📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Talbis Iblis Terhadap Orang Yang BerAmar Ma'ruf Nahi Munkar

Talbis iblis #9penulis: Imam Ibnu Jauzi ustadz Dr Firanda Adirja MAPentingnya Amar Ma'ruf Nahi Munkar: Kegiatan ini adalah ibadah yang agung dan ciri umat terbaik, namun pelaksanaannya memerlukan fikih atau pemahaman yang mendalam, tidak bisa dilakukan sembarangan.Kategori Pelaku: Dijelaskan ada dua tipe orang dalam hal ini: orang yang berilmu dan orang yang jahil (bodoh). Iblis menggoda kedua kelompok ini dengan cara yang berbeda.Tipu Daya Iblis:Terhadap orang berilmu: Iblis masuk melalui celah kesombongan, seperti ingin dipuji (riya), ujub dengan amalannya, atau marah karena membela diri sendiri, bukan karena Allah.Terhadap orang bodoh: Iblis memanfaatkan kurangnya ilmu mereka, yang sering kali justru menimbulkan kerusakan lebih besar saat mencoba melakukan nahi mungkar, seperti melakukan tajasus (mencari-cari kesalahan) atau bertindak melampaui aturan syariat .Etika Menegur: Video ini menekankan pentingnya cara yang santun, terutama saat menegur penguasa, dengan meneladani kisah Nabi Musa dan Harun saat menghadapi Fir'aun

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
E
Ela septiana yusira

📍 Kota Tangerang

Talbis Iblis Terhadap Orang Yg Beramar Ma'ruf Nahi Munkar

Amar ma'ruf nahi munkar merupakan salah satu ibadah yang sangat agung. Melalui ibadah inilah umat Islam bisa menjadi umat yang terbaik. Sebaliknya, kaum terdahulu seperti Bani Israil dilaknat karena mereka saling membiarkan dan tidak melakukan nahi munkarFikih nahi munkar ada 4 kemungkinan:Kemungkaran itu menjadi hilang (wajib dilakukan)Kemungkaran tersebut berkurang ( wajib dilakukan)Mencegahnya justru memicu kemungkaran lebih besar ( tidak boleh dilakukan)Kemungkaran itu berganti dengan kemungkaran sejenis (perlu ijtihad)Ada hadist tentang mengubah kemungkaran dengan tangan, lisan atau hatiIbnu Jauzi membagi 2 golongan yang melakukan amar maruf nahi mungkar: orang yang alim (berilmu) dan orang yang jahil (bodoh)Talbis iblis kepada orang alim:Riya dan ujub: merasa ingin dipuji, bergaya dengan dakwahnya dan merasa ujub karena nasehatnyalah orang berhenti buat maksiatMarah karena membela diri: awalnya berniat ikhlas membela Allah namun setelah dicaci maki ia berubah membela diri bukan lagi membela agama AllahTalbis iblis kepada orang jahil (bodoh):Jika orang bodoh yang melakukan maka kerusakan yang ditimbulkan jauh lebuh besar dibandingkan perbaikan. Mereka bisa saja melarang hal yang sebeanrnya diperbolehkan oleh ijmak ulamaatau karena dia tidak memahami oerbedaan mahzabKemungkaran yang harus dilarang adalah yang sudah disepakati ijmak ulama keharamannya atau yang khilaf sangat lemah seperti riba dan musik. Sedangkan khilfiah yang kuat seperti fuqaha tidak boleh menuduh orang mengikuti nafsu. Berbahaya bila orang bodoh memaksakan diri melakukan mahi munkar tanpa filih sehingga bisa meributkan hal yang khilafiah kuat seperti qunut subuh

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
S
Salma laela fitri

📍 Kabupaten Karawang

Ringkasan pertemuan ke 9

Talbis Iblis terhadap Pelaku Amar Makruf Nahi Mungkar dan Ahli ZuhudPemateri: Ustadz Firanda Andirja حفظه اللهPendahuluanDi antara ibadah yang paling agung dalam Islam adalah amar makruf nahi mungkar. Dengan ibadah inilah Allah memuji umat Islam sebagai umat terbaik:"Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; kalian menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."Sebaliknya, Bani Israil dilaknat melalui lisan Nabi Daud dan Nabi Isa `alaihimassalam karena mereka tidak saling mencegah kemungkaran.Namun, amar makruf nahi mungkar bukanlah perkara yang dilakukan secara sembarangan. Ia memiliki fikih dan aturan yang luas sehingga seseorang harus memahami kapan mengingkari kemungkaran diperintahkan dan kapan tidak. Kaidah dalam Mengingkari KemungkaranKetika seseorang hendak mencegah kemungkaran, ada beberapa kemungkinan:1. Kemungkaran hilang sepenuhnya Wajib diingkari.2. Kemungkaran berkurang Tetap wajib diingkari.3. Kemungkaran justru semakin besarTidak boleh diingkari dengan cara tersebut, karena berarti menimbulkan kerusakan yang lebih besar.4. Kemungkaran berganti dengan kemungkaran lain yang sejenis Membutuhkan ijtihad dan pertimbangan para ulama.Hal ini menunjukkan bahwa nahi mungkar memerlukan ilmu dan hikmah.Tipuan Iblis terhadap Orang Alim yang BerdakwahMenurut Imam Ibnu al-Jauzi رحمه الله, pelaku amar makruf nahi mungkar terbagi menjadi dua:1. Orang berilmu.2. Orang bodoh.1. Riya dan UjubSetan menggoda orang berilmu dengan:* Ingin dipuji manusia.* Menampilkan diri agar dianggap pemberani.* Bangga terhadap keberhasilan dakwahnya.* Merasa dirinya lebih baik dari orang lain.Padahal amal yang benar harus ikhlas karena Allah semata.2. Marah karena Membela DiriTerkadang seseorang awalnya mengingkari karena Allah, namun ketika dihina atau dicela, ia berubah menjadi marah demi membela dirinya sendiri.Akhirnya perselisihan yang terjadi bukan lagi karena agama, tetapi demi mempertahankan harga diri. Kisah Abu SulaimanAbu Sulaiman pernah berniat menasihati khalifah setelah khutbah Jumat. Namun ia mengurungkan niatnya karena khawatir dirinya hanya ingin terlihat hebat di hadapan manusia.Beliau takut apabila terbunuh dalam keadaan niatnya tidak ikhlas.Hal ini menunjukkan betapa para salaf sangat menjaga keikhlasan mereka.Orang Bodoh yang Bernahi MungkarMenurut Ibnu al-Jauzi, kerusakan yang ditimbulkan orang bodoh dalam nahi mungkar terkadang lebih besar daripada perbaikannya.Di antaranya:Mengingkari perkara yang sebenarnya bolehKarena tidak memahami ilmu, ia bisa:* Mengharamkan perkara yang disepakati kebolehannya.* Mengingkari masalah khilafiyah yang kuat.Padahal tidak semua perbedaan pendapat boleh dijadikan bahan permusuhan.Tidak Memahami Perbedaan PendapatContoh masalah khilafiyah yang kuat:* Qunut Subuh.* Sebagian persoalan fikih yang diperselisihkan para ulama.Dalam masalah seperti ini, seseorang boleh menjelaskan pendapat yang dianggap lebih kuat, tetapi tidak boleh mencela dan merendahkan orang lain. Melakukan TajassusSebagian orang mencari-cari kesalahan orang lain:* Memata-matai.* Memanjat rumah orang.* Membongkar pintu rumah.* Memasang pengawasan demi mencari maksiat tersembunyi.Padahal Islam melarang tajassus.Main Hakim SendiriDi antara kesalahan yang sering terjadi:* Memukul pelaku maksiat.* Menganiaya pencuri hingga mati.* Menghina dengan kata-kata yang melampaui batas.Semua ini bertentangan dengan syariat.Membongkar AibIslam menganjurkan menutupi aib kaum muslimin.Tidak setiap maksiat harus diumbar kepada masyarakat. Bahkan terkadang orang yang kita cela bisa jadi telah bertobat dan lebih baik daripada kita. Sikap Imam Ahmad رحمه اللهImam Ahmad berpendapat:* Jika alat musik atau khamar telah disembunyikan dan tidak tampak, maka tidak boleh melakukan tajassus.* Jika hanya terdengar suara seruling tetapi tidak diketahui dari mana asalnya, maka tidak perlu dicari-cari.Beliau mengatakan: "Itu bukan urusanmu."Menasihati Penguasa dengan Lemah LembutOrang yang paling layak dinasihati dengan kelembutan adalah para penguasa.Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun: "Maka berbicaralah kepada Fir'aun dengan kata-kata yang lemah lembut."Padahal Fir'aun adalah manusia yang paling durhaka.Karena itu para salaf sangat menjaga adab ketika menasihati para pemimpin.Tujuannya adalah perbaikan, bukan pelampiasan emosi.Tipuan Setan: Tidak Mau Menegur karena Merasa Banyak DosaSebagian orang berkata: "Saya sendiri masih banyak dosa, bagaimana mungkin saya menasihati orang lain?"Ini adalah tipu daya setan.Seseorang memiliki dua kewajiban:1. Meninggalkan maksiat.2. Mengingkari kemungkaran.Jika ia meninggalkan keduanya, berarti ia mendapatkan dua dosa.Walaupun nasihatnya mungkin kurang berpengaruh, ia tetap wajib menyampaikan kebenaran. Tipuan Iblis terhadap Ahli Zuhud dan Ahli IbadahSebagian orang memahami celaan terhadap dunia secara keliru.Mereka mengira bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh dengan:* Meninggalkan dunia seluruhnya.* Menyendiri di gunung.* Tidak menghadiri salat Jumat dan jamaah.* Meninggalkan ilmu.Padahal dunia pada zatnya tidak tercela.Yang tercela adalah:* Memperolehnya dengan cara haram.* Menggunakannya untuk maksiat.* Berlebih-lebihan dalam memanfaatkannya. Dunia Merupakan Sarana Menuju AkhiratDengan dunia seseorang dapat:* Menuntut ilmu.* Beribadah.* Menafkahi keluarga.* Membangun masjid.* Bersedekah.Karena itu dunia bukan musuh, tetapi sarana yang dapat digunakan untuk mendekat kepada Allah. Zuhud Bukan Meninggalkan Semua KenikmatanSebagian orang mengira zuhud berarti:* Tidak makan makanan yang enak.* Tidak makan buah.* Tidak minum air dingin.* Memakai pakaian yang kasar.* Menyiksa tubuh.Padahal Rasulullah ﷺ:* Menyukai daging kambing.* Memakan ayam.* Menyukai makanan manis.* Menyukai air yang dingin dan segar.Ini menunjukkan bahwa menikmati perkara halal tidak bertentangan dengan zuhud. Hakikat ZuhudIbnu Rajab رحمه الله menjelaskan: Wara'Meninggalkan sesuatu yang dikhawatirkan membahayakan akhirat.Konsekuensinya:* Meninggalkan yang haram.* Meninggalkan yang syubhat. ZuhudMeninggalkan perkara yang tidak bermanfaat bagi akhirat.Karena itu seorang mukmin hendaknya selalu bertanya: "Apakah perkara ini bermanfaat bagi akhiratku?"Jika tidak ada manfaatnya, maka meninggalkannya termasuk bentuk zuhud. Tubuh adalah Kendaraan Menuju AkhiratIbnu al-Jauzi mengibaratkan tubuh sebagai kendaraan.Karena itu tubuh tidak boleh:* Disiksa.* Dipaksa berlebihan.* Dibiarkan rusak.Seorang hamba hendaknya mengambil perkara yang bermanfaat bagi tubuhnya dan meninggalkan sikap berlebih-lebihan.Kritikan terhadap Sikap RahbaniyyahSebagian orang:* Sibuk dengan dunia dan hawa nafsu.Sebagian lainnya:* Tenggelam dalam ibadah sampai melalaikan hak keluarga, orang tua, dan masyarakat.Padahal Islam berada di tengah-tengah.Ibadah harus berjalan sesuai dengan syariat dan akal yang sehat, bukan mengikuti hawa nafsu dan bukan pula sikap rahbaniyyah yang berlebihan.Pelajaran Penting* Amar makruf nahi mungkar membutuhkan ilmu dan hikmah.* Keikhlasan adalah perkara yang sangat penting dalam dakwah.* Tidak semua perbedaan pendapat boleh dijadikan bahan permusuhan.* Tajassus dan membuka aib kaum muslimin dilarang.* Menasihati penguasa dilakukan dengan kelembutan.* Banyak dosa bukan alasan meninggalkan dakwah.* Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia seluruhnya.* Dunia adalah sarana menuju akhirat.* Menikmati perkara halal yang tidak berlebihan tidak bertentangan dengan sifat zuhud.* Islam adalah agama pertengahan, jauh dari sikap berlebih-lebihan maupun sikap mengikuti hawa nafsu.**والله تعالى أعلم بالصواب**

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026

Talbis Iblis Terhadap Orang yang Beramar Ma'ruf Nahi Munkar

Setan menggoda dengan memunculkan sifat riya' dan ujub atas perbuatannya. Setan juga memancing kemarahan pribadi hingga seseorang membela diri sendiri, bukan membela agama.Setan menyesatkan dengan mendorong mereka melakukan nahi mungkar tanpa ilmu yang dapat menimbulkan kerusakan lebih besar.Pengingkaran harus dilakukan dengan fikih yang benar dan tidak boleh membongkar aib.Setan membisikkan bahwa zuhud berarti meninggalkan dunia sepenuhnya dan pergi mengasingkan diri ke gunung/hutan, yang mengakibatkan seseorang lalai dari kewajiban seperti shalat berjamaah, menuntut ilmu dan berbakti pada keluarga. Zuhud adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat untuk akhirat, bukan meninggalkan perkara mubah yang memberi manfaat.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
R
Regita Dwi Ananda

