📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat16 jam lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Refleksi Al-Baqarah (2:277)

Tafsir Al-MuyassarAl-Baqarah (2:277)Tema: CARA-CARA PENGGUNAAN HARTA DAN HUKUM-HUKUMNYA (Ayat 261-286)Subtema: Hukum riba (Ayat 275-281)Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, melakukan perbuatan-perbuatan baik, mendirikan shalat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, membayarkan zakat harta mereka, mereka mendapatkan pahala besar yang khusus bagi mereka di sisi Rabb mereka dan pemberi rizki mereka, mereka tidak ditimpa ketakutan di akhirat dan mereka tidak bersedih atas apa yang luput dari bagian di dunia mereka.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 jam lalu
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 17: Peran Doa Didalam Beriman Dengan Takdir Allāh ﷻ

Halaqah 17 :Peran Doa Didalam Beriman Dengan Takdir Allāh ﷻ🎙Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىTakdir telah tertulis, akan tetapi bukan berarti seseorang meninggalkan berdo’a kepada Allah.Berdo’a adalah bagian dari mengambil sebab yang diperintahkan untuk mendapatkan kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى“Dan berkata Rabb kalian, hendaklah kalian berdo’a kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian.”[QS. Ghafir: 60]Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ…“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat mengabulkan do’anya orang yang berdo’a kepada-Ku.”[QS. Al-Baqarah: 186]Dan do’a adalah ibadah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,الدعاء هو العبادة”Do’a itu adalah ibadah.” [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah]Dan Rasulullah ﷺ bersabda,وﻻ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻻ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ“Dan tidak menolak Al Qadar kecuali do’a.” [Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah]Dan bukanlah yang dimaksud dengan do’a bisa menolak takdir, bahwa do’a bisa melawan takdir Allah yang sudah Allah tulis, akan tetapi makna Al Qadar disini adalah Al Muqoddar, yaitu sesuatu yang ditakdirkan, artinya do’a bisa menjadi sebab berubahnya keadaan yang ditakdirkan oleh Allah menjadi keadaan lain yang juga ditakdirkan oleh Allah.Contoh seseorang ditakdirkan sakit kemudian dia berdo’a kepada Allah meminta kesembuhan kemudian Allah mengabulkan do’anya dan menakdirkan kesembuhan bagi orang tersebut.Dan do’a yang dipanjatkan oleh seseorang kepada Allah adalah bagian dari takdir Allah.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat16 jam lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

