📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📖 Jejak Ayat3 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

QS. Al Haqqah: 19

Tafsir At-TaysirAl-Ĥāqqah (69:16)Kalau kita kumpulkan ayat-ayat yang menceritakan kondisi langit pada hari kiamat kelak, maka kita akan dapati langit akan mengalami beberapa kondisi. Pertama adalah langit tersebut mulai terbelah dengan tampak retakannya. Kondisi ini disebut dengan infithar yang diambil dari firman Allah ﷻ,إِذَا السَّمَاءُ انفَطَرَتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Infithar : 1)Kedua adalah belahan langit akan semakin membesar dan sempurna. Kondisi ini disebut dengan insyiqaq yang diambil dari firman Allah ﷻ,إِذَا السَّمَاءُ انشَقَّتْ“Apabila langit terbelah.” (QS. Al-Insyiqaq : 1)Ketiga adalah langit menjadi tampak lemah dan rapuh sehingga tidak kuat lagi untuk mempertahankan benda-benda langit yang berada di dalamnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa langit sangatlah kokok sehingga bisa menjadi tempat bagi benda-benda langit yang begitu banyak dan begitu besar. Akan tetapi pada hari kiamat langit akan menjadi lemah, sehingga bintang-bintang berjatuhan, planet-planet di langit lepas dari orbitnya. Pada kondisi ini langit disebut وَاهِيَةٌ sebagaimana disebutkan dalam ayat ini,فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ“Maka pada hari itu langit menjadi lemah (rapuh).” (QS. Al-Haqqah : 16)Keempat adalah langit dalam kondisi Al-Kasyth, yaitu langit seakan-akan menjadi sesuatu yang dicabut dari bingkainya, atau seperti seorang yang melepas kulit hewan dari dagingnya. Sebagaimana firman Allah ﷻ,وَإِذَا السَّمَاءُ كُشِطَتْ“Dan apabila langit dilenyapkan.” (QS. At-Takwir : 11)Kelima adalah langit dilipat oleh Allah ﷻ seperti melipat lembaran buku. Kondisi ini disebut dengan Ath-Thay, sebagaimana Allah ﷻ berfirman,يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاءَ كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ۚ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ ۚ وَعْدًا عَلَيْنَا ۚ إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ“(Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati. Sungguh Kami akan melaksanakannya.” (QS. Al-Anbiya’ : 104)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka3 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Kisah Nabi dan Rasul

“Tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar”adalah tidak akan memperoleh surga kecuali orang-orang yang bersabar dalam beramal; atau dalam kesulitan; atau dalam meninggalkan maksiat. Adapun pendapat lain mengatakan bahwa nasihat tersebut hanya bisa disampaikan oleh orang-orang yang sabar.(117) Karena hakikat orang yang sabar adalah orang yang meyakini dalam hatinya bahwa ganjaran dari sisi Allah جل جلاله itu lebih baik dari dunia dan seisinya.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Iman kepada Takdir Allah Halaqah 9

Halaqah yang ke sembilan dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Beriman dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 1”.Seorang yang beriman selain diperintah untuk beriman dengan takdir Allah juga diperintah untuk mengambil sebab dan bertawakal kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla dan tidak bertawakal kepada sebab tersebut.Rezeki sudah ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla dan kita diperintahkan untuk mencari rezeki yang halal.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ[QS Al-Jumu’ah 10]“Kemudian apabila sudah selesai shalat Jum’at maka hendaklah kalian menyebar di permukaan bumi dan carilah dari karunia Allah dan perbanyaklah di dalam mengingat Allah, semoga kalian beruntung.”Dan Allah berfirman,…ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ…[QS Al-Baqarah 275]“Dan Allah telah menghalalkan jual beli.”Dan di dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda,لَأَنْ يَحْتَزِمَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةَ مِنْ حَطَبٍ فَيَحْمِلَهَا عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا يُعْطِيهِ أَوْ يَمْنَعُهُ“Sungguh salah seorang di antara kalian mencari satu ikat kayu bakar kemudian mengangkatnya di atas punggungnya lebih baik daripada dia meminta orang lain, baik diberi atau tidak diberi.”[HR Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu]Dan beliau ﷺ bersabda,لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah niscaya kalian akan diberi rezeki, sebagaimana burung diberi rezeki. Pagi-pagi mereka pergi dalam keadaan lapar dan datang di sore hari dalam keadaan kenyang.”[HR At Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]Dan burung di dalam mencari rezeki tidak hanya berdiam diri dan berpangku tangan di sarangnya tetapi dia pergi mencari sebab di dalam mendapatkan rezeki tersebut.Dan dahulu para Nabi alaihimussalam bekerja dan mereka adalah orang-orang yang beriman dengan takdir Allah.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ…[QS Al-Furqan 20]“Dan Kami tidaklah mengutus sebelummu seorang Rasul pun kecuali mereka memakan makanan dan pergi ke pasar”Dan di dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda,كَانَ زَكَرِيَّا نَجَّاراً .“Dahulu Nabi Zakaria adalah seorang tukang kayu.” [HR Muslim]Dan Nabi Musa alaihissalam pernah bekerja sebagai seorang penggembala untuk orang yang shaleh dari Madyan selama beberapa tahun, sebagaimana Allah Subhānahu wa Ta’āla sebutkan di dalam surat Al Qashash ayat 27.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 September 2026
S

