📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 5 Kitab KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI

Simpul yang ketiga di antara 20 simpul yang disebutkan di dalam kitab ini adalahجمع همة النفس عليهMengumpulkan keinginan jiwa.Jiwa kita ini punya banyak keinginan. Ingin itu, ingin ini, ingin mobil, ingin berkeluarga, ingin anak, dan seterusnya. Kalau kita ingin mendapatkan ilmu maka kita harus mengagungkan ilmu.Diantara bentuk pengagungan ilmu kita harus kumpulkan keinginan-keinginan / himmah-himmah tadi, kita kumpulkan pada ilmu tadi. Ini bentuk bahwasanya kita benar-benar mengagungkan terhadap ilmu tadi, sampai keinginan-keinginan tadi kita kesampingkan, kita kumpulkan semuanya kepada ilmu.تُجمع الهِمَّة علىٰ المطلوب بتَفقُّد ثلاثة أمورٍDikumpulkan keinginan untuk mendapatkan ilmu tadi dengan kita memperhatikan tiga perkara:أوَّلِها: الحرص علىٰ ما ينفع، فمتىٰ وُفِّق العبد إلىٰ ما ينفعه حَرَص عليهBagaimana kita bisa mendatangkan keinginan yang besar tadi, bagaimana kita bisa mengumpulkan keinginan tadi untuk semuanya dikerahkan mendapatkan ilmu?Caranya adalah kita harus bersemangat untuk mendapatkan yang bermanfaat. Kita harus tahu bahwasanya ilmu itu adalah bermanfaat bagi kita di dunia dan juga di akhirat, kalau kita mengetahui itu adalah sesuatu yang bermanfaat maka kita akan bersemangat untuk mendapatkannya, sebagaimana dalam ayat dan juga hadits yang menunjukkan tentang keutamaan ilmu.Maka seorang hamba yang diberikan Taufik untuk mengetahui apa yang bermanfaat baginya dia harus bersemangat untuk mendapatkannya. Kalau antum tahu bahwasanya ilmu ini adalah yang membawa kebaikan kita di dunia dan juga di akhirat maka kita harus semangat untuk mendapatkan ilmu tersebut.Ini yang pertama caranya adalah dengan mengetahui itu adalah sesuatu yang bermanfaat dan tidak ada yang lebih bermanfaat daripada ilmu agama. Kemudian yang ke dua,ثانيها: الاستعانة بالله ﷻ في تحصيلهKita harus meminta kepada Allāh ﷻ pertolongan untuk mendapatkannya, jangan hanya sekedar semangat untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat tapi kita harus memohon pertolongan kepada Allāh ﷻ.Tunjukkan bahwasanya antum benar-benar ingin mendapatkan ilmu dengan cara meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ, Ya Allāh ﷻ tolonglah saya untuk mendapatkan ilmu agama yang bermanfaat. Ketika antum berdoa dan mengatakan Ya Allāh ﷻ mudahkanlah saya dalam menuntut ilmu itu menunjukkan bahwanya antum punya keinginan yang besar untuk mendapatkan ilmu.Tapi kalau antum jarang meminta kepada Allāh ﷻ jarang mengatakan,اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًاAtau seandainya dia mengucapkan begitu saja tanpa dia memahami maknanya berarti mana hal yang menunjukkan bahwasanya antum menginginkan ilmu tersebut.Seorang penuntut ilmu harusnya sering dia Isti’anah dan meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ dalam menuntut ilmu agama.ثالثِهاYang ke tiga,عدم العجز عن بلوغ البُغية منهJangan kita lemah sebelum kita sampai kepada ujungnya, sebelum kita mendapatkan ilmu jangan kita lemah dan merasa tidak bisa mendapatkan ilmu tersebut.Seseorang harus memiliki husnudzon kepada Allāh ﷻ dan jangan dia merasa lemah, mungkin karena sakit kemudian dia lemah tidak mau menuntut ilmu padahal cuma sakit ringan saja atau dia kesulitan dalam masalah ekonomi kemudian dia mundur ke belakang, sudah ana mau berkebun saja atau karena jauh tempatnya kemudian dia beralasan karena jauh kemudian akhirnya dia mundur tidak jadi menuntut ilmu, ini namanya lemah, jangan kita lemah sebelum kita sampai kepada ujungnya.وقد جُمِعت هٰذه الأمورُ الثَّلاثة في الحديث الَّذي رواه مسلم عن أبي هريرة أن الني صلى الله عليه وسلم قال: احرِص علىٰ ما ينفعك، واستعنْ بالله ، ولا تَعْجِزْDan telah dikumpulkan tiga perkara ini di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam mengatakan, Hendaklah engkau semangat di dalam perkara yang bermanfaat untukmu dan memohonlah pertolongan kepada Allāh ﷻ dan janganlah engkau lemah.Ini dikumpulkan dalam satu hadits, punya semangat terhadap perkara yang bermanfaat bagimu kemudian kita iringi dengan meminta pertolongan kepada Allāh ﷻ kemudian jangan kita lemah, lemah karena ekonomi lemah karena kejauhan lemah karena mungkin sakit dan seterusnya, kita harus punya semangat untuk sampai kepada ilmu tersebut.وقال ابن القيِّمBerkata Ibnul Qoyyim,إذا طلع نجم الهِمَّة في ظلام ليل البَطالة، ورَدِفه قمرُ العزيمة؛ أشرقت الأرض بنور ربِهّاApabila muncul bintang al-himmah (keinginan yang kuat), kalau sudah muncul keinginan yang kuat untuk mendapatkan ilmu di dalam kegelapan, kerusakan, dan juga kesibukan dengan suatu yang tidak bermanfaat, muncul tiba-tiba keinginan yang kuat, sebelumnya kita berada di dalam kegelapan kebodohan, kalau sudah muncul keinginan yang kuat ditambah lagi di sana ada ‘azimah, ada himmah dan juga ada ‘azimah, ada keinginan yang besar untuk mendapatkan sesuatu yang mulia tadi,أشرقت الأرض بنور ربِهّاMaka akan bercahaya bumi ini dengan cahaya Rabbnya, yaitu dengan ilmu.Maksud beliau di sini adalah kalau kita memang punya keinginan yang kuat maka kita akan mendapatkan InsyaAllāh apa yang kita inginkan.وإنَّ ممَّا يعلي الهِمَّة ويسمو بالنَّفس: ٱعتبارَ حال مَن سبق، وتعرُّفَ هِمم القوم الماضينKemudian beliau menyebutkan di sini bagaimana cara kita untuk mendapatkan semangat yang kuat, bagaimana supaya kita bisa mengumpulkan keinginan kita untuk mendapatkan ilmu sehingga tidak bercabang keinginan, caranya diantaranya adalah dengan kita mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum kita, kisah-kisah mereka, bagaimana mereka menuntut ilmu agama, kita mengetahui tentang himmah-himmah mereka orang-orang yang sudah berlalu.Kemudian beliau menyebutkan beberapa contoh,فأبو عبد الله أحمد ابن حنبلٍ كان – وهو في الصِّبا – ربَّما أراد الخروج قبل الفجر إلىٰ حِلَق الشيوخ، فتأخذ أُمُّه بثيابه وتقول – رحمة به: حتىٰ يُؤَذِّنَ النَّاس أو يُصبحواDahulu Imam Ahmad ibn Hanbal Abu Abdillah dan beliau saat itu masih kecil terkadang beliau ingin keluar dari rumahnya sebelum subuh, sebelum subuh itu sudah ingin keluar dari rumahnya, untuk menuju ke majelis-majelis Syaikh, mungkin saat itu masih kecil tapi sudah memiliki keinginan yang kuat ingin tahu ingin menghafal hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam.Maka ibu beliau memegang pakaian beliau dan mengatakan dengan kasih sayang, maksudnya adalah ingin karena perasaan beliau sebagai seorang ibu menyayangi anaknya, beliau mengatakan sampai adzan atau sudah masuk waktu pagi baru engkau keluar. Beliau tidak melarang anaknya untuk menuntut ilmu tapi kasihan sebelum subuh sudah pergi, beliau bilang sampai adzan kalau sudah adzan silakan pergi atau masuk waktu pagi silahkan mendatangi majelis-majelis ilmu tersebut.Itu Al Imamu Ahmad ibn Hanbal bagaimana beliau bisa sampai menjadi seorang imam besar, demikian semangat beliau datang majelis ilmu. Sebelum datang gurunya dia sudah semangat untuk mendatangi majelis tersebut. Jangan kita berlambat-lambat dalam menghadiri majelis ilmu.وقرأ الخطيب البغداديُّ صحيح البخاري كلَّه علىٰ إسماعيل الحِيريِّ في ثلاثة مجالسَAl-Khatib Al Baghdadi (ini menunjukkan bagaimana semangat mereka untuk mendapatkan ilmu) membaca Shahih Al-Bukhari semuanya kepada Ismail Al-Hiyriy dalam tiga majelis saja.ٱثنان منها في ليلتن من وقت صاة المغرب إلىٰ صاة الفجرTiga majelis, dua diantaranya ada di dua malam dari semenjak shalat magrib sampai shalat fajar, baca terus baca Shahih Al-Bukhari. Ini yang dinamakan dengan qira’ah yaitu membaca kitab tersebut kepada gurunya, mungkin jarang disyarah tapi membaca saja sekedar membaca hadist-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam meskipun tidak disyarah oleh gurunya itu sudah besar pengaruhnya terhadap keimanan seseorang. Kemudian di hari yang ke tigaواليوم الثَّالث من ضحوة النَّهار إلىٰ صاة المغربDari siang hari sampai shalat magrib.ومن المغرب إلىٰ طلوع الفجرDitambah lagi majelisnya dari maghrib sampai subuh.Jadi hari yang ke tiga lebih panjang lagi, dari dzuhur sampai maghrib dilanjutkan lagi dari maghrib sampai terbit fajar.Ini kalau sudah semangat dalam hati mereka membara maka tidak ada yang menghalangi mereka, mereka berusaha untuk mengkhatamkan membaca hadist-hadits Nabi Sallallāhu Alaihi wasallam tadi dalam waktu yang sangat singkat yang mungkin tidak dibayangkan oleh sebagian dari kita.وكان أبو محمَّدٍ ابنُ التَّبَّانِ أوَّلَ ٱبتدائه يدرس اللَّيل كلَّهSeorang ulama yang bernama Abu Muhammad Ibnu Tabban di awal beliau belajar, beliau belajar agama di seluruh malam.فكانت أُمُّه ترحمهIbunya sayang kepada beliau.وتنهاه عن القراءة باللَّيلKemudian melarang dia untuk membaca di malam hari, karena zaman dahulu sangat terbatas sekali cahaya di malam hari, bisa merusak matanya.فكان يأخذ المصباح ويجعله تحت الجَفنةKarena beliau semangat untuk mendapatkan ilmu, tidak tenang dia untuk tidur begitu saja tanpa membaca, maka apa yang beliau lakukan supaya bisa membaca padahal Ibunya sudah melarang, beliau mengambil lampu kemudian beliau taruh itu di bawah al-jafnah (bejana yang besar) sehingga tidak kelihatan.ويتظاهر بالنَّومKemudian dia pura-pura tidur.فإذا رقدتKalau Ibunya sudah tidur,أخرج المصباح وأقبل علىٰ الدَّرسMaka beliau pun mengeluarkan lampu tadi kemudian beliau pun belajar.Sehingga ibunya tidak melihat dia dalam keadaan belajar. Ini tidak mungkin bisa terjadi kecuali bagi orang yang memiliki semangat yang kuat di dalam menuntut ilmu. Dia merasa tenang dan merasa lezat di malam tersebut ketika dia membaca dan ketika dia menghafal ilmu tersebut.فكن رجاً رِجْلُه على الثَّرىٰ ثابتةMaka hendaklah engkau menjadi seorang laki-laki yang kakinya berada di atas bumi dalam keadaan kokoh.وهامةُ همته فوق الثُّرياDan dia memiliki keinginan yang tinggi, yang lebih tinggi daripada tsurayya (nama bintang), menjadi orang yang kokoh di atas bumi dan keinginan dia lebih tinggi daripada bintang.سامقةdalam keadaan tinggi.ولا تكن شابَّ البدن أشيبَ الهِمَّةJangan engkau menjadi seorang yang badannya saja yang muda tetapi keinginannya adalah keinginan seorang yang sudah tua.Jangan engkau menjadi seseorang yang punya badan yang muda tetapi keinginannya sudah tua yaitu sudah lemah padahal dia memiliki badan yang kekar.فإنَّ هِمَّة الصَّادق لا تشيبKarena himmah dan juga keinginan yang tinggi dari orang yang jujur, orang yang jujur keinginannya tadi yang mengumpulkan keinginan-keinginan dia tadi, maka itu tidak akan menjadi tua.Jadi orang yang jujur dalam keinginannya meskipun rambutnya ini beruban dan kulitnya sudah mulai berubah tapi kalau dia adalah orang yang jujur maka itu tidak akan merubah himmahnya, sampai tua pun dia akan menuntut ilmu.كان أبو الوفاء ابن عَقيل – أحدُ أذكياءِ العالم من فقهاء الحنابلة – يُنشِد وهو في الثمانينDahulu Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil beliau adalah salah seorang di antara orang-orang yang cerdas di antara ahli fiqih mazhab Hanbali, beliau pernah membuat syair dan umur beliau adalah 80 tahun, kata beliau,ما شاب عزمي ولا حزمي ولاخُلُقيولا ولائي ولا ديني ولا كرميKeinginanku tidak menjadi tua, aku memang sudah tua umurku sudah 80 tahun tapi keingananku tidak menjadi tua.ولا حزميDan juga ketegasanku (keinginanku yang kuat tekadku yang kuat) tidak menjadi tua karena tubuhku yang sudah tua.ولاخُلُقيDan juga akhlakku tidak berubah.ولا ولائيDemikian pula loyalitasku, terhadap agama ini.ولا دينيDan juga agamaku, ibadahku.ولا كرميDemikian pula kemurahanku, infaqku tidak berubah karena beliau sudah tua.وإنمَّا ٱعتاض شعري غيرَ صِبغتهYang terjadi adalah rambutku saja itu berubah warnanya, yang sebelumnya hitam menjadi putih.والشَّيبُ في الشَّعر غيرُ الشَّيب في الهِممِDan menjadi putihnya rambut itu lain dengan menjadi tuanya tekad yang kuat.Artinya beliau di sini mengingatkan bahwasanya meskipun ana sudah tua rambutku sudah beruban dan kulitku sudah berubah tapi itu hanya dzahirnya saja. Adapun semangatku masih seperti dahulu. Ibadahku, agamaku, loyalitasku terhadap agama ini, akhlakku, tekadku yang kuat, itu masih seperti ketika dahulu aku masih muda.Ini menunjukkan kepada kita keharusan kita untuk mengumpulkan keinginan kita untuk ilmu ini supaya kita bisa mewujudkan pengagungan kita terhadap ilmu ini.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah – 55 Contoh Dosa Penyebab Seseorang Masuk Neraka Bagian 1