QS. Al Haqqah: 24

Tafsir At-TaysirAl-Ĥāqqah (69:24)Ayat ini adalah dalil bahwasanya seseorang akan masuk surga dengan sebab amal saleh yang telah dikerjakan ketika dulu masih di dunia, karena dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan,بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَة“Karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.”Oleh karena itu, berkaitan dengan masuknya seseorang ke dalam surga, Allah ﷻ telah menjadikan amal sebagai sebabnya (49). Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ“Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. An-Nahl : 32)Akan tetapi pada dasarnya amalan yang dilakukan oleh seseorang tidaklah pantas untuk memasukkannya ke dalam surga. Adapun amalan itu hanya merupakan sebab untuk mendatangkan rahmat dan karunia-Nya Allah ﷻ sehingga seseorang bisa masuk surga. Hal ini sebagaimana yang Nabi ﷺpernah sabdakan,لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لاَ وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ“Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” Para sahabat bertanya, ‘Dan tidak pula engkau wahai Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘Aku pun tidak. Kecuali Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepadaku’.”(50)Ini menunjukkan bahwa amalan seseorang tidak bisa digunakan untuk membayar surga, karena amalan tersebut tidak ada bandingannya dengan surga. Kita tahu bahwa shalat sunnah fajar memiliki balasan pahala yang lebih baik daripada dunia dan seisinya. Pertanyaannya, apakah shalat yang kita lakukan kurang dari lima menit itu atau mungkin yang terkadang kita lakukan dengan setengah sadar (tidak khusyuk) pantas untuk mendapatkan pahala sebesar dunia dan seisinya? Tentu tidak pantas. Maka demikian pula seluruh amalan seseorang pada dasarnya tidak pantas digunakan untuk membayar surga yang dimana orang-orang akan abadi di sana. Oleh karenanya amal saleh itu merupakan sebab untuk mendatangkan rahmat Allah ﷻ bagi kita, sehingga dengan rahmat tersebut kita dapat masuk surga. Dan dari amalan-amalan tersebutlah, Allah ﷻ akan menempatkan seseorang di dalam surga pada derajat sesuai yang pantas untuknya. Semakin banyak amalan seseorang maka akan semakin tinggi derajat surganya dan semakin tinggi kualitas kenikmatan yang akan dia dapatkan di surga. Oleh karena itu, seseorang yang diberi umur dan kesehatan oleh Allah hendaknya ia benar-benar memanfaatkan waktu-waktunya untuk memperbanyak amalan saleh, karena tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh kecuali dengan hal tersebut. Dan sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu,فَإِنَّ الْيَوْم عَمَلٌ وَلَا حِسَاب، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَل“Sesungguhnya hari ini adalah untuk beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hari penghisaban bukan lagi untuk beramal.”(51)Maka, sungguh beruntung orang yang banyak beramal saleh dalam kehidupannya di dunia. Demikianlah orang yang mendapatkan catatan amalnya dengan tangan kanannya, dia pun akhirnya bangga dan memamerkan catatan amalnya tersebut yang berisikan berbagai amalan kebaikan dan ibadah kepada Allah ﷻ selama dulu ia masih hidup di dunia.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka16 jam lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Kisah Nabi dan Rasul

Nabi صلى الله عليه وسلم menjelaskan bahwa Nabi Musa lupa terhadap janjinya ketika ia mengingkari perbuatan Nabi Khadhir. Nabi Musa lupa bahwa seharusnya ia bersabar dan tidak bertanya sampai Nabi Khadhir menjelaskan tindakan yang dilakukannya.Sebagian ulama berpendapat bahwa sifat Nabi Musa yang sangat mengingkari kemungkaran membuatnya lupa bahwa ia dan Nabi Khadhir juga merupakan penumpang kapal tersebut. Ia terlupa bahwa tidak mungkin ia dan para penumpang tenggelam, karena Nabi Khadhir tidak mungkin melubangi kapal tersebut dengan tujuan agar mereka semua tenggelam.Mengapa Nabi Musa bisa lupa? Karena kejadian tersebut dianggap sebagai suatu kemungkaran yang membuatnya kehilangan fokus dan lupa bahwa ia seharusnya tidak bertanya-tanya.Maksud dari ungkapan “janganlah kamu membebani” adalah “janganlah kamu merepotkan aku”, karena Nabi Khadhir memahami bahwa Nabi Musa benar-benar lupa. Akhirnya, Nabi Khadhir memaafkan Nabi Musa karena ia lupa dan tidak melakukannya dengan sengaja. Kemudian, mereka berdua melanjutkan perjalanan.

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 jam lalu
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Beriman kepada Takdir Allah

