📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📚 Jejak Pustaka4 September 2026
D

Dewi Hajar Novanda

📍 Kota Depok

Bab 14 - Mempertanyakan Pendekatan Anda dalam Hal Pendisiplinan

Mempertanyakan Pendekatan Anda dalam Hal PendisiplinanKadang-kadang, kritik, saran dari orang lain, atau hasil yang tidak terlihat dengan cepat dapat membuat orang tua meragukan pendekatan pengasuhan yang mereka pilih. Saat merasa rapuh dan mulai mempertanyakan diri sendiri, banyak orang tua yang menerapkan gentle discipline melakukan beberapa hal berikut:🌱 Kembali Mengingat Prinsip DasarMenempatkan diri pada posisi anak dan bertanya: "Bagaimana saya ingin diperlakukan jika saya berada di posisi mereka?"Mengingat kembali filosofi pengasuhan yang diyakini.Bertanya pada diri sendiri:Apakah cara yang saya lakukan benar-benar membantu anak?Apakah anak saya sehat, bahagia, dan berkembang dengan baik?Fokus pada tujuan jangka panjang, bukan hanya perilaku yang muncul minggu ini.💭 Merefleksikan Diri dan SituasiMundur sejenak untuk menilai keadaan dengan lebih tenang.Mengingat kembali kemajuan dan keberhasilan yang telah dicapai bersama anak.Menilai apakah masalah sebenarnya berasal dari anak atau dari diri sendiri.Bertanya dengan jujur: "Apakah ini benar-benar penting, atau saya hanya sulit menerima perubahan?"❤️ Memahami Anak dengan EmpatiMengamati anak dan berusaha memahami apa yang mereka rasakan.Menerima bahwa anak juga mengajarkan banyak hal kepada orang tua.Mengingat bahwa perilaku anak sering kali memiliki akar masalah yang perlu dipahami, bukan sekadar dihentikan.🤝 Mencari Dukungan dan PenguatanBerdiskusi dengan pasangan untuk meneguhkan kembali nilai dan tujuan pengasuhan yang disepakati.Bergabung dengan komunitas atau kelompok pengasuhan yang memiliki nilai serupa untuk mendapatkan dukungan dan saran.Menghabiskan waktu dengan orang-orang yang memiliki pandangan pengasuhan yang sejalan.🛡️ Menyikapi Kritik dari Orang LainMenghargai masukan orang lain karena biasanya mereka bermaksud baik.Tetap sopan, tetapi tidak merasa harus mengikuti semua saran yang diberikan.Menyadari bahwa setiap keluarga memiliki nilai dan tujuan pengasuhan yang berbeda.Bertanya pada diri sendiri: "Apakah saya ingin anak saya tumbuh seperti anak yang dijadikan contoh oleh orang tersebut?" Jika jawabannya tidak, maka tidak perlu mengubah arah pengasuhan hanya karena tekanan dari luar.🌟 Mempercayai Diri SendiriMengingat alasan mengapa memilih pendekatan gentle discipline.Percaya pada insting dan keyakinan sebagai orang tua.Menerima bahwa keraguan adalah hal yang wajar dalam perjalanan pengasuhan.Meyakinkan diri bahwa kita sedang berusaha menjadi orang tua terbaik yang kita bisa.🎯 Berpikir Jangka PanjangMembayangkan seperti apa anak di masa depan dan bagaimana mereka akan mengenang masa kecilnya.Menyadari bahwa jalan pintas seperti hukuman keras mungkin menghentikan perilaku sesaat, tetapi belum tentu menyelesaikan akar masalah.Belajar dari pengalaman masa kecil sendiri dan berupaya memutus pola pengasuhan yang menyakitkan agar tidak terulang pada generasi berikutnya.Inti PesanKetika mulai meragukan pendekatan pengasuhan yang dipilih, banyak orang tua memilih untuk kembali pada nilai-nilai yang mereka yakini, melihat perkembangan anak secara menyeluruh, mencari dukungan yang sehat, serta tetap fokus pada tujuan jangka panjang. Mereka menyadari bahwa pengasuhan bukan tentang hasil yang instan, melainkan tentang membangun hubungan, karakter, dan kesejahteraan anak untuk masa depan. 🌷

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka4 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Jelaskan Karakter Teman yang Saleh Kepada Anak

Karakter Teman yang Saleh * Teman yang saleh memiliki kedudukan yang sangat utama, bahkan menyerupai atau melebihi saudara kandung. * Rasulullah SAW bersabda bahwa anugerah terbaik dari Allah setelah saudara yang saleh adalah teman yang selalu membantu ketika kita mengingat Allah, serta mengingatkan ketika kita lupa. * Hakikat persahabatan yang baik adalah saling mendukung dan membimbing untuk senantiasa bertakwa serta tidak melupakan Allah SWT.Keutamaan Cinta Karena Allah * Persahabatan dan rasa cinta yang didasari ikhlas karena Allah SWT memiliki kedudukan yang sangat mulia. * Orang-orang yang saling mencintai karena Allah akan mendapatkan kecintaan dan perlindungan khusus dari-Nya.

