Manfaat Do’a dan Dzikir
Dzikir kpd Allah bisa memudahkan kesulitan dan meringankan beban beratDzikir kpd Allah bisa menyingkirkan sgl ketakutan dalam hati hamba,hingga mendatangkan rasa aman didalam hatinya
Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind
Dzikir kpd Allah bisa memudahkan kesulitan dan meringankan beban beratDzikir kpd Allah bisa menyingkirkan sgl ketakutan dalam hati hamba,hingga mendatangkan rasa aman didalam hatinya
Mencela Dan Melaknat (Part 1)Mencela, mencaci maki, dan melaknat merupakan ucapan yang tidak memiliki manfaat, bahkan dapat menjadi dosa yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.Allah Ta‘ala melarang menyakiti kaum mukminin dengan perkataan maupun perbuatan. Allah berfirman:“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”(QS. Al-Ahzab: 58)Rasulullah ﷺ juga bersabda:“Mencela seorang Muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari dan Muslim)Fasik berarti keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Adapun kekufuran dalam hadis tersebut berkaitan dengan memerangi seorang Muslim dan tidak serta-merta berarti seseorang keluar dari Islam hanya karena melakukan perbuatan tersebut.Orang yang gemar mencela juga digambarkan dengan celaan yang sangat keras. Rasulullah ﷺ bersabda:“Dua orang yang saling mencaci adalah dua setan yang saling mencaci dan saling berdusta.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)Seorang mukmin sejati bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, atau menyakiti orang lain dengan lisannya.Terlebih ketika sedang marah. Ketika emosi tidak terkendali, seseorang bisa mengucapkan laknat kepada manusia, hewan, benda, atau sesuatu yang sebenarnya tidak berhak dilaknat.Ini bukan perkara sepele. Laknat adalah ucapan yang mengandung doa agar seseorang dijauhkan dari rahmat Allah. Karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati terhadap lisannya.Rasulullah ﷺ bersabda:“Orang yang suka melaknat tidak akan menjadi pemberi syafaat dan tidak pula menjadi saksi pada hari kiamat.”(HR. Muslim)Lebih mengerikan lagi, apabila seseorang melaknat orang yang tidak berhak mendapat laknat, maka laknat tersebut dapat kembali kepada orang yang mengucapkannya.Karena itu, ketika marah, jangan biarkan lisan mengambil alih kendali hati. Jangan sampai beberapa detik kemarahan membuat kita mengucapkan kalimat yang justru menjadi keburukan bagi diri sendiri.MuhasabahBerapa kali lisan kita mencela ketika marah?Berapa kali kita melaknat tanpa berpikir?Jangan merasa ringan dengan dosa lisan hanya karena tidak meninggalkan luka yang terlihat.Ada luka yang tidak terlihat oleh mata, tetapi tercatat di sisi Allah.Jaga lisan sebelum ucapan menjadi penyesalan yang tidak bisa ditarik kembali.
Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 14وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا ۖ وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَArtinya:“Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, ‘Kami telah beriman.’ Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.’”Ayat ini menjelaskan sifat orang-orang munafik. Ketika bertemu dengan kaum Muslimin, mereka mengaku beriman. Namun ketika kembali kepada kelompok mereka sendiri, mereka justru menunjukkan bahwa mereka tidak beriman dan mengatakan bahwa perkataan mereka kepada kaum Muslimin hanyalah olok-olok.Siapakah yang dimaksud dengan “setan-setan mereka”?Menurut Ibnu Katsir, yang dimaksud adalah para pembesar dan pemimpin mereka, yaitu dari kalangan pembesar kaum musyrikin dan pembesar dari kalangan orang-orang munafik.Maka, orang-orang munafik itu bersikap bermuka dua:Ketika bertemu orang-orang beriman, mereka berkata, “Kami beriman.”Namun ketika mereka kembali kepada para pemimpin dan pembesar mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kalian. Kami hanya mengolok-olok orang-orang beriman.”Mereka tidak benar-benar beriman. Mereka hanya menampakkan keislaman di hadapan kaum Muslimin, sementara di balik itu mereka tetap bersama orang-orang yang menentang kebenaran.Pelajaran penting:Jangan sampai lisan kita menampakkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang ada di dalam hati. Ayat ini mengingatkan betapa berbahayanya kemunafikan dan mempermainkan agama, karena seseorang dapat terlihat bersama orang-orang beriman, tetapi hatinya justru berpihak kepada kebatilan.
1/2 juz 11 dan surah al A'raf ayat 186
Rawat dan didiklah anak dengan ketulusan hati dan niat yang ikhlas, semata-mata mengharap keridhaan Allah.Canangkan niat demi Allah semata pada seluruh aktivitas edukatif (pendidikan dan pengajaran) anak kita, baik berupa perintah, larangan, nasihat, pengawasan, maupun hukuman.Ikhlas adalah fondasi keimanan dan merupakan keharusan di dalam Islam.Allah tidak akan menerima suatu amal shalih tanpa ada keikhlasan di dalam jiwa pelakunya
Rasulullah berpesan kepada umatnya tentang dunia. Janganlah berlomba-lomba mengejar dunia. Agar dunia tidak membuat umatnya binasa sebagaimana umat-umat sebelumnya binasa karena dunia.Sehari sebelum wafat, Rasulullah bersedekah beberapa dinar. Lalu bersabda: “Kami (para nabi) tidak meninggalkan warisan. Apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah.” (HR. al Bukhari 6730).Buku: Bila Kumati. Catatan Tentang Peristiwa Kematian.Karya: Ammi Nur Baits
Tema: ADAB DAN SOPAN SANTUN DALAM RUMAH TANGGA NABI (Ayat 53-58)Bila kalian (wahai manusia) menampakkan melalui lisan-lisan kalian sesuatu yang menyakiti Rasulullah dari apa yang Allah larang kalian darinya, atau menyembunyikannya dalam jiwa kalian, maka sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada dalam hati kalian dan apa yang kalian perlihatkan, dan Dia akan menghisab kalian atasnya.Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
1️⃣ Seorang mukmin sewajarnya saling peduli sesama muslim2️⃣ Sumber nasihat terbaik adalah Al-Qur'an 3️⃣ Bahasa Arab adalah kunci belajar agama, maka dari itu pelajarilah
Pembahasan kedua mengenai kasih sayang yang dapat dipraktekan dengan tindakan lembut pada anak. Memberikan kesan nyaman dan aman, anak merasakan rasa sayang dari tindakan ortu.
Wahai Ahli Kitab! Mengapa kamu berdebat tentang agama Ibrahim -'alaihissalām-? Orang Yahudi mengklaim bahwa Ibrahim adalah seorang penganut Yahudi, dan orang Nasrani mengklaim bahwa Ibrahim adalah seorang penganut Nasrani, padahal kalian tahu bahwa agama Yahudi dan Nasrani baru muncul jauh setelah Ibrahim meninggal dunia. Tidakkah kalian berpikir tentang kelirunya ucapan kalian dan salahnya anggapan kalian?!Hai kalian -kaum Ahli Kitab-! Kalian (boleh) berdebat dengan Nabi -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- tentang sesuatu yang kamu ketahui menyangkut urusan agamamu dan apa yang diturunkan kepadamu. Lalu mengapa kamu berdebat dengannya tentang sesuatu yang tidak kamu ketahui menyangkut urusan Ibrahim dan agamanya, sedangkan masalah itu tidak tertulis di dalam kitab-kitab sucimu dan tidak pernah disampaikan oleh nabi-nabimu?! Allah mengetahui hakikat segala sesuatu dan rahasia yang ada di baliknya, sedangkan kalian tidak mengetahuinya.
Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahPemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.APenulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi RahimahullahBeliau mengatakan rahimahullāh: فَلَوِ اجْتَمَعَ الخَلْقُ كُلُّهُمْSeandainya seluruh makhluk berkumpul, jangan satu atau dua, tetapi semuanya berkumpulعَلَىٰ شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَىٰ أَنَّهُ كَائِنٌSeandainya semua makhluk berkumpul, baik jin maupun manusia, hewan, dan seluruh makhluk yang ada berkumpul atas sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allāh tetapkan sesuatu tadi di dalam Lauh al-Maḥfūẓ, sudah Allāh tulis di dalam Lauh al-Maḥfūẓ itu terjadiلِيَجْعَلُوهُ غَيْرَ كَائِنٍkemudian mereka semuanya berkumpul untuk menjadikan itu tidak terjadi, Allah sudah tulis dalam Lauh al-Maḥfūẓ itu akan terjadi, meninggalnya seseorang atau mendapatkan nikmatnya seseorang, hidayahnya seseorang, tersesatnya seseorang sudah Allah tulis, kemudian semua makhluk berkumpul untuk menjadikan itu tidak terjadi, sudah ditulis oleh Allah fulan ini mendapatkan hidayah semuanya berkumpul untuk menghalangi dia dari hidayah, di doktrin disurati didatangi diberikan syubhat diasingkan dan seterusnya tapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menentukan menuliskan bahwasanya orang ini akan mendapatkan hidayah makaلَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِmereka tidak akan mampu untuk melakukannya.Sebaliknya apa yang sudah Allāh ﷻ tulis tidak akan terjadi kemudian semuanya berkumpul untuk menjadikan itu terjadi maka mereka juga tidak akan mampu. Semuanya sudah ditulis mereka tidak bisa menghalangi rezeki kita yang sudah Allāh ﷻ tulis, mereka tidak bisa memberikan atau menghalangi hidayah yang sudah Allāh ﷻ tetapkan untuk kita.Demikian pula sebaliknya kita tidak bisa menyampaikan hidayah kepada seseorang yang sudah Allāh ﷻ tetapkan dia sesat, tidak bisa kita memberikan hidayah kepada orang yang sudah Allāh ﷻ tetapkan dan dijauhkan dari agama ini, yang bisa kita lakukan memenuhi perintah Allāh ﷻ yaitu berdakwah, memberikan nasihat, memberikan contoh. Semuanya sudah ditulis oleh Allāh ﷻ hidayah maupun kesesatan.Ini makna ucapan beliauوَلَوِ اجْتَمَعُوا كُلُّهُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَىٰ فِيهِ أَنَّهُ غَيْرُ كَائِنٍ، لِيَجْعَلُوهُ كَائِنًا؛ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِtidak akan mungkin mereka bisa melakukannya.Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan kepada ʿAbdullāh bin ʿAbbāsوَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُNabi ﷺ memberikan nasehat kepada ʿAbdullāh bin ʿAbbās dan saat itu masih kecil tapi sudah diajari tentang keimanan dengan takdir, menunjukkan bahwa diantara hal yang perlu kita tekankan kepada anak-anak kita adalah keimanan dengan takdir Allāh ﷻ, penting.Ketahuilah bahwasanya semua makhluk, semua umat seandainya mereka semuanya bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, ingin menolongmu, ingin memberikan hidayah kepadamu, ingin memberikan kamu rezekiلَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَtidak mungkin mereka itu bisa memberikan kepada kamu manfaat kecuali dengan sesuatu yang sudah Allāh ﷻ tulis.Kalau Allāh ﷻ sudah menulis antum dapat sekian atau diberi sekian maka tidak mungkin mereka bisa memberi lebih dari itu. Oleh karena itu ketika seseorang diberikan manfaat oleh orang lain ketahuilah bahwasanya itu sudah di takdirkan oleh Allāh ﷻ. Maka bersyukurlah dan memujilah Allāh ﷻ dan bukan berarti kita tidak mengucapkan syukur kepada manusia karena kita diperintahkan untuk mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada manusiaلَا يَشْكُر اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُر النَّاسَTidak bersyukur kepada Allāh ﷻ orang yang tidak bersyukur kepada manusia.Kita tahu bahwasanya ini sudah di takdirkan, dia memberi kita sudah di takdirkan oleh Allāh ﷻ tidak keluar dari apa yang Allāh ﷻ sudah tulis, dan kita diperintahkan untuk bersyukur kepada manusia mengucapkan terima kasih kepada manusia dan ini adalah bentuk syukur kita kepada Allāh ﷻ. Ini bagus ditanamkan pada anak-anak kita, tidak mungkin mereka itu bisa memberikan bantuan kepadamu kecuali itu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ, maka pujilah Allāh ﷻ. Kemudianوَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَSeandainya mereka semuanya berkumpul untuk memudharati kamu, mereka ingin menyihirmu, ingin membegalmu, ingin membunuhmu, ingin mengganggumu, itu juga perlu ditanamkan, tidak mungkin mereka bisa memudharati dirimu kecuali dengan sesuatu yang sudah Allāh ﷻ tulis.Kalau memang Allāh ﷻ menulis di dalam Lauh al-Maḥfūẓ engkau akan tergores engkau akan tersayat bagian punggungmu misalnya, itu yang akan tersayat, tidak mungkin mereka bisa melakukan lebih daripada itu, tidak mungkin mereka bisa memudharati kecuali dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis. Kalau ditanamkan berulang-ulang di dalam diri seseorang seorang anak dan diri seorang muslim secara umum maka menjadikan dia bertawakkal kepada Allāh ﷻ, hanya takut kepada Allāh ﷻ.Dan itulah yang dialami oleh para sahabat radhiyallāhu ta’ala ‘anhum, Nabi ﷺ sudah menanamkan kepada diri mereka keimanan dengan takdir sehingga diantara pasukan-pasukan perang, para sahabat Nabi ﷺ dikenal sebagai pasukan perang yang paling berani, tidak diketahui dalam sejarah pasukan perang yang lebih berani daripada para sahabat Nabi ﷺ.Karena mereka yakin, tidak mungkin mengenai saya kecuali apa yang sudah Allāh ﷻ tetapkan. Seseorang mau berada di dalam rumahnya di dalam gedung yang kuat yang tinggi yang dijaga oleh banyak pengawal dan berbagai pengamanan, kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dia termudharati dia terkena sesuatu pasti akan terjadi, tidak mungkin dia akan bisa menghindar.Dia sudah berusaha menjaga pola makannya, menjaga makanannya, menjaga pola hidupnya, kalau memang sudah Allāh ﷻ tulis dia terkena penyakit tersebut ya dia akan terkena, tidak mungkin dia bisa menghindar dari apa yang sudah Allāh ﷻرُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُPena-pena telah diangkat oleh Allāh ﷻ dan juga lembaran-lembaran telah kering, ini sudah selesai tidak mungkin bisa dirubah.Termasuk diantaranya penduduk surga dan juga penduduk neraka sebagaimana telah berlalu itu juga diantara yang sudah diketahui oleh Allāh ﷻ dan sudah ditulis oleh Allāh ﷻ tidak mungkin bisa dirubah. Kita berdoa kepada Allāh, semoga Allāh Subḥānahu wa Taʿālā menjadikan kita termasuk Ahlul Jannah dan memudahkan kita untuk mengamalkan amalan Ahlul Jannah.
Bab 5 Kelahiran Nabi Muhammad ﷺPeristiwa-Peristiwa Penting sebelum Lahirnya RasulullahKedua: Kisah Tentara Bergajah1. Asal-usul Tahun Gajah: Nabi Muhammad ﷺ lahir pada Tahun Gajah, dinamakan demikian karena pada tahun tersebut Allah menghancurkan pasukan bergajah yang kisahnya diabadikan dalam QS. Al-Fiil: 1-5.2. Pembangunan Gereja Al-Qullais: Abrahah, wakil Raja Najasyi (penguasa Habasyah) di Yaman, membangun gereja megah bernama al-Qullais di Shan'a untuk menarik perhatian Romawi dan mengalihkan orang Arab agar tidak lagi berhaji ke Ka'bah.3. Pemicu Kemurkaan Abrahah: Seorang pria dari suku Kinanah (Quraisy) yang tidak terima mendatangi al-Qullais lalu mengotori dinding gereja tersebut dengan kotoran manusia.4. Mobilisasi Pasukan Gajah: Abrahah murka dan memimpin pasukan besar ke Makkah untuk menghancurkan Ka'bah menggunakan sekelompok gajah, dipimpin gajah terbesar bernama Mahmud.5. Gagalnya Perlawanan Arab: Kabilah-kabilah Arab sempat mencoba melawan namun kalah karena kalah jumlah, tidak bersatu, dan gentar melihat gajah.6. Penunjuk Jalan Abrahah: Nufail bin Habib al-Khats’ami (tawanan Abrahah) dan Abu Righal (utusan kabilah Tsaqif dari Thaif) dipaksa/diutus menjadi penunjuk jalan pasukan Abrahah menuju Makkah.7. Perampasan Harta Penduduk: Setibanya di al-Mughammas (dekat Makkah), pasukan Abrahah merampas harta penduduk, termasuk 200 ekor unta milik Abdul Mutthalib (pemimpin Quraisy).8. Strategi Non-Militer Quraisy: Suku Quraisy di bawah arahan Abdul Mutthalib sepakat untuk tidak melakukan perlawanan militer sama sekali demi keselamatan mereka.9. Pertemuan: Abdul Mutthalib menemui Abrahah hanya untuk meminta kembali unta-untanya yang dirampas. Saat Abrahah heran mengapa ia tidak membela Ka'bah, Abdul Mutthalib menjawab bahwa dirinya adalah pemilik unta, sedangkan Ka'bah memiliki Pemiliknya sendiri (Allah) yang akan melindunginya.
Tafsir Al Mukhtasar QS An Nahl ayat 35
Tafsir Al-MuyassarAl-Baqarah (2:60)Tema: PERINGATAN ALLAH KEPADA BANI ISRAIL (Ayat 40-141)Subtema: Perincian nikmat Allah kepada Bani Israil (Ayat 49-60)Catatan kaki:209824. Ialah sebanyak suku Bani Isrā`īl sebagaimana tersebut dalam surah Al-Aʻrāf ayat 160.Ingatlah terhadap nikmat Kami yang diberikan kepada kalian ketika kalian sangat kehausan selama masa pembuangan, ketika Musa dengan sangat merendah berdoa kepada Kami agar Kami menurunkan hujan bagi kaumnya. Kami berkata, "Pukulkan tongkatmu ke batu itu." Musa pun melakukannya sehingga mengalirlah dari batu itu dua belas mata air sesuai dengan jumlah kabilah yang ada di Bani Israil. Setiap kabilah mengetahui mata air yang dikhususkan bagi mereka sehingga tidak saling berebut dan Kami ucapkan kepada mereka, "Makan dan minumlah sebagian rezeki Allah itu dan janganlah berbuat kerusakan di muka bumi."Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com
Sesungguhnya orang2 yg mau menyambut seruan Nabi Muhammad adalah mereka yg mau mendengar , mencerna dan memahami. Supaya Muhammad memberikan oeringatan kpd org2 yg hidup hatinya.
Bayangkan ada orang lain di ruangan sedang mengawasi anda Sumber : Don't sweat the small stuff with your family Suatu hari rak saya begitu keras setelah melihat rumah jadi seperti kapal pecah sehabis dipakai bermain oleh anak-anak. Lalu suami saya dengan lemah lembut bertanya seperti " coba kamu bayangkan ada orang lain duduk di ruangan ini mengamati reaksi mu itu." Meskipun faktanya Saya bukan orang yang suka menyembunyikan sesuatu dari orang lain setidak-tidaknya umumnya begitu komentarnya memang sangat mengena. Dengan segera saya menyadari bahwa tanggapan saya terhadap situasi tersebut efek keterlaluan. Saya bertanya pada diri sendiri " apakah kamu akan bereaksi seperti itu jika ada orang lain?" Jawabannya tampaknya tidak. Yang benar adalah meskipun Saya kesal melihat rumah jadi berantakan tentu tidak gunanya menjadi sedemikian jengkel. Mendingan energinya untuk hal-hal lain. Ini adalah latihan yang sangat menarik untuk dicoba dan kadang-kadang memberi pencerahan. Jika lain kali atau setiap kali anda merasa agak keseleoan atau mau marah karena sesuatu hal di rumah cobalah untuk membayangkan ada orang asing sedang mencatat kelakuan anda, mungkin sebagai upaya untuk mempelajari respon yang tepat. Melakukan hal demikian dapat dianggap sebagai sikap merendah dan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu tombol riset yang telah diulas pada bab sebelumnya. Cara ini akan mempermudah kembalinya segala hal perspektif masing-masing karena akan memperingatkan anda bahwa anda mungkin cuma memusingkan hal-hal kecil. Meskipun saya sama sekali tidak bermaksud menyarani Anda supaya semua tindakan kita didasarkan pada yang mungkin dipikirkan orang lain mengenai kita melakukan hal ini sama saja dengan bersikap superfisial dan tidak berterus terang, Saya kira ada baiknya untuk mempertimbangkan bagaimana idealnya bila kita berhadapan dengan orang lain. Proses ini dapat berfungsi sebagai barometer batiniah yang selalu berupaya mengingatkan agar kita tetap terfokus pada sasaran dan nilai-nilai. Sebagai contoh jika anda alangkah kabut melihat apartemen berantakan mengutuknya terlalu kotor atau kurang luas dan anda berhenti sejenak dan mempraktekkan latihan ini anda mungkin akan tiba-tiba menertawakan diri sendiri dan sekaligus menertawakan kebodohan anda. Jadi jika anda seperti saya ini sedang agak naik tegangannya lakukan apa yang disarankan oleh suami saya dan cobalah untuk membayangkan bagaimana kita dilihat orang lain. Noted: dalam Islam kita memang selalu diawasi oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan ada dua malaikat yang mencatat amal perbuatan kita.
Halaqah yang ke sembilan dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitab Al-Ushulu As-Sittah yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab At Tamimi rahimahullah.Kemudian beliau mengatakan,ثُمَّ صَارَ الْأَمْرُ إِلَى أَنَّ الافْتِرَاقَ فِي أُصُوْلِ الدِّيْنِ وَفُرُوْعِهِ هُوَ الْعِلْمُ وَالْفِقْهُ فِي الدِّيْنِKemudian setelah itu di zaman beliau di zaman sekarang jadilah bahwasanya berpecah belah di dalam agama, baik di dalam ushul agama (pokok-pokok) agama maupun di dalam cabang-cabangnya dinamakan dengan ilmu dan fiqih di dalam agama.Di zaman sekarang kata beliau,Sebagian mengatakan bahwasanya berpecah belah di dalam agama adalah termasuk pemahaman (fiqih).Artinya orang yang mengatakan, “Boleh kita berpecah belah, kita memiliki kebebasan untuk berakidah, kebebasan untuk beribadah, kebebasan untuk menganut kepercayaannya masing-masing.” Dianggap ucapan ini sebagai bentuk pemahaman terhadap agama.Orang yang paham terhadap agama, maka dia akan membebaskan manusia untuk berakidah, untuk memiliki kepercayaan masing-masing.Kemudian beliau mengatakan,وَصَارَ الْأَمْرُ بِالاجْتِمَاعِ فٍي دين لَا يَقُوْلُهُ إِلَّا زِنْدِيْقٌ أَوْ مَجْنُوْنٌPerintah untuk berkumpul dan bersatu di dalam agama, sebagian mengatakan bahwasanya ini adalah tidak diucapkan kecuali oleh seorang yang zindiq, seorang pendusta, atau orang yang gila.Jadi dianggapnya, orang yang mengajak manusia untuk bersatu padu di dalam hak, di dalam kebenaran, dianggap orang yang zindiq atau orang yang gila.Tidak mungkin kita semua bersatu, tidak boleh kita mengajak orang lain untuk mengikuti kebenaran.Mereka berkata, “Biarkan masing-masing memiliki kepercayaan masing-masing, tidak boleh saling menganggu satu dengan yang lain.”Apabila ada sebagian yang mengajak untuk bersatu di dalam kebenaran, meninggalkan akidah yang bathil, meninggalkan kepercayaan yang tidak benar, dianggapnya orang yang seperti ini adalah orang gila atau orang zindiq.Dan ini yang terjadi di zaman beliau, demikian pula di zaman kita.Orang yang ber-amar ma’ruf nahi munkar, mengajak orang lain untuk memiliki akidah yang benar, memiliki tauhid yang benar, melarang mereka untuk memiliki akidah yang salah, kepercayaan yang salah, dianggapnya ini adalah orang yang majnun (orang gila) atau orang yang zindiq.Adapun orang yang membiarkan kepercayaan-kepercayaan tersebut, membiarkan akidah-aqidah tersebut tersebar diantara masyarakat, maka ini dianggap sebagai orang yang paham tentang agamanya.Dan ini tentunya kebalikan dari apa yang sudah Allah jelaskan di dalam Al Qur’an dan telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam hadits-hadits yang shahih.Ini adalah pokok yang ke dua yang ingin dijelaskan oleh pengarang di dalam kitab ini, yaitu kesimpulannya:• Perintah dari Allah Subhānahu wa Ta’āla pada kita semua kaum muslimin untuk saling bersatu di dalam al haq (kebenaran)• Larangan bagi kita untuk saling berpecah belah di dalam agama kita.Dan apabila terjadi perselisihan diantara kita, diantara kaum muslimin baik dalam masalah akidah, baik dalam masalah ibadah, baik masalah halal dan juga haram, maka Allah dan Rasul-Nya telah memberikan jalan keluar.Di dalam Al Qur’an, Allah Subhānahu wa Ta’āla mengatakan,يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian taat kepada Allah, dan hendaklah kalian taat kepada Rasul, dan juga pemerintah kalian (penguasa kalian). Maka apabila kalian saling berselisih di dalam satu perkara, baik dalam masalah akidah, masalah ibadah, masalah yang lain, maka hendaklah kalian kembalikan kepada Allah, dan juga kepada Rasul-Nya.”(QS. An-Nisa: 59)Dikembalikan kepada Allah, dikembalikan kepada Al Qur’an, dilihat apakah sesuai dengan Al Qur’an atau tidak pendapat kita.Kembalikanlah kepada Rasul, kembalikan kepada hadits Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, apakah pendapat kita sesuai dengan hadits Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam atau tidak.Kalau sesuai, maka kita amalkan dan kalau tidak sesuai maka harus kita tinggalkan.Dan ini kata Allah,“Apabila kalian benar-benar beriman kepada Allah dan beriman kepada hari akhir hendaklah kalian mengembalikan perselisihan kita kepada Allah dan juga Rasul-Nya.”Apabila diantara dua orang saling berselisih, satunya mengatakan sunnah, satunya mengatakan tidak disunnahkan, maka masing-masing harus mengembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.Kalau Allah dan Rasul-Nya mengatakan Sunnah, maka semuanya harus sami’na wa atha’na (mendengar dan taat) tidak boleh ada diantara kita yang memiliki pilihan yang lain di dalam perpecahan ini.Apabila Allah mengatakan A, dan Rasul-Nya mengatakan A, maka semuanya harus mengatakan A tersebut.Di dalam hadits Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan,فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَ فًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ“Sesungguhnya barangsiapa yang hidup diantara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan Sunnah-ku dan Sunnah para khulafaur rasyidin.”(Hadits riwayat Abu Dawud dan At Tirmidzi)Ketika melihat perselisihan yang banyak, perpecahan yang banyak diantara umat, maka petunjuk Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam supaya kita kembali kepada sunnah beliau dan juga kepada sunnah para khulafaur rasyidin.Ini adalah petunjuk Allah dan Rasul-Nya ketika terjadi perselisihan
Tabungan KeluargaDari mana sumber tabungan? Tabungan berasal dari pendapatan rumah tangga, yang terbagi menjadi:Pendapatan rutinGaji, upah, atau pendapatan sejenis yang diterima secara mingguan, bulanan, atau tahunan.Pendapatan tidak rutinSeperti warisan, hibah, hadiah, dan pendapatan lainnya.Rumus sederhana:Tabungan = Pendapatan − Pengeluaran konsumtif💰 Faktor yang menentukan jumlah tabunganSemakin besar pendapatan, semakin besar peluang untuk menabung.Keluarga dengan pendapatan lebih tinggi dapat mengalokasikan sebagian pendapatannya untuk tabungan setelah kebutuhan konsumsi terpenuhi.Pada keluarga dengan pendapatan terbatas, tambahan pendapatan biasanya lebih dulu digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, sehingga kemampuan menabung sangat rendah atau bahkan tidak ada.📌 Pendapatan tidak rutinPendapatan yang berada di luar perencanaan keuangan rumah tangga sebaiknya dialokasikan untuk tabungan, meskipun dalam praktiknya hal ini cukup jarang dilakukan.🏦 Cara menabungIndividu — menyimpan uang sendiri di rumah.Arisan — beberapa orang menyetor jumlah yang sama secara berkala, lalu setiap bulan salah satu anggota menerima seluruh uang yang terkumpul.Inti pelajarannya:Menabung bukan hanya soal besarnya pendapatan, tetapi juga seberapa baik pendapatan dikelola setelah kebutuhan k onsumsi terpenuhi.
At-Taubah : 18
Tafsir At-TaysirAl-Ĥāqqah (69:16)Kalau kita kumpulkan ayat-ayat yang menceritakan kondisi langit pada hari kiamat kelak, maka kita akan dapati langit akan mengalami beberapa kondisi. Pertama adalah langit tersebut mulai terbelah dengan tampak retakannya. Kondisi ini disebut dengan infithar yang diambil dari firman Allah ﷻ,إِذَا السَّمَاءُ انفَطَرَتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar : 1)Kedua adalah belahan langit akan semakin membesar dan sempurna. Kondisi ini disebut dengan insyiqaq yang diambil dari firman Allah ﷻ,إِذَا السَّمَاءُ انشَقَّتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Insyiqaq : 1)Ketiga adalah langit menjadi tampak lemah dan rapuh sehingga tidak kuat lagi untuk mempertahankan benda-benda langit yang berada di dalamnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa langit sangatlah kokok sehingga bisa menjadi tempat bagi benda-benda langit yang begitu banyak dan begitu besar. Akan tetapi pada hari kiamat langit akan menjadi lemah, sehingga bintang-bintang berjatuhan, planet-planet di langit lepas dari orbitnya. Pada kondisi ini langit disebut وَاهِيَةٌ sebagaimana disebutkan dalam ayat ini,فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ“Maka pada hari itu langit menjadi lemah (rapuh).” (QS. Al-Haqqah : 16)Keempat adalah langit dalam kondisi Al-Kasyth, yaitu langit seakan-akan menjadi sesuatu yang dicabut dari bingkainya, atau seperti seorang yang melepas kulit hewan dari dagingnya. Sebagaimana firman Allah ﷻ,وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ“Dan apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwir : 11)Kelima adalah langit dilipat oleh Allah ﷻ seperti melipat lembaran buku. Kondisi ini disebut dengan Ath-Thay, sebagaimana Allah ﷻ berfirman,يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ“(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati. Sungguh Kami akan melaksanakannya.” (QS. Al-Anbiya’ : 104)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com