📍 Kota Bandung

Talbis iblis -9

Talbis iblis bagi orang-orang yang ber amar ma’ruf nahi munkar.Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia (QS Ali Imran: 110)Allah ﷻ  berfirman:“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 104)Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,”Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman’.”Talbis iblis pada Pelaku Nabi Munkar. .Orang Alim – Iblis masuk lewat pintu dakwah tapi riya dan ujub.Kadang pendakwah ada yang bergaya supaya dilihat banyak orang.Ada juga yang nahi munkar dengan marah karena dirinya (bukan karena Allah).Maka sangat sulit untuk berantah-bantahan karena Allah, kadang terkenal bisikan iblis untuk membela dirinya.Orang tidak berilmu. Bisa jadi yang diingkari sebenarnya bukan kemungkaran.Misal masalah fiqih, dan kemungkaran tersebut khilaf.Adapun menjelaskan kemungkaran dengan pendapat mana yang lebih kuat itu boleh.Kadang orang nahi munkar dengan merusak pintu.Nahi munkar harus sabar, tahan emosi.Kadang orang yang kurang ilmu melakukan nahi munkar tetapi membuka hal yang seharusnya ditutupi (misalnya aib).Imam Ahmad – kalau mau nahi munkar tetapi malah akan didzalimi maka sebaiknya jangan dilakukan.Bisa jadi orang yang kita anggap lakukan maksiat ternyata sudah taubat, bisa jadi mereka lebih baik daripada kita sendiri.Orang yang paling kita lembutin dalam nahi munkar adalah para pengusaha.Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Musa untuk nasihati Fir’aun."maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.Surat Ta-Ha (20) Ayat 44Setan juga membisikkan kepada orang bahwa yang nahi munkar hanya ahli ilmu ulama).Sesungguhnya orang yang ber nahi munkar adalah sedang menasihati dirinya sendiri.Talbis iblis pada ahli zuhudSalah satu talbis Iblis atas orang-orang zuhud adalah memalingkan mereka dari Jalan ilmu yang shahih dengan dalih sibuk merealisasikan Kezuhudan. Dengan begitu, mereka sudah menukarkan sesuatu yang hina dengan sesuatu yang mulia. Mengapa bisa demikian? Karena manfaat yang dihasilkan orang zuhud sebatas untuk dirinya sendiri. Sedangkan manfaat yang diberikan orang alim dapat dirasakan banyak pihak. Betapa banyak orang alim yang berhasil mengembalikan ahli ibadah yang tersesat ke jalan yang benar. Dunia itu secara dzat tidak tercela tapi yang tercela adalah sifat orang terhadap dunia tersebut.Iblis bisikan orang yang tinggalkan dunia dengan pergi ke gunung, ibadah sendiri, tidak sholat jama’ah, tidak sholat jumatan.Ada orang yang ikuti orang sholeh pergi ke gunung dengan meninggalkan hak-hak orang, ada yang durhaka kepada orang tua nya dst.Kata Ibnul Jauzi, yang tercela itu.1. Ambil dunia dengan cara haram.2. Ambil dunia secara berlebihan.3. Ambil dunia dengan hawa nafsu.DefinisiZuhad bukan berarti tinggalkan yang mubah.Zuhud – tinggalkan yang tidak manfaat di akhirat.Wara – tinggalkan sesuatu yang mungkin ada mudharat di akhirat. Konsekuensi nya adalah tinggalkan yang haram dan syubhat.Talbis Iblis lainnya terhadap mereka adalah membuat mereka meyakini bahwa zuhud itu meninggalkan segala hal mubah. Maka dari itulah beberapa dari mereka hanya makan roti gandum, sebagiannya tidak pernah merasakan buah-buahan, dan selainnya menyedikitkan porsi makan hingga tubuhnya kurus-kering, atau menyiksa diri dengan memakai pakaian kulit yang kasar, atau tidak mau minum air yang bersuhu dingin. Semua itu bukanlah ajaran Rasulullah ﷺ, bukan pula ajaran para Sahabat dan Tabi’in. Mereka ini menahan lapar hanya ketika tidak ada makanan. Adapun apabila memiliki makanan, mereka pun makan. Rasulullah ﷺ makan daging dan menyukainya, makan ayam, menyukai yang manis-manis, dan suka menyegarkan diri dengan air dingin.Suatu hari, seorang laki-laki berkata: “Aku tidak makan khabish sebab tidak mampu mensyukurinya.” Mendengar perkataan tersebut, al-Hasan al-Bashri pun berkata: “Dia orang bodoh. Apa dia mampu mensyukuri nikmat air dingin?” Sufyan ats-Tsauri setiap kali bepergian selalu membawa daging panggang dan faludzaj (sejenis makanan dari kurma). Setiap orang harus tahu bahwa jiwanya tidak ubahnya hewan tunggangan (tubuh kita). Hewan tunggangan mesti diperlakukan lemah lembut agar dapat mengantarkan ke tempat tujuan. Ambillah apa yang bermanfaat bagi jiwa dan tinggalkanlah yang menyakitinya, seperti terlalu kenyang setelah makan atau berlebihan mengkonsumsi sesuatu yang diinginkan, karena ini mengganggu raga dan agama. Talbis Iblis berikutnya terhadap orang zuhud adalah membuat mereka meyakini hakikat zuhud berupa merasa cukup dengan makanan dan pakaian sederhana saja. Maka mereka merasa cukup dengan yang sederhana itu, namun hati mereka terus berambisi meraih kekuasaan dan wibawa, sehingga orang-orang seperti mereka ini selalu menantikan kunjungan penguasa, hanya memuliakan orang kaya tetapi tidak acuh kepada orang miskin, berpura-pura khusyuk di hadapan orang lain seakan baru keluar dari musyahadab. Terkadang, salah seorang dari mereka ada yang sampai menolak pemberian harta, agar bisa dikatakan bahwa pada dirinya terlihat ciri kezuhudan. Padahal mereka selalu saja berharap akan kedatangan orang lain, tangan mereka ingin dicium oleh para penguasa, dan ingin mendapatkan tampuk kepemimpinan duniawi yang paling tinggi, karena puncak dari kenikmatan duniawi itu adalah mendapatkan tampuk kekuasaan pribadi. 

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Talbis Iblis #9 : Talbis Iblis terhadap Orang yang Beramar Ma’ruf Nahi Munkar

Talbis Iblis #9 :Talbis Iblis terhadap Orang yang Beramar Ma’ruf Nahi MunkarOleh Ustadz Firanda Andirja Hafidzahullah Ta’alaAmar ma'ruf nahi munkar adalah ibadah yang sangat agung yang menjadi ciri utama umat terbaik, Sebaliknya, meninggalkan ibadah ini berakibat buruk; dicontohkan seperti kaum Bani Israil yang dilaknat karena tidak saling mencegah kemungkaran.Bernahi munkar tidak boleh dilakukan sembarangan dan membutuhkan ilmu/fikih yang luas. Ada 4 kemungkinan hukum saat seseorang mencegah kemungkaran:Jika kemungkaran itu hilang atau berkurang, maka wajib berhani munkar.Jika kemungkaran tersebut berkurang, maka wajib berhani munkar.Jika bernahi munkar justru melahirkan kemungkaran lain yang lebih dahsyat, maka tidak boleh dilakukan.Jika kemungkaran terganti dengan kemungkaran lain yang sejenis, hal ini membutuhkan ijtihad.Rasulullah صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak mampu, (maka ubahlah) dengan lisan. Jika tidak mampu, (maka ubahlah) dengan hati. Itulah iman yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)Ibnu Jauzi membagi orang yang beramar ma'ruf nahi munkar menjadi dua model:1.     Orang Berilmu (alim)Meskipun mengerti fikih dakwah, Iblis tetap mengincar mereka melalui dua jalan tipuan (talbis):1.     Pintu Riya dan Ujub (Pamer): Setan membisikkan keinginan agar pelaku dakwah dipuji, disebut-sebut oleh manusia, atau merasa kagum (ujub) pada dirinya sendiri ketika berhasil membuat orang lain tunduk atau berhenti dari kemungkaran.2.     Marah karena Membela Diri (Bukan Karena Allah): Awalnya bernahi munkar karena Allah, namun saat pelaku maksiat tersebut mencela balik (misal: mengejek, mencaci), emosinya terpancing. Akhirnya, pembelaan tersebut berubah menjadi perdebatan demi memenangkan ego diri sendiri, bukan lagi murni membela syariat Allah. 2.     Orang JahilSetan sangat mudah mempermainkan orang bodoh yang nekat bernahi munkar tanpa bekal ilmu. Kerusakan yang mereka timbulkan sering kali jauh lebih besar daripada perbaikannya. Bentuk kesalahannya antara lain:·       Melarang sesuatu yang sebenarnya dibolehkan secara syariat.·       Ribut dan mencela orang lain pada perkara khilafiah (perbedaan pendapat) yang kuat di kalangan ulama (misal: qunut subuh).·       Melakukan tindakan tajasus (mencari-cari kesalahan orang lain) secara berlebihan, seperti mendobrak atau memanjat rumah orang demi melihat kemaksiatan rahasia yang seharusnya tidak diumbar.·       Main hakim sendiri, melampaui batas dengan memukul, merusak properti, atau menuduh seseorang dengan tuduhan keji tanpa bukti sah. Larangan Membanggakan Diri & Mengumbar Aib Pelaku MaksiatDiantara talbis iblis terhadap orang yang mengingkari kemunkaran:·       Seseorang berhasil bernahi munkar, ia duduk di perkumpulan atau media (seperti podcast) lalu menceritakan kehebatannya dalam menegur kemaksiatan serta mencaci-maki pelaku secara berlebihan.Kata Ibnul Jauzi: Kemungkinan orang yang ditegur sudah bertobat kepada Allah, dan bisa jadi penyesalan pelaku maksiat itu membuatnya lebih baik di sisi Allah ketimbang kesombongan orang yang menegurnya.Para Salaf Dahulu Lembut dalam Mengingkari§  Seorang salaf melihat seorang lelaki bicara dengan wanita bukan mahramnya, maka dia tegur dengan kata-kata: “Sesungguhnya Allah melihat kalian berdua, semoga Allah menutup aibku dan aib kalian”, kemudian dia pergi.§  Melihat orang-orang sedang bermain-main, dia berkata: “Wahai saudara-saudaraku, bagaimana pendapat kalian tentang orang yang ingin bersabar tapi tidur semalaman, tidak jalan-jalan, malamnya tidur melulu, siangnya main melulu, kapan dia akan bersabar?” Dari orang-orang ini ada yang sadar, lalu taubat dan mengikuti orang alim itu.Aturan Bernahi Munkar kepada Penguasa§  Penguasa adalah pihak yang paling utama untuk dinasihati dengan cara yang penuh kelembutan.§  Allah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menghadapi Firaun yang sangat melampaui batas dengan perintah agar berucap menggunakan kata-kata yang lembut (qaulan layyina).Allah berfirman:فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ “Pergilah kalian berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Ucapkanlah kepada Fir'aun dengan kata-kata yang lembut. Siapa tahu dia sadar dan mengambil pelajaran atau takut kepada Allah” (QS. Thaha: 43-44) Talbis Iblis terhadap Ahli Zuhud dan Ahli Ibadah·       Salah Memahami Hakikat Dunia: Iblis membisikkan bahwa seluruh unsur dunia ini haram dan tercela. Akibatnya, mereka mengharamkan hal mubah yang sebenarnya dihalalkan Allah, seperti makan makanan yang enak atau minum air segar. Mereka mengira menyiksa fisik adalah bentuk ketakwaan.·       Uzlah (Mengasingkan Diri) yang Keliru: Banyak ahli zuhud memilih pergi ke gunung atau gua demi menjauhi manusia. Iblis menipu mereka sehingga mereka meninggalkan kewajiban yang lebih besar seperti shalat Jumat, shalat berjamaah, menuntut ilmu, dan menafkahi keluarga.·       Menelantarkan Hak Keluarga dan Orang Lain: Demi mengejar "kesucian diri", mereka mengabaikan tanggung jawab sosial. Mereka membiarkan anak istri terlantar atau membuat ibu mereka menangis karena ditinggal pergi tanpa izin dan nafkah.·       Zuhud Lahiriah, tapi Haus Kekuasaan dan Pujian (Syahwat Tersembunyi): Ini adalah tipu daya yang sangat halus. Secara pakaian dan makanan mereka terlihat sangat sederhana (bahkan sengaja memakai baju compang-camping dan bermuka pucat agar dipuji), namun hati mereka sangat menikmati sanjungan, suka dicium tangannya, dan senang jika dikunjungi oleh pejabat atau penguasa.·       Meremehkan Ilmu dan Ulama: Iblis membuat mereka merasa bahwa amalan hati dan kezuhudan mereka jauh lebih mulia daripada duduk di majelis ilmu. Mereka menganggap para fuqaha (ahli fikih) sebagai orang yang "terlalu sibuk dengan dunia", padahal ibadah tanpa ilmu justru merusak.·        Kesimpulan: Benteng terbaik untuk selamat dari seluruh tipu daya ini adalah Ilmu Agama yang Shahih (berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah). Ilmu adalah cahaya; iblis hanya bisa menipu di dalam kegelapan kebodohan. Keutamaan seorang alim (berilmu) jauh lebih tinggi daripada seorang ahli ibadah yang bodoh, karena orang berilmu tahu batasan-batasan syariat dan tipuan-tipuan setan. @dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakCahaya

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

HALAQAH 4 : CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 2

HALAQAH 4 :CARA BERIMAN KEPADA PARA RASUL BAGIAN 2Oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ADiantara cara beriman dengan para Rasul:3.     Meyakini bahwa para rasul benar-benar terlepas dari sifat dusta, penyembunyian ilmu dan pengkhianatan.Dalil Al Qur’an :Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanقَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنْ بَعَثَنَا مِنْ مَرْقَدِنَا ۜ ۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ “Mereka berkata “celaka kita, siapakah yang telah membangkitkan kita dari tempat istirahat kita, inilah yang dijanjikan oleh Ar-Rahman dan benarlah para Rasul” (QS. Yasin : 52) Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ (٤٤)لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ (٤٥) ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ (٤٦) فَمَا مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ عَنۡهُ حَـٰجِزِينَ (٤٧) “Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, pasti kami pegang dia pada tangan kanannya kemudian kami potong pembuluh jantungnya maka tidak seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi Kami untuk menghukumnya” (QS. Al-Haqqah : 44-47) 4.     Keyakinan yang dalam bahwasanya mereka telah melaksanakan tugas mereka dengan sempurna dan sebaik-baiknya dan Allah tidak mewafatkan mereka kecuali setelah mereka menyampaikan secara sempurna risalah Allah kepada kaumnya.Dalil Al Qur’an : Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirmanرُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا “Rasul-Rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah Rasul-Rasul itu diutus Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An-Nisa : 165)Dan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ “Dan tidaklah Kami utus seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya supaya dia menerangkan kepada mereka” (QS. Ibrahim : 4) @dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
N
Nur Fathiyyah