Sekar Kinanti Nufiarizky

📍 Kota Depok

Orang yang Mendapat Pancaran Ilahi

Allah taala berfirman:رِجَالٞ لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٞ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ يَخَافُونَ يَوۡمٗا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُlaki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (pada hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Orang yang mendapat pancaran nur Ilahi (Ayat 36-38)QS. An-Nūr: 37Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.comTafsir Al-MuyassarAn-Nur (24:37)Tema: HUKUM PERZINAAN DAN PERGAULAN (Ayat 1-64)Subtema: Orang yang mendapat pancaran nur Ilahi (Ayat 36-38)Para lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, membayarkan zakat kepada orang-orang yang berhak. Mereka takut kepada satu hari yang mana saat itu hati akan bergoncang antara harapan selamat dan takut celaka, dan penglihatan pun bergoncang karena melihat kemanakah tempat kembalinya?Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.comBoleh tolong buatkan poster dengan nuansa soft pink, nude, soft purple, & soft green dengan tema seperti berikut

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 September 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Al-furqan:45

Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:45)Tema: TANDA-TANDA KEKUASAAN ALLAH DALAM ALAM (Ayat 45-62)Mulai dari bagian ini Allah subhanahu wata'āla menjelaskan dalil-dalil yang menunjuk­kan keberadaan dan kekuasaan-Nya yang sempurna, bahwa Dialah yang menciptakan segala sesuatu yang beraneka ragam lagi kontradiksi itu. Untuk itu Allah subhanahu wata'āla berfirman:Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan bayang-bayang? (Al Furqaan:45)Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abul Aliyah, Abu Malik, Masruq, Mujahid, Sa'id ibnu Jubair, An-Nakha'i, Ad-Dahhak, Al-Hasan, dan Qatadah telah mengatakan bahwa hal itu terjadi di antara terbitnya fajar sampai dengan terbitnya matahari.dan kalau Dia menghendaki, niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu. (Al Furqaan:45)Yaitu tetap dan tidak hilang, seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wata'āla dalam ayat lain melalui firman-Nya:Katakanlah, "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untuk kalian malam itu terus-menerus.” (Al-Qasas: 71)Adapun firman Allah subhanahu wata'āla:kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu. (Al Furqaan:45)Artinya, seandainya matahari tidak terbit atas bayang-bayang itu, tentulah bayang-bayang tidak akan ada, karena sesungguhnya sesuatu itu tidak dikenal melainkan melalui lawannya. Qatadah dan As-Saddi mengatakan bahwa matahari sebagai petunjuk yang mengiringi dan mengikutinya hingga sinar matahari berada di atasnya.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka3 September 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Bab 6 bag 3

Masalah tersebut telah diterangkan dalam bab ini dengan beberapa hal yg cukup jelas antara lain:Ayat dalam surat al-isra'. Diterangkan dalam ayat ini bantahan terhadap kaum musyrikin yg berdoa meminta kepada orang-orang sholeh. Maka, ayat ini mengandung suatu penjelasan bahwa perbuatan mereka itu syirik akbar. Ayat dalam surah at-Taubah. Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa kaum ahli kitab telah menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan² selain Allah, dan Allah juga menjelaskan bahwa mereka hanya di perintahkan untuk beribadah kepada satu sembahan, yaitu Allah dan itu semua disertai dengan penjelasan bahwa Tafsir ayat ini jelas dan tidak dipermasalahkan lagi, yaitu mematuhi orang-orang alim dan rahib-rahib dalam tindakan mereka yg bertentangan dengan hukum Allah dan maksudnya bukan berdoa kepada mereka. Kata² Al-Khalil Ibrahim kepada orang-orang kafir, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yg kamu sembah tetapi aku telah menyembah Tuhan yg telah menciptakan ku".Disini beliau mengecualikan Allah dari segala sembahan. Pembebasan diri dari segala sembahan yg batil dan pernyataan setia kepada sembahan yg haq, yaitu Allah. Adalah Tafsir yg sebenarnya dari syahadat "Laa Ilaaha Ilaaha". Allah subhanahu wata'ala berfirman "Dari Ibrahim menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yg kenal kepada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu".(az-zukhruf:28) Ayat dalam surah Al-Baqarah yang berkaitan dengan orang-orang kafir, yang dikatakan oleh Allah dalam firmannya "Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari neraka".(Al-Baqarah:167)

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Surat Ar-Ra’d Ayat 28–29

1. Hati Menjadi Tenteram dengan Mengingat Allah (Ayat 28)Allah menjelaskan bahwa orang-orang beriman memiliki hati yang tenang, senang, dan tenteram karena mereka selalu mengingat Allah. Mereka merasa aman berada di bawah perlindungan-Nya, bersandar kepada-Nya sebagai Pelindung dan Penolong, serta ridha terhadap ketentuan-Nya.Firman Allah:“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa tidak ada ketenangan hati yang hakiki selain dengan mengenal, mengingat, dan mendekat kepada Allah. Harta, kedudukan, maupun kesenangan dunia tidak dapat memberikan ketenteraman yang sejati sebagaimana zikir kepada Allah.2. Makna “Ṭūbā” bagi Orang Beriman (Ayat 29)Allah berfirman:“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ṭūbā dan tempat kembali yang baik.”Para ulama salaf memberikan penjelasan yang beragam tentang makna ṭūbā, namun semuanya mengarah kepada kebaikan dan kebahagiaan besar bagi orang beriman.Di antara penafsirannya:Ibnu Abbas: kegembiraan dan kesejukan hati.Ikrimah: betapa nikmatnya apa yang mereka peroleh.Ad-Dahhak: ungkapan keinginan agar memperoleh kenikmatan seperti mereka.Ibrahim An-Nakha’i: kebaikan bagi mereka.Qatadah: keberuntungan dan kebaikan besar.Semua pendapat ini saling melengkapi dan tidak bertentangan.3. Ṭūbā sebagai Pohon Besar di SurgaBanyak riwayat dari para sahabat dan tabi’in menjelaskan bahwa Ṭūbā adalah sebuah pohon yang sangat besar di surga.Ciri-cirinya menurut berbagai riwayat:Semua pohon surga berasal darinya.Rantingnya menjangkau seluruh rumah penghuni surga.Pada setiap rumah di surga terdapat cabang dari pohon tersebut.Besarnya luar biasa; seorang pengendara dapat berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun tanpa mencapai ujungnya.Dari kuntum-kuntumnya keluar pakaian penghuni surga.Dari akarnya mengalir sungai-sungai surga yang berisi air, susu, madu, dan minuman surga.Rasulullah ﷺ juga menjelaskan bahwa pohon ini merupakan salah satu kenikmatan besar yang Allah sediakan bagi penghuni surga.4. Luasnya Kenikmatan SurgaIbnu Katsir menyebutkan banyak hadis sahih yang menggambarkan luasnya naungan pohon-pohon surga.Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di surga terdapat pohon yang naungannya begitu luas sehingga seorang pengendara yang berjalan selama seratus tahun masih belum mampu melewatinya.Hadis-hadis ini menunjukkan:Luasnya surga jauh melampaui gambaran manusia.Kenikmatan surga tidak dapat dibandingkan dengan kenikmatan dunia.Apa yang Allah sediakan bagi orang beriman berada di luar batas khayalan manusia.5. Riwayat Wahb bin Munabbih tentang Kenikmatan SurgaIbnu Katsir menukil sebuah atsar panjang dari Wahb bin Munabbih yang menggambarkan:Pohon Ṭūbā yang sangat besar.Sungai-sungai surga yang mengalir dari akarnya.Kendaraan, istana, taman, dan pakaian penghuni surga.Kunjungan penghuni surga kepada Allah.Salam dan penghormatan dari para malaikat.Keridhaan Allah kepada penghuni surga.Permintaan apa pun yang langsung dipenuhi oleh Allah.Namun Ibnu Katsir mengingatkan bahwa riwayat ini gharib (asing dan menakjubkan). Sebagian isinya memiliki dalil penguat dari hadis-hadis sahih, sedangkan rincian lainnya tidak dapat dipastikan kebenarannya.6. Puncak Kenikmatan SurgaKenikmatan terbesar bagi penghuni surga bukanlah istana, sungai, pakaian, atau kendaraan, melainkan:Mendapat ridha Allah.Mendengar salam dari Allah.Melihat Allah pada hari akhir.Inilah karunia tertinggi yang diberikan kepada orang-orang beriman dan beramal saleh.Pelajaran UtamaKetenteraman hati yang sejati hanya diperoleh dengan mengingat Allah.Iman dan amal saleh adalah jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.“Ṭūbā” menunjukkan keberuntungan, kebahagiaan, dan kenikmatan besar bagi orang beriman.Surga memiliki kenikmatan yang tidak dapat dibayangkan oleh akal manusia.Allah menyediakan balasan yang sangat besar bagi hamba yang beriman dan taat.Kenikmatan tertinggi di surga adalah memperoleh ridha Allah dan melihat-Nya.Ayat 28–29 menghubungkan ketenangan hati di dunia dengan kebahagiaan abadi di akhirat: siapa yang mengingat Allah dan beramal saleh di dunia, akan memperoleh Ṭūbā dan tempat kembali yang terbaik di surga.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 9: Beriman Dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 1

Halaqah 9:Beriman Dengan Takdir dan Mengambil Sebab Bagian 1🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Seorang yang beriman selain diperintah untuk beriman dengan takdir Allah juga diperintah untuk mengambil sebab dan bertawakal kepada Allah Subhānahu wa Ta’āla dan tidak bertawakal kepada sebab tersebut.Rezeki sudah ditakdirkan oleh Allah azza wa jalla dan kita diperintahkan untuk mencari rezeki yang halal.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ“Kemudian apabila sudah selesai shalat Jum’at maka hendaklah kalian menyebar di permukaan bumi dan carilah dari karunia Allah dan perbanyaklah di dalam mengingat Allah, semoga kalian beruntung.”(QS. Al-Jumu’ah: 10)Dan Allah berfirman:…ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ…“Dan Allah telah menghalalkan jual beli.” (QS. Al-Baqarah: 275)Dan di dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda:لَأَنْ يَحْتَزِمَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةَ مِنْ حَطَبٍ فَيَحْمِلَهَا عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا يُعْطِيهِ أَوْ يَمْنَعُهُ“Sungguh salah seorang di antara kalian mencari satu ikat kayu bakar kemudian mengangkatnya di atas punggungnya lebih baik daripada dia meminta orang lain, baik diberi atau tidak diberi.”(HR. Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)Dan beliau ﷺ bersabda:لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah niscaya kalian akan diberi rezeki, sebagaimana burung diberi rezeki. Pagi-pagi mereka pergi dalam keadaan lapar dan datang di sore hari dalam keadaan kenyang.”(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah)Dan burung di dalam mencari rezeki tidak hanya berdiam diri dan berpangku tangan di sarangnya tetapi dia pergi mencari sebab di dalam mendapatkan rezeki tersebut.Dan dahulu para Nabi alaihimussalam bekerja dan mereka adalah orang-orang yang beriman dengan takdir Allah.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ…“Dan Kami tidaklah mengutus sebelummu seorang Rasul pun kecuali mereka memakan makanan dan pergi ke pasar”(QS. Al-Furqan: 20)Dan di dalam sebuah hadits Rasulullah ﷺ bersabda,كَانَ زَكَرِيَّا نَجَّاراً .“Dahulu Nabi Zakaria adalah seorang tukang kayu.” (HR. Muslim)Dan Nabi Musa alaihissalam pernah bekerja sebagai seorang penggembala untuk orang yang shaleh dari Madyan selama beberapa tahun, sebagaimana Allah Subhānahu wa Ta’āla sebutkan di dalam surat Al Qashash ayat 27.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

Halaqah 09 | Pengantar Al-Ushulu Ats-Tsalāsah (Bagian 09)

Halaqah yang ke-9 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Penjelasan Kitāb Al Ushūlu AtsTsalātsah wa Adillatuhā (3 Landasan utama dan dalīl-dalīlnya) yang dikarang oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb bin Sulaimān At Tamimi rahimahullāh.Kemudian beliau mengatakan:الثالثه: أن من أطاع الرسول ووحّد الله لا يجوز له موالاة من حاد الله ورسوله، ولو كان أقرب قريب.• Ketiga | Bahwasanya orang yang taat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan mentauhīdkan Allāh, maka tidak boleh baginya bermuwalāh (mencintai) orang-orang yang memusuhi Allāh dan juga rasūlnya, meskipun dia adalah orang-orang yang paling dekat dengan dia.Apabila seseorang taat kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla, mengEsakan Allāh didalam beribadah secara dhahir dan bathin maka tidak boleh baginya untuk mermuwalāh (berloyalitas) mencintai dan menolong didalam agama orang yang memusuhi Allāh dan rasūlnya.Seperti:Orang kāfir yang jelas memerangi Allāh dan rasūlnya, tidak boleh menolong mereka dan menyintai mereka karena agama mereka, meskipun dia adalah kerabat yang paling dekat dengan seseorang (bapaknya, anaknya atau saudaranya, ibunya, misalnya.Apabila dia termasuk musuh Allāh, mereka memerangi Allāh dan juga rasūlnya, membantu orang-orang kāfir untuk memerangi kaum muslimin maka tidak boleh bermuwalāh (berloyalitas) kepada orang tersebut.Kemudian beliau mengatakan dalīlnya adalah firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:لَّا تَجِدُ قَوْمًۭا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍۢ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allāh dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allāh dan Rasūl-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allāh ridhā terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allāh. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullāh itu adalah golongan yang beruntung.”(QS. Al Mujadilah: 22)Ini adalah dalīl tentang kewajiban berloyalitas kepada Allāh dan Rasūl Nya, dan larangan untuk berloyalitas kepada musuh-musuh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Orang yang taat kepada Rasūl dan mengEsakan Allāh Subhānahu wa Ta’āla maka harus berloyalitas kepada Allāh dan Rasūlnya, dan ini bukan berarti seorang muslim dan muslimah kemudian dia tidak berbuat adil kepada orang yang kāfir, atau tidak berbuat baik kepada mereka atau tidak sama sekali mendakwahi mereka, bukan berarti orang yang tidak berloyalitas kepada orang-orang yang memusuhi Allāh kemudian kita tidak boleh berbuat baik kepada orang-orang kāfir.Didalam Al Qurān Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengatakan:لَّا يَنْهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِينَ لَمْ يُقَـٰتِلُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَـٰرِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوٓا۟ إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ“Allāh tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allāh menyukai orang-orang yang berlaku adil.”(QS. Al Mumtahanah: 8)Apabila mereka tidak memerangi kaum muslimin, dan tidak mengeluarkan kita dari kampung-kampung kita (daerah kita) maka kata Allāh, “Tidak ada larangan kalian berbuat baik kepada mereka”.Mungkin seseorang memiliki tetangga yang non muslim (kāfir) maka boleh kita berbuat baik kepada mereka, (misalnya) mengirim makanan, mengirim hadiah, sebagaimana dahulu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam berbuat baik kepada tetangganya (Yahūdi).Boleh seorang muslim bermuamalah dengan seorang non muslim (jual beli atau hutang piutang) demikian pula dulu Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika beliau meninggal dunia, beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) pernah mengadaikan sebagian barang beliau kepada seorang Yahūdi.Bukan berarti seseorang ketika diperintahkan untuk membenci seorang yang kāfir yang memusuhi Allāh dan Rasūl Nya, bukan berarti diperbolehkan untuk berbuat zhālim kepada mereka, bahkan kita diperintahkan untuk berbuat adil.وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا۟ ۘ“Jangan sampai kebencian kalian kepada sebuah kaum yang telah menghalangi kalian dari Al Masjidil Haram menjadikan kalian berbuat zhālim kepada meraka.”(QS. Al Mā’idah: 2)Orang-orang Quraisy, dahulu menghalangi kaum muslimin dari masjidil Haram, melarang mereka untuk memasuki kota Mekkah sebagaimana yang terjadi pada tahun ke-6 Hijriyyah, tetapi Allāh Subhānahu wa Ta’āla melarang kaum muslimin karena kebencian mereka terhadap orang-orang yang melarang mereka dari rumah Allāh jangan sampai menjadikan mereka menzhālimi orang-orang tersebut.Demikian pula didalam Al Qurān, Allāh Subhānahu wa Ta’āla menyebutkan tentang perintah untuk berbakti kepada orang tua baik yang muslim maupun yang kāfir.Namun apabila orang tua memerintahkan kepada kesyirikan maka kita dilarang oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla untuk mentaati orang tua didalam perintah yang isinya kesyirikan tersebut.Adapun didalam perintah-perintah yang lain selama itu tidak berupa kemaksiatan kepada Allāh dan Rasūl Nya maka kita diperintahkan untuk mentaati.Mentaati orang tua meskipun dia adalah seorang yang kāfir.وَإِن جَـٰهَدَاكَ عَلَىٰٓ أَن تُشْرِكَ بِى مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌۭ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِى ٱلدُّنْيَا مَعْرُوفًۭا ۖ وَٱتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ۚ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”(QS. Luqman: 15)Artinya kita tetap diperintahkan untuk bermuamalah, berakhlaq kepada orang tua kita meskipun mereka adalah seorang musyrik atau kāfir, namun jika sudah waktunya orang tua kita memerintahkan kita untuk kufur atau berbuat syirik maka tidak halal bagi kita untuk. mentaati orang tua kita didalam kesyirikan dan kekufuran.Menunjukkan kepada kita tentang makna dari loyalitas tersebut, yang dilarang adalah kita menyintai orang kāfir karena agama yang dia anut adapun hanya menyintai karena tabiat (misalnya) seseorang mencintai orang tuanya ini adalah tabiat manusia maka ini tidak mengapa, tetapi apabila mencintai orang kāfir karena kekāfirannya maka ini yang tidak dibolehkan dalam agama.Demikian pula berlepas diri dari orang-orang musyrikin bukan berarti tidak boleh kita mendakwahi orang-orang musyrikin.Nabi Ibrāhīm alayhissallām, bapak beliau adalah orang kāfir dan beliau adalah orang yang paling berlepas diri dari orang-orang yang memusuhi Allāh dan Rasūl Nya, namun beliau (alayhissallām) mendakwahi bapaknya dengan baik.Beliau memanggil bapaknya dengan, “Yā abatiy (wahai bapakku)”, dan dengan sabar beliau mendakwahi bapaknya.وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَومَكَ فِى ضَلَـٰلٍۢ مُّبِين“Dan (ingatlah) di waktu Ibrāhīm berkata kepada bapaknya (Aazar), “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata”.. ”(QS. Al An’ām: 74)Nabi Ibrāhīm alayhissallām sangat mencintai Allāh, mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla tetapi tidak mencegah beliau untuk mendakwahi bapaknya.Demikian pula Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, bagaimana usaha beliau untuk mendakwahi Abū Thālib, dan Abū Thālib meninggal dalam keadaan syirik (kufur) kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Ketika Abū Thālib akan meninggal dunia dalam keadaan sakaratul maut masih di dakwahi oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan: “Wahai pamanku, ucapkanlah kalimat ‘Lā ilāha illallāh, sebuah kalimat yang aku akan berhujjah membelamu dihadapan Allāh Subhānahu wa Ta’āla”Namun Abū Thālib meninggal dalam kesyirikan dan enggan untuk mengucapkan, ‘Lā ilāha illallāh.Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah orang yang sangat mentauhīdkan Allāh Subhānahu wa Ta’āla akan tetapi ini tidak mencegah beliau (melarang) beliau untuk mendakwahi orang-orang musyrikin.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat3 September 2026
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Meraih Keridhoan Allah

Jika Ali Imran 199–200 diringkas menjadi satu pesan, maka alurnya sangat indah:Ayat 199 → contoh manusia yang benar dalam menerima kebenaran⬇️Ayat 200 → cara orang beriman mempertahankan kebenaran tersebut⬇️Sabar → kuatkan kesabaran → istiqamah/berjaga → takwa⬇️Hasilnya: keberuntungan dunia dan akhirat.Jadi, Ali Imran 199 mengajarkan kejujuran terhadap kebenaran, sedangkan Ali Imran 200 mengajarkan keteguhan dalam menjalankan kebenaran tersebut.Relevansi untuk kehidupan sekarangAyat ini sangat relevan karena kita bukan hanya dituntut mengetahui kebenaran, tetapi juga konsisten menjalankannya. Misalnya:Jujur meskipun kejujuran merugikan secara materi;Sholat yang utama meskipun sibuk;Mampu menahan hawa nafsu dan godaan;Tidak menyembunyikan ilmu demi kepentingan pribadi;Tidak mudah meninggalkan prinsip agama ketika mendapat tekanan lingkungan;Menjaga keistiqomahan dengan Allah dalam kondisi senang maupun susah.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka3 September 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

STRATEGI MEMBANGUN RASA PERCAYA DIRI

1. DUKUNG DENGAN VALIDASITunjukkan bahwa perasaan anak itu nyata, boleh dirasakan, dan dapat dikelola. Dengan menamai dan memvalidasi perasaan, kita mengajarkan bahwa perasaan mereka tidak apa-apa.Contoh:Situasi: Anak merasa sedih saat diantar ke sekolah.💬 “Kamu merasa sedih saat diantar, ya? Masuk akal, ditinggalkan di sekolah bisa terasa berat.”Situasi: Anak tidak ingin pergi latihan sepak bola.💬 “Sepak bola terasa agak sulit sekarang, ya? Masuk akal. Mari kita pikirkan hal ini bersama-sama.”Hindari respons seperti:❌ “Tapi, sisa hari itu menyenangkan, kan?”❌ “Tapi, kamu kan suka sepak bola!”2. “DARI MANA IDEMU...?”Daripada hanya memuji hasil, tanyakan proses berpikir anak.💬 “Dari mana idemu menggambar itu?”💬 “Dari mana idemu memulai cerita seperti itu?”💬 “Dari mana idemu menyelesaikan soal Matematika itu?”💬 “Dari mana idemu menggunakan bahan-bahan itu bersamaan?”Pertanyaan seperti ini membantu anak mengenali dan menghargai cara berpikirnya.💬 “Bagaimana pendapatmu tentang...?”Pesannya kepada anak:“Hal-hal di dalam diri saya menarik dan berharga.”3. ASPEK INTERNAL DARIPADA EKSTERNALFokuskan perhatian pada kualitas dan proses dalam diri anak, bukan hanya hasil atau label.🌱 ASPEK INTERNAL:• Usaha dalam latihan• Sikap saat menang dan kalah• Kemauan mencoba hal baru• Kemauan mencoba soal tambahan• Waktu yang digunakan untuk belajar• Antusiasme terhadap suatu pelajaran🏆 ASPEK EKSTERNAL:• Jumlah gol atau home-run• Nilai dan nilai ujian• Label “pemain paling berharga”• Label “anak terpintar”Semakin kita fokus pada aspek internal, semakin anak belajar menghargai dirinya—bukan hanya apa yang berhasil ia capai.4. “KAMU BENAR-BENAR TAHU APA YANG KAMU RASAKAN” / “TIDAK APA-APA MERASA SEPERTI INI”Kepercayaan diri dimulai dari kemampuan anak untuk mempercayai perasaannya sendiri.💬 “Kamu benar-benar tahu apa yang kamu rasakan saat ini.”💬 “Wow, kamu benar-benar mengenal dirimu sendiri.”Situasi: Anak menempel pada Anda di taman.💬 “Kamu belum siap untuk bergabung. Tidak apa-apa. Kamu benar-benar tahu bagaimana perasaanmu saat ini.”Situasi: Anak menangis karena tidak diundang ke acara menginap.💬 “Kamu sangat kecewa. Boleh saja kamu merasa seperti ini.”🌿 Intinya:Bantu anak mengenali, mempercayai, dan menghargai perasaan serta kualitas dalam dirinya. Dari sanalah rasa percaya diri tumbuh.GOOD INSIDEMeletakkan Kepercayaan Penuh bahwa Semua Anak Berhati Baik(Dr. Becky Kenned y)

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI3 September 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 84

ilmiyyah.comMain MenuHomeHalaqah 84 | Takdir Allāh ﷻ Tidak Bisa Diubah oleh Makhluk Meskipun Mereka Semua BersepakatHalaqah 84 | Takdir Allāh ﷻ Tidak Bisa Diubah oleh Makhluk Meskipun Mereka Semua BersepakatKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-84 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Beliau mengatakan rahimahullāh: فَلَوِ اجْتَمَعَ الخَلْقُ كُلُّهُمْSeandainya seluruh makhluk berkumpul, jangan satu atau dua, tetapi semuanya berkumpulعَلَىٰ شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَىٰ أَنَّهُ كَائِنٌSeandainya semua makhluk berkumpul, baik jin maupun manusia, hewan, dan seluruh makhluk yang ada berkumpul atas sesuatu yang sudah ditetapkan oleh Allāh tetapkan sesuatu tadi di dalam Lauh al-Maḥfūẓ, sudah Allāh tulis di dalam Lauh al-Maḥfūẓ itu terjadiلِيَجْعَلُوهُ غَيْرَ كَائِنٍkemudian mereka semuanya berkumpul untuk menjadikan itu tidak terjadi, Allah sudah tulis dalam Lauh al-Maḥfūẓ itu akan terjadi, meninggalnya seseorang atau mendapatkan nikmatnya seseorang, hidayahnya seseorang, tersesatnya seseorang sudah Allah tulis, kemudian semua makhluk berkumpul untuk menjadikan itu tidak terjadi, sudah ditulis oleh Allah fulan ini mendapatkan hidayah semuanya berkumpul untuk menghalangi dia dari hidayah, di doktrin disurati didatangi diberikan syubhat diasingkan dan seterusnya tapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menentukan menuliskan bahwasanya orang ini akan mendapatkan hidayah makaلَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِmereka tidak akan mampu untuk melakukannya.Sebaliknya apa yang sudah Allāh ﷻ tulis tidak akan terjadi kemudian semuanya berkumpul untuk menjadikan itu terjadi maka mereka juga tidak akan mampu. Semuanya sudah ditulis mereka tidak bisa menghalangi rezeki kita yang sudah Allāh ﷻ tulis, mereka tidak bisa memberikan atau menghalangi hidayah yang sudah Allāh ﷻ tetapkan untuk kita.Demikian pula sebaliknya kita tidak bisa menyampaikan hidayah kepada seseorang yang sudah Allāh ﷻ tetapkan dia sesat, tidak bisa kita memberikan hidayah kepada orang yang sudah Allāh ﷻ tetapkan dan dijauhkan dari agama ini, yang bisa kita lakukan memenuhi perintah Allāh ﷻ yaitu berdakwah, memberikan nasihat, memberikan contoh. Semuanya sudah ditulis oleh Allāh ﷻ hidayah maupun kesesatan.Ini makna ucapan beliauوَلَوِ اجْتَمَعُوا كُلُّهُمْ عَلَىٰ شَيْءٍ كَتَبَهُ اللهُ تَعَالَىٰ فِيهِ أَنَّهُ غَيْرُ كَائِنٍ، لِيَجْعَلُوهُ كَائِنًا؛ لَمْ يَقْدِرُوا عَلَيْهِtidak akan mungkin mereka bisa melakukannya.Dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakan kepada ʿAbdullāh bin ʿAbbāsوَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُNabi ﷺ memberikan nasehat kepada ʿAbdullāh bin ʿAbbās dan saat itu masih kecil tapi sudah diajari tentang keimanan dengan takdir, menunjukkan bahwa diantara hal yang perlu kita tekankan kepada anak-anak kita adalah keimanan dengan takdir Allāh ﷻ, penting.Ketahuilah bahwasanya semua makhluk, semua umat seandainya mereka semuanya bersatu untuk memberikan manfaat kepadamu, ingin menolongmu, ingin memberikan hidayah kepadamu, ingin memberikan kamu rezekiلَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَtidak mungkin mereka itu bisa memberikan kepada kamu manfaat kecuali dengan sesuatu yang sudah Allāh ﷻ tulis.Kalau Allāh ﷻ sudah menulis antum dapat sekian atau diberi sekian maka tidak mungkin mereka bisa memberi lebih dari itu. Oleh karena itu ketika seseorang diberikan manfaat oleh orang lain ketahuilah bahwasanya itu sudah di takdirkan oleh Allāh ﷻ. Maka bersyukurlah dan memujilah Allāh ﷻ dan bukan berarti kita tidak mengucapkan syukur kepada manusia karena kita diperintahkan untuk mengucapkan syukur dan berterima kasih kepada manusiaلَا يَشْكُر اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُر النَّاسَTidak bersyukur kepada Allāh ﷻ orang yang tidak bersyukur kepada manusia.Kita tahu bahwasanya ini sudah di takdirkan, dia memberi kita sudah di takdirkan oleh Allāh ﷻ tidak keluar dari apa yang Allāh ﷻ sudah tulis, dan kita diperintahkan untuk bersyukur kepada manusia mengucapkan terima kasih kepada manusia dan ini adalah bentuk syukur kita kepada Allāh ﷻ. Ini bagus ditanamkan pada anak-anak kita, tidak mungkin mereka itu bisa memberikan bantuan kepadamu kecuali itu sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ, maka pujilah Allāh ﷻ. Kemudianوَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَSeandainya mereka semuanya berkumpul untuk memudharati kamu, mereka ingin menyihirmu, ingin membegalmu, ingin membunuhmu, ingin mengganggumu, itu juga perlu ditanamkan, tidak mungkin mereka bisa memudharati dirimu kecuali dengan sesuatu yang sudah Allāh ﷻ tulis.Kalau memang Allāh ﷻ menulis di dalam Lauh al-Maḥfūẓ engkau akan tergores engkau akan tersayat bagian punggungmu misalnya, itu yang akan tersayat, tidak mungkin mereka bisa melakukan lebih daripada itu, tidak mungkin mereka bisa memudharati kecuali dengan apa yang sudah Allāh ﷻ tulis. Kalau ditanamkan berulang-ulang di dalam diri seseorang seorang anak dan diri seorang muslim secara umum maka menjadikan dia bertawakkal kepada Allāh ﷻ, hanya takut kepada Allāh ﷻ.Dan itulah yang dialami oleh para sahabat radhiyallāhu ta’ala ‘anhum, Nabi ﷺ sudah menanamkan kepada diri mereka keimanan dengan takdir sehingga diantara pasukan-pasukan perang, para sahabat Nabi ﷺ dikenal sebagai pasukan perang yang paling berani, tidak diketahui dalam sejarah pasukan perang yang lebih berani daripada para sahabat Nabi ﷺ.Karena mereka yakin, tidak mungkin mengenai saya kecuali apa yang sudah Allāh ﷻ tetapkan. Seseorang mau berada di dalam rumahnya di dalam gedung yang kuat yang tinggi yang dijaga oleh banyak pengawal dan berbagai pengamanan, kalau memang sudah ditakdirkan oleh Allāh ﷻ dia termudharati dia terkena sesuatu pasti akan terjadi, tidak mungkin dia akan bisa menghindar.Dia sudah berusaha menjaga pola makannya, menjaga makanannya, menjaga pola hidupnya, kalau memang sudah Allāh ﷻ tulis dia terkena penyakit tersebut ya dia akan terkena, tidak mungkin dia bisa menghindar dari apa yang sudah Allāh ﷻرُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُPena-pena telah diangkat oleh Allāh ﷻ dan juga lembaran-lembaran telah kering, ini sudah selesai tidak mungkin bisa dirubah.Termasuk diantaranya penduduk surga dan juga penduduk neraka sebagaimana telah berlalu itu juga diantara yang sudah diketahui oleh Allāh ﷻ dan sudah ditulis oleh Allāh ﷻ tidak mungkin bisa dirubah. Kita berdoa kepada Allāh, semoga Allāh Subḥānahu wa Taʿālā menjadikan kita termasuk Ahlul Jannah dan memudahkan kita untuk mengamalkan amalan Ahlul Jannah.

💬 0 komentar📅 3 Sep 2026Baca selengkapnya →