📰 Postingan Member

Laporan harian dan catatan ilmu dari member komunitas Beekind

✏️ Buat Laporan
📚 Jejak Pustaka2 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Kisah Nabi dan Rasul

Sebab hartalah Qarun menjadi sombong. Sampai disebutkan oleh para ulama bahwa kunci gudangnya Qarun yang begitu berat membuat orang-orang kuat yang membawanya berjalan dengan sempoyongan.Ada khilaf di kalangan ahli tafsir tentang berapa jumlah orang yang mengangkat kunci tersebut. Ada yang mengatakan 20 orang; ada yang mengatakan 40 orang; ada yang mengatakan 70 orang; dan ada yang mengatakan sekumpulan orang.Intinya, disebutkan bahwa orang-orang yang membawa kunci-kunci Qarun adalah orang-orang yang kuat. Namun, saat memikulnya, mereka terpaksa membawanya dengan sempoyongan karena beratnya yang luar biasa.Kunci setiap gudang terbuat dari kulit dan berukuran satu jari, yang menunjukkan bahwa gudang-gudang milik Qarun sangat banyak. Saking banyaknya, kunci-kunci tersebut harus dipikul oleh banyak orang hingga membuat mereka kesulitan untuk berjalan.Selain itu, beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa ketika Qarun keluar, kunci-kunci itu dipikul oleh 60 ekor hewan bagal (yang mirip dengan keledai).

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 September 2026
R
Risdayani Pratiwi

📍 Kota Makassar

Iman kepada Takdir Allah Halaqah 8

Halaqah yang ke delapan dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Cara Beriman dengan Takdir Allah Bagian 5”.Diantara cara beriman dengan takdir Allah adalah dengan mengimani tingkatan takdir yang ke empat, yaitu:4. Penciptaan Allah terhadap segala sesuatu. Maksudnya Allah Subhānahu wa Ta’āla adalah pencipta segala sesuatu yang ada di langit maupun yang ada di bumi (sifat-sifatnya dan amalannya).Menciptakan pelaku dan amalan yang dilakukan.Menciptakan orang yang beriman dan keimanannya.Menciptakan orang yang kafir dan kekafirannya.Menciptakan orang yang taat dan ketaatannya.Menciptakan pelaku maksiat dan kemaksiatannya.Menciptakan setiap yang bergerak dan gerakannya.Dan setiap yang diam dan diamnya.Tidak ada yang mencipta selain Allah azza wajalla. Dia-lah Al Kholiq dan selainnya adalah makhluk.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman,وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ[QS Ash-Shaffat 96]“Dan Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.”Dan Allah berfirman,اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ…[QS Az-Zumar 62]“Allah yang menciptakan segala sesuatu.”Dan Rasulullãh ﷺ bersabda,إن الله خالق كل صانع وصنعته“Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang menciptakan setiap pelaku dan apa yang dia lakukan.”[HR Al Hakim di dalam Al Mustadrak dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah]Inilah 4 tingkatan takdir yang barangsiapa tidak beriman dengan salah satunya maka dia tidak beriman dengan Al Qadha dan Al Qadar.

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 September 2026
P
Putri Nadhira Saraswati

📍 Kota Administrasi Jakarta Selatan

Tafsir Al Falaq : 1

Tafsir At-TaysirAl-Falaq (113:1)Tema: ALLAH PELINDUNG DARI SEGALA KEJAHATAN (Ayat 1-5)Surat ini dan surat setelahnya yaitu surat An-Naas diturunkan secara bersamaan Oleh karena itu, kedua surat ini dinamakanالْمُعَوِّذَتَيْنِ Al-Mu’awwidzatain (dua pelindung). Surat ini merupakan surat Madaniyah yang diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam setelah berhijrah ke kota Madinah. Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa sebab turunnya surat ini adalah ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disihir oleh orang Yahudi yang bernama Lubid bin Al-A’sham di Madinah. Akhirnya Nabi pun tersihir beberapa lama, efeknya adalah seakan-akan beliau melakukan sesuatu yang ternyata tidak dilakukannya. Bahkan dibayangkan bahwasanya beliau mendatangi (menggauli) istri-istrinya padahal tidak.Allah lantas menurunkan Al-Mu’awwidzatain (surat Al Falaq dan An Naas). Lalu Nabipun membaca kedua surat tersebut dan dengan izin Allah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sembuh(1).Sebagian orang mengingkari hadits ini dan mengatakan bahwasanya Nabi tidak mungkin tersihir, karena seandainya beliau tersihir maka Nabi bisa keliru dalam menyampaikan wahyu. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah karena sihir yang menimpa Nabi tidak berkaitan dengan pemberian wahyu. Karena Nabi tetap menyampaikan wahyu sebagaimana biasanya. Akan tetapi efek sihir tersebut hanya membuat Nabi seperti orang sakit atau dikhayalkan ia telah melakukan sesuatu padahal ia tidak melakukannya.Bahkan sebelum beliau ada Nabi Musa juga yang pernah tersihir. Disebutkan di dalam Al-Quran, Allah berfirman:قَالَ بَلْ أَلْقُوا ۖ فَإِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ إِلَيْهِ مِن سِحْرِهِمْ أَنَّهَا تَسْعَىٰ (66) فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُّوسَىٰ (67)Berkata Musa, ‘Silahkan kamu sekalian melemparkan’. Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka, terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka. Maka Musa merasa takut dalam hatinya.” (QS Thaha : 66-67)Nabi Musa takut melihat ular-ular yang bergerak, padahal tidak ada ular di situ melainkan hanya tongkat-tongkat dan tali-tali saja. Itu karena Nabi Musa tersihir oleh para penyihir Fir’aun. Sehingga mungkin saja seorang Nabi itu tersihir, tetapi dibalik itu ada hikmah yang Allah kehendaki. Selain itu, sihir tersebut tidak akan mempengaruhi periwayatan ayat-ayat Allah. Adapun penolakan sebagian orang terhadap hadits ini maka tidak perlu didengarkan karena argumentasi mereka hanyalah logika mereka yang lemah.Ada beberapa pendapat tentang makna اَلْفَلَقُ. Pendapat yang pertama dan yang paling kuat adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, yaitu shubuh. Sebagaimana firman Allah:فالِقُ الْإِصْباحِ“Allah yang membuka subuh.” (QS Al-An’am : 96)Sehingga makna ayat menjadi “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh’.” Pendapat yang lain mengatakan bahwasanya اَلْفَلَقُ artinya makhluk. Ada juga yang mengatakan اَلْفَلَقُ adalah salah satu nama neraka, ada yang mengatakan bahwa اَلْفَلَقُ adalah nama penjara di neraka Jahannam. Ada pula yang mengatakan اَلْفَلَقُ artinya lembah yang ada di neraka Jahannam. Ada yang mengatakan اَلْفَلَقُ artinya sumur yang ada di neraka Jahannam. Ada yang mengatakan اَلْفَلَقُ artinya rumah yang ada di neraka Jahannam. Namun pendapat terkuat adalah pendapat pertama yang artinya adalah shubuh(2)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Tafsir Al Mukhtasar QS Ali Imran Ayat 64

Katakanlah -wahai Rasul-, “Wahai Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani! Marilah kita bersatu pada kalimat yang telah disepakati yang sama-sama kita yakini bersama, yaitu kita memurnikan pengabdian hanya kepada Allah; kita tidak perlu menyembah yang lain selain Dia, betapapun tingginya kedudukan dan pangkatnya; dan janganlah sebagian dari kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan-tuhan yang disembah dan ditaati selain Allah.” Jika mereka berpaling dari seruanmu untuk mengikuti kebenaran dan keadilan itu maka katakanlah -wahai orang-orang mukmin- kepada mereka, “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang tunduk dan berserah diri kepada Allah dengan menaati-Nya.”

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 September 2026
D
Dwi Nurfahriani

📍 Kota Palu

Halaqah 8: Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 5

Halaqah 8:Cara Beriman Dengan Takdir Allah ﷻ Bagian 5🎙 Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A حفظه لله تعالى Diantara cara beriman dengan takdir Allah adalah dengan mengimani tingkatan takdir yang ke empat, yaitu:4. Penciptaan Allah terhadap segala sesuatuAllah Subhānahu wa Ta’āla adalah pencipta segala sesuatu yang ada di langit maupun yang ada di bumi (sifat-sifatnya dan amalannya).• Menciptakan pelaku dan amalan yang dilakukan.• Menciptakan orang yang beriman dan keimanannya.• Menciptakan orang yang kafir dan kekafirannya.• Menciptakan orang yang taat dan ketaatannya.• Menciptakan pelaku maksiat dan kemaksiatannya.• Menciptakan setiap yang bergerak dan gerakannya. Dan setiap yang diam dan diamnya.Tidak ada yang mencipta selain Allah azza wajalla. Dia-lah Al Kholiq dan selainnya adalah makhluk.Allah Subhānahu wa Ta’āla berfirman:وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ“Dan Allah yang menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.”(QS. Ash-Shaffat: 96)Dan Allah berfirman:اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ…“Allah yang menciptakan segala sesuatu.”(QS. Az-Zumar: 62)Dan Rasulullãh ﷺ bersabda:إن الله خالق كل صانع وصنعته“Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang menciptakan setiap pelaku dan apa yang dia lakukan.”(HR. Al Hakim di dalam Al Mustadrak dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah)Inilah 4 tingkatan takdir yang barangsiapa tidak beriman dengan salah satunya maka dia tidak beriman dengan Al Qadha dan Al Qadar.@dnfnunu | @komunitas.beekind | #JejakIlmuHSI

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 September 2026
I
Icha Nur Faizah Hatta

📍 Kota Depok

📖 Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir QS. Ar-Ra’d Ayat 26–27

Tema: Manusia Memperoleh Balasan Amal Perbuatannya (Ayat 18–29)Subtema: Di antara sifat dan perbuatan orang yang ingkar kepada Allah (Ayat 25–27)🌿 Ar-Ra’d Ayat 26Allah Meluaskan dan Menyempitkan RezekiAllah سبحانه وتعالى meluaskan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya kepada siapa yang Dia kehendaki.Semua itu terjadi berdasarkan hikmah dan keadilan Allah.➡️ Banyaknya rezeki bukan selalu tanda bahwa Allah meridai seseorang.➡️ Sedikitnya rezeki juga bukan berarti Allah membenci seseorang.Kesenangan Dunia Bisa Menjadi IstidrajOrang-orang kafir merasa gembira dengan kenikmatan dunia yang mereka miliki.Padahal, kenikmatan tersebut bisa menjadi istidraj, yaitu pemberian atau kelapangan yang membuat seseorang semakin lalai dan terus berada dalam kesesatan, sementara azabnya ditangguhkan.Allah berfirman dalam QS. Al-Mu’minun: 55–56:“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka berarti bahwa Kami segera memberikan kebaikan kepada mereka? Tidak, tetapi mereka tidak menyadari.”Pelajaran:Harta, kedudukan, dan banyaknya kenikmatan dunia bukan ukuran mutlak kebaikan seseorang di sisi Allah.🌍 Dunia Sangat Kecil Dibanding AkhiratAllah menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang sedikit dan sementara apabila dibandingkan dengan kehidupan akhirat.QS. An-Nisa: 77“Kesenangan dunia ini hanya sebentar, sedangkan akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.”QS. Al-A’la: 16–17“Tetapi kalian lebih memilih kehidupan dunia, sedangkan akhirat lebih baik dan lebih kekal.”Perumpamaan Dunia dan AkhiratRasulullah ﷺ menggambarkan perbandingan dunia dengan akhirat seperti:Seseorang mencelupkan jari telunjuknya ke laut.Air yang menempel pada jarinya dibandingkan dengan air laut adalah gambaran kehidupan dunia dibandingkan kehidupan akhirat.Artinya:🌊 Akhirat begitu luas dan kekal.💧 Dunia sangat sedikit dan sementara.Dunia Tidak Bernilai di Hadapan AllahDalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai kambing yang tidak lagi diinginkan oleh pemiliknya.Pelajaran penting:Jangan sampai kita:Terlalu bangga dengan harta.Tertipu oleh kemewahan.Menganggap kesuksesan dunia sebagai tujuan utama.Melupakan kehidupan akhirat yang kekal.✨ Intisari Ayat 26Allah meluaskan dan menyempitkan rezeki sesuai hikmah-Nya.Banyaknya harta bukan selalu tanda cinta Allah.Kenikmatan dunia dapat menjadi istidraj bagi orang yang terus ingkar.Dunia hanya sementara dan sangat sedikit dibanding akhirat.Seorang mukmin hendaknya menjadikan akhirat sebagai tujuan utama.🌿 Ar-Ra’d Ayat 27Orang Musyrik Meminta MukjizatOrang-orang musyrik berkata:“Mengapa tidak diturunkan kepadanya, Muhammad, suatu tanda atau mukjizat dari Tuhannya?”Mereka meminta mukjizat tertentu sebagai syarat untuk beriman.Permintaan serupa juga disebutkan dalam QS. Al-Anbiya: 5, yaitu agar Rasulullah ﷺ mendatangkan mukjizat seperti rasul-rasul sebelumnya.Allah Mampu Memberikan Apa yang Mereka MintaAllah سبحانه وتعالى sebenarnya mampu memberikan mukjizat apa pun yang mereka inginkan.Disebutkan bahwa mereka pernah meminta berbagai hal, seperti:Bukit Safa dijadikan emas.Mata air yang melimpah.Bukit-bukit di sekitar Mekah disingkirkan dan digantikan dengan kebun.Allah memberikan pilihan kepada Rasulullah ﷺ:Jika mukjizat itu diberikan tetapi mereka tetap kafir, maka mereka akan mendapatkan azab yang sangat berat.Namun, jika Rasulullah ﷺ menghendaki, pintu tobat dan rahmat tetap dibukakan bagi mereka.Rasulullah ﷺ memilih:Agar pintu tobat dan rahmat dibukakan bagi mereka.Hal ini menunjukkan kasih sayang Rasulullah ﷺ kepada umatnya.🌱 Hidayah Tidak Bergantung pada Banyaknya MukjizatAllah berfirman:“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang bertobat kepada-Nya.”Maknanya, hidayah berada di tangan Allah.Bukan berarti seseorang pasti beriman hanya karena melihat mukjizat.Seseorang yang hatinya telah menolak kebenaran bisa tetap tidak beriman meskipun melihat banyak tanda kebesaran Allah.Tanda Tidak Bermanfaat bagi Hati yang Menolak KebenaranAllah menjelaskan bahwa:Tanda-tanda kekuasaan Allah tidak bermanfaat bagi orang yang tidak mau beriman.Sebagian manusia tetap tidak beriman meskipun datang berbagai bukti.Bahkan jika malaikat diturunkan atau orang mati berbicara kepada mereka, mereka tetap dapat menolak kebenaran kecuali Allah menghendaki.Pelajarannya:Masalah utama bukan selalu kurangnya bukti, tetapi bisa karena hati yang tidak mau menerima kebenaran.🤲 Siapa yang Mendapat Petunjuk?Allah memberikan petunjuk kepada orang yang:Bertobat kepada-Nya.Kembali kepada-Nya.Memohon pertolongan kepada-Nya.Merendahkan diri di hadapan-Nya.Bersungguh-sungguh mencari kebenaran.Hidayah membutuhkan hati yang mau kembali kepada Allah.✨ Intisari Ayat 27Orang musyrik meminta mukjizat sebagai syarat untuk beriman.Allah mampu memberikan mukjizat apa pun yang Dia kehendaki.Banyaknya mukjizat tidak menjamin seseorang akan beriman.Hidayah dan kesesatan berada dalam ketetapan Allah.Allah memberi petunjuk kepada orang yang bertobat dan kembali kepada-Nya.Hati yang sombong dan menolak kebenaran dapat tetap berpaling meskipun telah melihat banyak bukti.🌸 Intisari Besar QS. Ar-Ra’d Ayat 26–27Rezeki dan kenikmatan dunia bukan ukuran utama kemuliaan seseorang di sisi Allah.Dunia hanyalah sementara, sedangkan akhirat lebih baik dan kekal.Demikian pula, melihat banyak bukti tidak akan bermanfaat apabila hati tidak mau menerima kebenaran.🤍 Seorang mukmin hendaknya tidak tertipu oleh dunia, tetapi menjadikan akhirat sebagai tujuan dan senantiasa memohon hidayah kepada Allah.✨ Quote“Jangan tertipu oleh luasnya dunia yang diberikan, karena kenikmatan bukan selalu tanda keridaan. Jangan pula merasa cukup dengan banyaknya bukti, karena hidayah hanya masuk ke dalam hati yang mau kembali kepada Allah.”QS. Ar-Ra’d: 26–27

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 September 2026
A
Ayu Novita

📍 Kabupaten Bogor

Halaqah 83 | Ahlus Sunnah Mengimani Adanya Lauh Mahfudz dan Qalam serta Apa yang Tertulis Di dalamnya Bag 02

Kitab: Aqidah Ath-Thahawiyah Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A Penulis: Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi RahimahullahMasih melanjutkan tentang keimanan Ahlus Sunnah wal Jamāʿah terhadap al-Lawḥ wal-Qalam. Dalam sebuah hadits, Nabi ṣallallāhu ʿalayhi wa sallam mengatakan:إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْKetika Allāh Subḥānahu wa Taʿālā pertama kali menciptakan al-Qalam (ini menunjukkan bahwa al-Qalam adalah makhluk ciptaan Allāh), Allāh Subḥānahu wa Taʿālā mengatakan kepada al-Qalam: “Uktub” (tulislah).قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟Dia mengatakan: “Wahai Rabb-ku, apa yang aku tulis?”, dia mengatakan: “Wahai Rabb-ku,” menunjukkan bahwa ia adalah makhluk, Allāh menjadikan dia berbicara.قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُTulislah takdir-takdir segala sesuatu hingga datangnya Hari Kiamat (yaitu tiupan sangkakala yang pertama).Hadits shahih diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dan lainnya, menunjukkan tentang diciptakannya al-Qalam, dan pendapat yang lebih kuat adalah bahwa al-ʿArsy telah ada sebelum diciptakannya al-Qalam, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits ketika al-Qalam diperintahkan untuk menulis segala sesuatu,وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءArsy Allāh berada di atas air. Artinya, ʿArsy sudah ada sebelum diciptakannya al-Qalam. Sehingga beliaupun mengatakanوَنُؤْمِنُ بِاللَّوْحِ وَالقَلَمِKita beriman kepada al-Lawḥ dan al-Qalam. Setelahnyaوَجَمِيعُ مَا فِيهِ قَدْ رُقِمَDan seluruh apa yang ada di dalamnya, yaitu di dalam Lawḥul Maḥfūẓ, ini sudah ditulis, dan kita beriman dengan seluruh apa yang ada di dalamnya yang sudah ditulis.Al-Qalam menulis, dan tulisan tersebut ada di dalam Lawḥul Maḥfūẓ. Jadi, kita beriman dengan al-Lawḥ dan kita beriman dengan al-Qalam, dan kita beriman bahwasanya Allāh Subḥānahu wa Taʿālā telah menulis segala sesuatu di dalam Lawḥul Maḥfūẓ. Dan inilah martabah yang kedua di antara tingkatan-tingkatan iman dengan takdir, sebagaimana telah berlalu.Tingkatan yang pertama adalah beriman dengan al-ʿIlm, bahwasanya Allāh Subḥānahu wa Taʿālā mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Kemudian yang kedua adalah beriman bahwasanya Allāh telah menulis segala sesuatu di dalam Lawḥul Maḥfūẓ.Ini adalah martabah yang kedua yang harus kita imani, sebagaimana dalam haditsكَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍAllāh telah menulis takdir-takdir seluruh makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allāh menciptakan langit dan bumi. Apa yang Allāh tulis tadi itu sudah selesaiرُفِعَتِ الأقْلامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُtelah diangkat pena (selesai menulis) dan lembaran-lembaran telah kering, sudah selesai.Yang terjadi setelah itu adalah sesuai dengan apa yang sudah Allāh tulis. Tidak mungkin dia bisa menyimpang keluar dari apa yang sudah Allāh tulis. Rezeki tidak mungkin bertambah atau berkurang dari apa yang sudah Allāh tulis, sudah tertulis rezeki Fulan rezeki Fulanah, nikmat dan juga musibah, amalan, hidayah dan juga kesesatan tidak mungkin terlepas dan tidak mungkin berbeda dengan apa yang sudah Allah tulisقَدْ رُقِمَsudah ditulis oleh Allāh Subḥānahu wa Taʿālā di dalam Lawḥul Maḥfūẓ dan tidak mungkin terjadi di permukaan bumi kecuali sesuai dengan apa yang sudah Allāh tulis sebelumnya di dalam Lawḥul Maḥfūẓ.

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 September 2026
F
Fatimah Zahra

📍 Kabupaten Banggai

Al furqon: 43

Tafsir Ibnu KatsirAl-Furqān (25:44)Tema: PELAJARAN DARI KISAH UMAT TERDAHULU (Ayat 35-44)Kemudian Allah subhanahu wata'āla berfirman:Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? (Al Furqaan:44), hingga akhir ayat.Yakni mereka lebih buruk keadaannya daripada hewan ternak yang dilepas bebas, karena sesungguhnya hewan ternak itu hanyalah melakukan sesuai dengan naluri kehewanannya. Sedangkan mereka diciptakan untuk beribadah kepada Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, lalu mengapa mereka tidak menyembah-Nya? Bahkan mereka menyembah selain-Nya dan mempersekutukan-Nya dengan yang lain, padahal hujah telah ditegakkan terhadap mereka dengan diutus-Nya para rasul kepada mereka.

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 September 2026
N

Nidya larasati

📍 Kota Administrasi Jakarta Timur

Pedoman agar selamat dari kesalahan

tafsir ini mengajarkan tiga hal utama:Jangan mudah percaya berita → selalu tabayyun dan periksa kebenarannya.Jangan terburu-buru mengambil keputusan → karena keputusan berdasarkan informasi yang salah dapat merugikan orang lain.Jaga dan cintai iman → jauhi kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan karena hidayah dan keimanan merupakan karunia Allah.

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
🎓 Jejak Ilmu HSI2 September 2026
P
Poppy Adrianne

📍 Kota Bandung

Halaqah 83

Halaqah 83 | Ahlus Sunnah Mengimani Adanya Lauh Mahfudz dan Qalam serta Apa yang Tertulis Di dalamnya Bag 02Kitab: Aqidah Ath-ThahawiyahAudio: Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.ATranskrip: ilmiyyah.comالسلام عليكم ورحمة الله وبركاتهالحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن ولهHalaqah yang ke-83 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitāb Al-Aqidah Ath-Thahawiyah yang ditulis oleh Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullāh.Masih melanjutkan tentang keimanan Ahlus Sunnah wal Jamāʿah terhadap al-Lawḥ wal-Qalam. Dalam sebuah hadits, Nabi ṣallallāhu ʿalayhi wa sallam mengatakan:إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ الْقَلَمَ فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْKetika Allāh Subḥānahu wa Taʿālā pertama kali menciptakan al-Qalam (ini menunjukkan bahwa al-Qalam adalah makhluk ciptaan Allāh), Allāh Subḥānahu wa Taʿālā mengatakan kepada al-Qalam: “Uktub” (tulislah).قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟Dia mengatakan: “Wahai Rabb-ku, apa yang aku tulis?”, dia mengatakan: “Wahai Rabb-ku,” menunjukkan bahwa ia adalah makhluk, Allāh menjadikan dia berbicara.قَالَ: اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُTulislah takdir-takdir segala sesuatu hingga datangnya Hari Kiamat (yaitu tiupan sangkakala yang pertama).Hadits shahih diriwayatkan oleh Abū Dāwūd dan lainnya, menunjukkan tentang diciptakannya al-Qalam, dan pendapat yang lebih kuat adalah bahwa al-ʿArsy telah ada sebelum diciptakannya al-Qalam, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits ketika al-Qalam diperintahkan untuk menulis segala sesuatu,وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءArsy Allāh berada di atas air. Artinya, ʿArsy sudah ada sebelum diciptakannya al-Qalam. Sehingga beliaupun mengatakanوَنُؤْمِنُ بِاللَّوْحِ وَالقَلَمِKita beriman kepada al-Lawḥ dan al-Qalam. Setelahnyaوَجَمِيعُ مَا فِيهِ قَدْ رُقِمَDan seluruh apa yang ada di dalamnya, yaitu di dalam Lawḥul Maḥfūẓ, ini sudah ditulis, dan kita beriman dengan seluruh apa yang ada di dalamnya yang sudah ditulis.Al-Qalam menulis, dan tulisan tersebut ada di dalam Lawḥul Maḥfūẓ. Jadi, kita beriman dengan al-Lawḥ dan kita beriman dengan al-Qalam, dan kita beriman bahwasanya Allāh Subḥānahu wa Taʿālā telah menulis segala sesuatu di dalam Lawḥul Maḥfūẓ. Dan inilah martabah yang kedua di antara tingkatan-tingkatan iman dengan takdir, sebagaimana telah berlalu.Tingkatan yang pertama adalah beriman dengan al-ʿIlm, bahwasanya Allāh Subḥānahu wa Taʿālā mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang akan terjadi. Kemudian yang kedua adalah beriman bahwasanya Allāh telah menulis segala sesuatu di dalam Lawḥul Maḥfūẓ.Ini adalah martabah yang kedua yang harus kita imani, sebagaimana dalam haditsكَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍAllāh telah menulis takdir-takdir seluruh makhluk-Nya 50.000 tahun sebelum Allāh menciptakan langit dan bumi. Apa yang Allāh tulis tadi itu sudah selesaiرُفِعَتِ الأقْلامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُtelah diangkat pena (selesai menulis) dan lembaran-lembaran telah kering, sudah selesai.Yang terjadi setelah itu adalah sesuai dengan apa yang sudah Allāh tulis. Tidak mungkin dia bisa menyimpang keluar dari apa yang sudah Allāh tulis. Rezeki tidak mungkin bertambah atau berkurang dari apa yang sudah Allāh tulis, sudah tertulis rezeki Fulan rezeki Fulanah, nikmat dan juga musibah, amalan, hidayah dan juga kesesatan tidak mungkin terlepas dan tidak mungkin berbeda dengan apa yang sudah Allah tulisقَدْ رُقِمَsudah ditulis oleh Allāh Subḥānahu wa Taʿālā di dalam Lawḥul Maḥfūẓ dan tidak mungkin terjadi di permukaan bumi kecuali sesuai dengan apa yang sudah Allāh tulis sebelumnya di dalam Lawḥul Maḥfūẓ.

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
📚 Jejak Pustaka2 September 2026
D

Dewi Hajar Novanda

📍 Kota Depok

Bab 14 - BERNIAT UNTUK MENJADI CUKUP BAGUS

🌿 BERNIAT UNTUK MENJADI CUKUP BAGUS✦ Tidak ada orang tua yang sempurna• Semua orang tua pernah membuat kesalahan.• Semua orang tua memiliki hari-hari yang tidak dibanggakan.• Kesalahan adalah bagian dari proses belajar dan bertumbuh.• Melalui kesalahan, kita dapat mengajarkan anak tentang kejujuran, kerendahan hati, dan cara menghadapi kegagalan.✦ Prinsip 70/30 dalam pengasuhan• Berusahalah menjadi orang tua terbaik sekitar 70% dari waktu yang ada.• Jangan terlalu keras pada diri sendiri untuk 30% sisanya.• Jika sebagian besar waktu kita sudah berusaha dengan baik, itu sudah cukup.✦ Targetnya bukan kesempurnaan• Pengasuhan adalah pekerjaan yang berat.• Tantangan pengasuhan akan terus berubah seiring bertambahnya usia anak.• Tidak mungkin menjadi segalanya untuk semua orang.• Tujuan yang lebih realistis adalah menjadi orang tua yang cukup baik (good enough parent).✦ Gentle discipline bukan tentang sempurna• Gentle discipline adalah tentang kesadaran dan rasa hormat.• Akan ada saat ketika kita tidak mampu merespons seperti yang diharapkan.• Dalam situasi tersebut, lakukan yang terbaik yang kita bisa.• Belajar memaafkan diri sendiri ketika gagal adalah bagian dari proses.✦ Jangan menyerah saat melakukan kesalahan• Kesalahan sesekali tidak menghapus semua usaha baik yang telah dilakukan.• Tetap lanjutkan perjalanan pengasuhan meskipun pernah gagal.• Momen ketika kita memilih untuk tenang, terhubung, dan penuh kasih adalah momen yang paling berharga.• Jika itu lebih sering terjadi daripada sebaliknya, maka kita sudah berada di jalur yang tepat.✦ Bagian 30% memiliki pelajaran penting• Membantu mengenali pemicu emosi dan kemarahan.• Menunjukkan area yang masih perlu diperbaiki.• Mengajarkan pentingnya meminta maaf kepada anak.• Membantu mengubah kesalahan menjadi pengalaman belajar.• Menyadarkan kita bahwa ada kebutuhan diri yang mungkin belum terpenuhi.✦ Ketika rasio 30% mulai meningkat• Bisa menjadi tanda bahwa kita membutuhkan dukungan.• Mungkin membutuhkan waktu untuk beristirahat.• Mungkin membutuhkan bantuan dari orang lain.• Mungkin membutuhkan teman untuk berbicara.• Mungkin hanya perlu belajar memaafkan diri sendiri.✦ Rawat diri agar dapat merawat anak• Kesejahteraan orang tua memengaruhi kualitas pengasuhan.• Memenuhi kebutuhan diri bukanlah tindakan egois.• Kita tidak dapat merawat orang lain dengan baik jika diri sendiri sedang kelelahan.✦ Lihat pola secara keseluruhan• Ada hari-hari yang terasa sangat baik.• Ada hari-hari yang terasa sangat berat.• Jangan menilai diri hanya dari satu hari yang buruk.• Gunakan hari-hari sulit sebagai sinyal untuk berhenti sejenak dan mengevaluasi kebutuhan diri.✨ Pesan Utama• Orang tua tidak harus sempurna.• Orang tua hanya perlu terus belajar dan bertumbuh.• Menjadi "cukup baik" adalah tujuan yang realistis dan bermakna.• Usaha yang konsisten jauh lebih penting daripada kesempurnaan.• Anda sudah cukup baik, dan itu sangat berarti bagi anak Anda. 🌷

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →
📖 Jejak Ayat2 September 2026
R

Rafnita Dwi Putri, S. Ft

📍 Kabupaten Kutai Timur

Tafsir At-Taysir Luqmān (31:17)

Tema: NASIHAT LUQMAN KEPADA ANAKNYA (Ayat 12-19)Para ulama mengatakan bahwa seakan-akan Luqman Al-Hakim ketika memerintahkan putranya untuk amar makruf nahi munkar akan mendapatkan gangguan(50). Hal ini disebabkan orang yang nahi munkar maka dia akan mendapatkan hal-hal yang tidak ia sukai. Karena orang yang melakukan nahi munkar dia telah menghalangi orang lain dari kelezatan syahwatnya. Orang yang sedang melakukan kemungkaran sesungguhnya dia sedang merasakan kelezatan. Orang yang sedang mabuk sedang merasakan kelezatan dengan mabuknya. Orang yang sedang berzina sedang merasakan kelezatan dengan zinanya. Orang yang memakan riba sedang merasakan kelezatan dengan keuntungan ribanya. Orang yang sedang joget sedang merasakan kelezatan dengan mendengarkan musiknya. Orang yang sedang melihat hal yang haram sedang merasakan kelezatan dengan pandangan yang haram. Kemudian datang seseorang yang mengatakan bahwa hal-hal di atas tidak boleh, maka dia telah mengusik orang yang sedang tenggelam dalam kelezatan. Dan tidak semua orang yang bisa menerima usikan tersebut yang menyebabkan mereka akhirnya membalas. Oleh karenanya orang yang melakukan amar makruf dan nahi munkar rentan untuk di ganggu. Oleh karenanya Luqman Al-Hakim ketika memerintahkan putranya untuk amar makruf dan nahi munkar kemudian dia mengatakan,وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَdan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu.Yaitu kesabaran dalam hal diganggu setelah nahi munkar atau kesabaran jika tertimpa musibah(51). Kemudian Luqman Al-Hakim berkata,إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ“Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang penting dan ditekankan (oleh Allah).”Kebanyakan Ahli Tafsir mengatakan إِنَّ ذَٰلِكَ “Sesungguhnya yang demikian itu” kembali kepada shalat, amar makruf, nahi munkar, dan bersabar. Yang semua itu adalah perkara-perkara yang penting oleh karenanya disebutkan secara khusus oleh Luqman Al-Hakim.Ada juga yang mengatakan إِنَّ ذَٰلِكَ “Sesungguhnya yang demikian itu” kembali kepada kesabaran. Kesabaran itu adalah perkara yang penting yang sangat ditekankan. Sabar termasuk akhlak yang mulia. Oleh karenanya tidak ada seseorang yang diberikan anugerah yang lebih luas dan lebih banyak dari kesabaran. Jika seseorang bisa bersabar maka dia telah diberi anugerah yang luar biasa yang merupakan perkara yang penting yang sangat ditekankan dalam syariat. Oleh karenanya seseorang jangan menyepelekan akhlak sabar karena sabar adalah sesuatu yang penting.(52)Disalin dari Quran Tadabburhttps://quran.firanda.com

💬 0 komentar📅 2 Sep 2026Baca selengkapnya →