📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📚 Jejak Pustaka3 Agustus 2026
H

Halida Achmad Bagraff

📍 Kota Surabaya

Ringkasan bab 1 - Mewujudkan Mitsaqan Ghalizha

Mitsaqan ghaloza adalah janji yang teramat berat dan sakral. Mitsaqan ghalizah merujuk pada ikatan pernikahan. Pernikahan adalah momentum untuk membangun peradaban dengan mengintegrasikan dua karakter yang berbeda bukan menunjukkan siapa yang lebih dominan namun untjk membentuk karakter yang baik demo membangun peradaban. Jika kita menemukan karakter yang kita tidak sukai pada pasangan, selama tidak melakukan perbuatan fahisyah (zina) atau nusyuz (pembangkangan), hendaknya ia bersabar dan berlaku adil seperti di QS An Nisa: 19.Buku: Cinta janji dan ujian dalam berumah tanggaKarya: Dr. Muhammad Abduh Tuasikal

💬 0 komentar📅 3 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka3 Agustus 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Anak Juga Manusia, Angga Setyawan

Mendidik bukanlah semata transfer pengetahuan saja, tetapi juga menyiapkan anak-anak agar sanggup mendidik dirinya sendiri sepanjang hidup.Saat ini banyak sekali orangtua yang berpikir bahwa dengan menyekolahkan anak, menyuruhnya mengerjakan tugas-tugas atau PR atau menghafal pelajaran sekolah, adalah suatu bentuk mendidik anak. Itu bukan mendidik, tetapi transfer pengetahuan semata. Mendidik berkaitan dengan proses menyiapkan anak menjadi dewasa sehingga kelak ia secara sadar mau dan mampu mendidik dirinya sendiri.Coba cermati berapa banyak sarjana kita yang menganggur? Berapa banyak orang yang selepas masa sekolah merasa tidak perlu belajar lagi? Banyak bukan? Pertanyaannya, apakah mereka tidak sekolah? Sekolah semua bukan?Mengapa mereka berhenti mendidik diri sendiri? Bisa jadi karena tidak punya kemauan atau tidak punya kemampuan atau bahkan, tidak punya keduanya. Bisa juga karena mereka sejak kecil tidak menemukan bahwa belajar adalah kebutuhan.Mengapa begitu? Karena semua yang mereka kerjakan sejak kecil adalah kemauan orangtua. Mereka tidak dilatih untuk merasa butuh belajar dan mendidik dirinya sendiri.

💬 0 komentar📅 3 Agu 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 Agustus 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Surat Al-A'raf

“Apakah kamu merasa heran dan aneh bahwa kalian mendapatkan peringatan dari Tuhan kalian melalui seorang laki-laki dari bangsa kalian sendiri -bukan dari bangsa malaikat atau jin- untuk mengingatkan kalian? Bersyukurlah dan berterimakasihlah kalian kepada Tuhan kalian yang telah menempatkan kalian di bumi dan menjadikan kalian sebagai penerus kaum Nuh yang telah dibinasakan oleh Allah karena kekafiran mereka. Bersyukurlah kalian kepada Allah karena Dia telah memberikan keistimewaan kepada kalian berupa Tubuh yang besar, kuat, dan perkasa, dan ingatlah nikmat-nikmat Allah yang diberikan kepada kalian dengan seluas-luasnya agar kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan dan terhindar dari apa yang kalian cemaskan.”

💬 0 komentar📅 3 Agu 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka29 Juli 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Mulailah hari Anda dengan cinta, isilah hari Anda dengan cinta, Ayla hari Anda dengan cinta

Sumber: don't sweat the small stuff with your family Mulailah hari Anda dengan cinta, isilah hari Anda dengan cinta, akhirilah hari Anda dengan cinta.Jika kita masing-masing dapat menerapkan strategi ini dengan sepenuhnya, kita akan menjadi salah satu orang yang menjadi teladan kemanusiaan. Meskipun strategi ini sangat sulit diterapkan setiap upaya kecil yang anda lakukan akan sangat berharga.Sesungguhnya kebijaksanaan yang terkandung dalam strategi ini sangat sederhana. Gagasannya adalah mengingatkan diri anda sendiri sesering mungkin sepanjang hari mengenai pentingnya mengisi hidup anda dengan cinta sebagai prioritas puncak. Sesuatu yang bersifat ajaib akan terjadi dalam hidup anda bila tak ada hal lain yang dipandang lebih penting dari cinta. Hal-hal kecil ditempatkan pada perspektif yang benar dan kesadaran akan membuka jalan menuju keindahan dan kegembiraan hidup. Kehidupan sehari-hari kita mulai menampakkan kualitas yang luar biasa Dan kita mulai merasakan apa yang benar-benar paling penting dalam hidup. Mulai hari dengan cinta ketika Anda bangun pagi hari ana membuka hati dan mengingatkan diri sendiri akan maksud anda untuk bersikap penuh kasih sayang dalam setiap aspek kehidupan anda. Isilah hari dengan cinta berarti pilihan dan tindakan anda berasal dari keputusan untuk bersikap penuh kasih sayang, sabar, baik, dan lembut. Anda mengupayakan agar segala sesuatu berada dalam perspektif masing-masing dan berupaya untuk tidak memandang secara pribadi atau menangkapnya dengan proporsi yang keliru. Mau menerima kekurangan orang lain dan kekurangan diri sendiri dan berusaha untuk menahan diri untuk melontarkan kritik dan penilaian terhadap orang lain. Kapanpun dimungkinkan berusaha menjadi orang yang murah hati dan tidak pelit mengucapkan pujian juga orang yang rendah hati dan tulus. Akhirilah hari dengan cinta berarti mengisi penghujung hari dengan merenung dan bersyukur. Anda dapat berdoa, merenungkan hari Anda dan meninjau seberapa dekat tindakan dan pilihan yang telah anda lakukan pada hari yang telah berlalu dengan sasaran anda untuk mengisi hari dengan cinta. Ini dilakukan bukan untuk mempertahankan skor atau bersikap keras terhadap diri sendiri tetapi untuk merasakan kedamaian yang berkaitan dengan maksud anda untuk bersikap penuh kasih sayang dan untuk melihat wilayah mana yang kiranya layak untuk diberi lebih banyak kasih sayang pada esok hari.

💬 0 komentar📅 29 Jul 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat29 Juli 2026
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al A'raf : 131

​Surah Al-A'raf : 131​Teks Arab​فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هٰذِهِ ۚ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسٰى وَمَنْ مَّعَهٗ ۗ اَلَآ اِنَّمَا طٰۤىِٕرُهُمْ عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ​Terjemahan​"Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: 'Ini adalah karena (usaha) kami.' Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."Penjelasan Tafsir Al-Muyassar​Secara ringkas, Tafsir Al-Muyassar menjelaskan tabiat buruk Firaun dan pengikutnya ketika menghadapi takdir baik maupun buruk:​Sikap Saat Mendapat Nikmat/Kemakmuran Ketika Firaun dan kaumnya memperoleh kesuburan tanah, kelapangan rezeki, dan kesehatan, mereka dengan sombong berkata, "Ini adalah hak kami dan hasil jerih payah kami sendiri." Mereka enggan bersyukur kepada Allah dan tidak menyadari bahwa itu adalah rahmat dari-Nya.Sikap Saat Ditimpa Musibah/Kesusahan Sebaliknya, ketika mereka ditimpa kekeringan, paceklik, atau penyakit, mereka merasa sial (tathayjur) dan menyalahkan Nabi Musa AS beserta para pengikutnya. Mereka menganggap kehadiran Nabi Musa-lah yang membawa kemalangan bagi negeri Mesir.Bantahan dan Penegasan Allah Allah membantah persangkaan buruk tersebut. Ketahuilah bahwa sebab kesialan, malapetaka, dan azab yang menimpa mereka sebenarnya adalah ketetapan dan takdir Allah. Musibah itu diturunkan sebagai balasan atas kekufuran, kelaliman, dan dosa-dosa mereka sendiri, bukan karena Nabi Musa.Kebutaan Hati Kaum Firaun Namun, kebanyakan kaum Firaun tidak mengetahui hakikat ini karena hati mereka telah tersumbat oleh kesesatan, kesombongan, dan kebodohan.Poin Kunci Ayat​Penyakit Tathayyur (Merasa Sial): Menisbatkan keburukan/kesialan kepada orang lain atau benda tertentu adalah ciri khas kaum pagan dan pembangkang ajaran para nabi.​Kufur Nikmat vs Menyalahkan Keadaan: Orang kafir cenderung mengklaim keberhasilan sebagai hasil karya sendiri, tetapi ketika gagal/rusak, mereka mencari "kambing hitam".​Hakikat Musibah: Segala cobaan dan kemakmuran berjalan sesuai takdir Allah, di mana musibah sering kali merupakan dampak dari kejahatan dan kemaksiatan manusia itu sendiri.

💬 0 komentar📅 27 Jul 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka26 Juli 2026
N
Nuriska Garnitasari

📍 Kota Bandung

How To Master Your Habits (Felix. Y Siauw)

(hlm. 21) Kita dapat menjadi apapun atau menguasai keahlian apapun yang kita inginkan bila kita benar-benar menginginkannya, dengan cara membiasakan dan membentuk habits pada diri kita. Menjadikan yang luar biasa menjadi kebiasaan.Bab pengenalannya dibuka dengan pengenalan tokoh islam dan sosok ahli yang dikenal penulis. Bahkan tanpa seseorang perlu mengemban profesi tertentu mereka bisa menguasai bidang tertentu. Saya suka pembukaan awal mengguggah kepercayaan untuk mengubah diri dimulai dengan keinginan kuat pada apa yang ingin dicapai.Halaman dibaca : v - 21

💬 0 komentar📅 26 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 24: Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 22)

Halaqah 24:Cara Beriman Kepada Para Rasul (Bagian 22)Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara cara beriman kepada para rasul alayhimussalam adalah mengetahui beberapa persamaan antara Nabi dan Rasul. Mereka semua adalah manusia Laki-laki dan Merdeka.Mereka adalah manusia, maksudnya adalah bukan dari kalangan Jin dan bukan dari kalangan Malaikat. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا"Dan tidaklah menghalangi manusia untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk kecuali ucapan mereka, apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai seorang Rasul” (Al-Isra : 94)Dan Allah mengatakan:وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ"Dan Kami telah memberikan Ishak dan juga Ya’qub kepada Ibrahim dan kami jadikan kenabian dan kitab didalam keturunannya… “ (Al-Ankabut : 27).Di dalam ayat ini Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengabarkan bahwasanya kenabian ada pada keturunan Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ dan keturunan Nabi Ibrahim عَلَيهِ السَّلَامُ adalah keturunan dari kalangan manusia bukan dari jin dan bukan dari malaikat.Dan mereka (yaitu para Nabi dan Rasul) adalah dari kalangan laki-laki dan bukan dari kalangan wanita, Allāh سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ"Dan tidaklah kami mengutus sebelummu para Rasul kecuali mereka adalah laki-laki yang Kami wahyukan kepada mereka diantara penduduk negeri… " (Yusuf : 109)Dan mereka adalah orang-orang yang merdeka dan bukan budak karena perbudakan adalah sifat yang tidak sesuai dengan kedudukan Nabi dan waktu seorang budak adalah sepenuhnya bagi tuannya, maka kapan dia berdakwah dan menghadapi lawan-lawannya. Adapun yang terjadi pada Nabi Yusuf عَلَيهِ السَّلَامُ ketika beliau menjadi budak bagi salah seorang bangsawan di Mesir, maka asalnya Yusuf adalah orang yang merdeka, kemudian saudara-saudaranya yang telah menipu daya beliau.Adapun sabda Rasulullah ﷺمَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ"Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi kecuali mengembala kambing" (HR Al-Bukhari)"Maka para Nabi tersebut bukan mengembala karena dia seorang budak akan tetapi mengembala kambingnya sendiri atau mengembala kambing milik orang lain dengan dibayar, sebagaimana Rasulullah ﷺ mengembala untuk penduduk Makkah" (HR Al-Bukhari)Dan Nabi Musa عَلَيهِ السَّلَامُ mengembala untuk seorang laki-laki yang shaleh dari madyan, sebagaimana di dalam Al Qashas : 27.

