📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI8 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 12: Aliran Sesat Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Takdir

Halaqah 12:Aliran Sesat Yang Menyimpang Di Dalam Masalah Takdir🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى▪️Aliran Al MajusiyahDiantara aliran sesat yang menyimpang di dalam masalah takdir adalah aliran Al Majusiyah, yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Majusi.Mereka adalah orang-orang yang beriman dengan syari’at, akan tetapi mendustakan takdir Allah.Ada diantara mereka yang mengingkari ilmu Allah dan mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadinya.Dan ada diantara mereka yang mengingkari keumuman Masyiah Allah dan penciptaan-Nya. Mereka berkata,“Allah yang mencipta manusia dan manusialah yang menciptakan amalannya sendiri.”Dan mereka berkata,“Bahwa amalan manusia adalah dengan kehendak manusia semata dan tidak ada hubungan sama sekali dengan kehendak Allah.”Sehingga mereka dinamakan dengan Al-Majusiyah karena orang-orang Majusi meyakini bahwa pencipta ada dua:⑴ Pencipta kebaikan⑵ Pencipta keburukan▪️Aliran Al MusyrikiyahDan diantara aliran yang sesat di dalam masalah takdir adalah aliran Al Musyrikiyah yaitu aliran yang mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.Mereka mengakui takdir Allah tetapi mengingkari syari’at Allah dan tidak mengikutinya.Dinamakan Al Musyrikiyah karena orang-orang Musyrikin mengakui takdir Allah dan tidak mau mengikuti syari’at Allah yang intinya adalah Tauhid.Allah berfirman tentang mereka:سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ ۚ…“Akan berkata (orang-orang Musyrikin) seandainya Allah menghendaki niscaya kita tidak akan berbuat syirik, demikian pula bapak-bapak kami, dan tentunya kami tidak akan mengharamkan sesuatu.”(QS. Al-An’am: 148)Demikianlah ucapan orang-orang Musyrikin ketika mereka diajak oleh Rasulullah ﷺ untuk bertauhid, mereka menolak tauhid dan beralasan bahwa kesyirikan mereka adalah dengan takdir Allah.Maka setiap orang yang berdalil dengan takdir dalam membolehkan kemaksiatan, pada hakikatnya dia telah mengikuti jalan orang-orang Musyrikin.Adapun Ahlus Sunnah maka seperti yang sudah berlalu, mereka beriman dengan takdir dan beriman dengan syari’at.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Tafsir Ibnu Katsir — Ar-Ra’d Ayat 35 Gambaran Surga: Tempat Kesudahan Orang-Orang yang Bertakwa

Ayat 35“Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa: di dalamnya ada sungai-sungai yang mengalir, buahnya tidak henti-henti, dan naungannya demikian pula. Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa. Sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.”(QS. Ar-Ra’d: 35)1. Gambaran Surga yang Allah JanjikanAllah memberikan gambaran tentang surga agar manusia dapat membayangkan kemuliaan dan kenikmatan tempat yang telah Allah persiapkan bagi orang-orang bertakwa.Allah tidak sekadar mengatakan bahwa surga itu indah, tetapi menjelaskan sebagian karakteristiknya:terdapat sungai-sungai yang mengalir,buah-buahannya tidak pernah habis,naungannya tidak pernah hilang,kenikmatannya tidak terputus,dan penghuninya mendapatkan kehidupan yang sempurna.Semua itu merupakan gambaran yang dapat dipahami manusia di dunia, sementara hakikat kenikmatan surga jauh lebih besar daripada apa yang mampu dibayangkan manusia.2. Sungai-Sungai yang Mengalir di Dalam SurgaAllah berfirman:“Di dalamnya ada sungai-sungai yang mengalir.”Menurut penjelasan Ibnu Katsir, sungai-sungai tersebut mengalir di sekitar wilayah dan sisi-sisi surga sesuai dengan kehendak penghuninya.Kenikmatan air di surga berbeda dengan air di dunia.Allah menjelaskan dalam QS. Muhammad ayat 15 bahwa di surga terdapat:sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya,sungai susu yang tidak berubah rasanya,sungai khamr yang lezat bagi peminumnya,sungai madu yang telah disaring.Artinya, kenikmatan surga bukan sekadar lebih banyak, tetapi juga sempurna dan tidak mengalami kerusakan.Di dunia, sesuatu yang nikmat dapat berubah:makanan basi,minuman berubah rasa,buah membusuk,sesuatu yang indah menjadi rusak.Namun di surga, kenikmatan tersebut tidak mengalami perubahan yang merusak.3. Buah-Buahan yang Tidak Pernah HabisAllah berfirman:“Buahnya tak henti-henti.”Ini merupakan salah satu perbedaan terbesar antara kenikmatan dunia dan kenikmatan surga.Di dunia:makan → kenyang → habis.Di surga:makan → menikmati → kenikmatan tetap tersedia.Tidak ada kekhawatiran:“Nanti habis.”Tidak ada rasa takut:“Besok sudah tidak ada.”Tidak ada kelangkaan.Allah berfirman:“Buah-buahannya tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya.”(QS. Al-Waqi’ah: 32–33)Dan Allah berfirman:“Naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya.”(QS. Al-Insan: 14)Pelajaran pentingKenikmatan surga tidak membuat seseorang harus bersusah payah mendapatkannya.Apa yang diinginkan tersedia dan mudah diperoleh.4. Buah di Surga Tidak Seperti Buah di DuniaIbnu Katsir membawakan beberapa hadis yang menggambarkan luas dan luar biasanya kenikmatan makanan di surga.Di antaranya hadis tentang Rasulullah ﷺ yang diperlihatkan surga dalam salat gerhana.Beliau melihat surga dan berniat mengambil setangkai anggur.Beliau menjelaskan bahwa seandainya beliau benar-benar mengambilnya, manusia akan dapat menikmati buah tersebut selama dunia masih ada.Ini menunjukkan bahwa ukuran dan keberkahan kenikmatan surga tidak dapat disamakan dengan apa yang ada di dunia.5. Buah Surga Tidak Pernah BerkurangDalam riwayat yang disebutkan Ibnu Katsir dari Tsauban r.a., Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ketika seseorang memetik sebuah buah dari surga, akan tumbuh buah lain yang menggantikannya.Ini menggambarkan prinsip:Kenikmatan surga tidak mengalami pengurangan.Berbeda dengan dunia.Jika kita mengambil satu buah dari sebuah pohon:jumlah buah berkurang.Tetapi kenikmatan surga:diambil → digantikan kembali.Tidak ada kekhawatiran akan kehabisan.6. Kenikmatan Makan dan Minum di SurgaSalah satu hal menarik yang dijelaskan dalam hadis adalah bahwa penghuni surga makan dan minum, tetapi tidak mengalami berbagai proses biologis yang tidak menyenangkan sebagaimana manusia di dunia.Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa penghuni surga:makan,minum,tetapi tidak buang air besar,tidak buang air kecil,dan tidak mengeluarkan kotoran seperti manusia di dunia.Makanan mereka keluar melalui keringat yang harum seperti minyak kesturi.Mereka juga tidak mengalami gangguan tubuh sebagaimana kehidupan dunia.7. Makan di Surga Bukan Sekadar untuk Bertahan HidupDi dunia, manusia membutuhkan makanan karena tubuh membutuhkan energi.Di surga, makan merupakan bagian dari kenikmatan.Demikian pula minum dan berbagai kenikmatan lainnya.Dalam riwayat yang disebutkan Ibnu Katsir, seseorang dari penghuni surga diberikan kekuatan yang sangat besar dalam menikmati makanan, minuman, dan kenikmatan lainnya.Artinya, kehidupan di surga bukan kehidupan yang dipenuhi:kelelahan,sakit,keterbatasan,kelemahan,atau rasa tidak nyaman.8. Kenikmatan Surga Tidak Membawa Dampak BurukIni adalah konsep penting.Di dunia, banyak kenikmatan memiliki konsekuensi.Makanan lezat bisa menyebabkan sakit.Makan terlalu banyak menyebabkan tidak nyaman.Minuman tertentu memiliki dampak buruk.Tidur terlalu lama membuat tubuh lemas.Tetapi kenikmatan surga tidak disertai dampak buruk.Penghuninya memperoleh kenikmatan tanpa mengalami sisi negatif sebagaimana kenikmatan dunia.9. Bahkan Burung di Surga Menjadi KenikmatanIbnu Katsir juga membawakan riwayat tentang burung di surga.Disebutkan bahwa seseorang dapat melihat burung di surga, kemudian burung tersebut jatuh di hadapannya dalam keadaan telah siap untuk dimakan.Dalam sebagian riwayat, setelah dimakan, burung tersebut kembali seperti semula dan terbang dengan izin Allah.Gambaran ini kembali menunjukkan:Tidak ada kekurangan dalam kenikmatan surga.Kenikmatan diberikan tanpa menyebabkan kerusakan atau kehilangan.10. Naungan Surga Tidak Pernah HilangAllah berfirman:“Sedang naungannya demikian pula.”Maksudnya, sebagaimana buah-buahannya tidak pernah habis, naungan surga juga tidak pernah hilang atau berkurang.Allah berfirman:“Dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.”(QS. An-Nisa: 57)Naungan di surga bukan seperti naungan di dunia yang:berpindah karena matahari,menghilang ketika kondisi berubah,atau membuat seseorang kepanasan setelah beberapa waktu.Naungan surga adalah naungan yang sempurna.11. Betapa Luasnya Naungan di SurgaRasulullah ﷺ menggambarkan sebuah pohon di surga:Seorang pengendara yang memacu kudanya dengan cepat dapat berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun, tetapi belum berhasil melewati seluruhnya.Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan:“Dan naungan yang terbentang luas.”(QS. Al-Waqi’ah: 30)Bayangkan luasnya sebuah naungan yang bahkan perjalanan selama seratus tahun belum cukup untuk melewatinya.Ini bukan sekadar menggambarkan ukuran.Tetapi menggambarkan bahwa kemampuan manusia untuk membayangkan luas dan megahnya surga sangat terbatas.12. Mengapa Allah Sering Menyebut Surga dan Neraka Bersamaan?Ini salah satu poin penting dalam penjelasan Ibnu Katsir.Allah sering menyebut:surga ↔ nerakasecara beriringan.Mengapa?Agar manusia:menginginkan surgadantakut terhadap neraka.Jika hanya berbicara tentang surga, seseorang mungkin merasa cukup dengan berharap.Jika hanya berbicara tentang neraka, seseorang mungkin merasa putus asa.Maka Al-Qur’an mendidik manusia dengan dua hal:Raja’ — berharap kepada AllahdanKhauf — takut kepada Allah.Keduanya harus berjalan bersama.13. Dua Tempat KesudahanAllah menutup gambaran tersebut dengan firman-Nya:“Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.”Ada dua jalan.Orang-orang bertakwa➡️ SurgaOrang-orang kafir➡️ NerakaAllah juga berfirman:“Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga. Penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. Al-Hasyr: 20)Jadi, kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir.Ada tempat kembali.14. Dunia Bukan Tempat Pembalasan SempurnaInilah salah satu pesan besar ayat ini.Di dunia, kita sering melihat:orang baik mengalami kesulitan,orang jujur menghadapi ujian,orang zalim terkadang terlihat hidup nyaman,orang yang taat terkadang harus bersabar dalam kesulitan.Apakah itu akhir cerita?Tidak.Allah mengingatkan bahwa ada tempat kesudahan.Dunia adalah tempat ujian.Akhirat adalah tempat pembalasan.Karena itu, ukuran keberhasilan seorang mukmin bukan sekadar:“Seberapa nyaman hidupku sekarang?”Tetapi:“Ke mana aku akan berakhir?”15. Nasihat Bilal bin Sa’dIbnu Katsir menukil nasihat Bilal bin Sa’d, seorang khatib di Dimasyq.Ia mengingatkan manusia agar tidak mengira bahwa mereka diciptakan tanpa tujuan dan tidak akan dikembalikan kepada Allah.Ia juga mengingatkan:Jika pahala ketaatan seluruhnya disegerakan di dunia, manusia mungkin hanya akan beramal karena menginginkan keuntungan dunia.Padahal Allah mengajarkan kita untuk berlomba mendapatkan surga.Allah berfirman:“Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”(QS. Al-Muthaffifin: 26)16. Apa yang Seharusnya Membuat Kita Semangat Beramal?Ayat ini mengajarkan bahwa seorang mukmin memiliki orientasi yang jauh lebih panjang daripada kehidupan dunia.Bukan hanya:sekolah → kerja → rumah → harta → kenyamanan → selesai.Tetapi:dunia → kematian → kebangkitan → hisab → tempat kesudahan.Karena itu, setiap amal menjadi berarti.Salat yang kita jaga.Sedekah yang kita keluarkan.Orang tua yang kita hormati.Anak yang kita didik.Lisan yang kita jaga.Dosa yang kita tinggalkan.Semua itu memiliki konsekuensi di akhirat.17. Tadabbur: Surga Membuat Kita BertanyaKetika membaca tentang sungai-sungai surga, buah yang tidak pernah habis, dan naungan yang tidak pernah hilang, jangan berhenti pada kekaguman.Tanyakan kepada diri sendiri:“Apa yang sedang aku lakukan hari ini untuk menjadi penghuni tempat itu?”Karena Allah tidak mengatakan bahwa surga adalah tempat kesudahan semua manusia.Allah mengatakan:“Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa.”Maka yang harus kita kejar bukan hanya kehidupan yang nyaman di dunia, tetapi akhir kehidupan yang baik.18. Pelajaran Utama QS. Ar-Ra’d: 351. Surga benar-benar adaSurga bukan sekadar simbol atau gambaran abstrak.2. Surga adalah janji AllahAllah menjanjikannya kepada orang-orang yang bertakwa.3. Kenikmatan surga sempurnaTidak seperti kenikmatan dunia yang selalu memiliki keterbatasan.4. Sungai-sungainya mengalirKenikmatan air dan minuman di surga jauh melampaui apa yang ada di dunia.5. Buah-buahannya tidak pernah habisSetiap kali dinikmati, kenikmatan itu tidak berkurang.6. Naungannya tidak pernah hilangTidak ada panas, kelelahan, atau ketidaknyamanan.7. Penghuni surga makan dan minumNamun tanpa kotoran dan gangguan tubuh sebagaimana kehidupan dunia.8. Surga sangat luasGambaran-gambaran dalam hadis menunjukkan keluasan yang melampaui imajinasi manusia.9. Allah menyandingkan surga dan nerakaAgar manusia memiliki harapan sekaligus rasa takut.10. Dunia bukan akhir perjalananSetiap manusia akan menuju tempat kesudahan.19. Pertanyaan untuk MuhasabahCoba tanyakan kepada diri sendiri:Jika surga benar-benar menjadi tempat kesudahan yang Allah janjikan, seberapa serius aku mempersiapkan diri untuk mencapainya?Apakah selama ini kita lebih sibuk mengejar:rumah yang lebih bagus,kendaraan yang lebih nyaman,pekerjaan yang lebih tinggi,tabungan yang lebih banyak,daripada mengejar amal yang menjadi bekal menuju akhirat?Karena semua yang kita kumpulkan di dunia akan kita tinggalkan.Tetapi amal akan kita bawa.20. KesimpulanQS. Ar-Ra’d ayat 35 menggambarkan surga sebagai tempat kesudahan orang-orang yang bertakwa.Di dalamnya terdapat sungai-sungai yang mengalir, buah-buahan yang tidak pernah habis, dan naungan yang tidak pernah hilang.Kenikmatannya tidak mengalami kerusakan, tidak berkurang, dan tidak disertai berbagai penderitaan sebagaimana kehidupan dunia.Namun inti ayat ini bukan sekadar membuat kita membayangkan indahnya surga.Lebih dari itu, ayat ini mengajak kita menentukan arah hidup.Karena pada akhirnya setiap manusia akan sampai pada sebuah tempat kesudahan.Pertanyaannya bukan hanya: “Seberapa indah hidup yang ingin kita miliki di dunia?”Tetapi:“Di mana kita ingin hidup untuk selama-lamanya?”Dan untuk tempat itu, sudahkah kita mempersiapkan bekalnya?

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 12 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 12)

Tema: Perintah terbesar dari Allah adalah Tauhid1. Tauhid adalah Perintah Allah yang Paling BesarSyaikh Muhammad bin Abdul Wahhab رحمه الله berkata:وأعظم ما أمر الله به التوحيد وهو إفراد الله بالعبادة“Perintah terbesar yang Allah perintahkan adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah.”Maknanya:Semua perintah syariat sangat penting, seperti shalat, zakat, puasa, sedekah, dan berbakti kepada orang tua.Namun, tauhid adalah perintah yang paling agung dan paling utama dibanding seluruh perintah lainnya.2. Amalan Paling Utama adalah Iman kepada Allah dan Rasul-NyaKetika Rasulullah ﷺ ditanya tentang amalan yang paling utama, beliau menjawab:“Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”Ini menunjukkan bahwa:Dasar seluruh amal adalah tauhid dan iman.Amal sebanyak apa pun tidak akan diterima tanpa tauhid.3. Perintah Pertama dalam Al-Qur’an adalah TauhidAllah berfirman:يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian.” (QS. Al-Baqarah: 21)Pelajaran penting:Ini adalah perintah pertama kepada seluruh manusia dalam Al-Qur’an.Allah tidak memulai dengan perintah shalat atau puasa, tetapi dengan perintah beribadah kepada-Nya.Yang berhak disembah hanyalah Allah karena Dialah yang menciptakan manusia dan seluruh makhluk.Catatan hafalan:Yang menciptakan → yang berhak disembah.Yang tidak menciptakan → tidak berhak disembah.4. Hak Pertama yang Wajib Ditunaikan adalah Hak AllahAllah berfirman:وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nisa’: 36)Dalam ayat ini Allah menyebutkan berbagai hak:Hak Allah.Hak kedua orang tua.Hak kerabat.Hak anak yatim.Hak orang miskin.Hak tetangga dekat.Hak tetangga jauh.Hak teman sejawat.Hak ibnu sabil.Hak budak/hamba sahaya.Menariknya:Sebelum menyebut hak-hak manusia, Allah mendahulukan hak-Nya, yaitu tauhid dan larangan syirik.5. Wasiat Pertama Allah dalam Al-Qur’an adalah TauhidAllah berfirman:وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ“Rabbmu telah memerintahkan agar kalian tidak menyembah selain Dia.” (QS. Al-Isra’: 23)Pelajarannya:Sebelum memerintahkan berbakti kepada orang tua, Allah mendahulukan tauhid.Ini menunjukkan bahwa hak Allah lebih besar daripada hak siapa pun.Mengapa Tauhid Menjadi Perintah Terbesar?1. Tujuan Penciptaan ManusiaAllah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya.2. Dakwah Seluruh NabiSemua nabi mengajak umatnya kepada:“Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”3. Amal Tidak Diterima Tanpa TauhidOrang yang rajin beramal tetapi melakukan syirik, amalnya tidak diterima.4. Tauhid Adalah Hak AllahHak terbesar Allah atas hamba-hamba-Nya adalah:Beribadah hanya kepada-Nya.Tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.Ringkasan Super Singkat (Untuk Hafalan)Definisi Tauhidإفراد الله بالعبادة“Mengesakan Allah dalam ibadah.”4 Poin PentingTauhid adalah perintah terbesar Allah.Tauhid adalah amalan paling utama.Perintah pertama dalam Al-Qur’an adalah tauhid (QS. Al-Baqarah: 21).Hak pertama yang wajib ditunaikan adalah hak Allah, yaitu bertauhid dan menjauhi syirik.Kata Kunci Halaqah 12Tauhid → Perintah Terbesar → Hak Allah yang Pertama → Dasar Seluruh AmalKesimpulanHalaqah ini menegaskan bahwa tauhid merupakan kewajiban terbesar seorang hamba. Semua ibadah, amal saleh, dan ketaatan harus dibangun di atas tauhid. Karena itu, seorang muslim harus mempelajari tauhid, mengamalkannya, serta menjauhi segala bentuk syirik agar amalnya diterima oleh Allah.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 87 | Pengakuan Terhadap Takdir Merupakan Bentuk Pengesaan Allāh ﷻ dan Rububiyyah-Nya

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullahالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-87 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالِاعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ اللهِ تَعَالَىٰ وَرُبُوبِيَّتِهِDan beriman dengan takdir Allāh ﷻ ini adalah bentuk pengakuan kita terhadap keesaan Allāh ﷻ dan juga Rubūbiyyah-Nya.Ini termasuk pengakuan kita terhadap keesaan Allāh ﷻ dan pengakuan kita terhadap Rubūbiyyah Allāh ﷻ. Kenapa demikian? Karena meyakini bahwasanya Allāh ﷻ mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, dan meyakini bahwasanya Allāh ﷻ menulis segala sesuatu sebelum terjadinya, ini adalah termasuk bagian dari keimanan kita terhadap Qudratullāh (kekuasaan Allāh ﷻ).Allāh ﷻ berkuasa untuk mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, Allāh ﷻ berkuasa untuk menulis segala sesuatu sebelum terjadinya, dan Allāh ﷻ berkuasa untuk menjadikan segala sesuatu di permukaan bumi ini terjadi dengan Masīyyatullāh (kehendak Allāh ﷻ). Allāh ﷻ berkuasa untuk menciptakan segala sesuatu yang Dia inginkan.Kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ itu sama dengan beriman dengan Qudratullāh (kekuasaan Allāh ﷻ). Makanya sebagian salaf mengatakan, “Al-Qadru Qudratullāh” (Al-Qadr itu adalah kekuasaan Allāh ﷻ). Sehingga barangsiapa yang mengingkari Qadar, mengingkari takdir, maka dia telah mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ, dan orang yang mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ keluar dari agama Islam.Al-Qadr adalah Qudratullāh. Takdir adalah kekuasaan Allāh ﷻ. Barangsiapa yang mengingkari takdir Allāh ﷻ maka dia telah mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ, dan barangsiapa yang mengingkari kekuasaan Allāh ﷻ maka dia telah keluar dari agama Islam. Sehingga beliau mengatakanوَالِاعْتِرَافِ بِتَوْحِيدِ اللهِ تَعَالَىٰ وَرُبُوبِيَّتِهِberiman dengan takdir ini adalah pengakuan seorang hamba tentang keesaan Allāh ﷻ, pengakuan seorang hamba terhadap Rubūbiyyah Allāh ﷻ. Karena di antara makna Rubūbiyyah adalah al-qudrah, yaitu Allāh ﷻ Maha Memiliki sifat al-qudrah, menguasai segala sesuatu. Itu di antara makna-makna Rubūbiyyah.كَمَا قَالَ تَعَالَىٰSebagaimana Firman Allāh:وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا [الفرقان: 2]“Allāh Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu dan Allāh mentakdirkan segala sesuatu dengan sebenar-benarnya.”Ini ada keimanan terhadap takdir Allāh ﷻ dan keimanan bahwasanya segala sesuatu diciptakan oleh Allāh ﷻ dengan takdir.وَقَالَ تَعَالَىٰ: {وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا} [الأحزاب: 38]Dan Allāh ﷻ berfirman: “Dan urusan Allāh ﷻ itu adalah takdir yang sudah ditakdirkan.”Semuanya adalah dengan takdir Allāh ﷻ. Ini menunjukkan bahwasanya apa yang terjadi di permukaan bumi ini, itu bukan terjadi secara begitu saja, bukan terjadi tanpa aturan, bukan terjadi tanpa direncanakan, bukan terjadi tanpa diketahui oleh Allāh ﷻ. Itu semua sudah diketahui. Apa yang terjadi di permukaan bumi, apa saja, sekecil apapun itu, sudah diketahui oleh Allāh ﷻ dan sudah ditulis oleh Allāh ﷻ semuanya, dan akan terjadi sebagaimana yang Allāh ﷻ tulis.Dan ini bukan berarti bahwasanya seseorang kemudian dia tidak mengambil sebab. Ini sudah kita tekankan berkali-kali. Sebagaimana kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ, maka kita juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ. Allāh ﷻ mentakdirkan dan Allāh ﷻ juga mensyariatkan. Kita beriman dengan takdir Allāh ﷻ dan kita juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ. Dua-duanya kita imani. Allāh ﷻ mentakdirkan rezeki dan Allāh ﷻ juga mensyariatkan kita untuk memberi nafkah, untuk mencari rezeki, untuk bekerja.فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ Apabila sudah selesai shalat Jum’at, maka hendaklah kalian menyebar dipermukaan bumi; dan carilah karunia Allāh ﷻ, bekerjalah, berdaganglahوَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَDan banyak-banyaklah mengingat Allāh ﷻ semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Jumu’ah: 10)Dan Nabi ﷺ bersabda,لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً مِنْ حَطَبٍ، فَيَحْمِلُهَا عَلَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا، فَيَسْتَغْنِيَ بِثَمَنِهَا، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُSungguh salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar (di kebun atau di hutan), kemudian dia bawa satu ikat dari kayu bakar tadi ke pasar, kemudian dia jual, dia mendapatkan uang, itu lebih baik daripada dia meminta-minta kepada manusia baik diberi ataupun tidak diberi.Apa yang kita pahami dari ucapan Nabi ﷺ ini? adalah dorongan kita untuk bekerja. Jangan kita meminta-minta kepada manusia, meskipun meminta itu mungkin dikasih, dan mungkin dikasihnya lebih banyak daripada kita mencari kayu bakar, kemudian kita jual. Tapi yang lebih dicintai oleh Allāh ﷻ adalah kita usaha sendiri, kita bekerja sendiri meskipun hanya sedikit yang kita dapatkan.Para anbiya, mereka bekerja. Para nabi mereka bekerja, padahal siapa yang lebih kuat keimanannya terhadap takdir, kita atau mereka? Tentunya mereka. Tapi lihat, ada di antara mereka yang jadi tukang kayu, ada di antara mereka yang jadi penggembala. Nabi Mūsā ‘alayhis-salām, berapa tahun beliau menggembalakan untuk Shahibul  Madyan? Padahal mereka adalah orang-orang yang sangat beriman dengan takdir Allāh ﷻ. Karena mereka tahu bahwasanya kita ini diperintahkan untuk melakukan dua perkara: beriman dengan takdir dan juga beriman dengan syariat Allāh ﷻ.Semua ini sudah ditulis tentang penduduk Surga dan juga penduduk Neraka. Kita iman yang demikian. Dan di dalam syariat kita diperintahkan untuk shalat, kita diperintahkan untuk menjauhi kemaksiatan, kita diperintahkan untuk beriman, kita diperintahkan untuk menuntut ilmu. Kita lakukan apa yang Allāh ﷻ perintahkan. Kita beriman bahwasanya penyakit dan kesembuhan ini sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dan tidak mungkin dirubah, tapi di satu sisi kita disuruh untuk beriman dengan syariat Allāh ﷻ.Kita diperintahkan untuk berobat.يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا، …، وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ“Wahai hamba-hamba Allāh, berobatlah kalian, dan janganlah kalian berobat dengan sesuatu yang diharamkan oleh Allāh.”Allāh ﷻ mengabarkan di dalam Al-Qur’ān bahwa madu ini adalah obat. Al-Qur’ān di dalamnya ada obat. Nabi ﷺ mengabarkan bahwa habbatus-sauda adalah obat. Tujuannya apa? Supaya kita berobat, supaya kita mengambil sebab. Masalah hasilnya, maka yang menentukan adalah Allāh ﷻ.Kita diperintahkan untuk mengambil sebab, dan kita yakin semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ tidak sembuh, ya bagaimanapun kita mencari dokter yang hebat, kita mencari obat yang manjur dan seterusnya, tidak akan sembuh. Tapi kita diperintahkan untuk mengambil sebab, kita diperintahkan untuk berdoa, kita diperintahkan untuk bersabar, dan seterusnya.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke dua belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke dua belas dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Para ulama menjelaskan apabila memang terjadi kekufuran yang sangat jelas dari seorang penguasa (dari seorang pemerintah), maka di sana ada syarat-syarat yang lain yang harus dipenuhi dan ini disebutkan oleh para ulama, (yaitu) (1) apabila tidak terjadi di sana kerusakan yang lebih besar.Apabila di sana justru terjadi kerusakan yang lebih besar, apabila seseorang memberontak karena pemerintahnya melakukan kekufuran, melakukan kekafiran yang jelas, apabila di sana justru terjadi kerusakan yang lebih besar, maka diharamkan seseorang untuk memberontak. Ini disebutkan oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya.Dan (2) kaum muslimin memiliki ganti yang lebih baik.Kalau misalnya bisa memberontak tetapi tidak memiliki ganti yang lebih baik, maka tidak diperbolehkan untuk melakukan pemberontakan.Dan juga syarat-syarat yang lain.Para ulama telah ketat di dalam masalah ini. Dan perkara seperti ini dikembalikan kepada para pembesar ulama, bukan hanya kepada seorang da’i, seorang ustadz, tetapi dikembalikan kepada ulama-ulama besar yang mereka mengetahui maslahat dan juga mudharat, mana yang baik dan mana yang buruk bagi kaum muslimin.Dalil yang lain yang menunjukkan tentang wajibnya mendengar dan taat kepada pemerintah, Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, ”Bahwanya kita diperintahkan untuk mendengar dan taat kecuali apabila dia diperintahkan untuk kemaksiatan.فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ“Apabila diperintahkan untuk berbuat maksiat maka tidak ada mendengar dan tidak ada ketaatan.” (HR Muslim 3423/1839)اسْمَعُوا وَأَطِيعُواMendengarlah kalian dan taatlah kalian,Namun apabila diperintahkan untuk berbuat maksiat, فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ maka tidak ada mendengar dan tidak ada ketaatan.Artinya di dalam perintah tersebut, penguasa dan juga pemerintah memiliki peraturan-peraturan. Di antara peraturan tersebut ada yang sesuai dengan syari’at Allah dan Rasul-Nya dan ada di antara peraturan tersebut yang tidak sesuai.Yang sesuai dengan syari’at Allah dan Rasul-Nya maka kita diwajibkan untuk mendengar dan juga taat.Disebutkan oleh para ulama, contohnya (misalnya) peraturan lalu lintas.Kita diharuskan memiliki SIM, kita diharuskan untuk mengikuti rambu-rambu lalu lintas, dilarang parkir di sebuah tempat, apabila lampu berwarna merah maka harus berhenti, maka ini adalah peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah untuk kemaslahatan bersama.Pada asalnya ini adalah kewajiban kita sebagai rakyat untuk mendengar dan taat kepada penguasa tersebut di dalam peraturan-peraturan ini, karena peraturan-peraturan ini tidak bertentangan dengan syari’at Allah dan juga Rasul-Nya.Namun ketika membuat peraturan yang di situ ada kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh seseorang untuk mendengar dan taat di dalam peraturan tersebut dan dia masih diwajibkan untuk mendengar dan taat pada peraturan-peraturan yang lain yang sesuai dengan Al Qur’an dan juga hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Kemudian Beliau mengatakan وَقَدَرًا, demikian pula dari segi takdir, Allah Subhānahu wa Ta’āla telah menjelaskan baik dengan syari’at maupun dengan takdir.Maksudnya dengan takdir adalah dengan apa yang kita lihat di sekitar kita. Kita bisa bedakan antara sebuah negara yang rakyatnya di situ mendengar dan taat kepada penguasanya, dengan sebuah negara yang rakyatnya tidak mendengar dan juga tidak taat kepada pemerintahnya.Beda antara dua negara ini, negara yang rakyatnya melakukan ketaatan dan mendengar apa yang diperintahkan oleh pemerintah, maka kita dapatkan keamanan di dalam negara tersebut, ketenangan, nyaman rakyatnya di dalam melakukan berbagai kegiatan, baik kegiatan agama maupun kegiatan dunia, dengan leluasa mereka beribadah, melakukan haji setiap tahun, melakukan shalat lima waktu secara berjama’ah, mendirikan shalat hari raya, juga syari’at syari’at yang lain.Dan dengan leluasa mereka melakukan kegiatan dunia, berdagang, bepergian, karena rakyatnya mendengar dan taat kepada pemerintahnya.Lain dengan sebuah negara yang di situ rakyatnya tidak mendengar dan tidak taat kepada pemerintah. Keamanan tidak stabil, rakyatnya di dalam berbagai kegiatan mereka merasa tidak aman, baik ketika beribadah maupun dalam melakukan kegiatan-kegiatan dunia, banyak di antara mereka yang tidak bisa melaksanakan haji, takut untuk shalat berjama’ah, wanita yang muslimah takut untuk menggunakan jilbab dan juga perkara-perkara yang lain.Beda antara sebuah negara yang rakyatnya taat kepada penguasa dengan sebuah negara yang rakyatnya tidak taat kepada penguasa.Oleh karena itu beliau mengatakan: شَرْعًا وَقَدَرًا Baik secara syari’at maupun takdir, taat kepada pemerintah adalah sesuatu yang sangat penting bagi seorang muslim.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka8 September 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Mendidik Anak Diawali Dari Mendidik Diri, Ust Abu Salma Muhammad

Membangun dimulai dari dalam.Dari internal.Dari hati.Dari batin.Sebelum kita terlalu fokus kepada perubahan lahiriah, kita harus membangun bagian dalam terlebih dahulu.Jika kita ingin memperbaiki keluarga, masyarakat, dan hubungan antarmanusia, maka perubahan harus dimulai dari diri.“Kita harus memulai dengan mendidik dan memperbaiki diri kita terlebih dahulu.”Perubahan dari dalam diri kita akan melahirkan perubahan positif di lingkungan sekitar.Kalau kita tidak mau berubah, akan sulit bagi kita membawa perubahan kepada orang lain.Karena itu, pendidikan anak sebenarnya adalah proses di mana orang tua dan anak sama-sama bertumbuh.Kita bukan hanya sedang membesarkan anak.Kita juga sedang mendewasakan diri kita sendiri.Dan salah satu masalah terbesar orang tua dalam pendidikan anak adalah:Ego.Orang Tua Juga Harus Mendewasakan EgoKadang-kadang ego kita sebagai orang tua masih seperti anak-anak.Ketika ada masalah, kita ingin menang sendiri.Kita menuntut anak ketika melakukan kesalahan:“Kalau salah, minta maaf!”Tetapi ketika kita sendiri yang bersalah, kita gengsi untuk meminta maaf.Kenapa?“Karena saya orang tua.”Itulah ego.Padahal orang tua juga manusia.Orang tua juga bisa salah.Orang tua juga bisa keliru.Dan ketika kita berani mengatakan:“Nak, Abi salah. Maafkan Abi.”Atau:“Nak, Umi tadi salah. Umi minta maaf.”Itu bukan menjatuhkan wibawa orang tua.Justru itu adalah pendidikan.Anak belajar:Orang yang kuat bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.Karena itu, rumah tangga adalah perjalanan tumbuh dan menjadi dewasa bersama.Kita membesarkan anak.Tetapi pada saat yang sama, anak juga menjadi salah satu sarana Allah untuk mendewasakan kita.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 September 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Al-Mukhtasar Surat At-Taubah

Katakanlah -wahai Rasul-, “Jika bapak-bapak kalian -wahai orang-orang mukmin-, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, karib kerabat kalian, harta benda yang kalian dapatkan, perniagaan yang kalian harapkan keuntungannya dan kalian takutkan kerugiannya, serta rumah-rumah yang menjadi tempat tinggal kesukaan kalian, jika semua itu lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, dan lebih kalian utamakan daripada berjihad di jalan Allah, maka tunggulah hukuman yang akan Allah turunkan kepada kalian. Allah tidak akan membimbing orang-orang yang tidak taat kepada-Nya untuk mengerjakan sesuatu yang diridhai oleh-Nya.”

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka8 September 2026
N

Naella ulia

📍 -

Resep membuat sendiri produk pembersih dan pewangi yang ramah lingkungan.

Pembersih SerbagunaCampurkan sabun castile (sabun dari minyak nabati murni) dengan air hangat. Gunakan spons, kain lap, jaring-jaring, atau sikat, lalu gosoklah. Ini bisa digunakan untuk membersihkan dinding, lantai, dan permukaan meja. Campurkan satu bagian sabun castile dengan satu bagian air dalam botol tekan untuk sabun cuci tangan.Btw, kalau teman-teman nyari di marketplace sabun castile banyak banget macamnya dengan rentang harga yang beda-beda. Cari yang sabar aja ya, insyaAllah dapat yang murah. Atau kalau mau hemat, sabun castile ini bisa diganti dengan sabun dari jelantah buatan sendiri.Pembunuh Kuman SerbagunaHangatkan cuka putih hingga suhu 55°C dan segera masukkan ke botol semprot. Jika kita langsung menggunakannya, biarkan cairan berada di permukaan perabot selama satu menit. Atau kalau kita menggunakannya lain waktu, biarkan cairan selama 10 menit sebelum dilap. (Catatan: jangan gunakan cuka di permukaan marmer).Pembersih Kaca, Vas, dan Kran LogamCampurkan 2 sendok teh cuka putih dengan 1 liter air di dalam botol semprot. Gunakan koran bekas untuk mengelap permukaan (koran bekas tidak akan menggores kaca atau meninggalkan serabut).Bubuk Penggosok Bak Cuci, Bak Mandi, dan KomporCampurkan baking soda, sedikit sabun castile/sabun cuci piring, dan sedikit perasan lemon. Buatlah campuran yang kental seperti krim kue. Bubuhkan di permukaan dan gosok dengan loofah, spons, atau sikat.THE WORLD OF MARRIAGECandra Prahastiwi, Saviera Yonita, Dr.Victa Ryza

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 September 2026
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Orang yang tidak mendapat pancaran nur Ilahi (Ayat 39-40)

Tafsir Al-MuyassarAn-Nur (24:40)Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Orang yang tidak mendapat pancaran nur Ilahi (Ayat 39-40)Atau semua amalan mereka adalah seperti kegelapan yang gulita di lautan yang paling dalam dan diliputi oleh ombak yang di atasnya ada ombak lagi, dan di atasnya ada awan yang tebal, sungguh gelap gulita yang bertumpuk-tumpuk. Apabila ada seseorang yang mengeluarkan tangannya, maka dia tidak dapat melihatnya karena gelap gulita. Orang-orang kafir itu tertutupi oleh tumpukan kegelapan: kegelapan syirik, kesesatan, dan rusaknya perbuatan. Maka barangsiapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah yang berasal dari kitab-Nya dan sunnah Nabi-Nya yang akan memberikan petunjuk, niscaya dia tidak memiliki pemberi hidayah sedikit pun.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
R

Rachmatika

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

Tafsir Al Muyassar Al A'raf:151

Setelah Musa mendengar permintaan maaf saudaranya dan mengetahui bahwa dia tidak mengabaikan perintah Allah, dia (Musa) berdoa: "Wahai Rabb-ku, ampunilah kemarahanku dan ampunilah dosa-dosa saudaraku karena dia tidak kuasa melarang perbuatan Bani Israil itu, dan masukkanlah kami ke dalam rahmat-Mu yang luas. Sesungguhnya Engkau Maha Penyayang kepada kami di antara para penyayang."

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka3 hari lalu
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

The Barakah Effect - Qonaah Membawa Keberkahan

contentment (qana’ah) bukan berarti pasrah atau berhenti berusaha.Intinya lebih dalam: barakah membuat kita mampu merasakan “cukup” meskipun hidup belum tentu berjalan sesuai yang kita inginkan.Ada dua kondisi:Punya banyak, tapi tidak content → selalu merasa kurang. Sedikit masalah terasa berat karena hati terus membandingkan kenyataan dengan keinginan.Punya sedikit, tapi content → tetap bisa menikmati apa yang Allah beri. Ketika diuji, ia memang sedih atau berat, tetapi tidak merasa hidupnya kehilangan seluruh kebaikan.Barakah bukan selalu membuat sesuatu menjadi lebih banyak. Barakah membuat kita mampu mendapatkan manfaat dan ketenangan dari apa yang sudah Allah berikan.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

Qs Al Kahfi: 7 — Dunia Adalah Perhiasan

Allah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan, lalu mengingatkan bahwa semuanya adalah ujian: siapa yang paling baik amalnya.Dunia memang manis dan indah. Harta, pekerjaan, pencapaian, rencana masa depan, semuanya boleh kita usahakan. Tapi yang Allah lihat bukan seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan apa yang kita lakukan dengan semua itu.Jadi mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Seberapa banyak yang bisa aku punya?”Tapi, “Kalau Allah memberiku lebih banyak, apakah aku akan menjadi lebih baik?”

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat9 September 2026
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Al baqarah 134

Itulah satu umat yang telah berlalu di antara umat-umat sebelumkalian dan mereka sudah bertemu dengan amal perbuatan yang mereka lakukan. Mereka akan mendapatkan balasan atas apa yang telah mereka perbuat, baik berupa kebaikan maupun keburukan, dan kalian juga akan mendapatkan balasan atas apa yang telah kalian perbuat. Kalian tidak akan ditanya tentang amal perbuatan mereka, dan mereka pun tidak akan ditanya tentang amal perbuatan kalian. Tidak ada seorang pun yang akan dihukum karena dosa orang lain karena setiap orang akan diberi balasan yang setimpal dengan perbuatannya; maka janganlah amal perbuatan orang-orang yang sudah berlalu sebelummu itu menyibukkanmu dari memperhatikan amal perbuatanmu karena setiap orang tidak akan mendapatkan manfaat apa pun -setelah rahmat Allah- selain dari amal salehnya sendiri.Tafsir Al Mukhtasar Qs. Al-Baqarah : 134

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka8 September 2026
H

Halida Achmad Bagraff

📍 Kota Surabaya

Ringkasan sub bab ciri suul khatimah

Su’ul Khatimah adalah kondisi dimana seseorang mengalami hal yang buruk secara syariat di penghujunh hidupnya. Diantara tanda seseorang mengalami su’ul khatimah:Mati dengan membawa aqidah yang menyimpang —> “Siapa yang mati sementara dia berbuat syirik kepada Allah maka dia masuk neraka.” (HR. Bukhari 1238 & Muslim 92)Mati dalam keadaan maksiat —> “Sesungguhnya ada orang yang beramal dengan amalan ahli surga menurut apa yang tampak di tengah masyarakat, padahal sebenarnya ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Thabrani 5825)Mati bunuh diriBuku: Bila Kumati. Catatan Tentang Peristiwa Kematian.Karya: Ammi Nur Baits

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat8 September 2026
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Mukhtassar QS. Anbiya 82-90

Beberapa Faedah dari QS. Al Anbiyā 82-90Sumber Al Mukhtasar Fii TafsiriKesalehan mengundang turunnya rahmat Allah.Kembali pada Allah merupakan sarana untuk menghilangkan bencana.Keutamaan berusaha mendapatkan anak saleh agar menjadi penerus sang ayah bila wafat.Mengakui adanya dosa, merasakan perlunya mengeluhkan berbagai kesulitan kepada Allah, dan menaati Allah tatkala berada dalam kondisi lapang; merupakan faktor utama dikabulkannya doa dan di jauhkannya dari berbagai mara bahaya,

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka8 September 2026
S

Siti Nadiroh

📍 Kabupaten Brebes

Sebab-Sebab dalam Menggapai Husnul Khotimah

Pendek angan-angan dan merenungkan kehinaan duniaOrang yang Orang yang beriman mengetahui dengan pasti bahwa dunia ini tidak sebanding dengan sehelai sayap nyamuk di hadapan Allah dan ia akan melupakan semua penderitaan dengan satu celupan dalam surga Dzat Yang Pengasih. Karena beriman tidak bergantung sedikit pun dengan serpihan dunia, akan tetapi senantiasa sibuk berjuang demi agama ini pagi maupun sore. Ia tidak melihat di hadapan kedua matanya, kecuali surga dan neraka. Orang yang beriman meyakini dengan pasti bahwa tiada kenyamanan dalam pengertian sebenarnya, kecuali dalam surga Dzat yang Maha Mulia lagi Maha Pengampun.

💬 0 komentar📅 7 Sep 2026Baca selengkapnya →