Halaqah yang ke tujuh belas dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Peran Do’a di Dalam Beriman dengan Takdir Allah”.Takdir telah tertulis, akan tetapi bukan berarti seseorang meninggalkan berdo’a kepada Allah.Berdo’a adalah bagian dari mengambil sebab yang diperintahkan untuk mendapatkan kebaikan dunia maupun kebaikan akhirat.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ[QS Ghafir 60]“Dan berkata Rabb kalian, hendaklah kalian berdo’a kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ…[QS Al-Baqarah 186]“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat mengabulkan do’anya orang yang berdo’a kepada-Ku.”Dan do’a adalah ibadah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ,الدعاء هو العبادة”Do’a itu adalah ibadah.” [Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasai, dan Ibnu Majah]Dan Rasulullah ﷺ bersabda,وﻻ ﻳﺮﺩ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﻻ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ“Dan tidak menolak Al Qadar kecuali do’a.” [Hadits Hasan diriwayatkan oleh Ibnu Majah]Dan bukanlah yang dimaksud dengan do’a bisa menolak takdir, bahwa do’a bisa melawan takdir Allah yang sudah Allah tulis, akan tetapi makna Al Qadar disini adalah Al Muqoddar, yaitu sesuatu yang ditakdirkan, artinya do’a bisa menjadi sebab berubahnya keadaan yang ditakdirkan oleh Allah menjadi keadaan lain yang juga ditakdirkan oleh Allah.Contoh seseorang ditakdirkan sakit kemudian dia berdo’a kepada Allah meminta kesembuhan kemudian Allah mengabulkan do’anya dan menakdirkan kesembuhan bagi orang tersebut.Dan do’a yang dipanjatkan oleh seseorang kepada Allah adalah bagian dari takdir Allah.Lalu bagaimana dikatakan bahwa doa bisa melawan takdir Allah azza wajalla.

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka19 jam lalu
D

Dewi Hajar Novanda

📍 Kota Depok

Menjadi Ayah Adalah Sebuah Proses

Menjadi Ayah Adalah Sebuah ProsesMenjadi ayah bukan sesuatu yang terjadi begitu saja ketika seorang laki-laki memiliki anak.Menjadi ayah juga bukan sekadar karena seseorang mendapat sebutan atau panggilan “Ayah”.Menjadi ayah adalah sebuah proses hubungan yang berlangsung seumur hidup antara seorang ayah dan anaknya.Hubungan itu perlu terus dipupuk dan dipelihara, hingga tumbuh sebuah hubungan yang dilandasi kepercayaan (trusting relationship) dari seorang anak kepada ayahnya.Dalam berbagai seminar dan konseling yang saya lakukan, saya menemukan banyak kasus tentang hubungan anak dengan ayahnya, baik pada usia remaja maupun ketika mereka telah dewasa.Ada pengalaman-pengalaman buruk bersama ayah yang ternyata masih membekas begitu dalam. Luka tersebut bahkan dapat terbawa hingga mereka dewasa dan berakhir menjadi kepahitan.Yang cukup menyedihkan, dalam beberapa kasus saya menemukan pola pada anak laki-laki yang membenci ayahnya. Tanpa disadari, terjadi proses “penjiplakan”: semakin ia membenci ayahnya, semakin ada bagian dari dirinya yang justru menyerupai sang ayah.Jika tidak disadari dan tidak terjadi rekonsiliasi, pola tersebut tentu dapat membawa dampak besar dalam kehidupan anak di kemudian hari.Dari berbagai pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa anak-anak tidak membutuhkan ayah yang sekadar hadir karena statusnya sebagai ayah.Anak-anak tidak membutuhkan ayah yang:- hanya mampu bersuara keras, tetapi tidak mampu memimpin;- mudah berjanji, tetapi lupa menepati;- berkomunikasi hanya satu arah dan tidak mau membuka telinga untuk mendengarkan kata hati anaknya;- begitu sibuk dengan karier dan sangat peduli kepada rekan-rekannya di luar rumah, tetapi begitu mahal memberikan waktu untuk anak-anaknya.Lalu, ayah seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan anak?Anak-anak membutuhkan ayah yang sederhana dan bersahaja dalam menjalani hidup, tetapi penuh tanggung jawab dalam menjalankan perannya.Ayah yang memberikan keteladanan, keteduhan, dan rasa aman, sehingga anak merasa memiliki ruang untuk berekspresi dan menjadi dirinya sendiri.Anak juga membutuhkan seorang ayah yang mencintai dan menghormati istrinya dengan setia.Sebab, dari hubungan kedua orang tuanya, anak belajar banyak hal tentang bagaimana sebuah pernikahan seharusnya dijalani.Ketika seorang anak melihat ayahnya menjaga kesetiaan, menghormati ibunya, dan memperlakukan pernikahan dengan penuh tanggung jawab, ia mendapatkan sebuah teladan yang kelak dapat ia bawa ketika membangun rumah tangganya sendiri.Pada akhirnya, menjadi ayah bukan tentang sebutan.Bukan pula sekadar tentang memenuhi kebutuhan anak secara materi.Menjadi ayah adalah tentang membangun hubungan, menjaga kepercayaan, memberikan teladan, dan terus hadir dalam perjalanan hidup anak.Karena hubungan seorang ayah dengan anaknya bukan hubungan yang selesai ketika anak tumbuh dewasa.Ia adalah hubungan yang perlu dirawat seumur hidup.