📍 Kota Depok

Materi 10

Talbis Iblis terhadap Ahli Zuhud: Zuhud yang Tercampuri Keinginan Akan KedudukanIbnu Jauzi rahimahullah menjelaskan bahwa salah satu tipu daya iblis terhadap ahli zuhud adalah membuat mereka memahami zuhud hanya sebatas meninggalkan makanan enak dan pakaian bagus. Mereka merasa telah zuhud karena hidup sederhana, padahal hati mereka masih mencintai kedudukan, penghormatan, dan sanjungan manusia.Seseorang mungkin memakai pakaian sederhana dan makan seadanya, namun sangat senang jika dihormati, dikunjungi pejabat, dicium tangannya, atau dipuji sebagai orang saleh. Padahal, mencari kedudukan dan pengakuan manusia merupakan bagian dari kecintaan terhadap dunia yang lebih halus dan lebih berbahaya.Ibnu Jauzi menyebutkan bahwa sebagian ahli zuhud bangga ketika rumahnya didatangi para pembesar. Mereka memuliakan orang kaya, namun kurang memperhatikan orang miskin. Mereka menampakkan kekhusyukan dan kesederhanaan agar dipandang mulia oleh masyarakat.Beliau membedakan antara riya yang terang-terangan dan riya yang samar. Riya yang terang-terangan seperti sengaja berpenampilan lusuh, berbicara lemah lembut secara dibuat-buat, atau menampakkan tubuh kurus agar dianggap ahli ibadah. Semua orang dapat mengenali bentuk riya semacam ini.Namun yang lebih berbahaya adalah riya khafi (riya yang tersembunyi), yaitu ketika seseorang beramal karena menginginkan penghormatan dan kedudukan dalam hati manusia, meskipun secara lahiriah ia tampak zuhud.Kisah Pendeta Sam’an dan Ibrahim bin AdhamIbrahim bin Adham rahimahullah pernah belajar sebuah pelajaran berharga dari seorang pendeta Nasrani bernama Sam’an.Ketika ditanya apa yang ia makan selama tinggal di tempat ibadahnya selama 70 tahun, pendeta itu menjawab bahwa ia hanya memakan satu butir kacang (humus) setiap malam.Ibrahim bin Adham bertanya:“Apa yang membuatmu mampu bertahan dengan kehidupan seperti itu?”Pendeta itu kemudian menunjukkan kerumunan manusia yang datang setiap tahun untuk mengagungkan dirinya.Ia berkata:“Aku bersabar dengan kesulitan selama setahun demi mendapatkan kemuliaan sesaat ketika mereka datang menghormatiku.”Saat itulah Ibrahim bin Adham memahami bahwa seseorang bisa bersungguh-sungguh dalam ibadah bukan karena Allah, melainkan demi memperoleh penghormatan manusia.Kedudukan adalah Syahwat yang TersembunyiIbnu Taimiyah rahimahullah menyebut keinginan untuk dihormati dan diagungkan sebagai syahwat khafiyyah (syahwat yang tersembunyi).Sebagaimana orang lapar menginginkan makanan dan seorang lelaki menginginkan wanita, ada pula orang yang sangat menginginkan penghormatan, pujian, dan kedudukan di hati manusia.Karena itulah Allah berfirman:“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna…” (QS. Hud: 15)Dan Allah juga berfirman:“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki ketinggian di muka bumi dan tidak pula membuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 83)Orang Saleh Terdahulu Sangat Takut Terhadap RiyaPara salaf sangat berhati-hati terhadap penyakit ini.Muhammad bin Sirin rahimahullah di siang hari tampak biasa saja, bercanda dan berinteraksi dengan masyarakat. Namun pada malam hari beliau menangis dalam ibadahnya.Daud bin Abi Hind rahimahullah bahkan berhasil menyembunyikan puasa sunnahnya selama dua puluh tahun dari keluarganya. Setiap pagi ia membawa bekal dari rumah, lalu menyedekahkannya di perjalanan. Keluarganya mengira ia makan di pasar, sedangkan orang-orang pasar mengira ia sudah makan di rumah.Dengan cara itu, ibadahnya tetap tersembunyi.Ketika Penghormatan Menjadi TujuanIbnu Jauzi mengingatkan bahwa seseorang bisa saja meninggalkan dunia, namun sebenarnya sedang mengejar dunia dalam bentuk yang lebih halus.Ia senang jika kebutuhannya dipenuhi karena dianggap saleh.Ia senang jika diberi harga murah karena dikenal sebagai ahli ibadah.Ia senang jika orang-orang berdiri menghormatinya.Ia senang jika banyak orang berkumpul di depan rumahnya.Semua itu bisa menjadi bentuk riya yang sangat samar.Sikap Para Salaf terhadap PopularitasYusuf bin Asbath rahimahullah pernah datang ke sebuah kota. Ketika banyak orang berdiri dari toko-toko mereka untuk memberi salam dan menghormatinya, beliau segera kembali ke kota asalnya.Beliau berkata:“Aku tidak bisa mengembalikan hatiku seperti sebelumnya.”Beliau khawatir penghormatan manusia akan merusak keikhlasan yang selama ini dijaganya.Teladan Nabi dan Para SahabatRasulullah ﷺ tidak mengasingkan diri demi menjaga kewibawaan. Beliau pergi ke pasar, memenuhi kebutuhan keluarganya, menyisir rambut, memakai minyak wangi, dan memperhatikan penampilan.Abu Bakar radhiyallahu ’anhu tetap berdagang dan memikul barang dagangannya sendiri.Abdullah bin Salam radhiyallahu ’anhu pernah memikul kayu bakar di atas kepalanya. Ketika ditanya mengapa melakukan hal itu padahal beliau berkecukupan, beliau menjawab:“Aku ingin menghilangkan kesombongan dari diriku.”Kisah Orang Saleh yang Menghindari PopularitasWahab bin Munabbih rahimahullah menceritakan tentang seorang saleh yang termasuk orang terbaik pada zamannya. Suatu hari ia berkata:“Kita meninggalkan dunia karena takut terjerumus dalam sikap berlebihan. Namun aku khawatir justru kita terjatuh pada sesuatu yang lebih berbahaya daripada apa yang menimpa para pencinta dunia.”Ketika ditanya apa yang dimaksud, ia menjelaskan bahwa terkadang seseorang senang jika kebutuhannya dipenuhi karena kesalehannya, senang diberi kemudahan dalam urusan dunia karena dianggap ahli ibadah, dan senang ketika dihormati karena agamanya.Nasihat ini sampai kepada seorang raja. Raja pun sangat kagum dan ingin bertemu dengannya.Ketika orang saleh itu mendengar bahwa raja akan datang, ia justru berusaha menghilangkan kesan kesalehannya di hadapan sang raja. Pada hari itu ia membatalkan kebiasaan puasanya dan makan sebagaimana biasanya orang makan.Saat raja melihatnya, ia berkata:“Tidak ada keistimewaan pada orang seperti ini.”Raja pun pergi.Setelah raja pergi, orang saleh itu berkata:“Segala puji bagi Allah yang telah memalingkan dirinya dariku.”Ia tidak ingin penghormatan manusia menjadi fitnah bagi hatinya.Yazid bin Marsad Menolak JabatanKetika Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik berkeinginan mengangkat Yazid bin Marsad sebagai pejabat, kabar tersebut sampai kepada Yazid.Karena tidak ingin diangkat menjadi pejabat, ia melakukan sesuatu yang membuat orang menganggapnya tidak layak.Ia memakai pakaian secara terbalik, berjalan di pasar tanpa penutup kepala dan tanpa alas kaki, sambil makan dan minum di hadapan orang banyak.Ketika keadaan itu dilaporkan kepada khalifah, keinginan untuk mengangkatnya pun dibatalkan.Ibnu Jauzi menyebutkan kisah ini sebagai bukti bahwa sebagian orang saleh dahulu justru menghindari kedudukan dan popularitas, bukan mencarinya.Menyembunyikan Amal SalehPara salaf sangat menjaga keikhlasan dengan berusaha menyembunyikan amal-amal mereka.Di antara contohnya adalah Daud bin Abi Hind rahimahullah yang berpuasa sunnah selama dua puluh tahun tanpa diketahui keluarganya.Setiap pagi istrinya menyiapkan bekal untuknya. Bekal itu dibawanya keluar rumah lalu disedekahkan kepada orang lain di perjalanan.Keluarganya mengira ia makan di pasar, sedangkan orang-orang pasar mengira ia sudah makan di rumah.Dengan cara itu, puasanya tetap tersembunyi selama bertahun-tahun.Zuhud yang Dicari Karena Ingin DipujiIbnu Jauzi mengingatkan bahwa terkadang seseorang mampu bersabar menjalani hidup sederhana karena tahu orang-orang akan membicarakan kezuhudannya.Ia merasa senang ketika disebut sebagai orang yang sederhana, wara’, atau ahli ibadah.Padahal jika pujian manusia menjadi pendorong utama dalam amalnya, maka keikhlasannya telah tercemari.Sebagaimana kisah pendeta Sam’an yang rela hidup susah selama setahun demi memperoleh penghormatan manusia selama sesaat.Bahaya Popularitas bagi HatiYusuf bin Asbath rahimahullah pernah datang ke sebuah kota. Ketika orang-orang mengenalinya dan berbondong-bondong mengucapkan salam serta menghormatinya, beliau segera meninggalkan kota tersebut.Beliau berkata:“Aku tidak bisa mengembalikan hatiku seperti sebelumnya.”Beliau memahami bahwa popularitas dapat mengubah hati seseorang.Betapa banyak orang yang dahulu tawadhu ketika belum dikenal, namun berubah setelah terkenal. Dahulu mudah bergaul, namun setelah banyak pengikut menjadi sulit ditemui. Dahulu rendah hati, namun setelah dihormati banyak orang menjadi merasa lebih tinggi daripada yang lain.Karena itulah para salaf sangat takut terhadap ketenaran yang dapat merusak keikhlasan.Teladan Nabi Yusuf AlaihissalamUstadz Firanda menjelaskan bahwa salah satu contoh terbaik adalah Nabi Yusuf alaihissalam.Ketika masih berada di dalam penjara, teman-temannya berkata:“Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang-orang yang berbuat baik.”Bertahun-tahun kemudian, setelah beliau menjadi pejabat tinggi Mesir, saudara-saudaranya juga berkata:“Sesungguhnya kami memandangmu termasuk orang-orang yang berbuat baik.”Keadaannya tidak berubah.Saat dipenjara beliau adalah seorang muhsin. Ketika menjadi pejabat besar pun beliau tetap seorang muhsin.Inilah tanda keikhlasan yang sejati: keadaan hati tetap sama ketika tidak dikenal maupun ketika dihormati manusia.Kesimpulan KajianMenurut Ibnu Jauzi rahimahullah, salah satu talbis iblis yang paling halus adalah membuat seseorang beramal untuk mencari kedudukan di hati manusia.Ia mungkin meninggalkan harta, pakaian mewah, dan makanan enak. Namun jika ia masih menginginkan pujian, penghormatan, pengagungan, dan popularitas, maka hakikat zuhud belum benar-benar masuk ke dalam hatinya.Keikhlasan yang sejati adalah beramal hanya karena Allah, tanpa menjadikan penghormatan manusia sebagai tujuan.Sebagaimana firman Allah Ta’ala:“Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menghendaki ketinggian di muka bumi dan tidak pula membuat kerusakan.”(QS. Al-Qashash: 83)Maka seorang mukmin hendaknya terus mengawasi niatnya, karena riya yang samar sering kali lebih sulit dikenali daripada riya yang tampak.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 4

Halaqah yang ke empat dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.الثانيSimpul yang ke dua diantara simpul-simpul yang dengannya Insya Allah kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita, yaitu dengan,إخلاص النية فيهMengikhlaskan niat di dalam ilmu.فيه di sini kembali kepada ilmu. Mengikhlaskan niat untuk Allāh ﷻ. Ilmu ini adalah sesuatu yang mulia maka diantara bentuk pemuliaan kita terhadap ilmu hendaklah niat kita di dalam mencari ilmu tersebut adalah karena Allāh ﷻ bukan karena makhluk. Karena kalau kita niatnya adalah karena dunia berarti kita menghinakan ilmu. Ilmu ini Mulia, kalau kita niatnya mencari ilmu tersebut untuk mencari sesuatu yang hina berarti kita menghinakan ilmu. Tapi kalau niat kita di dalam menuntut ilmu adalah ingin surganya Allāh ﷻ, ingin dimuliakan oleh Allāh ﷻ, ingin diberi ganjaran oleh Allāh ﷻ, berarti kita telah ikhlas di dalam menuntut ilmu tersebut. Ini termasuk pengangungan kita terhadap ilmu.إنَّ إخلاصَ الأعمال أساسُ قَبولها، وسُلَّمُ وصولهاSesungguhnya keikhlasan di dalam beramal itu adalah pondasi untuk diterima.Kalau tidak ikhlas maka amalannya tidak diterima oleh Allāh ﷻ. Beliau menyebutkan di sini keutamaan-keutamaan ikhlas, dan dia adalah tangga supaya sampai kepada diterimanya amal, jadi pondasinya ikhlas, tangganya juga keikhlasan. Dia harus ada dari awal maupun ketika berjalan. Amalan tersebut harus ada.قال تعالىٰAllāh subhanahu wa ta’ala mengatakan,وَمَا أُمِرُوْا إِلَّا لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ﴾ البينة: الآية 5Tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allāh ﷻ, yaitu menyembah Allāh ﷻ dalam keadaan ikhlas, dalam keadaan mentauhidkan Allah.وفي الصَّحيحينDi dalam Shahih Bukhari dan juga Muslim,عن عمر رضي الله عنه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال الأعمال بالنِّيَّة ، ولكل ٱمرئٍ ما نوىٰBeliau Shallallahu Alaihi Wasallam mengatakan, amalan itu adalah dengan niat dan bagi setiap orang apa yang dia niatkan.Amalan itu harus dengan niat. Kalau niatnya adalah karena Allāh ﷻ maka dia mendapatkan pahala dan kalau niatnya bukan karena Allāh ﷻ maka dia tidak mendapatkan pahala.Dan bagi masing-masing apa yang dia niatkan. Kalau niatnya adalah menginginkan pahala dari Allāh subhanahu wa ta’ala maka dia akan mendapatkan pahala tersebut, tapi kalau yang dia niatkan adalah dunia maka baginya apa yang dia niatkan, dia tidak mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ tapi hanya mendapatkan dunia, kalau Allāh subhanahu wa ta’ala menghendaki. Ini menunjukkan tentang kedudukan niat di dalam Islam.وما سبَق مَن سبَق، ولا وصَل من وصَل من السَّلف الصَّالحين، إلَّ بالإخلاص لله ربِّ العالمينTidaklah mendahului orang-orang yang terdahulu dan tidaklah sampai orang-orang yang sampai dari kalangan para Salafush shālihin kecuali karena keikhlasan mereka untuk Allāh ﷻ.Ini beliau masih menyebutkan tentang pentingnya ikhlas. Ternyata orang-orang dahulu mereka sampai menjadi seorang ahli ibadah, sampai menjadi seorang ahli fiqh, ada yang ahlul hadits, ada yang mereka dikenal dengan aqidahnya, tidaklah mereka sampai kepada keutamaan- keutamaan tersebut kecuali karena ikhlas. Jadi jangan kita menyangka mereka sampai pada kedudukan-kedudukan tadi hanya sekedar dengan melakukan perjalanan, hanya sekedar menghafal. Tidaklah mereka sampai seperti itu kecuali karena diantaranya yang utama adalah karena mereka ikhlas di dalam beramal. Mereka ikhlas di dalam menuntut ilmu karena mereka menganggungkan ilmu, karena niat mereka adalah karena Allāh ﷻ sehingga mereka akhirnya menjadi seorang ahli fiqh, menjadi seorang ahlul hadits.قال أبو بكرٍ المرُّوذيُّ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ :سمعت رجلاً يقول لأبي عبد الله يعني أحمدَ ابن حنبلٍ – وذكر له الصِّدق الإخلاص، فقال أبو عبد الله: بهٰذا ٱرتفع القومBerkata Abu Bakar Al-Marrudziy, Aku mendengar seseorang berkata kepada Imam Ahmad ibn Hanbal kemudian disebutkan kepada beliau tentang masalah kejujuran dan juga keikhlasan.Yang dimaksud dengan kejujuran di sini adalah kejujuran dalam keinginan. Orang yang keinginannya jujur maka dia akan kumpulkan keinginan tadi. Dia akan kumpulkan segenap keinginan dia itu. Namanya sidq, berarti dia jujur di dalam keinginannya.Al-ikhlas maksudnya adalah karena Allāh ﷻ, yaitu dia kumpulkan seluruh keinginan tadi untuk Allāh ﷻ.Berarti ada shidq, dia kumpulkan keinginan dia kemudian dia satukan semuanya untuk Allāh ﷻ dia ikhlaskan semuanya untuk Allāh ﷻ. Maka berkata Al Imam Ahmad ibn Hanbal,بهٰذا ٱرتفع القومDengan sebab ini maka orang-orang tersebut ditinggikan oleh Allāh ﷻ.Mengapa ditinggikan Sufyan Ats-Tsauri, Al-Auza’I, Abdullah bin Mubarak, Ahmad ibn Hanbal, Asy-Syafi’I, Al-Imamu Mālik?Kita harus tahu bahwasanya mereka bisa tinggi sedemikian tingginya itu karena Ash-Shidq wal Ikhlas, karena mereka dahulu mengumpulkan keinginan mereka, dikuatkan keinginan mereka, dan mereka satukan itu dan mereka tujukan itu semuanya adalah lillāhi Rabbil ‘alamin sehingga Allāh ﷻ pun mengangkat derajat mereka.وإنَّما ينال المرءُ العلم علىٰ قدر إخلاصهSesungguhnya seseorang mendapatkan ilmu sesuai dengan kadar keikhlasan dia.Semakin dia ikhlas maka semakin dia mendapatkan ilmu dan semakin dia berkurang keikhlasannya maka akan semakin berkurang juga ilmu yang dia dapatkan. Sehingga seseorang harus berusaha dan ini adalah bentuk pengagungan dia terhadap ilmu supaya ketika dia mencari ilmu yang mulia ini yang berharga ini niatnya adalah untuk mendapatkan surga, mendapatkan pahala dari Allāh ﷻ, bukan mendapatkan dunia.Kalau kita niatnya mendapatkan dunia maka berarti kita menghinakan ilmu dan kalau kita sudah menghinakan ilmu maka ilmu tidak akan mau tinggal bersama kita, tidak mau tinggal bersama orang yang menghinakan dia.Kita tidak bisa mempermainkan, ini sudah qaidah, ini sudah prinsip yang demikian, orang yang mengagungkan ilmu maka ilmu akan mengagungkannya. Kalau kita menghinakan ilmu dengan cara niat kita adalah untuk dunia, supaya dikenal, supaya populer, supaya mendapatkan harta dunia dengan ilmu tersebut, maka ketahuilah dia tidak akan mendapatkan ilmu selama-lamanya meskipun dia duduk di majelis selama puluhan tahun, kalau memang niatnya dia adalah untuk dunia karena dia telah menghinakan ilmu itu sendiri.والإخلاص في العلم يقوم علىٰ أربعة أُصولIkhlas di dalam ilmu itu dibangun di atas empat pondasi.بها تتحقَّق نيَّة العلم للمتعلِّم إذا قصدهاDengan empat perkara ini maka akan tercipta niat yang benar.Kalau kita bisa mengatur sehingga niat kita adalah beberapa perkara ini berarti kita sudah mewujudkan keikhlasan di dalam menuntut ilmu.Yang pertama adalah:الأوَّل: رفعُ الجهل عن نفسهNiat kita adalah ingin mengangkat kebodohan dari diri kita sendiri.بتعريفها ما عليها من العبوديَّت، وإيقافها علىٰ مقاصد الأمر والنهيKita ingin mengangkat kebodohan dari kita sendiri, ana tidak ingin bodoh, ana ingin punya ilmu. Kalau memang niat dia adalah demikian, ingin menyelamatkan dia dari jurang kebodohan maka dia telah ikhlas dalam menuntut yaitu dengan mengenalkan diri kita ini apa yang menjadi kewajiban dia berupa ibadah-ibadah.Karena dia diciptakan oleh Allāh ﷻ untuk beribadah maka dia kenalkan dirinya, dia sayangi dirinya, dia kenalkan dirinya dengan ibadah-ibadah tersebut dengan cara menuntut ilmu.Kemudian juga dia ingin menuntut ilmu dan juga ingin supaya jiwanya dan juga dirinya ini mengetahui tentang maksud-maksud dari perintah dan juga larangan, dia lebih ingin mendalami apa maksud dari perintah-perintah Allāh ﷻ dan juga larangan-larangan Allāh ﷻ, itu yang pertama.Kemudian yang ke dua di antara niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah:الثاني: رفع الجهل عن الخلق؛ بتعليمهم وإرشادهم لما فيه صاح دنياهم وآخرتهمAdalah dengan tujuannya ingin mengangkat kebodohan dari orang lain dengan cara mengajarkan mereka, memberikan petunjuk kepada mereka kepada sesuatu yang di situ ada maslahat bagi mereka baik di dunia mereka maupun di akhirat mereka.Kalau tujuan kita adalah ana ingin nanti setelah ana belajar ana ingin memberitahu dan mengajarkan kepada anak, ana ingin memberitahukan ilmu ini kepada orang tua ana, kepada tetangga ana, maka ini adalah termasuk ikhlas, itu bukan termasuk riya, itu termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.Yang ke tiga:الثَّالث: إحياء العلم، وحفظه من الضياعNiat kita adalah ingin menghidupkan ilmu.Yang sebelumnya mati di sebuah masyarakat, mereka tidak punya perhatian terhadap ilmu agama, kemudian kita ingin menghidupkan ilmu tersebut dimulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita, inginnya adalah menghidupkan ilmu supaya dia tidak hilang dan tidak luntur maka ini juga termasuk niat yang ikhlas.Yang ke empat:الرَّابع: العمل بالعلمNiat yang ikhlas dalam menuntut ilmu adalah ingin mengamalkan ilmu.Kalau niatnya adalah ingin mengamalkan ilmu, ana duduk di majelis ini supaya ana pulang dalam keadaan ana bisa mengamalkan apa yang ana dengar, maka ini juga termasuk ikhlas dalam menuntut ilmu.ولقد كان السَّلف رحمهم ﺍﻟﻠﻪ يخافون فوات الإخلاص في طلبهم العلم، فيتورَّعون عن ٱدعائه، لا أنَّهم لا يحقِّقوه في قلوبهمDahulu para Salaf rahimahumullah mereka takut kalau sampai mereka tidak ikhlas di dalam menuntut ilmu, karena kalau sampai tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka sudah capek-capek misalnya datang dari Baghdad menuju Yaman, kalau tidak ikhlas dalam menuntut ilmu mereka tidak mendapatkan ilmu tersebut, dan mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya sudah ikhlas, bukan berarti mereka tidak ikhlas tapi mereka malu dan tidak berani untuk mengatakan saya mukhlis.Biasanya orang yang ikhlas demikian orang yang ikhlas takut dia untuk mengatakan dirinya adalah orang yang ikhlas bukan berarti dia tidak ikhlas.Mereka para Salaf kita jelas mereka adalah orang-orang yang ikhlas dan kita mengetahui dari keilmuan mereka dan bagaimana umat ini mencintai mereka dan mengenal keshalehan mereka, kita berharap semoga mereka adalah orang-orang yang diberikan oleh Allāh ﷻ karunia yang besar yaitu dengan keikhlasan.Beliau memberikan contoh di sini ucapan dari Imam Ahmad ketika beliau ditanya,سئل الإمامُ أحمدُDitanya Al Imamu Ahmad,هل طلبت العلم لله؟Apakah engkau mencari ilmu dulunya adalah karena Allāh ﷻ?فقال: لله عزيزBeliau mengatakan untuk Allāh ﷻ ini adalah perkara yang berat, yaitu untuk ikhlas karena Allāh ﷻ ini bukan perkara yang mudah.ولكنَّه شيءٌ حُبِّبَ إليَّ فطلبتُهAkan tetapi ini adalah sesuatu yang aku senangi, yaitu mereka senang untuk menghafal, mereka senang untuk berpikir tentang ilmu.فطلبتُهMaka aku pun mencarinya.Bukan berarti ucapan Al Imamu Ahmad bin Hanbal di sini berarti beliau tidak ikhlas, tapi beliau dan juga para imam seperti beliau mereka wara’ sehingga mereka tidak berani untuk mentazkiyah diri mereka dan mengatakan kami adalah orang-orang yang ikhlas di dalam menuntut ilmu agama.ومن ضيَّع الإخلاص فاته علمٌ كثيرٌ ، وخيرٌ وفيرٌBarangsiapa yang menyia-nyiakan keikhlasan maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak dan kebaikan yang banyak.Barangsiapa yang menyia-nyiakan keikhlasan, dia tidak memperhatikan dirinya, tidak memperhatikan niatnya di dalam menuntut ilmu, dia biarkan begitu saja hadir ke majelis ilmu, mendatangi majelis ilmu, keluar dari majelis ilmu tapi dia tidak pernah memperhatikan apakah dia ikhlas atau tidak niatnya apa ini, maka dia akan kehilangan ilmu yang banyak, dia tidak akan mendapatkan apa-apa.وينبغي لقاصد السَّامة أن يتفقَّد هٰذا الأصلMaka hendaklah orang-orang yang menginginkan keselamatan dia melihat pondasi ini hendaklah dia memperhatikan simpul ini, senantiasa memperhatikan bukan sekali dua kali tapi senantiasa dia memperhatikan dia tujuannya apa dalam menuntut ilmu agama ini karena Allāh ﷻ atau karena dunia.وهو الإخلاصYaitu keikhlasan.في أموره كلِّها، دقيقِها وجليلِها، سرِّها و عَلَنِهاDi dalam seluruh perkaranya baik perkara yang kecil maupun perkara yang besar baik yang tersembunyi maupun yang dilihat oleh orang lain, apakah dia memperhatikan tentang masalah keikhlasan ini atau dia termasuk orang yang cuek dengan apa yang ada di dalam hati, kalau dia ingin mendapatkan ilmu maka hendaklah dia punya perhatian yang besar tentang masalah niat ini.ويَحمِلُ علىٰ هٰذا التَّفقُّدِ شدَّةُ معالجة النِّيَّةAkan membawa seseorang kepada perhatian yang besar yang secara terus-menerus terhadap masalah niat ini adalah susahnya mengobati niat.Kalau dia merasa susah dalam mengobati niat dia maka itu akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut, kalau dia merasa susah dalam menetapkan niat dia menjadikan niat dia itu ikhlas terus maka inilah yang akan membawa dia untuk terus memperhatikan niat tersebut. Tapi kalau dia cuek dengan niatnya dan dia merasa ini adalah mudah sekali untuk mendatangkan niat yang ikhlas maka dia tidak akan memiliki perhatian yang besar terhadap niat tersebut.Beliau mendatangkan ucapan Sufyan Ats-Tsauri,قال سفيان الثوريُّ رحمه ﺍﻟﻠﻪ ما عالجتُ شيئًا أشدَّ عليَّ من نيِّتي، لأنَّها تتقلَّب عليَّLihat bagaimana para salaf, Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih susah bagiku daripada niatku.Berarti beliau memiliki syiddatu mu’alajah beliau merasa berat untuk mengobati niatnya untuk menetapkan niatnya.لأنَّها تتقلَّب عليَّKarena niatku tersebut senantiasa bolak-balik.Karena beliau merasa niatnya sering berganti-ganti maka akhirnya beliau sering memperhatikan, terus dikoreksi terus diawasi oleh beliau bagaimana supaya hati tersebut tetap karena Allāh subhanahu wa ta’ala.Bagaimana supaya menuntut ilmunya bagaimana supaya ketika beliau mengajar menyampaikan hadits itu dalam keadaan posisinya hati tersebut adalah karena Allāh ﷻ niatnya adalah karena Allāh ﷻDemikian para ulama ternyata mereka punya perhatian besar terhadap keikhlasan. Al Imam Ahmad ibn Hanbal tadi dikatakan ketika disebutkan tentang sidq wal ikhlas dengannya kaum tersebut diangkat oleh Allāh ﷻ, Sufyan Ats-Tsauriy beliau juga menyebutkan dan beliau adalah Amirul Mukminin dalam masalah hadits ternyata beliau juga sangat perhatian tentang masalah ikhlas, beliau perhatikan terus hatinya.بل قال سليمان الهاشميُّ ربَّما أُحدِّث بحديثٍ واحدٍ ولي نيَّةٌ، فإذا أتيتُ علىٰ بعضه تغيَّرت نيَّتي، فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍBahkan berkata Sulaiman Al-Hasyimi, kadang-kadang aku menyebutkan hadits satu saja dan aku punya niat, yaitu memiliki niat yang baik, tapi ketika aku mendatangi sebagian.تغيَّرت نيَّتيAku baru di awal aku mau menyampaikan hadits tadi lurus niatnya tapi ketika aku sudah memulai menyebutkan hadits tadi ternyata sudah berubah niatnya.Belum selesai hadistnya disebutkan tapi sudah berubah niatnya. Mungkin ketika beliau menyebutkan mungkin sanad yang tinggi kemudian masuklah setan di situ dan mengatakan sanadmu lebih tinggi daripada yang lain kemudian berubah niatnya. Ini perlu diawasi lagi, perlu dikembalikan lagi kepada niat yang benar, ketika dia mulai melenceng niatnya maka harus dikembalikan lagi melenceng lagi dikembalikan lagi itu namanya perhatian, ketika dia mulai goyah niatnya bukan karena Allāh ﷻ dikembalikan lagi harus karena Allāh ﷻ.فإذا الحديث الواحد يحتاج إلىٰ نِيَّاتٍTernyata satu hadits saja itu butuh beberapa niat, artinya setiap kali dia berubah harus dikembalikan niatnya lagi padahal itu cuma satu hadits saja yang beliau sebutkan.Demikian para Ahlul Hadits, Ahlul Fiqh, para ulama mereka perhatian sekali tentang keikhlasan ini sehingga mereka pun ditinggikan oleh Allāh ﷻ derajatnya. Maka orang yang ingin mendapatkan ilmu agama dia harus memiliki perhatian terhadap niat yang ikhlas di dalam hatinya