💬 0 komentar📅 26 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juli 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Halaqah 75

Jum'at, 10 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 75Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Kelima, Hadist Shahih Riwayat Ummu Salamah (Bagian 3)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Ketentuan Hukum Terhadap Pelaku Bid'ah secara Umum​Jangan kita kiaskan kemudian setiap orang yang melakukan kebid’ahan—karena bid'ah ini lebih dahsyat daripada kemaksiatan—kemudian dihalalkan darah orang yang melakukan kebidahan tersebut (Tidak). ​Di sini beliau ﷺ sedang berbicara secara khusus tentang aliran tertentu, yaitu al-Khawarij. Sabda beliau:​أينما لقيتموهم فاقتلوهم​Maksudnya adalah khusus untuk orang-orang Khawarij. Begitu pula sabda beliau:​لئن لقيتموهم لأقتلنهم قتل عاد​Ini juga khusus tentang orang-orang Khawarij.Kedahsyatan Ancaman Terhadap Kaum Khawarij​Para ulama menjelaskan bahwasanya Nabi ﷺ tidak menyebutkan ancaman-ancaman yang lebih dahsyat daripada ancaman-ancaman terhadap orang-orang Khawarij. Di antara ancaman dan sifat buruk mereka adalah:​Pemusnahan Total: Nabi ﷺ sampai meniatkan seandainya bertemu dengan mereka, beliau akan membunuh mereka secara keseluruhan (bukan hanya sekedar dibunuh sebagian), tetapi seperti terbunuhnya orang-orang ‘Ad (kaumnya Nabi Hud) yang dibinasakan oleh Allāh secara keseluruhan tanpa ada di antara mereka yang tersisa.​Sifat شرُّ قتلى تحتَ أديمِ السماءِ (Sejelek-jelek Orang yang Terbunuh):Nabi ﷺ bersabda bahwa mereka adalah sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah langit. Makna kalimat شرُّ قتلى di sini adalah min syarri qotla (di antara sejelek-jelek orang yang terbunuh).​Perbandingan Kata: Sama halnya dengan sabda Nabi ﷺ:​وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا​Makna syarral umur di sini maksudnya adalah min syarril umur (di antara sejelek-jelek perkara), karena sejelek-jelek perkara mutlak adalah syirik. Maka maksud kalimat tersebut adalah sebagian/di antara yang paling jelek adalah bid'ah. Demikian pula makna hadits tentang Khawarij, diucapkan oleh Nabi bahwa orang yang terbunuh yang paling syar (di antara yang paling jelek) adalah terbunuhnya orang-orang Khawarij.​Sifat خيرُ قتلى مَن قتَلوه (Sebaik-baik Orang yang Terbunuh):Nabi ﷺ bersabda bahwa sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang dibunuh oleh mereka (orang-orang Khawarij). Lengkapnya beliau bersabda:​شرُّ قtly تَحْتَ أديمِ السماءِ خيرُ قتلى مَن قتَلوه​Sifat كِلَابُ النَّارِ (Anjing-Anjing Neraka):Sebelumnya Nabi ﷺ juga mensifati orang-orang Khawarij bahwasanya mereka adalah Kilabunnar (Anjing-anjing Neraka). Wallāhualam, maksudnya mereka diancam dengan Neraka kelak, yang mana azab mereka sangat pedih sehingga mereka berteriak seperti teriakan anjing-anjing. Yang jelas ini adalah sifat yang jelek bagi orang-orang Khawarij.Atsar Abu Umamah radhiyallahu anhu di Damaskus​Disebutkan sebuah kisah mengenai sahabat Abu Umamah radhiyallahu anhu. Saat itu beliau melihat kepala-kepala yang dipajang di tangga masjid Damaskus (dan ini adalah kepala-kepala orang-orang Khawarij). Beliau kemudian mengatakan:​كِلَابُ النَّارِ شرُّ قتلى تحتَ أديمِ السماءِ خيرُ قتلى مَن قتَلوه​Kemudian beliau membaca firman Allāh ﷻ:​۞ يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ​Artinya: “Pada hari yang di waktu itu ada wajah yang memutih, dan ada pula wajah yang hitam gelap.” (QS. Ali 'Imran: 106)​Penjelasan Ayat: Sudah kita sampaikan sebelumnya, yang dimaksud dengan wajah-wajah yang memutih adalah Ahlussunnah, sedangkan wajah yang hitam adalah Ahli Bid'ah. Abu Umamah (seorang sahabat Nabi ﷺ) membaca ayat ini ketika melihat mayat-mayat orang-orang Khawarij. Hal ini menguatkan apa yang disampaikan oleh Abdullah bin Abbas bahwasanya wajah-wajah yang menghitam tadi adalah Ahlu Bid'ah.Otentisitas Riwayat dari Abu Umamah​Kisah di atas berlanjut hingga akhir ayat (إلى akhirِ الآيةِ). Aku (yaitu Abu Ghalib) berkata kepada Abu Umamah:​أَنتَ سمعتَهُ من رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّلهُ علَيهِ وسلَّمَ ؟​Artinya: “Apakah engkau mendengar ini langsung dari Rasulullah ﷺ?”​Abu Umamah menjawab untuk menguatkan:​لَو لَم أسمَعهُ إلَّا مرَّةً أو مرَّتينِ أو ثلاثًا أو أربعًا- حتَّى عدَّ سَبعًا- ما حدَّثتُكُموهُ​Artinya: “Seandainya aku tidak mendengarnya dari Nabi ﷺ kecuali satu, dua, tiga, atau empat kali—sampai beliau menghitungnya sebanyak tujuh kali—niscaya aku tidak akan menyampaikan ini kepada kalian.”​Maksud Jawaban Abu Umamah: Seandainya beliau tidak mendengarnya secara langsung dan berulang kali dari Nabi ﷺ, tentunya beliau tidak akan berani menyampaikan hal seperti ini. Sebab, perkara-perkara yang disebutkan tadi (كلابُ النَّارِ شرُّ قتلى تحتَ أديمِ Сَّماءِ خيرُ قَتلى من قتلوهُ) merupakan bagian dari perkara gaib. Seandainya bukan karena mendengar dari Nabi ﷺ, niscaya beliau tidak akan menyampaikannya kepada manusia.Peringatan Terhadap Pemikiran Khawarij Masa Kini​Oleh karenanya, para ulama menjelaskan bahwa tidak ada di sana ancaman-ancaman yang mengerikan yang melebihi ancaman yang datang untuk aliran Khawarij ini. Aliran Khawarij sudah ada sejak zaman dahulu, dan dari masa ke masa masih terus ada orang-orang yang membawa pemikiran Khawarij ini sampai di zaman kita sekarang ini. ​Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dengan pemikiran mereka. Di antara caranya adalah dengan membentengi diri kita menggunakan aqidah yang benar. ​Jangan sampai kita tertipu dengan rajinnya ibadah mereka (seperti rajinnya mereka membaca Al-Qur'an), atau karena mereka memakai pakaian seperti pakaian kita, atau secara lahiriah (dhahirnya) tampak seperti seorang Salafi, padahal ternyata pemikiran mereka adalah pemikiran Khawarij.​Kesimpulan​Ancaman yang sedemikian keras dari Nabi ﷺ—seperti perintah pemusnahan total laksana kaum 'Ad, julukan seburuk-buruk orang yang terbunuh di bawah langit (syarru qatla), serta sebutan anjing-anjing neraka (kilabun nar)—merupakan kekhususan yang ditujukan kepada sekte Khawarij saja, dan tidak boleh dikiaskan untuk menghalalkan darah seluruh pelaku bid'ah secara umum. Atsar dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu anhu di Damaskus menegaskan otentisitas ancaman gaib ini (yang beliau dengar hingga tujuh kali dari Rasulullah ﷺ) sekaligus mengaitkan kaum Khawarij sebagai bagian dari ahli bid'ah yang berwajah hitam di hari kiamat berdasarkan QS. Ali 'Imran: 106. Karena pemikiran Khawarij ini terus lestari dari masa ke masa hingga zaman sekarang, umat Islam diperingatkan agar tidak tertipu oleh casing lahiriah mereka (seperti janggut/pakaian, klaim manhaj Salaf, maupun kencangnya ibadah dan bacaan Al-Qur'an), melainkan harus membentengi diri dengan pemahaman aqidah yang benar agar selamat dari syubhat pemikiran radikal tersebut.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 75

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 75 | Masing-Masing Manusia akan Dimudahkan untuk Melakukan Apa yang Mereka Dicipta UntuknyaHalaqah 75 | Masing-Masing Manusia akan Dimudahkan untuk Melakukan Apa yang Mereka Dicipta UntuknyaKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Maka masing² dari kita akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia dicipta untuknya.Melakukan apa yang sudah ditakdirkan untuk orang yang sudah Allāh tulis di dalam Lauhul Mahfudz, dia akan masuk ke dalam Surga maka ketika Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan dia di dunia Allāh akan memudahkan dia untuk melakukan amalan² yang memasukkan dia ke dalam Surga atau yang menjadi sebab dia masuk kedalam Surga, misalnya dijadikan dia lahir di tengah² orang Islam kemudian diajarkan oleh orang tuanya tentang Islam yang benar atas seandainya dia lahir di negeri kafir orang tuanya kafir tapi Allāh tulis dia termasuk penduduk Surga maka akan ada jalan dia masuk ke dalam agama Islam, mungkin akan ada di sana (dinegeri kafir) dakwah ada yayasan yang didirikan kemudian salah satu sebab akhirnya dia mungkin tidak sengaja masuk ke dalam Masjid dan mendengar orang mengajak kepada Islam dan seterusnya, akhirnya masuk Islam, orang yang sudah Allāh subhanahu wa taala putuskan dia termasuk penduduk Surga makaمُيَسَّرٌDia akan dimudahkan untuk melakukan apa yang memang dia ditakdirkan untuk makanya kita katakan kita khusnudzon kepada Allāh, lihat siapa kita lemahnya kita ada hinanya kita tapi Allāh subhanahu wa ta’ala memberikan karunia dan juga anugerah dipilih kita di antara sekian banyak manusia untuk mengenal Allāh lebih dalam, kita belajar tentang Nama² Allāh kita belajar tentang sifat Allāh kita mengenal lebih dalam tentang agama Allāh khusnudzon kepada Allāh, Allāh ingin memasukkan kita ke dalam Surganya Allāh mudahkan kita untuk menuntut ilmu agama Allāh jaga kita dan jadikan kita Istiqomah sampai detik ini kita berharap sampai kita tentunya sampai meninggal dunia di tengah² gelombang fitnah yang semakin dahsyat, baik fitnah syahwat maupun syubhat, kalau Allāh subhanahu wa ta’ala tidak menjaga niscaya kita sudah terseret dengan arus, tenggelam bersama orang² yang tenggelam, tenggelam di dalam kebodohan, tenggelam didalam syahwat, tenggelam di dalam subhat, dan sudah banyak korban, kalau bukan Allāh subhanahu wa ta’ala yang menjaga niscaya kita tidak akan terjadi, maka kita khusnudzon kepada Allāh dan Allāh mengatakan,أَنَا عِنْدَ حسن ظَنِّ عَبْدِي بِيAku ini sesuai dengan persangkaan hambaKu kepadaKu.Kalau kita berprasangka baik kepada Allāh maka itulah yang akan kita dapat, kita berprasangka baik kepada Allāh, Allah ingin memasukkan kita ke dalam Surga-Nya.Maka hendaklah kita bersyukur kepada Allāh atas seluruh Taufik dan juga hidayah, diantara bentuk syukur kita kepada Allāh subhanahu wa taala adalah dengan menjaga kenikmatan ini menjaga ketaatan kita kepada Allāh menjaga Istiqomah kita di dalam menuntut ilmu agama.وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُSebaliknya orang yang sudah ditentukan oleh Allāh subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam Nerakanya Allāh baik selamanya maupun sementara maka akan dimudahkan juga kalau memang dia adalah orang yang akan masuk ke dalam Neraka selama-lamanya maka ada saja di sana jalan sehingga dia meninggal di atas kekufuran diatas kesyirikan, mungkin dia dahulunya adalah seorang muslim & Allāh subhanahu wa ta’ala lebih tahu siapa yang berhak untuk masuk ke dalam Surga-nya dan Allāh lebih tahu siapa yang berhak untuk mendapatkan azabNya, Allāh tidak akan menzalim apa yang Allāh lakukan pasti di sana ada hikmah, Allāh mudahkan yang ini dan Allāh mudahkan yang itu Allāh lakukan itu semuanya dengan hikmah tidak ada kezaliman di dalam.Ini yang harus terpatri didalam diri seorang muslim.إنّ الله لا يَظِلم مثقال ذرَّةAllāh tidak akan mendholimi meskipun hanya sebesar dzarrah.Sehingga Allāh mengatakan,..وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ ۝[QS Fushilat 46]Dan Rabbmu tidak akan menzalimi hamba²Nya. Masing² akan dimudahkan oleh Allāh, termasuk di antaranya pelaku maksiat dari orang Islam maka itu pun akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang sudah ditakdirkan dan Allāh lebih tahu siapa di antara mereka yang berhak untuk mendapatkan hidayah yang ada juga Istiqomah dan siapa yang tidak berhak dan Allāh subhanahu wa ta’ala sekali lagi tidak menzalimi hambaNya.اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُDan ini menjadikan seseorang ketika melihat saudara yang masih belum mendapatkan hidayah mungkin dia masih terkumpul dalam kebidahan dia atau di dalam firkah dia mengingat hadits iniوَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Melihat dengan kacamata kasih sayang, sayang kepada mereka, kasian kepada mereka yang masih belum mendapatkan hidayah sehingga nanti didalam dirinya untuk mengajak / di dalam dirinya untuk mendakwahi dengan maksud merahmati/ menyayangi bukan maksud mendzalimi atau menghinakan, kemudian ketika dia melihat keadaan mereka dan dia melihat pada dirinya sendiri semakin dia bertambah bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala bersyukur kepada Allāh subhanahu wa ta’ala yang tidak menjadikan dirinya seperti mereka yang masih terkungkung di dalam subhat hak mereka diantara bentuk syukurnya adalah dengan berusaha mengajak orang yang sesuai dengan kemampuan, dia menjelaskan mengajak dan ini adalah bentuk syukur dia atas nikmat hidayah yang telah Allāh subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, sebagaimana dia senang dan gembira bahagia mendapat hidayah maka dia senang juga seandainya orang lain juga mendapatkan hidayah tersebut sebagaimana dulu orang yang mendakwahi kita bersabar dalam mengajak kita, kitapun bersabar ketika mendakwahi orang lain mereka bersabar sehingga kita pun mendapatkan hidayah dan paham bahkan kita pun juga demikian,لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِTidak beriman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai untuk orang lain sebagaimana atau apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.ثُمَّ قَرَأَkemudian beliau ﷺ membaca firman Allāh,فَاَمَّا مَنۡ اَعۡطٰى وَاتَّقٰىۙ ۝وَصَدَّقَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡيُسۡرٰىؕ ۝وَاَمَّا مَنۡۢ بَخِلَ وَاسۡتَغۡنٰىۙ ۝وَكَذَّبَ بِالۡحُسۡنٰىۙ ۝فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلۡعُسۡرٰىؕ ۝[QS Al Lail 5-10]Maka beliau rahimahullāh di sini mendatangkan ucapan,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،maka ini adalah Taufik dari Allāh subhanahu wa ta’ala setelah telah menjelaskan bahwasanya semuanya itu dengan takdir Allāh masuknya seseorang ke dalam Surga dengan takdir Allāh masuknya seseorang kedalam Neraka dengan takdir Allah maka beliau menjelaskan masing² akan dimudahkan untuk melakukan apa yang dia ditakdirkan untuknya, ini adalah dorongan bagi kita untuk beramal ingin masuk ke dalam Surga semua kita ingin masuk ke dalam Surga maka beramal lah karena masuk ke dalam Surga itu ada sebab,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ingin selamat dari Nerakanya Allāh ya jangan kita melakukan perkara yang menjadi sebab maksudnya seseorang ke dalam Neraka Allāh,وَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ،Ini isyarat dari beliau beriman dengan takdir dan beriman dengan syariat sebagaimana yang kita ulang².Bikin gambar yang lengkapnisinya tanpa ada gambar manusia

