Talbis Iblis #11: Talbis Iblis Terhadap Kaum ZuhudKekeliruan Kaum Zuhud dalam Masalah Hak KeluargaBanyak di antara mereka yang salah memahami arti zuhud dengan mengira bahwa zuhud adalah meninggalkan perkara dunia secara mutlak.Melalaikan Hak Istri: Imam Ibnul Jauzi menyebutkan bab khusus tentang perhatian terhadap hak keluarga. Sebagian orang yang sok zuhud memilih untuk terus-menerus diam, menyendiri, dan menjauh dari bercengkerama dengan istrinya. Akibat buruknya akhlak dan kebiasaan menyendiri ini, mereka justru menyakiti hati istri mereka sendiri.Kisah Salman Al-Farisi dan Abu DardaNabi ﷺ mengingatkan bahwa istri memiliki hak yang wajib ditunaikan. Ustadz menegaskan bahwa Islam adalah agama yang profesional dan proporsional; setiap hal ada porsinya masing-masing.Abu Darda sangat semangat beribadah (shalat malam dan puasa siang hari) hingga melalaikan hak istrinya. Salman Al-Farisi menegurnya: "Sesungguhnya Rabb-mu punya hak, jasadmu punya hak, tamumu punya hak, dan istrimu punya hak. Maka berikanlah setiap yang memiliki hak itu haknya."Ketika Abu Darda mengadukan hal ini kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Salman benar." Perbuatan berlebih-lebihan dalam ibadah hingga menumbalkan porsi atau hak keluarga tidak dibenarkan dalam Islam.Hikmah: Ibadah yang benar adalah ibadah yang seimbang. Berlebihan dalam satu sisi sehingga mengabaikan sisi lain bukanlah kesalehan.Contoh Akhlak Mulia Nabi ﷺ terhadap KeluargaInteraksi Nabi dengan Keluarga: Rasulullah ﷺ adalah sosok yang gemar bercanda dengan para sahabat dan istrinya, bermain dengan anak-anak, serta meluangkan waktu untuk mengobrol.Sunnah Mengobrol Sebelum Tidur: Berdasarkan riwayat Ibnu Abbas saat menginap di rumah bibinya (Maimunah, istri Nabi), beliau mendengar Rasulullah ﷺ mengobrol sejenak dengan istrinya sebelum tidur. Ustadz menyindir fenomena zaman sekarang di mana suami istri mau tidur justru sibuk memegang HP masing-masing sehingga kehilangan kebahagiaan yang hakiki.Kisah Hadis Ummu Zara': Aisyah radhiallahu 'anha pernah menceritakan kisah panjang tentang 11 wanita yang berkumpul mendiskusikan sifat suami mereka kepada Nabi ﷺ. Rasulullah ﷺ mendengarkan cerita itu dari awal sampai akhir dan meresponsnya dengan hangat, menunjukkan betapa beliau menghargai obrolan dengan istri.Lomba Lari dengan Aisyah: Nabi ﷺ pernah mengajak Aisyah lomba lari saat safar. Pada lomba pertama Aisyah menang karena masih kurus. Bertahun-tahun kemudian, ketika fisik Aisyah mulai berisi, Nabi ﷺ mengajak lomba lari lagi dan beliau menang seraya bercanda: "Ini untuk membayar kekalahanku yang dulu."Perhatian Rutin Setiap Hari: Setiap habis asar, Nabi ﷺ rutin mendatangi rumah istri-istrinya satu per satu sekadar untuk menyapa dan mencumbui mereka sebelum akhirnya menginap di rumah istri yang mendapat jatah giliran.Dampak Buruk "Sok Zuhud" Tanpa IlmuMenelantarkan Keluarga: Orang yang sok zuhud sering kali membuat istrinya seperti janda dan anaknya seperti anak yatim karena tidak mau diajak bicara dan bermuka masung. Mereka keliru mengira bahwa mengobrol dengan keluarga akan melalaikan mereka dari akhirat.Karena sedikitnya ilmu, mereka tidak tahu bahwa menyenangkan dan mendidik keluarga adalah ladang pahala akhirat. Mengutip hadis riwayat Jabir di mana Nabi ﷺ menganjurkan menikahi gadis agar bisa saling mencandai dan bermesraan.Kisah Suami yang Salah Menggunakan Dalil: Cerita seorang istri yang mengeluh karena suaminya tidak mau menggaulinya dengan alasan dakwah dan berdalih dengan Nabi Ibrahim yang meninggalkan Hajar selama puluhan tahun. Ini adalah penggunaan dalil yang salah karena Nabi Ibrahim melakukan itu atas perintah langsung dari Allah, bukan menuruti syahwat atau keinginan sendiri untuk menjauh. Tidak bisa dijadikan alasan untuk menelantarkan istriZuhud Bukan Alasan Menelantarkan KeluargaNabi ﷺ adalah manusia yang paling sibuk: memimpin umat, menerima wahyu, berdakwah, menghadapi musuh, menjawab pertanyaan para sahabat. Namun beliau tetap menunaikan hak-hak istrinya dengan sempurna.Karena itu tidak pantas seseorang mengaku: terlalu sibuk dakwah, terlalu sibuk menuntut ilmu, terlalu sibuk memikirkan akhirat, lalu mengabaikan keluarganya.Bahaya Penyakit Ujub (Kagum pada Amal Sendiri)Tipu Daya Sifat Ujub: Sebagian orang zuhud terjebak merasa kagum pada amalnya sendiri (bacaan Al-Qur'an, sedekah, dan kezuhudannya). Ketika dipuji sebagai "pasak bumi" (Wali Allah), mereka merasa tenang dan menganggap pujian itu benar.Keteladanan Nabi ﷺ: Nabi ﷺ adalah manusia terbaik, beliau tidak memandang amalnya suatu yang hebat, beliau tidak pernah merasa amalnya cukup, justru langsung beristighfar setelah shalat dan setelah berhaji, keluar dari Arafah. Di akhir hayatnya, beliau terus memperbanyak tasbih dan istighfar karena menyadari keagungan Allah yang tidak sebanding dengan amalan makhluk.Jangan Merasa Berjasa kepada Allah: Allah mencela orang Arab Badui yang merasa berjasa karena masuk Islam (QS. Al-Hujurat: 17). Segala taufik untuk beramal datangnya dari Allah, sehingga manusia wajib bersyukur dan tidak boleh merasa amalnya hebat. Bahkan Nabi ﷺ beristighfar (Ghufronaka) setelah buang hajat karena menyadari nikmat kesehatan sekecil itu pun sulit untuk disyukuri sepenuhnya.Perkataan Ibnu Qayyim: Bisa jadi seseorang masuk surga karena maksiat yang membuatnya terus menyesal dan merendah diri di hadapan Allah, dan bisa jadi seseorang masuk neraka akibat amal shaleh yang membuatnya sombong dan ujub.Cara Menghindari UjubLihatlah kekurangan diri: salat belum khusyuk, sedekah masih berat, berbakti kepada orang tua belum maksimal, mendidik anak masih kurang, dakwah belum tentu ikhlas.Jika seseorang menyadari kekurangannya, ia tidak akan mudah ujub.Kisah Nabi IbrahimKetika membangun Ka'bah, Nabi Ibrahim berdoa: "Ya Rabb kami, terimalah amal kami." Padahal beliau sedang melakukan amal yang sangat besar.Ini menunjukkan bahwa orang saleh tidak pernah merasa amalnya hebat.Talbis Iblis Terhadap Kaum SufiyahImam Ibnul Jauzi memisahkan pembahasan kaum Sufiyah dari kaum zuhud secara umum karena Sufiyah memiliki ciri khas, metode, aliran, dan keyakinan yang lebih spesifik.Perkembangan Tasawuf: Tasawuf pada awalnya dimulai dengan gerakan zuhud secara totalitas. Namun seiring berjalannya waktu, orang-orang belakangan mulai longgar dan memasukkan unsur-unsur baru seperti mendengarkan lantunan musik/qasidah dan joget-joget (ar-raqs) sebagai bentuk ibadah.Mengapa Banyak Orang Tertarik kepada Kaum Sufi?Ibnu Al-Jauzi menyebutkan fenomena menarik. Kaum sufi menarik dua kelompok sekaligus:A. Pencari AkhiratMereka