1. Apa Itu Percaya Diri?Percaya diri bukan sekadar merasa enak, bangga, atau bahagia dengan diri sendiri.Percaya diri adalah:> โSaya tahu apa yang saya rasakan saat ini. Perasaan ini nyata, perasaan ini boleh ada, dan saya tetap orang baik saat merasakan ini.โJadi, percaya diri berarti mampu merasa nyaman dengan diri sendiri saat mengalami berbagai macam perasaan, karena yakin bahwa tidak apa-apa menjadi diri sendiri, apa pun yang kita rasakan.2. Contoh pada Orang DewasaSaat berada dalam rapat dan merasa bingung, percaya diri bukan berarti meyakinkan diri bahwa kita sebenarnya paham.Tetapi:Mengakui perasaan: โSaya tidak tahu apa yang dia minta. Saya bingung.โMempercayai perasaan tersebut.Berani mengungkapkan: โTunggu sebentar, saya agak bingung. Bisakah kita mulai lagi agar kita sepaham?โPercaya diri tumbuh dari membiarkan dan mengakui perasaan, bukan menolaknya.3. Jangan Menyudahi Perasaan AnakKetika anak sedih atau kecewa, jangan buru-buru meyakinkan:โJangan sedih.โโTidak apa-apa.โโHarusnya kamu bangga.โโItu bukan masalah besar.โJika terus dilakukan, anak bisa berpikir:> โSepertinya saya salah menilai perasaan sendiri. Orang lain lebih tahu apa yang saya rasakan daripada saya.โPadahal kita ingin anak memiliki kompas internal yang kuatโmampu mempercayai perasaan dan nalurinya ketika mengambil keputusan.4. Bangun Kepercayaan Diri Lewat EmpatiRasa percaya diri tumbuh ketika orang tua:Mengizinkan anak merasakan perasaannya.Berempati terhadap perasaan anak.Tidak hanya menerima perasaan yang menyenangkan, tetapi juga sedih, kecewa, cemburu, dan marah.Dengan begitu, anak belajar:> โSaya boleh menjadi diri sendiri, apa pun yang sedang saya rasakan.โ5. Waspadai Pujian yang MenghambatPujian seperti:> โBagus, Sayang!โโKamu pintar sekali!โโKamu seniman yang luar biasa!โterlihat membangun percaya diri, tetapi bisa membuat anak bergantung pada validasi dari orang lain.Pujian memang menyenangkan, tetapi jika terus dicari, anak dapat merasa membutuhkan pujian berikutnya agar kembali nyaman dengan dirinya.Tujuannya bukan membuat anak kebal terhadap pendapat orang lain, tetapi membangun rasa berharga dari dalam diri.6. Validasi Eksternal vs InternalValidasi Eksternal (ke luar)Mencari persetujuan dari orang lain.Contoh:Anak bertanya, โIbu suka gambarku? Bagus tidak?โRemaja bertanya kepada banyak teman, โMenurut kalian, ini masalah besar tidak?โValidasi Internal (ke dalam diri)Berhenti sejenak, memperhatikan perasaan dan pikiran sendiri, lalu mempercayainya.Contoh:Anak melihat gambarnya dan menyampaikan pemikirannya sendiri.Remaja menyadari ketidaknyamanannya dan memutuskan untuk mengatakan sesuatu.Kita tidak ingin anak menolak masukan orang lain. Kita ingin mereka tetap memiliki pegangan dari dalam diri sehingga tidak merasa hampa tanpa validasi dari luar.7. Dukung Proses, Bukan Hanya HasilDaripada hanya memuji hasil, komentari proses, usaha, dan apa yang terjadi dalam diri anak.Contoh:โKamu bekerja sangat keras dalam proyek itu.โโIbu melihat kamu menggunakan warna yang berbeda dalam gambar ini. Ceritakanlah.โโBagaimana kamu bisa membuat itu?โDengan cara ini, anak belajar menatap ke dalam, memperhatikan apa yang mereka lakukan, dan mengenal dirinya sendiri.๐ฑ Kepercayaan diri bukan berasal dari terus-menerus merasa baik tentang diri sendiri. Kepercayaan diri tumbuh ketika anak belajar mempercayai perasaan, naluri, dan dirinya sendiriโapa pun yang sedang ia rasakan.Good Inside, Meletakkan Kepercayaan Penuh bahwa Semua Anak Berhati Baik(Dr. Becky Kennedy)