudian mereka tidak bisa melakukannya kecuali dengan undian, maka tentu mereka akan ikut melakukan undian agar berada di shaf pertama”.Dan dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda “sebaik-baiknya Nabi adalah di shaf pertama dan yang paling buruk adalah yang paling akhir”.Adapun meletakkan tangan di atas tangan lainnya adalah sunnah. Ibnu Mas’ud pernah sholat dan ia meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanan, maka nabi pun melihat Ibnu Mas’ud tangannya terbalik maka Rasulullah memperbaiki posisi tangannya. Hal ini menunjukkan bahwa hukum meletakan tangan di atas tangan yang lain hukumnya sunnah.  Jadi jangan berpikir takut dikira khusyu maka tidak menjalankan sunnah, namun perbaikilah hati kita.“Jangan sampai meninggalkan syari’at hanya karena perkataan seseorang yang kau agungkan karena syari’at itu lebih agung dari perkataanya dan orang lain bisa saja salah dalam menafsirkan dan bisa jadi ia memiliki pendapat yang tidak sesuai syari’at karena hadits-hadits Nabi belum sampai kepadaNya”. Disini Ibnu Jauzi ingin menyampaikan bahwa yang harus dijadikan patokan adalah dalil dan yang dijadikan dalil adalah syari’at.Iblis menggoda sebagian orang yang sholat dalam masalah makhorijul huruf sehingga ia mengulang-ulang bacaannya. Maka itu sudah keluar dari aturan sholat. Hal ini juga menyebabkan seseorang melupakan makna dari bacaannya karena sibuk memperbaiki makhrojnya.Jika imam sudah mengucapkan salam namun kita belum selesai membaca tasyahud. Tidak mengapa imam salam lebih dulu dan kita tetap menyelesaikan bacaan tasyahud kita karena ini tidak ditanggung oleh imam.Diantara ahli ibadah yang bodoh adalah mereka begadang untuk sholat malam hingga semalam suntuk, mereka merasa senang melaksanakan sholat malam melebihi rasa senangnya dalam melaksanakan sholat fardhu. Kemudian mereka merasa lelah dan tertidur sehingga tertinggal sholat fajarnya. Hal ini keliru karena sibuk dengan ibadah sunnahnya namun lalai dengan ibadah wajibnya. Seseorang harus lebih bahagia ketika bisa sholat subuh berjama’ah dibandingkan sholat malam yang ia kerjakan.Rasulullah bersabda “sesungguhnya ikutilah petunjuk nabi yang tengah. Barang siapa yang berlebihan dalam agama maka ia akan terdominasi”.Rasulullah juga berkata jika salah seorang dari kalian mengantuk maka tidurlah sampai hilang rasa kantuknya karena jika seseorang sholat dalam kondisi ngantuk maka bisa jadi ia ingin beristighfar tapi dia malah mencaci maki dirinya.Rasulullah berkata sebaik-baiknya sholat adalah sholatnya Nabi Daud karena beliau tidur setengah malam lalu beliau sholat sepertiga malam dan tidur lagi seperenam malam dan bangun sholat subuh dalam keadaan segar.Jika ada yang berkata “bukankah telah diriwayatkan kepada kita sekelompok dari golongan ulama salaf, mereka sholat semalam suntuk?”. Ibnu Jauzi berkata bahwa mereka itu bertahap sampai mampu dalam hal tersebut dan mereka yakin bisa melakukan sholat subuh secara berjama’ah. Hal yang membuat mereka kuat adalah karena mereka tidur disiang hari dan makan mereka sedikit sehingga mereka tetap mampu sholat semalam suntuk dan sholat subuh berjama’ah. Maka boleh mereka melakukan demikian. Kemudian juga tidak sampai kepada kami, bahwasannya Rasulullah pernah begadang semalam suntuk tidak tidur sama sekali. Sunnah Nabi lebih utama untuk diikuti daripada perbuatan para salaf tersebut.Fitnah dalam menceritakan amal sholeh, sungguh iblis telah menipu dan memperdaya sekelompok orang dari yang ahli sholat malam karena pada siang hari mereka menceritakan sholat malam tersebut tapi terkadang ceritanya tidak langsung dan dengan cara yang halus “Subhanallahu si fulan tadi malam azannya pas waktu” tujuannya agar pendengar tahu bahwa ia tidak tidur semalam. Hal ini bisa termasuk kepada riya.  Maka cara orang yang seperti ini adalah ia telah meninggalkan catatan amalnya dari amal tersembunyi menuju amal yang terlihat. Tentu pahalanya akan berbeda antara amalan tersembunyi dengan amalan yang terlihat/terceritakan.Kata Allah subhanahu wa ta’ala “jika kalian bersedekah kalian perlihatkan dan jika ikhlas tidak jadi masalah itu baik. Namun jika ia sembunyikan maka itu lebih baik”. Jadi amal sholeh yang disembunyikan itu lebih baik.Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam berkata “siapa yang mampu diantara kalian memiliki amal sholeh yang tersembunyi maka lakukanlah”.Walaupun kita selamat dari riya, setan akan menjerumuskan kita kedalam amalan yang terlihat sehingga pahala kita bisa berkurang. Karena pahalanya akan berbeda antara amalan tersembunyi dengan amalan yang terlihat. Tipu daya setan itu sangat halus. Maka berhati-hatilah.Iblis memberi tipu daya kepada sebagian orang yang bersendirian sholat di masjid untuk beribadah maka lalu ia dikenal sebagai orang yang rajin beribadah di masjid, maka orang-orang pun datang dan mengikutinya sholat menjadi makmum. Pada akhirnya orang ini terkenal. Ini adalah racun yang dimasukkan oleh iblis. Karena hal ini orang-orang menjadi senang kepadanya  dan mereka menjadi semangat dalam beribadah karena ia tahu perbuatannya menjadi viral dan akhirnya orang lain memujinya. Hal yang membuat ia semangat beribadah bukan karena ketulusannya dalam beribadah namun karena perbuatannya yang viral.Dari Zaid bin Tsabit, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda “sebaik-baiknya sholat (sunnah) seseorang adalah di rumahnya kecuali sholat fardhu”.Allah menciptakan jiwa kita memiliki nafsu la wama yaitu jiwa yang suka mencela dan jiwa ini yang mengontrol dan memberi sinyal kepada kita. Jika kita melakukan maksiat maka jiwa kita akan menegur/menyadari bahwa itu salah. Maka jika hati sudah memberi sinyal maka berhenti dan jangan lanjutkan.Iblis menggoda sebagian ahli ibadah dengan menangis di depan umum. Kata Ibnu Jauzi mungkin ia tidak bisa menahan tangisannya dan ini ya sudah tidak mengapa. Namun siapa yang mampu menyembunyikan tangisnya tetapi ia malah menampakkan tangisnya maka ia terpapar oleh riya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
L
Lisna Febriani

📍 Kota Tasikmalaya

Talbis Iblis 6

Talbis Iblis 6: Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bagian 2)Pokok Bahasan: Bab 8Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah dalam Berbagai Macam Ibadah 6.Meninggalkan yang SunatIblis memperdayai sebagian orang, lalu mereka meninggalkan sekian banyak sunat karena berdasarkan pertimbangan mereka sendiri. Diantara mereka ada yang sengaja tidak ikut ke dalam shaf yang pertama, seraya berkata, "Karena aku ingin mencari ketenangan hati." Diantara mereka ada yang tidak meletakkan satu tangan di atas tangan yang satunya lagi, seraya berkata, "Aku tidak suka memperlihatkan kekhusyukan yang tidak ada di dalam hatiku."Telah diriwayatkan kepada kami 2 macam perbuatan ini dan para pemuka orang-orang shalih. Yang demikian ini terjadi karena minimnya ilmu. Telah disebutkan di dalam Ash-Shahihain, dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, dari Nabi shalallahu alaihi wasallam, beliau bersabda,"Andaikan manusia itu tau pahala dalam adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan cara diundi, tentulah mereka mau diundi." (HR.Al-Bukharu & Muslim)"Sebaik-baik shaf kaum laki-laki adalah yang pertama, seburuk-buruk shaf nya adalah yang terakhir." (HR.Muslim)Sedangkan meletakkan tangan di atas tangan yang lain adalah sunat.Adakalanya Iblis melancarkan talbis dalam masalah tasydid, atau dalam makhraj huruf dhad saat membaca al-maghddhub (dalam surat Al-Fatihah). Iblis mendorong mereka untuk melebihi batasan & membuat mereka sibuk dalam pengucapan huruf, sehingga tidak memahami lagi apa yang dibaca.7.Terus menerus Shalat MalamTalbis Iblis dilancarkan terhadap para ahli ibadah, lalu mereka banyak mendirikan shalat malam.Diantara mereka ada yang berjaga sepanjang malam, lebih suka mendirikan shalat malam & shalat dhuha dalam porsi yang lebih banyaj daripada kesukaannya mendirikan shalat fardhu.Maka ketika mendekati waktu fajar, dia tertidur dan ketinggalan shalat fardhu, atau dia bangun namun ketinggalan mengerjakan shalat fardhu secara berjamaah. Atau esoknya dia menjadi malas & lemas untuk mencari penghidupan untuk keluarganya."Sesungguhnya dirimu mempunyai hak atas kamu. Maka bangunlah dan juga tidurlah." (HR.Abu Daud)"Jika salah seorang diantara kalian mengantuk, maka hendaklah dia tidur hingga hilang kantuknya. Sesungguhnya jika dia shalat dalam keadaan mengantuk, maka boleh jadi dia membaca dengan maksud untuk memohon ampunan, lalu dia pun membaca sambil mencaci maki dirinya." (HR.Al Bukhari & Muslim)Iblis memperdayai orang-orang yang biasa mendirikan shalat malam, lalu mereka membicarakannya pada siang hari. Boleh jadi salah seorang di antara mereka berkata, "Fulan mengumandangkan adzan pada jam sekian, agar orang-orang tahu dialah yang mengingatkan." Ada segolongan orang yang lebih suka menyendiri di dalam masjid untuk shalat dan beribadah, sehingga kebiasaan ini diketahui banyak orang, yang kemudian bergabung bersama dan shalat bersama pula. Lama kelamaan mereka jadi terkenal. Yang seperti ini termasuk tipu daya iblis, meskipun yang demikian mendorong mereka untuk tekun beribadah, karena ternyata tindakan mereka ini hanya untuk mencari pujian."Sesungguhnya shalat seseorang yang paling utama adalah di dalam rumahnya, kecuali shalat wajib." (HR.Al Bukhari & Muslim)Amir bin Abdi Qais tidak suka jika orang-orang melihatnya mendirikan shalat, karenanya ia tidak pernah mendirikan shalat sunat di masjid. Jika Ibnu Abi Laila sedang shalat sunat, lalu ada seseorang memasuki rumahnya, maka dia pun terlentang.Diantara para ahli ibadah ada pula yang suka menangis, sementara di sekitarnya banyak orang. Tangis ini terjadi begitu saja dan sulit untuk ditahan. Siapa yang mampu menyembunyikannya, namun dia tetap menampakkannya, maka dia termasuk orang yang riya'. Dari Ashim, dia berkata, "Abu Wa'li biasa shalat (sunat) di dalam rumahnya, dan tatkala shalat itu dia menangis sesenggukan. Andaikata ada seseorang melihatnya, maka dia tidak menangis," Sementara jika Ayyub As-Sakhtiyani tidak mampu menahan tangisnya, maka dia bangkit berdiri.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 1 : Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman dengan Para Rasul

Halaqah 1 : Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman dengan Para RasulOleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APokok-pokok keimanan yang harus diimami oleh seorang hamba Adalah beriman kepada para rasul Allah·       Pengertian RasulullahDefinisi: Rasulun (tunggal) atau Rusulun(jamak) berarti utusan. Rasulullah berarti para utusan Allah.Mereka adalah manusia-manusia yang Allah pilih menjadi utusanNya kepada manusia dengan membawa risalah dari Allah untuk disampaikan kepada manusia.Allah berfirman : لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ“Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata…” (QS. Al-Hadid : 25).Berdasarkan Al-Qur'an, As-Sunnah, dan Ijma', kaum muslimin wajib hukumnya berimankepada seluruh Rasul Allah dan kekufuran kepada para rasul adalah kekufuran kepada Allah. Semakin seseorang mendalami tentang beriman kepada para Rasul secara terperinci maka akan semakin bertambah keimanannya dan akan semakin banyak manfaatnya, adapun dari Al-Quran maka Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan RasulNya dan Kitab yang telah diturunkan kepada RasulNya dan Kitab yang diturunkan sebelumnya dan Barangsiapa yang kufur kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya dan hari Akhir maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh” (QS. An-Nisa : 136).Adapun dari Assunah maka Nabi Muhammad ﷺ bersabda Ketika ditanya oleh Malaikat Jibril tentang apa itu Iman?الإيمان أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ“Beriman adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-RasulNya dan hari Akhir dan engkau beriman dengan Takdir yang baik maupun yang buruk”Beliau (Malaikat Jibril) mengatakan صَدَقْتَ (engkau telah benar), hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.Dan para Ulama berijma’ atas wajibnya beriman kepada rasul-rasul Allah ‘azza wajalla.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah I

Halaqah 01Pengertian Rasulullah dan Dalil-Dalil atas Wajibnya Beriman Dengan Para RasulDiantara pokok-pokok keimanan yang harus di imani oleh seorang hamba adalah beriman kepada para Rasul AllahRasuulun adalah bentuk tunggal dari rusulun, rasuulun artinya utusan, rusulun artinya utusan-utusan, Rasulullah artinya para utusan Allah. Mereka adalah manusia-manusia yang Allah pilih menjadi utusanNya kepada manusia dengan membawa risalah dari Allah untuk disampaikan kepada manusia. 🌷Allah berfirman :…لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ…“…Sunngguh Kami telah mengutus rasul rasul Kami dengan bukti bukti yang nyata…” (Al-Hadid 25)Al-Quran, Assunnah dan Ijma’ kaum muslimin menunjukkan tentang wajibnya beriman dengan kepada para Rasul Allah dan kekufuran kepada rasul-rasul Allah adalah kekufuran kepada Allah.Semakin seseorang mendalami tentang beriman kepada para Rasul secara terperinci maka akan semakin bertambah keimanannya dan akan semakin banyak manfaatnya, adapun dari Al-Quran maka Allah berfirman :يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۚ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan RasulNya dan Kitab yang telah diturunkan kepada RasulNya dan Kitab yang diturunkan sebelumnya dan Barangsiapa yang kufur kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya dan Rasul-rasulNya dan hari Akhir maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang jauh” (An-Nisa : 136)Adapun dari Assunnah maka Nabi ﷺ bersabda ketika ditanya Malaikat Jibril tentang apa itu Iman?الإيمان أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِBeriman adalah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-RasulNya dan hari Akhir dan engkau beriman dengan Takdir yang baik maupun yang burukBeliau (Malaikat Jibril) mengatakan صَدَقْتَ (engkau telah benar), hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim.Dan para Ulama berijma’ atas wajibnya beriman kepada rasul rasul Allah ‘azza wajalla.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 51 | Bab 07

Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama QS Al Baqarah 208Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-51 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Berkata Al-Mushonnif rahimahullah :باب وجوب الدخول في الإسلام كله وترك ما سواهBab tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam semuanya, dan meninggalkan apa-apa selain agama Islam.Di dalam bab ini, beliau rahimahullah Ta’ala ingin menjelaskan kepada kita, bahwasanya di antara makna Islam yang sudah beliau sebutkan sebelumnya ketika membahas tentang tafsirul Islam, kemudian beliau menyebutkan bahwasanya di antara konsekuensi dari keislaman kita, di antaranya adalah bernama dengan nama-nama Islam, berfanatik dengan fanatik terhadap Islam, dan kita harus pegang sumber yang digunakan di dalam agama Islam dan mencukupkan diri dengan sumber yang ada di dalam agama Islam, maka beliau ingin menjelaskan di dalam bab ini, bahwasanya yang dimaksud dengan Islam yang memiliki keutamaan dan hukumnya adalah wajib, adalah menyerahkan diri secara keseluruhan.Di sini penekanan kullihi, masuk ke dalam Islam semuanya. Artinya bukanlah yang dimaksud dengan Islam hanya Islam sebagian saja. Sebagian perkara dia menyerahkan diri, tapi dalam sebagian yang lain dia masih membangkang, membantah kepada Allah, bukan itu yang dimaksud.Islam yang dimaksud adalah Islam secara kaffah, semuanya. Bukan dengan Islam di dalam sebagian amal, tapi tidak Islam dalam sebagian yang lain. Dan ini hukumnya adalah wajib, bukan sebuah anjuran saja, dianjurkan bagi Antum untuk melaksanakan Islam secara keseluruhan, kalau Antum bisa, ya alhamdulillah, kalau tidak ya tidak mengapa. Tidak demikian.Tapi di sini hukumnya sampai wajib untuk masuk ke dalam agama Islam semuanya. Masuklah Antum ke dalam Islam secara keseluruhan, jangan milih-milih. Dalam hal akidah Islam, tapi kalau dalam masalah manhaj, masalah muamalatul hukkam sudah melenceng, memilih cara orang-orang khawarij, misalnya.Di dalam masalah ibadah, Islam, sesuai dengan Al Qur’an dan hadits, tapi masalah imamah mengikuti caranya orang-orang khawarij.Di dalam masalah ibadah sesuai dengan Islam, tapi untuk masalah Tazkiyatun nufus misalnya, dia mengambil caranya orang-orang sufi. Bukan ini yang dimaksud.Maksud ke dalam Islam kullihi, dalam seluruh perkara. Dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, Tazkiyatun nufus, akhlak, tahakum, jangan kita memecah-belah agama yang sudah menjadi satu kesatuan.Wajib hukumnya bagi kita semua masuk ke dalam agama Islam secara kullihi, keseluruhan.Perbedaan antara bab ini dan bab yang sebelumnya, bab yang kedua, adalah bab yang sebelumnya adalah tentangوجوب دخول في الإسلامAda yang mengatakan perbedaannya, kalau yang pertama yaitu وجوب دخول في الإسلام, adalah secara global. Secara global wajib bagi kita untuk masuk ke dalam agama Islam.Adapun di dalam bab ketujuh ini, maka disebutkan di sini, wajibnya masuk ke dalam agama Islam secara terperinci, jadi dia masuknya kalau dia yang didepan kalau disiniوجوب الدخول في الإسلام كلهIni sudah masuk keperinciannya/sudah kedalam²nya (dia masukin) semuanya dilaksanakan, kamar aqidah, muamalah, akhlak semuanya dia masukin, ini perbedaan antara bab yang nomer 2 dengan bab yang 7 ini, jadi ini lebih terperinci lagi, bukan hanya pintu gerbangnya dia masuk tetapi pintu² yang lain yang ada didalam Islām dan ini hukum adalah wajib, dia melaksanakan Islām didalam seluruh perkara tadi.وترك ما سواهDan kewajiban untuk meninggalkan yang selain itu.Beliau mengatakanوقول الله تعالى:Dalil yang pertama dari al-Quran tentang wajibnya masuk kedalam Islām kullihi (seluruh apa yang ada didalam Islām)وقول الله تعالى : (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً)(البقرة: من الآية 208)Dan firman Allah yaitu wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah.Ini adalah apa yang beliau maksud dengan kalimat kullihi. Kaffah, di dalam seluruh apa yang ada di dalam Islam ini. Dalam masalah aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, imamah, dan seterusnya, maka masuklah ke dalam Islam, di dalam seluruh masalah tadi, seluruh bidang tadi, ke dalam Islam itu, Islam yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam. Jangan kita memilah memilih dan memecah-belah, memisah-misah agama yang dibawa oleh Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam.Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam, ke dalam penyerahan diri kepada Allah secara kaffah, secara keseluruhan. Ayat ini sangat jelas. Udkhulu, karena di sini adalah perintah, sedangkan asal dari perintah adalah wajib.Makanya beliau mengatakan wajibnya masuk ke dalam Islam, bukan hanya sekedar sesuatu yang Sunnah.Dan ucapan Allah kaffah, ini menunjukkan apa yang beliau sebutkan di dalam judulnya, kullihi, seluruh Islam.Dan kewajiban kita masuk ke dalam Islam semuanya, ini konsekuensinya adalah meninggalkan selain yang bukan merupakan Islam. Kalau dalam seluruh perkara kita diwajibkan untuk masuk semuanya, wajib untuk menggunakan Islam sebagai dasarnya, maka ini otomatis konsekuensinya kita harus meninggalkan segala sesuatu yang bukan termasuk di dalam agama agama Islam. Ini sudah konsekuensinya, kalau memang kita harus masuk di dalam Islam seluruhnya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
D
Deni trisiananingrum

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Talbis iblis bagian 6

Kitab TALBIS IBLIS - “Tipuan Iblis”karangan Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Ibnul JauziBagian 6Oleh Ustadz Firanda AndirjaSumber: Youtube Firanda Andirja Talbis Iblis-6BAB KEDELAPAN: PENYEBUTAN TIPU DAYAIBLIS KEPADA PARA HAMBA DALAM IBADAHBagian 2Penyebutan Tipu Dayanya kepada Mereka dalam Shalat ◦ Di antaranya tipu dayanya kepada mereka dalam niat shalat. Di antara mereka ada yang berkata: "Aku shalat shalat ini," kemudian mengulanginya karena mengira bahwa dia telah merusak niat. Niat tidak rusak meski tidak ridha dengan lafaz. Di antara mereka ada yang takbir kemudian merusaknya, kemudian takbir kemudian merusaknya. Jika imam rukuk, orang yang was- was takbir dan rukuk bersamanya. Aku heran apa yang menghadirkan niat saat itu? Itu tidak lain karena Iblis ingin melewatkan keutamaan baginya. Di antara orang yang was-was ada yang bersumpah demi Allah tidak akan takbir selain yang ini. Di antara mereka ada yang bersumpah demi Allah dengan mengeluarkan hartanya atau dengan talak. Ini semua tipu daya Iblis. Syariat itu toleran, mudah, selamat dari bencana-bencana ini. Tidak terjadi kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya sesuatu dari ini.Telah sampai kepada kami dari Abu Hazim bahwa dia masuk masjid lalu Iblis membisikkan kepadanya bahwa kamu shalat tanpa wudhu. Dia berkata: "Nasihatmu tidak sampai ke tingkat ini." Pembongkaran tipu daya ini adalah dikatakan kepada orang yang was-was: Jika kamu ingin menghadirkan niat, niat sudah hadir karena kamu berdiri untuk menunaikan fardhu dan inilah niat itu. Tempatnya adalah hati, bukanlafaz. Jika kamu ingin membenarkan lafaz, lafaz tidak wajib. Kamu sudah mengatakannya dengan benar, maka apa alasan mengulanginya? Apakah kamu mengira setelah mengatakan bahwa kamu tidak mengatakannya? Ibnul Jauzi berkata: Sebagian syaikh menceritakan kepadaku dari Ibnu Aqil kisahyang mengherankan bahwa seorang laki-laki menemuinya dan berkata: "Sesungguhnya aku membasuh anggota dan berkata aku tidakmembasuhnya, aku takbir dan berkata aku tidak takbir." Ibnu Aqil berkata kepadanya: "Tinggalkan shalat karena itu tidak wajib atas kamu." Suatu kaum berkata kepada Ibnu Aqil: "Bagaimana kamu berkata demikian?" Dia berkata kepada mereka: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Diangkat pena dari orang gila hingga dia sadar.' Barangsiapa takbir dan berkata tidak takbir maka dia bukan orang berakal, dan orang gila tidak wajib shalat atasnyaIbnul Jauzi berkata: Ketahuilah bahwa was-was dalam niat shalat sebabnya adalah kerusakan dalam akal dan kebodohan terhadap kemudahan. Diketahui bahwa orang yang dimasuki seorang alim lalu dia berdiri untuknya dan berkata: "Aku niat berdiri tegak karena masuknya alim ini karena ilmunya menghadap kepadanya dengan wajahku," ini menunjukkan ada cacat dalam akalnya. Sesungguhnya ini telah tergambar dalam pikirannya sejak melihatalim itu. Berdirinya manusia untuk shalat untuk menunaikan fardhu adalah perkara yang tergambar dalam jiwa dalam satu keadaan, tidak memanjang waktunya. Yang memanjang waktu adalah menyusun lafaz-lafaz ini, sedangkan lafaz tidak wajib. Was-was adalah kebodohan murniSesungguhnya orang yang was-was memaksakan dirinya menghadirkan dalam hatinya zuhur empat rakaat fardhu dalam satu keadaan terperinci dengan lafaz-lafaznya sambil dia memperhatikannya, dan itu mustahil.Seandainya dia memaksakan dirinya demikian dalam berdiri untuk alim, niscaya sulit baginya.Dari Miswar dia berkata: Mu'in bin Abdurrahman mengeluarkan kepadaku sebuah kitab dan bersumpah demi Allah bahwa itu tulisan ayahnya. Di dalamnya tertulis: Abdullah berkata: "Demi Dzat yang tidak ada ilah selain- Nya, aku tidak melihat seorang pun yang lebih keras terhadap orang-orang yang berlebihan daripada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tidak melihat setelah beliau yang lebih takut kepada mereka daripada Abu Bakar. Sesungguhnya aku mengira Umar adalah orang yang paling takut di muka bumi kepada mereka." ◦ Di antara orang yang was-was ada yang jika niatnya benar dan dia takbir, dia lalai dari sisa shalatnya seolah-olah tujuan dari shalat hanya takbir saja. Ini tipu daya yang dibongkar bahwa takbir dimaksudkan untuk masuk dalam ibadah. Bagaimana mengabaikan ibadah yang seperti rumah dan hanya sibuk menjaga pintu? ◦ Di antara orang yang was-was ada yang takbirnya benar di belakang imam padahal tersisa dari rakaat sedikit, lalu dia membaca iftitah dan ta'awwudz. Imam rukuk. Ini juga tipu daya karena yang dia mulai dari ta'awwudz dan iftitah adalah sunnah, sedangkan yang dia tinggalkan yaitu membaca al-Fatihah wajib bagi makmum menurut segolongan ulama. Maka tidak pantas mendahulukan sunnah atasnya. ◦ Iblis telah menipu sekelompok orang sehingga mereka meninggalkan banyak sunnah karena kejadian-kejadian yang menimpa mereka. Di antara mereka ada yang sengaja tidak berada di shaf pertama sambil berkata: "Yang dimaksud adalah mendekatkan hati." Di antara mereka ada yang tidak meletakkan tangan di atas tangan dalam salat sambil berkata: "Aku tidak suka menampakkan kekhusyukan yang tidak ada dalam hatiku.". Kami telah meriwayatkan kedua perbuatan ini dari sebagian tokoh salehbesar, namun ini adalah masalah yang disebabkan oleh kurangnya ilmu.Dalam Shahihain dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi alaihi wa sallam bersabda: "Seandainya manusia mengetahuikeutamaan yang mereka peroleh dalam azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan cara lain kecuali dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundi."Dalam riwayat khusus Muslim dari hadisnya, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama, dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir."Adapun meletakkan tangan di atas tangan, itu adalah sunnah. Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunannya bahwa Ibnu Zubair berkata: "Meletakkan tangan di atas tangan adalah termasuk sunnah." Dan bahwa Ibnu Mas'ud pernah salat lalu meletakkan tangan kirinya di atas tangan kanan, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam melihatnya dan meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri. ◦ Iblis telah menipu sebagian orang yang salat dalam hal makharijul huruf (tempat keluarnya huruf). Kamu akan melihatnya berkata "al-hamdu al-hamdu" sehingga dengan mengulang kata tersebut dia keluar dari aturan adab salat. Terkadang dia menipu dalam hal tahqiq tasydid (membenarkan huruf yang ditasydid), dan terkadang dalam mengeluarkan huruf dhad pada kata "al-maghdubi". Sungguh aku telah melihat orang yang mengucapkan "al-maghdubi" sehingga keluar ludah bersama keluarnya huruf dhad karena kuatnya penekanan. Padahal yang dimaksud hanyalah membenarkan huruf saja. Iblis mengeluarkan orang-orang ini dengan berlebihan melampaui batas tahqiq dan menyibukkan mereka dengan melebih-lebihkan huruf sehingga tidak memahami bacaan. Semua wasangka ini dari Iblis.Dalam riwayat khusus Muslim dari hadis Utsman bin Abi al-Ash, dia berkata:"Aku berkata kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: 'Sesungguhnya setan telah menghalangi antara aku dengan salatku dan bacaanku, dia memusingkanku.' Maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 'Itu adalah setan yang disebut Khinzab. Jika kamu merasakannya, makaberlindunglah kepada Allah darinya tiga kali dan ludahlah ke kirimu. ' Aku melakukan itu, maka Allah menghilangkannya dariku." ◦ Iblis telah menipu banyak orang dari kalangan orang bodoh yang beribadah. Mereka melihat bahwa ibadah hanyalah berdiri dan duduk saja. Mereka tekun dalam hal itu namun melalaikan sebagian kewajiban mereka tanpa mengetahuinya. Iblis juga menipu yang lain di antara mereka. Mereka memanjangkan salat dan memperbanyak bacaan, namun meninggalkan yang disunnahkan dalam salat dan melakukan yang dimakruhkan. ◦ Iblis telah menipu sekelompok orang yang beribadah sehingga mereka memperbanyak salat malam. Di antara mereka ada yang begadang sepanjang malam dan lebih bergembira dengan qiyamul lail dan salat dhuha daripada bergembira dengan menunaikan fardhu. Kemudian dia tertidur menjelang fajar sehingga melewatkan salat fardhu, atau bangun lalu bersiap-siap untuk salat sehingga melewatkan jamaah, atau dia bangun dalam keadaan malas sehingga tidak mampu mencari nafkah untuk keluarganya. Jika ada yang berkata: "Kamu telah meriwayatkan kepada kami bahwa sekelompok salaf biasa menghidupkan malam," maka jawabannya: Mereka bertahap hingga mampu melakukan itu. Mereka yakin dapat menjaga salat fajar berjamaah. Mereka terbantu dengan qailulah (tidur siang) karena sedikitnya makanan, dan itu benar bagi mereka. Kemudian belum sampai kepada kami bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah begadang semalam tanpa tidur. Maka sunnahnyalah yang diikuti." ◦ Iblis telah menipu sekelompok orang yang qiyamul lail sehingga mereka membicarakan hal itu di siang hari. Barangkali salah seorang dari mereka berkata: "Si fulan muazin azan pada waktu itu," agar orang-orang tahu bahwa dia sedang terjaga. ◦ Iblis telah menipu yang lain yang menyendiri di masjid-masjid untuk salat dan beribadah sehingga mereka dikenal karena hal itu. Keadaan mereka tersebar di antara manusia. Itu termasuk tipu daya Iblis yang menguatkan jiwa untuk beribadah karena mengetahui bahwa hal itu akan tersebar dan mendatangkan pujian. Dari Zaid bin Tsabit, bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:"Sesungguhnya sebaik-baik salat seseorang adalah di rumahnya, kecuali salat wajib."Berkata penulis: "Keduanya (Bukhari dan Muslim) mengeluarkannya dalam Shahihain." Amir bin Abd Qais tidak suka dilihat orang saat salat. Dia tidak salat sunnah di masjid. Dia salat seribu rakaat setiap hari. Ibnu Abi Laila jika salat lalu ada yang masuk, dia berbaring ◦ Iblis telah menipu sekelompok orang yang beribadah. Mereka menangis sementara orang-orang di sekitar mereka. Ini terkadang terjadi pada seseorang sehingga tidak bisa dicegah. Barangsiapa yang mampu menutupinya namun menampakkannya, maka dia telah terjatuh dalam riya. Dari Ashim: "Abu Wail jika salat di rumahnya menangis tersedu-sedu. Seandainya diberikan kepadanya dunia agar melakukannya di hadapan seseorang yang melihatnya, dia tidak akan melakukannya." Ayyub as-Sakhtiyani jika tangisan mengalahkannya, dia berdiri ◦ Iblis telah menipu sekelompok orang yang beribadah. Kamu melihat mereka salat siang malam namun tidak memperhatikan perbaikan cacat batin dan makanan. Memperhatikan hal itu lebih utama bagi mereka daripada memperbanyak sunnah.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 51 - Bab 7 (Pembahasan Bab Utama dan Dalil Pertama (Al-Baqarah:208))

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 51Bab 7/Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya – Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Pertama QS. Al-Baqarah: 208Penjelasan Umum BabKita harus pegang sumber yang digunakan di dalam agama Islam dan mencukupkan diri dengan sumber yang ada di dalam agama Islam. Islam yang memiliki keutamaan dan hukumnya adalah wajib, adalah menyerahkan diri secara keseluruhan.Kullihi (masuk ke dalam Islam semuanya). Maksud ke dalam Islam kullihi, dalam seluruh perkara. Dalam masalah aqidah, ibadah, muamalah, Tazkiyatun nufus (penyucian jiwa), akhlak, tahakum (berhukum). Islam yang diwajibkan Allah bukan Islam sebagian, tetapi Islam secara menyeluruh (kaffah). Seorang muslim wajib tunduk kepada syariat Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Tidak boleh mengambil Islam pada satu sisi lalu mengambil pemikiran atau jalan selain Islam pada sisi yang lain.Telah dibahas sebelumnya dalam bab 2 ( وجوب دخول في الإسلام : Wujūbul Islām) yaitu menjelaskan kewajiban menjadi seorang muslim yang wajib masuk Islam secara keseluruhan (global). Sedangkan pada bab 7 lebih terperinci lagi, yaitu:Kewajiban masuk ke dalam Islam secara terperinci.Aqidah, muamalah, akhlak, dan seluruh perkara Islam harus dilaksanakan.Menjalankan seluruh perkara yang ada di dalam Islam.Hukumnya wajib.Wajib meninggalkan selain Islam.Pembahasan Dalil Pertama (QS. Al-Baqarah, ayat 208)يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah” (QS Al-Baqarah: 208)Dalil pertama tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara kullihi. Kata kaffah menunjukkan seluruh apa yang ada di dalam Islam. Dalam masalah aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, imamah, dan seluruh bidang kehidupan, harus masuk ke dalam Islam yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.Tidak boleh memilah-milah dan memecah-belah agama yang dibawa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Masuk ke dalam agama Islam dan menyerahkan diri kepada Allah secara keseluruhan.Kata ادخلوا (udkhulu) adalah perintah. Karena di sini adalah perintah, sedangkan asal dari perintah adalah wajib. Kata كافة (kaffah) menunjukkan seluruh Islam (kullihi).Konsekuensi masuk ke dalam Islam seluruhnya adalah meninggalkan segala sesuatu yang bukan termasuk Islam. Wajib menjadikan Islam sebagai dasar dalam seluruh perkara dan meninggalkan selainnya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →