📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📚 Jejak Pustaka9 September 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Bab 8 tentang tamimah dan ruqyah

Bab 8 Tentang Ruqyah Dan TamimahDiriwiyatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim dari Abu Basyir al-Anshari bahwa dia penah Bersama Rasulullah shallallahu alaihi’ wasallam dalam satu perjalana beliau, lalu beliau engutus seorang utusan (untuk memaklumkan), “Supaya tidak terdapat lagi di leher unta kalung dari tali busur panah atau kalung apapun, kecuali harus di putuskan.’’ Ibnu Mas’ud menuturkan, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik’.” (Hadits Riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud).Tamimah: Sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak untuk menangkal atau menolak ain’. Tetapi, apabila yang di kalungkan itu berasal dari ayat-ayat al-Qur’an, sebagian salaf memberikan keringanan dalam hal ini, dan Sebagian yang lain tidak memperbolehkan dan memandangnya termasuk hal yang di larang, diantara nya Ibnu Mas’ud.Ruqyah: Yaitu yang disebut pula ‘azimah. Dalil di atas mengkhususkan bahwa ruqyah yang boleh adalah yang bebas dai hal-hal syirik, sebab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah memberikan keringanan dalam hal ruqyah untuk mengobati ‘ain atau sengatan kalajengking.Tiwalah: Sesuatu yang dibuat dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat embuat seorang istri mencintai suaminya, atau seorang suami mencintai istrinya.Hadits marfu’ diriwayatkan dari Abdullah bin Ukaim, “Barangsiapa menggantungkan sesuatu barang (dengan anggapan bahwa barang itu bermanfaat atau dapat melindungi dirinya), niscaya Allah menjadikan dia selalu bergantung kepada barang terssebut.” (H.R Imam Ahmad dan at-TIrmidzi).Imam Ahmad meriwayatkan dari Ruwaifi’, dia berkata, “Rasulullah telah bersabda kepadaku, ‘Hai Ruwaifi’, semoga engkau berumur Panjang, untuk itu, sampaikan kepada orang-orang bahwa siapa saja yang menggelung jenggotnya atau memakai kalung dari tali busur panah atau beristinja’ dengan kotoran binatang atapun dengan tulang, maka sesungguhnya Muhammad berlepas diri darinya’.”Waki’ meriwayatkan bahwa Sa’id bin Jubair berkata, “Barangsiapa memutuskan suatu tamimah dari seseorang, maka tindakannya itu sama dengan memerdekakan seorang budak.”Dan Waki’ meriwayatkan pula bahwa Ibrahim (an-Nakha’i) berkata, “Mereka (para sahabat Abdullah bin Mas’ud) membenci segala jenis tamimah, baik dari ayat-ayat al-Qur’an atau bukan dari ayat-ayat al-Qur’an.”

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

HSI – Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Malaikat (Bagian 2)

HSI – Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Malaikat, Bagian 2:🌿 RANGKUMAN: AMALAN-AMALAN MALAIKATDi antara orang-orang yang didoakan secara khusus oleh para malaikat adalah:1. Orang yang berada di saf pertama ketika shalat berjamaahAllah dan para malaikat-Nya berselawat untuk orang-orang yang berada di saf-saf pertama.2. Orang yang menyambung saf dan menutup celah di antara safAllah dan para malaikat-Nya berselawat untuk orang yang menyambung saf. Orang yang menutup celah dalam saf akan diangkat derajatnya oleh Allah satu derajat.3. Orang yang berselawat kepada Nabi ﷺTidaklah seorang muslim berselawat kepada Nabi ﷺ, kecuali para malaikat juga berselawat untuknya selama ia terus berselawat kepada Nabi ﷺ. Karena itu, hendaknya kita memperbanyak selawat kepada beliau.4. Orang yang berinfak di jalan AllahSetiap pagi, dua malaikat turun. Salah satunya berdoa:"Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak."Sedangkan yang lain berdoa:"Ya Allah, berilah kehancuran bagi orang yang menahan (infak yang disyariatkan)."Infak yang dimaksud mencakup infak dalam ketaatan yang wajib maupun sunnah, nafkah keluarga, menjamu tamu, dan yang semisalnya.5. Orang yang sahurAllah dan para malaikat-Nya berselawat untuk orang-orang yang sahur.✨ Pelajaran penting:Mari memperbanyak amalan yang mendatangkan doa dan selawat dari para malaikat: menjaga saf, menyempurnakan saf, memperbanyak selawat kepada Nabi ﷺ, gemar berinfak, dan melaksanakan sahur.Sumber: HSI – Silsilah Ilmiyyah Beriman Kepada Malaikat, Halaqah 13.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 13: Dua Macam Iradah Atau Keinginan Allāh ﷻ

Halaqah 13:Dua Macam Iradah Atau Keinginan Allāh ﷻ🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Diantara perkara yang penting dipahami oleh setiap muslim di dalam masalah beriman dengan takdir Allah bahwa Iradah atau keinginan Allah ada dua macam:1. Iradah Kauniyah QodariyyahYaitu keinginan Allah yang berkaitan dengan penciptaan dan kejadian-kejadian yang ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla, seperti:• Keinginan Allah menciptakan manusia dan hewan• Menciptakan orang yang taat dan orang yang berbuat maksiat• Menciptakan ketaatan dan kemaksiatan, dan lain-lain.Dalil Iradah Kauniyah Qadariyyah diantaranya adalah firman Allah azza wajalla:إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ“Sesungguhnya perkara Allah apabila menginginkan sesuatu adalah mengatakan ‘Jadilah’, maka jadilah dia.” (QS. Ya-Sin: 82)Dan Allah berfirman:… إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ“Sesungguhnya Allah melakukan apa yang Dia inginkan.”(QS. Al-Hajj: 14)Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ…“Barangsiapa yang Allah inginkan untuk diberi hidayah maka Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam dan barangsiapa yang Allah inginkan untuk disesatkan maka Allah akan menjadikan dadanya sempit lagi sesak seperti ketika dia berusaha naik ke atas.” (QS. Al-An’am: 125)Dan Masyiah Allah atau Kehendak Allah yang disebutkan di dalam halaqah yang ke-7 adalah nama lain dari Iradah Kauniah Qadariyyah.2. Iradah Syar’iyyah DiniyyahYaitu keinginan Allah yang berkaitan dengan syari’at agama yang Allah turunkan.Allah Subhānahu wa Ta’āla menginginkan manusia mengikuti syari’at-Nya dan agama-Nya, menginginkan mereka menjalankan perintah Allah, dan menginginkan mereka meninggalkan larangan Allah.Dalil Iradah Syar’iyyah Diniyyah diantaranya adalah firman Allah azza wa jalla,إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا“Sesungguhnya Allah hanya menginginkan untuk menghilangkan kotoran dari kalian wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian dari dosa dengan sebenar-benarnya.”(QS. Al-Ahzab: 33)Dan Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ…“Dan Allah menginginkan untuk menerima taubat kalian.”(QS. An-Nisa’: 27)Dan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ Beliau bersabda,يقول الله تعالى : لِأَهْوَنِ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ : لَوْ أَنَّ لَكَ مَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ أَكُنْتَ تَفْتَدِي بِهِ ” ، فَيَقُولُ : نَعَمْ ، فَيَقُولُ : ” أَرَدْتُ مِنْكَ أَهْوَنَ مِنْ هَذَا ، وَأَنْتَ فِي صُلْبِ آدَمَ ، أَنْ لَا تُشْرِكَ بِي شَيْئًا ، فَأَبَيْتَ إِلَّا أَنْ تُشْرِكَ بِي ”“Allah Subhānahu wa Ta’āla berkata kepada penduduk neraka yang paling ringan adzabnya di hari kiamat, ‘Seandainya engkau memiliki seluruh apa yang ada di bumi apakah engkau akan menebus dengannya?’Maka dia berkata, ‘Iya’.Maka Allah berkata, ‘Aku menginginkan darimu yang lebih ringan daripada ini, sedangkan engkau saat itu berada di dalam sulbi Adam, yaitu supaya engkau tidak menyekutukan Aku sedikitpun, maka engkau pun enggan, kecuali menyekutukan diri-Ku’ ” (HR. Al Bukhari dan Muslim)@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka9 September 2026
N

Naella ulia

📍 -

Syariat ada 2 macam

Kalau ada yang mempertentangkan dalil wanita sebaiknya banyak di rumah dan sarana-sarana zaman sekarang yang harus menghabiskan waktu banyak di alam dan tempat terbuka baik untuk kesehatan atau pun pendidikan anak gimana yah? Hmmm.Pertanyaannya seru!!!Jadi syariat itu ada 2 macam. Ma’qulatul ma’na dan ghairu ma’qulatil ma’na.Yang ghairu ma’qulatil ma’na itu syariat yg turun tanpa alasan yg bisa kita logikakan. Misal wudhu, shalat, puasa. Kita terima tanpa mempertanyakan apa alasan kita melakukan itu.Yang ma’qulatul ma’na itu syariat yang bisa kita logikakan alasannya. Nah, anjuran menetap di rumah bagi muslimah itu masuk yg ma’qulatul ma’na.Jadi poinnya bukan menetap atau tidak menetap di rumah. Tetapi alasan di baliknya apa. Syariat tersebut ada karena berdampaknya kita di rumah akan menghindarkan kita dari fitnah. Aurat dan kehormatan kita juga akan terjaga. Kalau misal keluarnya kita dari rumah tidak membuat kita terjatuh pada keburukan-keburukan yang syariat juga untuk kita, ya nggak masalah.Malah akan lebih baik kalau misal kita mengajarkan kalamullah ke anak mengenai penciptaan dan alam, sembari kita mengajaknya keluar untuk memahami lebih dalam ciptaan-Nya. Dibanding kita di dalam rumah aja, ngga melihat realita di sekitar kita.Kesehatan pun demikian. Allah menyukai hamba yang kuat. Keluar ke alam membuat kita mendapat sebab kesehatan yang membuat kita kuat, ini juga lebih baik daripada di dalam rumah, terus qadarullah kena Autoimun perkara kurang Vitamin D, misalnya. Jangan sampai ya...Syariat berdiam di rumah itu bisa kita jadikan reminder. Berarti kalau keluar rumah harus nutup aurat dengan baik. Menghindari kerumunan laki-laki dan bercampur baur dengannya, memelankan suara di keramaian, dll.Allahu a’lam.THE WORLD OF MARRIAGECandra Prahastiwi, Saviera Yonita, Dr. Victa Ryza

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 September 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 88