tertarik karena melihat: kesederhanaan hidup, pakaian yang sederhana, semangat ibadah, penampilan yang zuhud. Mereka mengira bahwa inilah jalan menuju akhirat.B. Pencari DuniaMereka tertarik karena melihat: nyanyian, qasidah, suasana santai, hiburan tertentu. Akibatnya dua kelompok ini berkumpul dalam satu tempat.Yang satu tertarik karena unsur zuhud. Yang lain tertarik karena unsur hiburannya.Ibnul Jauzi mengkritik Sufi di zamannya yang masih berpakaian zuhud tapi suka berjoget. Ustadz Firanda menambahkan bahwa sebagian Sufi zaman sekarang bahkan tidak lagi zuhud melainkan hidup mewah namun tetap mempertahankan tradisi joget dan kasidahan tersebut.Asal-Usul Istilah SufiIstilah Baru: Di zaman Nabi ﷺ tidak ada istilah tersebut, hanya ada istilah Muslim dan Mukmin. Setelah masa Nabi barulah muncul istilah-istilah tambahan, seperti Zahid (orang yang zuhud terhadap dunia) dan Abid (orang yang banyak beribadah).Pendapat Pertama (Sufah bin Murr): Ada pendapat yang menyatakan istilah Sufi dinisbahkan kepada seorang lelaki zaman jahiliyah bernama Suffah (Al-Ghauts bin Murr). Ia adalah orang yang mengkhususkan diri meninggalkan urusan dunia untuk fokus berkhidmat di Ka'bah/Masjidil Haram. Orang-orang yang meniru metodenya kemudian disebut Sufiyah.Pendapat Kedua (Ahlus Suffah): Pendapat lain mengaitkannya dengan Ahlus Suffah, yaitu orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin yang tinggal di bagian belakang Masjid Nabawi karena tidak punya rumah dan keluarga di Madinah. Ahlus Suffah tinggal di masjid karena kondisi terpaksa (darurat), bukan karena sengaja memilih kemiskinan. Ketika kondisi ekonomi kaum muslimin membaik dan pintu rezeki terbuka, mereka tidak lagi tinggal di sana.Kehidupan Ahlus Suffah. Kondisi mereka sangat sederhana. Sebagian hanya memiliki satu pakaian, hidup dalam kesulitan, sering kekurangan makanan. Namun mereka bersabar, belajar agama, dekat dengan Rasulullah ﷺ. Mereka menjadi teladan dalam kesabaran dan keteguhan iman.Kisah Sahabat yang Hanya Memiliki Satu Sarung. Diceritakan seorang sahabat ingin menikah. Ketika ditanya tentang mahar, ia berkata: "Aku hanya memiliki sarung yang sedang kupakai." Bahkan jika sarung itu diberikan sebagai mahar, ia tidak punya pakaian lain. Kisah ini menunjukkan betapa beratnya kondisi ekonomi sebagian sahabat saat itu.Orang Fakir yang Pertama Melewati Shirat. Disebutkan dalam hadis bahwa di antara golongan yang pertama melewati Shirath dan masuk surga adalah: Kaum Muhajirin yang Fakir. Mereka hidup sederhana, tidak menikmati kemewahan dunia, bersabar atas kekurangan mereka. Namun kemiskinan mereka bukan karena dicari-cari. Mereka miskin karena keadaan.Rasulullah Sangat Memperhatikan Ahlus Suffah. Rasulullah ﷺ sering mengunjungi mereka, menyapa mereka, memberi makan mereka, memperhatikan kebutuhan mereka. Beliau bahkan mendahulukan kebutuhan Ahlus Suffah dibanding kebutuhan keluarganya sendiri dalam beberapa keadaan. Contohnya ketika Fatimah meminta pembantu. Nabi ﷺ tidak memberikannya karena melihat banyak kebutuhan kaum miskin yang lebih mendesak.Kekeliruan Bahasa: Imam Ibnul Jauzi menegaskan bahwa secara kaidah bahasa Arab, penisbahan istilah Sufi ke kata Suffah adalah keliru. Jika dinisbahkan ke Suffah, seharusnya sebutannya adalah Suffi, bukan Sufi.