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
K
khaira azwa putri ranaji

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

catatan talbis 9

1. Keutamaan dan Urgensi Amar Makruf Nahi Munkar (AMNM)Umat Terbaik: Sifat utama umat terbaik adalah melakukan AMNM dan beriman kepada Allah,.Dalil: "Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..." (QS. Ali ‘Imran: 110).Ancaman Melalaikan AMNM: Bani Israil dilaknat karena membiarkan kemungkaran tanpa saling mencegah.Dalil: "Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam... mereka satu sama lain tidak mencegah tindakan mungkar yang mereka perbuat..."(QS. Al-Ma'idah: 78-79).2. Fikih dan Aturan Mencegah KemungkaranWajib: Jika kemungkaran dipastikan hilang atau minimal berkurang.Haram: Jika tindakan mencegah justru menimbulkan kemungkaran yang lebih besar.Ijtihad: Jika kemungkaran yang hilang akan diganti dengan kemungkaran sejenis.Tahapan: Dimulai dengan tangan (kekuasaan), lisan, lalu hati (iman paling lemah).Dalil: "Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya..." (Hadits Riwayat Muslim).Batasan: Tidak boleh mengingkari masalah khilafiyah (perbedaan pendapat ulama yang kuat) dan dilarang melakukan tajasus (memata-matai/mencari aib orang),,.3. Tipuan Iblis terhadap Orang Berilmu (Alim)Ria dan Ujub: Ingin dipuji orang lain karena keberaniannya berdakwah atau merasa bangga (ujub) ketika orang lain patuh setelah ditegur,.Marah karena Nafsu: Awalnya ikhlas, namun saat dihina atau dibantah oleh pelaku maksiat, ia menjadi emosi dan membela harga dirinya sendiri, bukan lagi membela agama Allah,.Contoh Salaf: Umar bin Abdul Aziz batal menghukum orang saat ia sedang marah karena takut hukumannya bercampur dengan emosi pribadi.4. Tipuan Iblis terhadap Orang Bodoh (Jahil)Salah Sasaran: Melarang sesuatu yang sebenarnya dibolehkan atau masalah khilafiyah karena tidak mengerti mazhab lain,.Melampaui Batas: Melakukan tindakan anarkis seperti merusak pintu, memanjat rumah orang (tajasus), hingga main hakim sendiri (memukul/membakar pelaku),.Menuduh Tanpa Bukti: Mudah melontarkan tuduhan zina atau celaan kasar tanpa saksi yang sah secara syariat.5. Adab terhadap PenguasaWajib bersikap lembut agar tujuan nasihat tercapai.Dalil: Perintah Allah kepada Musa dan Harun saat menghadapi Firaun: "Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut."(QS. Thaha: 44),.6. Tipuan Iblis terkait Zuhud (Meninggalkan Dunia)Salah Paham Hakikat Dunia: Menganggap dunia tercela secara zatnya, padahal yang tercela adalah sifat manusia yang berlebihan atau mengambilnya dengan cara haram,.Menjauh ke Gunung: Iblis membujuk orang untuk uzlah ke hutan/gunung sehingga meninggalkan salat Jumat, salat berjamaah, menuntut ilmu, serta menelantarkan hak keluarga dan orang tua,,.Menyiksa Diri: Menganggap zuhud adalah meninggalkan makanan enak atau air dingin, padahal Nabi Muhammad SAW menyukai daging kambing, makanan manis, dan air dingin yang segar,,.Definisi Zuhud yang Benar: Meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk akhirat, bukan sekadar meninggalkan perkara mubah,.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
A
Amika Aspar

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis Iblis #9

Talbis Iblis #9: Talbis Iblis Terhadap Orang Yg Beramar Ma'ruf Nahi Munkar - Dr. Firanda Andirja MATipu Daya Iblis dalam Ibadah Amar Ma'ruf Nahi Munkar 1. Keutamaan dan Aturan Fikih Amar Ma'ruf Nahi Munkar Amar ma'ruf nahi munkar adalah ibadah yang sangat agung dalam Islam. Sifat inilah yang menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, sebagaimana yang dijalankan oleh para nabi dan rasul. Sebaliknya, meninggalkan ibadah ini dapat mendatangkan laknat, sebagaimana yang terjadi pada Bani Israil melalui lisan Nabi Daud dan Nabi Isa bin Maryam karena mereka tidak saling mencegah kemungkaran.Meskipun agung, ibadah ini memiliki aturan fikih yang luas dan tidak boleh dilakukan sembarangan. Berdasarkan kaidah fikih, penolakan terhadap suatu kemungkaran harus melihat empat kemungkinan dampak: * Kemungkaran tersebut hilang sepenuhnya, maka hukum mencegahnya adalah wajib. * Kemungkaran tersebut berkurang intensitasnya, maka hukum mencegahnya juga wajib. * Mencegah kemungkaran tersebut justru memicu kemungkaran lain yang lebih besar, maka tindakan mencegahnya menjadi haram. * Kemungkaran tersebut hilang namun berganti dengan kemungkaran lain yang sejenis, maka kondisi ini membutuhkan ijtihad dari para ulama.Selain itu, tidak semua hal yang dianggap buruk oleh seseorang dapat langsung dikategorikan sebagai kemungkaran yang harus ditindak, terutama dalam masalah khilafiyah yang memiliki perbedaan pendapat yang kuat di antara para fuqaha. Penegakan nahi munkar juga dilarang dilakukan dengan cara tajasus atau mencari-cari kesalahan orang lain yang sifatnya tersembunyi. 2. Tipu Daya Iblis kepada Orang yang Berilmu (Alim) Iblis dapat masuk menggoda orang berilmu yang melakukan amar ma'ruf nahi munkar melalui dua jalan utama: * Riya dan Ujub: Orang alim mungkin mengerti fikih dakwah, tahu kapan harus berbicara, dan kapan harus diam. Namun, iblis merusak niatnya dengan memunculkan rasa ingin dipuji (riya) dan bangga diri (ujub) ketika nasihatnya didengar atau berhasil membuat orang lain berhenti berbuat maksiat. Kisah dari Abu Sulaiman menceritakan bagaimana seorang salaf berniat menegur Khalifah Abu Jafar al-Mansur yang menangis saat khotbah Jumat. Namun, ia membatalkan niatnya karena khawatir ketika maju di depan orang banyak, hatinya akan terjangkapi drama, ingin terlihat hebat di mata publik, dan tidak ikhlas. Jika ia dihukum mati oleh penguasa dalam kondisi tidak ikhlas, maka kematiannya menjadi sia-sia. * Marah karena Membela Diri sendiri: Seseorang pada awalnya mungkin ikhlas menegur orang lain demi Allah. Namun, ketika orang yang ditegur membalas dengan cercaan, hinaan, atau tuduhan, sang da'i sering kali tersulut emosinya. Pada titik ini, bantahan yang ia keluarkan bukan lagi untuk membela agama Allah, melainkan untuk membela harga dirinya agar tidak kalah di hadapan khalayak. Umar bin Abdul Aziz pernah batal menghukum seorang pria yang membuatnya marah, karena beliau khawatir hukuman tersebut keluar demi memuaskan emosi pribadinya, bukan murni karena Allah. 3. Kerusakan akibat Amar Ma'ruf Nahi Munkar oleh Orang Bodoh (Jahil) Jika seseorang yang tidak memiliki ilmu nekat melakukan nahi munkar, iblis akan mempermainkannya sehingga kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada perbaikan yang dihasilkan. Bentuk-bentuk kesalahan orang bodoh dalam bernahi munkar antara lain: * Melarang sesuatu yang sebenarnya diperbolehkan oleh ijma' ulama atau mengingkari perkara khilafiyah yang kuat di kalangan mazhab besar, seperti meributkan masalah Qunut Subuh. Pengingkaran yang keras hanya boleh dilakukan pada perkara yang telah disepakati keharamannya (ijma') atau pada perkara khilaf yang dasarnya sangat lemah seperti masalah riba uang kertas atau musik. * Melanggar batasan syariat dengan melakukan tajasus, seperti mendobrak pintu rumah orang, memanjat pagar secara sembunyi-sembunyi untuk mengintip maksiat pribadi, atau memasang kamera pengawas tanpa hak. Maksiat yang dilakukan secara tersembunyi di dalam rumah tidak boleh dibongkar paksa karena Islam memerintahkan untuk menutupi aib sesama muslim. * Main hakim sendiri dengan melakukan kekerasan fisik, memukuli pelaku maksiat, atau bahkan membakarnya hidup-hidup. Hal ini dilarang karena penegakan hukum had adalah wewenang penguasa. * Melontarkan tuduhan palsu atau berlebihan saat menegur, seperti menuduh seorang wanita yang jalan bersama pria sebagai pelacur tanpa adanya empat orang saksi yang sah. * Melaporkan kemungkaran kepada penguasa yang zalim dan tidak mengerti hukum, sehingga pelaku maksiat tersebut akhirnya dihukum melebihi batas syariat atau diperas hartanya. Imam Ahmad menjelaskan bahwa laporan hanya diberikan kepada sultan yang saleh yang menegakkan hukum had secara adil. 4. Larangan Membanggakan Diri dan Mengumbar Aib Iblis menipu sebagian orang dengan membuat mereka gemar menceritakan pengalaman mereka dalam memberantas kemungkaran di berbagai forum atau media. Mereka mencaci maki dan melaknat pelaku maksiat demi membangun reputasi diri sebagai pembela kebenaran. Tindakan ini berbahaya karena bisa jadi pelaku maksiat yang mereka bicarakan sebenarnya sudah bertobat dan memiliki kedudukan yang lebih mulia di sisi Allah, sementara sang da'i justru terjebak dalam dosa kesombongan. Para salaf dahulu selalu mengedepankan kelembutan dan doa perlindungan aib saat menegur orang lain, bahkan ketika menasihati para penguasa yang zalim sekalipun, sebagaimana Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk berbicara dengan lemah lembut kepada Firaun. 5. Tipu Daya Berhenti Bernahi Munkar dengan Alasan Merasa Pendosa Iblis juga menggunakan tipuan sebaliknya kepada ahli ibadah dengan membisikkan bahwa mereka tidak berhak menegur orang lain selama diri mereka sendiri masih memiliki dosa atau maksiat. Ini adalah cara iblis agar kemungkaran menyebar luas. Secara syariat, seseorang tetap wajib melakukan amar ma'ruf nahi munkar meskipun ia sendiri masih melakukan maksiat tersebut. Menolak maksiat dan bernahi munkar adalah dua kewajiban yang berbeda. Jika keduanya ditinggalkan, maka ia mendapatkan dua dosa sekaligus. Nasihat yang diucapkan juga berfungsi sebagai peringatan bagi dirinya sendiri agar segera bertobat. Namun, agar nahi munkar memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat, seorang da'i harus berusaha keras menyelaraskan ucapan dengan perbuatannya.Tipu Daya Iblis kepada Ahli Zuhud dan Ahli Ibadah 1. Salah Memahami Celaan terhadap Dunia Banyak orang awam atau ahli ibadah yang keliru ketika membaca ayat Al-Quran atau hadis yang mencela dunia. Mereka menyangka bahwa jalan keselamatan adalah dengan memusuhi dunia secara mutlak. Ibnul Jauzi menegaskan bahwa dunia tidak tercela pada zatnya, melainkan yang tercela adalah sifat dan cara pandang manusia yang salah terhadap dunia. Dunia adalah ladang dan sarana utama bagi anak Adam untuk bisa hidup, menuntut ilmu, beribadah, makan, minum, berpakaian, serta membangun masjid.Akibat salah paham ini, sebagian orang tertipu untuk mengasingkan diri ke gunung-gunung atau hutan belantara. Tindakan ekstrem ini membuat mereka kehilangan syariat yang besar seperti shalat Jumat, shalat berjamaah di masjid, dan majelis ilmu, sehingga mereka hidup layaknya hewan liar. Sebagian dari mereka bahkan nekat meninggalkan tanggung jawab nafkah anak istri, menelantarkan ibunya hingga menangis, atau mengabaikan utang yang belum lunas demi mengejar apa yang mereka sangka sebagai zuhud hakiki. 2. Definisi Zuhud yang Benar menurut Syariat Ibnul Jauzi menjelaskan perbedaan penting antara sifat Wara' dan Zuhud sebagaimana yang dirumuskan para ulama: * Wara' adalah meninggalkan segala perkara yang dikhawatirkan dapat mendatangkan mudarat di akhirat, yang mencakup menjauhi hal-hal yang haram dan perkara syubhat. * Zuhud adalah meninggalkan segala perkara yang tidak memberikan manfaat untuk urusan akhirat. Zuhud bukan berarti mengharamkan atau meninggalkan perkara-perkara mubah yang bermanfaat.Iblis menipu sebagian ahli zuhud dengan mengesankan bahwa zuhud adalah menyiksa diri sendiri, seperti menolak makan roti yang halus, enggan memakan buah-buahan, membatasi makan secara ekstrem hingga tubuh kurus kerempeng, sengaja memakai pakaian dari bulu domba (suf) yang kasar dan bau, serta menolak minum air dingin yang segar. 3. Meneladani Zuhudnya Rasulullah dan Para Sahabat Gaya hidup menyiksa diri di atas bukanlah jalan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, bukan jalan para sahabat, dan bukan pula jalan tabiin. Para sahabat dahulu hidup kelaparan dan menahan lapar dengan mengikatkan batu di perut mereka semata-mata karena saat itu memang tidak ada makanan yang bisa dimakan. Namun, ketika makanan tersedia, mereka makan hingga kenyang.Rasulullah adalah imamnya orang-orang zuhud, namun beliau tetap mengonsumsi daging kambing yang beliau sukai, memakan daging ayam, menyukai makanan yang manis, serta memilih meminum air yang dingin dan segar yang telah disimpan di dalam kendi atau wadah kulit agar rasanya lebih nikmat. Hasan Al-Basri pernah mengkritik seseorang yang enggan memakan makanan lezat dengan alasan takut tidak bisa mensyukurinya. Beliau menyatakan bahwa tindakan itu adalah kebodohan, karena manusia bahkan tidak akan pernah mampu mensyukuri nikmat segelas air putih biasa jika dihitung secara mutlak. Sufyan Ats-Tsauri yang dikenal sebagai ulama zuhud yang agung pun selalu membawa bekal daging panggang dan manisan yang enak ketika melakukan perjalanan safar. 4. Merawat Tubuh sebagai Tunggangan Ibadah Ibnul Jauzi memberikan analogi bahwa tubuh manusia adalah tunggangan untuk menuju akhirat. Seseorang harus memperlakukan tunggangannya dengan lembut dan adil agar bisa sampai ke tempat tujuan. Memaksa tubuh hanya memakan roti kering tanpa nutrisi lain yang seimbang adalah kesalahan medis dan syariat, karena tubuh secara tabiat membutuhkan komposisi makanan yang bervariasi (manis, kecut, panas, dingin) untuk menjaga keseimbangan dan kekuatan fisik agar bisa optimal dalam menuntut ilmu dan beribadah. Hal yang dilarang adalah sikap rakus, kekenyangan yang berlebihan, serta menuruti hawa nafsu yang dapat merusak kesehatan badan dan mengganggu urusan agama. 5. Menjauh dari Ilmu demi Ibadah adalah Kerugian Iblis menipu para ahli ibadah dengan membuat mereka malas menuntut ilmu karena terlalu sibuk dengan ritual shalat dan zikir pribadi. Ini adalah pertukaran yang buruk, karena manfaat ibadah dari seorang ahli zuhud hanya kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan ilmu yang dimiliki seorang ulama dapat memperbaiki, membimbing, dan menyelamatkan seluruh lapisan masyarakat ke jalan yang benar.Ibnu Aqil menutup pembahasan dengan menyatakan keheranannya atas sikap sebagian manusia dalam beragama yang sering kali ekstrem: mereka terkadang tenggelam dalam mengikuti hawa nafsu duniawi, atau sebaliknya jatuh pada sikap ruhbaniah (kehidupan rahib) dengan mengurung diri di pojok masjid dan mengabaikan seluruh hak keluarga serta masyarakat. Jalan yang benar dan lurus adalah beribadah kepada Allah dengan menyeimbangkan antara tuntunan akal sehat dan bimbingan syariat yang murni.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026

TALBIS IBLIS 09

1. Tipuan Setan terhadap Pelaku Amar Ma'ruf Nahi MunkarUstadz menjelaskan bahwa beramar ma'ruf nahi mungkar adalah ibadah yang agung, namun membutuhkan ilmu dan fikih agar tidak salah langkah.• Orang Berilmu: Setan menggoda mereka agar merasa ingin dipuji (riya'/ujub) atau marah bukan karena membela agama, melainkan karena membela diri sendiri saat ditegur atau dihina.• Orang Bodoh: Kerusakan yang ditimbulkan sering lebih besar karena kurangnya pemahaman (contoh: melarang perkara khilafiyah yang kuat, melakukan tajasus atau mencari kesalahan orang, serta main hakim sendiri).• Adab Menasihati Penguasa: Harus dengan cara yang lembut agar lebih efektif.2. Tipuan Setan terhadap Ahli Zuhud dan IbadahSetan membisikkan pemahaman keliru bahwa zuhud berarti meninggalkan dunia secara total (uzlah), mengabaikan keluarga, atau bahkan meninggalkan syariat seperti salat berjamaah.• Konsep Zuhud yang Benar: Zuhud bukanlah meninggalkan perkara mubah, melainkan meninggalkan hal yang tidak bermanfaat di akhirat. Rasulullah SAW dan para sahabat tetap menikmati rezeki yang halal (seperti makanan enak) namun tidak berlebihan.Dalil-Dalil yang Disampaikan:• QS. Ali 'Imran: 110: Tentang keutamaan umat Islam yang menjalankan amar ma'ruf nahi mungkar.• QS. Al-Ma'idah: 78: Tentang laknat bagi Bani Israil yang meninggalkan nahi mungkar.• Hadits tentang Perubahan Kemungkaran: Mengubah dengan tangan, lisan, atau hati.• QS. Thaha: 43–44: Perintah kepada Nabi Musa dan Harun untuk berbicara lembut kepada Firaun.• Hadits tentang Menutup Aib: Siapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
D
Dewi Murthy Sari

📍 Kota Samarinda

Talbis Iblis #9 Talbis Iblis terhadao orang yang Ber Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Amar ma'ruf nahi mungkar adalah ibadah yang sangat mulia. Dengannya agama tetap tegak dan kemaksiatan dapat dicegah. Namun, karena besarnya keutamaan amalan ini, iblis pun berusaha menyesatkan para pelakunya dengan berbagai tipu daya.1. Beramar Ma'ruf Tanpa IlmuSeseorang tergesa-gesa mengingkari suatu perkara padahal ia tidak memahami hukum syariat dengan benar. Akibatnya, yang sunnah dianggap bid'ah atau yang mubah dianggap haram.Pelajaran: Sebelum mengajak kepada kebaikan atau melarang kemungkaran, wajib memiliki ilmu yang benar.2. Cara Menasihati yang KasarIblis membisikkan agar seseorang merasa keras berarti tegas. Padahal, nasihat yang kasar sering kali membuat orang semakin jauh dari kebenaran.Allah berfirman kepada Nabi Musa dan Harun ketika menghadapi Fir'aun:"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut."(QS. Thaha: 44)3. Merasa Paling Benar dan Merendahkan Orang LainSebagian orang yang berdakwah terjatuh pada ujub dan merasa dirinya paling saleh, sehingga memandang rendah orang yang dinasihati.Padahal tujuan amar ma'ruf nahi mungkar adalah menyelamatkan saudara seiman, bukan meninggikan diri sendiri.4. Menimbulkan Kerusakan yang Lebih BesarTidak semua kemungkaran harus diingkari dengan cara yang sama. Jika pengingkaran justru menimbulkan mudarat yang lebih besar, maka syariat mengajarkan hikmah dan pertimbangan maslahat.5. Mengharap Pujian ManusiaIblis juga menggoda agar seseorang berdakwah demi popularitas, pujian, atau ingin disebut pemberani dan pembela agama.Padahal amal hanya diterima jika ikhlas karena Allah semata.HikmahAmar ma'ruf nahi mungkar harus dilandasi ilmu, hikmah, dan kesabaran.Tujuannya adalah memperbaiki manusia, bukan mempermalukan mereka.Seorang dai harus selalu menjaga keikhlasan dan akhlak yang mulia.Jangan sampai semangat berdakwah justru menjadi pintu masuk kesombongan dan riya.Semoga Allah menjaga kita dari tipu daya iblis dalam berdakwah dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang menyeru kepada kebaikan dengan ilmu, hikmah, dan kasih sayang.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Talbis Iblis#9

Ringkasan: Talbis Iblis terhadap Orang yang Berbuat Amar Ma'ruf Nahi Mungkar1. Amar Ma'ruf Nahi Mungkar Tetap WajibSeseorang tidak boleh meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar hanya karena masih memiliki kekurangan atau dosa.Iblis menipu dengan membisikkan:"Orang yang berbuat maksiat tidak pantas menasihati orang lain."Padahal, kewajiban meninggalkan maksiat dan kewajiban menasihati orang lain adalah dua perkara yang tetap harus dijalankan.2. Pengaruh Nasihat Bergantung pada Perbaikan DiriNasihat akan lebih berpengaruh jika pemberi nasihat juga berusaha memperbaiki dirinya.Jika seseorang tidak berusaha membersihkan dirinya dari kemungkaran, pengingkarannya biasanya kurang berpengaruh.Karena itu, orang yang ingin mencegah kemungkaran hendaknya terus memperbaiki diri.3. Sikap yang Benar dalam Mencegah KemungkaranDilakukan dengan ilmu, hikmah, dan kelembutan.Tidak dengan kemarahan, penghinaan, atau kekerasan.Ulama salaf dikenal lembut dalam memberi nasihat sehingga lebih mudah diterima.4. Teladan Abu Bakar Al-Aqfali dan Orang-Orang SalehMereka menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar sambil memperbaiki diri.Menjaga keikhlasan, bekerja dari hasil usaha sendiri, tidak meminta-minta, banyak berpuasa, qiyamul lail, dan menangis karena takut kepada Allah.Mereka meyakini bahwa amal yang tercampur niat duniawi akan kehilangan keberkahannya.5. Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Mencegah KemungkaranMerasa bangga dengan dirinya karena telah menasihati orang lain.Mencela, merendahkan, atau membuka aib pelaku maksiat di hadapan banyak orang.Menganggap diri lebih baik daripada orang yang dinasihati.Sikap ini justru termasuk tipu daya Iblis.6. Tipu Daya Iblis terhadap Pelaku Amar Ma'ruf Nahi MungkarIblis berusaha:Menakut-nakuti agar tidak menasihati.Menumbuhkan rasa ujub (bangga diri).Menimbulkan prasangka buruk kepada orang lain.Membuat seseorang putus asa karena merasa nasihatnya tidak akan berhasil.Mengajak bersikap keras dan kasar sehingga dakwah ditolak.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
M
Mahargyani Yogyantari

📍 Kota Depok

Tablis Iblis #9

Tablis Iblis #9Tipuan Iblis pada Ahli Amar Ma'ruf Nahi MunkarAmar Ma'ruf Nahi Munkar adalah salah satu ibadah yang terpuji, dan sebaliknya yang membiarkan kemungkaran akan dilaknat.1. Tipuan iblis pada orang berilmu, iblis menumbuhkan sifat riya' dan ujub, melakukan amalannya bukan karena Allah tapi untuk membela dirinya sendiri2. Tipuan iblis pada orang bodoh, iblis menjerumuskan mereka dalam tindakan yang melampaui batas. Hal ini akan mengakibatkan kerusakan besar daripada perbaikan 3. Tipuan pada ahli zuhun Banyak yang mengira Zuhud harus meninggalkan dunia dan mengasingkan diri. Padahal menurut Ibnu Jauzi, Zuhud bukan mencela dunia, tapi meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi akhirat

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
E
Ellisa Septiana

📍 Kota Depok

Talbis iblis #9 : Talbis Iblis Terhadap Orang Yang Beramar Ma'aruf Nahi Munkar-Ustadz dr.Firanda-

Amar nahi munkar butuh fikih mendalam: Amar dan nahi munkar bukan sekadar tindakan spontan, tetapi ada aturan-aturan fikih yang perlu dipahami, seperti apakah pencegahan kemungkaran harus dilakukan dengan tangan, lidah, atau hati saja tergantung dampaknya. Ini menegaskan perlunya ilmu sebelum melakukan amar nahi munkar agar tidak merusak lebih banyak daripada memperbaiki.Fikih dalam Amr Ma’ruf Nahi Munkar: Empat Kemungkinan• Jika kemungkaran hilang saat dinahi segera, wajib bernahi munkar.• Jika kemungkaran berkurang, wajib juga mencegah agar semakin mengecil.• Jika pencegahan memunculkan kemungkaran yang lebih parah, tidak boleh mencegah (dilarang bernahi munkar).• Bila kemungkaran diganti dengan kemungkaran sejenis, butuh ijtihad khusus untuk menentukan langkah.Kesimpulan: Bernahi munkar tidak semudah yang dibayangkan, harus dengan pertimbangan fikih yang matang.Hadis tentang Cara Bernahi Munkar dan Batasan dalam BeramarMengutip hadis Nabi Muhammad SAW:• Jika melihat kemungkaran, ubah dengan tangan (perbuatan) jika mampu, jika tidak bisa cukup dengan lisan, jika bahkan itu tidak mampu cukup dengan hati (iman paling rendah).• Tidak semua yang dianggap mungkar dapat dinahi, terutama masalah khilafiah yang kuat.• Larangan melakukan tajasus (mencari-cari aib) dalam amar ma’ruf nahi munkar.Bahaya riya dan ujub pada orang alim: Setan berdalih dengan membuat orang alim yang beramar nahi munkar merasa bangga dan ingin dipuji, sehingga mereka melakukan amar nahi munkar untuk mencari pengaruh atau popularitas, bukan karena Allah. Ini menunjukkan bahwa niat harus terus diawasi agar tidak tercelah kesombongan dan pamer.Marah karena ego, bukan Allah: Banyak orang bernahi mungkar yang marah bukan karena membela Allah, tapi membela diri sendiri saat dikritik atau disinggung. Ini membuktikan bahwa pengendalian emosi adalah syarat penting agar amar nahi munkar tetap ikhlas dan benar.Memahami khilafiyah supaya tidak salah tuduh: Dalam amar nahi munkar, perlu membedakan perkara yang sudah ijmak (sepakat) sebagai kemungkaran dan perkara yang masih dalam khilaf yang kuat. Orang awam sering salah menilai orang lain melakukan kemungkaran padahal hanya perbedaan pendapat, sehingga berpotensi memecah umat dan menimbulkan fitnah.Definisi Zuhud yang Sesungguhnya• Zuhud adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat untuk akhirat, bukan meninggalkan perkara mubah yang memberi manfaat.• Harus ada pertimbangan manfaat akhirat dalam setiap aktivitas.• Contoh: membeli sesuatu, bergabung dengan kelompok, dan aktivitas sehari-hari harus dipikirkan dari sisi manfaat akhiratnya.Zuhud yang tepat adalah meninggalkan perkara tidak bermanfaat, bukan dunia secara keseluruhan: Banyak orang salah sangka zuhud dengan menjauhi segala sesuatu di dunia, termasuk kewajiban sosial dan salat berjamaah. Zuhud yang benar adalah meninggalkan sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat akhirat, bukan meninggalkan kewajiban dan menimbulkan kerusakan.Menuntut ilmu harus seiring dengan ibadah: Orang yang sibuk berzuhud tapi meninggalkan ilmu dan kewajiban sosial justru tertipu setan, karena ilmu adalah kunci agar ibadah dan amar nahi munkar bisa berjalan pada jalurnya. Ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara zuhud dan ilmu dalam beragama.Memperlakukan tubuh sebagai kendaraan: Pada tingkat praktis, zuhud tidak berarti menyiksa tubuh dengan meninggalkan kebutuhan dasar seperti makan dan minum yang menyehatkan. Justru tubuh yang sehat adalah sarana utama untuk beribadah. Pendekatan ini menunjukkan bahwa agama mengajarkan keseimbangan bukan ekstremisme yang merusak diri.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI11 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 04 | Penjelasan Pembatal Keislaman Pertama Bagian 1ku

بسم الله الرحمن الرحيمالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاهHalaqah yang ke empat dari Silsilah Ilmiyyah Pembahasan Kitab Nawaqidul Islam yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.Beliau mengatakan,اعْلَمْ أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ نَوَاقِضِ الإِسْلَامِ عَشَرَة:ًالأَوَّلُ: الشِّرْكُ فِي عِبَادَةِ اللهِ تعالى، قَالَ اللَّهِ تَعَالَى: ﴿إِنَّ اللَّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء﴾ وَمِنْهُ الذَّبْحُ لِغَيْرِ اللهِ، كَمَنْ يَذْبَحُ لِلْجِنِّ أَوْ لِلْقَبْرِ.Beliau mengatakan,“Ketahuilah, sesungguhnya termasuk Nawaqidul Islam atau pembatal-pembatal keislaman yang paling besar adalah 10 perkara.1. Menyekutukan di dalam beribadah kepada Allah.Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan mengampuni dosa yang lain, yang di bawahnya, bagi siapa yang dikehendaki.” Dan diantaranya adalah menyembelih untuk selain Allah, seperti orang yang menyembelih untuk jin atau untuk kuburan.Ucapan beliau اعْلَمْ yang artinya adalah ‘pelajarilah’, kalimat ini digunakan oleh orang Arab untuk memberitahu sesuatu yang penting.Beliau mengatakan,أَنَّ مِنْ أَعْظَمِ نَوَاقِضِ الإِسْلَامِ عَشَرَة“Sesungguhnya diantara pembatal-pembatal keislaman yang paling besar adalah 10 perkara.”Ucapan beliau مِنْ أَعْظَمِ atau diantara yang paling besar, menunjukkan bahwa di sana sebenarnya banyak pembatal-pembatal keislaman, akan tetapi yang paling besar dan yang sering terjadi adalah 10 pembatal keislaman yang akan beliau sebutkan.1. Syirik di dalam beribadah kepada AllahBeliau menjadikan syirik sebagai pembatal keislaman yang pertama karena syirik adalah dosa yang paling besar. Tidak ada dosa yang lebih besar daripada syirik kepada Allah.Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda,أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ؟“Maukah aku kabarkan kepada kalian dengan dosa-dosa besar yang paling besar?”Mereka berkata, Iya wahai Rasulullah.Maka Beliau menyebutkan yang pertama adalah الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ (menyekutukan Allah). [HR. Bukhari dan Muslim]Di dalam hadits yang lain, beliau ditanya oleh sebagian sahabat,أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ؟“Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?”Beliau mengatakan,أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ“Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dia-lah yang telah menciptakan dirimu.” [Hadits shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim].Orang yang beriman dengan Rububiyyah Allah, beriman bahwasanya Allah yang telah menciptakan dia dan orang-orang sebelumnya, menciptakan langit dan bumi, menciptakan seluruh alam semesta, seharusnya hanya menyerahkan ibadahnya kepada Allah Azza wa Jalla.Allah berfirman,(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِی خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِینَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ)[Surat Al-Baqarah 21]“Wahai manusia, sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan menciptakan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertakwa.”Dan Allah berfirman,⁠ذلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ لَاۤ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَۖ خَـٰلِقُ كُلِّ شَیۡءࣲ فَٱعۡبُدُوهُۚ[Surat Al-An’am 102]“Itulah Rabb kalian, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu, maka hendaklah kalian hanya menyembah-Nya.”Di dalam Al-Qur’an, ketika Allah menyebutkan perkara-perkara yang diharamkan, yang pertama kali Allah sebutkan ada syirik.Allah berfirman,قُلۡ تَعَالَوۡا۟ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمۡ عَلَیۡكُمۡۖ أَلَّا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ[Surat Al-An’am 151]“Katakanlah (Wahai Muhammad), kemarilah kalian, aku bacakan kepada kalian perkara-perkara yang diharamkan oleh Rabb kalian, yaitu supaya kalian tidak menyekutukan Allah sedikit pun.”Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla ketika menyebutkan tentang 10 hak di dalam surat An Nisa, hak yang pertama yang disebutkan adalah hak Allah sebelum hak yang lain.Allah berfirman,وَٱعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُوا۟ بِهِۦ شَیۡـࣰٔاۖ وَبِٱلۡوا⁠لِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنࣰا وَبِذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡیَتَـٰمَىٰ وَٱلۡمَسَـٰكِینِ وَٱلۡجَارِ ذِی ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِیلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُكُمۡۗ[Surat An-Nisa’ 36]“Dan sembahlah Allah, dan janganlah kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kalian miliki.”Oleh karena itu, Syeikh menjadikan pembatal keislaman yang pertama adalah syirik di dalam beribadah kepada Allah.Syirik membatalkan keislaman karena syirik bertentangan dengan persaksian seorang muslim bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.Persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah konsekuensinya tidak boleh dia serahkan ibadah sekecil apapun kepada selain Allah, baik jin, pohon, batu, Nabi, malaikat, dll.Kalau seseorang menyerahkan sebagian ibadah kepada selain Allah, berarti dia telah membatalkan keislamannya.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini. Semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Talbis iblis terhadap orang yang beramar ma'ruf nahi mungkar

Ustadz Dr. Firanda Andirja, lc. M.A    TALBIS IBLIS#9Talbis iblis terhadap orang yang beramar ma'ruf nahi mungkar"Yang paling terbaik adalah orang yang beramar ma'ruf dan nahi mungkar"Beberapa kemungkinan orang yang berbagi mungkar kemungkaran hilang (maka wajib baginya berbagi mungkar).‌kemungkaran berkurang (wajib bernahi mungkar).kemungkaran semakin besar (tdk boleh bernahi mungkar klw akibatnya memperbesar kemungkaran tersebut).‌melarang kemungkaran tetapi terganti dengan kemungkaran yang sejenis, (butuh isytihad)Rasulullah bersabda "Siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tdk mampu, maka dengan lisannya, jika tdk mampu, maka dengan hatinya, dan itulah yang paling rendah".Orang yang beramar ma'ruf nahi mungkar ada dua model‌orang yang berilmuAdapun iblis menggoda orang yg alim, dengan dua jalan- Riya (ingin di puji), Ujub dengan perbuatannya"Sebaik-baik jihad adalah perkataan gak di hadapan penguasa yang dzalim". - Marah karena dirinya bukan karena Allah‌orang yang jahilSyaitan mempermainkan orang bodoh yang beramar ma'ruf nahi mungkar, ketika beramar ma'ruf kerusakan yang dia timbulkan lebih banyak daripada perbaikan yang dia lakukan, karena bisa jadi dia melarang sesuatu yang boleh secara ijma'. Bisa jadi ia mengingkari seseorang melakukan sesuatu tapi ternyata orang tersebut punya tafsir sendiri, tdk seperti yang dia sangkakan. Terkadang mereka tajassus. "tajassus tdk boleh". Terkadang mereka marah kemudian menuduh seseorang yang tidak². Klw menegur seseorang dengan emosi. Mendzolimi dengan menghukum dengan berlebihan. ‌Berbangga² dengan mengingkari dan mengumbar aib pelaku maksiatTipuan syaitan kepada orang yang mengingkari kemungkaran adalah jika dia sdh mengingkari kemungkaran kemudian dia duduk di hadapan banyak orang dan menceritakan dan membanggakan, kemudian mencaci maki kemungkaran tersebut. Bisa jadi orang yang dia ingkari dan yang dia umbar maksiatnya itu sdh bertaubat, dan bisa jadi yang melakukan maksiat lebih baik daripada yang bernahi mungkar. Dan membongkar aib kaum muslimin. "Menutupi aib kaum Muslim wajib hukumnya sebisa mungkin"."Dahulu para salaf mereka lembut dalam mengingkari kemungkaran". ‌mengingkari penguasaOrang yang paling utama untuk kita lembuti untuk kita ingkari adalah para penguasa. Fitnah seseorang tdk bernahi mungkarSeseorang yang Bisa bernahi mungkar tetapi tdk mau Orang klw melakukan maksiat ketika melihat kemaksiatan dia harus tegur meskipun dia melakukan maksiat tersebut. Karena wajib baginya dua, meninggalkan maksiat dan kewajiban baginya untuk bernahi mungkar. Orang yang bernahi mungkar dengan menegur kemaksiatan itu sebenarnya menegur dirinya sendiri, motivasi nya untuk meninggalkan maksiat, ketika niatnya benar karena Allah. "Wajib bagi orang yang bernahi mungkar untuk meninggalkan maksiat agar ketika bernahi mungkar pengaruhnya kelihatan".TIPUAN IBLIS TERHADAP ORANG YANG AHLI ZUHUD DAN AHLI IBADAHTerkadang seorang awwam mendengar dalam al qur'an dan hadits² tentang celaan terhadap dunia, dia merasa klw mau selamat harus meninggalkan dunia. Dia tdk tahu bahwasanya dunia itu tdk tercela secara dzatnya, tapi tercela karena sifat manusia terhadap dunia. Iblis pun menipunya dengan berkata "Kau tdk akan selamat di akhirat kecuali engkau meninggalkan dunia".Yang tercela itu ketika mengambil dunia dengan tdk halal, atau dengan berlebih²han. Mengambil dunia tdk sesuai dengan kebutuhan, sehingga seseorang membelanjakan hartanya bukan karena sesuai syariat, tetapi karena hawa nafsu. Pergi bersendirian ke gunung tdk boleh, dan sengaja meninggalkan sholat jum'at dengan alasan pergi bersafar di gunung tdk dengar adzan inilah kerugian bukan keuntungan, dan orang yang menjauh dari ilmu, dan menjauh dari ulama semakin memperkuat kekuasaan kebodohan dalam diri seseorang. Syaitan menghalalkan bahwasanya zuhud itu adalah meninggalkan perkara² mubah. Diantara mereka ada yang tdk memakan roti yang halus, ada yang tdk memakan buah, ada yang makan hanya sedikit sehingga kurus, ada yang menyiksa badanya dengan memakai pakaian dari buku domba, ada yang tdk mau minum air dingin. Ini bukan jalan Rasulullah, dan bukan jalan para sahabat. - Wara' adalah meninggalkan sesuatu yang mungkin mudhorot di akhirat. Konsekuensi dari wara' adalah meninggalkan yang haram karena yang haram itu adalah mudharat di akherat, dan meninggalkan yang syubhat karena yang syubhat itu terkadang bisa jadi memberi mudharat. - Zuhud adalah meninggalkan yang tidak bermanfaat di akhirat, bukan meninggalkan perkara mubah, karena yang mubah ada yang bermanfaat di akhirat.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Talbis Iblis Terhadap Orang Yang Beramar ma'ruf nahi munkar

🥞Talbis Iblis Terhadap Pelaku Amar Ma'ruf Nahi MunkarAmar ma'ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran) adalah tiang pancang tegaknya syariat Islam. Melalui ibadah mulia inilah umat Islam dinobatkan sebagai umat terbaik, dan sebaliknya, mengabaikannya akan mengundang murka serta kutukan Allah.📜 Landasan Dalil Syar'i (Shahih)Dalil Kewajiban & Predikat Umat Terbaik:{QS. Ali 'Imran: 110}“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena) kamu menyuruh (berbuat) yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah...”Dalil Dampak Buruk Meninggalkan Nahi Munkar (Kisah Bani Israil):{QS. Al-Ma'idah: 78-79} “Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah perbuatan munkar yang selalu mereka perbuat...”Dalil Metode Perubahan Kemungkaran:Hadits Shahih Riwayat Muslim:“Siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.”💡 Fikih Strategis Nahi Munkar (Timbangan Maslahat & Mudarat)Mencegah kemungkaran bukanlah sekadar modal semangat atau luapan emosi, melainkan sebuah cabang ilmu fikih yang sangat luas. Sebelum bertindak, seorang muslim wajib menimbang 4 kemungkinan dampak perubahan:Kemungkaran hilang sepenuhnya: Hukum melakukannya adalah Wajib.Kemungkaran berkurang (skalanya mengecil): Hukum melakukannya adalah Wajib.Memicu kemungkaran lain yang jauh lebih dahsyat: Hukum melakukannya adalah Haram(tidak boleh). Jika dipaksakan, tindakan ini bukan lagi disebut mencegah kemungkaran, melainkan memicu kerusakan baru yang lebih besar.Kemungkaran berganti dengan maksiat lain yang sejenis: Kondisi ini berada dalam ranah Ijtihad para ulama (memerlukan analisis mendalam).A. Tipuan Iblis pada Orang Alim (Berilmu)Orang alim secara teoretis menguasai ilmu, tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Namun, iblis masuk merusak pahala mereka melalui dua jalur psikologis:Jalur 1: Riya', Ujub, dan Haus Pujian (At-Tazayun Wal 'Ujub)Iblis memalingkan niat ikhlas mereka menjadi ingin dianggap berani, tegas, dan hebat di mata manusia. Mereka sengaja memperindah gaya penyampaian dakwah (takaluf/berdrama) agar dikagumi khalayak. Ketika tegurannya berhasil mengubah orang, muncul penyakit ujub di dalam hatinya: "Kalau bukan karena saya yang turun tangan, maksiat ini tidak akan berhenti."Atsar Salaf: Ahmad bin Abil Hawari menukil dari Abu Sulaiman bahwa ia melihat Khalifah Abu Ja'far al-Manshur menangis di atas mimbar saat khotbah Jumat. Abu Sulaiman sempat marah dan berniat menegur sang penguasa begitu turun mimbar. Namun, beliau mengurungkan niatnya demi menjaga hati. Beliau khawatir saat melangkah maju di hadapan manusia, ada niat pamer (tazayun) dan tidak tulus karena Allah.Risiko Mati Konyol: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik jihad adalah perkataan yang hak di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud & Tirmidzi). Menasihati penguasa secara langsung adalah syahid jika dibunuh dalam kondisi ikhlas. Namun, jika motivasinya adalah riya' demi panggung duniawi, kematiannya dinilai mati konyol karena kehilangan pahala di akhirat.Jalur 2: Marah Demi Membela Ego Diri (Al-Ghadabu Linafsi)Sering kali seseorang memulai dakwah dengan ikhlas. Namun, saat bernahi munkar, ia mendapatkan penolakan, ejekan, atau dihina oleh pelaku kemungkaran (misal dituduh bodoh, sesat, dsb.). Di titik ini, emosinya tersulut. Iblis membelokkan tujuannya; ia berdebat dan menyerang balik bukan lagi demi menegakkan kalimat Allah, melainkan demi memenangkan harga diri dan egonya agar tidak terlihat kalah di hadapan publik.Teladan Umar bin Abdul Aziz: Beliau pernah membatalkan hukuman kepada seorang pria yang telah memicu amarahnya, sembari berkata: “Kau telah membuatku marah. Aku khawatir jika aku menghukummu saat ini, tindakanku didasari oleh amarah egoku, bukan murni karena Allah. Maka, aku tidak jadi menghukummu.”B. Tipuan Iblis pada Orang Jahil (Bodoh Tanpa Fikih)Ketika orang bodoh bergerak melakukan nahi munkar tanpa bekal ilmu syar'i, kerusakan yang ditimbulkannya jauh melebihi perbaikan yang ia usahakan. Bentuk-bentuk kesalahannya meliputi:Buta terhadap Masalah Khilafiyah yang KuatMereka menyerang dan membabi buta menyalahkan sesama muslim dalam masalah fikih ijtihadiah (seperti masalah Qunut Subuh). Padakah prinsip nahi munkar hanya berlaku pada perkara yang melanggar kesepakatan bulat ulama (ijma') atau perkara khilaf yang dalilnya sangat lemah (seperti keharaman musik dan riba pada uang kertas). Jika khilafnya kuat di kalangan mazhab besar, tugas seorang da'i hanyalah menjelaskan pendapat yang lebih kuat tanpa boleh mencaci atau menuduh orang lain mengikuti hawa nafsu.Melanggar Larangan Tajasus (Mata-mata)Demi mencari kemungkaran, mereka nekat merusak pintu rumah orang lain, memanjat pagar, atau mengintip secara diam-diam. Islam melarang membongkar maksiat yang disembunyikan rapat di dalam ruang privat selama pelakunya tidak menampakkannya di ruang publik atau mengajak masyarakat luas.Main Hakim Sendiri & Kekerasan FisikMengeroyok, memukuli, bahkan membakar hidup-hidup seorang pelaku kriminal (seperti pencuri) adalah tindakan haram. Islam mengatur penegakan hukum hanya boleh dieksekusi oleh pemerintah yang sah.Tuduhan Keji Tanpa Bukti Syar'i (Qadzaf)Hanya karena melihat seorang pria berjalan dengan seorang wanita, mereka langsung melontarkan cacian keji seperti "pelacur" atau kalimat kotor lainnya. Dalam syariat, menuduh seseorang berzina tanpa mendatangkan 4 saksi mata sah yang melihat langsung secara detail, berkonsekuensi hukuman cambuk bagi si penuduh dan termasuk dosa besar.Membongkar Aib yang Seharusnya DitutupiMereka gemar mengumbar aib orang lain, padahal Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits shahih: “Siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.”(HR. Muslim).📜 Atsar Fikih Dinukil dari Imam Ahmad bin HanbalKasus Maksiat Tersembunyi: Imam Ahmad ditanya tentang hukum menghancurkan alat musik (tumbur) atau wadah khamar yang dibawa seseorang di jalan dalam keadaan tertutup/terbungkus rapi. Beliau menjawab: "Jika ditutup dan tidak kelihatan bentuknya, jangan kau hancurkan (biarkan saja, karena kita dilarang mencari-cari kesalahan)." Kecuali jika pembungkusnya tipis/samar sehingga bentuk alat musik atau botol khamarnya terlihat jelas, baru boleh ditindak.Mendengar Suara Musik: Jika mendengar suara seruling berkumandang namun tidak diketahui dari mana arah persisnya sumber suara tersebut, Imam Ahmad berkata: “Bukan urusanmu (jangan sengaja melacaknya), lewat saja.”Melapor ke Penguasa: Imam Ahmad bin Hanbal menjelaskan, kita hanya dianjurkan melaporkan suatu pelanggaran kepada penguasa jika kita tahu penguasa tersebut adil, paham hukum, dan akan menegakkan sanksi (had) sesuai porsi syariat. Namun, jika penguasa tersebut zalim dan pelaporan kita justru membuatnya menyiksa atau memeras harta pelaku maksiat secara berlebihan, maka pelaporan tersebut dilarang karena merugikan orang lain secara zalim.C. Kebalikan Talbis: Memboikot Nahi Munkar karena Merasa BerdosaIblis juga menipu ahli ibadah dari sudut pandang sebaliknya. Setan membisikkan rasa rendah diri yang salah: "Kamu sendiri masih punya dosa dan maksiat, tidak usah sok suci menasihati orang lain."Bantahan Ilmiah: Pandangan ini keliru. Setiap muslim dibebani dua kewajiban mandiri yang terpisah: kewajiban meninggalkan maksiat dan kewajiban bernahi munkar. Jika ia melakukan maksiat dan memilih diam melihat kemungkaran, ia terkena dua tumpukan dosa sekaligus. Menasihati orang lain—meskipun kita masih berjuang melawan dosa yang sama—sejatinya adalah bentuk menasihati diri sendiri agar termotivasi untuk segera bertobat.Bagian 2: Talbis Iblis Terhadap Kaum Zuhud dan Ahli IbadahBanyak ahli ibadah menyalahpahami ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits yang mencela dunia, sehingga mereka menganggap zat dunia (seperti harta, makanan, dan teknologi) adalah sesuatu yang haram atau najis. Padahal, dunia tidak tercela pada zatnya; yang tercela adalah keterikatan hati dan sifat tamak manusia terhadap dunia.A. Penyimpangan Praktik Uzlah ke Gunung dan HutanSetan mengelabui sebagian ahli ibadah agar mengasingkan diri total ke gunung atau hutan belantara. Akibat kebodohan ini, mereka mengorbankan kewajiban-kewajiban syariat yang jauh lebih besar:Mereka kehilangan syariat Salat Jumat dan Salat Berjamaah di masjid.Mereka berhenti menuntut ilmu agama dari para ulama, sehingga kebodohan semakin mengakar di dalam diri mereka.Mereka menelantarkan nafkah anak dan istri, mengabaikan utang piutang, serta durhaka membiarkan ibu kandung mereka menangis karena kehilangan anaknya.Bantahan Ulama: Imam Ibnu 'Aqil menegaskan bahwa sengaja mengisolasi diri hingga meninggalkan syiar komunal seperti Salat Jumat demi mengejar keutamaan ibadah individu di tengah hutan adalah kerugian mutlak (khusranun la ribhun), bukan kezuhudan yang diajarkan Nabi ﷺ. Ketika sekelompok orang melakukan hal ini, ulama besar Sufyan ats-Tsauri langsung mendatangi mereka dan memerintahkan mereka semua untuk segera pulang ke tengah masyarakat.B. Hakikat Zuhud yang Sebenarnya (Meluruskan Persepsi Salah)Iblis membisikkan anggapan bahwa zuhud diukur dari menyiksa diri sendiri, seperti: pantang makan roti halus atau buah-buahan, sengaja memakai pakaian berbahan bulu domba (suf) yang kasar, gatal, dan bau, atau menolak minum air dingin.💡 Definisi Autentik Menurut Ibnu al-Qayyim rahimahullah:Wara’ (Al-Wara'): Meninggalkan segala hal yang dikhawatirkan membawa mudarat di akhirat(yaitu meninggalkan perkara haram dan syubhat).Zuhud (As-Zuhd): Meninggalkan segala hal yang tidak membawa manfaat di akhirat.Artinya, mengonsumsi makanan yang lezat dan bergizi dengan niat agar tubuh kuat dan sehat untuk melakukan ketaatan, menuntut ilmu, dan beribadah panjang, merupakan tindakan yang sangat bermanfaat untuk akhirat dan bernilai pahala.🍗 Meneladani Gaya Hidup Rasulullah ﷺ dan Para SahabatPara sahabat Nabi dahulu mengalami kelaparan (hingga mengikat perut dengan batu saat Perang Khandaq) murni karena faktor kondisi ekonomi yang serba terbatas saat itu, bukan karena kesengajaan menyiksa diri. Ketika persediaan makanan melimpah (fa wajadu), mereka makan bersama sampai kenyang.Gaya Hidup Rasulullah ﷺ: Beliau adalah pemimpin kaum zuhud, namun beliau mengonsumsi daging kambing (dan sangat menyukai bagian paha depan), memakan daging ayam, menyukai makanan yang manis-manis (al-halwa), serta gemar meminum air putih yang dingin dan segar yang diendapkan dalam kendi atau wadah kulit (al-ba'id). Beliau selalu memilih opsi yang paling nyaman dan lezat selama hal tersebut halal dan tersedia.Teguran Hasan al-Basri: Ketika mendengar ada orang yang menolak makan makanan lezat dengan dalih takut tidak mampu mensyukurinya, Hasan al-Basri memprotes keras: “Apakah orang bodoh itu merasa sudah benar-benar mampu mensyukuri nikmat seteguk air putih dingin yang ia minum sehari-hari?” Jika alasannya adalah takut tidak bisa bersyukur, maka konsekuensinya seseorang tidak boleh makan dan minum sama sekali.Sufyan ats-Tsauri—seorang ulama besar yang sangat zuhud—jika melakukan perjalanan jauh (safar), beliau tetap menyiapkan perbekalan yang nikmat seperti daging panggang yang lezat dan manisan (al-faludz).C. Perspektif Medis: Tubuh sebagai Tunggangan IbadahImam Ibnu al-Jauzi menekankan sebuah analogi berharga: tubuhmu adalah kendaraan/tungganganmu. Agar sebuah kendaraan mampu menempuh perjalanan jauh menuju akhirat, sang pemilik harus merawatnya dengan kelembutan, bukan menyiksanya. Secara medis, tubuh manusia membutuhkan keseimbangan nutrisi (rasa manis, kecut, panas, dingin) agar organ-organnya berfungsi optimal. Sengaja menahan lapar ekstrem hingga tubuh kurus kerempeng demi mengejar label zuhud adalah bentuk kebodohan yang merusak kesehatan fisik sekaligus merusak konsentrasi ibadah.🛑 (Untaian Hikmah Ibnu 'Aqil)Umat Islam sering kali terombang-ambing di antara dua kutub ekstrem yang keliru akibat tipuan iblis:Ekstrem Kiri: Tenggelam dalam meluapkan hawa nafsu duniawi secara berlebihan (itiba'ul hawa).Ekstrem Kanan: Jatuh pada perilaku Rohbaniah (kebrahiman/asketisme ekstrem yang mengadopsi cara-cara luar Islam), yaitu mengisolasi diri di pojok masjid tanpa peduli pada hak orang tua, hak istri, hak anak, dan tanggung jawab sosial.Nasihat Penutup: Seorang muslim yang cerdas dan lurus wajib menyeimbangkan langkah hidupnya. Tempatkan dunia di tangan untuk menunjang akhirat, bukan menyimpannya di dalam hati. Beribadahlah dengan menyelaraskan antara logika akal yang sehat dan bimbingan syariat yang lurus, mengacu pada potret kehidupan Rasulullah ﷺ dan generasi sahabat.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya11 Juni 2026
D
Dewi lestari

📍 Banjarbaru

TALBIS IBLIS #9 TALBIS IBLIS TERHADAP ORANG YANG BERAMAR MA'RUF NAHI MUNKAR

TALBIS IBLIS #9TALBIS IBLIS TERHADAP ORANG YANG BERAMAR MA'RUF NAHI MUNKARUmat yang meninggalkan amar ma'ruf nahi Munkar adalah orang yang terlaknat.dilaknatlah Bani Israil melalui lisan Daud dan Isa bin Maryam karena mereka tidak bernahi Munkar.bukan sekedar melakukan kebaikan,mencegah kebenaran ada aturannya:1.kemunkaran tersebut hilang maka harus bernahi Munkar2.kemungkaran berkurang wajib bernahi Munkar3.kemunkaran semakin besar tidak boleh bernahi Munkar4.larang kemungkaran ternyata dengan terganti dengan kemungkaran yang sejenis maka butuh Ijtihad.bernahi Munkar tidak semudah yang kita bayangkan,tidak semua yang dianggap Munkar ternyata munkarnya khilaf.Orang2 yang beramar ma'ruf nahi Munkar ada 2 model1.Alimun yaitu orang yang berilmu2.jahilun yaitu orang yang jahil.iblis menggoda orang yang alim dengan 2 cara:1.menjadi Riya dan ujub2.marah tapi bukan karena Allah SWT tp marah karena dirinya.Orang bodoh yang bernahi Munkarmaka setan akan menggodanya dengan cara khilafiyah.berbangga-bangga mengingkari kemungkaran dan mengumbar aib pelaku maksiat itu tidak boleh.setan telah menipu sebagian ahli ibadah.dia melihat kemungkaran tapi dia mengingkarinya.Talbis Iblis Terhadap Ahli Ibadah terkadang seorang awam mendengar dalam Al-Qur'an dan hadist2 tentang celana terhadap dunia,maka dia merasa kalau mau selamat harus tinggalkan dunia.dia tidak tahu bahwasannya dunia tidak tercela dzatnya,tapi tercela karena orang yang melakukan dunia tsb.karena dunia itu bisa bermanfaat dan bisa tercela.yang tercela itu sesuatu yang berlebihan, mengambil dunia tidak sesuai dengan kebutuhan,selalu mengikuti hawa nafsu.

💬 0 komentar📅 11 Jun 2026Baca selengkapnya →