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka4 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Camkanlah, keadaan lahir ya mencerminkan keadaan batiniyah

Camkanlah keadaan yang ria mencerminkan keadaan batiniah Sumber: Don't sweat the small stuff with your family Strategi filosofi ini telah banyak membantu saya melewati masa dewasa saya. Nilainya yang paling berharga adalah membantu Anda memperoleh kembali perspektif anda ketika hidup anda nampak tidak tenang atau di luar kendali. Ini berasal dari pemahaman bahwa dunia lahiriyah Anda,lingkungan Anda, tingkat kebisingan, kondisi relatif tenang atau kacau balau dalam hidup anda biasanya merupakan cerminan dunia batiniah anda, tingkat kedamaian dan keseimbangan atau tiadanya keduanya yang anda alami dalam pikiran anda. Banyak orang menolak strategi ini karena ini terasa begitu mudah. Siapa yang mau percaya bahwa kalau cowoknya hidup anda adalah akibat pikiran yang tak karuan meskipun cuma sebagian? Bagaimanapun lebih mudah bagi kita untuk percaya bahwa penyebab kacauannya hidup kita di akibatkan oleh lingkungan jadwal dan tanggung jawab anda. Namun jika mau mengakui bahwa pesan ini benar ini akan sangat membantu karena meskipun anda hanya sedikit memiliki Kendari di luar lingkungan anda anda mempunyai kemampuan untuk mengubah dari dalam. Salah satu buku favorit saya adalah wherever you go, there you are tulisan John kabat zinn. Perhatikan sejenak inti judul ini. Dengan lugas ini menyebutkan bahwa jika anda gugup, terburu-buru, dan tidak rapi di satu rumah, entah bagaimana Anda pasti akan menciptakan suasana yang serupa di manapun Anda berada. Sebagai contoh pernahkah anda mengenal seseorang yang terlambat melulu? Benarkah akan membantu jika anda memberinya 10 menit ekstra supaya ia tidak telat? Tidak. Alasannya sangat sederhana: kebiasaan yang membentuk kecenderungan terlambat bukanlah jam, atau waktu sepanjang hari atau bahkan hal-hal yang mesti dikerjakan hari itu. Sebaliknya kebiasaan itu berasal dari kebiasaan batiniyah kecenderungan untuk menunda hingga menit-menit terakhir. Anda dapat mengubah fakta eksternalnya ke mana seseorang pergi siapa yang ditemui dan seterusnya, namun orang tersebut akan menemukan cara untuk muncul telat. Ia akan memiliki sederetan alasan bagus tetapi faktanya ia tetap terlambat. Kebiasaan ini seperti halnya kebiasaan-kebiasaan yang lain muncul dari dalam diri seseorang dan tercermin dalam kehidupannya. Bagian paling membantu dari informasi ini berhubungan dengan pernyataan, "mana yang lebih dulu ada ketenangan pikiran atau ketenangan hidup?" Jika Anda memikirkan judul buku karangan kabatZiin , jawabannya meskipun sulit diakui sangat jelas : ketenangan pikiran mendahului kehidupan lahiriah yang lebih damai. Dengan kata lain jika hidup anda tampaknya begitu berat titik awal untuk memulai perbaikan adalah dari dalam pikiran anda sendiri. Mungkin anda memerlukan istirahat atau mengubah kecepatan langkah anda. Mungkin anda membutuhkan sedikit waktu luang buat diri anda sendiri jadi anda harus mengurangi kegiatan menonton televisi dan mencoba membaca-baca buku yang bermanfaat. Akan bermanfaat belajar meditasi atau banyak berdoa? Mungkin Anda harus mengurangi waktu tidur Anda atau bangun lebih pagi supaya bisa punya waktu sendirian. Setiap orang akan membutuhkan resep yang berbeda karena masing-masing memiliki kebutuhan yang berbeda. Namun cukup dengan memahami bahwa akar dari segala masalah dalam kehidupan terletak di dalam diri masing-masing bukan dari lingkungan Anda sering sangat membantu karena ini akan menunjukkan pangkal segala kesalahan : diri kita sendiri. Lain kali jika anda merasa kewalahan atau frustasi pelankan langkah anda dan mengancalah pada diri sendiri. Jika anda mau melakukannya Saya yakin anda akan setuju bahwa kehidupan lahirnya merupakan cerminan dari batiniyah anda. Cukup dengan memperhatikan hubungan ini anda pasti tahu benar langkah apa yang bisa diambil untuk mencegah persoalan.

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 September 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 85

Halaqah 85 | Pena Sudah Kering dan Takdir Tidak Akan Pernah MelesetKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-85 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh:جَفَّ القَلَمُ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِAl-Qalam telah kering dengan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat.Dalam hadits, Allāh ﷻ menyuruh al-Qalam untuk menulis segala sesuatu ilā an taquma as-sā’ah (sampai datang hari kiamat), sudah kering al-Qalam dengan apa yang akan terjadi hingga hari kiamat. Sudah tidak bisa dirubah lagi, itu maksudnya. Tidak bisa dirubah lagi, semuanya sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ. Antum mau merubah bagaimanapun, tidak bisa. Antum mengatakan, “Saya akan menggerakkan tangan saya ke kanan,” yaitu memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ di dalam Lauḥul Maḥfūẓ ke kanan. Antum punya keinginan sebenarnya untuk menggerakkan tangan ke kiri, tapi antum gerakkan ke kanan. Memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dalam Lauḥul Maḥfūẓ. Demikian, antum punya keinginan, keinginan antum juga sudah ditulis. Menggerakkan tangan ke kanan juga sudah ditulis oleh Allāh ﷻ.وَمَا أَخْطَأَ العَبْدَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَهُDan apa yang mengenai seorang hamba atau yang luput dari seorang hamba, maka itu tidak mungkin akan mengenainya. Apa yang sudah ditulis Allāh ﷻ di dalam Lauḥul Maḥfūẓ tidak akan mengenai seseorang maka tidak akan mengenai orang tersebut. Sudah ditulis oleh Allāh ﷻ, dia tidak akan meninggal di perang ini, maka meskipun dikepung oleh ratusan musuh, kalau memang Allāh ﷻ tidak menulis bahwa dia meninggal di perang tersebut, dia akan selamat. Ada saja di sana cara, jalan, sebab, sehingga menjadikan dia selamat. Tidak terkena pedang, tidak terkena tombak, tidak terbunuh, mungkin karena dia sakit atau sebab yang lain sehingga saat itu dia tidak bisa mengikuti perang, misalnya. Itu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ atau karena sebab yang lain.Sebaliknyaوَمَا أَصَابَهُ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَهُapa yang sudah ditulis oleh Allāh ﷻ di dalam Lauḥul Maḥfūẓ akan menimpa seseorang, maka itu tidak akan mungkin luput dari dirinya. Misalnya, rugi dalam perdagangan, sakit, terkena penyakit yang parah, atau mobilnya tertabrak, dan seterusnya. Apa yang sudah ditulis oleh Allāh ﷻ menimpa seseorang, maka tidak mungkin luput dan terlepas dari apa yang sudah Allāh ﷻ takdirkan tersebut.Di dalam hadits yang disebutkan tentangإِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْDisebutkan sebelumnya, Ubadah Ibn aṣ-Ṣāmit, seorang sahabat Nabi ﷺ, berkata kepada putranya, sebagaimana Nabi ﷺ memberikan wejangan, memberikan nasehat kepada Abdullah bin ‘Abbās raḍiyallāhu ‘anhumā yang saat itu masih kecil, untuk beriman kepada takdir. Di sini, Ubadah Ibn aṣ-Ṣāmit sedang memberikan nasehat kepada putranya.يَا بُنَيَّ، إِنَّكَ لَنْ تَجِدَ طَعْمَ حَقِيقَةِ الْإِيمَانِ حَتَّى تَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَWahai anakku, sesungguhnya engkau tidak akan merasakan hakekat dari keimanan, rasa dari keimanan, kelezatan iman. Engkau tidak akan merasakan kelezatan iman sampai engkau menyadari, mengimani, bahwa apa yang ditulis akan menimpamu tidak akan luput darimu, dan apa yang ditulis luput darimu maka tidak akan menimpamu. Yaitu seseorang memiliki keyakinan yang kuat terhadap apa yang ditulis oleh Allāh. Segala sesuatu sudah ditulis oleh Allāh, barulah dia akan merasakan nikmatnya iman, kelezatan iman.Coba antum praktekkan pada diri antum sendiri, menyadari bahwasanya segala sesuatu sudah ditulis oleh Allāh. Apa yang ditulis akan menimpaku, maka tidak akan luput dariku, dan apa yang ditulis luput dariku, maka tidak akan mungkin menimpaku. Maka akan memiliki pengaruh yang besar pada hati seseorang terhadap keimanan seseorang. Bagaimana dia akan berubah dalam memandang kehidupan, kerja dalam keadaan semangat, berdakwah dalam keadaan dia semangat, belajar dalam keadaan dia semangat, dengan dia menyadari bahwa semua sudah ditulis oleh Allāh. Tidak ada kekhawatiran, tidak ada rasa takut, yang ada adalah optimisme. Senantiasa ḥusnuzh zhann kepada Allāh ketika dia mendapatkan musibah, dalam keadaan dia menghadapi musibah tersebut dengan kesabaran, dengan hati yang besar.Ketika dia mendapatkan kenikmatan juga demikian, tidak ada rasa sombong dan juga memamerkan apa yang dia punya. Semuanya sudah ditulis oleh Allāh. Ketika dia mendapatkan hidayah, dia bersyukur. Ketika dia melihat orang lain sesat, maka dia memiliki rahmat dan kasih sayang kepada orang tersebut. Ini ditanamkan oleh Ubadah dan aṣ-Ṣāmit kepada anaknya. Coba kita berusaha untuk menanamkan ini kepada anak-anak kita. Mereka akan memiliki bekal yang sangat kuat untuk menghadapi kehidupan mereka di masa yang akan datang yang penuh dengan fitnah.Sebaliknya, jangan kita ajarkan mereka, kita contohkan mereka ketidak-ridhaan, ketidak-ridhaan dengan takdir Allāh. Terkadang anak kita melakukan sesuatu yang menjadikan kita marah, kemudian akhirnya kita menumpahkan amarah kita, seakan-akan kita tidak pernah belajar tentang masalah keimanan dengan takdir Allāh. Ini kalau dia melihat yang demikian setiap hari, bagaimana dia bisa memahami dengan baik tentang masalah takdir Allāh?Jadi, kalau kita sudah mengajarkan kepada mereka, dan mencontohkan, mempraktekkan langsung bagaimana keimanan kita terhadap takdir Allāh, ketika kita mendapatkan rezeki, ketika kita mendapatkan musibah, atau melihat anak kita mendapatkan rezeki, dan melihat anak kita melakukan sebuah kesalahan yang mendatangkan musibah, lalu kita bisa mempraktekkan dengan baik bagaimana menyikapi itu semua, bagaimana beriman dengan takdir Allāh dalam itu semua. Tentunya ini memiliki pengaruh yang besar kepada anak-anak kita.

