📍 Kota Gorontalo
Ringkasan Materi #3 “Talbis Iblis terhadap Filsuf Yunani & Penyembah Berhala”
Catatan Kajian Kitab Talbis IblisMateri #3 “Talbis Iblis terhadap Filsuf Yunani & Penyembah Berhala”Oleh Ustad Firanda Andirja hafidzahullahu(3 Juni 2026)(Lanjutan bahasan Bab 5)Penulis membuat subjudul “Penyebutan tentang talbis iblis kepada kaum filsafat Yunani dan para pengikutnya”Falasifah (socrates, plato, artistoteles) adalah orang-orang yg sangat cerdas. Mereka menulis perkara-perkara yg nampak (fisika, kimia, dsb). Hal-hal ini membuat orang-orang muslim terkagum. Yang keliru ketika mereka membahas Teologi (ilmu ketuhanan), membahas dengan akal mereka dan tidak mau melihat nubuwwah (penjelasan para nabi, rasul) hanya ingin membahas Tuhan secara merdeka. Akhirnya pembahasan mereka ngawur.Padahal jika kita membahas Tuhan secara detail, otak manusia tidak akan mampu. Mereka tidak berlandaskan apapun dalam membahas teori Tuhan. Padahal ketika berbicara tentang sesuatu yang ghoib, yang tidak bisa dianalogikan dengan perkara yang nampak, maka hal ini sulit. Akhirnya mereka hanya berbicara dengan dzhon (prasangka).Penulis berkata saat mereka membahas tentang ketuhanan, mereka banyak khilaf karena tidak banyak landasan dan otak manusia memiliki keterbatasan. Berbeda dengan ketika membahas ilmu pasti dan terlihat (fisika, kimia, biologi) mereka kebanyakan 1 kesepahaman.Kita tidak bisa menjelaskan bagaimana bentuk ruh, bagaimana dia beredar di dalam jasad, tidak ada yang tahu. Seperti dalam firman Allah, “Dan jika mereka bertanya kepadamu tentang ruh, maka ruh adalah urusan Rabbmu. Kalian tidak diberikan ilmu kecuali sedikit” – Surah Al-Isra ayat 85.Aqidah falasifah tentang TuhanAda 3 madzab/pendapat1. Dahriah (pencipta tidak ada)2. Mereka menetapkan alam ini tercipta dari sebab pertama (kausal prima). - Kausal ini yang mereka anggap berfungsi sebagai sebab penciptaan. Inilah syubhatnya dari iblis. Menganggap kausal ini sangat sempurna, azali bersama alam. Karena sebab itu sempurna, maka akibatnya tidak boleh terlambat. - Jika dalam Islam, kita berkeyakinan Allah lah yang mencipta. Allah hanya mengatakan jadi maka jadilah. ada sebab dan akibat, akibat ini muncul belakangan langsung tanpa ada jeda. Beda dengan orang falasifah, sebab dan akibat muncul berbarengan.- Munculnya akibat (alam) dari sebab adalah konsekuensi dari sebab, bukan kehendak kausal prima. Mereka menolak kausal prima punya kehendak tertentu karena sudah sempurna. Inilah syubhatnya. Dianggap tuhan tidak melakukan apapun lagi karena tujuan tertentu. Konsekuensinya: alam azali (sejak azali sudah ada).- Mereka mengatakan kalau alam ini adalah abadi. Semua yang mereka katakan semuanya adalah murni logika dan bertentangan dengan akidah yang kita yakini. 3. Pencipta itu ada. Dalilnya karena kami melihat alam ini muhdats/baru, dari tidak ada menjadi ada. Namun merekapun khilaf tentang hakikat pencipta tersebut. Karena ada yang tenggelam, meminta tolong kepada Tuhan namun tidak ada yang menolong. Maka mereka berpendapat:a. Tuhan tersebut bunuh diri, karena menganggap apa yang diciptakan sudah sempurna dan tidak ingin ada perubahan lagi pada alam yang sudah diciptakan.b. Tuhan lemah. Tuhan menciptakan makhluk terlalu hebat dan tuhan hanya menonton saja, tidak mengatur lagi. sehingga ada yang meminta tolong ketika bencana, kejahatan, namun tidak ada yang menolong. Logika mereka, jika Tuhan ada maka tidak ada kejahatan.c. Tuhan menyebar dirinya ke seluruh alam/menyatu dengan alam.Ilmu Tuhan menurut ilmu filsafat1. Falasifah Yunani: menurut mereka pencipta tidak berilmu kecuali hanya dirinya. Karena Tuhan itu sempurna. Syubhatnya: Tuhan tidak boleh memikirkan makhluk yang tidak sempurna, karena hanya dirinya sendiri yang sempurna. Tuhan tidak tahu pada apapun makhluknyaKeyakinan kita sebagai Islam: “Allah Maha Mengetahui semua yang Allah ciptakan.” “Tidak ada satupun daun yang jatuh kecuali Allah mengetahui”Allah mengurus makhluknya, banyak hewan melata yang tidak bisa mengurus rezekinya maka Allah yang mengurusnya.“Allah tahu lirikan mata dan apa yang disembunyikan dalam dada manusia”Semuanya Allah tahu. Tidak mungkin Allah yang Maha Sempurna tidak ada apa yang Dia ciptakan- Logika ini sedikit mempengaruhi Ibnu Sina. Dia mengatakan Allah mengetahui makhluk-makhlukNya secara kulli (global), bukan terperinci. Syubhat dia adalah: makhluk berubah-ubah dan ada yang buruk. Maka tidak pantas Allah memikirkan semua. Al Gazali mengkafirkan dia karena ini.- Logika ini juga mempengaruhi Mu’tazilah. Mereka berkata bahwa ilmu Allah dan qudrah Allah adalah zatNya sendiri.Akidah falasifah tentang hari kebangkitan. Mereka mengingkari kebangkitan jasad dan dikembalikan ruh ke jasad. Surga dan neraka tidak ada menurut mereka.Ibnu Sina terpengaruh dengan pemikiran ini. Menurutnya tidak ada kebangkitan jasad, yang ada hanya ruh. Karena ini pun beliau dikafirkan oleh Al Ghazali.Talbis iblis terhadap yang menyembah haikal-haikal/bentuk. Ada sekelompok manusia yang meyakini bahwa benda-benda langit (planet, bintang) ada ruhnya. Gerakan planet2 itu mempengaruhi apa yang terjadi di alam ini.- Menurut mereka, semua planet memiliki proyeksi bentuk di atas muka bumi. Planet A seperti hewan A, planet B seperti hewan B, dan seterusnya. akhirnya mereka menyembah planet-planet itu lewat hewan yang mereka anggap sebagai perwakilan dari planet tertentu, yang dapat menghubungkan mereka dengan planet di langit. _ Merekapun melakukan kurban yang diperuntukkan untuk planet itu. Misalnya matahari murni, maka mereka mengorbankan anak yang baru lahir. Mereka menganggap itu serupa dan bisa dijadikan korban dan dipersembahkan kepada matahari agar mendatangkan kebaikan dan dijauhkan dari keburukan.Talbis iblis terhadap penyembahan berhala. - Iblis mengambil kecednderungan manusia suka melihat bentuk-bentuk yang indah. Digambarkan kepada mereka bahwa patung itu memiliki pengaruh jika disembah - Syubhatnya dapat mendekatkan mereka kepada Allah. - Patung-patung orang sholeh yang sudah meninggal dibuat dengan tujuan untuk mengenang yang pada awalnya agar termotivasi untuk beribadah. Berjalannya waktu, kata Ibnu Abbas yang meriwayatkan hadits ini, datang generasi berikutnya yang tidak tahu asal-usul patung itu (dan karena tidak ada yang mendakwahkan tauhid), maka dibisikkan oleh syaitan untuk menyembah patung itu agar mendekatkan kepada Allah- Penyembahan berhala ini sampai ke jazirah arab, ke suku Quraisy. Dibawa oleh seorang bernama Ammar bi Luhay Al Khuza-i, pemimpin kaum Khuza’ah. Dia membawa berhala ke kota Mekah dan orang-orang menyembahnya. Di antara nama berhala: manat (di sahil bakhr), lata (di thoif), uzza (di wadi nakhla), hubal (di kakbah).Sampai ada berhala sejoli (Isaf dan Nailah) di Yaman namun tidak bisa bertemu. Merekapun berhaji dan berzina di dalam kakbah. Allah ubah mereka jadi patung. Namun dengan bisikan syaitan, merekapun disembah. Diminta diusap saat thawaf, mengundi nasib di depan patungnya. - Saking suka mereka menyembah patung, maka ke mana-mana mereka membawa patung. Bahkan jika mereka lupa “membawa patung/membawa tuhan”, maka dicarilah 4 batu. Jika ada 1 batu yg paling bagus, maka itu adalah tuhan. 3 sisanya dijadikan tungku untuk memasak. - Suatu saat pun ada seseorang yang kehilangan tuhan mereka saat di perjalanan. Maka mereka bilang carilah tuhan kamu yang baru karena tuhan telah hilang.Jika tidak dapat batu, mereka ambil pasir dan dikasih susu agar menjadi gundukan, mereka pun thawaf.- Logikanya kita harusnya menyembah yang menciptakan kita, bukan kita yang membuat sesuatu (patung), lalu itu disembah.