Halaqah 88 | Celakalah Orang yang Membantah Allāh ﷻ dalam Masalah TakdirKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-88 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:فَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلَّهِ فِي القَدَرِ خَمِيصًاMaka celaka binasa orang yang di dalam masalah takdir dia menjadi orang yang membantah Allāh.Celaka orang yang membantah Allāh dalam masalah takdir seperti yang sudah berlalu. Dia mengatakan, “Lima fa’ala?” Kenapa Allāh ﷻ mengatakan demikian? Kenapa Allāh mentakdirkan seperti ini? Kenapa Allāh ﷻ seperti ini?لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ“Allāh tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, merekalah yang akan ditanya.”Kalau dia masih bertanya seperti itu dan dia membantah Allāh ﷻ dengan mengatakan, “Lima fa’ala?” Kenapa Allāh ﷻ melakukan demikian? Kenapa Allāh menyesatkan si fulan? Kenapa Allāh ﷻ memberikan hidayah kepada si Fulan. Orang yang demikian celaka, binasa, karena Allāh ﷻ tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan.Kewajiban seorang hamba hanyalah meyakini bahwa Allāh ﷻ tidak melakukan semua ini kecuali dengan hikmah. Allāh ﷻ tidak mungkin bertindak zalim. Itu yang harus ada di dalam hati seseorang. Pasti dalam apa yang Allāh ﷻ lakukan, apapun itu, pasti ada hikmahnya. Allāh ﷻ tentunya tidak sama dengan makhluk. Allāh ﷻ melakukan segala sesuatu dengan hikmah. Di antara nama Allāh ﷻ adalah al-Ḥakīm.Seseorang mendapatkan hidayah karena memang dia berhak untuk mendapatkan hidayah. Seseorang sesat karena dia memang berhak untuk mendapatkan kesesatan tersebut. Mungkin kita yang belum memahami, tapi Allāh ﷻ tidak melakukan itu kecuali dengan hikmah. Tidak mungkin Allāh ﷻ berbuat zalim. Allāh ﷻ memberikan hidayah itu adalah karunia-Nya, dan Allāh ﷻ menyesatkan itu adalah keadilan dari Allāh ﷻ. Makaفَوَيْلٌ لِمَنْ صَارَ لِلَّهِ فِي القَدَرِ خَمِيصًاcelaka orang yang membantah Allāh ﷻ dalam masalah takdir.Berimanlah dengan takdir, pasrahlah dengan apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan. Dan pasrah di sini bukan berarti seseorang tidak mengambil sebab, tapi seseorang menyadari bahwa semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Orang yang mengambil sebab itu bukan berarti dia membantah apa yang Allāh ﷻ takdirkan.Membantah itu seperti orang yang mengatakan tadi, “Kenapa Allāh?” Itu membantah. Namun, kalau seseorang meyakini bahwa segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ, dan dia menyadari bahwa Allāh ﷻ memerintahkan dia untuk mencari rezeki, memerintahkan dia untuk beramal shalih, kemudian dia beramal shalih, maka ini bukan berarti dia menentang takdir Allāh ﷻ. Sudah berlalu bahwa setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan sesuatu yang dia ditakdirkan untuknya.وأَحْضَرَ لِلنَّظَرِ فِيِهِ قَلْبًا سَقِيمًاCelaka orang yang ketika memikirkan takdir, dia mendatangkan hati yang rusak, hati yang berpenyakit, hati yang berprasangka buruk kepada Allāh ﷻ, bahwasanya Allāh zalim, Allāh ﷻ tidak adil, dan seterusnya. Dia memahami takdir dengan hati yang rusak. Maka, celaka orang yang demikian, yaitu memikirkan dan beriman kepada takdir Allāh ﷻ, tetapi dengan hati yang rusak.لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِي فَحْصِ الغَيْبِ سِرًّا كَتِيمًاOrang yang memikirkan tentang masalah takdir dengan hati yang rusak, kalau hatinya bersih, maka dia akan memikirkan takdir Allāh ﷻ sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ gariskan. Itulah hati yang bersih. Husnudzhan, beriman bahwa semuanya sudah ditentukan, dan dia menyadari bahwasanya kita diperintahkan untuk mengambil sebab, kalau terjadi sesuatu maka tidak boleh kita menggerutu dan mengatakanقَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَIni hati yang bersih, tetapi kalau hati yang kotor tidak demikian. Di dalamnya penuh dengan su’udzon kepada Allāh.لَقَدِ الْتَمَسَ بِوَهْمِهِ فِي فَحْصِ الغَيْبِ سِرًّا كَتِيمًاSungguh, orang yang membantah apa yang Allāh ﷻ takdirkan, dia telah mencari-cari dengan persangkaannya dalam membongkar perkara yang ghaib rahasia Allāh yang tersembunyi.Bagaimana seseorang bisa membongkar apa yang Allāh ﷻ rahasiakan? Makhluk yang lemah, bagaimana dia bisa membongkar rahasia yang Allāh ﷻ sembunyikan? Karena sebagaimana telah berlalu, takdir ini adalahسِرُّ اللَّهِ فِي خَلْقِهِini adalah rahasia Allāh ﷻ yang ada pada diri makhluk-makhluk-Nya. Tidak mungkin kita bisa membongkar apa yang sudah Allāh ﷻ rahasiakan. Ini adalah rahasia Allāh ﷻ pada makhluk-makhluk-Nya. Yang kita bisa lakukan adalah berusaha mengambil sebab sesuai dengan apa yang Allāh ﷻ tunjukkan.وَعَادَ بِمَا قَالَ فِيهِ أَفَّاكًا أَثِيْمًاOrang yang berusaha memahami takdir Allāh ﷻ tapi bukan dengan cara yang dibenarkan, beriman dengan takdir Allāh ﷻ tapi bukan dengan cara yang dibenarkan, pasti dia akan kembali sebagai pendusta, dan dia adalah orang yang berdosa.Kalau seseorang memahami takdir Allāh ﷻ bukan dengan cara yang dibenarkan, maka dia adalah pendusta. Apa yang dia ucapkan itu adalah dusta, tidak sesuai dengan kenyataan.Demikian pula dia akan berdosa dengan sebab apa yang dia lakukan, karena dia berusaha untuk membongkar rahasia Allāh ﷻ, rahasia Allāh ﷻ yang tidak mungkin dibongkar. Itu bukan ranahnya, tapi dia berusaha untuk membongkarnya, membantah Allāh ﷻ dalam masalah takdir-Nya.Maka ini adalah paragraf penutup dari apa yang beliau sampaikan tentang masalah takdir. Beliau tutup dengan perkataan, “Celaka bagi orang yang menjadi pembantah terhadap Allāh ﷻ dalam takdir-Nya, dia memikirkan tentang takdir Allāh ﷻ dengan hati yang rusak, dengan hati yang berpenyakit.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka9 September 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

TAKUT BERPISAH

📖 1. Berakar pada keterikatanBerpisah itu berat. Anak menangis, menempel, atau menunda pergi karena kehadiran orang tua diasosiasikan dengan rasa aman: “Selama orang tua ada di dekatku, aku terlindung.”2. Menemukan rasa aman di lingkungan baruSaat berpisah, anak perlu belajar merasa aman bersama pengasuh, guru, atau di tempat baru. Mereka perlu percaya bahwa mereka tetap aman meskipun orang tua tidak berada di samping mereka. Karena itu, air mata dan perasaan sulit adalah hal yang wajar.3. Bola cahaya rasa amanRasa aman seperti bola cahaya. Saat dekat dengan orang tua, cahaya itu membantu anak merasa aman untuk bermain dan bereksplorasi. Seiring tumbuh, cahaya tersebut diharapkan tetap menyinari anak meskipun orang tua tidak ada, karena rasa aman itu telah menjadi bagian dari dirinya.4. Internalisasi hubunganAnak perlu membawa perasaan aman dari hubungan dengan orang tua di dalam dirinya. Mereka dapat menciptakan “kehadiran” orang tua dalam pikiran, sehingga tetap merasa terhubung meskipun orang tua tidak ada.5. Benda-benda transisiSelimut, boneka, atau benda dari rumah dapat menjadi simbol ikatan dengan orang tua. Benda tersebut membantu anak merasa tetap terhubung dan membuat proses perpisahan lebih mudah.6. Setiap anak berbedaRespons terhadap perpisahan dipengaruhi temperamen. Ada anak yang mudah berpisah, ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi. Tidak ada yang salah—mereka hanya menjalani pengalaman yang berbeda.7. Kita tidak melihat seluruh prosesOrang tua biasanya hanya melihat saat berpamitan. Kita tidak selalu melihat bagaimana anak kemudian pulih, bermain, dan merasa senang. Tangisan saat berpisah tidak selalu berarti anak tidak baik-baik saja sepanjang hari.8. Perasaan orang tua sangat berpengaruhAnak sangat peka terhadap kecemasan orang tua. Jika kita terlihat takut, ragu, atau gugup, ketakutan anak bisa semakin besar. Pada dasarnya anak bertanya, “Apakah menurut Ayah/Ibu, aku akan baik-baik saja?”🌿 Berpisah mungkin sulit bagi semua orang, tetapi rasa percaya diri dari kita membantu anak merasa lebih aman.Good InsideMeletakkan Kepercayaan Penuh bahwa Semua Anak Berhati Baik(Dr. Becky Kennedy)

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat9 September 2026
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

QS. An-Nūr: 41 — Cerminan Kekuasaan Allah

Ayat ini sangat indah untuk direnungkan karena memperlihatkan bahwa tasbih kepada Allah bukan hanya milik manusia, tetapi seluruh makhluk tunduk dan bertasbih kepada-Nya.🌿 QS. An-Nūr: 41 — Cerminan Kekuasaan Allah“Tidakkah kamu tahu bahwasanya kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui cara salat dan tasbihnya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”Ada beberapa pelajaran penting dari ayat ini:1. Seluruh alam sedang bertasbih kepada Allah.Langit, bumi, burung, dan seluruh makhluk tidak pernah berada di luar kekuasaan Allah. Masing-masing memiliki bentuk ibadah dan tasbih yang Allah ajarkan kepadanya.Bahkan burung yang tampak sederhana ketika mengepakkan sayapnya di udara—ternyata ia sedang menjadi bagian dari “jamaah” besar seluruh makhluk yang memuji Allah.2. Setiap makhluk memiliki cara ibadahnya sendiri.Allah berfirman:كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ“Masing-masing telah mengetahui cara salat dan tasbihnya.”Ini menunjukkan betapa luasnya ilmu dan kekuasaan Allah. Manusia mungkin tidak memahami bagaimana batu, pohon, hewan, angin, atau burung bertasbih. Tetapi Allah mengetahuinya dengan sempurna.3. Tidak ada satu pun amal yang luput dari pengawasan Allah.Ayat ditutup dengan:وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ“Dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”Bukan hanya tasbih makhluk yang Allah ketahui. Setiap perbuatan kita pun diketahui-Nya. Yang dilakukan terang-terangan maupun tersembunyi, yang dipuji manusia maupun yang tidak diketahui siapa pun.🤍 Tadabbur untuk diriAyat ini seakan mengajak kita melihat alam dengan cara yang berbeda.Ketika melihat burung terbang, ia sedang bertasbih.Ketika melihat pepohonan, ia sedang bertasbih.Ketika melihat langit dan bumi, keduanya sedang bertasbih kepada Penciptanya.Lalu bagaimana dengan kita?Makhluk-makhluk itu menjalankan apa yang Allah ilhamkan kepada mereka. Maka semestinya manusia yang diberi akal, ilmu, pilihan, dan kemampuan untuk mengenal Allah tidak kalah dalam mengingat-Nya.Dan ada teguran yang sangat lembut di dalamnya:Jangan sampai seluruh alam bertasbih kepada Allah, sementara lisan kita justru lalai dari mengingat-Nya.Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang banyak bertasbih, bersyukur, dan tunduk kepada-Nya.

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat9 September 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Tafsir Al-Mukhtasar Surat At-Taubah

Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengutus Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dengan membawa Al-Quran yang merupakan petunjuk jalan bagi manusia, dan membawa agama yang benar, yaitu agama Islam, untuk menjadikannya unggul diatas agama-agama lainnya dengan hujah-hujah, bukti-bukti, dan hukum-hukum yang ada di dalamnya, walaupun orang-orang muysrik tidak menyukai hal itu.​

💬 0 komentar📅 9 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka3 hari lalu
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

The Barakah Effect - Rukun Iman dan Hustle Culture

The Five Pillars of Islam – An Antidote to the Five Pillars of Hustle Culture.” Menarik karena dibahas bagaimana lima rukun Islam sebenarnya bisa menjadi penyeimbang dari budaya hustle yang membuat kita merasa harus terus produktif, terus mengejar, dan terus “lebih”.Syahadat mengembalikan tujuan hidup, shalat mengajarkan kita untuk berhenti sejenak di tengah kesibukan, zakat mengingatkan bahwa harta bukan hanya untuk dikumpulkan, puasa melatih kita mengendalikan keinginan, dan haji mengingatkan kembali arah perjalanan hidup.Jadi Islam bukan mengajarkan kita untuk nggak punya ambisi. Tapi menempatkan ambisi, harta, waktu, dan pencapaian di bawah tujuan yang lebih besar: beribadah kepada Allah dan mencari keberkahan.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 hari lalu
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

Qs Al Kahfi: 28 - Dengan Siapa Kita Bertumbuh

Allah tidak hanya memerintahkan untuk mengingat-Nya, tapi juga memilih siapa yang kita jadikan tempat untuk bertumbuh.Jangan sampai kita terlalu terpukau pada orang yang punya kedudukan, harta, atau perhiasan dunia, lalu merasa orang yang sederhana tidak cukup layak untuk menemani perjalanan kita.Karena yang Allah lihat bukan seberapa “tinggi” seseorang di mata manusia, tetapi ke mana hatinya mengarah.Ini juga pengingat untukku: dalam memilih lingkungan, teman, pasangan, bahkan arah hidup, jangan sampai ukuran dunia perlahan menggantikan ukuran yang Allah ajarkan.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 hari lalu
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS Al-'Araf:199

Tafsir Al-MuyassarQS Al-'Araf:199Ambillah olehmu (wahai Nabi) dan umatmu kelebihan dari akhlak dan perilaku manusia dengan tanpa paksaan dan kecurigaan (maafkanlah kesalahan manusia). Janganlah kamu meminta sesuatu yang memberatkan mereka sehingga mereka menjauhimu. Perintahlah mereka untuk mengucapkan atau melakukan yang baik, dan hindarilah pertentangan dengan orang-orang bodoh yang tidak waras.

💬 0 komentar📅 8 Sep 2026Baca selengkapnya →