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 September 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah yang ke sepuluh dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah

Halaqah yang ke sepuluh dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Beliau mengatakan,اَلْأَصْلُ الثَّالِثُ :أَنَّ مِنْ تَمَامِ الاجْتِمَاعِ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ لِمَنْ تَأَمَّرَ عَلَيْنَا وَلَوْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّاPerkara pokok yang ke tiga:Sesungguhnya termasuk diantara kesempurnaan bersatu adalah mendengar dan taat kepada orang yang telah berkuasa atas kita (pemerintah atau para penguasa kita).Beliau mengatakan ini adalah termasuk kesempurnaan persatuan, setelah beliau membahas tentang masalah bersatu di atas hak (diatas Al Qur’an, di atas hadits ) dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum, maka beliau menyebutkan pada perkara yang ke tiga ini bahwasanya diantara yang menyempurnakan persatuan diantara kaum muslimin adalah apabila mereka mau mendengar dan taat kepada penguasanya.Dan ucapan ini adalah ucapan yang hak.Beliau mengatakan,“Ini adalah kesempurnaan dari makna persatuan.”Tidak mungkin kaum muslimin bisa bersatu, kecuali apabila di sana ada penguasa, ada pemerintah yang dia akan memberikan hak kepada yang berhak, melindungi orang yang terdholimi, ber-amar ma’ruf nahi munkar, menegakkan syar’iat dan melakukan perkara-perkara yang lain, baik yang berhubungan dengan dunia maupun yang berhubungan dengan ibadah yang tidak mungkin dilakukan kecuali apabila di sana ada penguasa.Dan tidak bermanfaat adanya seorang penguasa dan pemerintah kecuali apabila rakyatnya, mereka mau mendengar dan taat kepada penguasa.Seandainya di sana ada seorang penguasa, pemerintah di sebuah negara, akan tetapi rakyatnya tidak mau mendengar dan tidak mau mentaati apa yang datang darinya, baik berupa perintah maupun larangan, maka keberadaan penguasa tersebut sama dengan tidak adanya.Oleh karena itu, ini pentingnya kita mendengar dan taat kepada pemerintah, tidak akan bersatu umat Islam kecuali dengan adanya penguasa, baik penguasa tersebut adalah penguasa yang shalih maupun penguasa yang tidak shalih.Dan tidak bermanfaat yang dinamakan dengan penguasa atau pemerintah kecuali kita mau mendengar dan taat kepada pemerintah tersebut.Oleh karena itu Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu (diriwayatkan dari beliau).Bahwasanya beliau mengatakan,لا إِسْلَامَ إِلَّا بِجَمَاعَةٍ ، وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِإِمَارَةٍ ، وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِطَاعَةٍ“Tidak ada Islam kecuali dengan berjam’ah, kecuali dengan bersatu. Dan tidak ada persatuan kecuali apabila di sana ada penguasa. Dan tidak ada kekuasaan kecuali dengan ketaatan.”Islam tidak akan tegak kecuali dengan adanya persatuan diantara kaum muslimin. Karena banyak ibadah atau syar’iat di dalam agama Islam yang tidak mungkin ditegakkan kecuali dengan persatuan diantara kaum muslimin (persatuan antara rakyat dengan pemerintah dan diantara kaum muslimin).Tidak mungkin kaum muslimin bersatu kecuali apabila di sana ada pemimpinnya.Karena apabila sebuah kelompok, sekecil apapun, seandainya tidak ada pemimpin maka masing-masing merasa tidak dikuasai oleh orang lain, sehingga melakukan apa yang dia inginkan.Tidak ada yang berhak untuk memerintah dia, tidak ada yang berhak untuk melarang dia, membuat peraturan sendiri, tidak mungkin sebuah kelompok sekecil apapun bisa bersatu kecuali apabila di sana ada pemimpinnya.Oleh karena itu di dalam Islam, ketika seseorang safar bersama yang lain, ketika dalam bepergian, maka diperintahkan untuk mengangkat seorang pemimpin. Apalagi di dalam keadaan seseorang dalam keadaan muqim.Tidak mungkin kelompok apapun, sekecil apapun bisa bersatu kecuali apabila memiliki pemimpin.Oleh karena itu beliau mengatakan (radhiyallahu ‘anhu),“Tidak ada persatuan kecuali apabila di sana ada imarah, ada kekuasaan. Dan tidak ada kekuasaan kecuali dengan ketaatan.”Tidak bermanfaat (tidak berfaedah) yang dinamakan dengan kekuasaan kecuali apabila anggotanya, rakyatnya mentaati penguasa tersebut.Di sini kita memahami hubungan yang erat antara Islam dan ketaatan kepada pemerintah.Hubungan antara Islam dengan ketaatan kepada pemerintah adalah sangat erat, dan ini diucapkan oleh seorang khulafa’ur rasyidin yang kita diperintahkan untuk mengikuti sunnahnya.عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَMenunjukkan tentang pentingnya di dalam Islam, taat kepada penguasa dan juga pemerintah kita.Oleh karena itu beliau mengatakan,أَنَّ مِنْ تَمَامِ الاجْتِمَاعِ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ لِمَنْ تَأَمَّرَ عَلَيْنَاBagi orang yang telah Allah takdirkan untuk menjadi penguasa bagi kita, baik dia adalah orang yang shalih, baik dia adalah seorang yang fajir (yang bermaksiat) apabila Allah telah menjadikan dia sebagai seorang penguasa, maka kewajiban kita adalah mendengar dan taat.Kemudian beliau mengatakan,وَلَوْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا“Meskipun yang berkuasa tersebut adalah seorang budak dari Habasyah.”Seorang budak, seandainya dia menjadi seorang penguasa maka kewajiban kita adalah mendengar dan taat.Padahal yang namanya penguasa kebanyakan adalah orang yang merdeka, dan seandainya qadarullah yang terjadi penguasa tersebut adalah seorang budak (bukan seorang yang merdeka) maka kita tetap diwajibkan mendengar dan taat kepada pemerintah tersebut.Habasyian (budak dari Habasyah) dan budak dari Habasyah, ini dikenal oleh orang-orang Arab sebagai budak yang di mata manusia adalah seorang yang rendah (kedudukannya hina), akan tetapi apabila dia menjadi seorang penguasa maka kewajiban kita, meskipun kita adalah seorang yang merdeka, bukan seorang budak, maka kita harus mendengar dan taat penguasa tersebut.Dan ucapan beliau ini diambil dari hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, ketika Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan nasehat kepada para sahabat di akhir hayat Beliau.Suatu hari setelah shubuh Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) memberikan nasehat kepada para sahabat dengan nasehat yang sangat dalam.Kemudian salah seorang sahabat berkata kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam,يَا رَسُولَ اللَّهِ! كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ“Ya Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat orang yang akan berpisah.(Nasehat yang sangat dalam yang penuh dengan makna yang membuat gemetar hati para sahabat dan membuat mata mereka menangis).Maka hendaklah engkau memberikan wasiat kepada kami.”Nasehat orang yang berpisah, tentunya orang yang berpisah tersebut akan memilih nasehat yang luas maknanya, yang sangat penting bagi orang yang akan ditinggalkan.Apa yang Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) katakan?أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ“Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah.”Nasehat pertama yang Beliau ucapkan kepada para sahabat adalah nasehat untuk bertaqwa kepada Allah.Kemudian apa yang Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) katakan?والسَّمْعِ وَالطَّاعَةَ لِمَنْ تَأَمَّرَ عَلَيكم ولو كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا“Dan hendaklah kalian mendengar dan taat kepada orang yang telah menjadi amir (menjadi penguasa) bagi kalian meskipun dia adalah seorang budak dari Habasyah.”Ini adalah nasehat Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada para sahabat.Setelah beliau berwasiat untuk bertaqwa kepada Allah, maka wasiat beliau yang ke dua adalah mendengar dan taat kepada pemerintah kita (kepada penguasa kita) meskipun dia adalah seorang budak dari Habasyah.Dan ini menunjukkan pentingnya mendengar dan taat. Bahkan Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) menjadikan mendengar dan taat kepada pemerintah nomor dua setelah Beliau berwasiat dengan ketaqwaan kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla.

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat4 September 2026
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Orang yang mendapat pancaran nur Ilahi (Ayat 36-38)

Tafsir Al-MuyassarAn-Nur (24:38)Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Orang yang mendapat pancaran nur Ilahi (Ayat 36-38)(mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan menambah karunia-Nya kepada mereka dengan melipatgandakan pahala kebaikan mereka. Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan. Bahkan Allah memberikan pahala melebihi batas amalnya dan tanpa memakai hitungan serta timbangan.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka4 September 2026
S
Shilfa

📍 Purwakarta

Mendidik Anak Diawali Dari Mendidik Diri - Ust Abu Salma Muhammad

Anak adalah cermin orang tua.Cermin memantulkan apa yang ada di depannya.Begitu pula anak.Anak sering kali menjadi cermin dari apa yang terjadi di dalam rumah.Jika anak suka berbohong, kita perlu melakukan introspeksi.Jika anak mudah marah, kita perlu melihat bagaimana pola kemarahan di rumah.Jika anak tidak menghormati orang lain, kita perlu melihat bagaimana orang tua memperlakukan orang lain.Bukan berarti setiap kesalahan anak pasti disebabkan oleh orang tua.Tidak sesederhana itu.Tetapi anak sangat kuat dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya.Karena itu, orang tua harus berani melakukan muhasabah.Jangan setiap kali anak melakukan kesalahan, kita langsung bertanya:“Bagaimana cara memperbaiki anak?”Tanyakan juga:“Apa yang perlu saya perbaiki dari diri saya?”

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI4 September 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada Malaikat Beriman dengan Sifat-Sifat Akhlak Para Malaikat – Bagian 1

Silsilah Ilmiyyah Beriman kepada MalaikatBeriman dengan Sifat-Sifat Akhlak Para Malaikat – Bagian 1Di antara bentuk beriman kepada malaikat Allah adalah beriman dengan sifat-sifat akhlak mereka.1. Al-Karām dan Al-BirrMalaikat memiliki sifat:• Al-Karām → memiliki akhlak yang mulia dan terpuji.• Al-Birr → banyak berbuat baik kepada orang lain.Dalil:Allah menyebutkan bahwa Al-Qur’an ditulis oleh tangan-tangan para malaikat yang mulia dan banyak berbuat baik.(QS. ‘Abasa: 15–16)Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama malaikat yang mulia akhlaknya dan banyak berbuat baik.(HR. Bukhari dan Muslim)2. Malaikat Mendoakan Kebaikan bagi Orang BerimanDi antara kebaikan malaikat adalah mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang beriman.Allah dan para malaikat-Nya memberikan doa dan rahmat kepada orang-orang beriman agar Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.(QS. Al-Ahzab: 43)3. Malaikat Memohonkan Ampun bagi Orang BerimanMalaikat yang memikul ‘Arsy dan yang berada di sekitarnya:• Bertasbih memuji Allah.• Beriman kepada Allah.• Memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman.• Mendoakan orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Allah.• Memohon agar Allah menjaga mereka dari azab Neraka.• Memohon agar mereka dimasukkan ke dalam Surga ‘Adn bersama keluarga mereka yang saleh.(QS. Ghāfir: 7–9)4. Malaikat Memberikan SyafaatDi antara kebaikan malaikat adalah memberikan syafaat bagi orang-orang yang bertauhid dan diridai Allah.Malaikat tidak memberikan syafaat kecuali kepada orang yang Allah ridhai, dan mereka selalu takut kepada Allah.(QS. Al-Anbiya: 28)🌷 Inti MateriMalaikat adalah makhluk Allah yang memiliki akhlak mulia dan banyak berbuat baik. Di antara kebaikan mereka adalah:✅ Mendoakan orang-orang yang beriman.✅ Memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman.✅ Mendoakan orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Allah.✅ Memohon perlindungan bagi orang beriman dari kejelekan dan azab Neraka.✅ Memberikan syafaat bagi orang yang bertauhid dan diridai Allah.Kesimpulan:Beriman kepada malaikat tidak hanya meyakini keberadaan mereka, tetapi juga meyakini sifat-sifat akhlak mereka yang mulia, banyak berbuat baik, taat kepada Allah, serta mendoakan dan memohonkan kebaikan bagi hamba-hamba Allah yang beriman.