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Halaqah 75 – Manfaat Beriman kepada Hari Akhir

Ringkasan Halaqah 75Manfaat Beriman kepada Hari Akhir1. Mengingatkan bahwa dunia hanya sementaraDunia sangat singkat.Hari kiamat dan hisab sudah dekat.Dalil: QS. Al-Anbiyā': 12. Tidak tertipu oleh kenikmatan duniaKenikmatan dunia hanya sementara.Jangan iri dengan kesenangan orang kafir.Dalil: QS. Āli 'Imrān: 196–1973. Kesuksesan sejati adalah di akhiratOrang yang dijauhkan dari neraka dan masuk surga adalah orang yang benar-benar beruntung.Dalil: QS. Āli 'Imrān: 1854. Kerugian terbesar adalah masuk nerakaMasuk neraka merupakan kehinaan yang sebenarnya.Dalil: QS. Āli 'Imrān: 1925. Menguatkan kesabaran saat mendapat musibahMeyakini bahwa semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.Membantu tetap sabar menghadapi ujian.6. Mendorong keikhlasan dalam beramalAmal yang ikhlas akan bermanfaat pada hari kiamat.7. Mendorong segera bertaubatDosa adalah penyebab bencana di akhirat.Perbanyak taubat dan istighfar.8. Mendorong istiqamah dalam ketaatanBersabar menjalankan perintah Allah.Bersabar meninggalkan maksiat.Semua itu lebih ringan daripada azab akhirat.9. Mengingat nikmat Islam dan imanIslam dan iman adalah nikmat terbesar yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.10. Mengingat bahaya kekafiran, kesyirikan, dan kemunafikanKetiganya menjadi sebab kekal di dalam neraka.11. Menumbuhkan semangat berdakwahMengajak kaum muslimin istiqamah.Mengajak orang kafir masuk Islam agar selamat dari azab.12. Memotivasi untuk memperbanyak doaBerdoa memohon:Kebaikan dunia.Kebaikan akhirat.Perlindungan dari neraka.Dalil: QS. Al-Baqarah: 201Doa Rasulullah ﷺ:"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan segala yang mendekatkan kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala yang mendekatkan kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan." (HR. Ibnu Majah)KesimpulanBeriman kepada hari akhir menjadikan seorang muslim:Lebih zuhud terhadap dunia.Semangat beramal saleh.Ikhlas dalam ibadah.Rajin bertaubat.Sabar menghadapi ujian.Istiqamah dalam ketaatan.Semangat berdakwah.Memperbanyak doa dan berharap surga serta dijauhkan dari neraka.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Kitab KHULASHAH TA'DZIMUL ILMI Halaqah 25

Halaqah yang ke dua puluh lima dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.المعقد العشرونSimpul yang ke-20حفظ الوقت في العلمMenjaga waktu untuk ilmu.Yaitu kita berusaha menggunakan waktu kita ini untuk ilmu.Kalau kita memang menghormati ilmu dan itu adalah suatu yang besar di mata kita, suatu yang berharga dan bernilai di hati kita, maka kita berusaha setiap waktu yang kita gunakan ini ada hubungannya dengan ilmu.قال ابن الجوزيِّ في صيد خاطرهBerkata Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitab beliau Shaidul Khathir. (صيد الخاطر)ينبغي للإنسان أن يعرف شرف زمانه، وقدر وقته، فا يُضيِّع منه لحظةً في غير قُربةٍ، ويُقدِّم فيه الأفضل فالأفضل من القول والعملSepantasnya bagi seseorang untuk mengetahui tentang betapa berharganya usianya dan betapa bernilainya waktu yang Allah berikan kepadanya.Satu detik, satu menit, itu adalah sesuatu yang berharga. Mungkin seseorang mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ kurang dari 1 menit tapi dia ucapkan itu di akhir hidupnya, selamat.مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَBarangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ maka dia masuk ke dalam surga. Padahal itu diucapkan kurang dari 1 menit.Maka janganlah dia menyia-nyiakan sekejap pun dari usianya tadi, dari umurnya tadi, di dalam selain qurbah (ketaatan) kepada Allāh ﷻ. Kalau bisa waktu semuanya ini detik-detik yang kita lalui ini semuanya adalah di dalam ketaatan kepada Allāh ﷻ. Jangan sampai ada sedikit pun yang selain qurbah.Dan dia mendahulukan mana yang lebih afdhal kemudian yang afdhal baik berupa ucapan maupun perbuatan. Kalau memang di sana ada ucapan semuanya baik, cari yang lebih baik dari ucapan-ucapan tadi. Ada beberapa amalan semuanya baik, kita cari yang paling baik. Ini termasuk memanfaatkan waktu.ومن هنا عظُمت رعاية العلماء للوقتDari sini kita mengetahui besarnya penjagaan ulama terhadap waktu.Karena mereka mengetahui tentang bagaimana berharganya waktu.حتىٰ قال محمَّد بن عبد الباقي البزَّازSehingga seorang ulama yaitu Muhammad bin Abdul Baqi Al-Bazzās beliau mengatakan,ما ضيَّعتُ ساعةً من عمري في لهوٍ أو لعبٍAku tidak pernah menyia-nyiakan sedikit pun dari umurku di dalam perkara yang sia-sia atau dalam bermain-main.Sampai mengatakan demikian, tidak pernah menyia-nyiakan meskipun hanya sekedar dari umurnya dalam perkara yang sia-sia atau bermain-main.Lihat bandingkan antara beliau dengan keadaan kita. Berapa waktu yang kita gunakan untuk ibadah dalam sehari, berapa waktu yang kita gunakan untuk ilmu, sisanya masing-masing dari kita bisa menjawab sendiri, untuk permainan, untuk melihat sesuatu yang tidak bermanfaat.وقال أبو الوفاء ابن عقيلBerkata Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil,الذي صنَّف كتاب الفنون في ثمان مئة مجلَّدٍBerkata seorang ulama Ibnu ‘Aqil yang beliau adalah yang menulis Kitabul Funun setebal 800 jilid, beliau mengatakan,إنيِّ لا يحِلُّ لي أن أُضيِّعَ ساعةً من عمريSesungguhnya tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sekejap pun dari umurku.Jadi beliau sampai menulis sebanyak itu kitabnya karena beliau tidak menyia-nyiakan waktunya. Kalau kita bisa menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, sebenarnya banyak yang bisa kita kerjakan, kita bisa menghafal, kita bisa membaca kitab, kalau kita sudah sampai kita bisa menulis, banyak sebenarnya cuma banyak diantara kita yang menyia-nyiakan waktunya sehingga waktunya tidak berbarakah.وبَلَغَتْ بهمُ الحال أن يُقرأ عليهم حال الأكل؛ بل كان يُقرأ عليهم وهم في دار الخاءDan ada diantara mereka (saking mereka menjaga waktunya) yang dibacakan, artinya ada seorang guru muridnya disuruh membaca dan dia dalam keadaan makan, sambil dia makan dia minta seseorang untuk membacakan kitab, ingin mengambil faedah.Ini juga bisa kita lakukan. Kita sambil makan mungkin sambil nyetel sesuatu kita tidak ingin menyia-nyiakan waktu, apakah itu bisa? Bisa sebenarnya, sambil kita di mobil pulang atau berangkat kita mendengarkan sebuah ilmu supaya tidak sia-sia waktu kita.بل كان يُقرأ عليهم وهم في دار الخلاءBahkan terkadang ada diantara mereka dibacakan kepada beliau dan mereka berada di dalam darul khala (tempat untuk mandi atau untuk buang hajat).Ada seseorang yang disuruh membaca dengan suara keras di luar, dia bukan membaca di dalam kamar kecil tersebut tapi ada orang lain yang disuruh membaca dengan keras di luar karena beliau tidak ingin menyia-nyiakan waktunya.Karena biasanya orang di dalam kamar mandi itu tersia-sia waktunya, mungkin ngelamun, mungkin dia memikirkan sesuatu yang tidak bermanfaat, dia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya sampai ketika berada di dalam kamar kecil tersebut dia ingin memanfaatkan waktunya. Ini termasuk pengagungan terhadap ilmu. Kita menggunakan waktu kita benar-benar untuk ilmu.فاحفظ أيُّها الطَّالبُ وقتَكMaka hendaklah engkau wahai seorang penuntut ilmu menjaga waktumu. Jaga waktumu dengan baik, jangan disia-siakan.فلقد أبلغ الوزيرُ الصَّالح ابنُ هُبيرة في نصحك بقولهMaka Al-Wazir Ash-Shalih Ibn Hubairah, beliau adalah seorang menteri kerajaan yang memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu, sungguh beliau bersungguh-sungguh dalam memberikan nasihat kepadamu dengan ucapan beliau.والوقت أنفسُ ما عُنيتَ بحفظهDan waktu sebenarnya adalah sesuatu yang paling berharga yang kamu harus menjaganya.Itu lebih berharga daripada harta yang kau miliki, daripada rumah yang engkau miliki. Waktu itu adalah suatu yang paling berharga yang harusnya engkau jaga dia.وأراه أسهلَ ما عليك يضيعُDan aku melihat bahwasanya itu adalah sesuatu yang paling mudah engkau sia-siakan.Padahal itu adalah sesuatu yang paling berharga yang harusnya kita jaga tapi justru paling mudah kita menyia-nyiakan waktu tersebut. Kadang kalau sudah nganggur yang dicari nonton apa, buka apa, mudah sekali seorang menyia-nyiakan waktu. Tapi jarang diantara kita sedang nganggur apa yang ana lakukan, ana murajaah surat apa, apa kitab yang ana baca sekarang. Makanya beliau mengatakan sangat mudah sekali  waktu tersebut engkau sia-siakan.تمت الخلاصةTelah sempurna kitab Al-Khulasah.الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُDengan demikian kita telah menyelesaikan kitab yang sangat berharga ini yang ditulis oleh guru kami yang mulia, beliau adalah Syaikh Shālih Ibn Abdillāh Ibn Hamad hafidzahullāhu ta’ala, semoga Allāh subhanahu wa ta’ala mengampuni dosa beliau dan mengampuni dosa kedua orang tua beliau dan memberikan kepada beliau pahala yang besar dan menjadikan apa yang kita baca dari kitab beliau ini menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kita dan kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Halaqah 25

Halaqah yang Ke-25 dari Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada para Rasul ‘alayhimussalam adalah tentang Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘alayhimussalamDiantara Buah Beriman kepada Para Rasul ‘alayhimussalam① Seseorang jadi mengetahui rahmat Allah dan perhatian Allah yang besar terhadap hamba-hambaNya dengan cara mengutus para Rasul kepada mereka supaya memberikan petunjuk kepada mereka dan menjelaskan kepada mereka tentang beribadah kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada Allah, karena akal manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa wahyu dari Allah ‘Azza wa jallaAllah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanلَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan atas mereka ayat-ayatNya dan membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah dan sungguh mereka sebelumnya berada di dalam kesesatan yang nyata” (Ali ‘Imran : 164)② Bersyukur kepada Allah atas nikmat diutusnya para Rasul ‘alayhimussalam③ Mencintai para Rasul ‘alayhimussalam menghormati mereka, memuji mereka sesuai dengan kedudukan mereka karena mereka adalah para utusan Allah, para hamba-hamba Allah yang beribadah kepada Allah sekaligus menyampaikan risalah Allah dan menasihati para hamba Allah, Allah berfirmanإِنَّآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ شَـٰهِدً۬ا وَمُبَشِّرً۬ا وَنَذِيرً۬ا (٨) لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُڪۡرَةً۬ وَأَصِيلاً (٩“Sesungguhnya kami telah mengutusmu sebagai seorang saksi memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan, supaya kalian beriman kepada Allah dan juga RasulNya dan supaya kalian menolong dia dan menghormati dia” (Al-Fath : 8-9)④ Mengetahui kekuasaan Allah dan bagaimana Allah memilih para Nabi danRasul.⑤ Mengetahui bahwa beriman dengan mereka adalah sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.⑥ Mengetahui bahwa berpegang teguh dengan apa yang di bawa oleh para Rasul عَلَيهِ السَّلَامُ adalah sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah dan sebab di ampuni dosanya.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 25: Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘Alaihimussalam

Halaqah 25:Buah Dari Beriman Kepada Para Rasul ‘AlaihimussalamUstadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالىDiantara Buah Beriman kepada Para Rasul ‘alayhimussalamSeseorang jadi mengetahui rahmat Allah dan perhatian Allah yang besar terhadap hamba-hambaNya dengan cara mengutus para Rasul kepada mereka supaya memberikan petunjuk kepada mereka dan menjelaskan kepada mereka tentang beribadah kepada Allah dan bagaimana cara beribadah kepada Allah, karena akal manusia tidak bisa berdiri sendiri tanpa wahyu dari Allah ‘Azza wa jalla.Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ“Sungguh Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan atas mereka ayat-ayatNya dan membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah dan sungguh mereka sebelumnya berada di dalam kesesatan yang nyata” (Ali ‘Imran : 164).Bersyukur kepada Allah atas nikmat diutusnya para Rasul ‘alayhimussalam.Mencintai para Rasul ‘alayhimussalam menghormati mereka, memuji mereka sesuai dengan kedudukan mereka karena mereka adalah para utusan Allah, para hamba-hamba Allah yang beribadah kepada Allah sekaligus menyampaikan risalah Allah dan menasihati para hamba Allah.Allah berfirman:إِنَّآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ شَـٰهِدً۬ا وَمُبَشِّرً۬ا وَنَذِيرً۬ا (٨) لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُڪۡرَةً۬ وَأَصِيلاً (٩“Sesungguhnya kami telah mengutusmu sebagai seorang saksi memberikan kabar gembira dan memberikan peringatan, supaya kalian beriman kepada Allah dan juga RasulNya dan supaya kalian menolong dia dan menghormati dia” (Al-Fath : 8-9).Mengetahui kekuasaan Allah dan bagaimana Allah memilih para Nabi danRasul.Mengetahui bahwa beriman dengan mereka adalah sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.Mengetahui bahwa berpegang teguh dengan apa yang di bawa oleh para Rasul عَلَيهِ السَّلَامُ adalah sebab diangkatnya derajat seseorang di sisi Allah dan sebab di ampuni dosanya.Kita berdoa kepada Allah ‘Azza wa jalla semoga Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman dan meninggal dunia diatas keimanan.

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI10 Juli 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 25 | Penjelasan Penutup Kitab Pembatal Keislaman Bagian 2

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke dua puluh lima dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Beliau berkata,وَكُلُّهَا مِنْ أَعْظَمِ مَا يَكُونُ خَطَرًا، وَأَكْثَرِ مَا يَكُونُ وُقُوعًا،فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْذَرَهَا وَيَخَافَ مِنْهَا عَلَى نَفْسِهِنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ مُوجِبَاتِ غَضَبِهِ، وَأَلِيمِ عِقَابِهِ“Dan semuanya ini termasuk yang paling berbahaya dan paling banyak terjadi. Maka sepantasnya seorang muslim waspada dan takut terjadi atas dirinya sendiri. Kita berlindung kepada Allah dari perkara-perkara yang menyebabkan kemarahan-Nya dan kita berlindung kepada Allah dari pedihnya siksaan-Nya.”Ini menunjukkan bahwa di sana masih ada perkara-perkara yang lain yang tidak beliau sebutkan di sini.Ucapan beliau,فَيَنْبَغِي لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْذَرَهَا وَيَخَافَ مِنْهَا عَلَى نَفْسِهِ“Maka wajib bagi seorang muslim untuk waspada dan takut dia terjatuh di dalam perkara-perkara tersebut.Diantara bentuk kewaspadaan kita dan ketakutan kita adalah:1. Berdo’a dan berlindung kepada Allah dari seluruh pembatal keislaman.2. Mempelajari agama Allah, dimulai dari masalah akidah.3. Mengamalkan apa yang sudah dipelajari.Beliau rahimahullah mengatakan,نَعُوذُ بِاللهِ مِنْ مُوجِبَاتِ غَضَبِهِ، وَأَلِيمِ عِقَابِهِ“Kami berlindung kepada Allah dari segala hal yang menjadikan kemarahan Allah dan kami berlindung dari pedihnya siksaan Allah.”Ini adalah do’a terbaik dari pengarang rahimahullah. Beliau mendo’akan untuk beliau sendiri dan mendo’akan setiap orang yang membaca buku beliau ini. Berlindung kepada Allah dari segala hal yang menjadikan amarah Allah.Kemudian beliau mengatakan,وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ“Dan shalawat Allah serta salam-Nya atas Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabatnya.”Menggabungkan di dalam kalimat terakhir ini, antara shalawat dan salam, karena Allah Subhānahu wa Ta’āla memerintahkan kita untuk melakukan shalawat dan salam seperti dalam firman Allah,(إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا)[Surat Al-Ahzab 56]“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bersholawat atas Beliau dan ucapkanlah salam dengan sebenarnya.”Dengan demikian kita sudah menyelesaikan kitab yang mulia ini, kitab yang sangat bermanfaat, yaitu Nawaqidul Islam, yang berisi tentang 10 perkara yang paling besar yang bisa membatalkan keislaman seseorang.Semoga Allah Subhānahu wa Ta’āla memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan menjadikan ilmu yang kita dapatkan adalah ilmu yang diamalkan.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 10 Jul 2026Baca selengkapnya →