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat21 jam lalu
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Al-Mukhtasar Surat At-Taubah

Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin wanita satu sama lain saling mendukung karena mereka disatukan oleh iman. Mereka menyuruh berbuat yang ma'ruf, yaitu segala sesuatu yang dicintai Allah Ta'ala dari beragam ketaatan, seperti menjalankan ajaran tauhid, mendirikan shalat, mereka mencegah perbuatan yang mungkar, yaitu segala sesuatu yang dibenci Allah Ta’ala dari berbagai maksiat, seperti menjalankan kekafiran dan praktik riba. Mereka menunaikan shalat dengan sebaik-baiknya, taat kepada Allah dan taat kepada RasulNya. Orang-orang yang memiliki sifat terpuji itu akan Allah masukkan kedalam rahmat-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan-Nya, lagi Maha Bijaksana dalam menciptakan makhluk-Nya, mengatur alam semesta, dan menetapkan syariat-Nya.

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka21 jam lalu
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Hanya Untukmu Anakku, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah

Biografi Ibnu Qayyim Al-JauziyyahE. Perpustakaan Beliau.Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah sangat gemar mengoleksi kitab. Ini sebagai bukti kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, baik untuk penelitian maupun membuat tulisan, sebagai bacaan maupun untuk bahan ajaran.Murid-murid beliau telah mendeskripsikan perpustakaan beliau dengan begitu baik. “Beliau sangat mencintai ilmu pengetahuan dan menuliskannya, mengkaji dan membuatnya dalam sebuah karya tulis. Koleksi kitab cukup banyak, diantaranya ada beberapa kitab yang tidak dimiliki oleh orang lain.” Tutur Ibnu Rajab⁴Ibnu Katsir berkata : “Beliau mendapatkan kitab-kitab, baik karya para ulama salaf maupun karya ulama khalaf, yang sepersepuluhnya tidak didapatkan oleh orang lain.”¹⁵Aku berkata: “Kendati demikian, dengan segala kerendahan hati, Ibnul Qayyim menuturkan : ‘Kitab-kitab yang kami miliki hanya cukup sebagai bekal ilmiah semata.’”¹⁶¹⁴ Dzail Thabaqatil Hanabilah (II/449)¹⁵ Al-Bidayah wan Nihayah (XIV/235)¹⁶ Ighatsatul Lahfan (I/329)

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat22 jam lalu
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al Mukhtasar surah Ar Ra'd ayat 25

📖 TAFSIR AL-MUKHTASHAR FI TAFSIR AL-QUR’AN AL-KARIMSurah Ar-Ra’d Ayat 25Adapun orang-orang yang melanggar perjanjian dengan Allah sesudah disepakati, memutuskan apa yang Allah perintahkan agar disambung, yaitu silaturahmi, serta melakukan kerusakan di muka bumi dengan berbagai maksiat kepada Allah, maka mereka itulah orang-orang sengsara yang dijauhkan dari rahmat Allah dan bagi mereka akhir yang buruk, yaitu api neraka.

