📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
N
Nela Agu Saudara

📍 Kabupaten Sukoharjo

Rangkuman Materi Talbis Iblis 12

Talbis Iblis 12 "Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi"🎙️ Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., M.A.🍂 Ada beberapa pendapat kenapa disebut dengan sufi :◾ Nisbah kepada orang yang dikenal dengan sufah. Yaitu sekelompok orang atau seorang yang dikenal dengan sufah. Gelarnya adalah sudah dan namanya adalah al-ghauts bin mur yang di zaman jahiliyah orang ini menghidmakan dirinya kepada al-masjidil haram.◾ Nisbah kepada penghuni sudah. Namain ini dikit oleh Ibnul Jauzi secara bahasa. Jika nisbah kepada sudah harusnya suffi, padahal yang dikenal adalah suwfi. Karena suffa itu bukan suwfa tapi sufah beda jadinya suffi sehingga tidak tepat dinisbatkan kepada ahlu suffa.◾Nisbah kepada sufaanah yaitu tumbuhan. Karena disebutkan kaum sufiah ini suka mencabut tumbuhan tersebut di padang pasir. Namun ini dikritik oleh Ibnul Jauzi beliau mengatakan kalau dinisbahkan kepada shufaanah makan harusnya menjadi sufaani bukan sufi. Tapi yang dikenal sufi bukan sufaani. ◾Sufi nisbah kepada rambut yang tumbuh dibelakang leher seseorang sehingga orang dinisbahkan kepada rambut tersebut seakan seorang menggiring orang kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala itu al-haq melainkan orang lain makhluk.◾ Nisbah kepada bulu domba. Karena awalnya memakai pakaian dari wol sehingga namanya sufi. 👉 Tapi intinya Ibnul Jauzi menjelaskan bahwasanya kaum sufiyah ini pada asalnya kaum yang zuhud. Tasawuf atau sufi disis mereka ada pelatihan jiwa dan berusaha untuk berjuang menolak perangai dari akhlak-akhlak yang buruk dan berusaha membawa perangai atau tabiat kepada akhlak-akhlak yang indah seperti zuhud, sikap sabar, bijak, ikhlas dan jujur. Sifat-sifat yang mulia ini akan mendatangkan pujian di dunia dan juga pahala di akhirat. Ini hakekat sufiyah sebenarnya.Demikian awalnya mereka ini (sufiyah yang pertama kali) kemudian berubah. Lalu iblis menggoda mereka dengan banyak hal, semakin bertambah zaman semakin parah hingga puncaknya pada orang-orang belakang.🍂 Diantara model-model tipuan iblis kepada mereka :◾ Iblis menggambarkan kepada kaum sufiyah yang dimaksud dengan sufiyah hakekatnya tasawuf itu meninggalkan dunia secara global atau secara totalitas. Akhirnya mereka terjebak dan menganggap sufi yang benar meninggalkan dunia dan menolak hal-hal yang bisa bermanfaat buat jasad mereka. Mereka lupa bahwasanya harta itu diciptakan untuk kemaslahatan. Mereka itu sebenarnya tujuan untuk zuhud  kepada dunia tidak ingin hidup bersenang-senang hanya saja mereka tidak menempuh jalan yang benar.◾ Prasangka-prasangka yang melewati lintasan-lintasan hati mulai dijadikan bahan perbincangan. Datanglah kaum-kaum sufibyang lainnya mereka mulai berbicara tentang lapar, kemiskinan, bisikan-bisikan dan lintasan-lintasan hati dan bahkan mereka menulis tentang hal ini. Kemudian berkembang lagi model kaum sufiyah mereka mulai mengatur, merapikan mazhab sufiyah lantas ingin jelaskan namanya tasawuf itu memiliki sifat-sifat khusus yang tidak dimiliki oleh yang lainnya.◾Kelompok sufi yang mulai sibuk dengan ciri-ciri khas sufiyah. Ada sufi yang mendengar nasyid-nasyid, kadang pakai alat musik yang tidak pernah diajarkan oleh nabi. Mereka punya istilah-istilah yang mereka sebutkan dana da khilaf dikalangan mereka tentang hakekat istilah-istilah tersebut. ◾Diantar mereka ada yang saking laparnya (sengaja lapar) sampai akhirnya tidak stabil akalnya sehingga muncullah khayalan yang aneh-aneh. Dari 4 model akidah-akidah maka muncullah akidah-akidah yang menyimpang kemudian munculah tarekat-tarekat yang banyak maka rusaklah akidah mereka. Ibnul Jauzi berkata senantiasa iblis membuat mereka kacau balau dengan berbagai macam bid'ah sampai mereka membuat untuk diri mereka sunnah-sunnah spesial untuk mereka sendiri. 🍂 Ibnul Jauzi mentahzir atau memperingati kitab-kitab yang mendukung sufiah :◾ Abu Abdurrahman Assulami ; membuat hadits-hadits palsu yang mendukung sufiyah.◾Abu Nasr Assaraj ; judul bukunya luma assufiyah menyebutkan akidah-akidah yang rusak dan perkataan-perkataan yang hina atau jelek.◾Abu Thalib Al-Makki ; judulnya quutul qulub didalamnya tertulis hadist-hadist batil, dzikir-dzikir palsu, shalat-shalat malam yang tidak ada asalnya, shalawat-shalwat bukan dari nabi shalallahu 'alaihi wassallam dan di dalam buku tersebut dia menyebutkan akidah yang menyimpang. ◾Abdul Karim bin Hawazin Al-Quusyairi ; dalam kitabnya arrisalah disebutkan tentang keajaiban-keajaiban dan istilah-istilah sufiyah yang tidak pernah diajarkan oleh nabi shalallahu 'alaihi wassallam. ◾ Muhammad Thahir Al-Maqdisi ; buku shafatu tasawuf, Ibnul Jauzi mengingkari dan berkata orang ini menyebutkan hal-hal yang seorang berakal malu menyebutkannya. ◾Abu Hamid Al-Ghazali ; kitab ihya ulumuddin buku ini terkenal dan kontroversi karena banyak hadits-hadits palsu, banyak akidah yang menyimpang dan pembahasan tentang wahdatul wujud dan perkara sufiyah yang orang  awam tidak mengerti. Dan Ibnul Jauzi memberikan udzur kepada semua penulis sebab penulis menulis buku ini karena ilmu mereka sedikit tentang hadist-hadist Nabi, Ilmu mereka tentang Islam juga kurang dan riwayat-riwayat dari para tabi'in atau sahabat juga kurang. Dan mereka semangat untuk menuju kepada istilah-istilah sufiyah yang ditulis oleh mereka karena senang dengan tulisan orang-orang sufiah dan telah terpatri dalam jiwa zuhud itu bagus.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
E
Ela septiana yusira

📍 Kota Tangerang

Talbis iblis pada kaum sufi

Seiring berjalannya waktu, iblis mulai menyusupkan tipu dayanya kepada generasi-generasi sufi. Pintu masuk utama iblis adalah melalui kurangnya ilmu agama (kejahilan). Banyak dari mereka yang memiliki semangat beribadah yang sangat tinggi, namun tidak dibekali dengan pemahaman ilmu syariat yang mendalam.satu bentuk kerancuan berpikir yang disusupkan iblis, yaitu anggapan adanya pemisahan antara jalur "Syariat" (lahiriah) dan jalur "Hakikat" (batiniah)Iblis membisikkan bahwa ilmu-ilmu fikih atau hukum lahiriah hanyalah untuk orang awam (ahli syariat). Sementara bagi mereka yang telah mencapai derajat tertentu, mereka merasa bisa langsung mengambil ilmu dari Allah (ilmu ladunni) tanpa melalui perantara dalil-dalil Al-Qur'an dan hadis Nabi ﷺ secara tekstual.Ustadz memberikan bantahan ilmiah bahwa pemikiran seperti ini sangat berbahaya karena dapat menggugurkan kewajiban-kewajiban syariat. Rasulullah ﷺ adalah makhluk yang paling paham tentang hakikat, namun beliau tetap menjalankan syariat lahiriah, shalat hingga kaki beliau bengkak, dan tidak pernah mengabaikan hukum-hukum Allah.Dampak dari pengabaian ilmu syariat membuat sebagian kelompok ini dengan mudah menerima hadis-hadis palsu (maudhu') atau cerita-cerita rekaan yang menyentuh hati.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026

Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi

Awalnya, tasawuf muncul sebagai usaha untuk melatih jiwa, zuhud terhadap dunia, dan memperbaiki akhlak.Namun, seiring waktu, iblis mulai menggoda mereka sehingga terjadi penyimpangan yang semakin parah, terutama pada orang-orang belakangan Bentuk-Bentuk Tipuan Iblis pada Kaum Sufi:1. Zuhud yang Berlebihan: Menganggap zuhud berarti meninggalkan dunia secara total, termasuk kebutuhan dasar yang bermanfaat bagi jasad, serta mengamalkan hadis-hadis palsu 2. Pembahasan Lintasan Hati (Wasaawis): Mulai sibuk dengan pembicaraan mengenai bisikan hati dan hal-hal batin, bahkan mengabaikan ilmu syariat yang zahir 3. Bid'ah dalam Ibadah: Membuat aturan-aturan khusus, seperti pakaian tambal-tambal (muraqqaah) yang dianggap sebagai ciri kesufian, padahal sahabat dahulu memakainya karena keterbatasan ekonomi, bukan sebagai ibadah 4. Praktik Ritual yang Menyimpang: Seperti nyanyian (sama'), tarian (raqs), tepuk tangan, hingga munculnya khayalan-khayalan yang menganggap mereka bisa bersatu dengan Tuhan (wahdatul wujud, hululiyah, atau ittihadiyah)

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
S
Salma laela fitri

📍 Kabupaten Karawang

Ringkasan pertemuan ke 12

Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi dan Penyimpangan TasawufPemateri: Ustadz Firanda Andirja حفظه اللهPada pembahasan kali ini, Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullah menjelaskan tentang tipuan iblis terhadap kaum sufi. Sebelum membahas berbagai penyimpangan yang terjadi, beliau terlebih dahulu menerangkan asal mula munculnya tasawuf.Asal Mula Penamaan SufiPara ulama berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Di antara pendapat yang disebutkan:Dinisbahkan kepada seseorang yang dikenal dengan nama Shufah, yaitu Al-Ghuts bin Murr yang pada masa jahiliah mengkhususkan dirinya untuk berkhidmat di Masjidil Haram.Dinisbahkan kepada Ahlus Shuffah. Namun, Ibnu al-Jauzi mengkritik pendapat ini karena secara bahasa nisbah kepada Shuffah seharusnya menjadi Shuffi, sedangkan yang masyhur adalah Sufi.Dinisbahkan kepada tumbuhan bernama Shufanah, tetapi secara bahasa nisbahnya seharusnya menjadi Shufani, bukan Sufi.Dinisbahkan kepada shaufatul qafa, yaitu rambut yang tumbuh di belakang leher.Dinisbahkan kepada shuf (bulu domba atau wol), karena pada awalnya mereka memakai pakaian yang terbuat dari wol.Hakikat Tasawuf pada Masa AwalMenurut Ibnu al-Jauzi, pada awalnya kaum sufi adalah orang-orang yang berusaha:Melatih jiwa.Menghilangkan akhlak-akhlak buruk.Menghias diri dengan akhlak mulia.Di antara sifat-sifat yang mereka usahakan adalah:Zuhud terhadap dunia.Sabar.Bijaksana (hilm).Ikhlas.Jujur.Tujuan mereka adalah memperoleh pujian yang baik di dunia dan pahala di akhirat. Inilah hakikat tasawuf pada masa awal.Namun, seiring berjalannya waktu, iblis mulai menipu mereka dengan berbagai bentuk penyimpangan hingga semakin parah pada generasi-generasi setelahnya.Bentuk-Bentuk Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi1. Menganggap Zuhud Berarti Meninggalkan Dunia Secara TotalSebagian mereka menganggap bahwa hakikat tasawuf adalah meninggalkan dunia sepenuhnya.Akibatnya, mereka:Menolak makanan yang bermanfaat.Menolak pakaian yang layak.Menganggap harta seperti kalajengking yang harus dijauhi.Padahal, harta diciptakan Allah untuk berbagai kemaslahatan, seperti:Membangun masjid.Menunaikan haji.Berdakwah.Menikah.Menafkahi keluarga.Mereka bahkan memaksakan diri melakukan hal-hal berat, sampai ada yang tidak mau tidur dengan berbaring karena dianggap bertentangan dengan zuhud.Padahal tujuan mereka baik, namun karena minim ilmu, mereka terjatuh pada pengamalan hadis-hadis palsu.2. Sibuk Membahas Lintasan-Lintasan HatiGenerasi berikutnya mulai membahas:Lapar dan kemiskinan.Bisikan-bisikan hati (wasawis).Lintasan-lintasan hati (khatharat).Bahkan mereka menulis kitab-kitab khusus tentang hal tersebut.3. Membuat Ciri dan Istilah Khusus TasawufKaum sufi berikutnya mulai merumuskan berbagai istilah dan simbol khusus.Mereka menetapkan:Pakaian tambal-tambal (muraqqa'ah).Nyanyian dan qasidah tertentu.Tarian dan gerakan tertentu.Tepuk tangan dan ritual-ritual yang tidak diajarkan Nabi ﷺ.Padahal Rasulullah ﷺ memakai pakaian bertambal karena kebutuhan, bukan sebagai ibadah.Pakaian Wol Bukanlah SunnahNabi ﷺ dan para sahabat terkadang memakai pakaian dari wol karena kondisi ekonomi yang sulit. Ketika Allah memberikan kelapangan, mereka memakai pakaian yang lebih baik.Karena itu, menjadikan pakaian wol atau pakaian bertambal sebagai syiar ibadah tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ.4. Membuat Tahapan dan Istilah-Istilah TasawufMuncullah berbagai istilah khusus, seperti:Al-halAl-waqtAl-wajdAl-jam'At-tafriqahAs-sukrAl-mahwuAl-mukasyafahMereka menganggap hanya orang yang melewati tahapan-tahapan tertentu yang layak disebut sebagai sufi.Sebagian bahkan menjauh dari para ulama dan merasa bahwa mereka memiliki "ilmu batin" yang lebih tinggi daripada ilmu syariat yang dipelajari para ulama.5. Melampaui Batas hingga Terjatuh pada Bid'ah dan KekufuranSebagian mereka sengaja melaparkan diri hingga akalnya tidak stabil.Muncullah berbagai khayalan dan pengalaman yang mereka anggap sebagai bentuk kerinduan kepada Allah.Dari sinilah kemudian muncul berbagai keyakinan yang menyimpang.Keyakinan Menyimpang yang MunculAl-IttihadYaitu keyakinan bahwa Allah dan makhluk menyatu seperti susu yang bercampur dengan kopi hingga tidak dapat dibedakan lagi.Al-HululYaitu keyakinan bahwa Allah menempati makhluk-Nya, sebagaimana air berada di dalam gelas. WujudYaitu keyakinan bahwa Allah dan makhluk hakikatnya satu wujud, sedangkan perbedaan yang terlihat hanyalah penampakan semata.Menurut Ibnu al-Jauzi, seluruh keyakinan tersebut merupakan penyimpangan yang berat.Munculnya Tarekat-TarekatDari berbagai penyimpangan tersebut lahirlah banyak tarekat yang masing-masing memiliki:Akidah tertentu.Amalan tertentu.Tahapan-tahapan khusus.Sunnah-sunnah yang mereka buat sendiri.Seperti:Khalwat berhari-hari.Mengurung diri di tempat gelap.Zikir-zikir tertentu yang tidak ada dalilnya.Padahal semua itu tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ maupun para sahabat.Kritik Ibnu al-Jauzi terhadap Beberapa Kitab SufiIbnu al-Jauzi menyebut beberapa kitab yang menurut beliau mengandung penyimpangan, di antaranya:1. Al-Luma' karya Abu Nashr As-SarrajBeliau menilai kitab ini memuat berbagai perkataan yang tidak benar.2. Qutul Qulub karya Abu Thalib Al-MakkiDi dalamnya terdapat:Hadis-hadis batil.Zikir-zikir yang tidak ada asalnya.Berbagai keyakinan menyimpang.3. Ar-Risalah Al-Qusyairiyah karya Al-QusyairiKitab ini memuat banyak istilah dan konsep tasawuf yang tidak dikenal pada masa Nabi ﷺ dan para sahabat.4. Hilyatul Auliya' karya Abu Nu'aim Al-AshbahaniIbnu al-Jauzi mengkritik penyebutan para sahabat sebagai kaum sufi dalam pengertian yang berkembang kemudian.5. Ihya' Ulumiddin karya Abu Hamid Al-GhazaliIbnu al-Jauzi menjelaskan bahwa kitab ini memiliki banyak manfaat, tetapi juga memuat:Hadis-hadis dhaif dan palsu.Beberapa pembahasan yang dipengaruhi tasawuf.Penafsiran yang menyimpang dari makna zahir.Karena itu, kitab ini tidak cocok dibaca oleh orang awam tanpa bimbingan ilmu.Sebab Penyimpangan MerekaMenurut Ibnu al-Jauzi, penyebab utama penyimpangan tersebut adalah:Sedikitnya ilmu tentang hadis Nabi ﷺ.Kurangnya pengetahuan tentang atsar para sahabat.Ketertarikan kepada perkataan-perkataan kaum sufi yang terlihat indah.Kecenderungan jiwa manusia kepada sesuatu yang ringan dan menyenangkan.PenutupIbnu al-Jauzi menjelaskan bahwa kaum sufi generasi awal adalah orang-orang yang zuhud dan menjauhi dunia. Namun, pada generasi berikutnya muncul berbagai penyimpangan hingga lahirlah tarekat-tarekat dengan akidah dan amalan khusus yang tidak dikenal pada masa Rasulullah ﷺ dan para sahabat.Beliau menegaskan bahwa iblis terus menipu mereka dengan berbagai bentuk bid'ah hingga mereka membuat "sunnah-sunnah" sendiri yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ.Wallahu a'lam.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 57

