📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
E
Ellisa Septiana

📍 Kota Depok

Talbis iblis #7 : Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-3)-Ustadz dr.Firanda-

Talbis iblis #7 : Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-3)-Ustadz dr.Firanda-Beliau banyak mengutip penjelasan **Imam Ibnul Jauzi رحمه الله**, yang menerangkan bahwa setan sering menipu ahli ibadah dengan mendorong mereka lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas. Misalnya, membaca Al-Qur'an dengan tergesa-gesa tanpa tadabbur (merenungkan makna ayat), atau mengabaikan kehalalan makanan yang dikonsumsi, padahal hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kesehatan spiritual seseorang. Bahwa banyak orang yang sibuk dengan ibadah lahiriah seperti sering melakukan qiyamul lail (shalat malam) atau memperbanyak puasa sunnah, tetapi tidak berusaha memperbaiki penyakit-penyakit hati. Akibatnya, ibadah yang dilakukan menjadi dangkal dan kehilangan keikhlasan serta hubungan yang kuat dengan Allah ﷻ.Imam Ibnul Jauzi memperingatkan agar tidak membaca Al-Qur'an hanya demi menyelesaikan target jumlah halaman atau juz tertentu. Kebiasaan tersebut dapat mengurangi pemahaman dan manfaat spiritual dari bacaan Al-Qur'an. Cara yang ideal, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah ﷺ dan para Salafus Shalih, adalah membaca Al-Qur'an dengan perlahan, tartil, memperhatikan tajwid, serta merenungkan maknanya sehingga ayat-ayat tersebut dapat menyentuh hati dan mendorong seseorang untuk mengamalkannya.Rasulullah ﷺ sendiri melarang mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari tiga hari karena hal itu dapat mengurangi pemahaman terhadap isi Al-Qur'an. Pemahaman terhadap pesan-pesan Al-Qur'an merupakan fondasi utama untuk meningkatkan keimanan dan mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.Poin penting lainnya adalah penyalahgunaan bacaan Al-Qur'an di ruang publik, misalnya memperdengarkan bacaan Al-Qur'an dengan suara sangat keras melalui pengeras suara masjid pada malam hari. Imam Ibnul Jauzi mengkritik praktik tersebut karena dapat mengganggu istirahat orang lain dan berpotensi menimbulkan riya' (pamer ibadah), yang dapat menghapus pahala amal. Beliau menyesalkan bagaimana sebagian praktik modern terkadang menghilangkan ketenangan malam yang seharusnya digunakan untuk ibadah dan perenungan, sehingga ibadah berubah menjadi tontonan, bukan lagi bentuk penghambaan yang tulus kepada Allah.Riya' yaitu keinginan untuk dilihat dan dipuji manusia dalam beribadah. Riya' sering kali sangat halus dan sulit disadari oleh pelakunya sendiri. Contohnya adalah seseorang yang berpuasa setiap hari namun berusaha menyembunyikan saat ia berbuka agar tetap dianggap sebagai ahli ibadah, atau seseorang yang sengaja menceritakan amal-amalnya agar mendapat pujian dari orang lain.Imam Ibnul Jauzi menegaskan bahwa keikhlasan yang sejati ditunjukkan dengan menyembunyikan amal-amal saleh dan tidak mencari pengakuan manusia. Bahkan, pahala ibadah yang dilakukan secara tersembunyi lebih besar di sisi Allah. Para Salafus Shalih menjadi teladan dalam hal ini karena mereka berusaha keras menyembunyikan amal-amal mereka agar terhindar dari riya'. Perbedaan pendapat ulama tentang puasa setiap hari selain hari-hari yang diharamkan (hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari Tasyrik). Sebagian ulama memandang praktik tersebut makruh bahkan haram, sementara yang lain membolehkannya dengan syarat tertentu.Imam Ibnul Jauzi menjelaskan dampak negatif dari puasa terus-menerus, seperti melemahnya fisik sehingga seseorang tidak mampu menjalankan kewajiban terhadap keluarga dan masyarakat, termasuk mencari nafkah dan memenuhi hak pasangan. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa puasa sunnah terbaik adalah **puasa Nabi Dawud عليه السلام**, yaitu berpuasa sehari dan berbuka sehari. Pola ini dianggap sebagai bentuk ibadah yang paling seimbang antara kebutuhan ruhani dan tanggung jawab duniawi.Ibadah tidak boleh menyebabkan seseorang melalaikan kewajiban yang lebih penting. Puasa atau ibadah sunnah yang berlebihan hingga mengganggu hak keluarga, pekerjaan, dan kewajiban lainnya bukanlah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam. Berbagai hadits menunjukkan pentingnya sikap moderat dan seimbang dalam beribadah.Selain itu, beliau mengingatkan bahaya mempublikasikan amal ibadah, seperti mengumumkan khataman Al-Qur'an atau menyebarkan kebiasaan puasa sunnah kepada banyak orang tanpa kebutuhan yang syar'i. Perbuatan semacam ini berpotensi menumbuhkan riya' dan mengurangi pahala amal. Kebiasaan para Salaf yang menyembunyikan ibadah mereka sangat berbeda dengan kecenderungan sebagian orang di zaman sekarang yang mencari pengakuan melalui media sosial dan berbagai platform lainnya.Beliau juga menekankan pentingnya menjaga kerendahan hati dan menghindari sikap merasa lebih baik daripada orang lain. Seorang muslim tidak boleh meremehkan mereka yang ibadahnya tampak lebih sedikit, karena ukuran ketakwaan yang sebenarnya adalah keikhlasan dan kesesuaian amal dengan tuntunan Rasulullah ﷺ, bukan penampilan lahiriah semata.Tujuan utama dari semua ibadah adalah agar amal tersebut diterima oleh Allah ﷻ dan tidak rusak karena riya', ujub, atau kelalaian terhadap tanggung jawab yang telah diwajibkan.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 2 : PERBEDAN ANTARA NABI DAN RASUL

Halaqah 2 :PERBEDAN ANTARA NABI DAN RASULOleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.AØ  Dalil-Dalil Perbedaan antara Nabi & Rasul :Allah berfirman :وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi sebelum engkau (wahai Muhammad) melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan syaitan pun memasukkan godaan-godaan kedalam keinginannya tersebut” (QS. Al-Hajj : 52)Ayat diatas menunjukkan bahwa Rasul berbeda dengan Nabi.Ø  Pendapat LemahAda Ulama mengatakan bahwa Rasul diberi wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan, sedangkan Nabi diberi wahyu tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikan.Pendapat yang lemah karena dalil menunjukkan bahwa Nabi juga diutus dan diperintah menyampaikan wahyu.Sebagaimana dalam firman Allah:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi kecuali apabila dia berkeinginan maka syaitan memasukkan godaan-godaannya kedalam keinginannya tersebut” (QS. Al-Hajj : 52)Allah Mengatakan:“Dan tidaklah kami mengutus sebelummu seorang Rasul dan tidak pula seorang Nabi”ini menunjukkan bahwa Nabi Juga diutus berarti dia diperintah untuk menyampaikan.Demikian pula didalam hadits Rasulullah ﷺ bersabdaعُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْطُ وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ وَالنَّبِيَّ لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ“Ditampakan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi bersama beberapa orang dan aku melihat seorang Nabi bersama satu dan dua orang dan seorang Nabi dan tidak seorang pun yang bersama beliau” (HR. Al Bukhâri dan Muslim)Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi juga diperintahkan untuk berdakwah dan menyampaikan risalah.Ø  Perbedaan Utama (Pendapat yang Kuat)Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah & Syaikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, perbedaan mendasar keduanya terletak pada syariat dan kondisi kaum yang dihadapi:1.     NabiOrang yang Allah berikan wahyu diperintahkan untuk menyampaikan syariat sebelumnya dan diutus kepada kaum yang sudah mengetahui syariat tersebutDalilnya : Allah berfirman :…إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا…“…Sesungguhnya kami telah menurunkan Taurat didalamnya ada petunjuk dan cahaya yang para Nabi yang menyerahkan diri menghukumi dengan Taurat tersebut bagi orang-orang Yahudi…” (QS. Al-Ma’idah : 44)Para Nabi Bani Israil menyampaikan syariat menggunakan kitab Taurat yang dibawa oleh Nabi Musa AS.2.     RasulOrang yang Allah beri Wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan syariat yang baru dan diutus kepada kaum yang menyelisihi perintah Allah.Ø  Kesimpulan: Nabi menguatkan syariat yang sudah ada untuk kaum yang sudah beriman, sedangkan Rasul membawa syariat baru untuk kaum yang menentang.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
N
Nur Fathiyyah