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka22 jam lalu
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

🌿 ANAK-ANAK YANG TIDAK SUKA BERBICARA TENTANG PERASAAN (Anak-Anak yang Sangat Sensitif/ASS)

Mereka Merasakan Lebih Dalam• Sebagian anak berperasaan lebih mendalam dan lebih cepat tersulut dibandingkan anak-anak lain.• Gejolak emosi mereka bertahan lebih lama.• Mereka mungkin mengamuk lebih sering, lebih lama, dan lebih hebat.• Tidak ada yang salah dengan anak dan tidak ada yang salah dengan orang tua.Siapa Anak yang Sangat Sensitif (ASS)?Istilah “Anak yang Sangat Sensitif” membantu orang tua memahami karakter anak, berkomunikasi, dan menemukan dukungan.ASS menjalani dunia dengan cara yang membuat mereka:• Lebih mudah merasa kewalahan.• Lebih mudah masuk kondisi “ancaman” atau “melawan atau melarikan diri”.• Membutuhkan strategi pengasuhan yang berbeda, berdasarkan pemahaman tentang ketakutan utama mereka, apa yang mereka cari saat masa sulit, dan mengapa emosi mereka cepat tersulut.Mengapa Strategi Biasa Bisa Memperkeruh Situasi?Strategi yang membantu anak lain belum tentu membantu ASS.Menamai perasaan atau menawarkan dukungan secara langsung justru dapat memperkeruh situasi yang sudah memanas.ASS mungkin:• Berteriak, “Hentikan!” ketika orang tua berbicara tentang perasaan.• Sulit menerima bantuan.• Naik pitam karena masalah yang tampak sepele.Bukan karena orang tua salah mengucapkan kata-kata atau salah memahami mereka. ASS sering kali tidak mampu menerima dukungan langsung karena sedang termakan gejolak emosi yang luar biasa.Mengapa Mereka Begitu Reaktif?Kerentanan pada ASS berdekatan dengan rasa malu.• Rasa malu memicu naluri dasar manusia untuk bertahan hidup.• Ketika merasa terancam, dunia terasa berbahaya.• Bahkan upaya orang tua untuk membantu dapat dianggap sebagai serangan.• Akibatnya, ASS dapat mendorong orang tua menjauh justru ketika mereka membutuhkan bantuan.ASS juga sangat rentan merasa “buruk”.Mereka khawatir:• Perasaan mereka akan menyesakkan orang lain.• Perasaan mereka akan membuat orang lain menjauh.• Mereka sebenarnya buruk dan tidak layak dicintai.• Apakah orang tua dapat “tahan” dan tetap menjadi pemimpin yang kokoh ketika mereka sendiri sedang goyah.Contoh: Kesulitan Berbagi MainanAnak ASS merebut mainan dari temannya dan tidak mau mengembalikannya.Pada anak yang bukan ASS, orang tua mungkin berkata:“Berbagi itu sulit! Ibu di sini, biarkan Ibu membantumu.”Anak mungkin menerima batasan dan kenyamanan tersebut.Namun pada ASS, tawaran bantuan dapat memicu ledakan emosi:“Menjauhlah dariku!”“Berikan mainan itu padaku!”“Aku benci Ibu!”Di balik perilaku tersebut terdapat kerentanan:“Aku ingin mainan itu → aku mengambilnya → aku menyesal → muncul rasa malu → ‘Aku seharusnya tidak melakukan itu, aku jahat.’”ASS sedang kewalahan oleh perasaan yang dahsyat dan menakutkan. Di luar mungkin tampak dingin dan tidak beralasan, tetapi di dalam mereka merasa terancam, takut, dan kewalahan.Reaksi Orang Tua yang Justru Memperburuk• “Kalau kamu tidak ingin Ibu bantu, Ibu tidak akan melakukannya!”• “Pergilah ke kamarmu dan keluar saat sudah tenang!”• “Kamu sangat dramatis!”• “Kamu membuat segalanya menjadi sulit!”Semua anak belajar apa yang dapat dikelola dengan melihat bagaimana orang dewasa yang tepercaya merespons emosi mereka.Ketika ASS menghadapi teriakan, kata-kata kasar, atau penolakan, pola disregulasi justru semakin meningkat.Apa yang Sebenarnya Dirasakan di Balik “Aku Benci Ibu”?“Aku kewalahan. Aku mengambil mainan itu karena tak tahan menginginkannya, tapi tidak memilikinya.Sekarang muncul rasa takut menjadi buruk dan tidak layak dicintai.Ketakutan ini membuat tubuhku merasa terancam dan aku merasa harus melindungi diri dengan cara apa pun.” Good InsideMeletakkan Kepercayaan Penuh bahwa Semua Anak Berhati Baik(Dr. Becky Kennedy)