HSI Abdullah RoyJejak Ilmu HSI @komunitasbeekindHalaqah 57Bab 7 - Wajibnya Masuk Ke Dalam Islam Secara Total dan Meninggalkan Selainnya –  Pembahasan Dalil Kelima Hadist dari Sahabat Abdillah Bin Amr Radhiallahu ‘Anhu(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)وَعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً» قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي​Dari Abdullah bin 'Amr ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh akan datang kepada umatku apa yang telah datang kepada Bani Israil, serupa seperti sepasang sandal dengan sandal lainnya. Sampai seandainya ada di antara mereka orang yang menyetubuhi ibunya secara terang-terangan, niscaya akan ada di antara umatku yang melakukan demikian..."Poin-poin Utama Makna HadistKepastian Terjadinya Penyerupaan (Tasyabbuh)Penggunaan kata Lam di awal dan Nun Taukid di akhir kalimat (Layatiyanna) memberikan penegasan yang sangat kuat bahwa peristiwa ini pasti akan menimpa umat Islam.Cakupan Istilah Bani IsrailYang dimaksud Bani Israil dalam hadits ini mencakup kedua kaum Ahli Kitab, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani.Perumpamaan Sepasang Sandal (Hadzwal Na'li bin Na'li)Nabi menggambarkan kemiripan umat Islam yang meniru Bani Israil seperti sepasang sandal (kanan dan kiri) yang sama persis ukuran, warna, bentuk, dan keberadaannya. ​Hal ini menunjukkan betapa parah dan detailnya sebagian umat Islam dalam membebek atau meniru cara hidup mereka.Peniruan dalam Kemaksiatan EkstremUmat Islam tidak hanya meniru hal yang mubah atau baik, melainkan sampai ikut meniru dosa dan kemaksiatan yang sangat keji. Digambarkan dengan perumpamaan ekstrem: seandainya ada Bani Israil yang meniduri ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan tanpa rasa malu, maka akan ada pula dari umat Nabi Muhammad yang tega berbuat demikian.Tujuan Peringatan​Hadits ini ditujukan agar umat Islam memberikan perhatian besar, waspada, dan menjauhkan diri dari sikap mengekor (taklid dan tasyabbuh) terhadap kelakuan buruk Bani Israil.Perpecahan Umat (Tafriqah)Jumlah Perpecahan yang Lebih BanyakNabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa Bani Israil (Yahudi dan Nasrani) telah terpecah belah menjadi 72 golongan/milah. Umat Islam dikabarkan akan mengalami nasib yang sama, bahkan jumlah perpecahannya lebih banyak, yaitu menjadi 73 golongan. Ini menunjukkan bahwa bahaya perpecahan di dalam tubuh umat Islam jauh lebih kompleks.Ancaman Neraka bagi Mayoritas GolonganRasulullah menegaskan bahwa dari 73 golongan tersebut, "Kulluhum fin-naar" (semuanya masuk neraka). Ancaman ini menunjukkan betapa besarnya dosa keluar dari jalan Islam yang murni dan betapa berbahayanya membuat bid'ah atau sekte-sekte baru dalam agama.Golongan yang Selamat (Al-Firqatun Najiyah)Hanya Satu yang SelamatDi tengah 73 golongan tersebut, Nabi menegaskan hanya ada 1 golongan saja (illa millatan waahidah) yang selamat dari ancaman neraka dan masuk ke dalam surga.Kriteria Mutlak Golongan yang Selamat:Ketika para sahabat bertanya siapa golongan yang satu itu, Nabi menjawab: "Maa ana 'alaihi wa ash-haabi" (Siapa saja yang berada di atas jalan yang aku dan para sahabatku tempuh hari ini). ​Definisi Masuk Islam Secara Kaffah (Menyeluruh): Poin inilah yang mengikat hadits ini dengan judul bab. Masuk Islam yang benar dan menyeluruh adalah dengan berislam seperti Islamnya Rasulullah dan para Sahabat (Generasi Awal/Salaf), baik dalam hal aqidah, ibadah, maupun manhaj.Kesimpulan Peringatan (Tahdzir): Hadits ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam agar tidak mengekor kelakuan Ahli Kitab, baik dalam hal moral (kemaksiatan) maupun dalam hal agama (perpecahan dan membuat aliran baru).​Solusi Tunggal: Solusi agar selamat dari perpecahan akhir zaman bukanlah membuat persatuan semu, melainkan kembali kepada Manhaj Sahabat. Berpegang teguh pada apa yang diamalkan oleh Nabi dan para sahabat adalah jalan mutlak untuk mendapatkan keutamaan Islam yang hakiki.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
A
Anna setyaningsih

📍 Kota Bekasi

Rangkuman bab 12

TALBIS IBLIS #12TALBIS IBLIS TERHADAP KAUM SUFIUstadz Dr. Firanda Andirja, M.A Berdasarkan kitab Talbis Iblis karya Imam Ibnul Jauzi رحمه الله🌿 PendahuluanImam Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa iblis tidak hanya menyesatkan ahli maksiat, tetapi juga berusaha menyesatkan orang-orang yang semangat beribadah.Semakin tinggi semangat seseorang dalam mencari akhirat, semakin halus tipu daya iblis yang diarahkan kepadanya.Kaum sufi pada awal kemunculannya dikenal sebagai:Ahli ibadah.Ahli zuhud.Orang-orang yang menjauhi kemewahan dunia.Orang-orang yang fokus memperbaiki hati dan akhlak.Namun setelah beberapa generasi, masuklah berbagai penyimpangan dalam sebagian kelompok mereka.📖 Asal Usul Nama SufiAda beberapa pendapat tentang asal kata "sufi":Dari kata Shuf (الصوف) = wol. Karena dahulu sebagian mereka memakai pakaian wol kasar sebagai simbol kezuhudan.Ada yang mengaitkan dengan Ahlus Shuffah, namun pendapat ini lemah.Imam Ibnul Jauzi lebih cenderung bahwa istilah ini muncul setelah masa sahabat dan tabi'in.⚠️ Pada zaman Nabi ﷺ, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan para sahabat tidak dikenal dengan istilah "sufi", tetapi dikenal sebagai muslim yang bertakwa.⚠️ TALBIS IBLIS PERTAMABerlebih-lebihan Dalam ZuhudBentuk Tipu DayanyaIblis menghiasi sikap meninggalkan dunia secara berlebihan hingga:Menolak harta walaupun halal.Menolak menikah.Menolak makanan yang baik.Menganggap kemiskinan selalu lebih utama daripada kekayaan.Menganggap semakin susah hidup maka semakin mulia.Padahal Allah berfirman:"Katakanlah: Siapakah yang mengharamkan perhiasan Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya?"(QS. Al-A'raf: 32)Kesalahan MerekaMereka lupa bahwa:Nabi ﷺ menikah.Nabi ﷺ berdagang.Nabi ﷺ menerima hadiah.Nabi ﷺ memiliki rumah dan harta.Pelajaran✅ Zuhud bukan meninggalkan dunia.✅ Zuhud adalah tidak menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.Dunia di tangan, bukan di hati.⚠️ TALBIS IBLIS KEDUASibuk Dengan Al-Khatharat (Lintasan Hati)Apa itu Al-Khatharat?Lintasan-lintasan yang muncul dalam hati.Sebagian sufi terlalu fokus mengamati setiap bisikan hati hingga:Berlebihan dalam muhasabah.Menjadi was-was.Meninggalkan ilmu yang bermanfaat.Menghabiskan waktu hanya untuk mengamati perasaan.BahayanyaSeseorang bisa:Menjadi ragu dalam ibadah.Sulit mengambil keputusan.Terjerumus pada prasangka-prasangka yang tidak berdasar.Yang BenarMembersihkan hati dilakukan dengan:Belajar ilmu syar'i.Berdzikir.Membaca Al-Qur'an.Beramal saleh.Bukan dengan terus-menerus mengikuti perasaan.⚠️ TALBIS IBLIS KETIGAMembuat Aturan dan Simbol KhususBentuk PenyimpanganMereka mulai membuat:Istilah-istilah baru.Tata cara khusus.Tingkatan-tingkatan spiritual tertentu.Simbol-simbol kesalehan.Contohnya:🧥 Pakaian tambal-tambal (muraqqa'ah)Lalu muncul keyakinan bahwa orang yang memakai pakaian tertentu lebih dekat kepada Allah.KesalahannyaNabi ﷺ dan para sahabat tidak pernah menjadikan pakaian tertentu sebagai ukuran ketakwaan.Allah berfirman:"Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa."(QS. Al-Hujurat: 13)PelajaranTakwa berada di hati dan amal, bukan pada pakaian atau penampilan.⚠️ TALBIS IBLIS KEEMPATKhayalan dan Pengalaman SpiritualIni termasuk tipu daya yang paling berbahaya.BentuknyaSeseorang merasa:Mendengar suara gaib.Mendapat ilham khusus.Berbicara langsung dengan Allah.Mendapat petunjuk yang tidak dimiliki orang lain.BahayanyaIblis dan jin dapat memanfaatkan kondisi tersebut.Akhirnya seseorang:Mengikuti perasaan.Meninggalkan dalil.Menganggap dirinya memiliki kedudukan khusus.Kaidah Penting✅ Setiap ilham harus ditimbang dengan Al-Qur'an dan Sunnah.Jika bertentangan dengan syariat maka wajib ditolak.🚨 PENYIMPANGAN AKIDAH1. Wahdatul WujudKeyakinan bahwa:Semua yang ada adalah Allah.Atau:Tidak ada perbedaan hakiki antara Allah dan makhluk.KesalahannyaIslam mengajarkan bahwa:Allah adalah Pencipta.Makhluk adalah ciptaan.Keduanya berbeda dan tidak mungkin menyatu.2. HululKeyakinan bahwa:Allah masuk ke dalam makhluk tertentu.Misalnya pada wali atau manusia tertentu.KesalahannyaAllah Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya dan tidak menempati makhluk.3. IttihadKeyakinan bahwa:Seorang manusia dapat bersatu dengan Allah.KesalahannyaIni bertentangan dengan tauhid dan akidah Islam.📚 KRITIK TERHADAP SEBAGIAN KITAB TASAWUFImam Ibnul Jauzi mengkritik beberapa kitab tasawuf karena:Banyak hadis lemah.Banyak hadis palsu.Kisah-kisah tanpa sanad.Pemahaman yang menyimpang.Di antara kitab yang beliau kritik:📖 Luma' as-Sufiyyah📖 Qutul Qulub📖 Ihya UlumuddinBukan berarti seluruh isi kitab tersebut salah, namun terdapat bagian-bagian yang perlu diteliti dan dikoreksi berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.🏛️ PERUBAHAN KONDISI KAUM SUFIMenurut Ibnul Jauzi:DahuluMenjauhi penguasa.Menjauhi popularitas.Fokus ibadah.Sebagian di masa berikutnyaMencari kedudukan.Dekat dengan penguasa.Mengejar pengaruh dan popularitas.Padahal penyakit cinta dunia dapat menimpa siapa saja.🌷 FAEDAH DAN HIKMAH✨ Semangat ibadah saja tidak cukup tanpa ilmu.✨ Amal yang ikhlas harus sesuai tuntunan Nabi ﷺ.✨ Tidak semua yang terasa "spiritual" berasal dari Allah.✨ Kebenaran diukur dengan dalil, bukan mimpi, ilham, atau perasaan.✨ Iblis bisa menyesatkan melalui jalan maksiat maupun jalan ibadah.✨ Semakin besar semangat beragama seseorang, semakin wajib baginya belajar ilmu syar'i.📌 Kalimat Emas"Setiap jalan menuju Allah harus mengikuti Rasulullah ﷺ. Barang siapa mencari jalan selain jalan beliau, maka ia akan tersesat meskipun niatnya baik."🌿 Kesimpulan singkat: Tujuan bab ini bukan mencela setiap orang yang disebut sufi, tetapi menjelaskan bahwa iblis berhasil memasukkan berbagai penyimpangan ke dalam sebagian kelompok yang awalnya dikenal dengan kezuhudan dan semangat ibadah. Jalan keselamatan adalah berpegang teguh kepada Al-Qur'an, Sunnah, dan pemahaman para sahabat .