📍 Kota Depok

Materi 7

Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah (Bag-3)Tersibukkan dengan perkara yang kurang utama sehingga meninggalkan perkara yang lebih utamaImam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala berkata:"Setan telah menggoda banyak dari ahli ibadah. Engkau melihat mereka salat malam, salat-salat sunnah di malam hari, salat-salat sunnah di siang hari, tetapi mereka tidak memperhatikan perbaikan batin mereka. Padahal kita tahu bahwa dalam batin ini banyak sekali aib. Mereka juga tidak memperhatikan apa yang mereka makan. Padahal memperhatikan hal-hal tersebut, memperbaiki penyakit-penyakit batin, dan memperhatikan kehalalan makanan yang dikonsumsi lebih utama daripada memperbanyak salat-salat sunnah."Maksud Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala adalah jangan sampai seseorang sibuk dengan amalan-amalan lahiriah, seperti ibadah-ibadah dan salat sunnah, namun lupa memperbaiki batinnya.Batin kita penuh dengan penyakit yang perlu diperbaiki sedikit demi sedikit dan perlu diobati. Demikian pula jangan sampai seseorang rajin beribadah dan salat, tetapi tidak peduli terhadap apa yang ia makan. Seharusnya ia memperhatikan apakah makanan tersebut berasal dari sumber yang halal atau tidak.Talbis Iblis terhadap ahli ibadah dalam membaca Al-Qur'anmembaca Al-qur'an dengan cepat tanpa tartil.Mereka membaca Al-Qur'an dengan terburu-buru, tidak dibaca perlahan-lahan sebagaimana yang diperintahkan. Tujuannya hanya mengejar target agar cepat khatam.Padahal kondisi seperti ini tidak terpuji.Memang diriwayatkan dari sebagian salaf bahwa ada yang mengkhatamkan Al-Qur'an dalam sehari, bahkan ada yang mengkhatamkannya dalam satu rakaat, sebagaimana diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu dan juga Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah.Namun hal itu merupakan perkara yang jarang mereka lakukan. Bukan kebiasaan yang mereka lakukan setiap hari.Meskipun hal tersebut dibolehkan, membaca Al-Qur'an dengan tartil dan penuh penghayatan tetap lebih disukai oleh para ulama.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Orang yang mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari tiga hari, maka ia tidak memahaminya."Dari sini kita mengetahui bahwa sebagian salaf memang ada yang mengkhatamkan Al-Qur'an sehari sekali, bahkan ada yang dua kali sehari, khususnya pada bulan Ramadan.Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menjelaskan bahwa larangan mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari tiga hari berlaku di luar Ramadan. Adapun pada bulan Ramadan, sebagian salaf mengkhatamkan Al-Qur'an sehari sekali, bahkan Imam Syafi'i rahimahullah diriwayatkan mengkhatamkan Al-Qur'an dua kali sehari.Namun perlu diperhatikan bahwa sulit bagi kita mengqiyaskan diri dengan mereka. Imam Syafi'i sejak usia lima belas tahun sudah menjadi mufti di Makkah. Ketika beliau membaca Al-Qur'an, beliau memahami kandungannya, tafsirnya, dan maknanya.Berbeda dengan kebanyakan kita yang sering membaca tanpa memahami isi yang dibaca.Padahal tujuan utama membaca Al-Qur'an adalah:"Agar mereka mentadabburi ayat-ayat-Nya."Karena itu, maksud Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala adalah agar seseorang berusaha membaca Al-Qur'an untuk dipahami. Dengan pemahaman tersebut, iman akan lebih mudah bertambah dan Al-Qur'an akan lebih mudah diamalkan.Karena itu, selain memperhatikan kuantitas bacaan, yang lebih utama adalah memperhatikan kualitas bacaan.Beberapa niat yang bisa kita hadirkan ketika membaca Al-Qur'an:(1) niat tilawah, karena setiap huruf bernilai sepuluh kebaikan.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf. Akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf."Maka orang yang membaca "Alif Lam Mim" mendapatkan tiga puluh kebaikan.(2) Niat untuk mentadabburi Al-Qur'an.(3) Agar Allah memberikan rahmat kepada kita.(4) Agar Allah memberikan petunjuk kepada kita.(5) Bahkan seseorang boleh berniat untuk meruqyah dirinya sendiri dengan Al-Qur'an.Karena itu, ketika membaca Al-Qur'an hendaknya seseorang mengumpulkan berbagai niat yang baik sehingga bacaannya menjadi berkualitas.Jangan sampai hanya membaca, membaca, membaca, lalu mengejar target satu juz, dua juz, atau khatam, tetapi tidak memperoleh manfaat yang semestinya.Oleh karena itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mencela kaum Khawarij.Beliau bersabda:"Mereka membaca Al-Qur'an, tetapi tidak melewati tenggorokan mereka."Artinya bacaan tersebut tidak masuk ke dalam hati mereka. Hanya sebatas lisan.Mereka dicela karena tidak mentadabburi apa yang mereka baca.Al-Fudhail bin 'Iyadh rahimahullah pernah berkata:"Sesungguhnya Al-Qur'an diturunkan untuk diamalkan."Agar bisa diamalkan, seseorang harus memahami maknanya terlebih dahulu.Sebagian orang mengira bahwa mengamalkan Al-Qur'an cukup dengan membacanya. Ketika sudah khatam, ia merasa telah mengamalkan Al-Qur'an.Padahal membaca hanyalah tahap awal.Tahap berikutnya adalah tadabbur.Kemudian setelah itu barulah beramal.Nasihat ustadz firanda: mulailah membaca Al-Qur'an dengan tadabbur agar bacaan kita berkualitas dan menambah keimanan. Bacalah perlahan-lahan. Tidak perlu tergesa-gesa. Kalau tidak memahami maknanya, bacalah terjemahannya. Tentu sangat berbeda antara orang yang hanya membaca dengan orang yang membaca sambil memahami.Kemudian Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala berkata:Membaca Alqur'an dengan keras (mengganggu orang lain)Dahulu ada sebagian qari yang membaca Al-Qur'an di menara masjid pada malam hari dengan suara yang sangat keras.Mereka membaca satu juz atau dua juz dengan suara yang ditinggikan sehingga terdengar oleh banyak orang.Menurut Ibnul Jauzi, mereka telah mengumpulkan dua kesalahan sekaligus.Pertama: Mengganggu Orang LainMereka mengganggu orang yang sedang tidur.Tidak semua orang berada dalam kondisi yang sama. Ada yang sedang beristirahat, ada yang sakit, ada yang membutuhkan tidur agar bisa beraktivitas keesokan harinya.Membaca Al-Qur'an adalah ibadah, tetapi jika dilakukan dengan cara yang mengganggu kaum muslimin maka hal itu menjadi masalah.Kedua: Membuka Pintu Riya'Sulit bagi seseorang yang membaca Al-Qur'an di tempat tinggi dengan suara keras untuk benar-benar aman dari riya'.Sebagian ulama mengkritik kebiasaan-kebiasaan yang dapat mengganggu kaum muslimin dengan suara bacaan yang diperdengarkan melalui pengeras suara.Misalnya memutar murattal satu atau dua jam sebelum azan Subuh sehingga mengganggu orang yang sedang tidur, orang yang sedang sakit, atau orang yang sedang melaksanakan ibadah lain.Bisa jadi ada orang yang sedang salat malam, sedang berdoa, sedang bermunajat kepada Allah, lalu terganggu oleh suara yang diperdengarkan melalui pengeras suara.Padahal masing-masing sedang beribadah.Karena itu syariat mengajarkan agar seorang muslim tidak mengganggu muslim lainnya, meskipun dengan bacaan Al-Qur'an.Bahkan setelah azan pun, apabila seseorang membaca Al-Qur'an dengan suara keras sehingga mengganggu orang yang sedang salat sunnah, berzikir, atau berdoa antara azan dan iqamah, maka hal tersebut juga tidak dibenarkan.Tujuan ibadah adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan mengganggu orang lain yang juga sedang beribadah.Belum lagi jika di dalamnya terdapat unsur riya', ingin didengar, atau ingin dipuji oleh manusia.Karena itu sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.Para sahabat tidak melakukan amalan-amalan seperti itu.Mereka adalah generasi yang paling memahami agama dan paling ikhlas dalam beribadah.Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:"Barang siapa ingin meneladani, maka teladanilah orang-orang yang telah meninggal dunia."Yang beliau maksud adalah para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.Karena mereka telah selamat dari berbagai fitnah dan telah terbukti kebaikan mereka.Beliau juga mengatakan:"Ikutilah dan jangan membuat-buat perkara baru, karena kalian telah dicukupkan."Artinya, agama ini telah sempurna. Tidak perlu membuat tata cara ibadah baru yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya.Sebuah kaidah yang dikenal oleh para ulama adalah:"Tidaklah muncul suatu bentuk ibadah yang baru kecuali akan menghilangkan atau mengurangi pelaksanaan sunnah yang telah ada."Contohnya, seseorang membaca Al-Qur'an dengan suara keras di masjid sehingga orang lain tidak bisa melaksanakan salat sunnah dengan khusyuk, tidak bisa berdoa dengan tenang, dan tidak bisa memanfaatkan waktu antara azan dan iqamah sebagaimana mestinya.Akhirnya sunnah yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjadi terganggu oleh amalan yang tidak beliau contohkan.Contoh Riya' yang TersembunyiIbnul Jauzi kemudian menyebutkan sebuah kejadian yang beliau saksikan.Beliau melihat seorang imam yang setelah selesai mengimami salat Subuh pada hari Jumat, kemudian membaca Al-Mu'awwidzatain dan doa khatam Al-Qur'an di hadapan jamaah.Menurut Ibnul Jauzi, perbuatan seperti ini mengandung bahaya yang besar.Karena bisa jadi tujuannya agar orang-orang mengetahui bahwa dirinya baru saja mengkhatamkan Al-Qur'an.Padahal para salaf dahulu justru menyembunyikan ibadah mereka. Mereka tidak suka menampakkan amal-amal saleh kepada manusia. Mereka lebih suka jika amal mereka hanya diketahui oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.Ada sebagian salaf yang ketika sedang membaca Al-Qur'an lalu ada tamu datang, ia segera menutupi mushafnya agar tamu tersebut tidak mengetahui bahwa dirinya sedang beribadah.Demikian pula Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau sangat sering membaca Al-Qur'an, tetapi orang-orang tidak mengetahui kapan beliau mengkhatamkannya. Beliau tidak mengumumkan kapan khatam dan tidak mencari perhatian manusia.Karena mereka memahami bahwa riya' adalah salah satu senjata setan yang paling berbahaya dalam merusak amal saleh seseorang.Seseorang bisa saja bersungguh-sungguh beribadah selama berhari-hari atau berminggu-minggu, tetapi kemudian rusak karena keinginan untuk dipuji dan diketahui manusia.Karena itu seorang mukmin harus selalu waspada terhadap talbis iblis dalam perkara keikhlasan.Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah dalam PuasaIbnul Jauzi rahimahullahu ta'ala berkata bahwa setan telah menipu sebagian ahli ibadah dalam masalah puasa.Berpuasa terus menerusAda sebagian orang yang berpuasa terus-menerus sepanjang tahun (puasa dahar), kecuali pada hari-hari yang memang diharamkan untuk berpuasa seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan hari-hari Tasyriq.Sebagaimana diketahui, tingkatan puasa sunnah yang paling tinggi adalah puasa Daud 'alaihis salam, yaitu puasa sehari dan berbuka sehari.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:"Tidak ada puasa yang lebih utama daripada puasa Daud."Karena itu para ulama berbeda pendapat tentang hukum puasa dahar.Sebagian ulama memakruhkannya, bahkan ada yang mengharamkannya. Sebagian yang lain membolehkannya dengan syarat tidak berpuasa pada hari-hari yang dilarang.Namun Ibnul Jauzi menjelaskan bahwa meskipun ada ulama yang membolehkan, tetap terdapat beberapa kekurangan dalam amalan tersebut, diantaranya:(1) Melemahkan diri dari kewajibanPuasa terus-menerus dapat menyebabkan seseorang menjadi lemah.Akibatnya ia bisa kesulitan mencari nafkah untuk keluarganya, padahal mencari nafkah merupakan kewajiban yang besar nilainya di sisi Allah.Selain itu, puasa yang terus-menerus juga dapat menyebabkan seseorang tidak mampu memenuhi hak-hak istrinya.Seorang istri memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi oleh suaminya. Jika seseorang melemahkan dirinya dengan ibadah sunnah yang berlebihan sehingga hak-hak wajib terabaikan, maka ini merupakan kekeliruan.(2) Kehilangan keutamaan yang lebih utamaRasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud 'alaihis salam.Beliau bersabda:"Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud. Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari."Dalam hadits Abdullah bin Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma disebutkan bahwa beliau ingin memperbanyak puasa dan ibadah.Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian menasihatinya.Awalnya beliau diperintahkan berpuasa tiga hari setiap bulan.Namun Abdullah bin Amr mengatakan bahwa dirinya mampu melakukan yang lebih dari itu.Maka Rasulullah meningkatkan anjurannya sedikit demi sedikit hingga akhirnya beliau bersabda:"Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Itulah puasa Daud dan tidak ada yang lebih utama daripada itu."Hadits ini menunjukkan bahwa ketika seseorang mencari bentuk puasa yang paling utama, maka jawabannya adalah puasa Daud.Bagaimana dengan para salaf yang berpuasa tiap hari?Ibnul Jauzi menjawab bahwa mereka memiliki kondisi yang berbeda.Sebagian dari mereka mampu menggabungkan seluruh kewajiban dengan ibadah tambahan tersebut.Sebagian lagi melakukannya pada akhir usia mereka ketika tanggung jawab sudah jauh berkurang.Namun demikian, hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tetap menjadi pedoman utama.Beliau telah bersabda:"Tidak ada yang lebih utama daripada puasa Daud."Karena itu, ketika terdapat perkataan atau amalan sebagian ulama yang berbeda dengan petunjuk Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam masalah keutamaan, maka petunjuk Nabi lebih didahulukan.Ibnul Jauzi juga menyebutkan bahwa ada orang-orang sebelum kita yang memaksakan diri dalam ibadah hingga akhirnya mengalami gangguan kesehatan.Ada yang penglihatannya melemah, ada yang fisiknya rusak karena memaksakan sesuatu yang berada di luar kemampuannya.Padahal Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.Karena itu, ibadah bukanlah sarana untuk menyiksa diri.Bila seseorang sakit, lemah, atau tidak mampu, maka syariat memberikan keringanan.Bahkan puasa Ramadan sekalipun memiliki rukhsah bagi orang yang sakit atau tidak mampu.Maka puasa sunnah lebih layak lagi untuk tidak dipaksakan ketika seseorang tidak mampu menjalankannya.Riya' yang tersembunyiBeliau menjelaskan bahwa kadang-kadang seseorang terkenal di tengah masyarakat sebagai ahli ibadah.Misalnya terkenal selalu berpuasa.Ia mengetahui bahwa orang-orang mengenalnya dengan sifat tersebut.Suatu hari ia tidak berpuasa karena suatu alasan.Namun ia berusaha menyembunyikan keadaan itu agar orang lain tetap mengira bahwa dirinya sedang berpuasa.Menurut Ibnul Jauzi, ini termasuk bentuk riya' yang sangat halus.Mengapa?Karena yang dijaga bukan lagi ibadahnya, tetapi citra dirinya di hadapan manusia.Seandainya ia benar-benar ingin menyembunyikan amalannya, maka tidak masalah jika orang lain mengetahui bahwa pada hari itu ia tidak berpuasa.Sebab tujuan seorang mukmin adalah mencari ridha Allah, bukan menjaga reputasi ibadah di hadapan manusia.Inilah salah satu pintu riya' yang sangat tersembunyi dan sering tidak disadari oleh banyak orang.Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala melanjutkan bahwa di antara manusia ada yang menceritakan ibadahnya kepada orang lain.Misalnya ia berkata:"Saya sudah dua puluh tahun tidak pernah berbuka."Maksudnya, ia ingin memberitahukan bahwa dirinya selalu berpuasa.Lalu setan datang membisikkan syubhat kepadanya:"Engkau hanya menceritakannya agar menjadi teladan bagi orang lain."Padahal Allah lebih mengetahui isi hati seseorang.Karena itu seorang mukmin harus sangat berhati-hati.Bisa jadi seseorang mengira dirinya sedang mengajak kepada kebaikan, padahal dalam hatinya terdapat keinginan agar dipuji, dihormati, dan dikagumi.Sebagian orang bahkan memerintahkan murid-murid atau pengikutnya untuk menceritakan ibadahnya kepada orang lain.Mereka menceritakan sedekahnya, tawaduknya, qiyamul lailnya, puasanya, dan berbagai amal salehnya.Kemudian kisah-kisah itu disebarluaskan.Padahal para salaf justru berusaha menyembunyikan amal-amal mereka.Mereka khawatir amal tersebut tercampuri oleh riya'.Abu Hazim rahimahullah berkata:"Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan dosa-dosamu."Kalimat ini menunjukkan betapa besar perhatian para salaf terhadap keikhlasan.Sebagian ulama salaf menjelaskan bahwa seseorang mungkin melakukan suatu amal dalam keadaan tersembunyi.Tidak ada yang mengetahui amal tersebut selain Allah.Kemudian setan terus menggodanya hingga akhirnya ia mulai menceritakan amal tersebut kepada orang lain.Akibatnya, pahala amal yang semula tercatat sebagai amal tersembunyi berpindah menjadi pahala amal yang tampak.Padahal amal yang tersembunyi memiliki keutamaan yang lebih besar daripada amal yang diketahui manusia.Karena itu para salaf sangat menjaga rahasia antara mereka dan Allah.Mereka tidak merasa aman dari riya', walaupun mereka adalah orang-orang yang sangat ikhlas.Jika para salaf yang begitu mulia saja takut terhadap riya', lalu bagaimana dengan kita?Maka sungguh aneh apabila seseorang begitu mudah menampakkan seluruh amalnya sementara para salaf justru bersungguh-sungguh menyembunyikannya."Hari Ini Kan Hari Kamis"Ibnul Jauzi menyebutkan contoh lain dari riya' yang sangat halus.Ada orang yang terbiasa berpuasa Senin dan Kamis.Kemudian suatu hari ia diajak makan.Ia tidak langsung mengatakan, "Saya sedang berpuasa."Tetapi ia menjawab:"Hari ini kan hari Kamis."Kalimat ini seakan-akan ingin memberitahukan kepada orang lain bahwa dirinya memiliki kebiasaan berpuasa Senin dan Kamis.Menurut Ibnul Jauzi, justru lebih baik jika ia mengatakan secara langsung:"Saya sedang berpuasa."Karena dengan ucapan tersebut orang lain belum tentu mengetahui bahwa itu adalah kebiasaan rutinnya.Adapun ketika ia berkata, "Hari ini kan hari Kamis," seolah-olah ia sedang menunjukkan amalan khusus yang biasa ia lakukan.Inilah tipisnya jalan riya'.Terkadang seseorang tidak menyadarinya sama sekali.Merendahkan Orang yang Tidak BerpuasaDi antara bentuk talbis iblis yang lain adalah ketika seseorang berpuasa lalu memandang rendah orang yang tidak berpuasa.Ia merasa dirinya lebih baik.Ia meremehkan orang lain karena tidak menjalankan puasa sunnah sebagaimana dirinya.Padahal bisa jadi orang yang tidak berpuasa tersebut memiliki amalan lain yang lebih besar nilainya di sisi Allah.Bisa jadi ia lebih berbakti kepada orang tua.Bisa jadi ia lebih banyak bersedekah.Bisa jadi ia lebih menjaga lisannya.Sedangkan orang yang berpuasa justru terjatuh dalam kesombongan.Karena itu, ibadah seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin merasa tinggi.Puasa Tetapi Melalaikan Tujuan PuasaIbnul Jauzi juga menyebutkan bahwa ada orang yang berpuasa tetapi tidak peduli dengan makanan yang ia konsumsi.Ia tidak memperhatikan apakah makanannya halal atau syubhat.Ada pula yang berpuasa tetapi lisannya tetap digunakan untuk ghibah.Ada yang berpuasa tetapi pandangannya tetap digunakan untuk melihat hal-hal yang haram.Ada yang berpuasa tetapi tetap sibuk dengan perkataan yang sia-sia.Padahal hakikat puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus.Puasa juga bertujuan menjaga lisan, menjaga pandangan, menjaga pendengaran, dan menjaga hati dari berbagai dosa.Namun setan menipu sebagian manusia.Ia membuat mereka merasa bahwa selama mereka berpuasa, maka dosa-dosa tersebut tidak menjadi masalah.Padahal semua itu termasuk talbis iblis.KesimpulanKarena itu seorang muslim hendaknya selalu waspada ketika beribadah.Jangan sampai ibadah yang telah dilakukan dengan susah payah rusak karena riya', ujub, atau berbagai tipu daya setan yang sangat halus.Pada akhirnya kita akan kembali kepada Allah sendirian.Yang akan menyelamatkan kita bukanlah pujian manusia, bukan pula sanjungan mereka.Yang akan menyelamatkan kita adalah amal yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.Maka jangan terlalu peduli dengan pujian manusia dan jangan pula sibuk mencari pengakuan mereka.Yang terpenting adalah beribadah dengan benar dan berusaha menjaga keikhlasan.Sungguh pintu-pintu riya' sangat banyak dan sangat samar.Karena itu seorang hamba harus terus memohon pertolongan kepada Allah agar dijaga dari tipu daya setan dan diberikan keikhlasan dalam seluruh amal ibadahnya.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
S
Salma laela fitri

📍 Kabupaten Karawang

Ringkasan Kajian Talbis Iblis #7

Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah dalam Tilawah, Puasa, dan KeikhlasanPemateri: Ustadz Firanda Andirja حفظه اللهKitab:Talbis Iblis karya Imam Ibnu al-Jauzi رحمه الله PendahuluanSetan tidak selalu mengajak manusia kepada maksiat. Sering kali ia justru menghiasi ibadah sehingga seseorang sibuk dengan amalan yang tampak banyak, tetapi melalaikan hal yang lebih penting dan lebih dicintai Allah.Karena itu, ibadah harus dibangun di atas:* Ilmu.* Mengikuti sunnah Nabi ﷺ.* Menjaga keikhlasan.* Menempatkan setiap amal pada prioritas yang benar.---1. Sibuk dengan Amalan Sunnah tetapi Lalai Memperbaiki HatiImam Ibnu al-Jauzi رحمه الله menjelaskan bahwa sebagian ahli ibadah:* Rajin salat malam.* Memperbanyak salat sunnah.* Tetapi kurang memperhatikan penyakit hati.Padahal penyakit hati seperti:* Riya.* Ujub.* Hasad.* Sombong.* Cinta dunia.Perlu diobati sedikit demi sedikit.Demikian pula seseorang harus memperhatikan:### Kehalalan makanan dan penghasilanKarena menjaga:* Hati,* Akhlak,* dan makanan yang halal,lebih utama daripada sekadar memperbanyak ibadah sunnah.--- 2. Talbis Iblis dalam Membaca Al-Qur'anSebagian orang sangat mengejar target khatam, tetapi:* Membaca terlalu cepat.* Tidak tartil.* Tidak merenungi makna.* Hanya mengejar jumlah juz.Padahal tujuan utama Al-Qur'an adalah: "Agar mereka mentadabburi ayat-ayat-Nya."(QS. Shad: 29)Karena itu kualitas lebih penting daripada sekadar kuantitas.---Niat-Niat Ketika Membaca Al-Qur'anSeorang muslim dapat menghadirkan beberapa niat sekaligus:1. Mendapat pahala tilawah.2. Mentadabburi ayat.3. Memperoleh petunjuk.4. Memohon rahmat Allah.5. Menambah iman.6. Mengamalkan isi Al-Qur'an.7. Meruqyah diri sendiri.Dengan demikian, bacaan Al-Qur'an menjadi lebih berkualitas.--- 3. Jangan Menjadikan Khatam sebagai Tujuan UtamaRasulullah ﷺ bersabda: "Tidak memahami Al-Qur'an orang yang mengkhatamkannya kurang dari tiga hari."(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)Maksudnya:* Jangan sekadar mengejar selesai.* Jangan hanya mengejar jumlah juz.Tetapi:* Renungkan ayat.* Pahami makna.* Tambahkan iman.* Amalkan kandungannya.Sebagaimana nasihat Ibnu Mas'ud رضي الله عنه: "Janganlah akhir surat menjadi tujuanmu, tetapi berhentilah pada keajaiban-keajaiban Al-Qur'an."--- 4. Membaca Al-Qur'an Keras-Keras hingga Mengganggu Orang LainImam Ibnu al-Jauzi رحمه الله mengkritik orang yang membaca Al-Qur'an dengan suara keras sehingga:* Mengganggu orang tidur.* Mengganggu orang salat.* Mengganggu orang berdoa.Beliau juga mengingatkan bahwa perbuatan tersebut membuka pintu:RiyaKarena seseorang dapat tergoda agar suaranya didengar dan dipuji manusia.Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi ﷺ dan para sahabat.---5. Menampakkan Khatam Al-Qur'an kepada Orang LainSebagian orang sengaja menunjukkan bahwa dirinya telah khatam Al-Qur'an.Padahal para salaf justru:* Menyembunyikan amal mereka.* Tidak suka diketahui manusia.Imam Ahmad رحمه الله sangat sering mengkhatamkan Al-Qur'an, tetapi orang-orang tidak mengetahui kapan beliau selesai membaca Al-Qur'an.---6. Talbis Iblis dalam PuasaSebagian orang melakukan:### Puasa sepanjang tahun (puasa dahr)Padahal puasa terbaik adalah:Puasa Nabi Daud عليه السلام.Yaitu:* Sehari puasa.* Sehari berbuka.Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada puasa yang lebih utama daripada puasa Daud."(HR. Bukhari dan Muslim)---Bahaya Memaksakan PuasaApabila dilakukan secara berlebihan dapat menyebabkan:Lemah fisikSehingga seseorang:* Sulit mencari nafkah.* Tidak mampu beribadah dengan baik.Menelantarkan hak keluargaPadahal istri memiliki hak yang wajib dipenuhi.Maka:Kewajiban tidak boleh dikorbankan demi ibadah sunnah.---7.. Riya yang Sangat HalusInilah pembahasan yang sangat penting.Kadang seseorang dikenal masyarakat sebagai:* Ahli puasa.* Ahli tahajud.* Ahli sedekah.Lalu ia berusaha menjaga citra tersebut.Misalnya:Jika suatu hari ia tidak berpuasa, ia sembunyikan agar orang tetap mengira dirinya selalu berpuasa.Ini termasuk:Riya yang samarKarena seseorang ingin menjaga popularitas ibadahnya.--- 8. "Ini Hari Kamis, Kan?"Sebagian orang ketika ditawari makan berkata:>"Ini hari Kamis, kan?"Seolah-olah ingin memberitahu bahwa dirinya rutin puasa Senin-Kamis.Imam Ibnu al-Jauzi رحمه الله menjelaskan bahwa lebih baik ia mengatakan: "Saya sedang berpuasa."Karena orang tidak mengetahui apakah:* Puasa qadha.* Puasa nazar.* Puasa kafarat.* Atau puasa sunnah.Dengan demikian, kebiasaan ibadahnya tetap tersembunyi.---9. Amal yang Tersembunyi Lebih UtamaAbu Hazim رحمه الله berkata:"Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan dosa-dosamu."Para salaf:* Menyembunyikan salat malam.* Menyembunyikan sedekah.* Menyembunyikan tangisan.* Menyembunyikan tilawah Al-Qur'an.Karena mereka sangat takut terhadap riya.---10. Jangan Merasa Aman dari RiyaPara salaf yang sangat ikhlas saja masih:* Takut riya.* Selalu mengoreksi niat.* Berusaha menyembunyikan amal.Maka seseorang tidak boleh merasa: "Hati saya sudah bersih."Karena riya adalah salah satu senjata setan yang paling halus.---Pelajaran Penting1. Memperbaiki hati lebih penting daripada memperbanyak ibadah sunnah.2. Halal-haram makanan harus diperhatikan.3. Tujuan membaca Al-Qur'an adalah tadabbur dan pengamalan.4. Jangan hanya mengejar target khatam.5. Bacalah Al-Qur'an dengan kualitas, bukan sekadar kuantitas.6. Jangan mengganggu orang lain dengan bacaan yang keras.7. Puasa terbaik adalah puasa Nabi Daud عليه السلام.8. Kewajiban kepada keluarga tidak boleh dikalahkan oleh ibadah sunnah.9. Riya sering masuk melalui jalan yang sangat halus.10. Amal yang tersembunyi lebih dekat kepada keikhlasan.11. Seorang mukmin hendaknya lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada mencari pujian manusia. KesimpulanImam Ibnu al-Jauzi رحمه الله menjelaskan bahwa setan dapat menipu ahli ibadah melalui banyak jalan, di antaranya:* Berlebihan dalam ibadah.* Salah menentukan prioritas.* Hanya mengejar banyaknya amal.* Mengabaikan penyakit hati.* Dan terutama melalui riya yang sangat tersembunyi.Karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa mengikuti sunnah Nabi ﷺ, menjaga keikhlasan, menyembunyikan amal saleh semampunya, serta lebih mengharap penerimaan dari Allah سبحانه وتعالى daripada pujian manusia.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Talbis Iblis #7 : Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag-3)

Talbis Iblis #7 :Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag-3)Oleh Ustadz Firanda Andirja Hafidzahullah Ta’ala1. Sibuk dengan Amalan yang Kurang Utama dan Melalaikan yang UtamaSetan kerap menggoda ahli ibadah agar sibuk melakukan ibadah-ibadah lahiriah yang bersifat sunah (seperti memperbanyak salat sunah di siang dan malam hari), namun mereka lalai terhadap dua hal yang jauh lebih penting:·       Perbaikan batin: Kurang memperhatikan dan mengobati penyakit-penyakit batin atau aib di dalam hati.·       Kehalalan makanan: Kurang peduli terhadap sumber makanan yang masuk ke tubuh mereka, padahal memastikan kehalalan makanan dan memperbaiki batin jauh lebih utama daripada sekadar memperbanyak kuantitas salat sunah.2. Tipuan Iblis dalam Membaca Al-Qur'an·       Membaca tanpa Tartil & Tadabur (Membaca Terlalu Cepat):Setan menggoda sebagian orang untuk memperbanyak tilawah secara terburu-buru (hazan) tanpa tartil demi mengejar target khatam berjus-jus. Meskipun ada riwayat langka dari para Salaf yang mengkhatamkan Al-Qur'an dengan sangat cepat (seperti satu hari sekali atau dalam satu rakaat), hal itu jarang dilakukan secara konsisten di luar Ramadan. Tujuan utama membaca Al-Qur'an adalah untuk dipahami (tadabur) dan diamalkan. Rasulullah ﷺ juga menyebutkan bahwa orang yang mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari 3 hari tidak akan paham.·       Membaca dengan Suara Keras Mengganggu Orang Lain: Setan mengelabui sebagian orang untuk membaca Al-Qur'an dengan suara sangat keras (seperti di menara masjid di malam hari atau menggunakan mikrofon selepas azan). Amalan ini mengandung dua kesalahan besar: mengganggu orang yang sedang istirahat/sakit/salat malam, serta memaparkan diri pada penyakit riya (ingin dipuji) karena sulit menjaga keikhlasan hati saat didengar banyak orang.·       Pamer Khatam Al-Qur'an: Dicontohkan adanya imam yang sengaja membaca surah terakhir (Al-Mu'awwidzatain) dan doa khatam Al-Qur'an di depan jamaah setelah salat Subuh hanya agar orang-orang tahu bahwa ia telah khatam. Hal ini menyelisihi metode para Salaf (seperti Imam Ahmad) yang justru berusaha keras menyembunyikan waktu khatam mereka dari orang lain. 3. Talbis Iblis dalam Ibadah Puasa·       Puasa Setiap Hari (Puasa Dahar): Sebagian orang tertipu untuk puasa setiap hari di luar hari yang diharamkan. Mayoritas ulama memakruhkan atau bahkan mengharamkan puasa dahar ini karena Rasulullah ﷺ telah menegaskan bahwa puasa sunah yang paling utama adalah Puasa Daud (sehari puasa, sehari berbuka). Memaksakan puasa setiap hari dapat melahirkan dua dampak buruk: membuat fisik lemah sehingga mengabaikan kewajiban mencari nafkah, serta melalaikan hak biologis istri.·       Memaksakan Diri Saat Sakit: Menjalankan puasa sunah dengan memaksakan diri melampaui batas kemampuan hingga merusak kesehatan (seperti mata menjadi buta atau otak kering) hukumnya tidak boleh (la yajuz).·       Riya yang Samar (Khofiyur Riya) dalam BerpuasaPintu-pintu riya sangat halus dan merupakan senjata setan yang paling ampuh untuk menggugurkan amal:§  Menyembunyikan Buka Puasa Demi Menjaga Reputasi: Seseorang yang dikenal selalu berpuasa, lalu pada suatu hari ia terpaksa berbuka (karena sakit atau halangan), tetapi ia menyembunyikan fakta berbukanya agar popularitas atau pandangan orang terhadap dirinya tidak jatuh. Ini adalah bentuk riya yang sangat samar.§  Membungkus Riya dengan Alasan: Setan membisikkan syubhat kepada seseorang untuk menceritakan amalan puasanya yang sudah berjalan puluhan tahun dengan dalih agar dicontoh orang lain, padahal aslinya ia sedang mencari penghormatan atau pujian.§  Sikap Merendahkan Orang Lain: Setan juga menipu orang yang berpuasa sehingga mereka memandang rendah orang lain yang tidak berpuasa, serta membuat mereka merasa aman untuk tetap melakukan dosa lain seperti gibah, menonton hal yang haram, atau tidak memedulikan kehalalan makanan berbuka, karena merasa puasanya sudah menghapuskan semua dosa tersebut.Kesimpulan : Menjaga keikhlasan hati karena pintu-pintu riya sangat banyak dan tipis. Tidak perlu memedulikan pujian ataupun cercaan manusia, yang terpenting adalah fokus meluruskan niat agar ibadah kita diterima di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
E
Ela septiana yusira

📍 Kota Tangerang

Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah (Bagian 3)

Hati kita ini penuh dengan penyakit maka itu perlu diperbaiki dan disembuhkanSeseorang yang shalat perlu memperhatikan apa yang dimakanSyaitan telah menggoda suatu kaum dengan memperbanyak tilawah quran namun tidak dengan tartil. metode ini membaca dengan cepat dengan target berjuz ini adalah kondisi tidak terpujiMembaca dengan tartil lebih disukai oleh para ulamaRasulullah sudah bersabdaOrang yang khatam quran kurang dari tiga hari dia tidak paham quran. Ini berlaku di luar ramadhan, karena saat ramadhan ada ulama yang khatam sehari.Tujuan utama baca quran adaah tadabbur ayat ayatnya berusaha untuk dipahami  dengan begitu maka iman semakin bertambah dan dapat mengamalkan quran dalam kehidupanPerhatikan kualitas yang ia baca bukan cuma kuantitasKarena itu rasulullah mencela orang khawarij mereka membaca quran tapi tidak masuk tulang selangka atau hati mereka karena tidak mentadaburi ayat yang telah  mereka bacaMembaca al quran membuat kita Harus ngerti dulu baru bisa diamalkan kebijaksanaannyaTahapannya adalah tilawah, tadabbur dan beramalBerusaha untuk mentadabburi ayat quran agar berkualitas dan bertambah ilmuBerhentilah pada keajaiban quran pikirkan dan renungkan maknanyaCara menambah keimanan adalah dengan baca quran yang berkualitas

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
N
Nurhasanah nurhasanah

📍 Kota Depok

Talbis iblis terhadap ahli ilmu bagian 3

📚Ringkasan Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah🪾Iblis tidak selalu menggoda manusia untuk meninggalkan ibadah. Pada ahli ibadah, ia sering menipu dengan membuat mereka beribadah tetapi kehilangan keikhlasan, menyelisihi sunnah, atau merasa bangga dengan amalnya.👹. Talbis Iblis dalam PuasaMembuat seseorang berlebihan dalam berpuasa hingga melemahkan diri dan mengabaikan kewajiban lain.Menjadikan puasa sebagai sarana mencari pujian manusia.Membuat orang merasa dirinya lebih saleh karena banyak berpuasa dibandingkan orang lain.Menimbulkan rasa ujub (bangga diri) terhadap amal puasanya.Obatnya: Menjaga keikhlasan, mengikuti tuntunan Rasulullah, dan menyadari bahwa diterimanya amal bukan karena banyaknya amal, tetapi karena rahmat Allah dan keikhlasan pelakunya.👹. Talbis Iblis dalam RiyaMendorong seseorang untuk memperlihatkan ibadah agar dipuji manusia.Membuat hati lebih senang terhadap pujian manusia daripada penilaian Allah.Menjadikan seseorang rajin beramal saat dilihat orang, namun malas ketika sendirian.Menumbuhkan keinginan agar dikenal sebagai ahli ibadah.Obatnya: Memperbanyak amal tersembunyi, mengingat bahwa manusia tidak dapat memberi manfaat atau mudarat tanpa izin Allah, dan selalu memperbaiki niat sebelum, ketika, dan setelah beramal.👹. Talbis Iblis dalam Membaca Al-Qur'anMembuat seseorang sibuk memperindah suara tetapi lalai memahami dan mengamalkan maknanya.Menjadikan tilawah sebagai sarana mencari popularitas dan pujian.Membanggakan banyaknya khatam Al-Qur'an tanpa memperhatikan tadabbur.Merasa lebih baik dari orang lain karena banyak membaca Al-Qur'an.💊Obatnya: Membaca Al-Qur'an dengan niat mencari ridha Allah, mentadabburi ayat-ayatnya, mengamalkan isinya, dan menjauhi sikap bangga terhadap amal.📌Note:✅️Iblis tidak selalu mengajak kepada kemaksiatan secara langsung. Terkadang ia menghiasi ibadah dengan riya, ujub, dan ghuluw (berlebihan), sehingga seseorang merasa telah berbuat baik padahal amalnya berkurang nilainya. Karena itu, seorang mukmin harus senantiasa menjaga ikhlas, ittiba' (mengikuti sunnah), dan tawadhu', serta selalu memohon kepada Allah agar diterima amal ibadahnya.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
M
Mahargyani Yogyantari

📍 Kota Depok

Tablis Iblis #7

Tablis Iblis #7Tipu Daya Iblis pada Ahli Ibadah1. Prioritas dalam Ibadah Setan menggoda ahli ibadah untuk sibuk dengan ibadah Sunnah namun melalaikan perbaikan batin dan kehalalan makanan2. Membaca Al Qur'an Penting membaca Qur'an dengan Tartil. Jangan hanya mengejar kuantitas, tapi juga memperbaiki kualitas. 3. Puasa Sunnah Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud. 4. Riya yang samar Amal yang tersembunyi lebih utama daripada amal yang dipublikasikan demi pujian manusiaSeorang mukmin harus selalu waspada pada tipu daya setan yang membungkus keburukan dengan rupa ibadah,serta berusaha menjaga keikhlasan agar amal ibadahnya diterima Allah.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
A
Aniza

📍 Kota Depok

Bab 7

KAJIAN KITABTALBIS IBLIS #7TALBIS IBLIS KEPADA AHLI IBADAH (bagian - 3)Karya Ibnul Jauzi RahimahullaahSelasa, 9 Juni 20026Ustdz DR. Firanda Andirja============- SIBUK DENGAN YG TIDAK UTAMA, SEHINGGA MENINGGALKAN YANG UTAMA.Kata ibnul jauzi, syetan banyak menggoda ahli ibadah. Mereka sholat² sunnah du malam hari, sholat sunnah di siang hari, tetapi mereka tdk memperhatikan penyakit hati dan memperhatikan apa yg di makan, halal atau tidak.Jangan sampai seseorang sibuk dengan yg dzohir. Tp lupa memperbaiki bathinnya.- godaan syetan pada ahli ibadah dalam membaca AlQuran.Ibnul jauzi berkata : syetan menggoda suatu kaum dengan memperbanyak tilawah al quran, tetapi mereka membaca alquran dengan hazzan (cepat) tanpa mentartil. Baca cepat, buru². Metode membaca dengan cepat dengan target berjuz², ini adalah tidak terpuji.Para salaf terdahulu memang ada yg hatam dalam 1 hari, bahkan dalam 1 rokaat sholat. Terutama di bulan ramdhan.Namun ini adalah perkara yg jarang dari mereka. Sulit bagi kita mengqiyaskan diri kita seperti mereka para ulama. Imam syafii sudah jadi mufti di kota mekkah saat usia 15 th. Imam syafii baca dengan paham, tafsirnya sudah paham. Beda dengan kita yg gak paham isi al quran. Padahal tujuan membaca alquran untuk mentadabburi ayat²nya. Seorang selain memperhatikan kuantitas baca, juga kualitasnya. Niat baca al quran (tahapan) :-Niat tilawah (pahala di tiap hurufnya)-Niat untuk mentadabburi (dpt petunjuk, meruqyah diri sendiri)-Niat untuk diamalkan.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
R
Regita Dwi Ananda

📍 Kota Bandung

Talbis iblis -6

Talbis IBLIS-6Talbis iblis dalam ibadah..Talbis iblis dalam niat lisan…- mengulang niat berkali-kali, talbis iblis agar hilang keutamaan- ada juga yang bersumpah yang isinya takbir hanya 1xDikatakan – kalau tujuannya hanya hadir kan niat maka kehadiran untuk sholat – sudah niat. Dan syariat nya lafash niat tidak wajib.Niat dalam hati sangat mudah, yang membuat menjadi lama dan susah adalah menguraikannya.Terlalu sibuk masalah niat.Ada seseorang yang telah benar niat dan takbir nya, namun gegabah dalam menjalankan rukun-rukun setelahnya, seolah shalat baginya hanya niat dan takbiratul ikram.Bisikan iblis dapat tersingkap dengan satu argumentasi bahwa maksud takbiratul ikram adalah masuk dalam ibadah, bagaimana mungkin ibadah laksana rumah itu dibiarkan begitu saja dan hanya berkonsentrasi menjaga pintu saja?Diantara orang yang waswas adalah orang yang benar dalam takbiratul ikram saat menjadi makmum, namun rakaat tinggal sedikit waktu ia membaca doa istiftah dan membaca taawudz, lalu imam ruku. Ini merupakan godaan iblis, karena doa istiftah dan taawudz yang ia baca hukumnya sunnah karena Al Fatihah yang ia tinggalkan – menurut sebagian ulama – hukumnya wajib bagi makmum. Dan dia tidak boleh meninggalkan Yang wajib untuk yang sunnah.Meninggalkan yang sunnah karena perkara yang menimpanya.Misalnya meninggalkan shaf pertama. Dengan alasan untuk menjaga hati supaya tidak riya.Contoh lain ada orang sholat tapi tidak mau sedekap saat berdiri sholat. Dengan alasan dia tidak mau menunjukkan kekusyukan palsu yang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya.Bersedekap dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri hukumnya sunnah.Suatu saat Ibnu Mas’ud sedang sholat dengan meletakkan tangan kiri di atas tangan kanan. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melihatnya. Maka seketika itu ia meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. HR Abu Dawud.Tidak seyogyanya syariat ditinggalkan karena pendapat orang yang terhormat, karena syariat lebih agung. Kesalahan dalam menafsirkan agama lumrah terjadi di kalangan ulama, karena bisa jadi ada beberapa hadits yang tidak sampai kepada mereka.Talbis iblis dalam makharijal huruf,yaitu mentartilkan bacaan dengan mengeluarkan huruf-huruf dari posisinya.Terkadang iblis menggoda terkait kejelasan membaca tasydid.Setan mengganggu shalat seseorang sehingga bacaannya menjadi kacau.Iblis juga telah menyesatkan banyak kalangan ahli ibadah sehingga mereka meyakini bahwa ibadah hanya gerakan-gerakan berdiri dan duduk belaka. Sehingga mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban dan tidak melaksanakannya.Ada yang tergoda dengan mengerjakan sholat dengan bacaan yang panjang.,memperbanyak bacaan dan meninggalkan sunnah-sunnah sholat serta melakukan hal-hal yang makruh dalam sholat. Misalnya ada orang yang sholat di siang hari dengan mengeraskan bacaannya.Ada yang tergoda dengan memperbanyak sholat malam namun meninggalkan sholat subuh berjamaah. Atau malas di pagi hari dan tidak bekerja untuk memberi kehidupan keluarganya.Bila mengantuk sebaiknya tidur duluTidur dapat mengembalikan vitalitas tubuh yang lemah karena begadang.Mengapa para ulama salaf ada yang mampu menghidupkan semalaman penuh untuk ibadahnya. Bagaimana memahami hal ini?Karena mereka semua telah melatih diri mereka sehingga mereka mampu melakukannya. Mereka sangat percaya bisa melaksanakan sholat subuh berjamaah. Mereka terbantu dengan tidur siang mereka.Iblis juga menjerumuskan sebagian orang yang beribadah di malam hari dan menceritakan ibadahnya esok harinya.Minimal kesalahan yang dilakukan – jika ia selamat dari unsur riya – adalah bergeser nya sesuatu yang semestinya bersifat rahasia menjadi konsumsi publik.Ada yang tergoda sholat sunnah rawatib dan berlama-lama di masjid padahal Yang lebih utama sholat sunnah di rumah.Setan menggoda ahli ibadah untuk menangis saat ibadah dan terlihat orang.Ini bisa saja terjadi dan tidak bisa dicegah. Namun barangsiapa yang mampu untuk menutupi nya, lalu ia menampakkan nya maka ia benar-benar masuk dalam perangkap riya.Kalau ada riya – akan ada sinyal maka tahan sinyal itu.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
R
Riva Aktivia

📍 Kota Palembang

Talbis iblis 7

Talbis iblis #7 Terhadap ahli ibadah (bagian 3) banyak beramal ibadah tapi tidak memperbaiki hati dan memperhatikan kehalalan makanan banyak Alquran menargetkan banyak juz tapi buru2 dan tidak tartil padahal tujuan dari membaca Alquran adalah untuk mentadaburinya agar iman kita semakin bertambah. membaca Al-Qur'an dengan keras di mesjid pada malam hari , hal ini mengganggu orang lain dan bisa terjerumus riya. Begitu juga ketika setelah azan lalu mengaji dengan keras, sehingga mengganggu orang lain, hal ini juga tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. satu ibadah baru yang muncul (bid'ah) maka akan menumbalkan/menghilangkan satu sunnah. puasa Sunnah bertingkat-tingkat, yang paling tinggi adalah puasa sehari berbuka 2 hari, lalu puasa Daud puasa sehari berbuka sehari. ada yang berpuasa namun riya dengan puasanya, adapula yang menganggap rendah orang lain yg tidak berpuasa, adapula yang berpuasa namun tetap berghibah atau tidak memperhatikan kehalalan makanan berbuka, begitulah cara-cara (talbis) iblis kepada orang yang beribadah.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026

Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu #03

Pentingnya Memperhatikan Batin: Ustadz Firanda menyoroti godaan setan yang membuat seseorang sibuk dengan ibadah lahiriah (seperti shalat sunnah) namun melupakan perbaikan penyakit hati dan perhatian terhadap kehalalan makanan.​Adab dalam Membaca Al-Qur'an: Beliau menekankan agar tidak terburu-buru mengejar target khatam tanpa mentadaburi maknanya. Membaca dengan tartil dan memahami isi Al-Qur'an jauh lebih utama daripada sekadar kuantitas bacaan.​Larangan Mengganggu Orang Lain: Ustadz memperingatkan tentang perilaku membaca Al-Qur'an dengan pengeras suara di waktu tidur yang dapat mengganggu orang lain dan berpotensi memunculkan sifat riya.​Bahaya Riya dalam Ibadah: Beliau membahas bagaimana setan dapat menggoda seseorang untuk memamerkan amalnya, seperti puasa atau khatam Al-Qur'an, sehingga pahala ibadah tersebut bisa berkurang atau hilang.​Puasa Sunnah: Pembahasan mengenai puasa sunnah, termasuk hukum puasa dahar (setiap hari), serta anjuran untuk mengikuti pola puasa Nabi Daud Alaihissalam yang merupakan puasa terbaik dan tidak memberatkan diri sendiri.​Secara keseluruhan, video ini adalah pengingat agar setiap Muslim senantiasa menjaga keikhlasan dan tidak terjebak dalam jebakan setan yang samar (talbis iblis) dalam setiap bentuk ibadah.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
R
Rifa Rachmatusyifa

📍 Kabupaten Ketapang

Talbis Iblis #7

Talbis Iblis #7Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu (Bag.3)12. Sibuk dengan yang tidak utama sehingga meninggalkan yang utamaKata Ibnu Jauzi : syaitan telah banyak menggoda ahli ibadah, mereka shalat malam, shalat sunnah di siang hari tetapi mereka tidak perhatian terhadap perbaikan batin mereka padahal kita tahu dalam batin kita banyak sekali aib. Dan mereka juga tidak memperhatikan apa yang mereka makan. Padahal memperhatikan hal-hal tersebut memperbaiki penyakit2 bathin, dan juga perhatian terhadap halalnya yang kita makan itu lebih utama daripada memperbanyak shalat-shalat sunnah. 13. Godaan syaitan dalam membaca AlquranMembaca Alquran dengan cepat tanpa tartilMetode membaca Alquran dengan cepat dengan target berjuz-juz inilah kondisi tidak terpuji. Memang benar diriwayatkan dari sebagian salaf, ada di antara mereka yang membaca Alquran khatam dalam sehari dan bahkan ada yang mengkhatamkan Alquran dalam 1 rakaat seperti yang diriwayatkan oleh Ustman bin Affan dan Iman Abu Hanifah. Namun kata Ibnu Jauzi ini adalah perkara jarang dari mereka.Rasulullah bersabda : "Orang yang membaca khatam Alquran kurang dari 3 hari maka dia tidak paham (faqih)"Ibnu Rajab Al-Hambali menyebutkan larangan nabi untuk mengkhatamkan Alquran kurang dari 3 hari berlaku untuk diluar Ramadhan.Maksud Ibnu Jauzi rahimahullah adalah seorang berusaha untuk membaca Alquran untuk dipahami, karena itu adalah keutamaan dan tujuan dari membaca Alquran. Jika sudah dipahami maka iman semakin mudah bertambah dan semakin mudah diamalkan. Ada beberapa niat yang bisa kita pasang ketika membaca Alquran :1. Niat tilawahDimana setiap huruf dapat 10 pahala 2. Niat untuk mentadabburi3. Niat agar Allah memberi rahmat kepada kita4. Niat agar Allah memberi petunjuk kepada kita14. Membaca Alquran di menara Masjid atau memakai pengeras suara di malam hariMaka mereka telah mengumpulkan 2 kesalahan, yang pertama mengganggu orang tidur dan yang kedua terjerumus kepada riya. Diantaranya ada yang membaca Alquran setelah adzan. Tentu hal ini mengganggu orang-orang yang akan berdoa (antara adzan dan iqomah). Yang terbaik adalah mengikuti sunnah Rasulullah salallahu alaihi wasalam.Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah dalam Ibadah Puasa1. Syaitan menggoda sebagian kaum yang berpuasa terus menerus (sepanjang tahun)Hukumnya boleh dengan syarat tidak puasa pada hari-hari yang diharamkan berpuasa. Ada 3 tingakatan puasa :  1. Puasa sehari berbuka dua hari  2. Puasa sehari berbuka sehari (puasa Daud)         Kata Nabi "Tidak lebih afdol daripada ini"  3. Puasa setiap hari (Dahr) kecuali hari2      diharamkan puasaPuasa Dahr ada khilaf di kalangan para ulama tentang hukumnya, secara umum ada 2 pendapat :     1. Tidak dianjurkan Ada yang mengatakan haram seperti kata Ibnu Hazm dan ada yang mengatakan makruh seperti mazhab Hanafi dan Ibnu Taimiyah. Rasulullah bersabda "Tidak ada yang lebih afdol kecuali puasa nabi Daud"    2. DiperbolehkanMazhab Hambali membolehkan (Ibnu Jauzi Mazhab Hambali)       Meskipun boleh ada 2 kekurangan :      1. Bisa jadi menyebabkan dia lemah untuk bisa mencari rezeki dan banyak kewajiban (hak istri) yang terlalaikan akibat menjalankan sunnah yang salah      2. Luput dari keutamaanNabi bersabda "Sebaik-baik puasa adalah puasa nabi Daud"Talbis Iblis tentang RiyaBisa jadi seseorang dikenal karena terbiasa berpuasa Dahr, maka dia tidak berbuka. Ketika suatu hari dia berbuka tapi karena dia sudah terkenal puasa Dahr maka dia sembunyikan pada saat berbuka. Maka ini adalah riya yang samar.Diantara mereka ada yang riya terang-terangan. Syaitan membuat syubhat "cerita aja sama orang biar jadi teladan". Sebagian orang ada yang menceritakan lewat murid-muridnya. Syubhat syaitan "Kabarkalah ibadahmu supaya engkau dihormati", jika sudah ingin dihormati itu artinya riya. Maka gugurlah amalannya karena riya. Bagaimana jika ikhlas? jika ikhlas (tidak riya) maka pahala berkurang dari pahala ibadah yang tersembunyi menjadi pahala ibadah yang terlihat.  Dan pahala amalan yang tersembunyi lebih besar daripada pahala amalan yang terlihat.Diantara mereka ada yang puasa Senin dan Kamis. Ketika diajak makan makan dia menjawab "ini hari apa?" Seakan-akan dia ingin menunjukan bahwa dia biasa puasa Senin Kamis. Seharusnya dia menjawab "saya sedang berpuasa". Diantara mereka ada memandang rendah orang-orang yang tidak berpuasa Senin Kamis.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
N
Nursafitri

📍 Kabupaten Berau

Talbis iblis #7 Talbis iblis kepada ahli ibadah(bag3)

Talbis iblis #7 Talbis iblis kepada ahli ibadah(Bag 3) Ustadz Firanda andirja حفظه Kata Imam Ibnul jauzi rahimahullah ta'ala "setan telah menggoda banyak dari ahli ibadah, aku lihat mereka sholat malam , sholat² Sunnah dimalam hari , sholat² sunnah di siang hari tetapi mereka tidak perhatian terhadap perbaikan batin mereka. Padahal dalam batin ini banyak sekali aib , dan mereka tidak memperhatikan apa yang mereka makan , padahal memperhatikan hal² tsb memperbaiki penyakit² batin , dan juga perhatian terhadap halalnya apa yang kita makan dari sumber yang mana itu lebih utama daripada memperbanyak sholat² Sunnah.Maksudnya ibnul Jauzi rahimahullah ta'ala menyampaikan jangan sampai seseorang sibuk dengan yang dzohir,  seperti ibadah² sholat Sunnah , kemudian lupa memperbaiki yang batin . Penyebutan tentang godaan setan terhadap ahli ibadah dalam membaca Al Qur'an.Ibnul Jauzi berkata 'setan telah menggoda suatu kaum dengan memperbanyak tilawah Qur'an, tetapi mereka membaca Al Quran dengan hazan(cepat) tanpa mertatil , tanpa dibaca dengan pelan². Metode membaca seperti ini dengan cepat sekali , inilah kondisi tidak terpuji. Merubah cara baca Qur'an kita dengan niat untuk tadabur .Ada beberapa niat yang bisa kita pasang ketika membaca Al Qur'an di antaranya niat tilawah yang dimana setiap huruf dapat 10 pahala , kata Nabi shalallahu alaihi wa salam bersabda "aku tidak mengatakan Alif lam mim satu huruf, Alif satu huruf , lam satu huruf , dan lim satu huruf, siapa yang membaca Alif lam mim dapat 30 kebaikan". Diantaranya kita baca Al-Qur'an adalah untuk mentadaburi Al Qur'an √ Agar Allah Subhanahu wa ta'ala memberi Rahmat kepada kita √ kita mendapat petunjuk ketika baca Al-Qur'an Nabi shalallahu alaihi wasallam mencela orang² khawarij karena mereka membaca Al-Qur'an mereka tidak paham . Maka seorang ketika membaca Al-Qur'an niatnya adalah untuk mentadaburi.•Fudhail bin Iyadh pernah berkata  " sesungguhnya Al Qur'an itu diturunkan untuk diamalkan dan untuk ditadaburi . Membaca Al-Qur'an adalah salah satu tahapan yang paling awal Tadabur Beramal karena iman itu naik dan turun Para ulama menyebutkan diantara cara paling mudah dengan menambah keimanan dengan membaca Al-Qur'an `tetapi membaca Al Qur'an yang berkualitas, bukan hanya sekedar yang penting khatam . Godaan setan ahli ibadah dalam ibadah puasa Setan menggoda sebagian orang kaum maka mereka puasa terus menerus , dan itu hukum boleh , jika seorang tidak berpuasa pada hari hari yang diharamkan.Puasa Sunnah bertingkat-tingkat , yang paling tinggi diantaranya •puasa daud alaihi salam •puasa sehari berbuka dua hari , yang paling lagi Diatasnya lagi ada khilaf dikalangan Para ulama puasa dahar puasa tiap hari dengan syarat ketika hari hari diharamkan puasa tidak boleh berpuasa.•Diantara mereka ada yang berpuasa tapi mereka tidak peduli iftar ya pakai makanan apa , terkadang haram syuhbat mereka tidak peduli. • diantara mereka puasa tapi ghibah jalan terus •diantara mereka puasa tapi nonton jalan terus (melihat yang haram) •diantara mereka berpuasa tapi ngoceh jalan terus • Seorang kalau beribadah dia harus waspada , jangan sampai ibadah nya hancur gara² riya,  setan menghapuskan Riya dalam diri seorang bahkan dengan cara yang sangat tersembunyi .#jejakcahaya Nursafitri

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
N
Nurmaida

📍 Kota Palu

Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah part 3

‎Materi#7  Talbis Iblis terhadap Ahli Ibadah part 3‎(Ringkasan kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.)‎Talbis Iblis (tipu daya setan) yang sering menjerat para ahli ibadah. Fokus utamanya adalah kesibukan dalam ibadah yang membuat seseorang melalaikan perkara yang lebih utama serta jebakan riya' yang sangat halus.‎1. Sibuk dengan Ibadah Zahir tetapi Melalaikan Batin ‎Banyak ahli ibadah yang fokus memperbanyak salat sunah.‎Namun, mereka lupa memperbaiki penyakit hati dan akhlak.‎Sebagian juga kurang memperhatikan kehalalan makanan yang dikonsumsi.‎Padahal kebersihan hati dan kehalalan rezeki merupakan bagian penting dari ibadah.‎2. Godaan dalam Membaca Al-Qur'an ‎a. Mengejar Kuantitas tanpa Tadabur‎Setan membisikkan agar seseorang hanya mengejar target khatam dengan cepat.‎Membaca Al-Qur'an tanpa tartil dan tanpa memahami maknanya.‎Yang lebih utama adalah membaca dengan tadabur agar menambah iman dan kualitas ibadah.‎b. Adab di Masjid‎Menggunakan pengeras suara untuk membaca Al-Qur'an pada waktu yang dapat mengganggu orang lain perlu dihindari.‎Perbuatan tersebut bisa mengganggu orang yang sedang beribadah atau beristirahat.‎Terkadang juga dapat memunculkan unsur riya' tanpa disadari.‎3. Pamer Ibadah ‎Dikritik perilaku memamerkan khatam Al-Qur'an atau amal ibadah secara berlebihan di hadapan manusia.‎Cara ini bertentangan dengan kebiasaan para Salaf yang berusaha menyembunyikan amal mereka.‎Amal yang tersembunyi lebih dekat kepada keikhlasan.‎4. Godaan dalam Berpuasa ‎Puasa dahr (puasa terus-menerus) meskipun dibolehkan oleh sebagian ulama, memiliki risiko membuat seseorang lalai dari kewajiban lain.‎Misalnya melalaikan hak keluarga, hak istri, atau kewajiban mencari nafkah.‎Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa puasa sunah yang paling utama adalah Puasa Daud, yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka.‎5. Bahaya Riya' yang Samar ‎a. Riya' dalam Ibadah‎Seseorang yang dikenal rajin beribadah terkadang merasa harus terus menampilkan ibadahnya di hadapan manusia.‎Ia khawatir kehilangan penilaian baik dari orang lain.‎Ini merupakan bentuk riya' yang sangat halus dan berbahaya.‎b. Publishing Ibadah‎Memublikasikan amal saleh melalui media sosial atau dokumentasi tertentu dapat menjadi pintu masuk riya'.‎Amal yang awalnya tersembunyi (sir) berubah menjadi amal yang terlihat (alaniyah).‎Hal ini dapat mengurangi kesempurnaan pahala dan menimbulkan penyakit hati.‎Kesimpulan‎Seorang mukmin harus selalu waspada terhadap tipu daya setan yang halus dalam setiap ibadah. Fokus utama bukan hanya banyaknya amal, tetapi juga keikhlasan, mengikuti sunnah, menjaga hati, serta mendahulukan amalan yang paling dicintai Allah. Amal yang sedikit namun ikhlas lebih baik daripada amal yang banyak tetapi tercampuri riya'.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
E
Elsa Ulfah Hakim

📍 Luar Indonesia

Talbis Iblis 7: Talbis Iblis terhadap ahli ilmu bagian 3

Talbis Iblis 7: Talbis Iblis kepada Ahli Ibadah bagian 3Ustadz Dr. Firanda AndirjaIbnu Jauzi berkata setan telah menggoda banyak ahli ibadah. Banyak yang melakukan sholat sunnah dimalam hari dan disiang hari tetapi mereka tidak memperhatikan batin mereka. Padahal kita tahu bahwa di dalam batin ini ada banyak aib. Mereka juga tidak memperhatikan tentang apa yang mereka makan. Padahal memperhatikan hal-hal tersebut bisa memperbaiki penyakit batin karena memperhatikan kehalalan makanan yang kita makan itu lebih utama daripada memperbanyak sholat-sholat sunnah. Di sini Ibnu Jauzi menegaskan,  jangan sampai kita hanya sibuk dengan hal-hal yang dzohir tetapi lupa memperbaiki yang batin dan jangan sampai kita hanya sibuk dengan sholat-sholat sunnah tetapi kita tidak memperhatikan makanan yang kita makan.Godaan setan terhadap ahli ibadah dalam membaca Al-Qur’an:Setan menggoda mereka dengan memperbanyak tilawah namun mereka membacanya dengan cepat tanpa mentartil karena mereka hanya ingin mencapai target berjuz-juz. Ini adalah hal yang tidak terpuji.Ada riwayat sebagian salaf yang menerangkan bahwa ada di antara mereka yang membaca Al Qur’an khatam dalam sehari atau bahkan ada yang hanya dalam satu rakaat seperti riwayatnya Usman bin Affan radhiallahu’anhu dan juga riwayat Al Imam Abu Hanifah  rahimahullahu ta’ala. Namun kata Ibnu Jauzi ini adalah perkara yang jarang dari mereka. Hal ini dibolehkan akan tetapi membaca Al Qur’an dengan tartil lebih disukai oleh para ulama.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda “orang yang mengkhatamkan Al Qur’an kurang dari tiga hari maka ia tidak paham Al Qur’an”.Ibnu Rajab Al Hambali menyebutkan dalam kitabnya tentang keutamaan beribadah di bulan Ramadhan, beliau menyebutkan bahwa larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengkhatamkan Al Qur’an kurang dari tiga hari itu hanya berlaku di luar bulan Ramadhan dan adapun di bulan Ramadhan sebagian salaf mengkhatamkan Al -Qur’an sehari sekali bahkan diriwayatkan oleh Imam As-Syafii rahimahullah, beliau menghkatamkan Al Qur’an sehari dua kali. Namun hal ini hanya dilakukan di bulan Ramadhan. Perlu diperhatikan bahwa sulit bagi kita untuk mengkiaskan diri kita dengan para ulama tersebut karena mereka paham dengan makna Al-Qur’an sedangkan kita tidak paham dengan bacaan yang kita baca. Padahal tujuan membaca Al Qur’an adalah untuk ditadabburi ayat-ayatnya.Ibnu Jauzi menegaskan bahwa kita membaca Al Qur’an itu untuk dipahami. Ketika kita paham maka keimanan kita bertambah dan mudah untuk diamalkan. Adapun yang membaca dengan cepat tanpa tartil dan hanya mementingkan target kuantitas bacaan, akhirnya tidak ada tadabbur dalam bacaan tersebut dan ini adalah talbis iblis. Jadi hal yang paling utama adalah kualitas bacaan kita. Mulai sekarang niatkan membaca Al Qur’an untuk mentadabburinya. Agar Allah memberikan rahmat dan kita mendapatkan petunjuk dari tadabbur tersebut.Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata “sesungguhnya Al -Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan”. Maka sebelum diamalkan kita harus mentadabburi ayat-ayat yang kita baca agar kita memahaminya.Tahapan-tahapan dalam mengamalkan Al Qur’an:MembacanyaMentadaburinyaMengamalkannyaIman itu mudah naik dan turun. Di antara cara yang paling mudah menambah keimanan adalah dengan membaca Al Qur’an tetapi dengan bacaan yang berkualitas.Godaan setan terhadap qari’ yang membaca Al -Qur’an di menara masjid pada malam hari dengan suara yang keras. Maka mereka telah mengumpulkan dua kesalahan, yaitu mengganggu orang tidur dan memaparkan diri untuk terjerumus ke dalam riya.Di antaranya juga ada orang yang membaca Al Qur’an ketika azan. Setelah azan selesai, ia membaca Al Qur’an. Hal ini akan mengganggu orang yang ingin sholat sunnah dan berdo’a. Hal ini juga bisa menjerumuskan seseorang ke dalam riya.Ibnul Jauzi berkata bahwa ia melihat perkara yang menakjubkan, ada seseorang yang mengimami sholat subuh pada hari Jum’at setelah selesai sholat kemudian ia membaca Al-Mu'awwidzatain dan do’a khatam Al Qur’an agar orang-orang mengetahui bahwa ia sudah khatam. Hal ini bukanlah metode salaf. Adapun para salaf, mereka selalu menyembunyikan ibadah mereka.Rabi bin Husain seorang tabi’in, ia menyembunyikan seluruh amalnya sampai ada seorang sahabat Nabi berkata “jika Nabi melihatmu  maka Nabi mencintaimu”.Bisa jadi ketika ia sedang membaca Al -Qur’an di rumahnya dan ketika ada orang masuk maka ia tutup Qur’annya dengan bajunya. Agar orang lain tidak tahu bahwa ia sedang baca Al Qur’an.Imam Ahmad sering membaca Al Qur’an dan tidak ada yang mengetahui kapan ia mengkhatamkan Al -Qur’an.Riya itu adalah senjata setan yang paling ampuh dalam rangka menggugurkan amal sholeh seseorang. Maka dari itu waspadalah dengan talbis iblis.Godaan setan terhadap ahli puasa yaitu setan menggoda sebagian orang untuk puasa terus menerus dan itu hukumnya boleh jika seseorang tidak berpuasa pada hari-hari yang diharamkan.Puasa sunnah itu bertingkat-tingkat dan yang paling tinggi tingkatannya itu adalah puasa sehari dan berbuka dua hari. Namun yang lebih tinggi lagi ada puasa Nabi Daud ‘alaihi salam yaitu puasa sehari dan berbuka sehari. Kata Nabi “tidak ada yang lebih afdhol daripada ini”. Tingkatan di atasnya lagi ada khilaf di kalangan para ulama, yaitu puasa dahr (puasa setiap hari) dengan syarat tidak berpuasa di hari-hari yang diharamkan. Hukum puasa seperti ini ada dua pendapat, yaitu :tidak dianjurkan berpuasa setiap hari. Dari pendapat ini ada dua pendapat hukum, yaitu haram dan ada yang menyebutkan makruh. Banyak dalil yang menunjukkan kemakruhannya dan keharamannya, di antaranya adalah Rasulullah mengatakan “tidak ada yang lebih afdhol dari puasa Daud. Kemudian dalil yang lain menyebutkan bahwa Nabi pernah menegur orang-orang yang ingin sholat semalam suntuk dan tidak tidur, yang ingin puasa setiap hari dan tidak akan berbuka, dan ada yang tidak ingin menikah. Rasulullah marah dan membantah mereka, “aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah dan yang paling khusyu, tetapi aku sholat dan aku tidur (tidak semalam suntuk), aku pun puasa dan berbuka (tidak puasa dahr), dan aku pun menikahi wanita. Siapa yang membenci sunnahku, mereka bukan dari bagianku”.Diperbolehkan dan ini juga ada dua pendapat di dalamnya, yaitu ada yang mengatakan mustahab seperti madzhab Syafii dan ada yang mengatakan jaiz seperti madzhab Hambali.Intinya kita mengambil pendapat yang dibolehkan namun meskipun demikian selama tidak berpuasa pada hari-hari yang dilarang tetapi ada dua kekurangan yang akan menimpa kepada seseorang yang melakuakan puasa setiap hari. Kekurangan-kekurangan tersebut adalahbisa jadi menyebabkan ia lemah sehingga akan menyulitkan seseorang untuk mencari rezeki buat keluarganya dan juga bisa membuat dia terhalang dari memenuhi kebutuhan biologis istrinya. Betapa banyak kewajiban yang terlalaikan karena menjalankan sunnah yang salah.ia terluput dari keutamaan. Rasulullah bersabda “sebaik-baiknya puasa adalah puasanya Nabi Daud”.Kemudian dalil dari Hadits Abdullah bin amr bin ash radhiallahu’anhuma, kata Abdullah bin amr bin ash, Rasulullah bertemu denganku kemudian rasulullah berkata “bukankah telah disampaikan kepadaku kabar bahwa engkau senantiasa sholat malam, bukankah engkau yang berkata “aku akan sholat malam dan aku senantiasa puasa disiang hari”, Abdullah bin ash menjawab “benar ya Rasulullah, aku telah mengatakan demikian”. Maka rasulullah menasihatinya “jangan sholat semalam suntuk, sholat dan tidurlah dan jangan puasa setiap hari, puasa dan berbukalah. Jika ingin puasa, puasalah 3 hari dalam sebulan karena jika kau puasa sebulan 3 hari, kau seperti puasa setiap hari (setahun penuh) karena kebaikan dilipatgandakan 10x lipat. Orang yang puasa 3 hari seperti puasa sebulan”. Abdullah bin ash berkata “ ya Rasulullah, saya mampu lebih dari 3 hari”. Maka Rasulullah memberi yang lebih tinggi “puasa sehari dan berbukalah 2 hari”. Abdullah bin ash berkata “saya lebih mampu dari itu ya rasulullah”. Kata Rasulullah “jika begitu puasalah seperti puasa Nabi Daud karena itu adalah puasa yang terbaik”. Lalu Abdullah menjawab lagi “aku masih mampu lebih dari itu ya Rasulullah”. Rasulullah berkata “tidak ada yang lebih baik dari puasanya Nabi Daud”.Jika ada yang berkata “telah sampai kepada kami sekelompok dari ulama salaf mereka berpuasa setiap hari, lalu bagaimana sikap kita?”.Jawabannya adalah kata Ibnu Jauzi “mereka itu mampu untuk melaksanakan puasa setiap hari dan juga mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan  bisa jadi banyak diantara mereka tidak memiliki keluarga dan tidak perlu mencari rezeki kemudian diantara mereka juga ada yang melakukannya dipenghujung hayatnya. Meskipun demikian, rasulullah telah bersabda “tidak ada yang lebih afdhol dari puasanya Nabi Daud”.Maka hadits ini sudah jelas menjadi penentu bahwasannya puasa yang paling terbaik adalah puasa Nabi Daud.Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud, beliau puasa sehari dan berbuka sehari”.Ibnu Jauzi mengajarkan kepada kita bahwa meskipun telah datang sebagian salaf ada yang puasa setiap hari tetapi hadits Nabi lebih kita cintai.Ibnu Jauzi menyebutkan bahwa ada orang-orang sebelum kita yang mereka melanjutkan puasa Daud setiap hari padahal makanan mereka kurang bergizi dan sedikit. Sampai dari mereka ada yang buta matanya karena memaksakan diri untuk berpuasa bahkan ada dari mereka yang otaknya menjadi kering. Hal ini adalah termasuk kelalaian dalam memperhatikan kewajiban yang terkait dengan jiwa dan ini memaksa jiwa melakukan sesuatu yang melampaui kemampuannya dan hal seperti ini tidak boleh.Fashal berikutnya adalah fashal tentang samarnya riya (tersembunyi). Ibnu Jauzi berkata bisa jadi terkenalnya seseorang yang berpuasa dahr dikalangan masyarakat dan ia tau bahwa ia terkenal karena suka berpuasa setiap hari. Maka dia tidak pernah berbuka, jika sehari dia berbuka tidak berpuasa ia bersembunyi agar menjaga kepopulerannya dan ini adalah bentuk riya yang samar. Kata Ibnu Jauzi jika ia ingin ikhlas dalam berpuasa, seharusnya ia saat berbuka tidak perlu bersembunyi dan kemudian ia bisa melanjutkan puasanya secara diam-diam dan jangan sekalipun berbicara kepada orang lain tentang puasanya.Di antar mereka ada yang terang-terangan mengumumkan puasanya dengan berkata “hari ini sejak 20 tahun saya belum berbuka” dan setan membuat syubhat dengan menggoda manusia menceritakan ibadahnya  dengan maksud agar menjadi teladan. 

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
M
Melinda Yanuar

📍 Kota Serang

TABLIS IBLIS DALAM HAL IBADAH (MATERI 7)

1. Tipu Daya Iblis dalam Membaca Al-Qur'anA. Membaca Al-Qur'an Terlalu CepatSebagian orang memperbanyak bacaan Al-Qur'an tetapi membacanya dengan sangat cepat, tanpa tartil dan tanpa memahami maknanya.Perbuatan ini bukanlah amalan yang terpuji.B. Membaca untuk Dilihat Orang (Riya')Ada yang membaca Al-Qur'an dengan suara keras dan nyaring di tempat umum agar didengar banyak orang.Tindakan ini dapat mengganggu orang lain dan menumbuhkan riya'.C. Menampakkan Amal kepada Orang LainSebagian orang sengaja membaca Al-Qur'an ketika banyak orang berkumpul agar diketahui telah mengkhatamkannya.Ulama salaf justru menyembunyikan ibadah mereka.Ar-Rabi' bin Khutsaim menutupi mushafnya ketika ada orang datang.Imam Ahmad bin Hanbal banyak membaca Al-Qur'an, tetapi tidak diketahui kapan beliau mengkhatamkannya.Pelajaran: Ibadah yang lebih dekat kepada keikhlasan adalah ibadah yang tidak dipamerkan kepada manusia.2. Tipu Daya Iblis dalam Model Puasa MerekaA. Berpuasa Terus-Menerus Secara BerlebihanPenulis menjelaskan bahwa sebagian orang menghiasi dirinya dengan puasa yang terus-menerus sehingga menimbulkan dua dampak buruk:Dampak PertamaMelemahkan tubuh.Mengurangi kemampuan bekerja dan menunaikan kewajiban terhadap keluarga.Bisa menyebabkan seseorang lalai memenuhi hak istri dan keluarga.Rasulullah ﷺ bersabda:"Sesungguhnya istrimu mempunyai hak yang harus kamu tunaikan."Dampak KeduaMeninggalkan amalan yang lebih utama.Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa puasa terbaik adalah puasa Nabi Dawud, yaitu:Berpuasa sehari.Berbuka sehari.Ketika Abdullah bin Amr ingin melakukan ibadah lebih berat lagi, Rasulullah ﷺ tetap menegaskan bahwa tidak ada puasa yang lebih utama daripada puasa Nabi Dawud.Pelajaran: Islam mengajarkan keseimbangan dan tidak menyukai sikap berlebihan dalam ibadah.3. Tipu Daya Iblis dalam Niat PuasaA. Menjaga Reputasi sebagai Ahli PuasaAda orang yang berpuasa terus-menerus.Ketika orang lain mengetahui puasanya, ia tetap melanjutkan agar tetap dipandang sebagai ahli ibadah.Bahkan ketika berbuka, ia menyembunyikannya agar citranya tidak rusak.Ini termasuk riya' yang tersembunyi.B. Menceritakan Amal PuasaSebagian orang sengaja menceritakan lamanya ia berpuasa kepada orang lain.Tujuannya agar dijadikan teladan dan mendapatkan pujian.Sufyan Ats-Tsauri berkata bahwa setan terus menggoda seorang hamba hingga amal yang awalnya tersembunyi akhirnya menjadi amal yang dipamerkan.C. Memberi Isyarat Bahwa Sedang BerpuasaKetika diundang makan, ia berkata:"Hari ini Kamis."Maksud sebenarnya adalah memberitahu bahwa ia sedang berpuasa.D. Merasa Lebih Mulia dari Orang LainAda yang memandang rendah orang yang tidak berpuasa.Ia merasa lebih baik karena sedang menjalankan ibadah.E. Puasa Tanpa Menjaga Diri dari MaksiatTetap melakukan ghibah.Tetap melihat yang haram.Tetap berbicara berlebihan dan melakukan dosa lainnya.Ia mengira puasanya dapat menutupi semua kesalahan tersebut.Pelajaran: Nilai puasa tidak hanya terletak pada menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga hati, lisan, pandangan, dan keikhlasan.Intisari UtamaIblis dapat menipu seseorang melalui ibadah yang tampak baik.Membaca Al-Qur'an dan berpuasa harus dilakukan dengan ikhlas, bukan untuk dipuji manusia.Sikap berlebihan dalam ibadah dapat menyebabkan kelalaian terhadap kewajiban lain.Amal yang disembunyikan lebih dekat kepada keikhlasan.Tujuan ibadah bukan sekadar banyaknya amal, tetapi diterimanya amal di sisi Allah.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Materi 7

TALBIS IBLISMateri #7: Talbis Iblis kepada Ahli Ibadah (bag. 3)Ust. Dr. Firanda Andirja, MA ​Talbis Iblis: Menyibukkan Diri dengan Hal yang Tidak Utama​Imam Ibnu Jauzi rahimahullahu ta’ala menjelaskan bahwa setan menggoda banyak ahli ibadah dengan membuat mereka sibuk melakukan ibadah-ibadah lahiriah yang sunah, namun melalaikan perbaikan batin. Banyak orang rajin salat malam dan salat sunah di siang hari, tetapi mereka tidak peduli dengan penyakit hati seperti sombong, hasad, atau riya yang bersarang di dalam batin mereka. Padahal, memperbaiki hati dan memperhatikan kehalalan sumber makanan yang dikonsumsi jauh lebih utama daripada sekadar memperbanyak salat sunah. Iblis menipu mereka agar merasa sudah cukup dengan ibadah fisik, sementara kualitas batin dan sumber nafkah yang menjadi pondasi keberkahan ibadah justru terabaikan.​Talbis Iblis dalam Membaca Al-Qur'an​Setan juga menggoda para ahli ibadah dalam membaca Al-Qur'an dengan menjebak mereka dalam kuantitas tanpa kualitas. Mereka membaca Al-Qur'an dengan metode hazran (membaca sangat cepat) demi mencapai target khatam dalam waktu singkat, namun mengabaikan tartil dan tadabur.​Pentingnya Tadabur: Tujuan utama membaca Al-Qur'an bukanlah sekadar target juz, melainkan untuk dipahami (tadabur) agar keimanan bertambah dan amal saleh menjadi lebih mudah dilakukan.​Hadits tentang Membaca Al-Qur'an: Rasulullah ﷺ bersabda mengenai pahala membaca Al-Qur'an: "Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, melainkan Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf." Setiap huruf yang dibaca bernilai sepuluh kebaikan.​Larangan Terburu-buru: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah paham (tidak mengerti) orang yang mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari tiga hari." Hadits ini menjadi pengingat bahwa tujuan bacaan adalah pemahaman, bukan sekadar kecepatan khatam.​Peringatan bagi yang Tidak Mentadaburi: Nabi ﷺ pernah mencela orang Khawarij karena bacaan Al-Qur'an mereka "la yujawizu taraqiahum" (tidak melewati tenggorokan mereka), artinya Al-Qur'an hanya sampai di lisan, tidak masuk ke dalam hati karena mereka tidak mentadaburinya.​Nasihat Abdullah bin Mas'ud: Beliau berpesan agar tidak menjadikan khatamnya Al-Qur'an sebagai tujuan akhir, melainkan hendaknya seseorang berhenti pada ayat-ayat yang membuatnya merenung (tadabur) sehingga Al-Qur'an dapat menggetarkan hatinya.​Riya dalam Membaca Al-Qur'an​Iblis juga menipu ahli ibadah agar melakukan ibadah dengan cara yang membuka pintu riya (pamer) atau mengganggu orang lain. Dahulu, ada orang-orang yang membaca Al-Qur'an dengan suara keras di menara masjid pada malam hari. Hal ini dianggap sebagai kesalahan karena dua hal: mengganggu orang yang sedang tidur/beribadah dan memaparkan diri pada godaan riya agar dipuji suaranya.​Sikap ini mencerminkan kegagalan dalam menjaga keikhlasan. Ibadah yang dilakukan di hadapan orang lain rentan tidak ikhlas.​Contoh lain adalah ketika seseorang mengumumkan bahwa ia telah khatam Al-Qur'an di depan banyak orang, di mana hal ini justru menjauhkan seseorang dari metode Salafus Shalih yang senantiasa menyembunyikan ibadah mereka.​Talbis Iblis dalam Ibadah Puasa​Dalam hal puasa, setan menggoda seseorang untuk melakukan puasa secara berlebihan (puasa dahar atau puasa setiap hari) hingga melalaikan kewajiban-kewajiban lainnya. Ada perdebatan di kalangan ulama mengenai hukum puasa setiap hari (selain hari yang diharamkan), namun yang paling utama adalah mengikuti petunjuk Nabi ﷺ yang seimbang.​Kisah Tiga Orang Sahabat: Ketika ada tiga orang yang berniat untuk salat malam terus-menerus, puasa setiap hari tanpa berbuka, dan tidak menikah, Rasulullah ﷺ menegur mereka dengan keras: "Aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah ﷻ, namun aku salat dan tidur, aku puasa dan berbuka, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunahku, maka ia bukan dari golonganku."​Hak Keluarga: Beribadah ekstrem hingga membuat seseorang lemah dalam mencari nafkah atau tidak mampu memenuhi hak biologis istri adalah bentuk kesalahan. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya istrimu punya hak yang harus kau tunaikan."​Puasa Terbaik: Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa puasa yang paling dicintai Allah ﷻ adalah puasa Nabi Daud عليه السلام: "Puasa sehari dan berbuka sehari."​Bahaya Berlebihan: Jika seseorang memaksakan diri berpuasa hingga kesehatannya rusak (seperti kasus mata yang buta atau tubuh yang lemah) karena kurang gizi, maka hal itu tidak diperbolehkan karena merupakan bentuk menyiksa diri dan melalaikan kewajiban.​Riya yang Tersembunyi (Khafiyur Riya)​Iblis sangat lihai menyusupkan riya melalui cara-cara yang samar. Seseorang yang telah dikenal masyarakat sebagai ahli puasa, mungkin akan merasa malu jika suatu hari ia tidak berpuasa (misalnya karena sakit). Akhirnya, ia akan menyembunyikan saat ia berbuka agar citranya tidak jatuh.​Penyakit "Pencitraan": Setan membisikkan bahwa menceritakan ibadah akan menjadi teladan bagi orang lain. Padahal, jika tujuannya agar dihormati atau dikenal sebagai teladan, maka niat itu sudah terkontaminasi riya.​Nasihat untuk Sembunyikan Amal: Abu Hazim berkata: "Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana kamu menyembunyikan dosa-dosamu."​Perbandingan Pahala: Pahala amal yang tersembunyi jauh lebih besar daripada amal yang dipamerkan atau diperlihatkan. Ketika seseorang mempublikasikan amalannya dengan alasan ingin dicontoh, ia berisiko memindahkan pahalanya dari derajat yang tinggi ke derajat yang lebih rendah.​Sikap Menghina Orang Lain: Setan juga menggoda orang yang berpuasa untuk merasa lebih baik daripada orang lain dan menghina mereka yang tidak berpuasa. Padahal, bisa jadi orang yang tidak berpuasa tersebut memiliki amalan lain yang lebih besar, seperti berbakti kepada orang tua atau tidak memiliki sifat pelit.​Kesimpulan Akhir:Iblis tidak pernah berhenti mencari celah untuk menghancurkan amal ibadah seseorang. Oleh karena itu, setiap mukmin harus waspada, senantiasa memperbaiki niat, dan kembali pada petunjuk Rasulullah ﷺ. Jangan sibuk mencari pujian manusia atau terobsesi dengan penilaian orang lain, karena pada akhirnya setiap manusia akan menghadap Allah ﷻ sendirian. Fokuslah agar ibadah diterima di sisi Allah ﷻ, bukan di mata manusia.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
F
Fatimah Azzahrah

📍 Kabupaten Banggai

Talbis iblis terhadap ahli ilmu 3

Ustadz Dr. Firanda Andirja, lc. M.A            TALBIS IBLIS#Talbis iblis terhadap ahli ilmu bagian 3‌sibuk dengan yang tidak utama sehingga meninggalkan yang utama.Syaitan telah menggoda banyak dari ahli ibadah, mereka banyak sholat sunnah di malam hari, sholat sunnah di siang hari, tetapi mereka tdk perhatian terhadap perbaikan batin dan juga tdk memperhatikan apa yang mereka makan. Padahal memperbaiki penyakit² batin dan juga perhatian terhadap halalnya apa yang di makan itu lebih utama daripada memperbanyak sholat² sunnah. ‌Godaan syaitan terhadapa ahli ibadah dalam membaca Al qur'anSyaitan telah menggoda suatu kaum dengan memperbanyak tilawah qur'an, tetapi mereka mebaca qur'an dengan cepat, tanpa mentartil.Rasulullah telah bersabda "Orang  yang membaca qur'an dan khatam kurang dari tiga hari, maka ia tdk faham Al qur'an".Ibnu Rajab bin Hambali menyebutkan dalam kitabnya " Keutamaan di bulan ramadhan" bahwasanya larangan Nabi untuk menghatamkan qur'an kurang dari 3 hari hanya berlaku di luar bulan Ramadhan, adapun pada bulan Ramadhan sebagian salaf menghatamkan qur'an sehari sekali. "Hendaknya seseorang ketika membaca Al qur'an niatnya untuk mentadabburi".Fudhail bin Iyadh pernah berkata "Sesungguhnya Al qur'an itu di turungkan untuk di amalkan". dan untuk di amalkan harus di tadabburSebagian orang hanya membatasi mengamalkan Al qur'an hanya membacanya saja, padahal belum karena membaca itu tahapan awal mengamalkan qur'an, tahapan kedua tadabbur Al qur'an, dan tahapan ketiga mengamalkan Al qur'an. Syaitan juga menggoda sebagian dari ahli ibadah dengan mereka membaca Al qur'an untuk di liat atau di dengar orang lain. "Sunnah yang terbaik adalah sunnah nabi dan sunnah para sahabat""Sebaik² petunjuk adalah petunjuk nabi صلى الله عليه وسلم"Ibnul Jauzi berkata " Diantara perkara yang pernah aku lihat ada seseorang mengimami sholat shubuh pada hari Jum'at, setelah sholat di depan para jama'ah  ia membaca Al mu'awwizatain kemudian ia baca dengan doa khatam qur'an, agar orang² tahu bahwasanya dia telah mengkhatamkan qur'an. Ini bukan cara salaf, adapun para salaf dahulu menyembunyikan amalan mereka. Rabi' bin khutsaim (seorang tabi'in) seluruh amalanya tersembunyi. Ahmad bin hambal sering membaca Al qur'an dan tdk di ketahui kapan ia mengkhatamkan Al qur'an. ‌Godaan syaitan terhadap ahli ibadah dalam berpuasa. Syaitan menggoda sebagian orang yang berpuasa terus menerus, dan itu hukumnya boleh jika tdk berpuasa pada hari² yang di haramkan. Tingkatan puasa sunnah1. Puasa sehari berbuka sehari (puasa Daud). tdk ada yang lebih afdhal dari puasa daud2. Puasa sehari berbuka dua hari3. Puasa ad dahr (puasa setiap hari selain hari yang di haramkan) Hukumnya ada dua pendapat para ulama- tdk di anjurkan (dua pendapat) 1. Haram 2. Makruh- di bolehkan (dua pendapat) 1. Mustahab (Mazhab Syafi'i2. Jaiz (Mazhab hambali) Ada dua kekurang yang akan menimpa seseorang yang melakukan setiap hari- bisa jadi penyebab lemah untuk mencari nafkah buat keluarganya- terhalang untuk memenuhi kebutuhan biologis istrinyaDalam shahihain Rasulullah bersabda "sesungguhnya istermu punya gk yang harus di tunaikan, betapa banyak kewajiban yang terkalahkan karena menjalankan sunnah yang salah".samarnya riya'Memaksakan diri beramal agar tdk hilang pujian dari orang lain. Di antara mereka ada yang riya dengan mengabarkan puasanya. Syubhat syiatan "kabarkan ibadahmu supaya engkau di hormati""Allah lebih tahu tentang hati seseorang"Abu Hazim berkata "Sembunyikanlah kebaikan² mu sebagaimana Engkau sembunyikan dosa² mu".Sufyan atsauri berkata "Sunggu seorang hamba melakukan amal ibadah dalam kesendiriannya (tdk ada yang tahu), maka syaitan menggodanya  sampai akhirnya dia beritakan, maka pahalanya berkurang dari pahala amal yang tersembunyi turun menjadi pahala amal yang terlihat".Para salaf terdahulu bersusah payah untuk menyembunyikan amal sholehnya, tapi di zaman ini orang bersusah payah untuk mempublis amal sholehnya. Diantara mereka ada yang selalu puasa senin Kamis, ketika di ajak makan mereka berkata "ini hari apa?" Atau "ini hari Kamis". Lebih baik mengatakan "saya puasa". Diantara mereka ada yang berpuasa tapi tdk peduli berbuka dengan makanan yang syubhat atau haram. Diantara mereka ada yang puasa tetapi ghibah. Diantara mereka ada yang puasa tetapi nonton yang haramDiantara mereka ada yang puasa tetapi ngomong terus (ngoceh terus) "Iblis telang menggoda dengan menggambarkan klw puasa semua dosa di hilangkan".

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
W
Wina

📍 Kabupaten Bogor

Talbis Iblis #7: Talbis Iblis kepada Ahli Ibadah (Bag-3)

Catatan Kajian Kitab Talbis Iblis — Bab 8 (Bag 3)Pemateri: Ust. Dr. Firanda Andirja, M.A. Tema: Rincian Tipu Daya Iblis terhadap Ahli Ibadah (Dzikru Talbisi Iblisa 'ala al-'Ubbad)I. Sibuk dengan Amalan Lahiriah, Melalaikan Perbaikan Batin & Kehalalan MakananAl-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu ta'ala menjelaskan sebuah sub-bab penting yang berjudul Faslun fi Al-Insyighal bil-Mafdhal 'anil-Afdhal (Bab tentang menyibukkan diri dengan amalan yang kurang utama sehingga mengorbankan amalan yang jauh lebih utama).Setan banyak menggelincirkan ahli ibadah dengan cara membuat mereka sangat rajin mendirikan shalat sunnah siang dan malam, namun batin mereka kosong dari upaya perbaikan hati. Mereka membiarkan batinnya dipenuhi oleh berbagai aib dan penyakit hati (seperti hasad, ujub, dan riya). Selain itu, mereka juga kurang memperhatikan kehalalan makanan yang masuk ke dalam perut mereka.Kaidah Utama: > Mengobati penyakit batin agar hati menjadi bersih serta sangat ketat dalam menjaga kehalalan sumber makanan, kedudukannya jauh lebih utama di sisi Allah daripada sekadar memperbanyak kuantitas shalat sunnah lahiriah namun mengabaikan kondisi batin.II. Talbis Iblis dalam Membaca Al-Qur'an: Kuantitas vs Kualitas TadabburIblis menyusup kepada para pembaca Al-Qur'an melalui metode membaca yang salah, yaitu membaca dengan metode hadz (membaca secara sangat cepat dan terburu-buru) demi mengejar target khatam berjuz-juz tanpa memedulikan tartil.A. Meluruskan Riwayat Khatam Kilat Para SalafMemang benar terdapat riwayat otentik bahwa sebagian ulama salaf mampu mengkhatamkan Al-Qur'an dalam waktu satu hari, bahkan ada yang mengkhatamkannya hanya dalam satu rakaat shalat (seperti yang dinukil dari Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu dan Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah).Namun, Ibnul Jauzi memberikan dua catatan penting terkait fenomena ini:Perbuatan tersebut statusnya adalah perkara langka (nadir), bukan sebuah kebiasaan harian (dawam) yang mereka lakukan sepanjang tahun.Membaca Al-Qur'an dengan tartil, tenang, dan perlahan tetap merupakan metode yang jauh lebih dicintai dan diutamakan oleh mayoritas ulama.Nabi ﷺ telah memberikan batasan yang tegas melalui sabdanya:"Tidak akan paham (tidak akan fakih) seseorang yang membaca (mengkhatamkan) Al-Qur'an kurang dari tiga hari."Ibnu Rajab Al-Hambali menjelaskan bahwa larangan mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari tiga hari ini berlaku untuk hari-hari biasa di luar bulan Ramadan. Adapun di dalam bulan Ramadan, sebagian salaf (seperti Al-Imam Asy-Syafi'i yang mengkhatamkannya dua kali sehari) memang sengaja menaikkan kuantitas bacaan karena kemuliaan waktu. Namun, perlu diingat bahwa tingkat kefasihan dan pemahaman ulama sekelas Imam Syafi'i sangat luar biasa; saat beliau membaca, seluruh perangkat ilmu tafsir otomatis telah terbayang di benaknya, sangat berbeda dengan kondisi orang awam yang membaca cepat tanpa memahami maknanya sama sekali.B. Lima Niat Utama Saat Membaca Al-Qur'anAgar aktivitas membaca Al-Qur'an kita berkualitas dan bernilai tinggi di sisi Allah, para ulama menyarankan agar kita mengumpulkan beberapa niat sekaligus dalam hati:Niat Tilawah: Mengharap pahala dari setiap huruf yang diucapkan (1 huruf = 10 kebaikan. Alif Lam Mim bukan satu huruf, melainkan tiga huruf yang bernilai 30 kebaikan).Niat Tadabbur: Membaca dengan tujuan memahami isi kandungan ayat untuk meningkatkan keimanan.Niat Meraih Rahmat Allah: Melalui wasilah membaca kalam-Nya.Niat Mencari Petunjuk (Hidayah): Agar Allah membimbing jalan hidup kita.Niat Ruqyah Syar'iyyah: Meniatkan bacaan sebagai obat penyembuh bagi penyakit fisik maupun psikis diri sendiri.C. Tahapan Mengamalkan Al-Qur'anFudhail bin 'Iyadh rahimahullah pernah memberikan kritikan yang sangat tajam:"Sesungguhnya Al-Qur'an ini diturunkan oleh Allah untuk diamalkan. Namun, banyak manusia yang salah paham dan membatasi esensi 'mengamalkan Al-Qur'an' hanya sebatas dengan membacanya saja."Membaca barulah tahapan awal. Tahapan yang benar dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an adalah:Membaca (Tilawah) —----> Merenungkan (Tadabbur) --------> Mengamalkan (Amal)Nabi ﷺ mencela kaum Khawarij karena mereka sangat rajin membaca Al-Qur'an, namun bacaan tersebut tidak melewati tulang selangka mereka (la yujawizu taraqiyahum), artinya hanya berhenti di lisan dan tidak pernah masuk meresap ke dalam hati menjadi amal.Sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu juga melarang keras target membaca yang hanya berorientasi pada kecepatan:"Janganlah fokus pikiranmu saat membaca Al-Qur'an hanya tertuju pada kapan akhir surah ini selesai. Akan tetapi, berhentilah pada setiap keajaiban makna Al-Qur'an, gerakkan dan getarkan hatimu dengannya."III. Fenomena Membaca Al-Qur'an dengan Suara Kencang di Masjid & MenaraIbnul Jauzi menyoroti kesalahan sekelompok ahli baca Al-Qur'an (qari') pada zamannya yang sengaja berkumpul di atas menara-menara masjid pada malam hari, lalu membaca Al-Qur'an satu sampai dua juz dengan suara yang sangat keras dan bersahut-sahutan.Menurut beliau, perbuatan ini mengumpulkan dua jenis kesalahan fatal:Mengganggu Hak Orang Lain: Suara keras tersebut mengganggu waktu istirahat orang yang sedang tidur, mengganggu orang yang sedang sakit, serta mengacaukan kekhusyukan orang lain yang sedang mendirikan shalat tahajjud atau berdoa secara rahasia di sepertiga malam terakhir.Celah Riya yang Sangat Besar: Sangat sulit bagi hati manusia untuk tetap menjaga keikhlasan ketika ia sengaja memamerkan keindahan suaranya menggunakan pengeras suara di tengah keheningan malam saat semua orang terjaga.Analogi Kontemporer & Sunnah Nabi ﷺFenomena kuno ini sama persis dengan praktik di beberapa tempat di era modern, di mana pengeras suara masjid dinyalakan secara keras satu hingga dua jam sebelum subuh untuk memutar kaset murattal. Tindakan ini justru bisa mendatangkan dosa karena mengganggu ketenteraman masyarakat.Begitu pula dengan tindakan membaca Al-Qur'an atau berzikir dengan suara keras di dalam masjid setelah azan dikumandangkan. Hal ini mengganggu jemaah lain yang ingin mendirikan shalat sunnah rawatib atau ingin berdoa secara khusyuk.Sunnah terbaik adalah sunnah Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Abdullah bin Mas'ud berkata: "Ikutilah petunjuk yang sudah ada dan jangan membuat-buat perkara baru, karena sesungguhnya syariat ini telah mencukupi kalian." Sebuah kaidah fikih menyatakan bahwa tidaklah sebuah bid'ah (perkara baru yang dianggap ibadah) itu dimunculkan, melainkan ada amalan sunnah asli yang dikorbankan dan ditumbalkan darinya.IV. Pamer Khatam Al-Qur'an di Depan JemaahIbnul Jauzi menceritakan sebuah perkara aneh yang beliau saksikan sendiri: Ada seorang imam shalat subuh pada hari Jumat, yang setelah mengucapkan salam, ia sengaja duduk di depan jemaah lalu membaca surah Al-Mu'awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) diikuti dengan doa khatam Al-Qur'an dengan suara keras. Tujuan tersembunyinya tidak lain adalah untuk mengumumkan secara tidak langsung kepada khalayak ramai bahwa ia baru saja mengkhatamkan Al-Qur'an.Ini sama sekali bukan metode generasi Salaf. Para salaf dahulu sangat ketat dalam menyembunyikan amalan mereka:Jika salah seorang dari mereka sedang membaca mushaf di rumahnya lalu mendadak ada orang lain masuk, ia akan segera menutup mushafnya dengan bajunya agar orang tersebut tidak tahu bahwa ia sedang beribadah.Al-Imam Ahmad bin Hanbal sangat sering mengkhatamkan Al-Qur'an secara rutin, namun tidak ada satu pun murid atau orang terdekatnya yang tahu kapan pastinya beliau mengkhatamkan Al-Qur'an tersebut karena beliau sangat rapi menyembunyikannya.Riya adalah senjata Iblis yang paling ampuh untuk menggugurkan pahala amal yang telah dibangun dengan susah payah selama berminggu-minggu.V. Talbis Iblis dalam Ibadah Puasa: Kritik terhadap Puasa DaharIblis menggoda sebagian ahli ibadah untuk melakukan Puasa Dahar, yaitu berpuasa setiap hari sepanjang tahun secara terus-menerus, dengan hanya mengecualikan 5 hari yang diharamkan (dua hari raya 'Id dan tiga hari Tasyrik).A. Silang Pendapat Ulama mengenai Puasa DaharPara ulama berbeda pendapat mengenai hukum puasa setiap hari sepanjang tahun ini:Pendapat Pertama (Tidak Dianjurkan): Menyatakan hukumnya antara Haram (pendapat Ibnu Hazm) atau Makruh (pendapat mazhab Hanafiyah dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).Pendapat Kedua (Diperbolehkan): Menyatakan hukumnya antara Mustahab/Dianjurkan (pendapat sebagian madzhab Syafi'iyah) atau Jaiz/Boleh (pendapat madzhab Hambali).B. Dua Kekurangan Besar Puasa Dahar menurut Ibnul JauziIbnul Jauzi menegaskan bahwa sekalipun kita mengambil pendapat yang membolehkan, puasa setiap hari tetap mendatangkan dua dampak buruk yang nyata bagi pelakunya:Melemahkan Fisik dari Kewajiban Utama: Puasa tanpa jeda akan membuat tubuh menjadi lemas, sehingga melalaikan kewajiban mencari nafkah untuk keluarga (padahal mencari nafkah bernilai jihad). Tubuh yang lemas juga membuat seorang suami tidak mampu memenuhi hak biologis istrinya. Ini adalah kesalahan fatal: melalaikan kewajiban demi mengejar amalan sunnah.Terluput dari Pahala Puasa Terbaik (Puasa Daud): Nabi ﷺ telah membatasi puncak keutamaan puasa sunnah hanya pada puasa Nabi Daud alaihis salam (sehari berpuasa, sehari berbuka). Nabi ﷺ bersabda kepada Abdullah bin Amr bin Al-'Ash: "Tidak ada puasa yang lebih utama daripada puasa Daud."Nabi ﷺ juga menegur keras tiga orang yang mendatangi rumah istri beliau, di mana salah satunya bertekad ingin berpuasa setiap hari tanpa putus. Nabi ﷺ bersabda dengan marah:"Aku adalah orang yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah di antara kalian, namun aku berpuasa dan aku juga berbuka, aku shalat dan aku juga tidur, dan aku pun menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan dari golonganku."Adapun riwayat tentang adanya sebagian kecil ulama salaf yang melakukan puasa setiap hari, hal itu dikarenakan fisik mereka telah terlatih secara bertahap (tadarruj), dibantu dengan tidur siang (qailulah), porsi makan yang sedikit, serta banyak di antara mereka yang hidup melajang (tidak memiliki tanggungan nafkah keluarga). Namun, sabda Nabi ﷺ tetap menjadi pemutus perkara (faisal) bahwa tidak ada yang lebih utama dari puasa Daud. Memaksakan diri puasa hingga mata menjadi buta atau organ tubuh menjadi rusak akibat kekurangan gizi adalah perbuatan yang diharamkan dalam Islam.VI. Penyakit Riya yang Samar (Khofiyyur Riya') dalam Ibadah PuasaIblis memiliki taktik yang sangat halus untuk merusak pahala puasa seseorang melalui penyakit Khofiyyur Riya' (riya yang tersamar).A. Menyembunyikan "Berbuka" demi PopularitasAda orang yang sudah terlanjur terkenal di masyarakat sebagai ahli puasa setiap hari. Suatu hari, ia mengalami sakit atau safar sehingga terpaksa tidak berpuasa (berbuka). Namun, karena takut popularitas dan kedudukannya sebagai "ahli ibadah" turun di mata manusia, ia sengaja menyembunyikan aktivitas berbukanya dan berpura-pura tetap berpuasa di depan publik.Solusi Keikhlasan dari Ibnul Jauzi: > Jika seseorang benar-benar ingin menjaga keikhlasannya, justru pada saat ia sedang berbuka (tidak puasa), ia harus sengaja menampakkan aktivitas makannya di hadapan orang-orang yang mengiranya selalu berpuasa. Hal itu dilakukan untuk meruntuhkan pandangan kekaguman manusia kepada dirinya, baru setelah itu ia boleh melanjutkan puasa sunnahnya secara rahasia tanpa perlu bercerita kepada siapa pun.B. Ujaran Riya Berkedok NasihatIblis membisikkan syubhat kepada seseorang untuk memamerkan durasi ibadahnya dengan dalih agar dicontoh oleh orang lain. Orang tersebut berkata: "Alhamdulillah, semenjak 20 tahun yang lalu hingga hari ini, saya tidak pernah absen dari berpuasa setiap hari." Niat batinnya yang asli sering kali adalah ingin dihormati dan dikagumi.Ulama salaf, Abu Hazim, memberikan penawar bagi penyakit ini:"Sembunyikanlah amalan-amalan kebaikanmu dengan rapat, sebagaimana engkau menyembunyikan dosa-dosa dan maksiatmu dari pandangan manusia."Bahkan sekalipun seseorang berniat ikhlas tanpa riya saat ibadahnya dipublikasikan (seperti maraknya fenomena saat ini di mana murid-murid memvideokan aktivitas sedekah subuh atau shalat duha ustaznya untuk konten), pahala amalan tersebut tetap akan berkurang. Pahalanya akan diturunkan oleh Allah dari derajat pahala amalan rahasia (Diwanus Sirr) menjadi derajat pahala amalan terang-terangan (Diwanul 'Alaniyah), padahal amalan yang tersembunyi nilainya jauh lebih besar di sisi Allah.C. Sindiran Halus Puasa Senin-KamisIblis menggoda orang yang rajin puasa Senin-Kamis melalui gaya bahasa yang satir. Ketika ia diajak makan bersama oleh teman-temannya pada hari Kamis, ia tidak langsung berkata "Saya sedang puasa", melainkan ia berkelit dengan kalimat halus: "Wah, maaf, ini sekarang hari apa ya? Hari Kamis, kan?" Kalimat tersirat ini sengaja diucapkan agar orang lain menyimpulkan bahwa ia memiliki rutinitas mulia selalu berpuasa setiap hari Kamis. Menurut Ibnul Jauzi, kalimat ini adalah bentuk pamer terselubung. Jauh lebih selamat dan jujur jika ia langsung berkata: "Mohon maaf, saya sedang berpuasa," tanpa perlu membawa-bawa nama hari untuk memamerkan kebiasaan sunnahnya.D. Penyakit Pendukung Ahli PuasaAda dua perangkap Iblis lainnya yang sering menjangkiti ahli puasa:Memandang Rendah Orang Lain: Merasa diri lebih suci lalu meremehkan orang yang tidak berpuasa sunnah. Padahal, orang yang tidak puasa tersebut bisa jadi memiliki amalan andalan lain yang lebih hebat, seperti sangat berbakti kepada orang tuanya atau memiliki sifat dermawan, sedangkan si ahli puasa justru memiliki sifat pelit.Puasa Fisik tapi Maksiat Jalan Terus: Berpuasa di siang hari, namun saat berbuka mereka tidak peduli dengan kehalalan makanannya (memakan makanan syubhat/haram). Mereka juga membiarkan lisannya terus melakukan ghibah, serta matanya terus menonton tayangan maksiat dan aurat yang terbuka. Mereka tertipu oleh talbis Iblis yang mengesankan bahwa pahala puasa otomatis akan menghapus seluruh dosa tersebut tanpa perlu menjaga anggota tubuh.VII. Talbis Iblis dalam Urusan Tangisan IbadahPintu terakhir yang dibahas dalam sesi ini adalah air mata. Seseorang yang menangis di dalam shalat atau majelis di depan publik, jika ia sebenarnya mampu menahan air matanya namun sengaja melepaskannya agar terlihat khusyuk, maka ia telah terpapar penyakit riya.Para ulama salaf adalah contoh terbaik dalam urusan menyembunyikan tangisan:Abu Wa'il apabila shalat sendirian di dalam rumahnya akan menangis tersedu-sedu dengan suara yang keras. Namun, jika ia ditawarkan seluruh harta dunia agar ia mau mengeluarkan satu tetes air mata di hadapan manusia, ia tidak akan pernah sudi melakukannya.Ayyub As-Sikhtiyani apabila sedang menyampaikan hadis lalu hatinya bergetar dan air matanya hendak keluar, ia akan segera mengusap wajahnya dengan tisu atau kain seraya berpura-pura batuk atau bersin, lalu berkata kepada murid-muridnya: "Aduh, maaf, penyakit flu/pilek saya hari ini sedang parah sekali." Beliau rela berbohong dituduh sakit flu demi menyelamatkan air mata ikhlasnya dari penyakit riya.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →