Talbis Iblis-10
Kajian Kitab Talbis Iblis-10Talbis Iblis Terhadap Ahli ZuhudZuhud yang hakiki bukan sekadar qanaah dalam makanan dan pakaian. Di antara talbis iblis terhadap ahli zuhud adalah menggambarkan bahwa zuhud hanya berkaitan dengan perkara lahiriah, seperti makan sederhana dan berpakaian sederhana, sementara hati masih dipenuhi keinginan terhadap kedudukan, kepemimpinan, penghormatan, dan pengagungan manusia. Seseorang mungkin zuhud dalam makanan dan pakaian, namun sangat senang apabila dikunjungi pejabat, dimuliakan orang kaya, dihormati masyarakat, dan merasa bangga ketika namanya disebut-sebut. Padahal tujuan dunia yang paling besar bukanlah makanan dan pakaian, melainkan kedudukan di hati manusia.Yang dibahas bukanlah riya yang tampak jelas, seperti sengaja menampakkan tubuh kurus, wajah pucat, rambut kusut, suara yang dibuat pelan, atau menampakkan kesusahan agar dianggap zuhud. Semua orang dapat mengenali hal itu sebagai riya. Yang lebih berbahaya adalah riya yang samar (khafiy), yaitu ketika seseorang beramal dan menampakkan kezuhudan, sementara hatinya menginginkan penghormatan, pengakuan, dan kedudukan. Karena itu Ibnu Taimiyah menyebut kecintaan terhadap pujian dan penghormatan sebagai syahwat yang tersembunyi. Sebagaimana seseorang bersyahwat terhadap makanan atau wanita, ada pula orang yang bersyahwat terhadap kedudukan dan penghormatan manusia.Barang siapa beramal tidak karena mencari wajah Allah, maka amalnya tidak diterima. Malik bin Dinar berkata, “Katakan kepada orang yang tidak jujur dalam amalnya, janganlah engkau melelahkan dirimu.” Seorang mukmin seharusnya tidak menginginkan dari amalnya kecuali wajah Allah semata. Akan tetapi keikhlasan merupakan perkara yang sangat halus dan memerlukan perjuangan panjang untuk mempelajarinya.Ibrahim bin Adham pernah belajar tentang makrifat dari seorang pendeta Nasrani bernama Sam’an yang tinggal di tempat ibadahnya selama tujuh puluh tahun. Pendeta itu hanya makan satu butir biji humus setiap malam. Ketika ditanya apa yang membuatnya mampu bertahan dengan kehidupan seperti itu, ia menjelaskan bahwa setiap tahun manusia datang berziarah kepadanya, mengagungkannya, dan menghormatinya. Karena kenikmatan penghormatan itulah ia sanggup menanggung kesulitan hidup sepanjang tahun. Bahkan dua puluh butir biji humus yang diberikan kepada Ibrahim bin Adham dapat dijual dengan harga yang sangat mahal karena masyarakat menganggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari sang pendeta. Dari kisah ini Ibrahim bin Adham memahami bahwa seseorang bisa saja beramal akhirat demi memperoleh dunia berupa penghormatan dan kedudukan.Allah berfirman bahwa orang yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya akan diberikan apa yang mereka cari di dunia, tetapi di akhirat mereka tidak memperoleh apa-apa selain neraka. Surga disediakan bagi orang-orang yang tidak menghendaki ketinggian di muka bumi dan tidak berbuat kerusakan. Karena itu ibadah, dakwah, ilmu, dan amal saleh tidak boleh dijadikan sarana mencari kedudukan di hati manusia.Karena takut terjatuh dalam riya, para salaf sangat berusaha menyembunyikan amal mereka. Ibnu Sirin pada siang hari tampak biasa saja, bahkan banyak tertawa, sementara pada malam hari beliau menangis dalam ibadahnya. Daud bin Abi Hind berpuasa sunnah selama dua puluh tahun tanpa diketahui istrinya. Ia membawa bekal dari rumah seolah-olah untuk dimakan, lalu menyedekahkannya di perjalanan. Istrinya mengira ia makan di pasar, sedangkan orang-orang pasar mengira ia sudah makan di rumah.Dikisahkan pula seorang saleh yang menasihati manusia bahwa meninggalkan harta karena takut berlebihan belum tentu aman dari fitnah. Bisa jadi seseorang meninggalkan dunia tetapi justru mencari sesuatu yang lebih berbahaya, yaitu penghormatan manusia. Ia senang apabila kebutuhannya dipenuhi karena kesalehannya, mendapatkan harga murah karena agamanya, atau dihormati karena kedudukannya di mata masyarakat. Ketika nasihat ini sampai kepada raja dan raja ingin mengunjunginya, orang saleh tersebut sengaja melakukan hal-hal yang membuat raja tidak lagi mengaguminya. Setelah raja pergi dalam keadaan mencelanya, ia justru memuji Allah karena telah memalingkan hati raja darinya.Para salaf tidak menyukai sanjungan dan pengagungan. Mereka tidak senang dipuji secara berlebihan dan tidak berusaha mencari ketenaran. Bahkan sebagian mereka melakukan hal-hal yang membuat manusia tidak terlalu memperhatikan mereka agar hati tetap terjaga dari fitnah pujian. Mereka khawatir amal yang dilakukan berubah tujuannya menjadi pencarian penghormatan manusia.Talbis iblis juga dapat menimpa orang yang benar-benar zuhud secara lahir dan batin. Ketika ia mengetahui bahwa orang-orang membicarakan kezuhudannya, ia merasa senang dengan pembicaraan tersebut sehingga kezuhudannya menjadi lebih mudah dijalani karena adanya pujian manusia. Di sinilah bahaya yang sangat halus. Amal yang tampaknya ikhlas bisa tercampuri keinginan agar dikenal sebagai orang saleh.Di antara bentuk lainnya adalah seseorang yang sengaja menyendiri, jarang bergaul, sulit ditemui, atau tidak menghadiri berbagai kebutuhan masyarakat demi menjaga citra dirinya agar tetap dihormati. Ia takut jika terlalu sering berinteraksi, maka kedudukannya di hati manusia berkurang. Padahal Rasulullah ﷺ pergi ke pasar, membeli kebutuhan keluarganya sendiri, dan memikul barangnya sendiri. Abu Bakar juga berdagang dan memikul barang dagangannya. Abdullah bin Salam pernah memikul kayu bakar di atas kepalanya meskipun telah berkecukupan, semata-mata untuk menghilangkan kesombongan dari dirinya.Para salaf juga sangat takut terhadap perubahan hati akibat ketenaran. Yusuf bin Asbath pernah meninggalkan suatu kota ketika melihat banyak orang mulai mengenalnya dan menghormatinya. Ia khawatir penghormatan tersebut merusak hatinya. Hati manusia sangat mudah berubah ketika menjadi terkenal, dihormati, atau memiliki kedudukan.Sebagian ahli zuhud juga tertipu dengan membiarkan pakaian robek, rambut kusut, dan penampilan yang tidak terurus agar dianggap tidak mencintai dunia. Padahal ini bukan petunjuk Rasulullah. Nabi tetap menyisir rambut, memakai minyak, bercermin, dan memperhatikan penampilan. Abu Bakar dan Umar juga merawat diri mereka. Zuhud bukan berarti sengaja menampilkan kesan miskin dan kusut, tetapi memalingkan hati dari ketergantungan kepada dunia.Kesimpulannya, bahaya terbesar bagi ahli ibadah, ahli ilmu, ahli dakwah, dan ahli zuhud bukanlah kecintaan kepada makanan atau pakaian, melainkan kecintaan kepada penghormatan, kedudukan, pujian, dan pengakuan manusia. Inilah riya yang samar dan sangat halus. Seorang hamba wajib terus memeriksa niatnya, berusaha ikhlas hanya mengharap wajah Allah, serta tidak menjadikan amal saleh sebagai jalan untuk meraih ketinggian dan kemuliaan di mata manusia. Surga disediakan bagi orang-orang yang tidak menghendaki ketinggian di muka bumi, melainkan menghendaki ridha Allah semata.

















