Day-9 TALBIS IBLIS TERHADAP ORANG YANG BERAMAR MA'RUF NAHI MUNKAR
Talbis iblis terhadap orang yang beramar ma’ruf nahi munkar. Amar ma’ruf nahi munkar merupakan ibadah yang agung. Dengan ibadah amar ma’ruf nahi munkar menjadi mulia. Dan umat yang meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar terlaknat, sebab mereka tidak membenahi kemungkaran. Fiqih aturan dalam beramar ma’ruf nahi munkar. Jika ada orang yang membenahi kemungkaran, ada beberapa kemungkinan:Kemungkaran tersebut hilang, maka wajib baginya membenahi munkar.Kemungkaran tersebut berkurang, maka wajib baginya membenahi munkar (kemunkaran yang besar jadi berkurang).Ternyata jika ada seseorang yang membenahi kemungkaran, dan berakibat kemunkaraannya semakin besar, maka tidak boleh membenahi kemungkaran itu. Membenahi kemungkaran dan ternyata kemungkaran itu tergantikan dengan kemunkaran yang sejenis, maka butuh ijtihad. Membenahi kemungkaran tidak semudah yang dibayangkan. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasalam, “Siapa diantara kalian yang melihat kemunkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu dengan tangannya maka rubahlah dengan lisannya. Dan jika tidak mampu dengan lisannya maka rubahlah dengan hatinya. Dan inilah iman yang paling rendah.Tidak semua munkar dianggap kemungkaran, misalnya khilafiyah tidak dianggap munkar. Terlebih jika khilafiyah tersebut kuat. Kemunkaran juga tidak boleh tajjasus. Sebagaimana penjelasan Al Imam Ibnu Jauzi tentang orang-orang yang salah dalam praktik kemungkaran. Beliau berkata, bahwa orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar itu ada 2 model, yaitu: pertama, Aalimun, yaitu orang yang berilmu. Kedua, Jaahilun, yaitu orang bodoh. Adapun iblis yang menggoda orang alim yang membenahi kemungkaran, dimana orang alim ini sudah terpenuhi persyaratan bahwa dirinya mengerti fiqih, pantas bagi dirinya untuk berdakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar. Maka iblis masuk dengan tipu dayanya, pertama, bergaya dengan perbuatannya, dengan berdakwah benahi munkar dan banyak berdzikir ingin disebut-sebut orang (riya’), ujub dengan amal perbuatannya.Diriwayatkan kepada kami kami dengan sanad dari Ahmad bin Abil Hawari dia berkata, “Aku mendengar Abu Sulaiman berkata bahwa Abu Ja’far Al Mansyur (seorang khalifah) menangis dalam khutbahnya ketika hari Jum’at. Maka ketika itu Abu Sulaiman marah karena melihat suatu kemungkaran dalam khutbah tersebut. Maka hadir dalam diri Abu Sulaiman niat untuk menegur Abu Ja’far jika dia turun dari khutbah. Abu Sulaiman ingin menasehati Abu Ja’far tentang apa yang telah dilakukan dalam khutbahnya. Ternyata Abu Sulaiman tidak jadi mensehati Abi Ja’far, sebab Abu Sulaiman tidak suka berjalan menuju khalifah Abu Ja’far untuk menasehatinya di depan umum sehingga nantinya orang-orang melihat Abu Sulaiman menasehati khalifah. Abu Sulaiman khawatir disaat menasehati Abu Ja’far dirinya bergaya/takaluf/akting tidak apa adanya. Dan Abu Sulaiman pun khawatir Abu Ja’far memerintahkan anak buahnya untuk melakukan keburukan padanya. Yang akhirnya Abu Sulaiman bisa dibunuh oleh khalifah tanpa niat yang benar. Maka Abu Sulaiman pun tetap duduk diam”.Maknanya, Abu Sulaiman bukan takut pada khalifah Abu Ja’far, tapi beliau takut tidak ikhlas karena semua orangn melihat padanya. Dan jika khalifah marah padanya lalu membunuhnya, yang terjadi Abu Sulaiman mati sia-sia. Tidak ikhlas lalu mati sia-sia.Kedua, seseorang yang marah bukan karena Allah tapi marah karena membela diri sendiri. Itu bukanlah beramal sholih. Karena ketika seseorang bernahi munkar terkadang marah. Contohnya, Bisa jadi sejak awal seseorang itu marah karena dirinya bukan bernahi munkar karena Allah. Atau bisa jadi seseorang itu awalnya ikhlas bernahi munkar, tiba-tiba orang itu diganggu oleh orang yang diingkarainya dan uncullah kemarahannya tapi ternyata bukan karena Allah melainkan karena ingin membela dirinya. Sebagaimana Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah berkata kepada seorang laki-laki, “Kalau bukan saya sedang marah, tentu saya sudah menghukummu!” Maksudnya, kata Umar bin Abdul Aziz, “Kau membuat saya marah, dan aku khawatir ketika aku marah dan menghukummu ternyata aku menghukkummu bukan karena Allah tapi Allah dan bercampur dengan emosiku. Maka aku tidak jadi menghukummu”.Adapun jika yang beramar ma’ruf nahi munkar adalah orang-orang bodoh, maka syaithan akan mempermainkan orang itu. Dan sesungguhnya ketika orang bodoh beramar ma’ruf nahi munkar, kerusakan yang ditimbulkannya lebih besar. Karena bisa jadi orang itu melarang mencegah sesuatu yang diperbolehkan secara ijma. Atau bisa jadi sesuatu yang dilarangkan itu ada khilafiyah. Terkadang orang bodoh menuduh tanpa bukti. Talbis iblis kepada orang yang mengikari kemungkaran. Jika seseorang telah mengingkari kemungkaran, maka orang itu akan duduk di hadapan banyak orang kemudian orang tersebut bercerita pernah membenahi kemungkaran lalu mencaci pelaku munkar seakan-akan seperti mencekik leher, dan melaknatnya. Padahal bisa jadi orang yang dicaci , dihina dijelek-jelekkan tersebut suda bertobat. Dan bisa jadi orang telah tobat dari kemunkaran tersebut lebih baik dari yang yang mencacinya tadi karena orang yang pernah membenahi kemungkaran itu masih terjerumus dalam kesombongan dan tanpa sadar membongkar aib kaum muslimin.Al Imam Ibnu Jauzi berkata, “Dan aku pernah mendengar sebagian orang bodoh tentang masalah kemungkaran dengan menyerang orang-orang yang belum tentu melakukan kemungkaran tersebut seperti memukulnya, merusak barang. Padahal bukan seperti itu aturan main dalam membenahi suatu kemungkaran. Adapun orang alim ketika mengingkari tujuannya untuk menasehati”.Para salaf dalam menasehati kemungkaran selalu dalam kelemah lembutan.Cara mengingkari para umara’/penguasa. Orang yang paling utama untuk kita lembuti ketika mengingakari adalah para penguasa. Lihatlah perintah Allah kepada Musa alaihissalam saat Musa bertemu dengan Fir’aun. Allah memerintahkan Musa untuk berkata-kata lembut kepada Fir’aun yang jelas-jelas mengingkari Allah sebagai tuhan. Al Imam Ibnu Jauzi memberikan contoh jika berkata pada penguasa, “Ketahuilah para penguasa, para pejabat, sesungguhnya Allah telah mengangkat kalian dengan dijadikan penguasa. Maka ingatlah bahwa ini adalah nikmat dari Allah (artinya ada tanggung jawabnya). Dan sesungguhnya nikmat itu akan langgeng dengan bersyukur kepada Allah. jangan sampai nikmat itu ditanggapi dengan kemaksiatan”>Fitnah seseorang yang tidak membenahi kemungkaran, dinama orang tersebut mampu dan bisa membenahi munkar tapi tidak mau membenahi munkar dengan alasan wara’. Padahal syaithan telah menipu para ahli ibadah, dia melihat kemungkaran namun dia tidak mengingkarinya seraya berkata, “Yang bisa mengingkarinya adalah orang sholih, sedangkan aku bukanlah orang sholih. Bagaimana aku menyuruh orang lain sementara aku sendiri bukan orang sholih”.Al Imam Ibnu Jauzi menyanggah perkataan orang tersebut dengan berkata, “Karena wajib baginya untuk beramar ma’ruf nahi munkar meskipun dia masih melakukan maksiat tersebut!” para ulama mengatakan bahwa kewajiban orang tersebut beramar ma’ruf nahi munkar ada 2 yaitu, pertama, kewajiban dirinya untuk meninggalkan maksiat tersebut. Kedua, kewajiban baginya untuk membenahi munkar. Jika tidak melakukan keduanya maka orang itu akan mendapat dosa dari keduanya.Sesungguhnya jika orang menegur kemaksiatan, sama halnya menasehati dirinya sendiri. Agar termotivasi untuk benar-benar meninggalkan maksiat tersebut karena Allah. Dan jika dia meninggalkan maksiat tersebut, tentu pengingkarannya lebih berdampak. Adapun jika orang tersebut mengingkari kemaksiat yang sama seperti dilakukannya, hampir-hampir dampaknya tidak ada. WAJIB bagi orang yang benahi munkar untuknya meninggalkan maksiat tersebut agar ketika membenahi munkar pengaruhnya terlihat. Talbis iblis kepada ahli zuhud dan ahli ibadah. Mereka menyangka dengan meninggalkan dunia sepenuhnya adalah suatu kezuhudan. Padahal dunia itu tidaklah tercela, yang tersela adalah sifat manusia terhadap dunia. Iblis menipunya dengan berkata, “Kau tidak akan selamat di akhirat kecuali engkau meninggalkan dunia”. Maka orang yang tertipu rayuan iblis itu segera pergi ke gunung-gunung, kemudian menjauhkan diri dari sholat Jum’at dan sholat berjama’ah dan tidak menuntut ilmu, sehingga diibaratkan seperti hewan yang liar. Karena orang itu dikhayalkan inilah zuhud yang hakiki. Terlebih lagi orang itu mendengar, ada diantara orang sholih yang berkelana pergi kesana kemari. Atau orang itu ikut-ikutan orang sholih pergi ke gunung padahal memiliki keluarga dan ibu, maka durhakalah orang seperti ini kepada ibu dan dzolim kepada keluarganya.Iblis bisa menggoda orang seperti ini karena seedikit ilmunya dan kebodohannya. Bukankah dunia adalah sebab seseorang bisa menuntut ilmu dan beribadah. Ibnu Jauzi berkata bahwa yang tercela dari dunia itu jika ambil dunia dengan cara yang tidak halal atau mengambil dunia dengan berlebih-lebihan/mengambil dunia tidak sesuai kebutuhan hanya sesuai keinginan hawa nafsu. Sibuk zuhud meninggalkan menuntut ilmu. Definisi wara’: meninggalkan sesuatu yang mungkin bermasalah di akhirat nanti atau lebih banyak mudhorot yakni meninggalkan yang haram dan syubhat.Defini zuhud: meninggalkan yang tidak bermanfaat di akhirat.Jadi bukan meninggalkan semua perkara yang mubah. Karena ada perkara mubah yang bermanfaat di akhirat.Salah kaprah dalam memaknai zuhud yang terjadi pada sebagian orang:diantara mereka ada yang tidak mau makan roti dari sa’ir (roti yang halus terksturnya).diantara mereka ada yang tidak mau makan buah.diantara mereka hanya makan sedikit hingga badannya kurus kering.diantara mereka ada yang menyiksa dirinya dengan memakai pakaian dari kain bulu domba (kainnya kasar dan bau).diantara mereka tidak mau minum air dingin karena dianggap terlalu nikmat.diantara mereka ada yang tidak mau makan khobis (makanan yang mewah).Padahal ini bukan jalan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam dan para sahabat.Para sahabat dulu tidak makan karena memang tidak ada makanan. Mereka bersabar menahan lapar. Bukan berniat untuk melaparkan diri. Rasulullah shalallahu alaihi wasalam juga makan daging, suka makanan yang manis-manis, suka minuman yang segar-segar.Catatan pribadi kajian kitab Talbis Ibliskarya Al Imam Ibnu Jauzi Pemateri: Ust. Firanda Andirja, M.AChallenge: @komunitas.beekindPencatat: @umlinote

















