📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
N
Nurul

📍 Kota Depok

Silsilah ilmiyah : pembahasan kitab al-utsulu ats-tsalatsah bag. 2

Halaqah 27 : Landasan Kedua Ma’rifatu Dīnil Islam Bil Adillah: Muqaddimah #2Didalam sebuah hadīts yang shahīh, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلَّاتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ“Para nabi itu ibarat saudara sebapak. Ibu mereka berbeda-beda, agama mereka adalah satu.”(Hadīts riwayat Bukhāri 3443 dan Muslim 2365)Para nabi mereka bersaudara, ibu mereka berbeda tapi bapak mereka sama. Dan ini bukan maksud nasab secara hakiki. Tetapi disini (maksudnya) ingin mendekatkan kepada kita pemahaman tentang bagaimana aqidah dan tata cara ibadah mereka.⇒ Ibu-ibu mereka berbeda, maksudnya adalah syari’at mereka berbeda.Sebagaimana firman Allāh Azza wa Jalla:لِكُلٍّۢ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةًۭ وَمِنْهَاجًۭا ۚ“Bagi masing-masing dari kalian, kami jadikan syari’at dan juga jalan”.(QS. Al-Maidāh: 48)Syari’at yang ada di zaman nabi Mūsā berbeda dengan syari’at di zaman nabi Hūd (misalnya).Syari’at yang ada dikaumnya nabi Shālih berbeda dengan syari’at yang ada dikaumnya nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam (misalnya).Yang berbeda diantara mereka adalah syari’atnya (tatacara beribadahnya) karena kebijaksanaan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla, maka Allāh bedakan.Mungkin sebuah syari’at pas bagi sebuah kaum dan tidak pas bagi kaum yang lain, sehingga bukan keadilan jika Allāh samakan satu dengan lain. Allāh Subhānahu wa Ta’āla Maha Bijaksana (sehingga Allāh bedakan syari’atnya).Terkadang sebuah syari’at disyari’atkan bagi sebuah kaum tetapi tidak disyari’atkan bagi kaum yang lain.Contoh (seperti):⑴ TayammumTayammum hanya disyari’atkan untuk umat Nabi muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam saja. Adapun umat-umat sebelumnya tidak disyari’atkan Tayammum.Didalam sebuah hadīts beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا“Dijadikan untukku tanah sebagai masjid (tempat shalāt) dan untuk bersuci.”(Hadīts riwayat Bukhāri nomor 438)⇒ Jadi tanah yang kita pijak ini, bisa digunakan untuk sujud sekaligus bisa untuk bersuci (tayammum) artinya jika disana tidak ada air untuk berwudhu atau untuk mandi maka bisa digantikan dengan Tayammum.Syari’at Tayammum ini tidak ada bagi umat sebelumnya dan tidak boleh mereka melakukan sujud diatas tanah langsung tapi harus ada tempat ibadah didalam ruangan.Makanya beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) mengatakan :فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّMaka siapa saja dikalangan umat-ku yang mendapatkan waktu shalāt (misalnya ketika dia safar dia mendapati waktu shalāt) maka dia tidak harus menunggu hingga mendapatkan tempat untuk shalāt (masjid atau mushala), seandainya dia berhenti lalu dia shalāt diatas gurun atau tanah (misalnya) maka ini tidak masalah.⇒ Jadi Tayammum hanya disyari’atkan bagi umat Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan tidak disyari’atkan bagi umat sebelumnya.⑵ Masalah Halal dan HaramMasalah Halal dan haram terkadang juga berbeda, terkadang Allāh haramkan bagi sebagian kaum dan dihalalkan bagi kaum yang lain.Contoh : GhanimahNabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan :وَأُحِلَّتْ لِيَ الغَنَائِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِيDan dihalalkan untuk-ku ghanimah (maksudnya untuk beliau dan disyari’atkan untuk umat beliau). Seandainya berperang dan musuh kita (orang-orang kāfir) kalah maka halal bagi kita untuk mengambil rampasan perang (bukan sesuatu yang diharamkan) seperti senjata, emas yang tertinggal bahkan tawanan mereka bisa menjadi budak yang halal bagi kaum muslimin (tentunya dengan aturan yang ada didalamnya).Adapun diumat sebelumnya (umat nabi-nabi sebelumnya) jika terjadi peperangan antara mereka dengan kufar maka tidak halal bagi mereka untuk mengambil harta rampasan perang. Meskipun dihadapan mereka tumpukan emas,hewan dan yang lainnya maka tidak halal bagi mereka untuk mengambil rampasan perang tersebut.Kalau mereka mengambil maka haram hukumnya, ini berlaku bagi umat-umat sebelumnya.⇒ Ini adalah makna أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى (ibu-ibu mereka berbeda) maksudnya syari’atnya berbeda.وَدِينُهُمْ وَاحِدٌAdapun agama mereka satu yaitu Islām, maksudnya adalah semuanya dari awal hingga akhir agamanya satu yaitu menyembah hanya kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.⇒ Islām menyerahkan diri hanya kepada Allāh.Bedanya :√ Satunya disyari’atkan Tayammum.√ Satunya TIDAK disyari’atkan Tayammum.Tapi semuanya sama hanya menyembah kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.√ Satunya dihalalkan ghanimah.√ Satunya TIDAK dihalalkan ghanimah.Semuanya sama, menyembah dan taat kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.Maka hadīts yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhāri ini menunjukkan bahwa para nabi dan para rasūl agama mereka satu yaitu ISLĀM.⇒ Dan ini adalah makna Dīnul Islām secara umum.Kemudian disana ada makna agama Islām secara khusus yaitu Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan inilah yang dimaksud oleh beliau (pengarang) didalam ucapan beliau :معرفة دين الإسلام بالإدلةKita mengenal agama Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, karena kita mengaku sebagai pengikut beliau dan pemeluk agama Islām. Maka kewajiban kita adalah mengenal agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Kemudian kalau kita cermati (nanti) ternyata didalam agama Islām yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam didalamnya juga ada istilah Islām.Jadi yang paling luas Islām adalah agama seluruh nabi dan rasūl, lebih khusus adalah agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Dan agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam ada 3 tingkatan;⑴ Islām (الإسلام)⑵ Imān (الإيمان)⑶ Ihsān (الإحسان)√ Islām mewakili amalan-amalan yang dhāhir.√ Imān mewakili amalan-amalan yang bathin.√ Ihsān adalah puncak didalam melakukan amalan yang dhāhir maupun yang bathin.Dīn (دِينَ) disini maksudnya adalah Dīnul Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.Ucapan beliau (rahimahullāh) :بالإدلة“Dengan dalīl-dalīlnya”Kita ingin mengenal agama Islām yang dibawa oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dengan dalīl-dalīlnya. Karena demikianlah aqidah dibangun. Seseorang boleh meyakini kalau memang ada hujjah (dalīlnya).Dalam agama Islām diajarkan kepada kita untuk meyakini sesuatu berdasarkan hujjah. Jika ada dalīl silahkan diyakini.Jadi aqidah tidak dibangun diatas khurāfat, takhayul, persangkaan semata yang tidak ada dalīlnya seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrikin.Mereka (orang-orang musyrikin) meyakini dan mengatakan sesuatu hanya dzān saja, semua itu muncul dari lisan mereka (tanpa dalīl) hanya berdasarkan persangkaan semata.Seperti ketika mereka mengatakan:هَـٰٓؤُلَآءِ شُفَعَـٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ“Mereka itu pemberi syafa’at bagi kami disisi Allāh” (QS.Yūnus 18).مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ“Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allāh dengan sedekat-dekatnya” (QS. Az-Zummar :3).Malāikat adalah بنت الله ?Darimana mereka ucapkan itu semua? Dzān saja ( إِلَّا ٱلظَّنَّ) mereka tidak menyangka kecuali hanya persangkaan semata. Dan demikian yang dilakukan oleh pengikut-pengikut mereka sampai saat ini.Mereka mengatakan sesuatu yang tidak jelas dalīlnya, hanya dzān dan juga takhārus, takhabut, tidak ada disana sesuatu yang berdasarkan dalīl yang shahīh.Maka beliau rahimahullāh mengajak kita untuk mengenal agama Islām dengan dalīl-dalīl.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
K
khaira azwa putri ranaji

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

catatan TALBIS IBLIS #7: talbis iblis kepada ahli ibadah

TALBIS IBLIS #7: talbis iblis kepada ahli ibadah1️⃣Sibuk dengan Amalan Lahiriah, Lupa Memperbaiki Batinsetan sering membuat orang rajin shalat sunnah namun lupa memperbaiki penyakit batin (seperti sombong, dengki, dll) dan tidak peduli dengan kehalalan makanan.2️⃣Target Khatam Al-Qur’an Tanpa Tadabursetan menggoda untuk membaca Al-Qur'an dengan sangat cepat (hazan) demi mengejar target khatam tanpa dibaca perlahan (tartil) dan tanpa dipahami maknanya.Rasulullah ﷺ bersabda:"لَا يَفْقَهُ مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فِي أَقَلَّ مِنْ ثَلَاثٍ""Tidak paham (tidak faqih) orang yang membaca (mengkhatamkan) Al-Qur'an kurang dari tiga hari".🎈Tujuan utama membaca Al-Qur’an adalah untuk tadabur (merenungkan maknanya) agar iman bertambah, bukan sekadar sampai di lisan saja.3️⃣Beribadah Sambil Mengganggu Orang Lainsetan membisikkan bahwa membaca Al-Qur'an dengan suara keras di menara atau mikrofon masjid di malam hari adalah kebaikan.Namun, Ibnu Jauzi menyebut ini memiliki dua kesalahan besar:mengganggu orang yang sedang tidur, orang sakit, atau orang yang sedang khusyuk shalat tahajudrentan terjerumus dalam riya' karena sulit bagi hati untuk tetap ikhlas saat bacaan bagusnya didengar banyak orang di tengah malam.4️⃣Pamer Ibadah Secara Haluscara licik setan untuk merusak keikhlasan seseorang:Mengumumkan ibadah (ex: sengaja membaca doa khatam Al-Qur'an di depan jemaah setelah shalat agar orang tahu dia sudah khatam).Menjaga "image" (seseorang yang dikenal selalu puasa, saat dia sedang tidak puasa (karena sakit atau hal lain), dia bersembunyi saat makan agar orang-orang tetap menyangka dia hebat karena selalu puasa).Sindiran halus (saat diajak makan, dia berkata, "Eh, ini hari apa ya? Hari Kamis ya?" (mengisyaratkan bahwa dia rutin puasa Senin-Kamis)).5️⃣Berlebih-lebihan dalam Puasa Sunnahsetan mendorong seseorang untuk puasa setiap hari tanpa henti (puasa dahar). Hal ini bisa menimbulkan dampak buruk:Membuat tubuh lemah sehingga tidak bisa bekerja mencari nafkah bagi keluarga.Melalaikan kewajiban biologis terhadap pasangan.Nabi ﷺ menegaskan bahwa puasa yang paling dicintai Allah adalah Puasa Daud: "أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ"6️⃣Bahaya Riya' yang Menghapus Amalsetan sering membisikkan agar kita menceritakan amalan kita dengan alasan "supaya jadi teladan". Padahal, para salaf dahulu sangat berusaha menyembunyikan amal mereka seperti mereka menyembunyikan dosa.Nasihat Abu Hazim:"اكْتُمْ مِنْ حَسَنَاتِكَ كَمَا تَكْتُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكَ""Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan dosa-dosamu".Setiap kali amalan yang tadinya rahasia diceritakan kepada orang lain, maka pahalanya bisa berkurang dari pahala amalan tersembunyi menjadi pahala amalan yang terlihat.Jangan hanya mengejar kuantitas ibadah, tapi perhatikan kualitas, keikhlasan, dan jangan sampai ibadah kita justru mengganggu hak orang lain atau menjadi sarana untuk pamer.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
F
Fenti Srifaryanti

📍 Kota Serang

Halaqah 52

Penjelasan Umum Bab dan Pembahasan Dalil Kedua QS An Nisa 60Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Kitāb Fadhlul Islāmالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-52 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Fadhlul Islām yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh.Berkata Al-Mushannif rahimahullah, beliau mendatangkan Firman Allāh ﷻوقوله تعالى : {أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا} [النساء : 60](Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.)Allāh mengatakan,Apakah engkau tidak melihat kepada orang-orang yang menyangka bahwasanya mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, yaitu Al-Qur’an.وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَDan beriman dengan apa yang diturunkan sebelummu. Yakni Taurat, Injil dan seterusnya.يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِMereka mengaku muslim, karena mungkin sudah bersyahadat di depan Nabi, atau depan para sahabat, tapi ketika terjadi masalah di antara mereka, bukan mengembalikan keputusan dari permasalahan tadi kepada Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam, bahkanيُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِMereka justru ingin bertahakum kepada thaghut. Padahal sudah menyangka bahwasanya mereka adalah katanya beriman kepada Al-Qur’an, katanya beriman dengan apa yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallâhu Alaihi Wasallam. Tapi ketika terjadi permasalahan, persengketaan, justru malah bertahakum kepada thaghut.Dan di antara makna thaghut adalahمن حكم بغير ما أنزل اللهSudah berlalu ketika membahas tentang Tsalatsatul Ushul.Dan masuk di dalam thaghut adalah setiap orang yangمن ادّعى علم الغيبSetiap orang yang mengaku mengetahui ilmu yang ghoib.Ada di antara mereka justru ingin bertahakum kepada thaghut. Misalnya kepada dukun, atau bertahakum kepada orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah.Harusnya apa? Kalau memang dia muslim, maka wajib untuk Islam kullihi, bukan hanya sekedar dalam masalah ibadah, dalam masalah aqidah, tapi ketika terjadi persengketaan dalam masalah muamalah ataupun yang lain, maka seorang muslim, dia harus masuk ke dalam Islam semuanya. Yaitu menyerahkan keputusan dari persengketaan tadi kepada Allah dan juga rasul-Nya, bukan kepada thaghut. Ini menguatkan tentang kewajiban masuk ke dalam Islam semuanya. Ya, termasuk di antaranya ketika ada perselisihan.وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِDan sungguh mereka telah diperintahkan untuk mengkufuri thaghut tersebut.Mereka diperintahkan untuk mengingkari thaghut, mengingkari dukun, mengingkari setiap orang yang berhukum dengan selain hukum Allah, dan kita diperintahkan untuk beriman dengan Allah.{فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا} [البقرة : 256](Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.)Mereka sudah diperintahkan untuk mengingkari thaghut, dan ini adalah bagian dari Islam.الإسلام الاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهلهItu bagian dari Islam.وَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِMereka sudah diperintahkan untuk mengingkari thaghut. Karena mengingkari thaghut adalah bagian dari Islam. Tapi kok masih bertahakum kepada thaghut. Berarti di sini belum masuk ke dalam Islam kullihi. Padahal wajib bagi mereka untuk masuk ke dalam Islam kullihi.وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًاDan syaitan ingin untuk menyesatkan mereka dengan kesesatan yang jauh.Dalam ayat ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabarkan tentang keadaan orang-orang munafik, yang di antara sifat mereka, kesenangan mereka, kemauan mereka, untuk bertahakum bukan kepada Allah dan rasul-Nya. Karena mereka memang tidak beriman. Tapi tahakumnya adalah kepada thaghut.Dari mana kita berdalil dengan ayat ini tentang wajibnya masuk ke dalam Islam secara keseluruhan?Tadi sudah disebutkan di dalam firman Allah Azza wa Jallaوَقَدْ أُمِرُوا أَن يَكْفُرُوا بِهِDan sungguh mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut.Dan mengingkari thaghut, ini adalah termasuk makna Islam.Karena Islam adalahالاستسلام لله بالتوحيد والانقياد له بالطاعة والبراءة من الشرك وأهلهIni mengingkari thaghut.Ketika mereka berhukum dengan thaghut, berarti mereka telah meninggalkan satu di antara konsekuensi keislaman mereka. Karena konsekuensi keislaman, adalah Islam di seluruh perkara. Termasuk di antaranya adalah di dalam masalah tahakum, yaitu berhukum. Maka harus yakin bahwasanya apa yang diputuskan oleh Allah dan rasul-Nya ini adalah keputusan yang paling benar, adalah keputusan yang paling baik, untuk dirinya dan orang lain. Itu keyakinan seorang muslim.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Halaqah 2 Muqaddimah Kitab Ta’dzimul Ilmi

Halaqah yang ke dua dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Khulashah Ta’dzimul Ilmi yang ditulis oleh Fadhilatu Syaikh Shalih Ibn Abdillah Ibn Hamad Al-Ushaimi hafidzahullahu ta’ala.Masuklah sekarang beliau pada Khulashah Ta’dzhimul ‘Ilmi. Tentunya dimulai dari muqaddimah yang ada di dalam Kitab Ta’dzhimul ‘Ilmi.Beliau mengatakan,بسم الله الرحمن الرحيمJadi kitab Ta’dzhimul ‘Ilm juga dimulai dengan basmalah.  الحمد لله، وأشهد ألَّ إله إلَّ الله، وأشهد أنَّ محمَّدًا عبده ورسوله صلى الله عليه وسلم، وعلىٰ آله وصحبه عدد من تعلَّم وعلَّمSetelah membaca basmalah sebagaimana tadi beliau memuji Allah subhanahu wa taala dan bersyahadat dengan dua kalimat Syahadat dan mengucapkan shalawat dan salam untuk keluarga Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam.أمَّا بعدُAdapun setelahnya,فإنَّ حظَّ العبد من العلم موقوفٌ علىٰ حظِّ قلبه من تعظيمه وإجلالهIni muqaddimah yang bagus yang hendaklah kita memahaminya.Sesungguhnya, kata beliau, bagian seorang hamba terhadap ilmu (besar kecilnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki, banyak sedikitnya ilmu yang bermanfaat yang dia miliki) itu tergantung pada pengagungan dia terhadap ilmu itu sendiri.فمن ٱمتأ قلبه بتعظيم العلم وإجلالهMaka barangsiapa yang penuh hatinya ini dengan pengagungan terhadap ilmu, semakin berisi hatinya dengan pengagungan terhadap ilmu, semakin mengagungkan ilmu,صلُح أن يكون محلا لهMaka hati tersebut pantas untuk menjadi tempat bagi ilmu itu sendiri.وبقدر نقصان هيبة العلم في القلب؛ ينقص حظُّ العبد منهDan sesuai dengan semakin berkurang pengagungan seseorang terhadap ilmu, maka akan semakin berkurang juga ilmu yang bermanfaat yang ada pada orang tersebut.حتىَّٰ يكونَ من القلوب قلبٌ ليس فيه شيءٌ من العلمSehingga di sana ada hati-hati manusia yang tidak ada di dalamnya sedikit pun ilmu.Karena pengagungan dia terhadap ilmu di dalam hatinya itu kosong, karena tidak ada pengagungan, maka tidak ada sama sekali ilmu di dalam hatinya.Ini bisa kita rasakan pada diri kita sendiri dan kita bisa melihat orang yang ada di sekitar kita. Semakin dia mengagungkan ilmu, maka ilmu semakin betah untuk tinggal di dalam hatinya. Tapi semakin berkurang pengagungan dia terhadap ilmu, maka akan semakin berkurang juga ilmu yang ada pada dirinya.فمن عظَّم العلم لاحت أنواره عليه، ووفَدَت رُسل فنونه إليهMaka barangsiapa yang mengagungkan ilmu (ilmu yang bermanfaat), maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu tersebut pada dirinya.Barangsiapa yang mengagungkan ilmu maka akan muncul cahaya-cahaya ilmu pada diri orang tersebut. Al jaza min jinsil ‘amal (balasan sesuai dengan amalannya), dan kemudian akan berdatanganlah cabang-cabang dari ilmu tersebut kepadanya ketika dia mengagungkan ilmu tersebut di dalam hatinya. Maka akan dengan senang hati cabang-cabang dari ilmu itu mendatangi orang tersebut. Bukan hanya pokok-pokok dari ilmu tapi juga cabang-cabangnya akan mendatangi orang tersebut karena dia mengagungkan ilmu.ولم يكن لهمَّته غايةٌ إلا تلقِّيه، ولا لنفسه لذَّةٌ إلاَّ الفكرُ فيهKalau orang sudah mengagungkan ilmu, maka tidak ada keinginan yang puncak bagi dirinya kecuali ingin mendapatkan ilmu tersebut, keinginan dia yang paling besar adalah mendapatkan ilmu tersebut sebagaimana para ulama mereka mendapatkan ilmu tersebut. Dan tidak ada di dalam dirinya kelezatan kecuali ketika dia memikirkan ilmu tersebut.Kelezatan dia bukan pada tontonan, bukan apa yang dia dengar tapi kelezatan dia adalah ketika dia memikirkan ilmu tersebut. Dia merasakan kenikmatan tersebut tidak dirasakan oleh orang lain.وكأنَّ أبا محمَّدٍ الدَّارميَّ الحافظ رَحِمَهُ الله لَمَحَ هٰذا المعنىٰ فَخَتَمَ كتاب العلم من سننه المسمَّاة ب”المسند الجامع” ببابٍ في إعظام العلمSepertinya (kata Syaikh) Abu Muhammad Ad-Darimi Al-Hafidz beliau mengisyaratkan pada makna ini, yaitu makna bahwasanya orang yang mengagungkan ilmu maka dia akan mendapatkan ilmu. Kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka dia tidak akan mendapatkan ilmu.Di dalam kitab beliau Al-Musnad atau dikenal dengan Sunan Ad-Darimi maka beliau menutup kitabnya dengan sebuah bab yang isinya adalah tentang pengagungan ilmu dan ini beliau taruh di akhir. Sepertinya beliau ingin menunjukkan bahwasanya tidak mungkin mendapatkan ilmu kecuali orang yang mengagungkan ilmu. Kemudian beliau mengatakan,وأعونُ شيءٍ علىٰ الوصول إلىٰ إعظام العلم وإجلاله: معرفةُ معاقد تعظيمهDan perkara yang paling membantu kita, setelah kita mengetahui bahwasanya ternyata rumus untuk mendapatkan ilmu kita harus punya pengagungan terhadap ilmu, itu sudah menjadi rumus, kalau kita punya pengagungan kita akan mendapatkan ilmu kalau kita tidak mengagungkan ilmu, maka jangan berharap kita bisa mendapatkan ilmu tersebut.Kata Syaikh untuk mendapatkan di dalam hati kita pengagungan yang besar terhadap ilmu maka hal yang sangat membantu supaya kita sampai kepada sikap mengagungkan terhadap ilmu itu adalah kita harus mengenal simpul-simpul dari pengagungan terhadap ilmu. Karena dari mengenal itulah baru kita bisa mengamalkan, kalau kita tidak mengenal bagaimana kita bisa mengamalkan.وهي الأصول الجامعة، المحقِّقَةُ لِعَظَمَة العلم في القلبYang dimaksud dengan simpul tadi itu adalah pokok-pokok yang menyeluruh, prinsip-prinsip dasar yang menyeluruh, yang akan mewujudkan pengagungan terhadap ilmu di dalam hati kita.Syaikh ingin menyebutkan untuk kita supaya kita tahu, kemudian kita bisa mengamalkan, dan kita bisa mewujudkan pengagungan terhadap ilmu tersebut di dalam diri kita.فمن أخذ بها كان معظِّمًا للعلم مجِلًّ لهMaka barangsiapa yang mengambil simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu tadi, dia ambil, dia pahami dan dia praktekkan, maka dia adalah orang yang mengagungkan ilmu.ومن ضيَّعها فلنفسه أضاعTapi barangsiapa yang menyia-nyiakan simpul-simpul tadi, mungkin dia belajar tapi dia tidak mengamalkan simpul-simpul tadi, dia dengarkan dan dia tinggalkan, berarti dia telah menyia-nyiakan simpul-simpul tadi.Dia tidak mengamalkan dia tidak mempraktikkan dalam kehidupan dia sehari-hari atau dalam kehidupan dia dalam menuntut ilmu, maka orang tersebut pada hakikatnya dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. Karena ketika dia menyia-nyiakan simpul-simpul tadi akhirnya dia tidak mengagungkan ilmu. Kalau dia tidak mengagungkan ilmu maka akhirnya dia tidak mendapatkan ilmu. Dan orang yang tidak mendapatkan ilmu, dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, meridhoi dirinya dalam keadaan bodoh. Ridha kalau dirinya dalam keadaan tidak tahu tentang agama Allah ﷻ. Maka dia telah menyia-nyiakan dirinya sendiri, karena rata-rata musibah itu sebabnya adalah karena kebodohan. Sebaliknya, dengan ilmu, seseorang berarti dia dikehendaki kebaikan oleh Allah.مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِBarangsiapa yang Allah ﷻ kehendaki kebaikan pada dirinya maka Allah subhanahu wa ta’ala akan menjadikan dia paham tentang agamanya.Kalau kita membiarkan diri kita dalam keadaan bodoh berarti kita telah menyia-nyiakan diri kita sendiri. Kita dalam keadaan bodoh karena kita tidak mau mengagungkan ilmu sehingga ilmu pun tidak mau betah di dalam diri kita, kita pun dalam keadaan bodoh. Makanya kita belajar mempelajari simpul-simpul pengagungan terhadap ilmu supaya kita mendapatkan ilmu.ولِهَواه أطاعDan dia telah mengikuti hawa nafsunya.Simpul-simpul yang akan beliau sebutkan itu kebanyakan atau semuanya bertentangan dengan hawa nafsu. Jadi kalau kita menyia-nyiakan simpul-simpul tadi berarti kita sebenarnya mengikuti hawa nafsu kita, karena apa yang beliau sebutkan berupa prinsip dan juga simpul dalam mengagungkan ilmu itu rata-rata bertentangan dengan hawa nafsu.فلا يلومنَّ – إن فتَر عنه – إلَّ نفسهMaka janganlah dia mencela kalau sampai dia terputus dari ilmu kecuali dirinya.Kalau terjadi musibah atau dia tidak mendapatkan ilmu, karena dia tidak mengikuti simpul-simpul tadi, tidak mempraktekkan simpul-simpul tadi. Seandainya dia suatu saat putus dari ilmu dan tidak istiqomah di atas ilmu maka janganlah dia mencela kecuali dirinya sendiri. Nasihat sudah datang dari para ulama yang mereka sudah mendahului kita dalam sampainya mereka kepada ilmu.Kemudian beliau mendatangkan pemisalan.يداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَDua tanganmu itulah yang mengikat dan mulutmu yang meniup.Ini adalah sebuah permisalan ketika ada seseorang yang dia ingin menyeberang sungai kemudian dia ingin menggunakan kirbah, sebuah tempat yang digunakan untuk menaruh air, zaman dulu terbuat dari kulit yang dihilangkan isinya, yaitu dihilangkan airnya kemudian ditiup dan diikat sehingga isinya adalah udara berfungsi seperti ban kalau di zaman kita.Ditiup kemudian diikat dengan tangannya kemudian dia pun menyeberangi sungai tersebut tapi dia mengikatnya tidak benar, mengikatnya tidak sungguh-sungguh. Akhirnya ketika dia menyeberang dia pun terseret tidak bisa mengambil faedah dari kirbah tadi, kemudian dikatakan,يداك أوْكَتَا وفوك نَفَخَKedua tanganmu yang mengikat dan mulutmu sendiri yang meniup.Bukan tanganku yang mengikat dan bukan mulutku yang meniup, tapi antum sendiri yang melakukan. Sehingga ini adalah permisalan bagi orang yang dia terkena bencana/musibah karena perbuatan dia sendiri.ومن لا يُكْرِمُ العلمَ لا يُكرِمُه العلمُDan barangsiapa yang tidak menghormati ilmu, tidak memuliakan ilmu, maka ilmu pun tidak akan memuliakan dia.Balasan itu sesuai dengan amal. Kalau kita mengagungkan ilmu, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mengangkat derajat kita.يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚAllah ﷻ akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang berilmu, karena mereka mengagungkan ilmu sehingga Allah ﷻ pun mengangkat derajat mereka.إنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أقْوَاماً وَيَضَعُ بِهِ آخرِينَSesungguhnya Allah ﷻ mengangkat dengan Kitab ini (Al-Quran) beberapa kaum dan merendahkan kaum yang lain.Sehingga kembali kepada diri kita masing-masing. Kalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang kita mengetahui tentang keutamaannya, dimudahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala masuk ke dalam surga.مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِKalau kita ingin mendapatkan ilmu agama yang di situ kita termasuk orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah ﷻ dan diangkat derajatnya oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka kita harus menempuh dan mempraktekkan prinsip-prinsip yang merupakan bentuk pengagungan kita terhadap ilmu agama ini.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
A
Alina Rostiana

📍 Kota Yogyakarta

Materi ke 7 Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu bagian ke -3 Bersama Ustadz DR.FIRANDA ANDIRJA M.A

Materi ke 7Talbis Iblis terhadap Ahli Ilmu bagian ke -3Bersama Ustadz DR.FIRANDA ANDIRJA M.Aبِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِTalbis Iblis terhadap ahli ibadah—Faslun al-insyighal bil-mafduh 'an al-fadhil. Fasal tentang sibuk dengan yang tidak utama sehingga meninggalkan yang utama. Wa qad lab-basa 'ala jama'atin muta'abbidin fatarahum yushallunal-laila wan-nahar wa la yanzhuruna fi islahi 'aibin bathinin wa la fi math'amin wan-nazharu fi dzalika aula bihim min katsratit-tanafful. Kata Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala, "Setan telah menggoda banyak dari ahli ibadah. Kau lihat mereka salat malam, salat-salat sunah di malam hari, salat-salat sunah di siang hari, tetapi mereka tidak perhatian terhadap perbaikan batin mereka. Padahal, kita tahu di dalam batin ini banyak sekali aib.""Dan mereka juga tidak memperhatikan tentang apa yang mereka makan. Padahal, memperhatikan hal-hal tersebut—memperbaiki penyakit-penyakit batin dan juga perhatian terhadap halalnya apa yang kita makan dari sumber yang mana—itu lebih utama daripada memperbanyak salat-salat sunah, daripada memperbanyak salat-salat sunah." Nah, ini maksudnya, ya, Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala eh menyampaikan jangan sampai seseorang sibuk dengan yang zahir, seperti ibadah-ibadah eh salat sunah, kemudian lupa untuk memperbaiki yang batin. Batin kita ini penuh dengan penyakit, perlu kita perbaiki sedikit demi sedikit, perlu kita obati.Demikian juga, jangan sampai rajin ibadah, salat terus, tapi tidak peduli, tidak memperhatikan apa yang kita makan. Harusnya kita perhatikan yang kita makan ini sumbernya halal atau atau tidak. Kemudian pembahasan berikutnya, Dzikru talbisihi 'alaihim fi qira'atil-qur'an. Penyebutan tentang godaan setan terhadap para ahli ibadah dalam membaca Al-Qur'an.Ibnul Jauzi berkata, "Setan telah menggoda suatu kaum dengan memperbanyak tilawah Qur'an, tetapi mereka membaca Al-Qur'an dengan hazzan, yaitu dengan cepat, min ghairi tartil, tanpa mentartil." Yaitu, baca dengan cepat, berburu-buru, tanpa ditartil, tanpa dibaca dengan pelan-pelan. Wa hadzihi halatun laisat bi mahmudah. Metode membaca seperti ini, dengan cepat sekali—ya, intinya target adalah berjus-jus dengan cepat—ini adalah kondisi yang tidak terpuji.Wa qad ruwiya 'an jama'atin minas-salaf annahum kanu yaqra'unal-qur'ana fi kulli yaumin au fi kulli rak'ah. Memang benar, diriwayatkan dari sebagian salaf, ada di antara mereka yang membaca Al-Qur'an khatam dalam sehari, atau bahkan ada yang menghatamkan Al-Qur'an dalam satu rakaat, seperti diriwayatkan dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu dan juga diriwayatkan dari Al-Imam Abu Hanifah rahimahullahu taala. Mereka membaca Qur'an satu rakaat khatam. Namun, kata Ibnul Jauzi, wa hadza yakunu nadiran minhum. Namun, ini adalah perkara yang jarang dari mereka. Wa man dawama 'alaihi, dan siapa di antara para salaf yang mungkin selalu seperti ini—artinya, mereka mungkin seperti itu tapi bukan setiap hari, bukan setiap hari menghatamkan Qur'an satu hari khatam, bukan setiap hari setiap satu rakaat 30 juz—tapi mereka melakukan jarang, tapi pernah mereka lakukan.Siapa yang mendawamkan hal ini, ya, wa in kana ja'izan, meskipun hal ini boleh—boleh seorang terus khatam Al-Qur'an setiap hari satu kali—illa annat-tartil wat-tatsabbut ahabbu ilal-'ulama'. Akan tetapi, membaca dengan tartil, dengan pelan-pelan, itu lebih disukai oleh para ulama. Wa qad qala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, la yafqahu man qara'al-qur'ana fi aqalla min tsalats. Orang yang baca Al-Qur'an kurang—khatam Qur'an kurang dari tiga hari, maka dia tidak paham, dia tidak fakih, dia tidak paham apa? Al-Qur'an.Jadi, eh kita dapatkan memang sebagian salaf mereka membaca Al-Qur'an khatam sehari sekali, bahkan ada di antara mereka ada yang khatam sehari dua kali, terutama di bulan Ramadan. Dan Ibnu Rajab Al-Hanbali menyebutkan dalam eh kitabnya tentang eh keutamaan beribadah di bulan Ramadan, beliau menyebutkan bahwasanya larangan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menghatamkan Qur'an kurang dari tiga hari itu berlaku di luar bulan Ramadan. Adapun pada bulan Ramadan, maka sebagian salaf mereka menghatamkan Qur'an sehari sekali, bahkan diriwayatkan Imam Syafi'i rahimahullah beliau menghatamkan sehari dua dua kali. Namun, ini ketika bulan Ramadan saja.Namun, perlu diperhatikan, sulit bagi kita untuk mengkiaskan diri kita dengan mereka para ulama. Bayangkan Imam Syafi'i yang sejak usia 15 tahun sudah menjadi mufti di kota Mekah, ketika dia baca Qur'an mungkin se-khatam sehari sekali, dia baca dengan paham dan dia sudah ketika baca maka seluruh tafsirnya terbawa dalam bacaannya. Maka beda dengan kita, yang kita baca kita enggak ngerti apa yang kita kita baca. Padahal, tujuan utama dari baca Al-Qur'an adalah untuk liyaddabbaru ayatihi, untuk ditadaburi ayat-ayatnya.Maka, maksud dari Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala adalah seorang berusaha membaca Al-Qur'an untuk dipahami, karena itu itu adalah eh keutamaan atau tujuan dari membaca Al-Qur'an. Kalau sudah dipahami, maka iman semakin mudah bertambah dan mudah untuk diamalkan. Adapun baca target sehari sekian juz tapi bacanya dengan tidak tartil, tidak tatsabbut, tidak pelan-pelan, hanya yang penting siapa target siapa target, apalagi bikin grup-grup target, akhirnya tidak ada tadabur dalam bacaan tersebut dan itu tentu talbis Iblis, kata Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu taala. Maka seorang, selain memperhatikan kuantitas dia baca, yang lebih utama adalah dia memperhatikan kualitas apa yang dia baca.Di antara hal yang yang yang perlu, yang yang saya sesalkan dalam kehidupan saya adalah baca Al-Qur'an, saya kurang tadabur. Kadang saya juga baca dengan apa? Target, ya. Kadang saya baca dengan target. Itu pun saya ngerti bahasa Arab, bagaimana lagi dengan yang tidak ngerti apa? Bahasa Arab. Maka, mulai sekarang kita rubah cara baca Qur'an kita, kita baca Qur'an dengan niat untuk apa? Tadabur. Jadi, niat untuk tadabur. Ada beberapa niat yang bisa kita pasang ketika baca Al-Qur'an, di antaranya niat tilawah, yang di mana setiap huruf dapat 10 pahala. Alif lam mim, la aqulu alif lam mim harfun, kata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, walakin alifun harfun, wal-lamu harfun, wa mimun harfun." Alif satu huruf, lam satu huruf, mim satu huruf. Siapa yang baca alif lam mim dapat 30 kebaikan. Itu di antara niat kita baca Al-Qur'an. Di antara niat kita baca Al-Qur'an adalah untuk mentadaburi—mentadaburi Al-Qur'an.Di antaranya agar Allah memberikan rahmat kepada kepada kita, di antaranya kita dapat petunjuk ketika baca Al-Qur'an. Para ulama menyebutkan niat-niat tersebut sehingga ketika kita baca Al-Qur'an berkualitas. Bahkan, boleh kita berniat untuk mengobati diri kita, untuk merukiah—rukiah diri sendiri, boleh, ya. Oleh karenanya, seorang ketika baca Qur'an dia kumpulkan beberapa niat, sehingga baca Qur'an-nya berkualitas. Bukan cuma baca baca baca baca, kemudian target satu juz, dua juz, khatam, tapi yang didapatkan tidak sebanyak yang seharusnya.Oleh karenanya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mencela orang-orang Khawarij, kenapa? Karena mereka baca Qur'an, mereka tidak paham. Kata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, yaqra'unal-qur'ana la yujawizu taraqiyahum. Mereka baca Al-Qur'an namun tidak melewati taraqi, yaitu tidak melewati tulang selangka mereka, yaitu tidak masuk ke dalam hati, hanya sekadar di di lisan, ya. Jadi, mereka dicela karena tidak mentadaburi apa yang mereka baca. Maka, seorang berusaha ketika baca Qur'an niatnya adalah untuk mentadaburi. Eh, Fudhail bin Iyadh rahimahullah pernah berkata, innama nuzilal-qur'anu liyu'mala bihi fattakhadzannasu qira'atahu 'amalan. Sesungguhnya Al-Qur'an itu diturunkan untuk diamalkan. Dan untuk bisa diamalkan harus ditadaburi, harus ngerti. Bagaimana mau mengamalkan Al-Qur'an kalau tidak dimengerti? Ngerti dulu baru diamalkan. Fattakhadzannasu qira'atahu 'amalan, maka sebagian orang hanya membatasi mengamalkan Al-Qur'an dengan membacanya saja.Sehingga dia sudah kalau sudah khatam Qur'an dia merasa sudah mengamalkan, padahal belum. Baca itu adalah salah satu tahapan yang paling awal. Tahapan kedua, tadabur. Tahapan ketiga baru ber- beramal. Maka nasihat bagi saya pribadi, dan juga kepada para hadirin hadirat, mulai sekarang kalau baca Qur'an berusaha untuk mentadaburi, agar ketika kita baca berkualitas dan kita tambah iman. Kita baca pelan-pelan, enggak usah buru-buru, enggak usah buru-buru. Baca aja, baca kalau tidak ngerti baca terjemahannya. Tentu berbeda kalau kita hanya sekadar baca. Makanya tadi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan, la yafqahu man qara'al-qur'ana fi aqalla min tsalats. Tidak fakih atau tidak paham orang menghatamkan Qur'an kurang dari tiga hari. Ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bicara kepada orang-orang Arab yang mereka ngerti bahasa Arab. Itu pun kalau mereka khatam Qur'an kurang dari tiga hari tidak dikatakan paham. Artinya, Rasulullah menyuruh mereka untuk menghatamkan Qur'an tiga hari minimal, atau lebih daripada daripada itu.Maka, jangan sampai Iblis datang mentalbis, menggoda kita sehingga kita hanya terfokus, terpacu pada akhir surat yang penting selesai, yang penting selesai, tanpa kita tadabur, tanpa kita tadabur. Dan ada sebuah perkataan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu melarang akan hal ini, ya. Jangan jadikan akhir Qur'an sebagai tujuanmu, tapi qifu 'inda 'aja'ibihi, berhentilah pada keajaiban-keajaiban Al-Qur'an. Harrikul-qulub, goyangkan hati, pikirkan, renungkan. Maka akan datang bacaan yang berkualitas yang sangat mudah menambah iman. Makanya para ulama menyebutkan di antara cara, karena iman itu yazid wa yanqush, iman itu naik dan turun, di antara cara paling mudah menambah keimanan dengan baca Al-Qur'an, tapi baca Qur'an yang berkualitas. Bukan sekadar yang penting khatam, yang penting khatam, khatam. Adapun bulan Ramadan, sesekali khatam Qur'an dalam waktu singkat dua hari, itu boleh, sebagaimana para salaf tentu dengan bacaan yang berkualitas, tetap di dipahami maknanya, eh sebagaimana yang dipraktikkan oleh para para salaf.Kemudian, Ibnul Jauzi berkata, wa qad lab-basa iblisu 'ala qaumin minal-qurra'. Iblis telah menggoda, membuat rancu sekelompok ahli baca Qur'an, sekelompok qari. Mereka membaca Al-Qur'an di menara masjid di malam hari. Dahulu tidak ada toa,tidak ada mikrofon.Sehingga orang kalau azan di menara, supaya apa? Suara terdengar. Ini masalahnya bukan azan, dia baca Qur'an di menara masjid di malam hari. Bil-aswatil-mujtami'atil-murtafi'ati juz'an awil-juz'aini, dengan suara yang kencang, yang dia kumpulkan kemudian dia keluarkan dengan keras. Itu dengan tarik napas, kemudian suara keras, kemudian di disampaikan, ya. Atau bisa jadi maksudnya adalah beberapa orang baca ramai-ramai dengan satu suara, dengan satu suara, ya, satu juz atau dua juz di malam hari.Maka mereka ini, qari ini, ahli baca Qur'an ini, fayajma'una baina adzan-nas fi man'ihim minan-naum wa bainat-ta'arrudh lir-riya'. Maka mereka telah mengumpulkan dua kesalahan. Kesalahan pertama, mengganggu orang tidur, (tertawa) kata Ibnul Jauzi, kesalahan pertama mengganggu orang . Yang kedua, memaparkan diri kepada terjerumus dalam riya’. Sulit orang baca Qur'an di menara di malam hari—coba kalau antum baca Qur'an jam 3 malam, baca pakai mikrofon, mikrofon Masjid Al-Ikhlas di Kubima—sulit bilang saya tidak riak. Sulit enggak? Sulit, apalagi bacaannya bagus, indah. Hati siapa yang kuat mengatakan saya tidak riak? Saya hanya ingin berta'abbud, bertakarub kepada Allah, sementara orang semua terbangun tidurnya dengar suara antum. Oleh karenanya, sebagian masjid, 1 jam sebelum azan sudah putar muratal, bahkan 2 jam sebelum azan sudah putar apa? Muratal. Mengganggu. Orang yang lagi tidur kebangun, yang sakit enggak bisa tidur, yang salat malam keganggu bacaannya.Orang2 yg mengganggu sekitarnya bs jadi berdosa bukannya dpt pahala.Diantaranya ada yg membaca Al quran setelah sholat itu bs mengganggu orang,dan sunnah ya tdk terjalankan.Adapun org yg berdzikir2 dengan sholawat2 nyanyian,maka org2 tsb bisa terpapar riya’.Sunnah yg terbaik Rasulullah ﷺ dan para sabahat,jika beliau tdk menjalankannya maka itu adalah sunnah yg terbaik.Sebaik2nya petunjuk adalah petunjuknya Rasulullah ﷺJanganlah membuat2 perkara2 baru thd ibadahKarena ketika ada ibadah baru yg dimunculkan maka akan ada sunnah yg ditinggalkanBerkata Ibnu Jauzi:Diantara perkara yg menakjubkan yg aku lihat ada seseorang yg mengimami sholat subuh pd hari Jumat,setelah sholat subuh di hari Jumat dia membaca al Mukwadita’in (3 ayat qul)dan dia membaca doa khatam Al quran(utk memberi tahu org2 bahwa dia telah membaca khatam Al quran)~>bukan cara ibadah salaf(metoda salaf semua ibadah sebaiknya tersembunyi)Imam Ahmad sering membaca Al quran,dan tdk diketahui kapan dia khatam Al quranRiya’ itu adalah senjata setan yg paling ampuh dalam rangka menggugurkan amalan ibadah seseorang.Seseorang harus waspada dengan takbis iblis.Itulah talbis iblis pada para pembaca Al alquranBab berikutnya: GODAAN SETAN TERHADAP PARA AHLI IBADAH DALAM IBADAH PUASASetan menggoda pd sebagian kaum,maka mereka puasa terus menerus,dan itu hukumnya boleh jika seseorang berpuasa pd hari2 yg tdk diharamkan.Puasa sunnah itu bertingkat tingkat,yg paling tinggi itu puasa Sunna Senin-Kamis,puasa Daud,puasa dhahr(puasa tiap hari)dgn syarat ketika ada hari2 diharamkan berpuasa maka tdk boleh berpuasa(ied,ayyamul tasyrik)~>khilaf para ulama:1.tidak dianjurkan berpuasa tiap hari ~>ada 2 pendapat:haram dan ada pula makruhRasulullah ﷺ berkata :Tidak ada yg lebih afdhol daripada puasa DaudOleh karenanya, Ibnu Jauzi mengingatkan di antara bentuk talbis iblis (tipu daya iblis) kepada para penuntut ilmu atau para ulama, yaitu mereka asyik dengan ilmu dan mereka menyangka bahwasanya ilmu tersebut sudah cukup tanpa harus diamalkan.Iblis membisikkan kepada mereka: 'Ilmu itu adalah derajat yang tinggi, posisi yang mulia, kedudukan yang luhur.' Sehingga orang yang memilikinya merasa, 'Saya sudah punya kedudukan yang tinggi,' lalu dia lalai dari beramal. Padahal, maksud utama dari ilmu itu adalah untuk diamalkan.Ibaratnya ilmu itu adalah pohon, dan amalan itu adalah buahnya. Seseorang mencari ilmu agar dia bisa beramal dengan benar, bukan sekadar untuk tahu.Oleh karenanya, Ibnu Jauzi menyebutkan permisalan orang yang mengumpulkan ilmu, tahu ini halal, tahu ini haram, tahu ini sunnah, tahu ini makruh, tahu detail-detail masalah agama, tetapi dia tidak mengamalkannya, ibarat seorang yang sakit. Dia pergi ke dokter, lalu dia diberi resep obat. Dia tahu obat ini khasiatnya begini, obat ini kandungannya begitu, diminumnya tiga kali sehari, dia hafal semuanya. Dia hafal resep tersebut, dia bawa resep itu ke mana-mana, dia baca terus resepnya, tapi obatnya tidak pernah dia minum. Apakah dia bisa sembuh? Tentu tidak akan bisa sembuh.Sama halnya dengan orang yang tahu, 'Oh, ini haram, ini riya tidak boleh, hasad tidak boleh, suuzan tidak boleh,' dia tahu teorinya. Dia tahu bahwasanya salat malam itu mulia, baca Al-Qur'an itu mendatangkan pahala yang besar, sedekah itu menghapuskan dosa. Dia tahu semua dalilnya, dia hafal, bahkan dia bisa mengajarkannya kepada orang lain. Tetapi, dia sendiri tidak mengamalkannya. Maka ilmu yang dia miliki tidak akan bermanfaat bagi dirinya.Maka dari itu, iblis menipu mereka dengan mengesankan bahwa: 'Yang penting kamu sudah tahu, kamu sudah punya ilmu, kedudukanmu sudah tinggi di sisi Allah, tinggale menyampaikan saja.' Ini adalah salah satu bentuk tipu daya iblis yang sangat berbahaya bagi para ahli ilmu dan penuntut ilmu."

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 52 | Al-Qur’an Adalah Kalamullah Secara Hakikat

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ABeliau mengatakan rahimahullāh,وأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة،و ليس بمخلوق ككلام البريةDan mereka (Ahlussunnah wal jama’ah), karena disini Al Imam Abu Ja’far Ath thohawiy kita tahu sedang menceritakan kepada kita aqidah Ahlu Sunnah wal jama’ah.Dan mereka meyakini (keyakinan lawan dari keragu²an) meyakini dengan seyakin-yakinnya tidak ada keraguan didalamnya,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا ..[QS Al-Hujurat 15]Mereka beriman kepada Allāh dan RasulNya, dan kemudian mereka tidak ada keraguan.Tidak ada keraguan didalam keyakinan tersebut.وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَDan mereka adalah orang² yang yakin dengan ayat² Kami,أنه كلام الله تعالى بالحقيقةMereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah KalamullahبالحقيقةSecara hakiki,Ini adalah penekanan karena mungkin ada diantara Ahlu bida’ yang mereka mengatakan kita meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi ini adalah majas, bukan itu yang dimaksud, itu adalah keyakinan Ahlu bida’, adapun kita meyakini bahwasanya itu adalah Kalamullah, Allāh yang pertama kali berbicara disampaikan kepada Malaikat Jibril disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ, tapi yg pertama kali berbicara adalah Allāh subhanahu wa ta’ala, Allāh berbicara, Allāh memilih sifat Kalam hakiki, Allāh berbicara sebagaimana yang Allāh kabarkan banyak didalam Al-Qur’an, Allāh berbicara dana Allāh mewahyukan dan kalimat hakikoh bukan berarti menyerupakan Allāh dengan makhluk secara hakiki kemudian dibayangkan bahwasanya ucapan Allāh sama dengan makhluk (Tidak) hakikoh sesuai dengan keanggunganNya, Allāh berbicara secara hakiki tapi bicaranya Allāh tidak sama dengan bicaranya makhluk, makhluk memiliki hakikat dan Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki hakikat, makhluk ketika dia memiliki sifat dia memiliki hakikat, demikian Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat dan juga memiliki hakikat, masing² memiliki hakikat bukan berarti seseorang meyakini bahwasanya Allāh berbicara didalam Al-Qur’an bilhakikat/maksudnya sama dengan ucapan makhluk.Ini adalah bantahan bagi Jam’iyyah dan Mua’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi majas, disandarkan kepada Allāh secara majas, hakikatnya Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan ucapan (kata mereka) jadi mereka bukan Allāh berbicara tapi Allāh menciptakan ucapan disandarkan kepada Allāh/dikatakan kepada Allāh tapi itu adalah majas, hakikatnya bukan demikian, hakikatnya Allāh menciptakan ucapan diluar diriNya kemudian disandarkan itu kepada Allāh secara majas, dan kita tahu bahwasanya sesuatu yang disandarkan kepada Allāh ada dua jenis, terkadang disandarkan kepada Allāh berupa makna/berupa sifat, maka ini tentunya bukan makhluk seperti kalamullah ini adalah sifat Allāh, Al Kalam disini adalah sifat Allāh, disandarkan kepada Allāh subhanahu wa ta’ala, ini adalah idhofatu Asyifa Illa Mursi , kemudian disana ada idhofatu A’yan, disandarkan makhluk kepada Al Kholiq, seperti misalnya laqotallah, laqoh (unta) disandarkan kepada Allāh ini adalah bukan laqoh sifat bagi Allāh (bukan) tapi ini adalah penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, atau baitullah ini juga penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, Abdullāh, Masjidullah maka ini penyandaran makhluk kepada Al Kholiq.Yang dimaksud dengan firman Allāhحَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِفَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَامَ رَبِّي۞ أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ[QS Al Baqarah 75]Maka ini semua idhofatu Asyifa Illa Al Mau’su, penyandaran sifat kepada yang disifati.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
A
Aminatus Noer Sholichah

📍 Kota Surabaya

Materi ke-7 : talbis IBLIS terhadap ahli ilmu bagian ke-3

Rangkuman Kajian: Talbis Iblis #7 (Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu – Bagian 3)1. Fitnah Hubbur Riyasah (Gila Hormat & Cinta Kedudukan)Salah satu puncak tipu daya iblis yang paling berbahaya bagi ahli ilmu adalah menanamkan kecintaan pada kekuasaan, pengaruh, dan penghormatan dari manusia.Candu Pujian: Iblis membuat seorang ahli ilmu merasa berhak untuk selalu dihormati, didengarkan kata-katanya tanpa boleh dibantah, dan diprioritaskan dalam segala urusan majelis.Merasa di Atas Angin: Keinginan untuk menjadi pusat perhatian (center of attention) ini perlahan mengikis keikhlasan, sehingga aktivitas dakwah atau belajar tidak lagi diniatkan karena Allah, melainkan untuk mempertahankan status sosial.2. Ambisi Memperbanyak Pengikut (Jamaah)Iblis masuk melalui celah kuantitas untuk merusak kualitas hati seorang dai atau penuntut ilmu:Bangga dengan Angka: Muncul perasaan senang dan puas yang berlebihan ketika melihat majelisnya dihadiri banyak orang, videonya ditonton jutaan kali, atau pengikutnya di media sosial melimpah.Sempit Hati Saat Sepi: Sebaliknya, ia akan merasa sesak, sedih, atau bahkan tersinggung jika majelisnya sepi atau pengikutnya berkurang.Sikap Sinis pada Guru Lain: Ciri nyata dari talbis ini adalah munculnya rasa tidak suka atau benci ketika melihat murid atau jamaahnya pergi belajar kepada ulama/ustadz lain. Dakwah yang harusnya mengajak manusia kepada Allah, bergeser menjadi mengajak manusia kepada kelompok atau dirinya sendiri.3. Penyakit 'Ujub (Mengagumi Diri Sendiri) & Merendahkan Orang AwamKetika ilmu sudah bertambah, iblis meniupkan bisikan bahwa dirinya adalah orang pilihan yang suci dan jenius.Merasa Paling Selamat: Merasa diri paling paham dalil, paling sunnah, atau paling bersih dari dosa, sementara memandang orang awam atau penuntut ilmu yang baru belajar dengan pandangan merendahkan dan penuh penghinaan.Sulit Menerima Kebenaran: Sifat 'ujub ini melahirkan kesombongan yang membuat seorang ahli ilmu sangat gengsi untuk menerima masukan, kritikan, atau koreksi ilmiah, meskipun kritikan tersebut datang dari orang yang lebih muda atau lebih rendah status sosialnya.4. Riya' dan Sum'ah Lewat Karya IlmiahBagi ahli ilmu yang aktif menulis buku, membuat artikel, atau menyusun fatwa, iblis memalingkan niat mereka:Bukan lagi untuk menyebarkan manfaat dan menyelamatkan umat dari kebodohan, melainkan agar namanya tercatat dalam sejarah, dianggap sebagai ulama yang produktif, atau sekadar berburu gelar akademis (Al-Allamah, Profesor, Doktor) demi validasi manusia.💡 Kesimpulan & Solusi KeselamatanDi akhir kajian, Ust. Firanda menekankan beberapa benteng agar terhindar dari talbis di fase ini:🌱 Tawadhu yang Hakiki: Sadarilah bahwa ilmu, hafalan, dan pemahaman yang kuat adalah murni titipan dari Allah, bukan karena kehebatan diri sendiri. Allah bisa mencabutnya dalam sekejap.🔄 Fokus pada Manfaat, Bukan Kuantitas: Suksesnya dakwah di mata Allah diukur dari keikhlasan, bukan dari seberapa penuh ruangan majelis atau seberapa banyak pengikut.🤫 Miliki Amal Rahasia: Perbanyak ibadah, sedekah, atau tangisan di sepertiga malam yang tidak diketahui oleh satu pun jamaah atau murid, sebagai penyeimbang dan penawar racun riya' di siang hari.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 52

Halaqah 52 | Al-Qur’an Adalah Kalamullah Secara HakikatKitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,وأيقنوا أنه كلام الله تعالى بالحقيقة،و ليس بمخلوق ككلام البريةDan mereka (Ahlussunnah wal jama’ah), karena disini Al Imam Abu Ja’far Ath thohawiy kita tahu sedang menceritakan kepada kita aqidah Ahlu Sunnah wal jama’ah.Dan mereka meyakini (keyakinan lawan dari keragu²an) meyakini dengan seyakin-yakinnya tidak ada keraguan didalamnya,إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا ..[QS Al-Hujurat 15]Mereka beriman kepada Allāh dan RasulNya, dan kemudian mereka tidak ada keraguan.Tidak ada keraguan didalam keyakinan tersebut.وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَDan mereka adalah orang² yang yakin dengan ayat² Kami,أنه كلام الله تعالى بالحقيقةMereka meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah KalamullahبالحقيقةSecara hakiki,Ini adalah penekanan karena mungkin ada diantara Ahlu bida’ yang mereka mengatakan kita meyakini bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi ini adalah majas, bukan itu yang dimaksud, itu adalah keyakinan Ahlu bida’, adapun kita meyakini bahwasanya itu adalah Kalamullah, Allāh yang pertama kali berbicara disampaikan kepada Malaikat Jibril disampaikan oleh Nabi Muhammad ﷺ, tapi yg pertama kali berbicara adalah Allāh subhanahu wa ta’ala, Allāh berbicara, Allāh memilih sifat Kalam hakiki, Allāh berbicara sebagaimana yang Allāh kabarkan banyak didalam Al-Qur’an, Allāh berbicara dana Allāh mewahyukan dan kalimat hakikoh bukan berarti menyerupakan Allāh dengan makhluk secara hakiki kemudian dibayangkan bahwasanya ucapan Allāh sama dengan makhluk (Tidak) hakikoh sesuai dengan keanggunganNya, Allāh berbicara secara hakiki tapi bicaranya Allāh tidak sama dengan bicaranya makhluk, makhluk memiliki hakikat dan Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki hakikat, makhluk ketika dia memiliki sifat dia memiliki hakikat, demikian Allāh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat dan juga memiliki hakikat, masing² memiliki hakikat bukan berarti seseorang meyakini bahwasanya Allāh berbicara didalam Al-Qur’an bilhakikat/maksudnya sama dengan ucapan makhluk.Ini adalah bantahan bagi Jam’iyyah dan Mua’tazilah yang mengatakan Al-Qur’an adalah Kalamullah tapi majas, disandarkan kepada Allāh secara majas, hakikatnya Allāh subhanahu wa ta’ala menciptakan ucapan (kata mereka) jadi mereka bukan Allāh berbicara tapi Allāh menciptakan ucapan disandarkan kepada Allāh/dikatakan kepada Allāh tapi itu adalah majas, hakikatnya bukan demikian, hakikatnya Allāh menciptakan ucapan diluar diriNya kemudian disandarkan itu kepada Allāh secara majas, dan kita tahu bahwasanya sesuatu yang disandarkan kepada Allāh ada dua jenis, terkadang disandarkan kepada Allāh berupa makna/berupa sifat, maka ini tentunya bukan makhluk seperti kalamullah ini adalah sifat Allāh, Al Kalam disini adalah sifat Allāh, disandarkan kepada Allāh subhanahu wa ta’ala, ini adalah idhofatu Asyifa Illa Mursi , kemudian disana ada idhofatu A’yan, disandarkan makhluk kepada Al Kholiq, seperti misalnya laqotallah, laqoh (unta) disandarkan kepada Allāh ini adalah bukan laqoh sifat bagi Allāh (bukan) tapi ini adalah penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, atau baitullah ini juga penyandaran makhluk kepada Al Kholiq, Abdullāh, Masjidullah maka ini penyandaran makhluk kepada Al Kholiq.Yang dimaksud dengan firman Allāhحَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِفَإِنَّ قُرَيْشًا قَدْ مَنَعُونِي أَنْ أُبَلِّغَ كَلَامَ رَبِّي۞ أَفَتَطْمَعُونَ أَن يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ[QS Al Baqarah 75]Maka ini semua idhofatu Asyifa Illa Al Mau’su, penyandaran sifat kepada yang disifati.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqah kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqah selanjutnya.والسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهTranskrip: Abu Mandala

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
P
Peni Fauziah Puadah

📍 Kota Bandung

Ringkasan Talbis Iblis 7

"Jangan jadikan akhir quran sebagai tujuanmu, tapi berhentilah pada keajaiban-keajaiban Alquran"Ulama menyebutkan, karena iman itu bertambah dan berkurang, maka tingkatkanlah iman dengan membaca Alquran. Artinya bacaan quran yg dibutuhkan untuk meningkatkan iman adalah yang berkualitas.Alquran itu turun untuk di amalkan. Bagaimana bisa seseorang mengamalkan Alquran tanpa memahaminya lewat tadabbur?Maka tadabbur itu adalah tahapan ke dua setelah kita membaca.Semoga kita terlindung dari talbis iblis yang membisiki kita untuk cepat cepat dalam membaca Alquran tanpa mengetahui maknanya.

💬 0 komentar📅 9 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
R
Riva Aktivia

📍 Kota Palembang

Talbis iblis 6

Talbis iblis #6 Terhadap ahli ilmu bagian 2 sering mengulang niat karena ragu apakah niatnya batal was-was adalah kebodohan yang disebabkan oleh iblis. 20 berlama-lama mengerjakan ibadah sunnah tapi meninggalkan ibadah yang wajib hanya mengikuti ibadah yang dilakukan ornag soleh tapi tidak mempelajari apakah yang dilakukan oleh orang itu ada syariatnya atau tidak. Riya dalam beribadah, apalagi dizaman sekarang semua hal mudah dishare, sedangkan amal/ibadah yang disembunyikan lebih baik dibanding yang diperlihatkan. beribadah/beramal lalu viral sehingga niatnya yang awalnya ikhlas lama2 jadi berbelok hingga menjadi riya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Halaqah 1 Al aqidah Al Wasithiyyah

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang pertama dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Dan pada kesempatan kali ini yang akan kita sampaikan adalah tentang biografi dari Mu’allif yaitu Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah.Dan ini adalah apa yang sudah kita biasakan selama ini sebelum kita membahas sebuah kitab terlebih dahulu kita mengenal siapa pengarang kitab ini, supaya kita juga mengetahui tentang kedudukan kitab ini. Dan di antara faedah yang lain juga ketika kita mempelajari biografi para ulama, apalagi mereka adalah ulama-ulama yang sudah dikenal ketakwaannya, ilmunya, dan telah diambil faedahnya oleh banyak kaum muslimin, maka tentunya di dalam pembacaan biografi mereka ini akan banyak pelajaran yang bisa kita ambil, yang dengannya seseorang akan semakin semangat didalam menuntut ilmu, semakin bersabar apabila mereka membaca tentang kesabaran para ulama didalam menuntut ilmu, dalam mengajarkan ilmu, didalam berdakwah.Maka beliau rahimahullāh, nama beliau adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Al Khadr bin Muhammad bin Al Khadr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Harani. Ada yang mengatakan bahwasanya kenapa beliau dikenal dengan Ibnu Taimiyyah, siapakah Ibnu Taimiyyah, ada yang mengatakan bahwasanya laqab Taimiyyah bahwa kakek beliau yang kelima yaitu Muhammad Ibnu Khadr pernah beliau melakukan haji melalui sebuah daerah yang dinamakan dengan Taima’. Kemudian di sana beliau melihat seorang anak wanita dan ketika beliau pulang kembali mendapatkan bahwasanya istri beliau sudah melahirkan yaitu melahirkan seorang anak wanita. Kemudian beliau mengatakan “Ya Taimiyah! Ya Taimiyah!” menisbahkan anak tersebut kepada Taima’, dan Taima’ ini adalah sebuah daerah dekat Tabuk sehingga dilaqabi dengan Taimiyah.Kemudian beliau dilahirkan pada hari Senin, 10 bulan Rabi’ul Awal pada tahun 661 Hijriyah di Harran, dan Harran ini termasuk daerah Syam. Dan laqob beliau adalah Syaikhul Islām, Syaikhul Islām Taqiyuddin, sehingga terkadang dalam penyebutan beliau sebagian ulama mengatakan qāla Syaikhul Islām atau mengatakan qāla taqiyuddin dan semisalnya atau terkadang menyebutkan kunyah beliau yaitu Abul Abbas, lakoqnya Syaikhul Islām Taqiyuddin dan kunyahnya adalah Abul Abbas.Tentang makna Syaikhul Islām ada yang mengatakan bahwasanya dinamakan Syaikhul Islām, Syaikh itu artinya adalah orang yang sudah tua dan ada yang mengatakan seseorang dinamakan Syaikhul Islām karena dia adalah syaikhun fil islām qad syāba, dia adalah orang yang sudah memasuki waktu tua yaitu sebagai seorang yang sudah syaikh yaitu sudah tua dan beliau beda dengan yang lain yaitu beda dengan orang-orang yang sebaya dengan beliau yang biasanya mungkin yang namanya pemuda ini bergelimang dengan syahwatnya dengan nafsunya adapun beliau maka berbeda dengan pemuda-pemuda yang lain sehingga dinamakan dengan Syaikhul Islām, ada yang mengatakan demikian.Dan ada yang mengatakan bahwasanya seseorang dinamakan Syaikhul Islām karena dia adalah tempat kembalinya manusia yaitu dalam bertanya, dalam bertanya tentang hukum-hukum Islam, mereka kembalinya kepada orang tersebut tentunya setelah Allāh ﷻ. Kembali kepada Allāh ﷻ kemudian menjadikan beliau-beliau ini yang dilaqobi oleh manusia oleh para ulama dengan Syaikhul Islām karena ketika ada sesuatu mereka kembali kepada para ulama tadi, bertanya kepada mereka dan menjadikan mereka sebagai sandaran di dalam bertanya. Ini di antara sebab kenapa dinamakan seseorang sebagai Syaikhul Islām, dan Al-Imam as Syafi’I, Al-imam Ahmad bin Hanbal dan selain keduanya sudah menggunakan istilah Syaikhul Islām ini sejak dahulu, ini bukan sesuatu yang baru yang ada di zaman Ibnu Tamiyah.Dan tentang keluarga beliau, ini adalah keluarga yang dikenal dengan keluarga ālu Taimiyyah, ālu artinya adalah keluarga, dan kakek dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah yaitu Abdus Salam beliau adalah seorang ulama, beliau adalah Abul Barakat Majduddin, termasuk ulama Hanabilah yang dikenal dan diantara karangan-karangan beliau adalah المنتقى من أخبار مصطفى yang di Syarah dan dijelaskan oleh Asy-Syaukani di dalam kitab beliau Nail al-Authar syarh Muntaqa al-Akhbar, yaitu kakek Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.Bapak beliau yaitu Abdul Halim, beliau adalah Syihabuddin dan ini laqob beliau, namanya Abdul Halim dan kunyah beliau adalah Abul Mahasin dan beliau menjadi seorang ulama juga setelah bapaknya dan mengajarkan kepada kedua anaknya, kedua anaknya adalah Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Abul Abbas kemudian saudara beliau yaitu Abu Muhammad. Saudara Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah Abu Muhammad ini, beliau juga seorang ulama yang mempelajari mazhab Hanbali dan dikenal dengan kepandaiannya juga di dalam ilmu agama.Jadi kalau kita melihat bapaknya, kakeknya, saudaranya, maka keluarga ini adalah keluarga yang berbarokah yaitu keluarga yang memperhatikan tentang masalah agama, masalah ilmu, dan ini yang seharusnya dilakukan oleh seseorang, bagaimana dia menjadikan keluarga dan mendidik keluarganya ini untuk cinta dengan ilmu agama semenjak mereka masih kecil. Dan tentunya ini semuanya bisa dilakukan kalau kita bisa menjadi qudwah, bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita.Apabila anak-anak kita melihat kita sibuk dengan mendengarkan ceramah, sibuk menulis, sibuk menyampaikan ilmu, maka ini memiliki pengaruh yang besar terhadap anak-anak kita. Tapi kalau kita dilihat oleh anak-anak kita sibuk dengan perkara-perkara yang tidak bermanfaat, menonton sesuatu yang tidak bermanfaat bahkan bersama-sama dengan mereka maka ini mereka akan mencontoh apa yang kita lakukan.Diantara guru-guru beliau disebutkan oleh murid beliau yaitu Ibnu Abdil Hadi, bahwasanya guru-guru Syaikhul Islām ini lebih dari 200, di antara guru beliau adalah Syamsuddin Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Qudamah al-Maqdisi yang meninggal pada tahun 682 Hijriyah. Kemudian di antara guru beliau adalah Abdus Shomad Ibnu Asyakir ad-Dimasyqi 686 Hijriyah dan disana ada Syamsudin Abu Abdillah Muhammad Ibnul Qawi al-Mardawi yang meninggal pada tahun 703 Hijriyah.Adapun murid-murid beliau maka telah berguru dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah banyak ulama yang kita insyaAllāh mengenal mereka dan nama-nama mereka tidak asing di telinga kita, ternyata mereka ini adalah murid-murid dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah rahimahullāh. Diantaranya adalah Ibnu Abdil Hadi meninggal tahun 744 Hijriyah, disana ada Adz-Dzahabi 748 hijriyah, di sana ada Ibnul Qoyyim yang meninggal 751 Hijriyah, di sana ada Ibnu Muflih yang mengarang الآداب الشرعية yang meninggal pada tahun 763 Hijriyah, dan di sana ada Ibnu Katsir yang memiliki tafsir Ibnu Katsir, ternyata beliau adalah juga murid dari Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah meninggal pada tahun 774 Hijriyah.Ini menunjukkan tentang keberkahan Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah bagaimana beliau bisa dengan izin Allāh ﷻ, karunia dari Allāh ﷻ mencetak para ulama-ulama yang mereka mutkin, mumpuni di dalam ilmunya dan dikenal dengan ketakwaannya dan kesungguhannya dalam menyebarkan ilmu, tentunya kita khususnya para du’ad dan juga para thulabul ilm ingin memiliki murid-murid yang demikian, murid-murid yang berbarokah yang menyampaikan ilmu setelahnya, maka kita tiru apa yang dilakukan oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah. Tentunya tidaklah keluar ulama-ulama seperti mereka ini kecuali ketika mereka memiliki qudwah yang baik, memiliki guru yang bisa ditiru dari sisi ilmunya, dari sisi ketakwaannya, dari sisi akhlaknya dan juga perlu seorang guru memperhatikan tentang keikhlasannya dalam mengajarkan ilmu kemudian juga memperhatikan kesungguhannya dalam mengajarkan ilmu.Itulah yang bisa kita sampaikan pada halaqoh kali ini semoga bermanfaat dan sampai bertemu kembali pada halaqoh selanjutnyaوالسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya9 Juni 2026
D
Ditha Ayuningtyas

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Talbis iblis materi 6

Talbis IblisMateri 6Talbis iblis terhadap ahli ilmuhttps://youtu.be/-BhEt81ICnY?si=tlEdCiJIjWZoDyZ5Imam ibnul jauzi rahimallahu diantaranya tipu daya muslihat iblis, diantara orang yang tertipu orang yang solatTalbis iblis yang sibuk pada orang yang sibuk dengan yang wajib dan meninggalkan yang sunnahTalbis iblis pada orang yang memajangkan solat, dan meninggalkan perkara sunnahImam Ibnu jauzi rahimallahu diantara ada juga orang yang keluar dari undang undang sesungguhnya ada dari orang yang digoda iblis berlebihanTalbis iblis ada yang menceritakan amal solehTalbis Inlis orang yang membaca Alquran dan dikenal orang yang menyelesaikan bacaan alquran dj mesjid

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI9 Juni 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 51 | Al-Qur’an Diucapkan Allāh Disampaikan Rasulullah dan Diimani oleh Mukmin

Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.Aالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهBeliau mengatakan rahimahullāh,منه بدا بلا كيفية قولاً، وأنزله على رسوله وحياً،Yaitu Allāh subhanahu wa ta’ala setelah mengucapkan ucapan tadi kemudian didengar oleh Malaikat Jibril maka diturunkan oleh Malaikat Jibril kepada Nabi kita Muhammad ﷺ,۞ إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ ۚ …[QS An Nisa 163]Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan Nabi² setelahnya,Dan Allāh mengatakan۞ …وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُن…[QS Al An’am 19]Dan telah diwahyukan kepadaku Al-Qur’an,Allāh ucapkan kemudian Allāh wahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan perantara Malaikat Jibril sebagaiالملك الموكل بالنفخMalaikat yang ditugaskan oleh Allāh ﷻ untuk menyampaikan wahyuوأنزله على رسوله وحياً، وصدقه المؤمنون على ذلك حقاً،Diturunkan kepada Nabi ﷺ dengan amanah disampaikan oleh Malaikat Jibril dan disampaikan dengan amanah oleh Nabi Muhammad ﷺ kemudian oleh orang-orang yang beriman dibenarkan.، وصدقه المؤمنون على ذلك حقاً،hu disini kembali kepada Nabi Muhammad ﷺ yaitu orang² yang beriman mereka membenarkan Nabi ﷺ karena Allāh subhanahu wa ta’ala menyuruh mereka dan mengatakanيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِWahai orang² yang beriman hendaklah kalian beriman kepada Allāh dan Rasulnya, percayalah kalian kepada Allāh dan juga RasulNya. Maka merekapun membenarkan tidaklah mereka dikatakan orang² beriman kecuali mereka membenarkan/mengimani/mempercayaiوصدقه المؤمنون على ذلك حقاً،Dan orang² yang beriman mereka mengimani dengan apa yang diturunkan kepada Nabi ﷺ,۞ آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ..[QS Al Baqarah 285]Rasul beriman apa yang diturunkan kepada beliau yaitu Al-Qur’an, diturunkan kepada beliau dari Allāh dan juga Orang² yang beriman mereka beriman kepada apa yang diturunkan kepada Nabi ﷺ.كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِMasing-masing dari mereka beriman kepada Allāh dan Malaikat²Nya, Kitab²Nya, beriman kepada Rasul² Allāh

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI8 Juni 2026
D
Dwi Susanti

📍 Kabupaten Purbalingga

Halaqah yang ke-127 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh

Halaqah yang ke-127 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-‘Aqīdah Al-Wāsithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullāh.Beliau mengatakanوَأَوَّلُ مَن يَسْتَفْتِحُ بَابَ الْجَنَّةِ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلمDan yang pertama kali akan meminta dibuka pintu surga adalah Nabi Muḥammad ﷺ.Allāh ﷻ ingin menampakkan kemuliaan Nabi-Nya ﷺ di hadapan orang-orang yang beriman, dibersihkan hati orang-orang yang beriman dan digiring mereka menuju surga dengan terhormat dan dimuliakan kemudian Allāh ﷻ akan menampakan kedudukan Nabi kita Muhammad ﷺ di hadapan orang-orang yang beriman, dihadapan para Nabi dihadapan umat-umat terdahulu di hadapan umatnya sehingga mereka mengetahui kembali tentang kedudukan Rasulullāh ﷺ di hadapan manusia.Allāh ﷻ akan memberikan kehormatan kepada Beliau ﷺ memberikan syafa’at dan syafa’at ini adalah khusus bagi Beliau ﷺ yaitu syafa’at supaya dibuka pintu surga, ini salah satu diantara syafa’at yang khusus yang dimiliki oleh Rasulullāh ﷺ. Di dalam sebuah hadits Beliau ﷺ mengatakanوَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِDan aku adalah yang pertama kali akan mengetuk pintu surga, menunjukkan bahwasanya surga memiliki pintu yang harus kita imani dan pintunya sangat besar dan pintu tersebut akan diketuk oleh Rasulullāh ﷺ dan Beliaulah pertama kali mengetuk pintu surga, hadits ini shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim.Di dalam hadits yang lain Beliau ﷺ mengatakanآتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُAku akan mendatangi pintu surga di hari kiamat kemudian aku akan meminta untuk dibukakanفَيَقُولُ الْخَازِنُmaka berkata al-khāzim (penjaga surga dari kalangan malaikat)مَنْ أَنْتَSiapakah engkauفَأَقُولُmaka aku mengatakanمُحَمَّدٌAku adalah Muhammadفَيَقُولُmaka berkatalah penjaga tadiبِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَdenganmulah aku diperintah (aku diperintahkan oleh Allāh ﷻ untuk membukakan pintu surga ini untukmu) aku tidak akan membukakan untuk seorang pun sebelummu.Menunjukkan bahwasanya pintu surga tersebut terbuka dan Nabi ﷺ Beliaulah yang pertama kali meminta untuk dibukakan, dan ini adalah kehormatan yang luar biasa yang Allāh ﷻ berikan kepada Nabi-Nya ﷺ dan Allāh ﷻ memuliakan umat Beliau ﷺ dan mereka adalah umat yang pertama kali akan memasuki surga, sehingga di sini Syaikhul Islam mengatakanوَأَوَّلُ مَن يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنَ الأُمَمِ أُمَّتُهُDan yang pertama kali akan masuk ke dalam surga di antara umat-umat, diantara umat umat para Nabi dari yang pertama sampai Rasulullāh ﷺ dan mereka adalah Ahlul Jannah orang-orang yang beriman maka yang pertama kali akan masuk ke dalam surga di antara umat-umat tadi adalah umatnya Rasulullāh ﷺ, Allāh ﷻ muliakan Nabi ﷺ dan Allāh ﷻ muliakan umat Beliau ﷺ.Di dalam sebuah hadits Nabi ﷺ mengatakanنَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِKita ini adalah orang-orang yang terakhir, karena kita adalah pengikut dari Nabi yang terakhir berarti kita ini umat yang terakhir, umat-umat yang lain itu ada sebelum kita, tapi kita ini adalah orang yang pertama di hari kiamat, selain pertama kali dihisab kita adalah yang pertama kali akan masuk kedalam surgaوَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَDan kita adalah yang akan pertama kali masuk ke dalam surga, hadits ini shahih diriwayatkan oleh Bukhari dan juga Muslim dan lafadzhnya adalah lafadzh Imam Muslim. Maka ini adalah keutamaan yang Allāh ﷻ berikan kepada umat islam dimana mereka akan dimuliakan oleh Allāh ﷻ sehingga menjadi yang pertama masuk ke dalam surga padahal mereka adalah umat yang terakhir.Dan tentunya umat Rasulullāh ﷺ sendiri mereka bertingkat-tingkat, ada yang keimanannya tinggi dan ada diantara mereka yang lebih rendah daripada itu dan Allāh ﷻ Maha Adil, Allāh ﷻ tidak akan menyamakan tentunya diantara umat Rasulullāh ﷺ, Allāh ﷻ akan kedepankan siapa yang memang berhak di depan, sehingga disebutkan dalam hadits bahwasanya Nabi ﷺ mengatakanأوَّلُ زمرةٍ تَلِجُ الجنَّةَ صورَتُهم على صورةِ القمرِ ليلةَ البدرِRombongan yang pertama akan masuk ke dalam surga (diantara umat Nabi ﷺ) wajah mereka adalah seperti bulan di malam bulan purnama, dan di antara hadits yang menunjukkan demikian adalah sabda Nabi ﷺلَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفاً، أَوْ سَبْعُمِائَةِ أَلْفٍ مُتَمَاسِكُونَ. آخِذٌ بَعْضُهُمْ بَعْضاً. لاَ يَدْخُلُ أَوَّلُهُمْ حَتَّى يَدْخُلَ آخِرُهُمْ وَجُوهُهُمْ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِAkan masuk surga diantara umatku 70.000 atau 700.000 (ini ada keraguan dari rawi) mereka saling memegang satu dengan yang lain (menunjukkan bagaimana ukhuwah kekompakan mereka) sampai masuklah yang pertama dan terakhir di dalam surga dan wajah-wajah mereka itu seperti cahaya bulan di malam bulan purnama.Ucapan Beliau ﷺ sampai masuk awal dan akhir mereka ke dalam surga maksudnya adalah mereka masuk dalam satu shaf secara serentak, 70.000 tadi dalam satu shaf secara serentak menunjukkan tentang besarnya pintu surga, kalau itu adalah pintu surga lalu bagaimana dengan surga itu sendiri, pintunya saja demikian besarnya lalu bagaimana dengan surga itu sendiri.Disebutkan dalam hadits bahwasanya orang-orang faqir Muhajirin itu akan lebih dahulu masuk surga 40 tahun sebelum orang-orang kaya Muhajirin, orang-orang yang berhijrah ada yang kaya ada yang miskin, yang miskin diantara orang-orang Muhajirin itu lebih mendahului orang-orang kaya di antara mereka 40 tahun dan ini menunjukkan tentang bagaimana mereka terlebih dahulu karena mereka dihisabnya lebih sedikit tapi ini tidak menunjukkan bahwasanya setiap yang faqir di kalangan Muhajirin ini lebih afdhal daripada yang kaya di antara mereka.Allāh ﷻ lebihkan mereka lebih dahulu masuk surga tapi belum tentu lebih afdhal secara derajat daripada orang-orang kaya di kalangan Muhajirin, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq Utsman bin Affan Abdurrahman bin Auf rodhiyallohu’anhum mereka adalah orang-orang yang kaya di antara para sahabat Al-Muhajirin.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
N
Nadya Nandadita Islamina

📍 Kota Bandung

📜 RANGKUMAN KAJIAN: TALBIS IBLIS #7

Talbis Iblis #7: Talbis Iblis kepada Ahli Ibadah (Bag-3)" oleh Ustadz Dr. Firanda Andirja, M.A.:Waspada Tipuan Setan Terhadap Ahli Ibadah📌 1. SIBUK DENGAN YANG TIDAK UTAMA (MENINGGALKAN YANG UTAMA)Kondisi Ahli Ibadah: Banyak yang rajin shalat sunnah di malam dan siang hari, namun abai terhadap perbaikan batin.Kelalaian Utama: Tidak memperhatikan penyakit-penyakit batin (hati) dan tidak peduli terhadap kehalalan sumber makanan.Prinsip Penting: Memperbaiki penyakit batin dan memastikan makanan yang dikonsumsi berasal dari sumber yang halal jauh lebih utama daripada sekadar memperbanyak kuantitas shalat sunnah.📌 2. TIPUAN DALAM MEMBACA AL-QUR'ANMembaca Terburu-buru (Hazan): Setan menggoda manusia untuk mengejar kuantitas (berjus-juz) tanpa tartil dan tadabur demi mencapai target semata.Tujuan Utama Membaca Al-Qur'an: Untuk ditadaburi (liyaddabbaru ayatih), dipahami maknanya, sehingga iman bertambah dan lebih mudah diamalkan.Niat-Niat Berkualitas Saat Membaca Al-Qur'an:Niat Tilawah: Mengejar pahala kebaikan di setiap huruf.Niat Tadabur: Memahami isi dan mencari petunjuk Allah.Niat Mengobati: Menjadikan Al-Qur'an sebagai sarana ruqyah mandiri.Larangan Nabi ﷺ: Tidak paham (tidak fakih) orang yang mengkhatamkan Al-Qur'an kurang dari 3 hari (berlaku di luar bulan Ramadhan).Peringatan Penting:Nabi ﷺ mencela kaum Khawarij karena membaca Al-Qur'an hanya sampai tenggorokan dan tidak masuk ke dalam hati.Jangan jadikan akhir surat atau khatam sebagai tujuan utama. Berhentilah pada keajaiban ayatnya untuk menggetarkan hati.📌 3. GANGGUAN SUARA DAN TIPUAN RIYA' DI MASJIDFenomena Membaca Keras di Malam Hari: Membaca Al-Qur'an atau memutar murattal dengan suara sangat keras (melalui pengeras suara) sebelum subuh.Dua Kesalahan Besar Menurut Imam Ibnu Jauzi:Mengganggu Orang Lain: Mengganggu orang yang sedang tidur, orang yang sakit, atau orang lain yang sedang khusyuk shalat malam.Terjerumus Riya' (Pamer): Sangat sulit menjaga keikhlasan hati ketika sengaja memperdengarkan suara merdu di malam buta agar diketahui orang lain.Mengganggu Doa Setelah Azan: Mengencangkan suara atau bersenandung di dalam masjid setelah azan dapat menzalimi hak jamaah lain yang ingin memanfaatkan waktu mustajab untuk shalat sunnah atau berdoa secara khusyuk.📌 4. RIYA' YANG SAMAR (KHOFIYUR RIYA') & PAMER AMALMenyembunyikan Pembatalan Amal: Seseorang yang dikenal selalu puasa setiap hari, lalu saat dia terpaksa tidak puasa (karena sakit/udzur), dia bersembunyi agar popularitasnya tidak jatuh.Solusi Ikhlas: Harusnya dia berani menampakkan bahwa dirinya sedang tidak berpuasa di hadapan orang yang mengenalnya agar amalnya tersamar.Riya' Berkedok "Ingin Menjadi Teladan": Setan membisikkan syubhat agar seseorang menceritakan rekam jejak ibadahnya (misal: "Saya sudah 20 tahun tidak pernah absen puasa ini") dengan alasan memotivasi orang lain, padahal aslinya mencari penghormatan.Sindiran Riya' yang Halus: Sengaja memancing ingatan orang saat diajak makan, "Ini hari apa ya? Oh iya, hari Kamis," untuk menunjukkan secara tidak langsung bahwa dirinya rajin puasa Senin-Kamis.Bahaya Riya': Dapat menggugurkan seluruh amal saleh yang sudah dibangun bertahun-tahun.Penurunan Derajat Amal: Menceritakan amalan yang tadinya tersembunyi (diwanis sirr) akan memindahkan catatan pahalanya menjadi amalan yang terlihat (diwanil alaniah), di mana nilai pahalanya jauh berkurang.Teladan Ulama Salaf: Mereka bersusah payah menyembunyikan amal. Imam Ahmad bin Hambal sering mengkhatamkan Al-Qur'an namun tidak ada yang tahu kapan beliau mengkhatamkannya.📌 5. TIPUAN DALAM IBADAH PUASAPuasa Dahar (Setahun Penuh): Ulama berbeda pendapat, sebagian memakruhkan/mengharamkan dan sebagian membolehkan selama tidak berpuasa di hari yang dilarang (Idul Fitri, Idul Adha, Hari Tasyrik).Dua Kekurangan Puasa Setahun Penuh (Meskipun Dibolehkan):Membuat Fisik Lemah: Bisa melalaikan kewajiban mencari nafkah untuk keluarga dan melalaikan hak biologis istri.Terluput dari Puasa Terbaik: Puasa yang paling dicintai Allah dan paling utama adalah Puasa Daud (sehari puasa, sehari berbuka).Larangan Memaksa Diri: Jangan memaksakan puasa sunnah jika kondisi fisik sedang sakit atau tidak mampu hingga merusak tubuh (seperti kisah sebagian orang terdahulu yang matanya menjadi buta atau otaknya kering). Puasa bukan untuk mencelakai diri sendiri.Noda-Noda Saat Berpuasa:Puasa tetapi tetap melakukan ghibah, menonton hal yang haram, dan tidak menjaga lisan.Merendahkan atau menghina orang lain yang tidak berpuasa sunnah. Setan menipu dengan menggambarkan bahwa pahala puasa otomatis menghapus semua dosa-dosa tersebut.💡 KESIMPULAN / PESAN UTAMA"Pintu-pintu riya' sangat banyak dan tipis. Jangan pedulikan pujian maupun cercaan manusia. Fokuslah agar ibadah kita diterima oleh Allah, karena pada akhirnya kita akan menghadap Allah seorang diri."Tolong buatkan teks di atas dalam bentuk foto dalam format story Instagram. Dengan menggunakan siluet tanpa wajah yang sesuai. Menggunakan stabilo magenta pastel dan garis warna biru pastel untuk membuat penekanan pada kata atau kalimat yang menjadi poin penting. Menggunakan latar belakang seperti journal. Tertata rapih dan mudah dipahami. Dimuat dalam satu halaman. Jangan ada gambar iblis atau mata satu dan pakai ilustrasi seorang muslimah.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
F
Fatimah Azzahrah

📍 Kabupaten Banggai

Talbis iblis terhadap ahli ilmu bagian 2

Ustadz Dr. Firanda Andirja, lc. M.ATALBIS IBLISTalbis iblis terhadapa ahli Ilmu Bag-2TALBIS iblis dalam masalah niat dalam sholat- Mengulang² niat karena keraguan (harusnya tdk perlu ragu² krn sholat akan dah dengan niat yang benar) - Mengulang² takbir karena keraguan, - Bersumpah dengan nama Allah bertakbir di ulang²Tdk pernah di lakukan oleh Nabi dari hal² seperti ini. Untuk menghilangkan talbis ini "kalau tujuannya adalah menghadirkan niat sehinga di ulangi² untuk bertakbir, maka niat sdh ada. Karena tadi berdiri untuk sholat. "Niat tempat nya di hati bukan di lafadz kan""Lafal² tdk lazim dan keraguan itu murni kebodohan"- Mewajibkan membaca niat sambil takbirAbdullah bin Mas'ud berkata "demi dzat yang tdk ada sesembahan selain Allah, aku tdk pernah melihat seorang pun yang lebih tegas terhadap orang yang berlebih²han seperti Rasulullah صلى الله عليه وسلم، aku tdk pernah melihat seorang pun yang paling khawatir terhadap orang yang berlebih-lebihan seperti Abu Bakar, dan menurutku umar bin Khattab adalah orang yang paling keras dari penghuni bumi yang paling keras terhadap orang² yang berlebih-lebihan dalam beragama".- Sibuk untuk dalam niat untuk sholat sehingga lupa yang selanjutnya tdk di perhatikanDiantara orang² yang kena was² klw sdh merasa niat dan takbirnya pas, maka ia sdh santai. Sehingga ia tdk perhatikan apa yang selanjutnya. Seakan² tujuan sholat hanya ngepas kan niat dan takbir saja. "Tujuan takbir adalah masuk dalam sholat, tujuannya masuk dalam ibadah, kenapa sdh masuk malah ibadahnya di lalaikan"."Sholat itu seperti rumah, jangan smpai kamu hanya sibuk masuk pintu kemudian tdk sibuk dengan apa yang ada dalam rumah".- Di antara was² adalah sibuk dengan yang wajib meninggalka yang sunnahKetika masbuk yang di utamakan membaca Al-fatihah. (Wajib membaca al fatihah) prioritaskan yang wajib- meninggalkan sunnah² nabi karena perkara² yang menimpanya (masalah pribadi) (Jalankan sunnah lawan riya').Seandainya manusia pada tahu tentang keutamaan menjawab adzan dan keutamaan sholat di shaf pertama, kemudian mereka tdk bisa melakukan nya kecuali dengan undian, tentu mereka akan melakukan undian. Dalam hadits Muslim "Rasulullah bersabda "sebaik² shaf para lelaki adalah yang paling pertama dan yang paling buruk adalah yang paling akhir".Adapun meletakkan tangan di atas tangan yang lain adalah sunnah. Ibnu Mas'ud pernah sholat kemudian ia meletakkan tangan kiri di atas tangan kanan, maka nabi melihat Ibnu Mas'ud tangannya terbalik, maka Rasulullah perbaiki."Perbaiki hati kerjakan sunnah, bukan mengikuti hati dengan meninggalkan sunnah"."Jangan mengikuti meskipun yang melakukan nya orang sholeh, karena kita terikat dengan dalil".Jangan sampai meninggalkan syariat hanya karena perkataan seorang yang engkau agungkan, karena syariat lebih agung dari perkataannya, dan orang bisa saja salah dalam menafsirkan, dan bisa jadi dia memiliki pendapat yang tdk sesuai dengan syariat karena hadits² belum sampai kepadanya. "Yang menjadi patokan adalah dalil"- Keluar dari undang² ibadahIblis sungguh telah menggoda sebagian orang yang sholat dalam masalah makhorijul hurufMengulang² membaca karena merasa kurang fasih,Terkadang iblis menggoda untuk mentahqiq tasyid, Terkadang dalam mengeluarkan rugdod, Berlebih²han dalam mengeluarkan hurufSibuk memikirkan tajwidnya sehingga lupa pada maknanya- iblis sungguh telah menggoda banyak orang dari kalangan ahli ibadah yang bodoh, mereka memandang bahwasanya ibadah itu hanyalah berdiri duduk sudah cukup, dan demikianlah kondisi ibadah mereka. Dan mereka melakukan kekurangan dalam perkara² wajib dalam ibadah yang mereka lakukan, dan mereka tdk sadar. - memanjang²kan sholat, memperpanjang qiro'ah namun meninggalkan perkara² yang sunnah dalam sholat, bahkan melakukan perkara² yang makruh dalam sholat.- Sibuk dengan yg sunnah lalai dengan yang wajibIblis telah memberi tipu muslihat kepada sebagian jama'ah dari kalangan ahli ibadah, merek memperbanyak sholat malam, dan diantara mereka ada yang begadang sampai semalam suntuk, sehingga meninggalkan sholat shubuh. dan ia senang klw bisa sholat malam, dan senangnya melebihi daripada melaksanakan sholat fardhu. Hendaknya seseorang sholat sesuai dengan semangatnya, klw capek boleh duduk. - Fitnah menceritakan amal sholehSungguh iblis telah memperdaya sekelompok Ahli sholat malam, di siang hari mereka menceritakan bahwa mereka telah sholat malam, tetapi mereka bercerita dengan cara halus, terkadang salah seorang berkata "subhanallah si fulan tadi malam adzannya pas waktu, agar orang yang mendengar tahu bahwa dia tdk tidur, makanya ia tahu bahwa si fulan adzannya pas waktu".Orang yang caranya seperti ini klw tdk riya' minimal dia telah memindahkan aslinya yang tersembunyi menjadi terlihat. Tentunya pahalanya berbeda. - Di antaranya orang² yang membaca Al qur'anSyaitan memberi tipu daya kepada sebagian orang yang mereka bersendirian sholat di masjid, maka di kenal lah ia, akhirnya orang² pun sholat di belakang mereka. Ini adalah salah satu racun yang di masukkan oleh iblis. Karena inilah orang jadi senang dengan dia, maka dia semangat beribadah. karena dia tau perbuatannya menjadi terkenal, dan orang² akan memujinya. Yang membuat ia semangat bukan karena ketulusannya tapi karena orang² semangat melihat ia ibadah. Dari Zaid bin tsabit nabi Rasulullah bersabda "sebaik² sholat seseorang adalah di rumahnya kecuali sholat fardhu"- Syaitan menggoda sebagian ahli ibadah menangis di depan banyak orang. Dalam tangisan pun ada riya'

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
P
Puji

📍 Purwakarta

Talbis iblis Terhadap Ahli Ilmu Bagian 2

Talbis iblis #6penulis imam Ibnu Jauzi Ustadz Dr Firanda Adirja MA🌹🌺🌺🌺Tipu daya iblis pada shalat 🌺🌺🌺🌹. ragu-ragu (was-was) pada niat. mengulang-ngulang takbir karena ragu( was - was)iblis sering membersihkan keraguan pada orang yang shalat, seperti merasa niatnya batal atau takbirnya kurang sempurna sehingga diulang-ulang.❗tempatnya niat ada di hati❌ melafalkan niat bukan wajib(apa lagi menjabarkan)✅nabi tidak mencontohkan untuk melafalkan niat 🌺🌺🌺 Salah prioritas antara Sunnah dan wajib❌banyak orang terjebak menyibukkan diri dengan perkara sunnah seperti doa istighfar atau ta'awudz yang panjang dan melalaikan atau melewatkan perkara yang ✅wajib seperti membaca al-fatihah dengan tenang saat menjadi makmum yang masbuk🌺🌺🌺 Meninggalkan sunnah karena alasan pribadi❌ada orang yang sengaja tidak menempati shaf pertama atau tidak bersedekap dengan benar karena takut dianggap riya atau takut kurang khusyuk. ✅ kita harus melawan hawa nafsu dan mengikuti sunnah nabi bukan meninggalkan sunnah demi menjaga perasaan pribadi. 🌺🌺🌺 Berlebihan dalam beribadah iblis menggoda seseorang untuk berlebihan dalam tajwid seperti menekan huruf secara kencang hingga keluar air liur, yang justru membuat pelakunya lupa akan makna ayat yang dibaca.🌺🌺🌺 pentingnya skala prioritas dan keseimbangan ❌mengabaikan kewajiban seperti salat fardhu berjamaah karena terlalu asik salat Sunnah di malam hari adalah tipu daya iblis. ✅ tubuh ini memiliki hak untuk beristirahat dan di dalam Islam mengajarkan jalan Yang pertengahan. 🌺🌺🌺 fitnah dalam beramal ❌iblis sering membujuk seseorang untuk memamerkan amalannya secara halus atau terang-terangan✅ mau menyembunyikan amal saleh seperti sedekah atau tangisan saat beribadah untuk menjaga keikhlasan dari penyakit riya

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
P
putri anggraini

📍 Kota Samarinda

TALBIS IBLIS 6 : Talbis Iblis terhadap ahli ilmu bag. 2

Tipu muslihat iblis yang menjadi kan ibadah kita terganggu, kita merasa itu bid'ah ternyata itu bukan ibadah. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, diantaranya tipu daya muslihat iblis, diantara orang yang tertipu orang yang sholat. Orang yang berniat sholat, mengulangi berkali-kali. Dia menyangka niatnya sudah tidak terbatalkan, padahal niatnya tidak terbatalkan. Dan ketika imam rukuk dia ikut rukuk bersama rukuk. Itu semua godaan iblis, agar dia terluput dari keutamaan di takbiratul ihram, keutamaan diawal sholat dan yang lainnya. Dan diantara orang yang terkena was was syaitan, ada orang yang bersumpah "ya Allah demi allah, saya ingin bertakbir hanya sekali ini saja, bahkan ada yang bersumpah jika saya bisa bertakbir satu kali maka saya tinggalkan harta saya semua, atau ada orang yang bisa bertakbir maka dia akan menceraikan istrinya" Hal ini sungguh tidak terjadi dalam syariat islam, syariat kita mudah tidak pernah dilakukan pada Rasulullah shallallahu alami wa sallam dan para sahabat sama sekali hal seperti ini. Abu Hazim rahimahullah pernah masuk kedalam masjid, ketika dia masuk masjid. Maka datanglah iblis "sesungguhnya wahai abu hazim, engkau sholat tanpa wudhu". Abu Hazim menjawab "sejak kapan engkau wahai iblis menasehati ku dan berkata sholatku tanpa wudhu".Ini untuk menepis semua talbis iblis. Untuk membatah,menghilangkan talbis iblis ini " Kalau tujuanmu untuk menghadirkan niat, maka katakan untuk apa kau ulang-ulang niat? Bukankah engkau tadi berdiri untuk sholat maka sudah. Dan bukankah niat letaknya dihati? Tapi jika maksudnya diulangi untuk memperbaiki lafadz nya, ingatlah bahwa melafalkan tidak wajib dan kau sudah mengucapkan dengan benar. Tidak perlu diulangi lagi. Kau sudah mengucapkan tapi kau menyangka mengucapkan, maka inilah penyakit. Ibnul Jauzi rahimahullah sabagian kami meriwayatkan dari pada guru beliau Ibnu Aqil, "wahai Ibnu Aqil, aku telah membasuh anggota wudhu, kemudian aku berkata aku belum membasuh nya perasaanku, kemudian aku sudah bertakbir, aku belum tidak bertakbir". Bagaimana ini wahai Ibnul Aqil? Maka Ibnu Aqil menjawab bahwa "engkau tidak wajib sholat". Orang-orang bertanya kepada orang Ibnu Aqil " Bagaimana engkau mengatakan dia tidak wajib sholat?". Ibnu Aqil membawakan dalil, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,رُفعَ القلَمُ عن ثلاثةٍ : عنِ الصَّبيِّ حتَّى يبلغَ ، وعن المجنونِ حتَّى يُفيق ، وعنِ النَّائمِ حتَّى يستيقظَ“Pena catatan amal diangkat dari tiga orang: dari anak kecil sampai dia baligh, dari orang gila sampai ia waras, dari orang yang tidur sampai ia bangun.” (HR. Bukhari secara mu’allaq, Abu Daud no. 4400, disahihkan Al-Albani dalam Al-Irwa’, 2: 5).Bahwasanya orang gila diangkatpena darinya, siapa yang bertakbir tapi dia berkata dia belum bertakbir. Was was syaitan dan ini gila. Diangkat dari orang gila. Was was dalam sholay yang berasal ada konslet di akal karena bodoh terhadap syariat. Sebagaimana diketahui jika ada seorang alim masuk, kemudian seseorang berkata "aku berniat menyambut, berdiri untuk bertemu seorang alim ini" Maka ini tidak perlu disebutkan, karena itu sudah terbetik dalam jiwa. Begitu juga saat kita ingin sholat, niat itu langsung terkumpul niat dalam satu waktu atau satu saat. Yang butuh waktu panjang ketika kita uraikan. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata tidak perlu merangkai niat yang terkumpul kau uraikan dalam lafal-lafal, lafal ini tidak lazim. Dan was-was itu murni kebodohan. Adapun was was itu ada, karena saat itu dia ingin merincikan pada suatu waktu. Misalnya "saya sholat dzuhur, fardu,sholatnya ada bukan qodho, sebagai makmum". Maka ini susah. Kalau dia ingin membebani dirinya untuk menyambut orang alim, maka itu berat. Jadi Ibnul Jauzi rahimahullah ingin menegaskan bahwa, Niat itu mudah, tidak sesulit yang di bayangkan.Dan boleh niat itu didahulukan sebelum takbir, selama niatnya belum dibatalkan.Dari Mis'ar berkata ini dari Ma'an bin Abdurrahman telah mengeluarkan catatan hadist dari tulisan ayahnya, dalam catatan tersebut Abdullah bin Mas'ud berkata, "Demi Dzat yang tidak ada sesembahan selain Dia, aku tidak pernah melihat seorang yang lebih tegas selain Rasulullah shallallahu alayhi wa sallam terhadap orang sangat berlebih-lebihan. Aku tidak pernah melihat orang yang khawatir terhadap orang yang berlebihan dalam beragama. Dan aku tidak pernah melihat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu paling keras orangnya dimuka bumi ini terhadap orang berlebih-lebihan dalam agama. Terlalu sibuk memperhatikan niat akhirnya sholatnya tidak diperhatikan. Diantara orang terkena talbis iblis adalah orang yang terlalu fokus ke niat dan mengambungkan takbir. Kemudian santai pada setelah takbir. Dan ini talbis iblis, cara menghilangkan Sibuk dengan yang wajib dan meninggalkan yang sunnah. Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan orang yang sudah sah takbir dibelakang imam, orang masuk masbuk dia sudah sah bertakbir dibelakang imam tapi dia masih disibukkan dengan membaca istiftah. Maka jika begini tidak usah istiftah, fokus baca Al-fatihah saja. Karena aku fatihah adalah wajib dalam sholat. Istiftah, dan ta'awudz itu sunnah, dan para ulama menyebutkan wajib makmum dan imam membaca Al-fatihah. Iblis banyak memberi tipu daya contoh orang tidak pernah di shaf pertama selalu dibelakang, dia khawatir riya' jadi dia selalu di shaf belakang. Dia menjadikan masalah pribadi untuk meninggalkan sunnah. Lawan hatimu kerjakan sunnah Ini karena kurangnya ilmu kata imam Ibnul Jauzi rahimahullah. Dikatakan Imam bin Ahmad, wahai imam Ahmad sesungguhnya imam Mubarak berkata begini begitu. Iman Mubarak menjawab, sesungguhnya imam Mubarak bukan dalil, dan dia tidak turun dari langit. Dikatakan oleh Ibrahim bin Adham "sesungguhnya kalian memberi kan kepadaku bukan jalan yang asal, jangan pernah menjadikan jalan tikus sebagai dalil. Dan bisa jadi dia tidak menjadikan syariat sebagai dalil. Perkataan dia memang agung, tapi syariat lebih dalil". Imam Ibnul Jauzi rahimahullah diantara ada juga orang yang keluar dari undang-undang ibadah, sesungguhnya ada orang yang digoda iblis berlebihan dalam makharijul huruf. Ada yang sholat berulang-ulang mengulang untuk menyempurnakan makharijul huruf, ini keluar dari aturan sholat. Kadang iblis datang mentakhik tasyid "dikatakan iblis tasydidnya" atau ada yang berlebihan dalam huruf ض sampai liurnya keluar. Atau juga orang yang terkena talbis iblis dalam tajwid dan lupa terhadap makna ibadah. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkataIblis menggoda ahli ibadah yang bodoh, namanya ibadah itu mereka berdiri duduk dan mereka melakukan kekurangan dalam perkara-perkara wajib dan mereka tidak sadar. Misalnya orang yang salam melihat imam salam, sedangkan dia ikut salam. Padahal dia belum tahiyyat. Maka dia harus menyelesaikan tahiyyatnya karena ini tidak ditanggung imam. Talbis iblis pada orang memanjangkan sholat dan meninggalkan perkara sunnah atau melakukan hal makruh dalam sholat. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata aku bertemu dengan ahli ibadah dan dia sedang sholat sunnah di siang hari dan dia melakukan bacaan jahr disiang hari, sedangkan seharusnya sholat siang itu adalah sihr. Lalu ahli ibadah menjawab "aku melakukan bacaan jahr supaya aku tidak mengantuk".Maka Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjawab sesungguhnya jangan kau tinggal sunnah-sunnah nabi-mu karena bergadang, kalau kamu mengantuk maka tidur. Talbis iblis ke ahli ibadah sibuk dengan perkara sunnah dan melupakan perkara wajib. Ada orang yang lebih bahagia sholat sunnah sholat malam, sholat dhuha tapi terlewat sholat wajib. Orang bergadang untuk sholat malam terlewat dengan lewat fajr. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata aku pernah melihat ahli ibadah,dia berjalan di siang hari di masjid, ahli ibadah berkata "agar aku tidak tidur siang maka aku berjalan di masjid". Imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata sesungguhnya ini adalah kebodohan, tidak pernah tau syariat karena sunnahnya adalah tidur siang dan memberikan hak tubuhnya. Rasulullah shallallahu alayhi sallam bersabda hendaknya kalian mengikuti petunjuk nabi yang tengah, jangalah kalian berlebih-lebihan. Siapa yang berlebih-lebihan maka, dia akan mendominasi. Ikuti sunnah Nabi. Kata Nabi Muhammad shallallahu alayhi sallam kalau seseorang mengantuk, maka hendaklah dia tidur. Jangan sampai dia ingin istighfar dia malah mencaci maki dirinya.Iman Ibnul Jauzi rahimahullah berkata secara akal tidaklah tidur memperbarui kekuatan yang tadi lemas gara-gara bergadang. Misalnya ada berkata jika sudah sampai ada perkataan para ulama yang sholat malam semalam suntuk? Maka kata imam Ibnul Jauzi rahimahullah berkata sesungguhnya ulama itu mengerjakan secara bertahap. Rasulullah shallallahu alayhi sallam tidak pernah bergadang semalam suntuk untuk sholat malam. Sunnah Nabi lebih utama untuk di ikuti. Talbis iblis bagi orang menceritakan amal sholeh, sholat di publish, umroh dipublish. Imam Ibnul Jauzi rahimahullah sesungguhnya iblis memperdaya orang sholat malam, terkadang sholat malam menceritakan di siang hari. Riya' dan ghibah, misalnya fulan adzannya pas. Padahal amal sholeh yang disembunyikan itu lebih baik. Tapi syiatan selalu menjerumuskan untuk riya' atau syaitan membuat caranya halus dari amal yang dikurangi pahalanya. Talbis iblis pada orang yang membaca Al-Qur'an, dikenal kepada orang yang selalu menyelesaikan bacaan Al-Qur'an di masjid, Orang-orang senang kepada ahli ibadah dan orang-orang semangat untuk memujinya. Dia sholat bersemangat karena ingin mencari perhatian orang. Amir bin Khoisy tidak suka melihat orang sholatnya, maka dia sholat dirumah. Ada Ibnul abi Laila dan dia pura-pura tidur supaya tidak disangka orang sholat. Jiwa yang suka mencela itu adalah kontrol. Misalnya orang yang riya' jiwanya tahu kalau sudah ada sinyal maka segera jangan di lanjutkan. Talbis menggoda sebagian ahli ibadah menangis, sementara orang diselilingnya,menangis didepan banyak orang. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata mungkin dia tidak tahan dalam tangisnya tapi siapa yang mampu menahan tangisnya tapi dia tampakkan, maka sesungguhnya dia terjatuh dalam riya'. Abu awil di rumahnya terdengar suara tangisannya, kalau dikasihkan dunia dia untuk menangis dalam sholatnya dia tidak pernah mau. Salah seorang salaf ada yang ahli hadist kalau tidak sanggup menyampaikan ilmu dia kadang berdiri. Karena dalam tangisan ada riya'.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
Y
Yudith Sand Faundry

📍 Kabupaten Serang

Talbis Iblis 6

Talbis Iblis 6Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bagian 2)Ustadz DR. Firanda Andirja, M.AWaswas dalam Niat Beribadah dan Takbir (Penyakit Waswas)Niat yang diulang-ulangIblis membisikkan keraguan bahwa niatnya batal atau lafalnya keliru. Akibatnya, seseorang mengulang-ulang ucapan Ushalli atau Allahu Akbar.Sumpah ekstrem yang menyiksaSaking parahnya penyakit waswas, ada orang yang sampai bersumpah dengan nama Allah, bersumpah menyedekahkan seluruh harta, hingga bersumpah menceraikan istrinya jika mereka mengulang takbir lagi.Bantahan syariatNiat itu bertempat di hati (bukan dilafalkan) dan sudah otomatis ada saat seseorang berdiri hendak salatUlama Ibnu 'Aqil menyindir orang yang terkena waswas ekstrem (seperti sudah membasuh wudu/takbir tapi merasa belum) sebagai orang yang tidak berakal/gila, sehingga pena syariat diangkat darinya.Waswas muncul karena adanya kekacauan (khalal) pada akal dan kebodohan terhadap syariat.Mensinkronkan Niat dengan Rukun Pertama Sebagian ulama fikih mensyaratkan niat harus dihadirkan berbarengan tepat pada rukun pertama (saat mengucapkan Allahu Akbar).Iblis memanfaatkan kaidah ini untuk membuat manusia terbebani. Sangat sulit bagi awam untuk meresapi keagungan lafal takbir sekaligus menguraikan detail niat salat (Zuhur, 4 rakaat, menghadap kiblat, menjadi makmum, karena Allah) dalam satu detik yang sama.Islam itu mudah; Rasulullah dan para sahabat tidak pernah menyulitkan diri dengan sinkronisasi detail lafal niat seperti ini.Salah Skala Prioritas dalam Shalat Fokus pada pintu masuk sajaorang yang saking susahnya mengepaskan takbir dan niat, ketika berhasil masuk salat, mereka langsung santai dan melalaikan kekhusyukan sisa salatnya. Salat diibaratkan seperti rumah; jangan hanya sibuk di pintu masuk (takbir) lalu melalaikan isinya.Mendahulukan sunnah, meninggal wajib (keadaan masbuk)Orang masbuk yang mendapati imam sebentar lagi rukuk, terkadang terjebak talbis dengan tetap membaca doa istiftah dan taawuz (yang hukumnya sunah). Akibatnya, mereka kehabisan waktu untuk membaca surah Al-Fatihah (yang hukumnya wajib).Meninggalkan Sunnah demi Alasan Pribadi Iblis menipu sebagian orang saleh untuk meninggalkan sunah demi kenyamanan perasaan atau alasan psikologis mereka sendiri:Sengaja memilih saf belakang karena takut tidak fokus atau takut riya di saf pertama.​Sengaja salat tanpa bersedekap (meletakkan tangan di dada) karena takut dicap sok khusyuk oleh orang lain.Bantahan: Syariat tetap memerintahkan untuk mengejar saf pertama dan melakukan gerakan salat sesuai sunah. Tugas manusia adalah menjalankan sunah tersebut sembari melawan penyakit riya di dalam hatinya, bukan malah mundur meninggalkan sunah. Patokan utama adalah dalil syariat, bukan perasaan atau perilaku tokoh saleh yang menyelisihi dalil.Berlebihan dalam Makhraj Huruf & Tajwid (Keluar dari Adab)​Iblis membuat orang berlebihan saat membaca Al-Fatihah dalam salat demi mengejar kesempurnaan makhraj (misal nekan huruf Dhad / ض) hingga mengeluarkan air ludah.​Dampak Buruk: Saking sibuknya memikirkan teknis tajwid dan makhraj, hati mereka menjadi kosong dan benar-benar lupa mentadaburi makna ayat yang sedang dibacaMelanggar Aturan Ibadah Akibat Kebodohan​Kasus Ikut Salam: Ada makmum yang langsung ikut salam begitu imam salam, padahal bacaan tasyahud akhir dan selawatnya sendiri belum selesai.​Mengeraskan Suara di Siang Hari: Ada yang sengaja mengeraskan suara (jahr) saat shalat sunnah di siang hari (yang asalnya lirih/sirr) hanya demi mengusir kantuk. Syariat menekankan jika mengantuk, sebaiknya tidur karena tubuh memiliki hak.​Begadang Kebablasan: Menggebu-gebu shalat malam/tahajud semalam suntuk, namun menjelang subuh kelelahan lalu ketiduran sehingga shalat subuhnya telat atau terlewat berjamaah. Menjaga shalat fardhu subuh jauh lebih utama daripada mengejar salat sunah malam.Fitnah Menceritakan Amal Sholeh ​Riya Malu-Malu (Isyarat): Orang yang salat malam sengaja bercerita di siang hari dengan gaya bahasa halus, contohnya: "Si Fulan muazin tadi malam adzannya pas waktu ya," agar orang lain paham bahwa dia semalaman terjaga/tidak tidur.​Memindahkan Catatan Amal: Meskipun selamat dari riya, menceritakan amal secara sengaja (termasuk pamer di media sosial/podcast) dapat menurunkan nilai pahala dari amalan rahasia (sirr) menjadi amalan yang nampak.Sengaja Beribadah di Depan Orang: Sengaja berlama-lama i'tikaf atau salat di masjid agar dilihat orang dan diikuti, yang akhirnya memicu semangat ibadah karena dorongan ingin dipuji. Padahal, sunah shalat nafilah (sunnah) adalah di rumah.Pamer Tangisan: Sengaja menampakkan tangisan di depan publik atau pura-pura menangis. Para Salaf dahulu justru mati-matian menyembunyikan tangisannya saat beribadah; jika tidak tahan, mereka akan pergi atau pura-pura sedang terkena flu berat agar tangisannya tersamarkan.KesimpulanSetiap kali manusia hendak pamer atau melakukan riya, Allah telah membekali manusia dengan Nafsul Lawwamah (jiwa yang suka mencela/memberi sinyal kontrol). Jika hati sudah merasakan sinyal ragu atau merasa ingin dipuji, segeralah berhenti dan tutup rapat-rapat semua pintu talbis Iblis tersebut.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →
📝 Talbis Iblis #jejakcahaya8 Juni 2026
D
Dina Permata Sari

📍 Kota Tangerang Selatan

Talbis Iblis #6 - Talbis Iblis Terhadap Ahli Ilmu (Bag-2)

1. Godaan Waswas (Keragu-raguan) dalam Niat Salat dan TakbirIblis sering memberikan waswas kepada seseorang yang hendak salat, sehingga orang tersebut mengulang-ulang lafal niatnya (seperti "ushalli") atau mengulang-ulang takbiratul ihram berkali-kali karena merasa niatnya telah batal atau belum pas.Anehnya, ketika imam sudah rukuk dan orang tersebut takut ketinggalan rakaat, seketika niatnya bisa hadir dan ia langsung bertakbir lalu rukuk. Hal ini membuktikan bahwa keraguan sebelumnya murni godaan Iblis yang ingin menghilangkan keutamaan takbiratul ihram dari orang tersebut.Ada orang yang karena parahnya penyakit waswas ini sampai bersumpah dengan nama Allah, bersumpah meninggalkan seluruh hartanya, bahkan bersumpah menceraikan istrinya jika ia mengulang takbirnya lagi. Padahal syariat Islam itu mudah dan Nabi ﷺ serta sahabat tidak pernah menyusahkan diri seperti ini.Terdapat kisah ulama salaf, Abu Hazim, yang menepis bisikan Iblis. Saat Iblis membisikkan bahwa ia salat tanpa wudu, ia menjawab telak, "Sejak kapan engkau (iblis) peduli untuk memberiku nasihat?".2. Solusi dari Waswas dan Hakikat NiatCara menepis kerancuan ini adalah dengan menyadari bahwa tempat niat itu di dalam hati, bukan pada lafal lisan. Melafalkan niat tidak diwajibkan, dan keinginan kita untuk bangkit mengerjakan salat, itulah hakikat niat.Al-Imam Ibnu Jauzi membawakan kisah Ibnu Aqil tentang seseorang yang merasa belum berwudu dan bertakbir padahal ia sudah melakukannya. Ibnu Aqil menjawab bahwa orang seperti ini "tidak wajib salat" karena perbuatannya menunjukkan akalnya sedang tidak waras, dan pena catatan amal diangkat bagi orang gila.Sebab utama waswas adalah kerancuan di akal akibat ketidaktahuan (kebodohan) terhadap ilmu syariat.Niat itu datang seketika di dalam hati. Ketika kita berangkat ke masjid untuk salat magrib, otomatis di hati sudah terkumpul niat untuk salat magrib 3 rakaat, menghadap kiblat, dan menjadi makmum, tanpa perlu diurai menjadi untaian kata-kata panjang yang memakan waktu.Memaksakan diri menggabungkan lafal niat yang sangat panjang secara berbarengan tepat di detik yang sama saat mengucapkan takbiratul ihram adalah sesuatu yang sangat berat dan justru memicu waswas. Syariat tidak menuntut hal sesulit itu.Terdapat atsar dari Abdullah Bin Mas'ud yang membenci sikap berlebih-lebihan dan menyulit-nyulitkan diri dalam beragama (mutanatti'). Nabi ﷺ, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab juga sangat tegas keras terhadap orang-orang yang berlebih-lebihan.3. Lalai pada Tujuan Ibadah karena Hal-Hal Kurang PentingTerlalu Sibuk dengan Takbir/Niat: Sebagian orang yang terkena waswas, ketika merasa takbir dan niatnya sudah pas, mereka justru santai dan tidak memperhatikan kelanjutan kekhusyukan salatnya. Padahal salat itu ibarat rumah; takbir hanyalah pintu masuknya. Jangan sampai kita hanya sibuk mengurus pintu rumah lalu melalaikan isi di dalamnya.Sibuk dengan Sunah, Lalai pada yang Wajib: Ada makmum yang terlambat (masbuk) dan imam sudah hampir rukuk, tetapi sang makmum malah sibuk membaca doa iftitah dan ta'awuz (yang hukumnya sunah) sehingga tidak sempat membaca Al-Fatihah yang hukumnya wajib. Seharusnya, ia memprioritaskan membaca Al-Fatihah.Ibnu Jauzi saat kecil pernah ditegur oleh gurunya, Abu Bakar Ad-Dinawari, bahwa doa iftitah disepakati sunah, sedangkan membaca Al-Fatihah adalah wajib (atau diperselisihkan kewajibannya bagi makmum). Maka, dalam kondisi waktu sempit, dahulukanlah yang wajib.4. Meninggalkan Sunah karena Perasaan Pribadi atau Takut RiyaIblis kerap menipu sebagian orang saleh sehingga meninggalkan sunah karena alasan kondisi hatinya. Misalnya, sengaja mundur tidak mau salat di saf (barisan) paling depan dengan alasan agar hatinya lebih fokus atau karena takut riya.Contoh lain adalah orang yang sengaja tidak bersedekap (meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri) di dada saat berdiri salat, melainkan melepaskannya lurus ke bawah, dengan alasan takut dianggap sok khusyuk oleh orang lain padahal hatinya sedang tidak khusyuk.Padahal secara syariat, sebaik-baik saf bagi pria adalah di saf paling depan, dan bersedekap adalah sunah. Tindakan yang benar adalah tetap kerjakan sunah tersebut lalu lawanlah penyakit hati serta ketakutan riya di dalam diri, bukan malah lari dengan meninggalkan sunah.Kita terikat pada dalil, bukan pada perbuatan tokoh tertentu. Meskipun ada ulama atau orang saleh di masa lalu yang perbuatannya tanpa sengaja menyelisihi sunah, kita tetap harus mengikuti dalil. Ulama tidak maksum dan bisa jadi dalil hadis belum sampai kepada mereka. Imam Ahmad bin Hanbal pun pernah menegaskan, "Ibnu Mubarak (seorang tokoh ulama besar) tidak turun dari langit."5. Berlebih-lebihan dalam Tajwid (Makharijul Huruf)Iblis menggoda agar orang berlebih-lebihan mengucapkan makhraj huruf hingga keluar dari batas kewajaran ibadah. Contohnya mengulang-ulang kata "Alhamdulillah" atau memaksakan menekan makhraj huruf Dhad (ض) teramat keras hingga memercikkan air liur. Yang penting adalah hurufnya terdengar jelas dan tepat (tidak tertukar dengan huruf lain).Akibat terlalu sibuk memikirkan makhraj dan tajwid, seseorang justru menjadi lalai merenungkan makna ayat-ayat yang dibacanya. Padahal tajwid adalah sarana untuk membantu kita menyelami maknanya.6. Kelalaian dalam Pelaksanaan SalatKesalahan makmum yang langsung mengikuti imam salam padahal tasyahud dan selawat wajib (Tasyahud Akhir) belum selesai ia baca. Tasyahud wajib tidak ditanggung oleh imam, sehingga makmum harus menyelesaikannya dulu sebelum ikut mengucapkan salam.Mengerjakan salat sunah di siang hari dengan mengeraskan bacaan (Jahar) dengan alasan untuk mengusir rasa kantuk. Padahal salat siang disyariatkan pelan (Sirr). Solusi syar'i jika mengantuk adalah tidur sejenak, bukan memaksakan salat sambil melanggar aturan.7. Salah Prioritas: Mendahulukan Salat Malam Dibanding Salat FarduIblis menipu sebagian ahli ibadah agar mereka memaksakan diri begadang salat malam (sunah) semalam suntuk, namun menjelang Subuh mereka ketiduran dan akhirnya terlewat salat Subuh berjamaah yang hukumnya fardu dan pahalanya jauh lebih besar.Atau, mereka berhasil bangun subuh tapi dalam kondisi yang sangat mengantuk dan malas. Diceritakan kisah Husain Al-Qazwini yang memaksakan diri berjalan berkeliling masjid di siang hari agar tidak tidur akibat begadang malam. Ini menyelisihi syariat, sebab tubuh juga memiliki hak untuk diistirahatkan.Nabi ﷺ melarang umatnya memaksakan diri dalam beribadah saat lelah. Beliau pernah memerintahkan mencopot tali di masjid yang digunakan Zainab untuk berpegangan saat lelah salat, dan menyuruhnya salat sambil duduk saja jika lelah.Kalau sangat mengantuk, Nabi memerintahkan untuk tidur terlebih dahulu. Dikhawatirkan jika memaksakan salat dalam keadaan setengah sadar, seseorang berniat istigfar namun lisannya malah mencaci-maki dirinya sendiri tanpa sadar.Sebaik-baik ritme salat malam adalah salat Nabi Daud: Beliau tidur di pertengahan awal malam, bangun salat di sepertiga malam, dan tidur lagi di seperenam akhir malam agar bisa bangun salat subuh dalam keadaan tubuh yang segar.8. Fitnah Riya Terselubung dan Mempublikasikan Amal SalehPenyakit yang marak di zaman sekarang: hobi upload atau publikasi amal saleh (seperti sedang umrah, haji, atau bersedekah).Iblis sering memperdaya para ahli ibadah malam untuk berbuat riya dengan cara yang sangat halus. Seseorang bisa bercerita secara tersirat, misalnya: "Muazin tadi malam azannya pas waktu," agar pendengar menyimpulkan bahwa ia sedang terbangun salat malam. Atau berkata: "Fulan itu tidak pernah takbiratul ihram tepat waktu saat subuh", yang artinya ia sedang riya memuji dirinya sendiri sekaligus jatuh ke dalam ghibah (menggunjing) saudaranya.Menceritakan amal ibadah akan menurunkan kedudukan dari amalan rahasia (yang pahalanya sangat besar) menjadi amalan jahr (terlihat). Apalagi jika dicampuri niat pamer, pahalanya bisa gugur total. Waspadailah undangan-undangan acara seperti podcast yang sering memancing kita untuk mengumbar amalan di masa lalu.Riya berkumpul untuk salat di masjid: Ada sekelompok orang yang terkenal karena sering berlama-lama salat sunah di masjid hingga menjadi viral dan dielu-elukan masyarakat. Padahal sebaik-baik salat sunah adalah di rumah, karena lebih aman dari incaran pujian manusia.Berkebalikan dengan kaum salaf terdahulu yang sangat menjaga keikhlasan. Amir bin Qais enggan salat sunah di masjid. Ibnu Abi Laila pura-pura berbaring tidur jika ada orang tiba-tiba masuk saat ia sedang salat. Ada juga yang pura-pura menggeliat seperti baru bangun tidur saat azan subuh berkumandang demi menyembunyikan salat malamnya.Nafsul Lawwamah: Ini adalah alarm pengingat dalam jiwa manusia yang otomatis mencela tatkala kita berbuat salah. Sebenarnya, orang yang sedang riya itu sadar bahwa dirinya sedang riya, sebab pujian itu terasa "lezat" di hati. Jika alarm peringatan di hati ini mulai muncul, segeralah berhenti. Jangan teruskan niat untuk bercerita.9. Berlebih-lebihan dalam Tangisan IbadahTerkadang Iblis menggoda seseorang saat sedang salat atau mendengar kajian, sehingga ia sengaja menangis tersedu-sedu dan menampakkan tangisannya di depan banyak orang. Barangsiapa yang sebenarnya mampu menahan/menyembunyikan tangisnya tapi malah sengaja melampiaskannya, sungguh ia telah memaparkan dirinya pada riya. Tentu hukumnya berbeda jika memang tangisannya itu tak kuasa ia tahan secara alamiah.Contoh ulama salaf dalam menyembunyikan tangis mereka sungguh luar biasa: Abu Wail menangis tersedu-sedu jika salat sendirian di rumah, tapi menolak menampakkannya di luar biarpun ditawari seisi dunia. Ayyub As-Sakhtiyani akan memilih langsung bangkit lalu pergi saat tak mampu menahan tangis, demi menghindar dari tatapan orang. Ulama lain ada yang sibuk mengelap hidungnya dan beralasan, "Penyakit flu ini sungguh berat," semata-mata demi menutupi air matanya.

💬 0 komentar📅 8 Jun 2026Baca selengkapnya →