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI23 jam lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 6

Halaqah yang ke-17 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Beriman Dengan Malaikat-malaikat Allāh adalah “Beriman Dengan Amalan-amalan Malaikat Bagian 6”.Diantara ibadah malaikat yang ke-6 adalah,• ⑹ SHALĀTTelah berlalu di dalam sebuah hadits bahwasanya ada sebagian malaikat yang mereka melakukan shalat di Baitul Ma’mur, wallāhu a’lam tentang bagaimana para malaikat tersebut melakukan shalat. Namun, disebutkan di dalam beberapa dalil bahwasanya mereka berdiri untuk Allāh dan bersujud.Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman menceritakan tentang ucapan malaikat:وَمَا مِنَّا إِلَّا لَهُ مَقَامٌ مَعْلُومٌ (١٦٤) وَإِنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّونَ (١٦٥) وَإِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُونَ (١٦٦)“Tidak ada di antara kami kecuali dia memiliki kedudukan yang diketahui. Dan sesungguhnya kami berdiri bershaf-shaf dan sesungguhnya kami bertasbih.”(Ash-Shāffāt 164 – 166)Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا ؟“Apakah kalian tidak mau bershaf seperti bershafnya malaikat di sisi Rabb mereka?”Para shahābat berkata,يَا رَسُوْلُ اللّهِ، ِوَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهَا ؟“Wahai Rasūlullāh, bagaimana malaikat bershaf di sisi Rabb mereka?”Maka Beliau bersabda,يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْأُوَل َوَ يَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ“Mereka menyempurnakan shaf-shaf yang pertama dan mereka saling merapatkan shaf.”(HR Muslim I/322, no. 430)Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:إِنَّ الَّذِينَ عِندَرَبِّكَ لاَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ“Sesungguhnya malaikat yang di sisi Rabbmu tidak sombong dari beribadah kepadaNya, bertasbih untukNya dan bersujud.”(Al-A’rāf 206)Yang ke-7 diantara ibadah mereka,• ⑺ MENGUCAPKAN SALAM◆ Telah berlalu bahwa mereka mengucapkan salam kepada Ibrāhīm ketika masuk ke rumah beliau.Di dalam sebuah hadīts, Jibrīl pernah berkata kepada Nabi kita shallallāhu ‘alayhi wa sallam,فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا وَمِنِّي“Apabila Khadījah mendatangimu maka sampaikanlah salam dari Rabbnya dan juga dariku.”(HR Bukhāri III/1389 dan Muslim no. 2433)Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda kepada ‘Āisyah,يَا عَائِشَةُ هَذَا جِبْرِيلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلاَمَ“Wahai ‘Āisyah, ini adalah Jibrīl mengucapkan salam kepadamu.”(HR Bukhāri VI/305 no. 2447 dan Muslim no.2474)◆ Malaikat mengucapkan salam untuk orang-orang yang beriman ketika sakaratul maut.Allāh berfirman:الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙيَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Mereka adalah orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan baik. Para malaikat mengatakan, ‘Keselamatan atas kalian, masuklah kalian ke dalam surga dengan sebab apa yang kalian amalkan’.”(An-Nahl 32)◆ Dan mereka mengucapkan salam kepada penduduk surga setelah dibukanya pintu-pintu surga.Allāh berfirman:وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاؤُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ“Dan digiring orang-orang yang bertaqwa ke surga secara berkelompok-berkelompok sehingga ketika mereka mendatangi surga dan dibuka pintu-pintunya dan berkata para penjaganya, ‘Keselamatan atas kalian, kalian telah baik maka masuklah kalian ke dalam surga selama-lamanya’.” (Az-Zumar 73)Yang ke-8 diantara ibadah malaikat, bahwasanya :• ⑻ MALAIKAT TAKUT KEPADA ALLĀHAllāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ“Dan mereka takut kepada Allāh.” (Al-Anbiyā 28)Dan Allāh berfirman:يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ“Mereka takut kepada Rabb mereka yang ada di atas mereka.” (An-Nahl 50)Demikianlah ibadah para malaikat, mereka sibuk dengan ibadah dan ikhlash di dalamnya dan terus menerus.Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kita termasuk hamba-hamba Allāh yang istiqamah di dalam beribadah sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia.Demikianlah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka1 hari lalu
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Renungan untuk Orang Tua

🌹Kedua orang tua juga layak untuk digugat dan mendapat dosa bila anak-anak mereka durhaka. Karena, kedua orang tualah yang mencetak kepribadian anak. Anak kecil hanyalah manusia kosong yang menerima dan bersedia untuk dibentuk dengan karakter tertentu. Rasulullah bersabda, ".. . Dan kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani. . . "🌹Karena itu, orang-orang menyebut seseorang yang buruk akhlaknya dengan qalilul adab (tidak beradab) atau tidak berpendidikan. Mereka menyalahkan orang tua atas perbuatan anaknya dan dalam hal ini mereka benar. 🌹Apabila seorang anak melihat ayah dan ibunya selalu melaksanakan shalat berjamaah, Anda tentu akan mendapatkan anak tersebut ikut shalat dan selalu menjaganya. Karena itu, orang tua memiliki peran besar dalam pendidikan akhlak Islam dan yang terpenting adalah shalat pada anak-anak. 🌹Keras dalam mendidik anak hanya akan melahirkan keinginan untuk balas dendam. Orang tualah yang merangsang sang anak untuk menyimpan dendam sampai tiba waktu yang tepat untuk mengeluarkan nya. Dendam itu menjadi seperti benih yang tersimpan dalam tanag yang akan tumbuh pada musim dan waktu yang tepat. 🌹Rasulullah bersabda, "Seburuk-buruk manusia ialah orang yang membuat keluarganya merasa sempit."Para shahabat bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana bisa seseorang membuat keluarga nya sendiri merasa sempit? "Beliau menjawab, "Apabila ia masuk rumah, istrinya takut, anaknya lari, dan budaknya menjauh. Apabila ia keluar rumah, istrinya tertawa dan anggota keluarga nya merasa lega. "🌹Apakah ayah yang keras wataknya ini, yang disifati Rasulullah dengan seburuk-buruk manusia, akan menunggu anaknya datang kepadanya setelah ia berumah tangga sendiri? Apakah anaknya akan datang kepada bapaknya dalam sebuah rumah yang dulu dijauhinya? Apakah bapak yang tidak memberikan harta kepada anak-anaknya mengharap anak-anaknya akan memberi bantuan saat ia membutuhkannya pada usia senja? 🌹Balasan itu tentulah sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Jika Anda menghinakan, Anda pun akan dihinakan. Kebaikan itu tidak akan usang dan dosa itu tidak akan terlupakan.

💬 0 komentar📅 15 Sep 2026Baca selengkapnya →