Halaqah yang ke-55 dari Silsilah ‘Ilmiyah Berimān kepada hari akhir adalah tentang “Beberapa Contoh Dosa Penyebab Jatuhnya Seseorang Kedalam Neraka Bagian Pertama”Dosa yang dilakukan oleh seorang muslim, apabila Allāh Subhānahu wa Ta’āla tidak mengampuninya akan menjadi sebab seseorang terjatuh ke dalam neraka.⇒Di antara dosa tersebut adalah dosa bid’ah.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا ، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ“Dan sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan. Dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan di dalam neraka. ”(Hadīts Shahīh Riwayat Nasā’i)Bid’ah inilah yang sebenarnya telah memecah-belah umat Islām.Umat yang dahulunya bersatu, satu di atas Al-Qur’an dan Al-Hadīts dengan satu pemahaman, yaitu pemahaman para shahābat Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam generasi terbaik umat Islām, menjadi berbagai aliran yang banyak.Golongan yang selamat adalah golongan yang tetap berpegang kepada Islām yang murni yang dipahami oleh para shahābat Radhiyallāhu ‘anhum.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى“Dan akan berpecah-belah umatku menjadi 73 golongan. Semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Mereka berkata, “Siapakah golongan tersebut ya Rasūlullāh ?” Beliau menjawab, “Golongan yang berada di atas jalanku dan jalan para sahabatku”.(Hadīts Hasan Riwayat Tirmidzi)Ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam umati yaitu umatku, menunjukkan bahwasanya aliran-aliran tersebut tidaklah kafir dengan bid’ah yang mereka lakukan.Dan ucapan beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam semuanya masuk neraka, menunjukkan bahwasanya bid’ah yang mereka lakukan adalah dosa besar yang menyebabkan masuk neraka.Kalau Allāh menghendaki, maka Allāh mengampuni tanpa diadzab dan kalau Allāh menghendaki maka Allāh akan mengadzab di neraka sampai waktu yang Allāh kehendaki.Seorang muslim hendaknya menjauhi aliran-aliran sesat tersebut yang di antara ciri-cirinya:⑴ Tidak kembali kepada pemahaman para shahābat di dalam memahami Al Qurān dan Al-Hadīts.⑵ Tidak memiliki perhatian yang besar terhadap aqidah dan tauhīd⑶ Mendahulukan akal di atas dalīl⑷ Bersembunyi-sembunyi di dalam beragama⑸ Dan ada di antara mereka yang memiliki bai’at khusus kepada pemimpin aliran.Dantara cirinya:√ Mencela dan membicarakan kejelekan penguasa.√ Tidak berhati-hati di dalam berdalil dengan hadīts-hadīts Nabi Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.√ Mencukupkan diri dengan Al Qurān tanpa hadīts di dalam berdalīl.√ Dan di antara cirinya mereka mudah mengkāfirkan orang yang tidak sependapat dengan mereka.Hendaknya seorang muslim meninggalkan bid’ah meskipun dianggap baik atau hasanah oleh sebagian manusia.Meninggalkan aliran-aliran sesat tersebut dan jangan tertipu dengan pakaian atau banyaknya jumlah mereka. Karena kebenaran tidak diukur dengan perkara-perkara tersebut, tapi diukur dengan kesesuaiannya dengan Al Qurān dan Al-Hadīts.Menasehati para pengikut aliran sesuai dengan kemampuan supaya kembali kepada kebenaran dengan cara yang hikmah merupakan bentuk rasa cinta kita kepada saudara seislām.Dan upaya menyatukan umat di atas kebenaran serta menyelamatkan mereka dari ancaman neraka.Dan perlu diketahui bahwasanya meninggalkan aliran-aliran tersebut juga bukan berarti seseorang hidup jauh dari agama, menjauhi ilmu dan para ulamā.Kemudian mengikuti syahwat dan hawa nafsunya. Karena seorang muslim di dunia ini dituntut untuk menjauhi fitnah syubhat (kerancuan berpikir) dan menjauhi fitnah syahwat.Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla memberikan hidayah kepada kita semua.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 05 | Penjelasan Pembatal Keislaman Pertama Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke lima dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Setelah kita mengetahui bahwa menyekutukan Allah di dalam ibadah membatalkan keislaman, maka wajib bagi kita mengetahui apa itu ibadah. Orang yang tidak mengetahui makna ibadah, dikhawatirkan dia akan menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allah.Ibadah adalah:اسْمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللَّهُ وَيَرْضَاهُ مِنْ الْأَقْوَالِ وَالْأَفعَالِ الظَّاهِرَةِ وَالبَاطِنَةِ“Seluruh perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan yang dhohir maupun yang batin.”Kita mengetahui sesuatu ucapan atau perbuatan dicintai dan diridhoi oleh Allah dari kabar yang Allah sebutkan di dalam Al Qur’an atau kabar Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya.Terkadang kita mengetahui sesuatu ucapan atau amalan dicintai oleh Allah ketika Allah mengabarkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut, misalnya Allah berfirman,وَٱللَّهُ یُحِبُّ ٱلصَّـٰبِرِینَ[Surat Ali Imran 146]“Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar.”Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwasanya Allah mencintai orang-orang yang bersabar, mencintai sifat sabar. Kalau sabar dicintai oleh Allah, berarti sabar adalah ibadah. Dan kalau ibadah, maka tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.Dalam ayat yang lain Allah mengabarkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik (Al Baqarah 195). Mencintai orang-orang yang bertaubat dan membersihkan diri dari dosa (Al Baqarah 222). Dan terkadang kita mengetahui Allah mencintai sebuah amalan atau ucapan karena Allah memerintahkan dengan amalan tersebut. Dan setiap yang Allah perintahkan berarti dicintai Allah. Dan kalau amalan tersebut dicintai maka amalan tersebut adalah ibadah. Dan kalau amalan tersebut adalah ibadah, maka tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.Contoh amalan yang diperintahkan adalah sholat dan zakat.Allah Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,وَأَقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ“Dan hendaklah kalian mendirikan sholat dan membayar zakat.” [Al Baqarah 43]Di sini Allah memerintahkan untuk mendirikan sholat dan membayar zakat. Berarti keduanya dicintai oleh Allah, karena Allah tidak memerintahkan kecuali sesuatu yang dicintai dan diridhoi. Berarti sholat dan zakat adalah ibadah, hanya untuk Allah dan tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.Dan terkadang kita mengetahui Allah mencintai sebuah amalan ketika Allah memuji orang-orang yang mengamalkannya. Karena Allah tidak memuji kecuali orang-orang yang Dia cintai. Yang mereka mengamalkan apa yang dicintai oleh Allah. Misalnya Allah berkata memuji orang-orang yang menunaikan nadzarnya.(یُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ وَیَخَافُونَ یَوۡمࣰا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِیرࣰا)[Surat Al-Insan 7]Pujian Allah Subhānahu wa Ta’āla, mereka adalah orang-orang yang menyempurnakan nadzarnya dan takut dengan suatu hari yang kejelekannya menyelimuti.Pujian Allah Subhānahu wa Ta’āla menunjukkan bahwasanya Allah mencintai orang-orang yang menyempurnakan nadzar dan perbuatan tersebut.Ibadah ada yang berupa ucapan dan ada yang berupa perbuatan. Berupa ucapan seperti mengucapkan tasbih, tahlil, tahmid, bersholawat atas Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam, membaca Al Qur’an, berdo’a, dll.Berupa amalan seperti melakukan sholat, membayar zakat, berjihad, berhaji, dll.Ibadah ada yang dhohir dan ada yang batin. Ibadah yang dhohir artinya adalah ibadah yang bisa terlihat oleh orang lain, seperti sholat, jihad, dll.Ibadah yang batin adalah ibadah yang ada di dalam hati manusia, seperti tawakal kepada Allah, cinta kepada Allah, takut kepada Allah, kembali atau inabah kepada Allah, dll. Semua ini adalah ibadah. Dan semua ibadah harus diserahkan hanya kepada Allah. Tidak boleh sedikitpun diserahkan kepada selain Allah. Barangsiapa yang menyerahkan sebagian ibadah dari ibadah-ibadah tadi kepada selain Allah, maka dia telah menyekutukan Allah di dalam ibadah, dan ini merupakan pembatal keislaman yang paling besar.Kemudian Syeikh menyebutkan dalil bahwa kesyirikan adalah pembatal keislaman, yaitu firman Allah,إِنَّ ٱللَّهَ لَا یَغۡفِرُ أَن یُشۡرَكَ بِهِۦ وَیَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن یَشَاۤءُۚ ⁠[Surat An-Nisa’ 48 dan 116]“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki.”Allah tidak mengampuni dosa syirik padahal Allah adalah Al Ghofur (Yang Maha Pengampun). Dan ini menunjukkan tentang betapa besarnya dosa syirik.Dan yang dimaksud dosa syirik yang tidak diampuni di sini adalah ketika seseorang bertemu dengan Allah dalam keadaan membawa dosa syirik tersebut dan belum bertaubat di masa hidupnya. Dan maksud tidak diampuni adalah dia harus diadzab.Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam mengatakan,مَن مَاتَ وهْوَ يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ“Barangsiapa yang mati dalam keadaan dia menyekutukan Allah, maka dia masuk ke dalam neraka.” [HR. Bukhari dan Muslim]Seorang yang meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan Allah, inilah orang yang masuk ke dalam neraka dan dialah yang tidak akan diampuni.Dalam hadits yang lain, Beliau mengatakan,مَن لَقِيَ اللهَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ“Barangsiapa yang bertemu dengan Allah dalam keadaan dia menyekutukan Allah, maka dia masuk ke dalam neraka.” [HR. Bukhari dan Muslim]Tapi kalau dia bertaubat dari perbuatan syirik tersebut di masa hidupnya, maka Allah Maha Pengampun dan Maha Pemberi Taubat. Sebesar apapun dosanya, baik berupa syirik, kekufuran, kenifakan, kalau dia bertaubat dengan taubat yang nasuha sebelum dia meninggal dunia, maka akan diampuni oleh Allah.Allah berfirman,(۞ قُلۡ یَـٰعِبَادِیَ ٱلَّذِینَ أَسۡرَفُوا۟ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوا۟ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِیعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِیمُ)[Surat Az-Zumar 53]“Katakanlah, Wahai hamba-hambaku yang telah berlebih-lebihan terhadap dirinya sendiri (melakukan kemaksiatan), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah : pembahasan kitab al-ushulu ats-tsalatsah

Halaqah 30 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Makna Syahadat Lailah Illallah👤 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى📗 Silsilah Al-Ushulu Ats-TsalasahKemudian beliau rahimahullāh menjelaskan tentang لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ.ketika beliau membahas tentang syahādat beliau menjelaskan dengan panjang lebar.Kenapa demikian?Karena beliau rahimahullāh mengetahui bahwasanya syahādat adalah pokok di dalam agama Islām, karena ini berkenaan dengan masalah tauhīd.Didalam Islām ada syahādat dan di dalam Imān ada rukun Imān, rukun Imān yang pertama adalah beriman kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Ketika membahas beriman kepada Allāh juga akan membahas tentang tauhīd, ketika membahas شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ الله – juga membahas tentang Tauhīd.√ Ma’rifatullāh berkaitan dengan Tauhīd.√ Ma’rifaru Dīnul Islām berkaitan juga dengan Tauhīd.√ Ma’rifatun Nabi juga akan dibahas tentang Tauhīd.Beliau rahimahullāh mengatakan makna لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ :ومعناها: لا معبود بحق إلا الله وحده (لا إله) نافياً ما يعبد من دون الل)Makna شَهَادَةِ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – Tidak Ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allāh. Ini adalah makna yang paling sempurna dan paling sesuai dengan kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ .⇒ Tidak Ada sesembahan yang berhak (yang benar) kecuali Allāh.Yang berhak (bi-haqqi) maksudnya adalah yang memang berhak untuk disembah, karena hak bisa diartikan yang benar atau yang berhak.Kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّه – terdiri dari dua bagian (dua rukun لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ).⑴ Rukun pertama pada kalimat لَا إلَهَ⑵ Rukun kedua pada kalimat إلَّا اللَّهُNafīyyan maksudnya adalah Allāh menafī’kan segala sesuatu yang disembah selain Allāh. Itu ada di dalam kalimat لَا إلَهَ – Allāh menafī’kan segala sesuatu yang disembah selain Allāh (seluruhnya) kalau itu adalah دون الله – dan dia disembah maka dinafī’kan, baik itu seorang nabi atau malāikat (siapapun dia).Itu adalah rukun pertama yang dinamakan dengan rukun An-Nafī (harus mengingkari) mengingkari seluruh sesembahan selain Allāh.Rukun yang kedua إلَّا اللَّهُ :مثبتاً العبادة لله وحده لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكهAllāh menetapkan bahwasanya ibadah itu hanyalah untuk لله وحده saja.Makna لاَ إِلَـهَ إِلاَّ الله terdiri dari dua rukun yang pertama adalah Al-Nafyu dan Al-Itsbat keduanya harus ada, kalau keduanya tidak ada maka tidak benar maknanya.Seandainya hanya لاَ إِلَـهَ saja, maka ini pengingkaran adanya sesembahan, dia mengingkari wujud Allāh, dia tidak percaya adanya Allāh Subhānahu wa Ta’āla (atheis).Tetapi jika menetapkan saja dengan mengatakan الله معبود atau الله اله – Allāh adalah sesembahan.Jika hanya itsbat saja, Allāh adalah اله maka ini tidak cukup , karena ini belum sempurna, agar sempurna kita harus menggabungkan antara Nafyu dan Itsbat, itulah keadilan (قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ).Bagaimana caranya agar sempurna?Maka kita katakan لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – Tidak ada sesembahan (kita ingkari semuanya) kemudian kita kecualikan إلَّا اللَّهُ (kecuali Allāh saja).Oleh karena itu makna yang benar adalah لا معبود بحق إلا الله وحده – itulah makna لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ karena intinya kita mengingkari seluruh sesembahan selain Allāh, yang itu adalah sesembahan yang bathil. Dan kita ingin menetapkan Allāh sebagai satu-satunya sesembahan.Sehingga sempurnanya adalah لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – itulah makna apa yang diucapkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan yang beliau dakwahkan.Dan itu pula yang dipahami oleh orang-orang Arab ketika mereka mendengar dakwah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Yang mereka pahami dari beliau adalah لا معبود بحق إلا الله وحده – tidak ada makna yang lain.Karena sebagian ada yang mengatakan لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ maknanya adalah لا خالق إلا الله (Tidak ada yang mencipta selain Allāh).Makna لا خالق إلا الله – benar atau tidak?Makna ini benar, tetapi apakah dia makna dari kalimat لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ ? TIDAK !إِنَّهُمْ كَانُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ“Sungguh, apabila dikatakan kepada mereka, Lā ilāha illallāh (Tidak ada tuhan selain Allāh) mereka menyombongkan diri.وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭDan mereka berkata, “Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?”(QS. Ash-Shāffāt : 35-36)Disana ada makna yang lain yang juga salah لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ – diartikan لا معبود موجود إلا الله (Tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allāh) ini bisa disalah-pahami oleh sebagian orang.Jika diartikan demikian (Tidak ada sesembahan yang ada kecuali Allāh) maka seluruh sesembahan yang ada adalah Allāh. Dan ini adalah pemahaman yang jelas salah.Berarti orang yang menyembah matahari dia menyembah Allāh, orang yang menyembah bulan dia menyembah Allāh, لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ (Tidak ada sesembahan kecuali Allāh) Ini nanti jadi pemahaman Wihdatul Wujud.Orang menyembah apa saja itu tauhīd karena dia menyembah Allāh juga ini kembali kepada pemahaman Wihdatul Wujud (menyatunya wujud antara Allāh dengan makhluk) Jadi yang menyembah apapun dia adalah bertauhīd.Kemudian ucapan beliau :لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس لهشريك في ملكهKembali beliau mengingatkan tentang hubungan antara tauhīd Rububiyyah dengan tauhīd Uluhiyyah karena intinya beliau ingin membahas tentang tauhīd Al-Uluhiyyah (berhak nya Allāh untuk diibadahi) maka sebagaimana Allāh Subhānahu wa Ta’āla hanya Dia yang memiliki langit dan bumi maka Dia-lah yang berhak untuk diibadahi.لا شريك له في عبادته، كما أنه ليس له شريك في ملكهHubungan antara tauhīd Uluhiyyah dan tauhīd Rububiyyah.و رب هو المعبدRabb itulah yang disembah, disini beliau rahimahullāh mengingatkan dan beliau ingin menjelaskan hubungan antara tauhīd Rububiyyah dengan tauhīd Uluhiyyah.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
N
Nadya Nandadita Islamina

📍 Kota Bandung

Kajian Tablis Iblis #10

BAB: MAKNA HAKIKI ZUHUD & TALBIS IBLIS TERHADAP AHLI ZUHUD1. Definisi Zuhud yang Keliru Akibat Tipuan IblisTipuan pada Aspek Fisik: Iblis membisikkan dan menggambarkan kepada manusia bahwa hakikat zuhud itu hanyalah terletak pada perkara-perkara lahiriah yang tampak rendah dan serba kekurangan. Contohnya adalah hanya fokus pada makanan yang sangat sederhana dan pakaian yang compang-camping atau kotor.Penyimpangan Hati: Di saat penampilan luar mereka tampak sangat meyakinkan sebagai orang yang tidak butuh dunia, hati mereka justru bergejolak dan rakus terhadap perkara dunia yang jauh lebih berbahaya, yaitu kedudukan, jabatan, kekuasaan, kepemimpinan, dan ingin dinomor satukan di tengah masyarakat.Ciri-Ciri Ahli Zuhud yang Terjebak Tipuan Ini:Sikap kepada Penguasa: Mereka diam-diam menanti-nanti dan merasa sangat bangga serta terhormat apabila rumah mereka dikunjungi atau diziarahi oleh para pejabat dan pembesar negeri (Umara).Diskriminasi Sosial: Mereka bersikap sangat memuliakan orang-orang kaya, namun di sisi lain tidak menaruh rasa hormat atau mengabaikan orang-orang miskin.Kekhusyukan Palsu: Ketika bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat, mereka sengaja memasang wajah dan gelagat yang pura-pura khusyuk, seolah-olah mereka baru saja keluar dari proses spiritual yang sakral (musyahadah atau menyaksikan petunjuk Allah).Menolak Harta Demi Casing: Sebagian dari mereka sengaja menolak pemberian harta secara terang-terangan di depan publik semata-mata agar tidak dicap sebagai "orang yang baru belajar zuhud". Sebab dalam pandangan awam, seorang zahid sejati tidak boleh menerima harta sama sekali. Namun, di balik penolakan harta itu, mereka membiarkan pintu rumah mereka terbuka lebar bagi orang-orang yang ingin datang mengagungkan mereka, memuji mereka, dan mencium tangan mereka.2. Hakikat Riya yang Tersembunyi (Khofiyur Riya)Dua Jenis Riya:1. Riya yang Jelas (Zahir): Seperti sengaja membuat tubuh kurus agar disangka rajin puasa, membiarkan rambut semrawut, membuat wajah pucat kekuning-kuningan, atau berbicara dengan suara yang pelan agar disangka sedang khusyuk. Riya jenis ini tidak dibahas panjang lebar oleh Ibnu Jauzi karena sifatnya yang norak dan semua orang awam pun bisa mengetahuinya.2. Riya yang Samar (Khofi): Inilah yang menjadi fokus utama bahasan. Seseorang secara zahir (makanan dan pakaian) memang sangat zuhud, tetapi hatinya sangat haus akan pengakuan, sanjungan, dan penghormatan.Syahwat Tersembunyi (Syahwatun Khofiah): Ibnu Taimiyah rahimahullah mengategorikan keinginan untuk diakui, dihormati, dicium tangan, dan diagungkan ini sebagai bentuk syahwat tersembunyi. Syahwat ini mirip dengan syahwat orang lapar terhadap makanan, tetapi objeknya adalah kedudukan (Jah). Diakui dan dihormati oleh manusia justru merupakan puncak dari kenikmatan duniawi yang paling dicari.Peringatan Malik bin Dinar: Beliau berkata kepada orang-orang yang beramal tetapi tidak tulus (tidak ikhlas): "Janganlah engkau meletihkan dirimu." Amal tanpa keikhlasan hanya akan berujung pada kesia-siaan dan kelelahan fisik semata.KISAH-KISAH PELAJARAN TENTANG IKHLAS & TIPUAN SYAHWAT KEDUKAN1. Perjuangan Yusuf bin AswadYusuf bin Aswad menyatakan bahwa dirinya harus menghabiskan waktu selama 22 tahun hanya untuk belajar membedakan mana amal yang benar-benar tulus (ikhlas) dan mana amal yang salah. Hal ini menunjukkan bahwa mendalami keikhlasan yang mendetail (daqa-iqul ikhlas) dan mendeteksi riya yang sangat samar (daqa-iqur riya) membutuhkan perjuangan batin yang luar biasa dan tidak mudah.2. Kisah Ibrahim bin Adham dan Pendeta Sam'anIbrahim bin Adham menceritakan pengalamannya mengambil pelajaran berharga dari seorang pendeta Nasrani bernama Sam'an yang tinggal menyendiri di kuil ibadahnya yang tinggi.Ketika Ibrahim bertanya sudah berapa lama ia tinggal di sana, pendeta itu menjawab sudah 70 tahun. Ibrahim bertanya lagi mengenai makanannya, dan sang pendeta menjawab bahwa setiap malam ia hanya memakan satu butir biji humus (semacam kacang Arab).Ibrahim keheranan dan bertanya kekuatan apa di dalam hatinya yang bisa membuat ia bertahan hidup hanya dengan satu butir kacang setiap malam. Pendeta itu dengan jujur menjawab bahwa ia bisa sabar hidup menderita selama setahun penuh karena ia menikmati kemuliaan dan pengagungan dari manusia yang datang mengunjunginya setahun sekali. Orang-orang akan berkumpul di luar kuilnya, menanti dirinya, dan melakukan tawaf di kuilnya karena kagum dengan ritual ekstremnya.Pendeta itu memberikan nasihat kepada Ibrahim bin Adham (yang dipanggilnya dengan sebutan Hanifi atau Muslim): "Wahai sang Muslim, sabarlah engkau untuk bersungguh-sungguh (menderita) dalam sesaat di dunia ini, demi mendapatkan kemuliaan yang abadi (di akhirat nanti). Jangan seperti aku yang menukar amal untuk dunia."Pendeta itu juga membuktikan betapa manusia mengaguminya dengan menurunkan timba kecil berisi 20 butir biji humus ke bawah kuil. Pengikutnya di bawah langsung berebut membeli biji kacang tersebut dari tangan Ibrahim bin Adham dengan harga total 20 Dinar emas (jumlah yang sangat besar, setara puluhan gram emas). Pendeta itu bahkan berkata, jika Ibrahim menjualnya seharga 20.000 Dinar pun, orang-orang akan tetap membayarnya karena mereka mengagungkan status kesucian sang pendeta.METODE ULAMA SALAF DALAM MENYEMBUNYIKAN KESALEHANKarena para ulama terdahulu sangat takut terjerumus ke dalam riya yang samar, mereka memiliki berbagai strategi unik untuk menyembunyikan amal saleh mereka, bahkan kadang sengaja membungkus diri dengan perilaku awam agar tidak dianggap sebagai orang suci:Ibnu Sirin: Di siang hari, beliau sengaja berjalan di tengah manusia sambil tertawa-tawa dan bercanda ke sana kemari seolah-olah ia adalah orang biasa yang tidak memiliki beban spiritual. Namun, ketika malam hari tiba dan tidak ada seorang pun yang melihat, beliau menangis sejadi-jadinya dalam ibadah kepada Allah.Menyamarkan Status Ibadah: Ada sebagian ulama yang sengaja memanjangkan sedikit ekor sorbannya (meskipun sebagian menganggapnya kurang baik) atau melakukan hal-hal yang membuat masyarakat memandangnya sebagai orang yang biasa saja, bukan sebagai tokoh agama yang agung.Ibrahim bin Adham saat Sakit: Ketika beliau sedang sakit, beliau sengaja memaksakan diri memakan makanan yang biasa dimakan oleh orang-orang sehat. Tujuannya agar orang-orang di sekitarnya tidak memberikan perhatian khusus, tidak mengasihani, atau memperlakukannya secara istimewa.Puasa Sunah 20 Tahun Daud bin Abi Hind: Beliau berhasil menyembunyikan puasa sunahnya selama 20 tahun dari istrinya sendiri. Strateginya adalah setiap pagi beliau membawa bekal sarapan dari rumah dengan alasan ingin makan di pasar tempat beliau bekerja. Di tengah jalan, makanan tersebut beliau sedekahkan kepada orang miskin. Akibatnya, orang rumah mengira beliau sudah sarapan di pasar, sedangkan orang-orang di pasar mengira beliau sudah sarapan di rumah.KISAH SEORANG SALEH DAN RAJA (MEMALINGKAN KEKAGUMAN MANUSIA)Wahab bin Munabbih menceritakan tentang seorang lelaki yang paling saleh dan mulia di zamannya. Lelaki ini memberikan nasihat yang mendalam kepada teman-temannya: "Kita ini telah meninggalkan harta dunia karena takut melampaui batas. Namun, aku khawatir kita justru terjatuh ke dalam kondisi yang lebih parah dan lebih berbahaya daripada para pemilik harta."Ketika ditanya apa bahaya tersebut, beliau menjelaskan bahwa ahli zuhud sering kali senang jika keperluannya dipenuhi dengan mudah gara-gara kesalehannya, senang jika membeli barang di pasar lalu diberi harga murah karena pedagang tahu dia orang saleh, serta senang jika berpapasan dengan orang lalu disambut dengan pengagungan demi agamanya.Nasihat berharga ini akhirnya terdengar dan sampai ke telinga raja penguasa zaman itu. Sang raja yang takjub langsung membawa pasukan dan menunggangi kuda mewahnya menuju rumah orang saleh tersebut untuk memberikan salam penghormatan.Ketika lelaki saleh itu melihat kedatangan rombongan raja, ia tidak merasa bangga atau senang. Ia justru langsung memanggil budaknya dan meminta semua persediaan buah-buahan yang ada di rumahnya diletakkan di depannya.Pada hari itu, lelaki tersebut sebenarnya sedang melakukan puasa sunah. Namun, demi mematahkan kekaguman raja dan agar dirinya tidak dianggap sebagai orang suci, ia sengaja membatalkan puasanya. Ketika raja masuk ke dalam rumah, sang raja melihat lelaki saleh itu sedang mengunyah makanan (kacang-kacangan yang dituangi minyak zaitun) dengan cara memakan yang sangat lahap dan kasar (aklan 'anifan), seperti layaknya orang biasa yang rakus makanan.Raja yang melihat pemandangan tersebut merasa kecewa dan bertanya, "Bagaimana keadaanmu wahai Fulan?" Lelaki itu menjawab dengan santai, "Aku seperti orang-orang lain pada umumnya."Melihat perangai tersebut, raja langsung memalingkan tunggangannya dan pulang sambil bergumam, "Tidak ada kebaikan pada orang seperti ini." Setelah raja pergi, lelaki saleh itu langsung mengucap, "Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memalingkanmu dariku dalam kondisi engkau mencelaku." Beliau sengaja mengorbankan reputasinya di mata raja demi menyelamatkan keikhlasan hatinya.CONTOH REKAYASA SOSIAL DEMI MENGHINDARI JABATAN & PUJIANKisah Yazid bin Marsad: Ketika Raja Al-Walid bin Abdul Malik berniat mengangkat Yazid bin Marsad (seorang yang sangat saleh) menjadi wali atau pejabat negara, Yazid tidak menginginkan jabatan tersebut. Untuk menggagalkan rencana raja tanpa harus membangkang secara vulgar, beliau sengaja memakai jaket kulit (farwah) secara terbalik (bagian bulu/wolnya di luar, bagian kulitnya di dalam), berjalan ke pasar tanpa menggunakan penutup kepala (qalansuwah atau songkok), tidak memakai alas kaki, sambil berjalan memegang roti dan makan-minum di tengah pasar layaknya orang yang kurang waras. Orang-orang pun melapor kepada raja bahwa Yazid bin Marsad otaknya sedang terganggu. Akhirnya raja membatalkan niatnya, dan Yazid pun selamat dari fitnah jabatan.Keteladanan Ulama Kontemporer (Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin): Ketika beliau menghadiri sebuah acara di Universitas Islam Madinah, Syekh Abdul Razak bin Abdul Muhsin Al-Badr yang bertindak sebagai moderator memperkenalkannya dengan sebutan "Al-Allamah" (orang yang sangat alim). Mendengar pujian itu, Syekh Utsaimin langsung menegurnya dengan tegas di depan publik, "Uskut! (Diam kamu!), tidak usah bilang begitu." Beliau sangat membenci Sanjungan dan tidak ingin dikultuskan.PENYAKIT UZLAH (MENYENDIRI) YANG DISELUSUPI IBILISIblis juga bisa masuk menipu orang yang suka melakukan uzlah (menyendiri di pondok, masjid, atau gunung). Mereka merasa nyaman bersendirian karena didorong oleh motif-motif tersembunyi yang buruk:Menikmati Opini Publik: Mereka senang karena masyarakat memandang mereka sebagai "orang suci yang menjauhi fitnah dunia". Ketika keluar masjid, mereka sengaja menundukkan kepala demi menjaga citra tersebut, padahal jika sedang sendirian, kelakuan mereka tidak sekhasut itu.Menjaga Jarak agar Tetap Disegani: Mereka sengaja membatasi interaksi dengan manusia karena tahu jika terlalu sering mengobrol dengan orang awam, maka rasa segan dan hormat orang lain kepadanya akan luntur.Menutupi Kebodohan: Sebagian orang sengaja memilih diam dan tidak mau banyak bicara bukan karena wara', melainkan untuk menutupi fakta bahwa dirinya sebenarnya bodoh dan tidak tahu apa-apa, sehingga orang-orang tetap mengiranya sebagai orang alim yang penuh karamah.Menghindari Kegiatan Sosial Syar'i: Akibat terlalu menjaga ego kedudukannya, mereka sampai enggan keluar rumah untuk menjenguk tetangga yang sakit atau menghadiri pengurusan jenazah orang awam. Ibnu Jauzi mengecam keras perilaku ini dan menyebutnya sebagai adat/kebiasaan yang salah yang menyelisihi syariat.Ketakutan Menurunkan Gengsi: Bahkan ada sebagian dari mereka yang rela menahan lapar di dalam rumah ketika pembantunya tidak ada, hanya karena mereka gengsi dan takut wibawanya jatuh jika terlihat oleh masyarakat sedang berjalan kaki membeli makanan sendiri di pasar.TELADAN UTAMA: RASULULLAH ﷺ DAN PARA SAHABATUstadz Firanda menegaskan bahwa zuhud yang benar bukanlah hidup dengan cara menyiksa diri atau berpenampilan sekotor mungkin. Pandangan yang benar adalah kembali kepada sunah Nabi dan para sahabatnya:Nabi Muhammad ﷺ: Beliau adalah manusia yang paling sibuk memikirkan akhirat, memimpin umat, dan berdakwah. Namun, beliau tetap menjaga penampilan dengan sangat rapi: beliau memakai minyak wangi, menyisir janggut dan rambutnya, serta bercermin. Bahkan saat beri'tikaf di masjid, beliau mengeluarkan kepalanya lewat jendela kamar agar rambutnya bisa disisir oleh istrinya, Aisyah. Beliau juga tidak gengsi pergi ke pasar dan mengangkat barang belanjaannya sendiri tanpa menyuruh orang lain.Abu Bakar dan Umar: Kedua sahabat yang paling takut kepada Allah dan paling zuhud ini tetap merawat penampilan mereka, salah satunya dengan cara mewarnai janggut mereka menggunakan hinnah (pacar kuku/daun katilayu) dan katam.Pelajaran dari Kisah Nabi Yusuf Alaihissalam: Syekh Abdul Razak Al-Badr menjelaskan bahwa Nabi Yusuf adalah manusia yang hatinya sangat stabil dan luar biasa. Ketika berada di dalam penjara (dalam kondisi paling rendah dan hina), teman-teman penjaranya memujinya dengan kalimat "Inna naroka minal muhsinin" (Kami melihatmu termasuk orang yang suka berbuat baik). Luar biasanya, setelah berlalu belasan tahun dan Nabi Yusuf telah berubah status menjadi pejabat tinggi, menteri bendahara negara yang sangat kaya raya, kakak-kakaknya yang datang meminta bantuan juga mengucapkan kalimat yang sama persis: "Inna naroka minal muhsinin". Hal ini membuktikan bahwa hati Nabi Yusuf tidak berubah sama sekali; saat miskin beliau tawadu, dan saat menjadi pejabat kaya raya beliau tetap tawadu dan tidak sombong.KESIMPULAN AKHIRHati manusia sangat mudah berubah dan berbolak-balik, terutama ketika seseorang mulai terkenal, memiliki banyak pengikut, atau dihormati. Ulama Salaf seperti Yusuf bin Aswad bahkan memilih kabur dari suatu kota ketika tahu orang-orang di pasar mulai mengenali dan menyalaminya satu per satu karena takut hatinya rusak.Siapa saja yang beribadah, berdakwah, atau menampakkan kezuhudan dengan niat agar posisinya ditinggikan di dunia, dicium tangannya, atau dihormati, maka amalnya terancam gugur di hadapan Allah sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Qashash ayat 83 bahwa negeri akhirat (surga) itu hanya disediakan bagi orang-orang yang tidak menginginkan menyombongkan diri atau mencari ketinggian (ketinggian kedudukan) di muka bumi.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
S
Sylvia Eka Putri

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Talbis iblis dari ahli zuhud

Talbis iblis #10Talbis iblis dari ahli zuhudUstadz Dr Firanda Andirja M.ATalbis iblis terhadap perkara qona’ahnamun hanya berupa makanan,pakaian sementara mereka tidak zuhud terhadap jabatan dan kekuasaan,hati mereka cendrung kepada kekuasaan dan ingin mendapatkanya.mereka memuliakan orang kaya dan tidak pada orang miskin karena tujuan dunia mereka adalah kedudukan.Ada sebagian orang secara dzohir dia zuhud seperti pakaian sederhana,kurus namun zuhud yang dalam hatinya dia suka diakui oleh dunia ini adalah riya yang tersembunyi (syahwat yang tersembunyi)Hadist yang sampai kepada Yasar ,Yusuf bin Asbad beliau berkata“Hendaknya kalian belajar dengan amal yang benar dari amal yang salah sesungguhnya aku sudah belajar amal yang benar selama 20 tahun”atsar dari Ibrahim bin Adham rahimahullah tentang keikhlasan. Dalam sebagian kitab zuhud dan hilyah disebutkan bahwa beliau belajar tentang ikhlas dari seorang rahib Nasrani bernama Sam’ān (سمعان). Kisah ini adalah atsar hikmah, bukan hadis Nabi ﷺ.Disebutkan bahwa Ibrahim bin Adham bertanya kepada Sam’an tentang sebab ia mampu beribadah dengan tekun dalam waktu yang lama. Sam’an menjelaskan bahwa dirinya memiliki tujuan yang besar, dan ketika manusia datang mengagungkannya serta menghormatinya, hal itu justru membuatnya semakin sabar dalam menjalani ibadahnya demi mencapai tujuan yang ia yakini.Lalu Sam’an berkata kepada Ibrahim bin Adham:اصبر على مؤونة ما ترجو، فإنك لا تنال ما تطلب إلا بالصبر“Bersabarlah menanggung beratnya jalan menuju apa yang engkau harapkan, karena engkau tidak akan meraih apa yang engkau cari kecuali dengan kesabaran.”Dalam sebagian redaksi disebutkan maknanya:من طلب معالي الأمور صبر على مكارهها“Barang siapa menginginkan perkara-perkara yang tinggi, maka ia harus bersabar menghadapi kesulitannya.”Kisah ini sering dibawakan oleh para ulama untuk menjelaskan bahwa seseorang yang mengejar tujuan besar akan mampu menanggung kelelahan, kesulitan, dan gangguan di jalan tersebut. Jika seorang rahib Nasrani saja bersabar demi tujuan yang ia yakini, maka seorang muslim lebih layak untuk bersabar dalam mencari ridha Allah dan ikhlas dalam ibadah.Karena takut riya orang soleh dahulu menyembunyikan ama solehnyaKadang kita senang terpenuhi karena kesolehannya  misal belanja dimurahkan karena terkenal soleh, dan kita sengaja melakukannya ini lebih bahaya dari orang yang punya harta.jangan mencari harta karena kesolehan kitaYazid bin Martsad (يزيد بن مرثد), seorang ahli ibadah dari kalangan tabi’in, bukan Yazid bin Walid.Diriwayatkan bahwa seorang penguasa atau pejabat ingin mengangkat Yazid bin Martsad menjadi pejabat atau memegang suatu jabatan, namun beliau menolaknya karena takut tidak mampu menunaikan amanah dan khawatir terhadap fitnah kekuasaan. Beliau dikenal sebagai ahli ibadah yang banyak menangis karena takut kepada Allah.Ada yang zuhud secara dzohir dan bathin karena berharap orang akan menghormatinya maka akan mudah baginya akan mudah bersabar utk zuhud bukan karena Allah tapi penghormatanTalbis iblis terhadap orang zuhud yang suka menyendiri dan dia bilang menghindar dari kemungkaran padahal dia mempunyai niat agar dipuji orang dan ditunggu orang kedatangannyaPadahal rasululloh pergi kepasar membeli kebutuhan dan mengangkat barang2nya sendiriAbu Bakar ketika berdagang membawa barangnya sendiriAbdullah Bin Salam berjalan dan memikul seikat kayu sehingga orang bertanya kenapa dia melakukan itu padahal dia berkecukupan dia berkata da takut kena kesombongan karena mendengar sabda rasululloh bahwa tidak akan masuk syurga org yg sombong- Penyakit yang samar (ad da’al khafii)@ mereka tidak mau disuruh memakai pakaian yang lembut agar kedudukannya dilihat tidak zuhud dan dia berusaha menjaga wibawa didepan orang lain dan iblis membisikan ini agar dipandang bagus oleh orang Maka ini adalah riyaDahulu para salaf menolak segala sebab yang menjadikan mereka diperhatikan dan mereka prgi ditempat orang akan mengerumuni merekaYusuf bin asbath saat keluar dari negri syam sampai ke kota Misisah sambil mengangkat air minum diatas kepalanya sampai dilihat seseorang dan datang menyalaminya sampai dia pergi kemesjid utk sholat 2 rakaat dan dia dilihat semua orang dan berkata berapa lama hatiku bisa bertahan seperti ini dan diapun kembali kekota mambijArtinya hati bisa berubah karena penghomatan orang terhadap kita@ Diantara samarnya riya yaitu ada ahli zuhud yang memakai baju robek dan tidak dijahit kemudian sengaja berpenampilan sederhana supaya dia diketahui dia nyaman dengan keadaan iniKalo seandainya dia tulus dia akan merapikan penampilannya sebagai hal utk mencontoh sikap rasululloh untuk merapikan penampilan dan sangat wangi.Begitu juga dengan Abu Bakar dan Umar yang mewarnai jenggotnya padahal mereka adalah yang paling takut pada Allah.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
S
SHILFI LATIFATHUL WANGSA

📍 Kabupaten Purwakarta

Talbis iblis 10

Talbis iblis 10 terhadap ahli zuhudUstadz firanda andirjaDiantara talbis iblis yang dilancarkan oleh iblis kepada ahli zuhud, iblis menggambarkan qona'ah pada yang rendah: makanan, pakaian, maka mereka menerima tipuan iblis tersebut. Sementara mereka tidak zuhud terhadap kekuasaan, kepemimpinan, jabatan. Hati mereka cenderung ingin kekuasaan, kepemimpinan, dan mereka ingin mendapatkan kedudukan. Zuhudnya benar, pakaian nya zuhud, tapi hati nya pengen diakui, dihormati, diagungkan, ingin meraih kekuasaan, maka mereka menanti nanti dikunjungi oleh para pejabat, mereka seneng bangga kalau di ziarahi para pembesar oleh pejabat. Dan mereka memuliakan orang orang kaya, dan mereka tidak memuliakan orang orang miskin. Dan ahli zuhud ini pura pura khusyuk ketika bertemu dengan masyarakat. Dan kebanyakan yang iblis timpakan ahli ibadah dan ahli zuhud iblis timpakan adalah riya yang tersembunyi. Aku belajar beramal selama 22 tahun. Dia beramal bukan karena Allah subhanahu wa ta'ala tapi hanya untuk dihormati. Ada yang zuhud secara dhohir dan batil. Menyiksa diri karena dipuji, dia sabar. Kalau dia ingin ikhlas sebaiknya dia makan jangan dia zuhud di hadapan istrimu. Dia makan secukupnya, supaya kedudukan nya tidak tersebar oleh istrinya. Dia berpuasa selama 20 tahun, istrinya tidak tau dia berpuasa selama 20 tahun. Bagaimana istrinya tidak tau kalau dia berpuasa ? Dia mengambil sarapan paginya kemudian dia pergi ke pasar kemudian dia bersedekah dengan sarapan paginya kemudian dia ketemu orang dia kasih sarapan tersebut. Maka orang orang yang dipasar menyangka dia udah makan dirumah padahal dia sedang berpuasa. Istrinya menyangka bawa makanan untuk makan di pasar. Dan akhirnya dia bisa menyembunyikan puasa dari istrinya selama 20 tahun. Tidak akan masuk surga orang yang ada kesombongan walau se ringan dzarrah.Waspada kalau memiliki keshalehan, dia bangga kalau didatangi jabatan, itulah riya. Ingin terkenal ingin dihormati tidak pantas ke surga. Penyakit yang samar riya. Hati itu bisa berubah. Diantara ahli zuhud ada yang pakai baju robek robek, lalu ada yang pakai sorban nya sengaja, tidak di sisir jenggotnya, dia merasa nyaman, diantara pintu pintu riya. Harusnya dia rapihkan jenggotnya. Ini bukan petunjuk Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan bukan petunjuknpara sahabat. Sunnah ibu ibu nyisir rambut suami. Jangan biarkan suami nyisir rambut sendiri. Biar gak ngantuk.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
A
Alina Rostiana

📍 Kota Yogyakarta

Materi ke 10 Talbis Iblis dari Ahli Zuhud bersama UstadZ DR.Firanda Andirja M.A

Materi ke 10Talbis Iblis dari Ahli Zuhud Bersama Ustadz DR.Firanda Andirja M.Aبِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ 1. Dunia Tidak Tercela Secara MutlakDunia bukan sesuatu yang tercela pada zatnya.Yang tercela adalah:Cara memperoleh dunia yang haram.Berlebihan dalam mencintai dunia.Menggunakan dunia untuk maksiat dan mengikuti hawa nafsu.Dunia merupakan nikmat dan sarana dari Allah untuk:Beribadah.Menuntut ilmu.Menafkahi keluarga.Melakukan amal saleh.2. Tipuan Iblis: Menganggap Keselamatan Hanya dengan Meninggalkan DuniaSebagian orang mengira harus meninggalkan dunia sepenuhnya agar selamat di akhirat.Mereka:Mengasingkan diri ke gunung atau hutan.Meninggalkan keluarga.Meninggalkan kewajiban sosial.Tidak menuntut ilmu.Padahal ini bukan ajaran Rasulullah ﷺ.3. Zuhud yang BenarZuhud bukan meninggalkan semua kenikmatan dunia.Zuhud adalah:Tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.Mengambil dunia secukupnya untuk ketaatan kepada Allah.Tidak bergantung hati kepada dunia.Meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi akhirat lebih utama daripada meninggalkan perkara mubah yang bermanfaat.4. Bahaya Zuhud Tanpa IlmuIblis menipu sebagian ahli zuhud dengan membuat mereka:Sibuk beribadah tetapi meninggalkan ilmu.Merasa cukup dengan ilmu yang sedikit.Menjauhi ulama.Akibatnya:Kebodohan semakin kuat.Mudah terjatuh dalam kesalahan dan bid’ah.5. Kesalahan-Kesalahan yang Dianggap ZuhudContohnya:Makan terlalu sedikit hingga merusak tubuh.Tidak mau makan buah atau makanan enak.Tidak mau minum air dingin.Memakai pakaian yang sengaja dibuat tidak nyaman.Menelantarkan kebutuhan tubuh.Padahal:Rasulullah ﷺ menyukai makanan yang baik.Rasulullah ﷺ makan daging.Rasulullah ﷺ menyukai makanan manis.Islam tidak mengajarkan menyiksa diri.6. Zuhud yang PalsuIbnu Al-Jauzi menjelaskan bahwa sebagian orang:Zuhud dalam makanan dan pakaian.Namun sangat mencintai:Jabatan.Kekuasaan.Kepemimpinan.Kedudukan di hati manusia.Mereka meninggalkan dunia yang kecil, tetapi mengejar dunia yang lebih besar yaitu popularitas dan kedudukan.7. Riya’ sebagai Tipuan Besar bagi Ahli ZuhudBentuk riya’ yang tampak:Menampilkan badan kurus.Rambut berantakan.Berbicara dengan suara dibuat-buat pelan.Menampakkan kesedihan dan kekhusyukan palsu.Pamer shalat.Pamer sedekah.Bentuk riya’ yang tersembunyi:Senang dipuji karena kesalehan.Senang dihormati karena agama.Senang banyak orang datang ke rumahnya.Senang dicium tangannya.Senang kebutuhan pribadinya dipenuhi karena dianggap saleh.8. Puncak Dunia adalah Mencari KedudukanDunia bukan hanya harta.Kedudukan dan pengakuan manusia termasuk dunia yang paling berbahaya.Banyak orang meninggalkan harta tetapi masih mengejar popularitas dan penghormatan.9. Orang Saleh Terdahulu Menyembunyikan AmalKarena takut riya’, mereka:Menyembunyikan ibadah.Menyembunyikan puasa.Menyembunyikan amal-amal saleh semampunya.Contohnya:Ada yang berpuasa bertahun-tahun tanpa diketahui istrinya.10. Ketenaran adalah UjianDihormati manusia bisa menjadi nikmat sekaligus ujian.Seorang mukmin harus takut jika penghormatan manusia membuatnya bangga.Semakin terkenal seseorang, semakin besar ujian hatinya.11. Penampilan Lusuh Bukan Tanda KesalehanSebagian orang sengaja:Memakai pakaian robek.Membiarkan sorban berantakan.Tidak menyisir jenggot.Tidak merapikan diri.Agar dianggap zuhud.Padahal:Rasulullah ﷺ merapikan rambut.Rasulullah ﷺ bercermin.Rasulullah ﷺ memakai wewangian.Rasulullah ﷺ menjaga penampilan yang baik.12. Sunnah dalam PenampilanBerpakaian rapi dan bersih.Menyisir rambut.Memakai wewangian.Menjaga kebersihan diri.Seorang istri membantu merapikan dan menyisir rambut suaminya termasuk sunnah yang dicontohkan dari Rasulullah ﷺ.13. Pelajaran Besar KajianIblis menipu ahli zuhud melalui:Meninggalkan ilmu demi ibadah.Menganggap menyiksa diri sebagai zuhud.Mencari pujian dengan tampilan zuhud.Mencari kedudukan atas nama agama.Riya’ yang sangat samar.Obatnya:Menuntut ilmu syar’i.Mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.Ikhlas dalam beramal.Menyembunyikan amal semampunya.Tidak mencari penghormatan manusia.Memanfaatkan dunia sebagai sarana menuju akhirat.Kesimpulan utama:Zuhud yang benar bukan meninggalkan dunia, tetapi menjadikan dunia di tangan dan tidak di hati. Seorang muslim tetap bekerja, belajar, berkeluarga, dan memanfaatkan nikmat Allah, namun hatinya bergantung kepada Allah dan akhirat, bukan kepada pujian, kedudukan, dan kenikmatan dunia.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 55

Pembahasan Dalil Ketiga QS Al An’am 159 Bag 02Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-55 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Beliau mendatangkan firman Allah Azza wa Jalla di dalam Surat Al An’am 159 :وَكَانُوا شِيَعاًDan mereka yaitu orang-orang yang memisah-misahkan apa yang ada di dalam agama mereka, akhirnya menjadikan mereka berkelompok-kelompok, beraliran-aliran. Sebabnya adalah karena mereka farroqu diinahum. Seandainya mereka seperti Ahlussunnah, kaffah dalam melaksanakan Islam, pakaiannya berusaha untuk syar’i, cara makannya juga demikian, cara ibadahnya, cara manhajnya, cara berdakwahnya, kembali kepada Islam, niscaya ini akan menjadi sebab mereka bersatu. Tapi karena masing-masing dari mereka mengambil sebagian yang ada dalam agama Islam, meninggalkan sebagian yang lain, akhirnya yang terjadi adalah perpecahan, menjadi berkelompok-kelompok, jadi beraliran-aliran.وَكَانُوا شِيَعاًDan mereka menjadi syiya’an.Syiya’an adalah jamak dari syi’ah, yang artinya adalah kelompok-kelompok.لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍEngkau wahai Muhammad, bukan termasuk golongan mereka sedikitpun.Menunjukkan bahwasanya jalannya Nabi Muhammad Shallallâhu Alaihi Wasallam, tidak seperti jalan mereka. Kalau jalan mereka adalah memisah-misah apa yang ada dalam agama ini, adapun Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, maka beliau melaksanakan Islam secara kaffah, secara keseluruhan.Karena Islam bukan dalam masalah aqidah saja, Islam bukan dalam masalah ibadah saja, tapi Islam dalam seluruh bidang yang ada di dalam agama Islam. Itu Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam. Islam secara keseluruhan, Adapun mereka, yaitu aliran-aliran tadi, kelompok-kelompok tadi, maka mereka tidak kaffah di dalam melaksanakan agama Islam.Ayat ini jelas menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam. Di antara seginya adalah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala mentabrii’, yaitu membebaskan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam dari orang-orang yang mereka memecah dan memisah-misahkan agama mereka. Allah Subhanahu Wa Ta’ala membebaskan Nabi dari mereka ini. Mengatakan bahwasanya Nabi adalah bukan termasuk golongan tadi. Dan segala sesuatu yang dia bertentangan dengan jalan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, tentunya ini adalah suatu yang tercela. Jalan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam adalah melaksanakan Islam secara kaffah, maka segala sesuatu yang bertentangan dengan zaman Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, ini adalah sesuatu yang tercela. Dan di sini Allah Subhanahu Wa Ta’ala membebaskan Nabi-Nya, menyatakan bahwa Nabi-Nya ini berlepas diri dari orang-orang yang memisah-misahkan agamanya. Berarti memisah-misahkan agama ini bukan jalan Nabi. Dan segala sesuatu yang bukan menjadi jalan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, maka ini adalah tentunya jalan yang sesat.Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam mengatakan :تَرَكْتُكُمْ عَلَى المَحجّةِ الْبَيْضَاءِ ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لا يَزِيغُ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌTidak memisahkan diri dari sesuatu yang jelas tadi kecuali dia adalah binasa.Bertentangan dengan jalan Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, maka ini adalah kebinasaan. Menunjukkan tentang tercelanya tafriiquddin dan menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhan.Ini adalah ayat yang ketiga, menunjukkan tentang wajibnya masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhan.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 55

Buatkan gambarilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 55 | Status Orang yang Menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah Ucapan ManusiaHalaqah 55 | Status Orang yang Menyatakan bahwa Al-Qur’an adalah Ucapan ManusiaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهMasih tentang keyakinan ahlussunnah di dalam masalah Alquran,Beliau mengatakan rahimahullāh,فَمَنْ سَمِعَهُ فَزَعَمَ أَنَّهُ كَلامُ الْبَشَرِ فَقَدْ كَفَرَBarangsiapa yang mendengarnya yaitu mendengar Al-Qur’an dibacakan oleh orang lain, atau dia membacanya,فَزَعَمَ أَنَّهُ كَلامُ الْبَشَرِKemudian dia meyakini bahwasanya ini adalah ucapan manusia/ini adalah makhluk,فَقَدْ كَفَرَMaka sungguh dia telah kufur,Orang yang mengatakan bahwasanya atau mendengar Al-Qur’an dan meyakini bahwasanya itu adalah ucapan manusia, apa hukumnya?Sungguh dia telah kufur mengatakan ini adalah ucapan Nabi Muhammad atau ini ucapan Jibril bukan ucapan Allāh maka dia telah kufur, barangsiapa yang mendengar Al-Qur’an kemudian meyakini itu adalah ucapan manusia maka dia telah keluar dari agama Islam.Demikian pula orang yang meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, dia mungkin tidak mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah ucapan manusia, Mua’tazilah tidak mengatakan Al-Qur’an adalah ucapan manusia tapi dia mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk Allāh subhanahu wa ta’ala yang menciptakan, sama hukumnya, dia telah keluar dari agama Islam dan ini ada ucapan² yang shorih dari para salaf yang mengatakan barangsiapa yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk maka dia telah keluar dari agama Islam, ini takfir secara mutlak barangsiapa yang mengatakan demikian maka dia telah keluar dari agama Islam adapun takfir secara muayyan maka ini babnya lain harus ada sempurnanya syarat dan juga hilangnya penghalang.Al Imam Ahmad bin Hambal meskipun beliau mungkin dipaksa di penjara untuk mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk tapi beliau tidak mengkafirkan tidak serta merta mengkafirkan para penguasa atau orang lain yang saat itu mereka diliputi oleh subhat orang² Mua’tazilah, karena beliau tau bahwasanya belum tentu orang yang mengucapkan ucapan demikian kemudian dia memahami, mungkin dia dalam keadaan bodoh, mungkin terpaksa/takutفمن سمعه فزعم أنه كلام البشر فقد كفرIni menunjukkan bahayanya ucapanوَقَدْ ذَمَّهُ اللهُ تعالى وَعَابَهُ وَأَوْعَدَهُ بِسَقَرَ حَيْثُ قَالَ تَعَالىَ:وَعَابَهُوَأَوْعَدَهُ بِسَقَرَAllāh subhanahu wa ta’ala telah mencela orang yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamubasyar hu disini kembali kepadaفمن سمعهKembali kepada orang yang mendengar kemudian mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah kalamu albasyar, Allāh mencelanya,وَعَابَهُKemudian Allāh mencelanya, hampir sama maknanya,وَأَوْعَدَهُBahkan Allāh subhanahu wa ta’ala mengancamnya dengan azab bukan Allāh cela saja tapi tapi Allāh ancam dengan azab, dan ancaman menunjukan bahwasanya ucapan itu ucapan yang dibenci oleh Allāh atau ucapan yang keliru fatal kekeliruannya dia mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamu Al Basyar,حَيْثُ قَالَ تَعَالىَ: سَأُصْلِيهِ سَقَرَAllāh subhanahu wa ta’ala mengatakan Aku akan memasukkan dia ke dalam jahanam.Ini disebutkan oleh Allāh dalam Surat Al Mudatsir Kisah dari Al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi termasuk Orang Quraisy ketika dia mendengar Al-Qur’an (dia orang yang faham) Al Walid mengatakan bahwasanya ini bukan syair (dia sudah banyak mendengar syair) dan ini bukan sihir juga / ini bukan mantra dari para dukun, apa yang dia sebutkan adalah pujian terhadap apa yang dibawakan oleh Nabi ﷺ, dia justru malah memuji apa yang dibaca oleh Nabi ﷺ maka dicela oleh kaumnya, sampai akhirnya dia dengan lisannya mengatakanإِنْ هَٰذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ[QS Al Mudatsir 25]Sebelumnya Allah mengatakan,إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (١٨)Sesungguhnya dia memikirkan,فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (١٩)Maka terlaknat dia,Bagaimana dia memikirkan/setelah dicela oleh kaumnya sendiri,ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (٢٠)ثُمَّ نَظَرَ (٢١)ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (٢٢)ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (٢٣)فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (٢٤)إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (٢٥)Sampai akhirnya dia mengatakan bahwasanya ini adalah sihir & ini adalah ucapan manusia, ini adalah ucapan Muhammad, padahal hatinya berbeda dengan apa yang dia ucapkanوَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ …[QS An Naml 14]Apa kata Allāh ﷻ setelahnya, ketika menyebutkan tentang ucapan Walidاِنۡ هٰذَاۤ اِلَّا قَوۡلُ الۡبَشَرِؕTidaklah ini adalah ucapan manusia,Allāh mengatakan,سَأُصۡلِيهِ سَقَرَAku akan memasukan dia (Walid) kedalam Saqor/kedalam Nerakaوَمَاۤ اَدۡرٰٮكَ مَا سَقَرُؕلَا تُبۡقِىۡ وَ لَا تَذَرُ‌ۚTahukah kamu apa itu Saqor?Ini adalah sesuatu azab yang tidak akan menyisakan dan tidak akan meninggalkan, akan dihabisi/dihancurkan oleh Naar.Berarti disini ada ancaman bagi orang yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah ucapan manusia. Ancaman menunjukkan bahwasanya ucapan itu adalah ucapan yang batil itu bukan Qoulubasyar, keyakinan bahwasanya itu ucapan Muhammad adalah ucapan yang batil orang yang mengatakannya berhak mendapatkan azab tersebutعلمنا فلما أوعد الله سقر لمن قال {إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشرKetika Allāh subhanahu wa ta’ala mengancam orang yang mengatakan ucapan tadi yaitu mengatakanاِنۡ هٰذَاۤ اِلَّا قَوۡلُ الۡبَشَرِؕDiancam dengan Saqor maka kita mengetahuiBahwasanya Al-Qur’an ini ucapan yang menciptakan manusia.Kalau itu bukan ucapan manusia berarti itu adalah ucapan yang menciptakan manusia yaitu Allāh Kalamullah,ولا يشبه قول البشرDan bahwasanya berarti Kalamullah ini tidak serupa dengan ucapan manusia,لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُOrang yang memahami bahasa Arab tahu ini bukan ucapan manusia, meraka sudah tahu ribuan syair, syair dari berbagai Qobilah mereka ketika mereka mendengar Al-Qur’an mereka mengetahui bahwa ini bukan ucapan manusia, Al-Qur’an dengan bahasa mereka dengan huruf² mereka tahu tapi mereka tahu ini bukan ucapan syair/ini bukan ucapan manusia, bahkan orang² yang belum mengenal bahasa Arab sekalipun (orang² kufur ketika mereka disuruh mendengarkan Al-Qur’an) mereka merasa ini bukan sembarang ucapan.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهTranskrip: Abu Mandala

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
A
Aminatus Noer Sholichah

📍 Kota Surabaya

Materi 10: talbis iblis dari ahli zuhud

Rangkuman Kajian: Talbis Iblis #10 (Tipu Daya Iblis Terhadap Ahli Zuhud)Zuhud yang sejati (mengosongkan hati dari keterikatan pada dunia) adalah sifat yang sangat mulia dan dicontohkan oleh Rasulullah. Namun, iblis sering kali menipu orang-orang yang ingin menempuh jalan zuhud ini dengan cara yang sangat halus, sehingga mereka keluar dari koridor syariat tanpa menyadarinya.Berikut adalah poin-poin utama tipu daya iblis terhadap para Ahli Zuhud:1. Salah Memahami Esensi Zuhud (Mengharamkan yang Halal)Menyiksa Diri: Iblis membisikkan bahwa untuk menjadi zuhud, seseorang harus hidup melarat, menahan lapar secara ekstrem, atau menghindari makanan bergizi. Padahal, Allah menyukai hamba-Nya yang mensyukuri nikmat.Menolak Pemberian Halal: Sebagian ahli zuhud menolak harta atau makanan yang jelas kehalalannya karena mengira hal itu akan menodai kesuciannya, padahal Rasulullah tidak pernah menolak rezeki yang baik. Zuhud bukanlah menolak dunia yang ada di genggaman tangan, melainkan tidak memasukkan dunia tersebut ke dalam hati.2. Riya' dan Sum'ah Melalui Penampilan FisikPamer Kesederhanaan: Iblis menipu mereka untuk sengaja memakai pakaian yang sangat lusuh, robek, atau bertambal-tambal agar orang lain melihat dan memujinya sebagai orang yang sangat zuhud (wali Allah).Sikap Dibuat-buat: Sengaja berjalan menunduk berlebihan, memelankan suara, atau menampakkan wajah lemas seolah-olah sangat takut kepada Allah, yang tujuannya murni untuk mendapatkan penghormatan dari manusia.3. Penyakit 'Ujub (Merasa Paling Suci) & Merendahkan Orang LainKetika seorang ahli zuhud berhasil meninggalkan kemewahan dunia, iblis meniupkan penyakit hati berupa rasa ujub. Ia mulai memandang dirinya sebagai hamba pilihan (kasta tertinggi).Ia meremehkan orang-orang kaya atau orang awam yang menikmati kenikmatan duniawi, meskipun orang-orang kaya tersebut mendapatkan hartanya dari jalan yang halal dan rajin bersedekah.4. Uzlah (Mengasingkan Diri) yang Melanggar SyariatMelalaikan Kewajiban: Iblis mendorong mereka untuk berdiam diri di masjid, gunung, atau tempat sepi demi fokus beribadah sunnah (seperti dzikir dan puasa), namun akibatnya mereka melalaikan kewajiban fardhu seperti mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya.Meninggalkan Syiar Agama: Uzlah yang berlebihan membuat sebagian dari mereka enggan mendatangi shalat Jumat, shalat berjamaah, atau majelis ilmu dengan alasan "ingin menjaga hati dari fitnah interaksi dengan manusia".5. Semangat Beribadah Tanpa Panduan IlmuBanyak ahli zuhud yang lebih mengutamakan perasaan (dzauq) dan semangat ibadah daripada menuntut ilmu syar'i. Akibatnya, iblis dengan mudah memasukkan amalan-amalan bid'ah, doa-doa yang tidak ada tuntunannya, hingga keyakinan yang menyimpang ke dalam ibadah mereka.💡 Kesimpulan & Solusi Keselamatan (Benteng bagi Ahli Zuhud)Cara teraman untuk selamat dari talbis ini adalah dengan mencontoh zuhudnya Rasulullah dan para Sahabat, yaitu:Berilmu Sebelum Beramal: Ilmu agama (fiqih dan akidah) harus menjadi panglima. Ibadah yang dilandasi ilmu jauh lebih ditakuti iblis daripada ribuan ibadah orang yang bodoh.Zuhud Hati, Bukan Menggembel: Memakai pakaian yang layak, bersih, dan pantas adalah bentuk tahadduts bin ni'mah (menyebut nikmat Allah), selama tidak berlebih-lebihan.Seimbang (Tawazun): Menunaikan hak Allah, namun tetap menunaikan hak keluarga, tubuh, dan masyarakat tanpa berlebih-lebihan.

💬 0 komentar📅 12 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya15 Juni 2026
F
Fiedningsih

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

Talbis iblis #9

TALBIS IBLIS #9TALBIS IBLIS TERHADAP ORANG YANG BERAMAR MA’RUF NAHI MUNKARUSTADZ DR.FIRANDA ANDIRJA, LC.MADiantara ibadah yg agung adalah amar Ma’ruf nahi mungkar, dengan ibadah inilah umat ini menjadi mulia.Seruan para Anbiya dan para Rasul:‘Kalian adalah manusia terbaik yg dikeluarkan kepada manusia,sifat kalian yaitu menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran dan kalian beriman kepada Allah ‘Umat yang meninggalkan amar Ma’ruf nahi mungkar adalah umat yg terlaknat.Jika seseorang bernani mungkar ada beberapa kemungkinan:Kemungkaran tersebut hilang,wajib baginya bernahi mungkarKemungkaran tersebut berkurang, wajib baginya bernahi mungkarTernyata jika dia bernahi mungkar, kemungkaran nya semakin besar, maka tidak boleh bernahi mungkarDilarang kemungkaran, ternyata berganti kemungkaran yang sejenis, maka ini butuh ijtihadRasulullah bersabda :“Siapa diantara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lisannya, jika tidak mampu dengan hatinya, dan itu adalah  selemah-lemahnya iman”Orang-orang yang beramar nahi mungkar ada 2 model :Orang yang berilmuOrang yang jahil1️⃣Orang yang berilmuAdapun iblis menggoda orang yg alim yang bernahi mungkar,lewat 2 jalan :Bergaya dengan perbuatannya bernahi mungkar, dengan dakwahnya, ingin disebut- sebut orang, (intinya riya), dan ujung dengan amal perbuatannyaMarah tapi bukan karena Allah,tapi karena membela dirinya,berarti ketika ini terjadi sedang tidak beramal solehPara salaf dahulu benar-benar memperhatikan diri mereka, mereka bernahi mungkar karena Allah atau bukan.Apa sekedar bergaya untuk dilihat orang, supaya diakui bahwa dia bernahi mungkar.Hati-hati bagi para penggiat dakwah untuk waspada jangan sampai melakukan kegiatan berdakwah, beramar nahi mungkar bukan karena Allah tapi untuk dirinya sendiri.2️⃣Orang jahilJika yg beramar nahi mungkar karang yg bodoh, maka setan akan mempermainkan dia.Sesungguhnya ketika dia beramar Ma’ruf kerusakan yang timbul lebih banyak daripada perbaikan yang dia lakukan.Ini bisa terjadi karena :bisa jadi dia melarang sesuatu yg boleh secara ijma’ karena tidak faham secara fikihnyaBisa jadi dia mengingkari seseorang yg melakukan sesuatu, tapi org ini punya sesuatu tafsiran tersendiri, hal ini tidak seperti yg dia sangkakanBisa jadi orang tersebut mengikuti pendapat lainTerkadang dia masuk rumah orang dan menghancurkan pintunya karena di dalam ada  yang sedang minum khamr, ini tidak boleh dilakukan .Terkadang pelaku kemungkaran dipukulTerkadang marah dan menuduh yang tidak-tidak (seperti mengatakan pelacur)Terkadang membongkar suatu perkara yang harusnya dia sembunyikanDiantara talbil iblis kepada orang yg mengingkari kemungkaran adalah : jika dia sedang mengingkari kemungkaran maka diapun duduk di hadapan banyak orang dan menjelaskan berbagai macam, dan memberi tahu kalau dia sudah bernahi mungkar kemudian dia mencaci maki kemungkaran tersebut dan melaknat nya Kata Imam Jawzi : ‘ jangan-jangan orang yg dia ingkari, yg diumbar maksiat nya telah bertaubat, dan bisa jadi yang melakukan maksiat lebih baik dari pada dia’.Menutup aib kaum muslimin adalah wajib sebisa mungkinAda sebagian orang bodoh tentang masalah kemungkaran: Dia menyerang orang-orang yang belum pasti melakukan kemungkaran,dan memukulnyaPara salaf dahulu lembut dalam mengingkariAda seorang salaf melihat seorang lelaki bicara dg seorang wanita, tentu bukan mahramnya.maka dia tegur dengan kata-kata:‘sesungguhnya Allah melihat kalian berdua, semoga Allah menutup aibku dan aib kalian’, kemudian dia pergiTerkadang dia lagi melewati orang-orang yang sedang bermain- main (menghabis-habiskan waktu) ‘wahai saudar-saudaraku, bagaimana pendapat kalian tentang seorang yg ingin bersabar tapi tidur semalaman,tidak jalan-jalan. Malamnya tidur melulu, siangnya main melulu, kapan dia akan bersabar. Dari orang-orang ini ada yg sadar, kalo mereka sedang dinasehati. Dan akhirnya mereka taubat dan mengikuti orang alim itu.Orang yang paling utama untuk kita lembut adalah penguasaAllah sudah contohkan dalam Al Qur’an tentang Musa dan Harun.Kata Allah ﷻ :“Pergilah kalian berdua kepada Firaun,sesungguhnya dia telah melampaui batas. Ucapkanlah kepada Firaun dengan kata-kata yang lembut. Siapa tahu dia sadar dan mengambil pelajaran dan tahu-tahu kepada Allah”.Ketika Musa berbicara dg Firaun sangat lembut:‘Maukah aku tunjukkan jalan supaya kamu bisa mensucikan dirimu. Dan aku menjadi petunjuk jalan bagimu menuju Tuhanmu’.Ibnu Jawzi kasih contoh seperti seorang berkata kepada penguasa:‘Ketahuilah para penguasa, sesungguhnya Allah telah mengangkat kalian dan dijadikan penguasa maka ingatlah ini adalah nikmat dari Allah,ini ada tanggung jawabnya. Sesungguhnya nikmat itu akan langgeng dengan bersyukur kepada Allah. Jangan sampai nikmat itu ditanggapi dengan kemaksiatan ‘.Fitnah seorang tidak bernahi mungkarSetan telah menipu sebagian ahli ibadah, dia melihat kemungkaran namun tidak mengingkarinyaDia berkata: ‘yg bisa bernahi mungkar adalah orang soleh, sementara saya bukan orang soleh. Bagaimana saya menyuruh orang lain sementara saya sendiri bukan orang soleh’.Ini kesalahan, karena wajib bagi dia untuk bernahi mungkar meskipun dia sering melakukan maksiat tersebut.Ketika melihat maksiat, 2 kewajiban yg dilakukan:Meninggalkan maksiatUntuk bernahi mungkarSeorang yang bernahi mungkar dengan menegur kemaksiatan, sebenarnya menasehati dirinya sendiri.semoga dia termotivasi meninggalkan maksiat tersebutNamun jika ketika  bernahi mungkar dan meninggalkan kemaksiatan tersebut, tentu pengingkaran lebih berdampak.Adapun jika dia bermaksiat dan mengingkari kemaksiatan yang dia lakukan, hampir-hampir dampaknya tidak ada tapi tetapi harus diingkariMaka wajib bagi orang yang bernahi mungkar untuk meninggalkan maksiat tersebut agar ketika bernahi mungkar pengaruhnya kelihatan.Ibnu Aqil berkata :‘Kami telah melihat di zaman kami, ada seorang yg soleh bernama Abu bakar Al a’fali. Jika hendak bernahi mungkar,maka dia panggil orang-orang soleh untuk berjalan bersama dia. Orang-orang soleh tersebut makan makanan yg halal, sekeloorang yg tidak pernah mengambil sedekah kemudia mereka tidak mengotori diri mereka dg menerima pemberian dari penguasa, mereka sering puasa di siang hari dan sering shalat malam di malam hari dan sering menangis. Tujuan agar nahi mungkar tersebut berpengaruh ‘TALBIS IBLIS KEPADA ORANG-ORANG AHLI ZUHUD DAN AHLI IBADAHTerkadang seorang awam mendengar Al Quran dan hadist tentang celaan tentang dunia.Maka dia merasa, jika mau selamat maka tinggalkan dunia. Dia tidak tahu bahwasanya dunia itu, tidak tercela secara zatnya tapi tercela  karena orang yang melakukan dunia tersebut. Yang dicela sifat manusia pada dunia tersebut.💧Iblis menipu dengan berkata :’kamu tidak akan selamat dari akhirat kecuali  kamu meninggalkan dunia, maka dia segera pergi menuju gunung-gunung, kemudian dia menjauhkan diri dari shalat Jumat dan menjauhkan diri dari shalat jamaah dan tidak menuntut ilmu dan jadilah seperti hewan yang liar dan dikhayalkan kepadanya inilah zuhud yang hakiki.💧Terlebih lagi dia mendengar ada orang soleh yang berkelana entah kemana meninggalkan dunia💧mendengarkan ada orang soleh yg beribadah di gunungIblis menggoda nya dengan cara seperti ini karena ilmunya yg sedikit dan karena kebodohannyaSeandainya dia diberi taufik oleh Allah untuk belajar kepada orang yg faqih maka dia akan faham dengan hakekat.Orang yg faqih tersebut akan menjelaskan kepada dia bahwa dunia itu tidak dicela karena zatnya .Yang tercela itu, kalau ambil dunia dengan  ara yg tidak halal atau mengambil dunia dg berlebih -  lebihan, mengambil dunia tidak sesuai dg kebutuhan, inilah yang tercelaOrang yang menjauh dari ilmu dan menjauh dari ulama semakin memperkuat kekuasaan kebodohan dalam diri seseorangDiantara tipuan setan terhadap ahli zuhud❄️Mereka tidak menuntut ilmu karena sebuah dengan kezuhudan❄️setan mengesankan bahwa zuhud adalah perkara-perkara yang mubah❄️diantara mereka ada yg makan cuma sedikit, badannya kurus sekali❄️Diantara mereka ada yg menyiksa diri mereka dengan menggunakan Kain de bulu domba❄️Diantara mereka tidak mau minum air dingin❄️Diantara mereka tidak mau makan makanan yang enakIni bukan jalan Rasulullah ﷺ , bukan jalan para sahabatnya dan bukan jalan para pengikutnyaImam Jawzi berkata :‘Tubuhmu itu adalah tungganganmu, maka kamu harus lembutkan tubuhmu agar bisa sampai pada tujuanmu. Maka ambillah yg bermanfaat bagi jiwamu dan tinggalkan lah yg tidak bermanfaat seperti kekenyangan, mengikuti hawa nafsu karena itu merusak badan dan merusak agama’.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya12 Juni 2026
N
Nurmaida

📍 Kota Palu

Materi#9 "Talbis Iblis terhadap Pelaku Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan Ahli Zuhud"

Materi#9 "Talbis Iblis terhadap Pelaku Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan Ahli Zuhud"‎(Ringkasan kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.)‎‎Talbis Iblis (tipu daya setan) terhadap orang-orang yang melakukan ibadah amar ma'ruf nahi munkar dan orang yang menempuh jalan zuhud.‎1. Tipuan Setan terhadap Pelaku Amar Ma'ruf Nahi Munkar ‎A. Tipuan terhadap Orang Berilmu (Alim)‎1. Bergaya atau "Tazayyun" dalam Berdakwah ‎Iblis menggoda orang alim agar ingin dipuji, pamer, dan bergaya (takalluf) saat menasihati agar terlihat hebat di mata manusia. Hal ini muncul dari sifat riya dan ujub terhadap amalnya sendiri.‎2. Marah karena Membela Diri, Bukan karena Allah ‎Kegiatan amar ma'ruf tercampur dengan emosi pribadi karena pelaku tidak terima dihina, disinggung, atau dikasari oleh orang yang dinasihati. Jika ia membantah atau menegur demi memuaskan amarah pribadinya agar tidak terlihat kalah, maka itu bukan lagi karena Allah.‎3. Berbangga Diri setelah Melakukan Amar Ma'ruf ‎Seseorang terjebak tipuan setan ketika setelah melakukan pengingkaran, ia justru membanggakan tindakannya di hadapan orang banyak, mencaci-maki, melaknat, atau mengumbar aib pelaku kemaksiatan dengan kesombongan.‎B. Tipuan terhadap Orang Bodoh (Jahil)‎1. Nahi Munkar yang Menimbulkan Kemungkaran Lebih Besar ‎Tidak diperbolehkan melakukan nahi munkar jika tindakan tersebut justru memunculkan kemungkaran yang lebih besar.‎2. Mengingkari Perkara Khilafiyah ‎Tidak boleh mengingkari suatu perkara seolah-olah itu kemungkaran yang disepakati, padahal masih termasuk masalah yang diperselisihkan para ulama.‎3. Tajassus (Mencari-cari Kesalahan) ‎Orang yang tidak berilmu sering melakukan nahi munkar dengan cara memata-matai, mencari-cari kesalahan, atau membongkar aib yang tersembunyi. Padahal cara ini tidak dibenarkan dalam syariat.‎4. Bertindak Gegabah tanpa Pemahaman Fikih ‎Kurangnya ilmu dapat menyebabkan seseorang mengambil tindakan yang justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar daripada kemaslahatan.‎‎Kesimpulan‎Dalam beribadah, seorang Muslim harus selalu berlandaskan ilmu, syariat, dan keikhlasan. Setan dapat menipu pelaku amar ma'ruf nahi munkar dengan riya, ujub, kemarahan karena ego, serta tindakan tanpa ilmu. Setan juga dapat menipu ahli ibadah dengan pemahaman zuhud yang keliru sehingga meninggalkan dunia secara ekstrem (rahbaniyah).‎Karena itu, setiap amal harus dilakukan dengan:‎Ilmu yang benar.‎Niat yang ikhlas karena Allah.‎Sikap lembut dan bijaksana.‎Menjaga kehormatan sesama Muslim.‎Mengikuti teladan Rasulullah ﷺ dan para sahabat.‎

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI12 Juni 2026
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 4

Halaqah yang ke-4 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Pujian para ulama kepada beliau rahimahullāh, di sana ada as-Subki Muhammad bin Abdul Barr asy-Syafi’i yang meninggal pada tahun 777 Hijriyah, beliau mengatakan tidak membenci Ibnu Taimiyyah kecuali orang yang bodoh atau orang yang mengikuti hawa nafsu, ini semuanya menunjukkan tentang bagaimana pujian para ulama terhadap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan ini menunjukkan tentang keutamaan beliau.Saya nukilkan juga di sini ucapan dari Ibnu Hajar al-Asqalani yang mengarang kitab Fathul Bari. Ibnu Hajar memuji Syaikhul Islam dan mengatakan bahwasanya laki-laki ini adalah orang yang paling kuat di dalam memerangi ahlul bid’ah dari kalangan orang-orang Rafidhah dan orang-orang Hululiyah dan Ittihadiyah (yaitu orang-orang yang mengaku Allāh ﷻ bersatu dengan makhluk-Nya atau Allāh ﷻ di mana-mana), dan karangan-karangan beliau didalam masalah ini adalah banyak syahirah dan dikenal dan fatwa-fatwa beliau tentang aliran-aliran tadi tidak bisa dibatasi, karena saking banyaknya yaitu dengan ilmu kita kita tidak bisa menentukan batasnya karena keterbatasan ilmu yang kita miliki.Didalam ucapan beliau yang lain Ibnu Hajar mengatakan seandainya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tidak memiliki keutamaan kecuali keutamaan yang satu yaitu dia memiliki seorang murid yang bernama Ibnu Qayyim, yang memiliki karangan-karangan yang banyak yang telah mengambil manfaat dari karangan beliau orang yang setuju dengan beliau maupun orang yang memusuhi beliau, niscaya ini menunjukkan tentang keutamaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.Kemudian setelahnya beliau rahimahullāh, ini adalah sunnatullah bagi setiap orang yang berdakwah kepada apa yang didakwakan oleh para Nabi dan juga para rasul banyak menerima ujian dan juga cobaan, banyak musuh musuh beliau yang ada di zaman beliau yang berdusta atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, mereka adalah orang-orang Sufi, orang-orang ahlul kalam, ahlul bid’ah dan ini bukan hanya di zaman beliau saja bahkan sampai hari ini.Ini menunjukkan tentang bagaimana ujian yang beliau terima dan sebagian berdusta atas nama beliau, seperti misalnya dusta yang diucapkan oleh sebagian bahwasanya dia melihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah sedang menjelaskan tentang turunnya Allāh ﷻ ke langit dunia kemudian dia menceritakan, dan ini adalah dusta, mengatakan bahwasanya Ibnu Taimiyyah saat itu berada di atas mimbarnya kemudian dia turun dari atas mimbarnya pelan-pelan, yaitu satu tingkat kemudian tingkat berikutnya dan seterusnya kemudian mengatakan bahwasanya Allāh ﷻ itu turun seperti turunku ini, maka ini adalah dusta atas nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan yang menceritakan tadi dia mengatakan bahwasanya dia melihat itu pada tahun 726 Hijriyah, artinya dua tahun sebelum beliau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah meninggal dunia.Dan kalau diteliti yang menunjukkan tentang kedustaannya, ternyata saat itu karena saat itu yang menceritakan ini dia melihatnya di bulan Ramadan tahun 726 Hijriyah, dan kalau kita melihat sejarah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dari murid-murid beliau bahwasanya beliau pada tahun 726 Hijriyah di bulan Sya’ban ini beliau sudah dipenjara, tidak bebas lagi dalam berdakwah dan ini menunjukkan bahwasanya ini adalah ucapan yang dusta. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bukan seorang musyabbih (orang yang menyerupakan Allāh ﷻ dengan makhluk atau menyerupakan sifat Allāh ﷻ dengan sifat makhluk) dan insyaAllāh nanti akan kita melihat sendiri bagaimana beliau rahimahullāh berlepas diri dari tasybih, dari takyif, dari tamsil.Beliau rahimahullāh diuji oleh Allāh ﷻ dengan berbagai ujian dan diantara orang-orang yang banyak memusuhi beliau saat itu adalah qurra yaitu para qadhi dan juga para fuqoha karena mereka merasa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini banyak menyelisihi mereka di dalam fatwa mereka dan juga dapat pendapat-pendapat mereka, karena beliau bukan orang yang fanatik terhadap madzhab tertentu tetapi beliau ta’asubnya adalah kepada dalil. Demikian pula di antara musuh-musuh beliau adalah orang-orang Sufiyyah dan juga ahlul kalam sehingga dengan sebab ini beliau beberapa kali di penjara di antaranya adalah pada tahun 705 Hijriyah kemudian pernah beliau juga dikeluarkan kemudian masuk dan dikeluarkan lagi kemudian masuk kembali dan sebabnya adalah bermacam-macam terkadang sebabnya adalah dari tuduhan-tuduhan orang-orang Sufiyyah pernah beliau di penjara karena tuduhan-tuduhan orang-orang Sufiyyah atau terkadang mereka adalah dari para qurro tadi dari para qodhi tadi yang merasa bahwasanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ini banyak menyelisihi mereka dalam masalah fatwa dan juga pendapat-pendapat.Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah beliau meninggal dunia pada malam Senin tanggal 20 Dzulqo’dah tahun 728 Hijriyah dan yang menghadiri jenazah beliau saat itu adalah cukup banyak dan ini adalah seperti yang diucapkan oleh Al-Imam Ahmad bin HanbalKatakan kepada ahlul bid’ah bahwasanya yang akan menentukan antara kami dan juga kalian adalah ketika disaksikannya jenazah-jenazah itu, maksud beliau adalah diantara hal yang menunjukkan bahwa seseorang diatas haq adalah ketika manusia memiliki qobul, memiliki rasa cinta Allāh ﷻ menanamkan rasa cinta tadi kepada para hamba-Nya, ketika Allāh ﷻ mencintai seorang hamba maka Allāh ﷻ akan menjadikan di dalam hati para hamba-Nya yang lain ini rasa cinta terhadap hamba tadi, sehingga ketika dia meninggal dunia banyak orang yang berkeinginan untuk menghadiri jenazahnya, mendoakan beliau.Berbeda dengan ahlu bid’ah yang mereka adalah orang yang melakukan perkara-perkara yang menyimpang yang menjadikan murka Allāh ﷻ dan terkadang mereka melakukan itu diantaranya adalah untuk mencari pujian manusia atau pengikut yang banyak tapi justru yang mereka dapatkan adalah kebencian dari manusia, meskipun secara dhohir mungkin mereka mengikuti di belakang ahlul bid’ah tapi didalam hatinya tidak ada kecintaan sebagaimana mereka mencintai ulama ahlussunnah, sehingga ketika meninggal dunia para ahlul bid’ah tadi yang mungkin dalam kehidupan sehari-hari sebelumnya dia punya banyak pengikut tapi ketika meninggal dunia ternyata tidak menghadiri jenasahnya kecuali sangat sedikit, karena manusia benci dan ditancapkan didalam hati mereka oleh Allāh ﷻ perasaan tidak senang dengan ahlul bid’ah tadi.Maka itu adalah sejarah singkat, biografi singkat tentang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
U
Ulfa Puspitasari

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis iblis #9 Talbis Iblis Terhadap Orang yang ber-Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Poin Penting yang Dirangkum dalam Gambar:Jebakan Dakwah bagi Si Alim & Si Jahil: Peringatan terhadap sifat riya’ (ingin dipuji) bagi yang berilmu, serta bahaya merusak tanpa bukti bagi yang awam. Penegasan bahwa menegur harus dengan kelembutan, bukan karena emosi pribadi.Alasan Palsu Wara': Meluruskan kesalahpahaman bagi orang yang enggan menegur kemungkaran hanya karena merasa dirinya belum sempurna atau belum shalih.Salah Kaprah Memaknai Zuhud: Meluruskan bahwa zuhud bukanlah menyiksa diri (menolak makanan enak atau pakaian bagus), melainkan meninggalkan apa saja yang tidak memberi manfaat untuk akhirat.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
S
Syfa Adinna Shabra

📍 Kabupaten Karanganyar

#9 - TALBIS IBLIS TERHADAP ORANG YANG BERAMAR MA'RUF NAHI MUNKAR

Bahwa iblis kerap menipu orang-orang yang sedang melakukan amar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran). Tipu daya ini sering kali membuat pelakunya tergelincir dari niat ibadah menjadi perbuatan maksiat.Berikut adalah poin-poin utama penjelasan terkait jebakan iblis tersebut :1). Merasa Paling Bersih dan SombongIblis sering membisikkan rasa 'ujub (kagum pada diri sendiri) dan kesombongan kepada orang yang melakukan nahi munkar. Pelaku merasa dirinya jauh lebih suci, lebih baik, dan memandang rendah orang yang berbuat maksiat. Padahal, hakikat orang yang mencegah kemungkaran adalah sedang menasihati dirinya sendiri agar terhindar dari dosa tersebut. 2. Berdakwah atau Mencegah Kemungkaran Tanpa IlmuIni adalah pintu terbesar tipu daya iblis. Seseorang yang berdakwah tanpa landasan ilmu agama yang shahih (benar) sering kali terjebak dalam melarang sesuatu yang sebenarnya bukan kemungkaran. Hal ini berbahaya karena dapat menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. 3. Emosi dan Kekerasan yang BerlebihanSaat melihat kemungkaran, setan sering membisikkan amarah yang tidak terkontrol. Akibatnya, pelaku nahi munkar melakukan cara-cara yang kasar, mencaci maki, atau bahkan menggunakan kekerasan yang melanggar syariat, sehingga kemungkaran yang dicegah justru menimbulkan kerusakan (mafsadah) yang lebih besar. 4. Lalai Terhadap Kewajiban SendiriIblis menipu sebagian orang hingga mereka sangat sibuk mengurusi kesalahan orang lain sampai melalaikan kewajiban, aib, dan ibadah mereka sendiri. 5. Lupa pada Prinsip dan Akhlakdiingatkan bahwa amar ma'ruf nahi munkar memiliki tata krama. Syarat utamanya adalah: • Ilmu: Mengetahui bahwa itu benar-benar makruf atau mungkar sebelum melarangnya.• Rifq (Lemah Lembut): Menggunakan cara yang santun saat menasihati agar hati penerima dakwah lebih mudah menerima kebenaran.• Sabar: Siap menghadapi respons atau penolakan dari orang yang dinasihati. _____________________________________》 Mereka terbagi menjadi dua kelompok yaitu orang yang tahu dan orang yang tidak tahu. Adapun masuknya iblis kepada orang yang tahu melalui dua jalan:1. Jalan pertama: Menghiasi diri dengan itu, mencari nama baik dan membanggakan perbuatannya.》 Telah diriwayatkan kepada kami dari Ahmad bin Abu al-Hawari berkata, bahwa aku mendengar Abu Salman berkata: “Aku mendengar Abu Bakar Ja’far al-Manshur menangis dalam khutbah Jum’atnya, aku marah, aku berniat untuk berdiri dan menasihatinya sesuai dengan apa yang aku ketahui bila dia turun. Maka aku tidak ingin berdiri kepada seorang khalifah lalu menasihatinya sementara orang-orang duduk menyaksikan, lalu menyusup keinginan menghiasi diri dengannya, maka dia memerintahkanku agar dibunuh, sehingga aku mati bukan di atas niat yang shahih, maka aku pun duduk dan diam.2. Jalan kedua: Marah karena diri sendiri (bukan karena Allah).Bisa jadi ia sudah marah dadi awal karena dirinya, bisa jadi terjadi secara tiba-tiba saat mengajak kepada kebaikan, karena orang-orang yang mengingkari menyambutnya dengan penghinaan, hingga dia menjadi orang yang membela diri.Sebagaimana yang diucapkan oleh Umar bin Abdul Aziz kepada seorang laki-laki, “Kalau aku tidak dalam keadaan marah, niscaya aku menghukummu. Kamu ingin memancing amarahku, aku khawatir hukumanku bercampur antara marah karena Allah dan marah karena diri sendiri.”》 Bila pelaku amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah orang bodoh, maka setan mempermainkannya. Dia lebih banyak merusak daripada memperbaiki, karena tidak tertutup kemungkinan dia melarang sesuatu yang boleh dengan kesepakatan ijma’, bisa jadi dia mengingkari takwil rekannya dan mengikuti sebagian madzhab,’” bisa jadi dia mendobrak pintu, memanjat pagar, memukul pelaku kemungkaran dan menuduhnya, bila pelaku kemungkaran mengucapkan kata-kata yang membuatnya marah, maka dia marah karena dirinya.》 Di antara talbis Iblis atas pengingkar kemungkaran bahwa bila dia mengaingkari, dia duduk di perkumpulan, lalu menjelaskan apa yang dilakukannya dan membanggakannya, mencaci maki pelaku kemungkaran dengan cacian penuh kebencian, melaknat mereka. Padahal bisa jadi orang-orang itu sudah bertaubat, bisa jadi mereka lebih baik darinya karena penyesalan mereka dan kesombongannya, pembicaraan melebar hingga dia membuka aurat kaum muslimin, karena dia memberitahu siapa orang tidak tahu, padahal menutupi aib seorang muslim adalah wajib sebisa mungkin.Ibnul jauzi berkata : sebagian orang bodoh yang mengingkari kemungkaran, namun dia menyerang suatu kaum tanpa memastikan apa yang sedang mereka lakukan. Dia memukul mereka dengan pukulan yang menyakitkan dan memecahkan bejana-bejana, padahal semua itu hanyalah ajakan kepada kebodohan. Adapun orang yang berilmu, bila dia mengingkari suatu kemungkaran, maka kamu akan aman darinya.》 Shilah bin Usyaim melihat seorang laki-laki berbicara kepada seorang wanita. Maka dia berkata:“Sesungguhnya Allah melihat kalian berdua. Semoga Allah menutupi kalian sebagaimana Dia menutupi kami.”Beliau juga pernah melewati orang-orang yang sedang bermain-main, lalu berkata kepada mereka:“Saudara-saudaraku, bagaimana pendapat kalian tentang seseorang yang hendak melakukan perjalanan, namun dia tidur sepanjang malam dan bermain-main di siang hari? Kapan dia akan menyelesaikan safarnya?”Salah seorang dari mereka memahami maksudnya, lalu berkata kepada teman-temannya:“Orang ini sedang mengajari kita.”Maka dia dan teman-temannya pun bertaubat.》 Orang yang paling patut diingkari dengan kelembutan adalah para sultan. Kepada mereka dapat dikatakan:“Allah telah memuliakan kalian, maka kenalilah nikmat-Nya. Karena nikmat Allah dijaga dengan mensyukurinya, dan tidak pantas bagi kalian membalas nikmat dengan kemaksiatan.”Iblis telah mengacaukan sebagian ahli ibadah. Dia melihat kemungkaran, namun tidak mengingkarinya. Dia berkata:“Yang berhak memerintah dan melarang hanyalah orang yang pantas. Aku belum pantas. Bagaimana mungkin aku memerintah orang lain?”⬆️ Ini adalah kekeliruan. Karena semestinya dia tetap memerintah kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, sekalipun kemaksiatan itu masih ada pada dirinya.Hanya saja, bila dia mengingkari kemungkaran dalam keadaan dirinya bersih darinya, maka pengingkarannya akan lebih memberi pengaruh yang baik. Adapun bila dirinya belum bersih darinya, maka pengingkarannya hampir tidak berpengaruh.‼️ Karena itu, patut bagi orang yang mengingkari kemungkaran untuk terlebih dahulu membersihkan dirinya, agar nasihat dan usahanya memberi pengaruh yang baik.Ibnu Adil berkata:"Kami melihat pada zaman kami Abu Bakar al-Aafali di masa al-Qaim. Bila dia bangkit untuk mengingkari kemungkaran, maka dia diikuti oleh para syaikh yang tidak makan kecuali dari hasil usaha tangan mereka sendiri, seperti Abu Bakar al-Khabbaz dan beberapa orang lainnya.Tak seorang pun dari mereka memakan sedekah, dan mereka tidak ternoda dengan menerima pemberian. Mereka adalah ahli puasa di siang hari, ahli shalat di malam hari, serta sering menangis karena takut kepada Allah.Apabila ada seseorang yang mencampuradukkan kebaikan dengan keburukan, maka dia menolaknya. Dia berkata:'Bila kita menghadapi musuh dengan pasukan yang masih mencampuradukkan kebaikan dengan keburukan, maka kita akan kalah.’” 》 Orang awam mungkin mendengar celaan terhadap dunia di dalam al-Qur’an dan sunnah, maka dia melihat bahwa keselamatan adalah dengan meninggalkannya, dan dia tidak tahu dunia apa yang tercela, maka Iblis mengacaukannya bahwa kamu tidak akan selamat di akhiyat kecuali dengan meninggalkan dunia. Maka dia keluar menyingkir ke gunung-gunung, menjauh dari shalat Jum’at, shalat jamaah dan ilmu, dia menjadi seperti hewan liar. Iblis mengelabuhinya bahwa inilah zuhud hakiki, bagaimana tidak sementara dia telah mendengar tentang fulan bahwa dia luntang-lantung dan fulan lainnya bahwa dia beribadah di gunung, bisa jadi dia masih mempunyai keluarga, mereka terlantar, atau ibu yang menangisi kepergiannya, bisa jadi dia tidak mengetahui rukun-rukun shalat sebagaimana mestinya, dan bisa jadi dia masih memikul tanggungan yang belum ditunaikannya.》 Iblis berhasil menguasai orang ini karena minimnya ilmu, di antara bukti kebodohannya adalah bahwa dia rela terhadap dirinya untuk tidak berilmu, padahal seandainya dia diberi taufik untuk berguru kepada fakih yang memahami hakikat perkara, niscaya si fakih tersebut akan menunjukkan kepadanya bahwa dunia tidak tercela dari sisi dirinya, bagaimana nikmat Allah dicela, padahal ia merupakan nikmat nikmat yang menjadi hajat pokok bagi kelangsungan hidup manusia, menjadi sebab yang bisa membantunya mendapatkan ilmu dan ibadah berupa makanan, minuman, pakaian dan masjid untuk shalat. Sebaliknya yang tercela darinya adalah mengambil sesuatu bukan dari sumber yang halal atau memakannya secara boros bukan sekedar hajat kebutuhan atau jiwa bertindak padanya sejalan dengan kebodohannya tidak sejalan dengan syariat. Bahwa keluar pergi ke gunung menyendiri dilarang, karena nabi melarang seseorang bermalam sendirian, resiko meninggalkan shalat Jum’at dan jamaah adalah kerugian tanpa keuntungan, menjauh dari ilmy dan ulama menguatkan kekuasaan kebodohan, berpisah dari bapak dan ibu dalam keadaan ini adalah kedurhakaan dan ia termasuk dosa besar.》 Adapun orang-orang yang dia dengar bahwa dia menyendiri ke gunung-gunung maka ada kemungkinan mereka tidak memiliki keluarga, bapak dan ibu, maka mereka keluar ke sebuah tempat untuk beribadah di sama secara bersama. Barangsiapa yang perbuatannya tidak mengandung sisi yang shahih maka dia di atas kesalahan, siapa pun dia.Sebagian salaf berkata, “Kami keluar ke gunung untuk beribadah, maka Sufyan ats-Tsauri datang kepada kami dan menyuruh kami pulang.” • Di antara talbis Iblis atas para ahli zuhud adalah bahwa mereka berpaling dari ilmu dengan alasan sibuk zuhud, mereka telah menukar apa yang lebih baik dengan apa yang lebih rendah. Penjelasannya begini, manfaat orang zuhud tidak melampaui teras rumahnya, sementara manfaat orang yang berilmu menyebar, berapa banyak ahli ibadah yang dipulangkan kepada kebenaran oleh seorang yang berilmu.• Di antara talbis Iblis atas mereka adalah dia mengelabuhi mereka bahwa zuhud adalah meninggalkan hal-hal mubah. Di antara mereka tidak makan kecuali roti gandum. Di antara mereka ada yang tidak makan buah-buahan. Di antara mereka ada yang makan sedikit hingga badannya kering dan menyiksa dirinya dengan memakai wol serta menolak minum air dingin.⚠️ Semua ini bukan jalan hidup Rasulullah, tidak pula para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka. Mereka memang lapar, namun itu karena mereka memang tidak punya makanan, bila makanan ada maka mereka makan.- Rasulullah makan daging dan menyukainya, makan ayam, menyukai manisan dan menikmati air yang dingin.- Seseorang berkata, “Aku tidak makan kue puding, aku takut tidak bisa mensyukurinya.” Maka al-Hasan al-Bashri berkata, “Dasar bodoh. Apakah dia bisa mensyukuri air yang dingin?!”- Bila Sufyan ats-Tsauri safar, dia membawa bekal dalam kantongnya berupa daging panggang dan puding. 'Seseorang sepantasnya mengetahui bahwa badannya adalah kendaraannya, dia harus memperlakukannya dengan kelembutan agar bisa menyampaikannya ke tujuan, mengambil apa yang menguatkannya dan membuang apa yang membahayakannya berupa kenyang berlebihan dalam menunaikan hajat jiwa karena hal itu bisa membahayakan badan dan agama.' (Ibnul Jauzi rahimahullah) Manusia memiliki tabiat yang berbeda-beda, bila orang-orang pedalaman memakai bahan wol dan hanya minum susu maka kita tidak mencela mereka, karena tubuh mereka sanggup memikul hal itu. Bila penduduk desa memakai bahan wol, dan makan kawamikh (makanan semacam acar), maka kita tidak mencela mereka. Kita tidak berkata, “Di antara mereka ada orang yang terlalu memaksakan diri.” Karena memang demikian adat mereka.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
H
Haniva Eka Kusuma

📍 Kabupaten Bogor

Ringkasan talbis iblis bagian 9

Talbis iblis - 9 Talbis Iblis Terhadap Orang  yang Melakukan Amar Ma'ruf Nahi Munkar Manusia terbaik yang dikeluarkan untuk manusia adalah yang beramal baik dan mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allaah.Manusia yg meninggalkan amar ma'ruf nahi munkar adalah orang2 yang di laknat. Seseorang yang bernahi munkar maka ada beberapa kemungkinan:1. Kemunkaran itu hilang 2. Kemunkaran tersebut berkurang.3. Kemunkaran lebih besar.4. Kita larang kemunkaran tapi diganti dengan yg sejenis Nahi munkar ini tidak semudah yg kita bayangkan.Munkar ini tidak selalu di anggap munkar. Apalagi ada khilafiyyah. Apalagi sampai tajjassus. Orang2 yang bernahi munkar itu ada 2 model:1. Orang yg berlimu2. Orang yg jahil Dan iblis menggoda orang alim. Iblis bisa masuk dengan 2 jalan,1. Bergaya dengan perbuatannya (Riya, ujub)2. Dia marah tapi bukan karna Allaah. Tapi kara dirinya. Contohnya: bisa jadi sejak awal dia marah karna membela dirinya. Orang jahil yang bernahi munkar, setan akan mempermainkan dia. Ketika dia ber-amar mar'uf nahi munkar kerusakan yang dia lakukan lebih banyak daripada kebaikannya. Karna bisa jadi dia melarang sesuatu yg ternyata secara ijma boleh.Bisa jadi dia mengingkari sesuatu padhaal orang tersebut punya ta'wil. Dan mereka biasanya tajassus. Terkadang pelaku kemunkaran dia pukul. Bernahi munkar itu butuh Fiqih.Tidak boleh bernahi munkar dengan kebodohan..Berbangga bangga dengan mengingkari kemunkaran dan membuka aib seorang manusia. Bagaimana mengingkari para penguasa?Orang yg paling pertama kita lembuti (saat mengingkari penguasa) adalah para penguasa.Seperti kisah nabi musa dan nabi harun.. Wajib bagi orang yg bernahi munkar, untuk dia meninggalkan maksiat agar bisa diliat (saat melakukan nahi munkar) Terkadang seorang awwam mendengar hadits tentang celaan terhadap dunia.. maka dia merasa "kalau mau selamat, maka tinggalkan dunia"Pada asalnya, dunia itu tidak tercela (secara dzatnya). Yg tercela itu sifat manusia terhadap dunia.Mengambil dunia tidak sesuai dengan kebutuhan (ini yg tercela)

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Rangkuman Materi Talbis Iblis 9

Talbis Iblis 9 "Talbis Iblis Terhadap Orang Yang Beramar Ma'aruf Nahi Mungkar)🎙️ Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., M.ADiantara ibadah yang agung adalah amar ma'aruf nahi mungkar dan dengan ibadah inilah maka umat ini mulia. Meskipun ini ibadah yang agung tentu ada fikihnya, tidak sembarang. Dan fikihnya cukup luas bagi orang ingin beramar ma'ruf nahi mungkar, bukan sekedar menyampaikan kebaikan dan bukan hanya sekedar mencegah kemungkaran dimana ada aturan-aturannya. Kalau seseorang bernahi mungkar maka ada beberapa kemungkinan-kemungkinan :✓ Kemungkaran tersebut hilang. Maka wajib bagi dia benahi kemungkaran. ✓ Kemungkaran tersebut berkurang. Ini juga wajib benahi kemungkaran. Dari besar menjadi berkurang.✓ Membenahi Kemungkaran, kemungkaran semakin besar. Maka tidak boleh benahi kemungkaran.✓ Melarang kemungkaran ternyata terganti dengan Kemungkaran sejenis. Maka ini butuh ijtihad. Ini saja sudah menggambarkan bahwasanya benahi mungkar tidak semudah yang dibayangkan. Demikian juga kata Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam "Siapa diantara kalian melihat kemungkaran maka rubah dengan tangannya, jika tidak mampu dengan lisannya, jika tidak mampu dengan hatinya itu iman paling rendah". Orang-orang yang beramar ma'ruf nahi mungkar itu ada 2 model :◾ Orang yang berilmu. Iblis menggoda orang alim yang bernahi mungkar dia terpenuhi persyaratan, mengerti tentang fikih dan memang pantas bagi dia untuk beramar ma'ruf nahi mungkar. Teryata Iblis bisa masuk melalui :✓ Bergaya dengan perbuatannya. Intinya dia riya dan ujub dengan amal perbuatannya. Maka iblis masuk dari sisi ini. ✓ Dia marah tapi bukan karena Allah. Namun karena membela dirinya, itu berat dia tidak beramal shaleh.◾Orang yang jahil atau bodoh.Adapun jika yang beramar ma'ruf nahi mungkar orang bodoh, maka setan akan mempermainkan dia dan sesungguhnya ketika dia beramar ma'ruf kerusakan yang dia timbulkan lebih banyak daripada perbaikan yang dia lakukan. Kemungkaran itu harus ada diijmakan oleh para ulama atau yang dikhilafkan tapi khilafanya lemah maka boleh kita ingkari. Lain halnya jika khilafnya kuat dikalangan para fukaha sejak dahulu. Maka tidak boleh kita ingkar dengan bentuk bernahi mungkar. Oleh karenanya banyak terjadi perpicahan dikalangan kaum muslimin karena orang-orang bodoh yang bernahi mungkar. Maka kerusakan yang timbul lebih parah. 👉 Berbangga-bangga dengan mengingkari kemungkaran dan berbangga-bangga mengumbar aib pelaku maksiat.Diantara talbis iblis kepada orang yang mengingkari kemungkaran adalah jika dia sudah mengingkari kemungkaran maka dia pun duduk di hadapan banyak orang kemudian dia jelaskan. Dia banggakan bahwasanya bernahi mungkar. 👉 Fitnah yang seorang tidak bernahi mungkar.Dia bisa bernahi mungkar tapi dia tidak mau karena wara. Setan telah menipu sebagian ahli ibadah, dia melihat kemungkaran namun dia tidak mengingkarinya. Kemudian dia berkata ''Yang bisa bernahi mungkar hanyalah orang shaleh sementara saya bukan orang shaleh. Bagaimana saya menyuruh orang lain sementara saya sendiri buka orang shaleh". Ini kesalahan karena wajib bagi dia untuk bernahi mungkar meskipun dia sering melakukan maksiat tersebut. Karena wajib bagi dia dua kewajiban yaitu meninggalkan maksiat dan kewajiban dia untuk bernahi mungkar. Jika dia tidak melakukan keduanya maka dia mendapatkan dua dosa. 👉 Tipuan iblis kepada orang-orang yang ahli Zuhur dan ahli ibadah.Dunia itu tidak tercela secara zatnya tapi tercela karena sifat orang terhadap dunia tersebut. Iblispun menipunya dengan berkata "Kamu tidak akan selamat di akhirat kecuali meninggalkan dunia". Hanyalah iblis bisa menggodanya dengan cara seperti itu karena dia sedikit ilmunya dan karena kebodohannya dan dia ridho dengan ilmu yang dia miliki. Diantara tipuan setan terhadap ahli zuhud :✓ Mereka tidak menuntut ilmu karena sibuk dengan kezuhudan, mereka telah Menganti yang baik dengan yang buruk. Karena orang yang zuhud manfaatnya hanya untuknya tidak keluar dari pintunya✓ Setan menghayalkan dan mengesankan bahwasanya zuhud itu adalah meninggalkan perkara-perkara mubah. Zuhud itu ada wara. Wara yaitu meninggalkan sesuatu perkara yang mungkin mudharat di akhirat. Konsekuensi dari wara adalah meninggalkan yang haram. Karena haram itu adalah mudharat di akhirat dan meninggalkan syuhbat. Karena terkadang syuhbat ini bisa jadi memberi mudharat di akhirat. Zuhud yaitu meninggalkan yang tidak bermanfaat di akhirat. Bukan meninggalkan perkara-perkara mubah. Karena perkara mubah ada yang bermanfaat di akhirat.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
D
Dina Permata Sari

📍 Kota Tangerang Selatan

Talbis Iblis #9 - Talbis Iblis Terhadap Orang Yg Beramar Ma'ruf Nahi Munkar

Keutamaan Amar Ma'ruf Nahi MunkarAmar ma'ruf nahi mungkar adalah ibadah yang sangat agung. Dengan ibadah inilah umat Islam disebut sebagai "Khairu Ummah" (sebaik-baik umat). Sebaliknya, Allah melaknat Bani Israil melalui lisan Nabi Daud dan Isa bin Maryam karena mereka meninggalkan kewajiban saling mencegah kemungkaran.Meskipun agung, ibadah ini memiliki Fikih yang luas dan tidak boleh dilakukan sembarangan.Sebelum mencegah kemungkaran, seseorang harus melihat dampaknya:Kemungkaran hilang: Wajib dilakukan.Kemungkaran berkurang: Wajib dilakukan.Kemungkaran menjadi lebih besar: Haram/Tidak boleh dilakukan. Mencegah kemungkaran tidak boleh melahirkan kemungkaran yang lebih dahsyat.Kemungkaran terganti dengan kemungkaran sejenis: Membutuhkan ijtihad ulama.Selain itu, masalah yang bersifat khilafiyah (perbedaan pendapat ulama yang kuat) tidak boleh diingkari dengan keras. Kecuali jika pendapat khilaf tersebut sangat lemah (seperti keharaman musik atau riba uang), maka tetap wajib dibantah.Talbis Iblis (Tipu Daya Setan) dalam Nahi MunkarMenurut Ibnul Jauzi, orang yang beramar ma'ruf nahi mungkar terbagi menjadi dua, dan Iblis memiliki cara berbeda untuk menipu keduanya:1. Tipu Daya kepada Orang yang Berilmu (Alim)Orang alim tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Namun, setan masuk melalui dua celah:Riya' dan Ujub: Setan membuatnya bergaya saat menasihati, ingin dipuji, mencari ketenaran, dan merasa bangga (ujub) jika orang berhenti maksiat karena tegurannya.Marah karena Ego (Bukan karena Allah): Awalnya ia ikhlas menasihati, namun ketika dibantah atau dihina oleh pelaku maksiat, ia terpancing emosi. Akhirnya, ia berdebat dan marah bukan lagi untuk membela agama Allah, melainkan untuk membela harga dirinya sendiri agar tidak kalah.2. Tipu Daya kepada Orang yang Bodoh (Jahil)Jika orang bodoh yang beramar ma'ruf, kerusakan yang ditimbulkan akan jauh lebih besar daripada perbaikannya. Kesalahan yang sering terjadi:Melarang hal yang sebenarnya mubah (boleh) secara agama atau masalah khilafiyah.Melakukan Tajasus (mata-mata/mencari-cari kesalahan yang tersembunyi), seperti mendobrak pintu rumah orang, memanjat pagar, dsb.Main hakim sendiri seperti memukul atau membakar pelaku maksiat.Menuduh tanpa bukti (Qadzaf), misalnya melihat wanita berjalan dengan laki-laki lalu langsung dituduh sebagai pelacur.Membongkar aib sesama muslim yang seharusnya ditutupi.Adab Menasihati PenguasaNahi mungkar harus mengedepankan kelembutan, terutama kepada penguasa/pemimpin. Allah mencontohkan hal ini saat menyuruh Nabi Musa dan Nabi Harun menghadapi Firaun (manusia paling tiran yang mengaku Tuhan). Allah menyuruh mereka menggunakan perkataan yang lemah lembut. Jika Firaun saja harus dinasihati dengan lembut oleh Nabi Musa, maka pemimpin saat ini jauh lebih berhak untuk dinasihati dengan cara yang baik, santun, dan tidak dipermalukan.Kesalahpahaman Tentang Zuhud (Talbis Iblis pada Ahli Ibadah)Di paruh kedua kajian, Ustadz Firanda membahas tipu daya iblis kepada orang-orang yang gemar beribadah terkait konsep Zuhud.Setan sering membisikkan bahwa dunia itu tercela secara dzatnya, sehingga untuk selamat, seseorang harus mengasingkan diri. Kesalahpahaman yang sering terjadi:Pergi ke gunung/hutan dan meninggalkan kewajiban sosial (seperti Shalat Jumat, jamaah, menuntut ilmu, menafkahi istri, atau berbakti pada orang tua).Menyiksa diri sendiri: Menolak makan makanan enak, tidak mau minum air dingin, memakai pakaian kasar yang tidak nyaman, hingga sengaja membuat badan kurus kering.Zuhud yang Benar:Dunia tidak tercela secara dzatnya. Yang tercela adalah jika kita mencari dunia dengan cara haram, berlebih-lebihan, atau menuruti hawa nafsu semata.Zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat.Makan makanan enak, minum air dingin, dan memakai pakaian yang nyaman bukanlah pelanggaran zuhud, asalkan membantu menguatkan fisik untuk beribadah dan tidak berlebih-lebihan.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →