Halaqah 68
Rabu, 1 Juli 2026Jejak Ilmu HSI@komunitasbeekindHalaqah 68Bab 8 - Sesuatu yang Berkaitan dengan Bid'ah Termasuk Dosa Besar yang Paling DahsyatPembahasan Dalil Ketiga QS. Al-An-Nahl 25 (Bagian 2)(Kitāb Fadhlul Islām karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahāb rahimahullāh)Syaikh mendatangkan firman Allāh ﷻ:۞ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ(Mengenai orang-orang yang telah mereka sesatkan tanpa ilmu). Serta kelanjutan ayatnya:أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَArtinya:“Sungguh jelas apa yang mereka tanggung (dosa yang harus mereka tanggung).” Beban Pertanggungjawaban Dosa Pelaku Bid'ah (Mubtadi)Menanggung Dosa Dua Arah:Dosa yang harus dipertanggungjawabkan oleh muntadi (pelaku/pembuat bid'ah) adalah dosa bid'ah dirinya sendiri serta dosa bid'ah yang dilakukan oleh orang lain yang telah dia sesatkan tanpa ilmu.Beratnya Beban Dosa:Mempertanggungjawabkan dosa sendiri saja sudah terasa berat, terlebih lagi jika harus ditambah dengan dosa bid'ah orang lain yang ikut mengamalkannya karena didakwahkan, diajak, atau disesatkan olehnya. Hal ini menunjukkan besarnya bahaya bid'ah dan bahaya mengajak orang lain untuk melakukan kebid’ahan.Karakteristik Pelaku Bid'ah (Ahlul Bid'ah)Niat Beribadah:Ketika melakukan kebid’ahan, ahlul bid'ah menyangka dan meniatkan perbuatannya sebagai bentuk taqarrub (mendekatkan diri) serta beribadah kepada Allāh ﷻ.Menganggap sebagai Kebaikan:Karena menganggap kebid’ahan tersebut merupakan suatu kebaikan dan bentuk ibadah kepada Allāh, mereka tidak ragu-ragu untuk mengajak orang lain. Dakwah secara Terang-terangan:Berbeda dengan pelaku maksiat, pelaku bid'ah mengajak orang lain bahkan secara terang-terangan karena menyangka itu adalah ibadah, dengan tujuan memasukkan orang lain ke dalam ibadah tersebut.Dampak Menyesatkan:Tindakan tersebut akhirnya membuat dia menyesatkan dirinya sendiri sekaligus menyesatkan orang lain. Dia melakukan dosa bid'ah dan menyebabkan orang lain ikut melakukan dosa bid'ah tersebut. Jika ajakan atau dakwahnya diterima, maka dosanya akan menjadi semakin besar.Karakteristik Pelaku Maksiat atau Dosa Besar (Ahlul Maksiat)Keadaan pelaku maksiat sangat berbeda dengan pelaku bid'ah karena hal-hal berikut:Menyadari Kesalahan:Setiap pelaku dosa besar merasa dan menyadari sepenuhnya bahwasanya perbuatan yang mereka lakukan adalah sebuah kesalahan dan dosa besar. Walaupun mereka terkadang tidak bisa mengendalikan dirinya, rata-rata mereka tahu itu adalah kemaksiatan.Memiliki Rasa Malu:Pelaku maksiat merasa malu untuk melakukan dosanya, apalagi jika sampai mengajak orang lain. Mereka akan menyembunyikan perbuatannya dari anaknya, tetangganya, serta orang lain karena tidak ingin orang lain mengetahui apa yang mereka perbuat. Mereka juga tidak ingin orang lain ikut terkena dosa seperti mereka.Contoh Kasus Pelaku Maksiat:Pelaku Zina:Seseorang yang melakukan dosa zina akan merasa menyesal setelahnya (mempertanyakan mengapa hal itu bisa terjadi) dan merasa malu jika perbuatannya dilihat orang lain, sehingga dia tidak akan mengajak orang lain untuk berzina. Pekerja di Tempat Ribawi:Seseorang yang bekerja di tempat ribawi tahu bahwa dirinya salah, bertentangan dengan syariat, dan tempat kerjanya bermasalah. Ketika ditanya orang mengenai tempat kerjanya, dia merasa malu dan tidak mau menyebutkannya, sehingga tidak mungkin dia mengajak orang lain untuk melakukan maksiat tersebut. Mencukupkan Dosa pada Diri Sendiri:Pelaku maksiat berada dalam keadaan malu dan mengetahui dirinya keliru, sehingga dia mencukupkan dosa kabirah (dosa besar) itu hanya pada dirinya sendiri dan tidak sampai mendakwahkannya kepada orang lain.KesimpulanTujuan Pendalilan Syaikh rahimahullāh mendatangkan ayat tersebut dalam bab ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa dosa bidah itu lebih dahsyat, lebih berbahaya, dan lebih besar dosanya daripada dosa besar atau kemaksiatan biasa. Kebidahan lebih berbahaya daripada kemaksiatan karena kebanyakan pelaku bid'ah menganggap perbuatannya sebagai bentuk taqarrub dan ibadah, sehingga mereka tidak segan-segan untuk mendakwahkan serta mengajak orang lain melakukannya secara terang-terangan. Ketika dakwah bid'ah tersebut diterima, dosanya akan terus bertambah karena menanggung dosa orang yang mengikutinya. Sementara itu, pelaku kemaksiatan tetap berada dalam rasa malu, tahu dirinya bersalah, dan tidak mendakwahkan maksiatnya kepada orang lain.
