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Talbis Iblis 12

Talbis Iblis 12Talbis Iblis Terhadap Kaum SufiKitab ‘Talbis Iblis’ oleh Imam Ibnu JauziDisyarahkan Oleh Ustadz DR. Firanda Andirja, M.AAsal-Usul Kata Sufi (5 Pendapat Etimologi)Nisbah kepada al-Ghuts bin Mur (bergelar Suffah)Seseorang pada zaman Jahiliyah yang memusatkan waktunya dan mengkhidmatkan dirinya secara total untuk melayani Masjidil Haram.Nisbah kepada Ahlus SuffahDikritik secara bahasa oleh Ibnu Jauzi. Jika dinisbahkan kepada Suffah, harusnya menjadi Suffi, bukan Sufi (ada huruf wawu).Nisbah kepada SufanahSemacam tumbuhan di padang pasir yang suka dicabut oleh kaum Sufi. Dikritik Ibnu Jauzi karena secara bahasa harusnya menjadi Sufani, bukan Sufi.Nisbah kepada Shaufatul KaofaRambut yang tumbuh di belakang leher. Filosofinya seperti rambut leher yang diikuti/digiring, menggambarkan kaum Sufi memalingkan manusia dari makhluk menuju Allah.Nisbah kepada Suf (Bulu Domba/Wool)Berasal dari kebiasaan awal mereka memakai pakaian dari bulu domba/wool.Hakikat Awal Kaum Sufi & PerubahannyaIbnu Jauzi menjelaskan bahwa pada awalnya tasawuf atau Sufiyah adalah gerakan melatih jiwa (riyadhatun nafs), bersungguh-sungguh melawan Perangai buruk (seperti hasad, dengki, ingin dipuji), dan menghias diri dengan akhlak mulia seperti zuhud, sabar (hilm), ikhlas, dan jujur. Seiring berjalannya waktu, iblis mulai menyusupkan tipuan (talbis). Semakin bertambah zaman, penyimpangan tersebut semakin parah hingga puncaknya pada kaum Sufi belakangan (di zaman Ibnu Jauzi abad ke-6/7 H hingga zaman sekarang).Model-Model Tipuan Iblis (Talbis Iblis) terhadap Kaum SufiIbnu Jauzi memaparkan 4 model utama bagaimana iblis menipu mereka:Meninggalkan Dunia secara Totalitas & EkstremMereka menolak hal-hal yang bermanfaat bagi jasad (pakaian dan makanan yang layak). Mereka menganggap harta seperti kalajengking, padahal harta diciptakan untuk kemaslahatan (bangun masjid, haji, dakwah, nafkah). Bahkan ada yang memaksakan diri secara ekstrem seperti tidak mau tidur berbaring karena dianggap bertentangan dengan zuhud. Mereka bertujuan baik, namun karena sedikitnya ilmu, akhirnya terjebak mengamalkan hadis-hadis palsu.Cakupan Hadits: Rasulullah ﷺ melarang keras menyebarkan hadits palsu: "Siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka siapkan tempat duduknya di neraka." Dan hadis: "Siapa yang meriwayatkan suatu hadis dariku dan dia tahu itu dusta/palsu, maka dia adalah salah satu dari para pendusta.".Menjadikan Lintasan Hati (Al-Wasawis wal-Khatarat) sebagai Bahan PembicaraanMereka mulai fokus berdiskusi, berdebat, dan menulis buku tentang bisikan-bisikan serta lintasan hati, rasa lapar, dan kemiskinan. Salah satu tokoh ilmu yang terjebak menulis tentang hal ini adalah Al-Harits Al-Muhasibi.​Membuat Aturan, Istilah Khusus, dan Ritual Buatan (Bid'ah)Mereka mengklaim tasawuf memiliki sifat dan tahapan khusus. Contohnya pakaian muraqqa'ah (baju bertambal-tambal warna-warni yang sengaja dibuat dan memakai ijazah dari syekhnya).Ustadz Firanda meluruskan bahwa Nabi ﷺ dan sahabat memakai pakaian bertambal atau berbahan wool hanya karena kondisi terpaksa/miskin, bukan sengaja beribadah dengan cara itu.Cakupan Hadist (Kondisi Pakaian Salaf):Hadits Abu Musa Al-Asy'ari kepada anaknya (Abu Burdah): "Kalau kami bersama Nabi terkena hujan, kamu akan mengira bau kami seperti bau kambing karena pakaian kami dari wool (suf).".​Hadits Aisyah yang membuatkan selendang hitam dari wool untuk Nabi. Ketika Nabi berkeringat dan mencium bau kurang sedap dari wool tersebut, Nabi langsung membuangnya karena beliau menyukai wewangian.​Hadits Ibnu Abbas mengenai alasan perintah Mandi Jumat: Dahulu para sahabat adalah pekerja yang memakai pakaian dari bulu domba/kulit, ruangan masjid sempit dan atapnya pendek dari pelepah kurma. Saat musim panas mereka berkeringat hingga mengeluarkan bau kurang sedap yang mengganggu sesama. Nabi lalu memerintahkan: "Jika datang hari Jumat, mandilah dan pakailah minyak wangi." Ketika ekonomi membaik, mereka tidak lagi memakai baju bulu domba dan masjid pun diperluas.​Hadits Aisyah saat ditanya apa yang dilakukan Nabi di rumah: "Rasulullah menambal bajunya sendiri." Nabi juga wafat meninggalkan kain yang bertambal-tambal.​Riwayat Abu Utsman An-Nahdi melihat Khalifah Umar Bin Khattab melakukan tawaf memakai sarung yang memiliki 12 tambalan, salah satunya ditambal dengan kulit berwarna merah.​Selain pakaian bertambal, iblis menipu mereka dengan mengenalkan ritual ritual lain seperti Sama' (bernyanyi nasyid/qasidah terus-menerus), Al-Wajad, Raqs (joget/menari yang dianggap ibadah), Tasfiq (tepuk tangan), serta menyepi di tempat gelap/gua (khalwat) tanpa makan-minum yang aturannya tidak pernah diajarkan Nabi ﷺ maupun Sahabat. Akhirnya mereka menjauh dari ulama syariat karena merasa memiliki "ilmu batin", sedangkan ulama hanya tahu "ilmu zahir".Kondisi Akal Tidak Stabil Akibat Sengaja Lapar & Klaim KasyfKarena melaparkan diri secara ekstrem, akal mereka menjadi tidak stabil sehingga memunculkan khayalan-khayalan aneh. Mereka mengklaim Isyq (merasa rindu/hasrat asmara) kepada Allah berdasarkan khayalan visual sosok tertentu. Ibnu Jauzi menekankan adanya peran jin/setan di sini. Mereka juga mengklaim Kasyf (terbukanya tabir gaib), bisa mengambil ilmu langsung dari Nabi secara sadar/mimpi, hingga khurafat bertemu Nabi Khidir (padahal Nabi Khidir sudah wafat dan tidak pernah ditemui para sahabat nabi terdahulu).Kritik Ulama: Imam Syafi'i berkata: "Siapa yang belajar Sufiyah di pagi hari, belum sampai tengah hari atau petang kecuali kau dapati dia sudah menjadi orang yang pandir/bahlul.". Segala bentuk klaim kasyf atau ilham wajib dicek silang menggunakan Al-Qur'an dan Sunnah karena Umar bin Khattab yang diakui Nabi sebagai Muhaddats (orang yang diberi ilham) pun tidak selalu benar dan bisa salah.Munculnya Akidah Menyimpang (Hululiah, Ittihadiah, Wahdatul Wujud)Dari model-model tipuan di atas, muncullah tarekat-tarekat dengan akidah khusus yang menyimpang mengenai hubungan zat Allah dengan makhluk:Al-Ittihadiah (Menyatu)Dua zat yang melebur menjadi satu kesatuan (diibaratkan seperti kopi dan susu yang diaduk).Al-Hululiyah (Menempati)Zat Allah menempati makhluk, namun secara zat masih bisa dibedakan (diibaratkan seperti air di dalam gelas).Wahdatul Wujud (Kesatuan Wujud)Hanya ada satu zat di alam semesta ini. Makhluk hanyalah penampakan lahiriah dari Tuhan (diibaratkan seperti ombak dengan lautan).Kitab-Kitab Pendukung Sufi yang Ditahdzir (Diperingatkan) oleh Ibnu JauziIbnu Jauzi memperingatkan umat dari buku-buku yang membela gerakan Sufi menyimpang karena memuat hadis batil dan akidah rusak:Abu Abdurrahman As-SulamiMenulis buku yang membela Sufiyah dengan membuat/memuat hadis-hadis palsu.​Abu Nasr As-Sarraj: Menulis kitab Luma' As-Sufiyah yang berisi akidah rusak dan perkataan yang hina.​Abu Thalib Al-Makki: Menulis kitab Quutul Qulub. Berisi hadis batil, tata cara shalat malam/siang serta zikir yang tidak ada asalnya, akidah menyimpang, dan nukilan klaim-klaim orang yang mendapat kasyf.​Al-QusyairiMenulis kitab Ar-Risalah yang memuat istilah-istilah buatan Sufi seperti Fana, Baqa, Qabad, Basad, Al-Waqt, Al-Hal, Al-Wajid, dan Al-Mukasyafah.​Muhammad bin Thahir Al-MaqdisiDikritik karena memiliki pemahaman Ibahah (membolehkan melihat wanita cantik atau lelaki tampan dengan dalih keindahan) bahkan menulis buku tentang itu. Juga mengkritik ringan Abu Nu'aim Al-Asbahani dalam kitab Hilyatul Aulia karena melabeli para sahabat (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali) sebagai kaum Sufi.​Abu Hamid Al-Ghazali: Menulis kitab Ihya Ulumuddin. Al-Ghazali adalah ulama besar ushul dan fikih, namun bukunya kontroversial karena dipenuhi hadis batil/palsu (karena beliau kurang ilmu hadis), membahas ilmu mukasyafah, keluar dari pakem fikih, serta melakukan takwil kebatinan (seperti menakwil kisah Nabi Ibrahim melihat bintang, bulan, matahari sebagai hijab Allah, bukan benda langit asli) [48:43]. Buku ini memicu perselisihan (ada yang berlebih-lebihan memuji, ada yang menyuruh membakar). Jalan tengahnya: buku ini bermanfaat namun banyak masalah akidah di dalamnya, sehingga tidak cocok dibaca oleh orang awam, melainkan hanya untuk para ulama yang paham. Solusi Ibnu Jauzi: Ibnu Jauzi meringkas kitab Ihya tersebut, membuang seluruh hadis palsu dan perkara menyimpang ke dalam kitab buatannya yang berjudul Minhajul Qasidin (yang kemudian diringkas lagi oleh Al-Maqdisi menjadi Mukhtasar Minhajil Qasidin) agar aman dibaca orang awam.Kesimpulan Penyebab Manusia Tertarik pada Kaum SufiIbnu Jauzi memberi udzur bahwa para penulis di atas terjebak karena sedikitnya ilmu mereka tentang hadist Nabi ﷺ dan riwayat para sahabat/tabiin, sementara mereka memiliki semangat zuhud yang tinggi. Manusia awam sangat condong kepada metode Sufi karena secara lahiriah terlihat bersih dan bernilai ibadah, namun di dalamnya menawarkan kenyamanan bagi jiwa (seperti bernyanyi dan berjoget) yang jauh lebih santai daripada metode para Salaf yang terkesan tegas (seperti belajar, menulis, berpikir, dan jihad). Kaum Sufi zaman dahulu selalu menjauh dari penguasa dan sultan, sedangkan kaum Sufi zaman sekarang justru menjadi teman dekat penguasa dan pencari kedudukan dunia.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Talbis Iblis #12: TALBIS IBLIS TERHADAP KAUM ZUHUD

Talbis Iblis #12:Talbis Iblis terhadap Kaum ZuhudOleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A حفظه لله تعالىAsal-Usul Kata SufiAda lima pendapat para ulama mengenai asal-usul kata Sufi beserta kritikan dari Ibnu Jauzi:1.     Nisbah kepada sesorang yang di kenal dengan "Sufah": Namanya adalah Al-Ghuts bin Mur, seorang yang mengkhidmatkan dirinya kepada Al Masjidil Haram di zaman jahiliyah.2.     Nisbah kepada "Ahlus Suffah": Pendapat ini dikritik secara bahasa; jika dinisbahkan ke Suffah harusnya menjadi Suffi (bukan Sufi).3.     Nisbah kepada "Sufanah": Sejenis tumbuhan di padang pasir. Dikritik karena secara bahasa harusnya menjadi Sufani.4.     Nisbah kepada "Shufatul Kafa": Rambut yang tumbuh di belakang leher, seakan-akan seorang menggiring kepada Allah dan memalingkan dari makhluk.5.     Nisbah kepada kain wol (Shuf): Pendapat yang paling kuat karena pada awalnya mereka gemar memakai pakaian yang terbuat dari bulu domba/wol kasar. Sejarah Muncul Sufiah§  Ibnu Jauzi menjelaskan intinya :Asal dari tasawwuf menurut para sufiah adalah melatihan jiwa untuk menolak akhlak yang buruk (seperti hasad dan dengki), serta melatih untuk akhlak yang mulia (seperti zuhud, sabar, ikhlas, dan jujur). Sifat-sifat yang mulia ini yang akan mendatangkan ujian di dunia dan pahala di akhirat.§  Seiring berjalannya waktu, iblis menggoda mereka dalam banyak perkara, semakin bertambah zaman semakin parah, hingga puncaknya pada kaum sufi belakangan. Model-model Talbis iblis1.     Menolak Dunia secara Totalitas yang KeliruMereka menolak hal-hal yang bermanfaat bagi jasad (pakaian dan makanan yang layak). Bahkan, ada yang memaksa diri tidur sambil duduk tanpa mau berbaring karena dianggap mencari kenyamanan dunia. Karena minimnya ilmu, mereka terjebak mengamalkan hadis-hadis palsu tentang celaan dunia.2.     Menyibukkan Diri dengan Lintasan Hati (Al-Wasawis)Mereka mulai terlalu fokus mendiskusikan rasa lapar, kefakiran, serta bisikan-bisikan hati (al-wasawis wal khatarat), hingga menulis buku tentang hal ini diantaranya Al-Harits Al-Muhasibi salah seorang ahli ilmu di zaman tersebut terjebak dalam beberapa kesalahan, diantaranya kesalahan sufiah dan juga dalam masalah sifat.3.     Membuat Aturan & Ciri Khas SendiriMereka membuat ciri khas buatan seperti kewajiban memakai baju bertambal-tambal (muraqqa'ah) yang berwarna-warni yang memiliki ijazah khusus. Nabi dan para sahabat dahulu memakai baju tambalan atau baju wol karena kondisi ekonomi yang sulit (terpaksa), bukan sengaja dijadikan ritual ibadah. Di fase ini pula mulai muncul ritual joget, menari (raqs), tepuk tangan, dan menyanyi kasidah semalam suntuk yang diklaim sebagai ibadah. Mereka juga menjauh dari ulama dan merasa lebih tinggi karena mengklaim memiliki "ilmu batin", sedangkan ulama hanya punya "ilmu Zahir.4.     Khayalan Melampaui BatasAkibat melaparkan diri secara ekstrem, akal mereka menjadi tidak stabil sehingga memunculkan khayalan-khayalan aneh, hingga merasa rindu kepada sosok fisik yang dianggap Tuhan. Puncaknya memunculkan paham kufur seperti Al-Hululiyah (Tuhan menempati makhluk), Al-Ittihadiyah (Tuhan menyatu dengan makhluk), dan Wahdatul Wujud (kesatuan zat). Penyimpangan Akidah yang FatalMasalah madzahb bersatunya Allah dengan makhluk ada 3 model :1)    Al-Ittihadiyah: Persatuan (menyatu) yaitu Dua zat yang melebur menjadi satu kesatuan (seperti kopi dicampur susu).2)    Al-Hululiyah: Menempati, (seperti air di dalam gelas).3)    Wahdatul Wujud: Kesatuan dzat (wujud), menurut mereka di mana makhluk dianggap sebagai penampakan dari Tuhan itu sendiri.Ini semua adalah kekufuranKritik Terhadap Kitab-Kitab SufiIbnul Jauzi mentahdzir/memperingati kitab-kitab yang mendukung sufiah, diantaranya:1.     Abu Abdurrahman As-SulamiMembuat hadits-hadits palsu yang mendukung sufiah2.     Abu Nasr As-SarrajKitabnya berjudul Luma' as-Sufiyah, menyebutkan akidah-akidah yang rusak dan perkataan-perkataan yang hina3.     Abu Thalib Al-MakkiKitabnya berjudul Qutul Qulub, menyebutkan hadits-hadits bathil, shalat malam yang tidak ada asalnya, dzikir-dzikir palsu dan akidah yang menyimpang.4.     Al-QusyairiKitabnya berjudul Ar-Risalah, menyebutkan keajaiban-keajaiban dan istilah-istilah sufiah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam5.     Abu Hamid Al-GhazaliKitabnya berjudul Ihya Ulumuddin, Kitab ini kontroversial karena dipenuhi hadis batil/palsu (karena Al-Ghazali kurang menguasai ilmu hadis) dan mengandung takwil batiniah. Namun, Ibnu Jauzi meringkas faedah baik dari kitab ini ke dalam kitabnya yang berjudul Minhajul Qasidin setelah membuang hadis-hadis palsunya.Ibnul Jauzi Memberi Uzur Kepada Para Penulis KitabPara penulis kitab tersebut memiliki keterbatasan pengetahuan tentang hadis Nabi, esensi ajaran Islam, serta riwayat dari para sahabat, dan mereka semangat dengan istilah-istilah sufiah dan terpatri dalam jiwa mereka zuhud itu bagus, berbeda dengan sirah salaf yang sarat akan ketegasan ilmu dan perjuangan/jihad. Selain itu, jika kaum sufi terdahulu dikenal sangat menjauhi penguasa, kaum sufi sekarang justru banyak yang mendekati penguasa demi mencari kedudukan.Kesimpulan :Niat yang ikhlas dan semangat ibadah yang tinggi tidak akan bernilai di hadapan Allah jika tidak mengikuti petunjuk (ittiba') Rasulullah ﷺ. Tolok ukur kebenaran suatu amalan hati maupun amalan fisik wajib dikembalikan kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai pemahaman para sahabat, bukan berdasarkan perasaan, penampilan zuhud buatan, atau pengalaman mistis.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
B
Baby Nabilah Ulzanah

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Talbis Iblis #12: Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi - Ustadz Dr. Firanda Andirja M.A

1. Awal Mula dan Tipu Daya IblisPada awalnya, kaum Sufi dikenal sebagai orang-orang zuhud yang menjauhi dunia, menjauhi para penguasa, orang-orang yang melatih jiwa untuk menolak perangai buruk dan menumbuhkan akhlak mulia (ikhlas, sabar, jujur). Namun, Iblis masuk dan menipu mereka hingga memunculkan kerancuan.Melupakan Hak Fisik dan Harta: Mereka secara ekstrem menolak kenyamanan dunia (seperti enggan tidur berbaring) dan melupakan pentingnya harta untuk ibadah yaitu untuk umroh, haji, juga untuk berdakwah, dan pentingnya harta untuk keluarga.Terpedaya Hadits Palsu: Akibat kurangnya ilmu, mereka mudah menerima dan menyebarkan hadits-hadits palsu untuk memotivasi amalan mereka.2. Bentuk-Bentuk PenyimpanganSeiring berjalannya waktu, mazhab ini dipenuhi dengan praktik dan akidah yang menyimpang, antara lain:Pakaian Tambal Sulam: Memakai baju yang ditambal dengan kain warna warni dan menganggap setiap tambalan memiliki "sertifikat/ijazah" dari syekh. Padahal, Rasulullah ﷺ dan Umar bin Khattab pernah memakai baju tambalan murni karena kondisi ekonomi yang sulit, bukan sebagai bentuk ibadah yang disengaja.Ibadah Berupa Nyanyian: Menjadikan tarian, nasheed dan qasidah sebagai ritual ibadah, yang mana tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ.Merasa Lebih Mulia dari Ulama: Menganggap diri mereka lebih hebat karena merasa memiliki "ilmu hati atau batin".Kelaparan yang Disengaja: Menyiksa diri dengan kelaparan ekstrem hingga berhalusinasi, yang berujung pada rusaknya akidah.Klaim Bertemu Nabi: Sebagian meyakini bahwa Rasulullah ﷺ masih hidup secara fisik dan berjalan-jalan menemui orang-orang.3. Peringatan Ibnul Jauzi Terhadap Kitab-Kitab SufiIbnul Jauzi memperingatkan umat dari beberapa tokoh dan kitab yang mendukung penyimpangan Sufi:Abu Abdurrahman As-Sulami: Membuat hadits-hadits palsu untuk mendukung ajaran Sufi.Abu Nashr (Kitab Al-Luma'): Menyebutkan akidah dan perkataan yang menyimpang dan hina.Abu Thalib Al-Makki: Menulis hadits batil serta tata cara shalat dan zikir palsu yang tidak berasal dari Nabi ﷺ.Al-Ghazali (Kitab Ihya Ulumuddin): Beliau dikenal menafsirkan agama secara kebatinan. Kitab ini menyebutkan klaim bahwa kaum Sufi bisa melihat Nabi dan Malaikat dalam keadaan sadar hingga mencapai "persaksian" yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Meski kitab ini ada manfaatnya, banyak ulama melarang orang awam membacanya karena keburukannya. Ibnul Jauzi kemudian membuat ringkasan kitab ini dengan membuang hadits-hadits palsunya.4. Sebab Timbulnya PenyimpanganMinim Ilmu: Sedikitnya pemahaman agama dan kurangnya riwayat dari para Sahabat yang mereka pelajari.Hawa Nafsu: Jiwa manusia lebih menyukai kenyamanan (seperti ibadah dengan bernyanyi) dan kata-kata indah kaum Sufi, dibandingkan dengan sirah (perjalanan) Salaf (para Sahabat) yang tegas dalam syariat.5. Perbedaan Sufi Dahulu dan SekarangSufi Terdahulu: Sangat menjaga jarak dan menghindari penguasa (Sultan) serta jabatan.Sufi Zaman Sekarang: Bergeser menjadi kelompok yang justru mencari jabatan dan mendekati penguasa.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
D
Dinda fitrinita Runi setiawan

📍 Kabupaten Bondowoso

Talbis iblis #12

Talbis iblis#12Talbis iblis terhadap kaum sufi (bag.1)ustadz DR. Firanda Andirja MA hafidzhahullah Ada 5 pendapat dikalangan para ulama tentang asal usul sufiyah:1.nisbah kepada seseorang yang dikenal dengan sufah,nama aslinya Al ghouts bin murr.(Seseorang yang mengkhidmatkan dirinya kepada Masjidil haram di zaman jahiliyah)Nisbah kepada penghuni suffahseharusnya namanya menjadi suffiNisbah kepada sufana yaitu tumbuhan Karena mereka suka mencabut tumbuhan tersebut di Padang pasir.seharusnya menjadi suffani.Nisbah kepada soffatulkoffah yaitu rambut yang tumbuh di belakang leherseakan-akan orang sufi menggiring orang kepada Allah Subhanahu wata'ala.dan memalingkan dari makhluk.Nisbah kepada bulu domba suffkarena pakaian mereka dari wol.Sejarah munculnya sufiyahPada asalnya kaum sufiah ini adalah kaum yang Zuhud.Menurut imam Ibnu Jauzi:intinya sufiyah disini mereka ada latihan jiwa untuk menolak akhlak yang buruk dan melatih untuk akhlak yang mulia.Demikianlah awalnya mereka,kemudian iblis menggoda mereka dalam banyak hal.semakin bertambah zaman semakin parah sehingga puncaknya pada orang orang belakangan ini .sampai akhirnya banyak penyimpangan.Macam-macam talbis iblis terhadap kaum sufiyah:1.iblis menggambarkan kepada kaum sufiyah, hakikat nya yg dimaksud dgn sufi adalah meninggalkan dunia secara global atau totalitas.~akibatnya mereka menolak hal hal yg dapat bermanfaat untuk jasadnya.(Contoh: meninggalkan pakaian bagus,makanan,) Akhirnya mereka menyamakan harta seperti kalajengking.mereka lupa bahwa harta itu di ciptakan untuk kemaslahatan.Bahkan mereka memaksa jiwa untuk melakukan perkara perkara yang berat (sampai tidak mau berbaring).mungkin tujuan mereka baik Zuhud terhadap dunia (tidak ingin bersenang-senang,hidup prihatin)hanya saja mereka tidak menempuh jalan yang benar.diantara mereka Krn sedikitnya ilmu akhirnya mereka mengamalkan hadits hadits palsu.Talbis iblis terhadap persangkaan2kemudian datang kaum sufiah lain dan berbicara tentang lintasan hati.kelaparan,kemiskinan.Mereka mengatur madzhab sufiyah.mereka menulis sifat2 khusus kaum sufi yang tidak di miliki oleh orang lain.(Pakaian yg suka di tambal2)bahkan ada ijazah tambalan dari syaikhnya.Dahulu nabi shalallahu alaihi wasallam memang memakai baju yg demikian tetapi bukan sengaja di tambal tetapi karena tidak ada baju lagi.Ibnu Abbas berkata:dulu orang orang dalam kondisi sulit (miskin) sehingga mereka menggunakan baju dari kulit (wol) dan mereka bekerja menggunakan pakaian tersebut,dan dulu masjid mereka sempit dan pendek, hanyalah bangunan yang sederhana,dan suatu hari nabis shalallahu alaihi wasallam sholat di musim yg panas,dan orang orang berkeringat sehingga keluar dari mereka bau yang tidak enak, sehingga mengganggu satu dgn yang lainnya.saat mencium bau yang tidak enak , Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata: wahai kaum muslimin sekalian jika datang hari Jumat,maka mandilah,pakailah wewangian.maka setelah itu Allah datangkan kebaikan kebaikan.dan mereka tidak lagi pakai wol dan masjid semakin luas.sehingga yang tadinya bau sudah hilang.Abu Utsman berkata:aku melihat nabi,Umar bin khattab dia thawaf di Ka'bah dan dia Khalifah ketika itu dan dia pakai sarung bawahannya dan ada 12 tambalan.dan salah satunya dari kulit.=⟩jaman dulu menambal pakaian karena tidak ada pakaian lagi,beda dgn kaum sufi yang memang sengaja bajunya di model tambalanCiri-ciri sufi: memakai baju tambalan,dengerin nasyid pakai alat musik,berqasidah,menari nari,bertepuk tangan.kemudian berkembang semakin parah, mulai lah guru mereka berbicara tentang kondisi hati,kondisi kondisi tertentu,dan semakin parah semakin jauh dari para ulama.bahkan mereka menganggap diri mereka lebih hebat dari para ulama,Krn mereka memiliki ilmu bathin sedangkan ulama hanya memiliki ilmu dhohir.Diantara mereka ada yg saking laparnya,melaparkan diri sehingga akalnya tidak stabil sehingga menimbulkan khayalan yg aneh aneh.berkhayal bahwasanya Allah adalah seseorang yang indah bentuknya sehingga mereka rindu dgn sosok tersebut.akhirnya mereka berhasrat.Madzhab bersatunya Allah dengan makhluk:1 Al ibtidahiyah(persatuan atau menyatu)dzat yg bersatu (contoh seperti kopi di aduk dgn susu menjadi kopi susu)Al khululiyah (menempati)Seperti air yg di tempatkan ke gelas 3 wahdatul wujudSeperti ombak,.Imam Ibnu Jauzi berkata : dari perkara-perkara talbis iblis,maka muncullah akidah akidah yang menyimpang dan setelah itu muncullah torikot2 yg banyak.Dan akhirnya rusaklah aqidah dan bid'ah mereka dgn berbagai model.Ibnul Jauzi mentahdzir ( memperingatkan)kitab kitab yg mendukung sufiah,di antaranya1 abu Abdurrahman as sulami( membuat haditz palsu yg mendukung sufiah)2 abu Nasr assyarrajLuma' assufiyah (menyebutkan akidah2 yg rusak dan perkataan perkataan yg jelek)3 abu Thalib Al makki-kitab kutul qulubHadist2 bathil dan ada sholat2 malam yg tidak ada asalnya dan dzikir dzikir palsu dan aqidah yang menyimpang .Sebagian ada yang mengatakan bahwa nabi masih hidup dan suka jalan-jalan,ada yang datang lewat mimpi.Mengaku ada khasf lewat nabi Khidir.Merasa ada Ilham datang langsung dari AllahAda yang mengatakan ada habib yang juga isra' mi'raj.Abdul Karim al khusyairi dalam kitab Ar risalahkeajaiban keajaiban sufiyah dgn berbagai macam istilah istilah yang tidak di ajarkan oleh nabiMengatakan bahwa sahabat sahabat nabi adalah kaum sufi.5.muhammad Thahir Al maqdisi- kitab sofwatu tassawufMenyebutkan hal hal yang seseorang yang berakal malu untuk menyebutnya.Kitab ihya'ululmuddin karya abu Hamid Al ghazali= di tulis buku untuk kaum sufiyah, sebagaimana metode orang orang sufiyah dan dia penuhi bukunya tersebut dengan hadits hadits bathil.dan dia keluar dari aturan fiqih padahal dia ahli fiqih dan dia berkata: adapun yang Allah sebutkan dalam surat Al an'am yg Ibrahim mengatakan "aku melihat bintang,melihat rembulan,melihat matahari," (maksud beliau melihat bintang,rembulan ,matahari bukan benda benda langit melainkan cahaya yang merupakan hijab Allah.)Bantahan Ibnu Jauzi: tafsiran tersebut di sebut tafsir kebathilan.Namun imam Ibnul Jauzi memberikan udzur kepada beliau karena mungkin beliau tidak tau ilmunya hanya menukil nukil hadist palsuDan sebab mereka semua menulis bukunya g seperti ini Krn ilmu mereka sedikit tentang hadits hadits nabi,ilmu mereka tentang Islam juga kurang,dan riwayat dari para sahabat dan tabi'in juga kurang,dan mereka semangat menuju kepada istilah-istilah sufiyah yg ditulis mereka,karena mereka senang dgn tulisan orang orang sufiyah Krn sudah terpatri dalam jiwa bahwa Zuhud itu bagus.dan karena melihat perkataan mereka indah.adapun kalau baca sejarah para sahabat agak keras dan kecondongan manusia kepada kaum sufiyah sangat kencang karena metode kaum sufiyah dhohirnya bersih dan ibadah namun kenyataannya di dalamnya ada kenyamanan(nyanyi dan joget joget) dan namanya jiwa cenderung kepada yang menyenangkan tersebut."Dulu kaum sufiyah jaman awal,mereka menjauh dari para penguasa dari para Amir para sultan,sufiyah jaman sekarang temannya penguasa"#banyak yg ghulluw terhadap kitab tersebut dan ada yang mengatakan harus di bakar#

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
D
Dina Permata Sari

📍 Kota Tangerang Selatan

Talbis Iblis #12 - Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi

1. Asal-Usul Penamaan "Sufi"Para ulama berbeda pendapat mengenai asal muasal kata "Sufi". Terdapat lima pendapat utama yang sering disebutkan:Sufah: Dinukil dari nama seseorang di zaman Jahiliyah bernama Al-Ghut bin Mur (bergelar Sufah) yang mengabdikan seluruh waktunya untuk menjaga Masjidil Haram.Ahlu Suffah: Disandarkan pada para sahabat miskin yang tinggal di emperan masjid (Suffah). (Pendapat ini dikritik Ibnul Jauzi secara tata bahasa, karena seharusnya menjadi Suffiy, bukan Sufi).Sufanah: Diambil dari nama sejenis tumbuhan di padang pasir. (Juga dikritik karena seharusnya menjadi Sufani).Shafatul Kofa: Diambil dari arti rambut yang tumbuh di belakang leher/tengkuk.Suf (Bulu Domba/Wool): Disandarkan pada kebiasaan awal kaum ini yang gemar memakai pakaian kasar terbuat dari suf (bulu domba/wool) sebagai bentuk kebersahajaan. Ini merupakan pendapat yang paling masyhur dan kuat.2. Awal Mula Munculnya TasawufPada awalnya, tujuan gerakan kesufian sangatlah mulia. Mereka fokus pada Riyadhatun Nafs (melatih jiwa) untuk membersihkan diri dari perangai buruk seperti hasad, dengki, dan cinta dunia. Mereka berusaha menghiasi diri dengan akhlak mulia seperti zuhud (tidak rakus dunia), sabar, ikhlas, dan jujur.Namun seiring berjalannya waktu, kurangnya ilmu syar'i membuat iblis perlahan-lahan menyusupkan tipu dayanya hingga ajaran ini melenceng jauh dari tujuan awalnya.3. Empat Model Tipu Daya (Talbis) Iblis Terhadap Kaum SufiIbnul Jauzi merangkum kerusakan yang menimpa kaum Sufi dalam empat tahapan atau model tipu daya iblis:Model Pertama: Pemahaman Ekstrem Meninggalkan Dunia Mereka menganggap zuhud adalah membuang dunia secara total. Akibatnya, mereka menolak makanan lezat atau pakaian bagus yang sebenarnya mubah (boleh) dan bermanfaat bagi tubuh. Mereka memaksakan diri pada ibadah yang menyiksa (misal: menolak tidur berbaring). Hal ini sering terjadi karena mereka mengamalkan hadis-hadis palsu akibat minimnya ilmu agama.Model Kedua: Sibuk Mengulik Lintasan Hati (Al-Wasawis wal Khatarat) Muncul generasi sufi yang mulai terlalu fokus berbicara tentang keutamaan lapar, kemiskinan, serta mengulik halusinasi atau lintasan-lintasan pikiran di dalam hati. Hal ini dipelopori oleh buku-buku khusus yang membahas perkara ini (seperti karya Al-Harith Al-Muhasibi).Model Ketiga: Membuat Syariat, Istilah, dan Aturan Sendiri Kaum sufi mulai menciptakan aturan tarekat (jalan/metode) yang spesifik. Tipu daya iblis dalam fase ini meliputi:Pakaian Khas (Muraqqa'ah): Mewajibkan pakaian tambal-tambal bersimbol khusus. Padahal, Nabi ﷺ dan sahabat dahulu memakai pakaian bertambal karena kondisi ekonomi yang miskin dan terpaksa, bukan menjadikannya sebagai desain pakaian ibadah.Menjadikan Nyanyian dan Tarian sebagai Ibadah: Masuknya tradisi Sama' (mendengarkan qasidah/musik) dan Raqs (menari/joget) dengan alasan mengalami Wajd (ekstase spiritual).Merendahkan Ulama Syariat: Mereka merasa lebih mulia dengan mengklaim memiliki "ilmu batin", dan merendahkan para ulama ahli fikih yang dianggap hanya mengerti "ilmu zahir".Model Keempat: Akidah Sesat dan Klaim Kasyaf Puncak tipu daya iblis terjadi ketika kaum sufi menyiksa diri dengan rasa lapar ekstrem hingga akal mereka berhalusinasi. Dari sinilah muncul klaim Kasyaf (tersingkapnya tabir gaib), mengaku bisa bertemu langsung dengan Allah, rindu ('isyq) pada visualisasi yang mereka kira Tuhan (padahal bisa jadi jin), hingga mengaku rutin bertemu Nabi Khidir atau Nabi Muhammad ﷺ secara sadar di dunia nyata.Hal ini bermuara pada tiga kesesatan akidah terbesar:Al-Ittihadiyah: Meyakini bahwa Tuhan dan makhluk bisa menyatu menjadi satu entitas (ibarat kopi dan susu yang diaduk).Al-Hululiyah: Meyakini bahwa Tuhan menempati ruang pada makhluk-Nya (ibarat air yang dituang menempati gelas).Wahdatul Wujud: Meyakini bahwa alam semesta ini adalah penampakan/wujud dari Tuhan itu sendiri.4. Kritik Ibnul Jauzi Terhadap Buku-Buku SufiIbnul Jauzi secara khusus memberikan tahdzir (peringatan) terhadap berbagai kitab yang menjadi rujukan kaum sufi menyimpang karena memuat hadis palsu, akidah batil, serta ibadah karangan manusia. Kitab-kitab yang dikritik antara lain:Buku-buku karya Abu Abdurrahman As-Sulami yang terbukti memalsukan hadis untuk membela sufi.Qutul Qulub karya Abu Thalib Al-Makki yang berisi salat-salat fiktif, zikir palsu, serta klaim kasyaf.Hilyatul Auliya' karya Abu Nu'aim Al-Asbahani yang dikritik karena melabeli para sahabat mulia (seperti Abu Bakar dan Umar) sebagai Sufi, padahal ajaran sufi sudah berubah wujud.Ihya 'Ulumuddin karya Abu Hamid Al-Ghazali. Kitab ini banyak memuat hadis palsu dan cara penafsiran ayat Al-Qur'an secara "kebatinan" yang menyimpang. Oleh karena itu, Ibnul Jauzi turun tangan membuang hadis-hadis batil di dalamnya dan meringkas kitab tersebut menjadi kitab yang lebih aman dan bermanfaat, yaitu Minhajul Qashidin.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
A
Amika Aspar

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis Iblis #12

Talbis Iblis #12: Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi - Ustadz Dr. Firanda Andirja M.AAsal-usul Istilah Sufi menurut Para Ulama * Gelar Zaman Jahiliyah Nisbah kepada seseorang bernama Al-Ghuts bin Mur yang bergelar Sufah. Pada zaman Jahiliyah, ia mengkhususkan diri dan seluruh waktunya untuk berkhidmat di Masjidil Haram. * Kekeliruan Nisbah Ahlus Suffah Banyak yang mengira berasal dari kata ahlus suffah (kaum miskin di Masjid Nabawi). Secara kaidah bahasa Arab, penisbatan ini keliru karena seharusnya menjadi Suffi, bukan Sufi. * Sifat Tumbuhan Padang Pasir Nisbah kepada tumbuhan sufanah, karena kaum ini suka mencabut tumbuhan tersebut. Pendapat ini dikritik karena secara bahasa harusnya menjadi sufani. * Filosofi Rambut Leher Nisbah kepada saofatul kaofa (rambut belakang leher), yang bermakna seorang Sufi menuntun manusia berpaling dari makhluk hanya menuju Allah. * Penggunaan Kain Wol (Suf) Nisbah kepada pakaian wol kasar yang awalnya mereka pakai sebagai simbol kesederhanaan, meskipun jika berkeringat kain ini memicu aroma kurang sedap.Hakikat Awal Sufiah dan Fase Perubahannya * Tujuan Murni Generasi Awal Pada mulanya, gerakan ini murni bertujuan melatih jiwa (riyadhah), membuang Perangai buruk seperti hasad dan riya, serta menumbuhkan akhlak mulia seperti zuhud, sabar, dan ikhlas. * Masuknya Tipu Daya Iblis Seiring bergantinya zaman, iblis mulai menyusupkan penyimpangan secara perlahan hingga puncaknya menguasai kaum Sufi generasi belakangan dengan berbagai bidah.Empat Model Tipuan Iblis terhadap Kaum Sufi * Totalitas Meninggalkan Dunia secara Keliru Menganggap zuhud harus menolak total pakaian dan makanan yang bermanfaat bagi jasad, memandang harta seperti kalajengking, hingga menyiksa diri dengan tidak mau tidur berbaring. * Terjebak Hadis Palsu karena Minim Ilmu Memiliki niat yang baik untuk prihatin, namun karena tidak paham ilmu hadis, mereka menjadikan hadis-hadis palsu sebagai dasar utama dalam memotivasi ibadah. * Menyibukkan Diri dengan Lintasan Hati Mulai berfokus membahas secara berlebihan tentang rasa lapar, kemiskinan, serta was-was atau lintasan hati, bahkan hingga menulis buku khusus tentang hal tersebut. * Membuat Aturan dan Ciri Khas Sendiri Menciptakan standar khusus seperti kewajiban memakai baju tambal-tambal (muraqaah) yang diberikan ijazah, menjauh dari ulama syariat, serta mengklaim memiliki ilmu batin.Penyimpangan Akidah dan Istilah Baru * Ritual Musik dan Tarian (Sama dan Raqs) Memasukkan unsur lantunan qasidah, nasyid, tepuk tangan, hingga joget-joget yang diklaim sebagai bentuk ibadah khusus untuk membersihkan suci jiwa. * Ilusi Cinta dan Munculnya Pemahaman Sesat Akibat memaksakan lapar secara ekstrem, akal menjadi tidak stabil hingga memicu khayalan rindu berhasrat (isyq) kepada sosok rupawan yang dikira sebagai Allah. * Tiga Mazhab Penyatuan Zat yang Kufur Melahirkan pemahaman Ittihadiyah (dua zat melebur jadi satu), Hululiyah (Tuhan menempati makhluk), dan Wahdatul Wujud (kesatuan zat bahwa makhluk adalah penampakan Tuhan). * Klaim Terbukanya Tabir Gaib (Kasyf) Mengaku bisa mengambil ilmu langsung dari Nabi secara sadar atau mimpi, atau merasa ditemui Nabi Khidir untuk menerima wahyu, Ilham, serta klaim bisa Isra Mikraj.Kritik Imam Ibnul Jauzi terhadap Kitab-Kitab Sufi * Kitab Luma as-Sufiyah (Abu Nasr assarraj) Dikritik karena memuat akidah yang rusak serta perkataan-perkataan yang dinilai hina dan keluar dari koridor syariat. * Kitab Quutul Qulub (Abu Thalib Al-Makki) Memuat banyak hadis batil, zikir palsu, tata cara salat malam yang tidak ada asalnya, serta banyak menukil klaim kasyf yang tidak jelas sumbernya. * Kitab Ihya Ulumuddin (Abu Hamid al-Ghazali) Meskipun penulisnya ahli usul dan fikih, kitab ini kontroversial karena dipenuhi hadis batil, takwil batiniah (seperti menyebut bintang dan matahari adalah hijab Allah), serta indikasi wahdatul wujud.Penyebab Manusia Mudah Terpikat Kaum Sufi * Kurangnya Ilmu Riwayat Para penulis dan pengikutnya memiliki keterbatasan ilmu tentang hadis nabi serta atsar para sahabat, sehingga mudah terbuai oleh untaian kata-kata yang tampak indah. * Mencari Kenyamanan dalam Ibadah Jiwa manusia secara tabiat menyukai hal yang santai. Berbeda dengan sirah sahabat yang penuh jihad dan ketegasan, metode sufi menawarkan kenyamanan lewat nyanyian dan tarian semalam suntuk. * Pergeseran Sikap terhadap Penguasa Jika kaum Sufi zaman dahulu sangat menjaga jarak dari penguasa demi menjaga keikhlasan, kaum Sufi belakangan justru mendekat dan menjadi pencari kedudukan dunia.KesimpulanPenyimpangan kaum Sufi terjadi karena perpindahan dari zuhud yang berdasar ilmu menjadi ritual yang berdasar perasaan dan khurafat. Islam mengajarkan zuhud yang dicontohkan Nabi dan sahabat, yaitu tetap menunaikan hak jasad dan keluarga, bukan dengan cara membuat syariat baru seperti menyiksa diri, menambal baju demi pujian, atau beribadah lewat tarian dan musik yang merupakan bentuk talbis iblis.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
N
Nailah Nurul Hanifah

📍 Jakarta Selatan

Talbis Iblis #12: Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi

Asal-Usul Kata "Sufi"Terdapat lima pendapat ulama mengenai asal-usul kata "Sufi" secara etimologi:Nisbah kepada Al-Ghauts bin Mur (bergelar Sufah): Seseorang pada zaman Jahiliyah yang memusatkan seluruh waktunya untuk berkhidmat di Masjidil Haram.Nisbah kepada Ahlus Suffah: Kelompok sahabat miskin yang tinggal di emperan Masjid Nabawi. Namun, Ibnu al-Jauzi mengkritik ini karena secara kaidah bahasa Arab, nisbah dari kata suffah seharusnya menjadi Suffi (dengan harakat dammah), bukan Sufi.Nisbah kepada Sufanah: Sejenis tumbuhan di padang pasir yang sering dicabut oleh kaum tersebut. Ini juga dikritik karena nisbahnya seharusnya menjadi Sufani.Nisbah kepada Shofatul Qafa: Rambut yang tumbuh di belakang leher. Bermakna filosofis bahwa seorang Sufi memalingkan manusia dari makhluk menuju Allah (menggiring manusia kepada kebenaran).Nisbah kepada Shuf (Bulu Domba): Merujuk pada pakaian wall/bulu domba yang biasa mereka gunakan. Kain ini jika terkena keringat atau air akan mengeluarkan bau tidak sedap.Hakikat Sufi pada Masa AwalIbnu al-Jauzi menjelaskan bahwa pada awalnya, gerakan tasawuf atau Sufi adalah gerakan zuhud.Tujuan Awal: Melatih jiwa (riyadhatun nafs) untuk melawan perangai/akhlak buruk (hasad, dengki, ingin dipuji), dan menumbuhkan perangai/akhlak mulia seperti zuhud, sabar, ikhlas, jujur, dan bijaksana (hilm).Kaum Sufi generasi pertama ini murni bertujuan mencari pahala akhirat dan membersihkan hati dari keterikatan dunia.Perubahan dan Model Tipuan IblisSeiring berjalannya waktu, iblis mulai menyusupkan tipuan (talbis) kepada kaum Sufi. Semakin berganti zaman, penyimpangannya semakin parah, terutama pada generasi belakangan (abad ke-6 hingga ke-7 Hijriah pada masa Ibnu al-Jauzi).Ibnu al-Jauzi membagi tipuan iblis ini ke dalam beberapa model utama:Model 1: Tujuannya meninggalkan dunia secara totalitas & ekstremIblis membisikkan bahwa hakikat zuhud adalah menolak semua yang bermanfaat bagi jasad. Mereka menolak makanan bergizi dan pakaian yang layak, serta menganggap harta murni seperti kalajengking.Mereka melupakan bahwa harta diperlukan untuk kemaslahatan agama (bangun masjid, haji, nafkah, dakwah).Bahkan mereka memaksakan jiwa untuk melaksanakan sesuatu yang berat. Muncul perilaku ekstrem seperti sengaja tidak mau berbaring saat tidur (tidur sambil duduk) karena dianggap terlalu nyaman.Penyebab: Niatnya baik, tetapi karena sedikitnya ilmu, mereka akhirnya berdalil menggunakan hadis-hadis palsu (maudhu') yang memotivasi hal-hal ekstrem tersebut.Model 2: Menyibukkan Diri dengan Lintasan Hati (Wasawis & Khatarat)Generasi berikutnya mulai berlebihan membahas bisikan hati, rasa lapar, dan kemiskinan. Mereka bahkan menulis buku khusus mengenai lintasan-lintasan hati ini, salah satunya dilakukan oleh Al-Harith al-Muhasibi.Model 3: Membuat Istilah dan Aturan Baru yang Mengada-adaKaum Sufi mulai mengaturnya menjadi sebuah mazhab tersendiri dengan syarat, tahapan, dan ciri khas pakaian khusus.Baju Tambal-Tambal (Al-Muraqqa'ah): Mereka sengaja membuat baju yang dipenuhi tambalan warna-warni sebagai simbol kesucian, bahkan tambalan tersebut menggunakan ijazah dari syekhnya.Nabi ﷺ dan para sahabat (seperti khalifah Umar bin Khattab yang pakaiannya memiliki 12 tambalan) memakai baju wol atau bertambal karena kondisi ekonomi yang sulit saat itu (kebutuhan & terpaksa), bukan sengaja dibuat-buat sebagai ritual ibadah. Ketika ekonomi membaik, Nabi ﷺ dan para sahabat meninggalkan pakaian wol tersebut.Ritual Nyanyian dan Tarian (Sama', Wajad, Raqs): Mereka menciptakan ritual ibadah berupa nyanyian qasidah, tepuk tangan, hingga joget/tarian yang dianggap sebagai ekspresi spiritualitas tingkat tinggi.Merasa Lebih Hebat dari Ulama: Mereka menjauh dari ulama dan menganggap ilmu syariat para ulama hanyalah "ilmu zahir", sedangkan mereka memiliki "ilmu batin."Model 4: Khayalan Spiritual akibat Melaparkan DiriAkibat sengaja melaparkan diri secara ekstrem, akal mereka menjadi tidak stabil sehingga memunculkan khayalan-khayalan aneh.Mereka mengaku kasmaran/rindu berat (isyq) kepada Allah, karena mengkhayalkan Allah sebagai sosok bermanifestasi indah atau tampan.Contoh pengakuan dari kitab Al-Insanul Kamil karya Abdul Karim al-Jili yang menggambarkan sensasi "bersatu dengan Tuhan" yang puncaknya justru berakhir pada ejakulasi pasca-sadar, sebuah indikasi kuat adanya keterlibatan gangguan jin/setan akibat ritual yang menyimpang.Model 5: Pemahaman Penyimpangan Zat (Hululiyah, Ittihadiyah, Wahdatul Wujud) Iblis menjatuhkan mereka pada keyakinan keliru mengenai hubungan pencipta dan makhluk:Al-Ittihadiyah (persatuan/menyatu): Dua zat yang melebur jadi satu kesatuan (diibaratkan seperti susu dicampur kopi).Al-Hululiyah (menempati): Zat Tuhan menempati atau masuk ke dalam jasad makhluk (diibaratkan seperti air di dalam gelas).Wahdatul Wujud (kesatuan dzat): Kesatuan eksistensi, di mana makhluk dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu zat tunggal, dan makhluk hanyalah penampakan-Nya (diibaratkan seperti ombak dengan laut).Ustadz menegaskan bahwa semua paham ini adalah bentuk kekufuran yang juga terjadi pada khilafnya kaum Nasrani mengenai hakikat Isa dan Tuhan.Ibnu Jauzi menegaskan bahwa semua keyakinan ini adalah penyimpangan akidah. Fenomena Mengaku Kasyf dan Khurafat Zaman SekarangKasyf adalah klaim terbukanya tabir gaib. Banyak tokoh sufi mengklaim bisa mengambil ilmu langsung dari Nabi ﷺ baik lewat mimpi maupun secara sadar (yakazhah). Ada pula klaim nabi sering jalan-jalan (misal mitos Nabi sering jalan-jalan di Surabaya/Bekasi).Klaim Bertemu Nabi Khidir: Bantahan: Jika Khidir masih hidup dari zaman Nabi Musa, usianya sudah lebih dari 3.200 tahun. Pertanyaannya: Mengapa Khidir tidak pernah datang membantu jihad Nabi Muhammad ﷺ? Mengapa Abu Bakar, Umar, dan ribuan sahabat tidak pernah mengaku bertemu Khidir, tetapi orang zaman sekarang (bahkan lewat perantara broker/proposal wali) dengan mudahnya mengaku bertemu Khidir berbahasa Indonesia?Klaim Isra Mi’raj Berulang: Ada tokoh yang mengaku bisa Isra Mi'raj 70 kali dalam sehari. Padahal Nabi Muhammad ﷺ saja hanya mengalaminya sekali seumur hidup.Ada juga penghinaan kepada Nabi bahwa Nabi ﷺ keluar dari kubur untuk mencium lutut seorang guru. Ini adalah bentuk perendahan terhadap nabi terakhir yang paling mulia.Kritik Ibnu al-Jauzi terhadap Kitab-Kitab SufiIbnu al-Jauzi memperingatkan umat dari beberapa kitab yang mendukung ajaran Sufi menyimpang:Abu Abdurrahman as-Sulami: Banyak membuat/memasukkan hadis palsu yang mendukung sufiyah.Abu Nashr as-Sarraj (Luma' as-Sufiyah): Berisi akidah rusak dan perkataan yang hina.Abu Thalib al-Makki (Quutul Qulub): Berisi hadis batil, ritual shalat malam tanpa asal-usul, zikir palsu, dan klaim-klaim kasyf.Al-Qusyairi (Ar-Risalah): Memasukkan istilah-istilah spiritual yang tidak diajarkan nabi.Muhammad bin Thahir al-Maqdisi: Memiliki pemahaman ibahah (membolehkan melihat wanita cantik atau lelaki tampan dengan dalih spiritual/melihat keindahan Allah).Abu Hamid al-Ghazali (Ihya Ulumuddin):Al-Ghazali adalah ulama besar ahli ushul dan fiqih, namun kitab Ihya miliknya kontroversial karena dipenuhi hadis-hadis batil (Ibnu al-Jauzi memberi uzur bahwa Al-Ghazali kurang menguasai ilmu hadis).Berisi takwil kebatinan (seperti mengartikan bintang, bulan, matahari pada kisah Nabi Ibrahim sebagai cahaya hijab Allah, bukan benda langit asli).Karena banyaknya masalah akidah dan hadis palsu, kitab ini tidak cocok untuk konsumsi orang awam.Solusi: Ibnu al-Jauzi meringkas kitab tersebut dan membuang hadis palsunya menjadi kitab Minhajul Qasidin (yang kemudian diringkas lagi oleh Al-Maqdisi menjadi Mukhtasar Minhajul Qasidin).Mengapa Orang Tertarik pada SufismePara penulis sufiyah terjebak karena keterbatasan ilmu mereka tentang hadis shahih dan riwayat para sahabat (atsar).Manusia secara psikologis tertarik pada sufisme karena metode ibadahnya dikemas secara indah dan menawarkan kenyamanan (seperti bernyanyi, berjoget, qasidah semalam suntuk), berbeda dengan sirah para sahabat Nabi yang terkesan keras (penuh dengan narasi jihad, ketegasan hukum, dan disiplin ilmu). Jiwa manusia cenderung menyukai hal yang menyenangkan. Karena itu banyak orang tertarik tanpa memeriksa kebenarannya.Perubahan Akhir: Kaum Sufi zaman dahulu terkenal sangat menjauhi penguasa/sultan dan lari dari dunia, sedangkan kaum Sufi belakangan justru banyak yang mendekati sultan demi mencari kedudukan dan jabatan duniawi.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
E
Elsa Ulfah Hakim

📍 Luar Indonesia

Talbis Iblis 12: Talbis Iblis Terhadap Kaum Sufi

Talbis Iblis 12: Talbis Iblis Terhadap Kaum SufiUstadz Dr. Firanda AndirjaKhilaf di kalangan para ulama dan kaum sufiah tentang asal muasal kata sufiah ada 5 pendapat, yaitu:Nisbah kepada seseorang yang dikenal dengan suffah, namanya adalah Al Ghouts bin Murr, ia adalah seorang yang mengkhidmatkan dirinya kepada Al Masjid Al Haram di zaman jahiliyah.Nisbah kepada penghuni suffah namun Ibnu Jauzi mengkritik karena seharusnya jika dinisbahkan kepada penghuni suffah maka seharusnya namanya suffii.Nisbah kepada suffanah yaitu semacam tumbuhan  karena mereka suka mencabut tumbuhan tersebut di padang pasir. Namun hal ini juga dikritik oleh Ibnu Jauzi. Jika dinisbahkan kepada suffanah maka seharusnya namanya menjadi suufaanii bukan sufi.Nisbah kepada sofwatul qofa yaitu rambut yang tumbuh di belakang leher seakan-akan seorang sufi menggiring orang kepada Allah dan memalingkan dari makhluk.Nisbah kepada suuf (bulu domba) karena pakaian mereka dari wol.Sejarah muncul sufiah:Kaum sufiah ini pada asalnya adalah kaum yang zuhud. Intinya tasawwuf atau sufiyah di sisi mereka ada pelatihan jiwa untuk menolak akhlak yang buruk dan melatih untuk akhlak yang mulia, seperti zuhud, sikap sabar atau bijak, ikhlas, jujur. Sifat-sifat mulia ini yang akan mendatangkan pujian di dunia dan di pahala di akhirat. Demikianlah asalnya mereka. Kemudian mereka berubah karena iblis menggoda mereka dalam banyak perkara. Sehingga mereka rancu dalam berbagai hal. Semakin bertumbuh zaman semakin parah, hingga puncaknya pada orang-orang belakangan. Jika generasi sudah lewat maka iblis semakin menggoda generasi berikutnya sampai iblis benar-benar menguasai kaum sufiah belakangan.Model-model talbis iblis:Di antaranya ada iblis menggambarkan kepada kaum sufiah yang dimaksud dengan hakekat tasawwuf adalah meninggalkan dunia secara totalitas. Akhirnya mereka terjebak dan menganggap bahwa zuhud yang benar adalah dengan meninggalkan dunia. Akhirnya mereka meninggalkan hal-hal yang sebenarnya bermanfaat untuk jasad mereka. Mereka menyamakan harta dengan kalajengking. Mereka lupa bahwa harta itu diciptakan untuk kemaslahatan. Bahkan mereka memaksakan jiwa untuk melakukan perkara-perkara yang berat sampai-sampai di antara mereka ada yang tidak ingin berbaring. Tujuan mereka baik ingin zuhud tetapi jalan yang ditempuh tidak benar. Di antara mereka ada yang karena sedikitnya ilmu akhirnya ia mengamalkan hadits-hadits palsu dan ia tidak sadar.Hadits-hadits palsu itu tidak boleh diamalkan bahkan dilarang untuk disebarkan.Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ“Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.” (HR. Bukhari Muslim)Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:مَنْ حَدَّثَ عَنِّيْ بِحَدِيْثٍ يَرَيْ أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبَيْنِ“Siapa yang menyampaikan hadits dariku dengan suatu hadits yang masih diduga bahwa itu adalah dusta, maka ia termasuk salah satu dari dua pendusta.” (HR. Muslim)Pembahasan terkait dengan Al-Wasawis wal Khatarat  yaitu prasangka-prasangka, apa yang melewati lintasan-lintasan hati. Kemudian datanglah kaum-kaum sufiah yang lain dan mereka mulai membahas tentang lapar, kemiskinan, bisikan-bisikan dan lintasan-lintasan hati dan bahkan mereka menulis buku tentang Al-Wasawis wal Khatarat. Di antaranya Al Harits Al Muhasibi, ia adalah ahli ilmu di zaman tersebut yang terjebak dalam beberapa kesalahan.Mereka mulai mengatur dan merapihkan madzhab sufiah. Mereka ingin menjelaskan bahwa tasawwuf itu memiliki sifat-sifat khusus yang tidak dimiliki oleh yang lain, seperti Al Muroqo’ah (baju yang ditambal), mendengar nasyid-nasyid, menari-nari, tepuk tangan.Dahulu Rasulullah pernah menggunakan baju yang ditambal-tambal. Namun Rasulullah bukan sengaja menggunakannya tetapi terpaksa karena kondisinya saat itu.Aisyah Radhiallahu’anha pernah ditanya mengenai kegiatan Rasulullah di rumah.Aisyah Radhiallahu ‘anha menjawab:"Beliau adalah seorang manusia biasa; beliau menjahit sendiri bajunya (menambal-nambal bajunya) memerah sendiri kambingnya, dan melayani serta mengerjakan urusan-urusan rumah tangganya sendiri." (HR. Ahmad, dan dinilai shahih oleh para ulama).Kemudian perkara mereka semakin berkembang dan semakin parah. Mulailah guru-guru mereka berbicara tentang kondisi-kondisi hati. Mereka semakin parah sampai jauh dari para ulama. Bahkan mereka menganggap bahwa mereka lebih hebat dari pada ulama karena ulama hanya belajar ilmu dzohir sedangkan mereka memiliki ilmu batin.Di antara mereka sengaja melaparkan diri dan saking laparnya membuat akalnya tidak stabil dan muncul khayalan-khayalan aneh. Hingga mereka mengkhayal Allah adalah seseorang yang indah bentuknya sehingga mereka rindu untuk bertemu dengan sosok tersebut.Empat model talbis iblis ini memunculkan aqidah-aqidah yang menyimpang. Setelah itu muncullah tariqah-tariqah yang banyak. Maka rusaklah aqidah mereka.Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa madzhab bersatunya Allah dengan makhluk ada 3 model, yaitu:Al-Ittihadiyyah (persatuan): dua zat yang bersatu seperti susu+kopi = kopi susu.Al-Hululiyyah (menempati): contoh seperti air yang ditumpahkan ke dalam gelas.Wahdatul Wujud (kesatuan zat): satu zat yang dilihat seperti 2 atau tiga zat seperti ombak, lautan itu satu tapi memiliki ombak yang bermacam-macam dan ini semua ada penampakan dari lautan. Jadi menurut mereka makhluk dan Allah satu kesatuan. Makhluk itu adalah penampakan Tuhan. Dan hanya orang yang ahli yang bisa melihat kesatuan tersebut. Hal ini adalah kekufuran.Iblis terus menggoda mereka sehingga mereka terjatuh ke dalam berbagai macam bid’ah. Akhirnya mereka memiliki sunnah-sunnah tersendiri yang bukan sunnah Nabi.Ibnu Jauzi berkata bahwa senantiasa iblis membuat mereka kacau balau dengan berbagai macam bid’ah hingga mereka membuat sunnah-sunnah spesial untuk kaum mereka sendiri.Ibnu Jauzi membahas orang-orang yang menulis tentang sufiah dan Ibnu Jauzi memperingatkan kitab-kitab yang mendukung sufiah, di antaranya adalah:Abu Abdurrahman Assulami yang membuat hadits-hadits palsu yang mendukung sufiah (yang menyimpang).Abu Nasr Assaraj yang menulis buku berjudul Lama Asufiah yang berisi aqidah-aqidah yang rusak dan perkataan-perkataan yang hina.Abu Thalib Almakki yang menulis buku berjudul Qutul Qulub. Di dalam buku tersebut berisi hadits-hadits bathil dan aqidah yang menyimpang.Dalam buku tersebut juga menjelaskan tentang sebagian orang yang mengalami kasyf (membuka tabir) yaitu orang yang diberikaan anugerah oleh Allah sehingga terbuka tabir darinya.Sehingga terkadang mereka berbicara tentang ghaib. Mereka berbicara jika orang yang mengalami kasyf itu ada berbagai macam cara, diantaranya:mengambil ilmu langsung dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendatangi mereka dalam keadaan sadar atau mimpi. Sebagian sufiah masih menyangka bahwa Nabi masih hidup dan suka jalan-jalan.ada yang menganggap bahwa kasyf melalui Nabi Khidir yang datang. Mereka mengatakan Nabi Khidir masih hidup. Padahal Nabi dan sahabat tidak pernah sekalipun berbicara bertemu Nabi Khidir.Ada yang menganggap bahwa mendapatkan ilham dari Allah, atau firasat, atau suara-suara.Abdul Karim bin Hawazin Al-Quusyairi dengan kitabnya yaitu Ar risalah yang berisi tentang istilah keajaiban-keajaiban sufiah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Muhammad bin Thahir Al Maqdisi yang menyebutkan dibukunya hal-hal yang apabila seorang berakal malu untuk menyebutnya seperti boleh melihat wanita cantik, lelaki tampan. Ia menyebutkan juga hikayat yang tidak benar, yaitu bahwa ada seorang ulama yang melihat gadis cantik di Mesir kemudian berkata “shallallahu ‘alaihaa” (bersalawat kepada gadis cantik tersebut).Abu Nuim Al Asbahani dalam kitabnya Hilyatul Auliya, ia menyebutkan para sahabat sebagai kaum sufiah. Ibnu Jauzi pun membantah karena istilah sufiah sekarang bukan sekedar Zuhud dan mereka memiliki keyakinan-keyakinan tertentu.Abu Hamid Al Ghazali dengan kitabnya yang paling terkenal yaitu Ihya Ulumuddin. Ia mengisi bukunya dengan hadits-hadits bathil. Tetapi Ibnu Jauzi memberi udzur bahwa mungkin ia tidak tahu bahwa itu adalah hadits-hadits bathil. Ia juga menyebutkan ilmu tentang mukasyafah (ilmunya kaum sufiah), ia juga keluar dari aturan fiqih padahal ia ahli fiqih. Ia juga menafsirkan perkataan Nabi Ibrahim yang melihat bintang, rembulan, matahari yang ada di dalam surah Al An’am itu bukan benda-benda langit tetapi itu adalah cahaya yang merupakan hijab Allah. Ini hanyalah takwil padahal Nabi Ibrahim memang membicarakan tentang bintang, rembulan dan matahari karena pada saat itu banyak orang yang menyembah bintang, rembulan dan matahari. Ibnu Jauzi membatahnya bahwa penafsiran seperti itu seperti penafsir kebatinan yang keluar dan kontekstual tapi tidak memiliki kaidah. Dalam bukunya yang lain, Al Ghazali berkata bahwa kaum sufi dalam kondisi terjaga mereka dapat melihat malaikat, para Nabi dan mendengar suara-suara hingga mereka sampai pada persaksian sesuatu yang tidak bisa diungkapkan kata-kata.Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa kitab Ihya Ulumuddin itu memiliki faedah dan ada hal yang tidak benarnya juga.Ibnu Jauzi pun akhirnya menulis buku ringkasan Ihya Ulumuddin agar buku ini menjadi bermanfaat dengan diberi judul Minhajul Khasidin. Beliau hilangkan hadits-hadits palsu di dalamnya. Kemudian buku tersebut diringkas lagi oleh Al Maqdisi dengan judul Mukhtasar minhajil.Di akhir, Ibnu Jauzi memberikan uzur kepada para penulis ini sebab karena ilmu mereka yang sedikit tentang hadits-hadits Nabi dan ilmu mereka tentang islam dan riwayat sahabat nabi juga kurang. Mereka akhirnya semangat kepada istilah-istilah sufiah yang ditulis oleh mereka karena mereka senang dengan tulisan-tulisan kaum sufiah dan mereka sudah terpaut dihati mereka bahwa zuhud itu baik. Mereka juga melihat kondisi orang sufiah itu baik dan perkataannya indah. Sedangkan ketika membaca sejarah sahabat agak sulit. Kecondongan manusia terhadap kaum sufiah sangat kuat karena tariqah (metodenya kaum sufiah) dzohirnya bersih dan ibadah namun kenyataannya di dalamnya ada “kenyamanan” seperti menari, menyanyi, yang mereka menganggap itu semua ibadah dan jiwa manusia itu juga cenderung condong kepada hal yang menyenangkan.Ibnu Jauzi berkata dulu sufiah di zaman awal mereka menjauh dari para penguasa namun sufiah zaman sekarang, teman-temannya para penguasa (mencari kedudukan).

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
D
Deni trisiananingrum

📍 Kota Administrasi Jakarta Pusat

Talbis iblis bagian 12

Kitab TALBIS IBLIS - “Tipuan Iblis”karangan Abdurrahman bin Ali bin Muhammad Ibnul JauziBagian 12Oleh Ustadz Firanda AndirjaSumber: Youtube Firanda Andirja Talbis Iblis-12BAB KESEPULUH: TENTANG TIPU DAYA IBLIS PADA PARA SUFI DARI GOLONGAN AHLI ZUHUDBagian 2Asal usul Sufi ◦ Nisbah kepada seseorang yang dikenal dengan Shufah. Namanya adalah Al ghouts bun murr, seorang yang mengkhidmadkan dirinya kepada al masjid al haram di zaman jahiliyyah. ◦ Nisbah kepada penghuni suffah (ahli serambi). Sebab Ahli Shuffah adalah orang-orang fakir yang datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa keluarga dan harta. Maka dibuatkan untuk mereka serambi (shuffah) di masjid Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan dikatakan Ahli Shuffah. Menisbatkan sufi kepada Ahli Shuffah adalah keliru karena jika demikian,seharusnya dikatakan Shuffi ◦ Nisbah kepada ash shufanah yaitu tumbuhan, karena mereka suka mencabut tumbuhan tersebut dipadang pasir. Ini juga keliru karena jika dinisbatkan kepadanya, seharusnya dikatakan Shufani ◦ Nisbah kepada shufah al qafa yaitu rambut yang tumbuh dibelakang leher seakan akan seorang sufi menggiring kepada Allah dan memalingkan dari makhluk. ◦ Nisbah kepada ash-shuf (bulu domba ) karena pakaian mereka dari wolIbnul jauzi berkata: "Demikianlah para pendahulu kaum ini. Iblis menipu mereka dalam beberapa hal, kemudian menipu orang orang setelah mereka dari para pengikut mereka. Setiap kali berlalu satu generasi, dia menambah campur tangannya pada generasi kedua sehingga bertambah tipuannya pada mereka hingga dia menguasai orang-orang belakangan dengan penguasaan yang sempurna.Model2 talbis iblis bagi Sufi: ◦ tujuannya secara umum meninggalkan dunia namun berlebihan. maka mereka menolak apa yang memperbaiki badan mereka dan menyamakan harta dengan kalajengking. Mereka lupa bahwa harta diciptakan untuk maslahat. Mereka berlebihan dalam memberatkan jiwa hingga di antara mereka ada yang tidak berbaring. Mereka ini tujuannya baik, hanya saja tidak berada di jalan yang benar. Di antara mereka ada yang karena sedikitnya ilmu, mengamalkan hadis-hadis palsu yang sampai kepadanya tanpa dia sadari." ◦ Pembahasan terkait dengan tentang kelaparan, kemiskinan, bisikan-bisikan (waswas), dan pikiran- pikiran, ◦ Pembahasan yang memperhalus madzhab tasawuf dan mengkhususkannya dengan sifat-sifat yang membedakannya,yaitu dengan mengenakan jubah tambal sulam, mendengarkan musik spiritual (sama'), mengalami keadaan ekstase (wajd), menari, bertepuk tangan, dan mereka dibedakan dengan kebersihan dan kesucian yang berlebihan. ◦ para syaikh sibuk dengan meletakkan aturan- aturan untuk mereka, berbicara tentang pengalaman-pengalaman spiritual mereka, dan menjauhkan diri dari para ulama. Bahkan mereka melihat apa yang mereka alami atau ilmu-ilmu yang mereka miliki hingga mereka menamakannya "ilmu batin" dan menjadikan ilmu syariat sebagai "ilmu zahir" ◦ Menuju khayalan rusak rusak sehingga mengaku mencintai Yang Haq dan tergila-gila kepada-Nya, seolah-olah mereka membayangkan sosok yang indah rupanya lalu tergila-gila kepadanya. Orang-orang ini berada antara kekufuran dan bid'ah.Setelahnya munculah banyak thariqat2 dalam sufi: ◦ Di antara mereka ada yang mengatakan hulul (Allah bersemayam dalam makhluk), ◦ di antara mereka ada yang mengatakan ittihad (bersatunya Allah dengan makhluk) ◦ diantara mereka ada yang mengatakan wahdatul wujud (kesatuan zat). Iblis terus menggoncang mereka dengan berbagai macam bid'ah hingga mereka membuat sunnah-sunnah untuk diri mereka sendiri.Ibnul jauzi mentahzir/memperingatkan kitab2 yang mendukung sufiah, diantaranya: ◦ datang Abu Abdurrahman As-Sulami lalu menyusun untuk mereka kitab "As-Sunan" dan mengumpulkan untuk mereka "Haqa'iq At-Tafsir". Dia menyebutkan dari mereka hal-hal yang mengherankan dalam menafsirkan Al- Quran dengan apa yang terlintas dalam pikiran mereka tanpa menyandarkannya kepada dasar-dasar ilmu, tetapi mereka memaksakan tafsiran tersebut sesuai dengan madzhab mereka. Sungguh mengherankan kehati-hatian mereka dalam hal makanan tetapi bebas dalam menafsirkan Al- Quran. ◦ Dan Abu Nasr As-Sarraj menyusun untuk mereka sebuah kitab yang dinamainya "Luma' Ash-Shufiyyah" (Kilauan Para Sufi). Dia menyebutkan di dalamnya akidah yang buruk dan perkataan yang tercela ◦ Abu Thalib Al-Makki menyusun untuk mereka "Qut Al-Qulub" (Makanan Hati). Dia menyebutkan di dalamnya hadits-hadits palsu dan hal-hal yang tidak memiliki dasar berupa shalat-shalat hari dan malam serta hal-hal palsu lainnya. Dia menyebutkan di dalamnya akidah yang rusak dan mengulang- ulang perkataan "berkata sebagian ahli mukasyafah" - ini adalah perkataan yang kosong. Dia menyebutkan di dalamnya dari sebagian sufi bahwa Allah Azza wa Jalla menampakkan diri di dunia kepada para wali-Nya. ◦ Abu Nu'aim Al-Ashbahani lalu menyusun untuk mereka kitab "Al-Hilyah" dan menyebutkan dalam batasan-batasan tasawuf hal-hal yang mungkar dan buruk. Dia tidak malu menyebutkan dalam para sufi: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan para pemimpin sahabat radhiyallahu anhum. Dia menyebutkan hal-hal yang mengherankan dari mereka dan menyebutkan di antara mereka Syuraih Al-Qadhi, Al-Hasan Al- Bashri, Sufyan Ats-Tsauri, dan Ahmad bin Hanbal. ◦ Abdul Karim bin Hawzan Al-Qusyairi menyusun untuk mereka kitab "Ar- Risalah" lalu menyebutkan di dalamnya hal-hal mengherankan tentang fana', baqa', qabdh, basth, waqt, hal, wajd, wujud, jam', tafriqah, shahw, sukr, dzauq, syurb, mahw, itsbat, tajalli, muhadharah, mukasyafah, lawaaih, thawaali', lawaami', takwin, tamkin, syari'ah, haqiqah, dan lain-lain dari percampuradukan yang tidak berarti apa-apa. Dan penafsirannya lebih mengherankan lagi. ◦ Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi datang lalu menyusun untuk mereka "Shafwat At-Tashawwuf". Dia menyebutkan di dalamnya hal-hal yang membuat orang berakal malu menyebutkannya. Kami akan menyebutkan darinya apa yang pantas disebutkan di tempat-tempatnya jika Allah menghendaki. ◦ "Ibnu Thahir menganut madzhab ibahah (membolehkan yang haram)." Dia berkata: "Dia menyusun sebuah kitab tentang dibolehkannya memandang kepada yang dicintai. Dia mengemukakan di dalamnya hikayat dari Yahya bin Ma'in berkata: 'Aku melihat seorang budak perempuan di Mesir yang cantik, maka aku berdoa: shallallahu alaiha.' Dikatakan kepadanya: 'Apakah engkau berdoa untuknya?' Dia berkata: 'Shallallahu alaiha wa 'ala kulli malih (semoga Allah memberkahi dia dan setiap yang cantik).'" ◦ Abu Hamid Al-Ghazali lalu menyusun untuk mereka kitab "Al-Ihya'" (Ihya Ulumudin) dengan cara kaum tersebut dan memenuhinya dengan hadits-hadits palsu padahal dia tidak mengetahui kepalsuan-kepalsuan tersebut. Dia berbicara tentang ilmu mukasyafah dan keluar dari kaidah fikih. Dia berkata bahwa yang dimaksud dengan bintang, matahari, dan bulan yang dilihat Ibrahim shallallahu alaihi wasallam adalah cahaya-cahaya yang merupakan hijab Allah Azza wa Jalla, bukan benda-benda yang dikenal. Ini termasuk jenis perkataan kaum Bathiniyyah. ◦ Abu hamid al ghazali dalam kitabnya "Al-Mufshih bil Ahwal": "Sesungguhnya para sufi dalam keadaan terjaga mereka menyaksikan malaikat dan ruh para nabi, mendengar suara-suara dari mereka dan mengambil manfaat dari mereka. Kemudian keadaan naik dari menyaksikan bentuk kepada derajat-derajat yang sempit untuk diungkapkan oleh ucapan."Pendapat Ibnul jauzi tentang kitab2 tersebut: Sebab penyusunan karya-karya seperti ini oleh orang- orang tersebut adalah sedikitnya pengetahuan mereka tentang sunnah, Islam, dan atsar, serta perhatian mereka kepada apa yang mereka anggap baik dari jalan kaum tersebut. Mereka menganggapnya baik karena telah tertanam dalam jiwa-jiwa pujian terhadap zuhud, dan mereka tidak melihat keadaan yang lebih baik dari keadaan kaum ini dalam penampilan, dan tidak ada perkataan yang lebih halus dari perkataan mereka. Dalam perjalanan hidup salaf terdapat sejenis kekasaran.Kemudian kecenderungan orang-orang kepada kaum ini sangat kuat karena apa yang kami sebutkan bahwa ini adalah jalan yang zahirnya kebersihan dan ibadah, sedangkan di dalamnya terdapat kenyamanan dan sama' (musik spiritual), dan tabiat cenderung kepadanya. Para sufi awal menjauh dari sultan/pemimpin dan para penguasa, tetapi kemudian mereka menjadi teman-teman.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026

TALBIS IBLIS terhadap orang2 sufi

1. Asal-usul Istilah Sufi Ustadz menjelaskan beberapa pendapat mengenai etimologi kata "Sufi", termasuk nisbah kepada sufah (orang yang berkhidmat di Masjidil Haram), ahlus suffah, tumbuhan sufanah, hingga pakaian dari bulu domba (suf).2. Pergeseran Hakikat SufiAwalnya, tasawuf adalah upaya melatih jiwa untuk zuhud dan berakhlak mulia. Namun, seiring waktu, kaum Sufi menyimpang karena godaan iblis, yang puncaknya terlihat pada masa Ibnu Jauzi (abad ke-6/7 Hijriah).3. Model-Model Tipuan Iblis Globalitas Meninggalkan Dunia: Menganggap zuhud harus total meninggalkan manfaat jasad, bahkan sampai melakukan hal ekstrem (seperti tidak mau berbaring).Sibuk dengan Lintasan Hati (Khatarat): Mulai fokus pada hal-hal batiniah hingga menulis buku tentangnya.Ciri Khas Pakaian dan Ritual: Menciptakan simbol-simbol khusus seperti baju tambal (muraqqa'ah), musik, zikir, dan tarian (raqs) yang dianggap sebagai bagian dari ibadah.Khayalan dan Akidah Menyimpang: Munculnya pemahaman seperti hululiyah, ittihadiyah, dan wahdatul wujud (persatuan Tuhan dengan makhluk).4. Kritik terhadap Kitab-Kitab Sufi Ustadz menyebutkan beberapa karya yang dikritik Ibnu Jauzi karena dianggap mengandung hadis palsu, bidah, atau akidah yang menyimpang, seperti:Luma' al-Sufiyah karya Abu Nasr al-Sarraj.Quut al-Qulub karya Abu Thalib al-Makki.Ar-Risalah karya al-Qusyairi.Ihya Ulumuddin karya al-Ghazali (yang dikritik karena memuat banyak hadis batil, meskipun Ibnu Jauzi memberi uzur kepada penulisnya).5. Kesimpulan Banyak orang cenderung mengikuti jalan Sufi karena zahirnya terlihat bersih dan ibadah yang dilakukan dirasa lebih 'nyaman' bagi jiwa daripada syariat yang tegas. Namun, Ustadz menekankan bahwa metode yang benar harus selalu berpijak pada al-Qur'an dan Sunnah, bukan sekadar perasaan atau khayalan.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI16 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 57 | Orang² Beriman Akan Melihat Allāh di Akhirat

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهMasuk kita dalam pembahasan yg baru yaitu tentang keyakinan Ahlussunnah wal jamaah didalam melihat Allāh dihari Kiamat.Beliau mengatakan rahimahullāh setelah berbicara tentang masalah Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk, berpindah kepada poin yang lain di antara aqidah² Ahlu Sunnah wal jama’ah yang telah menyelisihi mereka sebagian ahlu bid’ah yaitu tentang masalah Ar Rukyat yang dimaksud adalah rukyatullah atau rukyatulmu’mininali rabbihim liyaumil qiyamah/ melihatnya orang-orang yang beriman kepada Rabb mereka dihari kiamat, bagaimana keyakinan Ahlussunnah wal jamaah yang berdasarkan Al-Qur’an dan juga Sunnah dengan pemahaman para shahabat radhiyallahu ta’ala anhum, beliau mengatakan,والرُّؤْيةُ حقٌّ لأهلِ الجَنَّةِ، بِغَيْرِ إحَاطَةٍ ولا كَيْفيَّةٍ،Dan melihat maksudnya adalah melihatnya orang-orang yang beriman kepada Allāh subhanahu wa ta’ala adalah حقٌّ sesuatu yang benar itu akan terjadi bukan sesuatu yang batil bukan sesuatu yang meragukan itu adalah sebuah keyakinan kebenaran yang akan terjadi,لأهلِ الجَنَّةِ،untuk para penduduk surga dan tidak masuk ke dalam surga kecuali orang-orang yang beriman dan penduduk surga mereka adalah orang-orang yang beriman disini bukan hanya umatnya Rasulullah ﷺ tapi mereka adalah untuk seluruh penduduk surga termasuk penduduk surga yang mereka adalah umat-umat terdahulu, umat para Nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ jadi melihat Allāh subhanahu wa ta’ala bukan hanya umatnya Rasulullah ﷺ tapi juga orang-orang yang beriman sebelum kita sebelum umat Nabi ﷺ maka mereka juga akan masuk dalam hal ini yaitu mereka akan melihat Allāh subhanahu wa ta’alaلأهلِ الجَنَّةِ،untuk penduduk surga.Dan diantara dalilnya adalah Firman Allāh subhanahu wa taalaوُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌإِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌDan wajah² dihari tersebut dalam keadaan berseri kepada Rabb mereka, mereka memandang.Yang dimaksud disini adalah wajah para penduduk Surga, mereka dalam keadaan berseri-seri memandang kepada Allāh subhanahu wa ta’alaحقٌّ لأهلِ الجَنَّةِ،Ini adalah sebuah kebenaran untuk para penduduk Surga.Beliau mengatakan,بِغَيْرِ إحَاطَةٍ ولا كَيْفيَّةٍ،Tanpa إحَاطَةٍ memandang tanpa meliputi karena Allāh subhanahu wa ta’ala adalah Yang maha besar, sementara kita adalah makhluk yang sangat lemah yang sangat kecil di hadapan Allāh, kita beriman bahwasanya kita akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala tapi bukan berarti kita meliputi, karena ini sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh makhlukوَلَا يُحِيْطُوْنَ بِهٖ عِلْمًاDan mereka tidak mungkin meliputi Allāh subhanahu wa ta’ala secara keilmuan secara ilmu dan Allāh mengatakanلَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَبْصَارَۚPandangan² tidak mungkin men-idrak/ meliputi Allāh subhanahu wa ta’ala.Kita akan memandang kita akan melihat tapi tidak mungkin kita meliputi semuanya, kita terlalu kecil untuk yang demikian, terlalu lemah untuk melakukan yang demikiaلَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُAllāh subhanahu wa ta’ala tidak mungkin di-idrak oleh pandangan², sehingga beliau mengatakanبغير إحاطةMelihat penduduk surga kepada Allāh subhanahu wa ta’ala tanpa meliputi semuanya, jadi Tidak semua orang yang memandang itu bisa meliputi semuanya, kita bisa memandang rumah dari depan kita memandang rumah tapi memandang bukan berarti kita bisa bisa melihat secara keseluruhan yang ada di belakang sana, bagaimana kita melihat yang ada disebelah kanan & kiri bagaimana kita bisa melihatnya.Jadi disana ada ruqyah dan di sana ada indroq, rukyat memandang dan disana ada indraq yaitu meliputi, didalam sebuah ayat ketika Allāh subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang Musa dan juga kaumnya ketika dikejar oleh Firaun dan juga bala tentaranya kemudian mereka sudah sampai di Pantai ketika mereka melihat ke belakang ternyata mereka sudah melihat Fir’aun dan juga bala tentaranya,Allah mengatakanفَلَمَّا تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰٓى اِنَّا لَمُدۡرَكُوۡنَۚ‏[QS Asy syu’ara 61]Ketika dua kelompok ini sudah saling melihat satu dengan yang berarti ini bukan jarak yang jauh lagi sudah saling melihat satu dengan yang lainقَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰٓى اِنَّا لَمُدۡرَكُوۡنَBerkata para pengikut Musa sesungguhnya kita sudah mau disusul.Mereka sudah akan sampai kepada kita. ini menunjukkan bahwasanya Ar Rukyat bukan berarti men-idrak, bisa melihat bukan berarti bisa disusun di sana ada ruqyah di sana ada idraq , sekedar hanya melihat belum tentu bisa meliputi sebagian ahlu bid’ah ada yang mengingkari rukyatullah ﷻ dengan mendatangkan firman Allāh subhanahu wa ta’alaلَا تُدْرِكُهُ الْاَبْصَارُAllāh subhanahu wa ta’ala tidak di-idrak oleh pandangan².Mereka memahami tidak di idraq berarti tidak bisa dilihat ini istidlal yang khoto beda idraq dengan Rukyat , idraq artinya adalah meliputi /melihat secara keseluruhan, maka benar kita tidak akan mungkin meliputi dan melihat secara keseluruhan tapi kita bisa melihat bagaimana yang Allāh kabarkan sebagaimana dikabarkan oleh Nabi ﷺ jadi yang dinafikan disini adalah idraq bukan rukyat dan yang mengingkari rukyatullah ﷻ diantaranya adalah Mua’tazilah Jahmiyyah, mereka mengingkari rukyatullah,بغير إحاطةTanpa adanya ihtho,Itu yg pertama berdasarkan firman Allāh tadi, kemudian,ولا كيفيةDan juga tanpa kaifiyah,Itu maksudnya tanpa kita mengetahui bagaimana kaifiyahnya sebagainya ucapan sebelumnya ketika pembahasan kalamullah, Kalamullah itu dimulai dari Allah tanpa kaifiyah maksudnya kita tidak mengetahui kaifiyah demikian pula melihat Allāh,kita harus meyakini itu adalah Haq sebagaimana dalam ayat dan haditsdan jangan kita mengatakan bagaimana, kemudian masukkan akal dalam masalah ini dan mengatakan kalau kita melihat oh berarti Allāh berada di arah Allāh memiliki arah sementara Allāh kan tidak di atas tidak dibawah dikiri, Allāh tidak memiliki arah, kalau kita mengatakan kita melihat Allāh berarti Allāh memiliki arah, oleh karena itu mereka berdasarkan dalil akal ini juga akhirnya mengingkari rukyatullah, karena kalau kita menetapkan rukyatullah berarti kita menetapkan arah bagi Allāh dan ini adalah menyerupakan Allah’ dengan makhluk.Darimana penafian ini karena di sini sudah mulai dia memberikan kaifiyah, kita akan melihat Allāh tentang kaifiyah Allāh subhanahu wa ta’ala Dialah Yang Lebih tau karena Allāh subhanahu wa ta’ala Maha Mampu untuk melakukan segala sesuatu, Allāh mampu untuk menjadikan kita bisa melihat Allāh di Yaumal Qiyamah bagaimana datangnya maka kita yakini kita akan melihat Allāh subhanahu wa ta’ala meskipun kita belum mengetahui tentang kaifiyyahnya tapi kita yakin akan ada disana kaifiyahnya.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
N
Nursafitri

📍 Kabupaten Berau

Talbis iblis #12 talbis iblis terhadap kaum sufi

Talbis iblis #12 : Talbis iblis terhadap kaum sufiUstadz Firanda andirja حفظهTipuan syaitan terhadap kaum shufiyah.menurut khilaf dikalangan para ulama dan juga para kaum sufiyyah tentang asal muasal kata sufiyyahPendapat pertama Nisbah kepada seseorang yang dikenal dengan (suffah) yaitu sekelompok orang yang dikenal dengan gelarnya adalah sufah dan namanya adalah Al ghaust bin murr yang dizaman jahiliyah orang ini berkhidmatkan dirinya kepada Al masjidil haramPendapat kedua nisbah kepada penghuni suffah        Yang dikritik oleh imam Ibnul Jauzi kalau nisbah kepada suffah harusnya suffi padahal yang dikenal adalah صوفيّ ada و Karana suffah itu bukan suffah tapi suwfah kalau nisbah kepadanya صوفيّ sehingga tidak tepat dinisbahkan kepada ahli assuffahNisbah kepada suffanah yaitu tumbuhan , Karena mereka suka mencabut tumbuhan tersebut di padang pasirKalau dinisbahkan kepada suwfana seharusnya menjadi suwfaniNisbah kepada sufa Al qofa yaitu rambut yang tumbuh di belakang leher , seakan akan seorang sufi menggiring orang kepada Allah subhanahu wa ta'ala (Al Haq) dan memalingkan orang dari makhluqNisbah kepada Ash shuf (bulu domba) karena pakaian mereka dari wolImam Ibnul JauziIntinya : 1 asal dari tasawuf menurut para sufiah adalah pelatihan jiwa untuk menolak akhlak yang buruk dan melatih untuk akhlak yang mulia seperti Zuhud ,sikap sabar , atau bijak , ikhlas, jujur , sifat2 mulia ini yang akan mendatangkan pujian didunia dan juga pahala di akhirat. Demikianlah awalnya mereka, Ini hakikat suffiah. 2 . Lalu iblis menggoda mereka dalam perkara > semakin bertambah parah hingga puncaknya pada orang2 belakangan .Kata Ibnul Jauzi dulunya seperti ini " maka iblis pun menipu mereka membuat mereka rancu dalam banyak hal , kemudian lebih parah lagi iblis menipu lagi orang orang yang datang setelah generasi tersebut , jika generasi sudah lewat maka iblis semakin menggoda generasi berikutnya , iblis semakin menipu mereka , sampai iblis benar2 menguasai pada kaum shufiyah.Model2 talbis iblisTujuannya secara umum meninggalkan dunia> namun berlebihanPembahasan terkait dengan persangkaan2 /lintasan hati , kemudian datanglah kaum2 yang lain , mulailah mereka berbicara tentang lapar , kemiskinan, lintasan2 hati , dan bahkan mereka menulis buku tentang lintasan2 hati .Tasawuf memiliki sifat2 khusus yang tidak dimiliki oleh orang lain seperti Al muroqoah (pakaian yang ditambal2)  ciri kaum shufiyah memakai baju tambal2 ,Menuju pada khayalan yang aneh2Lalu rusaklah aqidah dan bi'dah mereka dengan berbagai modelMadzhab bersatu nya Allah dengan makhluk ada 3 modelAl ittihadiyah (persatuan) /menyatu > 2 dzat yang bersatu , contoh " susu dicampur dengan kopi diaduk menjadi kopi susu , sehingga tidak terlihat lagi mana kopi dan mana susu" .Al hululiyah (menempati) contoh " air yang ditumpahkan kedalam gelas , gelasnya ada dan juga airnya , tapi terbedakan satu dengan yang lain , ada air menempati tempat itu namanya hululiyahWahdatul wujud(kesatuan dzat) bukan  2 dzat satu dzat tapi dilihat dari sisi pandangan seperti 2 atau 3 , padahal dia satu kesatuan .

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
S
Sortha Nauli

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Ringkasan Bab 12 # Talbis Iblis terhadap kaum sufi

TALBIS IBLIS 12 # Talbis Iblis terhadap kaum sufiUstadz DR.Firanda Andirja M.AAda beberapa khilafiyah tentang asal muasal sufiah. Nisbah kepada seseorang yg di kenal dg suffah, nama nya Al ghouts bin mur (seseorang yg mengkhidmatkan diri nya kpd mesjdil haram) di zaman jahiliyah.Nisbah kepada penghuni suffahNisbah kpd suffanah (tumbuhan) krn bnyk suku mencabut tumbuhan tsb di padang pasir.Nisbah kpd suffi yaitu rambut yg tumbuh di belakang leher, seakan seorg sufi menggerakan kpd Allah.Nisbah kpd bulu domba krn pakaian suff dri wol.menurut Ibnu Jauzi intinya tasawuf atau sufiah, di sisi mereka ada pelatihan jiwa dan berusaha untuk menolak perangai dan akhlak2 yg buruk dan berusaha membawa perangai kpd akhlak yg indah, yg akan membawa kebaikan di akhirat.Ibnu Jauzi berkata, awalnya sufiah muncul tujuanya adl untuk zuhud thd dunia, kemudian berubah, semakin bertambah zaman semakin parah. Iblis menipu mereka membuat rancu dalam.segala hal. Semakin menyimpang. Diantara tipuan iblis kpd mereka ada 4 model Diantaranya ada yg meninggalkan dunia secara totalitas. Diantara mereka karena sedikit ilmu, mereka mengamalkan hadist hadist palsu. Terkait persangkaan2, Ibnu Jauzi mengatakan, mulailah mereka mengatakan ttg kelaparan, bisikan2 dan persangkaan2 hati. Kemudian dtg lagi model yg merapikan mahzab sufiah. Mereka ingin menjelaskan kl tasawuf itu memiliki sifat2 khusus. Mereka mempunyai ciri2 khusus seperti menari, menyanyi dan bertepuk. Mereka jauh dari para ulama. Bahkan mereka menganggap lbh utama dari para ulama.Diantara mereka ada yg sengaja melaparkan diri hingga timbul ilusi. Dan mereka berkata kl mereka berkhayal bertemu Allah. Diantara mereka ad yg berpendapat al hululiyah (menempati) ad yg berpendapat al ittihadiyah (2 zat yg menyatu) dan ad wahdatul wujud (diliat dari beberapa pandangan,pdhal cm 1 wujud). Setela itu berkembang lah mereka. Dari 4 ini muncullah akidah2 yg menyimpang. Maka rusaklah akidah mereka. Ibnu Jauzi mengingatkan tentang kitab2 yg mendukung sufiah.

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya16 Juni 2026
F
Fatimah Azzahrah

📍 Kabupaten Banggai

Talbis iblis terhadap kaum Sufi bagian 1

Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc. M. ATALBIS IBLIS#12Talbis iblis terhadap kaum Sufi bag - 15 pendapat asal muasal munculnya kata sufiyyah‌Nisbah kepada seorang yang di kenal dengan sufah (صوفة) namanya Al Ghouts bin murr, seseorang yang mengkhidmatkan dirinya ke masjidil Haram pada zaman Jahiliyyah. ‌Nisbah kepada penghuni suffah الصفّة. Harusnya menjadi الصّفّي. (tdk tepat) ‌Nisbah kepada sufanah الصوفانة yaitu tumbuhan, karena kaum sufiyyah suka mencabut tumbuhan di padang pasir. Harusnya menjadi الصوفاني (Tdk tepat) ‌Nisbah kepada صفوة القفا، Haiti rambut yang tumbuh di belakang leher, seakan-akan seorang Sufi menggiring orang kepada Allah itu adalah hak, dan memalingkan orang dari makhluk. ‌Nisbah kepada الصوف (buku domba) Karena awalnya mereka memakai pakaian dari wol. Sejarah munculnya sufiyyahasal dari tasawwuf para sufiyyah adalah latihan jiwa untuk menolak perangai dari akhlak yang buruk, dan membawa perangai kepada akhlak yang indah. Kemudian berubah, ibkis menggoda mereka dengan banyak hal, semakin bertambah nya zaman semakin para, hingga puncaknya pada orang² belakangan. Awal kaum Sufiyyah itu bagus, karena ingin berakhlak mulia, tetapi semakin lama semakin menyimpang, dan semakin para di zaman Ibnul JauziModel² talbis iblis‌tujuannya meninggalkan dunia secara umum, namun berlebihan. Mereka menyamakan harta seperti kalajengking, mereka lupa bahwasanya harta di ciptakan untuk kemaslahatan. Mereka memaksakan jiwa untuk melakukan perkara² yang berat. sampai² tdk mau tidur sambil berbaring. ‌pembahasan terkait dengan prasangkaan², lintasan² hati. ‌tasawwuf memiliki sifat² khusus yang tdk di milik yang lain. Harus ada aturan² yang mereka jalankan. Sebagian kaum Sufi di jazaair mereka memakai baju yang di tambal² sehinggakan berwarna-warni, sampai ada ijazah tambalan. Dulu Nabi juga memakainya baju yang di tambal² karena terpaksa. Ciri khas Sufi memakai baju tambal², mendengar nasyid². Berkumpul dan mendengarkan kasidah², joget² khusus, tepuk tangan, sebagian mereka semakin keren dengan semakin bersih dan semakin suci. Mereka semakin jauh dari para ulama, bahkan mereka menganggap diri mereka lebih hebat dari para ulama, karena ulama hanya belajar ilmu dzahir, adapun mereka punya ilmu batin.‌Sebagian mereka ada yang sengaja lapar, sehingga akalnya tdk stabil sehinggal muncul khayalan² yang aneh. Dari empat ini muncul aqidah² yang menyimpang, dan muncul berbagai macam tarikat. Dan iblis terus menggoda mereka sehinggal mereka terjatuh dalam berbagai macam bid'ah, sehingga mereka punya sunnah² tersendiri. Madzhab bersatunya Allah dengan makhluk ‌Al Ittihadiyyah (persatuan) maksudmu Dua dzat yang bersatu‌Al Hululiyyah (menempati) ‌Wihdatul wujud (kesatuan dzat (wujud)Ini semua kekufuran. Ibnul Jauzi memperingatkan kitab² yang mendukung sufiyyah (yang menyimpang) ‌Abu Abdurrahman As Sulamiy membuat hadits² palsu yang mendukung sufiyyah. ‌Abu Nasr As sarraj membuat buku yang judulnya luma' as sufiyyah, isi bukunya menyebutkan aqidah² yang rusak, membuat perkataan² yang hina. ‌Abu Thalib Al Makky membuat buku judulnya kutul qulub, isi bukunya hadits² batil, sholat² malam yang tdk ada asalnya, dzikir² palsu, dan aqidah yang rusak. Diantara bentuk kasf (terbuka tabir) - Kasf (terbuka tabir) karena mengambil ilmu langsung dari nabi, dng kondisi sadar atau dalam mimpi. "Sebagian sufiyyah menyangka nabi masih hidup dan suka jalan²".- Diantara mereka ada yang mengatakan kasf lewat nabi Khidir. Sedangkan Rasullulah td pernah bertemu dengan khidir- Merasa ada ilham datang langsung dari Allah- Mengatakan ada firasat, dan lain-lain. ‌Abdul Karim bin Al Kusyairiy menulis kitan Ar risalah, di sebutkan di dalamnya tentang keajaiban² istilah² sufiyyah (Yang tdk di ajarkan oleh nabi). ‌Muhammad thahir Al Maqdisi menulis buku sofwatu tasawwuf, orang ini menyebutkan hal² yang seseorang yang berakal malu untuk menyebutnya.Abu Hamid Al Ghazali menulis buku untuk kaum sufiyyah,kitab Al ihya' menulis buku sebagaimana metode kaum sufiyyah, dan dia penuhi buku nya dengan hadits² batil. Tetapi Ibnu Jauzi memberi udzur, mungkin dia tdk tahu bahwasanya yang dia tulis hadits² batil. Bahkan dia menyebutkan ilmu tentang mukasyafah (ilmu kaum sufiyyah), dan dia keluar dari aturan fiqih, dan dia mengatakan dalm bukunya "adapun yang Allah sebutkan dalam surat Al An'am yang Nabi Ibrahim mengatakan aku melihat bintang, rembulan, dan matahari", maksudnya itu bukan benda² langit, melainkan cahaya yang merupakan hijab Allah. Dalam bukunya yang lain dia berkata "Kaum Sufi itu dalam keadaan terjaga mereka melihat malaikat, para nabi, dan mendengar suara², dan mereka mengambil faedah dari nabi dan para malaikat". Sampai mereka sampai pada persaksian sesuatu yang tdk bisa di ungkapkan dengan kata². Ibnul Jauzi menulis buku ringkasan dari buku ihya' ulumuddin judulnya Minhajul qasidin. Di hilangkan yang tdk bermanfaat dan hadits² yang palsu. "Dulu kaum sufiyyah zaman awal mereka menjauh dari para penguasa, dari para Sultan, sufiyyah zaman sekarang teman² nya para penguasa".

💬 0 komentar📅 16 Jun 2026Baca selengkapnya →