📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 76

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 76 | Amalan Seseorang Dinilai di AkhirnyaHalaqah 76 | Amalan Seseorang Dinilai di AkhirnyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-76 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ“Dan amalan-amalan adalah dengan akhir-akhirnya.”Amalan yang dianggap  di sisi Allāh ﷻ itu adalah sesuai dengan amalan terakhir yang dia lakukan. Kalau misalnya selama di dunia dia dalam keadaan kufur, terakhir hidupnya dia masuk dalam agama Islam, maka al-a‘mal bil-khawātim, amalan itu sesuai dengan akhirnya, dia akan masuk ke dalam surga karena dia meninggal di atas Islam meskipun sebagian besar hidupnya adalah di atas kekufuran tapi kalau akhirnya diakhiri dengan keislaman maka dia masuk ke dalam Surga.Sebaliknya, kalau seseorang sebagian besar hidupnya hidup di dalam Islam kemudian terakhirnya dia meninggalkan Islam dan meninggal di atas kekufuran maka dia masuk ke dalam Neraka.Ini menunjukkan bahwasanya diantara jenis manusia ada diantara mereka yang dari awal sampai akhir Istiqomah, dari semenjak dia lahir, lahir di tengah-tengah orang Islam dan orangtuanya juga di atas sunnah, dia kenal sunnah semenjak kecil, menjadi seorang penuntut ilmu, akhirnya menjadi seorang mungkin ulama dan sampai dia meninggal dunia di atas Islam.Ada diantara mereka dari sejak awal kehidupannya itu di atas kekufuran artinya tinggal di tengah-tengah orang yang kafir dan tumbuh sebagai anak yang diajari tentang kekufuran, sehingga dia dewasa dalam keadaan dia kufur sampai dia tua dan sampai dia meninggal dunia dalam keadaan dia kufur.Dan ada di antara manusia yang berbeda keadaannya di awal dengan di akhir, ada yang di awalnya Islam akhirnya kufur, ada yang di awalnya dia kufur di akhirnya dia Islam. Kalau yang pertama tadi kalau dia meninggal di atas Islam maka akan masuk ke dalam surga, kalau seseorang meninggal di atas kekufuran maka akan masuk ke dalam neraka, bagaimana dengan orang yang berpindah tadi dari Islam ke kufur atau dari kufur ke Islam mana yang dipakai? al-a‘mal bil-khawātim, amalan itu sesuai dengan akhirnya.Dalam sebuah hadits, dari ʿAbdullāh bin Masʿūd raḍiyallāhu ʿanhu, Rasūlullāh ﷺ bersabda:إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكِتَابِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، فَوَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.Sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan dikumpulkan penciptaannya oleh Allāh ﷻ di dalam perut ibunya, 40 hari pertama itu sebagai Nutfah, 40 hari yang kedua sebagai ‘alaqah, kemudian 40 hari yang ketiga sebagai Mudhghah, genap 120 hari Allāh ﷻ akan mengirimkan malaikat kemudian dia meniupkan nyawa (ruh) sehingga hiduplah segumpal daging tersebut yang sudah sempurna anggota badannya.Kemudian diperintahkan malaikat tadi untuk menulis rezkinya, ajalnya, amalannya, apakah dia adalah termasuk orang yang bahagia atau orang yang celaka. Kemudian Beliau ﷺ menyebutkan, dan sungguh salah seorang di antara kalian mengamalkan amalan penduduk surga, sebagai seorang muslim yang taat, kemudian tidak ada jarak di antara dia dengan surga kecuali satu dzira’ saja, satu jengkal saja, menunjukkan bahwasanya dia mengamalkan amal sholeh, seorang muslim mengamalkan amal sholeh sampai jarak antara dia dengan surga adalah jarak yang dekat, akan tetapi sudah didahului dengan takdir Allāh ﷻ, takdir Allāh ﷻ disebutkan bahwasanya orang ini akan masuk ke dalam nerakaفَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِakhirnya karena memang sudah ditakdirkan sebelumnya pasti akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang akhirnya menjadi sebab dia masuk kedalam Neraka, sehingga akhirnya yang awalnya dia kelihatannya mengamalkan amalan penduduk Surga, akhirnya dengan satu sebab dia melenceng dan menyimpang kemudian melakukan amalan penduduk nerakaفَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَاsehingga akhirnya dia pun masuk ke dalam neraka, karenaكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُapa yang sudah ditulis oleh Allāh ﷻ pasti akan terjadi, orang akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang memang dia ditakdirkan untuknya.Buatkan gambarnya yang bagus, warna pastel ungu, mudah dibaca, tidak perlu ada gambar orang, ada gambar bunga lecil dan bintal kecil, pelangi kecil, tanaman kecil..buat semenarik mungkin yaa..biar orang lain senang bacanya

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 1: Pengertian Al Qadha & Al Qadar

Silsilah Ilmiyyah 9:Beriman Kepada Takdir AllahHalaqah 1:Pengertian Al Qadha & Al QadarUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىAl Qadha & Al Qadar adalah dua kata yang apabila berdampingan maka masing-masing memiliki makna tersendiri.■ Al QadhaSecara bahasa diantara maknanya adalah memutuskan, menyelesaikan, menyempurnakan, dan mewajibkan.Allah berfirman:وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ..."Dan Rabb-mu mewajibkan supaya kalian tidak menyembah kecuali kepada-Nya.” (QS. Al-Isra:)Dan Allah berfirman:وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ ۖ…“Dan Allah memutuskan dengan benar.” (QS.Ghafir: 20)Dan Allah berfirman:فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا ۗ…“Maka apabila kalian menyelesaikan manasik haji kalian hendaklah kalian mengingat Allah, seperti kalian mengingat bapak-bapak kalian atau lebih banyak.” (QS.Al-Baqarah: 200)Adapun secara syariat yang dimaksud dengan Al Qadha adalah apa yang Allah putuskan pada makhluk-Nya baik berupa pengadaan, peniadaan, atau perubahan sesuai dengan Qadar atau ketentuan Allah sebelumnya.■ Al-Qadar• Secara bahasa adalah Menentukan.• Adapun secara syariat maka Al Qadar adalah apa yang sejak dahulu atau azali sudah Allah tentukan akan terjadi.Dengan demikian Al Qadar lebih dahulu daripada Al Qadha, karena Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak azali sedangkan Al Qadha adalah keputusan Allah setelah itu, berupa pengadaan atau peniadaan atau pengubahan. Dan keduanya saling melazimi tidak bisa dipisah satu dengan yang lain.Apa yang Allah tentukan akan Dia putuskan dan apa yang menjadi keputusan Allah maka itulah yang dia tentukan sebelumnya.Namun apabila kata Al Qadha atau Al Qadar datang sendiri dalam sebuah kalimat maka maknanya mencakup makna kata yang lain.Al Qadha adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya. Demikian pula Al Qadar adalah ketentuan Allah sejak dahulu dan keputusan-Nya.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat24 Agustus 2026
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Anjuran menikah (Ayat 32-33)

Allah taala berfirman:وَلۡيَسۡتَعۡفِفِ ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغۡنِيَهُمُ ٱللَّهُ مِن فَضۡلِهِۦ ۗ وَٱلَّذِينَ يَبۡتَغُونَ ٱلۡكِتَٰبَ مِمَّا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡ فَكَاتِبُوهُمۡ إِنۡ عَلِمۡتُمۡ فِيهِمۡ خَيۡرٗا ۖ وَءَاتُوهُم مِّن مَّالِ ٱللَّهِ ٱلَّذِيٓ ءَاتَىٰكُمۡ ۚ وَلَا تُكۡرِهُواْ فَتَيَٰتِكُمۡ عَلَى ٱلۡبِغَآءِ إِنۡ أَرَدۡنَ تَحَصُّنٗا لِّتَبۡتَغُواْ عَرَضَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا ۚ وَمَن يُكۡرِههُّنَّ فَإِنَّ ٱللَّهَ مِنۢ بَعۡدِ إِكۡرَٰهِهِنَّ غَفُورٞ رَّحِيمٞDan orang-orang yang tidak mampu kawin, hendaklah menjaga kesucian (diri)nya sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka 1, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu 2. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barang siapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa ( itu) 3.Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Anjuran menikah (Ayat 32-33)Catatan kaki:210805. Salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yaitu seorang hamba boleh meminta kepada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi pembayaran itu dengan harta yang halal.210806. Untuk mempercepat lunasnya perjanjian itu, hendaklah budak-budak itu ditolong dengan harta­harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya.210807. Maksudnya, Tuhan akan mengampuni budak-budak wanita yang dipaksa melakukan pelacuran oleh tuannya itu selama mereka tidak mengulangi perbuatannya itu lagi. Tafsir Al-MuyassarAn-Nur (24:33)Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Anjuran menikah (Ayat 32-33)Catatan kaki:210805. Salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, yaitu seorang hamba boleh meminta kepada tuannya untuk dimerdekakan, dengan perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi pembayaran itu dengan harta yang halal.210806. Untuk mempercepat lunasnya perjanjian itu, hendaklah budak-budak itu ditolong dengan harta­harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya.210807. Maksudnya, Tuhan akan mengampuni budak-budak wanita yang dipaksa melakukan pelacuran oleh tuannya itu selama mereka tidak mengulangi perbuatannya itu lagi.Dan orang-orang yang tidak mampu menikah karena miskin atau karena sebab yang lain, maka hendaknya ia tetap menjaga kesucian dirinya dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah sampai Allah memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya dan memberikan kemudahan untuk menikah. Para budak baik wanita maupun lelaki yang ingin mengadakan perjanjian mukatabah dengan pemiliknya yakni mau membayar dengan sebagian harta yang mereka dapatkan kepada pemiliknya. Maka para pemilik budak tersebut hendaknya bersedia untuk membuat perjanjian mukatabah dengan budak yang dimilikinya jika ia melihat ada kebaikan di dalamnya. Yakni kebaikan secara akal dan ia mampu untuk bekerja serta kebaikan dalam agama. Dan hendaknya para pemilik budak tersebut memberikan sebagian hartanya kepada budaknya, atau mengurangi bayaran yang harus dibayar oleh budak yang mukatab. Kalian (para pemilik budak) tidak diperkenankan memaksa mereka untuk berbuat zina dengan kalian agar para budak wanita tersebut mendapatkan harta. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi pada kalian, padahal mereka sebenarnya sangat ingin menjaga kehormatan mereka sedangkan kalian enggan memberikannya? Di dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang buruknya perbuatan mereka tersebut. Barangsiapa yang memaksa para budak wanita untuk berbuat zina, maka sesungguhnya Allah pasti akan mengampuni dan menyayangi para budak tersebut, dan dosanya akan ditanggung oleh orang yang memaksanya.Catatan tafsir:Diriwayatkan oleh Ibnus Sakan di dalam kitab Ma'rifatush Shahaabah, dari Abdullah bin Shubaih, yang bersumber dari bapaknya, bahwa Shubaih, hamba sahaya Huwaithib bin Abdul Uzzaa, meminta dimerdekakan dengan suatu perjanjian tertentu. Akan tetapi permohonannya ditolak. Maka turunlah ayat ini yang memerintahkan untuk mengabulkan permintaan hamba sahaya yang ingin merdeka dengan perjanjian tertentu.Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sufyan yang bersumber dari Jabir bin Abdillah, bahwa Abdullah bin Ubay menyuruh jariahnya (hamba sahaya wanita) melacur dan meminta bagian dari hasilnya. Maka turunlah kelanjutan ayat ini sebagai larangan memaksa jariah melacurkan diri untuk mengambil keuntungan.Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sufyan yang bersumber juga dari Jabir bin Abdillah, bahwa jariah Abdullah bin Ubay itu Masikah dan Aminah, yang keduanya mengadu kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam karena dipaksa melacur. Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.Diriwayatkan oleh Al Hakim dari Abuz Zubair yang bersumber dari Jabir bahwa Masikah itu jariah milik seorang Anshar. Ia mengadu kepada Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bahwa tuannya memaksanya untuk melacur. Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.Diriwayatkan oleh Al Bazzar dan Ath Thabrani dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Al Bazzar dengan sanad yang dhaif, yang bersumber dari Anas, dengan tambahan bahwa nama jariah itu Mu'adzah. bahwa Abdullah bin Ubay mempunyai seorang jariah yang suka disuruh melacur sejak jaman jahiliyyah. Ketika zina diharamkan, jariah itu tidak mau lagi melakukannya. Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut sebagai larangan untuk memaksa jariah melacur.Diriwayatkan oleh Sa'id bin Manshur dari Sya'ban, dari Amr bin Dinar, yang bersumber dari Ikrimah bahwa Abdullah bin Ubay mempunyai dua orang jariah, Mu'adzah dan Masikah. Keduanya ia paksa untuk melacurkan diri. Berkatalah salah seorang diantara kedua jariah tadi: "Sekiranya perbuatan itu baik, engkau telah mendapatkan hasil yang banyak dari perbuatan itu. Namun sekiranya perbuatan itu tidak baik, sudah sepantasnyalah aku meninggalkannya." Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.Sumber: Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A. Dahlan dkk.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.comQS. An-Nūr: 33Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka24 Agustus 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

STRATEGI MENGHADAPI INTOLERANSI TERHADAP FRUSTRASI PADA ANAK

📖1. TARIK NAPAS DALAM-DALAM 🌿Menarik napas dalam-dalam membantu menenangkan sistem saraf dan menjadi dasar untuk menghadapi frustrasi.Jangan hanya menyuruh anak bernapas—contohkan.- Anak 3 tahun kesal saat menusuk makanan dengan garpu → kita tarik napas di sampingnya.- Anak 6 tahun kesulitan belajar bunyi huruf → kita tarik napas dalam-dalam di hadapannya.Anak belajar mengatur diri melalui pengaturan bersama.Dengan melihat kita tenang, ia belajar bahwa di balik frustrasi ada rasa aman dan tenang.---2. MANTRA 💭Mantra membuat emosi yang terasa besar menjadi sesuatu yang lebih ringan untuk dihadapi.Daripada meminta anak mengucapkannya sendiri, ceritakan pengalaman kita.«“Dulu Ayah juga sering frustrasi ketika sesuatu terasa sulit. Kakek mengajarkan Ayah untuk menarik napas dan berkata, ‘Ini sulit karena memang sulit, bukan karena aku tidak bisa.’ Ayah masih sering mengatakannya sampai sekarang.”»Untuk anak kecil:- “Aku bisa melakukannya.”- “Aku suka ditantang.”- “Aku bisa melakukan hal-hal yang sulit.”- “Ini sulit, tapi aku bisa bertahan.”---3. ANGGAP FRUSTRASI SEBAGAI TANDA PEMBELAJARAN, BUKAN KEGAGALAN 🌱Ajarkan sejak dini:«“Tahukah kamu? Belajar itu memang sulit. Setiap kali kita belajar sesuatu, kita pasti bisa merasa frustrasi.”»«“Perasaan ‘Aku nggak bisa!’ sebenarnya sedang mencoba mengelabui otak. Justru rasa frustrasi bisa menjadi tanda bahwa kita sedang belajar.”»Sebelum anak melakukan sesuatu yang sulit:«“Oh, kamu mau berpakaian? Ayo bersiap menghadapi rasa frustrasi.”»Lalu contohkan:«“Hal-hal baru memang terasa sulit… tidak apa-apa. Aku bisa melakukan hal-hal yang sulit.”»---4. NILAI KELUARGA DENGAN POLA PIKIR BERTUMBUH 🌱Buat nilai keluarga yang bisa menjadi pegangan saat menghadapi kesulitan:① Dalam keluarga ini, kami senang ditantang.② Dalam keluarga ini, seberapa keras kami bekerja lebih penting daripada mendapatkan jawaban yang benar.③ Dalam keluarga ini, tidak tahu sama pentingnya dengan mempelajari sesuatu yang baru. Kami menerima masa “saya tidak tahu”.④ Dalam keluarga ini, kami tahu bahwa bertahan dengan sesuatu yang sulit membuat otak kami tumbuh.Gunakan nilai-nilai ini dalam kehidupan sehari-hari.«“Aaah… Ibu mengacaukan resep ini! Resep ini memang baru dan menantang. Dalam keluarga ini, kita suka ditantang. Ibu bisa belajar membuatnya lebih baik lain kali.”»Anak akan belajar bahwa berjuang bukan berarti dirinya kurang baik.---5. BERPIKIR DALAM KERANGKA MENGATASI, BUKAN KEBERHASILAN 🤍Tujuannya bukan membuat anak selalu berhasil, tetapi membantunya mampu berada di antara “belum tahu” dan “sudah tahu”, antara “memulai” dan “menyelesaikan”.Ubahlah fokus kita:❌ “Saya harus mengajari anak memakai baju dengan benar.”✅ “Saya perlu mengajarinya bertoleransi ketika sesuatu tidak berjalan baik.”❌ “Saya harus mengajari anak mengerjakan soal Matematika dengan benar.”✅ “Saya perlu mengajarinya menenangkan tubuh saat mengerjakan soal Matematika.”---6. VAKSINASI EMOSIONAL, UJI COBA &“APAKAH SAYA PERNAH CERITA TENTANG WAKTU…?” 💛Vaksinasi emosional = memprediksi rasa frustrasi sebelum terjadi, sehingga tubuh anak lebih siap.Contoh:Anak akan belajar menguntai gelang.«“Nanti mungkin terasa sulit dan bikin kesal. Kalau mulai frustrasi, kita berhenti sebentar, tarik napas, lalu ingat: Aku bisa melakukan hal-hal yang sulit.”»Uji coba memungkinkan anak melatih keterampilan sebelum menghadapi situasi sebenarnya.Dan ketika kita menceritakan pengalaman frustrasi kita:«“Pernah suatu kali Ayah juga sangat kesulitan melakukan ini…”»anak belajar bahwa ia tidak sendirian dalam perjuangannya.Semakin anak melihat kita menghadapi kesulitan dan mempraktikkan toleransi terhadap frustrasi, semakin ia menyerap keterampilan tersebut.--- Good Inside, Meletakkan Kepercayaan Penuh bahwa Semua Anak Berhati Baik(Dr. Becky Kennedy)

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 76 ~ Amalan Seseorang Dinilai di Akhirnya Bag 01

Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah Penulis : Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:وَالْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ“Dan amalan-amalan adalah dengan akhir-akhirnya.”Amalan yang dianggap  di sisi Allāh ﷻ itu adalah sesuai dengan amalan terakhir yang dia lakukan. Kalau misalnya selama di dunia dia dalam keadaan kufur, terakhir hidupnya dia masuk dalam agama Islam, maka al-a‘mal bil-khawātim, amalan itu sesuai dengan akhirnya, dia akan masuk ke dalam surga karena dia meninggal di atas Islam meskipun sebagian besar hidupnya adalah di atas kekufuran tapi kalau akhirnya diakhiri dengan keislaman maka dia masuk ke dalam Surga.Sebaliknya, kalau seseorang sebagian besar hidupnya hidup di dalam Islam kemudian terakhirnya dia meninggalkan Islam dan meninggal di atas kekufuran maka dia masuk ke dalam Neraka.Ini menunjukkan bahwasanya diantara jenis manusia ada diantara mereka yang dari awal sampai akhir Istiqomah, dari semenjak dia lahir, lahir di tengah-tengah orang Islam dan orangtuanya juga di atas sunnah, dia kenal sunnah semenjak kecil, menjadi seorang penuntut ilmu, akhirnya menjadi seorang mungkin ulama dan sampai dia meninggal dunia di atas Islam.Ada diantara mereka dari sejak awal kehidupannya itu di atas kekufuran artinya tinggal di tengah-tengah orang yang kafir dan tumbuh sebagai anak yang diajari tentang kekufuran, sehingga dia dewasa dalam keadaan dia kufur sampai dia tua dan sampai dia meninggal dunia dalam keadaan dia kufur.Dan ada di antara manusia yang berbeda keadaannya di awal dengan di akhir, ada yang di awalnya Islam akhirnya kufur, ada yang di awalnya dia kufur di akhirnya dia Islam. Kalau yang pertama tadi kalau dia meninggal di atas Islam maka akan masuk ke dalam surga, kalau seseorang meninggal di atas kekufuran maka akan masuk ke dalam neraka, bagaimana dengan orang yang berpindah tadi dari Islam ke kufur atau dari kufur ke Islam mana yang dipakai? al-a‘mal bil-khawātim, amalan itu sesuai dengan akhirnya.Dalam sebuah hadits, dari ʿAbdullāh bin Masʿūd raḍiyallāhu ʿanhu, Rasūlullāh ﷺ bersabda:إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكِتَابِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، فَوَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا.Sesungguhnya salah seorang di antara kalian akan dikumpulkan penciptaannya oleh Allāh ﷻ di dalam perut ibunya, 40 hari pertama itu sebagai Nutfah, 40 hari yang kedua sebagai ‘alaqah, kemudian 40 hari yang ketiga sebagai Mudhghah, genap 120 hari Allāh ﷻ akan mengirimkan malaikat kemudian dia meniupkan nyawa (ruh) sehingga hiduplah segumpal daging tersebut yang sudah sempurna anggota badannya.Kemudian diperintahkan malaikat tadi untuk menulis rezkinya, ajalnya, amalannya, apakah dia adalah termasuk orang yang bahagia atau orang yang celaka. Kemudian Beliau ﷺ menyebutkan, dan sungguh salah seorang di antara kalian mengamalkan amalan penduduk surga, sebagai seorang muslim yang taat, kemudian tidak ada jarak di antara dia dengan surga kecuali satu dzira’ saja, satu jengkal saja, menunjukkan bahwasanya dia mengamalkan amal sholeh, seorang muslim mengamalkan amal sholeh sampai jarak antara dia dengan surga adalah jarak yang dekat, akan tetapi sudah didahului dengan takdir Allāh ﷻ, takdir Allāh ﷻ disebutkan bahwasanya orang ini akan masuk ke dalam nerakaفَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِakhirnya karena memang sudah ditakdirkan sebelumnya pasti akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang akhirnya menjadi sebab dia masuk kedalam Neraka, sehingga akhirnya yang awalnya dia kelihatannya mengamalkan amalan penduduk Surga, akhirnya dengan satu sebab dia melenceng dan menyimpang kemudian melakukan amalan penduduk nerakaفَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَاsehingga akhirnya dia pun masuk ke dalam neraka, karenaكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُapa yang sudah ditulis oleh Allāh ﷻ pasti akan terjadi, orang akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang memang dia ditakdirkan untuknya.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyyah pembahasan kitan al-ushulu ats-tsalatsah bagian 3

Halaqah 51 : Landasan Ketiga Ma’rifatul Nabiyyikum Muhammadin – Muqoddimah Kadar Minimal Mengenal Rasulullah ﷺSeluruh maklumat yang ada didalam agama islam maka kalau kita cermati dia akan kembali asalnya kepada ma’rifatullāh, ma’rifatul diinil Islam dan juga ma’rifatu an-nabi ﷺ.معرقه نبیكم محمد ﷺMengenal nabi kalian yaitu Muhammad ﷺ. Ini adalah bab mengenal orang yang telah diutus oleh Allah kepada kita untuk mengajarkan kepada kita ibadah, karena ketika beliau berbicara tentang ibadah sebelum menyebutkan ma’rifatullāh, ma’rifatul diinil Islam, ma’rifatunnabi ﷺ, beliau menyebutkan tentang ibadah dan keutamaan ibadah.Dan sudah kita sebutkan bahwasanya tiga perkara ini Al Ushūlu AtsTsalātsah ini langsung berkaitan dengan ibadah. Mengenal Allah adalah mengenal ma’bud mengenal siapa yang diibadahi, mengenal agama islam adalah mengenal bagaimana cara beribadahnya. Ibadah kepada Allah yaitu ada yang amalan dzohir dan ada amalan batin dan seterusnya, harus ada muroqobah, harus ada musyahadah. Itu kita kenal bagaimana cara beribadah kepada Allah macam macamnya dari ma’rifatul diinil Islam.Kemudian yang ketiga kita mengenal orang yang telah diutus oleh Allah untuk mengajar kita tata cara beribadah. Harus kita kenal, kalau kita tidak mengenal siapa yang menyampaikan tata cara beribadah tadi dikhawatirkan kita menganggap orang yang bukan utusan sebagai utusan. Menganggap itu adalah dari Allah padahal bukan dari Allah, karena dia bukan utusan Allah mengaku sebagai seorang utusan Allah. Makanya kita harus kenal siapa yang sudah Allah tunjuk diantara manusia ini untuk mengajarkan kita tata cara ibadah. Kita harus mengenalnya dan hukumnya wajib mengenal siapa orang yang telah diutus oleh Allah kepada kita.Mengenal Nabi Muhammad ﷺ inilah yang akan disampaikan oleh beliau disini, yang perlu kita pahami sebelum memasuki apa yang akan disampaikan oleh beliau, bahwasanya disana ada kadar yang wajib didalam mengenal Nabi Muhammad ﷺYang pertama adalah mengenal nama beliau mengetahui nama beliau, ini kadar minimal. Mengenal nama beliau yaitu nama beliau adalah Muhammad. Atau seandainya dia mengenal namanya Ahmad boleh, karena baik Muhammad maupun Ahmad ini adalah nama beliau. Muhammad artinya adalah orang yang sering dipuji, Ahmad ini adalah isim tafdhil yang artinya adalah orang yang paling terpuji. Kemudian yang kedua, mengenal bahwasanya beliau adalah hamba Allah dan juga Rosul-Nya. Beliau adalah seorang hamba artinya bukan Tuhan yang disembah tapi beliau adalah hambanya Allah. Hamba berarti dia yang menyembah, dan dia adalah seorang Rosul mengenal bahwasanya beliau adalah seorang Rosul yaitu seorang utusan Allah.Yang ketiga, mengenal bahwa apa yang beliau bawah adalah benar.Kemudian yang keempat, mengenal bahwa kebenaran beliau ditunjukkan oleh Al-Quran sebagaimana telah berlaluلَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡهُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدٗاKalau antum ingin mengenalkan orang apalagi dia adalah orang awam maka inilah minimal yang antum sampaikan pada beliau. Apakah ada keharusan dia mengenal atau menghapal nasab Nabi Muhammad ﷺ, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutholib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah sampai kepada Iismail bin Ibrahim nasabnya maka ini bukan termasuk kewajiban.Dan apa yang beliau sebutkan disini umur, beliau dari orang arab keturunannya Ismail, ini bukan termasuk yang kadar wajib. Kadar yang wajib yang sudah kita sampaikan tadi dan ini adalah kadar yang merupakan tambahan.Orang yang cinta dengan sesuatu dan kecintaan dia adalah kecintaan yang benar maka dia akan rindu dan ingin banyak tahu tentang sesuatu yang dia cintai tersebut. Semakin orang senang cinta terhadap sesuatu maka dia akan semakin ingin mengetahui tentang sesuatu tersebut, ini kalau mahabbah nya adalah mahabbah yang shadiqa. Antum cinta dengan seseorang ingin mengenal dia lebih banyak. Semakin antum mencintai maka antum berusaha untuk mengenalnya. Maka tentunya cinta kita kepada Rosulullah ﷺ kalau itu adalah kecintaan yang shadiqa akan membawa kita untuk berusaha mengenal Beliau ﷺ. Semakin dia mengetahui tentang maklumat dan info orang yang sangat dia cintai tadi maka akan semakin bertambah keimanannya didalam hatinya.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

RANGKUMAN – MUQADDIMAH BERIMAN KEPADA MALAIKAT

RANGKUMAN – MUQADDIMAH BERIMAN KEPADA MALAIKAT📌 1. Pokok-Pokok Keimanan • Beriman kepada malaikat adalah salah satu pokok/rukun iman yang wajib diyakini. • Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijmak kaum muslimin menunjukkan wajibnya beriman kepada malaikat. • Kufur kepada malaikat berarti kufur kepada Allah. • Semakin seseorang mengetahui tentang malaikat secara terperinci, semakin bertambah keimanannya dan semakin banyak manfaat yang diperoleh.📌 2. Pengertian Malaikat • Al-malāikah adalah bentuk jamak dari malak yang berarti utusan. • Malaikat adalah makhluk Allah yang mulia dan dimuliakan. • Allah memilih mereka sebagai utusan-Nya kepada makhluk. • Malaikat diciptakan dari cahaya. • Jumlah malaikat tidak diketahui kecuali oleh Allah. • Mereka diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan menaati perintah-Nya.📖 3. Dalil tentang Iman kepada Malaikat Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah: 285 bahwa Rasul dan orang-orang beriman beriman kepada: • Allah • Malaikat-malaikat-Nya • Kitab-kitab-Nya • Rasul-rasul-NyaAllah juga berfirman dalam QS. An-Nisa: 136 bahwa orang yang kufur kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir telah tersesat dengan kesesatan yang jauh.📌 4. Hadits Jibril Ketika ditanya tentang iman, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa iman adalah beriman kepada: • Allah • Malaikat-malaikat-Nya • Kitab-kitab-Nya • Rasul-rasul-Nya • Hari akhir • Takdir yang baik maupun yang buruk.(HR. Muslim)⭐ 5. Cara Beriman kepada Malaikat Ada 4 hal yang perlu diyakini: 1️⃣ Beriman dengan keberadaan malaikat. 2️⃣ Beriman dengan nama-nama malaikat. 3️⃣ Beriman dengan sifat-sifat malaikat. 4️⃣ Beriman dengan amalan-amalan mereka.💡 Inti pelajaran: Beriman kepada malaikat adalah bagian dari rukun iman dan tidak sah iman seseorang tanpa beriman kepada malaikat Allah.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat24 Agustus 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir Al-Mukhtashar, Al-Mujadilah (58:10)

Sesungguhnya bisik-bisik itu—yang mengandung dosa, permusuhan, dan kemaksiatan terhadap Rasul—adalah bagian dari upaya setan untuk memperindah yang buruk dan gangguannya terhadap para penolong-penolongnya, untuk memasukkan kesedihan ke hati orang-orang beriman bahwa mereka tertipu oleh setan.Setan dan upayanya untuk memperindah yang buruk itu sedikit pun tidak bisa menimpakan mudarat kepada orang-orang yang beriman kecuali dengan kehendak dan keinginan Allah.Hendaknya kepada Allah saja orang-orang yang beriman bersandar dalam segala urusan mereka.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka24 Agustus 2026
I

Ida Ummu hafsho

📍 Kota Palu

Lingkungan anak

Ringkasan Halaman 46–47:Perceraian orang tua dapat membuat anak merasa tertekan, bingung, dan merasa harus memilih atau setia kepada kedua orang tuanya.Anak akan lebih mudah beradaptasi setelah perceraian jika kedua orang tua tetap bekerja sama dan memberikan kabar secara berkala.Komunikasi yang jelas dan positif antara ayah dan ibu sangat penting agar hubungan anak dengan kedua orang tua tetap baik.Jika salah satu orang tua menjauh setelah perceraian, anak dapat mengalami tekanan, kemarahan, depresi, atau rasa rendah diri.Orang tua sebaiknya tidak menghilang dari kehidupan anak. Anak tetap membutuhkan kasih sayang, perhatian, komunikasi yang sehat, dan kehadiran kedua orang tuanya meskipun mereka sudah tidak bersama.

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI24 Agustus 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi Rahimahullah.Kita akan bersama-sama mempelajari tentang sebuah kitab yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi Rahimahullah yaitu kitab yang berjudul Al-Ushulu As-Sittah yang artinya enam kaidah.Dan ini adalah termasuk karangan beliau yang sangat bermanfaat. Dan dia meskipun ringkas akan tetapi mengandung banyak faedah. Yang hendaknya seorang muslim mengetahui faedah-faedah ini.Beliau menyebutkan di dalam kitab ini, enam perkara yang sangat penting.Beliau adalah seorang ulama yang bernama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimi. Beliau lahir pada tahun 1115 Hijriyyah dan menimba ilmu agama ini semenjak kecil. Dan diantara gurunya adalah bapak beliau sendiri, demikian pula ulama-ulama besar yang lain di zaman beliau, seperti Asy Syaikh Muhammad Al Hayah As Sindi, dan juga yang lain.Dan di dalam mencari ilmu, beliau telah pergi ke beberapa daerah, diantaranya adalah ke Basrah, demikian pula ke daerah-daerah di Hijaz seperti Mekkah dan juga Madinah dan menimba ilmu dari para ulama yang tinggal di sana.Dan hampir-hampir beliau menuju ke kota Syam (daerah Syam) untuk menimba ilmu di sana, hanya karena ada rintangan dan halangan tertentu akhirnya beliau mengurungkan niatnya.Dan beliau termasuk ulama yang gigih di dalam menghidupkan Al Qur’an, menghidupkan As Sunnah, mengajak manusia kembali kepada Allah, bertauhid kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Dan beliau meninggal pada tahun 1206 Hijriyyah. Dan telah meninggalkan karangan yang sangat banyak, yang sangat bermanfaat.Diantaranya adalah:– Al Ushul Ats-Tsalatsah– Al Qawa’idul Arba’– Ushulul Iman– Kasyfusy Syubuhat– Kitabut TauhidDan diantaranya adalah kitab yang Insya Allah akan kita pelajari yaitu Al-Ushulu As-Sittah.Beliau berkata,بسم الله الرحمن الرحيمMemulai kitabnya dengan basmalah.Meniru dan mengikuti apa yang Allah lakukan di dalam Al Qur’anul Karim, karena Allah Subhānahu wa Ta’āla memulai kitabnya dengan basmalah.Demikian pula mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ ketika Beliau menulis surat yang isinya adalah dakwah kepada raja-raja yang ada di zaman Beliau ﷺ. Beliau memulai kitabnya dengan basmalah.Oleh karena itu di sini pengarang memulai kitabnya dengan basmalah.بسم الله الرحمن الرحيمDan ب di sini adalah ب al-isti’anah yaitu ب yang fungsinya untuk memohon pertolongan.Orang yang mengatakan بسم الله pada hakikatnya dia telah memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Ismillah dengan nama Allah.Kalimat yang mufrad, yang tunggal, yaitu ism dan dia disandarkan kepada kalimat lafdzul jalalah dan ini maknanya adalah mencakup seluruh nama Allah Subhānahu wa Ta’āla.Orang yang mengatakan بسم الله berarti dia telah beristi’anah (memohon) pertolongan dengan seluruh nama Allah Subhānahu wa Ta’āla.Allah (lafdzul jalalah) adalah nama Allah yang paling a’dham (paling besar) yang disandarkan kepadanya nama-nama Allah yang lain.Oleh karena itu setelahnya disebutkan Ar-Rahman Ar-Rahim. Dan Ar-Rahman Ar-Rahim adalah nama diantara nama-nama Allah.Diambil dari Ar-Rahmah yang artinya kasih sayang.Dan perbedaan antara Ar-Rahman dengan Ar-Rahim disebutkan oleh para ulama diantaranya adalah:Ar-Rahman adalah kasih sayang Allah yang lebih umum mencakup orang yang beriman dan mencakup orang yang kafir kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.Orang kafir juga mendapatkan bagian dari kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla.Allah memberikan rezeki kepada mereka, memberikan makan kepada mereka, memberikan minum kepada mereka, memberikan kesehatan kepada mereka, memberikan anak, memberikan istri, memberikan harta, dan ini semua adalah termasuk kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla.Adapun Ar-Rahim, maka mengandung rahmat, mengandung kasih sayang yang lebih khusus yaitu kasih sayang yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman.Berupa hidayah kepada jalan yang lurus, berupa keimanan, berupa rasa tenang ketika dzikrullah.Ini semua adalah termasuk kasih sayang Allah Subhānahu wa Ta’āla akan tetapi dikhususkan oleh Allah Subhānahu wa Ta’āla kepada orang-orang yang beriman dengan Allah Subhānahu wa Ta’āla

💬 0 komentar📅 24 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat30 Agustus 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS Al A'raf:172

Tafsir Ibnu KatsirQS Al-Araf:172Allah subhanahu wata'āla menceritakan bahwa Dia telah mengeluarkan keturunan Bani Adam dari sulbi mereka untuk mengadakan persaksian atas diri mereka bahwa Allah adalah Tuhan dan Pemilik mereka, dan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia. Sebagaimana Allah subhanahu wata'āla menjadikan hal tersebut di dalam fitrah dan pembawaan mereka, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata'āla melalui firman-Nya:Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Ar Ruum:30)Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah ﷺ. pernah bersabda:Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Riwayat lain menyebutkan: dalam keadaan memeluk agama ini (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi atau seorang Nasrani atau searang Majusi, seperti halnya dilahirkan hewan ternak yang utuh, apakah kalian merasakan (melihat) adanya cacat padanya?Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan melalui Iyad ibnu Himar bahwa Rasulullah ﷺ. telah bersabda:Allah subhanahu wata'āla berfirman, "Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (cenderung kepada agama yang hak), kemudian datanglah setan, lalu setan menyesatkan mereka dari agamanya dan mengharamkan kepada mereka apa-apa yang telah Aku halalkan kepada mereka.”Imam Abu Ja'far ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, telah men­ceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A'la, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku As-Sirri ibnu Yahya, bahwa At-Hasan ibnu Abul Hasan pernah menceritakan hadis berikut kepada mereka, dari Al-Aswad ibnu Sari’, dari kalangan Bani Sa'd yang menceritakan bahwa ia ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ. sebanyak empat kali. Ia melanjutkan kisahnya, "Lalu kaum (pasukan kaum muslim) membunuh anak-anak sesudah mereka membunuh pasukannya. Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah ﷺ., maka hal itu terasa berat olehnya, kemudian beliau bersabda, 'Apakah gerangan yang telah terjadi pada kaum sehingga mereka tega membunuh anak-anak?' Maka ada seorang lelaki (dari pasukan kaum muslim) bertanya, 'Bukankah mereka adalah anak-anak orang-orang musyrik, wahai Rasulullah ﷺ.?' Rasulullah ﷺ. menjawab melalui sabdanya: Sesungguhnya orang-orang yang terpilih dari kalian pun adalah anak-anak orang-orang musyrik. Ingatlah, sesungguhnya tidak ada seorang anak pun yang dilahirkan melainkan ia dilahirkan dalam keadaan suci. Ia masih tetap dalam keadaan suci hingga lisannya dapat berbicara, lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai orang Yahudi atau orang Nasrani'.” Al-Hasan mengatakan, "Demi Allah, sesungguhnya Allah subhanahu wata'āla telah berfirman di dalam Kitab-Nya:Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. hingga akhir ayat"Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abu Imran Al-Juni, dari Anas ibnu Malik r.a., dari Nabi ﷺ. yang telah bersabda: Dikatakan kepada seseorang dari kalangan ahli neraka pada hari kiamat nanti, "Bagaimanakah pendapatmu. seandainya engkau memiliki segala sesuatu yang ada di bumi, apakah engkau akan menjadikannya sebagai tebusan dirimu (dari neraka)?" Ia menjawab, "Ya." Allah subhanahu wata'āla berfirman, "Sesungguhnya Aku menghendaki dirimu hal yang lebih mudah daripada itu. Sesungguhnya Aku telah mengambil janji darimu ketika kamu masih berada di dalam sulbi Adam, yaitu: Janganlah kamu mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun, tetapi ternyata kamu menolak selain mempersekutukan Aku."Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Sahih-nya masing-masing melalui hadis Syu'bah dengan sanad yang sama.Hadis yang lain diketengahkan oleh Imam Ahmad, disebutkan bahwa:telah menceritakan kepada kami Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir (yakni Ibnu Hazim), dari Kalsum ibnu Jubair, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, dari Nabi ﷺ. yang telah bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengambil janji dari sulbi Adam a.s. di Nu'man tepat pada hari Arafah. Maka Allah mengeluarkan dari sulbinya semua keturunan yang kelak akan dilahirkannya, lalu Allah menyebarkannya di hadapan Adam, kemudian Allah berbicara kepada mereka secara berhadapan,Bukankah Aku ini Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi)." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan, "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap (keesaan Tuhan), atau agar kalian tidak mengatakan..., sampai dengan firman-Nya, "...orang-orang yang sesat dahulu."Imam Hakim mengetengahkannya di dalam kitab Mustadrak melalui hadis Husain ibnu Muhammad dan lain-lainnya, dari Jarir ibnu Hazim, dari Kalsum ibnu Jubair dengan lafaz yang sama, lalu ia mengatakan bahwa hadis ini sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkan­nya.Imam Muslim berpegang kepada hadis ini karena ada Kalsum ibnu Jubair, dan ia mengatakan bahwa hadis ini telah diriwayatkan oleh Abdul Waris, dari Kalsum ibnu Jubair, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, lalu ia menilainya mauquf (yakni hanya sampai kepada Ibnu Abbas).Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki', telah menceritakan kepada kami ayahku (yaitu Hilal), dari Abu Hamzah Ad-Daba'i, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Allah mengeluarkan keturunan anak Adam dari sulbinya seperti semut kecil dalam bentuk air mani.Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahi, telah menceritakan kepada kami Damrah ibnu Rabi'ah, telah menceritakan kepada kami Abu Mas'ud, dari Jarir yang menceritakan, "Anak lelaki Dahhak ibnu Muzahim meninggal dunia dalam usia enam hari. Dahhak berkata, 'Hai Jabir, apabila engkau letakkan anakku di dalam liang lahadnya, maka bukalah wajahnya dan lepaskanlah tali bundelannya, karena sesungguhnya anakku ini nanti akan diduduk­kan dan ditanyai.' Maka saya melakukan apa yang dipesankannya itu, Setelah saya selesai mengebumikannya, saya bertanya, 'Semoga Allah merahmatimu, mengapa anakmu ditanyai dan siapakah yang akan menanyainya.' Dahhak menjawab, 'Dia akan ditanyai mengenai perjanjian yang telah diikrarkannya semasa ia masih berada di dalam sulbi Adam.' Saya bertanya, 'Wahai Abul Qasim, apakah isi perjanjian yang telah diikrarkannya semasa ia masih berada di dalam sulbi Adam?' Dahhak menjawab, bahwa telah menceritakan kepadanya Ibnu Abbas, bahwa sesungguhnya Allah mengusap sulbi Adam, lalu mengeluarkan darinya semua manusia yang kelak akan diciptakan-Nya sampai hari kiamat. Kemudian Allah mengambil janji dari mereka, yaitu hendaknyalah mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Allah subhanahu wata'āla menyatakan pula bahwa Dialah yang akan menjamin rezeki mereka. Setelah itu Allah mengembalikan mereka ke dalam sulbinya. Maka hari kiamat masih belum akan terjadi sebelum dilahirkan orang (terakhir) yang telah melakukan perjanjian pada hari itu. Maka barang siapa dari mereka yang menjumpai perjanjian yang lain (yakni di dunia), lalu ia menunaikannya, niscaya perjanjian yang pertama bermanfaat baginya. Dan barang siapa yang menjumpai perjanjian yang lain, lalu ia tidak mengikrarkannya, maka perjanjiannya yang pertama tidak bermanfaat baginya. Dan barang siapa yang meninggal dunia ketika masih kanak-kanak sebelum menjumpai perjanjian yang lain, maka ia mati dalam keadaan berpegang kepada perjanjian pertama dan dalam keadaan fitrah (suci dari dosa)."Semua jalur periwayatan ini termasuk bukti yang menguatkan ke-mauquf-annya-hanya sampai kepada Ibnu Abbas.Hadis yang lain diketengahkan oleh Ibnu Jarir, disebutkan bahwa:telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abu Taibah, dari Sufyan ibnu Sa'id, dari Al-Ajlah, dari Ad-Dahhak, dari Mansur, dari Mujahid, dari Abdullah ibnu Amr yang telah mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ. membacakan firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. Lalu beliau Saw. bersabda bahwa Allah mengambil mereka dari sulbinya sebagaimana ketombe diambil dari rambut kepala dengan sisir. Kemu­dian Allah berfirman kepada mereka: "Bukankah aku ini Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami)." Maka para malaikat berkata: Kami ikut bersaksi agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan.”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini."Ahmad ibnu Taibah ini nama julukannya adalah Abu Muhammad Al-Jurjani kadi Qaumis, dia adalah salah seorang ahlu zuhud, Imam Nasai mengetengahkan hadisnya di dalam kitab Sunnah-nya. Imam Abu Hatim Ar-Razi mengatakan bahwa hadisnya dapat dicatat. Ibnu Addi mengatakan Abu Muhammad Al-Jurjani banyak mengetengahkan hadis-hadis yang garib. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Abdur Rahman ibnu Hamzah ibnu Mahdi, dari Sufyan As-Sauri, dari Mansur, dari Mujahid, dari Abdullah ibnu Amr. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Jarir, dari Mansur dengan sanad yang sama, dan riwayat ini lebih sahih kedudukannya.Hadis yang lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad, disebutkan bahwa:telah menceritakan kepada kami Rauh (yaitu Ibnu Ubadah), telah menceritakan kepada kami Malik, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Zaid ibnu Abu Anisah, bahwa Abdul Hamid ibnu Abdur Rahman ibnu Zaid ibnul Khattab pernah menceritakan kepadanya, dari Muslim ibnu Yasar Al-Juhanni, bahwa Umar ibnul Khattab pernah ditanya mengenai makna firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhan kalian ?” Mereka menjawab, 'Betul’ (Engkau Tuhan kami)., hingga akhir ayat. Maka Umar ibnul Khattab mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ. ditanya mengenai makna ayat ini, beliau Saw. menjawab melalui sabdanya: Sesungguhnya Allah subhanahu wata'āla menciptakan Adam a.s., kemudian mengusap punggungnya dengan tangan kanan-Nya, dan mengeluarkan darinya sejumlah keturunannya, Allah berfirman, "Aku telah menciptakan mereka untuk dimasukkan ke dalam surga. dan mereka hanya mengamalkan amalan ahli surga.” Kemudian Allah mengusap punggungnya lagi, lalu mengeluarkan darinya sejumlah keturunannya, dan Allah berfirman, "Aku telah menciptakan mereka untuk neraka dan hanya amalan ahli nerakalah yang mereka kerjakan." Kemudian ada seorang lelaki yang bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang terjadi dengan amal itu? Rasulullah ﷺ, menjawab: Apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk surga, maka Allah menjadikannya beramal dengan amalan ahli surga, hingga ia mati dalam keadaan mengamalkan amalan ahli surga, lalu Allah memasukkannya ke dalam surga berkat amal itu. Dan apabila Allah menciptakan seorang hamba untuk neraka, maka Dia menjadikannya beramal dengan amalan ahli neraka, hingga ia mati dalam keadaan mengamalkan amalan ahli neraka, lalu Allah memasukkannya ke neraka.Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, dari Al-Qa'nabi, sedangkan Imam Nasai meriwayatkannya dalam kitab Tafsir­nya, dari Qutaibah, dan Imam Turmuzi di dalam kitab Tafsir-nya. meriwayatkannya dari Ishaq ibnu Musa, dari Ma'an. Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari Yunus ibnu Abdul A'la dari Ibnu Wahb. Ibnu Jarir meriwayatkannya dari Rauh ibnu Ubadah dan Sa'id ibnu Abdul Hamid ibnu Ja'far. Ibnu Hibban mengetengahkannya di dalam kitab Sahih-nya. melalui riwayat Abu Mus'ab Az-Zubairi. Semuanya dari Imam Malik ibnu Anas dengan sanad yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan, tetapi Muslim ibnu Yasar belum pernah mendengar dari Umar, hal yang sama telah dikatakan pula oleh Abu Hatim dan Abu Za’rah.Abu Hatim menambahkan, di antara keduanya —yakni antara Muslim ibnu Yasar dan Umar—terdapat Na'im ibnu Rabi'ah. Perkataan Abu Hatim ini diriwayatkan oleh Imam Abu Daud di dalam kitab Sunnah-nya, dari Muhammad ibnu Musaffa, dari Baqiyyah dari Umar ibnu Ju'sum Al-Qurasyi, dari Zaid ibnu-Abu Anisah, dari Abdul Hamid ibnu Abdur Rahman ibnu Zaid ibnul Khattab, dari Muslim ibnu Yasar Al-Juhami, dari Na'im ibnu Rabi'ah.Na'im ibnu Rabi'ah mengatakan bahwa ketika ia berada di hadapan Umar ibnul Khattab yang saat itu telah ditanya mengenai makna firman­Nya ini:Dan (ingadah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka.Lalu ia mengetengahkan asar ini.Menurut hemat kami, Imam Malik secara lahiriahnya sengaja meng­gugurkan nama Na'im ibnu Rabi'ah dari rentetan perawi hanyalah semata-mata karena keadaan Na'im tidak diketahui dan dia tidak mengenalnya, mengingat Na'im tidaklah dikenal kecuali melalui hadis ini. Karena itulah Imam Malik sering menggugurkan penyebutan sejumlah perawi yang tidak dikenalnya. Oleh sebab itu pulalah maka ia banyak me-mursal-kan hadis-hadis yang marfu dan me-maqtu-kan banyak hadis yang mausul.Hadis yang lain diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dalam tafsir ayat ini, bahwa:telah menceritakan kepada kami Abdu ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Sa'd, dari Zaid ibnu Aslam, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ. telah bersabda: Ketika Allah menciptakan Adam, maka Allah mengusap punggung Adam, lalu berguguranlah dari punggungnya semua manusia yang Dia ciptakan dari anak keturunannya sampai hari kiamat. Dan Allqh menjadikan di antara kedua mata setiap manusia dari sebagi­an mereka secercah nur (cahaya), kemudian Allah menampilkannya dihadapan Adam. Maka Adam berkata, "Wahai Tuhanku, siapakah mereka ini?" Allah berfirman, "Mereka adalah anak cucumu.” Adam melihat seorang lelaki dari mereka yang nur di antara kedua matanya mengagumkan Adam. Adam bertanya, "Wahai Tuhanku, siapakah orang ini?” Allah berfirman, "Dia adalah seorang lelaki dari kalangan umat yang akhir nanti dari kalangan keturunanmu, ia dikenal dengan nama Daud.” Adam berkata, "Wahai Tuhanku, berapakah usianya yang telah Engkau tetapkan untuknya “Allah menjawab “Enam Puluh Tahun”. Adam Berkata, "Wahai Tuhanku, saya rela memberikan kepadanya sebagian dari usiaku sebanyak empat puluh tahun.” Ketika usia Adam telah habis, ia kedatangan malaikat maut, maka Adam berkata, "Bukankah usiaku masih empat puluh tahun lagi?” Malaikat maut menjawab.”Bukankah engkau telah berikan kepada anakmu Daud?” Ketika malaikat maut menjawabnya, maka Adam mengingkarinya, sehingga keturunannya pun ingkar pula. Adam lupa, maka keturunannya pun lupa pula. Adam berbuat kekeliruan, maka keturunannya pun berbuat kekeliruan pula.Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih. Imam Turmuzi telah meriwayatkannya melalui berbagai jalur dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ. Imam Hakim telah meriwayatkannya di dalam kitab Mustadrak-nya. melalui hadis Abu Na'im Al-Fadl ibnu Dakin dengan sanad yang sama. Ia mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya di dalam kitab Tafsir-nya melalui hadis Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya, bahwa ia menceritakan hadis ini dari Ata ibnu Yasar, dari Abu Hurairah r .a., dari Rasulullah ﷺ. Lalu ia menuturkan hadis ini semisal dengan hadis di atas sampai ia menyebutkan:Kemudian Allah memperlihatkan mereka kepada Adam. dan Allah berfirman “Hai Adam Mereka adalah keturunanmu” Ternyata di antara mereka terdapat orang yang berpenyakit lepra, supak, buta, dan berpenyakit lainnya. Maka Adam berkata, "Wahai Tuhanku, mengapa Engkau lakukan ini terhadap keturunanku?” Allah berfirman, "Agar mereka mensyukuri nikmat-Ku.” Adam bertanya, "Wahai Tuhanku, siapakah mereka yang saya lihat memiliki nur (cahaya) yang paling menonjol di kalangan mereka? Allah berfirman, "Mereka adalah para nabi dari keturunanmu, hai Adam."Hadis yang lain diriwayatkan oleh Abdur Rahman ibnu Qatadah An-Nadri, dari ayahnya, dari Hisyam ibnu Hakim r.a., bahwa pernah ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi ﷺ., "Wahai Rasulullah, apakah amal perbuatan itu baru muncul kemudian, ataukah telah ditetapkan oleh takdir sebelumnya?" Rasulullah ﷺ. bersabda:Sesungguhnya Allah telah mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka. Kemudian Allah meraup mereka dalam kedua telapak tangan-Nya, lalu berfirman, "Mereka ini adalah ahli surga, dan mereka ini adalah ahli neraka." Maka ahli surga dipermudahkan untuk mengamalkan amalan ahli surga, dan ahli neraka dimudahkan untuk mengamalkan amalan ahli neraka.Hadis yang lain diriwayatkan oleh Ja'far ibnuz Zubair yang orangnya daif, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:Setelah Allah menciptakan makhluk-Nya dan menetapkan takdir­Nya, maka Dia mengambil golongan kanan dengan tangan kanan-Nya dan golongan kiri dengan tangan kiri-­Nya. Allah berfirman, "Hai golongan kanan! " Mereka menjawab, "Kami penuhi panggilan-Mu dengan penuh kebahagiaan," Allah berfirman, "Bukankah Aku adalah Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Benar, ya Tuhan kami" Allah berfirman, "Hai golongan kiri!" Mereka menjawab, "Kami penuhi panggilan-Mu dengan penuh kebahagiaan.” Allah berfirman, "Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka menjawab, "Benar, ya Tuhan kami.” Kemudian Allah mencampurkan mereka menjadi satu di antara sesama mereka. Maka ada yang bertanya kepada-Nya, "Wahai Tuhanku, mengapa Engkau campur adukkan di antara sesama mereka?” Allah berfirman, "Amal perbuatan mereka datang sesudah itu, dan mereka masing-masing akan mengamalkan amalannya agar mereka nanti kelak di hari kiamat tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini'.” Kemudian Allah mengembalikan mereka ke dalam sulbi Adam.Hadis riwayat Ibnu Murdawaih.Asar yang lain diriwayatkan oleh Abu Ja'far Ar-Razi, dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b sehubungan dengan makna firman-Nya:Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka.Pada hari itu Allah mengumpulkan seluruh manusia yang akan ada sampai hari kiamat nanti, lalu Allah menjadikan mereka dalam rupanya masing-masing dan membuat mereka dapat berbicara hingga mereka dapat berbicara, kemudian Allah mengambil janji dan ikrar dari mereka: dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhan kalian?”Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami).", hingga akhir ayat. Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku mempersaksikan terhadap kalian tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, dan Aku telah mempersaksikan Adam kakek moyang kalian terhadap kalian, agar kalian kelak di hari kiamat tidak mengatakan, 'Kami tidak mengetahui." Ketahuilah oleh kalian bahwa tidak ada Tuhan selain Aku dan tidak ada Rabb selain Aku, maka janganlah Engkau mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Dan sesungguhnya Aku akan mengutus kepada kalian rasul-rasul untuk memberikan peringatan kepada kalian akan janji dan ikrar-Ku ini, dan Aku akan menurunkan kepada kalian kitab-kitab-Ku." Mereka menjawab, "Kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami dan Rabb kami, tidak ada Rabb dan tidak ada Tuhan selain Engkau." Pada hari itu mereka mengakui bersedia untuk taat, lalu Allah mengangkat kakek moyang mereka, Adam, dan Adam memandang mereka, maka ia melihat bahwa di antara mereka ada yang kaya, ada yang miskin, dan ada yang rupanya baik, ada pula yang tidak. Maka Adam berkata, "Wahai Tuhanku, mengapa tidak Engkau samakan hamba-hamba-Mu itu?" Allah berfirman, "Sesungguhnya Aku suka bila dipanjatkan rasa syukur kepada Ku. Nabi Adam melihat adanya para nabi di antara mereka yang bagai­kan pelita karena memancarkan nur (cahaya), lalu mereka secara khusus diikat dengan janji lain, yaitu berupa risalah dan kenabian. Hal inilah yang diungkapkan oleh Allah subhanahu wata'āla dalam firman-firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi (Al Ahzab:7), hingga akhir ayat. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah. (Ar Ruum:30) Ini adalah seorang pemberi peringatan di antarapemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu. (An Najm:56) Termasuk pula ke dalam pengertian ini firman Allah subhanahu wata'āla yang mengatakan: Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. (Al A'raf:102)Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wata'āla mengeluarkan keturunan Bani Adam dari sulbinya, lalu Dia memisahkan antara ahli surga dan ahli neraka di antara mereka. Adapun mengenai pengambilan kesaksian yang mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan mereka, maka tiada lain hanya terdapat di dalam hadis Kalsum ibnu Jubair, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, juga dalam hadis Abdullah ibnu Amr. Kami telah menjelaskan bahwa keduanya mauquf, bukan marfu' seperti yang telah disebutkan di atas. Karena itulah ada sebagian ulama Salaf dan ulama Khataf yang mengatakan bahwa persaksian ini tiada lain adalah fitrah mereka yang mengakui keesaan Tuhan, seperti yang disebutkan di dalam hadis Abu Hurairah dan Iyad ibnu Himar Al-Mujasyi'i. Juga seperti yang disebutkan melalui riwayat Al-Hasan Al-Basri, dari Al-Aswad ibnu Sari', dan Al-Hasan menafsirkan ayat ini dengan pengertian tersebut. Mereka mengatakan bahwa karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya:Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam.tidak disebutkan dari Adam.Dari sulbi mereka.tidak disebutkan dari sulbinya (Adam)....anak cucu mereka.Yakni Allah menjadikan keturunan mereka generasi demi generasi, satu kurun demi satu kurun, sama halnya dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya dalam ayat-ayat lain, yaitu:Dia-lah yang menjadikan kalian khalifah-khalifah di muka bumi. (Faathir':39)dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi. (An Naml:62)sebagaimana Dia menjadikan kalian dari keturunan orang-orang lain. (Al An'am:133)Kemudian Allah subhanahu wata'āla berfirman:Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) "Bukankah Aku ini Tuhan kalian?” Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami)."Maksudnya, Allah menjadikan mereka menyaksikan hal tersebut secara keadaan dan ucapan. Kesaksian itu adakalanya dilakukan dengan ucapan, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah subhanahu wata'āla:Mereka berkata, "Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri.(Al An'am:130)Adakalanya pula dilakukan dengan keadaan (yakni dengan sikap dan perbuatan), seperti pengertian yang terdapat di dalam firman Allah subhanahu wata'ālaTidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. (At Taubah:17)Artinya, sedangkan keadaan mereka atau sikap dan perbuatan mereka menunjukkan kekafiran mereka, sekalipun mereka tidak mengatakannya. Demikianlah pengertian yang terkandung di dalam firman Allah subhanahu wata'āla:dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkaran­nya. (Al-'Adiyat: 7)Demikian pula permintaan, adakalanya dengan ucapan, adakalanya dengan keadaan (sikap dan perbuatan), seperti pengertian yang ter­kandung di dalam firman Allah subhanahu wata'āla:Dan Dia telah memberikan kepada kalian (keperluan kalian) dari segala apa yang kalian mohonkan kepada-Nya (Ibrahim:34)Mereka mengatakan bahwa di antara dalil yang menunjukkan bahwa makna yang dimaksud dengan 'persaksian ini' adalah fitrah, yakni bila hanya persaksian saja yang dijadikan hujah terhadap kemusyrikan mereka, seandainya memang keadaannya demikian, maka niscaya yang terkena hujah hanyalah orang-orang yang telah mengucapkannya saja.Dan jika dikatakan bahwa penyampaian Rasulullah ﷺ. akan ketauhidan Allah sudah cukup untuk dijadikan bukti bagi keberadaan kesaksian ini, maka sebagai jawabannya dapat dikatakan bahwa orang-orang yang mendustakan-Nya dari kalangan kaum musyrik, mendusta­kan pula semua apa yang telah disampaikan oleh para rasul lainnya, baik yang menyangkut hal ini (keesaan Tuhan) ataupun masalah lainnya. Maka hal ini menjadikannya sebagai hujah tersendiri terhadap diri mereka. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa makna yang dimaksud dari 'persaksian ini' adalah fitrah yang telah ditanamkan di dalam jiwa mereka menyangkut masalah ketauhidan Allah. Karena itulah disebutkan didalam firman Nya:agar kalian tidak mengatakan.Maksudnya, agar di hari kiamat kelak, kalian tidak mengatakan:Sesungguhnya kami (bani Adam) terhadap ini.Yakni terhadap masalah tauhid atau keesaan Allah ini.adalah orang-orang yang lengah, atau agar kalian tidak mengata­kan, "Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan., hingga akhir ayat.

💬 0 komentar📅 21 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat23 Agustus 2026
R

Rachmatika

📍 Kota Administrasi Jakarta Barat

Tafsir Al Muyassar Al Baqarah:46

Tema: PERINGATAN ALLAH KEPADA BANI ISRAIL (Ayat 40-141)Subtema: Beberapa perintah dan larangan Allah kepada Bani Israil (Ayat 40-48)Minta tolonglah kalian dalam setiap urusan kalian dengan berbagai macam kesabaran dan juga dengan melaksanakan salat. Sesungguhnya, hal itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, yaitu orang-orang yang takut kepada-Nya, mengharapkan apa yang ada di sisi-Nya dan meyakini bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhannya setelah kematian serta meyakini bahwa mereka semua akan kembali kepada-Nya pada hari kiamat untuk dihisab dan dibalas.

💬 0 komentar📅 21 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka23 Agustus 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

Makna Harta Bermanfaat

Ilmu agama seharusnya memengaruhi cara seseorang menggunakan hartanya.Bukan sekadar tahu bahwa harta adalah amanah, tetapi juga memahami untuk apa harta itu digunakan. Orang yang memiliki pemahaman agama dan berusaha mengamalkannya akan melihat hartanya bukan hanya sebagai alat memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga sebagai sarana menghadirkan manfaat bagi orang lain dan umat.

💬 0 komentar📅 21 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat22 Agustus 2026
M
marni

📍 Kabupaten Bogor

SIKAP KAUM MUSYRIKIN TERHADAP KERASULAN MUHAMMAD SERTA WAHYU YANG DIBAWANYA DAN PENOLAKAN AL-QUR'AN TERHADAPNYA

Tafsir Al-MuyassarAl-Anbiya (21:9)Tema: SIKAP KAUM MUSYRIKIN TERHADAP KERASULAN MUHAMMAD SERTA WAHYU YANG DIBAWANYA DAN PENOLAKAN AL-QUR'AN TERHADAPNYA (Ayat 1-20)Kemudian Kami penuhi apa yang telah Kami janjikan kepada para Nabi dan pengikut mereka berupa pertolongan dan keselamatan, dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka dengan kekafiran mereka kepada Rabb mereka.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 21 Agu 2026Baca selengkapnya →