💬 0 komentar📅 4 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat6 September 2026
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Ibnu Katsir — QS. Asy-Syu‘ara: 18

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir — QS. Asy-Syu‘ara: 18Terjemahan:“Bukankah kami telah mengasuhmu di antara keluarga kami, waktu kamu masih kanak-kanak, dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.”Inti Tafsir:Fir‘aun mengungkit jasanyaFir‘aun menyebut bahwa Musa ﷺ pernah diasuh dan hidup nyaman di istananya selama bertahun-tahun, seolah-olah hal itu menjadi alasan untuk menolak dakwah Musa.Musa mengakui kesalahan di masa laluMusa menjelaskan bahwa peristiwa yang dilakukan dahulu terjadi ketika beliau belum menerima wahyu dan belum mendapatkan kenabian.Jasa Fir‘aun tidak menghapus kezalimannyaMusa mengingatkan bahwa “kebaikan” Fir‘aun kepadanya tidak dapat dipisahkan dari kejahatannya, karena pada saat yang sama Fir‘aun memperbudak dan menindas Bani Israil.Dakwah tidak tunduk pada tekanan jasaKebaikan seseorang kepada kita tidak menjadikan kita harus membenarkan kebatilan atau tunduk ketika ia menentang kebenaran.🌿 PelajaranJangan biarkan jasa, masa lalu, atau rasa berutang budi menghalangi kita untuk berpihak kepada kebenaran.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka5 September 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

The Barakah Effect — Kuantitas Keberkahan

Selama ini kita mudah menganggap: lebih banyak = lebih baik. Lebih banyak saudara, lebih banyak uang, lebih banyak waktu, lebih banyak kesempatan. Tapi konsep barakah membalik logika itu: sesuatu yang sedikit tetapi diberkahi bisa jauh lebih baik daripada sesuatu yang banyak tetapi tidak membawa kebaikan.Contoh Yusuf dan Musa yang dipakai penulis cukup kuat. Nabi Yusuf punya 11 saudara, tetapi banyaknya saudara tidak otomatis berarti banyaknya dukungan. Sementara Nabi Musa hanya memiliki satu saudara, Nabi Harun, tetapi Harun justru menjadi pendamping dan penolong dalam dakwahnya. Jadi yang menentukan bukan sekadar berapa banyak, melainkan apa yang Allah letakkan di dalamnya.Dan menariknya, penulis juga menegaskan bahwa barakah tidak selalu berarti sedikit. Sesuatu yang sudah banyak pun bisa Allah beri barakah sehingga manfaatnya semakin luas. Jadi bukan “sedikit itu pasti berkah”, melainkan:Yang sedikit bisa menjadi cukup karena barakah.Yang banyak bisa menjadi semakin bermanfaat karena barakah.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 September 2026
S
Shinta Dewi

📍 Kota Surabaya

QS An Nahl: 18 — Menghitung Nikmat Allah

Menurut Ibnu Katsir, nikmat Allah itu begitu banyak sampai kita tidak akan mampu menghitung maupun mensyukurinya secara sempurna. Bahkan kalau manusia dituntut membalas seluruh nikmat-Nya, kita pasti tidak mampu. Karena itu, Allah Maha Pengampun atas kelalaian kita dalam bersyukur.Dan Allah juga Maha Penyayang. Ketika kita sadar, bertaubat, dan kembali kepada-Nya dengan ketaatan, Allah tidak langsung menghukum kita atas kelalaian tersebut. Jadi ayat ini sekaligus menunjukkan betapa banyak nikmat Allah dan betapa luas ampunan serta kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat5 September 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

QS Al-'Araf:193

Tafsir Al-MuyassarQS Al-'Araf:193Wahai orang-orang musyrik, jika kalian menyeru berhala-berhala yang kalian sembah selain Allah itu kepada petunjuk, niscaya dia tidak akan dapat mendengar seruan kalian dan tidak pula mau mengikuti kalian. Kalian seru atau tidak adalah sama karena dia tidak mendengar dan tidak pula melihat, tidak dapat memberi petunjuk dan tidak dapat diberi petunjuk.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka4 September 2026
E

Elisa Suci Ramadhani

📍 Kota Prabumulih

Root & Wings 1 - Pengabaian thdp pertanyaan anak

Penolakan atau pengabaian yang berulang bisa membuat si anak berasumsi:Tidak seharusnya aku berpikir sebanyak itu.Bahkan kalau aku berpikir, sebaiknya aku tidak banyak bertanya.Orangtuaku jadi jengkel kalau aku bertanya.Mengetahui jawaban itu tidak benar.• Rasa ingin tahuku akan menimbulkan hardikan.Aku mungkin ditertawakan.Mereka toh tidak tahu jawabannya (mereka juga tidakpeduli akan jawabannya).Atau yang lebih buruk lagi, aku akan cari jawabannya di tempat lain (yang bisa jadi berbahaya).

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka4 September 2026
D

Dewi Hajar Novanda

📍 Kota Depok

Bab 14 - Menghadapi Opini dan Saran yang Tidak Diinginkan

🌿 Menghadapi Opini dan Saran yang Tidak DiinginkanHampir setiap orang tua pernah menerima komentar atau saran pengasuhan yang tidak sesuai dengan keyakinannya."Anda sebaiknya mengabaikan tantrumnya; ini akan mengajarinya bahwa tidak ada yang peduli sehingga dia akan berhenti.""Jika dia berbicara seperti itu kepadaku, aku akan mengurungnya di kamar sepanjang hari.""Anda perlu bersikap lebih tegas kepada mereka. Tamparan kecil berhasil untuk saya ketika anak-anak berperilaku buruk."Komentar seperti ini sering kali sulit diterima. Bukan hanya cara kita mengasuh yang dipertanyakan, tetapi juga perilaku anak kita. Namun, memahami alasan di balik kritik tersebut dapat membantu kita merespons dengan lebih bijak.➜ Karena Mereka Peduli kepada KitaSering kali, saran diberikan karena orang lain melihat kita sedang kesulitan dan ingin membantu.Misalnya, mereka melihat kita kelelahan menghadapi tantrum, lalu menawarkan solusi yang menurut mereka efektif. Meskipun sarannya mungkin tidak cocok bagi kita, motivasi mereka biasanya adalah kepedulian.Dalam situasi seperti ini, kita dapat menghargai perhatian mereka sambil menjelaskan mengapa pendekatan yang mereka sarankan tidak sesuai dengan nilai atau tujuan pengasuhan yang kita pilih.➜ Karena Mereka Tidak Memahami Pilihan KitaPerbedaan generasi sering kali melahirkan perbedaan cara pandang tentang pengasuhan.Seorang nenek mungkin tidak memahami mengapa kita tetap mendampingi anak yang sedang tantrum. Dalam pemahamannya, anak yang berperilaku seperti itu dahulu akan dihukum atau dipukul agar belajar bersikap sopan dan patuh.Karena itu, ia mungkin khawatir anak kita akan tumbuh menjadi anak yang tidak disiplin jika kita tidak bersikap lebih "keras". Dalam situasi seperti ini, penjelasan yang tenang, disertai informasi atau referensi yang dapat dipercaya, sering kali lebih membantu daripada perdebatan.➜ Karena Cara Kita Berbeda dari Cara Kita Dulu DibesarkanKritik jenis ini sering datang dari orang tua kita sendiri.Mungkin dahulu kita dipukul atau dikirim ke kamar ketika berperilaku tidak baik. Kini, ketika anak kita melakukan hal yang sama, kita memilih memeluknya, mendengarkan perasaannya, dan membimbingnya memahami emosinya.Ketika orang tua berkata, "Saya dulu melakukan itu kepada kalian dan kalian baik-baik saja," mereka mungkin merasa bahwa pilihan kita merupakan penilaian terhadap cara mereka membesarkan kita.Padahal, memilih pendekatan yang berbeda tidak selalu berarti menyalahkan masa lalu. Kita hanya mengambil keputusan berdasarkan pemahaman dan pengetahuan yang tersedia saat ini. Karena itu, penjelasan yang lembut dan penuh penghargaan biasanya lebih mudah diterima.➜ Karena Kritik Itu Berasal dari Luka Mereka SendiriIni mungkin alasan yang paling jarang terjadi, tetapi juga yang paling sulit dihadapi.Ada orang-orang yang pernah mengalami luka mendalam dalam hidupnya dan menutupi rasa sakit tersebut dengan kepahitan. Mereka lebih mudah mengkritik atau menyerang orang lain daripada menghadapi pergumulan mereka sendiri.Dalam situasi seperti ini, penting untuk mengingat bahwa kritik tersebut sering kali bukan tentang kita atau keluarga kita. Kritik itu lebih banyak mencerminkan kondisi orang yang menyampaikannya.Respons terbaik biasanya sederhana:"Terima kasih atas sarannya. Akan saya pertimbangkan."Setelah itu, kita dapat melanjutkan pilihan pengasuhan yang kita yakini. Jika hubungan tersebut terus-menerus membawa dampak buruk bagi kesehatan emosional kita, membatasi interaksi juga bisa menjadi pilihan yang bijaksana.✨ Inti PembahasanTidak semua kritik lahir dari niat buruk. Sebagian muncul karena kepedulian, sebagian karena perbedaan pemahaman, sebagian lagi karena pengalaman masa lalu yang berbeda. Ketika kita mampu memahami alasan di balik komentar yang diberikan, kita akan lebih mudah merespons dengan tenang, tanpa kehilan gan keyakinan terhadap pilihan pengasuhan yang kita jalani.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →